BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
|
|
|
- Yulia Tedja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian ini akan membahas mengenai bushidoyang ada di Jepang dengan melihat bagaimana nilai ini tetap dapat eksis dalam sistem masyarakat yang ada dan diterapkan dalam lingkungan Jepang modern. Hal ini akan dilihat oleh penulis dari bagaimana masyarakat Jepang modern masih menjadikan bushido sebagai dasar cara hidup mereka dalam lingkungan masyarakat dengan menggunakan nilai-nilai dasar bushido yang sebenarnya dulumerupakan prinsip lama yang ada di Jepang. Hal ini menjadi menarik mengetahui pasca penghapusan samurai sebagai kekuatan militer Jepang pada Era Meiji, bushido yang merupakan cikal bakal pembentukan karakter seorang samurai masih bertahan meskipun tidak lagi sebagai sebuah prinsip wajib, ini dikarenakan semangat bushido yang masih ada tidak dapat dihapuskan dalam sistem masyarakat Jepang. Sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu bahwa bushido atau yang bisa juga diartikan sebagai way of the warrior" adalah sebuah kode etik perilaku yang ada di Jepang. Nilainilai yang ada dalam bushido berasal daripada kode moral seorang samurai yang menekankan kepadanilai-nilai dasar seperti kesetiaan pada satu pemimpin, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan yang menjadi hal penting bagi mereka dimana hal ini patut dipertahankan, meskipun harus mempertahankan nyawa mereka sendiri dalam perang atau ritual tertentu. 1 Dalam penelitian ini, penulis akan mencoba melihatbagaimana bushido hingga kinimasihdapat bertahan dengan lingkungan masyarakat Jepang era kontemporer, dengan mengambil contoh kasus bentuk manifestasi bushidodi bidang bisnis, terutama di perusahaan-perusahaan Jepang. 1 Roger J. Davies, The Japanese Mind: Undertanding Conteporary Japanese Culture (ed), Tuttle Publishing, Tokyo, 2002, p
2 Modernisasi pada akhir abad ke-19 mendorong Jepang melakukan beberapa perubahan dalam sistem pemerintahannya. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan pada era tersebut adalah penghapusan samurai yang merupakan sebuah bentuk militer tradisional utama Jepang dalam berperang. Samurai sendiri sebenarnya merupakan sebutan bagi individu atau kelompok di Jepang yang memiliki strata yang tinggi, dimana kata samurai sendiri juga dekat kepada istilah bangsawan pada masa edo. Samurai pada dasarnya merupakan kelompok aristrokat pada masa pemerintahan terdahulu. Namun berbeda dengan kelompok golongan atas pada era tersebut, samurai sendiri sebenarnya merupakan keturunan dari para aristrokat yang tidak mendapatkan warisan sehingga diturunkanlah kedudukannya sebagai pelayan atas tuannya tersebut. Ini terjadi karena pada zaman itu poligami yang dilakukan oleh kelompok kelas atas merupakan hal yang wajar ditemui. 2 Samurai yang dapat dikategorikan sebagai kelompok bangsawan atau kasta atas dalam sistem masyarakat Jepang, pada akhirnya mengharuskan mereka menjaga tata perilaku ataupun bagaimana mereka bersikap sebagaimana seorang samurai, dan hal tesebut mereka lakukan dengan menerapkan beberapa prinsip dasar sebagai jalan hidup mereka sehari-hari, yang kita kenal sebagai bushido. Bushi berarti ksatria dan Do artinya jalan. Bushido dapat diartikan sebagai jalan kehormatan yang harus ditempuh oleh orang Jepang untuk menyempurnakan hidup. Prajurit Jepang harus memegang teguh ajaran bushido, artinya ialah menginsyafi kedudukan masing-masing dalam hidup ini, mempertinggi derajat dan kecakapan diri, melatih diri lahir maupun batin untuk menyempurnakan keahliannya dalam ketentaraan, memegang teguh disiplin, serta menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan tanah air sampai titik darah terakhir. Seperti yang telah dijelaskan pada awal latar belakang, bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam bushido berasal dari nilai moral samurai, dimana di dalamnya menekankan kepada sifat-sifat atau karakteristik tertentu seperti kesetiaan, kesederhanaan, 2 Thomas Clearly, Code of The Samurai: a Modern Translation of The Bushido Shoshinshu of Taira Shingesuke, Tuttle Publishing, Japan, 1999, p. 1 2
3 penguasaan seni bela diri, dan kehormatan yang menjadi kebanggaan utama bagi seorang samurai. Dengan semangat bushido yang masih bertahan dalam sistem masyarakat Jepang ditambah sikap pemerintah yang juga mempertahankan nilai budaya ini, dapat dikatakan bahwa sikap yang ditunjukan pemerintah didasari adanya anggapan bahwa nilai-nilai bushidomasih relevan untuk digunakan saat itu maupun nanti.hal semacam itu sebenarnya juga sudah terlihat bersamaan dengan modernisasi kekuatan militer Jepang yangkenyatanya masih tidak bisa lepas dari ajaran bushido yang masih digunakan sebagai dasar penanaman karakterkepada tentara-tentara mereka. Kata meiji sendiri sebenarnya berarti kekuasaan pencerahan, dan pemerintah waktu itu bertujuan menggabungkan kemajuan dari barat dengan nilai-nilai tradisional dari timur, sehingga apabila kita melihat kembali ke belakang bahwa alasan pemerintah membiarkan bushido tetap ada menjadi masuk akal. Kemudian kembali lagi dengan menghilangnya sistem samurai di pemerintahan Jepang, dengan seiring perkembangan zamanjelas terjadi perubahan lain dalam penerapan prinsip bushido sendiri. Terjadi perubahan dari segi penerapan bushido dimana ketika sebelum restorasi, bushido masih merupakan sebuah prinsip yang diterapkan oleh kalangan samurai saja, lalu bagaimana ketika bushido sendiri memasuki era modern sekarang seperti sekarang? Dengan muncul pertanyaan seperti itu, penulis berasumsi selain bushido yang nyatanya dalam kasus ini telah berubah bentuk dari sebuah prinip yang kaku menjadi sebuah spirit atau semangat bagi warga Jepang, akhirnya juga menjadikan bushido sebagai sebuah behavior atau perilaku kebiasaan. Bila melihat kepada contoh Toyota dalam penulisan akhir ini, penulis akan menjelaskan mengenai bagaimana bentuk manifestasi bushido dalam lingkungan bisnis, sebagai contoh bagaimana bushido mempengaruhi pembentukan standarisasi perusahaan yang meliputi kinerja para pekerjanya, salah satunya seperti Toyota way yang merupakan standar kerja perusahaan Toyota yang berlaku kepada seluruh pegawainya. Selain itu, bagaimana cara Akio Toyoda 3
4 selaku presiden direktur Toyotadalam memimpin perusahaannya dan bagaimana ia bersikap dalam hubungan kerjasamanya dengan mitra-mitranyajuga akan dijelaskan sebagai salah satu bentuk manifestasi lain yang mana menunjukanbahwa bushido tidak hanya mempengaruhi karakteristik masyarakat Jepang dalam ruang lingkup kalangan pekerja saja namun sikap kepemimpinan seorang pemimpin perusahaan sekalipun juga akan dijelaskan dalam penelitian akhir ini. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimanamanifestasi semangat bushido di era Jepang modern, khususnya di kalangan bisnis? dengan melihat Toyota dalam penanganan kasus kecelakaan transportasi di AS tahun Kerangka Berpikir Untuk menganalisis serta menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi dan faktor apa yang akhirnya mempengaruhi prinsip bushido hingga akhirnya tidak hilang sertamasih bisa diterapkan dalam aktivitas masyarakat Jepang modern,dalam penelitian kali ini penulis akan menggunakan prinsip budaya dari Roger M. Keesing dan definisi mengenai corporate culturedari Stephen P. Robbins untuk melihat proses yang terjadi terkait dengan perkembangan prinsip bushidodan bagaimana nilai-nilai bushido diterapkan dan mempengaruhi kinerja dalam sebuah perusahaan, disertainilai-nilai bushido itu sendiri guna melihat apakahdalam aktivitasmasyarakat Jepang kontemporer nilai-nilai bushido memang masih cocok dan terlihat dalam kehidupan bermasyarakat Bushido - Definisi Konseptual Bushido atau way of the warrior adalah prinsip dan jalan hidup yang harus dipegang teguh oleh para samurai pada jaman feodal Jepang. Bushido juga 4
5 dipengaruhi oleh nilai zen dari ajaran Budha. Ada 7 nilai inti yang dipegang dalam bushido, yaitu: 3 義 Gi JusticeatauKebenaran 勇 Yū Courageatau Keberanian 仁 Jin Benevolenceatau Kemurahan Hati 礼 Rei Politeness or Respectatau Saling Menghormati 誠 Makoto or 信 Shin Honestyatau Kejujuran 名誉 Meiyo Honor, Gloryatau Kehormatan 忠義 Chū Loyaltyatau Loyalitas Ketujuh nilai ini dipegang teguh bagi warga negara Jepang yang menjunjung nilai bushido. Jika pada zaman samurai dulu, sikap bushido ditunjukan dengan cara mempertahankan martabat Jepang dan melindunginya dari penjajah. Samurai akan loyal dan hormat untuk melindungi dengan seluruh jiwa raga negara Jepang. Jika prinsip dan terjadi kegagalan, para samurai akan malu kepada dirinya sendiri. Sehingga untuk menebus kesalahannya, tidak jarang para samurai lebih memilih untuk bunuh diri atau seppuku. Cara tersebut dipercaya sebagai pengorbanan yang terhormat bagi samurai. Banyak samurai atau pejuang yang mati saat usai perang dunia kedua melalui harakiri. Nilai bushido hingga era modern ini masih nampak pada budaya Jepang, dan nilai bushido inilah yang membuat masyarakat Jepang bangkit kembali dan maju. Dengan kerja keras dan penanaman nilai bushido, Jepang gigih untuk maju dan berkembang pesat. Pada masa modern saat ini, nilai bushido masih terlihat kuat di tengah masyarakat Jepang. Sikap yang tekun, telaten, dan pekerja keras untuk menuju Jepang yang lebih baik masih dipegang oleh masyarakat Jepang. - Definisi Operasional 3 Busby Berkeley, Bushido (online), diakses 11 Februari
6 Dengan melihat fenomena yang ada, dapat kita lihat bahwa eksistensi bushido dapat dikatakan masih cukup kuat dikalangan masyarakat Jepang dari bagaimana nilai-nilai bushido nyatanya masih diterapkan dalam aktivitas yang dilakukan oleh sebagian besar penduduk Jepang. Dengan kondisi tersebut juga menunjukan bahwa pada kenyataannya nilai-nilai kehidupan yang diajarkan atau dalam kasus ini yaitu semangat yang terkandung dalam bushido, secara tidak langsung masih mempengaruhi masyarakat Jepang. Bila kita lihat pada fokus dalam penelitian kali ini yaitu bidang bisnis, dapat diambil juga beberapa nilai bushido yang ada dalam menganalisis bagaimana bushido sendiri ternyata berpengaruh besar pada kinerja atau interaksi aktor aktor dalam lingkungan perusahan-perusahaan di Jepang, dalam lingkup domestik maupun dengan mitra luar negerinya, seperticontohnya bagaimana nilai seperti saling menghormati yang terlihat pada interaksi antar aktor serta produsen dan konsumen, kehormatanyang menyangkut kualitas produk perusahaan masing-masing di mata konsumen atau mitra kerjasamanya, dan loyalitas yang menyangkut hubungan antar karyawan dengan pemimpinnya.selain itu, akan dilihat juga apakah beberapa nilai bushido yang dianggap cocok dan digunakan di lingkungan peusahaan Jepang secara tidak langsung efektif sebagai sebuah dasar pembentukan standar perusahaan yang terkait Teori Budaya Roger M. Keesing - Definisi Konseptual Keesing berpendapat bahwa budaya merupakan sistem yang dapat berganti dan beradaptasi sebagai sebuah bagian dari seleksi alam. Budaya juga merupakan sebuah sistem yang dinamis, sehingga perubahan variabel dapat berdampak pada pola interaksi manusia. Selain itu, budaya dari suatu masyarakat memiliki pola khas tersendiri. Dengan menggunakan teori budaya dari Roger M. Keesing, penulis akan menjelaskan bahwa terjadi peleburan makna dimana bushido yang awalnya kaku sebagai sebuah prinsip atau kode etik yang mutlak, pada akhirnya berubah menjadi suatu hal yang lebih mudah masuk ke segala lapisan masyarakat sebagai sebuah kebiasaan sehingga mudah diterapkan hingga akhirnya bushido 6
7 sendiri dapat bertahan hingga sekarang dan dimanifestasikan dalam sebuah bentuk barusesuai dengan kondisi perkembangan yang ada, termasuk dalam lingkungan bisnis contohnya pada kasus Toyota. Budaya dianggap sebagai sebuah sistem yang memiliki fungsi sebagai penghubung antara interaksi satu individu dan individu lainnya atau cara hidup dalam sebuah komunitas tertentu. Dengan adanya kondisi tersebut, akhirnya budaya sendiri akhirnya berubah menjadi sebuah pola hidup dan dipandang lebih luas sebagai sebuah pola pembentuk karakteristik. 4 Selain itu, perubahan budaya dianggap sebagai sebuah proses adaptasi untuk bertahan dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Dalam penjelasannya, Keesing berpendapat dalam proses adaptasi, perubahan yang terjadi tidak hanya dilihat dari segi budaya itu sendiri, melainkan aktor atau dalam kasus ini manusia. Namun, ketika menjelaskan bahwa budaya merupakan sistem yang dapat beradaptasi, terdapat beberapa konsep atau ide dasar dalam menjelaskan sebenarnya perubahan apa saja yang terjadi dalam proses adaptasinya, yaitu bagaimana budaya dilihat sebagai sebuah sistem kognitif, kemudian bagaimana budaya dilihat sebagai sebuah sistem struktural, dan yang terakhir bagaimana budaya dilihat sebagai sebuah sistem simbolik. Bila dilihat dari segi kognitif, secara umum budaya masih erat kaitannya sebagai suatu hal yang mendasar yang dipercayai oleh masyarakat sebagai sebuah satu hal yang mutlak karena di satu sisi budaya dapat dikatakan sebagai sebuah pengetahuan yang juga dapat memberikan pengetahuan kepada tiap individu. Selain itu budaya sendiri dianggap sebagai suatu sistem yang dapat memberikan. Dalam kasus ini bushido sebelumnya dianggap sebagai sebuah prinsip wajib atau nilai-nilai dasar yang harus dan hanya diterapkan oleh kalangan samurai dalam menjalani tugas maupun kehidupannya di tengah masyarakat, bagaimana mereka bersikap kepada kaisar atau tuannya, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan masyarakat, dan dengan menerapkan bushido seorang samurai akan menjadi lebih bertanggung jawab dalam tugasnya serta hidupnya. 4 Roger M. Keesing, Theories of Culture, Institute of Advanced Studies, Australian National University Canberra A.C.T., Australia, 1974, p. 75 7
8 Selanjutnya maksud dari sebuah budaya dilihat sebagai sebuah sistem simbolik adalah dimana masyarakat menjadikan budaya yang ada sebagai sebuah norma dasar bagi mereka untuk menggambarkan sesuatu atau bagaimana mereka menginterpretasikan sesuatu yang mereka percayai. Kemudian poin ketiga dimana budaya dilihat sebagai sebuah sistem struktural adalah budaya dilihat sebagai suatu sistem pola pikir yang mempengaruhi susunan atau tatanan yang telah ada dalam sebuah sitem kultur. Struktur pemikiran-pemikiran yang meliputi seperti bahasa, adat istiadat yang berbeda antara masyarakat itu dipandang sebagai budaya itu sendiri, karena pola pikir yang ada tersebut akhirnya menciptakan sebuah struktur budaya yang hanya berlaku di wilayah tertentu yang menggambarkan kondisi budaya di wilayah tersebut. - Definisi Operasional Dengan menggunakan teori budaya ini, akan dilihat bagaimana bushido pada akhirnya mengalami perubahan dari segi-segi tertentu seperti pada penjelasan sebelumnya. Dimulai dari segi kognitif dimana awalnya bushido erat kaitannya dengan sebuah prinsip samurai yang mengajarkan nilai-nilai moral untuk kalangannya saja, namun sekarang terjadi perubahan dimana nilai-nilai bushido tidak lagi dilihat sebagai sebuah prinsip melainkan sebuahspiritatau semangat sehingga nilai-nilai yang ada dapatdipelajari dan diterapkan di seluruh lapisan masyarakat. Kemudian dari segi simbolik, terlihat ketika bushido masih erat kaitannya dengan seorang samurai sebagai sebuah prinsip identitas khusus bagi kelompoknya, namun dengan adanya proses adaptasi, bushido tidak lagi hanya menggambarkan seorang samurai melainkan masyarakat Jepang sendiri secara umum. Kemudian yang terakhir yaitu dari segi struktural. Bushido yang hanya diterapkan oleh kalangan atas (samurai) akhirnya memberikan pola pikir bagi masyaraktnya pada masa itu, dimana penerapan bushido selama bertahuntahun akhirnya menimbulkan pola pikir bahwa terdapat tingkatan-tingkatan yang ada dalam kehidupan sosial masyarakat Jepang. Hal itu berbeda dengan kondisi sekarang dimana dalam bidang bisnis contohnya, yang juga memilikitingkatan 8
9 jabatan, semangat bushido tidak lagi berfungsi bila dilihat darisegi struktural. Hal itu dikarenakan seluruh tingkatan harus menerapkan dan bertanggung jawab dengan nilai yang berlaku di perusahaannya. Berikut merupakan bagan singkat mengenai bagaimana perubahan yang terjadi dalam bushido itu sendiri yang nantinya akan dijelaskan lebih menggunakan teori budaya dari Robert M. Keesing: Bushido sebagai Prinsip Wajib Samurai Bushido bersifat kaku dan ketujuh nilai di dalamnya wajib diterapkan seorang samurai. Bushido sebagai spirit/semangat Bushido tidak lagi kaku, melainkan semua lapisan masyarakat bisa menerapkannya, terutama kalangan perusahaan Jepang. Bushido sebagai Kode Etik sebuah Perusahaan Bushido berubah bentuk menjadi sebuah standar etika baru dalam bentuk sebuah kode etik perusahaan yang mudah diterapkan dalam pembentukan karakteristik perusahaan Jepang Corporate Culture - Definisi Konseptual Mengacu pada pernyataan dari Stephen P. Robbins mengenai corporate culture, beliau mendefinisikan hal ini sebagai sebuah sistem bersama yang dianut oleh seluruh anggota dalam sebuah organisasi yang membedakan organisasinya dari organisasi-organisasi lain. Selain itu, Robbins juga berpendapat bahwa terdapat beberapa fungsi dari corporate culture atau budaya organisasi dalam sebuah lingkungan perusahaan, seperti: 5 1. Menjadi pembeda antara satu organisasi dengan organisasi lain; 2. Menghasilkan identitas diri bagi anggota organisasi; 3. Memfasilitasi komitmen yang terus-menerus dari anggotanya; 5 Stephen P. Robbins, Essentials of Organizational Behavior, 8 th ed. Prentice Hall, New Jersey, 2004, ch.14 9
10 4. Meningkatkan stabilitas sistem sosial karena budaya adalah perekat sosial dan memberikan standar norma/aturan; 5. Sebagai mekanisme kontrol yang memandu dan membentuk sikap dan perilaku anggota. Selain itu, Robbins juga megklasifikasikan karakteristik sebuah corporate culture ke beberapa poin penting, yaitu: 6 1. Inovation and risk taking(inovasi dan keberanian mengambil risiko),yaitu organisasi mendorong para karyawan bersikap inovatif dan berani mengambil resiko. Selain itu bagaimana organisasi menghargai tindakan pengambilan risiko oleh karyawan dan membangkitkan ide karyawan. 2. Attention to detail (Perhatian terhadap detil),adalah organisasi mengharapkan karyawan memperlihatkan kecermatan, analisis dan perhatian kepada rincian. 3. Outcome Orientation (berorientasi kepada hasil),yaitu manajemen memusatkan perhatian pada hasil dibandingkan perhatian padateknik dan proses yang digunakan untuk meraih hasil tersebut. 4. People orientation (Berorientasi kepada manusia),yaitu keputusan manajemen memperhitungkan efek hasil-hasil pada orang-orang didalam organisasi. 5. Team orientation (Berorientasi tim), yaitu kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim-tim tidak hanya pada individu-individuuntuk mendukung kerjasama. 6. Aggressiveness (Agresifitas),yaitu orang-orang dalam organisasi itu agresif dan kompetitif untuk menjalankanbudaya organisasi sebaik-baiknya. 7. Stability (Stabilitas),yaitu kegiatan organisasi menekankan status quo sebagai kontras daripertumbuhan. - Definisi Operasional 6 Anggia Sari L., Analisis Pengaruh Budaya Organisasi dan Kompetensi Sumber Daya Manusia terhadap Kinerja Pegawai pada Kantor Bank Indonesia Medan, usu.ac.id (online), 2011, diakses 22 April
11 Terlihat bahwa karakteristik corporate culture menurut Robbins tidak jauh berbeda dengan nilai-nilai moral yang diajarkan di dalam bushido, sehingga rasanya cocok apabila teorinya ini digunakan untuk melihat bentuk manifestasi bushido yang ada di bidang bisnis Jepang.Menurut Robbins, nilai-nilai atau isi dari suatu budaya tertentu yang diterapkan dalam sebuah organisasi tertentu juga akan mempengaruhi perilaku dari anggota-anggotanya dari seluruh lapisan. Organisasi yang memiliki dan membentuk standar etik yang tinggi biasanya juga akan memiliki karakteristik seperti toleransi tinggi terhadap resiko, agresifitas yang rendah, dan berorientasi pada hasil. Merujuk pada kasus kali ini, dengan menerapkan konsep corporate culture, akan dilihat bagaimana sebuah organisasi mencoba untuk menerapkan nilai-nilai budaya yang ada sebagai dasar pembentukan aturan-aturan di perusahaannya, dimana hal ini memiliki tujuan sebagai pengatur sikap dan perilaku para pekerjanya atau pemimpinnya sehingga standar yang diinginkan perusahaan tersebut dapat terpenuhi. Guna menjelaskan hal tersebut, akan diambil contoh mengenai bagaimana akhirnya Toyota membentuk prinsip-prinsip perusahaan yang tidak lepas dari pengaruh budaya yang ada di Jepang, yaitu bushido, sebagai standar kinerja di perusahaannya.dimana hal inijuga akan mempengaruhi kinerja para pegawainya termasuk pemimpin perusahaannya sekalipun.selain itu, sebelumnya akan dijelaskan juga mengenai bagaimana budaya yang ada di masyarakat dengan kulur perusahaan saling berhubungan dalam membentuk sebuah identitas baru bagi sebuah organisasi sebagai perwujudan dari konsep corporate culture.kemudian dengan mengacu pada karakteristik konsep corporate culture sendiri akan dilihat apakah standar perusahaan yang terbentuk akan dapat dikatakan sebagai sebuah budaya korporat dengan melihat nilai-nilai yang ada dalam standar perusahaan yang terkait. 1.4 Argumen Utama Terjadi proses adaptasi pada bushido yang awalnya kaku hingga akhirnya bisa diterapkan diseluruh lapisan masyarakat Jepang, termasuk bidang bisnis. 11
12 Fleksibilitas nilai-nilai bushido itu pun akhirnya berpengaruh terhadap bentuk manifestasi yang ada di lingkungan perusahaan-perusahaan Jepang, contohnya dengan mengambil lingkunganperusahaan Jepang, salah satunya Toyota. Bushido akhirnya mempengaruhi pembentukan prinsip-prinsip dasar perusahaan hingga akhirnya mempengaruhi karakteristik dan kinerja para pekerja dalam perusahaannya, termasuk ketika Toyota, terutama Akio Toyoda selaku presiden direktur Toyota dalam mengambil sikap saat menangani kasus perusahaannya dengan AS yang mengajukan komplain atas tingkat kecelakaan yang terjadi di negaranya dikarenakan produk Toyota yang dianggap cacat. 1.5 Metode Penelitian Dalam penelitian ini, penulis memilih untuk menggunkan metode penelitian kualitatif. Pembahasan yang akan dijelaskan dalam penelitian akhir ini dibangun melalui data-data sekunder, yaitu dengan pemakaian studi literatur yang mengutamakan data tertulis dalam bentuk cetak seperti buku, jurnal, majalah, koran, dan diktat kuliah. Selain itu, penulis juga berusaha melengkapinya dengan data tertulis bentuk elektronik seperti e-book dan sumber-sumber lain dari website tertentu. 1.6 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan penelitian akhir berjudul Manifestasi Semangat Bushido dalam Pembentukan Karakter Samurai Modern di Bidang Bisnis, Studi Kasus: Toyota dalam Kasus Penanganan Kecelakaan Transportasi di AS akan dibagi ke dalam 4 bagian utama, yaitu : Bab I: Bab ini akan berisikan pendahuluan mengenai latar belakang, rumusan masalah, kerangkaberpikir, asumsi dasar, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II:Bab ini akan menjelaskan sekilas mengenai sejarahbushido di Jepang yang pada awalnya merupakan sebuah prinsip dasar yang dulu diterapkan oleh para 12
13 samurai ketika masih menjadi kekuatan militer tradisional Jepang. Selain itu, bab ini akan menjelaskan juga mengenai bagaimana perkembangan penerapan prinsip bushido yang ada di Jepang atau manifestasispirit of bushido itu sendiri, terutama dalam lingkungan perusahaan Jepang di era kontemporer, sebagai contoh Toyota& Honda. Bab III: Bab ini akan menjawab pertanyaan penulis disertai analisa mengenai proses adaptasi hingga bentuk manifestasi bushido yang awalnya merupakan sebuah prinsip kakukemudian berubah menjadi sebuah spirit yang masih relevan digunakan di Jepang kontemporer. Bab IV:Bab ini akan berisikan studi kasus yang diambil dalam penulisan akhir mengenai komplain yang dilontarkan AS terhadap produk dari Toyota di Jepang terkait tingkat kecelakaan yang terjadi. Bab V:Bab ini merupakan penutup yang berisi kesimpulan atas seluruhpembahasan yang telah dipaparkan dalam penelitian akhir ini. 13
BAB II LANDASAN TEORI. berkaitan dengan komitmen afektif dan budaya organisasi. karena mereka menginginkannya (Meyer dan Allen, 1997)
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dijabarkan teori-teori yang menjadi kerangka berfikir dalam melaksanakan penelitian ini. Beberapa teori yang dipakai adalah teori yang berkaitan dengan komitmen
BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan pada umumnya memiliki tujuan yang ingin dicapai.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perusahaan pada umumnya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Pencapaian tujuan perusahaan membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak yang tergabung dalam
Bab 1. Pendahuluan. oleh masyarakatnya sejak bertahun-tahun lamanya dan melahirkan banyak
Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Jepang adalah sebuah negara yang memiliki banyak budaya yang telah diterapkan oleh masyarakatnya sejak bertahun-tahun lamanya dan melahirkan banyak fenomena-fenomena
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sudah melewati masa masa krisis moneter yang terjadi pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia sudah melewati masa masa krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997. Krisis moneter membuat terjadinya perubahan dalam sistem perbankan di Indonesia.
BAB IV ANALISA DATA. 1. Komunikasi Organisasi Top Down Antara Pengurus Dan Anggota. Karang Taruna Setya Bhakti Dalam Membangun Solidaritas
BAB IV ANALISA DATA A. Temuan Penelitian 1. Komunikasi Organisasi Top Down Antara Pengurus Dan Anggota Karang Taruna Setya Bhakti Dalam Membangun Solidaritas Dalam penelitian kualitatif, analisis data
KULTUR ORGANISASI 12/6/2016 1
KULTUR ORGANISASI 12/6/2016 1 PENGERETIAN BUDAYA ORGANISASI Robbins dan Judge (2008:256) kultur organisasi mengacu pada sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan organisasi
Definisi Budaya Organisasi
Definisi Budaya Organisasi Budaya Organisasi Sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi lainnya Sistem makna bersama: Sekumpulan karakteristik
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam suatu perusahaan disamping faktor lain seperti modal, material, metode, dan lain sebagainya.
BAB I PENDAHULUAN. surut. Dua periode penting tersebut adalah masa Kaisar Meiji ( ) dan. yang kemudian dikenal dengan Restorasi Meiji.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sepanjang sejarah, kekaisaran Jepang beberapa kali mengalami masa pasang surut. Dua periode penting tersebut adalah masa Kaisar Meiji (1868-1912) dan Kaisar
Abstraksi. Kata kunci : Bushido, Onizuka, Great Teacher Onizuka
Abstraksi Bushido, sebuah konsep yang mengatur tatanan hidup seorang ksatria yang disebut samurai selama ratusan tahun pada zaman feudal. Konsep ini masih hidup di dalam masyarakat, bahkan tetap memberikan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Sumber Daya Manusia 2.1.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen sumber daya manusia mulai dikenal sejak abad 20, terutama setelah terjadi revolusi industri,
Abstraksi. Kata kunci: Samurai, Bushido, Samurai 7
Abstraksi Samurai, sebutan bagi kaum kesatria di Jepang merupakan salah satu unsur budaya Jepang yang cukup dikenal oleh masyarakat dunia. Selama ratusan tahun Jepang berada pada zaman feodal yang dipimpin
BAB III MAKNA FILOSOFI BUSHIDOU DI DALAM SIKAP AIKIDOUKA. 3.1 Filosofi Gi (Kebenaran) di dalam Sikap Aikidouka
BAB III MAKNA FILOSOFI BUSHIDOU DI DALAM SIKAP AIKIDOUKA 3.1 Filosofi Gi (Kebenaran) di dalam Sikap Aikidouka Prinsip utama aikidou adalah gi. Gi terdapat dalam diri aikidouka yaitu jasmani dan jiwa. Jiwa
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Jepang adalah negara kepulauan yang terdiri dari 3000 pulau bahkan lebih. Tetapi hanya ada empat pulau besar yang merupakan pulau utama di negara Jepang,
BAB I PENDAHULUAN. dari globalisasi yang berkembang dalam dunia bisnis yang membuat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Persaingan di dunia bisnis dewasa ini semakin meningkat. Setiap perusahaan berusaha untuk mencari keunggulan kompetitif, sementara pesaing juga melakukan hal
BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Darma Persada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bila membicarakan Jepang, maka hal yang akan terbayang adalah sebuah Negara modern di mana penduduknya memiliki kedisiplinan yang tinggi, maju, kaya, dan sebutan-sebutan
II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Arti dan Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia. yang tepat untuk meningkatkan kemampuan perusahaannya dalam proses
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Arti dan Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia Salah satu unsur penting dari manajemen adalah manusia. Pada setiap perusahaan yang menerapkan sistem manajemen yang baik tentunya
Menurut kamus bahasa Indonesia, Karakter memiliki arti sifat-sifat. Negara dan bangsa akan maju jika ada prinsip kejujuran. Salah satu bangsa yang
BAB II GAMBARAN UMUM PRODUKTIFITAS ORANG JEPANG 2.1 Pengertian Karakter Menurut kamus bahasa Indonesia, Karakter memiliki arti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari
BAB I PENDAHULUAN. tersebut memiliki pemerintah dan pemerintahan yang berjalan, hukum,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu wilayah baru dapat dikatakan sebagai negara apabila wilayah tersebut memiliki pemerintah dan pemerintahan yang berjalan, hukum, pengakuan dari negara lain, dan
BAB I PENDAHULUAN. Pada tahun 1853 Jepang mulai membuka diri pada dunia barat, akibatnya di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada tahun 1853 Jepang mulai membuka diri pada dunia barat, akibatnya di Jepang terdapat perbedaan pendapat di bidang politik, satu dari beberapa kelompok pemikiran
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Bagian ini merupakan pemaparan tentang hasil analisis yang dilakukan pada bab
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN Bagian ini merupakan pemaparan tentang hasil analisis yang dilakukan pada bab sebelumnya. Untuk mengarahkan deskripsi kepada kesimpulan penelitian terhadap respon
organisasi tersebut berasal, dan apakah budaya organisasi tersebut dapat diatur, kesemuanya akan dibicarakan pada halaman berikut.
14 BUDAYA ORGANISASI organisasi tersebut berasal, dan apakah budaya organisasi tersebut dapat diatur, kesemuanya akan dibicarakan pada halaman berikut. Setiap individu memiliki kepribadian, begitu pula
Bab 4. Simpulan Dan Saran. Berdasarkan hasil analisis data pada bab sebelumnya tentang pengaruh konsep
Bab 4 Simpulan Dan Saran 4.1 Simpulan Berdasarkan hasil analisis data pada bab sebelumnya tentang pengaruh konsep Bushido pada tentara Kamikaze dalam Film letters from Iwojima penulis menyimpulkan bahwa
BAB II NILAI MORAL DALAM MASYARAKAT JEPANG
BAB II NILAI MORAL DALAM MASYARAKAT JEPANG Jepang merupakan negara yang mengedepankan tentang nilai moral dalam kehidupan seharihari dan kehidupan bernegara, meski tidak dapat dikatakan semuanya mempunyai
BAB I PENDAHULUAN. (isolasi) dari dunia luar dengan sistem feodal, yang merupakan transisi ke. Restorasi Meiji kelak sebagai antiklimaks isolasinya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jepang merupakan salah satu negara di kawasan Asia Timur yang patut diperhitungkan.dengan kehebatannya dalam memadukan tradisi dan modernisasi, menjadikan Jepang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang merupakan daerah yang memiliki potensi budaya yang masih berkembang secara optimal. Keanekaragaman budaya mencerminkan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat setempat
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. intrapreneurship sebagai kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka Intrapreneurship 2.1.1 Pengertian Intrapreneurship Berdasarkan pendapat Antonic dan Hisrich (2003, p9) intrapreneurship sebagai
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini budaya organisasi atau biasa disebut dengan budaya perusahaan merupakan isu penting dalam suatu organisasi. Seperti yang dikatakan oleh Aprianto & Jacob
I. PENDAHULUAN. generasi muda untuk mempunyai jiwa kemanusiaan.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sebuah tindakan yang fundamental, yaitu perbuatan yang menyentuh akar-akar kehidupan bangsa sehingga mengubah dan menentukan hidup manusia.
BAB I PENDAHULUAN. banyak dan komplek, kemudian bila kebutuhan- kebutuhan serta tujuantujuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Didalam kehidupan manusia pasti terlibat dalam suatu ikatan organisasi., baik organisasi kecil maupun organisasi besar. Keterlibatan itu karena adanya keinginan
BAB I PENDAHULUAN. organisasi dibutuhkan etos kerja dalam diri karyawan karena etos kerja
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam Menghadapi perkembangan dunia usaha yang semakin pesat dan disertai persaingan yang ketat, membuat organisasi membenahi manajemennya dan mampu menawarkan produknya
AKULTURASI BUDAYA ISLAM DAN BUDAYA HINDU (Studi Tentang Perilaku Keagamaan Masyarakat Islam Tradisional di Gununggangsir Beji Pasuruan)
AKULTURASI BUDAYA ISLAM DAN BUDAYA HINDU (Studi Tentang Perilaku Keagamaan Masyarakat Islam Tradisional di Gununggangsir Beji Pasuruan) A. Latar Belakang Masalah Setiap agama bagi para pemeluknya merupakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu faktor internal yang turut menentukan keberhasilan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu faktor internal yang turut menentukan keberhasilan organisasi adalah budaya organisasi. Budaya organisasi mempunyai peran yang sangat penting dalam suatu
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Suatu organisasi harus dapat mengatur dan memanfaatkan sedemikian rupa sehingga potensi sumber daya manusia yang
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Suatu organisasi harus dapat mengatur dan memanfaatkan sedemikian rupa sehingga potensi sumber daya manusia yang ada di organisasi dapat dikembangkan. Pengaturan atau
BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makluk berbudaya dan menciptakan kebudayaan. Budaya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makluk berbudaya dan menciptakan kebudayaan. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh dan bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek
BAB I PENDAHULUAN. sukses. Pada pertengahan tahun 1990-an, dalam penghitungan pendapatan perkapita
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jepang telah terkenal di berbagai belahan dunia sebagai negara maju yang sukses. Pada pertengahan tahun 1990-an, dalam penghitungan pendapatan perkapita dan taraf hidup
Bab 1. Pendahuluan. karakter manusia, melebur dalam masyarakat dan berbaur menjadi satu,
Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masyarakat merupakan ruang lingkup yang luas dalam kehidupan. Bermacammacam karakter manusia, melebur dalam masyarakat dan berbaur menjadi satu, membentuk keragaman
METODE PEMBELAJARAN BAHASA SASTRA Prosedur dan Kultur. Meyridah SMAN Tambang Ulang, Tanah Laut
METODE PEMBELAJARAN BAHASA SASTRA Prosedur dan Kultur Meyridah SMAN Tambang Ulang, Tanah Laut [email protected] ABSTRAK Tulisan ini bertujuan memberikan kontribusi pemikiran terhadap implementasi pembelajaran
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka Penelitian ini mengacu pada bagaimana analisis pengaruh budaya organisasi, kompetensi karyawan dan komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan. 2.1.1 Budaya Organisasi
BAB I PENDAHULUAN. membentuk karyawan untuk berfikir, bersikap dan berperilaku. Budaya organisasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Budaya dapat membantu organisasi agar dapat terus bertahan dengan menyediakan standar yang tepat. Secara tidak langsung budaya organisasi dapat membentuk
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dasar, kode etik, kode moral, kode perilaku, aspirasi-aspirasi, keyakinan-keyakinan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etos Kerja Etos Kerja merupakan perilaku sikap khas suatu komunitas atau organisasi mencakup sisi spiritual, motivasi, karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode
BAB I PENDAHULUAN. dijamah. Sedangkan Ienaga Saburo (dalam Situmorang, 2008: 3) membedakan
15 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ada terdapat berbagai macam definisi kebudayaan, ada yang membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah sesuatu yang semiotik, tidak kentara atau
BAB I. Pendahuluan. Perkembangan berbagai sarana penunjang dari teknologi informasi akhir akhir
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Perkembangan berbagai sarana penunjang dari teknologi informasi akhir akhir ini tidak dapat disangkal telah menjadikan dunia semakin dinamis, tidak terkecuali dalam
BAB 1 PENDAHULUAN. Sekolah adalah salah satu institusi yang berperan dalam menyiapkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Sekolah adalah salah satu institusi yang berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia maupun untuk menciptakan masyarakat yang berkualitas, berbagai upaya dilakukan
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masyarakat dan kebudayaan merupakan hubungan yang sangat sulit dipisahkan. Sebab masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Batik merupakan salah satu seni budaya Indonesia yang sudah menyatu dengan masyarakat Indonesia sejak beberapa abad lalu. Batik menjadi salah satu jenis seni kriya yang
BAB I PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan adalah bagian yang penting dari manajemen dan setiap pemimpin diukur keberhasilannya dari kemampuannya memprediksi perubahan dan menjadikan perubahan tersebut
I. PENDAHULUAN. untuk mendaya gunakan sumber daya manusia secara maksimal sehingga dapat
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia atau tenaga kerja merupakan sumber daya yang sangat berharga dalam suatu perusahaan untuk mencapai tujuan. Segala macam aktivitas tidak akan berjalan tanpa adanya
BAB I PENDAHULUAN. kompetensi jabatan dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan. Untuk
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Sesuai dengan tuntutan nasional dan tantangan global, untuk mewujudkan pemerintahan yang baik diperlukan sumber daya manusia aparatur yang memiliki kompetensi jabatan
PENGARUH BUDAYA KERJA TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI KERJA GURU DAN KARYAWAN SMA AL-ISLAM 3 SURAKARTA
PENGARUH BUDAYA KERJA TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI KERJA GURU DAN KARYAWAN SMA AL-ISLAM 3 SURAKARTA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS Pengertian Manajemen Sumber Daya. perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
7 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Manajemen Sumber Daya Manusia 2.1.1.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Berdasarkan pendapat Hasibuan (2002:10), manajemen
2015 KAJIAN NILAI-NILAI BUDAYA UPACARA ADAT NYANGKU DALAM KEHIDUPAN DI ERA MODERNISASI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keanekaragaman budaya, hal ini dikarenakan Indonesia terdiri dari berbagai suku dan adat budaya. Setiap suku
BAB V PENUTUP. Pada bab ini akan dipaparkan kesimpulan-kesimpulan dari penelitian secara keseluruhan dan juga rekomendasi dari peneliti.
136 BAB V PENUTUP Pada bab ini akan dipaparkan kesimpulan-kesimpulan dari penelitian secara keseluruhan dan juga rekomendasi dari peneliti. V.1. Kesimpulan Perusahaan taksi Blue Bird adalah perusahaan
BUDAYA POLITIK ORGANISASI PEMERINTAH
BUDAYA POLITIK ORGANISASI PEMERINTAH Feni Rosalia Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung [email protected] ABSTRAK Setiap organisasi pasti memiliki budaya organisasi, termasuk
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori Landasan teori merupakan bagian yang akan membahas tentang uraian pemecahan masalah yang akan ditemukan pemecahannya melalui pembahasanpembahasan secara teoritis.
BAB I PENDAHULUAN. Sekolah mempunyai tugas penting dalam menyiapkan siswa-siswi untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Sekolah mempunyai tugas penting dalam menyiapkan siswa-siswi untuk kehidupan bermasyarakat.
PROFESSIONAL IMAGE. Budaya Kerja Humas yang Efektif. Syerli Haryati, S.S. M.Ikom. Modul ke: Fakultas FIKOM. Program Studi Public Relations
Modul ke: PROFESSIONAL IMAGE Budaya Kerja Humas yang Efektif Fakultas FIKOM Syerli Haryati, S.S. M.Ikom Program Studi Public Relations www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Professional Image Modul - 10 Syerli
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang (Reza, 2012) Tjuju dan Suwarno (2008)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber Daya Manusia merupakan komponen utama suatu organisasi yang menjadi perencanaan dan pelaku aktif dalam setiap aktivitas organisasi.masalah sumber daya manusia
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.1094, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN. Kode Etik. Pegawai Negeri Sipil. Pembinaan. PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Arni Febriani, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jepang adalah sebuah negara kepulauan di Asia Timur. Letaknya di ujung barat Samudra Pasifik, di sebelah timur Laut Jepang, dan bertetangga dengan Republik
BAB I PENDAHULUAN. pedoman hidup sehari-hari. Keberagaman tersebut memiliki ciri khas yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap negara memiliki beragam norma, 1 moral, 2 dan etika 3 yang menjadi pedoman hidup sehari-hari. Keberagaman tersebut memiliki ciri khas yang berbeda-beda
PANCASILA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
PANCASILA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT Oleh : Falihah Untay Rahmania Sulasmono KELOMPOK E NIM. 11.11.5273 11-S1TI-09 Dosen Pembimbing : Abidarin Rosidi, Dr, M.Ma STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011 ABSTRAKSI Pancasila
Materi 10 Organizing/Pengorganisasian: Manajemen Team
Materi 10 Organizing/Pengorganisasian: Manajemen Team Anda mungkin memiliki banyak pengalaman bekerja dalam kelompok, seperti halnya tugas kelompok, tim olahraga dan lain sebagainya. Kelompok kerja merupakan
BAB I PENDAHULUAN. juga dapat diperoleh melalui jalur non-formal salah satunya melalui perpustakaan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi, pendidikan merupakan sesuatu yang penting bagi semua orang karena pendidikan merupakan akar dari peradaban sebuah bangsa. Pendidikan sekarang
BAB I PENDAHULUAN. dasawarsa terakhir ini, ternyata belum sepenuhnya mampu menjawab. kebutuhan dan tantangan nasional dan global dewasa ini.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sistem pendidikan nasional yang telah dibangun selama tiga dasawarsa terakhir ini, ternyata belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan dan tantangan nasional
BAB I PENDAHULUAN. sementara pesaing juga melakukan hal yang serupa. Kondisi tersebut
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan berusaha untuk mencari keunggulan kompetitif, sementara pesaing juga melakukan hal yang serupa. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari
BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Perubahan adalah bagian yang penting dari manajemen dan setiap
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Perubahan adalah bagian yang penting dari manajemen dan setiap pemimpin diukur keberhasilannya dari kemampuannya memprediksi perubahan dan menjadikan perubahan tersebut
REKONTRUKSI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DALAM MEMBANGUN WATAK WIRAUSAHA MAHASISWA
REKONTRUKSI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DALAM MEMBANGUN WATAK WIRAUSAHA MAHASISWA Enceng Yana Abstrak Masih banyaknya lulusan pendidikan tinggi/sarjana yang belum memiliki pekerjaan merupakan hal yang sangat
BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya manusia (SDM) memegang peranan yang sangat dominan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumber daya manusia (SDM) memegang peranan yang sangat dominan dalam kegiatan perusahaan. Berhasil atau tidaknya perusahaan dalam mencapai tujuan sangat tergantung
Dalam Acara ORIENSTASI STUDI DAN PENGENALAN KAMPUS BAGI MAHASISWA BARU TAHUN AKADEMIK 2016/2017. Drs. Suprijatna
Dalam Acara ORIENSTASI STUDI DAN PENGENALAN KAMPUS BAGI MAHASISWA BARU TAHUN AKADEMIK 2016/2017 Drs. Suprijatna 1. Pendidikan harus merupakan aset atau modal kekuatan yang bisa menumbuhkan peradaban bangsa
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, kebudayaan ini tersebar
BAB IV PENUTUP. organisasi mempunyai peran penting dalam perusahaan karena mempunyai
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Setiap organisasi memiliki budaya yang berbeda-beda. Suatu budaya organisasi mempunyai peran penting dalam perusahaan karena mempunyai sejumlah fungsi dalam organisasi yaitu,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Kemajemukan itu dapat dikenali dari keanekaragaman budaya, adat, suku, ras, bahasa, maupun agama. Kemajemukan budaya menjadi
BAB I PENDAHULUAN. terhadap suatu olahraga. Dapat dibuktikan jika kita membaca komik dan juga
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Di Jepang terdapat bermacam-macam budaya, salah satunya adalah olahraga. Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap suatu olahraga.
MATERI KULIAH ETIKA BISNIS. Pokok Bahasan: Budaya Perusahaan dan Etika
MATERI KULIAH ETIKA BISNIS Pokok Bahasan: Budaya Perusahaan dan Etika PENDAHULUAN Budaya merupakan cara kita melakukan sesuatu di sekitar kita. Budaya perusahaan diartikan sebagai sejumlah asumsi penting
PERATURAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG KODE ETIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG KODE ETIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PIMPINAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN Menimbang Mengingat : a. Bahwa Lembaga
BUDAYA SEKOLAH EFEKTIF (Studi Etnografi Di SMA Negeri 1 Surakarta) TESIS
BUDAYA SEKOLAH EFEKTIF (Studi Etnografi Di SMA Negeri 1 Surakarta) TESIS Disusun Oleh : DESI SUSANTI Q. 100.04.0041 MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Definisi Budaya Organisasi Geert Hofstede menyatakan bahwa budaya terdiri dari mental program bersama yang mensyaratkan respon individual pada lingkungannya. Definisi tersebut
BAB I PENDAHULUAN. objeknya manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penelitian Karya sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan kreatif yang objeknya manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai medianya (Semi,1989:8).
BAB I PENDAHULUAN. keluarga Tokugawa. Disebut zaman Edo karena pemerintahan keshogunan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Zaman Edo (1603-1867) adalah zaman dimana Jepang diperintah oleh keluarga Tokugawa. Disebut zaman Edo karena pemerintahan keshogunan Tokugawa pada waktu itu
PERATURAN OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK INSAN OMBUDSMAN KETUA OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA,
1 PERATURAN OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK INSAN OMBUDSMAN KETUA OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa untuk mencapai tujuan Ombudsman, para
BAB I PENDAHULUAN. kompetisi, budaya persaingan, budaya cepat dan akurat. Setiap organisasi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi telah memunculkan budaya baru yaitu budaya kompetisi, budaya persaingan, budaya cepat dan akurat. Setiap organisasi berusaha utuk mengaksesnya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Merriam Webster dalam (Zangaro, 2001), menyimpulkan definisi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Komitmen Organisasi 1.1 Definisi Komitmen Organisasi Kata komitmen berasal dari kata latin yang berarti to connect. Merriam Webster dalam (Zangaro, 2001), menyimpulkan definisi
Gambar 1.1 Tingkatan Budaya (Pembelajaran) Organisasi (Miller,2009)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di setiap lingkungan organisasi pasti terdapat banyak sekali faktor-faktor atau elemen-elemen penting yang menentukan suatu keberhasilan dari pencapaian tujuan bersama
BAB I PENDAHULUAN. dapat dilakukan dengan mudah dan cepat, yakni dengan penggunaan handphone
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan zaman yang ditandai dengan munculnya kemajuan teknologi dan informasi yang semakin pesat membuat kehidupan manusia menjadi serba mudah. Salah satunya
BAB I PENDAHULUAN. ditinggalkan, karena merupakan kepercayaan atau citra suatu kelompok dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki aneka ragam budaya. Budaya pada dasarnya tidak bisa ditinggalkan, karena merupakan kepercayaan atau citra suatu kelompok dan individu yang ada dari
BAB I PENDAHULUAN. identitas sebuah organisasi maupun perusahaan dikarenakan masing-masing. memberikan dampak yang buruk terhadap organisasi tersebut.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagian besar organisasi maupun perusahaan yang telah berdiri akan mempunyai budaya organisasi yang berbeda tergantung dari lingkungan perusahaan dan jenis perusahaan
Pedoman Perilaku. Nilai & Standar Kita. Dasar Keberhasilan Kita. Edisi IV
Pedoman Perilaku Nilai & Standar Kita Dasar Keberhasilan Kita Edisi IV Perusahaan Kita Sejak awal, perjalanan MSD dituntun oleh keyakinan untuk melakukan hal yang benar. George Merck menegaskan prinsip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Yanti Nurhayati, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fenomena yang terdapat dikalangan masyarakat seperti saat ini, telah menunjukan adanya penurunan budaya dan karakter bangsa. Hal ini terlihat dari gaya hidup,
PANDUAN WAWANCARA PEMILIK
52 PANDUAN WAWANCARA PEMILIK 1. Mengapa Anda memilih bergerak di bidang ini? Apa alasannya? Berpikir teliti, inovatif dan kreatif: 2. Dalam setiap transaksi, apakah Anda selalu melakukan pengecekan ulang,
MANAGEMENT. (Chapter 2)
MANAGEMENT (Chapter 2) SUMMARY MID TERM EXAM 2013/2014 Chapter 2 Pandangan Omnipotent (Mumpuni) dan Simbolis terhadap Manajemen Omnipotent View of Management Pandangan bahwa para manajer bertanggung jawab
Bagian 1. Tanggung Jawab Kewajiban Kepada Konsumen
LG Kode Etik Kita, di LG, saling berbagi dan percaya pada 2 kunci filosofi perusahaan yakni Menciptakan nilai bagi pelanggan dan Manajemen yang menjunjung martabat manusia. Berdasarkan filosofi ini dan
