Perkembangan LPD di Kota Denpasar
|
|
|
- Sukarno Hadiman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Perkembangan LPD di Kota Denpasar April LPD merupakan wadah kekayaan ekonomi desa dan telah mengalami perkembangan yang cukup pesat serta telah memberikan kontribusi positif bagi pembangunan desa pakraman di Kota Denpasar LPD
2 Pendahuluan Pembentukan LPD didasari oleh adanya warisan budaya berupa desa pakraman yg merupakan suatu bentuk/wadah sistem pemerintahan tingkat desa yang terdiri dari ikatan kekeluargaan. Prof.Dr I B Mantra sebagai tokoh yang sangat memperhatikan kelangsungan adat dan budaya serta perekonomian masyarakat Bali telah menciptakan gagasan ide untuk mengembangkan pola sekaa simpan pinjam menjadi sebuah lembaga yang dapat mendorong pembangunan perekonomian masyarakat sekaligus dapat melestarikan adat dan budaya yaitu LPD (Lembaga Perkreditan Desa). Pendirian LPD merupakan tindak lanjut dari hasil seminar kredit pedesaan di semarang pada Pebruari 1981 yang dilanjutkan dengan study banding di Lumbung Pitik Negari Sumatra Barat lalu ditindaklanjuti dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali Nomor 2 tahun 1984 tgl. 1 Nopember tentang Pendirian LPD dan Tahun 1985 dibentuk 8 LPD ditiap Kabupaten di Bali. DESA pakraman di Bali yang hingga kini memiliki Lembaga Perkreditan Desa (LPD) sebanyak LPD di Bali mencapai buah dari 1.68 Desa pakraman yang ada di Bali atau 96%. Dalam perkembangannya LPD telah cukup terbukti mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan dan kesejahteraan krama desa pakraman setempat. Dilain pihak perkembangan LPD juga dipengaruhi oleh kondisi masyarakat setempat yang berkaitan dengan kemampuan dan potensi ekonomi masyarakat, perhatian masyarakat sebagai pemilik dan profesionalisme pengelolaan LPD oleh pengurus. Perekembangan perekonomian pada tingkat regional maupun nasional bahkan global menuntut kinerja LPD yang semakin kompetitif pada masa-masa mendatang, hal ini hanya dapat terjawab dengan sinergis antar pengurus LPD dengan profesionalismenya, badan pengawas, masyarakat dan pemerintah untuk berkomitmen menjadikan LPD sebagai pusat informasi usaha strategis dan produktifitas masyarakat yang diarahkan untuk meningkatkan dan memberdayakan potensi ekonomi lokal yang pada gilirannya mampu meningkatkan daya saing dan kesejahteraan masyarakat desa pakraman LPD mempunyai peran yang sangat strategis karena selama ini telah melayani usaha mikro kecil (UMK) dan masyarakat pedesaan (krama desa) di Bali melalui pelayanan jasa keuangan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan nasabah, yaitu prosedur yang sederhana, proses yang singkat, pendekatan personal, serta kedekatan lokasi dengan nasabah. Pertumbuhan LPD yang relatif tinggi dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa keberadaan LPD memang dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan termasuk UMK yang selama ini dilayani. Spesifikasi LPD yang memiliki kedekatan budaya dan psikologi dengan nasabahnya,factor lokasi yang memungkinkan lembaga ini menjangkau nasabah, serta karakter bisnis yang luwes 2
3 merupakan kekuatan lembaga ini untuk bertahan dan memiliki daya saing terhadap lembaga sejenis terlebih dalam kondisi perekonomian dewasa ini. Kemajuan LPD yang diharapkan dapat menjadi lembaga pembiyaan yang efektif di masyarakat desa, akan berdampak positif terhadap pengembangan kawasan pedesaan, sebaga masyarakat akan terbantu dalam pendanaan untku mengembangkan potensi usaha diwilayahnya yang akan menjadikan pedesaan kompetitif dalam tatanan perekonomian global. Fungsi LPD Sejak digagasnya pada bulan November 1984 oleh Gubernur Bali, yang pada waktu itu dijabat oleh Ida Bagus Mantra (alm), LPD telah mengemban fungsi untuk mendorong pembangunan ekonomi masyarakat melalui tabungan yang terarah, serta penyaluran modal yang efektif. Di samping itu, LPD juga diharapkan dapat memberantas sistem ijon dan gadai gelap, yang saat itu kerap terjadi di masyarakat. Fungsi lain yang juga diemban adalah menciptakan pemerataan dan kesempatan kerja bagi warga pedesaan, baik yang bisa bekerja secara langsung di LPD maupun yang bisa ditampung oleh usaha-usaha produktif masyarakat yang dibiayai oleh LPD. Menciptakan daya beli, serta melancarkan lalu lintas pembayaran dan pertukaran di desa, juga menjadi tugas pokok LPD. Bila dikaitkan dengan indikator ekonomi makro yang terdiri atas peningkatan pendapatan nasional, penyediaan kesempatan kerja, menjaga stabilitas harga dengan menekan inflasi, serta memperkuat perdagangan internasional dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Maka apa yang ingin dicapai oleh LPD, sebetulnya sangat selaras dengan tujuan penguatan ekonomi makro. Penyaluran dana kepada usaha-usaha produktif di daerah pedesaan, tentu akan berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan regional daerah Bali. Di samping itu, dengan semakin berkembangnya usaha-usaha masyarakat yang dibiayai oleh LPD, maka usaha tersebut akan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Ini berarti, pengangguran dapat diatasi dan inflasi dapat ditekan. Sebagaimana telah diketahui, sebagaian besar masyarakat pedesaan di daerah Bali, berprofesi sebagai perajin yang pasarnya berorientasi ekspor. Dengan peran aktifnya dalam membiayai perajin, berarti LPD juga telah berkontribusi dalam memperkuat perdagangan internasional. Dari sudut pandang masyarakat, keberadaan LPD yang sehat, akan sangat membantu, baik secara ekonomi maupun sosial. Secara ekonomis, masyarakat memiliki alternatif untuk menyimpan dananya secara produktif dengan memperoleh pendapatan bunga yang bersaing dengan lembaga keuangan lainnya. Sementara bagi masyarakat yang membutuhkan dana, LPD biasanya merupakan pilihan utama, karena mereka dapat meminjam dana dengan prosedur yang tidak berbelit-belit. 3
4 Dampak sosial dari keberadaannya, tercermin dari taatnya setiap LPD dalam memenuhi isi peraturan daerah dan surat keputusan gubernur, yang mewajibkan LPD untuk menyumbangkan 20% keuntungannya untuk dana pembangunan desa dan 5% untuk dana sosial. Fungsi sosial ini akan meringankan beban masyarakat, karena mereka tidak perlu memikirkan iuran pembangunan desa dan dana sosial, setidak-tidaknya, sebesar yang telah disumbang oleh LPD. Dengan fungsi LPD yang sedemikian rupa, maka LPD yang terbangun dari sinergi budaya lokal dengan perkembangan zaman yang terpola dan ditingkatkan kapasitasnya berbasis pada konsep Agama Hindu kini dikuatkan dengan menajamkan fungsi LPD kepada Fungsi Ekonomi; (pembiayaan dan aktivitas ekonomi masyarakat desa), Fungsi Kultural; (menguatkan nilai/norma sosial/yadnya), Fungsi Spiritual; (keseimbangan dalam mencapai tujuan agama) Perkembangan LPD di Kota Denpasar Lembaga Perkeditan Desa (LPD) menempati posisi yang straegis dalam tataran pembangunan desa untuk mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi desa pakraman dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat desa. Sebagai wadah kekayaan ekonomi desa LPD diharapkan dapat berprean dalam meningkatkan efisiensi ekonomi desa, mendorong produktivitas masyarakat serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan Kota Denpasar pada umumnya. Dengan peran LPD yang sedemikian rupa maka sasaran umum LPD Kota Denpasar diarahkan pada: 1. Meningkatnya produktivitas LPD 2. Meningkatnya profesionalisme pengelolaan LPD 3. Meningkatnya produktivitas masyarakat desa pakraman 4. Meningkatnya daya saing LPD 5. Meningkatnya kualitas kelembagaan LPD Dalam kurun waktu kurang lebih 20 (dua puluh) tahun Lembaga Perkreditan Desa (LPD) telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, baik dari sisi jumlah maupun dari sisi perkembangan usahanya. Sebagai salah satu lembaga keuangan mikro, LPD telah cukup berperan dalam mendorong pembangunan ekonomi dan menciptakan kesempatan berusaha bagi masyarakat desa serta ikut serta berperan dalam menunjang program pemerintah dalam hal pengentasan kemiskinan. Di Kota Denpasar terdapat 35 buah Desa Pakraman dan secara keseluruhan telah terdapat 35 LPD yang berarti seluruh Desa pakraman di Kota Denpasar memiliki LPD. Perkembangan LPD di Kota Denpasar 5 tahun terakhir menunjukkan trend positif baik dari sisi asset, kredit yang dsalurkan maupun laba yang diperoleh. Hasil usaha LPD tersebut telah di kontribusikan sesuai dengan fungsi LPD untuk membangun Desa pakraman yaitu melalui kontribusi bagian laba LPD sebesar 20% untuk 4
5 pembangunan Desa Pakraman sedangkan 60% untuk modal LPD, 5% untuk dana sosial, 5% untuk dana pembinaan, pengawasan dan perlindungan serta 10% untuk jasa produksi. Berikut ini disajikan perkembangan LPD Kota Denpasar. Gambar 1 Perkembangan Asset (Dalam ribuan rupiah) 800,000,000 Perkembangan Asset LPD Kota Denpasar 700,000, ,000, ,000, ,000, ,000, ,000, ,000, ,516, ,117, ,283, ,056,286 96,363, ,908, ,977, ,333, ,290, ,944,950 - Asset Sumber : PLPDK Kota Denpasar Gambar 2 Perkembangan Pinjaman yang Diberikan (Dalam Ribuan Rupiah) Perkembangan Pinjaman Yang Diberikan LPD Kota Denpasar 500,000, ,000, ,000, ,000, ,000, ,000, ,000, ,000, ,000,000 50,000, ,600, ,788, ,944, ,497, ,813, ,862, ,665, ,805,039 87,937,375 - Sumber : PLPDK Kota Denpasar Pinjaman Y ang Diberikan 5
6 Gambar 3 Perkembangan Laba LPD (Dalam Ribuan Rupiah) Perkembangan Laba LPD Kota Denpasar 30,000,000 29,989,467 25,000,000 24,528,170 20,000,000 15,000,000 10,000,000 8,772,890 9,391,142 10,826,468 15,512,438 13,011,054 13,702,251 13,328,681 19,157,225 5,000, Laba Sumber : PLPDK Kota Denpasar NO URAIAN Tabel 1 Perkembangan LPD Kota Denpasar TAHUN Asset 96,363, ,056, ,283, ,117, ,516, ,908, ,977, ,333, ,290, ,944,950 2 Pinjaman Diberikan 73,464,411 87,937, ,805, ,665, ,862, ,813, ,497, ,944, ,788, ,600,009 3 Dana Pihak Ketiga 96,363, ,173, ,709, ,272, ,847, ,229, ,386, ,959, ,091, ,339,913 4 Laba 8,772,890 9,391,142 10,826,468 13,011,054 13,702,251 13,328,681 15,512,438 19,157,225 24,528,170 29,989,467 Sumber : PLPDK Kota Denpasar Perkembangan LPD saat ini sudah barang tentu diikuti oleh berbagai tugas berat yang harus di selesaikan yang menyangkut tantangan, hambatan maupun kedala, tidak saja dari faktor internal LPD itu sendiri tetapi juga dari faktor eksternal. Sejalan dengan perkembangan ekonomi masyarakat, hal ini merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan guna meningkatkan peran LPD dalam menyediakan / memberikan pelayanan kepada masyarakat desa. 6
7 Disamping adanya peluang-peluang bagi LPD, ada juga tantangan-tantangan yang dihadapi oleh LPD ke depan. Adapun peluang dan tantangan tersebut, sebagai berikut: Peluang 1. Keunggulan Komparatif; Keunggulan yang dimiliki oleh LPD dibandingkan dengan lembaga keuangan lain, terutama prosedur pelayanan yang sederhana, proses yang cepat, lokasi LPD dekat dengan nasabah, dan adanya skim kredit yang fleksibel. Disamping itu LPD juga melayani nasabah dengan pendekatan personal dan ada pelayanan jemput bola. Disamping itu LPD memiliki kompetensi inti (core competency) yakni nasabah LPD adalah warga Desa Pakraman yang sekaligus adalah pemilik LPD; sehingga loyalitas nasabah terhadap LPD cukup baik. 2. Adanya ikatan pemersatu (common bond) Desa Pakraman dengan adanya awig-awig desa serta pararem dapat mendukung kinerja LPD, disamping hukum formal berupa Peraturan Daerah dan Peraturan Gubernur. 3. Potensi Kerjasama Keuangan dengan Lembaga lain LPD dapat mengadakan kerjasama dengan LPD yang lain, dan juga dengan PT. Bank Pembangunan Daerah Bali. 4. Karakteristik sosial & ekonomi nasabah diketahui/dikenali oleh pengurus/ pengawas LPD, sehingga dapat membantu mempercepat pengambilan keputusan berkaitan dengan permohonan pinjaman. 5. Dalam upaya pengentasan kemiskinan dapat bekerjasama dengan Desa Dinas dan instasi yang terkait lainya dengan program yang di sinergikan. 6. Dukungan Kebijakan Pemerindah Daerah Pemerintah Provinsi Bali dan Pemda. Kabupaten/Kota memberikan perhatian yang sangat besar dalam memajukan LPD. Program pembinaan, dan pengawasan terhadap LPD menjadi tanggung-jawab Pemerintah Daerah. Berbagai bentuk pelatihan, bantuan modal serta dukungan sarana-prasarana banyak disediakan oleh pemerintah daerah. Tantangan 1. Persaingan yang semakin ketat dimasa yang akan datang, sehingga dibutuhkan peningkatan pelayanan serta diversifikasi produk sesuai kebutuhan krama desa (nasabah) 2. Wilayah operasional yang relatif terbatas; Sesuai peraturan daerah tentang LPD, wilayah operasi LPD terbatas pada satu Desa Pakraman saja, sehingga ada beberapa LPD yang mengalami kelebihan dana (over liquid) karena terbatasnya peminjam. Hal ini perlu 7
8 disiasati dengan berbagai cara, seperti misalnya pengembangan usaha produktif warga desa (sektor riil). 3. Peningkatan Efisiensi LPD; meskipun secara umum kinerja LPD sudah baik berdasarkan indikator keuangan seperti ROA, ROE, efisiensi LPD masih peru ditingkatkan terutama dari sisi produktivitas SDM, mengingat salah satu sumber efisiensi LPD adalah rendahnya keterampilan dan profesionalisme SDM LPD 4. Supervisi LPD belum optimal; masih banyak ditemui belum optimalnya supervisi LPD, terutama supervisi internal pada beberapa LPD. 5. Belum adanya program perlindungan khusus bagi nasabah (deposan) 6. Masih sering terjadi permasalahan karena konflik kepentingan, misalnya pergantian pengurus karena alasan yang tidak rasional. Manfaat LPD bagi Masyarakat dan Peran Penting Masyarakat dalam Pengembangan LPD Manfaat LPD bagi Masyarakat Keberadaan LPD di Desa Pakraman memberikan manfaat yang sangat besar bagi pembangunan di desa. Dari segi ekonomi keberadaan LPD memberikan manfaat yang besar, antara lain Krama Desa Pakraman memiliki fasilitas untuk menyimpan dananya secara produktif, dengan memperoleh imbalan bunga yang bersaing bila dibandingkan dengan lembaga keuangan mikro lainnya; sedangkan bagi Krama Desa Pakraman yang membutuhkan dana, dapat meminjam di LPD dengan tingkat bunga yang bersaing sesuai tingkat bunga pasar serta dengan prosedur dan persyaratan yang mudah dipenuhi. Manfaat nyata dari keberadaan LPD dapat dilihat dari kontribusi sebesar 20% dari keuntungan bersih tiap tahun untuk dana pembangunan desa, serta 5% untuk dana sosial. Penggunaan Keuntungan LPD; Sesuai dengan Keputusan Gubernur Bali No. 4 Tahun 2003 tentang Penyetoran dan Penggunaan Keuntungan Bersih LPD, ditentukan sebagai berikut: Alokasi Keuntungan Bersih (Setiap Tahun); Cadangan Modal : 60 % Dana Pembangunan Desa : 20 % Jasa Produksi : 10 % Dana Pembinaan, Pengawasan dan Perlindungan : 5 % Dana Sosial : 5 % 8
9 Kontribusi nyata LPD (berupa dana/uang) untuk menunjang pembangunan desa di Kota Denpasar jumlahnya relatif besar dan telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Penyaluran kredit dari LPD kepada masyarakat ikut mendorong laju pertumbuhan industri kecil / mikro sehingga pertumbuhan ekonomi masyarakat desa semakin maju, hal ini juga berarti dapat mempengaruhi peningkatan pendapatan masyarakat (multiplier effect). Disamping semua hal diatas, LPD telah ikut memperluas kesempatan kerja, serta telah ikut menunjang program pemerintah dalam hal pengentasan kemiskinan. Peran Penting Masyarakat dalam Pengembangan LPD Masyarakat / warga Desa Pakraman adalah pemilik LPD dan sekaligus sebagai nasabah LPD. Perkembangan/kemajuan LPD sangat ditentukan oleh partisipasi aktif warga Desa Pakraman dalam memanfaatkan produk-produk LPD, seperti: produk tabungan, deposito dan pinjaman. Motivasi masyarakat menempatkan dananya di LPD dalam bentuk tabungan dan deposito cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari keberhasilan LPD menghimpun dana masyarakat mengalami peningkatan dari tahun-ketahun. Hal ini juga menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat untuk menempatkan dananya di LPD cukup tinggi. Demikian juga halnya dengan pilihan masyarakat dalam mendapatkan dana pinjaman di LPD dari tahun-ketahun mengalami peningkatan. Startegi pengembangan LPD Sesuai dengan Blue Print LPD Bali, strategi penguatan dan peningkatan peran LPD dalam melayani kebutuhan pelayanan keuangan warga Desa Pakraman, mencakup hal-hal sebagai berikut: Strategi 1. Meningkatkan kualitas pengaturan Strategi 2. Memperkuat struktur industri dan permodalan LPD Strategi 3. Meningkatkan efektivitas sistem pengawasan Strategi 4. Mendorong kualitas tata kelola (governance), manajemen dan operasional yang sehat dan profesional. Strategi 5. Secara bertahap mewujudkan infrastuktur pendukung industri LPD Strategi 6. Mewujudkan perlindungan terhadap LPD, serta mengupayakan pemberdayaan serta perlindungan terhadap nasabah. Arah Kebijakan pengembangan LPD di Kota Denpasar Dalam rangka mewujudkan dan mencapai sasaran tersebut Program LPD Mandiri di Kota Denpasar akan dilaksanakan dengan arah kebijakan sebagai berikut: 9
10 1. Mengembangkan LPD yang diarahkan untuk memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi desa pakraman 2. Memperluas kesempatan berusaha serta menumbuhkan wirausaha baru dilingkungan desa pakraman 3. Mengembangkan daya saing LPD melalui peningkatan pemanfaatan teknologi informas, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan inovasi produk dan layanan 4. Memperkuat kelembagaan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential) dan manajemen resiko dengan mengembangkan prinsip TARIF (Transparancy, Accountable, Responsibilities, Indepedency dan Fairness). 5. Memperkuat hubungan harmonisasi antara pengurus, badan pengawas masyarakat esa pakraman dan pemerintah 6. Keseimbangan antara orientasi profit (keuntungan) dengan orientasi sosial kemasyarakatan (yadnya) terhadap pembangunan desa Sasaran dan arah kebijakan program LPD mandiri tersebut dijabarkan atau diimplementasikan pada kegiatan yang diarahkan pada upaya-upaya sebagai berikut: 1. Akses peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk sistem pengelolaan SDMnya 2. Akses penguatan teknologi dengan memanfaatkan teknologi informasi secara bertahap 3. Akses pengembangan dan peningkatan produk-produk unggulan terutama produk-produk yang berkaitan dengan yadnya 4. Akses penguatan terhadap financial management dan sumber pembiayaan yang murah bagi LPD 5. Akses terhadap pembinaan, monitoring dan evaluasi serta pengawasan yang lebih profesional Implementasi Pembinaan, Penguatan kapasitas dan pengembangan LPD di Kota Denpasar Kebijakan/progam strategis Pemerinth Kota Denpasar thd perkembangan LPD adalah menjadikan LPD sebagai pusat informasi usaha strategis dan produktifitas masyarakat dengan melaksanakan pola pembinaan berupa : 1. Pelatihan kepemimpinan dan Badan pengawas LPD 2. Penyaluran Dana Bergulir dan bantuan sarana/prasarana operasional LPD 3. Penerapan system operasi berbasis IT 4. Monitoring dan evaluasi dalam rangka pembenahan LPD secara teknis (tim terdiri dari Pemerintah Kota Denpasar, BPD cabang Utama Denpasar dan PLPDK Kota Denpasar. 5. Peningkatan wawasan ke lembaga keuangan mikro sejenis 10
11 6. Stock Opname terhadap LPD dengan kategori cukup sehat Peraturan Perundangan-undangan tentang LPD 1. Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman (Lembaran Daerah Propinsi Bali Tahun 2001 Nomor 29 seri D Nomor 29), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 3 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman (llembaran Daerah Propinsi Bali Tahun 2003 Nomor 11); 2. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang Lembaga Perkreditan Desa (Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 2002 Nomor 20, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 3 ), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang Lembaga Perkreditan Desa (Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 2007 Nomor 3); 3. Peraturan Gubernur Bali tanggal 15 Mei 2008 Nomor 16 Tahun 2008 tentang Pengurus dan Pengawas Internal Lembaga Perkreditan Desa (Berita Daerah Provinsi Bali Tahun 2008 Nomr 16;) 4. Peraturan Walikota Denpasar tanggal 29 Desember 2006 Nomor 40 Tahun 2006 tentang Pedoman Pembinaan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Kota Denpasar (Berita Daerah Kota Denpasar Tahun 2006 Nomor 37). Nama LPD di Kota Denpasar Kec. Denpasar Utara 1. LPD Desa pakraman Tonja 2. LPD Desa pakraman Oongan 3. LPD Desa Pakraman Ubung 4. LPD Desa pakraman Pohgading 5. LPD Desa Pakraman Peguyangan 6. LPD Desa Pakraman Peraupan 7. LPD Desa Pakraman Peninjauan 8. LPD Desa Pakraman Kedua 9. LPD Desa Pakraman Jenah 10. LPD Desa Pakraman Cengkilung Kec. Denpasar Timur 1. LPD Desa pakraman Sumerta 2. LPD Desa Pakrman Kesiman 3. LPD Desa Pakraman Yangbatu 4. LPD Desa pakraman Pagan 5. LPD Desa Pakraman Tanjung Bungkak 6. LPD Desa Pakraman Tembawu 7. LPD Desa Pakraman Penatih Puri 11
12 8. LPD Desa Pakraman Penatih 9. LPD Desa Pakraman Laplap 10. LPD Desa Pakraman Angabaya 11. LPD Desa Pkraman Bekul 12. LPD Desa Pakraman Pohmanis Kec. Denpasar Selatan 1. LPD Desa Pakraman Kepaon 2. LPD Desa Pakraman Pemogan 3. LPD Desa Pakraman Pedungan 4. LPD Desa Pakraman Sesetan 5. LPD Desa Pakraman Panjer 6. LPD Desa Pakraman Sidakarya 7. LPD Desa Pakraman Intaran 8. LPD Desa Pakraman Sanur 9. LPD Desa Pakraman Renon 10. LPD Desa Pakraman Serangan 11. LPD Desa Pakraman Penyaringan Kec. Denpasar Barat 1. LPD Desa Pakraman Denpasar 2. LPD Desa Pakraman Padang Sambian Sumber : Blue Print LPD Bali, PLPDK Kota Denpasar, I Wayan Ramantha (LPD dan Pembangunan Ekonomi Desa) Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Denpasar I Dewa Made Agung, SE, Msi NIP
I. PENDAHULUAN. untuk mengatasi masalah aksesibilitas kredit yang banyak dialami pelaku Usaha
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendirian Lembaga Keuangan Mikro (LKM) merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah aksesibilitas kredit yang banyak dialami pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
BAB I PENDAHULUAN. satunya mengatur pendirian Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Pemerintah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk merancang dan menerapkan mutu kebijakan dalam rangka melindungi dan membina desa pakraman serta mewujudkan maupun meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. sumber daya dan sumber dana yang tersedia secara optimal. Lembaga keuangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi suatu negara memerlukan pola pengaturan pengolahan sumber-sumber ekonomi yang tersedia, terarah dan terpadu serta dimanfaatkan bagi peningkatan
BAB I PENDAHULUAN. Pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan taraf hidup
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak saat ini terus dilakukan. Berbagai upaya ke arah itu khususnya di bidang
: Pengaruh Prinsip-prinsip Good corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Kota Denpasar ABSTRAK
Judul Nama : Pengaruh Prinsip-prinsip Good corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Kota Denpasar : Putu Krishna Aryastha M NIM : 1306305143 ABSTRAK Good Corporate
DESA PAKRAMAN UBUNG KECAMATAN DENPASAR UTARA KOTA DENPASAR Alamat : Jl. Cokroaminoto, No. 125 Denpasar, Telp. (0361)
DESA PAKRAMAN UBUNG KECAMATAN DENPASAR UTARA KOTA DENPASAR Alamat : Jl. Cokroaminoto, No. 125 Denpasar, Telp. (0361) 423988 KAJIAN PEMINDAHAN DAN PEMBANGUNAN KANTOR LEMBAGA PERKREDITAN (LPD) DESA PAKRAMAN
BAB I PENDAHULUAN. permodalan yang pada umumnya rata-rata relatif lemah. Munculnya kendala
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga keuangan memiliki peranan penting dalam meningkatkan kemandirian kehidupan desa, khususnya dalam meningkatkan pembangunan di bidang perekonomian. Salah
BAB I PENDAHULUAN. dikenal dengan sebutan lembaga perkreditan desa (LPD).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Lembaga keuangan bank mempunyai peranan penting dalam meningkatkan pembangunan di Indonesia khususnya di bidang perekonomian. Sebagian besar penduduk Indonesia
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG LEMBAGA PERKREDITAN DESA. 2.1 Sejarah Singkat Terbentuknya Lembaga Perkreditan Desa (LPD)
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG LEMBAGA PERKREDITAN DESA 2.1 Sejarah Singkat Terbentuknya Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Di Bali sebelum adanya LPD telah banyak terbentuk kelompok sekeha-sekeha yang intinya
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. untuk memotivasi individu-individu untuk mencapai keselarasan tujuan. Teori ini
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Teori Keagenan Teori agensi mengeksplorasi bagaimana kontrak dan insentif dapat ditulis untuk memotivasi individu-individu untuk mencapai
BAB I PENDAHULUAN. memungkinkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya guna meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan perekonomian masyarakat pedesaan sangat penting dalam menunjang pembangunan nasional, karena sebagian besar penduduk Indonesia berada di daerah
BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO
BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 47 TAHUN : 2010 SERI : E PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 63 TAHUN 2010 TENTANG PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN
BAB I PENDAHULUAN. Desa adat merupakan organisasi sosial yang bersifat tradisional. Desa adat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Desa adat merupakan organisasi sosial yang bersifat tradisional. Desa adat memiliki hak ekonomi dan sosial yang merupakan kekuasaan untuk mengatur hubungan
BAB I PENDAHULUAN. dengan memiliki lembaga keuangan yang kuat dan modern. Dimana
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Dalam suatu Negara, lembaga keuangan berperan aktif dalam membantu pertumbuhan ekonomi. Salah satu hal yang menunjukkan bahwa sebuah Negara telah memiliki kemajuan
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
Judul : Pengaruh Pengendalian Intern Kredit, Likuiditas, dan Ukuran Perusahaan pada Kemampulabaan Lembaga Perkreditan Desa di Kota Denpasar Nama : Ni Wayan Jessy Janawati NIM : 1306305045 Abstrak Lembaga
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa masyarakat adil dan makmur
WALIKOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH
WALIKOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN, Menimbang
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 43 TAHUN 2006 TENTANG
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 43 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN DANA PENGUATAN MODAL UNTUK USAHA EKONOMI PRODUKTIF MASYARAKAT MISKIN SERTA PENGUSAHA MIKRO DAN KECIL DI PROVINSI BALI GUBERNUR
PEMBENTUKAN KOTA ADMINISTRATIF DENPASAR Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1978 Tanggal 1 Juli 1978 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PEMBENTUKAN KOTA ADMINISTRATIF DENPASAR Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1978 Tanggal 1 Juli 1978 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berhubung dengan perkembangan dan kemajuan di wilayah
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LEMBATA, Menimbang : a. bahwa usaha mikro, kecil dan
GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG LEMBAGA PERKREDITAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,
GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG LEMBAGA PERKREDITAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa Lembaga Perkreditan Desa diperlukan
I. PENDAHULUAN Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan ekonomi suatu negara tidak lepas dari peran penting perbankan. Peranan penting perbankan dalam era pembangunan nasional adalah sebagai sumber permodalan
PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 12 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN KECAMATAN DENPASAR UTARA DI KOTA DENPASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 12 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN KECAMATAN DENPASAR UTARA DI KOTA DENPASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DENPASAR, Menimbang : a. Bahwa berhubung dengan
PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG
PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 8 TAHUN 2002 TENTANG LEMBAGA PERKREDITAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR
I. PENDAHULUAN. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) merupakan lembaga keuangan yang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bank Perkreditan Rakyat (BPR) merupakan lembaga keuangan yang dibentuk terutama untuk melayani kebutuhan pelayanan jasa-jasa perbankan bagi masyarakat ekonomi lemah terutama
BAB I PENDAHULUAN. dihadapi dunia usaha termasuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) saat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Aktivitas bisnis merupakan fenomena yang sangat kompleks karena mencakup berbagai bidang diantaranya hukum, ekonomi, dan politik. Perkembangan perekonomian
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, salah satu keunikan yang dimiliki adalah eksistensi desa pakraman,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bali memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia, salah satu keunikan yang dimiliki adalah eksistensi desa pakraman, yang
ANALISIS KINERJA KEUANGAN PADA LEMBAGA PERKREDITAN DESA (LPD) DESA ADAT SUMERTA DI DENPASAR
ANALISIS KINERJA KEUANGAN PADA LEMBAGA PERKREDITAN DESA (LPD) DESA ADAT SUMERTA DI DENPASAR Oleh : Ni Ayu Meilani Dewi I Made Artawan Dewa Ayu Putu Niti Widari ABSTRAKSI LPD merupakan salah satu kebijakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada umumnya pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara sedang berkembang mempunyai tujuan untuk menciptakan pembangunan ekonomi yang hasilnya
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG. Nomor : 08 Tahun 2015
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG Nomor : 08 Tahun 2015 Menimbang : Mengingat : PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG USAHA MIKRO DAN KECIL DI KABUPATEN SERANG DENGAN RAHMAT TUHAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PENGEMBANGAN KOPERASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LEMBATA,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PENGEMBANGAN KOPERASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LEMBATA, Menimbang : a. bahwa pembangunan koperasi merupakan tugas bersama antara
BAB I PENDAHULUAN. Bank. Kegiatan utama dari perbankan adalah menghimpun dana dari masyarakat dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan perekonomian dan dunia bisnis yang semakin pesat menuntut adanya persaingan usaha yang semakin ketat pula. Hal inilah yang menjadi pemikiran penting
PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG
PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 8 TAHUN 2002 TENTANG LEMBAGA PERKREDITAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,
I. PENDAHULUAN. sektor jasa keuangan pada umumnya dan pada perbankan khususnya. Pertumbuhan ekonomi dapat terwujud melalui dana perbankan atau potensi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Kehidupan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari keberadaan serta peran penting sektor jasa keuangan pada umumnya dan pada perbankan khususnya. Pertumbuhan ekonomi
BAB IV LANDASAN PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM
BAB IV LANDASAN PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM Pancasila dan Undang-undang Dasar Tahun 1945 merupakan landasan ideologi dan konstitusional pembangunan nasional termasuk pemberdayaan koperasi dan usaha
BAB I PENDAHULUAN. yang sangat penting dalam mengalokasikan sumber-sumber ekonomi untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perbankan memiliki peran yang strategis dalam menunjang berjalannya roda perekonomian dan pembangunan nasional, mengingat fungsinya sebagai lembaga intermediasi,
BAB I PENDAHULUAN. barang, pesaing, perkembangan pasar, perkembangan perekonomian dunia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini laju pertumbuhan ekonomi dunia dipengaruhi oleh dua elemen penting yaitu globalisasi dan kemajuan teknologi yang menyebabkan persaingan diantara perusahaan
BAB I PENDAHULUAN. Saat ini peningkatan kinerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini peningkatan kinerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) masih dilanda berbagai hambatan dan tantangan dalam menghadapi persaingan. Hambatan dan tantangan
BAB I PENDAHULUAN. Peran perbankan dalam masa pembangunan saat ini sangatlah penting dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah. Peran perbankan dalam masa pembangunan saat ini sangatlah penting dan dibutuhkan untuk menunjang kegiatan usaha di Indonesia, hal ini terlihat dari besarnya
BAB I PENDAHULUAN. selama periode tertentu (Munawir, 2002:33). Rentabilitas suatu perusahaan dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Rentabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Munawir, 2002:33). Rentabilitas suatu perusahaan dapat diketahui
BAB I PENDAHULUAN. rakyat banyak saat ini terus dilakukan. Berbagai upaya ke arah itu khususnya di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak saat ini terus dilakukan. Berbagai upaya ke arah itu khususnya di bidang ekonomi
PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG PENGUATAN PEMODALAN KOPERASI, USAHA MIKRO DAN KECIL POLA BERGULIR
PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG PENGUATAN PEMODALAN KOPERASI, USAHA MIKRO DAN KECIL POLA BERGULIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa koperasi, usaha
PENGARUH MODAL, AKTIVA LANCAR, TERHADAP KEUNTUNGAN LPD DESA PAKRAMAN TIMPAG KECAMATAN KERAMBITAN KABUPATEN TABANAN
PENGARUH MODAL, AKTIVA LANCAR, TERHADAP KEUNTUNGAN LPD DESA PAKRAMAN TIMPAG KECAMATAN KERAMBITAN KABUPATEN TABANAN I MADE GITRA ARYAWAN IDA BAGUS GDE WIRAKUSUMA Fakultas Ekonomi Universtas Tabanan ABSTRAK
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 3.1.1 Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kerangka Ekonomi Daerah dan Pembiayaan
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi dalam RPJMD Kabupaten Cilacap 2012 2017 dirumuskan dengan mengacu kepada visi Bupati terpilih Kabupaten Cilacap periode 2012 2017 yakni Bekerja dan Berkarya
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Pada bagian perumusan isu strategi berdasarkan tugas dan fungsi Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan mengemukakan beberapa isu strategis
I. PENDAHULUAN. Usaha Mikro dan Kecil (UMK), yang merupakan bagian integral. dunia usaha nasional mempunyai kedudukan, potensi dan peranan yang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Usaha Mikro dan Kecil (UMK), yang merupakan bagian integral dunia usaha nasional mempunyai kedudukan, potensi dan peranan yang sangat penting dan strategis
I. PENDAHULUAN. Bank merupakan lembaga keuangan terpenting dan sangat. bank bagi perkembangan dunia usaha juga dinilai cukup signifikan, dimana bank
I. PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Bank merupakan lembaga keuangan terpenting dan sangat mempengaruhi perekonomian baik secara mikro maupun secara makro. Peran bank bagi perkembangan dunia usaha juga dinilai
I. PENDAHULUAN. bentuk investasi kredit kepada masyarakat yang membutuhkan dana. Dengan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Fungsi pokok bank sebagai lembaga intermediasi sangat membantu dalam siklus aliran dana dalam perekonomian suatu negara. Sektor perbankan berperan sebagai penghimpun dana
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pertama, Kedua, Ketiga, Keempat, Kelima, Keenam, Pertama, Kedua, Ketiga, Keempat, Kelima,
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kebijakan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KUKM) dewasa ini telah diatur di dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 7 Tahun
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITAR SERI C PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2012
4 Oktober 2012 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITAR SERI C 3/C PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi tidak lepas dari peranan sektor perbankan sebagai lembaga pembiayaan bagi sektor riil. Pembiayaan yang diberikan sektor perbankan kepada sektor riil
PT. : : : ABSTRAK
Judul : Prosedur Pembukaan dan Pencairan Deposito Rupiah pada PT. Bank Pembangunan Daerah Bali Kantor Cabang Utama Denpasar Nama : Deya Rahmania Nim : 1406013044 ABSTRAK Usaha perbankan meliputi tiga kegiatan,
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang : a. bahwa Usaha Mikro,
Kata Kunci: LPD, pertumbuhan laba, pertumbuhan aset.
Judul : Analisis Faktor Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba dan Dampaknya Terhadap Pertumbuhan Aset LPD di Kabupaten Gianyar Nama : Ni Made Jeny Lestari Dewi NIM : 1315351091 Abstrak Pertumbuhan
BAB I PENDAHULUAN. Namun, fasilitas dan pelayanan perbankan hanya terkonsentrasi di perkotaan,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam rangka menciptakan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, salah satu cara yaitu dengan menciptakan dan memberikan pelayanan di bidang keuangan. Namun, fasilitas
REKAPITULASI PSKS TINGKAT KABUPATEN/KOTA TAHUN 2015
REKAPITULASI PSKS TINGKAT KABUPATEN/KOTA Kesejahtera an (WPKS) Berbasis Dunia Yang Melakukan 1 DENPASAR BARAT 2 31 20 38 0 3 212 28 11 39 0 12 2 DENPASAR TIMUR 0 2 10 11 0 1 138 26 7 6 1 0 3 DENPASAR SELATAN
MATRIK TAHAPAN RPJP KABUPATEN SEMARANG TAHUN
MATRIK TAHAPAN RPJP KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2005-2025 TAHAPAN I (2005-2009) TAHAPAN I (2010-2014) TAHAPAN II (2015-2019) TAHAPAN IV (2020-2024) 1. Meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat Kabupaten
penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan pendapatan bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah.
4.1.15 URUSAN WAJIB KOPERASI DAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH 4.1.15.1 KONDISI UMUM Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah atau yang sering disebut UMKM, merupakan salah satu bentuk organisasi ekonomi rakyat
BAB I PENDAHULUAN. dilakukan oleh suatu bangsa dalam upaya untuk meningkatkan pendapatan dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ekonomi diartikan sebagai suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh suatu bangsa dalam upaya untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan yang dilakukan
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI. 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Dinas Tenaga Kerja Permasalahan pembangunan daerah merupakan gap expectation
BAB I PENDAHULUAN. Kontribusi Lembaga Perkreditan Desa atau LPD dalam perekonomian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kontribusi Lembaga Perkreditan Desa atau LPD dalam perekonomian rakyat pedesaan di Bali merupakan indikator keberhasilan LPD. Semakin besar peran LPD kepada
DATA PASAR SEKOTA DENPASAR PASAR DAERAH / INPRESS
DATA PASAR SEKOTA DENPASAR PASAR DAERAH / INPRESS NO NAMA PASAR ALAMAT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Pasar Inpress Sanglah Pasar Sanglah Pasar Abian Timbul Pasar Asoka Kreneng Pasar Kreneng Pasar
GUBERNUR JAWA TENGAH RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR TENTANG INOVASI DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH
Draft 4 GUBERNUR JAWA TENGAH RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR TENTANG INOVASI DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang : a.
BAB I PENDAHULUAN. Keberadaan perbankan memiliki peranan yang strategis dalam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberadaan perbankan memiliki peranan yang strategis dalam pembangunan, terutama dalam posisinya sebagai financial intermediary; sebagai lembaga perantara keuangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan bagian terbesar dalam perekonomian Indonesia, indikator tingkat partisipasi masyarakat dalam berbagai sektor
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. VISI Berdasarkan kondisi yang dihadapi Kabupaten Aceh Barat Daya serta permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam 5 (lima) tahun mendatang dengan memperhitungkan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN BAB I 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi sangat terkait erat dengan pembangunan sosial masyarakatnya. Pada awalnya pembangunan ekonomi lebih diprioritaskan pada pertumbuhannya saja, sedangkan
BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 29 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA PERKREDITAN DESA BUPATI BADUNG,
BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 29 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA PERKREDITAN DESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan tujuan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) dalam mendorong
BAB I PENDAHULUAN. dalam sistem keuangan di Indonesia. Pengertian bank menurut Undang-Undang
11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perbankan adalah salah satu lembaga keuangan yang memiliki peranan dalam sistem keuangan di Indonesia. Pengertian bank menurut Undang-Undang No.7 tahun 1992 tentang
Kata Kunci : Kredit Usaha Rakyat (KUR), Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dan
Judul :Efektivitas Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung Nama : Daniel Kadju NIM : 1206105103 Abstrak Kredit Usaha Rakyat
BAB I PENDAHULUAN. kekurangan dalam banyak hal. Baik itu dari segi pemerintahan, pendidikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia saat ini menjadi negara yang masih tergolong miskin dan kekurangan dalam banyak hal. Baik itu dari segi pemerintahan, pendidikan maupun ekonomi. Permasalahan
BAPPEDA KAB. LAMONGAN
BAB IV VISI DAN MISI DAERAH 4.1 Visi Berdasarkan kondisi Kabupaten Lamongan saat ini, tantangan yang dihadapi dalam dua puluh tahun mendatang, dan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki, maka visi Kabupaten
BAB I PENDAHULUAN. Dunia bisnis senantiasa berjalan secara dinamis untuk mendukung
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dunia bisnis senantiasa berjalan secara dinamis untuk mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Aktivitas bisnis merupakan salah satu bagian dari
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara yang berkembang saat ini menghadapi banyak
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai negara yang berkembang saat ini menghadapi banyak permasalahan yang terkait dengan hal ekonomi dan pembangunan. Hal ini diakibatkan oleh dampak
NO SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO SERI. E
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO. 13 2008 SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 14 TAHUN 2008 TENTANG PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT PADA PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH. karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun dapat
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Kondisi perekonomian Kabupaten Lamandau Tahun 2012 berikut karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun 2013-2014 dapat digambarkan
PENGARUH TINGKAT PERPUTARAN KAS, PERTUMBUHAN KREDIT, DAN RASIO BOPO PADA PROFITABILITAS LPD DI KOTA DENPASAR PERIODE
PENGARUH TINGKAT PERPUTARAN KAS, PERTUMBUHAN KREDIT, DAN RASIO BOPO PADA PROFITABILITAS LPD DI KOTA DENPASAR PERIODE 2006-2010 I Wayan Adi Bayu Prawira 1 I Gede Suparta Wisadha 2 1 Fakultas Ekonomi Universitas
BAB I PENDAHULUAN. tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Era Otonomi Daerah menurut Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara
BAB I PENDAHULUAN. Dunia perbankan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini telah. mengalami perkembangan yang cukup pesat, ini dibuktikan dengan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia perbankan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, ini dibuktikan dengan semakin banyaknya bank pemerintah
