h2009f PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "h2009f PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO"

Transkripsi

1

2 h29f PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 8 TAHUN 2 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2 25 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 8 28 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah dalam upaya mewujudkan memantapkan tujuan penyelenggaraan pemerintahan pelaksanaan pembangunan perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2 25; Mengingat :. UngUng Nomor 2 95 tentang Pembentukan Daerahdaerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur Juncto Ung Ung Nomor tentang Perubahan Batas Wilayah Kotapraja Surabaya Daerah Tingkat II Surabaya (Lembaran Negara Republik Indonesia 965 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 273);

3 2 2. UngUng Nomor tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih Bebas dari Korupsi, Kolusi Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia 999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 385); 3. UngUng Nomor 7 23 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia 23 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 4. UngUng Nomor 24 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia 24 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 5. UngUng Nomor 24 tentang Pembentukan Peraturan PerungUngan (Lembaran Negara Republik Indonesia 24 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); 6. UngUng Nomor 5 24 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia 24 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 44); 7. UngUng Nomor tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia 24 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 442); 8. UngUng Nomor tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia 24 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Ung Ung Nomor 2 28 (Lembaran Negara Republik Indonesia 28 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

4 3 9. UngUng Nomor tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia 24 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);. UngUng Nomor 7 27 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia 27 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 47);. UngUng Nomor tentang Penataan Ruang, (Lemb aran Negara Republik Indonesia 27 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 2. UngUng Nomor tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia 2 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 543); 3. Peraturan Pemerintah Nomor tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, (Lembaran Negara Republik Indonesia 25 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 4. Peraturan Pemerintah Nomor tentang Pedoman Penyusunan Dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia 25 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585); 5. Peraturan Pemerintah Nomor tentang Pedoman Pembinaan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia 25 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);

5 4 6. Peraturan Pemerintah Nomor 3 27 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat, (Lembaran Negara Republik Indonesia 27 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4693); 7. Peraturan Pemerintah Nomor tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, (Lembaran Negara Republik Indonesia 27 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 4 27 tentang Organisasi Perangkat Daerah; 9. Peraturan Pemerintah Nomor 6 28 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia 28 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 485); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 8 28 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia 28 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 487); 2. Peraturan Presiden Nomor 5 2 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 224; 22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 27;

6 5 23. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 tentang Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan; 24. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 2 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 28 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 25. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 26 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur 26 Nomor 2); 26. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Timur 2924 (Berita Daerah Provinsi Jawa Timur 29 Nomor 38 29/E); 27. Peraturan Daerah Nomor 5 2 tentang Perubahan Peraturan Daerah Nomor 993 tentang Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Daerah Tingkat II Mojokerto 99/99 23/24 (Lembaran Daerah Nomor 5 Seri C 2); 28. Peraturan Daerah Nomor 9 26 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Pemerintahan Desa (Lembaran Daerah 26 Nomor Seri D, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 6); 29. Peraturan Daerah Nomor 28 tentang Organisasi Tata Kerja Sekretariat Daerah Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Daerah 28 Nomor, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 7);

7 6 3. Peraturan Daerah Nomor 28 tentang Organisasi Tata Kerja Dinas Daerah kabupaten Mojokerto (Lembaran Daerah 28 Nomor, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 8); 3. Peraturan Daerah Nomor 2 28 tentang Organisasi Tata Kerja Inspektorat, Ba Perencanaan Pembangunan Daerah Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Mojokerto (Lembaran Daerah 28 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 9); 32. Peraturan Daerah Nomor 3 28 tentang Organisasi Tata Kerja Kecamatan Kelurahan (Lembaran Daerah 28 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor ); 33. Peraturan Daerah Nomor 5 28 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) (Lembaran Daerah 28 Nomor 5); 34. Peraturan Daerah Nomor 3 2 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 28 tentang Organisasi Tata Kerja Sekretariat Daerah Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Mojokerto 2 Nomor 3); 35. Peraturan Daerah Nomor 4 2 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 28 tentang Organisasi Tata Kerja Dinas Daerah kabupaten Mojokerto (Lembaran Daerah 2 Nomor 3);

8 7 36. Peraturan Daerah Nomor 5 2 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 2 28 tentang Organisasi Tata Kerja Inspektorat, Ba Perencanaan Pembangunan Daerah Lembaga Teknis Daerah (Lembaran Daerah 2 Nomor 3). Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO BUPATI MOJOKERTO MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN Pasal Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan :. Daerah adalah. 2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Mojokerto. 3. Bupati adalah Bupati Mojokerto. 4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, yang selanjutnya disingkat RPJMN adalah Dokumen Perencanaan Nasional untuk periode 5 (lima) tahun. 5. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah Dokumen Perencanaan Daerah untuk periode 2 (dua puluh) tahun. 6. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah Dokumen Perencanaan Daerah untuk periode 5 (lima) tahun.

9 8 7. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disebut Renstra SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. 8. Rencana Pembangunan an Daerah, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode (satu) tahun. 9. Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat Renja SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode (satu) tahun.. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia.. Pembangunan Daerah adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua; komponen daerah dalam rangka mencapai tujuan daerah. 2. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 3. Misi adalah rumusan umum mengenai upayaupaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Pasal 2 RPJMD merupakan penjabaran dari visi, misi, program Bupati yang penyusunannya berpedoman pada RPJPD memperhatikan RPJMD Propinsi Jawa Timur, memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pernbangunan Daerah, kebijakan umum, program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, program kewilayahan disertai dengan rencanarencana kerja dalam kerangka regulasi kerangka penaan yang bersifat indikatif.

10 9 Pasal 3 RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN a. Latar Belakang b. Dasar Hukum Penyusunan c. Hubungan Antar Dokumen d. Sistematika Penulisan e. Maksud Tujuan f. Prinsip Dasar Menata Pembangunan BAB II : GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH a. Aspek Geografi Demografi b. Aspek Kesejahteraan Masyarakat c. Aspek Pelayanan Umum d. Aspek Daya Saing Daerah e. Kondisi yang Diinginkan Secara Umum BAB III : GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH a. Kinerja Keuangan Masa Lalu b. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu c. Kerangka Penaan BAB IV : ANALISIS ISUISU STRATEGIS a. Permasalahan Pembangunan b. Analisis Lingkungan c. Isu Strategis BAB V : VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN a. Visi b. Misi c. Tujuan Sasaran BAB VI : STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN a. Strategi b. Arah Kebijakan Pembangunan BAB VII : KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH a. Kebijakan Umum Pembangunan b. Program Lintas SKPD c. Program Kewilayahan BAB VIII : INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS BAB IX : PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB X : PENUTUP a. Kesimpulan b. Kaidah Pelaksanaan Pedoman Transisi LAMPIRAN

11

12 PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 8 TAHUN 2 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2 25 I. UMUM Berdasarkan Pasal 5 ayat ( 2) Pasal 3 ayat (2) Ung Ung Nomor tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Pasal 5 ayat (3) huruf e Ung Ung Nomor tentang Pemerintahan Daerah serta Peraturan Presiden Nomor 5 2 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 224, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) memuat strategi pokok yang dijabarkan dalam agenda pembangunan daerah yang memuat sasaransasaran pokok yang harus dicapai, arah kebijakan programprogram pembangunan. Naskah Peraturan Daerah ini terdiri dari 6 Pasal yang mengatur mengenai pengertianpengertian serta sistematika dalam penyusunan beserta penjelasannya, lampiran yang memuat materi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Kurun waktu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah adalah 5 (lima) tahun. RPJMD 2 25 diharapkan dapat berfungsi sebagai dokumen perencanaan pembangunan yang mengakomodasi berbagai aspirasi yang ada digunakan sebagai pedoman, arah pembangunan daerah dalam jangka waktu 5 (lima) tahun, dapat digunakan sebagai acuan untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Pelaksanaan RPJMD terbagi dalam tahaptahap perencanaan pembangunan dalam periodisasi perencanaan pembangunan tahunan.

13 2 II. PASAL DEMI PASAL Pasal Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 6 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR

14 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 8 TAHUN 2 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN MOJOKERTO TAHUN 2 25 PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO 2

15 LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 8 TAHUN 2 TANGGAL 27 MEI 2 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GRAFIK... vii KATA PENGANTAR... ix BAB I PENDAHULUAN... A. Latar Belakang... B. Dasar Hukum Penyusunan...3 C. Hubungan Antar Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Mojokerto RPJM Nasional...9 RPJM Daerah Propinsi Jawa Timur... RTRW...5 Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)...8 RENSTRA SKPD...8 D. Sistematika Penulisan...9 E. Maksud Tujuan...2 F. Prinsip Dasar Menata Pembangunan...22 BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH A. Aspek Geografi Demografi Aspek Geografi...25 Aspek Demografi B. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) C. Aspek Pelayanan Umum Fokus Layanan Urusan Wajib...47 a. Pendidikan b. Kesehatan c. Pekerjaan Umum d. Penataan Ruang e. Perencanaan Pembangunan...58 f. Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM)...59 g. Pemerintahan umum...63 h. Sosial...65 i. Perpustakaan i

16 D. Aspek Daya Saing Daerah Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah... 7 a. Kondisi Ekonomi... 7 b. Pertanian...75 Fokus Iklim Berinvestasi a. Keamanan ketertiban umum E. Kondisi yang Diinginkan Secara Umum...84 BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH... 9 A. Kinerja Keuangan Masa Lalu Kinerja Pelaksanaan APBD...9 Neraca Daerah...96 B. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Proporsi penggunaan anggaran...4 Analisis pembiayaan...5 C. Kerangka Penaan Analisis pengeluaran periodik, wajib mengikat, serta prioritas utama...8 Perhitungan Kerangka Penaan... BAB IV ANALISIS ISUISU STRATEGIS... 5 A. Permasalahan Pembangunan Akses, kualitas kompetensi pendidikan yang masih rendah...5 Akses kualitas pelayanan kesehatan yang masih kurang....6 Masih tingginya angka penduduk miskin akses terhadap pelayanan sosial dasar...8 Masih tingginya tingkat pengangguran Kurangnya prasarana sarana untuk menunjang kegiatan ekonomi Kurang optimalnya pelayanan kepada masyarakat Kurang optimalnya situasi aman B. Analisis Lingkungan C. Isu Strategis BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN A. Visi B. Misi C. Tujuan Sasaran BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi B. Arah Kebijakan Pembangunan BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH ii

17 A. Kebijakan Umum Pembangunan Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Pendidikan Kesehatan.55 Kebijakan Peningkatan Kualitas Kehidupan politik Penegakan Hukum...63 Kebijakan Peningkatan Kualitas Aparatur Pelayanan Publik...66 Kebijakan membangun sistem ekonomi kerakyatan yang mampu menggerakkan sendisendi perekonomian berbasis potensi daerah yang unggul, kokoh stabil....7 Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan, Perluasan Lapangan Kerja, Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan...88 Kebijakan Peningkatan Kesalehan Sosial Kerukunan Antar Umat Beragama...89 Kebijakan Perencanaan pembangunan penganggaran yang berbasis kinerja....9 B. Program Lintas SKPD... 2 C. Program Kewilayahan BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB X PENUTUP A. Kesimpulan B. Kaidah Pelaksanaan Pedoman Transisi RPJMD merupakan panduan dalam penyusunan Renstra bagi SKPD RPJMD sebagai dasar penyusunan RKPD Penguatan Peran para Stakeholders sebagai pemangku kepentingan dalam pelaksanaan RPJMD Dasar Evaluasi Laporan Pelaksanaan RPJMD, RKPD...25 Pedoman Transisi...25 LAMPIRAN iii

18 DAFTAR TABEL Tabel 2. Tinggi Luas Daerah Menurut Kecamatan Tabel 2.2 Sungai Besar di Kab. Mojokerto Tabel 2.3 Sungai luas daerah pengairan di Kab.Mojokerto Tabel 2.4 Jumlah Penduduk Tabel 2.5 Jumlah penduduk menurut mata pencaharian Tabel 2.6 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Tabel 2.7 Indeks Pembangunan Manusia Tabel 2.8 Status / indikator kinerja pembangunan big kesehatan Kabupaten Mojokerto Tabel 2.9 Angka Partisipasi Murni (APM) Tabel 2. Angka Partisipasi Kasar (APK) Tabel 2. Laju Pertumbuhan Ekonomi Th Tabel 2.2 Lowongan Kerja, Pencari Kerja Penempatan Tenaga Kerja Tabel 2.3 PDRB Th Tabel 2.4 Sumbangan Tiap Sektor Th Tabel 2.5 Pendapatan Regional Per Kapita Th Tabel 2.6 Rasio jumlah guru terhadap jumlah murid Tabel 2.7 Rasio jumlah kelas terhadap murid Tabel 2.8 Jumlah Puskesmas, Puskesmas Pembantu Rumah Sakit per Kecamatan Tabel 2.9 Jumlah tenaga medis, paramedis kunjungan ke puskesmas... 5 Tabel 2.2 Jumlah penduduk yang memanfaatkan RSUD Puskesmas... 5 Tabel 2.2 Kondisi Jalan aspal kabupaten Mojokerto (Km) Tabel 2.22 Kondisi jembatan (unit) Tabel 2.23 Jumlah LPJU Tabel 2.24 Luas Irigasi Teknis Tabel 2.26 Perkembangan jumlah koperasi Tabel 2.27 Perkembangan jumlah koperasi sehat... 6 Tabel 2.28 Perkembangan usaha kecil... 6 Tabel 2.29 Perkembangan usaha menengah Tabel 2.3 Jumlah produk hukum iv

19 Tabel 2.3 Indeks kepuasan masyarakat Tabel 2.32 Jumlah keluarga miskin Tabel 2.33 Jumlah PMKS yang dibantu Tabel 2.34 Jumlah perpustakaan pengunjung Tabel 2.35 Jumlah buku perpustakaan Tabel 2.36 Jumlah judul buku perpustakaan... 7 Tabel 2.37 Data Industri Tabel 2.38 Luas Tanam Pertanian Tanaman Pangan 262 (Ha) Tabel 2.39 Luas Panen Pertanian Tanaman Pangan 262 (Ha) Tabel 2.4 Produktivitas Pertanian Tanaman pangan 262 (Kw/Ha) Tabel 2.4 Produksi Pertanian Tanaman Pangan 262 (Ton)... 8 Tabel 2.42 Produksi Daging Telur... 8 Tabel 2.43 Keamanan ketertiban umum Tabel 2.44 Proyeksi Pertumbuhan PDRB Tabel 2.45 Jumlah Rumah Tangga Miskin Tabel 3. Ratarata pertumbuhan realisasi pendapatan Tabel 3.2 Ratarata pertumbuhan realisasi belanja 26 2 Tabel 3.3 RATARATA PERTUMBUHAN NERACA KABUPATEN MOJOKERTO TAHUN Tabel 3.4 Analisis Rasio Keuangan... Tabel 3.5 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur... 4 Tabel 3.6 Defisit Riil Anggaran... 5 Tabel 3.7 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran... 6 Tabel 3.8 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran... 7 Tabel 3.9 Pengeluaran Periodik,Wajib Mengikat serta Prioritas Utama Kabupaten Mojokerto... 8 Tabel 3. Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Menai Pembangunan Daerah... Tabel 3.Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Kabupaten Mojokerto... 2 Tabel 5. Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan Sasaran... 4 Tabel 6. Strategi, Arah Kebijakan Tabel 7. Kebijakan Umum Program Pembangunan Tabel 7.2 Program Lintas SKPD... 2 v

20 Tabel 8. MATRIK INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS BESERTA KEBUTUHAN PENDANAAN PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO TAHUN Tabel 9. Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan vi

21 DAFTAR GRAFIK Grafik 2. Tren Peningkatan Jumlah penduduk... 3 Grafik 2.2 Indeks Pembangunan Manusia Grafik 2.3 Status / indikator kinerja pembangunan big kesehatan Kabupaten Mojokerto Grafik 2.4 Angka Partisipasi Murni (APM) Grafik 2.5 Angka Partisipasi Kasar (APK)... 4 Grafik 2.6 Laju pertumbuhan ekonomi... 4 Grafik 2.7 Lowongan Kerja, Pencari Kerja Penempatan Tenaga Kerja Grafik 2.8 Tren Kenaikan PDRB Grafik 2.9 Komposisi sumbangan sektor PDRB Grafik 2. Tren Peningkatan Pendapatan Regional Per Kapita Grafik 2. Perkembangan kondisi jalan Grafik 2.2 Perkembangan kondisi jembatan (jembatan) Grafik 2.3 Perkembangan jumlah LPJU Grafik 2.4 Perkembangan luas Irigasi Teknis Grafik 2.5 Perkembangan jumlah koperasi Grafik 2.6 Perkembangan jumlah koperasi sehat... 6 Grafik 2.7 Perkembangan jumlah usaha kecil... 6 Grafik 2.8 Perkembangan jumlah usaha menengah Grafik 2.9 Jumlah keluarga miskin Grafik 2.2 Jumlah PMKS yang dibantu Grafik 2.2 Jumlah pengunjung perpustakaan Grafik 2.22 Jumlah buku perpustakaan Grafik 2.23 Jumlah judul buku perpustakaan... 7 Grafik 2.24 Luas Tanam Pertanian Tanaman Pangan 262 (Ha) Grafik 2.25 Luas Panen Pertanian Tanaman Pangan Grafik 2.26 Produktivitas Pertanian Tanaman Pangan 262 (Kw/Ha) Grafik 2.27 Produksi Pertanian Tanaman Pangan 262 (Ton)... 8 Grafik 2.28 Perkembangan Produksi Daging Telur Grafik 2.29 Tren Proyeksi Pertumbuhan PDRB Grafik 2.3 Jumlah Rumah Tangga Miskin Grafik 3.3 Perbandingan Rasio Komponen Pendapatan Daerah... 2 Grafik 3.4 Perbandingan Rasio Belanja Langsung dengan Belanja Tidak Langsung. 3 vii

22 Grafik 3.6 Pengeluaran Periodik,Wajib Mengikat serta Prioritas Utama Kabupaten Mojokerto... 9 viii

23 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat hidayahnya, sehingga dapat terselesaikannya penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Daerah yang disusun dengan memperhatikan RPJM Nasional 2 24, RPJM Propinsi Jawa Timur RPJP Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah akan dipergunakan sebagai dasar pedoman bagi penyusunan Renstra Renja SKPD serta Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Akhirnya kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2 25, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa tetap memberikan petunjuk kekuatan iman kepada kita semua dalam menjalankan tugas pengabdian kepada seluruh masyarakat. ix

24 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era desentralisasi telah mengembangkan perhatian mendalam terhadap lahirnya kebijakan terkait peraturan perungungan untuk lebih terfokus pada kepentingan daerah. Komitmen politik pemerintah untuk menata kembali meningkatkan sistem, mekanisme, prosedur kualitas proses perencanaan pembangunan penganggaran daerah merupakan salah satu perangkat yang dilaksanakan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, demokratis, pembangunan daerah yang berkelanjutan. Perencanaan pembangunan daerah menuntut pertimbangan secara seksama, sistematis, menjadi bagian yang tidak terpisah dengan rencana pembangunan nasional. Dalam penyusunan rencana pembangunan, diperlukan aya pola kombinasi pendekatan secara terpadu yaitu pendekatan secara teknokratis, demokratis, partisipatif, politis, bottom up top down process. Pola perencanaan pembangunan daerah tersusun dengan merujuk Peraturan Pemerintah Nomor 8 28 tentang Tahapan, Tata cara penyusunan, Pengendalian Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Permendagri Nomor 54 2 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 28 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Perencanaan Pembangunan pembangunan Jangka Panjang daerah Daerah meliputi Rencana (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Rencana

25 Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). RPJMD merupakan penjabaran dari visi, misi, program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJPD memperhatikan RPJM Nasional serta RPJMD Propinsi. RPJMD dipersyaratkan untuk mengarahkan pembangunan daerah dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan masa kepemimpinan Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah terpilih. RPJMD memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, program kewilayahan disertai dengan rencanarencana kerja dalam kerangka regulasi kerangka penaan yang bersifat indikatif. RPJMD dilengkapi dengan matriks indikasi program yang merinci tujuan beserta indikator targetnya, sasaran beserta indikator targetnya, kebijakan, program untuk masingmasing misi. Sebagai suatu dokumen rencana yang penting sudah sepatutnya Pemerintah Daerah, DPRD, masyarakat memberikan perhatian penting pada kualitas proses penyusunan dokumen RPJMD, tentunya diikuti dengan pemantauan, evaluasi, review berkala atas implementasinya. Selain itu, RPJMD akan mencerminkan sejauh mana kredibilitas Kepala Daerah Terpilih dalam memandu, mengarahkan, memprogramkan perjalanan kepemimpinannya pembangunan daerahnya dalam masa 5 (lima) tahun ke depan serta mempertanggungjawabkan hasilnya kepada masyarakat pada akhir masa kepemimpinannya. RPJMD menjawab 3 (tiga) pertanyaan dasar: ) kemana daerah akan diarahkan pengembangannya apa yang hendak dicapai dalam 5 (lima) tahun mendatang; 2) bagaimana mencapainya ; 3) langkahlangkah strategis apa yang perlu dilakukan agar tujuan tercapai. Terselenggaranya pemerintahan yang baik (good governance) di merupakan prasyarat bagi 2

26 setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk mewujudkan program pembangunan dengan tetap memperhatikan aspirasi masyarakat, pelaksanaan sehingga penyelenggaraan pembangunan dapat pemerintahan berlangsung secara berdayaguna, bersih, akuntabel. Karenanya RPJMD Kabupaten Mojokerto 2 25 mengambil peranan vital dalam keberhasilan pembangunan daerah. B. Dasar Hukum Penyusunan Penyusunan RPJM Daerah Kabupaten Mojokerto menyertakan beberapa landasan hukum, yaitu :. Landasan idiil Pancasila. 2. Landasan konstitusional UngUng Dasar (UUD) Landasan operasional: a) UngUng Pembentukan Nomor 2 DaerahDaerah 95 tentang Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur; b) UngUng Nomor 7 23 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia 23 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); c) UngUng Nomor 24 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia 24 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); d) UngUng Nomor tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia 24 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 442); e) UngUng Pemerintahan Nomor Daerah 32 (Lembaran 24 Negara tentang Republik 3

27 Indonesia 24 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); f) UngUng Nomor tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia 24 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); g) UngUng Nomor 7 27 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia 27 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 47); h) UngUng Nomor tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia 27 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); i) Peraturan Pemerintah Nomor tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; j) Peraturan Pemerintah Nomor tentang Pedoman Penyusunan Penerapan Standar Pelayanan Minimal; k) Peraturan Pemerintah Nomor 4 27 tentang Organisasi Perangkat Daerah; l) Peraturan Pemerintah Nomor tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Pemerintah, Daerah Provinsi Antara Pemerintah, Pemerintahan Kabupaten/Kota; m) Peraturan Pemerintah Nomor 8 28 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 4

28 n) Peraturan Pemerintah Nomor 6 28 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah; o) Peraturan Pemerintah Nomor 9 2 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas Wewenang serta Kedudukan Keuangan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Propinsi; p) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 2 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2 24; q) Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Ba Perencanaan Pembangunan Nasional Menteri Keuangan Nomor 28 2; Nomor : 99/m ppn/4/2; Nomor: pmk 95/pmk 7/2 tentang Penyelarasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 224; r) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 2 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 28 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; s) Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 2 26 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Timur 25 22; t) Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 29 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Propinsi Jawa Timur 25225; 5

29 u) Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Propinsi Jawa Timur 2924; v) Peraturan Daerah Nomor 5 2 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 993 tentang Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Daerah Tingkat II Mojokerto 99/99 23/24 (Lembaran Daerah Nomor 5 Seri C 2); w) Peraturan Daerah Nomor 5 28 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah C. Hubungan Antar Dokumen Bahwa RPJMD disusun untuk jangkauan perencanaan dalam 5 (lima) tahun atau masa jabatan Bupati. RPJMD disusun berpedoman kepada RPJPD memperhatikan RPJMN RPJMD Propinsi Jawa Timur. Proses penyusunannya diawali dari visi misi kepala daerah terpilih. Pola hubungan ini dapat dilihat pada diagram sebagai berikut : 6

30 Gambar. Diagram Pola Hubungan Antara RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya RPJPD Prop. Jawa Timur RPJMD Prop. Jawa Timur RKPD Prop. Jawa Timur RENSTRA SKPD Prop. Jawa Timur RPJPD Kab. Mojokerto RPJMD Kab. Mojokerto RENJA SKPD Prop. Jawa Timur RKPD Kab. Mojokerto RENSTRA SKPD Kab. Mojokerto RENJA SKPD Kab. Mojokerto Secara substansi pola hubungan ini dijabarkan sebagai berikut :. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Untuk mencapai sasaran pokok RPJPD Kabupaten Mojokerto secara bertahap, pembangunan jangka panjang membutuhkan tahapan skala prioritas yang akan menjadi agenda dalam RPJM Daerah. Tahapan skala prioritas yang ditetapkan mencerminkan urgensi permasalahan yang hendak diselesaikan tanpa mengabaikan permasalahan lainnya. Oleh karena itu tekanan skala prioritas dalam setiap tahapan berbedabeda, tetapi semua harus berkesinambungan dari periode ke periode 7

31 berikutnya dalam rangka mewujudkan sasaran pokok pembangunan jangka panjang. Setiap sasaran pokok dalam 6 (enam) misi pembangunan jangka panjang dapat ditetapkan prioritasnya dalam masingmasing tahapan. Prioritas masingmasing misi dapat dijabarkan menjadi prioritas utama. Prioritas utama menggambarkan makna strategis urgensi permasalahan. Berdasarkan pelaksanaan pencapaian hasil pembangunan serta sebagai wujud keberlanjutan RPJPD, maka pada RPJMD ke2 ( ) ini diarahkan untuk memantapkan penataan kembali pembangunan di segala big sehingga kesejahteraan masyarakat pemerataan hasilhasil pembangunan menjadi semakin penduduk miskin terus menurun angka baik, jumlah pengangguran juga terus berkurang. Pada tahap ini struktur ekonomi menjadi semakin mantap yang ditandai semakin berkembangnya sektor industri, jasa, pariwisata, koperasi, usaha mikro, usaha kecil menengah yang di dukung sektor pertanian yang handal. Untuk mendukung percepatan pembangunan big ekonomi Peningkatan kualitas sumber daya manusia terus dilakukan melalui peningkatan kualitas akses pelayanan pendidikan kesehatan sehingga etos produktifitas kerja sumber daya manusia baik aparatur maupun masyarakat terus mengalami peningkatan. Dalam rangka mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan pengelolaan sumber daya alam pelestarian lingkungan hidup semakin baik berkembang melalui penguatan kelembagaan serta meningkatnya kesadaran masyarakat dalam pemanfaatan pengelolaan sumber daya alam lingkungan hidup. 8

32 Kondisi yang maju, adil, makmur, tentram, beradab menjadi semakin mantap. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya pemenuhan hakhak dasar masyarakat baik dalam big pendidikan, kesehatan, ekonomi, serta bigbig sosialbudaya yang lain. Kesetaraan gender pada berbagai big pembangunan juga terus semakin membaik, demikian juga penegakan hukum, kerukunan antar anggota masyarakat serta keamanan ketertiban masyarakat juga terus mengalami peningkatan. 2. RPJM Nasional. RPJM Nasional merupakan strategi pokok yang dijabarkan dalam Agenda Pembangunan Nasional yang memuat sasaransasaran pokok yang harus dicapai, arah kebijakan programprogram pembangunan. Adapun agenda pembangunan jangka menengah nasional 224 adalah :. Pembangunan Ekonomi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. Substansi dari agenda ini adalah bahwa program peningkatan kesejahteraan dilakukan melalui mendorong sektor riil pemihakan kepada usaha kecil menengah serta terus menjaga stabilitas ekonomi makro. 2. Perbaikan Tata kelola Pemerintahan. Substansi dari agenda ini adalah bahwa reformasi birokrasi akan dilaksanakan diseluruh Kementrian Lembaga, untuk selanjutnya diteruskan di Pemerintah Daerah. Dalam penyusunan Perencanaan Anggaran akan diterapkan sistem anggaran berbasis kinerja. Hasil positif yang diharapkan adalah perbaikan 9

33 kualitas pelayanan publik, efektifitas akuntabilitas penanggulangan korupsi. 3. Penegakan Pilar Demokrasi. Substansi dari agenda ini adalah aya penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia, terjaminnya kebebasan berpendapat, aya check and balance, jaminan akan keberagaman yang tercermin dengan aya perlindungan terhadap segenap warga negara tanpa membedakan paham, asalusul, golongan gender. 4. Penegakan Hukum Pemberantasan Korupsi. Substansi pembuatan dari agenda ini adalah aya proses UngUng, proses penjabarannya, proses pengawasan, juga penegakan aturan hukum. Penegakan hukum dalam big korupsi dilakukan tanpa tebang pilih, semua warga negara adalah sama kedudukannya di mata hukum. 5. Pembangunan yang Inklusif Berkeadilan. Agenda ini diwujudkan dalam berbagai dimensi. Dalam big ekonomi diwujudkan dalam bentuk perbaikan atau terjadinya proses afirmasi terhadap kelompok yang tertinggal, orang cacat terpinggirkan. Dalam big sosial politik diarahkan pada perwuju keadilan, perbaikan akses semua kelompok terhadap kebebasan berpolitik, kesetaraan gender penghapusan segala macam bentuk diskriminasi. Masyarakat dilibatkan sejak proses perencanaan, pemilihan kegiatan/proyek hingga tahap evaluasi. 3. RPJM Daerah Propinsi Jawa Timur. Dalam RPJM Daerah Propinsi terdapat 9 (Sembilan) agenda pokok, yaitu Meningkatkan aksessibilitas kualitas

34 pelayanan kesehatan pendidikan terutama bagi masyarakat miskin; Memperluas lapangan kerja, meningkatkan efektifitas penanggulangan kemiskinan, memberdayakan ekonomi rakyat terutama wong cilik meningkatkan kesejahteraan sosial rakyat; Meningkatkan percepatan pemerataan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas berkelanjutan terutama melalui pembangunan agroindustri/agrobisnis serta pembangunan perbaikan infrastruktur terutama pertanian perdesaan; Memelihara kualitas fungsi lingkungan hidup serta meningkatkan perbaikan pengelolaan sumber daya alam penataan ruang; Mewujudkan percepatan reformasi birokrasi meningkatkan pelayanan publik; Meningkatkan kualitas kesalehan sosial demi terjaganya harmoni sosial; Meningkatkan kualitas kehidupan peran perempuan serta terjaminnya kesetaraan gender meningkatkan peran pemuda serta mengembangkan memasyarakatkan olahraga; Meningkatkan keamanan ketertiban, reformasi hukum penghormatan Hak Asasi Manusia; Mewujudkan percepatan penanganan rehabilitasi rekonstruksi sosial ekonomi dampak lumpur lapindo. Penjabaran untuk kesembilan agenda tersebut adalah sebagai berikut : a) Meningkatkan aksessibilitas kualitas pelayanan kesehatan pendidikan terutama bagi masyarakat miskin Dalam rangka untuk meningkatkan akses terhadap kualitas pendidikan kesehatan di Jawa Timur, maka prioritas pembangunan diletakkan pada : Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pelayanan Kesehatan yang Berkualitas. Berdasarkan sasaran arah kebijakan,

35 langkahlangkah yang akan ditempuh dijabarkan ke dalam programprogram pembangunan kegiatankegiatan pokok sebagai berikut : Pendidikan : Program Pendidikan Pra Sekolah (Usia Dini TK), Program Pendidikan Dasar, Program Pendidikan Menengah, Program Pendidikan Luar Sekolah. Kesehatan : Program upaya kesehatan masyarakat, Program upaya kesehatan perbaikan Gizi Masyarakat, perbekalan kesehatan, perorangan, Program program Program obat pencegahan pemberantasan penyakit serta program lingkungan sehat. b) Memperluas lapangan efektifitas kerja, meningkatkan penanggulangan kemiskinan, memberdayakan ekonomi rakyat terutama wong cilik meningkatkan kesejahteraan sosial rakyat; Dalam rangka Penanggulangan Kemiskinan, Pengangguran, Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan Memacu Kewirausahaan di Jawa Timur, maka prioritas pembangunan diletakkan pada : Program Penanggulangan Kemiskinan, Program Perdesaan Bagi Pembangunan Pengembangan Pengembangan Masyarakat Daerah Kawasan Infrastruktur Miskin, Tertinggal, Miskin Perkotaan, Program Program Program Pemenuhan Pelayanan Dasar Jaminan Sosial bagi Masyarakat Miskin, Program Pengembangan Usaha Ekonomi Produktif bagi Masyarakat Miskin, Program 2

36 Pemeliharaan Perluasan Kesempatan Kerja bagi Masyarakat Miskin. c) Meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan terutama pemerataan yang berkualitas melalui pembangunan agroindustri/agrobisnis serta pembangunan perbaikan infrastruktur terutama pertanian perdesaan; Dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, berkelanjutan pembangunan infrastruktur, maka prioritas pembangunan diletakkan pada : Peningkatan Investasi, Perdagangan Pariwisata, Program Peningkatan Pengembangan Ekspor, Program Peningkatan Daya Saing, serta Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri. d) Memelihara kualitas fungsi lingkungan hidup serta meningkatkan perbaikan pengelolaan sumber daya alam penataan ruang; Dalam rangka mewujudkan Peningkatan Sumber Daya Alam, Pelestarian Lingkungan Hidup Penataan Ruang prioritas pembangunan pada : Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup serta Penataan Ruang, Program Perlindungan Konservasi Sumber Daya Alam, Program Rehabilitasi Pemulihan Sumber Daya Alam, Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Alam Lingkungan Hidup, Program Penataan Ruang. e) Mewujudkan percepatan reformasi birokrasi meningkatkan pelayanan publik; Terkait dengan Revitalisasi proses Desentralisasi Otonomi Daerah, maka prioritas pembangunan diletakkan 3

37 pada Revitalisasi Proses Desentralisasi Otonomi Daerah, Penciptaan Tata Pemerintahan Yang Bersih Bertanggung Jawab f) Meningkatkan kualitas kesalehan sosial demi terjaganya harmoni sosial; Pembangunan agama merupakan upaya mewujudkan agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan kualitas pelayanan pemahaman agama serta kehidupan pembangunan agama beragama. juga Selain mencakup itu, dimensi peningkatan kerukunan hidup umat beragama, yang mendukung peningkatan saling percaya harmonisasi antar kelompok masyarakat. Dimensi kerukunan ini sangat penting dalam rangka membangun mengenai masyarakat realitas yang memiliki multikulturalisme kesadaran memahami makna kemajemukan sosial, sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang penuh toleransi, tenggang rasa, harmonis. Melalui pembinaan kerukunan hidup umat beragama, agenda menciptakan Jawa Timur yang aman damai dapat diwujudkan. Arah kebijakan peningkatan kualitas kehidupan beragama dijabarkan ke dalam programprogram pembangunan sebagai berikut : Program Peningkatan Pendidikan Agama Program Peningkatan Kerukunan Umat Beragama. g) Meningkatkan kualitas kehidupan peran perempuan serta terjaminnya kesetaraan gender meningkatkan peran pemuda serta mengembangkan memasyarakatkan olahraga; Dengan kebijakan yang diarahkan untuk menciptakan keadilan kesetaraan gender dalam perencanaan, 4

38 pelaksanaan, monitoring evaluasi seluruh kebijakan program pembangunan; diberbagai big Terjaminnya kehidupan perlindungan anak perempuan; Meningkatkan peran serta pemuda dalam pembangunan agama; sosial, politik, Meningkatkan pengembangan prestasi ekonomi, upaya olahraga budaya pembibitan secara sistematik, berjenjang berkelanjutan. h) Meningkatkan keamanan ketertiban, reformasi hukum penghormatan Hak Asasi Manusia; Dalam rangka mewujudkan Ketentraman Ketertiban, Supremasi Hukum Dan HAM, prioritas pembangunan diletakkan pada : Peningkatan Rasa Saling Percaya Harmonisasi Antar Kelompok, Pengembangan Kebudayaan Yang Berlandaskan Pada Nilainilai Luhur, Peningkatan Keamanan, Ketentraman Penanggulangan Kriminalitas, serta Pengembangan Hukum Hak Asasi Manusia. i) Mewujudkan percepatan penanganan rehabilitasi rekonstruksi sosial ekonomi dampak lumpur lapindo. Mempercepat revitalisasi infrastruktur fisik untuk stabilisasi normalisasi aktifitas investasi ekonomi perdagangan. 4. RTRW. Dalam mewujudkan rencana tata ruang diperlukan program yang bersumber dari pemerintah (public investment) program yang bersumber dari masyarakat swasta (private investment). Program yang bersumber dari pemerintah umumnya melalui mekanisme perencanaan yang ditetapkan 5

39 sebagai dokumen perencanaan mulai dari RPJPD, RPJMD, RKPD tahap akhir dalam bentuk Rencana Anggaran Pendapatan Daerah (RAPBD). Program yang bersumber dari masyarakat swasta umumnya sulit diprogramkan tetapi harus selalu dibina diarahkan sejalan dengan penyelenggaraan kegiatan pemerintah pembangunan di daerah. Perumusan Mojokerto strategi pengembangan sekurangkurangnya dilakukan di Kabupaten halhal sebagai berikut: a) Perumusan masalah pembangunan pemanfaatan ruang dalam bentuk identifikasi masalah pembangunan arahan pemanfaatan ruang. b) Perumusan konsep strategi pengembangan tata ruang wilayah kabupaten. Strategi pengembangan wilayah di dapat dijabarkan sebagai berikut : a) Strategi pengembangan struktur tata ruang wilayah Strategi pengembangan struktur tata ruang tersebut dilakukan melalui penetapan pengelolaan kawasan lindung kawasan budidaya dalam rangka mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, keseimbangan perkembangan antar wilayah serta keserasian antar sektor. b) Strategi pemantapan kawasan lindung. Strategi yang ditempuh adalah pemantapan kawasan lindung sesuai dengan fungsi masingmasing, pengecualian pemanfaatan ruang pada kawasan lindung dalam batasbatas fungsi lindung yang ditetapkan. c) Strategi pengembangan kawasan budidaya. Strategi yang ditempuh adalah memanfaatkan setiap kegiatan pembangunan yang berimplikasi terhadap ruang 6

40 secara optimal sesuai dengan kondisi daya dukung lahannya, sebagai upaya untuk mendukung peningkatan laju pertumbuhan pembangunan daerah. Berdasarkan karakteristik fisik wilayah prioritas program dalam rangka pemerataan pembangunan diseluruh wilayah, serta terciptanya keseimbangan pembangunan daerah maka penetapan prioritas lokasi pembangunan diarahkan sebagai berikut :. Prioritas Pertama Penanganan pembangunan di adalah pengembangan sektorsektor strategis seperti industri, pariwisata, pertanian jasa. Wilayah potensi strategis antara lain: a) Industri, terdapat di Kecamatan Mojoanyar, Ngoro Jetis. b) Pariwisata, terdapat di Kecamatan Pacet, Trawas Trowulan. c) Pertanian, terdapat di wilayah bagian selatan Sungai Brantas. d) Jasa, terdapat di masingmasing pusat Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) di Mojosari, Sooko, Gedeg Pacet. e) Penanganan daerah terpencil di Kecamatan Gong Kecamatan Jatirejo. 2. Prioritas Kedua Diarahkan pada wilayah dataran tinggi pada bagian utara timur meliputi Kecamatan Dawarblandong, Kemlagi, Jetis, Gedeg Ngoro untuk dikembangkan kegiatan sekunder bagi industri peternakan dengan mengedepankan kelestarian lingkungan alam. 7

41 3. Prioritas Ketiga Wilayah pengembangan prioritas ketiga pada daerah dataran rendah bagian tengah selatan yang pada umumnya merupakan lahan subur yaitu pada wilayah Kecamatan Bangsal, Sooko, Dlanggu, Trowulan, Gong, Jatirejo Pungging. 5. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) RKPD merupakan satu dokumen rencana resmi daerah yang dipersyaratkan untuk mengarahkan pembangunan daerah dalam jangka waktu (satu) tahun ke depan. RKPD mempunyai fungsi penting dalam sistem perencanaan daerah karena RKPD menerjemahkan perencanaan pembangunan jangka menengah (RPJM Daerah) ke dalam rencana, program, penganggaran kegiatan tahunan, mengoperasionalkan rencana program prioritas jangka menengah ke dalam program kegiatan tahun yang bersangkutan. UngUng Nomor mengemukakan tentang RKPD sebagai penjabaran RPJM Daerah untuk jangka waktu (satu) tahun memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja penaannya dengan mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). 6. RENSTRA SKPD Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) merupakan satu dokumen rencana resmi daerah yang dipersyaratkan bagi mengarahkan pelayanan SKPD khususnya pembangunan daerah pada umumnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan. Karena penyusunan Dokumen Renstra 8

42 SKPD sangat terkait dengan visi misi Kepala Daerah Terpilih RPJM Daerah, maka kualitas penyusunan Renstra SKPD akan sangat ditentukan oleh kemampuan SKPD untuk menerjemahkan, mengoperasionalkan, mengimplementasikan Visi, Misi Agenda Kepala Daerah, tujuan, strategi, kebijakan, capaian program RPJMD ke dalam penyusunan Renstra SKPD sesuai TUPOKSI SKPD. Kinerja penyelenggaraan urusan SKPD akan sangat mempengaruhi kinerja pemerintahan daerah Kepala Daerah selama masa kepemimpinanya. D. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan RPJM Daerah ini pada dasarnya mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 2 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 28 tentang Tahapan, Tata cara Penyusunan, Pengendalian, Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Sistematika RPJM Daerah tersebut adalah sebagai berikut: BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Dasar Hukum Penyusunan C. Hubungan Antar Dokumen D. Sistematika Penulisan E. Maksud Tujuan F. Prinsip Dasar Menata Pembangunan BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH A. Aspek Geografi Demografi B. Aspek Kesejahteraan Masyarakat C. Aspek Layanan Umum D. Aspek Daya Saing Daerah E. Kondisi yang Diinginkan Secara Umum 9

43 BAB III. GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH A. Kinerja Keuangan Masa Lalu B. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu C. Kerangka Penaan BAB IV. ANALISIS ISUISU STRATEGIS A. Permasalahan Pembangunan B. Analisis Lingkungan C. Isu strategis BAB V. VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN A. Visi B. Misi C. Tujuan Sasaran BAB VI. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi B. Arah Kebijakan BAB VII. KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH A. Kebijakan Umum Pembangunan B. Program Lintas SKPD C. Program Kewilayahan BAB VIII. INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN BAB IX. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB X. PENUTUP A. Kesimpulan B. Kaidah Pelaksanaan 2

44 E. Maksud Tujuan Maksud penyusunan RPJM Daerah adalah :. Memberikan arah pembangunan dalam jangka lima tahun ke depan. 2. Menciptakan sinergisitas pelaksanaan pembangunan daerah antar wilayah, antar sektor pembangunan antar tingkat pemerintah. 3. Untuk menjamin keterkaitan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan pengawasan pada setiap Anggaran selama 5 (lima) tahun yang akan datang. 4. Untuk menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi sinergi antar pelaku pembangunan di. 5. Untuk menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara logis, efektif, efisien, berkeadilan berkelanjutan. 6. Memberikan indikator untuk melakukan evaluasi kinerja pembangunan daerah. 7. Sebagai dasar komitmen bersama antara eksekutif, legislatif pemangku kepentingan pembangunan terhadap program program pembangunan daerah yang akan dilaksanakan kurun waktu lima tahun dalam rangka pencapaian visi misi daerah. Segkan tujuan penyusunan RPJM Daerah Kabupaten Mojokerto adalah :. Tersedianya dokumen perencanaan daerah jangka menengah yang merupakan penjabaran visimisi program Bupati Mojokerto untuk mewujudkan keadaan yang diinginkan dalam periode 5 (lima) tahun mendatang. 2

45 2. Dalam rangka menjamin keberlanjutan pembangunan jangka panjang (sustainability development) sehingga secara bertahap dapat mewujudkan citacita masyarakat. 3. Menjadi pedoman atau acuan dalam menetapkan arah kebijakan pembangunan strategi pembangunan daerah dalam kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang. 4. Menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Daerah Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) bagi unit satuan kerja di bawah lingkungan Pemerintah. F. Prinsip Dasar Menata Pembangunan Koordinasi musyawarah secara bertahap serta berkesinambungan merupakan mekanisme yang ditempuh dalam proses perencanaan pembangunan yang dituangkan ke dalam RPJM Daerah. Proses tersebut mempunyai keterkaitan antara satu big dengan big lainnya antara satu tahapan dengan tahapan berikutnya yang sifatnya lima tahunan. Koordinasi perencanaan pembangunan tersebut diselenggarakan dalam berbagai dimensi, yaitu lintas sektor, lintas daerah, lintas lembaga lintas sumber pembiayaan. Paradigma pembangunan baru sebagai derivasi atas azas desentralisasi otonomi daerah merupakan landasan yang ditempuh dalam mengembangkan pola komunikasi intensif proaktif integratif. Semua hal tersebut terlaksana dengan tetap membawa tanggung jawab atas peran fungsi dari tiap elemen. Berdasarkan UngUng Nomor tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, proses perencanaan pembangunan yang dianut mencakup lima pendekatan dalam seluruh rangkaian perencanaan. Pendekatan yang dimaksud adalah: 22

46 . Pendekatan Politik Pendekatan politik memang bahwa pemilihan Bupati adalah proses penyusunan rencana, karena rakyat menentukan pilihannya berdasarkan programprogram pembangunan yang ditawarkan masingmasing calon Bupati. Oleh karena itu, rencana pembangunan adalah penjabaran agendaagenda pembangunan yang ditawarkan Bupati terpilih pada saat kampanye ke dalam rencana pembangunan jangka menengah. 2. Pendekatan Teknokratik Pendekatan teknokratik adalah pendekatan yang dilaksanakan dengan menggunakan metode kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang secara fungsional bertugas untuk itu. 3. Pendekatan Partisipatif Pendekatan partisipatif salah satu metode penyusunan perencanaan dilaksanakan melalui pelibatan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) terhadap pembangunan. Keterlibatan mereka adalah untuk mendapatkan aspirasi menciptakan rasa memiliki. 4. Pendekatan AtasBawah (TopDown) Pendekatan atasbawah (top down) dalam perencanaan dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Rencana hasil proses atasbawah (top down) diselaraskan melalui musyawarah yang dilaksanakan baik di tingkat kabupaten, kecamatan desa. 5. Pendekatan bawahatas (bottomup) Pendekatan (bottomup) merupakan pendekatan yang membuka kesempatan bagi elemen dalam strata pemerintahan bawah maupun masyarakat luas untuk beraspirasi terlibat dalam perencanaan. Untuk kemudian aspirasi tersebut diangkat dibahas pada hierarki pemerintahan yang lebih tinggi. 23

47 Perencanaan pembangunan meliputi empat tahapan, yaitu : a) penyusunan rencana, b) penetapan rencana, c) pengendalian pelaksanaan rencana d) evaluasi pelaksanaan rencana. Empat tahapan tersebut diselenggarakan secara berkelanjutan, sehingga secara keseluruhan membentuk satu siklus perencanaan yang utuh. Tahap penyusunan rencana dilaksanakan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu rencana yang siap untuk ditetapkan yang terdiri dari 4 (empat) langkah. Pertama, penyiapan rancangan rencana menyeluruh pemerintah pembangunan terukur. menyiapkan yang Kedua, rancangan bersifat teknokratik, masingmasing instansi rencana dengan kerja berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan. Ketiga, berkepentingan pembangunan menjaring (stakeholders) yang dihasilkan aspirasi oleh semua pihak menyelaraskan yang rencana masingmasing jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan. Keempat, penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. Keinginan kuat Pemerintah untuk mewujudkan strategi pengembangan ekonomi daerah dapat membuat masyarakat ikut serta membentuk struktur ekonomi yang dicitacitakan. 24

48 BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH A. Aspek Geografi Demografi. Aspek Geografi Wilayah terletak antara 2'3" s/d 4'47" Bujur Timur antara 7 8'35" s/d 7 47'3" Lintang Selatan dengan luas daerah seluruhnya Km 2 atau sekitar 2,9% dari luas Propinsi Jawa Timur. 2 Pemukiman : 32,44 Km Pertanian : 37, Km 2 Hutan : 289,48 Km 2 Perkebunan : 7, KM 2 Rawa/Waduk :,49 Km 2 Lahan Kritis :,2 Km 2 Pag Rumput :,59 Km 2 Semak/Alangalang: Kabupaten Mojokerto,72 Km 2 memiliki batasbatas wilayah administrasi sebagai berikut : Sebelah utara : Kabupaten lamongan Kabupaten Gresik Sebelah timur : Kabupaten Sidoarjo Kabupaten Pasuruan Sebelah selatan : Kabupaten Malang Kota Batu Sebelah barat : Kabupaten Jombang Segkan ditengahtengah adalah wilayah Kota Mojokerto. Topografi wilayah cenderung cekung ditengahtengah tinggi di bagian selatan utara. Bagian selatan merupakan bagian pegunungan yang subur, meliputi 25

49 kecamatan Pacet, Trawas, Gong, Jatirejo. Bagian tengah merupakan bagian dataran, segkan bagian utara merupakan daerah perbukitan kapur yang cenderung kurang subur. Tabel 2. Tinggi Luas Daerah Menurut Kecamatan No Kecamatan Tinggi RataRata dari Permukaan Laut (m) Jatirejo 4 2 Gong 24 3 Pacet 57 4 Trawas 8 5 Ngoro 25 6 Pungging 3 7 Kutorejo 5 8 Mojosari 36 9 Bangsal 3 Mojoanyar 23 Dlanggu 7 2 Puri 7 3 Trowulan 4 4 Sooko 64 5 Gedek 26 6 Kemlagi 22 7 Jetis 35 8 Dawarblandong 75 Kab. 3 Mojokerto Keterangan : *) Luas daerah termasuk hutan Negara Luas Daerah*) (Km2) 7,62 98,62 7,98 58, 7,5 45, 43,5 28,85 25,84 23,37 35,82 34,65 45,93 9,3 26,8 42,35 53,5 2,8 969,36 Sumber : BPS 2 Sekitar 3% dari wilayah Mojokerto kemiringan tanahnya lebih dari 5 derajat, segkan sisanya merupakan wilayah dataran dengan kemiringan kurang dari 5 derajat. Topografi wilayah cenderung di tengah tinggi di bagian selatan utara. Bagian selatan merupakan wilayah pegunungan yang subur, meliputi Kecamatan Pacet, trawas, 26

50 Gong jatirejo. Bagian tengah merupakan wilayah dataran, segkan bagian utara merupakan daerah perbukitan kapur yang kurang subur. Pada umumnya ketinggian di wilayah Mojokerto ratarata berada kurang dari diatas 5 permukaan hanya meter laut, Kecamatan Pacet Trawas yang merupakan daerah terluas yang memiliki dengan dari ketinggian 7 meter daerah lebih diatas permukaan laut. Secara administratif wilayah terdiri dari 8 kecamatan, 229 desa 5 kelurahan. Luas wilayah secara keseluruhan adalah 969,36 km2. mempunyai sungai sebanyak 43 buah yang sudah mempunyai nama, disamping masih banyak juga saluran tersier maupun kuarter yang tidak mempunyai nama. Sungai besar yang melewati wilayah adalah Sungai Brantas dengan debit air.3 liter/detik Sungai Marmoyo dengan debit 262 liter/detik. Sungaisungai besar yang ada di Wilayah dapat dilihat sebagai berikut: 27

51 Tabel 2.2 Sungai Besar di Kab. Mojokerto NO. NAMA SUNGAI HULU MUARA. Sungai Brantas Kabupaten Jombang Kecamatan Sooko, Jetis, Ngoro. 2. Kali Porong Kabupaten Mojokerto Kecamatan Mojoanyar, Bangsal, Mojosari, Pungging, Ngoro. 3. Kali Surabaya Kabupaten Mojokerto Kecamatan Jetis. Sumber Data : Dinas PU Pengairan Tabel 2.3 Sungai luas daerah pengairan di Kab.Mojokerto No Nama Sungai S. BRANTAS S. SADAR S. JANJING S. SUMBER PASINAN S. GEMBOLO S. CUMPLENG S. JUBEL S. SUMBER WONODADI S. SUMBER KEMBAR S. SUMBER GLOGOK S. SUMBER NGRAYUNG S. TEKUK S. BANGSAL S. BANYAK S. JUDEG S. SUBONTORO S. KINTELAN S. CEMPORAT S. CURAH KLENGKENG S. KAMBING S. SUMBER WARU S. BRANGKAL S. RINGKANAL NGOTOK S. PIKATAN S. KROMONG S. LANDEAN Panjang Luas Daerah Sungai (Km) Pengairan (Ha) 47,25 23, 287,4 8, 6.22,5,.525, 25, 67,5 3, 3.575, 3, 2.362,5 8,.362,5, 8.65, 9,.85, 6, 837,5 6,.562,5 2, 7.737,,5.337,5,25.825, 6,5 55, 2,.25,,.25, 8,5 833,, 3.675, 5, 9.299, 7,,4 26, 4.862,5 8, 2.43, 6, 92,5 28

52 27. S. KALANG 28. S. KLURAK 29. S. JURANGCETOT 3. S. PETUNG 3. S. GALUH 32. S. MANTINGAN 33. S. SURABAYA 34. S. MARMOYO 35. S. SIDORINGIN 36. S. GEDEG 37. S. WONOAYU 38. S. KEDUNG SUMUR 39. S. KWANGEN 4. S. KEDUNGSORO 4. S. LAMONG JUMLAH 5, 9, 2, 8, 8,, 4,5 6, 9,5 4,,5 8, 5, 5,, 93,66 333,.652, , ,5.325, 5.27,5.25, 75, 75, 82,2 75, 75, 675, 4.589,5 Sumber data : Dinas PU Pengairan 2. Aspek Demografi Jumlah penduduk 2 sebesar jiwa. Dari data yang ada, pertumbuhan penduduk ratarata dalam 6 tahun terakhir mencapai 3,6 %. Jumlah penduduk dalam 6 tahun terakhir adalah sebagai berikut: Tabel 2.4 Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk Laki Perempuan Sumber data : Dinas Kependudukan Catatan Sipil Dari tabel tersebut dapat digambarkan tren peningkatan jumlah penduduk sebagaimana grafik berikut: 29

53 Grafik 2. Tren Peningkatan Jumlah penduduk Berdasarkan struktur mata pencaharian maka penduduk didominasi pekerja dibig Pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan perikanan yang pada 2 mencapai jumlah jiwa, diikuti dengan penduduk bermata pencaharian dibig industri pengolahan yang pada 2 mencapai jumlah jiwa. Jumlah penduduk Kabupaten Mojokerto menurut struktur mata pencaharian adalah sebagai berikut: 3

54 Tabel 2.5 Jumlah penduduk menurut mata pencaharian 28 2 Jumlah No Mata Pencaharian () (3) (4) (5) (2) Satuan (6) Pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan Orang Orang Orang perikanan 2 Pertambangan penggalian 3 Industri pengolahan 4 Listrik, gas air 5 Bangunan Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Perdagangan besar, 6 eceran, rumah makan hotel 7 Angkutan, pergugan komunikasi Keuangan, asuransi, 8 usaha sewa bangunan, tanah jasa perusahaan 9 Jasa kemasyarakatan Jumlah Sumber data : BPS Kab. Mojokerto Berdasarkan jenis kelamin maka jumlah penduduk lakilaki lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Dalam 29 jumlah penduduk lakilaki sebesar jiwa jumlah penduduk perempuan sebesar jiwa. Berikut data jumlah penduduk Kabupaten Mojokerto menurut jenis kelamin untuk tiap kecamatan. 3

55 Tabel 2.6 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin 29 NO KECAMATAN JUMLAH PENDUDUK JATIREJO 2 GONDANG PACET TRAWAS NGORO PUNGGING KUTOREJO MOJOSARI DLANGGU BANGSAL PURI TROWULAN SOOKO GEDEG KEMLAGI JETIS DAWARBLANDONG MOJOANYAR JUMLAH Sumber : BPS Kab. Mojokerto B. JENIS KELAMIN LAKILAKI PEREMPUAN Aspek Kesejahteraan Masyarakat Aspek kesejahteraan masyarakat secara umum dapat didekati melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Indeks (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan standar hidup layak. 32

56 HDI mengukur pencapaian ratarata suatu wilayah dalam 3 dimensi dasar pembangunan manusia : a) Hidup sehat panjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat kelahiran b) Pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa (bobotnya dua per tiga) kombinasi pendidikan dasar, menengah, atas gross enrollment ratio (bobot satu per tiga) c) Standar kehidupan yang layak dengan GDP (Gross Domestic Product) / Produk Domestik Bruto per Kapita dalam paritas kekuatan beli/paritas daya beli (purchasing power parity) Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berkisar antara, menurut skala Internasional IPM yang bergolong tinggi adalah lebih dari 8, skala IPM menengah atas adalah 66, 79,99 ; skala menengah bawah antara 5, 65,99 ; segkan Indeks Pembangunan Manusia skala rendah adalah kurang dari 5,. Dalam 3 tahun terakhir IPM adalah sebagai berikut: Tabel 2.7 Indeks Pembangunan Manusia Keterangan Indeks Kesehatan 7,5 7,2 73,7 2 Indeks Pendidikan 82,9 83,2 83,8 3 Indeks Daya Beli 66,5 64,48 65,4 72,95 73,3 73, IPM Sumber : Bappeda kab. Mojokerto Cat : Data 2 seg dalam proses analisa perhitungan oleh BPS 33

57 Dari tabel dapat diketahui bahwa IPM mangalami peningkatan yang pada 29 mencapai angka 73,. IPM tersebut pada konteks regional Jawa Timur ternyata masih diatas ratarata IPM Jawa Timur. Selanjutnya tren peningkatan IPM dapat digambarkan sebagaimana grafik berikut: Grafik 2.2 Indeks Pembangunan Manusia Beberapa urusan yang terkait dengan IPM dapat disampaikan sebagai berikut: a) Status Pembangunan Big Kesehatan Faktor kesehatan menjadi satu dari tiga indikator penting penunjang pembangunan manusia karena tingkat produktifitas manusia bisa tergali optimal bila kondisi kesehatan tubuhnya maksimal. Status pembangunan big kesehatan dapat diwakili dengan indikator angka kematian bayi, Angka Harapan Hidup (AHH), angka kematian ibu bersalin, angka kematian umum, angka 34

58 kesakitan angka kelahiran. Indikator tersebut dalam 5 tahun terakhir adalah sebagaimana tabel berikut: Tabel 2.8 Status / indikator kinerja pembangunan big kesehatan 262 No. URAIAN Satuan Angka Kematian bayi Usia Harapan Hidup Promil 6 6,3 6,78 6,38 7,54 Per. KH Promil , , ,63 3,53 3,3 2,58,7, Persen 75,2 7,2 67,87 62,5 72,22 Promil 7,28 6,8 7,6 6,84 6,9 2. Lakilaki Perempuan 3. Angka Kematian Ibu bersalin Angka Kematian Umum Angka kesakitan/ kebutuhan berobat Angka kelahiran Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Mojokerto 2 Dari tabel tersebut dapat diketahui halhal sebagai berikut: ) Angka kematian bayi. Untuk menilai hasil dari pelayanan kesehatan terhadap bayi balita dilakukan melalui beberapa standar pelayanan kepada bayi balita. Dalam tahun 2 angka kematian bayi di Kabupaten Mojokerto tercatat sebesar 7,54 per kelahiran hidup. merupakan angka yang relatif kecil di tingkat Jawa Timur. Dalam 5 tahun terakhir angka kematian bayi juga menunjukkan penurunan yang signifikan. 35

59 2) Angka Harapan Hidup Angka Harapan Hidup (AHH) sangat berkaitan erat dengan keberhasilan pembangunan sosial ekonomi suatu wilayah. Semakin tinggi AHH mengindikasikan pembangunan sosial ekonomi di wilayah tersebut semakin maju. Dari tabel dapat diketahui Angka Harapan hidup meningkat pada setiap tahunnya hingga mencapai angka 68 untuk penduduk lakilaki 69 untuk penduduk perempuan pada 2. 3) Kematian ibu bersalin Kematian Ibu adalah kematian yang terjadi pada ibu karena peristiwa kehamilan, persalinan masa nifas. Realisasi angka kematian ibu melahirkan selama 5 tahun mengalami fluktuasi, terendah pada tahun 29 yang tercapai sebesar 7,25 per. kelahiran hidup. Segkan angka kematian tertinggi terjadi pada tahun 26 yang sebesar 5 per. kelahiran hidup. Namun demikian angka ini relatif cukup berhasil ditingkat regional Jawa Timur. 4) Angka Kematian umum Dalam 5 tahun terakhir angka kematian umum menunjukkan angka yang relatif kecil menunjukkan tren yang menurun. Pada 2 angka kematian umum tercatat promil. Hal ini menggambarkan perkembangan derajat kesehatan masyarakat ataupun sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan. 5) Angka kesakitan / kebutuhan berobat Angka kebutuhan berobat menunjukkan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan secara medis. Dalam 5 tahun terakhir 36

60 angka kebutuhan berobat menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan pada 2 mencapai angka 72,22 persen. Dari status / indikator kinerja pembangunan big kesehatan tersebut maka tren perkembangannya dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.3 Status / indikator kinerja pembangunan big kesehatan

61 b) Status Pembangunan Big Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan faktor penting dalam penentuan tingkat kualitas hidup. Semakin tinggi tingkat pendidikan suatu masyarakat, semakin baik pula kualitas sumber dayanya. Aspek yang berpengaruh dalam mewujudkan tingkat pendidikan di masyarakat secara umum adalah melalui 4 sendi pokok yaitu pemerataan kesempatan, kualitas proses belajar mengajar, relevansi pendidikan efisiensi pengelolaan. Status / indikator kinerja pembangunan big pendidikan secara umum dapat diketahui dari Angka Partisipasi Murni (APM) Angka Partisipasi Kasar (APK). Tabel 2.9 Angka Partisipasi Murni (APM) 262 No ,6 99,89 99,38 99,88 99,8 Indikator. APM SD/ MI 2. APM SLTP/MTS 7,8 82,3 96,64 96,7 94,57 3. APM SLTA/MA/SMK 4,4 53,2 67,2 7,63 73,8 Sumber : Dinas Pendidikan Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa dalam 5 tahun terakhir secara umum Angka Partisipasi Murni (APM) pada jenjang pendidikan SD/MI, SLTP/MTs SLTA/MA/SMK mengalami peningkatan, meskipun pada tahun terakhir mengalami penurunan. Hal ini dimungkinkan aya penduduk yang bersekolah di 38

62 luar wilayah Kabupaten Mojokerto, seperti di Kota Mojokerto, Jombang maupun Surabaya. Tabel 2. Angka Partisipasi Kasar (APK) 262 No Indikator APK SD/MI 3,84 3,96,47,46 2,9 2 APK SLTP/MTs 88,34 92,7 92,52 93,34 94,8 3 APK SLTA/MA/SMK 52,58 57,39 77,7 77,33 74,2 Sumber : Dinas Pendidikan Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa tingkat kesadaran masyarakat untuk mengikuti pendidikan secara formal masih cukup tinggi meskipun melalui pendidikan Kelompok Belajar Paket pada tingkat Paket A, B maupun C. Tren peningkatan Angka Partisipasi Murni (APM) Angka Partisipasi Kasar (APK) pada berbagai jenjang dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.4 Angka Partisipasi Murni (APM)

63 Grafik 2.5 Angka Partisipasi Kasar (APK) c) Status pembangunan Big Ekonomi Ketenagakerjaan Laju pertumbuhan ekonomi 25 sampai 29 telah menunjukkan indikasi pemulihan ekonomi cukup signifikan. Hal tersebut tidak terlepas dari kontribusi masingmasing sektor PDRB yang menunjukkan peningkatan positif. Sektor sekunder masih menjadi andalan terhadap pembangunan ekonomi yang diikuti sektor tersier primer. Tabel 2. Laju Pertumbuhan Ekonomi Th Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) ,37 5,47 5,93 5,88 5,6 Sumber Data: BPS 4

64 Dari tabel diketahui bahwa laju pertumbuhan ekonomi meningkat dari 25 sampai 27 namun menurun kembali hingga 29. Memang banyak faktor yang mempengaruhi pada laju pertumbuhan ekonomi ini termasuk faktor eksternal diantaranya adalah aya kebijakan terkait pasar global. Tren laju pertumbuhan ekonomi dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.6 Laju pertumbuhan ekonomi Dari aspek lowongan kerja, pencari kerja penempatan tenaga kerja dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.2 Lowongan Kerja, Pencari Kerja Penempatan Tenaga Kerja Lowongan kerja Pencari kerja terdaftar Penempatan tenaga kerja 5.2 No URAIAN Sumber : Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi 4

65 Grafik 2.7 Lowongan Kerja, Pencari Kerja Penempatan Tenaga Kerja Dari tabel grafik diatas dapat dilihat bahwa jumlah lowongan kerja, pencari kerja terdaftar penempatan tenaga kerja dari 26 hingga 2 berfluktuasi. Hal ini sangat dipengaruhi oleh berfluktuasinya lapangan / pasar kerja yang ada di maupun pada wilayah Regional Jawa Timur. 2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sejak tahun 25 sampai dengan tahun 29, PDRB atas dasar harga konstan Kabupaten Mojokerto mengalami peningkatan setiap tahunnya. Demikian juga PDRB atas dasar harga berlaku juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut: 42

66 Tabel 2.3 PDRB Th Produk Domestik Regional Bruto (Jutaan) Harga Konstan Harga Berlaku , , , , , , , , , ,95 Sumber data : BPS Tren peningkatan PDRB dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.8 Tren Kenaikan PDRB Sumbangan tiap sektor PDRB secara terperinci adalah sebagai berikut: 43

67 Tabel 2.4 Sumbangan Tiap Sektor Th Sektor , 33,76 33,25 32,29 3,8 23,29 24,3 24,9 25,53 25,72 3. Pertanian 2,45 2,48 2,22 2,22 2,25 4. Jasajasa 8,6 8, 8,8 8,23 8,3 5,93 4,22 4,9 4,5 4,8 3,96 4, 4,2 4,5 4,9 2,62 2,68 2,79 2,93 2,95,45,47,49,59,62,4,9,6,,8 % % %. Industri Pengolahan 2. Perdagangan, Hotel Restoran 5. Pengangkutan Komunikasi 6. Keuangan, Persewaan Jasa Perusahaan 7. Bangunan 8. Pertambangan Penggalian 9. Listrik, Gas Air Bersih Total % % Sumber data : BPS Secara umum sumbangan sektor PDRB yang paling dominan adalah dari sektor industri pengolahan yang pada 29 mencapai angka 3,8 % selanjutnya diikuti oleh sektor perdagangan, hotel restoran yang mencapai angka 25,72 % sektor pertanian yang mencapai angka 2,25 %. Komposisi sumbangan sektor PDRB pada 29 dapat dilihat pada grafik berikut: 44

68 Grafik 2.9 Komposisi sumbangan sektor PDRB Selanjutnya untuk mengetahui tingkat kemakmuran penduduk maka dipergunakan pendekatan pendapatan regional per kapita. Untuk memperoleh nilai riil indikator pendapatan regional per kapita maka dipergunakan angka pendapatan regional per kapita atas dasar harga konstan, hal ini untuk menghilangkan pengaruh tingkat perubahan harga barang jasa (inflasi / deflasi) yang terjadi pada tahun berjalan. Pendapatan regional per kapita dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut: 45

69 Tabel 2.5 Pendapatan Regional Per Kapita Th Pendapatan Regional Per Kapita (jutaan) ADHB ADHK 7.6.8, , , , , , , ,38.6.2, ,86 Sumber Data: BPS Dari tabel dapat diketahui bahwa pendapatan regional per kapita atas dasar harga konstan dari tahun 25 mengalami peningkatan hingga 28 menurun pada 29. Grafik 2. Tren Peningkatan Pendapatan Regional Per Kapita 46

70 C. Aspek Pelayanan Umum. Fokus Layanan Urusan Wajib a. Pendidikan Selain ketersediaan guru berkualitas berkeahlian yang cukup, ketersediaan sarana yang layak merupakan modal dasar agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Indikator kinerja yang digunakan adalah: () Rasio jumlah guru terhadap jumlah murid Target nasional berdasarkan standar ideal indikator pemerataan pendidikan yang diterbitkan Kementerian sebesar Pendidikan :4, Nasional SMP/MTs adalah sebesar SD/MI :2 SMA/MA/SMK sebesar :2. Perkembangan rasio jumlah guru murid pada masingmasing jenjang pendidikan tahun 26 2 adalah sebagai berikut: Tabel 2.6 Rasio jumlah guru terhadap jumlah murid No Uraian SD/MI 26 /2 27 /2 28 / 29 / 2 /2 2 SMP/MTs /3 /3 / /2 /4 3 SMA/MA/SMK /2 / / / / Sumber Data : Dinas Pendidikan Rasio tersebut menunjukkan bahwa jumlah ketersediaan guru baik pada jenjang SD/MI, SMP/MTs maupun jenjang SMA/MA/SMK telah mencukupi dibandingkan dengan jumlah murid yang ada. 47

71 (2) Rasio jumlah kelas terhadap murid Standar nasional berdasarkan standar ideal indikator pemerataan pendidikan yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Nasional adalah SD/MI sebesar : 4, SMP/MTs sebesar : 4 SMA/MA/SMK : 4 Perbandingan jumlah kelas terhadap murid pada masingmasing jenjang pendidikan untuk tahun 26 sampai dengan 2 adalah sebagaimana tabel berikut ini : Tabel 2.7 Rasio jumlah kelas terhadap murid No Uraian SD/MI 26 /2 27 /2 28 /8 29 /8 2 /22 2 SMP/MTs /22 /23 /8 /8 /33 3 SMA/MA/SMK /39 /38 /3 /3 /35 Sumber Data : Dinas Pendidikan Berdasarkan rasio tersebut terlihat bahwa jumlah murid pada semua jenjang pendidikan telah tertampung pada kelas yang tersedia. b. Kesehatan () Jumlah Puskesmas, Puskesmas Pembantu Rumah Sakit per Kecamatan Disamping kualitas pelayanan yang baik, maka ketersediaan pemerataan prasarana sarana pusat pelayanan kesehatan juga sangat diperlukan. Dalam 3 tahun terakhir semua kecamatan di Kabupaten Mojokerto telah tersedia pusat pelayanan kesehatan baik berupa puskesmas puskesmas pembantu, 48

72 serta tersedia pula 2 RSUD 7 Rumah Sakit swasta yang melayani wilayah. Jumlah puskesmas, puskesmas pembantu rumah sakit dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.8 Jumlah Puskesmas, Puskesmas Pembantu Rumah Sakit per Kecamatan Puskesmas No Kecamatan JATIREJO 8 MOJOANYAR GONDANG PACET TRAWAS NGORO PUNGGING KUTOREJO MOJOSARI DLANGGU BANGSAL PURI TROWULAN SOOKO GEDEG KEMLAGI JETIS DAWARBLAND ONG Jumlah Jumlah Puskesmas Rumah sakit Pembantu Sumber : Dinas Kesehatan 49

73 (2) Jumlah tenaga medis paramedis Jumlah tenaga medis paramedis dalam 3 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.9 Jumlah tenaga medis, paramedis kunjungan ke puskesmas No Tenaga medis / paramedis / kunjungan ke puskesmas Jumlah Dokter spesialis Dokter umum Dokter gigi Ahli gizi Bi Perawat Sumber : Dinas Kesehatan (3) Jumlah penduduk yang memanfaatkan RSUD puskesmas Pemanfaatan pusat pelayanan kesehatan oleh masyarakat dalam berobat adalah berbanding linier dengan kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan kesehatannya. Dalam 5 tahun terakhir jumlah kunjungan pada pusat pelayanan kesehatan dapat dilihat pada tabel berikut: 5

74 Tabel 2.2 Jumlah penduduk yang memanfaatkan RSUD Puskesmas Jumlah No indikator kunjungan RSUD ,9 72, 67,3 74,3 83 6,7 87,35 53,94 67,38 69,3 ke Prof. Dr. Soekandar 2 kunjungan RSUD RA. Basuni Bed 3 ke Occupancy Rate (BOR) RSUD Prof. Dr. Soekandar (%) Bed 4 Occupancy Rate (BOR) RSUD RA. Basuni (%) Kunjungan ke puskesmas (kali/tahun) Sumber : Dinas Kesehatan Dari data tersebut dapat diketahui bahwa tingkat pemanfaatan pusat pelayanan kesehatan oleh masyarakat ternyata cukup tinggi. Dalam 2 jumlah kunjungan ke RSUD Prof. Dr. Soekandar mencapai angka kunjungan dengan BOR sebesar 83%, segkan pada RSUD RA Basuni tingkat kunjungan mencapai angka kunjungan dengan BOR mencapai 69,3 %. 5

75 Dari standar BOR yang ditetapkan untuk setiap rumah sakit sebesar 75 % 85 %, maka RSUD Prof. Dr. Soekandar angka BOR termasuk cukup tinggi, segkan untuk RSUD RA Basuni masih relatif rendah karena RSUD tersebut relatif baru dibangun dengan berbagai keterbatasan prasarana sarananya. Kunjungan terhadap puskesmas dalam 2 mencapai angka kunjungan yang berarti 55 % jumlah penduduk telah memanfaatkan puskesmas sebagai pelayanan kesehatan. c. Pekerjaan Umum () Kondisi Jalan Jembatan Untuk memenuhi kebutuhan prasarana perhubungan maka pemerintah kabupaten harus menyediakan jalan jembatan tingkat kabupaten untuk prasarana lalu lintas. Panjang jalan kabupaten mencapai 864,7 Km secara keseluruhan telah berkonstruksi aspal. Kondisi jalan dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat sebagaimana tabel berikut: Tabel 2.2 Kondisi Jalan aspal kabupaten Mojokerto (Km) No Kondisi Baik 58,59 62,747 65, Seg ,225 39,225 Rusak 74,23 88,35 73,39 864,7 864,7 864,7 Jumlah Sumber data : Dinas PU Bina Marga 52

76 Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa pada 2 sebagian besar jalan kabupaten yaitu 65,843 Km adalah berkondisi baik atau 75 % dari total panjang jalan kabupaten. Perkembangan kondisi jalan kabupaten dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2. Perkembangan kondisi jalan Dengan dilewatinya jalan kabupaten oleh kendaraan yang sejak awal pembangunannya tidak disiapkan untuk kapasitas kendaraan yang cukup tinggi maka tingkat kerusakan jalan semakin tinggi. Untuk itu pemerintah kabupaten terus berupaya untuk memperbaiki kondisi jalan yang ada sehingga kondisi jalan dapat normal kembali. Kondisi jembatan yang ada di Kabupaten Mojokerto dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : 53

77 Tabel 2.22 Kondisi jembatan (unit) No Kondisi Seg Rusak Jumlah Baik 2 3 Sumber : Dinas PU Bina Marga Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa semua jembatan kabupaten kondisinya baik, yaitu sebanyak 245 unit dari 287 jembatan yang ada atau sebesar 85,36 %. Perkembangan kondisi jembatan kabupaten dalam 4 tahun terakhir adalah sebagaimana grafik berikut: Grafik 2.2 Perkembangan kondisi jembatan (jembatan) 54

78 (2) Ketersediaan LPJU bagi masyarakat Untuk menyediakan kenyamanan keamanan pengguna jalan khususnya pada malam hari maka diperlukan Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU). Sampai dengan 2 LPJU yang sudah dicukupi adalah pada beberapa jalan kolektor primer sekunder serta pusatpusat ibukota kecamatan. Jumlah LPJU dalam 5 tahun terakhir adalah sebagaimana tabel berikut: Tabel 2.23 Jumlah LPJU No Indikator Jumlah LPJU Sumber Data : Dinas PU Cipta Karya Tata Ruang Dari tabel diketahui bahwa secara kuantitatif jumlah LPJU memang masih belum memadai, namun pada setiap tahun telah ditingkatkan sesuai dengan kemampuan anggaran daerah. Perkembangan jumlah LPJU dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.3 Perkembangan jumlah LPJU 55

79 (3) Luas areal dengan irigasi teknis Sejak tahun 26 sampai dengan tahun 2 luas daerah irigasi teknis yang ada relatif tetap. Luas daerah irigasi teknis dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.24 Luas Irigasi Teknis 26 2 No Indikator 26 Luas Irigasi Teknis (Ha) Sumber data : Dinas PU Pengairan Dari tabel dapat diketahui bahwa luas lahan pertanian yang terlayani irigasi secara teknis adalah sebesar Ha dengan perkembangan yang relatif tetap bahkan menurun di tahun terakhir. Perkembangan tersebut dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.4 Perkembangan luas Irigasi Teknis 56

80 (4) Air Bersih Jumlah pelanggan air bersih di wilayah pada tahun 2 sebanyak 2.7 pelanggan. Segkan volume air yang disalurkan sebesar.867. m3 dengan nilai Rp ,. (5) Kelistrikan Sampai dengan tahun 29 kelistrikan di masih mengandalkan sumber energi listrik dari PLN. Jumlah pelanggan PLN mencapai rumah tangga atau meningkat.42% dibandingkan tahun 26. Konsumsi listrik terbesar adalah dari kelompok industri sebesar kwh ( % ) diikuti kelompok rumah tangga sebesar kwh ( % ). d. Penataan Ruang () Jumlah RDTRK Untuk menjaga keseimbangan peruntukan ruang daerah perlu disusun dokumen penataan ruang. Dokumen ini disusun sebagai acuan masyarakat dalam melakukan aktivitas pemanfaatan lahan ruang di suatu wilayah. Di tingkat kecamatan peruntukan ruang ditetapkan dalam dokumen Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan (RDTRK). Dokumen ini menetapkan secara spesifik peruntukan lahan di wilayah kecamatan. Jumlah RDTRK saat ini adalah 8 buah. 57

81 e. Perencanaan Pembangunan () Jumlah dokumen perencanaan penelitian yang dihasilkan Untuk meningkatkan pengelolaan pemerintahan yang baik perlu disusun rencana pembangunan agar terarah, terukur, proporsional sesuai dengan kemampuan anggaran daerah. Segkan penelitian diperlukan sebagai salah satu bahan perencanaan agar memperoleh produk perencanaan yang tepat sasaran, optimal feasibel. Selama tahun 25 sampai dengan tahun 29 dokumen perencanaan yang dihasilkan adalah: 25: Pola Dasar Pembangunan Lima (POLDAS) Renstra Renstra SKPD Rencana Pembangunan an (REPETADA) 26 s/d 29 : Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kebijakan Umum Anggaran (KUA) Prioritas Plafon Anggaran (PPAS) Segkan dokumen penelitian selama lima tahun yang dihasilkan sebanyak dokumen yaitu pada big ekonomi, sosial budaya fisik prasarana dengan jumlah tiap tahunnya berfluktuasi. 58

82 f. Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) () Jumlah Koperasi yang ada Jumlah koperasi yang ada selama lima tahun meningkat sebesar 4 %, yaitu dari jumlah koperasi tahun 26 sebanyak 37 unit menjadi 744 unit di tahun 2. Perkembangan jumlah koperasi dalam 5 tahun terakhir adalah sebagaimana tabel berikut: Tabel 2.26 Perkembangan jumlah koperasi No Indikator Jumlah Koperasi Sumber: Dinas Koperasi UMKM Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa disamping jumlah koperasi yang cukup banyak (pada 2 mencapai peningkatannyapun 744 relatif koperasi), besar. maka Perkembangan jumlah koperasi dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.5 Perkembangan jumlah koperasi

83 (2) Jumlah Koperasi yang sehat Jumlah koperasi yang sehat selama lima tahun terakhir adalah cukup tinggi yang pada 2 mencapai 598 koperasi atau sebanyak 8,37 % dari total jumlah koperasi di kabupaten. Perkembangan jumlah koperasi sehat ratarata dalam 5 tahun terakhir mengalami peningkatan sebesar 2 %. Perkembangan jumlah koperasi sehat sejak tahun 26 hingga tahun 2 dapat dilihat sebagaimana tabel berikut: Tabel 2.27 Perkembangan jumlah koperasi sehat No Indikator Jumlah Koperasi sehat Sumber: Dinas Koperasi UMKM Perkembangan jumlah koperasi sehat dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.6 Perkembangan jumlah koperasi sehat 6 598

84 (3) Jumlah usaha kecil Selama lima tahun jumlah usaha kecil meningkat sebesar 268,4 % yaitu dari sebanyak unit pada tahun 26 menjadi sebanyak unit pada tahun 2. Perkembangan jumlah usaha kecil selama lima tahun dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2.28 Perkembangan usaha kecil No Indikator Jumlah usaha kecil (unit) Sumber: Dinas Koperasi UMKM Perkembangan jumlah usaha kecil 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.7 Perkembangan jumlah usaha kecil 6

85 (4) Jumlah usaha menengah Selama 5 tahun jumlah usaha menengah meningkat sebesar 7,83 % yaitu dari sebanyak.882 unit pada tahun 26 menjadi sebanyak 3.25 unit pada tahun 2. Perkembangan jumlah usaha menengah selama 5 tahun dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2.29 Perkembangan usaha menengah No Indikator Jumlah usaha menengah Sumber: Dinas Koperasi UMKM Perkembangan jumlah usaha menengah selama 5 tahun dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.8 Perkembangan jumlah usaha menengah 62

86 g. Pemerintahan umum () Jumlah produk hukum yang ditetapkan Untuk mengukur efektivitas jalannya pemerintahan salah satunya diukur dengan sampai sejauhmana kelengkapan peraturan perungan sebagai kelengkapan hukum setiap aktivitas yang dilaksanakan. Kelengkapan hukum tersebut adalah keberadaan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati Keputusan Bupati yang sesuai dengan kebutuhan. Jumlah produk Hukum yang dihasilkan selama tahun adalah sebagai berikut : Tabel 2.3 Jumlah produk hukum No Produk Hukum Peraturan Daerah Peraturan Bupati Keputusan Bupati Instruksi Bupati Peraturan / perjanjian / Keputusan Bersama Sumber: Bagian hukum Setda Kab. Mojokerto (2) Jumlah Standar Pelayanan Minimal (SPM) Untuk mengukur akuntabilitas pelayanan kepada masyarakat maka setiap SKPD harus memiliki Standar pelayanan minimal (SPM). SPM merupakan acuan bagi SKPD dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. 63

87 Selama tahun 26 29, jumlah SKPD yang telah menyusun SPM sebanyak 4 SKPD. SKPD tersebut adalah :. Ba Pelayanan Perijinan Terpadu 2. Ba Lingkungan Hidup 3. Dinas pendidikan 4. RSUD Dengan aya SPM pelayanan pada empat memenuhi kebutuhan tersebut SKPD diharapkan tersebut tuntutan dapat masyarakat. Segkan untuk SKPD yang belum menyusun SPM, pemerintah Kabupaten berkomitmen untuk segera melengkapinya dengan SPM sesuai dengan yang disyaratkan. (3) Indeks Kepuasan Masyarakat Untuk menilai kepuasan masyarakat dalam menerima pelayanan oleh pemerintah kabupaten maka baru melaksanakan pada 2. Indeks kepuasan masyarakat pada tahun 2 dapat dilihat sebagaimana tabel berikut: Tabel 2.3 Indeks kepuasan masyarakat No Indikator Indeks kepuasan masyarakat di big ,7 7,7 pendidikan (%) 2 Indeks kepuasan masyarakat di big birokrasi pemerintahan (Perijinan, Catatan sipil, Kecamatan) (%) Sumber: Bappeda Kab. Mojokerto 64

88 Dari tabel dapat diketahui bahwa indeks kepuasan masyarakat baik di big pendidikan maupun di big birokrasi pemerintahan relatif cukup tinggi. h. Sosial () Jumlah penduduk miskin Untuk menilai tingkat perlindungan sosial kepada masyarakat maka perlu dilakukan upaya pengentasan kemiskinan di masyarakat. Jumlah penduduk miskin di relatif masih tinggi yaitu pada 2 mencapai Rumah Tangga Miskin (RTM). Perkembangan jumlah keluarga miskin tahun 28 hingga tahun 2 adalah sebagaimana pada tabel berikut: Tabel 2.32 Jumlah keluarga miskin No Indikator Jumlah keluarga miskin (RTM) Sumber: BPS Kab. Mojokerto Catatan: data tahun 28 berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), segkan 29 2 berdasarkan parameter Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 65

89 Grafik 2.9 Jumlah keluarga miskin Catatan: data tahun 28 berdasarkan Susenas, segkan 29 2 berdasarkan parameter PPLS Terhadap jumlah penduduk miskin tersebut maka beberapa program yang dilaksanakan untuk pengentasan kemiskinan antara lain adalah: Jamkesmas Jamkesda Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Program peningkatan keberdayaan masyarakat Program Keluarga Harapan (PKH) Pemberdayaan anak jalanan Raskin (2) Jumlah PMKS yang dibantu Untuk menilai perlindungan penanganan permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat maka pemerintah kabupaten mempunyai tanggungjawab 66

90 untuk mengurangi Pengurangan jumlah PMKS memberdayakan PMKS dilakukan PMKS yang melalui mengurangi ada. upaya faktor penyebab meningkatnya PMKS. Jumlah PMKS yang dibantu sejak tahun 26 s/d tahun 2 adalah sebagaimana data pada tabel berikut: Tabel 2.33 Jumlah PMKS yang dibantu No Indikator Jumlah PMKS yang dibantu (jiwa) Sumber: Dinas Sosial Jumlah PMKS yang dibantu pada setiap tahunnya adalah fluktuatif. Gambaran perkembangan tersebut dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.2 Jumlah PMKS yang dibantu 67

91 i. Perpustakaan () Jumlah Perpustakaan Pengunjung Jumlah pengunjung perpustakaan selama lima tahun berfluktuasi mencapai angka tertinggi tahun 27 Perkembangan Jumlah pengunjung perpustakaan selama 5 tahun terakhir sebagaimana pada tabel berikut: Tabel 2.34 Jumlah perpustakaan pengunjung Jumlah Perpustakaan jumlah pengunjung.728 No Indikator perpustakaan (orang) Sumber: Kantor Perpustakaan,Arsip Dokumentasi Dari tabel dapat diketahui bahwa jumlah perpustakaan mengalami peningkatan, segkan jumlah pengunjung adalah berfluktuatif. Gambaran perkembangan jumlah pengunjung dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.2 Jumlah pengunjung perpustakaan 68

92 (2) Jumlah buku perpustakaan Realisasi jumlah buku perpustakaan pada tahun 2 sebanyak 8.57 eksemplar, meningkat 83,85 % dibanding tahun 26 yang hanya sebesar.72 eksemplar. Perkembangan jumlah buku pepustakaan selama 5 tahun terakhir adalah sebagaimana pada data tabel berikut: Tabel 2.35 Jumlah buku perpustakaan No Indikator Jumlah buku perpustakaan Sumber: Kantor Perpustakaan,Arsip Dokumentasi Dari tabel diketahui bahwa jumlah buku perpustakaan mengalami peningkatan pada setiap tahunnya. Perkembangan peningkatan jumlah buku dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.22 Jumlah buku perpustakaan 69

93 Jumlah buku perpustakaan dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dari grafik terlihat bahwa penambahan buku secara signifikan terjadi pada tahun 2. (3) Jumlah judul buku perpustakaan Realisasi jumlah judul buku perpustakaan pada tahun 2 sebanyak.769 judul, meningkat 85,5 % dibanding tahun 26 yang sebesar 6.36 judul. Perkembangan jumlah judul buku perpustakaan selama lima tahun terakhir adalah sebagaimana pada data tabel berikut ini: Tabel 2.36 Jumlah judul buku perpustakaan No Indikator Jumlah judul buku perpustakaan Sumber: Kantor Perpustakaan,Arsip Dokumentasi Grafik 2.23 Jumlah judul buku perpustakaan 7

94 D. Aspek Daya Saing Daerah. Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah a. Kondisi Ekonomi Pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah mampu menggambarkan aktivitas ekonomi selama kurun waktu tertentu, tiap daerah memiliki karakteristik tertentu atas hasil produk unggulan yang diharapkan mampu bersaing diserap oleh pasar, untuk kemudian ikut menopang pertumbuhan ekonomi wilayah. Kondisi big industri perdagangan yang menjadi daya saing adalah sebagai berikut:. Industri Jumlah perusahaan industri besar seg di pada 2 mencapai sejumlah perusahaan. Jenis perusahaan dikelompokkan dalam 4 kelompok yaitu : Industri logam, elektro aneka; Industri kimia, agro hasil hutan; Sentra industri kecil Non sentra industri kecil. Jumlah industri, jumlah tenaga kerja, nilai investasi, nilai produksi nilai ekspor pada 4 tahun terakhir dapat dilihat sebagaimana data tabel berikut: 7

95 Tabel 2.37 Data Industri 262 URAIAN No SAT A. Jumlah Industri. Industri Logam Mesin Elektro Aneka Unit Industri Kimia Agro Hasil Hutan Unit Sentra Industri Kecil Unit Non Sentra Industri Kecil Unit JUMLAH B. Jumlah Tenaga Kerja. Industri Logam Mesin Elektro Aneka Org Industri Kimia Agro Hasil Hutan Org Sentra Industri Kecil Org Non Sentra Industri Kecil Org JUMLAH C. Nilai Investasi (Juta). Industri Logam Mesin Elektro Aneka Rp , , , , , 2. Industri Kimia Agro Hasil Hutan Rp , , , , , 3. Sentra Industri Kecil Rp 4.56, , , , , 4. Non Sentra Industri Kecil Rp 336.3, , , , , ,.8.677, ,.87.25, , JUMLAH D. Nilai Produksi (Juta). Industri Logam Mesin Elektro Aneka Rp.78.22, , , , ,25 2. Industri Kimia Agro Hasil Hutan Rp , , , , ,9 3. Sentra Industri Kecil Rp 37.4, , , , , 4. Non Sentra Industri Kecil Rp 265.4, , , , , , , , , ,66 JUMLAH E. Nilai Ekspor (Ribu). Industri Logam Mesin Elektro Aneka US $ , , , ,.45.35, 2. Industri Kimia Agro Hasil Hutan US $ , , , , , 3. Sentra Industri Kecil US $ 89.3, , 4. Non Sentra Industri Kecil US $ , , , , , , , , JUMLAH ,3 Sumber : Dinas Perindustrian Perdagangan Kab. Mojokerto 72

96 Dari tabel dapat diketahui masingmasing sebagai berikut: Jumlah Industri secara umum meningkat ratarata sebesar 2,78 % dalam 5 tahun terakhir. Peningkatan jumlah terbesar pada kelompok jenis Industri Logam Mesin Elektro Aneka yang meningkat ratarata sebesar 26,49 % diikuti dengan kelompok jenis industri kimia, agro hasil hutan yang meningkat ratarata sebesar 22,34 %. Jumlah tenaga kerja secara umum meningkat ratarata sebesar 2,26 % dalam 5 tahun terakhir. Peningkatan jumlah tenaga kerja terbesar pada kelompok jenis industri industri kimia, agro hasil hutan yang meningkat ratarata sebesar 9,53 %, diikuti dengan kelompok jenis sentra industri kecil yang meningkat ratarata sebesar 4,3 %. Nilai investasi perusahaan industri pada 2 mencapai Rp ,. Dalam 5 tahun terakhir nilai investasi perusahaan industri mengalami peningkatan ratarata sebesar 2,86 %. Peningkatan nilai investasi terbesar pada kelompok jenis Industri Logam Mesin Elektro Aneka yang mencapai ratarata sebesar 5,9 %. Nilai produksi perusahaan industri pada 2 mencapai Rp ,66. Dalam 5 tahun terakhir nilai produksi perusahaan industri mengalami peningkatan ratarata sebesar 5,72 %. Peningkatan nilai produksi terbesar pada kelompok jenis Non Sentra Industri Keci yang mencapai ratarata sebesar 2,38 %, diikuti dengan kelompok jenis Industri 73

97 Kimia Agro Hasil Hutan yang mencapai ratarata sebesar,69 %. Nilai ekspor perusahaan industri pada 2 mencapai US $ ,. Dalam 5 tahun terakhir nilai ekspor perusahaan industri relatif tetap. Terjadi peningkatan yang cukup besar yaitu pada tahun 27 yang mencapai nilai ekspor sebesar US $ ,. 2. Industri kecil kerajinan Industri kecil terutama industri kecil kerajinan yang sebagian besar merupakan produk unggulan di jumlahnya cukup banyak membentuk sentrasentra industri kecil. Beberapa produk unggulan kabupaten Mojokerto asal kecamatan sebagai sentra produksinya adalah sebagai berikut:. Kerajinan Perak di Kec. Kemlagi 2. Kerajinan Bambu di Kec. Kemlagi, Kec. Dawarblandong 3. Kerajinan tas Dompet di Kec. Jetis, Kec. Sooko 4. Kerajinan Fiberglas di Kec. Trowulan 5. Kerajinan Kayu di Kec. Puri 6. Kerajinan Cor Kuningan di Kec. Trowulan 7. Kerajinan Sepatu di Kec. Trowulan, Kec. Pungging, 8. Kerajinan Sepatu di Kec. Sooko, Kec. Puri, Kec. Gedeg 9. Ketan Hitam di Kec. Pacet. Pisang Cavendis di Kec. Gong 74

98 . Madu Lebah di Kec. Pacet, Kec. Puri 2. Kerupuk Rambak di Kec. Trowulan, Kec. Bangsal 3. Mangga Gadung di Kec. Puri, Kec. Dlanggu 4. Industri Kacang Mete di Kec. Ngoro 5. Telur Asin, Bebek Asap di Kec. Mojosari, Kec Bangsal 6. Industri Jamur di Kec. Pacet, Kec Trawas 3. Pengadaan harga dasar gabah/beras Pengadaan gabah di Kabupaten Mojokerto mengalami peningkatan. Selama 29 realisasi pengadaan gabah untuk sebesar 2. ton. Sementara pada tahun 28 sebesar. ton. Kebijaksanaan harga dasar gabah yang ditetapkan oleh pemerintah pada tahun 29 sebesar Rp. 3 per kg. Segkan pada 28 harga gabah sebesar Rp. 2.8 per kg. Harga pembelian gabah juga beras oleh KUD mengalami peningkatan yaitu harga untuk gabah beras masingmasing adalah sebesar Rp 3.4 Rp.4.6 per kg. b. Pertanian () Luas Tanam Pertanian Tanaman Pangan Luas tanam pertanian tanaman pangan pada beberapa komoditi tanaman pangan dalam 5 tahun terakhir adalah sebagaimana tabel berikut: 75

99 Tabel 2.38 Luas Tanam Pertanian Tanaman Pangan 262 (Ha) No. KOMODITI Padi Jagung Kedele Ubi Kayu Ubi Jalar Kacang Tanah Kacang Hijau Sumber Data : Dinas Pertanian Dari tabel dapat diketahui bahwa secara umum luas tanam pertanian tanaman pangan untuk berbagai komoditi tanaman pangan jumlahnya berfluktuatif. Hal ini sematamata menyesuaikan pola tanam terkait dengan musim hujan kemarau. Gambaran perkembangan luas tanam pertanian tanaman pangan per komoditi tanaman pangan dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.24 Luas Tanam Pertanian Tanaman Pangan 262 (Ha) 76

100 (2) Luas Panen Pertanian Tanaman Pangan Luas Panen pertanian tanaman pangan dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada data tabel berikut: Tabel 2.39 Luas Panen Pertanian Tanaman Pangan 262 (Ha) No. KOMODITI Padi Jagung Kedele Ubi Kayu Ubi Jalar Kacang Tanah Kacang Hijau Sumber Data : Dinas Pertanian Dari tabel dapat diketahui bahwa luas panen pertanian tanaman pangan untuk komoditi padi mengalami peningkatan ratarata sebesar 2,7 % yang pada tahun 2 mencapai Ha. Demikian juga untuk komoditi jagung mengalami peningkatan sebesar ratarata 5,25 % yang pada 2 mencapai 25.3 Ha. Gambaran perkembangan luas panen pertanian tanaman pangan per komoditi tanaman pangan dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut: 77

101 Grafik 2.25 Luas Panen Pertanian Tanaman Pangan 262 (3) Produktivitas Pertanian Tanaman Pangan Produktifitas pertanian tanaman pangan dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada data tabel berikut: Tabel 2.4 Produktivitas Pertanian Tanaman pangan 262 (Kw/Ha) No. KOMODITI Padi 59,33 6,6 62,75 63,96 63,4 2 Jagung 49,4 54,49 57,36 57,89 66,25 3 Kedele 3,39 2,24 2,3 7, 4 Ubi Kayu 27,25 36,3 24,9 9,57 73,59 5 Ubi Jalar 392,33 4,73 49,6 325,8 37,5 6 Kacang Tanah 3,8 2,79,2,23,4 7 Kacang Hijau 9,27 9,2 9,26 9,27 9,8 5,29 Sumber Data : Dinas Pertanian 78

102 Dari tabel dapat diketahui bahwa produktifitas pertanian tanaman pangan untuk komoditi padi mengalami peningkatan ratarata sebesar,2 % yang pada tahun 2 mencapai 63,4 Kw/Ha. Demikian juga untuk komoditi jagung mengalami peningkatan sebesar ratarata,75 % yang pada 2 mencapai 66,25 Kw/Ha. Gambaran perkembangan produktifitas pertanian tanaman pangan per komoditi tanaman pangan dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 2.26 Produktivitas Pertanian Tanaman Pangan 262 (Kw/Ha) (4) Produksi Pertanian Tanaman Pangan Produksi pertanian tanaman pangan dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada data tabel berikut: 79

103 Tabel 2.4 Produksi Pertanian Tanaman Pangan 262 (Ton) No. KOMODITI 2 Padi Jagung 3 Kedele , , , , , 9.97,77 4.3, ,44 5.7, , , ,7 5.2,2 4.85, ,76 Ubi Kayu , , ,3 8.89, , 5 Ubi Jalar , , , , ,3 6 Kacang Tanah 3.62, , , , ,8 7 Kacang Hijau.644,62.869,3 2.,23.787,9.88,24 Sumber Data : Dinas Pertanian Dari tabel dapat diketahui bahwa produksi pertanian tanaman pangan untuk komoditi padi mengalami peningkatan ratarata sebesar 4,6 % yang pada tahun 2 mencapai 36.99, ton. Demikian juga untuk komoditi jagung mengalami peningkatan sebesar ratarata 6,7 % yang pada 2 mencapai ,28 ton. Gambaran perkembangan produksi pertanian tanaman pangan per komoditi tanaman pangan dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut: 8

104 Grafik 2.27 Produksi Pertanian Tanaman Pangan 262 (Ton) () Produksi peternakan Daging Telur Perkembangan produksi daging telur selama kurun waktu 26 2 dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2.42 Produksi Daging Telur No Indikator Produksi Daging (Kg/tahun) 2 Produksi telur (Kg/tahun) Sumber : Dinas Perikanan Peternakan 8

105 Dari tabel dapat dilihat bahwa produksi daging dalam 5 tahun terakhir mengalami peningkatan ratarata sebesar 7,56 % yang pada 2 mencapai angka Kg/tahun. Segkan untuk produksi telur meningkat ratarata sebesar 7,75 % yang pada tahun 2 mencapai angka Kg/tahun. Gambaran perkembangan produksi daging telur dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat sebagaimana grafik berikut: Grafik 2.28 Perkembangan Produksi Daging Telur 2. Fokus Iklim Berinvestasi a. Keamanan ketertiban umum Masuknya investasi ke daerah sangat dipengaruhi oleh kondisi keamanan ketertiban umum pada daerah tersebut. Situasi yang aman kondusif diikuti dengan kondisi tatanan peri kehidupan pada berbagai kegiatan yang tertib akan menarik bagi investor untuk membuka investasi pada daerah tersebut. Secara umum kondisi 82

106 keamanan ketertiban di dalam 3 tahun terakhir dapat dilihat pada data tabel berikut: Tabel 2.43 Keamanan ketertiban umum 28 2 JENIS DATA () KEAMANAN DAN KETERTIBAN UMUM Jumlah kriminalitas a. Uang Palsu b. Pembunuhan c. Perkosaan d. Curas e. Penganiayaan berat f. Curanmor g. Narkotika h. Curat i. Curhewan j. Pengrusakan tempat ibadah k. Penimbunan BBM l. Unjuk rasa m. Curwatpon n. Korupsi Kasus pemogokan kerja Kasus pertikaian antar warga a. Antar etnis b. Antar wilayah desa c. Antar agama d. Antar simpatisan parpol e. Antar pelajar Unjuk rasa a. Big politik b. Ekonomi c. Sosial budaya 28 (2) TAHUN 29 (3) 2 (4) SATUAN (5) Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus/ TK Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Kasus Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa secara umum jumlah cenderung kriminalitas menurun dalam tidak setiap terlalu tinggi tahunnya. Kasus pemogokan kerja jumlahnya relatif sedikit dibandingkan 83

107 dengan jumlah perusahaan industri, walaupun disisi lain hal ini juga menunjukkan dinamika dalam berdemokrasi. Kasus pertikaian antar warga tidak pernah terjadi, hal ini menunjukkan situasi yang kondusif di Kabupaten Mojokerto. E. Kondisi yang Diinginkan Secara Umum. Big Perekonomian Daerah Pada hakekatnya pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dalam bentuk kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui perluasan lapangan kerja, pemerataan pendapatan per kapita masyarakat, peningkatan hubungan ekonomi antara sektor primer dengan sektor sekunder tersier sesuai dengan kondisi potensi daerah lain sebagainya. Untuk mengetahui apakah sasaran pembangunan yang telah ditetapkan dapat dipenuhi sesuai dengan kehendak citacita masyarakat, tentunya dibutuhkan alat ukur yang relevan yang bisa menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Selama ini salah satu alat ukur yang dianggap paling relevan adalah Statistik Pendapatan Regional yang berupa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pendapatan Regional berguna untuk memberikan penilaian hasil pembangunan di masa lalu, keadaan masa kini maupun kemungkinan di masa yang akan datang. Sehingga Pendapatan Regional ini sangat bermanfaat untuk perencanan pembangunan pada umumnya big ekonomi khususnya. Berdasarkan tingkat pertumbuhan pendapatan regional bruto, berikut adalah proyeksi tingkat pertumbuhan PDRB ADHB ADHK tahun. Tingkat 84

108 pertumbuhan ratarata ekonomi PDRB yang didapat melalui perhitungan statistik regresi akan dikalikan dengan tahun dasar dari nilai PDRB tahun 29 Kabupaten Mojokerto. Tabel 2.44 Proyeksi Pertumbuhan PDRB 2 25 TAHUN ADHB ADHK 2 Rp ,5 Rp ,265 2 Rp ,66 Rp ,58 22 Rp ,2 Rp , Rp ,58 Rp , Rp ,8 Rp ,34 25 Rp ,96 Rp ,88 Sumber: BPS Kab. Mojokerto Grafik 2.29 Tren Proyeksi Pertumbuhan PDRB 2. Big Pendidikan Pendidikan mendapatkan perhatian besar dalam program pembangunan. Hal tersebut dikarenakan pendidikan selain merupakan perangkat untuk membangun mengembangkan 85

109 kualitas sumber daya manusia, pendidikan juga unsur terpenting yang mampu mempertegas karakter bangsa dalam pembekalan persaingan global. Selama periode pembangunan kedepan terdapat beberapa kondisi yang dicitacitakan terkait permasalahan pendidikan. Beberapa diantaranya adalah a) Rasio masyarakat melek huruf meningkat b) Peningkatan kualitas pendidikan c) Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia d) Peningkatan Angka Melek Huruf Penuntasan buta aksara merupakan salah satu program prioritas pembangunan Jawa Timur, maka Pemerintah Kabupaten Mojokerto berupaya mensukseskan program tersebut. Angka melek huruf yang berada pada angka 94,% pada tahun 2 diharapkan tuntas menjadi % pada tahun Big Ketenagakerjaan Selain menjadikan Sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagai solusi vital ketenagakerjaan karena dapat menyerap tenaga kerja lebih besar dibandingkan pegawai negeri swasta, beberapa faktor lain yang dipatok dalam upaya meningkatkan ketangguhan ketenagakerjaan Kabupaten Mojokerto diantaranya adalah : a) Menekan angka pengangguran sebesar,2% tiap tahunnya. b) Meningkatkan Produktivitas jumlah lapangan kerja swadaya masyarakat atau industri rumah tangga. 86

110 4. Big Prasarana Sarana Daerah Ketersediaan sarana prasarana daerah merupakan salah satu fokus pembangunan. Yang dibentuk bukan hanya peningkatan dalam sisi kuantitas melainkan juga peningkatan kualitas beserta pemeliharaan. Selain itu, peningkatan koordinasi pembangunan antar fungsi sektoral yang mencakup seluruh elemen terkait baik Pemerintah, Masyarakat, Swasta sangat diperlukan. a) Peningkatan jumlah pasar daerah/desa dalam posisi strategis sebagai salah satu upaya pengembangan perputaran ekonomi daerah secara mandiri. b) Percepatan pemerataan pembangunan infrastruktur energi ketenagalistrikan. c) Peningkatan kualitas kuantitas infrastruktur perumahan pemukiman. d) Peningkatan kualitas kuantitas jalan jembatan serta jaringan irigasi. 5. Big Pemerintahan Umum Peningkatan kualitas aparatur pemerintahan merupakan salah satu langkah strategis untuk mencapai pemerintahan yang kredibel mampu menjadi rumah masyarakat dalam mencari rasa aman nyaman dalam pelayanan birokrasi. Untuk itu beberapa kondisi yang ditonggakkan kedepan, beberapa diantaranya adalah : a) Meningkatnya persentase pelayanan publik yang terjangkau murah cepat. b) Meningkatnya persentase pegawai yang mengikuti diklat fungsional keahlian profesi. c) Seluruh SKPD diharapkan telah melaksanakan analisa Jabatan Beban Kerja 87

111 6. d) Meningkatnya jumlah partisipasi pemilih dalam pemilu. e) Berkurangnya angka golput dalam proses pemilihan. Big Kesejahteraan Masyarakat Salah satu langkah dalam membangun kesejahteraan masyarakat adalah dengan mengatasi kemiskinan. Berbagai program pengentasan kemiskinan yang telah dilakukan hingga kini masih belum membuahkan hasil yang memuaskan. Bahkan sejak krisis ekonomi melanda Indonesia berkalikali masyarakat harus menanggung beban akibat kenaikan harga BBM, masyarakat miskin Indonesia semakin banyak jumlahnya. Jumlah Rumah Tangga Miskin di Jawa Timur adalah sebesar RTM. Segkan Jumlah Rumah Tangga Miskin Kabupaten Mojokerto pada tahun 2 berjumlah Berikut adalah gambaran Jumlah Rumah Tangga Penduduk Miskin Jumlah Penduduk Miskin pada tahun 2 beserta target pengembangan kesejahteraan masyarakat hingga akhir tahun 25. Tabel 2.45 Jumlah Rumah Tangga Miskin 2 Keterangan Jumlah Sangat Miskin Miskin Hampir Miskin Total JRTM Sumber :BPS Kab. Mojokerto 88

112 Grafik 2.3 Jumlah Rumah Tangga Miskin Berdasarkan data jumlah Rumah Tangga Miskin Kabupaten Mojokerto pada tahun 2 sebesar RTM atau 2,4 % dari total rumah tangga di. Total penduduk miskin pada akhir tahun 25 diharapkan menurun hingga 6,7 %. 89

113 BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Sesuai dengan Ungung Nomor tentang Pemerintahan Daerah Ungung Nomor tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat Daerah, Ungung Nomor 7 23 tentang Keuangan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, keuangan daerah harus dikelola secara tertib, efisien, ekonomis, efektif, transparan bertanggung jawab. Prinsip pengelolaan ini akan tercermin pada proses penyusunan anggaran daerah, struktur pendapatan struktur belanja daerah. Sumber Pendapatan Daerah terdiri atas ) Pendapatan Asli Daerah (PAD); 2) Dana Perimbangan; 3) Kelompok lainlain pendapatan daerah yang sah. Penerimaan dari a perimbangan sangat bergantung dari penerimaan negara formula a alokasi umum. Segkan pembiayaan bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA), Penerimaan Pinjaman Daerah, Dana Cagan Daerah (DCD), Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan. Selain a dari Penerimaan Daerah tersebut, daerah menerima a yang bersumber dari Pemerintah Pusat berupa a Dekonsentrasi a Tugas Pembantuan. A. Kinerja Keuangan Masa Lalu Guna dapat merencanakan pengelolaan keuangan pada tahun depan proyeksi 5 tahun berikutnya maka agar lebih realistis perlu diketahui kinerja keuangan paling tidak selama 5 tahun terakhir, meskipun masih banyak variabel lain yang mempengaruhi ketepatan perhitungan proyeksi seperti fluktuasi nilai mata uang, kebijakan fiskal, pertumbuhan ekonomi terkait pasar global maupun situasi 9

114 keamanan secara umum. Kinerja keuangan 5 tahun terakhir tersebut antara lain meliputi kinerja pelaksanaan APBD, Neraca Daerah analisis rasio keuangan.. Kinerja Pelaksanaan APBD Kinerja pelaksanaan APBD akan menggambarkan perkembangan pendapatan belanja tidak langsung, belanja langsung, proporsi sumber pendapatan gambaran realisasi belanja. Ratarata pertumbuhan realisasi pendapatan Kabupaten Mojokerto 26 2 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. Ratarata pertumbuhan realisasi pendapatan (Rp) 28 (Rp) 29 (Rp) 2 (Rp) Ratarata Pertumb uhan(%) No. Uraian 26 (Rp) () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) , , , , , , , , , , ,3 2, , , , ,, , , , , , , , , , , , , , , , , , , 7, , 9, ,3 8,68 PENDAPATAN.. Pendapatan Asli Daerah... Pajak daerah..2. Retribusi daerah..3. Hasil pengelolaan keuangan daerah yang dipisahkan..4. Lainlain PAD yang sah.2. Dana Perimbangan.2.. Dana bagi hasil pajak /bagi hasil bukan pajak , , , , , 2, Dana alokasi umum , Dana alokasi khusus , , , , , ,3 7,78 28,25 9

115 () (2)..3. LainLain Pendapatan Daerah yang Sah.3. Hibah.3.2 Dana darurat.3.3 Dana bagi hasil pajak dari provinsi Pemerintah Daerah lainnya.3.4 Dana penyesuaian otonomi khusus.3.5 Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya (3) (4) (5) (6) (7).,.,.,.,., , , , , , 9..., , , , , 2, , , , 6, , , , , , , (8) 84,7 836,96 Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa ratarata pertumbuhan realisasi pendapatan 27 2 mencapai 2,54%. Dari masingmasing sumber pendapatan juga diketahui bahwa Pendapatan Asli Daerah yang berasal dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lainlain pendapatan asli daerah yang sah mengalami pertumbuhan ratarata sebesar,69% per tahun. Pada 2 Pendapatan Asli Daerah mencapai Rp ,. Dana Perimbangan yang berasal dari a bagi hasil pajak/bukan pajak, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus mengalami pertumbuhan ratarata sebesar 8,68% per tahun. Segkan untuk Lainlain Pendapatan Daerah yang Sah yang berasal dari a hibah, a darurat, Dana bagi hasil pajak dari provinsi Pemerintah Daerah lainnya, Dana penyesuaian otonomi khusus, Bantuan Keuangan dari provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya mengalami pertumbuhan ratarata sebesar 836,96% per tahun. 92

116 Pada tabel juga diketahui bahwa ratarata pertumbuhan pendapatan dari pos lainlain pendapatan daerah yang sah mencapai ratarata pertumbuhan tertinggi yaitu 84,7%, diakibatkan oleh meningkatnya Bantuan Keuangan dari Propinsi atau Pemerintah Daerah lainnya yang mencapai pertumbuhan sebesar 836,96%. Dana tersebut berasal dari Bantuan Keuangan dari propinsi. Selain itu, dari tabel tersebut dapat diketahui pula bahwa proporsi pendapatan daerah masih didominasi oleh pendapatan yang berasal dari pos Dana Perimbangan yang pada 2 mencapai Rp ,3 atau kontribusi Pendapatan Daerah sebesar 73,75%. Secara visual fluktuasi ratarata pertumbuhan realisasi pendapatan daerah tersebut dapat dilihat pada grafik berikut: Gambar 3. Grafik pertumbuhan realisasi pendapatan

117 Ratarata pertumbuhan realisasi belanja Kabupaten Mojokerto 26 2 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.2 Ratarata pertumbuhan realisasi belanja 26 2 No. Uraian 26 (Rp) **) () 2 2. (2) Belanja Daerah Belanja Tidak Langsung 2.. Belanja Pegawai 2..2 Belanja Bunga 2..3 Belanja Subsidi 2..4 Belanja Hibah 2..5 Belanja Bantuan Sosial 2..6 Belanja Bagi Hasil Kepada Propinsi/Kabupaten/Kota Pemerintahan Desa Belanja Bantuan Keuangan Kepada Propinsi/Kab/Kota Pemerintahan Desa Belanja Tidak Terduga (5) , , , ,47 (6) , , , , , Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Penerimaan Piutang Daerah , , Surplus/Defisit 3..5 (4) , , , , , , , , , Belanja Modal 3..4 (Rp) ,, (Rp) Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah Belanja Barang Jasa 3..2 (Rp) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Sebelumnya Pencairan Dana Cagan Belanja Langsung , , , , , , , , ,3 Belanja Pegawai , , , , , , , , ,, (3) 27 Pembiayaan Penerimaan Pembiayaan 2 Ratarata Pertumbuh an(%) (Rp) (7) (8) ,49.48, , , , 2.377, , , 73, 8,65 28,26 *) 22,52,86 5, ,, ,5 767, ,5 56,25 6, , 989, 2, , , , , , ( ,65) , , , , , , , , ( ,9) , , ,69, , , 94 38,93 6,5 38,54 3,95 9,54 6,,3 487,85 66,9 6,89 7,83 5, ,78

118 () 3.2 (2) (3) Pengeluaran Pembiayaan (4) (5) ,99, , , 987,6 4, , 3, , 57, ,69 2, Pembentukan Dana Cagan Penyertaan modal (investasi) Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Utang , , , 65.2., Sisa lebih pembiyaan anggaran tahun berkenaan(silpa) , , (6) (7) *) ratarata pertumbuhan belanja tidak langsung diasumsikan 3% mengingat sejak 2 tidak dilaksanakan rekrutmen CPNS sehingga belanja pegawai tidak naik secara signifikan **) belanja 26 tidak bisa ditampilkan mengingat strukturnya berbeda ***) pembayaran pokok utang telah habis pada TA 2 (sisa Rp 5.., pada 2 telah dianggarkan), selanjutnya setiap tahun akan dicagkan Rp 5..., sehingga ratarata pertumbuhan diasumsikan %. Dari tabel 3.2 ratarata pertumbuhan realisasi belanja Kabupaten Mojokerto dapat diketahui bahwa secara keseluruhan Belanja Daerah mengalami pertumbuhan ratarata sebesar 8,65% per tahun. Pada 2 Belanja Daerah sebesar Rp ,39. Ratarata pertumbuhan Belanja Tidak Langsung mencapai 28,36% per tahun. Ratarata pertumbuhan Belanja Langsung mencapai 3,95% per tahun. Ratarata pertumbuhan Pembiayaan mencapai 66,9% per tahun. Dari ketiga komponen Belanja Daerah tersebut yang memiliki kontribusi belanja terbesar adalah Belanja Tidak Langsung yaitu mencapai 74,6%. Belanja Tidak Langsung ini pada 2 mencapai Rp ,9. Secara visual ratarata pertumbuhan realisasi belanja daerah dapat dilihat pada grafik berikut: 95 (8) 752,74 ***) 57,46

119 Gambar 3.2 Grafik pertumbuhan realisasi belanja 26 2 Belanja Langsung yang meliputi Belanja Barang Jasa, Belanja Modal tidak mengalami kenaikan yang signifikan yaitu sebesar 3,95% per tahun. Dari komponen Belanja Langsung tersebut maka Belanja Barang Jasa hanya mengalami pertumbuhan sebesar 6,% per tahun. Segkan Belanja Modal hanya mengalami pertumbuhan sebesar,3% per tahun. Pada 2 Belanja Langsung realisasinya sebesar Rp ,3. 2. Neraca Daerah Kinerja lainnya atas keuangan daerah yang berpengaruh perlu diketahui adalah Neraca Daerah yang meliputi Aset, Kewajiban Ekuitas a. Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, ekuitas a pada posisi akhir periode. Lebih khusus lagi, Neraca Pemerintah Daerah memberikan informasi bagi pengguna laporan keuangan mengenai posisi keuangan berupa aset, kewajiban (utang), ekuitas a pada akhir periode. 96

120 Ratarata pertumbuhan neraca 27 2 adalah sebagai berikut: Tabel 3.3 RATARATA PERTUMBUHAN NERACA KABUPATEN MOJOKERTO TAHUN 272 URAIAN Neraca (2) (3) (4) (5) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,35 Investasi Jangka Pendek Piutang Piutang Pajak , , , , , , Piutang Retribusi , Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , () ASET ASET LANCAR Kas Kas di Kas daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Bagian Lancar Tuntutan Ganti Kerugian Daerah Piutang Lainnya Persediaan INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non Permanen Investasi Dana Bergulir Investasi Non Permanen Lainnya Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Investasi Permanen Lainnya ASET TETAP Tanah Tanah Peralatan Mesin Alatalat Berat Alatalat Angkutan , Ratarata Pertumbuhan (%) (6) 5, 2,67 4,52 4,5 89, 2.2., , , , , , , ,4 32,66 236, ,9 7,89 54,5 86,58 5, , , , , , , , , 97 7, 7, 7,48,2,2 22,95,33 8,9

121 Alat Bengkel , , , ,9.37.4, , , , , , , , , ( ,) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Tagihan Penjualan Angsuran , , Tuntutan Perbendaharaan Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan Dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain Lainnya , , , , , , , , ,45 Alat Pertanian Peternakan Alatalat Kantor Rumah Tangga Alat Studio Alat Komunikasi Alat Ukur Alatalat Kedokteran Alat Laboratorium Alat Keamanan Gedung Bangunan Bangunan Gedung Bangunan Monumen Jalan Irigasi Jaringan Jalan Jembatan Bangunan Air (Irigasi) Instalasi Jaringan Aset Tetap lainnya Buku Perpustakaan Barang Bercorak Kesenian/Kebudayaan Hewan/Ternak Tanaman Konstruksi dalam Pengerjaan Konstruksi dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Aset Tetap Akumulasi Penyusutan Aset Tetap ASET LAINNYA JUMLAH ASET KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Hutang Kepada Pihak Ketiga , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,89 3.., 98 9,58 25,9 9,35 25,6 37,27 52,84 2,25 33,97 32,44 32,49, 7,5 2,24 67,97 8,85 2,38 22,28 24,6,5 5,68 37,9 37,9 5, 57,43 278,39

122 Hutang Perhitungan Pihak III Hutang Bunga , , , , , , , , 65.2., 65.2., , 65.2., 25, , , , 7.7, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ( , 47) , , , , , , ( ,73) , , , , , ( ,45) , , ,53 ( , 88) ( , 5) ( , 65) , , ,2 Hutang Pajak Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Pendapatan Diterima Dimuka Hutang Jangka Pendek Lainnya KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Hutang Dalam Negeri Hutang Luar Negeri Hutang Jangka Panjang Lainnya EKUITAS DANA Ekuitas Dana Lancar Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Pendapatan yang ditangguhkan Cagan Piutang Cagan Persediaan Dana yg Hrs Disediakan u/ Pembayaran Utang Jk Pendek Ekuitas Dana Investasi Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yg Hrs Disediakan u/ Pembayaran Utang Jk. Panjang Ekuitas Dana Cagan Diinvestasikan Dalam Dana Cagan JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA, 65.2., , , , , , , , , , , ( , 89) , , , ,52 33,6 3,26 46,37 5,,22 4,49 32,66 86,58 65,4 7,3 5,9 7,48 ( , 2) 33, ,54 5, Sumber : DPPKA Catatan : Neraca 2 merupakan data sementara, menunggu audit BPK. Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa aset daerah mempunyai ratarata pertumbuhan sebesar 5, %, segkan kewajiban (utang) mempunyai ratarata pertumbuhan sebesar 57,43 %, ekuitas a pada akhir periode mempunyai ratarata pertumbuhan sebesar 5, %. Data neraca 27 sampai dengan 2 adalah sebagaimana pada Lampiran III. 99

123 Hal lain yang juga perlu diketahui dalam menilai kinerja daerah adalah analisis rasio keuangan. Analisis rasio keuangan dapat digunakan untuk membuat keputusan atau pertimbangan tentang pencapaian daerah prospek di masa datang. Salah satu cara pemrosesan penginterpretasian informasi akuntansi, yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolut untuk menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu dengan angka yang lain dari suatu laporan keuangan. Berikut adalah beberapa analisis rasio keuangan sebagaimana tabel berikut: Tabel 3.4 Analisis Rasio Keuangan NO Uraian () (2) (3) (4) (5) (6) Rasio lancar (current ratio) Rasio quick (quick ratio) Rasio total hutang terhadap total aset Rasio hutang terhadap modal Perputaran Piutang (kali) Ratarata umur piutang (hari),57,5,, 6,34 57,6 7,6 6,98,3,3,5 3,75 4,77 4,62,35,35 4,93 74,9, 28,55 7,9 9,69 8 Rasio SILPA terhadap Total Pendapatan Daerah Rasio Ekuitas Dana terhadap Total Aset 99,84 99,95 99,7 99,65 9 Rasio Dana Perimbangan terhadap Total Pendapatan Daerah 84,3 84,89 8,2 73,75 Rasio Total PAD terhadap Total Pendapatan Daerah 7,62 7,53 7,57 7,53 Rasio Total DAU thdp Total Pendapatan Daerah 67,59 67,68 63,75 59,64 2 Rasio Bantuan Keuangan Provinsi thdp Total Pendapatan Daerah,37, 3,32 4,87 3 Rasio Belanja Tidak Langsung terhadap Belanja Daerah 57,9 54,39 64,2 74,6 4 Rasio Belanja Langsung terhadap Belanja Daerah 42, 45,6 35,98 25,39 7 Catatan : Analisis rasio keuangan 2 belum bisa ditampilkan menunggu hasil pemeriksaan BPK

124 Analisis rasio keuangan dimaksudkan untuk menilai risiko peluang di masa yang akan datang. Pengukuran hubungan satu pos dengan pos lain dalam laporan keuangan yang tampak dalam rasiorasio keuangan dapat memberikan kesimpulan yang berarti dalam penentuan tingkat kesehatan keuangan suatu daerah. Secara umum rasio keuangan daerah mengalami penurunan dalam beberapa akun. Rasio Lancar dari 27 hingga 29 mengalami penurunan dari kemampuan ketersediaan a lancar dari,57% pada tahun 27 berturutturut turun menjadi 7,6% tahun 28 4,77% tahun 29. Penurunan ini juga diikuti Ratarata umur Piutang Daerah menjadi 74,9 hari atau lebih dari 2 bulan perolehan tunai a berasal dari Piutang. Diperlukan sosialisasi upaya intensif untuk mempercepat perolehan Dana Piutang Daerah tersebut. Disamping hal tersebut, SILPA pada 2 (dua) tahun terakhir menyisakan a cukup signifikan dibanding dengan Total Pendapatan Daerah, pada tahun 29 adalah sebesar 7,9% tahun 2 sebesar 9,69%. Rasio ini menyiratkan makna bahwa a yang tidak terserap dalam Belanja Daerah tahun berjalan dengan besaran cukup signifikan. Harus ada upaya khusus agar penyerapan a untuk Belanja Daerah lebih ditingkatkan.

125 Grafik 3.3 Perbandingan Rasio Komponen Pendapatan Daerah % Rasio Dana Perimbangan terhadap Total Pendapatan Daerah selama 4 (empat) tahun terakhir cukup mendominasi ratarata di atas 8% dari Total Pendapatan Daerah. Dana Perimbangan menyumbang lebih dari 6% total pendapatan daerah, yang diperoleh dari DAU (Dana Alokasi Umum). PAD menyumbang sebesar 7,5% per tahun dari Total Pendapatan Daerah yang diterima. Pendapatan Daerah yang lain adalah dari Bantuan Keuangan Provinsi yang mengalami peningkatan pada tahun 2 menjapai 4,87% dari Total Penerimaan Daerah. 2

126 Grafik 3.4 Perbandingan Rasio Belanja Langsung dengan Belanja Tidak Langsung % Tidak kalah penting adalah Rasio Belanja Daerah. Belanja Tidak Langsung mempunyai alokasi yang cukup besar di atas 54% per tahun dari total Belanja Daerah, bahkan pada 2 (dua) tahun terakhir sebesar 64,2% pada 29 74,6% 2. Ini berarti bahwa dari Pendapatan Daerah yang diterima, sebesar 2/3 diperuntukkan Belanja Tidak Langsung. Belanja Langsung sejak tahun 27 terus mengalami penurunan hingga pada 2 tersisa /3 dari Total belanja Daerah. B. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Kinerja keuangan masa lalu tidak terlepas dari kebijakan pengelolaan keuangan baik yang menyangkut penggunaan anggaran maupun pembiayaannya. Kebijakan pengelolaan keuangan dapat diketahui dari proporsi penggunaan anggaran analisis pembiayaan. 3

127 . Proporsi penggunaan anggaran Proporsi penggunaan anggaran secara garis besar merupakan perbandingan antara belanja pemenuhan kebutuhan aparatur dengan total pengeluaran belanja pembiayaan pengeluaran. Analisis proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur dalam 3 tahun terakhir adalah sebagai berikut: Tabel 3.5 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur (Rp) Total pengeluaran (Belanja + Pembiayaan Pengeluaran) (Rp) (a) (b) anggaran , ,2 2 anggaran , ,49 59,43 3 anggaran , ,39 65,48 No Uraian Prosentase (a) / (b) x % 52,64 Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa ternyata penggunaan anggaran belanja dalam 3 tahun terakhir masih didominasi oleh belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur, bahkan terjadi tren peningkatan dari 28 ke 2 yang mencapai 65,48%. Secara umum hal ini menggambarkan suatu kondisi manajemen yang belum efisien dalam penyelenggaraan aktifitasnya. Ditingkat nasional, proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur dalam 2 tahun terakhir mencapai angka 22%. Merujuk angka tersebut maka proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur pada Pemerintah masih belum efisien. Pada 29 2 proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur relatif lebih besar dibanding 28 terjadi tren peningkatan. Hal ini terkait dengan kebijakan 4

128 rekrutmen CPNS sehubungan dengan tidak diperbolehkannya penggunaan tenaga Honorer Daerah. Masih besarnya proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur ini kiranya merupakan tantangan bagi Pemerintah untuk lebih berani mengutamakan belanja langsung terutama pada jenis belanja barang jasa serta belanja modal disamping belanja tidak langsung yang bersifat nonbelanja pegawai. Hal ini telah diawali dengan kebijakan Bupati Mojokerto bahwa sejak akhir 2 Pemerintah tidak melaksanakan rekrutmen CPNS. 2. Analisis pembiayaan Analisis pembiayaan antara lain dapat diperhitungkan dari defisit riil anggaran, komposisi penutup defisit riil anggaran realisasi sisa lebih perhitungan anggaran. Perhitungan ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.6 Defisit Riil Anggaran NO. Uraian Realisasi Pendapatan Daerah 28 (Rp) 29 (Rp) 2 (Rp) , , , , , , , , ,9 ( ,69) ( ,65) ( ,8) Dikurangi realisasi: 2. Realisasi Belanja Daerah 3. Pengeluaran Pembiayaan Daerah Defisit riil Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa defisit riil anggaran mengalami fluktuasi yaitu menurun pada 29 yang mencapai nilai sebesar Rp ,65 dari Rp ,69 pada 5

129 28 namun meningkat drastis pada 2 yang mencapai Rp ,8. Selain defisit riil tersebut maka untuk analisis pembiayaan perlu diketahui komposisi penutup defisit riil anggaran sebagaimana tabel berikut: Tabel 3.7 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Proporsi dari total defisit riil No. Uraian 28 (%). Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Anggaran sebelumnya 2. Pencairan Dana Cagan 3. Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di Pisahkan 4. 2 (%) 29 (%) 95,66 94,23 Penerimaan Pinjaman Daerah 4,32 5. Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah,2 5,77 6. Penerimaan Piutang Daerah Pada tabel tersebut perhitungan 2 belum dapat ditampilkan karena belum dilaksanakan audit BPK untuk penyusunan Nota Perhitungan APBD. Dari tabel dapat diketahui bahwa SiLPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) merupakan komponen penutup defisit riil anggaran yang terbesar diantara komponen penutup defisit lainnya. Dalam 2 (dua) tahun terakhir yaitu maka SiLPA berperan dalam menutup defisit riil anggaran sebesar 95,66% 94,23%. Segkan komponen penutup defisit terendah adalah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah. Hal lain yang juga perlu diketahui dalam analisis pembiayaan adalah realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran. Realisasi sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) dapat diketahui sebagaimana tabel berikut: 6

130 Tabel 3.8 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran 28 No. Uraian Rp 29 % dari SiLPA Rp 2 % dari SiLPA , 69. Jumlah SiLPA ,34 2. Pelampauan penerimaan PAD ,5 7, ,8 4 3,7 3. Pelampauan penerimaan a perimbangan ,8 7 5,97 ( , 3) Pelampauan penerimaan lainlain pendapatan daerah yang sah Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan ,72, , 8, ,24 78,56 ( ,5) ,,6 Rp % dari SiLPA Pada tabel tersebut perhitungan 2 belum dapat ditampilkan karena belum dilaksanakan audit BPK untuk penyusunan Nota Perhitungan APBD. C. Kerangka Penaan Dalam rangka Pembangunan Jangka Menengah maka hal yang perlu diketahui adalah kemampuan anggaran pada tahun sekarang kemampuan anggaran pada tahun berikutnya yang tren perkembangannya diproyeksikan berdasarkan perkembangan penaan pada 5 tahun sebelumnya. Kerangka penaan ini meliputi analisis pengeluaran periodik wajib mengikat serta prioritas utama, proyeksi data pada masa lalu, kapasitas riil kemampuan keuangan daerah rencana penggunaan kapasitas riil kemampuan keuangan daerah. 7

131 . Analisis pengeluaran periodik, wajib mengikat, serta prioritas utama Dalam setiap tahun anggaran pasti terdapat pengeluaran yang bersifat periodik, wajib mengikat serta menjadi prioritas utama. Pengeluaran ini tidak mungkin bisa diabaikan sematamata merupakan penyelenggaraan kebutuhan pemerintahan. dasar Pengeluaran dalam ini harus diperhitungkan lebih dahulu untuk mengetahui berapa peluang kemampuan kegiatan anggaran yang untuk merupakan melaksanakan tugas program Pemerintahan Daerah. Pengeluaran periodik, wajib mengikat serta prioritas utama pada 2 adalah sebagai berikut: Tabel 3.9 Pengeluaran Periodik,Wajib Mengikat serta Prioritas Utama Ratarata Pertum buhan (%) 23,4 28 (Rp) 29 (Rp) 2 (Rp) , , , , , , , , , , , , 4, ,64 5,3 Belanja Pegawai , , Belanja Jasa kantor , , ,3 2 (komunikasi, SDA listrik) 4 Pengeluaran Pembiayaan 65.2., , , C 6 Pembentukan Dana Cagan Pembayaran Pokok Utang 65.2., , , , TOTAL (A+B+C) 47 79,87 45,5 *) pembayaran pokok utang telah habis pada TA 2 (sisa Rp 5.., pada 2 telah dianggarkan), selanjutnya setiap tahun akan dicagkan Rp 5..., sehingga ratarata pertumbuhan diasumsikan %. 6,49 No A B Uraian Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Bagi Hasil Kepada Propinsi/Kabupaten/Kota Pemerintahan Desa Belanja Bantuan Keuangan Kepada Propinsi/Kab/Kota Pemerintahan Desa Belanja Langsung , , , , , 8 22,52 25,67 2,8 5,63 7, *),5

132 Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa Pengeluaran Periodik, Wajib Mengikat serta Prioritas Utama ternyata cukup besar, yang pada 2 mencapai Rp ,5. Pertumbuhan pengeluaran ini dalam 3 (tiga) tahun terakhir mencapai ratarata,5%. Pengeluaran terbesar adalah berasal dari komponen Belanja Tidak Langsung yang pada 2 mencapai Rp ,25 atau mengalami pertumbuhan ratarata sebesar 23,4% per tahun. Segkan pengeluaran terbesar berikutnya adalah Belanja Langsung yang pada tahun 2 mencapai Rp ,3 dengan pertumbuhan ratarata sebesar 6,49% per tahun. Selanjutnya secara visual dapat diketahui pertumbuhan Pengeluaran Periodik, Wajib Mengikat serta Prioritas dalam 3 (tiga) tahun terakhir sebagaimana grafik berikut: Grafik 3.6 Pengeluaran Periodik,Wajib Mengikat serta Prioritas Utama,5% 9

133 2. Perhitungan Kerangka Penaan Dari pertumbuhan realisasi pendapatan, sisa lebih riil perhitungan anggaran, belanja pengeluaran pembiayaan yang wajib/mengikat/prioritas utama maka dapat diproyeksikan kapasitas riil kemampuan keuangan daerah dalam 5 tahun kedepan. Kapasitas riil kemampuan keuangan daerah untuk menai pembangunan daerah dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Menai Pembangunan Daerah Proyeksi No.. Uraian Pendapatan PAD Dana Perimbangan Lainlain Pendapatan Yang sah (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) , , , , , , , , , , , , , , ,43 2. Pencairan a cagan (sesuai Perda) 3. Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran *) , , , , ,69 Total penerimaan Belanja Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib Mengikat serta Prioritas Utama , , , , ,5 4 Kapasitas riil kemampuan keuangan , , , , ,9 Dikurangi: 4. *) SILPA diasumsikan sama dengan nilai terendah yaitu pada 29 mengingat 2 belum ditetapkan Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk menai pembangunan

134 dalam 5 (lima) tahun kedepan masingmasing adalah sebagai berikut: 2 sebesar Rp ,3, 22 sebesar Rp ,8, 23 sebesar Rp ,9, Rp , 24 pada sebesar 25 Rp ,9. Secara visual dapat dilihat pada grafik berikut: Gambar 3.3 Grafik Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Menai Pembangunan Daerah Dari Kapasitas riil kemampuan keuangan, Belanja Langsung, Pembentukan a cagan, Belanja langsung yang wajib mengikat serta prioritas utama, Pengeluaran pembiayaan yang wajib mengikat serta prioritas utama, total Belanja Tidak Langsung, serta Belanja tidak langsung yang wajib mengikat serta prioritas utama, maka akan dapat diketahui Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah sebagaimana tabel berikut:

135 Tabel 3. Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Proyeksi Uraian No I Kapasitas riil kemampuan keuangan 2 (Rp) 22 (Rp) 23 (Rp) 24 (Rp) 25 (Rp) , , , , , , , , , , , , , , , , , 3..., , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,72 Rencana alokasi pengeluaran prioritas I II.a Belanja Langsung II.b Pembentukan a cagan Dikurangi: II.c Belanja langsung yang wajib mengikat serta prioritas utama II.d Pengeluaran pembiayaan yang mengikat serta prioritas utama II Total rencana pengeluaran prioritas i (II.a + II.b II.c II.d) wajib Sisa kapasitas riil kemampuan keuangan daerah setelah menghitung alokasi pengeluaran prioritas I (I II) Rencana alokasi pengeluaran prioritas II III.a Belanja Tidak Langsung Dikurangi: III.b Belanja tidak langsung yang wajib mengikat serta prioritas utama III Total rencana pengeluaran prioritas II (III.a III.b) Surplus anggaran riil atau Berimbang (I II III) Dari tabel tersebut dapat diketahui Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Kabupaten Mojokerto masingmasing sebagai berikut: 2

136 . Kapasitas riil kemampuan keuangan 2 adalah sebesar Rp ,3, 22 sebesar Rp ,8, 23 sebesar Rp ,9, 24 sebesar Rp , pada 25 Rp ,9. 2. Sisa kapasitas riil kemampuan keuangan daerah 2 adalah sebesar Rp ,53, 22 sebesar Rp ,63, 23 sebesar Rp ,26, 24 sebesar Rp , pada 25 Rp , Surplus anggaran riil atau Berimbang 2 adalah sebesar Rp ,7, 25 adalah sebesar Rp ,72. Dari aya surplus anggaran riil sebesar Rp ,7 tersebut maka dapat diketahui bahwa terjadi ketidakseimbangan kekurangkonsistenan dalam penyusunan APBD pada 5 (lima) tahun terakhir. Hal ini dapat dimaklumi mengingat penyusunan APBD relatif sulit dipolakan karena aya disparitas atau kesenjangan yang sangat besar antara kebutuhan pembangunan dengan kemampuan anggaran. Banyak halhal yang bersifat unpredictable yang dilatarbelakangi berbagai kepentingan, mulai dari tingkat prioritas kebutuhan suatu pembangunan, asumsi penganggaran yang tidak berbasis pada kinerja, desakan dari pihakpihak yang memiliki kekuatan ataupun bargaining, sampai dengan kepentingan politis. 3

137 Secara keseluruhan bahwa gambaran pengelolaan keuangan ini beroutput kerangka penaan yang bersifat pendekatan bermanfaat sebagai titik masuk (entry point) desain perencanaan penganggaran ataupun bahan pertimbangan dalam mengambil langkah kebijakan. 4

138 BAB IV ANALISIS ISUISU STRATEGIS Pemerintah dalam perkembangannya, telah menghadapi berbagai dinamika sosial yang tumbuh dimasyarakat. Melalui analisis mendalam, penyusunan rencana jangka menengah perlu mempertimbangkan isu maupun permasalahan yang kerap terjadi di wilayah sebagai bahan rujukan dalam menyusun kerangka perencanaan RPJM Daerah. Dengan mengetahui permasalahan yang kerap muncul diharapkan semua program kegiatan mampu mengatasi permasalahan tersebut atau paling tidak dapat meminimalisir dampak semua permasalahan yang ada. A. Permasalahan Pembangunan Dibalik kemajuan pembangunan yang telah dicapai Pemerintah, dalam 5 tahun ke depan kita masih dihadapkan beberapa permasalahan tantangan pembangunan antara lain:. Akses, kualitas kompetensi pendidikan yang masih rendah. Pendidikan merupakan salah satu gerbang masuk dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, karena itu pembangunan pendidikan harus mampu menjamin pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, meningkatkan mutu, serta relevansi efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, global. Pembangunan pendidikan juga merupakan salah satu jalan untuk menanggulangi kemiskinan, 5

139 meningkatkan kesetaraan gender, pemahaman nilainilai budaya multikulturalisme, serta meningkatkan keadilan sosial. Berbagai Wajib Belajar upaya pembangunan Pendidikan Dasar pendidikan, termasuk Sembilan yang dicanangkan pada 994 dilaksanakan untuk meningkatkan taraf pendidikan. Namun sampai saat ini masalah rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, juga rendahnya kualitas pelayanan pendidikan masih merupakan isu aktual dalam pembangunan big pendidikan. Kondisi tersebut belum memadai untuk menghadapi persaingan global, belum mencukupi sebagai landasan pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan. Kualitas pendidikan yang relatif masih rendah, belum mampu memenuhi kebutuhan kompetensi peserta didik, terutama disebabkan belum memadainya kualitas tenaga pendidik; fasilitas belajar mengajar belum tersedia secara memadai; biaya operasional pendidikan belum disediakan secara cukup. big Isu strategis lainnya dalam pembangunan pendidikan adalah masih lebarnya kesenjangan partisipasi pendidikan; belum meratanya fasilitas pendidikan menengah; masih rendahnya kualitas pendidikan; belum efektif efisiennya manajemen pendidikan. 2. Akses kualitas pelayanan kesehatan yang masih kurang. Perkembangan indikator kesehatan di Kabupaten Mojokerto menunjukkan kecenderungan terus membaik, antara lain Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Harapan Hidup (AHH), serta persalinan oleh tenaga kesehatan. Namun di sisi lain, pembangunan kesehatan pada beberapa saat terakhir ini masih 6

140 menghadapi masalah tingginya angka kesakitan, yaitu merebaknya beberapa jenis penyakit misalnya wabah demam berdarah, flu burung, diare/muntaber, HIV/AIDS, kasus gizi buruk. Demikian juga dirasa masih banyaknya peralatan kesehatan yang kurang memadai, ketinggalan zaman, serta prasarana gedung sarana penunjang di rumah sakit puskesmas yang juga kurang memadai. Untuk itu, peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat penting demi peningkatan produktivitas sumber daya manusia, sebab hanya sumber daya manusia yang sehat, yang dapat beraktivitas mengembangkan diri. Pembangunan kesehatan merupakan upaya memenuhi salah satu hak dasar sosial, yaitu hak masyarakat memperoleh akses atas kebutuhan pelayanan kesehatan yang murah berkualitas. Isuisu strategis lima tahun ke depan dalam pembangunan di big kesehatan, antara lain gizi buruk, rendahnya kesadaran masyarakat berperilaku hidup sehat akibat terbatasnya aksesibilitas terhadap sumber air minum yang bersih keperluan sanitasi dasar secara konsisten, tingginya penyebaran penyakit tropis penyakit serius lainnya, serta penyebaran HIV/AIDS, psikotropika (narkotika), terbatasnya jumlah tenaga keperawatan kesehatan, serta sarana prasarana pemberian kesehatan pelayanan, masyarakat; serta Optimalisasi pengawasan jaminan kesehatan pada masyarakat, rendahnya pengawasan pengendalian terhadap makanan obatobatan. 7

141 3. Masih tingginya angka penduduk miskin akses terhadap pelayanan sosial dasar. Jumlah penduduk miskin dirasa masih cukup tinggi. 2 jumlah penduduk miskin di masih mencapai angka RTM atau 8.66 jiwa atau 6,88 % dari jumlah penduduk Kabupaten Mojokerto, meskipun dibandingkan dengan kondisi 29 bahwa angka tersebut sudah mengalami penurunan sebesar,82 %. Aspek penting yang perlu dilihat dalam mencermati masalah kemiskinan adalah unsurunsur penyebab timbulnya kemiskinan yang bisa menjdi pintu masuk sikap penanganan kemiskinan itu sendiri. a) Terbatasnya Kecukupan Mutu Pangan Pemenuhan kebutuhan pangan yang layak memenuhi persyaratan gizi masih menjadi persoalan bagi masyarakat miskin, dengan latar belakang rendahnya daya beli atau justru harga pasar yang kag terlalu tinggi. Stabilitas ketersediaan pangan secara merata, harga tidak terjangkau, terhadap makanan ketergantungan yang tinggi pokok beras, kurangnya diversifikasi pangan, juga merupakan rangkaian dari kondisi sulit ini. Masalah kecukupan pangan bukan hanya terkait produksi bahan pangan, tapi juga masalah peningkatan pendapatan, sebab mayoritas petani yang juga miskin harus membeli bahan makanan mereka dengan harga yang tak terjangkau pula. Permasalahan kecukupan pangan antara lain tercermin dari rendahnya asupan kalori penduduk miskin buruknya status gizi bayi, anak balita ibu. 8

142 b) Terbatasnya Akses Rendahnya Kualitas Layanan Pendidikan Pendidikan peningkatan menjadi faktor kesejahteraan pengungkit rakyat. Berbagai bagi upaya pembangunan pendidikan yang dilakukan secara signifikan telah memperbaiki Kabupaten tingkat Mojokerto, pendidikan antara lain masyarakat tampak dari meningkatnya APM APK pendidikan, juga makin meningkatnya angka melek huruf penduduk usia >5 tahun. Meski demikian pembangunan pendidikan ternyata belum sepenuhnya mampu memberi pelayanan secara merata kepada terdapat seluruh kesenjangan lapisan cukup masyarakat, tinggi masih antarkelompok masyarakat, terutama antara penduduk kaya miskin, antara pedesaan perkotaan. Keterbatasan masyarakat miskin mengakses layanan pendidikan dasar, terutama disebabkan tingginya beban biaya pendidikan, baik biaya langsung maupun tidak langsung. Meski SPP untuk pendidikan dasar telah secara resmi dihapuskan oleh Pemerintah, tetapi pada kenyataannya masyarakat tetap harus membayar iuran sekolah. Pengeluaran lain di luar iuran sekolah seperti pembelian buku, alat tulis, seragam, uang transpor, uang saku, juga menjadi faktor penghambat bagi masyarakat miskin untuk menyekolahkan anaknya. c) Terbatasnya Akses Rendahnya Kualitas Pelayanan Kesehatan Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan dasar, rendahnya mutu layanan kesehatan dasar, 9

143 kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat, kurangnya layanan kesehatan reproduksi, merupakan masalah utama yang menyebabkan rendahnya derajat kesehatan masyarakat miskin. Meski dari tahun ke tahun kualitas kesehatan masyarakat terus meningkat, tetapi disparitas status kesehatan antartingkat sosial ekonomi relatif masih cukup tinggi. Tingkat kesehatan masyarakat miskin umumnya masih rendah. Rendahnya tingkat kesehatan masyarakat miskin juga disebabkan perilaku hidup yang tidak sehat, jarak fasilitas layanan kesehatan yang jauh dari tempat tinggal, biaya perawatan pengobatan yang mahal. Masalah lainnya adalah rendahnya mutu layanan kesehatan dasar yang disebabkan terbatasnya tenaga kesehatan, kurangnya peralatan, sarana kesehatan. Masalah mendapatkan pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin adalah kendala biaya, jarak transportasi. Utilisasi rumah sakit masih didominasi oleh golongan mampu. Masyarakat miskin juga tidak mampu mendapatkan layanan kesehatan reproduksi. d) Terbatasnya Kesempatan Kerja Berusaha Masyarakat miskin umumnya menghadapi permasalahan terbatasnya kesempatan kerja, terbatasnya peluang mengembangkan usaha, lemahnya perlindungan terhadap aset usaha, perbedaan upah, serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak perempuan, seperti buruh migran perempuan pembantu rumah tangga. Masyarakat miskin dengan keterbatasan modal, kurangnya keterampilan maupun pengetahuan, hanya 2

144 memiliki sedikit pilihan pekerjaan yang layak, terbatas peluangnya untuk mengembangkan usaha. Pilihan lapangan pekerjaan yang terbatas sering menyebabkan mereka terpaksa melakukan pekerjaan yang berisiko tinggi dengan imbalan kurang memadai, tidak ada kepastian keberlanjutannya. Penduduk miskin yang umumnya berpendidikan rendah harus bekerja apa saja untuk mempertahankan hidupnya. Kondisi tersebut menyebabkan lemahnya posisi tawar masyarakat miskin, tingginya kerentanan terhadap perlakuan yang merugikan. Masyarakat miskin juga harus menerima pekerjaan dengan imbalan yang rendah, tanpa sistem kontrak atau dengan sistem kontrak yang sangat rentan terhadap kepastian hubungan kerja yang berkelanjutan. e) Terbatasnya Aksesibilitas Layanan Perumahan Sanitasi Masalah utama yang dihadapi masyarakat miskin adalah terbatasnya akses terhadap perumahan yang sehat layak, rendahnya mutu lingkungan permukiman, lemahnya perlindungan untuk mendapatkan menghuni perumahan yang layak sehat. Demikian juga dengan kondisi sanitasi yang sering sangat tidak sehat. f) Terbatasnya Aksesibilitas Layanan Air Bersih Kesulitan mendapatkan air bersih di kalangan penduduk miskin, terutama disebabkan terbatasnya akses pelayanan air bersih baik secara individu maupun komunal. 2

145 g) Besarnya Beban Tanggungan Keluarga Beban masyarakat miskin makin berat akibat besarnya tanggungan keluarga, aya tekanan hidup yang mendorong terjadinya migrasi. Secara umum rumah tangga miskin mempunyai ratarata anggota keluarga lebih besar daripada rumah tangga tidak miskin. Dengan beratnya beban rumah tangga, maka peluang anak dari keluarga miskin untuk melanjutkan pendidikan menjadi terhambat, sering mereka harus bekerja untuk membantu membiayai kebutuhan keluarga. 4. Masih tingginya tingkat pengangguran. Kompleksitas permasalahan ketenagakerjaan secara umum masih ditandai relatif rendahnya kualitas tenaga kerja, baik dari segi pendidikan formal maupun keterampilannya. Akibatnya, tingkat produktivitas tenaga kerja menjadi rendah, sehingga posisi tawar menjadi rendah; tingkat upah yang rendah; sering terjadinya perselisihan hubungan industrial, pemutusan hubungan kerja (PHK), serta rendahnya jaminan kesejahteraan purnakerja. Pada sisi lain, perkembangan tuntutan pasar kerja persaingan industri di pasar global, di mana penggunaan teknologi informasi sebagai unggulan di samping faktor ekonomis, menuntut kebutuhan tenaga kerja profesional yang memenuhi standar kualifikasi tenaga kerja berbasis knowledge, skill attitude (KSA), serta keterampilan sosial (social skill). Pasar kerja di masa datang juga menuntut aya jaminan kondisi iklim ketenagakerjaan yang kondusif, harmonis dialogis, yang melahirkan suasana hubungan industrial yang 22 u n t u k

146 ramah, aya kepastian hukum dalam usaha investasi. Isuisu strategis di big ketenagakerjaan, transmigrasi kependudukan, setidaknya meliputi masalah terbatasnya kesempatan kerja, muda/terdidik sehingga terus jumlah meningkat; penganggur Rendahnya kualitas kaum produktivitas sumber daya manusia pencari kerja; Belum optimalnya pengawasan ketenagakerjaan, perlindungan kesejahteraan keuangan pekerja, global serta yang hubungan berdampak industrial; pada Krisis meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), pemulangan tenaga kerja Indonesia (TKI); serta masih rendahnya kesadaran penduduk dalam upaya pemerataan penduduk (migrasi). 5. Kurangnya prasarana sarana untuk menunjang kegiatan ekonomi. Prasarana sarana penunjang kegiatan ekonomi antara lain meliputi prasarana sarana perhubungan, listrik, air bersih, telekomunikasi, perumahan permukian, perbankan sebagainya. Namun demikian prasarana dasar yang paling berpengaruh secara langsung adalah prasarana perhubungan. Pada saat ini masih banyak permasalahan dalam penyediaan prasarana penunjang kegiatan ekonomi, utamanya prasarana perhubungan. Terbatasnya jumlah buruknya kondisi prasarana mengakibatkan penumpang perhubungan tingginya serta transportasi biaya transportasi barang menurunnya keselamatan transportasi. Kondisi tersebut diperparah dengan penyebaran pembangunan pengembangan transportasi yang masih terpusat di 23

147 beberapa wilayah perkotaan sehingga terjadi ketimpangan pelayanan transportasi antar wilayah perkotaan perdesaan. Prasarana yang telah dibangun memerlukan penaan untuk pemeliharaan agar dapat mempertahankan tingkat pelayanannya. Selama ini penaan pemerintah dalam investasi sarana prasarana transportasi masih sangat dominan, padahal kemampuan pemerintah sangat terbatas. Tantangan pembangunan Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) adalah: (a) terpenuhinya fasilitas keselamatan LLAJ di daerah rawan kecelakaan; (b) meningkatnya kondisi prasarana perhubungan transpoprtasi/llaj; (c) meningkatnya keterjangkauan pelayanan transportasi umum bagi masyarakat luas di perkotaan perdesaan; (d) meningkatnya efektivitas regulasi kelembagaan transportasi jalan termasuk pelanggaran muatan lebih (overloading). 6. Kurang optimalnya pelayanan kepada masyarakat. Ada 2 (dua) aspek yang perlu dilihat pada pelayanan kepada masyarakat atau pelayanan umum. Yang pertama adalah terkait birokrasi sebagai pelaku, aspek pelayanan prima sebagai sebuah mekanisme. a) Birokrasi Reformasi birokrasi masih terus bergulir. Hasilnya masih belum memenuhi harapan masyarakat, tetapi perubahan ke arah perbaikan sudah tampak. Reformasi birokrasi membutuhkan waktu tahapan, karena tingginya kompleksitas permasalahan dalam mencari solusi perbaikan. Masih tingginya tingkat penyalahgunaan wewenang, banyaknya praktik korupsi, kolusi nepotisme (KKN), masih lemahnya pengawasan 24

148 terhadap merupakan kinerja aparatur pemerintah, cerminan dari kondisi kinerja birokrasi. Dari sisi internal, faktor demokratisasi desentralisasi telah membawa dampak pada proses pengambilan keputusan kebijakan publik. Dampak tersebut terkait dengan, makin meningkatnya tuntutan akan partisipasi masyarakat dalam kebijakan publik, serta meningkatnya tuntutan dalam pelimpahan tanggung jawab, kewenangan pengambilan keputusan. Demikian pula, dari sisi internal birokrasi itu sendiri, masih banyak berbagai permasalahan yang dihadapi, antara lain pelanggaran disiplin, rendahnya kinerja SDM aparatur, rendahnya rendahnya kualitas kesejahteraan efisiensi pelayanan pegawai, perungungan yang efektifitas umum, rendahnya banyaknya sudah kerja, tidak peraturan sesuai perkembangan keadaan tuntutan pembangunan. Dari sisi eksternal, faktor globalisasi revolusi teknologi informasi (egovernment) merupakan tantangan tersendiri dalam upaya menciptakan pemerintahan yang bersih lebih baik. Hal tersebut terkait makin meningkatnya ketidakpastian akibat perubahan faktor lingkungan politik, ekonomi, sosial yang terjadi dengan cepat; makin derasnya arus informasi dari mancanegara yang dapat menimbulkan infiltrasi budaya terjadinya kesenjangan informasi dalam masyarakat. Perubahanperubahan ini, membutuhkan aparatur pemerintah yang memiliki kemampuan pengetahuan keterampilan yang handal untuk melakukan antisipasi, menggali potensi cara baru dalam menghadapi 25

149 tuntutan perubahan. b) Belum Tuntasnya Pelayanan Prima Saat ini tuntutan terhadap pemerintah agar mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat merupakan sebuah keharusan bahkan tuntutan seperti itu berlaku untuk semua negara di dunia. Berbagai studi menunjukkan, kemampuan kesejahteraan masyarakatnya, ditentukan kemampuan pemerintah antara pemerintah meningkatkan lain sangat menyediakan pelayanan publik yang prima. Pelayanan prima merupakan rangkaian kegiatan terpadu yang bersifat sederhana, terbuka, lancar, tepat, lengkap, wajar terjangkau serta mengandung unsur kejelasan hak kewajiban, sesuai kondisi kebutuhan, agar dapat memberikan kenyamanan, kepastian dalam kerja sama. Pelayanan publik yang berkualitas merupakan salah satu indikator terjadinya perubahan penyelenggaraan pemerintahan yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah menginginkan agar pelayanan publik yang baik dapat dilaksanakan oleh pemerintah mulai dari provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, sampai dengan kelurahan/desa. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 25 tentang Pelayanan Publik di Provinsi Jawa Timur ditetapkan pada 6 Desember 25, berlaku efektif sembilan bulan setelah diungkan (September 26). Pada 4 April 26 telah dikeluarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 4 26 tentang 26

150 Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 25 tentang Pelayanan Publik di Provinsi Jawa Timur. Meski demikian, masih dijumpai berbagai kelemahan dalam penyelenggaraan sektor pelayanan publik yang belum sesuai tuntutan harapan masyarakat. Kelemahan itu dapat diketahui melalui pengaduan keluhan masyarakat, secara langsung maupun melalui media massa, antara lain menyangkut sistem prosedur pelayanan yang dirasa berbelitbelit, tidak transparan, kurang informatif, kurang akomodatif, tidak konsisten, sehingga tidak menjamin kepastian hukum, waktu, biaya, serta masih aya praktik percaloan pungutan tidak resmi. Ada beberapa alasan penyebabnya, yakni pertama, rutinitas tugas penekanan berlebihan pada pertanggungjawaban formal sehingga prosedur menjadi kaku lamban. Kedua, etos kerja yang cenderung mempertahankan statusquo yang tidak mau menerima aya perubahan. Dan ketiga, prosedur yang berbelit biaya pelayanan yang mencekik acapkali ditunggangi kepentingan pribadi. 7. Kurang optimalnya situasi aman. Meskipun urusan keamanan bukan merupakan urusanpemerintahan yang diserahkan untuk menjadi urusan pemerintah daerah, namun demikian pemerintah daerah wajib memperhatikan mengupayakan situasi kondisi aman bagi masyarakat di daerah, minimal melalui kerjasama dengan 27

151 lembaga aparat keamanan yang ada. Beberapa aspek menonjol apabila mencermati masalah situasi keamanan yaitu : a) Kriminalitas Kriminalitas merupakan ancaman nyata bagi terciptanya masyarakat yang aman, tenteram damai. Peningkatan angka kejahatan perlu diwaspadai diantisipasi oleh aparat keamanan dalam meningkatkan kinerjanya untuk memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat. Demikian juga dengan tindak kekerasan, meskipun ada kecenderungan menurun. b) Peredaran Penyalahgunaan Narkoba Peredaran penyalahgunaan narkoba merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup bangsa. Sebagian besar pecandu narkoba adalah generasi muda. Dampak dari masalah peredaran penyalahgunaan narkoba mencakup dimensi kesehatan, baik jasmani maupun mental, dimensi ekonomi dengan meningkatnya biaya kesehatan, dimensi sosial dengan meningkatnya gangguan keamanan ketertiban, serta dimensi kultural dengan rusaknya tatanan perilaku norma masyarakat secara keseluruhan. c) Turunnya Kepatuhan terhadap Hukum Berbagai tindak kejahatan pelanggaran hukum yang berakibat menurunnya rasa aman masyarakat, secara mendasar disebabkan turunnya kepatuhan disiplin masyarakat terhadap hukum. Kepatuhan disiplin masyarakat terhadap hukum merupakan prasyarat, sekaligus tantangan dalam menciptakan kondisi keamanan ketertiban masyarakat. 28

152 Perbedaan pemahaman terhadap keanekaragaman budaya, kondisi sosial, kesenjangan kesejahteraan, tingkat pengangguran, tingkat kemiskinan, serta kepadatan penduduk merupakan faktor korelatif kriminogen police hazard, yang apabila tidak dikelola secara baik dapat mendorong munculnya kejahatan konflik horisontal. Faktor ini hanya dapat diredam oleh sikap, perilaku tindakan masyarakat yang patuh disiplin terhadap hukum. B. Analisis Lingkungan Analisis kondisi dalam lingkup internal maupun eksternal sangat diperlukan pembangunan dalam daerah. menunjang Strategi keberhasilan pembangunan daerah strategi sangat diperlukan untuk menghasilkan langkahlangkah konkret dalam implementasi pembangunan. Strategi yang baik harus menunjukkan konsistensi komitmen yang tinggi untuk mewujudkan visi misi pembangunan. Berikut adalah analisis kondisi dari Kabupaten Mojokerto :. Analisis Lingkungan Internal a) Kekuatan (Strenght) o Kondisi Geografis a) Letak wilayah yang strategis mendukung sektor perdagangan. b) Geografis wilayah yang subur memacu peningkatan produksi sektor pertanian. o Kondisi Perekonomian a) Memiliki aktivitas ekonomi yang cukup tinggi. 29

153 b) Perekonomian yang dominan pada pertanian perdagangan yang relatif tahan terhadap krisis moneter. c) Memiliki potensi atas wilayah perlintasan sebagai jalur transportasi umum penghubung antara ibukota propinsi kota lainnya menyebabkan tingginya frekuensi perdagangan potensi peningkatan investasi o Sosial Budaya: Potensi Budaya lokal yang beraneka ragam terbuka terhadap wawasan baru. o Sarana prasarana: Tingginya partisipasi masyarakat dalam mengembangkan, menjaga, mengawasi pembangunan infrastruktur. o Pemerintahan umum a) Sensibilitas politik masyarakat cukup tinggi. b) Kompetensi pendidikan aparatur yang memadai. b) Kelemahan (Weaknesses) o Kondisi Geografis a) Belum optimalnya pemanfaatan daerah pertanian b) Fungsi konservasi kerap terabaikan c) Banyaknya penyimpangan penggunaan lahan o Kondisi Perekonomian a) Pertumbuhan ekonomi belum pesat berkembang. b) Kemampuan daerah untuk bersaing wilayah pusat kota belum optimal c) Transisi dalam kondisi rehabilitasi konservasi atas dampak semburan lumpur belum optimal diatasi. d) Pengelolaan sumber daya alam belum terukur dimanfaatkan secara optimal e) Pengelolaan aset wisata yang masih tersendat. 3

154 o Sosial Budaya a) Belum meluasnya lapangan kerja bagi seluruh masyarakat. b) keseimbangan gender untuk berpartisipasi dalam pemerintahan belum optimal c) Kesejahteraan penduduk masih belum merata. o Sarana prasarana a) Pemerataan pembangunan masih menjadi kendala yang harus segera diatasi. b) Sarana prasarana publik masih sulit untuk dijangkau secara merata. o Pemerintahan umum: a) Pelayanan pemerintah terhadap pelayanan masyarakat masih tersekat atau belum terintegrasi atas dinas yang pemanfaatan saling media terkait. elektronik Selain jaringan itu dalam penerapan tata kelola yang baik belum optimal. b) Dinamika politik yang berkembang di masyarakat cenderung labil 2. Analisis Lingkungan External a) Peluang (Opportunities) o Kondisi Geografis: Merupakan jalur aktif arus transportasi antar kota propinsi yang berpeluang dalam menciptakan perluasan pasar dalam perdagangan. o Kondisi Perekonomian a) Dukungan kebijakan pemerintah propinsi dalam kesesuaian program pembangunan khususnya pariwisata 3

155 b) Meningkatnya iklim perdagangan bebas yang memacu pertumbuhan ekonomi daerah. o Sosial Budaya a) Peningkatan mutu pendidikan yang menjadi isu bersama baik pemerintah pusat maupun daerah b) Kebijakan Pemerintah Pusat untuk meningkatkan mutu kesehatan masyarakat. c) Sensibilitas masyarakat terhadap perkembangan ilmu pengetahuan teknologi yang terus berkembang. d) Kebijakan pemberdayaan pengentasan masyarakat miskin telah menjadi fokus bersama pemerintah pusat daerah. o Sarana prasarana: Meningkatnya kebijakan terkait peningkatan sarana prasarana sebagai bentuk upaya perluasan pertumbuhan ekonomi. o Pemerintahan umum a) Diberlakukannya Ungung Nomor 7 tahun 23 tentang Keuangan Negara, Ungung Nomor 32 tahun 24 tentang Pemerintahan Daerah, Ungung Nomor 25 tahun 24 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. b) Ancaman (Threat) o Kondisi Geografis: Pelayanan belum dapat diserap secara menyeluruh, terutama oleh masyarakat yang berdiam di daerah pedesaan. o Kondisi Perekonomian: Perkembangan diberlakukannya ACFT (Asean China Free Trade) Agreement tidak hanya 32

156 berpotensi menghadirkan peluang melainkan juga ancaman ketika produk lokal tak cukup mampu bersaing. o Sosial Budaya: Modernitas gaya hidup luar negeri yang tidak cocok dengan karakter budaya dalam negeri begitu mudah tersaji di televisi. o Sarana prasarana: Potensi bencana alam di negeri ini yang cukup besar. o Pemerintahan umum: Ketidakmampuan pemerintah membaca isu yang hangat jika tidak diantisipasi memungkinkan munculnya resistensi di kalangan masyarakat. C. Isu Strategis Berangkat dari pemahaman yang didasari oleh tinjauan kondisi melalui analisis Mojokerto merumuskan SWOT, isu maka strategi pemerintah Kabupaten yang penting untuk diperhatikan dikedepankan dalam perencanaan pembangunan lima tahun ke depan adalah sebagai berikut :. Peningkatan akses kualitas pelayanan pendidikan 2. Peningkatan akses kualitas pelayanan kesehatan. 3. Peningkatan kualitas kehidupan politik 4. Peningkatan kualitas penegakan hukum. 5. Peningkatan kualitas aparatur pelayanan publik. 6. Peningkatan pembangunan ekonomi 7. Peningkatan pembangunan infrastruktur. 8. Peningkatan kesalehan sosial kerukunan antar umat beragama. 9. Pengentasan kemiskinan 33

157 . Penanganan pengurangan angka pengangguran, perbaikan iklim ketenagakerjaan memacu kewirausahaan.. Perencanaan pembangunan penganggaran yang berbasis kinerja. 34

158 BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN A. Visi Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan, yang didalamnya berisi suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan, cita citra yang ingin diwujudkan, dibangun melalui proses refleksi proyeksi yang digali dari nilainilai luhur yang dianut oleh seluruh komponen stakeholders. Pernyataan Visi Kepala Daerah terpilih untuk 5 (lima) tahun kedepan yang menjadi Visi Pembangunan Pemerintahan Kabupaten Mojokerto untuk periode 2 25 adalah: Terwujudnya yang Mandiri, Demokratis, Adil, Makmur, Bermartabat Penjabaran Visi tersebut adalah sebagai berikut:. Terwujudnya Kabupaten Mojokerto yang Mandiri maksudnya adalah : Kemandirian adalah hakikat dari kemerdekaan, yaitu hak setiap individual / masyarakat untuk menentukan nasibnya sendiri menentukan apa yang terbaik bagi daerahnya. Kemandirian merupakan konsep yang dinamis karena mengenali bahwa kehidupan kondisi saling ketergantungan senantiasa berubah, baik konstelasi, perimbangannya, maupun nilainilai yang mendasari / mempengaruhinya. Kemandirian suatu daerah tercermin antara lain pada ketersediaan sumber daya manusia berkualitas yang mampu 35

159 memenuhi tuntutan kebutuhan pembangunannya, kemandirian aparatur hukum penegak aparatur dalam kemajuan pemerintah menjalankan tugasnya; kemampuan pembiayaan yang bersumber dari daerah yang makin kokoh sehingga ketergantungan sumber dari luar daerah menjadi kecil; kemampuan memenuhi sendiri kebutuhan pokok. Apabila karena sumber daya alam tidak lagi memungkinkan, kelemahan itu diimbangi dengan keunggulan sehingga tidak membuat ketergantungan kerawanan serta mempunyai daya tahan tinggi terhadap perkembangan gejolak ekonomi. 2. Terwujudnya yang Demokratis maksudnya adalah : Dalam proses Kabupaten masyarakat pembangunan Mojokerto Kabupaten jangka menengah Mojokerto semua dapat daerah anggota meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan pembangunan memaksimalkan potensi masyarakat, serta meningkatkan akuntabilitas transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan wujud sebagai berikut : Terwujudnya masyarakat bermartabat, yang menjunjung demokratis, tinggi berbudaya, kebebasan yang bertanggungjawab serta HAM. Terwujudnya perencanaan pelaksanaan pembangunan yang partisipatif. Terwujudnya kehidupan berpolitik yang demokratis. Terwujudnya penegakan hukum yang memenuhi rasa keadilan. Terwujudnya pelayanan publik yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat. 36

160 3. Terwujudnya Kabupaten Mojokerto yang Adil maksudnya adalah : Dalam proses pembangunan jangka menengah Kabupaten Mojokerto, masyarakat mempunyai kesempatan mendapat perlakuan yang sama dalam segala big pembangunan sesuai dengan tingkat kemampuannya perlakuan perungungan yang berlaku dalam big pembangunan ekonomi, sosial budaya, politik, hukum keamanan dengan wujud sebagai berikut : Terwujudnya pembangunan yang adil merata, yang dilakukan oleh masyarakat secara aktif, yang hasilnya dapat dinikmati seluruh masyarakat itu sendiri. 4. Terwujudnya Kabupaten Mojokerto yang Makmur maksudnya adalah : Dalam proses pembangunan jangka menengah Kabupaten Mojokerto, semua anggota masyarakat Kabupaten Mojokerto mampu memenuhi kebutuhan ekonominya secara layak sehingga terwujud kebutuhan dasar masyarakat berupa sang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dalam lingkungan masyarakat yang aman, nyaman tentram secara lahir batin. 5. Terwujudnya yang Bermartabat maksudnya adalah : Memantapkan peran agama nilainilai spiritual sebagai landasan moral etika dalam pembangunan, membina ahklak mulia, budi pekerti, etos kerja menghargai kemajemukan agama, sosial budaya. 37

161 B. Misi Misi adalah rumusan umum mengenai upayaupaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan Visi. Dari Visi tersebut butir A, maka dijabarkan menjadi Misi Pemerintah periode sebagai berikut :. Mewujudkan SDM yang berkualitas melalui peningkatan akses kualitas pendidikan pelayanan kesehatan; 2. Mewujudkan ketertiban, supremasi hukum, HAM; 3. Mewujudkan pemerintah daerah yang efektif, demokratis, bersih, profesional adil dalam melayani masyarakat; 4. Mewujudkan ekonomi daerah yang mandiri, berdaya saing, berkeadilan berbasis pada ekonomi kerakyatan; 5. Mewujudkan ketahanan sosial budaya dalam kerangka Integrasi Nasional, pada tatanan masyarakat yang bermartabat, berahlak mulia, beretika, berbudaya luhur berlandaskan Pancasila; 6. Mewujudkan partisipasi masyarakat melalui pemberian akses kesempatan dalam pembangunan; 7. Mewujudkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang lebih mengutamakan kesejahteraan masyarakat C. Tujuan Sasaran Tujuan adalah suatu kondisi yang ingin ditempuh dicapai, segkan sasaran adalah target atau hasil yang diharapkan dari suatu program, ataupun keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. Tujuan Sasaran dapat disusun sebagai berikut:. Misi I : Mewujudkan SDM yang berkualitas melalui peningkatan akses kualitas pendidikan pelayanan kesehatan. a) Tujuan : Pelayanan pendidikan kesehatan yang murah berkualitas. 38

162 b) Sasaran : Meningkatnya kualitas prasarana sarana pendidikan, tenaga pendidik. Meningkatnya kualitas prasarana sarana rumah sakit puskesmas serta peningkatan tenaga medis paramedis yang kompeten. 2. Misi II : Mewujudkan ketertiban, supremasi hukum HAM. a) Tujuan : Penegakan hukum secara adil, konsekuen tidak diskriminatif serta peningkatan keamanan ketertiban. b) Sasaran : 3. Terbinanya kesadaran hukum. Terciptanya situasi aman, tertib terkendali. Misi III : Mewujudkan Pemerintah Daerah yang efektif, demokratis, bersih, profesional, adil dalam melayani masyarakat. a) Tujuan : Pelaksanaan reformasi birokrasi peningkatan pelayanan publik. b) Sasaran : Meningkatnya profesionalisme aparatur, pelayanan prima, keterbukaan peran serta masyarakat. 4. Misi IV : Mewujudkan ekonomi Daerah yang mandiri, berdaya saing, berkeadilan berbasis pada ekonomi kerakyatan. a) Tujuan : Pemerataan pertumbuhan ekonomi sesuai potensi daerah. 39

163 b) Sasaran : Terciptanya infrastruktur perekonomian lingkungan sosial yang mantab. Berkembangnya usaha agroindustri, pariwisata, perdagangan terciptanya lapangan kerja. 5. Misi V : Mewujudkan ketahanan sosial budaya dalam kerangka Integrasi Nasional, pada tatanan masyarakat yang bermartabat, berakhlak mulia, beretika, berbudaya luhur berlandaskan Pancasila. a) Tujuan : Peningkatan kualitas kesalehan sosial demi terjaganya harmoni sosial. b) Sasaran : Muatan pendidikan keimanan ketakwaan (imtak) ilmu pengetahuan teknologi (iptek) pada sekolah. Terjalin hubungan harmonis dengan organisasi kemasyarakatan keagamaan, tokoh agama tokoh masyarakat, sekaligus sosialisasi nilainilai keagamaan. Terpeliharanya nilainilai luhur budaya bangsa yang berlandaskan Pancasila UUD Misi VI : Mewujudkan partisipasi masyarakat melalui pemberian akses kesempatan dalam pembangunan. a) Tujuan : Partisipasi masyarakat dalam pembangunan. b) Sasaran : Pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan pelaksanaan pembangunan. 4

164 7. Penyediaan informasi penciptaan lapangan kerja. Peningkatan kualitas Sumber Daya Tenaga Kerja. Misi VII : Mewujudkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang lebih mengutamakan kesejahteraan masyarakat. a) Tujuan : Peningkatan Pendapatan kemampuan belanja nonpegawai pada APBD. b) Sasaran : Peningkatan Pendapatan Daerah. Perencanaan pembangunan yang berbasis kinerja. Konsistensi perencanaan pembangunan. Selanjutnya untuk lebih mudah memperoleh gambaran keterkaitan antara Visi, Misi, Tujuan Sasaran tersebut maka dapat dilihat matrik keterkaitan Visi, Misi, Tujuan Sasaran Pemerintah Kabupaten Mojokerto sebagai berikut: Tabel 5. Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan Sasaran Visi: Terwujudnya yang Mandiri, Demokratis, Adil, Makmur, Bermartabat Misi Tujuan Sasaran () (2) (3) Misi : Mewujudkan SDM yang berkualitas melalui peningkatan akses kualitas pendidikan pelayanan kesehatan; Pelayanan pendidikan Meningkatnya kualitas prasarana kesehatan yang sarana pendidikan, tenaga murah berkualitas pendidik. Meningkatnya kualitas prasarana sarana rumah sakit puskesmas serta peningkatan tenaga medis paramedis yang kompeten. 4

165 Misi 2: Mewujudkan ketertiban, supremasi hukum, HAM; Penegakan hukum secara adil, konsekuen tidak diskriminatif serta Pembinaan kesadaran hukum. Operasional tramtib pencegahan tindak kriminal. peningkatan keamanan ketertiban. Misi 3: Mewujudkan pemerintah daerah yang efektif, demokratis, bersih, Pelaksanaan reformasi Meningkatnya profesionalisme birokrasi peningkatan aparatur, pelayanan prima, pelayanan publik keterbukaan peran serta masyarakat profesional adil dalam melayani masyarakat; Misi 4: Mewujudkan ekonomi daerah yang mandiri, berdaya saing, berkeadilan berbasis pada ekonomi kerakyatan; Pemerataan pertumbuhan Meningkatnya infrastruktur ekonomi melalui perekonomian lingkungan pengembangan sosial. Agroindustri, meningkatkan Pengembangan usaha agribis perdagangan. pemberdayaan ekonomi kerakyatan, memperluas lapangan pekerjaan, meningkatkan industri pariwisata. Misi 5: Mewujudkan ketahanan sosial budaya dalam kerangka Ingtegrasi Nasional, pada tatanan masyarakat yang Peningkatan kualitas Muatan pendidikan keimanan kesalehan sosial demi ketakwaan (imtak) ilmu terjaganya harmoni sosial pengetahuan teknologi (iptek) pada sekolah. Terjalin hubungan harmonis dengan organisasi bermartabat, berahlak kemasyarakatan keagamaan, mulia, beretika, tokoh agama tokoh berbudaya luhur masyarakat, sekaligus sosialisasi berlandaskan Pancasila; nilainilai keagamaan. Terpeliharanya nilainilai luhur 42

166 budaya bangsa yang berlandaskan Pancasila UUD 45. Misi 6: Mewujudkan partisipasi masyarakat melalui Partisipasi masyarakat dalam pembangunan Pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan pelaksanaan pembangunan. pemberian akses kesempatan dalam Penyediaan informasi penciptaan lapangan kerja. pembangunan; Peningkatan kualitas Sumber Daya Tenaga Kerja. Misi 7: Mewujudkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang lebih mengutamakan kesejahteraan masyarakat Peningkatan kemampuan APBD belanja nonpegawai Peningkatan Pendapatan Daerah. Perencanaan pembangunan yang berbasis kinerja. Konsistensi perencanaan pembangunan. Dari matriks tersebut dapat diketahui pula relevansi keterkaitan antara isuisu strategis di Daerah dengan visi misi kepala daerah bahwa visi misi tersebut ternyata justru menjawab kondisi penting, mendasar mendesak di Daerah yang perlu segera ditangani secara terprogram/terencana. 43

167 BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi Strategi adalah langkahlangkah berisikan program indikatif untuk mewujudkan visi misi. Dari visi, misi, tujuan sasaran Pembangunan Daerah yang dirumuskan pada bab sebelumnya maka strategi pembangunan Pemerintah periode yang diperlukan adalah sebagai berikut:. Peningkatan akses kualitas pelayanan pendidikan kesehatan. 2. Peningkatan kualitas kehidupan politik penegakan hukum. 3. Penerapan Konsep Good Governance (Tata Kelola Pemerintahan yang Baik) 4. Peningkatan pembangunan ekonomi infrastruktur. 5. Pengamalan nilainilai agama budi pekerti. 6. Pemberdayaan masyarakat dalam proses pembangunan 7. Perencanaan pembangunan penganggaran yang berbasis kinerja. B. Arah Kebijakan Pembangunan Berdasarkan Tujuan, Sasaran, Strategi Pembangunan Daerah maka arah kebijakan pembangunan disusun sebagai berikut :. Peningkatan Aksesibilitas Kualitas Pelayanan Pendidikan. Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Menata sistem pembiayaan pendidikan yang berprinsip keadilan, efisien, transparan akuntabel, untuk upaya pemerataan penyediaan layanan pendidikan yang murah berkualitas. 44

168 b) Menuntaskan pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan, Pendidikan Menengah 2. Khusus pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Menengah 2 tahun, merupakan pendidikan upaya menengah, perluasan khususnya pemerataan kejuruan, untuk penyediaan tenaga kerja lulusan pendidikan menengah yang berkualitas. c) Memantapkan pendidikan budi pekerti dalam rangka pembinaan akhlak mulia di kalangan peserta didik pada jenjang pendidikan dasar menengah melalui pengembangan kurikulum muatan lokal. d) Menurunkan jumlah penduduk yang buta aksara, terutama penduduk miskin, melalui peningkatan pendidikan non formal. e) Mengoptimalkan peran fungsi dewan pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama peningkatan mutu layanan pendidikan pengawasan, yang evaluasi meliputi program perencanaan, pendidikan. Juga meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan, termasuk pembiayaan pendidikan. f) Mengembangkan teknologi informasi komunikasi di big pendidikan sebagai ilmu pengetahuan, alat bantu pembelajaran, fasilitas pendidikan, standar kompetensi, penunjang administrasi pendidikan, alat bantu manajemen satuan pendidikan, infrastruktur pendidikan. g) Mengembangkan budaya baca guna menciptakan masyarakat belajar, berbudaya, maju mandiri. 2. Peningkatan Aksesibilitas Kualitas Pelayanan Kesehatan. Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: 45

169 a) Mewujudkan memadai, pelayanan terutama kesehatan bagi yang masyarakat murah miskin, untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. b) Meningkatkan jumlah, jaringan kualitas pusat kesehatan masyarakat. c) Mengembangkan pengadaan, peningkatan, perbaikan sarana prasarana serta tenaga kesehatan. d) Mewujudkan meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap kesehatan. e) Mewujudkan lingkungan perumahan yang sehat termasuk penyediaan air bersih sanitasi yang layak. f) Pengendalian persebaran penyakit tropis, HIV/AIDS psikotropika serta penanganan rehabilitasinya. 3. Penghormatan, Pengakuan Penegakan Hukum HAM. Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Meningkatkan penegakan hukum secara adil, konsekuen, tidak diskrimatif. b) Terjaminnya konsistensi peraturan perungungan. c) Meningkatkan pemahaman penghormatan terhadap hak asasi manusia. 4. Peningkatan Keamanan Ketertiban. Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Meningkatkan peran serta masyarakat untuk mencegah kriminalitas gangguan keamanan ketertiban di lingkungan masingmasing. b) Meningkatkan pencegahan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran narkoba. c) Mendorong peningkatan perlindungan pengayoman masyarakat. 46

170 5. Peningkatan Kualitas SDM Aparatur Pelayanan Prima. Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Mempercepat perwuju perubahan pola berpikir orientasi birokrasi dari dilayani menjadi melayani masyarakat. b) Mempercepat perwuju birokrasi yang efisien, kreatif, inovatif, bertanggungjawab serta profesional untuk menciptakan tata kelola yang baik (good governance) yang bebas dari korupsi, kolusi, nepotisme. c) Meningkatkan efektivitas efisiensi ketatalaksanaan prosedur pada semua tingkat lini pemerintahan. d) Meningkatkan kualitas pelayanan publik menjadi pelayanan prima. e) Mendorong partisipasi masyarakat untuk turut merumuskan program kebijakan layanan publik. 6. Pembangunan Pemeliharaan Infrastruktur. Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Meningkatkan mempercepat perbaikan infrastruktur yang rusak, terutama infrastruktur pertanian pedesaan, serta infrastruktur ekonomi strategis. b) Meningkatkan perluasan kapasitas infrastruktur, terutama di daerah pedesaan, daerah tertinggal, serta infrastruktur yang melayani masyarakat miskin, infrastruktur yang menghubungkan / atau melayani antar daerah. 7. Revitalisasi Pertanian Pengembangan Agroindustri. Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Meningkatkan pemberdayaan petani lembagalembaga pendukungnya. b) Meningkatkan produktivitas, daya saing, nilai tambah produk pertanian. 47

171 c) Meningkatkan pengembangan agroindustri agrobisnis untuk memberdayakan perekonomian rakyat. d) Meningkatkan pengamanan ketahanan pangan. 8. Peningkatan Industri Pariwisata. Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Menyederhanakan prosedur perijinan investasi. b) Menciptakan kepastian hukum yang menjamin kepastian usaha, termasuk mengurangi tumpang tindih kebijakan antar pusat daerah serta antar sektor. c) Menciptakan kerjasama antar pemerintah daerah investor untuk mempercepat pembangunan pariwisata. d) Meningkatkan penyediaan infrastruktur penunjang. e) Meningkatkan pengembangan jenis kualitas produkproduk wisata, serta meningkatkan investasi di big pariwisata daerah. 9. Peningkatan perdagangan Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Menciptakan perlindungan konsumen pengawasan perdagangan. b) Peningkatan promosi hasil produk unggulan pengusaha kecil menengah.. Meningkatkan kualitas pelayanan pemahaman agama serta kehidupan beragama Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Meningkatkan kualitas pemahaman, penghayatan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat. b) Meningkatkan kualitas pendidikan agama pendidikan keagamaan pada semua jalur jenis jenjang pendidikan. c) Meningkatkan kualitas penataan pengelolaan serta pengembangan fasilitas pelaksanaan ibadah, dengan memperhatikan kepentingan seluruh lapisan umat beragama. 48

172 d) Peningkatan pembinaan keluarga harmonis. e) Meningkatkan kualitas kapasitas lembaga sosial antar umat keagamaan.. Meningkatkan kerukunan intra beragama Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Meningkatkan upaya kelompokkelompok kearifan lokal menjaga keagamaan dalam rangka harmoni dengan sosial didalam memanfaatkan memperkuat hubungan masyarakat. b) Mencegah kemungkinan berkembangnya potensi konflik di dalam masyarakat yang mengandung sentimen keagamaan dengan mencermati secara responsif mengantisipasi secara dini terjadinya konflik. c) Menyelesaikan konflik sosial yang berlatar belakang agama. 2. Pemberdayaan ekonomi Kerakyatan (Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah). Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Pengembangan UKM agar memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing. b) Menciptakan mengembangkan usaha skala mikro untuk meningkatkan pendapatan kelompok masyarakat berpendapatan rendah. c) Memperbaiki lingkungan usaha menyederhanakan prosedur perijinan. d) Memperluas akses kepada sumber permodalan. e) Memperluas basis kesempatan berusaha serta menumbuhkan wirausaha baru berkeunggulan termasuk mendorong peningkatan ekspor. 49

173 f) Meningkatkan UMKM sebagai penyedia barang jasa pada pasar lokal nasional. g) Meningkatkan kualitas kelembagaan koperasi sesuai dengan jati diri koperasi. h) Menciptakan kerjasama promosi antar daerah untuk memperluas pasar bagi produkproduk unggulan UMKM. 3. Perluasan Lapangan Kerja. Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Mendorong terciptanya perluasan lapangan kerja disektor informal maupun formal. b) Meningkatkan kualitas produktivitas tenaga kerja. c) Mewujudkan iklim investasi yang kondusif dengan mengefektifkan lembagalembaga tenaga kerja yang ada. 4. Peningkatan Efektivitas Penanggulangan Kemiskinan. Arah kebijakan ini dimaksudkan untuk meningkatkan upaya efektifitas penanggulangan kemiskinan pengangguran di wilayah pedesaan maupun perkotaan dengan menghormati, melindungi hakhak dasar masyarakat miskin yang meliputi hak atas pangan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, perumahan, air bersih, tanah, lingkungan hidup, sumber daya alam, rasa aman serta hak untuk berpartisipasi dalam perumusan kebijakan publik. 5. Peningkatan Kesejahteraan Sosial Rakyat. Arah kebijakan ini dimaksudkan untuk memberdayakan kelompok masyarakat yang kurang beruntung termasuk anakanak terlantar, fakir miskin, manula, penyang cacat, masyarakat miskin, masyarakat wilayah terpencil, tertinggal wilayah rawan bencana. 6. Peningkatan Kualitas Kehidupan Peran Perempuan di Semua Big. Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: 5

174 a) Menciptakan keadilan kesetaraan gender dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring evaluasi seluruh kebijakan program di berbagai big kehidupan pembangunan. b) Meningkatkan perbaikan angka indeks pembangunan gender (Gender Related Development Index, GDI), angka indeks pemberdayaan gender (Gender Empowerment Measurement, GEM). c) Terjaminnya perlindungan kesejahteraan anak serta perempuan. d) Meningkatkan pelayanan keluarga berencana, kesehatan reproduksi yang berkualitas sebagai upaya pengendalian pertambahan penduduk. 7. Perencanaan pembangunan yang berbasis kinerja Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Perencanaan yang didasarkan keterpaduan mekanisme bottom up top down. b) Perencanaan pembangunan yang mempunyai indikator kinerja capaian target yang terukur. 8. Penataan Ruang, pengelolaan Sumber Daya Alam pelestarian fungsi Lingkungan Hidup. Arah kebijakan ini akan menyangkut halhal sebagai berikut: a) Menciptakan keseimbangan antara pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam pemeliharaan kualitas fungsi lingkungan hidup. b) Mencegah terjadinya atau berlanjutnya atau pencemaran lingkungan melalui medium, air, udara, maupun tanah. c) Mendorong pengembangan industri yang ramah lingkungan. d) Mencegah terjadinya atau berlanjutnya perusakan hutan akibat kegiatankegiatan ilegal, serta mencegah meluasnya area lahan kritis. 5

175 e) Memulihkan kondisi sumber daya alam lingkungan yang rusak. f) Mengembangkan manajemen penanggulangan bencana alam terutama di wilayah rawan banjir tanah longsor. g) Membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan hidup, berperan aktif melakukan kontrol sosial terhadap kualitas lingkungan hidup. h) Mewujudkan keserasian pemanfaatan ruang penatagunaan tanah. i) Mengendalikan pemanfaatan ruang yang efektif dengan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan keseimbangan antar fungsi. j) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Dari strategi arah kebijakan ini maka dapat dilihat rangkaian konsistensi sejak visi, misi, tujuan, sasaran arah kebijakan sebagaimana tabel berikut: Tabel 6. Strategi, Arah Kebijakan VISI : Terwujudnya yang Mandiri, Demokratis, Adil, Makmur, Bermartabat MISI I : Mewujudkan SDM yang berkualitas melalui peningkatan akses kualitas pendidikan pelayanan kesehatan Tujuan Sasaran Meningkatnya kualitas prasarana sarana pendidikan tenaga pendidik. 2. Meningkatnya kualitas prasarana sarana rumah sakit puskesmas serta peningkatan tenaga medis paramedis yang kompeten. Strategi Arah kebijakan. Pelayanan pendidikan kesehatan yang murah berkualitas Peningkatan akses kualitas pelayanan pendidikan kesehatan Peningkatan Aksesibilitas Kualitas Pelayanan Pendidikan 2. Peningkatan Aksesibilitas Kualitas Pelayanan Kesehatan. MISI II : Mewujudkan ketertiban, supremasi hukum, HAM Tujuan Penegakan hukum secara adil, konsekuen tidak diskriminatif serta peningkatan keamanan ketertiban. Sasaran Terbinanya kesadaran hukum. 2. Terciptanya situasi aman, tertib terkendali.. Strategi Peningkatan kualitas kehidupan politik penegakan hukum Arah kebijakan Penghormatan, Pengakuan Penegakan Hukum HAM 2. Peningkatan Keamanan Ketertiban. 52

176 MISI III : Mewujudkan pemerintah daerah yang efektif, demokratis, bersih, profesional adil dalam melayani masyarakat Tujuan Pelaksanaan reformasi birokrasi peningkatan pelayanan publik Sasaran. Meningkatnya profesionalisme aparatur, pelayanan prima, keterbukaan peran serta masyarakat Strategi Penerapan Konsep Good Governance (Tata Kelola Pemerintahan yang Baik) Arah kebijakan Peningkatan Kualitas SDM Aparatur Pelayanan Prima MISI IV : Mewujudkan ekonomi daerah yang mandiri, berdaya saing, berkeadilan berbasis pada ekonomi kerakyatan Tujuan Sasaran Terciptanya infrastruktur perekonomian lingkungan sosial yang mantab. 2. Berkembangnya usaha agroindustri, pariwisata, perdagangan terciptanya lapangan kerja. Strategi. Pemerataan pertumbuhan ekonomi sesuai potensi daerah Arah kebijakan Pembangunan Pemeliharaan Infrastruktur 2. Revitalisasi Pertanian Pengembangan Agroindustri 3. Peningkatan Industri Pariwisata 4. Peningkatan perdagangan. Peningkatan pembangunan ekonomi infrastruktur MISI V : Mewujudkan ketahanan sosial budaya dalam kerangka Integrasi Nasional, pada tatanan masyarakat yang bermartabat, berahlak mulia, beretika, berbudaya luhur berlandaskan Pancasila Tujuan Sasaran Muatan pendidikan keimanan ketakwaan (imtak) ilmu pengetahuan teknologi (iptek) pada sekolah. 2. Terjalin hubungan harmonis dengan organisasi kemasyarakatan keagamaan, tokoh agama tokoh masyarakat, sekaligus sosialisasi nilainilai keagamaan. 3. Terpeliharanya nilainilai luhur budaya bangsa yang berlandaskan Pancasila UUD 45. Strategi Arah kebijakan. Peningkatan kualitas kesalehan sosial demi terjaganya harmoni sosial meningkatkan kualitas pelayanan pemahaman agama serta kehidupan beragama 2. meningkatkan kerukunan intra antar umat beragama. Pengamalan nilainilai agama budi pekerti MISI VI : Mewujudkan partisipasi masyarakat melalui pemberian akses kesempatan dalam pembangunan Tujuan Sasaran Strategi Arah kebijakan. Pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan pelaksanaan pembangunan. 2. Penyediaan informasi penciptaan lapangan kerja. 3. Peningkatan kualitas Sumber Daya Tenaga Kerja.. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan Pemberdayaan masyarakat dalam proses pembangunan Pemberdayaan ekonomi Kerakyatan (Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah) Perluasan Lapangan Kerja Peningkatan Efektivitas Penanggulangan Kemiskinan Peningkatan Kesejahteraan Sosial Rakyat Peningkatan Kualitas Kehidupan Peran Perempuan di Semua Big MISI VII: Mewujudkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang lebih mengutamakan kesejahteraan masyarakat Tujuan Sasaran Peningkatan Pendapatan Daerah. 2. Perencanaan pembangunan yang berbasis kinerja. 3. Konsistensi perencanaan pembangunan. Strategi. Peningkatan Pendapatan kemampuan belanja nonpegawai pada APBD. Arah kebijakan Perencanaan pembangunan yang berbasis kinerja 2. Penataan Ruang, pengelolaan Sumber Daya Alam pelestarian fungsi Lingkungan Hidup. Perencanaan pembangunan penganggaran yang berbasis kinerja 53

177 BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH A. Kebijakan Umum Pembangunan Kebijakan adalah arah / tindakan yang diambil oleh Pemerintah Daerah untuk mencapai tujuan. Berdasarkan Arah Kebijakan Pembangunan maka disusun Kebijakan Umum Pembangunan Kabupaten Mojokerto. Dalam penyajian ini, pada masingmasing Kebijakan Umum Pembangunan Daerah disampaikan Urusanurusan Pemerintahan Daerah yang mendukung, serta programprogram terpilih yang diperlukan untuk mewujudkan Kebijakan tersebut. Dari Arah Kebijakan Pembangunan, maka Kebijakan Umum yang diambil adalah sebagai berikut :. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Pendidikan Kesehatan. 2. Kebijakan Peningkatan Kualitas Kehidupan politik Penegakan Hukum. 3. Kebijakan Peningkatan Kualitas Aparatur Pelayanan Publik. 4. Kebijakan membangun sistem ekonomi kerakyatan yang mampu menggerakkan sendisendi perekonomian berbasis potensi daerah yang unggul, kokoh stabil. 5. Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan, Perluasan Lapangan Kerja, Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. 6. Kebijakan Peningkatan Kesalehan Sosial Kerukunan Antar Umat Beragama. 7. Kebijakan Perencanaan pembangunan penganggaran yang berbasis kinerja. 54

178 Selanjutnya dari masingmasing Kebijakan Umum tersebut, maka program terpilih (dari urusanurusan yang mendukung) yang diperhatikan dalam Kebijakan tersebut adalah sebagai berikut :. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Pendidikan Kesehatan Terhadap kebijakan ini maka urusan Pemerintahan Daerah (beserta program terpilih) yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut: a) Urusan Pendidikan () Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Program dititikberatkan untuk meningkatkan angka lulusan SD/MI/Paket A untuk melanjutkan ke jenjang SMP/MTs/Paket B, disertai upaya menurunkan angka putus sekolah mengulang kelas dikalangan peserta didik SMP/MTs/Paket B, sehingga seluruh penduduk usia 35 tahun dapat menyelesaikan, setidaknya pendidikan pada jenjang menengah pertama. Disisi lain Pemerintah Daerah akan melakukan penyesuaian jumlah sekolah jumlah penduduk usia sekolah yang dilayani sehingga tercipta kelembagaan yang efisien melalui proses merger. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : (a). Penyediaan prasarana sarana pendidikan dasar yang berkualitas, termasuk pembangunan sekolah baru (USB) pada tingkat SMP/MTs, unit ruang kelas baru (RKB), laboratorium, perpustakaan, peralatan peraga pendidikan disertai penyediaan tenaga pendidik secara lebih merata bermutu. (b). Percepatan rehabilitasi revitalisasi prasarana sarana pendidikan dasar yang rusak. 55

179 (c). Penyediaan buku pokok mata pelajaran (termasuk muatan lokal) yang tepat dari aspek kualitas, kesesuaian dengan kondisi potensi daerah, dengan harga yang murah. (2) Program Pendidikan Menengah Program diarahkan untuk menuntaskan perluasan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan mengembangkan menjadi 2 tahun. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan akses masyarakat, terutama penduduk miskin. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Penyediaan prasarana sarana pendidikan menengah yang berkualitas, ruang kelas baru (RKB), laboratorium, perpustakaan, buku pelajaran peralatan peraga pendidikan. (b). Peningkatan pendidik kualitas melalui kompetensi peningkatan tenaga kualifikasi, sertifikasi guru. (c). Penyediaan bantuan operasional sekolah secara memadai, pembinaan termasuk meningkatkan pengendalian sosialisasi, program Biaya Operasional Sekolah (BOS). (d). Peningkatan partisipasi masyarakat, baik dalam penyelenggaraan, pembiayaan, maupun pengelolaan pembangunan pendidikan dasar, serta peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pendidikan dasar bagi anak. (e). Peningkatan pemberdayaan orangtua siswa masyarakat sebagai stakeholders sekolah dalam mewujudkan manajemen berbasis sekolah melalui penciptaan iklim kondusif bagi terciptanya sekolah 56

180 yang mandiri akuntabel, dengan mengoptimalkan peran komite sekolah. (3) Program Manajemen Pelayanan Pendidikan Program diarahkan jumlah, kualitas, untuk meningkatkan kompetensi kecukupan profesionalisme pendidik, pada satuan pendidikan formal nonformal, negeri maupun swasta, untuk dapat merencanakan melaksanakan proses pembelajaran dengan menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dialogis, menilai hasil pembelajaran, serta mempunyai komitmen secara profesional dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan rasio pelayanan tenaga pendidik. (b). Peningkatan melalui kualitas pendidikan layanan tenaga latihan agar pendidik memiliki kualifikasi minimum sertifikasi sesuai jenjang kewenangan mengajar. (4) Program Peningkatan Mutu Proses Belajar Mengajar SMK Program ditujukan untuk memberikan pelayanan pendidikan terhadap murid yang dipersiapkan dalam rangka menciptakan lapangan pekerjaan (siap pakai). Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : Peningkatan kualitas pelayanan pendidikan kejuruan dari aspek tenaga pendidik prasarana sarana praktek. (5) Program Pendidikan Non Formal Program diarahkan untuk memberikan pendidikan, sebagai pengganti, pelengkap pendidikan formal penambah guna pelayanan /atau mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan 57

181 pengetahuan ketrampilan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Penyediaan prasarana sarana pendidikan, beserta tenaga pendidik, lainnya, yang bermutu secara memadai, serta menumbuhkan partisipasi masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan nonformal. (b). Penguatan satuansatuan pendidikan nonformal yang meliputi lembaga kursus, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. (c). Pelaksanaan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri kelompok. (d). Penyediaan informasi pendidikan yang memadai yang memungkinkan masyarakat memilih pendidikan nonformal sesuai minat, potensi, kebutuhan. b) Urusan Kesehatan () Program Obat Perbekalan Kesehatan Dilaksanakan dalam rangka untuk menjamin ketersediaan, pemerataan, mutu, keterjangkauan obat perbekalan kesehatan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain: (a). Peningkatan ketersediaan serta pemerataan obat perbekalan kesehatan, termasuk penyediaan obatobat generik/esensial. (b). Peningkatan mutu obat perbekalan kesehatan. (c). Peningkatan mutu pelayanan farmasi komunitas rumah sakit. (2) Program Pengadaan, Peningkatan Perbaikan Sarana Prasarana Puskesmas / Puskesmas Pembantu Jaringannya. 58

182 Program dilaksanakan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah menyediakan tempat untuk pelayanan berobat yang nyaman. (3) Program Pengadaan, Peningkatan Sarana Prasarana Rumah Sakit / Rumah Sakit Jiwa / Rumah Sakit Paruparu / Rumah Sakit Mata. Program dimaksudkan untuk menjamin ketersediaan, pemerataan, mutu, keterjangkauan obat perbekalan kesehatan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain: Penyediaan, pengembangan serta pemeliharaan prasarana sarana kesehatan. (4) Program Upaya Kesehatan Masyarakat Program ditujukan untuk meningkatkan kualitas serta fungsi pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terutama penduduk miskin, melalui pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan Pelayanan Pondok Kesehatan Desa (Ponkesdes). (b). Pengembangan penuntasan pelayanan kesehatan gratis bagi keluarga miskin di puskesmas dengan menyederhanakan mekanisme administrasi. (c). Meningkatkan upaya penanggulangan masalah kesehatan masyarakat, seperti malaria, rendahnya status busung lapar, berdarah, flu kesehatan gizi, burung, reproduksi, serta akses TBC, demam pelayanan HIV/AIDS psikotropika (narkotika). (d). Peningkatan pelayanan air bersih sanitasi secara lintas sektoral. 59

183 (5) Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Ibu Anak Program ini ditujukan untuk memberikan pelayanan kesehatan terhadap ibu anak. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah memberikan pelayanan kesehatan bagi ibu yang ingin melahirkan di puskesmas rawat inap dengan sarana prasarana yang memadai. (6) Program Sumber Daya kesehatan Program diarahkan untuk meningkatkan jumlah, kualitas, penyebaran tenaga kesehatan sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan dalam rangka meningkatkan aksesibilitas kualitas pelayanan kesehatan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Perencanaan pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan yang berkualitas, terutama untuk pelayanan kesehatan di puskesmas jaringannya, serta rumah sakit. (b). Peningkatan keterampilan profesionalisme tenaga kesehatan melalui pendidikan pelatihan tenaga kesehatan. (7) Program Perbaikan Gizi Masyarakat Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat terutama pada ibu hamil, bayi, anak balita. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Penanggulangan kurang energi protein (KEP), anemia gizi buruk, gangguan akibat kurang yodium (GAKY), kurang vitamin A, kekurangan zat gizi mikro lainnya, terutama dikalangan penduduk miskin. (b). Mengadakan pembinaan penyuluhan tentang pentingnya gizi pada ibu hamil, bayi anak balita, serta peningkatan surveilens gizi. 6

184 c) Urusan Keluarga Berencana Keluarga Sejahtera () Program Promosi Kesehatan Ibu Anak Program ditujukan untuk memberikan pelayanan terhadap ibu anak. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : Memberikan pelayanan kesehatan bagi ibu yang ingin melahirkan di puskesmas rawat inap dengan sarana prasarana yang memadai. (2) Program keluarga Berencana Program ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan keluarga berencana (KB), kesehatan reproduksi yang berkualitas, termasuk di dalamnya upayaupaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi dalam rangka membangun keluarga kecil berkualitas, termasuk pertambahan sebagai penduduk. upaya Kegiatan pengendalian pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pengembangan kebijakan tentang pelayanan KB, komunikasi, informasi, edukasi (KIE) peran serta masyarakat dalam KB kesehatan reproduksi. (b). Peningkatan akses kualitas pelayanan KB, kesehatan reproduksi, terutama bagi masyarakat miskin. (c). Penyediaan alat, obat cara kontrasepsi dengan memprioritaskan keluarga miskin, serta kelompok rentan lainnya. d) Urusan kebudayaan () Program Pengembangan Nilai Budaya Program ini dititikberatkan untuk memperkuat identitas daerah sebagai bagian jati diri bangsa memantapkan 6

185 budaya daerah. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pelestarian aktualisasi adat budaya daerah. (b). Pemberian dukungan, penghargaan kerjasama di big budaya. (2) Program Pengelolaan Kekayaan Daerah Program ditujukan untuk menciptakan keserasian hubungan antarunit sosial antarbudaya. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Fasilitasi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kekayaan budaya. (b). Pengembangan pelestarian peninggalan sejarah purbakala. (c). Pengembangan kebudayaan pariwisata. e) Urusan Pemuda Olah raga () Program Pembinaan Pemasyarakatan Olahraga Program ini diarahkan untuk meningkatkan pembibitan pengembangan prestasi olahraga secara sistematik, berjenjang berkelanjutan, serta meningkatkan akses partisipasi masyarakat secara luas merata. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pembibitan pembinaan olahragawan, olahraga prestasi di daerah. (b). Pengembangan olahraga prestasi, pembinaan olahraga yang berkembang di masyarakat. (c). Peningkatan peran serta masyarakat dunia usaha dalam penaan pembinaan olahraga. (2) Program Peningkatan Peran Serta Kepemudaan Program ini ditujukan untuk meningkatkan peran serta pemuda dalam pembangunan sosial, politik, ekonomi, 62

186 budaya agama. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pembinaan, pendidikan pelatihan kepemimpinan organisasi kepemudaan. (b). Fasilitasi kegiatankegiatan kepemudaan. f) Urusan Pemberdayaan Perempuan () Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender Anak Program ini dititikberatkan untuk memperkuat kelembagaan jaringan pengarusutamaan gender (PUG) di berbagai big pembangunan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pengembangan materi pelaksanaan komunikasi, informasi, edukasi tentang kesetaraan gender. (b). Peningkatan kapasitas jaringan kelembagaan pemberdayaan perempuan di daerah. 2. Kebijakan Peningkatan Kualitas Kehidupan politik Penegakan Hukum Terhadap kebijakan ini maka urusan Pemerintahan Daerah (beserta program terpilih) yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut : a) Urusan Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri () Program Peningkatan Keamanan Kenyamanan Lingkungan. Program ini dititikberatkan untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang aman damai agar dapat beraktivitas sebagaimana seharusnya, serta membangun kesadaran masyarakat untuk tertib hukum tertib sosial. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : 63

187 (a). Peningkatan terjadinya upayaupaya gangguan preventif keamanan terhadap ketertiban masyarakat, dengan meningkatkan kepekaan daya tanggap aparat dalam menyerap permasalahan yang terjadi di masyarakat. (b). Mendorong fasilitasi upayaupaya penanggulangan kriminalitas untuk menciptakan rasa aman masyarakat. (c). Peningkatan bimbingan penyuluhan masyarakat mengenai keamanan ketertiban masyarakat. (d). Peningkatan profesionalisme Polisi Pamong Praja dalam menjalankan tugasnya untuk menjaga ketentraman ketertiban umum. (2) Program Pemeliharaan Kamtramtibmas Pencegahan Tindak Kriminal. Program ini dititikberatkan untuk rasa aman, tentram, tertib damai di masyarakat. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : Mendorong fasilitasi upayaupaya penanggulangan kriminalitas untuk menciptakan rasa aman masyarakat. (3) Program Kemitraan Pengembangan Wawasan Kebangsaan Program ini diarahkan untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan, pengamalan, pengembangan nilainilai luhur budaya bangsa, wawasan kebangsaan bagi setiap individu, keluarga masyarakat. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Meningkatkan rasa solidaritas ikatan sosial masyarakat. (b). Meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilainilai luhur bangsa. (c). Memfasilitasi peningkatan wawasan kebangsaan. 64

188 (4) Program Peningkatan Pemberantasan Penyakit Masyarakat. Program ini diarahkan untuk menegakkan aturan yang telah dibuat. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Koordinasi penertiban terhadap pelanggaran pelanggaran peraturan perungungan. (b). Fasilitasi penyuluhan sosialisasi terhadap peraturan perungungan. (5) Program Mendukung Proses Penegakan Hukum Perlindungan HAM. Program ini dititikberatkan untuk melakukan tindakan preventif korektif terhadap penyimpangan kaidah hukum, norma sosial pelanggaran HAM di dalam proses penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa bernegara. Penegakan hukum HAM dilakukan secara tegas, tidak diskriminatif, serta konsisten. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan upayaupaya penghormatan persamaan terhadap setiap warga negara di depan hukum, melalui ketelaan kepala pemerintahan jajarannya untuk mematuhi mentaati hukum HAM secara konsisten konsekuen. (b). Fasilitasi peningkatan berbagai kegiatan operasional penegakan hukum HAM dalam rangka menyelenggarakan ketertiban sosial agar dinamika masyarakat dapat berjalan dengan sewajarnya. (c). Fasilitasi peningkatan koordinasi kerja sama yang menjamin efektivitas penegakan hukum HAM. 65

189 3. Kebijakan Peningkatan Kualitas Aparatur Pelayanan Publik Terhadap kebijakan ini maka urusan Pemerintahan Daerah (beserta program terpilih) yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut: a) Urusan Pemerintahan Umum () Program Peningkatan Pengembangan Pengelolaan Keuangan. Program ini diterapkan untuk meningkatkan mengembangkan kapasitas keuangan pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan peningkatan otonomi pelayanan daerah, masyarakat, penciptaan pemerintahan daerah yang baik. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Optimalisasi pembiayaan daerah. (b). Optimalisasi pengelolaan aset daerah. (c). Peningkatan kualitas pengembangan pelayanan, sistem penataan pengelolaan keuangan daerah. (2) Program Peningkatan Sistem Pengawasan internal Pengendalian Pelaksanaan kebijakan KDH Program ini diarahkan untuk menyempurnakan mengefektifkan sistem pengawasan audit, serta sistem akuntabilitas kinerja dalam mewujudkan aparatur pemerintah yang bersih, akuntabel, bebas dari KKN. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan intensitas kualitas pelaksanaan pengawasan audit internal, eksternal, pengawasan masyarakat. 66

190 (b). Peningkatan tindak lanjut temuan pengawasan secara profesional. (c). Peningkatan koordinasi pengawasan yang lebih komprehensif. (3) Program peningkatan Profesionalisme Tenaga Pemeriksa Aparatur Pengawasan. Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan SDM Aparatur Pengawasan melalui pelatihanpelatihan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : Mengikutsertakan tenaga pemeriksaan dalam pelatihanpelatihan pendidikan pengawasan. (4) Program Mengintensifkan Penanganan Pengaduan Masyarakat. Program ini diarahkan untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat yang mempunyai permasalahan memerlukan penyelesaian. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : Menerima menyelesaikan kasuskasus yang diajukan masyarakat untuk ditindaklanjuti dengan laporan hasil pemeriksaan. (5) Program peningkatan Pelayanan Prima. Program ini diarahkan untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : Memberikan petunjuk atau aturan terhadap masyarakat yang akan memperpendek menggunakan waktu layanan jasa yang layanan merujuk serta pada Standar Pelayanan Minimal (SPM). (6) Program Pembinaan Mental Spiritual. Program ini diarahkan untuk memantapkan dasardasar kerukunan intra antarumat beragama, dilandasi nilai67

191 nilai luhur agama untuk mencapai keharmonisan sosial menuju persatuan kesatuan bangsa. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan keharmonisan hubungan antarumat beragama, majelis agama dengan pemerintah melalui forum dialog. (b). Peningkatan efektivitas lembaga forum komunikasi kerukunan antarumat beragama untuk membangun menciptakan harmoni sosial masyarakat, baik pada tingkat desa kecamatan. (7) Program Penataan Peraturan Perungungan. Program ini ditujukan untuk perbaikan Peraturan Daerah baik perubahan maupun yang baru. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah: Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah. b) Urusan Kepegawaian () Program Pendidikan Kedinasan Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan SDM Aparatur. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : Mengadakan penjenjangan pendidikan struktural bagi pelatihan PNS teknis dalam serta rangka peningkatan SDM Aparatur. (2) Program Pembinaan Pengembangan Aparatur Program ini diarahkan untuk meningkatkan sistem pengelolaan kapasitas sumber daya manusia aparatur sesuai kebutuhan dalam melaksanakan tugas kepemerintahan pembangunan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : 68

192 (a). Penataan kembali sumber daya manusia aparatur sesuai kebutuhan akan jumlah kompetensi, serta perbaikan distribusi pegawai negeri sipil (PNS). (b). Peningkatan kompetensi sumber daya manusia aparatur dalam pelaksanaan tugas tanggung jawabnya. (c). Peningkatan kualitas sumber daya aparatur melalui perencanaan pengembangan, pendidikan latihan teknis, fungsional, struktural, pendidikan pelatihan kepemimpinan. (3) Program Peningkatan Disiplin Pegawai Kualitas Personil Program ini diwujudkan untuk meningkatkan disiplin pegawai. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : (a). Pengawasan melekat (b). Menangani kasuskasus pelanggaran disiplin pegawai. c) Urusan Kependudukan catatan sipil. () Program penataan Administrasi Kependudukan. Program ini dititikberatkan untuk administrasi kependudukan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Penataan administrasi sistem Nomor Induk Kependudukan (NIK). (b). Pembangunan pengembangan SIAK terpadu. (c). Fasilitasi sosialisasi, koordinasi, sinkronisasi evaluasi kebijakan umum, serta identitas administrasi kependudukan catatan sipil. d) Urusan Pemberdayaan Masyarakat Desa () Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat Desa Program ini dititikberatkan untuk membangun kawasan pedesaan melalui partisipasi masyarakat keberdayaan 69

193 masyarakat di pedesaan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pemberdayaan lembaga organisasi masyarakat desa dalam pemanfaatan sumber daya setempat. (b). Pengembangan kelembagaan ekonomi, termasuk pasar desa lembaga keuangan mikro, peningkatan jangkauan layanan lembaga penyedia jasa pengembangan usaha untuk memperkuat pengembangan ekonomi lokal. (c). Pembangunan perluasan sistem transportasi, listrik, air bersih, telekomunikasi pengairan di pedesaan yang mendukung pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan. (2) Program Peningkatan Kapasitas Aparatur Desa. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah desa. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Penguatan pengembangan sistem kelembagaan masyarakat. (b). Peningkatan pengembangan pelatihan penguatan kapasitas lembaga kemasyarakatan pemerintahan desa. (3) Program Peningkatan Peran Perempuan Program ini ditujukan untuk mewujudkan keserasian kebijakan di berbagai big pembangunan dalam rangka peningkatan peran perempuan anak. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pembinaan, pendidikan pelatihan peningkatan peran serta perempuan (kesetaraan gender). (b). Bimbingan manajemen usaha bagi perempuan dalam mengelola usaha. 7

194 e) Urusan Kearsipan () Program Perbaikan Sistem Administrasi Kearsipan. Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan mutu pelayanan arus informasi kearsipan kepada dari masyarakat. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain: (a). Pengembangan sistem administrasi kearsipan yang efektif efisien. (b). Pengembangan pembangunan sarana prasarana kearsipan. (2) Program Pemeliharaan Sarana Prasarana Kearsipan Program ini diarahkan untuk penataan arsip. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pengelolaan arsip daerah yang optimal. (b). Pemeliharaan dokumen arsip daerah. 4. Kebijakan membangun sistem ekonomi kerakyatan yang mampu menggerakkan sendisendi perekonomian berbasis potensi daerah yang unggul, kokoh stabil. Terhadap kebijakan ini maka urusan Pemerintahan Daerah (beserta program terpilih) yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut : a) Urusan Penataan Ruang. () Program perencanaan Tata Ruang. Program ini dititikberatkan untuk mempersiapkan dokumendokumen perencanaan tata ruang meliputi RTRW, RDTRK RTRK. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Penyusunan penetapan Rencana Tata Ruang. (b). Evaluasi rencana tata ruang. 7

195 (2) Program pemanfaatan Ruang. Program ini dititikberatkan untuk mewujudkan pelaksanaan pembangunan sesuai program pemanfaatan ruang wilayah kabupaten. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pemanfaatan kawasan strategis kabupaten pemanfaatan kawasan andalan. (3) Program pengendalian Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan keterpaduan keterlibatan partisipasi masyarakat dalam proses penyusunan rencana, pelaksanaan evaluasi program pembangunan yang terkoordinasi, terintegrasi, sinkron sinergis antara sektoral/big urusan pemerintahan dengan aspek spasial, antartingkatan pemerintahan dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya pembangunan, baik sumber daya pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Penyusunan rencana program pembangunan daerah. (b). Koordinasi, integrasi, sinkronisasi, sinergi perencanaan pembangunan. b) Urusan Pekerjaan Umum () Program Pengembangan Wilayah Strategis Cepat Tumbuh. Program ini infrastruktur dititikberatkan perkotaan. untuk Kegiatan pembangunan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pemasangan Pemeliharaan LPJU. (b). Pemeliharaan keindahan kebersihan kota. (c). Pembangunan pemeliharaan fasilitas utilitas. 72

196 (2) Program Pengembangan Jalan Jembatan. Program ini diarahkan untuk meningkatkan daya dukung serta kapasitas jalan jembatan untuk memperlancar lalu lintas. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan daya dukung, kualitas, kapasitas jalan jembatan untuk mengantisipasi pertumbuhan lalu lintas. (3) Program Pengembangan Pengelolaan jaringan Irigasi Program ini dititikberatkan untuk memberikan pelayanan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pembangunan plengsengan saluran irigasi. (b). Rehabilitasi saluran irigasi. (c). Pemeliharaan jaringan irigasi. (d). Pemeliharaan prasarana sarana irigasi. (4) Program Pengembangan Pengelolaan konservasi Sungai, Waduk Sumber Daya Air lainnya. Program ini ditujukan untuk pemeliharaan ketersediaan air tanah air permukaan untuk pemenuhan berbagai kebutuhan air, baik air bersih, air irigasi, perikanan maupun kebutuhan air industri. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pemberian bantuan teknis dalam pengelolaan sumber air di wilayah rawan air kepada masyarakat miskin. (b). Pembentukan mekanisme penyediaan pengelolaan air bersih aman serta sanitasi lingkungan berbasis komunitas yang berpihak kepada masyarakat miskin. (c). Peningkatan kemampuan stakeholders di daerah dalam pengelolaan penyediaan air bersih serta sanitasi dasar melalui pendekatan investasi bersama 73

197 dalam penyediaan air bersih aman untuk masyarakat miskin. (d). Konservasi sumbersumber air (sumber mata air, sungai embung). (5) Program Pengembangan Pengelolaan Air Minum Air Limbah. Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan cakupan pelayanan air minum sanitasi secara optimal, efisien, berkelanjutan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pembangunan sarana air minum di perkotaan pedesaan, meliputi bangunan produksi sampai jaringan distribusi. (b). Pemulihan sarana air minum sanitasi yang rusak akibat bencana alam. (c). Revitalisasi perbaikan sarana air minum untuk menunjang peningkatan pemeliharaan guna pengendalian kebocoran. (d). Revitalisasi IPAL/IPLT. (e). Pembangunan sarana sanitasi dasar bagi rumah tangga maupun komunal di pedesaan, terutama di kawasan permukiman masyarakat miskin. (6) Program Pengembangan Infrastruktur Perdesaan. Program ini ditujukan pada pembangunan, pemeliharaan, perbaikan prasarana jalan lingkungan saluran drainase. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan pemeliharaan jalan lingkungan. (b). Pembangunan saluran drainase c) Urusan Perhubungan. () Program Rehabilitasi Pemeliharaan Prasarana Fasilitas LLAJ. 74

198 Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan pembangunan, pemeliharaan, perbaikan prasarana sarana lalu lintas jalan raya untuk mendukung tercapainya sistem transportasi jalan yang memadai. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan keselamatan transportasi jalan. (b). Peningkatan pengembangan fasilitas jalan (ramburambu lalu lintas). (2) Program Peningkatan Pelayanan Angkutan. Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan angkutan lalu lintas jalan raya, yang aman, murah, terjangkau. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan penggelolaan perparkiran. (b). Penunjang sarana transportasi darat. d) Urusan Perindustrian () Program Pengembangan Sentrasentra Industri Potensial Program ini ditujukan untuk memperkuat memperbaiki struktur industri potensial daerah, baik dalam hal konsentrasi penguasaan pasar maupun kedalaman jaringan pemasok bahan baku, bahan pendukung. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Mendorong terjadinya kemitraan industri penunjang industri terkait. (b). Pengembangan pemberdayaan sentrasentra potensial industri kecil, desa kerajinan. (c). Fasilitasi pengembangan prasarana klaster industri. (2) Program pengembangan Industri Kecil Menengah. Program ini dititikberatkan untuk menjadikan industri kecil menengah (IKM), menghasilkan produk berkualitas 75

199 tinggi dengan harga kompetitif. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Penguatan peningkatan alih teknologi proses produksi, produk, serta pengembangan desain untuk industri kecil menengah, termasuk industri rumah tangga. (b). Peningkatan kerajinan produktivitas (industri industri rumah kecil, tangga), serta pengembangan pasarnya. (c). Peningkatan pengembangan industri kerajinan (industri rumah tangga) yang berbasis seni budaya. (d). Penyelenggaraan pelatihan budaya usaha kewirausahaan, bimbingan teknis manajemen usaha. e) Urusan Perdagangan () Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri Program ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi distribusi perdagangan, sarana prasarana penunjang perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing produk dalam daerah. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : Pemberdayaan pengusaha dagang mikro, kecil menengah melalui peningkatan sumber daya manusia, akses pasar kemitraan usaha. (2) Program Peningkatan Kerjasama Perdagangan Internasional. Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan daya saing global produk daerah. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : 76

200 Fasilitasi promosi produk komoditas industri yang berpotensi ekspor. (3) Program Perlindungan Konsumen Pengamanan Perdagangan. Program ini ditujukan untuk memberdayakan konsumsi, penguatan lembaga perlindungan konsumen, peningkatan kapasitas kelembagaan metrologi legal, serta optimalisasi pengawasan barang beredar terutama terhadap barangbarang strategis, obat makanan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan pengelolaan pasar. (b). Peningkatan perlindungan konsumen. (c). Intensifikasi kemetrologian daerah. (d). Evaluasi monitoring usahausaha daerah. (4) Program pembinaan Pedagang Kaki Lima Asongan. Program ini dititikberatkan untuk pembinaan penertiban lokasi pedagang kaki lima. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pembinaan organisasi pedagang kaki lima asongan. (b). Peningkatan prasarana sarana pedagang kaki lima. f) Urusan Pertanian () Program Peningkatan Ketahanan Pangan. Program ini ditujukan untuk memfasilitasi peningkatan keberlanjutan ketahanan pangan sampai di tingkat desa dusun. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pemantapan ketersediaan pangan di tingkat dusun, desa daerah, melalui pengembangan cagan pangan masyarakat. 77

201 (b). Pengamanan ketersediaan pangan antara lain melalui pencegahan konversi lahan sawah di daerah irigasi, peningkatan mutu intensifikasi pertanian. (c). Peningkatan distribusi pangan, melalui penguatan kapasitas kelembagaan pangan, peningkatan infrastruktur pertanian mendukung sistem distribusi pedesaan yang pangan, untuk menjamin keterjangkauan masyarakat atas pangan. (2) Program peningkatan Kesejahteraan Petani. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas daya saing masyarakat pertanian, terutama petani yang tidak dapat menjangkau akses terhadap sumber daya usaha pertanian. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pengembangan kredit usaha berbasis pertanian di pedesaan, pembentukan lembaga keuangan mikro untuk melayani kebutuhan modal usaha petani. (b). Pemberdayaan usaha rakyat berbasis pertanian melalui akses permodalan (pinjaman lunak) dengan agunan aktivitas usaha itu sendiri. (c). Perbaikan sistem mekanisme distribusi pupuk bersubsidi mengantisipasi secara dini kelangkaan pupuk berulang pada setiap musim tanam. (d). Mendorong Usaha perkembangan koperasi Milik Desa rakyat/komunitas, (BUMDes) dikelola yang sebagai Ba berbasis usaha bersama dari, oleh, untuk rakyat, melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. 78

202 (3) Program Peningkatan Produksi Pertanian / Perkebunan Program ini dititikberatkan untuk produktivitas produksi pertanian perkebunan untuk mendukung ketahanan kemandirian pangan daerah. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan produksi, produktivitas, mutu hasil pertanian perkebunan. (b). Peningkatan kualitas bibit/benih, kapasitas produksi, pengembangan komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi berdaya saing tinggi. (c). Pengendalian penanggulangan hama penyakit. (4) Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan. Program ini diarahkan untuk meningkatkan produksi hasil peternakan, untuk meningkatkan ketersediaan bahan pangan asal hewan dari dalam negeri yang aman sehat. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan ketersediaan pangan hasil ternak melalui peningkatan populasi ternak, produksi hasil ternak yang aman sehat. (b). Pencegahan penanggulangan penyakit ternak hewan lainnya. (5) Program Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan mengembangkan penerapan teknologi peternakan dalam rangka peningkatan produksi, produktivitas serta efisiensi usaha melalui peningkatan kapasitas kemampuan sumber daya pendukungnya manusia, untuk serta penguatan meningkatkan posisi lembaga peternak. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : 79

203 (a). Peningkatan ilmu pengetahuan teknologi peternakan, pemanfaatan teknologi tepat guna, spesifik lokasi yang ramah lingkungan. (b). Peningkatan pengembangan pendidikan pelatihan sumber daya manusia peternakan. g) Urusan kehutanan () Program Rehabilitasi Hutan Lahan Program ini (terutama ditujukan hutan untuk rakyat) merehabilitasi yang telah hutan rusak, mempercepat pemulihan hutan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain: (a). Bantuan penghijauan lingkungan. (b). Penanaman pohon pada hutan yang rusak. h) Urusan Kelautan Perikanan () Program Pengembangan Budidaya Perikanan Program ini dititikberatkan mengembangkan, perikanan optimal secara untuk memanfaatkan mengelola, sumber berkelanjutan daya untuk meningkatkan nilai tambah budidaya perikanan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan usaha perikanan skala kecil yang potensial peningkatan pemasaran, standar mutu, nilai tambah produk perikanan. (b). Pengembangan kawasan budidaya ikan kolam air tawar. i) Urusan Koperasi Usaha Kecil Menengah () Program penciptaan Iklim Usaha UKM yang Kondusif. Program ini ditujukan untuk memfasilitasi terselenggaranya lingkungan usaha yang efisien secara ekonomi peningkatan kinerja usaha UMKM. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : 8

204 (a). Fasilitasi penyediaan kemudahan dalam formalisasi ba usaha. (b). Peningkatan kualitas penyelenggaraan koordinasi dalam perencanaan kebijakan program UMKM dengan partisipasi aktif para pelaku instansi terkait. (c). Peningkatan penyebarluasan kualitas informasi UMKM, termasuk pengembangan jaringan pelayanan informasinya. (2) Program pengembangan Kewirausahaan Keunggulan Kompetitif UKM. Program ini dititikberatkan untuk mengembangkan jiwa semangat kewirausahaan meningkatkan daya saing UKM. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Peningkatan kegiatan koperasi siswa. (b). Fasilitasi keberdayaan KSP/USP/Kopwan. (3) Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Program ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas kelembagaan organisasi koperasi agar koperasi mampu tumbuh berkembang secara sehat sesuai jati dirinya menjadi wadah kepentingan bersama bagi anggotanya untuk memperoleh efisiensi kolektif, sehingga citra koperasi menjadi semakin baik. Pendukung pengembangan koperasi semakin lengkap berkualitas; lembaga gerakan koperasi semakin berfungsi efektif mandiri; serta praktik berkoperasi yang baik semakin berkembang di kalangan masyarakat luas. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pemberian gerakan dukungan koperasi kemudahan melakukan kepada penataan 8

205 perkuatan organisasi, serta modernisasi manajemen koperasi primer sekunder untuk meningkatkan pelayanan anggota. (b). Pemberian dukungan kemudahan untuk pengembangan koperasi di big pendidikan pelatihan, penyuluhan, pengembangan, penelitian keuangan pembiayaan, teknologi, informasi, promosi pemasaran. (c). Pengembangan sistem pendidikan, pelatihan penyuluhan pengelola perkoperasian koperasi, calon bagi anggota anggota kader koperasi, terutama untuk menanamkan nilainilai dasar prinsipprinsip koperasi dalam kehidupan koperasi, yang mengatur secara jelas aya pembagian tugas tanggung jawab. (d). Penyediaan insentif fasilitasi pengembangan jaringan kerja sama usaha antarkoperasi. (e). Penyuluhan perkoperasian kepada masyarakat luas disertai pemasyarakatan contohcontoh koperasi sukses yang dikelola sesuai nilainilai prinsipprinsip koperasi. (f). Mendorong perkembangan koperasi Usaha Milik Desa rakyat/komunitas, (BUMDes) dikelola yang sebagai Ba berbasis usaha bersama dari, oleh, untuk rakyat, melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. j) Urusan Pariwisata. () Program pengembangan Destinasi Pariwisata. Program ini diarahkan untuk pengelolaan destinasi wisata asetaset warisan budaya menjadi objek daya tarik wisata yang kompetitif dengan pendekatan profesional, 82

206 kemitraan swasta, pemerintah, masyarakat, serta memperkuat jaringan kelembagaan, mendorong investasi. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Mendorong pertumbuhan investasi industri perkembangan pariwisata, melalui penyederhanaan perijinan bagi investor. (b). Mendorong unggulan, pengembangan secara bersama daya tarik dengan wisata pemerintah daerah, swasta masyarakat, untuk membuka lapangan kerja, mengembangkan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). (c). Peningkatan kualitas pelayanan tujuan wisata, asetaset warisan budaya sebagai objek daya tarik wisata yang kompetitif. (d). Pengembangan diintegrasikan kawasan dengan ekowisata (agrowisata) pengembangan kawasan agropolitan. (2) Program pengembangan Pemasaran Pariwisata Program ini ditujukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara dalam rangka meningkatkan kinerja industri pariwisata. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pemberian insentif kemudahan bagi pelaku usaha pariwisata dalam membangun produk pariwisata (daya tarik sarana pariwisata), terutama di kawasan agropolitan, diarahkan untuk memperluas lapangan kerja. (b). Peningkatan sadar wisata di kalangan masyarakat, baik sebagai tuan rumah maupun calon wisatawan. (c). Memotivasi memberikan kemudahan bagi perjalanan wisata lokal. 83

207 (d). Pengembangan sistem informasi pariwisata yang efisien efektif. (e). Optimalisasi kegiatan pameran pariwisata pada tingkat regional, nasional maupun internasional. k) Urusan Energi Sumber Daya Mineral () Program Pengembangan Kemitraan Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap ketersediaan sumber energi, serta meningkatkan pengembangan pemanfaatan potensi sumber energi terbarukan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Monitoring pengawasan kegiatan migas, usaha jasa penunjang. (b). Fasilitasi keberlanjutan pelaksanaan konversi energi dari minyak tanah ke gas elpiji. (c). Fasilitasi pengembangan pemanfaatan sumber energi terbarukan. (2) Program pembinaan Pengawasan Big Pertambangan. Program ini ditujukan untuk meningkatkan daya saing potensi dalam rangka menarik minat para calon investor. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : Penyiapan potensi sumber daya, sarana prasarana daerah yang pembangunan terkait dengan perbaikan investasi, termasuk infrastruktur untuk mendukung peningkatan investasi. (3) Program Pembinaan Pengembangan Big Ketenagalistrikan. Program ini dititikberatkan untuk mendukung pemenuhan energi, kelistrikan migas di pedesaan, serta 84

208 melakukan koordinasi, kerja sama sinkronisasasi, serta evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah penyedia listrik (PLN). Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain: (a). Fasilitasi kerja sama koordinasi pengembangan kelistrikan, energi migas. (b). Sosialisasi publikasi pengelolaan kelistrikan, energi, energi terbarukan. l) Urusan Perumahan () Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan. Program ini dititikberatkan pada pembangunan jalan lingkungan saluran drainase. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pembangunan jalan lingkungan. (b). Pembangunan saluran drainase. (2) Program Pengembangan Perumahan Program ini dititikberatkan untuk mendorong pemenuhan kebutuhan terjangkau, rumah yang terutama berpendapatan layak, bagi rendah sehat, penduduk sekaligus aman, miskin pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kualitas perumahan agar tercipta masyarakat yang produktif secara ekonomi berkemampuan permukiman mewujudkan yang sehat. terciptanya Kegiatan lingkungan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Fasilitasi kerja sama dengan pengembang dalam pelaksanaan pembangunan perumahan yang layak, sehat, dengan harga yang terjangkau. (b). Revitalisasi kawasan kumuh melalui perbaikan lingkungan permukiman. 85

209 (c). Fasilitasi bantuan teknis perbaikan rumah pada kawasan kumuh. (3) Program Lingkungan Sehat Perumahan Program ini dititikberatkan pada penyediaan kontruksi jaringan air bersih. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Penyediaan sarana air bersih. (b). Pembangunan sanitasi masyarakat. (4) Program Peningkatan Kesiagaan Pencegahan Bahaya Kebakaran. Program ini dititikberatkan untuk penanggulangan bahaya kebakaran. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : Pencegahan penanggulangan bahaya kebakaran. m) Urusan Komunikasi Informatika () Program Pengembangan Komunikasi, Informasi Media massa. Program ini diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan arus informasi kepada dari masyarakat untuk mendukung proses sosialisasi partisipasi rakyat. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pengembangan pendayagunaan jaringan teknologi informasi komunikasi. (b). Fasilitasi untuk mendorong terciptanya masyarakat yang sadar informasi. (c). Peningkatan operasional sandi telekomunikasi. (2) Program Kerjasama Informasi dengan Media massa. Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan pelaksanaan kerja sama antar pemerintah daerah dengan media massa. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : 86

210 Fasilitasi kerja sama antar Pemerintah Kabupaten dengan Media massa. n) Urusan Transmigrasi () Program Transmigrasi Lokal Regional Program ini dititikberatkan untuk menciptakan transmigran yang mandiri. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : Penyuluhan pembekalan transmigrasi lokal regional. o) Urusan Lingkungan Hidup () Program Pengendalian pencemaran perusakan Lingkungan Hidup. Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dalam upaya mencegah perusakan /atau pencemaran lingkungan hidup, baik di darat, air, maupun udara, sehingga masyarakat memperoleh kualitas lingkungan hidup yang bersih sehat. Termasuk dalam program ini adalah kebijakan Clean Development Mechanism (CDM). Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Pemantauan kualitas udara air tanah, khususnya di perkotaan kawasan industri; kualitas air permukaan, terutama pada kawasan sungai padat pembangunan secara berkesinambungan terkoordinasi antardaerah antarsektor. (b). Pengawasan penataan baku mutu air limbah, emisi atau gas buang pengelolaan limbah B3 (bahan berbahaya beracun) dari sumber institusi (point sources) sumber noninstitusi (non point sources). (c). Peningkatan fasilitas laboratorium lingkungan serta fasilitas pemantauan udara (ambient) 87

211 (d). Sosialisasi penggunaan teknologi bersih ekoefisiensi di berbagai kegiatan manufaktur transportasi. (e). Peningkatan kompos produksi yang berasal penggunaan dari limbah pupuk domestik perkotaan. (f). Peningkatan organik di produksi kawasan penggunaan pedesaan, terutama pupuk yang berbasis pertanian. (g). Pengembangan penerapan berbagai instrumen pengelolaan lingkungan hidup, termasuk tata ruang, kajian dampak lingkungan, perijinan. (h). Pengembangan teknologi yang berwawasan lingkungan, termasuk teknologi tradisional dalam pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan limbah, teknologi industri yang ramah lingkungan. p) Urusan Pemberdayaan Masyarakat Desa () Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan Program ini dititikberatkan untuk pengembangan lembaga ekonomi perdesaan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain : (a). Program Usaha Ekonomi Masyarakat (PUEM), UP2K, UPPKA, Kopwan. (b). Membentuk lembaga simpan pinjam yang berlandaskan hukum (Bumdes). 5. Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan, Perluasan Lapangan Kerja, Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan Terhadap kebijakan ini maka urusan Pemerintahan Daerah (beserta program terpilih) yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut: 88

212 a) Urusan Ketenagakerjaan () Program Peningkatan Kualitas Produktifitas Tenaga Kerja. Program ini dititikberatkan pada pelatihan membangun kewirausahaan masyarakat, pengawasan norma K3, pembinaan hubungan industrial syarat kerja untuk meningkatkan motivasi kerja kesejahteraan pekerja dengan mengadakan pembangunan Balai Latihan Kerja sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran. (2) Program Peningkatan Tenaga Kerja. Program ini dititikberatkan untuk menciptakan lapangan kerja seluasluasnya, sehingga dapat menekan angka pengangguran dengan cara pengembangan kelembagaan produktivitas pelatihanpelatihan. (3) Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan. Program ini dititikberatkan untuk memfasilitasi penyelesaian prosedur pemberian perlindungan hukum jaminan sosial ketenagakerjaan serta penyelesaian perselisihan hubungan industrial. b) Koordinasi semua programprogram yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan baik yang bersumber dari APBN, APBD Propinsi maupun APBD Kabupaten agar lebih tepat sasaran efektif. 6. Kebijakan Peningkatan Kesalehan Sosial Kerukunan Antar Umat Beragama Terhadap kebijakan ini maka urusan Pemerintahan Daerah (beserta program terpilih) yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut: 89

213 a) Urusan Sosial () Program Pelayanan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Program ini diarahkan untuk kelompok masyarakat yang perlu mendapatkan pembinaan santunan dari pemerintah serta pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : Mengadakan pembinaan terhadap eks penderita kusta, penyantunan eks penderita kusta diluar permukiman serta penanggulangan pemberdayaan anakanak jalanan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan sosial. (2) Program Pemberdayaan Fakir Miskin, KAT PMKS. Program ini dititikberatkan kemampuan petugas untuk peningkatan pendamping sosial pemberdayaan, pelatihan ketrampilan bagi penyang masalah kesejahteraan sosial. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain: (a). Peningkatan kemampuan petugas pendamping sosial pemberdayaan fakir miskin, KAT PMKS lainnya. (b). Pelatihan ketrampilan berusaha bagi keluarga miskin PMKS. (c). Pemberdayaan fakir miskin. (3) Program Pembinaan eks Penyang Penyakit Sosial (eks napi, PSK, narkoba, dll) Program ini ditujukan untuk pemberdayaan pembinaan bagi masyarakat penyang penyakit sosial. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : Mengadakan operasi razia terhadap PSK (Wanita Harapan) Gepeng Anjal yang akhirnya prosentase 9

214 penyang penyakit sosial yang ada dapat berkurang dengan aya pembinaan berhasil hidup mandiri. (4) Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial. Program ini dititikberatkan pada peningkatan peran aktif masyarakat dalam peningkatan jejaringan kerjasama pelakupelaku usaha kesejahteraan sosial masyarakat, sehingga ada peningkatan kualitas SDM kesejahteraan masyarakat. 7. Kebijakan Perencanaan pembangunan penganggaran yang berbasis kinerja. Terhadap kebijakan ini maka urusan Pemerintahan Daerah (beserta program terpilih) yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut: a) Urusan Perencanaan Pembangunan () Program Pengembangan Data / Informasi Program ini dititikberatkan untuk memberikan informasi kepada pemerintah daerah/masyarakat yang berkaitan dengan pengambilan keputusan/kebijakan untuk pelaksanaan pembangunan. Data sangatlah penting baik di dalam perencanaan pembangunan maupun dalam mengevaluasi pengawasan hasilhasil pembangunan. Kegiatankegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : Menyusun Data Regional Bruto, Pengendalian Potensi Daerah, Indeks Evaluasi Produk Domestik Pembangunan Manusia, Kebijakan Perencanaan Pembangunan, Pengendalian Evaluasi Pelaksanaan Perencanaan Pembangunan, serta Pengendalian Evaluasi Hasil Pelaksanaan Pembangunan. 9

215 (2) Program Perencanaan Pembangunan Daerah Program ini dititikberatkan pada mekanisme perencanaan pembangunan yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan evaluasi hasil pembangunan daerah yang dapat digunakan untuk dokumen perencanaan mulai dari big ekonomi, sosial budaya fisik prasarana. Terhadap program perencanaan ini maka salah satu yang menjadi perhatian adalah Rencana Aksi Percepatan Pencapaian Pembangunan menuju Millenium Development Goals (MDGs). Kegiatankegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : (a). Penyusunan Dokumen Perencanaan, baik jangka panjang, menengah, maupun tahunan. (b). Mengadakan pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan mulai dari desa, kecamatan kabupaten, serta mensinkronkan programprogram yang ada di provinsi maupun pusat. (3) Program Perencanaan Tata Ruang Program ini pengembangan dititikberatkan wilayah untuk perencanaan terbangun, pengendalian pemanfaatan ruang sesuai dengan daya dukung, penataan infrastruktur. Kegiatankegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : Penyusunan kebijakan tentang rencana tata ruang meliputi RTRW, RDTRK RTRK, serta evaluasi rencana tata ruang. (4) Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi Program ini dititikberatkan pada perencanaan pembangunan daerah yang meliputi pertanian non pertanian serta pertambangan, energi, pengembangan dunia usaha, perdagangan, industri koperasi. 92

216 Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : Perencanaan pembangunan potensi daerah, indikator ekonomi makro pengembangan penanaman modal. (5) Program Perencanaan Sosial Budaya Program ini dititikberatkan untuk perencanaan pembangunan sektor kesejahteraan pendidikan, rakyat, agama, penerangan pemerintahan, komunikasi, ketenagakerjaan serta kependudukan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan adalah : Pelaksanaan perencanaan pembangunan atas sektorsektor sosial budaya. Disamping kebijakan yang ditetapkan secara terstruktur pada masingmasing urusan pembangunan, maka dalam dijabarkan rangka dalam programprogram percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat pelayanan umum, Pemerintah Kabupaten Mojokerto juga mengemas suatu paket program unggulan sebagai berikut:. Gratis perijinan untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). 2. Gratis biaya pengobatan di Puskesmas. 3. Gratis biaya melahirkan di Puskesmas. 4. Gratis biaya dasar pendidikan untuk SD/MI, SMP/MTs SMA/SMK/MA. 5. Gratis biaya pengurusan KTP, KK Akta Kelahiran. 6. Menciptakan lapangan kerja seluasluasnya. 7. Gratis parkir berlangganan. 8. Menaikkan tunjangan bagi Guru Tidak Tetap (GTT), Pegawai Honorer Guru TPQ. 9. Gratis Akte Nikah.. Santunan kepada fakir miskin yatim piatu.. Gratis biaya TDL/Listrik untuk tempat ibadah. 2. Menciptakan Pemerintah yang bersih (Good & Clean Governance). 93

217 Dari kebijakan Umum Program Pembangunan Daerah tersebut di atas dapat dilihat tentang Sasaran, Strategi, Arah Kebijakan, Indikator Kinerja, Capaian Kinerja, Program Pembangunan, Big Urusan SKPD penanggungjawab sebagaimana tabel berikut : 94

218 Tabel 7. Kebijakan Umum Program Pembangunan No Sasaran Strategi () (2) (3) Meningkatnya kualitas prasarana sarana pendidikan tenaga pendidik. 2. Meningkatnya kualitas prasarana sarana rumah sakit puskesmas serta peningkatan tenaga medis paramedis yang kompeten. Peningkatan akses kualitas pelayanan pendidikan kesehatan. Arah Kebijakan Indikator Kinerja (outcome) Capaian Kinerja Kondisi Awal Kondisi Akhir (5) (6) (4) Peningkatan Aksesibilitas Kualitas Pelayanan Pendidikan 2. Peningkatan Aksesibilitas Kualitas Pelayanan Kesehatan. APM SD/MI 99,8 99,9 APM SMP/MTs 94,56 94,6 APK SD/MI APK SMP/MTs,46 96,,5 99,9 Persentase jumlah penduduk usia > 5 tahun yang melek huruf Jumlah siswa g a k i n SMP/MTs sasaran bantuan persentase kualitas prasarana sarana pendidikan yang memadai (dari SDN/MIN = 5, SMPN/MTsN = 38) APM SMA/MA/SMK APK SMA/ MA /SMK 99% 99% 5% 28% 3% 6% 7,63 73,9 72, 77,4 Persentase SMKN berakreditasi minimal B (dari 8 sekolah). Persentase SMAN/ MAN yang memiliki laboratorium fisika, % % Program Pembangunan Daerah Big Urusan SKPD Penanggung Jawab (7) (8) (9) Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Program Pendidikan Menengah Urusan Pendidikan Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan

219 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) kimia, biologi. Persentase kualitas prasarana sarana pendidikan yang memadai (dari 2 SMAN 2 MAN) Persentase guru SD/MI berkualifikasi akademik S/D4 Persentase guru SMP/MTs berkualifikasi akademik S/D4 Persentase guru SMAN/MAN berkualifikasi akademik S/D4 Persentase guru SMKN berkualifikasi akademik S/D4 Persentase guru SMKN bersertifikat kompetensi Persentase SMKN menerapkan pembelajaran berpusat pada peserta didik yang kontekstual berbasis I T (dari 8 SMKN) 7% 93% 49% 8% 85% 95% 96% % 9% % 33% 7% 45% 7% Persentase SMKN memiliki bengkel kerja kejuruan 63% % Persentase buta aksara usia 5 tahun yang terselesaikan Persentase UPT 8% % 5% 8% 96 Program Manajemen Pelayanan Pendidikan Dinas Pendidikan Program Peningkatan Mutu Proses Belajar Mengajar SMK Dinas Pendidikan Program Pendidikan Non Formal Dinas Pendidikan

220 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) yang telah memiliki TBM Persentase ketersediaan obat vaksin % % Program Obat Perbekalan Kesehatan Jumlah puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap (dari 27 puskesmas) Persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan Persentase balita ditimbang berat banya Persentase peningkatan kualitas pelayanan puskesmas Pustu (dari 27 puskesmas 55 Pustu) Gratis biaya pengobatan di Puskesmas Persentase Peningkatan Pelayanan rumah sakit (standar BLUD peningkatan tipe ) 5 puskesmas 7 puskesmas Program Upaya Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan % 86 kasus % Program Perbaikan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan 83,5% % % % Dinas Kesehatan 2% % Program Pengadaan, Peningkatan Perbaikan Sarana Prasarana Puskesmas / Puskesmas Pembantu Jaringannya % % Dinas Kesehatan Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan 85% % Program Pengadaan, Peningkatan Sarana Prasarana Rumah Sakit / Rumah Sakit Jiwa / Rumah Sakit Paruparu / Rumah Sakit Mata Program Peningkatan Pelayanan 97 Urusan Kesehatan Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan

221 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) Gratis ibu melahirkan di Puskesmas rawat inap Persentase tenaga kesehatan yang profesional memenuhi standar kompetensi % % Kesehatan Ibu Anak % % Program Sumber Daya kesehatan Jumlah peserta KB baru /PB Jumlah peserta KB aktif/pa Jumlah peserta KB aktif mandiri pembinaan kesehatan ibu anak melalui kelompok kegiatan di masyarakat Program Keluarga Berencana kelompok posyandu 57 kelompok posyandu Program Promosi Kesehatan Ibu Anak Jumlah inventarisasi, dokumentasi kelompok budaya Jumlah fasilitasi pergelaran budaya 24 kelompok 24 kelompok Program Pengembangan Nilai Budaya 2 pergelaran 2 pergelaran Jumlah pagelaran budaya daerah 2 pergelaran 3 pergelaran Program Pengelolaan Kekayaan Daerah Jumlah cabor yang aktif Jumlah klub pada semua cabor Jumlah pelatih olahraga pendidikan yang memiliki kompetensi 24 cabor 25 cabor 98 club club Program Peningkatan Peran Serta Kepemudaan 24 orang 45 orang 98 Program Pembinaan Pemasyarakatan (8) (9) Dinas Kesehatan Urusan Keluarga Berencana Keluarga Sejahtera BPPKB BPPKB Urusan kebudayaan Disporabudpar Urusan Pemuda Olah raga Disporabudpar, KONI

222 () 2 3 (2) Terbinanya kesadaran hukum. 2. Terciptanya situasi aman, tertib terkendali... Meningkatnya profesionalisme aparatur, (3) Peningkatan kualitas kehidupan politik penegakan hukum Penerapan Konsep Good (4) Penghormatan, Pengakuan Penegakan Hukum HAM 2. Peningkatan Keamanan Ketertiban. Peningkatan Kualitas SDM Aparatur Pelayanan Prima (5) (6) Jumlah penyelenggaraan/ invitasi olahraga kali kali Olahraga jumlah lembaga berbasis gender yang diberdayakan 78 lembaga 9 lembaga Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender Anak Urusan Pemberdayaan Perempuan BPPKB Deteksi situasi keamanan wilayah rawan bencana peta rawan bencana laporan situasi keamanan Operasion al Pol PP Program Peningkatan Keamanan Kenyamanan Lingkungan Urusan Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri Bakesbangpolinmas, Satpol PP, Ba Penanggulangan Bencana Daerah Terpeliharanya trantibmas peta rawan bencana laporan situasi keamanan Operasion al Pol PP Jumlah pembinaan wawasan kebangsaan se Kab. Mojokerto se Kab. Mojokerto Jumlah Operasi tramtibmas 5 kali 5 kali Jumlah pembinaan Kadarkum 4 kali 4 kali tersedianya tanah aset Pemerintah Daerah (RS, SMKN BLK) RS = 2 SMKN = 7 BLK = 9 lokasi 99 (7) (8) Program Pemeliharaan Kamtramtibmas Pencegahan Tindak Kriminal Program Kemitraan Pengembangan Wawasan Kebangsaan Program Peningkatan Pemberantasan Penyakit Masyarakat Program Mendukung Proses Penegakan Hukum Perlindungan HAM Program Peningkatan Sarana Prasarana Aparatur (9) Bakesbangpolinmas, Satpol PP Bakesbangpolinmas, Satpol PP Bakesbangpolinmas, Satpol PP Bag. Hukum, Bakesbangpolinmas, Satpol PP Urusan Pemerintahan Umum DPPKA

223 () (2) pelayanan prima, keterbukaan peran serta masyarakat (3) (4) Governance (Tata Kelola Pemerintaha n yang Baik) (5) (6) Pelatihan, pembinaan aplikasi pengelolaan keuangan serta aset daerah semua SKPD semua SKPD Pengendalian evaluasi pelaksanaan pembangunan semua SKPD semua SKPD Jumlah pendidikan fungsional pengawasan kali kali Persentase penanganan pengaduan administratif Persentase penerimaan/ penanganan unjuk rasa Jumlah jenis pelayanan prima % % % % 4 jenis 4 jenis Penerbitan Perda 8 perda Jumlah pembinaan keagamaan bagi karyawan Terbantunya TDL pada tempat peribadatan 5 kali 5 kali 467 tempat ibadah Pendidikan penjejangan LPJ CPNS, pendidikan Pendidikan penjejangan / fungsional 2 (7) (8) (9) Program Peningkatan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah Program Peningkatan Sistem Pengawasan internal Pengendalian Pelaksanaan kebijakan KDH Program peningkatan Profesionalisme Tenaga Pemeriksa Aparatur Pengawasan Program Mengintensifkan Penanganan Pengaduan Masyarakat Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Aset Program peningkatan Pelayanan Prima Program Penataan Perungungan Program Pembinaan Mental Spiritual BPPT, Dispendukcapil, RS/Puskesmas, Dinas Pendidikan Setda (Bagian Hukum) Program Pendidikan Kedinasan Inspektorat, Bappeda, BKPP Inspektorat Inspektorat Setda (Bag. Kesejahteraan rakyat) Urusan Kepegawaian BKPP

224 () (2) (3) (4) teknis fungsional (5) (6) penjejang an/ fungsional semua pegawai semua pegawai Pegawai usia > 4 tahun semua SKPD Pegawai usia > 4 tahun semua SKPD Aplikasi jaringan sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK) mulai aplikasi SIAK tidak dipungut retribusi Gratis pengurusan KTP, KK, Akte kelahiran anak ke 2, Akte nikah % % Jumlah program yang melibatkan partisipasi masyarakat 4 program (PNPM, P3MD, Posyandu, TTG) Pembinaa n Kades ( kali) % Jumlah kegiatan yang dilaksanakan organisasi wanita 2 kegiatan 2 kegiatan Meningkatnya tertib 2% 9% Pengelolaan administrasi kepegawaian Pengujian kesehatan pegawai/pejabat struktural Peningkatan pembinaan disiplin pegawai melalui pembinaan waskat khusus Terbinanya aparatur desa dilaksanaka n dipungut retribusi 2 Pembinaa n Kades ( kali) (7) (8) (9) Program Pembinaan Pengembangan Aparatur BKPP Program Peningkatan Disiplin Pegawai Kualitas Personil semua SKPD Program penataan Administrasi Kependudukan Urusan Kependudukan catatan sipil Dispendukcapil Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Membangun Desa Program Peningkatan Kapasitas Aparatur Desa Program Peningkatan Peran Perempuan Urusan Pemberdayaan masyarakat desa Bapemas Program Perbaikan Urusan Bapemas Bapemas Kantor Perpustakaan,

225 () (2) (3) (4) (5) (6) administrasi kearsipan 4 Terciptanya infrastruktur perekonomian lingkungan sosial yang mantab. 2. Berkembangnya usaha agroindustri, pariwisata, perdagangan terciptanya lapangan kerja.. Peningkatan pembangun an ekonomi infrastruktur Pembangunan Pemeliharaan Infrastruktur 2. Revitalisasi Pertanian Pengembangan Agroindustri 3. Peningkatan Industri Pariwisata 4. Peningkatan perdagangan. (7) (8) (9) Sistem Administrasi Kearsipan Program Pemeliharaan Sarana Prasarana Kearsipan Kearsipan Arsip Dokumentasi Kantor Perpustakaan, Arsip Dokumentasi Urusan Penataan Ruang Bappeda, DPU Cipta Karya Kapasitas penyimpanan arsip yang memenuhi syarat 2% % Jumlah rencana tata ruang (RTRW, RUTRK,/RDTRK, RTRK) 9 dokumen 22 dokumen Program perencanaan Tata Ruang Prosentase Pemanfaatan rencana tata ruang pada setiap perijinan Prosentase evaluasi rencana tata ruang % % Program pemanfaatan Ruang Bappeda, DPU Cipta Karya % Program pengendalian Bappeda, DPU Cipta Karya Persentase jalan kabupaten konstruksi aspal (dari 864 km) Persentase jalan kabupaten kondisi baik (dari 864 km) Luas layanan jaringan irigasi teknis (Ha) Jumlah jaringan irigasi yang direhabilitasi Jumlah k u m u l a t i f waduk/ embung yang dinormalisasi Jumlah k u m u l a t i f sungai yang dinormalisasi Jumlah desa terlayani jaringan PDAM 94,43 % 99% Program Pembangunan Jalan Jembatan 7,86 % 77% DPU Bina Marga 7.9 Ha 7.9 Ha 2 lokasi 2 lokasi Program Rehabilitasi / Pemeliharaan Jalan Jembatan Program Pengembangan Pengelolaan jaringan Irigasi lokasi 5 lokasi DPU Pengairan sungai 8 sungai Program Pengembangan Pengelolaan konservasi Sungai, Waduk Sumber Daya Air lainnya 74 desa 8 desa Program Pengembangan PDAM, DPU Cipta Karya Tata Ruang 22 Urusan Pekerjaan Umum DPU Bina Marga DPU Pengairan

226 () (2) (3) (4) (5) (6) Jumlah pelanggan PDAM 2.7 pelanggan 5.7 pelanggan Kumulatif jumlah prasarana sanitasi komunal Jumlah desa status sangat maju maju (versi KPDT) Persentase jalan lingkungan konstruksi aspal/paving/makada m (dari 2484,6 km jalan lingkungan) Persentase pusat permukiman yang mempunyai jalan lingkungan berkualitas baik (dari 98 dusun/lingkungan) Kebersihan Kota ( IKK) terpeliharanya LPJU (44 titik LPJU) Kumulatif Penambahan LPJU 2 lokasi 9 lokasi 24 desa 26 desa 72,32% 74,5% 5% % 7% 8% titik Persentase Kualitas kuantitas rambu lalu lintas, RPPJ, APILL marka jalan Persentase Prasarana penunjang LLAJ (halte, guard drill) Ketertiban angkutan umum perparkiran 4 %, Seg belum mencukupi 25%, belum memadai se Kab. Mojokerto 65% se Kab. Mojokerto Program Peningkatan Pelayanan Angkutan Meningkatnya Jumlah 25% 7% Program 23 (7) (8) (9) Pengelolaan Air Minum Air Limbah Program Pengembangan Infrastruktur Perdesaan DPU Cipta Karya Tata Ruang Program Pengembangan Wilayah Strategis Cepat Tumbuh DPU Cipta Karya Tata Ruang Program Rehabilitasi Pemeliharaan Prasarana Fasilitas LLAJ Urusan Perhubungan Dishubkominfo 75% Dishubkominfo Urusan Disperindag

227 () (2) (3) (4) pengusaha industri kecil menengah yang sehat (dari 279 IKM) Peningkatan kualitas sentra industri kecil (pembinaan 5 sentra) (5) (6) (7) pengembangan Industri Kecil Menengah (8) (9) Perindustrian 2% 8% se Kab. Mojokerto se Kab. Mojokerto % % 4 kali (TMII, Jatim Expo, Jabar Fashion Craft) Pembinaa n kali 4 kali Program Peningkatan Kerjasama Perdagangan Internasional Disperindag, Bag.Perekonomian kali Program pembinaan Pedagang Kaki Lima Asongan Disperindag, Bag.Perekonomian Kumulatif Jumlah desa penerima program pengembangan usaha agribisnis Peningkatan prasarana usaha tani 94 desa 7 desa 3 lokasi 5 lokasi Program peningkatan Kesejahteraan Petani Program Peningkatan Ketahanan Pangan Produksi padi Jagung kedelai ,4 7 ton 5.7, 3 ton 2.8 ton 342. ton 59. ton 4.5 ton Peningkatan pengelolaan pasar (4 pasar) Persentase penanganan pengaduan konsumen Jumlah mengikuti kegiatan promosi pasar regional, nasional, internasional Terbina tertatanya pedagang kaki lima 24 Program Pengembangan Sentrasentra Industri Potensial Program Perlindungan Konsumen Pengamanan Perdagangan Program Peningkatan Produksi Pertanian / Perkebunan Disperindag Urusan Perdagangan Urusan Pertanian Disperindag Dinas Pertanian Dinas Pertanian Dinas Pertanian

228 () (2) (3) (4) Ketersediaan bahan pangan daerah beras (5) (6) (7) (8) (9) 94, ton 8,449 ton Pembinaan peningkatan usaha ternak Persentase peningkatan jumlah ternak Sapi potong (66.75 ekor) Sapi perah (2.64 ekor) Kambing (56.26 ekor) Ayam potong ( ekor) Ayam petelur( ekor) Itik (246.8 ekor) se Kab. Mojokerto se Kab. Mojokerto 2% 2% Pelestarian penghijauan lahan kritis hutan kemasyarakatan 2 program (PLA, Rehabilitas i hutan lahan 45 ha) 2 program Program Rehabilitasi Hutan Lahan Urusan kehutanan Dinas Hutbun Pembinaan usaha budidaya ikan (5 lokasi) Operasional Balai Benih Ikan (BBI) se Kab. Mojokerto se Kab. Mojokerto Program Pengembangan Budidaya Perikanan Urusan Kelautan Perikanan Dinas Peternakan Perikanan balai balai Terbinanya kelompok UKM se Kab. Mojokerto se Kab. Mojokerto Urusan Koperasi Usaha Kecil Menengah Dinkop UMKM Jumlah sasaran Program penciptaan Iklim Usaha UKM yang Kondusif Program 25 Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan Dinas Peternakan Perikanan Dinkop UMKM,

229 () (2) (3) (4) (5) (6) pembinaan kewirausahaan UKM kelompok kelompok Persentase pembinaan usaha koperasi. (dari 747 koperasi) 45, % % Persentase koperasi yang menerapkan prinsip akuntabilitas pengendalian koperasi. 35% 6% Promosi skala regional nasional 4 media promosi 4 media promosi Peningkatan kualitas obyek wisata 2 lokasi 2 lokasi Kumulatif jumlah program kemitraan 5 obyek wisata 5 obyek wisata Pembinaan kegiatan usaha pertambangan 4 wilayah kecamatan Pengembangan energi alternatif terbarukan Pengembangan perumahan baru (7) (8) pengembangan Kewirausahaan Keunggulan Kompetitif UKM Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Disperindag Dinkop UMKM Program pengembangan Pemasaran Pariwisata Program pengembangan Destinasi Pariwisata Program Pengembangan Kemitraan Urusan Pariwisata 8 Kecamata n Program pembinaan Pengawasan Big Pertambangan Urusan Energi Sumber Daya Mineral 3 lokasi PLTM Lokasi Program Pembinaan Pengembangan Ketenagalistrikan 3 lokasi lokasi Program Pengembangan Perumahan 26 (9) Disporabudpar Disporabudpar Disporabudpar Setda (Bagian perekonomian) Bappeda, BLH, Setda (Bagian perekonomian) Urusan Perumahan DPU Cipta Karya Tata Ruang

230 () 5 (2). Muatan pendidikan keimanan ketakwaan (imtak) (3) Pengamalan nilainilai agama (4). meningkatkan kualitas pelayanan (5) (6) (7) (8) (9) Kumulatif jumlah desa yang terlayani Prasarana Sarana Air Bersih ( PSAB) Jumlah unit PMK 76 desa 98 desa Program Lingkungan Sehat Perumahan DPU Cipta Karya Tata Ruang 2 unit Program Peningkatan Kesiagaan Pencegahan Bahaya Kebakaran DPU Cipta Karya Tata Ruang Meningkatnya jumlah sarana IT jenis media informasi yang digunakan (KIM, Wika FM, Tabloid Majatama, Web) Terjalinnya kerjasama dengan mass media (media cetak elektronik) 4 kelompok 4 kelompok Program Pengembangan Komunikasi, Informasi Media massa 8% 8% Program Kerjasama Informasi dengan Media massa Pembinaan kesiapan peserta transmigrasi Jumlah peserta transmigra si 6 KK = 2 jiwa 2 KK Program Transmigrasi Regional Urusan Transmigrasi Disnakertrans Pembinaan peningkatan kualitas lingkungan hidup pelayanan uji lab se Kab. Mojokerto se Kab. Mojokerto Program Pengendalian pencemaran perusakan Lingkungan Hidup Urusan Lingkungan Hidup BLH Persentase jumlah anak terlantar yang berhasil dibina baik di dalam maupun diluar 9% 9% Program Pemberdayaan Fakir Miskin, KAT PMKS Urusan sosial Dinas Sosial 27 Urusan Komunikasi Informatika Dishubkominfo Setda (Bag. Humas Protokol)

231 () 6 (2) (3) ilmu pengetahuan teknologi (iptek) pada sekolah. 2. Terjalin hubungan harmonis dengan organisasi kemasyarakatan keagamaan, tokoh agama tokoh masyarakat, sekaligus sosialisasi nilainilai keagamaan. 3. Terpeliharanya nilainilai luhur budaya bangsa yang berlandaskan Pancasila UUD 45. budi pekerti Pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan pelaksanaan pembangunan. 2. Penyediaan informasi penciptaan lapangan kerja.. (4) pemahaman agama serta kehidupan beragama 2. meningkatkan kerukunan intra antar umat beragama Pemberdayaan ekonomi Kerakyatan (Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah) 2. Perluasan Lapangan Kerja 3. Peningkatan. (6) (7) (8) (9) panti Persentase PMKS penerima manfaat yang mampu melaksanakan peranan fungsi sosial Jumlah operasi tramtibmas Pekerja sosial tenaga kerja sosial yang kompeten/terlatih Prosentase PMKS penerima manfaat yang mampu berperan dalam penyelanggaraan kesejahteraan sosial (dari 8 orang) Meningkatkan Pembinaan Organisasi Keagamaan Jumlah Pengajian Siraman Rohani Pemberdaya an masyarakat dalam proses pembangun an (5) Jumlah Tenaga kerja yang memenuhi ketentuan standar kompetensi kerja Aya sistem informasi lapangan kerja (AKAL, AKAD, AKAN) Pembinaan organisasi ketenagakerjaan, pembinaan hubungan 7% 8% Program Pelayanan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial 3 kali (ops rutin/tahu n) 3 tenaga ( dokter, 2 perawat) 3 kali Program Pembinaan eks Penyang Penyakit Sosial (eks napi, PSK, narkoba, dll) Dinas Sosial 7% 8% Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial se Kab. Mojokerto se Kab. Mojokerto Program Pembinaan Mental Spritiual Bagian Sosial 8 kali 8 kali orang tenaga kerja terlatih % 85 orang tenaga kerja terlatih % 3 kali 3 kali 28 3 tenaga Urusan Ketenagakerja an Disnakertrans Disnakertrans Disnakertrans

232 () (2) (3) 3. Peningkatan kualitas Sumber Daya Tenaga Kerja. 7 Peningkatan Pendapatan Daerah. 2. Perencanaan pembangunan yang berbasis kinerja. 3. Konsistensi perencanaan pembangunan.. Perencanaan pembangun an penganggar an yang berbasis kinerja (4) Efektivitas Penanggulangan Kemiskinan 4. Peningkatan Kesejahteraan Sosial Rakyat 5. Peningkatan Kualitas Kehidupan Peran Perempuan di Semua Big bipartit,tripartit, dewan pengupahan % perusahaan yang memenuhi norma kerja perempuan anak (dari 55 perusahaan) Perencanaan pembangunan yang berbasis kinerja 2. Penataan Ruang, pengelolaan Sumber Daya Alam pelestarian fungsi Lingkungan Hidup. (5) (6) 25 % 75% Tersedianya data informasi pembangunan Tersusunnya RKPD 4 media informasi 4 media informasi ada ada Persentase kesesuaian RKPD dengan usulan Musrenbang Persentase kesesuaian antara muatan RKPD dengan RPJMD Persentase kesesuaian antara muatan RPJMD dengan visi, misi, program Bupati terpilih Terdapatnya Pengendalian Evaluasi Perencanaan Pembangunan Pengendalian Evaluasi Pelaksanaan Perencanaan Pembangunan Evaluasi Hasil Pelaksanaan Pembangunan % % 8 % % % % ada ada tidak ada ada ada ada 29 (7) (8) Program Pengembangan Data / Informasi Program Perencanaan Pembangunan Daerah Urusan Perencanaan Pembangunan (9) Bag. PDE, Bappeda Bappeda

233 () (2) (3) (4) (5) (6) Perencanaan big ekonomi pedesaan tersusun tersusun Perencanaan big sosial budaya Tersusunn ya data penduduk miskin koordinasi program taskin Kab. Mojokerto Kab. Mojokerto 2 (7) Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi Program Perencanaan Sosial Budaya (8) (9) Dinas Koperasi UMKM, Dinas Pertanian, Bappeda Bappeda

234 B. Program Lintas SKPD Programprogram yang direncanakan pada Subbab A tersebut diatas sebagian besar merupakan program yang secara langsung ditangani SKPD sesuai dengan tupoksinya. Disisi lain terdapat program yang tidak dapat ditangani secara instansional / SKPD namun memerlukan kerjasama baik pada tataran kebijakan, program ataupun pelaksanaan kegiatan, sehingga program ini merupakan program lintas SKPD. Beberapa program lintas SKPD adalah sebagaimana tabel berikut: Tabel 7.2 Program Lintas SKPD No Nama Program SKPD Pengentasan Kemiskinan Setda (Bagian Kesra), Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi UKM, Bapemas, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Bappeda 2 Peningkatan Kerukunan Bakesbangpollinmas, Setda (Bagian Umat Beragama. Kesra), Kementerian Agama 3 Pemeliharaan Bakesbangpol, Satpol PP, Kepolisian kamtrantibmas pencegahan tindak kriminal. 4 Penanggulangan bencana Setda (Bagian Kesra, bagian daerah pembangunan),ba Penanggulangan Bencana Daerah, Bakesbangpollinmas, Dinas Sosial, Dinas PU Pengairan, Dinas PU Cipta Karya Tata Ruang, Dinas PU Bina Marga, Dinas Kesehatan, SatPol PP, Kepolisian, Kodim 5 Pembinaan penguatan Bakesbangpol, Satpol PP kelembagaan organisasi nonpemerintah 6 Peningkatan Kualitas Setda (Bagian HUMAS Bagian Pelayanan Informasi. PDE), Dinas Perhubungan, Komunikasi Informatika, Sekretariat DPRD 7 Peningkatan Pendapatan Dinas Koperasi & UMKM, Daerah. Disperindag, Dinas Perhubungan, Komunikasi Informatika, Dinas PU Bina Marga, Satpol PP, DPPKA, 2

235 BPPT, Disporabudpar, Dinas Pertanian, Disbunhut 8 Pengembangan Kerjasama Daerah. Setda(Bagian Perekonomian), BAPPEDA 9 Peningkatan Ketahanan Pangan Pengembangan Agribisnis Peningkatan Kesejahteraan Petani Kantor Ketahanan Pangan, BAPPEDA, Dinas PU Pengairan, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan Perikanan, Dinas Kehutanan Perkebunan, serta Dinas Pertanian, Dinas Peternakan Perikanan, BAPPEDA, Dinas PU Pengairan, Dinas Kehutanan Perkebunan, Dinas Perindustrian Perdagangan Dinas Pertanian, Dinas Peternakan Perikanan, Dinas Kehutanan Perkebunan, Dinas PU Pengairan 2 Peningkatan Iklim Investasi Kerjasama Investasi. 3 Pengembangan Energi baru Ba LH, Dinas Pertanian, Perikanan terbarukan Peternakan, BAPPEDA, Dinas PU Pengairan 4 Perencanaan, Pemanfaatan Pengendalian Tata Ruang. BAPPEDA, Dinas PU Cipta karya & Tata Ruang, BPN 5 Pengembangan Usaha Ekonomi Produktif. 6 Pengembangan Infrastruktur Perdesaan (Kemitraan). Pengembangan, Pengelolaan, Rehabilitasi Pemulihan Sumber Daya Alam (Hutan, Lahan Air) Lingkungan Hidup. Bagian Perekonomian, Bagian Kesra, Dinas Koperasi & UMKM, Disperindag. Dinas PU Bina Marga, Dinas PU Cipta Karya & Tata Ruang, Setda (Bagian Pembangunan) Ba LH, Dinas PU Pengairan, Dinas PU Cipta Karya Tata Ruang, Dinas Kehutanan Perkebunan, BAPPEDA 7 BPPT, Bappeda, Bagian Perekonomian, Dinas Perindustrian Perdagangan 22

236 C. Program Kewilayahan Program kewilayahan menempatkan beberapa program yang tak hanya terbatas basis satuan kerja yang ada, melainkan juga lintas satuan kerja wilayah. Penanganan air bersih, sampah, transportasi, penanggulangan banjir, pengembangan kawasan, juga penyediaan infrastruktur merupakan isu yang harus ditangani secara kewilayahan. Jika hal itu hanya ditangani dengan pendekatan sektoral, maka problematika yang ada tidak bisa diselesaikan secara efektif efisien. Program kewilayahan menggambarkan bagaimana daerah harus terus melakukan kerjasama dengan daerah lain (interregional network). Dengan memiliki jaringan dengan daerah lain yang baik, maka diharapkan pelayanan publik (sampah, air bersih, jalan, energi, dsb) semakin baik. Dalam lingkup perwilayahan, program kerja membutuhkan kerjasama yang lebih luas dari sekedar lintas sektoral SKPD, Untuk itu program kewilayahan akan menyajikan sinergisitas dari beberapa wilayah kerja dalam penuntasan kebijakan atau program yang telah dibangun. 23

237 BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN Berdasarkan programprogram terpilih dari masingmasing urusan yang mendukung kebijakan pembangunan daerah maka perlu disusun program prioritas yang disertai dengan target indikator kinerja pada setiap Anggaran akhir periode perencanaan beserta kebutuhan penaannya SKPD pelaksananya. Indikasi rencana program prioritas disajikan sebagaimana matrik berikut : 24

238 Tabel 8. MATRIK INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS BESERTA KEBUTUHAN PENDANAAN PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO TAHUN 2 25 Kode () Big Urusan Pemerintahan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program (outcome) (2) (3) Kondisi Kinerja Awal RPJMD ( 2) (4) Capaian Kinerja Program Kerangka Penaan target Rp (ribu) target Rp (ribu) target Rp (ribu) target (5) (6) (7) (8) (9) () () 25 Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Rp Rp target target Rp (ribu) (ribu) (ribu) (2) (3) (4) (5) SKPD Penanggung Jawab (6) (7) I. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Pendidikan Kesehatan 6 Program Wajib Belajar APM SD/MI Pendidikan Dasar 9 APM SMP/MTs Urusan Pendidikan 7 Program Pendidikan 99,8 99, ,8 29, ,85 29, ,85 94,57 94,57 94,6 94,6 94,6 APK SD/MI 2,9 2,2 2,25 2,28 2,3 2,32 2,32 APK SMP/MTs 94,8 94,8 94,82 94,84 94,86 94,88 94,88 Persentase jumlah penduduk 99% usia > 5 tahun yang melek huruf 99% 99% 99% 99% 99% 99% 5% Jumlah siswa g a k i n SMP/MTs sasaran bantuan 2% 22% 24% 26% 28% 28% persentase kualitas prasarana sarana pendidikan yang memadai (dari SDN/MIN = 5, SMPN/MTsN = 38) 3% 35% 42% 48% 5% 6% 6% APM SMA/MA/SMK 73,8 73, , , , , , , , Dinas 9,2 Pendidikan 94, , Dinas

239 () (2) Menengah 8 Program Pendidikan Non Formal 22 Program Manajemen Pelayanan Pendidikan 23 Program Peningkatan Mutu Proses Belajar Mengajar SMK (3) (4) (5) 74,2 74,36 % Persentase SMKN berakreditasi minimal B. (dari 8 sekolah) % 64 Persentase SMAN/ MAN yang memiliki laboratorium fisika, kimia, biologi. Persentase kualitas prasarana sarana pendidikan yang memadai (dari 2 SMAN 2 MAN) APK SMA/ MA /SMK 7% (6) 4 (7) 74,9 (8) 64 (9) () () (2) (3) 77,4 (4) (5) 75,8 76,5 % % % % % % 79% 86% 93% 93% 93% 5 % % % Gratis biaya dasar pendidikan % % % % Persentase buta aksara usia 5 tahun yang terselesaikan 8% 85% % % Persentase UPT yang telah 5% memiliki TBM 6% 65% 7% 8% 8% 8% 49% 55% % 49, % 649, % 9, % 649, % 649,6 Persentase guru SMP/MTs 85% berkualifikasi akademik S/D4 87% 9% 93% 95% 95% 95% Persentase guru SMAN/MAN berkualifikasi akademik S/D4 96% 97% 98% 99% % % % Persentase guru SMKN berkualifikasi akademik S/D4 9% 93% 95% 97% 99% % % Persentase guru SMKN bersertifikat kompetensi 33% 4% 47% 55% 62% 7% 7% 45% Persentase SMKN menerapkan pembelajaran berpusat pada peserta didik yang kontekstual 5%.. 55%.. 6%.. 65%.. 7%.. 7% Persentase guru SD/MI berkualifikasi akademik S/D % % (6) 77, % (7) Pendidikan Dinas Pendidikan Dinas 8 Pendidikan 5.. Dinas Pendidikan

240 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) () () (2) (3) (4) (5) (6) (7) berbasis I T (dari 8 SMKN) Persentase SMKN memiliki 63% bengkel kerja kejuruan 63% 75% 88% 88% % %.. %.. % Program Obat Persentase ketersediaan Perbekalan Kesehatan obat vaksin 2 6 Program Upaya Jumlah puskesmas yang 5 Kesehatan Masyarakat memiliki fasilitas rawat inap puskesmas (dari 27 puskesmas) Dinas Kesehatan puskesmas puskesm puskesma puskesma puskesm puskesm as s s as as 2 2 Program Perbaikan Gizi Persentase balita gizi buruk % Masyarakat yang mendapat perawatan 86 kasus %. % 25. % Persentase balita ditimbang 83,5% berat banya % % Persentase peningkatan % kualitas pelayanan puskesmas Pustu (dari 27 puskesmas 55 Pustu) % Gratis biaya pengobatan di puskesmas 2% 2% Persentase Peningkatan Pelayanan rumah sakit (standar BLUD peningkatan tipe ) % Urusan Kesehatan 2 25 Program Pengadaan, Peningkatan Perbaikan Sarana Prasarana Puskesmas / Puskesmas Pembantu Jaringannya % %.. % % % % % % , 4 % % 6, % 2.7. % % % % % % 5% % % % 2.5. % 2.5. % Dinas Kesehatan % % % Dinas Kesehatan % % 4. Dinas Kesehatan 2 28 Program Kemitraan Persentase ibu bersalin yang 85% Peningkatan Pelayanan ditolong oleh tenaga Kesehatan Ibu kesehatan Anak Gratis ibu melahirkan di % Puskesmas rawat inap 87% 2 33 Program Sumber Daya Persentase tenaga kesehatan kesehatan yang profesional % 25% 9% % % %. % 27 96% %. %. %. %.. Dinas Kesehatan 25. % % 2 26 Program Pengadaan, Peningkatan Sarana Prasarana Rumah Sakit / Rumah Sakit Jiwa / Rumah Sakit Paruparu / Rumah Sakit Mata %.. % %.4. % Dinas Kesehatan , Dinas Kesehatan 5

241 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) () () (2) (3) (4) (5) (6) (7) memenuhi standar kompetensi 2 Urusan Keluarga Berencana Keluarga Sejahtera 2 5 Program Keluarga Berencana Program Pengembangan Nilai Budaya Jumlah peserta KB baru /PB Jumlah peserta KB aktif/pa Jumlah peserta KB aktif mandiri kelompok posyandu 5 kelompok posyandu Program Promosi pembinaan kesehatan ibu Kesehatan Ibu, Bayi anak melalui kelompok Anak melalui kegiatan di masyarakat Kelompok Kegiatan di Masyarakat kelompo kelompok k posyandu posyand u kelompok kelompo kelompo posyandu k k posyand posyand u u BPPKB 6. BPPKB Disporabudpar Urusan kebudayaan Jumlah inventarisasi, dokumentasi kelompok budaya 24 kelompok 24 kelompok Jumlah fasilitasi pergelaran budaya 2 pergelaran 2 pergelaran Jumlah pagelaran budaya daerah 2 pergelaran pergelaran pergelar pergelara an n pergelara pergelar pergelara n an n Disporabudpar 25 cabor Disporabudpar, KONI 7 6 Program Pengelolaan Kekayaan Budaya Program Peningkatan Peran Serta Kepemudaan Jumlah cabor yang aktif 24 cabor 25 cabor Jumlah klub pada semua cabor 98 club 99 club 8 2 Program Pembinaan Pemasyarakatan Olahraga Jumlah pelatih olahraga pendidikan yang memiliki kompetensi 24 orang 3 orang Jumlah penyelenggaraan/ kali kali kelompo kelompok k 2 pergelar an kelompok kelompo kelompo k k 2 pergelara n 2 pergelara n 2 pergelar an pergelara n Urusan Pemuda Olah raga cabor cabor 99 club club club. 25 cabor. 25 cabor 36. club club 35 orang orang orang orang kali kali kali kali orang 375. kali Disporabudpar

242 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) () () (2) (3) (4) (5) (6) (7) invitasi olahraga Urusan Pemberdayaan Perempuan 6 Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender Anak jumlah lembaga berbasis gender yang diberdayakan 78 lembaga 82 lembaga lembaga lembaga 6. 9 lembaga lembaga lembaga BPPKB II. Kebijakan Peningkatan Kualitas Kehidupan politik Penegakan Hukum 9 Urusan Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri 9 5 Program Peningkatan Keamanan Kenyamanan Lingkungan 9 6 Program Pemeliharaan Terpeliharanya trantibmas Kantrantibmas Pencegahan Tindak Kriminal Deteksi situasi keamanan peta rawan wilayah rawan bencana bencana laporan situasi keamanan peta rawan peta 7. peta 75. peta 75. peta 75. peta bencana rawan rawan rawan rawan rawan bencana bencana bencana bencana bencana laporan situasi laporan laporan laporan laporan laporan keamanan situasi situasi situasi situasi situasi keamana keamanan keamana keaman keamana n n an n Bakesbangpoli nmas, Satpol PP, Ba Penanggulang an Bencana Daerah Operasion 373. Operasio 5. Operasion 55. al Pol PP nal Pol al Pol PP PP Operasion 65. Operasi 75. Operasio al Pol PP onal Pol nal Pol PP PP Bakesbangpolin mas, Satpol PP 9 8 Program Kemitraan Jumlah pembinaan wawasan se Kab. Pengembangan kebangsaan Mojokerto Wawasan Kebangsaan se Kab. 25. se Kab. 2. se Kab. 2. Mojokerto Mojokert Mojokerto o se Kab. 25. se Kab. 3. se Kab..75. Mojokerto Mojokert Mojokert o o Bakesbangpolin mas, Satpol PP 9 2 Program Peningkatan Pemberantasan Penyakit Masyarakat Jumlah Operasi tramtibmas 5 kali 5 kali kali 5. 5 kali 2. 5 kali kali 3. 5 kali 975. Bakesbangpolin mas, Satpol PP 9 23 Program Mendukung Proses Penegakan Hukum Perlindungan HAM Jumlah pembinaan Kadarkum 4 kali 4 kali 2. 4 kali 2. 4 kali kali kali 3. 4 kali.2. Bag. Hukum, Bakesbangpolin mas, Satpol PP Operasional Pol PP 29

243 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) () () (2) (3) (4) (5) (6) (7) III. Kebijakan Peningkatan Kualitas Aparatur Pelayanan Publik 2 Urusan Pemerintahan Umum 2 2 Program Peningkatan tersedianya tanah aset Sarana Prasarana Pemerintah Daerah Aparatur semua SKPD semua SKPD semua 54,5 SKPD semua SKPD 2.. semua SKPD 8.. semua SKPD 8.. semua SKPD , DPPKA Program Peningkatan Pelatihan, pembinaan semua SKPD semua Pengembangan aplikasi pengelolaan SKPD Pengelolaan Keuangan keuangan serta aset daerah Daerah.75.9 semua 59 SKPD 9.. semua SKPD 9.5. semua SKPD.. semua SKPD.. semua SKPD Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Aset 2 2 Program Peningkatan Pengendalian evaluasi Sistem Pengawasan pelaksanaan pembangunan internal Pengendalian Pelaksanaan kebijakan KDH semua SKPD semua SKPD.25. semua SKPD.25. semua SKPD.25. semua SKPD.3. semua SKPD.3. semua SKPD Inspektorat 2 2 Program peningkatan Jumlah pendidikan Profesionalisme fungsional pengawasan Tenaga Pemeriksa Aparatur Pengawasan kali kali 5. kali 75. kali. kali 5. kali 5. kali 525. Inspektorat 2 24 Program Mengintensifkan Penanganan Pengaduan Masyarakat Persentase penanganan pengaduan administratif % % 2. % 2. % 2. % 25. % 25. %.. Persentase penerimaan/ penanganan unjuk rasa % % % % % % % Inspektorat, Bakesbangpollin mas 2 26 Program Penataan Penerbitan Perda sesuai Peraturan Perung kebutuhan aktual ungan % % 5. % % Program Pembinaan Mental Spiritual Jumlah pembinaan keagamaan bagi karyawan 5 kali 5 kali kali.5. 5 kali Terbantunya TDL pada tempat peribadatan 4 tempat tempat tempat 22 % 8. % 8. % Setda (Bagian Hukum).6. 5 kali.7. 5 kali.8. 5 kali Setda (Bag. Kesejahteraan rakyat) tempat tempat tempat DPPKA

244 () (2) (3) Jumlah jenis pelayanan prima (4) 4 jenis (5) (6) (7) (8) (9) ibadah ibadah ibadah 4 jenis 2. 4 jenis jenis () 2 Program peningkatan Pelayanan Prima 2 Urusan Kepegawaian 2 5 Program Pendidikan Kedinasan Pendidikan penjejangan LPJ CPNS, teknis fungsional pendidikan penjejangan/ fungsional LPJ CPNS, pendidikan penjejanga n/fungsion al Program Pembinaan Pengembangan Aparatur Pengelolaan administrasi kepegawaian semua pegawai semua pegawai.4. semua.75. semua pegawai pegawai Pengujian kesehatan pegawai/pejabat struktural Pegawai usia Pegawai > 4 tahun usia > 4 tahun 2 8 Program Peningkatan Disiplin Pegawai Kualitas Personil Peningkatan pembinaan disiplin pegawai melalui pembinaan waskat khusus semua SKPD semua SKPD. semua SKPD 5 Program penataan Administrasi Kependudukan Aplikasi jaringan sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK) mulai aplikasi dilaksanakan SIAK dipungut dipungut retribusi retribusi , aplikasi 2.. aplikasi 95. SIAK SIAK 6 tidak tidak + dipungut dipungut 3.243, retribusi retribusi (2) (3) (4) (5) ibadah ibadah ibadah 4 jenis jenis jenis (6).2. Pendidika.. Pendidikan.. Pendidikan.. Pendidika.. Pendidikan 5.5. n penjejanga penjejanga n penjejang penjejang n/fungsiona n/fungsion penjejang an/fungsio an/fungsi l al an/ nal onal fungsiona l Pegawai usia > 4 tahun.75. semua pegawai Pegawai usia > 4 tahun. semua SKPD Pegawai usia > 4 tahun..75. semua.75. semua pegawai pegawai Pegawai usia > 4 tahun (7) BPPT, Dispendukcapil, RS/Puskesmas, Dinas Pendidikan BKPP 8.4. BKPP 5. semua SKPD Pegawai usia > 4 tahun semua SKPD. semua SKPD. semua SKPD aplikasi SIAK tidak dipungut retribusi 95. aplikasi 2.. aplikasi SIAK SIAK Urusan Kependudukan catatan sipil Gratis pengurusan KTP, KK, % Akte kelahiran anak ke 2, Akte nikah non muslim 25. () 25% % % Urusan Pemberdayaan 22 % tidak dipungut retribusi % tidak dipungut retribusi % , Dispendukcapil 8

245 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) () () (2) (3) (4) (5) (6) (7) masyarakat desa 22 7 Program Peningkatan Jumlah program yang Partisipasi Masyarakat melibatkan partisipasi dalam Membangun masyarakat Desa 4 program (PNPM, P3MD, Posyandu, TTG) % 57.5 % 2. % 2. % 25. % 25. %.57. Bapemas 22 8 Program Peningkatan Kapasitas Aparatur Desa Terbinanya aparatur desa Pembinaan Kades ( kali) Pembinaan. Pembina 5. Pembinaa 5. Kades ( an Kades n Kades kali) ( kali) ( kali) Pembinaa 5. Pembina 2. Pembina 75. n Kades an an Kades ( kali) Kades ( ( kali) kali) Bapemas 22 9 Program Peningkatan Peran Perempuan Jumlah kegiatan yang dilaksanakan organisasi wanita 2 kegiatan 2 kegiatan kegiatan kegiatan. 2 kegiatan kegiatan kegiatan 5. Bapemas Program Perbaikan Sistem Administrasi Kearsipan Meningkatnya tertib administrasi kearsipan 2% 6% % 23. 8% % 23. 9% 23. 9% Kantor Perpustakaan, Arsip Dokumentasi 24 7 Program Pemeliharaan Kapasitas penyimpanan arsip 2% Sarana Prasarana yang memenuhi syarat Kearsipan %.. %. % 5. % 5. % 5. Kantor Perpustakaan, Arsip Dokumentasi Urusan Kearsipan % IV. Kebijakan membangun sistem ekonomi kerakyatan yang mampu menggerakkan sendisendi perekonomian berbasis potensi daerah yang unggul, kokoh stabil. 5 Urusan Penataan Ruang 5 5 Program perencanaan Tata Ruang Jumlah rencana tata ruang (RTRW, RUTRK,/RDTRK, 9 dokumen 2 dokumen dokume dokumen 2. n dokumen dokume dokumen n Bappeda, DPU Cipta Karya

246 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) () () (2) (3) (4) (5) (6) (7) RTRK) 5 6 Program pemanfaatan Prosentase Pemanfaatan Ruang rencana tata ruang pada setiap perijinan 5 7 Program pengendalian Prosentase evaluasi rencana Penataan Ruang tata ruang Program Pembangunan Jalan Jembatan Persentase jalan kabupaten konstruksi aspal (dari 864 km) 3 8 Program Rehabilitasi / Persentase jalan kabupaten Pemeliharaan Jalan kondisi baik Jembatan (dari 864 km) 3 24 Program Pengembangan Pengelolaan jaringan Irigasi, Rawa Jaringan Pengairan lainnya Luas layanan jaringan irigasi 7.9 Ha teknis (Ha) 7.9 Ha Ha Jumlah jaringan irigasi yang 2 lokasi direhabilitasi 2 lokasi 3 26 Program Pengembangan, Pengelolaan konservasi Sungai, Danau Sumber Daya Air lainnya Jumlah k u m u l a t i f waduk/ lokasi embung yang dinormalisasi 7 lokasi % % 5. % 94,43 % 7,86 % % 5. % 5. % 5. % 5. % 25. Bappeda, DPU Cipta Karya 2. % % % 2. Bappeda, DPU Cipta Karya 95%.. 96%.. 97%.. 98%.. 99%.. 99% 5.. DPU Bina Marga 73% % % % % % DPU Bina Marga, Ha Ha Ha Ha , DPU Pengairan % % Urusan Pekerjaan Umum 2 lokasi 3. lokasi 5. lokasi lokasi lokasi desa 2.7 pelanggan 3.47 pelanggan 3.47 pelangga n 4.7 pelangga n 4.7 pelangga n 5.7 pelangg an 5.7 pelangga n Kumulatif jumlah prasarana sanitasi komunal 2 lokasi 7 lokasi lokasi 3 lokasi 6 lokasi 9 lokasi 9 lokasi Kebersihan Kota ( IKK) terpeliharanya LPJU (44 titik LPJU) 7% 7% 77 desa. 77 desa % 8,86 5 titik % 5 titik sungai lokasi 74 desa 6 sungai 2 lokasi 2 lokasi 2 sungai Kumulatif Penambahan LPJU 4 sungai 2 lokasi sungai Jumlah k u m u l a t i f sungai yang dinormalisasi 3 27 Program Jumlah desa terlayani Pengembangan Kinerja jaringan PDAM Pengelolaan Air Minum Jumlah pelanggan PDAM Air Limbah 3 29 Program Pengembangan Wilayah Strategis Cepat Tumbuh 2 lokasi. 8 desa 3.. 8% titik 8 sungai 27 sungai. 8 desa. 8 desa % titik DPU Pengairan % titik 4. PDAM, DPU Cipta Karya Tata Ruang , DPU Cipta 86 Karya Tata Ruang

247 () (2) 3 3 Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) () () (2) (3) (4) (5) Jumlah desa status sangat 24 desa maju maju (versi KPDT) 24 desa Persentase jalan lingkungan 72,32% konstruksi aspal/paving/makadam (dari 2484,6 km jalan lingkungan) 72,5% 73% 73,5% 74% 74,5% 74,5% Persentase pusat 5% permukiman yang mempunyai jalan lingkungan berkualitas baik (dari 98 dusun/lingkungan) 6% 7% 8% 9% % % 45% % 4. 6% Persentase Prasarana penunjang LLAJ (halte, guard drill) 25%, belum 25% memadai 35% 5% Ketertiban angkutan umum perparkiran se Kab. Mojokerto Program Rehabilitasi Persentase Kualitas Pemeliharaan kuantitas rambu lalu lintas, Prasarana Fasilitas RPPJ, APILL marka jalan LLAJ desa desa desa desa (6) (7) desa DPU Cipta Karya Tata Ruang Urusan Perhubungan 7 7 Program Peningkatan Pelayanan Angkutan Program pengembangan Industri Kecil Menengah Program Perlindungan Peningkatan pengelolaan Konsumen pasar 4 %, Seg belum mencukupi 4. se Kab se Kab. 45. se Kab. 45. Mojokerto Mojokert Mojokerto o 6% % % Dishubkominfo 6% 75% 75% se Kab. 45. se Kab. 45. se Kab Mojokerto Mojokert Mojokert o o Dishubkominfo Urusan Perindustrian Meningkatnya Jumlah 25% pengusaha industri kecil menengah yang sehat (dari 279 IKM) Program Peningkatan kualitas sentra Pengembangan industri kecil (pembinaan 5 Sentrasentra Industri sentra) Potensial 3% % 4, % 44, %, % 44, % 44, ,9 Disperindag 5 2% 2%. 4% 2. 6% % se Kab. Mojokerto se Kab se Kab se Kab Mojokerto Mojokert Mojokerto 7% Disperindag Urusan Perdagangan 224 se Kab se Kab se Kab Mojokerto Mojokert Mojokert Disperindag

248 () (2) Pengamanan Perdagangan (3) (4) (5) (6) (4 pasar) (7) (8) (9) () () o Persentase penanganan pengaduan konsumen % % % % (2) (3) (4) (5) o o % % % (6) (7) Program Peningkatan Kerjasama Perdagangan Internasional Jumlah mengikuti kegiatan promosi pasar regional, nasional, internasional 4 kali (TMII, 4 kali Jatim Expo, Jabar Fashion Craft). 4 kali 2. 4 kali 2. 4 kali kali kali.. Disperindag, Bag.Perekonomi an Program pembinaan Pedagang Kaki Lima Asongan Terbina tertatanya pedagang kaki lima Pembinaan kali kali. kali. kali 2. kali 3. kali 4. kali 6. Disperindag, Bag.Perekonomi an Program peningkatan Kesejahteraan Petani Kumulatif Jumlah desa penerima program pengembangan usaha agribisnis 94 desa desa. 7 desa 4. Dinas Pertanian 2 6 Program Peningkatan Peningkatan prasarana Ketahanan Pangan usaha tani (Pertanian/Perkebunan) 3 lokasi 5 lokasi lokasi lokasi Program Peningkatan Produksi Pertanian / Perkebunan ,47 ton 5.7,3 ton 2.8 ton 32. ton 53. ton 4 ton ton 54. ton 4.5 ton Urusan Pertanian Produksi padi Jagung kedelai Ketersediaan bahan pangan daerah 8,449 ton 84, beras ton 2 22 Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan 26 desa. 4 desa. 86, ton 56 desa. 7 desa lokasi lokasi lokasi ton ton ton ton ton ton ton ton 4.5 ton 4.5 ton ton ton 9, ton 94, ton 94, ton Dinas Pertanian Dinas Pertanian 94. ton Pembinaan peningkatan usaha ternak se Kab. Mojokerto se Kab. 2. se Kab. 2. se Kab. 2. Mojokerto Mojokert Mojokerto o se Kab. 2. se Kab. 2. se Kab... Mojokerto Mojokert Mojokert o o Persentase peningkatan jumlah ternak Sapi potong (66.75 ekor) Sapi perah (2.64 ekor) Kambing (56.26 ekor) Ayam potong ( % 2% 2% 2% 2% 225 2% 2% Dinas Peternakan Perikanan

249 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) () () (2) (3) (4) (5) (6) (7) ekor) Ayam petelur( ekor) Itik (246.8 ekor) Program Rehabilitasi Hutan Lahan Urusan kehutanan Program Pengembangan Budidaya Perikanan Pelestarian penghijauan lahan kritis hutan kemasyarakatan 2 program (PLA, Rehabilitasi hutan lahan 45 ha) 2 program program program program program program Pembinaan usaha budidaya ikan (5 lokasi) se Kab. Mojokerto se Kab..66. se Kab..7. se Kab..7. se Kab..7. se Kab..7. se Kab Mojokerto Mojokert Mojokerto Mojokerto Mojokert Mojokert o o o Dinas Hutbun Urusan Kelautan Perikanan Operasional Balai Benih Ikan balai (BBI) balai balai balai balai balai Dinas Peternakan Perikanan balai 5 Urusan Koperasi Usaha Kecil Menengah 5 5 Program penciptaan Terbinanya kelompok UKM Iklim Usaha UKM yang Kondusif se Kab. Mojokerto se Kab se Kab. 5. se Kab. 5. Mojokerto Mojokert Mojokerto o se Kab. 5. se Kab. 5. se Kab Mojokerto Mojokert Mojokert o o Dinkop UMKM 5 6 Program Jumlah sasaran pembinaan pengembangan kewirausahaan UKM Kewirausahaan Keunggulan Kompetitif UKM kelompok kelompok kelompo kelompok k kelompok kelompo kelompo k k 3.. Dinkop UMKM, Disperindag 5 8 Program Peningkatan P e r s e n t a s e pembinaan Kualitas Kelembagaan usaha koperasi. (dari 747 Koperasi koperasi) 45, % 6 % % 9 % 925. Dinkop UMKM Persentase koperasi yang menerapkan prinsip akuntabilitas pengendalian koperasi. 35% 4% Promosi skala regional 4 media 4 media 7. Disporabudpar Program 45% 2. 8 % 2. 5% 55% 2. % 6% 2. % 6% Urusan Pariwisata. 4 media 5. 4 media media 5. 4 media 5. 4 media

250 () (2) (3) pengembangan nasional Pemasaran Pariwisata (4) (5) (6) (7) (8) (9) promosi promosi promosi promosi lokasi Program pengembangan Destinasi Pariwisata Peningkatan kualitas obyek wisata 2 lokasi 2 lokasi. 2 lokasi Program Pengembangan Kemitraan Kumulatif jumlah program kemitraan 5 obyek wisata 5 obyek wisata Program pembinaan Pembinaan kegiatan usaha Pengawasan pertambangan Big Pertambangan 4 wilayah kecamatan Program Pembinaan Pengembangan Pengembangan energi alternatif terbarukan Program Pengembangan Perumahan Pengembangan perumahan baru () () (2) promosi (3) (4) promosi (5) (6) (7) promosi lokasi lokasi 3. 2 lokasi.25. Disporabudpar 5 obyek wisata. Disporabudpar Kecamata Kecamatan Kecamata n n Kecamata Kecamata Kecamat n n an Setda (Bagian perekonomian) 3 lokasi PLTM 3 lokasi lokasi 4 6 Program Lingkungan Sehat Perumahan Kumulatif jumlah desa yang 76 desa terlayani Prasarana Sarana Air Bersih ( PSAB) 4 9 Program Peningkatan Kesiagaan Pencegahan Bahaya Kebakaran Jumlah unit PMK Program Pengembangan Komunikasi, Informasi Media massa 25 8 Program Kerjasama Informasi dengan 5 obyek wisata 5 obyek wisata 5 obyek. 5 obyek wisata wisata Urusan Energi Sumber Daya Mineral Big Ketenagalistrikan Lokasi Lokasi 5 lokasi Bappeda, BLH, Setda (Bagian perekonomian) lokasi 5 lokasi DPU Cipta Karya Tata Ruang Urusan Perumahan lokasi lokasi 82 desa desa.5. 9 desa desa desa desa DPU Cipta Karya Tata Ruang DPU Cipta Karya Tata Ruang Meningkatnya jumlah sarana 4 kelompok IT jenis media informasi yang digunakan (KIM, Wika FM, Tabloid Majatama, Web) 4 kelompok kelompo kelompok k 4.5. Dishubkominfo Terjalinnya kerjasama dengan mass media (media 8% % Setda (Bag. Humas 2 unit lokasi.. Urusan Komunikasi Informatika 8% 2.. 8% kelompok kelompo kelompo k k 2.. 8% 2.. 8% 2.. 8%

251 () (2) Media massa (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) () () (2) (3) (4) (5) (6) cetak elektronik) (7) Protokol) 2 8 Urusan Transmigrasi Program Transmigrasi Pembinaan kesiapan peserta Jumlah KK Regional transmigrasi peserta transmigrasi 6 KK = 2 jiwa Program Pengendalian Pembinaan peningkatan pencemaran kualitas lingkungan hidup perusakan Lingkungan pelayanan uji lab Hidup. 2 KK. 2 KK. 2 KK. 2 KK. 2 KK 5. Disnakertrans Urusan Lingkungan Hidup se Kab. Mojokerto se Kab se Kab... se Kab... se Kab... se Kab... se Kab Mojokerto Mojokert Mojokerto Mojokerto Mojokert Mojokert o o o BLH V. Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan, Perluasan Lapangan Kerja, Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 4 Urusan Tenaga Kerja 4 5 Program Peningkatan Kualitas Produktifitas Tenaga Kerja 7 orang Jumlah Tenaga kerja yang orang tenaga kerja tenaga orang memenuhi ketentuan kerja tenaga standar kompetensi kerja terlatih terlatih kerja terlatih orang 78. tenaga kerja terlatih 7 orang tenaga orang kerja tenaga terlatih kerja terlatih orang tenaga kerja terlatih 3.9. Disnakertrans 4 6 Program Peningkatan Kesempatan Kerja Aya sistem informasi % lapangan kerja (AKAL, AKAD, AKAN) %. %. %. %. %. % 5. Disnakertrans 4 7 Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan Pembinaan organisasi 3 kali ketenagakerjaan, pembinaan hubungan bipartit,tripartit, dewan pengupahan 3 kali 5. 3 kali kali 5. 3 kali 5. 3 kali 2. 3 kali 7. Disnakertrans % perusahaan yang memenuhi norma kerja perempuan anak (dari 35 % 45 % 55 % 65 % 75% 75% 25 % 228

252 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) () () (2) (3) (4) (5) (6) (7) 55 perusahaan) VI. Kebijakan Peningkatan Kesalehan Sosial Kerukunan Antar Umat Beragama Program Pemberdayaan Fakir Miskin, KAT PMKS lainnya Persentase jumlah anak 9% terlantar yang berhasil dibina baik di dalam maupun diluar panti 9% 27. 9% 27. 9% 3. 9% 3. 9% 3. 9%.44. Dinas Sosial 3 6 Program Pelayanan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Persentase PMKS penerima manfaat yang mampu melaksanakan peranan fungsi sosial 7% 7% % % % % 3. 8%.36. Dinas Sosial 3 2 Program Pembinaan eks Penyang Penyakit Sosial (eks napi, PSK, narkoba, Penyakit Sosial lainnya) Jumlah operasi tramtibmas 3 kali 3 kali (ops rutin/tahun) 5. 3 kali 5. 3 kali 5. 3 kali 5. 3 kali 5. 3 kali 75. Dinas Sosial Pekerja sosial tenaga kerja sosial yang kompeten/terlatih 3 tenaga ( dokter, 2 perawat) 3 2 Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial Prosentase PMKS penerima 7% manfaat yang mampu berperan dalam penyelanggaraan kesejahteraan sosial (dari 8 orang) 7% Dinas Sosial Tersedianya data 4 media media media.385. Bag. PDE, Urusan Sosial 3 tenaga 3 tenaga 7% 3 tenaga % 3 tenaga 3 tenaga 8% 3 tenaga % % 3. 4 media 3. 4 media 3. 4 media VII. Kebijakan Perencanaan pembangunan penganggaran yang berbasis kinerja. 6 Urusan Perencanaan Pembangunan 6 5 Program 4 media 229

253 () (2) (3) Pengembangan Data / informasi pembangunan Informasi (4) informasi 6 2 Program Perencanaan Tersusunnya RKPD ada Pembangunan Daerah Persentase kesesuaian RKPD % dengan usulan Musrenbang (5) (6) informasi ada (7) (8) (9) informasi () informasi %.925. ada % 2.. ada % Persentase kesesuaian 8 % antara muatan RKPD dengan RPJMD % % Persentase kesesuaian antara muatan RPJMD dengan visi, misi, program Bupati terpilih % % Terdapatnya Pengendalian Evaluasi Perencanaan Pembangunan ada Pengendalian Evaluasi Pelaksanaan Perencanaan Pembangunan Evaluasi Hasil Pelaksanaan Pembangunan (2) (3) (4) informas i (5) 2.. ada % 2.. ada % % % % % % % % % % ada ada ada ada ada ada tidak ada ada ada ada ada ada ada ada ada ada ada ada ada ada tersusun 6 22 Program Perencanaan Perencanaan big Pembangunan ekonomi pedesaan Ekonomi tersusun 6 23 Program Perencanaan Perencanaan big sosial Sosial Budaya budaya Tersusunnya Kab. 58. Kab. 58. Kab. 58. data Mojokerto Mojokert Mojokerto penduduk o miskin koordinasi program taskin Kab. Mojokerto , , ,98 tersusun (6) informasi % 57. tersusun 57. tersusun 2.. ada Total () informasi tersusun 57. tersusun Kab. 58. Kab. 58. Kab Mojokerto Mojokert Mojokert o o , ,9 8 (7) Bappeda Bappeda Dinas Koperasi UMKM, Dinas Pertanian, Bappeda Bappeda

254 Kebutuhan penaan tersebut lebih merupakan ancarancar atau tentunya tidak bisa tepat karena masih banyak faktor yang mempengaruhi seperti perkembangan perekonomian nasional, tingkat kemahalan konstruksi, alokasi a perimbangan dari Pemerintah (Pusat), ketentuan a perimbangan a tugas pembantuan, kebutuhan lain yang tidak bisa dihindarkan, serta situasi kondisi di daerah yang memerlukan penanganan segera. 23

255 BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Indikator kinerja daerah ditujukan untuk memberikan gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi misi Bupati Wakil Bupati pada akhir periode masa jabatan. Suatu indikator kinerja daerah dapat dirumuskan berdasarkan hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja. Ada 3 (tiga) aspek yang dipergunakan dalam melihat indikator kinerja Daerah yaitu Aspek Kesejahteraan Masyarakat, Aspek Pelayanan Umum, Aspek Daya Saing Daerah. Penetapan indikator kinerja daerah disajikan sebagaimana matrik berikut : Tabel 9. Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan No. () ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH (2) Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Target Capaian Setiap (3) (4) (5) (6) (7) (8) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD (9) ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT. Kesejahteraan Pemerataan Ekonomi.. Pertumbuhan Ekonomi.2. Pertumbuhan PDRB.3. PDRB per kapita.4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM).5. Tingkat Kemiskinan (%).6. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) (%) ,8 5,3 5,4 5,62 5,78 5,9 5, , , , , ,8 38,96 8,

256 () (2). Pendidikan.. Angka melek huruf (3) (4) 94,% (5) (6) (7) (8) 95,5% 96,8% 98,% 99,% 99,8 99,8 99,85 99,85 (9) % APM SD/MI 99,8 APM SMP/MTs 94,57 94,57 94,6 94,6 94,6 94,6 94,6.4. APK SD/MI 2,9 2,2 2,25 2,28 2,3 2,32 2,32.5. APK SMP/MTs 94,8 94,8 94,82 94,84 94,86 94,88 94,88.6 APM SMA/MA/SMK 73,8 73,8 73,85 73,9 73,95 74, 74,.7 APK 74,2 74,36 74,9 75,8 76,5 77,4 77,4 2. Kesehatan 2. Angka Harapan Hidup (AHH) 68,5 68,5 68,5 69, 69,5 7, 7, 2.2 Angka Kesakitan 7, 7, 6,5 6,5 6, 6, 6, 2.3 Angka Kematian Bayi (per ) 6,3 6, 5,9 5,7 5,5 5,5 5,5 2.4 Persentase ketersediaan obat vaksin % % % % % % % 2.5 Jumlah Kasus Kematian Ibu Prevalensi kurang gizi pada anak (%) 5,5 5,3 5, 4,9 4,7 4,5 4,5 3. Pemberdayaan Perempuan 3. jumlah lembaga berbasis gender yang diberdayakan 78 lembaga 82 lembaga 86 lembaga 9 lembaga 9 92 lembaga lembaga 92 lembaga 4. Keluarga Sejahtera Keluarga Berencana Jumlah peserta KB aktif/pa Jumlah peserta KB aktif mandiri Sosial 9% 9% 9% 9% 9% 9% 9% 5. Persentase jumlah anak balita terlantar yang berhasil dibina baik di dalam maupun diluar panti 7% 7% 75% 75% 75% 8% 8% 5.2 Prosentase PMKS penerima manfaat yang mampu berperan dalam penyelanggaraan kesejahteraan sosial 5.3 Rasio angka perceraian terhadap jumlah rumah tangga,2,2,9,8,75,7, SMA/ MA /SMK 99,9 % ,9

257 () (2) 5.4 Pemakai narkoba (% penurunan) 5.5 Indeks penghuni panti sosial (28 = ) 6. Tenaga kerja 6. Jumlah Tenaga kerja yang memenuhi ketentuan standar kompetensi kerja 6.2 % perusahaan yang memenuhi norma kerja perempuan anak 7 Koperasi UMKM 7. Persentase koperasi yang menerapkan prinsip akuntabilitas pengendalian koperasi. 7.2 Jumlah Koperasi aktif (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 2,2 2,3 2,5 2,7 2,9 3, 3, orang 7 orang tenaga kerja tenaga terlatih kerja terlatih 7 orang tenaga kerja terlatih 7 orang 7 orang tenaga tenaga kerja kerja terlatih terlatih 7 7 orang orang tenaga tenaga kerja kerja terlatih terlatih 25 % 35 % 45 % 55 % 65 % 75% 75% 35% 4% 45% 5% 55% 6% 6% ASPEK PELAYANAN UMUM. Pendidikan.. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah pendidikan dasar % % % % % % % 3% 35% 42% 48% 5% 6% 6%.2 Persentase kualitas prasarana sarana pendidikan yang memadai (SDN/MIN = 5, SMPN/MTsN = 38) 9% 9% 9% 95% 95% % %.3 Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah pendidikan menengah 7% 7% 79% 86% 93% 93% 93%.4 Persentase kualitas prasarana sarana pendidikan yang memadai (dari 2 SMAN 2 MAN).5 Persentase SMK memiliki bengkel kerja kejuruan 63% 63% 75% 88% 88% % % 2 Kesehatan % % % % % % % 2. Jumlah puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap (dari 27 Puskesmas 55 Pustu) 234

258 () (2) 2.2 Persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan 2.3 Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan 3. Pekerjaan Umum 3. (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) % 86 kasus % % % % % % 85% 87% 9% 93% 96% % % Persentase jalan kabupaten konstruksi aspal (dari 864 km) 94,43 % 95% 96% 97% 98% 99% 99% 3.2 Persentase jalan kabupaten kondisi baik (dari 864 km) 7,86 % 73% 74% 75% 76% 77% 77% 3.3 Luas layanan jaringan irigasi teknis (Ha) Ha 7.9 Ha Ha 7.9 Ha 7.9 Ha 7.9 Ha 3.4 Jumlah ku m ula t i f waduk/ embung yang dinormalisasi lokasi 7 lokasi lokasi lokasi 2 lokasi 5 lokasi 5 lokasi 3.5 Jumlah ku m ula t i f sungai yang dinormalisasi sungai 2 sungai 4 lokasi 6 lokasi 7 lokasi 8 lokasi 8 lokasi 3.6 Jumlah desa terlayani jaringan PDAM 74 desa 74 desa 77 desa 77 desa 8 desa 8 desa 8 desa 72,32% 73% 74% 74,5% 75% 75,5% 75,5% 3.7 Persentase jalan lingkungan konstruksi aspal/paving/makadam (dari 2484,6 km jalan lingkungan) 5% 6% 7% 8% 9% % % 3.8 Persentase pusat permukiman yang mempunyai jalan lingkungan berkualitas baik (dari 98 dusun/lingkungan) 3.9 Kebersihan Kota ( IKK) terpeliharanya LPJU (44 titik LPJU) 7% 7% 75% 75% 8% 8% 8% 4 Perumahan 4. Pengembangan perumahan baru 3 lokasi lokasi lokasi lokasi lokasi lokasi lokasi 5 Penataan Ruang Jumlah rencana tata ruang (RTRW, RUTRK,/RDTRK, RTRK) 9 dokumen 5. 2 dokumen 22 dokumen dokumen dokumen 22 dokume n 22 dokumen % % % % % % % 5.2 Prosentase Pemanfaatan rencana tata ruang pada setiap perijinan 5.3 Prosentase evaluasi rencana tata ruang % % % % % % 7.9 Ha 235

259 () 6 6. (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Perencanaan Pembangunan Tersedianya data informasi pembangunan 4 media 4 media informasi informasi 4 media informasi 4 media 4 media 4 media informasi informasi informas i 4 media informasi 6.2 Persentase kesesuaian RKPD dengan usulan Musrenbang % % % % % % % % % % % % % % 6.3 Persentase kesesuaian antara muatan RPJMD dengan visi, misi, program Bupati terpilih 7. Perhubungan Persentase Kualitas kuantitas rambu lalu lintas, RPPJ, APILL marka jalan 4 %, Seg belum mencukupi 45% 55% 6% 6% 65% 65% 7.2 Persentase Prasarana penunjang LLAJ (halte, guard drill) 25%, belum memadai 25% 35% 5% 6% 75% 75% 8 Lingkungan Hidup 8. Pembinaan peningkatan se kabupaten se kualitas lingkungan hidup kabupaten pelayanan uji lab se kabupaten Pengendalian beban pencemaran air limbah industri (% penurunan beban pencemaran parameter kunci BOD, COD) Pengendalian pencemaran emisi sumber tidak bergerak (% pemenuhan jumlah industri baku mutu) 8.4 pengendalian limbah B3 (% ketaatan terhadap peruu Pengelolaan Limbah B3) Kependudukan Catatan Sipil mulai dilaksanakan dipungut retribusi aplikasi SIAK aplikasi SIAK aplikasi SIAK aplikasi SIAK aplikasi SIAK aplikasi SIAK tidak dipungut retribusi 3 tenaga ( dokter, 2 perawat) 3 tenaga 3 tenaga 3 tenaga 3 tenaga 3 tenaga 3 tenaga Aplikasi jaringan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) se se kabupaten kabupaten se se kabupat kabupaten en sosial Pekerja sosial tenaga. kerja sosial yang kompeten/terlatih 236

260 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Tenaga Kerja Aya sistem informasi. lapangan kerja (AKAL, AKAD, AKAN) % % % % % % %.2 ILOR,8,8,85,9,95,95,95 95, 95, 9, 85, 8, 75, 75, Terbinanya Kelompok UKM se Kab. se Kab. Mojokerto Mojokerto se Kab. Mojokerto se Kab. se Kab. se Kab. se Kab. Mojokerto Mojokerto Mojokert Mojokerto o jumlah sasaran pembinaan 2.2 kewirausahaan UKM kelompok kelompok (a (a DBHCT) DBHCT) kelompok (a DBHCT) kelompok kelompok kelompo (a (a k (a DBHCT) DBHCT) DBHCT).3 Indeks jumlah kecelakaan kerja (28 = ) 2 Koperasi Usaha Kecil Menengah 2. 3 kelompok (a DBHCT) Kesatuan bangsa politik dalam negeri Deteksi situasi keamanan wilayah rawan bencana 3. Jumlah pembinaan wawasan 3.2 kebangsaan 3.3 Jumlah pembinaan Kadarkum peta rawan bencana laporan situasi keamanan peta peta rawan peta rawan peta peta peta rawan bencana bencana rawan rawan rawan bencana laporan laporan bencana bencana bencana situasi situasi laporan keamanan keamanan laporan laporan laporan situasi situasi situasi situasi keamanan keamanan keaman keamanan an se Kab. se Kab. Mojokerto Mojokerto se Kab. Mojokerto se Kab. se Kab. se Kab. se Kab. Mojokerto Mojokerto Mojokert Mojokerto o 4 kali 4 kali 4 kali 4 kali 4 kali 4 kali 4 kali 3.4 Indeks korban kejahatan (28 = ) 99,5 99,5 99, 98,5 98, 97,5 97,5 3.5 Indeks tindak pia pencurian pembunuhan 99, 99, 98,5 98, 97,6 97,2 97,2 3.6 penurunan kecelakaan lalu lintas (%),5,5,7 2, 2,4 2,8 2,8 3.7 indeks perkelahian antar pelajar (28 = ) 99, 99, 98, 97, 96, 95, 95, 4 Pemerintahan umum 4. Tersedianya tanah aset Pemerintah Daerah Semua SKPD Semua SKPD Semua SKPD Semua SKPD Semua SKPD Semua SKPD Semua SKPD Pelatihan, pembinaan 4.2 aplikasi pengelolaan keuangan serta aset daerah semua SKPD semua SKPD semua SKPD semua SKPD semua SKPD semua SKPD semua SKPD Pengendalian evaluasi 4.3 pelaksanaan perencanaan pembangunan semua SKPD semua SKPD semua SKPD semua SKPD semua SKPD semua SKPD semua SKPD 237

261 () (2) 4.4 Jumlah pendidikan fungsional pengawasan kali kali kali kali kali kali 5 kali 4.5 Jumlah jenis pelayanan prima 4 jenis 4 jenis 4 jenis 4 jenis 4 jenis 4 jenis 4 jenis 4 tempat ibadah 467 tempat ibadah 467 tempat ibadah 467 tempat ibadah 467 tempat ibadah 467 tempat ibadah,259,259,239,29,99,79,79 7 7, 75, 8, 85, 9, 9, Terbantunya TDL pada 4.6 tempat peribadatan Rasio jumlah besar 4.7 kerugian Negara terhadap APBD 4.8 Rasio perda yang disahkan (%) 5 Kepegawaian 5. Jumlah peserta pendidikan penjejangan teknis fungsional 5.2 Pengelolaan administrasi kepegawaian 6 Pemberdayaan Masyarakat Desa Terbinanya aparatur desa 6. 7 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) LPJ CPNS, LPJ CPNS, pendidikan pendidikan pendidika pendidik pendidika pendidikan pendidika penjejanga penjejanga n an n penjejangan/ n n/ n/ penjejang penjejan penjejang fungsional penjejang fungsional fungsional an/ gan/ an/ an/ fungsional fungsion fungsional fungsional al semua pegawai semua pegawai semua pegawai semua pegawai semua semua pegawai pegawai semua pegawai Pembinaan Pembinaa Pembinaan Pembinaan Pembinaa Pembina Kades ( kali) n Kades Kades ( Kades ( n Kades an ( kali) kali) kali) ( kali) Kades ( kali) Pembinaa n Kades ( kali) Komunikasi Informatika Meningkatnya jumlah sarana IT jenis media informasi 7. yang digunakan (KIM, Wika FM, Tab. Majatama, Web) 4 kelompok 4 4 kelompok 4 kelompok 4 4 kelompok kelompok kelompo k 4 kelompok 8 Kearsipan 8. Meningkatnya tertib administrasi kearsipan 2% 6% 7% 8% 85% 9% 9% 8.2 Kapasitas penyimpanan arsip yang memenuhi syarat 2% % % % % % % 9 Transmigrasi Jumlah peserta transmigrasi 6 KK = 2 jiwa KK 2 KK 2 KK 2 KK 2 KK 2 KK 9. Pembinaan kesiapan peserta transmigrasi ASPEK DAYA SAING DAERAH Kebudayaan 238

262 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Jumlah fasilitasi pergelaran budaya 2 pergelaran pergelara pergelaran pergelaran pergelara pergelar n n an 2 pergelara n.2 Jumlah inventarisasi, dokumentasi kelompok budaya 24 kelompok 24 kelompok 24 kelompok 24 kelompok 2 Pemuda Olahraga 2. Jumlah cabor yang aktif 24 cabor 24 cabor 24 cabor 24 cabor 2.2 Jumlah penyelenggaraan/ invitasi olahraga kali kali kali kali 3 Pertanian. 3. Produksi padi Jagung kedelai 3.2 Persentase peningkatan jumlah ternak Sapi potong (66.75 ekor) Sapi perah (2.64 ekor) Kambing (56.26 ekor) Ayam potong ( ekor) Ayam petelur( ekor) Itik (246.8 ekor) 4 Energi Sumber Daya Mineral 4. Pembinaan kegiatan usaha pertambangan 4.2 Pengembangan energi alternatif terbarukan 5 Pariwisata ,47 Ton 5.7,3 ton 2.8 ton 2% kelompok kelompok kelompo k 24 cabor 24 cabor kali kali ton ton ton ton 6.7 ton ton ton ton ton 5.2 ton ton ton ton 4.63 ton 5.75 ton ton ton 5.75 ton 2% 2% 2% kali 24 cabor 2% 2% % 4 wilayah kecamatan Kecamata Kecamatan Kecamatan Kecamata Kecamat n n an 8 Kecamata n 3 lokasi PLTM Lokasi Lokasi program promosi skala nasional internasional 4 media promosi 4 media promosi 4 media promosi 4 media promosi 4 media promosi 4 media promosi 4 media promosi 5.2 Peningkatan kualitas obyek wisata 2 lokasi 2 lokasi 2 lokasi 2 lokasi 2 lokasi 2 lokasi 2 lokasi 6 Kelautan Perikanan 6. Pembinaan usaha budidaya ikan (5 lokasi) se Kab. se Kab. Mojokerto Mojokerto se Kab. Mojokerto 7. Perdagangan se Kab. se Kab. se Kab. se Kab. Mojokerto Mojokerto Mojokert Mojokerto o 239

263 () 7. (2) (3) Jumlah mengikuti kegiatan promosi pasar regional, nasional, internasional 8 Perindustrian 8. Meningkatnya Jumlah pengusaha industri kecil menengah yang sehat (dari 279 IKM) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 4 kali (TMII, HUT Prop.Jatim, Jatim Expo, Jabar Fashion Craft) 4kali 4 kali 4 kali 4 kali 4 kali 2 kali 25% 3% 4% 5% 6% 7% 7% Dari tabel tersebut dapat diberikan penjelasan sebagai berikut :. Aspek Kesejahteraan Masyarakat. Sejahtera merupakan keadaan sentosa makmur yang diartikan sebagai keadaan yang relatif berkecukupan atau relatif tidak kekurangan, baik dari dimensi fisik atau materi, tetapi juga dimensi rohani. Dari aspek Kesejahteraan Masyarakat ini, terdapat beberapa sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan 5 (lima) tahun ke depan yaitu : a. Terciptanya lapangan kerja seluasluasnya dalam berbagai urusan program pembangunan, agar mampu mengurangi pengangguran terbuka menjadi 4,3 % pada 25. Sasaran ini dicapai dengan mendorong kegiatan usaha perekonomian pada berbagai program pembangunan seperti pertanian, perikanan, peternakan, industri, pariwisata, pembangunan infrastruktur, sebagainya. Perekonomian diupayakan tumbuh ratarata 6 % per tahun dengan mendorong perananan masyarakat dalam membangun. pembangunan diletakkan Dalam pada kaitan ini prioritas peningkatan investasi, hubungan industrial yang harmonis, revitalisasi pertanian dalam arti luas. Disamping itu dalam rangka ketahanan 24

264 ekonomi rakyat maka prioritas pembangunan diberikan pada pemberdayaan koperasi usaha mikro, kecil menengah; Peningkatan BUMD; Peningkatan kualitas SDM tenaga kerja trampil. b. Berkurangnya kesenjangan pembangunan pendapatan masyarakat. Dalam kaitan ini prioritas pembangunan diletakkan pada percepatan penanggulangan kemiskinan pembangunan infrastruktur perdesaan, meningkatnya kualitas yang tercermin dari terpenuhinya hak sosial masyarakat. diletakkan layanan Untuk sasaran ini prioritas pembangunan pada peningkatan pendidikan yang akses lebih masyarakat pada berkualitas, layanan kesehatan yang lebih berkualitas, peningkatan perlindungan kesejahteraan sosial, peningkatan kualitas kehidupan peran perempuan serta kesejahteraan perlindungan anak, pengendalian pertumbuhan penduduk, pembangunan kependudukan, keluarga kecil berkualitas serta peningkatan kualitas kerukunan hidup beragama. Indeks Pembangunan Manusia diharapkan mencapai 73,9 pada akhir tahun perencanaan, segkan Angka Harapan Hidup diharapkan mencapai 7,. c. Membaiknya kualitas lingkungan hidup pengelolaan Sumber Daya pembangunan Alam yang yang mengarah berkelanjutan, pada dengan prinsip prioritas pembangunan yang diletakkan pada perbaikan pengelolaan Sumber Daya Alam pelestarian fungsi lingkungan hidup. d. Meningkatnya dukungan infrastruktur yang ditunjukkan oleh meningkatnya kuantitas kualitas berbagai prasarana penunjang pembangunan dalam rangka meningkatkan 24

265 kesejahteraan masyarakat, sehingga prioritas diarahkan pada percepatan pembangunan infrastruktur. 2. Aspek Pelayanan Umum Secara umum tugas pemerintahan memang paralel dengan pelayanan umum masyarakat. Kualitas pelayanan umum lekat dengan pelayanan yang cepat, murah, berkualitas, transparan yang lebih dikenal dengan pelayanan prima. Beberapa indikator program pembangunan yang terkait erat dengan pelayanan umum dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Meningkatnya akses masyarakat terhadap pendidikan meningkatnya kualitas pendidikan yang antara lain ditandai oleh : ketersediaan prasarana sarana sekolah yang cukup (rasio dengan jumlah penduduk), kualitas prasarana sarana, manajemen sekolah, kualitas tenaga pendidik, termasuk menekan biaya dasar pendidikan. Untuk mewujudkan terciptanya tenaga yang siap memasuki dunia kerja maka peningkatan jumlah sekolah menengah kejuruan merupakan pilihan strategis. Karenanya peningkatan jumlah SMK masih diperlukan, disamping peningkatan ragam kapasitas bengkel kerja kejuruan dalam rangka menciptakan tenaga siap pakai maupun tenaga kerja yang justru siap mandiri, wira usaha membuka lapangan kerja. Penciptaan tenaga kerja terampil juga ditempuh melalui pendidikan non formal pada Balai Latihan Kerja. b. Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar masyarakat yaitu akses atas kebutuhan pelayanan kesehatan. Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan sampai dengan 5 (lima) tahun ke depan adalah peningkatan jumlah puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap mencapai 3.3 %, peningkatan 242

266 pelayanan balita gizi buruk hingga %, peningkatan pelayanan ibu melahirkan %, peningkatan kualitas prasarana sarana puskesmas maupun rumah sakit. c. Terciptanya rasa aman, tidak aya ketegangan ancaman konflik antar kelompok maupun golongan masyarakat, menurunnya angka kriminalitas, pasti menjadi harapan besar bagi warga masyarakat. Karenanya pembinaan wawasan kebangsaan pembinaan kadarkum masih akan diselenggarakan pada setiap tahunnya. d. Kualitas pelayanan umum tidak terlepas dari kualitas sumberdaya aparatur, baik dari aspek kemampuan/profesinalisme, kinerja, maupun mental attitude aparatur. Aparatur yang bersih, akuntabel bebas KKN sangat diperlukan untuk peningkatan pelayanan umum yang keuangan baik. daerah, Karenanya pelatihan pendidikan fungsional pengelolaan pengawas, pelayanan prima, pembinaan keagamaan karyawan, serta pengendalian evaluasi pelaksanaan perencanaan pembangunan akan dilaksanakan pada setiap tahunnya. Demikian juga dengan pengawasan melekat maupun periodik fungsional, penindakan pelanggaran disiplin pegawai, di tingkat kabupaten sampai tingkat desa akan ditingkatkan. e. Pelayanan umum yang berkaitan dengan administrasi kependudukan ditingkatkan, baik yang menyangkut sarana, sistem, kemudahan Direncanakan kebijakan untuk pelayanan maupun pelayanan KTP, kartu pembeayaannya. ini akan keluarga, ditetapkan akta kelahiran gratis. 243

267 f. Untuk memberikan kepastian hokum dalam investasi pembangunan, maka perencanaan tata ruang disiapkan, baik pada tingkat tata ruang wilayah, tata ruang kota, maupun pada kawasankawasan khusus. Demikian juga dengan eveluasi pelaksanaan tata ruang, akan dilaksanakan secara periodik. g. Infrastruktur memang merupakan tulang punggung pada kegiatan ekonomi. Prasarana perhubungan untuk kelacaran distrubusi barang jasa, kelistrikan telekomunikasi untuk peningkatan sektor produksi. Prasarana air irigasi, air bersih sanitasi untuk sektor pemukiman. Namun demikian infrastruktur ini juga menggambarkan tingkat kepedulian pelayanan umum dari pemerintah kepada masyarakat. Untuk infrastruktur ini maka sampai dengan tahun 25 ditargetkan sebagai berikut : jalan kabupaten konstruksi aspal mencapai kondisi baik adalah 77 %, jalam lingkungan konstruksi aspal ataupun paving berkondisi baik 75.5 %, penyediaan prasarana penunjang lalu lintas ditingkatkan menjadi 75 %, penyediaan pelayanan air bersih pada tingkat pelanggan ditargetkan meningkat menjadi 29.5 %. h. Pencemaran perusakan lingkungan hidup akan menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah. Hal ini sematamata untuk berkelanjutan. menjamin Terhadap konsep urusan pembangunan ini maka target pemerintah daerah adalah pembinaan pelestarian fungsi lingkungan hidup pelayanan uji laboratorium lingkungan yang bias menjangkau wilayah se Kabupaten Mojokerto. i. Pelayanan umum lainnya yang selalu menjadi perhatian pemerintah daerah adalah informasi lapangan kerja, baik 244

268 angkatan kerja lokal, antar daerah, maupun antar Negara. Untuk informasi pelayanan tenaga kerja ini ditargetkan terpenuhi % baik menyangkut jumlah informasi maupun sosialisasi ke tingkat kecamatan. 3. Aspek Daya Saing Daerah. Kurang kondusifnya lingkungan usaha memiliki implikasi besar terhadap penurunan daya saing ekonomi, terutama sektorsektor industri sebagai lapangan kesempatan kerja utama. Di sisi lain harus disadari bahwa pembangunan daerah tidak akan mungkin bisa diselenggarakan hanya oleh pemerintah tanpa aya investasi (pada semua big) yang masuk ke Daerah. Daya saing Daerah merupakan resultante berbagai fungsi di Daerah, antara lain potensi Daerah, kondisi situasi perpolitikan, social, ekonomi infrastruktur di daerah, kualitasresponsifitas kebijakan pemerintah daerah yang secara bersamasama membentuk daya keunggulan komparatif dengan Daerah lainnya. Iklim inilah yang harus diciptakan oleh Pemerintah pembangunan di semua big. Daerah untuk percepatan Terhadap aspek ini maka indikator yang ditetapkan adalah sebagai berikut: a. Terpeliharanya budaya lokal yang berlandaskan nilainilai luhur untuk membuka ruang demokratis bagi dialog kebudayaan dalam rangka menghindari benturan social masih sangat diperlukan. Karenanya kesempatan pengembangan, aktualisasi diri para pelaku budaya tetap perlu disediakan, salah satu bentuknya adalah pagelaran berbagai bentuk produk budaya secara periodik. b. Industri kecil telah terbukti sebagai tulang punggung kegiatan perekonomian masyarakat yang mempunyai resistensi terhadap situasi kondisi perekonomian pada skala 245

269 makro. Karenanya kegiatan usaha industri kecil menengah perlu ditingkatkan, terutama dari aspek produktifitas, kualitas kontinuitas hingga mencapai kondisi sehat. Industri kecil menengah kondisi sehat ditargetkan mencapai 75 % dari seluruh jumlah industri yang ada. c. Di dunia perdagangan, promosi pasar masih menjadi kunci andalan untuk tumbuh berkembangnya kegiatan usaha. Untuk promosi pasar ini pemerintah daerah akan tetap memberikan kesempatan memfasilitasi para pelaku usaha agar dapat ikut pada event promosi tingkat regional, masional maupun internasional. d. Produk pertanian di masih menjadi primadona ketahanan pangan di tingkat regional Jawa Timur. Karenanya produk pertanian tanaman pangan tetap diupayakan meningkat dengan perkembangan tingkat produksi mencapai % pada akhir pembangunan jangka menengah. Demikian juga dengan usaha budidaya ternak, dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan daging, susu, telor, maka populasi ternak diharapkan meningkat hingga 2 % per tahunnya. e. Potensi pariwisata di sangat besar, baik potensi wisata alam, sejarah purbakala maupun wisata budaya. Sektor pariwisata ini justru merupakan pemantik timbulnya kegiatan usaha di sector lainnya seperti perdagangan, jasa transportasi perhotelan, maupun tumbuhnya sektor informal, Untuk mendorong pertumbuhan di sektor pariwisata ini maka kebijakan dikemukakan adalah promosi wisata perbaikan kualitas obyek wisata, serta pembangunan obyek wisata baru bekerjasama dengan pihak ketiga. 246

270 f. Sumberdaya mineral, terutama jenis pertambangan mineral sirtu batu, masih merupakan potensi monopoli pasar pada tingkat regional Jawa Timur. Untuk mengelola potensi besar ini sangat diperlukan langkah yang cermat bijak mengingat masih banyak kegiatan usaha pertambangan yang mengabaikan daya dukung lahan prasarana umum yang pada gilirannya akan merusak fungsi lingkungan hidup. Demikian juga dengan masih banyaknya kegiatan usaha pertambangan yang liar oleh sebagian masyarakat. Untuk pengelolaan sektor pertambangan ini maka kebijakan diarahkan pada peningkatan tarif pajak/retribusi, pencermatan perijinan, peningkatan pengawasan yang didukung pembinaan penertiban. Kegiatan ini akan dilaksanakan ditingkatkan terus sesuai dengan perkembangan pada setiap tahunnya. 247

271 BAB X PENUTUP A. Kesimpulan Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang memperhitungkan tepat, sumber melalui daya yang urutan pilihan, tersedia. dengan Perencanaan Pembangunan Daerah adalah suatu proses penyusunan tahapantahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya, guna pemanfaatan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. RPJMD merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode lima tahun. Penyusunan RPJMD memerlukan pertimbangan mendalam yang mencakup berbagai unsur. Diawali analisis kondisi daerah yang kemudian dapat terlihat isuisu strategis dalam pengembangan daerah. Proses analisis tersebut menjadi dasar pertimbangan dalam penyusunan visi, misi, maupun tujuan sasaran pembangunan hingga arah kebijakan pembangunan. B. Kaidah Pelaksanaan Pedoman Transisi. RPJMD merupakan panduan dalam penyusunan Renstra bagi SKPD RPJMD merupakan dokumentasi pemerintahan yang berkaitan dengan beberapa turunan kebijakan perencanaan pembangunan lainnya. RPJMD kabupaten Mojokerto yang merupakan penjabaran visi misi yang telah dibuat oleh pemerintah daerah untuk periode 2 25 adalah pedoman bagi penyusunan renstra SKPD. Renstra SKPD yang 248

272 dibentuk wajib mengikuti koridor pembangunan yang telah digariskan dalam RPJMD. Hal tersebut dilakukan agar setiap program SKPD yang direncanakan dapat terintegrasi, sesuai dengan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah. Sehingga visi misi dapat terlaksana secara efektif hingga akhir periode pembangunan. 2. RPJMD sebagai dasar penyusunan RKPD RPJMD kabupaten mojokerto ini akan digunakan sebagai landasan rujukan dalam penyusunan RKPD. Implementasi dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah harus bersinergi dengan RPJMD. Hal tersebut dilakukan agar tujuan sasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMD dapat tercapai. 3. Penguatan Peran para Stakeholders sebagai pemangku kepentingan dalam pelaksanaan RPJMD Peningkatan partisipasi publik yang kental dalam upaya pengembangan iklim demokrasi merupakan salah satu langkah yang sebelumnya digunakan dalam penyusunan RPJMD. Partisipasi tersebut juga berdampak pada proses penguatan peran serta pihakpihak pemangku kepentingan. RPJMD yang telah disusun akan disosialisasikan kepada stakeholders secara luas. Sosialisasi tersebut disampaikan dalam Musrenbang. Proses tersebut diupayakan untuk mendapatkan saran serta kritik yang mampu memenuhi kualitas penyusunan RPJMD secara utuh. partisipasi sensibilitas stakeholders dalam penyusunan RPJMD merupakan salah satu langkah merangkai deokrasi menyeluruh yang akan menjamin terlaksananya RPJMD secara optimal. 249

273 4. Dasar Evaluasi Laporan Pelaksanaan RPJMD, RKPD Penyusunan Rencana Kerja (Renja) SKPD berpedoman pada RKPD. Pendekatan prestasi kerja merupakan metode yang digunakan dalam penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah tahun berikutnya. kemudia Renja SKPD nantinya akan menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana kerja Anggaran SKPD (RKASKPD) RPJMD merupakan alat ukur dalam mengukur mengevaluasi kinerja pemerintahan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. evaluasi yang baik merupakan sarana bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan potensi keberhasilan pelaksanaan visi misi kepala daerah. 5. Pedoman Transisi RPJMD ini menjadi pedoman penyusunan RKPD RAPBD Pertama dibawah kepemimpinan Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) pada periode berikutnya. 25

274 LAMPIRAN 25

Pendahuluan. Latar Belakang

Pendahuluan. Latar Belakang Pendahuluan Latar Belakang Pembangunan daerah Kabupaten Bangkalan yang dilaksanakan dalam kurun waktu Tahun 2008 2013 telah memberikan hasil yang positif dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Namun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa penyelenggaraan desentralisasi dilaksanakan dalam bentuk pemberian kewenangan Pemerintah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Banyuwangi tahun 2010-2015 ini merupakan penjabaran dari visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati terpilih,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. RPJMD Kabupaten Grobogan Tahun I 1

BAB I PENDAHULUAN. RPJMD Kabupaten Grobogan Tahun I 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Pusat memberikan kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk melakukan serangkaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N I - 1

BAB I PENDAHULUAN R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan,

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 07 TAHUN 2013 BAB I PENDAHULUAN

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 07 TAHUN 2013 BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 07 TAHUN 2013 Rencana Pembangunan TANGGAL Jangka : 11 Menengah JUNI 2013 Daerah BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan pembangunan memainkan

Lebih terperinci

ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN BAB I PENDAHULUAN

ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN BAB I PENDAHULUAN - 1 - LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2013-2017 ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH

Lebih terperinci

SURAKARTA KOTA BUDAYA, MANDIRI, MAJU, DAN SEJAHTERA.

SURAKARTA KOTA BUDAYA, MANDIRI, MAJU, DAN SEJAHTERA. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, mengamanatkan kepada

Lebih terperinci

BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU

BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI ROKAN HULU NOMOR 23 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI ROKAN HULU,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Untuk menjalankan tugas dan fungsinya, pemerintah daerah memerlukan perencanaan mulai dari perencanaan jangka panjang, jangka menengah hingga perencanaan jangka pendek

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 17 Tahun 2015 Tanggal : 29 Mei 2015 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 15 Tahun 2014 Tanggal : 30 Mei 2014 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dokumen perencanaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan,

Lebih terperinci

RPJMD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN

RPJMD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN i BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) berpedoman pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional,

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021 BAB 1. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN 2014-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016 2021 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

I - 1 BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I - 1 BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR : 2 TAHUN 2009 TANGGAL : 14 MARET 2009 TENTANG : RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2008-2013 BAB I PENDAHULUAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH NO. 07 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN

PERATURAN DAERAH NO. 07 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO PERATURAN DAERAH NO. 07 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN 2013-2018 JL. RAYA DRINGU 901 PROBOLINGGO SAMBUTAN

Lebih terperinci

WALIKOTA CIREBON PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA CIREBON

WALIKOTA CIREBON PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA CIREBON WALIKOTA CIREBON PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA CIREBON DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CIREBON, Menimbang

Lebih terperinci

RKPD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 2015

RKPD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 2015 i BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) berpedoman pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Karawang Tahun merupakan tahap ketiga dari

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Karawang Tahun merupakan tahap ketiga dari BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Karawang Tahun 2016-2021 merupakan tahap ketiga dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah

Lebih terperinci

BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH SALINAN BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO, Menimbang: a. bahwa dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa setiap daerah harus menyusun rencana pembangunan daerah secara

Lebih terperinci

Pemerintah Kabupaten Wakatobi

Pemerintah Kabupaten Wakatobi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Wakatobi memiliki potensi kelautan dan perikanan serta potensi wisata bahari yang menjadi daerah tujuan wisatawan nusantara dan mancanegara. Potensi tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun I-1

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun I-1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam penyelenggaraan pembangunan perlu disusun beberapa dokumen yang dijadikan pedoman pelaksanaan sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional,

Lebih terperinci

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Medan Tahun BAB 1 PENDAHULUAN

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Medan Tahun BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejalan dengan perkembangan kondisi sosial, ekonomi dan budaya, Kota Medan tumbuh dan berkembang menjadi salah satu kota metropolitan baru di Indonesia, serta menjadi

Lebih terperinci

BAB I 1 BAB I PENDAHULUAN

BAB I 1 BAB I PENDAHULUAN BAB I 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan Pembangunan Daerah memiliki arti sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan menjadi pedoman dalam pelaksanaan pembangunan. Sesuai dengan

Lebih terperinci

1.1. Latar Belakang. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Mandailing Natal Tahun I - 1

1.1. Latar Belakang. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Mandailing Natal Tahun I - 1 1.1. Latar Belakang RPJMD merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Bupati Mandailing Natal yang akan dilaksanakan dan diwujudkan dalam suatu periode masa jabatan. RPJMD Kabupaten Mandailing Natal

Lebih terperinci

BUPATI BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN PARTISIPATIF DAERAH

BUPATI BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN PARTISIPATIF DAERAH BUPATI BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN PARTISIPATIF DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOYOLALI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

RPJMD Kabupaten Jeneponto Tahun ini merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Bupati dan Wakil Bupati Jeneponto terpilih

RPJMD Kabupaten Jeneponto Tahun ini merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Bupati dan Wakil Bupati Jeneponto terpilih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dan regional, juga bermakna sebagai pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan

Lebih terperinci

BUPATI JEMBRANA, DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI JEMBRANA, DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN JEMBRANA TAHUN 2011-2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

KOTA SURAKARTA PRIORITAS DAN PLAFON ANGGARAN SEMENTARA (PPAS) TAHUN ANGGARAN 2016 BAB I PENDAHULUAN

KOTA SURAKARTA PRIORITAS DAN PLAFON ANGGARAN SEMENTARA (PPAS) TAHUN ANGGARAN 2016 BAB I PENDAHULUAN - 3 - LAMPIRAN: NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KOTA SURAKARTA DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR : 910/3839-910/6439 TENTANG : PRIORITAS DAN PLAFON ANGGARAN SEMENTARA APBD KOTA

Lebih terperinci

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang BAB PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang kepada daerah berupa kewenangan yang lebih besar untuk mengelola pembangunan secara mandiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kota Jambi RPJMD KOTA JAMBI TAHUN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kota Jambi RPJMD KOTA JAMBI TAHUN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan proses perubahan kearah yang lebih baik, mencakup seluruh dimensi kehidupan masyarakat suatu daerah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN 2011 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARIMUN, Menimbang

Lebih terperinci

H a l I-1 1.1 LATARBELAKANG

H a l I-1 1.1 LATARBELAKANG H a l I-1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATARBELAKANG Dalam rangka melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah

Lebih terperinci

BAB I P E N D A H U L U A N

BAB I P E N D A H U L U A N LAMPIRAN PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016 BAB I P E N D A H U L U A N A. LATAR BELAKANG Rencana Kerja Pembangunan Daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pelaksanaan pembangunan daerah yang selama ini dilaksanakan di Kabupaten Subang telah memberikan hasil yang positif di berbagai segi kehidupan masyarakat. Namum demikian,

Lebih terperinci

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Bekasi Tahun Revisi BAB I PENDAHULUAN

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Bekasi Tahun Revisi BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH KOTA BEKASI Nomor : Tanggal : BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan

Lebih terperinci

BAPPEDA KAB. LAMONGAN

BAPPEDA KAB. LAMONGAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Lamongan tahun 2005-2025 adalah dokumen perencanaan yang substansinya memuat visi, misi, dan arah pembangunan

Lebih terperinci

BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH -1- BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TAHUN 2012-2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hal. I - 1

BAB I PENDAHULUAN. Hal. I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah yang berkelanjutan merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan dalam mendukung pencapaian target kinerja pembangunan daerah. Untuk itu diperlukan

Lebih terperinci

B U P A T I B I M A PERATURAN DAERAH KABUPATEN BIMA NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG

B U P A T I B I M A PERATURAN DAERAH KABUPATEN BIMA NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG B U P A T I B I M A PERATURAN DAERAH KABUPATEN BIMA NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN BIMA TAHUN 2011-2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR : 10 TAHUN 2017 TANGGAL : 20 November 2017 BAB I PENDAHULUAN

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR : 10 TAHUN 2017 TANGGAL : 20 November 2017 BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR : 10 TAHUN 2017 TANGGAL : 20 November 2017 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berdasarkan pasal 3 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) PROVINSI BALI TAHUN

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) PROVINSI BALI TAHUN PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) PROVINSI BALI TAHUN 2008-2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJM-D) KOTA PANGKALPINANG TAHUN 2008-2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Dalam rangka mengaktualisasikan otonomi daerah, memperlancar penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah, Pemerintah Kabupaten Boyolali mempunyai komitmen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan bagian dari Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), seperti tercantum dalam Undang- Undang Nomor

Lebih terperinci

Pemerintah Kota Cirebon

Pemerintah Kota Cirebon BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH NOMOR : 5 TAHUN 2016 TENTANG : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2016-2021. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG Nomor : 1 Tahun 2009 PEMERINTAH KABUPATEN MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG Nomor : 1 Tahun 2009 PEMERINTAH KABUPATEN MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG Nomor : 1 Tahun 2009 PEMERINTAH KABUPATEN MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA, Menimbang : a. bahwa agar kegiatan pembangunan

Lebih terperinci

MAJU, MANDIRI, ADIL DAN SEJAHTERA. RPJMD

MAJU, MANDIRI, ADIL DAN SEJAHTERA. RPJMD Pendahuluan 1. 1 LATAR BELAKANG Rencana Jangka Menengah Daerah () Provinsi Jambi 2010-2015 merupakan penjabaran visi, misi dan program Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi terpilih berdasarkan Pemilihan Kepala

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN MALANG TAHUN 2010 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN 2010 2015 PEMERINTAH KOTA SEMARANG TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI BALI TAHUN

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI BALI TAHUN PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI BALI TAHUN 2013-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN I. VISI Pembangunan di Kabupaten Flores Timur pada tahap kedua RPJPD atau RPJMD tahun 2005-2010 menuntut perhatian lebih, tidak hanya untuk menghadapi permasalahan

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DAN PELAKSANAAN MUSYAWARAH

Lebih terperinci

BAB - I PENDAHULUAN I Latar Belakang

BAB - I PENDAHULUAN I Latar Belakang BAB - I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, telah mengamanatkan bahwa agar perencanaan pembangunan daerah konsisten, sejalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah yang berkelanjutan merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan dalam mendukung pencapaian target kinerja pembangunan daerah. Untuk itu diperlukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional telah mengamanatkan bahwa agar perencanaan pembangunan daerah konsisten, sejalan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 5 TAHUN 2006 SERI : E.4

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 5 TAHUN 2006 SERI : E.4 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 5 TAHUN 2006 SERI : E.4 PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 5 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU

Lebih terperinci

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN BUPATI KABUPATEN ACEH SELATAN NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN 2013-2018 1.1. Latar Belakang Lahirnya Undang-undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Dalam rangka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mendukung

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mendukung LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KOTABARU NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN 2016-2021 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang P erencanaan pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2013-2018 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN PELAKSANAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG)

Lebih terperinci

11 LEMBARAN DAERAH Januari KABUPATEN LAMONGAN 1/E 2006 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR : 01 TAHUN 2006 TENTANG

11 LEMBARAN DAERAH Januari KABUPATEN LAMONGAN 1/E 2006 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR : 01 TAHUN 2006 TENTANG 11 LEMBARAN DAERAH Januari KABUPATEN LAMONGAN 1/E 2006 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR : 01 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN PELAKSANAAN MUSYAWARAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Kota Tanjungbalai telah melaksanakan Pemilukada pada tahun 2015 dan hasilnya telah terpilih pasangan M. Syahrial, SH, MH dan Drs.H. Ismail sebagai Walikota dan Wakil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan pembangunan daerah merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional, yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan

Lebih terperinci

BUPATI NGANJUK PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 02 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI NGANJUK PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 02 TAHUN 2012 TENTANG BUPATI NGANJUK PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 02 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH, RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH, RENCANA STRATEGIS

Lebih terperinci

PENDAHULUAN BAB I 1.1. LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN BAB I 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pelaksanaan pembangunan daerah yang merupakan kewenangan daerah sesuai dengan urusannya, perlu berlandaskan rencana pembangunan daerah yang disusun berdasarkan kondisi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMANDAU NOMOR 01 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN LAMANDAU TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMANDAU NOMOR 01 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN LAMANDAU TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMANDAU NOMOR 0 TAHUN 204 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 203-208 PEMERINTAH KABUPATEN LAMANDAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Lebih terperinci

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN KUDUS DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BUPATI BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Renstra BPM, KB dan Ketahanan Pangan Kota Madiun I - 1

BAB I PENDAHULUAN. Renstra BPM, KB dan Ketahanan Pangan Kota Madiun I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rencana Strategis (Renstra) Badan Pemberdayaan Masyarakat, Keluarga Berencana dan Ketahanan Pangan Kota Madiun merupakan dokumen perencanaan strategis untuk memberikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Rancangan Akhir RPJMD Tahun Hal. I LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Rancangan Akhir RPJMD Tahun Hal. I LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Provinsi DKI Jakarta merupakan kota dengan banyak peran, yaitu sebagai pusat pemerintahan, pusat kegiatan perekonomian, pusat perdagangan, pusat jasa perbankan dan

Lebih terperinci

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN CIAMIS TAHUN 2014-2019 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

Pendahuluan. I.1 Latar Belakang I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Pembangunan daerah, sebagai bagian integral pembangunan nasional, selain berkepentingan terhadap penyelenggaraan pembangunan sektoral nasional di daerah, juga berkepentingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN : PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 54 TAHUN 2008 TANGGAL : 12 SEPTEMBER 2008 TENTANG : RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) DAERAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2008-2013

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kabupaten Lebak mempunyai catatan tersendiri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pada jaman kolonial, kabupaten ini sudah dikenal sebagai daerah perkebunan

Lebih terperinci

BUPATI SERDANG BEDAGAI PROVINSI SUMATERA UTARA

BUPATI SERDANG BEDAGAI PROVINSI SUMATERA UTARA BUPATI SERDANG BEDAGAI PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA DAN PEDOMAN PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2013-2018 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 01 TAHUN 2006

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 01 TAHUN 2006 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 01 TAHUN 2006 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 01 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN PELAKSANAAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kawasan perdesaan sebagai basis utama dan bagian terbesar dalam wilayah Kabupaten Lebak, sangat membutuhkan percepatan pembangunan secara bertahap, proporsional dan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI BANDUNG, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KUNINGAN TAHUN

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KUNINGAN TAHUN RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KUNINGAN TAHUN 2014-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUNINGAN,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan pembangunan merupakan tahapan awal dalam proses pembangunan sebelum diimplementasikan. Pentingnya perencanaan karena untuk menyesuaikan tujuan yang ingin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB I PENDAHULUAN I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan Undang-undang

Lebih terperinci