NILAI UANG DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "NILAI UANG DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM"

Transkripsi

1 NILAI UANG DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM Zumaroh STAIN Jurai Siwo Metro [email protected] Abstrak Uang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari setiap manusia. Terlebih lagi pada era modern ini, segala aktivitas perekonomian dilakukan oleh masyarakat memerlukan uang untuk memperlancar mekanisme pertukaran barang dan/atau jasa. Tidak heran jika kemudian uang diasumsikan sebagai darahnya perekonomian. Kegiatan ekonomi masyarakat akan berjalan lancar jika ada uang. Ekonomi konvensional membungkus konsepsi nilai waktu dari uang dengan konsep time value of money. Time value of money merupakan sebuah konsep nilai uang yang dimiliki saat ini lebih berharga dibandingkan nilai uang masa yang akan datang. Uang yang dimiliki saat ini lebih bernilai karena dapat diinvestasikan dan memperoleh bunga. Nilai uang akan berubah (cenderung menurun) seiring dengan berjalannya waktu. Konsep utama time value of money adalah bahwa nilai penerimaan pembayaran di masa depan dapat dikonversi ke nilai setara hari ini. Sebaliknya, kita dapat menentukan nilai uang yang akan tumbuh di masa depan berdasarkan nilai uang di saat ini. Untuk mengkritisi konsep time value of money, Ekonomi Islam menawarkan konsepsi nilai uang yang disebut dengan konsep economic value of time. Melalui konsep ini, Islam memberikan argumentasi ekonomi atas pelarangan riba. Dengan konsep ini dapat dijelaskan mengapa

2 250 Zumaroh Islam membolehkah deferred payment pada perdagangan. Harga barang kredit dapat lebih tinggi dari pada pada pembelian tunai. Hal tersebut dapat dibenarkan tidak hanya sematamata disebabkan karena uang, akan tetapi lebih kepada waktu yang telah dialokasikan untuk menagih pembayaran sehingga menimbulkan biaya tersendiri. Kata kunci : nilai, uang, hukum, Islam, Ekonomi Pendahuluan Uang diumpamakan sebagai darahnya perekonomian. Uang memiliki arti yang sangat penting dalam setiap rangkaian aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat. Bagi produsen, uang merupakan faktor penting untuk dapat memproduksi barang dan jasa. Hasil penjualan barang produksi yang diperoleh dalam rupa uang merupakan keuntungan dari investasi kapitalnya. Jika keuntungan yang diperoleh besar, maka produsen dapat meningkatkan jumlah produksi serta menambah peralatan penunjang produksi untuk memperbesar usaha. Kegiatan produksi yang dilakukan oleh produsen akan bertemu dengan kegiatan konsumsi yang dilakukan oleh konsumen melalui mekanisme pasar. Pembahasan A. Peranan Uang Dalam Perekonomian Dalam mekanisme pasar, uang memegang peranan penting sebagai alat tukar. 1 Kuatnya peranan uang dalam berbagai kegiatan ekonomi didasarkan pada beberapa alasan, yaitu: pertama, pelayanan besar yang diberikan oleh uang bagi kehidupan perekonomian. Hal ini dikarenakan fungsi uang sebagai alat tukar, tolak ukur nilai, sarana perlindungan kekayaan, serta alat pembayaran hutang dan pembayaran tunai. Kedua, hubungan yang kuat antara uang dengan berbagai kegiatan ekonomi, dan pengaruh yang saling berkaitan diantaranya. Kekuatan uang bersandar pada 1 Iswardono, Uang dan Bank, (Yogyakarta: BPFE, 1999), h. 16 ADZKIYA SEPTEMBER 2015

3 Nilai Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam 251 kekuatan ekonomi, dan ekonomi yang kuat bersandar pada uang yang kuat, demikian pula sebaliknya. Ketiga, munculnya pengaruh uang dalam kehidupan perekonomian modern yang semakin kompleks. Gejolak krisis moneter dapat terjadi tiba-tiba. Hal ini menunjukkan bahwa problem keuangan juga merupakan problem ekonomi. Keempat, uang merupakan salah satu faktor kekuasaan dan kemandirian ekonomi. Hal tersebut dapat dilihat pada fakta bahwa uang merupakan salah satu bidikan utama dalam perang ekonomi antar negara di dunia. 2 Ketika uang memiliki peranan yang demikian penting dalam perputaran roda perekonomian dunia, maka menjadi suatu keniscayaan bahwa Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap uang. Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap uang sesuai dengan urgensi yang dimiliki uang itu sendiri. Perhatian Islam diwujudkan dalam penetapan kaidahkaidah yang mampu menjamin keselamatan berkenaan dengan interaksi keuangan dalam rangka menghindarkan kemudharatan terhadap uang. B. Nilai Waktu Uang Teori tentang nilai waktu uang dikenal dengan teori economic value of time yang berkembang pada abad ke-7 masehi. Teori ini muncul pada masa saat digunakannya emas dan perak sebagai alat tukar. Logam mulia emas dan perak diterima sebagai alat tukar karena nilai intrinsiknya, bukan karena mekanisme untuk dikembangkan. Karena bukan pengembangan mekanisme, maka hubungan debitur/kreditur yang muncul bukanlah hubungan yang terjadi akibat transaksi secara lansung. Hubungan debitur dan kreditur dapat dimaknai sebagai transaksi permintaan uang. 3 Konsep time value of money mengasumsikan sejumlah uang yang ada pada saat ini akan lebih berharga daripada sejumlah 2 Jaribah bin Ahmad Al Haritsi, Fikih Ekonomi Umar bin Khaththab, diterjemahkan oleh Asmuni Solihan Zamakhsyari, dari judul asli Al-Fiqh Al- Iqtishadi Li Amiril Mukminin Umar ibnu Al-Khaththab, (Jakarta: Khalifa, 2006), h Muhaimin Iqbal, Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham, (Jakarta: Spritual Learning Centre-Dinar Club, 2007), h. 18 Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Vol. 03 Nomor 2

4 252 Zumaroh uang dalam jumlah yang sana yang akan dimiliki pada waktu yang akan datang. Konsep ini dikembangkan oleh Von Bhom- Bawerk dalam bukunya yang berjudul Positive Theory of Capital. Konsep ini juga dikenal dengan konsep preferensi waktu positif. Bawerk mengemukakan beberapa alasan tentang mengapa nilai barang di waktu yang akan datang akan berkurang, yaitu: 4 1. Keuntungan masa kini sangat jelas dan pasti, sedangkan keuntungan di masa yang akan datang belum jelas dan pasti. 2. Kepuasan masa kini lebih bernilai bagi seseorang daripada kepuasan yang bisa diperoleh di masa yang akan datang. Pada masa yang akan datang keinginan seseorang dapat berubah. 3. Barang-barang pada waktu sekarang lebih penting dan berguna daripada pada masa yang akan datang. Dengan demikian, barang-barang sekarang bernilai lebih tinggi dibandingkan dengan barang-barang di masa mendatang. Bagi ekonomi konvensional ada 2 hal yang menjadi alasan intuisi mereka akan konsep time value of money, yaitu: 5 1. Presence of inflation Alasan ini dapat dipahami melalui ilustrasi berikut: pada tingkat suku bunga inflasi 10% per tahun. Seseorang dapat membeli 10 buah roti isi hari ini dengan membayar sejumlah Rp ,. Namun bila ia membelinya tahun depan, dengan jumlah uang yang sama yaitu Rp ,_ ia hanya dapat membeli 7 buah roti isi. Hilangnya daya beli uang tersebut terjadi sebagai akibat inflasi. 2. Preference present consumption to future consumption Pada umumnya, setiap individu lebih menyukai konsumsi pada saat sekarang dibandingkan konsumsi pada masa mendatang. Alasan ini dapat dipahami dengan ilustrasi sebagai berikut: jika diasumsikan tidak terdapat tingkat inflasi, dengan uang Rp ,_ seseorang tetap bisa membeli 10 buah roti isi pada saat ini maupun pada tahun depan. Bagi h Taufik Hidayat, Buku Pintar Investasi Syariah, (Jakarta: Mediakita, 2011), 5 Agus Sartono, Manajemen Keuangan, (Yogyakarta: BPFE, 1997), h ADZKIYA SEPTEMBER 2015

5 Nilai Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam 253 kebanyakan orang, mengkonsumsi 10 buah roti isi saat ini lebih disukai dibandingkan dengan mengkonsumsi 10 buah roti isi tahun depan. Pada kerangka pikir ini, meskipun dalam suatu struktur perekonomian tidak terdapat tingkat inflasi seseorang tetap lebih menyukai Rp ,_ saat ini untuk melakukan kegiatan konsumsi pada saat ini juga. Tertundanya konsumsi ke masa yang akan datang akan diperhitungkan kompensasinya oleh seseorang, meski tetap bisa mengkonsumsi sejumlah barang yang sama. C. Nilai Ekonomis Waktu Dalam pandangan Islam mengenai waktu, waktu bagi semua orang selalu sama dari sisi kuantitas; yaitu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, dan seterusnya. Nilai waktu antar individu dalam masyarakat berbeda dari sisi kualitasnya. Faktor yang menentukan nilai waktu adalah bagaimana seseorang mampu memanfaatkan waktu itu sendiri. Semakin maksimal seseorang memanfaatkan waktu dalam bekerja menghasilkan sesuatu, maka akan semakin bernilai waktu yang ia miliki, dan demikian pula sebaliknya. Dalam ekonomi Islam, penggunaan sejenis discount rate dalam menentukan harga bai mu ajjal (membayar tangguh) dapat digunakan. Hal ini dibenarkan karena: (1) Jual beli dan sewa menyewa adalah sektor riil yang menimbulkan economic value added (nilai tambah ekonomis); (2) Tertahannya hak si penjual (uang pembayaran) yang telah melaksanakan kewajiban (menyerahkan barang atau jasa), sehingga ia tidak dapat melaksanakan kewajibannya kepada pihak lain. Konsep nilai waktu atas uang dalam Islam diterbitkan dari fakta bahwa Islam melarang pertukaran yang saling menguntungkan atas emas, perak, atau nilai monetary kecuali ketika hal tersebut dilakukan dalam waktu bersamaan. Sebagai contoh, dalam skim syariah dikenal kontrak salam. Kontrak salam menyediakan ilustrasi yang lengkap atas konsep nilai waktu dari uang melalui pemberian harga barang. Salam merupakan forward kontract yang memudahkan sebuah komoditi dibeli Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Vol. 03 Nomor 2

6 254 Zumaroh untuk pembayaran secara berkala atas harga dan pengiriman di kemudian hari. Elemen dasar pada kontrak ini adalah bahwa harga yang dibayar di muka untuk pengiriman di kemudian hari atas barang lebih kecil daripada harga cash and carry pada waktu kontrak salam dijalankan. Hal tersebut mengacu pada prinsip syariah bahwa penilaian waktu sangat mungkin dalam bisnis dan perdagangan atas barang dan tidak dalam pertukaran nilai monetary dan pinjaman (debt) 6 Ajaran Islam medorong pemeluknya untuk selalu menginvestasikan dananya. Di samping itu, dalam melakukan investasi tidak menuntut secara pasti akan hasil yang diperoleh pada masa yang akan datang. Hasil investsi di masa yang akan datang sangat dipengaruhi beberapa faktor, baik faktor yang dapat diprediksikan maupun tidak. Faktor faktor yang dapat diprediksikan atau dihitung sebelumnya adalah: berapa banyak modal, berapa nisbah yang disepakati, serta berapa kali modal dapat diputar. Sementara faktor yang tidak dapat dihitung secara pasti atau sesuai dengan kejadian adalah return (perolehan usaha). Berdasarkan hal di atas, maka dalam mekanisme investasi menurut Islam, persoalan nilai waktu uang yang diformulasikan dalam bentuk bunga tidak diterima (ditolak). Dengan demikian, diperlukan formula pengganti yang seiring dengan nilai dan jiwa Islam. Hubungan formula tersebut secara filosofis dapat ditemukan formula investasi menurut pandangan Islam sebagai berikut: 7 Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani 6 Veithzal Rivai, dkk, Islamic Banking and Finance, (Yogyakarta, BPFE, 2012), h Q.S. At Taubah : 34 ADZKIYA SEPTEMBER 2015

7 Nilai Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam 255 benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih 8 Dalam ayat lain juga dijelaskan: 9 Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal 10 Dari ayat di atas, sangat jelas bahwa manusia tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Sebagian besar teori tentang manajemen keuangan dibangun berdasarkan konsep nilai dan waktu dari uang yang mengasumsikan bahwa nilai uang sekarang relatif lebih besar daripada nilai uang di masa yang akan datang. Dalam Islam, keuntungan bukan saja bersifat keuntungan yang diperoleh di dunia, namun yang diiinginkan adalah keuntungan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, pemanfaatan waktu itu selain harus efektif dan efisien, namun dengan tetap harus dilandasi pula dengan prinsip keimanan. Keimanan inilah yang akan membawa pada keuntungan di akhirat. Dalam konsep economic value of time, faktor yang menentukan nilai waktu adalah bagaimana seseorang memanfaatkan waktu. 8 Departemen Agama RI, Al Qur an dan Terjemahnya, Diterjemahkan oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur an, (Semarang: CV. Toha Putra, 1989), h Q.S. Luqman :34 10 Departemen Agama RI, Al Qur an dan Terjemahnya., h. 658 Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Vol. 03 Nomor 2

8 256 Zumaroh Semakin efektif dan efisien maka akan semakin tinggi nilai waktunya (mendapatkan keuntungan). Dalam Islam jika didasari dengan keimanan keuntungan bukan saja di dunia, tapi di akhirat juga. Jadi siapapun yang melaksanakan bisnis secara efektif akan mendapatkan keuntungan. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al Qur an : 11 Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya mentaati kesabaran. 12 D. Time Value of Money Versus Economic Value of Time Ekonomi konvensional hanya mengakui inflasi sebagai faktor yang mempengaruhi nilai waktu atas uang. Bila keadaan inflasi menjadi alasan adanya time value of money. Seharusnya, di samping inflasi, keberadaan deflasi juga turut mempengaruhi nilai waktu atas uang karena deflasi menjadi alasan adanya negative time value of money. Contohnya pada tingkat deflasi 10% per tahun, seseorang dapat membeli 10 buah roti saat ini dengan jumlah Rp Namun bila seseorang tersebut membelinya tahun depan dengan jumlah uang yang sama yaitu Rp , ia dapat membeli 12 buah roti. Namun ternyata faktor ini tidak diakomodir dalam konsep time value of money. Hanya satu kondisi yang diakomodir oleh konsep time value of money, yaitu kondisi inflasi. selain itu, dengan mengabaikan ketidak pastian return yang akan diterima, ekonomi konvensioanal menyebut kompensasinya sebagai discount rate. Tingkat bunga riil ditentukan oleh preferensi konsumsi saat ini. Jadi, istilah discount rate lebih bersifat umum dibandingkan istilah interest 11 Q.S. Al Ashr : Departemen Agama RI, Al Qur an dan Terjemahnya,h ADZKIYA SEPTEMBER 2015

9 Nilai Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam 257 rate. Hal tersebut diilustrasikan secara formulatif sebagai berikut: 13 Nominal interest rate = real interest rate + expected Discount rate = real interest rate + expected inflation + premium for uncertainty Certainty of Return = Kepastian akan Keuntungan Uncertainty of Return = Ketidakpastian dari Keuntungan Interest rate = suku bunga Discount rate = tingkat diskonto Real interest rate = Tingkat bunga riil Preferensi current consumption = Preferensi konsumsi saat ini Expected inflation = Inflasi yang diharapkan premium for uncertainty = Premium bagi ketidakpastian Jadi, dalam ekonomi konvensional ketidakpastian return dikonversi menjadi suatu kepastian melalui premium for uncertainty. Dalam setiap investasi selalu terdapat kemungkinan untuk memperoleh positif return, negatif return, dan no return. Adanya probability (kemungkinan) inilah yang menimbulkan uncertainty (kondisi ketidakpastian) dengan sesuatu yang pasti, yaitu premium for uncertainty. Keadaan ini yang ditolak dalam ekonomi Islam, yaitu keadaan al ghunmu bi la ghurmi (gaining return without responsible for any risk) dan al kharaj bi la dhaman (gaining income without responsible for any expense). 14 Discount rate dapat pula digunakan dalam menentukan nisbah bagi hasil. Dalam hal ini, nisbah dikalikan dengan actual return, bukan dengan expected return. Transaksi bagi hasil berbeda dengan transaksi jual beli atau transaksi sewa menyewa. Dalam transaksi bagi hasil hubungan yang timbul bukan seperti hubungan antara penjual dan pembeli, atau penyewa dengan yang menyewakan. Yang terjadi adalah hubungan antara pemodal dan pengelola modal tersebut. Hak bagi mereka berdua akan timbul 13 Agus Sartono, Manajemen Keuangan., h Taufik Hidayat, Buku Pintar., h Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Vol. 03 Nomor 2

10 258 Zumaroh ketika usaha memproduktifkan modal tersebut telah menghasilkan pendapatan atau keuntungan sesuai dengan kesepakatan awal. Bagi hasil dapat didistribusikan berdasarkan pendapatan (revenue sharing) atau berdasarkan keuntungan (profit sharing). Ukuran rate of return berdasarkan Islam adalah: 1. Persoalan nilai waktu uang yang diformulasikan dalam bentuk bunga adalah tidak dapat diterima. Formula pengganti yang seiring jiwa Islam adalah: Y = (QR) vw Di mana: Y = Pendapatan Q = Nisbah Bagi Hasil R = Return riil usaha (Return Realisasi) v = Tingkat pemanfaatan harta W = Harta yang ditabung 2. Dalam Islam, mekanisme ekonomi yang digunakan adalah nisbah bagi hasil dan return usaha yang terjadi secara riil. 3. Ajaran Islam menganjurkan menggunakan konsep economic value of time waktulah yang memiliki nilai ekonomis, bukan uang yang memiliki nilai waktu Terdapat beberapa model untuk menentukan rate of return, yaitu: 1. Capital Asset Pricing Model (CAPM) Merupakan model penetapan harga aset ekuilibrium yang menyatakan bahwa ekspektasi imbal hasil atas sekuritas tertentu adalah fungsi linear positif dari sensitivitas sekuritas terhadap return portofolio pasarnya. Model ini mengasumsikan bahwa return sekuritas berbanding lurus dengan risikonya. CAPM tergantung pada risk-free rate (SBI-ind) dan market portofolio. Secara sederhana, model ini dapat dimaknai sebagai sudut pandang investor dalam melihat berbagai reaksi pasar. Kondisi pasarnya selanjutnya dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan terhadap berbagai keadaan, seperti risiko ADZKIYA SEPTEMBER 2015

11 Nilai Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam 259 dan imbal hasil, serta harga keseimbangan pada suatu sekuritas. 15 Risk free rate dalam Islam tidak diperbolehkan karena hal tersebut berbasis bunga. Dalam konteks Islam CAPM sulit untuk digunakan. 2. Arbitrage Pricing Theory (APT) Teori ini merupakan pengembangan dari teori CAPM. Teori ini menyatakan bahwa harga suatu aset dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. APT merupakan alternatif model untuk menjawab permasalahan suatu hubungan antara pendapatan dengan risiko saham. Terdapat tiga asumsi dalam APT, yaitu: (a) pasar modal dalam kondisi pasar persaingan sempurna, (b) para investor selalu lebih menyukai kekayaan yang lebih daripada kurang dengan kepastian, dan (c) hasil dari proses stochastic, artinya bahwa pendapatan aset dapat dianggap sebagai K model faktor. 16 Penggunaan teori ini bergantung pada kemampuan menemukan dan menentukan daftar faktor yang dapat dimasukkan dalam model. Dengan demikian modifikasi dengan penyesuaian kondisi pasar keuangan Islami mungkin dilakukan. Perbedaan antara time value of money dan economic value of time pada penerapan ekonomi Islam dan ekonomi konvensionalnya yaitu: Rasionalitas ekonomi konvensional adalah rational economic man. Menurut rasionalitas ini, tindakan individu dianggap rasional jika tertumpu kepada kepentingan diri sendiri (self interest) yang menjadi satu-satunya tujuan bagi seluruh aktivitas. Ekonomi konvensional mengabaikan moral dan etika dalam pembelanjaan. Unsur waktu terbatas hanya di dunia saja tanpa memperkirakan waktu akhirat. Sedangkan dalam ekonomi Islam jenis manusia yang hendak dibentuk adalah Islamic man. Islamic man dianggap rasional perilakunya jika konsisten dengan prinsip-prinsip 15 Irham Fahmi, manajemen Investasi Teori dan Soal Jawab, (Jakarta: Salemba Empat, 2012), h Ibid. H Najmudin, Manajemen Keuangan dan Aktualisasi Syar iyyah Modern, (Yogyakarta: Andi, 2011), h Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Vol. 03 Nomor 2

12 260 Zumaroh Islam yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang seimbang. Keauhidan individu mendorong keyakinannya bahwa Allah-lah yang berhak membuat berbagai aturan untuk mengantarkan seseorang dapat meraih kesuksesan hidup. Ekonomi Islam menawarkan konsep rasionaliti secara lebih menyeluruh tentang tingkah laku agen-agen ekonomi yang berlandaskan etika dengan tujuan mencapai falah. 2. Tujuan utama ekonomi Islam adalah mencapai falah di dunia dan akhirat (maslahah), sedangkan ekonomi konvensional semata-mata kesejahteraan duniawi (utility). 3. Sumber utama ekonomi Islam adalah Al-Quran dan Al- Sunnah atau ajaran Islam. Berbeda dengan ekonomi konvensional yang berdasarkan pada hal-hal yang bersifat positivistik. 4. Islam lebih menekankan pada konsep need (kebutuhan) daripada want (keinginan) dalam menuju maslahah, karena need lebih bisa diukur daripada want. Menurut Islam, manusia harus mampu mengendalikan dan mengarahkan keinginan dan kebutuhannya sehingga dapat membawa manfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat. 5. Orientasi dari keseimbangan konsumen dan produsen melalui mekanisme pasar dalam ekonomi konvensional hanya mengutamakan keuntungan. Seluruh kegiatan ekonomi diarahkan untuk memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Jika tidak demikian dianggap tidak rasional. Lain halnya dengan ekonomi Islam yang tidak hanya ingin mencapai keuntungan ekonomi akan tetapi juga mengharapkan keuntungan rohani (falah). Keseimbangan antara konsumen dan produsen yang terbentuk melalui mekanisme pasar dapat diukur dengan asumsi-asumsi secara jelas. Secara jelas perbedaan konsepsi nilai uang dalam pandangan ekonomi konvensional dan syariah dapat dilihat dalam tabel berikut: ADZKIYA SEPTEMBER 2015

13 Nilai Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam 261 Tabel 1.1 perbedaan konsepsi nilai uang dalam pandangan ekonomi konvensional dan syariah Time Value of Money 1. Nilai uang hari ini lebih bermakna daripada nilai uang di masa mendatang 2. Dibangun berdasarkan sistem interest yang menghendaki kepastian imbal hasil Economic Value of Time 1. Faktor yang menentukan nilai dari suatu waktu adalah bagaimana seseorang memanfaatkan waktu 2. Dibangun atas dasar keuntungan/kerugian dalam investasi/jual beli 3. Didasarkan atas: a. Presence of inflation b. Preferensi terhadap present consumption to future consumption Esensi yang melandasi konsep time value of money pada dasarnya adalah bunga. Bunga tidak lain dan tidak bukan telah sejalan dengan konsep riba. Saat pertanyaan tentang apakah penggunaan diskonto dalam evaluasi inveatasi bertentangan dengan prinsip pelarangan riba, maka terdapat beberapa pendapat yang mengemuka, di antaranya : 1. Shabir F. Ulgener membolehkan interest rate dipakai sebagai faktor diskonto. Menurutnya harus dibedakan antara riba dengan interest sebagai faktor penghitungan efisiensi ekonomi. Ia menyatakan: selain itu, aspek paling sederhana sebagai pembayaran premi kepada pemberi pinjaman, bunga bertindak sebagai faktor diskonto paling dapat diandalkan dalam mengevaluasi dan membandingkan investasi yang berbeda serta memainkan peranan utama dalam menentukan keseluruhan struktur dari investasi dan produksi. Hal yang sangat penting bagi negara-negara terbelakang Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Vol. 03 Nomor 2

14 262 Zumaroh adalah untuk membedakan antara bunga sebagai surplus dan bunga sebagai faktor dalam menghitung keseluruhan efisiensi dalam perekonomian mereka NH Naqfi mengakui bahwa riba harus diharpuskan, namun secara individual menerima preferensi waktu positif. Ia menyatakan: karena penyimpangan Islam terhadap riba tidak harus meniadakan penjelasan Fisherian untuk keberadaan dari tingkat bunga positif yaitu produktivitas bersih dari metode roundabout dari produksi dan preferensi positifuntuk konsumsi saat ini dibandingkan dengan konsumsi dimasa yang akan datang. Fakta tersebut ditunjukkan dalam diskusi berikut bahwa preferensi waktu individual akan terus berlangsung menjadi positif Anas Zarqa dan The Report of the Workshop on Elimination of Interest from Goverment Transactions mengaplikasikan tingkat penegmbalian sebagai ganti dari tingkat bunga sebagai faktor diskonto adalah penggantian satu figur ke figur lainnya. Fakta dalam analisis ini bukan tingkatnya melainkan konsep dari nilai waktu terhadap uang. Pendiskontoan calon arus kas dari proyek akan mengakibatkan efisiensi dalam investasi. Hal ini agak dapat diterima secara islami Khan menyetujui bahwa tingkat keuntungan yang sudah mencakup risiko dapat digunakan sebagai tingkat diskonto untuk proyek-proyek swasta. Risiko terbagi menjadi 2 (dua), yakni risiko yang terkait waktu dan risiko yang tidak terkait waktu. Tingkat keuntungan harus dipisah sesuai dengan risikonya. Hanya bagian yang terkait waktu yang digunakan sebagai tingkat diskonto. Tingkat diskonto inilah yang disebut dengan nilai waktu uang yang murni Shabir F. Ulgener sebagaimana dikutip Viethzal Rivai, dkk dalam buku Principle Islamic Finance atau Dasar-dasar Keuangan Islam, (Yogyakarta, BPFE, 2012), h Ibid. h Ibid, h Najmudin, Manajemen Keuangan dan Aktualisasi Syar iyyah Modern, (Yogyakarta: Andi, 2011), h. 119 ADZKIYA SEPTEMBER 2015

15 Nilai Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam 263 Faktor diskonto digunakan sebagai cost of capital tergantung dari aset dan risiko yang digunakan. Islam membolehkan pinjam meminjam dan berinvestasi berbasis profit loss sharing. Investasi selalu mengandung risiko, sehingga penghitungan cost of capital dalam pendanaan Islam akan menjurus pada cost of equity, karena debt diperlakukan sebagai equity. Simpulan Konsep nilai uang dalam perspektik ekonomi konvensional meyakini bahwa uang di saat sekarang selalu lebih berharga dibandingkan uang di masa yang akan datang. Pendapat ini didasarkan pada nilai waktu dari uang akan selalu berubah (cenderung menurun) karena dipengaruhi faktor inflasi serta preferensi terhadap konsumsi pada masa kini dan masa depan. Uang dapat menghasilkan uang. Sedangkan dalam ekonomi Islam, Faktor yang menentukan nilai dari suatu waktu adalah bagaimana seseorang memanfaatkan waktu. Nilai uang dibentuk atas dasar keuntungan/kerugian yang diperoleh dari investasi/jual beli. DAFTAR PUSTAKA Departemen Agama RI, Al Qur an dan Terjemahnya, Diterjemahkan oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur an, Semarang, CV. Toha Putra, 1989 Fahmi, Irham, manajemen Investasi Teori dan Soal Jawab, Jakarta, Salemba Empat, 2012 Iswardono, Uang dan Bank, Yogyakarta, BPFE, 1999 Jaribah bin Ahmad Al Haritsi, Fikih Ekonomi Umar bin Khaththab, diterjemahkan oleh Asmuni Solihan Zamakhsyari, dari judul asli Al-Fiqh Al-Iqtishadi Li Amiril Mukminin Umar ibnu Al-Khaththab, Jakarta, Khalifa, 2006 Iqbal, Muhaimin, Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham, Jakarta, Spritual Learning Centre-Dinar Club, 2007 Najmudin, Manajemen Keuangan dan Aktualisasi Syar iyyah Modern, Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Vol. 03 Nomor 2

16 264 Zumaroh Yogyakarta, Andi, 2011 Hidayat, Taufik, Buku Pintar Investasi Syariah, Jakarta, Mediakita, 2011 Rivai, Viethzal, dkk, Principle Islamic Finance atau Dasar-dasar Keuangan Islam, Yogyakarta, BPFE, , Islamic Banking and Finance, Yogyakarta, BPFE, 2011 ADZKIYA SEPTEMBER 2015

TIME VALUE OF MONEY MAKALAH. Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keuangan. Dosen mata kuliah : Surepno, SE, M.Si, Akt, CA.

TIME VALUE OF MONEY MAKALAH. Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keuangan. Dosen mata kuliah : Surepno, SE, M.Si, Akt, CA. TIME VALUE OF MONEY MAKALAH Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keuangan Dosen mata kuliah : Surepno, SE, M.Si, Akt, CA. Disusun oleh : M. Shodiqin (1520320001) Faisal Akhyar (1520320010)

Lebih terperinci

MANAJEMEN KEUANGAN SYARIAH

MANAJEMEN KEUANGAN SYARIAH MANAJEMEN KEUANGAN SYARIAH SESI 3: Economic Value of Time Achmad Zaky,MSA.,Ak.,SAS.,CMA.,CA Economic Value of Time (EVT) vs Time Value of Money (TVM) TVM 1. Nilai uang hari ini lebih bermakna dari pada

Lebih terperinci

[email protected] Konsumsi Kebutuhan Inflasi Apa sih alasan berinvestasi Peningkatan Nilai Kekayaan Keinginan Ketidakpastian masa depan Penanaman uang dengan harapan : 1. Mendapat hasil, dan 2.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Budget Budget adalah ungkapan kuantitatif dari rencana yang ditujukan oleh manajemen selama periode tertentu dan membantu mengkoordinasikan apa yang dibutuhkan untuk diselesaikan

Lebih terperinci

Dasar-Dasar. Proses Valuasi. Top-down Analysis: 3 Pokok Analisis. 1. Perekonomian. Fiscal Policy. (Kebijakan Fiskal)

Dasar-Dasar. Proses Valuasi. Top-down Analysis: 3 Pokok Analisis. 1. Perekonomian. Fiscal Policy. (Kebijakan Fiskal) Proses Valuasi Dasar-Dasar Valuasi Top-down Analysis: 3 Pokok Analisis 1. Perekonomian Fiscal Policy Longgar: mendorong konsumsi (Kebijakan Fiskal) Ketat: memperlambat konsumsi Monetary Policy (Kebijakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. modal dan menawarkan sahamnya di masyarakat/publik (go public). Perusahan

BAB 1 PENDAHULUAN. modal dan menawarkan sahamnya di masyarakat/publik (go public). Perusahan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi saat ini pasar modal memegang peranan penting bagi keberlangsungan perusahaan, baik perusahaan perbankan maupun perusahaan non bank. Munculnya

Lebih terperinci

TIME VALUE OF MONEY PERSPEKTIF SYARIAH. S. Purnamasari, S.H., S. Sos.I., MSI

TIME VALUE OF MONEY PERSPEKTIF SYARIAH. S. Purnamasari, S.H., S. Sos.I., MSI TIME VALUE OF MONEY PERSPEKTIF SYARIAH S. Purnamasari, S.H., S. Sos.I., MSI Dosen Program Studi Ekonomi Syariah I Fakultas Studi Islam Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin-Indonesia I [email protected]

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bank syari ah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan

BAB I PENDAHULUAN. Bank syari ah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Bank syari ah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan bunga. Bank syari ah lahir sebagai salah satu solusi terhadap persoalan pertentangan antara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Adapun penelitian mengenai CAPM salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Dewi Irawati (2010) melakukan penelitian yang berjudul Analisis Metode CAPM

Lebih terperinci

PANDANGAN EKONOMI ISLAM TERHADAP NILAI WAKTU UANG. Rini Elvira Dosen Fakultas Syari ah dan Ekonomi Islam IAIN Bengkulu

PANDANGAN EKONOMI ISLAM TERHADAP NILAI WAKTU UANG. Rini Elvira Dosen Fakultas Syari ah dan Ekonomi Islam IAIN Bengkulu PANDANGAN EKONOMI ISLAM TERHADAP NILAI WAKTU UANG Rini Elvira Dosen Fakultas Syari ah dan Ekonomi Islam IAIN Bengkulu Email : [email protected] Abstrak :Sistem ekonomi konvensional memandang bahwa

Lebih terperinci

A. Expected Return. 1. Perhitungan expected return investasi tahunan

A. Expected Return. 1. Perhitungan expected return investasi tahunan 1 Bahan ajar digunakan sebagai materi penunjang Mata Kuliah : Manajemen Investasi Dikompilasi oleh : Nila Firdausi Nuzula, PhD Program Studi : Administrasi Bisnis, Universitas Brawijaya RETURNS Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Economic Value Added (EVA) Economic Value Added (EVA) merupakan sebuah metode pengukuran nilai tambah ekonomis yang diciptakan perusahaan dari kegiatannya selama periode tertentu.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bersumber dari dalam negeri misalnya tabungan luar negeri, tabungan pemerintah,

BAB I PENDAHULUAN. bersumber dari dalam negeri misalnya tabungan luar negeri, tabungan pemerintah, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pembangunan suatu negara memerlukan dana investasi dalam jumlah yang tidak sedikit sehingga perlu adanya usaha yang mengarah pada dana investasi yang bersumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan dengan ditandai semakin maraknya kegiatan investasi di Pasar

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan dengan ditandai semakin maraknya kegiatan investasi di Pasar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dan keberadaan isu globalisasi tidak dapat di elakkan lagi. Hal itu dapat kita lihat dampaknya pada perkembangan perekonomian dunia yang semakin

Lebih terperinci

DIMENSI WAKTU DALAM ANALISIS TIME VALUE OF MONEY DAN ECONOMIC VALUE OF TIME

DIMENSI WAKTU DALAM ANALISIS TIME VALUE OF MONEY DAN ECONOMIC VALUE OF TIME DIMENSI WAKTU DALAM ANALISIS TIME VALUE OF MONEY DAN ECONOMIC VALUE OF TIME Fetria Eka Yudiana STAIN Salatiga [email protected] Abstrak Perkembangan teori keuangan Islam dewasa ini telah menjadi masalah

Lebih terperinci

Manajemen Keuangan Bisnis I Pertemuan II. Lingkungan Keuangan Pasar, Lembaga Keu & Pasar, Bunga Keuangan

Manajemen Keuangan Bisnis I Pertemuan II. Lingkungan Keuangan Pasar, Lembaga Keu & Pasar, Bunga Keuangan Bahan Kuliah Manajemen Keuangan Bisnis I Pertemuan II Lingkungan Keuangan Pasar, Lembaga Keu & Pasar, Bunga Keuangan Dosen : Suryanto, SE., M.Si LingkunganKeuangan Pasar Keuangan Lembaga Keuangan Bunga

Lebih terperinci

ANALISIS INVESTASI DAN PORTOFOLIO ANDRI HELMI M, SE., MM

ANALISIS INVESTASI DAN PORTOFOLIO ANDRI HELMI M, SE., MM ANALISIS INVESTASI DAN PORTOFOLIO ANDRI HELMI M, SE., MM SILABUS Pengertian Investasi: Definisi Investasi, Tujuan Investasi, Proses Investasi. Pengertian dan Instrumen Pasar Modal: Pasar Perdana, Pasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pihak yang membutuhkan dana. Menurut Fahmi dan Hadi (2009:41), pasar modal

BAB I PENDAHULUAN. pihak yang membutuhkan dana. Menurut Fahmi dan Hadi (2009:41), pasar modal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peran aktif lembaga pasar modal merupakan sarana untuk mengalokasikan sumber daya ekonomi secara optimal dengan mempertemukan kepentingan investor selaku pihak

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Penulisan karya akhir ini menggunakan metode studi kepustakaan, dimana data diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang dianalisis, buku-buku, internet, surat kabar, dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. investor. Para investor yang menginvestasikan dananya, pasti akan. mengharapkan return (tingkat pengembalian) berupa capital gain, dan

I. PENDAHULUAN. investor. Para investor yang menginvestasikan dananya, pasti akan. mengharapkan return (tingkat pengembalian) berupa capital gain, dan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Investasi merupakan salah satu kegiatan yang sangat menarik bagi seorang investor. Para investor yang menginvestasikan dananya, pasti akan mengharapkan return

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. moneter, bunga itu adalah sebuah pembayaran untuk menggunakan uang. Karena

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. moneter, bunga itu adalah sebuah pembayaran untuk menggunakan uang. Karena BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Umum Suku Bunga Keynes berpendapat bahwa suku bunga itu adalah semata-mata gejala moneter, bunga itu adalah sebuah pembayaran untuk menggunakan uang. Karena tingkat bunga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal (capital market) telah terbukti memiliki andil yang cukup. besar dalam perkembangan perekonomian suatu negara.

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal (capital market) telah terbukti memiliki andil yang cukup. besar dalam perkembangan perekonomian suatu negara. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Pasar modal (capital market) telah terbukti memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan perekonomian suatu negara. Pasar modal memiliki beberapa daya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini, kegiatan investasi saham menarik perhatian masyarakat dan diminati oleh usahawan dikarenakan adanya kebutuhan yang direncanakan untuk masa depan.

Lebih terperinci

KRITIK TIME VALUE OF MONEY. Dahlia Bonang * ABSTRAK

KRITIK TIME VALUE OF MONEY. Dahlia Bonang * ABSTRAK KRITIK TIME VALUE OF MONEY Dahlia Bonang * ABSTRAK Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efesien, dan kurang cocok digunakan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Banyak cara yang dapat dilakukan investor dalam melakukan investasi,

BAB I PENDAHULUAN. Banyak cara yang dapat dilakukan investor dalam melakukan investasi, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Banyak cara yang dapat dilakukan investor dalam melakukan investasi, salah satunya adalah dengan melakukan investasi di Pasar Modal. Dalam hal ini Pasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. konsumtif sehingga pertumbuhan ekonomi dapat terwujud.

BAB I PENDAHULUAN. konsumtif sehingga pertumbuhan ekonomi dapat terwujud. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan suatu negara dapat dilihat dari kinerja dan tingkat perekonomian yang dihasilkan, dimana salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. pertama kali yang berdiri di Indonesia yaitu Bank Muamalat dapat membuktikan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. pertama kali yang berdiri di Indonesia yaitu Bank Muamalat dapat membuktikan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tahun 1997, Indonesia mengalami krisis moneter yang mampu merubah perekonomian menjadi sangat terpuruk. Hal ini berakibat kepada perusahaanperusahaan yang ada

Lebih terperinci

TEORI UANG dan PERMINTAAN UANG Uang, Fungsi Uang dan Nilai Waktu dalam Islam

TEORI UANG dan PERMINTAAN UANG Uang, Fungsi Uang dan Nilai Waktu dalam Islam TEORI UANG dan PERMINTAAN UANG Uang, Fungsi Uang dan Nilai Waktu dalam Islam Pada awalnya manusia memenuhi kebutuhannya sendiri yang dikenal dengan periode prabarter. Namun dengan semakin bertambahnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini diperlukan peranan pasar modal sebagai suatu wadah untuk memobilisasi. dana masyarakat selain lembaga keuangan.

BAB I PENDAHULUAN. ini diperlukan peranan pasar modal sebagai suatu wadah untuk memobilisasi. dana masyarakat selain lembaga keuangan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu negara. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tersebut, salah satu hal yang harus dilakukan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. secara global. Salah satu jenis investasi adalah investasi saham. Investasi

BAB II LANDASAN TEORI. secara global. Salah satu jenis investasi adalah investasi saham. Investasi BAB II LANDASAN TEORI 2.1.Investasi Tidak sedikit orang yang mau melakukan investasi karena kebutuhan hidup yang semakin meningkat, penurunan produktifitas serta ketidakstabilan situasi ekonomi secara

Lebih terperinci

Mata Kuliah - Kewirausahaan II -

Mata Kuliah - Kewirausahaan II - Mata Kuliah - Kewirausahaan II - Modul ke: Analisis Rasio Keuangan Dalam Bisnis Fakultas FIKOM Ardhariksa Z, M.Med.Kom Program Studi Marketing Communication and Advertising www.mercubuana.ac.id LINGKUNGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sistem perbankan di Indonesia didominasi oleh sistem bunga. Hampir semua

BAB I PENDAHULUAN. Sistem perbankan di Indonesia didominasi oleh sistem bunga. Hampir semua BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Sistem perbankan di Indonesia didominasi oleh sistem bunga. Hampir semua perjanjian di bidang perekonomian dikaitkan dengan bunga. Akibat sistem bunga yang

Lebih terperinci

SEKTOR MONETER, PERBANKAN DAN PEMBIAYAAN BY : DIANA MA RIFAH

SEKTOR MONETER, PERBANKAN DAN PEMBIAYAAN BY : DIANA MA RIFAH SEKTOR MONETER, PERBANKAN DAN PEMBIAYAAN BY : DIANA MA RIFAH PENGERTIAN Menurut DFID (Department For International Development) sektor keuangan adalah seluruh perusahaan besar atau kecil, lembaga formal

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dana. Menurut Fahmi dan Hadi (2009:41), pasar modal (capital market) adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. dana. Menurut Fahmi dan Hadi (2009:41), pasar modal (capital market) adalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal mempunyai peranan sangat penting dalam perekonomian suatu negara, sebagai sarana untuk mengalokasikan sumber daya ekonomi secara optimal dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian (Khairunisa, 2001)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian  (Khairunisa, 2001) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Akhir-akhir ini lembaga keuangan berlabel syariah berkembang dalam skala besar dengan menawarkan produk-produknya yang beraneka ragam dengan istilahistilah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. 1 Dalam

Lebih terperinci

MATERI 1 PENGERTIAN INVESTASI. Prof. DR. DEDEN MULYANA, SE., M.Si. CAKUPAN PEMBAHASAN

MATERI 1 PENGERTIAN INVESTASI. Prof. DR. DEDEN MULYANA, SE., M.Si.  CAKUPAN PEMBAHASAN MATERI 1 PENGERTIAN INVESTASI Prof. DR. DEDEN MULYANA, SE., M.Si. CAKUPAN PEMBAHASAN 1/19 Overview Definisi investasi Investasi dan konsumsi Proses keputusan investasi 1 OVERVIEW Setiap individu bekerja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. barang, pesaing, perkembangan pasar, perkembangan perekonomian dunia.

BAB I PENDAHULUAN. barang, pesaing, perkembangan pasar, perkembangan perekonomian dunia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini laju pertumbuhan ekonomi dunia dipengaruhi oleh dua elemen penting yaitu globalisasi dan kemajuan teknologi yang menyebabkan persaingan diantara perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. digambarkan melalui laju pertumbuhan ekonomi, salah satunya ialah

BAB I PENDAHULUAN. digambarkan melalui laju pertumbuhan ekonomi, salah satunya ialah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peran pemerintah dalam mencapai kesejahteraan masyarakat yang digambarkan melalui laju pertumbuhan ekonomi, salah satunya ialah melalui Bank Sentral. Bank Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang (Antonio, 2001). Khairunisa, 2001 ). (Karim, 2005).

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang (Antonio, 2001). Khairunisa, 2001 ). (Karim, 2005). 11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak awal kelahirannya, perbankan syariah dilandasi dengan kehadiran dua gerakan renaissance Islam Modern: neorevivalis dan modernis. Tujuan utama dari pendirian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi dalam perkembangannya ditandai dengan adanya perdagangan

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi dalam perkembangannya ditandai dengan adanya perdagangan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era globalisasi dalam perkembangannya ditandai dengan adanya perdagangan bebas. Perdagangan bebas merupakan suatu kegiatan jual beli produk antar negara tanpa adanya

Lebih terperinci

Bab 2 Arus Kas, Laporan Keuangan dan Nilai Tambah Perusahaan

Bab 2 Arus Kas, Laporan Keuangan dan Nilai Tambah Perusahaan M a n a j e m e n K e u a n g a n & P r a k 20 Bab 2 Arus Kas, Laporan Keuangan dan Nilai Tambah Perusahaan Mahasiswa dapat memahami dan menyebutkan laporan keuangan dasar dalam laporan keuangan tahunan,

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 PENDAPATAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 PENDAPATAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 PENDAPATAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 tentang Pendapatan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal

Lebih terperinci

MODUL 15 PENILAIAN OBLIGASI

MODUL 15 PENILAIAN OBLIGASI MODUL 15 PENILAIAN OBLIGASI 1. BEBERAPA ISTILAH PENTING DALAM VALUASI OBLIGASI Pengetahuan mengenai efek bersifat hutang seperti obligasi beserta metode valuasinya tidak dapat dipisahkan dari beberapa

Lebih terperinci

Security Market Line & Capital Asset Pricing Model

Security Market Line & Capital Asset Pricing Model Bahan ajar digunakan sebagai materi penunjang Mata Kuliah: Manajemen Investasi Dikompilasi oleh: Nila Firdausi Nuzula, PhD Systematic Risk & Beta Security Market Line & Capital Asset Pricing Model Sebagaimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perolehan kembaliannya berupa bunga yang relatif pasti dan tetap. 1 Investasi dalam

BAB I PENDAHULUAN. perolehan kembaliannya berupa bunga yang relatif pasti dan tetap. 1 Investasi dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Investasi adalah kegiatan usaha yang mengandung risiko karena berhadapan dengan unsur ketidakpastian. Dengan demikian, perolehan kembaliannya (return) tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sektor minyak dan gas bumi. Pengusahaan kekayaan alam ini secara konstitusional

BAB I PENDAHULUAN. sektor minyak dan gas bumi. Pengusahaan kekayaan alam ini secara konstitusional BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki sumber pendapatan dari sektor minyak dan gas bumi. Pengusahaan kekayaan alam ini secara konstitusional didasarkan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA PENELITIAN. 1) Analisis atau Uji Asumsi Dasar (Uji Normalitas). Uji asumsi dasar digunakan untuk memberikan pre test, atau uji

BAB IV ANALISIS DATA PENELITIAN. 1) Analisis atau Uji Asumsi Dasar (Uji Normalitas). Uji asumsi dasar digunakan untuk memberikan pre test, atau uji BAB IV ANALISIS DATA PENELITIAN 1) Analisis atau Uji Asumsi Dasar (Uji Normalitas). Uji asumsi dasar digunakan untuk memberikan pre test, atau uji prasyarat awal terhadap suatu perangkat atau instrumen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bagi hasil. Balas jasa atas modal diperhitungkan berdasarkan keuntungan atau

BAB I PENDAHULUAN. bagi hasil. Balas jasa atas modal diperhitungkan berdasarkan keuntungan atau 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Bank yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi menempati posisi yang sangat vital pada era perekonomian modern saat ini. Lalu lintas perdagangan dalam skala domestik,

Lebih terperinci

Measurement of assets and liabilities

Measurement of assets and liabilities Assets, liablilities and owners equity Aset (Aset) Manfaat ekonomi masa depan aset yang dikendalikan oleh perusahaan dan merupakan hasil dari transaksi masa lalu atau peristiwa. Definisi ini dibagi menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peran serta sektor perbankan. Bank pada prinsipnya sebagai lembaga

BAB I PENDAHULUAN. peran serta sektor perbankan. Bank pada prinsipnya sebagai lembaga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi dalam pembangunannya tidaklah terlepas dari peran serta sektor perbankan. Bank pada prinsipnya sebagai lembaga intermediari, menghimpun dana

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Definisi reksa dana berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1995

II. TINJAUAN PUSTAKA. Definisi reksa dana berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1995 18 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Reksa Dana Definisi reksa dana berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1995 pasal 1 ayat 27 adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat

Lebih terperinci

Pertemuan ke-1 INVESTASI & PERANAN PASAR MODAL

Pertemuan ke-1 INVESTASI & PERANAN PASAR MODAL Pertemuan ke-1 INVESTASI & PERANAN PASAR MODAL Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat memahami konsep dasar investasi, lingkungan investasi, dan peranan pasar modal terhadap investor dan perusahaan yang saling

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Menurut M.Hanafi (2008:42) pengertian ROA adalah mengukur

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Menurut M.Hanafi (2008:42) pengertian ROA adalah mengukur BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Return On Assets (ROA) Menurut M.Hanafi (2008:42) pengertian ROA adalah mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Model penetapan harga asset Capital Assets Pricing Model, biasa disebut

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Model penetapan harga asset Capital Assets Pricing Model, biasa disebut BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Model penetapan harga asset Capital Assets Pricing Model, biasa disebut CAPM. Model ini memberikan prediksi yang tepat tentang bagaimana hubungan antara risiko

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berupa capital gain. Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri (2002: 133),

BAB I PENDAHULUAN. berupa capital gain. Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri (2002: 133), BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kondisi perekenomian yang tidak stabil dan sulit diprediksi sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia bisnis dewasa ini. Kondisi tersebut bisa menyebabkan penurunan

Lebih terperinci

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 1. Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., M.Si.

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 1. Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., M.Si. TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 1 Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., M.Si. DEFINISI INVESTASI Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumberdaya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan fiskal produksi barang dan jasa yang berlaku disuatu negara, seperti pertambahan dan jumlah produksi barang industri, perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia usaha yang kian pesat saat ini menyebabkan persaingan antar perusahaan menjadi semakin ketat. Setiap perusahaan harus berjuang untuk tetap bertahan

Lebih terperinci

Biaya Modal. Biaya Modal MNC. Biaya modal MNC mungkin berbeda dengan perusahaan domestik karena:

Biaya Modal. Biaya Modal MNC. Biaya modal MNC mungkin berbeda dengan perusahaan domestik karena: PENGANGGARAN MODAL DAN STRUKTUR MODAL MULTINASIONAL http://ilerning.com/index.php?option=com_content&view=article&id=889:kegiatan-perusahaanmultinasional&catid=40:mnc-a-kurs&itemid=72 Biaya Modal 1. Modal

Lebih terperinci

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO. Tumpal Manik, M.Si. Website : http//:tumpalmanik.com

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO. Tumpal Manik, M.Si.    Website : http//:tumpalmanik.com TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO Tumpal Manik, M.Si Email : [email protected] [email protected] Website : http//:tumpalmanik.com 1 BAB I PENGERTIAN INVESTASI Materi Bab I : 1. Definisi Investasi 2. Tujuan

Lebih terperinci

Studi Kelayakan Bisnis. Pengaruh Waktu Terhadap Nilai Uang (Time Value of Money)

Studi Kelayakan Bisnis. Pengaruh Waktu Terhadap Nilai Uang (Time Value of Money) Pengaruh Waktu Terhadap Nilai Uang (Time Value of Money) Moh. Ega Elman Miska, SP, MSi Universitas Gunadarma 2016 Universitas Gunadarma Biaya dan manfaat dalam studi kelayakan bisnis biasanya bukan hanya

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Bisnis Gittinger (1986) menyebutkan bahwa proyek pertanian adalah kegiatan usaha yang rumit karena menggunakan sumber-sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perkembangannya sistem ekonomi serta sistem yang menopangnya

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perkembangannya sistem ekonomi serta sistem yang menopangnya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam perkembangannya sistem ekonomi serta sistem yang menopangnya (antara lain Akuntansi) baru kajian Ekonomi Islam dan Akuntansi Islam yang lebih terdepan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT MUSLIM SIDOMOJO KRIAN SIDOARJO MENGENAI BUNGA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEGIATAN EKONOMI

BAB IV ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT MUSLIM SIDOMOJO KRIAN SIDOARJO MENGENAI BUNGA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEGIATAN EKONOMI BAB IV ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT MUSLIM SIDOMOJO KRIAN SIDOARJO MENGENAI BUNGA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEGIATAN EKONOMI A. Analisis Persepsi Masyarakat Muslim Mengenai Bunga dalam Kegiatan Ekonomi

Lebih terperinci

Bab 3 Risiko dan Hasil pada Aset

Bab 3 Risiko dan Hasil pada Aset M a n a j e m e n K e u a n g a n 59 Bab 3 Risiko dan Hasil pada Aset Mahasiswa diharapkan dapat memahami dan menjelaskan mengenai definisi, teknik perhitungan, jenis, dan hubungan antara risiko dan hasil.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. konsumsi dari masyarakat dan korporasi mengakibatkan banyak terdapat jasa

BAB I PENDAHULUAN. konsumsi dari masyarakat dan korporasi mengakibatkan banyak terdapat jasa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fungsi bank sebagai lembaga keuangan untuk menyalurkan dana kepada peminjam yang membutuhkan dalam bentuk pembiayaan dan semakin kompleksnya kebutuhan pendanaan baik

Lebih terperinci

MENELISIK KONSEP RIBAWI DALAM TEORI TIME VALUE OF MONEY STUDI KOMPARASI ANTARA M. ANAS AL ZARQA DAN M. AKRAM KHAN

MENELISIK KONSEP RIBAWI DALAM TEORI TIME VALUE OF MONEY STUDI KOMPARASI ANTARA M. ANAS AL ZARQA DAN M. AKRAM KHAN MENELISIK KONSEP RIBAWI DALAM TEORI TIME VALUE OF MONEY STUDI KOMPARASI ANTARA M. ANAS AL ZARQA DAN M. AKRAM KHAN Khoirul Umam * Abstrak Riba menjadi ruh perekonomian ekonomi konvensional. Dalam sistem

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Investasi di pasar modal merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh oleh

I. PENDAHULUAN. Investasi di pasar modal merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh oleh I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Investasi di pasar modal merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh oleh perusahaan dalam meningkatkan laba. Jenis Investasi sangat beragam, dengan banyaknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal (capital market) telah terbukti memiliki andil yang cukup

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal (capital market) telah terbukti memiliki andil yang cukup BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasar modal (capital market) telah terbukti memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan perekonomian suatu negara. Pasar modal memiliki beberapa daya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. ditopang oleh banyaknya permintaan akan hunian yang semakin tinggi sejalan

I. PENDAHULUAN. ditopang oleh banyaknya permintaan akan hunian yang semakin tinggi sejalan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor properti merupakan sektor yang menarik mengingat sektor ini sangat ditopang oleh banyaknya permintaan akan hunian yang semakin tinggi sejalan dengan peningkatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Penelitian Terdahulu Menurut Ari (2005) pengukuran kinerja keuangan menggunakan metode economic value added (EVA) menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun secara

Lebih terperinci

Bab II. Tinjauan Pustaka

Bab II. Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Likuiditas Rasio likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampauan perusahaan-perusahaan membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan dana pada satu atau beberapa objek investasi dengan harapan akan mendapatkan keuntungan di masa mendatang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor keuangan dan pasar modal adalah bagian yang menjadi salah satu poros dalam tolak ukur perkembangan dunia dalam segala bidang. Sektor keuangan dan pasar modal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perbankan syariah, dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa bank syariah wajib

BAB I PENDAHULUAN. perbankan syariah, dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa bank syariah wajib BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia mengenai bank syariah tertuang dalam UU No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah, dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa bank syariah wajib menjalankan

Lebih terperinci

RIBA DAN BUNGA BANK Oleh _Leyla Fajri Hal. 1

RIBA DAN BUNGA BANK Oleh _Leyla Fajri Hal. 1 Hal. 1 MAKALAH Oleh : Leyla Fajri BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Sejak tahun 1960-an perbincangan mengenai larangan riba bunga Bank semakin naik ke permukaan. Setidaknya terdapat dua pendapat yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perhatian yang cukup serius dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin

BAB 1 PENDAHULUAN. perhatian yang cukup serius dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberadaan ekonomi Islam di Indonesia semakin lama semakin mendapatkan perhatian yang cukup serius dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyak

Lebih terperinci

BABl PENDAHULUAN. Berdirinya sebuah perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas. Ada

BABl PENDAHULUAN. Berdirinya sebuah perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas. Ada BABl PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Berdirinya sebuah perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas. Ada beberapa hal yang mengemukakan tujuan dari berdirinya sebuah perusahaan. Tujuan yang pertama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomiannya. Modal dapat berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

BAB I PENDAHULUAN. perekonomiannya. Modal dapat berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap negara membutuhkan modal dalam mengembangkan perekonomiannya. Modal dapat berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Akumulasi modal sangat diperlukan untuk

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 3.1 Kerangka Pemikiran

METODE PENELITIAN. 3.1 Kerangka Pemikiran III. METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Tahapan awal yang dilakukan untuk menganalisis optimasi struktur modal pada PT Pusri adalah dengan menganalisis laporan keuangan. Selain itu melihat rencana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. telah memiliki perubahan pola pikir tentang uang dan pengalokasiannya. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. telah memiliki perubahan pola pikir tentang uang dan pengalokasiannya. Hal ini BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Sebuah negara yang memiliki keuangan yang kuat dan modern, berarti telah memiliki perubahan pola pikir tentang uang dan pengalokasiannya. Hal ini menjadi sangat di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. diperlukan dana yang cukup besar, dimana pemenuhannya tidak hanya

BAB 1 PENDAHULUAN. diperlukan dana yang cukup besar, dimana pemenuhannya tidak hanya BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan industri manufaktur memicu perkembangan sektor industri jasa dan perdagangan. Perusahaan dituntut untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berinvestasi. Layaknya pasar, bursa efek dapat dikaitkan sebagai tempat

BAB I PENDAHULUAN. berinvestasi. Layaknya pasar, bursa efek dapat dikaitkan sebagai tempat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bursa efek dirancang untuk dapat digunakan sebagai tempat untuk berinvestasi. Layaknya pasar, bursa efek dapat dikaitkan sebagai tempat pertemuan antara penjual

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mendatang (Tandelilin, 2001). Seorang investor apabila ingin berinvestasi akan

BAB I PENDAHULUAN. mendatang (Tandelilin, 2001). Seorang investor apabila ingin berinvestasi akan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan harapan memperoleh sejumlah keuntungan di masa mendatang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Julius R. Latumaerissa, Mengenal Aspek-Aspek Operasi Bank Umum, Bumi Aksara, Jakarta, 1999, Cet. I, hlm. 1.

BAB I PENDAHULUAN. Julius R. Latumaerissa, Mengenal Aspek-Aspek Operasi Bank Umum, Bumi Aksara, Jakarta, 1999, Cet. I, hlm. 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga keuangan perbankan mempunyai peranan sangat penting dalam perekonomian suatu negara. Perbankan mempunyai kegiatan yang mempertemukan pihak yang membutuhkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Rasio Keuangan a. Pengertian Rasio Keuangan Menurut Kasmir (2008:104), rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Pasar modal merupakan tempat

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Pasar modal merupakan tempat 23 BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1. Pasar Modal 1. Pengertian Pasar Modal Menurut UU No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, pengertian pasar modal adalah kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pasar ini, investasi memiliki risiko dan return yang berbeda. Risiko dan

BAB I PENDAHULUAN. pasar ini, investasi memiliki risiko dan return yang berbeda. Risiko dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi dapat dilakukan di beberapa jenis pasar keuangan, mulai dari pasar uang, pasar modal, hingga pasar derivatif. Dalam setiap jenis pasar ini, investasi memiliki

Lebih terperinci

MENGENAL PASAR MODAL, SAHAM, DAN OBLIGASI

MENGENAL PASAR MODAL, SAHAM, DAN OBLIGASI MENGENAL PASAR MODAL, SAHAM, DAN OBLIGASI Sumber : http://www.adcg.ae/ Dalam dunia investasi tentunya sudah tidak asing dengan istilah pasar modal. Tidak seperti jenis pasar pada umumnya, pasar modal (capital

Lebih terperinci