*' Kupersembahkan dengan rasa
|
|
|
- Widya Agusalim
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 "Dan Dia telah menciptakan binatang ternak uatulc kamu; padanya ada bulu yang menghangatkan dan berbagai-bagai mamfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ketempat penggembalaan" (A1 Quran : Surat An Nahl, ayat 5 dan 6) *' Kupersembahkan dengan rasa syukur dan terima kasih yang sedalam-dalamnya pada yang kusayang dan kucintai bapak, ibu, abang, kakak, adik, kekasih, bangsa, tanah air dan agamaku.
2 i PERTUMBUHAN - PERKEMBANGAN BAOIAN TUBUH LUAR DAN DALAM KAMBlNG KACANG KARYA ILMIAH ZULKARNAIN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 1982
3 PERTUMBIMAN - PERICEMBANGAN BAGIAN TUBUH LUAR DAN DALAM KAMBWG -KACmG,... Oleh ZULKARNAIN Karya Ilmiah ini telah diperiksa dan disetujui oleh Prof. Dr. ~sikin Iiatasasmita Penasehat Utama Ir.. Nana Sugana Penasehat Anggota
4 "~ar~a' Ilrniah ini telah disetujui dan disidangkan dihadapan suatu Komisi Ujian Lisan pada Tanggal 11..Juni I1
5 Z W A M, Fakultas Peternakan-Institut Pertanian Bogor, Mei Pertumbuhan-Perkembangan Bagian Tubuh Luar dan Dalam Kambinp Kacang Penasehat Utama : Prof. Dr. Asikin Natasasmita Penasehat Anggota : Ir. Kana Sugana Penelitian untuk mempelajari pertumbuhan-perkembangan bagian tubuh luar dan dalam kambing Kacang dilakukan di Departemen Ilmu Produksi Ternak, Fakultas Peternakan IPB sejak November 1981 sampai Januari Materi yang digunakan 20 ekor kambing Kacang terdiri atas 10 ekor jantara. dan 10 ekor betina. Metode gang dimnakan adalah dengan pemotongan serial berdasarkan kisaran bobot potong 6,l kg sampai 14,2 kg. Seluruh bagian tubuh luar dan dalam serta komponen-komponennya dipisahkan dari tubuh kambing dan ditimbang. Organ tubuh luar terdiri dari atas kepala, kaki depan, kaki belakang, total kaki, kulit, ekor, otak, mata dan lidah. Organ tubuh dalam terdiri dari total organ tubuh dalam, total saluran pencernaan, darah dan lemak hasil ikutan internal. Dalam mempelajari ertumbuhan-perkembangan digunakan rumus alometrik Ruxley r1932) ; Y -b = -. a X- atau log Y = log - a + - b log X (Y = bobot komponen tubuh yang mengalami pertumbuhan-perkembangan; X = bobot keseluruhan; a dan b konstanta; adalah koefisien pertumbuhan). Dalam penelitian ini persentase bobot yang tinggal sebagai akibat bobot rang hilang karena proses penguraian terhadap bobot hidup pada jantan = 97,50 + 5,73 dan pada betina = 98,96 + 4,23. Hasil penelitian Zni menunjukkan bahwa kecepatan-pertumbuhan nisbi bobot total organ tubuh luar, kepala, kaki depan, kaki belakang, total kaki, kulit dan ekor terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Demikian juga halnya dewan bobot otak, mata dan lidah terhadap bobo'c kepala. Persentase total organ tubuh luai: dan kepala menurun dengan meningkatnya bobot hidup dan tidak nyata perubahannya dengan meningkatnya bobot tubuh kosong, tetapi persentase kaki kaki depan, kaki belakang dan total kaki menurun dengan meningkatnya bobot hidup dan bobot tubuh kosong, sedangkan persentase otak dm mata menurun dengan meningkatnya bobot kepala dan persentase lidah tidak nyata perubahannya dengan-
6 aeningkatnya bobot kepala. Nilai koefisien pertumbuhan nisbi organ tubuh luar pada gabungan jantan dan betina terhada -bobot tubuh koeong adalah : total organ tubuh luar = 0,532, kepala = 0,868, kaki depan = 0,693, kaki bclakang = 0,728, total kaki = 0,711, kulit = 1,066 dan ekor = 0,811, Sedangkan nilai koefisien pertumbuhan nisbi otak, mata dan lidah terhadap bobot kepala pada gabungan jantan dan betina yaitu otak = 0,174, mata = 0,587 dan lidah = 0,939. Persentase kaki depan, kaki belakang dan total kaki jantan lebih besar dibandingkan dengan betina dan persentase ekor betina lebih besar dibandingkan dengan jantan. Kecepatan pertumbuhan nisbi bobot total organ tubuh dalam, total saluran pencernaan, total darah dan lemak hasil ib-utan internal tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Persentase total organ tubuh dalam menurun dengan meningkatnya bobot hidup dan bobot tubuh kosong. Persentase total saluran pencernaan, total darah dan lemak hasil ikutan internal tidak nyata perubahannya dengan meningkatnya bobot hidup dan bobot tubuh kosong. Nilai koefisien pertumbuhan nisbi organ tubuh dalam pada gabungan jantan dan betina terhadap bobot tubuh kosong yaitu : total organ tubuh dalam = 0,720, total saluran pencernaan = 0,903, total darah = 1,033 dan lemak hasil ikutan internal =1,74O.
7 Oleh ZULELtlRNAIN FAKULTAS PETERN= INSTITU'II PERTANIAN BOGOR 1982
8 PERTUMBUHAN - PERKEMBANGAN BAGIAN TWUH LUAR DM- DAUM KAMBING KAcANG KARYA ILMIAH Karya, Ilmiah yang Dibuat untuk,memenuhi - Sebagianrdari Syarat-Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Peternakan pada Fakxltas Peternakan Institut Pertanian Bogor Oleh ZULKARNAIN Medan, Sumatera Utara Penasehat Utama Prof. Dr. Asikin Natasasmita Penasehat Anggota Ir. Nana Sugana Dosen Ilmu Produksi Ternak Kambing dan Domba PAKULTAS PETERNAKAN INSTITIPP PERTANIAN BOGOR 1982
9 KATA PENGAITTAR Bismillahirrahmanirrahim Puji syukur atas rahmat Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan Karya Ilmiah ini. Penulisan Karya Ilmiah ini merupalcan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. Asikin Natasasmita dan Ir. Nana Sugana serta Ir. Bambang Soedarmoyo yang telah memberikan bimbingan, pengarahan serta bantuan fasilitas sejak penulis melaksanalran penelitian hingga Karya 11- miah ini dapat tersusun, juga kepada bapak Supriatna.dm. pegawai Bagian Ilmu Produksi Ternak Kambing dan Domba. Ucapan terima kasih disampaikan pula pada bapak, ibu, guru dan dosen yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran serta kepada kakak, adik dan keluarga yang telah memberi semangat dalam mencapai cita-cita. Kepada rekan-rekan Adil Z.B., T. Toharmat, Yusroni, Zaim U., Nur Susilowati, Indriati dan Leni Anfina Pane penulis ucapkan terima kasih atas kerja sama yang telah terbina Selma ini. Nudah-mudahan Karya 1lmia.h ini bermamfaat bagi yang memerlukannya. Mei 1982 Penulis
10 DAFTAR IS1 KATA PENGBNTAR... DAPTAR IS1... DAFTAR TABEL... DAPTAR ILUSTRASI... DAPTAR LAMPIRAN... TINJAUAN PUSTAKA... Aspek Pertumbuhan-Perkembangan... Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan-Perkembangan... Pertumbuhan-Perkembangan bagian-bagian Tubuh... Organ Tubuh Luar... Organ Tubuh Dalam... BAHAN DAN METODE PENELITIAN... HASIL DAN PEMBAHASAN... Pertmbuhan-Perkembangan Organ Tubuh Luar dan Komponen-Komponennya... Pertmbuhan-Perkembangan Organ 'Pubuh Dalam dan Komponen-Komponemya... DAPTAR PUSTAKA... Halaman iii iv v vij: viii L 4 LL
11 1. Interprestasi Nilai - b Dalam Persamaan Alometrik Hukley Peubah-Peubah yang Digunakan Untuk Mencari Kecepatan Pertumbuhan Relatif Antara Komponen Tubuh (Y) Terhadap Bobot Total Konstanta Regresi, SEE (Standara Errors of Estimate), Koefisien Korelasi dan Nilai Tengah Y yang Disesuaikan (Adjusted Means of Y\ dari Hubungan Log. Komponen Peubah.BTOTL, BKPL, BQ, BKD dan BTKK (Y) Masing-Nasing ~Terhadap BH (X) b serta Hasil U ji "t" Nilai Konstanta Regresi, SEE (Standard Errors of Estimate), Koefisien Korelasi dan Nilai Tengah Y yang Disesuaikan (Adjusted Means of Y) dari Hubungan Log. Komponen Peubah BTOTL ;. BWL,. BKB, BKDL dan BTKK (Y) ~asing-maslng Terhadap BTK (X) b serta Hasil Uzi "t" Nilai Konstanta Regresi, ST33 (Standard Errors of Estimate), Koefisien Korelasi dan Nilai Tengah Y yang Disesuaikan (Adjusted Means of Y) dari Hubungan Log. Komponen Peubah BO, BM dan BL (Y) Masing- Masing Terhadap BKPL (X) serta Hasil Uji "t" Nilai b Konstanta Regresi, SFE (Standard Errors of Estimate), Koefisien Korelasi dan Nilai Tengah Y yang Disesuaikan (Adjusted Means of Y) dari Hubungan Log:Komponen Peubah BKL dan BE (Y) Masing- Masing Terhadap BH dan BTK (X) Serta Ha- - sil Uji "t" Nilai b... 7: Konstanta Regresi, SEE (Standard Errors of Estimate), Koefisien Korelasi dan Nilai Tengah Y yane Disesuaikan (~djusted Means of Y) dari Hubungan Log. Kom- ponen Peubah BTK, BTSP,,RLHII,..BTo!PD'. dan BTD (Y) Masing-Masing Terhadap BH (X) serta Hasil.Uji "t" itilai b..,... -
12 DAFTAR ILUSTRASI Ilustrasi Halaman 1. Kurva Hubungan Antara'Bobot Total Organ Tubuh Luar., (B~~Pli),Bobo~ KepaI.8. (BgPL) dan Bobot Total Kaki (BTKK) dengan Bobot Tubuh Kosong (BTK) Kurva Hubungan Antara Bobot Otak (BO), Bobot Lidah (BL) dan Bobot Mata (BM) dengan Bobot Kepala (BKPL) Kuxa Rubungan Antara Eobot Kulit (BKL), Bobot Total Darah (BTD) dan Bobot Kaki Belakang (BKB) dengan Bobot Tubuh Kosong (BTK) Kurva Rubungan Antara Bobot Kaki Depan (BKD) dan &bot Ekor (BE) dengan Bobot Tubuh Kosong (BTK) Icurva Ilubunaan Antara Bobot Total Saluran Pencernaan (BTSI?) dan Bobot :Total 'Organ Tubuh Dalam. (B TOTD) deng& Eobot Tubuh Kosong (BTK) Kurva Hubunaan Antara Bobot Lemak Hasil Ikutan Internal (BLI-III) dengan Bobot Tubuh Kosong (BTK)... 40
13 Lampiran Halaman I. Data Bobot Hidup, Bobot Tubuh I(osong, Bobot Total Saluran Pencernaan dan Bobot Lemak Hasil Ikutan Internal' Pada Kambing Kacang Jantan dan Bet'ina Data BobotTotal Organ Tubuh Luar, Boboe Total Organ T~buh~Dalam, Bobot Total Darah &an Bobot Xdit Pada Kambing Kacang Jantan dan Betina Data Bobot Kepala, Bobot Kaki Belakang, Bobot Kaki Depan dan Bobot Total Kaki Pada Kambing Kacang Jantan dan Betina Data Bobot Ekor, Bobot Otak, Bobot Mata dan Bobot Lidah- Pada Kambing. Kacang Jantan dan Betina Analisa Peragam (Analysis of Covariance) Untuk Membandingkan Kecepatan Pertumbuhan Relatif Bobot Tubuh Kosong (Y) Terhadap Bobot Hidup Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Tubuh Kosong dengan Bobot Hidup ,Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Saluran Pencernaan dengan Bobot Hidup Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Lemak Hasil Ikutan Internal dengan Bobot Hidup... ' Analisa Peragam Hub~mgan Antara Bahot: Total Organ Tubuh Luar dengan Bobot Hidup Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Darah dengan Bobot Hidup Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Organ 'llubuh Dalam dengan.bobot Hidup Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kulit dengan Bobot Hidup... 57
14 Halaman 3. Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kepala dengan Bobot Hidup Analisa Peragam &bungan Antara Bobot Ekor dengan Bobot Hidup Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Kaki dengan Bobot Hidup Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Saluran Pencernaan dengan Bobot 59 Tubuh Kosong Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kaki Belakang dengan Bobot Hidup Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Lemak Hasil Ikutan Internal dengan Bobot Tubuh Kosong Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kaki Depan dengan Bobot Hidup Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Organ TuKuh. Luar ' dengan.bobot Tubuh Kosong , Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Organ Tubuh Dalam dengan Bobot Iubuh Kosong Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Darah dengan Bobot Tubuh Kosong Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kaki Total dengan Bobot Tubuh Kosong Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kulit dengan Bobot Tubuh Kosong Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kaki Belakang dengan Bobot Tubuh Kosong Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kepala dengan Bobot Tubuh Kosong Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kaki Depan dengan Bobot Tubuh Kosong Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Ekor dengan Bobot Tubuh Kosong... 65
15 Larnpiran Halarnan 29. Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Otak dengan Bobot Kepala Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Lidah dengan Bobot Kepala Analisa Peragarn Hubungan Antara Bobot Mata dengan Bobot Kepala... 66
16 Dewasa ini dengan meningkatnya jumlzh dan pendapatan penduduk Indonesia, telah mengakibatkau peningkatan per- mintaan terhadap hasil-hasil peternakan. Terutama permin- taan terhadap daging, diperkirakan tingkat konsumsi tahun 1983 mencapai 571 ribu ton melebihi produksi sebesar 518 ribu ton dengan proyeksi rata-rata kenaikan total permintaan sebesar 5,8 persen (Anonymous, 1980). Tetapi penyediaan protein hewani tidak cukup hanya mengandalkan sumber dari temak potong seperti sapi dan kerbau saja, oleh karena itu untuk mengatasinya perlu diadakan pelzgembangan ternak gang berpotensi besar dan be- lum dikemban&an secara maksimal. Salah satu ternak yang dimaksud yaitu ternak kambing. Ternak kambing memberikan beberapa keuntungan bagi petani peternak, antara lain : 1) Sebagai ternak penghasil daging, susu, Wit dan pupuk, 2) sebagai hewan tabungan, 3) cepat berkembang biak dan beranak lebih dari satu dalam satu kali melahirkan, 4) modal yang diperlukan relatif kecil, 5) kandang dan pemeliharaamya sederhana dan tidak membutuhkan tenaga yang banyak, 6) dapat menggunakan limbah pertanian sebagai makanan dan 7) mempunyai resiko pemeliharaan gang kecil. Kambing Kacang adalah salah satu bangsa kambing yang belum dikembangkan. Kambing ini termasuk bangsa kambing yang bertubuh kecil dengan bobot tubuh kambing betina -
17 20 kg sampai 25 kg dan bobot tubuh kambing jantan 30 kg. Kambing ini sangat subur untuk berkembang biak dan terke- nal karena lcetahanannya terhadap pengaruh lingkungan ser- ta tersebar luas di Indonesia (Sosroamidjoyo dan Soeradji, 1979 dan Sumoprastowo, 1980)- Di Indonesia kambing Kacang diusahakan secara tradi- sional yaitu masih berupa peternakan kecil-kecilan di pe- desaan. Banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain kurangnya modal, kurangnya penyuluhan mengenai usaha pe- ternakan kambing, kurangnya data hasil penelitian dan usaha-usaha untuk rnenyampaikannya kepada masyarakat teru- tama mengenai pertumbuhan-perkembangan dan lain-lain. Pertumbuhan tubuh ternak dapat di j adikan alat untuk melihat penampilan produksinya. dipeng-i Pertumbuhan tubuh sangat oleh pertumbuhan bagian-bagian tubuh yang ter- diri atas organ-organ tubuh luar dan dalam. Sebagian da- ri organ-organ ini adalah organ yang masak dini, ha1 ini karena organ tersebuk merupakan organ pengatur dan penun- jang aktifitas tubuh, saluran pencernaan makanan, penga- tur peredaran darah dan cairan tubuh, pengan@;kut zat-zat makanan dan sisa pembakaran di dalam tubuh. Pertumbuhan organ-organ tersebut dipengaruhi oleh tata laksana, makanan, jenis kelamin, umur &an bangsa ternak. Oleh karena itu di dalam usaha pengembangan pe- ternakan sangat penting artinya pangontrolan terhadap faktor-faktor yang merangsang dan menghambat pertumbuhan organ-organ tubuh ternak.
18 Tingkat pertumbuhan organ-organ tubuh luar dan dalam, saluran pencernaan, darah dan lemak dapat d i m melalui pemotongan ternak yang akan diteliti, sehingga tingkat pertumbuhan organ-organ tersebut dapat diketahui. Tinglrat pertumbuhan hi dapat juga diketahui dari persamaan yang menggambarkan hubungan antara masing-masing organ dengan bobot hidup atau bobot tubuh kosong. Peneliti-peneliti terdahuln seperti Natasasmita (1978) pada ternak kerbau, Ranthy (1981) pada ternak dom- ba dan Rusli (1982) pada ternak kelinci lokal umumnya mengguuakan persamaan Huxley (1932). Mereka ruenggunakan bobot organ-organ tubuh diatas sebagai peubah bagi per- samaam pertumbuhan-perkembangan. Besarnya bobot potong yang optimal untuk memperoleh produksi daging yang tinggi dengan organ-organ tubuh lu- ar dan dalam, saluran pencernaan makanan, darah dan lemak yang sesuai untuk menunjang proses pertumbuhan yang nor- mal pada kambing Kacang belum banyak diteliti. Peneliti- an ini bertujuan untuk mempelajari dan membandingkan ke- cepatan pertumbuhan nisbi bagian tubuh luar dan dalam serta komponennya selama proses pertumbuhan-perkembangan kambing Kacang.
19 Aspek Pertumbuhfin-Perkembanen Semua mahkluk yang hidup di dunia ini pasti akan meng- alami pertumbuhan-perkembangan. Natasasmita (1978) mengata- kan. pertumbuhan-perkembangan ialah pertumbuhan yang terus menerus tanpa hambatan, mulai dari awal kehidupan sampai menwpai bobot dewasa. Spedding (1970) juga mengatakan bah- Wa pertumbuhan domba berlangsung sejak kelahiran sampai de- uasa atau dipotong, tetapi kelahiran umumnya telah dijadikan batas dimulainya proses ini. Lebih lanjut Natasasmita (1979) telah'.. menaartikan bahwa pertumbuhan-perkembangan adalah pe- rubahan bentuk dan komvosisi tubuh hewan sebagai akibat ada- nya kecepatan pertumbuhan nisbi yang bekbeda-beda antara. komponen tubuh. Peneliti lain mendefenisikan bahwa pertumbuhan sebaha- gian adalah hisebabkan oleh pertambahan jualah sel, pening- katan ukuran sel dan penlimbunan jaringan ikat ekstra sellu- leir (Hammond, 1971). Sedangkan Hafez dan Dyer (1969) men- jelaskan bahwa pertumbuhan meliputi pertumbuhan alat-alat reproduksi, pertambahan bobot, besar dan panjang tubuh dan lain-lain. Pertumbuhan-perlcemb?.ngan dapat dipelajari dengen meng- gunakan rumus yang dikemukalran Huxley (1932). Rumus ini lebih tepat bila didasarkan pada bobot tubuh mutlalr dibandixgkan dengan umur lrhronologis. Natasasmita (1978) membuktikan bahwa umur khronologis tidak mempengaruhi pertumbuhan nisbi komponen Barkas terhadap bobot karkas.
20 ~aktor-~aktor gank Mempengasuhi Pertumbuhan- Perkembangan Pertumbuhan- perkembangan yang dialami seekor ternak dalam kehidupan ke.dang-kadang berlanpzsun~ cepat atau lambat ataupun sangat sedikit sekali perubahannya. Dari sejak la- hir den~an pemberian makanan yang bergizi baik, seekor sa- pi aka tumbuh mensikuti kurva Sigmoid, semakin cepat pada waktu remaja dan &an turun secara perlahan-lahan pada wak- tu mendekati dewasa (Berg dan Butterfield, 1976). Natasasmita (1979) mengatzkan bahwa pada tahap awal pertum- buhan terjadi peningkatan'bobot tubuh yang cepat, kemudian semakin lambat sampai ternak tersebut dewasa. Pertumbuhan ini disebut pertumbuhan positif dan setelah tua terjadilah pertumbuhan yang negatif. Jenis kelamin, makanan, bangsa dan umur mempengaruhi proses aertumbuhan ini. Banyak hasil psnelitian yang me- nunjdckan bahwa pada jenis kelamin yang berbeda terdapat perbedaan laju pertumbuhan, efisiensi pemaka5an makanan dan karkas (Cole, 1974). Jenis kelamin ini juga.berpengaruh kepada pertumbuhan-perkembangan darah, kepala, kulit, kaki dan saluran pencernaan kerbau (Bubalus-bubalis), dan tidak berpengaruh terhadiip pertumbuhan-perkembangan organ-organ dada (Natasasmita, 1978). Nalbandov (1958) menemngkan bahwa hormon androgen pada hewan jantan merangsang pemben- t-&an protein yang akan menaikkan penyerapao Nitrogen se- hingga pertuinbuhan -perkembangan menjadi lebih cepat dan-.
21 mencapai bobot tubuh akhir yang tinggi. Disamping itu and- rogen juga dapat meningkatkan ukuran otot pad8 hewan jantan (Lawrie, 1966). Dengan demikian domba jantan akan mempunyai 3ubuh ysng lebih besar dan lebih ramping dibandingkan dengan domba betina (Fourie- et - a1 * ). Charles'dan Johnson (1975) memperliha'hkan pengaruh.- pemberian makanan terhadap proses pertumbuhan. Mereka me- nemukan bahwa makanan sedikit,pengaruhnya terhadap komposisi karkas kerbau kebiri dan psda empat keiompok perlakuan ma- kanan tidak terda-pat perbedsan antara proporsi daging, tu- lang, lemak dan jarinaan ikat. Disamping itu domba Rainbou- illet jantan tidak akan menimbun lemak yang berlebihan wa- laupun dapat menghabiskan makanan yang banyak dibandingkan dengan domba Rambouillet betina (Shelton dan Carpenter, 1972). Dan pada pertumbuhan kompensasi ternak do3ba ter- nyata bahwa pertumbuhan lcarkas, paru-paru, usus besar dan kepala tidak berkurang selama kehilangan bobot tubuhnya (Winter & g., 1976). Pengaruh bangsa dilaporkan oleh Fourie et &, (1970) yang menyimpulkan bahwa pada analisa pertumbuhan nisbi kar- kas terhadap umur ternyata domba Romney mempunyai karkas yang lebih besar dan ramping dibandingkan dengan domba Shoutdown. Dan tidak ditemukan perbedaan pertumbuhan nisbi komposisi tubuh terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong antara domba Kuzaffargani, ~uzaffarganjx&orset.dan Muzaffar- ganixsuf f olk (Kalanidhi et a1.-,.1978).
22 Pengaruh umur didapat dari hasil penelitian McMeekan (1940) bahwa pada ternak babi ternyata tulang dan daging tumbuh lebih dahulu dari pada lemak, dan tulang memperlihatkan laju pertumbuhan yang rendah ketika mencapai umur dua puluh sampai dua puluh empat minggu, kemudian menurun lagi. Sampai umur enam belas minggu laju pertumbuhan da- ging masih tinggi, kemudian disusul oleh lemak. Lemak dapat mempertahankan kecepatan pertumbuhan yang relatif lebih tinggi sampai umur dua puluh empat hingga dua puluh delapan minggu. Pertumbuhan-Perkemban~n Bagian-Bagian Tubuh Organ Tubuh Luar Kepala, kaki, ekor dan kulit termasuk kepada organ tubuh luar. Kepala, kaki dan ekor sebagian besar terdiri atas tulang-tulang. Pada waktu pre natal ternak mempunyai pertumbuhan kepala serta kaki yang cepat dan ketika lahir kepala, kaki serta seperempat karkas depan lebih berkem- bang dibandingkan dengan seperempat karkas belakang (Hafez, 1963). Keterangan ini didukung oleh oleh Spedding (1970) yang menyatakan bahwa pada waktu lahir, anak'domba telah mempunyai kepala yang besar, kaki yang panjang dan organ perasa yang sempurna. Tetapi dengan bertambahnya panjang dan dalam tub& ternyata proporsi kepala, leher dm kaki menjadi lebih kecil. Koesnandar (1980) menunjukkan bahwa jenis kelamin domba lokal berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan -
23 nisbi bobot hasil ikutan eksternal (kepala, kaki dan kulit) terhadap bobot hidup d.an domba jantan nempuny.ai lcecepatan pertumbuhan nisbi lebih besar dibandingkan dengan betina. Sedanakan Kirton (1970) menemukan bahwa kambing jantan mempunyai kulit dan kepala yang lebih berat dibandingkan dengan kambing betina (Capra hircus). HasiS penelitian lain mendapatkan bahwa koefisien pertumbuhan untuk kulit pada kerbau (Bubalus-bubalis) tidak berbeda dengan satu untuk kedua jenis kelamin (Natasasmita, 1978). Sedangkan pada percoba- 9 an pertumbuhan kompensasi domba Corriedale didapat bahwa. koefisien pertumbuhan kepala tidak berbeda nyata terhadap satu dan lebih kecil dari satu untuk koefisien pertumbuhan kaki (Winter-- et a1.,1976), sememtara itu untuk ekor didapati koefisien pertumbuhan yang sama Acngan satu (Kirton-- et ale, 1972) a Pertumbuhan-perkemhangan organ-organ yang berada pada bagian kepala penting diketahui, karena organ-organ terse- but sangat berpengaruh kepada fungsi organ-organ tubuh yang lain. Organ-organ tersebut ialah o%ak, mata dan lidah. Penelit ian Kir'con (1972) menun;jukkan bahwa otak dan sumsum tulang belakang mempunyai pertumbuhan nisbi yang rendah seeudah dilahirkan. Sedangkan jenis kelamin memberi- kan hasil ti.dak berbeda nyata pada pertumbuhan lidah domba. Pernyataan diatas didukung oleh Hafsz (1963) yang menyata- kan bahna otak dan mata adalah organ yapg 'mas& dini.
24 Organ Tubuh Dalam Organ tubuh dalam mempunyai fungsi fisiologis yang.khu- sus di dalam tubuk seperti mengatur peredaran udara dan cairan tubuh. Perkembangan organ-organ ini juga ditentukan oleh fungsinya di dalam tubuh hewan dan tidak jarang ada perkembangan yang berbeda antara laasing-masing hewan yang sejenis. Ssdangkan saluran pencernaan (rumen, reticulum, omasum, abomasum, usus halus dan usus besar), fungsi fisic-, logisnya berhubungan den~an makanan, faali pencernaan, pe- nyerapan sampai pembuangan sisa-sisa proses metabolisme. Total Organ Tubuh Da1am.-- Peneliti'an mengenai 6rg3b tubuh dalam telah banyak dilakukan antara lain. : WarArop dan Combe (1960) menunjukkan bahwa 'bobot nisbi. hati, jan- tung dan ginjal terhaca~, bobot hidup berkurang selama be-- berapa minggu setelab lahir &an lcemudian konstan. Seebeck (1973) mengatakan bobot hati,, ginj51, 'Santung daq paru- paru menurun dibandingkan dengan bobot tubuh kosong pada sapi persilangan Africa yang mengalami kehi.3-angan bobot tubuh, dan ginjaltidak nyata perubahannya dengan meningkat- bobot tuhh kosong'. '. Pallson dan Verges (1952) men&- jukkan bahwa.jantung pada ternak domba lebih berperan pada bobot tubuh dan bgrkembang baik pada semua perlakuan makan- an, sedangkan organ-orem seperti hati, limpa dan.-. giajal perkembangannya lebib &ipengaruhi.oleh kandungan zat makan- an pada saat akan dipotong dibandinglcan dengan mu??.
25 Pengaruh jenis kelamin dijelaskan oleh penelitian Kirton (1970) bahwa bobot hati, limpa dan pan-paru kambing liar jantan lebih ringan dibandingkan dengan kambing liar betina dan bobot jantung kambing Bostriana yeg.dikebiri lebih berat dibandingkan dengan bobot jantung domba (Owen dan Norman, 1977)- Tetapi Ranthy (1981) mendapatkan bahwa pertumbuhan nisbi bobot organ tubuh dalam domba Priangan terhadap bobot hidup tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Demikian juga dengan yang ditemukan oleh Natasasmita (1978) bahwa ternyata pertumbuhan nisbi limpa, hati, jantung, paru-paru dan trachea kerbau terhadap bobot setelah dipuasakan tidak berbeda nyata diantara kedua jenis kelamin, Saluran Pencernaan.-- Saluran pencernaan pertumbuhan dipengaruhi oleh macam dan bentuk makanan. Wardrop (1960) mengatakan bahwa bentuk dari makanan akan dapat mempengaruhi pertunbuhan nisbi rumen, abomasum, omasum dan retikulum terhadap bobot hidup. Selanjutnya dikatakan bahwa pemberian susu akan menghambat pertumbuhan rumen dan retikulum dan juga mengakibatkan abomasum mencapai bobot yang abnormal pada Giga minggu setelah diberi hijauan. Pertumbuhan keempat perut tersebut akan normal bila diberi hijauan. Koesnandar (1980) mendapatkan bahwa jenis kelamin tidak mempengaruhi kecepatan pertumbuhan nisbi bobot total
26 saluran pencernaan terhada;? bobot hidup dan bobot tubuh kc- song. Walaupun demikian Kirton (1970) telah melaporkan bahwa kambing liar jantan mempunyai bobot Saluran pencer- naan yang lebih ringan dibandingkan dengan kambing betina. Darah.-- Darah makhluk terdiri.stas d ~ bagian-yaitv, a bagian cahran yang disebut plasma darah dan bagian yang padat biasanya disebut sel-sel darah merah dan sel-sel da- rah putih. Dari segi makanan darah ini sansat penting sebagai medium pengangkutan oksigen dan zat-zat makanan keseluruh tubuh dan membuang sisd-sisa proses metabolisme keluar tubuh. Jumlah darah sekitar lima sampai sepuluh persen dari bobot tubuh, bergantung pada jenis makanan dan umur ternak. Volume darah t erutema berhubungan dengan ak- tif itas jaringan tubuh. (Loosli, 1979). Doornenball (1967) melaporkan bahwa volume darah per unit bobot tubuh akan menurun dengan kenaikan bobot hidup, karena penurunan jum- lah protein atau kenaikan jurnlah lemak tubuh per unit bo- bot tubuh. Hasil penelitian Ranthy (1981) pada domba Garut menun- jukkan bahwa pertumbuhaxnisbi bobot total darah terhadap bobot hidup dipengaruhi oleh jenis kelamin. Hal ini di- dulrung oleh Natasasmita (1978) yang mendapatkan bobot da- rah jantan lebih tinggi dibandingkan yang betina pada ker- bau yang telnh dipuasakan. Sedangkan Nalbandov (1958) menaatakan jumlah erythrocyt dan konsentrasi.baemoglobine-
27 lebih rendah pada hewan betina dibandingkan dengan hewan jantan dan pada hewan yang dikastrasi ternyata jumlahnya lebih rendah bila dibandingkan dengan yang terdapat pada hewan jantan dan betina. Hal ini karena androgen mempu- nyai fungsi merangsang pembentukan sel-sel darah merah serta memperlancar aliran darah di dalam tubuh. Pengaruh bangsa diterangkan oleh Truscott -- et a1 (1976) yang menyimpulkan bahwa pada sapi kebiri Friesian dan Angus dengan bobot tubuh total yang sama memberikan hasil tidak berbeda nyata pada bobot dm&. Cemak Hasil Ikutan Internal.- Jenis kelamin, umur tern& dan komposisi makanan ternak ternyata sangat mem- pengaruhi kecepatan penimbunan lemak, Berutama makanan yang mengandung energi tinggi. Bila kalori yang diambil melampaui keperluan pertumbuhan daging dan tulang, maka lemak akan disimpan oleh tubuh (Hafez dan Dyer, 1969). Hasil penelitian Mukhaty (1971) pada sapi memperli- hatkan bahwa perbedaan jenis kelamin ternyata menmjukkan bobot; l ~ m a k yang paling rendah pada sapi jantan, paling tinggi pada sapi betina dan diantaranya pada sapi kebiri. Hal ini didukung oleh oleh Kirton et a1 (1972) rang menje- laskan bahwa perbedaan bangsa dan jenis kelamin mempenga- ruhi lemak internal domba dan berbeda nyata. Natasasmita (1978) menyatakan bahwa bobot lemak omental mempungai hu- bungan yang kurang erat terhadap bobot potong dan bobot tubuh kosong pada ternak kerbau jantan (Bubalus-buba1is)-
28 dan betina. Pada bobot potong dan bobot tubuh kosong yanp lebib rendah, kerbau j antan mempunyai lemak omental yang relatif lebih tinggi dari pada kerbau betina. Tetapi pada bobot potong dan bobot tubuh kosoqg yang lebih tinggi, ke- adaan men j adi sebaliknya.. Kirton -- et a1,(1972) menunjukkan bahwa lemak mammae dan lemak mesentric akan mulai ditimbun dengan meningkatnga lemak tubuh domba. Charles dan Johnson (1975) telzh menyimgulkan dari penelitiennya pada kerbau kebiri bahwa ternyata penimbunan lemak ceadrung terjadi paaa umur 2ebih kecil dari 30 bulan.
29 BABAN DAN MEZODE PENELITIAN Penelitian untuk mengetahui pertumbuhan-perkembangan bagian tubuh luar dan dalam kambing Kacang telah dilakukan di Departemen Ilmu Produksi l'ernak, Fakultas Peternaan, Institut Pertanian Bogor. PenePitian ini dilakukaa mulai bulan November 1981 sampai bulan Januari Penelitian ini menggunakan dua puluh ekor kambing Kacang, yang terdiri atas sepuluh ekor jantan dan sepuluh ekor betina. Kambing tersebut diperoleh dari beberapa daerah di sekitar kota Bogor. Beberapa hari sebelum men- capai bobot potong, ternak tersebut dipelihara di dalam kancang dan diberi makan serta minum - ad libitum. Kambing dipotong secara serial, dikelompokkan menjadi sepuluh kelompok terdiri atas satu ekor jantan dan satu ekor betina. ma enan belas jam. Sebelum pernotongan dilakukan pemuasaan sela- Pemotongan dilakukan pada vena Yugula- ris setiap jam menurut ketentuan agama Islam. :Pemo- tongan pada kelompok pertama yaitu pada bobot potong enam kilogram. Bobot pernotongan berikutnya ditambah sepuluh persen dari kelompok bobot potong sebelumnya, dengan mengi- kuti ketentuan sebagai berikut : bobot potong ke i = 6(1 + 0,l) i = 1, 2, 3, Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan bagian tubuh luar dan dalam yaitu organ-organ dan komponen yang terda- pat di bagian luar dan dalam tubuh, terdiri atas kepala dan komponennya, kaki, lit, ekor, daqali, saluran pencernaan,
30 lemak hasil ikutan internal dan to*al organ tubuh dalam. Seluruh bagian yang diperlukan datanya dipisahkan dan di- timbang. Bobot hidup (BH) adalah bobot kambing pada saat akan dipotong setelah dipuasakan selarnaenam belas jam. Bobot Tubuh Kosong (BTK) diperoleh dari perhitungan yaitu bobot hi- dup dikurangi bobot isi saluran pencernaan dan isi kantung kenlih, Darah ditampung di ember penampungan dan kepala di- pisahkan dari tubuh dengan memotong pada bagian atas tulang atlas, kemudian ditimbang dan didapat bobot kepala (BKPL). Keempat kaki dipotomg pada persendian metacarpal dan metatarsal, kemudian ditimbang dan didapat bobot kaki depan (BKD) serta bobot kaki belakang (EKB). Bobot kaki depan dan kaki belakang dijumlahkan d m didapat bobot total kaki (BTICK). Kulit yang menutupi tubuh termasuk bulu, kulit di kaki dan kulit kepala ditimbang dan didapat bobot kulit (BKL). Kemu- dian ekor ditimbang dan didapat bobot ekor (BE). 3obot total darah yaitu bobot darah yang ditarnpung pada saat pemotongan ditambah dengan bobot darah yang ada di jantung (BTD). Isi rongga perut dan rongga dada dikeluarkan. Saluran pencernaan yang terdiri dari kelompok lambung, usus halus dan usus besar dikeluarkan isinya, dicuci dan ditimbang, didapat bobot total saldan pencernaan (BTsP). Lemak saluran pencernaan yang ter- diri atas lemak mesentrium dan lemak omentum digabung dengan lemak jantung, lemak mammae dan lemak hat3 lalu ditirnbang seluruhnya menjadl, bobot lemak hasil ikutan internal (BLIIII). Bobot Total organ tubuh luar merupr.kan pen jumlahan dari bobot kepgla, bobot kaki depan dan belakane, bobot kulit dan bobot
31 ekor (BTOTL). Bobot total organ tubuh dalam adalah junlah bobot paru-paru, bobot hati, bobot jantung, bobot limpa, bobot ginjal clan bob0t pangheas (BTOTD). ICemudian bagian kepala dibuka dan ditimbang bobot otak (BO), bobot bola mata (BM) dan bobot lidah (BL). Untuk menganalisa data secara statistik,huxley (1972) b telah memberikan suatu persamaan alometrik Y = 2 X- yang da- pat digunakan untuk mempelajari proses pertumbuhan-perkembang- an berbagai komponen tubuh, dimana Y adalah bobot komponen tubuh yang mengalami perbmbuhan-perkembangan, X adalah bobot keseluruhan, 2 clan - b adalah konstanta, b_ disebut koefisien pertumbuhan dan _a adalah tingkat pertumbuhan per unit bobot tubuh.. Bentulr persamaan dapat diubah kedalam bentuk loga- ritma. pada Tabel 2 dapat dilihat hubungan-hubungan yang di- pela jari. Pengaruh jenis kelamin terhadap pertumbuhaa-perkembang- an diuji d~ngan menggunakan analisa peragm yang diuraikan oleh Snedecor dan Cochran (1967). Jika nilai b antara jantan dan betina berbeda nyata, berarti jenis kelamin mempengarulli pertumbuhan-perkembangan. Dan jik~. tidak berbeda nyata berar- ti tidak ada pengaruh jenis kelamin terhadap pertumbuhan relatif Y terhadap X. Apabila - b tidak berbeda nyata maka digukan nilai b - gabungan didalam menentukan kecepatan pertumbuhan -perkembangan tanpa memperhatikan jenis kelamin. Selanjutnya dilakukan uji beda nyata terhadap nilai 5. jika berbeda nya- ta berarti ada perbedaan persentase yang tetap antara jenis kelamin, jika tidak berbeda nyata berarti perbedaan
32 antara jenis kelamin bailc dalam kecepatan pertumbuhan maupun tingkat pertumbuhan. Dengan melihat kecepatan pertumbuhan nisbi, peningkat- an persentase organ dan komponen-taibuh serta potensi pertumbuhan nisbinya, maka dapa-k dilihat interprestasi nilai - b dari persamaan alometrik yang ditabulasi Natasasmita (1978) sebagai berikut : Tabel 1. Interprestasi Nilai & Dalam Persamaan Alometrik Huxley Interprestasi Besarnya nilai b b( 1 b = 1 b, 1 1. Persentase Y dengan Berkurang Tidak nyata Bertambah meningkatnya nilai perubahannya peubah bebas X 2. Kecepatan pertumbuh- Lebih kecil Bersamaan Lebih an relatif Y diban- besar dingkan dengan X 3. Waktu perkembang- Mas& dini Masak sedang an Y atau dini sekali 4. Potensi pertumbuh- Potensi Potensi an relatif rendah sedang masak lambat atau lambat sekali Potensi tinggi Juga diterangkan bahwa nilai $ dalam persamaam alomet- rik tidaklah mempunyai arti khusus gang penting, tetapi ni- - lai a ini penting bagi pengujian statistik antar kelompok perlakuan.
33 Tabel 2. Peubah-peubah yang Digunakan Untuk mencari Kecepatan Pertumbuhan Helatif Antara Kompo nen Tubuh (Y) Terhadap Bobot Total (X) IJomor Y P e u b a h X 1 BTK BE- 2 BTOTL BH 3 BKPL BH 4 BKD BH 5 BKB BH 6 BTKK BH 7 BKL BH 8 BE BH 9 BITWL BTK 10 BKPL BTK 11 BKD BTK 12 BKB BTK 13 BTKK BTK 14 BKL BTK 15 BE BTK 16 BO BKPL 17 BPI BKPL 18 BL BKPL 19 BTOTD BH 20 BTSP BH 21 BTD BH 22 BLHII BH 23 BTOTD BTK 24 BTSP BTK 25 BTD BTK 26 BLHII BTK
34 HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini persentase bobot yang tinggal seba- gai akibat bobot yang hilang karena proses penguraian terha- dap bobot hidup pada jantan = 97, ,73 dan pada betina = 98,96 2 4,23. Hal ini disebabkan oleh pengarhh faktor-f ak- tor tehnis dan suhu ruangan penelitian terhadap penguapan ob jek penelitian. Pertumbuhan-Perkembangan Organ Tubuh Luar dan Komponen- Komponennya Dalam Tabel 3, 4 dan 5 dapat dilihat hasil analisa pe- ragam dan nilai tengah Y yang disesuaikan dari hubungan antara bobot organ tubuh luar dan-.komponennya dengan bobot hidup dan bobot tubuh kosong. ~0ta.l Organ Tubuh Luar.-- Hasil analisa menun jukkm je- nis kelamin tidak berpengaruh pada pegtunbuhab nisbi bobot to- ealorgan tubuh luar terhadap bobot hidup dan bobot tubuh ko- song. Ranthy (1981) juga mendapatkan bahwa jenis kelamin ti- dak berpengaruh pada pertumbuhan nisbi bobot hasil ikutan eksternal terhadap bobot hidup. Tetapi Koesnandar (1980) mendapatkan bahwa pertumbuhan nisbi hasil ikutan eksternal domba Priangan terhadap -bobot hidup dipengaruhi j enis kelamin. Perbedaan ini karena kisaran bobot hidup domba yang dipakai 10 sampai 37,5 kilogram sedangkan kambing 6,10 sampai 14,2 ki- logram. Disamping itu bobot tubuh dewasa kambing kacang le- bih rendah dari pada domba, sehingga jenis kelamin kambing Kacang tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan nisbi bobot-
35 qtabel 3. Konstanta Regresi, SEE (Standard Errors of ~stimate) Koefisien Korelasi dan Nilai Y yane Disesualkan (~djusted Means of.xi dari Hubungan Log. Komponcn Peubah BTOTL, BKPL, BKB, BKD. dan BTKX (Y) Masing-Masing Terhadap B.H (x) serta Hasi 1 U ji "t" Nilai b NiIai Tengah Y Peubah 1) Kostnnta Repesi - Sm NdPai b ya disesuaihn 2, No. Sex r Log X Log Y Log 5 b + Sb (%) h <l b=l b > l Log Anti Log (-1 1. BE BTOTL 5-0,080 0, ,065 0, ,60 * 3, B -0,343 0, ,081)~~ 0, * 3, )~~ 2. BH BKPL J -0,323 0, ,072)Ns 0,021 96,99 * 2,882 B -0,551 o,% ,092 0,029 ~ 5 ~ 8 0 * 2, G -0,445 0,838 0,056 0, * 2, BE BKB J -0,018 0, ,129 0,038 Q,23 * 2, )is B -0,532 0, ,15l'~~ 0,047 85,16 * 2, G -012Sq 0, ,097 0,045 83,34 * 2,272 1n 762 )NS Keteran~an : E jontan; B = betina; G = Biabung& antara jantan dm betina. padti nilai tengah geometrfk BH =. 9445,6 gr sepanjang. slope regresi gabungan.. Uji a atau b ridak berbeda nyata. * ~ilai.. - konsgnta 2 nyata (~<0,05);* Berbada sangat nyata (~<0,01) &tuk b = 1,.b_<l, 27.1.,
36 bobot 'total 0nga.n tubuh luar. Koefisien pertumbuhan nisbi bobot total organ tnbuh lu-.ar. terhadap bobot tubuh kosong pada kedua jenis kelamin sama dengan satu, sedangkan terhadap bobot hidup pad$ kam- bing jantan lebih kecil dari satu dan pada betina sama deng- an satu. Ral ini menunjukkan bahwe k-ambing jantan dan be- kina mempunyai bobot 'total brgan tubuh luar yang masak se- dang. Persentase bobot totsl organ tubuh lua3 tidslr nyata perubahannya dengan meningkatnya bobot tubuh kosong dan me- nurun dengan meningkatnya bobot hidup. Spedding (1970) mcnyatakan' persentase bobot total ke- pala, kulit dan kariiipada domba sewaktu lahir adelah 34,4 persen dari bobot tubuh kosong dan pada waktu berumm enam belas minggu persen dari bobot tubuh kosong. Sedangkan Hammond (1971) menyatakan bahwa tulang lebih da- hulu, berkembang dibandingkan dengan daging dan lemak. hingga kepala dan kaki yang sebagian besar terdiri atas tulang akan mempengaruhi pertumbuhan nisbi bobot total -Organ tubuh luar, dan lebih dahulu Rerkembang tau sama dengan bo- bot tubt&. Kurva pertumbuharr tedapat pada Ilustrasi 1'0 Kepa1a.-- Se- Pada data yang dicantumkan terlihat bahwa pertumbuhan nisbi kepala terhadap bobot hidup dan bobot tq- buh kosong membtlrikan hasil tidak bcrbeda nyata antara ke- dua jenis kelamin. Koesnandar (1980) menyatakan bahwa per- tumbuhan kepala dipengaxuhi oleh jenis kelamin yzitu dom- ba jantan mempunyai kecepatan pertumbuhan nisbi yang lebih besar dibandingkan dengan domba bekina. Perbedaan ini -
37 Tabel 4. Konstanta Regresi, SEE (standard Errors of ~stimate) Koefisien Korelasi dan Hila1 Tenph Y yang ~isestiaikan (~djusted Means of Yj d ari Hubungan Log. Konponen Peubah BTOTL, BKPL, BKB, BICD dan BTKK '(Y) Mesing-Mesing Tsrhedap serta Hasil U ji "t" Nilai 1 (x) Nilai Tangah Y2) Peubah 1) Konstanta Regresi Nilai b yg disesuaikm No. Sex SGE r Log X Log Y (96) b (1-' b=l b71 Log Anti Log ( BTK BTOTL J 2. BTK BKPL J 3. B'I?K BKB J G 4. BTK BKD J 5. BTK BTKK J 3 G B G B B G B G Keteranaan a J = jantan; B = betfnn; G = gabungan antara.jantan dan betina. Dihitung pada nilai tengah geornetrik BTK = 7lO7,O gr sepanjatig slope regresi gabungan. )* Uji a atau b berbeda n~ata (~(b,05); dan )NS iidak bzrbeda nyata. * Nilai konstanta - b nyata(p<0,05);**berbcda sangat nyata(~(ci,01) utw b_=l,b_(l, 91, PJ IU
38 - Persamazn Gabungan LogBTOTL= -0, ,922 Log X 0 Persamaan Gabu~go? LO^ BDL = -0 :5oi + - 0,668 Log A e Persaluaen Gzbungan Log BTKK = -0, ,711 Log X o -.- = Betina X = BTK (gram) Ilustrasi 1. Kurva Hubungax Antara, Bobot ~ otal Orgab Tuba-.Zuar '(BTOTL), Bobot. Xepala (-~~)..dan Bobo~ Total Kakl (BTIIEE;) dengvl Bobot Tubuh Kcsong (.BTK)
39 mungkin karena kambing Kacana jantan dan betina keduanya mempunyai tanduk dan fungsi kepala pada kedua jenis kelamin tidak berbeda, sedangkan donba prian~an,jantan digunakan s,ebagai- tern&,aduan 'besaf dan 'berkembang dengan baik. sehingga kepala Ian tanduhwa lebih Menurut Haf ez (1963) bahwa pada waktu prenatal ternak mempunyai pertumbuhan kepala yang cepat, dan dengan bertam- bahnya panjang badan serta dalam dada proporsinya menjadi lebih kecil (McMeekan, 1940). Hal ini terlihat pada hasil penelitian ini dimana kambina jantan dan betina mempunyai koef isien pertumbuhan nisbi terhadap bobot tubuh kosong sa- ma dengen satu. Sedangkan terhadap bobot hidup pada kambing betina sama dengan satu dan pada kambing jantan lebih cil. dari satu. Sehingga dapat dika$akan bahwa kepala kambing mengtilami masaic sedang dan persentase kepala tidak nyata perubahannya dengan meningkatnya bobot tubuh kosong, Kepala adalah organ yanr penting dalam kehidupan karena berfungsi sebagai Pelindung organ-organ yaag berpe- ran didalam mengkoordinasi fungsi-fungsi organ tubuh yang lainnya seperti otak dan mata. Oleh karena itu tumbuh le- bih cepat pada awal kehidupan atau bersanc.an dengan pertum- buhan tubla. Kurva pertumbuhan keraapat pada Tlustrasi 1. Ota, Nata dan Lidah.-- organ-organ yaitu otak, mata dan lidah. Pada bagian kepaa terdapat Dari hasil anali- sa terlihat bahwa otak, mata dan lidah pertumbuhan nisbinya terhadap kepala tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, -
40 Tabel 5. Konstanta Regresi, SEE (standard Errors of ~stimate), Koefisien Korelasi dan Nilai Tengah Y yang Disesuaikan (~djusted Heans of Y) dari Hubungan Log. Komponen Peubah BQ, Rl,den EL-(Y) Hasing-Masint? Terhadap BKPL (x) serta Hasil Uji '!tw Hi1ai.b BUlai Tengah Y Peubah 1) Konstanta Regresi Hilai b yg disesuaikan 2 1 Ro. Sex SEE r Log X Log Y Log b + Sb (%) b<l b =I b >l LOK Anti Log (PI - 1. BKPL BO J 1,415 0, ,089 0,022 53,14 ** 1,872 '74 H 1,295 0, ,071)~~ 0,020 69,60 ** 1,854 71" G 1,360 0,174 _+ 0,058 0,023 57,60 +* 1, , BIIPL BM.I -0,832 0,693 j: 0,118 0,029 90,05 + 1, B -0,214 0, ,099)~' 0, ,210 16)* G -0,507 0, ,089 0,035 Us16 ** BKPL BL f -1,688 1, ,063 83,41 * 1, B -0,733 0, ,209)~~ 0,034 80,19 ii )*' G -1,186 0,939 _+ 0,174 0,069 78,61 * 1, Xetervlgan : L J = jantan, B = betina, '2 = gabungan antara jantan dan betina. 2 1 Dihitung pada nilai tengah geometrik BWL = 768,O gr :.sepanjang slope regresi gabungan. )* Uji P atau b berbeda nyata (~<0,05); )NS xidak berbeda nyata. * Nilai konstanta b nyata (P <0,05); * Berbeda sangat nyata (~<0,01) untuk b_ = 1, b _<l dan b_>l dan
41 Persmaao Gib-gm Log 30 = l,j60 + 0,17& Log X Log BL = -1, ,939 Log X Persamav Ga?mngul - bog 314 = -0,507 0,587 Log X = Jantan loo : = BKPL (grzm) Ilustrasi 2. kma 7iubungan Antaza Bobot Ot& ((Bo), Bobot Lidah (3%) d a Bobot Xaka (BPI) dengvl Bobot Kepala (BKPL)
42 sedangkan koefisien pertumbuhan untuk otak dan mata terhadap bobot kepala lebih kecil dari satu dan lidah koefisien pertumbuhannya sama dengan sah. Hasil ini menunjukkan bahwa otak dan mata adalah organ yang masak dini karena sanaat diperlukan didalam mengkoordinasi fungsi alat-alat tubuh yang' Lain dan lidah' adalah organ yana masak sedang. Persentase otak dan mata menurun denaan meningkatnya bobot kepala sedangkan lidah tidak nyata perubahannya dengan meningkatnya bobot kepala. Gambar kurvanya dapat dilihat pada 1111strasi 2, HaSil pengematan di atas didukung oleh Hafez (1963) yang menyatakan bahwa otak dan mata adalah organ yang berkembang Ubih dahulu dan Kirton (1972) menunjukkan bahwa otak mempunyai pertumbuhan nisbi yang rendah sesudah lahir. Menurut Dukes (1955) lidah pentingdi dalam proses memamah biak dan pencampuran makanan dengan air ludah. Lidah menbawa bolus makanan pada antara lidah dan langit-langit atas pada posisi yang mudah untuk ditelan. Kaki.-- Pertumbuhan nisbi bobot kaki depan,bobot kaki belakang dan bobot total kaki terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong pada penelitian ini tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Dari tabel dapat dilihat b~hwa koefisien pertumbuhan nisbi bobot kaki depan pada kedua jenis kelamin, bobot kaki belakang dan total kaki pada kambing jantan terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong lebih kecil dari satu den kaki belakang kambing betina sama denaan
43 I/ F -. ~390 per sanaan Gabungm- Log BKL = -1,2& + i, 066 Log X Persunrzn Gabungar?, 590 Log BTD = -1: , persanaen Ga-~~usga Log BEB = -0,572 i 0,728 Log P 200 o -.- = Betine 100 loog X = ETK (grzm) Ilustrasi 3. Kmve Ruoungvl Antarz 3obot %&it (Bm), Bobot Total Darah (BTD) dab Bobot K&i Beldtrang (BKB) dengm Bobot Tdbuh Kosong (BTK)
44 satu. Koefisien pertumbuhan nisbi bobot total kaki kambing betina terhadap bobot hidup lebih kecil dari satu dan ter- hadap bobot tubuh kosong sama dengan saku. Hal ini menun-,jukkan bahwa kobot kaki depan, bobot kaki belakang dan bobot total kaki jantan mas& dini dan bobot kaki belakang Clan bobot total,:-kaki kambing betina masak sedang. Persentase b0bo.b kaki depan, bobo-t; kaki belakang dan bobot total kaki menurun dengan meningkatnya bobot hidup dan bobot tabuh kosong. H a ~ ipenelitian l ini tidak berbeda dengan hasil penelitian Winter -- et a1. (1976) yang mendapatkan nilai koefisien pertumbuhan lebih kecil dari satu pada pertumbuhan nisbi kaki terhadap bobot tubuh kosonp, domba yang mengalami pera tumbuhan konpensasi. Terdapat perbedaan perse~tase yang tetap antara jenis kelamin dimana bobot kaki depan, bobot kaki belakang dan bobot total kaki pada hub'maannya dengan bobot tub& kosong kambiw jantan mempunyai persentase yang lebih tinggi di- bandingkan den~an kambing betina. K&i juga merupakan organ yana penting artinya.dalam kehidupan sebagai alat untuk berpindah tempat atau untuk mencari makanand Oleh karena itu pertumbuhan cepat pada awal kehidupan. Wasi 1, 3 dan 4.. Kurva pertumbuhan kaki tezdapat pada Ilus- %kor dap Xulit,-- Pertumbuhan ~isbi ekor dan kulit terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong pada penelitian -
45 Tabel 6, Konstanta Regresi, SEE (standard Errors of ~stimate), Koefisien Korelasi. dan Nilai Tengah Y yangdisesuaikn (~djusted Means of Y) dari Efabungan Log. Komponen Peubah BKL dan BE (Y) Masing-Masing Terhadap BE dan BTX (x) serta Rasil Uji 'at* Nilai b Nilai Tenaah Y -. 2) 1) Konstanta Re-esi Nila5 b ND. A sex SEX r yg disesuaikan ~og LO^ x Y Log a b + $D (96) b_ (1 b =I 1 L O ti LO^ 1. BH BKL J -0,797 0, ,103 0,030 95,26 * 2,837 68TINs B - 3 1, ,136)~' 0,043 93,47 + 2, BE E J - 3 G -1,003 0, ,063 0, * 2, ,592 2 O,lQ7 0,032 89,02 * B -1,003 0,586 d- ~,282)" ~, 8 8 (gr) 59,'22 * 1, * 3. OTg: BKL J -1,275 1,070 0,047 0, * 2, B -1,298 1, ,162)NS 0, * 2, )" G -1,264 1,066 ' 0,083 0,035 94,94 4i 2, B E ~3 J -1,274 0, ,126 0,033 8i7,94 * 1, B. -2,054 0, ,214)6[S 0,062 82,21 * 1, * G -1,837 0,8ll+ 0,UO 0, * 1, KeteranGn t = jantan; B = betina; G =@abun&n antara Jantan dan betina. 2 I] Dihitung pada dlai tengah geometrik BE P 9445,6 gr, BTX= 7107';.0 gr sepanjang slope regre si gabungan. ) * UJi a atau b berbeda nyata (P < 0.05) ; dan )NS Tidak btrbeda nyata. * blilai konstanta _b nyata (~(0.05);. untuk _b = 1, b.41, b> 1
46 - 400 E a k bn V 300 '2 - Q a I! 200 * Persamaan Gabungan Log BID = -0, ,693 Log X Persamaan GKbmgal X = ETK (gram) ~iustrasi 4. Kurva Hubunga Antma Bobot E&i De~m (BKD) dm Yobot Ekor (BE) dengm Yobot Tubuh Kosoag (BTX)
47 ini menunjukkan hasil tidak berbeda nyata antara kedua jenis kelamin. Nilai koefisien pertumbuhan nisbi bobot ekor terhadap bobot tubuh kosong pada kambing jantan lebih ke-,cil dari satu dan sama dengan satu pada kambing betina, sedangkan terhadap bobot hidup sama dengan satu untuk kedua jenis kelamin. Hal ini menunjukkan bahwa ekor adalah organ yang masak dini. Pada betina persentasenya tidak nyata perubahannya dengan meningkatnya bobot hidup dan bobot tubuh kosong, tetapi pada jantan menurun dengan meningkatnya bobot tubuh kosong. Ekor berguna untuk mengusir serangga pengganggu dan melindungi alat kelamin. Disamping itu terdapat perbedaan persentase yang tetap antara kedua jenis kelamin dimana persentase ekor kambing betina lebih besar dibandingkan dengan Kambing jantan. Koefisien pertumbuhan nisbi kulit terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong sama dengan satu, yang berarti kulit termasuk organ yang masak sedang dan persentase kulit tidak nyata perubahannya dengan meningkatnya bobot hidup maupun bobot tubuh kosong. Hal ini 'ditunjang oleh penemuan McMeekan (1940) yang mengatakan bahwa kulit mempunyai bobot yang kecil pada semua umur kecuali pada waktu lahir. Kulit juga adalah salah satu organ yang paling utama dipengaruhi oleh hormon pertumbuhan (Hammond, 1971). Karena kulit berfungsi melindungi organ-organ tubuh yang lain, sehingga pertumbuhannya selalu bersamaan dengan bobot tubuh kosong.
48 Pertumbuhan-Peckembawan Organ 'Pubuh dalam dan Komponen-Kompone~ya Pertumbuhan-perkembangan total organtubuh dalam-dan total saluran pencernaan dapat dilihat pada Tabel 7 dan 8, dimana dapat dilihat pertumbuhan nisbinya terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong. Total Organ 'Pub* ~a1am.- Hasil anal'i;sa JnenlmJulrkan bahwa pertumbuhan nisbi total organ tubuh dalai terhadap hobot hidup dan bobot tubuh kosong tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Hasil penelitian Ranthy (1980) menunjukkan bahwa pertumbuhan nisbi bobot total organ internal pada domba Garut terhadap bobot hidup tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Natasasmita (1978) menyatakan bahwa koefisien pertumbuhan nisbi limpa, hati, jantung, paruparu dan tracheo terhadap bobot hidup pada kerbau setelah dipuasakan tidak dipengaruhi Qleh jenis kelamin. Nilai koefisien pertumbuhan nisbi total ore;an+hbuh dalamkambing betina terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong sama dengan satu dan kambing jantan lebih kecil dari satu. Hal ini berarti kambing betina mempunyai total organ internal yang masak sedang dan kambing jantan masak dini. Persentase -bob& total organ tubuh dal? kambing menurun dengan meningkatnya bobot hidup dan bobot tubuh kosong. Pertumbuhan yang fkbih, dini dgri- totalor- %an hbuh dalam diperlukan karena men jalankan f ungsi-f ungsi fisiologis yang diperlulszn dalam partumbuhan.
49 Tabel 7. Kcmstanta Regresi, SEE (Standard Errors of ~stimate) Koefisien Xorelasi dan Nilai Tengah Y yang Disesuaikan (~djusted Means of Y) dari Habungan Log. Komponen Peubah BK, BTSp, BLHII, BTOTD dan BTD (Y) Masing-Masing Terhadap BH (x) serta Basil Uji 'It" Nilai 3 Wilai Tengah Y2) ao, S - h - - 1) Konstmta Remesi b disesuaikan Sex SEE I Log X Log Y Log a 2 Sb &) b<1 b=l b>l Log AntiLog (gr> G 0,481 0, ,083 0, * 3, BE BTSP 5 +,So6 0, ,123 0,036 93,32 * 2,7% 6 11 B -1,6'30 1,115 ~3 0 ~207)~~0,06~ 88,53 * * 5. BH BLEII ~2882 0,507 0, * 2, : 3 -$: ,.0652 o,611)ns0,190 52,47 Y 2, ** BE BTOTD 3 0,482'. 0, ,152 0, * 2, * INS B +,890 0,&2 2 0,109 Or * 2, Keuranpn : x) J = jantan, B P betina, G = $abun@;an antara jantan dan betina- 2) Dihitung pada nilai tengah geometrik BH = 9445,6 5 stpanjaw slope regresi gabungan. )* UjF a atau b berbeda nyata. (P< 0.05); dan )NS iidak bfrbeda nyata. * Nilai konatanta b_ nyata(~<0,0$; ~ t ub k = 1, b (1, 2) 1 -
50 Total Saluran Pencemaan.-- Isi saluran pencernaan sangat bervariasi diantara individu-individu ba& jantan mau- pun betina dan ha1 ini berpengaruh kepada bobot hidup maupun bobot tubuh kosong. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa koefisien pertumbuhan nisbi bob& tubuh kosong terhadap bp- bot hidup dan bobot total saluran pencernaan terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong memberikan hasil tidak berbeda nyata diantara kedua jenis kelamin. Hasil yang sama didapati pada penelitian terhadap domba oleh:.koesnandar (1980) dm Setiena (1981).pads. domba Priangan. Koefisien pertumbuhan nisbi bobot tubuh kosong terhadap bobot hidup pada jantan dan betina sama den~ali satu. Hal ini berarti bahwa bobot tubuh kosong tumbuh bersamaan deng- an bobot hidup. Setiangkan nilai koefisien pertumbuhan nis- +. bi bobot total saluran pencernaan terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong juga.sma dengan satu, yang menunjukkan bahwa bobot total saluran pencernaan termasuk organ yang nasals sedang dan persentasenya tidak nyata perubahannya deng- an meningkatnya bobot hidup dan bobot tubuh kosong. Setiana (1981) mendapatkan bahwa bobot total lambung, bobot ~sus halus dan bobot usus besar masing-masing termasuk organ yana masak dini atau masak sedang. Hal ini karena saluran pen- cernaan berfungsi dalam proses pencernaan makanan, sehingga pertumbuhannya dituntut un-tuk secara bersamaam dengan
51 El0. Tabel 8, Konstanta Regresi, SEE (standard Errors of ~stimate) Koefisien Korelasi dan Nilai Tengah Y yang Disesuaikan (Adjusted Means of Y! ds2i Hubungan Log. Komponen Peubah msp, BLHII, TQOTD dan BTD (Y) Masing-Masing Terhadap BTK (x.) serta Basil Uji 'It" Nilai - b Nilai Teugah Y Aubah 1) Konstanta Regresi SE r. Nilai b YR. disesoaikan 2 Sex Log X Log Y h.og 2?J + Sb (%) b <l h=l b)-1 Log Anti Log (-1 L.BTK BTSP J.. B G. 2. B E RLHII J B G 3. BE ~ O T D a B 4. BTX BTD J G B G. Keterangan r I jantan; B = betina; C = gabungan antara jantan dan betina. 2 Dihftung pgda PLilai tengah geometrik BTI( = 7107,O gr. sepan jang slope regresi gabungan. )**~ji a atau b berheda nyata (P< 0,01); dan )NS tidak berbeda nyata. * Nilai konstanta 2 nyata (~<0,05) uutuk b = 1, b<l, b) 1
52 Persanaan, Gabmgan Log BTSF = -0, ,903 3og X Fersamaan Gabungm LO~B'POTD = 0, ,720 LO^ x -. * = Janta~ o -.- =Bethna 100 i X = BTK (gram) 11ust=&si 5. Eurva Hubungm An~ara Bobot Total Saluran Pencernam (BTSP) dm Bobot Total Orgm Tubuh.Dalarn (B'IIOTD) dengan Bobot Tuba Kosong (B!!?K)
53 bobot- tubuh. Dari nilai Y yang disesuaikan pada hubungan antara bobot total saluran pencernaan terhadap bobot hidup terdapat perbedaan persentase.yang tetap antara kedua jenis kelamin, tetapi pada hubungan terhadap bobot tubuh kosong tidab: terdapat perbedaan tersebut. Kurva pertumbuhar, total organ tubuh dalamdan total saluran pencernaan dapat dilihat pada ilustrasi 5. Pada Tabel 7 dan 8 dapat dilihat hasil analisa peragam dan nilai tengah Y yang disesuaikan dari hubungan antara bobot total c'lr& dan bobot lemak hasil ikutan internal terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong. Total Darah.-- Pada Tabel dapat dilihat bahwa pertum- buhan nisbi bobot total darah terhadap bobot hidup dan bo- bot tubuh kosong tidak berkeda nyata diantara kedua jenis kelamin. Hasil yang sama didapati oleh Rusli (1982) pada kelinci lokal dimana jenis kelamin tidak berpengaruh nyata terhadap kecepatan pertumbuhan nisbi bobot t;otal darah ter- hadap bobot hidup. Tetapi berbeda dengan yang d5.dapati oleh Ranthy (1981) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan nis- bi bobot total darah terhada~ bobot hidup dipengaruhi oleh jenis kelamin.
54 Nilai koefisien pertumbuhan total. darah terhad-ap bobot hidup dan bobot tubuh kosong pada kambing jantan dan betina ' sama dengan satu yang berarti bahwa organ yang maaak sedang. aotal darah termasuk Perse~tase total darah tidak nya- ta perubahamya dengan meningkatnya bobot hidup dan bobot tubuh kosong. Tetapi nilai koefisien pertumbuhan ini cend- rung lebih besar pada kanbing jantan dibandingkan dengan kambing betina walaupun nilai tersebut tidak berbeda nyata. Sehingga dapat diduga bahwa hewan jantan mempunyai potensi yang lebih besar dibandingkan dengan yang betina. Dukes (1955) belah menyatakan bahwa hewan jantan gang. lebih aktif biasanya mempunyai volume darah yang lebih ting- gi dibandingkan dengan Fang tidak aktif. Nalbandov (1958) juga menyatakan bahwa jumlah erythrocyte dan konsentrasi haemoglobine lebih tinggi pada hewan jantan rlibandingkan dengan hewan betina. Lemak Rasil Ikutan Internal.-- Jenis kelamin tigak..berpengaruh.pada pertumbuhan nisbi lemnk has21 ikutaa internal terhadap bobot hidup dan dan bobot tubuh kosong-dan pada kedua jenis kelamin bernilai satu. Ini berarti bahwa. lemakhasil ikutan internal adalah komponen yang mas& sedang dan perseiltasenya tidak nyata perubahannya dengan rneningkatnya bobot hidup dan bobot tubuh kosong. Dari nilai tengah Y yang disesuaikan terlihat adanya perbedaan persentass yang tetap antara jenis kelamin pada pertumbuhan nisbi bobot total lemak hasil ikutan internal
55 - -. ~luskrasi 5. KWva Bubwlgzli Antar2 gojot Lemd< Yasl, %tan Tnternel (BLZII) dengan Bobot Tub-& Kosong (BTI;)
56 terhadap bobot tubuh kosong. Persentase loma. hasil ikutan internal pada kambing betina (2,69 persen) lebih tinggi dari kanbing jantan (1,5 persen). Hasil yang sama diperoleh Ranthy (1981) sang menyatakan bahwa kecepatan pertumbuhan nisbi bobot lemak hasil ikutan internal pada domba jantan beksamaan dengan bobot- hidup tetapi persentase ini untuk domba betina bertambah dengan meningkatnya bobot hidup. Natasasmita (1978) menyatakan bahwa kerbau jantan mempunyai lemak omental yang lebih tinggi dari pada kerbau betina pa-.- da bobot potong dan bobot tubuh kosong yana rendah, sedang- kan pada bobot potong dan bobot tubuh kosona yang lebih tinggi keadaan menjadi sebaliknya. Disamping itu domba jan- tan dapat meng'nabiskan makanan dalam jumlah gang banyak tanpa menyebabkan penimbunan lemak dibandingkan dengan dom- ba betina (Shelton dan Carpenter, 1972). Hal inilah yang menyebabkan persentase lemak pada kambing 5etina lebih tinggi dibandingkan dengan kambing jantan. Kurva pertum- buhan nisbi total darah dan lemak hasil ikutan internal terdapat pada Ilustrasi 3 dan 6...
57 Dari hasil penelitian'terhadap pertumbuhsn-perkembangan 'bagian tubuh luar dan dalam kambing Kacang. disimpulkbn : 1. Kecepatan pertumbuhan nisbi bobot total Organ tubuh. luar,. bobot kcpala, bobot kaki belakang, bobot kaki depan, bobot total kaki, bobot *lit, bobot ekor, bobot total organ tubuh dalam bobot.total saluran pencernaan, bobot total darah dsn bobot lemak hasil ikutan internal terhadap bobot hidup dan bobot tubuh kosong tidak dipenaaruhi oleh jenis kelamin. Kecepatan pertuffibuhan nisbi otak, b0bot mata dan bobot lidah terhadap bobot kepala tidak dipensaruhi oleh jenis kelamin, 2. Pada gabunsan jantan dan betina, persentase bobot total organ tubuh dalam dan bobot. lcepala menurund~ngan meningkatnya bobot hidup dan tidak nyata perubahannya denaan meningkatnya bobot tubuh kosong. Persentase bobot kaki belakang, bobot kaki depan, bobot total kaki dan b0- bot. total 'organ -Gubuh dal.am menurun dengan- meningkatnyz bobot hidup dan bobot tubuh kosong,. sedangkan persentase bobot kulit, bobot ekor, bobot total darah, bobot total saluran pencernaan dan bobot lernzli hasil ikutan internal tidak nyata perubahannya dengan meningkatnya bobot hidup dan bobot tubuh kosong, Persent;ase bobot lidah tidalr nyata perubahannya dengan meningkatnya bobot kepala dan persentase bobot otak serta bobot mata menurun dengan meningkatnya bobot kepala.
58 3. Persentase bobot kakibelakang, bobot kaki depan, bobot total kaki dan bobot lemak hasil ikutan internal pada kambing jantan lebih besar dibandingkan dengan kambing betina. Sedangkan persentase bobot ekor pada kambing betina lebih besar dibandingkan dengan kambing jantan. 4. Seluruh komponen bagian tubuh luar dan dalam mempunyai potensi pertumbuhan nisbi dari rendah sampai sedang.
59 DA3'TA.R PUSTAKA Anonymous Buku Petunjuk Usaha Peternakan. Cetakan pertama. Margie Group. Jakarta. Berg, R.T. and R.M. Butterfield New Concepts of Cattle Growth. Sydney University Press. Charles, D.D. and E.R. Johnson Live weight gains and carcass composition of buff a10 (Bubalus-bubalis) steers on four feeding regimes. ~us-em: Cole, D.J.A. and R.A. Lawrie Meat. Butterworth University of Nottinghams. Doornenbal, H Body Composition in Animals and man. Canada Dep'artement of Agriculture Lacombe. Dukes, H.H The Physiologi of Domestic Animals. 8 th Ed. Cornstock Publishing Associates, Ithaca. New York. Fourie, P.D., A.H. Kirton and K.E. Juri Growth and development of sheep 11. Effect of breed and sex on growth and carcass composition of the southdown and romney and their cross. New Zealand J. Agr. Res. 13 : Hafez, E.S.E. and I.B. Dyer (Ed.) Animal Growth and Nutrition. Lea & Febiger. Philadelphia. Hafez, E.S.E Symposium on growth : pyisio - genetics of prenatal ahd postnatal growth. J. Anim. Sci. 22 : Hammond, J Farm Animal. 4 th Ed. Butler & Tanner. Frame and London. Huxley, J.S Problems of Relative Growth. London : Methuen. Kalanidhi, A.P., K.K. Saxena, V.P. Shukla and S.K. Ranjhan Body composition studies in native and cross-breed sheep. Indian J. Anim. Sci. 49 : Kirton, A.H Body and carcass composition and meat quality of the new zealand feral goat (Ca ra hircus). New 'Lealand J. Agr. Res. 13 : 167
60 Kirton, A.H., P.D. Fourie and X.E. Jury Growth and development of sheep 111. Growth of the carcass and non-carcass components of the southdown and romney and their cross and some relationships with composition, New Zealand J. Agr. Res. 15 : Koesnandar Pertumbuhan dan Berkembangan Bagian Saluran Pencernaan, Karkas serta Komponen Tubuh Tertentu Pada Domba. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan, IPB. Lawrie, R.A Meat Science. Pergamon Press Oxford. London. Edinburgh. new York. Toronto. Paris. Braunschwieg. Loosli, J.K., L.A. Maynard, H.F. Hintz an& R.G. Warner Aniwal Nutrition. 7 th Ed. Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited., New Delhi. Mukhoty, B. and R.T. Berg Influence of breed and sex on the allometric growth patterns of mayor bovine tissues. Anim. Prod. 13 : McMeekan, C.P Growth and development in the pig, with special reference to carcass quality characters. J. Agr. Sci. Camb. 30 : Nalbandov, A.V Reproduktive Physiology. W.H. Freman and Company San Francisco and London. Natasasmita, A Body Composition of Swamp Buffalo (Bubalus bubalis), a study of Development Growth of sex Difference. Ph.D. Thesis. Universitr of Melbourne. Natasasmita, A Aspek Pertumbuhan-Perkembangan Dalzm Produlcsi Ternak Daging. Ceramah Ilmiah di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor., 17 Februari Owen, J.E. and G.A. Norman Studies on the meat production charakteristics of bostwana goats and sheep 11, General body composition, carcass measurements and joint compositioa. Meat Sci. 1 : Palssoa, H. and J.B. Verges Effects of the plane of nutrition on growth and development of carcass quality ia lambs I. Effects on lambs of 30 Lb carcass weight. J. Agric. Sci. Camb. 42 : Ranthy, E.M.A Pertwnbuhan-Perkembangan Hasil Ikutan pada Domba Priangan. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan, IPB.
61 Rusli, A.R Pertumbuhan-Perkembangan Karkas dan Komponen Tubuh Selain Karkas pada Kelinci Lokal. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan, PB. Shelton, M. and Z.L. Carpenter Influence of sex, stibestrol treatment and slaughter weight on performance and carcass traits of slaughter lambs. J. Anim. Sci, 34 : Seebeck, R.M Developmental growth and body weight loss of cattle I. Experimental design, body weight growth, and the effects of developmental growth and body weight loss on the dressed carcass and the offal. Aust. J. Agr. Res. 18 : Sosroamidjoyo, M.S. dan Soeradji Peternakan Umum. Yasaguna. Jakarta. Sumoprastowo, R.M., C.P.A Beternak Kambing yang Berhasil. Bhatara Karya Aksara. Jakarta. Snedecor, G.W. and W.G. Cochran Statistical Metods. 6 t h Ed. Oxford & IBH Publishing Co. New Delhi. Spedding, C.R.W Sheep Production and Grazing Management. 2 nd Ed. Bailliere Findall and Cassel, London. Setiana, A Pertumbuhan-Perkembangan Saluran Pencernaan Domba Priangan. Karya Ilmiah. Fakultas Petefnakarn, IPB. Truscott, T.G., C.P. Lang and N.M. Tulloh A comparison of body composition and tissue distributioa of friesian and angus steers. J. Agric. Sci. Camb. 87 : Winter, W.H., N.M. Tulloh and D.M. Murray The compensatory growth in sheep on empty body weight, carcass weight and the weight of some offals. J. Agricz. Sci. Camb. 87 : Wardrop, I.D The post-natal growth of the visceral organs of the lamb 11. The effect of diet on growth rate with particular reference to the parts of alimentary tract. Aust. J. Agr. Sci. 55 : Wardrop, I.D. and J.B. Coombe. 1960, The post-natal growth of the visceral organ of the lamb I. The growth of the visceral organ of the grazing lamb from birth to sixteen weeks of age. Aust. J. Agr. Sci. 9 :
62 L A M P I R A N
63 Lampiran 1. Data Bobot Patong, Bob~t Tubuh Kosong, Bobot Total Saluran Pencernaan, dan Bobot Lemak Hasil Ikutan Internal Pada Kambing Kacang Jantan dan Be tina Bobot (dalam gram) No. Urut BH BTK BTSP BLHII Jantan Betina Jantan Be tina Jantan Betina Jantan Bekina I , ,27 444,71 313, , '700 >Y?Oy ,37 501,80 526,6O , , >41, , ,46 '? Z908 52T , y ,22 13z ~8~479046,36 744, , ~01 496, ,ol 9977~50 857,56 958,62 169,32 282,, b r30 172,
64
65 Jantan Betina Jantan B.e tina Jantan Be tina Jantan Betina Lampiran 3. Data Bobot Kepala, Bobot Kaki Belakang, ~obot Kaki Depan dan Bobot Total Kaki Pada Kambing Kacang Jantan dan Betina - Bobot (dalam' g-ram) No, Urut BKPL BKB BKD BTKK
66
67 + xnyn Lvnpiran.- 3. Analisa Peragam (~nal~sis of Covariance) Untuk Nembandingkan Kecepatan Pertumbuhvl Relatif Bobot Tubuh Kosong (Y) Terhadap Bobot Hidup (x) 1. Perhitungan Regresi Linear, Log Y = log log X <2 = X1 +X +..." (j) = (3,7853)2 + (3,~573)~ (4,0414)~ = 158,0552 (b) = (j,81~9)~ + (3,8261)~ (4,1106)' = 158, (g) = (3, ,110) = 316, $y2 = y1 + y2 +.a (j) = (3,6832) + (3.7459) (3,8768) = 147, (h) = (3,8076)~ + (3.6931)' (4,0156) = 149, (g) = (3,6832) +.,, (4,0156)~ = 256,9036 ZXY = 5y1 + 3y2 + """'"" xn + Yn 2 (j) = (3,18853)(3,6832) (4,0414)(3,8768) = 2338,0610 (b) = (3,8129)(3,8076) +,... + (4,116)(4,0156) = 2769,0775 (g) = (3,7853)(3.6832) (4,1106)(4,0156) = 4707,1385 (I2 = <? - (gxl2/n (j) = 158, (39,74251~/10 = 0,1085 (b) = 156, (39,7619)2/10 = 0,1212 (g) = 316, (79,5044)~/20 = 0,2298 ET~ = f 9 - (<yl2/n (j) = 147, (384037)~/10 = 0,0860 (h) = 149, (j8,6301)'/10 = 0,1047 (g) = (77,@338)'/20 = 0,1933
68 b. (j) = 0,0912/0,1086 = 0,8398 atan = 0,840 (tiga desimal) h. (b) = 0,1026/0,12~2 = 0,&P65 aku = 0,847 b (g) = 0,1948/0,2298 = 0,8477 atau = 0,848 SEE n SEE (b) = 0,1212 = 0,042 10
69 2. NiAai Tengah Y yang Disesuaikain (lidjusted Means of Y) = = Y - a (X - z.*.. 1, J5ka nihl b antara jantan dan betina tidak berbeda nyata,naka menggrma&i b C-on. Jika b antara jantan dan betina. berbeda nyata, maka menggunakan b masing-masing, Test beda pyata h_ Fhit.. - 0'0001 = 0,059<Ftab (1.l.6) = 4,49 (5%) -$ t5dak Test niilai g o, 0017 herbeda nyata - '?hit. 0,0016 = 0, < ~ (1,17) ~ ~ = 4,45 (5%) 3 Uak berbeda nya+a 4. Uji Nilai b_ terbadap satu H1: hjc1 - hit t 0,105 Jika) ttab. maka tolak Ho Jika < taah maka terima Ho e = < tbb. (8.5%) = 2, terima Eo - 1 = 1,125 < tbb (8,5%) = 2, terima Ho 0,848-1 kt.=( 0,083 (6) = 1,831 < t, (18,s) = 2?101 4 terima E 0
70 Iampiran 6. Analisa Peragarn Hubungan Antara Bobot Tubuh Kosong dengan Bobot Hidup f rx2 2~ p2 Reg. - Jantan 9 orlo% 0,0912 0,0860 0,WO 8 0,0094 0,0012 Ba tina 9 0,1212 0,1026 0,1047 0, ,0178 0,0022 Within 16 0,0272 0,0017 Beg.C'odf. 1 0,0001 0,0001 Dev. From Ilep-ession 2 f<y:(<xy)&x N.S. t. F5% F1% 0,059 4, Common 18 0,2290 0,1938 0,1907 0, ,0273 0,0016 0,563 4,45 8,40, ddj.meana 1 0,0009 0,0009 Total 19 0,2298 0,1948 0, ~0282 0, Lampiran 7. Analisa Peram Hubungan Antara Bobot Total ~aluran. Pencernaap dengan Bobot Hidup sx2 ZQ' zy2 C Reg. Dev. from negression O E ~. fiy2_(i4.1h$ pl.se Ft~it. F5% 5% Jantarr 9 0,1086 0,0981 0,1018 0, ,0131 0,0016 Be tina 9 0,1212 0,1550 0,1917 5, ,0414 0,0052 Within 16 0,0545 0,0034 0,768 4, neg.coef. 1 6,0026 0,0026 Common 18 0,2298 0,2331 0,2935 1, ,0571 0,0952 0,176 4, Adj.Ele'ans 1 0,0006 0,0006 Total 19 0,2298 0,2332 0,2942 1, ,0577 0,0032
71 Lapinn 9. Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Organ Tubuh Luar dengan Bobot Eiidup F 5% F 1% Lampiran 8. Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Lemak Hasil Ikutanl Internal dengan Bobot Hidup f 22 xxy p2 Reg' Dev. From Re~ression Jantm 9 0,1086 0,1398 0,4030 1, ,2229 0,0279 Betina 9 0,1212 0,1291 0,4993 1, ,3619 0,0452 Within 16 0,5845 0,0366 0, Heg.Coef. 1 0,0028 0,0028 Common 18 0,2298 0,2689 0,9023 1, ,5876 0,0346 8,@ Be40 Adj.Means 1 0,3045 0,3045 Total 19 0,2298 0,2714 1,2125 1, ,8921 0,0456 Reg. Dav. fiom Reqcession f ~ y~(<q-)~5x2 M.S. 'hit. F5% %% Jantan 9 0,1086 0,0899 0,0782 0,828, 8 0,0037 0,0005 Be tina 9 0,1212 0,106 0,1036 0, ,0063 0,0008 Within 16 0,0100 0,006 0,500 4, Reg.Cocf. 1 0, Common 18 0,2298 0,1985 0,1818 0, ,OlOj 0,0006 0, ,40 Adj.Means 1 0,0002 0,0002 Total 19 0,2298 0,1986 0,1821 0,864, 18 0,0105 0, * Berbeda nyata terhadap satu (P (0.05)
72
73 Common 18 0,2298 0, ,1739 0, ,0128 ' 0,0008 0~250~ Y* Total 19 0,2298 0,1925 0,1742 0, ,0130 0, * Berbeda nyata terhadap satu (P < 0.05) ** Berbeda nyata terhadap satu (P <0,01) Lampiran 12. Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kulit dengan Bobot Hldup Jantan 9 0,1086 0,0993 0,1000 0, ,0093 0,0012 Be tina 9 0,1212 0,1230 0, ,0180 0,0023 Within 16 0,0273 0,0017 0, Beg,Coaf. P 0,0006 0,0006 Common 18 0,2298 0,2222 0,2428 0, ,0279 0,0016 0,438 4,45 8,40 Adj.Mean8 Y 0,0007 0,0007 Total 19 0, , ,0286 0,0016 Lampiran 13. Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kepala dengan Bobot Hidup Reg. Dcv. From Regression Fhit. P f f ~~(<xy.)~~x~ M.S. 5% %% Jantan 9 0,1086 0,0876 0,0751 0,806* 8 0,0044 0,0006
74 @)e2rom 1Lep;l.ession Fhi t. F 5% F COei'- f <y-(<xy)&x M.S. 196 ** Berbeda nyata terhadap satu (~(0,011 3k w+ Berbeda nyata terhadap satu (P <0,05) Berbeda nyata terhada~ satu (P <0,01) Lampiran 14. Analisa Feragam IIubungan Antara.Bobot Ekor dengan Bobot liidup J a n t ~ 9 0,1086 0,0642 0,0479 0,592** 8 0,0099 0,0012 Betina 9 0,1212 0,0710 0,1185 0, , blithin l6 0,0%8 0~0054 0,019 4,49 8,53 Beg.Coaf. P 0,0001 0,0001 Common 18 0,2298 0,1532 0,2665 0, ,069 0, % 4,45 8,40 Adj.Means 1 0,0284 0,0284 Total 19 0,2298 0,1360 0,1958 0, ,1153 0,0064 Lanpiran 15. Analisa Peragasl Hubungan Antara Bobot Total Kaki dengan Bobot Hidup 2 Reg. Dav, From Rep;ression %it.. F f <yz(<xy')y5x2 M.S. 5% 5% Jantan 9 0,1085 Betina 9.0,1212 Within Reg.Coef. Common 18 0,2298 Adj.Means Total 19 0,2298
75 .Phi t. F 5% F 1% Fhit. F5% P I.% * Berheda wata terhadap satu '(P < 0.05) ** Berbeda nyata terhadap satu (P <0,01) ul \L) Lampiran 16. Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Saluran Pencernaan dengan Bobot Tubuh Kosong Jantnn 9 o,ascj,o 0,0788 0,1018 0,917 Betina 9 0,1047 0,0951 0, Within Beg,G'oof. common 38 0,1907 0,1739 0,2935 0,912 ddj.neans Total 19 0,1932 0,1753 0,2942 0,907 Dev. F'roro Regression f $2 ((xy)21j x2 M. S. Lampiran 17. Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Kaki Belakang dengan Bbbot Hidup Rcg. Dev. Frob Re~ression Jan-tan 9 0,1086 0,0618 Betina 9 0,2212 0,0839 Wi'tllin Reg.Coef. Common 18 0,2298 0,1457 hdj.i.leans Total 19 0,2298 0,1455
76 Dev. Frau! Rcgre~~ion 2- %it. F 5% F COCf* r5yz(<~y)?2x M.S. 1% Reg. Dev. From Regression gx2 gw 2y2 coef- f<r~(t-n)/5i 3 2 n.s. Fhit. P ~ % Fl% Lampiran 18. Analisa I1eragam Hubungan Antara Bobot Lemak Hasil Ikutan internal: dengan Bobot Tubuh Kosong Jantari 9 0,0860 0, , ,1713 0,0214 Betlna 9 0,1047 0,1669 or4994 1, ,2334 0,0292 Within 6 0,4047 0,0253 0, Q,53 Reg.C'oaf. 1 0, ,1907 0,30@ 0,9023 1, ,4048 0,0238 9,761 4, Adj.Meana 1 0,2228 0,2228 Total 19 0,1932 0,3362 1,2125 1, ,6276 0,0349 Lampiran 19. Analisa Peragam Hubungan Antara Dobot Kaki Depan dengan Bobot Hidup Jantan 9 0,1086 0,0640 0,0511 0,590* 8 0,0134 0,0017 ae tina 9 0,1212 0,0751 0,0719 0,619~ 8 0,0254 0,0032 Within 16. 0,0388 0,0024 0, ,53 Reg.Coef. 1 0,0000 0,0000 Coumon 18 0,2298 0,1391 0,1230 0, ,0388 0,0023 1, ,40 Ad j.)leans 1 0,0036 0,0036 Total 19 0,2298 0,1388 0,1263 0,604'~* 18 0,0424 ' 0,0024' Berbeda nyata torhadap satu (P <0.05) ** Berbeda nyata terhadap satu (P <=-
77 Lampiran 20. Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Organ Tubuh Luar denmn Bobot Tubuh Kosong Drv. From Rcflession F F Cocf. f<y:(<%y)$x 2 M.S. %it. 5% 1% g. Dev. born Repeasion r syl(gw.)31fx2 R.S, Fhit. F5% Jantan 9 0,0860 0,081Q 0,0782 0,943,l 8 0,0018 0,0002 Betina 9 0,1047 0,0982 0,1036 0, ,0114 0,0014 Within ,0008 0, ,53 Eeg.Coef. 1 0,0000 0,0000 Common 18 0,1907 0,1793 0,1818 0, ,0132 0, , Adj.Means 1 0,0009 0,0009 Total 0,1932 0,1802 0,1821 5, ,0141' 0,0008 Lampiran 21.. Analisa Peragam Hubungan Antara Bobot Total Organ 'Pubuh dengan Bobot Tubuh Kosong Jantan 9 0,OSO 0,0452 0,0492 0,526, 8 0,0255 0,0032 Be tina 9 0,1047 0,0946 O,lOl7 0, ,0162 0,0020 Within 16 0,0417 0,0026 2, Reg.Coef. 1 0,067 0,0&7 Common l8 0,1907 0,1398 0,1509 0, ,0484 0,0028 0, ,40 Ad j.means 1 0,0026 0,0026 'Po tal x9 0,1932 0,1391 0,1511 0,720* 18 0,0510 0, *.Berbeda nyata tarbadap satu (P < 0.05) -"A-
78 Lampiran 22. Analisa Peragam Rubungan Antara Bobot To.tal Uarah dengan Bobot Tubuh Kosong E. From Repesem CO"f. f < ~2(<%y)Y~~ 2 t. F5% F M.S. 196 Jantnri 9. 0, ,1372 1, , ,OOjS Betlna 9 0,1047 0,1011 0,1332 0, ,0356 0,0045 Within 16 0,0662 0,0041 0, Beg.G?oof. 1 0,0009 0,0009 Common 18 0,1907 0,1968 0,2104 1, ,0671 0,0039 0,949 4,4,5 8#40 Adj.Means 1 0,0037 0,0037 Total 19 0,1932 0,1996 0, , ,0671 0,0611 Lampiran 23. Ana1isa:Peragam Hubungan Antara Bobot Kaki Total dengan Bobot Rtbuh Kosong Reg. Dev. From Repession Fhit. f~y~(<xy')~5x2 M.S, P 5% Jantan 9 O,Of%O 0,0582 0,0494 0,677~ 8 0,0100 0,0013 Be tina * 9 0,1047 0,0820 0,0752 0, ,0109 O,OOU, Within " 16 0,0209 0,OOi.j Reg.Coef. 1 0,0005 0,0005 Common 18 0,1907 0,1402 $1246 Oal36 17 O,O2l4 0,0013 hdj.moans 1 0,0085 0, ,53 6,598 4s45 8,40 Totnl 19 0,1932 0,1374, ,711~ 18 0, ,0017' * Berhada nypta tcrhadap satu (P (0~05)
79 DaFrorn Regre as ion 2 Fhit. F 5% F f fy2(<xy)&x M.S. 1% Lampiran 25. Analisa Wragam Hubungan Antara Bobot Kaki Belakang dengan Bobot Tubuh Kosong lampiran 24. Analiea Bragam Hubun@,n Antara Bobot Kulit dengan Bobot Tubuh Kosong Jantan 9 0,0860 0,0920 0,1000 1, ,0015 0,0002 Betina 9 0,1047 0,1124 0,1428 1, ,0220 0,0028 Within 16 0,0235 0,0015 0,001 4,49 a,53 Bcg.Coaf. 1 0,0000 0,0000 Cowon 18 0,1907 0,2044 0,2428 1, ,0235 0,0014 0,4286 4, Adj.Meane 1 0,0006 0,0006 Total 19 0,1932 0,2060 0,2437 1, ,0241 0,0013 Ileg. Dev. From Repprc'ss* P f <x2 zy2 Coef. f~y~(<xy')~fx2 M.S. Fhit. P5% F1% Jantan 9 0,0@60 0,0576 0,04% 9,670* 8 0,6110 0,0014. Be tina 9 0,1047 0,0858 0,0801 0,820' 8 0,0098 0,0012 within 16 0,0208 0,0013 0,769 4, Reg.Cocf ,0010 Coounon 18 0,1907 0,1434 0,1297 0, ,0218 0,0013 6,462 4,45 8,40 Ad j.means 1 0,0084 0,0084 Total * 19 0,1932 0,1407 0,1326 0, ,0302 0,0017 * 'derb?da cy~ta terhadap satu (P < 0,05) a -- '4
80 Lampiran 26. Analisa Peragam Hubungan Antar& Bobot Xepala dengan Bobot Tubuh Xosong Dov. From Rep2~9ion f rx2 zw p2 Reg- Coef. TI-- %it, F F 5% Jantan 9 0 ~ 0 ~ 0, ,0751 0, ,0063 0,0008 Betina 9 0,1047 O;OgOO 0,0989 0, ,0215 0,0027 f <y2(<m)?<x M.S. 1% Within 16 0,0278 0,0017 0,033 4,49 8,53 Ileg.G'oef. 1 0,0000 0,0000 Common 18 0,1907 0,1669 0,1739 0, ,0278 0,0016 0,500 4,45 8,40 Bdj.Meana 1 0,0008 0,0008 Total 19 0,1932 0,1678 0,1742 0, ,0286 0,o~Jd Lampiran 27. Analis?: Peragam Hubungan Antara Bobot Kaki Depan dcngan Bobot Tubuh Xosong Jantan 9 0,0860 0,0589 0,0511 0,685* 8 0,0108 Be tina 9 0,1047 0,0780 0,0719 0, ,0137 ~li thin 16 0,0245 Reg.Coef. 1 0,0002 C ouun on 18 0, ,1230 0, ,0247 Ad j.eleans 1 0,0087 Total lg 0,1932 0,1340 0,1263 0,693* 18 0,0334 Reg. Dcv. From ~eppission Fhit, F f (<ry.)?$? m.s. 5% 5% * Berbeda nyata terhadap satu (P ( 0,05)
81
82 Lampiran 30. Analisa. Peragam Hubungan Antara Bobot Lidah dengan Bobot Kepala - r rx2 p2 Reg. Dev. I"roln Repe so ior; Coef* 2 2 f <y-(<x~)?~x M.S. Fhi t. F 5% F 1% Jantari 9 0,0751 0,0828 0,1312 1, ,0399 0,0050 Betina 9 0,0989 0,0783 0,0964 0, ,0344 0,0043 Within 16 0,0743 0,0046 0,891 4,49 8,53 Beg.C'oaf. 1 0,0041 0,0041 ~o~nmon 18 0,1739 0,1610 0,2275 0, ,0784 0,0046 3,587 4,45 8,40 Bdj.Means 1 0,0165 0,0165 Total 19 0,1742 0,1635 0,2483 0, , Lampiran 31. Analisa ~eragam Hubungan Antara Bobot Mata dengan Bobot Kepala Jan tan 9: 0,0751 0,0520 0,0445 Be tina 9 0,0982 0,0486 0,0316 Within Reg.Coef. Common 18 0,1739 0,1007 0,0761 Ad j.t.le.ans Total 19 0,1742 0,1023 0,0847 Reg. Dev. From Ree;ression Coef. f JY%Y )75x2 m-s. Fhit, F5% 5% ,. * Berbeda nyata terhadap satu (P < 0.05) ** Berbeda nyata terhadap eatu (P < 0,01) 8:
83 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 8 Oktober 1958 di kota Medan, Sumatera Utara; adalah putera ke enam dari sepuluh o'reng bersaudara dengan Ayah Udin dan Ibu Halipah. Tahun 1966 memasuki Sekolah Dasar Negeri 96 di Medan. dan lulus tahun Tahun 1972 memasuki Sekolah Menengah Pertama Negeri I d i ICe~amatan Batang Toru, Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan dan menyelesaikannya pada tahun Ta- hun 1975 melanjutkan ke Sekolah Nenengah ktas Negeri M di- Medan dan selesai pada tahun Tahun 1978 diterima men- jadi mahasiswa Institut PertanianBogor melalui Proyek Perin- ti 11, dan memasuki Fakultas Peternakan pada tahun Selama di Fakultas Peternakan mengikuti kegiatan di organi- sasi-organisasj. luar kampus dan Senat Mahasiswa Fakultas Pe ternakan IPB. Z a l k a r n a i n iqei 1982
*' Kupersembahkan dengan rasa
"Dan Dia telah menciptakan binatang ternak uatulc kamu; padanya ada bulu yang menghangatkan dan berbagai-bagai mamfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pengaruh perlakuan terhadap Konsumsi Bahan Kering dan Konsumsi Protein Ransum
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pengaruh perlakuan terhadap Konsumsi Bahan Kering dan Konsumsi Protein Ransum Rataan konsumsi bahan kering dan protein ransum per ekor per hari untuk setiap perlakuan dapat
BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kandang Hewan Percobaan, Laboratorium fisiologi dan biokimia, Fakultas
BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakasanakan di Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Kandang Hewan Percobaan, Laboratorium fisiologi dan biokimia, Fakultas Peternakan Universitas
TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat Indonesia. Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Domba Priangan Domba adalah salah satu hewan yang banyak dipelihara oleh masyarakat Indonesia. Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang sangat potensial untuk dikembangkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Hewan
14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Hewan Keadaan hewan pada awal penelitian dalam keadaan sehat. Sapi yang dimiliki oleh rumah potong hewan berasal dari feedlot milik sendiri yang sistem pemeriksaan kesehatannya
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kambing memiliki kelebihan dibandingkan dengan ternak ruminansia lainnya yaitu kemampuan produksi baik dengan daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan ataupun
METODE. Materi. Pakan Pakan yang diberikan selama pemeliharaan yaitu rumput Brachiaria humidicola, kulit ubi jalar dan konsentrat.
METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapangan IPT Ruminansia Kecil serta Laboratorium IPT Ruminansia Besar, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan,
PENDAHULUAN. Saat ini kebutuhan manusia pada protein hewani semakin. meningkat, yang dapat dilihat dari semakin banyaknya permintaan akan
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini kebutuhan manusia pada protein hewani semakin meningkat, yang dapat dilihat dari semakin banyaknya permintaan akan komoditas ternak, khususnya daging. Fenomena
HASIL DAN PEMBAHASAN. Karkas domba Lokal Sumatera (Tabel 9) mempunyai koefisien
HASIL DAN PEMBAHASAN Tumbuh-Kembang Karkas dan Komponennya Karkas domba Lokal Sumatera (Tabel 9) mempunyai koefisien pertumbuhan relatif (b) terhadap bobot tubuh kosong yang nyata lebih tinggi (1,1782)
Endah Subekti Pengaruh Jenis Kelamin.., PENGARUH JENIS KELAMIN DAN BOBOT POTONG TERHADAP KINERJA PRODUKSI DAGING DOMBA LOKAL
PENGARUH JENIS KELAMIN DAN BOBOT POTONG TERHADAP KINERJA PRODUKSI DAGING DOMBA LOKAL EFFECT OF SEX AND SLAUGHTER WEIGHT ON THE MEAT PRODUCTION OF LOCAL SHEEP Endah Subekti Staf Pengajar Fakultas Pertanian
DlSTRllBUSl LEMAK D A BQBOT ~ BEBEWAPA ORGAM-ORGAM TUBUH PADA KELIHGI LOKAL AKIBAT PERBEDAAM
DlSTRllBUSl LEMAK D A BQBOT ~ BEBEWAPA ORGAM-ORGAM TUBUH PADA KELIHGI LOKAL AKIBAT PERBEDAAM " KUALITAS RANSUM KARYA IL&IAH EDDY SUDARSONO PAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 1984 EDDY SUDAKSONO,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Domba Ekor Gemuk yang secara turun-temurun dikembangkan masyarakat di
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Domba Wonosobo Domba Wonosobo merupakan domba hasil persilangan antara domba Texel yang didatangkan pada tahun 1957 dengan Domba Ekor Tipis dan atau Domba Ekor Gemuk yang secara
PENDAHULUAN. Daging unggas adalah salah jenis produk peternakan yang cukup disukai. Harga yang relatif terjangkau membuat masyarakat atau
I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Daging unggas adalah salah jenis produk peternakan yang cukup disukai oleh masyarakat. Harga yang relatif terjangkau membuat masyarakat atau konsumen lebih banyak memilih
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Kacang, kambing Peranakan Etawa (PE) dan kambing Kejobong
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Kacang Kambing Kacang, kambing Peranakan Etawa (PE) dan kambing Kejobong merupakan bangsa-bangsa kambing yang terdapat di wilayah Jawa Tengah (Dinas Peternakan Brebes
Gambar 2. (a) Kandang Individu (b) Ternak Domba
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Tempat yang digunakan untuk penelitian berada di Laboratorium Lapangan IPT Ruminansia Kecil dan Laboratorium IPT Ruminansia Besar, Fakultas Peternakan, Institut
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Konsumsi Pakan
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi PT. Purwakarta Agrotechnopreneur Centre (PAC), terletak di desa Pasir Jambu, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Berdasarkan data statistik desa setempat, daerah
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Percobaan Kandang Bahan dan Alat Prosedur Persiapan Bahan Pakan
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2011. Pemeliharaan domba dilakukan di kandang percobaan Laboratorium Ternak Ruminansia Kecil sedangkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan populasi yang cukup tinggi. Kambing Kacang mempunyai ukuran tubuh
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. KambingKacang Kambing Kacang merupakan salah satu kambing lokal di Indonesia dengan populasi yang cukup tinggi. Kambing Kacang mempunyai ukuran tubuh yang relatif kecil,
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum di dalam Kandang Rataan temperatur dan kelembaban di dalam kandang selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Rataan Suhu dan Kelembaban Relatif Kandang Selama
Tatap muka ke : 10 POKOK BAHASAN VII VII. SISTEM PRODUKSI TERNAK KERBAU
Tatap muka ke : 10 POKOK BAHASAN VII VII. SISTEM PRODUKSI TERNAK KERBAU Tujuan Instruksional Umum : Mengetahui sistem produksi ternak kerbau sungai Mengetahui sistem produksi ternak kerbau lumpur Tujuan
MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 2. Komposisi Zat Makanan Ransum Penelitian Zat Makanan Jumlah (%)
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Blok B, Unit Unggas. Pemotongan puyuh dan penelitian persentase karkas dilakukan di Laboratorium Unggas serta uji mutu
IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Bagian Edible Ayam Sentul. Tabel 4. Bobot Edible Ayam Sentul pada Masing-Masing Perlakuan
27 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Bagian Edible Ayam Sentul Data nilai rataan bobot bagian edible ayam sentul yang diberi perlakuan tepung kulit manggis dicantumkan pada Tabel
PENDAHULUAN. dan dikenal sebagai ayam petarung. Ayam Bangkok mempunyai kelebihan pada
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ayam Bangkok merupakan jenis ayam lokal yang berasal dari Thailand dan dikenal sebagai ayam petarung. Ayam Bangkok mempunyai kelebihan pada daya adaptasi tinggi karena
ANALISIS TUMBUH KEMBANG KARKAS SAPI BALI JANTAN DAN BETINA DARI POLA PEMELIHARAAN EKSTENSIF DI SULAWESI TENGGARA. Oleh: Nuraini dan Harapin Hafid 1)
ANALISIS TUMBUH KEMBANG KARKAS SAPI BALI JANTAN DAN BETINA DARI POLA PEMELIHARAAN EKSTENSIF DI SULAWESI TENGGARA Oleh: Nuraini dan Harapin Hafid 1) ABSTRACT This study aims to analyze the growth patterns
PERSENTASE KARKAS DAN KOMPONEN NON KARKAS KAMBING KACANG JANTAN AKIBAT PEMBERIAN PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN DAN ENERGI YANG BERBEDA SKRIPSI.
PERSENTASE KARKAS DAN KOMPONEN NON KARKAS KAMBING KACANG JANTAN AKIBAT PEMBERIAN PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN DAN ENERGI YANG BERBEDA SKRIPSI Oleh : YOGA GANANG HUTAMA FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN UNIVERSITAS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Domba merupakan salah satu jenis ternak ruminansia yang banyak
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Domba Ekor Tipis Domba merupakan salah satu jenis ternak ruminansia yang banyak dipelihara sebagai ternak penghasil daging oleh sebagian peternak di Indonesia. Domba didomestikasi
sebagai kenangan terhadap almarhum papi tercinta dan persembahan untuk mami. agung, anti, lita, aguk serta ipb almamaterku
'-. ""... / sebagai kenangan terhadap almarhum papi tercinta dan persembahan untuk mami. agung, anti, lita, aguk serta ipb almamaterku HUBUNGAN ANTARA KOMPONEN IRISAN KOMERSIAL KARKAS DENGAN KOMPONEN KARKAS
sebagai kenangan terhadap almarhum papi tercinta dan persembahan untuk mami. agung, anti, lita, aguk serta ipb almamaterku
'-. ""... / sebagai kenangan terhadap almarhum papi tercinta dan persembahan untuk mami. agung, anti, lita, aguk serta ipb almamaterku HUBUNGAN ANTARA KOMPONEN IRISAN KOMERSIAL KARKAS DENGAN KOMPONEN KARKAS
PENGARUH PERBEDAAN KUAUTAS RAN SUM TERHADAP SAlURAN PENGERNAAN, HAn DAN PANKREAS KEUNCI lokal JANTAN
! PENGARUH PERBEDAAN KUAUTAS RAN SUM TERHADAP SAlURAN PENGERNAAN, HAn DAN PANKREAS KEUNCI lokal JANTAN KARY A ILMIAH EFI SOFYADI FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERT ANIAN BOGOR 1984 ~-,-,;: ';;,1 ", 0, \,-.
EDIBLE PORTION DOMBA LOKAL JANTAN DENGAN PAKAN RUMPUT GAJAH DAN POLLARD
EDIBLE PORTION DOMBA LOKAL JANTAN DENGAN PAKAN RUMPUT GAJAH DAN POLLARD C.M. SRI LESTARI, J.A. PRAWOTO DAN ZACKY GAZALA Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang ABSTRAK Edible portion dapat
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik Babi Ternak babi memiliki karakteristik yang sama kedudukannya dalam sistematika hewan yaitu: Filum: Chordata, Sub Filum: Vertebrata (bertulang belakang), Marga:
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manusia. Ternak babi bila diklasifikasikan termasuk ke dalam kelas Mamalia, ordo
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik Babi Babi adalah binatang yang dipelihara dari dahulu, dibudidayakan, dan diternakkan untuk tujuan tertentu utamanya untuk memenuhi kebutuhan akan daging atau
HUBUNGAN ANTARA BOBOT BADAN DENGAN PROPORSI ORGAN PENCERNAAN SAPI JAWA PADA BERBAGAI UMUR SKRIPSI. Oleh NUR FITRI
HUBUNGAN ANTARA BOBOT BADAN DENGAN PROPORSI ORGAN PENCERNAAN SAPI JAWA PADA BERBAGAI UMUR SKRIPSI Oleh NUR FITRI FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010 HUBUNGAN ANTARA BOBOT BADAN DENGAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. persilangan antara sapi Jawa dengan sapi Bali (Rokhana, 2008). Sapi Madura
14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Madura Sapi Madura termasuk dalam sapi lokal Indonesia, yang berasal dari hasil persilangan antara sapi Jawa dengan sapi Bali (Rokhana, 2008). Sapi Madura memiliki
HASIL DAN PEMBAHASAN. Rancabolang, Bandung. Tempat pemotongan milik Bapak Saepudin ini
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Assolihin Aqiqah bertempat di Jl. Gedebage Selatan, Kampung Rancabolang, Bandung. Tempat pemotongan milik Bapak Saepudin ini lokasinya mudah ditemukan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peternakan adalah ternak kambing. Kambing merupakan ternak serba guna yang
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Salah satu komoditas kekayaan plasma nutfah nasional di sub sektor peternakan adalah ternak kambing. Kambing merupakan ternak serba guna yang dapat memproduksi susu,
PENDAHULUAN. meningkat dari tahun ke tahun diperlihatkan dengan data Badan Pusat Statistik. menjadi ekor domba pada tahun 2010.
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Domba merupakan ternak yang keberadaannya cukup penting dalam dunia peternakan, karena kemampuannya untuk menghasilkan daging sebagai protein hewani bagi masyarakat. Populasi
MATERI DAN METODE PENELITIAN
1 III. MATERI DAN METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada 01 Desember 015 sampai 31 Januari 016 di Rumah Pemotongan Hewan Sapi Jagalan, Surakarta, Jawa Tengah.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kambing Kacang yang lebih banyak sehingga ciri-ciri kambing ini lebih menyerupai
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Jawarandu Kambing Jawarandu merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Peranakan Etawa dengan kambing Kacang. Kambing ini memiliki komposisi darah kambing
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memiliki ciri-ciri fisik antara lain warna hitam berbelang putih, ekor dan kaki
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Perah Sapi perah yang dipelihara di Indonesia pada umumnya adalah Friesian Holstein (FH) dan Peranakan Friesian Holstein (PFH) (Siregar, 1993). Sapi FH memiliki ciri-ciri
II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Sapi Bali (Bos sondaicus) merupakan salah satu bangsa sapi lokal asli
II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Sapi Bali Sapi Bali (Bos sondaicus) merupakan salah satu bangsa sapi lokal asli yang dikembangkan di Indonesia. Ternak ini berasal dari keturunan asli banteng liar yang telah
KIAT-KIAT MEMILIH DAGING SEHAT Oleh : Bidang Keswan-Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat (disadur dari berbagai macam sumber)
KIAT-KIAT MEMILIH DAGING SEHAT Oleh : Bidang Keswan-Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat (disadur dari berbagai macam sumber) KASUS SEPUTAR DAGING Menghadapi Bulan Ramadhan dan Lebaran biasanya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. domestikasi dari banteng (Bibos banteng) dan merupakan sapi asli sapi Pulau Bali. Sapi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sapi Bali Sapi bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) dan merupakan sapi asli sapi Pulau Bali. Sapi bali merupakan
BAB III MATERI DAN METODE. berbeda dilaksanakan mulai bulan Maret sampai Agustus 2016 di kandang domba
12 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian mengenai produksi karkas dan non karkas domba ekor tipis jantan lepas sapih yang digemukkan dengan imbangan protein dan energi pakan berbeda dilaksanakan mulai bulan
TINJAUAN PUSTAKA. yang berasal dari pulau Bali. Asal usul sapi Bali ini adalah banteng ( Bos
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sejarah Sapi Bali Abidin (2002) mengatakan bahwa sapi bali merupakan sapi asli Indonesia yang berasal dari pulau Bali. Asal usul sapi Bali ini adalah banteng ( Bos Sondaicus)
III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Bangkok dengan betina ras petelur tipe medium keturunan pertama pada umur
14 III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan Penelitian 3.1.1 Objek Penelitian Objek penelitian yang digunakan adalah ayam hasil persilangan pejantan Bangkok dengan betina ras petelur tipe medium keturunan
Gambar 3. Peta Satelit dan Denah Desa Tegalwaru Kecamatan Ciampea (http://maps.google.com, 5 Agustus 2011)
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Geografis Wilayah Kabupaten Bogor merupakan wilayah dari Propinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Propinsi Banten dan bagian dari wilayah Jabotabek. Secara geografis,
MATERI DAN METODE. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2011 hingga Februari 2012. Pemeliharaan dan penyembelihan ternak dilakukan di Laboratorium Lapang Blok B, Unit Unggas,
PENDAHULUAN. Indonesia, ayam kampung sudah bukan hal asing. Istilah "Ayam kampung" semula
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ayam kampung merupakan salah satu jenis ternak unggas yang telah memasyarakat dan tersebar di seluruh pelosok nusantara. Bagi masyarakat Indonesia, ayam kampung sudah bukan
TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Ternak Domba
TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Ternak Domba Menurut Blakely dan Bade (1991) domba sudah sejak lama diternakkan orang, tetapi hanya sedikit saja yang mengetahui asal mula dilakukannya seleksi dan domestikasi
lagomorpha. Ordo ini dibedakan menjadi dua famili, yakni Ochtonidae (jenis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah kelinci Menurut Kartadisatra (2011) kelinci merupakan hewan mamalia dari family Leporidae yang dapat ditemukan di banyak bagian permukaan bumi. Dulunya, hewan ini adalah
TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking
TINJAUAN PUSTAKA Itik Peking Itik peking adalah itik yang berasal dari daerah China. Setelah mengalami perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking dapat dipelihara
KAJIAN PUSTAKA. (Ovis amon) yang berasal dari Asia Tenggara, serta Urial (Ovis vignei) yang
II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Asal-Usul dan Klasifikasi Domba Domba yang dijumpai saat ini merupakan hasil domestikasi yang dilakukan manusia. Pada awalnya domba diturunkan dari 3 jenis domba liar, yaitu Mouflon
I. PENDAHULUAN. Permintaan masyarakat terhadap sumber protein hewani seperti daging, susu, dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Permintaan masyarakat terhadap sumber protein hewani seperti daging, susu, dan telur terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Untuk memenuhi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Boer Jawa (Borja) Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan antara kambing Afrika lokal tipe kaki panjang dengan kambing yang berasal
PENDAHULUAN. Tujuan utama dari usaha peternakan sapi potong (beef cattle) adalah
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan utama dari usaha peternakan sapi potong (beef cattle) adalah menghasilkan karkas dengan bobot yang tinggi (kuantitas), kualitas karkas yang bagus dan daging yang
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilakukan di Farm dan Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi, pada tanggal 28 September sampai tanggal 28 November 2016.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. nutfah (Batubara dkk., 2014). Sebagian dari peternak menjadikan kambing
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ternak Kambing Kambing adalah salah satu ternak ruminansia kecil yang banyak dipelihara oleh peternakan rakyat dan merupakan salah satu komoditas kekayaan plasma nutfah (Batubara
TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Sumber Daya Genetik Ternak dari Jawa Barat, yaitu dari daerah Cibuluh,
II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Domba Garut Asal usul domba Garut diyakini berasal dari Kabupaten Garut sebagai Sumber Daya Genetik Ternak dari Jawa Barat, yaitu dari daerah Cibuluh, Cikandang, dan Cikeris,
I. PENDAHULUAN. Lampung merupakan daerah yang berpotensi dalam pengembangan usaha
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lampung merupakan daerah yang berpotensi dalam pengembangan usaha peternakan, salah satu jenis ternak yang cocok dikembangkan adalah kambing. Pada tahun 2010 dan 2011,
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Bobot Potong Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) umur 60 hari Bobot potong merupakan hasil identifikasi yang paling sederhana untuk mengukur pertumbuhan yakni dengan cara menimbang
TEKNIK PENGOLAHAN UMB (Urea Molases Blok) UNTUK TERNAK RUMINANSIA Catur Prasetiyono LOKA PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KEPRI
TEKNIK PENGOLAHAN UMB (Urea Molases Blok) UNTUK TERNAK RUMINANSIA Catur Prasetiyono LOKA PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KEPRI I. Pendahuluan Ternak ruminansia diklasifikasikan sebagai hewan herbivora karena
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Secara umum penelitian ini sudah berjalan dengan cukup baik. Terdapat sedikit hambatan saat akan memulai penelitian untuk mencari ternak percobaan dengan umur
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler termasuk ke dalam ordo Galliformes,familyPhasianidae dan
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Broiler Ayam broiler termasuk ke dalam ordo Galliformes,familyPhasianidae dan spesies Gallusdomesticus. Ayam broiler merupakan ayam tipe pedaging yang lebih muda dan
PENDAHULUAN. Latar Belakang. Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak yang potensial dan
PENDAHULUAN Latar Belakang Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak yang potensial dan strategis untuk dikembangkan di Indonesia. Populasi ternak sapi di suatu wilayah perlu diketahui untuk menjaga
BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan protein hewani mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi kesehatan. Salah satu
TINJAUAN PUSTAKA. banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras. Sifat-sifat yang
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Petelur Ayam petelur adalah ayam yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras. Sifat-sifat yang dikembangkan pada tipe
II. TINJAUAN PUSTAKA. ayam yang umumnya dikenal dikalangan peternak, yaitu ayam tipe ringan
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Jantan Tipe Medium Berdasarkan bobot maksimum yang dapat dicapai oleh ayam terdapat tiga tipe ayam yang umumnya dikenal dikalangan peternak, yaitu ayam tipe ringan (Babcock,
BAB I PENDAHULUAN. mengandung protein dan zat-zat lainnya seperti lemak, mineral, vitamin yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging ayam merupakan salah satu daging yang memegang peranan cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, karena banyak mengandung protein dan zat-zat
PEMOTONGAN EKOR, IDENTIFIKASI, KASTRASI, DAN PEMBERIAN Fe PADA ANAK BABI LOU AYY ALZAMAKHSYARI D
MK : Produksi Ternak Babi dan Kuda Dosen : Dr. Ir. Salundilk, M Si Asisten : Desmawita K Barus, S Pt, M Si Jadwal : Kamis, 07.00-10.00 WIB PEMOTONGAN EKOR, IDENTIFIKASI, KASTRASI, DAN PEMBERIAN Fe PADA
:Z: PRODUKSI "DAGING" KAMBING KACANG FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERT ANIAN BOGOR KARYA llmiah POppy SOFIAH .~.
:Z: PRODUKSI "DAGING" KAMBING KACANG.~.., KARYA llmiah POppy SOFIAH FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERT ANIAN BOGOR 1984 RINGKASAN POPPY SOFIAH, 1984. Produksi "Daging" Kambing Kaeang. Karya Ilmiah Fakultas
I. TINJAUAN PUSTAKA. hingga diperoleh ayam yang paling cepat tumbuh disebut ayam ras pedaging,
I. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Ras Pedaging Menurut Indro (2004), ayam ras pedaging merupakan hasil rekayasa genetik dihasilkan dengan cara menyilangkan sanak saudara. Kebanyakan induknya diambil dari Amerika
MATERI. Lokasi dan Waktu
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pembuatan pelet ransum komplit
I. PENDAHULUAN. peternakan pun meningkat. Produk peternakan yang dimanfaatkan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sejalan dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya protein hewani untuk memenuhi kebutuhan gizi, permintaan masyarakat akan produkproduk peternakan
TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Sapi Friesian Holstein (FH) Produktivitas Sapi Perah
TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Pemeliharaan sapi perah bertujuan utama untuk memperoleh produksi susu yang tinggi dan efisien pakan yang baik serta mendapatkan hasil samping berupa anak. Peningkatan produksi
TINJAUAN PUSTAKA. menurut Pane (1991) meliputi bobot badan kg, panjang badan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Bali Sapi bali adalah sapi lokal Indonesia keturunan banteng yang telah didomestikasi. Sapi bali banyak berkembang di Indonesia khususnya di pulau bali dan kemudian menyebar
HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Bagian Edible Ayam Kampung Super
31 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Bagian Edible Ayam Kampung Super Data nilai rataan bobot bagian edible Ayam Kampung Super yang diberi perlakuan tepung pasak bumi dicantumkan
KAJIAN KEPUSTAKAAN. berkuku genap dan termasuk sub-famili Caprinae dari famili Bovidae. Semua
6 II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Klasifikasi Domba Berdasarkan taksonominya, domba merupakan hewan ruminansia yang berkuku genap dan termasuk sub-famili Caprinae dari famili Bovidae. Semua domba termasuk kedalam
III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. adalah Day Old Duck (DOD) hasil pembibitan generasi ke-3 sebanyak 9 ekor itik
III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan dan Objek Penelitian 3.1.1 Ternak Percobaan Itik Rambon dan Cihateup yang digunakan sebagai bahan penelitian adalah Day Old Duck (DOD) hasil pembibitan generasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu unggas yang sangat efisien dalam menghasilkan daging dan digemari oleh masyarakat Indonesia
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (Purbowati, 2009). Domba lokal jantan mempunyai tanduk yang kecil, sedangkan
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Domba Ekor Tipis Domba Ekor Tipis (DET) merupakan domba asli Indonesia dan dikenal sebagai domba lokal atau domba kampung karena ukuran tubuhnya yang kecil, warnanya bermacam-macam,
BAB III MATERI DAN METODE. Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.
10 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni 2015 sampai September 2015 bertempat di Kandang Kambing Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah, Fakultas Peternakan dan Pertanian
Konsep Sel, Jaringan, Organ dan Sistem Organ
Konsep Sel, Jaringan, Organ dan Sistem Organ STRUKTUR TUBUH MANUSIA SEL (UNSUR DASAR JARINGAN TUBUH YANG TERDIRI ATAS INTI SEL/ NUCLEUS DAN PROTOPLASMA) JARINGAN (KUMPULAN SEL KHUSUS DENGAN BENTUK & FUNGSI
HASIL DAN PEMBAHASAN. Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Lokasi Penelitian Detaseman Kavaleri Berkuda (Denkavkud) berada di Jalan Kolonel Masturi, Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi
BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH
BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 65 TAHUN 2014 TENTANG PEMOTONGAN HEWAN RUMINANSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, Menimbang : a. bahwa dalam
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sapi Simmental Peranakan Ongole (SIMPO) B. Pertumbuhan
4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sapi Simmental Peranakan Ongole (SIMPO) Sapi Simmental Peranakan Ongole (SIMPO) merupakan sapi hasil persilangan induk sapi PO dengan menggunakan straw pejantan sapi Simmental
TUMBUH-KEMBANG BEBERAPA KOMPONEN TUBUH AYAM PEDAGING AKIBAT PENURUNAN TINGKAT PROTEIN RANSUM PADA MlNGGU KE TIGA - EMPA?
TUMBUH-KEMBANG BEBERAPA KOMPONEN TUBUH AYAM PEDAGING AKIBAT PENURUNAN TINGKAT PROTEIN RANSUM PADA MlNGGU KE TIGA - EMPA? KARYA ILMIAH N A S R U L PAKULTAS PETERNAKAN IMSTITUT PIZRTANIAN BOaOR RINGKASAN
PENDAHULUAN. Populasi ternak sapi di Sumatera Barat sebesar 252
PENDAHULUAN Usaha pengembangan produksi ternak sapi potong di Sumatera Barat selalu dihadapi dengan masalah produktivitas yang rendah. Menurut Laporan Dinas Peternakan bekerja sama dengan Team Institute
PENDAHULUAN. salah satunya pemenuhan gizi yang berasal dari protein hewani. Terlepas dari
1 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk, kebutuhan pangan semakin meningkat pula. Pangan yang dibutuhkan oleh masyarakat jenisnya beragam, salah satunya pemenuhan
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Pendataan dan Identifikasi Domba Penelitian
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Unit Pendidikan, Penelitian dan Peternakan Jonggol Institut Pertanian Bogor (UP3J-IPB) Desa Singasari Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor
TEORI FENOMENA ORGAN
TEORI FENOMENA ORGAN By: Syariffudin Definisi Teori Fenomena Organ Yaitu sebuah teori untuk menilai fungsi organ organ dalam secara fisiologi maupun secara patalogis dengan didasarkan pada apa yang terlihat
