BAB 4 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI PEMILIHAN STANDAR WIRELESS YANG AKAN DIGUNAKAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI PEMILIHAN STANDAR WIRELESS YANG AKAN DIGUNAKAN"

Transkripsi

1 BAB 4 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI 4.1 PERANCANGAN SISTEM PEMILIHAN STANDAR WIRELESS YANG AKAN DIGUNAKAN Standar wireless yang akan dipakai disini adalah wireless yang menuruti standar Internasional IEEE. Wireless dibagi 3 yaitu a, b, dan g. Dalam perancangan ini akan digunakan tipe wireless g karena tipe ini bisa juga mengenali tipe wireless b. Kedua tipe wireless tersebut bisa berhubungan karena mempunyai frekuensi yang sama yaitu 2,4 GHz. Perbedaan antara kedua sistem wireless g dan b adalah dari hal kecepatan transfer data. Kecepatan transfer data g adalah 54Mbps sedangkan b adalah 11 Mbps. Penggunaan tipe wireless a tidak disarankan karena menggunakan frekuensi 5 GHz yang tidak dapat berhubungan dengan tipe wireless lainnya PEMILIHAN TOPOLOGI Rancangan awal dari MM2100 menggunakan Topologi star, dimana setiap pelanggan langsung terhubung dengan Base Station. Base Station menjadi pusat dari semua jaringan. Topologi ini memiliki kelebihan dari mudahnya dalam instalasi.selain itu juga, jika satu jalur terputus, maka tidak akan mengganggu jaringan lainnya. 57

2 58 Namun topologi ini juga memiliki kelemahan, dimana jaringan yang terputus itu tidak akan bisa terhubung dengan jaringan lainnya. Topologi ini juga cocok dengan sistem wireless, karena cukup dengan 1(satu) acccess point, bisa mencakup seluruh wilayah, dan pelanggan hanya cukup memiliki sebuah antenna receiver untuk menangkap gelombang sinyal yang dipancarkan dari akses point. Namun, bila terjadi gangguan pada acccess point wireless, dampak nya bisa keseluruh pengguna akses point itu sendiri. Dan bila terjadi gangguan pada pengguna, efeknya hanya akan dirasakan oleh pengguna itu sendiri. Gambar 4.1 Topologi Star MM2100 Perancangan yang akan dibuat, akan menggunakan kombinasi topologi star dan topologi ring. Dimana itu berarti menjadi sebuah topologi Mesh. Namun, jaringan ini tidak sepenuhnya menggunakan

3 59 topologi mesh, karena kita dapat mencapai efisiensi dalam sebuah projek. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar 4.2 Gambar 4.2 Rancangan Topologi Mesh MM2100 Dari perancangan topologi diatas, akan diletakkan 3 4 nodeyang berdekatan dalam 1(satu) sektor. Dimana sektor itu membentuk sebuah topologi mesh, dan tiap mesh tersebut membentuk topologi star dengan Base station PEMILIHAN IP (Internet Protocol) ADDRESS YANG AKAN DIGUNAKAN IP address yang akan digunakan pada kawasan industri MM2100 adalah, sebanyak 26 IP public yang sudah diberikan oleh PT.NTT Indonesia,lalu 36 ip private yang akan digunakan pada sambungan antar 3 atau 4 node. Diasumsikan disini, node adalah perusahaan.

4 60 IP public yang akan digunakan adalah : BLOK NODE IP PUBLIK NETWORK ID IP VALID BROADCAST ID / / / / / / /

5 / / / / / / / / /

6 / / / / / / / / / /

7 63 IP private pada jaringan LAN pelanggan BLOK NODE IP PRIVATE NETWORK ID IP VALID BROADCAST ID / / / / / / / / / / / / /

8 / / / / / / / / / / / / / Tabel 4.1 IP Public dan IP Private LAN

9 65 IP private pada sambungan antar node (Radio): BLOK NODE IP PRIVATE Tabel 4.2 IP private pada radio ALOKASI BANDWIDTH Dalam tabel bandwidth, dapat lihat pembagian bandwidth sebelum dirancang dan setelah ada perancangan sistem. saat kondisi normal, bandwidth dalam jaringan akan berjalan sesuai dengan ukuran masing masing, hanya saja, bandwidth itu telah didevider sehingga menjadi bandwidth yang telah dirancang untuk tiap jaringan yang ada.

10 66 ini berfungsi untuk mengurangi beban bandwidth yang terjadi apabila sistem interkoneksi nya mulai berjalan. BANDWIDTH ALOCATION DESIGN Dedicated Bandwidth Allocation Bandwidth node bandwidth (kbps) node bandwidth (kbps) / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / 2 Tabel 4.3 Alokasi Bandwidth PEMILIHAN ANTENA Pada bagian base stasion (BTS), antenna yang digunakan adalah antenna sektoral dan antena omnidirectional yang digunakan sebagai antena transceiver (pengirim). Antena sektoral mempunyai polarisasi vertikal dan dirancang untuk digunakan pada base stasion (BTS). Antena sektoral digunakan karena dapat memberikan gain yang besar antara dbi walaupun wilayah yang tercover terbatas antara derajat saja. Penggunaan antenna sektoral diperlukan untuk menjangkau seluruh pelanggan yang terdiri dari 28 pelanggan

11 67 dan terbagi 2 blok, sehingga dengan antenna sektoral, seluruh pelanggan dapat dijangkau semua dengan 2 antena sektoral tersebut. Selain antena sektoral, antena lain yang digunakan adalah antena omnidirectional. Antena ini digunakan hanya sebagai jalur cadangan seandainya antena sektoral pelanggan terjadi gangguan. Antena ini dirancang untukmemberikan jangkauan dalam radius 360 serajat dari titik antenna dipasang. Sangat bagus untuk memberikan hubungan dengan pelanggan yang letaknya antara 1 4 km dari antenna ini. Antena ini mempunyai gain rendah antara 3 10 dbi. Pada bagian pelanggan, antena yang dipakai adalah antenna receiver ( penerima ) yang digunakan untuk menerima gelombang radio yang dikirimkan oleh antenna sektoral dan omnidirektional pada BTS. Jenis antena yang digunakan adalah antena directional atau bisa disebut antena point-to-point PEMILIHAN RADIO Radio yang akan dgunakan pada sisi BTS adalah radio yang dibuat khusus sebagai radio outdoor. Mempunyai beberapa slot antenna dan mempunyai daya yang tinggi agar jangkauannya dapat sampai kesemua pelanggan. Mempunyai WEP, WPA, atau WPA2 sebagai keamanan, mempunyai box yang tahan terhadap berbagai cuaca dan tahan air. Radio yang akan digunakan pada sisi client adalah radio yang mempunyai WEP, WPA, atau WPA2 sebagai keamanan, dapat mengontrol MAC address, sehingga dapat mengatur MAC address

12 68 hardware yang diperbolehkan terkoneksi dengan jaringan dan dapat sebagai DHCP server untuk memberikan ip address kepada client PEMILIHAN SWITCH Switch yang akan digunakan pada sisi BTS dan pelanggan adalah switch yang dapat dikonfigurasi, atau biasa disebut manageable switch. Dengan switch manageable, walaupun switch adalah layer 2 dalam OSI layer, yang berarti hanya dapat membaca port dan M AC address, dapat dimasukkan ip address pada masingmasing portnya, tetapi tidak dapat digunakan seperti halnya router, ip address ini digunakan sebagai cara untuk mencoba koneksi jaringan, dengan cara ping, sehingga koneksi ke switch dapat dicoba menggunakan protokol ICMP. Selain itu, penggunaan ip address ini juga untuk menjalankan intervlan routing, yaitu menghubungkan antara jaringan VLAN yang berbeda. Switch yang diperlukan dalam perancangan jaringan ini, harus juga mempunyai fitur spanning tree protocol (STP), yaitu protokol yang digunakan untuk menghindari broadcast domain yang terjadi bila switch dipasang langsung tanpa dipisahkan router PEMILIHAN JENIS PROTOKOL KEAMANAN YANG DIGUNAKAN Keamanan yang terdapat pada sistem jaringan wireless terbagi menjadi 2 bagian, yaitu keamanan disisi pelanggan, bisa disebut hak akses dan keamanan transfer data atau informasi. Maksudnya hak

13 69 akses adalah, pembatasan user-user siapa saja yang boleh terkoneksi dengan jaringan, dengan begitu, hanya user-user yang diizinkan saja yang boleh terkoneksi dengan jaringan. Contoh system keamanan hak akses ini adalah kontrol MAC address, maksudnya hanya beberapa MAC address yang diizinkan terkoneksi dengan jaringan dan juga kontrol IP address yang maksudnya, hanya beberapa IP address saja yang boleh terkoneksi dengan jaringan. Keamanan transfer data dan informasi, dalam jaringan wireless sifatnya terbuka lebar, karena menggunakan media gelombang radio yang merambat udara. Seperti yang diketahui, udara memiliki sifat bebas dan siapa pun dapat memanfaatkan udara dengan bebas. Selama gelombangnya masih dapat dijangkau, tidak menutup kemungkinan siapa pun dapat terkoneksi. Berawal dari analogi diatas, muncullah beberapa metode keamanan pada jaringan wireless dengan menggunakan metode enkripsi seperti WEP, WPA, WPA-TKIP, dan WPA-PSK. Pada perancangan jaringan ini, akan digunakan WPA (Wifi Protected Access) dengan enkripsi TKIP (Temporal Key Integrity Protocol). Alasannya menggunakan protocol ini adalah, karena dibandingkan dengan WEP (Wired Equivalence Privacy), protokol ini jauh lebih aman karena dengan menggunakan TKIP (Temporal Key Integrity Protocol) yang mampu secara dinamis berubah setelah paket data ditransmisikan. Protokol TKIP akan mengambil kunci utama sebagai starting point yang kemudian secara reguler berubah sehingga tidak ada kunci enkripsi yang digunakan dua kali

14 IMPLEMENTASI Perancangan Topologi Peta daerah kawasan industri MM2100 beserta node-nodeyang menunjukkan perusahaan yang jaringannya terhubung dengan PT. NTT Indonesia. Perancangan topologi jaringan wireless berdasarkan letak lokasi, kondisi geografis, dan Line of Sight masing-masing pelanggan yang ada dikawasan industri MM2100. Berikut adalah peta geografis kawasan industri MM2100 dengan lokasi BTS serta pelanggan : Gambar 4.3 Peta MM2100 ( skala 1 : )

15 71 Gambar diatas merupakan peta geografis dari kawasan industri MM2100. dimana kawasan tersebut memiliki luas 1250 HA. Suatu wilayah yang cukup sulit dan menguras dana untuk membangun sebuah jaringan dengan kabel. Oleh karena itu, PT. NTT Indonesia membangun sebuah jaringan wireless untuk mengkoneksi jaringan internet kepada pelanggan nya. Berikut adalah gambar jaringan wireless yang sudah ada pada MM2100 : Gambar 4.4 Jaringan Wireless MM2100 ( skala 1 : ) Tiap pelanggan memiliki satu radio dan satu router yang disediakan oleh PT.NTT Indonesia untuk menjadi receiver dari radio

16 72 yang di transmit oleh Base station. Jadi, tiap pelanggan PT.NTT Indonesia hanya memiliki satu jalur backbone dalam proses transfer data dan internet. Semua Backbone tersebut terpusat pada Base station. Di Base station sendiri, Terdapat 3 buah radio aktif yang berfungsi sebagai transmitter. Terdiri dari dua buah radio sectoral, dan satu buah radio omni. Untuk perancangan topologi, menyesuaikan dengan jarak antara lokasi pelanggan dengan lokasi Base station. Gambar 4.5 Jaringan dengan Section ( skala 1 : )

17 Perangkat Keras / Hardware Berikut ini adalah perangkat keras / hardware yang akan digunakan dalam perancangan jaringan wireless pada kawasan industri MM2100. A. Spesifikasi Antena Tabel 4.4. Spesifikasi Antena Sektoral (BTS) Nama Produk M odel 2.4GHz Sector Panel Antenna Series Kenbotong TDJ-2400G18-A/TDJ- 2400I17-A/TDJ-2400J16-A Jangkauan Frekuensi (MHz( Bandwitdh (MHz) 83 Gain-(dBi) 18/17/16 Horizontal Beamwidth 60/90/120 Vertical Beamwidth 7 Input Impedance (Ω) 50 Polarization Vertical Maximum Power (W) 100 Connector N Female Dimensions (mm) Weight (kg) 4.5 Ф50 75 Mounting Mast Diametermm

18 74 Tabel 4.5 Spesifikasi Antena Omnidirectional(BTS) Nama Produk 2.4GHz 10dBi Fiberglass Ante nna Model Kenbotong TQJ-2400AT10 Jangkauan Frekuensi (MHz( Bandwitdh (MHz) 83 Gain-(dBi) 10 Horizontal Beamwidth 360 Vertical Beamwidth 10.5 Input Impedance (Ω) 50 Polarization Vertical Maximum Power (W) 100 Connector N Female Dimensions (mm) 1.0 Weight (kg) 1.1 Mounting Mast Diameter-mm Ф40 50 Tabel 4.6 Spesifikasi Antena Grid ( Pelanggan ) Nama Produk 2.4GHz Square Grid Parabolic Antenna Model Kenbotong TDJ-2400A Jangkauan Frekuensi (MHz) Bandwitdh (MHz) 83 Gain (dbi) 24

19 75 Horizontal Beamwidth 10 Vertical Beamwidth 14 Input Impedance (Ω) 50 Polarization Vertical atau Horizontal Maximun Power (W) 100 Connector N Female or Customization Dimensi (m) 0.6 x 0.9 Berat (Kg) 3.6 Mounting Mass Diameter Ф40 50 (mm) B. Spesifikasi Radio Tabel 4.7 spesifikasi radio ( BTS ) Nama Produk CPU Flash RAM JAHT WP-4001BR Realtek RTL8186 2MB 8 MB SDRAM Bandwitdh (MHz) 83 Gain (db) 24 Horizontal Beamwidth 10 RF Interface Antenna Realtek RTL8225 RJ-45 10/100 Mbps Port x1 RP-SMA Detachable Antenna

20 76 x1 Transmit Power Power Dimensi Temperature Certification 18 dbm 12 v DC, 0.5 A 30 mm x 127 mm x 96 mm c FCC,CE Tabel 4.8 Spesifikasi Radio ( Pelanggan ) CPU MPC8343E 266/400MHz network processor Nama Produk Memory Boot loader Data storage Ethernet Mikrotik Wireless Outdoor RB600 64MB DDR SDRAM onboard memory RouterBOOT, 1Mbit Flash chip 64MB onboard NAND memory chip Three 10/100/1000 Mbit/s Gigabit Ethernet Serial port One DB9 RS232C asynchronous serial port Power jack Dimensions V DC 14 cm x 20 cm (5.51 in x 7.87 in Power consumption ~9W without extension cards, maximum 35+ W Operation System Power MikroTik RouterOS v3, Level4 license 65 mwatt

21 77 Frekuensi Wireless 2.4/5GHz a+b+g 54Mbps C. Spesifikasi Switch Tabel 4.9 Spesifikasi Switch (Pelanggan ) Model Type Cisco Switch Catalyst WS- C Ports Power Requirements 12 Ports 10/100MBps Power consumption: 30W maximum, 102 BTUs per hour AC input voltage: 100 to 127, 200 to 240 VAC (autoranging) AC input frequency: 47 to 63 Hz Performance 3.9 Mpps wire-speed forwarding rate 8 MB memory architecture shared by all ports Up to 16 MB SDRAM and 8 MB Flash memory Configurable up to 8000

22 78 MAC addresses D. Spesifikasi Router Tabel 4.10 Spesifikasi Router ( pelanggan ) Model Type Cisco Router 1841 DRAM 128 Max DRAM 384 Flash Memory 32 Max Flash Memory 128 Weight Perangkat Lunak 1. Perangkat Lunak pada radio Perangkat lunak yang akan digunakan pada radio pelanggan adalah Winbox yang merupakan perangkat lunak bawaan dari perangkat Mikrotik. Winbox ( gambar 4.6) dapat mengkonfigurasi radio secara remote atau jarak jauh dan dapat juga sebagai perangkat lunak monitoring untuk melihat kondisi jaringan.

23 79 Gambar 4.6 Layar pada Winbox 2. Perangkat lunak pada router Perangkat lunak yang akan digunakan untuk mengkonfigurasikan router adalah perangkat lunak HyperTerminal (gambar 4.7 ), yang merupakan perangkat lunak yang biasanya digunakan untuk mengkonfigurasikan router. gambar 4.7 Layar Konfigurasi Router

24 80 Sedangkan perangkat lunak untuk mengkonfigurasikan router dari jarak jauh/remote menggunakan perangkat lunak Putty (gambar 4.8) Gambar 4.8 Layar Putty 3. Perangkat lunak pada Switch Gambar 4.9 Layar Konfigurasi Switch Perangkat lunak untuk mengkonfigurasikan switch sama dengan perangkat lunak yang ada pada router, yaitu hyper terminal.

25 Pengujian Pengujian yang dilakukan terbagi dalam beberapa tahap, yaitu simulasi konsep yang telah dibuat, Instalasi jaringan, dan penggunaan protokol keamanan jalur wireless. Ini perlu dilakukan agar susunan sistemnya dapat teratur dan sesuai dengan konsep yang telah dibuat, serta dapat menganalisa dan memecahkan error atau permasalahan yang terjadi dengan mudah. A. Simulasi konsep Sebelum pengujian, dilakukan simulasi jaringan dengan perangkat lunak khusus simulasi. Dalam hal ini menggunakan packet tracer. Ini perlu dilakukan untuk mengetahui jalur mana saja yang akan dilewati data, routing protocol, dan konfigurasi jaringan sementara. Pengujian menggunakan perangkat lunak packet tracer 4.1, sebagai simulasi sebelum implementasi di lapangan. Berikut perancangan jaringan yang akan dibuat

26 82 Gambar 4.10 Jaringan Awal Disini, ditambahkan switch manageable diatas router masing-masing pelanggan, sehingga dapat dibuat suatu jalur cadangan yang menghubungkan antar jaringan pelanggan menggunakan radio tambahan. Diamsumsikan, switch diatas terhubung dengan 2 3 radio untuk menghubungkan jaringan antar pelanggan. Teknologi yang digunakan antar switch adalah spanning tree protocol untuk menghindari badai broadcast yang terjadi karena sambungan langsung antar switch. Dapat dilihat pada simulasi gambar 4.10 interface pada switch node 2 yang terhubung ke switch node 1 dan switch node 3 dalam keadaan tidak aktif disebabkan spanning tree protocol bekerja untuk menghindari badai broadcast Pengujian pada pelanggan 1 Kondisi jaringan normal

27 83 Gambar 4.11 Pelanggan 1 Jaringan Normal Dapat dilihat pada gambar simulasi 4.11 kondisi jaringan normal, disaat node 1 masih terhubung ke jaringan melalui jalur utama. Hasil percobaan koneksi melalui ping dan traceroute dapat dilihat pada gambar 4.12 dan 4.13 Gambar 4.12 Ping Kondisi Normal Gambar 4.13 Traceroute Kondisi Normal

28 84 Kondisi jalur utama putus Gambar 4.14 Pelanggan 1 Jaringan Putus Dapat dilihat pada gambar simulasi 4.14, jaringan utama dari pelanggan 1 putus, sehingga, secara otomatis, interface yang ada pada switch node2 yang terhubung ke switch node1 akan aktif karena spanning tree protocol sudah mempelajari adanya jalur yang putus. Hasil percobaan koneksi dapat dilihat pada gambar 4.15 dan 4.16 Gambar 4.15 Ping Kondisi Jaringan Utama Putus

29 85 Gambar 4.16 Traceroute Kondisi Jaringan Utama Putus Kondisi jalur cadangan pertama putus Gambar 4.17 Kondisi Jalur Cadangan Pertama Putus Dapat dilihat pada gambar simulasi 4.17, jalur cadangan yang berada pada switch node2 juga putus, sehingga secara otomatis, interface pada switch node2 yang terhubung ke switch node3 akan aktif karena spanning tree protocol sudah mempelajari adanya jalur yang putus. Hasil percobaan koneksi dapat dilihat pada gambar 4.18 dan 4.19

30 86 Gambar 4.18 Ping Kondisi Jalur Cadangan Pertama Putus Gambar 4.19 Traceroute Kondisi Jalur Cadangan Pertama Putus Pengujian pada pelanggan 2 Kondisi jaringan normal Gambar 4.20 Pelanggan 2 Jaringan Normal

31 87 Dapat dilihat pada gambar simulasi 4.20 kondisi jaringan normal, disaat node 2 masih terhubung ke jaringan melalui jalur utama. Hasil percobaan koneksi melalui ping dan tracerout dapat dilihat pada gambar 4.21 dan 4.22 Gambar 4.21 Ping Kondisi Normal Gambar 4.22 Traceroute Kondisi Normal

32 88 Kondisi jalur utama putus Gambar 4.23 Pelanggan 2 Jaringan Putus Dapat dilihat pada gambar simulasi 4.23, jaringan utama dari pelanggan 2 putus, sehingga, secara otomatis, interface yang ada pada switch node2 yang terhubung ke switch node3 akan aktif karena spanning tree protocol sudah mempelajari adanya jalur yang putus. Hasil percobaan koneksi dapat dilihat pada gambar 4.24 dan 4.25 Gambar 4.24 Ping Kondisi Jaringan Utama Putus

33 89 Gambar 4.25 Traceroute Kondisi Jaringan Utama Putus Kondisi jalur cadangan pertama putus Gambar 4.26 Kondisi Jalur Cadangan Pertama Putus Dapat dilihat pada gambar simulasi 4.26, jalur cadangan yang berada pada switch node3 juga putus, sehingga secara otomatis, interface pada switch node2 yang terhubung ke switch node1 akan aktif karena spanning tree protocol sudah mempelajari adanya jalur yang putus. Hasil percobaan koneksi dapat dilihat pada gambar 4.27 dan 4.28

34 90 Gambar 4.27 Ping Kondisi Jalur Cadangan Pertama Putus Gambar 4.28 Traceroute Kondisi Jalur Cadangan Pertama Putus Pengujian pada pelanggan 3 Kondisi jaringan normal Gambar 4.29 Pelanggan 3 Jaringan Normal

35 91 Dapat dilihat pada gambar simulasi 4.29 kondisi jaringan normal, disaat node 3 masih terhubung ke jaringan melalui jalur utama. Hasil percobaan koneksi melalui ping dan tracerout dapat dilihat pada gambar 4.30 dan 4.31 Gambar 4.30 Ping Kondisi Normal Gambar 4.31 Traceroute Kondisi Normal

36 92 Kondisi jalur utama putus Gambar 4.32 Pelanggan 2 Jaringan Putus Dapat dilihat pada gambar simulasi 4.32, jaringan utama dari pelanggan 3 putus, sehingga, secara otomatis, interface yang ada pada switch node2 yang terhubung ke switch node3 akan aktif karena spanning tree protocol sudah mempelajari adanya jalur yang putus. Hasil percobaan koneksi dapat dilihat pada gambar 4.33 dan Gambar 4.33 Ping Kondisi Jaringan Utama Putus

37 93 Gambar 4.34 Traceroute Kondisi Jaringan Utama Putus Kondisi jalur cadangan pertama putus Gambar 4.35 Kondisi Jalur Cadangan Pertama Putus Dapat dilihat pada gambar simulasi 4.35 jalur cadangan yang berada pada switch node2 juga putus, sehingga secara otomatis, interface pada switch node2 yang terhubung ke switch node1 akan aktif karena spanning tree protocol sudah mempelajari adanya jalur yang putus. Hasil percobaan koneksi dapat dilihat pada gambar 4.36 dan 4.37

38 94 Gambar 4.36 Ping Kondisi Jalur Cadangan Pertama Putus Gambar 4.37 Traceroute Kondisi Jalur Cadangan Pertama Putus Dari hasil perancangan jaringan menggunakan perangkat lunak packet tracer, dapat disimpulkan jaringan yang telah dirancang ini dapat diimplementasikan karena jalur cadangan yang telah dirancang dapat bekerja dengan baik. B. Instalasi jaringan Setelah melakukan simulasi konsep, dilakukan instalasi langsung di MM2100. proses ini terdiri dari 2 tahap, yaitu instalasi perangkat keras dan instalasi perangkat lunak. Berikut penjelasan proses instalasi :

39 95 1. Instalasi perangkat keras Instalasi perangkat awal dimulai dari Base station, di sisi Base station hanya menambahkan manageable switch dalam sistem susunan hardware yang sudah ada. Susunan hardware yang ada sebelum terpasang manageable switch bias dilihat di gambar 4.38 Gambar 4.38 Susunan Hardware POP Tanpa Manageable Switch Gambar diatas menjelaskan susunan hardware yang ada di Base station. Dimulai dari jaringan backbone dari kantor pusat PT.NTT Indonesia, jaringan FO ini masuk ke converter dan langsung dilanjutkan ke router dengan kabel RJ-45. Router ini merupakan pintu masuk utama bagi seluruh jaringan PT.NTT Indonesia yang ada di kawasan industri MM2100.

40 96 Router kemudian tersambung dengan Manageable switch, dimana didalam switch tersebut, telah terintegrasi VPN untuk semua pelanggan NTT yang ada di MM2100. Pelanggan tidak saling terhubung dengan pelanggan yang lain walaupun mereka di dalam 1 jaringan, ini semua karena fungsi VPN yang ada di dalam switch tersebut. Diatas switch, ada Subscriber unit untuk konversi dari data digital ke data analog. Ini dilakukan agar data dapat dikirim melalui transmisi radio wireless. Dari subscriber unit ini, tersambung 3 radio, 2 sectoral dan 1 omnidirectional, serta beberapa radio backup yang standby bila terjadi kerusakan pada radio utama. Pada sisi pelanggan, sesuai dengan konsep jaringan yang telah dirancang, penambahan beberapa perangkat keras. Selain manageable switch, juga diinstall beberapa radio baru untuk jaringan interkoneksi antar pengguna. Jaringan ini nantinya akan berfungsi sebagai jalur backup untuk jalur backbone yang dimiliki pelanggan. Untuk lebih jelas nya dapat di lihat di gambar Susunan Hardware pada customer sebelum di tambahkan manageable switch dan radio sebagai jalur cadangan :

41 97 Gambar 4.39 Susunan Hardware User Tanpa Manageable Switch Susunan Hardware pada Pelanggan setelah ditambahkan manageable switch dan radio sebagai jalur cadangan:

42 98 Gambar 4.40 Susunan Hardware User dengan Manageable Switch Susunan diatas juga disesuaikan dengan posisi pelanggan dalam sector mesh mereka. Ada beberapa yang menggunakan 3 radio, dan sisa nya hanya menggunakan 2 radio saja. Manageable switch disini berfungsi untuk menambah masukan radio lebih dari satu sehingga dapat dibuat suatu jalur cadangan bila jalur utama terjadi gangguan. 2. Instalasi Perangkat Lunak Instalasi perangkat lunak akan dilakukan pada radio pelanggan yang dikhususkan sebagai jalur cadangan, pada router pelanggan untuk mengkonfigurasikan routing protocol dan lainnya.

43 99 3. Instalasi pada Radio transmitter Pada radio yang mikrotik, sebagai transmitter, beberapa yang harus dikonfigurasi antara lain ( konfigurasi ini berlaku untuk 26 pelanggan, yang membedakan konfigurasi antar pelanggan adalah IP addressnya, nama SSID nya ): Pengalamatan IP address IP address yang akan diberikan adalah Nama SSID Nama SSID nya adalah Node 1 ke 2 Frekuensi dan Band Frekuensinya menggunakan 2412 dan bandnya 2,4 Ghz B/G Mode Wireless Mode wireless yang digunakan sebagai transmitter adalah Ap Bridge. Range Scan List Dikonfigurasikan pada frekuensi Ringkasan kofigurasi pada radio dapat dilihat pada Tabel 4.11

44 100 IP Address SSID Node1ke2 Frekuensi 2412 Band Mode Wireless 2,4 Ghz B/G AP Bridge (transmitter) Range Scan List Tabel 4.11 Konfigurasi Radio 4. Instalasi pada Radio receiver Pada radio yang mikrotik, sebagai receiver, beberapa yang harus dikonfigurasi antara lain ( konfigurasi ini berlaku untuk 26 pelanggan, yang membedakan konfigurasi antar pelanggan adalah IP addressnya, nama SSID nya ): Pengalamatan IP address IP address yang akan diberikan adalah Nama SSID Nama SSID nya adalah Node1ke2 Frekuensi dan Band Frekuensinya menggunakan 2412 dan bandnya 2,4 Ghz B/G Mode Wireless Mode wireless yang digunakan sebagai receiver adalah Station WDS.

45 101 Range Scan List Dikonfigurasikan pada frekuensi Ringkasan konfigurasi pada radio dapat dilihat pada table 4.12 IP Address SSID Node1ke2 Frekuensi 2412 Band Mode Wireless 2,4 Ghz B/G Station WDS (receiver) Range Scan List Tabel 4.12 Ringkasan konfigurasi pada radio 5. Instalasi pada Router Blok 1 Pada blok 1 terdiri dari 3 perusahaan yang masing masing mempunyai 1 router. Pada 3 router tersebut, akan dikonfigurasikan (konfigurasi ini berlaku untuk 8 blok yang masing masing bloknya terdiri dari 3 4 router ) : 1. Router 1 (node 1) Pada router node 1, beberapa yang harus dikonfigurasi antara lain:

46 102 Pengalamatan ip address Ip address yang akan diberikan pada interfaces yang terhubung ke jaringan LAN pelanggan adalah ip private , sedangkan pada interfaces yang terhubung ke jaringan luar adalah ip public Konfigurasi password Konfigurasi password untuk masuk ke mode console dan juga untuk telnet. Konfigurasi NAT ( Network Address Translation ) Konfigurasi NAT pada router, merubah banyak ip private pelanggan kedalam ip public agar dapat mengakses internet. Konfigurasi access list Konfigurasi access list pada router untuk membatasi hak akses. Konfigurasi routing protocol Konfigurasi routing protocol dengan menggunakan OSPF (Open Shortest Path First) multi area, tiap blok menggunakan area yang berbeda. Konfigurasi enkripsi Konfigurasi enkripsi menggunakan MD5. Ringkasan konfigurasi pada router node 1 dapat dilihat pada table 4.13

47 103 IP address pada jaringan LAN pelanggan (IP Private) IP address pada jaringan Luar (IP Publik) Password Telnet Password Console Network Address Translation (NAT) Password Password diubah ke Access List Diperbolehkan untuk mengakses jaringan sendiri dan ip public sendiri, tidak diperbolehkan mengakses jaringan pelanggan lain. Routing Protocol OSPF (Open Shortest Path First) area 0 Enkripsi MD5 Tabel 4.13 Ringkasan konfigurasi pada router node 1

48 Router 2 (node 2) Pada router node 2, beberapa yang harus dikonfigurasi antara lain: Pengalamatan ip address Ip address yang akan diberikan pada interfaces yang terhubung ke jaringan LAN pelanggan adalah ip private , sedangkan pada interfaces yang terhubung ke jaringan luar adalah ip public Konfigurasi password Konfigurasi password untuk masuk ke mode console dan juga untuk telnet. Konfigurasi NAT ( Network Address Translation ) Konfigurasi NAT pada router, merubah banyak ip private pelanggan kedalam ip public agar dapat mengakses internet. Konfigurasi access list Konfigurasi access list pada router untuk membatasi hak akses. Konfigurasi routing protocol Konfigurasi routing protocol dengan menggunakan OSPF (Open Shortest Path First) multi area, tiap blok menggunakan area yang berbeda.

49 105 Konfigurasi enkripsi Konfigurasi enkripsi menggunakan MD5. Ringkasan konfigurasi pada router node 2 dapat dilihat pada table 4.14 IP address pada jaringan LAN pelanggan (IP Private) IP address pada jaringan Luar (IP Publik) Password Telnet Password Console Network Address Translation (NAT) Password Password diubah ke Access List Diperbolehkan untuk mengakses jaringan sendiri dan ip public sendiri, tidak diperbolehkan mengakses jaringan pelanggan lain. Routing Protocol OSPF (Open Shortest Path First) area 0 Enkripsi MD5 Tabel 4.14 Ringkasan konfigurasi pada router node 2

50 Router 3 (node 3) Pada router node 3, beberapa yang harus dikonfigurasi antara lain: Pengalamatan ip address Ip address yang akan diberikan pada interfaces yang terhubung ke jaringan LAN pelanggan adalah ip private , sedangkan pada interfaces yang terhubung ke jaringan luar adalah ip public Konfigurasi password Konfigurasi password untuk masuk ke mode console dan juga untuk telnet. Konfigurasi NAT ( Network Address Translation ) Konfigurasi NAT pada router, merubah banyak ip private pelanggan kedalam ip public agar dapat mengakses internet. Konfigurasi access list Konfigurasi access list pada router untuk membatasi hak akses. Konfigurasi routing protocol Konfigurasi routing protocol dengan menggunakan OSPF (Open Shortest Path First) multi area, tiap blok menggunakan area yang berbeda. Konfigurasi enkripsi Konfigurasi enkripsi menggunakan MD5.

51 107 Ringkasan konfigurasi pada router node 3 dapat dilihat pada Tabel 4.15 IP address pada jaringan LAN pelanggan (IP Private) IP address pada jaringan Luar (IP Publik) Password Telnet Password Console Network Address Translation (NAT) Password Password diubah ke Access List Diperbolehkan untuk mengakses jaringan sendiri dan ip public sendiri, tidak diperbolehkan mengakses jaringan pelanggan lain. Routing Protocol OSPF (Open Shortest Path First) area 0 Enkripsi MD5 Tabel 4.14 Ringkasan konfigurasi pada router node 3

52 Instalasi pada switch blok 1 dan BTS Pada BTS terdapat 1 manageable switch sedangkan pada blok 1 terdiri dari 3 perusahaan yang masing masing mempunyai 1 manageable swiitch. Pada 3 switch tersebut, akan dikonfigurasikan ( konfigurasi ini berlaku untuk 8 blok yang masing masing bloknya terdiri dari 3 4 switch ) : 1. Switch 1 ( Node 1 ) Pada switch node 1, beberapa yang harus dikonfigurasi antara lain: Konfigurasi password Konfigurasi password untuk masuk ke mode console dan juga untuk telnet. Konfigurasi Priority Konfigurasi besar priority untuk menjalankan spanning tree protocol Konfigurasi interface Konfigurasi interface mana yang terhubung sebagai jalur utama atau jalur cadangan Ringkasan konfigurasi pada switch node 1 dapat dilihat pada Tabel 4.16

53 109 Password Telnet Password Console Password Password Priority Interface fast ethernet 0/1 Interface fast ethernet 0/3 Jalur utama Jalur cadangan VLAN 1 Tabel 4.16 Ringkasan konfigurasi pada switch node 1 2. Switch 2 ( Node 2 ) Pada switch node 2, beberapa yang harus dikonfigurasi antara lain: Konfigurasi password Konfigurasi password untuk masuk ke mode console dan juga untuk telnet. Konfigurasi Priority Konfigurasi besar priority untuk menjalankan spanning tree protocol Konfigurasi interface Konfigurasi interface mana yang terhubung sebagai jalur utama atau jalur cadangan Ringkasan konfigurasi pada switch node 2 dapat dilihat pada table 4.17

54 110 Password Telnet Password Console Password Password Priority Interface fast thernet 0/1 Interface fast thernet 0/3 Interface fast thernet 0/4 Jalur utama Jalur cadangan Jalur cadangan VLAN 2 Tabel 4.17 Ringkasan konfigurasi pada switch node 2 3. Switch 3( Node 3 ) Pada switch node 3, beberapa yang harus dikonfigurasi antara lain: Konfigurasi password Konfigurasi password untuk masuk ke mode console dan juga untuk telnet. Konfigurasi Priority Konfigurasi besar priority untuk menjalankan spanning tree protocol Konfigurasi interface Konfigurasi interface mana yang terhubung sebagai jalur utama atau jalur cadangan Ringkasan konfigurasi pada switch node 3 dapat dilihat pada table 4.18

55 111 Password Telnet Password Console Password Password Priority Interface fast thernet 0/1 Interface fast thernet 0/3 Jalur utama Jalur cadangan VLAN 3 Tabel 4.18 Ringkasan konfigurasi pada switch node PENGUJIAN KONEKSI Disini akan diuji koneksi jaringan pada pelanggan 1 atau node 1, apakah jalur cadangan yang dirancang dapat bekerja dengan semestinya, begitu juga dengan konfigurasi hardwarenya apakah sudah benar sehingga koneksi dapat berjalan. Metode yang dipakai menggunakan pengiriman protocol ICMP menggunakan ping. Bila disaat koneksi jalur utama pada pelanggan 1 putus, apakah masih ada reply dari ip yang dituju, bila masih ada, maka jalur cadangan yang dirancang dapat bekerja dengan semestinya, bila tidak terdapat reply maka jalur cadangan yang dirancang tidak bekerja. Selain ping, dilakukan juga pengujian menggunakan trace route untuk melihat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. A. HASIL PENGUJIAN Dari metode yang sudah dituliskan diatas, saat dilakukan ping pada router NTT pada saat jaringan pelanggan 1 masih menggunakan jaringan normal, dapat diterima reply

56 112 yang menandakan bahwa koneksi sudah berjalan dengan baik, begitu juga pada saat dilakukan trace route dapat dilihat bahwa paket yang dikirimkan sampai ketujuannya. Hasil dari ping dan trace route dapat dilihat pada gambar 4.41 Gambar 4.41 ping pada router NTT pada saat jaringan pelanggan 1 masih menggunakan jaringan normal Saat dilakukan ping pada router NTT pada saat jaringan pelanggan 1 mengalami putus jaringan pada jalur utamanya, masih dapat diterima reply yang menandakan bahwa koneksi sudah berjalan dengan baik, begitu juga pada saat dilakukan trace route dapat dilihat bahwa paket yang dikirimkan sampai ketujuannya, disebabkan jalur cadangan yang berjalan dengan baik, sehingga koneksi pelanggan satu masih dapat terus berjalan walaupun jalur utamanya putus, dengan menggunakan jalur cadangan pada pelanggan 2.Hasil dari ping dan trace route dapat dilihat pada gambar 4.42

57 113 Gambar 4.42 Ping dan Traceroute Melalui Jalur Cadangan Saat dilakukan ping pada router NTT pada saat jaringan pelanggan 1 mengalami putus jaringan pada jalur utamanya dan juga putus nya jalur cadangan pada jalu tetangga pertama, masih dapat diterima reply yang menandakan bahwa koneksi sudah berjalan dengan baik, begitu juga pada saat dilakukan trace route dapat dilihat bahwa paket yang dikirimkan sampai ketujuannya, disebabkan jalur cadangan yang berjalan dengan baik, sehingga koneksi pelanggan satu masih dapat terus berjalan walaupun jalur utamanya putus, dan juga jalur cadangan pada jalur cadangan pertama putus, dengan menggunakan jalur cadangan yang ada pada pelanggan 3.Hasil dari ping dan trace route dapat dilihat pada gambar 4.43

58 114 Gambar 4.43 Hasil dari ping dan trace route Biaya Yang Dibutuhkan Biaya yang dibutuhkan pada perancangan ini adalah sebagai berikut : 1. Radio sebanyak 36 buah 1 unit seharga Rp X 36 = Rp Switch Manageable 1 unit seharga Rp X 26 = Rp Antena Grid 1 unit seharga Rp X 36 = Rp Totalnya adalah Rp

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA. Jurusan Teknik Informatika Skripsi Sarjana Komputer Semester Genap tahun 2007/2008

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA. Jurusan Teknik Informatika Skripsi Sarjana Komputer Semester Genap tahun 2007/2008 UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Teknik Informatika Skripsi Sarjana Komputer Semester Genap tahun 2007/2008 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM WIRELESS DI KAWASAN INDUSTRI MM2100 PADA PT. NTT INDONESIA

Lebih terperinci

Bab 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. topologi jaringan yang telah penulis rancang. dibutuhkan, diantaranya adalah sebagai berikut :

Bab 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. topologi jaringan yang telah penulis rancang. dibutuhkan, diantaranya adalah sebagai berikut : 51 Bab 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Dikarenakan biaya, waktu dan tempat yang tidak memungkinkan untuk dapat mengimplementasikan perancangan penulis secara langsung, maka penulis mensimulasikan jaringan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perancangan Jaringan VLAN Berdasarkan analisis terhadap sistem jaringan yang sedang berjalan dan permasalahan jaringan yang sedang dihadapi oleh PT. Mitra Sejati Mulia Industri,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB IV HASIL DAN UJI COBA BAB IV HASIL DAN UJI COBA Pada sistem yang akan dibangun ini dengan tujuan untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan kepada user di setiap pengiriman data atau file yang dikirimkan melalui sebuah jaringan.

Lebih terperinci

MIKROTIK. I. Setting Mikrotik Wireless Bridge

MIKROTIK. I. Setting Mikrotik Wireless Bridge MIKROTIK MikroTik RouterOS adalah sistem operasi dan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menjadikan komputer manjadi router network yang handal, mencakup berbagai fitur yang dibuat untuk ip network

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. client yang terbagi dalam 15 titik serta intermediary network devices yang

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. client yang terbagi dalam 15 titik serta intermediary network devices yang BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Spesifikasi Sistem Implementasi dilakukan pada sebuah PC server (OS Mikrotik), PC client yang terbagi dalam 15 titik serta intermediary network devices yang mendukung

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Gambaran Umum Sistem Dalam pengerjaan tugas akhir ini, penulis menggunakan lima kondisi sistem, dari yang menggunakan routing table biasa, sampai yang menggunakan metode

Lebih terperinci

Pengelolaan Jaringan Sekolah

Pengelolaan Jaringan Sekolah Pengelolaan Jaringan Sekolah ( Mikrotik dan Access Point) PUSAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN (PUSTEKKOM KEMENDIKBUD) BIDANG PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

BAB IV IMPLEMENTASI SISTEM. Metodologi pelaksanaan berisi penjelasan tentang langkah-langkah yang

BAB IV IMPLEMENTASI SISTEM. Metodologi pelaksanaan berisi penjelasan tentang langkah-langkah yang BAB IV IMPLEMENTASI SISTEM Metodologi pelaksanaan berisi penjelasan tentang langkah-langkah yang digunakan dalam analisa dan menghadapi masalah yang ada pada PT. Crossnetwork Indonesia yang meliputi: 1.

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Skenario Uji Coba Dengan rancangan jaringan yang telah dibuat, perlu dilakukan uji coba untuk membuktikan bahwa rancangan load balancing dan failover tersebut dapat berjalan

Lebih terperinci

BAB 3. PERANCANGAN JARINGAN DAN PENGUJIAN

BAB 3. PERANCANGAN JARINGAN DAN PENGUJIAN BAB 3. PERANCANGAN JARINGAN DAN PENGUJIAN 3.1 Topologi Jaringan Topologi jaringan yang digunakan untuk pengujian routing protokol RIPng dan OSPFv3 Menggunakan bentuk topologi ring dengan 3 buah router

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN Kegiatan Kerja Praktek

BAB III PEMBAHASAN Kegiatan Kerja Praktek BAB III PEMBAHASAN 3.1. Kegiatan Kerja Praktek Tempat dari kerja praktek ini berada di PT. JalaWave Cakrawala tepatnya di kantor cabang Kosambi yang berlokasi di Kompleks Segitiga Emas jalan Jend. A. Yani

Lebih terperinci

A I S Y A T U L K A R I M A

A I S Y A T U L K A R I M A A I S Y A T U L K A R I M A STANDAR KOMPETENSI Pada akhir semester, mahasiswa mampu merancang, mengimplementasikan dan menganalisa sistem jaringan komputer Menguasai konsep wireless / Hotspot Menguasai

Lebih terperinci

Jaringan Wireless. Komponen utama pembangun jaringan wireless. 1. PC Personal Computer)

Jaringan Wireless. Komponen utama pembangun jaringan wireless. 1. PC Personal Computer) Jaringan Wireless Wireless atau wireless network merupakan sekumpulan komputer yang saling terhubung antara satu dengan lainnya sehingga terbentuk sebuah jaringan komputer dengan menggunakan media udara/gelombang

Lebih terperinci

CARA MENJALANKAN PROGRAM

CARA MENJALANKAN PROGRAM CARA MENJALANKAN PROGRAM 4.1.1 Konfigurasi Router Dalam konfigurasi Wireless Distribution System (WDS) setiap mikrotik wireless dikonfigurasi sama dan saling terhubung yang sedikit berbeda hanya pada mikrotik

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Packet Tracer adalah sebuah perangkat lunak (software) simulasi jaringan

BAB III LANDASAN TEORI. Packet Tracer adalah sebuah perangkat lunak (software) simulasi jaringan BAB III LANDASAN TEORI Pada bab tiga penulis menjelaskan tentang teori penunjang kerja praktik yang telah di kerjakan. 3.1 PACKET TRACER Packet Tracer adalah sebuah perangkat lunak (software) simulasi

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai perencanaan jaringan komputer lokal,

BAB III PERANCANGAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai perencanaan jaringan komputer lokal, BAB III PERANCANGAN 3.1 Gambaran Umum Pada bab ini akan dibahas mengenai perencanaan jaringan komputer lokal, dimana jaringan komputer ini menggunakan NAT Server yang berada dalam fitur Router OS Mikrotik,

Lebih terperinci

BAB 4 KONFIGURASI DAN UJI COBA. jaringan dapat menerima IP address dari DHCP server pada PC router.

BAB 4 KONFIGURASI DAN UJI COBA. jaringan dapat menerima IP address dari DHCP server pada PC router. BAB 4 KONFIGURASI DAN UJI COBA 4.1 Konfigurasi Sistem Jaringan Konfigurasi sistem jaringan ini dilakukan pada PC router, access point dan komputer/laptop pengguna. Konfigurasi pada PC router bertujuan

Lebih terperinci

Membuat Jaringan Point-to-Point Wireless Bridge antar BTS dengan Router Mikrotik RB 411 dan Antena Grid

Membuat Jaringan Point-to-Point Wireless Bridge antar BTS dengan Router Mikrotik RB 411 dan Antena Grid Membuat Jaringan Point-to-Point Wireless Bridge antar BTS dengan Router Mikrotik RB 411 dan Antena Grid Pendahuluan Mikrotik RouterOS didesain bekerja pada mode routing. Mode bridge memungkinkan network

Lebih terperinci

BAB 3. Analisis Routing Protokol BGP & OSPF

BAB 3. Analisis Routing Protokol BGP & OSPF BAB 3 Analisis Routing Protokol BGP & OSPF 3.1 Existing Network PT. Orion Cyber Internet memiliki dua network besar, yaitu network Core dan network POP. Network core meliputi network inti yang akan menghubungkan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Spesifikasi Sistem Dalam merancang sistem jaringan wireless yang baru untuk meningkatkan kualitas sinyal wireless di SMA Tarsisius II, Jakarta Barat diperlukan beberapa sarana

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI

BAB 4 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI BAB 4 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI 4.1 PERANCANGAN SISTEM 4.1.1 PEMILIHAN STANDARISASI WIRELESS Teknologi wireless yang akan digunakan disini adalah standarisasi internasional dari IEEE, yaitu standar

Lebih terperinci

Ad-Hoc. Dalam segi keamanan, jaringan ad-hoc dapat di konfigurasi tanpa password (open) atau menggunakan 2 metode yaitu WEP dan WPA.

Ad-Hoc. Dalam segi keamanan, jaringan ad-hoc dapat di konfigurasi tanpa password (open) atau menggunakan 2 metode yaitu WEP dan WPA. Ad-Hoc Jaringan Ad-hoc adalah salah satu jenis dari Wireless Local Area Network (WLAN) yang terdiri dari sekumpulan node-node yang berkomunikasi satu sama lain secara langsung tanpa melibatkan node perantara

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG SEDANG BERJALAN

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG SEDANG BERJALAN BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG SEDANG BERJALAN 3.1 Riwayat PT.Hypernet indodata Objek dalam penulisan skripsi ini adalah PT.Hypernet indodata, dimana PT.Hypernet indodata mempunyai 6 router yang ingin dijadikan

Lebih terperinci

LAN, VLAN, WLAN & WAN

LAN, VLAN, WLAN & WAN LAN, VLAN, WLAN & WAN Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung 2012 1 Local Area Network (1/2) Merupakan jaringan komputer yang

Lebih terperinci

BAB III PEDOMAN PEDOMAN

BAB III PEDOMAN PEDOMAN BAB III PEDOMAN PEDOMAN 3.1. Alur Pembelajaran Pedoman yang dibuat terdiri dari dua bagian, yaitu bagi praktikan dan bagi pengajar. Pada dasarnya, pedoman bagi praktikan dan bagi pengajar memiliki konten

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Komunikasi Data 2.2 Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi

BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Komunikasi Data 2.2 Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi BAB II DASAR TEORI Sebelum melakukan perancangan sistem pada penelitian, bab II menjelaskan teori-teori yang digunakan sehubungan dengan perancangan alat dalam penelitian skripsi. 2.1 Sistem Komunikasi

Lebih terperinci

VPLS Tunnel Untuk Kebutuhan Akses Data Pada Backbone Office to Office Menggunakan Mikrotik

VPLS Tunnel Untuk Kebutuhan Akses Data Pada Backbone Office to Office Menggunakan Mikrotik VPLS Tunnel Untuk Kebutuhan Akses Data Pada Backbone Office to Office Menggunakan Mikrotik Aan Choesni Herlingga 1, Agus Prihanto 2 1,2 Prodi D3 Manajemen Informatika, Jurusan Tekni Elektro, Universitas

Lebih terperinci

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR... ii HALAMAN TANDA LULUS... iii LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN... iv ABSTRAK... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... vix DAFTAR

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN BARU. masalah yang dihadapi pada jaringan yang sudah ada. Jaringan baru yang akan dibuat

BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN BARU. masalah yang dihadapi pada jaringan yang sudah ada. Jaringan baru yang akan dibuat BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN BARU Pada bab ini akan membahas tentang topologi baru sebagai solusi pemecahan masalah yang dihadapi pada jaringan yang sudah ada. Jaringan baru yang akan dibuat akan memanfaatkan

Lebih terperinci

Hierarki WAN & Dedicated Router

Hierarki WAN & Dedicated Router Nama : M Farisy Maulana Yusuf XII TKJ A Hierarki WAN & Dedicated Router Pemateri : Rudi Haryadi, S.T Antoni Budiman, S.Pd Diagnosa WAN I. TUJUAN Siswa dapat memahami hierarki dari Wide Area Network (WAN)

Lebih terperinci

hanya penggunakan IP saja yang berbeda. Berikut adalah cara menghubungkan station 2. Tentukan interface yang akan difungsikan sebagai station

hanya penggunakan IP saja yang berbeda. Berikut adalah cara menghubungkan station 2. Tentukan interface yang akan difungsikan sebagai station 92 Agar antar gedung dapat terhubung dengan jaringan yang ada menggunakan wireless, maka mikrotik di setiap gedung harus difungsikan sebagai station. Seperti yang kita katakan di atas, bahwa semua gedung

Lebih terperinci

a. Local Area Network (LAN)

a. Local Area Network (LAN) Konfigurasi VLAN Untuk Instansi Pendidikan Perguruan Tinggi Ardhiyan Akhsa (15111113) Saat ini penggunaan teknologi jaringan komputer sebagai media komunikasi data semakin meningkat. Seiring dengan semakin

Lebih terperinci

Administrasi Jaringan 3. Bambang Pujiarto, S.Kom

Administrasi Jaringan 3. Bambang Pujiarto, S.Kom Administrasi Jaringan 3 Bambang Pujiarto, S.Kom BRIDGING - SWITCHING Lapisan Data-Link (OSI ke 2) Mengatur aliran data Memeriksa kegagalan transmisi Menyediakan pengalamatan fisik (MAC Address) dan mengatur

Lebih terperinci

Fungsi Acces Point. 12:01 Network

Fungsi Acces Point. 12:01 Network Fungsi Acces Point 12:01 Network Fungsi Access Point Bisa disebut sebagai Hub/Switch di jaringan lokal, yang bertindak untuk menghubungkan jaringan lokal dengan jaringan wireless/nirkabel pada client/tetangga

Lebih terperinci

BAB 4. Implementasi Protokol BGP & OSPF Untuk Failover

BAB 4. Implementasi Protokol BGP & OSPF Untuk Failover BAB 4 Implementasi Protokol BGP & OSPF Untuk Failover 4.1 Implementasi Network Pada tahap implementasi, akan digunakan 2 protokol routing yang berbeda yaitu BGP dan OSPF tetapi pada topologi network yang

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Spesifikasi Sistem Untuk dapat melakukan implementasi maka diperlukan perangkat Hardware dan Software yang digunakan. Hardware - Router Wifi Mikrotik RB951 - Modem ISP Utama

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Spesifikasi router mikrotik Adapun perancangan pembuatan jaringan ini dilakukan dengan menggunakan router untuk jaringan yaitu Mikrotik. Mikrotik yang digunakan adalah

Lebih terperinci

SEKILAS WIRELESS LAN

SEKILAS WIRELESS LAN WIRELESS NETWORK SEKILAS WIRELESS LAN Sejarah kemunculan WLAN dimulai pada tahun 1997, sebuah lembaga independen bernama IEEE membuat spesifikasi/standar WLAN yang pertama diberi kode 802.11. Peralatan

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN

IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN BAB 5. IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN Dalam implementasi sistem jaringan ini akan menerapkan semua yang telah direncanakan dan didesain pada tahap sebelumnya yaitu tahap design dan simulasi. Untuk perangkat

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Spesifikasi sistem Dalam membangun jaringan pada PT. BERKAH KARYA MANDIRI dibutuhkan beberapa pendukung baik perangkat keras maupun perangkat lunak. 4.1.1 Spesifikasi

Lebih terperinci

3. Salah satu tipe jaringan komputer yang umum dijumpai adalah. a. Star b. Bus c. WAN d. Wireless e. Client-server

3. Salah satu tipe jaringan komputer yang umum dijumpai adalah. a. Star b. Bus c. WAN d. Wireless e. Client-server 1. Ciri-ciri jaringan komputer adalah sebagai berikut ini, kecuali. a. Berbagi pakai perangkat keras (hardware) b. Berbagi pakai perangkat lunak (software) c. Berbagi user (brainware) d. Berbagi saluran

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS SISTEM

BAB III ANALISIS SISTEM 62 BAB III ANALISIS SISTEM 3.1 Analisis Sistem yang Berjalan Di bawah ini adalah topologi awal jaringan RT / RW NET Optima dalam menjangkau pelanggannya Gambar 3.1 Topologi Jaringan Optima 62 63 Dari gambar

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... SURAT PERINTAH MAGANG... SURAT KETERANGAN SELESAI MAGANG... INTISARI... ABSTRACT...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... SURAT PERINTAH MAGANG... SURAT KETERANGAN SELESAI MAGANG... INTISARI... ABSTRACT... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... SURAT PERINTAH MAGANG... SURAT KETERANGAN SELESAI MAGANG... INTISARI... ABSTRACT... i ii iii iv v vi HALAMAN PERSEMBAHAN... vii PRAKATA... viii DAFTAR

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI. 4.1 Perancangan Jaringan Komputer dengan Menggunakan Routing Protokol OSPF dan GLBP

BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI. 4.1 Perancangan Jaringan Komputer dengan Menggunakan Routing Protokol OSPF dan GLBP BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI 4.1 Perancangan Jaringan Komputer dengan Menggunakan Routing Protokol OSPF dan GLBP Berdasarkan usulan pemecahan masalah yang telah diajukan, maka akan diaplikasikan teknologi

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI Pemilihan Standarisasi Wireless

BAB 4 IMPLEMENTASI Pemilihan Standarisasi Wireless BAB 4 IMPLEMENTASI 4. 1. Spesifikasi Sistem 4. 1.1. Pemilihan Standarisasi Wireless Secara Umum teknologi wireless yang digunakan adalah teknologi dengan standarisasi IEEE, yaitu standar 802.11. Dimana

Lebih terperinci

3. Salah satu tipe jaringan komputer yang umum dijumpai adalah... A. Star B. Bus C. WAN D. Wireless E. Client-server

3. Salah satu tipe jaringan komputer yang umum dijumpai adalah... A. Star B. Bus C. WAN D. Wireless E. Client-server 1. Ciri-ciri jaringan komputer adalah sebagai berikut ini, kecuali... A. Berbagi pakai perangkat keras (hardware) B. Berbagi pakai perangkat lunak (software) C. Berbagi user (brainware) D. Berbagi saluran

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. Dari penelitian yang dilakukan oleh Cristian Wijaya (2014) mengenai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. Dari penelitian yang dilakukan oleh Cristian Wijaya (2014) mengenai 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Dari penelitian yang dilakukan oleh Cristian Wijaya (2014) mengenai Perancangan Wireless Distribution System (WDS) Berbasis OpenWRT dimana

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. bertujuan untuk mempermudah pengelompokan sampel. Adapun analisis

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. bertujuan untuk mempermudah pengelompokan sampel. Adapun analisis BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Analisis Permasalahan Jaringan internet di lingkungan Universitas Bina Nusantara dibagi menjadi 3 wilayah diantaranya daerah Anggrek, Syahdan, dan Taisir. Hal

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN. NTT ( Nippon Telegraph & Telephone ) group memberikan layanan

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN. NTT ( Nippon Telegraph & Telephone ) group memberikan layanan BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN 3.1 RIWAYAT PERUSAHAAN NTT ( Nippon Telegraph & Telephone ) group memberikan layanan komunikasi sejak 1890. Mengoperasikan lebih dari 500 perusahaan, NTT group mengontrol

Lebih terperinci

PERANCANGAN SISTEM Perancangan Topologi Jaringan Komputer VPN bebasis L2TP dan IPSec

PERANCANGAN SISTEM Perancangan Topologi Jaringan Komputer VPN bebasis L2TP dan IPSec BAB 4. PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan menjelaskan tahap perancangan sistem Virtual Private Network (VPN) site-to-site berbasis L2TP ( Layer 2 Tunneling Protocol) dan IPSec (Internet Protocol Security),

Lebih terperinci

Aplikasi CBT Uji Kompetensi

Aplikasi CBT Uji Kompetensi Aplikasi CBT Uji Kompetensi Aplikasi ini bersifat Client-Server ( Jaringan computer) Aplikasi terpusat di Server, Client hanya sebagai penghubung. Aplikasi ini juga hanya menggunakan Jaringan Lokal, tidak

Lebih terperinci

Pengertian Access Point Apa Fungsi Access Point?

Pengertian Access Point Apa Fungsi Access Point? Pengertian Access Point Dalam ilmu jaringan komputer, pengertian Wireless Access Point yaitu perangkat keras yang memungkinkan perangkat wireless lain (seperti laptop, ponsel) untuk terhubung ke jaringan

Lebih terperinci

Pengantar Teknologi Informasi Jaringan (Layer Fisik)

Pengantar Teknologi Informasi Jaringan (Layer Fisik) Pengantar Teknologi Informasi Jaringan (Layer Fisik) Sebelumnya Standard Protocol Layer OSI LAYER Application (7) Presentation (6) TCP/IP 5. Application Session (5) Transport (4) Network (3) Data link

Lebih terperinci

BAB IV Analisa Jaringan Broadband Wifi Pada Bab Ini akan dibahas Hasil evaluasi Pra Perancangan Jaringan Broadband WIFI Commuter Line Jabodetabek dengan jaringan existing ( UMTS ) yang dilaksanakan di

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 47 BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1. Spesifikasi Sistem 4.1.1. Perangkat Keras Perangkat keras atau hardware terpenting yang dipakai untuk membuat perubahan pada topologi jaringan SMA St. Kristoforus

Lebih terperinci

LAPORAN PROYEK AKHIR

LAPORAN PROYEK AKHIR LAPORAN PROYEK AKHIR Instalasi Jaringan Komputer dengan Teknologi WiFi di SMA Negeri 1 Demak Disusun oleh : Nama NIM Program Studi : Habibi : A22.2006.01513 : Teknik Informatika (DIII) FAKULTAS ILMU KOMPUTER

Lebih terperinci

BAB 4 SIMULASI DAN EVALUASI. Berikut ini adalah peralatan-peralatan yang dibutuhkan dalam implementasi

BAB 4 SIMULASI DAN EVALUASI. Berikut ini adalah peralatan-peralatan yang dibutuhkan dalam implementasi 55 BAB 4 SIMULASI DAN EVALUASI 4.1 Spesifikasi Sistem Berikut ini adalah peralatan-peralatan yang dibutuhkan dalam implementasi simulasi rt/rw wireless net pada Perumahan Sunter Agung Podomoro : 1 buah

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK. baik harus melalui tahap tahap perancangan jaringan, yaitu :

BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK. baik harus melalui tahap tahap perancangan jaringan, yaitu : BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK Dalam kerja praktek ini penulis membuat rancangan jaringan komputer, kebutuhan perangkat dan implementasi jaringan di area Pabrik Gula (PG) Kremboong yang dimaksudkan untuk

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. melakukan pengiriman dan penerimaan (meski path itu berupa wireless). (Tittel,

BAB 2 LANDASAN TEORI. melakukan pengiriman dan penerimaan (meski path itu berupa wireless). (Tittel, 6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Topologi Topologi adalah tipe-tipe physical path yang menghubungkan unit yang melakukan pengiriman dan penerimaan (meski path itu berupa wireless). (Tittel, 2002:50). Topologi

Lebih terperinci

PERANCANGAN VIRTUAL LOCAL AREA NETWORK (VLAN) DENGAN DYNAMIC ROUTING MENGGUNAKAN CISCO PACKET TRACER 5.33

PERANCANGAN VIRTUAL LOCAL AREA NETWORK (VLAN) DENGAN DYNAMIC ROUTING MENGGUNAKAN CISCO PACKET TRACER 5.33 PERANCANGAN VIRTUAL LOCAL AREA NETWORK (VLAN) DENGAN DYNAMIC ROUTING MENGGUNAKAN CISCO PACKET TRACER 5.33 Fernadi H S, Naemah Mubarakah Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departemen Teknik Elektro Fakultas

Lebih terperinci

1 IDN Networking Competition Soal Superlab Cisco IDN Competition 2017

1 IDN Networking Competition Soal Superlab Cisco IDN Competition 2017 1 IDN Networking Competition 2017 www.idn.id Soal Superlab Cisco IDN Competition 2017 Topology A. Physical Topologi 2 IDN Networking Competition 2017 www.idn.id 2. Logical Topologi ISP1 ISP2 ISP3 ISP3

Lebih terperinci

BAB 3. ANALISA SISTEM 3.1. Analisa Masalah Rumah dan toko Buanjar Photocopy terdapat koneksi internet dengan kecepatan 10 Mbps dari ISP (Internet Service Provider) Indihome. Semua user yang berada di tempat

Lebih terperinci

KONSEP DASAR JARINGAN KOMPUTER

KONSEP DASAR JARINGAN KOMPUTER KONSEP DASAR JARINGAN KOMPUTER 1.1 Pengertian Jaringan Komputer Jaringan komputer adalah hubungan antara 2 komputer atau lebih yang terhubung dengan media transmisi kabel atau tanpa kabel (wireless). Dua

Lebih terperinci

Dynamic Routing (OSPF) menggunakan Cisco Packet Tracer

Dynamic Routing (OSPF) menggunakan Cisco Packet Tracer Dynamic Routing (OSPF) menggunakan Cisco Packet Tracer Ferry Ardian [email protected] http://a Dasar Teori. Routing merupakan suatu metode penjaluran suatu data, jalur mana saja yang akan dilewati oleh

Lebih terperinci

S1 SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS DIPONEGORO. Disampaikan Dalam Rangka Pengabdian Masyarakat PROGRAM STUDI

S1 SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS DIPONEGORO. Disampaikan Dalam Rangka Pengabdian Masyarakat PROGRAM STUDI PROGRAM STUDI S1 SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS DIPONEGORO Disampaikan Dalam Rangka Pengabdian Masyarakat Trainner: Adian Fatchur Rochim, ST, MT Email: [email protected] 24 Oktober 2009 Digunakan untuk menghubungkan

Lebih terperinci

NAMA : SUSILO KELAS : 22 NIM : TANGGAL : 10 JUNI 2015

NAMA : SUSILO KELAS : 22 NIM : TANGGAL : 10 JUNI 2015 NAMA : SUSILO KELAS : 22 NIM : 13111039 TANGGAL : 10 JUNI 2015 1. Penjelasan fitur Mikrotik RouterOS -Firewall Adalah suatu sistem perangkat lunak yang mengizinkan lalu lintas jaringan yang dianggap aman

Lebih terperinci

Mengenal Mikrotik Router

Mengenal Mikrotik Router Mengenal Mikrotik Router Dhimas Pradipta [email protected] Abstrak Mikrotik router merupakan sistem operasi dan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menjadikan komputer manjadi router

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era informasi dan teknologi saat ini, manusia memerlukan komunikasi untuk saling bertukar informasi dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Salah satu

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 54 LAMPIRAN 1 Pengukuran VSWR Gambar 1 Pengukuran VSWR Adapun langkah-langkah pengukuran VSWR menggunakan Networ Analyzer Anritsu MS2034B adalah 1. Hubungkan antena ke salah satu port, pada Networ

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 PERALATAN YANG DIBUTUHKAN Pada tahap ini dilakukan implementasi sistem yang meliputi spesifikasi sistem untuk perangkat keras dan perangkat lunak pada sistem jaringan

Lebih terperinci

Dalam konfigurasi Wireless Distribution System (WDS) setiap. mikrotik wireless dikonfigurasi sama dan saling terhubung yang sedikit

Dalam konfigurasi Wireless Distribution System (WDS) setiap. mikrotik wireless dikonfigurasi sama dan saling terhubung yang sedikit CARA MENJALANKAN PROGRAM 3.1 Konfigurasi Router Mikrotik Dalam konfigurasi Wireless Distribution System (WDS) setiap mikrotik wireless dikonfigurasi sama dan saling terhubung yang sedikit berbeda hanya

Lebih terperinci

JARINGAN KOMPUTER JARINGAN KOMPUTER

JARINGAN KOMPUTER JARINGAN KOMPUTER JARINGAN KOMPUTER JARINGAN KOMPUTER Topologi jaringan adalah : hal yang menjelaskan hubungan geometris antara unsur-unsur dasar penyusun jaringan, yaitu node, link, dan station. Jenis Topologi jaringan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL KERJA PRAKTEK. 4.1 Perancangan WLAN di Dinas Pariwisata. penempatan access point dipilih di tempat-tempat yang memang membutuhkan

BAB IV HASIL KERJA PRAKTEK. 4.1 Perancangan WLAN di Dinas Pariwisata. penempatan access point dipilih di tempat-tempat yang memang membutuhkan 36 BAB IV HASIL KERJA PRAKTEK 4.1 Perancangan WLAN di Dinas Pariwisata Perancangan yang dilakukan berdasarkan observasi lapangan dan permintaan dari pihak Dinas Pariwisata Kota Batu sebagai perluasan dari

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN. jaringan baru yang dapat mendukung infrastruktur yang ada. Pengamatan yang

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN. jaringan baru yang dapat mendukung infrastruktur yang ada. Pengamatan yang BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN 4.1 Analisis Jaringan Komputer Analisis ini dilakukan untuk menjawab perlu tidaknya perancangan jaringan baru yang dapat mendukung infrastruktur yang ada. Pengamatan yang

Lebih terperinci

LANDASAN TEORI. keras komputer. Istilah jaringan komputer sendiri juga dapat diartikan sebagai

LANDASAN TEORI. keras komputer. Istilah jaringan komputer sendiri juga dapat diartikan sebagai BAB III LANDASAN TEORI LANDASAN TEORI Pada bab tiga penulis menjelaskan tentang teori penunjang Kerja Praktik yang telah di kerjakan. 3.1 Jaringan Komputer Jaringan komputer adalah sebuah sistim yang terdiri

Lebih terperinci

SIMULASI PERANCANGAN SISTEM JARINGAN INTER VLAN ROUTING DI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

SIMULASI PERANCANGAN SISTEM JARINGAN INTER VLAN ROUTING DI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN SIMULASI PERANCANGAN SISTEM JARINGAN INTER VLAN ROUTING DI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN Oris Krianto Sulaiman Universitas Islam Sumatera Utara Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Teladan, Medan Kota, Sumatera

Lebih terperinci

e-proceeding of Engineering : Vol.4, No.2 Agustus 2017 Page 3065

e-proceeding of Engineering : Vol.4, No.2 Agustus 2017 Page 3065 e-proceeding of Engineering : Vol.4, No.2 Agustus 2017 Page 3065 e-proceeding of Engineering : Vol.4, No.2 Agustus 2017 Page 3066 Penyelenggaraan Komunikasi Data dalam Sistem Informasi Kesehatan Terintegrasi

Lebih terperinci

WIRELESS NETWORK. Pertemuan VI. Pengertian Wireless Network. Klasifikasi Wireless Network

WIRELESS NETWORK. Pertemuan VI. Pengertian Wireless Network. Klasifikasi Wireless Network WIRELESS NETWORK Pertemuan VI Ada tiga range frekuensi umum dalam transmisi wireless, yaitu : a. Frekuensi microwave dengan range 2 40 Ghz, cocok untuk transmisi point-to-point. Microwave juga digunakan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sarana Simulasi Uji coba dilakukan untuk membuktikan apakah sistem jaringan yang sudah dirancang dapat berjalan dengan baik. Namun, dikarenakan pihak kantor PT Synergy Adhi

Lebih terperinci

Peralatan yang terhubung ke segmen jaringan terdefinisi sebagai networking devices

Peralatan yang terhubung ke segmen jaringan terdefinisi sebagai networking devices 1 Networking Devices Peralatan yang terhubung ke segmen jaringan terdefinisi sebagai networking devices Device ini terbagi menjadi dua yaitu: end user device: komputer, printer, scanner dan device yang

Lebih terperinci

Pertemuan 3 Dedy hermanto/jaringan Komputer/2010

Pertemuan 3 Dedy hermanto/jaringan Komputer/2010 Pertemuan 3 Adalah : Suatu hubungan antara unsur-unsur penyusun jaringan komputer yaitu node, link dan station Atau Yang memperlihatkan hubungan jaringan atau sambungan antar komputer. Node : Titik suatu

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN 3.1 Analisis Perusahaan 3.1.3 Sejarah Perusahaan PT Consulting Services Indonesia didirikan pada tanggal 1 Oktober 2002 oleh Bpk. Indrawan Lie dan berlokasi di Jalan Sudirman

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA KONEKSI WIRELESS DAN SISTEM FAILOVER DYNAMIC ROUTING PROTOCOL PADA PT. VARNION TECHNOLOGY SEMESTA

PENGGUNAAN MEDIA KONEKSI WIRELESS DAN SISTEM FAILOVER DYNAMIC ROUTING PROTOCOL PADA PT. VARNION TECHNOLOGY SEMESTA PENGGUNAAN MEDIA KONEKSI WIRELESS DAN SISTEM FAILOVER DYNAMIC ROUTING PROTOCOL PADA PT. VARNION TECHNOLOGY SEMESTA FAHRIZAL RAMADHAN 41511120013 PROGRAM STUDI INFORMATIKA FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Membuat Jaringan Point-to-Point Wireless Bridge Antar BTS Menggunakan Antena Grid dengan Mikrotik RB 411

Membuat Jaringan Point-to-Point Wireless Bridge Antar BTS Menggunakan Antena Grid dengan Mikrotik RB 411 Membuat Jaringan Point-to-Point Wireless Bridge Antar BTS Menggunakan Antena Grid dengan Mikrotik RB 411 Cintia Elindria [email protected] http://cintiaelind.blogspot.com Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen

Lebih terperinci

Pembuatan Sistem Jaringan Komputer LAN dengan mikrotik RouterBoard 750. Achmad Muharyadi

Pembuatan Sistem Jaringan Komputer LAN dengan mikrotik RouterBoard 750. Achmad Muharyadi Pembuatan Sistem Jaringan Komputer LAN dengan mikrotik RouterBoard 750 Achmad Muharyadi 23109113 Latar Belakang Mikrotik merupakan salah satu system operasi yang berbasis linux. Dibandingkan dengan distro

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Usulan Perancangan Untuk koneksi jaringan data center dari San Jose dan Freemont, penulis mengusulkan membuat suatu jaringan berbasis VPN-MPLS. Dengan perancangan jaringan

Lebih terperinci

4.2. Memonitor Sinyal Receive CPE/SU Full Scanning BAB V. PENUTUP Kesimpulan Saran...

4.2. Memonitor Sinyal Receive CPE/SU Full Scanning BAB V. PENUTUP Kesimpulan Saran... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii PRAKATA... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR ISTILAH... xi INTISARI... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

WLAN Devices & Infrastructures

WLAN Devices & Infrastructures WLAN Devices & Infrastructures Materi 4 Disampaikan oleh Jakson Petrus Manu Bale, S.Kom Infrastruktur WLAN Access Point Bridge Workgroup Bridge Access Point (AP) Menghubungkan wireless client dengan jaringan

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. 3.1 Local Area Network ( LAN ) Pada PT. Kereta Api Indonesia Bandung

BAB III PEMBAHASAN. 3.1 Local Area Network ( LAN ) Pada PT. Kereta Api Indonesia Bandung BAB III PEMBAHASAN 3.1 Local Area Network ( LAN ) Pada PT. Kereta Api Indonesia Bandung Analisa pada jaringan LAN di PT. Kereta Api Indonesia di batasi hanya pada jaringan LAN di kantor pusat PT. Kereta

Lebih terperinci

CAPsMAN Implementation (Overview & Simple Configuration) Citraweb Solusi Teknologi MUM Yogyakarta, Indonesia

CAPsMAN Implementation (Overview & Simple Configuration) Citraweb Solusi Teknologi MUM Yogyakarta, Indonesia CAPsMAN Implementation (Overview & Simple Configuration) Citraweb Solusi Teknologi MUM Yogyakarta, Indonesia Perkenalan RIFQI IKHSAN FAUZI Citraweb Solusi Teknologi (Technical Support) MTCNA, MTCRE, MTCTCE

Lebih terperinci

Kuesioner. RT/RW net, dibuat kuesioner dengan pertanyaan sebagai berikut : 1. Apakah sehari-hari anda membutuhkan/menggunakan koneksi internet?

Kuesioner. RT/RW net, dibuat kuesioner dengan pertanyaan sebagai berikut : 1. Apakah sehari-hari anda membutuhkan/menggunakan koneksi internet? L1 Kuesioner RT/RW net adalah solusi yang ditawarkan untuk mendapatkan koneksi internet dengan harga terjangkau. RT/RW net merupakan jaringan komputer yang berada dalam satu area yang kecil (RT/RW). Untuk

Lebih terperinci

Yunarsiasti Cambodiani

Yunarsiasti Cambodiani Penulis adalah alumni Mahasiswi Teknik Telekomunikasi, Semester 3, Politeknik Negeri Semarang Yunarsiasti Cambodiani [email protected] Membangun Hotspot Menggunakan Router Board 751 Copyright oke.or.id

Lebih terperinci

ROUTER DAN BRIDGE BERBASIS MIKROTIK. Oleh : JB. Praharto ABSTRACT

ROUTER DAN BRIDGE BERBASIS MIKROTIK. Oleh : JB. Praharto ABSTRACT ROUTER DAN BRIDGE BERBASIS MIKROTIK Oleh : JB. Praharto ABSTRACT Sistem yang digunakan untuk menghubungkan jaringan-jaringan. Perangkat yang berfungsi dalam komunikasi WAN atau menghubungkan dua network

Lebih terperinci

UJI KOMPETENSI KEAHLIAN

UJI KOMPETENSI KEAHLIAN WORKSHOP PEMBAHASAN MATERI UJI KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK KOMPUTER JARINGAN - PAKET 2 TAHUN PELAJARAN 2016/2017 1 STT ATLAS NUSANTARA MALANG Jalan Teluk Pacitan 14, Arjosari Malang 65126 Telp. (0341) 475898,

Lebih terperinci

Diagnosa, Perbaikan, dan Setting Ulang WAN. Nama : Gede Wiarta Kusuma Dika Kelas : XII TKJ2 No : 13. SMKN 3 Singaraja

Diagnosa, Perbaikan, dan Setting Ulang WAN. Nama : Gede Wiarta Kusuma Dika Kelas : XII TKJ2 No : 13. SMKN 3 Singaraja Diagnosa, Perbaikan, dan Setting Ulang WAN Nama : Gede Wiarta Kusuma Dika Kelas : XII TKJ2 No : 13 SMKN 3 Singaraja Alat yang Dibutuhkan Dalam Membangun Jaringan WAN Alat-alat yang digunakan untuk membua

Lebih terperinci

UJI KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK KOMPUTER JARINGAN - PAKET 2

UJI KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK KOMPUTER JARINGAN - PAKET 2 MODUL PEMBAHASAN MATERI UJI KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK KOMPUTER JARINGAN - PAKET 2 TAHUN PELAJARAN 2016/2017 1 SMK TARUNA PEKANBARU Jl.Rajawali Sakti No.90 Panam (0761) 566947 Pekanbaru 28293 email: [email protected]

Lebih terperinci

SISTEM ROUTER BROADBAND DI UNIVERSITAS GUNADARMA KELAPA DUA KAMPUS E

SISTEM ROUTER BROADBAND DI UNIVERSITAS GUNADARMA KELAPA DUA KAMPUS E SISTEM ROUTER BROADBAND DI UNIVERSITAS GUNADARMA KELAPA DUA KAMPUS E Chrisno Nurhadityan (12105065) Jurusan Sistem Informasi, Universitas Gunadarma Jl. Margonda Raya No. 100 Pondok Cina, Depok 16424, Indonesia

Lebih terperinci

Modul 4. Mikrotik Router Wireless. Mikrotik Hotspot. IP Firewall NAT Bridge

Modul 4. Mikrotik Router Wireless. Mikrotik Hotspot. IP Firewall NAT Bridge Page 25 Modul 4 Mikrotik Router Wireless Mikrotik Hotspot IP Firewall NAT Bridge Jaringan tanpa kabel / Wireless Network merupakan jenis jaringan berdasarkan media komunikasi, memungkinkan Hardware jaringan,

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN DAN UJI COBA. untuk menghadapi permasalahan yang ada pada jaringan BPPT adalah dengan

BAB 4 PERANCANGAN DAN UJI COBA. untuk menghadapi permasalahan yang ada pada jaringan BPPT adalah dengan BAB 4 PERANCANGAN DAN UJI COBA 4.1 Perancangan Prototype Jaringan Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumya, solusi yang diberikan untuk menghadapi permasalahan yang ada pada jaringan BPPT adalah

Lebih terperinci