BAB VI HASIL OBSERVASI LAPANGAN DAN ANALISIS LABORATORIUM
|
|
|
- Verawati Pranoto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB VI HASIL OBSERVASI LAPANGAN DAN ANALISIS LABORATORIUM A. Artefak-Artefak Tinggalan Megalitik Pokekea Situs Pokekea memiliki lebih dari 20 artefak tinggalan megalitik yang tersebar tidak merata. Dalam kajian ini tidak dilakukan pengamatan terhadap seluruh artefak hanya diambil beberapa sampel yang mewakili, karena faktor keterbatasan waktu dan dana. Fokus penelitian tidak pada aspek arkeologinya tetapi pada aspek konservasi dari artefak-artefak tersebut. Kajian pada tahap ini lebih cenderung untuk mengetahui jenis dan karakter batuan serta mencari penyebab kerusakan dan pelapukan yang terjadi pada tinggalan megalitik Pokekea. Pada kajian tahap berikutnya akan difokuskan pada penanganan konservasi. Dalam kajian konservasi ini dilakukan observasi terhadap 24 artefak dan pembuatan peta persebaran artefak terhadap 14 artefak yang tersebar di Situs Pokekea seperti terlihat pada Gambar 4.1 di bawah ini. Selain itu juga dilakukan observasi pada situs yang dahulunya diperkirakan menjadi bengkel pembuatan batu kalamba, yang letaknya masih di Desa Hangira. Sebagai informasi tambahan dan pembanding juga dilakukan observasi terhadap tiga (3) buah tinggalan megalitik yang tersimpan di Museum Negeri Palu yang berada di luar ruangan. 14
2 Dua puluh empat (24) artefak tinggalan megalitik yang diobservasi dua puluh tiga (23) buah berupa batu kalamba dan satu (1) buah berupa arca. Sedangkan arterfak yang diobservasi di Museum Negeri Palu berupa satu (1) buah batu kalamba yang sudah rapuh dan dua (2) buah arca. Gambar 4.2 Artefak tinggalan megalitik di situs Pokekea Gambar 4.3 Artefak di lokasi yang diduga bengkel pembuatan batu kalamba di Desa Hangira B. Kondisi Lingkungan Tinggalan Megalitik Pokekea Secara administratif tinggalan megalitik Pokekea berada di lembah Besoa, Desa Hangira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Situs megalitik Pokekea berupa lembah padang ilalang yang dikelilingi oleh perbukitan dan hutan lindung Taman Nasional Lore Lindu. Pada tepian lembah terdapat aliran sungai yang mengalir mengelilingi lembah. Sumber mata air sungai berada di perbukitan Taman Nasional Lore Lindu. Gambar 4.4 Letak Lembah Besoa (Sumber Gambar: Google Earth, 2013) 15
3 Vegetasi yang ada di lembah Besoa berupa rumput ilalang yang dikelilingi oleh lahan pertanian padi yang subur, sedikit perkebunan coklat dan kopi serta hutan hujan tropis yang masih luas. Adapun vegetasi hutan Lore Lindu berupa tipe vegetasi hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan. Vegetasi hutan hujan pegunungan didominasi oleh kaha (Castanopsis argentea), palili bohe, palili nete, palili pence (Lithocarpus sp) dan berbagai jenis Syzigium. Adapun jenis lain yang tidak umum adalah Podocarpus, Elaeocarpus, Adinandra, Lasiantthus, Cinnamomum, Letsea, Callophylium dan lain-lain. Adapun vegetasi hutan hujan dataran rendah di Lore Lindu didominasi oleh Mussaendopsis beccariana, Ficus sp, Myristica sp, Pterospermum sp, Canangium odoratum, arenga pinatta, Arenga sp, dan lain-lain. Jenis tumbuhan lain yang ditemukan dalam zona vegetasi ini adalah tahiti (Disoxyllum sp), uru (Elmerillia atau Manglietia), luluna (Celtis sp), maro (Garciniasp), Kaupahi, dango (Carralia brachiata), palili (Lithocarpus sp), nuncu (Ficus sp), tingaloko (Leea sp), tea uru (Artocarpus sp), huka (Gnetum gnemon), pangi (Pangium edule), kaumpangana (Ardisia). Di beberapa tempat juga terdapat Vatica sp. (Dipterocarpaceae), Durio zibethinus (durian), Duabanga moluccana (Lekotu) dan Octomeles sumatrana (benoang). Sedangkan vegetasi sekunder yang terbentuk setelah pembukaan ladang berupa berupa rumputrumputan dan tumbuhan tidak berkayu. Pada tahun kedua atau ketiga, herba penutup ini akan diganti oleh semak belukar yang lebat, yang didominasi oleh walobira (Melastoma malabathricum) dan atau hinduru (Villebrunnea sp). Jenis pohon yang kelak menggantikan semak belukar ini diantaranya wulaya (Trema orientalis), hinanu (Callicapra), kuo (Alphitonia zizyphoides), paili (Lithocarpus). (Ramadhanil, P., 2002). Saat melihat vegetasi di Lembah Besoa yang sangat berbeda dengan vegetasi hutan di sekitarnya yang didominasi oleh pohon-pohon besar. Menjadi satu pertanyaan besar, apakah vegetasi di lembah Besoa yang berupa padang ilalang tersebut merupakan vegetasi asli ataukah vegetasi yang terbentuk karena pembukaan lahan. Gambar 4.5 Vegetasi padang ilalang di Situs Pokekea, Lembah Besoa Gambar 4.6 Vegetasi padang ilalang di lokasi yang diduga sebagai bengkel pembuatan batu di Desa Hangira 16
4 8:00 10:30 13:00 15:30 18:00 20:30 23:00 1:30 4:00 6:30 9:00 11:30 14:00 16:30 19:00 21:30 0:00 2:30 5:00 7:30 10:00 12:30 15:00 17:30 Secara geografis tinggalan megalitik pokekea terletak pada lintang selatan dan lintang utara. Sehingga iklim daerah tersebut masih merupakan iklim tropis, dimana curah hujan relative tinggi yakni mm/tahun. Fluktuasi suhu antara siang dan malam cukup tinggi, saat siang hari sangat panas menyengat tetapi pada malam hari suhu sangat rendah. Hal ini dibuktikan dengan data hasil pencatatan suhu dan kelembaban udara menggunakan datalogger selama 3 hari menunjukan suhu terendah 17,34 0 C, suhu tertinggi 30,32 0 C (lihat Grafik 4.1). Sehingga perbedaan suhu siang dan malam hari (fluktuasi suhu) sebesar 12,98 0 C. Begitu juga dengan parameter kelembaban udara, kelembaban udara tertinggi 99,50% dan kelembaban udara terendah 60,29%, sehingga perbedaan kelembaban udara atau fluktuasi kelembaban udara sebesar 39,21% Grafik 4.1 Temperatur & Kelembapan di Situs Pokekea 5 Juli 2013 s.d 7 Juli Temperatur Kelembapan 20 0 Jam Hal ini menunjukan bahwa kondisi temperature dan kelembaban udara di lokasi tinggalan megalitik berada sangat fluktuatif. Kondisi lingkungan yang fluktuatif ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap percepatan pelapukan tinggalan megalitik tersebut. Salah satu yang berpengaruh terhadap tingginya fluktuasi suhu adalah kondisi alami lingkungan lembah dan kondisi lingkungan vegetasi di sekitarnya. Sehingga perlu kiranya ditelusuri bagaimana kondisi lingkungan terutama vegetasi saat dahulu tinggalan-tinggalan tersebut ditempatkan dan kondisi lingkungan saat ini. Hasil penelitian Kirleis dkk tahun 2012 berdasarkan analisis polen menyimpulkan bahwa vegetasi yang ada pada lembah Besoa merupakan vegetasi yang sebelumnya merupakan vegetasi hutan hujan. Terjadi perubahan menjadi vegetasi sekunder berupa vegetasi padang seperti saat ini sekitar 2000 tahun yang lalu bersamaan dengan tahap awal konstruksi monumen. Serta terdapat 17
5 kecenderungan dinamika vegetasi yang menunjukan bahwa sampai jaman modern telah terjadi pembakaran secara periodik yang menghambat pemulihan hutan hujan pegunungan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lingkungan tinggalan megalitik sudah dalam kurun waktu berabad-abad merupakan lingkungan padang ilalang. Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan di sekitar tinggalan megalitik merupakan lingkungan telah memiliki suhu yang sangat fluktuatif dalam kurun waktu yang lama. Kondisi ini yang kemungkinan menjadi penyebab terjadinya kerusakan dan pelapukan yang cukup tinggi pada tinggalan megalitik di Situs Pokekea. C. Hasil Analisis Petrografi, Fisik dan Kimia Dalam kegiatan penelitian ini dilaksanakan analisis laboratorium yang meliputi analisis petrografi batuan, analisis fisik batuan dan analisis kimia batuan serta air tampungan dalam lubang kalamba. Adapun sampel batuan yang dianalisis berasal dari serpihan batu hasil pengelupasan batu kalamba (merupakan material asli) yang terdiri dari sampel dari batu kalamba berkode AB dan M serta sampel batuan yang diambil dari lokasi yang diduga sebagai bengkel pembuatan batu yang berkode SB1 dan SB2. Dimana sampel SB1 mewakili batu kalamba yang sudah rapuh (batu A dan D) sedangkan SB2 mewakili batu kalamba yang belum rapuh. Pertimbangan ini didasarkan pada kenampakan secara fisik. a. Analisis Petrografi dan Fisik Analisis petrografi dan fisik bertujuan untuk mengidentifikasi jenis batuan dan sifat fisik batu kalamba. Analisis petrografi dilaksanakan dengan membuat sayatan tipis batuan dan mengamatinya di bawah mikroskop polarisasi. Hasil analisis petrografi dan analisis fisik batuan sebagai berikut: Tabel 4.1 Hasil Analisis Petrografi dan Analisis Fisik Batuan Sampel Parameter Hasil Keterangan Kode Jenis batuan AB biotit granit tidak dilaksanakan sampel habis M biotit granit tidak dilaksanakan sampel habis SB 1 biotit granit berat jenis 2,57 g/cm 3 densitas 2,36 g/cm 3 porositas 8,24 % kekerasan kadar air natural + 6 0,25 skala mohs % SB 2 biotit granit berat jenis 2,62 g/cm 3 densitas 2,53 g/cm 3 porositas 3,56 % kekerasan kadar air natural + 7 0,11 skala mohs % 18
6 Berdasarkan analisis petrografi diketahui bahwa sampel batu kalamba (AB dan M) maupun batu yang berasal dari lokasi yang diduga bengkel pembuatan tinggalan megalitik (SB1 dan SB2) memiliki komposisi mineral feldspar (plagioklas dan K-feldspar), kuarsa, biotit, dan mineral opak, Kirleis dkk tahun 2012 yang dikelompokan sebagai jenis batuan biotite granit. Hasil analisis tersebut dapat menunjukan bahwa keempat sampel batu berasal dari tempat yang sama. Sehingga hasil analisis ini semakin menguatkan dugaan bahwa artefak-artefak batu di Situs Pokekea berasal dari lokasi yang diduga bengkel pembuatan tinggalan megalitik. biotit kuarsa opak biotit opak feldspar Nikol Silang Nikol sejajar Gambar 4.7 Penampang Mikroskopis Sayatan Nipis Batu Kalamba Biotit granit berupa batuan beku plutonik, berwarna putih kecoklatan, holokristalin, tekstur equigranular, dengan ukuran mineral 0,25 2,5 mm bentuk subhegral-anhedral. Komposisi mineral penyusun berupa mineral feldspar (plagioklas dan K-feldspar), kuarsa, biotit, dan mineral opak. Secara kimiawi jenis mineral feldspar terdiri dari kalium feldspar (KAlSi3O8), natrium feldspar (NaAlSi3O8), kalsium feldspar (CaAl2Si2O8) dan barium feldspar (BaAl2Si2O8) sedangkan secara mineralogi feldspar dikelompokkan menjadi plagioklas dan orthoclas. Plagioklas merupakan seri suatu larutan padat tersusun dari variasi komposisi natrium feldspar dan kalsium feldspar. Kuarsa, ortoklas (K-Feldspar), dan plagioklas merupakan mineral utama. Mineral-mineral tersebut memberikan warna cerah pada granit yang berkisar dari putih sampai merah jambu. Mineral tambahan dijumpai dalam granit adalah biotit. Mineral-mineral tersebut berwarna gelap atau hitam sehingga memberikan bintik-bintik hitam pada granit, begitu juga dengan mineral opak. Sehingga komposisi mineralogi dan kimiawi batu kalamba adalah sebagai berikut: 19
7 Tabel 4.2 Komposisi Mineral dan Kimia Batu Biotit Granit Jenis mineral Komposisi kimia Sifat fisik Feldspar - Orthoclase (K-feldspar) - Plagioklas (Na-feldspar dan Ca-feldspar) - KAlSi 3 O 8 - NaAlSi 3 O 8 dan CaAl 2 Si 2 O 8 - Orthoclas dicirikan dengan relief rendah, warna putih berkabut, berukuran 0,9 2,5mm, bentuk subhedralanhedral. - Plagioklas (25%), warna putih abu-abu, relief rendah-sedang, ukuran butir 0,5-2mm Kuarsa - SiO 2 - tidak berwarna, relief rendah, mineral berukuran 0,5 2,5mm, bentuk anhedral. Biotit - K(Mg,Fe) 3 (AlSi 3 O 10 )(OH) 2 - coklat, belahan satu arah Mineral opak - tidak teridentifikasi - hitam, kedap cahaya, relief sangat tinggi, anhedral, berukuran 0,25 0,6 mm, hadir setempat setempat dalam sayatan. Granit merupakan batuan beku intrusif yang terbentuk di daerah kontinen atau benua. Granit memiliki mineral penyusun dengan butiran kristal yang berukuran kasar. Hal ini menunjukkan bahwa granit terbentuk melalui proses pembekuan magma yang sangat lambat karena dengan pembekuan magma yang lambat kristal-kristal mineral dapat terbentuk dengan baik sehingga dapat menghasilkan tekstur porfiritik (fanerik granular). Hal ini akan berbeda dengan batuan beku ekstrusif yang mengalami pembekuan secara cepat sehingga kristal-kristal yang berukuran kasar jarang terbentuk. Sebagai batuan intrusif, granit terbentuk karena pembekuan magma yang terjadi jauh di dalam bumi yang dalam pembentukannya dapat memotong batuan yang berumur lebih tua. Dijumpainya granit di permukaan bumi sekarang menunjukkan bahwa kerak bumi telah mengalami proses tektonik maupun erosi. Gambar 4.8 Penampang mikroskopik batu SB1 yang telah lapuk dan batu SB2 yang belum lapuk 20
8 Hasil analisis fisik pada sampel batu yang diambil dari lokasi yang diduga bengkel kalamba (SB1 dan SB2) menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang mencolok dalam parameter porositas, berat jenis, densitas, kekerasan, dan kadar air natural (lihat Tabel 4.3). Dimana sampel SB1 mewakili batu kalamba yang sudah rapuh (batu kalamba yang ada di Museum Negeri Palu atau kode batu A dan batu kalamba di Situs Pokekea kode D) sedangkan SB2 mewakili batu kalamba yang belum rapuh. Porositas dan kandungan air natural batu SB1 lebih besar dari batu SB2, sedangkan parameter kekerasan, berat jenis dan densitas batu SB2 lebih besar dibandingkan batu SB1. Perbedaan itu juga terlihat jelas pada penampang mikroskopik batu SB1 dan SB2 (lihat Gambar 4.8) yang menujukan pada batu SB 1 telah terlihat warna coklat. Warna coklat tersebut kemungkinan merupakan mineral lempung atau clay sebagai hasil dekomposisi mineral feldspar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa batu SB1 sudah mengalami pelapukan dibandingkan dengan batu SB2. Hal ini didasarkan pada penjelasan sebelumnya bahwa kedua batu merupakan jenis batu yang sama yakni biotit granit dan berasal dari lokasi yang sama pula. Sehingga dapat disimpulkan bahwa di Situs Pokekea terdapat tinggalan megalitik yang berbahan batu biotit granit yang berasal dari lokasi yang sama tetapi sifat fisik batu-batu tersebut dapat berbeda karena terdapat batu yang telah mengalami proses pelapukan. Tabel 4.3 Hasil Analisis Sifat Fisik Batu Parameter SB1 SB 2 Satuan Berat jenis 2,57 2,62 g/cm 3 Densitas 2,36 2,53 g/cm 3 Porositas 8,24 3,56 % Kekerasan skala mohs Kadar air natural 0,25 0,11 % b. Analisis Kimia Komposisi Unsur Batuan dan Air dalam Lubang Kalamba Hasil analisis kimia komposisi unsure sampel pengelupasan batu kalamba, sampel endapan dalam lubang kalamba dan sampel tanah yang diambil dari tanah di Situs Pokekea ditunjukan dalam Tabel 4.4. Hasil analisis sampel endapan tanah dari lubang kalamba menunjukan unsure yang dominan adalah silica sebesar 60-85%. Jika dibandingkan dengan komposisi unsure tanah yang berkisar antara 37-42% maka dapat disimpulkan bahwa endapan yang terdapat pada lubang kalamba tidak sepenuhnya berasal dari tanah tetapi juga berasal dari hasil pelapukan batu kalamba. Endapan silikat dapat terbentuk dari hasil pelapukan feldspar yaitu kaolinit dan asam kersik. Proses ini dapat terjadi secara kimiawi 21
9 (hidrolisis) atau secara fisis (pengelupasan) yang terendapkan. Pemahaman terhadap proses tersebut dapat dilihat secara kuantitatif dari seluruh unsur kimiawi sampel pengelupasan yang nilainya tidak jauh berbeda dengan unsure kimiawi sampel endapan. Tanah kehitaman dengan ciri unsur silika yang rendah adalah tanah lanau, sedangkan tanah kuning yang unsure silikanya lebih besar adalah tanah lempung pasiran. Tanah ini sebenarnya tanah sedimen yang tertranportasi oleh aliran air. Berdasarkan hasil analisis tersebut memperjelas bahwa seluruh artefak telah mengalami pelapukan secara kimiawi maupun fisis. Tabel 4.4 Hasil Analisis Kimia Komposisi Unsur No Nama Sampel Parameter (%) Ca Mg Fe Al CO3 SiO2 SO4 1 ENDAPAN didalam D ENDAPAN didalam R ENDAPAN didalam K ENDAPAN didalam H Tanah Kehitaman Tanah Kuning Pengelupasan (E) Pengelupasan (AB) Pengelupasan K Pengelupasan M Pengelupasan H Hasil analisis komposisi kimia air dalam lubang kalamba menunjukan secara kwantitatif nilai unsur kimiawi seluruh sampel kecil. Unsur-unsur tersebut kemungkinan berasal dari dekomposisi mineral yang terdapat pada batuan. Hal ini didasarkan bahwa air hujan murni tidak mengandung logam besi (Fe), alumunium (Al), dan mangan (Mg). Air hujan mengandung SO4 dan CO3 jika di daerah tersebut terjadi pencemaran udara. Sehingga hasil analisis air dalam lubang kalamba sudah mengindikasikan adanya proses pelapukan pada batuan, sekalipun masih rendah. Selama kandungan unsur kimiawi air dalam kalamba masih relatip kecil dan ph netral, maka resiko proses pelapukan batuan secara kimiawi masih rendah. Namun bila terjadi kenaikan ph seperti pada sampel D dan AB, hal ini berpeluang terjadi pelapukan secara kimiawi lebih tinggi. Apabila keberadaan air ini dikaitkan dengan hasil analisis material batu dan endapan tersebut di atas, maka sampel 22
10 yang mempunyai ph netral (E dan H) pelapukan yang terjadi adalah proses fisis sedangkan pada sampel D dan AB pelapukan yang terjadi proses kimiawi. Tabel 4.5 Hasil Analisis Kimia Air dalam Lubang Kalamba No Analisis Air Parameter (ppm) Ca Mg Al Fe SO 4 ph 1 Air di F Air di E Air di H Air di D Air di AB Air Sungai D. Kondisi Fisik Tinggalan Megalitik Pokekea Dalam kajian ini dilakukan observasi terhadap artefak-artefak meliputi, posisi artefak, dimensi artefak, jenis kerusakan dan pelapukan yang terjadi pada artefak, kandungan air permukaan dan daya serap (kapilarisasi) batuan terhadap air, untuk lebih jelasnya disampaikan dalam sub bab sebagai berikut: a. Posisi Artefak-Artefak Tinggalan Megalitik di Situs Pokekea Berdasarkan hasil observasi dari 24 artefak yang diobservasi 18 buah artefak berada posisi berdiri di permukaan tanah, ataupun terbenam sebagian dalam tanah. Bagian yang terbenam dalam tanah kurang lebih 5 sampai 20 % dari tingginya bahkan terdapat artefak yang terbenam hampir 100 % dari total tingginya seperti pada gambar berikut ini: Gambar 4.9 Kalamba yang tidak terbenam dalam tanah Gambar 4.10 Kalamba yang terbenam dalam tanah setinggi 29 cm Gambar 4.11 Kalamba hampir seluruhnya yang terbenam dalam tanah dalam tanah Enam artefak lainnya yang diobservasi berada pada posisi miring atau tidur, seperti dalam Gambar 4.12 berikut ini: 23
11 Gambar 4.12 Beberapa batu kalamba pada posisi miring atau tidur Berdasarkan hasil observasi tersebut memperlihatkan bahwa beberapa batu kalamba tidak berada pada posisi semula atau posisi sebenarnya. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian yang menyatakan bahwa batu kalamba memiliki fungsi sebagai wadah penguburan kedua secara komunal. Sehingga mestinya dahulu batu-batu kalamba tersebut berada dalam posisi berdiri dan berada di atas permukaan tanah. Tetapi apakah memungkinkan jika kalambakalamba tersebut dikembalikan ke posisi semula dengan pertimbangan dari aspek arkeologi maupun konservasi. Karena mengembalikan kalamba pada posisi semula, bukan tanpa resiko menyebabkan kerusakan. Sebagai contoh kalamba yang berada pada posisi terbenam dalam tanah. Kalamba yang terbenam dalam tanah kondisi lingkungan dalam tanah lebih stabil dibandingkan kalamba yang ada di atas tanah. Sementara itu kalamba yang pada posisi miring dan beresiko jatuh, lebih baik dikembalikan pada posisi berdiri. Sekalipun kalamba dalam posisi berdiri beresiko menjadi tempat tampungan air hujan. Lalu apakah dari aspek arkeologi memungkinkan untuk mengembalikan tutuna (penutup kalamba) pada pasangan kalambanya, Sehingga beberapa kalamba yang masih memiliki tutuna tidak menjadi tempat tampungan air hujan. Karena beberapa kalamba pada bagian bawah atau disampingnya ditemukan tutuna, seperti pada gambar berikut: Gambar 4.13 Batu kalamba yang masih memiliki tutuna 24
12 b. Jenis Kerusakan dan Pelapukan Jenis kerusakan dan pelapukan yang dijumpai pada artefak-artefak tinggalan megalitik di Situs Pokekea berupa endapan atau kerak yang berwarna merah, pengelupasan (scaling), retak, pecah, batu yang rapuh dan batu yang ditumbuhi jasad algae, lichen, dan moss (data lebih lengkap lihat Tabel 4.6 di bawah ini). Tabel 4.6 Jenis Kerusakan dan Pelapukan pada Tinggalan Megalitik di Situs Pokekea Jenis Kerusakan/pelapukan Kode artefak/batu Persentase (%) Endapan merah E, H, U, AC 17 Pengelupasan C, E, F,H, I, J, M, O, Q, R, S, W, X, AB 58 Pertumbuhan organisme D,F, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, S, U, V, W, X, AA, AC 79 Retak D, E, G, H, J, K, M,O, T, AA 42 Pecah M, O, T 13 Rapuh A, D 8 Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa dari 24 artefak yang diobservasi pertumbuahan organisme mendominasi gejala kerusakan dan pelapukan yang dilanjutkan oleh pengelupasan, retak, endapan atau kerak yang berwarna merah, pecah dan rapuh. 1. Pertumbuhan Organisme Hasil observasi menunjukan bahwa hampir seluruh permukaan artefak batu pada tinggalan megalitik di Situs Pokekea ditumbuhi organisme. Jenis organisme yang dijumpai tumbuh pada permukaan batu adalah algae, lichen dan moss. Algae paling banyak tumbuh pada permukaan batu, yang kedua lichen dan hanya satu kalamba yang ditumbuhi moss, itupun hanya pada bagian bawah. Algae, lichen dan moss merupakan tumbuhan bertalus yang tubuhnya belum terdeferensiasi menjadi akar, batang dan daun. Algae merupakan jasad yang dapat tumbuh dimana-mana walaupun di tempat tersebut tidak berlimpah unsure hara dan kering terutama jenis algae cyanophyta. Algae dapat berupa organisme uniseluller maupun multiseluller yang membentuk koloni. Beberapa kelompok algae dapat tumbuh dan berada dalam batu tergantung pada iklim dan jenis batu. Algae hijau (terkadang berwarna merah, misalnya trentepohlia) diatom (biasanya kuning sampai coklat), dan algae merah jarang terjadi. Cyanobacteria (algae biru - hijau) adalah penghuni batu yang sangat sering dan dapat menyebabkan warna hitam, kebiruan atau bahkan noda ungu. Organisme ini di daerah tropis sangat merusak batuan karena adanya musim kemarau dan musim hujan. Dimana ketika musim hujan algae akan tumbuh lebat, tetapi ketika musim kemarau algae akan mati, pada puncak musim kemarau 25
13 algae akan mengelupas. Ketika mengelupas mineral batuan yang ada pada permukaan akan ikut terkelupas pula. Gambar 4.13 Algae, lichen dan moss yang tumbuh pada permukaan batu kalamba Lichen merupakan tumbuhan yang terbentuk dari simbiosis antara jamur dan algae hijau atau cyanobacterium. Lichen yang paling sering dijumpai berwarna abu-abu, kuning, oranye, hijau atau hitam dan tidak menunjukkan diferensiasi menjadi batang, akar dan daun serta tumbuh di luar ruangan. Lichen tubuhnya berupa thalus dan terbagi menjadi crustose, foliose dan epilithic. Lichen yang dijumpai tumbuh pada permukaan batu kalamba adalah tipe foliose, dimana tubuhnya berupa lembaran-lembaran talus yang berbentuk menyerupai lembaran daun dan berwarna abu-abu dan hijau. Bekas pertumbuhan lichen umumnya mudah dideteksi lewat pola-pola bercak yang tertinggal pada permukaan batuan. Pola-pola bercak yang tertinggal pada permukaan batuan biasanya akan sangat sulit dihilangkan. Pola-pola tersebut terbentuk karena reaksi antara asam oksalat (H 2 C 2 O 4 ) yang dihasilkan oleh lichen dengan unsure kalsium yang ada pada batuan menjadi kalsium oksalat, dengan reaksi sebagai berikut: H 2 C 2 O 4 + Ca 2+ CaC 2 O 4 + 2H + Lichen umumnya tumbuh baik pada lingkungan dengan kondisi udara yang cukup bersih, tetapi dipermudah oleh polutan tertentu seperti oksida nitrogen terutama yang berasal dari polusi kendaraan atau pertanian. Sehingga lichen dapat dijadikan sebagai bioindikator adanya polutan pencemar tersebut. Sekalipun moss yang tumbuh hanya sedikit tetapi jasad tersebut sangat berbahaya, karena moss dapat menyebabkan perubahan mineral batuan menjadi tanah. Moss hanya akan tumbuh pada tempat yang sangat lembab dan berlimpah unsure hara. Oleh karena itu moss lebih banyak tumbuh pada bagian bawah cagar budaya. Sebab pada bagian tersebut biasanya berlimpah makanan. Pada awalnya K-feldspar terdekomposisi menjadi kalium bebas dan lempung karena reaksi hidrolisis. Kalium bebas yang tersedia pada batuan akan menjadi 26
14 unsure hara makro (unsur yang dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh tumbuhan) bagi moss. Moss yang tumbuh pada batuan memiliki rhizoid yang dapat masuk ke pori-pori batu sampai kedalaman 2,5 cm. Rhizoid moss akan menciptakan kondisi yang lembab dan asam pada lubang pori, sehingga akan menyebabkan K-feldspar pada batu terdekomposisi menghasilkan K bebas yang dapat diserap oleh moss. Lama kelamaan mineral K-feldspar pada permukaan batuan akan terdekomposisi seluruhnya menjadi tanah. Dan akhirnya akan menyerang K-feldspar pada bagian dalam. Jika K-feldspar pada bagian dalam telah terdekomposisi maka batuan menjadi keropos dan rapuh. 2. Pengelupasan Jenis kerusakan yang juga mencolok pada batu kalamba adalah pengelupasan. Karena dari 24 artefak yang diobservasi pada 14 artefak mengalami pengelupasan, sekalipun tingkat pengelupasannya berbeda-beda. Pengelupasan adalah proses terkelupasnya atau terlepasnya permukaan batu pada bagian luar yang terekspos atau pada bagian yang terpapar sinar matahari langsung. Jenis atau tipe pengelupasan yang terjadi merupakan tipe scaling (lihat Tabel 4.7). Scaling adalah pelepasan permukaan batu yang tidak mengikuti setiap struktur batu, yang ditandai pelepasan seperti sisik ikan atau sejajar dengan permukaan batu. Scaling merupakan jenis pengelupasan yang sangat bergantung dengan struktur batuan. Ketebalan pengelupasan umumnya dari skala milimeter sampai sentimeter (ICOMOS, 2008: 26). Scaling juga terjadi sebagai efek batu granit yang berada di daerah tropis dimana curah hujan dan kelembapan udara tinggi. Scaling merupakan pengelupasan permukaan batu yang disebabkan oleh dekomposisi atau pelapukan mineral feldspar. Hal ini merujuk pada Seri Reaksi Bowen (Gambar 4.15) bahwa mineral-mineral yang terbentuk pada awal pendinginan magma, pada suhu dan tekanan tinggi seperti olivine dan feldspar, akan lebih mudah mengalami pelapukan di permukaan dibandingkan mineral yang terbentuk paling akhir yaitu kuarsa yang lebih tahan terhadap pelapukan. Oleh karena itu dugaan penyebab terjadinya scaling karena terdekomposisinya mineral feldspar pada batu granit sangatlah beralasan. 27
15 Olivin (Temperatur Tinggi : Magma Basa) Anortit Orto Piroksin Bitownit Klino Piroksin Labradorit Amphibol Andesin Plagioklas Biotit Oligoklas Albit Potassium Feldspar Muskovit Kuarsa (Temperatur Rendah : Magma Asam) Gambar 4.14 Pembentukan batuan beku berdasarkan penurunan temperatur Reaksi kimia yang terjadi dalam proses pelapukan atau dekomposisi mineral feldspar menjadi lempung atau clay terjadi melalui proses hidrolisis. Hidrolisis adalah reaksi kimia dimana ion dalam mineral digantikan oleh ion-ion H + dan OH - dalam air. Adapun reaksi kimia proses hidrolisis mineral feldspar sebagai berikut: 1. Reaksi hidrolisis K-feldspar 2KAlSi3O8 + 4H + + 9H2O -----> H4Al4Si4O10(OH)8 + 4H4SiO2 + 4K + K-feldspar kaolinit asam silikat alkali/garam 2. Reaksi kimia Na-feldspar 2NaAlSi3O8 + 4H + + 9H2O -----> H4Al4Si4O10(OH)8 + 4H4SiO2 + 4Na + K-feldspar kaolinit asam silikat alkali/garam Akan tetapi proses pengelupasan pada batu kalamba tidak saja karena proses kimia tetapi juga mekanisme fisik. Mekanisme fisik proses pengelupasan terjadi karena desakan air yang ada di dalam lubang kalamba ke dinding kalamba. Hal ini didasarkan pada hasil observasi (Tabel 4.7) dimana kalamba yang memiliki daya kapilarisasi 0.05 ml/10 menit mengalami proses 28
16 pengelupasan aktif yang lebih tinggi dibandingkan dengan batu kalamba yang memiliki daya kapilarisasi 0,1 sampai 0.15 ml/10 menit. Akan tetapi batu yang memiliki daya kapilarisasi di atas 0,20 ml/menit proses pengelupasannya sudah berhenti tetapi batu sudah mulai mengalami kerapuhan dan permukaannya banyak ditumbuh organisme. Semakin tinggi daya kapilaritas identik dengan semakin besar atau banyaknya lubang pori pada batuan. Sehingga semakin besar daya kapilaritas maka air yang keluar dari dalam lubang kalamba semakin lancar. Sehingga permukaan dinding luar kalamba akan semakin lembab yang akan memicu pertumbuhan organisme. Sementara itu semakin kecil daya kapilaritas, air dari dalam kalamba akan semakin sulit keluar. Sehingga secara fisik air tersebut akan mendesak dan mendorong dinding kalamba yang menyebabkan terjadinya scaling atau pengelupasan permukaan dinding luar kalamba. Oleh karena itu pemincu atau penyebab scaling adalah keberadaan air yang ada dalam kalamba. Selain karena faktor sifat dari batu granitnya sendiri. Tabel 4.7 Batu Kalamba yang Mengalami Scaling Kode kalamba Foto Keterangan E Bagian yang tidak mengelupas daya kapilerisasinya 0,15 ml/10 menit dan Bagian yang masih aktif mengelupas daya kapilerisasinya 0,05 ml/10 menit. Tingkat pengelupasan +++ AB Pengelupasan aktif artinya masih terus terjadi, tingkat pengelupasan ++++, dimana pada bagian bawah yang tidak mengelupas daya kapilerisasi air 0,15 ml/10 menit sedangkan bagian yang masih aktif mengelupas daya kapilerisasi 0.05 ml/10 menit O Daya kapilarisasi 0.15 ml/10 menit, pengelupasan tidak aktif tapi pertumbuhan lichen dan algae tinggi 3. Retak dan Pecah Berdasarkan hasil observasi diketahui dari 24 artefak tinggalan megalitik 10 buah artefak atau 42% artefak retak dan 3 buah artefak atau 13% artefak pecah. Hal ini menunjukan 29
17 bahwa tingkat kerusakan retak sangat tinggi. Retak adalah terbentuknya celah pada material batuan dapat berupa celah yang besar maupun kecil. Retak dan pecah pada batu granit terjadi karena sifat dari struktur mineralnya sendiri yang menjadi ciri dari tipe kerusakan batu granit selain pengelupasan. Menurut Croci (1998: 49), batu granit merupakan batu yang tahan terhadap pelapukan akibat cuaca, tetapi beberapa jenis mineral dalam matriksnya sendiri mudah mengalami pelapukan yang lebih besar. Di samping sifat dari batu granit sendiri, retak dan pecah terjadi karena fluktuasi suhu yang tinggi. Sesuai hukum fisika bahwa suatu bahan akan memuai bila dipanaskan dan akan mengkerut bila dingin. Perbedaan suhu siang hari dan malam hari di Situs Pokekea (12,98 0 C) sangat tinggi. Kondisi ini menyebabkan mineral batuan memuai dan mengkerut. Pada saat siang hari mineral-mineral batuan akan memuai, tetapi kemampuan memuai masing-masing mineral berbeda-beda. Begitu juga saat malam hari dimana temperatur rendah, mineral-mineral batuan akan mengkerut, tetapi kemampuan mengkerut masing-masing mineral berbeda pula. Kondisi ini menyebabkan ikatan antar mineral atau antar butiran penyusun batuan melemah dan lama kelamaan akan lepas sehingga terjadilah retakan. Retakan lama kelamaan akan semakin besar dan akhirnya mengarah ke pecah. Gambar 4.15 Artefak batu yang retak dan pecah 4. Endapan atau Kerak yang Berwarna Merah Endapan atau kerak yang berwarna merah ditemukan pada dinding luar beberapa batu kalamba. Kerak merah ini sulit sekali dibersihkan atau dikelupas. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa kerak yang berwarna merah tersebut merupakan oksida besi. Oksida besi tersebut berasal dari pelapukan biotit, seperti sudah dijelaskan di atas bahwa komposisi mineral batu biotite granite terdiri dari feldspar, kuarsa, biotit dan mineral opak. Biotite memiliki rumus kimia K(Mg,Fe)3(AlSi3O10)(OH)2, apabila mineral ini bertemu dengan air dan oksigen maka besi akan terlepas dan teroksidasi dari Fe 2+ menjadi Fe 3+. Bersamaan dengan proses oksidasi terjadi proses hidrasi menghasikan oksida besi bentuk lain yang disebut geothit yang berwarna 30
18 kekuning-kuningan. Goethite akan mengalami proses dehidrasi karena temperatur yang tinggi, sehingga goethite akan kehilangan air menjadi hematite (Fe2O3) yang berwarna merah bata. Oleh karena itu mengapa pada kerak tersebut terdapat warna kekuning-kuningan dan lapisan berwarna merah bata yang tampak lebih tebal. Adapun penjelasan tentang reaksi kimia dekomposisi mineral biotit yang terjadi secara lebih rinci sebagai berikut: 1) Proses oksidasi dan hidrasi biotite menjadi goethite 4FeO + 2H2O + O > 4FeO.OH (goethite) 2) Proses dehidrasi geothit menjadi hematit 2FeO.OH (goethite) > Fe2O3 (hematite) + H2O Adapun penjelasan mekanisme terjadinya kerak atau endapan yang berwarna merah pada dinding bagian luar pada beberapa batu kalamba dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Ketika hujan maka bagian tengah atau lubang kalamba tersebut akan menampung air hujan. 2) Bersamaan dengan jatuhnya air hujan tersebut, maka air hujanpun dapat mengikat oksigen dari udara, sehingga pada bagian lubang kalamba terdapat air dan oksigen 3) Adanya air dan oksigen akan menyebabkan oksida besi dalam mineral biotite pada batu akan teroksidasi dan terhidrasi menjadi goethite. Sehingga dalam bagian dalam lubang akan terdapat oksida goethite yang berasal dari pelapukan biotite. 4) Ketika hujan lebat, dimana lubang kalamba sudah tidak dapat menampung air, maka air dalam lubang kalamba akan mengalir keluar dengan membawa goethite. 5) Goethite akan tertinggal dan mengendap pada dinding bekas aliran air. 6) Geothit akan mengalami dehidrasi (kehilangan air) menjadi hematite karena air menguap pada suhu yang tinggi. Oleh karena itu endapan atau kerak yang berwarna merah terlihat atau hanya muncul pada bekas aliran air, yang mengalir dari lubang kalamba atau pada area aliran air yang keluar dari lubang retakan. Berikut beberapa batu kalamba yang pada dinding bagian luarnya terdapat endapan atau kerak yang berwarna merah, dari 24 artefak yang diobservasi terdapat 4 artefak kalamba yang memiliki kerak berwarna merah pada bagian luarnya. 31
19 Gambar 4.16 Kerak atau endapan merah bata yang terdapat pada dinding bagian luar beberapa batu kalamba 5. Rapuh Selama observasi ditemukan 2 artefak batu yang sangat rapuh. Sekalipun jumlah batu rapuh hanya sedikit tetapi adanya artefak batu yang rapuh menunjukan sudah terjadi pelapukan tingkat lanjut. Gejala kerapuhan pada batuan dapat ditunjukan dengan tingkat kekerasan batu yang rendah dibandingkan dengan jenis batu yang sama serta gejala sanding. Sanding ditandai jika permukaan batu disentuh maka akan terdapat butiran pasir yang menempel, atau jika digores maka akan terdapat butiran pasir yang rontok. Kerapuhan pada batu granit disebabkan oleh lepasnya ikatan antar mineral secara merata atau menyeluruh. Ikatan antar mineral lepas karena proses dekomposisi pada beberapa jenis mineral seperti feldspar dan biotit. Dekomposisi mineral terutama disebabkan oleh reaksi oksidasi dan hidrolisis yang dipicu oleh keberadaan air. Hal ini dibuktikan pada beberapa batu kalamba yang diobservasi kekerasan batu pada bagian bawah selalu lebih rendah dibandingkan bagian atas (lihat lembar data pada Lampiran). Karena bagian bawah selalu bersentuhan dengan tanah dan terjadi kapilerisasi air, serta air dalam lubang kalamba akan cenderung turun ke bawah karena gaya grafitasi. Tabel 4.8 Batu Kalamba yang Rapuh Kode Foto Keterangan A Saat ini batu kalamba berada di Museum Negeri Palu, kekerasan pada bagian bawah 1 dan pada bagian tengah dan atas 2 skala mosh. Karena tingkat kerapuhan yang tinggi maka ketebalan dinding kalamba semakin lama semakin menipis 32
20 D Batu berada di Situs Pokekea, kekerasan pada bagian bawah 2 skala mosh, pada bagian atas 4-5 skala mosh 33
Kajian Konservasi Tinggalan Megalitik di Lore, Sulawesi Tengah
Kajian Konservasi Tinggalan Megalitik di Lore, Sulawesi Tengah Ari Swastikawati, Arif Gunawan dan Yudhi Atmaja Balai Konservasi Borobudur [email protected] Abstrak : Salah satu tinggalan megalitik
Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala
Geografi Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala TANAH Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang
BAB V PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT
BAB V PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT 5.1. Genesa Lateritisasi Proses lateritisasi mineral nikel disebabkan karena adanya proses pelapukan. Pengertian pelapukan menurut Geological Society Engineering Group Working
Metamorfisme dan Lingkungan Pengendapan
3.2.3.3. Metamorfisme dan Lingkungan Pengendapan Secara umum, satuan ini telah mengalami metamorfisme derajat sangat rendah. Hal ini dapat ditunjukkan dengan kondisi batuan yang relatif jauh lebih keras
BAB V ALTERASI PERMUKAAN DAERAH PENELITIAN
BAB V ALTERASI PERMUKAAN DAERAH PENELITIAN 5.1 Tinjauan Umum Alterasi hidrotermal adalah suatu proses yang terjadi sebagai akibat dari adanya interaksi antara batuan dengan fluida hidrotermal. Proses yang
BAB 12 BATUAN DAN PROSES PEMBENTUKAN TANAH
BAB 12 BATUAN DAN PROSES PEMBENTUKAN TANAH Tujuan Pembelajaran Kamu dapat mendeskripsikan proses pembentukan tanah karena pelapukan dan mengidentifikasi jenis-jenis tanah. Di sekitar kita terdapat berbagai
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi penelitian terlihat beragam, berikut diuraikan sifat kimia
III.1 Morfologi Daerah Penelitian
TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN III.1 Morfologi Daerah Penelitian Morfologi suatu daerah merupakan bentukan bentang alam daerah tersebut. Morfologi daerah penelitian berdasakan pengamatan awal tekstur
Universitas Gadjah Mada 36
5) Pelapukan 5.1) Pelapukan Fisik Pelapukan secara umum mengacu pada sekelompok proses dengan mana batuan permukaan terpecah belah menjadi partikel-partikel halus atau terlarutkan ke dalam air karena pengaruh
TANAH / PEDOSFER. OLEH : SOFIA ZAHRO, S.Pd
TANAH / PEDOSFER OLEH : SOFIA ZAHRO, S.Pd 1.Definisi Tanah adalah kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horizon-horizon, terdiri dari campuran bahan mineral organic, air, udara
BAB IV ALTERASI HIDROTERMAL
BAB IV ALTERASI HIDROTERMAL 4.1. Tinjauan umum Ubahan Hidrothermal merupakan proses yang kompleks, meliputi perubahan secara mineralogi, kimia dan tekstur yang dihasilkan dari interaksi larutan hidrotermal
BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Lumpur Sidoarjo
BAB IV PEMBAHASAN Pada bagian ini penulis akan membahas hasil percobaan serta beberapa parameter yang mempengaruhi hasil percobaan. Parameter-parameter yang berpengaruh pada penelitian ini antara lain
DASAR-DASAR ILMU TANAH WIJAYA
DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 2.1 Penggolongan Batuan Menurut Lingkungan Pembentukan : 1. Batuan Beku (Batuan Magmatik) 2. Batuan
MINERAL OPTIK DAN PETROGRAFI IGNEOUS PETROGRAFI
MINERAL OPTIK DAN PETROGRAFI IGNEOUS PETROGRAFI Disusun oleh: REHAN 101101012 ILARIO MUDA 101101001 ISIDORO J.I.S.SINAI 101101041 DEDY INDRA DARMAWAN 101101056 M. RASYID 101101000 BATUAN BEKU Batuan beku
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang di analisis adalah tekstur tanah, bulk density, porositas, air tersedia, serta permeabilitas. Berikut adalah nilai masing-masing
DASAR-DASAR ILMU TANAH
DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2011 PEMBENTUKAN TANAH 2.1 Penggolongan Batuan Menurut Lingkungan Pembentukan : 1. Batuan Beku (Batuan Magmatik)
Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 03: Batuan & Tanah
Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 03: Batuan & Tanah Tanah Profil tanah Tanah yang kita ambil terasa mengandung partikel pasir, debu dan liat dan bahan organik terdekomposisi
PEMBENTUKAN TANAH PARANITA ASNUR
PEMBENTUKAN TANAH PARANITA ASNUR FAKTOR PEMBENTUKAN TANAH Iklim Faktor Lain Topogr afi Tanah Waktu Bahan Induk Organi sme Konsep Pembentukan Tanah Model proses terbuka Tanah merupakan sistem yang terbuka
geografi Kelas X PEDOSFER I KTSP & K-13 A. PROSES PEMBENTUKAN TANAH
KTSP & K-13 Kelas X geografi PEDOSFER I Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami proses dan faktor pembentukan tanah. 2. Memahami profil,
TINJAUAN PUSTAKA Mucuna Bracteata DC.
3 TINJAUAN PUSTAKA Mucuna Bracteata DC. Tanaman M. bracteata merupakan salah satu tanaman kacang-kacangan yang pertama kali ditemukan di areal hutan Negara bagian Tripura, India Utara, dan telah ditanam
BATUAN PEMBENTUK PERMUKAAN TANAH
BATUAN PEMBENTUK PERMUKAAN TANAH Proses Pembentukan Tanah. Tanah merupakan lapisan paling atas pada permukaan bumi. Manusia, hewan, dan tumbuhan memerlukan tanah untuk tempat hidup. Tumbuh-tumbuhan tidak
PEDOSFER BAHAN AJAR GEOGRAFI KELAS X SEMESTER GENAP
PEDOSFER BAHAN AJAR GEOGRAFI KELAS X SEMESTER GENAP PENGERTIAN TANAH Pedosfer berasal dari bahasa latin yaitu pedos = tanah, dan sphera = lapisan. Pedosfer yaitu lapisan kulit bumi yang tipis yang letaknya
Bab III Karakteristik Alterasi Hidrotermal
Bab III Karakteristik Alterasi Hidrotermal III.1 Dasar Teori Alterasi hidrotermal adalah suatu proses yang terjadi akibat interaksi antara fluida panas dengan batuan samping yang dilaluinya, sehingga membentuk
TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :
TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Hujan Tropis Hutan adalah satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya,
OKSIDA GRANIT DIORIT GABRO PERIDOTIT SiO2 72,08 51,86 48,36
PENGERTIAN BATUAN BEKU Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah batuan yang terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat pembekuan dari magma. Berdasarkan teksturnya batuan
Gambar 1. Lahan pertanian intensif
14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Umum Penggunaan Lahan Seluruh tipe penggunaan lahan yang merupakan objek penelitian berada di sekitar Kebun Percobaan Cikabayan, University Farm, IPB - Bogor. Deskripsi
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
11 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 2 lokasi penelitian yang digunakan yaitu Harapan dan Inalahi yang terbagi menjadi 4 plot pengamatan terdapat 4 jenis tanaman
KUALITAS TANAH DAN KRITERIA UNTUK MENDUKUNG HIDUP DAN KEHIDUPAN KULTIVAN BUDIDAYA DAN MAKANANNYA
KUALITAS TANAH DAN KRITERIA UNTUK MENDUKUNG HIDUP DAN KEHIDUPAN KULTIVAN BUDIDAYA DAN MAKANANNYA Usaha pelestarian dan pembudidayaan Kultivan (ikan,udang,rajungan) dapat dilakukan untuk meningkatkan kelulushidupan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Penelitian yang sudah pernah dilakukan dan dapat di jadikan literatur untuk penyusunan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Ishaq Maulana
BAB IV UBAHAN HIDROTERMAL
BAB IV UBAHAN HIDROTERMAL 4.1 Pengertian Ubahan Hidrotermal Ubahan hidrotermal adalah proses yang kompleks, meliputi perubahan secara mineralogi, kimia, dan tekstur yang dihasilkan dari interaksi larutan
KARAKTERISTIK TANAH. Angga Yuhistira Teknologi dan Manajemen Lingkungan - IPB
KARAKTERISTIK TANAH Angga Yuhistira Teknologi dan Manajemen Lingkungan - IPB Pendahuluan Geosfer atau bumi yang padat adalah bagian atau tempat dimana manusia hidup dan mendapatkan makanan,, mineral-mineral
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kondisi Umum Saat Ini Faktor Fisik Lingkungan Tanah, Air, dan Vegetasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Kondisi umum saat ini pada kawasan pasca tambang batubara adalah terjadi
II. PEMBENTUKAN TANAH
Company LOGO II. PEMBENTUKAN TANAH Dr. Ir. Mohammad Mahmudi, MS Arief Darmawan, S.Si., M.Sc Isi A. Konsep pembentukan tanah B. Faktor pembentuk tanah C. Proses pembentukan tanah D. Perkembangan lapisan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
13 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil 5.1.1. Sifat Kimia Tanah Variabel kimia tanah yang diamati adalah ph, C-organik, N Total, P Bray, Kalium, Kalsium, Magnesium, dan KTK. Hasil analisis sifat kimia
IDENTIFIKASI JENIS-JENIS TANAH DI INDONESIA A. BAGAIMANA PROSES TERBENTUKNYA TANAH
IDENTIFIKASI JENIS-JENIS TANAH DI INDONESIA A. BAGAIMANA PROSES TERBENTUKNYA TANAH Tanah adalah salah satu bagian bumi yang terdapat pada permukaan bumi dan terdiri dari massa padat, cair, dan gas. Tanah
batuan, butiran mineral yang tahan terhadap cuaca (terutama kuarsa) dan mineral yang berasal dari dekomposisi kimia yang sudah ada.
DESKRIPSI BATUAN Deskripsi batuan yang lengkap biasanya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Deskripsi material batuan (atau batuan secara utuh); 2. Deskripsi diskontinuitas; dan 3. Deskripsi massa batuan.
ENDAPAN MAGMATIK Kromit, Nikel sulfida, dan PGM
ENDAPAN MAGMATIK Kromit, Nikel sulfida, dan PGM Adi Prabowo Jurusan Teknik Geologi Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta MENDALA METALOGENIK (Metallogenic Province) suatu area yang dicirikan oleh
DERET BOWEN DAN KLASIFIKASI BATUAN BEKU ASAM DAN BASA
DERET BOWEN DAN KLASIFIKASI BATUAN BEKU ASAM DAN BASA Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah mineralogi Dosen pengampu : Dra. Sri Wardhani Disusun oleh Vanisa Syahra 115090700111001
ACARA IX MINERALOGI OPTIK ASOSIASI MINERAL DALAM BATUAN
ACARA IX MINERALOGI OPTIK I. Pendahuluan Ilmu geologi adalah studi tentang bumi dan terbuat dari apa itu bumi, termasuk sejarah pembentukannya. Sejarah ini dicatat dalam batuan dan menjelaskan bagaimana
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Berdasarkan pengamatan awal, daerah penelitian secara umum dicirikan oleh perbedaan tinggi dan ralief yang tercermin dalam kerapatan dan bentuk penyebaran kontur pada
Mineral Seri Reaksi Bowen
Mineral Seri Reaksi Bowen No Deret Diskontinu Deskripsi Megaskopis 1 Olivin Warna : Hijau Tua, Kehitaman Belahan : Konkoida Pecahan : Gelas Kiilap : Putih Berat Jenis : 3,27-3,37 Kekerasan : 6,5-7 2 Piroksen
Karakteristik Batu Penyusun Candi Borobudur
Karakteristik Batu Penyusun Candi Borobudur Leliek Agung Haldoko, Rony Muhammad, dan Al. Widyo Purwoko Balai Konservasi Borobudur [email protected] Abstrak : Candi Borobudur merupakan salah satu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Tanah Tanah adalah kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara,
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh ph dan Komposisi Kimia Pelarut serta Ukuran Butir Batuan Reaksi batuan dengan penambahan pelarut air hujan (kontrol), asam humat gambut (AHG) dan asam humat lignit (AHL) menunjukkan
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Lokasi CV. Jayabaya Batu Persada secara administratif terletak pada koordinat 106 O 0 51,73 BT dan -6 O 45 57,74 LS di Desa Sukatani Malingping Utara
KESUBURAN TANAH DAN NUTRISI TANAMAN
KESUBURAN TANAH DAN NUTRISI TANAMAN Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman mengenai Pembentukan Tanah Entisol Yang disusun oleh: Agung Abdurahmansyah Anggita
DASAR-DASAR ILMU TANAH WIJAYA
DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 Bahan Penyusun Tanah Mineral 25% 5% 45% 25% Bhn Organik Bhn Mineral Udara Air 3.1 Bahan Mineral (Anorganik)
BAB IV SISTEM PANAS BUMI DAN GEOKIMIA AIR
BAB IV SISTEM PANAS BUMI DAN GEOKIMIA AIR 4.1 Sistem Panas Bumi Secara Umum Menurut Hochstein dan Browne (2000), sistem panas bumi adalah istilah umum yang menggambarkan transfer panas alami pada volume
Berdasarkan susunan kimianya, mineral dibagi menjadi 11 golongan antara lain :
MINERAL Dan KRISTAL Mineral didefinisikan sebagai suatu benda padat homogen yang terdapat di alam, terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan memiliki atom-atom
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian 3.1.1 Morfologi Umum Daerah Penelitian Daerah penelitian berada pada kuasa HPH milik PT. Aya Yayang Indonesia Indonesia, yang luasnya
Ciri Litologi
Kedudukan perlapisan umum satuan ini berarah barat laut-tenggara dengan kemiringan berkisar antara 60 o hingga 84 o (Lampiran F. Peta Lintasan). Satuan batuan ini diperkirakan mengalami proses deformasi
senyawa alkali, pembasmi hama, industri kaca, bata silica, bahan tahan api dan penjernihan air. Berdasarkan cara terbentuknya batuan dapat dibedakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mempunyai kekayaan alam yang sangat melimpah baik di dalam maupun permukaan bumi ataupun diluar permukaan bumi karena tanahnya yang subur dan fenomena struktur
Siklus Batuan. Bowen s Reaction Series
Siklus Batuan Magma di dalam bumi dan magma yang mencapai permukaan bumi mengalami penurunan temperatur (crystallization) dan memadat membentuk batuan beku. Batuan beku mengalami pelapukan akibat hujan,
II. TINJAUAN PUSTAKA A.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Durian 1. Karakteristik tanaman durian Durian (Durio zibethinus Murr.) merupakan salah satu tanaman hasil perkebunan yang telah lama dikenal oleh masyarakat yang pada umumnya
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
19 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Sifat Fisik Tanah 5.1.1. Bobot Isi dan Porositas Total Penambahan bahan organik rumput signal pada lahan Kathryn belum menunjukkan pengaruh baik terhadap bobot isi (Tabel
TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN
BAB III TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN 3.1 Tambang Zeolit di Desa Cikancra Tasikmalaya Indonesia berada dalam wilayah rangkaian gunung api mulai dari Sumatera, Jawa, Nusatenggara, Maluku sampai Sulawesi.
Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 05: Sifat Fisika (1)-Tekstur Tanah
Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 05: Sifat Fisika (1)-Tekstur Tanah Tektur Tanah = %pasir, debu & liat dalam tanah Tektur tanah adalah sifat fisika tanah yang sangat penting
IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi
IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Wilayah Administrasi Kota Bandung merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak pada 6 o 49 58 hingga 6 o 58 38 Lintang Selatan dan 107 o 32 32 hingga
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Data Hujan Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh dipermukaan tanah datar selama periode tertentu di atas permukaan horizontal bila tidak terjadi evaporasi, run off dan
DASAR-DASAR ILMU TANAH
DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2011 PENYUSUN TANAH Bahan Penyusun Tanah Mineral 25% 5% 45% 25% Bhn Organik Bhn Mineral Udara Air 3.1 Bahan
Gambar 6. Daur Batuan Beku, Sedimen, dan Metamorf
Definisi Batuan Batuan adaiah kompleks/kumpulan dari mineral sejenis atau tak sejenis yang terikat secara gembur ataupun padat. Bedanya dengan mineral, batuan tidak memiliki susunan kimiawi yang tetap,
Gambar 3.13 Singkapan dari Satuan Lava Andesit Gunung Pagerkandang (lokasi dlk-13, foto menghadap ke arah barat )
Gambar 3.12 Singkapan dari Satuan Lava Andesit Gunung Pagerkandang, dibeberapa tempat terdapat sisipan dengan tuf kasar (lokasi dlk-12 di kaki G Pagerkandang). Gambar 3.13 Singkapan dari Satuan Lava Andesit
MATERI-10 Evaluasi Kesuburan Tanah
MATERI-10 Evaluasi Kesuburan Tanah Kondisi Tanah Mengalami Masalah Unsur Hara Kondisi Tanah Mengalami Masalah Unsur Hara Nitrogen: Dijumpai pada semua jenis tanah, terutama bertekstur kasar dan berkadar
Magma dalam kerak bumi
MAGMA Pengertian Magma : adalah cairan atau larutan silikat pijar yang terbentuk secara alamiah bersifat mobil, suhu antara 900-1200 derajat Celcius atau lebih yang berasal dari kerak bumi bagian bawah.
SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO
SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,
TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa
AY 12 TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa tanah ke tempat yang relatif lebih rendah. Longsoran
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.6
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.6 1. Komponen tanah yang baik yang dibutuhkan tanaman adalah.... bahan mineral, air, dan udara bahan mineral dan bahan organik
STANDAR PENGUJIAN KUALITAS BATA PENGGANTI
STANDAR PENGUJIAN KUALITAS BATA PENGGANTI Oleh Ari Swastikawati, S.Si, M.A Balai Konservasi Peninggalan Borobudur A. Pengantar Indonesia merupakan negara yang kaya akan tinggalan cagar budaya. Tinggalan
BAB I PENDAHULUAN. lainnya untuk bisa terus bertahan hidup tentu saja sangat tergantung pada ada atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan salah satu materi penting yang ada di bumi dan terdapat dalam fasa cair, uap air maupun es. Kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya untuk bisa terus
BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON
BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON Air merupakan salah satu bahan pokok dalam proses pembuatan beton, peranan air sebagai bahan untuk membuat beton dapat menentukan mutu campuran beton. 4.1 Persyaratan
Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 02: MORFOLOGI TANAH
Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 02: MORFOLOGI TANAH Profil Tanah Irisan / penampang tegak tanah yang menampakan semua horizon sampai ke bahan induk; dalam profil tanah, bagian
BAB II STUDI PUSTAKA
BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Beton Konvensional Beton adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi agregat dan pengikat (semen). Beton mempunyai karakteristik tegangan hancur tekan yang
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Kopi Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi merupakan tanaman dengan perakaran tunggang yang mulai berproduksi sekitar berumur 2 tahun
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah diameter batang setinggi dada ( DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang (TBC), dan diameter tajuk.
PEMBENTUKAN TANAH DAN PERSEBARAN JENIS TANAH. A.Pembentukan Tanah
PEMBENTUKAN TANAH DAN PERSEBARAN JENIS TANAH A.Pembentukan Tanah Pada mulanya, permukaan bumi tidaklah berupa tanah seperti sekarang ini. Permukaan bumi di awal terbentuknya hanyalah berupa batuan-batuan
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum
16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Kondisi lingkungan tumbuh yang digunakan pada tahap aklimatisasi ini, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan planlet Nepenthes. Tjondronegoro dan Harran (1984) dalam
TANAH. Oleh : Dr. Sri Anggraeni, M,Si.
TANAH Oleh : Dr. Sri Anggraeni, M,Si. Tanah memberikan dukungan fisik bagi tumbuhan karena merupakan tempat terbenamnya/ mencengkeramnya akar sejumlah tumbuhan. Selain itu tanah merupakan sumber nutrien
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bumi adalah planet tempat tinggal seluruh makhluk hidup beserta isinya. Sebagai tempat tinggal makhluk hidup, bumi tersusun atas beberapa lapisan bumi, bahan-bahan
Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa
Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Rajiman A. Latar Belakang Pemanfaatan lahan memiliki tujuan utama untuk produksi biomassa. Pemanfaatan lahan yang tidak bijaksana sering menimbulkan kerusakan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
13 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Sifat Kimia Tanah Data sekunder hasil analisis kimia tanah yang diamati yaitu ph tanah, C-Org, N Total, P Bray, kation basa (Ca, Mg, K, Na), kapasitas
II. TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sifat dan Ciri Tanah Ultisol Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan
TINJAUAN PUSTAKA. kalium dari kerak bumi diperkirakan lebih dari 3,11% K 2 O, sedangkan air laut
29 TINJAUAN PUSTAKA Sumber-Sumber K Tanah Sumber hara kalium di dalam tanah adalah berasal dari kerak bumi. Kadar kalium dari kerak bumi diperkirakan lebih dari 3,11% K 2 O, sedangkan air laut mengandung
Nama : Peridotit Boy Sule Torry NIM : Plug : 1
DIAGENESA BATUAN SEDIMEN Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pemadatan endapan yang berupa bahan lepas. Batuan sedimen juga dapat terbentuk oleh penguapan larutan kalsium karbonat,
Geologi Daerah Perbukitan Rumu, Buton Selatan 19 Tugas Akhir A - Yashinto Sindhu P /
BAB III GEOLOGI DAERAH PERBUKITAN RUMU 3.1 Geomorfologi Perbukitan Rumu Bentang alam yang terbentuk pada saat ini merupakan hasil dari pengaruh struktur, proses dan tahapan yang terjadi pada suatu daerah
dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau
dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau ABSTRAK Sejalan dengan peningkatan kebutuhan penduduk, maka kebutuhan akan perluasan lahan pertanian dan perkebunan juga meningkat. Lahan yang dulunya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sifat-Sifat Optik Mineral Sifat-sifat optik pada suatu mineral terbagi menjadi dua, yakni sifat optik yang dapat diamati pada saat nikol sejajar dan sifat yang dapat diamati
LABORATORIUM GEOLOGI OPTIK DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA
LABORATORIUM GEOLOGI OPTIK DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA PRAKTIKUM PETROGRAFI BORANG MATERI ACARA I: PETROGRAFI BATUAN BEKU Asisten Acara: 1. 2. 3. 4. Nama Praktikan
MODUL III DIFERENSIASI DAN ASIMILASI MAGMA
MODUL III DIFERENSIASI DAN ASIMILASI MAGMA Sasaran Pembelajaran Mampu menjelaskan pengertian dan proses terjadinya diferensiasi dan asimilasi magma, serta hubungannya dengan pembentukan mineral-mineral
TINJAUAN PUSTAKA. Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan di sektor
II. TINJAUAN PUSTAKA Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan di sektor pertanian, kehutanan, perumahan, industri, pertambangan dan transportasi.di bidang pertanian, lahan merupakan sumberdaya
BAB 3 KIMIA TANAH. Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah
Kimia Tanah 23 BAB 3 KIMIA TANAH Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah A. Sifat Fisik Tanah Tanah adalah suatu benda alami heterogen yang terdiri atas komponenkomponen
, NO 3-, SO 4, CO 2 dan H +, yang digunakan oleh
TINJAUAN PUSTAKA Penggenangan Tanah Penggenangan lahan kering dalam rangka pengembangan tanah sawah akan menyebabkan serangkaian perubahan kimia dan elektrokimia yang mempengaruhi kapasitas tanah dalam
DIAGRAM ALIR DESKRIPSI BATUAN BEKU
DIAGRAM ALIR DESKRIPSI BATUAN BEKU Warna : Hitam bintik-bintik putih / hijau gelap dll (warna yang representatif) Struktur : Masif/vesikuler/amigdaloidal/kekar akibat pendinginan, dll. Tekstur Granulitas/Besar
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Tutupan Lahan dan Vegetasi Terdapat 6 jenis tutupan lahan yang digunakan dalam penelitian ini seperti yang ada dalam Tabel 4. Arsyad (2010) mengelompokkan penggunaan
berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit.
berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit. (a) (c) (b) (d) Foto 3.10 Kenampakan makroskopis berbagai macam litologi pada Satuan
PEMULSAAN ( MULCHING ) Pemulsaan (mulching) merupakan penambahan bahan organik mentah dipermukaan tanah. Dalam usaha konservasi air pemberian mulsa
Apakah mulsa itu? Mulsa adalah sisa tanaman, lembaran plastik, atau susunan batu yang disebar di permukaan tanah. Mulsa berguna untuk melindungi permukaan tanah dari terpaan hujan, erosi, dan menjaga kelembaban,
Seisme/ Gempa Bumi. Gempa bumi adalah getaran kulit bumi yang disebabkan kekuatan dari dalam bumi
Seisme/ Gempa Bumi Gempa bumi adalah getaran kulit bumi yang disebabkan kekuatan dari dalam bumi Berdasarkan peta diatas maka gempa bumi tektonik di Indonesia diakibatkan oleh pergeseran tiga lempeng besar
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Awal Lahan Bekas Tambang Lahan bekas tambang pasir besi berada di sepanjang pantai selatan desa Ketawangrejo, Kabupaten Purworejo. Timbunan-timbunan pasir yang
geografi Kelas X PEDOSFER III KTSP & K-13 H. SIFAT KIMIA TANAH a. Derajat Keasaman Tanah (ph)
KTSP & K-13 Kelas X geografi PEDOSFER III Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami sifat kimia tanah. 2. Memahami vegetasi tanah. 3. Memahami
