KAJIAN ILMIAH TENTANG ILMU PENDIDIKAN
|
|
|
- Agus Oesman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 CakrawaJa Pendidikan Nomor 2, Tahun XUI, Juni KAJIAN ILMIAH TENTANG ILMU PENDIDIKAN OIeh L. Hendrowibowo Abstrak Sebagian ahli pendidikan mengatakan bahwa ilmu pendidikan adalah penerapan ilmu-ilmu lain dalam praktek pendidikan. Pendidikan hanyalah memanfaatkan hasil-hasil ailtropologi, 5Osiologi, dan psikologi. Dengan telaah yang lebih dalam, kita temukan bahwa ilmu pendidikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri, memiliki obyek dan metode kajian yang berbeda dengan ilmu-ilmu yang lain. Untuk mengkaji sesuatu ilmiah atau bukan harus dikaitkan denga tiga dasar keilmuan, yakni:: ontologis. epistemologis, dan aksiologis. Ontologis berkaitan dengan oby~k, epistemologis berkaitan dengan metode dan sistematikanya, dan aksiologis berkaitan dengan kesejahteraan umat manusia. neogan tiga dasar keilmuan di atas, ilmu pendidikan memenuhi syarat sebagai ilmu yang berdiri sendiri, bukan sebagai kumpulan dari ilmu-ilmu lain. Pendahuluan Banyak penulis dalam bidang pendidikan yang tidak terlalu mempersoalkan secara tersurat kaitan antara pendidikan, ilmu pendidikan dan filsafat pendidikan. Mereka lebih mempedulikan langsung proses pendidikan dan manfaatnya bagi perkembangan individu secara optimal. Ada sebagian dari ahli pendidikan beranggapan bahwa sesungguhnya ilmu pendidikan itu adalah penerapan ilmu-ilmu lain dalam praktek pendidikan. Dengan demikian, ilmu pendidikan bukanlah ilmu yang berdiri sendiri. Pendidikan hanyalah memanfaatkan hasil"hasil dari antropologi, sosiologi dan psikologi. Pendapat demikian tentunya kurang tepat atau bahkan sarna sekali salah. Untuk mengkaji sesuatu itu, dikatakan ilmiah atau tidak, harus dikaitkan dengan tiga dasar keilmuan, yakni: ontologis, epistemologis dan aksiologis, atau dengan kata lain harus memenuhi syarat-syarat: berobjek, bermetode dan sistematis, juga berguna bagi kesejahteraan manusia.
2 124 Cakrawala Pendidlkan Nomor 2, Tahun XIII, Junl 1994 Pendekatan yang dipakai dalam pengamatan tentang ilmu pendidikan, antara lain adalah pendekatan fijosofis dan empiris. Pendekatan filosofis bukan hanya mempertanyakan tentang hakikat dan tujuan hidup manusia. (human nature and destiny), melainkan juga tentang kemungkinan pendidikan dalam arti kemampuan manusia berkembang dan menerima pengaruh dari luar terutama secara etis sehingga perkembangan manusia itu dapat diarahkan pada nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Pendekatan empiris mempertanyakan syarat-syarat teknis, termasuk penciptaan situasi pendidikan, segala upaya dan alat pendidikan yang sesuai dan efektif dalam membantu mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Hal-hal di atas menjadi garapan bidang ilmu pendidikan. I1mu pendidikan itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari makna pendidikan. I1mu pendidikan adalah ilmu yang mempelajari hakikat serta keseluruhan upaya pendidikan dalam arti upaya pembimbingan bagi peserta didik ke arah tujuan tertentu, yaitu dalam rangka mengarahkan perkembangan peserta didik seoptimal mungkin. Masalahnya adalah apakah ilmu pendidikan memadai jika ditinjau dari ciri-ciri yang harus dipenuhi oleh suatu ilmu. Sebab, ada pihak-pihak yang bersikap ragu akan status ilmiah ilmu pendidikan dan memandangnya lebih sebagai aplikasi dari disiplin keilmuan yang lain. Pendidikan dan I1mu Pendidikan Pengertian Pendidikan Akhir-akhir ini muncul kritik-kritik mengenai praktek pendidikan di sekolah yang mengatakan bahwa guru-guru hanya melaksanakan pengajaran dan belum atau tidak melaksanakan pendidikan. Issu-issu yang demikian muncul, mungkin berkaitan dengan kekecewaan orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, pakar pendidikan dan nonpendidikan, terutama mutu yang mencerminkan watak dan kepribadian siswa, kurang diperhatikan. Di lain pihak juga muncul, issu-issu bahwa mutu lulusan sekolah rendah karena guru-guru tidak menguasai disiplindisiplin ilmu yang mereka ajarkan. Diduga penyebab mutu lulusan yang demikian itu ialah bahwa guru-guru yang dihasil-
3 Kajian l/miah tentang llmu Pendidikan 125 kan oleh IKIP, FKIP dan STKIP tidak menguasai disiplin-disiplin ilmu yang mereka ajarkan. Kemudian muncullah gagasan perlunya guru-guru dididik di lingkungan perguruan tinggi yang menyelenggarakan ilmu murni dan bahkan hal in] telah dilaksanakan pada fakultas-fakultas tertentu, misalnya Universitas Gajah Mada mendidik program D3 di fakultas MIPA untuk menjadi guru sekolah menengah. Berkaitan dengan masalah di atas, memang ada pendapat bahwa pekerjaan keguruan atau pengajaran itu dapat diiakukan oieh siapa saja yang mau, atau dengan kata lain bahwa setiap orang dapat menjadi guru. Yang penting mereka menguasai materi yang diajarkan kepada siswa-siswa. Persoalan bagaimana mengajarkan materi tersebut akan didapat dan berkembang karena pengalaman-pengalaman mereka pada waktu mengajar. Akibatnya mempelajari teori-teori pendidikan, metode mengajar hanyalah membuang-buang waktu saja. Melihat uraian di atas, mempelajari teori-teori pendidikan, metode mengajar yang terangkum dalam iimu pendidikan kurang mendapat perhatian. Ilmu pendidikan terkesan mengalami stagnasi. Stagnasi tersebut berkaitan dengan: 1. Anggapan sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa guru-guru hanya melaksanakan pengajaran dan belum atau tidak melaksanakan pendidikan. 2. Adanya anggapan pekerjaan keguruan atau pengajaran dapat dilakukan oleh siapa saja yang mau, dengan kata lain setiap orang dapat menjadi guru. 3. Sebagian ahli pendidikan mengatakan bahwa ilmu pendidikan adalah penerapan ilmu-ilmu lain dalam praktek pendidlkan. Pendidikan hanyalah memanfaatkan hasil-hasil antropologi, sosiologi dan psikologi. Dari sinilah terkesan bahwa i1mu pendidikan terkesan mengalami stagnasi, padahal jika kita perhatikan lebih mendalam, hal tersebut tidaklah.benar. Seorang guru harus menguasai i1mu pendidikan sekaligus menguasai materi pelajaran bidang studi dan jika kita kaji lebih mendalam akan terlihat bahwa ilmu pendidikan adalah i1mu yang berdiri sendiri, memiliki obyek dan metode kajian yang berbeda dengan i1mu-i1mu yang lain. Ki Hajar bewantara, pada waktu sistern pendidikan melalui Perguruan Taman kan pendidikan sebagai berikut. mengembangkan Siswa, mengarti-
4 126 Cakrawala Pendidikan Nomor 2, Tahun XIII, Juni 1994 Pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup dan tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anakanak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Suwarno, 1985:2-3). Menurut DR. M. I. Soelaeman: Pendidikan sering dijuluki sebagai "usaha pemanusiaan manusia ll Bukan dalam arti bahwa l1digarapnyall manusia, melainkan: (1) untuk menghindarkan ia "di-tidakmanusiakan" dalam arti diperlakukan, dihadapi serta diarahkan kepada kehidupan yang tidak manusiawi, (2) agar pelaksanaan kehidupannya benar-benar manusiawi dalam arti bertingkah laku dengan bertopang pada dan bertujuan ke arah kehidupan dan norma-norma kesusilaan, dan (3) agar dapat meningkatkan kehidupannya sebagai manusia itu, dalam arti meningkatkan martabatnya sebagai manusia (M.I. Soelaeman, 1977:67). Menurut Prof. DR. M.J. Langeveld: Pendidikan ialah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih tepat, membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau yang diciptakan oleh orang dewasa: sekolah, buku, peraturan hidup sesehar!, dan sebagainya) dan ditujukan kepada orang yang belum dewasa (Langeveld, 1971:pasal 5, Sa). Menurut Prof. DR. N. Driyarkara: "Pendidikan ialah pemanusiaan manusia mnda, atau, pengangkatan manusia muda ke taraf insani" (1980:75). Dari pengertian-pengertian dl a tas tentang pendidikan, kita dapat menganalisis lebih jauh bahwa pendidikan merupakan perbuatan manusiawi. Persoalan pendidikan pada hakikatnya berkisar sekitar persoajan manusia. Pendidikan Jahir dar! pergaulanantarpendidik ("orang dewasa") dan peserta didik (Ilorang yang bejum dewasa ll ) dajam suatu kesatuan hidup. Tindakan mendidik yang dijakukan,ojeh orang dewasa dengan sadar. dan.sengaja didasari oleh. '!lijai-riilai kemanusiaan, jadi btikan hanya sekedar transfer pe,ngetahuan dan keterampilan, melainkan acuan terhadap nilai-nilai kemanusiaan diutama-
5 KaJJan /lmjah tentang llmu PendJdJkan 127 kan. Nilai-nilai kemanusiaan lebih mengarah pada watak dan kepribadian. Pendidikan merupakan hubungan antarpribadi pendidik dan peseda didik. Dalam pergaulan terjadi kontak atau komunikasi antara masing-masing pr!badi. Hubungan ini jika meningkat ke taraf hubungan pendidikan, maka akan terjadi suatu pertautan makna antara pendidik dan peserta didik. Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan masa lalu dan masa kini, tetapi lebih penting lagi pendidikan bersangkutan dengan kehidupan manusia masa mendatang. Dengan demikian, pendidikan dilaksanakan sekarang, dengan modal pengalaman masa lalu, untuk diarahkan pada masa yang akan datang. Untuk itulah kita dalam pendidikan harus memusatkan perhatian kepada masalah yang akan datang. Arah perkembangan peserta didik di masa depan sangat bergantung kepada dua hal pokok, yaitu pertama: anggapan atau asumsi dasar tentang hakikat dan tujuan hidup manusia, potensi dan shat bawaannya, dan kedua, anggapan tentang besar kecilnya pengaruh Iingkungan terhadap perkembangan manusia itu yang dapat dan harus diuji secara empirik. Hmu Pendidikan Ilmu pendidikan atau paedagogiek, berasal dar! kata bahasa Yunani pedagogues, dan dalam bahasa Latin paedagogus, yang berarti pemuda yang bertugas mengantar anak ke sekolah serta menjaga anak itu untuk bertingkah laku susila dan berdisiplin. Istilah itu lalu digunakan untuk pendidik (pedagog) dan kemudian berkembang menjadi pedagogi perbuatan mendidik, paedagogiek untuk i1mu pendidikan. Ada beberapa definisi tentang i1mu pendidikan: Menurut Prof. DR. M.J. Langeveld: Pedagogik atau i1mu pendidikan ialah suatu i1mu yang bukan saja menelaah obyeknya untuk mengetahui betapa keadaan atau hakiki obyek itu, melainkan mempelajari pula betapa hendaknya bertindak (Langeveld, 1971: pasal 1). Menurut Prof. Brodjonegoro dan Drs. Soetedjo: Ilmu pendidikan atau pedagogik adalah teor! pendidikan, perenungan tentang pendidikan. Dalam arti yang luas pedagogik adalah i1mu pengetahuan yang mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktek pendidikan (Suwarno, 1982:11).
6 128 Cakrawala Pendidlkan Nomor.2, Tahun XIIJ, Junl 1994 Menurut DR. Sutari Imam Barnadib: "ilmu pendidikan mempelajari suasana dan proses-proses pendidikan" (1986:17). Menurut Prof. DR. N. Driyarkara: "ilmu pendidikan adaiah pemikiran tentang iimiah realitas yang kita sebut pendidikan (mendidik dan dididik)" (1980:66). Melihat dari beberapa definisi di atas, jelaslah bahwa iimu pendidikan itu sendiri tidak dapat dilepaskan dad makna pendidikan. Oleh karena itu pula, ilmu pendidikan dapat diartikan sebagai ilmu tentang pendidikan. Langeveld misalnya menyebur iimu pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang praktis karena ilmu itu membicarakan perbuatan atau tingkah laku manusia secara khusus, yaitu perbuatan mendidik, meskipun di dalamnya terdapat banyak pembahasan mengenai hal-hal yang bersifat teoretis. Pembahasan tentang pendidikan dan ilmu pendidikan menyangkut ikhwal hakikat manusia yang menjelaskan kedudukan peserta didik dan pendidik dalam interaksi pendidikan. Untuk pelaksanaannya dalam pendidikan sangat bergantung kepada keyakinan ahli ilmu pendidikan yang bersangkutan. Pedagogik Teoretis dan Pedagogik Praktis Ilmu pendidikan (pedagogik) merupakan ilmu pengetahuan terapan (praktis) mengenai perbuatan manusia, mendidik dan dididik, dan mempunyai dua segi: teoretis dan praktis Oleh karena itu, dibedakan menjadi pedagogik teoretis dan pedagogik praktis. Pedagodik teoretis tertuju pada penyusunan persoalan dan pengetahuan sekitar pendidikan secara ilmiah, bergerak dari praktek ke penyusunan teod dan penyusunan sistem pendidikan; dalam hal ini latar belakang filsafat pun termasuk dalam pendidikan teoretis. Pedagogik teoretis mendorong orang untuk melakukan perbuatan mendidik sebaik mungkin, demi keberhasilan dan kemajuan pendidikan. Dengan demikian, antara pendidik dan peserta didik harus aktif belajar; yaitu menyadari benar segala perbuatannya, mengetahui dengan tepat apa yang diinginkan, dan tujuan apa yang mau dicapai dengan pendidikan serta kegiatan belajar mengajar. Langeveld menyebut iimu mendidik teoretis sebagai iimu pengetahuan praktis normatif. Sebab, pada pedagogik teoretis momen-momen normatif dan nilai etis tidak bisa
7 KaJlan IImiah tentang IImu Pendldlkan 129 dilepaskan dari momen praktis. Jadi, ada pengerahan pada tujuan-tujuan yang etis, bagaimana pendidikan itu seharusnya dilakukan, dan apa yang ingin dicapainya. Berkaitan dengan uraian di a tas, pengertian manusia sebagai animal educandum itu mencakup perbuatan humanisasi, yakni. upaya menjadikan anak didik manusia, paripuma dan berbudaya. Oleh sebab itulah, maka perbuatan mendidik dan pedagogik teoretis itu sifatnya kreatif dan normatif. Karena menyangkut upaya membangun pribadi anak manusia sesuai dengan norma dan ideal tertentu, maka. pedagogik teoretis juga disebut sebagai antropologi praktis nbrmatif; yakni ajaran mengenai manusia yang secara rasional dan sistematis memberikan wawasan mengenai perilaku pendidikan dan anak didik dalam proses pendidikan; dan bagaimana seharusnya pendidikan itu dilakukan, mengikuti norma-norma tertentu. Pedagogik praktis tertuju pada cara-cara bertindak, bergerak dalam situasi pendidikan tertuju pada pelaksanaan realisasi cita-cita (ideal) yang telah tersusun dalam pedagogik teoretis. Dalam hal ini teori mendahului praktek. Ilmu pendidikan tidaklah hanya tertuju pada kajian teoretis, atau hanya melakukan kegiatan ilmiah teoretis, tetapi juga berupaya melakukan perbaikan dan pengembangan praktek-praktek pendidikan, terutama yang berkenaan dengan praktek-praktek pendidikan formal, yaitu praktek-praktek pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah. Praktek-praktek pendidikan dan pengajaran mencakup perencanaan, pelaksanaan kurikulum, supervisi dan evaluasi, selanjutnya pengembangan kurikulum tentulah tid'ak lepas dari konsep-konsep mendasar mengenai apa pendidikan itu. Proses berlangsungnya belajar mengajar, tentu tidak dapat mengabaikan konsepkonsep dasar pendidikan. Semua kegiatan dari perencanaan program sampai pada evaluasi kemajuan dan hasil belajar siswa serta pengembangan kurikulum dan program, merupakan lapangan "kajian pedagogik praktis. Sebagai ilmu mumi, ilmu pendidikan adalah teoretis, yang mengandungkonsep-konsep proposional yang harus selalu diuji pada kenyataan-kenyataan yang empirik, atau melalui praktek-praktek pendidikan, yang kemudian secara sistematis disusun teod yang baru, baik teori penemuan baru ataupun pengembangan dari teori yang sudah ada. Kegiatan tersebut menghasilkan pedagogik sistematis.
8 130 CilkrawaJa Pendidlkan Nomor 2, Tahun XIII, Juni 1994 Kegiatan pendidikan dan analisis situasi pendidikan bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah berlangsung lama. Kenyataan ini membuka kesempatan untuk melakukan kajian historis yang akan menghasilkan pedagogik historis. Baik kajian sistematis maupun historis adalah teoretis. Disebutkan di atas kita telah mengenal adanya pedagogik teoretis dan pedagogik praktis. Jika keduanya dihubungkan, maka teori berguna untuk menambah pemahaman, pengertian tentang pendidikan sekaligus mengoreksi perbuatan mendidik demi perbaikan dan penyempurnaan cara-cara mendidik, dan juga dari pendidik sendir!. Dengan demikian, teori dipakai untuk menuntun praktek.. Sebaliknya, praktek pendidikan menghasilkan penemuan baru, dan digunakan untuk mengoreksi, memperbaiki, menyempurnakan teod. Status llmiah llmu Pendidikan Telah diuraikan pada bagian terdahulu bahwa ilmu pendidikan adalah ilmu yang mempelajari hakikat serta keseluruhan upaya pendidikan dalam arti upaya pembimbingan bagi peserta didik ke arah tujuan tertentu. llmu pendidikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri, memiliki obyek dan metode kajian yang 'berbeda dari psikologi, sosiologi, antropologi. Lapangan kajian ilmu pendidikan adalah situasi pendidikan, yakni situasi yang terdapat dalam kehidupan manusia, situasi pergaulan manusia. Situas~ pendidikan adalah agogis, yakni dalam situasi yang mengandung usaha-usaha mempengaruhi, membimbing, memberikan bantuan, mengajarkan nilai dan norma kehidupan etis, dari pendidik kepada anak didik. Selanjutnya ilmu pendidikan itu perlu ditelaah, apakah telah memadai ditinjau dari ciri-ciri yang harus dipenuhi oleh suatu ilmu yang utuh? Untuk itu perlu terlebih dahulu dijabarkan ciri-ciri pokok dari suatu ilmu yang utuh. Sesuatu dikatakan ilmu jika memiliki tiga dasar keilmuan, yakni: 1. dasar ontologis (harus mempunyai obyek); 2. dasar epistemologis (harus mempunyai metode dan serumpun); dan 3. dasar aksiologis (berguna bagi kesejahteraan manusia). Dasar ontologis ilmu pendidikan adalah empirik karena obyeknya tindakan mendidik yang terdapat dalam dunia
9 Kajian llmiah tentang llmu Pendidikan 131 pengalaman. OIeh karena itu, bila kita menafsirkan fenomena pendidikan itu hanya berdasarkan observasi pada peristiwaperistiwa yang tampak, berarti kit.a belum menemukan makna pendidikan yang hakiki. Untuk menemukan makna dari tindakan mendidik, kita perlu menganalisis secara kritis mengenai alasan-alasan dan tujuan-tujuan pendidik bertindak baik di dalam kelas maupun di luar kelas dalam situasi dan kondisi yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar dan tujuan yang hendak dicapai. Dilihat dari segi epistemologis, i1mu pendidikan tidak cukup bila hanya menggunakan metode-metode empirik untuk memahami hakikat dari tindakan mendidik itu. Metode empiris yang dipakai tersebut harus dilengkapi analisis rasional dan transendental, untuk menguak makna dari fenomena tersebut. Penggabungan metode-metode empirik dan rasional serta transendental untuk memahami makna hakiki dari peristiwa dan tindakan mendidik., Serumpun, artinya ilmu tersehut harus merupakan suatu kesatuan, di mana bagian-bagiannya merupakan satu, rumpun, yakni rumpu'n i1mu pendidikan. ' Dasar aksiologis, yaitu adanya nilai kegunaan dari Hmu pendidikan bagi kepentingan kesejahteraan manusia lahir dan batin. Ilmu pendidikan tidak mungkin dapat melepaskan diri dari pengajian dan penelitian peranan niiai-nilai dan normanorma dalam kehidupan manusia, khususnya dalam kegiatan pendidikan. Dengan melihat uraian di atas jelaslah bahwa i1mu pendidikan memenuhi syarat jika i1mu pendidikan itu dikatakan ilmiah dan berdid sendid, bukan sebagai kumpulan dad ilmu-ilmu lain, Kesimpulan Ilmu pendidikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri, memiliki obyek dan metode kajian yang berbeda dari psikologi, sosiologi, dan antropologi. Lapangan kajian ilmu pendidikan adalah situasi pendidikan. Metode yang dipakai adalah metode empiris, dengan dilengkapi analisis rasional dan transendental, untuk membuka cakrawalci. makna dari fenomena pendidikan, Dan akhirnya' ilmu pendidikan itu berguna bagi kesejahteraan manusia sebab ilmu pendidikan tidak mungkin
10 132 Cakrawala PendIdlkan Nomor 2, fahun XliI, JunI 1994 lepas dari pengkajian dan penelitian peranan nilai-nilai dan. norma-norma dalam kehidupan manusia, khususnya kegiatan pendidikan. Pada dasarnya pendidikan adalah perbuatan manusiawi dan lahir dari pergaulan antarpendidik dan peserta didik dalam suatu kesatuan hidup. Pendidikan bukan sekedar transfer pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga acuan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kemanusiaan.tersebut lebih mengarah pada watak dan kepribadian. Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan masa lalu dan masa kini, tetapi lebih mementingkan kehidupan manusia di masa datang. Dengan demikian, pendidikan dilaksanakan sekarang, dengan modal pengalaman masa lalu, untuk diarahkan pada masa yang akan datang. Untuk itulah dalam pendidikan harus memusatkan perhatian kepada masalah yang akan datang. Daftar Pustal::a Driyarkara Tentang Pendidikan. Yogyakarta: Yayasan Kanisius. Keiompok Pengaji Sejarah dan Filsafat Pendidikan Keperluan dan Keharusan llmu Pendidikan. Jakarta: FlP lkip Jakarta. Kerry, Trevor Invitation to Teaching. Blackwell Inc. New York: Basil Langeveld.(terj) Paedagogiek Teoretis/Sistematis. Jakarta: FIP IKlP Jakarta. Power, J. Edward Philosophy of Education Studies in Philosopies, Schooling, and Educational Policies. New Jersey: Prentice Hall Inc. Soelaeman,M.I Menjadi Guru. Bandung: CV Diponegoro Penghampiran Fenomenologis terhadap Pendidikan. Bandung: (tanpa penerbit). Sutari Imam Barnadib Pengantar llmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta: FIP IKIP Yogyakarta.
11 133 Suwarno Pengantar Umum Pendidikan. Jakarta: Aksara Baru. Wens Tanlain, dkk Dasar-dasar /lmu Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia.
MAKALAH PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU
MAKALAH PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU Oleh : Septy Indriyani (15105244006) Teknologi Pendidikan A A. PENDAHULUAN Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa
Nama : Diana Lusi Rinasari NIM : Makul : Ilmu Pendidikan Dosen : Anik Ghufron, Prof. Dr. Judul : Pendidikan sebagai Ilmu BAB I
Nama : Diana Lusi Rinasari NIM : 15105241002 Makul : Ilmu Pendidikan Dosen : Anik Ghufron, Prof. Dr. Judul : Pendidikan sebagai Ilmu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan satu kesatuan
PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU. Ilmu Pendidikan
PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU Ilmu Pendidikan Pendidikan sebagai Ilmu Pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam hidup manusia dimana ada kehidupan disitu pasti ada pendidikan Pendidikan sebagai
TEORI PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU. Ismail Hasan
TEORI PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU Ismail Hasan Pengertian Ilmu Ilmu (atau Ilmu Pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan
Keberadaan pendidikan merupakan khas yang hanya ada pada dunia manusia dan sepenuhnya ditentukan oleh manusia, tanpa manusia pendidikan tidak pernah
Ilmu Pendidikan Keberadaan pendidikan merupakan khas yang hanya ada pada dunia manusia dan sepenuhnya ditentukan oleh manusia, tanpa manusia pendidikan tidak pernah ada, human life is just matter of education
MAKALAH PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU
MAKALAH PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU MATA KULIAH ILMU PENDIDIKAN Disusun oleh : Nimas Anindita (15105241007 / B 1) Fauzan Alghifari (15105241008 / B 1) Dhimas Aji B K (15105241019 / B 1) Wisnu Prawijaya (15105244008
PENGERTIAN PEDAGOGIK. a. Pendidikan dalam arti khusus
PENGERTIAN PEDAGOGIK a. Pendidikan dalam arti khusus Pedagogik berasal dari kata Yunani paedos, yang berarti anak laki-laki, dan agogos artinya mengantar, membimbing. Jadi pedagogic secara harfiah berari
BY. IRMA NURIANTI,SKM. MKes PRINSIP ETIKA DAN MORALITAS
BY. IRMA NURIANTI,SKM. MKes PRINSIP ETIKA DAN MORALITAS I. PENGERTIAN A. ETIKA YUNANI ETHOS KEBIASAAN/KESUSILAAN INGGRIS ETHIS ETIKA Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.
Pendahuluan Manusia adalah Makhluk Individu Memiliki akal pikiran, perasaan, dan kehendak. Makhluk Sosial Memiliki perilaku etis
Pendahuluan Manusia adalah Makhluk Individu Memiliki akal pikiran, perasaan, dan kehendak. Makhluk Sosial Memiliki perilaku etis Pembahasan mengenai: Pengertian etika Hubungan etika dengan moral Hubungan
PENDIDIKAN PANCASILA VISI DAN MISI PENDIDIKAN PANCASILA.
PENDIDIKAN PANCASILA VISI DAN MISI PENDIDIKAN PANCASILA VISI PENDIDIKAN PANCASILA Pendidikan Pancasila menjadi sumber nilai dan pedoman bagi penyelengaraan program studi. Intinya : Pendidikan Pancasila
KONSEP PENDIDIKAN. Imam Gunawan
KONSEP PENDIDIKAN Imam Gunawan KONSEP MENDIDIK Mendidik adalah memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju ke arah kedewasaan, dalam
BAB I Tinjauan Umum Etika
BAB I Tinjauan Umum Etika Pendahuluan Manusia adalah Makhluk Individu Memiliki akal pikiran, perasaan, dan kehendak. Makhluk Sosial Memiliki perilaku etis Pembahasan mengenai: Pengertian etika Hubungan
PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN TERHADAP PSIKOLOGI PENDIDIKAN HUMANISTIK
31 Jurnal Sains Psikologi, Jilid 6, Nomor 1, Maret 2017, hlm 31-36 PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN TERHADAP PSIKOLOGI PENDIDIKAN HUMANISTIK Fadhil Hikmawan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. 1. PERMASALAHAN Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1. PERMASALAHAN 1. 1. Latar Belakang Permasalahan Pendidikan merupakan suatu hal yang mendasar dalam kehidupan manusia karena pendidikan dan kehidupan manusia selalu berjalan bersama.
BAB I PENDAHULUAN. penanaman akhlakul karimah, pembiasaan-pembiasaan atau keterampilan peserta
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu alat bagi manusia dalam mencapai kesempurnaan dalam hidupnya. Pendidikan merupakan modal untuk memberikan pengetahuan, penanaman akhlakul
TUGAS UTS DASAR DASAR LOGIKA PENGERTIAN PENGERTIAN FILSAFAT, LOGIKA, ETIKA, ESTETIKA DAN FILSAFAT ILMU
TUGAS UTS DASAR DASAR LOGIKA PENGERTIAN PENGERTIAN FILSAFAT, LOGIKA, ETIKA, ESTETIKA DAN FILSAFAT ILMU Sumber Dilampirkan Dosen Pengasuh: Prof. Dr. Slamet Widodo, MS., MM. OLEH NAMA : TOMMY LIM NIM : 07011281520163
IMPLIKASI PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU Oleh: Wasitohadi 1
IMPLIKASI PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU Oleh: Wasitohadi 1 Abstrak Pendidikan merupakan suatu ilmu, karena memenuhi syarat sebagai ilmu, di samping juga memenuhi persyaratan ontologis, epistemologi dan aksiologi
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. umat manusia merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi sepanjang hayat.
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Dalam perkembangan manusia, pendidikan mempunyai peranan penting dalam usaha membentuk manusia yang berkualitas. Pendidikan bagi kehidupan
BAHAN AJAR PEMBELAJARAN I
BAHAN AJAR PEMBELAJARAN I Nama Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Kode / SKS : FIF 342 /3 SKS Waktu Pertemuan : 2 x pertemuan (2 x 300 menit) Pertemuan : I dan II Tujuan Instruksional 1. Umum : Setelah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita, ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam
FILSAFAT PENDIDIKAN. Dosen: Rukiyati, M. Hum Jurusan FSP-FIP UNY Telp
FILSAFAT PENDIDIKAN Dosen: Rukiyati, M. Hum Jurusan FSP-FIP UNY Telp. 0274 870194 Pengertian Filsafat Pendidikan Pengertian Filsafat Berasal dari kata Philos, philore (cinta) dan sophos atau sophia (kebajikan,
MATERI KULIAH PEDAGOGIK. By: Estuhono, S.Pd, M.Pd
MATERI KULIAH PEDAGOGIK By: Estuhono, S.Pd, M.Pd ?? Konsep Dasar Pedagogik Kata pedagogi berasal dari paedagogy (Inggris) Yunani = Paedos (Anak Laki-laki) + Agogos (mengantar/membimbing) Paedagogie : pendidikan
TATA KRAMA AKADEMIK DAN KODE ETIK GURU 1 Oleh: Dr. Achmad Dardiri (Dosen FIP UNY)
TATA KRAMA AKADEMIK DAN KODE ETIK GURU 1 Oleh: Dr. Achmad Dardiri (Dosen FIP UNY) Pendidikan Tinggi sebagai Masyarakat Ilmiah Sebelum mengkaji lebih jauh tentang tata krama akademik, kita kaji terlebih
TATA KRAMA AKADEMIK DAN KODE ETIK GURU 1 Oleh: Dr. Achmad Dardiri (Dosen FIP UNY) Pendidikan Tinggi sebagai Masyarakat Ilmiah
TATA KRAMA AKADEMIK DAN KODE ETIK GURU 1 Oleh: Dr. Achmad Dardiri (Dosen FIP UNY) Pendidikan Tinggi sebagai Masyarakat Ilmiah Sebelum mengkaji lebih jauh tentang tata krama akademik, kita kaji terlebih
LANDASAN PENDIDIKAN DISUSUN OLEH :
LANDASAN PENDIDIKAN Nama NIM Dosen : : : DISUSUN OLEH : Suraya Atika 06141281419062 Dra. Masitoh M.Pd. PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN TAHUN 2014 KATA PENGANTAR Puji dan
PENGANTAR PENDIDIKAN
PENGANTAR PENDIDIKAN FTI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN KOMPUTER APA YANG DIMAKSUD DENGAN PENDIDIKAN? 1 PENDIDIKAN ARTI SEMPIT pendidikan diartikan sebagai proses interaksi belajar mengajar dalam bentuk
69. Mata Pelajaran Sosiologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA)
69. Mata Pelajaran Sosiologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) A. Latar Belakang Sosiologi ditinjau dari sifatnya digolongkan sebagai ilmu pengetahuan murni (pure science) bukan ilmu
Nama : Diana Lusi Rinasari NIM : Makul : Ilmu Pendidikan BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
Nama : Diana Lusi Rinasari NIM : 15105241002 Makul : Ilmu Pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak terampil menjadi terampil dan tidak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Paulo Freire merupakan salah satu pemikir pendidikan yang berasal dari Brazil. Paulo Freire adalah tokoh penggagas pendidikan yang terkenal dengan gagasannya
PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT
PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT Modul ke: A. Pengertian Filsafat B. Filsafat Pancasila C. Hakikat Sila-Sila Pancasila Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Udjiani Hatiningrum, SH., M Si Program Studi Manajemen
Pengertian Etika. Nur Hidayat TIP FTP UB 2/18/2012
Nur Hidayat http://nurhidayat.lecture.ub.ac.id TIP FTP UB Pengertian Etika Berasal dari Yunani -> ethos artinya karakter, watak kesusilaan atau adat. Fungsi etika: Sebagai subjek : Untuk menilai apakah
BAB I PENDAHULUAN. semua pihak terhadap pendidikan anak-anak, karena anak adalah amanah yang
BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penulisan Dalam kehidupan yang modern seperti sekarang ini tanggung jawab semua pihak terhadap pendidikan anak-anak, karena anak adalah amanah yang dititipkan oleh Allah SWT.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
PERKEMBANGAN ETIKA PROFESI
PERKEMBANGAN ETIKA PROFESI Apa yang dimaksud dengan Etika? Etika berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) berarti karakter, watak kesusilaan atau dapat juga berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidahkaidah
SILABUS S2 No. Dok. :
SPS UPI SILABUS S2 No. Dok. : LANDASAN PEDAGOGIK No. Revisi : Tanggal Berlaku : Halaman : SILABUS MATA KULIAH A. Identitas Mata Kuliah Nama Mata Kuliah : Landasan Pedagogik Kode Mata Kuliah : PS701 Jumlah
BAB I PENDAHULUAN. Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, yang isinya disebutkan bahwa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Negara kita (Indonesia) tentang pendidikan juga diatur dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, yang isinya disebutkan bahwa Pendidikan
Tinjauan Ilmu Penyuluhan dalam Perspektif Filsafat Ilmu
Tinjauan Ilmu Penyuluhan dalam Perspektif Filsafat Ilmu Oleh : Agustina Abdullah *) Arti dan Pentingnya Filsafat Ilmu Manusia mempunyai seperangkat pengetahuan yang bisa membedakan antara benar dan salah,
ALIRAN PENDIDIKAN PROGRESIVISME DAN KONTRIBUSINYA DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN PANCASILA DI INDONESIA
ALIRAN PENDIDIKAN PROGRESIVISME DAN KONTRIBUSINYA DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN PANCASILA DI INDONESIA Reno Wikandaru * Abstrak Penetapan Pancasila sebagai dasar negara membawa implikasi besar, yakni bahwa
BAB 1 PENDAHULUAN. keduanya. Sastra tumbuh dan berkembang karena eksistensi manusia dan sastra
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra bukanlah hal yang asing bagi manusia, bahkan sastra begitu akrab karena dengan atau tanpa disadari terdapat hubungan timbal balik antara keduanya.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mewujudkan semua potensi diri manusia dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk
Oleh. Salamun Rohman Nudin, S.Kom., M.Kom Etika Profesi/ Teknik Informatika Untag Surabaya
ETIKA, MORAL dan AKHLAK Oleh Salamun Rohman Nudin, S.Kom., M.Kom / Teknik Informatika Untag Surabaya Materi 1. ETIKA 2. MORAL 3.AKHLAK Pengertian Etika Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika
BAB I PENDAHULUAN. sebagai suatu sistem pada prinsipnya bukan hanya bertujuan untuk memenuhi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran merupakan interaksi timbal balik antara siswa dengan guru dan antara siswa dengan siswa, yang melibatkan banyak komponen untuk mencapai
Abstrak. Kata kunci : Tujuan Pendidikan
Abstrak Pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan mempunyai fungsi yaitu, memberikan arah kepada segenap kegiatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etika Organisasi 2.1.1 Pengertian Etika Etika adalah ilmu tertentu dimana obyeknya yaitu kesusilaan atau etos. Etos ialah sifat dasar atau karakter yang merupakan kebiasaaan
NOVIA KENCANA, S.IP, MPA
NOVIA KENCANA, S.IP, MPA [email protected] PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT???? Cabang ilmu Cara berpikir ILMU FILSAFAT Alkisah bertanyalah seorang awam kepada ahli filsafat yang arif bijaksana
BAB I PENDAHULUAN. Sastra dalam keutuhan bentuknya menyentuh seluruh kehidupan. manusia. Karya sastra dalam bentuknya memuat berbagai aspek dimensi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sastra dalam keutuhan bentuknya menyentuh seluruh kehidupan manusia. Karya sastra dalam bentuknya memuat berbagai aspek dimensi kehidupan manusia. Ia tidak
DEFINISI PENDIDIKAN MENURUT PARA AHLI
DEFINISI PENDIDIKAN MENURUT PARA AHLI Oleh : Roni Syarif H. Kelas : 1c A. Definisi Awam Secara universal pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu cara untuk mengembangkan ketrampilan, kebiasaan dan
BAB I PENDAHULUAN. Perubahan tersebut menuntut setiap guru untuk terus berupaya melakukan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan mengalami perubahan yang sangat cepat yang memberikan dampak sangat signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut menuntut
SILABUS DAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN PROGRAM PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS CIBIRU 2013
SILABUS DAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH PEDAGOGIK Kode Mata Kuliah/SKS : IP 302 / 3 Oleh : Dra. Realin Setiamihardja, M.Pd. Dra. Hj. Titing Rohayati, M.Pd.. PROGRAM PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR
BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian Teori 1. Makna Pendidikan Pendidikan berasal dari kata didik, mendidik berarti memelihara dan membentuk latihan. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia pendidikan
Pancasila sebagai Sistem Filsafat
PENDIDIKAN PANCASILA Modul ke: 07 Pancasila sebagai Sistem Filsafat Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Program Studi AKUNTANSI Nabil Ahmad Fauzi, M.Soc.Sc Pendahuluan Pancasila merupakan filsafat bangsa Indonesia
A. Dari segi metodologi:
Lampiran 1 UNSUR-UNSUR PEMBEDA ANTARA DENGAN SEBAGAI BAGIAN DARI RUMPUN ILMU HUMANIORA UNSUR Cakupan Ilmu dan Kurikulum Rumpun Ilmu Agama merupakan rumpun Ilmu Pengetahuan yang mengkaji keyakinan tentang
FILSAFAT ILMU. Irnin Agustina D.A.,M.Pd
FILSAFAT ILMU Irnin Agustina D.A.,M.Pd [email protected] Definisi Filsafat Ilmu Lewis White Beck Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Nana Sutarna, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Proses pembelajaran yang bermakna sangat menentukan terwujudnya pendidikan yang berkualitas. Pendidikan merupakan suatu proses dalam rangka mempengaruhi
BAB I PENDAHULUAN. dan norma-norma yang diakui. Dalam pernyataan tadi tersurat dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Praktek pendidikan diupayakan pendidik dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar mampu mewujudkan diri sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya. Semua tindakan
BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan yang bermutu. Berkat pendidikan, orang terbebaskan dari
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita karena melalui pendidikan dapat mencetak generasi penerus yang berkualitas. Akan tetapi kompleksitas
: PROF. DR. HAEDAR AKIB, M.Si MACAM-MACAM ILMU PENDIDIKAN YATI HARDIYANTI
MATA KULIAH DOSEN PENGAMPU : FILSAFAT PENDIDIKAN : PROF. DR. HAEDAR AKIB, M.Si MACAM-MACAM ILMU PENDIDIKAN YATI HARDIYANTI PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN 2011 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Etika Dan Filsafat Komunikasi
MODUL PERKULIAHAN Etika Dan Filsafat Komunikasi PokokBahasan : Etika & Moral Fakultas Program Studi TatapMuka Kode MK DisusunOleh Fakultas Ilmu Periklanan MK 85009 Komunikasi (Marcomm) 04 Abstract Komunikasi
BAB I PENDAHULUAN BAB II PEMBAHASAN
BAB I PENDAHULUAN Sejauh mana peranan dan efektivitas pendidikan dalam pembinaan kepribadian manusia, para ahli tidak sama pandangannya. Secara fisiologis, pandangan pandangan tersimpul dalam teori teori
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
Tinjauan Umum Etika. Arif 2013
Tinjauan Umum Etika Arif Basofi @PENS 2013 Referensi Teguh Wahyono, Etika Komputer dan Tanggung Jawab Profesional di Bidang Teknologi Informasi, Penerbit Andi Yogyakarta, 2006. Materi Pengertian etika
MATERI KULIAH ETIKA BISNIS. Pokok Bahasan: Pancasila sebagai Landasan Etika Bisnis
MATERI KULIAH ETIKA BISNIS Pokok Bahasan: Pancasila sebagai Landasan Etika Bisnis Latar Belakang Di zaman yang serba modern ini, nilai, etika, norma,dan moral seringkali diabaikan oleh rakyat Indonesia,
BAB I PENDAHULUAN. dijangkau dengan sangat mudah. Adanya media-media elektronik sebagai alat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Majunya perkembangan IPTEK pada era globalisasi sekarang ini membuat dunia terasa semakin sempit karena segala sesuatunya dapat dijangkau dengan sangat mudah.
BAB I PENDAHULUAN. yang wajib dipelajari di Sekolah Dasar. Siswa akan dapat mempelajari diri
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib dipelajari di Sekolah Dasar. Siswa akan dapat mempelajari diri sendiri dan alam sekitar
BAB I PENDAHULUAN. untuk memimpin jasmani dan rohani ke arah kedewasaan. Dalam artian,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin jasmani dan rohani ke arah kedewasaan. Dalam artian, pendidikan adalah sebuah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan hasil karya manusia yang bersifat imajinatif. Hal tersebut sependapat dengan Nurgiyantoro (2005:2) sebagai hasil yang
MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM Oleh : Muhammad Isnaini http//www.muhammadisnain.blogsopt.com
MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM Oleh : Muhammad Isnaini email: [email protected] http//www.muhammadisnain.blogsopt.com Bagian kedua Kebijakan Pendidikan Islam Setiap kali kita mendengan kata
SILABUS DAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH PEDAGOGIK Kode Mata Kuliah/SKS : IP 302 / 3
SILABUS DAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH PEDAGOGIK Kode Mata Kuliah/SKS : IP 302 / 3 Oleh : Dra. Hj. Entang Kartika, M.Pd Dra. Nenden Ineu Herawati, M.Pd Dra. Hj. Ening, M.Pd PROGRAM PENDIDIKAN
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah Metro
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah Metro Dyson, L. 1999. Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: Bina Ilmu. Habib Mustopo, M. 1983. Ilmu Budaya Dasar. Surabaya. Usaha Nasional. Hartoko,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sastra menurut Wellek dan Warren adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni (2013: 3). Hal tersebut dikuatkan dengan pendapat Semi bahwa sastra adalah suatu bentuk
RANGKUMAN Penggolongan Filsafat Pendidikan menurut Theodore Brameld: 1. Tradisi filsafat klasik yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh dari teori Plato,
RANGKUMAN Penggolongan Filsafat Pendidikan menurut Theodore Brameld: 1. Tradisi filsafat klasik yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh dari teori Plato, Aristoteles, thomas Aquinas muncullah Perenialisme.
ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN REKONSTRUKSIONALISME DALAM TINJAUAN ONTOLOGIS, EPISTEMOLIGIS, DAN AKSIOLOGIS
ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN REKONSTRUKSIONALISME DALAM TINJAUAN ONTOLOGIS, EPISTEMOLIGIS, DAN AKSIOLOGIS Tugas Makalah pada Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Dosen: Drs. Yusuf A. Hasan, M. Ag. Oleh: Wahyu
BAB I PENDAHULUAN. kegiatan pendidikan di Sekolah atau lembaga pendidikan formal. Pada umumnya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya merupakan unsur dari berbagai bidang dalam kegiatan pendidikan di Sekolah atau lembaga pendidikan formal. Pada umumnya ada tiga ruang
Ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia sosial. yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk sosial.
Ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia sosial. Ilmu sosial terdiri dari berbagai ilmu yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk sosial. Menurut objeknya ilmu dikelompokan menjadi
Pancasila sebagai Sistem Filsafat
PENDIDIKAN PANCASILA Modul ke: 07 Pancasila sebagai Sistem Filsafat Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil www.mercubuana.ac.id Ramdhan Muhaimin, M.Soc.Sc Pendahuluan Pancasila merupakan filsafat bangsa
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. lainnya. Interaksi dilakukan oleh manusia sebagai suatu kebutuhan dan harus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia hidup dapat dipastikan melakukan interaksi dengan manusia lainnya. Interaksi dilakukan oleh manusia sebagai suatu kebutuhan dan harus terpenuhi.
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metodologi Penelitian Permasalahan penggunaan bahasa dalam masyarakat seakan terus bermunculan. Dalam mengatasi hal tersebut, keterlibatan disiplin ilmu mutlak diperlukan.
BE AMAZING TEACHERS. Lokakarya Yayasan Suaka Insan Suster SPC Jl. Danau Agung 13, Sunter, Jakarta, 22 Juli 2015 Paul Suparno, S.J.
1 BE AMAZING TEACHERS Lokakarya Yayasan Suaka Insan Suster SPC Jl. Danau Agung 13, Sunter, Jakarta, 22 Juli 2015 Paul Suparno, S.J. PENGANTAR Be Amazing Teachers! Jadilah Guru yang menakjubkan! Berarti
SILABUS DAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN DUAL MODES PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS CIBIRU 2012
SILABUS DAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN DUAL MODES MATA KULIAH PEDAGOGIK Kode Mata Kuliah/SKS : IP 302 / 3 Oleh : Dra. Realin Setiamihardja, M.Pd. NIP. 19480405 198203 2 001 PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
BAB I PENDAHULUAN. peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Semakin maju suatu masyarakat semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan
BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
Oleh: Regina Tamburian Gita Nur Istiqomah
Tugas Ringkasan Oleh: Regina Tamburian Gita Nur Istiqomah Imelda Polii Pracecilia Damongilala Anastania Maria Stephanie Bokong Pontoh UNIVERSITAS SAM RATULANGI TEKNIK ARSITEKTUR MANADO 2006 PANCASILA SEBAGAI
B A B I P E N D A H U L U A N
B A B I P E N D A H U L U A N A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia pada saat ini masih ketinggalan dalam hal kualitas sumber daya manusia ( SDM ), baik di tingkat Asia Tenggara maupun di negara-negara
Pendidikan Pancasila. Berisi tentang Pancasila sebagai Sistem Filsafat. Dosen : Sukarno B N, S.Kom, M.Kom. Modul ke: Fakultas Fakultas Ekonomi Bisnis
Modul ke: Pendidikan Pancasila Berisi tentang Pancasila sebagai Sistem Filsafat. Fakultas Fakultas Ekonomi Bisnis Dosen : Sukarno B N, S.Kom, M.Kom Program Studi Akuntansi www.mercubuana.ac.id Pancasila
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan tentu Negara akan lemah dan hancur. Sikap dan tingkah laku. dan membentuk sikap, moral serta pribadi anak.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk mewujudkan pembangunan nasional di Negara Indonesia. Tanpa adanya pendidikan tentu Negara akan lemah
Agtamy Kartika Pendidikan Ekonomi, FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo
PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA DITINJAU DARI TIPE KEPEMIMPINAN KELUARGA OTORITER DENGAN TIPE KEPEMIMPINAN KELUARGA DEMOKRATIS PADA SISWA SMK N 8 PURWOREJO. Agtamy Kartika Pendidikan Ekonomi, FKIP Universitas
BAB 1 PENDAHULUAN. masa mendatang akan semakin komplek. Menurut Undang-Undang Guru dan. yang satu sama lain saling berhubungan dan saling mendukung.
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peranan seorang guru sangatlah penting dalam dunia pendidikan, sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru di masa mendatang akan
Filsafat Ilmu dan Logika
Filsafat Ilmu dan Logika Modul ke: METODE-METODE FILSAFAT Fakultas Psikologi Masyhar Zainuddin, MA Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pengantar metode filsafat bukanlah metode ketergantungan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah SWT dalam bentuk yang paling sempurna. Selain memiliki bentuk fisik yang lengkap, mereka juga dibekali dengan
BAB I PENDAHULUAN. masyarakatnya harus memiliki pendidikan yang baik. Sebagaimana tujuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sangat penting dalam mewujudkan suatu negara yang maju, maka dari itu orang-orang yang ada di dalamnya baik pemerintah itu sendiri atau masyarakatnya
BAB I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas tentang : (1) Latar Belakang, (2) Rumusan
BAB I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas tentang : (1) Latar Belakang, (2) Rumusan Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Batasan Masalah, (5) Manfaat Penelitian, dan (6) Penegasan Istilah. 1.1. LATAR BELAKANG
