BAB III ASPEK-ASPEK KAWASAN MORAL
|
|
|
- Agus Tedjo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III ASPEK-ASPEK KAWASAN MORAL A. Pembagian Kawasan Moral James S. Rest (1992: 37) mengemukakan bahwa komponen-komponen utama moralitas, berdasarkan hasil penelitian mengenai moralitas pada umumnya terbagi dalam tiga kawasan, yaitu: pemikiran tentang moral, perasaan moral dan perilaku moral. Ketiga kawasan moral ini melibatkan perhatian tiga golongan, yaitu (1) Kaum behavioris yang mengkaji masalah perilaku; (2) Para pengamat perkembangan kognisi mempelajari masalah kognisi; dan (3) Kaum psikoanalisis mengkaji masalah afeksi. Mekanisme psikologis mempradugakan bahwa aspek moralitas mencakup ketiga kawasan tadi. Dari mekanisme psikologis itu selanjutnya memandang bahwa kondisionisasi dan model perilaku menentukan perilaku, konflik kognisis dan ekuilibriasi mempengaruhi berfikir, dan gerak-gerik libido serta superego menguasai perasaan (Rest, 1992: 39) B. Penalaran Moral Penalaran moral merupakan suatu proses pertimbangan moral sebelum suatu tindakan moral dilakukan seseorang. Penalaran ini terjadi ketika seseorang dihadapkan pada dilema perbuatan moral, sehingga ia diminta melakukan pemilihan keputusan moralnya berdasarkan penalaran moral itu. Dalam penalaran moral ini, mengikuti Kohlberg (1970), "Suatu prinsip moral tidak sekadar merupakan aturan bagi suatu tindakan, melainkan sekaligus merupakan alasan orang bertindak" (Liebert, 1992: 301). Dalam pandangan teori developmental kognitif maupun behavioral-kognitif, aspek penalaran moral menjadi penting untuk melihat keputusan moral seseorang itu 26
2 menunjukkan satu penalaran moral yang memadai. Menurut teori developmental-kognitif, dalam hal ini seperti dikembangkan Piaget dan Kohlberg, penalaran moral berjalan seiring dengan perkembangan usia dan tahapan-tahapan perkembangan pemikiran moral seseorang. Tahapan-tahapan kognitif dari pembahasan moral akan memperlihatkan apakah penalaran moral seseorang masih bersifat heteronom ataukah sudah sampai pada tahapan otonomi menurut alur tahapan Piaget, atau dalam tahapan Kohlberg, apakah seseorang masih pada "Tahap 1" di level pertama perkembangan pemikiran moralnya ataukah sudah melampaui pada "Tahap 5" dan "Tahap 6" bahkan tahap orientasi religius di "Tahap 7". Implikasi tahapan moral tersebut adalah bahwa justifikasi pilihan moral akan bertolak dari penalaran moral subjek itu sendiri. Penalaran moral tentu saja tidak sekadar melibatkan aktivitas intelektualitas (rasionalitas), tetapi juga melibatkan suara hati nurani sebagai upaya pertimbangan moral. Bertens (1993: 52) menyatakan bahwa hati nurani berkaitan erat dengan kenyataan bahwa manusia mempunyai kesadaran, karena hanya manusia yang mempunyai kesadaran. Suara hati nurani merupakan judgement atas pilihan moral berdasarkan pertimbangan/penalaran moral itu sendiri. Dalam wacana keagamaan (Islam), suatu perbuatan dianggap bermoral atau memiliki makna ketika ia dilakukan dengan kesadaran/akal sehat. Al-Ghazali (Heer, 1981: 167) menyatakan bahwa suatu tindakan pertama-tama akan dilihat dari ada atau tidak adanya pengetahuan terhadap tindakan yang harus dijalani atau bahkan larangan yang harus dijauhi, sebelum diputuskan untuk melakukan suatu perbuatan. Dari sini, maka penalaran (rasio/akal) dan hati nurani (qalb) menjadi aspek penting untuk menilai apakah keputusan moral atas suatu perbuatan ('amal) itu bermakna (ibadah) ataukah tidak. Orang yang tidak memiliki penalaran sehat akan tidak dikenai sanksi ketika tidak melakukan kebajikan (tuntutan moral/kewajiban agama). C. Perasaan Moral Dalam pandangan psikoanalisis, perasaan moral melibatkan orientasinya pada sentimen harga-diri. Sentimen harga-diri itu, pertama-tama ialah suatu sistem emosi 27
3 dan kecenderungan yang terorganisasi, suatu kelompok perasaan dan impuls yang berpusat di sekitar objek, yaitu ide tentang diri sendiri (Blasi, 1992: ). Perasaan moral akan terkait dengan masalah penilaian moral yang tidak dapat disebut salah dan benar, apabila menuntut pertanggungjawaban tindakan moral itu sendiri. Oleh karen aitu dianggap sebagai emotivisme. Menurut emotivisme penilaian hanya mengungkapkan perasaan seseorang atau kelompok orang. Penilaian menurut emotivisme dalam hal suara hati nurani dan penilaian moral pada umumnya tidak benar atau salah, karena tidak menuntut pertanggungjawaban sehingga tidak bersifat objektif (Magnis-Suseno, 1987: 64). Menurut david Hume, penilaian-penilaian moral itu tidak berdasarkan rasio, pertimbangan-pertimbangan objektif, melainkan semata-mata berdasarkan perasaan. Menurut Hume (Magnis-Suseno, 1997b: 127) etika adalah PERASAAN MORAL. Unsur bersama sifat dari penilaian adalah nimat dan kegunaan. Sesuatu itu kita nilai baik apabila memberikan nikmat atau bermanfaat. Jadi penilaian moral mengungkapkan perasaan setuju atau perasaan tidak setuju. Dalam hal kegunaan, Hume berpendapat bahwa rasio dapat memainkan peranan. Dengan rasio kita dapat mengetahui apa yang berguna untuk memperoleh perasaan nikmat. Menurut Hume, rasio tidak dapat mengemudikan tindakan; ia tidak dapat menggerakkan apa-apa. Yang dapat menggerakkan tindakan semata-mata perasaan. Perasaan kita tertarik kepada nikmat, maka kita terdorong untuk mengusahakan apa yang diharapkan menghasilkan nikmat dan menghindari perasaan sakit D. Perilaku Moral Perilaku moral hendaknya diartikan sebagai suatu pola perilaku di dalam kerangka konteks tertentu, dengan memperhatikan proses-proses batin yang melahirkan perilaku moral tersebut. Tanpa mengetahui proses-proses batin yang melahirkan perilaku tersebut maka kita tidak mungkin dapat menyebut perilaku tersebut sebagai "perilaku moral", tidak pula kita mengetahui bagaimana menentukan hal yang serupa dalam situasi-situasi yang lain. Perhatian terhadap konteks situasional dan proses-proses batin yang melahirkan perilaku itu bukan sekadar tuntutan kecermatan akademis, melainkan 28
4 pula sebagai hal esensial bagi pemahaman, perkiraan serta mempengaruhi perilaku moral. (Rest, 1992: 39-40). Dari proses batin itu akan tampak interaksi afeksi dan kognisi moral yang melahirkan perilaku moral tertentu. James S. Rest (1992: 41-42) menyodorkan pentingnya proses batin dilihat sebagai aspek penyebab manifestasi perilaku moral. Ia menyebutkan ada empat komponen proses pokok yang mempengaruhi lahirnya perilaku moral. Komponen pertama, fungsi utamanya untuk menafsirkan situasi, ditinjau dari sudut bagaimana perilaku seseorang mempengaruhi kesejahteraan orang lain. Interaksi kognitif-afektifnya adalah menarik inferensi tentang bagaimana orang akan terpengaruh, merasakan empatik, tidak menyenangi orang lain. Komponen kedua, fungsi utamanya adalah merumuskan bagaimana hendaknya suatu perangkat tindakan moral; mengidentifikasi moral yang ideal dalam suatu situasi tertentu. Interaksi kognitif-afektifnya adalah tampak dari baik aspek logis-abstrak maupun aspek sikap dan penilaian tercakup dalam konstruksi sistem makna moral; citra moral tersusun atas unsur-unsur kognitif maupun afektif. Komponen ketiga, fungsi utamanya adalah menyeleksi berbagai hasil penilaian tentang citra moral, mana yang patut dilaksanakan; memutuskan apakah mencoba untuk memenuhi citra moral atau seseorang ataukah tidak. Interaksi kognitif-afektifnya adalah dengan memperhitungkan kegunaan secara relatif dari berbagai tujuan; suasana perasaan yang mempengaruhi pandangan seseorang; perubahan persepsi untuk membela diri; empati yang mempengaruhi suatu keputusan, pemahaman sosial yang memotivasi pemilihan suatu tujuan. Komponen keempat, fungsi utamanya adalah untuk memutuskan dan mengimplementasikan apa yang hendak dilakukan. Interaksi kognitif-afektifnya adalah mempertahankan tugas sebagaimana dipengaruhi oleh transformasi tujuan atas dasar kognisi. E. Tindakan Moral Tindakan moral memiliki tiga tipe, yaitu: 29
5 1) tipe rasionalis, yaitu seorang etis murni yang menurut Kleinberger diwakili oleh Immanuel Kant dan Lawrence Kohlberg. Tipe ini memandang penalaran moral sebagai suatu keharusan serta mencukupi bagi lahirnya suatu tindakan moral. 2) Tipe naturalistik, yaitu seorang etis yang bertanggung jawab yang menurut Kleinberger diwakili oleh Aristoteles dan John Dewey. Tipe ini berpandangan bahwa moral itu merupakan suatau keharusan, akan tetapi tidak mencukupi untuk melahirkan suatu tindakan moral. 3) Tipe behavioristik-sosial. Dalam pandangan tipe ini moralitas dapat ditentukan tanpa merujuk kepada pola pikir sang pelaku. Tokoh etisi tipe ini antara lain Aronfreed, Bandura, Eysenck, Havighurst dan Taba (Kohlberg dan Candee, 1992: 88-89). Tindakan moral dapat diartikan sebagai tindakan yang sejalan atau konsisten dengan pertimbangan moral, bagaimanapun tindakan itu adanya. Kohlberg dan Candee (1992) menyebut ide konsistensi tentang tindakan moral ini sebagai "pertanggung-jawaban moral". Jenis pertimbangan moral sebagai pusat tindakan moral: 1) Menurut W.K. Franken (1963), pertimbangan yang deontis ialah pertimbangan yang menyatukan atau mengharuskan bahwa sesuatu tindakan itu benar. Ciri khas pertimbangan deontis ialah pertimbangan tersebut dijabarkan dari suatu prinsip. Contoh-contoh pertimbanagn deontis yaitu penerapan prinsip keadilan menurut Kant adalah imperatif-kategori, atau prinsip utilitas dari John Stuart Mill. 2) Pertimbangan atas dasar tanggung jawab mencakup suatu unsur "aretaic", yaitu suatu pertimbangan tentang apa yang menurut moral itu baik, buruk, dapat dipertanggung-jawabkan atau patut dicaci-maki. Menurut D. Galon (1982), pertimbangan deontis dianggap sebagai pertimbangan tentang kebenaran pada peringkat pertama, sedang atas dasar tanggung jawab adalah affirmasi peringkat kedua dari kemauan untuk bertindak selaras dengan pertimbangan tersebut. Pertimbanagn deontis merupakan deduksi proporsional dari usatu tahapan atau prinsip tertentu, sedang pertimbanagn atas dasar tanggung jawab merupakan afirmasi tentang kemauan yang memilih (Kohlberg dan Cendee, 1992: 92-93). 30
6 Pertimbangan moral yang bersifat klasikal, menurut Kohlberg dan Candee (1992) berkorelasi dengan atau meramalkan tindakan moral dalam situasi wajar maupun eksperimental. Di bagian lain, J. S. Lemming mengkaji kaitan pertimbangan moral dengan tindakan moral, yaitu dengan metode "praktis" yang dibedakan dari pengkajian pertimbangan moral secara "klasik". Menurut Lemming, dilema yang baku melahirkan pertimbangan moral secara klasik karena dua alasan penting, yaitu: 1) pertimbangan moral yang bersifat klasik disebabkan oleh tipe dilemanya -- yang lebih bersifat mewakili kehidupan atau life space, yaitu dilema-dilema yang lebih "nyata muncul dalam kehidupan subjek (responden) yang bersangkutan. 2) Pertimbangan moral dikatakan klasik karena hanya menunjukkan pertimbangan moral yang deontis atau preskriptif dan pertimbangan deontis belaka (Higgins, Power dan Kohlberg, 1992: ). Selain itu, tindakan moral juga didukung oleh "suasana moral" yang merupakan interaksi antara kemampuan seseorang dengan peristiwa moral yang terdapat dalam situasinya" (Higgins, Power dan Kohlberg, 1992: 133). 31
BAB I PENDAHULUAN. dalam taraf kecil, maka hampir dipastikan kedepan bangsa ini akan mengalami
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini di Indonesia terjadi beberapa permasalahan dalam berbagai bidang. Beberapa kasus terjadi di bidang hukum, politik dan tata pemerintahan. Dalam ranah
otaknya pasti berbeda bila dibandingkan dengan otak orang dewasa. Tetapi esensi otak manusia tetap ada pada otak bayi itu, sehingga tidak pernah ada
KESIMPULAN UMUM 303 Setelah pembahasan dengan menggunakan metode tiga telaah, deskriptif-konseptual-normatif, pada bagian akhir ini, akan disampaikan kesimpulan akhir. Tujuannya adalah untuk menyajikan
BAGIAN 2 TELAAH KONSEPTUAL
BAGIAN 2 TELAAH KONSEPTUAL 121 Telaah deskriptif sudah menjelaskan bagaimana persepsi etis konkret dari para responden tentang aborsi. Dalam proses pembentukan persepsi tersebut terlibat beberapa faktor
Oleh: DUSKI SAMAD. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol
Oleh: DUSKI SAMAD Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serentak yang sudah berjalan proses saat ini adalah sarana demokrasi untuk melahirkan pemimpin
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Melalui pendidikan, manusia mendapatkan pembelajaran secara kognitif, afektif dan psikomotor yang kemudian
Business Ethic & Good Governance
Modul ke: Business Ethic & Good Governance Philosophical Ethics and Business Fakultas PASCA Dr. Antonius Dieben Robinson Manurung, MSi Program Studi MANAGEMENT www.mercubuana.ac.id Utilitarianisme Dikembangkan
Pembahasan 1. Norma 2. Etika 3. Moral 4. Pengertian Etika Profesi 5. Fungsi Kode Etik Profesi
Pertemuan 1 Pembahasan 1. Norma 2. Etika 3. Moral 4. Pengertian Etika Profesi 5. Fungsi Kode Etik Profesi 1.1. Norma Norma (dalam sosiologi) adalah seluruh kaidah dan peraturan yang diterapkan melalui
SELAMAT MEMBACA, MEMPELAJARI DAN MEMAHAMI MATERI ELEARNING RENTANG PERKEMBANGAN MANUSIA I
SELAMAT MEMBACA, MEMPELAJARI DAN MEMAHAMI MATERI ELEARNING RENTANG PERKEMBANGAN MANUSIA I PERKEMBANGAN MORAL PADA MASA ANAK oleh: Triana Noor Edwina D.S Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta
BAB I PENDAHULUAN. remaja yang berkisar antara tahun. Hurlock (1980: 206) mengemukakan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Usia sekolah Menengah pertama pada umumnya berada pada rentang usia remaja yang berkisar antara 12-15 tahun. Hurlock (1980: 206) mengemukakan bahwa secara
BAB I PENDAHULUAN. Individu yang memasuki sekolah menengah pertama pada umumnya berada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Individu yang memasuki sekolah menengah pertama pada umumnya berada pada rentang usia remaja, yaitu berkisar antara 12-15 tahun (Lytha, 2009:16). Hurlock (1980:10) mengemukakan
BAB I PENDAHULUAN. Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk sosial,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang saling membutuhkan dan saling berinteraksi. Dalam interaksi antar manusia
BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Penelitian ini pada akhirnya menemukan beberapa jawaban atas persoalan yang ditulis dalam rumusan masalah. Jawaban tersebut dapat disimpulkan dalam kalimat-kalimat sebagai
BAGIAN 3 TELAAH NORMATIF
BAGIAN 3 TELAAH NORMATIF 229 Pada bagian normatif ini, pertama-tama akan dijelaskan tentang jenjang pemahaman moral dari para responden. Penjelasan ini adalah hasil analisis atas data penelitian dengan
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep adalah gambaran mental dari suatu objek, proses, atau apapun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. disebut dengan tata tertib. Siswa dituntut untuk menaati tata tertib sekolah di
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah adalah sebagai lembaga pendidikan mempunyai kebijakan tertentu yang dituangkan dalam bentuk aturan. Salah satunya adalah aturan sekolah yang disebut
BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif
36 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan aspek moral tokoh utama dalam novel Alif karya Taufiqurrahman
MEMAHAMI PERKEMBANGAN NILAI MORAL KEAGAMAAN PADA ANAK
Artikel MEMAHAMI PERKEMBANGAN NILAI MORAL KEAGAMAAN PADA ANAK Oleh: Drs. Mardiya Masalah moral dan agama merupakan salah satu aspek penting yang perlu di tumbuh kembangkan dalam diri anak. Berhasil tidaknya
BAB I P E N D A H U L U A N. Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai tanggungjawab dalam
BAB I P E N D A H U L U A N A. Latar Belakang Masalah Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai tanggungjawab dalam mengembangkan kemampuan anak secara optimal. Kemampuan yang harus dikembangkan bukan
DASAR-DASAR PENDIDIKAN MORAL (PKN 206)
DASAR-DASAR PENDIDIKAN MORAL (PKN 206) Disajikan oleh: SAMSURI, M.Ag. e-mail: [email protected] JURUSAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DAN HUKUM FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
BAB III METODE PENELITIAN. A. Pendekatan, Metode dan Teknik Pengumpulan Data
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan, Metode dan Teknik Pengumpulan Data 1. Pendekatan dan Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan aspek penting bagi perkembangan sumber daya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan aspek penting bagi perkembangan sumber daya manusia, karena pendidikan merupakan wahana atau salah satu instrumen yang digunakan bukan
Bab 2. Landasan Teori. Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan
Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Penokohan Penokohan merupakan satu bagian penting dalam membangun sebuah cerita. Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan untuk
Selamat membaca, mempelajari dan memahami materi Rentang Perkembangan Manusia II
Selamat membaca, mempelajari dan memahami materi Rentang Perkembangan Manusia II PERKEMBANGAN MORAL PADA REMAJA oleh: Triana Noor Edwina D.S, M.Si Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Pertemuan 2 ETIKA PROFESI
Pertemuan 2 ETIKA PROFESI Pembahasan 1. Pengertian Profesi 2. Etika Profesi 3. Etika Komputer 4. Profesional & Profesionalisme 5. Prinsip-prinsip yang menjadi tanggung jawab seorang Profesional I. Pengertian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Sejauh ini ada tiga macam konstruktivisme seperti yang diungkapkan oleh Suparno : pertama, konstruktivisme radikal; kedua, realisme hipotesis; ketiga, konstruktivisme
PENGENALAN PANDANGAN ORGANISASI
MODUL PERKULIAHAN PENGENALAN PANDANGAN ORGANISASI Pokok Bahasan 1. Alternatif Pandangan Organisasi 2. Perkembangan Teori Dalam Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Ilmu Komunikasi Public
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dikemukakan oleh Pieget (1932) dalam bukunya, The Moral Judgement of. objek dan kejadian yang ada di sekitar lingkungannya.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Teori Moral Kognitif Teori perkembangan moral (moral development), pada awalnya dikemukakan oleh Pieget (1932) dalam bukunya, The Moral Judgement of a Child
INTERAKSI DALAM KELUARGA SEBAGAI PROSES UTAMA PENGEMBANGAN MORAL ANAK Olah: Nilawati Tadjuddin
INTERAKSI DALAM KELUARGA SEBAGAI PROSES UTAMA PENGEMBANGAN MORAL ANAK Olah: Nilawati Tadjuddin 1. PENDAHULUAN Secara umum dikatakan bahwa moralitas menyangkut baik/ buruk atau benar/ salah. Makalah yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Matematika sebagai salah satu mata pelajaran dasar pada setiap jenjang pendidikan formal, mempunyai peranan yang sangat penting di dalam pendidikan. Selain
MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN. Imam Gunawan
MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN Imam Gunawan Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat. Filsafat beraneka ragam alirannya, sehingga dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran,
2015 PROGRAM BIMBINGAN PRIBADI BERDASARKAN PROFIL
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dikemukakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi
BAB V PENUTUP. A. Simpulan
BAB V PENUTUP A. Simpulan Dari keseluruhan kajian mengenai pemikiran Kiai Ṣāliḥ tentang etika belajar pada bab-bab sebelumnya, diperoleh beberapa kesimpulan penting, terutama mengenai konstruksi pemikiran
Tujuan pembangunan suatu negara adalah untuk pemenuhan kebutuhan masyarakatnya supaya mereka dapat hidup baik dan sejahtera. Untuk itu pembangunan
PENDAHULUAN 1 Tujuan pembangunan suatu negara adalah untuk pemenuhan kebutuhan masyarakatnya supaya mereka dapat hidup baik dan sejahtera. Untuk itu pembangunan harus mencakup dua aspek yaitu aspek fisik
Pembahasan. 1. Pengertian Profesi 2. Etika Profesi 3. Etika Komputer 4. Profesional & Profesionalisme. seorang Profesional
Pertemuan 2 Pembahasan 1. Pengertian Profesi 2. Etika Profesi 3. Etika Komputer 4. Profesional & Profesionalisme 5. Prinsip-prinsip yang menjadi tanggung jawab seorang Profesional I. Pengertian Profesi
ETIKA BISNIS (Teori Etika )
ETIKA BISNIS (Teori Etika ) Disusun oleh Kelompok I : 1. Putu Sulastra 13810331180412 2. Kadek Suarjana 13810331180415 3. Nengah Mertapa 13810331180418 4. Pande Nyoman Kartika 13810331180426 Kelas : Manajemen
KODE ETIK PSIKOLOGI. Teori Etika, Etika Deskriptif dan Etika Normatif. Mistety Oktaviana, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI
Modul ke: KODE ETIK PSIKOLOGI Teori Etika, Etika Deskriptif dan Etika Normatif Fakultas PSIKOLOGI Mistety Oktaviana, M.Psi., Psikolog Program Studi PSIKOLOGI www.mercubuana.ac.id Questions 1. Apa yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA
9 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Etika Etika merupakan suatu prinsip moral dan perbuatan yang menjadi landasan bertindak seseorang sehingga apa yang dilakukannya dipandang oleh masyarakat
BAB III METODELOGI PENELITIAN. Dalam melakukan penelitian, seorang peneliti membutuhkan sistematika
BAB III METODELOGI PENELITIAN Dalam melakukan penelitian, seorang peneliti membutuhkan sistematika yang jelas tentang langkah-langkah yang akan diambil sehubungan dengan tujuan penelitian yang ingin dicapainya.
BAB III METODE PENELITIAN. Dalam bab ini disajikan uraian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
70 BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini disajikan uraian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan metode penelitian. Metode yang dimaksud adalah berkaitan dengan pendekatan lokasi dan subjek penelitian,
BAB IV PARADIGMA PERKEMBANGAN MORAL
BAB IV PARADIGMA PERKEMBANGAN MORAL Kata paradigma secara etimologis diartikan sebagai pola, model, kerangka. Meminjam Thomas S. Kuhn (1989:187), paradigma merupakan keseluruhan konstelasi kepercayaan,
BAB II TINJAUAN TEORITIS. Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan
BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1. Pengetahuan Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia dan kehidupannya
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS ILMU SOSIAL RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER Program Studi : Pendidikan Kewarganegaraan Nama Mata Kuliah : DASAR-DASAR
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Salah satu tumpuan serta puncak keagungan bangsa adalah berupa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu tumpuan serta puncak keagungan bangsa adalah berupa karya sastra lama. Nilai-nilai budaya suatu bangsa yang dalam kurun waktu tertentu sangat dapat
DISUSUN OLEH: DEFI DESIANA ( ) MOHAMAD RISTYO NUGROHO ( ) NOVI TRISNA ANGGRAYNI ( ) YOSSY MAHALA CHRISNA S
DISUSUN OLEH: DEFI DESIANA (14144600192) MOHAMAD RISTYO NUGROHO (14144600204) NOVI TRISNA ANGGRAYNI (14144600199) YOSSY MAHALA CHRISNA S (14144600262) ZAFITRIA SYAHADATIN (14144600195) Rekonstruksionalisme
Wulansari Budiastuti, S.T., M.Si.
Modul ke: Fakultas FIKOM Wulansari Budiastuti, S.T., M.Si. Program Studi Periklanan dan Komunikasi Pemasaran. www.mercubuana.ac.id Materi Pembelajaran Definisi dan Manfaat Psikologi Komunikasi Karakteristik
Pertemuan 2. Pembahasan. 1. Pengertian Etika Profesi 2. Kode Etik Profesi 3. Peran Etika dalam Perkembangan IPTEK
Pertemuan 2 Pembahasan 1. Pengertian Etika Profesi 2. Kode Etik Profesi 3. Peran Etika dalam Perkembangan IPTEK 1 2.1. Pengertian Etika Profesi Bartens (1995) menyatakan, kode etik profesi merupakan norma
Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg
Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg 1927-1987 Ada tiga eve perkemba ga mora : Leve I: Preco ve tio a Mora ity Stage 1: Pu ishme t a d obedie ce orie tatio Tahap i i disebut juga mora itas hetero
HAND OUT 9, 10, 11 BERBAGAI ALIRAN DAN TEORI TENTANG ETIKA
HAND OUT 9, 10, 11 BERBAGAI ALIRAN DAN TEORI TENTANG ETIKA 2. Kaitan Nilai, Moral dan Etika A. Pengertian 1. Akhlaq berasal dari Bahasa Arab, jama Khuluqun (Budi Pekerti, Perangai, Tingkah Laku Atau tabiat)
KONTRAK KULIAH ETIKA PROFESI D O S E N : M A I M U N A H, S S I, M K O M
KONTRAK KULIAH ETIKA PROFESI D O S E N : M A I M U N A H, S S I, M K O M KULIAH 1. Kuliah selama 2 x 50 menit 2. Keterlambatan masuk kuliah maksimal 30 menit dari jam masuk kuliah 3. Selama kuliah tertib
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Teori Keagenan Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan bahwa teori keagenan adalah suatu konsep yang menjelaskan hubungan antara atasan dan bawahan. Menurut
Makna Pancasila Sebagai Sistem Etika
Modul ke: Makna Pancasila Sebagai Sistem Etika Fakultas TEKNIK Yayah Salamah, SPd. MSi. Program Studi Arsitektur www.mercubuana.ac.id Makna Pancasila Sebagai Sistem Etika Dan Karakter Bangsa Pancasila
BAB I PENDAHULUAN. menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik dan psikisnya. Karena dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa.pada masa remaja terjadi pertumbuhan untuk mencapai kematangan yang mencakup
II. KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS Perkembangan Moral Kognitif Akuntan Dan Permasalahan Akuntansinya Saat ini profesi akuntan menjadi sorotan tajam
II. KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS Perkembangan Moral Kognitif Akuntan Dan Permasalahan Akuntansinya Saat ini profesi akuntan menjadi sorotan tajam karena munculnya malpraktik akuntansi yang merugikan
PANCASILA sebagai SISTEM ETIKA. Modul ke: 09TEKNIK. Fakultas. Yayah Salamah, SPd. MSi. Program Studi Arsitektur
Modul ke: PANCASILA sebagai SISTEM ETIKA Fakultas 09TEKNIK Yayah Salamah, SPd. MSi. Program Studi Arsitektur Pokok Bahasan Pendahuluan A. Pengertian Etika B. Aliran-aliran Etika 1) Etika Deontologi 2)
Filsafat Ilmu dan Logika
Filsafat Ilmu dan Logika Modul ke: METODE-METODE FILSAFAT Fakultas Psikologi Masyhar Zainuddin, MA Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pengantar metode filsafat bukanlah metode ketergantungan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam suatu organisasi profesi setiap anggota. komitmen profesi. Harsanti (2001) menyatakan bahwa komitmen dapat dijadikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan teori 2.1.1 Komitmen Profesi Akuntan Publik Dalam suatu organisasi profesi setiap anggota dituntut untuk memiliki komitmen profesi. Harsanti (2001) menyatakan bahwa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran matematika di sekolah dasar (SD) merupakan salahsatu kajian yang selalu menarik untuk dikemukakan karena adanya perbedaan karakteristik khususnya
BAB I PENDAHULUAN. banyak dan secara terus menerus berkembang untuk selalu meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia, perusahaan perusahaan multinasional saat ini semakin banyak dan secara terus menerus berkembang untuk selalu meningkatkan kinerjanya demi persaingan global.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sikap (Attitude) 2.1.1 Definisi Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Berdasarkan batasan tersebut,
BAB II DASAR PEMIKIRAN.
BAB II DASAR PEMIKIRAN 2.1. Definisi Anak www.sumberdalem.com Setiap orang pernah merasakan masa anak-anak, dimana pada masa itulah rasa ingin tahu yang tinggi muncul dan berkembang. Untuk menjadi pribadi
BAB III METODE PENELITIAN. menekankan analisisnya dalam bentuk data numerikal (Sumarsono, Kedua variabel tersebut seabagai berikut :
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah salah satu langkah yang penting dalam melakukan penelitian ilmiah. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan
BAB V PENUTUP. Dari rangkaian pembahasan yang telah dipaparkan di atas,
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari rangkaian pembahasan yang telah dipaparkan di atas, maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Bidayat al-hidayah
ETIKA ADMINISTRASI HENDRA WIJAYANTO
ETIKA ADMINISTRASI HENDRA WIJAYANTO Beberapa Definisi Etika, dari bahasa Yunani ethos, artinya: kebiasaan atau watak Moral, dari bahasa Latin mos (jamak: mores), artinya: cara hidup atau kebiasaan /adat.
Pertemuan 1. Pembahasan. 1. Norma 2. Budaya 3. Etika 4. Moral 5. Struktur Etika
Pertemuan 1 Pembahasan 1. Norma 2. Budaya 3. Etika 4. Moral 5. Struktur Etika 1 1.1. Norma Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Manusia mempunyai berbagai macam kebutuhan diantaranya adalah kebutuhan untuk
BAB I PENDAHULUAN. Kualitas sumber daya manusia merupakan komponen yang sangat utama
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas sumber daya manusia merupakan komponen yang sangat utama dibutuhkan dalam pengembangan bangsa, karena dapat menjadi pendorong maupun pula menjadi penghambat
BAB I PENDAHULUAN. menumbuhkembangkan kemampuan dan pribadi siswa yang sejalan dengan tuntutan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika adalah salah satu ilmu dasar yang sangat berperan penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu matematika dipelajari pada semua
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Konsep dibutuhkan dalam penelitian sebab di dalamnya akan ditemui aspekaspek
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep dibutuhkan dalam penelitian sebab di dalamnya akan ditemui aspekaspek yang menyangkut masalah yang akan diteliti sehingga ruang lingkup
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Penelitian Variabel X (Sikap orang tua )
3 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.1 Deskripsi Hasil Penelitian.1.1 Deskripsi Hasil Penelitian Variabel X (Sikap orang tua ) Dalam penelitian ini, yang skor data variabel X adalah skor data tentang
METODE PENELITIAN. Penelitian dan Ilmu Pengetahuan. MR Alfarabi Istiqlal, SP MSi
METODE PENELITIAN Penelitian dan Ilmu Pengetahuan MR Alfarabi Istiqlal, SP MSi 2 Metode Metode adalah setiap prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan akhir. Cara yang teratur dan terpikir baik untuk
Ilmu Perkembangan Anak Universitas Negeri Yogyakarta. Oleh : Yulia Ayriza
Ilmu Perkembangan Anak Universitas Negeri Yogyakarta Oleh : Yulia Ayriza TUMBUH KEMBANG ANAK PERTUMBUHAN Berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran organ individu dan hal ini dapat
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Dengan demikian, perilaku yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Motivasi Berprestasi 2.1.1 Pengertian Motivasi Motivasi (motivation) melibatkan proses yang memberikan energi, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Dengan demikian, perilaku
BAB I PENDAHULUAN. dan mempromosikan ide politik dalam tulisan-tulisan etika dan politik. Dia yakin
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Aristoteles merupakan salah seorang filsuf klasik yang mengembangkan dan mempromosikan ide politik dalam tulisan-tulisan etika dan politik. Dia yakin bahwa politik
PERKEMBANGAN PERILAKU MORAL
TEORI ETIKA PERKEMBANGAN PERILAKU MORAL Beberapa konsep yang memerlukan penjelasan, antara lain: perilaku moral (moral behavior), perilaku tidak bermoral (immoral behavior), perilaku di luar kesadaran
BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Matematika di Sekolah Dasar. termasuk salah satu disiplin ilmu yang memiliki kajian sangat luas.
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar 1. Pengertian Matematika di Sekolah Dasar Pengertian matematika pada dasarnya tidak dapat ditentukan secara pasti, hal ini disebabkan karena
I. PENDAHULUAN. Secara hakiki, manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Secara hakiki, manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain untuk dapat mempertahankan hidupnya. Proses kehidupan
BAB II KAJIAN TEORI. 2010:523) menyatakan bahwa self efficacy mempengaruhi pilihan aktivitas
BAB II KAJIAN TEORI A. Self Efficacy 1. Pengertian Self Efficacy Sejarah self efficacy pertama kali diperkenalkan oleh Bandura dalam pembelajaran sosial, dimana self efficacy merupakan turunan dari teori
MODUL 8 PANCASILA SEBAGAI ETIKA
MODUL 8 PANCASILA SEBAGAI ETIKA (Penyusun: ) Standar Kompetensi : Pancasila sebagai Sistem Etika Indikator: Mampu melakukan kajian dengan proses kajian pemanfaatan literatur yang dapat menghasilkan kajian
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. SMK Wira Maritim Surabaya adalah sekolah swasta di Surabaya
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN 1. Deskripsi Subjek SMK Wira Maritim Surabaya adalah sekolah swasta di Surabaya barat, tepatnya di Jalan Manukan Wasono. SMK ini berjumlah dengan
Seorang pelaku profesi harus mempunyai sifat : 1. Menguasai ilmu secara mendalam di bidangnya 2. Mampu mengkonversikan ilmu menjadi keterampilan 3.
Pertemuan 2 Pengertian Profesi Bekerja merupakan kegiatan pisik dan pikir yang terintegrasi. Pekerjaan dapat dibedakan menurut kemampuan (fisik dan intelektual), kelangsungan (sementara dan terus menerus),
Pertemuan 1 TINJAUAN UMUM
Pertemuan 1 TINJAUAN UMUM Pembahasan 1. Pengertian Etika 2. Etika,Moral dan Norma Moral 3. Etika Yang Berkembang di Masyarakat Kontrak Perkuliahan Tugas untuk nilai UAS berupa pembuatan Blog/web Konten
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan cepat dan mudah dari berbagai sumber dan
BAB III METODE PENELITIAN. Subjek dalam penelitian ini adalah roman La Consolantekarya Anna
BAB III METODE PENELITIAN A. Subjek dan Objek Penelitian Subjek dalam penelitian adalah tempat dimana data didapatkan. Subjek dalam penelitian ini adalah roman La Consolantekarya Anna Gavalda yang diterbitkan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia efektif adalah akibatnya atau pengaruhnya.
9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia efektif adalah akibatnya atau pengaruhnya. Efektivitas merupakan standar atau taraf tercapainya suatu
I. PENDAHULUAN. demokrasi pada negara yang menganut paham demokrasi seperti Indonesia.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemilihan umum (pemilu) menjadi bagian terpenting dalam penyelenggaraan demokrasi pada negara yang menganut paham demokrasi seperti Indonesia. Pemilu sering diartikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Identity Achievement. (Kartono dan Gulo, 2003). Panuju dan Umami (2005) menjelaskan bahwa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Identity Achievement 1. Definisi Identity Achievement Identitas merupakan prinsip kesatuan yang membedakan diri seseorang dengan orang lain. Individu harus memutuskan siapakah
PSIKOLOGI KOMUNIKASI. Ruang Lingkup Psikologi. Komunikasi. Oni Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom. Komunikasi. Modul ke: Fakultas Ilmu
PSIKOLOGI KOMUNIKASI Modul ke: 01 Fakultas Ilmu Komunikasi Ruang Lingkup Psikologi Komunikasi Oni Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom Program Studi Public Relation www.mercubuana.ac.id Psychology: * The science
BAB I PENDAHULUAN. serta ketrampilan yang diperlukan oleh setiap orang. Dirumuskan dalam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan manusia seutuhnya bertujuan agar individu dapat mengekspresikan dan mengaktualisasi diri dengan mengembangkan secara optimal dimensi-dimensi kepribadian
BAB I PENDAHULUAN. Pada bagian pendahuluan ini berisi latar belakang masalah penelitian,
BAB I PENDAHULUAN Pada bagian pendahuluan ini berisi latar belakang masalah penelitian, batasan masalah, dan rumusan masalah. Selanjutnya, dipaparkan pula tujuan dan manfaat penelitian. Pada bagian berikutnya
KOMPONEN KARAKTER (Thomas Lickona) Oleh: Kuncahyono Pasca UM
0 KOMPONEN KARAKTER (Thomas Lickona) Oleh: Kuncahyono Pasca UM (Kompasiana, 2010) Melihat kondisi bangsa saat ini dimana banyak terjadi penyimpangan moral di kalangan remaja dan generasi muda, maka perlu
I. PENDAHULUAN. Sastra merupakan tulisan yang bernilai estetik dengan kehidupan manusia sebagai
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sastra merupakan tulisan yang bernilai estetik dengan kehidupan manusia sebagai objeknya dan bahasa sebagai mediumnya. Menurut Esten (2000: 9), sastra merupakan pengungkapan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan investasi yang berharga bagi peradaban umat manusia, pada saat yang bersamaan pendidikan dan penalaran moral juga merupakan pilar yang sangat
