HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Ari Tanuwidjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 70 HASIL DAN PEMBAHASAN Dinamika Pertumbuhan Penduduk dan Ekonomi Pulau Jawa serta Share-nya dalam Konteks Nasional dari Waktu ke Waktu Dinamika Pertumbuhan Penduduk Pulau Jawa Pertumbuhan penduduk dianggap sebagai faktor yang berperan penting dalam proses pembangunan. Dari data yang berhasil dihimpun oleh Biro Pusat Statistik (BPS) dapat diketahui bahwa penduduk yang menghuni Pulau Jawa terus meningkat dari waktu ke waktu. Tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari tahun 1930 hingga kini, jumlah penduduk di Pulau Jawa terus bertambah, yaitu berjumlah sekitar 41.7 juta jiwa (tahun 1930) menjadi juta jiwa (tahun 2008). Dari angka tersebut, dapat diketahui bahwa dalam kurun waktu kurang dari delapan dekade, jumlah penduduk di Pulau Jawa meningkat lebih dari tiga kali lipat. Dari Tabel 5.1 juga dapat dilihat bahwa lebih dari separuh jumlah penduduk nasional mendiami Pulau Jawa, meskipun besarnya persentase jumlah penduduk Pulau Jawa terhadap total penduduk nasional dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Berdasarkan data yang tercantum pada Tabel 5.1, dapat diketahui bahwa besarnya proporsi jumlah penduduk Pulau Jawa tahun 2008 mencapai sekitar 58.8% penduduk nasional. Besarnya persentase tersebut menunjukkan betapa kuatnya daya tarik Pulau Jawa sehingga sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di wilayah yang luasnya tidak lebih dari 7% luas daratan nusantara tersebut. Adapun dinamika pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa, luar Jawa dan nasional dari tahun 1930 hingga 2008 serta proporsinya secara grafis disajikan pada Gambar 5.1 (a) dan (b). Tabel 5.1. Jumlah Penduduk di Pulau Jawa, Luar Jawa dan Nasional Tahun (juta jiwa) Pulau Jumlah Penduduk (juta jiwa) Jawa+Madura Luar Jawa Nasional % Penduduk Jawa thd Nasional % Penduduk Luar Jawa thd Nasional Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus), BPS.
2 71 Populasi Penduduk (juta jiwa) 250 Jaw a+madura Luar Jaw a 200 Nasional Tahun (a) Proporsi (% ) 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Luar Jaw a Jaw a Tahun (b) Gambar 5.1. (a) Dinamika Pertumbuhan Jumlah Penduduk di Pulau Jawa, Luar Jawa dan Nasional Tahun (juta jiwa); (b) Proporsi Jumlah Penduduk di Pulau Jawa dan Luar Jawa terhadap Nasional Tahun Pulau Jawa mengalami peningkatan laju pertumbuhan penduduk hingga tahun 1980 (sebagaimana disajikan pada Tabel 5.2 di bawah ini). Dari tahun 1980-an hingga tahun 2000 besarnya laju pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa terus mengalami penurunan. Fenomena menurunnya laju pertumbuhan penduduk dalam periode waktu tersebut ternyata bukan hanya dialami oleh Pulau Jawa, tetapi terjadi juga di luar Jawa. Namun sejak tahun 2000 laju pertumbuhan penduduk baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa mengalami peningkatan kembali, dimana besarnya laju pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa cenderung mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan penduduk di luar Jawa maupun laju pertumbuhan penduduk nasional. Data trend laju pertumbuhan penduduk di Jawa, luar Jawa dan nasional disajikan secara grafis pada Gambar 5.2. Tabel 5.2. Laju Pertumbuhan Penduduk di Pulau Jawa, Luar Jawa dan Nasional Tahun Pulau Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun (Juta Jiwa) Jawa+Madura Luar Jawa Nasional Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus), BPS (diolah).
3 72 Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun (% ) Jaw a+madura Luar Jaw a Nasional Tahun Gambar 5.2. Dinamika Laju Pertumbuhan Penduduk di Pulau Jawa, Luar Jawa dan Nasional Tahun Dinamika Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan per Kapita di Pulau Jawa Kuatnya daya tarik Pulau Jawa ternyata juga dibuktikan dari peranannya yang sangat signifikan terutama dilihat dari besarnya kontribusi PDRB yang disumbangkan terhadap total PDRB nasional. Dari grafik yang ditampilkan pada Gambar 5.3, dapat diketahui bahwa pada tahun 2000 hingga 2007, Pulau Jawa secara konsisten menyumbangkan sekitar 60% dari total PDRB nasional, sedangkan sisanya (sekitar 40%) merupakan kontribusi PDRB dari luar Jawa (yang luas wilayahnya meliputi 93% luas daratan nusantara) P e rs e n ta s e (% ) Jaw a Luar Jaw a Tahun Gambar 5.3. Persentase PDRB Pulau Jawa dan Luar Jawa terhadap PDRB Nasional Tahun (dalam %). Pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah secara sederhana dapat dilihat dari laju pertambahan nilai Gross Domestic Products (GDP) atau di Indonesia sering dikenal dengan istilah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Berdasarkan data BPS yang ditampilkan secara grafis pada Gambar 5.4, dapat dilihat bahwa besarnya PDRB di Pulau Jawa terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dimana nilainya selalu lebih besar daripada PDRB di luar Jawa.
4 E+09 PDRB Tanpa Migas Harga Konstan 2000 (juta Rp) 1.80E E E E E E E E+08 Jaw a Luar Jaw a 2.00E+08 Nasional Tahun 0.00E Gambar 5.4. Dinamika Pertumbuhan PDRB di Pulau Jawa, Luar Jawa dan Nasional Tahun (juta rupiah). 9,000,000 PDRB p er Kapita T anp a Mig as Harg a Konstan 2000 (Rupiah /kapita) 8,000,000 7,000,000 6,000,000 5,000,000 4,000,000 3,000,000 2,000,000 1,000,000 Jaw a Luar Jaw a Nasional Tahun Gambar 5.5. Dinamika Peningkatan PDRB per Kapita di Pulau Jawa, Luar Jawa dan Nasional Tahun Ditinjau dari besarnya nilai PDRB per kapita seperti yang ditampilkan secara grafis pada Gambar 5.5, dapat diketahui bahwa PDRB per kapita di Pulau Jawa lebih tinggi dari PDRB per kapita di luar Jawa maupun nasional. Dari fakta tersebut dapat dilihat bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat di Pulau Jawa relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di luar Jawa yang notabene PDRB per kapita-nya masih lebih rendah dari rata-rata PDRB per kapita nasional. Dari semua uraian di atas dapat diketahui bahwa Pulau Jawa memegang peranan yang sangat signifikan dalam konstelasi pembangunan nasional. Kuatnya magnet Pulau Jawa yang tercermin dari kondisi geobiofisik wilayahnya yang sangat subur, kondisi sosial-budaya yang relatif berkembang, tingkat perekonomian dan iklim usaha yang kondusif, membuat pulau ini berkembang dengan munculnya pusat-pusat pertumbuhan. Hal ini senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Anwar (2004) yang menyatakan bahwa pendekatan
5 74 pembangunan nasional cenderung bersifat Bias Jawa (Java Bias) dan Bias Perkotaan (Urban Bias). Analisis Tingkat Perkembangan Wilayah Masing-masing Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dari Waktu ke Waktu Perkembangan wilayah merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan pembangunan. Beberapa alasan pentingnya aspek tersebut dalam pembangunan antara lain adalah untuk memacu perkembangan sosial-ekonomi dan mengurangi segala bentuk disparitas pembangunan antar wilayah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk mengetahui tingkat perkembangan suatu wilayah, dapat dilakukan dengan melihat pencapaian hasil pembangunan melalui indikator-indikator kinerja di bidang sosial-ekonomi maupun bidang-bidang lain dengan menggunakan berbagai metode analisis. Dalam penelitian ini, tingkat perkembangan wilayah dianalisis dengan dua metode, yaitu indeks diversitas entropy untuk melihat perkembangan atau keberagaman sektor-sektor perekonomiannya, serta tipologi Klassen untuk mengelompokkan wilayah berdasarkan tingkat perkembangan ekonominya, khususnya dilihat dari kriteria rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan besarnya pendapatan per kapita di masing-masing wilayah. Perkembangan Aktivitas Perekonomian Wilayah di Masing-masing Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Perkembangan aktivitas perekonomian di suatu wilayah dapat dianalisis dengan menghitung indeks diversitasnya menggunakan konsep entropy. Adapun prinsip dari indeks diversitas entropy ini adalah semakin beragam aktivitas atau semakin luas jangkauan spasial suatu aktivitas, maka semakin tinggi nilai entropy suatu wilayah, yang berarti bahwa wilayah tersebut semakin berkembang. Aktivitas suatu wilayah dapat dicerminkan dari perkembangan sektor-sektor perekonomian dalam PDRB. Semakin besar nilai indeks entropy-nya, maka dapat diperkirakan bahwa sektor-sektor perekonomian dalam wilayah tersebut semakin berkembang (beragam) dengan komposisi yang semakin berimbang (proporsional). Sebaliknya, semakin kecil nilai indeks entropy di suatu wilayah mencerminkan bahwa sektor perekonomian di wilayah tersebut tidak beragam. Biasanya pada wilayah tersebut hanya ada satu atau beberapa sektor perekonomian yang dominan, sedangkan sektor-sektor lainnya kurang
6 75 berkembang dengan baik. Dalam penelitian ini, indeks diversitas entropy dipakai untuk menganalisis tingkat perkembangan aktivitas ekonomi di masing-masing kabupaten/kota di Pulau Jawa dengan menggunakan data PDRB 9 sektor dari tahun Ringkasan hasil analisis indeks diversitas entropy perkembangan aktivitas perekonomian wilayah kabupaten/kota di Pulau Jawa berdasarkan data PDRB 9 sektor tahun 2000 hingga 2006 disajikan pada Tabel 5.3, sedangkan hasil analisis selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1. Tabel 5.3. Ringkasan Hasil Analisis Indeks Diversitas Entropy (IDE) dan Koefisien Variasi (CV) Sektor-sektor Ekonomi Wilayah Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Tahun Provinsi DKI Jakarta* Rata-rata IDE CV (%) Jawa Barat Rata-rata IDE CV (%) Jawa Tengah Rata-rata IDE CV (%) DI Yogyakarta Rata-rata IDE CV (%) Jawa Timur Rata-rata IDE CV (%) Banten Rata-rata IDE CV (%) Total IDE (Jawa) Rata2 IDE kab/kota di Jawa CV jawa (%) Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: * Khusus Provinsi DKI terdiri dari 5 kotamadya dan 1 kabupaten administratif. n n Rumus: = ln ; dan CV= (standar deviasi/rata-rata) x 100%. IDE P i P i= 1 i= 1 i Dari hasil analisis entropy sebagaimana yang ditunjukkan pada Tabel 5.3, dapat diketahui bahwa nilai entropy total Pulau Jawa mengalami peningkatan dalam kurun waktu dari tahun 2000 hingga 2006 meskipun besarnya peningkatan nilai indeks tersebut tidak terlalu signifikan (yaitu sebesar di tahun 2000 menjadi di tahun 2006). Namun, hal tersebut mencerminkan bahwa sektor
7 76 perekonomian di Pulau Jawa mengalami perkembangan, khususnya dilihat dari keberagaman jenis aktivitasnya. Sementara itu, dilihat dari besarnya nilai indeks diversitas entropy masingmasing kabupaten/kota di tiap provinsi di Pulau Jawa, dapat diketahui bahwa kabupaten/kota di Provinsi DKI Jakarta memiliki rata-rata nilai indeks diversitas entropy yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelima provinsi lainnya. Sedangkan dari besarnya nilai coefficient of variation (CV) pada tiap-tiap provinsi tahun , dapat dilihat bahwa Provinsi Jawa Timur memiliki nilai CV yang paling besar (lebih dari 100%), yang kemudian disusul oleh Provinsi Jawa Tengah (sekitar 80%) dan Jawa Barat (sekitar 72%) (lihat Gambar 5.6.a dan b) Rata-rata IDE DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Coefficient of variation (CV) Tahun (a) Gambar 5.6. (a) Besarnya Rata-rata Indeks Diversitas Entropy (IDE) dan (b) Nilai Coefficient of Variation (CV) IDE Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun Tahun (b) Hal ini menunjukkan bahwa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur memiliki tingkat perkembangan wilayah dengan keragaman yang sangat tinggi. Artinya, ada beberapa wilayah (kabupaten/kota) yang sektor perekonomiannya sangat berkembang, namun masih banyak juga wilayah lain dalam provinsi tersebut yang relatif kurang berkembang. Kondisi serupa juga dialami oleh Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat, meskipun dengan tingkat keragaman yang masih lebih rendah dibandingkan Provinsi Jawa Timur. Sedangkan bila ditinjau dari besarnya CV nilai rata-rata indeks diversitas entropy kabupaten/kota di Pulau Jawa (Tabel 5.3), dapat diketahui bahwa nilainya secara konsisten mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Fakta ini memperlihatkan adanya suatu bentuk disparitas pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa, khususnya ditinjau dari struktur perekonomian dan sektor-sektor pembentuknya.
8 77 Tipologi Klassen Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Tipologi Klassen merupakan salah satu metode analisis ekonomi regional yang dapat digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau mengelompokkan wilayah berdasarkan struktur pertumbuhan ekonominya. Pada penelitian ini, pengelompokan wilayah kabupaten/kota di Pulau Jawa dengan tipologi Klassen dilakukan berdasarkan indikator besarnya laju pertumbuhan ekonomi (Lampiran 2) dan besarnya PDRB per kapita di tiap kabupaten/kota (Lampiran 3) yang dibandingkan dengan ratarata laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita di Pulau Jawa. Dengan menggunakan matriks Klassen, seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa dapat dikelompokkan ke dalam 4 kuadran berdasarkan dua indikator tersebut, yaitu: wilayah maju (kuadran I), wilayah maju tapi tertekan (kuadran II), wilayah relatif terbelakang (kuadran III), dan wilayah berkembang cepat (kuadran IV). Pengelompokan ini bersifat dinamis, karena sangat tergantung pada perkembangan kegiatan pembangunan di masing-masing kabupaten/kota. Artinya, dari waktu ke waktu pengelompokan akan dapat berubah sesuai dengan perkembangan laju pertumbuhan ekonomi dan besarnya PDRB per kapita di kabupaten/kota yang bersangkutan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, pengelompokan wilayah dengan tipologi Klassen dilakukan pada dua periode waktu yang berbeda, yaitu sebelum masa Otonomi Daerah dan setelah masa Otonomi Daerah. Hal tersebut bertujuan untuk membandingkan tingkat perkembangan wilayah pada masa sebelum dan setelah diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah. Dengan cara tersebut, maka dapat dilihat bagaimana pengaruh/dampak diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah terhadap kemandirian dan tingkat perkembangan di masing-masing wilayah, khususnya ditinjau dari perkembangan laju pertumbuhan ekonomi dan besarnya PDRB per kapita penduduk di wilayah tersebut. A. Sebelum Masa Otonomi Daerah Analisis tipologi Klassen pada masa sebelum diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah dilakukan dengan membandingkan rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan besarnya PDRB per kapita di masing-masing kabupaten/kota dengan rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan besarnya PDRB per kapita di Pulau Jawa. Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data PDRB tiap kabupaten/kota dan PDRB total di Pulau Jawa tahun 1986 s.d 1999 (untuk menghitung rata-rata
9 78 laju pertumbuhan ekonomi) serta data PDRB per kapita tahun 1999, baik di tiap kabupaten/kota maupun PDRB per kapita di Pulau Jawa. Gambar 5.7 berikut menyajikan hasil scatterplot tipologi Klassen kabupaten/kota di Pulau Jawa dalam empat kuadran berdasarkan kriteria rata-rata laju pertumbuhan ekonomi (LPE) dan besarnya PDRB per kapita pada masa sebelum diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah. Tipologi Klassen Kab/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi (Th ) dan PDRB per Kapita Tahun ,000,000 60,000,000 KOTA KEDIRI KOTA JAKARTA PUSAT PDRB per Kapita Th.1999 (Rp/jiwa) 50,000,000 40,000,000 30,000,000 20,000,000 10,000,000 0 Kuadran II Kuadran I KOTA JAKARTA UTARA* KOTA JAKARTA SELATAN KOTA SURABAYA BEKASI KOTA KOTA JAKARTA KOTA JAKARTA KOTA CIREBON BARAT MALANG TIMUR KOTA SIDOARJO GRESIK SEMARANG KUDUS KOTA YOGYAKARTA KOTA KOTA MAGELANG KOTA BEKASI KOTA KULON PROGO KUNINGAN BOJONEGOROJEPARA SUMENEP SRAGEN GROBOGAN BREBES KLATEN MADIUNCIANJUR TRENGGALEK SAMPANG PURWOREJO PATI PASURUAN MAGETAN PURBALINGGAPEMALANG KEBUMEN PONOROGO PAMEKASAN REMBANG MAJALENGKA LAMONGAN BANGKALAN JOMBANG CIREBON PEKALONGAN LUMAJANG SITUBONDO GUNUNG MOJOKERTO NGAWI BONDOWOSO TASIKMALAYA CIAMIS BANTUL SUMEDANG PROBOLINGGO KOTA KOTA NGANJUK BLITAR SUBANG BLORA BANYUMAS PACITAN BATANG GARUT BANYUWANGI PASURUAN BOGOR TULUNGAGUNG KOTA PROBOLINGGO KOTA BANDUNG MALANG SERANG BOYOLALI TEGAL SUKABUMI KOTA KOTA SLEMAN SALATIGA PEKALONGAN KENDAL TANGERANG MOJOKERTO KEDIRI MAGELANG PANDEGLANG BANJARNEGARA JEMBER TUBAN INDRAMAYU KIDUL KOTA BANDUNG KARAWANG SURAKARTA CILACAP PURWAKARTA BLITAR MADIUN SEMARANG DEMAK WONOGIRI KOTA SUKOHARJO SUKABUMI LEBAKTEGAL WONOSOBO TEMANGGUNG KOTA BOGOR KARANGANYAR Kuadran III Kuadran IV KOTA TANGERANG -10,000, Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Th (%) Gambar 5.7. Scatterplot Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Kriteria Besarnya Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB per Kapita) Sebelum Masa Otonomi Daerah (Periode ) Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita di Pulau Jawa pada masa sebelum kebijakan Otonomi Daerah masing-masing adalah sebesar 6.04% dan Rp. 5,348,565,-/tahun, Berdasarkan kriteria nilai tersebut, maka sesuai hasil scatterplot (Gambar 5.7), dapat diketahui bahwa sebagian besar kabupaten/kota di Pulau Jawa masuk dalam kategori kuadran 3. Untuk mempermudah mengetahui nama-nama kabupaten/kota yang masuk ke dalam masing-masing kategori, berikut disajikan hasil tipologi Klassen dalam empat kuadran (Gambar 5.8).
10 79 Kuadran I 14.81% Kuadran II Kuadran IV 3.70% 18.52% Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Kota Yogyakarta, Kota Magelang Kota Kediri, Jak-ut, Jak-sel, Kab.Bekasi, Surabaya, Kota Cirebon, Kota Malang, Jak-tim, Kota Tangerang, Kudus, Gresik, Kota Semarang, Sidoarjo, Kota Bandung, Kota Probolinggo, Purwakarta Kuadran III 62.96% Bogor, Kota Bekasi, Kota Mjkerto, Kota Peklongan, Kota Pasuruan, Sleman, Kota Salatiga, Kendal, Probolinggo, Bywangi, Serang, Subang, Sumedang, Sumenep, Mjkerto, Stbondo, Klnprogo, Garut, Jombang, Malang, Magetan, Gnkidul, Lumajang, Kota Blitar, Blitar, Ciamis, Bantul, Pasuruan, Nagnjuk, Byolali, Tuban, Tskmalaya, Kediri, Cianjur, Madiun, Jember, Jepara, Bjnegoro, Pklongan, Lamongan, Batang, Bangkalan, Pandeglang, Cirebon, Skbumi, Pati, Klaten, Kuningan, Mjlngka, Prwrejo, Bndwoso, Rembang, Ngawi, Pnorogo, Sregen, Demak, Mgelang, Pamekasan, Trenggalek, Brebes, Pacitan, Blora, Purbalingga, Bnyumas, Kebumen, Tegal, Sampang, Grobogan Kota Surakarta, Tulungagung, Cilacap, Karawang, Bandung, Tangerang, Kota Sukabumi, Karanganyar, Kota Madiun, Semarang, Kota Bogor, Sukoharjo, Indramayu, Kota Tegal, Temanggung, Lebak, Banjarnegara, Wonogiri, Pemalang, Wonosobo Keterangan: K1: Wilayah maju K2: Wilayah maju tapi tertekan K3: Wilayah relatif terbelakang K4: Wilayah berkembang cepat Gambar 5.8. Tipologi Klassen Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Kriteria Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) dan Besarnya PDRB per Kapita pada Masa Sebelum Otonomi Daerah (Tahun ) Hasil klasifikasi tipologi Klassen sebagaimana disajikan pada Tabel 5.4 menunjukkan perbandingan relatif kabupaten/kota di Pulau Jawa berdasarkan kriteria rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita. Dari hasil tipologi Klassen tersebut dapat diketahui bahwa sebanyak 62.96% dari total
11 80 kabupaten/kota di Pulau Jawa 3 termasuk ke dalam kuadran III, yang berarti bahwa sebagian besar wilayah kabupaten/kota pada masa sebelum Otonomi Daerah tergolong wilayah yang kurang berkembang (rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan besarnya PDRB per kapita pada wilayah dalam kuadran ini berada di bawah rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita di Pulau Jawa). Sedangkan wilayah-wilayah yang tergolong dalam kuadran I (memiliki laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita di atas rata-rata Pulau Jawa) berjumlah 16 kabupaten/kota (sekitar 14.81% dari jumlah total kabupaten/kota di Pulau Jawa). Apabila pengelompokan wilayah dibedakan berdasarkan klasifikasi kabupaten dan kota, maka dapat diketahui bahwa sebagian besar kabupaten masuk dalam kategori kuadran III (75.61%), sedangkan sebagian besar kota masuk dalam kategori kuadran I (42.31%). Hal ini menunjukkan bahwa secara umum kondisi perkotaan lebih berkembang dibandingkan dengan kabupaten. Karena kabupaten identik dengan kawasan perdesaan, maka hasil klasifikasi tipologi Klassen tersebut mengindikasikan bahwa kondisi perkotaan lebih berkembang dibandingkan perdesaan. Atau dengan perkataan lain, hal ini juga mengindikasikan adanya bentuk ketimpangan desa-kota. Klasifikasi kabupaten/kota di Pulau Jawa berdasarkan tipologi Klassen sebelum masa Otonomi Daerah (periode ) pada masing-masing kuadran disajikan pada Tabel 5.4. Adapun pengelompokan wilayah dari hasil analisis tipologi Klassen disajikan secara spasial pada Gambar 5.9. Tabel 5.4. Klasifikasi Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Tipologi Klassen Sebelum Masa Otonomi Daerah (Periode ) Kuadran Banyaknya Kabupaten % Banyaknya Kota Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: *) Sampai dengan tahun 1999 di Pulau Jawa terdapat 108 kab/kota. % Banyaknya kab/kota Persentase terhadap Total (%) Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV Jumlah *) Sampai dengan tahun 1999, di Pulau Jawa terdapat 108 kabupaten/kota.
12 81 Gambar 5.9. Klasifikasi Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Hasil Tipologi Klassen Sebelum Masa Otonomi Daerah Dilihat dari sebaran spasial kabupaten/kota di Pulau Jawa berdasarkan hasil tipologi Klassen sebelum masa Otonomi Daerah sebagaimana disajikan pada Gambar 5.9, dapat diketahui bahwa kabupaten/kota yang berada di kuadran I umumnya merupakan kabupaten/kota yang sebagian besar berada di kawasan metropolitan Jabodetabek (yaitu Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Kabupaten Bekasi, dan Kota Tangerang), kawasan metropolitan Gerbangkertosusila (terutama Kabupaten Gresik, Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo), serta beberapa wilayah kabupaten/kota lain (Kota Bandung, Kabupaten Purwakarta, Kota Cirebon, Kota Semarang, Kota Probolinggo, dan Kabupaten Kudus), dimana secara geografis letak kabupaten/kota tersebut berada di Pantai Utara Jawa (Pantura). Hal ini mengindikasikan bahwa wilayah-wilayah yang berada di Pantai Utara Jawa lebih berkembang dibandingkan wilayah-wilayah yang berada di Pantai Selatan Jawa. Dari sebaran spasial tersebut juga dapat dilihat bahwa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur di luar Kawasan Gerbangkertosusila, Kota Kediri dan Kota Malang didominasi oleh wilayah-wilayah yang tergolong dalam kuadran III, yaitu kabupaten/kota yang masuk dalam kategori wilayah relatif terbelakang/kurang berkembang. Hal ini mengindikasikan adanya ketimpangan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur yang cukup tinggi, dimana bentuk ketimpangan tersebut tercermin dari adanya kesenjangan tingkat perkembangan wilayah antar kabupaten/kota.
13 82 B. Setelah Masa Otonomi Daerah Analisis tipologi Klassen pada masa setelah diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah juga dilakukan dengan membandingkan rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan besarnya PDRB per kapita di masing-masing kabupaten/kota dengan rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan besarnya PDRB per kapita di Pulau Jawa. Data dalam analisis ini diambil pada periode waktu setelah diberlakukannya Otonomi Daerah (mulai tahun 2000). Adapun data yang digunakan adalah data PDRB di masing-masing kabupaten/kota dan PDRB total di Pulau Jawa tahun 2000 s.d 2007 (untuk menghitung rata-rata laju pertumbuhan ekonomi) serta data PDRB per kapita tahun 2007, baik di tiap kabupaten/kota maupun PDRB per kapita di Pulau Jawa. Gambar 5.10 dan 5.11 berikut menyajikan hasil scatterplot dan tipologi Klassen kabupaten/kota di Pulau Jawa berdasarkan kriteria rata-rata laju pertumbuhan ekonomi (LPE) dan besarnya PDRB per kapita pada masa setelah diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah. 180,000,000 Tipologi Klassen Kab/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi (Th ) dan PDRB per Kapita Tahun ,000,000 KOTA KEDIRI KOTA JAKARTA PUSAT 140,000,000 PDRB per Kapita Th.2007 (Rp/jiwa) 120,000, ,000,000 80,000,000 60,000,000 40,000,000 20,000,000 0 Kuadran II Kuadran I KOTA JAKARTA UTARA* KOTA JAKARTA SELATAN KOTA SURABAYA KOTA CILEGON KOTA KOTA JAKARTA JAKARTA TIMUR BARAT BEKASI KUDUS KOTA CIREBON KOTA MALANG KOTA TANGERANG GRESIK KOTA KOTA BANDUNG KOTA CILACAP MOJOKERTO KOTA SEMARANG SIDOARJO YOGYAKARTA KOTA KOTA KOTA SURAKARTA CIMAHI KARAWANG KEPULAUAN SERIBUBANDUNG BOGOR KOTA PURWAKARTA PROBOLINGGO KOTA BANDUNG KARANGANYAR TRENGGALEK CIREBON KOTA KOTA BREBES SUKABUMIKOTA TEGAL PURBALINGGA JEMBER KOTA SEMARANG BANYUWANGI BEKASI REMBANG BLITAR TANGERANG SUKOHARJO SUKABUMI BARAT BOGOR LUMAJANG KOTA KOTA GROBOGAN BANYUMAS DEPOK TUBAN BATU SERANG TASIKMALAYA TEGAL PAMEKASAN BANJARNEGARA SUMENEP BLORA TEMANGGUNGSRAGEN DEMAK BATANG GUNUNG CIAMIS TULUNGAGUNG KOTA PACITAN WONOGIRI WONOSOBO PEMALANG PEKALONGAN PASURUAN KENDAL MADIUN KULON CIANJUR LAMONGAN MAGETAN PROBOLINGGO MOJOKERTO KOTA MAGELANG PASURUAN BOYOLALI BOJONEGORO KEDIRI SALATIGA BANGKALAN JOMBANG SUMEDANG GARUT SITUBONDO KOTA MAGELANG PURWOREJO PATI BANTUL BLITAR KEBUMEN LEBAK BONDOWOSO NGAWI KIDUL PONOROGO SAMPANG JEPARA PROGO KOTA MAJALENGKA INDRAMAYU MALANG PEKALONGAN PANDEGLANG NGANJUK SLEMAN MADIUN TASIKMALAYA SUBANG KLATEN BANJAR KUNINGAN Kuadran III Kuadran IV -20,000, Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Th (%) Gambar Scatterplot Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Kriteria Besarnya Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB per Kapita) Setelah Masa Otonomi Daerah (Periode )
14 83 Kuadran I 8.62% Kuadran II Kuadran IV 12.07% 23.28% Kota Kediri, Jakarta Selatan, Kota Surabaya, Jakarta Timur, Kota Cirebon, Kota Malang, Sidoarjo, Gresik, Kota Semarang, Kota Yogyakarta, Kota Mojokerto, Cilacap, Kota Probolinggo, Purwakarta Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Kota Cilegon, Jakarta Barat, Bekasi, Kudus, Kota Tangerang, Kota Bandung, Karawang, Kota Cimahi Kuadran III 56.03% Bogor, Kep.Seribu, Bandung, Tulungagung, Kota Magelang, Kota Pekalongan, Kota Tasikmalaya, Kota Madiun, Kota Pasuruan, Probolinggo, Sleman, Mojokerto, Situbondo, Malang, Sumedang, Kendal, Ciamis, Blitar, Magetan, Garut, Kota Salatiga, Subang, Kota Banjar, Jombang, Serang, Bojonegoro, Sumenep, Klaten, Pasuruan, Nganjuk, Indramayu, Bantul, Klprogo, Gnkidul, Kediri, Madiun,Prwrejo, Cianjur, Bylali, Ngawi, Pklongan, Jepara, Mjlengka, Lamongan, Pati, Batang, Pandeglang, Bangkalan, Pnorogo, Tskmalaya, Bjrnegara, Sragen,Temanggung, Bndwoso, Mglang, Lebak, Wnogiri, Sampang, Pemalang, Demak, Pacitan, Pamekasan, Wonosobo, Kebumen, Blora Kota Surakarta, Kota Bekasi, Kota Batu, Kota Sukabumi, Banyuwangi, Lumajang, Tuban, Semarang, Tangerang, Kota Bogor, Bandung Barat, Sukoharjo, Karanganyar, Kota Blitar, Kota Tegal, Jember, Kota Depok, Sukabumi, Rembang, Cirebon, Kuningan, Brebes, Banyumas, Purbalingga, Trenggalek, Tegal, Grobogan Keterangan: K1: Wilayah maju K2: Wilayah maju tapi tertekan K3: Wilayah relatif terbelakang K4: Wilayah berkembang cepat Gambar Tipologi Klassen Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Kriteria Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) dan Besarnya PDRB per Kapita pada Masa Setelah Otonomi Daerah (Tahun ) Setelah diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah (terhitung sejak tahun 2000), mulai banyak kabupaten/kota di Pulau Jawa yang mengalami pemekaran wilayah. Kabupaten/kota hasil pemekaran wilayah tersebut (beserta kabupaten induknya) berdasarkan urutan terbentuknya adalah sebagai berikut: Kota Depok (Bogor), Kota Cilegon (Serang), Kepulauan Seribu (Jakarta Utara), Kota Cimahi
15 84 (Bandung), Kota Tasikmalaya (Tasikmalaya), Kota Batu (Malang), Kota Banjar (Ciamis), hingga yang terakhir kali terbentuk tahun 2006 adalah Kabupaten Bandung Barat (hasil pemekaran dari Kabupaten Bandung). Dari kedelapan kabupaten/kota yang mengalami pemekaran, lima diantaranya merupakan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. Sedangkan sisanya merupakan kabupaten/kota di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur dan Banten. Kabupaten/kota pada kedua provinsi lainnya di Pulau Jawa (Provinsi Jawa Tengah dan DIY) sama sekali tidak terjadi pemekaran, baik pada masa sebelum maupun setelah Otonomi Daerah. Berbekal otoritas penuh dalam mengelola sendiri wilayahnya, kedelapan kabupaten/kota yang memisahkan diri dari kabupaten induk berkembang menjadi pusat pertumbuhan yang baru. Bahkan, ditinjau dari tingkat perkembangan wilayahnya, kabupaten/kota tersebut mampu menyaingi tingkat perkembangan wilayah kabupaten induknya. Dari hasil pengelompokan wilayah berdasarkan analisis tipologi Klassen seperti yang disajikan pada Gambar 5.11, dapat diketahui bahwa konfigurasi kabupaten/kota yang mengisi tiap-tiap kuadran dalam matriks Klassen mengalami perubahan. Perubahan konfigurasi tersebut dipengaruhi oleh pergeseran besarnya rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan besarnya rata-rata PDRB per kapita di Pulau Jawa. Pada masa sebelum Otonomi Daerah, rata-rata laju pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa adalah sebesar 6.04%, namun setelah Otonomi Daerah rata-rata laju pertumbuhan ekonominya turun menjadi 4.93%. Dilihat dari besarnya rata-rata PDRB per kapita di Pulau Jawa, telah terjadi peningkatan dari Rp ,-/kapita (sebelum Otonomi Daerah) menjadi Rp ,-/kapita (setelah Otonomi Daerah). Pada masa setelah Otonomi Daerah, besarnya laju pertumbuhan ekonomi di sebagian besar kabupaten/kota di Pulau Jawa mulai melambat, tidak sebesar laju pertumbuhan pada masa sebelum Otonomi Daerah (periode ). Dari Gambar 5.11 dan Tabel 5.5 dapat diketahui bahwa pada masa setelah diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah, jumlah kabupaten/kota di Pulau Jawa yang termasuk ke dalam kuadran I (kategori wilayah maju) justru berkurang, dengan persentase yang hanya mencapai 8.62%. Namun, pada kondisi yang sama, jumlah kabupaten/kota yang semula terpolarisasi ke dalam kuadran III (kategori wilayah relatif terbelakang) juga berkurang, dengan persentase sebesar 56.03%. Hal ini berarti bahwa pada masa setelah Otonomi Daerah (saat campur tangan pemerintah pusat tidak lagi mendominasi), banyak kabupaten/kota yang
16 85 mengalami tingkat perkembangan yang cukup signifikan dengan kemandirian penuh dari wilayahnya masing-masing. Delapan kabupaten/kota yang mengalami pemekaran wilayah (sebagaimana yang telah disebutkan di atas), juga ikut merasakan dampak Otonomi Daerah. Dilihat dari pengelompokan wilayah hasil analisis tipologi Klassen (Gambar 5.11), dapat diketahui bahwa dari kedelapan wilayah yang memisahkan diri dari kabupaten induknya, 2 diantaranya (Kota Cilegon dan Kota Cimahi) termasuk ke dalam kuadran I (kategori wilayah maju), 3 wilayah (Kota Batu, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Depok) masuk dalam kuadran IV (kategori wilayah berkembang cepat), dan 3 wilayah sisanya (Kepulauan Seribu, Kota Tasikmalaya, dan Kota Banjar) berada pada kuadran III (kategori wilayah relatif terbelakang). Sedangkan seluruh kabupaten induk dari kedelapan kabupaten/kota tersebut (kecuali Jakarta Utara) tergolong dalam kuadran III. Tabel 5.5. Kuadran Klasifikasi Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Tipologi Klassen Setelah Masa Otonomi Daerah (Periode ) Banyaknya Kabupaten % Banyaknya Kota Jumlah *) Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: *) Sampai dengan tahun 2007 di Pulau Jawa terdapat 116 kab/kota (8 kab/kota mengalami pemekaran wilayah). % Banyaknya kab/kota Persentase terhadap Total (%) Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV Dari Tabel 5.5 dapat diketahui bahwa pada masa setelah diterapkannya kebijakan Otonomi Daerah, jumlah kabupaten/kota yang masuk dalam kuadran II (kategori wilayah maju tapi tertekan) dan kuadran IV (kategori wilayah berkembang cepat) bertambah banyak, yang ditandai dengan besarnya persentase yang semakin meningkat. Dilihat dari kategori pengelompokan wilayah berdasarkan klasifikasi kabupaten dan kota sebagaimana ditampilkan pada Tabel 5.5, dapat diketahui bahwa sebagian besar kabupaten terpolarisasi di kuadran III dan IV dengan besarnya persentase masing-masing adalah 67.44% dan 24.42%. Sedangkan untuk wilayah kota jumlahnya relatif merata di masing-masing kuadran. Apabila perbedaan distribusi ini dibandingkan dengan masa sebelum Otonomi Daerah, maka dapat diketahui bahwa besarnya persentase jumlah
17 86 kabupaten yang terpolarisasi di kuadran III mengalami penurunan (berkurang), dan persentase jumlah kabupaten yang terpolarisasi di kuadran IV mengalami peningkatan. Namun demikian, pada masa setelah Otonomi Daerah, kuadran I masih didominasi oleh wilayah perkotaan (kota), sehingga hal ini juga mengindikasikan bahwa kawasan perkotaan di Pulau Jawa secara umum masih lebih berkembang dibandingkan dengan kabupaten. Untuk selengkapnya, daftar nama kabupaten/kota yang termasuk ke dalam masing-masing kuadran dapat dilihat pada Gambar Sedangkan pengelompokan wilayah dari hasil analisis tipologi Klassen disajikan secara spasial pada Gambar Gambar Klasifikasi Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Hasil Tipologi Klassen Setelah Masa Otonomi Daerah Dilihat dari sebaran spasial klasifikasi kabupaten/kota di Pulau Jawa berdasarkan hasil tipologi Klassen setelah masa Otonomi Daerah seperti yang disajikan pada Gambar 5.12, dapat diketahui bahwa kuadran I masih terkonsentrasi pada kabupaten/kota yang terletak di Pantai Utara Jawa (Pantura) meskipun konfigurasinya sedikit mengalami pergeseran. Dari Gambar 5.12 tersebut terlihat bahwa kuadran I didominasi oleh kabupaten/kota yang terletak di Kawasan Jabodetabek (Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Kabupaten Bekasi dan Kota Tangerang), Kota Cilegon, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Karawang, dan Kabupaten Kudus. Sedangkan beberapa kabupaten/kota di Kawasan Gerbangkertosusila yang pada masa sebelum Otonomi Daerah tergolong dalam kuadran I, pada masa setelah Otonomi Daerah tidak lagi berada di kuadran I, melainkan di kuadran II. Sementara itu, kabupaten/kota yang tergolong ke dalam kuadran IV letaknya secara spasial lebih tersebar di seluruh provinsi. Dan dapat diamati pula bahwa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur sepertinya
18 87 menjadi lebih merata setelah masa Otonomi Daerah. Hal tersebut dapat disaksikan dari besarnya persentase jumlah kabupaten/kota yang mengisi tiap-tiap kuadran dan konfigurasinya secara spasial berdasarkan tipologi Klassen. Apabila dibandingkan antara masa sebelum dan setelah Otonomi Daerah (Tabel 5.6), maka dapat dilihat bahwa secara umum rata-rata laju pertumbuhan ekonomi (PDRB) seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa pada masa sebelum Otonomi Daerah ( ) relatif lebih tinggi dibandingkan pada masa setelah Otonomi Daerah ( ), begitu pula dengan nilai maksimumnya. Tabel Perbandingan Laju Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), PDRB per Kapita dan Persentase Jumlah Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dalam Tipologi Klassen pada Masa Sebelum dan Setelah Otonomi Daerah Variabel Sebelum OTDA ( ) Setelah OTDA ( ) Laju Pertumbuhan Ekonomi (PDRB) (%/tahun) Rata-rata Minimum Maksimum PDRB per Kapita (Rp/tahun) Rata-rata 5,348,565 14,224,731 Minimum 1,220,150 3,436,540 Maksimum 59,292, ,094,130 Persentase Jumlah Kab/Kota dalam Tipologi Klassen (%) Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV Sumber: Hasil Analisis. Hal ini dapat mencerminkan cukup tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi pada masa sebelum Otonomi Daerah. Namun, ketika terjadi krisis ekonomi di Indonesia pada tahun , maka secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi menurun drastis. Sehingga dampak dari terjadinya krisis ekonomi tersebut masih dapat dirasakan pada masa setelah Otonomi Daerah. Hal itulah yang menyebabkan besarnya rata-rata laju pertumbuhan ekonomi seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa pada masa setelah Otonomi Daerah relatif lebih rendah dibandingkan pada masa setelah Otonomi Daerah, meskipun dilihat dari besarnya PDRB per kapita yang terjadi justru sebaliknya.
19 88 Dari perubahan konfigurasi wilayah hasil tipologi Klassen, dapat diketahui bahwa Otonomi Daerah cukup membawa dampak positif bagi beberapa kabupaten/kota di Pulau Jawa. Persentase jumlah kabupaten/kota yang termasuk ke dalam kuadran I (kategori wilayah maju) berkurang dari 14.81% menjadi 8.62%, sementara jumlah kabupaten/kota yang termasuk ke dalam kuadran III (kategori wilayah relatif terbelakang) berkurang, yaitu dari yang semula 62.96% menjadi 56.03%. Perubahan persentase dan sebaran kabupaten/kota pada kuadrankuadran tersebut disebabkan oleh pergeseran besarnya laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita secara relatif terhadap rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita di Pulau Jawa. Pergeseran konfigurasi kabupaten/kota dalam tipologi Klassen pada masa setelah Otonomi Daerah juga dapat mencerminkan kemampuan recovery tiap-tiap wilayah untuk bangkit dari keterpurukan kondisi perekonomian pasca terjadinya krisis. Dampak Diberlakukannya Kebijakan Otonomi Daerah terhadap Struktur Perekonomian Wilayah di Masing-masing Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Ditinjau dari hasil analisis tipologi Klassen pada masa sebelum dan setelah diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, maka dapat diketahui bahwa telah terjadi pergeseran struktur perekonomian wilayah di masing-masing kabupaten/kota di Pulau Jawa. Pergeseran struktur perekonomian wilayah tersebut terutama disebabkan karena berubahnya tingkat pencapaian kinerja ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang tercermin dari besarnya rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan nilai PDRB per kapita di masing-masing wilayah. Dengan diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah, ada wilayah-wilayah yang mampu mengoptimalkan potensi daerahnya sehingga dapat meningkatkan rata-rata laju pertumbuhan ekonomi serta PDRB per kapita masyarakatnya. Namun tak sedikit juga wilayah yang belum mampu memanfaatkan momentum dikeluarkannya kebijakan tersebut untuk menggali potensi di daerahnya sehingga tak kunjung berkembang/relatif terbelakang. Hal tersebut tercermin dari pergeseran struktur perekonomian wilayah di masing-masing kabupaten/kota yang dapat dilihat dari kategori kuadran-kuadran dalam tipologi Klassen. Merujuk pada ketentuan pembagian kuadran sebagaimana telah dijelaskan di bagian metode penelitian (Gambar 3.3), maka struktur pergeseran tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut (Gambar 5.13).
20 89 Struktur Pergeseran KUADRAN (sebelum OTDA) KUADRAN (setelah OTDA) Baik Sedang Terbelakang A B C ++ o+ -+ +o oo -o +- o Baik - Baik Sedang - Baik Terbelakang - Baik Baik - Sedang Sedang - Sedang Terbelakang - Sedang Baik - Terbelakang Sedang - Terbelakang Terbelakang - Terbelakang Gambar Struktur Pergeseran Tipologi Klassen Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Pasca Diberlakukannya Kebijakan Otonomi Daerah Dengan merujuk pada struktur pergeseran kuadran hasil tipologi Klassen sebagaimana diilustrasikan pada Gambar 5.13, maka klasifikasi kabupaten/kota di Pulau Jawa secara spasial dan tabular disajikan pada Gambar 5.14 dan Tabel 5.7. Gambar Klasifikasi Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Struktur Pergeseran Tipologi Klassen Pasca Otonomi Daerah Berdasarkan Gambar 5.14 tersebut terlihat bahwa wilayah-wilayah yang tergolong ke dalam kategori 1, 2, dan 3 terkonsentrasi di sekitar Kawasan Jabodetabek, Kota Bandung, Kota Cilegon, dan Kabupaten Kudus, yang pada umumnya berada di kawasan Pantura. Sedangkan kabupaten/kota yang tergolong ke dalam kategori 8 dan 9 pada umumnya merupakan wilayah-wilayah yang
21 90 letaknya jauh dari kota-kota besar. Dari gambar tersebut juga dapat diamati bahwa Jawa timur merupakan provinsi yang mempunyai kabupaten/kota Tabel 5.7. Klasifikasi Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Berdasarkan Struktur Pergeseran Tipologi Klassen Beserta Persentasenya Kategori Total Sumber: Hasil Analisis. Jumlah Jumlah Total % % Kabupaten Kota Kab/Kota % Dari hasil klasifikasi berdasarkan struktur pergeseran kuadran pada tipologi Klassen yang ditampilkan pada Gambar 5.14 dan Tabel 5.7 tersebut, dapat diketahui bahwa wilayah yang termasuk ke dalam kategori 1, jumlahnya hanya 5 kabupaten/kota (sekitar 4.31%), yaitu 2 kabupaten dan 3 kota. Sedangkan kabupaten/kota yang termasuk ke dalam kategori 9 jumlahnya paling banyak, yaitu 54 kabupaten/kota (atau sekitar 46.55% dari total jumlah kabupaten/kota yang ada di Pulau Jawa). Dari 54 kabupaten/kota yang tergolong ke dalam kategori 9 tersebut, 49 diantaranya merupakan wilayah kabupaten dan 5 lainnya merupakan wilayah kota. Dominansi wilayah kabupaten dalam konfigurasi tersebut menunjukkan bahwa secara umum, wilayah-wilayah kabupaten di Pulau Jawa mengalami tingkat perkembangan yang lebih rendah dibandingkan dengan wilayah kota (perkotaan). Dari Tabel 5.7 tersebut juga dapat dilihat bahwa sebagian besar wilayah kabupaten tergolong ke dalam kategori 9, yaitu sekitar 58.33%. Artinya, sebagian besar wilayah-wilayah tersebut tidak mengalami pergeseran tipologi Klassen, yaitu tetap berada pada kuadran III, meskipun secara relatif besarnya rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan rata-rata PDRB per kapita mengalami pergeseran dari masa sebelum dan setelah Otonomi Daerah. Namun, nilai rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita pada wilayah-wilayah tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan rata-rata PDRB per kapita Pulau Jawa.
22 91 Terhitung sudah lima tahun sejak dikeluarkannya UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Hasilnya, beberapa kabupaten/kota memang berhasil mengalami peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita di wilayahnya. Namun begitu, tidak sedikit pula wilayah-wilayah yang pada kenyataannya belum dapat memanfaatkan momentum dikeluarkannya kebijakan Otonomi Daerah untuk menggali potensi dan mengelola sumberdaya yang ada di wilayahnya secara maksimal, sehingga tingkat perkembangan wilayah-wilayah tersebut relatif rendah (lambat), dengan laju pertumbuhan ekonomi dan nilai PDRB per kapita yang masih berada di bawah rata-rata Pulau Jawa. Beberapa dari kabupaten/kota yang tingkat perkembangannya masih relatif rendah tersebut diantaranya adalah wilayah-wilayah yang mengalami pemekaran (dalam hal ini adalah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Kota Tasikmalaya dan Kota Banjar). Sebagian daerah mengartikan bahwa otonomi harus dilakukan dengan pemekaran wilayah. Padahal pemekaran wilayah yang terjadi tidak selalu memberikan hasil yang positif. Pemekaran merupakan strategi yang tepat untuk beberapa daerah, terutama daerah yang mempunyai luas wilayah sangat besar, dan didukung oleh sumberdaya yang cukup baik. Namun harus diingat bahwa pemekaran wilayah bukanlah obat bagi penyelesaian segala permasalahan yang dihadapi oleh daerah-daerah tertinggal. Dari sekian banyak daerah otonom baru, hanya beberapa saja yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerahnya. Selebihnya masih sangat bergantung pada bantuan dari pemerintah. Dalam hal ini, perlu disadari bahwa pembangunan ekonomi daerah memerlukan upaya yang keras dan perencanaan yang baik. Membangun infrastruktur ke kantong-kantong kawasan produksi sangat dibutuhkan untuk mengangkat ekonomi masyarakat. Namun tanpa perencanaan dan pelaksanaan yang baik maka semuanya akan sia-sia. Oleh karena itu, pelaksanaan Otonomi Daerah perlu dievaluasi kembali karena sejauh ini banyak daerah yang dimekarkan dalam implementasinya ternyata belum siap untuk otonom, malah hanya menyebabkan pemborosan APBD dan APBN saja. Sejalan dengan pelaksanaan Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah mempunyai kewenangan yang lebih luas untuk menentukan kebijakan dan program pembangunan yang terbaik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah masing-masing. Namun, adanya latar belakang demografi, geografi, infrastruktur dan ekonomi yang tidak sama, serta kapasitas sumberdaya yang berbeda, maka salah satu konsekuensi dari pelaksanaan Otonomi Daerah
23 92 adalah keberagaman daerah dalam hal kinerja pelaksanaan dan pencapaian tujuan pembangunan. Perbedaan kinerja selanjutnya akan menyebabkan kesenjangan antar daerah, timbulnya konflik dan kemungkinan disintegrasi bangsa. Disparitas Regional di Pulau Jawa Disparitas pembangunan antar wilayah bukan hanya menjadi isu penting yang terjadi antara Jawa dan luar Jawa, namun juga di dalam Pulau Jawa itu sendiri. Sesuai dengan hipotesis yang dikembangkan di dalam penelitian ini, disparitas pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa diduga dapat bersumber dari (1) disparitas antar provinsi; (2) disparitas antara kawasan metropolitan dan non metropolitan; (3) disparitas antara Kawasan Jabodetabek dan non Jabodetabek; (4) disparitas antara kabupaten dan kota (perkotaan); (5) disparitas antara kawasan pesisir dan non pesisir; dan (6) disparitas antara kawasan pesisir Jawa bagian Utara dan pesisir Jawa bagian Selatan. Dalam penelitian ini, akan dibuktikan kebenaran dari hipotesis yang dibangun tentang dugaan adanya disparitas pada keenam bentuk pembagian wilayah (sebagaimana telah disebutkan di atas), serta dikaji mana di antara keenam bentuk disparitas yang mempunyai derajat disparitas terbesar sebagai penyebab ketidakmerataan pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa. Kajian ini terutama difokuskan untuk melihat trend besarnya tingkat disparitas yang terjadi pada masa sebelum dan setelah Otonomi Daerah. 1. Disparitas Antar Provinsi Pulau Jawa terdiri dari 6 provinsi 4, yaitu Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta), Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur dan Banten. Ditinjau dari jumlah penduduknya (Tabel 5.8), dapat diketahui bahwa dari tahun 1986 hingga 2007 jumlah penduduk masing-masing provinsi di Pulau Jawa mengalami peningkatan, dimana penduduk paling banyak menghuni Provinsi Jawa Barat, yang kemudian disusul oleh Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Provinsi DIY adalah provinsi dengan jumlah penduduk paling sedikit di Pulau Jawa. Sedangkan Provinsi DKI Jakarta dengan luas wilayah yang relatif sempit merupakan provinsi dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi (terpadat di Indonesia). Secara grafis, dinamika pertumbuhan jumlah penduduk masing-masing provinsi di Pulau Jawa dapat dilihat pada Gambar Pulau Jawa sebelumnya terdiri dari 5 provinsi. Namun, sejak tahun 2000, Banten memisahkan diri dari provinsi induk (Jawa Barat).
24 93 Tabel 5.8. Jumlah Penduduk per Provinsi di Pulau Jawa Tahun (jiwa) Tahun DKI Jakarta Jawa Barat* Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten Jumlah ,578,565 31,721,169 27,197,434 2,859,810 31,078, ,063, ,927,999 34,986,368 28,417,036 2,908,232 32,060, ,300, ,705,600 37,408,822 29,202,565 2,922,371 33,762, ,001, ,316,300 40,843,975 29,739,137 3,055,396 34,365, ,320, ,347,083 35,453,747** 31,255,990 3,121,701 35,319,050 8,380, ,878, ,725,049 37,581,957** 31,880,632 3,211,181 36,638,914 9,024, ,062, ,723,416 40,329,050** 32,380,284 3,434,533 36,895,561 9,423, ,186,215 Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus), BPS. Keterangan: *) Sejak tahun 2000 Provinsi Jawa Barat mengalami pemekaran, terbagi menjadi Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. **) Setelah pemekaran. 45,000,000 40,000,000 Jumlah Penduduk (jiwa ) 35,000,000 30,000,000 25,000,000 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000,000 - DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan Jumlah Penduduk Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun Tabel 5.9. Persentase Jumlah Penduduk Masing-masing Provinsi terhadap Jumlah Penduduk Total di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun DKI Jakarta Jawa Barat* Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten ** ** ** Rata-rata Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus). Statistik Indonesia, BPS (diolah). Keterangan: *) Sejak tahun 2000 Provinsi Jawa Barat mengalami pemekaran, terbagi menjadi Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. **) Setelah pemekaran.
25 94 Dari besarnya persentase rata-rata jumlah penduduk masing-masing provinsi terhadap jumlah penduduk total di Pulau Jawa tahun (Tabel 5.9), dapat diketahui bahwa 31.73% penduduk Pulau Jawa menghuni Provinsi Jawa Barat, 29.50% di Provinsi Jawa Timur, 25.81% di Provinsi Jawa Tengah, 7.30% di Provinsi DKI Jakarta, 7.05% di Provinsi Banten, sedangkan penduduk dengan persentase paling kecil (2.64%) berdomisili di Provinsi DIY. Dilihat dari besarnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk (Tabel 5.10), dapat diketahui bahwa Provinsi Banten (sebagai provinsi yang baru terbentuk pada tahun 2000) memiliki rata-rata laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.83% per tahun. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk di provinsi induknya (Jawa Barat) menempati urutan pertama, yaitu sebesar 2.21% per tahun. Dalam kasus ini, Provinsi DKI Jakarta menempati urutan ketiga dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.01% per tahun, sedangkan ketiga provinsi lainnya (Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur) masing-masing memiliki laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.88%, 0.86% dan 0.89% per tahun.. Tabel Laju Pertumbuhan Penduduk Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun DKI Jakarta Jawa Barat* Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten Total (Jawa) ** ** ** Rata-rata Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus). Statistik Indonesia, BPS (diolah). Keterangan: *) Sejak tahun 2000 Provinsi Jawa Barat mengalami pemekaran, terbagi menjadi Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. **) Setelah pemekaran (tidak memperhitungkan Provinsi Banten). Besarnya nilai PDRB masing-masing provinsi di Jawa juga dapat menunjukkan adanya disparitas pembangunan antar wilayah di pulau tersebut. Dari Tabel 5.11, dapat diamati bahwa dari tahun 1986 hingga 2007 total PDRB masing-masing provinsi di Pulau Jawa mengalami peningkatan. Namun, besarnya PDRB Provinsi DKI Jakarta (yang notabene wilayahnya hanya meliputi sebagian kecil dari total luas wilayah Pulau Jawa) merupakan kontributor PDRB yang
26 95 Tahun tertinggi dan paling mendominasi. Sedangkan provinsi-provinsi lainnya (dengan luas wilayah dan jumlah penduduk yang lebih besar) juga berkontribusi, namun dengan nilai PDRB yang lebih rendah dibandingkan Provinsi DKI Jakarta. Secara grafis, dinamika pertumbuhan PDRB masing-masing provinsi di Pulau Jawa dapat dilihat pada Gambar 5.16 di bawah ini. Tabel Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun (Juta Rupiah) DKI Jakarta Jawa Barat* Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten Total (Jawa) ,097,276 88,975,629 48,630,485 7,720,269 95,790, ,213, ,517, ,276,488 63,369,763 9,439, ,722, ,325, ,945, ,289,725 81,169,888 11,305, ,629, ,340, ,372, ,162, ,982,774 14,463, ,239, ,221, ,504, ,432,926** 101,205,220 13,559, ,108,411 47,380, ,191, ,173, ,035,422** 110,889,265 15,387, ,369,215 55,210, ,065, ,833, ,844,820** 135,334,540 18,307, ,524,010 69,835,960 1,072,680,190 Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia (BPS). (Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan telah distandarisasi). Keterangan: *) Sejak tahun 2000 Provinsi Jawa Barat mengalami pemekaran, terbagi menjadi Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. **) Setelah pemekaran (tidak memperhitungkan Provinsi Banten). 350,000,000 PD R B (juta rupiah) 300,000, ,000, ,000, ,000, ,000,000 DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten 50,000, Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan PDRB Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun Tabel 5.12 berikut ini menampilkan besarnya persentase kontribusi PDRB masing-masing provinsi terhadap nilai PDRB total di Pulau Jawa tahun Dari Tabel 5.12, dapat diketahui bahwa kontribusi PDRB yang disumbangkan oleh Provinsi DKI Jakarta adalah sebesar 31.33%. Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing menyumbangkan 26.30%,
27 % dan 13.30%. Sedangkan dua provinsi dengan persentase kontribusi PDRB terendah adalah Provinsi Banten (6.38%) dan DIY (1.89%). Tabel Persentase Besarnya Kontribusi PDRB Masing-masing Provinsi terhadap Nilai PDRB Total di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun DKI Jakarta Jawa Barat* Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten ** ** ** Rata-rata Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun (BPS), diolah. Keterangan: *) Sejak tahun 2000 Provinsi Jawa Barat mengalami pemekaran, terbagi menjadi Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. **) Setelah pemekaran. Tabel Laju Pertumbuhan Ekonomi Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun DKI Jakarta Jawa Barat* Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten Total (Jawa) ** ** ** Rata-rata Sumber: PDRB Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun (BPS), diolah. Keterangan: *) Sejak tahun 2000 Provinsi Jawa Barat mengalami pemekaran, terbagi menjadi Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. **) Setelah pemekaran (tidak memperhitungkan Provinsi Banten). Dilihat dari besarnya laju pertumbuhan ekonomi masing-masing provinsi di Pulau Jawa dari tahun 1986 hingga 2007 (Tabel 5.13), dapat diketahui bahwa dari tahun ke tahun besarnya laju pertumbuhan ekonomi pada masing-masing provinsi berfluktuatif. Namun, pada tahun semua provinsi di Pulau Jawa mengalami penurunan laju pertumbuhan ekonomi hingga nilainya negatif. Hal ini disebabkan oleh krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada saat itu, sehingga hampir seluruh wilayah di nusantara turut terkena dampak dari krisis tersebut, tidak terkecuali Pulau Jawa (Tabel 5.13).
28 97 Ditinjau dari besarnya PDRB per kapita di masing-masing provinsi (Gambar 5.17), dapat terlihat bahwa Provinsi DKI Jakarta memiliki PDRB per kapita yang sangat tinggi, jauh lebih unggul dibandingkan provinsi-provinsi lain di Pulau Jawa dan trend perkembangannya dari tahun ke tahun terus meningkat tajam. Sedangkan kelima provinsi lainnya memiliki PDRB per kapita yang masih berada di bawah rata-rata PDRB per kapita Pulau Jawa. 40,000,000 35,000,000 PDRB per kapita (Rp/th) 30,000,000 25,000,000 20,000,000 15,000,000 10,000,000 DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten Jawa 5,000, Tahun Gambar Perkembangan Besarnya PDRB per Kapita di Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun Apabila keenam provinsi di Pulau Jawa diperbandingkan satu dengan lainnya, terutama dari segi luas wilayah, jumlah penduduk dan besarnya kontribusi PDRB yang disumbangkan, maka dapat dilihat bahwa disparitas pembangunan antar wilayah yang terjadi di Pulau Jawa (dalam hal ini disparitas antar provinsi) lebih disebabkan karena dominansi Provinsi DKI Jakarta yang memegang pengaruh kuat dalam perekonomian di Pulau Jawa (Gambar 5.18). 100% 90% Proporsi 80% 70% 60% 50% 40% Banten Jaw a Timur DIY Jaw a Tengah Jaw a Barat 30% DKI Jakarta 20% 10% 0% % Luas % Penduduk % PDRB Parameter Gambar Proporsi Luas Wilayah, Rata-rata Jumlah Penduduk dan Besarnya Kontribusi PDRB Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun
29 Besarnya Derajat Disparitas Antar Provinsi dengan Indeks Williamson dan Indeks Theil Entropy Disparitas pembangunan antar wilayah dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan indeks Theil entropy dan indeks Williamson. Hasil analisis disparitas antar provinsi dengan metode indeks Williamson menggunakan data PDRB per kapita tiap provinsi di Pulau Jawa tahun (sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.14 dan Gambar 5.19), menunjukkan bahwa pada tahun 1986, besarnya derajat disparitas antar provinsi di Pulau Jawa mencapai angka yang cukup tinggi, yaitu Angka tersebut berangsur-angsur menurun hingga tahun 1993 (0.657), namun kembali meningkat sampai dengan tahun 2000 (hingga mencapai 0.736). Namun demikian, pada masa setelah diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah (mulai tahun 2000), besarnya derajat disparitas antar provinsi di Pulau Jawa menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun. Tabel Besarnya Disparitas Antar Kabupaten/Kota pada masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Williamson Indeks Williamson Disparitas Antar Kab/Kota Prov.DKI Jakarta Prov.Jawa Barat Prov.Jawa Tengah Prov.DIY Prov.Jawa Timur Prov.Banten *) *) *) *) Disparitas antar provinsi di P.Jawa Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: *) Kab/kota di Provinsi Banten masih termasuk dalam Provinsi Jawa Barat. Dari Gambar 5.19 dapat disaksikan bahwa di antara keenam provinsi yang ada di Pulau Jawa, Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan derajat disparitas yang paling tinggi. Angka tersebut meningkat tajam dari tahun 1986 hingga tahun 1997, yaitu dari menjadi 1.223, dimana pada tahun 1997 Provinsi Jawa Timur mengalami kondisi yang paling timpang selama periode waktu tersebut. Namun, tingginya derajat disparitas di Provinsi Jawa Timur tersebut kemudian berangsur-angsur turun pasca diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah. Sedangkan provinsi dengan derajat disparitas yang relatif rendah dibandingkan provinsi-provinsi lainnya adalah Provinsi DIY.
30 Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Williamson DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten Antar provinsi Tahun Gambar Dinamika Perubahan Derajat Disparitas Antar Kabupaten/Kota Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Williamson Dengan indeks Theil entropy, besarnya derajat disparitas (disparitas total) dapat didekomposisikan menjadi dua, yaitu disparitas antar provinsi (between province) dan disparitas (antar kabupaten/kota) dalam provinsi (within province). Hasil analisis disparitas antar provinsi dengan menggunakan indeks Theil entropy menunjukkan bahwa besarnya disparitas total yang terjadi di Pulau Jawa memiliki kecenderungan yang terus meningkat dari waktu ke waktu, yaitu sebesar pada tahun 1986, menjadi di tahun 2007 (sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.15 dan Gambar 5.20). Tabel Besarnya Disparitas Antar Provinsi dan Disparitas Antar Kabupaten/Kota dalam Provinsi di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy Disparitas/ Indeks Theil Entropy Provinsi Antar Provinsi Antar Kab/Kota Dalam Provinsi DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten *) *) *) *) Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis Keterangan: *) Banten masih termasuk dalam Provinsi Jawa Barat.
31 Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Theil Entropy Antar Provinsi Antar Kab/Kota dalam Provinsi Ketimpangan Total Tahun Gambar Dinamika Perubahan Besarnya Derajat Disparitas Antar Provinsi di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy Ditinjau dari besarnya persentase dekomposisi indeks Theil entropy (lihat Tabel 5.16), dapat diketahui bahwa sumber disparitas yang berasal dari disparitas antar provinsi menyumbangkan persentase lebih besar dibandingkan disparitas antar kabupaten/kota dalam provinsi. Namun, apabila dilihat pola kecenderungannya dari tahun ke tahun, dapat diketahui bahwa persentase dekomposisi indeks Theil entropy yang berasal dari disparitas antar provinsi nilainya menurun hingga tahun 2003, namun pada tahun 2007 angka tersebut kembali menunjukkan adanya peningkatan (Gambar 5.21). Tabel Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy Berdasarkan Disparitas Antar Provinsi dan Disparitas Antar Kabupaten/Kota dalam Provinsi di Pulau Jawa Tahun (%) Disparitas/ Dekomposisi Disparitas Indeks Theil Entropy (%) Provinsi Antar Provinsi 1) Antar Kab/Kota 1) Dalam Provinsi DKI Jakarta 2) Jawa Barat 2) Jawa Tengah 2) DI Yogyakarta 2) Jawa Timur 2) Banten 2) *) *) *) *) Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: 1) Persentase terhadap disparitas total. 2) Persentase terhadap disparitas antar kabupaten/kota dalam provinsi. *) Banten masih termasuk dalam Provinsi Jawa Barat.
32 Sebelum OTDA Setelah OTDA Persentase (%) Antar P rovinsi Antar Kab/Kota dalam Provinsi Tahun Gambar Grafik Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy Berdasarkan Disparitas Antar Provinsi dan Disparitas Antar Kabupaten/Kota dalam Provinsi di Pulau Jawa Tahun Disparitas Antara Kawasan Metropolitan/Megapolitan di Pulau Jawa dan Kawasan Non Metropolitan (Rest of Java/ROJ) Disparitas pembangunan antar wilayah yang terjadi di Pulau Jawa diduga juga diakibatkan oleh munculnya kawasan metropolitan/megapolitan yang kemudian berkembang pesat menjadi pusat-pusat pertumbuhan di Pulau Jawa. Kawasan metropolitan/megapolitan tersebut antara lain: 1) Kawasan Jabodetabek (Provinsi DKI Jakarta, Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten dan Kota Tangerang, serta Kabupaten dan Kota Bekasi); 2) Kawasan Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kota Cimahi); 3) Kawasan Kedungsepur (Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang/Ungaran, Kabupaten Demak, Kabupaten Grobogan, Kota Semarang, dan Kota Salatiga); 4) Kawasan Kartamantul (Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul); dan 5) Kawasan Gerbangkertosusila (Kabupaten Gresik, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten dan Kota Mojokerto, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Lamongan). Dalam penelitian ini, dilakukan pembandingan untuk melihat besarnya disparitas pembangunan antar wilayah, khususnya antara kawasan metropolitan/megapolitan di Pulau Jawa dengan kawasan lain sisanya (rest of Java/ROJ). Ditinjau dari jumlah penduduknya (Tabel 5.17), dapat diketahui bahwa dari waktu ke waktu jumlah penduduk baik di kawasan metropolitan maupun di kawasan non metropolitan di Pulau Jawa mengalami peningkatan. Pada tahun 1986, penduduk kawasan metropolitan di Pulau Jawa jumlahnya sekitar 32 juta
33 102 jiwa, sedangkan sisanya (yang menghuni kawasan non metropolitan) jumlahnya mencapai 69 juta jiwa. Pada kondisi tahun 2007, jumlah penduduk kawasan metropolitan di Pulau Jawa telah meningkat menjadi sekitar 46 juta jiwa, sedangkan penduduk kawasan non metropolitan (sisanya/roj) berjumlah 84 juta jiwa. Dari data tersebut, nampak bahwa besarnya jumlah penduduk di kawasan non metropolitan adalah dua kali lipat dari jumlah penduduk di kawasan metropolitan. Secara grafis, dinamika pertumbuhan jumlah penduduk di kawasan metropolitan dan non metropolitan di Pulau Jawa (ROJ) dapat dilihat pada Gambar Tabel Jumlah Penduduk Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun (jiwa) Tahun Metropolitan Non Metropolitan Jumlah ,012,531 69,051, ,063, ,292,716 72,007, ,300, ,480,661 74,520, ,001, ,259,723 77,060, ,320, ,736,227 80,445, ,181, ,389,456 82,672, ,062, ,769,034 84,417, ,186,215 Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus). Statistik Indonesia, BPS. 90,000,000 80,000,000 70,000,000 Jumlah Penduduk (jiwa) 60,000,000 50,000,000 40,000,000 30,000,000 20,000,000 10,000,000 Metropolitan Non Metropolitan Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan Jumlah Penduduk Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun Dari besarnya persentase rata-rata jumlah penduduk baik di kawasan metropolitan maupun di kawasan non metropolitan di Pulau Jawa (ROJ) tahun (Tabel 5.18), dapat diketahui bahwa kawasan metropolitan dihuni sekitar 33.78% penduduk Pulau Jawa, sedangkan penduduk Jawa sisanya (66.22%) menghuni kawasan non metropolitan (ROJ).
34 103 Tabel Persentase Jumlah Penduduk Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan terhadap Jumlah Penduduk Total di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Metropolitan Non Metropolitan Rata-rata Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas. Statistik Indonesia, BPS (diolah). Ditinjau dari besarnya laju pertumbuhan penduduk (Gambar 5.23), dapat diketahui bahwa dari tahun ke tahun, besarnya laju pertumbuhan penduduk baik di kawasan metropolitan maupun di kawasan non metropolitan di Pulau Jawa (ROJ) berfluktuatif, dimana proporsi penduduk metropolitan secara relatif terus meningkat Laju Pertumbuhan Penduduk (%) M etropolitan Non M etropolitan Total (Jawa) Tahun Gambar Laju Pertumbuhan Penduduk Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun (%) Dari besarnya nilai PDRB di masing-masing kawasan juga menunjukkan adanya disparitas pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa. Dari Tabel 5.19 dapat dilihat bahwa kawasan metropolitan yang jumlah penduduknya hanya separuh dari jumlah penduduk kawasan non metropolitan, justru menyumbangkan PDRB dua kali lipat lebih besar dari kawasan non metropolitan. Dari fakta ini, dapat diamati besarnya pengaruh kawasan-kawasan metropolitan tersebut dalam sistem perekonomian di Pulau Jawa, terutama terkait dengan peranan strategisnya sebagai pusat-pusat pertumbuhan.
35 104 Tabel Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun (Juta Rupiah) Tahun Metropolitan Non Metropolitan Jumlah ,120, ,092, ,213, ,520, ,804, ,325, ,975, ,365, ,340, ,890, ,331, ,221, ,603, ,588, ,191, ,496, ,568, ,065, ,648, ,031,430 1,072,680,190 Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia Keterangan: *Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun Gambar 5.24 di bawah ini menampilkan secara grafis dinamika pertumbuhan PDRB baik di kawasan metropolitan maupun kawasan non metropolitan di Pulau Jawa (ROJ) dari tahun 1986 hingga tahun 2007, dimana pertumbuhan PDRB kawasan metropolitan selalu lebih tinggi dibandingkan kawasan non metropolitan (ROJ). 800,000, ,000, ,000,000 PDRB (juta rupiah) 500,000, ,000, ,000, ,000, ,000,000 Metropolitan Non Metropolitan Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan PDRB Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun Gambar 5.25 berikut ini menampilkan besarnya persentase kontribusi PDRB masing-masing kawasan terhadap nilai PDRB total di Pulau Jawa tahun Dari Gambar 5.25, dapat diamati bahwa besarnya persentase kontribusi PDRB yang disumbangkan oleh kawasan metropolitan semakin meningkat dari tahun ke tahun, dimana persentase rata-ratanya mencapai 62.34%, sedangkan rata-rata persentase kontribusi PDRB yang disumbangkan kawasan non metropolitan terhadap PDRB total di Pulau Jawa hanya sekitar 37.66%.
36 Persentase (%) Non Metropolitan Metropolitan Tahun Sumber: PDRB Kabupaten/Kota di Indonesia (BPS), diolah. Gambar Persentase Besarnya Kontribusi PDRB Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan terhadap Nilai PDRB Total di Pulau Jawa Tahun (%) Dari besarnya laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing kawasan dari tahun (Tabel 5.20), dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan ekonomi di kawasan metropolitan lebih tinggi dibandingkan kawasan non metropolitan dengan nilai rata-rata masing-masing sebesar 6.46% dan 5.07%. Tabel Laju Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Metropolitan Non Metropolitan Total (Jawa) Rata-rata Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun (BPS), diolah. Diamati dari besarnya PDRB per kapita di masing-masing kawasan sebagaimana tersaji pada Gambar 5.26, dapat diketahui bahwa PDRB per kapita di kawasan metropolitan jauh lebih tinggi dibandingkan besarnya PDRB per kapita di kawasan non metropolitan. Meskipun tingginya nilai PDRB per kapita belum dapat menggambarkan besarnya personal income, namun hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk di kawasan metropolitan lebih tinggi dibandingkan kawasan non metropolitan.
37 106 PDRB per kapita (Rp/th) 16,000,000 14,000,000 12,000,000 10,000,000 8,000,000 6,000,000 4,000,000 M etropolitan Non M etropolitan Jawa 2,000, Tahun Gambar Perkembangan PDRB per Kapita di Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun Gambar 5.27 berikut ini mendeskripsikan perbandingan antara kawasan metropolitan dan kawasan non metropolitan di Pulau Jawa (ROJ), terutama dilihat dari parameter luas wilayah, jumlah penduduk dan besarnya kontribusi PDRB yang disumbangkan. 100% Proporsi 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Non Metropolitan Metropolitan % Luas % Penduduk % PDRB Parameter Gambar Proporsi Luas Wilayah, Rata-rata Jumlah Penduduk dan Besarnya Kontribusi PDRB Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun Dari Gambar 5.27 di atas, dapat dilihat bahwa disparitas pembangunan antar wilayah yang terjadi di Pulau Jawa antara kawasan metropolitan dan non metropolitan (ROJ) disebabkan oleh kuatnya pengaruh kawasan metropolitan sebagai penggerak dalam perekonomian di Pulau Jawa. Sebab, kawasan metropolitan dengan luas wilayah yang hanya mencapai 16.54% dan berpenduduk sekitar 33.78% dari total penduduk Pulau Jawa, ternyata berkontribusi menyumbangkan PDRB lebih dari 60%. Sementara, kawasan non metropolitan yang luas wilayahnya mencapai 83.46% dan dihuni oleh 66.22% penduduk Pulau Jawa ternyata hanya menyumbangkan kurang dari 40% total PDRB Jawa.
38 107 Besarnya Derajat Disparitas Antara Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan dengan Indeks Williamson dan Indeks Theil Entropy Hasil analisis disparitas antara kawasan metropolitan dan non metropolitan di Pulau Jawa (ROJ) dengan metode indeks Williamson (Tabel 5.21), menunjukkan bahwa dari tahun 1986 hingga 2000 besarnya derajat disparitas antar kawasan secara konsisten mengalami peningkatan (dari menjadi 0.422). Pada tahun 2003 angka tersebut relatif tetap, sehingga tidak mengalami pergeseran dari posisi semula (0.422). Namun, pada tahun 2007 disparitas antar kedua kawasan tersebut sedikit berkurang, yang ditandai dengan menurunnya derajat disparitas (yaitu dari yang semula menjadi 0.410). Secara grafis, dinamika perubahan besarnya derajat disparitas antara kawasan metropolitan dan non metropolitan disajikan pada Gambar Tabel Besarnya Disparitas Antar Kabupaten/Kota pada Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Williamson Disparitas Antar Indeks Williamson Kab/Kota Kawasan metropolitan/ megapolitan Kawasan non metropolitan/ Rest of Java Disparitas antara kawasan metropolitan vs non metropolitan Sumber: Hasil Analisis Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Williamson Kawasan metropolitan/ megapo litan Kawasan non metropolitan/ Rest of Java M etropo litan vs No n M etropo litan Tahun Gambar Dinamika Perubahan Besarnya Derajat Disparitas Antara Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Williamson
39 108 Disparitas antara kawasan metropolitan dan non metropolitan yang dianalisis dengan indeks Theil entropy menunjukkan bahwa besarnya derajat disparitas total yang terjadi di Pulau Jawa memiliki nilai yang sama persis dengan disparitas total pada saat membicarakan disparitas antar provinsi. Bedanya, jika pada disparitas antar provinsi sumber disparitas terbesar berasal dari disparitas antar kawasan (between groups), namun pada disparitas antara kawasan metropolitan dan non metropolitan (ROJ), sumber disparitas yang lebih tinggi disumbangkan dari disparitas dalam kelompok (within groups), sebagaimana disajikan secara tabular dan grafis pada Tabel 5.22 dan Gambar Tabel Besarnya Disparitas Antara Kawasan Metropolitan vs Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy Disparitas/ Indeks Theil Entropy Kawasan Antar Kawasan Antar Kab/Kota Dalam Kawasan Metropolitan Non Metropolitan Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Theil Entropy Antar Kawasan (metro politan vs ROJ) Antar Kab/Kota dalam Kawasan Ketimpangan To tal Tahun Gambar Dinamika Perubahan Besarnya Derajat Disparitas Antara Kawasan Metropolitan vs Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy Dilihat dari besarnya persentase dekomposisi indeks Theil entropy pada kawasan metropolitan dan non metropolitan (ROJ) tahun (Tabel 5.23),
40 109 dapat diketahui bahwa sumber disparitas yang berasal dari disparitas antar kawasan (between regions) memiliki persentase yang lebih rendah dibandingkan disparitas dalam kawasan (within regions). Hal ini berarti bahwa derajat disparitas antar kabupaten/kota dalam masing-masing kawasan mempunyai nilai yang lebih besar (dominan) dibandingkan dengan disparitas antar kedua kawasan tersebut, dimana disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan metropolitan berkontribusi lebih besar dalam menyumbangkan disparitas within regions dibandingkan disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan non metropolitan (Gambar 5.30). Tabel Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy pada Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun (dalam %) Disparitas/ Dekomposisi Disparitas Indeks Theil Entropy (%) Kawasan Antar Kawasan 1) Antar Kab/Kota 1) Dalam Kawasan Metropolitan 2) Non Metropolitan 2) Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: 1) Persentase terhadap disparitas total. 2) Persentase terhadap disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan. Sebelum OTDA Setelah OTDA Persentase (%) Antar Kawasan (metropolitan vs ROJ) Antar Kab/Kota dalam Kawasan Tahun Gambar Grafik Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy pada Kawasan Metropolitan dan Non Metropolitan di Pulau Jawa Tahun
41 Disparitas Antara Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek Kawasan metropolitan terbesar di Pulau Jawa, bahkan di Indonesia saat ini adalah Kawasan Jabodetabek. Menurut UU 26/2007 tentang Penataan Ruang, kawasan metropolitan merupakan kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan sekurang-kurangnya satu juta jiwa. Kawasan Jabodetabek tumbuh dan berkembang dengan Jakarta sebagai kawasan perkotaan inti, sedangkan kawasan di sekitarnya (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) berfungsi sebagai hinterland-nya. Besarnya pengaruh Kawasan Jabodetabek bagi perkembangan Pulau Jawa, bahkan mengingat peranannya yang begitu strategis dalam konstelasi pembangunan nasional, memperkuat dugaan bahwa salah satu penyebab terjadinya disparitas antar wilayah di Pulau Jawa adalah semakin terpolarisasinya pembangunan di kawasan tersebut. Alasan itulah yang menyebabkan mengapa disparitas antara Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek juga dikaji dalam penelitian ini. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Kawasan Jabodetabek merupakan kawasan metropolitan yang terdiri dari gabungan beberapa kawasan perkotaan (dengan inti dan plasma) yang memiliki keterkaitan fungsional. Bahkan, karena populasi penduduk di kawasan ini yang jumlahnya lebih dari sepuluh juta jiwa, maka Jabodetabek bukan lagi disebut kawasan metropolitan, melainkan kawasan megapolitan. Tabel 5.24 dan Gambar 5.31 berikut ini menyajikan secara rinci data dan dinamika pertumbuhan jumlah penduduk di Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa tahun Tabel Jumlah Penduduk Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun (jiwa) Tahun Jabodetabek Non Jabodetabek Jumlah ,392,096 85,671, ,063, ,563,089 89,737, ,300, ,696,185 92,745, ,441, ,997,337 96,323, ,320, ,316, ,864, ,181, ,616, ,446, ,062, ,398, ,787, ,186,215 Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus). Statistik Indonesia, BPS.
42 ,000, ,000,000 Jumlah Penduduk (jiwa) 80,000,000 60,000,000 40,000,000 20,000,000 Jabodetabek Non Jabodetabek Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan Jumlah Penduduk Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun Besarnya persentase rata-rata jumlah penduduk pada masing-masing kawasan tahun (Tabel 5.25), menunjukkan bahwa rata-rata jumlah penduduk yang menghuni Kawasan Jabodetabek adalah sekitar 17.05% dari total penduduk Pulau Jawa, sedangkan sisanya (82.95%) tinggal di luar Jabodetabek. Sementara itu, ditinjau dari besarnya laju pertumbuhan penduduk (Tabel 5.26), dapat diamati bahwa dari tahun ke tahun besarnya laju pertumbuhan penduduk, baik di Kawasan Jabodetabek maupun di Kawasan Non Jabodetabek berfluktuatif. Namun, yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa besarnya laju pertumbuhan penduduk di Kawasan Jabodetabek selalu lebih tinggi dibandingkan di Kawasan Non Jabodetabek, dengan nilai laju pertumbuhan rata-rata masing-masing adalah sebesar 2.30% dan 1.10%. Tabel Persentase Jumlah Penduduk Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek terhadap Jumlah Penduduk Total di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Jabodetabek Non Jabodetabek Rata-rata Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas. Statistik Indonesia, BPS (diolah).
43 112 Tabel Laju Pertumbuhan Penduduk Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Jabodetabek Non Jabodetabek Total (Jawa) Rata-rata Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus). Statistik Indonesia, BPS (diolah). Besarnya nilai PDRB di masing-masing kawasan (Tabel 5.27) dan dinamika pertumbuhannya dari tahun (Gambar 5.32) menunjukkan adanya disparitas pada kedua kawasan tersebut, dimana Kawasan Jabodetabek dengan jumlah penduduk sekitar 17% dari total penduduk Jawa, berkontribusi lebih dari dua pertiga bagian PDRB yang disumbangkan oleh Kawasan Non Jabodetabek yang notabene dihuni oleh jumlah penduduk yang jauh lebih banyak. Tabel Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan * Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun (Juta Rupiah) Tahun Jabodetabek Non Jabodetabek Jumlah ,845, ,368, ,213, ,800, ,524, ,325, ,104, ,236, ,340, ,785, ,435, ,221, ,198, ,993, ,191, ,645, ,419, ,065, ,870, ,809,860 1,072,680,190 Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia Keterangan: *Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan telah distandarisasi. 700,000, ,000,000 P D R B ( ju t a ru p ia h ) 500,000, ,000, ,000, ,000, ,000,000 Jabodetabek Non Jabodetabek Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan PDRB Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun
44 113 Dari Tabel 5.28 dapat dilihat bahwa besarnya persentase kontribusi PDRB yang disumbangkan oleh Kawasan Jabodetabek semakin meningkat dari tahun ke tahun, dimana persentase rata-ratanya mencapai 41.77%. Sebaliknya, besarnya persentase kontribusi PDRB Kawasan Non Jabodetabek semakin lama cenderung makin menurun dengan persentase rata-rata sebesar 58.23%. Tabel Persentase PDRB Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek terhadap PDRB Total di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Jabodetabek Non Jabodetabek Rata-rata Sumber: PDRB Kabupaten/Kota di Indonesia. Tahun (BPS), diolah. Dari besarnya laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing kawasan dari tahun (sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.29 di bawah ini), dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan ekonomi di Kawasan Jabodetabek lebih tinggi dibandingkan Kawasan Non Jabodetabek dengan nilai rata-rata masing-masing sebesar 6.66% dan 5.39%. Hal ini semakin memperkuat dugaan akan besarnya dominansi Kawasan Jabodetabek terhadap pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa. Adapun dinamika perubahan laju pertumbuhan ekonomi di Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek tahun disajikan secara grafis pada Gambar Tabel Laju Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Jabodetabek Non Jabodetabek Total (Jawa) Rata-rata Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun (BPS), diolah.
45 114 Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) Jabodetabek Non Jabodetabek Total (Jaw a) Tahun Gambar Dinamika Perubahan Laju Pertumbuhan Ekonomi di Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek Tahun Ditinjau dari besarnya nilai PDRB per kapita sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 5.34, dapat diketahui bahwa perkembangan PDRB per kapita di Kawasan Jabodetabek memiliki kecenderungan yang terus meningkat, dan nilainya jauh meninggalkan PDRB per kapita di Kawasan Non Jabodetabek. PDRB per kapita (Rp/th) 25,000,000 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000,000 Jabodetabek Non Jabodetabek Jaw a Tahun Gambar Perkembangan Nilai PDRB per Kapita di Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun Gambar 5.35 berikut ini mendeskripsikan perbandingan antara Kawasan Jabodetabek dan Kawasan Non Jabodetabek, khususnya dilihat dari parameter luas wilayah, jumlah penduduk dan besarnya kontribusi PDRB yang disumbangkan. Dari Gambar 5.35, dapat dilihat bahwa Kawasan Jabodetabek dengan luas wilayah yang sangat sempit (kurang dari 5% total luas Pulau Jawa) dan ditinggali oleh sekitar 17% penduduk pulau tersebut, ternyata berperan sangat penting dalam sektor perekonomian karena menyumbangkan hampir separuh bagian dari PDRB total di Pulau Jawa. Sedangkan separuh bagian lagi merupakan kontribusi PDRB dari Kawasan Non Jabodetabek yang luas wilayahnya meliputi 95% total luas Pulau Jawa dan dihuni oleh sekitar 83% penduduk pulau tersebut.
46 % 90% 80% 70% 58.2 Proporsi 60% 50% 40% Non Jabodetabek Jabodetabek 30% 20% 10% 0% % Luas % Penduduk % PDRB Parameter Gambar Proporsi Luas Wilayah, Rata-rata Jumlah Penduduk dan Besarnya Kontribusi PDRB Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun Besarnya Derajat Disparitas Antara Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek dengan Indeks Williamson dan Indeks Theil Entropy Hasil indeks Williamson dalam menganalisis disparitas antara Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek (sebagaimana yang disajikan pada Tabel 5.30) menunjukkan bahwa dari tahun besarnya derajat disparitas antar kawasan mengalami peningkatan meskipun tidak terlalu signifikan (dari di tahun 1986 menjadi di tahun 2007). Dari Gambar 5.36 yang menyajikan dinamika perubahan besarnya derajat disparitas antar kedua kawasan tersebut secara grafis, dapat diketahui bahwa disparitas antar kabupaten/kota di Kawasan Jabodetabek nilainya lebih kecil dibandingkan disparitas di Kawasan Non Jabodetabek. Tabel Besarnya Disparitas Antar Kabupaten/Kota pada Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Williamson Disparitas Antar Kab/Kota Indeks Williamson Kawasan Jabodetabek Kawasan Non Jabodetabek Disparitas Antara Kawasan Jabodetabek vs Non Jabodetabek Sumber: Hasil Analisis
47 Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Williamson Jabodetabek Non Jabo detabek Jabodetabek vs Non Jabo detabek Tahun Gambar Disparitas Antar Kabupaten/Kota pada Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Williamson Indeks Theil entropy hasil analisis disparitas di Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek menunjukkan bahwa besarnya derajat disparitas antar kawasan (between regions) mempunyai nilai yang relatif tetap dari tahun 1986 hingga 2007, yaitu sebesar Sedangkan besarnya derajat disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan (within regions) memiliki nilai yang lebih tinggi dengan kecenderungan yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Secara rinci besarnya disparitas antara Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek yang didekomposisikan menjadi disparitas antar kawasan (between regions) dan disparitas dalam kawasan (within regions) menggunakan indeks Theil entropy dapat diamati pada Tabel 5.31 dan ditampilkan secara grafis pada Gambar 5.37 berikut ini. Tabel Besarnya Disparitas Antara Kawasan Jabodetabek vs Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy Disparitas/ Indeks Theil Entropy Kawasan Antar Kawasan Antar Kab/Kota Dalam Kawasan Jabodetabek Non Jabodetabek Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis.
48 Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Theil Entropy Antar Kawasan (jabodetabek vs non jabodetabek) Antar Kab/Kota dalam Kawasan Ketimpangan Total Tahun Gambar Dinamika Perubahan Besarnya Derajat Disparitas Antara Kawasan Jabodetabek vs Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy Ditinjau dari besarnya persentase dekomposisi indeks Theil entropy pada Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek tahun (Tabel 5.32), dapat diketahui bahwa pada mulanya (kondisi tahun 1986) sumber disparitas yang berasal dari disparitas antar kawasan (between regions) dan disparitas dalam kawasan (within regions) memiliki proporsi yang hampir sama dalam menyumbangkan disparitas. Namun, seiring berjalannya waktu, derajat disparitas yang berasal dari disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan cenderung menunjukkan dominansinya, sehingga persentase disparitas dalam kawasan (within regions) semakin meningkat dari tahun ke tahun, yang berdampak pada semakin berkurangnya proporsi disparitas antar kawasan (between regions), sebagaimana ditampilkan secara grafis pada Gambar Tabel Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy pada Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun (dalam %) Disparitas/ Kawasan Dekomposisi Disparitas Indeks Theil Entropy (%) Antar Kawasan 1) Antar Kab/Kota 1) Dalam Kawasan Jabodetabek 2) Non Jabodetabek 2) Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: 1) Persentase terhadap disparitas total. 2) Persentase terhadap disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan.
49 118 Sebelum OTDA Setelah OTDA Persen tase (% ) Antar Kawasan (jabodetabek vs non jabodetabek) Antar Kab/Kota dalam Kawasan Tahun Gambar Grafik Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy pada Kawasan Jabodetabek dan Non Jabodetabek di Pulau Jawa Tahun Disparitas Antara Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) Salah satu perbedaan mendasar antara kawasan kabupaten dan kota (perkotaan) adalah jenis kegiatan utama pada kawasan kabupaten biasanya tidak jauh dari pengembangan pertanian maupun kegiatan berbasis pengelolaan sumberdaya alam, sedangkan di kawasan kota (perkotaan), jenis kegiatan utama yang berkembang adalah sektor jasa (keuangan), industri dan perdagangan. Perlunya kajian yang memperbandingkan antara kawasan kabupaten dan kota (perkotaan), termasuk menganalisis bentuk-bentuk disparitas antara kedua kawasan tersebut salah satunya dilatarbelakangi oleh adanya kenyataan bahwa besarnya pengaruh dan tingkat pencapaian pembangunan pada kedua kawasan tersebut tidaklah sama. Di Pulau Jawa (sampai dengan tahun 2007) sedikitnya terdapat 116 wilayah administrasi yang terdiri dari 84 kabupaten dan 32 kota. Ditinjau dari jumlah penduduknya (Tabel 5.33), dapat diamati bahwa jumlah penduduk pada kedua kawasan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1986, jumlah penduduk di kawasan kota (perkotaan) di Pulau Jawa sekitar 16 juta jiwa, sedangkan di kawasan kabupaten jumlahnya enam kali lipat lebih banyak (sekitar 84 juta jiwa). Kondisi pada tahun 2007, jumlah penduduk di kawasan kota (perkotaan) sudah bertambah menjadi 27 juta jiwa, sedangkan di kawasan kabupaten jumlahnya mencapai 103 juta jiwa. Dinamika pertumbuhan penduduk di masing-masing kawasan tahun disajikan pada Gambar 5.39.
50 119 Tabel Jumlah Penduduk Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun (jiwa) Tahun Kabupaten Kota Jumlah ,354,872 16,708, ,063, ,972,440 17,327, ,300, ,904,286 20,097, ,001, ,277,000 23,043, ,320, ,530,156 23,651, ,181, ,785,295 26,277, ,062, ,693,915 27,492, ,186,215 Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus). Statistik Indonesia, BPS. 120,000, ,000,000 Jumlah Penduduk (jiwa ) 80,000,000 60,000,000 40,000,000 20,000,000 Kota Kabupaten Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan Jumlah Penduduk Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun Persentase Penduduk (%) Kabupaten Kota Tahun Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas. Statistik Indonesia, BPS (diolah). Gambar Persentase Jumlah Penduduk Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) terhadap Jumlah Penduduk Total di Pulau Jawa Tahun (%)
51 120 Dari besarnya persentase jumlah penduduk pada masing-masing kawasan pada tahun (sebagaimana dapat diamati pada Gambar 5.40), menunjukkan bahwa rata-rata jumlah penduduk yang menghuni kawasan kota (perkotaan) adalah sekitar 18.77% dari total penduduk Pulau Jawa, sedangkan sisanya (81.23%) tinggal di kawasan kabupaten. Sementara itu, ditinjau dari besarnya laju pertumbuhan penduduk (lihat Tabel 5.34 dan Gambar 5.41), dapat diamati bahwa dari tahun ke tahun besarnya laju pertumbuhan penduduk, baik di kawasan kota (perkotaan) maupun di kawasan kabupaten berfluktuatif. Namun, yang perlu diketahui di sini adalah bahwa besarnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk di kawasan kota (perkotaan) di Pulau Jawa jauh lebih tinggi daripada laju pertumbuhan penduduk di kawasan kabupaten, dengan nilai masing-masing adalah 2.61% dan 1.02%. Tabel Laju Pertumbuhan Penduduk Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Kabupaten Kota Total (Jawa) Rata-rata Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus). Statistik Indonesia, BPS (diolah) Laju Pertumbuhan Penduduk (%) Kota Kabupaten Total (Jaw a) Tahun Gambar Dinamika Perubahan Laju Pertumbuhan Penduduk di Kawasan Perkotaan (Kota) dan Kabupaten di Pulau Jawa Tahun
52 121 Disparitas pembangunan antara kawasan kabupaten dan kota (perkotaan) di Pulau Jawa akan semakin tampak pada saat membandingkan besarnya PDRB yang dihasilkan di masing-masing kawasan. Dari Tabel 5.35 dapat diketahui bahwa pada tahun 1986, besarnya PDRB yang disumbangkan oleh kawasan kota (perkotaan) masih lebih rendah dibandingkan PDRB kawasan kabupaten. Namun, pesatnya pembangunan dan berkembangnya perekonomian di kawasan perkotaan di Pulau Jawa dari waktu ke waktu menyebabkan kondisi yang terjadi sekarang justru kebalikannya. Data pada Tabel 5.35 menunjukkan bahwa mulai tahun 1997, nilai PDRB yang disumbangkan oleh kawasan kota (perkotaan) di Pulau Jawa sudah lebih tinggi dari porsi yang disumbangkan oleh kawasan kabupaten. Secara grafis, dinamika pertumbuhan PDRB di kawasan kabupaten dan kota (perkotaan) di Pulau Jawa dapat dilihat pada Gambar Tabel Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun (Juta Rupiah) Tahun Kabupaten Kota Jumlah ,836, ,377, ,213, ,627, ,697, ,325, ,267, ,073, ,340, ,450, ,770, ,221, ,965, ,225, ,191, ,778, ,286, ,065, ,535, ,145,080 1,072,680,190 Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia (Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan telah distandarisasi). 600,000, ,000,000 PDRB (juta rupiah) 400,000, ,000, ,000, ,000,000 Kota Kabupaten Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan PDRB Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun
53 122 Gambar 5.43 berikut ini menampilkan besarnya persentase kontribusi PDRB masing-masing kawasan terhadap nilai PDRB total di Pulau Jawa tahun Persentase Kontribusi PDRB (%) Kabupaten Kota Tahun Sumber: PDRB Kabupaten/Kota di Indonesia (BPS), diolah. Gambar Persentase Kontribusi PDRB Kawasan Kabupaten dan Perkotaan (Kota) terhadap Nilai PDRB Total di Pulau Jawa Tahun Dari Gambar 5.43 dapat diketahui bahwa besarnya persentase kontribusi PDRB yang disumbangkan oleh kawasan kota (perkotaan) pada mulanya sedikit lebih rendah dibandingkan kawasan kabupaten. Namun, trend yang terjadi dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa besarnya persentase kontribusi PDRB kawasan kota (perkotaan) mempunyai kecenderungan yang semakin meningkat, sedangkan fenomena yang terjadi pada kawasan kabupaten justru kebalikannya. Dari besarnya laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing kawasan dari tahun (Tabel 5.36 dan Gambar 5.44), dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan ekonomi di kawasan perkotaan (kota) di Pulau Jawa lebih tinggi dibandingkan kawasan kabupaten dengan nilai rata-rata masing-masing sebesar 6.82% dan 5.04%. Tabel Laju Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Kabupaten Kota Total (Jawa) Rata-rata Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun (BPS), diolah.
54 Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) Kota Kabupaten Total (Jawa) Tahun Gambar Dinamika Perubahan Laju Pertumbuhan Ekonomi di Kawasan Perkotaan (Kota) dan Kabupaten di Pulau Jawa Tahun Tingginya nilai PDRB per kapita di kawasan perkotaan (kota) di Pulau Jawa dibandingkan dengan PDRB per kapita di kawasan kabupaten seperti yang terlihat pada Gambar 5.45 juga menunjukkan adanya suatu disparitas antara kedua kawasan tersebut. Dari grafik yang disajikan pada Gambar 5.45 dapat diamati bahwa kawasan perkotaan berkembang lebih baik dibandingkan dengan kawasan kabupaten, sehingga hal ini berdampak pula pada pencapaian nilai PDRB per kapita di kedua kawasan yang cukup timpang. PDRB per kapita (Rp/th) 25,000,000 20,000,000 15,000,000 10,000,000 Kota Kabupaten Jaw a 5,000, Tahun Gambar Perkembangan Besarnya PDRB per Kapita di Kawasan Perkotaan (Kota) dan Kabupaten di Pulau Jawa Tahun Perbandingan antara kawasan kabupaten dan kota (perkotaan) di Pulau Jawa terutama ditinjau dari luas wilayah, jumlah penduduk dan besarnya persentase PDRB yang dihasilkan (lihat Gambar 5.46), menunjukkan adanya suatu disparitas pembangunan antara kedua kawasan tersebut.
55 % 90% 80% 70% 49.5 Proporsi 60% 50% 40% Kabupaten Kota 30% 20% 10% 0% % Luas % Penduduk % PDRB Parameter Gambar Proporsi Luas Wilayah, Rata-rata Jumlah Penduduk dan Besarnya Kontribusi PDRB Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun Dari Gambar 5.46 dapat diketahui bahwa kawasan kota (perkotaan) yang luasnya hanya meliputi sebagian kecil total luas Jawa dan dihuni sekitar 18.8% penduduk, pada kenyataan menyumbangkan PDRB dengan proporsi bagian yang sama dengan PDRB yang disumbangkan oleh kawasan kabupaten, bahkan ada kecenderungan bahwa besarnya persentase tersebut semakin meningkat. Besarnya Derajat Disparitas Antara Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) dengan Indeks Williamson dan Indeks Theil Entropy Indeks Williamson hasil analisis disparitas antara kawasan kabupaten dan kota (perkotaan) di Pulau Jawa (Tabel 5.37) menunjukkan bahwa dari tahun besarnya derajat disparitas antar kawasan menunjukkan kecenderungan yang relatif tidak berubah, yaitu sekitar Namun, dari Tabel 5.37 dapat dilihat bahwa besarnya derajat disparitas antar kota lebih tinggi dibandingkan dengan disparitas antar kabupaten. Tabel Besarnya Disparitas Antara Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Williamson Disparitas Indeks Williamson Antar Kabupaten Antar Kota Disparitas Antara Kabupaten vs Kota Sumber: Hasil Analisis.
56 Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Williamson Antar Kabupaten Antar Kota Kabupaten vs Kota Tahun Gambar Disparitas Antar Kabupaten/Kota pada Kawasan Kabupaten dan Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Williamson Bahkan dari kenampakan grafis yang disajikan pada Gambar 5.47, dapat diamati bahwa disparitas antar kota mempunyai kecenderungan yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Sedangkan disparitas antar kabupaten juga mengalami peningkatan (dari tahun 1986 hingga 2000) meskipun dengan derajat disparitas yang lebih rendah dari disparitas antar kota, namun dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2007 nilai indeks tersebut berangsur-angsur turun. Indeks Theil entropy hasil analisis disparitas antara kawasan kabupaten dan kawasan kota (perkotaan) di Pulau Jawa menunjukkan bahwa disparitas antar kawasan (between regions) cenderung semakin melebar (periode tahun ), sedangkan besarnya derajat disparitas dalam kawasan (within regions) semakin lama semakin menurun. Pada tahun 2007, besarnya derajat disparitas antara kawasan kabupaten dan kawasan kota (perkotaan) di Pulau Jawa memiliki nilai yang sama, yaitu (lihat Tabel 5.38 dan Gambar 5.48). Tabel Besarnya Disparitas Antara Kawasan Kabupaten vs Kota di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy Disparitas/ Indeks Theil Entropy Kawasan Antar Kawasan Antar Kab/Kota Dalam Kawasan Kabupaten Kota Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis.
57 Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Theil Entropy Antar Kawasan (Kab vs Kota) A ntar Kab/Ko ta dalam Kawasan Ketimpangan Total Year Gambar Dinamika Perubahan Besarnya Derajat Disparitas Antara Kawasan Kabupaten vs Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy Besarnya persentase dekomposisi indeks Theil entropy pada kawasan kabupaten dan kota (perkotaan) di Pulau Jawa tahun (sebagaimana hasil analisis yang ditunjukkan pada Tabel 5.39) menunjukkan bahwa pada mulanya (kondisi tahun 1986) disparitas yang bersumber dari disparitas antar kawasan (between regions) memiliki persentase yang lebih tinggi dibandingkan disparitas dalam kawasan (within regions), dimana nilainya masing-masing sebesar 64.87% dan 35.13%. Namun, seiring berjalannya waktu, besarnya persentase disparitas antar kawasan berangsur-angsur mengalami penurunan. Sebaliknya, persentase antar kabupaten/kota dalam kawasan secara konsisten meningkat, hingga pada tahun 2007 besarnya persentase disparitas baik antar maupun dalam kawasan memiliki persentase yang nyaris sama, yaitu sekitar 50% (Gambar 5.49). Tabel Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy pada Kawasan Kabupaten vs Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun (%) Disparitas/ Dekomposisi Disparitas Indeks Theil Entropy (%) Kawasan Antar Kawasan 1) Antar Kab/Kota 1) Dalam Kawasan Kabupaten 2) Kota 2) Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: 1) Persentase terhadap disparitas total. 2) Persentase terhadap disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan.
58 127 Sebelum OTDA Setelah OTDA Persentase (%) Antar Kaw asan (Kab vs Kota) Antar Kab/Kota dalam Kaw asan Tahun Gambar Grafik Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy pada Kawasan Kabupaten vs Kota (Perkotaan) di Pulau Jawa Tahun Disparitas Antara Kawasan Pesisir dan Non Pesisir Secara formal definisi kawasan pesisir tertuang dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.34/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Penataan Ruang Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Dalam keputusan tersebut, kawasan pesisir didefinisikan sebagai daerah pertemuan antara darat dan laut: ke arah darat kawasan pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan karena kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Definisi tersebut juga menunjukkan bahwa tidak terdapat garis batas nyata kawasan pesisir. Batas kawasan hanyalah garis khayal yang letaknya ditentukan oleh kondisi dan situasi setempat, pada tempat yang landai garis batas ini dapat berada jauh dari garis pantai, dan sebaliknya untuk wilayah pantai yang terjal. Mengacu pada definisi sebagaimana yang diuraikan di atas, maka di dalam penelitian ini pengkategorian kawasan pesisir adalah kabupaten/kota yang wilayahnya (atau sebagian wilayahnya) berbatasan langsung dengan laut dan mempunyai garis pantai. Sedangkan kabupaten/kota yang tidak memenuhi kriteria tersebut dikategorikan dalam kawasan non pesisir. Perlunya mengkaji dan membandingkan bentuk-bentuk disparitas antara kawasan pesisir dan non pesisir di Pulau Jawa dalam penelitian ini adalah adanya dugaan bahwa karakteristik wilayah merupakan salah satu faktor yang
59 128 mempengaruhi terjadinya disparitas antar wilayah, sebagaimana yang diungkapkan oleh Murty (2000) yang membenarkan bahwa karakteristik wilayah yang tampak dari perbedaan distribusi sumberdaya alam, sumberdaya pertanian, topografi, iklim, curah hujan, sumberdaya mineral dan variasi spasial lainnya menjadi faktor-faktor utama penyebab disparitas pembangunan. Dilihat dari jumlah penduduknya (Tabel 5.40 dan Gambar 5.50), dapat diamati bahwa jumlah penduduk pada kedua kawasan terus mengalami peningkatan dari tahun 1986 hingga tahun 2007, dimana jumlah penduduk di kawasan pesisir lebih banyak dibandingkan dengan di kawasan non pesisir. Tabel Jumlah Penduduk Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun (jiwa) Tahun Pesisir Non Pesisir Jumlah ,471,247 44,592, ,063, ,165,328 46,134, ,300, ,710,373 49,291, ,001, ,418,626 52,901, ,320, ,301,637 54,576, ,878, ,077,372 56,985, ,062, ,232,244 59,953, ,186,215 Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus). Statistik Indonesia, BPS. 80,000,000 70,000,000 Jum lah Penduduk (jiwa) 60,000,000 50,000,000 40,000,000 30,000,000 20,000,000 Pesisir Non Pesisir 10,000, Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan Jumlah Penduduk Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun Besarnya persentase rata-rata jumlah penduduk di masing-masing kawasan dari tahun (Tabel 5.41), menunjukkan bahwa proporsi jumlah penduduk di kawasan pesisir dan non pesisir di Pulau Jawa tidak jauh berbeda, dengan nilai rata-rata masing-masing adalah sebesar 55.44% dan 44.56% (dalam hal ini jumlah penduduk di kawasan pesisir sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan non pesisir).
60 129 Tabel Persentase Jumlah Penduduk Kawasan Pesisir dan Non Pesisir terhadap Jumlah Penduduk Total Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Pesisir Non Pesisir Rata-rata Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas. Statistik Indonesia, BPS (diolah). Sementara itu, dilihat dari besarnya laju pertumbuhan penduduknya (Tabel 5.42), dapat diamati bahwa dari tahun ke tahun (periode ) perubahan laju pertumbuhan penduduk bersifat sangat dinamis. Namun, dari nilai rataratanya dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan penduduk di kawasan pesisir Jawa masih lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk di kawasan non pesisirnya, dimana masing-masing nilainya sebesar 1.17% dan 1.47%. Tabel Laju Pertumbuhan Penduduk Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun (dalam %) Tahun Pesisir Non Pesisir Total (Jawa) Rata-rata Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus). Statistik Indonesia, BPS (diolah). Dari besarnya PDRB di masing-masing kawasan (Tabel 5.43), dapat dilihat bahwa PDRB yang disumbangkan oleh kawasan non pesisir di Pulau Jawa masih lebih tinggi dibandingkan dengan PDRB kawasan pesisir, dimana pada tahun 1986 besarnya PDRB kawasan pesisir adalah sekitar 167 juta rupiah dan PDRB kawasan non pesisir sebesar 179 juta rupiah. Sedangkan pada tahun 2007, PDRB yang dihasilkan pada kedua kawasan telah mengalami peningkatan menjadi senilai 492 juta rupiah dan 580 juta rupiah masing-masing untuk kawasan pesisir dan non pesisir. Dinamika Pertumbuhan PDRB Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun disajikan pada Gambar 5.51.
61 130 Tabel Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun (Juta Rupiah) Tahun Pesisir Non Pesisir Jumlah ,548, ,665, ,213, ,075, ,249, ,325, ,614, ,726, ,340, ,775, ,445, ,221, ,805, ,385, ,191, ,591, ,473, ,065, ,190, ,489,430 1,072,680,190 Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia (Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan telah distandarisasi). 700,000, ,000,000 PDRB (juta rupiah) 500,000, ,000, ,000, ,000, ,000,000 Pesisir Non Pesisir Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan PDRB Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun Dari segi persentase kontribusi PDRB-nya (Tabel 5.44), dapat disaksikan bahwa kawasan non pesisir menyumbangkan porsi bagian yang lebih besar terhadap PDRB total Pulau Jawa (yaitu sekitar 53.36%), sedangkan sisanya (46.64%) disumbangkan oleh kawasan pesisir. Hal inilah yang menjadi salah satu sumber penyebab disparitas antara kedua kawasan tersebut. Tabel Persentase Besarnya Kontribusi PDRB Kawasan Pesisir dan Non Pesisir terhadap PDRB Total di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Pesisir Non Pesisir Rata-rata Sumber: PDRB Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun (BPS), diolah.
62 131 Besarnya laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing kawasan (Tabel 5.45 dan Gambar 5.52) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi di kawasan non pesisir memiliki rata-rata yang sedikit lebih tinggi dibandingkan kawasan pesisir, dengan nilai masing-masing sebesar 6.20% dan 5.57%. Tabel Laju Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Pesisir Non Pesisir Total (Jawa) Rata-rata Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun (BPS), diolah. Dari Tabel 5.45 dapat diketahui bahwa besarnya laju pertumbuhan ekonomi baik di kawasan pesisir maupun non pesisir pada periode tahun nilainya negatif. Hal ini terkait dengan terjadinya krisis yang menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi pada kedua kawasan tersebut menurun drastis, dimana kawasan non pesisir mengalami penurunan laju pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dibandingkan kawasan pesisir. Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) Pesisir Non Pesisir Total (Jawa) Tahun Gambar Dinamika Laju Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun Ditinjau dari besarnya nilai PDRB per kapita (Gambar 5.53) dapat dilihat bahwa PDRB per kapita di kawasan non pesisir masih lebih tinggi dibandingkan dengan nilai PDRB per kapita di kawasan pesisir, meskipun laju pertumbuhan PDRB per kapita pada kedua kawasan tersebut relatif sama.
63 132 PDRB per kapita (Rp/th) 12,000,000 10,000,000 8,000,000 6,000,000 4,000,000 Pesisir Non Pesisir Jaw a 2,000, Tahun Gambar Perkembangan Besarnya PDRB per Kapita di Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun Apabila digambarkan dengan diagram, maka perbandingan antara kawasan pesisir dan non pesisir di Pulau Jawa ditinjau dari segi luas wilayah, jumlah penduduk dan proporsi sumbangan PDRB yang diberikan sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya dapat dilihat pada Gambar Dari Gambar 5.54 dapat dilihat bahwa kawasan non pesisir yang luasnya 31.43% dan jumlah penduduknya 44.56% dari total penduduk Pulau Jawa, faktanya memberikan kontribusi PDRB yang sedikit lebih besar dari PDRB yang disumbangkan oleh kawasan pesisir, bahkan ada kecenderungan akan terus meningkat dari waktu ke waktu. 100% 90% 80% 70% % Proporsi 50% 40% 30% 20% Non Pesisir Pesisir 10% 0% % Luas % Penduduk % PDRB Parameter Gambar Proporsi Luas Wilayah, Rata-rata Jumlah Penduduk dan Besarnya Kontribusi PDRB Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun Besarnya Derajat Disparitas Antara Kawasan Pesisir dan Non Pesisir dengan Indeks Williamson dan Indeks Theil Entropy Hasil analisis disparitas antara kawasan pesisir dan non pesisir di Pulau Jawa dengan indeks Williamson (Tabel 5.46) memperlihatkan bahwa dari periode
64 133 tahun besarnya indeks tersebut secara konsisten mengalami peningkatan. Namun, mulai tahun 2000 nilainya berangsur-angsur menurun. Tabel Besarnya Disparitas Antar Kabupaten/Kota pada Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Williamson Disparitas Antar Kabupaten/Kota Indeks Williamson Kawasan Pesisir Kawasan Non Pesisir Disparitas Antara Kawasan Pesisir vs Non Pesisir Sumber: Hasil Analisis. Dari Tabel 5.46 tersebut dapat diamati bahwa disparitas antar kabupaten/kota baik di dalam kawasan pesisir maupun kawasan non pesisir menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat. Namun, besarnya indeks disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan non pesisir relatif selalu lebih tinggi dibandingkan disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan pesisir. Secara grafis, dinamika perubahan besarnya derajat disparitas antara kawasan pesisir dan non pesisir di Pulau Jawa menggunakan indeks Williamson dapat diamati pada Gambar Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Williamson Kawasan Pesisir Kawasan No n P esisir Pesisir vs Non Pesisir Tahun Gambar Disparitas Antar Kabupaten/Kota pada Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Williamson Hasil analisis disparitas antara kawasan pesisir dan non pesisir di Pulau Jawa dengan indeks Theil entropy menunjukkan bahwa disparitas antar kawasan (between regions) bukan menjadi sumber utama penyebab disparitas antar wilayah
65 134 di kawasan ini, sebab nilainya tidak dominan (sangat kecil). Sedangkan yang berkontribusi menyumbangkan disparitas terbesar adalah disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan (Tabel 5.47 dan Gambar 5.56). Tabel Besarnya Disparitas Antara Kawasan Pesisir vs Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy Disparitas/ Indeks Theil Entropy Kawasan Antar Kawasan Antar Kab/Kota Dalam Kawasan Pesisir Non Pesisir Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis. Besarnya persentase dekomposisi indeks Theil entropy pada kawasan pesisir dan non pesisir di Pulau Jawa tahun (lihat Tabel 5.48), menunjukkan bahwa besarnya persentase disparitas baik antar kawasan (between regions) maupun dalam kawasan (within regions) dari tahun ke tahun relatif tetap (perubahannya tidak begitu signifikan). Namun, hal yang menarik di sini adalah bahwa besarnya disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan menjadi sumber utama penyebab disparitas di kawasan tersebut. Hal tersebut dapat diamati dari hasil analisis dengan indeks Theil entropy yang menunjukkan bahwa besarnya persentase disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan (within regions) secara konsisten selalu lebih besar dari 95% selama periode waktu dari tahun (Gambar 5.57) Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Theil Entropy Antar Kawasan (pesisir vs non pesisir) Antar Kab/Kota dalam Kawasan Ketimpangan Total Tahun Gambar Dinamika Perubahan Besarnya Derajat Disparitas Antara Kawasan Pesisir vs Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy
66 135 Tabel Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy pada Kawasan Pesisir dan Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun (%) Disparitas/ Dekomposisi Disparitas Indeks Theil Entropy (%) Kawasan Antar Kawasan 1) Antar Kab/Kota 1) Dalam Kawasan Pesisir 2) Non Pesisir 2) Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: 1) Persentase terhadap disparitas total. 2) Persentase terhadap disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan Sebelum OTDA Setelah OTDA P ersentase (% ) A ntar Kawasan (pesisir vs non pesisir) A ntar Kab/Kota dalam Kawasan Gambar Grafik Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy pada Kawasan Pesisir vs Non Pesisir di Pulau Jawa Tahun Tahun 6. Disparitas Antara Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Pesisir Jawa Bagian Selatan Berdasarkan hasil analisis disparitas antara kawasan pesisir dan non pesisir di Pulau Jawa (pada pembahasan sebelumnya), yang menunjukkan bahwa disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan (within regions) menjadi sumber disparitas terbesar dengan persentase lebih dari 95%, maka kajian tentang disparitas tersebut ditelaah lebih lanjut dengan menganalisis disparitas antara kawasan pesisir Jawa bagian Utara dan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan. Pengklasifikasian kedua kawasan tersebut dilakukan dengan mengkategorikan kawasan pesisir di Jawa berdasarkan letak geografisnya di Utara dan Selatan. Dilihat dari jumlah penduduknya (sebagaimana data yang disajikan pada Tabel 5.49), dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di kawasan pesisir Jawa bagian Utara lebih banyak dibandingkan di kawasan pesisir Jawa bagian Selatan.
67 136 Tabel Jumlah Penduduk Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Jawa Bagian Selatan Tahun (jiwa) Tahun Jawa Utara Jawa Selatan Non JU-JS Jumlah ,851,833 25,037,961 35,174, ,063, ,298,102 25,898,056 37,103, ,300, ,761,833 26,618,790 39,620, ,001, ,418,295 27,162,231 42,740, ,320, ,555,868 28,145,316 45,480, ,181, ,123,657 28,842,100 47,096, ,062, ,845,317 29,137,133 50,203, ,186,215 Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus). Statistik Indonesia, BPS. Dari Tabel 5.49 dapat dilihat bahwa pada tahun 1986, saat penduduk di kawasan pesisir Jawa bagian Utara berjumlah 40.8 juta jiwa, penduduk di kawasan pesisir Jawa bagian Selatan hanya berjumlah sekitar 25.0 juta jiwa. Pada kondisi tahun 2007, jumlah penduduk pada kedua kawasan mengalami peningkatan, dimana pada kawasan pesisir Jawa bagian Utara jumlahnya menjadi 51.8 juta jiwa, sedangkan di kawasan pesisir Jawa bagian Selatan sekitar 29.1 juta jiwa. Untuk mengetahui dinamika pertumbuhan penduduk di kawasan pesisir Jawa bagian Utara dan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan, maka secara grafis dapat diamati pada Gambar 5.56 berikut ini. 60,000,000 50,000,000 Jumlah Penduduk (jiwa) 40,000,000 30,000,000 20,000,000 10,000,000 0 Jaw a Utara Jaw a Selatan Non JU-JS Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan Jumlah Penduduk Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Jawa Bagian Selatan Tahun Berdasarkan persentase jumlah penduduknya, dapat diketahui bahwa dari tahun nilai persentase pada kedua kawasan tidak banyak mengalami perubahan. Dari data yang ada menunjukkan bahwa rata-rata penduduk di kawasan pesisir Jawa bagian Utara lebih tinggi dibandingkan di kawasan pesisir
68 137 Jawa bagian Selatan dengan nilai persentase masing-masing adalah sebesar 40.28% dan 23.43%, sedangkan sisanya (36.30%) merupakan penduduk yang menghuni wilayah di luar kedua kawasan tersebut (non Jawa Utara-Jawa Selatan). Adapun persentase jumlah penduduk di masing-masing kawasan dari tahun dapat diamati pada Tabel Sedangkan dari besarnya laju pertumbuhan penduduk antara kedua kawasan (Tabel 5.51), dapat dilihat bahwa rata-rata laju pertumbuhan penduduk di kawasan pesisir Jawa bagian Utara lebih tinggi dibandingkan di kawasan pesisir Jawa bagian Selatan, dengan nilai rata-rata masing-masing adalah sebesar 1.20% dan 0.76%. Tabel Persentase Jumlah Penduduk Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Kawasan Pesisir Jawa Bagian Selatan terhadap Jumlah Penduduk Total di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Jawa Utara Jawa Selatan Non JU-JS Rata-rata Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas. Statistik Indonesia, BPS (diolah). Tabel Laju Pertumbuhan Penduduk Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Kawasan Pesisir Jawa Bagian Selatan Tahun (%) Tahun Jawa Utara Jawa Selatan Non JU-JS Total (Jawa) Rata-rata Sumber: Sensus Penduduk (SP) dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus). Statistik Indonesia, BPS (diolah). Besarnya PDRB yang dihasilkan di masing-masing kawasan tahun (sebagaimana disajikan pada Tabel 5.52), menunjukkan bahwa PDRB yang dikontribusikan oleh kawasan pesisir Jawa bagian Utara jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sumbangan PDRB dari kawasan pesisir Jawa bagian
69 138 Selatan. Adapun dinamika pertumbuhan PDRB pada kedua kawasan dari tahun 1986 hingga 2007 dapat disaksikan pada Gambar Tabel Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Jawa Bagian Selatan Tahun (Juta Rupiah) Tahun Jawa Utara Jawa Selatan Non JU-JS Jumlah ,604,216 47,893,341 86,716, ,213, ,636,055 61,293, ,396, ,325, ,377,465 74,265, ,697, ,340, ,479,428 93,520, ,222, ,221, ,489,896 92,941, ,760, ,191, ,841,947 99,147, ,075, ,065, ,353, ,648, ,678,140 1,072,680,190 Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia (Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan telah distandarisasi). PDRB (juta rupiah) 700,000, ,000, ,000, ,000, ,000, ,000,000 Jaw a Utara Jaw a Selatan Non JU-JS 100,000, Tahun Gambar Dinamika Pertumbuhan PDRB Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Jawa Bagian Selatan Tahun Sementara itu, dilihat dari besarnya persentase kontribusi PDRB yang disumbangkan oleh masing-masing kawasan, dapat diketahui bahwa kawasan pesisir Jawa bagian Utara memberikan kontribusi yang lebih tinggi terhadap PDRB total Pulau Jawa dibandingkan dengan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan. Tabel 5.53 menunjukkan bahwa rata-rata persentase kontribusi PDRB kawasan pesisir Jawa bagian Utara adalah sebesar 61.14%, sedangkan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan hanya menyumbangkan sekitar 12.29% dari total PDRB Pulau Jawa.
70 139 Tabel Persentase Besarnya Kontribusi PDRB Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Jawa Bagian Selatan terhadap Nilai PDRB Total di Pulau Jawa Tahun (%) Tahun Jawa Utara Jawa Selatan Non JU-JS Rata-rata Sumber: PDRB Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun (BPS), diolah. Ditinjau dari besarnya laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing kawasan (sebagaimana disajikan pada Tabel 5.54 dan Gambar 5.60), dapat dilihat bahwa rata-rata laju pertumbuhan ekonomi di kawasan pesisir Jawa bagian Utara (5.85%) lebih tinggi dibandingkan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan (4.66%). Tabel Laju Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Jawa Bagian Selatan Tahun (%) Tahun Jawa Utara Jawa Selatan Non JU-JS Total (Jawa) Rata-rata Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun (BPS), diolah. Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) Tahun Jaw a Utara Jaw a Selatan Non JU-JS Total (Jaw a) Gambar Dinamika Laju Pertumbuhan Ekonomi di Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Jawa Bagian Selatan Tahun
71 140 Dari perbandingan nilai PDRB per kapita antar kedua kawasan (Gambar 5.61), dapat diketahui bahwa kawasan pesisir Jawa bagian Utara memiliki PDRB per kapita yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan. Isu pengembangan wilayah di Kawasan Jawa Selatan yang relatif lebih tertinggal dibandingkan dengan Jawa Utara, ternyata juga berdampak pada tingkat pencapaian nilai PDRB per kapita di kedua kawasan tersebut yang tidak sama. PDRB per kapita (Rp/th) 14,000,000 12,000,000 10,000,000 8,000,000 6,000,000 4,000,000 Jaw a Utara Jaw a Selatan Non JU-JS Jaw a 2,000, Tahun Gambar Perkembangan Besarnya PDRB per Kapita di Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Jawa Bagian Selatan Tahun Gambar 5.62 berikut mendeskripsikan perbandingan antara kawasan pesisir Jawa bagian Utara dan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan, terutama dilihat dari proporsi luas wilayah, jumlah penduduk dan besarnya kontribusi PDRB yang diberikan terhadap Pulau Jawa. 100% 90% 80% Proporsi 70% 60% 50% 40% Non JU-JS Jaw a Selatan Jaw a Utara 30% % % 0% % Luas % Penduduk % PDRB Parameter Gambar Proporsi Luas Wilayah, Rata-rata Jumlah Penduduk dan Besarnya Kontribusi PDRB Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Jawa Bagian Selatan Tahun Dari Gambar 5.62, dapat diamati bahwa dari segi luas wilayah dan banyaknya jumlah penduduk yang menghuni masing-masing kawasan, perbandingan antara kawasan pesisir Jawa bagian Utara dan Selatan tidak terlalu
72 141 menunjukkan kondisi yang timpang. Namun, bila perbandingan antara keduanya diamati dari besarnya proporsi PDRB yang disumbangkan terhadap total PDRB Pulau Jawa, maka dapat dilihat adanya disparitas pada kedua kawasan tersebut (dalam hal ini kawasan pesisir Jawa bagian Utara berkontribusi menyumbangkan 61.14% PDRB Pulau Jawa, sedangkan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan hanya sekitar 12.29%). Derajat Disparitas Antara Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Pesisir Jawa Bagian Selatan Disparitas antara kawasan pesisir Jawa bagian Utara dan Selatan yang dianalisis dengan indeks Williamson (Tabel 5.55) menunjukkan bahwa dari tahun 1986 hingga 2007, besarnya derajat disparitas antar kedua kawasan secara relatif cenderung meningkat, yaitu dari menjadi Tabel Besarnya Disparitas Antar Kabupaten/Kota pada Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Pesisir Jawa Bagian Selatan Tahun Menggunakan Indeks Williamson Disparitas Antar Kab/Kota Indeks Williamson Kawasan Jawa Bagian Utara Kawasan Jawa Bagian Selatan Disparitas Antara Kawasan Pesisir Jawa Utara vs Jawa Selatan Sumber: Hasil Analisis Gambar 5.63 berikut menampilkan secara grafis dinamika perubahan besarnya derajat disparitas antara kawasan pesisir Jawa bagian Utara dan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan. Sebagaimana data yang terdapat pada Gambar 5.63 dapat diketahui bahwa antar kabupaten/kota dalam kawasan pesisir Jawa bagian Utara mempunyai derajat disparitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan. Dari Gambar 5.63 memperlihatkan bahwa indeks disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan pesisir Jawa bagian Utara dari tahun 1986 hingga 2007 cenderung terus meningkat. Sedangkan besarnya derajat disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan pesisir Jawa bagian Selatan meningkat dari tahun Tahun 1997 hingga 2000, angka tersebut mengalami penurunan, namun mulai tahun 2000 sampai dengan 2007 besarnya derajat disparitas di kawasan tersebut secara konsisten kembali menunjukkan peningkatan.
73 142 Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Williamson Kawasan Jawa Bagian Utara Kawasan Jawa Bagian Selatan Jawa Utara vs Jawa Selatan Tahun Gambar Dinamika Perubahan Besarnya Derajat Disparitas Antara Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara dan Jawa Bagian Selatan Tahun Menggunakan Indeks Williamson Hasil analisis indeks Theil entropy yang digunakan dalam menghitung disparitas antara kawasan pesisir Jawa bagian Utara dengan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan menunjukkan bahwa disparitas total pada kedua kawasan tersebut terus meningkat dari tahun 1986 hingga 2007 (Tabel 5.56). Tabel Besarnya Disparitas Antara Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara vs Jawa Bagian Selatan Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy Disparitas/ Indeks Theil Entropy Kawasan Antar Kawasan Antar Kab/Kota Dalam Kawasan Jawa Utara Jawa Selatan Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis. Dari nilai tersebut dapat diketahui bahwa besarnya derajat disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan (within regions) jauh lebih tinggi dibandingkan disparitas antar kawasan (between regions). Dalam hal ini, besarnya disparitas dalam kawasan (within regions) memperlihatkan kecenderungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara besarnya derajat disparitas antar kawasan (between regions) relatif tetap (tidak banyak mengalami perubahan), seperti tersaji pada Gambar 5.64.
74 Sebelum OTDA Setelah OTDA Indeks Theil Entropy Antar Kawasan (jawa utara vs jawa selatan) Antar Kab/Kota dalam Kawasan Ketimpangan Total Tahun Gambar Dinamika Perubahan Besarnya Derajat Disparitas Antara Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara vs Jawa Bagian Selatan Tahun Menggunakan Indeks Theil Entropy Ditinjau dari besarnya persentase dekomposisi indeks Theil entropy pada kawasan pesisir Jawa bagian Utara dan Selatan tahun (Tabel 5.57) dapat dilihat bahwa disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan memberikan sumbangan terbesar terhadap disparitas antara kawasan pesisir Jawa bagian Utara dan Selatan, dengan persentase rata-rata sekitar 80% dan mempunyai kecenderungan terus meningkat dari waktu ke waktu. Sedangkan disparitas antar kawasan (between regions) rata-rata hanya berkontribusi menyumbangkan kurang dari 20% terhadap disparitas total antara kawasan pesisir Jawa bagian Utara dan kawasan pesisir Jawa bagian Selatan. Tabel Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy pada Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara vs Selatan Tahun (%) Disparitas/ Dekomposisi Disparitas Indeks Theil Entropy (%) Kawasan Antar Kawasan 1) Antar Kab/Kota 1) Dalam Kawasan Jawa Utara 2) Jawa Selatan 2) Disparitas Total Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: 1) Persentase terhadap disparitas total. 2) Persentase terhadap disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan. Secara rinci, persentase dekomposisi disparitas antara kedua kawasan tersebut tahun dengan indeks Theil entropy ditampilkan pada Gambar 5.65 berikut ini.
75 Sebelum OTDA Setelah OTDA Persentase (%) Antar Kawasan (jawa utara vs jawa selatan) Antar Kab/Kota dalam Kawasan Tahun Gambar Grafik Persentase Dekomposisi Indeks Theil Entropy pada Kawasan Pesisir Jawa Bagian Utara vs Jawa Bagian Selatan Tahun Sumber Utama Disparitas Regional di Pulau Jawa Berdasarkan Hasil Analisis Indeks Williamson dan Indeks Theil Entropy Dari hasil analisis dengan menggunakan indeks Williamson dan indeks Theil entropy sebagaimana yang telah diuraikan pada bahasan sebelumnya, maka dapat dibandingkan besarnya derajat disparitas pada masing-masing pembagian kawasan. Dari hasil rekapitulasi besarnya derajat disparitas antar kawasan yang dihitung dengan menggunakan indeks Williamson (lihat Gambar 5.66), maka dapat diketahui bahwa disparitas antar provinsi merupakan sumber utama disparitas regional di Pulau Jawa dengan derajat disparitas terbesar (dibandingkan dengan kelima bentuk disparitas pada kawasan lainnya). Dilihat dari dinamika perubahan besarnya derajat disparitas antar provinsi pada Gambar 5.66 tersebut, maka dapat diketahui bahwa pada tahun 1986 indeks Williamson yang menghitung besarnya disparitas antar wilayah nilainya Pada masa sebelum diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah (hingga tahun 2000), besarnya derajat disparitas antar provinsi menunjukkan trend yang terus meningkat, hingga mencapai nilai Namun, mulai tahun 2000 (setelah diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah), hasil analisis menunjukkan bahwa nilai indeks tersebut secara konsisten mengalami penurunan, dimana pada tahun 2007 nilainya menjadi Dinamika perubahan besarnya derajat disparitas regional pada masing-masing bentuk disparitas antar wilayah di Pulau Jawa dapat disaksikan pada Gambar 5.66 berikut ini.
76 Sebelum OTDA Setelah OTDA Antar provinsi Indeks Williamson Kawasan M etropolitan vs Non M etropolitan Kawasan Jabodetabek vs Non Jabodetabek Kabupaten vs Kota Kawasan Pesisir vs Non Pesisir Kawasan Pesisir Jawa Utara vs Jawa Selatan Tahun Sumber: Hasil Analisis Gambar Rekapitulasi Besarnya Derajat Disparitas Antar Wilayah di Pulau Jawa (yang Dihitung dengan Indeks Williamson) Di urutan kedua penyebab disparitas terbesar dalam pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa, terdapat disparitas antara kawasan kabupaten vs kota dengan nilai indeks yang cukup tinggi. Karena wilayah kabupaten identik dengan kawasan perdesaan, dengan kegiatan utama berbasis pertanian dan pengelolaan sumberdaya alam, maka disparitas antara kabupaten dan kota memiliki kesamaan karakteristik dengan disparitas antara desa-kota. Kawasan perdesaan memiliki segala keterbatasan, termasuk rendahnya akses terhadap pelayanan umum dan fasilitas/infrastruktur. Sementara itu, kota selalu ditunjang dengan keberadaan fasilitas/infrastruktur yang lengkap dan memadai, sehingga kawasan tersebut muncul sebagai pusat-pusat pertumbuhan karena banyaknya penduduk yang memadati kawasan tersebut. Selain itu, tumbuh dan berkembangnya kota menjadi kawasan yang maju juga disebabkan karena peranannya sebagai pusat segala aktivitas bisnis, ekonomi, perdagangan, dan jasa. Berkembangnya aktivitas di perkotaan menyebabkan aliran modal dan investasi banyak dilarikan ke kawasan tersebut. Hal-hal itulah yang menyebabkan semakin melebarnya disparitas yang terjadi antara kawasan desa dan kota. Disparitas antara Kawasan Jabodetabek dan non Jabodetabek menempati urutan ketiga penyebab disparitas regional di Pulau Jawa. Dari hasil analisis dengan menggunakan indeks Williamson sebagaimana ditampilkan pada Gambar 5.66, dapat diketahui bahwa dari tahun disparitas antara Kawasan
77 146 Jabodetabek dengan kawasan non Jabodetabek justru memiliki kecenderungan yang terus meningkat, meskipun pada titik pengamatan terakhir (tahun 2007) nilai indeksnya sedikit mengalami penurunan. Fenomena terjadinya disparitas antara Kawasan Jabodetabek dan non Jabodetabek yang semakin melebar dari waktu ke waktu, pada hakekatnya justru membahayakan perekonomian dan pembangunan nasional. Hal ini mencerminkan dominansi perekonomian di Indonesia yang dikuasai oleh kawasan Jakarta dan sekitarnya. Sehingga, perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah disparitas antar kawasan tersebut. Sebab, apabila suatu saat terjadi pergolakan ekonomi yang menyebabkan guncangnya perekonomian di Kawasan Jabodetabek, maka hampir dapat dipastikan bahwa sistem perekonomian nasional juga akan lumpuh karena besarnya pengaruh dan peranan Jabodetabek dalam konstelasi pembangunan di Indonesia. Dari hasil analisis disparitas (sebagaimana telah diuraikan di atas), dapat diamati bahwa pada masa sebelum diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah (dari tahun 1986 hingga tahun 2000), besarnya indeks Williamson yang menghitung berbagai bentuk disparitas intra-regional di Pulau Jawa secara umum mengalami peningkatan. Namun, sejak diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah, besarnya derajat disparitas pada berbagai bentuk kawasan tersebut secara konsisten mengalami penurunan. Hal tersebut dapat memperlihatkan fakta bahwa pelaksanaan Otonomi Daerah yang mulai diberlakukan sejak tahun 1999/2000 dapat menekan melebarnya tingkat disparitas pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa. Penelitian ini dapat membuktikan peranan Otonomi Daerah dalam mengurangi besarnya derajat disparitas antar wilayah di Pulau Jawa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Sjafrizal (2008), yang menyatakan bahwa pelaksanaan Otonomi Daerah merupakan salah satu cara dalam upaya penanggulangan disparitas pembangunan. Dengan dilaksanakannya Otonomi Daerah, maka aktivitas pembangunan daerah, termasuk daerah terbelakang akan dapat lebih digerakkan karena ada wewenang yang berada pada pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Dengan adanya wewenang tersebut, maka berbagai inisiatif dan aspirasi masyarakat untuk menggali potensi daerah akan dapat lebih dioptimalkan. Bila hal tersebut dapat dilakukan, maka proses pembangunan daerah secara keseluruhan dapat lebih ditingkatkan dan secara bersamaan disparitas pembangunan antar wilayah akan dapat dikurangi.
78 147 Hasil dekomposisi disparitas dengan menggunakan indeks Theil entropy (Gambar 5.67.a dan b), dapat menunjukkan kontribusi disparitas antar kawasan (between regions) dan disparitas dalam kawasan (within regions) pada keenam bentuk disparitas regional di Pulau Jawa. Dari Gambar 5.67 (a) dapat diamati bahwa persentase disparitas antar kawasan (between regions) tertinggi terdapat pada disparitas antar provinsi, sedangkan pada disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan (within regions), persentase tertinggi diduduki oleh disparitas dalam kawasan pesisir dan non pesisir (Gambar 5.67.b) Sebelum OTDA Setelah OTDA Sebelum OTDA Setelah OTDA Persentase Indeks Theil Entropy Antar Kawasan (Between Region) (%) Sumber: Hasil Analisis (a) Tahun Persentase Indeks Theil Entropy Dalam Kawasan (Within Regions) (%) (b) P rovinsi M etropolitan - Non M etropolitan Jabodetabek - Non Jabodetabek Kabupaten - Kota P esisir - Non Pesisir P esisir Jawa Utara - Jawa Selatan Tahun Gambar Rekapitulasi Persentase Derajat Disparitas (a) Antar Kawasan (Between Regions) dan (b) Dalam Kawasan (Within Regions) pada Berbagai Bentuk Disparitas Regional di Pulau Jawa (dengan Indeks Theil Entropy) Dilihat dari hasil rekapitulasi besarnya derajat disparitas dalam kawasan (within regions) pada Gambar 5.67.b di atas, dapat diketahui bahwa bentuk disparitas di kawasan pesisir dan non pesisir memiliki nilai indeks dengan persentase tertinggi (lebih dari 90%). Namun sayangnya, Gambar 5.67.b tersebut tidak dapat memberikan informasi yang lebih detil mengenai sumber utama penyebab disparitas dalam kawasan (within regions), apakah berasal dari disparitas dalam kawasan pesisir atau disparitas dalam kawasan non pesisir. Sehingga untuk mengetahui hal tersebut, perlu dilakukan analisis secara lebih spesifik dengan cara mendekomposisikan besarnya disparitas dalam kawasan (within regions) pada bentuk disparitas di kawasan pesisir dan non pesisir menjadi disparitas dalam kawasan pesisir dan disparitas dalam kawasan non pesisir (lihat
79 148 Gambar 5.68). Dalam kasus ini, hasil analisis menunjukkan bahwa disparitas dalam kawasan non pesisir memiliki persentase lebih besar dalam kontribusinya menyumbangkan disparitas within regions pada bentuk disparitas antara kawasan pesisir-non pesisir, yaitu mencapai lebih dari 60%, sedangkan sisanya disumbangkan oleh bentuk disparitas dalam kawasan pesisir. Melihat kenyataan tersebut, maka upaya mengatasi masalah disparitas dalam kawasan non pesisir juga perlu diprioritaskan Persentase (%) Pesisir Non Pesisir Tahun Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: Besarnya persentase diukur terhadap disparitas dalam kawasan (within regions) Gambar Persentase Besarnya Derajat Disparitas Dalam Kawasan Pesisir dan Disparitas Dalam Kawasan Non Pesisir Disparitas Antar Provinsi sebagai Bentuk Disparitas Regional di Pulau Jawa dengan Derajat Terbesar Hasil perbandingan besarnya derajat disparitas yang dilakukan pada keenam bentuk pembagian kawasan di Pulau Jawa dengan menggunakan indeks Williamson menunjukkan bahwa disparitas antar provinsi merupakan bentuk disparitas regional di Pulau Jawa dengan derajat disparitas terbesar. Dengan menggunakan indeks Theil entropy, dapat didekomposisikan besarnya disparitas yang bersumber dari disparitas antar provinsi (between province) maupun disparitas dalam provinsi (within province). Dari masing-masing nilai tersebut, kemudian dapat ditelusuri wilayah-wilayah mana yang menjadi sumber penyebab disparitas yang terjadi. Tabel 5.58 dan 5.59 berikut menyajikan nilai indeks yang dikontribusikan oleh masing-masing provinsi di Pulau Jawa terhadap besarnya disparitas antar provinsi (between province) dan disparitas dalam provinsi (within province).
80 149 Tabel Indeks Disparitas Antar Provinsi (Between Province) yang Dikontribusikan oleh Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Provinsi Disparitas Antar Provinsi (Between Province) DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I Yogyakarta Jawa Timur Banten *) *) *) *) Disparitas Antar Provinsi Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: *) Banten masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Tabel Indeks Disparitas Dalam Provinsi (Within Province) yang Dikontribusikan oleh Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Provinsi Disparitas Dalam Provinsi (Within Province) DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I Yogyakarta Jawa Timur Banten *) *) *) *) Disparitas Dalam Provinsi Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: *) Banten masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Dari Tabel 5.58 dapat diketahui bahwa DKI Jakarta merupakan satusatunya provinsi yang menyebabkan tingginya disparitas antar provinsi di Pulau Jawa. Bahkan dilihat dari dinamika perubahan besarnya indeks dari waktu ke waktu, dapat diamati bahwa besarnya indeks disparitas yang dikontribusikan oleh Provinsi DKI Jakarta cukup fluktuatif, dan semenjak masa Otonomi Daerah nilainya meningkat secara konsisten. Sedangkan dari data yang ditunjukkan pada Tabel 5.59 dapat dilihat bahwa besarnya nilai indeks disparitas dalam provinsi (within province) di Pulau Jawa terutama disebabkan oleh Provinsi Jawa Timur (0.040), Jawa Barat (0.018), dan DKI Jakarta (0.017), yang berarti bahwa disparitas antar kabupaten/kota dalam provinsi tersebut cukup lebar. Di satu sisi, dikeluarkannya kebijakan Otonomi Daerah memang memberikan kesempatan pada masing-masing daerah untuk mengelola sendiri daerahnya, termasuk juga menggali segala potensi yang dimilikinya. Namun di
81 150 sisi lain, bagi daerah-daerah yang belum siap untuk otonom, hal ini justru berdampak pada tersendatnya proses pembangunan karena masih tingginya tingkat ketergantungan daerah-daerah tersebut pada bantuan dan campur tangan Pemerintah Pusat. Karena alasan itulah, tingkat perkembangan daerah-daerah yang demikian mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain yang dapat memanfaatkan momentum diterapkannya kebijakan Otonomi Daerah untuk memajukan wilayahnya. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Disparitas Pembangunan Antar Wilayah di Pulau Jawa Seperti apa yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, dalam penelitian ini dilakukan uji terhadap beberapa variabel yang diduga menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya disparitas regional di Pulau Jawa. Menurut hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini, faktor-faktor tersebut adalah pertumbuhan ekonomi (PDRB), jumlah penduduk, tingkat perkembangan wilayah, persentase luas penggunaan lahan, ketersediaan dan kelengkapan infrastruktur serta kontribusi sektor-sektor perekonomian terhadap PDRB total. Landasan yang dipakai dalam memilih faktor-faktor tersebut didasarkan pada hasil studi literatur dan tinjauan pustaka penelitian-penelitian terdahulu yang mengkaji tentang penyebab terjadinya disparitas regional di berbagai wilayah. Pengujian secara statistik untuk melihat signifikansi variabel-variabel tersebut dalam mempengaruhi terjadinya disparitas regional di Pulau Jawa dilakukan dengan model ekonometrika spasial. Alasan digunakannya model ini terkait dengan hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian, bahwasanya terdapat keterkaitan antar wilayah di Pulau Jawa. Sehingga, ketika ada fenomena terjadinya disparitas regional (antar wilayah) di Pulau Jawa, maka disparitas tersebut bukan hanya berasal dari wilayahnya sendiri tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di wilayah sekitarnya. Dan model ekonometrika spasial sengaja dipilih karena model tersebut dapat mengakomodir bentuk-bentuk keterkaitan antar wilayah. Dalam penelitian ini, bentuk keterkaitan yang diuji adalah keterkaitan antar wilayah berdasarkan jarak geografis (jarak eucledian garis lurus centroid wilayah kabupaten/kota). Dengan mengakomodir hubungan keterkaitan antar wilayah berdasarkan jarak geografis (centroid), dapat diketahui bahwa model ekonometrika spasial untuk menduga faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya disparitas
82 151 pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa memiliki nilai R 2 sebesar 98.62% (Tabel 5.60). Tingginya nilai persentase dari koefisien determinasi tersebut mampu menunjukkan seberapa kuat pengaruh keterkaitan spasial antar wilayah terhadap besarnya disparitas yang terjadi di Pulau Jawa. Dapat dilihat pula bahwa model ekonometrik ini sangat signifikan dalam menggambarkan keterkaitan antar wilayah dimana dari hasil uji F model ini memiliki nilai p < Dengan demikian, hasil analisis ini dapat membuktikan terujinya hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian. Tabel Nilai R 2 dan Hasil Uji F terhadap Model Ekonometrika dengan Mempertimbangkan Keterkaitan Spasial Antar Wilayah di Pulau Jawa Dependent Variabel Multiple R Multiple R Adjusted R F P 0.00 Sumber: Hasil Analisis. Y Adanya keterkaitan antar wilayah di Pulau Jawa, sebagaimana hasil yang diperoleh dari analisis ini, dapat juga membuktikan teori bahwa suatu variabel yang diamati pada suatu titik lokasi, memiliki hubungan keterkaitan dengan variabel yang sama pada titik-titik lokasi unit analisis lainnya. Hal ini juga diungkapkan oleh Saefulhakim (2008), bahwa di dalam teori Ilmu Wilayah, fenomena keterkaitan/ketergantungan antar lokasi seperti ini diformalisasikan dalam berbagai konsep, antara lain: (1) interaksi spasial (spatial interaction), (2) difusi spasial (spatial diffusion), (3) hirarki spasial (spatial hierarchies), dan (4) aliran antar daerah (interregional spillover). Kekuatan-kekuatan pengendali (driving forces) dari berbagai fenomena keterkaitan ini bisa terdiri atas beberapa faktor, antara lain: (1) sistem geografi fisik sumberdaya alam dan lingkungan, (2) sistem ekonomi, (3) sistem sosial budaya, dan (4) sistem politik. Variabel yang diamati pada dua lokasi yang bertetangga, berdekatan, terkait, atau bermitra, dapat memiliki keterkaitan secara spasial (spatial autocorrelationship) yang lebih kuat, dibandingkan dengan variabel yang diamati pada dua lokasi yang tidak pada kondisi-kondisi tersebut. Dari hasil analisis model dapat diketahui pula bahwa variabel nilai PDRB (W_pdrb), jumlah penduduk (W_pddk), PDRB per kapita (W_pdrb_kap),
83 152 besarnya indeks diversitas entropy (W_ide), besarnya persentase luas lahan permukiman dan ruang terbangun (W_%_pmk_tbgn), besarnya nilai differential shift sektor primer (W_DS_1), dan besarnya indeks perkembangan wilayah (W_ipg) memiliki keterkaitan secara spasial (berdasarkan kedekatan jarak geografis antar wilayah dengan konsep jarak eucledian garis lurus centroid). Hasil analisis model menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut secara signifikan mempengaruhi terjadinya disparitas pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa, dimana masing-masing variabel tersebut memiliki nilai p < 0.05 (Tabel 5.61). Tabel Nilai Koefisien (β) dan Tingkat Signifikasi Variabel Penjelas (Explanatory Variables) X dan WX terpilih dari Hasil Pengujian Model dengan Mempertimbangkan Keterkaitan Spasial Antar Wilayah di Pulau Jawa R = R 2 = Adjusted R 2 = Variabel Beta (ß) St.Err.ß (t) p_level Intercept Ln (W_pdrb) * Ln (W_pdrb_kap) * Ln (W_pddk) * Ln (W_ide) * Ln (W_%_pmk_tbgn) * Ln (W_DS_1) * Ln (W_ipg) * Sumber: Hasil Analisis. Keterangan: * Berpengaruh nyata pada p < 0.05 Keterangan: W_pdrb : nilai PDRB di wilayah sekitarnya. W_pddk : jumlah penduduk/populasi di wilayah sekitarnya (jiwa) W_pdrb_kap : besarnya PDRB per kapita di wilayah sekitarnya (juta rupiah/jiwa) W_ide : indeks diversitas entropy di wilayah sekitarnya W_%_L_pmk : persentase luas permukiman terhadap luas lahan total (%) di wilayah sekitarnya W_DS_1 : nilai differential shift sektor primer hasil SSA di wilayah sekitarnya W_ipg : indeks perkembangan wilayah di wilayah sekitarnya Hasil permodelan ekonometrika spasial (Tabel 5.61) menunjukkan bahwa variabel-variabel yang secara nyata mempengaruhi terjadinya disparitas regional di Pulau Jawa adalah variabel-variabel yang memiliki keterkaitan spasial antar wilayah, sedangkan faktor-faktor internal (yang bersumber dari wilayahnya sendiri) justru tidak berpengaruh secara signifikan. Nilai koefisien (β) yang bertanda positif dari variabel nilai PDRB, PDRB per kapita, serta persentase luas lahan permukiman terhadap luas lahan total (dimana ketiganya merupakan faktor yang bersumber dari pengaruh keterkaitan dengan wilayah di sekitarnya)
84 153 menunjukkan bahwa peningkatan nilai dari ketiga variabel tersebut (di wilayah sekitarnya) akan berdampak pada semakin besarnya derajat disparitas yang dikontribusikan oleh masing-masing kabupaten/kota terhadap disparitas total di Pulau Jawa. Sedangkan tanda negatif pada nilai koefisien (β) variabel jumlah penduduk, besarnya indeks diversitas entropy, nilai differential shift sektor primer, dan nilai indeks perkembangan wilayah (dimana ketiga variabel tersebut merupakan faktor yang bersumber dari pengaruh keterkaitan dengan wilayah di sekitarnya), menyatakan bahwa peningkatan besaran/nilai dari keempat variabel tersebut akan mengurangi besarnya derajat disparitas yang dikontribusikan oleh masing-masing kabupaten/kota terhadap disparitas total di Pulau Jawa. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dari permodelan ekonometrika spasial, maka dapat diketahui bahwa model tersebut mampu membuktikan hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini. Faktor-faktor yang secara signifikan berpengaruh terhadap disparitas regional di Pulau Jawa adalah: Pertumbuhan ekonomi (PDRB) dan PDRB per kapita di wilayah sekitarnya Besarnya PDRB merupakan salah satu indikator pertumbuhan ekonomi yang mencerminkan aspek potensi dan proses kegiatan ekonomi yang diukur dari nilai tambah yang dihasilkan perekonomian di suatu wilayah. Dalam beberapa penelitian di berbagai wilayah (seperti yang dilakukan Tambunan, 2001; Farid dan Irawan, 2007) dinyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi mempengaruhi besarnya tingkat disparitas yang terjadi antar wilayah. Sehingga dalam penelitian ini, salah satu hipotesis yang dikembangkan juga mengacu pada hasil-hasil penelitian tersebut, yaitu bahwasanya pertumbuhan ekonomi (yang bisa digambarkan dari besarnya nilai PDRB dan PDRB per kapita) menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya disparitas regional di Pulau Jawa. Dalam hal ini, variabel nilai PDRB dan PDRB per kapita dikalikan dengan matriks kontiguitas spasial berdasarkan jarak geografis (centroid), karena diasumsikan bahwa besarnya kedua variabel tersebut mempunyai hubungan keterkaitan secara spasial dengan variabel yang sama di wilayah lain. Hasil analisis model ekonometrika spasial menunjukkan bahwa variabel PDRB (W_pdrb) dan PDRB per kapita (W_pdrb_kap) di wilayah sekitarnya berpengaruh signifikan terhadap tingkat disparitas yang terjadi di Pulau Jawa. Hal
85 154 ini berarti bahwa hasil uji terhadap kedua variabel dalam model tersebut dapat membuktikan kebenaran hipotesis yang dibangun. Nilai koefisien (β) dari kedua variabel tersebut (baik W_pdrb maupun W_pdrb_kap) menunjukkan nilai positif yaitu masing-masing sebesar dan (berdasarkan uji t-statistik nilai ini signifikan). Nilai positif pada koefisien tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi PDRB (W_pdrb) dan PDRB per kapita (W_pdrb_kap) di wilayah sekitarnya berbanding lurus dengan besarnya disparitas yang dikontribusikan oleh wilayahnya sendiri terhadap disparitas total di Pulau Jawa. Besarnya nilai koefisien (β) variabel PDRB (W_pdrb) yang jauh lebih tinggi dibandingkan variabel PDRB per kapita (W_pdrb_kap) memperlihatkan pengaruh pertumbuhan ekonomi (PDRB) yang begitu kuat dalam menyumbangkan tingkat disparitas yang terjadi antar wilayah di Pulau Jawa. Dari hasil analisis ini, dapat diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada kabupaten/kota di Pulau Jawa selama ini cenderung tidak berkualitas. Dikatakan tidak berkualitas karena pertumbuhan ekonomi (growth) tersebut tidak disertai dengan dorongan pemerataan (equity) spasial terhadap wilayah sekitarnya. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi (PDRB) dan PDRB per kapita suatu kabupaten/kota cenderung berimplikasi signifikan terhadap semakin melebarnya disparitas antar wilayah di Pulau Jawa. Persentase luas lahan permukiman dan ruang terbangun Perkembangan kawasan perumahan dan permukiman di suatu daerah cenderung tidak menimbulkan spill over atau spread effect yang positif secara spasial bagi wilayah di sekitarnya. Sebaliknya, perkembangan kawasan perumahan dan permukiman yang tercermin dari variabel persentase luas lahan permukiman dan ruang terbangun (W_%_pmk_tbgn) di wilayah sekitarnya merupakan salah satu faktor yang signifikan meningkatkan disparitas antar wilayah di Pulau Jawa. Keberimbangan struktur ekonomi dan keunggulan kompetitif sektor primer di wilayah sekitarnya Keberimbangan struktur ekonomi suatu wilayah yang tercermin dari keberimbangan sektoral suatu wilayah (sectoral balance) berimplikasi positif terhadap keberimbangan spasial (spatial balance). Indeks diversitas entropy (W_ide) merupakan suatu indeks yang digunakan untuk mengukur tingkat
86 155 perkembangan sistem (dalam hal ini adalah wilayah). Dalam penelitian ini indeks diversitas entropy dihitung dengan menggunakan data PDRB per sektor di masing-masing wilayah. Sistem atau wilayah dikatakan berkembang apabila proporsi atau kontribusi sektor-sektor ekonomi terhadap PDRB wilayah semakin berimbang yang secara teknis dapat ditunjukkan dengan nilai Indeks Diversitas Entropy (IDE) wilayah yang tinggi. Di pulau Jawa, kabupaten dengan IDE yang lebih tinggi dicirikan dengan berkembangnya sektor-sektor sekunder dan tersier suatu daerah. Pada model ekonometrika spasial ini, variabel nilai indeks diversitas entropy di wilayah sekitarnya (W_ide) juga diuji karena sesuai dengan hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini, tingkat perkembangan wilayah merupakan salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap disparitas regional di Pulau Jawa. Besarnya koefisien dari variabel (W_ide) ini menunjukkan nilai yang negatif, yaitu sebesar , yang berarti bahwa peningkatan perkembangan struktur ekonomi wilayah di wilayah sekitarnya dapat menurunkan besarnya kontribusi derajat disparitas yang disumbangkan oleh masing-masing wilayah terhadap disparitas total di Pulau Jawa. Hal ini diduga akibat adanya fenomena spill over. Semakin tingginya tingkat perkembangan di suatu wilayah, maka wilayah-wilayah di sekitarnya akan dapat merasakan dampak/kemanfaatan dari perkembangan wilayah tersebut. Contohnya, bila suatu wilayah mengalami tingkat perkembangan di bidang industri manufaktur, maka wilayah tersebut akan membutuhkan input dan faktor produksi yang lebih besar, baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, tenaga kerja, maupun sarana produksi lainnya dari wilayah-wilayah di sekitarnya. Dengan adanya hubungan saling membutuhkan ini, maka akan terjalin keterkaitan antar wilayah yang saling memperkuat, sehingga dapat berimplikasi menciptakan spread effect di Pulau Jawa. Keunggulan kompetitif di wilayah sekitarnya sektor primer terbukti berpengaruh secara signifikan menurunkan disparitas regional di Pulau Jawa. Berdasarkan model ekonometrika spasial yang dikembangkan di dalam studi ini, keunggulan kompetitif sektor diproksikan dengan memanfaatkan variabel differential shift sektor wilayah sekitarnya (W_DS_1). Nilai differential shift diperoleh dari hasil analisis shift share, dengan menggunakan data PDRB per sektor seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa.
87 156 Hasil uji variabel ini dalam pemodelan ekonometrika spasial menunjukkan bahwa dilihat dari besarnya nilai differential shift berdasarkan pengelompokan tiga sektor utama PDRB (sektor primer, sekunder, dan tersier), maka dapat diketahui bahwa hanya nilai differential shift sektor primer yang terbukti berpengaruh signifikan. Sektor primer meliputi sektor pertanian (termasuk di dalamnya sektor perkebunan, sektor perikanan, sektor peternakan, sektor kehutanan, dll), serta sektor pertambangan dan penggalian. Nilai koefisien dari variabel ini adalah sebesar , dimana tanda negatif tersebut menunjukkan bahwa semakin berkembangnya sektor primer (meliputi sektor pertanian dan turunannya) di wilayah sekitarnya akan dapat mengurangi tingkat disparitas regional di Pulau Jawa. Artinya, apabila wilayahwilayah lain di sekitarnya masih mengalami perkembangan di sektor-sektor primer, maka hal tersebut dapat berpeluang menciptakan pemerataan. Namun, apabila wilayah-wilayah di sekitarnya telah memasuki tahap perkembangan sektor-sektor industri manufaktur, maka hal ini dapat berpotensi memperlebar tingkat disparitas regional yang terjadi di Pulau Jawa. Dengan demikian, maka hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat diterima karena telah teruji kebenarannya. Perkembangan fasilitas pelayanan (infrastruktur) wilayah Perkembangan fasilitas pelayanan wilayah merupakan salah satu hal penting dalam menilai keberhasilan proses pembangunan yang telah dicapai. Beberapa hasil penelitian, seperti yang diungkapkan oleh Rahman (2009), dapat diketahui bahwa tingkat ketersediaan dan kelengkapan infrastruktur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya disparitas pembangunan antar wilayah. Variabel indeks perkembangan infrastruktur wilayah (W_ipg) penghitungannya dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah dan kelengkapan infrastruktur diuji dalam permodelan ini. Besarnya nilai indeks perkembangan infrastruktur wilayah diperoleh dari hasil analisis skalogram fasilitas pelayanan (infrastruktur), dimana tingkat perkembangan wilayah ditentukan berdasarkan kelengkapan dan jumlah fasilitas/infrastruktur, baik terkait dengan fasilitas pelayanan pendidikan, kesehatan, sosial, jasa pemerintahan, maupun
88 157 perekonomian, dengan mempertimbangkan faktor aksesibilitas dalam menjangkau fasilitas-fasilitas tersebut. Dari hasil pemodelan ekonometrika spasial dalam penelitian ini, variabel ini memiliki nilai koefisien sebesar dengan nilai p-level < Hal ini mengandung arti bahwa variabel ini secara signifikan berpengaruh terhadap tingkat disparitas regional yang terjadi di Pulau Jawa, dimana tanda negatif pada koefisien tersebut menunjukkan hubungan yang tidak searah (berbanding terbalik). Artinya, apabila tingkat perkembangan di wilayah sekitarnya semakin tinggi, misalnya dengan semakin banyaknya jumlah dan jenis fasilitas serta semakin mudahnya akses dalam menjangkau berbagai fasilitas tersebut (misalkan dengan dibangunnya jalan, jembatan, dsb), maka akan berpeluang mengurangi tingkat disparitas regional di Pulau Jawa. Sebab, semakin tingginya tingkat perkembangan wilayah di wilayah sekitarnya dapat menciptakan spill over untuk wilayahnya sendiri, sehingga wilayah tersebut juga dapat menikmati manfaat dari adanya perkembangan tersebut. Hal ini dapat dipahami, sebab wilayah yang berfungsi sebagai pusat pelayanan memiliki peranan yang sangat penting, terutama bagi wilayah-wilayah di sekitarnya. Suatu pusat pelayanan yang berorde tinggi pada umumnya mempunyai jumlah sarana dan jumlah jenis sarana dan prasarana pelayanan yang lebih banyak dari wilayah yang berorde lebih rendah. Dengan demikian pusat yang berorde lebih tinggi melayani pusat-pusat lain yang berorde lebih rendah. Pertumbuhan jumlah penduduk/populasi di wilayah sekitarnya Penduduk merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi terjadinya disparitas pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa. Peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk di suatu wilayah mempunyai hubungan keterkaitan dengan peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk di wilayah lainnya, Dari hasil model ekonometrika spasial yang dikembangkan dalam penelitian ini, dapat diketahui bahwa dari keenam variabel yang terkait dengan penduduk atau sumberdaya manusia, hanya ada satu variabel yang secara statistik signifikan dalam mempengaruhi terjadinya disparitas pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa, yaitu variabel jumlah penduduk di wilayah sekitarnya (W_pddk). Satu hal yang menarik dari hasil model adalah bahwa koefisien (β) dari variabel
89 158 tersebut menunjukkan nilai negatif, yaitu sebesar Artinya, peningkatan jumlah penduduk di wilayah sekitarnya dapat menurunkan tingkat disparitas antar wilayah. Aliran penduduk antar daerah bersifat merespon ketimpangan atau adanya gap pertumbuhan interregional sehingga cenderung menciptakan keseimbangan dan pemerataan. Dengan demikian faktor yang menyebabkan spread effect di Pulau Jawa bukan berasal dari interregional atau sectoral linkages struktur ekonomi melainkan lebih disebabkan oleh adanya pola aliran/pergerakan penduduk. Sintesis dan Alternatif Upaya Mengurangi Tingkat Disparitas Pembangunan Antar Wilayah di Pulau Jawa Disparitas pembangunan antar wilayah meskipun merupakan fenomena universal yang hampir selalu terjadi pada suatu wilayah, namun pada tingkat yang lebih lanjut dapat berimplikasi terhadap masalah-masalah sosial, ekonomi, politik dan bahkan memicu terjadinya disintegrasi bangsa. Oleh karena itu, upaya mengurangi tingkat disparitas regional merupakan salah satu aspek penting dalam kebijakan pembangunan guna mewujudkan pemerataan dan mendistribusikan hasil-hasil pembangunan. Menurut Hadi (2001), pemerataan pembangunan (equity) bukan berarti identik dengan persamaan pembangunan (equality), tetapi lebih ke arah mewujudkan adanya keseimbangan yang proporsional antara kemajuan satu wilayah dengan wilayah lainnya, sesuai dengan potensi dan karakteristik wilayah masing-masing. Melihat dinamika pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi (baik dari sisi PDRB maupun PDRB per kapita) di Pulau Jawa, dapat diketahui bahwa trend-nya semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hal serupa juga dapat diamati dari tingkat perkembangan aktivitas perekonomian wilayah di masing-masing kabupaten/kota di Pulau Jawa yang secara keseluruhan mengalami peningkatan (berdasarkan hasil analisis indeks diversitas entropy). Sementara itu, hasil analisis dengan menggunakan indeks Williamson dan indeks Theil entropy berhasil membuktikan hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian tentang dugaan adanya disparitas regional pada keenam bentuk disparitas berdasarkan pengelompokan-pengelompokan wilayah di Pulau Jawa. Dari keenam bentuk disparitas yang ada, dapat diketahui bahwa disparitas antar provinsi memiliki derajat disparitas antar kawasan (between regions) yang paling tinggi dibandingkan kelima bentuk disparitas yang lain. Sedangkan derajat
90 159 disparitas dalam kawasan (within regions) tertinggi terdapat pada bentuk disparitas antar kabupaten/kota dalam kawasan non pesisir. Apabila dilakukan pendekomposisian kembali pada bentuk disparitas dalam kawasan, dapat diketahui bahwa penyebab utama tingginya tingkat disparitas tersebut terutama diakibatkan oleh kesenjangan antar kota dalam kawasan non pesisir. Namun demikian, dilihat dari dinamika perubahannya dari waktu ke waktu, dapat diketahui bahwa besarnya indeks pada seluruh bentuk disparitas cenderung meningkat pada masa sebelum diterapkannya kebijakan Otonomi Daerah, sedangkan pada masa setelah Otonomi Daerah nilai indeks tersebut berangsurangsur mengalami penurunan. Dengan demikian, secara umum kebijakan Otonomi Daerah mampu menekan semakin melebarnya disparitas regional di Pulau Jawa, dan hal ini sekaligus membuktikan kebenaran hipotesis kedua yang dikembangkan dalam penelitian ini. Hipotesis ketiga yang dibangun dalam penelitian ini juga berhasil dibuktikan dari hasil pemodelan ekonometrika spasial yang menunjukkan adanya keterkaitan antar wilayah di Pulau Jawa. Sehingga ketika telah diketahui bahwa terdapat disparitas regional (antar wilayah) di Pulau Jawa, maka disparitas tersebut bukan hanya disebabkan oleh faktor-faktor dari wilayahnya sendiri tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di wilayah sekitarnya. Namun bentuk keterkaitan tersebut tidak selalu bersifat positif (saling memperkuat), namun dapat juga bersifat negatif. Hal ini dibuktikan dari besarnya nilai koefisien (β) untuk setiap variabel yang diuji dalam model ekonometrika spasial. Selain itu, pemodelan ekonometrika spasial yang dilakukan dalam penelitian ini juga berhasil menguji beberapa variabel yang diduga merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya disparitas pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa. Berdasarkan hasil model, faktor-faktor yang secara signifikan cenderung menciptakan disparitas pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa adalah meningkatnya PDRB dan PDRB per kapita di wilayah sekitarnya, serta meningkatnya persentase luas lahan permukiman dan ruang terbangun terhadap luas lahan total di wilayah sekitarnya. Sedangkan faktor-faktor yang cenderung berimplikasi terhadap pemerataan (spread effect) adalah pertumbuhan penduduk di wilayah sekitarnya yang diduga berasal dari adanya pola aliran/pergerakan penduduk; berkembangnya sektor-sektor primer di wilayah sekitarnya, serta meningkatnya nilai indeks diversitas entropy dan indeks perkembangan wilayah di wilayah sekitarnya yang diduga dapat menciptakan spill
91 160 over bagi wilayah lain, sehingga wilayah tersebut dapat menikmati manfaat dari tingkat perkembangan wilayah di sekitarnya. Dengan demikian, maka hipotesis terakhir yang dikembangkan dalam penelitian ini juga dapat diterima, karena variabel-variabel yang diduga menjadi faktor penyebab terjadinya disparitas regional di Pulau Jawa secara statistik telah teruji signifikansinya sesuai dengan hasil yang diperoleh dari model ekonometrika spasial. Berdasarkan uraian di atas, secara sederhana dapat dirumuskan alternatif upaya-upaya dalam mengurangi tingkat disparitas pembangunan antar wilayah yang terjadi di Pulau Jawa, antara lain: (1) Mendorong bentuk-bentuk pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas dalam menciptakan keberimbangan struktur ekonomi wilayah dan keberimbangan antar wilayah; (2) Meningkatkan pengembangan sektor-sektor primer yang cenderung menciptakan pemerataan; (3) Mendorong terjadinya spread effect dengan pola pergerakan/aliran penduduk; dan (4) Lebih meningkatkan pembangunan infrastruktur/fasilitas pelayanan dan meningkatkan aksesibilitas dalam upaya memajukan tingkat perkembangan wilayah. Bertolak dari penelitian ini, tidak dapat dipungkiri bahwasanya potensi sumberdaya alam serta aktivitas-aktivitas sosial-ekonomi tersebar secara tidak merata dan tidak seragam. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya interaksi spasial yang optimal, sehingga keterkaitan antar wilayah dapat berlangsung secara dinamis. Diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah seharusnya dijadikan sebagai suatu peluang untuk memajukan wilayahnya sesuai dengan potensi dan karakteristik masing-masing. Namun, perlu diingat bahwa pada prinsipnya, fungsi kemandirian atau otoritas/wewenang yang diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah tidak boleh diartikan dengan bekerja sendiri-sendiri. Hal ini menuntut adanya kerjasama, baik dalam hal peningkatan keterpaduan antar sektor perekonomian dalam pembangunan, maupun dalam menjalin struktur hubungan antar wilayah yang sinergis, sehingga tercipta keterkaitan antar wilayah (interaksi spasial) yang saling memperkuat. Dengan berpegang pada prinsip tersebut, maka bukanlah hal yang mustahil untuk mencapai paradigma baru pembangunan, yaitu terwujudnya keseimbangan antara pertumbuhan (eficiency), pemerataan (equity), dan keberlanjutan (sustainability).
1.1. UMUM. Statistik BPKH Wilayah XI Jawa-Madura Tahun
1.1. UMUM 1.1.1. DASAR Balai Pemantapan Kawasan Hutan adalah Unit Pelaksana Teknis Badan Planologi Kehutanan yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 6188/Kpts-II/2002, Tanggal 10
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. Kabupaten yang berada di wilayah Jawa dan Bali. Proses pembentukan klaster dari
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Penelitian ini mengembangkan model pengklasteran Pemerintah Daerah di Indonesia dengan mengambil sampel pada 30 Pemerintah Kota dan 91 Pemerintah Kabupaten
PROPINSI KOTAMADYA/KABUPATEN TARIF KABUPATEN/KOTAMADYA HARGA REGULER. DKI JAKARTA Kota Jakarta Barat Jakarta Barat
PROPINSI KOTAMADYA/KABUPATEN TARIF KABUPATEN/KOTAMADYA HARGA REGULER DKI JAKARTA Kota Jakarta Barat Jakarta Barat 13.000 Kota. Jakarta Pusat Jakarta Pusat 13.000 Tidak Ada Other Kota. Jakarta Selatan Jakarta
INFORMASI UPAH MINIMUM REGIONAL (UMR) TAHUN 2010, 2011, 2012
INFORMASI UPAH MINIMUM REGIONAL (UMR) TAHUN 2010, 2011, 2012 Berikut Informasi Upah Minimum Regional (UMR) atau Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang telah dikeluarkan masing-masing Regional atau Kabupaten
Summary Report of TLAS Trainings in Community Forest on Java Year of Implementation :
Summary Report of TLAS Trainings in Community Forest on Java Year of Implementation : 2011-2012 No. Provinces and Groups of Participants Training Dates and Places Number and Origins of Participants Remarks
KANAL TRANSISI TELEVISI SIARAN DIGITAL TERESTERIAL PADA ZONA LAYANAN IV, ZONA LAYANAN V, ZONA LAYANAN VI, ZONA LAYANAN VII DAN ZONA LAYANAN XV
2012, 773 8 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG PENGGUNAAN PITA SPEKTRUM FREKUENSI RADIO ULTRA HIGH FREQUENCY (UHF) PADA ZONA LAYANAN IV,
Jumlah No. Provinsi/ Kabupaten Halaman Kabupaten Kecamatan 11. Provinsi Jawa Tengah 34 / 548
4. Kota Bekasi 23 109 5. Kota Bekasi 10 110 6. Kabupaten Purwakarta 17 111 7. Kabupaten Bandung 43 112 8. Kodya Cimahi 3 113 9. Kabupaten Sumedang 26 114 10. Kabupaten Garut 39 115 11. Kabupaten Majalengka
MENTERI KEUANGAN, AGUS D.W. MARTOWARDOJO.
LAMPIRAN VI PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR /PMK.07/2011 TENTANG ALOKASI KURANG BAYAR DAN BAGI HASIL PAJAK DAN DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU TAHUN ANGGARAN 2009 DAN TAHUN ANGGARAN 2010 YANG DIALOKASIKAN
METODOLOGI PENELITIAN
25 METODOLOGI PENELITIAN Kerangka Pemikiran Pembangunan di Era Orde Baru telah melahirkan kebijakan yang sentralistik, baik dalam proses perencanaan maupun pengambilan keputusan. Pembangunan diarahkan
Lampiran Surat No : KL /BIII.1/1022/2017. Kepada Yth :
Lampiran Surat No : KL.01.01.01/BIII.1/1022/2017 Kepada Yth : Provinsi Banten 1. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten 2. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak 3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang
ALOKASI SEMENTARA DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU TAHUN ANGGARAN 2011 NO PROVINSI/KABUPATEN/KOTA JUMLAH
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 33/PMK.07/2011 TENTANG : ALOKASI SEMENTARA DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU TAHUN ANGGARAN 2011 ALOKASI SEMENTARA DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU TAHUN
2011, Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara R
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA 615, 2011 KEMENTERIAN KEUANGAN. DBH. Pajak. Cukai. Tahun Anggaran 2011 PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 161/PMK.07/2011 TENTANG ALOKASI KURANG BAYAR
WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG
SALINAN WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 44 TAHUN 2012 TENTANG STANDARISASI INDEKS BIAYA KEGIATAN, PEMELIHARAAN, PENGADAAN
P E N G A N T A R. Jakarta, Maret 2017 Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng
P E N G A N T A R Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua buku Prakiraan Musim yaitu Prakiraan Musim Hujan diterbitkan setiap bulan September dan Prakiraan Musim
DAFTAR KUOTA PELATIHAN KURIKULUM 2013 PAI PADA MGMP PAI SMK KABUPATEN/KOTA
NO PROVINSI DK KABUPATEN JUMLAH PESERTA JML PESERTA PROVINSI 1 A C E H 1 Kab. Aceh Besar 30 180 2 Kab. Aceh Jaya 30 3 Kab. Bireuen 30 4 Kab. Pidie 30 5 Kota Banda Aceh 30 6 6 Kota Lhokseumawe 30 2 BANGKA
4 KINERJA PDAM Kantor BPPSPAM
DAFTAR ISI Kata pengantar Halaman 5 Laporan Kinerja PDAM di Indonesia Periode 2011 Halaman 7 Provinsi DKI Jakarta Halaman 15 Provinsi Banten Halaman 17 Provinsi Jawa Barat Halaman 25 Provinsi Jawa tengah
WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG
WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG BIAYA PERJALANAN DINAS JABATAN DALAM NEGERI BAGI WALIKOTA, WAKIL WALIKOTA, UNSUR PIMPINAN SERTA ANGGOTA DPRD, PEGAWAI NEGERI SIPIL
Lampiran 1 Nomor : 7569 /D.3.2/07/2017 Tanggal : 26 Juli Daftar Undangan
Lampiran 1 Nomor : 7569 /D.3.2/07/2017 Tanggal : 26 Juli 2017 Daftar Undangan 1. Kepala Badan Pengembangan SDM Kabupaten Banjarnegara 2. Kepala Badan Pengembangan SDM Kabupaten Banyumas 3. Kepala Badan
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P. 51/Menhut-II/2009 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P. 51/Menhut-II/2009 TENTANG PERUBAHAN KESATU ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.02/MENHUT- II /2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS KONSERVASI
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dari tahun ketahun. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai
BAB I PENDAHULUAN. terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan kekhasan daerah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan kekhasan daerah yang bersangkutan dengan
LAMPIRAN IV SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 46 /SEOJK.03/2016 TENTANG BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH
LAMPIRAN IV SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 46 /SEOJK.03/2016 TENTANG BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH - 1 - DAFTAR WILAYAH KERJA DAN ALAMAT KANTOR REGIONAL DAN KANTOR OTORITAS JASA KEUANGAN BERDASARKAN
BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN DAERAH KAB/KOTA DI JAWA TENGAH
BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN DAERAH KAB/KOTA DI JAWA TENGAH 3.1 Keadaan Geografis dan Pemerintahan Propinsi Jawa Tengah adalah salah satu propinsi yang terletak di pulau Jawa dengan luas
BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan
BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR 4. 1 Kondisi Geografis Provinsi Jawa Timur membentang antara 111 0 BT - 114 4 BT dan 7 12 LS - 8 48 LS, dengan ibukota yang terletak di Kota Surabaya. Bagian utara
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA Jalan Patimura 20, Kebayoran Baru, Jakarta 12110, Telp. 021-72796585 Fax.021-72796585 Nomor : l.)(n.02.0b-oc/sbo Lampiran : 1 (satu)berkas Jakarta,
RINCIAN ALOKASI TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA PROVINSI/KABUPATEN/KOTA DALAM APBN T.A. 2018
RINCIAN ALOKASI TRANSFER KE DAERAH DAN DESA PROVINSI/KABUPATEN/KOTA DALAM APBN T.A. BAGI HASIL DAK N FISIK TOTAL ALOKASI UMUM TA PROFESI DESA TA I Provinsi Aceh 126.402.087 76.537.898 19.292.417 396.906.382
WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG
WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG BIAYA PERJALANAN DINAS JABATAN DALAM NEGERI BAGI WALIKOTA, WAKIL WALIKOTA, UNSUR PIMPINAN SERTA ANGGOTA DPRD, PEGAWAI NEGERI SIPIL
KAWASAN PERKEBUNAN. di sampaikan pada roundtable pengembangan kawasan Makasar, 27 Februari 2014
KAWASAN PERKEBUNAN di sampaikan pada roundtable pengembangan kawasan Makasar, 27 Februari 2014 FOKUS KOMODITI 1. Tebu 2. Karet 3. Kakao 4. Kopi (Arabika dan Robusta) 5. Lada 6. Pala 7. Sagu KAWASAN TEBU
C. REKOMENDASI PUPUK N, P, DAN K PADA LAHAN SAWAH SPESIFIK LOKASI (PER KECAMATAN)
C. REKOMENDASI PUPUK N, P, DAN K PADA LAHAN SAWAH SPESIFIK LOKASI (PER KECAMATAN) DAFTAR ISI No. 01. Propinsi Nangroe Aceh Darussalam 10 / 136 23 1. Kabupaten Aceh Selatan 14 24 2. Kabupaten Aceh Sungkil
LAMPIRAN XV PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 137 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2016
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 137 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2016 RINCIAN DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM PANAS BUMI MENURUT PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
BAB I PENDAHULUAN. (Khusaini 2006; Hadi 2009). Perubahan sistem ini juga dikenal dengan nama
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Perubahan sistem pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik pada tahun 2001 telah menimbulkan dampak dan pengaruh yang signifikan bagi Indonesia (Triastuti
Generated by Foxit PDF Creator Foxit Software For evaluation only. LAMPIRAN
LAMPIRAN 116 Lampiran 1 Suhu udara, kelembaban udara, curah hujan bulanan, dan jumlah hari hujan bulanan di kabupaten/ kota di Pulau Jawa Kabupaten / Kota Suhu ( o C) RH (%) Curah Hujan Bulanan (mm) Jumlah
BAB I PENDAHULUAN. ketimpangan dan pengurangan kemiskinan yang absolut (Todaro, 2000).
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap mental dan lembaga termasuk pula percepatan/akselerasi
UPAH MINIMUM TAHUN 2005 PROPINSI KABUPATEN - KOTAMADYA DI INDONESIA No Propinsi Kabupaten / Kotamadya Sektor Industri Upah Minimum 2005 (Rp)
PROPINSI KABUPATEN KOTAMADYA DI INDONESIA 1 Nanggroe Aceh Darussalam No. 25 / 2004 Tanggal 29102004 2 Sumatera Barat No. 564528 / 2004 Tanggal 22112004 3 Jambi No. 491 / 2004 Tanggal 26112004 4 Riau No.
BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, program pembangunan lebih menekankan pada penggunaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dewasa ini, program pembangunan lebih menekankan pada penggunaan pendekatan regional dalam menganalisis karakteristik daerah yang berbeda-beda. Hal tersebut dikarenakan,
LAMPIRAN XVII PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 137 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2016
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 137 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2016 Pendidikan Kesehatan dan KB Perumahan, Air Minum, dan Kedaulatan Pangan
UPDATE HASIL MONITORING EL NINO DAN PRAKIRAAN CURAH HUJAN AGUSTUS DESEMBER 2015
BMKG UPDATE HASIL MONITORING EL NINO DAN PRAKIRAAN CURAH HUJAN AGUSTUS DESEMBER 15 Status Perkembangan 18 Agustus 15 RINGKASAN, VERSI 18 AGUSTUS 15 Monitoring kolam hangat di Laut Pasifik menunjukkan konsistensi
Pengelompokkan Kabupaten/Kota Di Pulau Jawa Berdasarkan Pembangunan Manusia Berbasis Gender Menggunakan Bisecting K-Means
Pengelompokkan Kabupaten/ Di Pulau Jawa Berdasarkan Pembangunan Manusia Berbasis Gender Menggunakan Bisecting K-Means Dila Fitriani Azuri*, Zulhanif, Resa Septiani Pontoh Departemen Statistika, FMIPA Universitas
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015
No.42/06/33/Th.X, 15 Juni 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015 IPM Jawa Tengah Tahun 2015 Pembangunan manusia di Jawa Tengah pada tahun 2015 terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan terus
PENGUMUMAN Penerimaan Program Sarjana Membangun Desa (SMD) Tahun 2011
PENGUMUMAN Penerimaan Program Sarjana Membangun Desa (SMD) Tahun 2011 Diberitahukan kepada alumni/lulusan Perguruan Tinggi/Sekolah Tinggi dari disiplin Ilmu-ilmu Peternakan atau Kedokteran Hewan, bahwa
BAB I PENDAHULUAN. menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses saat pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan selanjutnya membentuk suatu pola kemitraan antara
BAB I PENDAHULUAN. sampai ada kesenjangan antar daerah yang disebabkan tidak meratanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Pembangunan yang dilaksanakan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan
Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota
Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota TAHUN LAKI-LAKI KOMPOSISI PENDUDUK PEREMPUAN JML TOTAL JIWA % 1 2005 17,639,401
I. PENDAHULUAN. cepat, sementara beberapa daerah lain mengalami pertumbuhan yang lambat.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tolok ukur keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan semakin kecilnya ketimpangan pendapatan antar penduduk, antar daerah dan antar sektor. Akan
Gambar 1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Tengah,
No.26/04/33/Th.XI, 17 April 2017 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016 IPM Jawa Tengah Tahun 2016 Pembangunan manusia di Jawa Tengah pada tahun 2016 terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan
I. PENDAHULUAN. bertujuan untuk mencapai social welfare (kemakmuran bersama) serta
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap negara atau wilayah di berbagai belahan dunia pasti melakukan kegiatan pembangunan ekonomi, dimana kegiatan pembangunan tersebut bertujuan untuk mencapai social
BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT
BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT 5.1. PDRB Antar Kabupaten/ Kota eranan ekonomi wilayah kabupaten/kota terhadap perekonomian Jawa Barat setiap tahunnya dapat tergambarkan dari salah
BAB I PENDAHULUAN. berinteraksi mengikuti pola yang tidak selalu mudah dipahami. Apabila
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengangguran merupakan masalah yang sangat kompleks karena mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berinteraksi mengikuti pola yang
ALOKASI TRANSFER KE DAERAH (DBH dan DAU) Tahun Anggaran 2012 No Kabupaten/Kota/Provinsi Jenis Jumlah 1 Kab. Bangka DBH Pajak 28,494,882, Kab.
ALOKASI TRANSFER KE DAERAH (DBH dan DAU) Tahun Anggaran 2012 No Kabupaten/Kota/Provinsi Jenis Jumlah 1 Kab. Bangka DBH Pajak 28,494,882,904.00 2 Kab. Bangka DBH SDA 57,289,532,092.00 3 Kab. Bangka DAU
Nama Penyedia Alamat Penyedia Lokasi Pabrik (Provinsi) Merk : PT. LAMBANG JAYA : JL. RAYA HAJIMENA KM 14 NO. 165 NATAR - LAMPUNG SELATAN - LAMPUNG
Nama Penyedia Alamat Penyedia Lokasi Pabrik (Provinsi) Merk : PT. LAMBANG JAYA : JL. RAYA HAJIMENA KM 14 NO. 165 NATAR - LAMPUNG SELATAN - LAMPUNG : INDO JARWO TRANSPLANTER - LJ-RTP2040 Periode : Januari
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sektor industri mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor industri mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Industrialisasi pada negara sedang berkembang sangat diperlukan agar dapat tumbuh
BAB I PENDAHULUAN. keadilan sejahtera, mandiri maju dan kokoh kekuatan moral dan etikanya.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia dan masyarakat yang dilaksanakan secara berkelanjutan berdasarkan pada kemampuan nasional, dengan
Grafik Skor Daya Saing Kabupaten/Kota di Jawa Timur
Grafik Skor Daya Saing Kabupaten/Kota di Jawa Timur TOTAL SKOR INPUT 14.802 8.3268.059 7.0847.0216.8916.755 6.5516.258 5.9535.7085.572 5.4675.3035.2425.2185.1375.080 4.7284.4974.3274.318 4.228 3.7823.6313.5613.5553.4883.4733.3813.3733.367
BAB I PENDAHULUAN. yang melibatkan seluruh kegiatan dengan dukungan masyarakat yang. berperan di berbagai sektor yang bertujuan untuk meratakan serta
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan daerah merupakan suatu proses perubahan terencana yang melibatkan seluruh kegiatan dengan dukungan masyarakat yang berperan di berbagai sektor yang bertujuan
BAB I PENDAHULUAN. pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber-sumber yang ada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber-sumber yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara
Analisis Hubungan Kluster Industri dengan Penentuan Lokasi Pelabuhan: Studi Kasus Pantai Utara Pulau Jawa
Analisis Hubungan Kluster Industri dengan Penentuan Lokasi Pelabuhan: Studi Kasus Pantai Utara Pulau Jawa Oleh : Maulana Prasetya Simbolon 4104 100 072 Pembimbing : Ir. Tri Achmadi, P.hD. LATAR BELAKANG
BAB IV GAMBARAN UMUM DAN OBJEK PENELITIAN. Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara Lintang
56 BAB IV GAMBARAN UMUM DAN OBJEK PENELITIAN A. Letak Wilayah dan Luas Wilayah Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 50-7 50 Lintang selatan dan 104 48-108 48 Bujur Timur, dengan luas
Katalog: 9199018 TNJAUAN RNAL Berdasarkan PDRB KABUPATN/KTA 2011-2015 BUKU 2 PULAU JAWA DAN BAL BADAN PUSAT STATSTK Tinjauan Regional Berdasarkan PDRB Kabupaten/Kota 2011-2015 Pulau Jawa dan Bali Buku
Nomor : 04521/B5/LL/ Maret 2018 Lampiran : 1 (satu) eksemplar Perihal : Permohonan ijin
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Jalan Jenderal Sudirman, Pintu 1 Senayan, Gedung D Lantai 14 Senayan, Jakarta 10270 Telp. (021) 57974124 Fax. (021)
BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah
5.1. Kondisi Geografis BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 o 50 ' - 7 o 50 ' Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan
BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi
BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK A. Gambaran Umum Objek/Subjek Penelitian 1. Batas Administrasi. Gambar 4.1: Peta Wilayah Jawa Tengah Jawa Tengah sebagai salah satu Provinsi di Jawa, letaknya diapit oleh dua
Gambar 4.1 Peta Provinsi Jawa Tengah
36 BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TENGAH 4.1 Kondisi Geografis Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di tengah Pulau Jawa. Secara geografis, Provinsi Jawa Tengah terletak
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu Provinsi di Jawa, letaknya diapit
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kondisi Fisik Daerah Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu Provinsi di Jawa, letaknya diapit oleh dua Provinsi besar, yaitu
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KOTA PROBOLINGGO TAHUN 2016
No. 010/06/3574/Th. IX, 14 Juni 2017 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KOTA PROBOLINGGO TAHUN 2016 IPM Kota Probolinggo Tahun 2016 Pembangunan manusia di Kota Probolinggo pada tahun 2016 terus mengalami
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 25/04/35/Th. XV, 17 April 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) JAWA TIMUR TAHUN 2016 IPM Jawa Timur Tahun 2016 Pembangunan manusia di Jawa Timur pada
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. sebuah provinsi yang dulu dilakukan di Indonesia atau dahulu disebut Hindia
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Profil Eks Karesidenan Madiun Karesidenan merupakan pembagian administratif menjadi kedalam sebuah provinsi yang dulu dilakukan di Indonesia atau dahulu disebut
BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT
BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT 5.1. PDRB Antar Kabupaten/ Kota oda perekonomian yang bergulir di Jawa Barat, selama tahun 2007 merupakan tolak ukur keberhasilan pembangunan Jabar.
WALIKOTA MADIUN, Menimbang
PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 36 TAHUN 2015 TENTANG BIAYA PERJALANAN DINAS JABATAN BAGI PEJABAT NEGARA, PEGAWAI NEGERI SIPIL, PEGAWAI TIDAK TETAP DAN BIAYA AKOMODASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MADIUN
GERHANA MATAHARI CINCIN 1 SEPTEMBER 2016
GERHANA MATAHARI CINCIN 1 SEPTEMBER 2016 A. PENDAHULUAN Gerhana Matahari adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bulan sehingga tidak semuanya sampai ke Bumi. Peristiwa yang merupakan
WILAYAH KERJA KANTOR PUSAT DAN KANTOR BANK INDONESIA. No Nama Kantor Alamat Kantor Wilayah Kerja
Lampiran 1 WILAYAH KERJA KANTOR PUSAT DAN KANTOR BANK INDONESIA 1. Kantor Pusat Bank Jl. MH. Thamrin No.2 DKI Jakarta, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Indonesia Jakarta 10010 Kabupaten Kerawang, Kabupaten
IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis dan Iklim Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang terletak di Pulau Jawa selain Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta), Banten,
WILAYAH KERJA KANTOR PUSAT DAN KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA DALAM PELAKSANAAN PENITIPAN SEMENTARA SURAT YANG BERHARGA DAN BARANG BERHARGA
LAMPIRAN I SURAT EDARAN BANK INDONESIA NOMOR 14/29/DPU TANGGAL 16 OKTOBER 2012 PERIHAL TATA CARA PENITIPAN SEMENTARA SURAT YANG BERHARGA DAN BARANG BERHARGA PADA BANK INDONESIA WILAYAH KERJA KANTOR PUSAT
BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) di tingkat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses multi dimensional yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap mental dan lembaga-lembaga sosial. Perubahan
BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini sebagai berikut.
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini sebagai berikut. 1. Berdasarkan Tipologi Klassen periode 1984-2012, maka ada 8 (delapan) daerah yang termasuk
BAB IV GAMBARAN UMUM
BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Provinsi Jawa Tengah 1. Peta Provinsi Jawa Tengah Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka Gambar 4.1 Peta Provinsi Jawa Tengah 2. Kondisi Geografis Jawa Tengah merupakan
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015
No.1/3307/BRS/11/2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015 Pembangunan manusia di Wonosobo pada tahun 2015 terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan terus meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan
RINCIANALOKASI KURANG BAYAR DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM PERTAMBANGAN UMUM TAHUN ANGGARAN 2007, TAHUN ANGGARAN 2008, DAN TAHUN ANGGARAN 2009 YANG DIALOKASIKAN DALAM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA
DAFTAR SATUAN KERJA TUGAS PEMBANTUAN DAN DEKONSENTRASI TAHUN 2009 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DAFTAR SATUAN KERJA DAN TAHUN 2009 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM NO. KAB/KOTA 1 PENATAAN RUANG - - 32 32 2 SUMBER DAYA AIR 28 132-160 3 BINA MARGA 31 - - 31 59 132 32 223 E:\WEB_PRODUK\Agung\Pengumuman\NAMA
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR : SK.1361/AJ.106/DRJD/2003
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR : SK.1361/AJ.106/DRJD/2003 TENTANG PENETAPAN SIMPUL JARINGAN TRANSPORTASI JALAN UNTUK TERMINAL PENUMPANG TIPE A DI SELURUH INDONESIA DIREKTUR JENDERAL
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS KABUPATEN LAMONGAN PROFIL KEMISKINAN DI LAMONGAN MARET 2016 No. 02/06/3524/Th. II, 14 Juni 2017 RINGKASAN Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan
BAB I PENDAHULUAN. Isu mengenai ketimpangan ekonomi antar wilayah telah menjadi fenomena
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Isu mengenai ketimpangan ekonomi antar wilayah telah menjadi fenomena global. Permasalahan ketimpangan bukan lagi menjadi persoalan pada negara dunia ketiga saja. Kesenjangan
Nomor Propinsi/Kabupaten/Kota Jumlah T-15 T-17 T-19 Jumlah biaya
Nomor Propinsi/Kabupaten/Kota Jumlah T-15 T-17 T-19 Jumlah biaya 1 2 3 4 5 6 7 8 1 Nanggroe Aceh Drslm 30 17 11 2 Rp 4,971,210,858.00 1 Kab. Pidie 3 3 - - Rp 504,893,559.00 2 Kab. Aceh Utara 6 5 1 - Rp
Kode Lap. Tanggal Halaman Prog.Id. : 09 Maret 2015 KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA : 018 KEMENTERIAN PERTANIAN ESELON I : 04 DITJEN HORTIKULTURA
BELANJA MELALUI KPPN DAN BUN UNTUK BULAN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 212 KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA : 18 KEMENTERIAN PERTANIAN : 4 DITJEN HORTIKULTURA : LRBEB 1b : 9 Maret 215 : 1 1 IKHTISAR MENURUT SATKER
PROGRES KOTA/KABUPATEN PAKET DIPA 2006, STATUS 01 OKTOBER 2007
PROGRES /KABUPATEN DIPA 2006, STATUS 01 OKTOBER 2007 DIPA 2006 Distribusi Pedoman Juni 2006 I. Persiapan Daerah I. PerencanaanIII. Penetapan Proposal Pokja Pembentukan Pokja Konsep & Mekanisme IV. dengan
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERKIRAAN ALOKASI DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU KEPADA PROVINSI JAWA TIMUR DAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN
BAB I PENDAHULUAN. World Bank dalam Whisnu, 2004), salah satu sebab terjadinya kemiskinan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemiskinan merupakan suatu keadaan di mana masyarakat yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dan kehidupan yang layak, (menurut World Bank dalam Whisnu, 2004),
I. PENDAHULUAN. Tabel 1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun (juta rupiah)
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang memiliki pertumbuhan ekonomi cukup tinggi. Selain Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur menempati posisi tertinggi
SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN INDUK
KEMENTERIAN KEUANGAN REPLIK INDONESIA SURAT PENGESAHAN NOMOR SP DIPA--0/AG/2014 DS 3766-1803-2940-3158 A. DASAR HUKUM 1. 2. 3. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. UU No. 1 Tahun 2004 tentang
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam upaya meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Program dari kegiatan masing-masing Pemerintah daerah tentunya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia telah menerapkan penyelenggaraan Pemerintah daerah yang berdasarkan asas otonomi daerah. Pemerintah daerah memiliki hak untuk membuat kebijakannya
Struktur Organisasi Dinas Kimrum
Struktur Organisasi Dinas Kimrum Strategi Pembangunan Sanitasi di Jawa Barat Air Minum PAMSIMAS (5 kab) SPAM - IKK Air Limbah Perumahan (SPPIP, PPKP), kawasan kumuh, rusunawa Lingkungan Hidup ( ICWRMIP,
BAB 5 PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Ringkasan Hasil Regresi
BAB 5 PEMBAHASAN 5.1 Pembahasan Hasil Regresi Dalam bab ini akan dibahas mengenai bagaimana pengaruh PAD dan DAU terhadap pertumbuhan ekonomi dan bagaimana perbandingan pengaruh kedua variabel tersebut
EVALUASI/FEEDBACK KOMDAT PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN
EVALUASI/FEEDBACK PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN MALANG, 1 JUNI 2016 APLIKASI KOMUNIKASI DATA PRIORITAS FEEDBACK KETERISIAN DATA PADA APLIKASI PRIORITAS 3 OVERVIEW KOMUNIKASI DATA
TRIWULAN IV (Oktober-Desember 2014)
Total 33 JAWA TENGAH 2 3375 KOTA PEKALONGAN 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 100,00 Sangat Mendukung 14 RIAU 1 1471 KOTA PEKAN BARU 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 95,00 Sangat Mendukung 21 KEPULAUAN RIAU 1 2171 KOTA BATAM 2 1
PETA KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH SESUDAH OTONOMI DAERAH : APAKAH MENGALAMI PERGESERAN? (Studi Pada Kabupaten dan Kota se Jawa Bali)
PETA KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH SESUDAH OTONOMI DAERAH : APAKAH MENGALAMI PERGESERAN? (Studi Pada Kabupaten dan Kota se Jawa Bali) Wirawan Setiaji Priyo Hari Adi Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya
