BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Wireless Sensor Network (WSN) Wireless Sensor Network (WSN) dapat didefinisikan sebagai jaringan dari beberapa perangkat yang dinotasikan sebagai node yang dapat merasakan lingkungan dan mengkomunikasikan informasi yang dikumpulkannya dari bidang yang dimonitor (misalnya suatu area atau volume) melalui jaringan nirkabel. Node ini dapat bersifat statis ataupun bergerak dan dapat berupa node yang homogen atau tidak (Buratti, 2009). Wireless Sensor Network termasuk ke dalam Low-rate Wireless Personal Area Networks karena bit-rate rendah dan tidak memerlukan jarak komunikasi yang jauh. Node sensor sebagai pembangun komunikasi/transceiver sebagai media pengiriman data dan manajemen daya untuk menjamin keseluruhan sistem dapat berjalan dengan optimal. Sistem ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Berdaya dan berbiaya rendah, dimensi kecil, dan jumlah node sensor yang banyak. b. Rentang komunikasi pendek, bersifat broadcast, dan multi-hop routing. c. Pengaturan jaringan mandiri (network self-organization dan maintenance) terhadap perubahan topologi jaringan. Meskipun termasuk ke dalam kelas jaringan ad-hoc, tetapi wireless sensor network memiliki perbedaan yang tidak dimiliki jaringan ad-hoc biasa, antara lain: a. Aktifitas penginderaan dengan jumlah node yang banyak. b. Data-rate rendah. c. Duty-cycle rendah. d. Power yang terbatas. e. Sensor node umumnya menggunakan paradigma komunikasi broadcast. 5

2 Perkembangan dari WSN sebenarnya sudah dimulai dari kebutuhan dalam bidang militer seperti pemantauan pada saat perang, tetapi saat ini WSN sudah digunakan dalam bidang industri dan penggunaan untuk kemudahan masyarakat sipil, yakni melingkupi pengawasan dan pengontrolan proses dalam industri, mesin pengawasan kesehatan, pemantauan kondisi lingkungan, aplikasi untuk kesehatan, otomatisasi pada rumah, dan pengaturan lalu lintas (Jati, 2011). Gambar 2.1 Wireless Sensor Network (Sumber: Dengan kemajuan pada mikro elektronik, perangkat sensor nirkabel telah dibuat jauh lebih kecil dan lebih terintegrasi, juga dalam jaringan sensor nirkabel skala besar. Skala besar utamanya berarti daerah dengan luas atau kepadatan jaringan yang tinggi. Dalam WSN skala besar, paket dari node sumber ditransmisikan melalui relay multi-hop untuk mencapai node tujuan. Jumlah hop dari node tujuan bergantung pada jumlah hop node sumber dan didefinisikan sebagai jumlah multi-hop terkecil/paling sedikit yang diperlukan untuk mengirim satu paket dari sumber ke tujuan (Ma, 2010). 2.2 Personal Area Network (PAN) Personal Area Network (PAN) adalah jaringan komunikasi suatu perangkat dengan perangkat lainnya dalam jarak sangat dekat, yaitu hanya dalam beberapa meter saja. Saat ini PAN merujuk secara eksklusif untuk komunikasi 6

3 nirkabel, baik radio ataupun optik. Dalam hal jarak, PAN dianggap memiliki rentang jarak 10 meter (~ 33 kaki) untuk hardware PAN secara khusus. 2.3 IEEE IEEE adalah spesifikasi dari lapisan fisik (physical layer) dan lapisan media access control (MAC layer) untuk low-rate wireless personal area network (LR-WPAN) yang menekankan pada aplikasi sederhana dan rendah biaya. Perangkat pada jaringan ini memiliki kemampuan komunikasi data rate rendah dan daya terbatas, tetapi diharapkan beroperasi dalam jangka waktu lama sehingga hemat energi. Gambar 2.2 menunjukkan posisi IEEE sebagai standar LR-WPAN dalam kelompok standar nirkabel LAN/MAN IEEE 802. Gambar 2.2 Keluarga Standar LAN/MAN IEEE 802 (Sumber: IEEE memiliki dua topologi dasar, yaitu star dan peer-to-peer. Perangkat pada LR-WPAN terdiri dari full function device (FFD) dan reduced function device (RFD). Sebuah device dirancang sebagai PAN coordinator yang bertanggungjawab memelihara jaringan dan mengelola perangkat lain. Sebuah FFD memiliki kemampuan menjadi PAN coordinator atau berasosiasi dengan PAN coordinator yang sudah ada. Dan sebuah RFD hanya dapat mengirim atau 7

4 menerima data dari PAN coordinator yang telah berasosiasi dengannya. Tiap perangkat pada IEEE memiliki alamat unik sepanjang 64 bit. Setelah berasosiasi dengan coordinator, perangkat akan diberi alamat dalam 16 bit pendek. Yang kemudian alamat 16 bit pendek ini digunakan dalam pertukaran data. Standar memberi spesifikasi sensitivitas minimum receiver adalah -85 dbm untuk 2.4 GHz dan 92 dbm untuk frekuensi 900 MHz. dalam tabel 2.1 ditunjukkan beberapa parameter PHY dari standart IEEE Tabel 2.1 Parameter PHY ( Parameter 2.4 GHz 868/915 MHz 1 % PER -85 dbm -92 dbm Receiver Maximum Input Level -20 dbm Adjacet Channel Rejection 0 dbm Alternate Channel Rejection 30 dbm Output Power (Lowest Maximum) -3 dbm Transmit Modulation Accuracy EVM < 35 % untuk 1000 chips Number of Channel 16 1/10 Channel Spacing Single channel / 2 MHz Transmission Rates Data Rate Symbol Rate Chip Rate Chip Modulation Rx Tx and Tx-Rx turnaround time 250kb/s 62.5 ksymbol/s 2 Mchip/s O-QPSK with half-sine pulse shaping (MSK) 12 symbols 20/40 kb/s 20/40 ksymbol/s 300/600 kchips/s BPSK with raised cosine pulse shaping 2.4 Zigbee Zigbee adalah standar protokol komunikasi untuk data rate rendah dan jaringan nirkabel jarak pendek. Zigbee nirkabel bekerja pada frekuensi 868 MHz, 915 MHz, dan 2,4 GHz. Data rate maksimal adalah 250 Kbps. Zigbee ditujukan terutama untuk aplikasi baterai yang bertenaga di mana data rate rendah, biaya rendah, dan baterai yang tahan lama. Dalam banyak aplikasi zigbee, total waktu perangkat nirkabel yang terlibat dalam setiap jenis 8

5 aktivitas sangat terbatas. Perangkat menghabiskan sebagian besar waktu dalam mode power-saving, juga dikenal sebagai modus tidur (sleep mode). Akibatnya, zigbee memungkinkan perangkat untuk mampu beroperasi selama beberapa tahun sebelum baterai mereka perlu diganti. Zigbee dikembangkan oleh ZigBee Alliance untuk personal area network (PAN). ZigBee Alliance adalah konsorsium yang mempromosikan standar zigbee untuk sensor nirkabel lowrate/low-power dan jaringan kontrol. Zigbee stack protokol dibangun di atas standar IEEE yang mendefinisikan Media Access Control (MAC) dan lapisan fisik (physical layer) untuk low rate wireless personal area network (LR- WPAN). Standar zigbee menawarkan profil stack yang mendefinisikan jaringan, keamanan, dan lapisan aplikasi. Gambar 2.3 Protokol Stack Zigbee (Sumber: Standar zigbee membantu mengurangi biaya pelaksanaan dengan menyederhanakan protokol komunikasi dan mengurangi data rate. Persyaratan minimum untuk memenuhi IEEE dan spesifikasi zigbee relatif mudah dibandingkan dengan standar lainnya seperti IEEE karena mengurangi kompleksitas dan biaya pelaksanaan. Dalam tabel 2.2 ditunjukkan perbandingan zigbee dan teknologi wireless lain (Faharani 2008). 9

6 Tabel 2.2 Perbandingan Zigbee dan Teknologi Wireless Lain (Sumber: Focus Application Zigbee ( ) Monitoring dan Kontrol GSM/GPRS CDMA Wide Area Voice dan Data Bluetooth High-Speed Internet Device Connectivity Battery Life Years 1 Week 1 Week 1 Week Bandwidth 250 Kbps Up to 2 Mbps Typical Range 100+ meters Several Kilometers Up to 54 Mbps Meters 720 Kbps Meters Advantages Low power, cost Existing Infrastructure Speed, Ubiquity Convenience Tabel 2.3 Spesifikasi Umum Zigbee (Sumber: Zigbee Jarak Transmisi (meter) Konsumsi Baterai (hari) Network size (of nodes) >64000 Throughput (kb/s) Aplikasi Zigbee Teknologi zigbee cocok untuk berbagai aplikasi otomatisasi bangunan, industri, medis, dan kontrol residensiil serta aplikasi monitoring. Pada dasarnya aplikasi yang membutuhkan interoperabilitas atau karakteristik kinerja RF dari standar IEEE dapat memanfaatkan solusi zigbee. Gambar 2.4 Aplikasi Zigbee 10

7 Zigbee Alliance mengembangkan beberapa profil aplikasi, diantaranya: a. Smart energy: zigbee dapat digunakan untuk membaca meter listrik, gas, dan air secara cepat. Jaringan zigbee smart energy memungkinkan komunikasi nirkabel antara advanced metering infrastructure (AMI) dan jaringan homearea, yaitu jaringan smart energy akan menghubungkan peralatan rumah dengan perusahaan listrik untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengelola permintaan puncak. b. Commercial building automation: pada bangunan komersial, zigbee dapat menjadi alat yang tak terpisahkan dalam pemeliharaan bangunan. Zigbee nirkabel dapat digunakan untuk memantau operasi deteksi asap dan posisi pintu api. Misalkan bahwa sebuah bangunan bertingkat tinggi memiliki 50 lantai dengan masing masing lantai memiliki 50 kamar dan setiap kamar dilengkapi dengan detektor asap. Untuk alasan keamanan masing-masing detektor asap harus diuji setiap bulan. Zigbee memungkinkan sebuah central station untuk memantau deteksi asap jarak jauh. Sebuah perangkat zigbee juga dapat digunakan untuk menghidupkan dan mematikan lampu tanpa meggunakan kabel apapun. c. Home automation: zigbee home automation mendefinisikan perangkat yang digunakan untuk aplikasi perumahan dan komersial. Zigbee dapat digunakan untuk kontrol pencahayaan, pemanasan, pendinginan, dan mekanisme penguncian pintu jarak jauh. Disamping itu juga dapat memonitor detektor asap dan sistem keamanan rumah. d. Personal, home, and hospital care (PHHC): profil ini digunakan untuk memantau kesehatan pribadi pasien di rumah tanpa membatasi mobilitas pasien. Sebagai contoh, monitor tekanan darah dan detak jantung jarak jauh. e. Telecom applications: penambahan perangkat zigbee ke dalam ponsel atau PDA menciptakan perangkat baru yang disebut zigbee mobile device. Sebuah perangkat zigbee mobile device dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan perangkat zigbee lainnya. Pengguna perangkat zigbee mobile device dapat mengirim dan menerima pesan dan berbagi nada dering, kontak ataupun gambar. Lebih penting lagi, perangkat zigbee mobile bahkan dapat 11

8 berkomunikasi dengan perangkat zigbee yang menggunakan profil aplikasi yang berbeda. f. Remote control for consumer electronics (ZigBee RF4CE): saat ini sebagian besar kontroler menggunakan teknologi infrared (IR), yang memerlukan line of sight. Zigbee RF4CE adalah sebuah protokol yang menggunakan frekuensi radio (RF) untuk menggantikan teknologi IR sebagai pengendali jarak jauh alat elektronik. g. Industrial process monitoring and control: zigbee menawarkan solusi untuk sensor nirkabel dan kontrol. Sehingga zigbee dapat digunakan untuk memantau dan mengendalikan proses industri tanpa kabel. Sebagai contoh, dalam pelacakan persediaan, setiap peralatan dapat ditandai dengan sensor nirkabel dan kemudian dapat ditemukan dengan node zigbee. Proses ini disebut identifikasi frekuensi radio (RFID). Zigbee dapat memantau kondisi mesin dan kinerja operasi peralatan dalam industri. Zigbee dapat merekam dan mengirimkan informasi penting seperti suhu, tekanan, aliran, level tangki, kelembaban, dan getaran (Elahi, 2009). Gambar 2.5 Contoh Aplikasi Zigbee Smart Energy (Sumber: 12

9 2.6 Arsitektur Zigbee Gambar 2.6 menunjukkan arsitektur zigbee yang ditetapkan oleh IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) dan Zigbee Alliance. Gambar 2.6 Arsitektur Zigbee (Sumber : Arsitektur Zigbee terdiri dari 4 layer. Spesifikasi dari 2 layer teratas (Application dan Network) ditetapkan oleh Zigbee Alliance untuk menetapkan standar produksi. Sedangkan spesifikasi dari 2 layer terbawah (Medium Access Control dan Physical) ditetapkan oleh standar IEEE untuk memastikan keberadaan Zigbee tanpa interferensi dari protokol wireless lainnya, misalnya Wi- Fi ( 5 Februari 2011). 13

10 Gambar 2.7 Lapisan Zigbee (Sumber: Zigbee Alliance) Application Layer Layer aplikasi diperlukan dalam network zigbee. Sebagai contoh, application untuk monitoring temperatur, kelembaban atau parameter kondisi udara lainnya yang memungkinkan pada layer ini. Layer ini merancang peralatan agar dapat digunakan. Sebuah node dapat digunakan lebih dari 1 application. Application dapat digunakan pada rentang nomor 1 240, maksudnya dalam 1 peralatan zigbee mampu memberikan maksimum 240 application. Application number 0 merupakan application number yang unik disimpan pada semua peralatan zigbee. Nomor ini digunakan untuk menyebarkan sebuah pesan untuk semua application pada node (Faharani, 2008) Zigbee Device Object (ZDO) Application ini merupakan application spesial pada setiap peralatan zigbee. Application ini menyediakan fungsi-fungsi yang mendefinisikan tipe dari peralatan zigbee (end device, router dan coordinator) yang menerangkan sebuah node, menginisialisasikan network, dan juga tentunya bagaimana terbentuknya dalam sebuah network (Faharani, 2008). 14

11 2.6.2 Zigbee Network Layer Pada jaringan zigbee, lapisan network menyediakan transmisi yang reliabel dan aman diantara perangkat. Perangkat zigbee diantaranya adalah zigbee coordinator, zigbee router, dan zigbee end device. Perbedaan tipe dari node akan memiliki perbedaan fungsi dalam network layer, tetapi semua tipe memiliki aplikasi yang sama (Leung, 2009). Untuk setiap jaringan zigbee hanya terdiri dari sebuah coordinator. Node ini bertanggung jawab untuk menginisialisasikan jaringan, memilih channel yang tepat, dan mengijinkan peralatan lainnya untuk terkoneksi dengan jaringannya. Node ini juga bertanggung jawab untuk trafik routing pada sebuah jaringan zigbee. Pada topologi star, coordinator berada di tengah-tengah dan semua trafik dari end device manapun harus melewati node ini. Hal ini memungkinkan untuk semua end device terkoneksi dengan end device lainnya, tetapi message harus diroute melalui coordinator. Pada topologi tree, coordinator berada diatas dan pada topologi mesh berada pada bagian bawah (root). Sebuah zigbee coordinator mengambil bagian dalam hal service keamanan. Zigbee router memungkinkan untuk melewati message pada sebuah jaringan dan memungkinkannya terkoneksi dengan node-node kecil baik node itu berupa router lainnya atau sebuah end device. Fungsi router hanya digunakan pada topologi tree atau mesh karena pada topologi star semua trafik dihubungkan melalui center node (coordinator). Router dapat ditempatkan sebagai end device, tetapi fungsi routing akan tidak terlalu diperlukan pada kasus ini. Jika jaringan mendukung proses beacon maka router akan berada dalam keadaan inactive dan kemudian hidup secara periodik untuk mengindikasikan jaringan dari proses tersebut. Fitur dari power saving dari jaringan zigbee difokuskan pada end device. Karena node ini tidak digunakan untuk trafik routing maka dapat dalam keadaan sleep pada keseluruhan waktu. Node ini hanya berfungsi untuk berkomunikasi dengan node parentnya, yaitu dapat berupa router atau coordinator. Sebuah end device tidak memiliki kemampuan untuk mengijinkan node lainnya terkoneksi 15

12 dengan jaringan melalui end device, tetapi harus terkoneksi ke jaringan melalui router lainnya atau melalui coordinator langsung (Leung, 2009) Topologi Zigbee Zigbee menggunakan spesifikasi standart IEEE untuk lapisan fisik dan lapisan MAC. Topologi pada IEEE diantaranya star, tree, cluster tree, dan mesh. Sedangkan zigbee hanya memiliki tiga topologi, yaitu star, tree, dan mesh. a. Topologi Star Topologi Star terdiri dari sebuah coordinator dan beberapa buah end device (nodes), seperti yang terlihat pada gambar. Pada topologi ini, end device hanya berkomunikasi dengan coordinator. Perpindahan paket data antar end device harus melewati coordinator. Kekurangan dari topologi ini adalah pengoperasian jaringan bergantung pada coordinator. Dan karena semua paket yang dikirim antar device harus melewati coordinator maka coordinator mudah mengalami bottleneck. Pada topologi ini juga tidak ada jalur alternatif untuk sumber ke destinasi. Keuntungan dari topologi star ini adalah merupakan topologi yang sederhana dan paket dilewatkan hanya dalam dua hop untuk sampai ke tujuan. Gambar 2.8 Topologi Star (Sumber: Elahi, 2009) b. Topologi Tree Pada topologi ini, jaringan terdiri dari central node (root tree), yaitu coordinator, beberapa router, dan end device seperti yang terlihat pada gambar 2.9. Fungsi dari router adalah untuk memperluas jangkauan jaringan. Suatu end node yang terhubung ke coordinator atau router disebut children. Hanya router 16

13 dan coordinator yang bisa memiliki children. Tiap end device hanya dapat berkomunikasi dengan parentnya (router atau coordinator). Dan sebuah end device tidak bisa memiliki children maka dari itu tidak dapat pula menjadi parent. Kekurangan dari topologi tree, diantaranya: a. Jika salah satu parent node menjadi tidak aktif maka node yang menjadi childrennya tidak dapat berkomunikasi dengan device lainnya dalam jaringan. b. Walaupun ada dua node yang secara geografis terletak saling berdekatan, keduanya tidak dapat berkomunikasi secara langsung. Gambar 2.9 Topologi Tree (Sumber: Elahi, 209) c. Topologi Cluster Tree Topologi cluster tree adalah kasus spesial pada topologi tree dimana suatu parent-node bersama childrennya disebut cluster, seperti yang terlihat pada gambar Tiap cluster teridentifikasi oleh sebuah cluster ID. Gambar 2.10 Topologi Cluster Tree (Sumber: Elahi, 2009) 17

14 d. Topologi Mesh Topologi mesh terdiri dari sebuah coordinator, beberapa router, dan beberapa end device. Seperti yang tampak pada gambar Berikut ini merupakan karakteristik dari topologi mesh: a. Topologi mesh adalah jaringan multihop. Paket data dilewatkan melalui beberapa hop untuk sampai ke tujuan. b. Jarak jangkauan jaringan dapat bertambah dengan menambahkan device dalam jaringan. c. Dapat mengurangi dead zones. d. Topologi mesh mampu menemukan jalur alternatif ke tujuan jika terjadi kegagalan. e. Device dapat saling berdekatan karena itu topologi ini menggunakan daya lebih sedikit. f. Penambahan atau pengurangan device mudah. g. Semua device yang menjadi sumber dapat berkomunikasi dengan setiap device tujuan dalam jaringan (Elahi, 2009). Gambar 2.11 Topologi Mesh (Sumber: Elahi, 2009) Network Formation Perangkat yang mampu bertindak sebagai coordinator dan sedang tidak bergabung dengan jaringan dapat menjadi calon coordinator zigbee. Sebuah perangkat yang menjadi coordinator akan memindai semua saluran untuk menemukan salah satu yang cocok. Setelah memilih saluran, perangkat ini menyiarkan beacon yang berisi pengenal PAN untuk menginisialisasi PAN. Sebuah perangkat yang mendengar beacon dari jaringan yang ada dapat 18

15 bergabung dalam jaringan ini dengan melakukan prosedur asosiasi dan menentukan perannya, sebagai router atau sebagai perangkat akhir (end device). Beacon pengirim akan menentukan apakah akan menerima perangkat ini atau tidak dengan mempertimbangkan kapasitas saat ini dan durasi asosiasi yang diijinkan. Kemudian respon asosiasi dapat dilakukan oleh beacon. Jika perangkat berhasil terasosiasi, asosiasi respon akan berisi alamat singkat 16- bit untuk permintaan pengirim. Alamat pendek tersebut akan menjadi alamat jaringan untuk perangkat tersebut (Tseng, - ). Gambar 2.12 Pemindaian PAN (Sumber: Tseng, - ) Penetapan Address pada Jaringan Zigbee Dalam sebuah jaringan zigbee, network address ditetapkan ke perangkat melalui skema distribusi. Setelah membentuk jaringan, zigbee coordinator menentukan jumlah maksimum children (Cm) dari sebuah router, jumlah maksimum child router (Rm) dari parent node, dan depth/kedalaman jaringan (Lm). Perlu diketahui bahwa Cm Rm dan parent node dapat memiliki sejumlah (Cm - Rm) end device sebagai children node. Dalam algoritma ini, address perangkat ditetapkan oleh parentnya. Untuk sebuah coordinator, seluruh address space dibagi ke dalam 1 blok Rm. Blok Rm yang pertama ditetapkan untuk router yang menjadi children node langsung dari coordinator dan blok terakhir ditetapkan untuk child node dari coordinator yang berupa end device. Dalam skema berikut, sebuah parent node menggunakan Cm, Rm, dan Lm untuk menghitung parameter yang disebut Cskip yang digunakan untuk menghitung address awal dalam children address pools. Cskip untuk coordinator atau router dalam suatu depth d di berikan dalam persamaan berikut: 19

16 1 + Cm (Lm d 1), if Rm = 1 (a) f(x) = { 1+Cm Rm Cm Rm Lm d 1, otherwise (b) 1 Rm (2.1) Coordinator dikatakan berada dalam depth 0 sedangkan node yang merupakan child dari node lainnya dalam depth d dikatakan berada dalam depth d + 1. Setiap node x dalam depth d dan setiap node y adalah child node dari x. Nilai dari Cskip (d) menunjukkan jumlah maksimum node pada sub-tree berakar pada y (termasuk y). Sebagai contoh, pada gambar 2.13 karena nilai Cskip dari B adalah 1 maka sub-tree dari C tidak akan lebih dari 1 node. Karena nilai Cskip dari A adalah 7 sehingga sub-tree B tidak akan lebih dari 7 node. Ukuran dari sub-tree berakar pada node y dapat ditentukan dari persamaan berikut: Cskip(d) = 1 + Cm + CmRm + CmRm CmRm Lm d 2 (2.2) Karena depth dari sub-tree adalah Lm- d-1, maka: persamaan(2.2) = 1 + Cm(1 + Rm + Rm Rm Lm d 2 = 1 + Cm(1 RmLm d 1 ) 1 Rm = persamaan(2.1b) Penetapan address dimulai dari zigbee coordinator dengan menetapkan address 0 pada dirinya sendiri dan depth d = 0. Jika parent node pada depth d memiliki address Aparent maka child router ke-n ditetapkan dengan address: A parent + Rm C skip (d) + n (2.3) Nilai Cskip dari coordinator diperoleh dari persamaan (1) dengan nilai d = 0, Cm = 6, Rm = 4, dan Lm = 3. Sehingga child router pertama, kedua, dan ketiga dari coordinator adalah 0 + (1-1) x = 1, 0 + (2-1) x = 32, dan 0 + (3-1) x = 63. Dan dua buah child end device adalah x = 125 dan x = 126 (Tseng, - ). 20

17 Gambar 2.13 Penetapan Address pada Jaringan Zigbee (Sumber: Tseng, -) Zigbee Routing Protocol Algoritma zigbee routing berdasarkan dari beberapa ide teknik routing diantaranya: 1. AODV Routing 2. Tree Routing 1. AODV Routing Algoritma AODV pada zigbee routing merupakan pengembangan dari routing Distance Vector (DV) dimana Zigbee router bertanggung jawab dalam pengiriman frame dari sumber tertentu menuju tujuan tertentu dengan menggunakan entry tabel routing untuk alur routing. Entry ini, merupakan catatan baik sebuah jarak logis menuju destination dan address dari router selanjutnya dalam jalan menuju destination. AODV adalah metode routing messages antar mobile computer. Metode ini mengijinkan mobile computer atau node untuk melewatkan messages melalui neighbornya untuk node yang tidak bisa berkomunikasi secara langsung. AODV 21

18 melakukannya dengan menemukan alur routing yang dapat melewatkan messagenya. AODV memastikan routing ini tidak akan terjadi loop dan berusaha untuk menemukan alur routing terpendek yang paling memungkinkan. AODV juga mampu untuk menangani perubahan routing dan dapat membentuk alur routing baru jika terjadi error. Gambar 2.14 menunjukkan 4 buah perangkat pada sebuah wireless network. Lingkaran berikut mengilustrasikan jangkauan komunikasi untuk masing-masing node. Karena jangkauan yang terbatas, masing-masing node hanya dapat berkomunikasi dengan node selanjutnya. Gambar 2.14 Proses Pengiriman Message (Sumber: Augusto, 2008) Node yang dapat berkomunikasi secara langsung akan dianggap sebagai neighbor dengan mendengarkan untuk sebuah message HELLO yang dibroadcast oleh masing-masing node pada interval yang ditentukan. Ketika sebuah node memerlukan untuk mengirim sebuah message menuju node lainnya yang tidak merupakan neighbor, ia akan membroadcast sebuah message route request (RREQ). Message ini terdiri dari beberapa key bit informasi, yaitu: sumber, tujuan, dan lifespan dari message dan rangkaian nomor yang merupakan sebuah ID unik. 22

19 Contohnya, pada gambar 2.15 node 1 ingin mengirimkan sebuah message ke node 3. Neighbor dari node 1 adalah 2 dan 4. Karena node 1 tidak bisa berkomunikasi langsung dengan node 3, node 1 akan mengirimkan sebuah RREQ yang selanjutnya didengar oleh node 4 dan node 2. Gambar 2.15 Proses Broadcast Message (Sumber: Augusto, 2008) Ketika neighbor dari node 1 menerima message RREQ, ia memiliki dua pilihan. Jika mereka mengetahui routing menuju destination atau jika mereka adalah destination mereka akan mengirimkan balasan message Route Reply (RREP) ke node 1, jika tidak ia akan membroadcast ulang RREQ menuju neighbor selanjutnya. Message tersebut akan tetap dibroadcast ulang sampai lifespan dari message tersebut habis. Jika node 1 tidak menerima balasan pada suatu set waktu seperti pada gambar 2.16, ia akan membroadcast ulang request tersebut dimana message RREQ baru ini memiliki lifespan yang lebih lama dan memiliki sebuah ID yang baru. Semua node menggunakan rangkaian nomor pada RREQ untuk memastikan 23

20 agar mereka tidak membroadcast ulang RREQ. Sebagai contoh, node 2 memiliki alur routing menuju node 3 dan membalas RREQ dengan mengirimkan RREP. Lain hal pada node 4 yang tidak memiliki alur routing menuju node 3 maka ia akan membroadcast ulang RREQ. Gambar 2.16 Proses Pengiriman RREP dan RREQ (Sumber: Augusto, 2008) Rangkaian nomor disajikan seperti layaknya perangko waktu. Hal ini mengijinkan node-node untuk membandingkan seberapa baru informasinya pada node lainnya. Setiap waktu sebuah node mengirimkan message tipe apapun maka akan meningkatkan rangkaiannya nomornya. Rangkaian nomor yang lebih tinggi mengindikasikan routing yang lebih baru. Hal ini memungkinkan untuk node lainnya untuk mengetahui informasi 24

21 mana yang lebih akurat. Sebagai contoh pada gambar 2.20, node 1 mengirimkan RREP untuk node 4. Hal ini menunjukkan bahwa routing pada RREP memiliki rangkaian nomor yang lebih baik dibandingkan routing pada list routing. Node 1 kemudian akan menempatkan kembali routing yang secara tepat memiliki routing sebagai RREP. Gambar 2.17 Penerimaan RREP (Sumber: Augusto, 2008) Route Error Message (RERR) mengijinkan AODV untuk mengatur routing ketika node bergerak. Ketika sebuah node menerima RERR yang terlihat pada tabel routing dan akan menghilangkan semua routing yang berisi node yang error. Gambar 2.18 mengilustrasikan 3 keadaan dimana node akan membroadcast sebuah RERR ke neighbornya. Pada skenario pertama, node menerima sebuah packet data yang seharusnya dikirimkan, tetapi ia tidak memiliki alur routing menuju destination. 25

22 Masalah utamanya adalah node tersebut tidak memiliki alur routing karena nodenode lainnya mengira alur routing menuju destination adalah melewati node tersebut. Pada skenario kedua, node menerima RERR hal ini karena seharusnya setidaknya satu dari alur routing sudah tidak berlaku lagi. Jika ini terjadi, node kemudian akan mengirimkan sebuah RERR dengan semua node baru yang sekarang tidak mampu dicapai. Pada skenario ketiga, node mendeteksi bahwa ia tidak bisa berkomunikasi dengan satu dari neighbor lainnya. Ketika hal ini terjadi ia akan melihat pada tabel routing untuk alur routing yang digunakan pada neighbor untuk next hop dan menandainya sebagai invalid. Kemudian ia akan mengirimkan RERR dengan neighbor dan invalid alur routing. Gambar 2.18 Proses Pengiriman RERR (Sumber: Augusto, 2008) 26

23 Karakteristik AODV: - Hanya akan menemukan alur routing yang diperlukan. - Menggunakan rangkaian nomor untuk mengikuti informasi yang akurat. - Hanya menjaga track next hop untuk keseluruhan alur routing yang tersedia. - Menggunakan message HELLO secara periodik untuk menemukan neighbor. 2. Tree Routing Mekanisme routing ini berdasarkan pada skema short addressing dan awalnya diperkenalkan oleh MOTOROLA. Masing-masing device, pada saat datangnya sebuah data frame, akan membaca informasi routing dan mengecek address dari destination. Jika destinationnya adalah child dari device tersebut maka device akan menyampaikan paket menuju address tersebut. Jika destination address bukan child dari device tersebut maka device harus mengecek dimana A adalah network address device tersebut, D address tujuannya, dan d depth device pada network (Ricardo. 2008). A < D < A + C skip (d 1) (2.4) Address next hop (N) ketika routing didapat dari rumus berikut: N = A [ D (A+1) Cskip(d) ] Cskip(d) (2.5) Jika address destinationnya bukan dalam satu turunan, device akan mengirim packet tersebut menuju parentnya. Berikut ilustrasi sebuah network dengan parameter Lm = 3; Cm = 6; Rm = 4. Nilai Cskip (jumlah address yang tersedia pada masing-masing depth) dipresentasikan dalam tabel 2.3: Tabel 2.4 Jumlah Cskip dari Masing-masing Depth (Sumber: Augusto, 2008) Depth Cskip(Depth)

24 Gambar 2.19 menunjukkan contoh addressing pada tree routing dengan masing-masing nilai Cskipnya: Gambar 2.19 Contoh Addressing pada Tree Routing (Sumber: Augusto, 2008) Jika ZR 0x0002 mengirimkan sebuah message menuju ZR 0x0028, protokol tree routing akan melakukan hal berikut: 1. ZR 0x0002 membangun data frame dan mengirimkannya menuju parentnya (0x0001). Data frame itu diantaranya: - MAC destination address: 0x MAC source address: 0x Network Layer Routing Destination Address: 0x Network Layer Routing Source Address: 0x ZR 0x0001 menerima data frame, merealisasikan bahwa message tersebut bukan untuknya, dan harus dikirim selanjutnya. Device mengecek tabel neighbor untuk routing address destination, mencoba untuk menemukan jika destination adalah salah satu dari child devicenya. Kemudian device akan mengecek jika routing dari address destination adalah turunannya dengan mengkondisikan formula persamaan (2.4). Dengan hasil = 0x0001 < 0x0028 < 0x

25 ZR 0x0001 adalah depth 1 dari network setelah ditemukan bahwa destination bukanlah turunannya, ZR 0x0001 meneruskan data frame menuju parentnya, yakni ZC 0x0000. Dengan membentuk data frame berikut: - MAC destination address: 0x MAC source address: 0x Network Layer Routing Destination Address: 0x Network Layer Routing Source Address: 0x ZC 0x0000 menerima data frame dan memeriksa jika address destinationnya terdapat pada neighbor tabel routing. Setelah menemukan bahwa device tujuannya bukanlah neighbornya dan karena ZC adalah akar dari tree network dan tidak bisa dirouting up lagi, next hop address dikalkulasikan seperti berikut: 0x0028 (0x0000 1) N 0x x31 31 Hasil next hop address adalah N = 32 (decimal) = 0x0020. Maka dibentuk data frame berikut: - MAC destination address: 0x MAC source address: 0x Network Layer Routing Destination Address: 0x Network Layer Routing Source Address: 0x ZR 0x0020 menerima data frame dan mengecek tabel routing untuk routing address destination. Setelah menemukan bahwa addressnya adalah neighbornya, message akan diteruskan kepadanya. Next hop diberikan dengan address pendek yang dipresentasikan pada tabel routing. Data frame yang dibentuk adalah sebagai berikut: - MAC destination address: 0x MAC source address: 0x Network Layer Routing Destination Address: 0x Network Layer Routing Source Address: 0x0002. Dari teknik tree routing dapat diketahui maksimum device yang bisa tergabung dalam suatu network zigbee dengan rumus berikut: 29

26 1 + Cm (Lm d 1), if Rm = 1 (a) Cskip(d) = { 1+Cm Rm Cm Rm Lm d 1, otherwise (b) 1 Rm (2.6) Gambar 2.20 Skema Address pada Zigbee (Sumber: Augusto, Ricardo. 2008) Gambar diatas menunjukkan skema addrees yang tersedia pada zigbee coordinator (0x0000). Berdasarkan parameter network diatas, zigbee coordinator mengijinkan hingga 4 router dan 2 end device untuk bergabung pada suatu kelompok address. Di lain sisi, zigbee router (0x0020) mengijinkan hingga 4 zigbee router dan 6 zigbee end device untuk bergabung. Fitur sinkronisasi (mode beacon-enabled) dari topologi cluster tree memiliki keuntungan namun juga kerugian. Di satu sisi, sinkronisasi memungkinkan untuk mengatur energi tiap cluster sehingga memungkinkan node end device dan router untuk menyimpan energi dengan menggunakan sleep mode. Kontrasnya, topologi mesh seperti yang didefinisikan pada standar spesifikasi IEEE hanya node end device yang mampu berada pada periode inactive. Periode penyimpanan energi ini memungkinkan perpanjangan lifetime dari network yang merupakan salah satu hal penting yang ditawarkan oleh wireless sensor network. Di lain sisi, mekanisme sinkronisasi pada network cluster tree merupakan sebuah tantangan. Bahkan dapat diambil keuntungan dengan sinkronisasi antara zigbee router yaitu masalah ini dapat meningkatkan network dari cluster tree (depth yang lebih tinggi). Melihat dari teknik routing, teknik routing tree pada cluster tree merupakan tambahan untuk teknik routing pada topologi mesh 30

27 (AODV) dalam hal keperluan memori. Overhead pada routing jika dibandingkan dengan AODV pada topologi mesh akan dapat dikurangi. Hal ini melihat bahwa teknik routing pada topologi tree hanya memberikan satu jalan routing dari sumber manapun menuju tujuan manapun, hal demikian yang tidak memberikan beberapa jalan routing yang merupakan kebalikan dari AODV. Disamping beacon scheduling (inactive period) dan masalah single-pointfailure, terdapat beberapa tantangan untuk topologi tree, diantaranya: 1. Resinkronisasi network, untuk dalam kasus cluster baru yang join atau meninggalkan network. 2. Susunan ulang dalam kasus router failure. 3. Penggabungan dari address space yang dialokasikan untuk masing-masing router. 4. Dalam hal mendukung mobilitas dari node, router bahkan semua cluster. Pada Zigbee network, routing management dilakukan dengan command frame dari network, diantaranya command-command tersebut adalah: - Route request: command untuk mencari sebuah routing menuju sebuah spesifik device atau dapat juga digunakan untuk memperbaiki sebuah routing. - Route reply: command yang dikirim dalam merespon dari sebuah route request, dapat juga digunakan untuk merequest informasi state. - Route error: pemberitahuan dari sebuah sumber device dari data frame tentang failure pada frame berikutnya. - Leave: pemberitahuan dari sebuah device yang meninggalkan network. - Route record: pemberitahuan dari list dari node-node yang digunakan untuk pengiriman data frame. - Rejoin request: pemberitahuan dari device yang rejoin dari network. - Rejoin response respon rejoin dari rejoin request (Ricardo. 2008). 31

28 2.7 Network Coverage dan Connectivity Beberapa faktor harus ditentukan ketika membangun perencanaan untuk coverage sebuah jaringan sensor Cakupan (Coverage) Jangkauan efektif dari sensor yang melekat pada sensor node mendefinisikan area cakupan sensor node. Cakupan jaringan mengukur tingkat cakupan dalam area yang di monitor oleh sensor node Tipe Cakupan (Coverage) Cakupan (coverage) adalah salah satu evaluasi kinerja dalam jaringan sensor nirkabel (wireless sensor network). Coverage mewakili seberapa baik field of interest (FoI) yang dapat dipantau oleh satu set sensor. Sebuah titik dalam FoI dikatakan tercakup jika terletak setidaknya dalam jangkauan penginderaan (sensing range) satu buah sensor dan dikatakan k-covered jika terletak dalam sensing range sejumlah k sensor, dimana k 1. Coverage dapat dianggap sebagai ukuran kualitas layanan (quality of service) yang menjamin bahwa semua titik dalam FoI tercakup setidaknya oleh sebuah sensor. Jumlah sensor yang diperlukan harus optimal. Coverage dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Blanket coverage: merupakan salah satu tipe masalah coverage yang sering dipelajari. Blanket coverage adalah untuk memantau atau mencakup daerah tertentu (FoI). Gambar menunjukkan contoh dari cakupan wilayah dengan penyebaran acak. Lingkaran hitam menunjukkan node yang aktif dalam FoI (Mulligan, 2010). Gambar 2.21 Blanket Coverage (Sumber: Mulligan, 2010) 32

29 b. Barrier coverage: tujuan utama dari barrier coverage adalah untuk mendeteksi intrusi dari seluruh objek dalam FoI untuk mengurangi kemungkinan intrusi yang tidak terdeteksi pada objek dalam FoI. Pada gambar adalah contoh dari barrier coverage yang menunjukkan titik awal dan akhir dengan penyebaran sensor secara acak. Gambar 2.22 Barrier Coverage (Sumber: Mulligan, 2010) c. Point coverage: point coverage bertujuan untuk mencakup sejumlah titik yang diberikan dalam FoI. Gambar menunjukkan contoh point coverage dengan penyebaran sensor acak. Node hitam yang terhubung merupakan node yang aktif. Gambar 2.23 Point Coverage (Sumber: Mulligan, 2010) d. Path coverage: path coverage bertujuan untuk mencakup jalur tertentu yang dilalui objek untuk mencapai node tujuan. e. Exposure: exposure bertujuan untuk menemukan berapa lama sebuah objek terkena sensor saat melintasi FoI. f. Surface coverage: mengacu pada jaringan sensor tiga dimensi dimana pemantauan FoI dalam lingkup tiga dimensi dan sensor dapat disebar hanya pada permukaan (Mulligan, 2010). 33

30 2.7.3 Penyebaran (deployment) Penyebaran jaringan sensor biasanya dapat dikategorikan sebagai dense deployment (penyebaran padat) atau sparse deployment (penyebaran jarang). Dense deployment memiliki sejumlah node sensor yang relatif tinggi di bidang tertentu. Sedangkan sparse deployment akan memiliki lebih sedikit node. Model dense deployment digunakan dalam situasi dimana sangat penting bagi setiap kejadian untuk dideteksi atau ketika penting memasang beberapa sensor untuk menjangkau suatu daerah. Sparse deployment dapat digunakan ketika biaya sejumlah sensor menghalangi untuk membuat suatu dense deployment atau ketika jangkauan maksimum ingin diraih hanya dengan jumlah sensor minimal. Node sensor yang disebar pada suatu area dengan menempatkan sensor di lokasi yang telah ditentukan (deterministic) atau menyebar node secara acak (random) (Mulligan, 2010). Gambar 2.24 Penempatan Deterministik (Sumber: Mulligan, 2010) Gambar 2.25 Penempatan Acak (Sumber: Mulligan, 2010) 34

31 2.7.4 Tipe Node Sejumlah node yang dipilih dalam jaringan sensor dapat berupa kelompok node homogen atau heterogen. Sebuah kelompok homogen adalah sekelompok node yang memiliki kemampuan sensing yang sama. Sedangkan kelompok heterogen adalah jika ada sebuah ato beberapa node yang memiliki daya sensing yang lebih disbanding node yang lain (Mulligan, 2010). Gambar 2.26 Kelompok Sensor Homogen (Sumber: Mulligan, 2010) Gambar 2.27 Kelompok Sensor Heterogen (Sumber: Mulligan, 2010) Coverage Berdasarkan Strategi Penyebaran Strategi penyebaran sensor akan memaksimalkan cakupan serta mempertahankan jaringan global yang terhubung grafik. Beberapa strategi penyebaran telah dipelajari untuk mencapai suatu sensor yang memiliki arsitektur jaringan optimal yang akan meminimalkan biaya, memberikan penginderaan coverage tinggi, tahan terhadap kegagalan node acak, dsb (Mulligan, 2010) Imprecise Detections Algorithm (IDA) Dhilon et al mengusulkan sebuah algoritma jaringan cakupan yang memastikan bahwa setiap gridpoint dicakup dengan tingkat kepercayaan minimal. Tampilan minimalis dari jaringan sensor adalah dengan mengerahkan jumlah 35

32 sensor minimum pada grid yang akan mengirimkan jumlah minimum data. Model ini memberikan dua nilai probabilitas pij dan pji untuk setiap pasangan gridpoint (i,j), dimana pij adalah probabilitas bahwa target di gridpoint j adalah terdeteksi oleh sensor di gridpoint i. Dan pji adalah probabilitas bahwa target di gridpoint i adalah terdeteksi oleh sensor di gridpoint j. Dalam keadaan nilai nilai simetris yaitu pij = pji (Ghosh, 2006). Gambar 2.28 Dua Nilai Probabilitas p ij dan p ji pada model line-of-sight statis (Ghosh, 2006) Konektivitas Sensor Network Sebuah jaringan sensor dianggap terhubung hanya jika ada setidaknya satu jalur antara setiap pasangan node dalam jaringan. Konektivitas tergantung terutama pada keberadaan jalur. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan dalam topologi akibat mobilitas, kegagalan node, serangan dan sebagainya. Konsekuensi dari kejadian tersebut meliputi hilangnya link, isolasi node, partisi jaringan, peningkatan jalan, dan re-routing. Konektivitas dapat dimodelkan sebagai grafik G (V,E) dimana V adalah himpunan simpul (node) dan E adalah himpunan sisi (link). Grafik ini dikatakan k- connected jika setidaknya ada jalur disjioint k antara setiap pasangan node u, v V. Konektivitas adalah ukuran toleransi kesalahan atau keragaman jalur dalam jaringan (Zhang, 2005). 2.8 Quality of Service (Zigbee) QoS (Quality of Service) merupakan kemampuan dalam menyediakan tingkatan layanan untuk transmisi data pada suatu jaringan. QoS jaringan wireless sensor zigbee antara lain berdasarkan throughput jaringan, end to end delay, dan delivery ratio. 36

33 1. Throughput Network Throughput adalah ukuran jumlah data yang dikirim dari sumber ke tujuan dalam satuan waktu (detik). Throughput dilihat dalam satuan bits/sec dan memberikan gambaran kesuksesan suatu jaringan dalam mengirimkan data melalui media transmisi. Throughput dari suatu node diukur dengan terlebih dahulu menghitung jumlah total paket data yang berhasil diterima yang kemudian dibagi dengan total runtime simulasi. Sedangkan throughput jaringan didefinisikan sebagai rata-rata throughput dari semua node yang terlibat dalam transmisi data. Throughput of a node = (total bit data yang diterima) waktu simulasi (2.7) Network Throughput = jumlah throughput dari node jumlah node (2.8) Throughput (TP) maksimum dapat dihitung setelah paket delay ditentukan. Delay adalah secara keseluruhan yaitu delay pada saat data dikirim dan delay yang disebabkan oleh semua elemen urutan frame. TP = 8.x delay (x) (2.9) Dimana x adalah jumlah bytes yang diterima dari lapisan yang lebih tinggi (Latre, 2006). 2. End to End Delay End to end delay adalah waktu yang diperlukan paket data ketika ditransmisikan untuk mencapai node tujuan atau dari transmitter menuju receiver. Delay dari setiap paket dapat dihitung dengan: delay(x) = T BO + T frame (x) + T TA + T ACK + T IFS (x)...(2.10) 37

34 Dimana: T BO = Back off periode (second) T frame (x) = waktu tramsmisi untuk payload dalam x-byte T TA T ACK T IFS (x) = putaran waktu (turn around time) = waktu transmisi ACK = waktu IFS(inter frame space) Untuk IFS, SIFS (Short Inter Frame Space) digunakan ketika MPDU (= LMAC_HDR + LMAC_FTR + payload) lebih kecil atau sama dengan 18 bytes. Selain itu, digunakan LIFS (Long Inter Frame Space). Period backoff dapat dihitung dengan persamaan: T BO = BO slots + T BOslots..(2.11) Dimana: BO slots = jumlah backoff slots T BOslots = waktu untuk backoff slots Jumlah dari backoff slots adalah acak dengan interval (0, 2 BE -1) dengan BE adalah back off exponent yang memiliki nilai minimum 3. Jika asumsi hanya satu buah pengirim dan BER adalah nol, nilai BE tidak akan berubah. Oleh Karena itu, jumlah back off slots dapat direpresentasikan sebagai interval: (0, 2 BE -1)/ 2 atau 3,5. Total durasi frame adalah : T frame (x) = 8 L PHY+L MAC_HDR +L address +L MAC_FTR R data..(2.12) Dimana : L PHY = panjang PHY header dalam bytes L MACHDR = panjang MAC header dalam bytes 38

35 L address = panjang MAC address dalam bytes L MAC_FTR = panjang MAC footer dalam bytes R data = raw data rate L address adalah total panjang MAC address yang tergabung dalam info field, termasuk PAN-identifier untuk pengirim dan penerima jika keduanya menggunakan address. Panjang dari 1 PAN-identifier adalah 2 bytes. Sementara durasi acknowledgement dihitung dengan: T ACK (x) = 8 L PHY+L MAC_HDR +L MAC_FTR R data..(2.13) Jika ACK tidak digunakan, Tturnaround dan Tack diabaikan (Latre, 2005). 2.9 Model Propagasi Free Space Loss FSL merupakan model propagasi yang digunakan dengan mengkondisikan transmitter dan receiver berada pada lingkungan tanpa bangunan ataupun halangan lain yang dapat menimbulkan difraksi, refraksi, absorbsi maupun blocking. Model propagasi tersebut baik apabila digunakan untuk perancangan tahap awal suatu jaringan sehingga dapat diketahui karakteristik jaringan sesuai standar yang diterapkan. Besar redaman ruang bebas secara matematis dapat dihitung dengan menggunakan persamaan: Keterangan: Lfs Pt Pr = Free space loss (db) L fs = P t P r..(2.14) = Daya pancar di transmitter (dbm) = Daya terima di receiver (dbm) 39

36 Persamaan umum FSL diatas dapat diturunkan sehingga diketahui parameter khusus yang mempengaruhi nilai tersebut. Besar rapat daya (F) dengan jarak (d) dari suatu antenna isotropis transmitter dengan daya pancar (Pt) adalah: F = P t 4.π.d 2..(2.15) Pada sisi receiver dengan luas tangkap (aperture) antena isotropis bernilai λ2 4.π, maka besar daya yang ditangkap (Pr) adalah: P r = F. λ2 4.π = P t.λ 2 4.πd 2 4.π = P t ( λ 4.π.d )2..(2.16) Sehingga dengan memasukkan persamaan 2.3 ke 2.1 akan didapat persamaan yang diturunkan sebagai berikut: L fs = P t P r = P t P t ( λ 4.π.d )2 = ( 4.π.d λ )2..(2.17) Persamaan 2.4 dapat disederhanakan melalui perhitungan dimana λ = c/f dengan c adalah cepat rambat gelombang cahaya di ruang hampa (3x10 8 m/sec), d dalam Km dan f dalam MHz. Sehingga besar FSL didapat dengan persamaan berikut: 2 L fs = ( 4.π.d c ) = ( 4.π.d.103.f.10 6 ) 2 = ( 4.π.d.f.109 ) 2 = ( 4.π.d.f f ,3 )2 = 10 log ( 4.π.d.f 0,3 )2 40

37 = 20 log 4.π + 20 log d (Km) + 20 log f (MHz) 0,3 = 32, log d + 20 log f..(2.18) Dari persamaan FSL diatas, dapat diketahui nilai jarak antara transmitter dengan receiver melalui persamaan berikut (Ahmad, 2007): L fs L fs = 32, log d (km) + 20 log f (MHz) = 92, log d (km) + 20 log f (GHz) 20 log d = L fs 92,4 20 log f d Keterangan: Lfs d f = log 1 ( L fs 92,4 20 log f )..(2.19) 20 = Free space loss (db) = Jarak antara transmitter dan receiver (Km) = Frekuensi (GHz) 2.10 Simulator Opnet Modeler Pengenalan Simulator Opnet Modeler Opnet (Optimize Network Engineering Tools) Modeler adalah salah satu software untuk network modelling yang sering digunakan dalam mendesain atau optimasi suatu jaringan. OPNET memiliki banyak modul yang disesuaikan dengan equipment dari banyak vendor yang digunakan pada banyak perusahaan. Dukungan inilah yang mempermudah user ataupun designer dalam merancang maupun melakukan optimasi suatu jaringan. Perkembangan Opnet Modeler dimulai tahun 1986 oleh MIL3 Inc., dimana perusahaan tersebut saat ini dikenal sebagai OPNET Technologies, Inc. yang menjadi perusahaan publik pada bulan Agustus 2000 ( Pada awalnya software Opnet Modeler dikembangkan untuk kepentingan militer, namun saat ini telah berkembang menjadi alat bantu simulasi jaringan komersil dunia yang terdepan. 41

38 Opnet Modeler dengan tampilan awal seperti pada gambar 2.29 memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan simulator jaringan lainnya yaitu pengguna tidak perlu mengetahui pengetahuan pemrograman yang mendalam karena terdapat GUI (Graphical User Interface), library yang komprehensif berupa protokol dan model jaringan, serta interface berupa grafik untuk melihat hasil simulasi. Gambar 2.29 Opnet Modeler 14.5 Educational Version (Sumber: Struktur Hirarki Opnet Modeler Opnet Modeler berdasarkan struktur hirarkinya terbagi menjadi tiga seperti pada gambar 2.25, yaitu Network domain, Node domain, dan Process domain. Secara garis besar, network domain menggambarkan bentuk jaringan yang disimulasikan, node domain menggambarkan konfigurasi perangkat yang ada pada network domain, sedangkan process domain menggambarkan konfirurasi objek yang ada pada node domain. Node model Network model Gambar 2.30 Network Domain, Node Domain, dan Process Domain 42

39 Berikut ini merupakan penjelasan dari ketiga domain tersebut: 1. Network Domain Network domain merupakan bagian struktur dari Opnet Modeler dimana pengguna dapat melakukan simulasi jaringan dengan menkonfigurasi topologi jaringan, node, link, skenario jaringan, dan sub jaringan melalui project editor seperti yang ditunjukkan gambar Pada network domain terdapat network model yang menggambarkan objek pada sistem dalam bentuk lokasi fisik, interkoneksi, dan konfigurasi. Node dalam network domain menunjukkan perangkat jaringan dan group dari perangkat, sedangkan link menunjukkan hubungan point-to-point. Gambar 2.31 Project Editor 2. Node Domain Node domain merupakan bagian struktur dari Opnet Modeler dimana menunjukkan struktur internal dari node jaringan. Domain ini digunakan untuk menggambarkan perilaku dari node atau sistem dalam suatu jaringan. Salah satu node domain pada Opnet Modeler adalah node model Zigbee seperti pada gambar

40 Gambar 2.32 Node Model pada Zigbee Station 3. Process Domain Process domain pada gambar 2.33 merupakan bagian struktur dari Opnet Modeler dimana digunakan untuk menunjukkan perilaku dari prosesor dan modul antrian yang berada pada node domain. Modul pada process domain terdiri dari state transition diagram/finite State Machines (FSMs), blok kode dari C, dan state/temporary variables. Gambar 2.33 Process Model Zigbee 44

41 Zigbee Model Pemodelan Zigbee pada simulator Opnet Modeler diperlukan diantaranya: 1. Zigbee Object Palette Gambar 2.34 menunjukkan Zigbee object palette pada Opnet Modeler. Gambar 2.34 Zigbee Object Palette Dari Zigbee object palette pada gambar 2.34, masing-masing model dapat dideskripsikan pada tabel 2.4. Tabel 2.5 Zigbee Node Model Node Model Deskripsi Zigbee_coordinator Zigbee coordinator node model Zigbee_end_device Zigbee end device node model Zigbee_router Zigbee router node model 2. Zigbee Model Attributes: Attributes yang terdapat pada Zigbee model: A. Local Attributes Berikut adalah attributes yang terdapat untuk konfigurasi Zigbee device model yang ditunjukkan pada gambar 2.35: Application Traffic attributes: - Destination - Packet Interarrival Time - Packet Size - Start Time - Stop Time 45

42 Zigbee Parameters - MAC Parameters - Network Parameters - PAN ID - Physical Layer Parameters Gambar 2.35 Zigbee Device Model Attributes B. Global Attributes Zigbee model terdiri dari global attributes berikut (diakses dari dialog box Configure/Run Simulation): Network Formation Threshold Report Snapshot Time Tools pada Opnet Modeler Simulasi menggunakan Opnet Modeler dapat dilakukan dengan terlebih dahulu membuat skenario jaringan yang direncanakan. Berikut ini merupakan langkah untuk membuat sebuah skenario melalui project editor Opnet Modeler: 1. Mulai. 46

43 2. Buka pada menu bar Opnet Modeler, File-New-Project. 3. Masukkan nama Project name dan Scenario name. 4. Pilih topology awal yang diinginkan (untuk membuat skenario baru maka pilih Create empty scenario). 5. Pilih tipe skala jaringan yang akan disimulasikan (World/Enterprise/Campus/ Office/Logical/Choose from maps) 6. Masukkan nilai skala skenario yang akan disimulasikan (X span, Y span, dan unit satuan jarak). 7. Pilih teknologi yang akan digunakan pada simulasi. 8. Selesai. Skenario jaringan yang akan disimulasikan dapat dibuat dengan menggunakan tools pada Opnet Modeler yang tersedia di project editor. Beberapa tools yang umumnya digunakan dalam mensimulasikan skenario jaringan antara lain: 1. Object Palette Object Palette pada gambar 2.36 merupakan tools untuk menampilkan perangkat/objek sesuai dengan teknologi yang telah dipilih pada langkah membuat skenario melalui project editor Opnet Modeler. Gambar 2.36 Object Palette 47

44 2. Choose Individual DES Statistic DES (Discrete Event Simulation) statistic pada gambar 2.37 merupakan parameter yang digunakan untuk menganalisa simulasi jaringan. Parameter yang dapat diamati bergantung pada teknologi yang digunakan. Pemilihan parameter didasari oleh kebutuhan pengguna akan analisis hasil simulasi. Gambar 2.37 Individual DES Statistic untuk Zigbee 3. Configure/Run Discrete Event Simulation Konfigurasi DES (Discrete Event Simulation) pada gambar 2.38 dilakukan pada durasi yang diatur sesuai dengan waktu simulasi akan dijalankan hingga sistem stabil. Pengguna dapat menjalankan simulasi dengan memilih Run. Gambar 2.38 Configure/Run Discrete Event Simulation 48

45 4. Results Contoh hasil simulasi berdasarkan DES (Discrete Event Simulation) statistic seperti pada gambar 2.39 yang telah dipilih sebelumnya dapat dilihat setelah simulasi dijalankan dari View Results pada menu bar DES. Hasil simulasi berupa grafik dan data statistik. Gambar 2.39 Result Browser 49

BAB II WIRELESS PERSONAL AREA NETWORK (WPAN)

BAB II WIRELESS PERSONAL AREA NETWORK (WPAN) BAB II WIRELESS PERSONAL AREA NETWORK (WPAN) 2.1 Umum Dewasa ini kebutuhan untuk mengakses layanan telekomunikasi melalui media nirkabel (wireless) menunjukkan peningkatan yang signifikan, sehingga teknologi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini dijelaskan landasan teori dari beberapa konsep yang digunakan pada penelitian ini seperti Teknologi Jaringan, Network Simulator 2, Bluetooth dan Zigbee. 2.1 Teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi wireless yang semakin pesat beberapa tahun belakangan ini menyebabkan mendorong berkembangnya perangkat-perangkat telekomunikasi yang berbasis

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. secara langsung melalui jaringan kabel[1,2]. Implementasi jaringan dengan

I. PENDAHULUAN. secara langsung melalui jaringan kabel[1,2]. Implementasi jaringan dengan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang JSN merupakan jaringan sistem pemantauan objek yang tersebar dalam cakupan area tertentu, dimana kondisi lingkungan tidak mendukung adanya transmisi data secara langsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aplikasi-aplikasi jaringan memerlukan sejumlah node-node sensor terutama untuk

BAB I PENDAHULUAN. aplikasi-aplikasi jaringan memerlukan sejumlah node-node sensor terutama untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jaringan sensor nirkabel (JSN) sangat penting sejak kebanyakan aplikasi-aplikasi jaringan memerlukan sejumlah node-node sensor terutama untuk area yang tidak

Lebih terperinci

Studi Kinerja Multipath AODV dengan Menggunakan Network simulator 2 (NS-2)

Studi Kinerja Multipath AODV dengan Menggunakan Network simulator 2 (NS-2) A652 Studi Kinerja Multipath AODV dengan Menggunakan Network simulator 2 (NS-2) Bima Bahteradi Putra dan Radityo Anggoro Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Institut Teknologi Sepuluh

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 1 DAN PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini membahas tentang analisis dan perancangan sistem. Pembahasan yang dianalisis terbagi menjadi 2 yaitu analisis masalah dan analisis

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS. Pada penelitian ini akan dilakukan simulasi sistem pelacakan (tracking) dengan

BAB 3 ANALISIS. Pada penelitian ini akan dilakukan simulasi sistem pelacakan (tracking) dengan BAB 3 ANALISIS 3.1 Pendahuluan Pada penelitian ini akan dilakukan simulasi sistem pelacakan (tracking) dengan menggunakan teknologi Mobile Ad Hoc Network. Simulasi akan dilakukan berdasarkan beberapa skenario

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi nirkabel terus berkembang lebih maju, dan peluang penggunaanya semakin menyebar secara luas. Dengan mudahnya kita bisa menemukan tempat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dikerahkan di daerah pemantauan dengan jumlah besar node sensor mikro.

BAB I PENDAHULUAN. yang dikerahkan di daerah pemantauan dengan jumlah besar node sensor mikro. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jaringan sensor nirkabel (JSN) adalah sebuah teknologi interdisipliner yang dikerahkan di daerah pemantauan dengan jumlah besar node sensor mikro. Secara umum

Lebih terperinci

PENGARUH JARAK DAN OBSTACLE PADA RSSI JARINGAN ZIGBEE ( ) Reza Febrialdy Yuwono 1, Novian Anggis S. 2

PENGARUH JARAK DAN OBSTACLE PADA RSSI JARINGAN ZIGBEE ( ) Reza Febrialdy Yuwono 1, Novian Anggis S. 2 PENGARUH JARAK DAN OBSTACLE PADA JARINGAN ZIGBEE (802.15.4) Reza Febrialdy Yuwono 1, Novian Anggis S. 2 1,2 Prodi S1 Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Telkom 1 [email protected], 2

Lebih terperinci

1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gedung merupakan salah satu bagian penting dari kehidupan manusia. Gedung memiliki fungsi sebagai tempat tinggal, melakukan kegiatan usaha, ibadah, kegiatan sosial,

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH JUMLAH DEVICE TERHADAP PERFORMANSI STANDAR ZIGBEE PADA WSN UNTUK APLIKASI SMART BUILDING

ANALISIS PENGARUH JUMLAH DEVICE TERHADAP PERFORMANSI STANDAR ZIGBEE PADA WSN UNTUK APLIKASI SMART BUILDING ANALISIS PENGARUH JUMLAH DEVICE TERHADAP PERFORMANSI STANDAR ZIGBEE PADA WSN UNTUK APLIKASI SMART BUILDING Astiti, N.M.E.P. 1, Diafari, I.G.A.K 2, Indra Er, N. 3 1,2,3 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA PROTOKOL ROUTING AODV DAN OLSR PADA JARINGAN MOBILE AD-HOC

ANALISIS KINERJA PROTOKOL ROUTING AODV DAN OLSR PADA JARINGAN MOBILE AD-HOC ANALISIS KINERJA PROTOKOL ROUTING AODV DAN OLSR PADA JARINGAN MOBILE AD-HOC SONY CANDRA D. NRP 5104 100 008 Dosen Pembimbing Ir. Muchammad Husni, M.Kom. JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA Fakultas Teknologi Informasi

Lebih terperinci

MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN

MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jaringan tanpa kabel (wireless) sebenarnya hampir sama dengan jaringan LAN, akan tetapi setiap node pada WLAN (Wireless Local Area Network) menggunakan wireless

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1-1. Hybrid Ad Hoc Wireless Topology

1 BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1-1. Hybrid Ad Hoc Wireless Topology 1.1 Latar belakang masalah 1 BAB I PENDAHULUAN Jaringan hybrid wireless ad hoc adalah gabungan antara jaringan infrastruktur dengan MANET yang memungkinkan adanya node yang bergerak bebas/mobile yang dapat

Lebih terperinci

Implementasi Kolaborasi Node Pada Sistem Komunikasi Ad Hoc Multihop Berbasis Jaringan Sensor Nirkabel

Implementasi Kolaborasi Node Pada Sistem Komunikasi Ad Hoc Multihop Berbasis Jaringan Sensor Nirkabel Implementasi Kolaborasi Node Pada Sistem Komunikasi Ad Hoc Multihop Berbasis Jaringan Sensor Nirkabel Angga Galuh Pradana 2204100005 Jurusan Teknik Elektro-FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus

Lebih terperinci

ANALISA KINERJA AD-HOC ON DEMAND DISTANCE VECTOR (AODV) PADA KOMUNIKASI VMES

ANALISA KINERJA AD-HOC ON DEMAND DISTANCE VECTOR (AODV) PADA KOMUNIKASI VMES ANALISA KINERJA AD-HOC ON DEMAND DISTANCE VECTOR (AODV) PADA KOMUNIKASI VMES Kamal Syarif 2208100642 Dosen Pembimbing: Dr. Ir. Achmad Affandi, DEA Ir. Djoko Suprajitno R, MT Jurusan Teknik Elektro Fakultas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UNIVERSITAS INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN UNIVERSITAS INDONESIA 13 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi saat ini sangat pesat, khususnya teknologi wireless (nirkabel). Seiring dengan meningkatnya kebutuhan informasi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian Keterangan : Nodal Sensor Router Nodal Koordinator/Gateway Gambar 3.1. Konsep jaringan ZigBee Gambar 3.1. memperlihatkan konsep jaringan ZigBee yang terdiri

Lebih terperinci

ANALISIS DAN SIMULASI WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) UNTUK KOMUNIKASI DATA MENGGUNAKAN PROTOKOL ZIGBEE

ANALISIS DAN SIMULASI WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) UNTUK KOMUNIKASI DATA MENGGUNAKAN PROTOKOL ZIGBEE ANALISIS DAN SIMULASI WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) UNTUK KOMUNIKASI DATA MENGGUNAKAN PROTOKOL ZIGBEE ANALYSIS AND SIMULATION OF WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) FOR DATA COMMUNICATION USING ZIGBEE PROTOCOL

Lebih terperinci

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI KOLABORASI NODE PADA SISTEM KOMUNIKASI AD HOC MULTIHOP BERBASIS JARINGAN SENSOR NIRKABEL

IMPLEMENTASI KOLABORASI NODE PADA SISTEM KOMUNIKASI AD HOC MULTIHOP BERBASIS JARINGAN SENSOR NIRKABEL IMPLEMENTASI KOLABORASI NODE PADA SISTEM KOMUNIKASI AD HOC MULTIHOP BERBASIS JARINGAN SENSOR NIRKABEL Oleh : Angga Galuh Pradana 2204 100 005 Pembimbing : Dr. Ir. Wirawan, DEA NIP : 1963 1109 1989 0310

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian merupakan suatu cara berpikir yang dimulai dari menentukan suatu permasalahan, pengumpulan data baik dari buku-buku panduan maupun studi lapangan, melakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini, orang-orang ingin berkomunikasi data/informasi satu sama lain dimana saja dan kapan saja. Tentu saja hal ini tidak dapat dipenuhi oleh teknologi jaringan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi khususnya pada teknologi jaringan saat ini sangatlah pesat terutama dari sisi jangkauan, kemudahan akses dan penggunaaannya. Penggunaan jaringan

Lebih terperinci

Evaluasi Pervormance Dari AODV Routing Protokol Pada Jaringan Ad Hoc Dengan Testbed

Evaluasi Pervormance Dari AODV Routing Protokol Pada Jaringan Ad Hoc Dengan Testbed Evaluasi Pervormance Dari AODV Routing Protokol Pada Jaringan Ad Hoc Dengan Testbed Eri Sugiantoro Laboratory for Telecommunication Networks Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya 60111 Tel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekarang ini teknologi komunikasi data yang lebih dikenal sebagai packet switching semakin berkembang dari tahun ke tahun. Voice over Internet Protokol (VoIP)

Lebih terperinci

Lapisan ini merupakan lapisan yang akan melakukan transmisi data antara perangkat-perangkat jaringan yang saling berdekatan di dalam sebuah wide area

Lapisan ini merupakan lapisan yang akan melakukan transmisi data antara perangkat-perangkat jaringan yang saling berdekatan di dalam sebuah wide area Lapisan ini merupakan lapisan yang akan melakukan transmisi data antara perangkat-perangkat jaringan yang saling berdekatan di dalam sebuah wide area network (WAN), atau antara node di dalam sebuah segmen

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Pada bab ini dijelaskan mengenai buffering, teknologi IEEE , standar

BAB II DASAR TEORI. Pada bab ini dijelaskan mengenai buffering, teknologi IEEE , standar BAB II DASAR TEORI 2.1 Umum Pada bab ini dijelaskan mengenai buffering, teknologi IEEE 802.11, standar fisik IEEE 802.11, parameter kinerja jaringan dan simulator Pamvotis 1.1. 2.2 Pengertian Buffering

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Mutakhir Penelitian ZigBee ini dikembangkan berdasarkan beberapa referensi yang memiliki keterkaitan dengan objek penelitian. Penggunaan beberapa referensi tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ethernet merupakan sebuah protokol pada layer Data-link yang banyak digunakan. Ethernet pada awalnya dikembangkan pada tahun 1970, oleh para peneliti di Xerox Palo

Lebih terperinci

Simulasi dan Pengkajian Performa Vehicular Ad Hoc Network

Simulasi dan Pengkajian Performa Vehicular Ad Hoc Network Simulasi dan Pengkajian Performa Vehicular Ad Hoc Network Aletheia Anggelia Tonoro 1, Hartanto Kusuma Wardana 2, Saptadi Nugroho 3 Program Studi Sistem Komputer Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI DAN HASIL SIMULASI

BAB V IMPLEMENTASI DAN HASIL SIMULASI BAB V IMPLEMENTASI DAN HASIL SIMULASI 5.1 Implementasi Simulasi Kinerja jaringan Adhoc sebagian besar dipengaruhi oleh letak geografis wilayah, banyaknya faktor yang mempengaruhi membuat pengiriman data

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pergeseran perkembangan teknologi dimulai dari teknologi bersifat tetap dan sekarang mulai bergeser menuju teknologi bersifat mobile. Untuk teknologi mobile tidak terlepas

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Komunikasi Data 2.2 Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi

BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Komunikasi Data 2.2 Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi BAB II DASAR TEORI Sebelum melakukan perancangan sistem pada penelitian, bab II menjelaskan teori-teori yang digunakan sehubungan dengan perancangan alat dalam penelitian skripsi. 2.1 Sistem Komunikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nirkabel dan merupakan turunan dari MANET (Mobile Ad hoc Network). Tujuan

BAB I PENDAHULUAN. nirkabel dan merupakan turunan dari MANET (Mobile Ad hoc Network). Tujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vehicular Ad hoc Network (VANET) termasuk dalam jaringan komunikasi nirkabel dan merupakan turunan dari MANET (Mobile Ad hoc Network). Tujuan dasar VANET adalah untuk

Lebih terperinci

Mengenal Teknologi ZigBee Sebagai Standart Pengiriman Data Secara Wireless

Mengenal Teknologi ZigBee Sebagai Standart Pengiriman Data Secara Wireless Mengenal Teknologi ZigBee Sebagai Standart Pengiriman Data Secara Wireless Nama : winardi No. Contact : 085271787598 Email : [email protected] ZigBee adalah standar dari IEEE 802.15.4 untuk komunikasi

Lebih terperinci

Pembandingan Kinerja Antara Protokol Dynamic Source Routing Dan Zone Routing Pada Jaringan Ad-Hoc Wireless Bluetooth

Pembandingan Kinerja Antara Protokol Dynamic Source Routing Dan Zone Routing Pada Jaringan Ad-Hoc Wireless Bluetooth Pembandingan Kinerja Antara Protokol Dynamic Source Routing Dan Zone Routing Pada Jaringan Ad-Hoc Wireless Bluetooth Oleh : DICKY RACHMAD PAMBUDI Dosen Pembimbing : Dr.Ir. Achmad Affandi, DEA LATAR BELAKANG

Lebih terperinci

ANALISIS COVERAGE AREA WIRELESS LOCAL AREA NETWORK (WLAN) b DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR RADIO MOBILE

ANALISIS COVERAGE AREA WIRELESS LOCAL AREA NETWORK (WLAN) b DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR RADIO MOBILE ANALISIS COVERAGE AREA WIRELESS LOCAL AREA NETWORK (WLAN) 802.11b DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR RADIO MOBILE Dontri Gerlin Manurung, Naemah Mubarakah Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departemen Teknik

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISA DATA. Gambar 4.1 Tampilan pada Wireshark ketika user melakukan register. 34 Universitas Indonesia

BAB 4 ANALISA DATA. Gambar 4.1 Tampilan pada Wireshark ketika user melakukan register. 34 Universitas Indonesia BAB 4 ANALISA DATA Pada bab ini akan dibahas hasil pengukuran data dari layanan IMS pada platform IPTV baik pada saat pelanggan (user) di home network maupun pada saat melakukan roaming atau berada pada

Lebih terperinci

SEKILAS WIRELESS LAN

SEKILAS WIRELESS LAN WIRELESS NETWORK SEKILAS WIRELESS LAN Sejarah kemunculan WLAN dimulai pada tahun 1997, sebuah lembaga independen bernama IEEE membuat spesifikasi/standar WLAN yang pertama diberi kode 802.11. Peralatan

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DATA ST014 Komunikasi data nirkabel dan topologi jaringan

KOMUNIKASI DATA ST014 Komunikasi data nirkabel dan topologi jaringan KOMUNIKASI DATA ST014 Komunikasi data nirkabel dan topologi jaringan S1 Teknik Informatika DOSEN PENGAMPU : Ferry Wahyu Wibowo, S.Si., M.Cs Joko Dwi Santoso, M.Kom Naskan, S.Kom Rico Agung F., S.Kom Rikie

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA PROTOKOL REAKTIF PADA JARINGAN MANET DALAM SIMULASI JARINGAN MENGGUNAKAN NETWORK SIMULATOR DAN TRACEGRAPH

ANALISIS KINERJA PROTOKOL REAKTIF PADA JARINGAN MANET DALAM SIMULASI JARINGAN MENGGUNAKAN NETWORK SIMULATOR DAN TRACEGRAPH ANALISIS KINERJA PROTOKOL REAKTIF PADA JARINGAN MANET DALAM SIMULASI JARINGAN MENGGUNAKAN NETWORK SIMULATOR DAN TRACEGRAPH Bayu Nugroho, Noor Akhmad Setiawan, dan Silmi Fauziati Jurusan Teknik Elektro

Lebih terperinci

BAB 4 SIMULASI DAN EVALUASI

BAB 4 SIMULASI DAN EVALUASI BAB 4 SIMULASI DAN EVALUASI Pada bab ini akan dijelaskan mengenai simulasi serta hasil evaluasi dari simulasi yang telah dilakukan. Dalam bab ini akan menjelaskan langkah langkah instalasi program yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring perkembangan internet, muncul tuntutan dari para pengguna jasa telekomunikasi agar mereka dapat memperoleh akses data dengan cepat dimana pun mereka berada.

Lebih terperinci

INTERFERENSI BLUETOOTH TERHADAP THROUGHPUT WLAN IEEE B

INTERFERENSI BLUETOOTH TERHADAP THROUGHPUT WLAN IEEE B INTERFERENSI BLUETOOTH TERHADAP THROUGHPUT WLAN IEEE 802.11B Alicia Sinsuw Dosen PSTI Teknik Elektro Unsrat I. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi jaringan data saat ini semakin pesat. Adanya teknologi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jaringan Sensor Nirkabel (JSN) merupakan sebuah jaringan yang disusun oleh

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jaringan Sensor Nirkabel (JSN) merupakan sebuah jaringan yang disusun oleh II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jaringan Sensor Nirkabel Jaringan Sensor Nirkabel (JSN) merupakan sebuah jaringan yang disusun oleh sensor sensor yang terdistribusi dalam suatu cakupan area tertentu yang dihubungkan

Lebih terperinci

DESAIN TOPOLOGI KOMUNIKASI WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) PADA APLIKASI SISTEM STRUCTURAL HEALTH MONITORING (SHM) JEMBATAN ABSTRAK

DESAIN TOPOLOGI KOMUNIKASI WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) PADA APLIKASI SISTEM STRUCTURAL HEALTH MONITORING (SHM) JEMBATAN ABSTRAK DESAIN TOPOLOGI KOMUNIKASI WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) PADA APLIKASI SISTEM STRUCTURAL HEALTH MONITORING (SHM) JEMBATAN Evy Nur Amalina 1, Eko Setijadi 2, Suwadi 3 1 Program Teknik Informatika, Universitas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah kecelakaan pada kendaaraan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya [1]. Bahkan banyak orang terluka dan korban mati terjadi di jalan raya diakibatkan oleh

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: DSR, Manet, OLSR, OPNET, Routing. v Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata kunci: DSR, Manet, OLSR, OPNET, Routing. v Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK MANET (Mobile Ad Hoc Network) merupakan jaringan nirkabel yang terdiri dari beberapa mobile node yang saling menghubungkan antar mobile node. Jaringan MANET merupakan jaringan yang bergerak atau

Lebih terperinci

Wireless LAN Arsitektur Basic Service Set Extended Service Set Tipe-tipe station Sublapisan MAC...

Wireless LAN Arsitektur Basic Service Set Extended Service Set Tipe-tipe station Sublapisan MAC... Wireless LAN... 2 1. Arsitektur... 2 1. 1. Basic Service Set... 2 1. 2. Extended Service Set... 3 1. 3. Tipe-tipe station... 4 2. Sublapisan MAC... 4 2. 1. Distributed Coordination Function (DCF)... 4

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. WLAN dengan teknologi Infra red (IR) dan Hewlett-packard (HP) menguji WLAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. WLAN dengan teknologi Infra red (IR) dan Hewlett-packard (HP) menguji WLAN BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Wireless Local Area Network (WLAN) Sejarah WLAN diawali pada tahun 1970, IBM mengeluarkan hasil rancangan WLAN dengan teknologi Infra red (IR) dan Hewlett-packard (HP) menguji

Lebih terperinci

BAB III TOKEN RING. jaringan cincin (ring) dan sistem token passing untuk mengontrol akses menuju jaringan.

BAB III TOKEN RING. jaringan cincin (ring) dan sistem token passing untuk mengontrol akses menuju jaringan. BAB III TOKEN RING 3.1 Token Ring Token ring adalah sebuah arsitektur jaringan yang menggunakan topologi jaringan cincin (ring) dan sistem token passing untuk mengontrol akses menuju jaringan. Arsitektur

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI DAN HASIL SIMULASI

BAB V IMPLEMENTASI DAN HASIL SIMULASI BAB V IMPLEMENTASI DAN HASIL SIMULASI 5.1 Implementasi Simulasi Kinerja jaringan Adhoc sebagian besar dipengaruhi oleh letak geografis wilayah, banyaknya faktor yang mempengaruhi membuat pengiriman data

Lebih terperinci

Network Layer JARINGAN KOMPUTER. Ramadhan Rakhmat Sani, M.Kom

Network Layer JARINGAN KOMPUTER. Ramadhan Rakhmat Sani, M.Kom Network Layer JARINGAN KOMPUTER Ramadhan Rakhmat Sani, M.Kom Objectives Fungsi Network Layer Protokol Komunikasi Data Konsep Pengalamatan Logis (IP) Konsep Pemanfaatan IP Konsep routing Algoritma routing

Lebih terperinci

TCP dan Pengalamatan IP

TCP dan Pengalamatan IP TCP dan Pengalamatan IP Pengantar 1. Dasar TCP/IP TCP/IP (Transmision Control Protocol/Internet Protocol) adalah sekumpulan protokol komunikasi (protocol suite) yang sekarang ini secara luas digunakan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah melakukan simulasi pengaruh

III. METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah melakukan simulasi pengaruh III. METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah melakukan simulasi pengaruh ketinggian nodal sensor dan menganalisa Quality of Service (QoS) dari Jaringan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Hasil Perhitungan Link Budget

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Hasil Perhitungan Link Budget IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Perancangan dan Analisa 1. Perancangan Ideal Tabel 5. Hasil Perhitungan Link Budget FSL (db) 101,687 Absorption Loss (db) 0,006 Total Loss 101,693 Tx Power (dbm) 28 Received

Lebih terperinci

Studi Level Daya Pada Perangkat Zigbee Untuk Kelayakan Aplikasi Realtime Monitoring

Studi Level Daya Pada Perangkat Zigbee Untuk Kelayakan Aplikasi Realtime Monitoring Studi Level Daya Pada Perangkat Zigbee Untuk Kelayakan Aplikasi Realtime Monitoring Sugondo Hadiyoso 1), Achmad Rizal 2), Suci Aulia 3), M. Sofie 4) 1,3 Fakultas Ilmu Terapan, Universitas Telkom email:

Lebih terperinci

TEKNOLOGI. Prima Kristalina, Lab. Komunikasi Digital Politeknik Elektronika Negeri Surabaya EEPIS Wireless Sensor Networks Research Group

TEKNOLOGI. Prima Kristalina, Lab. Komunikasi Digital Politeknik Elektronika Negeri Surabaya EEPIS Wireless Sensor Networks Research Group EEPIS Wireless Sensor Networks Research Group TEKNOLOGI Prima Kristalina, Lab. Komunikasi Digital Politeknik Elektronika Negeri Surabaya 2013 3/11/2014 1 Apakah Zigbee? Merupakan standard yang mendefinisikan

Lebih terperinci

Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor

Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor Oleh : M. Mufid Mas Udi 2205100010 Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Wirawan,DEA 196311901989031011 Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 2010 Latar

Lebih terperinci

JARINGAN KOMPUTER JARINGAN KOMPUTER

JARINGAN KOMPUTER JARINGAN KOMPUTER JARINGAN KOMPUTER JARINGAN KOMPUTER Topologi jaringan adalah : hal yang menjelaskan hubungan geometris antara unsur-unsur dasar penyusun jaringan, yaitu node, link, dan station. Jenis Topologi jaringan

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. topologi yang akan dibuat berdasarkan skematik gambar 3.1 berikut:

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. topologi yang akan dibuat berdasarkan skematik gambar 3.1 berikut: BAB 3 PERANCANGAN SISTEM 3.1. TOPOLOGI SISTEM JARINGAN Dalam penelitian ini dilakukan pengembangan dan implementasi teknologi MIPv4 dengan diperhatikannya faktor kualitas layanan dan kehandalan. Adapun

Lebih terperinci

DESAIN DAN ANALISA MANAJEMEN KONSUMSI DAYA PADA WSN UNTUK SISTEM MONITORING KESEHATAN STRUKTUR (SMKS) JEMBATAN

DESAIN DAN ANALISA MANAJEMEN KONSUMSI DAYA PADA WSN UNTUK SISTEM MONITORING KESEHATAN STRUKTUR (SMKS) JEMBATAN DESAIN DAN ANALISA MANAJEMEN KONSUMSI DAYA PADA WSN UNTUK SISTEM MONITORING KESEHATAN STRUKTUR (SMKS) JEMBATAN Faridatun Nadziroh 1, Eko Setijadi 2 dan Wirawan 3 1 Program Teknik Informatika, Universitas

Lebih terperinci

PENGARUH DENSITAS WIRELESS MOBILE NODE DAN JUMLAH WIRELESS MOBILE NODE SUMBER TERHADAP PATH DISCOVERY TIME PADA PROTOKOL ROUTING AODV

PENGARUH DENSITAS WIRELESS MOBILE NODE DAN JUMLAH WIRELESS MOBILE NODE SUMBER TERHADAP PATH DISCOVERY TIME PADA PROTOKOL ROUTING AODV PENGARUH DENSITAS WIRELESS MOBILE NODE DAN JUMLAH WIRELESS MOBILE NODE SUMBER TERHADAP PATH DISCOVERY TIME PADA PROTOKOL ROUTING AODV Sunario Megawan STMIK Mikroskil Jl. Thamrin No. 112, 124, 140 Medan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infrastruktur komunikasi data nirkabel diperlukan agar perangkat bergerak nirkabel (wireless mobile device) dapat berkomunikasi satu dengan yang lain. Pada beberapa

Lebih terperinci

A I S Y A T U L K A R I M A

A I S Y A T U L K A R I M A A I S Y A T U L K A R I M A STANDAR KOMPETENSI Pada akhir semester, mahasiswa mampu merancang, mengimplementasikan dan menganalisa sistem jaringan komputer Menguasai konsep networking (LAN &WAN) Megnuasai

Lebih terperinci

Bab 3 Parameter Simulasi

Bab 3 Parameter Simulasi Bab 3 Parameter Simulasi 3.1 Parameter Simulasi Simulasi yang dilakukan pada penelitian ini memakai varian jaringan wireless mesh yaitu client mesh. Dalam hal ini akan digunakan client mesh dengan jumlah

Lebih terperinci

Bab III Prinsip Komunikasi Data

Bab III Prinsip Komunikasi Data Bab III Prinsip Komunikasi Data Teknologi Jaringan yang menghubungkan beberapa Komputer baik dalam area kecil maupun besar mempunyai aturan aturan baku atau Prinsip prinsip baku dalam komunikasi data.

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. menggunakan media gelombang mikro, serat optik, hingga ke model wireless.

BAB II DASAR TEORI. menggunakan media gelombang mikro, serat optik, hingga ke model wireless. BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Jaringan Komputer Kecepatan perkembangan teknologi menjadikan proses transformasi informasi sebagai kebutuhan utama manusia yang akan semakin mudah didapatkan dengan cakupan

Lebih terperinci

BAB II PEMODELAN PROPAGASI. Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel

BAB II PEMODELAN PROPAGASI. Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel BAB II PEMODELAN PROPAGASI 2.1 Umum Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel ke sel yang lain. Secara umum terdapat 3 komponen propagasi yang menggambarkan kondisi dari

Lebih terperinci

Analisis Pengalokasian Ukuran Guaranteed Time Slot Pada Wireless Body Area Network Berbasis IEEE

Analisis Pengalokasian Ukuran Guaranteed Time Slot Pada Wireless Body Area Network Berbasis IEEE Analisis Pengalokasian Ukuran Guaranteed Time Slot Pada Wireless Body Area Network Berbasis IEEE 802.15.4 Galuh Dhatuningtyas Harsono Teknik Elektro, Teknik, Universitas Negeri Surabaya e-mail : [email protected]

Lebih terperinci

ANALISIS PERFORMANSI TRANSMISI DATA PROTOKOL ZIGBEE (IEEE ) TERHADAP PENAMBAHAN JUMLAH CLIENT PADA WIRELESS SENSOR NETWORK

ANALISIS PERFORMANSI TRANSMISI DATA PROTOKOL ZIGBEE (IEEE ) TERHADAP PENAMBAHAN JUMLAH CLIENT PADA WIRELESS SENSOR NETWORK ANALISIS PERFORMANSI TRANSMISI DATA PROTOKOL ZIGBEE (IEEE 802.15.4) TERHADAP PENAMBAHAN JUMLAH CLIENT PADA WIRELESS SENSOR NETWORK Robby Wildan Muharam 1) Herryawan Pujiharsono 2) Muntaqo Alfin Amanaf

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1. Latar Belakang Wireless sensor network (WSN) memiliki peranan yang amat penting dalam berbagai bidang kehidupan.wsn merupakan infrastruktur suatu jaringan yang terdiri dari sekumpulan node sensor

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Jaringan Nirkabel Jaringan nirkabel atau dikenal dengan jaringan wireless adalah jaringan komunikasi yang tidak memerlukan kabel sebagai media transmisinya. Pada jaringan nirkabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia memasuki era baru di mana setiap entitas saling terkoneksi dan terintegrasi. Internet merupakan sarana untuk menghubungkan setiap perangkat. Pertukaran informasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang VANET (Vehicular Ad Hoc Network) adalah bagian dari MANET (Mobile Ad Hoc Network) dimana setiap node yang berada pada cakupan suatu jaringan bisa bergerak dengan bebas

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA POLA-POLA TRAFIK PADA BEBERAPA PROTOKOL ROUTING DALAM JARINGAN MANET

ANALISIS KINERJA POLA-POLA TRAFIK PADA BEBERAPA PROTOKOL ROUTING DALAM JARINGAN MANET ANALISIS KINERJA POLA-POLA TRAFIK PADA BEBERAPA PROTOKOL ROUTING DALAM JARINGAN MANET Didik Imawan Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Januari 29

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jaringan komputer saat ini semakin banyak digunakan oleh orang, terlebih kebutuhan akan akses jaringan nirkabel. Mobile Ad Hoc Network (MANET) adalah salah

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Studi Pustaka. Proses Simulasi. Analisis Hasil. Gambar 11 Metode penelitian.

METODE PENELITIAN. Studi Pustaka. Proses Simulasi. Analisis Hasil. Gambar 11 Metode penelitian. unicast, multicast, atau anycast yang oleh sumber diberi label sebagai traffic flow (RFC-3697 2004). Hop Count: banyaknya node yang harus dilewati oleh suatu paket dari node asal ke node tujuan (Altman

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA TRANSMISSION CONTROL PROTOCOL PADA JARINGAN WIDE AREA NETWORK

ANALISIS KINERJA TRANSMISSION CONTROL PROTOCOL PADA JARINGAN WIDE AREA NETWORK ANALISIS KINERJA TRANSMISSION CONTROL PROTOCOL PADA JARINGAN WIDE AREA NETWORK Henra Pranata Siregar, Naemah Mubarakah Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Jl. Almamater,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pada jaringan wireless kebutuhan akan Quality of service sangatlah penting, demi mencapai kepuasan dari user dalam menggunakannya. Faktor-faktor dari Quality of service

Lebih terperinci

Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor

Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor M. Mufid Mas Udi 2205100010 Jurusan Teknik Elektro-FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS, Keputih-Sukolilo, Surabaya-60111

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Conference merupakan pertemuan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dalam jarak jauh atau lokasi yang berbeda. Confrerence menggunakan telekomunikasi audio dan

Lebih terperinci

STANDARISASI JARINGAN WIRELESS

STANDARISASI JARINGAN WIRELESS STANDARISASI JARINGAN WIRELESS Lely Suryani [email protected] Abstrak Jaringan wireless adalah jaringan dengan menggunakan teknologi nirkabel, dalam hal ini adalah hubungan telekomunikasi suara

Lebih terperinci

Gambar 1. Hop multi komunikasi antara sumber dan tujuan

Gambar 1. Hop multi komunikasi antara sumber dan tujuan Routing pada Jaringan Wireless Ad Hoc menggunakan teknik Soft Computing dan evaluasi kinerja menggunakan simulator Hypernet Tulisan ini menyajikan sebuah protokol untuk routing dalam jaringan ad hoc yang

Lebih terperinci

Unsur yang menentukan jenis suatu LAN atau MAN adalah : Topologi Media Transmisi Teknik Medium Access Control

Unsur yang menentukan jenis suatu LAN atau MAN adalah : Topologi Media Transmisi Teknik Medium Access Control Topologi Unsur yang menentukan jenis suatu LAN atau MAN adalah : Topologi Media Transmisi Teknik Medium Access Control TOPOLOGI Topologi menunjuk pada suatu cara dimana end system atau station yang dihubungkan

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS METODE DAN PERANCANGAN KASUS UJI

BAB III ANALISIS METODE DAN PERANCANGAN KASUS UJI BAB III ANALISIS METODE DAN PERANCANGAN KASUS UJI 3.1 Analisis Sistem Analisis adalah penguraian dari suatu pembahasan, dalam hal ini pembahasan mengenai analisis perbandingan teknik antrian data First

Lebih terperinci

Jaringan Komputer 1 of 10. Topologi menunjuk pada suatu cara dimana end system atau station yang dihubungkan ke jaringan saling diinterkoneksikan.

Jaringan Komputer 1 of 10. Topologi menunjuk pada suatu cara dimana end system atau station yang dihubungkan ke jaringan saling diinterkoneksikan. Jaringan Komputer 1 of 10 Week #4 Topologi Unsur yang menentukan jenis suatu LAN atau MAN adalah : Topologi Media Transmisi Teknik Medium Access Control TOPOLOGI Topologi menunjuk pada suatu cara dimana

Lebih terperinci

Studi Perbandingan antara Dynamic Routing dan Greedy Routing Pada Pengiriman Data Jaringan Sensor Nirkabel

Studi Perbandingan antara Dynamic Routing dan Greedy Routing Pada Pengiriman Data Jaringan Sensor Nirkabel Studi Perbandingan antara Dynamic Routing dan Greedy Routing Pada Pengiriman Data Jaringan Sensor Nirkabel Dani Priambodo 2207 100 538 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN DAN EVALUASI. untuk membuat WAN menggunakan teknologi Frame Relay sebagai pemecahan

BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN DAN EVALUASI. untuk membuat WAN menggunakan teknologi Frame Relay sebagai pemecahan BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN DAN EVALUASI 4.1 Perancangan Jaringan Berdasarkan usulan pemecahan masalah yang telah diajukan, telah diputuskan untuk membuat WAN menggunakan teknologi Frame Relay sebagai pemecahan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dinamakan hotspot. Batas hotspot ditentukan oleh frekuensi, kekuatan pancar

BAB 1 PENDAHULUAN. dinamakan hotspot. Batas hotspot ditentukan oleh frekuensi, kekuatan pancar BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penggunaan Wi-Fi memudahkan dalam mengakses jaringan dari pada menggunakan kabel. Ketika menggunakan WiFi, pengguna dapat berpindahpindah tempat. Meskipun

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Jaringan Komputer 2.1.1 Pengertian Jaringan Komputer Dalam suatu tulisan yang dikutip dari sebuah buku menyatakan bahwa Jaringan- Kombinasi perangkat keras, perangkat

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. Resource Reservation Protocol (RSVP) merupakan protokol pada layer

BAB II TEORI DASAR. Resource Reservation Protocol (RSVP) merupakan protokol pada layer BAB II TEORI DASAR 2.1 Pendahuluan Resource Reservation Protocol (RSVP) merupakan protokol pada layer transport yang digunakan untuk meminta kualitas layanan QoS tinggi transportasi data, untuk sebuah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. populer dalam menyediakan koneksi data. Jaringan WLAN berbasis teknologi

BAB 1 PENDAHULUAN. populer dalam menyediakan koneksi data. Jaringan WLAN berbasis teknologi 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teknologi wireless local area network (WLAN) merupakan jaringan yang populer dalam menyediakan koneksi data. Jaringan WLAN berbasis teknologi Ethernet dengan standar

Lebih terperinci