PERENCANAAN KONSTRUKSI
|
|
|
- Ade Muljana
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 108 BAB V PERENCANAAN KONSTRUKSI 5.1. Tinjauan Umum Perencanaan irigasi tambak didasarkan atas kelayakan teknis di lokasi perencanaan. Selanjutnya perencanaan diarahkan pada efisiensi dan kemudahan operasional tambak sehingga dapat memberikan tingkat keuntungan yang maksimal. Selain itu hal-hal teknis yang menyangkut tentang aliran air yang masuk dan keluar tambak harus diperhatikan agar sirkulasi air bisa berjalan dengan baik dan kualitas air dalam tambak bisa terjaga Lay Out Jaringan Saluran Sebelum dilakukan perhitungan secara detail, terlebih dahulu dibuat lay-out jaringan salurannya. Pembuatan lay-out jaringan saluran ini harus disesuaikan dengan kondisi topografi, tata guna lahan, kondisi bangunan existing, kondisi tanah dan lain-lain. Pertimbangan teknis yang harus diperhitungkan dalam lay-out saluran pada tata saluran untuk irigasi tambak adalah bahwa volume air yang masuk ke dalam saluran sekunder harus dapat mengairi/memenuhi kebutuhan air dalam tambak selama masa pasang air laut. Saluran air pada tambak yang lazim di Indonesia dan yang sudah lama dibangun mempunyai fungsi ganda yaitu untuk mengisi air pada waktu air laut pasang dan membuang air pada waktu surut. Dengan makin majunya teknologi budidaya, saluran pemasukan dan pengeluaran kemudian dibuat terpisah untuk menghindari pencampuran air buangan (air yang sudah busuk) dengan air segar ke dalam tambak. Pembuatan saluran pemasukan dan pengeluaran yang dibuat terpisah menjadi penting karena tambak yang dilakukan secara intensif maupun semi intensif biasanya padat penebaran benihnya tinggi dan diikuti dengan pemberian pakan tambahan untuk menunjang pertumbuhan ikan atau udang yang dipelihara. Konsekuensi dari padat penebaran benih yang tinggi dan pemakaian pakan tambahan adalah air tambak cepat menjadi kotor karena sisa pakan dan kotoran
2 109 ikan dan udang yang dipelihara. Oleh karena itu, tambak yang diusahakan secara intensif harus sering diganti airnya. Pada perencanaan irigasi tambak di Sungai Tenggang ini, direncanakan menggunakan saluran pasok dan saluran pematusan terpisah. Tambak yang akan direncanakan ini terletak di Kelurahan Terboyo Kulon dan Terboyo Wetan dan teletak berdekatan dengan Sungai Tenggang dan Sungai Sringin sehingga memungkinkan untuk dibuat saluran pasok dan pematusan yang terpisah. Dengan menggunakan pertimbangan bahwa muara sungai yang mempunyai kualitas air yang lebih baik digunakan sebagai saluran utama bagi saluran pasok dan muara sungai yang mempunyai kualitas air yang kurang baik digunakan sebagai saluran utama bagi saluran pematusan. Karena keterbatasan data kualitas air yang ada, maka diasumsikan bahwa di muara Sungai Tenggang, kualitas airnya lebih baik daripada muara Sungai Sringin. Untuk itu, saluran utama saluran pasok adalah Sungai Tenggang dan saluran utama saluran pematusan adalah Sungai Sringin. Untuk batasan tambak yang akan direncanakan adalah kelompok tambak yang ada di kanan dan kiri Sungai Tenggang dengan batas-batas sbb : Utara : Pantai/pesisir Laut Jawa Timur : Sungai Sringin Selatan : Jalan Arteri Utara Barat : Sungai Banjir Kanal Barat Untuk lay-out jaringan irigasi tambak dan skema jaringan irigasi ditampilkan dalam Lampiran Rencana Tambak Petak Tambak Dalam perencanaan tata letak unit tambak, beberapa hal pokok yang menjadi perhitungan adalah jaminan irigasi, kemudahan operasional dan optimalisasi pemanfaatan lahan. Untuk menghemat jumlah saluran tersier yang ada, maka dilakukan pengelompokan-pengelompokan tambak sehingga nantinya tiap-tiap kelompok tambak menggunakan satu saluran tersier. Luasan tambak setelah
3 110 dikelompokkan berkisar antara 2 17 ha. Pengelompokan tambak yang dipasok oleh masing-masing saluran sekunder dapat dilihat pada Tabel 5.1 Tabel 5.1. Pengelompokan Tambak pada masing-masing saluran NAMA SALURAN RUAS RK I RK II RK III 1 2 RK IV RK V 1 2 RK VI RK VII NAMA TAMBAK K.I.1.Ki K.I.1.Ka K.I.2.Ki K.I.2.Ka K.I.3.Ka K.II.1.Ki K.II.1.Ka K.II.2.Ki K.II.3.Ka K.III.1.Ka K.III.2.Ki K.IV.1.Ki K.IV.1.Ka K.IV.2.Ka K.IV.3.Ki K.IV.3.Ka K.IV.4.Ki K.IV.4.Ka K.V.1.Ki K.V.1.Ka K.V.2.Ki K.VI.1.Ki K.VI.1.Ka K.VI.2.Ka K.VI.3.Ka K.VI.4.Ki K.VI.5.Ka K.VI.6.Ka K.VI.7.Ki K.VII.1.Ki K.VII.2.Ka K.VII.3.Ka K.VII.4.Ka K.VII.5.Ki LUAS AREAL (HA)
4 Saluran Pasok dan Saluran Buang Untuk menghubungkan antara tambak dan sumber air baik dari laut maupun sungai diperlukan saluran-saluran yang menuju tambak maupun keluar tambak. Saluran yang digunakan terdiri dari saluran primer, saluran sekunder dan saluran tersier. Untuk tugas akhir ini, perencanaan hanya sebatas pada saluran primer dan sekunder saja. Sebagai saluran primer sebagai sumber utama saluran pasok irigasi tambak, digunakan aliran Sungai Tenggang dan sebagai saluran pembuangan air drainase dari petak tambak digunakan Sungai Sringin. Air dari saluran primer dialirkan ke saluran-saluran sekunder meggunakan pengaruh pasang air laut melalui bangunan inlet sedangkan buangan air (pergantian air ) dari petak tambak dialirkan secara gravitasi masuk ke saluran pematusan melalui bangunan outlet dan akhirnya masuk ke Sungai Sringin Saluran Pasok Saluran pasok berfungsi untuk memberikan air pasok ke tambak. Saluran pasok yang direncanakan hanya pada saluran sekunder saja karena saluran pasok primer yang digunakan adalah saluran Sungai Tenggang sesuai dimensi yang ada. Dasar saluran pasok sekunder dibuat dengan kemiringan 0,0002 miring kearah hilir saluran.. Dari perhitungan data pasang surut di Bab IV, telah diketahui bahwa elevasi dasar saluran terletak yaitu ketinggian +0 cm pada hulu saluran yaitu Sungai Tenggang dan elevasi pelataran tambak yaitu +60 cm. Kemiringan tanggul adalah 1:1 dan elevasi puncak tanggul di saluran pasok sekunder +3,00 m. Lebar dasar saluran sekunder untuk saluran pasok menggunakan ketentuan dari Balai Sumber Daya Air Payau Jepara tahun Tabel hubungan antara lebar saluran utama, perbedaan pasang surut dan luas areal pertambakan diberikan pada Tabel 5.2
5 112 Tabel 5.2. Hubungan Antara Lebar Saluran Utama, Perbedaan Pasang Surut dan luas Areal Pertambakan Perbedaan Pasang Surut (m) Luas Areal (Ha) Lebar Saluran Utama (m) Kurang dari 1,5 Kurang dari 1,5 Lebih dari 1,5 Lebih dari 1,5 20 atau kurang Lebih dari atau kurang Lebih dari (sumber : Balai Budi Daya Air Payau, Jepara, 1984) Dari ketentuan tersebut diatas, dengan perbedaaan pasang surut di lokasi study adalah kurang dari 1,5 m, maka lebar dasar saluran sekunder / saluran pasok dapat ditentukan sbb: Tabel 5.3. Lebar Saluran Masing-Masing Saluran Sekunder Saluran 2 Luas Areal Total ( m ) Lebar Saluran (m) RK I RK II RK III RK IV RK V RK VI RK VII Saluran Buang Saluran buang adalah saluran yang berfungsi untuk melewatkan air buangan dari tambak yang berasal dari pergantian air harian maupun akibat luapan air hujan. Dalam analisis perhitungan drainase pada areal pertambakan digunakan sistem gravitasi. Hal tersebut dapat dilakukan mengingat elevasi tambak cukup tinggi dibandingkan elevasi dasar saluran drainase. Dasar saluran buang dibuat dengan kemiringan 0,0002 miring kearah hilir saluran.. Untuk dimensi, elevasi dasar saluran, kemiringan tebing dan lebar saluran pada saluran drainase, dibuat sama dengan saluran pasok dengan pertimbangan kemudahan pelaksanaan di lapangan.
6 Pematang Pematang adalah bagian konstruksi dari tambak yang fungsi utamanya adalah menahan air. Pematang tambak harus mampu menahan tekanan air dari dalam maupun luar petakan tambak. Untuk menghindari banjir yang disebabkan oleh meluapnya air dari saluran, pematang harus dibuat lebih tinggi dari permukaan air pasang tertinggi. Secara garis besar, pematang dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu pematang utama dan pematang antara Pematang Utama Pematang utama adalah pematang yang memisahkan antara tambak dengan saluran utama atau memisahkan antara tambak dengan laut lepas. Karena merupakan garis pertahanan terdepan, maka konstruksinya harus benar-benar kuat agar dapat berfungsi sebagai benteng yang sanggup menahan badai pasang yang mungkin terjadi. Fungsi lainnya adalah sebagai batas kepemilikan lahan atau hak guna usaha suatu unit pertambakan. Untuk pematang dengan tanah yang cukup kuat dibuat dengan lebar 2,0 m 2,5 m. Adapaun perbandingan tinggi dan lebar talud sisi luar adalah 1 : 1,5 dan sisi dalam 1 : Pematang Antara Pematang antara adalah pematang yang memisahkan antara tambak satu dengan yang lainnya dan fungsi utamanya adalah menjaga agar air yang mengalir melalui saluran utama terutama saat pasang tertinggi tidak limpas ke pematang atau masuk ke dalam petakan tambak.. Karena fungsinya hanya sebagai pembagi tambak diantara pematang utama, maka ketinggiannya berada di bawah pematang utama dan ukurannya lebih kecil dari pematang utama. Untuk pematang antara dengan kondisi tanah cukup keras, dibuat dengan lebar 0,5 m 1,5 m dengan perbandingan lebar dan tinggi talud adalah 1 : 1. Dari perhitungan data pasang surut di Bab IV telah diketahui bahwa ketinggian tanggul utama adalah 300 cm = 3,0 m dan ketinggian tanggul antara adalah 270 cm = 2,70 m. Potongan melintang dari gambar saluran sekunder dan petak tambak ditampilkan pada gambar 5.1
7 114 Gambar 5.1. Potongan Melintang dan Petakan Tambak Bangunan Pemasok dan Pembuang Bangunan pemasok merupakan pintu pemasukan air dari saluran pasok ke kolam tambak. Sedangkan bangunan pembuang merupakan pintu pengeluaran air dari kolam tambak ke saluran buang. Dimensi dari bangunan pemasok dan pembuang berbeda-beda, tergantung dari luas dari masing-masing tambak. Direncanakan, kedalaman air minimum dalam tambak adalah 25 cm. Jadi elevasi dasar pintu saluran pemasok dan pembuang adalah : = elevasi dasar tambak + kedalaman air = = +85 cm Pada bangunan pemasok tambak, terdapat satu jenis pintu yaitu pintu air sekunder (tokoan) yang berfungsi mengalirkan air ke dalam unit tambak. Sedangkan pada bangunan pembuang terdiri dari 2 jenis pintu yaitu pintu Skot Balok dan pintu air sekunder (tokoan). Pintu skot balok pada bangunan pembuang berfungsi bila tambak akan dikeringkan / dikuras. Dengan adanya pintu sekunder dan pintu skot balok, diharapkan pengaturan air yang masuk ke dalam tambak akan lebih mudah. Elevasi dasar pintu dan saluran pembuang adalah sama dengan bangunan inlet yaitu + 85 cm. Sedangkan elevasi dasar pintu skot balok adalah sama dengan elevasi dasar tambak yaitu +60 cm Perencanaan Pintu Air Untuk menunjang fungsi saluran yang optimal, maka diperlukan bangunan pengendali air berupa pintu-pintu air. Pintu-pintu air dibangun di ujung-ujung saluran sekunder. Pintu air tersebut berupa pintu klep. Prinsip kerjanya adalah bila
8 115 ketinggian air di hulu pintu lebih tinggi dari ketinggian air di hilir pintu maka pintu akan membuka, sedangkan pintu akan membuka pada kondisi sebaliknya. Pintu air tersebut berfungsi antara lain untuk : Menahan air di dalam unit untuk menjamin elevasi muka air di saluran pada ketinggian tertentu Memasukkan air pada saat pasang untuk keperluan irigasi tambak Membantu proses sirkulasi air di saluran menahan air pasang tinggi pada saat sungai banjir, sehingga lahan petani terlindungi dari banjir. Untuk perhitungan detail pintu dan pengoperasian pintu klep, akan dibahas pada BAB selanjutnya Perencanaan jaringan irigasi Untuk merencanakan jaringan irigasi tambak, maka beberapa hal pokok yang perlu dipertimbangkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan berguna agar suatu jaringan irigasi mampu berfungsi baik dan berdaya guna secara efisien. Beberapa hal itu antara lain sbb : Pengelolaan air tambak serta pengeringan tambak pada saat persiapan dapat dilakukan dengan mudah melalui perencanaan jaringan irigasi yang baik. Selain itu juga memperhitungkan posisi dasar tambak terhadap keadaan pasang surut. Pemanfaatan potensi pasang seefektif mungkin untuk menghemat biaya pemakaian bahan bakar pompa. Penerapan tingkat teknologi budidaya disesuaikan dengan daya dukung lahan dan tingkat ketrampilan petani. Sedapat mungkin memanfaatkan sungai-sungai dan saluran yang ada. Jalan produksi memanfaatkan tanggul saluran primer yang berada di kanan dan kiri sepanjang saluran primer. Perancangan sistem tata saluran umumnya didasarkan pada prinsip bahwa sarana jaringan tata saluran yang direncanakan harus dapat melayani kebutuhan pemberian air dan pembuangan air yang berlebih. Untuk keperluan analisis debit rancangan pada sistem tata saluran pasok irigasi tambak diperlukan hasil
9 116 perhitungan debit andalan sebagai beban air akibat pengaruh hujan, debit sungai dan data pasang surut dari muara saluran primer untuk mengetahui pengaruhnya terhadap debit yang akan masuk ke dalam saluran sekunder. Sedangkan untuk keperluan analisis debit pada saluran pembuang, diperlukan data volume air dalam tambak yang harus didrain dan data pasang surut pada muara saluran pembuang. Untuk perencanaan aliran air untuk mengetahui besarnya volume air yang akan masuk ke dalam tambak, kecepatan aliran dalam saluran dan ketinggian air di dalam saluran maka digunakan program HEC-RAS (Hidrologic Engineering Center River Analysis System). Hitungan dimaksudkan untuk mendapatkan parameter hidraulik desain saluran sehingga bisa melakukan pemodelan sebagai upaya penanganan masalah yang terjadi. Analisa hidrolika yang digunakan ini menggunakan perhitungan profil muka air unsteady. Simulasi aliran unsteady dalam perhitungan HEC-RAS mampu menghitung aliran tak tetap 1D melalui suatu jaringan saluran terbuka.. Aliran unsteady dikembangkan terutama untuk perhitungan keadaan aliran sub-kritis. Dengan HEC-RAS versi 3.1.1, model tersebut dapat menampilkan bermacam-macam hitungan dari berbagai keadaan aliran (sub-kritis, super-kritis, serta loncatan hidrolis) pada perhitungan aliran tak tetap Perencanaan Jaringan Saluran Sekunder / Saluran Pasok Untuk merencanakan jaringan irigasi di saluran, maka terlebih dahulu harus diperkirakan luas daerah layanan yang harus dipenuhi oleh saluran primer, sekunder maupun tersier. Yang dimaksud daerah layanan adalah luas lahan yang harus dilayani oleh masing-masing saluran baik saluran tersier, sekunder maupun primer. Dilihat dari jaringan yang direncanakan, luas daerah layanan saluran primer merupakan kumulatif dari luas daerah layanan saluran sekunder dan luas daerah layanan saluran sekunder merupakan kumulatif dari luas daerah layanan saluran tersier pada ruas tersebut. Sesuai dengan gambar lay-out pada, maka daerah layanan untuk masing-masing saluran sekunder dapat dilihat pada Tabel 5.4. dan daerah layanan untuk saluran primer dapat dilihat pada Tabel 5.5
10 117 Tabel 5.4. Luas daerah layanan untuk ruas saluran pada saluran Sekunder NAMA RUAS SALURAN RK I RK.II RK III 1 2 RK IV RK V 1 2 RK VI RK VII LUAS AREAL (HA) LUAS AREAL KUMULATIF (HA)
11 118 Tabel 5.5. Luas daerah layanan untuk ruas saluran pada saluran Primer NAMA RUAS SALURAN RT LUAS AREAL (HA) LUAS AREAL KUMULATIF (HA) Untuk memperkirakan besarnya debit dan volume air yang akan masuk ke dalam tambak, harus ditentukan terlebih dahulu berapa persen pergantian air yang diperlukan per hari untuk seluruh tambak pada waktu air pasang. Untuk tambak yang sudah berisi air atau yang perlu ganti air sebagian, maka harus menunggu beberapa saat sampai air dalam saluran lebih tinggi dari air tambak. Untuk perencanaan waktu pasang guna pergantian air, direncanakan menggunakan data air pasang terendah (APR) seperti perhitungan pada BAB IV. Dalam perkiraan, debit air masuk yang digunakan untuk menentukan kapasitas saluran tidak didasarkan pada volume air tambak seluruhnya melainkan pada volume air yang harus diganti per hari untuk seluruh tambak. Tidak seluruh tambak harus diganti airnya tiap hari, tergantung dari metode budidayanya. Untuk itu, perlu diperkirakan berapa persen dari seluruh tambak yang harus diganti airnya tiap hari dan berapa persen air yang harus diganti per tambak pada tiap pergantian air. Dari perhitungan kebutuhan air tambak, telah direncanakan air yang akan diganti sebesar 10 % dari volume keseluruhan tambak. Volume air yang 3 dibutuhkan oleh tambak sebesar 10 % dari volume tambak adalah 1800 m /ha. Kebutuhan air ini harus dipenuhi lewat saluran sekunder per hari saat pasang datang. Untuk menghitung kebutuhan air yang harus dilewatkan ke dalam saluran sekunder dihitung dengan mengalikan antara kebutuhan air per Ha dengan luas daerah layanan. Untuk perhitungan kebutuhan air tambak yang dilewatkan dalam saluran sekunder ditampilkan pada Tabel 5.6
12 119 Tabel 5.6. Kebutuhan Air Tambak Di Saluran NAMA SALURAN RK I RK II RK III RK IV RK V RK VI RK VII LUAS AREAL (HA) KEBUTUHAN AIR 3 ( M ) Perencanaan Jaringan Saluran Drainase / Saluran Buang Selanjutnya, untuk keperluan drainase, maka diperhitungkan besarnya air yang harus didrain selama pasang paling tinggi. Pasang paling tinggi terjadi pada tanggal 29 November 2002 yaitu pada ketinggian 240 cm. Karena direncanakan pergantian air dalam tambak adalah 10 % dari volume keseluruhan tambak, maka rencana air yang akan keluar dari tambak dapat dihitung dengan rumusan sbb: 10 % * (240 60)*luas tambak = 18 cm * luas tambak Dimana : 240 cm = ketinggian air maksimum dalam tambak rencana 60 cm = elevasi dasar tambak 18 cm = tinggi air yang diganti Kedalaman air yang harus dilewatkan adalah 18 cm = 180 mm. Karena digunakan sebagai saluran buang maka data yang dipakai adalah data air surut. Lamanya surut yang terjadi pada tanggal 29 November 2002 adalah 16 jam. Air yang dikeluarkan per detik per luasan tambak dapat dihitung dengan rumusan sbb: 180mm mm = 270 = 31, 25 l / det / ha 16 jam hari Dari besarnya kebutuhan air diatas, dikalikan dengan luasan dari masingmasing tambak dapat diketahui besarnya debit rencana yang lewat dalam saluran outlet. Besarnya debit yang keluar dari dalam tambak pada masing-masing
13 120 tambak dapat dilihat pada Tabel 5.7 dan debit yang masuk ke dalam saluran drainase per saluran ditampilkan pada Tabel 5.8 Tabel 5.7. Debit yang keluar dari masing-masing tambak NAMA TAMBAK K.I.1.Ki K.I.1.Ka K.I.2.Ki K.I.2.Ka K.I.3.Ka K.II.1.Ki K.II.1.Ka K.II.2.Ki K.II.2.Ka K.III.1.Ka K.III.2.Ki K.IV.1.Ki K.IV.1.Ka K.IV.2.Ka K.IV.3.Ki K.IV.3.Ka K.IV.4.Ki K.IV.4.Ka K.V.1.Ki K.V.1.Ka K.V.2.Ki K.VI.1.Ki K.VI.1.Ka K.VI.2.Ka K.VI.3.Ka K.VI.4.Ki K.VI.5.Ka K.VI.6.Ka K.VI.7.Ki K.VII.1.Ki K.VII.2.Ka K.VII.3.Ka K.VII.4.Ka K.VII.5.Ki LUAS AREAL (HA) DEBIT ( m 3 /det)
14 121 Tabel 5.8. Debit total yang masuk ke dalam saluran drainase NAMA SALURAN NAMA TAMBAK DEBIT 3 ( m /det) DEBIT KUM 3 ( m /det) Drainase 1 Tenggang Drainase 2 Tenggang Drainase 3 Tenggang Drainase 4 Tenggang Drainase 5 Tenggang K.I.1.Ki K.I.2.Ki K.II.1.Ka K.II.2.Ka K.II.1.Ki K.II.2.Ki K.III.1.Ka K.III.2.Ki K.V.2.Ki K.V.1.Ki Drainase 1 Sringin K.I.1.Ka K.I.2.Ka K.I.3.Ka K.IV.1.Ki K.IV.3.Ki K.IV.4.Ki Drainase 2 Sringin K.IV.1.Ka K.IV.2.Ka K.IV.3.Ka K.IV.4.Ka K.VI.1.Ki K.VI.4.Ki K.VI.7.Ki Drainase 3 Sringin K.VI.5.Ka K.VI.6.Ka Drainase 4 Sringin K.VI.1.Ka K.VI.2.Ka K.VI.3.Ka K.VII.1.Ki K.VII.5.Ki Drainase 5 Sringin K.VII.2.Ka K.VII.3.Ka K.VII.4.Ka
15 Perencanaan Saluran menggunakan Program HEC-RAS Untuk merencanakan suatu saluran dengan menggunakan program HEC- RAS, diperlukan suatu tahapan-tahapan yang harus dilalui dari awal sampai akhir. Agar hasil yang diperoleh sesuai dengan harapan dan dapat dipertanggung jawabkan, maka perencanaan sebisa mungkin harus sesuai dengan data yang ada dan yang telah ada di lapangan. Data tersebut kemudian akan diproses oleh program HEC-RAS dan hasilnya dapat digunakan untuk perencanaan selanjutnya. Perencanaan saluran menggunakan program HEC-RAS melalui tahap-tahap sbb : Persiapan Analisis Pada saat persiapan simulasi, dilakukan pengumpulan data yang akan digunakan pada proses simulasi, baik berupa data pasang surut di muara sungai maupun data debit aliran yang melewati sungai. Saluran yang ada terdiri dari 2 macam yaitu saluran pasok dan saluran drainase. Pada perencanaan jaringan saluran pasok, terdapat 1 saluran Primer, 7 Saluran Sekunder dan 34 saluran tersier. Sedangkan untuk saluran drainase, terdiri dari 2 saluran primer, 8 saluran sekunder dan 34 saluran tersier. Untuk perencanaan nantinya, saluran yang direncanakan sebatas hanya pada saluran primer dan saluran sekunder saja. Sumber data yang akan digunakan adalah : 1. Data geometri saluran Data geometri yang digunakan adalah penampang melintang tiap stasiun, jarak antar stasiun, elevasi saluran, serta angka kekasaran Manning pada masingmasing stasiun. Data geometri penampang melintang tiap stasiun, jarak antar stasiun pada saluran primer ini didapatkan dari Proyek Normalisasi Sungai Tenggang tahun Data geometri yang diperoleh dari Proyek Normalisasi Sungai Tenggang tahun 2006 dihitung/direncanakan berdasarkan ketinggian muka air laut rata-rata (Mean Sea Level / MSL). Untuk perhitungan berikutnya, data geometri saluran disesuaikan dengan Mean Sea Level / MSL yang telah dihitung pada BAB IV. Data geometri penampang melintang tiap stasiun, jarak antar stasiun, elevasi dasar saluran pada
16 123 saluran sekunder telah diperhitungkan pada BAB sebelumnya dan disesuaikan dengan kondisi daerah perencanaan. 2. Data debit andalan Data debit andalan yang digunakan adalah dengan menggunakan perhitungan debit andalan menggunakan metode FJ Mock. Data debit andalan ini dihitung berdasarkan curah hujan di lokasi studi dan data klimatologi selama 5 tahun dari tahun Data curah hujan dan data klimatologi didapatkan dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG Semarang). Data debit andalan yang digunakan telah diperhitungkan pada BAB IV. 3. Data pasang surut air laut Pasang surut menyebabkan perubahan elevasi muka air laut sebagai fungsi waktu. Data pasang surut ini digunakan sebagai stage untuk kondisi hilir/muara sungai dalam program HEC-RAS. Data pasang surut yang digunakan sebagai data stage adalah data Air Pasang Tertinggi (APR) min. Untuk perhitungan HEC-RAS nantinya, digunakan data pasang surut pada tanggal 18 Agustus Keseluruhan data pasang surut yang digunakan dari tahun 2001 sampai 2005 diperoleh dari PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA III TANJUNG MAS Semarang. Data pasang surut dari tahun 2001 sampai tahun 2005 bisa dilihat pada Lampiran. 4. Data debit pergantian Air Data debit pergantian air adalah data debit yang keluar dari tambak dan besarnya 10 % dari volume keseluruhan tambak. Data debit pergantian air telah dihitung pada BAB diatas. Data debit pergantian air digunakan sebagai data input pada hulu dari masing-masing saluran drainase. Data ini digunakan apabila di muara saluran drainase tidak menggunakan pintu klep.
17 Proses Skematisasi Jaringan Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul, maka proses selanjutnya adalah skematisasi jaringan. Pada saat memasukkan data yang digunakan dalam proses simulasi, perlu adanya ketelitian dan seleksi terhadap data sekunder agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan Pemodelan Pada proses ini dilakukan pemodelan geometri skema jaringan sistem sungai yang akan dianalisis sesuai dengan keadaan di lapangan. Setelah ditentukan layout jaringan pada BAB 5.2, selanjutnya dilakukan skematisasi dengan menggambarkan skema jaringan dengan tiga saluran primer dan tujuh saluran sekunder dan delapan saluran drainase. Skematisasi dilakukan terpisah antara saluran sekunder dan saluran drainase. Skematisasi jaringan Irigasi pasang surut di Sungai Tenggang ditunjukkan pada Gambar 5.2. dan Gambar 5.3
18 Data Masukan : Input data pasang surut 2. Input data debit 0 m 3 /det 3. Input data debit andalan 2 Gambar 5.2. Skematisasi Jaringan Irigasi Tambak Saluran Sekunder di Sungai Tenggang
19 Data Masukan : 1. Input data pasang surut 2. Input data debit pergantian air 3. Input data debit 0 m 3 /det Gambar 5.3. Skematisasi Jaringan Irigasi Tambak Saluran Drainase di Sungai Sringin
20 127 Setelah proses skematisasi jaringan selesai, maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan interpretasi data penampang melintang sungai untuk tiap-tiap stasiun. Dari hasil interpretasi penampang sungai akan didapatkan : Koordinat-koordinat tiap stasiun (baik sumbu x maupun sumbu y) Jarak antar stasiun Hasil interpretasi penampang melintang sungai dimasukkan sebagai data masukan untuk Geometric Data pada program HEC-RAS Data Aliran Unsteady Data aliran unsteady dibutuhkan untuk melakukan analisis aliran unsteady. Data aliran unsteady yang digunakan adalah flow hidrograf di hulu Sungai Tenggang dan Stage Hidrograf di hilir Sungai Tenggang dan Sungai Sringin. a. Data Aliran unsteady pada Saluran Sekunder Flow Hidrograf Data masukan flow hidrograf diambil dari analisis debit andalan pada BAB IV. Debit andalan adalah debit minimum dari sungai untuk keperluan irigasi. Besarnya debit andalan berbeda tiap bulannya sesuai dengan besarnya curah hujan tiap bulan pada daerah tersebut. Karena untuk data masukan pada program HEC-RAS ini berdasarkan data APT minimum yaitu pada tanggal 18 Agustus 2003, maka debit andalan yang digunakan adalah debit pada bulan Agustus sebesar 0,082 m/det. Stage Hidrograf Data stage hidrograf diambil dari grafik pasang surut APR (Air Pasang Terendah) minimum. Data pasang surut sebagai data masukan yaitu data pada tanggal 18 Agustus Data Stage hidrograf dapat dilihat pada Tabel 5.9.
21 128 Tabel 5.9. Data Stage Hidrograf 18 Agustus 2003 Jam Tinggi Air b. Data Aliran unsteady pada Saluran Drainase Flow Hidrograf Data masukan flow hidrograf pada Saluran Drainase adalah data debit pergantian air dari masing-masing tambak yang masuk ke dalam saluran drainase. Data debit pergantian air telah dihitung pada BAB diatas. Data Flow hidrograf dapat dilihat pada Tabel 5.10.
22 129 Tabel Data Flow hidrograf pada Saluran Drainase No. Nama Saluran Debit (m3/det) 1 Drainase 1 Tenggang Drainase 2 Tenggang Drainase 3 Tenggang Drainase 4 Tenggang Drainase 5Tenggang Drainase 1 Sringin Drainase 2 Sringin Drainase 3 Sringin Drainase 4 Sringin Drainase 5 Sringin Stage Hidrograf Data stage hidrograf diambil dari grafik pasang surut APR (Air Pasang Terendah) minimum. Data pasang surut sebagai data masukan yaitu data pada tanggal 18 Agustus Data Stage hidrograf dapat dilihat pada Tabel 5.11.
23 130 Tabel Data Stage Hidrograf 18 Agustus 2003 Jam Tinggi Air Proses Eksekusi / Running Setelah pemodelan dianggap sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dilapangan/sesuai dengan perencanaan awal. Maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan eksekusi / running terhadap data masukan. Saat proses running, perlu diperhatikan interval data dan waktu mulai serta berhentinya pembacaan data yang akan digunakan dalam perhitungan. Dalam kasus ini, interval yang digunakan adalah 15 menit serta data mulai perhitungan adalah pada tanggal 18 Agustus 2003 pukul sampai pukul
24 Hasil Perhitungan Setelah program dieksekusi, hasil yang diperoleh dapat berupa ketinggian air pada tiap-tiap saluran, besarnya debit yang masuk ke saluran, percepatan aliran dan lain-lain. Untuk perencanaan jaringan irigasi tambak di Sungai Tenggang ini, data keluaran yang digunakan adalah data debit dan ketinggian air di dalam saluran Hasil Perhitungan pada Saluran Sekunder Hasil perhitungan pada saluran sekunder dengan menggunakan program HEC-RAS mendapatkan output berupa ketinggian air dan debit pada masingmasing saluran. Untuk perhitungan selanjutnya, yang digunakan adalah data ketinggian air pada muara tiap-tiap saluran sekunder sebagai data ketinggian air pada hulu pintu klep. Hasil perhitungan menggunakan program HEC-RAS dari muara tiap-tiap saluran sekunder ditampilkan pada Gambar 5.4 Gambar 5.10 dan Tabel Plan: PLAN River: SEKUNDER 1 Reach: TENGGANG RS: Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar 5.4. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK I
25 Plan: PLAN River: SEKUNDER 2 Reach: TENGGANG RS: Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar 5.5. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK II 0.8 Plan: PLAN River: SEKUNDER 3 Reach: TENGGANG RS: Legend 0.12 Stage Flow 0.08 Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar 5.6. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK III 0.8 Plan: PLAN River: SEKUNDER 4 Reach: TENGGANG RS: Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar 5.7. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK IV
26 Plan: PLAN River: SEKUNDER 5 Reach: TENGGANG RS: 479 Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar 5.8. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK V 0.8 Plan: PLAN River: SEKUNDER 6 Reach: TENGGANG RS: Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar 5.9. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK VI 0.8 Plan: PLAN River: SEKUNDER 7 Reach: TENGGANG RS: Legend 0.20 Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK VII
27 134 Tabel Hasil Perhitungan Ketinggian Air di Saluran Sekunder No. Date NAMA SALURAN Sekunder 1 Sekunder 2 Sekunder 3 Sekunder 4 Sekunder 5 Sekunder 6 Sekunder 7 Stage Stage Stage Stage Stage Stage Stage METERS METERS METERS METERS METERS METERS METERS 1 17Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug
28 135 a. Perhitungan Volume dan Debit yang melewati pintu Klep Setelah diketahui ketinggian air di masing-masing muara saluran sekunder yang digunakan sebagai data ketinggian air di hulu pintu klep kemudian dapat dihitung besarnya debit dan volume air yang masuk ke dalam saluran melewati pintu klep. Perhitungan akan menggunakan pendekatan pintu sorong dengan keadaan sebagai berikut : Gambar Sketsa Pintu Sorong Rumus debit yang dipakai untuk pintu adalah Q= K. µ. ab.. 2. gh. Perhitungan Pintu Klep di Saluran Sekunder 1 Pada Jam h 1 = tinggi air di hulu pintu 1 = 0,3218 m 2. h 2 = tinggi air di hilir pintu = 0 m (asumsi awal) 3. y = bukaan pintu arah tegak lurus pintu γ air 1 =. h (buku mekanika fluida; pintu dari baja) γ baja ( γ air 3 3 = 1000 kg/ cm, γ baja = 7850 kg/ cm ) 1000.(0,3218-0) = = 0,0401 m a = bukaan pintu vertikal = y. Sin(180 - (90 63,43)) = 0,0401. Sin 26,57 = 0,0183 m
29 b = lebar pintu = 3 buah pintu dgn lebar masing-masing 2 m = 6 m 6. h 1 / a = 17,58 µ = 0,64 (Koefisien debit; Gambar 2.34) 7. h 2 / a = 0 K = 0,40 (Koefisien aliran tenggelam; Gambar 2.33) 8. Q = K. µ. ab.. 2. gh. 1 = 0,40. 0,64. 0, ,8.0,3218 = 0,0706 m 3 /det 9. V = Q. waktu = 0, = 254, h = V / A = 0,136 m 3 m 11. h2 baru = h 2 + h = 0 + 0,136 = 0,136 m Untuk perhitungan selengkapnya pada perhitungan pintu klep di masing-masing muara saluran Sekunder, dapat dilihat pada Tabel 5.13 Tabel 5.19
30 137 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK I Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di hilir pintu baru (m) (m) (m)
31 138 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK II Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di hilir pintu baru (m) (m) (m)
32 139 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK III Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di hilir pintu baru (m) (m) (m)
33 140 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK IV Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di hilir pintu baru (m) (m) (m)
34 141 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK V Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di hilir pintu baru (m) (m) (m)
35 142 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK VI Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di hilir pintu baru (m) (m) (m)
36 143 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK VII Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di hilir pintu baru (m) (m) (m)
37 144 Dari hasil perhitungan diatas didapatkan hasil berupa ketinggian air dalam saluran sekunder yang digunakan untuk mengairi tambak Ketinggian yang akan digunakan untuk mengairi tambak adalah ketinggian air yang berada di atas elevasi dasar pintu tambak. Elevasi dasar pintu tambak telah diperhitungkan pada BAB dan didapatkan elevasi dasar pintu tambak adalah +85 cm. Dari hasil perhitungan yang telah didapatkan pada Tabel 5.13 Tabel 5.19, dari semua saluran sekunder yang ada dengan perhitungan menggunakan data Air Pasang Paling Rendah (APR min), didapatkan bahwa ketinggian air di dalam saluran tidak melampaui elevasi dasar pintu tambak. Ini berarti bahwa tambak tidak dapat terairi dari saluran dan rencana pergantian air tidak dapat terpenuhi. Untuk itu, harus ada perubahan yang dilakukan agar air dapat mengairi tambak dan besarnya volume air yang masuk ke dalam tambak dapat sesuai dengan yang diinginkan. Ada dua macam alternatif perubahan yang dapat dilakukan agar tambak dapat terairi yaitu : Memperlebar saluran pada pintu pemasukan di muara saluran Menurunkan elevasi dasar pintu tambak 1. Alternatif 1 : Memperlebar saluran pada pintu pemasukan Alternatif 1 dengan memperlebar saluran pemasukan dapat dilakukan apabila lebar ke samping dari bangunan inlet tersedia. Untuk menaikkan muka air agar dapat melampaui elevasi dasar pintu tambak, diperlukan lebar pemasukan yang sangat besar. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang matang terhadap pemilihan alternatif ini. 2. Alternatif 2 : Menurunkan elevasi dasar pintu tambak Alternatif 2 dengan menurunkan elevasi dasar pintu tambak dapat dilakukan apabila tambak masih memungkinkan untuk diperdalam dan tidak berpengaruh terhadap sistem pembuangan / drainase dari tambak tersebut. Dari dua alternatif tersebut, maka dipilih alternatif kedua yaitu menurunkan elevasi dasar pintu tambak. Konsekuensinya adalah tambak harus diperdalam dan laju air pada saluran pembuangan akan berkurang. Dari perhitungan elevasi dasar pintu tambak pada BAB 5.3.4, didapatkan elevasi dasar pintu tambak adalah +85 cm. Untuk itu, perlu direncanakan ulang
38 145 elevasi dasar tambak dan elevasi dasar pelataran tambak. Untuk perkiraan awal, direncanakan elevasi dasar pintu tambak adalah +50 cm. Jadi elevasi dasar pelataran tambak adalah +50 cm 25 cm = +25 cm. Jadi, ketinggian air yang dapat masuk ke dalam tambak adalah ketinggian air yang berada di atas elevasi +50 cm. b. Perhitungan Volume Air yang akan masuk Tambak Untuk tambak yang dipasok dari saluran sekunder 1, air akan mulai masuk ke dalam tambak mulai pukul yaitu pada saat ketinggian air di saluran adalah pada ketinggian +0,5113 m. Untuk menentukan besarnya volume air yang dapt dipasok, dihitung dengan urutan sbb : 1. Tinggi air yang masuk ke dalam tambak = 0,5113 m 0,50 m = 0,0113 m / 10 menit ( 10 menit = perkiraan naiknya air dari 0,50 m sampai 0,5113 m) = 0,0226 m /jam 2. Konversi ke L / det / ha ( * 2777,78 ) = 0,0226 * 2777,78 = 62,78 L / det / ha 3. Konversi ke m 3 /det/ ha ( : 1000 ) = 62,78 / 1000 = 0, Dihitung debit = m 3 /det/ ha * luas areal m 3 /det/ ha = 0,0627 * 30,7 = 1,927 m 3 /det 5. Dihitung volume air = Debit * waktu 3 m = 1,927 * 600 = Untuk perhitungan selengkapnya pada seluruh saluran sekunder yang ada dapat dilihat pada perhitungan Tabel 5.20 sampai Tabel 5.26
39 146 Tabel Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK I h Tinggi Air Tinggi Air yang Konversi Konversi Luas Areal Volume (m) di hilir pintu baru masuk ke tambak (m) (m/jam) (L / det / ha) (m3 / det / ha) (ha) (m3) Tabel Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK II h Tinggi Air Tinggi Air yang Konversi Konversi Luas Areal Volume (m) di hilir pintu baru masuk ke tambak (m) (m/jam) (L / det / ha) (m3 / det / ha) (ha) (m3)
40 147 Tabel Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK III h Tinggi Air Tinggi Air yang Konversi Konversi Luas Areal Volume (m) di hilir pintu baru masuk ke tambak (m) (m/jam) (L / det / ha) (m3 / det / ha) (ha) (m3) Tabel Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK IV h Tinggi Air Tinggi Air yang Konversi Konversi Luas Areal Volume (m) di hilir pintu baru masuk ke tambak (m) (m/jam) (L / det / ha) (m3 / det / ha) (ha) (m3)
41 148 Tabel Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK V h Tinggi Air Tinggi Air yang Konversi Konversi Luas Areal Volume (m) di hilir pintu baru masuk ke tambak (m) (m/jam) (L / det / ha) (m3 / det / ha) (ha) (m3) Tabel Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK VI h Tinggi Air Tinggi Air yang Konversi Konversi Luas Areal Volume (m) di hilir pintu baru masuk ke tambak (m) (m/jam) (L / det / ha) (m3 / det / ha) (ha) (m3)
42 149 Tabel Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK VII h Tinggi Air Tinggi Air yang Konversi Konversi Luas Areal Volume (m) di hilir pintu baru masuk ke tambak (m) (m/jam) (L / det / ha) (m3 / det / ha) (ha) (m3) Setelah diperoleh besarnya volume air yang diperlukan untuk mengairi tambak, maka dapat dibandingkan volume air yang tersedia apakah dapat memenuhi kebutuhan air yang diperlukan untuk pergantian air dalam tambak. Besarnya volume air yang dibutuhkan per saluran sekunder telah diperhitungkan pada Tabel 5.6 perbandingan volume kebutuhan air dan volume ketersediaan air ditampilkan pada Tabel 5.27 Tabel Perbandingan volume kebutuhan dan ketersediaan air No. Nama Saluran Kebutuhan Air 3 ( m ) Ketersediaan 3 Air ( m ) Kelebihan 3 Air ( m ) Kekurangan 3 Air ( m ) 1. RK I , ,58-2. RK II , ,55-3. RK III , ,79-4. RK IV , ,84-5. RK V , ,87-6. RK VI , ,81 7. RK VII , ,45 -
43 150 Dari tabel hasil perhitungan diatas, hanya saluran RK VI saja yang tidak terpenuhi dalam pergantian air sebesar 10 % dari volume keseluruhan tambak. Untuk itu perlu direncanakan ulang hanya pada saluran RK VI saja. Untuk saluran RK VI, direncanakan untuk memperlebar pada pintu pemasukan. Direncanakan lebar pintu pemasukan akan ditambah 1 m. Jadi lebar pemasukan pada muara saluran RK VI menjadi = 6,0 m + 1,0 m = 7,0 m. Untuk perhitungan pintu klep pada muara saluran RK VI baru, perhitungan ketinggian air di saluran RK VI baru dan perhitungan volume ketersediaan air yang baru ditampilkan pada Tabel 5.28 dan Tabel 5.29
44 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK VI baru Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di hilir pintu baru (m) (m) (m)
45 152 Tabel Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK VI Baru h Tinggi Air Tinggi Air yang Konversi Konversi Luas Areal Volume (m) di hilir pintu baru masuk ke tambak (m) (m/jam) (L / det / ha) (m3 / det / ha) (ha) (m3) Dari hasil tersebut, maka perbandingan volume ketersediaan air dan kebutuhan air menjadi seperti pada Tabel 5.30 berikut : Tabel Perbandingan volume kebutuhan dan ketersediaan air No. Nama Saluran Kebutuhan Air 3 ( m ) Ketersediaan 3 Air ( m ) Kelebihan 3 Air ( m ) Pergantian Air (%) 1. RK I , ,58 11,56 2. RK II , ,55 12,09 3. RK III , ,79 11,27 4. RK IV , ,84 10,54 5. RK V , ,87 11,24 6. RK VI , ,14 11,46 7. RK VII , ,45 10,42
46 153 Tabel Data Teknis Perencanaan Baru Keterangan Data Teknis (m) Titik Bebas Banjir / Tanggul Utama 3,00 m = ± 0 m Tinggi Pematang Antara 2,70 m = - 0,30 m Dasar Saluran Sekunder 0,00 m = - 3,00 m Dasar Pelataran 0,25 m = - 2,75 m Dasar Saluran Drainase 0,00 m = - 3,00 m Gambar Potongan Melintang Saluran dan Tambak Hasil Perhitungan pada Saluran Drainase Hasil perhitungan pada saluran Drainase dengan pintu klep di tiap ujung saluran dengan menggunakan program HEC-RAS mendapatkan out-put berupa ketinggian air dan debit pada masing-masing saluran. Hasil perhitungan menggunakan program HEC-RAS dari muara saluran di tiap-tiap saluran Drainase ditampilkan pada Tabel Tabel 5.41 dan Gambar 5.13 Gambar 5.22
47 River: DRAINASE 1 Reach: TENGGANG RS: 0 Legend 0.06 Stage Flow 0.02 Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 1 Tenggang 0.8 River: DRAINASE 2 Reach: TENGGANG RS: 0 Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 2 Tenggang
48 River: DRAINASE 3 Reach: TENGGANG RS: Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 3 Tenggang 0.8 River: DRAINASE 4 Reach: TENGGANG RS: 0 Legend Stage Flow 0.00 Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 4 Tenggang 0.8 River: DRAINASE 5 Reach: TENGGANG RS: Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 5 Tenggang
49 River: DRAINASE 1 Reach: SRINGIN RS: Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 1 Sringin 0.8 River: DRAINASE 2 Reach: SRINGIN RS: Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 2 Sringin 0.8 River: DRAINASE 3 Reach: SRINGIN RS: Legend Stage Flow 0.0 Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 3 Sringin
50 River: DRAINASE 4 Reach: SRINGIN RS: Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 4 Sringin 0.8 River: DRAINASE 5 Reach: SRINGIN RS: Legend 0.10 Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 5 Sringin
51 158 Hasil perhitungan ketinggian air tersebut, digunakan sebagai data ketinggian air di hilir pintu klep. Sedangkan di hulu pintu klep, digunakan data ketinggian air dalam tambak. Perhitungan akan menggunakan pendekatan pintu sorong dengan keadaan seperti Gambar dibawah. Rumus debit yang dipakai untuk pintu adalah Q= K. µ. ab.. 2. gh. 1 Perhitungan volume dan debit air yang keluar dari pintu klep menuju Saluran drainase utama yaitu Sungai Sringin dihitung dengan urutan sebagai berikut : Perhitungan Pintu Klep di Saluran Drainase 1 Tenggang Pada Jam (Saat Air Laut Mulai Surut) 1. h 1 = tinggi air di hulu pintu = 0,7583 m 2. h 2 = tinggi air di hilir pintu = 0,7501 m 3. y = bukaan pintu arah tegak lurus pintu γ air 1 =. h (buku mekanika fluida; pintu dari baja) γ baja ( γ air 3 3 = 1000 kg/ cm, γ baja = 7850 kg/ cm ) 1000.(0,7583-0,7501) = = 0,00104 m a = bukaan pintu vertikal = y. Sin(180 - (90 63,43)) = 0, Sin 26,57 = 0, m 5. b = lebar pintu = 3 buah pintu dgn lebar masing-masing 2 m = 6 m
52 h 1 / a = 1630,75 µ = 0,64 (Koefisien debit; Tabel 2.15) 7. h 2 / a = 1613,12 K = 0,40 (Koefisien aliran tenggelam; Tabel 2.16) 8. Q = K. µ. ab.. 2. gh. 1 = 0,40. 0,64. 0, ,8.0,7583 = 0,00275 m 3 /det 9. V = Q. waktu = 0, m = 9, h = V / A = 0,0039 m 11. h saluran = h1 h = 0,7583-0,0039 = 0,7544 m Untuk perhitungan selengkapnya pada perhitungan pintu klep di masing-masing muara saluran drainase, dapat dilihat pada Tabel 5.32 Tabel 5.41
53 160 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Tenggang 1 Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di dalam saluran (m) (m) (m)
54 161 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Tenggang 2 Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di dalam saluran (m) (m) (m)
55 162 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Tenggang 3 Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di dalam saluran (m) (m) (m)
56 163 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Tenggang 4 Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di dalam saluran (m) (m) (m)
57 164 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Tenggang 5 Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di dalam saluran (m) (m) (m)
58 165 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Sringin 1 Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di dalam saluran (m) (m) (m)
59 166 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Sringin 2 Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di dalam saluran (m) (m) (m)
60 167 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Sringin 3 Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di dalam saluran (m) (m) (m)
61 168 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Sringin 4 Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di dalam saluran (m) (m) (m)
62 169 Tabel Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Sringin 5 Tinggi Air h1 y a b Tinggi Air h2 Q V A h Tinggi Air h1/a h2/a µ K di hulu pintu (m) (m) (m) (m) di hilir pintu (m) (m3/det) (m3) (m2) (m) di dalam saluran (m) (m) (m)
63 170 Selanjutnya, setelah diketahui debit yang keluar dari pintu klep di masingmasing muara saluran drainase, debit-debit tersebut dijadikan data input dari saluran drainase untuk mengetahui kondisi yang terjadi pada saluran drainase utama yaitu Sungai Sringin dan Sungai Tenggang. Debit dari masing-masing saluran drainase yang akan dijadikan input pada HEC-RAS saluran drainase primer dapat dilihat pada Tabel 5.42 berikut :
64 171 Tabel Data debit pada masing-masing muara saluran drainase No. Date NAMA SALURAN D. Tenggang 1 D. Tenggang 2 D. Tenggang 3 D. Tenggang 4 D. Tenggang 5 D. Sringin 1 D. Sringin 2 D. Sringin 3 D. Sringin 4 D. Sringin 5 Flow Flow Flow Flow Flow Flow Flow Flow Flow Flow m3/det m3/det m3/det m3/det m3/det m3/det m3/det m3/det m3/det m3/det 1 17Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug Aug
65 172 Hasil yang didapat dari perhitungan dengan menggunakan program HEC- RAS pada saluran drainase dengan input data debit pada hulu dan hilir saluran drainase utama dapat dilihat pada Gambar Plan: PLAN 2 Riv er: DRAINA SE 7 Reach: TENGGA NG RS: 0 Legend Stage Flow 0.02 Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil perhitungan pada hulu saluran drainase utama Tenggang 0.8 Plan: PLAN 2 River: DRAINASE 6 Reach: TENGGANG RS: Legend Stage Flow 0.05 Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil perhitungan pada hilir saluran drainase utama Tenggang
66 Plan: PLAN 2 River: SRINGIN Reach: SRINGIN 4 RS: Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil perhitungan pada hulu saluran drainase utama Sringin 0.8 Plan: PLAN 2 River: SRINGIN Reach: SRINGIN 1 RS: Legend Stage Flow Stage (m) Flow (m3/s) Aug2003 Time Gambar Hasil perhitungan pada hilir saluran drainase utama Sringin
67 Pintu Klep Perencanaan pintu menggunakan konstruksi pintu Klep diupayakan sesuai dengan kriteria yang diinginkan, baik dari segi konstruksi, kualitas, fungsi, manfaat, maupun pembiayaan sehingga harus direncanakan dengan baik dan benar. Perencanaan ini didasarkan pada pertimbangan teknis dengan tidak mengabaikan pertimbangan non teknis. Konstruksi pintu klep dimaksudkan untuk membatasi air yang akan masuk maupun keluar dari masing-masing tambak. Pada masing-masing tambak terdapat minimal 2 buah pintu klep yang mempunyai fungsi yang berbeda. Pintu klep pada saluran sekunder / saluran pasok berfungsi mengalirkan air segar dari saluran primer. Sedangkan pintu klep pada saluran drainase / saluran buang berfungsi mengalirkan air kotor / buangan dari tambak menuju saluran drainase primer. Perencanaan pintu klep direncanakan berdasarkan tekanan air tertinggi yaitu pada saat terjadi pasang tertinggi paling tinggi Perencanaan Pintu Klep Kondisi Perencanaan 1. Kondisi air dalam saluran di posisi max = 2,40 m dengan kondisi pintu tertutup 2. Data penampang sungai pada rencana lokasi pintu klep adalah : Lebar saluran terbesar : 7,00 meter Elevasi dasar saluran : ± 0,00 meter Elevasi air dalam saluran sekunder / drainase tertinggi : +2,40 meter (pada saat pasang tertinggi paling tinggi) Elevasi air dalam saluran primer saat surut : +1,42 meter (pada saat pasang tertinggi paling tinggi)
68 175 +2,40 m 2,40 m +1,42 m 63,43 +0,00 m Gambar Penampang Pintu Klep Dimensi Pintu Klep 1. Direncanakan lebar pintu klep 2 m Jumlah pintu klep diambil 3 buah Jumlah pilar = 3-1 = 2 buah Maka tebal pilar = ( 7 ( 2.3 )) : 2 = 0,50 m 2. Hlubang = (+2,40) - (+0,00) = 2,40 m 3. Kemiringan pintu 2 : 1; α = arc tan (2/1) = 63, H pintu = H lubang / sin α = 2,40 / sin 63,43 0 = 2,68 m 2,70 m 5. H pintu efektif = H pintu + panjang pegangan + panjang jagaan = 2,70 + (0,5 / sin α) + (0,5 / sin α) = 3,81 m 4,0 m 6. B efektif = 2 m H pintu efefektif = 4,0 m B effektif = 2,0 m Perhitungan Pintu Klep Pintu klep ini direncanakan terbuat dari profil baja yang digunakan sebagai kerangka vertikal atau horisontal sebagai penguat terhadap lembaran plat baja. Perhitungan pintu klep ini meliputi : Dimensi balok vertikal dan balok horisontal
69 176 Perhitungan tebal plat Operasi pintu klep Dinding penahan tanah Perhitungan Balok Vertikal Balok vertikal sebagai kerangka pintu klep ini terdiri dari dua balok yang ditempatkan pada sisi-sisi pintu klep. 1. Gaya-gaya yang bekerja a. Distribusi tekanan air dalam tambak pada balok vertikal d1 +2,40 m γair = 1 t / m 3 Pv1 x1 Ph1 h1 α = 63,43 0 Sin α = 2/ 5 +0,00 m a y1 Cos α = 1/ 5 Tan α = 2 B (lebar pintu ) = 2 m Gambar Distribusi Tekanan Air dalam Tambak pada Balok Vertikal d 1 = h 1 / tan α = 2,40 / 2 = 1,20 m x 1 = (1/3) d 1 = 1/3.1,20 = 0,40 m y 1 = (1/3) h 1 = 1/3. 2,40 = 0,80 m b. Distribusi tekanan air surut pada balok vertikal d1 +1,42 m Pv2 x2 h2 Ph2 y2 a +0,00 m Gambar Distribusi Tekanan Air Surut pada Balok Vertikal
70 177 d 2 = h 2 / tan α = 1,42 / 2 = 0,71 m x 2 = (1/3) d 2 = 1/3.0,71 = 0,24 m y 2 = (1/3) h 2 = 1/3. 1,42 = 0,47 m Gaya-gaya yang bekerja dipikul oleh 2 balok vertikal di sisi kanan dan kiri, untuk itu gaya-gaya yang bekerja dibagi menjadi dua : Pv 1 = γ. d1.(1/2). h1.( B/2) = 1.1,20.1/2.2,40.(2/2) = 1,44 ton Pv 2 = γ. d2.(1/2). h2.( B/2) = 1.0,71.1/2.1,42.(2/2) = 0,5041 ton Ph = γ. h.(1/2). h.( B /2) = 1.2,40.1/2.2,40.( 2/2 ) = 2,88 ton Ph = γ. h.(1/2). h.( B /2) = 1.1,42.1/2.1,42.( 2/2 ) = 1,0082 ton 2. Dimensi Balok Vertikal Momen maksimum = maks M maks M = ( pv1. x1) ( ph1. y1) ( pv2. x2) + ( ph2. y2) = -(1,44.0,40) (2,88.0,80) (0,5041.0,24) + (1,0082.0,47) = -2,527 tm Momen maksimum = -2,527 tm = 2, kg.cm σ ijin = 1600 kg / W = M / σ 2 cm = 2, /1600 = 157,93 cm 3 Dicoba baja DIN 15, W x = 253 cm 3, I x = 1900 cm 4
71 Kontrol Tegangan σ = M / W = 2, / 253 = 998,814 kg / cm 2 σ ijin = 1600 kg / cm 2 (AMAN) Perhitungan Balok Horizontal Perhitungan balok horizontal direncanakan terhadap balok yang menerima tegangan maksimum tergantung pada kedalaman penempatan balok tersebut. 1. Penempatan Balok Horisontal 1,20 +2,40 m I y x II 2,40 m 2,40 - y a +0,00 m A total = ½. 1,20. 2,40 = 1,44 m 2 A I = A II = A total / 2 = 1,44 / 2 = 0,72 m 2 A II = x. (2,40 y) / 2 0,72 = x. (2,40 y) / 2 x = 1,44 / ( 2,40 y) A I = ((x + 1,20) / 2). y 1,44 = (((1,44 / (2,40 y)) + 1,20). y)) (1,44 1,20y) (2,40 y) = 1,44 y 1,20 y 2 5,76 y + 3,456 = 0 y = 0,70 m x = 1,44 / (2,40 y) = 1,44 / (2,40 0,70) = 0,847 m ~ 0,85 m
72 179 a 1,20 m x'1 x'2 0,70 m x 1 = (1/3). 0,70 = 0,233 m x 2 = (1/2). 0,70 = 0,35 m x 1 = {(x 2 x 1 )} / 2 + x 1 = {(0,35 0,233)} / 2 + 0,233 = 0,2915 m x 2 = (1/3). 0,70 = 0,566 m Sehingga penempatan balok horizontal pada pintu klep adalah sbb:
73 180 +2,40 m q2 1,134 m 0,976 m +0,00 m a q1 0,29 m Gambar Penempatan Balok Horisontal 2. Dimensi Balok Horisontal Diperkirakan balok horizontal yang menerima tegangan maksimum adalah balok yang menerima tegangan q 1, jadi yang diperiksa adalah balok tersebut. q = (0,85 + 1,20) / 2 = 1,025 t/m q1 = 1,025 t/m = 10,25 kg/cm 200 cm M maksimum = (1/8). q. l 2 = (1/8). 10, = kgm σ ijin = 1600 kg / cm 2 W = M / σ ijin = / 1600 = 32,031 cm 3 Dicoba dengan baja [ 12, W x = 60,7 cm 3
74 181 I x = 364 cm 4 3. Kontrol Tegangan σ = M / W = / 60,7 = 844,316 kg / cm 3 < 1600 kg / cm 3 (AMAN) PerhitunganTebal Pelat Perhitungan untuk tebal plat dipakai rumus Back Formula 2 1 a b σ = k a + b t 2 p Dimana : σ = tegangan yang diijinkan (1600 kg/cm 2 ) k = koefisien, diambil k = 0,8 a = lebar plat yang ditinjau (m) b = panjang plat yang ditinjau (m) t = tebal plat yang dicari (m) p = beban terpusat masing-masing bentang (kg) 1. Gaya-gaya yang bekerja pada pelat Distribusi tekanan air dalam saluran sekunder maksimum pada pelat PA 0,567 m 1,622 m PB 2,255 m 2,40 m PC Gambar Distribusi Tekanan Air dalam Saluran Sekunder Maksimum pada Pelat Pintu
75 182 Distribusi tekanan air saluran sungai maksimum pada pelat 1,42 m 1,275 m 0,078 m 0,643 m PD PE PF Gambar Distribusi Tekanan Air Saluran Sungai Maksimum pada Pelat P A = γ. 0,567 = 0,567 t/m 2 = 0,0567 kg/cm 2 P B = γ. 1,622 = 1,622 t/m 2 = 0,1622 kg/cm 2 P C = γ. 2,255 = 2,255 t/m 2 = 0,2255 kg/cm 2 P D = γ. 0,078 = 0,078 t/m 2 = 0,0078 kg/cm 2 P E = γ. 0,643 = 0,643 t/m 2 = 0,0643 kg/cm 2 P F = γ. 1,275 = 1,275 t/m 2 = 0,1275 kg/cm 2 Pada Bentang I P = P A - P D = 0,0567 0,0078 = 0,0489 kg/cm 2 Pada Bentang II P = P B - P E = 0,1622 0,0643 = 0,0979 kg/cm 2 Pada Bentang III P = P C - P F = 0,2255 0,1275 = 0,0980 kg/cm 2 2. Tebal Plat Luasan I 1600 = (1/2).0,8.(200 2 / ( ,4 2 )).(113,4 / t) 2.0,0489 t = 0,345 cm
76 183 Luasan II 1600 = (1/2).0,8.(200 2 / ( ,4 2 )).(97,4 / t) 2.0,0979 t = 0,433 cm Luasan III 1600 = (1/2).0,8.(200 2 / ( )).(29 / t) 2.0,0980 t = 0,142 cm Tebal pelat terbesar = 0,433 cm Alokasi korosi = 0,2 cm Tebal pelat baja yang digunakan = 0, ,2 = 0,633 0,65 cm Perhitungan Berat Pintu Berat jenis baja ( γ baja ) = 7,85 t/m 3 = 7850 kg / m 3 Berat baja DIN 15 = 37,2 kg/m untuk balok vertikal Berat baja [ 12 = 13,4 kg/m untuk balok horisontal Pelat baja = 2,0. 2,40.0, = 244,92 kg Balok vertikal = 2. 4,0. 37,2 = 297,6 kg Balok horizontal = 5. 2,0. 13,4 = 134 kg Berat pintu = berat (pelat baja + balok vertikal + balok horisontal) = 244, , = 676,52 kg Operasi Pintu Pintu klep pada saluran sekunder Pintu klep pada saluran sekunder berfungsi untuk menahan air dari dalam saluran saat air mulai surut. Pintu ini direncanakan dalam keadaan tertutup akibat tekanan air dari dalam saluran sekunder dan tekanan air dalam saluran primer saat mulai surut. Pintu klep ini akan beroperasi membuka dan menutup apabila momen yang ditimbulkan oleh tekanan air dalam saluran pada hilir pintu (momen tahan) sama dengan besar momen yang diakibatkan oleh tekanan air dari saluran primer pada hulu pintu klep (momen buka). Direncanakan pintu klep dalam kondisi akan tertutup pada elevasi muka air di saluran + 0 m pada hilir pintu klep dan + 0,32 m di hulu pintu klep dan akan mulai membuka bila elevasi di hulu pintu klep berada diatas elevasi +0,32 m dan
77 184 akan menutup kembali bila elevasi di hilir pintu klep lebih tinggi daripada di hulu pintu klep. X4 Gc X3 h3 h2 X2 Gp P2 +0,00 m Gambar Pintu Klep pada Saluran Sekunder H eff pintu = 4,0 m α = arc tan 2/1 = 63,43 0 h 1 h 2 = 0 m = 0,33 m h 3 = 2,40 + (0,56 sin α) = 2,40 + (0,56. 2 / 5) = 2,90 m x 1 = [(2/3). (h 1 / sin α)] + 0,56 = [(2/3). (0 / (2 / 5))] + 0,56 = 0,56 m x 2 = [(h 3 / sin α) (1/3). (h 2 / sin α] = [(2,90 /( 2 / 5)) (1/3). (0,33/ (2 / 5)] = 3,12 m x 3 = 0,56. cos α = 0,25 m x 4 = ((1/2). H pintu 1). (1/ 5) = ((1/2). 4,0) 1). (1/ 5) = 0,271 m GP = berat pintu = 676,52 kg = 0,677 ton MT = momen tahan = P 1. x 1 + GP. x 4
78 185 2 (( 1/2 ). γ. (( 1/sin α) ). ). (( 2/3 ).)( 1/ ( sin α) ) eff pintu ( 1/sinα) ( GP. x ) 4 ( ( )) MT = h B h + H h + = [((1/2).γ.((h 2 1 /(4/5))).2,0).(((2/3).(h 1 /(2/ 5))+(4,0 - (h 1 /(2/ 5))))] +(0,677.0,271) = 5h 2 1-0,466 h ,1835 Direncanakan H = 0, m atau pada elevasi muka air +0,00 m MT = -0,466 h h ,1835 MT = -0,466 (0,00) (0,00) 3 + 0,1835 MT = 0,1835 tm MB = momen buka = P 2. x 2 = 0,128.3,144 = 0,4024 tm MT < MB pintu dalam keadaan terbuka Untuk itu diperlukan counterweight agar pintu dapat menutup (MB=MT). Berat counterweight yang dibutuhkan adalah sebagai berikut : MB = MT => merupakan kondisi pintu agar tertutup MT = MB 0, G e. x 3 = P 2. x 2 0, G e. 0,25 = 0,4024 G e = 0,88 t 880 kg Jadi berat counterweight yang dibutuhkan adalah 0,88 ton atau 880 kg Kontrol keadaan pintu klep apakah akan membuka atau menutup pada kondisi-kondisi dibawah ini 1. Pada kondisi di hulu pintu klep +0,3487 m dan muka air dalam saluran = +0,0826 m
79 186 X4 X1 Gc X3 h3 h2 X2 Gp P2 P1 +0,00 m h1 Gambar Kontrol Keadaan Pintu Klep pada Kondisi di Hulu Pintu Klep +0,3487 m dan Muka Air dalam Saluran = +0,0826 m H eff pintu = 4,0 m α = arc tan 2/1 = 63,43 0 h 1 h 2 = 0,0826 m = 0,3487 m h 3 = 2,40 + (0,56 sin α) = 2,40 + (0,56. 2 / 5) = 2,90 m x 1 = [(2/3). (h 1 / sin α)] + 0,56 = [(2/3). (0,0826 / (2 / 5))] + 0,56 = 0,62 m x 2 = [(h 3 / sin α) (1/3). (h 2 / sin α] = [(2,90 / (2 / 5) (1/3). (0,3487 / (2 / 5)] = 3,112 m x 3 = 0,56. cos α = 0,25 m x 4 = ((1/2). H pintu 1). (1/ 5) = ((1/2). 4,0) 1). (1/ 5) = 0,271 m GP = berat pintu = 676,52 kg = 0,677 ton MT = momen tahan = P 1. x 1 + GP. x 4
80 187 2 (( 1/2 ). γ. (( 1/sin α) ). ). (( 2/3 ).)( 1/ ( sin α) ) eff pintu ( 1/sinα) ( GP. x ) 4 ( ( )) MT = h B h + H h + = [((1/2).γ.((h 2 1 /(4/5))).2,0).(((2/3).(h 1 /(2/ 5))+(4,0 - (h 1 /(2/ 5))))] +(0,677.0,271) = 5h 2 1-0,466 h ,1835 Direncanakan H = 0,0826 m atau pada elevasi muka air +0,0826 m MT = -0,466 h h , G e. x 3 MT = -0,466 (0,0826) (0,0826) 3 + 0, ,88. 0,25 MT = 0,4031 tm MB = momen buka = P 2. x 2 = 0,152.3,112 = 0,4730 tm MT < MB pintu dalam keadaan terbuka 2. Pada kondisi di hulu pintu klep +0,7199 m dan muka air tambak +0,7344 m X4 X1 Gc X3 h3 h2 X2 Gp P1 h1 P2 +0,00 m Gambar Kontrol Keadaan Pintu Klep pada Kondisi di Hulu Pintu Klep +0,7199 m dan Muka Air Tambak = +0,7344 m H eff pintu = 4,0 m α = arc tan 2/1 = 63,43 0 h 1 h 2 = 0,7344 m = 0,7199 m
81 188 h 3 = 2,40 + (0,56 sin α) = 2,40 + (0,56. 2 / 5) = 2,90 m x 1 = [(2/3). (h 1 / sin α)] + 0,56 = [(2/3). (0,7344 / (2 / 5))] + 0,56 = 1,107 m x 2 = [(h 3 / sin α) (1/3). (h 2 / sin α] = [(2,90 / (2 / 5) (1/3). (0,7199 / (2 / 5)] = 2,974 m x 3 = 0,56. cos α = 0,25 m x 4 = ((1/2). H pintu 1). (1/ 5) = ((1/2). 4,0) 1). (1/ 5) = 0,271 m GP = berat pintu = 676,52 kg = 0,677 ton MT = momen tahan = P 1. x 1 + GP. x 4 2 (( 1/2 ). γ. (( 1/sin α) ). ). (( 2/3 ).)( 1/ ( sin α) ) eff pintu ( 1/sinα) ( GP. x ) 4 ( ( )) MT = h B h + H h + = [((1/2).γ.((h 2 1 /(4/5))).2,0).(((2/3).(h 1 /(2/ 5))+(4,0 - (h 1 /(2/ 5))))] +(0,677.0,271) = 5h 2 1-0,466 h ,1835 Direncanakan H = 0,7344 m atau pada elevasi muka air +0,7344 m MT = -0,466 h h , G e. x 3 MT = -0,466 (0,7344) (0,7344) 3 + 0, ,88. 0,25 MT = 2,1326 tm MB = momen buka = P 2. x 2 = 0,647.2,974 = 0,1926 tm MT > MB pintu dalam keadaan tertutup Pintu klep pada saluran drainase Pintu klep pada saluran drainase berfungsi untuk menahan air dari luar saluran drainase saat air mulai pasang dan membuka pada saat air mulai surut.
82 189 Pintu ini direncanakan dalam keadaan tertutup akibat tekanan air dari saluran primer dan tekanan air dalam saluran drainase saat pasang. Direncanakan pintu klep dalam kondisi akan tertutup pada elevasi muka air di saluran + 0,7583 m pada hulu pintu klep dan + 0,7599 m di hilir pintu klep dan akan mulai membuka bila elevasi di hulu pintu klep lebih tinggi daripada di hilir pintu klep. X4 X1 Gc X3 h3 h2 X2 Gp P1 h1 P2 +0,00 m Gambar Pintu Klep pada Saluran Drainase H eff pintu = 4,0 m α = arc tan 2/1 = 63,43 0 h 1 h 2 = 0,7599 m = 0,7583 m h 3 = 2,40 + (0,56 sin α) = 2,40 + (0,56. 2 / 5) = 2,90 m x 1 = [(2/3). (h 1 / sin α)] + 0,56 = [(2/3). (0,7599 / (2 / 5))] + 0,56 = 1,126 m x 2 = [(h 3 / sin α) (1/3). (h 2 / sin α] = [(2,90 /( 2 / 5)) (1/3). (0,7583/ (2 / 5)] = 2,96 m x 3 = 0,56. cos α = 0,25 m
83 190 x 4 = ((1/2). H pintu 1). (1/ 5) = ((1/2). 4,0) 1). (1/ 5) = 0,271 m GP = berat pintu = 676,52 kg = 0,677 ton MT = momen tahan = P 1. x 1 + GP. x 4 2 (( 1/2 ). γ. (( 1/sin α) ). ). (( 2/3 ).)( 1/ ( sin α) ) eff pintu ( 1/sinα) ( GP. x ) 4 ( ( )) MT = h B h + H h + = [((1/2).γ.((h 2 1 /(4/5))).2,0).(((2/3).(h 1 /(2/ 5))+(4,0 - (h 1 /(2/ 5))))] +(0,677.0,271) = 5h 2 1-0,466 h ,1835 Direncanakan H = 0,7599 m atau pada elevasi muka air +0,7599 m MT = -0,466 h h ,1835 MT = -0,466 (0,7599) (0,7599) 3 + 0,1835 MT = 2,1084 tm MB = momen buka P 2. x 2 = 0,718.2,96 = 2,127 tm MT < MB pintu dalam keadaan terbuka Untuk itu diperlukan counterweight agar pintu dapat menutup (MB=MT). Berat counterweight yang dibutuhkan adalah sebagai berikut : MB = MT => merupakan kondisi pintu agar tertutup MT = MB 2, G e. x 3 = P 2. x 2 2, G e. 0,25 = 2,127 G e = 0,076 t 80 kg Jadi berat counterweight yang dibutuhkan adalah 0,080 ton atau 80 kg Kontrol keadaan pintu klep apakah akan membuka atau menutup pada kondisi-kondisi dibawah ini 1. Pada kondisi di hulu pintu klep +0,7583 m dan muka air dalam saluran = +0,7501 m
84 191 X4 X1 Gc X3 h3 h2 X2 Gp P2 P1 +0,00 m h1 Gambar Kontrol Keadaan Pintu Klep pada Saluran Drainase pada Kondisi di Hulu Pintu Klep +0,7583 m dan Muka Air dalam Saluran = +0,7501 m H eff pintu = 4,0 m α = arc tan 2/1 = 63,43 0 h 1 h 2 = 0,7501 m = 0,7583 m h 3 = 2,40 + (0,56 sin α) = 2,40 + (0,56. 2 / 5) = 2,90 m x 1 = [(2/3). (h 1 / sin α)] + 0,56 = [(2/3). (0,7501 / (2 / 5))] + 0,56 = 1,119 m x 2 = [(h 3 / sin α) (1/3). (h 2 / sin α] = [(2,90 / (2 / 5) (1/3). (0,7583 / (2 / 5)] = 2,96 m x 3 = 0,56. cos α = 0,25 m x 4 = ((1/2). H pintu 1). (1/ 5) = ((1/2). 4,0) 1). (1/ 5) = 0,271 m GP = berat pintu = 676,52 kg = 0,677 ton
85 192 MT = momen tahan = P 1. x 1 + GP. x 4 2 (( 1/2 ). γ. (( 1/sin α) ). ). (( 2/3 ).)( 1/ ( sin α) ) eff pintu ( 1/sinα) ( GP. x ) 4 ( ( )) MT = h B h + H h + = [((1/2).γ.((h 2 1 /(4/5))).2,0).(((2/3).(h 1 /(2/ 5))+(4,0 - (h 1 /(2/ 5))))] +(0,677.0,271) = 5h 2 1-0,466 h ,1835 Direncanakan H = 0,7501 m atau pada elevasi muka air +0,7501 m MT = -0,466 h h , G e. x 3 MT = -0,466 (0,7501) (0,7501) 3 + 0, ,08. 0,25 MT = 2,0515 tm MB = momen buka P 2. x 2 = 0,7187.2,96 = 2,1275 tm MT < MB pintu dalam keadaan terbuka Perhitungan Dinding Penahan Tanah Pada Pintu Direncanakan bangunan dinding penahan tanah yang berupa pasangan batu kali, yang fungsinya sebagai tempat dipasangnya sisi samping pintu klep dan menahan tekanan air. q = 0,88 t/m Muka tanggul Pa1 0,3 m MAT Q 2,7 m Pa2 3,2 m Pair Pa4 Pa3 G 0,80 m Muka tanah Pp 2,00 m Gambar Tampak Samping Dinding Penahan Tanah pada Pintu Klep
86 193 Diketahui : Lapisan tanah sampai kedalaman 1,5 m, jenis tanah humus kelanauan warna hitam γ 1 = 1,7012 gr/cm 3, C 1 = 0,14 kg/cm 2, ø = 13 0 Ka 1 = tan 2 (45 - (ø 1 /2)) = tan 2 (45 (13/2)) = 0,633 Kp 1 = tan 2 (45 + (ø 2 /2)) = tan 2 (45 + (13/2)) = 1,580 Tekanan arah vertikal γ air = 1 t/m 3 γ pasangan = 2,2 t/m 3 P = (1/2). γ air. H 2 = (1/2). 1. 2,40 2 = 2,88 t G = A. γ pasangan = (3,5.2). 2,2 = 15,4 t Q = q. L = 0,88. 2 = 1,76 t Tegangan tanah aktif horizontal pa 1 = γ 1. h 1. Ka = 1, ,3. 0,633 = 0,323 t/m 2 pa 2 = γ. h 1. Ka 1 2. C 1. Ka 1 = 0, ,14. 0,633 = 0,1 t/m 2 pa 3 = γ sub. h 2. Ka 1 = (1,7012 1). 3,2. 0,633 = 1,4203 t/m 2
87 194 pa 4 = γ w. h 2 = 1. 3,2 = 3,2 t/m 2 Tegangan tanah pasif horizontal pp = γ. h 1. Kp 2 = 1, ,80. 1,323 = 1,701 t/m 2 Tekanan tanah aktif horizontal Pa 1 = ½. pa 1. h 1 = ½. 0,323. 0,3 = 0,0484 t Pa 2 = pa 2. h 2 = 0,1. 3,2 = 0,32 t Pa 3 = ½. pa 3. h 2 = ½. 1, ,2 = 2,272 t Pa 4 = ½. pa 4. h 2 = ½. 3,2. 3,2 = 5,12 t Tekanan tanah pasif horizontal Pp = ½. pp. h = ½. 1,701. 0,80 = 0,6804 t Tabel Gaya-Gaya Vertikal yang Bekerja pada DPT Bangunan Pintu Gaya Berat (ton) Lengan Momen (ton.m) G 15,4 1 15,4 Q 1,76 1 1,76 V = 17,16 M v = 17,16
88 195 Tabel Gaya-Gaya Horizontal yang Bekerja pada DPT Bangunan Pintu Gaya Berat (ton) Lengan (m) Momen (tm) Pa 1 0,0484 3,35 0,1621 Pa 2 0,32 1,6 0,512 Pa 3 2,272 1,066 2,4219 Pa 4 5,12 1,066 5,458 Pp -0,6804 0,26-0,1769 p air -2,880 1,60-4,608 H = 4,2 M H = 3,7691 Checking terhadap penggulingan Syarat : FS = M V / M H > 1,5 FS = 17,16 / 3,7691 = 4,55 > 1,5 AMAN! Checking terhadap pergeseran Syarat : FS = gaya-gaya vertikal / gaya-gaya horizontal >1,5 FS = 17,16 / 4,2 = 4,086 AMAN! Checking terhadap pecahnya konstruksi Syarat : e B/6 B/6 = 2/6 = 0,333 e = (2/2) (( M V - M H ) / G V ) = (2/2) ((17,16 3,7691) / 17,16) = 0,219 < B/6 = 0,333 AMAN! Checking terhadap daya dukung tanah q ult = 1,3. C. N c + γ.d. N q + 0,4. γ 1. B. N q ø = 13 0 ( N c = 8,68 ; N q = 2,26 ; N γ = 0,92 ) q ult = 1, , ,2. 3,5. 2,26 + 0, , ,92 = 30506,17 kg/m 2 q ult = 30506,17 / 1,5 = 20337,45 kg/m 2 = 20,34 t/m 2 M W H σ = ± V A
89 196 W = 1/6. B. L 2 = 1/ = 1,33 m 3 A = B. L = 2.2 = 4 m 2 3, ,16 σ = ± = 2,834 ± 4, 29 1, 33 4 σ maks = 7,124 t/m 2 σ min = 1,456 t/m 2 σ maks = 7,124 < q ult = 20,34 AMAN!
LEMBAR PENGESAHAN. Disusun Oleh : HENDRI SETIAWAN L2A JAHIEL R SIDABUTAR L2A SEMARANG, NOVEMBER 2007
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JARINGAN IRIGASI TAMBAK MEMANFAATKAN PASANG SURUT AIR LAUT DI KALI TENGGANG KECAMATAN GENUK KOTA SEMARANG Diajukan untuk memenuhi syarat Akademik Dalam
1 BAB VI ANALISIS HIDROLIKA
BAB VI ANALISIS HIDROLIKA 6. Tinjauan Umum Analisa hidrolika bertujuan untuk mengetahui kemampuan penampang dalam menampung debit rencana. Sebagaimana telah dijelaskan dalam bab III, bahwa salah satu penyebab
PENDAHULUAN BAB I Tinjauan Umum BAB I PENDAHULUAN
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tinjauan Umum Menurut sejarah, peradaban manusia telah mengikuti perkembangan irigasi. Kekunoan irigasi tercatat dengan baik dan secara tertulis dalam sejarah umat manusia. Kerajaan-kerajaan
BAB V ANALISIS HIDROLIKA DAN PERHITUNGANNYA
BAB V ANALISIS HIDROLIKA DAN PERHITUNGANNYA 5.1. TINJAUAN UMUM Analisis hidrolika bertujuan untuk mengetahui kemampuan penampang dalam menampung debit rencana. Sebagaimana telah dijelaskan dalam bab II,
III. METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini adalah di saluran drainase Antasari, Kecamatan. Sukarame, kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung.
37 III. METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah di saluran drainase Antasari, Kecamatan Sukarame, kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Gambar 8. Lokasi Penelitian 38 B. Bahan
BAB IV HASIL DAN ANALISIS
BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 Pengolahan Data Hidrologi 4.1.1 Data Curah Hujan Data curah hujan adalah data yang digunakan dalam merencanakan debit banjir. Data curah hujan dapat diambil melalui pengamatan
III. METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini adalah di saluran Ramanuju Hilir, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung.
39 III. METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah di saluran Ramanuju Hilir, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung. PETA LOKASI PENELITIAN Gambar 7. Lokasi
BAB VII PERENCANAAN JARINGAN UTAMA
BAB VII PERENCANAAN JARINGAN UTAMA 7.1 UMUM Untuk dapat mengalirkan air dari bendung ke areal lahan irigasi maka diperlukan suatu jaringan utama yang terdiri dari saluran dan bangunan pelengkap di jaringan
BAB III METODA ANALISIS. desa. Jumlah desa di setiap kecamatan berkisar antara 6 hingga 13 desa.
BAB III METODA ANALISIS 3.1 Lokasi Penelitian Kabupaten Bekasi dengan luas 127.388 Ha terbagi menjadi 23 kecamatan dengan 187 desa. Jumlah desa di setiap kecamatan berkisar antara 6 hingga 13 desa. Sungai
BAB V SIMULASI MODEL MATEMATIK
BAB V SIMULASI MODEL MATEMATIK A. Pemodelan Hidrolika Saluran drainase primer di Jalan Sultan Syahrir disimulasikan dengan membuat permodelan untuk analisis hidrolika. Menggunakan software HEC-RAS versi
BAB III METODOLOGI Rumusan Masalah
BAB III METODOLOGI 3.1. Rumusan Masalah Rumusan Masalah merupakan peninjauan pada pokok permasalahan untuk menemukan sejauh mana pembahasan permasalahan tersebut dilakukan. Berdasarkan hasil analisa terhadap
TUGAS AKHIR DAMPAK SISTEM DRAINASE PEMBANGUNAN PERUMAHAN GRAHA NATURA TERHADAP SALURAN LONTAR, KECAMATAN SAMBIKEREP, SURABAYA
TUGAS AKHIR DAMPAK SISTEM DRAINASE PEMBANGUNAN PERUMAHAN GRAHA NATURA TERHADAP SALURAN LONTAR, KECAMATAN SAMBIKEREP, SURABAYA Latar Belakang Pembangunan perumahan Graha Natura di kawasan jalan Sambikerep-Kuwukan,
Gambar 3.1 Daerah Rendaman Kel. Andir Kec. Baleendah
15 BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di sepanjang daerah rendaman Sungai Cisangkuy di Kelurahan Andir Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. (Sumber : Foto
BAB IV ANALISIS DATA
90 BAB IV ANALISIS DATA 4.1. Tinjauan Umum Dalam merencanakan jaringan irigasi tambak, analisis yang digunakan adalah analisis hidrologi dan analisis pasang surut. Analisis hidrologi yaitu perhitungan
Nizar Achmad, S.T. M.Eng
Nizar Achmad, S.T. M.Eng Pendahuluan HEC RAS(Hidraulic Engineering Corps, River Analysis System) dikembangkan oleh Insinyur Militer Amerika Serikat (US Army Corps of Engineer) Digunakan internal Militer
BAB III METODA ANALISIS. Wilayah Sungai Dodokan memiliki Daerah Aliran Sungai (DAS) Dodokan seluas
BAB III METODA ANALISIS 3.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Wilayah Sungai Dodokan memiliki Daerah Aliran Sungai (DAS) Dodokan seluas 273.657 km 2 dan memiliki sub DAS Dodokan seluas 36.288 km 2. Sungai
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di muara Sungai Cikapundung yang merupakan salah satu anak sungai yang berada di hulu Sungai Citarum. Wilayah ini terletak di Desa Dayeuhkolot,
BAB III METODOLOGI 3.1 METODE ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA
4 BAB III METODOLOGI 3.1 METODE ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA Dalam penyusunan Tugas Akhir ini ada beberapa langkah untuk menganalisis dan mengolah data dari awal perencanaan sampai selesai. 3.1.1 Permasalahan
Gambar 2.1.Komponen Drainase Sistem Polder yang Ideal
DRAINASE POLDER Drainase sistem polder berfungsi untuk mengatasi banjir yang diakibatkan genangan yang ditimbulkan oleh besarnya kapasitas air yang masuk ke suatu daerah melebihi kapasitas keluar dari
Bab 3 Metodologi. Setelah mengetahui permasalahan yang ada, dilakukan survey langsung ke lapangan yang bertujuan untuk mengetahui :
Bab 3 Metodologi 3.1 Metode Analisis dan Pengolahan Data Dalam penyusunan Tugas Akhir ini ada beberapa langkah-langkah penulis dalam menganalisis dan mengolah data dari awal perencanaan sampai selesai.
BAB III METODA ANALISIS
BAB III METODA ANALISIS 3.1 Metodologi Penelitian Sungai Cirarab yang terletak di Kabupaten Tangerang memiliki panjang sungai sepanjang 20,9 kilometer. Sungai ini merupakan sungai tunggal (tidak mempunyai
I. PENDAHULUAN. Hujan merupakan komponen masukan yang paling penting dalam proses
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hujan merupakan komponen masukan yang paling penting dalam proses hidrologi, karena jumlah kedalaman hujan (raifall depth) akan dialihragamkan menjadi aliran, baik melalui
IRIGASI AIR. Bangunan-bangunan Irigasi PROGRAM STUDI S-I TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR Bangunan-bangunan Irigasi PROGRAM STUDI S-I TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI 2013 PENGERTIAN TENTANG IRIGASI Sejak ratusan tahun lalu atau bahkan ribuan
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data penelitian dilakukan untuk menunjang analisis arus balik pada saluran drainase primer Gayam. Data yang dikumpulkan berupa
Tabel Posisi titik acuan (BM, dalam meter) di lokasi MIFEE
1 1.6. Hidrotopografi Lahan Peta hidro-topografi adalah peta yang memperlihatkan elevasi lahan relatif terhadap elevasi muka air sungai di sekitarnya. Pada lokasi yang terpengaruh oleh pasangsurut, elevasi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Pendahuluan Analisa sistem drainase dan penangulangan banjir Kota Semarang sebenarnya telah menjadi perhatian sejak zaman kolonial Belanda, dengan dibangunnya dua banjir
III - 1 BAB III METODOLOGI BAB III METODOLOGI
III - 1 BAB III 3.1 Tinjauan Umum Dalam penulisan laporan Tugas Akhir memerlukan metode atau tahapan/tata cara penulisan untuk mendapatkan hasil yang baik dan optimal mengenai pengendalian banjir sungai
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian Lokasi pekerjaan terletak di Jl. Jendral Sudirman, Kelurahan Karet Semanggi, Kecamatan Setia Budi, Jakarta Pusat. Tepatnya di dalam area perkantoran gedung
3.1 Metode Pengumpulan Data
BAB III METODOLOGI 3.1 Metode Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada perencanaan drainase sistim Kali Tenggang dilakukan sebagai berikut : Untuk data-data yang berkaitan dengan perencanaan non teknis
METODOLOGI BAB III Tinjauan Umum Diagram Alir BAB III METODOLOGI
85 BAB III METODOLOGI 3.1. Tinjauan Umum Dalam suatu Perencanaan Jaringan Irigasi Tambak, terlebih dahulu harus dilakukan survei dan investigasi dari daerah atau lokasi yang bersangkutan guna memperoleh
PERANCANGAN SISTEM DRAINASE
PERANCANGAN SISTEM DRAINASE Perencanaan saluran pembuang harus memberikan pemecahan dengan biaya pelak-sanaan dan pemeliharaan yang minimum. Ruas-ruas saluran harus stabil terhadap erosi dan sedimentasi
BAB I PENDAHULUAN. DKI Jakarta terletak di daerah dataran rendah di tepi pantai utara Pulau
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang DKI Jakarta terletak di daerah dataran rendah di tepi pantai utara Pulau Jawa, dilintasi oleh 13 sungai, sekitar 40% wilayah DKI berada di dataran banjir dan sebagian
BAB VI ANALISIS HIROLIKA DAN PERENCANAAN KONSTRUKSI
BAB VI ANALISIS HIROLIKA DAN PERENCANAAN KONSTRUKSI 6. Tinjauan Umum Dalam perencanaaan sistem pengendalian banjir, analisis yang perlu ditinjau adalah analisis hidrologi dan analisis hidrolika. Analisis
Perencanaan Sistem Drainase Perumahan Grand City Balikpapan
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6 1 Perencanaan Sistem Drainase Perumahan Grand City Balikpapan Rossana Margaret, Edijatno, Umboro Lasminto Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan
BAB 3 METODE PENELITIAN
35 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Persiapan Penelitian 3.1.1 Studi Pustaka Dalam melakukan studi pustaka tentang kasus Sudetan Wonosari ini diperoleh data awal yang merupakan data sekunder untuk keperluan
BAB V ANALISA DATA. Dalam bab ini ada beberapa analisa data yang dilakukan, yaitu :
37 BAB V ANALISA DATA Dalam bab ini ada beberapa analisa data yang dilakukan, yaitu : 5.1 METODE RASIONAL 5.1.1 Analisa Curah Hujan Dalam menganalisa curah hujan, stasiun yang dipakai adalah stasiun yang
Perencanaan Penanggulangan Banjir Akibat Luapan Sungai Petung, Kota Pasuruan, Jawa Timur
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 2 (2017), 2720 (201928X Print) C82 Perencanaan Penanggulangan Banjir Akibat Luapan Sungai Petung, Kota Pasuruan, Jawa Timur Aninda Rahmaningtyas, Umboro Lasminto, Bambang
BAB V ANALISIS HIDROLOGI DAN HIDROLIKA
BAB V ANALISIS HIDROLOGI DAN HIDROLIKA A. Analisis Hidrologi 1. Curah Hujan Rencana Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi
METODOLOGI Tinjauan Umum 3. BAB 3
3. BAB 3 METODOLOGI 3.1. Tinjauan Umum Dalam suatu perencanaan konstruksi dan rencana pelaksanaan perlu adanya metodologi yang baik dan benar karena metodologi merupakan acuan untuk menentukan langkah
ANALISIS DAN EVALUASI KAPASITAS PENAMPANG SUNGAI SAMPEAN BONDOWOSO DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM HEC-RAS 4.1
ANALISIS DAN EVALUASI KAPASITAS PENAMPANG SUNGAI SAMPEAN BONDOWOSO DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM HEC-RAS.1 Agung Tejo Kusuma*, Nanang Saiful Rizal*, Taufan Abadi* *Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas
BAB V ANALISA DATA. Analisa Data
BAB V ANALISA DATA 5.1 UMUM Analisa data terhadap perencanaan jaringan drainase sub sistem terdiri dari beberapa tahapan untuk mencapai suatu hasil yang optimal. Sebelum tahapan analisa dilakukan, terlebih
Hasil dan Analisis. Simulasi Banjir Akibat Dam Break
Bab IV Hasil dan Analisis IV. Simulasi Banjir Akibat Dam Break IV.. Skenario Model yang dikembangkan dikalibrasikan dengan model yang ada pada jurnal Computation of The Isolated Building Test Case and
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN IV.1 Menganalisa Hujan Rencana IV.1.1 Menghitung Curah Hujan Rata rata 1. Menghitung rata - rata curah hujan harian dengan metode aritmatik. Dalam studi ini dipakai data
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
digilib.uns.ac.id BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Penyiapan Data Dalam menentukan profil muka aliran dan panjang arus balik air di saluran drainase Ngestiharjo dan Karangwuni, peneliti menggunakan metode
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berikut ini beberapa pengertian yang berkaitan dengan judul yang diangkat oleh
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian pengertian Berikut ini beberapa pengertian yang berkaitan dengan judul yang diangkat oleh penulis, adalah sebagai berikut :. Hujan adalah butiran yang jatuh dari gumpalan
PENGARUH BENTUK MERCU BENDUNG TERHADAP TINGGI LONCAT AIR KOLAM OLAK MODEL USBR IV (SIMULASI LABORATORIUM)
PENGARUH BENTUK MERCU BENDUNG TERHADAP TINGGI LONCAT AIR KOLAM OLAK MODEL USBR IV (SIMULASI LABORATORIUM) M. Kabir Ihsan Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Malikussaleh email: [email protected]
1.3. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui pola jaringan drainase dan dasar serta teknis pembuatan sistem drainase di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkebunan kelapa sawit merupakan jenis usaha jangka panjang. Kelapa sawit yang baru ditanam saat ini baru akan dipanen hasilnya beberapa tahun kemudian. Sebagai tanaman
BAB 3 METODOLOGI 3.1 TINJAUAN UMUM
BAB 3 METODOLOGI 3.1 TINJAUAN UMUM Untuk dapat memenuhi tujuan penyusunan Tugas Akhir tentang Perencanaan Polder Sawah Besar dalam Sistem Drainase Kali Tenggang, maka terlebih dahulu disusun metodologi
PEMODELAN & PERENCANAAN DRAINASE
PEMODELAN & PERENCANAAN DRAINASE PEMODELAN & PERENCANAAN DRAINASE PEMODELAN ALIRAN PERMANEN FTSP-UG NURYANTO,ST.,MT. 1.1 BATAS KEDALAMAN ALIRAN DI UJUNG HILIR SALURAN Contoh situasi kedalaman aliran kritis
1.5. Potensi Sumber Air Tawar
Potensi Sumber Air Tawar 1 1.5. Potensi Sumber Air Tawar Air tawar atau setidaknya air yang salinitasnya sesuai untuk irigasi tanaman amat diperlukan untuk budidaya pertanian di musim kemarau. Survei potensi
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DRAINASE BANDAR UDARA AHMAD YANI SEMARANG
LEMBAR PENGESAHAN ii LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DRAINASE BANDAR UDARA AHMAD YANI SEMARANG Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Akademis Dalam Menyelesaikan Pendidikan
PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR KALI BANGILTAK DAN KALI WRATI DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN NORMALISASI TUGAS AKHIR
PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR KALI BANGILTAK DAN KALI WRATI DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN NORMALISASI TUGAS AKHIR PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL Oleh : MIRAWATI SEPTYANINGSIH 0753010037 PROGRAM STUDI TEKNIK
BAB VII PENELUSURAN BANJIR (FLOOD ROUTING)
VII-1 BAB VII PENELUSURAN BANJIR (FLOOD ROUTING) 7.1. Penelusuran Banjir Melalui Saluran Pengelak Penelusuran banjir melalui pengelak bertujuan untuk mendapatkan elevasi bendung pengelak (cofferdam). Pada
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bencana banjir seakan telah dan akan tetap menjadi persoalan yang tidak memiliki akhir bagi umat manusia di seluruh dunia sejak dulu, saat ini dan bahkan sampai di masa
PERSYARATAN JARINGAN DRAINASE
PERSYARATAN JARINGAN DRAINASE Untuk merancang suatu sistem drainase, yang harus diketahui adalah jumlah air yang harus dibuang dari lahan dalam jangka waktu tertentu, hal ini dilakukan untuk menghindari
Gambar 1.1 DAS Ciliwung
BAB 1 PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Kali Ciliwung merupakan salah satu kali yang membelah Provinsi DKI Jakarta. Kali Ciliwung membentang dari selatan ke utara dengan hulunya berada di Kabupaten
BAB IV ANALISA DATA. Dalam bab ini ada beberapa analisa data yang dilakukan, yaitu :
BAB IV ANALISA DATA Dalam bab ini ada beberapa analisa data yang dilakukan, yaitu : 4.1 ANALISA CURAH HUJAN Dalam menganalisa curah hujan, stasiun yang dipakai adalah stasiun yang langsung berhubungan
PERENCANAAN SISTEM DRAINASE PERUMAHAN THE GREENLAKE SURABAYA
Perencanaan Sistem Drainase Perumahan The Greenlake Surabaya PERENCANAAN SISTEM DRAINASE PERUMAHAN THE GREENLAKE SURABAYA Riska Wulansari, Edijatno, dan Yang Ratri Savitri. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Besai yang terletak
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. LOKASI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Besai yang terletak di Kabupaten Way Kanan. Lokasi ini berjarak sekitar 180 km dari Kota
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DAN JARINGAN DRAINASE DAS KALI SEMARANG. ( Drainage System Design of Kali Semarang Basin)
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DAN JARINGAN DRAINASE DAS KALI SEMARANG ( Drainage System Design of Kali Semarang Basin) DISUSUN OLEH : YEFRI HENDRAYANI NIM. L2A301530 Semarang, Febuari
BAB VI ANALISIS DEBIT BANJIR RENCANA DAN DIMENSI SALURAN DRAINASE
BAB VI ANALISIS DEBIT BANJIR RENCANA DAN DIMENSI SALURAN DRAINASE 6. Tinjauan Umum Analisis debit banjir rencana saluran drainase adalah bertujuan untuk mengetahui debit banjir rencana saluran sekunder
TUGAS AKHIR Perencanaan Pengendalian Banjir Kali Kemuning Kota Sampang
TUGAS AKHIR Perencanaan Pengendalian Banjir Kali Kemuning Kota Sampang Disusun oleh : Agung Tri Cahyono NRP. 3107100014 Dosen Pembimbing : Ir. Bambang Sarwono, M.Sc JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Kondisi Geografis Kota Makassar secara geografi terletak pada koordinat 119 o 24 17,38 BT dan 5 o 8 6,19 LS dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari
TUGAS AKHIR. Perencanaan Sistem Drainase Pembangunan Hotel di Jalan Embong sawo No. 8 Surabaya. Tjia An Bing NRP
TUGAS AKHIR Perencanaan Sistem Drainase Pembangunan Hotel di Jalan Embong sawo No. 8 Surabaya Tjia An Bing NRP. 3109 100 112 Dosen Pembimbing : Mahendra Andiek M, ST.MT. Ir. Fifi Sofia Jurusan Teknik Sipil
9. Dari gambar berikut, turunkan suatu rumus yang dikenal dengan rumus Darcy.
SOAL HIDRO 1. Saluran drainase berbentuk empat persegi panjang dengan kemiringan dasar saluran 0,015, mempunyai kedalaman air 0,45 meter dan lebar dasar saluran 0,50 meter, koefisien kekasaran Manning
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian yaitu di Bendungan Jatigede yang dibangun pada Sungai Cimanuk sekitar 25 km di hulu Bendung Rentang di Dusun Jatigede Desa Cieunjing, Kec.
BAB IV PEMODELAN DAN ANALISIS
BAB IV PEMODELAN DAN ANALISIS Pemodelan dilakukan dengan menggunakan kontur eksperimen yang sudah ada, artificial dan studi kasus Aceh. Skenario dan persamaan pengatur yang digunakan adalah: Eksperimental
DAFTAR ISI. TUGAS AKHIR... i. LEMBAR PERSETUJUAN... ii. LEMBAR PENGESAHAN... iii. PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT... iv. KATA PENGANTAR...
DAFTAR ISI TUGAS AKHIR... i LEMBAR PERSETUJUAN... ii LEMBAR PENGESAHAN... iii PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vii DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR TABEL... xiii DAFTAR LAMPIRAN...
RINGKASAN 1.A. Q max = [ISSN: ] 17
EFEKTIFITAS BOEZEM DENGAN PINTU OTOMATIS DALAM RANGKA MENGURANGI DEBIT BANJIR PADA DAS SEMPAJA KOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Oleh : SSN. Banjarsanti Staf Pengajar Teknik Sipil Politeknik Negeri
Gambar 4.1 Kotak Dialog Utama HEC-RAS 4.1
BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisa Hidraulik dengan Menggunakan Pemodelan HEC-RAS Dalam mempelajari fenomena perilaku hidraulika aliran di dalam saluran/kali, diperlukan suatu simulasi/analisa
Bab III HIDROLIKA. Sub Kompetensi. Memberikan pengetahuan tentang hubungan analisis hidrolika dalam perencanaan drainase
Bab III HIDROLIKA Sub Kompetensi Memberikan pengetahuan tentang hubungan analisis hidrolika dalam perencanaan drainase 1 Analisis Hidraulika Perencanaan Hidraulika pada drainase perkotaan adalah untuk
BAB I PENDAHULUAN. bawah tanah atau disebut sebagai underground river, misalnya sungai bawah tanah di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sungai merupakan suatu aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Berdasarkan perletakkan sungai,
Rencana Pengendalian Banjir di Saluran Sekunder Rungkut Barata dan Rungkut Menanggal Kota Surabaya
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Volume 15, Nomor 1, Pebruari 2017 Rencana Pengendalian Banjir di Saluran Sekunder Rungkut Barata dan Rungkut Menanggal Kota Surabaya Ivanda Kurnianto, S. Kamilia Aziz Departemen
ANALISIS KAPASITAS DRAINASE PRIMER PADA SUB- DAS SUGUTAMU DEPOK
ANALISIS KAPASITAS DRAINASE PRIMER PADA SUB- DAS SUGUTAMU DEPOK Mona Nabilah 1 Budi Santosa 2 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Gunadarma, Depok 1 [email protected],
Perencanaan Sistem Drainase Pembangunan Hotel di Jalan Embong Sawo No. 8 Surabaya
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (013) 1-6 1 Perencanaan Sistem Drainase Pembangunan Hotel di Jalan Embong Sawo No. 8 Surabaya Tjia An Bing, Mahendra Andiek M, Fifi Sofia Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
Analisis Drainasi di Saluran Cakung Lama Akibat Hujan Maksimum Tahun 2013 dan 2014
JURNAL ILMIAH SEMESTA TEKNIKA Vol. 17, No. 2, 91-97, Nov 214 91 Analisis Drainasi di Saluran Cakung Lama Akibat Hujan Maksimum Tahun 213 dan 214 (Micro Drainage Analysis in Cakung Lama River Due to The
TATA CARA PEMBUATAN RENCANA INDUK DRAINASE PERKOTAAN
1. PENDAHULUAN TATA CARA PEMBUATAN RENCANA INDUK DRAINASE PERKOTAAN Seiring dengan pertumbuhan perkotaan yang amat pesat di Indonesia, permasalahan drainase perkotaan semakin meningkat pula. Pada umumnya
KAJIAN GENANGAN BANJIR SUNGAI MUKE DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DAN UPAYA PENGENDALIANYA
Forum Teknik Sipil No. XVIII/2-Mei 2008 811 KAJIAN GENANGAN BANJIR SUNGAI MUKE DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DAN UPAYA PENGENDALIANYA Priska G. Nahak 1), Istiarto 2), Bambang
BAB IV HASIL DAN ANALISIS
BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 PENGOLAHAN DATA HIDROLOGI 4.1.1 Data Curah Hujan Curah hujan merupakan data primer yang digunakan dalam pengolahan data untuk merencanakan debit banjir. Data ini diambil dari
Studi Penanggulangan Banjir Kali Lamong Terhadap Genangan di Kabupaten Gresik
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No., (1) ISSN: 337-3539 (31-971 Print) C-35 Studi Penanggulangan Banjir Kali Lamong Terhadap Genangan di Kabupaten Gresik Gemma Galgani Tunjung Dewandaru, dan Umboro Lasminto
BAB 4 HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
digilib.uns.ac.id 4.1. Analisis Hidrologi BAB 4 HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1.1. Data Curah Hujan Harian Maksimum Data curah hujan yang digunakan untuk analisis hidrologi DAS Gadangan adalah dari dua
Widi Setyogati, M.Si
Widi Setyogati, M.Si Pengertian Tambak : salah satu wadah budidaya perairan dengan kualitas air cenderung payau/laut, biasanya terdapat di pesisir pantai Tambak berdasarkan sistem pengelolaannya terbagi
BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH. curah hujan ini sangat penting untuk perencanaan seperti debit banjir rencana.
BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH A. Intensitas Curah Hujan Menurut Joesron (1987: IV-4), Intensitas curah hujan adalah ketinggian curah hujan yang terjadi pada suatu kurun waktu. Analisa intensitas
Bab V Analisa dan Diskusi
Bab V Analisa dan Diskusi V.1 Pemilihan data Pemilihan lokasi studi di Sungai Citarum, Jawa Barat, didasarkan pada kelengkapan data debit pengkuran sungai dan data hujan harian. Kalibrasi pemodelan debit
STUDI PENGENDALIAN BANJIR KOTA TEMBILAHAN KABUPATEN INDRAGIRI HILIR
STUDI PENGENDALIAN BANJIR KOTA TEMBILAHAN KABUPATEN INDRAGIRI HILIR Tania Edna Bhakty 1 dan Nur Yuwono 2 1Jurusan Sipil Fakultas Teknik, Universitas Janabadra, Yogyakarta Email: [email protected] 2
DRAINASE LAHAN PERTANIAN
DRAINASE LAHAN PERTANIAN ASEP SAPEI DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN IPB (Asep Sapei, 2017) 1 PENDAHULUAN DEFINISI DRAINASE: TINDAKAN MEMBUANG AIR LEBIH (DI PERMUKAAN TANAH ATAU DI DALAM TANAH/DAERAH
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR. PERENCANAAN JARINGAN DRAINASE SUB SISTEM BANDARHARJO BARAT (Drainage Design of West Bandarharjo Sub System)
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JARINGAN DRAINASE SUB SISTEM BANDARHARJO BARAT (Drainage Design of West Bandarharjo Sub System) DISUSUN OLEH : A. THEDY EKO HARYONO NIM. L2A303001 FIRMAN ERDIANTO
Studi Penanggulangan Banjir Kali Lamong Terhadap Genangan Di Kabupaten Gresik
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (1) 1-1 Studi Penanggulangan Banjir Kali Lamong Terhadap Genangan Di Kabupaten Gresik Gemma Galgani T. D., Umboro Lasminto Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil
PERENCANAAN SISTEM DRAINASE SEGOROMADU 2 GRESIK
PERENCANAAN SISTEM DRAINASE SEGOROMADU 2 GRESIK VIRDA ILLYINAWATI 3110100028 DOSEN PEMBIMBING: PROF. Dr. Ir. NADJAJI ANWAR, Msc YANG RATRI SAVITRI ST, MT JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA SURVEI
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA SURVEI 4.1 GAMBARAN UMUM KOTA SEMARANG Kota Semarang secara geografis terletak pada koordinat 6 0 50-7 0 10 Lintang Selatan dan garis 109 0 35-110 0 50 Bujur Timur
BAB III METODOLOGI. 3.2 Pengumpulan Data
BAB III METODOLOGI 3.1 Tinjauan Umum Perencanaan muara sungai diawali dengan melakukan survey dan investigasi di lokasi yang bersangkutan untuk memperoleh data perencanaan yang lengkap dan teliti. Metodologi
PERENCANAAN IRIGASI DAN BANGUNAN AIR YOGI OKTOPIANTO
PERENCANAAN IRIGASI DAN BANGUNAN AIR YOGI OKTOPIANTO 6309875 FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS GUNADARMA DEPOK 20 BAB I PENDAHULUAN.. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan
STUDI EVALUASI SISTEM DRAINASE JALAN AW.SYAHRANI KOTA SANGATTA KABUPATEN KUTAI TIMUR
STUDI EVALUASI SISTEM DRAINASE JALAN AW.SYAHRANI KOTA SANGATTA KABUPATEN KUTAI TIMUR Syupri Riyanto Program Studi Teknik Sipil FTS, Universitas Narotama Surabaya e-mail: [email protected] ABSTRAK Secara
TUJUAN PEKERJAAN DRAINASE
DRAINASE PERKOTAAN TUJUAN PEKERJAAN DRAINASE Sistem drainase perkotaan : adalah prasarana perkotaan yang terdiri dari kumpulan sistem saluran, yang berfungsi mengeringkan lahan dari banjir / genangan akibat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pencapaian penelitian secara optimal sangat ditentukan pada kadar pemahaman
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Pendekatan Pencapaian penelitian secara optimal sangat ditentukan pada kadar pemahaman dalam pelaksanaan kajian, sehingga dengan demikian bahwa pola pendekatan dalam
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini berada pada saluran drainase sekunder komplek boulevard hijau, kelurahan pejuang, kecamatan medan satria, bekasi utara.yang dimana
Untuk mengkaji perilaku sedimentasi di lokasi studi, maka dilakukanlah pemodelan
BAB IV PEMODELAN MATEMATIKA PERILAKU SEDIMENTASI 4.1 UMUM Untuk mengkaji perilaku sedimentasi di lokasi studi, maka dilakukanlah pemodelan matematika dengan menggunakan bantuan perangkat lunak SMS versi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. daerah sekitar hilir Sungai. Banjir yang terjadi dapat mengakibatkan kerugian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Umum Banjir merupakan salah satu masalah lingkungan yang sering terjadi di lingkungan daerah sekitar hilir Sungai. Banjir yang terjadi dapat mengakibatkan kerugian. Diakibatkan
BAB III METODOLOGI
BAB III METODOLOGI 3.1 TAHAP PERSIAPAN Dalam tahap persiapan ini disusun hal-hal penting yang harus segera dilakukan dengan tujuan untuk mengefektifkan waktu dan pekerjaan. Dalam tahap persiapan ini meliputi
