BAB V HASIL PENELITIAN
|
|
|
- Suhendra Hermawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB V HASIL PENELITIAN Hasil penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara asertivitas dengan perilaku seksual pranikah dengan menggunakan teknik analisis korelasi Product Moment. Sebelum melakukan penghitungan terhadap hipotesis tersebut, maka perlu dilakukan uji normalitas penelitian dan uji linieritas hubungan variabel bebas dan variabel tergantung. A. Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Data setiap variabel diuji normalitasnya dengan menggunakan program Statistical Packages for Social Sciences (SPSS) Release Penghitungan normalitas dilakukan dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test. Hasil uji normalitas pada variabel perilaku seksual pranikah menunjukkan nilai K-S Z sebesar 0,463 dengan p>0,05. Uji normalitas pada variabel asertivitas menghasilkan K-S Z sebesar 0,816 dengan p>0,05. Uji asumsi yang telah dilakukan ini, menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki sebaran data yang normal. Hasil uji normalitas selengkapnya dapat dilihat pada lampiran E Uji Linieritas Uji linieritas ini dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel yang ada. Variabel asertivitas dan perilaku seksual pranikah 42
2 43 memiliki hubungan dengan nilai F hitung sebesar 15,256 dengan p<0,05 yang berarti bahwa hubungan antara asertivitas dengan perilaku seksual pranikah adalah hubungan linier. Hasil uji linieritas selengkapnya dapat dilihat pada lampiran E-2. B. Uji Hipotesis Setelah dilakukan uji asumsi, maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis, yaitu untuk menguji hubungan antara asertivitas dengan perilaku seksual pranikah digunakan teknik korelasi Product Moment dengan menggunakan program SPSS 13,00. Hasil uji korelasi product moment yang menguji hubungan antara asertivitas dengan perilaku seksual pranikah menghasilkan nilai r xy sebesar -0,521 dengan p<0,01, artinya ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara asertivitas dengan perilaku seksual pranikah. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima yaitu ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara asertivitas dengan perilaku seksual pranikah. Semakin tinggi asertivitas yang dimiliki mahasiswi, semakin rendah perilaku seksual pranikahnya, demikian pula sebaliknya. C. Pembahasan Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Andriani (2006, h.69) yang menemukan hasil bahwa terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara perilaku asertif dengan penolakan perilaku seksual remaja putri. Leauner dan Spiner
3 44 (dalam Andriani, 2006, h.69) menyatakan bahwa adanya asertivitas yang tinggi akan mendorong individu untuk menjaga perilaku seksualnya. Hal ini dikarenakan sikap asertivitas yang tinggi akan membuat individu tidak mudah terpengaruh secara emosional dan tetap mampu bertahan pada jalur yang benar meskipun menghadapi rayuan dari orang lain, dalam hal ini rayuan pacar atau teman untuk melakukan perilaku seksual. Asertivitas atau perilaku asertif adalah perilaku yang menampilkan keberanian untuk secara jujur dan terbuka menyatakan kebutuhan, perasaan dan pikiran-pikiran apa adanya tanpa menyakiti orang lain (Sumintardja dalam Prabowo, 2000, h.12). Menurut Levinson (dalam Andriani, 2006, h.70) individu yang memiliki asertivitas yang tinggi tidak mudah terpengaruh meskipun dalam kondisi tertekan, oleh karenanya remaja yang memiliki asertivitas yang tinggi cenderung tidak mudah terpengaruh oleh ajakan atau terprovokasi, termasuk dalam mengekpresikan perilaku seksualnya. Asertivitas yang dimiliki mahasiswi membuat dirinya mampu mempertahankan hak-hak pribadi tanpa merugikan orang lain, sehingga mahasiswi tidak takut dalam menolak pacarnya ketika sang pacar mengajak untuk melakukan perilaku seksual pranikah. Akibatnya mahasiswi dapat terhindar dari perilaku seksual pranikah karena dirinya berani menolak pacarnya jika sang pacar memaksa atau terus merayu untuk melakukan perilaku seksual pranikah. Berbeda dengan mahasiswi yang kurang memiliki asertivitas, dirinya kurang berani mempertahankan hak-haknya. Akibatnya mahasiswi diam saja dan tidak
4 45 berani mengatakan kepada pacarnya untuk tidak melakukan perilaku seksual pranikah. Mahasiswi yang memiliki asertivitas tinggi akan mampu mengekspresikan diri, sehingga dapat mengungkapkan perasaannya ketika pacarnya mengajak melakukan hubungan seksual. Ketika mahasiswi telah menyampaikan perasaannya kepada sang pacar, maka ada kemungkinan sang pacar mau memahami perasaan mahasiswi sehingga mereka mengurungkan niat untuk melakukan perilaku seksual pranikah. Kemampuan tersebut membuat mahasiswi dapat terhindar dari perilaku seksual pranikah. Berbeda dengan mahasiswi yang kurang memiliki asertivitas, dirinya kurang berani mengutarakan perasaannya. Akibatnya mahasiswi menjadi pasrah terhadap perlakuan yang diberikan oleh pacarnya sekalipun perlakuan tersebut seperti perilaku seksual pranikah tidak diinginkan oleh mahasiswi. Melalui penghitungan statistik diketahui bahwa ciri-ciri asertivitas yang paling kuat korelasinya dengan perilaku seksual pranikah adalah mau mendengarkan dan berbicara, yang ditunjukkan dengan nilai korelasi sebesar -0,383 dengan p<0,01. Hal di atas menunjukkan bahwa mahasiswi yang memiliki ciri asertivitas yang ditunjukkan dengan adanya mau mendengarkan dan berbicara, dirinya mau mendengarkan keluhan dari orang lain dan mau membicarakan segala hal yang dirasakannya (Imran, 2000, h.97). Hal tersebut tercermin pada mahasiswi yang mau mendengarkan teman yang sedang menceritakan masalahnya, dan mau membicarakan permasalahan yang sedang dialami. Giblin (2010, h.21) mengatakan
5 46 bahwa semakin seseorang mendengarkan, dirinya akan semakin pandai dan semakin disukai orang lain. Seorang pendengar yang baik selalu berhasil jauh melampaui seorang pembicara yang baik dalam hal mendapatkan afeksi. Pendapat di atas menunjukkan bahwa jika mahasiswi dapat mendengar dengan baik, maka dirinya menjadi disukai dan mendapat penghargaan secara afeksi oleh orang lain termasuk pacarnya. Hal tersebut mengakibatkan pacarnya bisa menghargai penolakan mahasiswi terhadap ajakan hubungan seksual. Demikian pula pada ciri yang mau membicarakan topik atau masalah orang lain. Giblin (2010, h.8) mengatakan bahwa jika seseorang dapat mengarahkan orang lain untuk membicarakan diri mereka, maka orang lain dapat sangat menyukai seseorang tersebut. Mengacu pada pendapat ini maka dapat dikatakan pula bahwa mahasiswi yang mau membicarakan masalah atau topik orang lain maupun pacarnya, maka sang pacar menjadi suka dan akibatnya sang pacar tersebut dapat lebih menghargai mahasiswi dengan tidak memaksa untuk melakukan hubungan seksual pranikah. Adanya asertivitas pada ciri tersebut maka dirinya dapat terhindar dari perilaku seksual pranikah. Berdasarkan penghitungan statistik diketahui pula bahwa ciri-ciri asertivitas yang cukup kuat korelasinya dengan perilaku seksual pranikah adalah mengekspresikan perasaan positif dan negatif, yang ditunjukkan dengan nilai korelasi sebesar -0,380 dengan p<0,01. Melalui penghitungan statistik di atas diketahui bahwa mahasiswi yang memiliki ciri asertivitas yang ditunjukkan dengan adanya mampu mengekspresikan perasaan positif dan negatif, dirinya dapat
6 47 mengungkapkan kepada orang lain mengenai perasaan yang sedang dialaminya (Imran, 2000, h.97). Ekspresi perasaan tersebut seperti ketika dirinya bersedih dan ingin menangis, maka dirinya mau meluapkan perasaan tersebut kepada pacarnya sehingga sang pacar dapat memahami perasaan mahasiswi tersebut. Adanya hal tersebut maka membuat sang pacar akan lebih menjaga sikap dan perilakunya terhadap mahasiswi agar tidak melukai perasaannya, termasuk sang pacar akan menjaga perilaku dengan tidak memaksa mengajak mahasiswi untuk berhubungan seksual. Kebiasaan mahasiswi dalam mengekspresikan perasaan kepada pacarnya, membuat mahasiswi menjadi lebih mudah dalam menolak keinginan sang pacar yang bertentangan dengan dirinya. Hal tersebut mengakibatkan mahasiswi menjadi berani mengatakan tidak kepada pacarnya ketika sang pacar mengajak melakukan hubungan seksual. Adanya asertivitas pada ciri tersebut maka dirinya dapat terhindar dari perilaku seksual pranikah. Ciri dari asertivitas yang tidak berkorelasi dengan perilaku seksual pranikah adalah ciri menghargai diri sendiri dan orang lain, yang ditunjukkan dengan nilai korelasi sebesar -0,222 dengan p>0,05. Hasil di atas dapat dijelaskan karena ciri menghargai diri sendiri dan orang lain pada variabel asertivitas mengandung arti bahwa seseorang dapat mempertahankan pendapat sekaligus tetap menghormati orang lain dan peka terhadap kebutuhan orang lain (Book dan Stein, 2002, h.91). Hal tersebut dapat mengakibatkan mahasiswi justru menjadi toleran terhadap sang pacar ketika mengajak dirinya untuk melakukan hubungan seksual
7 48 karena mahasiswi justru memiliki kepekaan terhadap kebutuhan sang pacar akan keinginan untuk melakukan hubungan seksual. Alasan yang lainnya adalah pada contoh item ciri ini seperti, a) Saya tidak berlarut-larut menyalahkan diri ketika mengalami kegagalan, dan b) Saya sulit menerima pendapat teman ketika sedang bekerja kelompok. Pada item tersebut tidak mengandung nilai-nilai yang berhubungan dengan norma yang melarang tindakan seksual pranikah, sehingga mengakibatkan pada ciri asertivitas yang ini tidak berkorelasi dengan perilaku seksual pranikah. Pengaruh asertivitas terhadap perilaku seksual pranikah dapat dilihat pada sumbangan efektif (SE) yang diberikan sebesar 27,1%, sisanya 72,9% merupakan faktor-faktor lain seperti faktor internal terdiri dari faktor peningkatan dorongan seksual, penundaan usia perkawinan, ketaatan beragama atau pemahaman dan penghayatan nilai-nilai keagamaan, pengalaman seksual, kepribadian, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, citra diri, kontrol diri. Faktor eksternal meliputi faktor pergaulan yang semakin bebas, dan faktor berfungsinya keluarga.
8 49 Tabel 11 Distribusi Responden dan Prosentase Berdasarkan 9 Tahapan Perilaku Seksual yang Pernah Dilakukan Tahap-tahap Perilaku Seksual Pranikah Pegangan tangan Pelukan ringan Cium kening Cium pipi Cium bibir Cium leher Meraba payudara dan daerah kelamin Menempelkan alat kelamin atau payudara (Petting) Bersenggama Tidak Pernah / Jarang Sering Kategori Sangat Sering Total F (%) F (%) F (%) F (%) 7 16, ,1 8 18, , ,8 1 2, , ,4 4 9, , ,8 1 2, , ,8 1 2, ,4 5 11, , ,7 2 4, , ,4 4 9, , , Tabel 12 Distribusi Responden dan Prosentase Perilaku Seksual Pranikah Kategori Perilaku Seksual Pranikah Tidak Pernah / Jarang Sering Sangat Sering Total F (%) F (%) F (%) F (%) Total 1 2, ,4 4 9,
9 50 Berdasarkan hasil perhitungan di atas, diketahui bahwa kategori perilaku seksual pranikah pada subjek tergolong sering yang ditunjukkan dengan adanya 38 dari 43 subjek (88,4%). Pada tahap bersenggama juga tergolong sering yaitu sebanyak 37 dari 43 subjek (86%). Hasil penelitian ini memiliki kategori perilaku seksual pranikah yang tinggi seperti halnya data-data yang ditemukan oleh Survei Komnas PA di 33 Provinsi (Januari-Juni 2008) yang menemukan bahwa terdapat 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno, 93,7% remaja SMP dan SMA pernah berciuman, genital stimulation, dan oral seks. Remaja SMP yang mengaku sudah tidak perawan sebanyak 62,7% dan yang pernah melakukan aborsi adalah 21,2%.
#### Selamat Mengerjakan ####
Apakah Anda Mahasiswi? Ya / Bukan (Lingkari Salah Satu) Apakah Anda tinggal di rumah kos / kontrak di sekitar Unika Semarang? Ya / Tidak (Lingkari Salah Satu) Apakah saat ini Anda memiliki pacar? Ya /
Tanggal : Pendidikan : Usia : Tinggal dengan Ortu : Jenis Kelamin : Mempunyai Pacar : Ya / Tidak * PETUNJUK PENGISIAN SKALA
Tanggal : Pendidikan : Usia : Tinggal dengan Ortu : Jenis Kelamin : Mempunyai Pacar : Ya / Tidak * Mengikuti Pendidian Seksualitas : Ya / Tidak * *) Coret yang tidak perlu PETUNJUK PENGISIAN SKALA 1. Bacalah
BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Remaja adalah mereka yang berusia diantara tahun dan merupakan
1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Remaja adalah mereka yang berusia diantara 10-24 tahun dan merupakan salah satu kelompok populasi terbesar yang apabila dihitung jumlahnya berkisar 30% dari jumlah
KUESIONER PENELITIAN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA
KUESIONER PENELITIAN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA HUBUNGAN ANTARA PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP PERILAKU PACARAN PADA REMAJA DI SMA PATRIOT BEKASI TAHUN 2008 (SANGAT RAHASIA)
BAB V PEMBAHASAN. 1) Prokrastinasi Akademik. Kolmogorov Smirnov Z dengan bantuan Statistcal. Packages for Social Sciences (SPSS) Release 16.0.
36 BAB V PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil penelitian untuk mengetahui prokrastinasi akademik pada pelajar SMP ditinjau dari konformitas teman sebaya adalah sebagai berikut: 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pada perkembangan zaman saat ini, perilaku berciuman ikut dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada perkembangan zaman saat ini, perilaku berciuman ikut dalam mempengaruhi perilaku seksual berpacaran pada remaja. Hal ini tentu dapat dilihat bahwa hal-hal
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. apabila P > 0,05 dan diperoleh hasil sebagai berikut:
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data memiliki distribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Kolmogorov
Perpustakaan Unika LAMPIRAN
LAMPIRAN A. SKALA PENELITIAN A-1. Skala Perilaku Seksual Pranikah Remaja Putri A-1. Skala Peran Ayah dalam Pendidikan Seksualitas A-1. Skala Perilaku Seksual Pranikah Remaja Putri No : Petunjuk Pengisian
BAB 1 : PENDAHULUAN. produktif. Apabila seseorang jatuh sakit, seseorang tersebut akan mengalami
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hal yang menjadi sebuah kebutuhan dan paling penting dalam hidup seseorang agar dapat menjalani kehidupan secara aktif dan produktif. Apabila
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik maupun
BAB I PENDAHULUAN. berbagai tantangan dan masalah karena sifatnya yang sensitif dan rawan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja ialah suatu waktu kritis seseorang dihadapkan pada berbagai tantangan dan masalah karena sifatnya yang sensitif dan rawan menyangkut moral, etika, agama,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Cinta dan seksual merupakan salah satu permasalahan yang terpenting yang dialami oleh remaja saat ini. Perasaan bersalah, depresi, marah pada gadis yang mengalami
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dimana pada masa ini akan terjadi perubahan fisik, mental, dan psikososial yang cepat
HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA PUTRI. Skripsi
HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA PUTRI Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan oleh : Putri Nurul Falah F 100
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Uji Asumsi Sebelum dilakukan uji hipotesis, dilakukan uji asumsi data hasil penelitian tersebut. Setelah dilakukan uji asumsi berupa uji normalitas dan linieritas selanjutnya
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
39 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Data setiap variabel diuji normalitasnya dengan menggunakan program Statistical Packages for Social Sciences (SPSS) Release 13.0.
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Masa remaja merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang disertai dengan berbagai perubahan baik secara fisik, psikis, maupun
BAB 1 PENDAHULUAN. ketertarikan mereka terhadap makna dari seks (Hurlock, 1997). media cetak maupun elektronik yang berbau porno (Dianawati, 2006).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seksualitas merupakan topik yang sangat menarik bagi remaja. Hal tersebut dikarenakan remaja mengalami perubahan-perubahan hormonal seksual di dalam diri mereka
BAB V HASIL PENELITIAN
BAB V HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi Uji asumsi dilakukan sebelum uji hipotesis. Uji asumsi terdiri dari uji normalitas dan uji linieritas. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat mengetahui
Nomor : PETUNJUK PENGISIAN
Nomor : PETUNJUK PENGISIAN 1. Bacalah pernyataan-pernyataan pada lembar berikut, kemudian jawablah dengan sungguh-sungguh sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 2. Jawablah semua nomor dan usahakan jangan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terjadinya peningkatan minat dan motivasi terhadap seksualitas. Hal ini dapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu fenomena kehidupan remaja yang sangat menonjol adalah terjadinya peningkatan minat dan motivasi terhadap seksualitas. Hal ini dapat terjadi, karena
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Analisis Deskriptif Penelitian ini dilakukan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Desember 2016. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja dikenal sebagai masa peralihan dari anak-anak menuju
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja dikenal sebagai masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa remaja tidak dapat dikatakan sebagai orang dewasa dan tidak dapat pula dikatakan
BAB 1 PENDAHULUAN. jumlah remaja dan kaum muda berkembang sangat cepat. Antara tahun 1970 dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sekitar 1 miliar manusia atau setiap 1 diantara 6 penduduk dunia adalah remaja. Sebanyak 85% di antaranya hidup di negara berkembang. Di indonesia, jumlah remaja dan
BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang merupakan salah satu faktor yang memiliki peran besar dalam menentukan tingkat pertumbuhan penduduk
BAB I PENDAHULUAN. yang lebih dikenal dengan International Conference on Population and
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia, batasan remaja tentang pemuda adalah usia 15-24 tahun. Data kependudukan Indonesia jumlah penduduk tahun 2009 adalah 213.375.287 jiwa, sedangkan jumlah
BAB I PENDAHULUAN. dari 33 menjadi 29 aborsi per wanita berusia tahun. Di Asia
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Tingkat aborsi tahunan di Asia berkurang antara tahun 1995 dan 2003 dari 33 menjadi 29 aborsi per 1.000 wanita berusia 15 44 tahun. Di Asia Timur, tingkat
LAMPIRAN A SKALA UJI COBA A-1. PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH
57 LAMPIRAN A SKALA UJI COBA A-1. PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH REMAJA AKHIR A-2. KEDEWASAAN 58 A-1. PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH REMAJA AKHIR 59 NO PERNYATAAN SS S TS STS 1. Saya senang membaca majalah dan komik
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. analisis statistik dengan menggunakan product moment dari Pearson.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Uji asumsi normalitas dan linearitas akan dilakukan sebelum analisis statistik dengan menggunakan product moment dari Pearson. 1. Uji Asumsi Dalam uji asumsi
BAB IV HASIL PENELITIAN. remaja ini terbagi di SMKN 1, SMKN 2, SMKN 5, SMA Mataram, SMA
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Orientasi dan Kancah Penelitian Penelitian ini dilakukan pada remaja berusia 17-21 tahun. Para remaja ini terbagi di SMKN 1, SMKN 2, SMKN 5, SMA Mataram, SMA Ksatrian dan di
BAB 1 PENDAHULUAN. sampai 19 tahun. Istilah pubertas juga selalu menunjukan bahwa seseorang sedang
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia pasti melewati beberapa fase perkembangan, salah satunya yaitu fase remaja. Fase atau masa remaja adalah masa dimana anak berusia 12 sampai 19 tahun.
BAB V HASIL PENELITIAN. uji linieritas hubungan variabel bebas dan tergantung. diuji normalitasnya dengan menggunakan program Statistical
BAB V HASIL PENELITIAN A. Uji Asumsi Setelah semua data penelitian diperoleh, maka dilakukan uji asumsi sebagai syarat untuk melakukan analisis data. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas sebaran
BAB V HASIL PENELITIAN. Berdasarkan data valid kepercayaan diri remaja dan prestasi belajar
BAB V HASIL PENELITIAN Berdasarkan data valid kepercayaan diri remaja dan prestasi belajar (hasil rapor), maka dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian dengan menggunakan teknik analisis korelasi
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi Sebelum menggunakan teknik analisis korelasi product moment untuk uji hipotesis, maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi terdiri
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pentingnya perilaku asertif bagi setiap individu adalah untuk memenuhi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pentingnya perilaku asertif bagi setiap individu adalah untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginan dan keinginan, misalnya dalam bersosialisasi dengan lingkungan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. tidaknya sebaran skor variable serta linier atau tidaknya hubungan. antara variabel bebas dengan variabel tergantungnya.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi Uji asumsi dilaksanakan terlebih dahulu sebelum melakukan uji hipotesis. Uji asumsi ini menyangkut normalitas dan linieritas yang digunakan
BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai pengenalan akan hal-hal baru sebagai bekal untuk mengisi kehidupan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masa remaja adalah masa yang penuh gejolak, masa yang penuh dengan berbagai pengenalan akan hal-hal baru sebagai bekal untuk mengisi kehidupan mereka kelak. Kehidupan
BAB V HASIL PENELITIAN
BAB V HASIL PENELITIAN Pengujian terhadap hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasi Product Moment untuk mencari hubungan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku agresif
BAB III METODE PENELITIAN. ataupun signifikansi perbedaan kelompok (Azwar, Metode Penelitian, 1. Variabel tergantung : Perilaku seksual
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian yang Digunakan Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada SMP X di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi
35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan pada SMP X di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Dan waktu penelitian dilakukan pada bulan November 2014
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada masa transisi yang terjadi di kalangan masyarakat, secara khusus
16 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada masa transisi yang terjadi di kalangan masyarakat, secara khusus remaja seakan-akan merasa terjepit antara norma-norma yang baru dimana secara sosiologis, remaja
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja adalah suatu tahap peralihan antara masa anak-anak dengan masa dewasa. Lazimnya masa remaja dimulai saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir
HUBUNGAN ANTARA PENALARAN MORAL DAN GAYA PACARAN DENGAN KECENDERUNGAN MEMBELI KONDOM PADA REMAJA SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA PENALARAN MORAL DAN GAYA PACARAN DENGAN KECENDERUNGAN MEMBELI KONDOM PADA REMAJA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat S-1 Diajukan oleh : Rita Sugiharto Putri
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia. Tahap ini
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia. Tahap ini merupakan tahap yang kritis, karena merupakan tahap transisi dari masa kanakkanak ke masa
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Setelah data terkumpul dan siap diolah dan dianalisis, maka dilanjutkan dengan melakukan uji asumsi yaitu uji normalitas dan uji linearitas. Jika asumsi telah
Lampiran I. Permohonan Menjadi Responden. Dengan Hormat,
LAMPIRAN 63 64 Lampiran I. Permohonan Menjadi Responden Dengan Hormat, Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Didik Iman Margatot NIM : 20120320040 Alamat : Jl. Tegalrejo, Gg. Mawar, no. 74, Kasihan,
PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA SISWA SMA NEGERI 1 PALU Oleh: Rizal Haryanto 18, Ketut Suarayasa 29,
PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA SISWA SMA NEGERI 1 PALU Oleh: Rizal Haryanto 18, Ketut Suarayasa 29, 9 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menilai bagaimana tingkat pengetahuan, sikap, dan aktivitas
BAB I PENDAHULUAN. data BkkbN tahun 2013, di Indonesia jumlah remaja berusia tahun sudah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penduduk remaja adalah bagian dari penduduk dunia dan memiliki sumbangan teramat besar bagi perkembangan dunia. Remaja dan berbagai permasalahannya menjadi perhatian
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masa remaja ini disebut sebagai masa penghubung atau masa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja ini disebut sebagai masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada periode ini terjadi perubahan-perubahan besar
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
37 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi Uji Asumsi dilakukan sebelum melakukan uji hipotesis, uji asumsi ini terdiri dari uji normalitas dan uji linieritas. Tujuan dari uji asumsi
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis dan diolah terlebih dahulu dengan menggunakan uji asumsi, yaitu uji normalitas dan uji linearitas.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. WHO mendefinisikan, masa remaja (adolence) mulai usia 10 tahun sampai 19
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Masa remaja merupakan satu masa dalam perkembangan hidup manusia. WHO mendefinisikan, masa remaja (adolence) mulai usia 10 tahun sampai 19 tahun, sedangkan masa
BAB 1 PENDAHULUAN. manusia yang didalamnya penuh dengan dinamika. Dinamika kehidupan remaja ini
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masa remaja merupakan suatu masa yang menjadi bagian dari kehidupan manusia yang didalamnya penuh dengan dinamika. Dinamika kehidupan remaja ini akan sangat berpengaruh
BAB I PENDAHULUAN. Perilaku seksual khususnya kalangan remaja Indonesia sungguh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perilaku seksual khususnya kalangan remaja Indonesia sungguh memperihatinkan, berbagai survey mengindikasikan bahwa praktik seks pranikah di kalangan remaja semakin
BAB I PENDAHULUAN. tampak pada pola asuh yang diterapkan orang tuanya sehingga menjadi anak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa yang sangat penting dan krisis sehingga memerlukan dukungan serta pengarahan yang positif dari keluarganya yang tampak pada pola asuh yang
Hubungan Persepsi Kesehatan Reproduksi Dengan Sikap Terhadap Perilaku Seksual Pranikah Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma.
Hubungan Persepsi Kesehatan Reproduksi Dengan Sikap Terhadap Perilaku Seksual Pranikah Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. Riski Tri Astuti Dr. Awaluddin Tjalla Fakultas Psikologi
HUBUNGA SEKSUAL SKRIPSII. Diajukan Oleh: F HUBUNGA
HUBUNGA N ANTARAA KETERBUKAAN KOMUNIKASI SEKSUAL REMAJA DENGAN ORANG TUA DALAM PERILAKU SEKS PRANIKAH SKRIPSII Diajukan Oleh: BUNGA MARLINDA F 100 060 163 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
BAB I PENDAHULUAN. seks mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan seksnya, mereka
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa remaja disebut masa persiapan untuk menempuh masa dewasa. Taraf perkembangan ini pada umumnya disebut masa pancaroba atau masa peralihan dari masa anak-anak
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tersebut terjadi akibat dari kehidupan seksual remaja yang saat ini semakin bebas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman membawa masalah seks tidak lagi tabu untuk dibahas dan diperbincangkan oleh masyarakat khusunya di kalangan remaja. Hal tersebut terjadi akibat
BAB IV HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Subjek Penelitian 4.1.1 Lokasi Penelitian SMA Kristen 1 Salatiga merupakan salah satu SMA Swasta favorit yang ada di kota Salatiga. SMA Kristen 1 Salatiga
BAB 1 PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan antara anak-anak yang dimulai saat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa remaja merupakan masa peralihan antara anak-anak yang dimulai saat kematangan seksual yaitu antara usia 11 sampai 13 tahun sampai dengan 20 tahun, yaitu masa menjelang
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan fisik, perilaku, kognitif, biologis serta emosi (Efendi &
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Remaja mengalami perkembangan yang terus berlangsung meliputi perkembangan fisik, perilaku, kognitif, biologis serta emosi (Efendi & Makhfudly, 2009). Perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. (Soetjiningsih, 2004). Masa remaja merupakan suatu masa yang menjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap negara pastilah menginginkan sebuah generasi penerus yang berkualitas dan mampu membawa bangsa dan negaranya menuju kesejahteraan. Harapan itu bisa terlihat pada
BAB I PENDAHULUAN. atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Notoatmodjo (2007) masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi Uji asumsi harus terlebih dahulu dilakukan sebelum melakukan uji hipotesis. Uji asumsi ini terdiri dari uji normalitas, uji linieritas, dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanan menuju masa dewasa.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia mengalami proses perkembangan secara bertahap, dan salah satu periode perkembangan yang harus dijalani manusia adalah masa remaja. Masa remaja merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa. reproduksi sehingga mempengaruhi terjadinya perubahan perubahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, dimana pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat termasuk fungsi reproduksi sehingga mempengaruhi
BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa yang jangka waktunya berbeda-beda tergantung faktor sosial budaya, yang berjalan antara umur 12
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Di seluruh dunia, lebih dari 1,8 miliar. penduduknya berusia tahun dan 90% diantaranya
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Di seluruh dunia, lebih dari 1,8 miliar penduduknya berusia 10-24 tahun dan 90% diantaranya tinggal di negara berkembang (PBB, 2013). Hasil Sensus Penduduk tahun 2010
SKRIPSI. Proposal skripsi. Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S-1 Kesehatan Masyarakat
SKRIPSI HUBUNGAN SUMBER INFORMASI DAN PENGETAHUAN TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA REMAJA DI SMP MUHAMMADIYAH 7 SURAKARTA TAHUN 2011 Proposal skripsi Skripsi ini Disusun untuk
BAB I PENDAHULUAN. dapat diabaikan dalam kehidupan manusia. Namun demikian, orang tua masih
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah perilaku seksual pada remaja saat ini menjadi masalah yang tidak dapat diabaikan dalam kehidupan manusia. Namun demikian, orang tua masih menganggap tabu untuk
KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG PERILAKU SEKSUAL DI SMK PENCAWAN MEDAN TAHUN 2014
KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG PERILAKU SEKSUAL DI SMK PENCAWAN MEDAN TAHUN 2014 I. Identitas Responden No.Responden : Jenis kelamin : Umur : Alamat rumah : Uang saku/bulan : II.
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja ditandai dengan perubahan-perubahan fisik pubertas dan emosional yang kompleks,
BAB V ANALISI DATA DAN HASIL PENELITIAN
BAB V ANALISI DATA DAN HASIL PENELITIAN A. Analisis Data Subjek yang sesuai dengan karakteristik penelitian berjumlah 30 orang. Setelah memperoleh data yang diperlukan, maka dilakukan pengujian hipotesis
KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN SIKAP REMAJA TENTANG
0 KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN SIKAP REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DI SMA FUTUHIYYAH MRANGGEN DEMAK TAHUN 2011 Karya Tulis Ilmiah ini
