PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
|
|
|
- Devi Atmadja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI : 2014 P E R A T U R A N N A S I O N A L 0 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
2 DAFTAR ISI BAB I UMUM Pasal 1 HAK-HAK IMI... 3 Pasal 2 PERATURAN NASIONAL... 3 Pasal 3 PELAKSANAAN PERATURAN-PERATURAN... 3 Pasal 4 WEWENANG IMI... 3 Pasal 5 BADAN-BADAN INTERNASIONAL... 4 BAB II PERLOMBAAN DAN PERATURAN Pasal 6 PERLOMBAAN DI INDONESIA... 5 Pasal 7 JENIS... 5 Pasal 8 STATUS... 5 Pasal 9 PERLOMBAAN INTERNASIONAL... 5 Pasal 10 KEJUARAAN NASIONAL... 6 Pasal 11 KEJUARAAN REGIONAL... 6 Pasal 12 KEJUARAAN DAERAH... 6 Pasal 13 KEJUARAAN KLUB... 6 Pasal 14 SIFAT KEJUARAAN... 6 Pasal 15 PIALA... 7 Pasal 16 PERATURAN PERLOMBAAN... 7 Pasal 17 PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN... 7 Pasal 18 KETENTUAN PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN... 7 Pasal 19 INSTRUKSI KHUSUS... 7 Pasal 20 PELAKSANAAN PERATURAN... 8 BAB III PENYELENGGARAAN Pasal 21 KETENTUAN PENYELENGGARAAN KEJURNAS... 8 Pasal 22 JADWAL KEGIATAN OLAHRAGA NASIONAL... 9 Pasal 23 ORGANISASI PENYELENGGARA... 9 Pasal 24 PROMOTOR Pasal 25 PENGAMAT PERLOMBAAN Pasal 26 PENGAWAS PERLOMBAAN/JURI Pasal 27 KEWAJIBAN PENGAWAS PERLOMBAAN/JURI Pasal 28 WEWENANG PENGAWAS PERLOMBAAN/JURI Pasal 29 KEWAJIBAN PANITIA PENYELENGARA Pasal 30 PANITIA PELAKSANA TEKNIS PERLOMBAAN Pasal 31 PIMPINAN PERLOMBAAN Pasal 32 WEWENANG DAN TUGAS PIMPINAN PERLOMBAAN Pasal 33 KEWAJIBAN SEKRETARIS PERLOMBAAN P E R A T U R A N N A S I O N A L 1 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
3 Pasal 34 PETUGAS PENCATAT WAKTU Pasal 35 KEWAJIBAN PETUGAS PENCATAT WAKTU Pasal 36 TUGAS & WEWENANG PETUGAS PENCATAT WAKTU Pasal 37 PARKIR TERTUTUP Pasal 38 PESERTA Pasal 39 PERSYARATAN PESERTA Pasal 40 DAFTAR PESERTA BAB IV IJIN-IJIN Pasal 41 KARTU IJIN START Pasal 42 IJIN PENYELENGGARAAN Pasal 43 PERMOHONAN PENYELENGGARAAN Pasal 44 ASURANSI Pasal 45 PENDAFTARAN Pasal 46 KARTU IJIN START INTERNASIONAL Pasal 47 MASA BERLAKU BAB V PROTES DAN BANDING Pasal 48 PROTES Pasal 49 PROSEDUR PROTES Pasal 50 PROSES PROTES Pasal 51 BANDING Pasal 52 PROSEDUR BANDING Pasal 53 NAIK BANDING Pasal 54 NAIK BANDING INTERNASIONAL BAB VI PENUTUP Pasal 55 PENUTUP P E R A T U R A N N A S I O N A L 2 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
4 PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR BAB I UMUM Pasal 1 HAK-HAK IMI IKATAN MOTOR INDONESIA merupakan satu-satunya organisasi olahraga kendaraan bermotor yang telah diakui oleh FIA, FIM dan CIK (induk Organisasi Olahraga Kendaraan Bermotor Dunia) serta KONI (Induk Organisasi OIah Raga Indonesia), yang berhak dan berwenang untuk mengawasi dan memimpin seluruh kegiatan perlombaan-perlombaan kendaraan bermotor di Indonesia. Pasal 2 PERATURAN NASIONAL IMI menetapkan Peraturan Nasional Olahraga Kendaraan Bermotor untuk mengatur seluruh segi hukum yang berkaitan dengan kegiatan olahraga kendaraan bermotor sesuai dengan peraturan Internasional yang dikeluarkan oleh FIA, FIM & CIK dan memberlakukannya bagi semua perlombaan di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Nasional ini IMI menetapkan Peraturan Perlombaan untuk masing-masing jenis/cabangnya disertai Peraturan Pelengkap Perlombaan pada tiaptiap penyelenggaraan. Pasal 3 PELAKSANAAN PERATURAN-PERATURAN IMI bertanggung jawab atas pelaksanaan peraturan dan juga atas semua keputusankeputusan dan FIA, FIM & CIK Pasal 4 WEWENANG IMI 4.1 Mengawasi pelaksanaan peraturan-peraturan Internasional FIA, FIM dan CIK, serta peraturan Nasional dan juga sanksi-sanksinya. 4.2 Menetapkan Peraturan Perlombaan untuk setiap macam olahraga kendaraan bermotor di Indonesia sesuai dengan peraturan Internasional. 4.3 Mengawasi atau menyelenggarakan seluruh kegiatan perlombaan di Indonesia, dan menetapkan/menunjuk penyelenggara event. 4.4 Menolak atau menyetujui peraturan-peraturan pelengkap yang dikeluarkan oleh panitia lomba, demikian juga untuk kelas-kelas dalam perlombaannya serta instruksi-instruksi khusus yang dikeluarkan panitia lomba. 4.5 Menyusun dan mengumumkan jadwal kegiatan perlombaan setiap tahunnya, juga dengan perubahan-perubahan jadwal yang mungkin terjadi. 4.6 Mengeluarkan atau membatalkan ijin suatu perlombaan. P E R A T U R A N N A S I O N A L 3 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
5 4.7 Melarang perlombaan yang melanggar peraturan Internasional, Nasional maupun yang berbahaya serta dapat menimbulkan masalah-masaiah berat. 4.8 Memberikan persetujuan terhadap lintasan atau route perlombaan termasuk Iingkungannya. 4.9 Memutuskan semua persoalan yang mencakup pelaksanaan maupun Interprestasi peraturan-peraturan Internasional dan peraturan Nasional Mengambil keputusan-keputusan atas protes atau banding yang diajukan kepada IMI sebagai organisasi olahraga kendaraan bemotor yang tertinggi di Indonesia Menentukan persyaratan bagi pemilihan penentuan peringkat Nasional maupun kejuaraan berseri tingkat Nasional Mengatur pembagian tingkat kategori perlombaan Internasional, Nasional terbuka/terbatas, daerah maupun Klub Menjatuhkan sanksi kepada atlit, team dan penyelenggara yang melanggar peraturan. Pasal 5 BADAN-BADAN INTERNASIONAL Badan-badan Internasional yang merupakan induk organisasi olahraga kendaraan bermotor di dunia termasuk induk organisasi dan IMI adalah: FIA FIM ASN/FMN FIM Asia CIK : Federation International del Automobile, induk organisasi dunia untuk olahraga mobil. : Federation International of Motorcycle, induk organisasi dunia untuk olahraga motor. : Autorites Sportives Nationales (ASN), organisasi olahraga mobil yang diakui oleh FIA di suatu negara, untuk di Indonesia adalah IMI. Federations Motocyclistes Nationalies (FMN), organisasi olahraga motor yang diakui oleh FIM di suatu negara.untuk di Indonesia adalah IMI. : Adalah continental union dari FIM untuk Asia. : Commission du Karting. BAB II PERLOMBAAN DAN PERATURAN Pasal 6 PERLOMBAAN Dl INDONESIA Setiap olahraga kendaraan bermotor darat yang berupa balapan, rally, test, usaha membuat rekor atau peristiwa lain dimana kendaraan bermotor tersebut turut ambil bagian dan mempunyai unsur persaingan atau diberi unsur persaingan dengan tujuan untuk mengadakan kompetisi kecepatan dan keterampilan. Pada setiap perlombaan yang mendapat Izin dari IMI diwajibkan mencantumkan Logo IMI. P E R A T U R A N N A S I O N A L 4 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
6 Perlombaan di Indonesia hanya boleh diselenggarakan oleh: 1. IMI 2. Klub-klub bermotor yang telah terdaftar di IMI Pasal 7 JENIS Olahraga kompetisi kendaraan bermotor di Indonesia dibedakan atas sembilan jenis perlombaan, yaitu: 1. Motocross & Grass Track 2. Balap Motor & Drag Bike 3. Balap Mobil 4. Drag Race 5. Karting 6. Rally 7. Offroad 8. Time Rally 9. Slalom IMI membentuk Komisi Olahraga untuk masing-masing jenis olahraga kendaraan bermotor tersebut diatas. Pasal 8 STATUS Tingkatan/status perlombaan di Indonesia dibagi atas lima tingkatan, yaitu: 1. Internasional 2. Kejuaraan Nasional 3. Kejuaraan Regional 4. Kejuaraan Daerah 5. Kejuaraan Klub Sifat dan kejuaraan diatas dapat terdiri dari: a. Terbuka b. Tertutup Pasal 9 PERLOMBAAN INTERNASIONAL Setiap perlombaan yang bertaraf Internasional di Indonesia harus mendapat izin penyelenggaraan dari IMI. Adapun perlombaan Internasional tersebut hanya dapat diikuti oleh peserta-peserta dan berbagai bangsa yang sudah menjadi anggota FIA atau FIM serta mendapat ijin (visa) serta Surat Ijin Start Internasional yang dikeluarkan oleh ASN/FMN-nya masing-masing, sedangkan peserta dalam negeri diperbolehkan memakai Kartu Ijin Start IMI pada perlombaan Internasional di Indonesia apabila diperbolehkan oleh peraturan International atas lomba tersebut. Peraturan yang dipergunakan adalah Peraturan Internasional yang dikeluarkan oleh FIA, FIM atau CIK. P E R A T U R A N N A S I O N A L 5 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
7 Pasal 10 KEJUARAAN NASIONAL DAN TINGKAT NASIONAL 10.1 KEJUARAAN NASIONAL Suatu perlombaan yang bersifat Nasional dapat diselenggarakan baik oleh IMI atau IMI Provinsi, maupun Klub yang mendapat wewenang/ijin dari IMI. Dimana para pesertanya dapat terdiri dari peserta dalam maupun luar negeri, tergantung dari sifatnya, yang memiliki Kartu Ijin Start Internasional maupun Kartu Ijin Start IMI Provinsi serta perlombaan dapat memakai Peraturan Internasional maupun Peraturan Nasional. Khusus untuk perlombaan yang memakai judul putaran Kejuaraan Nasional (National Championship) harus mendapat Izin tertulis dari PP IMI KEJUARAAN TINGKAT NASIONAL Suatu perlombaan yang bersifat Nasional dapat diselenggarakan baik oleh IMI atau IMI Provinsi, maupun Klub yang mendapat wewenang/ijin dari IMI. Dimana para pesertanya dapat terdiri dari peserta dalam maupun luar negeri, tergantung dari sifatnya, yang memiliki Kartu Ijin Start Internasional maupun Kartu Ijin Start IMI serta perlombaan dapat memakai Peraturan Internasional maupun Peraturan Nasional. Khusus untuk perlombaan ini harus mendapat Izin tertulis dari PP IMI. Pasal 11 KEJUARAAN REGIONAL Perlombaan yang bertaraf Regional adalah perlombaan yang diselenggarakan oleh IMI Provinsi atau Klub yang diberi wewenang ijin oleh IMI. Perlombaan ini merupakan kejuaraan dalam satu pulau yang terdiri dan beberapa propinsi atau kejuaraan diantara beberapa propinsi tertentu yang berdekatan. Peserta lomba tersebut harus mempunyai Kartu ijin Start IMI dan KTP di dalam Regionalnya. Perlombaan Regional ini harus menggunakan Peraturan Nasional. Pasal 12 KEJUARAAN DAERAH Perlombaan ini adalah perlombaan yang diselenggarakan oleh IMI Provinsi atau KIub yang diberi wewenang oleh IMI Provinsi. Perlombaan ini merupakan kejuaraan dalam satu propinsi. Peserta lomba tersebut harus mempunyai Kartu Ijin Start IMI. Perlombaan ini harus menggunakan Peraturan Nasional. Pasal 13 KEJUARAAN KLUB Kejuaraan KIub adalah perlombaan dimana pesertanya hanya terbatas diantara anggota-anggota suatu Klub atau diantara beberapa klub dengan sifat penggemar kendaraan yang sejenis dan harus mempunyai Kartu Ijin Start IMI dan memakai Peraturan Nasional. P E R A T U R A N N A S I O N A L 6 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
8 Pasal 14 SIFAT PENYELENGGARAAN/ KEJUARAAN Penyelenggaraan/Kejuaraan dapat bersifat : 1. Tertutup Penyelengaraan/Kejuaraan ini dilaksanakan terbatas dengan peserta sesuai dengan daerah statusnya, tidak ada peserta dari luar daerah sesuai status kejuaraan tersebut. 2. Terbuka Penyelenggaraan/Kejuaraan ini dapat diikuti oleh peserta dari luar daerah status kejuaraannya. Penyelenggaraan/Kejuaraan yang dapat bersifat terbuka hanya terbatas untuk Kejuaraan Nasional. Kejuaraan Regional den Kejuaraan Provinsi. Kejuaraan tersebut diatas dapat bersifat campuran terbuka dan tertutup, yaitu: terbuka untuk menarik peserta, namun dengan memberikan point kejuaraan terbatas sesuai dengan sifat tertutup. Pasal 15 PIALA Untuk event yang berstatus Regional dan Daerah, bisa diperebutkan Piala Gubernur atau Pejabat Daerah Tingkat I lainnya. Untuk event yang bersifat Nasional, bisa diperebutkan Piala Menteri, Pejabat, KONI Pusat, Kapolri. Untuk event yang bersifat Internasional, bisa diperebutkan Piala Presiden, Menteri dan seterusnya. Pasal 16 PERATURAN PERLOMBAAN Peraturan Perlombaan dibuat oleh masing-masing komisi untuk tiap-tiap olahraga kendaraan bermotor, berdasarkan peraturan Internasional yang dikeluarkan oleh FIA, FIM atau CIK, yang disesuaikan dengan keadaan Indonesia, dan ditetapkan oleh IMI sebagai peraturan yang berlaku di Indonesia. Peraturan Perlombaan berisi aturan menurut masing-masing jenis perlombaan, Ketentuan-ketentuan Kejuaraan Nasional dan format Peraturan Pelengkap Perlombaan. Peraturan Perlombaan ini merupakan Peraturan (yang bersifat) Nasional dan harus digunakan dalam tiap perlombaan di Indonesia Pasal 17 PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN Peraturan-peraturan yang disusun oleh Panitia Penyelenggara Perlombaan memuat hal-hal detail perlombaan serta petunjuk-petunjuk khusus. Untuk itu peraturan pelengkap ini harus disetujui dahulu oleh IMI. Pada semua peraturan-peraturan pelengkap, program maupun formulir pendaftaran harus sesuai dengan jelas P E R A T U R A N N A S I O N A L 7 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
9 dicantumkan pernyataan bahwa diselenggarakan sesuai dengan peraturan-peraturan Internasional, FIA, FIM & CIK serta sesuai dengan Peraturan Nasional IMI. Pasal 18 KETENTUAN PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN 18.1 Untuk setiap perlombaan, Panitia Penyelenggara harus menyusun suatu peraturan pelengkap untuk disahkan oleh IMI sebelum ijin perlornbaan dikeluarkan Setiap ketentuan yang tertera didalam peraturan pelengkap yang mungkin bertentangan dengan peraturan Internasional maupun peraturan Nasional dianggap sama sekali tidak berlaku. Pasal 19 INSTRUKSI KHUSUS Panitia Penyelenggara dapat pula mengeluarkan Instruksi Khusus, terutama pada saat briefing atau pada saat-saat tertentu baik secara tertulis maupun secara lisan dan harus disampaikan kepada para peserta dengan tanda terima (bukti) tertulis bahwa semua/tiap peserta telah menerima Instruksi Khusus tersebut. Dan instruksi Khusus ini harus disetujui oleh Pengawas Perlombaan dan secepatnya dilaporkan kepada IMI. Pasal 20 PELAKSANAAN PERATURAN Setiap penyelenggara, pelaksana, dan peserta yang terlibat Iangsung dalam suatu kegiatan perlombaan, harus: 20.1 Tunduk sepenuhnya pada peraturan Internasional FIA, FIM & CIK serta peraturan Nasional IMI dan menerima sernua konsekuensi yang timbul karena peraturan-peraturan tersebut Dianggap sudah mengetahui dan memahami peraturan-peraturan Internasional dan Nasional tersebut Menolak setiap badan di luar IMI untuk turut campur dalam hal-hal penjurian dan tidak menanggapi setiap polemik media massa tentang peraturanperaturan yang berlaku. BAB III PENYELENGGARAAN Pasal 21 KETENTUAN PENYELENGGARAAN KEJURNAS Suatu Kejurnas hanya dapat diselenggarakan oleh IMI Provinsi yang bekerja sama dengan Klub-klub yang berada dibawah naungan IMI Provinsi tersebut. Peserta pada suatu Kejurnas wajib memiliki Kartu Ijin Start yang masih berlaku untuk cabang olahraga yang diikuti dan Kartu Ijin Start tersebut hanya dapat dikeluarkan oleh IMI Provinsi, dimana peserta dan klubnya berdomisili, dan berlaku di seluruh Pengprov di Indonesia, dimana Kejurnas tersebut diselenggarakan. P E R A T U R A N N A S I O N A L 8 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
10 Setiap penyelenggara Kejurnas olahraga mobil/motor harus terdiri dari 2 orang Pengawas Perlombaan (Steward/Jury) yang ditunjuk oleh IMI dan seorang Pengawas Perlombaan dari Pengprov Penyelenggara serta 1(satu) orang dari Pengamat (bila dipandang perlu) dari IMI, Pengawas maupun Pengamat lomba yang akan ditunjuk oleh IMI adalah yang diusulkan oleh komisinya. Setiap penyelenggara diwajibkan untuk melaporkan nama Ketua Organizing Committee dan nama-nama Racing Committee (Clerk of the Course, Scrutineers, Time Keepers), berikut latar belakang pengalaman (c.v.) masing-masing dibidangnya. Penyelenggara Kejurnas tidak dapat membatalkan suatu event yang telah dinominasi oleh Pengprov yang bersangkutan, kecuali karena force majeur, dan harus mendapat ijin tertulis dan IMI. Adapun sanksi yang akan diterapkan jika terjadi pembatalan ialah: Bahwa Pengprov tersebut di tahun berikutnya tidak diperkenankan menyeleng-garakan event Nasional yang batal selama 1 (satu) tahun. Suatu Kejurnas dapat dimundurkan atau ditukar tanggal penyelenggarannya dengan syarat : Bahwa Pengprov yang akan mengundur/menukar tanggal eventnya mengajukan permohonan kepada IMl 3 (tiga) bulan sebelum jadwal yang telah ditentukan semula dan hanya IMl yang kemudian menetapkan jadwal baru setelah Pengprov tersebut membayar denda sebesar 10 (sepuluh) juta per event yang dimaksud. Pihak penyelenggara Kejurnas seperti yang tersebut dalam alinea diatas selayaknya juga meminta konfirmasi dari IMI mengenai personil yang akan ditunjuk oleh IMI sebagai Pengamat dan Pengawas Perlombaan/Juri. Adapun demi kelancaran mekanisme tersebut diatas, agar surat pengajuan juga ditembuskan kepada Komisi yang bersangkutan. Pasal 22 JADWAL KEGIATAN OLAHRAGA NASIONAL (KALENDER OLAHRAGA IMI) Pada setiap akhir tahun Ml akan menyusun suatu Jadwal Kegiatan Olahraga Nasional, berisi jadwal kegiatan olahraga kendaraan bermotor yang berstatus Nasional dan Internasional di Indonesia berdasarkan permohonan yang masuk serta seleksi terhadap penyelenggarannya. Pasal 23 ORGANISASI PENYELENGGARA Organisasi penyelenggara suatu perlombaan terdiri dari beberapa bagian/ suborganisasi dengan masing-rnasing kewajiban dan wewenangnya, yaitu: 1. Panitia Penyelenggara (Organizing Committee) 2. Pengamat dan Pengawas Perlombaan/Juri Perlombaan 3. Panitia Pelaksana (Rally/Racing Committee) Sedangkan yang menangani perlombaan, minimum terdiri dari: P E R A T U R A N N A S I O N A L 9 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
11 1. Pengamat Perlombaan (bila diperlukan) 2. Pengawas Perlombaan/Juri (Steward of the Meeting) 3. Panitia Pelaksana (Rally/Racing Committee), yang terdiri dari: a. Pimpinan Perlombaan (Clerk of the Course) b. Sekretaris Perlombaan (Secretary of the Meeting) c. Pemeriksa Teknis (Scrutineers) d. Pencatat Waktu (Time Keepers) Mereka boleh dibantu oleh beberapa asisten guna menjamin penyelenggaraan yang sempurna dan dapat pula menambah jabatan-jabatan petugas, antara lain: a. Course Marshall (Petugas Lintasan) b. Grid Marshall c. Paddock Marshall d. Pit Marshall e. Timing System f. Starter & Finisher g. Petugas kesehatan, dan lain sebagainya. Pasal 24 PROMOTOR Promotor adalah suatu Badan Hukum atau Klub yang hendak menjalin kerja sama penyelenggaraan dalam suatu lomba. Perlombaan hanya dapat diselenggarakan oleh a. IMI b. KIub-klub yang sudah diakui dan terdaftar pada IMI. Sedangkan Promotor harus menjalin kerjasama dengan IMI/IMI Provinsi ataupun Klub yang ada. Pasal 25 PENGAMAT PERLOMBAAN IMI dapat menunjuk seorang Pengamat yang bertugas mengamati dan menilai penyelenggaraan suatu perlombaan, pengamat perlombaan harus mempunyai lisensi IMI untuk Steward/Jury sesuai dengan jenis olahraganya yang masih berlaku, baik mengenai penyelenggaraan secara umum, maupun secara teknis perlombaan. Hasil pengamatan dilaporkan kepada IMI yang akan merupakan dasar penilaian bagi IMI untuk pertimbangan apakah IMI Provinsi yang bersangkutan dengan penyelenggaraan tersebut dapat ditunjuk kembali sebagai penyelenggara pada tahun berikutnya. Pasal 26 PENGAWAS PERLOMBAAN (STEWARD OF THE MEETING)/ JURI Pengawas Perlombaan/Juri terdiri dan petugas yang berkualitas baik yang diangkat dan ditunjuk oleh IMl bertugas mengawasi pelaksanaan, pengawas perlombaan harus mempunyai lisensi IMI untuk Steward/Jury sesuai dengan jenis olahraganya yang P E R A T U R A N N A S I O N A L 10 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
12 masih berlaku, peraturan perlombaan yang ada serta memutuskan persoalanpersoalan yang timbul dalam suatu perlombaan. Pengawas Perlombaan adalah istilah untuk olahraga mobil dan Juri istilah untuk olahraga motor. Hanya mereka yang diangkat dan diakui oleh IMI dapat ditunjuk sebagai Pengawas Perlombaan/Juri. Pengawas Perlombaan/Juri mempunyai wewenang dan kekuasaan tertinggi dalam suatu perlombaan untuk melaksanakan semua peraturan-peraturan Internasional, Nasional maupun peraturan Pelengkap Perlombaan. Mereka harus sepenuhnya tanpa batas tunduk pada Peraturan FIA, FIM dan CIK. Pasal 27 KEWAJIBAN PENGAWAS PERLOMBAAN/JURI 27.1 Pengawas Perlombaan/Juri harus terlibat langsung pada setiap perlombaan sejak dimulainya scrutineering sampai akhir perlombaan (jangka waktu protes berakhir) Juga harus sepenuhnya menguasai segala sesuatunya yang berhubungan dengan perlombaan tersebut Sebelum Pertandingan Wajib memeriksa hal-hal sebagai berikut: 1. ljin dari penguasa setempat 2. Ijin FIA, FIM, CIK atau lmi 3. Peraturan-peraturan Pelengkap 4. Daftar unggulan peserta 5. Acara, (khusus untuk Rally dan Offroad) buku route, kartu kontrol dan lain sebagainya 6. Ijin Start peserta 7. Asuransi 27.4 Memeriksa dan Meneliti 1. Faktor keamanan dan jalur-jalur kompetisi (special stages, track atau lintasan balap) termasuk perlengkapan kesehatan, dokter, ambulans, pemadam kebakaran, jalan darurat dan lain sebagainya. 2. Ada tidaknya Pengawas/Juri yang lain (kalau tidak, harus secepatnya ditetapkan penggantinya). 3. Apakah alat pencatat waktu bekerja baik dan akurat. 4. Apakah route special stages atau lintasan kompetisi dapat dilalui tanpa rintangan yang berarti Selama Perlombaan 1. Mengecek agar langkah-langkah pengamanan tidak menurun/ mengendur. Daerah perlombaan harus tertutup bagi lalu lintas dan umum. P E R A T U R A N N A S I O N A L 11 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
13 2. Menghentikan atau mengambil tindak lanjut dari suatu perlombaan akibat force majeur atau membatalkan suatu perlombaan setelah diadakan pertimbangan yang matang serta pemeriksaan yang seksama. 3. Dalam hal terjadi kecelakaan fatal, segera harus diadakan pemeriksaan terhadap sebab-sebab kecelakaan tersebut dan haruslah dibuat laporan terperinci dengan disertai pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh para saksi, polisi, dokter dan petugas lomba yang bersangkutan. 4. Bilamana terjadi perselisihan antara sesama peserta atau antara peserta dengan petugas maka Pengawas/Juri harus jadi penengah. 5. Setelah perlombaan berakhir, Pengawas/Juri dengan bantuan Pimpinan Perlombaan harus secepatnya membuat dan mengirimkan laporan kepada lml mengenai hasil pengawasannya juga hukuman maupun rekomendasi seperlunya. Pasal 28 WEWENANG PENGAWAS PERLOMBAAN/JURI 28.1 Dalam setiap perlombaan yang diselenggarakan haruslah diawasi sekurangkurangnya oleh seorang Pengawas/Juri dari IMI atau seorang Pengawas/Juri yang ditunjuk oleh IMI Pengawas/Juri adalah kedudukan kehormatan dan mereka tidak bertanggung jawab mengenai pengorganisasi dari suatu perlombaan dalam hal hubungan ini juga tidak mempunyai tugas-tugas sebagai pelaksana, hal mana berarti dalam menjalankan tugasnya mereka tidak bertanggung jawab kepada siapapun kecuali pada IMI Pengawas/Juri dapat mengambil tindakan-tindakan sebagai berikut: a. Merubah dan mengganti peraturan-peraturan pelengkap perlombaan yang disebabkan oleh faktor keamanan, antara lain: menetralisir bagian-bagian tertentu dan lintasan kompetisi dan pos-pos petugas serta merubah jadwaljadwal yang ada. b. Menunda, memberhentikan perlombaan sehubungan dengan force majeur dan keamanan/ketentraman. c. Menolak memberikan ijin berlomba kepada para peserta atau kendaraannya bila: 1. Peserta membahayakan jalannya pertandingan. 2. Kendaraan yang tidak memenuhi syarat serta berbahaya. 3. Menurut peraturan mereka tidak berhak untuk ikut berlomba. 4. Tindakan peserta yang curang dan melanggar peraturan. d. Mengesahkan dan memutuskan dalam kasus-kasus yang timbul, baik sengketa maupun kesalahan-kesalahan yang terjadi. e. Menentukan pemenang dalam hal ex equo (sesuai peraturan yang ada). f. Dapat merubah hasil-hasil perlombaan apabila terjadi kesalahan. g. Menentukan hukuman dan pinalti terhadap pelanggar peraturan. P E R A T U R A N N A S I O N A L 12 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
14 h. Menentukan apakah peserta yang diskor atau didiskualifikasi oleh panitia lomba dapat diberikan kesempatan untuk mengikuti babak perlombaan berikutnya. I. Bila Pengawas/Juri mengetahui ada terjadi pelanggaran terhadap kejujuran, sportifitas dan lain sebagainya, Pengawas/Juri berhak menjatuhkan hukuman-hukuman dengan segala peraturan yang ada padanya tanpa ada protes yang masuk sekalipun. j. Penalti/hukuman-hukuman dapat dijatuhkan kepada panitia penyelenggara, panitia pelaksana, dan seluruh petugas lomba yang ada sesuai dengan peraturan yang berlaku. k. Hukuman dan penalti dapat berupa : 1. Teguran/peringatan 2. Denda 3. Skorsing untuk selama waktu tertentu 4. DISKUALIFIKASI (dari satu babak perlombaan saja). Hukuman-hukuman tersebut dapat dijatuhkan setelah diadakan pemeriksaan yang seksama dan untuk hukuman skorsing yang bersangkutan harus dipanggil terlebih dahulu untuk didengar kesaksiannya guna kesempatan membela dirinya. Pasal 29 KEWAJIBAN PANITIA PENYELENGGARA (ORGANIZING COMMITTEE) Panitia Penyelenggara adalah sebuah badan yang terdiri sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang yang disetujui oleh IMI dan diberi kuasa serta wewenang menyelenggarakan suatu perlombaan dan melaksanakan peraturan yang berlaku serta peraturanperaturan tambahannya Kewajiban Panitia Penyelenggara adalah sebagai berikut: a. Menyelenggarakan serta membagi tugas kepada para anggota dan petugas. b. Mendaftarkan jadwal Iombanya kepada IMI. c. Mengajukan permohonan ijin penyelenggaraan kepada pihak yang berwajib. d. Menyusun peraturan-peraturan pelengkap, jadwal dan program perlombaan bersama-sama dengan Pimpinan Perlombaan. e. Menjamin penyelenggaraan dan bertanggung jawab atas setiap perlombaan baik terhadap bidang administrasi, teknis, keuangan, keabsahannya, dan lain sebagainya. f. Mengatur keamanan dan keselamatan umum, peserta dan petugas dengan berkoordinasi dengan Pimpinan Perlombaan & Pengawas Perlombaan/Juri. g. Panitia Penyelenggara bertanggung jawab terhadap pihak ketiga atas kerugian yang timbul selama acara perlombaan berlangsung. h. Mengumumkan dan melaporkan hasil-hasil resmi perlombaan kepada IMI diketahui oleh Pengawas Perlombaan. P E R A T U R A N N A S I O N A L 13 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
15 Pasal 30 PANITIA PELAKSANA TEKNIS PERLOMBAAN (RALLY/RACING COMMITEE) Panitia Pelaksana lomba ini mendapat wewenang dan Panitia Penyelenggara untuk mengatur dan memimpin jalannya perlombaan pada hari perlombaan berdasarkan peraturan-peraturan serta penunjukan Pimpinan perlombaannya yang disetujui oleh IMI. Pasal 31 PIMPINAN PERLOMBAAN (CLERK OF THE COURSE) Pimpinan Perlombaan harus mempunyai lisensi IMI untuk Clerk of the Course (Pimpinan Perlombaan) dengan jenis olahraganya yang masih berlaku, dengan dibantu oleh asisten-asistennya dan bertanggungjawab untuk melaksanakan teknis perlombaan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pasal 32 WEWENANG DAN TUGAS PIMPINAN PELOMBAAN a. Memelihara ketertiban dengan mengadakan kerjasama dengan pihak polisi maupun militer yang diserahkan tugas menjaga keamanan perlombaan yang juga bertanggung-jawab atas keselamatan umum. b. Memastikan apakah semua petugas-petugas sudah berada di posnya masingmasing dan melapor kepada Pengawas/Juri apabila ada yang absen. c. Memastikan bahwa semua petugas sudah menerima dan mengerti segala informasi yang dibutuhkan guna menjalankan tugasnya masing-masing. d. Mengawasi peserta-peserta dan kendaraan-kendaraannya dan mengambil tindakan-tindakan terhadap peserta dan kendaraan yang tidak memenuhi syarat. e. Memastikan bahwa setiap peserta dan kendaraan sudah mempunyai tanda-tanda identifikasi yang diharuskan. f. Pada perlombaan kecepatan dia harus yakin sebelum perlombaan dimulai bahwa jalur kompetisi sudah aman dan tertutup untuk umum. g. Memberitahu Pengawas/Juri mengenai usul merubah program atau melaporkan tindakan-tindakan pelanggaran peraturan yang dilakukan oleh peserta. h. Mengatur kendaraan-kendaraan tersebut menurut urutan yang sesuai serta memberikan aba-aba keberangkatan. I. Menerima protes-protes dan peserta dan meneruskannya kepada Pengawas/Juri untuk diproses dan diputuskan. j. Harus mengumpulkan catatan-catatan atau data dari petugas-petugas pencatat waktu dan petugas tehnik, demikian pula keterangan-keterangan dan petugaspetugas Iainnya. k. Harus dapat memastikan bahwa tidak ada suatu protes yang belum diselesaikan sebelum pembagian hadiah. I. Harus membuat laporan Iengkap jalannya perlombaan kepada IMI antara lain: jumlah peserta, protes-protes, sanksi-sanksi yang dijatuhkan, hasil-hasil kejuaraan dan lain sebagainya yang dianggap perlu dan harus dikirimkan P E R A T U R A N N A S I O N A L 14 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
16 selambat-lambatnya 6 (enam) hari setelah perlombaan tersebut berakhir dan diketahui oleh Pengawas/Juri. Pasal 33 KEWAJIBAN SEKRETARIS PERLOMBAAN (SECRETARY OF MEETING) Sekretaris perlombaan bertanggung-jawab atas administrasi serta komunikasi perlombaan yang berhubungan dengan itu, juga mengatur bahan-bahan serta pengumuman yang menyangkut berita/instruksi yang berhubungan dengan perubahan yang ada. Sekretaris perlombaan harus yakin bahwa petugas-petugas lomba sudah diperlengkapi dengan peralatan-peralatan yang diperlukan dan mengerti akan kewajibankewajibannya. Pasal 34 PETUGAS PENCATAT WAKTU (TIME KEEPERS) Para petugas pencatatan waktu berada langsung dibawah Pimpinan Perlombaan dan diangkat atas persetujuan IMI. Pasal 35 KEWAJIBAN PETUGAS PENCATAT WAKTU a. Mengatur pencatatan waktu selama perlombaan berlangsung dengan memakai alat-alat pencatat waktu yang akurat. b. Mencatat waktu berangkat dan waktu tiba setiap peserta. c. Memberitahukan hasil-hasil catatan waktu hanya kepada Pimpinan Perlombaan dan Stewart dengan memberikan time sheets yang asli. d. Hanya time sheets yang asli yang dianggap syah dan harus ditandatangani oleh petugas pencatat waktu. Pasal 36 TUGAS DAN WEWENANG PETUGAS PEMERIKSA TEKNIK (SCRUTEENERS) a. Petugas pemeriksa teknik bertanggung jawab untuk memeriksa keadaan mekanis dan kendaraan-kendaraan lomba, apakah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, maupun kepentingan untuk hal keselamatannya. b. Juga bertugas untuk memeriksa semua perlengkapan peserta antara lain: helmet, pakaian balap, kaca mata dan sebagainya serta dokumen-dokumen yang diperlukan antara lain SIM, STNK, Surat Ijin Start, Visa dan FMN dan lain sebagainya. c. Pemeriksaan-pemeriksaan dilakukan pada saat sebelum perlombaan dan setelah perlombaan berlangsung. d. Mengadakan pengecekan-pengecekan kendaraan di daerah parkir tertutup atas spesifikasi yang berlaku terhadap kendaraan tersebut dan bertanggung jawab atas ketertiban parkir tertutup tersebut. P E R A T U R A N N A S I O N A L 15 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
17 e. Berwenang untuk menolak kendaraan peserta untuk turut berlomba atau meneruskan perlombaan apabila kendaraan tersebut sudah tidak memenuhi syarat lagi. Pasal 37 PARKIR TERTUTUP (PARC FERME) Daerah lapangan parkir tertutup ini untuk menampung semua kendaraan peserta sebagai daerah terlarang untuk disentuh oleh peserta, maupun mekanik-mekaniknya, kecuali oleh petugas scruttineer guna pemeriksaan kendaraan-kendaraan selama jangka waktu yang telah ditentukan. Larangan parkir tertutup tersebut hanya dapat dibuka/dibebaskan oleh Pimpinan Perlombaan, sebelum itu tidak satu kendaraanpun yang boleh keluar atau direparasi oleh seseorang. Pasal 38 PESERTA Peserta adalah orang yang pendaftarannya sudah diterima dan memenuhi syarat untuk suatu perlombaan atau orang yang ikut berlomba dan sudah memiliki Kartu Ijin Start yang berlaku. Pasal 39 PERSYARATAN PESERTA Untuk dapat memenuhi syarat sebagai peserta perlombaan, maka kepada setiap calon peserta diharuskan mempunyai Kartu Ijin Start yang dikeluarkan oleh IMI Ijin-ijin Start tersebut dapat berupa Ijin Start Internasional maupun Nasional/Regional dan untuk pengeluaran Ijin Start tersebut maka IMI dapat mengenakan biaya administrasinya. Pasal 40 DAFTAR PESERTA Panitia Penyelenggara harus membuat daftar peserta resmi sebelum perlombaan dimulai dan dibagikan kepada petugas, peserta dan ditempelkan pada papan pengumuman resmi. Pasal 41 KARTU IJIN START BAB IV IJIN-IJIN Setiap peserta perlombaan olahraga kendaraan bermotor yang diselenggarakan di Indonesia wajib memiliki Kartu ijin Start sesuai dengan jenis perlombaan yang diikuti. Ijin Start hanya dikeluarkan oleh IMI Provinsi dengan ketentuan ketentuan sebagai berikut: a. Permintaan Ijin Start dapat diajukan kepada IMI Provinsi dengan mengisi formulir resmi dan melengkapi persyaratan-persyaratan yang diminta, yaitu: 1. Kartu Tanda Anggota (KTA) yang masih berlaku. 2. Surat Ijin Mengemudi yang masih berlaku P E R A T U R A N N A S I O N A L 16 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
18 3. Surat Keterangan dari dokter yang ditunjuk, untuk membuktikan bahwa yang bersangkutan mempunyai kondisi fisik yang baik. 4. Surat keterangan orang tua untuk pembalap (dibawah 15 tahun) yang belum memiliki Surat Ijin Mengemudi b. Ijin Start hanya dapat diberikan oleh IMI Provinsi untuk pemohon dengan KTA dan surat rekomendasi dari klub yang berada di daerahnya, kecuali pemohon dari daerah lain dengan surat pengantar dari IMI Provinsinya. c. Ijin Start Nasional dikeluarkan oleh PP IMI, setelah yang bersangkutan memiliki Ijin start yang dikeluarkan oleh IMI Provinsi. Yang diperuntukan mengikuti event: 1. Internasional event di Indonesia 2. Non Internasional event di luar negeri d. Ijin Start dapat diberikan kepada: 1. Penduduk Indonesia sesuai dengan persyaratan diatas. 2. Penduduk dan negara lain yang telah mendapat ijin dari ASN/FMNnegaranya. e. IMI berhak untuk menolak suatu pemberian ijin start tanpa mengemukakan suatu alasan apapun. Pasal 42 IJIN PENYELENGGARAAN Suatu perlombaan dapat dilaksanakan di jalan-jalan umum atau di lintasan balap tertutup atau di kedua-duanya, tetapi selain ijin lomba yang dikeluarkan oleh IMI harus pula diperoleh ijin-ijin dari pihak-pihak yang berwajib. Tak satupun perlombaan baik yang bersifat Internasional, Nasional, Terbuka, Regional maupun Klub dapat diselenggarakan tanpa ijin/persetujuan dan IMI. Untuk itu IMI akan memberikan sanksi berupa DISKUALIFIKASI sementara dan DISKUALIFIKASI kepada pihak-pihak yang terlibat (baik promotor, official maupun peserta) dalam suatu penyelenggaraan yang tidak syah. Pasal 43 PERMOHONAN PENYELENGGARAAN Setiap permohonan ijin penyelenggaraan ditujukan kepada IMI untuk perlombaanperlombaan yang bersifat Internasional maupun Nasional terbuka/nasional dan kepada IMI Provinsi untuk perlombaan yang bersifat Regional dan KIub dengan disertai keterangan-keterangan sebagai berikut: a. Tanggal, tempat, jenis tingkat perlombaan. b. Nama dan alamat pemohon. c. Daftar nama dan pengalaman orang-orang yang duduk dalam Panitia Penyelenggara (OC), Panitia Pelaksana (RC), Pengawas/Juri dan surat pernyataan kesediaan dan bertanggung-jawab bagi yang bersangkutan. d. Rencana peraturan lengkap. e. Alamat sekretariat. P E R A T U R A N N A S I O N A L 17 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
19 f. Rencana persiapan pengamanan/keselamatan untuk penonton, peserta dan petugas. g. Gambar route/lintasan dan keterangan-keterangan detailnya. Permohonan ujin penyelenggaraan harus diajukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Untuk suatu perlombaan bertaraf Internasional, pemohon harus sudah mengajukan rencana tanggal penyelenggaraan lomba, selambat-lambatnya pada tanggal 30 September pada tahun berjalan guna dimasukkan pada jadwal kegiatan Olahraga IMI untuk tahun berikutnya. Perlombaan Internasional mendapat prioritas dari semua jadwal perlombaan yang diajukan. Sedangkan permohonan ijin penyelenggaraannya dan semua persyaratannya harus sudah diajukan selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sebelum tanggal dimulainya. b. Demikian juga untuk Panitia Perlombaan yang bersifat Nasional terbuka maupun Nasional harus sudah memasukkan jadwal perlombaannya selambat-lambatnya pada tanggal 30 Oktober tahun berjalan untuk dapat dimasukkan sebagai Jadwal Kegiatan Olahraga IMl tahun berikutnya sedangkan permohonan ijin penyelenggaraannya harus sudah selesai dan diajukan selambat lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum tanggal dimulainya perlombaan. c. Untuk perlombaan Regional dari Klub tidak akan dicantumkan dalam Jadwal Kegiatan Olahraga IMl dan pada prinsipnya perlombaan-perlombaan tersebut tidak boleh bertepatan dengan perlombaan-perlombaan yang bersifat Internasional maupun Nasional yang sejenis, yang diselenggarakan di Indonesia, sedangkan untuk permohonan ijinnya cukup diajukan ke IMI Deerah setempat dengan melaporkan kepada IMI. Pasal 44 ASURANSI Penyelenggara diharuskan menutup asuransi yang meliputi tanggung jawab mereka dan tanggung jawab peserta terhadap pihak ketiga selama acara perlombaan berlangsung. Pasal 45 PENDAFTARAN a. Pendaftaran yang sah harus tercatat pada formulir pendaftaran: 1. Nama dan alamat Sekretariat Perlombaan. 2. Alamat dan nama Iengkap pendaftar. 3. Identitas penyelenggara. 4. Tanda tangan peserta. 5. Spesifikasi kendaraan. 6. Pernyataan orang tua/wali untuk pendaftar dibawah usia 16 tahun. 7. Pernyataan yang ditandatangani peserta bahwa penyelenggara dibebaskan dari segala tanggung jawab akibat dari perlombaan ini. P E R A T U R A N N A S I O N A L 18 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
20 8. Pernyataan bahwa perlombaan akan diadakan berlandaskan dan sesuai dengan peraturan Internasional maupun Nasional. b. Pendaftaran dari luar negeri harus mendapat ijin tertulis/stempel dan persetujuan dan ASN/FMN pada formulir pendaftaran, demikian juga apabila ada peserta Indonesia yang akan berlomba ke luar negeri harus dengan persetujuan IMI. c. Penolakan pendaftaran dapat ditentukan oleh Panitia Penyelenggara dalam peraturan pelengkap yang dibuatnya. Pasal 46 KARTU IJIN START INTERNASIONAL IMl hanya mengelurkan Surat Ijin Start Internasional kepada para anggota IMl dengan pertimbangan IMI: 46.1 Pemohon sedikitnya sudah 3 (tiga) kali berhasil menduduki Kejuaraan Umum 10 terbaik dalam perlombaan sejenis dan bertaraf Nasional dalam 2 tahun terakhir di Indonesia, atau 46.2 Sedikitnya 1 kali pernah menduduki kejuaraan umum 10 terbaik dalam salah satu perlombaan tingkat Internasional dalam 2 tahun terakhir yang diselenggarakan di Indonesia atau pemohon yang sudah pernah mengikuti perlombaan di Luar Negeri. Untuk memperoleh ijin Start harus memenuhi pertimbangan IMI dan IMI berhak untuk menolak permohonan tersebut tanpa alasan Permohonan harus diajukan oleh Pengprov IMI yang mengeluarkan KIS pada pembalap yang hendak memperoleh Surat Ijin Start (Start Permission) dari IMI Pasal 47 MASA BERLAKU Setiap Ijin Start berlaku sampai tanggal 31 Desember setiap tahunnya dengan pengecualian sewaktu-waktu dapat dicabut berlakunya apabila: 1 Si pemegang ijin telah melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan etika yang diberlakukan sesuai dengan Code Sportif Internasional. 2. Pemegang Ijin berada dalam keadaan tidak sehat jasmani sesuai dengan pengamatan petugas kesehatan. 3. Pemegang Ijin tidak memenuhi syarat lagi, akibat terkena sanksi-sanksi skorsing maupun DISKUALIFIKASI. P E R A T U R A N N A S I O N A L 19 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
21 Pasal 48 PROTES BAB V PROTES DAN BANDING Hak protes hanya ada pada peserta, sekalipun demikian seorang petugas juga dapat mengajukan protes dalam kedudukannya yang resmi apabila dianggap benar dan untuk itu Ia tidak dibebani uang jaminan. Pasal 49 PROSEDUR PROTES Setiap protes harus dialamatkan secara tertulis dengan jelas kepada Pengawas Pertombaan/Juri dan disampaikan melalui Pimpinan Perlombaan disertai biaya yang telah ditentukan. Biaya ini akan dikembalikan apabila protesnya benar dan diterima Protes sudah harus sampai dan terbayar lunas selambat-iambatnya dalam waktu 30 menit setelah hasil perlombaan diumumkan Protes mengenai hasil-hasil kejuaraan juga harus diajukan selambat- Iambatnya 30 menit setelah pengumuman hasil kejuaraan sementara diumumkan Setiap protes yang masuk bersifat untuk pembongkaran kendaraan harus disertai pula dengan uang jaminan pembongkaran yang akan ditentukan oleh panitia, apabila protes ditolak maka uang bongkar akan diberikan kepada petugas tehnik yang membongkar kendaraan tersebut dan apabila protes diterima uang tersebut kembali kepada penggugat dan pemilik kendaraan diwajibkan untuk membayar ganti rugi pembongkarannya Alasan protes harus jelas dan ditujukan kepada siapa serta yang mengajukan harus dapat membuktikan bahwa ia adalah pendaftar dan peserta yang sah Protes tidak diterima apabila diajukan bukan oleh yang berhak, atau jangka waktu memasukkan protes terlewat, atau tidak disertai uang yang ditentukan, atau protes kolektif ataupun protes Iebih dari satu masalah Dalam surat protes harus dicantumkan saat penerimaan notes oleh panitia dengan tertera jam dan menit penyerahan serta tanda tangan penerima surat protes Bagaimanapun juga suatu protes tidak bisa mengakibatkan pengulangan perlombaan Apabila ada pasal yang membahas hal sama antara Peraturan Nasional Olahraga Kendaran Bermotor dengan peraturan tiap cabang olahraga maka yang digunakan adalah peraturan yang tercantum disetiap cabang olahraga. Pasal 50 PROSES PROTES Hanya Pengawas/Juri yang dapat membahas dan mengambil keputusan atas protes yang masuk. P E R A T U R A N N A S I O N A L 20 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
22 50.2 Apabila diperlukan pihak yang protes ataupun yang memprotes dapat dipanggil untuk memberikan keterangan dan alasannya termasuk para saksi yang bersangkutan Protes sudah harus diputuskan selambat-iambatnya 24 jam setelah protes tersebut masuk Sementara protes belum diputuskan panitia tidak berhak untuk mengumumkan hasil perlombaan atau membagikan hadiah-hadiahnya apabila protes tersebut ada hubungannya dengan hasil sementara Setelah keputusan ditentukan maka Pengawas Perlombaan/Juri akan mengumumkan keputusannya melalui pengumuman panitia atau melalui pos kepada pihak-pihak yang bersangkutan dengan protes tersebut dengan biaya ditanggung oleh panitia penyelenggara. Pasal 51 BANDING Setiap peserta dan panitia pelaksana mempunyai hak untuk naik banding kepada IMI atas hukuman atau keputusan yang dijatuhkan oleh Pengawas Perlombaan/ Juri kepadanya. Pasal 52 PROSEDUR BANDING 52.1 Hak mengajukan banding kepada IMI akan berakhir setelah 48 jam setelah keputusan Pengawas Perlombaan/Juri diumumkan Pernyataan naik banding kepada IMI harus diajukan secara tertulis dengan alasan-alasan yang jelas disertai uang jaminan dan harus disetor tunai ke Kas IMI Apabila banding diterima maka uang jaminan dikembalikan kepada pihak naik banding dan beban/ongkos-ongkos protes banding dibebankan kepada pihak yang kalah banding sesuai dengan pengeluaran- pengeluaran yang terjadi selama proses banding tersebut tapi tidak lebih dari uang jaminan tersebut Hanya Kategori Kejuaraan Nasional banding diajukan ke PP IMI sedangkan kategori Kejuaraan Provinsi, Klub, diajukan Kepada Pengprov IMI penyelenggara. Pasal 53 WEWENANG BANDING 53.1 IMI adalah badan tertinggi yang berhak memberikan keputusan akhir dan suatu protes ataupun banding yang diterimanya dan juga berhak untuk membatalkan keputusan-keputusan yang tidak disetujuinya, memberatkan atau mengurangi hukuman-hukuman yang telah diputuskan ataupun juga merehabilisasi pihak-pihak yang dirugikan IMI selambat-iambatnya 15 hari sudah harus memutuskan suatu perkara naik banding sejak diterimanya surat banding tersebut oleh Sekretariat IMl Pusat. P E R A T U R A N N A S I O N A L 21 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
23 53.3 Team pemeriksa banding bebas menentukan kehadiran seseorang atau beberapa orang yang ahli dan netral agar dapat diperoleh penjelasanpenjelasan, termasuk menghadirkan pihak-pihak yang bersangkutan untuk didengar keterangannya IMI harus mengumumkan hasil-hasil keputusan tersebut keseluruh IMI Provinsi untuk diketahui beserta hukuman-hukuman yang dijatuhkan. Pasal 54 NAIK BANDING INTERNASIONAL Hanya berdasarkan perlombaan yang bersifat Internasional/terbuka yang memakai peraturan Indonesia yang diadakan di Indonesia dapat seseorang atau badan naik banding ke tingkat Internasional baik FIA, FIM maupun CIK, dimana cara dan prosedurnya sudah ditentukan dalam peraturan Internasional yang berlaku. Pasal 55 PENUTUP BAB VI PENUTUP Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Nasional Olahraga Kendaraan Bermotor IMI ini akan diatur Iebih lanjut dalam Peraturan yang ditetapkan oleh IMI. P E R A T U R A N N A S I O N A L 22 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
24 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAG RACE IKATAN MOTOR INDONESIA Edisi : 2014 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 1 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
25 D A F T A R I S I Pasal K e t e r a n g a n Hal 1. Status Kejuaraan 4 2. Judul Kejuaraan 4 3. Panitia Penyelenggara 4 4. Panitia Pelaksana 4 5. Pengawas Perlombaan 5 6. Jadwal Perlombaan 5 7. Pendaftaran 5 8. Kendaraan 5 9. Persyaratan Peserta Lintasan Perlombaan Kendaraan Pemberian angka Persyaratan Pengemudi Formulir Pendaftaran Biaya Pendaftaran & Asuransi Perubahan dan Penambahan Peraturan Penerapan & Pengertian tentang Peraturan Peserta Urutan Start,Tanda Pengenal & Nomor Start Reparasi Pengiklanan Start Finish Sistim Perlombaan Pemeriksaan Kendaraan sebelum Start & Selama Perlombaan Hukuman dan Denda 18 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 2 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
26 Pasal K e t e r a n g a n Hal 27. Protes dan Naik Banding Penentuan Kejuaraan Hadiah, Piala dan Kejuaraan Team Service Pengunduran diri dari perlombaan Hak Panitia Pelaksana Pengiklanan sesudah lomba PERATURAN TEKNIK Kendaraan Kelas dan persyaratan kendaraan Perubahan/Modifikasi 22 Kelas Prostock 22 Kelas Modifikasi 25 Kelas Standard PERATURAN TAMBAHAN - Kelas Kendaraan Bermesin Diesel (MD) 32 - Pilihan Waktu (Braket Time) LAMPIRAN 1. Form Data2 Teknis Kendaraan Peserta 36 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 3 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
27 PERATURAN NASIONAL PERLOMBAAN DRAG RACE Tahun PERATURAN UMUM 1. STATUS DAN TUJUAN KEJUARAAN. Kejuaraan Nasional terbuka untuk yang memiliki Kartu Tanda Anggota dan Kartu Ijin Start (KIS) untuk Drag Race yang dikeluarkan oleh IMI dan masih berlaku. Kejuaraan Daerah (kejurda) terbuka bagi seluruh peserta yang memiliki KTA dan KIS yang dikeluarkan oleh IMI dan masih berlaku, namun perolehan Poin seri hanya untuk peserta dari provinsi yang bersangkutan. Kelas-kelas yang dilombakan pada Kejurda harus sama dengan kelas-kelas Kejurnas beserta seluruh persyaratan teknisnya Panitia, Pendaftar, Peserta dan atau pendukungnya wajib mengutamakan dan menjunjung tinggi sportifitas olahraga, baik pada saat perlombaan maupun sebelum dan sesudahnya. 2. JADWAL KEJUARAAN. Jadwal Kejurnas Drag ditentukan melalui Rakernas IMI tahun berjalan berdasarkan ajuan Pengprov dan kesesuaian situasi yang ada 3. PANITIA PENYELENGGARA (OC). Dilaksanakan oleh klub yang telah disetujui oleh PP. IMI dan diberikan kuasa serta wewenang untuk menyelenggarakan Perlombaan Balap Mobil DRAG RACE dan melaksanakan Peraturan yang berlaku beserta Peraturan-Peraturan tambahannya. Adapun susunan Panitia Penyelenggara sebagaimana yang tertera didalam Peraturan Tambahan & Jadwal Perlombaan. Penyelenggara wajib mencantumkan Logo IMI serta Logo Kejuaraan Nasional Drag Race pada seluruh promosi maupun materi cetakan. (Lampiran 2 & 3). 4. PANITIA PELAKSANA (RC). Panitia Pelaksana adalah yang diberikan wewenang oleh Panitia Penyelenggara dan sepenuhnya bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan perlombaan ini baik dari segi keamanan secara umumnya dan Peraturan ini beserta Peraturan-Peraturan tambahan pada khususnya. Pimpinan Perlombaan wajib memiliki lisensi IMI yang sesuai, masih berlaku dan mendapat persetujuan dari PP. IMI. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 4 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
28 5. PENGAWAS PERLOMBAAN Untuk tiap perlombaan Nasional mobil DRAG RACE, wajib terdapat 1(satu) Anggota Pengawas dan 1(satu) Ketua Pengawas perlombaan yang ditunjuk oleh PP.IMI dan 1 (satu) Anggota Pengawas dari Pengprov IMI yang bersangkutan. Setiap personal Pengawas Perlombaan yang ditugaskan wajib memilik lisensi IMI yang sesuai dan masih berlaku 6. JADWAL PERLOMBAAN. Kejuaraan Nasional untuk tahun 2014 diselenggarakan sesuai dengan kalender PP. IMI tahun 2014 dan perubahannya. 6.1 Perubahan tanggal/tempat pelaksanaan wajib mendapatkan persetujuan tertulis dan harus diajukan kepada PP. IMI minimal 3 (tiga) bulan sebelum tanggal pelaksanaan direncanakan. 7. PENDAFTARAN. Pendaftaran sebagaimana yang tertera di dalam Jadwal Perlombaan dengan ketentuan sebagai berikut : 7.1 Dengan mengisi Formulir Pendaftaran dan menandatanganinya, maka pendaftar menyatakan mengetahui seluruh Peraturan Perlombaan, dan patuh akan ketentuan-ketentuan yang ada didalam Peraturan Perlombaan maupun Peraturan Tambahan dan Buletinnya. 7.2 Pendaftaran dibuka minimum 14 (empat belas) hari kerja sebelum tanggal pelaksanaan. 7.3 Pendaftaran peserta sudah harus ditutup pada hari perlombaan setelah entry list resmi dikeluarkan oleh panitia ataupun paling lambat 60 menit sebelum lomba dimulai sesuai jadwal resmi yang ada 8. KENDARAAN YANG DI IJINKAN UNTUK BERLOMBA. Kendaraan yang telah lulus Pemeriksaan Teknis sebagaimana tercantum pada Pasal dan PERSYARATAN PESERTA. 9.1 PENDAFTAR : Badan hukum atau perorangan yang memiliki ijin sebagai Pendaftar yang dikeluarkan oleh PP. IMI (Entrant License). 9.2 PENGEMUDI : Perorangan yang memiliki SIM Kepolisian dan KTA/KIS IMI yang masing masih berlaku dan atau Rekomendasi yang dikeluarkan oleh IMI untuk katagori perlombaan ini. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 5 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
29 9.3 Pendaftar, Peserta dan atau pendukungnya wajib mengutamakan dan menjunjung tinggi sportifitas olahraga, baik pada saat perlombaan maupun sebelum dan sesudahnya. Sanksi : Pemecatan 9.4 Hanya Peserta beserta kendaraan yang terdaftar secara sah yang diijinkan berlomba. Bila ada peserta yang tidak berhak mengemudikan kendaraan sesuai yang terdaftar, MAKA peserta sekaligus kendaraan tersebut serta seluruh peserta lain yang menggunakan kendaraan tersebut dikenakan sanksi PEMECATAN 10. LINTASAN PERLOMBAAN Lintasan terdiri dari dua jenis lintasan dengan ketentuan sebagai berikut : Lintasan pacu 201 meter dengan total panjang lintasan minimum 402 meter Lintasan pacu 402 meter dengan total panjang lintasan minimum 804 meter Lintasan pacu adalah suatu tempat memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi di lintasan yang khusus ditutup untuk perlombaan ini. Lintasan harus rata dan permukaan terbuat dari aspal atau beton, bebas dari gelombang. Tidak diperkenankan mempergunakan lintasan yang terbuat dari conblock Peserta dilarang menjalani route berlawanan arah dengan arah perlombaan, sanksi : Pemecatan Panjang minimum lintasan tertutup untuk perlombaan masing-masing adalah : (Delapan Ratus Empat) yang terdiri dari dua bagian Lintasan yaitu Lintasan Pacu dari Garis Start sampai dengan Garis Finish sepanjang 402 (empat ratus dua) meter dan Lintasan Pengereman sepanjang 402 (Empat Ratus Dua) meter (Empat Ratus Dua) meter yang terdiri dari dua bagian Lintasan yaitu Lintasan Pacu dari Garis Start sampai dengan Garis Finish sepanjang 201(dua ratus satu) meter dengan Lintasan Pengereman sepanjang 201 (Dua Ratus satu) meter Peserta dilarang berhenti atau memperbaiki kendaraannya pada Lintasan Pengereman ini, kecuali dalam keadaan yang diluar kekuasaannya (FORCE MAJEURE), sanksi : Pemecatan Panitia perlombaan berhak menentukan jarak lintasan yang akan dipergunakannya dan diumumkan kepada seluruh peserta sebelum perlombaan dimulai atau pada saat peserta mendaftarkan diri untuk ikut perlombaan ini 10.5 Lintasan terdiri dari 2 (dua) jalur yang sejajar dengan panjang yang sama ( 10.4) bebas dari halangan ataupun hambatan dengan pemisah jalur lintasan pacu. Lebar masing-masing jalur lintasan pacu min. 6 (enam) meter, dipisahkan oleh sebuah garis lurus atau berupa pagar beton concrete Tersedia minimum 3 area staging yaitu : PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 6 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
30 Area Tunggu (waiting zone) Area Burn Out Area Staging (start) 10.6 Untuk safety lintasan: Pada bagian kanan dan kiri lintasan pacu yang berbatasan dengan penonton wajib dipisahkan dengan pembatas/pagar, harus terbuat dari beton atau bahan rel baja (double stacked guard rail type) setinggi minimum 60 cm terpasang di kiri dan kanan track mulai dari start hingga 30 meter setelah finish (tergantung dari penempatan penonton). Pagar pembatas yang terbuat dari beton harus tidak ada jarak antara satu beton pembatas dengan lainnya (rapat). Pembatas tengah lintasan antara jalur A dan B tidak diperbolehkan menggunakan A board atau sejenisnya yang dinilai tidak layak dari sisi keamanan Disarankan untuk menambah keamanan di ujung track (braking area) berupa peredam benturan berupa perangkap pasir (sand trap), tong air (water barrier) atau tumpukan ban, dan 10.7 Khusus Kelas 1 Pro Stock hanya diijinkan diperlombakan pada Lintasan Pacu 402 Meter, dengan total panjang minimum lintasan 804 (Delapan Ratus Empat) meter Dua bulan sebelum tanggal pelaksanaan perlombaan, Pengprov IMI/ Penyelenggara wajib meminta ijin kepada PP. IMI untuk mendapatkan persetujuan atas lintasan yang akan dipergunakan dengan menyampaikan denah gambar dari lintasan beserta daerah untuk penonton dan paddock serta sistim pengamanan Penonton, Petugas, dan Peserta serta permintaan untuk Peninjauan Lokasi (Track Inspection). PP. IMI akan mengirimkan 1 (satu) orang Peninjau Lapangan pada saat 1 (satu) bulan sebelum tanggal pelaksanaan perlombaan dan biaya yang timbul untuk mendatangkan petugas peninjau lapangan dari PP. IMI ini ditanggung oleh pihak Penyelenggara. 11. KENDARAAN 11.1 Kendaraan yang dipertandingkan dalam perlombaan ini dikelompokan dan terbagi dalam Kelas sebagai berikut : Kelas 1 - Pro Stock Kelas 2 - Modifikasi Kelas 3 - Standard. Kelas Semi Bracket Time 11.2 Kelas 1 Pro Stock, sebagai berikut : Kendaraan yang telah ataupun belum diganti mesin, dengan jenis/merek lain Menambahkan alat khusus untuk memasukan udara ke dalam mesin baik dengan memanfaatkan gas buang maupun bantuan sabuk yang diputar oleh mesin. (Mis.: Turbo, Supercharger, dll). PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 7 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
31 Kendaraan yang khusus dibuat untuk perlombaan ini ataupun kendaraan yang telah mengalami perubahan pada rangka maupun bentuk luar Jenis mesin piston/rotary dan kapasitas mesin maximum 550 Cu.inch, jumlah cylinder maximum yang diijinkan adalah 8 Cylinder Sesuai dengan Peraturan Teknik atau Peraturan Tambahan khusus untuk kelas ini Kelas 2 Modifikasi,sebagai berikut : Kendaraan yang diproduksi atau dirakit secara masal, dan dipergunakan untuk umum yang diijinkan dimodifikasi sebagaimana tercantum dalam Peraturan ini ataupun diatur didalam Peraturan tersendiri Mempunyai body/chassis dan mesin dari merek atau jenis yang sama Mesin yang dipergunakan adalah mesin piston dengan pembakaran dalam dan berpendingin air Jumlah maximum cylinder yang diijinkan adalah 6 Cylinder Kelas 3 - Standard, sebagai berikut : Kendaraan yang diproduksi atau dirakit dan dipasarkan secara massal di dalam negeri, mempunyai mesin dan bentuk luar serta merek yang sama dengan aslinya dan hanya diijinkan untuk dimodifikasi sebagaimana tercantum dalam Peraturan ini Mesin yang dipergunakan adalah mesin piston dengan pembakaran dalam dan berpendingin air Perubahan pada kendaraan maupun bagiannya hanya dapat dilakukan sebagaimana yang diperbolehkan didalam Peraturan ini maupun Peraturan tambahan Untuk kendaraan yang mesin aslinya mempergunakan turbo atau super charger, maka kapasitas mesin dikalikan dengan 1, Station wagon termasuk dalam jenis sedan Kelas Semi Bracket, sebagai berikut : Mobil Jalanan (Street Legal) Adalah mobil yang mempunyai kelengkapan yang laik untuk dipergunakan di jalan raya, termasuk kelengkapan interior. Pemadam api di mobil minimal 1 kilogram Seat Belt minimal 3 titik Mobil yang hanya diperuntukkan bagi lomba dengan waktu tempuh kurang dari 13 detik (402m) atau 9 detik (201m) dan mobil yang disiapkan khusus untuk perlombaan olahraga bermotor, seperti : balap, rally, drag race, memakai turbo, NOS, supercharger.pemadam api minimal 1 kilogram Seat belt 4 titik Dianjurkan memasang roll cage 6 titik terbuat dari seamless pipe dengan tebal minimum 2,5 mm dan PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 8 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
32 diameter 45 mm. Roll Bar pipa 45mm 4 titik menggunakan diameter 12. PEMBERIAN ANGKA Kejuaraan Nasional Perlombaan Balap Mobil DRAG RACE untuk Pendaftar dan Pengemudi Peringkatnya akan ditentukan sebagai berikut : Peringkatnya akan ditentukan dari seluruh perlombaan dan berdasarkan hasil dari tiap serie perlombaan tersebut. Angka/point dapat ditambah-kan pada tiap akhir dari tiap serie perlombaan untuk tiap kendaraan dan pengemudi : Juara Point Juara Point Ke 1 = 10 Ke 5 = 5 2 = 8 6 = 4 3 = 7 7 = 3 4 = 6 8 = Dalam rangka menghasilkan klasifikasi pada Kejuaraan Nasional Perlombaan Balap Mobil DRAG RACE, Article 23, General Prescription FIA serta Peraturan Nasional Olah Raga PP. IMI harus juga menjadi dasar dari ketentuan ini Untuk perhitungan poin kejuaraan DAPAT menggunakan rumus n - 1 putaran dalam 1 (satu) tahun seri kejuaraan (n = Jumlah total putaran) dan juga peserta wajib mengikuti kejuaraan dengan rumus n -1. Misal dalam satu tahun diselenggarakan lima putaran. Poin yang diperhitungkan adalah perolehan 4 (empat) poin tertinggi yang diperoleh (contoh; bila mengikuti keseluruhan yaitu 5 putaran, diambil poin terbaik di 4 putaran dari 5 putaran yang diikuti tersebut) Jika terdapat perolehan angka yang sama, maka peserta yang paling banyak mendapat posisi yang lebih tinggi akan berada di atasnya, selanjutnya bila masih sama, peserta yang mendapatkan total angka lebih tinggi pada putaran 1 akan berada diatasnya, dan seterusnya. 13. PERSYARATAN PENGEMUDI Pendaftar, Peserta dan atau pendukungnya wajib mengutamakan dan menjunjung tinggi sportifitas olahraga, baik pada saat perlombaan maupun sebelum dan sesudahnya Untuk umum sesuai dengan Pasal 1 dan 15.1 (bila club event, hanya dapat diikuti oleh anggota club tersebut). PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 9 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
33 13.3 Patuh pada seluruh Peraturan Perlombaan yang ditetapkan Peserta harus dalam keadaan sehat lahir dan bathin dan bebas dari pengaruh minuman-minuman keras dan narkotika maupun obat-obatan terlarang lainnya. sanksi : Pemecatan Peserta yang bertengkar dengan Panitia atau Peserta, atau mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, akan mendapatkan penilaian dari Pengawas Perlombaan yang akan menentukan hukuman hingga Pemecatan Peserta wajib menghadiri Briefing sesuai dengan jadwal yan ditentukan oleh Panitia. Sanksi : denda minimumrp ,--. Jika berhalangan wajib menunjuk wakilnya secara tertulis ditujukan kepada Pimpinan Perlombaan. Peserta yang tidak hadir pada saat briefing wajib membayar denda dan dikenakan sanksi : Tidak berhak melakukan protes 13.7 Denda keterlambatan pemeriksaan kendaraan / scrutineering, minimum rp FORMULIR PENDAFTARAN 14.1 Pengemudi yang ingin mengikuti perlombaan ini, diwajibkan mengisi formulir pendaftaran yang disediakan di Sekretariat Panitia Penyelenggara dan dikembalikan 7 (tujuh) hari sebelum tanggal pelaksanaan, lengkap dengan data-data Pengemudi dan kendaraannya berikut 2 (dua) lembar pasfoto terbaru ukuran 4 x 6 cm., dan juga pembayaran biaya-biaya wajib kepada Panitia Penyelenggara Dilarang membuat perubahan-perubahan dalam formulir pendaftaran kecuali untuk hal-hal yang boleh dilakukan seperti tertera dalam Peraturan ini, namun pendaftar dapat mengganti kendaraan yang tersebut dalam formulir dengan kendaraan lain dalam Kelas yang sama, sampai menjelang Pemeriksaan Teknis Peserta atau pengemudi yang telah mengisi Formulir Pendaftaran ini berarti bertanggung jawab penuh yang seluas-luasnya atas kebenaran isi dari Formulir Pendaftaran yang disampaikannya Bila pada saat Pemeriksaan Teknis ternyata kendaraan tidak sesuai dengan Kelas yang didaftarkan, maka atas usul dari petugas pemeriksa dan disetujui oleh Pengawas Perlombaan, kendaraan tersebut dapat dipindahkan ke Kelas yang sesuai Dengan menandatangani formulir pendaftaran ini, maka pendaftar tunduk kepada hukum seperti yang tertera dalam Peraturan Perlombaan ini maupun Peraturan tambahannya Panitia Penyelenggara berhak menolak suatu pendaftaran tanpa wajib memberikan suatu alasan. 15. BIAYA PENDAFTARAN & ASURANSI PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 10 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
34 15.1 Biaya pendaftaran, tempat dan tanggal pendaftaran sebagaimana yang tercantum didalam Jadwal perlombaan atau dengan ketentuan sbb : Biaya pendaftaran biasa minimal Rp. 350, (tiga ratus lima puluh ribu rupiah) dikenakan untuk 1(satu) peserta per kendaraan sampai dengan 7 (tujuh) hari sebelum tanggal diadakannya Scrutineering, selanjutnya akan dikenakan denda pendaftaran yang akan ditentukan kemudian dengan denda maximum 100% dari biaya pendaftaran biasa Pendaftaran dibuka minimum 14 (empat belas) hari kerja sebelum tanggal pelaksanaan Pendaftaran hanya akan diterima bila biaya seluruhnya telah dilunasi dan menerima kwitansi yang dikeluarkan oleh Panitia Penggantian Pengemudi ataupun Kendaraan pada saat scrutineering dan setelah penutupan pendaftaran, dikenakan denda sebesar 1 (satu) kali biaya pendaftaran biasa Biaya-biaya pendaftaran akan dikembalikan secara utuh bila : Calon Peserta ditolak pendaftarannya Perlombaan tidak jadi dilaksanakan Peserta tidak sehat (dengan keterangan Dokter) Peserta yang mengundurkan diri, uang pendaftarannya akan menjadi milik Panitia Biaya pendaftaran termasuk premi asuransi yang menjamin kepentingan Peserta untuk diri masing-masing maupun kewajiban terhadap pihak ke 3 (tiga) yang berlaku pada saat perlombaan berlangsung. Pengemudi tidak termasuk pihak ke 3 (tiga) Asuransi yang dikeluarkan oleh Panitia Penyelenggara dengan alasan apapun tidak boleh merugikan asuransi yang dibuat oleh peserta Panitia berhak menolak atau membatalkan pendaftaran peserta tanpa harus memberikan penjelasan kepada peserta tersebut Panitia Penyelenggara maupun Pelaksana tidak dapat dikenakan tuntutan hukum maupun tuntutan lainnya atas kerugian jiwa maupun material yang diakibatkan oleh Peserta maupun Pihak Ketiga. 16. PERUBAHAN & PENAMBAHAN PERATURAN Perubahan atau penambahan ketentuan akan diumumkan melalui pengumuman resmi yang bertanggal dan bernomor dan merupakan suatu kesatuan dengan Peraturan. Papan Pengumuman resmi tersebut akan terpasang di Sekretariat dan tempattempat lain yang ditentukan, atau akan diberitahukan kepada para peserta secara langsung dengan tertulis dan tanda terima sebagai bukti, kecuali jika keadaan tidak memungkinkan yaitu sewaktu perlombaan sedang berlangsung dapat disampaikan secara lisan oleh petugas langsung kepada peserta. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 11 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
35 16.1 Kecuali Kelas yang termasuk didalam KEJURNAS dan KEJURDA, maka Penyelenggara/Pimpinan perlombaan berhak menambah/mengurangi Kelas lainnya sesuai dengan kondisi di tempat penyelenggaraan maupun kondisi peserta. 17. PENERAPAN & PENGERTIAN TENTANG PERATURAN 17.1 Peraturan ini dibuat berdasarkan Peraturan yang dikeluarkan oleh FIA dan Buku Peraturan Nasional Olah Raga Kendaraan Bermotor PP. IMI Pimpinan Perlombaan bertugas untuk menerapkan Peraturan beserta ketentuan-nya dalam perlombaan ini Protes yang menyangkut jalannya perlombaan harus ditujukan kepada Pimpinan Perlombaan sesuai dengan tata-cara menyampaikan protes Untuk soal-soal yang tidak diatur dalam Peraturan ini akan menjadi bahan pemikiran Pengawas Perlombaan yang memiliki wewenang tertinggi untuk mengambil keputusan Dengan melakukan pendaftaran, Peserta menyatakan telah mengetahui Peraturan Perlombaan dan akan mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan. Peserta secara langsung maupun tidak langsung bertanggung jawab atas segala hal yang timbul baik oleh perbuatannya maupun oleh tim atau supporternya dimana hal tersebut dapat dikenakan sanksi oleh Pimpinan Lomba ataupun Pengawas Lomba 17.6 Jika terjadi perbedaan pengertian atas peraturan ini maka PP. IMI akan menentukan keputusannya serta berlaku final dan tidak dapat diganggu gugat. 18. PESERTA 18.1 Kecuali jika ditentukan lain didalam peraturan tambahan, hanya 1 (satu) orang untuk tiap kendaraan yang diperbolehkan ikut sebagai peserta, dan wajib memiliki Kartu Ijin Start Nasional (KIS) Drag Race/Rekomendasi PP.IMI yang masih berlaku. Peserta diijinkan mendaftarkan kendaraannya untuk berlomba pada Kelas yang sesuai dengan kendaraannya pada Kelas Pro Stock, Kelas Modifikasi ataupun Kelas Standard Peserta dapat mendaftarkan dan mengikuti perlombaan dengan 1 (satu) atau lebih kendaraan hanya pada Kelas yang berbeda. Bila peserta mendaftarkan lebih dari satu pada kelas yang sama, maka hanya satu hasil terbaik yang diakui sedangkan hasil yang lain dianggap gugur dan tidak berhak mengikuti babak final 18.3 Kendaraan Kelas Standard diperkenankan ikut pada Kelas Pro Stock atau Kelas Modifikasi. Kendaraan Kelas Modifikasi diperkenankan ikut pada Kelas Pro Stock. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 12 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
36 18.4 Suatu Identity Card/Kartu Pengenal yang mencantumkan foto terbaru (4 x 6 Cm.), tanda-tangan awak dan scrutineer, data kendaraan, harus tetap ada di kendaraan selama perlombaan berlangsung dan wajib terlihat petugas, kegagalan ini akan mengakibatkan sanksi : Hukuman Peserta wajib mengisi formulir Data Teknis Kendaraan sebagaimana terlampir. Sanksi : Tidak diijinkan Scrutineering. 19. URUTAN START, TANDA PENGENAL & NOMOR START 19.1 Start dilakukan sesuai dengan urutan nomor start berdasarkan hasil undian atau ranking yang ditetapkan oleh IMI pada tahun sebelumnya 19.2 Start hanya dilakukan untuk tiap 2 (dua) kendaraan kecuali jika ternyata pada Kelas tersebut terdapat jumlah peserta ganjil Panitia Penyelenggara akan memberikan kepada peserta 2 (dua) buah Nomor Start besar beserta iklan-iklan wajib lainnya yang harus dipasang dan tetap terlihat jelas selama perlombaan berlangsung. Bila pada waktu perlombaan sedang berlangsung kedapatan : Salah satu Nomor Start hilang, maka Peserta akan mendapat hukuman denda sebesar Rp. 500,000.--/buah (lima ratus ribu rupiah) Kedua Nomor Start hilang pada saat yang sama, maka berlaku hukuman Pemecatan Nama Pengemudi wajib terlihat pada kedua sisi kendaraan berikut golongan darahnya, Sanksi : Hukuman Tanda Pengenal, Nomor Start dan Iklan wajib akan dibagikan untuk semua peserta ditempat Scrutineering. Peserta melakukan Scrutineering setelah memasang Tanda Pengenal, Nomor Start dan iklan wajib lainnya Kendaraan yang tidak memenuhi syarat ini tidak akan diperiksa dan tidak diijinkan untuk berlomba Nomor Start Peserta tidak diijikan untuk digunting, diperkecil ataupun dirubah, sanksi denda Rp. 500,000.--/1 sisi. Keterangan : Nomor Start kemungkinan dibagikan ditempat briefing ataupun pada saat pemeriksaan administrasi. 20. REPARASI 20.1 Anggota yang bekerja/membantu peserta adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab peserta bersangkutan. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 13 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
37 20.2 Reparasi dan pengisian bahan bakar hanya boleh dilakukan pada tempat yang telah ditentukan, kelalaian atas hal ini dapat berakibat sanksi : Pemecatan Service Crew dilarang memarkir kendaraannya atau membantu peserta dalam jarak 100 (seratus) meter dari tempat Start, kecuali untuk membantu peserta mengembalikan kendaraannya kelintasan pacu agar tidak menghalangi jalur Peserta lainnya. Service crew dilarang memasuki daerah Start atau daerah terlarang lainnya yang ditentukan oleh Panitia Peserta akan terkena hukuman Pemecatan bila : Memotong jalur lintasan yang telah ditentukan Bertindak tidak sportif Bertindak secara sendiri maupun kelompok melawan /bertengkar/menghina petugas, meng-intimidasi petugas, melakukan perkelahian dan hal-hal lainnya yang dapat dianggap bertindak tidak sportif. 21. PENGIKLANAN 21.1 Peserta diperbolehkan memasang iklan dikendaraannya dengan syarat : Sah menurut undang-undang RI dan Peraturan IMI serta syaratsyarat umum penyelengaraan perlombaan Tidak melampaui batas-batas tempat yang disediakan bagi Tanda Pengenal, Nomor Start dan juga pengiklanan wajib lainnya Tidak mengganggu pandangan Peserta Wajib memberitahu serta memohon ijin terlebih dahulu dari Panitia Penyelenggara ( 3) Panitia berhak menolak start peserta yang melakukan pemasaran/ membagikan produk iklan-nya pada arena perlombaan tanpa ijin tertulis dari panitia Kendaraan yang tidak memenuhi syarat pengiklanan tersebut tidak diijinkan untuk Start Kecuali mendapat ijin tertulis dari panitia, Peserta wajib memasang seluruh iklan yang diberikan panitia kepada peserta. 22. START 22.1 Peserta wajib membawa kendaraannya dan hadir ditempat Start sesuai dengan Jadwal start untuk masing-masing Kelas yang dikeluarkan oleh panitia, Peserta yang telambat hadir di tempat Start lebih dari 5 (lima) menit akan dikenakan sanksi : Hukuman Pada tiap Start akan dilepas 2 (dua) Peserta bersamaan (diusahakan dengan Kelas yang sama) Start dilakukan dengan cara : Memakai Christmas Tree atau yang sejenis, dengan mempergunakan lampu Putih, Kuning, Hijau dan Merah, Lampu hijau akan menyala sebagai tanda Start. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 14 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
38 lampu putih penunjuk staging dan pre staging Tiga (3) buah lampu kuning menyala secara berurutan sebagai countdown lampu hijau sebagai tanda start lampu merah mengindikasikan jump start 22.4 Tidak mampu Start dalam waktu 60 (enam puluh) detik setelah tanda Start diberikan, maka Peserta akan mendapat sanksi : Pemecatan Start suatu perlombaan hanya dapat ditunda oleh petugas dalam keadaan Force Majeure Bila peserta Start sebelum tanda Start diberikan (jump start / false start), akan mendapat angka hukuman (20) Dua puluh detik untuk lomba dengan sistem kelas Diskualifikasi untuk lomba dengan sistem bracket Untuk menentukan kejuaraan, Peserta dengan waktu tempuh tercepat yang dinyatakan dalam detik dan pecahannya adalah pemenangnya pada kelas ataupun waktu yang diikutinya Peserta yang menolak untuk Start sesuai dengan waktu dan posisi yang telah ditentukan akan mendapat hukuman 5(lima) detik Peserta yang tidak dapat menghadirkan kendaraan dan pengemudinya pada tempat start 5 (lima) menit setelah berakhirnya heat untuk peserta tersebut, maka peserta ini dianggap mengundurkan diri Peserta wajib mempersiapkan kendaraannya untuk start pada saatnya, keterlambatan untuk menghadirkan kendaraan dan pengemudinya dengan alasan apapun adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab peserta Start secara satu persatu tidak diijinkan, kecuali jumlah pesertanya ganjil atau dalam keadaan force majeure dan seijin Pengawas Perlombaan. 23. FINISH. Suatu perlombaan berakhir pada rambu/garis Finish, Peserta yang berhenti sebelum rambu Finish akan dikenakan sanksi : Pemecatan. Pencatatan waktu dilakukan di garis Finish yang dilakukan dengan alat cetak waktu dan didukung dengan pencatatan biasa (Alat cetak waktu bukan suatu keharusan). Hasil waktu tempuh Peserta yang dikeluarkan oleh Kamar Hitung adalah mengikat dan tidak dapat diprotes. 24. SISTIM PERLOMBAAN 24.1 Perlombaan ini dapat mempergunakan cara : Sistim Gugur : dimana Peserta yang kalah tidak dapat melanjut kan perlombaan berikutnya. Misal : Babak penyisihan dilakukan dengan urutan 30, 20 besar dan Final 10 besar. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 15 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
39 Sistim Waktu rata-rata Tercepat : melalui penyisihan dengan mengambil waktu rata2 tercepat pada seluruh heat dan peserta wajib mengikuti seluruh heat. Apabila terdapat nilai rata-rata yang sama diantara dua atau lebih peserta, penentuan urutan juara adalah untuk yang meraih waktu terbaik di heat pertama Sistem waktu rata-rata Tercepat dan Final sistem Gugur : melalui penyisihan dengan mengambil waktu rata-rata tercepat pada seluruh heat, peserta wajib mengikuti seluruh heat. Dari hasil tersebut diambil 8 (delapan) peserta terbaik untuk masuk final. Penentuan pemenang melalui head to head Khusus Kejurnas, Panitia menentukan sistim yang akan dipakai sesuai dengan pasal , pasal atau pasal Pada setiap perlombaan Kejurnas, Panitia berhak menentukan kelas yang dilombakan yaitu: Pilihan Kelas Waktu/Bracket Time : Peserta akan menentukan kelas waktu berdasarkan yang dicapainya pada saat QTT, ataupun berdasarkan keinginan peserta tersebut Pilihan kelas sesuai kapasitas mesin dan terbagi dalam kelas Pro Stock, kelas Modifikasi dan kelas Standard 24.3 Tata cara perlombaan Pada perlombaan Kejurnas, Panitia berhak menunda dan/atau menghentikan perlombaan yang sedang berlangsung dengan pertimbangan keselamatan penonton, petugas dan peserta Pada penyelenggaraan perlombaan Kejurnas, panitia WAJIB mengalokasikan waktu untuk latihan resmi pada kelas bracket dan disarankan menyediakan waktu latihan untuk kelas lainnya. Peserta yang mendaftar di kelas bracket berhak merubah kelas yang diikutinya setelah melakukan latihan pengambilan waktu Penyelenggara wajib mengadakan sesi babak kualifikasi untuk kelas bracket Penyelenggara wajib mengadakan minimum 2 heat / babak, untuk kelas kejurnas. 25. PEMERIKSAAN KENDARAAN SEBELUM START DAN SELAMA PERLOMBAAN Peserta yang akan mengikuti perlombaan harus tiba ditempat Scrutineering sesuai dengan Jadwal yang telah ditentukan. Peserta atau wakilnya yang melapor di Scrutineering diluar waktu tersebut akan dikenakan denda Rp. 500, (lima ratus ribu rupiah). Sesudah Scrutineering, bila terdapat kendaraan yang belum memenuhi PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 16 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
40 persyaratan, maka Pengawas Perlombaan akan memberikan batas waktu untuk memenuhi persyaratan tersebut. Kendaraan yang belum memenuhi persyaratan Scrutineering tidak diijinkan Start Scrutineering yang dilakukan sebelum Start merupakan pemeriksaan secara umum seperti pemeriksaan SIM, KTA & KIS, Merk/Model kendaraan dan penempelan sticker/iklan wajib serta kewajiban lainnya, kemudian diikuti dengan pemeriksaan : Indentifikasi peserta. Peserta wajib membawa pasfoto dirinya yang terbaru dengan ukuran 4 x 6 Cm. 2 buah Indentifikasi kendaraan, jika dianggap perlu oleh pihak Panitia Penyelenggara maka kendaraan diberikan tanda pada Chassis (rangka) dan Cylinder Blok serta Cylinder Head Peserta wajib menyampaikan data-data kendaraan dan spesifikasi mesin yang dipergunakannya untuk berlomba sesuai dengan lembar isian sebagaimana Lampiran Peserta diwajibkan memasang 1 (satu) atau 2 (dua) buah tabung pemadam api (jumlah minimum isi 2 Kg.), Sabuk Pengaman (minimum 4 point) kecuali kelas standard (dapat menggunakan sabuk pengaman asli kendaraan), peralatan keselamatan dan Crash Helmet harus sesuai dengan dengan Peraturan FIA. Kelas Standard, dianjurkan untuk memasang Roll Cage Pemeriksaan ulang dapat dilakukan setiap saat selama perlombaan, baik terhadap peserta maupun kendaraan. Jika terjadi penyimpangan akan dikenakan sanksi Peserta wajib menjaga agar Nomor Start, dan iklan yang diberikan oleh Panitia maupun tanda2 scrutineering, tetap terlindung dan tidak hilang sampai akhir perlombaan. Kelalaian atas hal tersebut berakibat Pasal diberlakukan Bila terjadi kecurangan ataupun ternyata terjadi penyimpangan dari Peraturan, maka hukuman akan segera dijatuhkan termasuk pihak yang membantu atau terlibat dalam pelanggaran tersebut. Kecurangan ini dapat dilaporkan kepada PP. IMI melalui Pengprov IMI, dapat dikenakan Sanksi Ada tidaknya suatu protes, Panitia berhak memerintahkan pembongkaran mesin kendaraan peserta. Penolakan atas pembongkaran ini dapat dikenakan Sanksi Pemecatan dari perlombaan Setiap kendaraan yang akan melakukan Scrutinering tidak diijinkan memasuki daerah Scrutineering mempergunakan Trailer atau kendaraan pengangkut lainnya. Kendaraan yang akan dilakukan Scrutineering sudah dalam keadaan mesin dapat dihidupkan (kecuali mendapatkan ijin dari Scrutineer) Tanpa seijin Petugas Scrutineer, kendaraan yang telah diperiksa dan dinyatakan lulus Scrutineering tidak diijinkan menambahkan sesuatu alat pada bagian mesin atau bagian lainnya. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 17 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
41 25.8 Panitia berhak untuk memeriksa aspek teknik selama perlombaan berlangsung dan akan dikenakan sanksi apabila terbukti melanggar peraturan ini. 26. HUKUMAN DAN DENDA. Hukuman dapat dijatuhkan kepada peserta oleh Pimpinan Perlombaan ataupun Pengawas Perlombaan atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan dengan bentuk hukuman Peringatan, Denda Uang/Waktu ataupun Pemecatan dari perlombaan. Penentuan hukuman selain yang tercantum disini adalah merupakan hak Pengawas Perlombaan dan tidak dapat diganggu gugat. Hukuman yang dijatuhkan oleh Pengawas Perlombaan adalah mutlak tanpa harus memberitahukan kepada peserta yang dijatuhkan hukuman dan tidak dapat diprotes kecuali dilakukan naik banding kepada PP. IMI. 27. PROTES DAN NAIK BANDING 27.1 Protes hanya dapat dilakukan oleh peserta yang diijinkan untuk berlomba, menghadiri briefing, dan masih berlomba pada perlombaan yang diprotesnya Protes diajukan selambat-lambatnya 30 (tigapuluh) menit setelah hasil sementara dikeluarkan dan sesuai dengan ketentuan-kententuan yang tertera Protes dianggap sah jika dilakukan secara tertulis dan diserahkan kepada Pimpinan Perlombaan disertai uang tunai sejumlah Rp ,000,--(satu juta rupiah) yang mana tidak akan dikembalikan apabila Protes tersebut ditolak Bila Protes menuntut pembongkaran bagian dari mesin kendaraan, pihak yang memprotes wajib menambah uang jaminan sebesar Rp , (dua juta rupiah) yang mana jika protes tidak benar, maka uang jaminan ini menjadi milik peserta yang diprotes dan pihak yang melakukan protes wajib membayar biaya-biaya yang timbul lainnya yang diakibatkan oleh protesnya Peserta dapat mengajukan naik banding atas keputusan tersebut sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tertera pada Peraturan Nasional IMI Satu protes hanya berlaku untuk satu peserta dan satu bidang, protes secara kolektif ditolak. 28. PENENTUAN KEJUARAAN 28.1 Penentuan Juara berdasarkan waktu tempuh tercepat dalam satuan detik dan pecahannya pada heat final ataupun berdasarkan Bracket Time, yaitu waktu tempuh peserta dan hukuman-hukuman waktu lainnya. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 18 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
42 28.2 Hasil resmi kejuaraaan untuk tiap Kelas wajib diumumkan sesuai Jadwal Perlombaan atau selambat-lambatnya 30 (tigapuluh) menit setelah perlombaan berakhir pada tiap Kelas, kecuali bila ada protes Peserta yang menjadi pemenang I, II dan III wajib naik ke panggung pemenang untuk penerimaan hadiah. Jika menolak tampil di panggung Panitia Penyelenggara tidak akan memberikan hadiah lainnya kecuali piala yang harus diambil sendiri di Sekretariat Panitia Penyelenggara Bila terjadi nilai waktu yang sama, maka peserta yang mendapat catatan waktu yang terbaik di heat sebelumnya akan berada diatasnya. Bila hal tersebut belum cukup, untuk menentukan juara maka catatan waktu yang terbaik seri sebelumnya pada heat ke 3 (tiga), heat ke 2 (dua) dan seterusnya wajib menjadi bahan keputusan. 29. HADIAH, PIALA & KEJUARAAN 29.1 Hadiah atas perlombaan ini sebagaimana tercantum didalam Peraturan Panitia Hanya Juara I, II dan III yang akan mendapat hadiah Piala Pembagian Piala dan hadiah uang adalah sebagai berikut : Bila dalam satu kelas terdaftar 5 peserta atau kurang, maka piala akan diberikan untuk juara I, II dan III, sedangkan hadiah uang ditiadakan Bila dalam satu Kelas terdaftar 6 s/d 10 Peserta, maka hadiah uang & Piala hanya akan diberikan kepada Juara I. Juara II dan III hanya menerima Piala Bila dalam satu Kelas terdaftar lebih dari 10 (sepuluh) Peserta atau, maka hadiah uang & Piala akan diberikan kepada Juara I, II, III Kecuali mendapat ijin dari Panitia, Juara I, II dan III wajib hadir pada acara pembagian hadiah Jika ditemukan tindakan tidak sportif atau pelanggaran terhadap buku peraturan ini (termasuk teknik) setelah berlangsungnya kejuaraan, maka penyelenggara dan atau PP IMI dapat merubah hasil kejuaraan yang sudah diumumkan. 30. TEAM SERVICE 30.1 Anggota yang bekerja/membantu peserta adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab peserta bersangkutan Service Car adalah crew berikut kendaraannya dan kendaraan tersebut membawa suku cadang, bahan bakar dan lain-lainnya yang akan digunakan oleh Peserta Service Car, Crew, dilarang memasuki lintasan pada saat perlombaan sedang berlangsung. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 19 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
43 30.4 Pengawas Perlombaan dapat menjatuhkan hukumam ataupun Sanksi lainnya atas pelanggaran Peraturan ini. 31. PENGUNDURAN DIRI DARI PERLOMBAAN Peserta yang mengundurkan diri dari perlombaan wajib membuat surat pengunduran diri dan menyerahkan kepada Panitia Perlombaan. 32. HAK PANITIA PELAKSANA Pimpinan Perlombaan dengan seijin Pengawas Perlombaan dapat mengambil keputusan atau kebijaksanaan sebagai berikut : 32.1 Membatalkan atau menunda perlombaan karena hal-hal yang tidak terduga Menghapus atau merubah bagian perlombaan dikarenakan hal-hal yang istimewa Mengeluarkan instruksi-instruksi yang memiliki kekuatan yang sama dengan Peraturan ini, instruksi-instruksi ini akan disampaikan kepada para Peserta secara tertulis yang akan dipasang dipapan Pengumuman resmi Memeriksa persyaratan kendaraan sebelum dan sesudah perlombaan Meminta kendaraan untuk dibongkar guna memeriksa persyaratan yang harus dipenuhi Memerintahkan Peserta untuk melakukan pembongkaran dan menyerahkan komponen-komponen, atau contoh-contoh yang diperlukan kepada petugas Scrutineering.Penolakan dari peserta akan dikenakan sanksi Pemecatan Mengeluarkan Peraturan Tambahan yang merupakan bagian dari Peraturan ini dan hal-hal lainnya yang dianggap perlu guna kelancaran dan keamanan perlombaan. 33. PENGIKLANAN SESUDAH LOMBA Pengiklanan dari hasil perlombaan oleh pendaftar, Peserta atau pihak lainnya, wajib mendapat ijin dari Panitia Penyelenggara. Persetujuan dari Panitia dilampiri dengan hasil perlombaan akan diberikan paling cepat 24 (dua puluh empat) Jam setelah waktu penyerahan permohonan ini. Penundaan pemasangan iklan oleh pihak lain bukan menjadi tanggung jawab Panitia Penyelenggara. Semua pengiklanan tentang hasil perlombaan wajib mencantumkan nama perlombaan ini disebelah atas dari iklan itu dan ukuran dari nama tersebut tidak boleh kurang dari 1/10 (sepersepuluh) dari panjang iklan dan wajib mencantumkan hasil lengkap kejuaraan. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 20 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
44 2. PERATURAN TEKNIK 1. KENDARAAN. Kendaraan yang telah lulus Pemeriksaan Teknis sebagaimana tercantum pada Peraturan Perlombaan Pasal 11 dan KELAS DAN PERSYARATAN KENDARAAN. Kelas yang dipertandingkan dalam perlombaan dikelompokkan dalam: 2.1 Kelas Bracket Time 201 meter 402 meter - FFA - FFA - 8 detik - 11 detik - 9 detik - 12 detik - 10 detik (Kejurnas) - 13 detik equivalen dengan 15 detik 402 meter - 11 detik - 14 detik - 12 detik - 15 detik - 13 detik - 16 detik - 14 detik - 17 detik - 18 detik 2.2 kapasitas mesin dan terbagi dalam : Kelas Kelas Kelas PRO STOCK MODIFIKASI Sedan Sedan Sedan 4 Cylinder n/a. Minibus Jeep, SUV STANDARD Sedan (2004 up) Sedan (2004 up) Sedan (Tahun bebas) Minibus (2004 up) Minibus (Tahun bebas) Diesel 1 s/d 1700 cc (Kejurnas) 1701 s/d 2500 cc 1 s/d 2500 cc 1 s/d 2700 cc 1 s/d 2500 cc 1 s/d 1300 cc 1301 s/d 1500 cc 1501 s/d 1600 cc (Kejurnas) 1 s/d 1500 cc 1501 s/d 2700 cc 1 s/d 3500 cc PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 21 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
45 3. PERUBAHAN/ MODIFIKASI. Perubahan/Modifikasi pada kendaraan maupun bagiannya hanya dapat dilakukan sebagaimana yang diperbolehkan didalam Peraturan ini dan jika melakukan perubahan pada mesin, kapasitas mesin tidak boleh melampui kapasitas mesin pada Kelas yang diikutinya. KELAS PRO STOCK I. Mesin. 1. Hanya diperbolehkan 1 buah mesin yang terpasang. 2. Diperbolehkan menggunakan Turbo/ Supercharger dan NOS. II. III. IV. Cylinder Head. 1. Diperbolehkan menggunakan Billet Head. 2. Diperbolehkan mengganti internal Cylinder Head. 3. Cylinder head boleh diganti dari type lain dari merk yang sama dengan blok nya yang diproduksi secara masal Blok Mesin. 1. Diperbolehkan mengganti semua internal blok mesin tetapi tidak melebihi kapasitas 550 Cubic inch. Transmisi/Gearbox 1. Dibebaskan V. Bahan Bakar. 1. Diperbolehkan menggunakan Avgas/Racing Fuel. 2. Tidak diizinkan memakai Methanol/ Propylene Oxide dan sejenisnya 3. Bila ada perbedaan ketentuan bahan bakar pada kelas yang dipertandingkan, akan diatur lebih lanjut. VI. Sistem Suplai Bahan Bakar. 1. Penempatan tangki bebas, jika penempatannya diatas harus menggunakan FT3 Fuel Tank sesuai Regulasi FIA. 2. Diperbolehkan merubah/ memodifikasi pompa bahan bakar dari internal menjadi external. 3. Diperbolehkan mengganti/ merubah/ memodifikasi pompa bahan bakar dengan kapasitas yang lebih besar. 4. Jika penempatan slang bensin di dalam body harus menggunakan braided seamless. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 22 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
46 5. Suplai bahan bakar boleh menggunakan sistem injection/ karburator. 6. Diperbolehkan mengganti Fuel Pressure Regulator dengan kapasitas yang lebih besar. 7. Diperbolehkan mengganti Nosel injector/ karburator dengan kapasitas yang lebih besar. 8. Diperbolehkan mengganti Fuel Rail. 9. Diperbolehkan menggunakan Surge Tank. VII. VIII. IX. Sistem Pengaturan Kerja Mesin. 1. Diperbolehkan memodifikasi/ mengganti Electronic Control Unit (E.C.U). 2. Diperbolehkan memodifikasi/ mengganti sistem pengapian (koil, kabel busi, komputer pengapian), dan diizinkan merubah/ memodifikasi dari Distributor menjadi Direct Fire/ Distributorless. Sistem Pelumasan Mesin. 1. Diperbolehkan menggunakan Dry Sump. 2. Wajib memasang Oil Catch Tank. 3. Diperbolehkan menggunakan Oil Cooler. Sistem Pendingin Mesin. 1. Diperbolehkan mengganti/ memodifikasi radiator. 2. Diperbolehkan mengganti kipas radiator. 3. Diperbolehkan mengganti Waterpump dengan pompa elektronik. X. Sistem Gas Buang. 1. Sistem gas buang bebas. XI. XII. XIII. Rem. 1. Diperbolehkan merubah/ memodifikasi/ Up Grade sistem pengereman, mis: dari Single piston menjadi 2/4/6/8 piston dan/ atau menambah sistem Anti Lock Brake System (A.B.S), yang tujuannya menambah daya pengereman/ Safety. 2. Rem pada ke-4 roda wajib berfungsi dengan baik. 3. Dianjurkan memakai alat bantu pengereman (mis. Parachute) Suspensi. 1. Sistem suspensi bebas. Body. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 23 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
47 1. Semua bagian kaca harus ada (depan, pintu dan belakang), namun dapat diganti dengan bahan acrylic dengan ketebalan minimal 3 mm. 2. Semua pintu harus ada dan memiliki tuas pembuka pintu dari sebelah luar kendaraan. 3. Bagian body diizinkan diganti dengan bahan yang lebih ringan, mis: Alumunium/ Fiber Glass, tapi tetap mengacu ke syaratsyarat keamanan/ Safety Regulation. 4. Chasis boleh dirubah/ dimodifikasi, mis: menggunakan Tubular Frame, tetapi harus di Reinforce dan menggunakan Roll Cage dengan bahan besi Seamless minimal ketebalan 2.5mm dan Diameter 45mm. 5. Jika kaca depan diganti dengan bahan acrylic atau polycarbonat, wajib diperkuat dengan bracket penahan di bagian tengah minimal 2 buah. 6. Diperbolehkan menggabungkan fender kanan, kiri, gril,bemper dan kap mesin menjadi suatu kesatuan. XIV. XV. Ban dan Velg. 1. Diperbolehkan menggunakan ban slick. 2. Ban dan velg harus berada didalam Fender, jika keluar wajib menggunakan Over Fender. 3. Tidak Diperbolehkan memakai ban/ velg yang khusus dibuat untuk ban cadangan (Emergancy Tire). 4. Dilarang memakai velg carbon fiber. Safety. 1. Wajib memasang roll cage minimal 6 titik terbuat dari seamless pipe (Carbon Drawn Steel T45 chromoly certified material) 2. Penempatan mesin harus diperhitungkan dengan baik (Tidak membahayakan, terutama bagi si pembalap maupun orang lain). 3. Pemadam api min. 1 buah 2 kg dan berfungsi dengan baik. 4. Wajib memasang safety belt min. 4 titik, dianjurkan 5 titik. 5. Wajib memakai baju balap, sarung tangan, sepatu balap dan FIA approved Helmet. 6. Wajib memakai engine cut off yang berfungsi dengan baik. 7. Wajib memasang bracket aki dengan benar. 8. Penempatan aki boleh didalam tapi posisi tidak boleh dekat dengan driver dan harus memakai tutup. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 24 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
48 KELAS MODIFIKASI 1. Sedan 1 s/d 1700 cc (kejurnas) 2. Sedan 1701 s/d 2500 cc 3. Sedan 4 Cylinder n/a. 1 s/d 2500 cc 4. Minibus 1 s/d 2700 cc I. Mesin. 1. Hanya diperbolehkan 1 buah mesin yang terpasang. 2. Kapasitas mesin max sesuai dengan kelasnya 3. Merk mesin harus sama dengan kendaraan tersebut, yang merupakan produksi massal sesuai dengan kapasitas mesin di kelasnya, kecuali diatur khusus dengan peraturan. 4. Tidak Diperbolehkan menggunakan NOS atau forced induction 5. Tidak Diperbolehkan merubah posisi mesin/ gerak roda, mis: Dari gerak roda depan ke gerak roda belakang. 6. Tidak Diperbolehkan merubah sistim penggerak 2WD menjadi 4WD begitupun sebalik nya 7. Engine balancing dan blue printing diperbolehkan 8. Blok mesin wajib menggunakan type dan memiliki spesifikasi dengan kendaraan yang dipasarkan di Indonesia II. III. IV. Cylinder Head. 1. Diperbolehkan mengganti komponen valve train pada cylinder head. 2. Cylinder head boleh diganti dari type lain, dari merk yang sama dengan blocknya, yang diproduksi secara massal 3. Diperbolehkan melakukan porting dan polish pada cylinder head Blok Mesin. 1. Diperbolehkan mengganti internal blok mesin. 2. Diperbolehkan mengurangi ketebalan blok mesin, untuk menaikan kompresi. Transmissi / Gearbox 1. Diperbolehkan mengganti gear ratio dan final gear. 2. Hanya gearbox yang mempergunakan sistim pemindahan gigi manual (H pattern) yang di izinkan untuk di PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 25 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
49 pergunakan.sistim pemindahan gigi transmisi dengan sistim Pneumatic,Hydraulic,Electric ataupun lainnya DILARANG 3. Diperbolehkan menggunakan LSD 4. Sistem perpindahan gigi, harus tetap menggunakan mekanisme synchronize gear. V. Bahan Bakar. 1. Diperbolehkan menggunakan Avgas/Racing Fuel. 2. Tidak diizinkan memakai Methanol/ Propylene Oxide dan sejenisnya 3. Bila ada perbedaan ketentuan bahan bakar pada kelas yang dipertandingkan, akan diatur lebih lanjut. VI. VII. VIII. IX. Sistem Suplai Bahan Bakar. 1. Diperbolehkan menggunakan FT 3 tank, jika tidak menggunakan FT 3 tank dan penempatan tangki di dalam body harus memakai tutup dan jauh dari driver dan menjunjung tinggi keselamatan. 2. Diperbolehkan mengganti pompa bensin dengan kapasitas yang lebih besar. 3. Diperbolehkan merubah/ memodifikasi pompa bensin dari Internal menjadi External. 4. Jika penempatan slang bensin di dalam body harus menggunakan braided seamless. 5. Diperbolehkan merubah/ mengganti/ memodifikasi dari sistem injection menjadi karburator dan sebaliknya. 6. Diperbolehkan merubah/ memodifikasi Fuel Pressure Regulator dengan kapasitas yang lebih besar. 7. Diperbolehkan mengganti Nosel injector/ karburator dengan kapasitas yang lebih besar. 8. Diperbolehkan mengganti Fuel rail. 9. Diperbolehkan memakai Surge Tank. Sistem Pengaturan Kerja Mesin. 1. ECU (Electronic Control Unit), Bebas 2. Karburator, Bebas 3. Sistem Pengapian, Bebas Sistem Pelumasan Mesin. 1. Tidak Diperbolehkan menggunakan dry sump. 2. Wajib memasang oil catch tank. 3. Diperbolehkan menggunakan oil cooler. Sistem Pendingin Mesin. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 26 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
50 1. Diperbolehkan mengganti/ memodifikasi radiator. 2. Diperbolehkan mengganti kipas radiator. 3. Tidak Diperbolehkan mengganti waterpump dengan jenis elektrik. X. Sistem Gas Buang. 1. Exhaust system / Gas Buang, Bebas. 2. Penempatan pipa gas, Bebas dan menjunjung tinggi keselamatan. XI. XII. XIII. XIV. Rem. 1. Diperbolehkan melakukan perubahan/ Up Grade sistem rem. 2. Rem pada ke-4 roda wajib berfungsi dengan baik. Suspensi. 1. Diperbolehkan mengganti shockabsorber dan per, tetapi tidak boleh merubah sistem. 2. Diperbolehkan merubah/ memodifikasi, yang sebelumnya menggunakan bushing karet menjadi Pillow ball. Body. 1. Semua bagian kaca harus ada (depan, pintu dan belakang) namun dapat diganti dengan bahan Polycarbonat ketebalan min. 3 mm atau acrylic ketebalan min. 5 mm. 2. Semua pintu harus ada dan memiliki tuas pembuka pintu dari dalam dan luar kendaraan yang berfungsi dengan baik. Sanksi tidak diijinkan start. 3. Khusus pintu pengemudi wajib menggunakan bahan asli atau aluminium 4. Diperbolehkan mengganti dengan bahan fiberglass atau aluminium untuk bagian : kap mesin fender depan kanan dan kiri ( one piece diijinkan ) tutup bagasi pintu pintu (point 3) dengan tetap memperhatikan keamanan/ Safety Regulation.. 5. Bila ada penambahan bobot, maka harus terikat secara solid dengan body atau frame kendaraan. 6. Jika kaca depan diganti dengan bahan acrylic harus diperkuat dengan tambahan bracket penahan di bagian tengah minimal 2 buah. 7. Diperbolehkan menambahkan aksesoris aerokit Ban dan Velg. 1. Diperbolehkan menggunakan ban slick. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 27 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
51 2. Ban dan velg tidak boleh keluar dari body, jika keluar harus menggunakan Over Fender. 3. Tidak boleh menggunakan ban/ velg yang khusus untuk ban cadangan (Emergancy Tire). 4. Dilarang memakai velg carbon fiber. XV. XVI. Safety. 1. Wajib memasang roll cage minimal 6 titik terbuat dari seamless pipe dengan tebal minimal 2,5 mm dan diameter 45 mm. 2. Pemadam api min.1 buah 2 kg dan berfungsi dengan baik. 3. Wajib memasang safety belt min. 4 titik, dianjurkan 5 titik. 4. Wajib memakai engine cut off. 5. Wajib memasang bracket aki dengan benar. 6. Penempatan accu boleh di dalam tapi posisi tidak boleh dekat dengan driver dan harus memakai tutup. Hanya modifikasi yang diperbolehkan secara jelas dalam peraturan ini yang diperbolehkan. Sanksi Pemecatan KELAS STANDARD 1. KELAS SEDAN STANDARD Kelas ini khusus untuk kendaraan sedan / Minibus FWD / City Car FWD, yang diproduksi dan atau dipasarkan di Indonesia minimal tahun Kelas Sedan Standard 1 s/d 1300cc 1.2. Kelas Sedan Standard 1301 s/d 1500cc 2. KELAS SEDAN STANDARD OPEN Kelas ini khusus untuk kendaraan Sedan yang diproduksi dan dipasarkan di Indonesia Kelas Sedan Standard Open 1501 s/d 1600cc ( kejurnas) 3. KELAS MINIBUS STANDARD Kelas ini khusus untuk kendaraan Minibus RWD / City Car RWD, yang diproduksi dan atau dipasarkan di Indonesia Kelas Minibus Standard 1 s/d 1500cc (minimal tahun 2004) 3.2. Kelas Minibus Standard 1501 s/d 2700cc I. Mesin. 1. Kapasitas mesin sesuai dengan kelasnya, 2. Merk dan type mesin harus sesuai asli kendaraan tersebut. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 28 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
52 3. Tidak diizinkan menggunakan Turbo/ NOS/ Super charger atau alat penambah tenaga lainnya. 4. Tidak diizinkan merubah posisi mesin/ gerak roda, mis: Dari gerak roda depan menjadi gerak roda belakang dan sebaliknya. 6. Baut-baut mesin bebas 7. Engine Mounting bahannya bebas, asal jumlah dan tempatnya sesuai dengan aslinya. 8. Panel-panel dalam ruang mesin yang berfungsi hanya dekorasi dan tidak memiliki fungsi keselamatan sama sekali, boleh dilepas 9. Penggunaan parts Non Genuine / Non Orisinil / bukan buatan ATPM-nya diperbolehkan tetapi jenis bahan, ukuran/dimensi dan fungsi harus sesuai aslinya,kecuali dinyatakan lain dalam pasal bersangkutan II. III. IV. Block Mesin 1. Kapasitas mesin (CC) harus sesuai dengan spesifikasi kendaraan tersebut yang dipasarkan di Indonesia. Oversize Piston diperbolehkan sesuai dengan manual repair yang diterbitkan oleh manufaktur kendaraan tersebut. 2. Penggunaan mesin bekas ( Limbah ) dari luar negeri diperbolehkan, tetapi komponen di dalam mesin ( misalnya crank shaft, piston dsb ) yang dipergunakan harusnya sesuai dengan spesifikasi mesin mobil tersebut yang dipasarkan di Indonesia 3. Blok mesin boleh di-slip. 4. Cylinder / sleeve / Liner bebas 5. Diperbolehkan merubah lubang baut bantalan / cover timing chain, akibat pengurangan ketebalan. 6. Pengurangan ketebalan blok diperbolehkan. Kepala Silinder 1. Compresion Ratio bebas, Cylinder Head / Kepala Silinder boleh di-slip 2. Packing / Gasket cylinder Head bebas. 3. Modifikasi Cover Timing diperbolehkan. 4. Bahan dari bushing klep (valve guide / vavle seat) bebas. 5. Pengurangan ketebalan head diperbolehkan. 6. Diperbolehkan melakukan porting dan polish pada sisi intake maupun exhaust. 7. Bentuk dan sudut valve seat bebas, material harus identik dengan aslinya. Sistem pendingin Mesin 1. Thermostat dan tutup radiator bebas PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 29 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
53 V. Sistem Gas Buang 1. Exhaust Manifold / Manipol Api bebas 2. Exhaust Pipes / Pipa Knalpot ukuran bebas 3. Sistem / pipa knalpot yang berada sesudah manifold bebas. 4. Tile pipe / ujung knalpot belakang harus keluar dibawah bumper belakang. VI. VII. VIII. Pemasukan Bahan Bakar dan Udara 1. Filter udara hoses airboxnya bebas untuk diganti atau dimodifikasi. Sistem Computer Mesin 1. Software boleh diprogram ulang (remapping) 2. Pemakaian piggyback yang telah dihomologasi oleh IMI diperbolehkan 3. Ecu board bebas, pin out / connector nya bentuknya harus sesuai asli. Pengapian 1. Merk dan type Busi bebas. 2. Kabel busi bebas, tetapi sistemnya harus sesuai aslinya. 3. Coil bebas, tetapi sistem harus sesuai aslinya IX. Transmissi 1. Disc Clutch dan Cover Clutch boleh diganti dan atau boleh dirubah, baik diameter dan pcd, namun jumlah dan sistemnya harus sama dengan aslinya. 2. Flywheel / Roda Gila Flywheel standar boleh diringankan. 3. Mounting / Dudukan Mounting gearbox bahannya bebas, asal jumlah dan tempatnya sesuai dengan aslinya. 4. Mekanisme Short Shifter boleh digunakan, kedudukan dan letak Short Shift tidak boleh dirubah tempatnya X. Suspensi 1. Diperbolehkan mengganti shockabsorber dan per 2. Diperbolehkan memasang strut bar dan atau sway bar 3. Diperbolehkan menambah reinforcement chassis parts XI. Ban / Velg 1. Diperbolehkan penambahan spacer roda. 2. Ukuran ban depan dan belakang harus sama. 3. Ukuran Velg bebas 4. Ban dan velg tidak boleh keluar dari body. 5. Dilarang menggunakan ban full slick, ataupun ban full slick yang dimodifikasi sehingga memiliki alur / groove. PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 30 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
54 XII. XIII. XIV. XV. XVI. XVII. XVIII. Sistem Rem 1. Bahan kampas rem disk brake dan sepatu rem tromol bebas 2. Piringan disc brake boleh dilubangi dan atau slotted. 3. Pipa / Selang rem boleh diganti dengan selang braided Ruang Kabin 1. Jok pengemudi boleh diganti tetapi harus dilakukan dengan menjunjung tinggi asas keselamatan. 2. Setir boleh diganti dan atau ditambahkan spacer. 3. Instrumen tambahan aftermarket yang boleh digunakan hanyalah pengukur RPM, kapasitas bensin (fuel level gauge), suhu air coolant (water temperatur gauge) dan tekanan oli (oil preassure gauge). 4. Fasilitas datalogging diperbolehkan. Exterior / Tampak Luar 1. Diperbolehkan menambah/memasang Spoiler dan atau Side skirt. 2. Sudut kemiringan kap mesin bebas, tetapi sisi yang menghadap ke depan saat kap tertutup harus rapat dengan gril seperti aslinya. Interior 1. Diperbolehkan memasang roll cage atau roll bar 2. Jok / kursi depan boleh diganti dengan bucket seat / semi bucket, tetapi wajib menggunakan safety belt 4 titik 3. Stir / roda kemudi boleh diganti dan ditambahkan spacer. 4. DILARANG : melepas atau mengurangi side bar door impact dan sejenisnya. Bahan bakar 1. Diperbolehkan menggunakan avgas atau racing fuel 2. Tidak diizinkan memakai Methanol / Propylene Oxide dan sejenisnya 3. Bila ada perbedaan ketentuan bahan bakar pada kelas yang dipertandingkan, akan diatur lebih lanjut. Safety 1. Safety belt dapat menggunakan asli kendaraan dan berfungsi dengan baik. 2. Disarankan membawa pemadam api minimum 1 kg dan terpasang dengan baik. Hanya modifikasi yang diperbolehkan secara jelas dalam peraturan ini yang diperbolehkan. Sanksi Pemecatan PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 31 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
55 KELAS KENDARAAN BERMESIN DIESEL (MD) 1. Mesin dan body sesuai dengan perakitannya yang diproduksi massal 2. Eksterior / tampak bentuk dan bahan sesuai aslinya 3. Kapasitas mesin tidak boleh melebihi 3500cc ( Natural aspirated atau force induction) 4. Dilarang menggunakan NOS 5. Diijinkan tidak memakai Roll Bar tetapi wajib mempergunakan Safety Belt, dengan kursi penumpang depan wajib terpasang 6. Hal-hal lain yang tidak dicantumkan diatur tersendiri dalam Peraturan Pelengkap Perlombaan yang dikeluarkan oleh Panitia dengan persetujuan Pengawas Perlombaan PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 32 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
56 PILIHAN WAKTU (BRACKET TIME) A. KELAS DAN PERSYARATAN KENDARAAN Untuk Drag Race Kelas-kelas yang diperlombakan dikelompokan sesuai dengan waktu tempuh yang ditentukan oleh peserta (BRACKET TIME). Jenis kelas-kelas berdasarkan detik yaitu : 1. Jarak tempuh 402 meter: a) Kelas 15 Detik (Waktu Tempuh 15,000 s.d. 17,000 detik) b) Kelas 16 Detik (Waktu Tempuh 16,000 s..d 18,000 detik) c) Kelas 17 Detik (Waktu Tempuh 17,000 s.d. 19,000 detik) d) Kelas 18 Detik (Waktu Tempuh 18,000 s.d. 20,000 detik) e) Kelas 19 Detik (Waktu Tempuh 19,000 s.d. 21,000 detik) 2. Jarak tempuh 201 meter a) Kelas 7 Detik (Waktu tempuh s.d. 7,999 detik) b) Kelas 8 Detik (Waktu tempuh 08,000 s.d. 08,999 detik) c) Kelas 9 Detik (Waktu tempuh 09,000 s.d. 09,999 detik) d) Kelas 10 Detik (Waktu tempuh 10,000 s.d. 10,999 detik) (KEJURNAS) e) Kelas 11 Detik (Waktu tempuh 11,000 s.d. 11,999 detik) f) Kelas 12 Detik (Waktu tempuh 12,000 s.d. 12,999 detik) g) Kelas 13 Detik (Waktu tempuh 13,000 s.d. 13,999 detik) h) Kelas 14 Detik (Waktu tempuh 14,000 s.d. 14,999 detik) 1. Jenis Kendaraan yang diperbolehkan mengikuti lomba: a. Bebas. 2. Persyaratan kendaraan dalam segi keselamatan a. Mobil Jalanan (Street Legal) Adalah mobil yang mempunyai kelengkapan yang laik untuk dipergunakan di jalan raya, termasuk kelengkapan interior. Pemadam api di mobil minimal 1 kilogram Seat Belt minimal 3 titik b. Mobil yang hanya diperuntukkan bagi lomba dengan waktu tempuh kurang dari 13 detik dan mobil yang disiapkan khusus untuk perlombaan olahraga bermotor, seperti : balap, rally, drag race, memakai turbo, NOS, supercharger. Pemadam api minimal 1 kilogram Seat belt 4 titik Dianjurkan memasang roll cage 6 titik terbuat dari seamless pipe dengan tebal min. 2.5 mm dan diameter 45 mm. Jika Roll Bar, minimum 4 titik dengan diameter pipa 45mm PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 33 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
57 B. SISTEM PERLOMBAAN DRAG RACE DENGAN PILIHAN WAKTU : Sistem yang dipergunakan dalam perlombaan ini adalah : 1. Perlombaan dibagi dalam kelas sesuai dengan pilihan waktu tempuh (BRACKET TIME), dan kategori kelas ditentukan oleh peserta. 2. Setelah Lulus Scrutineering, peserta berhak dan diberi kesempatan untuk mencoba lintasan. 3. Setelah mencoba catatan waktunya, peserta diwajibkan untuk menentukan kelas yang akan diikuti dengan melaporkan/mendaftar ulang pada Sekretariat. Panitia berhak menentukan kelas peserta bila yang bersangkutan tidak melaporkan / mendaftar ulang sampai batas waktu yang telah ditentukan. 4. Perlombaan akan dilaksanakan dalam 2 (dua) heat dengan sistem sesuai pasal , atau Peraturan Nasional Perlombaan Drag Race kecuali bagi peserta yang gugur di heat pertama. Ketentuan : - Peserta dianggap gugur apabila : a. Waktu tempuhnya lebih cepat dari kelas Waktu yang diikuti, diskualifikasi. Contoh : Pada kelas 13 Detik, catatan waktu tempuh tercepat adalah 13,000 detik apabila lebih cepat dari waktu tersebut peserta dianggap gugur. b. Waktu tempuh lebih lambat 2 detik (402 meter) atau 1 detik (201 meter) dari Kelas Waktu yang diikuti. Contoh : Pada kelas 13 Detik (402 meter), waktu tempuh paling lambat adalah 14,999 detik, apabila lebih lambat dari waktu tersebut peserta dianggap gugur. 5. Pada saat hujan (ataupun force majeur lainnya) di heat ke II, termasuk yang telah diikuti oleh sebagian peserta di kelas waktu bersangkutan, yang akan diambil adalah waktu pada heat I, dan seterusnya. 6. Penentuan waktu tempuh setiap kelas ditentukan dengan : a. Peserta wajib mengikuti heat I maupun heat II. b. Waktu tempuh rata-rata yang diambil dari kedua heat c. Waktu tercepat dari kelas yang diikuti. Contoh : a. Pembalap A (Kelas 13 Detik) Catatan Waktu : Heat I = detik Heat II = detik Maka catatan waktu yang dinilai adalah : 2 = detik PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 34 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
58 b. Pembalap B (Kelas 13 Detik) Catatan Waktu : Heat I = detik Maka pembalap tersebut tidak berhak untuk diambil waktunya (Gugur). c. Pembalap C (Kelas 14 Detik) Catatan Waktu : Heat I = detik Maka pembalap tersebut langsung gugur d. Pembalap D (Kelas 13 Detik) Heat I = Heat II = Maka pembalap tersebut dianggap gugur. 7. Jump Start Apabila peserta melakukan jump start maka catatan waktunya dianggap maksimum dari kelas yang diikuti Contoh : a) Kelas 13 Detik (402 meter) terkena hukuman jump start menjadi 15,000 detik b) Kelas 13 Detik (201 meter) terkena hukuman jump start menjadi 13,999 detik PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 35 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
59 - Lampiran 1 DATA - DATA TEKNIS KENDARAAN PESERTA No. Nama Peserta Merek Kendaraan Model/Jenis Merek/Type Mesin Tahun Pembuatan : :.... :. :. :. MESIN : Jumlah Cylinder Kapasitas Mesin :. :. cc. Saya menyatakan bahwa apa yang tertera diatas adalah benar sesuai dengan keadaan sebenarnya. Jika ternyata pada saat pemeriksaan kendaraan (pembongkaran) ternyata tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang dijatuhkan oleh panitia. Pengemudi/Pendaftar Scrutineer Materai Rp.6000,-- Nama Jelas : PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE 36 PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL DRAGRACE
PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI : 2013 DAFTAR ISI BAB I UMUM Pasal 1 HAK-HAK IMI... 3 Pasal 2 PERATURAN NASIONAL... 3 Pasal 3 PELAKSANAAN PERATURAN-PERATURAN...
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI : 2014 P E R A T U R A N N A S I O N A L 0 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR DAFTAR ISI BAB I UMUM Pasal 1 HAK-HAK IMI... 3 Pasal 2 PERATURAN
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI : 2014 P E R A T U R A N N A S I O N A L 0 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR DAFTAR ISI BAB I UMUM Pasal 1 HAK-HAK IMI... 3 Pasal 2 PERATURAN
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI : 2014 P E R A T U R A N N A S I O N A L 0 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR DAFTAR ISI BAB I UMUM Pasal 1 HAK-HAK IMI... 3 Pasal 2 PERATURAN
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI : 2014 P E R A T U R A N N A S I O N A L 0 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR DAFTAR ISI BAB I UMUM Pasal 1 HAK-HAK IMI... 3 Pasal 2 PERATURAN
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI : 2014 P E R A T U R A N N A S I O N A L 0 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR DAFTAR ISI BAB I UMUM Pasal 1 HAK-HAK IMI... 3 Pasal 2 PERATURAN
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI : 204 P E R A T U R A N N A S I O N A L 0 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR DAFTAR ISI BAB I UMUM Pasal HAK-HAK IMI... 3 Pasal 2 PERATURAN NASIONAL...
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
PERATURAN OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI : 2014 P E R A T U R A N N A S I O N A L 0 OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR DAFTAR ISI BAB I UMUM Pasal 1 HAK-HAK IMI... 3 Pasal 2 PERATURAN
PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI : 2017 1 PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR DAFTAR ISI BAB I UMUM Pasal 1 HAK-HAK IMI... 4 Pasal 2 PERATURAN NASIONAL...
PERATURAN DASAR TENTANG DISIPLIN DAN PERADILAN. (Lampiran B Peraturan Dasar Olahraga Sepeda Motor)
B PERATURAN DASAR TENTANG DISIPLIN DAN PERADILAN (Lampiran B Peraturan Dasar Olahraga Sepeda Motor) IKATAN MOTOR INDONESIA Edisi : 2016 Peraturan Dasar Olahraga Sepeda Motor 40 TENTANG DISIPLIN & PERADILAN
Peraturan Dasar Olahraga Sepeda Motor Nasional Lampiran : A. Peraturan Dasar Tentang Medik
ISI BUKU Peraturan Dasar Olahraga Sepeda Motor Nasional... 4 28 Lampiran : A. Peraturan Dasar Tentang Medik... 29 39 B. Peraturan Dasar Tentang Disiplin dan Peradilan... 40 52 C. Peraturan Umum Balap Sepeda
PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI : 2016 DAFTAR ISI 1 PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR BAB I UMUM Pasal 1 HAK-HAK IMI... 4 Pasal 2 PERATURAN NASIONAL...
SURAT KEPUTUSAN No : 005/IMI - JABAR/SK-JUKLAK ADV. MOTOR/WIS/A/I/2014 Tentang
SURAT KEPUTUSAN No : 005/IMI - JABAR/SK-JUKLAK ADV. MOTOR/WIS/A/I/2014 Tentang PERATURAN PENYELENGGARAAN EVENT ADVENTURE MOTOR RAPAT KERJA PROVINSI 2013 IKATAN MOTOR INDONESIA JAWA BARAT BAB I PENYELENGGARAAN
ISI BUKU. Peraturan Dasar Olah Raga Sepeda Motor Nasional A. Peraturan Dasar Tentang Medik
ISI BUKU Peraturan Dasar Olah Raga Sepeda Motor Nasional... 4-36 LAMPIRAN A. Peraturan Dasar Tentang Medik... 37-49 B. Peraturan Dasar Tentang Disiplin dan Peradilan... 50-64 C. Peraturan Umum Drag Bike...
PERATURAN UMUM SERI Indonesia Night City Slalom 2014
PERATURAN UMUM SERI Indonesia Night City Slalom 2014 PENYELENGGARA SMN PELAKSANA GENTA AUTO & SPORT Jl Petogokan I.Gang IV.No 5 Gandaria utara kebayoran baru,jakarta selatan 12140 Tlp: 7210202, 7236986
SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 060/IMI/SK Organ/A/III/2016
SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 060/IMI/SK Organ/A/III/2016 T e n t a n g PETUNJUK PELAKSANAAN MUSYAWARAH PROVINSI IKATAN MOTOR INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERUBAHAN PERATURAN BALAP MOTOR TAHUN 2017
PERUBAHAN PERATURAN BALAP MOTOR TAHUN 2017 A. Region 3 (Bali NTB NTT) dan Region 2 (Jawa) digabungkan. B. Kelas Utama dalam Kejuaraan Nasional Balap Motor tahun 2017 : 1. Kelas Bebek 150cc 4 Langkah Tune
PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN
PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN 1. JUDUL/ NAMA PERLOMBAAN Perlombaan ini bernama: KNPI CUP RACE SUMATRA OPEN CHAMPIONSHIP 2016 2. WAKTU DAN TEMPAT Waktu dan tempat penyelenggaraan: Hari : Sabtu Minggu Tanggal
PERATURAN ORGANISASI IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 001/IMI/PO/II/2016
PERATURAN ORGANISASI IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 001/IMI/PO/II/2016 Tentang ORGANISASI IKATAN MOTOR INDONESIA Pasal 1 PENDAHULUAN 1. Peraturan Organisasi ini ditetapkan sebagai tindak lanjut dari ketentuan
PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN
PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN 1. JUDUL/ NAMA PERLOMBAAN Perlombaan ini bernama: SUMATRA OPEN CHAMPIONSHIP 2016 2. WAKTU DAN TEMPAT Waktu dan tempat penyelenggaraan: Hari : Sabtu Minggu Tanggal : 13-14
PERATURAN DAN KETENTUAN PERTANDINGAN CABOR FUTSAL
6 PERATURAN DAN KETENTUAN PERTANDINGAN CABOR FUTSAL A. UMUM 1. Pelaksanaan Pertandingan Tanggal : 14 20 November 2015 Tempat : Lapangan Fair Play Seutui, Banda Aceh 2. Technical Meeting Umum Tanggal :
WALI KOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 10 TAHUN 2015
WALI KOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALI KOTA BALIKPAPAN,
PERATURAN PERLOMBAAN BALAP INDONESIA CBR RACE DAY
PERATURAN PERLOMBAAN BALAP INDONESIA CBR RACE DAY 1. PENDAHULUAN. Peraturan Peraturan berikut ini, merupakan lampiran dan/atau tambahan/ pelengkap untuk peraturan balap Indonesia CBR Race Day. 2. PRINSIP
INDEX PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL SLALOM. IKATAN MOTOR INDONESIA Edisi : 2013
PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL SLALOM INDEX 1. DEFINISI DAN KLASIFIKASI OLAHRAGA BERMOTOR SLALOM 2. PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA BERMOTOR SLALOM 3. PERATURAN KEJUARAAN SLALOM 4. PERATURAN PERLOMBAAN SLALOM
PERATURAN UMUM SERI Indonesia Extreem Slalom Challenge 2014
Draft ` Indonesia Extreem Slalom Challenge 2014 PENYELENGGARA SMN PELAKSANA GENTA AUTO & SPORT Jl Petogokan I.Gang IV.No 5 Gandaria utara kebayoran baru,jakarta selatan 12140 Tlp: 7210202, 7236986 Fax:
PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN PERTANDINGAN AAJI SPORTAINMENT 2018
PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN PERTANDINGAN AAJI SPORTAINMENT 2018 A. PESERTA Peserta yang mengikuti AAJI SPORTAINMENT 2018 terdiri dari Pemain dan Manajer/Official Tim, sebagai berikut: 1. Pemain adalah para
PERATURAN KOMPETISI RC ROCK CRAWLING
PERATURAN KOMPETISI RC ROCK CRAWLING Pengantar Panduan peraturan ini bertujuan untuk menstandarisasikan peraturan kompetisi Radio Control jenis Rock Crawling yang diselenggarakan di Indonesia. Peraturan
PERATURAN KARTING IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI 2017
PERATURAN KARTING IKATAN MOTOR INDONESIA EDISI 2017 PERATURAN PERLOMBAAN OLAHRAGA KARTING IKATAN MOTOR INDONESIA Peraturan Karting IMI 2017 ii Peraturan Karting IMI 2017 DAFTAR ISI BAB I TIGA AZAS OLAHRAGA
BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1
LAMPIRAN : Keputusan Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia Nomor : Kep-04/BAPMI/11.2002 Tanggal : 15 Nopember 2002 Nomor : Kep-01/BAPMI/10.2002 Tanggal : 28 Oktober 2002 PERATURAN DAN ACARA BADAN ARBITRASE
PEMBERITAHUAN PENTING, SYARAT DAN KETENTUAN, DAN PERATURAN LOMBA
PEMBERITAHUAN PENTING, SYARAT DAN KETENTUAN, DAN PERATURAN LOMBA PEMBERITAHUAN PENTING Peserta wajib membaca Pemberitahuan Penting, Syarat dan Ketentuan dan Peraturan Lomba secara seksama sebelum mengikuti
6 TH INDONESIA ELITE AMATEUR CHAMPIONSHIP INFORMASI PERTANDINGAN
1. Pelaksana Pertandingan 6 th Indonesia Elite Amateur Championship akan dilaksanakan oleh sebuah Panitia yang telah ditunjuk oleh PB PGI untuk melaksanakan pertandingan tersebut dan selanjutnya akan disebut
KEJUARAAN BULUTANGKIS DJARUM SIRKUIT NASIONAL BALI OPEN 5 10 NOPEMBER 2012
KEJUARAAN BULUTANGKIS DJARUM SIRKUIT NASIONAL BALI OPEN 5 10 NOPEMBER 2012 ( RANKING POINT ) 1. NAMA KEJUARAAN : DJARUM SIRKUIT NASIONAL BALI OPEN 2012 2. PELAKSANAAN a. Waktu : Tanggal 5 10 Nopember 2012
CONTOH SURAT PERJANJIAN KERJA SAMA DALAM BIDANG OLAHRAGA
CONTOH SURAT PERJANJIAN KERJA SAMA DALAM BIDANG OLAHRAGA SURAT PERJANJIAN KERJA SAMA Nomer: ---------------------------------------------------- Pada hari ini ------------------ tanggal ( --- tanggal,
ANGGARAN DASAR IKATAN MOTOR INDONESIA
ANGGARAN DASAR IKATAN MOTOR INDONESIA PEMBUKAAN Bahwa untuk, mencapai tujuan Negara Republik Indonesia yaitu masyarakat adil dan makmur, baik materil maupun sprituil, perlu dilaksanakan pembangunan disegala
BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO
BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO Edisi Januari 2009 1 PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO Pendaftaran Uji Kompetensi Manajemen Risiko dapat dilakukan secara kolektif dari
ISI BUKU. Peraturan Dasar Olahraga Sepeda Motor Nasional
ISI BUKU Peraturan Dasar Olahraga Sepeda Motor Nasional... 4-28 Lampiran : A. Peraturan Dasar Tentang Medik... 29-39 B. Peraturan Dasar Tentang Disiplin dan Peradilan... 40-52 C. Peraturan Grasstrack...
PERATURAN LOMBA 2 3 SEPTEMBER 2016
PERATURAN LOMBA 2 3 SEPTEMBER 2016 Peraturan lomba MONASTANA JAKARTA OPEN 2016 di adopsi dari peraturan yang sudah sering digunakan pada kejuaraan di Indonesia dan FIRS (Federation Internationale de Roller
ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH PERUBAHAN KE VII
ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH PERUBAHAN KE VII Hasil Keputusan Rapat Kerja Nasional Pra Kongres di Jakarta tanggal 25-26 Oktober 2013 BAB I STATUS PERKUMPULAN Pasal 1 IKATAN PEJABAT
KEJUARAAN BULUTANGKIS DJARUM SIRKUIT NASIONAL SGS PLN JAWA BARAT OPEN MEI 2012
KEJUARAAN BULUTANGKIS DJARUM SIRKUIT NASIONAL SGS PLN JAWA BARAT OPEN 2012 21 26 MEI 2012 ( RANKING POINT ) 1. NAMA KEJUARAAN : DJARUM SIRKUIT NASIONAL SGS PLN JAWA BARAT OPEN 2012 2. WAKTU DAN TEMPAT:
PERATURAN KHUSUS CABANG MINI SOCCER LIGA MEDIKA 2018
= PERATURAN KHUSUS CABANG MINI SOCCER LIGA MEDIKA 2018 BAB I PESERTA PERTANDINGAN 1. Kompetisi Mini Soccer IMSSO Liga Medika 2018 dibuka untuk mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Dokter atau Program
PERATURAN PERTANDINGAN CABOR KEMPO
PERATURAN PERTANDINGAN CABOR KEMPO Pasal 1. PENDAHULUAN 1.1 Pekan Olahraga Mahasiswa Tingkat Nasional XV Tahun 2017 merupakan Kejuaraan Nasional multi event antar Mahasiswa yang diselenggarakan oleh BAPOMI
BALAP SEPEDA INDONESIA
PERATURAN ORGANISASI BUKU 1 PERATURAN PERLOMBAAN BALAP SEPEDA INDONESIA I S S I Disusun Oleh : TIM PERUMUS PB. ISSI INDONESIAN CYCLING FEDERATION PENGURUS BESAR IKATAN SPORT SEPEDA INDONESIA Jakarta Oktober
LEMBARAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA. (Berita Resmi Kota Yogyakarta) Nomor 2 Tahun 2001 Seri C PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA (PERDA KOTA YOGYAKARTA)
LEMBARAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA (Berita Resmi Kota Yogyakarta) Nomor 2 Tahun 2001 Seri C PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA (PERDA KOTA YOGYAKARTA) NOMOR 45 TAHUN 2000 (45/2000) TENTANG PENYELENGGARAAN PENGUJIAN
DRAFT 16 SEPT 2009 PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
DRAFT 16 SEPT 2009 PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA, Menimbang : a. bahwa
ANGGARAN RUMAH TANGGA INDONESIA MAX OWNERS (IMO) BAB I PRINSIP DASAR DAN KODE KEHORMATAN. Pasal 2 Kode Kehormatan
ANGGARAN RUMAH TANGGA INDONESIA MAX OWNERS (IMO) BAB I PRINSIP DASAR DAN KODE KEHORMATAN Pasal 1 Prinsip Dasar Prinsip dasar adalah: 1. Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Peduli tehadap bangsa, tanah air
SALINAN L E M B A R AN D A E R A H KABUPATEN BALANGAN NOMOR 13 TAHUN 2007 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG
1 SALINAN L E M B A R AN D A E R A H KABUPATEN BALANGAN NOMOR 13 TAHUN 2007 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG GARIS SEMPADAN BANGUNAN DI KABUPATEN BALANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN
1 st INDONESIA ELITE AMATEUR CHAMPIONSHIP INFORMASI PERTANDINGAN
1. Pelaksana Pertandingan 1 st Indonesia Elite Amateur Championship akan dilaksanakan oleh sebuah Panitia yang telah ditunjuk oleh PB PGI Bidang Pertandingan untuk melaksanakan pertandingan tersebut dan
ANGGARAN RUMAH TANGGA INDONESIA OFF-ROAD FEDERATION. Keputusan Rapat Paripurna Nasional IOF di Jakarta, tanggal 12 Nopember 2011 Nomor :...
ANGGARAN RUMAH TANGGA INDONESIA OFF-ROAD FEDERATION Keputusan Rapat Paripurna Nasional IOF di Jakarta, tanggal 12 Nopember 2011 Nomor :... BAB I STATUS PERKUMPULAN Pasal 1 Indonesia Off-road Federation
PEMERINTAH KABUPATEN LINGGA
PEMERINTAH KABUPATEN LINGGA PERATURAN DAERAH KABUPATEN LINGGA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENCALONAN, PEMILIHAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
PERATURAN LOMBA FUN GOKART RACE PIALA PRESIDEN MBCI Grand City Mall Gokart Circuit 29 AGUSTUS 2015
PERATURAN LOMBA FUN GOKART RACE PIALA PRESIDEN MBCI Grand City Mall Gokart Circuit 29 AGUSTUS 2015 PERATURAN FUN GOKART PIALA PRESIDEN MBCI GRAND CITY MALL 29 AGUSTUS 2015 Page 1 BAB III PERATURAN UMUM
PERATURAN ORGANISASI IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 011/IMI/PO/II/2016
PERATURAN ORGANISASI IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 011/IMI/PO/II/2016 Tentang TINDAKAN DISIPLIN ORGANISASI IKATAN MOTOR INDONESIA Pasal 1 PENDAHULUAN 1. Peraturan Organisasi ini ditetapkan sebagai tindak
PANJAT TEBING OLIMPIADE BRAWIJAYA 2014 I. PERSYARATAN PESERTA UNTUK MASING-MASING FAKULTAS
PANJAT TEBING OLIMPIADE BRAWIJAYA 2014 I. PERSYARATAN PESERTA UNTUK MASING-MASING FAKULTAS a. Setiap fakultas dapat mengirimkan maksimal 3 orang putra perwakilannya. b. Setiap Peserta mengirimkan Pas Foto
LIGA MEDIKA 2018 PERATURAN KHUSUS
LIGA MEDIKA 2018 PERATURAN KHUSUS MINISOCCER LIGA MEDIKA 2018 PERATURAN KHUSUS CABANG MINI SOCCER LIGA MEDIKA 2018 BAB I PESERTA PERTANDINGAN 1. Kompetisi mini soccer IMSSO Liga Medika 2018 dibuka untuk
PERATURAN KHUSUS CABANG MINI SOCCER LIGA MEDIKA 2018
= PERATURAN KHUSUS CABANG MINI SOCCER LIGA MEDIKA 2018 BAB I PESERTA PERTANDINGAN 1. Kompetisi Mini Soccer IMSSO Liga Medika 2018 dibuka untuk mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Dokter atau Program
PERATURAN LOMBA. 7-8 November Diselenggarakan oleh : DISORDA DKI JAKARTA PORSEROSI PENGPROV DKI JAKARTA. Bekerjasama dengan :
PERATURAN LOMBA 7-8 November 2015 Diselenggarakan oleh : DISORDA DKI JAKARTA PORSEROSI PENGPROV DKI JAKARTA Bekerjasama dengan : Peraturan lomba JAKARTA ANTAR MASTER 2015 di adopsi dari peraturan yang
PERATURAN KHUSUS CABANG FUTSAL PUTRI IMSSO LIGA MEDIKA 2017
PERATURAN KHUSUS CABANG FUTSAL PUTRI IMSSO LIGA MEDIKA 2017 BAB I PESERTA PERTANDINGAN 1. Kompetisi futsal putri IMSSO Liga Medika 2017 dibuka untuk mahasiswi program studi pendidikan dokter dan pendidikan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, Menimbang ; a. bahwa dalam upaya meningkatkan
2012, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN DAN PENINDAKAN PELANGGARAN LALU
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.187, 2012 TRANSPORTASI. Kendaraan Bermotor. Pelanggaran. Pemeriksaan. Tata Cara. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5346) PERATURAN
PERATURAN KHUSUS FARMASI CUP 2017 FUTSAL COMPETITION
PERATURAN KHUSUS FARMASI CUP 2017 FUTSAL COMPETITION I. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tanggal : 11 19 November 2017 Waktu : Jadwal Pertandingan diberikan saat Malam Atlet Tempat : GOR Amongraga II. Peraturan
Syarat dan Ketentuan. ATMI Run 2017
Syarat dan Ketentuan ATMI Run 2017 1. INDIVIDU memastikan dan menyatakan kebenaran segala informasi yang diberikan pada saat melakukan pendaftaran. Penyelenggara ATMI FESTIVAL 2017 memiliki hak untuk mewajibkan
PERATURAN KHUSUS CABANG BASKET PUTRA DAN PUTRI LIGA MEDIKA 2018
PERATURAN KHUSUS CABANG BASKET PUTRA DAN PUTRI LIGA MEDIKA 2018 BAB I PESERTA PERTANDINGAN 1. Peserta IMSSO Liga Medika 2018 adalah mahasiswa/i aktif Program Studi Pendidikan Dokter atau Program Studi
PERATURAN PERLOMBAAN BALAP SEPEDA MOTOR. (Lampiran D Peraturan Dasar Olahraga Sepeda Motor)
D PERATURAN PERLOMBAAN BALAP SEPEDA MOTOR (Lampiran D Peraturan Dasar Olahraga Sepeda Motor) IKATAN MOTOR INDONESIA Edisi : 2016 Peraturan Dasar Olahraga Sepeda Motor 74 Peraturan Perlombaan Balap Sepeda
BAB I STATUS PERKUMPULAN. Pasal 1
BAB I STATUS PERKUMPULAN Pasal 1 Indonesia Off-road Federation (untuk selanjutnya disingkat "IOF") adalah Perkumpulan yang merupakan satu-satunya wadah untuk para penggemar otomotif dan/atau non otomotif
KETENTUAN KEJUARAAN BULUTANGKIS DJARUM SIRKUIT NASIONAL JAKARTA OPEN 2013 TANGGAL MEI 2013 ( RANKING POINT )
KETENTUAN KEJUARAAN BULUTANGKIS DJARUM SIRKUIT NASIONAL JAKARTA OPEN 2013 TANGGAL 13 18 MEI 2013 ( RANKING POINT ) 1. NAMA KEJUARAAN : DJARUM SIRKUIT NASIONAL BULUTANGKIS JAKARTA OPEN 2013 2. PELAKSANAAN
PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PEMERINTAH KOTA SURABAYA SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa dalam upaya
INDONESIA PERATURAN PERMAINAN
INDONESIA ------------------------------ PERATURAN PERMAINAN VER 1.00 28 MARET 2017 DAFTAR ISI 1. INFORMASI UMUM ROLLER CROSS (RX) 1.1 Kategori Permainan 1.2 Kelompok Umur 1.3 Arena dan Perlengkapan Resmi
PANDUAN ROBO LINE CONTEST 2011
PANDUAN ROBO LINE CONTEST 2011 Persyaratan Peserta Peserta berstatus WNI sebagai mahasiswa dengan jenjang Diploma,Sarjana se-jawa Tengah Jumlah tim peserta dari setiap institusi tidak dibatasi Setiap tim
BASKET OLIMPIADE BRAWIJAYA 2014
BASKET OLIMPIADE BRAWIJAYA 2014 I. NOMOR PERTANDINGAN 1. Putra 2. Putri II. PERSYARATAN PESERTA UNTUK MASING-MASING FAKULTAS 1. Tiap Fakultas mengirimkan 2 Tim, yaitu Tim putra dan Tim Putri. 2. Tiap tim
PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA KARTING 2016 IKATAN MOTOR INDONESIA
PERATURAN NASIONAL OLAHRAGA KARTING 2016 IKATAN MOTOR INDONESIA DAFTAR ISI BAB I TIGA AZAS OLAHRAGA KARTING 1.1 AZAZ TERTIB PENYELENGGARAAN. 1. TERTIB ATURAN 2. TERTIB KELOLA 3. TERTIB LAKSANA 1.2 AZAZ
KEJUARAAN BULUTANGKIS SWASTA NASIONAL USM LI-NING OPEN 2015 GELORA PROF. SUDARTO, SH UNIVERSITAS SEMARANG JL. SOEKARNO-HATTA SEMARANG
KETENTUAN KEJUARAAN BULUTANGKIS SWASTA NASIONAL Ranking Point A. NAMA KEGIATAN Kejuaraan Bulutangkis Swasta Nasional B. WAKTU DAN TEMPAT Waktu : Tanggal 20 25 April 2015 Tempat : GELORA Prof. Sudarto,
BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG
BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 4 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENCALONAN, PEMILIHAN, PELANTIKAN
PERATURAN IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 001/IMI/PI - ORGAN/XI/2008. Tentang KEANGGOTAAN IKATAN MOTOR INDONESIA. Pasal 1 PENDAHULUAN
PERATURAN IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 001/IMI/PI - ORGAN/XI/2008 Tentang KEANGGOTAAN IKATAN MOTOR INDONESIA Pasal 1 PENDAHULUAN Peraturan Organisasi ini ditetapkan sebagai tindak lanjut dari ketentuan
PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL
PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL NOMOR 8 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GUNUNGKIDUL, Menimbang : a.
PENCAK SILAT OLIMPIADE BRAWIJAYA
PENCAK SILAT OLIMPIADE BRAWIJAYA 2014 I. NOMOR PERTANDINGAN 1. Perorangan Putra Dewasa a. Kelas A Berat 45 50 kg b. Kelas B Berat 51 55 kg c. Kelas C Berat 56 60 kg d. Kelas D Berat 61 65 kg e. Kelas E
LIGA MEDIKA 2018 PERATURAN KHUSUS
LIGA MEDIKA 2018 PERATURAN KHUSUS BASKET PUTRI LIGA MEDIKA 2018 PERATURAN KHUSUS CABANG BASKET PUTRA DAN PUTRI LIGA MEDIKA 2018 BAB I PESERTA PERTANDINGAN 1. Peserta IMSSO Liga Medika 2018 adalah mahasiswa/i
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 16, 1999 BURSA BERJANGKA. PERDAGANGAN. KOMODITI. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. BAPPEBTI. (Penjelasan
PERATURAN KOMPETISI PERADILAN SEMU TINGKAT NASIONAL PIALA MUTIARA DJOKOSOETONO VII FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA BAB I KETENTUAN UMUM
PERATURAN KOMPETISI PERADILAN SEMU TINGKAT NASIONAL PIALA MUTIARA DJOKOSOETONO VII FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan : (1) Kompetisi
BUPATI BANGKA TENGAH
BUPATI BANGKA TENGAH SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 35 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGGARAAN PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA TENGAH, Menimbang
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 6 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 6 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PENGENDALIAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
10 PERATURAN DAN KETENTUAN PERLOMBAAN CABOR RENANG
10 PERATURAN DAN KETENTUAN PERLOMBAAN CABOR RENANG A. UMUM 1. Ketentuan Umum sesuai dengan Peraturan POMNAS XIV Tahun 2015 ACEH. 2. Hal-hal yang berkaitan dengan teknis perlombaan mengacu sebagian atau
PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN
PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MADIUN, Menimbang : a. bahwa demi terpeliharanya
BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 28 Tahun : 2013
BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 28 Tahun : 2013 PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 28 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH
2 ND INDONESIA ELITE AMATEUR CHAMPIONSHIP INFORMASI PERTANDINGAN
2 ND INDONESIA ELITE AMATEUR CHAMPIONSHIP 1. Pelaksana Pertandingan 2 nd Indonesia Elite Amateur Championship akan dilaksanakan oleh sebuah Panitia yang telah ditunjuk oleh PB PGI untuk melaksanakan pertandingan
Rider & General Regulation
Rider & General Regulation YSR 2018 RIDER REGULATION Class of Riders PROFESSIONAL RIDERS Restrictions 2. Pembalap yang aktif di Kejuaraan balap Nasional/Internasional 3. Usia pembalap lebih dari 16 tahun
PERATURAN KHUSUS CABANG BULUTANGKIS IMSSO LIGA MEDIKA 2017
PERATURAN KHUSUS CABANG BULUTANGKIS IMSSO LIGA MEDIKA 2017 BAB I PESERTA PERTANDINGAN 1. Peserta bulutangkis Liga Medika 2017 adalah sebuah tim yang terdiri atas mahasiswa/i strata 1 Fakultas Kedokteran
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : M.02.PR.08.10 TAHUN 2004 TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN ANGGOTA, PEMBERHENTIAN ANGGOTA, SUSUNAN ORGANISASI, TATA KERJA, DAN TATA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.1255, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA ADMINISTRASI INFORMASI PUBLIK. Pengelolaan. Pelayanan. Pedoman. PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN
PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN PERTANDINGAN AAJI SPORTAINMENT 2018
PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN PERTANDINGAN AAJI SPORTAINMENT 2018 A. PESERTA Peserta yang mengikuti AAJI SPORTAINMENT 2018 terdiri dari Pemain dan Manajer/Official Tim, sebagai berikut: 1. Pemain adalah para
FORMULIR PENDAFTARAN LOMBA CEPAT TEPAT BUDDHIS STAB DHARMA WIDYA
FORMULIR PENDAFTARAN LOMBA CEPAT TEPAT BUDDHIS STAB DHARMA WIDYA Nama Sekolah/Vihara/Cetiya :........................................ Alamat :........................................... Tingkat lomba yang
Ketentuan Kejuaraan Bulutangkis DJARUM SIRKUIT NASIONAL LI NING JAWA TIMUR OPEN 2013 Surabaya, November 2013 (RANKING POINT)
Ketentuan Kejuaraan Bulutangkis Surabaya, 11-16 November 2013 (RANKING POINT) 1. NAMA KEJUARAAN : 2. PELAKSANAAN : a. Waktu : 11-16 November 2013 mulai pukul 08.00 WIB b. Tempat : 1. Gedung Bulutangkis
SYARAT DAN KETENTUAN
SYARAT DAN KETENTUAN 1. DEFINISI (1) Bank adalah PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk., yang berkantor pusat di Bandung, dan dalam hal ini bertindak melalui kantor-kantor cabangnya, meliputi kantor cabang,
UNDANG-UNDANG DEWAN PERWAKILAN MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG MAHKAMAH MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA
UNDANG-UNDANG DEWAN PERWAKILAN MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG MAHKAMAH MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN PERWAKILAN MAHASISWA UNIVERSITAS
KETENTUAN KEJUARAAN SWASTA NASIONAL BULUTANGKIS SINAR MUTIARA CUP XXI TAHUN 2013 Tegal, Juni 2013
KETENTUAN KEJUARAAN SWASTA NASIONAL BULUTANGKIS SINAR MUTIARA CUP XXI TAHUN 2013 Tegal, 24 29 Juni 2013 A. NAMA KEGIATAN Kejuaraan Swasta Nasional Bulutangkis SINAR MUTIARA CUP XXI TAHUN 2013 B. WAKTU
GANDA CAMPURAN 1 PEMULA Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- - TUNGGAL PUTRI
KEJUARAAN BULUTANGKIS DJARUM SIRKUIT NASIONAL JAWA TENGAH LI-NING OPEN 2013 Semarang, 21 26 Oktober 2013 (RANKING POINT) Sekretariat Pengprov PBSI Jawa Tengah Gd. KONI Prov. Jateng Lt. III, Komp. Gelora
BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG
BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI PENGUJIAN
Menimbang : Mengingat :
KETETAPAN PANITIA BUSINESS LAW COMPETITION TAHUN 2017 NOMOR: 006/TAP/BUSINESS LAW COMPETITION/BLS/FHUI/I/2017 TENTANG PERATURAN BATTLE OF BRAINS COMPETITION HUKUM BISNIS ANTAR MAHASISWA FAKULTAS HUKUM
PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR
PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, Menimbang : a. bahwa salah
Untuk tujuan dari peraturan ini, istilah istilah di bawah ini diartikan sebagai berikut:
Regulasi Status dan Transfer Pemain Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia("PSSI") Untuk tujuan dari peraturan ini, istilah istilah di bawah ini diartikan sebagai berikut: 1) Asosiasi terdahulu: asosiasi
