1 PENDAHULUAN Latar Belakang
|
|
|
- Hadi Sasmita
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia memiliki program pembangunan yang mendukung infrastruktur nasional melalui Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) untuk jangka waktu diawali melalui pemerintahan periode , yang akan menempatkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan per kapita yang berkisar antara USD USD dengan nilai total perekonomian dilihat dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) berkisar antara USD 4,0-4,5 triliun. Alokasi sumber dananya dari swasta hingga pemerintah, dengan rincian 49% proyek yang menggunakan pendanaan dari swasta; 12% proyek pendanaan murni pemerintah; 18% pendanaan melalui perusahaan milik negara; dan 21% campuran. Proyek-proyek MP3EI tersebar di 5 (lima) koridor yaitu di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Papua dan Kepulauan Maluku. Realisasi MP3EI hingga triwulan I-2014 sebesar Rp 838,9 triliun dari total proyeksi sebesar Rp triliun, dengan pencapaian sektor infrastruktur dari swasta sebesar Rp 53,89 triliun, APBN sebesar Rp 131,8 triliun, BUMN sebesar Rp 153,2 triliun, dan campuran antara BUMN dengan swasta sebesar Rp 89,17 triliun. Setelah berganti pemerintahan untuk periode , program MP3EI dilanjutkan dan disesuaikan pada program Nawa Cita melalui 9 (sembilan) agenda prioritas yang tercakup pada Rencana Program Jangka Menengah Nasional (RPJMN) mendukung program pembangunan infrastruktur Indonesia, melalui program pasangan pemenang pemilihan umum Presiden Republik Indonesia Presiden terpilih akan menetapkan menteri-menterinya kedalam suatu kabinet kerja untuk menjalankan pemerintahan. Pemilihan menteri tersebut akan menduduki beberapa jabatan dan memegang peranan penting dalam pemerintahan. Pemerintah melalui RAPBN-P telah melakukan penghematan sebesar sekitar Rp 276 triliun atas penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan merubahnya menjadi subsidi tetap, dimana dialokasikan untuk membiayai proyekproyek infrastruktur di sejumlah kementerian, antara lain: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan beberapa perusahaan BUMN di bidang konstruksi dibawah kementerian BUMN (Worldbank 2014). Dengan diwujudkannya Indonesia Incorporated atau konsorsium perusahaan-perusahaan konstruksi Indonesia. Pemerintah melalui Badan Pembinaan Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berkomitmen untuk mendorong dan memfasilitasi para pelaku konstruksi Indonesia yang memiliki pangsa pasar di luar negeri menjadi maksimal, dikhususkan pada perluasan akses pasar konstruksi ke luar negeri, baik Timur Tengah maupun ASEAN. Selama tahun 2010 hingga 2014 telah terjadi beberapa bencana alam di Indonesia yang mengganggu kondisi perekonomian dan membutuhkan perbaikan infrastruktur, antara lain seperti gunung meletus dan kebakaran hutan. Kegiatan terkait infrastruktur tersebut sangat didukung oleh industri konstruksi dalam melakukan perbaikan maupun pembangunan. Bencana memiliki potensi perubahan ekonomi suatu negara melalui kapasitas ekonomi pasar, berupa : produksi, distribusi, pemasaran dan konsumsi, namun hanya merupakan dampak sementara (Artiani 2011). Laporan kerugian bencana alam menunjukkan bahwa dampaknya
2 2 terbatas pada nilai infrastruktur fisik dan tidak menggabungkan potensi sistemik yang lebih besar terhadap ekonomi regional maupun nasional (Vermeiren 1991, Bucle et al. 2001). Perkembangan laju investasi pada infrastruktur indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signfikan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, seperti gambar dibawah ini (dalam triliun Rupiah). Laju perkembangan investasi pada infrastruktur indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 (BPS 2015), seperti gambar dibawah ini (dalam triliun Rupiah). Sumber : BAPPENAS dan BPS (diolah) Gambar 1 Investasi Infrastruktur Indonesia Total investasi pada sektor infrastruktur telah tumbuh secara signifkan setiap tahunnya dan sudah mencapai Rp 500 triliun pada tahun 2014, hal ini menunjukkan komitmen yang kuat dari pemerintah dan pihak swasta terhadap sektor infrastruktur yang didukung dari kondisi perekonomian. Berdasarkan perhitungan Compounded Annual Growth Rate (CAGR) sektor infrastruktur tumbuh sebesar 19,22% selama 4 tahun terakhir ( ). Infrastruktur ditopang melalui sektor konstruksi yang selaras dalam membangun sarana dan prasarana. Didalam kegiatan infrastruktur indonesia sektor konstruksi telah berkembang secara signifikan, didorong oleh pesatnya pertumbuhan dalam negeri, peningkatan investasi swasta dan belanja pemerintah (Maryanigsih et al. 2014). Berdasarkan lapangan usahanya sektor konstruksi berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, pada tahun 2010 sebesar Rp 660 triliun menjadi Rp 907 triliun pada tahun 2014, tumbuh sebesar 11% per tahun CAGR. Tabel 1 Distribusi PDB Indonesia Menurut Lapangan usaha (%) Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Kehutanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa * angka sementara **angka sangat sementara Sumber: BPS ,29 11,16 24,8 0,76 10,25 13,69 6,56 7,24 10, ,71 11,82 24,34 0,75 10,16 13,8 6,62 7,21 10, * 14,5 11,8 23,97 0,76 10,26 13,96 6,67 7,27 10, ** 14,43 11,24 23,7 0,77 9,99 14,33 7,01 7,52 11,02
3 3 Sektor konstruksi memiliki rata-rata 10,16% kontribusi terhadap PDB Indonesia, walaupun pada tahun 2013 turun seiringan dengan turunnya angka laju pertumbuhan PDB riil Indonesia pada tahun 2013 hanya sebesar 5,78%. Mengingat bahwa prasarana fisik merupakan landasan pertumbuhan sektor lainnya dalam pembangunan nasional dan sektor konstruksi berperan pula sebagai penyedia lapangan kerja, maka sangat penting dalam pembangunan nasional. Pergerakan sekor konstruksi dilihat dari laju pertumbuhan riil PDB dari tahun 2010 hingga tahun 2013 menempati peringkat empat besar, seperti tabel berikut: Tabel 2 Laju Pertumbuhan Riil PDB Indonesia Menurut Lapangan Usaha (%) Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Kehutanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDB ,01 3,86 4,74 5,33 6,95 8,69 13,41 5,67 6,04 6, ,37 1,6 6,14 4,71 6,07 9,24 10,7 6,84 6,8 6, * 4,2 1,56 5,74 6,25 7,39 8,15 9,98 7,15 5,25 6, ** 3,54 1,3 5,56 5,58 6,57 5,93 10,19 7,56 5,46 5,78 * angka sementara **angka sangat sementara Sumber: BPS Perekonomian di Indonesia dipengaruhi oleh pertumbuhan sektor konstruksi yang memberikan kontribusi besar terhadap PDB. Perusahaan konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai tahun 2014 sebanyak sembilan perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa peran serta industri konstruksi dalam perekonomian di Indonesia sedang berkembang. Nilai transaksi di pasar modal Indonesia dilihat dari pelakunya terdiri dari investor lokal dan investor asing, dimana perannya sangat kompetitif. Iklim investasi Indonesia tergantung dengan dana asing yang berasal dari luar negeri apabila dilihat dari persentase nilai perdagangan pada tahun 2014 sebesar 40,58%. Tabel 3 Perdangan Saham Indonesia dan Persentase Tipe Investor Tahun Nilai Perdagangan (Rp miliar) Lokal (%) 68,28 64,93 57,46 57,97 59,42 Asing (%) 31,72 35,07 42,54 42,03 40,58 Sumber: OJK Nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia tahun 2014 sudah mencapai Rp triliun atau tumbuh sebesar 19,9% dibandingkan tahun 2013 pada posisi Rp triliun. Nilai kapitalisasi pasar BEI berada pada peringkat keenam di regional Asia. Perkembangan BEI saat ini merupakan peran para investor dalam melakukan transaksi jual beli di Bursa Efek Indonesia. Sebelum seorang investor akan
4 4 memutuskan menginvestasikan dananya di pasar modal, investor umumnya akan melakukan penilaian dengan cermat terhadap emiten dan percaya bahwa informasi yang diterimanya adalah informasi yang benar. Harga saham dikatakan sebagai indikator keberhasilan perusahaan, dimana kekuatan pasar di bursa saham ditunjukkan dengan adanya transaksi jual beli saham di pasar modal (Saleh 2015). Adanya beberapa faktor yang mempengaruhi harga saham perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung yaitu faktor yang bersifat fundamental, teknis, sosial, ekonomi dan politik. Umumnya investor akan mencari perusahaan yang mempunyai kinerja terbaik dan menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Dikatakan perolehan modal perusahaan dan nilai perusahaan akan meningkat apabila perusahaan memiliki reputasi baik yang tercermin dalam laporan keuangannya. Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu faktor yang dilihat oleh investor untuk menentukan investasi saham. Bagi sebuah perusahaan, menjaga dan meningkatkan kinerja keuangan adalah suatu metode agar saham tersebut tetap diminati investor (Kasmir 2010). Laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan merupakan cerminan dari kinerja keuangan perusahaan dan akhir dari proses akuntansi dengan tujuan untuk memberikan infomasi keuangan yang dapat menjelaskan kondisi perusahaan dalam suatu periode. Informasi keuangan tersebut mempunyai fungsi sebagai sarana informasi, alat pertanggungjawaban manajemen kepada pemilik perusahaan, penggambaran terhadap indikator keberhasilan perusahaan dan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan (Harahap 2004). Kinerja keuangan perusahaan dapat dilihat melalui berbagai macam rasio keuangan antara lain: rasio profitabilitas, rasio likuiditas, rasio solvabilitas (leverage), rasio aktivitas dan rasio pasar (Weston dan Eugene 2004). Para pelaku pasar modal seringkali menggunakan informasi tersebut sebagai tolak-ukur atau pedoman dalam melakukan transaksi jual beli saham suatu perusahaan. Pengukuran kinerja perusahaan merupakan salah satu indikator yang dipergunakan oleh investor untuk menilai suatu perusahaan dari harga pasar saham tersebut di bursa efek Indonesia. Pergerakan harga saham sangat fluktuatif, seringkali para analis pasar modal melakukan prediksi harga saham melalui berbagai analisa, oleh karena itu dalam penelitian ini melihat pengaruh atas analisis rasio keuangan dan peristiwa Pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 2014 terhadap kinerja saham perusahaan konstruksi yang terdaftar di BEI pada periode waktu yang ditetapkan yaitu Perumusan Masalah Transaksi perdagangan saham di Indonesia semakin meningkat dilihat dari bertambahnya volume transaksi dan jumlah emiten di bursa. Saham perusahaan konstruksi memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 75 triliun pada tahun 2014 atau sekitar 2% dari kapitalisasi pasar saham Indonesia. Saham sektor konstruksi memiliki tren fluktuatif, berkaitan dengan kinerja keuangan masing-masing perusahaan konstruksi yang berbeda-beda dibandingkan satu sama lain. Pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 menunjukkan trend kenaikan (bullish) bahkan selama kenaikan tertinggi IHSG adalah dari sektor konstruksi yaitu
5 5 sebesar 78% namun pada tahun 2013 berubah menjadi trend penurunan (bearish) dan kembali pada tahun 2014 menunjukkan trend bullish Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q ACST ADHI DGIK NRCA PTPP SSIA TOTL WIKA WSKT IHSG Kode ACST ADHI DGIK NRCA PTPP SSIA TOTL WIKA WSKT IHSG Keterangan PT Acset Indonusa, Tbk PT Adhi Karya (Persero), Tbk PT Duta Graha Indah, Tbk menjadi pada tahun 2010 PT Nusa Konstruksi Enjiniring, Tbk PT Nusa Raya Cipta, Tbk PT PP (Persero), Tbk PT Surya Semesta Internusa, Tbk PT Total Bangun Persada, Tbk PT Wijaya Karya (Persero), Tbk PT Waskita Karya (Persero), Tbk Indeks Harga Saham Gabungan Sumber: Bloomberg terminal (diolah) Gambar 2 Pergerakan Harga Saham Konstruksi Dibandingnkan Dengan IHSG Periode Tahun Apabila dilihat pada Quartal keempat (Q4) 2010 hingga Q trend IHSG cenderung naik atau bullish, namun ADHI dan PTPP cenderung turun atau bearish, pergerakan pada Q1 hingga Q IHSG cenderung bearish namun ADHI, PTPP, TOTL dan WSKT cenderung bullish dan pergerakan pada Q1 hingga Q IHSG cenderung bullish sedangkan saham sektor konstruksi cenderung bearish. Pada Q IHSG dan saham sektor konstruksi cenderung bullish kecuali ADHI yang menunjukkan penurunan. Kinerja keuangan suatu perusahaan industri konstruksi yang diukur melalui rasio keuangan akan memperlihatkan pengaruhnya terhadap kinerja saham pada rentan waktu tertentu, maka perlu diketahui pengaruh rasio keuangan terhadap pergerakan harga sahamnya. Rasio keuangan merupakan indikator utama dalam melihat kinerja emiten, terdapat berbagai rasio keuangan dalam mengukur kinerja tersebut yaitu melalui rasio profitabilitas, likuiditas, solvabilitas, aktivitas, dan pasar. Bencana alam yang terjadi dapat memberikan berbagai kemungkinan dampaknya terhadap industri konstruksi, sedangkan peristiwa politik seperti pemilihan umum Presiden Republik Indonesia Tahun 2014, perubahan susunan (reshuffle) Menteri dalam kabinet pemerintahan merupakan suatu peristiwa besar yang menjadi perhatian dan memberikan tolak ukur program pemerintahan.
6 6 Berdasarkan hal tersebut rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Apakah faktor faktor rasio keuangan berpengaruh terhadap kinerja saham sektor perusahaan konstruksi pada Bursa Efek Indonesia periode ? 2. Bagaimana pengaruh bencana alam, pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 2014 dan reshuffle kabinet selama tahun terhadap abnormal return saham sektor konstruksi pada Bursa Efek Indonesia? 3. Apa implikasi dari informasi yang dihasilkan bagi emiten dan investor? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : Menganalisis pengaruh faktor faktor rasio keuangan yang terdiri dari profitabilitas, likuiditas, solvabilitas, aktivitas dan pasar terhadap kinerja saham sektor perusahaan konstruksi pada Bursa Efek Indonesia periode Menganalisis pengaruh bencana alam, pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 2014 dan reshuffle kabinet selama tahun terhadap abnormal return saham sektor konstruksi pada Bursa Efek Indonesia. Merumuskan saran strategi keuangan bagi emiten dan strategi investasi bagi investor. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai bidang dan profesi : 1. Bahan pertimbangan bagi manajemen perusahaan (emiten) dalam membuat keputusan terkait kebijakan keuangan dalam mencapai kinerja keuangan perusahaan konstruksi. 2. Menambah informasi bagi investor pasar modal untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi. 3. Secara akademis diharapkan dapat memberikan kontribusi literatur dibidang manajemen keuangan. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini bermaksud untuk meneliti pengaruh faktor-faktor kinerja keuangan melalui rasio profitabilitas, likuidias, solvabilitas, aktivitas dan pasar terhadap kinerja saham perusahaan konstruksi yang sudah terdaftar sebelum tanggal 31 Desember Penelitian juga hendak menganalisis pengaruh peristiwa bencana alam, reshuffle kabinet dan pemilihan Presiden Republik Indonesia terhadap harga saham sektor konstruksi pada Bursa Efek Indonesia. Sedangkan periode yang dipilih untuk observasi dalam penelitian ini adalah selama lima tahun ( ).
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dituntut untuk senantiasa
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dituntut untuk senantiasa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakatnya melalui pembinaan pilar ekonomi yang dianggap
BADAN PUSAT STATISTIK
BADAN PUSAT STATISTIK No. 50/08/Th.XII, 10 Agustus 2009 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2009 Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan di industri building construction yang sudah masuk di listing Bursa Efek Indonesia per 8 Agustus 2011.
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010
BADAN PUSAT STATISTIK No. 31/05/Th. XIII, 10 Mei 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010 EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010 TUMBUH MENINGKAT 5,7 PERSEN Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
BADAN PUSAT STATISTIK No. 12/02/Th. XIII, 10 Februari 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2009 MENCAPAI 4,5 PERSEN Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2009 meningkat sebesar
PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO
PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO Triwulan II-29 Perekonomian Indonesia secara tahunan (yoy) pada triwulan II- 29 tumbuh 4,%, lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya (4,4%). Sementara itu, perekonomian
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH No.12/02/33/Th.VII, 5 Februari 2013 PERTUMBUHAN PDRB JAWA TENGAH TAHUN 2012 MENCAPAI 6,3 PERSEN Besaran PDRB Jawa Tengah pada tahun 2012 atas dasar harga berlaku mencapai
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2008
BADAN PUSAT STATISTIK No.43/08/Th. XI, 14 Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II- Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
BADAN PUSAT STATISTIK No. 12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2010 MENCAPAI 6,1 PERSEN Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2010 meningkat sebesar
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
BADAN PUSAT STATISTIK No. 13/02/Th. XV, 6 Februari 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2011 MENCAPAI 6,5 PERSEN Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2011 tumbuh sebesar 6,5 persen dibandingkan
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH No. 06/05/72/Thn XIV, 25 Mei 2011 PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2011 MENGALAMI KONTRAKSI/TUMBUH MINUS 3,71 PERSEN Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2014
No. 63/08/Th. XVII, 5 Agustus 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2014 EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2014 TUMBUH 5,12 PERSEN Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN III TAHUN 2014
No. 68/11/33/Th.VIII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN III TAHUN 2014 Perekonomian Jawa Tengah yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan III tahun
PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TAHUN 2009
BPS PROVINSI KEPULAUAN RIAU No.145/11/21/Th.IV, 10 November 2009 PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TAHUN 2009 PDRB KEPRI TRIWULAN III TAHUN 2009 TUMBUH 1,90 PERSEN PDRB Kepri pada triwulan
BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan suatu lembaga yang memiliki peranan yang sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal merupakan suatu lembaga yang memiliki peranan yang sangat penting bagi perekonomian suatu negara. Seiring pesatnya perkembangan dunia usaha dalam
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013
No. 45/08/72/Th. XVI, 02 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013 Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH
No. 06/02/72/Th. XIV. 7 Februari 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH Ekonomi Sulawesi Tengah tahun 2010 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000
PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2012
BPS PROVINSI KEPULAUAN RIAU No. 33/05/21/Th. VII, 7 Mei 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2012 PDRB KEPRI TRIWULAN I TAHUN 2012 TUMBUH 7,63 PERSEN PDRB Kepri pada triwulan I tahun
BPS PROVINSI JAWA TENGAH
BPS PROVINSI JAWA TENGAH No.24/05/33/Th.IV, 10 Mei 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2010 PDRB Jawa Tengah pada triwulan I tahun 2010 meningkat sebesar 6,5 persen dibandingkan triwulan
PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2011 SEBESAR 7,96 PERSEN
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 47/11/34/Th. XIII, 7 November 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2011 SEBESAR 7,96 PERSEN ekonomi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
BAB I PENDAHULUAN. produktivitas (Irawan dan Suparmoko 2002: 5). pusat. Pemanfaatan sumber daya sendiri perlu dioptimalkan agar dapat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan laju dari pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh suatu negara untuk memperkuat proses perekonomian menuju perubahan yang diupayakan
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH
No. 06/08/72/Th. XIV, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan
DAFTAR ISI. PERATURAN BUPATI MURUNG RAYA KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR ISI PERATURAN BUPATI MURUNG RAYA KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... vii BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... 2 1.3. Hubungan Antar Dokumen...
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011
No.43/08/33/Th.V, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011 PDRB Jawa Tengah pada triwulan II tahun 2011 meningkat sebesar 1,8 persen dibandingkan triwulan I tahun 2011 (q-to-q).
BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian Indonesia pada tahun 2013 tumbuh sebesar 5,78 persen
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perekonomian Indonesia pada tahun 2013 tumbuh sebesar 5,78 persen dibanding tahun 2012, dimana semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi
1 PENDAHULUAN. Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Peraturan Presiden No 32 Tahun 2011 tentang MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) merupakan sebuah langkah besar permerintah dalam mencapai
PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2011
BPS PROVINSI DKI JAKARTA No.20/05/31/Th. XIII, 5 Mei 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2011 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I/2011 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga
BAB I PENDAHULUAN. sektor pertanian, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Selain ditunjang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,5 % tahun ini, yang awalnya hanya ditargetkan 6,4 % oleh pemerintah. Penunjang pertumbuhan ekonomi tahun ini meliputi
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014
No. 048/08/63/Th XVIII, 5Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II- tumbuh sebesar 12,95% dibanding triwulan sebelumnya (q to q) dan apabila
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2012
No. 27/05/72/Thn XV, 7 Mei 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2012 Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan
I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan perkapita penduduk yang diikuti oleh perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara. Pembangunan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Profil Perusahaan. Gambar 1.1 Logo Perusahaan. Sumber: waskita.co.id
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Profil Perusahaan Gambar 1.1 Logo Perusahaan Sumber: waskita.co.id Didirikan pada 1 Januari 1961 Waskita Karya adalah salah satu BUMN terkemuka
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014
No.51/08/33/Th.VIII, 5 Agustus 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014 Perekonomian Jawa Tengah yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II tahun
BAB I PENDAHULUAN. negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pasar modal memiliki peranan yang penting terhadap perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan.
PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III 2014
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPULAUAN RIAU No. 79/11/21/Th.IX, 5 November PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III PDRB KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TUMBUH 6,15 PERSEN (c to c) PDRB Kepulauan
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 09/02/61/Th. XIII, 10 Februari 2010 PEREKONOMIAN KALIMANTAN BARAT TAHUN 2009 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2009 meningkat 4,76 persen dibandingkan
BAB I PENDAHULUAN. menginvestasikan dananya adalah sektor properti. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan sektor properti
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pasar modal di Indonesia yang pesat menunjukan bahwa kepercayaan pemodal untuk menginvetasikan dananya di pasar modal cukup baik. Banyaknya pilihan saham
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 34/08/34/Th. XIII, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2011 SEBESAR -3,89 PERSEN Pertumbuhan ekonomi Provinsi Daerah Istimewa
PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2013
No.23/05/31/Th. XV, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2013 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I/2013 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan 2000 menunjukkan
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 64/11/61/Th. XVII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TRIWULAN III-2014 EKONOMI KALIMANTAN BARAT TRIWULAN III-2014 TUMBUH 4,45 PERSEN Besaran Produk
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008
No.05/02/33/Th.III, 16 Februari 2009 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008 PDRB Jawa Tengah triwulan IV/2008 menurun 3,7 persen dibandingkan dengan triwulan III/2007 (q-to-q), dan bila dibandingkan
BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, dan (4) keberlanjutan pembangunan dari masyarakat agraris menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada dasarnya pembangunan ekonomi mempunyai empat dimensi pokok yaitu: (1) pertumbuhan, (2) penanggulangan kemiskinan, (3) perubahan atau transformasi ekonomi, dan
PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TAHUN 2013
BPS PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TAHUN 2013 A. PDRB PROVINSI KEPULAUAN RIAU MENURUT LAPANGAN USAHA I. PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN III TAHUN 2013 No. 75/11/21/Th.
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT PEREKONOMIAN KALIMANTAN BARAT PERTUMBUHAN PDRB TAHUN 2013 MENCAPAI 6,08 PERSEN No. 11/02/61/Th. XVII, 5 Februari 2014 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun
Produk Domestik Bruto (PDB)
Produk Domestik Bruto (PDB) Gross Domestic Product (GDP) Jumlah nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unitunit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun.
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 11/02/34/Th.XVI, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN SEBESAR 5,40 PERSEN Kinerja perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama tahun
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 26/05/61/Th. XV, 7 Mei 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TRIWULAN I-2012 EKONOMI KALIMANTAN BARAT TUMBUH 6,0 PERSEN Perekonomian Kalimantan Barat yang diukur berdasarkan
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2014
No. 28/05/72/Thn XVII, 05 Mei 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2014 Perekonomian Sulawesi Tengah triwulan I-2014 mengalami kontraksi 4,57 persen jika dibandingkan dengan triwulan
BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan pasti menginginkan adanya pertumbuhan laba yang diperoleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan pasti menginginkan adanya pertumbuhan laba yang diperoleh pada tiap tahunnya. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan laba yaitu rasio profitabilitas, rasio
BAB I PENDAHULUAN. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun
digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Desentralisasi fiskal sudah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2001. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun
PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2014 SEBESAR 4,24 PERSEN
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 64/11/34/Th.XVI, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2014 SEBESAR 4,24 PERSEN 1. LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN III TAHUN
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor Industri merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam pembangunan nasional. Kontribusi sektor Industri terhadap pembangunan nasional setiap tahunnya
BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tantangan ke depan pembangunan ekonomi Indonesia tidaklah mudah untuk diselesaikan. Dinamika ekonomi domestik dan global mengharuskan Indonesia senantiasa siap terhadap
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH
BPS PROVINSI JAWA TENGAH No. 06 /11/33/Th.I, 15 Nopember 2007 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH PDRB JAWA TENGAH TRIWULAN III TH 2007 TUMBUH 0,7 PERSEN Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah pada
BAB I PENDAHULUAN. bukan lagi terbatas pada aspek perdagangan dan keuangan, tetapi meluas keaspek
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Globalisasi ekonomi merupakan dunia kegiatan dan keterkaitan perekonomian. Kegiatan-kegiatan perekonomian tidak lagi sekedar nasional tapi bahkan internasional, bukan
BAB I PENDAHULUAN. Sebagai indikator utama perekonomian (leading indicator of economy) mengurangi beban negara (Samsul, 2006: 43).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagai indikator utama perekonomian (leading indicator of economy) negara dalam perekonomian modern seperti saat ini, pasar modal memiliki peran yang sangat
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Majalengka
PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2014
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPULAUAN RIAU No. 34/05/21/Th. IX, 5 Mei 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2014 A. PDRB PROVINSI KEPULAUAN RIAU MENURUT SEKTOR EKONOMI PDRB KEPRI
PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2014 SEBESAR -2,98 PERSEN
2 BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 48/08/34/Th.XVI, 5 Agustus 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2014 SEBESAR -2,98 PERSEN Kinerja pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 2015
BADAN PUSAT STATISTIK No. 16/2/Th.XIX, 5 Februari 216 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN IV- TUMBUH 5,4 PERSEN TERTINGGI SELAMA TAHUN EKONOMI INDONESIA TAHUN TUMBUH 4,79 PERSEN
BAB I PENDAHULUAN. perekonomiannya dalam jangka panjang akan berdampak terhadap perubahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara yang sedang mengalami proses perkembangan perekonomiannya dalam jangka panjang akan berdampak terhadap perubahan struktur ekonomi pada hal yang paling mendasar.
PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TAHUN 2008 SEBESAR 5,02 PERSEN
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 08/02/34/Th. XI, 16 Februari 2009 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TAHUN 2008 SEBESAR 5,02 PERSEN ekonomi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun
BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH. 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya;
BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya; A. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi (economic growth) merupakan salah satu indikator yang
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN I- 2013
No. 027/05/63/Th XVII, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN I- 2013 Perekonomian Kalimantan Selatan triwulan 1-2013 dibandingkan triwulan 1- (yoy) tumbuh sebesar 5,56 persen, dengan
No. 64/11/13/Th.XVII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III 2014
No. 64/11/13/Th.XVII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III 2014 Perekonomian Sumatera Barat yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku
BAB IV GAMBARAN UMUM
BAB IV GAMBARAN UMUM Penanaman modal asing (PMA) merupakan pemindahan modal dari suatu negara ke negara lain. Modal yang dialirkan dari negara satu ke negara lainnya dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
No. 52/ V / 15 Nopember 2002 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA INDONESIA TRIWULAN III TAHUN 2002 TUMBUH 2,39 PERSEN Indonesia pada triwulan III tahun 2002 meningkat sebesar 2,39 persen terhadap triwulan II
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-2011
No. 43/08/63/Th XV, 05 Agustus 20 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-20 Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II-20 tumbuh sebesar 5,74 persen jika dibandingkan triwulan I-20 (q to q)
BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA
BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA Ekonomi rakyat merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan
Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen)
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 13/02/35/Th. XII, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR I. PERTUMBUHAN DAN STRUKTUR EKONOMI MENURUT LAPANGAN USAHA Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur
PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013
No. 09/02/31/Th. XVI, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013 Secara total, perekonomian DKI Jakarta pada triwulan IV/2013 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan
BPS PROVINSI MALUKU PERTUMBUHAN EKONOMI MALUKU PDRB MALUKU TRIWULAN IV TAHUN 2013 TUMBUH POSITIF SEBESAR 5,97 PERSEN
BPS PROVINSI MALUKU No. 01/05/81/Th.XV, 05 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI MALUKU PDRB MALUKU TRIWULAN IV TAHUN 2013 TUMBUH POSITIF SEBESAR 5,97 PERSEN PDRB Maluku pada triwulan IV tahun 2013 bertumbuh
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2014
No.29/05/33/Th.VIII, 5 Mei 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2014 Perekonomian Jawa Tengah yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan I tahun 2014 mencapai
ESI TENGAH. sedangkan PDRB triliun. konstruksi minus. dan. relatif kecil yaitu. konsumsi rumah modal tetap. minus 5,62 persen.
No. N 28/05/72/Th. XVI, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAW ESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2013 Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20
No. 10/02/63/Th XIV, 7 Februari 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20 010 Perekonomian Kalimantan Selatan tahun 2010 tumbuh sebesar 5,58 persen, dengan n pertumbuhan tertinggi di sektor
