Key words: Islamic Social Reporting Inde, Global Reporting Initiative Index, Social Performance, Islamic Banking
|
|
|
- Benny Sasmita
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PERBANKAN SYARIAH DAN TANGGUNGJAWAB SOSIAL: SEBUAH STUDI KOMPARASI INDONESIA DAN MALAYSIA DENGAN PENDEKATAN ISLAMIC SOCIAL REPORTING INDEX DAN GLOBAL REPORTING INITIATIVE INDEX Hafiez Sofyani Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Antasari, Jl. Jenderal Ahmad Yani Km 4,5 Banjarmasin dan Anggar Setiawan (Universitas Muhammadiyah Malang) Abstract: This study aimed to compare the social performance between Islamic banking in Indonesia and Malaysia were measured by using a model of Islamic Social Reporting Index ( ISR ) and the Global Reporting Initiative Index ( GRI ). The objects of this study were drawn from three Islamic banks in Indonesia and three Islamic banks in Malaysia that meet certain criteria, namely; Islamic banking report annual report for 2010 and report the social responsibility disclosure. Analysis using content analysis approach. The results showed that the overall average social performance of Islamic banking in Malaysia higher than social performance of Islamic banking in Indonesia.However, when tested statistically, this difference did not show significant value. Moreover, there are noislamic banking in Indonesia and in Malaysia reached a perfect level of social performance (100%) of the ISR and the GRI index. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja social perbankan syariah yang ada di Indonesia dan Malaysia dengan menggunakan model Islamix Index Sosial Pelaporan (ISR) dan Reporting Initative Global Index (GRI). Objek penelitian ini diambil dari tiga bank syariah di Indonesia dan tiga bank Islam di Malaysia yang memenuhi kriteria tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja social secara keseluruhan rata-rata perbankan syariah di Malaysia lebih tinggi dari Indonesia. Ketika diuji secara statistic, perbedaan ini tidak menunjukkan nilai yang signifakan. Selain itu, ada perbankan non-islamic di Indonesia dan Malaysia yang mencapai tingkat sempurna (100%) antara kinerja social dari ISR dan Indeks GRI. Key words: Islamic Social Reporting Inde, Global Reporting Initiative Index, Social Performance, Islamic Banking Pendahuluan Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan sebuah gagasan yang menjadikan perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja.tapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom lines yaitu juga memperhatikan masalah sosial dan lingkungan 1.Korporasi bukan lagi sebagai entitas yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja sehingga tereliminasi dari lingkungan masyarakat di tempat mereka bekerja, melainkan sebuah entitas usaha yang wajib melakukan adaptasi kultural dengan lingkungan 1 Daniri, Mas Achmad. Standarisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.Sambutan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada Seminar Sehari A Promise of Gold Rating: Sustainable CSR. Tanggal 23 Agustus 2006.hlm.3. diambil dari diakses pada tanggal 14 Maret 2012.
2 sosialnya 2. Perkembangan CSR terkait dengan semakin parahnya kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia maupun dunia, mulai dari penggundulan hutan, polusi udara dan air, hingga perubahan iklim 3. Meskipun praktik CSR lebih banyak dilakukan oleh perusahaan tambang dan manufaktur(high profile corporates), namun, seiring dengan adanya trend global akan praktik CSR, saat ini industri perbankan juga telah mlaksanakan dan menuliskan praktik pertanggungjawaban sosial dalam laporan tahunannya meskipun dalam bentuk yang relatif sederhana. Pengungkapan tersebut tidak hanya dilakukan oleh perbankan konvensional tetapi juga dilakukan oleh perbankan syariah 4. Di Indonesia, perbankan syariah merupakan salah satu sektor industri yang tumbuh pesat. Survey yang dilakukan oleh Bahrain Monetary Agency di tahun 2004 memperlihatkan bahwa jumlah institusi perbankan syariah melonjak dengan cukup signifikan dari 176 di tahun 1997 menjadi 267 di tahun 2004 yang beroperasi di 60 negara di dunia. Dengan tingkat pertumbuhan 15% pertahunnya maka industri perbankan syariah merupakan sektor yang paling cepat berkembang di negara muslim 5. Di Indonesia, walaupun perbankan syariah tercatat tumbuh dengan sangat signifikan, namun dibandingkan perbankan konvensional, pangsa pasar perbankan syariah relatif kecil ukurannya, yaitu 2 Ibid. 3 Utomo (2007) sebagaimana dikutip Rahajeng, Rahmi Galuh Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengungkapan Sosial(Social Disclosure) Dalam Laporan Tahunan Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia). Skripsi Sarjana Strata 1.Tidak dipublikasikan. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. hlm.3. 4 Fitria, Soraya dan Dwi Hartanti Studi Perbandingan Pengungkapan Berdasarkan Global Reporting Initiative Indeks Dan Islamic Sosial Reporting Indeks.Simposium Nasional.Purwokerto. 5 Zaher dan Hasan (2001) sebagaimana dikutip Sofyani, Hafiez Islamic Social Reporting Index Sebagai Model Pengukuran Kinerja Sosial Perbankan Syariah (Studi Komparasi Indonesia dan Malaysia). Dipresentasikan pada Forum Dosen Ekonomi Islam Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, sebesar 2,2% 6. Tetapi prospek industri syariah ini di masa datang diyakini akan semakin bagus dan patut diperhitungkan. Lembaga yang menjalankan bisnisnya berdasarkan syariah pada hakekatnya mendasarkan pada filosofi dasar Al-quran dan sunnah 7. Sehingga, hal ini menjadikan dasar bagi pelakunya dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sesamanya. Mengingat dasar filosifi tersebut bersifat relijius, maka diyakini bahwa hubungan yang ada akan lebih bersifat berkelanjutan dibandingkan pola konvensional. Pada perbankan syariah tanggung jawab sosial sangat relevan untuk dibicarakan mengingat beberapa faktor berikut; perbankan syariah berlandaskan syariah yang meminta mereka untuk beroperasi dengan landasan moral, etika, dan tanggung jawab sosial. Selain itu adanya prinsip atas ketaatan pada perintah Allah dan khalifah.dan yang terakhir adanya prinsip atas kepentingan umum, terdiri dari penghindaran dari kerusakan dan kemiskinan 8. Namun, sayangnya penelitian-penelitian yang sementara ini dilakukan mengindikasikan bahwa perbankan-perbankan Syariah masih belum secara baik mengimplementasikan fungsi sosialnya sesuai dengan nilai-nilai Islam 9.Padahal, perbankan Islam seharusnya secara ideal beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip yang diatur oleh hukum Islam (syariah).salah satu sumber utama untuk menganalisis dan mengevaluasi kegiatan bank-bank Islam adalah laporan tahunan. Ketiadaan standar CSR secara syariah menjadikan aktivitas dan pelaporan CSR 6 Bank Indonesia, Ahmad (2002) sebagaimana dikutip Fitria, Soraya dan Dwi Hartanti Studi Perbandingan Pengungkapan Berdasarkan Global Reporting Initiative Indeks Dan Islamic Sosial Reporting Indeks.Simposium Nasional.Purwokerto. 8 Dusuki, Asyraf Wajdi, & Dar, H Stakeholders perceptions of Corporate Sosial Responsibility of Islamic Banks: Evidence From Malaysian Economy.International Conference on Islamic Economics and Finance. 9 Muhammad sebagaimana dikutip Rifqi, Muhammad. Studi Evaluatif TerhadapLaporan Perbankan Syariah. JAAI.Volume 13 No. 2. Desember 2009: hlm.100.
3 perusahaan syariah menjadi tidak seragam dan terstandar.sehingga, pengukuran kinerja sosial dibanyak perbankan syariah masih mengacu kepada Global Reporting Initiative Index (Indeks GRI).Padahal, terkait dengan adanya kebutuhan mengenai pengungkapan kinerja sosial di perbankan syariah, saat ini marak diperbincangkan mengenai Islamic Social Reporting Index (Indeks ISR). Indeks ISR merupakan tolok ukur pelaksanakaan kinerja perbankan syariah yang berisi kompilasi item-item standar CSR yang ditetapkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions) yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh para peneliti mengenai item-item CSR yang seharusnya diungkapkan oleh suatu entitas Islam. Indeks ISR diyakni dapat menjadi pijakan awal dalam hal standar pelaksanaan aktivitas CSR dan pelaporan CSR yang sesuai dengan pijakan Islam 10. Penelitian terdahulu yang menjelaskan tentang pelaporan CSR dengan indeks ISR dilakukan oleh Firtia dan Hartanti ditahun 2010.Pada penelitian tersebut dijelaskan bahwa dari tiga sampel bank syariah yang melakukan praktik CSR,pelaksanaan berdasarkan Indeks GRI lebih besar daripada pengungkapan dengan Indeks ISR. Tingkat pengungkapan CSR dengan indeks ISR hanya mencapai 50% dari total aktivitas yang seharusnya dilakukan dan dilaporkan. Penelitian menganai Indeks CSR dengan indeks ISRdiindustri perbankan syariah umunya dilakukan di negara-negara lain, dan jarang sekali dilakukan di Indonesia. Mengingat industri perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia saat ini sedang tumbuh dengan cukup pesat, ditambah dengan isu pengukuran kinerja sosial yang makin marak, maka penelitian ini mencoba untuk menelaah bagaimana kinerja sosial bank syariah ditinjau dengan pendekatan Islamic Social Reporting Index(Indeks ISR) dan Global Reporting 10 Fitria, Soraya dan Dwi Hartanti Studi Perbandingan Pengungkapan Berdasarkan Global Reporting Initiative Indeks Dan Islamic Sosial Reporting Indeks.Simposium Nasional.Purwokerto. Initiative Index (Indeks GRI) yang dilakukan oleh industri perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah studi komparatif, dimana penelitian akan difokuskan pada analisis dalam rangka membandingkan suatu objek penelitian antar subjek dan model pengukuran yang berbeda dalam kurun waktu yang sama.objek penelitian diambil dari tiga bank syariah di Indonesia dan Malaysia dengan kriteria melaporkan laporan tahunan (Annual Report) periode 2010 dan memuat semua kategori dari Indeks ISR & Indeks GRI dalam pelaporan kinerja sosialnya, yakni Bank Muamalat Indonesia (BMI), Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank Mega Syariah (BMS), Bank Muamalat Malaysia (BMM), Bank Islam Malaysia (BIM), dan Hong Leong Islamic Bank (HLIB). Penelitian ini menggunakan teknik analisis isi (Conent analysis)dengan pendekatan scoringatau pembobotan dalam rangka menilai kinerja sosial yang dilaksanakan dan dilaporkan oleh objek penelitian. Setiap pelaksanaan dan pelaporan aktivitas sosial oleh objek penelitian akan diberi nilai (skor) 1 dan jika dan nilai 0 jika tidak melaporkannya 11. Konstruk dariindeks ISR yaitu: Investasi dan Keuangan (Finance And Investment Theme), Produk dan Jasa (Products And Services Theme), Tenaga Kerja (Employees Theme), Sosial (Society Theme), Lingkungan (Environment), dan Tata Kelola Organisasi (Corporate Governance Theme).Sedangkan konstruk dari Indeks GRIyaitu:Profil dan Strategi Organisasi,Lingkup Ekonomi, Lingkup Lingkungan, dan Lingkup Sosial.Apabila seluruh item dari masing-masing indeks ISR dan GRI dilaksanakan dan dilaporkan oleh bank syariah selaku objek penelitian, maka skor maksimal(sama dengan 100%) yang dapat 11 Sofyani, Hafiez Islamic Social Reporting Index Sebagai Model Pengukuran Kinerja Sosial Perbankan Syariah (Studi Komparasi Indonesia dan Malaysia). Dipresentasikan pada Forum Dosen Ekonomi Islam Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, 2011.
4 dicapai sebesar 43 untuk Indeks ISR dan 144 untuk Indeks GRI. Selanjutnya, hasil skoring akan diuji dengan t-test untuk mengetahui apakah perbedaan skor kinerja sosial di perbankan syariah Indonesia dan Malaysia memang berebeda secara statistik ataukah tidak. Hasil Dan Pembahasan Perbandingan Tingkat Kinerja Sosial Perbankan Syariah Indonesia dan Malaysia Berdasarkan Indeks ISR Hasil Scoring pelaporan kinerja sosial pada perbankan objek dengan menggunakan model Indeks ISR dapat dilihat pada tabel 1.Dari tabel 1, diketahui bahwa kinerja sosial perbankan syariahdilihat menggunakan Indeks ISR tertinggi ditempati Bank Islam Malaysia yaitu sebesar 69,77%. Adapun untuk tingkat kinerja sosial terendah ditempati oleh Bank Mega Syariah. Sedangkan dari rata-rata tiap negara, perbankan syariah Malaysia memiliki tingkat kinerja sosial yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan syariah Indonesia. 0,05). dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antara kinerja sosial perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia yang diukur dengan indeks ISR, secara statistik tidak terdapat perbedaan signifikan. Perbandingan Tingkat Kinerja Sosial Perbankan Syariah Indonesia dan Malysia Berdasarkan Indeks GRI Hasil Scoring pelaporan kinerja sosial pada perbankan objek dengan menggunakan model Indeks GRI dapat dilihat pada tabel 2. Dari tabel 2, dapat dilihat bahwa kinerja sosial bank syariah tertinggi ditempati oleh Bank Muamalat Malaysia dengan tingkat mencapai 42,36%. Sedangkan tingkat kinerja sosial terendah ditempati oleh Bank Mega Syariah dengan capaian 34,73%. Sedangkan secara rata-rata keseluruhan, tingkat kinerja sosial perbankan syariah di Malaysia lebih tinggi dibandingkan dengan perbankan syariah di Indonesia jika diukur dengan indeks GRI. Secara statistik, berdasrkan hasil uji beda rata-rata (Independent sample test), diperoleh nilai F hitung sebesar 0,00 dengan probabilitas (sig) 0,988. Karena probabilitas dari F hitung lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan tingkat kinerja sosial dari perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia memiliki variance yang sama. Dengan demikian, analisis uji beda (t-test) harus menggunakan asumsi equal variance assumed. Dari uotput SPSS, dapat dilihat dari nilai t pada equal variance assumed adalah sebesar 0,617 dengan probabilitas (P-value) sebesar 0,539 (lebih dari Secara statistik, berdasrkan hasil uji beda rata-rata (Independent sample test), diperoleh nilai F hitung sebesar 1,356 dengan probabilitas (sig) 2,45. Karena probabilitas dari F hitung lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan tingkat kinerja sosial dari perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia memiliki variance yang sama. Dengan demikian, analisis uji beda (t-test) harus menggunakan asumsi equal variance assumed. Dari uotput SPSS, dapat dilihat dari nilai t pada equal variance assumed adalah sebesar 1,00 dengan probabilitas (P-value) sebesar 0,318 (lebih dari 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan
5 bahwa antara kinerja sosial perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia yang diukur dengan indeks GRI, secara statistik juga tidak terdapat perbedaan signifikan. Ringkasan dari perbandingkan kinerja sosial perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia diukur dengan indeks ISR dan indeks GRI dapat dilihat pada tabel 3. Pembahasan Dalam menjalankan aktivitas sosialnya, hampir semua bank syariah di Indoensia mengalokasikannya dari dana kebajikan (Qardhul hasan) yang diperoleh dari aktivitas non halal bank dan dari denda atas keterlambatan pengembalian kewajiban oleh nasabah yang tidak boleh dimasukkan kedalam pendapatan operasi bank. Untuk penyalurannya biasanya dilakukan dalam bentuk pinjaman kebajikan yang diberikan kepada fakir miskin untuk mendorong usaha yang dijalankan agar mampu hidup mandiri tanpa imbal hasil apapun 12.. Selain dana kebajikan, semua bank syariah juga mengalokasikan dana untuk aktivitas sosialnya dari zakat perusahaan, zakat karyawan, serta zakat dan infak dari nasabah bank. Mengenai berapa besar jumlah yang dianggarkan untuk dana sosial ini, tidak satu pun bank syariah yang secara khusus menentukan besarnya persentase untuk dana sosial dari laba yang didapat oleh bank. Karena apabila terjadi suatu peristiwa atau bencana alam yang membutuhkan dana cukup besar, bank syariah juga 12 Fitria, Soraya dan Dwi Hartanti Studi Perbandingan Pengungkapan Berdasarkan Global Reporting Initiative Indeks Dan Islamic Sosial Reporting Indeks.Simposium Nasional.Purwokerto. mengumpulkan dana dengan membuka pos bantuan dan menjadi bank penyalur dana sosial dari masyarakat atau institusi lainnya. Kadang bank juga mengeluarkan dana tambahan tersendiri apabila bencana tersebut terjadi. Berdasarkan data pada tabel 3 di atas, kinerja sosial perbankan syariah di Malaysia menunjukkan tingkat yang lebih tinggi daripada kinerja sosial perbankan syariah di Indonesia. Namun secara statistik perbedaan tersebut tidak bernilai signifikan. Alasan yang mungkin menjelaskan temuan ini adalah adanya hubungan bisnis dan studi yang erat antar perbankan syariah di masing-masing negara. Sehingga baik praktik bisnis dan praktik sosial perbankan syariah di kedua negara tidak menunjukkan perbedaan yang berarti, atau bisa dikatakan seragam. Secara keseluruhan kinerja sosial perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia, baik diukur dengan indeks ISR maupun indeks GRI, semua bank syariah tidak satupun yang melaksanakan aktivitas sosialnya secara sempurna (100%).Hal ini disebabkan oleh dua faktor, yakni; pertama dikarenakan bank syariah memang tidak melaksanakan aktivitas sosial yang sebenarnya mereka mampu untuk melaksanakannya seperti melaporkan aktivitas gharar dan nasabah-nasabah yang bermasalah dengan bank syariah(untuk pendekatan indeks ISR). Dalam kasus ini, hampir semua bank syariah di Indonesia tidak melaporkannya. Kedua, dipengaruhi oleh adanya item-item pengukuran dengan model Indeks ISR dan model Indeks GRI yang memang bank tidak melaksanakan aktivitas itu, seperti bantuan untuk aktivitas politik, audit lingkungan terkait limbah, memproduksi komoditas alami (Green Product), indikator kinerja lingkungan, aspek energi dan air, serta aspek keragaman hayati. Keberadaan item-item tersebut dikarenakan Indeks ISR dan Indeks GRI tidak hanya diperuntukkan bagi perbankan syariah, tetapi juga bagi perusahaan baik pertambangan, dagang, jasa, maupun manufaktur. Namun demikian, hal tersebut dapat menjadi pertimbangan kembali bagi perbankan syariah, karena perbankan syariah berhubungan
6 dengan industri lain seperti perumahan dan industri manufaktur dalam hal kerjasama pembiayaan usaha, sehingga perbankan syariah secara tidak langsung juga berkaitan dengan aspek-aspek yang disebutkan di atas. Oleh karena itu, bank syariah bisa saja andil bagian dalam menjalankan aktivitas sosial dengan memberikan syarat tertentu kepada industri sebelum memberikan pembiayaan, misalnya perusahaan perumahan yang bekerja sama dengan bank syariah harus menjalankan aktivitas sosial seperti green product, pengelolaan air, dan aktivitas lainnya yang berkaitan dengan perbaikan lingkungan.meski demikian, tingkat kinerja sosial perbankan syariah di dua negara relatif bagus karena sudah melebihi separuh (> 50%) dari aktivitas yang seharusnya dilakukan. Adapun temuan yang menarik dari penelitian iniadalah, dari hasil scoring,perbandingan indeks ISR dan indeks GRI yang terdapat pada tabel 3, dapat dilihat bahwa kinerja sosial perbankan syariah berdasarkan indeks ISR lebih tinggi dibandingkan indeks GRI. Hal ini berebeda dengan hasil penelitian yang dilakukan Fitria dan Hartatnti (2010) dimana datayang digunakan adalah laporan tahunan perbankan syariah tahun Penelitian Fitria dan Hartanti (2010) menemukan bahwa kinerja sosial perbankansyariah yang diukur dengan Indeks GRI lebih tinggi daripada Indeks ISR. Hal ini menunjukkan bahwa perbankan syariah, khususnya di Indonesia, mulai bergeser untuk menjalankan aktivitas sosial dari yang awalnya berdasarkan indeks GRI menuju indeks ISR yang notabene dirancang untuk unit bisnis syariah. Perkembangan positif ini seharusnya lebih ditingkatkan lagi karena sesuai dengan konsep governance management, industri bisnis harus berupaya untuk menyeimbangkan tujuan untuk keuntungan keuangan dan tujuan untuk kemaslahatan sosial Abednego, Martinus P & Stephen O. Ogunlana Good project governance for proper risk allocation in public private partnerships in Indonesia. International Journal of Project Management 24 (2006) Kesimpulan, Keterbatasan dan Saran Dalam penelitian ini, penulis mencoba untuk melihat perbandingan tingkat kinerja sosial perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia. Dari hasil analisis, diperoleh beberapa simpulan, pertama; secara umum, perbankan syariah di Malaysia memiliki tingkat kinerja sosial yang lebih tinggi dibandingkan perbankan syariah yang ada di Indonesia. Namun demikian, secara statistik tidak terdapat perbedaan signifikan antara perbankan syariah Indonesia dan Malaysia saat diuji dengan uji beda (uji-t), atau dengan kata lain tingkat kinerja sosial perbankan syriah di kedua negara tersebut relatif sama. Kedua, dari semua bank syariah baik Indonesia maupun Malaysia, masih belum ada satupun yang mencapai angka penuh, yakni implementasi dan pengungkapan Indeks ISR dan Indeks GRI secara sempurna (100%). Hal ini diarenakanuntuk sub-item Environmental Audit (Audit Lingkungan) dan Endangered Wildlife (Perlindungan terhadap Hutan Krisis) yang ada pada indeks ISR dan beberapa sub-item pada indeks GRI, tidak ada satu pun perbankan syariah melaksanakan aktivitas tersebut. Jika dilihat dari jenis industrinya, memang perbankan syariah tidak diwajibkan untuk melaksanakan dan melaporkan aktivitas pada sub-item Environmental Audit (Audit Lingkungan) dan Endangered Wildlife (Perlindungan terhadap Hutan Krisis). Selanjutnya, meski tidak mencapai tingkat kinerja sosial yang sempurna (100%), akan tetapitingkat kinerja sosial perbankan syariah di dua negara relatif bagus karena sudah melebihi separuh (> 50%) dari aktivitas yang seharusnya dilakukan.simpulan terakhir yaitu berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa perbankan syariah, khususnya di Indonesia, memiliki intensi untuk mulai bergeser dalam cara menjalankan aktivitas sosial dari yang awalnya berdasarkan indeks GRI menuju indeks ISR yang notabene dirancang untuk unit bisnis syariah Penelitian selanjutnya mengenai isu peran lembaga syarah dalam aspek kemaslahatan
7 seperti Islamic Social ReportingIndex, ethical identity, dan isu-isu sejenis, menjadi suatu hal yang penting untuk meningkatkan kualitas peran dari lembaga syariah baik di Indonesia maupun di luar Indonesia. Beberapa hal yang menjadi keterbatasan sekaligus menjadi saran penulis terkait penelitian dengan isu yang sama adalah: pertama, jumlah objek perbankan yang diteliti dalam penelitian ini relatif sedikit, yakni hanya tiga bank umum syariah di Indonesia dan tiga bank syariah di Malaysia sehingga terdapat keterbatasan dalam generalisasi hasil penelitian. Meski demikian, hal tersebut bukan kelemahan yang disebabkan kemalasan peneliti, melainkan karena memang jumlah objek penelitian yang sesuai dengan kriteria hanya berjumlah tiga objek penelitian. Adapun keterbatasn kedua, penelitian ini dilakukan hanya pada satu waktu tertentu saja (cross sectional) yaitu tahun 2010 sehingga tidak mampu menangkap perubahan-perubahan terutama yang berpengaruh pada evaluasi pengungkapan di tahun sebelum dan tahun berikutnya. Ketiga, penggunaan Indeks ISR dan Indeks GRI yang item-itemnya merupakan hasil pengembangan penulis memungkinkan adanya indikator yang kurang dikembangkan secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya harus dapat mengembangkan itemitem secara lebih detail dan komprehensif.. DAFTAR PUSTAKA Abednego, Martinus P & Stephen O. Ogunlana Good project governance for proper risk allocation inpublic private partnerships in Indonesia. International Journal of Project Management 24 (2006) Daniri, Mas Achmad. Standarisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.Sambutan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada Seminar Sehari A Promise of Gold Rating: Sustainable CSR. Tanggal 23 Agustus 2006.hlm.3. diambil dari diakses pada tanggal 14 Maret Dusuki, Asyraf Wajdi, & Dar, H Stakeholders perceptions of Corporate Sosial Responsibility of Islamic Banks: Evidence From Malaysian Economy.International Conference on Islamic Economics and Finance. Fitria, Soraya dan Dwi Hartanti Studi Perbandingan Pengungkapan Berdasarkan Global Reporting Initiative Indeks Dan Islamic Sosial Reporting Indeks.Simposium Nasional Akuntansi.Purwokerto.Proceeding. Rahajeng, Rahmi Galuh Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengungkapan Sosial(Social Disclosure) Dalam Laporan Tahunan Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia). Skripsi Sarjana Strata 1.Tidak dipublikasikan. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. hlm.3. Rifqi, Muhammad Studi Evaluatif Terhadap Laporan Perbankan Syariah.JAAI. Volume 13 No. 2, pp Sofyani, Hafiez Islamic Social Reporting Index Sebagai Model Pengukuran Kinerja Sosial Perbankan Syariah (Studi Komparasi Indonesia dan Malaysia). Jurnal Dinamkika Akuntansi Uness.Vol. 4, No. 1, pp Republik Indonesia. Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT)
BAB I PENDAHULUAN. tidak hanya berfokus pada tujuan komersil saja, melainkan juga harus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bank syariah dikembangkan sebagai lembaga bisnis keuangan yang melaksanakan kegiatan usahanya sejalan dengan prinsip prinsip dasar dalam ekonomi Islam. Tujuan ekonomi
BAB I PENDAHULUAN. Isu tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Isu tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) sudah lama muncul di berbagai negara, hal ini terlihat dari praktik pengungkapan corporate social
Perbedaan Tingkat Pengungkapan Islamic Social Reporting Perbankan Syariah di Indonesia dan Malaysia
1 Perbedaan Tingkat Pengungkapan Islamic Social Reporting Perbankan Syariah di Indonesia dan Malaysia (The Differences of Level Islamic Social Reporting Disclosure Islamic Banking in Indonesia and Malaysia)
Comparisons and Differences of Level Islamic Social Reporting Disclosure Islamic Banking in Indonesia and Malaysia
Comparisons and Differences of Level Islamic Social Reporting Disclosure Islamic Banking in Indonesia and Malaysia Abstract Siti Maria Wardayati 1) dan Sisca Ayu Wulandari 2) 1 Fakultas Ekonomi, Universitas
BAB I PENDAHULUAN. Saat ini studi tentang tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) semakin
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saat ini studi tentang tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) semakin populer dalam dunia bisnis di Indonesia, di mana fenomena ini dipicu dengan semakin meningkatnya
BAB I PENDAHULUAN. mengemuka di dunia perusahaan multinasional. Corporate Social
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Corporate Social Responsibility (CSR), merupakan wacana yang sedang mengemuka di dunia perusahaan multinasional. Corporate Social Responsibility (CSR) ini
BAB V PENUTUP. yang telah terdaftar pada Bank Indonesia selama periode tahun 2010 sampai
BAB V PENUTUP Penelitian ini dilakukan dengan tujun untuk menguji apakah ukuran dewan komisaris, komposisi dewan komisaris independen, ukuran komite audit, ukuran dewan pengawas syariah dan profitabilitas
BAB I PENDAHULUAN. Khoirudin (2013) berpendapat bahwa Corporate Social Responsibility. berusaha, melalui upaya-upaya yang mengarah pada peningkatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berdasarkan Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menerangkan bahwa laporan tahunan harus memuat beberapa informasi, salah satunya adalah
sebagai Bank Umum Syariah (BUS) pertama di Indonesia (Rustam, 2013: 21). periode hanya ada satu unit bank syariah, pada tahun 1999 didirikan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak awal kelahirannya, perbankan syariah era modern lahir sebagai lembaga keuangan yang berlandaskan etika. Pada rintisan paling awal perbankan syariah mulai mewujud
BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Implementasi CSR pada Bank Syariah di Indonesia Bank syariah yang menjadi sampel penelitian ini menghimpun dana untuk aktivitas CSR yang bersumber dari dua dana,
PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN: STUDI EMPIRIS PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA
PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN: STUDI EMPIRIS PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA Dita Andraeny Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Surakarta Jl. Pandawa, Pucangan, Kartasura, Surakarta [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. persoalan yang dihadapi oleh perusahaan akan semakin banyak dan semakin sulit.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dengan berkembangnya dunia usaha yang semakin pesat dewasa ini maka persoalan yang dihadapi oleh perusahaan akan semakin banyak dan semakin sulit. Pada tingkat
BAB 1 PENDAHULUAN. Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan akhir-akhir ini semakin marak dibahas di dunia baik di media cetak, elektronik,
BAB I PENDAHULUAN. selama beberapa tahun terakhir ini. Banyak orang berbicara tentang CSR dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) yang selanjutnya disebut CSR menjadi topik hangat yang sering dibicarakan selama beberapa
BAB I PENDAHULUAN. interaksinya dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) secara sukarela.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan merupakan komitmen bisnis suatu perusahaan yang secara terus menerus menunjukkan
ANALISIS PERBANDINGAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY ANTARA BANK SYARIAH INDONESIA DENGAN BANK SYARIAH MALAYSIA
ANALISIS PERBANDINGAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY ANTARA BANK SYARIAH INDONESIA DENGAN BANK SYARIAH MALAYSIA Dwi Fatimatuzzahra Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Islam
BAB I PENDAHULUAN. dan negatif. Di satu sisi, perusahaan menyediakan barang dan jasa yang diperlukan oleh
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Keberadaan perusahaan dalam masyarakat dapat memberikan aspek yang positif dan negatif. Di satu sisi, perusahaan menyediakan barang dan jasa yang diperlukan oleh masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Sejarah perkembangan akuntansi yang berkembang pesat setelah terjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejarah perkembangan akuntansi yang berkembang pesat setelah terjadi revolusi industri di Inggris (1760-1860), menyebabkan pelaporan akuntansi lebih banyak digunakan
ANALISIS PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA BERDASARKAN ISLAMIC SOCIAL REPORTING INDEKS
JDA Vol. 5, No. 1, Maret 2013, pp. 12-20 ISSN 2085-4277 http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jda ANALISIS PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA BERDASARKAN ISLAMIC SOCIAL
BAB I PENDAHULUAN. revolusi industri (akuntansi konvensional) menyebabkan pelaporan akuntansi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejarah perkembangan akuntansi yang berkembang pesat setelah terjadi revolusi industri (akuntansi konvensional) menyebabkan pelaporan akuntansi lebih banyak
BAB I PENDAHULUAN. manajemen dan pemilik modal (investor dan kreditor) tetapi juga karyawan,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan ekonomi dunia dewasa ini sangatlah pesat. Semua negara dan perusahaan multinasional bersiap untuk menghadapi era pasar bebas (Wulandari, 2014:1).
BAB I PENDAHULUAN. tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan
1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Dampak globalisasi, kemajuan informasi teknologi dan keterbukaan pasar membuat perusahaan harus secara serius dan terbuka memperhatikan pertanggungjawaban
BAB I PENDAHULUAN. Kondisi iklim yang tidak menentu saat ini yang ditandai dengan global
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kondisi iklim yang tidak menentu saat ini yang ditandai dengan global warming telah menggerakkan pemerintah negara-negara maju dan berkembang untuk ambil
BAB1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perusahaan dalam melakukan kegiatan operasinya selalu berusaha untuk memaksimalkan laba untuk mempertahankan keberlangsungannya. Dalam upaya memaksimalkan laba
BAB 1 PENDAHULUAN. kontribusinya dalam kehidupan komunitas lokal sebagai rekanan dalam kehidupan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehadiran perusahaan sebagai bagian dari masyarakat seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dan dituntut untuk memberikan kontribusinya dalam
BAB I PENDAHULUAN. Keberadaan perusahaan di tengah masyarakat, secara langsung. lingkungan di sekitarnya. Dampak positif yang mungkin timbul adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberadaan perusahaan di tengah masyarakat, secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak terhadap masyarakat ataupun lingkungan di sekitarnya. Dampak
BAB 1 PENDAHULUAN. dikelola untuk menghasilkan barang atau jasa (output) kepada pelanggan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Secara umum, perusahaan atau business merupakan suatu organisasi atau lembaga dimana sumber daya (input) dasar seperti bahan baku dan tenaga kerja dikelola
BAB I PENDAHULUAN. saham dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Tujuan perusahaan untuk memperoleh profit tentunya harus didukung
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perusahaan adalah suatu bentuk organisasi yang merupakan tempat terjadinya kegiatan operasional dan berkumpulnya semua faktor pendukung kegiatan operasional.
Pengaruh Pengungkapan Islamic Social Reporting terhadap Dana Pihak Ketiga pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode
Prosiding Keuangan dan Perbankan Syariah ISSN: 2460-6561 Pengaruh Pengungkapan Islamic Social Reporting terhadap Dana Pihak Ketiga pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2010-2014 1 Dini Febriani,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Seiring berkembangnya jaman membuat berbagai macam perubahan yang dapat dirasakan oleh setiap orang. Perubahan yang saat ini dapat dirasakan adalah perubahan
ANALISIS PEMANFAATAN DANA PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY. (Studi pada PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur) SKRIPSI
ANALISIS PEMANFAATAN DANA PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (Studi pada PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur) SKRIPSI Untuk memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Oleh: EKA
BAB I PENDAHULUAN. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Sebuah perusahaan yang baik harus mampu mengontrol potensi finansial maupun potensi non finansial di dalam meningkatkan nilai perusahaan untuk eksistensi
BAB I PENDAHULUAN. bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengungkapan informasi oleh perusahaan merupakan hal yang penting khususnya bagi para investor. Pengungkapan informasi tersebut disajikan perusahaan dalam bentuk
BAB I PENDAHULUAN. Corporate social responsibility (CSR) merupakan klaim agar. perusahaan tak hanya beroperasi untuk kepentingan para pemegang saham
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Corporate social responsibility (CSR) merupakan klaim agar perusahaan tak hanya beroperasi untuk kepentingan para pemegang saham (shareholders) tapi juga untuk
BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, tanggung jawab sosial perusahaan atau yang lebih dikenal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dewasa ini, tanggung jawab sosial perusahaan atau yang lebih dikenal dengan corporate social responsibility (CSR) semakin banyak dibahas di kalangan bisnis.
Prosiding Akuntansi ISSN:
Prosiding Akuntansi ISSN: 2460-6561 Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Keputusan Investasi (Study Pada Perusahaan Pertambangan Yang Listing di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun
BAB I PENDAHULUAN. (Weygandt et al., 2008). Keseluruhan proses akuntansi pada akhirnya akan menghasilkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Akuntansi merupakan sistem informasi yang mengidentifikasi, merekam dan mengkomunikasikan kejadian ekonomik dari suatu entitas pada pengguna yang berkepentingan
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Guthrie dan Mathews (1985), kemajuan teknologi serta perubahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Menurut Guthrie dan Mathews (1985), kemajuan teknologi serta perubahan sosial ekonomi yang semakin pesat mengakibatkan adanya revolusi perubahan bagi dunia
BAB I PENDAHULUAN. Kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara berkelanjutan. Keberlanjutan perusahaan (corporate sustainability) hanya akan terjamin
BAB I PENDAHULUAN. Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan akhir-akhir ini semakin marak dibahas di dunia baik di media cetak, elektronik maupun
BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan keunggulan kompetitif (competitive advantage) bisnisnya agar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi telah mempengaruhi beberapa aspek kehidupan manusia. Salah satu aspek yang paling signifikan perubahannya adalah
BAB I PENDAHULUAN. Tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan setiap perusahaan. Dengan tata kelola yang baik perusahaan
Accounting Analysis Journal
AAJ 2 (2) (2013) Accounting Analysis Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/aaj CORPORATE GOVERNANCE DAN PENGUNGKAPAN ISLAMIC SOCIAL REPORTING PADA PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA Amirul Khoirudin
BAB I PENDAHULUAN. Maraknya pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR),
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Maraknya pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR), belakangan ini patut untuk dirayakan. Corporate Social Responsibility (CSR) memang sedang menjadi
BAB I PENDAHULUAN. untuk mengatasi kerusakan lingkungan. Di antaranya konsumen, stakeholder,
1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Pencemaran lingkungan di Indonesia kini semakin parah. Ini merupakan dampak dari pengelolaan lingkungan yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Kurangnya
PENGUNGKAPAN ISLAMIC SOCIAL REPORTING PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA
PENGUNGKAPAN ISLAMIC SOCIAL REPORTING PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA Fahri Ali Ahzar dan Rina Trisnawati Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jalan A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan
PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN PROFITABILITAS TERHADAP PENGUNGKAPAN ISLAMIC SOCIAL REPORTING PADA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA
PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN PROFITABILITAS TERHADAP PENGUNGKAPAN ISLAMIC SOCIAL REPORTING PADA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA NASKAH PUBLIKASI Di susun oleh : INTAN GESTARI R.D B 200100141 FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN. Dengan adanya persaingan yang kompetitif di pasar saat ini, tidaklah dapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Dengan adanya persaingan yang kompetitif di pasar saat ini, tidaklah dapat diterima bila sebuah bisnis hanya mementingkan untuk kebutuhannya sendiri agar mendapatkan
BAB I PENDAHULUAN. seharusnya membuat dunia usaha dijalankan secara profesional justru menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Ada sisi negatif yang tidak diharapkan dari perkembangan konsep-konsep manajemen sejak awal abad dua puluhan. Konsep pengelolaan korporasi yang seharusnya
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Peningkatan kinerja keuangan perusahaan adalah tujuan yang seharusnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peningkatan kinerja keuangan perusahaan adalah tujuan yang seharusnya dicapai untuk menarik stakeholders untuk membantu menunjang kegiatan operasional perusahaan.
BAB I PENDAHULUAN. kewajiban yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan dimana merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Corporate social responsibility (CSR) merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan dimana merupakan wujud tanggungjawab dan sikap
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Kinerja lingkungan tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap
BAB I PENDAHULUAN. yang sebesar-besarnya. Tujuan perusahaan yang kedua adalah ingin
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Didirikannya sebuah perusahaan memiliki tujuan yang jelas. Ada beberapa hal yang mengemukakan tentang tujuan pendirian suatu perusahaan. Tujuan perusahaan
BAB I PENDAHULUAN. Industri merupakan sektor penting dalam meningkatkan perekonomian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Industri merupakan sektor penting dalam meningkatkan perekonomian nasional. Namun di dalam pembangunan sektor industri pihak pengembang kurang memperhatikan
BAB I PENDAHULUAN. modal (investor dan kreditor), tetapi juga kepentingan karyawan, konsumen,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Saat ini tuntutan publik terhadap perusahaan semakin besar, perusahaan diharapkan tidak hanya mementingkan kepentingan manajemen dan pemilik modal (investor
BAB V PENUTUP. mengenai pengaruh Size, Profitabilitas, Leverage dan Umur Perusahaan terhadap
61 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai pengaruh Size, Profitabilitas, Leverage dan Umur Perusahaan terhadap pengungkapan pertanggungjawaban
pemerintah melalui peraturan daerah. Contoh kerugian jangka panjang adalah menurunnya tingkat kepercayaan perusahaan di mata masyarakat, menurunnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era pertumbuhan perusahaan yang semakin tinggi membuat kesadaran akan penerapan tanggung jawab sosial menjadi penting seiring dengan semakin maraknya kepedulian
BAB I PENDAHULUAN. terjadi hubungan yang tidak harmonis antar perusahaan dengan lingkungan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era yang serba modern ini, perkembangan bisnis dan persaingannya sangatlah ketat. Semua manajer ingin mengunggulkan perusahaannya dengan cara apapun agar
BAB I PENDAHULUAN. media pengungkapan (disclosure) maupun perangkat evaluasi dan monitoring
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pelaporan merupakan komponen penting dalam setiap kegiatan, baik sebagai media pengungkapan (disclosure) maupun perangkat evaluasi dan monitoring bagi perusahaan terbuka.
BAB I PENDAHULUAN. yang ada di Indonesia. Hal ini terjadi dikarenakan mulai banyaknya pihak pihak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini semua orang pasti mengetahui bagaimana parahnya pencemaran yang ada di Indonesia. Hal ini terjadi dikarenakan mulai banyaknya pihak pihak yang tidak
BAB I PENDAHULUAN. Tanggung jawab sosial perusahaan atau yang lebih dikenal dengan corporate
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tanggung jawab sosial perusahaan atau yang lebih dikenal dengan corporate social responsibility (CSR) merupakan bagian penting dari strategi bisnis berkelanjutan
