LAMPIRAN 1. (Kuesioner Tahap 1)
|
|
|
- Bambang Hadiman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 LAMPIRAN 1 (Kuesioner Tahap 1)
2 Pengisi : Fakultas/Jurusan : KUESIONER TAHAP 1 Bapak/Ibu yang terhormat, Dalam rangka penelitian untuk penyusunan Tugas Akhir pada program Strata Satu Jurusan Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha, saya mohon kesediaan Bapak/Ibu untuk meluangkan waktu guna mengisi kuesioner ini, Tujuan dari penyebaran kuesioner ini adalah untuk mengelompokkan perilaku kunci dari penilaian kinerja seorang dosen ke dalam kompetensi yang sesuai. Petunjuk Pengisian : 1. Bacalah setiap perilaku kunci yang ada dengan teliti. 2. Kelompokkan perilaku kunci tersebut ke dalam kompetensi yang tepat menurut pendapat Anda. Untuk itu Anda diminta untuk membaca keterangan tiap kompetensi dibawah. Contoh Pengisian : Perilaku Kunci Kemampuan dalam membantu Universitas Universitas X menjadi Lembaga Pendidikan tinggi Teknologi terbaik di Indonesia khususnya di bidang TELEMATIKA (Telekomunikasi,Media dan Informatika) Impact & Influence Managerial Kompetensi Achievement & Action Helping & Human Service Cognitive Personal Effectiveness 3. Jika menurut Anda terdapat perilaku perilaku kunci lain yang perlu ditambahkan untuk penilaian kinerja seorang dosen, maka Anda dapat menambahkannya pada kolom kosong yang telah disediakan.
3 Keterangan Kompetensi: 1. Impact and Influence : Kemampuan untuk mempengaruhi, meyakinkan atau membuat orang lain kagum, yang bertujuan agar mereka dapat mendukung jadwal/maksud pembicara/kita; atau merupakan hasrat untuk mendapatkan dampak/pengaruh tertentu dari orang lain. 2. Managerial : merupakan bagian khusus dari kompetensi Impact dan Influence, menampilkan kebutuhan untuk mendapatkan pengaruh spesifik, seperti mengembangkan orang lain, memimpin orang lain, meningkatkan kerjasama tim yang bagian penting dari seorang manager. Developing Others : Merupakan keinginan murni untuk meningkatkan pembelajaran atau pengembangan dari orang lain, dan pada level tertentu melakukan analisa yang dapat memberikan dampak positif dari Pengembangan orang lain. Teamwork & Cooperation : Merupakan kehendak murni untuk bekerjasama dengan orang lain, menjadi bagian dari tim. Directiveness/Assertiveness : Menampilkan usaha seseorang untuk membuat orang lain setuju/mengikuti keinginannya. 3. Achievement & Action : Kompetensi ini mengarahkan kepada penyelesaian tugas daripada memberikan pengaruh kepada orang lain. Kompetensi yang menjadi bagiannya adalah: Achievement Orientation : Kepedulian terhadap suatu standar performa kerja 4. Helping & Human Service : Kompetensi ini terdiri dari usaha untuk memenuhi kebutuhan orang lain Kompetensi yang menjadi bagiannya adalah: Customer Service Orientation : Merupakan hasrat untuk membantu atau melayani orang lain, untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dalam artian usaha terfokus untuk menemukan dan menghadapi kebutuhan pelanggan. Initiative : Merupakan kecenderungan untuk mengambil tindakan. Initiative adalah melakukan sesuatu lebih dari yang diminta oleh suatu pekerjaan, melakukan pekerjaan tanpa diminta, yang dapat meningkatkan atau memperbaikiki hasil pekerjaan dan mencegah permasalahan, atau menemukan atau menciptakan kesempatan baru.
4 Interpersonal Understanding : Merupakan kemampuan dalam menampilkan keinginan untuk memahami orang lain, merupakan kemampuan untuk mendengar secara akurat dan memahami yang tidak dibicarakan atau dapat menampilkan pemikiran, perasaan dan kepedulian terhadap orang lain. Orang disini merujuk kepada individu atau sekelompok individu dimana seluruh anggota diasumsikan memiliki cukup banyak kesamaan perasaan dan keinginan. 5. Cognitive : Merupakan versi intelektual dari Inisiatif. Individu bekerja terhadap situasi, tugas, masalah, kesempatan, atau tubuh dari pengetahuan. Kompetensi yang menjadi bagiannya adalah: Professional Expertise : Kemampuan dalam mengembangkan dan mempergunakan pengetahuan professional Analytical Thinking : Kemampuan dalam memahami situasi dengan memilahnya menjadi bagian bagian kecil, atau menjajaki implikasi dari suatu situasi selangkah demi selangkah. Conceptual Thinking : Kemampuan dalam memahami suatu situasi atau masalah dengan meletakkan potongan permasalahan bersama sama, melihat dari sudut pandang yang luas. Termasuk di dalamnya mengidentifikasi pola atau hubungan antara situasi yang tidak secara jelas berhubungan; mengidentifikasi kunci atau permasalahan di dalam situasi yang komplek. 6. Personal Effectiveness : Menampilkan aspek kedewasaan manusia dalam berelasi terhadap pekerjaan dan terhadap orang lain Kompetensi yang menjadi bagiannya adalah: Self Confidence : Percaya akan kemampuan dan penilaian diri sendiri, serta bertanggung jawab terhadap permasalahan dan kegagalan. Self Control : Kemampuan dalam menjaga emosi diri untuk tidak mengganggu pekerjaan, termasuk didalamnya ketahanan terhadap tekanan, memiliki stamina dan humor/lelucon Other Personal Effectiveness : Kemampuan pribadi lainnya yang bersifat umum. Flexibility : Kemampuan mengadaptasikan gaya, taktik/cara sesuai dengan kebutuhan.
5 Atas perhatian Bapak/Ibu saya mengucapkan terima kasih. Bandung, November 2008 Charles Robert Nainggolan ( ) Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha, Bandung
6 No 1 2 Sub Faktor Kemampuan dalam membantu Universitas "X" menjadi Lembaga Pendidikan tinggi Teknologi terbaik di Indonesia khususnya di bidang TELEMATIKA (Telekomunikasi,Media dan Informatika) Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi 3 Berperan dalam melakukan Penelitian 4 Membina Kerjasama dengan lembaga terkait Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang 5 sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, 6 regional, nasional 7 Pengabdian kepada masyarakat Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dalam 8 waktu kurun sesuai perencanaan 9 Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi 10 Pelayanan kepada masyarakat melalui karsa dan karya 11 Berperan dalam memeriksa kelengkapan persyaratan akademik mahasiswa 12 Menolong, Mengarahkan mahasiswa dalam mengisi FRS, FPRS 13 Memberikan pertimbangan kepada mahasiswa tentang mata kuliah yang seharusnya diambil dan SKS yang diambil 14 Memantau perkembangan kemajuan mahasiswa 15 Mengetahui sedini mungkin hal yang menghambat mahasiswa dalam proses belajar 16 Memberikan konsultasi, bimbingan bagi mahasiswa yang membutuhkan Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan 17 motivasi dan integritas tinggi Berperan dalam mendukung Universitas "X" dalam mengembangkan/membangun kualitas mahasiswanya 18 dengan memberikan program program berstandar internasional 19 Bertanggung jawab dalam menjaga kualitas pengajaran Total II M AC HS C PE
7 20 21 Kemampuan dalam memberikan program ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan Mempersiapkan karir mereka Mengambil peran dalam mendukung budaya universitas yaitu, Equipping (menyediakan), Empowering (Memberikan motivasi, semangat), Safe (aman), Caring (Kepedulian) 22 Melakukan inovasi dalam pekerjaan yang dilakukan Berperan sebagai FEE (facilitating, empowering, enabling) dan guides on the sides daripada mentor in center, yaitu membantu mahasiswa mengakses informasi, menata dan mentransfernya guna menemukan solusi terhadap permasalahan nyata sehari hari daripada sek Bertanggung jawab dalam mengembangkan karakter mahasiswa (life long learning) Belajar bersama dengan mahasiswa dalam mengembangkan pengetahuan, konsep dan keterampilan Memahami konsep mendasar dan cara belajar sesuai dengan pengalaman mahasiswa serta memusatkan pembelajaran pada mahasiswa Mengenal mahasiswa sebagai individu beserta perbedaan 27 kemampuannya, untuk menentukan berbagai metode dan strategi untuk mendorong kreativitas 28 Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menantang Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar mahasiswa 29 dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu 30 Mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah 31 Dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar 32 Dapat memberikan muatan nilai, etika,estetika dan logika 33 Memberikan umpan balik yang baik untuk mendorong kegiatan belajar 34 Menyediakan pengalaman belajar yang beragam bagi para mahasiswa 35 Bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran 36 Mengkaji kompetensi matakuliah yang perlu dikuasai mahasiswa di akhir pembelajaran Merancang strategi dan lingk pembelajaran yang dapat 37 menyediakan beragam pengalaman belajar yang diperlukan mahasiswa dalam rangka mencapai kompetensi yang
8 dituntut mata kuliah Membantu mahasiswa mengakses info, menata dan memprosesnya untuk memecahkan permasalahan sehari hari Mengidentifikasi dan menentukan pola penilaian belajar mahasiswa yang relevan dengan kompetensi yang diukur Merancang pembelajaran agar mahasiswa aktif mengkonstruksi pengetahuan, menunjukkan hasil belajar dengan menyampaikan pemikirannya dan mendapatkan kesempatan untuk mengevaluasi dan dievaluasi Memiliki ketulusan hati dalam menjadi inspirator utama dan fasilitator dalam proses peningkatan kualitas lulusan Menjadi pelopor perubahan dalam sistem belajar sesuai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Menguji coba ide pembaharuan, memonitor, mengevaluasi dan mengembangkan ide secara terus menerus 44 Membuat jaringan info pembelajaran antar perguruan tinggi 45 Kemampuan berkomunikasi secara oral/tertulis 46 Kemampuan menggunakan logika 47 Kemampuan menganalisis problema 48 Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri 49 Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran 50 Kemampuan untuk memotivasi diri dan mahasiswa Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh Memiliki minat dan kemampuan dalam merekonstruksi basis pengetahuan dan metoda pembelajaran dan mata kuliah yang menjadi tanggung jawabnya, merujuk pada kompetensi yang menjadi tujuan mata kuliah tsb. Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju
9 Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya Memiliki kemampuan untuk saling berbagi dengan mahasiswa melalui dialog Mengolah informasi melalui kuliah, diskusi, seminar, studi kasus, tugas praktikum, tugas penelitan Memberikan proses mekanisme balikan (feedback) melalui pembahasan hasil internalisasi, catatan evaluasi pada lembar hasil tugas, pengumuman dan komentar. Senantiasa meningkatkan dan memeperbaharui kemampuan diri dalam penguasaan bidang ilmu yang harus dikuasainya Menguasai kemampuan meningkatkan daya nalar peserta didik Merangsang proses internalisasi dari ilmu yang diberikan kepada peserta didik 61 Menjadi contoh dan teladan bagi para peserta didik Dosen secara kreatif dapat memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia walaupun terbatas Menyediakan/memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya, dan mengkomunikasikan idenya Menyediakan sarana yang merangsang mahasiswa berfikir secara produktif Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan jalan tidaknya pemikiran mahasiswa
10 Lampiran 2 KUESIONER TAHAP 2
11 Pengisi : Fakultas/Jurusan : KUESIONER TAHAP 2 Bapak/Ibu yang terhormat, Dalam rangka penelitian untuk penyusunan Tugas Akhir pada program Strata Satu Jurusan Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha, saya mohon kesediaan Bapak/Ibu untuk meluangkan waktu guna mengisi kuesioner ini, Tujuan dari penyebaran kuesioner ini adalah untuk mengetahui tingkat kepentingan subfaktor penilaian kinerja. Petunjuk Pengisian : 4. Bacalah setiap perilaku kunci yang ada dengan teliti. 5. Tentukan tingkat kepenting dengan memberikan tanda checklist pada kolom yang disediakan. Contoh Pengisian : No 1 Subfaktor Kemampuan untuk membujuk, meyakinkan dan memberikan pengeruhnya kepada orang lain (Impact and infuence) STP TP P SP 2 Membina Kerjasama dengan lembaga terkait v Menguji coba ide pembaharuan, memonitor, mengevaluasi dan mengembangkan ide 3 secara terus menerus 4 Memiliki kemampuan untuk saling berbagi dengan mahasiswa melalui dialog v 5 Menjadi contoh dan teladan bagi para peserta didik v Jawaban v v Atas perhatian Bapak/Ibu saya mengucapkan terima kasih. Bandung, November 2008 Charles Robert Nainggolan ( ) Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha, Bandung
12 No Subfaktor 1 Kemampuan untuk membujuk, meyakinkan dan memberikan pengeruhnya kepada orang lain (Impact and infuence) 2 Membina Kerjasama dengan lembaga terkait Menguji coba ide pembaharuan, memonitor, 3 mengevaluasi dan mengembangkan ide secara terus menerus Memiliki kemampuan untuk saling berbagi dengan 4 mahasiswa melalui dialog 5 Menjadi contoh dan teladan bagi para peserta didik 6 Kemampuan memberikan dukungan (Developing Others) 7 Kemampuan memberi perintah dan memanfaatkan kekuasaan jabatan (Directiveness) 8 Kerja kelompok dan kerjasama (Team work and cooperation) Kemampuan dalam membantu Universitas "X" menjadi Lembaga Pendidikan tinggi Teknologi terbaik di 9 Indonesia khususnya di bidang TELEMATIKA (Telekomunikasi,Media dan Informatika) 10 Melakukan inovasi dalam pekerjaan yang dilakukan Berperan sebagai FEE (facilitating, empowering, enabling) dan guides on the sides daripada mentor in center, yaitu membantu mahasiswa mengakses 11 informasi, menata dan mentransfernya guna menemukan solusi terhadap permasalahan nyata sehari hari daripada sek Mengenal mahasiswa sebagai individu beserta 12 perbedaan kemampuannya, untuk menentukan berbagai metode dan strategi untuk mendorong kreativitas 13 Dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar Memberikan umpan balik yang baik untuk mendorong 14 kegiatan belajar Merancang pembelajaran agar mahasiswa aktif mengkonstruksi pengetahuan, menunjukkan hasil 15 belajar dengan menyampaikan pemikirannya dan mendapatkan kesempatan untuk mengevaluasi dan dievaluasi Dosen secara kreatif dapat memanfaatkan seluruh 16 sumber daya yang tersedia walaupun terbatas 17 Semangat untuk berprestasi (Achievement orientation) 18 Inisiatif (Initiative) 19 Pengumpulan informasi (Information seeking) Jawaban STP TP P SP
13 20 Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan 21 motivasi dan integritas tinggi Berperan dalam mendukung Universitas "X" dalam mengembangkan/membangun kualitas mahasiswanya 22 dengan memberikan program program berstandar internasional 23 Bertanggung jawab dalam menjaga kualitas pengajaran Kemampuan dalam memberikan program ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi lulusan 24 dalam : Merencanakan, Memasuki dan Mempersiapkan karir mereka Senantiasa berusaha memberikan yang terbaik bagi 25 mahasiswa Bertanggung jawab dalam mengembangkan karakter 26 mahasiswa (life long learning) Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan 27 menantang Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar mahasiswa 28 dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu Mengkaji kompetensi matakuliah yang perlu dikuasai 29 mahasiswa di akhir pembelajaran Membantu mahasiswa mengakses info, menata dan 30 memprosesnya untuk memecahkan permasalahan sehari hari 31 Memiliki minat dan kemampuan dalam merekonstruksi basis pengetahuan dan metoda pembelajaran dan mata kuliah yang menjadi tanggung jawabnya, merujuk pada kompetensi yang menjadi tujuan mata kuliah tsb. 32 Empati (Interpersonal understanding) 33 Pengabdian kepada masyarakat 34 Pelayanan kepada masyarakat melalui karsa dan karya 35 Menolong, Mengarahkan mahasiswa dalam mengisi FRS, FPRS Memberikan pertimbangan kepada mahasiswa tentang 36 mata kuliah yang seharusnya diambil dan SKS yang diambil 37 Memantau perkembangan kemajuan mahasiswa 38 Memberikan konsultasi, bimbingan bagi mahasiswa yang membutuhkan
14 Dapat memberikan muatan nilai, etika,estetika dan logika Menyediakan pengalaman belajar yang beragam bagi para mahasiswa Merancang strategi dan lingk pembelajaran yang dapat menyediakan beragam pengalaman belajar yang diperlukan mahasiswa dalam rangka mencapai kompetensi yang dituntut mata kuliah Menjadi pelopor perubahan dalam sistem belajar sesuai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Mengolah informasi melalui kuliah, diskusi, seminar, studi kasus, tugas praktikum, tugas penelitan Memberikan proses mekanisme balikan (feedback) 44 melalui pembahasan hasil internalisasi, catatan evaluasi pada lembar hasil tugas, pengumuman dan komentar. Menguasai kemampuan meningkatkan daya nalar 45 peserta didik 46 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual 47 thinking) Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan 48 kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi 49 Berperan dalam melakukan Penelitian 50 Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, nasional Mengetahui sedini mungkin hal yang menghambat mahasiswa dalam proses belajar Belajar bersama dengan mahasiswa dalam mengembangkan pengetahuan, konsep dan keterampilan Memahami konsep mendasar dan cara belajar sesuai dengan pengalaman mahasiswa serta memusatkan pembelajaran pada mahasiswa 55 Mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah 56 Kemampuan menggunakan logika 57 Kemampuan menganalisis problema 58 Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri
15 Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya Senantiasa meningkatkan dan memeperbaharui kemampuan diri dalam penguasaan bidang ilmu yang harus dikuasainya Merangsang proses internalisasi dari ilmu yang diberikan kepada peserta didik 65 Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan jalan tidaknya pemikiran mahasiswa Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dalam 66 waktu kurun sesuai perencanaan 67 Berperan dalam memeriksa kelengkapan persyaratan akademik mahasiswa Mengambil peran dalam mendukung budaya universitas 68 yaitu, Equipping (menyediakan), Empowering (Memberikan motivasi, semangat), Safe (aman), Caring (Kepedulian) 69 Bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran Mengidentifikasi dan menentukan pola penilaian belajar 70 mahasiswa yang relevan dengan kompetensi yang diukur 71 Memiliki ketulusan hati dalam menjadi inspirator utama dan fasilitator dalam proses peningkatan kualitas lulusan 72 Membuat jaringan info pembelajaran antar perguruan tinggi 73 Kemampuan berkomunikasi secara oral/tertulis 74 Kemampuan untuk memotivasi diri dan mahasiswa 75 Menyediakan/memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya, dan mengkomunikasikan idenya
16 Lampiran 3 KUESIONER TAHAP 3
17 Pengisi : Fakultas/Jurusan : KUESIONER TAHAP 3 Bapak/Ibu yang terhormat, Dalam rangka penelitian untuk penyusunan Tugas Akhir pada program Strata Satu Jurusan Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha, saya mohon kesediaan Bapak/Ibu untuk meluangkan waktu guna mengisi kuesioner ini, Tujuan dari penyebaran kuesioner ini adalah untuk mengetahui skala kepentingan faktor/subfaktor penilaian kinerja seorang dosen. Petunjuk Pengisian : 6. Bacalah setiap perbandingan faktor/subfaktor yang ada dengan teliti 7. Isilah kuesioner ini dengan melingkari salah satu angka (1 9) yang menunjukkan skala kepentingan diantara kedua faktor/ subfaktor tersebut. 8. Angka 1-9 pada kotak sebelah kiri menunjukkan hasil perbandingan dari faktor/subfaktor sebelah kiri terhadap faktor/subfaktor sebelah kanan. 9. Angka 1-9 pada kotak sebelah kanan menunjukkan hasil perbandingan dari faktor/subfaktor sebelah kanan terhadap faktor/subfaktor sebelah kiri. Contoh Pengisian : No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor 1 Impact and Influence Managerial Impact and Influence = 7 x Managerial Artinya : Impact and Influence lebih penting. Tingkat Keterangan kepentingan 1 Kedua faktor/subfaktor sama penting 3 Faktor/sibfaktor yang satu sedikit lebih penting dari pada faktor/subfaktor lainya 5 Faktor/subfaktor yang satu lebih penting daripada faktor/subfaktor 7 Salah satu faktor/subfaktor sangat penting daripada faktor/sunfaktor lainya 9 salah satu faktor/subfaktor mutlak penting daripada faktor/subfaktor lainya 2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua pertimbangan yang berdekatan Jika untuk faktor/subfaktor I mendapat satu angka dibandingkan faktor/subfaktor j, maka j mempunyai nilai Kebalikan kebalikan dari I Atas perhatian Bapak/Ibu saya ucapkan trima kasih. Bandung, Mei 2008 Charles ( )
18 Perbandingan Berpasangan Antar Faktor Penilaian Kinerja No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor 1 Impact and Influence Managerial 2 Impact and Influence Achievment and Action 3 Impact and Influence Helping and Human Service 4 Impact and Influence Cognitive 5 Impact and Influence Personal Effectiveness 6 Managerial Achievment and Action 7 Managerial Helping and Human Service 8 Managerial Cognitive 9 Managerial Personal Effectiveness 10 Achievment and Action Helping and Human Service 11 Achievment and Action Cognitive 12 Achievment and Action Personal Effectiveness 13 Helping and Human Service Cognitive 14 Helping and Human Service Personal Effectiveness 15 Cognitive Personal Effectiveness
19 Perbandingan Berpasangan Antar Subfaktor Penilaian Kinerja 1. Impact and Influence No Subfaktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Subfaktor Kemampuan untuk membujuk, meyakinkan dan memberikan pengeruhnya kepada orang lain (Impact and infuence) Kemampuan untuk membujuk, meyakinkan dan memberikan pengeruhnya kepada orang lain (Impact and infuence) Kemampuan untuk membujuk, meyakinkan dan memberikan pengeruhnya kepada orang lain (Impact and infuence) Membina Kerjasama dengan lembaga terkait (II1) Menguji coba ide pembaharuan, memonitor, mengevaluasi dan mengembangkan ide secara terus menerus (II2) Memiliki kemampuan untuk saling berbagi dengan mahasiswa melalui dialog (II3) 4 Kemampuan untuk membujuk, meyakinkan dan memberikan pengeruhnya kepada orang lain (Impact and infuence) Menjadi contoh dan teladan bagi para peserta didik (II4) 5 6 Membina Kerjasama dengan lembaga terkait (II1) Membina Kerjasama dengan lembaga terkait(ii1) Membina Kerjasama dengan lembaga 7 terkait (II1) Menguji coba ide pembaharuan, memonitor, mengevaluasi dan 8 mengembangkan ide secara terus menerus (II2) Menguji coba ide pembaharuan, memonitor, mengevaluasi dan 9 mengembangkan ide secara terus menerus (II2) Memiliki kemampuan untuk saling 10 berbagi dengan mahasiswa melalui dialog (II3) Menguji coba ide pembaharuan, memonitor, mengevaluasi dan mengembangkan ide secara terus menerus (II2) Memiliki kemampuan untuk saling berbagi dengan mahasiswa melalui dialog (II3) Menjadi contoh dan teladan bagi para peserta didik (II4) Memiliki kemampuan untuk saling berbagi dengan mahasiswa melalui dialog (II3) Menjadi contoh dan teladan bagi para peserta didik (II4) Menjadi contoh dan teladan bagi para peserta didik (II4)
20 2. Managerial No Subfaktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Subfaktor 1 2 Kerja kelompok dan kerjasama (Team work and cooperation) Kerja kelompok dan kerjasama (Team work and cooperation) Kerja kelompok dan kerjasama (Team work and 3 cooperation) Kerja kelompok dan kerjasama (Team work and 4 cooperation) 5 Kemampuan memberi perintah dan memanfaatkan kekuasaan jabatan (Directiveness) Kemampuan memberi perintah dan 6 memanfaatkan kekuasaan jabatan (Directiveness) Kemampuan memberi perintah dan 7 memanfaatkan kekuasaan jabatan (Directiveness) Kemampuan dalam membantu Universitas ITHB menjadi Lembaga Pendidikan tinggi Teknologi 8 terbaik di Indonesia khususnya di bidang TELEMATIKA (Telekomunikasi,Media dan Informatika) (M1) Kemampuan dalam membantu Universitas ITHB menjadi Lembaga Pendidikan tinggi Teknologi 9 terbaik di Indonesia khususnya di bidang TELEMATIKA (Telekomunikasi,Media dan Informatika) (M1) Melakukan inovasi dalam pekerjaan yang 10 dilakukan (M2) Kemampuan memberi perintah dan memanfaatkan kekuasaan jabatan (Directiveness) Kemampuan dalam membantu Universitas ITHB menjadi Lembaga Pendidikan tinggi Teknologi terbaik di Indonesia khususnya di bidang TELEMATIKA (Telekomunikasi,Media dan Informatika) (M1) Melakukan inovasi dalam pekerjaan yang 9 dilakukan Memberikan umpan balik yang baik untuk mendorong kegiatan belajar Kemampuan dalam membantu Universitas ITHB menjadi Lembaga Pendidikan tinggi Teknologi terbaik di Indonesia khususnya di bidang TELEMATIKA (Telekomunikasi,Media dan Informatika) (M1) Melakukan inovasi dalam pekerjaan yang dilakukan Memberikan umpan balik yang baik untuk mendorong kegiatan belajar Melakukan inovasi dalam pekerjaan yang dilakukan (M2) Memberikan umpan balik yang baik untuk mendorong kegiatan belajar (M3) Memberikan umpan balik yang baik untuk mendorong kegiatan belajar (M3)
21 3. Achievment and Action No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor Semangat untuk berprestasi (Achievement 1 Inisiatif (Initiative) orientation) Semangat untuk berprestasi (Achievement orientation) Semangat untuk berprestasi (Achievement orientation) Semangat untuk berprestasi (Achievement orientation) Semangat untuk berprestasi (Achievement orientation) Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan motivasi dan integritas tinggi Bertanggung jawab dalam menjaga kualitas pengajaran Kemampuan dalam memberikan program ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan Mempersiapkan karir mereka 6 Semangat untuk berprestasi (Achievement Senantiasa berusaha memberikan yang terbaik orientation) bagi mahasiswa 7 Semangat untuk berprestasi (Achievement Bertanggung jawab dalam mengembangkan orientation) karakter mahasiswa (life long learning) 8 Semangat untuk berprestasi (Achievement Menciptakan kondisi belajar yang orientation) menyenangkan dan menantang Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar 9 Semangat untuk berprestasi (Achievement mahasiswa dapat saling membantu dalam orientation) melakukan tugas belajar tertentu Membantu mahasiswa mengakses info, Semangat untuk berprestasi (Achievement 10 menata dan memprosesnya untuk orientation) memecahkan permasalahan sehari hari Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap 11 Inisiatif (Initiative) perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi 12 Inisiatif (Initiative) 13 Inisiatif (Initiative) 14 Inisiatif (Initiative) 15 Inisiatif (Initiative) Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan motivasi dan integritas tinggi Bertanggung jawab dalam menjaga kualitas pengajaran Kemampuan dalam memberikan program ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan Mempersiapkan karir mereka Senantiasa berusaha memberikan yang terbaik bagi mahasiswa
22 No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor 16 Inisiatif (Initiative) Bertanggung jawab dalam mengembangkan 9 karakter mahasiswa (life long learning) 17 Inisiatif (Initiative) Menciptakan kondisi belajar yang 9 menyenangkan dan menantang Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar 18 Inisiatif (Initiative) mahasiswa dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu 19 Inisiatif (Initiative) Membantu mahasiswa mengakses info, menata dan memprosesnya untuk memecahkan permasalahan sehari hari Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi 23 Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap 24 perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap 25 perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap 26 perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi Menghasilkan lulusan yang Tanggap terhadap 27 perkembangan Teknologi, mampu memanfaatkan peluang, kreatif, tangguh, bermoral, integritas tinggi 28 Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan motivasi dan integritas tinggi Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan motivasi dan integritas tinggi Bertanggung jawab dalam menjaga kualitas pengajaran Kemampuan dalam memberikan program ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan Mempersiapkan karir mereka Senantiasa berusaha memberikan yang terbaik bagi mahasiswa Bertanggung jawab dalam mengembangkan karakter mahasiswa (life long learning) Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menantang Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar mahasiswa dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu Membantu mahasiswa mengakses info, menata dan memprosesnya untuk memecahkan permasalahan sehari hari Kemampuan dalam memberikan program ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan Mempersiapkan karir mereka Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan motivasi dan integritas tinggi Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan motivasi dan integritas tinggi Bertanggung jawab dalam mengembangkan karakter mahasiswa (life long learning) Kemampuan dalam memberikan program ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan Mempersiapkan karir mereka
23 No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor 31 Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan motivasi dan integritas tinggi Senantiasa berusaha memberikan yang terbaik bagi mahasiswa Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan motivasi dan integritas tinggi Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan motivasi dan integritas tinggi Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan motivasi dan integritas tinggi Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dengan motivasi dan integritas tinggi Bertanggung jawab dalam menjaga kualitas pengajaran Bertanggung jawab dalam menjaga kualitas 37 pengajaran Bertanggung jawab dalam menjaga kualitas 38 pengajaran Bertanggung jawab dalam menjaga kualitas 39 pengajaran Bertanggung jawab dalam menjaga kualitas pengajaran Bertanggung jawab dalam menjaga kualitas pengajaran Kemampuan dalam memberikan program ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi 42 lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan Mempersiapkan karir mereka Kemampuan dalam memberikan program 43 ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan Kemampuan dalam memberikan program ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi 44 lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan Mempersiapkan karir mereka Kemampuan dalam memberikan program ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi 45 lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan Mempersiapkan karir mereka Bertanggung jawab dalam mengembangkan karakter mahasiswa (life long learning) Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menantang Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar mahasiswa dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu Membantu mahasiswa mengakses info, menata dan memprosesnya untuk memecahkan permasalahan sehari hari Kemampuan dalam memberikan program ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan Mempersiapkan karir mereka Senantiasa berusaha memberikan yang terbaik bagi 9 mahasiswa Bertanggung jawab dalam mengembangkan karakter 9 mahasiswa (life long learning) Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan 9 menantang Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar mahasiswa dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu Membantu mahasiswa mengakses info, menata dan memprosesnya untuk memecahkan permasalahan sehari hari Senantiasa berusaha memberikan yang terbaik bagi mahasiswa Bertanggung jawab dalam mengembangkan karakter mahasiswa (life long learning) Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menantang Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar mahasiswa dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu
24 No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor Kemampuan dalam memberikan program Membantu mahasiswa mengakses info, menata dan ekstrakurikuler certiplus untuk mendampingi 46 memprosesnya untuk memecahkan permasalahan lulusan dalam : Merencanakan, Memasuki dan sehari hari Mempersiapkan karir mereka Senantiasa berusaha memberikan yang terbaik Bertanggung jawab dalam mengembangkan karakter bagi mahasiswa Senantiasa berusaha memberikan yang terbaik bagi mahasiswa Senantiasa berusaha memberikan yang terbaik bagi mahasiswa Senantiasa berusaha memberikan yang terbaik bagi mahasiswa Bertanggung jawab dalam mengembangkan karakter mahasiswa (life long learning) Bertanggung jawab dalam mengembangkan karakter mahasiswa (life long learning) Bertanggung jawab dalam mengembangkan karakter mahasiswa (life long learning) Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menantang Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menantang Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar mahasiswa dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu mahasiswa (life long learning) Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menantang Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar mahasiswa dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu Membantu mahasiswa mengakses info, menata dan memprosesnya untuk memecahkan permasalahan sehari hari Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menantang Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar mahasiswa dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu Membantu mahasiswa mengakses info, menata dan memprosesnya untuk memecahkan permasalahan sehari hari Mampu memanfaatkan organisasi kelas agar mahasiswa dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu Membantu mahasiswa mengakses info, menata dan memprosesnya untuk memecahkan permasalahan sehari hari Membantu mahasiswa mengakses info, menata dan memprosesnya untuk memecahkan permasalahan sehari hari
25 4. Helping and Human Service No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor 1 Empati (Interpersonal understanding) Pelayanan kepada masyarakat melalui karsa dan karya 2 Empati (Interpersonal understanding) Menolong, Mengarahkan mahasiswa dalam mengisi FRS, FPRS 3 Empati (Interpersonal understanding) Memberikan pertimbangan kepada mahasiswa tentang mata 9 kuliah yang seharusnya diambil dan SKS yang diambil 4 Empati (Interpersonal understanding) Memantau perkembangan kemajuan mahasiswa 5 Empati (Interpersonal understanding) Memberikan konsultasi, bimbingan bagi mahasiswa yang 9 membutuhkan 6 Empati (Interpersonal understanding) Dapat memberikan muatan nilai, etika,estetika dan logika 7 Empati (Interpersonal understanding) Menyediakan pengalaman belajar yang beragam bagi para mahasiswa 8 Empati (Interpersonal understanding) Menguasai kemampuan meningkatkan daya nalar peserta didik Pelayanan kepada masyarakat melalui karsa dan 9 karya Pelayanan kepada masyarakat melalui karsa dan 10 karya Pelayanan kepada masyarakat melalui karsa dan 11 karya Pelayanan kepada masyarakat melalui karsa dan 12 karya Pelayanan kepada masyarakat melalui karsa dan 13 karya Pelayanan kepada masyarakat melalui karsa dan 14 karya Pelayanan kepada masyarakat melalui karsa dan 15 karya Menolong, Mengarahkan mahasiswa dalam 16 mengisi FRS, FPRS Menolong, Mengarahkan mahasiswa dalam 17 mengisi FRS, FPRS Menolong, Mengarahkan mahasiswa dalam 18 mengisi FRS, FPRS Menolong, Mengarahkan mahasiswa dalam 19 mengisi FRS, FPRS Menolong, Mengarahkan mahasiswa dalam 20 mengisi FRS, FPRS Menolong, Mengarahkan mahasiswa dalam mengisi FRS, FPRS Memberikan pertimbangan kepada mahasiswa tentang mata kuliah yang seharusnya diambil dan SKS yang diambil Memantau perkembangan kemajuan mahasiswa Memberikan konsultasi, bimbingan bagi mahasiswa yang membutuhkan Dapat memberikan muatan nilai, etika,estetika dan logika Menyediakan pengalaman belajar yang beragam bagi para mahasiswa Menguasai kemampuan meningkatkan daya nalar peserta didik Memberikan pertimbangan kepada mahasiswa tentang mata kuliah yang seharusnya diambil dan SKS yang diambil Memantau perkembangan kemajuan mahasiswa Memberikan konsultasi, bimbingan bagi mahasiswa yang membutuhkan Dapat memberikan muatan nilai, etika,estetika dan logika Menyediakan pengalaman belajar yang beragam bagi para mahasiswa
26 No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor Menolong, Mengarahkan mahasiswa dalam 21 mengisi FRS, FPRS Menguasai kemampuan meningkatkan daya nalar peserta didik Memberikan pertimbangan kepada mahasiswa 22 tentang mata kuliah yang seharusnya diambil dan SKS yang diambil Memantau perkembangan kemajuan mahasiswa Memberikan pertimbangan kepada mahasiswa 23 tentang mata kuliah yang seharusnya diambil dan 9 SKS yang diambil Memberikan konsultasi, bimbingan bagi mahasiswa yang 9 membutuhkan Memberikan pertimbangan kepada mahasiswa 24 tentang mata kuliah yang seharusnya diambil dan SKS yang diambil Dapat memberikan muatan nilai, etika,estetika dan logika Memberikan pertimbangan kepada mahasiswa 25 tentang mata kuliah yang seharusnya diambil dan 9 SKS yang diambil Menyediakan pengalaman belajar yang beragam bagi para 9 mahasiswa Memberikan pertimbangan kepada mahasiswa 26 tentang mata kuliah yang seharusnya diambil dan SKS yang diambil Menguasai kemampuan meningkatkan daya nalar peserta didik 27 Memantau perkembangan kemajuan mahasiswa Memberikan konsultasi, bimbingan bagi mahasiswa yang 9 membutuhkan 28 Memantau perkembangan kemajuan mahasiswa Dapat memberikan muatan nilai, etika,estetika dan logika 29 Memantau perkembangan kemajuan mahasiswa Menyediakan pengalaman belajar yang beragam bagi para mahasiswa 30 Memantau perkembangan kemajuan mahasiswa Menguasai kemampuan meningkatkan daya nalar peserta didik Memberikan konsultasi, bimbingan bagi 31 mahasiswa yang membutuhkan Memberikan konsultasi, bimbingan bagi 32 mahasiswa yang membutuhkan Memberikan konsultasi, bimbingan bagi 33 mahasiswa yang membutuhkan Dapat memberikan muatan nilai, etika,estetika 34 dan logika Dapat memberikan muatan nilai, etika,estetika 35 dan logika Menyediakan pengalaman belajar yang beragam 36 bagi para mahasiswa Dapat memberikan muatan nilai, etika,estetika dan logika Menyediakan pengalaman belajar yang beragam bagi para mahasiswa Menguasai kemampuan meningkatkan daya nalar peserta didik Menyediakan pengalaman belajar yang beragam bagi para mahasiswa Menguasai kemampuan meningkatkan daya nalar peserta didik Menguasai kemampuan meningkatkan daya nalar peserta didik
27 5. Cognitive No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor 1 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual thinking) 2 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi 3 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Berperan dalam melakukan Penelitian 4 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA 5 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, nasional 6 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Kemampuan menganalisis problema 7 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri 8 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran 9 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh 10 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju 11 Kemampuan berpikir analitis (Analytical thinking) Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan 12 Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada thinking) masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi 13 Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual thinking) Berperan dalam melakukan Penelitian 14 Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai thinking) dengan kebutuhan industri TELEMATIKA 15 Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, thinking) nasional 16 Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual thinking) Kemampuan menganalisis problema 17 Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual thinking) Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri 18 Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan thinking) pembelajaran Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual thinking) Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual thinking) Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju
28 No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor Kemampuan berpikir secara konseptual (Conseptual thinking) Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya Berperan dalam melakukan Penelitian Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, nasional Kemampuan menganalisis problema Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi Sebagai dosen memiliki komitmen dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi seluas luasnya kepada masyarakat, khususnya di Bidang Teknologi Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya 31 Berperan dalam melakukan Penelitian Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA 32 Berperan dalam melakukan Penelitian Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, nasional 33 Berperan dalam melakukan Penelitian Kemampuan menganalisis problema 34 Berperan dalam melakukan Penelitian Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri 35 Berperan dalam melakukan Penelitian 36 Berperan dalam melakukan Penelitian 37 Berperan dalam melakukan Penelitian 38 Berperan dalam melakukan Penelitian 39 Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, nasional 40 Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA Kemampuan menganalisis problema
29 No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA Menciptakan sumbangan pemikiran dan tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industri TELEMATIKA 46 Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, nasional 47 Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, nasional 48 Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, nasional Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, nasional Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, nasional Mendukung pengembangan TELEMATIKA di lokal, regional, nasional Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya Kemampuan menganalisis problema Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya 52 Kemampuan menganalisis problema Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri 53 Kemampuan menganalisis problema 54 Kemampuan menganalisis problema 55 Kemampuan menganalisis problema 56 Kemampuan menganalisis problema 57 Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri 58 Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri 59 Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri 60 Kemampuan bekerjasama dalam tim dan secara mandiri 61 Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh
30 No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran Kemampuan dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan pembelajaran Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh Kemampuan menguasai subyek kajian untuk berperan sebagai dinamisator dan fasilitator pembelajaran dalam subyek kajian mata kuliah yang ditempuh Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya 66 Kemampuan menguasai kurikulum dimana dosen harus mengerti dan dapat mengartikulasikan kedudukan dan keterkaitan mata kuliahnya dengan kurikulum program studi dan profesi yang dituju Mempunyai kemampuan pedagogi dimana dosen harus melaksankan proses pembelajaran yang efektif dalam subyek kajiannya
31 Personal Effectiveness No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor 1 Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dalam waktu kurun sesuai perencanaan Berperan dalam memeriksa kelengkapan persyaratan akademik mahasiswa Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dalam waktu kurun sesuai perencanaan Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dalam waktu kurun sesuai perencanaan Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dalam waktu kurun sesuai perencanaan Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dalam waktu kurun sesuai perencanaan Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dalam waktu kurun sesuai perencanaan Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dalam waktu kurun sesuai perencanaan Bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan dalam waktu kurun sesuai perencanaan Berperan dalam memeriksa kelengkapan persyaratan akademik mahasiswa Mengambil peran dalam mendukung budaya universitas yaitu, Equipping (menyediakan), Empowering (Memberikan motivasi, semangat), Safe (aman), Caring (Kepedulian) Bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran Memiliki ketulusan hati dalam menjadi inspirator utama dan fasilitator dalam proses peningkatan kualitas lulusan Membuat jaringan info pembelajaran antar perguruan tinggi Kemampuan berkomunikasi secara oral/tertulis Kemampuan untuk memotivasi diri dan mahasiswa Menyediakan/memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya, dan mengkomunikasikan idenya Mengambil peran dalam mendukung budaya universitas yaitu, Equipping (menyediakan), Empowering (Memberikan motivasi, semangat), Safe (aman), Caring (Kepedulian) Berperan dalam memeriksa kelengkapan persyaratan akademik mahasiswa Berperan dalam memeriksa kelengkapan persyaratan akademik mahasiswa Berperan dalam memeriksa kelengkapan persyaratan akademik mahasiswa Berperan dalam memeriksa kelengkapan persyaratan akademik mahasiswa Berperan dalam memeriksa kelengkapan persyaratan akademik mahasiswa Berperan dalam memeriksa kelengkapan persyaratan akademik mahasiswa Mengambil peran dalam mendukung budaya universitas yaitu, Equipping (menyediakan), Empowering (Memberikan motivasi, semangat), Safe (aman), Caring (Kepedulian) Bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran Memiliki ketulusan hati dalam menjadi inspirator utama dan fasilitator dalam proses peningkatan kualitas lulusan Membuat jaringan info pembelajaran antar perguruan tinggi Kemampuan berkomunikasi secara oral/tertulis Kemampuan untuk memotivasi diri dan mahasiswa Menyediakan/memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya, dan mengkomunikasikan idenya Bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran 17 Mengambil peran dalam mendukung budaya universitas yaitu, Equipping (menyediakan), Empowering (Memberikan motivasi, semangat), Safe (aman), Caring (Kepedulian) Memiliki ketulusan hati dalam menjadi inspirator utama dan fasilitator dalam proses peningkatan kualitas lulusan 18 Mengambil peran dalam mendukung budaya universitas yaitu, Equipping (menyediakan), Empowering (Memberikan motivasi, semangat), Safe (aman), Caring (Kepedulian) Membuat jaringan info pembelajaran antar perguruan tinggi 19 Mengambil peran dalam mendukung budaya universitas yaitu, Equipping (menyediakan), Empowering (Memberikan motivasi, semangat), Safe (aman), Caring (Kepedulian) Kemampuan berkomunikasi secara oral/tertulis 20 Mengambil peran dalam mendukung budaya universitas yaitu, Equipping (menyediakan), Empowering (Memberikan motivasi, semangat), Safe (aman), Caring (Kepedulian) Kemampuan untuk memotivasi diri dan mahasiswa
32 No Faktor Tingkat Kepentingan Antar Faktor Faktor 21 Mengambil peran dalam mendukung budaya universitas yaitu, Equipping (menyediakan), Empowering (Memberikan motivasi, semangat), Safe (aman), Caring (Kepedulian) Menyediakan/memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya, dan mengkomunikasikan idenya 22 Bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran Memiliki ketulusan hati dalam menjadi inspirator utama dan fasilitator dalam proses peningkatan kualitas lulusan 23 Bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran Membuat jaringan info pembelajaran antar perguruan tinggi 24 Bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran Kemampuan berkomunikasi secara oral/tertulis 25 Bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran Kemampuan untuk memotivasi diri dan mahasiswa 26 Bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran Menyediakan/memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya, dan mengkomunikasikan idenya 27 Memiliki ketulusan hati dalam menjadi inspirator utama dan fasilitator dalam proses peningkatan kualitas lulusan Membuat jaringan info pembelajaran antar perguruan tinggi 28 Memiliki ketulusan hati dalam menjadi inspirator utama dan fasilitator dalam proses peningkatan kualitas lulusan Kemampuan berkomunikasi secara oral/tertulis 29 Memiliki ketulusan hati dalam menjadi inspirator utama dan fasilitator dalam proses peningkatan kualitas lulusan Kemampuan untuk memotivasi diri dan mahasiswa 30 Memiliki ketulusan hati dalam menjadi inspirator utama dan fasilitator dalam proses peningkatan kualitas lulusan Menyediakan/memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya, dan mengkomunikasikan idenya 31 Membuat jaringan info pembelajaran antar perguruan tinggi Kemampuan berkomunikasi secara oral/tertulis 32 Membuat jaringan info pembelajaran antar perguruan tinggi Kemampuan untuk memotivasi diri dan mahasiswa 33 Membuat jaringan info pembelajaran antar perguruan tinggi Menyediakan/memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya, dan mengkomunikasikan idenya 34 Kemampuan berkomunikasi secara oral/tertulis Kemampuan untuk memotivasi diri dan mahasiswa 35 Kemampuan berkomunikasi secara oral/tertulis 36 Kemampuan untuk memotivasi diri dan mahasiswa Menyediakan/memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya, dan mengkomunikasikan idenya Menyediakan/memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya, dan mengkomunikasikan idenya
33 Kuesioner Tahap 3 untuk faktor/subfaktor penilaian kinerja Responden 2 Kuesioner Tahap 3 untuk faktor/ subfaktror penilaian kinerja yang telah disebarkan bertujuan untuk menentukan skala kepentingan dari masing-masing factor/ subfaktor. Skala kepentingan yang telah didapatkan akan diolah dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk mendapatkan bobot dari setiap factor/subfaktor penilaian kinerja. Berikut ini adalah contoh pengolahan dari hasi kuesioner yang telah didapatkan dari responden ke-1. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara faktor penilaian kinerja Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.2 Tabel 4.2
34 Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor II dan PE): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.3 Tabel 4.3 Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE BOBOT II M AC HS C PE Contoh perhitungan : Bobot faktor II = = Menghitung Perkalian Matriks
35 Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.24
36 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,7%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence dalam penilaian kinerja Responden 2. Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 5.xx. Tabel 4.4 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.5 Tabel 4.5 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Impact and Influence
37 Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IMP dan II4): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.6 Tabel 4.6 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 BOBOT IMP II II II II Contoh perhitungan : Bobot faktor IMP = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x =
38 Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 6,9%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Managerial penilaian kinerja Responden 2 Matriks perbandingan berpasangan
39 Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.7 Tabel 4.7 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Managerial Penilaian Kinerj Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.8 Tabel 4.8 Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor TW dan M3): Normalisasi = Perhitungan Bobot =
40 Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 5.xx Tabel 4.9 Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 BOBOT TW D M M M Contoh perhitungan : Bobot faktor TW = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
41 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 5 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,0%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Achievment and Action penilaian kinerja Responden 2 Matriks perbandingan berpasangan
42 Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.10 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Achievment and Action Penilaian Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.12 Tabel 4.12 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC
43 Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor ACH dan AC9): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.13 Tabel 4.13 Perhitungan Bobot untuk Subaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 BOBOT ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Contoh perhitungan : Bobot faktor ACH = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot.
44 x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR)
45 Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 11 adalah CI CR = RI 1.51 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,1%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Helping and Human Service penilaian kinerja Responden 2 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks
46 perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.15 Tabel 4.15 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IU dan HS8): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.16 Tabel 4.16 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja
47 Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 BOBOT IU HS HS HS HS HS HS HS HS Contoh perhitungan : Bobot faktor IU = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
48 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,3%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3antara Subfaktor Cognitive penilaian kinerja Responden 2 Matriks perbandingan berpasangan
49 Kuesioner Tahap 3antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.17 Tabel 4.17 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.18 Tabel 4.18 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja
50 Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor AT dan C10): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.19 Tabel 4.19 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 BOBOT AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan : Bobot faktor AT = =
51 Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI)
52 Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 12 adalah CI CR = RI 1.48 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 5,5%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3antara Subfaktor Personal Effectiveness penilaian kinerja Responden 2 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.20 Tabel 4.20 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja
53 Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.21 Tabel 4.21 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor PE1 dan PE9): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.22
54 Tabel 4.22 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 BOBOT PE PE PE PE PE PE PE PE PE Contoh perhitungan : Bobot faktor PE1 = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
55 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,6%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Kuesioner Tahap 3untuk faktor/subfaktor penilaian kinerja Responden 3 Kuesioner Tahap 3 untuk faktor/ subfaktror penilaian kinerja yang telah disebarkan bertujuan untuk menentukan skala kepentingan dari masing-masing factor/ subfaktor. Skala kepentingan yang telah didapatkan akan diolah dengan menggunakan
56 metode AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk mendapatkan bobot dari setiap factor/subfaktor penilaian kinerja. Berikut ini adalah contoh pengolahan dari hasi kuesioner yang telah didapatkan dari responden ke-3. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara faktor penilaian kinerja Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.23 Tabel 4.23 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.24 Tabel 4.24 Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Kinerja
57 Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor II dan PE): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.25 Tabel 4.25 Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE BOBOT II M AC HS C PE Contoh perhitungan : Bobot faktor II = = Menghitung Perkalian Matriks
58 Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.24
59 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,2%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence dalam penilaian kinerja Responden 3. Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.26 Tabel 4.26 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.27 Tabel 4.27 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Impact and Influence
60 Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IMP dan II4): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.28 Tabel 4.28 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 BOBOT IMP II II II II Contoh perhitungan : Bobot faktor IMP = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x =
61 Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 3,6%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Managerial penilaian kinerja Responden 3 Matriks perbandingan berpasangan
62 Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.29 Tabel 4.29 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Managerial Penilaian Kinerj Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.30 Tabel 4.30 Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor TW dan M3): Normalisasi = =
63 Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.31 Tabel 4.31 Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 BOBOT TW D M M M Contoh perhitungan : Bobot faktor TW = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
64 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 5 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,3%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Achievment and Action penilaian kinerja Responden 3 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.32 Tabel 4.32
65 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Achievment and Action Penilaian Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.33 Tabel 4.33 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor ACH dan AC9): Normalisasi = =
66 Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.34 Tabel 4.34 Perhitungan Bobot untuk Subaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 BOBOT ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Contoh perhitungan : Bobot faktor ACH = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks)
67 Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 11 adalah CI CR = RI 1.51 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 6,6%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%.
68 Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Helping and Human Service penilaian kinerja Responden 3 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.35 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.36 Tabel 4.36 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja
69 Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IU dan HS8): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.37 Tabel 4.37 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 BOBOT IU HS HS HS HS HS HS HS HS Contoh perhitungan : Bobot faktor IU = = Menghitung Perkalian Matriks
70 Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR)
71 Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 7,8%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Cognitive penilaian kinerja Responden 3 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.38 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks
72 perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.39 Tabel 4.39 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor AT dan C10): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.40 Tabel 4.40 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja
73 Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 BOBOT AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan : Bobot faktor AT = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
74 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 12 adalah CI CR = RI 1.48 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,2%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Personal Effectiveness penilaian kinerja Responden 3 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.42 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja
75 Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.43 Tabel 4.43 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor PE1 dan PE9): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.44
76 Tabel 4.44 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 BOBOT PE PE PE PE PE PE PE PE PE Contoh perhitungan : Bobot faktor PE1 = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
77 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,9%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Kuesioner Tahap 3 untuk faktor/subfaktor penilaian kinerja Responden 4 Kuesioner Tahap 3 untuk faktor/ subfaktror penilaian kinerja yang telah disebarkan bertujuan untuk menentukan skala kepentingan dari masing-masing factor/ subfaktor. Skala kepentingan yang telah didapatkan akan diolah dengan menggunakan
78 metode AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk mendapatkan bobot dari setiap factor/subfaktor penilaian kinerja. Berikut ini adalah contoh pengolahan dari hasi kuesioner yang telah didapatkan dari responden ke-4. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara faktor penilaian kinerja Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.45 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.46 Tabel 4.46 Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Kinerja
79 Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor II dan PE): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.47 Tabel 4.47 Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE BOBOT II M AC HS C PE Contoh perhitungan : Bobot faktor II = = Menghitung Perkalian Matriks
80 Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.24
81 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,6%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence dalam penilaian kinerja Responden 4. Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.48 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.49 Tabel 4.49 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Impact and Influence
82 Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IMP dan II4): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.50 Tabel 4.50 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 BOBOT IMP II II II II Contoh perhitungan : Bobot faktor IMP = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x =
83 Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. maks n CI n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 6,9%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Managerial Responden 4 penilaian kinerja Matriks perbandingan berpasangan
84 Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.51 Tabel 4.51 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Managerial Penilaian Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.52 Tabel 4.52 Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor TW dan M3): Normalisasi = Perhitungan Bobot =
85 Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.53 Tabel 4.53 Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 BOBOT TW D M M M Contoh perhitungan : Bobot faktor TW = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
86 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 5 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 5,8%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Achievment and Action penilaian kinerja Responden 4 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.54
87 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Achievment and Action Penilaian Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.55 Tabel 4.55 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor ACH dan AC9): Normalisasi = =
88 Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.56 Tabel 4.56 Perhitungan Bobot untuk Subaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 BOBOT ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Contoh perhitungan : Bobot faktor ACH = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks)
89 Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. maks n CI n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 11 adalah CI CR = RI 1.51 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,9%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%.
90 Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Helping and Human Service penilaian kinerja Responden 4 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.57 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.58 Tabel 4.58 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja
91 Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IU dan HS8): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.59 Tabel 4.59 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 BOBOT IU HS HS HS HS HS HS HS HS Contoh perhitungan : Bobot faktor IU = = Menghitung Perkalian Matriks
92 Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. maks n CI n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR)
93 Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,2%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Cognitive penilaian kinerja Responden 4 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.60 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks
94 perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.61 Tabel 4.61 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor AT dan C10): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.62 Tabel 4.62 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja
95 Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 BOBOT AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan : Bobot faktor AT = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
96 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 12 adalah CI CR = RI 1.48 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 4,8%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Personal Effectiveness penilaian kinerja Responden 4 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.63 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja
97 Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.64 Tabel 4.64 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor PE1 dan PE9): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.65
98 Tabel 4.65 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 BOBOT PE PE PE PE PE PE PE PE PE Contoh perhitungan : Bobot faktor PE1 = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
99 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,3%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Kuesioner Tahap 3 untuk faktor/subfaktor penilaian kinerja Responden 5 Kuesioner Tahap 3 untuk faktor/ subfaktror penilaian kinerja yang telah disebarkan bertujuan untuk menentukan skala kepentingan dari masing-masing factor/ subfaktor. Skala kepentingan yang telah didapatkan akan diolah dengan menggunakan
100 metode AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk mendapatkan bobot dari setiap factor/subfaktor penilaian kinerja. Berikut ini adalah contoh pengolahan dari hasi kuesioner yang telah didapatkan dari responden ke-5. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara faktor penilaian kinerja Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.66 Tabel 4.66 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.67 Tabel 4.67 Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Kinerja
101 Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor II dan PE): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.68 Tabel 4.68 Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE BOBOT II M AC HS C PE Contoh perhitungan : Bobot faktor II = = Menghitung Perkalian Matriks
102 Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) ` maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.24
103 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 7,8%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence dalam penilaian kinerja Responden 5. Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.69 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.70 Tabel 4.70 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Impact and Influence
104 Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IMP dan II4): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.71 Tabel 4.71 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 BOBOT IMP II II II II Contoh perhitungan : Bobot faktor IMP = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x =
105 Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 6,1%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Managerial Responden 5 penilaian kinerja Matriks perbandingan berpasangan
106 Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.72 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Managerial Penilaian Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.73 Tabel 4.73 Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor TW dan M3): Normalisasi = Perhitungan Bobot =
107 Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.74 Tabel 4.74 Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 BOBOT TW D M M M Contoh perhitungan : Bobot faktor TW = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
108 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 5 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 7,4%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Achievment and Action penilaian kinerja Responden 5 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.75
109 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.76 Tabel 4.76 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor ACH dan AC9): Normalisasi = =
110 Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.77 Tabel 4.77 Perhitungan Bobot untuk Subaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 BOBOT ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Contoh perhitungan : Bobot faktor ACH = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks)
111 Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 11 adalah CI CR = RI 1.51 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,0%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%.
112 Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Helping and Human Service penilaian kinerja Responden 5 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.78 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.79 Tabel 4.79 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja
113 Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IU dan HS8): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.80 Tabel 4.80 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 BOBOT IU HS HS HS HS HS HS HS HS Contoh perhitungan : Bobot faktor IU = = Menghitung Perkalian Matriks
114 Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR)
115 Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,3%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Cognitive penilaian kinerja Responden 5 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks
116 perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.82 Tabel 4.82 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor AT dan C10): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.83 Tabel 4.83 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja
117 Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 BOBOT AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan : Bobot faktor AT = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
118 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 12 adalah CI CR = RI 1.48 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,6%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Personal Effectiveness penilaian kinerja Responden 5 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.84 Tabel 4.84 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja
119 Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.85 Tabel 4.85 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor PE1 dan PE9): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.86
120 Tabel 4.86 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 BOBOT PE PE PE PE PE PE PE PE PE Contoh perhitungan : Bobot faktor PE1 = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
121 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,8%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Kuesioner Tahap 3 untuk faktor/subfaktor penilaian kinerja Responden 6 Kuesioner Tahap 3 untuk faktor/ subfaktror penilaian kinerja yang telah disebarkan bertujuan untuk menentukan skala kepentingan dari masing-masing factor/ subfaktor. Skala kepentingan yang telah didapatkan akan diolah dengan menggunakan
122 metode AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk mendapatkan bobot dari setiap factor/subfaktor penilaian kinerja. Berikut ini adalah contoh pengolahan dari hasi kuesioner yang telah didapatkan dari responden ke-6. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara faktor penilaian kinerja Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.87 Tabel 4.87 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.88 Tabel 4.88 Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Kinerja
123 Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor II dan PE): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.89 Tabel 4.89 Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE BOBOT II M AC HS C PE Contoh perhitungan : Bobot faktor II = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot.
124 x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.24 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,2%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%.
125 Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence dalam penilaian kinerja Responden 6. Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 5.xx. Tabel 4.90 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.91 Tabel 4.91 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II
126 Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IMP dan II4): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.92 Tabel 4.92 Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 BOBOT IMP II II II II Contoh perhitungan : Bobot faktor IMP = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
127 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 7,6%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Managerial Responden 6 penilaian kinerja Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.93
128 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Managerial Penilaian Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.94 Tabel 4.94 Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor TW dan M3): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.95 Tabel 4.95
129 Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 BOBOT TW D M M M Contoh perhitungan : Bobot faktor TW = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks =
130 Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 5 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,0%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Achievment and Action penilaian kinerja Responden 6 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.96 Tabel 4.96 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja
131 Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel 4.97 Tabel 4.97 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor ACH dan AC9): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.98
132 Tabel 4.98 Perhitungan Bobot untuk Subaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 BOBOT ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Contoh perhitungan : Bobot faktor ACH = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
133 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 11 adalah CI CR = RI 1.51 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,0%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Helping and Human Service penilaian kinerja Responden 6
134 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.99 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS
135 Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IU dan HS8): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel Tabel Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 BOBOT IU HS HS HS HS HS HS HS HS Contoh perhitungan : Bobot faktor IU = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot.
136 x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45
137 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,7%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Cognitive penilaian kinerja Responden 6 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel Tabel 4.103
138 Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor AT dan C10): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel Tabel Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 BOBOT AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan :
139 Bobot faktor AT = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks =
140 Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 12 adalah CI CR = RI 1.48 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 7,9%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Personal Effectiveness penilaian kinerja Responden 6 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja
141 Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor PE1 dan PE9): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.107
142 Tabel Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 BOBOT PE PE PE PE PE PE PE PE PE Contoh perhitungan : Bobot faktor PE1 = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
143 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,0%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Kuesioner Tahap 3 untuk faktor/subfaktor penilaian kinerja Responden 7 Kuesioner Tahap 3 untuk faktor/ subfaktror penilaian kinerja yang telah disebarkan bertujuan untuk menentukan skala kepentingan dari masing-masing factor/ subfaktor. Skala kepentingan yang telah didapatkan akan diolah dengan menggunakan
144 metode AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk mendapatkan bobot dari setiap factor/subfaktor penilaian kinerja. Berikut ini adalah contoh pengolahan dari hasi kuesioner yang telah didapatkan dari responden ke-7. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara faktor penilaian kinerja Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks Perbandingan Berpasangan antara Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Kinerja
145 Faktor II M AC HS C PE II M AC HS C PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor II dan PE): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel Tabel Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Kinerja Faktor II M AC HS C PE BOBOT II M AC HS C PE Contoh perhitungan : Bobot faktor II = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot.
146 x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.24 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,6%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%.
147 Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence dalam penilaian kinerja Responden 7. Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Impact and Influence yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel 4,111. Tabel Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 IMP II II II II
148 Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IMP dan II4): Normalisasi = = Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel Tabel Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Impact and Influence Subfaktor IMP II1 II2 II3 II4 BOBOT IMP II II II II Contoh perhitungan : Bobot faktor IMP = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
149 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 6 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,1%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Managerial Responden 7 penilaian kinerja Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.114
150 Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Managerial Penilaian Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks yang Dinormalkan untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 TW D M M M Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor TW dan M3): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel Tabel 4.116
151 Perhitungan Bobot untuk Faktor Penilaian Managerial Kinerja Subfaktor TW D M1 M2 M3 BOBOT TW D M M M Contoh perhitungan : Bobot faktor TW = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks =
152 Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 5 adalah CI CR = RI 1.12 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 7,4%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Achievment and Action penilaian kinerja Responden 7 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja
153 Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor ACH dan AC9): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel 4.119
154 Tabel Perhitungan Bobot untuk Subaktor Achievment and Action Penilaian Kinerja Subfaktor ACH INT AC1 AC2 AC3 AC4 AC5 AC6 AC7 AC8 AC9 BOBOT ACH INT AC AC AC AC AC AC AC AC AC Contoh perhitungan : Bobot faktor ACH = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks)
155 maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 11 adalah CI CR = RI 1.51 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 9,2%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara subfaktor Helping and Human Service penilaian kinerja Responden 7
156 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 IU HS HS HS HS HS HS HS HS
157 Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor IU dan HS8): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel Tabel Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Helping and Human Penilaian Kinerja Subfaktor IU HS1 HS2 HS3 HS4 HS5 HS6 HS7 HS8 BOBOT IU HS HS HS HS HS HS HS HS Contoh perhitungan : Bobot faktor IU = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x =
158 Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 7,5%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%.
159 Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Cognitive penilaian kinerja Responden 7 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Total Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja
160 Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor AT dan C10): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel Tabel Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Cognitive Penilaian Kinerja Subfaktor AT CT C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 BOBOT AT CT C C C C C C C C C C Contoh perhitungan : Bobot faktor AT = =
161 Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI)
162 Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini. CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 12 adalah CI CR = RI 1.48 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,6%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%. Pengolahan Kuesioner Tahap 3 antara Subfaktor Personal Effectiveness penilaian kinerja Responden 7 Matriks perbandingan berpasangan Kuesioner Tahap 3 antara faktor yang telah diperoeh dibuat dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks Perbandingan Berpasangan antara Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Total
163 Normalisasi Normalisasi dilakukan dengan membagi angka-angka yang terdapat pada setiap sel matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah setiap kolom matriks perbandingan berpasangan. Hasil matriks yang telah dinormalkan dapat dilihat pada tabel Tabel Matriks yang Dinormalkan untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 PE PE PE PE PE PE PE PE PE Contoh perhitungan (perbandingan antara faktor PE1 dan PE9): Normalisasi = Perhitungan Bobot = Perhitungan bobot dilakukan dengan cara menghitung rata-rata setiap baris dari matriks yang dinormalkan. Hasil perhitungan bobot dapat dilihat pada tabel Tabel Perhitungan Bobot untuk Subfaktor Personal Effectiveness Penilaian Kinerja Subfaktor PE1 PE2 PE3 PE4 PE5 PE6 PE7 PE8 PE9 BOBOT PE PE PE PE PE PE PE PE PE
164 Contoh perhitungan : Bobot faktor PE1 = = Menghitung Perkalian Matriks Perkalian matriks merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menghitung konsistensi. Perkalian ini dilakukan dengan mengkalikan matriks perbandingan berpasangan dengan bobot x = Menghitung Perkalian Matriks (maks) Hasil dari perkalian matriks yang telah dihitung kemudian di bagi dengan bobot masing-masing kriteria. Hasil pembagian tersebut kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai eigen value maksimum (maks) maks = Menghitung Nilai Consistency Index (CI) Nilai Consistency Index (CI) didapatkan melalui perhitungan di bawah ini.
165 CI maks n n Menghitung Nilai Consistency Ratio (CR) Nilai Consistency Ratio (CI) didapat melalui perhitungan dibawah ini dimana nilai Random Index (RI) untuk jumlah elemen 9 adalah CI CR = RI 1.45 Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai CR adalah sebesar yang menyatakan bahwa perbandingan tersebut mempunyai rasio konsistensi sebesar 8,9%. Dengan demikian maka penilaian tersebut dapat diterima karena lebih kecil dari 10%.
166 KOMENTAR DOSEN PENGUJI Nama Mahasiswa : Charles Robert NRP : Judul Tugas Akhir : Perancangan Perangkat Penilaian Kinerja Di Universitas X Di Bandung Komentar : - Pembatasan ditambahakan, tidak diteliti perangkat kinerja untuk dinilai oleh mahasiswa, rekan sejawat & penilaian personal. - Saran untuk penelitian lebih lanjut ditambahkan - Di Cover tulisan Skripsi diganti Laporan Tugas Akhir - Pada Abstrak cek lagi responden kuesioner ketiga ditambahkan variabel yg digunakan untuk menilai dosen - Pada latar belakang masalah ditambahkan dampak yang terjadi bila terdapat perbedaan antara perilaku actual dosen dan hasil penelitian - Masih banyak ditemukan kesalahan dalam pengetikan
167 DATA PENULIS Nama : Charles Robert Nainggolan Alamat di Bandung : Jl Babakan Jeruk 1/ 36 No Telp Bandung : - No Handphone : Alamat [email protected] Pendidikan : SMU Vidatra Bontang KalTim ( ) Jurusan Teknik Industri-Fakultas Teknik Univ. Kristen Maranatha Nilai Tugas Akhir : A Tanggal USTA : 08 Agustus 2009
2. Memberikan informasi untuk memperoleh pengaruh tertentu. 3. Menggunakan keterampilan kelompok dalam memimpin suatu kelompok
Lampiran 1- Kisi-kisi Alat Ukur Aspek Indikator Item 1. Menggunakan alasan, Saya menggunakan contoh-contoh nyata dalam fakta, data-data, contoh menerangkan suatu materi dalam kegiatan nyata, dan demonstrasi
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kepada 7 orang terapis dan 4
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kepada 7 orang terapis dan 4 orang staff maka dapat diambil kesimpulan bahwa profil kompetensi yang muncul untuk
(PSIKOLOGI SDM) MSDM
PSIKOLOGI PERSONEL (PSIKOLOGI SDM) PSIKOLOGI PERSONEL BERBASIS KOMPETENSI PSIKOLOGI PERSONEL PSIKOLOGI ORGANISASI PSIKOLOGI KONSUMEN PSIKOLOGI KEREKAYASAAN PSIKOLOGI SDM BERBASIS KOMPETENSI Serangkaian
KATA PENGANTAR. Saya mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung
LAMPIRAN 1 Alat Ukur KATA PENGANTAR Saya mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung sedang melakukan penelitian mengenai Model Kompetensi pada reporter. Kuesioner ini terdiri dari
BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran sehingga menimbulkan hasil yang sesuai dengan proses yang telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia. Pendidikan tidak diperoleh begitu saja dalam waktu yang singkat, namun memerlukan suatu proses pembelajaran
KUESIONER MODEL KOMPETENSI PADA PERAWAT PELAKSANA RUANG RAWAT INAP PENYAKIT DALAM
RAHASIA KUESIONER MODEL KOMPETENSI PADA PERAWAT PELAKSANA RUANG RAWAT INAP PENYAKIT DALAM Dalam kuesioner ini disajikan pernyataan yang menggambarkan berbagai kegiatan dalam pekerjaan sebagai perawat pelaksana.
TABEL DIMENSI TINGKAT KOMPETENSI (Sumber : Competence at Work, Spencer & Spencer 1993)
TABEL DIMENSI TINGKAT KOMPETENSI (Sumber : Competence at Work, Spencer & Spencer 1993) 1. KOMPETENSI : SEMANGAT UNTUK BERPRESTASI (ACHIEVEMENT ORIENTATION, ACH) : Derajat kepedulian seseorang terhadap
BAB I. PENDAHULUAN. Terapi untuk anak berkebutuhan khusus merupakan salah satu kebutuhan
BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Terapi untuk anak berkebutuhan khusus merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi, dengan diberikannya terapi sedari dini dapat membantu anak menjadi
Kurikulum Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia FTI UII Yogyakarta
Kurikulum 2010-2014 Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia FTI UII Yogyakarta Model Penyusunan Kurikulum Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui
141 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh kompetensi terhadap kinerja karyawan Divisi Mikro Bank Bukopin, maka dapat diambil
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
i ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai model kompetensi pada sales agent di PT. X Kota Bandung. Variabel penelitian ini adalah model kompetensi dengan menggunakan metode
Prof. Dr. Irmawati, Psikolog
Prof. Dr. Irmawati, Psikolog Underlying characteristics of individual that is causally related to criterion referenced effective and/or superior performance in a job or situation Spencer & Spencer Sifat-sifat
LAMPIRAN 1 KUESIONER PENYUSUNAN MODEL KOMPETENSI PADA STAF TELLER BANK X BANDUNG.
LAMPIRAN LAMPIRAN 1 KUESIONER PENYUSUNAN MODEL KOMPETENSI PADA STAF TELLER BANK X BANDUNG. Dalam kuesioner ini disajikan pernyataan yang menggambarkan berbagai kegiatan dalam pekerjaan saudara sebagai
PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO)
PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) Disampaikan pada Kongres Nasional IV Assessment Center Bandung, 17 September 2015 Curriculum Vitae Ahmad Gusmar Harahap Tempat/Tgl Lahir : Medan, 26 Agustus 1965
BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan tempat menyelenggarakan kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan
INSTRUMEN PENELITIAN. PENGARUH KEMAMPUAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT KERTAS PADALARANG (Studi pada Karyawan Biro Produksi)
INSTRUMEN PENELITIAN PENGARUH KEMAMPUAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT KERTAS PADALARANG (Studi pada Karyawan Biro Produksi) No Responden: PETUNJUK PENGISIAN 1. Angket ini terdiri dari
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Berdasarkan pembahasan yang telah diungkapkan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan yang berkaitan dengan penelitian adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kerjasama siswa merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran sebagaimana diungkapkan oleh Warsono dan Hariyanto (2012: 163) bahwa kerjasama tidak
KUESIONER. Mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner ini untuk keperluan penelitian. Terima kasih.
KUESIONER Mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner ini untuk keperluan penelitian. Terima kasih. Berilah tanggapan Anda mengenai istilah-istilah dibawah ini dalam hubungannya dengan Kebijakan-kebijakan
ANALISIS KRITERIA KOMPETENSI DALAM PEMILIHAN/ PENUGASAN WIDYAISWARA DI PPPPTK BIDANG BANGUNAN DAN LISTRIK TESIS. Oleh /TI
ANALISIS KRITERIA KOMPETENSI DALAM PEMILIHAN/ PENUGASAN WIDYAISWARA DI PPPPTK BIDANG BANGUNAN DAN LISTRIK TESIS Oleh SRI MURNIATI 067025004/TI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 ANALISIS
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pendidikan yang dilakukan pemerintah saat ini sangatlah
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan pendidikan yang dilakukan pemerintah saat ini sangatlah pesat mengingat perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi dunia yang
BAB I LATAR BELAKANG MASALAH. kerja, mendorong perguruan tinggi untuk membekali lulusannya dengan kemampuan
BAB I LATAR BELAKANG MASALAH 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan yang sangat cepat di semua sektor kehidupan khususnya dunia kerja, mendorong perguruan tinggi untuk membekali lulusannya dengan kemampuan
BAB I PENDAHULUAN. Suatu perusahaan atau organisasi dituntut untuk dapat menyesuaikan diri
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang Masalah Suatu perusahaan atau organisasi dituntut untuk dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan usaha dan kondisi sosial masyarakat agar dapat berkompetisi
UNIVERSITI MALAYA FAKULTI PENDIDIKAN KUALA LUMPUR
UNIVERSITI MALAYA FAKULTI PENDIDIKAN KUALA LUMPUR ANGKET PELAKSANAAN KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI DI INDONESIA Pengantar Angket ini bertujuan untuk mengetahui persepsi Bapak/Ibu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Teoritis 2.1.1 Kompetensi a. Pengertian Kompetensi Menurut Wibowo (2011:95) kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas
KURIKULUM 2013 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2015
KURIKULUM 2013 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2015 1 1.3c MODEL PROBLEM BASED LEARNING 2 Model Problem Based Learning 3 Definisi Problem Based Learning : model pembelajaran yang dirancang agar peserta
FORMULIR INFORMASI JABATAN (Isilah formulir ini sesuai dengan data yang sebenarnya)
FORMULIR INFORMASI JABATAN (Isilah formulir ini sesuai dengan data yang sebenarnya) 1. Nama Jabatan : Kepala Sub Bidang Sertifikasi 2. Kode Jabatan :... 3. Unit Kerja :... Eselon I : Badan Penelitian dan
Tristanti PLS UNY
Tristanti PLS UNY [email protected] Tujuan pendidikan baik pendidikan formal maupun informal bertujuan membentuk karakter dan mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial. Siswa bebas
BAB I PENDAHULUAN. pengawasan, dan penilaian. Suasana pembelajaran akan mampu. menciptakan lingkungan akademis yang harmonis dan produktif, jika
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan manajemen pembelajaran atau pengelolaan pembelajaran dimulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, dan penilaian. Suasana pembelajaran
Kerangka Kompetensi Kepemimpinan Klinik
Kerangka Kompetensi Kepemimpinan Klinik The Medical Leadership Competency Framework (MLCF) Dibuat atas dasar konsep kepemimpinan bersama di mana kepemimpinan tidak terbatas hanya pada pemimpin saja, dan
S1 Manajemen. Visi. Misi
PAGE 1 FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS TRISAKTI S1 Manajemen Visi Menuju Program Studi Sarjana yang berstandar internasional dengan tetap memperhatikan nilai-nilai lokal dalam mengembangkan ilmu
Paradigma umum adalah paradigma yang dimiliki oleh seorang pegawai atau pekerja. Bekerja Penghasilan Rencana Masa Depan
BAB II PARADIGMA WIRAUSAHA PELAJAR SMK Pengetahuan tentang wirausaha di kalangan pelajar SMK saat ini sangat minim, hal ini disebabkan karena SMK dibuat untuk mencetak lulusan-lulusan yang siap bekerja.
Husnul Chotimah SMKN 13 Malang
STUDI AWAL PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMK PAKET KEAHLIAN KEPERAWATAN MELALUI MODUL BIOLOGI DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE Husnul Chotimah SMKN 13 Malang
Borang Audit Internal Mutu (AIM) Lingkup ISO: Program Studi
Borang Audit Internal Mutu (AIM) Lingkup ISO:9001-008 Program Studi Program Studi Fakultas : PROGRAM DOKTOR ILMU EKONOMI : EKONOMI DAN BISNIS No. Item/Proses Narasi dan Kelengkapan Dokumen A1. Perolehan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan siswa diharapkan memiliki kecakapan baik intelektual,
BAB I PENDAHULUAN. karakteristik yang dikehendaki dunia kerja (Career Center Maine Department
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemampuan berpikir kreatif merupakan suatu hal yang penting dalam masyarakat modern, karena dapat membuat manusia menjadi lebih fleksibel, terbuka, dan mudah
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. umum dapat digambarkan bahwa proses pembelajaran menggunakan model
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan pada hasil penelitian yang sudah dilaksanakan, secara umum dapat digambarkan bahwa proses pembelajaran menggunakan model Pembelajaran Berbasis
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
i ABSTRAK Penelitian ini berjudul Studi Deskriptif Mengenai Model Kompetensi pada Hakim Pengadilan Negeri di Surabaya. Penelitian ini dilakukan untuk menyusun model kompetensi pada hakim Pengadilan Negeri
A. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Persoalan budaya dan karakter bangsa saat ini tengah menjadi sorotan. Berbagai permasalahan yang muncul seperti kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian
Kompetensi Lulusan Jurusan Arsitektur
Kompetensi Lulusan Jurusan Arsitektur JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2013 Kompetensi Lulusan Jurusan Arsitektur Kompetensi lulusan Berdasarkan tujuan program pendidikan di Jurusan
A. Identitas Program Studi
III. PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO A. Identitas Program Studi 1. NamaProgram Studi : 2. Izin Pendirian : SK Mendiknas RI No.127/D/O/2010 3. Status Akreditasi : B 4. Visi : Menjadi Program Studi
II. PROGRAM STUDI : TEKNOLOGI PENDIDIKAN. A. Identitas Program Studi
II. PROGRAM STUDI : TEKNOLOGI PENDIDIKAN A. Identitas Program Studi 1. NamaProgram Studi : Teknologi Pendidikan 2. Izin Pendirian : 423/DIKTI/Kep/1998 3. Status Akreditasi : B 4. Visi : Menjadi Program
PENGARUH PENERAPAN METODE SOCRATIC CIRCLES DISERTAI MEDIA GAMBAR TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SKRIPSI OLEH: IHDA NURIA AFIDAH K
PENGARUH PENERAPAN METODE SOCRATIC CIRCLES DISERTAI MEDIA GAMBAR TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SKRIPSI OLEH: IHDA NURIA AFIDAH K4308091 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berdasarkan standar kompetensi lulusan kelompok mata pelajaran sains, tujuan pendidikan pada satuan pendidikan SMA adalah untuk mengembangkan logika, kemampuan
21/04/2006 Draft MODUL TEACHING LEARNING
PERUBAHAN PEMBELAJARAN DARI TEACHER CENTERED LEARNING MENJADI STUDENT CENTERED LEARNING MENGAPA HARUS MELAKUKAN PERUBAHAN PEMBELAJARAN? APAKAH DENGAN SISTIM PEMBELAJARAN YANG BIASA DILAKUKAN SUDAH DIANGGAP
BAB I PENDAHULUAN. semangat reformasi pendidikan, diawali dengan munculnya kebijakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurikulum berbasis Kompetensi (KBK) dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk inovasi kurikulum. Kemunculan KBK seiring dengan munculnya semangat reformasi pendidikan,
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia.
BAB V KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN DAN KARYAWAN DALAM ORGANISASI PERUSAHAAN
BAB V KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN DAN KARYAWAN DALAM ORGANISASI PERUSAHAAN 5.1 Karakteristik Kepemimpinan Pemimpin di Showa Indonesia Manufacturing yang ada menggunakan prinsip keterbukaan terhadap karyawan
Pembelajaran Berbasis Keterampilan Abad 21. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta
Pembelajaran Berbasis Keterampilan Abad 21 Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta Abad ke-20 dan Abad ke-21 Karakteristik Khas Pembelajaran Abad ke-20 dan Abad ke-21 No ABAD KE-20
LAMPIRAN 2 REKAPITULASI HASIL KUESIONER VARIABEL MOTIVASI NO MO01 MO02 MO03 MO04 MO05 MO06
LAMPIRAN 2 REKAPITULASI HASIL KUESIONER VARIABEL MOTIVASI NO MO01 MO02 MO03 MO04 MO05 MO06 1 4 4 5 4 5 4 2 3 4 4 3 3 3 3 5 3 4 4 3 5 4 4 4 4 4 4 4 5 3 3 3 2 2 3 6 2 2 3 2 2 2 7 2 3 2 3 2 2 8 4 3 2 3 3
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Slameto (2003:1) dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dedi Abdurozak, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai bagian dari kurikulum di sekolah, memegang peranan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas lulusan yang mampu bertindak atas
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. 1. Kondisi Empiris Perkuliahan Strategi Pembelajaran Selama ini
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. SIMPULAN Berdasarkan temuan dan analisis data yang diperoleh dari kegiatan studi pendahuluan, uji coba model, dan uji validasi model, serta pembahasan penelitian,
PENINGKATAN KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF
PENINGKATAN KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF Suparni Jurusan Administrasi Pendidikan FIP UNP Abstract Sekolah sebagai suatu organisasi sosial harus mampu menyesuaikan diri dan mengantisipasi setiap perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi serta teknologi yang maju
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi serta teknologi yang maju merupakan suatu hal yang sangat urgen dalam masyarakat modern, karena dapat membuat manusia
A. Identitas Program Studi
II. PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA A. Identitas Program Studi 1. NamaProgram Studi : Pendidikan Teknik Informatika 2. Izin Pendirian : 163/DIKTI/Kep/2007 3. Status Akreditasi : B 4. Visi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perawat merupakan suatu profesi dimana seorang petugas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawat merupakan suatu profesi dimana seorang petugas kesehatan khususnya memberikan asuhan pelayanan kepada pasien yang meliputi kebutuhan biologis, psikologis, sosiokultural
BAB I PENDAHULUAN. potensi siswa dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi siswa dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Pendidikan sebagai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kompetensi Setiap organisasi dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu untuk mencapai keberhasilan, untuk mencapai keberhasilan diperlukan landasan yang kuat berupa Kompetensi
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. sekolah dengan keefektifan Sekolah Menengah Pertama di Kota Medan. Hal
117 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil analisis data, temuan dan pembahasan penelitian maka dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1. Terdapat hubungan positif dan signifikan
2015 MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN LOGIS MATEMATIS SERTA KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMP MELALUI LEARNING CYCLE 5E DAN DISCOVERY LEARNING
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu yang berperan penting dalam kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), sehingga perkembangan matematika menjadi sesuatu yang
I. PENDAHULUAN. belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu kompetensi guru dalam
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan salah satu pranata sosial yang menyelenggarakan pendidikan untuk mengembangkan potensi siswa. Keberhasilan pendidikan ini didukung dengan adanya
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh
BAB II KAJIAN TEORITIS TENTANG HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN BILANGAN BULAT
8 BAB II KAJIAN TEORITIS TENTANG HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN BILANGAN BULAT A. Metode Kerja Kelompok Salah satu upaya yang ditempuh guru untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang kondusif
BAB I PENDAHULUAN. Studi (Wajib) bagi mahasiswa program S-1 Ilmu komputer. Setelah. mendapatkan persetujuan dari tim pembina mata kuliah seminar Ilmu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mata kuliah seminar merupakan Mata Kuliah Keahlian Program Studi (Wajib) bagi mahasiswa program S-1 Ilmu komputer. Setelah mendapatkan persetujuan dari tim pembina
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian
1.1. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Tantangan masa depan yang selalu berubah sekaligus persaingan yang semakin ketat memerlukan keluaran pendidikan yang tidak hanya terampil dalam suatu bidang
BAB II PROFIL FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA. Medan. Penetapan pembukaan dilakukan dengan surat keputusan Menteri
10 BAB II PROFIL FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA A. Sejarah Singkat Fakultas Ekonomi pertama kali berkedudukan di Banda Aceh, pada tahun 1961 membuka Fakultas Ekonomi yang bertempat di Medan.
Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kondisi psikis atau mental akan mempengaruhi performa atlet baik saat latihan
Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecerdasan emosi Kondisi psikis atau mental akan mempengaruhi performa atlet baik saat latihan maupun saat bertanding. Menurut Suranto (2005, dalam Anggraeni, 2013) mengatakan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. keterampilan intelektual. Karena itu pengorganisasian materi pembelajaran
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Keterampilan Intelektual Dalam proses belajar mengajar yang menekankan konstruksi pengetahuan, kegiatan utama yang berlangsung adalah berpikir atau mengembangkan keterampilan intelektual.
KOMPETENSI LULUSAN JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BRAWIJAYA KL.UJM-JM-FE-UB.01
KOMPETENSI LULUSAN JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BRAWIJAYA KL.UJM-JM-FE-UB.01 Revisi : - Tanggal : 2 Mei 2008 Dikaji ulang oleh : Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya
(Contoh) DESAIN PEMBELAJARAN PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN KESETARAAN PAKET C UPT SKB KABUPATEN BANDUNG
(Contoh) DESAIN PEMBELAJARAN PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN KESETARAAN PAKET C UPT SKB KABUPATEN BANDUNG UPT SANGGAR KEGIATAN BELAJAR (SKB) KABUPATEN BANDUNG 2017 DESAIN PEMBELAJARAN Oleh: Yaya Sukarya,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan penting dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari waktu jam pelajaran sekolah lebih
Profil Lulusan Program Studi Sosiologi FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS UDAYANA LAPORAN
Profil Lulusan Program Studi FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS UDAYANA LAPORAN BADAN PENJAMIN MUTU UNIVERSITAS UNIVERSITAS UDAYANA 2012 KATA PENGANTAR Atas berkah dan rahmat-nya, Tuhan
KINERJA GURU (Y) Alternatif Jawaban Responden 5 = Sangat Setuju 4 = Setuju 3 = Ragu-ragu 2 = Tidak Setuju 1 = Sangat Tidak Setuju
Lampiran 1 INSTRUMEN UJI COBA PENELITIAN HUBUNGAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN IKLIM ORGANISASI SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU DI SMP SUB RAYON 6 KECAMATAN SELUAS KABUPATEN BENGKAYANG I. Identitas Responden
