BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Farida Irawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. MIKROALGA Chlorella vulgaris Buitenzorg Chlorella sp. tergolong tumbuhan renik air berdasarkan UU RI No. 9 tahun 1985 tentang Perikanan, dimana Chlorella sp. termasuk komoditas perikanan. Chlorella sp. tergolong tumbuhan tingkat rendah berukuran 3 15 mikron yang telah hidup di bumi sejak 2,5 milyar tahun yang lalu dengan sifat genetik yang tidak mengalami mutai hingga sekarang (Wirosaputro, 2002) Chlorella sp. merupakan organisme autotrof dan eukariotik. Autotrof berarti jenis tumbuhan yang belum mempunyai akar, batang dan daun sebenarnya; tetapi sudah memiliki klorofil. Sedangkan eukariotik artinya sel yang telah mengandung inti sel dan organel-organel lain. Chlorella sp. memiliki kelebihan untuk tumbuh/berkembang biak dengan cepat. Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa Chlorella sp. menjadi mikroalga hijau yang saat ini banyak diteliti. Chlorella sp. yang paling sering dikembangkan dan digunakan dalam penelitian adalah Chlorella vulgaris dan Chlorella pyrenoidosa. Gambar 2.1. Bentuk sel Chlorella sp. (Grima, n.d) Chlorella adalah mikro alga yang dominan di wilayah perairan darat Indonesia. Chlorella vulgaris Buitenzorg merupakan salah satu species mikro alga domestik alam tropis, dan tahan mikroba pathogen. Sama halnya dengan spesies Chlorella lainnya, Chlorella vulgaris Buitenzorg memiliki ketahanan terhadap kadar CO 2 tinggi dalam udara pengaerasi. 9
2 10 Dilihat dari taksinominya, Chlorella vulgaris memiliki klasifikasi berikut (Chlorella, Wikipedia, n.d) : Kingdom : Flora Division : Chlorophyta Class : Trebouxiophyceae Order : Chlorellales Family : Chlorellaceae Genus : Chlorella Species : Chlorella minutissima, Chlorella pyrenoidosa, Chlorella vulgaris 2.2 KANDUNGAN ESSENSIAL DALAM SEL CHLORELLA VULGARIS BUITENZORG Komposisi mikroalga chlorella sangat istimewa sebagai bahan asupan pangan bermutu tinggi karena memiliki manfaat: 1. Klorofil Klorofil bertugas mengubah energi matahari menjadi energi kimia dalam tanaman berfungsi luas sebagai "pembersih alami" dalam tubuh manusia, pengontrol kandungan Ca (kalsium), membantu pencernaan protein, pencernaan, lemak, penyerapan unsur-unsur Fe (besi), serta menjaga darah tetap bersih dan sehat. 2. Dinding sel tersusun dari sellulosa, hemisellulosa dan linin, merupakan sumber serat yang sangat dibutuhkan manusia termasuk untuk pencegahan kanker usus. Sumber serat pada dinding sel chlorella secara kualitas dan kuantitas jauh lebih tinggi dibanding tanaman biasa. 3. Beta karoten Merupakan satu-satunya karoten yang bisa dirubah menjadi vitamin A dalam tubuh. Vitamin A sangat penting bagi kesehatan, memegang peranan penting dalam penglihatan, pertumbuhan tulang, reproduksi, dan pembagian sel. Vitamin A juga membantu memelihara kulit dan lapisan lendir sehingga bisa bertahan dari serangan bakteri dan virus.
3 11 4. CGF (Chlorella Growth Factor) Merupakan zat penting dalam chlorella yang berperan dalam pertumbuhan. Sel-sel. CGF yang terdapat dalam inti sel mengandung asam nukleat (DNA- RNA), asam amino, polipeptida dan sebagainya. CGF dapat meningkatkan pertumbuhan sampai 47% lebih tinggi. Dengan pertambahan usia, maka kemampuan tubuh untuk pembentukan sel semakin melambat. Ada pakar yang menduga perlambatan ini terjadi pada usia 20 tahun. Dengan mengkonsumsi CGF, maka penyediaan asam nukleat yang tinggi dan tercukupi akan menunda proses penuaan sel. (KOMPAS Cyber Media - Kesehatan, 2002). 5. Protein Chlorella memiliki kadar protein di atas 58%, tertinggi dibanding makhluk hidup lainnya. Dalam protein tersebut terdapat beragam asam amino esensial yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Selain berguna bagi pertumbuhan, kandungan protein alami yang dimilki Chlorella juga membantu menjaga kandungan gula dalam darah (Potensi Chlorella, 2005) 2.3. FOTOSINTESIS Fotosintesis adalah proses sintesis molekul organik dengan menggunakan bantuan energi cahaya matahari. Persamaan umum fotosintesis : 6CO H 2 O C 6 H 12 O 6 + 6H 2 O +6O 2 Fotosintesis pada tumbuhan dapat berlangsung apabila tersedia air, CO 2, klorofil dan cahaya. Air diserap oleh akar dari tanah yang merupakan donor hidrogen dan elektron. CO 2 masuk ke tumbuhan melalui stomata dan merupakan sumber karbon untuk pembentukan karbohidrat. Klorofil sebagai pigmen penyerap cahaya terdapat dalam kloroplas sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis. Sedangkan cahaya menyediakan energi untuk memindahkan elektron dari air ke NADP + (Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphate) dan menghasilkan ATP (Iriawati, SITH ITB, n.d). Sebagaimana reaksi oksidasi penghasil energi, yaitu tempat bergantungnya semua kehidupan, fotosintesis meliputi reaksi oksidasi (reaksi terang) dan reduksi atau reaksi gelap (Ross, Salisbury dan Frank, 1995). Proses keseluruhan pada
4 12 reaksi terang adalah oksidasi air (pemindahan elektron disertasi pelepasan O 2 sebagai hasil samping) dan menghasilkan sintesis ATP dan NADPH untuk membentuk senyawa organik pada reaksi gelap. Sedangkan reaksi gelap adalah reduksi CO 2 untuk membentuk senyawa organik, misalnya karbohidrat Reaksi Terang Secara umum ada 3 reaksi utama yang terjadi pada reaksi terang yaitu : 1. Oksidasi H 2 O, menurut persamaan : 2 H 2 O O 2 + 4e - + 4H + 2. Reduksi NADP +, menurut persamaan : 2 NADP + + 4e - + 4H + 2 NADPH + 2 H + 3. Sintesis ATP (ATP synthesis), menurut persamaan : ADP + P i ATP Reaksi terang berlangsung pada sistem membran kompleks/grana (membran fotosintetik) yang tersusun dari protein kompleks, electron carrier dan molekul lemak. Reaksi terang mengkonversi energi menjadi berbagai produk (Paul, 2005). Pada langkah pertama adalah konversi foton menjadi bentuk elektron tereksitasi pada molekul antena pigmen yang terdapat pada sistem antena. Baik molekul donor maupun akseptor akan melekat pada protein kompleks pusat reaksi. Pada proses fotosintesis, banyaknya energi yang disediakan oleh energi cahaya disimpan sebagai energi bebas redoks (sebuah bentuk energi bebas kimia) dalam NADPH yang kemudian akan digunakan untuk mereduksi karbon (Whitmarsh dan Govindjee, 2004) NADPH dan ATP yang terbentuk pada reaksi terang menyediakan energi untuk reaksi gelap fotosintesis, yang dikenal sebagai siklus Calvin atau siklus fotosintetik reduksi karbon Reaksi Gelap (Siklus Calvin) Siklus Calvin merupakan suatu siklus dalam proses fotosintesis yang termasuk dalam reaksi gelap (dark reaction/light independent). Reaksi ini disebut juga reaksi fiksasi karbon dan berlangsung di bagian stroma dari kloroplas.
5 13 Chlorella menghilangkan CO2 dari lingkungan dan mereduksinya menjadi karbohidrat dengan melalui siklus Calvin. Proses ini merupakan serangkaian reaksi biokimia yang mereduksi karbon dan menyusun ulang ikatan menghasilkan karbohidrat dari molekul CO 2. Untuk fiksasi karbon (fiksasi gas CO 2 yang bebas berdifusi menjadi bentuk yang nonvolatil berupa reduced sugar) dibutuhkan ATP (energi) dan NADPH (reducing power). Reaksi yang terjadi dalam siklus Calvin secara umum dapat dituliskan sebagai berikut : CO 2 + ATP + NADPH sugars, reduced carbon compounds Senyawa-senyawa yang berperan dalam siklus Calvin antara lain : RuBP (ribulose biphosphate) 5 karbon PGA (phosphoglycerate) 3 karbon bpg (bis-phosphoglycerate) 3 karbon GP (glyceraldehide-3-phosphate) 3 karbon CO 2 (carbon dioxide) 1 karbon Urutan reaksi siklus Calvin antara lain : 1. 3 RuBP (total 15C) + 3 CO 2 (total 3C) 6 PGA (setiapnya 3C, total 18C) Reaksi ini dikatalisis oleh Rubisco (ribulose biphosphate carboxylase/oxygenase), yang merupakan enzim berlimpah di bumi Tiga molekul CO 2 ditambah energi merupakan net reactant 2. 6 PGA + 6ATP 6 bpg (18C) + 6 ADP Fosfat yang berenergi tinggi ditransfer dari ATP menjadi PGA menjadi bpg 3. 6 PGA + 6NADPH 6 bpg (18C) + 6 NADP + Elektron benergi tinggi dari NADPH digunakan untuk mereduksi bpg menjadi GP 4. 5 GP (15C) + 3 ATP 3 RuBP (15C) Pada tahap pertama, CO 2 digabung dalam ribulose-5-biphosphate (5- carbon sugar) membentuk beberapa 3-C sugars (3-phosphoglycerate). Dari sini, beberapa molekul organik akan direduksi menjadi fructose-6-phosphate, dan
6 14 beberapa akan dikonversi balik menjadi ribulose-5-biphosphate, sehingga siklus dapat berjalan kembali. Fructose-6-phosphate kemudian digunakan dalam jalur biosintesa untuk memproduksi asam amino, asam nukleat, lemak dan karbohidrat. Konversi keseluruhan dari 6 molekul CO 2 menjadi 1 molekul fructose-6- phosphate membutuhkan 12 molekul ATP dan 12 molekul NADPH. Sehingga persamaan energi yang terjadi dalam siklus Calvin adalah : (Calvin Cycle uses ATP and NADPH converting CO 2 to sugar in three phase, 2003) 3 CO ATP + 6 NADPH 1 GP (3C) Gambar 2.2. Reaksi terang dan gelap fotosintesis (Iriawati, SITH ITB, n.d) 2.5. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SEL CHLORELLA Chlorella sp. mempunyai waktu generasi yang sangat cepat. Oleh karena itu dalam waktu yang relatif singkat, perbanyakan sel akan terjadi sangat cepat, terutama jika tersedia cahaya sebagai sumber energi, walaupun dalam jumlah minimal. Pada umumnya perbanyakan sel terjadi dalam kurun waktu 4-14 jam, tergantung pada lingkungan pendukungnya (Surawiria, 1987). Pada saat sel
7 15 membelah, Chlorella sp memerlukan lebih banyak sulfur, tetapi pada saat fotosintesis juga memerlukan nitrogen yang teriakt sulfur (Wirosaputro, 2002). Apabila sejumlah kecil Chlorella sp diinokulasikan dalam medium kultur terbatas dan jumlah sel Chlorella sp dihitung sebgai fungsi waktu, maka pola pertumbuhan berdasarkan jumlah sel dapat dikelompokkan menjadi 5 fase yaitu fasa tunda (lag phase), fase eksponensial (log phase), fase penurunan laju pertumbuhan, fase stasioner dan fase kematian (Fogg, 1975). Gambar 2.3. Kurva pertumbuhan mikroalga Chlorella sp. pada medium terbatas (Wirosaputro,2002) 1. Fase tunda (lag phase) Setelah pemberian inokulum ke dalam media kultur, terjadi fase tunda yang disebabkan oleh penyesuaian lingkungan yang baru sebelum memulai pembiakan (pembelahan sel). Penyesuaian dalam hal ini berarti suatu masa ketika sel-sel kekurangan metabolit dan enzim akibat keadaan yang tidak menguntungkan dalam pembiakan sebelumnya. 2. Fase pertumbuhan logaritmik (log phase) Selama fase ini sel membelah dengan cepat, sel-sel berada dalam keadaan stabil, dan jumlah sel bertambah dengan kecepatan konstan. Bahan sel baru terbentuk dengan laju tetap, akan tetapi bahan-bahan tersebut bersifat katalitik dan massa bertambah secara eksponensial. Hal ini tergantung pada satu dari dua hal yang terjasi, yaitu kalau tidak satu atau lebih zat makanan dalam pembenihan habis, maka tentu hasil metabolisme beracun akan tertimbun dan menghambat pertumbuhan.
8 16 3. Fase penurunan laju pertumbuhan Pada fase ini, laju pertumbuhan sel menurun akibat adanya kompetisi yang tinggi dalam media hidup, dan zat makanan yang etrsedia dalam media tidak mencukupi kebutuhan populasi yang bertambah dengan cepat pada fase eksponensial. Akibatnya hanya sebagian dari populasi yang mendapatkan cukup nutrisi untuk tumbuh dan membelah. 4. Fase stasioner Selama fase ini jumlah sel cenderung konstan. Hal ini disebabkan oleh habisnya nutrisi dalam medium atau karena menumpuknya hasil metabolisme yang beracun sehingga mengakibatkan pertumbuhan berhenti. Dalam kebanyakan kasus, pergantian sel terjadi dalam fase stasioner, dimana adanya kehilangan sel yang lambat karena kematian yang diimbangi oleh pembentukan sel-sel yang baru melalui pembelahan. Bila hal ini terjadi maka jumlah sel akan bertambah secara lambat meskipun jumlah sel hidup tetap. 5. Fase kematian (death phase) Pada fase ini jumlah populasi menurun. Jumlah sel yang mati per satuan waktu perlahan-lahan bertambah dan akhirnya kecepatan mati dari sel-sel menjadi konstan FOTOBIOREAKTOR UNTUK KULTIVASI MASSA ALGA (Ugwu et al, 2006) Alga bisa tumbuh dalam sistem kultur terbuka maupun sistem tertutup (fotobioreaktor). Awalnya pertumbuhan alga dilakukan pada sistem terbuka (open pond) yang dirintirs di Jerman (Eropa) selama perang dunia II. Pada waktu itu alga ditumbuhkan untuk supplemen makanan. Dengan semakin berkembangnya penelitian dari waktu ke waktu, biomassa alga makin bertambah pemanfaatannya. Alga dimanfaatkan antara lain untuk menghasilkan bahan kimia tertentu dan supplemen yang berguna untuk manusia dan binatang. Alga dimanfaatkan untuk produksi beberapa senyawa ekstraselular dan juga untuk biosorpsi logam berat. Hal yang lain yang bisa dimanfaatkan dari alga adalah kemampuan fiksasi CO 2.
9 17 Dengan semakin berkembangnya pemanfaatan alga, maka diperlukan suatu tempat kultivasi yang lebih efektif, yaitu dalam sistem tertutup atau fotobioreaktor. Fotobioreaktor lebih menguntungkan dari sistem open pond karena kemudahan untuk peningkatan skala dari skala lab ke skala industri. Selain itu pada fotobioreaktor lebih mudah untuk mengontrol kondisi kultivasinya. Dengan fotobioreaktor, produktivitas biomassa yang tinggi bisa dicapai dan kontaminasi lebih mudah dihindari Jenis-jenis Fotobioreaktor Sistem kultur alga bisa diberikan perlakuan cahaya dengan cahaya buatan, cahaya matahari atau dengan keduanya. Pencahayaan sistem kultur alga secara alami dengan luas permukaan pencahayaan yang luas meliputi open ponds (Hase et al., 2000), flat-plate (Hu et al., 1996), horizontal/serpentine tubular airlift (Camacho Rubio et al., 1999), dan inclined tubular photobioreactors (Ugwu et al., 2002). Secara umum, fotobioreaktor skala laboratorium diberi cahaya buatan (baik secara internal maupun eksternal) menggunakan lampu fluorescent atau distributor cahaya lainnya. Beberapa jenis dari fotobioreaktor ini meliputi bubble column (Degen et al., 2001; Ogbonna et al., 2002; Chini Zittelli et al., 2003), airlift column (Harker et al., 1996; Kaewpintong et al., 2007), stirred-tank (Ogbonna et al.,1999), helical tubular (Hall et al., 2003), conical (Watanabe and Saiki, 1997), torus (Pruvost et al., 2006), dan fotobioreaktor tipe seaweed (Chetsumon et al., 1998). Dari beberapa jenis fotobioreaktor yang dikembangkan untuk memproduksi biomassa mikroalga, masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.1.
10 18 Tabel 2.1. Perbandingan antara beberapa sistem kultivasi mikroalga Sistem Kultur Kelebihan Keterbatasan Open ponds Relatif ekonomis, mudah dibersihkan setelah kultivasi, baik untuk kultivasi alga Vertical-column photobioreactors Flat-plate photobioreactors Tubular photobioreactors Sumber : Ugwu et al., 2002 Perpindahan massa yang tinggi, pencampuran yang baik dengan shear yang rendah, konsumsi energi rendah, sangat potensial untuk penskalaan, mudah disterilisasi, baik untuk immobilisasi alga, mengurangi fotoinhibisi dan fotooksidasi Besarnya luas permukaan yang mendapat cahaya, cocok untuk kultur di luar ruangan, baik untuk immobilisasi alga, jalan penyinarannya baik, produktivitas biomassanya baik, relative murah, mudah dibersihkan, kecil akumulasi oksigen Besarnya luas permukaan yang mendapat cahaya, cocok untuk kultur di luar ruangan, produktivitas biomassanya baik, relative murah Control yang rendah pada kondisi kultur, sulit menumbuhkan kultur alga dalam waktu yang panjang Kecilnya luas permukaan yang mendapat cahaya, konstruksinya membutuhkan bahan yang kompleks, shear stress pada kultur alga, berkurangnya luas permukaan yang mendapat cahaya saat scale- up Scale up membutuhkan banyak suku cadang dan bahan pendukung, sulit dalam mengontrol temperature kultur, terdapat tingkat pertumbuhan di dinding, kemungkinan hydrodynamic stress pada beberapa jenis alga Terdapat gradient/perbedaan p, dissolved oxygen dan CO 2 di sepanjang pipa, kerak, dan ada pertumbuhan di dinding, membutuhkan lahan tanah yang luas
11 Kondisi Operasi yang Mempengaruhi Mikroalga dalam Fotobioreaktor (Wijanarko, 2006) Beberapa kondisi operasi yang dapat mempengaruhi produksi biomassa mikroalga yang dikembangkan dalam bioreaktor kolom gelembung tembus cahaya : 1. Energi cahaya Cahaya sebagai sumber energi untuk kehidupan fotoautotropik merupakan faktor pembatas yang mendasar dalam photobiotechnology. Pada pencahayaan yang intens, laju fotosintesis akan berbanding lurus proporsional dengan intensitas cahaya, sampai intensitas iluminasi yang tinggi dapat merusak sistem reseptor fotosintetik dalam beberapa menit, yang dinamakan photoinhibition. Pada kebanyakan mikroalga, fotosintesis akan jenuh pada radiasi sekitar 1,700 2,000 µe/(m 2 ). Beberapa spesies phytoplankton tumbuh dengan laju optimal pada 50µE/(m 2 ) dan akan mengalami photoinhibition pada 130 µe/(m 2 ). Pada jenis bioreaktor tembus cahaya tubular atau plate-type, dengan rasio luas permukaan dan volume (surface-to-volume ratio; SVR) m 2 /m 3 dan besarnya pencahayaan sampai 1.15 µe/(m 2 s), dengan layer thickness sampai 5 mm, produktivitas dapat mencapai sampai 2-5 g berat kering per hari. Meskipun penelitian bioteknologi telah berkembang pesat, tetapi masih terdapat sedikit informasi tertulis berkenaan dengan proses singkat (short-term process) dari adaptasi terhadap cahaya (photoadaption), yaitu mengenai inhibisi cahaya (light inhibition) atau efek pencahayaan jenuh (light saturation effect) dalam bioreaktor tembus cahaya sistem tertutup. Adaptasi terhadap cahaya secara umum memerlukan waktu sekitar menit, merupakan penjelasan atas terjadinya ketidaksesuaian antara produktivitas medium kultur alga pada pencahayaan optimum dengan produktivitas medium kultur alga sistem terbuka yang mengalami pencahayaan siklus terang-gelap alamiah (Richmond et al, 1980). 2. Kesetimbangan CO 2 /O 2 Penyesuaian kesetimbangan CO 2 /O 2 pada laju fotosintesis yang tinggi, terjadi dengan menggunakan CO 2 pada reaksi dengan enzim utama RUBISCO
12 20 pada carboxylating dalam siklus Calvin, bukan menggunakan O 2 untuk proses respirasi (katabolisme pada suasana terang; photorespiration). Dalam medium kultur alga dengan densitas sel yang tinggi, kecukupan CO 2 harus dipenuhi, dan keberadaan O 2 harus dihilangkan sebelum mencapai konsentrasi penghambatan reaksi fotosintesis (inhibitory concentration). Konsentrasi CO 2 biasanya dijaga dalam margin yang sempit. Kandungan CO 2 dalam udara 0.03% merupakan kondisi suboptimal bagi pertumbuhan tumbuhan, dan kebanyakan tumbuhtumbuhan dapat mentoleransi konsentrasi CO 2 hanya sampai 0.1 %. Tetapi kebanyakan strain dari mikroalga toleran terhadap konsentrasi CO 2, pada suhu 35 C, kebanyakan spesies Chlorella dapat menyesuaikan diri dengan kondisi kandungan CO 2 dalam udara sampai 12 %. 3. Nutrisi dan nilai ph Ketersediaan nutrisi yang cukup untuk mikroalga adalah pre-kondisi untuk fotosintesis yang optimal. Defisiensi nutrisi akan menyebabkan gangguan pada metabolisme dan ketidaksesuaian produksi pada fasa antara proses fotosintesis. Deviasi dari nilai ph optimum akan mempengaruhi reaksi dan produktivitas terkait dengan ketersediaan ion bikarbonat, salah satu bentuk CO 2 yang terlarut dalam air dalam medium kultur yang berperan dalam transfer CO 2 dari medium kultur ke sitoplasma sel melalui dinding dan membran semipermeabel sel tersebut. Oleh karena itu kondisi yang terkendali dalam bioreaktor tembus cahaya harus dijaga pada rasio optimum (Sivonen, 1990; Falkner et al., 1995; Kaplan et al., 1980; Healey, 1973;Yagishita et al., 1993) HIDRODINAMIKA ALIRAN DALAM FOTOBIOREAKTOR KOLOM GELEMBUNG DAN EFEKNYA PADA MIKROALGA Hidrodinamika (karateristik pencampuran) merupakan fungsi dari geometri reaktor dan kondisi operasi (laju alir gas dan cairan). Hidrodinamika mempengaruhi efisiensi fotosintesis, produktivitas dan komposisi sel. Beberapa parameter hidrodinamika yang diukur dalam suatu liquida antara lain, volume, bentuk dan kecepatan gelembung, gas hold up, kecepatan cairan, slip velocity,
13 21 dispersi aksial, bilangan Reynold, waktu pencampuran dan koefisien perpindahan massa (Babcock Jr et al, 2002). Dua parameter penting dalam hidrodinamika adalah gas holdup dan koefisien perpindahan massa. Dua parameter ini sangat tergantung dengan kecepatan superfisial gas yang beraerasi di kolom. Kecepatan superfisial gas sendiri merupakan kondisi operasi yang harus ditentukan sebelum kultivasi dan menentukan hasil biomassa yang didapat. Jika pengesetan kecepatan superfisial gas kurang bagus maka hasil kurang optimal. Syahri (2008) telah melakukan scale up produksi biomassa Chlorella vulgaris Buitenzorg dari skala lab 250 ml menjadi skala menengah 18 L dengan sistem pengaturan pencahayaan. Dalam penelitiannya, saat menentukan kecepatan superfisial aliran gas-udara (U G ), sistem yang dilakukan adalah dengan mengukur RTD (Residence Time Distribution) untuk melihat U G yang menghasilkan waktu tinggal yang sama dengan volume 18 L. Setelah U G didapatkan ternyata pola turbulensinya setelah dilihat secara visual ternyata terlalu besar jika dibandingkan pola turbulensi di volume 250 ml. Karena itu nilai U G diturunkan hingga pola turbulensi kira-kira sama dengan skala lab. Setelah diujikan dengan produksi biomassa Chlorella vulgaris Buitenzorg ternyata hasilnya jauh berbeda. Hasil biomassa di reaktor skala menengah lebih rendah 1,34 kali untuk pencahayaan alterasi dan lebih rendah 1,36 kali untuk pencahayaan kontinyu jika dibanding dengan hasil biomassa di reaktor skala lab. Hal ini menunjukkan bahwa untuk scale up, penentuan U G untuk menghasilkan biomassa yang sama atau setara di dua reaktor yang berbeda masih menjadi masalah Gas Holdup Pada fotobioreaktor kolom gelembung, banyak penelitian mengatakan bahwa ada regim aliran dasar yang terbentuk dalam kolom gelembung, yaitu homogen heterogen (Sarrafi et al,1999; Krishna et al 1999; Magaud et al,2001). Ketika kolom diaerasi dengan udara, kolom mulai terekspan dengan secara homogen dan ketinggian kolom bertambah hampir linear dengan kecepatan superfisial gas. Regim ini disebut homogeneous bubbly flow regime. Pada regim ini bisa dilihat parameter gas hold up. Gas hold up adalah persentase volum gas
14 22 pada dua atau tiga fasa campuran dalam kolom (Moshtari et al, 2009). Gas hold up merupakan salah satu parameter karakteristik hidrodinamik paling penting pada kolom gelembung (Yuanxin et al, 2001). Gas hold up sangat berhubungan dengan ukuran gelembung Gelembung yang kecil bisa membentuk gas holdup yang besar. Gas hold up adalah persen volume gas dalam dua atau tiga fase campuran dalam kolom (Moshtari,Babakhani,Moghaddas; 2009). V = V + V G ε...(2.1) L G Karena total interfacial area untuk perpindahan massa oksigen tergantung pada volume total gas dalam sistem sebagaimana ukuran gelembung rata-rata, laju perpindahan massa yang besar dicapai pada gas-holdup yang besar pula Koefisien Perpindahan Massa (k L a) Dalam proses fotosintesis, peranan gas CO 2 sangat penting dalam proses reaksi. Agas gas CO 2 bisa bereaksi dengan baik maka dibutuhkan proses perpindahan massa yang baik. Hal ini ditandai dengan adanya koefisien perpindahan massa atau k la (CO 2 ). Koefisien perpindahan massa (k L a), adalah koefisien perpindahan massa volumetrik gas yang terjadi di fasa cairan (h -1 ) (Doran, 1995). k L adalah koefisien perpindahan gas (cm/h) sedangkan a adalah gas-liquid interfacial area (cm 2 /cm 3 ). Maka k L a adalah koefisien perpindahan massa volumetrik (h -1 ). Dalam mengukur k L a (CO 2 ) akan lebih mudah jika dengan melakukan pengukuran k L a (O 2 ) terlebih dahulu. Hal ini karena cara pengukuran k L a (O 2 ) lebih mudah dan hemat biaya (Grima et al,1992). Dimana harga k L a (O 2 ) nantinya dikonversi menjadi k L a (CO 2 ) berdasarkan perbedaan difusivitasnya Proses Perpindahan Massa Ada beberapa tahapan perpindahan oksigen dari gelembung gas ke tempat reaksi intraselular (Doran, 1995) seperti tampak pada gambar 2.3 berikut.
15 23 Gambar 2.4. Proses perpindahan massa dari gelembung gas ke sel Tahapannya adalah sebagai berikut : (i). Perpindahan dari bagian dalam (interior) gelembung ke bagian batas (interface) gas-cairan. (ii). Pergerakan melewati bagian batas gas-cairan. (iii). Difusi melalui film cairan yang relatif stagnan di sekitar gelembung. (iv). Perpindahan melalui bulk cairan. (v). Difusi melalui film cairan yang relatif stagnan di sekitar sel. (vi). Pergerakan melewati bagian batas cairan-sel. (vii). Jika sel dalam bentuk flok, gumpalan atau partikel padat, difusi melalui padatan ke individu sel; dan (viii). Perpindahan melalui sitoplasma ke tempat reaksi. Sebagai catatan, tahanan karena lapisan batas gas di dalam gelembung telah diabaikan; karena rendahnya kelarutan oksigen dalam larutan kental., kita dapat mengasumsikan bahwa tahanan cairan-film mendominasi perpindahan massa gas-cairan. Jika sel secara individu lebih terlarut dalam cairan daripada dalam gumpalan, maka tahap (vii) dihilangkan.
16 24 Gambar 2.5. Gradien konsentrasi untuk perpindahan massa gas-cairan (Doran,1995) Besarnya bermacm-macam tahanan perpindahan massa tergantung dari komposisi dan sifat rheological cairan, intensitas pencampuran, ukuran gelembung, ukuran gumpalan sel, karakteristik adsorpsi lapisan batas dan beberapa faktor. Untuk kebanyakan bioreaktor analisis berikut adalah valid: (i). Perpindahan melalui fasa bulk gas dalam gelembung adalah relatif cepat (ii). Lapisan batas gas-cairan sendiri berkontribusi mengabaikan tahanan. (iii). Film cairan di sekitar gelembung adalah tahanan utama dalam perpindahan oksigen. (iv). Dalam fermenter yang tercampur baik, gradien konsentrasi dalam bulk cairan diminimalkan dan tahanan perpindahan massa dalam wilayah ini adalah kecil. Bagaimanapun, pencampuran cepat sangat sulit dicapai dalam larutan fermentasi yang kental; jika ini adalah kasusnya, tahanan perpindahan oksigen di bulk cairan mungkin penting. (v). Karena sel tunggal lebih kecil dari gelembung gas, film cairan di sekitar tiap sel lebih tipis daripada di sekitar gelembung dan efeknya pada perpindahan massa secara umum dapat diabaikan. Di lain pihak, jika sel dalam bentuk gumpalan besar, tahanan film cairan bisa signifikan. (vi). Tahanan pada bagian batas sel-cairan secara umum diabaikan (vii). Jika sel adalah gumpalan, tahanan intrapartikel akan sifnifikan sebagaimana oksigen harus berdifusi melalui pellet padat untuk mencapai bagian dalam sel. Besarnya tahanan ini tergantung dari ukuran gumpalan.
17 25 (viii). Tahanan perpindahan oksigen di intrseluler diabaikan karen kecilnya jarak yang ditempuh. Persamaan perpindahan massanya adalah sebagai berikut ; N A = k L a(c * AL C AL )...(2.2) Cara Mengukur k L a Karena sulitnya memprediksi k L a di bioreaktor dengan menggunakan korelasi, maka koefisien perpindahan massa untuk oksigen biasanya ditentukan dengan eksperimen. Teknik untuk mengukur k L a telah direview oleh van t Riet (1979). a. Metode Kesetimbangan Oksigen Teknik ini berdasarkan persamaan perpindahan massa gas-cairan (2.2) diatas. Dalam eksperimennya, kandungan oksigen dari aliran gas menuju dan dari fermenter diukur. Dari kesetimbangan massa saat steady state, perbedaan aliran oksigen antara masukan dan keluaran harus sama dengan laju perpindahan oksigen dari gas ke liquid. N A [( FgCAG) i ( FgCAG) o] = 1.(2.3) VL Dimana V L adalah volume cairan dalam fermenter, F g adalah laju alir volumetrik gas, C AG adalah konsentrasi oksigen dalam fasa gas, dan subscrip i dan o menunjukkan aliran gas inlet dan outlet. Pernyataan pertama sisi kanan persamaan diatas menunjukkan laju oksigen yang masuk ke fermenter dalam aliran gas inlet.; sedangkan pernyataan kedua menunjukkan laju pada saat oksigen keluar. Perbedaan antara keduanya adalah laju oksigen yang berpindah keluar dari gas ke cairan N A. Karena konsentrasi gas secara umum diukur dalam tekanan parsial, hokum gas ideal bias diaplikasikan ke dalam persamaan diatas: N 1 RV Fgp T Fgp i T AG AG A = o L (2.4) Dimana R adalah konstanta gas universal (Tabel 2.5, hal. 20, Bioprocess Engineering Principle,1995), p AG adalah tekanan parsial oksigen dalam gas dan T adalah temperatur absolut. Karena tekanan parsial oksigen
18 26 dalam masukan dan keluaran aliran gas biasanya tidak terlalu berbeda selama operasi di fermenter, maka dua hal ini harus diukur secara akurat, misalnya dengan spektrofotometer massa.. Temperatur dan laju alir gas juga harus diukur dengan hati-hati untuk memastikan keakuratan nilai N A yang ditentukan. Sekali N A diketahui dan C AL dan C * AL ditentukan dengan menggunakan dissolved-oxygen electrode dan estimasi solubilitas oksigen (bagian 9.8, Bioprocess Engineering Principle,1995), maka k L a dapat dihitung menggunakan persamaan 2.2 b. Metode Dinamik Metode ini digunakan untuk mengukur k L a berdasarkan kesetimbangan massa oksigen dalam keadaan unsteady state. Keuntungan utama dari metode ini dibanding metode yang steady state adalah rendahnya biaya akan kebutuhan alat. Ada beberapa perbedaaan versi metode dinamik; namun satu yang akan dijelaskan disini. Awalnya, fermenter berisi sel dalam kultur batch. Seperti tampak pada gambar 2.5, suatu waktu t 0 dari broth adalah saat deoxygenated baik dengan mengalirkan nitrogen ke dalam tangki atau dengan menyetop aliran udara jika kultur mengkonsumsi oksigen. Konsentrasi oksigen terlarut C AL akan turun selama periode ini. Udara lalu dipompakan kembali kedalam broth dengan laju alir yang konstan dan pertambahan C AL dimonitor berdasarkan fungsi waktu. Hal yang perlu diperhatikan adalah konsentrasi oksigen harus diatas C crit sehingga laju pengambilan oksigen oleh sel tidak tergantung dari level oksigen. Dengan asumsi re-oxygenation broth berlangsung cepat relative terhadappertumbuhan sel, level oksigen terlarut akan dengan cepat mencapai nilai steady state C AL yang merefleksikan kesetimbanagan antara supply oksigen dan konsumsi oksigen dalam system. C AL1 dan C AL2 adalah dua konsentrasi oksigen yang diukur selama reoxygenation pada saat t 1 dan t 2. Kita dapat mengembangkan persamaan untuk k L a sesuai dengan data eksperimen. Selama tahap re-oxygenation, system tidak steady state. Laju perubahan konsentrasi oksigen terlarut selama periode ini sma dengan laju
19 27 perpindahan oksigen dari gas ke cairan, dikurangi laju pengambilan oksigen oleh sel. dc dt AL * ( C AL C ) q x = k a..(2.5) L AL 0 Dimana q O x adalah laju konsumsi oksigen. Ketika C AL = * maka dc AL /dt = 0 karena itu ; q x = k a( C AL C ) menjadi: C AL 0 L AL (2.6) Substitusi persamaan diatas ke persamaan 2.5 maka : dc dt AL L ( C AL C ) = k a.(2.7) AL Asumsi k L a konstan terhadap waktu, persamaan diatas diintegrasikan k L a C C t AL AL AL2 =..(2.8) 2 C C t 1 AL1 Jika ada beberapa data (C AL, t 1 ) dan (C AL, t 2 ) maka k L a dapat diestimasi lebih akurat menggunakan grafik berikut. Gambar 2.6. Evaluasi k L a menggunakan metode dinamik (Doran,1995)
20 28 c. Metode Oksidasi Sulfit Metode ini berdasarkan oksidasi sodium sulphite menjadi sulphate dengan suatu katalis misalnya Cu 2+. Walaupun metode sulfite telah digunakan secara ekstensif namun hasil yang ditunjukkan tergantung dari kondisi operasi dalam cara yang tidak diketahui,dan biasanya memberikan nilai k L a yang lebih tinggi dari teknik lainnya..
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Menurut Mandalam & Palsson (1998) ada 3 persyaratan dasar untuk kultur mikroalga fotoautotropik berdensitas tinggi yang tumbuh dalam fotobioreaktor tertutup. Pertama adalah
BAB I PENDAHULUAN. Penentuan parameter..., Nita Anggreani, FT UI, 2009
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Seiring dengan semakin maju perkembangan dunia, berbagai permasalahan bermunculan. Masalah-masalah tersebut antara lain adalah polusi baik di udara, tanah dan air
METABOLISME 2. Respirasi Sel Fotosintesis
METABOLISME 2 Respirasi Sel Fotosintesis Jalur Respirasi Aerobik dan Anaerobik Rantai respirasi Fotosintesis Fotosintesis merupakan proses sintesis molekul organik dengan menggunakan bantuan energi
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA PENENTUAN PARAMETER HIDRODINAMIKA PADA FOTOBIOREAKTOR KOLOM GELEMBUNG SEBAGAI BASIS SCALE UP PRODUKSI BIOMASSA MIKROALGA CHLORELLA VULGARIS BUITENZORG TESIS Diajukan sebagai salah
2. TINJAUAN PUSTAKA. berflagel. Selnya berbentuk bola berukuran kecil dengan diameter 4-6 µm.
3 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Nannochloropsis sp Mikroalga adalah tumbuhan tingkat rendah yang memiliki klorofil, yang dapat digunakan untuk melakukan proses fotosintesis. Mikroalga tidak memiliki
TINJAUAN PUSTAKA. memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif seperti hewan. Inti
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Biologi Tetraselmis sp. Tetraselmis sp. merupakan alga bersel tunggal, berbentuk oval elips dan memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif
4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Kultur Chaetoceros sp. dilakukan skala laboratorium dengan kondisi
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pertumbuhan Chaetoceros sp. Kultur Chaetoceros sp. dilakukan skala laboratorium dengan kondisi parameter kualitas air terkontrol (Lampiran 4). Selama kultur berlangsung suhu
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Spirulina sp.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Spirulina sp. Spirulina sp. merupakan mikroalga yang menyebar secara luas, dapat ditemukan di berbagai tipe lingkungan, baik di perairan payau, laut dan tawar. Spirulina
Tabel Perbedan Reaksi terang dan Reaksi gelap secara mendasar: Tempat membran tilakoid kloroplas stroma kloroplas
Tabel Perbedan Reaksi terang dan Reaksi gelap secara mendasar: Reaksi Terang Reaksi Gelap Tempat membran tilakoid kloroplas stroma kloroplas Kebutuhan Cahaya membutuhkan cahaya tidak membutuhan cahaya
II. TINJAUAN PUSTAKA. : Volvocales. : Tetraselmis. Tetraselmis sp. merupakan alga bersel tunggal, berbentuk oval elips dan memiliki
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tetraselmis sp. Menurut B u t c h e r ( 1 9 5 9 ) klasifikasi Tetraselmis sp. adalah sebagai berikut: Filum : Chlorophyta Kelas : Chlorophyceae Ordo : Volvocales Sub ordo Genus
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis (Fisiologi Tumbuhan) Disusun oleh J U W I L D A 06091009027 Kelompok 6 Dosen Pembimbing : Dra. Tasmania Puspita, M.Si. Dra. Rahmi Susanti, M.Si. Ermayanti,
I. PENDAHULUAN. perikanan. Pakan juga merupakan faktor penting karena mewakili 40-50% dari
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pakan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam budidaya perikanan. Pakan juga merupakan faktor penting karena mewakili 40-50% dari biaya produksi. Pakan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Efek Laju Pembebanan Gas CO 2 terhadap Laju Pertumbuhan Mikroalga Pada penelitian ini, laju pembebanan gas CO 2 dibuat bervariasi untuk mengetahui efek laju pembebanan gas
BAB VIII PROSES FOTOSINTESIS, RESPIRASI DAN FIKSASI NITROGEN OLEH TANAMAN
BAB VIII PROSES FOTOSINTESIS, RESPIRASI DAN FIKSASI NITROGEN OLEH TANAMAN 8.1. Fotosintesis Fotosintesis atau fotosintesa merupakan proses pembuatan makanan yang terjadi pada tumbuhan hijau dengan bantuan
1 Asimilasi nitrogen dan sulfur
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tumbuhan tingkat tinggi merupakan organisme autotrof dapat mensintesa komponen molekular organik yang dibutuhkannya, selain juga membutuhkan hara dalam bentuk anorganik
dari reaksi kimia. d. Sumber Aseptor Elektron
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pertumbuhan didefenisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler dan struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti pertambahan jumlah, pertambahan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh data mengenai biomassa panen, kepadatan sel, laju pertumbuhan spesifik (LPS), waktu penggandaan (G), kandungan nutrisi,
BAB V FOTOSINTESIS. 5. proses terjadinya rreaksi terang dan gelap dalam proses fotosintesis.
BAB V FOTOSINTESIS A. STANDAR KOMPETENSI Mahasiswa mampu memahami proses fotosintesis dan mampu menguraikan mekanisme terjadinya fotosintesis pada tumbuhan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. B.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Kegiatan penelitian ini dilakukan di Laboratorium Rekayasa Bioproses, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. 3.1. DIAGRAM ALIR PENELITIAN berikut ini
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
33 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Pertumbuhan tanaman buncis Setelah dilakukan penyiraman dengan volume penyiraman 121 ml (setengah kapasitas lapang), 242 ml (satu kapasitas lapang), dan 363 ml
BAB IV METABOLISME. Proses pembentukan atau penguraian zat di dalam sel yang disertai dengan adanya perubahan energi.
BAB IV METABOLISME Proses pembentukan atau penguraian zat di dalam sel yang disertai dengan adanya perubahan energi METABOLISME ANABOLISME Proses Pembentukan Contoh: Fotosintesis, Kemosintesis Sintesis
Dr. Dwi Suryanto Prof. Dr. Erman Munir Nunuk Priyani, M.Sc.
BIO210 Mikrobiologi Dr. Dwi Suryanto Prof. Dr. Erman Munir Nunuk Priyani, M.Sc. Kuliah 4-5. METABOLISME Ada 2 reaksi penting yang berlangsung dalam sel: Anabolisme reaksi kimia yang menggabungkan bahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada bidang akuakultur, mikroalga umumnya telah dikenal sebagai pakan alami untuk pembenihan ikan karena dan memiliki peran sebagai produsen primer di perairan dan telah
Giant Panda (Ailuropoda melanoleuca)
Giant Panda (Ailuropoda melanoleuca) METABOLISME merupakan keseluruhan reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Transformasi energi selalu mengikuti setiap proses metabolisme. Transformasi
SMA XII (DUA BELAS) BIOLOGI METABOLISME
JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN SMA XII (DUA BELAS) BIOLOGI METABOLISME Metabolisme adalah seluruh reaksi kimia yang dilakukan oleh organisme. Metabolisme juga dapat dikatakan sebagai proses
6H 2 O + 6CO 2 > C 6 H 12 O 6 + 6O 2. cahaya menjadi energi kimia. molekul gula
FOTOSINTESIS Fotosisntesis 6H 2 O + 6CO 2 > C 6 H 12 O 6 + 6O 2 1. REAKSI CAHAYA: mengubah bhenergi cahaya menjadi energi kimia 2. REAKSI KARBON: siklus Calvin, merakit molekul gula An overview of photosynthesis
Uraian Materi Anda suka makan ubi atau kentang rebus? Ubi jalar dan kentang sama-sama mengandung karbohidrat dalam bentuk amilum.
Uraian Materi Anda suka makan ubi atau kentang rebus? Ubi jalar dan kentang sama-sama mengandung karbohidrat dalam bentuk amilum. Dari manakah asal kandungan amilum pada ubi jalar dan kentang? Amilum yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ekosistem Sungai Air merupakan salah satu sumber daya alam dan kebutuhan hidup yang penting dan merupakan sadar bagi kehidupan di bumi. Tanpa air, berbagai proses kehidupan
PERTEMUAN IV: FOTOSINTESIS. Program Tingkat Persiapan Bersama IPB 2011
PERTEMUAN IV: FOTOSINTESIS Program Tingkat Persiapan Bersama IPB 2011 FOTOSINTESIS Pokok Bahasan: Peran Tumbuhan dan Fotosintesis Tumbuhan sebagai produser Tempat terjadinya Fotosintesis Pemecahan air
SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal 8.2. Stroma. Grana. Membran luar
SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal 8.2 1. Proses fotosintesis berlangsung dalam dua tahap, yaitu reaksi terang dan reaksi gelap. Reaksi terang berlangsung di... Membran tilakoid Stroma
TINJAUAN PUSTAKA. Fitoplankton adalah alga yang berfungsi sebagai produsen primer, selama
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Biologi Nannochloropsis sp. Fitoplankton adalah alga yang berfungsi sebagai produsen primer, selama hidupnya tetap dalam bentuk plankton dan merupakan makanan langsung bagi
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pertumbuhan Mikroalga Laut Scenedesmus sp. Hasil pengamatan pengaruh kelimpahan sel Scenedesmus sp. terhadap limbah industri dengan dua pelakuan yang berbeda yaitu menggunakan
TEORI PEMBENTUKAN ATP, KAITANNYA DENGAN PERALIHAN ASAM-BASA. Laurencius Sihotang BAB I PENDAHULUAN
TEORI PEMBENTUKAN ATP, KAITANNYA DENGAN PERALIHAN ASAM-BASA Laurencius Sihotang BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Semua kehidupan di bumi ini bergantung kepada fotosintesis baik langsung maupun tidak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Tanah Tanah adalah kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara,
TIGA PILAR UTAMA TUMBUHAN LINGKUNGAN TANAH
EKOFISIOLOGI TIGA PILAR UTAMA TUMBUHAN TANAH LINGKUNGAN Pengaruh salinitas pada pertumbuhan semai Eucalyptus sp. Gas-gas atmosfer, debu, CO2, H2O, polutan Suhu udara Intensitas cahaya, lama penyinaran
Secara sederhana, oksidasi berarti reaksi dari material dengan oksigen. Secara kimiawi: OKSIDASI BIOLOGI
Proses oksidasi Peranan enzim, koenzim dan logam dalam oksidasi biologi Transfer elektron dalam sel Hubungan rantai pernapasan dengan senyawa fosfat berenergi tinggi Oksidasi hidrogen (H) dalam mitokondria
4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelimpahan Nannochloropsis sp. pada penelitian pendahuluan pada kultivasi
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pendahuluan Kelimpahan Nannochloropsis sp. pada penelitian pendahuluan pada kultivasi kontrol, kultivasi menggunakan aerasi (P1) dan kultivasi menggunakan karbondioksida
FOTOSINTESIS. Pengertian Fotosintesis
FOTOSINTESIS Pengertian Fotosintesis Fotosintesis merupakan proses yang dilakukan oleh organisme autotrof, dengan menggunakan energi dari cahaya matahari yang diserap oleh klorofil untuk membuat bahan
HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN
HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN FUNGSI AIR Penyusun tubuh tanaman (70%-90%) Pelarut dan medium reaksi biokimia Medium transpor senyawa Memberikan turgor bagi sel (penting untuk pembelahan
FOTOSINTESIS. Fotosintesis 1
FOTOSINTESIS Fotosintesis 1 CAKUPAN MATERI Peran Fotosintesis Sejarah Fotosintesis Tempat terjadinya Fotosintesis Reaksi-reksi Fotosintesis Reaksi Terang Reaksi Gelap Tumbuhan C3, C4 dan CAM Fotosintesis
Mit Mi ochondria ochondri
RESPIRASI 6O 2 + C 6 H 12 O 6 6CO 2 + 6H 2 O + Energy Cellular Respiration: Perubahan Glucose menjadi ATP dengan menggunakan O 2 Proses pembentukan ATP melalui penguraian Glucose dengan adanya Oksigen
FOTOSINTESIS. Fase perkembangan daun (muda/tua) Kedudukan daun
FOTOSINTESIS Komposisi bahan kering total tanaman sebagian besar terdiri atas bahan Carbon Karbohidrat bahan penyusun struktur tubuh tanaman dan sebagai sumber energi proses metabolisme Hill (seorang ahli
SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal 8.1. Autotrof. Parasit. Saprofit
SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal 8.1 1. Makhluk hidup yang dapat berfotosintesis adalah makhluk hidup... Autotrof Heterotrof Parasit Saprofit Kunci Jawaban : A Makhluk hidup autotrof
2. TINJAUAN PUSTAKA. kondisi yang sulit dengan struktur uniseluler atau multiseluler sederhana. Contoh
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mikroalga Nannochloropsis sp. Mikroalga merupakan mikroorganisme prokariotik atau eukariotik yang dapat berfotosintesis dan dapat tumbuh dengan cepat serta dapat hidup dalam kondisi
Secara sederhana, oksidasi berarti reaksi dari material dengan oksigen OKSIDASI BIOLOGI
Proses oksidasi Peranan enzim, koenzim dan logam dalam oksidasi biologi Transfer elektron dalam sel Hubungan rantai pernapasan dengan senyawa fosfat berenergi tinggi Oksidasi hidrogen (H) dalam mitokondria
I. PENDAHULUAN. Tingkat konsumsi sayuran rakyat Indonesia saat ini masih rendah, hanya 35
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tingkat konsumsi sayuran rakyat Indonesia saat ini masih rendah, hanya 35 kilogram sayuran per kapita per tahun. Angka itu jauh lebih rendah dari angka konsumsi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. terhadap pertumbuhan Chlorella sp.diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Limbah Cair Tahu Terhadap Kelimpahan Mikroalga Chlorella sp. Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh konsentrasi limbah cair tahu terhadap
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Kepadatan Sel Kepadatan sel Spirulina fusiformis yang dikultivasi selama 23 hari dengan berbagai perlakuan cahaya menunjukkan bahwa kepadatan sel tertinggi terdapat
luar yang mempengaruhi laju fotosintesis dan peranannya masing-masing 2. Mahasiswa mengetahui dan dapat menjelaskan faktorfaktor
Pertemuan : Minggu ke 5 Estimasi waktu : 150 menit Pokok Bahasan : Faktor-faktor yang mempengaruhi laju fotosintesis Sub pokok bahasan : 1. Faktor-faktor dan dalam tubuh tumbuhan 2. Faktor-faktor dan lingkungan
LAPORAN EKSPERIMEN FOTO SISTESIS
LAPORAN KARYA TEKNOLOGI TEPAT GUNA LAPORAN EKSPERIMEN FOTO SISTESIS Oleh: Supratman, S.Pd. SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 12 BENGKULU 2009 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fotosintesis berasal dari kata
TINJAUAN PUSTAKA. pembagian tugas yang jelas pada sel sel komponennya. Hal tersebut yang
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Nannochloropsis sp. 2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi Nannochloropsis sp. Mikroalga merupakan tanaman yang mendominasi lingkungan perairan. Morfologi mikroalga berbentuk
HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN
HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN FUNGSI AIR Penyusun tubuh tanaman (70%-90%) Pelarut dan medium reaksi biokimia Medium transpor senyawa Memberikan turgor bagi sel (penting untuk pembelahan
Pembiakan dan Pertumbuhan Bakteri
Pembiakan dan Pertumbuhan Bakteri A. Pertumbuhan Sel Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran atau subtansi atau masa zat suatu organisme, Pada organisme bersel satu pertumbuhan lebih diartikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cabe (Capsicum annum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cabe (Capsicum annum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia karena merupakan salah satu jenis sayuran buah
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Sumber oksigen terlarut dalam perairan
4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme, atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan
FUNGSI PHOSPOR DALAM METABOLISME ATP
TUGAS MATA KULIAH NUTRISI TANAMAN FUNGSI PHOSPOR DALAM METABOLISME ATP Oleh : Dewi Ma rufah H0106006 Lamria Silitonga H 0106076 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2008 Pendahuluan Fosfor
TINJAUAN PUSTAKA. fotosintesis (Bold and Wynne, 1985). Fitoplankton Nannochloropsis sp., adalah
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Nannochloropsis sp. 2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi Mikroalga diartikan berbeda dengan tumbuhan yang biasa dikenal walaupun secara struktur tubuh keduanya memiliki klorofil
II. TINJAUAN PUSTAKA. Mikroalga Tetraselmis sp. merupakan salah satu mikroalga hijau.
1 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tetraselmis sp. Mikroalga Tetraselmis sp. merupakan salah satu mikroalga hijau. Klasifikasi Tetraselmis sp. menurut Bold & Wynne (1985) adalah sebagai berikut: Filum Kelas Ordo
TINJAUAN PUSTAKA Pupuk dan Pemupukan
4 TINJAUAN PUSTAKA Pupuk dan Pemupukan Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan unsur-unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman (Hadisuwito, 2008). Tindakan mempertahankan dan
LAPORAN PRAKTIKUM MATA KULIAH FISIOLOGI TUMBUHAN FOTOSINTESIS
LAPORAN PRAKTIKUM MATA KULIAH FISIOLOGI TUMBUHAN FOTOSINTESIS Oleh : Bayu Widhayasa 0910480026 PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010 BAB I PENDAHULUAN A. Latar
KEHIDUPAN SEL PELEPASAN ENERGI DALAM SEL
KEHIDUPAN SEL PELEPASAN ENERGI DALAM SEL Gimana UTSnya??? LUMAYAN...????!!? SILABUS PERTEMUAN KE- TGL MATERI 8 15 NOV 9 22 NOV 10 29 NOV KEHIDUPAN SEL (PELEPASAN ENERGI DALAM SEL) KEHIDUPAN SEL (PELEPASAN
I. PENDAHULUAN. kesuksesan budidaya. Kebutuhan pakan meningkat seiring dengan meningkatnya
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pakan merupakan kebutuhan penting dan berpengaruh besar dalam kesuksesan budidaya. Kebutuhan pakan meningkat seiring dengan meningkatnya usaha budidaya perikanan. Pakan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN KADAR C (KARBON) DAN KADAR N (NITROGEN) MEDIA KULTIVASI Hasil analisis molases dan urea sebagai sumber karbon dan nitrogen menggunakan metode Walkley-Black dan Kjeldahl,
I. PENDAHULUAN. Mikroalga merupakan jasad renik dengan tingkat organisasi sel yang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mikroalga merupakan jasad renik dengan tingkat organisasi sel yang termasuk dalam tumbuhan tingkat rendah, dikelompokan dalam filum Thalophyta karena tidak memiliki akar,
PERTUMBUHAN JASAD RENIK
PERTUMBUHAN JASAD RENIK DEFINISI PERTUMBUHAN Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai pertambahan secara teratur semua komponen di dalam sel hidup. Pada organisme multiselular, yang disebut pertumbuhan
Bab IV Data dan Hasil Pembahasan
Bab IV Data dan Hasil Pembahasan IV.1. Seeding dan Aklimatisasi Pada tahap awal penelitian, dilakukan seeding mikroorganisme mix culture dengan tujuan untuk memperbanyak jumlahnya dan mengadaptasikan mikroorganisme
BIOLOGI. Nissa Anggastya Fentami, M.Farm, Apt
BIOLOGI Nissa Anggastya Fentami, M.Farm, Apt Metabolisme Sel Metabolisme Metabolisme merupakan totalitas proses kimia di dalam tubuh. Metabolisme meliputi segala aktivitas hidup yang bertujuan agar sel
Oleh: Tim Biologi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya 2013
Energi & METABOLISME Oleh: Tim Biologi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya 2013 Sesuatu yang diperlukan untuk aktivitas seluler, seperti pertumbuhan, gerak, transport molekul maupun ion
BAB I PENDAHULUAN. tetapi limbah cair memiliki tingkat pencemaran lebih besar dari pada limbah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri tahu merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah organik. Limbah industri tahu yang dihasilkan dapat berupa limbah padat dan cair, tetapi limbah
KULIAH 2 HUBUNGAN AIR, TANAH DAN TANAMAN
KULIAH 2 HUBUNGAN AIR, TANAH DAN TANAMAN HUBUNGAN AIR, TANAH DAN TANAMAN Hubungan air tanah dan Tanaman Fungsi air bagi tanaman Menjaga tekanan sel Menjaga keseimbangan suhu Pelarut unsur hara Bahan fotosintesis
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISTIK LIMBAH CAIR Limbah cair tepung agar-agar yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah cair pada pabrik pengolahan rumput laut menjadi tepung agaragar di PT.
FISIOLOGI TUMBUHAN MKK 414/3 SKS (2-1)
FISIOLOGI TUMBUHAN MKK 414/3 SKS (2-1) OLEH : PIENYANI ROSAWANTI PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN DAN KEHUTANAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA 2017 METABOLISME Metabolisme adalah proses-proses
HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Amonia Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data berupa nilai dari parameter amonia yang disajikan dalam bentuk grafik. Dari grafik dapat diketahui
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang dialami ekosistem perairan saat ini adalah penurunan kualitas air akibat pembuangan limbah ke
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang dialami ekosistem perairan saat ini adalah penurunan kualitas air akibat pembuangan limbah ke perairan yang menyebabkan pencemaran. Limbah tersebut
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Isolasi Bakteri Penitrifikasi Sumber isolat yang digunakan dalam penelitian ini berupa sampel tanah yang berada di sekitar kandang ternak dengan jenis ternak berupa sapi,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Kandungan (%) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produk Fermentasi Fermentasi merupakan teknik yang dapat mengubah senyawa kompleks seperti protein, serat kasar, karbohidrat, lemak dan bahan organik lainnya
FOTOSINTESIS. Pemanfaatan cahaya untuk membuat makanan. Pengungkapan fotosintesis perjalanan panjang para ilmuwan:
FOTOSINTESIS Pemanfaatan cahaya untuk membuat makanan Pengungkapan fotosintesis perjalanan panjang para ilmuwan: Fisika (Belgia) : Jan Bastista van Helmont (tumbuhan - air) meruntuhkan mitos bahwa makanan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Bibit (cm) Dari hasil sidik ragam (lampiran 4a) dapat dilihat bahwa pemberian berbagai perbandingan media tanam yang berbeda menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi
Pertemuan : Minggu ke 7 Estimasi waktu : 150 menit Pokok Bahasan : Respirasi dan metabolisme lipid Sub pokok bahasan : 1. Respirasi aerob 2.
Pertemuan : Minggu ke 7 Estimasi waktu : 150 menit Pokok Bahasan : Respirasi dan metabolisme lipid Sub pokok bahasan : 1. Respirasi aerob 2. Respirasi anaerob 3. Faktor-faktor yg mempengaruhi laju respirari
BAB V PEMBAHASAN. Pada penelitian ini dilakukan pengolahan limbah laboratorium dengan
BAB V PEMBAHASAN Pada penelitian ini dilakukan pengolahan limbah laboratorium dengan menggunakan gabungan metode elektrokoagulasi dan EAPR. Parameter yang digunakan yaitu logam berat Pb, Cu, COD dan ph.
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN RESPIRASI PADA TUMBUHAN. Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Fisiologi Tumbuhan
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN RESPIRASI PADA TUMBUHAN Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Fisiologi Tumbuhan yang diampu oleh Drs.Dahlia, M.Pd Disusun oleh : Kelompok II/Offering A 1. Annas
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tebu ( Saccharum officinarum L.)
3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tebu (Saccharum officinarum L.) Saccharum officinarum L., merupakan spesies tebu yang termasuk dalam kelas monokotiledon, ordo Glumaceae, famili Graminae, dan genus Saccharum
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PENELITIAN PENDAHULUAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.1 PENELITIAN PENDAHULUAN Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menentukan titik kritis pengenceran limbah dan kondisi mulai mampu beradaptasi hidup pada limbah cair tahu. Limbah
SNTMUT ISBN:
PENAMBAHAN NUTRISI MAGNESIUM DARI MAGNESIUM SULFAT (MgSO 4.7H 2 O) DAN NUTRISI KALSIUM DARI KALSIUM KARBONAT (CaCO 3 ) PADA KULTIVASI TETRASELMIS CHUII UNTUK MENDAPATKAN KANDUNGAN LIPID MAKSIMUM Dora Kurniasih
I. PENDAHULUAN. memerlukan area yang luas untuk kegiatan produksi. Ketersediaan mikroalga
I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Perairan laut Indonesia memiliki keunggulan dalam keragaman hayati seperti ketersediaan mikroalga. Mikroalga merupakan tumbuhan air berukuran mikroskopik yang memiliki
Tingkat Kelangsungan Hidup
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup merupakan suatu nilai perbandingan antara jumlah organisme yang hidup di akhir pemeliharaan dengan jumlah organisme
Antiremed Kelas 12 Biologi
Antiremed Kelas 12 Biologi UTS BIOLOGI latihan 1 Doc Name : AR12BIO01UTS Version : 2014-10 halaman 1 01. Perhatikan grafik hasil percobaan pertumbuhan kecambah di tempat gelap, teduh, dan terang berikut:
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Bentonit diperoleh dari bentonit alam komersiil. Aktivasi bentonit kimia. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan merendam bentonit dengan menggunakan larutan HCl 0,5 M yang bertujuan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Lama Pencahayaan terhadap Pertumbuhan Botryococcus braunii Botryococcus braunii merupakan organisme fotoautotrof yang menggunakan cahaya sebagai sumber energi
Gambar 4. Grafik Peningkatan Bobot Rata-rata Benih Ikan Lele Sangkuriang
Bobot ikan (g) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Laju Pertumbuhan Pertumbuhan merupakan penambahan jumlah bobot ataupun panjang ikan dalam satu periode waktu tertentu. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai
BAB I PENDAHULUAN LAPORAN TESIS BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Beberapa tahun terakhir ini krisis energi merupakan persoalan yang krusial di dunia termasuk Indonesia. Peningkatan penggunaan energi yang disebabkan oleh pertumbuhan
Effect of ammonium concentration on alcoholic fermentation kinetics by wine yeasts for high sugar content
NAMA : FATMALIKA FIKRIA H KELAS : THP-B NIM : 121710101049 Effect of ammonium concentration on alcoholic fermentation kinetics by wine yeasts for high sugar content 1. Jenis dan sifat Mikroba Dalam fermentasi
Pokok Bahasan V RANCANG BANGUN BIOREAKTOR
Pokok Bahasan V RANCANG BANGUN BIOREAKTOR Deskripsi singkat Bioreaktor (fermentor) merupakan bejana fermentasi aseptis untuk produksi senyawa oleh mikrobia melalui fermentasi. Kendala yang timbul adalah
I. PENDAHULUAN. mikroalga dikenal sebagai organisme mikroskopik yang hidup dari nutrien
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mikroalga merupakan organisme air fotoautropik uniseluler atau multiseluler (Biondi and Tredici, 2011). Mikroalga hidup dengan berkoloni, berfilamen atau helaian pada
REAKSI KIMIA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
REAKSI KIMIA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI Reaksi Kimia bisa terjadi di manapun di sekitar kita, bukan hanya di laboratorium. Materi berinteraksi untuk membentuk produk baru melalui proses yang disebut reaksi
PENDAHULUAN. terhadap produktivitas, kualitas produk, dan keuntungan. Usaha peternakan akan
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pakan menjadi salah satu faktor penentu dalam usaha peternakan, baik terhadap produktivitas, kualitas produk, dan keuntungan. Usaha peternakan akan tercapai bila mendapat
5. HASIL DAN PEMBAHASAN
27 5. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Emisi Karbondioksida (CO 2 ) yang Dikeluarkan Kendaraan Bermotor di Kota Bogor Tahun 2010 Emisi CO 2 dari kendaraan bermotor dapat diketahui dengan cara terlebih dahulu
KINERJA ALGA-BAKTERI UNTUK REDUKSI POLUTAN DALAM AIR BOEZEM MOROKREMBANGAN, SURABAYA
Program Magister Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya KINERJA ALGA-BAKTERI UNTUK REDUKSI POLUTAN DALAM AIR BOEZEM MOROKREMBANGAN,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rumput gajah berasal dari afrika tropis, memiliki ciri-ciri umum berumur
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) Rumput gajah berasal dari afrika tropis, memiliki ciri-ciri umum berumur tahunan (Perennial), tingginya dapat mencapai 7m dan akar sedalam
REAKSI GELAP DAN FOTORESPIRASI. terang. Reaksi gelap sering disebut dengan istilah daur Benson-Calvin, hal ini
REAKSI GELAP DAN FOTORESPIRASI A. Reaksi Gelap Reaksi gelap merupakan bagian dari reaksi fotosintesis yang dalam prosesnya tidak membutuhkan energi cahaya. Reaksi ini terjadi setelah reaksi terang. Reaksi
