BAB V GAMBARAN UMUM UPTD PASAR BARU BOGOR
|
|
|
- Teguh Lie
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB V GAMBARAN UMUM UPTD PASAR BARU BOGOR 5.1 Gambaran Umum UPTD Pasar Baru Bogor Penelitian ini dilakukan di UPTD Pasar Baru Bogor, merupakan salah satu dari 7 unit dari pasar yang ada di Kota Bogor. Pasar Baru Bogor ini beralamat di Jl. Surya Kencana Bogor, pasar ini mempunyai luas tanah total m 2 dan luas bangunan total m 2. Dari luas yang ada ,51 m 2 di peruntukan sebagai pertokoan, sementara sisanya untuk kios pasar dan parkir. Adapun batas-batas wilayah Pasar Baru Bogor ini sendiri adalah: Sebelah Barat : berbatasan dengan jalan Pasar Surya Kencana. Sebelah Timur : berbatasan dengan Otto Iskandardinata. Sebelah Utara : berbatasan dengan jalan Surya Kencana. Sebelah Selatan : berbatasan dengan jalan Roda. Pada awalnya Pasar Baru Bogor ini merupakan pasar kota yang diperuntukan fungsinya untuk grosir dan pasar utama di Kota Bogor. Hal ini pada kondisi berikutnya, pasar dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi, serta budaya masyarakat pemakai (konsumen), dimana dari kondisi yang ada dapat sebaran mayoritas jenis dagangan yang akhirnya di dominasi dari masyarakat agraris. Berdasarkan pengelompokkan, Pasar Baru Bogor terbagi atas 2 kelompok blok, yaitu: 1. Blok Pasar, yang terdiri dari bagaian lantai basah dan lantai kering. Bagian lantai basah menjual komoditas, sayuran, buah-buahan, daging potong (ayam dan sapi) dan olahan ikan basah dan kering. Sedangkan bagaian lantai kering di peruntukan untuk komoditas beras, bumbu, teh, kopi, telur, obat-obatan, kue-kue, plastik dan perabot serta jasa, seperti penjahit dan usaha service alat elektronik, blok ini terdapat di lantai dasar. 2. Blok Pertokoan dan Rekreasi, yang terdiri dari pertokoan emas, alat elektronik, baju-baju, bahan pakaian, serta restoran. Blok ini dimulai dari lantai I sampai lantai VI. Di areal Pasar Baru Bogor ini terdapat 3 pengelompokkan aktivitas kegiatan jual beli pasar yaitu: 1. Pasar pertama adalah Pasar Plaza/Ramayana (pertokoan) dan Restoran. 26
2 2. Pasar kedua adalah Pasar Kios, yang pengelolaanya berada di bawah Pemerintah Kota Bogor. 3. Pasar ketiga adalah Pasar Rakyat, pasar yang digunakan oleh pedagang kaki lima yang pada umumnya adalah pedagang sayuran. Pasar Baru Bogor ini letaknya bersampingan dengan Kebun Raya Bogor yang merupakan salah satu tempat wisata yang ada di Kota Bogor, Pasar Baru Bogor terletak di pusat Kota Bogor. Jalur transportasi menuju Pasar Baru Bogor ini cukup mudah karena banyak angkutan umum yang melewati Pasar Baru Bogor ini. Pada awalnya, pengelola pasar mempunyai nama Dinas Pasar dan Informasi. Pada tahun 1992, perubahan terjadi dengan Perda No. 5 Tahun 1992 seri D tanggal 13 Juni Dengan adanya perubahan tersebut namanya berubah menjadi Dinas Pengelola Pasar Kota Daerah Tingkat II Bogor. Berdasarkan Perda No. 19 Tahun 2002 yang merupakan penyempurnaan Perda No. 14 Tahun 1991, telah disusun struktur organisasi kantor pengelolaan Pasar Kota Bogor. Berikut bagan struktur organisasi UPTD Pasar Baru Bogor. Kepala UPTD Pasar Koordinator Tata Usaha Petugas Pengelola Barang Petugas Pengelola Arsip Petugas Pelayanan Perizinan Koordinator Pelayanan Retribusi Koordinator Kebersihan Pasar Koordinator Hartib Pasar Gambar 3. Struktur Organisasi UPTD Pasar Baru Bogor 27
3 Tugas dari Kepala UPTD Pasar Baru Bogor antara lain adalah : 1. Memimpin pelaksanaan tugas lingkup UPTD Pasar Baru Bogor. 2. Menyusun rencana dan program kerja UPTD Pasar Baru Bogor. 3. Mendistribusikan pekerjaan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas kepada bawahan. 4. Membimbing, mengendalikan dan mengevaluasi hasil kerja bawahan dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja. 5. Menyusun konsep kebijakan pimpinan pada UPTD Pasar Baru Bogor. 6. Menyiapkan bahan dan pedoman serta petunuk teknis pelaksanaan kegiatan pada UPTD Pasar Baru Bogor. 7. Menyusun konsep naskah dinas yang berkaitan dengan UPTD Pasar Baru Bogor. 8. Menyelenggarakan pengelolaan pasar. 9. Melaksanakan pemeliharaan kebersihan lingkungan pasar. 10. Melaksanakan penertiban dan pengawasan di lingkungan pasar 11. Menyusun RASK (Rencana Anggaran Satuan Kinerja) dan melaksanakan DASK (Daftar Anggaran Satuan Kinerja). 12. Melaksanakan kodinasi dengan dinas terkait. 13. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan. 14. Melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaan kegiatan UPTD Pasar Baru Bogor. 15. Melaksanakan tugas kedinasannya. Tugas koordinator tata usaha antara lain: 1. Mengelola urusan umum meliputi pengadaan inventaris. 2. Mengelola urusan kepegawaian meliputi kegiatan data dan disiplin pegawai. 3. Membina ketertiban administrasi dan tata laksana di lingkungan UPTD Pasar Baru Bogor. 4. Melaksanakan tugas kedinasan lain atas perintah Kepala UPTD Pasar Baru Bogor. 5. Memberikan pelayanan administrasi kepada pedagang/pemilik kios dan los. 28
4 Sedangkan tugas koordinator-koodinator yang lain, seperti koordinator retribusi pelayanan pasar adalah melaksanakan pemungutan retribusi dan membuat pembukuannya, koordinator kebersihan tugasnya adalaqh menyelenggarakan kegiatan kebersihan pasar. Dan yang terakhir koordinator ketertiban dan keamanan pasar tugasnya adalah menyelenggarakan kegiatan pengamanan, menertibkan pemasangan iklan, famplet, brosur dan sejenisnya yang tidak sesuai dengan peruntukannya de lingkungan UPTD Pasar Baru Bogor. 5.2 Karakteristik Responden Responden diambil berdasarkan lama usaha yang lebih dari 5 tahun. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden diperoleh data dan informasi untuk menggambarkan karakteristik pedagang. Beberapa karakteristik yang dimiliki oleh pedagang responden, antara lain: jenis kelamin, umur, satatus pernikahan, jumlah keluarga atau tanggungan petani, tingkat pendidikan, penguasaan atas kios atau lapak, dan pengalaman berdagang ayam ras pedaging. Berdasarkan karakteristik usia, responden dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu: responden berusia antara tahun, lalu responden dengan usia antara tahun, dan responden dengan usia tahun. Dapat dilihat bahwa tingginya persentase usia responden adalah pada kategori usia sedang dengan jumlah empat orang pedagang besar dan 12 orang pedagang kecil berusia antara 36 45, dan persentase terendah pada responden usia sebanyak empat orang pedagang besar dan dua orang pedagang kecil. Pengelompokkan umur pedagang ayam ras pedaging di pasar Bogor yang diperoleh dari wawancara dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Sebaran Responden Pedagang Ayam Ras Pedaging di Pasar Bogor Tahun 2009 Berdasarkan Tingkatan Usia No Usia Responden Pedagang Besar Pedagang Kecil (Tahun) Σ (orang) % Σ (orang) % , , ,09 Jumlah 8 100, ,00 Faktor umur sangat mempengaruhi produktivitas kerja seorang pedagang dalam menjual ayam ras pedaging. Petani yang berumur relatif muda biasanya 29
5 lebih cekatan dan cepat dalam melayani konsumen. Tetapi petani yang lebih tua biasanya mempunyai pengalaman, pedagang yang lebih tua pun biasanya menjadi pedagang besar karena semakin tua seseorang akan semakin matang dalam mengambil keputusan usahanya dan akan mempunyai banyak jaringan untuk memperoleh ayam dari peternakan langsung, hal tersebut dapat dilihat dari seluruh responden pedagang besar yang berusia antara sebanyak 50 persen. Tabel 6. Sebaran Responden Pedagang Ayam Ras Pedaging di Pasar Bogor Tahun 2009 Berdasarkan Jumlah Tanggungan No Jumlah Tanggungan Pedagang Besar Pedagang Kecil (Orang) Σ (orang) % Σ (orang) % , , , ,50 1 4,55 Jumlah 8 100, ,00 Pedagang ayam ras pedaging di pasar Bogor yang berjenis kelamin lakilaki sebanyak 23 orang atau sebesar 76,67 persen dari seluruh responden dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak tujuh orang atau sebesar 23,33 persen. Responden rata-rata berstatus sudah menikah yaitu sebesar 29 responden sudah menikah dan ada 1 orang responden yang belum menikah, tetapi juga mempunyai tanggungan yaitu adik dan orang tua. Jumlah tanggungan keluarga dua orang sebanyak tiga responden untuk pedagang besar dan 12 responden untuk pedagang kecil, jumlah tanggungan 3 5 orang sebanyak empat responden untuk pedagang besar dan sembilan responden untuk pedagang kecil, sedangkan jumlah tanggungan 6 8 orang sebanyak satu responden untuk pedagang besar dan pedagang kecil (Tabel 6). Jumlah tanggungan tidak mempengaruhi seorang responden dalam pembelian input karena para pedagang kebanyakan mengambil barang dan kemudian dibayar setelah laku terjual. Responden ayam ras pedaging di pasar Bogor mempunyai tingkat pendidikan yang berbeda-beda (Tabel 7). Sebaran tingkat pendidikan pada responden ayam ras pedaging cukup beragam, dimana responden secara umum adalah dari sekolah dasar sampai sekolah lanjutan tingkat atas. Tingkat pendidikan responden terbesar hanya sampai pendidikan sekolah dasar yaitu pedagang besar sebanyak lima responden atau sebesar 62,50 persen dan pedagang kecil sebanyak 30
6 12 responden atau sebesar 54,54 persen. Tidak ada responden yang berpendidikan sampai perguruan tinggi dan ada beberapa responden yang tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali yaitu sebanyak dua orang pedagang kecil atau sebesar 9,09 persen. Tingginya jumlah responden yang hanya mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar membuktikan bahwa untuk menjadi pedagang ayam ras tidak membutuhkan pendidikan dan keterampilan formal, dalam meraih keinginan yang dibutuhkan hanya kerja keras dan ketekunan. Tingkat pendidikan juga tidak memberikan batasan seorang pedagang untuk meraih keuntungan yang lebih banyak. Berdasarkan tingkat pendidikan, dari seluruh responden pedagang besar di pasar Bogor sebanyak lima orang atau 62,50 persen hanya mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar. Tabel 7. Sebaran Responden Pedagang Ayam Ras Pedaging di Pasar Bogor Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pendidikan No Jenjang Pendidikan Pedagang Besar Pedagang Kecil Σ (orang) % Σ (orang) % 1 Tidak Sekolah ,09 2 SD 5 62, ,54 3 SLTP ,64 4 SLTA 3 37, ,73 Jumlah 8 100, ,00 Berdasarkan status usahanya, seluruh responden ayam ras pedaging menjalankan usahanya sebagai usaha pribadi dan ada beberapa yang menjual komoditi lain, seperti menjual: Tahu dan plastik. Pada umumnya responden tidak memiliki usaha lain, sehingga menggantungkan kehidupan ekonominya pada usaha berdagang ayam ras pedaging tersebut. Usaha berdagang ayam ras pedaging sangat menunjang memenuhi kebutuhan sehari-hari pedagang dan keluarganya. Tempat pedagang ayam ras pedaging menjajakan dagangannya dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu dalam bentuk kios dan lapak. Pedagang yang berdagang dalam bentuk kios berdagang di dalam Pasar Bogor tetapi untuk yang berdagang dalam bentuk lapak dapat dipisah menjadi dua yaitu mendirikan lapak di sekitar pasar Bogor yaitu di pinggir jalan atau di dalam pasar yang menempati los jalan bagi pembeli yang berbelanja di pasar Bogor. Pedagang ayam pasar Bogor dalam status kepemilikan kios dan lapak dapat dibagi dua kategori yaitu pedagang yang memiliki kios sendiri (telah membeli kios) dan yang menyewa 31
7 kios kepada pemiliknya biasanya bos para pedagang ayam itu sendiri atau menyewa kepada pengelola pasar yang dibayar setiap bulannya. Para pedagang yang memiliki kios berjualan dari pukul hingga pukul WIB. Sedangkan pedagang yang berjualan berbentuk lapak mulai pukul hingga pukul Bahkan ada yang mulai berjualan pada pukul hingga pukul WIB. Sebaran Responden Pedagang Ayam Ras Pedaging di Pasar Bogor Tahun 2009 Berdasarkan Kepemilikan Kios dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Sebaran Responden Pedagang Ayam Ras Pedaging di Pasar Bogor Tahun 2009 Berdasarkan Kepemilikan Kios No Status Kepemilikan Pedagang Besar Pedagang Kecil Kios Σ (orang) % Σ (orang) % 1 Milik Sendiri (Kios) 5 62, Sewa (Kios&Lapak) 3 37, Jumlah 8 100, ,00 Tabel 8, menunjukkan jumlah pedagang yang menyewa lebih banyak dibandingkan dengan yang memiliki kios di pasar Bogor. Para pedagang besar memiliki kios secara pribadi karena dilihat lamanya usaha, modal yang cukup dan yang telah lama berdagang serta memiliki keterikatan dengan peternak untuk mensuplai ayam ras pedaging, pedagang besar yang memiliki kios sendiri sebanyak lima orang pedagang dan selebihnya sebanyak tiga orang menyewa kios untuk tempat berdagang. Sedangkan seluruh pedagang kecil sebanyak 22 orang memilih untuk menyewa kios dikarenakan keterbatasan modal dan tidak mempunyai jaringan yang kuat, sehingga mereka tidak mempunyai keberanian untuk berspekulasi membeli kios. Karakteristik kios dan lapak adalah: a) Kios Kios merupakan sarana untuk menjual ayam ras pedaging, bentuk bangunan bersifat permanen, lokasi kios berada di dalam pasar dan tertata dengan rapi. b) Lapak Lapak merupakan sarana untuk menjual ayam ras pedaging, bentuk bangunan tidak permanen, lokasi lapak berada di gang yang terlihat kurang tertata dengan baik. Selain itu, pedagang yang mendirikan lapak di luar Pasar Bogor menggunakan tempat yang berada di pinggir jalan raya yang kelihatan menjadi tidak teratur dan membuat pengguna jalan raya menjadi tergganggu. 32
8 Dilihat dari waktu yang digunakan, setiap pedagang di berikan waktu untuk berjualan dibagi menjadi beberapa: (a) pukul 23:00-06:00 WIB, (b) pukul 06:00-16:00 WIB. Tarif retribusi yang diberlakukan untuk setiap pedagang rata-rata Rp 5.000,- s/d Rp 9.000,- per harinya. 33
V. PASAR TRADISIONAL KOTA BOGOR
V. PASAR TRADISIONAL KOTA BOGOR 5.1. Kebijakan Pengelolaan Pasar Tradisional Kota Bogor Terdapat tujuh buah pasar tradisional yang dibangun oleh Pemerintah Kota Bogor untuk menunjang perekomomian dan memenuhi
BAB VI ANALISIS USAHA AYAM RAS PEDAGING DI PASAR BARU BOGOR
BAB VI ANALISIS USAHA AYAM RAS PEDAGING DI PASAR BARU BOGOR 6.1 Gambaran Lokasi Usaha Pedagang Ayam Ras Pedaging Pedagang di Pasar Baru Bogor terdiri dari pedagang tetap dan pedagang baru yang pindah dari
WALIKOTA SOLOK PROVINSI SUMATERA BARAT
WALIKOTA SOLOK PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN WALIKOTA SOLOK NOMOR : 15 TAHUN 2016 TENTANG PERUNTUKAN KAWASAN PASAR MENURUT JENIS USAHA, FASILITAS UMUM PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DAN PEMANFAATAN TANAH
BAB VI. KARAKTERISTIK PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR
BAB VI. KARAKTERISTIK PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR 6.1 Karakteristik Pedagang Martabak Kaki Lima di Kota Bogor Martabak merupakan salah satu jenis makanan yang
BAB III GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. tentang latar belakang berdirinya pasar ini, pasar Gorong ini sudah ada
87 BAB III GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Sejarah Berdiriya Pasar Tradisional Gorong Kecamatan Kandeman Kabupaten Batang Pasar Gorong merupakan pasar tradisional kecamatan Kandeman kabupaten Batang
BAB II GAMBARAN UMUM DINAS PASAR KABUPATEN DELI SERDANG. A. Sejarah Singkat Dinas Pasar Kabupaten Deli Serdang
BAB II GAMBARAN UMUM DINAS PASAR KABUPATEN DELI SERDANG A. Sejarah Singkat Dinas Pasar Kabupaten Deli Serdang Dinas Pasar Kabupaten Deli Serdang pada mulanya bernama Perpas ( Perusahaan Pasar ) yang merupakan
IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak dan Kondisi Fisik Wilayah
IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak dan Kondisi Fisik Wilayah Kabupaten Bogor merupakan salah satu kabupaten dalam wilayah Propinsi Jawa Barat yang pada tahun 2004 memiliki luas wilayah 2.301,95 kilometer persegi
BAB V GAMBARAN UMUM RESPONDEN
BAB V GAMBARAN UMUM RESPONDEN 5.1. Usia Usia responden dikategorikan menjadi tiga kategori yang ditentukan berdasarkan teori perkembangan Hurlock (1980) yaitu dewasa awal (18-40), dewasa madya (41-60)
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Pada penelitian yang berjudul Pasar Tradisional Mandiraja, Banjarnegara
28 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Pada penelitian yang berjudul Pasar Tradisional Mandiraja, Banjarnegara ditinjau dari segi sosial dan ekonomi dari tahun 2001-2014 ini, berlokasi di kecamatan
BAB III GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN
BAB III GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN A. Deskripsi Obyek Penelitian 1. Letak Pasar Tradisional Ngaliyan Pasar Ngaliyan secara administratif terletak di kecamatan Ngaliyan yang berada di bagian barat kota
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. yang mana wilayah ini terletak di jantung Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru,
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak dan Geografis Pasar Simpang Baru Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru yang menjadi objek penelitian adalah salah satu dari 6 UPTD yang terdapat di Kota Pekanbaru,
LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 76 TAHUN : 2007 SERI : C PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 7 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN PASAR
LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 76 TAHUN : 2007 SERI : C PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 7 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN PASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CIMAHI, Menimbang : a.
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Keadaan Umum Wilayah Kota Bogor Kota Bogor terletak diantara 16 48 BT dan 6 26 LS serta mempunyai ketinggian minimal rata-rata 19 meter, maksimal 35 meter dengan
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Lokasi dan Kondisi Geografis Desa Citapen Lokasi penelitian tepatnya berada di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berdasarkan data Dinas
KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 33 TAHUN 2004 TENTANG
WALIKOTA TASIKMALAYA KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 33 TAHUN 2004 TENTANG URAIAN TUGAS UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PENGELOLAAN PARKIR PADA DINAS PERHUBUNGAN KOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA
PERDA KOTA KEDIRI NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI JASA USAHA 23 HLM, LD No 5
RETRIBUSI JASA USAHA 2012 PERDA KOTA KEDIRI NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI JASA USAHA 23 HLM, LD No 5 ABSTRAK : - bahwa retribusi daerah digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan
PERATURAN WALIKOTA BANDUNG NOMOR :117 TAHUN 2008 TENTANG TARIF JASA PELAYANAN PERUSAHAAN DAERAH PASAR BERMARTABAT KOTA BANDUNG WALIKOTA BANDUNG,
BERITA DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2008 NOMOR :07 PERATURAN WALIKOTA BANDUNG NOMOR :117 TAHUN 2008 TENTANG TARIF JASA PELAYANAN PERUSAHAAN DAERAH PASAR BERMARTABAT KOTA BANDUNG WALIKOTA BANDUNG, Menimbang
BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PASAR SELASA PANAM PEKANBARU. A. Sejarah Singkat Pasar Selasa Panam Pekanbaru
BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PASAR SELASA PANAM PEKANBARU A. Sejarah Singkat Pasar Selasa Panam Pekanbaru Pasar Selasa Panam merupakan salah satu pasar yang berada di Kecamatan Tampan kota pekanbaru, pasar
KUESIONER Pertanyaan Untuk Pebelanja. Kelurahan :.. Kecamatan :.. Kota :.. DKI Jakarta
Lampiran 1 KUESIONER Pertanyaan Untuk Pebelanja A. Identitas Responden 1. Nama : 2. Alamat : Jl. RT./ RW. Kelurahan :.. Kecamatan :.. Kota :.. DKI Jakarta 3. Status gender : 1. Lelaki / 2. Perempuan 4.
STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PASAR GROSIR/PERTOKOAN
LAMPIRAN II : PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIREBON STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PASAR GROSIR/PERTOKOAN 1. Retribusi pedagang d areal pasar terdiri dari : A. Retribusi pelayanan pasar sebesar : 1)
VI KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN
VI KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN Karakteristik umum dari responden pada penelitian ini diidentifikasi berdasarkan jenis kelamin, usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, pendapatan di luar usahatani
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Area Pasar;
PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN AREA PASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang :
JURNAL EKONOMI Volume 22, Nomor 1 Maret 2014 ANALISIS SUMBER MODAL PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA PEKANBARU. Toti Indrawati dan Indri Yovita
ANALISIS SUMBER MODAL PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA PEKANBARU Toti Indrawati dan Indri Yovita Jurusan Ilmu Ekonomi Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Riau Kampus Bina Widya Km
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK,
BUPATI TRENGGALEK SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERLINDUNGAN, PEMBINAAN PASAR
BAB II SOSIAL DEMOGRAFIS TINJAUAN LOKASI PENELITIAN. Kecamatan Ukui yang ibukotanya pangkalan Kerinci
15 BAB II SOSIAL DEMOGRAFIS TINJAUAN LOKASI PENELITIAN A. Kecamatan Ukui 1. Geografis Kecamatan Ukui Kecamatan Ukui yang ibukotanya pangkalan Kerinci merupakan salah satu Kecamatan yang termasuk dalam
BAB I PENDAHULUAN. Tahun (juta orang)
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Meningkatnya jumlah penduduk dan adanya perubahan pola konsumsi serta selera masyarakat telah menyebabkan konsumsi daging ayam ras (broiler) secara nasional cenderung
Bab 5. Jual Beli. Peta Konsep. Kata Kunci. Jual Beli Penjual Pembeli. Jual Beli. Pasar. Meliputi. Memahami Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Rumah
Bab 5 Jual Beli Peta Konsep Jual Beli Membahas tentang Memahami Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Rumah Memahami Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Sekolah Meliputi Meliputi Toko Pasar Warung Supermarket
V GAMBARAN UMUM DESA CIMANGGIS
V GAMBARAN UMUM DESA CIMANGGIS 5.1. Karakteristik Wilayah Kabupaten Bogor memiliki kuas wilayah 299.428,15 hektar yang terbagi dari 40 kecamatan. 40 kecamatan dibagi menjadi tiga wilayah yaitu wilayah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemenuhan kebutuhan primer masyarakat seperti kebutuhan akan sandang, pangan dan papan merupakan kebutuhan yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemenuhan kebutuhan primer masyarakat seperti kebutuhan akan sandang, pangan dan papan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi untuk kelangsungan hidup masyarakat.
BAB 4 KONSEP PERANCANGAN
BAB 4 KONSEP PERANCANGAN 4.1. Konsep Makro Perancangan pasar tradisional bantul menerapkan pendekatan analogi shopping mall. Yang dimaksud dengan pendekatan analogi shopping mall disini adalah dengan mengambil
BAB I PENDAHULUAN. seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal ini tentunya membuat jumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semenjak krisis ekonomi tahun 1997 perekonomian Indonesia semakin terpuruk. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di sektor formal yang menutup usahanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki pasar baik pasar tradisional maupun pasar modern. Berbagai jenis pasar di Indonesia diantaranya pasar
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DESEMBER 2016 TERJADI INFLASI SEBESAR 0,37 PERSEN Desember 2016 IHK Karawang mengalami kenaikan indeks. IHK dari 128,32 di Bulan November 2016 menjadi 128,80
BUPATI MADIUN BUPATI MADIUN,
BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN DI KABUPATEN MADIUN BUPATI MADIUN, Menimbang : a.
KEADAAN UMUM WILAYAH. ke selatan dengan batas paling utara adalah Gunung Merapi.
IV. KEADAAN UMUM WILAYAH Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, secara makro Kabupaten Sleman terdiri dari daerah dataran rendah yang subur pada bagian selatan,
BERITA RESMI STATISTIK
10.01 BERITA RESMI STATISTIK BPS KABUPATEN BATANG No. 02/Th. XVII, Februari 2017 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI Di Kabupaten Batang Bulan Januari 2017 1,04 persen Pada bulan Januari 2017 di
KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 31 TAHUN 2004 TENTANG
WALIKOTA TASIKMALAYA KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 31 TAHUN 2004 TENTANG URAIAN TUGAS UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR PADA DINAS PERHUBUNGAN KOTA TASIKMALAYA WALIKOTA
BERITA RESMI STATISTIK BPS KABUPATEN PEMALANG
BERITA RESMI STATISTIK BPS KABUPATEN PEMALANG No.04/01/3327/2015. 5 Januari 2015 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DI KABUPATEN PEMALANG Bulan Desember 2014 Inflasi 1,92 persen Pada, Kabupaten
BAB I PENDAHULUAN. jumlah penduduk yang pada gilirannya merupakan penawaran tenaga kerja yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan Pembangunan Nasional adalah mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Pembangunan merupakan suatu proses perubahan yang sedang berlangsung
BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN BLITAR
BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN BLITAR BUPATI BLITAR, Menimbang : a. bahwa untuk pelaksanaan
WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT
WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 33 TAHUN 2015 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, Menimbang
PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI
No. 04/03/Th. XVI, 1 Maret 2013 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI BULAN FEBRUARI 2013 SEBESAR 97,22 PERSEN NTP Provinsi Sulawesi Tengah (NTP-Gabungan) bulan Februari 2013 sebesar 97,22
I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN PASAR TRADISIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN PASAR TRADISIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LAMPUNG TIMUR, Menimbang : a. bahwa pasar tradisional merupakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Astri Nuraeni Kusumawardani, 2014
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi problema bagi para pedagang, di satu sisi mereka akan mendapatkan keuntungan yang lebih karena adanya kenaikan harga, tapi di
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pasar memegang peran penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pasar memegang peran penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat Indonesia selain sebagai muara dari produk-produk rakyat, pasar juga berfungsi sebagai tempat
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Menurut Badan Pusat Statistik (2012), Kota Bandar Lampung merupakan
46 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Penelitian Menurut Badan Pusat Statistik (2012), Kota Bandar Lampung merupakan ibukota Propinsi Lampung. Oleh karena itu, selain merupakan
BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 41 TAHUN 2012 TENTANG
BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 41 2012 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 41 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR 07 TAHUN 2012 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN
LOKASI PENELITIAN. Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu merupakan salah dua Desa yang berada
IV. LOKASI PENELITIAN A. Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu merupakan salah dua Desa yang berada dinaungan Kecamatan Sungkai Utara Kabupaten Lampung Utara Berdasarkan Perda
BUPATI CILACAP PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN PASAR DI KABUPATEN CILACAP
BUPATI CILACAP PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN PASAR DI KABUPATEN CILACAP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CILACAP, Menimbang : a. bahwa dalam rangka
BAB II TINJAUAN TENTANG PASAR MODERN
BAB II TINJAUAN TENTANG PASAR MODERN 2.1 Pengertian Umum Tentang Pasar 1 Pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar
BAB II LANDASAN TEORI. maka perlu didukung dari penelitian-penelitian terdahulu yang membahas
BAB II LANDASAN TEORI A. Review Penelitian Terdahulu Berkaitan dengan topik yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini, maka perlu didukung dari penelitian-penelitian terdahulu yang membahas penelitian
- Validitas Konstruksi LAMPIRAN 1
- Validitas Konstruksi LAMPIRAN 1 Lampiran L1-1 Validitas Konstruksi Lampiran L1-2 Validitas Konstruksi Lampiran L1-3 Validitas Konstruksi - Kuesioner Pendahuluan LAMPIRAN 2 - Data Mentah Kuesioner Pendahuluan
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI SEPTEMBER 2016 TERJADI INFLASI SEBESAR 0,25 PERSEN September 2016 IHK Karawang mengalami kenaikan indeks. IHK dari 127,19 di Bulan Agustus 2016 menjadi 127,51
PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI WAY KANAN,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI WAY KANAN, Menimbang : a. bahwa dengan diberlakukannya Undang-Undang
PEMERINTAH KOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA
LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN : 2001 NOMOR : 14 SERI D NOMOR 12 PEMERINTAH KOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2001 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PERANGKAT DAERAH
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI
No. 10/10/Th.III, 4 Oktober 2016 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DI KUDUS BULAN SEPTEMBER 2016 INFLASI 0,04 PERSEN Pada September 2016 di Kudus terjadi inflasi sebesar 0,04 persen dengan Indeks
KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 32 TAHUN 2004 TENTANG
WALIKOTA TASIKMALAYA KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 32 TAHUN 2004 TENTANG URAIAN TUGAS UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PENGELOLAAN TERMINAL PADA DINAS PERHUBUNGAN KOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Mari Elka Pangestu,Menteri Perdagangan, Potensi pasar tradisional di Indonesia sangat besar sebab retribusi dari pasar tradisional cukup besar kontribusinya
I Z I N P E N G G U N A A N K I O S D A N L O S P A S A R D E N G A N R A H M A T T U H A N Y A N G M A H A E S A
B U P A T I B A T A N G P E R A T U R A N B U P A T I B A T A N G N O M O R 2 ( S ' T A H U N 2 0 1 4 T E N T A N G I Z I N P E N G G U N A A N K I O S D A N L O S P A S A R D E N G A N R A H M A T T U
PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS
PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS Kecamatan Tomoni memiliki luas wilayah 230,09 km2 atau sekitar 3,31 persen dari total luas wilayah Kabupaten Luwu Timur. Kecamatan yang terletak di sebelah
PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG
PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS POKOK, FUNGSI DAN URAIAN TUGAS SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN KUNINGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. sebagai pusat kegiatan pemerintahan, politik, pendidikan, kebudayaan,
31 IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN A. Gambaran Umum Wilayah Kota Bandar Lampung merupakan Ibukota Provinsi Lampung yang dijadikan sebagai pusat kegiatan pemerintahan, politik, pendidikan, kebudayaan,
VI. KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN DAN PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN MOCI KASWARI LAMPION. mengetahui, mengenal serta mengkonsumsi moci Kaswari Lampion.
VI. KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN DAN PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN MOCI KASWARI LAMPION 6. Karakteristik Umum Responden Karakteristik umum responden dalam penelitian ini dilihat dari jenis kelamin, alamat,
INDEKS TENDENSI KONSUMEN JAWA TENGAH TRIWULAN I-2014
No.30/05/33/Th.VIII, 5 Mei 2014 INDEKS TENDENSI KONSUMEN JAWA TENGAH TRIWULAN I-2014 A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Faktor-faktor yang dipentingkan konsumen dalam memilih toko swalayan
STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT.
STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Statistik Daerah Kecamatan Air Dikit 214 Halaman ii STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Nomor ISSN : - Nomor Publikasi
BAB II GAMBARAN UMUM DINAS PERTAMANAN KOTA MEDAN. A. Sejarah Singkat Dinas Pertamanan Kota Medan
BAB II GAMBARAN UMUM DINAS PERTAMANAN KOTA MEDAN A. Sejarah Singkat Dinas Pertamanan Kota Medan Dinas Pertamanan adalah unsur pelaksana Pemerintah Kota Medan dalam bidang pertamanan yang dipimpin oleh
PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI
No. 04/04/Th. XV, 2 April 2012 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI BULAN MARET 2012 SEBESAR 97,86 PERSEN NTP Provinsi Sulawesi Tengah (NTP-Gabungan) bulan Maret 2012 sebesar 97,86 persen,
V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1 Gambaran Umum Perusahaan Perusahaan ini berdiri pada tahun 2001 dengan pengusahaan pada berbagai komoditi pertanian seperti budidaya ikan, budidaya manggis, budidaya pepaya,
BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR
BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 37 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Setelah melakukan pengolahan data dan analisis pada bab sebelumnya, maka diperoleh beberapa kesimpulan antara lain: 1. Faktor faktor yang dianggap penting oleh
BAB I PENDAHULUAN. yang pesat memberikan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sisi retribusi
BAB I PENDAHULUAN Bab ini memaparkan mengenai latar belakang dan motivasi penelitian. Latar belakang dari penelitian ini memaparkan perkembangan pasar Klithikan Pakuncen yang pesat memberikan potensi Pendapatan
