BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Ade Doddy Susanto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fluor Fluorida adalah suatu elemen alami yang dapat ditemukan pada air minum dan di dalam tanah pada berbagai konsentrasi. Fluorida merupakan mineral yang sangat bermanfaat dan dapat di temui pada tubuh manusia. Dalam tubuh manusia, fluorida dapat ditemukan pada struktur yang terkalsifikasi seperti di tulang dan gigi. Konten fluorida pada tubuh tergantung oleh asupan makanan dan air yang dikonsumsi (Palmer 2007, p.158). Jumlah total asupan fluor orang dewasa biasanya berkisar antara 0,2-2,0 mg fluor/hari. Konsentrasi fluor yang umum pada sumber air berkisar antara <0,1 mg/liter (Buzalaf 2011, p.2) Susunan dan sifat fluor Ion fluor dalam penggolongan secara kimiawi termasuk dalam golongan halogen (Golongan 2A). Persenyawaan kimia dalam bentuk fluor paling banyak terdapat sebagai fluorspar (CaF 2 ), fluorapatit (Ca 10 F 2 (PO 4 ) 6 F 2 ), atau cryolite. Fluor merupakan unsur yang menunjukkan semua bentuk elemen (ionized, ionizable, atau nonionizable) yang artinya adalah suatu unsur kimia yang sangat elektronegatif dibandingkan unsur kimia yang lain. Dengan unsur yang kecil, afinitas elektron yang tinggi dan ikatan dengan unsur lainnya yang lemah menyebabkan fluor mempunyai reaktifitas yang kuat dengan elemen jenis lain. (Wei, 1988; Fejerskov dkk, 1996). Beberapa ion fluor larut dalam air, akan tetrapi
2 fluor yang berikatan dengan lithium, alumunium, stronikum, barium, magnesium, kalsium, dan manganese hanya sedikit yang larut. Campuran kovalen biasanya ditemukan dalam bentuk non-metal, seperti silicone tetra fluoride dan sulfur heksa fluoride (Fejerskov dkk, 1996) Metabolisme dan ekskresi fluor Ion-ion fluor 96% diabsorbsi melalui saluran pencernaan yakni pada lambung dan usus kecil. Setelah masuk pencernaan, fluor diabsorbsi selama menit, terutama melalui mukosa usus dan lambung. Absorbsi fluor berlangsung lebih cepat bila lambung kosong. Konsentrasi tinggi ion fluor yang keluar dari mukosa pada saluran sistem pencernaan akan melewati konsentrasi yang lebih rendah secara fisikokimiawi pada daerah sekitar mukosa intestinal dan sistem sirkulasi (Ferguson 2006, p ). Distribusi fluor berlangsung cepat mengikuti dosis fluor dalam rongga mulut. Konsentrasi fluor dalam darah akan mencapai puncaknya sekitar satu jam setelah konsumsi fluor dan selanjutnya akan menurun. Empat jam kemudian konsentrasi fluor dalam plasma akan menjadi normal kembali, yakni sekitar 0,10 sampai 0,15 ppm. Sekitar 75% fluor akan disimpan dalam plasma, dan keseimbangannya terdapat dalam sel darah merah. 90% fluor dalam plasma terikat dan bersifat non-exchangeable (Ferguson 2006, p ) % fluor dalam tubuh akan diekskresikan melalui urin. Selain itu sekitar 5-10% dapat diekskresikan juga melalui feses, keringat, kelenjar air susu, kelenjar saliva, dan cairan gingiva. Tetapi dalam jumlah yang sangat kecil. (Ferguson 2006, p ).
3 Dalam struktur gigi, fluor terdeposit dalam enamel melalui jalur sistemik ketika gigi tumbuh dan dalam fase pematangan. Pada geligi dewasa, fluor yang ada di dalam lingkungan rongga mulut masuk melalui enamel dengan mekanisme fisikokimiawi. Konsentrasi fluor pada enamel individu yang secara rutin mengkonsumsi air minum dengan kadar fluor 1 ppm, dapat mencapai ppm pada permukaan luar. Fluor juga berpenetrasi pada bagian enamel ayng mengalami demineralisasi akibat terbentuknya lesi karies yang baru (Palmer 2007, p.159) Intake dan toksisitas fluor Secara optimal intake fluorida ditentukan antara 0,05 sampai 0,07 mg/kg berat badan per hari. Menurut Mc Clure, untuk anak anak usia 1-12 tahun, intake yang paling optimal adalah 0,05 mg/kg berat badan, sementara menurut Farkas, intake yang paling optimal untuk pencegahan karies tanpa menimbulkan fluorosis adalah 0,06 mg/kg berat badan untuk anak usia 1-12 tahun (Buzalaf 2011, p.2). Jaringan gigi biasanya menunjukkan tanda-tanda awal terjadinya toksisitas. Mottled enamel merupakan suatu manifestasi awal konsumsi fluor yang berlebihan. Paparan fluor dalam konsentrasi tinggi dan lama akan menyebabkan terjadinya destruksi gigi. Peningkatan di atas 1 mg fluor/liter pada air minum akan menunjukkan tanda-tanda klinis terjadinya toksisitas. Pada penderita fluorosis, konsentrasi fluor dalam darah meningkat dari konsentrasi normal yakni ± 0,04 µg/ml menjadi 0,5-8,0 µg/ml (Kidd 2005, p.110).
4 Tabel 2.1 : Tabel perbandingan indeks DMFT dan indeks fluorosis terhadap kandungan fluorida dalam saliva (Cameron 2003, p.41) Tanda-tanda awal asupan fluorida yang berlebihan adalah timbulnya belang belang pada enamel (fluoresed) saat masa erupsi gigi. Secara klinis timbul variasi berupa garis-garis putih yang halus pada enamel, kecoklatan, hingga berwarna kehitaman. Bahkan enamel juga bisa pecah ketika erupsi gigi sedang berlangsung. Tingkat keparahan fluorosis tergantung pada seberapa besar jumlah fluorida yang tertelan, waktu, dan kerentanan individu, misalkan berat badan penderita (Kidd 2005, p.113) Mekanisme kerja fluor dalam mencegah karies Terapi fluor dalam konsentrasi yang tepat dapat berperan dalam menghambat proses demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi enamel dan dentin, baik penggunaan secara topikal dalam bentuk obat kumur, varnish, maupun kegunaan lain seperti pasta gigi (Eakle et al. 2004, p.462).
5 Mineral enamel tersusun dari kristal apatit yang terdiri dari ion kalsium (Ca 2+ ), fosfat (PO 3-4 ) dan hidroksil-apatit atau Ca 10 (PO 4 ) 6 (OH) 2-. Setiap gugus ion dapat disubtitusi oleh ion lain, dan bila ion fluor (F-) menggantikan gugus OHakan membentuk fluorapatit atau Ca(PO 4 ) 6 F 2. Fluor dapat dijumpai pada jaringan keras karena afinitasnya yang besar terhadap jaringan tulang dan mineral gigi. Kekerasan dari tulang dan gigi disebabkan oleh kadar senyawa kalsiumfosfat yang tinggi dan diantara senyawa kalsiumfosfat, hidroksilapatit merupakan senyawa yang memegang peranan yang paling penting (Eakle et al. 2004, p.462). Ketika fluor dikonsumsi dan melekat pada enamel, akan terjadi reaksi permulaan terbentuknya endapan kalsium fluorida di permukaan enamel yang jumlahnya lebih banyak daripada terbentuknya fluorapatit di reaksi yang kedua (Eakle et al. 2004, p.462). Ca 10 (PO 4 ) 6 (OH) F Hidroksil-apatit 10CaF PO 4 + 2OH Kalsium fluorida CaF 2 tidak terikat kuat dan secara bertahap akan terlepas. Karena CaF2 dapat larut sedikit demi sedikit di dalam air, kebanyakan zat ini akan larut dan hilang dalam beberapa jam setelah terapi, tetapi sebagian diikat oleh enamel. Selanjutnya reaksi kedua akan terbentuk sebagai berikut (Eakle et al. 2004, p.462). Ca 10 (PO 4 ) 6 (OH) F Hidroksil-apatit Ca 10 (PO 4 ) 6 F 2 + 2OH Fluorapatit Pada reaksi ini terjadi pertukaran langsung antara ion OH - dan ion F -, reaksi pertukaran ini tergantung dari ph, dimana pada ph 4 reaksi akan berlangsung lebih cepat dibandingkan reaksi pada ph 7 (Welbury et al., 2005
6 p.133), karena pada ph rendah akan terbentuk hasil berupa ikatan kalsiumfosfat yang disebut dengan brushit (Eakle et al. 2004, p.462). Efek fluor secara topikal dalam menghambat karies meliputi 3 mekanisme. Mekanisme pertama, yaitu sifat antibakteri fluor yang bekerja pada plak dengan ph rendah dengan cara membentuk asam hidrofluorik yang akan mempengaruhi kerja enzim yang berhubungan dengan proses glikolisis. Mekanisme yang kedua yaitu fluor menghambat kelarutan kalsium dan fosfat pada permukaan enamel pada lesi karies dini pada waktu terjadi proses demineralisasi. Mekanisme yang ketiga, fluor menambah remineralisasi dengan cara pengendapan kalsium dan fosfat pada permukaan enamel agar terjadi rekristalisasi sehingga lebih tahan terhadap asam (Jeevarathan 2007, p.4-6). Penelitian yang dilakukan oleh Puig-Silla dkk menunjukkan bahwa pemberian obat kumur pada kristal enamel secara in vitro menggunakan Sodium fluorida 0,05% meningkatkan persentase remineralisasi sebesar 38,43% (Puig-Silla 2009, p.260). Peningkatan kadar fluorida diharapkan akan dapat mencegah terjadinya karies melalui tiga tahap, yaitu melalui efek antibakteri, peningkatan remineralisasi dan penurunan demineralisasi enamel. Fluor memiliki kemampuan dalam menghambat produksi polisakarida oleh bakteri kariogenik sehingga menurunkan perlekatan plak dan mengurangi koloni bakteri. Selain itu, fluor juga dapat menghambat metabolisme karbohidrat oleh bakteri sehingga hasil sampingan berupa asam dapat dikurangi. Ketika asam dihasilkan karena metabolisme karbohidrat, penurunan ph akan memicu reaksi fluor berlangsung lebih cepat (Welbury et al. 2005, p.133). Semakin banyak kadar fluor yang ada,
7 maka reaksi yang terjadi juga akan semakin banyak. Rilis fluor akan bereaksi dengan hidroksiapatit dan menghasilkan fluorapatit, suatu lapisan kristal enamel baru yang lebih kuat dan lebih tahan asam sehingga demineralisasi dapat dihambat. Proses terbentuknya kristal baru tersebut (remineralisasi) berlangsung terus menerus. Peningkatan kadar fluor dari aplikasi obat kumur yang mengandung fluorida diharapkan dapat meghambat aktivitas karies (Koplan 2001, p.4). Gambar2.1 : Mekanisme fluorida dalam mencegah karies (Koplan 2001, p.4) Fluor merupakan salah satu agen kariostat yang paling efektif dalam kedokteran gigi terutama kedokteran gigi anak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jeevarathan, aplikasi topikal fluorida dapat menurunkan koloni Streptococcus mutans pada plak setelah 24 jam secara signifikan. Fluor memiliki
8 kemampuan mengurangi metabolisme karbohidrat dan menghambat produksi asam sehingga pertumbuhan plak akan melambat. (Jeevarathan 2007, p.4-6) Asupan fluor pada anak Banyak penelitian yang telah menunjukkan suplemen fluorida terhadap efektivitas antikariogenik. Jika anak-anak tidak mendapatkan fluoridasi air minum yang optimal, maka dosis suplemen fluorida harus ditentukan brdasarkan tabel di bawah ini. Tabel 2.2. Dosis pemberian fluorida pada anak (McDonald 2004, p.231) Kandungan fluorida alami yang terdapat pada air minum harus segera ditentukan. Jika kandungan fluorida dalam air minum sebesar 0,06 ppm atau lebih tinggi, suplemen tidak boleh diberikan. Jika konten fluorida di bawah 0,06ppm, maka pemberian fluorida harus ditentukan berdasarkan tabel tersebut (McDonald 2004, p.231). 2.2 Saliva Saliva yang dihasilkan kelenjar saliva sangat berguna dalam rongga mulut. Kelenjar saliva dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu: kelenjar saliva mayor
9 (parotis, submandibularis, dan lingualis) dan kelenjar saliva minor/kelenjar saliva aksesoris (labial, bukal, palatinal, lingual, glossopalatinal). Pada kelenjar saliva mayor, intensitas saliva yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan kelenjar minor. Menurut jumlahnya kelenjar saliva minor mencapai buah. Setiap kelenjar saliva mempunyai ciri khas dan fungsi yang berbeda-beda tergantung dari tipe sekret yang dihasilkannya. sekret yang dapat kita temui didalam kelenjar saliva ini antara lain: mukous, serous, dan seromukous. (Guyton and Hall 2006, p.835). Saliva memegang peranan penting di dalam proses pelumasan sehingga kondisi rongga mulut tetap basah pada saat terjadi proses pengunyahan makanan dan mempermudah proses penelanan. Saliva juga berperan didalam pelarut makanan, pelembab pada bibir, mulut, lidah serta membantu berbicara. Didalam menjaga kebersihan rongga mulut, saliva merupakan salah satu cairan yang dapat menyingkirkan debris makanan sehingga berpengaruh terhadap angka karies Fungsi saliva Bakteri patogen yang ditemukan dalam rongga mulut dapat mengakibatkan kerusakan jaringan dan juga menimbulkan karies gigi. Saliva membantu mencegah proses kerusakan tersebut dengan beberapa cara: 1. Saliva membantu menurunkan akumulasi plak dengan mengurangi perlekatan bakteri patogen dan partikel-partikel makanan yang memberi dukungan metabolik bagi bakteri. 2. Saliva mengandung beberapa faktor yang dapat menghancurkan bakteri. Salah satunya adalah ion tiosianat dan beberapa enzim proteolitik, terutama
10 lisosim. Enzim ini bekerja dengan cara menyerang bakteri, membantu ion tiosianat memasuki bakteri, nantinya ion tiosianat ini akan bersifat bakterisidal. Selain itu enzim ini dapat mencerna partikel-partikel makanan, sehingga dapat membantu menghilangkan pendukung metabolisme bakteri lebih lanjut. 3. Saliva mengandung sejumlah besar antibodi protein yang dapat menghancurkan bakteri rongga mulut, termasuk yang menyebabkan karies gigi. Selain itu masih terdapat fungsi lain dari saliva, di antaranya membasahi elemen-elemen gigi, yang akan mengurangi keausan oklusi yang disebabkan adanya daya pengunyahan, serta adanya sistem buffer, sehingga naik turunnya ph dapat ditekan dan dekalsifikasi elemen gigi dapat dihambat (Guyton and Hall 2006, p.835) Sekresi saliva Cairan dalam rongga mulut tersusun atas cairan yang di sekresikan dari kelenjar saliva dan komponen-komponen serum melalui cairan krevikular. Secara kuantitatif, cairan rongga mulut terbesar berasal dari kelenjar-kelenjar saliva. Kelenjar saliva yang utama adalah kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis; selain itu juga ada beberapa kelenjar bukalis kecil. Sekresi saliva normal sehari-hari berkisar antara 800 sampai 1500 mililiter dengan ph antara 6,0-7,4 yang berguna untuk kerja enzym ptialin (Guyton and Hall 2006, p.835). Saliva mengandung dua tipe sekresi protein yang utama:
11 1. Sekresi serous yang mengandung ptialin yang merupakan enzim yang digunakan untuk mencerna karbohidrat 2. Sekresi mucous yang mengandung mucin untuk tujuan pelumasan dan perlindungan mukosa rongga mulut. Kelenjar parotis mensekresi tipe mukous sedangkan kelenjar submandibularis dan sublingualis mensekresi tipe serous maupun mukous (Guyton and Hall 2006, p.835). Kelenjar saliva dapat dirangsang dengan berbagai cara, diantaranya: 1. Mekanis, misalnya mengunyah makanan keras atau permen karet 2. Kimiawi, oleh rangsangan rasa seperti rasa asam, asin, pahit, dan pedas 3. Meuronal, melalui sistem saraf otonom, baik simpatis maupun parasimpatis 4. Kondisi psikis, stres dapat menghambat sekresi saliva, sedangkan kemarahan dan ketegangan dapat bekerja sebagai stimulasi 5. Rangsangan rasa sakit, misalnya oleh radang seperti gingivitis, dan pemakaian protesa dapat menstimulasi sekresi saliva Kadar fluor dalam saliva Laju aliran saliva merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam proses pencegahan karies karena kemampuannya dalam membersihkan gigi atau self cleansing (Clinch 2010, P.15). Kadar fluor dalam saliva dipengaruhi oleh konsentrasi fluor dalam air minum dan makanan yang dikonsumsi. Konsenrtrasi fluorida dalam saliva ketika disekresikan oleh kelenjara saliva sangat rendah, yaitu sekitar 0,016 ppm di daerah yang menggunakan fluoridasi air minum, dan hanya 0,006 ppm di daerah yang tidak menggunakan fluoridasi air minum. Jumlah
12 fluor tersebut jelas merupakan angka yang sangat rendah dan hampir tidak memberikan efek anti karies, sehingga dibutuhkan tambahan asupan fluorida berupa fluoridasi air minum, menggosok gigi dengan pasta gigi, atau menggunakan produk fluorida lain sehingga dapat meningkatkan konsentrasi fluorida dalam saliva di mulut kali lebih banyak. Konsentrasi fluor tersebut akan menurun kembali seperti awal setelah 1-2 jam, akan tetapi selama rentang waktu tersebut, saliva memberikan peran yang penting sebagai sumber utama fluorida di plak untuk memacu remineralisasi sehingga menhambat proses karies (Koplan 2001, p.4) Aktivitas saliva dalam menghambat karies Secara teoritis, saliva dapat berperan dalam menghambat proses karies dalam berbagai cara, diantaranya: (Kidd 2005, p.135) Aliran saliva dapat mengurangi akumulasi plak pada permukaan gigi dan menjadi self cleansing karbohidrat di dalam rongga mulut. Komponen saliva seperti kalsium, fosfat, hidroksil, dan ion fluorida dapat berdifusi ke dalam plak untuk mengurangi kelarutan enamel dan meningkatkan remineralisasi lesi karies dini. Sistem buffer dalam saliva yang diperankan oleh carbonic acid-bicarbonate, seperti amonia dan urea dapat menetralisasi ph saliva ketika bakteri memetabolisme karbohidrat. PH dan kapasitas buffer saliva sangat dipengaruhi oleh tingkat sekresi saliva. ph dari kelenjar parotis akan meningkat dari 5,5 hingga 7,4 ketika aliran saliva meningkat tinggi, sementara ph kelenjar submandibular akan meningkat dari 6,4-7,1.
13 Peningkatan sekresi saliva juga akan berbanding lurus dengan semakin tinggi nya kemampuan buffer. Beberapa komponen non-imunologi dalam saliva seperti lysozime, lactoperoxidase, dan lactoferrin memiliki pangaruh langsung pada bakteri plak untuk mengurangi kemampuan bakteri tersebut dalam metabolisme sehingga tidak terlalu acidogenik. Protein yang terkandung dalam saliva dapat meningkatkan ketebalan dental pellicle sehingga dapat menghambat ion kalsium serta fosfat dari enamel terdemineralisasi (Kidd 2005, p.135). 2.3 Obat kumur Obat kumur merupakan formula pembersih mulut yang paling sederhana, biasanya terbuat dari gabungan komponen aktif seperti air dan alkohol dengan tambahan berupa bahan perasa dan surfaktan. Sebagian besar agen antimikroba dapat dimasukkan dalam komponen aktif obat kumur (Nyvad dan Kidd 2008, p.135). Penggunaan obat kumur efektif untuk mencegah akumulasi plak gigi jika digunakan sebagai pelengkap kontrol mekanik terhadap plak gigi. Sebagian obat kumur mempunyai sifat bakteriostatik dan bakteriosid, sehingga memiliki daya bersih yang cukup kuat sebagai penghambat pembentukan plak gigi (Arinda et al. 2010, p.22). Obat kumur biasanya bersifat antiseptik yang dapat membunuh kuman yang dapat menyebabkan timbulnya plak, radang gusi dan bau mulut. Beberapa obat kumur dibuat khusus untuk mengatasi plak gigi. Obat kumur juga dapat menjadi penyegar mulut atau mengurangi bau mulut seusai makan. Penggunaan
14 obat kumur biasanya sekitar 20 ml setiap setelah menyikat gigi dua kali sehari. Obat kumur dikumur dalam mulut selama 30 detik kemudian dikeluarkan (Pratiwi 2009, p. 77) Obat kumur yang mengandung sodium fluorida (NaF) Sodium fluorida merupakan bubuk brwarna putih, tidak berbau, mempunyai kelarutan dalam air 1:25, tidak larut dalam alkohol, tidak dapat bercampur dengan garam Ca dan Mg. Selain itu, memiliki sifat korosif dan bila diberikan dalam jumlah berlebihan akan menyebabkan hipersalivasi, nausea, vomity, epigastri paru, dan diare (Paramita 2008, p.19). Sodium fluorida (NaF) merupakan senyawa yang paling sering digunakan dalam obat kumur dan pasta gigi, hal ini dikarenakan sodium fluorida sangat berpengaruh dalam proses penghambatan karies. Berdasarkan sebuah studi, penggunaan obat kumur yang mengandung sodium fluorida yang terprogram dapat menghambat perkembangan karies sebesar 20-30% (Cameron 2003, p.45). Sementara berdasarkan penelitian lain, penggunaan obat kumur yang mengandung Sodium fluorida pada anak yang berusia tahun, akan menurunkan angka bakteri Streptococcus mutans dan Lactobacilli secara signifikan pada saliva. Kedua bakteri tersebut merupakan mikroflora dalam rongga mulut yang dapat memicu terjadinya karies (Yoshihara et al. 2001, p.113), sedangkan Kulkarni dan Damle menemukan bahwa penggunaan obat kumur dengan sodium fluorida 0,05% mampu menurunkan bakteri streptococcus mutans di saliva dari semula sebesar 2,340 CFU/ml menjadi 0,940 CFU/ml (Kulkarni dan Damle 2003, p.103).
15 Konsentrasi sodium fluorida dalam obat kumur yang paling sering digunakan adalah 0,05% atau 230ppm untuk penggunaan harian dan 0,2% atau 900ppm untuk penggunaan mingguan. (McDonald 2004, p.229) karena konsentrasinya yang lebih rendah dari pada pasta gigi, penggunaan harian menggunakan obat kumur secara harian lebih aman digunakan pada anak-anak (Kidd 2005, p.120).
BAB 1 PENDAHULUAN. kelenjar saliva, dimana 93% dari volume total saliva disekresikan oleh kelenjar saliva
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem di dalam rongga
BAB 1 PENDAHULUAN. Kerusakan pada gigi merupakan salah satu penyakit kronik yang umum
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kerusakan pada gigi merupakan salah satu penyakit kronik yang umum terjadi pada individu di seluruh dunia (Selwitz dkk, 2007). Menurut data riskesdas tahun 2013, sekitar
Gambar 1. Kelenjar saliva 19
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva Saliva adalah cairan yang terdiri atas sekresi yang berasal dari kelenjar saliva dan cairan sulkus gingiva. 90% dari saliva dihasilkan oleh kelenjar saliva mayor yang
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam bidang kedokteran gigi, masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam bidang kedokteran gigi, masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Departemen Kesehatan RI tahun
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karies merupakan penyakit jaringan keras gigi yang ditandai dengan melarutnya bahan anorganik, dan diikuti kerusakan pada matriks organik pada gigi. Penyebab karies adalah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem di dalam rongga
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan gigi oleh asam organis yang berasal dari makanan yang mengandung
BAB I PENDAHULUAN. Mulut memiliki lebih dari 700 spesies bakteri yang hidup di dalamnya dan. hampir seluruhnya merupakan flora normal atau komensal.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tubuh secara alami merupakan tempat berkoloninya kompleks mikroorganisme, terutama bakteri. Bakteri-bakteri ini secara umum tidak berbahaya dan ditemukan di
BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling dominan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling dominan di masyarakat. 1 Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2004,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Berbagai macam bakteri ini yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada rongga mulut terdapat berbagai macam koloni bakteri yang masuk melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Berbagai macam bakteri ini yang masuk melalui makanan,
BAB I PENDAHULUAN. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi nasional masalah gigi dan mulut adalah 23,5%. Menurut hasil RISKESDAS tahun 2013, terjadi peningkatan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. anak-anak sampai lanjut usia. Presentase tertinggi pada golongan umur lebih dari
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit gigi dan mulut yang terbanyak dialami masyarakat di Indonesia adalah karies gigi. Penyakit tersebut menyerang semua golongan umur, mulai dari anak-anak
BAB I PENDAHULUAN. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi dan mulut di atas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling sering dijumpai di Indonesia. 1 Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013, menunjukkan prevalensi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Gigi Desidui Gigi desidui atau yang umumnya dikenal sebagai gigi susu akan erupsi secara lengkap saat anak berusia kurang lebih 2,5 tahun. Gigi desidui berkembang
BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di seluruh dunia dan dialami oleh hampir seluruh individu pada sepanjang hidupnya.
BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia saat ini sedang menggalakkan pemakaian bahan alami sebagai bahan obat,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang Indonesia saat ini sedang menggalakkan pemakaian bahan alami sebagai bahan obat, baik dibidang kedokteran maupun kedokteran gigi yang dapat dipertanggung jawabkan secara
BAB I PENDAHULUAN. saliva mayor dan minor. Saliva diproduksi dalam sehari sekitar 1 2 liter,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva merupakan cairan komplek yang dapat dihasilkan dari kelenjar saliva mayor dan minor. Saliva diproduksi dalam sehari sekitar 1 2 liter, yang terdiri dari
BAB I PENDAHULUAN. aktifitas mikroorganisme yang menyebabkan bau mulut (Eley et al, 2010). Bahan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan obar kumur memiliki banyak manfaat bagi peningkatan kesehatan gigi dan mulut. Obat kumur digunakan untuk membersihkan mulut dari debris atau sisa makanan,
BAB I PENDAHULUAN. indeks caries 1,0. Hasil riset kesehatan dasar tahun 2007 melaporkan bahwa
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Karies menjadi salah satu bukti tidak terawatnya kondisi gigi dan mulut pada anak-anak. Target WHO tahun 2010 adalah untuk mencapai indeks caries 1,0. Hasil
BAB I PENDAHULUAN. kekurangan insulin, baik total ataupun sebagian. DM menunjuk pada. kumpulan gejala yang muncul pada seseorang yang dikarenakan oleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa ini Diabetes Melitus (DM) sudah menjadi penyakit yang diderita segala lapisan masyarakat. DM merupakan suatu kondisi abnormal pada proses metabolisme karbohidrat
BAB I PENDAHULUAN. Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2013 menunjukkan urutan pertama pasien
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut di Indonesia merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian serius dari tenaga kesehatan. Data Riskesdas 2013 menunjukkan 25,9% penduduk Indonesia
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian ph dan Saliva 1. PH Hasil kali ( produk ) ion air merupakan dasar bagi skala ph, yaitu cara yang mudah untuk menunjukan konsentrasi nyata H + ( dan juga OH - ) didalam
I.PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Permasalahan. bersoda dan minuman ringan tanpa karbonasi. Minuman ringan berkarbonasi
I.PENDAHULUAN A.Latar Belakang Permasalahan Saat ini konsumsi minuman ringan pada anak maupun remaja mengalami peningkatan hingga mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Minuman ringan yang telah beredar
BAB I PENDAHULUAN. Community Dental Oral Epidemiologi menyatakan bahwa anakanak. disebabkan pada umumnya orang beranggapan gigi sulung tidak perlu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Community Dental Oral Epidemiologi menyatakan bahwa anakanak TK (Taman Kanak-kanak) di Indonesia mempunyai risiko besar terkena karies, karena anak di pedesaan
BAB I PENDAHULUAN. dan mulut yang memiliki prevalensi tinggi di masyarakat pada semua
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karies dan penyakit periodontal merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang memiliki prevalensi tinggi di masyarakat pada semua kelompok umur di Indonesia (Tampubolon,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin (SIKMR) ionomer kaca. Waktu kerja yang singkat dan waktu pengerasan yang lama pada
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin (SIKMR) SIKMR merupakan modifikasi dari semen ionomer kaca dan monomer resin sehingga bahan ini memiliki sifat fisis yang lebih baik dari
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan tubuh, baik bagi anak-anak, remaja maupun orang dewasa. 1,2
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Susu adalah salah satu hasil ternak yang dikenal sebagai bahan makanan yang memilki nilai gizi tinggi. Kandungan zat gizi susu dinilai lengkap dan dalam proporsi seimbang,
PENGARUH VISKOSITAS SALIVA TERHADAP PEMBENTUKAN PLAK GIGI PADA MAHASISWA POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK
PENGARUH VISKOSITAS SALIVA TERHADAP PEMBENTUKAN PLAK GIGI PADA MAHASISWA POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK Nidia Alfianur 1, Budi Suryana 2 1, 2 Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Pontianak ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN. seperti kesehatan, kenyamanan, dan rasa percaya diri. Namun, perawatan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perawatan ortodontik dapat meningkatkan mastikasi, bicara dan penampilan, seperti kesehatan, kenyamanan, dan rasa percaya diri. Namun, perawatan ortodontik memiliki
Bayyin Bunayya Cholid*, Oedijani Santoso**, Yayun Siti Rochmah***
PENGARUH KUMUR SARI BUAH BELIMBING MANIS (Averrhoa carambola L.) (Studi terhadap Anak Usia 12-15 Tahun Pondok Pesantren Al-Adzkar, Al-Furqon, Al-Izzah Mranggen Demak) Bayyin Bunayya Cholid*, Oedijani Santoso**,
BAB 2 SALIVA. Saliva merupakan salah satu dari cairan di rongga mulut yang diproduksi
BAB 2 SALIVA 2.1 DEFINISI Saliva merupakan salah satu dari cairan di rongga mulut yang diproduksi dan diekskresikan oleh kelenjar saliva dan dialirkan ke dalam rongga mulut melalui suatu saluran. Saliva
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Epidemiologi penyakit gigi dan mulut di Indonesia
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Epidemiologi penyakit gigi dan mulut di Indonesia Dalam Profil Kesehatan Indonesia tahun 2009 tentang daftar pola sepuluh besar penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva yang terbentuk
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva adalah cairan oral kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva yang terbentuk di rongga
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. rendah (Depkes RI, 2005). Anak yang memasuki usia sekolah yaitu pada usia 6-12
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prevalensi karies gigi dan penyakit periodontal pada anak usia 12-15 tahun di Indonesia cenderung meningkat dari 76,25% pada tahun 1998 menjadi 78,65% pada tahun
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. mukosa, albumin, polipeptida dan oligopeptida yang berperan dalam kesehatan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Saliva Saliva adalah cairan eksokrin yang terdiri dari 99% air, berbagai elektrolit yaitu sodium, potasium, kalsium, kloride, magnesium, bikarbonat, fosfat, dan terdiri dari
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Karies Gigi dan S-ECC Karies gigi merupakan penyakit infeksi pada jaringan keras gigi yang menyebabkan demineralisasi. Demineralisasi terjadi akibat kerusakan jaringan
BAB I PENDAHULUAN. (D = decayed (gigi yang karies), M = missing (gigi yang hilang), F = failed (gigi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang paling sering ditemui dalam kesehatan gigi dan mulut yaitu karies gigi dan penyakit periodontal. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2000,
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia dikatakan sehat tidak hanya dari segi kesehatan umum saja tetapi juga meliputi kesehatan
BAB 1 PENDAHULUAN. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar saliva mayor dan minor yang ada pada mukosa mulut. 1 Saliva terdiri
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia merupakan hal yang perlu mendapat perhatian serius oleh tenaga kesehatan, baik dokter gigi maupun perawat gigi, hal ini
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. 90% yaitu kelenjar parotis memproduksi sekresi cairan serosa, kelenjar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva merupakan cairan rongga mulut yang terdiri dari sekresi kelenjar saliva dan cairan krevikuler gingiva. Produksi saliva oleh kelenjar mayor sekitar 90%
BAB I PENDAHULUAN. karbohidrat dari sisa makanan oleh bakteri dalam mulut. 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Erosi merupakan suatu proses kimia dimana terjadi kehilangan mineral gigi yang umumnya disebabkan oleh zat asam. Asam penyebab erosi berbeda dengan asam penyebab karies
BAB I PENDAHULUAN. dalam rongga mulut terdapat fungsi perlindungan yang mempengaruhi kondisi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara anatomis sistem pencernaan manusia dimulai dari rongga mulut. Di dalam rongga mulut terdapat fungsi perlindungan yang mempengaruhi kondisi lingkungan saliva
BAB I PENDAHULUAN. dalamnya terdapat fungsi perlindungan yang mempengaruhi kondisi lingkungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rongga mulut adalah pintu gerbang sistem pencernaan manusia yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Di dalamnya terdapat fungsi perlindungan
BAB I PENDAHULUAN. Madu adalah pemanis tertua yang pertama kali dikenal dan digunakan oleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Madu adalah pemanis tertua yang pertama kali dikenal dan digunakan oleh manusia jauh sebelum mengenal gula. Madu baik dikonsumsi saat perut kosong (Suranto, Adji :
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian tentang perbedaan derajat keasaman ph saliva antara sebelum
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tentang perbedaan derajat keasaman ph saliva antara sebelum dan sesudah mengunyah buah nanas (Ananas comosus) pada anak usia 8-10 tahun, telah
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. bahan baku utamanya yaitu susu. Kandungan nutrisi yang tinggi pada keju
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keju merupakan makanan yang banyak dikonsumsi dan ditambahkan dalam berbagai makanan untuk membantu meningkatkan nilai gizi maupun citarasa. Makanan tersebut mudah diperoleh
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manfaat yang maksimal, maka ASI harus diberikan sesegera mungkin setelah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ASI atau Air Susu Ibu merupakan makanan terbaik untuk bayi dan tidak ada satupun makanan lain yang dapat menggantikan ASI. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian. Penelitian tentang perbedaan status karies pada anak Sekolah Dasar yang
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tentang perbedaan status karies pada anak Sekolah Dasar yang mengkonsumsi air minum dari air PAH dan air PDAM di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mulut merupakan tempat yang ideal untuk tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme karena mulut memiliki kelembaban serta memiliki asupan makanan yang teratur. Mikroba
BAB 5 HASIL PENELITIAN
BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1. KOMPOSISI KALSIUM Hasil rata rata pengukuran komposisi kalsium pada sampel adalah sebagai berikut: Tabel 5. 1. Rata rata komposisi kalsium email Kontrol Perlakuan p Konsentrasi
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat difermentasi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gigi merupakan salah satu bagian tubuh yang berfungsi untuk mengunyah, berbicara dan mempertahankan bentuk muka, sehingga penting untuk menjaga kesehatan gigi sedini mungkin
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ganja adalah tanaman Cannabis sativa yang diolah dengan cara mengeringkan dan mengompres bagian tangkai, daun, biji dan bunganya yang mengandung banyak resin. 1 Ganja
BAB I PENDAHULUAN. 90% dari populasi dunia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit periodontal merupakan penyakit yang umum terjadi dan mengenai 90% dari populasi dunia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2001
BAB 5 HASIL PENELITIAN
BAB 5 HASIL PENELITIAN Pengumpulan data klinis dilakukan mulai tanggal 10 November 2008 sampai dengan 27 November 2008 bertempat di klinik ortodonti FKG UI dan di lingkungan FK UI. Selama periode tersebut
BAB I PENDAHULUAN. ata terbaru yang dikeluarkan Departemen Kesehatan (Depkes) Republik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ata terbaru yang dikeluarkan Departemen Kesehatan (Depkes) Republik Indonesia (RI) dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karies Karies gigi merupakan penyakit kronis yang mempengaruhi sejumlah besar populasi. Proses karies mempengaruhi mineralisasi gigi, enamel, dentin, dan sementum, serta disebabkan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Salah satu kegiatan Puskesmas adalah UKGS. UKGS di lingkungan tingkat pendidikan dasar mempunyai sasaran semua anak sekolah tingkat pendidikan dasar yaitu dari usia 6 sampai 14 tahun,
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Karies adalah penyakit jaringan keras gigi, yaitu enamel, dentin dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karies adalah penyakit jaringan keras gigi, yaitu enamel, dentin dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas mikroba dalam suatu karbohidrat yang dapat difermentasikan.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karies Gigi Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan gigi oleh asam organis yang berasal dari
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tujuan mengatasi maloklusi. Salah satu kekurangan pemakaian alat ortodonti cekat
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat luas telah banyak menggunakan alat ortodonti cekat dengan tujuan mengatasi maloklusi. Salah satu kekurangan pemakaian alat ortodonti cekat dan komponennya dapat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. karies gigi (Anitasari dan Endang, 2005). Karies gigi disebabkan oleh faktor
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat Indonesia adalah karies gigi (Anitasari dan Endang, 2005). Karies gigi disebabkan oleh faktor langsung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peran penting dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut (Harty and
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Saliva dan Anatomi Glandula Saliva Saliva adalah suatu cairan dalam rongga mulut yang mempunyai peran penting dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut (Harty
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit periodontal adalah penyakit yang umum terjadi dan dapat ditemukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit periodontal adalah penyakit yang umum terjadi dan dapat ditemukan pada 90% dari populasi dunia. Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit gigi dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada jaman sekarang banyak produk-produk yang menawarkan makanan dan minuman secara instant. Promosi dari masing-masing produk tersebut telah menarik pembeli terutama
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Anak Usia Prasekolah Anak prasekolah adalah anak yang berusia antara tiga sampai enam tahun (Patmonodewo, 1995). Perkembangan fisik yang terjadi pada masa ini
BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan rongga mulut merupakan salah satu bagian yang tidak dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan rongga mulut merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan tubuh secara keseluruhan, untuk itu dalam memperoleh kesehatan rongga
BAB I PENDAHULUAN. Mulut sangat selektif terhadap berbagai macam mikroorganisme, lebih dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Mulut sangat selektif terhadap berbagai macam mikroorganisme, lebih dari 300 spesies dapat diidentifikasi dalam rongga mulut. Spesies yang mampu berkoloni dalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Kesehatan mulut merupakan suatu keadaan yang bebas dari nyeri kronik mulut dan wajah, kanker mulut dan tenggorokan, sariawan, penyakit periodontal, gigi
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
7 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indera pengecap merupakan salah satu alat untuk merasakan rasa yang ditimbulkan oleh makanan atau bahan lainnya. Lidah adalah sebagai indra pengecapan. Fungsi lidah
BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies merupakan masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2004,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karies. Hal ini dipengaruhi oleh morfologi dan kandungan mineral penyusun gigi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Struktur email dan dentin pada gigi merupakan faktor penting terjadinya karies. Hal ini dipengaruhi oleh morfologi dan kandungan mineral penyusun gigi (Samaranayake,
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan gigi dan mulut dengan asupan nutrisi (Iacopino, 2008). Diet yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan secara komprehensif dikarenakan latar belakangnya yang berdimensi
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. gigi dan mulut di Indonesia. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karies gigi merupakan penyakit kronik yang paling sering ditemukan di dunia (Roberson dkk., 2002). Karies menempati urutan tertinggi dalam penyakit gigi dan mulut
Fase pembentukan gigi ETIOLOGI Streptococcus mutans,
Penelitian dieropa dan Amerika menunjukkan bahwa 90-100% anak-anak dibawah umur 18 th dihinggapi penyakit caries dentis (Indan Entjang, 1991). Prevalensi karies gigi di Indonesia : 60-80% Anak umur 6 th
BAB I PENDAHULUAN. Madu merupakan salah satu sumber makanan yang baik. Asam amino,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Madu merupakan salah satu sumber makanan yang baik. Asam amino, karbohidrat, protein, beberapa jenis vitamin serta mineral adalah zat gizi dalam madu yang mudah diserap
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karies 2.1.1 Definisi Karies Karies gigi adalah penyakit kronik, prosesnya berlangsung sangat lama berupa hilangnya ion-ion mineral secara kronis dan terus menerus dari permukaan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Early Childhood Caries (ECC) merupakan gabungan suatu penyakit dan kebiasaan yang umum terjadi pada anak dan sulit dikendalikan. 1 Istilah ini menggantikan istilah karies botol atau
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mahkota (crown) dan jembatan (bridge). Mahkota dapat terbuat dari berbagai
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gigi tiruan cekat merupakan protesa permanen yang melekat pada gigi yang masih tersisa untuk menggantikan satu atau lebih kehilangan gigi (Shilingburg dkk., 1997).
BAB I PENDAHULUAN. atau biofilm dan diet (terutama dari komponen karbohidrat) yang dapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karies merupakan interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak atau biofilm dan diet (terutama dari komponen karbohidrat) yang dapat difermentasi oleh bakteri
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tubuh keseluruhan (Tambuwun et al., 2014). Kesehatan gigi dan mulut tidak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya karena akan mempengaruhi kesehatan tubuh keseluruhan
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada permukaan basis gigi tiruan dapat terjadi penimbunan sisa makanan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada permukaan basis gigi tiruan dapat terjadi penimbunan sisa makanan dan plak, terutama pada daerah sayap bukal atau bagian-bagian yang sukar dibersihkan (David dan MacGregor,
BAB I PENDAHULUAN. saliva mayor yang terdiri dari: parotis, submandibularis, sublingualis, dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva merupakan cairan tubuh yang kompleks dan bermanfaat bagi kesehatan rongga mulut. Saliva disekresi oleh tiga pasang glandula saliva mayor yang terdiri
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. prevalensi yang terus meningkat akibat fenomena perubahan diet (Roberson dkk.,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karies gigi merupakan penyakit kronis paling umum di dunia dengan prevalensi yang terus meningkat akibat fenomena perubahan diet (Roberson dkk., 2002). Di Indonesia,
BAB I PENDAHULUAN. insisif, premolar kedua dan molar pada daerah cervico buccal.2
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipersensitivitas dentin merupakan salah satu masalah gigi yang paling sering dijumpai. Hipersensitivitas dentin ditandai sebagai nyeri akibat dentin yang terbuka jika
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut merupakan satu kesatuan dari kesehatan pada umumnya yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Gigi dan mulut merupakan salah satu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gigi tersusun atas enamel, dentin, sementum, rongga pulpa, lubang gigi, serta jaringan pendukung gigi. Rongga mulut merupakan batas antara lingkungan luar dan dalam
BAB 2 PENGARUH PLAK TERHADAP GIGI DAN MULUT. Karies dinyatakan sebagai penyakit multifactorial yaitu adanya beberapa faktor yang
BAB 2 PENGARUH PLAK TERHADAP GIGI DAN MULUT Plak gigi memegang peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies. Karies dinyatakan sebagai penyakit multifactorial yaitu adanya beberapa faktor yang menjadi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. DMF-T Indonesia menurut hasil Riskesdas pada tahun 2013 adalah 4,6% yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Prevalensi karies di Indonesia menunjukkan angka yang masih tinggi. Indeks DMF-T Indonesia menurut hasil Riskesdas pada tahun 2013 adalah 4,6% yang memiliki arti bahwa
BAB 1 PENDAHULUAN. RI tahun 2004, prevalensi karies gigi mencapai 90,05%. 1 Karies gigi merupakan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di Indonesia adalah karies gigi. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2004,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
HPO 4. 11 Ada beberapa fungsi saliva yaitu membentuk lapisan mukus pelindung pada 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan mempunyai peranan
