BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Sri Widyawati Muljana
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rinitis alergi Definisi dan klasifikasi rinitis alergi Rinitis alergi adalah penyakit simtomatis pada membran mukus hidung akibat inflamasi yang dimediasi oleh IgE pada lapisan membran yang diinduksi oleh paparan alergen. 3 Pada tahun 1929 ditetapkan 3 gejala utamanya antara lain bersin bersin, hidung tersumbat dan keluarnya sekret hidung. 1 Selain itu juga terdapat gejala hidung gatal dan gejala gejala tersebut berlangsung lebih dari 1 jam sehari dalam dua hari berurutan atau lebih. 20 Rinitis alergi merupakan manifestasi penyakit alergi tipe I yang paling sering ditemui di masyarakat, jika tidak mendapatkan penanganan dapat terjadi komplikasi berupa asma, rinosinusitis, konjungtivitis alergi, polip hidung, otitis media dengan efusi, dan maloklusi gigi. Berdasarkan rekomendasi dari WHO Iniative ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2000, yaitu berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi : 1) Intermiten (kadang-kadang) bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu. 10
2 11 2) Persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan atau lebih dari 4 minggu. Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi: 1) Ringan, bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktifitas harian, bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu. 2) Sedang atau berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas (Bousquet et al, 2001). 21 Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa kelompok umur dengan frekuensi terbanyak pada tahun. Penderita perempuan lebih banyak (54,1%) dibandingkan laki-laki (45,9%) dengan perbandingan RA intermiten dengan persisten 1 : 5. Manifestasi RA terbanyak adalah RA persisten sedang berat yaitu sebesar 59,5%. 22 Selain mengakibatkan gejala lokal pada hidung, juga dapat mengakibatkan gejala sistemik berupa rasa lelah, mengantuk di siang hari, gangguan kognitif, nyeri kepala, dan pada beberapa kasus berat penderita dapat mengalami depresi sehingga mempengaruhi kualitas hidup penderita. 13 Rinitis alergi persisten sedang berat dapat mengakibatkan keluhan mengantuk di siang hari seperti dilaporkan 23% penderita rinitis alergi persisten sedang berat di klinik THT RS dr Kariadi. Keluhan mengantuk meningkat menjadi 46,37% pada penderita yang mendapatkan anti alergi yang memiliki efek samping sedasi. 12 Pada anak anak penderita rinitis alergi, gangguan belajar saat jam sekolah dapat terjadi baik
3 12 karena secara langsung akibat kurang tidur di malam hari, atau secara tidak langsung karena rasa capai di siang hari Etiologi dan faktor risiko Rinitis alergi merupakan penyakit multifaktorial yang meliputi interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik pada rinitis alergi dapat dilihat dari hubungan fenotipik yang erat antara pilek alergi dan asma bronkial ( penyakit diturunkan). Penyakit alergi bersifat diturunkan dalam keluarga. Jika hanya salah satu orang tuanya menderita alergi, maka risiko anaknya terkena alergi adalah 50%. Dan jika kedua orang tua memiliki alergi, risiko anaknya terkena alergi adalah 75 %. Penelitian dengan imigran sebagai subyek, menunjukkan bahwa terdapat faktor genetik yang mempengaruhi pola IgE yang diturunkan dari orang tua, khususnya dari ibu. 4 Faktor risiko rinitis alergi dari lingkungan berupa paparan alergen. Berdasarkan penelitian di RSCM, diperoleh data 59% sensitivitas terhadap alergen inhalan dan 49% terhadap alergen makanan. 23 Aeroalergen yang tersering dengan hasil uji cukit kulit positif pada penelitian di klinik THT KL RSUP Dr Kariadi adalah kecoa (44,6%), disusul mite culture (40,5%), house dust (25,7%), cat dander (16,2%) dan dog dander (5,4%). 22 Penelitian menunjukkan bahwa odd ratio rinitis alergi lebih tinggi pada anak yang memelihara hewan, terutama anjing. 24
4 13 Terdapat teori bahwa endotoksin merupakan agen proinflamasi yang biasa ditemukan di debu rumah. Paparan endo-toksin akan memicu peradangan saluran nafas dengan bercirikan invasi neutrofil, iritasi membran mukus, dan penyempitan diameter saluran nafas Patofisiologi Reaksi hipersensitivitas pada mukosa hidung yang memicu bermacam macam respon hidung terhadap paparan alergen merupakan proses dinamis yang disebabkan oleh alergen yang spesifik. Pada proses ini terlibat berbagai macam tipe sel, mediator, dan mekanisme yang berbeda pada setiap jenjang dan level yang berbeda. 25 Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu immediate phase allergic reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan late phase allergic reaction atau reaksi alergi fase lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktivitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung jam. 26
5 Fase sensitisasi Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah diproses di dalam endosom, antigen akan membentuk fragmen pendek peptide dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptide MHC kelas II (Major Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper (Th0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL-1) yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5, dan IL-13. IL-4 dan IL-13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi imunoglobulin E (IgE) serta menghambat produksi sitokin dari sel Th1. Paparan alergen dosis rendah yang terus menerus dan presentasi alergen oleh sel penyaji kepada sel limfosit B akan memicu bertambahnya produksi IgE oleh sel limfosit B. IgE yang bertambah banyak akan beredar bebas di sirkulasi darah kemudian IgE akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mast atau basofil (sel mediator) termasuk di mukosa hidung, sehingga kedua sel ini menjadi aktif. 26 Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Artinya, individu tersebut sudah menjadi hipersensitif terhadap alergen tertentu.
6 Fase elisitasi Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar alergen yang sama, maka dua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Performed Mediators) terutama histamin. Selain histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrien D4 (LT D4), Leukotrien C4 (LT C4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF), berbagai sitokin (IL-3, IL-4, IL-5, IL-6, GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor) dan lain-lain. Inilah yang disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC). Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamin juga akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rhinorrhea. Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamin merangsang ujung saraf Vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM1). Pada Reaksi alergi fase cepat, sel mast juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. Respons ini tidak berhenti sampai disini saja, tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6-8 jam setelah pemaparan serta dapat menetap hingga jam. Respon ini disebut reaksi alergi fase lambat.
7 16 Pada Reaksi alergi fase lambat ini ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit, netrofil, basofil dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5 dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan ICAM1 pada sekret hidung. Hal ini mengakibatkan gejala utama berupa hidung tersumbat pada reaksi alergi fase lambat. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti Eosinophilic Cationic Protein (ECP), Eosiniphilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein (MBP), dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). Mediator mediator ini dapat berikatan dengan proteoglikan dan hyaluran membran basalis menyebabkan disagregasi sel dan deskuamasi epitel. EDP dapat menginaktifkan saraf mukosa dan EPO dapat menyebabkan kerusakan sel oleh karena radikal bebas. 26,27 Pada fase ini, selain faktor spesifik (alergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban udara yang tinggi. 26 Reaksi alergi fase lambat ini menjadi alasan mengapa gejala rinitis alergi dapat terjadi selama 24 jam dan paling berat di pagi hari. Gejala hidung gatal pada anak penderita rinitis alergi menyebabkan anak sering menggosok gosok hidungnya yang gerakannya disebut allergic salute. Jika berlangsung lama, akan menimbulkan bekas yang disebut nasal crease. Anak dengan rinitis alergi berat biasanya memiliki manifestasi sulit bernafas melalui hidung sehingga biasanya memiliki ciri mulut
8 17 menganga atau terbuka, wajah yang lonjong, maloklusi dental, allergic shiner, allergic salute dan allergic crease. 28 Gambar 1. Fase sensitisasi dan elitisasi alergi 42
9 Rinosinusitis Definisi dan klasifikasi rinosinusitis Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi hidung dan sinus paranasal. Umumnya disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sekarang disebut rinosinusitis. Menurut American Academy of Otolaryngology Head & Neck Surgery 1996 istilah sinusitis diganti dengan rinosinusitis karena dianggap lebih tepat dengan alasan : 1). Secara embriologis mukosa sinus merupakan lanjutan mukosa hidung 2). Rinosinusitis hampir selalu didahului dengan rinitis 3). Gejala-gejala obstruksi nasi, rhinorrhea dan hiposmia dijumpai pada rinitis ataupun rinosinusitis. Menurut European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EPOS) 2012, rinosinusitis biasanya disertai dua atau lebih dari gejala berupa hidung tersumbat, sekret hidung (anterior maupun posterior nasal drip) dan dapat disertai: 1) ± Nyeri fasial 2) ± Hiposmia Atau dengan endoskopi dapat ditemukan: 1) Polip nasi 2) Sekret mukopurulen terutama dari meatus nasi medius dan/ atau 3) Oedem atau obstruksi mukosa terutama meatus nasi medius Atau dapat disertai dengan hasil pemeriksaan CT scan berupa:
10 19 1) Perubahan mukosa kompleks ostiomeatal dan/ atau sinus parasanal. 10 Berdasarkan derajat berat ringannya penyakit, rinosinusitis diklasifikasikan menjadi Mild, Moderate, dan Severe. Klasifikasi ini ditentukan mengacu pada total severity visual analogue scale (VAS) score (0-10) - Mild : VAS Moderate : VAS > Severe : VAS > 7-10 Untuk menilai derajat keparahan total, pasien ditanya agar dapat menunjukkan nilai dari VASnya. VAS > 5 akan mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. 10 Berdasarkan European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EPOS) 2012, rinosinusitis diklasifikasikan menjadi akut (kurang dari 12 minggu) dan kronik (lebih dari 12 minggu). Sebelumnya, beberapa literatur juga mengklasifikasikan rinosinusitis ke dalam grup sub akut, yang menunjukkan keadaan diantara akut dan kronik. Namun EPOS menganggap tidak perlu menambahkan grup sub akut dikarenakan jumlah penderita sinusitis akut dengan gejala memanjang cukup jarang dan belum ada rekomendasi evidence based untuk penatalaksanaan grup tersebut. 10 Penyebab utamanya adalah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti infeksi bakteri. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus disebut pansinusitis. Sinus yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan maksila, dan yang paling jarang terkena adalah sinus sfenoid. Sinus maksila disebut juga antrum highmore. Rinosinusitis dentogen disebabkan karena adanya
11 20 fokal infeksi dari gigi. Biasanya terjadi pada sinus maksila. Infeksi gigi mudah menyebar ke sinus maksila karena letaknya dekat akar gigi rahang atas. Rinosinusitis dapat menyebabkan komplikasi ke orbita dan intrakranial serta meningkatkan serangan asma yang sulit diobati Etiologi dan faktor predisposisi Beberapa etiologi dan faktor predisposisi rinosinusitis antara lain ISPA akibat virus, bermacam rinitis terutama rinitis alergi, rinitis hormonal pada wanita hamil, polip hidung, kelainan anatomi seperti septum deviasi atau hipertrofi konka, konka bulosa, konka media paradoksal, sumbatan kompleks osteo-meatal (KOM), infeksi gigi, kelainan imunologik, diskinesia silia seperti pada sindroma kartagener dan di luar negri adalah penyakit fibrosis kistik. Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab rinosinusitis sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk menghilangkan sumbatan dan menyembuhkan rinosinusitisnya. Hipertofi adenoid dapat didiagnosis dengan foto polos leher posisi lateral. 26 Menurut berbagai penelitian, bakteri utama yang ditemukan pada rinosinusitis akut adalah Streptococcus pneumonia (30-50%), Hemophylus influenza (20-40%) dan Moraxella catarrhalis (4%). Pada anak, Moraxella catarrhalis lebih banyak ditemukan (20%). 10
12 21 Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lama lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia. 26 Dalam peninjauan terhadap kasus kasus rinosinusitis akut, Babar-Craig et al. melaporkan bahwa 69% pasien terkena selama musim dingin antara bulan November hingga April. 29 pola yang sama juga terjadi pada kasus kasus eksaserbasi akut rinosinusitis kronik Patofisiologi Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium ostium sinus dan lancarnya klirens mukosiliar (mucocilliary clearance) di dalam kompleks ostiomeatal (KOM). Mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat- zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Organ organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat. Sumbatan di ostium sinus dapat diakibatkan edema yang terjadi sekunder karena adanya inflamasi traktus respiratorius atas (hidung). Akibatnya terjadi penurunan aerasi sinus, penurunan tekanan O2 dalam sinus, hipooksigenasi dan akhirnya terjadi vasodilatasi kapiler sebagai mekanisme kompensasi. Proses ini memicu terjadinya transudasi. Sebagian cairan transudat akan masuk ke sub mukosa sehingga menyebabkan edema, sebagian lagi menuju
13 22 ekstra vaskuler, menembus epitel hingga masuk ke rongga sinus. Akibatnya akan terdapat cairan transudat di rongga sinus yang mula mula serous. Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis non bakterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Bila kondisi menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media yang baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen yang berwarna kuning kehijauan. Keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi antibiotik. Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena ada faktor predisposisi), inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang. Keadaan sinus yang hipooksigen juga dapat mengganggu gerakan silia sehingga mekanisme klirens mukosiliar terganggu. Akibatnya cairan transudat tidak dapat didrainase dan semakin tertimbun di dalam sinus. Keadaan ini membuat ph sinus menjadi asam dan mendukung aktivitas multiplikasi bakteri. Jika proses ini berlanjut, mukosa semakin bengkak dan menjadi siklus yang terus berputar hingga perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan operasi. 26,31-34
14 Hubungan rinitis alergi dan rinosinusitis Rinosinusitis merupakan masalah kesehatan yang meningkat seiring meningkatnya kasus rinitis alergi dan mengakibatkan peningkatan beban finansial terhadap penderitanya. 10 Pembengkakan mukosa hidung pada rinitis alergi di ostium sinus dapat mengganggu ventilasi bahkan menyumbat ostium sinus, yang akan mengakibatkan retensi sekret mukus dan infeksi. 12 Mukosa hidung dan sinus membentuk suatu rangkaian kesatuan, sehingga membran mukosa sinus sering terlibat pada penyakit yang disebabkan inflamasi pada mukosa nasi. 3 Penderita rinosinusitis kronik yang disertai rinitis alergi memiliki keluhan rinosinusitis yang lebih berat. Diantara pasien alergi yang menjalankan imunoterapi, sebagian besar yang merasa tertolong dengan terapi imun adalah pasien dengan riwayat rinosinusitis berulang. Dan setengah dari pasien yang pernah menjalankan operasi sinus lalu mendapat imunoterapi spesifik menyatakan bahwa operasi saja tidak dapat menuntaskan episode berulang dari rinosinusitisnya. 12 Hubungan antara faktor alergi dan beratnya gejala rinosinusitis berdasarkan pemeriksaan CT scan, terbukti bahwa jika terdapat faktor alergi pada rinosinusitis kronik, maka semakin berat gejala rinosinusitisnya. 35 Dengan pemeriksaan CT scan diketahui bahwa serum total IgE berkorelasi dengan penebalan mukosa sinus. Dengan demikian penderita rinosinusitis kronik yang akan menjalankan operasi sebaiknya diperiksa dahulu apakah terdapat faktor alergi. Jika positif terdapat faktor alergi, sebaiknya alerginya diterapi terlebih dahulu, sehingga kesembuhan akan lebih cepat dan kemungkinan berulangnya rinosinusitis pasca operasi dapat dikurangi. 13
15 24 Penelitian belum lama ini membuktikan bahwa mukosa hidung yang terpapar alergen akan memicu inflamasi sinus maksilaris sekunder. Selanjutnya secara teknis, rinitis alergi dapat disebut sebagai rinosinusitis alergi yang menunjukkan tanda inflamasi bukan hanya pada mukosa nasi saja, tetapi juga inflamasi kronis mukosa sinus, terutama pada rinitis alergi persisten yang profil inflamasinya terlihat lebih hebat dibandingkan rinitis alergi intermiten. Keberadaan rinitis alergi tidak mempengaruhi beratnya gejala, luasnya kelainan pada CT scan ataupun tingkat kegagalan operasi bila dibandingkan dengan rinosinusitis tanpa rinitis alergi. 10 Selanjutnya, penghindaran alergen dan terapi imun dapat meringankan gejala rinitis, namun tidak mengurangi keluhan sinonasal Hubungan air conditioner (AC), rinitis alergi dan rinosinusitis Pada umumnya penggunaan AC bertujuan untuk mendinginkan ruangan agar terasa sejuk dan orang yang berada di dalam ruangan merasa lebih nyaman. Namun pemakaian AC juga sering memicu gejala gejala yang tidak menyenangkan pada beberapa orang seperti pilek, bersin bersin, dan hidung tersumbat. Gejala gejala tersebut muncul akibat inflamasi pada mukosa hidung yang disebabkan banyak stimulus, termasuk kondisi lingkungan yang ekstrim. Hal ini berkaitan dengan efek pemakaian AC yang membuat kondisi udara menjadi dingin dan kering (cold dry air).
16 25 Kondisi udara yang baik untuk diterima paru adalah udara yang hangat dan lembab, hal ini berbeda dengan kondisi udara yang dihasilkan AC, yaitu dingin dan kering. Untuk menyesuaikan kondisi udara agar dapat diterima paru, hidung sebagai saluran pernafasan akan turut berusaha mengkompensasi dengan cara vasodilatasi, dengan tujuan untuk meningkatkan vaskularisasi dan memperluas mukosa agar udara dalam rongga hidung menjadi lebih hangat. Vasodilatasi terutama terjadi di koana yang akan menimbulkan manifestasi gejala berupa hidung tersumbat. 36 Udara dingin dan kering (cold dry air/cda) dapat menyebabkan meningkatnya tonicity dan osmolarity sekresi mukosa hidung. Rangsangan hiperosmolaritas menjadi trigger pada saraf, diikuti stimulasi reflek sistem parasimpatis. 37 Penelitian Cruz et al melaporkan bahwa pelepasan epitel yang terjadi sebagai respons klinik terhadap CDA pada mukosa hidung disebabkan karena epitel tidak dapat mengkompensasi kehilangan air. Sel epitel akibat rangsangan hipertonik dapat melepaskan metabolit asam arakidonat, terutama 15- hidroksieicosatetraenoid yang dapat mengaktifkan akhiran saraf sensoris dan memunculkan gejala. 38 Udara dingin dan kering juga dapat memicu degranulasi sel mast dan basofil pada permukaan mukosa, akibatnya mediator histamin, prostaglandin (PGD2), kinin, dan N-α-tosyl-L-arginin methyl ester (TAME) akan meningkat dan menimbulkan manifestasi gejala rinitis alergi, asma, dan urtikaria yang tidak berhubungan langsung dengan paparan alergen penyebabnya. 36,39 Jadi, udara dingin dan kering bukanlah penyebab rinitis alergi, namun dapat memicu dan
17 26 memperberat gejala rinitis alergi. Akibatnya penderita rinitis alergi akan lebih sulit dikontrol rinitis alerginya dan dapat mempermudah terjadinya rinosinusitis. Penelitian in vivo oleh Togias melaporkan bahwa pada kelompok yang mempunyai riwayat sensitif terhadap udara dingin dan kering terjadi peningkatan pelepasan mediator sel mast dan basofil seperti histamin, PGD2, TAME esterase dan kinin setelah terpapar CDA. Paparan udara hangat dan lembap (warm, moist air, WMA) hanya kinin yang meningkat bermakna. Gejala dominan yang muncul berupa rhinorrhea dan hidung buntu. Patofisiologi mekanisme pelepasan mediator pada CDA belum diketahui, diduga karena proses lisis sel in vitro, lingkungan hiperosmolaritas CDA yang melewati kavitas hidung selama perubahan suhu diikuti oleh penguapan air, terjadi peningkatan osmolaritas cairan ekstra sel yang meliputi mukosa sel mast yang cukup untuk menginduksi pelepasan mediator Hubungan asap rokok, rinitis alergi dan rinosinusitis Merokok merupakan bagian dari life style banyak orang saat ini. Meskipun sudah banyak literatur dan penelitian yang membuktikan bahaya kandungan dan asap rokok, jumlah perokok masih tetap banyak. Salah satu efek negatif dari asap rokok adalah terhadap penyakit rinitis alergi. Berdasarkan penelitian terhadap 83 penderita rinitis alergi, 34 diantaranya (41%) adalah perokok pasif. 41 Asap rokok memicu penimbunan kadmium darah yang mengakibatkan peningkatan IgE dengan manifestasi asma dan rinitis alergi, hal ini juga sama dengan polutan udara baik akibat industri maupun polutan dalam ruangan seperti perabotan kayu,
18 27 pembakaran batu bara atau pemanas. Diduga polutan udara dapat mengiritasi mukosa pernapasan dan membuatnya rentan terhadap sensitisasi alergi. Hal ini akan berdampak negatif terhadap epitel hidung dan mengganggu silia hidung yang bertanggung jawab terhadap klirens alergen. Tergangggunya klirens silia hidung dapat memudahkan terjadinya rinosinusitis. Selain itu, beberapa polutan dapat meningkatkan pelepasan mediator yang menyebabkan inflamasi seperti histamin, prostaglandin, dan leukotrien C Berdasarkan penelitian, penderita rinitis alergi yang juga sebagai perokok pasif memiliki riwayat keluarga menderita rinosinusitis kronik dan biasa menggunakan dekongestan hidung. Dibandingkan dengan subyek yang tidak menderita rinitis alergi, penderita rinitis alergi lebih sering terpapar asap rokok sebagai perokok pasif Hubungan hewan peliharaan, rinitis alergi, dan rinosinusitis Seiring dengan perubahan gaya hidup, dalam 30 tahun terakhir semakin banyak orang yang memelihara hewan domestik, terutama pada daerah perkotaan. Di Eropa diperkirakan 1 dari 4 rumah memiliki kucing sebagai peliharaan, dan jumlah kepemilikin anjing lebih besar lagi. Dander atau sekresi dari anjing dan kucing membawa alergen yang berpotensi besar menjadi penyebab reaksi alergi. Sumber alergen yang terdapat pada kucing dan anjing adalah pada kelenjar sebasea, saliva, dan kelenjar peri-anal, dan bulu kucing atau anjing. Alergen utama dari kucing (Fel d 1) tersebar di udara karena partikelnya yang sangat kecil
19 28 yaitu dibawah 2.5 lm. Alergen ini dapat bertahan di udara dalam waktu yang cukup lama dan mengkontaminasi lingkungan dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan. Alergen akan menempel pada pakaian dan ikut tersebar ketika pakaian berpindah tempat. Selain fel d 1, juga terdapat alergen fel d 2 yang berasal dari kucing. Alergen utama pada anjing (Can f 1) terdapat di bulu, saliva, kulit, dan urin anjing. Alergen ini akan tersebar melalui udara bebas. Partikel alergen yang sangat kecil mengakibatkan alergen mudah tersebar mengikuti aliran udara bebas. Akibatnya, alergen dapat ditemukan di tempat tempat yang tidak terdapat hewan peliharaan seperti kucing dan anjing. Misalnya di sekolah, rumah sakit, transportasi umum, dan di rumah yang tidak memiliki hewan peliharaan. Sekolah merupakan tempat berisiko bagi anak yang memiliki rinitis alergi dapat terpapar alergen yang berasal dari hewan, dimana paparan alergen akan memperparah gejala rinitis alerginya. Sekolah juga menjadi tempat transfer alergen, karena setelah anak terpapar alergen hewan di sekolah, anak dapat membawa alergen tersebut ke rumah. Pasien yang memiliki alergi terhadap kucing dan anjing sering menunjukkan reaktivitas IgE terhadap paparan alergen dari hewan yang berbeda. Umumnya ditemukan IgE spesifik terhadap alergen kucing dan anjing. 3 Selain kucing dan anjing, hamster juga merupakan hewan pembawa alergen. Alergen dapat ditemukan di bulu, urin, serum, dan saliva hamster. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa hamster dapat menyebabkan sensitisasi okupasional pada pekerja laboratorium, yaitu sekitar 10 sampai 40% dari pekerja laboratorium dan juga berefek pada anak yang pekerjaan orang tuanya melakukan kontak atau
20 29 terpapar hamster atau mencit. 3 Adanya alergen anjing, kucing,dan hamster yang tersebar di udara bebas akan memperberat gejala rinitis alergi dan secara tidak langsung mengakibatkan kemungkinan terjadinya rinosinusitis menjadi lebih besar akibat terjadinya inflamasi berkepanjangan pada mukosa hidung. 3, Skema patofisiologi rinitis alergi dan rinosinusitis Rinitis alergi Rinosinusitis Infeksi virus Kelainan anatomi Diskinesia silia Hipertorfi adenoid Infeksi gigi Polutan Merokok Udara dingin dan kering
BAB I PENDAHULUAN. Rinitis alergi (RA) adalah penyakit yang sering dijumpai. Gejala utamanya
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Rinitis alergi (RA) adalah penyakit yang sering dijumpai. Gejala utamanya adalah bersin, hidung beringus (rhinorrhea), dan hidung tersumbat. 1 Dapat juga disertai
BAB 1 PENDAHULUAN. oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah. mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan pada mukosa hidung
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN RINOSINUSITIS PADA PENDERITA RINITIS ALERGI LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN RINOSINUSITIS PADA PENDERITA RINITIS ALERGI LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian hasil Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program
BAB 1 PENDAHULUAN. diperantarai oleh lg E. Rinitis alergi dapat terjadi karena sistem
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Definisi Rinitis Alergi (RA) menurut ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) merupakan reaksi inflamasi pada mukosa hidung akibat reaksi hipersensitivitas
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Secara klinis, rinitis alergi didefinisikan sebagai kelainan simtomatis pada hidung yang
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rinitis alergi 2.1.1. Definisi Secara klinis, rinitis alergi didefinisikan sebagai kelainan simtomatis pada hidung yang diinduksi oleh inflamasi yang diperantarai IgE (Ig-E
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. patofisiologi, imunologi, dan genetik asma. Akan tetapi mekanisme yang mendasari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Asma Dari waktu ke waktu, definisi asma mengalami perubahan beberapa kali karena perkembangan dari ilmu pengetahuan beserta pemahaman mengenai patologi, patofisiologi,
BAB 1 PENDAHULUAN. pakar yang dipublikasikan di European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sinusitis adalah peradangan pada salah satu atau lebih mukosa sinus paranasal. Sinusitis juga dapat disebut rinosinusitis, menurut hasil beberapa diskusi pakar yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rinitis alergi (RA) merupakan rinitis kronik non infeksius yang paling
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rinitis Alergi 2.1.1 Definisi dan klasifikasi Rinitis alergi (RA) merupakan rinitis kronik non infeksius yang paling umum dijumpai. RA didefinisikan sebagai suatu penyakit
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Susu formula yang diberikan kepada bayi sebagai pengganti ASI, kerap kali memberikan efek samping yang mengganggu kesehatan bayi seperti alergi. Susu formula secara
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Rinitis Alergi adalah peradangan mukosa saluran hidung yang disebabkan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rinitis Alergi Rinitis Alergi adalah peradangan mukosa saluran hidung yang disebabkan alergi terhadap partikel, antara lain: tungau debu rumah, asap, serbuk / tepung sari yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. endoskopis berupa polip atau sekret mukopurulen yang berasal dari meatus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang kronik (RSK) merupakan inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal dengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rhinitis berasal dari dua kata bahasa Greek rhin rhino yang berarti hidung dan itis yang berarti radang. Demikian rhinitis berarti radang hidung atau tepatnya radang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. (simptoms kurang dari 3 minggu), subakut (simptoms 3 minggu sampai
8 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sinusitis Sinusitis adalah proses peradangan atau infeksi dari satu atau lebih pada membran mukosa sinus paranasal dan terjadi obstruksi dari mekanisme drainase normal. 9,15
RINOSINUSITIS KRONIS
RINOSINUSITIS KRONIS Muhammad Amir Zakwan (07/25648/KU/12239) Dokter Muda Periode 2-25 Januari 2013 Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RSUP
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Definisi klinis rinitis alergi adalah penyakit. simptomatik pada hidung yang dicetuskan oleh reaksi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Definisi klinis rinitis alergi adalah penyakit simptomatik pada hidung yang dicetuskan oleh reaksi inflamasi yang dimediasi oleh immunoglobulin E (IgE)
BAB 6 PEMBAHASAN. Penelitian ini mengikutsertakan 61 penderita rinitis alergi persisten derajat
BAB 6 PEMBAHASAN 6.1. Karakteristik subyek penelitian Penelitian ini mengikutsertakan 61 penderita rinitis alergi persisten derajat ringan, sedang-berat dengan rerata usia subyek 26,6 ± 9,2 tahun, umur
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Atopi berasal dari bahasa Yunani yaitu atopos, yang memiliki arti tidak pada
4 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Atopi dan uji tusuk kulit Atopi berasal dari bahasa Yunani yaitu atopos, yang memiliki arti tidak pada tempatnya dan sering digunakan untuk menggambarkan penyakit yang diperantarai
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Reaksi hipersensitivitas tipe I atau reaksi alergi adalah reaksi imunologis (reaksi peradangan) yang diakibatkan oleh alergen yang masuk ke dalam tubuh menimbulkan
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh
BAB 1. PENDAHULUAN. hidung akibat reaksi hipersensitifitas tipe I yang diperantarai IgE yang ditandai
1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Rinitis alergi (RA) adalah manifestasi penyakit alergi pada membran mukosa hidung akibat reaksi hipersensitifitas tipe I yang diperantarai IgE yang ditandai dengan
Famili : Picornaviridae Genus : Rhinovirus Spesies: Human Rhinovirus A Human Rhinovirus B
RHINOVIRUS: Bila Anda sedang pilek, boleh jadi Rhinovirus penyebabnya. Rhinovirus (RV) menjadi penyebab utama dari terjadinya kasus-kasus flu (common cold) dengan presentase 30-40%. Rhinovirus merupakan
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN RINOSINUSITIS PADA PENDERITA RINITIS ALERGI JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN RINOSINUSITIS PADA PENDERITA RINITIS ALERGI JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran
BAB I PENDAHULUAN. karakteristik dua atau lebih gejala berupa nasal. nasal drip) disertai facial pain/pressure and reduction or loss of
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EP3OS) tahun 2012, rinosinusitis didefinisikan sebagai inflamasi pada hidung dan sinus paranasalis
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dasar diagnosis rinosinusitis kronik sesuai kriteria EPOS (European
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dasar diagnosis rinosinusitis kronik sesuai kriteria EPOS (European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyposis) 2012 adalah inflamasi hidung dan sinus paranasal
BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh reaksi alergi pada penderita yang sebelumnya sudah tersensitisasi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rinitis Alergi (RA) merupakan salah satu penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada penderita yang sebelumnya sudah tersensitisasi alergen yang sama
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia secara geografis merupakan negara tropis yang kaya akan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Seiring perkembangan dunia kesehatan, tumbuhan merupakan alternatif
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi Istilah atopi berasal dari bahasa Yunani yaitu atopos yang berarti out of place atau di luar dari tempatnya, dan
BAB 1 PENDAHULUAN. Rinitis alergi adalah gangguan fungsi hidung akibat inflamasi mukosa hidung yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rinitis alergi adalah gangguan fungsi hidung akibat inflamasi mukosa hidung yang diperantarai IgE yang terjadi setelah mukosa hidung terpapar alergen. 1,2,3 Penyakit
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. PATOGENESIS REAKSI INFLAMASI ALERGI. Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi mukosa hidung yang didasari
6 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. PATOGENESIS REAKSI INFLAMASI ALERGI Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi mukosa hidung yang didasari oleh reaksi hipersensitifitas yang diperantarai IgE, 1,2,3 yang
BAB 3 KERANGKA PENELITIAN
BAB 3 KERANGKA PENELITIAN 3.1 Kerangka Konseptual Dari hasil tinjauan kepustakaan serta kerangka teori tersebut serta masalah penelitian yang telah dirumuskan tersebut, maka dikembangkan suatu kerangka
BAB I PENDAHULUAN. paranasal dengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rinosinusitis kronik (RSK) merupakan inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal dengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih gejala, salah satunya
BAB 1 PENDAHULUAN. Secara fisiologis hidung berfungsi sebagai alat respirasi untuk mengatur
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara fisiologis hidung berfungsi sebagai alat respirasi untuk mengatur kondisi udara dengan mempersiapkan udara inspirasi agar sesuai dengan permukaan paru-paru,
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada individu dengan kecenderungan alergi setelah adanya paparan ulang antigen atau alergen
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Secara klinis, rinitis alergi didefinisikan sebagai kelainan simtomatis pada hidung
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rinitis Alergi 2.1.1. Definisi Secara klinis, rinitis alergi didefinisikan sebagai kelainan simtomatis pada hidung yang diinduksi oleh inflamasi yang diperantarai imunoglobulin
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sinus Paranasalis (SPN) terdiri dari empat sinus yaitu sinus maxillaris,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sinus Paranasalis (SPN) terdiri dari empat sinus yaitu sinus maxillaris, sinus frontalis, sinus sphenoidalis dan sinus ethmoidalis. Setiap rongga sinus ini
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 1. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis) 2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perenial)
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian rinitis alergi Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Asma adalah penyakit saluran nafas kronis yang penting
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.1. Latar Belakang Asma adalah penyakit saluran nafas kronis yang penting dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara diseluruh dunia. Meskipun penyakit
DAFTAR ISI SAMPUL DEPAN LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR SINGKATAN DAFTAR LAMPIRAN ABSTRAK
DAFTAR ISI SAMPUL DEPAN LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR SINGKATAN DAFTAR LAMPIRAN ABSTRAK ABSTRACT i ii iii iv vii ix xi xii xiv xv xvi BAB
PENGETAHUAN DASAR. Dr. Ariyati Yosi,
PENGETAHUAN DASAR IMUNOLOGI KULIT Dr. Ariyati Yosi, SpKK PENDAHULUAN Kulit: end organ banyak kelainan yang diperantarai oleh proses imun kulit berperan secara aktif sel-sel imun (limfoid dan sel langerhans)
BAB 1 PENDAHULUAN. pada saluran napas yang melibatkan banyak komponen sel dan elemennya, yang sangat mengganggu, dapat menurunkan kulitas hidup, dan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma dan rinosinusitis adalah penyakit yang amat lazim kita jumpai di masyarakat dengan angka prevalensi yang cenderung terus meningkat selama 20-30 tahun terakhir.
BAB 1 PENDAHULUAN. negara di seluruh dunia (Mangunugoro, 2004 dalam Ibnu Firdaus, 2011).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara di seluruh dunia (Mangunugoro, 2004 dalam Ibnu Firdaus, 2011). Asma merupakan penyakit inflamasi
BAB 1 PENDAHULUAN. Rhinitis alergi merupakan peradangan mukosa hidung yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Rhinitis alergi merupakan peradangan mukosa hidung yang disebabkan mediasi oleh reaksi hipersensitifitas atau alergi tipe 1. Rhinitis alergi dapat terjadi
BAB I PENDAHULUAN. hidung dan sinus paranasal ditandai dengan dua gejala atau lebih, salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EPOS) 2012, rinosinusitis kronis didefinisikan sebagai suatu radang hidung dan sinus paranasal
Laporan Kasus SINUSITIS MAKSILARIS
Laporan Kasus SINUSITIS MAKSILARIS Pembimbing: drg. Ernani Indrawati. Sp.Ort Disusun Oleh : Oktiyasari Puji Nurwati 206.12.10005 LABORATORIUM GIGI DAN MULUT RSUD KANJURUHAN KEPANJEN FAKULTAS KEDOKTERAN
MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS
MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS KD 3.8. Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis kronik yang berobat di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD Dr. Moewardi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rinosinusitis kronis (RSK) adalah penyakit inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung lebih dari 12 minggu. Pengobatan RSK sering belum bisa optimal
BAB 1 PENDAHULUAN. udara ekspirasi yang bervariasi (GINA, 2016). Proses inflamasi kronis yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Asma merupakan penyakit heterogen dengan karakteristik adanya inflamasi saluran napas kronis. Penyakit ini ditandai dengan riwayat gejala saluran napas berupa wheezing,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis. pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung selama minimal 12 minggu berturut-turut. Rinosinusitis kronis
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi Hidung terdiri dari bagian internal dan eksternal. Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago. Lubang hidung merupakan ostium
Mekanisme Pertahanan Tubuh. Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang
Mekanisme Pertahanan Tubuh Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar
ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN SINUSITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PADA APRIL 2015 SAMPAI APRIL 2016 Sinusitis yang merupakan salah
ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN SINUSITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PADA APRIL 2015 SAMPAI APRIL 2016 Sinusitis yang merupakan salah satu penyakit THT, Sinusitis adalah peradangan pada membran
BAB I PENDAHULUAN. Rinitis alergi (RA) merupakan suatu inflamasi pada mukosa rongga hidung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rinitis alergi (RA) merupakan suatu inflamasi pada mukosa rongga hidung yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe I yang dipicu oleh alergen tertentu.
Profil Pasien Rinosinusitis Kronik di Poliklinik THT-KL RSUP DR.M.Djamil Padang
77 Artikel Penelitian Profil Pasien Rinosinusitis Kronik di Poliklinik THT-KL RSUP DR.M.Djamil Padang Hesty Trihastuti, Bestari Jaka Budiman, Edison 3 Abstrak Rinosinusitis kronik adalah inflamasi kronik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anatomi dan Histologi Hidung Gambar 2.1 Anatomi Dinding Lateral Hidung (Netter, 2014) 20 Kavum nasi atau yang sering disebut sebagai rongga hidung memiliki bentuk seperti terowongan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian dilakukan sampai jumlah sampel terpenuhi.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tulang kepala yang terbentuk dari hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala. 7 Sinus
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi Sinus Paranasal Sinus atau lebih dikenal dengan sinus paranasal merupakan rongga di dalam tulang kepala yang terbentuk dari hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala.
Rhinosinusitis. Bey Putra Binekas
Rhinosinusitis Bey Putra Binekas Anatomi Fisiologi Sebagai pengatur kondisi udara Sebagai penahan suhu Membantu keseimbangan kepala Membantu resonansi suara Sebagai peredam perubahan tekanan udara Membantu
BAB I PENDAHULUAN. organisme berbahaya dan bahan-bahan berbahaya lainnya yang terkandung di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara Fisiologis hidung berfungsi sebagai alat respirasi untuk mengatur kondisi udara dengan mempersiapkan udara inspirasi agar sesuai dengan permukaan paru-paru, pengatur
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Asma merupakan penyakit kronis saluran pernapasan yang sering dijumpai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Asma Asma merupakan penyakit kronis saluran pernapasan yang sering dijumpai pada masa kanak-kanak. Merupakan salah satu reaksi hipersentivitas saluran napas, baik saluran
BAB I PENDAHULUAN. yang berbatas pada bagian superfisial kulit berupa bintul (wheal) yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Urtikaria merupakan salah satu manifestasi keluhan alergi pada kulit yang paling sering dikeluhkan oleh pasien. Urtikaria adalah suatu kelainan yang berbatas pada bagian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis alergika merupakan suatu penyakit yang sering kita jumpai di masyarakat yang dikenal juga sebagai dermatitis atopik (DA), yang mempunyai prevalensi 0,69%,
BAB 4 METODE PENELITIAN
31 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan leher 4.2. Rancangan Penelitian Desain penelitian
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Istilah atopik pertama kali diperkenalkan oleh Coca (1923), yaitu istilah yang dipakai untuk sekelompok penyakit pada individu yang mempunyai riwayat alergi/hipersensitivitas
BAB I PENDAHULUAN. 8,7% di tahun 2001, dan menjadi 9,6% di tahun
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Asma merupakan penyakit kronik yang sering ditemukan dan merupakan salah satu penyebab angka kesakitan pada anak di seluruh dunia. Di negara maju dan negara berkembang
BAB I PENDAHULUAN. paranasaldengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih gejala, salah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang (RSK) merupakaninflamasi mukosa hidung dan sinus paranasaldengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung tersumbat
Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas
Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta
Maria Ulfa Pjt Maria Lalo Reina Fahwid S Riza Kurnia Sari Sri Reny Hartati Yetti Vinolia R
BATUK Butet Elita Thresia Dewi Susanti Fadly Azhar Fahma Sari Herbert Regianto Layani Fransisca Maria Ulfa Pjt Maria Lalo Reina Fahwid S Riza Kurnia Sari Sri Reny Hartati Yetti Vinolia R BATUK Batuk adalah
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN. Telinga, Hidung, dan Tenggorok Bedah Kepala dan Leher, dan bagian. Semarang pada bulan Maret sampai Mei 2013.
28 BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, dan Tenggorok Bedah Kepala dan Leher, dan bagian pulmonologi Ilmu
GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA SINUSITIS DI POLIKLINIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014
1 GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA SINUSITIS DI POLIKLINIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014 Oleh: Sari Wulan Dwi Sutanegara 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN
BAB 2 SINDROMA WAJAH ADENOID. Sindroma wajah adenoid pertama kali diperkenalkan oleh Wilhelm Meyer (1868) di
BAB 2 SINDROMA WAJAH ADENOID 2.1. Pengertian Sindroma wajah adenoid pertama kali diperkenalkan oleh Wilhelm Meyer (1868) di Copenhagen sebagai suatu kelainan dentofasial yang disebabkan oleh obstruksi
Mr rinto, 22 thn KU : discharge hidung kental dan kekuningan
Mx gejala camelia Mr rinto, 22 thn KU : discharge hidung kental dan kekuningan Nasal discharge Ad material spt mucus yg keluar dr hidung. Nama lainnya : Runny nose; Postnasal drip; Rhinorrhea Produksi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Istilah asma berasal dari bahasa Yunani yang artinya terengahengah dan berarti serangan napas pendek. Meskipun dahulu istilah ini digunakan untuk menyatakan
BAB I PENDAHULUAN. bahan yang sama untuk kedua kalinya atau lebih. 1. manifestasi klinis tergantung pada organ target. Manifestasi klinis umum dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Istilah alergi digunakan pertama kali digunakan oleh Clemens von Pirquet bahan yang sama untuk kedua kalinya atau lebih. 1 Reaksi alergi dapat mempengaruhi hampir
BAB IV HASIL PENELITIAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis
BAB IV HASIL PENELITIAN Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis kronik yang berobat di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL. Selama penelitian diambil sampel sebanyak 50 pasien
DEFINISI BRONKITIS. suatu proses inflamasi pada pipa. bronkus
PENDAHULUAN Survei Kesehatan Rumah Tangga Dep.Kes RI (SKRT 1986,1992 dan 1995) secara konsisten memperlihatkan kelompok penyakit pernapasan yaitu pneumonia, tuberkulosis dan bronkitis, asma dan emfisema
CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI
CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI [email protected] Apakah imunologi itu? Imunologi adalah ilmu yang mempelajari sistem imun. Sistem imun dipunyai oleh berbagai organisme, namun pada tulisan ini sistem
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Rinitis alergi merupakan penyakit imunologi yang sering ditemukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rinitis alergi merupakan penyakit imunologi yang sering ditemukan (Madiadipora, 1996). Berdasarkan studi epidemiologi, prevalensi rinitis alergi diperkirakan berkisar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ini. Asma bronkial terjadi pada segala usia tetapi terutama dijumpai pada usia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit asma merupakan kelainan yang sangat sering ditemukan dan diperkirakan 4-5% populasi penduduk di Amerika Serikat terjangkit oleh penyakit ini. Asma bronkial
HASIL DAN PEMBAHASAN
18 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji tantang virus AI H5N1 pada dosis 10 4.0 EID 50 /0,1 ml per ekor secara intranasal menunjukkan bahwa virus ini menyebabkan mortalitas pada ayam sebagai hewan coba
SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH)
SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH) FUNGSI SISTEM IMUN: Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan
BAB III METODE DAN PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD
BAB III METODE DAN PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD Dr. Moewardi Surakarta, RSUD Karanganyar, RSUD Sukoharjo, dan RSUD Boyolali.
BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Rinosinusitis kronis disertai dengan polip hidung adalah suatu penyakit
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Rinosinusitis kronis disertai dengan polip hidung adalah suatu penyakit inflamasi yang melibatkan mukosa hidung dan sinus paranasal, dapat mengenai satu
BAB I PENDAHULUAN. pencemaran serta polusi. Pada tahun 2013 industri tekstil di Indonesia menduduki
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan pembangunan dan penggunaan teknologi di sektor industri berdampak positif terhadap peningkatan kualitas hidup dan pendapatan namun juga berdampak negatif
BAB 1 PENDAHULUAN. terjadi di Indonesia, termasuk dalam daftar jenis 10 penyakit. Departemen Kesehatan pada tahun 2005, penyakit sistem nafas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit infeksi saluran nafas atas akut yang sering terjadi di Indonesia, termasuk dalam daftar jenis 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Menurut laporan
BAB I PENDAHULUAN. bahwa prevalensi alergi terus meningkat mencapai 30-40% populasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang World Allergy Organization (WAO) tahun 2011 mengemukakan bahwa prevalensi alergi terus meningkat mencapai 30-40% populasi dunia. 1 World Health Organization (WHO) memperkirakan
BAB III METODE DAN PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik THT-KL RSUD Dr. Moewardi
BAB III METODE DAN PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik THT-KL RSUD Dr. Moewardi Surakarta, Poliklinik THT-KL RSUD Karanganyar, Poliklinik THT-KL RSUD Boyolali.
NONSTEROIDAL ANTI-INFLAMMATORY DRUGS (NSAID S)
NONSTEROIDAL ANTI-INFLAMMATORY DRUGS (NSAID S) RESPON INFLAMASI (RADANG) Radang pada umumnya dibagi menjadi 3 bagian Peradangan akut, merupakan respon awal suatu proses kerusakan jaringan. Respon imun,
kekambuhan asma di Ruang Poli Paru RSUD Jombang.
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma adalah penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan mayarakat di hampir semua negara di dunia, diderita oleh anak-anak sampai dewasa dengan derajat penyakit
Anatomi Sinus Paranasal Ada empat pasang sinus paranasal yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri.
Anatomi Sinus Paranasal Ada empat pasang sinus paranasal yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala,
DIAGNOSIS CEPAT (RAPID DIAGNOSIS) DENGAN MENGGUNAKAN TES SEDERHANA DARI SEKRET HIDUNG PADA PENDERITA RINOSINUSITIS
ARTIKEL PENELITIAN DIAGNOSIS CEPAT (RAPID DIAGNOSIS DENGAN MENGGUNAKAN TES SEDERHANA DARI SEKRET HIDUNG PADA PENDERITA RINOSINUSITIS Siti Masliana Siregar 1 1 Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan
B A B I PENDAHULUAN. penyakit akibat pajanan debu tersebut antara lain asma, rhinitis alergi dan penyakit paru
B A B I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pajanan debu kayu yang lama dapat menyebabkan berbagai gangguan pada sistem pernafasan, pengaruh pajanan debu ini sering diabaikan sehingga dapat menimbulkan berbagai
