BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Transkripsi

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan jumlah penduduk semakin hari semakin meningkat. Semakin meningkatnya jumlah penduduk maka semakin meningkat pula kebutuhan air bersih. Peningkatan kebutuhan air bersih ini tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya air bersih, malahan kuantitas dan kualitas air bersih semakin menurun. Pertambahan jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan sangat berpengaruh terhadap kebutuhan air rumah tangga (Mislan, 1999). Semakin tinggi jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan penduduk maka semakin besar pula konsumsi air bersih rumah tangga. Perilaku dan kebiasaan penduduk mempengaruhi pola konsumsi air bersih. Konsumsi air di perkotaan akan lebih tinggi daripada pedesaan yang jumlah penduduknya lebih kecil, karena penduduk di perkotaan tidak hanya mengkonsumsi air untuk keperluan pokok seperti minum, memasak, dan kebersihan tetapi juga untuk keperluan kemewahan seperti mengisi kolam renang atau kolam ikan, menyiram tanaman dan jalan, dan keperluan lainnya yang tidak tergolong dalam kebutuhan pokok manusia. Selain itu, penduduk di perkotaan akan lebih sering mengkonsumsi air untuk kebersihan dibandingkan penduduk pedesaan karena tingkat polusi di perkotaan lebih tinggi daripada pedesaan. Tingkat kesejahteraan penduduk pun mempengaruhi konsumsi air bersih, karena semakin tinggi tingkat kesejahteraan maka semakin banyak harta benda yang dimiliki sehingga semakin besar air yang dibutuhkan untuk pemeliharaannya. Masalah air yang terjadi di Indonesia menurut Salim (1983) dan DRN (1994) adalah menyangkut masalah kuantitas, kualitas, pemborosan dan kepincangan dalam neraca air sehingga eksploitasi yang berlebihan akan bersifat merugikan yaitu menurunkan kemampuan penyediaan air di masa datang (Mislan, 1999). Di Kota Cimahi, muka air tanah tahun 1980 mencapai 15 meter di atas permukaan tanah,

2 2 namun tahun 2004 permukaan air tanah turun mencapai 86 meter di bawah permukaan tanah (Cakrawala, 2005). Penurunan permukaan air tanah disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: pembangunan industri, kurangnya daerah resapan air, dan penggunaan air tanah yang berlebihan oleh rumah tangga. Hal ini menunjukkan eksploitasi air tidak hanya dilakukan oleh sektor-sektor besar seperti sektor industri, perdagangan, jasa, pertambangan, dan sektor-sektor lain yang mengkonsumsi air dengan skala besar tetapi juga oleh sektor rumah tangga. Sekitar 40% dari total kebutuhan air bersih digunakan untuk keperluan rumah tangga (domectic use) (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, 1997:510). Penyediaan air yang bersifat individual dengan sumber air pribadi melalui sumur timba, sumur bor, dan pompa air yang dilakukan oleh sebagian besar rumah tangga di beberapa wilayah turut memiliki andil dalam eksploitasi air di Indonesia. Terpenuhinya kebutuhan akan air merupakan kunci utama bagi perkembangan suatu kegiatan dan elemen penting bagi keberlanjutan suatu produktivitas perekonomian (Thuran, 1995:3). Seluruh kegiatan penduduk termasuk perekonomian membutuhkan air, tanpa air maka semua aktivitas penduduk tidak akan bisa berjalan. Jika kebutuhan air tidak terpenuhi maka kegiatan dan produktivitas perekonomian tidak akan bisa berjalan. Pemenuhan kebutuhan air untuk sektor rumah tangga memegang peranan penting di dalam menjaga produktivitas nasional secara keseluruhan (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, 1997:510). Produktivitas nasional tergantung pada produktivitas sumber daya manusia (SDM). Jika kebutuhan rumah tangga terpenuhi maka kebutuhan SDM yang berasal dari rumah tangga akan terpenuhi, sehingga mendukung produktivitas nasional. Untuk itu, pemenuhan kebutuhan air bersih rumah tangga perlu untuk diperhatikan. Pemecahan terbatasnya penyediaan air bersih rumah tangga harus dilakukan secara komprehensif dan berdasarkan prinsip keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan serta keberlanjutan. Keterbatasan air dapat dipecahkan dengan pendekatan tradisional dan pendekatan konservasi. Pendekatan tradisional dengan pembangunan infrastruktur memiliki hambatan yaitu kurangnya sumber air baku. Pembangunan

3 3 infrastruktur tanpa didukung oleh penyediaan air yang memadai untuk diolah dan didistribusikan mengakibatkan pembangunan infrastruktur tersebut menjadi mubajir. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang baru akan sulit dilakukan saat ini mengingat salah satu permasalahan yang dihadapi PDAM adalah keterbatasan dana. Karena alasan tersebut, maka pendekatan konservasi akan lebih bijak untuk diterapkan dalam pemecahan terbatasnya penyediaan air bersih rumah tangga. Orientasi kebijakan air bersih ke arah yang berkelanjutan akan lebih tercapai dengan pendekatan konservasi yaitu manajemen kebutuhan air bersih, karena pendekatan konservasi lebih memperhatikan konservasi air dengan cara mengatur dan mengubah kebutuhan air bersih. Cara mengatur dan mengubah perilaku penduduk dalam mengkonsumsi air dapat dilakukan dengan gerakan penghematan air. Gerakan penghematan air yang merupakan upaya mempengaruhi jumlah konsumsi air ke arah penggunaan yang tepat dan efisien harus berhasil dilaksanakan. Hal tersebut dapat dicapai jika persepsi penduduk dalam mengkonsumsi air rumah tangga sudah tepat (Syme dan Nancarrow, 1996 dalam Mislan 1999). Sehubungan dengan itu, penelitian mengenai identifikasi karakteristik pola konsumsi rumah tangga perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah dan perilaku penduduk dalam mengkonsumsi air bersih serta mengetahui cara yang bisa ditempuh untuk mengkonservasi air bersih dari sisi kebutuhan (penduduk). 1.2 Rumusan Persoalan Pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin meningkat tidak diimbangi dengan kesediaan sumber daya air bersih. Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan bertambahnya kebutuhan akan air bersih. Sementara ketersediaan sumber air bersih semakin menurun yang ditandai dengan menurunnya permukaan air tanah. Sumber air bersih yang digunakan penduduk adalah sumber air pribadi dan sumber air publik. Sebagian besar penduduk memenuhi kebutuhan air bersih dengan menggunakan sumber air pribadi yaitu dengan menggunakan sumur bor/timba/pompa.

4 4 Pembangunan dan ketersediaan infrastruktur air bersih saat ini menghadapi beberapa kendala antara lain terbatasnya sumber air baku, terbatasnya dana yang dimiliki PDAM, tingkat kebocoran air yang tinggi, dan banyaknya penduduk yang tidak bersedia berlangganan PDAM padahal jaringan PDAM sudah tersedia di tempat tinggalnya. Penduduk memilih untuk menggunakan sumber air pribadi karena tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membayar iuran PDAM. Penggunaan sumber air pribadi menyebabkan penduduk bertindak boros dan tidak terkendali dalam menggunakan air bersih. Jika penduduk dibiarkan terus berperilaku boros dalam menggunakan air bersih, maka persediaan air bersih akan menurun dan tidak akan berkelanjutan. Dengan demikian, pemecahan terbatasnya sumber daya air bersih perlu dilakukan dari sisi kebutuhan. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan dalam studi ini adalah bagaimana karaktersitik pola konsumsi air bersih rumah tangga, apakah rumah konsumsi air bersih rumah tangga yang menggunakan sumber air pribadi lebih besar dibandingkan rumah tangga yang menggunakan sumber air publik, apakah aspek sosial ekonomi mempengaruhi konsumsi air bersih rumah tangga, dan apakah perubahan pola konsumsi air bersih sebagai upaya penghematan air dapat mengkonversi air bersih dalam jumlah yang cukup besar. 1.3 Hipotesis Studi Pemborosan air yang dilakukan rumah tangga turut ambil andil dalam eksploitasi sumber daya air bersih, khususnya rumah tangga yang menggunakan sumber air pribadi. Penggunaan sumber air pribadi sulit untuk dikontrol dibandingkan penggunaan sumber air publik. Penggunaan sumber air publik dapat dikontrol dengan penerapan tarif. Semakin besar konsumsi air bersih yang digunakan maka semakin besar tarif yang dikenakan. Jadi sumber air mempengaruhi konsumsi air bersih rumah tangga. Selain itu, konsumsi air bersih rumah tangga dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: jenis dan besar lingkungan, standar hidup (pendapatan per kapita), iklim, kualitas air, tekanan aliran air, ketersediaan meter penggunaan air, umur

5 5 lingkungan, peraturan pembatasan lingkungan air (program konservasi), ongkos/tarif air, industri dan perdagangan, ukuran kota (ciri-ciri penduduk), ukuran keluarga, kota asal penduduk, tipe meteran, pendidikan responden, kepadatan ruang, variasi permintaan air bersih untuk menyiram tanaman. Dalam studi ini, faktor yang akan diteliti sebagai faktor yang mempengaruhi konsumsi air bersih rumah tangga adalah aspek sosial ekonomi (ukuran keluarga, pendidikan responden, tingkat penghasilan) dan kualitas air (lihat sub bab 2.5 dan tabel II.4). Pemecahan terbatasnya sumber air bersih perlu dilakukan dari sisi kebutuhan dengan cara mengubah pola konsumsi air bersih rumah tangga. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis dalam studi ini antara lain: Rata-rata konsumsi air bersih penduduk yang menggunakan sumber air pribadi lebih besar dibandingkan penduduk yang menggunakan sumber air publik dengan karateristik sosial ekonomi rumah tangga yang sama. Pola konsumsi air bersih rumah tangga dipengaruhi oleh aspek sosial ekonomi seperti tingkat pendidikan dan tingkat penghasilan. 1.4 Tujuan dan Sasaran Tujuan Penelitian ini adalah mengkaji pola konsumsi air bersih rumah tangga sebagai upaya bagi konservasi air bersih. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka sasaran yang ditetapkan antara lain: Kajian pola konsumsi air bersih rumah tangga per keperluan dan berdasarkan sumber air Kajian pola konsumsi air bersih berdasarkan aspek sosial ekonomi Kajian dampak perubahan pola konsumsi air bersih rumah tangga terhadap kebutuhan dan konservasi air bersih

6 6 1.5 Ruang Lingkup Ruang lingkup studi terbagi dua, yaitu ruang lingkup materi dan ruang lingkup wilayah studi Ruang Lingkup Materi Studi pada Kelurahan Setiamanah ini mencakup ruang lingkup materi yang akan dibatasi pada pembahasan sebagai berikut: Aspek pola konsumsi air bersih per keperluan dan berdasarkan sumber air Aspek konsumsi air bersih rumah tangga per keperluan dan berdasarkan sumber air adalah besarnya jumlah konsumsi air bersih penduduk per keperluan, baik keperluan pribadi maupun kolektif dan pola konsumsi air bersih berdasarkan sumber air yang digunakan. Aspek ini dibahas untuk melihat distribusi konsumsi air bersih rumah tangga, perbandingan pola konsumsi air bersih rumah tangga yang menggunakan air bersih publik dan pribadi serta menguji apakah konsumsi air bersih responden yang menggunakan sumber air pribadi lebih besar daripada responden yang menggunakan sumber air publik. Aspek pola konsumsi air bersih berdasarkan aspek sosial ekonomi Aspek konsumsi air bersih rumah tangga berdasarkan aspek sosial ekonomi adalah besarnya jumlah konsumsi air bersih penduduk berdasarkan aspek sosial ekonomi yang terdiri dari tingkat penghasilan, tingkat pendidikan ibu rumah tangga, dan jumlah anggota keluarga. Selanjutnya melihat pengaruh aspek sosial ekonomi terhadap pola konsumsi air bersih dan membandingkan rata-rata konsumsi air bersih rumah tangga berdasarkan sumber air dengan karakteristik sosial ekonomi yang sama. Aspek dampak perubahan pola konsumsi air bersih rumah tangga (penghematan) terhadap kebutuhan dan konservasi air Aspek dampak perubahan pola konsumsi air bersih rumah tangga (penghematan) terhadap kebutuhan dan konservasi air adalah dampak yang ditimbulkan dengan adanya perubahan pola konsumsi air bersih rumah tangga (penghematan) terhadap

7 7 besarnya kebutuhan air bersih secara total dan konservasi air yang dapat dicapai. Aspek ini dibahas untuk melihat perubahan kebutuhan air bersih rumah tangga dengan adanya penghematan dan bagaimana pengaruhnya terhadap kebutuhan air bersih dalam lingkup yang lebih luas seperti Kelurahan Setiamanah dan Kota Cimahi, serta melihat besarnya konservasi air yang dapat dicapai dan kemungkinan peningkatan pelayanan PDAM Ruang Lingkup Wilayah Studi Studi ini dilakukan di salah satu kelurahan di Kota Cimahi yaitu Kelurahan Setiamanah. Kelurahan Setiamanah terletak di Kecamatan Cimahi Tengah, di pusat Kota Cimahi. Alasan Kelurahan Setiamanah dijadikan wilayah studi antara lain: 52,67% Kelurahan Setiamanah merupakan kawasan permukiman (Data Monografi Kelurahan Setiamanah, 2006). Jaringan PDAM pun sudah masuk dan tersebar di seluruh kelurahan, namun tidak semua penduduk menggunakan air dari PDAM. Proporsi rumah tangga yang menggunakan sumber air pribadi dan publik (PDAM) cukup besar. Sebagian besar rumah tangga menggunakan sumber air pribadi melalui sumur timba, sumur bor, dan pompa tangan. Besarnya jumlah rumah tangga yang menggunakan sumber air pribadi dapat menjadi sasaran dalam upaya konservasi air. Proporsi golongan rumah tangga pelanggan PDAM 1B dan 1C cukup berimbang dari pada wilayah lain, sehingga bisa mewakili konsumsi air bersih pelanggan PDAM bergolongan 1B dan 1C. Pelanggan yang bergolongan 1A sudah tidak ada lagi. Karakteristik penduduk di Kelurahan tersebut cukup beranekaragam baik dari segi pendidikan maupun penghasilan. Tingkat pendidikan penduduk di Kelurahan Setiamanah beranekaragam mulai dari tidak/belum sekolah hingga strata III. Tingkat penghasilan penduduknya pun beranekaragam mulai dari yang berpenghasilan di bawah Rp hingga di atas Rp

8 8 1.6 Metode Penelitian Metode Pengumpulan Data Dalam studi ini, data dibagi menjadi dua yaitu data sekunder dan data primer Pengumpulan data sekunder Data sekunder dikumpulkan dengan cara mencari dan menelaah buku, tugas akhir, tesis, jurnal, laporan penelitian, internet, serta data-data dari instansi-instansi yang terkait dengan penelitian. Instansi-instansi tersebut antara lain: Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Cimahi, Kantor Kelurahan Setiamanah, Dinas Kependudukan Kota Cimahi, Dinas Tata Kota Cimahi, Bappeda Kota Cimahi, serta Badan Perberdayaan Penduduk (BPM) Kota Cimahi dan Propinsi Jawa Barat. Adapun kebutuhan data sekunder dan sumber data dapat dilihat pada tabel I.1. TABEL I.1 DATA SEKUNDER DAN SUMBERNYA Nama Data Jumlah pelanggan PDAM Data Monografi Desa, Peta Kelurahan Setiamanah Peta Kelurahan Setiamanah Jumlah penduduk Kelurahan Setiamanah berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, golongan umur, serta jumlah kepala keluarga dan alamatnya RDTR Kota Cimahi RTRW Kota Cimahi Jumlah Keluarga Sejahtera berdasarkan tahapannya Standar kebutuhan air bersih Tinjauan pustaka yang berkaitan dengan pola konsumsi air rumah tangga dan penghematan air bersih Sumber PDAM Kota Cimahi Kantor Kelurahan Setiamanah Dinas Kependudukan Kota Cimahi Dinas Tata Kota Cimahi Bappeda Kota Cimahi Badan Pemberdayaan Penduduk dan Keluarga Berencana (BPMKB) Kota Cimahi Buku literatur, tugas akhir, tesis, jurnal, laporan penelitian, internet Buku literatur, tugas akhir, tesis, jurnal, laporan penelitian, internet

9

10 10

11 Pengumpulan data primer Metode pengumpulan data primer yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara menggunakan kuesioner secara langsung. Wawancara dilakukan kepada ibu rumah tangga atau kepada anggota keluarga yang berjenis kelamin perempuan dan sudah remaja. Ibu rumah tangga atau anggota keluarga berjenis kelamin perempuan dan sudah remaja dipilih sebagai responden karena terbiasa melakukan kegiatan rumah tangga seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, dan kegiatan rumah tangga lainnya sehingga mengetahui pola konsumsi air bersih rumah tangganya. Karena tidak adanya data mengenai jumlah rumah tangga maka jumlah sampel yang akan dijadikan responden dihitung dengan menggunakan jumlah kepala rumah tangga yang terdapat di Kelurahan Setiamanah. Perbedaan rumah tangga dengan kepala keluarga adalah dalam satu rumah tangga bisa terdiri dari beberapa kepala keluarga. Jadi jumlah rumah tangga bisa jadi lebih kecil dari jumlah kepala rumah tangga. Untuk memperoleh jumlah sampel yang akan diteliti maka digunakan rumus Slovin dengan tingkat kepercayaan 90%. Rumus Slovin adalah sebagai berikut (Sugiyono, 1994): n N Ne 2 + Keterangan: n = jumlah sampel N = populasi e = error estimate, yaitu besarnya derajat kepercayaan studi (10%) Jumlah kepada rumah tangga di Kelurahan Setiamanah berdasarkan Data Monografi Kelurahan Setiamanah tahun 2006 adalah KK, maka dengan tingkat kepercayaan 90% diperoleh minimal jumlah sampel adalah 98,02 98 rumah tangga. Jadi jumlah sampel minimal yang harus diteliti adalah 98 rumah tangga. Pengambilan sampel dilakukan di seluruh RW di Kelurahan Setiamanah. Untuk menghindari adanya sampel yang tidak dapat diolah, maka sampel yang diteliti adalah 114 rumah 1

12 12 tangga. Selanjutnya seluruh sampel dianalisis walaupun ada sampel yang tidak menjawab lengkap seluruh pertanyaan yang diajukan, dan hal ini ditanggulangi dengan beberapa pendekatan yang terdapat pada lampiran C. Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data-data mengenai jumlah konsumsi air bersih rumah tangga per keperluan meliputi keperluan untuk minum, memasak, mandi, mencuci pakaian, membersihkan rumah, wudhu, menyiram tanaman, mencuci kendaraan, dan mengisi aquarium. Keperluan lainnya tidak diperhitungkan, seperti mencuci tangan, mencuci kaki, menyikat gigi, mencuci muka, membersihkan kamar mandi, demikian juga keperluan-keperluan lain yang bukan merupakan kegiatan rutinitas, seperti konsumsi air bersih bagi tamu atau kerabat yang berkunjung. Keperluan-keperluan yang diteliti jumlah konsumsi air bersihnya dalam penelitian ini dikelompokkan ke dalam 3 jenis keperluan antara lain: Keperluan primer: minum dan memasak Keperluan sekunder: mandi, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan wudhu Keperluan tersier: menyiram tanaman, mencuci kendaraan, dan mengisi aquarium Data mengenai jumlah konsumsi air bersih yang tepat untuk keperluankeperluan tersebut memang cukup sulit diperoleh, sehingga untuk mendapatkan data tersebut dilakukan beberapa pendekatan. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan antara lain: Menanyakan jumlah konsumsi air bersih per keperluan dengan satuan ember, gayung, teko, atau wadah lainnya. Karena ukuran ember berbedabeda maka setiap ukuran dan jenis ember diukur volumenya dalam satuan liter. Ukuran dan jenis ember atau wadah tersebut digambarkan dalam foto sehingga responden bisa dengan mudah menunjukkan ember yang digunakan dan surveyor atau peneliti bisa dengan mudah juga mengkonversikannya ke satuan liter. Konsumsi air bersih responden memang belum tentu tepat karena wadah yang digunakan bisa jadi tidak penuh, namun dengan cara ini jumlah konsumsi air bersih bisa didekati.

13 13 Selanjutnya semua keperluan air bersih, dari beberapa satuan dikonversikan ke liter per orang per hari. Karena tidak semua keperluan memiliki satuan liter per orang per hari. Jumlah konsumsi air bersih yang diperoleh untuk kegiatan-kegiatan kolektif seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menyiram tanaman, mencuci kendaraan, dan mengisi aquarium adalah jumlah konsumsi dengan satuan per rumah tangga sehingga data tersebut harus dikonversikan ke satuan per orang untuk beberapa analisis. Begitu pula konsumsi air bersih yang dilakukan per minggu atau tidak setiap hari harus dikonversikan ke dalam satuan per hari Teknik Analisis Data Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang mudah dibaca dan diinterpretasikan dengan menggunakan perangkat statistik sesuai dengan tujuan atau hasil yang ingin dicapai dalam penelitian. Analisis statistik adalah analisis yang terkait dengan pengumpulan, pengorganisasian, dan interpretasi data menurut prosedur tertentu. Dalam penelitian ini, teknik statistik yang digunakan adalah Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa maksud membuat kesimpulan yang berlaku umum. Statistik inferensial digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi (Healey, 1996). Statistik inferensial yang digunakan adalah inferensi parametrik, karena jenis data yang digunakan adalah interval rasio, dengan metode uji hipotesa perbedaan rata-rata dua sampel independen. Statistik asosiasi digunakan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara variabel-variabel dan seberapa kuat hubungan serta bagaimana arah hubungan antara variabel-variabel tersebut. Metoda statistik asosiasi yang

14 14 digunakan adalah pearson 1, karena jenis data yang digunakan adalah interval rasio dan hasil yang ingin dilihat adalah ada tidaknya hubungan antara dua variabel dan berapa kekuatan hubungan tersebut tanpa melihat modelnya. Analisis regresi berganda dengan menggunakan variabel boneka (dummy variable 2 ) digunakan untuk mengetahui hubungan beberapa variabel dengan konsumsi air bersih. Analisis anova digunakan untuk mengetahui apakah rata-rata konsumsi air bersih rumah tangga berdasarkan sumber air dengan kesamaan karaktersitik sosial ekonomi adalah sama. Analisis sensitivitas digunakan untuk mengetahui variabel yang secara signifikan berpengaruh terhadap total konsumsi air bersih. Pola konsumsi air bersih dalam studi ini diartikan sebagai jumlah dan perilaku penduduk dalam mengkonsumsi air bersih. Sedangkan perilaku adalah cara penduduk dalam mengkonsumsi air bersih. Tahapan analisis yang dilakukan dalam studi ini adalah sebagai berikut: 1. Pola Konsumsi Air Bersih per Keperluan dan berdasarkan Sumber Air Analisis yang digunakan antara lain: a. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan rata-rata konsumsi air bersih per keperluan, jumlah seluruh konsumsi air bersih dan membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan, mendeskripsikan jumlah responden yang menggunakan satu sumber air dan dua sumber air, melihat referensi responden terhadap kualitas air yang digunakan, dan membandingkan distribusi konsumsi air bersih per keperluan antara responden yang menggunakan sumber air pribadi dan publik. 1 Pearson adalah analisis asosiasi yang digunakan untuk jenis data interval rasio. Analisis ini akan menunjukkan kekuatan dan arah hubungan antar variabel. 2 Dummy Variable (sering disebut variable linear yang nilainya 0 atau 1) seringkali digunakan untuk mengkuantitatifkan kejadian kualitatif. Variabel ini paling banyak digunakan dalam aplikasi analisis regresi. (Spyros, 1991:516)

15 15 b. Analisis inferensial yaitu uji hipotesa perbedaan rata-rata dua sampel independen digunakan untuk menguji perbedaan rata-rata jumlah konsumsi air bersih untuk keperluan mencuci pakaian dengan frekuensi mencuci tiap hari dan tidak tiap hari serta menguji perbedaan rata-rata jumlah konsumsi air bersih responden yang menggunakan sumber air pribadi dan sumber air publik. c. Analisis asosiasi pearson digunakan untuk mengetahui hubungan antara jumlah pembilasan pakaian dengan jumlah konsumsi air bersih untuk keperluan mencuci pakaian 2. Pola Konsumsi Air Bersih Berdasarkan Aspek Sosial Ekonomi Analisis yang digunakan adalah: a. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan konsumsi air bersih berdasarkan tingkat penghasilan dan tingkat pendidikan ibu rumah tangga b. Analisis asosiasi pearson digunakan untuk mengetahui hubungan antara jumlah jumlah anggota keluarga dengan rata-rata konsumsi responden. c. Analisis regresi dengan menggunakan dummy variable digunakan untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan responden dan tingkat penghasilan terhadap konsumsi air bersih rumah tangga. d. Analisis anova digunakan untuk mengetahui apakah rata-rata konsumsi air bersih rumah tangga berdasarkan sumber air dengan kesamaan karaktersitik sosial ekonomi adalah sama. 3. Dampak Perubahan Pola Konsumsi Air Bersih Rumah Tangga (Penghematan) terhadap Kebutuhan dan Konservasi Air Bersih Analisis yang digunakan adalah: a. Analisis deskriptif digunakan untuk mengklasifikasikan responden berdasarkan konsumsi air bersih, mendeskripsikan kesediaan responden untuk menghemat air bersih, serta mendeskripsikan cara yang bisa dan terbiasa dilakukan reponden dalam penghematan air.

16 16 b. Analisis sensitivitas digunakan untuk mengetahui variabel yang secara signifikan berpengaruh terhadap total konsumsi air bersih. c. Selanjutnya digunakan perhitungan matematis untuk menghitung kebutuhan dan konservasi air yang dapat dicapai dengan adanya perubahan pola konsumsi air bersih/upaya penghematan. 1.7 Sistematika Pembahasan Adapun sistematika penulisan penelitian ini meliputi: BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini berisi uraian mengenai latar belakang studi, rumusan persoalan, hipotesis studi, tujuan dan sasaran studi yang ingin dicapai, ruang lingkup studi yang meliputi batasan wilayah studi dan lingkup materi, metodologi studi sebagai alat dan langkah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dan sistematika penulisan. BAB 2 TINJAUAN KEBUTUHAN AIR BERSIH RUMAH TANGGA Bab ini berisi tinjauan pustaka yang berhubungan dengan konsumsi air bersih rumah tangga, standar-standar, dan hasil penelitian sebelumnya. Selain itu, ditinjau pula hal-hal mengenai konservasi dan penghematan air bersih yang dapat dilakukan. BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI Bab ini memaparkan mengenai gambaran umum wilayah studi Kelurahan Setiamanah yang berisikan tinjauan secara umum wilayah studi yang berkaitan dengan kondisi fisik dan demografi di wilayah studi serta produktivitas air bersih di PDAM. BAB 4 POLA KONSUMSI AIR BERSIH RUMAH TANGGA Pada bab ini akan dianalisis karakteristik pola konsumsi air bersih di Kelurahan Setiamanah terdiri dari penjelasan mengenai pola konsumsi air bersih rumah tangga per keperluan dan berdasarkan sumber air, pola konsumsi air bersih rumah tangga berdasarkan aspek sosial ekonomi, serta dampak

17 17 perubahan pola konsumsi air bersih rumah tangga (penghematan) terhadap kebutuhan dan konservasi air bersih. BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Bab ini merupakan bab terakhir dari laporan penelitian yang terdiri dari temuan studi, kesimpulan dan rekomendasi atas hasil penelitian yang telah dilakukan. Bab ini juga menbahas kelemahan-kelemahan penelitian dalam catatan hasil studi dan saran-saran untuk studi lanjutan.

18 18

19 19 GAMBAR 1.2 DIAGRAM KERANGKA PEMIKIRAN STUDI

20 20

21 21 TABEL I.2 KETERKAITAN SASARAN, ANALISIS, DAN KELUARAN Permasalahan Sasaran Analisis Keluaran Pertambahan penduduk tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya air, pola konsumsi air bersih rumah tangga tergolong tinggi yang menyebabkan persediaan air bersih menurun, dan masih banyaknya penduduk yang menggunakan sumber air pribadi walaupun sudah ada jaringan PDAM. Identifikasi pola konsumsi air bersih rumah tangga per keperluan dan berdasarkan sumber air Identifikasi pola konsumsi air bersih rumah tangga berdasarkan aspek sosial ekonomi Analisis deskriptif Analisis inferensial (uji rata-rata perbedaan dua sampel independent) Analisis asosiasi pearson Analisis deskriptif Analisis regresi berganda dengan dummy variable Analisis anova Analisis asosiasi pearson Konsumsi air terbesar rumah tangga digunakan untuk keperluan MCK (54,04%), wudhu (13,71%), dan mencuci pakaian (11,05%). Pola konsumsi air bersih responden yang menggunakan sumber air pribadi dan publik relatif sama Konsumsi air bersih responden untuk mencuci pakaian dengan frekuensi tiap hari tidak sama dengan responden yang tidak mencuci tiap hari Perbedaan rata-rata konsumsi air bersih rumah tangga antara responden yang menggunakan sumber air pribadi dan publik tidak terbukti secara signifikan Tidak ada hubungan antara jumlah pembilasan dengan konsumsi air bersih untuk keperluan mencuci pakaian Tidak ada perbedaan konsumsi air bersih responden berdasarkan aspek sosial ekonomi Tingkat pendidikan dan penghasilan responden tidak mempengaruhi konsumsi air bersih rumah tangga Rata-rata konsumsi air bersih responden yang menggunakan sumber air publik sama dengan responden yang menggunakan sumber air pribadi dengan karakteristik social ekonomi sumah tangga yang sama Korelasi jumlah anggota keluarga dengan konsumsi air bersih rumah tangga adalah 0,428 (korelasi lemah)

22 22 Lanjutan tabel Permasalahan Sasaran Analisis Keluaran Pertambahan penduduk tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya air, pola konsumsi air bersih rumah tangga tergolong tinggi yang menyebabkan persediaan air bersih menurun, dan masih banyaknya penduduk yang menggunakan sumber air pribadi walaupun sudah ada jaringan PDAM. Identifikasi dampak penghematan terhadap kebutuhan dan konservasi air bersih Analisis deskriptif Analisis sensitifitas Sebagian besar konsumsi air bersih responden tergolong tinggi Responden yang bersedia melakukan penghematan air bersih adalah 71,05. Cara penghematan yang dapat dilakukan antara lain: mengubah frekuensi mencuci pakaian, mengurangi konsumsi air untuk wudhu dan MCK, serta menggunkan air bekas cucian dapur untuk menyiram tanaman Penghematan mengubah kebutuhan air bersih responden dari 147,74 l/org/hr menjadi antara 98,53-142,49 l/org/hr Konservasi air yang dapat dicapai di Kelurahan Setiamanah dan Kota Cimahi adalah antara 0,04-0,37 dan 1-9,39 miliar liter per tahun PDAM dapat menambah pelanggan PDAM golongan B sebesar 3.8%-39% (81-830) Frekuensi mencuci pakaian 3 hari sekali lebih berpengaruh pada jumlah konsumsi air untuk keperluan mencuci dibandingkan frekuensi 2 hari sekali

23 23

KAJIAN POLA KONSUMSI AIR BERSIH RUMAH TANGGA DI KELURAHAN SETIAMANAH, KOTA CIMAHI SEBAGAI MASUKAN BAGI UPAYA KONVERSI

KAJIAN POLA KONSUMSI AIR BERSIH RUMAH TANGGA DI KELURAHAN SETIAMANAH, KOTA CIMAHI SEBAGAI MASUKAN BAGI UPAYA KONVERSI KAJIAN POLA KONSUMSI AIR BERSIH RUMAH TANGGA DI KELURAHAN SETIAMANAH, KOTA CIMAHI SEBAGAI MASUKAN BAGI UPAYA KONVERSI TUGAS AKHIR Disusun oleh: Dian Mangiring Arika (NIM 154 03 047) PROGRAM STUDI PERENCANAAN

Lebih terperinci

BAB 4 POLA KONSUMSI AIR BERSIH RUMAH TANGGA DI KELURAHAN SETIAMANAH

BAB 4 POLA KONSUMSI AIR BERSIH RUMAH TANGGA DI KELURAHAN SETIAMANAH BAB 4 POLA KONSUMSI AIR BERSIH RUMAH TANGGA DI KELURAHAN SETIAMANAH Pada bab ini akan diuraikan mengenai hasil analisis pola konsumsi air bersih rumah tangga di Kelurahan Setiamanah, Kecamatan Cimahi Tengah.

Lebih terperinci

BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI Bab ini akan membahas Kelurahan Setiamanah secara umum sebagai wilayah studi. Kelurahan Setiamanah merupakan salah satu kelurahan dari enam kelurahan di Kecamatan Cimahi

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pasar Oeba selain sebagai layanan jasa komersial juga sebagai kawasan permukiman penduduk. Kondisi pasar masih menghadapi beberapa permasalahan antara lain : sampah

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam 51 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya, data yang dikumpulkan berupa data primer dan data

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai sumber daya yang tersebar secara luas di bumi ini walaupun dalam jumlah yang berbeda, air terdapat dimana saja dan memegang peranan penting dalam kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kuantitas dan kualitas tertentu untuk menopang kehidupannya. Penambahan

BAB I PENDAHULUAN. dalam kuantitas dan kualitas tertentu untuk menopang kehidupannya. Penambahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan. Manusia membutuhkan air dalam kuantitas dan kualitas tertentu untuk menopang kehidupannya. Penambahan jumlah konsumen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Kota Bandung adalah salah satu kota yang memiliki potensi sebagai kota kreatif yang cukup besar. Sejak dulu, Kota Bandung sudah dikenal sebagai pusat tekstil, mode,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia tanpa air manusia tidak mungkin dapat hidup, karena untuk berbagai macam kegunaan, manusia selalu mengkonsumsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan penduduk kota kota di Indonesia baik sebagai akibat pertumbuhan penduduk maupun akibat urbanisasi telah memberikan indikasi adanya masalah perkotaan yang

Lebih terperinci

Metodologi Penelitian

Metodologi Penelitian Bab I V Metodologi Penelitian IV.1 Umum Untuk penentuan perhitungan penelitian kehilangan air pada sistem jaringan perpipaan distribusi air minum Kota Bandung, perlu diketahui dahulu apakah kehilangan

Lebih terperinci

Gambar 1 Kerangka pemikiran metodologi penelitian.

Gambar 1 Kerangka pemikiran metodologi penelitian. III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Keberadaan hutan dan masyarakat sekitar hutan secara langsung atau tidak langsung sangat berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat yang ada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di berbagai kota di Indonesia, baik kota besar maupun kota kecil dan sekitarnya pembangunan fisik berlangsung dengan pesat. Hal ini di dorong oleh adanya pertumbuhan penduduk

Lebih terperinci

Karakteristik Keluarga : Besar Keluarga Pendidikan Suami Pekerjaan Suami Pendapatan Keluarga Pengeluaran Keluarga. Persepsi Contoh terhadap LPG

Karakteristik Keluarga : Besar Keluarga Pendidikan Suami Pekerjaan Suami Pendapatan Keluarga Pengeluaran Keluarga. Persepsi Contoh terhadap LPG KERANGKA PEMIKIRAN Program konversi minyak tanah ke LPG dilakukan melalui pembagian paket LPG kg beserta tabung, kompor, regulator dan selang secara gratis kepada keluarga miskin yang jumlahnya mencapai.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Bab Latar Belakang. BPS Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung

PENDAHULUAN. Bab Latar Belakang. BPS Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung Bab - 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sanitasi merupakan salah satu pelayanan dasar yang kurang mendapatkan perhatian dan belum menjadi prioritas pembangunan di daerah. Dari berbagai kajian terungkap

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai

METODE PENELITIAN. Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai 32 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Data primer Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara

Lebih terperinci

KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN AIR DOMESTIK PENDUDUK DESA GIRIMOYO, KECAMATAN KARANGPLOSO, KABUPATEN MALANG

KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN AIR DOMESTIK PENDUDUK DESA GIRIMOYO, KECAMATAN KARANGPLOSO, KABUPATEN MALANG KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN AIR DOMESTIK PENDUDUK DESA GIRIMOYO, KECAMATAN KARANGPLOSO, KABUPATEN MALANG Nelya Eka Susanti, Akhmad Faruq Hamdani Universitas Kanjuruhan Malang [email protected], [email protected]

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 160 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bagian sebelumnya telah dibahas berbagai temuan yang diperoleh dari penelitian. Pada bagian akhir ini selanjutnya akan dibahas mengenai kesimpulan yang didapat

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. permukaan air laut (rob). Fenomena ini berdampak pada kehidupan masyarakat

III. KERANGKA PEMIKIRAN. permukaan air laut (rob). Fenomena ini berdampak pada kehidupan masyarakat III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Perubahan iklim merupakan implikasi dari kegiatan manusia yang menyebabkan peningkatan suhu bumi. Hal ini menjadi faktor pemicu mencairnya lapisan es di kawasan

Lebih terperinci

4.1. PENGUMPULAN DATA

4.1. PENGUMPULAN DATA Metodologi adalah acuan untuk menentukan langkah-langkah kegiatan yang perlu diambil dalam suatu analisa permasalahan. Penerapan secara sistematis perlu digunakan untuk menentukan akurat atau tidaknya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN a. Jenis / Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian Explanatory Recearch atau penelitian penjelasan yaitu menjelaskan adanya hubungan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Faktor-faktor yang..., Muhammad Fauzi, FE UI, 2010.

BAB 1 PENDAHULUAN. Faktor-faktor yang..., Muhammad Fauzi, FE UI, 2010. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasal 33 Ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar

Lebih terperinci

PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH BAGI MASYARAKAT DI PERUMNAS PUCANGGADING TUGAS AKHIR

PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH BAGI MASYARAKAT DI PERUMNAS PUCANGGADING TUGAS AKHIR PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH BAGI MASYARAKAT DI PERUMNAS PUCANGGADING TUGAS AKHIR Oleh: DODY KURNIAWAN L2D 001 412 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Desain, Lokasi, dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. Desain, Lokasi, dan Waktu Penelitian METODE PENELITIAN Desain, Lokasi, dan Waktu Penelitian Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dengan metode survey di Kelurahan Kertamaya, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Pemilihan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Air bersih merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat mendasar. Air diperlukan untuk menunjang berbagai kegiatan manusia sehari-hari mulai dari minum, memasak,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Muka bumi yang luasnya ± juta Km 2 ditutupi oleh daratan seluas

BAB I PENDAHULUAN. Muka bumi yang luasnya ± juta Km 2 ditutupi oleh daratan seluas 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Muka bumi yang luasnya ± 510.073 juta Km 2 ditutupi oleh daratan seluas 148.94 juta Km 2 (29.2%) dan lautan 361.132 juta Km 2 (70.8%), sehingga dapat dikatakan bahwa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Pikir Penelitian Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang mempengaruhi kepuasan pemakai jasa Warnet. Untuk itu dalam penelitian ini akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Perwilayahan adalah usaha untuk membagi bagi permukaan bumi atau bagian permukaan bumi tertentu untuk tujuan yang tertentu pula (Hadi Sabari Yunus, 1977).

Lebih terperinci

KAJIAN KEMAMPUAN DAN KEMAUAN MASYARAKAT KOTA LUBUK BASUNG DALAM MENDAPATKAN PELAYANAN AIR BERSIH

KAJIAN KEMAMPUAN DAN KEMAUAN MASYARAKAT KOTA LUBUK BASUNG DALAM MENDAPATKAN PELAYANAN AIR BERSIH KAJIAN KEMAMPUAN DAN KEMAUAN MASYARAKAT KOTA LUBUK BASUNG DALAM MENDAPATKAN PELAYANAN AIR BERSIH TUGAS AKHIR OLEH : Hendra Thamrin L2D 302 383 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

5 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN

5 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN 5 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN Dalam bab ini akan membahas mengenai strategi yang akan digunakan dalam pengembangan penyediaan air bersih di pulau kecil, studi kasus Kota Tarakan. Strategi

Lebih terperinci

BAB II METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode. berdasarkan data dan fakta yang ada di lapangan.

BAB II METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode. berdasarkan data dan fakta yang ada di lapangan. BABVI: PENUTUP Bab ini berisikan kesimpulan dan saran yang akan diperoleh dari hasil penelitian. BAB II METODE PENELITIAN 2.1. Bentuk Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Menurut Sugiyono (2009 : 41), dalam melakukan penelitian, harus

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Menurut Sugiyono (2009 : 41), dalam melakukan penelitian, harus BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Menurut Sugiyono (2009 : 41), dalam melakukan penelitian, harus diperhatikan hal sebagai berikut : Sebelum peneliti memilih variabel apa yang akan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metodologi Penelitian 3.1.1. Pendekatan Penelitian Substansi yang diteliti dari penelitian ini ialah pola persebaran permukiman yang terdapat di Kawasan Rawan III dan

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI TINGKAT KEKUMUHAN DAN POLA PENANGANAN YANG TEPAT DI KAWASAN KUMUH KELURAHAN TANJUNG KETAPANG TAHUN 2016

IDENTIFIKASI TINGKAT KEKUMUHAN DAN POLA PENANGANAN YANG TEPAT DI KAWASAN KUMUH KELURAHAN TANJUNG KETAPANG TAHUN 2016 Syauriansyah Tugas Akhir Fakultas Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Esa Unggul LAMPIRAN I LEMBAR KUESIONER MASYARAKAT IDENTIFIKASI TINGKAT KEKUMUHAN DAN POLA PENANGANAN YANG TEPAT DI KAWASAN

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha 69 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Pemakaian Air Bersih 5.1.1 Pemakaian Air Untuk Domestik Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel di wilayah usaha PAM PT. TB, menunjukkan bahwa pemakaian air bersih

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Bab ini memuat kumpulan teori, hasil penelitian, serta ketentuan yang menunjung dan mengarah pada studi mengenai pola konsumsi air bersih rumah tangga. 2.1 Standar Kebutuhan Air

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pulau Bali dengan luas kurang lebih 5.636,66 km 2. penduduk yang mencapai jiwa sangat rentan terhadap berbagai dampak

BAB I PENDAHULUAN. Pulau Bali dengan luas kurang lebih 5.636,66 km 2. penduduk yang mencapai jiwa sangat rentan terhadap berbagai dampak 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pulau Bali dengan luas kurang lebih 5.636,66 km 2 dengan jumlah penduduk yang mencapai 3.890.757 jiwa sangat rentan terhadap berbagai dampak negatif dari pembangunan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. aktivitas mereka sehari-hari. Air memegang peranan penting bagi kehidupan

BAB I. PENDAHULUAN. aktivitas mereka sehari-hari. Air memegang peranan penting bagi kehidupan BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air bersih merupakan salah satu jenis sumberdaya air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka

Lebih terperinci

Kata Pengantar. Akhir kata kepada semua pihak yang telah turut membantu menyusun laporan interim ini disampaikan terima kasih.

Kata Pengantar. Akhir kata kepada semua pihak yang telah turut membantu menyusun laporan interim ini disampaikan terima kasih. Kata Pengantar Buku laporan interim ini merupakan laporan dalam pelaksanaan Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Bidang PU Ciptakarya Kabupaten Asahan yang merupakan kerja sama

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI LOKASI DAN SAMPEL PENELITIAN. Kelurahan Kamal Muara merupakan wilayah pecahan dari Kelurahan

V. DESKRIPSI LOKASI DAN SAMPEL PENELITIAN. Kelurahan Kamal Muara merupakan wilayah pecahan dari Kelurahan V. DESKRIPSI LOKASI DAN SAMPEL PENELITIAN Kelurahan Kamal Muara merupakan wilayah pecahan dari Kelurahan Kapuk, Kelurahan Kamal dan Kelurahan Tegal Alur, dengan luas wilayah 1 053 Ha. Terdiri dari 4 Rukun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kelurahan Purus merupakan salah satu kelurahan di kota Padang yang relatif berkembang

I. PENDAHULUAN. Kelurahan Purus merupakan salah satu kelurahan di kota Padang yang relatif berkembang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelurahan Purus merupakan salah satu kelurahan di kota Padang yang relatif berkembang lebih cepat seiring dengan berkembangnya kota Perkembangan ini terutama karena lokasinya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. satu variable dengan variable yang lain atau dengan istilah lain adalah

BAB III METODE PENELITIAN. satu variable dengan variable yang lain atau dengan istilah lain adalah BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Objek dari penelitian ini adalah pedagang pasar tradisional Wates kabupaten Kulon Progo. Penelitian ini ditunjukkan untuk menjelaskan kedudukan- kedudukan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional di bidang gizi masyarakat, yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel-variabel

Lebih terperinci

POLA DAN PROSES KONSUMSI AIR MASYARAKAT PERMUKIMAN SEPANJANG SUNGAI JAJAR DI KABUPATEN DEMAK (Kecamatan Demak Kecamatan Kebonagung) TUGAS AKHIR

POLA DAN PROSES KONSUMSI AIR MASYARAKAT PERMUKIMAN SEPANJANG SUNGAI JAJAR DI KABUPATEN DEMAK (Kecamatan Demak Kecamatan Kebonagung) TUGAS AKHIR POLA DAN PROSES KONSUMSI AIR MASYARAKAT PERMUKIMAN SEPANJANG SUNGAI JAJAR DI KABUPATEN DEMAK (Kecamatan Demak Kecamatan Kebonagung) TUGAS AKHIR Oleh : MAYANG HAPSARI L2D 304 158 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH

Lebih terperinci

Bab III Metodologi Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian III.1 Tahapan Penelitian Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar III.1 di bawah ini. Gambar III.1. Diagram Alir Penelitian 28 III.2 Waktu

Lebih terperinci

2016 KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU BERD ASARKAN JUMLAH PEND UD UK D I KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMED ANG

2016 KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU BERD ASARKAN JUMLAH PEND UD UK D I KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMED ANG BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ruang terbuka hijau (RTH) merupakan suatu ruang terbuka di kawasan perkotaan yang didominasi tutupan lahannya oleh vegetasi serta memiliki fungsi antara lain

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Cara Pengambilan Contoh

METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Cara Pengambilan Contoh 21 METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian mengenai perilaku penggunaan internet ini menggunakan desain cross sectional study dengan metode survey. Penelitian ini dilakukan di Institut Pertanian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Objek penelitian adalah daerah tempat akan diadakannya penelitian yang mendukung dalam penulisan penelitian itu sendiri. Dalam hal ini yang akan dijadikan

Lebih terperinci

EVALUASI KINERJA PELAYANAN PENYEDIA AIR BERSIH SISTEM PERPIPAAN DI KOTA KECIL (STUDI KASUS: KOTA SOREANG DAN BANJARAN) TUGAS AKHIR

EVALUASI KINERJA PELAYANAN PENYEDIA AIR BERSIH SISTEM PERPIPAAN DI KOTA KECIL (STUDI KASUS: KOTA SOREANG DAN BANJARAN) TUGAS AKHIR EVALUASI KINERJA PELAYANAN PENYEDIA AIR BERSIH SISTEM PERPIPAAN DI KOTA KECIL (STUDI KASUS: KOTA SOREANG DAN BANJARAN) TUGAS AKHIR DYAH NASTITI PROBORINI 15402049 PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN

Lebih terperinci

1.PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1.PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bekasi, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat yang terletak di sebelah timur Jakarta. Batas administratif Kota bekasi yaitu: sebelah barat adalah Jakarta, Kabupaten

Lebih terperinci

UCAPAN TERIMA KASIH. Denpasar, 28 Oktober Penulis. 5. Seluruh rekan dan keluarga yang telah memberikan dorongan semangat

UCAPAN TERIMA KASIH. Denpasar, 28 Oktober Penulis. 5. Seluruh rekan dan keluarga yang telah memberikan dorongan semangat UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatnyalah, penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul Analisis Perubahan Penggunaan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian adalah suatu rencana tentang cara mengumpulkan, mengolah, menganalisis data secara sistematis dan terarah agar penelitian dapat dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu hal yang menjadi fokus perhatian di berbagai bidang saat ini adalah berkaitan dengan upaya untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Definisi berkelanjutan

Lebih terperinci

BAB III DESAIN RISET III.1 Pendekatan Studi

BAB III DESAIN RISET III.1 Pendekatan Studi BAB III DESAIN RISET Dalam bab ini akan dibahas metodologi penelitian yang digunakan, unit analisis yang digunakan, data yang mendukung penelitian, pengumpulan data, lokasi penelitian, pemilihan sampel,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Bab pertama studi penelitian ini menjelaskan mengenai latar belakang, rumusan persoalan, tujuan dan sasaran penelitian, ruang lingkup yang mencakup ruang lingkup materi dan ruang lingkup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan di Kabupaten Pasuruan dilaksanakan secara partisipatif, transparan dan akuntabel dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan pengertian dasar pembangunan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan suatu kota ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas sosial ekonomi. Hal ini tercermin dengan semakin meningkatnya penggunaan lahan baik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab ini akan dipaparkan mengenai latar belakang dari penelitian ini, rumusan masalah, tujuan dan sasaran, ruang lingkup penelitian, metodologi yang digunakan, serta sistematika pembahasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bandung merupakan Ibukota Provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk berdasarkan proyeksi sensus penduduk tahun 2012 yaitu 2,455,517 juta jiwa, dengan kepadatan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 50 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metodologi Penelitian Metodologi yang dipilih dalam penelitian ini adalah metodologi penelitian kuantitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk menemukan hubungan modal

Lebih terperinci

Faktor yang Berpengaruh dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Perikanan di Pulau Poteran

Faktor yang Berpengaruh dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Perikanan di Pulau Poteran JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) C-148 Faktor yang Berpengaruh dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Perikanan di Pulau Poteran Dira Arumsani dan Adjie Pamungkas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pemilihan tempat di Kecamatan sentajo raya Kabupaten Kuantan Singingi. segi waktu dan biaya penulis merasa terjangkau.

BAB III METODE PENELITIAN. pemilihan tempat di Kecamatan sentajo raya Kabupaten Kuantan Singingi. segi waktu dan biaya penulis merasa terjangkau. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di teluk kecamatan sentajo raya - Kuantan Singingi,. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada tahun 2014. Alasan pemilihan

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. mencapai tujuan. Nazir (1983 : 52) menyatakan bahwa Metode penelitian adalah

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. mencapai tujuan. Nazir (1983 : 52) menyatakan bahwa Metode penelitian adalah BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. METODE PENELITIAN Metode adalah cara yang digunakan oleh seorang peneliti untuk mencapai tujuan. Nazir (1983 : 52) menyatakan bahwa Metode penelitian adalah bagaimana secara

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAN PENANGANAN PENYELENGGARAAN AIR MINUM PROVINSI BANTEN Oleh:

KEBIJAKAN DAN PENANGANAN PENYELENGGARAAN AIR MINUM PROVINSI BANTEN Oleh: KEBIJAKAN DAN PENANGANAN PENYELENGGARAAN AIR MINUM PROVINSI BANTEN Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT. Definisi Air Minum menurut MDG s adalah air minum perpipaan dan air minum non perpipaan terlindung yang berasal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima

BAB I PENDAHULUAN. Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sanitasi merupakan salah satu pelayanan dasar yang kurang mendapatkan perhatian dan belum menjadi prioritas pembangunan di daerah. Dari berbagai kajian terungkap bahwa

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian untuk

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian untuk 44 III. METODE PENELITIAN A. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian untuk mendapatkan data yang akan dianalisis dengan mengoperasionalkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. daerah kawasan sekitar alun-alun Kota Batu yaitu sebagai pedagang.

BAB III METODE PENELITIAN. daerah kawasan sekitar alun-alun Kota Batu yaitu sebagai pedagang. BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Lokasi dalam penelitian ini berada di sekitar alun-alun Kota Batu dengan objek penelitian pekerja sektor informal yang menjalankan usahanya di daerah kawasan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Teknik Penarikan Contoh

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Teknik Penarikan Contoh METODE PENELITIAN Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study. Cross sectional study dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Kecamatan Bogor Tengah merupakan kecamatan yang posisinya berada di

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Kecamatan Bogor Tengah merupakan kecamatan yang posisinya berada di BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Kecamatan Bogor Tengah merupakan kecamatan yang posisinya berada di pusat Kota Bogor dan sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kota Bogor. Selain pusat pemerintahan, wilayah

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Dalam bab ini akan dipaparkan temuan studi, kesimpulan, dan rekomendasi dari studi yang telah dilakukan. Di bagian akhir bab ini, juga akan dipaparkan mengenai kelemahan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Limbah domestik merupakan jumlah pencemar terbesar yang masuk ke perairan

PENDAHULUAN. Limbah domestik merupakan jumlah pencemar terbesar yang masuk ke perairan PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pencemaran lingkungan merupakan konsekuensi dari setiap kegiatan manusia yang berkaitan langsung dengan lingkungan, dimana potensi timbulnya pencemaran berjalan tegak lurus

Lebih terperinci

BAB III OBYEK DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini mengungkapkan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi

BAB III OBYEK DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini mengungkapkan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi 45 BAB III OBYEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Obyek Penelitian Penelitian ini mengungkapkan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan absolute. Dalam penelitiuan ini variable yang akan diteliti terdiri

Lebih terperinci

pembangunan (misalnya dalam Musrenbang). Oleh sebab itu, pemerintah tidak mengetahui secara tepat apa yang sebenarnya menjadi preferensi lokal

pembangunan (misalnya dalam Musrenbang). Oleh sebab itu, pemerintah tidak mengetahui secara tepat apa yang sebenarnya menjadi preferensi lokal 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyelenggaraan desentralisasi pembangunan di Indonesia pada era otonomi daerah tidak dapat terpisahkan dari upaya perwujudan demokrasi dalam pembangunan. Sebagaimana

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA SIDAMANIK SUMATERA UTARA KOTA SIDAMANIK ADMINISTRASI Profil Kota Kota Kisaran merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara. PENDUDUK Jumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di masa lalu dimana daya dukung alam masih baik, manusia dapat mengkonsumsi air dari alam secara langsung. Sejalan dengan penurunan daya dukung alam menurun pula

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hampir semua kegiatan manusia membutuhkan air, sehingga manusia tidak bisa

BAB I PENDAHULUAN. Hampir semua kegiatan manusia membutuhkan air, sehingga manusia tidak bisa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Air merupakan kebutuhan yang paling utama dalam kehidupan manusia. Hampir semua kegiatan manusia membutuhkan air, sehingga manusia tidak bisa hidup tanpa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yang rasional, empiris, dan

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yang rasional, empiris, dan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Menurut Sugiyono (2005;01), Metode Penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu, dan penelitian

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret hingga bulan November 2009, bertempat di laboratorium dan di lapangan. Penelitian di lapangan ( pengecekan

Lebih terperinci