PENGEMBANGAN KONSEP PADA TUNANETRA. Juang Sunanto
|
|
|
- Siska Darmali
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENGEMBANGAN KONSEP PADA TUNANETRA Juang Sunanto A. Pendahuluan Menurut Lowenfeld ketunanetraan mengakibatkan tiga keterbatasan yaitu (1) dalam luasnya dan variasi pengalaman (konsep), (2) kemampuan untuk berpindah tempat, dan (3) untuk mengontrol dan berinteraksi dengan lingkungan. Untuk meminimalkan keterbatasan tersebut, tunanetra memerlukan keterampilan khusus yaitu keterampilan orientasi dan mobilitas (O&M). Orientasi adalah pengetahuan tentang dimana posisi seseorang, akan kemana, dan bagaimana cara seseorang menuju tempat tertentu yang diinginkan. Penting sekali seseorang untuk berorientasi dengan lingkunganannya. Penggunaan indera penglihatan adalah cara yang paling mudah dan efektif untuk memperoleh informasi untuk orientasi, karena dengan melihat lingkungan sekitar seseorang dapat mengumpulkan informasi yang terbanyak. Bagi tunanetra untuk dapat berorientasi dengan lingkungannya harus menggunakan indera selain penglihatan yaitu indera pendengaran (hearing), perabaan (touch), dan pembauan (smell) dan juga menggunakan memori untuk memperoleh gambaran ada dimana dirinya dalam hubungannya dengan lingkungan. Mobilitas berarti gerakan atau berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain. Orang yang awas mungkin melakukan kegiatan merangkak, meloncat, berjalan, atau lari untuk bergerak atau berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain yang diinginkan dapat dilakukan sendiri dengan mudah. Bagi tunanetra untuk melakukan kegiatan tersebut memerlukan teknik khusus. 1
2 Latihan keterampilan O&M akan membuat tunanetra dapat melakukan berbagai kegiatan secara efektif, efisien dan selamat di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat. Keterampilan O&M mencakup (1) keterampilan sensori (sensory skills), (2) pengembangan konsep (concept development), (3) pengembamngan motorik (motor development), (4) keterampilan orientasi (orientation skills), dan (5) keterampilan mobilitas (mobility skills). Tujuan utama pengajaran O&M pada tunanetra adalah agar mereka dapat melakukan perjalanan secara aman, mandiri, efektif, dan percaya diri. B. Pengembangan Konsep Pengembangan konsep adalah proses penggunaan informasi sensoris (sensory information) untuk membentuk suatu gambaran ruang (space) dan lingkungan. Dalam hal ini konsep dapat disamakan dengan kognitif dalam teori perkembangan kognitif Peaget. Menurut Peaget kemampuan kognitif akan berkembang jika anak berinteraksi dengan lingkungannya. Konsep tentang ruang (spatial) akan berkembang tergantung utamanya pada indera penglihatan. Oleh karena itu, sebagaimana telah dikemukakan di atas, keterbatasan luas dan variasi pengalaman akibat ketunanetraan tersebut perlu dikembangkan melalui program pengembengan konsep. Menurut Peaget pengembangan kognitif memiliki beberapa tahap secara hierarki, yaitu mulai tahap sensori motor, preoperational, concrete operation (operasi konkrit), dan formal operation (operasi formal). Karena tidak memiliki indera penglihatan (visual), tunanetra mengalami kesulitan untuk mencapai tahap konkrit dalam memahami konsep tertentu bahkan ada beberapa konsep yang tidak mungkin dipahami oleh tunanetra seperti misalnya warna, bulan, bintang, mata hari dll. Konsep tentang jarak atau ruang yang secara ideal dapat dipahami melalui indera penglihatan, tunanetra harus memahaminya melalui haptic atau kinesthetic. Konsep tentang ruang atau jarak ini sangat berguna untuk mengetahui atau mengenali hubungan antar obyek. Misalnya benda B terletak lebih jauh di samping kanan benda A, sementara benda C terletak lebih dekat dengan A
3 dibandingkan dengan B. Untuk mengenal konsep seperti ini tunanetra tidak menggunakan indera penglihatan dan memerlukan teknik khusus. Dalam kehidupan sehari-hari terlalu banyak konsep yang perlu dipahami oleh manusia tak terkecuali tunanetra. Meskipun tunanetra tidak dapat memahami semua konsep yang dapat dipahami oleh orang awas sekurang-kurangnya mereka perlu mengenal beberapa istilah yang digunakan untuk menggambarkan konsep tersebut misalnya nama-nama warna, matahari, bulan, bintang dan lain-lain. Pengenalan istilah ini diperlukan untuk memenuhi sebagai alat komunikasi dengan orang awas. Hill dan Blasch (1980) mengklasifikasi jenis-jenis konsep terutama yang diperlukan untuk keterampilan O&M menjadi tiga kategori besar yaitu (1) konsep tubuh (body concepts), (2) konsep ruang (spatial concepts), dan konsep lingkungan (environmental concepts). Informasi yang diperlukan oleh tunanetra untuk mengenal konsep tubuh mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi atau mengenali nama bagian-bagian tubuh serta mengetahui lokasi, gerakan, hubungannya dengan bagian tubuh yang lain, dan fungsi bagian-bagian tubuh tersebut. Pengenalan tubuh yang baik merupakan modal dasar untuk mengembangkan konsep ruang dan sebagai dasar untuk proses orientasi dirinya terhadap lingkungan yang diperlukan untuk mencapai mobilitas yang baik. Konsep ruang (spatial concepts) mencakup posisi (positional) atau hubungan (relational), bentuk dan ukuran. Sebagai contoh konsep tentang posisi/hubungan melikputi depan, belakang, atas (top), bottom (dasar), kiri, kanan, antara, paralel dsb. Yang termasuk konsep bentuk meliputi bulat, lingkaran, persegi panjang, segi tiga dll. Sedangkan yang termasuk konsep ukuran meliputi jarak, jumlah, berat, volume, panjang, dll. Konsep ukuran dapat berupa satuan 3
4 seperti: kg, cm, m2 dll di samping itu juga berupa ukuran relatif seperti kecil, besar, berat, ringan, sempit, jauh dsb. C. Pengajaran Konsep Dalam pengajaran atau latihan O&M, konsep sebuah obyek dikenali atau dipelajari melalui tiga hal penting yaitu tujuan, karakteristek, dan fungsi. Misalnya konsep tentang pintu dapat dikenali sebagai berikut 1. Tujuan: untuk memisahkan dua ruang dalam suatu bangunan atau memisahkan antara ruang (indoors) dan luar ruang (outside) 2. Karakteristik: pintu dapat dibuat dari kayu, metal, kaca dll. 3. Fungsi: pintu dapat berfungsi membuka dan menutup dengan menggunakan engsel Di samping penggunaan prinsip tersebut pemahaman konsep sangat terkait dengan pengembangan bahasa. Dalam mengajarkan konsep pada anak-anak, mereka dikatakan telah memahami suatu konsep jika mereka dapat mengikuti perintah-perintah dengan menggunakan kata-kata (word) yang menggambarkan konsep tertentu dan dapat menggunakannya dalam percakapan. Misalnya seorang anak diberikan suatu mainan (bola) di letakkan di samping tubuhnya, kemudian kita tanya ini apa Misalnya dia menjawab bola kemudian ditanya lagi bola ada dimana dia menjawab di samping. Kondisi ini menggambarkan bahwa anak telah memahi konsep bola dan sedikit tentang konsep posisi ( di samping). Daftar Pustaka Scholl, G. T. (ed).(1986). Foundations of education for blind and visually handicapped children and youth: Theory and practice. New York: American Foundation for the Blind Dodson-Burk, B dan Hill, E. W. (1989). An orientation and mobility for families and young children. New York: American Foundation for the Blind
5 Hill, E. W. dan Blasch, B. B. (1980). Concept development. In. R. L., Welsh dan B. B., Blasch (eds.), Foundation of orientation and mobility (pp ). New York: American Foundation for the Blind McLinden, D. J. (1981). Instructional for orientation and mobility. Journal Visual Impairment & Blindness, 75, 7, Lowenfeld, B. (ed.). (1973). The visually handicapped child in school. New York: The John Day Company 5
6 PENGEMBANGAN KONSEP PADA TUNANETRA Makalah Disampaikan pada Penataran Guru SLB se-jawa Barat Tanggal 19 Juni 2003 Oleh Juang Sunanto, Ph. D
Latihan Sensitivitas Proprioseptic Menggunakan Tongkat Beroda pada Anak Tunanetra
Latihan Sensitivitas Proprioseptic Menggunakan Tongkat Beroda pada Anak Tunanetra Juang Sunantodan Imas M. Pendidikan Luar Biasa, FIP UPI Abstrak Keterampilan mengontrol gerakan anggota tubuh melibatkan
SILABUS MATA KULIAH. 4. Pendekatan Pembelajaran Metode : Ceramah, diskusi, dan simulasi Tugas : Analisis kasus Media : Video dan LCD. 5.
SILABUS MATA KULIAH 1. Identitas Mata Kuliah Nama Mata Kuliah : Hambatan Belajar dan Perkembangan 1 Kode Mata Kuliah : KK702 Jumlah SKS : 3 Semester : 2 Program Studi : Pendidikan Kebutuhan Khusus Status
TEKNIK PENDAMPING AWAS
TEKNIK PENDAMPING AWAS Oleh: Djadja Rahardja JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA A. TUJUAN Setelah menyelesaikan Unit 1 ini, anda diharapkan dapat: 1.
MAKALAH KONSEP DASAR ORIENTASI DAN MOBILITAS. Oleh: DJADJA RAHARDJA AHMAD NAWAWI
MAKALAH KONSEP DASAR ORIENTASI DAN MOBILITAS Oleh: DJADJA RAHARDJA AHMAD NAWAWI JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2010 1. Orientasi KONSEP DASAR ORIENTASI
Kemampuan mobilitas yang tinggi dalam segala aspek kehidupan. merupakan dambaan setiap individu tidak terkecuali mereka yang menyandang
A. Pendahuluan Kemampuan mobilitas yang tinggi dalam segala aspek kehidupan merupakan dambaan setiap individu tidak terkecuali mereka yang menyandang ketunanetraan. Bagi orang awas, kemampuan mobilitas
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA SILABUS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA SILABUS A. Identitas Mata Kuliah: Nama Mata Kuliah : Pendidikan Anak Tunanetra 1 Kode Mata Kuliah : LB 151 Jumlah
terhadap Anak dengan Hambatan Penglihatan yang
Telaah* Pengembangan Konsep, Komunikasi clan Gerak +Juang Sunarto Pengembangan Konsep, Komunikasi, dan Gerak terhadap Anak dengan Hambatan Penglihatan yang disertai Hambatan Lain (MDVI) Juang Sunanto Universitas
ANAK DENGAN GANGGUAN PENGLIHATAN. Juang Sunanto (Dosen di Jurusan Pendidikan Luar Biasa, UPI)
ANAK DENGAN GANGGUAN PENGLIHATAN Juang Sunanto (Dosen di Jurusan Pendidikan Luar Biasa, UPI) Para psikolog dan pendidik memprediksi antara 90 persen - 95 persen persepsi orang awas berasal dari persepsi
Dampak Ketunanetraan terhadap Fungsi Kognitif Anak
Dampak Ketunanetraan terhadap Fungsi Kognitif Anak Oleh Didi Tarsidi Kognisi adalah persepsi individu tentang orang lain dan obyek-obyek yang diorganisasikannya secara selektif. Respon individu terhadap
BAB I PENDAHULUAN. pengembangan sumber daya manusia, termasuk tunanetra. Pendidikan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan memiliki fungsi yang sangat strategis dalam upaya pengembangan sumber daya manusia, termasuk tunanetra. Pendidikan merupakan proses perubahan yang sistematik
Drs. Djadja Rahardja, M.Ed.
PENGEMBANGAN KONSEP Disampaikan pada Pelatihan Program Khusus Orientasi dan Mobilitas yang dilaksanakan Balai Pelatihan Guru Sekolah Luar Biasa Dinas Pendidikan Jawa Barat Hotel Bumi Makmur Indah 12 19
MODEL SILABUS. Standar Kompetensi : 1. Memahami gambaran konsep tubuh dengan benar berikut lokasi, dan fungsi serta gerakannya.
MODEL SILABUS Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar Luar Biasa Tunanetra (SDLB-A) Mata Pelajaran : Orientasi dan Mobilitas Standar Kompetensi : 1. Memahami gambaran konsep tubuh dengan benar berikut lokasi,
DR. Didi Tarsidi, M.Pd., UPI. Dampak Ketunanetraan terhadap Pembelajaran Bahasa
DR. Didi Tarsidi, M.Pd., UPI Dampak Ketunanetraan terhadap Pembelajaran Bahasa Definisi Tunanetra (Pertuni, 2004) Orang tunanetra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total)
PRAKTEK BERGERAK DILINGKUNGAN SEKTAR SEKOLAH DAN UMUM
PRAKTEK BERGERAK DILINGKUNGAN SEKTAR SEKOLAH DAN UMUM Irham Hosni PLB FIP UPI PELATIHAN PROGRAM KHUSUS ORIENTASI DAN MOBILITAS Hotel BMI Lembang, 12 19 Maret 2010 BPPTKPLB Dinas Pendidikan Provinsi Jawa
JASSI_anakku Volume 18 Nomor 2, Desember 2016
Model Construction untuk Meningkatkan Kemampuan Cognitive Mapping Anak Tunanetra Nisa Nurhidayah dan Juang Sunanto Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus, Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK Cognitive
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERHITUNG MELALUI METODE JARIMATIKA PADA SISWA TUNANETRA. Oleh: Siti Rachmawati ABSTRAK
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERHITUNG MELALUI METODE JARIMATIKA PADA SISWA TUNANETRA Oleh: Siti Rachmawati [email protected] ABSTRAK Hambatan peningkatan kemampuan berhitung pada siswa tunanetra terjadi karena
Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Khusus Tunanetra melalui Pendekatan Orientasi dan Mobilitas di Malang
Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Khusus Tunanetra melalui Pendekatan Orientasi dan Mobilitas di Malang Adif Lazuardy Firdiansyah 1, Abraham M. Ridjal, ST., MT. 2, Ir. Ali Soekirno 2 ¹Mahasiswa Jurusan
PENGGUNAAN MEDIA BLOCK CARD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DAN MEMBUAT DENAH PADA SISWA TUNANETRA. Oleh: Siti Rachmawati, S.
JRR Tahun 23, No. 2, Desember 204 06-2 PENGGUNAAN MEDIA BLOCK CARD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DAN MEMBUAT DENAH PADA SISWA TUNANETRA Oleh: Siti Rachmawati, S.Pd SLB N Semarang ABSTRAK Kemampuan
PANDUAN PELAKSANAAN KURIKULUM PENDIDIKAN KHUSUS
S PANDUAN PELAKSANAAN KURIKULUM PENDIDIKAN KHUSUS PROGRAM KHUSUS: ORIENTASI DAN MOBILITAS SEKOLAH DASAR LUAR BIASA TUNANETRA (SDLB-A) DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH LUAR BIASA DIREKTORAT JENDERAL MANEJEMEN
BAB III METODE PENELITIAN. yang terjadi antara kondisi ideal dengan kenyataan yang ada di lapangan. Kondisi
63 BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan memecahkan masalah yang muncul dalam dunia pendidikan bagi tunanetra. Penelitian biasanya berangkat dari adanya kesenjangan yang terjadi antara kondisi
KONSEP DAN STRATEGI IMPLEMENTASI KTSP SLB TUNANETRA
KONSEP DAN STRATEGI IMPLEMENTASI KTSP SLB TUNANETRA Disampaikan pada Lokakarya Nasional Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi Guru PAI Tunanetra di SLB se-indonesia Wisma Shakti Taridi
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA SILABI PENDIDIKAN INKLUSI
SILABI MATA KULIAH Nama Mata Kuliah : Pendidikan Kode Mata Kuliah : PLB Jumlah SKS : 3 SKS. (1,5 teori, 0,5 lapangan, 1 Praktek) Dosen : Dr. Sari Rudiyati, Prodi/Jurusan : Pendidikan Luar Biasa Prasyarat
II. Deskripsi Kondisi Anak
I. Kondisi Anak 1. Apakah Anak Ibu/ Bapak termasuk mengalami kelainan : a. Tunanetra b. Tunarungu c. Tunagrahita d. Tunadaksa e. Tunalaras f. Tunaganda g. Kesulitan belajar h. Autisme i. Gangguan perhatian
BAB 1 PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia. Melalui penglihatan seseorang dapat menerima informasi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mata sebagai indera penglihatan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Melalui penglihatan seseorang dapat menerima informasi dan berinteraksi
BAB I PENDAHULUAN. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa anak berkebutuhan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jumlah anak berkebutuhan khusus usia sekolah terus menunjukkan peningkatan. Tahun 2008 hasil data penjaringan Bidang Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan Provinsi
KONSEP DASAR BIMBINGAN JASMANI ADAPTIF BAGI TUNANETRA. Irham Hosni PLB FIP UPI
KONSEP DASAR BIMBINGAN JASMANI ADAPTIF BAGI TUNANETRA Irham Hosni PLB FIP UPI A. Modifikasi Pembelajaran TUNANETRA Dalam merancang pembelajaran atau Bimbingan Rehabilitasi Tunanetra maka kita harus menemukan
IRHAM HOSNI PLB FIP UPI
ORIENTASI DAN MOBILITAS IRHAM HOSNI PLB FIP UPI Standar Kompetensi Orientasi dan Mobilitas di SDLB adalah: Siswa trampil dan mandiri dalam bepergian dilingkungan terbatas dekat sekolah yang sudah dikenal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Putri Shalsa Novita, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan rancangan kegiatan yang paling banyak berpengaruh terhadap perubahan perilaku seseorang dan masyarakat luas. Menurut UU Sisdiknas tahun
MAKALAH ANALISIS MOBILITAS TUNANETRA
MAKALAH ANALISIS MOBILITAS TUNANETRA Disampaikan pada Pelatihan Program Khusus Orientasi dan Mobilitas yang dilaksanakan Balai Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Matakuliah : Orthodidaktik Tunanetra Kode Matakuliah : PKh. 2343 Jumlah SKS : 3 SKS Pertemuan ke : 1 dan 2 Dosen : Dr. Sari Rudiyati,M.
BAHASA DAN KETUNANETRAAN
BAHASA DAN KETUNANETRAAN Juang Sunanto Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Secara umum, hilangnya penglihatan sejak kecil dapat mempengruhi perkembangan
Dari pengertian WHO diatas tentang Low Vision dapat ditangkap hal sebagai berikut:
A. Pokok-Pokok Perkuliahan Low Vision Oleh Drs. Ahmad Nawawi Sub-sub Pokok Bahasan : 1. Definisi dan Prevalensi 2. Ciri-ciri Anak Low Vision 3. Klasifikasi Low Vision 4. Latihan Pengembangan Penglihatan
ORIENTASI DAN MOBILITAS TUNANETRA INSTRUMEN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) Oleh Ahmad Nawawi
ORIENTASI DAN MOBILITAS TUNANETRA INSTRUMEN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) Oleh Ahmad Nawawi JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FIP UPI BANDUNG 2010 INSTRUMEN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) DATA KELAYAN
Modul Pengajaran Terstruktur Dengan Metode TEACCH (Treatment and. Education of Autistic and Related Communication Handicapped Children).
Modul Pengajaran Terstruktur Dengan Metode TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication Handicapped Children). Oleh: Dra. Ehan A. Tujuan Instruksional Khusus 1. Agar mahasiswa
PENDAHULUAN. Mengapa Interaksi Manusia dan Komputer (Human Computer Interaction)?
PENDAHULUAN Mengapa Interaksi Manusia dan Komputer (Human Computer Interaction)? Human Computer Interaction (HCI = IMK) merupakan studi tentang interaksi antara manusia, komputer dan tugas/ task. Bagaimana
POLA PENERIMAAN SISWA TUNANETRA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SMPLB. Keywords: reception pattern, blind students, mathematics learning
POLA PENERIMAAN SISWA TUNANETRA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SMPLB Nurmitasari Pendidikan Matematika, STKIP Muhammadiyah Pringsewu Email: [email protected] Abstract The blind students have limitations
BAB II PENGAJARAN KETERAMPILAN PENGGUNAAN TONGKAT OLEH GURU ORIENTASI DAN MOBILITAS (O&M) PADA SISWA TUNANETRA
BAB II PENGAJARAN KETERAMPILAN PENGGUNAAN TONGKAT OLEH GURU ORIENTASI DAN MOBILITAS (O&M) PADA SISWA TUNANETRA A. Orientasi dan Mobilitas (O&M) Orientasi dan mobilitas merupakan suatu keterampilan yang
MASA AWAL ANAK-ANAK. Kuliah 6 Psikologi Perkembangan I
MASA AWAL ANAK-ANAK Kuliah 6 Psikologi Perkembangan I PENDAHULUAN Secara luas, masa anak-anak dibagi menjadi dua periode yang berbeda : 1. Masa awal anak-anak = 2 6 tahun 2. Masa akhir anak-anak = 6 matang
Meningkatkan Kemampuan Berjalan Melalui Latihan Menendang Bola Bagi Anak Cerebral Palsy Kelas Dasar IV di SLB Hikmah Miftahul Jannah Padang
Volume 3 Nomor 3 September 2014 E-JUPEKhu(JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu Halaman : 620-632 Meningkatkan Kemampuan Berjalan Melalui Latihan Menendang Bola Bagi
JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS PENGARUH BERMAIN BOLA SEPAK TERHADAP KEMAMPUAN ORIENTASI DAN MOBILITAS SISWA TUNANETRA DI SMPLB A YPAB SURABAYA
JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS PENGARUH BERMAIN BOLA SEPAK TERHADAP KEMAMPUAN ORIENTASI DAN MOBILITAS SISWA TUNANETRA DI SMPLB A YPAB SURABAYA ZULFAKAR ALIZANUAR 10010044220 UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS
E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)
Volume 3 Nomor 1 Januari 2014 E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu Halaman : 380-389 EFEKTIVITAS SENAM RIA ANAK INDONESIA UNTUK MENGENALKAN KONSEP ARAH
Pengolahan Informasi dan Pengambilan Keputusan. Modul 2 TEORI BELAJAR MOTORIK
Pengolahan Informasi dan Pengambilan Keputusan Modul 2 TEORI BELAJAR MOTORIK Pengolahan Informasi dan Pengambilan Keputusan proses pembelajaran keterampilan gerak mengandaikan bahwa manusia adalah sebuah
PENGGUNAAN MEDIA MOBIL MAINAN UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT
PENGGUNAAN MEDIA MOBIL MAINAN UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT Dyah Tri Wahyuningtyas Abstrak: Penggunaan Media Mobil Mainan untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Operasi
PRINSIP DAN PENGEMBANGAN KETERAMPILAN ORIENTASI BAGI TUNANETRA Irham Hosni
PRINSIP DAN PENGEMBANGAN KETERAMPILAN ORIENTASI BAGI TUNANETRA Irham Hosni Dosen Jurusan PLB Direktur Puslatnas OM PLB UPI DISAMPAIKAN PADA DIKLAT PROGRAM KHUSUS ORIENTAS DAN MOBILITAS Hotel BMI Lembang,
ORIENTASI DAN MOBILITAS (O&M)
ORIENTASI DAN MOBILITAS (O&M) SEBAGAI SALAH SATU KETERAMPILAN KOMPENSATORIS BAGI TUNANETRA OLEH: DJADJA RAHARDJA JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah didapat di lapangan, dan sebagaimana yang sudah diuraikan dalam pembahasan BAB IV, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai
KETUNANETRAAN. Oleh: Djadja Rahardja JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KETUNANETRAAN Oleh: Djadja Rahardja JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 1 A. TUJUAN Setelah menyelesaikan Unit 1 ini, anda diharapkan dapat: 1. menjelaskan
EFEKTIVITAS METODE LATIHAN SENSORIS MOTOR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS HURUF (VOKAL) BAGI ANAK TUNARUNGU SEDANG
Halaman : 86-94 EFEKTIVITAS METODE LATIHAN SENSORIS MOTOR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS HURUF (VOKAL) BAGI ANAK TUNARUNGU SEDANG Oleh : DEFNI DARWIS Abstract : The background of this research is,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai mata pelajaran berisikan konsep pelajaran berhitung amat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, sebab menguasai matematika berarti memiliki
PENINGKATAN KEMAMPUAN ORIENTASI DAN MOBILITAS ANAK TUNANETRA KELAS V DI SLB A YAKETUNIS YOGYAKARTA MELALUI KEGIATAN PRAMUKA SKRIPSI
PENINGKATAN KEMAMPUAN ORIENTASI DAN MOBILITAS ANAK TUNANETRA KELAS V DI SLB A YAKETUNIS YOGYAKARTA MELALUI KEGIATAN PRAMUKA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
ARTIKEL JURNAL. Oleh Erna Wati NIM
KEEFEKTIFAN METODE PEMBELAJARAN EKSPERIMEN TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP GERAK BENDA PADA SISWA TUNANETRA KELAS III TINGKAT DASAR DI SLB SEKAR MELATI MUHAMMADIYAH IMOGIRI, BANTUL, YOGYAKARTA ARTIKEL
PANDUAN PELASANAAN KURIKULUM PENDIDIKAN KHUSUS
PANDUAN PELASANAAN KURIKULUM PENDIDIKAN KHUSUS PROGRAM KHUSUS : ORIENTASI DAN MOBILITAS SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA TUNANETRA (SMPLB-A) DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH LUAR BIASA DIREKTORAT JENDERAL
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kursi roda merupakan alat bantu mobilitas bagi orang yang memiliki keterbatasan pergerakan dalam melakukan aktivitas sehari- hari. Keterbatasan pergerakan ini dapat
BAB I PENDAHULUAN. berjalan normal sesuai dengan tahapan normalnya adalah hal yang paling
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Orang tua menganggap bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan normal sesuai dengan tahapan normalnya adalah hal yang paling penting. Orang tua bersedia
PERKEMBANGAN KOGNITIF TEORI PIAGET. Farida Harahap, M.Si
PERKEMBANGAN KOGNITIF TEORI PIAGET Farida Harahap, M.Si Biografi Piaget Lahir 9 Agustus 1896 di Neuchatel, Switzerland Wafat 16 Sept.1980 Pendidikan: PhD dari University of Neuchatel di bidang biologi
HAMBATAN PERHATIAN, KONSENTRASI, PERSEPSI, DAN MOTORIK. Mohamad Sugiarmin
HAMBATAN PERHATIAN, KONSENTRASI, PERSEPSI, DAN MOTORIK Mohamad Sugiarmin PERSEPSI Proses mental yg menginterpretasikan dan memberi arti pd obyek yg ditangkap atau diamati oleh indera. Ketepatan persepsi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia dibekali kemampuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Potensi merupakan kemampuan seseorang untuk menghasilkan ide-ide atau informasi
Adriatik Ivanti, M.Psi, Psi
Adriatik Ivanti, M.Psi, Psi Autism aritnya hidup sendiri Karakteristik tingkah laku, adanya defisit pada area: 1. Interaksi sosial 2. Komunikasi 3. Tingkah laku berulang dan terbatas A. Adanya gangguan
Konsep Dasar Individu dengan Hambatan Majemuk
Telaah Konsep Dasar Individu Juang. Sunanlo Konsep Dasar Individu dengan Hambatan Majemuk Juang Sunanto Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK Berdasarkan klasifikasi anak luar biasa yang digunakan dalam
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
EFEKTIFITAS MERONCE BALOK HURUF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN
Volume 2 Nomor 3 September 2013 E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu Halaman : 306-315 EFEKTIFITAS MERONCE BALOK HURUF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA
BAB I PENDAHULUAN. Indra penglihatan merupakan salah satu sumber informasi penting bagi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indra penglihatan merupakan salah satu sumber informasi penting bagi manusia karena sebagian besar informasi yang manusia peroleh berasal dari indra penglihatanya.
Perilaku gerak dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) kontrol gerak, (2) pembelajaran
Mata Kuliah Kode Mata Kuliah : IOF 220 : Perkembangan Motorik Materi 5: Perkembangan Perilaku Gerak Perkembangan Perilaku Gerak Perilaku gerak dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) kontrol gerak,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Menentukan metode merupakan langkah penting sebuah penelitian karena akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian metode
Format Silabus FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Format Silabus FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA SIL (Orientasi dan Mobilitas Tunanetra) No. Dokumen Revisi : 00 Tgl. Berlaku Hal. Semester Judul praktek Jam pertemuan Nama Mata Kuliah
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN ORIENTASI DAN MOBILITAS BAGI SISWA TUNANETRA. Yuni Astuti ABSTRAK
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN ORIENTASI DAN MOBILITAS BAGI SISWA TUNANETRA Yuni Astuti [email protected] ABSTRAK Sebagai bekal kemandirian, siswa-siswa tunanetra di SLB mendapatkan pembelajaran
BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan dampak dengan terjadinya peningkatan jumlah anak yang. mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan telah berhasil menurunkan angka kematian pada ibu dan bayi akan tetapi disisi lain menimbulkan
Putri Nur Hakiki, Endro Wahyuno. Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Malang, Malang
JURNAL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN LUAR BIASA, 4(1): 69-74 The Effect of Perception Exercise of Tactual Sally Mangold toward Early Reading Capability for Students with Hearing Impairment (Pengaruh
BAB II DASAR PEMIKIRAN.
BAB II DASAR PEMIKIRAN 2.1. Definisi Anak www.sumberdalem.com Setiap orang pernah merasakan masa anak-anak, dimana pada masa itulah rasa ingin tahu yang tinggi muncul dan berkembang. Untuk menjadi pribadi
2016 PENGEMBANGAN PROGRAM LATIHAN ORIENTASI DAN MOBILITAS TEKNIK PENDAMPING AWAS BAGI KELUARGA SISWA TUNANETRA
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Orientasi dan mobilitas merupakan kebutuhan yang mendasar bagi tunanetra. Dipahami dari pengertiannya, menurut Rahardja (2010) menyatakan bahwa: Orientasi adalah suatu
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. Setiap warga Negara memiliki hak yang sama
BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan terjadinya perkembangan fisik motorik, kognitif, dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan anak usia sekolah dasar disebut juga perkembangan masa pertengahan dan akhir anak yang merupakan kelanjutan dari masa awal anak. Permulaan masa
MEMPERSIAPKAN KEMATANGAN BELAJAR ANAK UNTUK MEMASUKI JENJANG PENDIDIKAN FORMAL YUSI RIKSA YUSTIANA
MEMPERSIAPKAN KEMATANGAN BELAJAR ANAK UNTUK MEMASUKI JENJANG PENDIDIKAN FORMAL YUSI RIKSA YUSTIANA KEMATANGAN KESIAPAN UNTUK MELAKUKAN FUNGSI PERTUMBUHAN SECARA FISIK SEMPURNA SIAP UNTUK MELAKUKAN GERAKAN
KONSEP GERAK DASAR UNTUK ANAK USIA DINI
KONSEP GERAK DASAR UNTUK ANAK USIA DINI Kadek Dian Vanagosi, S.Pd., M.Pd. Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP PGRI Bali Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi PENDAHULUAN
F. Dampak Ketunanetraan Penglihatan merupakan salah satu saluran informasi yang sangat penting bagi manusia selain pendengaran, pengecap, pembau, dan
F. Dampak Ketunanetraan Penglihatan merupakan salah satu saluran informasi yang sangat penting bagi manusia selain pendengaran, pengecap, pembau, dan perabaan. Pengalaman manusia kira-kira 80 persen dibentuk
BAB I PENDAHULUAN. dibandingkan dengan fase bayi. Anak usia 4 6 tahun rata-rata penambahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Orang tua mengharapkan anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan tangguh (Putri, 2009).
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kualitas manusia dapat dikembangkan melalui pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Pendidikan
PENGANTAR. Psikologi Anak Usia Dini Unita Werdi Rahajeng
PENGANTAR Psikologi Anak Usia Dini Unita Werdi Rahajeng www.unita.lecture.ub.ac.id Apa yang dipelajari? Perubahan yang terjadi sejak masa bayi sampai penghujung masa anak usia dini Isu-isu kontekstual
BAB II KAJIAN TEORI. 1. Kemampuan Representasi Matematis. a) Pengertian Kemampuan Representasi Matematis
BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Konseptual 1. Kemampuan Representasi Matematis a) Pengertian Kemampuan Representasi Matematis Menurut NCTM (2000) representasi adalah konfigurasi atau sejenisnya yang berkorespondensi
BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya setiap anak berpotensi mengalami masalah dalam belajar,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya setiap anak berpotensi mengalami masalah dalam belajar, hanya saja masalah tersebut ada yang ringan dan ada juga yang masalah pembelajarannya
BNGFMHF3333wdewa cm
BNGFMHF3333wdewa33 9 8 7 6 6 5 4 3 2 2 25 cm 1 1 0 1 ASPEK PERKEMBANGAN 1. Moral Agama : a. Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan b. Manusia Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa 2. Sosem a. Budaya antri
KETERAMPILAN DASAR DALAM PENANGANAN PENYANDANG LOW VISION. Irham Hosni PLB FIP UPI PUSAT PELAYANAN TERPADU LOW VISION BANDUNG
KETERAMPILAN DASAR DALAM PENANGANAN PENYANDANG LOW VISION Irham Hosni PLB FIP UPI PUSAT PELAYANAN TERPADU LOW VISION BANDUNG Membaca, menulis, mengamati dengan jarak sangat dekat Berjalan banyak tersandung
KURIKULUM PRA SEKOLAH
KURIKULUM PRA SEKOLAH Kurikulum : Perencanaan pengalaman belajar secara tertulis Segala pengalaman & pengaruh yg bercorak pendidikan yg diperoleh anak di sekolah(sarana prasarana) Seluruh usaha/kegiatan
BIMBINGAN PADA SISWA DENGAN HAMBATAN. Sosialisasi KTSP
BIMBINGAN PADA SISWA DENGAN HAMBATAN 1 DEFINISI HEARING IMPAIRMENT (TUNARUNGU) TERKANDUNG DUA KATEGORI YAITU: DEAF (KONDISI KEHILANGAN PENDENGARAN YANG BERAT) DAN HARD OF HEARING (KEADAAN MASIH MEMILIKI
Prinsip Pembelajaran Adaptif Bagi Anak tunanetra dalam PENDIDIKAN LUAR BIASA. Irham Hosni Jurusan PLB FIP UPI
Prinsip Pembelajaran Adaptif Bagi Anak tunanetra dalam PENDIDIKAN LUAR BIASA Irham Hosni Jurusan PLB FIP UPI Salah pandang masyarakat terhadap 1. ALB (anak luar biasa) Kutukan tuhan/dosa orang tuanya.
2016 PENGGUNAAN TEKNIK TEGURAN TERHADAP PERILAKU STEREOTYPE PADA PESERTA DIDIK TOTALLY BLIND DI SLB NEGERI A KOTA BANDUNG
A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Orang tunanetra merupakan seseorang yang kehilangan seluruh maupun sebagian dari fungsi penglihatannya, terdapat beberapa dampak yang ditimbulkan dari ketunanetraan,
INSTRUMEN OBSERVASI PENILAIAN FUNGSI KESEIMBANGAN (SKALA KESEIMBANGAN BERG) Deskripsi Tes Skor (0-4) 1. Berdiri dari posisi duduk
INSTRUMEN OBSERVASI PENILAIAN FUNGSI KESEIMBANGAN (SKALA KESEIMBANGAN BERG) Deskripsi Tes Skor (0-4) 1. Berdiri dari posisi duduk 2. Berdiri tanpa bantuan 3. Duduk tanpa bersandar dengan kaki bertumpu
Pilihlah jawaban yang paling benar!
Pilihlah jawaban yang paling benar! 1. Besarnya momentum yang dimiliki oleh suatu benda dipengaruhi oleh... A. Bentuk benda B. Massa benda C. Luas penampang benda D. Tinggi benda E. Volume benda. Sebuah
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA SIL. ORTODIDAKTIK ANAK TUNANETRA SILABI MATA KULIAH
SILABI MATA KULIAH Nama Mata Kuliah : Ortodidaktik Anak Tunanetra Kode Mata Kuliah : PLB339 SKS : 3 (tiga) SKS. Teori 1,5, Lapangan 0,5, Praktik 1 Dosen : 1. Dra.. 2. Drs. Prodi/Jurusan : Pendidikan Luar
PENGEMBANGAN PSIKOMOTOR
PENGEMBANGAN PSIKOMOTOR Oleh: Dr. Lismadiana,M.Pd [email protected] MOTOR atau MOTORIK : kegiatan dasar biologi atau mekanika yg menyebabkan erjadinya gerak. GERAK: Perubahan posisi akibat tindakan
