BAB II LANDASAN TEORI
|
|
|
- Teguh Setiabudi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka Kajian pustaka ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kontribusi keilmuan dalam penelitian ini, seberapa jauh dan seberapa banyak orang lain yang telah melakukan penelitian dengan topik sama dengan penelitian ini. Sejauh ini, peneliti telah melakukan kajian terhadap hasil penelitian yang mempunyai kajian sama dengan penelitian ini. yaitu: 1. Skripsi dari Rina Widi Astuti jurusan pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang yang berjudul Kesiapan Laboratorium Biologi SMA Negeri di Kabupaten Blora Dalam Mendukung Pelaksanaan Pembelajaran Biologi. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium biologi SMA Negeri di Kabupaten Blora. Populasi dalam penelitian ini adalah SMA Negeri di Kabupaten Blora. Sampel penelitian adalah SMA Negeri 1 Blora, SMA Negeri 2 Blora dan SMA Negeri 1 Tunjungan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa laboratorium biologi SMA Negeri 1 Blora, SMA Negeri 2 Blora dan SMA Negeri 1 Tunjungan di Kabupaten Blora telah siap dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran biologi, yang sesuai dengan standardisasi laboratorium IPA dengan persentase 79% dan kegiatan di laboratorium dengan persentase 78%. Peneliti menyarankan laboratorium biologi dan penyusunan petunjuk praktikum biologi SMA Negeri di Kabupaten Blora lebih ditingkatkan sesuai dengan Standardisasi Laboratorium IPA agar pembelajaran biologi terutama praktikum dapat berjalan dengan lancar dan efektif Skripsi dari Dewi Indrayani jurusan pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang yang berjudul Profil Laboratorium Biologi SMA Negeri Se-Kabupaten Blora Dalam Mendukung Pelaksanaan Pembelajaran Biologi. Hasil observasi yang dilakukan pada bulan januari 2010 menunjukkan bahwa 1 RinaWidi Astuti, Kesiapan Laboratorium Biologi SMA Negeri di Kabupaten Blora dalam Mendukung Pembelajaran Biologi, Skripsi (Semarang: FMIPA UNNES, 2010), hlm v 5
2 laboratorium Biologi SMA di Kabupaten Blora telah memiliki sarana prasarana cukup memadai, namun belum dilengkapi dengan administrasi, pengelolaan, penyimpanan alat dan bahan praktikum, serta pengadaan kegiatan laboratorium yang memadai. Kesimpulan dari penelitian ini adalah laboratorium Biologi SMA se-kabupaten Blora telah siap dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran Biologi. Berdasarkan hasil penelitian disarankan sebaiknya guru Biologi menyusun petunjuk praktikum agar empat keterampilan laboratorium yang meliputi safety. laboratory manipulative skills, laboratory process skills, dan thinking skills dapat dikuasai siswa. 2 Dari Kedua skripsi di atas memiliki persamaan dengan skripsi Pengelolaan Laboratorium Biologi SMA Negeri 1 Demak dan SMA Negeri 3 Demak dalam Mendukung Pelaksanaan Pembelajaran Biologi, yaitu meneliti tentang Laboratorium Biologi di SMA. Pada skripsi Pengelolaan Laboratorium Biologi SMA Negeri 1 Demak dan SMA Negeri 3 Demak dalam Mendukung Pelaksanaan Pembelajaran Biologi lebih mengutamakan untuk meneliti bagaimana standar pengelolaan Laboratorium Biologi berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 24 Tahun B. Kerangka Teoritik 1. Pengertian dan Fungsi Laboratorium Secara etimologi kata laboratorium berasal dari kata latin yang berarti tempat bekerja dan dalam perkembangannya kata laboratorium mempertahankan arti aslinya yaitu tempat bekerja, akan tetapi khusus untuk keperluan penelitian ilmiah. Ketika IPA/sains merasa perlu mengadakan ruangruang siswa melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan saing. Sains merupakan suatu ilmu empiris, yaitu ilmu yang didasari atas pengamatan dan eksperimentasi merupakan bagian dari pendidikan sains. Laboratorium yang 2 Dewi Indrayani, profil laboratorium biologi SMA se-kabupaten Blora dalam mendukung Pelaksanaan pembelajaran Biologi, Skripsi(Semarang: FMIPA UNNES,2010),hlm iv 6
3 digunakan untuk kegiatan ini disebut sebagai laboratorium sains sekolah (school science laboratory). 3 Laboratorium diartikan sebagai tempat yang dapat berbentuk ruangan terbuka, ruang tertutup, kebun sekolah, rumah kaca atau lingkungan lain untuk melakukan percobaan atau penelitian. 4 Ruang atau kamar yang dimaksud adalah gedung yang dibatasi dinding, atap, atau alam terbuka. Pengertian laboratorium yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi pada laboratorium yang berupa ruang tertutup. Laboratorium merupakan suatu wadah atau tempat untuk melakukan eksperimen-eksperimen sebagai pembuktian kebenaran teori-teori yang diberikan dalam kelas, merangsang percobaan tertentu secara terpimpin, atau menemukan sendiri sekaligus meningkatkan daya nalar siswa. 5 Adapun fungsi dari ruangan laboratorium IPA/sains antara lain sebagai berikut. a. Tempat pembelajaran IPA/sains dan memberikan keterampilan-keterampilan. Dalam pembelajaran IPA terdapat keseimbangan antara produk (konsep/pengetahuan) dan kemampuan yang berkembang selama proses belajar melalui keterampilan proses. Beberapa keterampilan proses yang dapat diperoleh peserta didik dalam kegiatan laboratorium antara lain mengamati dan menafsirkan, memprediksi, menggunakan peralatan dan mengukur, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, merencanakan penyelidikan/percobaan, menginterpretasikan, dan berkomunikasi. 6 b. Tempat dihasilkannya teman-teman baru, baik teori-teori maupun bendabenda/ alat-alat/teknologi baru dan keterampilan-keterampilan. 3 Nyoman Kertiasa, Laboratorium Sekolah dan Pengelolaannya, (Bandung: Pudak Scientific, 2006), hlm.2 4 Koesmadji, W., dkk., Teknik Laboratorium, (Bandung: Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UPI, 2004), hlm.40 5 M. Lubis., Materi Pokok Pengelolaan Laboratorium IPA, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1993),hlm 27 6 Sigit Saptono. Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Semarang; Universitas Negeri Semarang (UNNES), 2003), hlm. 33 7
4 c. Tempat display atau pameran. 7 d. Tempat mempraktikkan dan membuktikan benar/tidaknya (verifikasi) faktorfaktor gejala-gejala tertentu. e. Tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran Biologi secara praktek yang memerlukan peralatan khusus. 8 Laboratorium sangat penting bagi pembelajaran IPA di sekolah karena banyak materi IPA khususnya Biologi yang harus dilakukan dengan kegiatan praktikum. Kegiatan laboratorium (praktikum) merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar Biologi. Laboratorium merupakan tempat, gedung, ruang dengan segala macam peralatan yang diperlukan untuk kegiatan ilmiah, selain itu laboratorium merupakan sarana media dimana dilakukan kegiatan belajar mengajar Biologi terutama praktikum. 2. Pengelolaan Laboratorium Biologi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 tahun 2007 mengatur standar sarana prasarana sekolah khususnya laboratorium. Adapun standar laboratorium Biologi yang ditetapkan meliputi: desain ruang laboratorium, administrasi laboratorium, pengelolaan laboratorium, dan penyimpanan alat serta bahan praktikum Biologi. 9 a. Desain ruang laboratorium Ketentuan ruang laboratorium Biologi menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 tahun 2007 yaitu rasio minimum ruang laboratorium Biologi 2,4m 2 / peserta didik, untuk rombongan belajar kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratorium 48 m 2 termasuk luas ruang 7 Koesmadji, W., dkk., Teknik Laboratorium, hlm diakses tgl Rumbinah, Standardisasi dan Pengelolaan Laboratorium IPA, snapdrive.net. diakses pada
5 penyimpanan dan persiapan 18 m 2. Lebar minimum ruang laboratorium Biologi 5 m Luas ruangan laboratorium harus sesuai dengan jumlah siswa dalam satu kelas. Ruang praktek memiliki ruang panjang 11 m dan lebar 9 m, sedangkan tinggi plavon 3 m. Rasio ruang gerak minimum siswa dalam ruang laboratorium biologi 2,4 m 2 /peserta didik, sehingga diperkirakan ruang praktek memiliki luas 124 m 2, termasuk ruangan persiapan dan gudang penyimpanan. Luas ini didasarkan atas perhitungan bahwa laboratorium tersebut dipakai oleh 40 siswa. 11 Kedua dinding melebar merupakan dinding penuh, pada dinding tersebut digantungi papan tulis atau rak simpan. Papan tulis digantung pada dinding yang berdekatan dengan ruang persiapan, sedangkan kedua dinding disamping yang memanjang digunakan untuk penerangan dan ventilasi pada salah satu dinding tersebut dapat dipasang rak penyimpanan. 12 Setiap laboratorium perlu memiliki 6 ruang, 1 ruang laboratorium siswa dan 5 ruang penunjang. 13 Jenis-jenis ruang yang dimaksud adalah ruang laboratorium siswa yaitu ruang tempat siswa melakukan kegiatan, ruang kerja dan persiapan guru, ruang penyimpanan alat dan bahan (mungkin 2 ruang), ruang perpustakaan dan komputer, ruang teknisi laboratorium, dan ruang tempat barang-barang pribadi siswa. Contoh tata letak laboratorium Biologi yang baik beserta ukurannya dapat dilihat pada gambar 2.1 di bawah ini diakses tgl Rustaman, dkk., Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Badung: Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UPI, 2003), hlm M. Lubis, Materi Pokok Pengelolaan Laboratorium IPA. hlm Nyoman Kartiasa, Laboratorium Sekolah dan Pengelolaannya. hlm
6 Gambar 2.1 Tata letak ruang laboratorium berikut meja samping, meja demonstrasi, meja dan kursi praktikum, panggung, papan tulis, bak cuci dan terminal listrik. 14 Jika keadaan tidak mengijinkan sekolah membangun jenis-jenis ruang yang tersebut diatas, guru dapat memutuskan sendiri ruang-ruang yang disebut diatas dengan mempertimbangkan dana yang tersedia, lokasi lahan, lahan, dan lain-lain. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip operasional KTSP yang mengacu pada karakteristik satuan pendidikan. Selanjutnya sebagai tempat melaksanakan pendidikan ilmu pengetahuan alam, laboratorium memerlukan beberapa fasilitas, antara lain sebagai berikut. 1) Fasilitas umum Fasilitas umum merupakan fasilitas yang digunakan oleh semua pemakai laboratorium. Contohnya, penerangan, ventilasi, air, bak cuci, aliran listrik, gas dan lain-lain. 2) Fasilitas khusus Fasilitas khusus berupa peralatan meubelair dan meubelair. Contohnya: papan tulis, meja siswa/guru, kursi, lemari alat dan bahan, perlengkapan P3K, lemari asam, pemadam kebakaran, dan lain-lain. 15 Pembangunan sebuah laboratorium membutuhkan perencanaan dan pertimbangan yang matang terutama dalam kesesuaian tata letaknya 14 Koesmadji, W., dkk., Teknik Laboratorium, hlm Koesmadji, W., dkk., Teknik Laboratorium. hlm
7 terhadap ruangan lain. Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menempatkan laboratorium sekolah antara lain. a) Letak relatif terhadap ruang yang lain Menurut Kertiasa, idealnya semua laboratorium berada di tengah ruang-ruang kelas yang lain dan merupakan satu blok bangunan. Pengaturan seperti ini menjadikan waktu untuk berpindah dari ruang kelas menuju laboratorium menjadi lebih singkat, namun hal ini beresiko cukup tinggi dalam membahayakan bangunan lain disekitar laboratorium jika terjadi kecelakaan seperti kebakaran, ledakan, dan lain-lain. 16 Oleh sebab itu, sebaiknya laboratorium mempunyai jarak cukup jauh terhadap sumber air dan bangunan lain. Untuk memberikan ventilasi dan penerangan alami yang optimum, maka jarak antar bangunan minimal sama dengan tinggi bangunan terdekat, kira-kira 3 meter. 17 Letak laboratorium sebaiknya juga berdekatan dengan laboratorium lain, sehingga memungkinkan untuk memudahkan penggunaan fasilitas-fasilitas yang saling menunjang. Pengaturan seperti ini membuat waktu yang diperlukan untuk bergerak dari satu laboratorium ke laboratorium lain menjadi lebih singkat. Tata ruang sebaiknya dibuat semenarik mungkin dengan tetap mempertimbangkan penataan pada fungsi, daya, tepat, dan hasil guna sehingga siswa dapat bekerja maksimal dan tidak merasa bosan. b) Letak berkaitan dengan arah datangnya angin dan cahaya matahari Semua laboratorium sebaiknya berada ditempat yang mendapat cahaya matahari yang mencukupi, tidak ditempat yang teduh. Cahaya matahari diperlukan untuk terangnya ruang, lebih terang dari ruang kelas biasa. Laboratorium Biologi sangat membutuhkan cahaya matahari untuk penerangan mikroskop yang ada dan tidak dilengkapi dengan 16 Nyoman Kertiasa, Laboratorium Sekolah dan Pengelolaannya. hlm M. Lubis., Materi Pokok Pengelolaan Laboratorium IPA. hlm
8 lampu penerangan. 18 Laboratorium sebaiknya juga tidak terletak di arah angin untuk menghindarkan pencemaran udara. 19 Gas-gas sisa reaksi kimia yang kurang sedap menjadi tidak terbawa angin ke ruanganruangan lain. Dengan demikian pemakai laboratorium hendaknya memahami tata letak atau bangunan laboratorium. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam sebelum membangun laboratorium yaitu bangunan laboratorium dan ukuran-ukuran ruang. b. Administrasi Laboratorium Administrasi laboratorium diartikan sebagai suatu pencatatan atau inventarisasi fasilitas laboratorium dengan demikian dapat diketahui jenis dan jumlah dari tiap jenisnya dengan tepat. Aspek-aspek yang perlu diadministrasikan meliputi ruang laboratorium, fasilitas laboratorium, alat dan bahan praktikum serta kegiatan laboratorium. Pengadministrasian laboratorium yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah suatu proses pencatatan atau inventarisasi fasilitas dan aktifitas laboratorium. Administrasi dilakukan agar semua fasilitas dan aktifitas laboratorium dapat tertata dengan sistematis. Menurut Rumbinah, pengadministrasian yang benar akan sangat membantu dalam perencanaan pengadaan alat atau bahan, mengendalikan efisiensi penggunaan budget, memperlancar pelaksanaan kegiatan praktikum, menyajikan laporan secara objektif, mempermudah pengawasan dan perlindungan terhadap kekayaan laboratorium mengingat kekayaan laboratorium merupakan investasi pemerintah pada bidang pendidikan. 20 c. Pengelolaan Penyelenggaraan Laboratorium Pengelolaan merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola maupun pengguna. Berikut ini adalah struktur organisasi pihak-pihak yang 18 Nyoman Kertiasa, Laboratorium Sekolah dan Pengelolaannya. hlm M. Lubis, Materi Pokok Pengelolaan Laboratorium IPA,hlm Rumbinah, Standarisasi dan Pengelolaan Laboratorium IPA, snapdrive.net. diakses pada
9 terlibat dalam pengelolaan laboratorium dapat dilihat pada gambar 2.2 sebagai berikut: Kepala Sekolah Bagian Kurikulum Penanggung Jawab Laboratorium Teknisi Laboratorium Koordinator Lab. Fisika Guru Fisika Koordinator Lab. Kimia Guru Kimia Koordinator Lab. Biologi Guru Biologi Gambar 2.2: Bagan Struktur Organisasi Pengelola Laboratorium 21 Pengelolaan laboratorium secara garis besar dibedakan sebagai berikut: 1) Memelihara kelancaran penggunaan laboratorium Selain diadakan penjadwalan dalam penggunaan laboratorium, diperlukan adanya tata tertib untuk menghindari terjadinya kecelakaan. Perlengkapan P3K dan pemadam kebakaran harus senantiasa ada dalam laboratorium dan setiap pemakai harus mengetahui cara penggunaannya. 2) Menyediakan alat-alat dan zat-zat yang diperlukan dalam laboratorium Penyediaan zat untuk siswa terdiri dari dua macam yaitu zat yang dapat diambil langsung dan zat yang harus diminta kepada petugas laboratorium. 3) Peningkatan daya guna laboratorium Setiap akhir tahun ajaran seluruh pengelola laboratorium hendaknya melakukan perencanaan kegiatan laboratorium untuk tahun 21 Koesmadji, W., dkk., Teknik Laboratorium, hlm.47 13
10 ajaran berikutnya, sehingga kualitas kegiatan meningkat sesuai dengan bahan dan peralatan yang direncanakan dan disediakan. 22 Peran laboran Laboratorium IPA adalah membantu Kepala Sekolah dan Penanggung jawab/guru Pengelola Laboratorium Fisika, Biologi dan Kimia dalam kegiatan sebagai berikut : a. Merencanakan keadaan alat-alat/bahan kimia laboratorium IPA(Fisika, Biologi, dan Kimia) b. Membantu dan menyusun jadwal tata tertib pendayagunaan laboratorium IPA (Fisika, Biologi, dan Kimia); c. Menyusun program kegiatan Laboran; d. Mengatur Pembersihan, Pemeliharaan, perbaikan, dan menyimpan alat-alat/bahan-bahan Kimia Laporan IPA; e. Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat/bahan Kimia laboran IPA; f. Menyusun laporan pendayagunaan/pemanfaatan laboratorium IPA. 23 Tugas penanggung jawab laboratorium selain mengkoordinir berbagai aspek lain juga mengatur penjadwalan penggunaan laboratorium, penjadwalan ini dikoordinasi dengan bagian kurikulum dan mempertimbangkan usulan-usulan guru agar proses penggunaan laboratorium berjalan secara optimal. d. Penyimpanan Alat dan Bahan Laboratorium Biologi Berbagai macam peralatan terdapat di dalam laboratorium. Alat yang sering digunakan, alat yang boleh diambil sendiri oleh peserta didik dan alatalat yang mahal harganya atau alat yang langka sebaiknya disimpan secara terpisah. Alat-alat yang digunakan untuk beberapa jenis percobaan sebaiknya disimpan di tempat penyimpanan khusus. Misalnya mikroskop, agar kualitas fungsi lensanya terjaga biasanya disimpan di tempat yang terang dan tidak 22 Rustaman, dkk., Strategi Belajar Mengajar Biologi,hlm. 166, akses tgl 13 juni
11 lembab. Alat percobaan Biologi umumnya disimpan menurut judul percobaan atau dapat berdasarkan bahan dasar alat. 24 Penyimpanan alat berbahan dasar plastik, kaca logam dan karet seperti gelas ukur, tabung reaksi dan sebagainya masing-masing dikelompokkan menjadi satu dan disimpan menurut kelompoknya masing-masing. 25 akan lebih baik jika disimpan terpisah berdasarkan jenisnya sehingga peserta didik lebih mudah menemukan. Alat-alat berbahan dasar kaca sebaiknya juga terpisah dengan alat-alat listrik maupun alat-alat plastik. Alat yang berat diletakkan di tempat yang mudah dijangkau, alat yang mahal atau yang berbahaya disimpan di tempat yang terkunci. Pada dasarnya penyimpanan alat tidak boleh ditempatkan di tempat yang dapat menyebabkan alat itu rusak atau di tempat yang pada proses pengambilan/pengembaliannya dapat membahayakan pemakainya. 26 Demikian halnya alat-alat laboratorium, bahan kimia yang ada di laboratorium jumlahnya relatif banyak. Bahan Kimia dapat menimbulkan resiko bahaya yang cukup tinggi, oleh karena itu dalam pengelolaan laboratorium aspek penyimpanan, penataan dan pemeliharaan bahan Kimia merupakan bagian penting yang harus diperhatikan. Peralatan yang akan digunakan juga harus diperhatikan, karena potensi bahaya juga dapat datang dari peralatan yang dipergunakan. 27 Bahaya yang dimaksud adalah terjadinya kebakaran, keracunan, mengganggu kesehatan, merusak, menyebabkan luka, menyebabkan korosi dan sebagainya. Oleh karena itu, perlu diperhatikan hal-hal berikut ini. 1) Penyimpanan bahan kimia dipisahkan antara senyawa organik dan senyawa anorganik, senyawa anorganik disusun berurutan menurut abjad nama radikal logamnya. 28 Pengurutan secara alfabetis akan lebih tepat 24 Rumbinah, Standarisasi dan Pengelolaan Laboratorium IPA, diakses pada M.Lubis, Materi Pokok Pengelolaan Laboratorium IPA,hlm Nyoman Kertiasa, Laboratorium Sekolah dan Pengelolaannya, hlm. 36, Khamidinal, Teknik Laboratorium Kimia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm M. Lubis, Materi Pokok Pengelolaan Laboratorium IPA. hlm
12 apabila bahan kimia sudah dikelompokkan menurut sifat fisis dan sifat kimianya terutama tingkat kebahayaannya. Penyimpanan bahan kimia tersebut harus didasarkan atas tingkat risiko bahaya yang paling tinggi. 2) Zat atau bahan kimia disimpan jauh dari sumber panas dan tidak terkena sinar matahari langsung. 3) Pada label botol diberi catatan tentang tanggal zat dalam botol sehingga dapat diketahui tanggal bahan kimia tersebut kadaluwarsa. 4) Setiap bahan kimia harus diberi label yang jelas. Gunakan MSDS (Mastery Safety Data Sheet/ lembar data keamanan bahan) untuk informasi lebih jelas mengenai bahan kimia tersebut. 29 5) Tidak menyimpan botol bahan kimia di tempat yang lebih tinggi letaknya daripada mata. 6) Penyimpanan dapat dilakukan dengan mengelompokkan berdasarkan atas bahan pembuat alat dan berdasarkan atas kelompok pokok bahasan. 30 Penyimpanan merupakan bagian dari pemeliharaan, alat disimpan agar alat itu aman, artinya alat itu tidak boleh hilang atau rusak, disamping agar ruang tempat penyimpanan alat itu terletak kelihatan rapi tergantung pada fasilitas yang ada di laboratorium. 3. Aktivitas Laboratorium (Praktikum) Aktivitas laboratorium memberikan empat keterampilan yaitu: keterampilan keamanan dan keselamatan kerja (safety skills), keterampilan melaksanakan manipulasi laboratorium (Laboratory manipulative skills), keterampilan proses laboratorium (laboratory process skills), dan keterampilan berpikir (thinking skills). a. Keterampilan Keamanan dan Keselamatan Kerja Laboratorium Faktor keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium benar-benar harus diperhatikan agar tidak terjadi bahaya dan kecelakaan kerja yang tidak diinginkan. Baik buruknya pengelolaan dan pemakaian laboratorium dapat 29 Nyoman Kertiasa, Laboratorium Sekolah dan Pengelolaannya. hlm M.Lubis, Materi Pokok Pengelolaan Laboratorium IPA.hlm
13 menentukan keamanan dan keselamatan kerja. Dibutuhkan kedisiplinan terhadap tata tertib yang berlaku untuk menjamin keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium. 31 Tata tertib diperlakukan untuk mencegah terjadinya berbagai kecelakaan dan menjaga keselamatan pemakai, alat-alat, fasilitas, serta gedung laboratorium itu sendiri. Jenis-jenis kecelakaan yang dapat terjadi di laboratorium antara lain: 1) Terluka, disebabkan terkena pecahan kaca atau tusukan oleh benda- benda tajam. 2) Terbakar, dapat terjadi karena panas dan zat kimia. 32 3) Keracunan, dapat terjadi karena menggunakan zat beracun yang secara sengaja/ tidak sengaja dan/ atau kecerobohan masuk kedalam tubuh. 4) Iritasi, disebabkan terkena zat korosif seperti berbagai jenis asam (jika di sekolah tersedia zat seperti itu), terkena radiasi sinar dari zat radioaktif, sinar X, dan sinar ultraviolet. 5) Terkena Kejutan Listrik. 6) Ledakan, sebagai akibat reaksi eksplosif dari bahan- bahan reaktif seperti oksidator. 33 Berikut ini adalah simbol-simbol untuk bahan-bahan kimia berbahaya dapat di lihat pada Tabel 2.1 di bawah ini. 34 Tabel 1 Contoh Simbol- Simbol Bahan Kimia Berbahaya. Gambar Keterangan Bahan mudah meledak (explosive) Huruf kode: E Bahan sangat mudah terbakar (extremely flammable) Huruf kode: F 31 Khamidinal, Teknik Laboratorium Kimia. hlm Koesmadji, W., dkk., Teknik Laboratorium. hlm Nyoman Kartiasa, Laboratorium Sekolah dan Pengelolaannya. hlm Koesmadji, W., dkk., Teknik Laboratorium, hlm
14 Berbahaya (harmful) Huruf kode: X n Bahan Korosif (corrosive) Huruf Kode: C Bahan Pengoksidasi (oxidizing) Huruf kode: O Beracun Bahan Beracun (toxic) Huruf kode: T Bahan Berbahaya bagi Lingkungan Huruf kode: N b. Keterampilan Melaksanakan Manipulasi Laboratorium (laboratory manipulative skills) Kegiatan di laboratorium memiliki tujuan salah satunya mendukung upaya untuk mengembangkan keterampilan manipulasi dan pemecahan masalah. Kegiatan laboratorium memiliki beberapa keterampilan dasar salah satunya adalah keterampilan melakukan manipulasi peralatan biologi, baik guru atau siswa dituntut untuk mempunyai keterampilan untuk menggunakan alat-alat yang ada di laboratorium agar dalam mengoperasikan alat-alat yang diperlukan pada waktu melakukan praktikum tidak bingung. Misalnya keterampilan dalam menggunakan mikroskop, termometer, indikator ph, respirometer dan sebagainya. Seorang guru harus mempunyai kemampuan dan keterampilan yang lebih dalam menggunakan alat dan bahan laboratorium sehingga pemanfaatan laboratorium dapat maksimal. Keterampilan menggunakan alat diperlukan agar siswa dapat menangani alat secara aman. Lebih lanjut tehnik yang diperlukan untuk merancang, menginterpretasikan eksperimen perlu pula dikembangkan melalui kegiatan praktikum Nuryani Rustaman., Peranan Praktikum Dalam Pembelajaran Biologi, http//file.upi.edu/prodi pendidikan IPA.com. Diakses
15 Kegiatan belajar melalui praktikum di laboratorium dikatakan bermakna jika siswa diberi kesempatan untuk memanipulasi peralatan dan bahan dalam rangka untuk membangun pengetahuan siswa tentang fenomena dan konsep-konsep ilmiah yang berkaitan dengan apa yang dipelajari c. Keterampilan Proses Laboratorium (laboratory proses skills) Keterampilan proses adalah keterampilan untuk mengelola apa yang didapat atau kemampuan yang diperoleh dari latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuankemampuan yang lebih tinggi. 36 Biologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan Alam merupakan ilmu yang lahir dan berkembang berdasarkan observasi dan eksperimen. Melalui proses inilah dapat dikembangkan keterampilan proses sains (keterampilan proses ilmiah), sehingga pengalaman yang benar tentang sains dapat diperoleh. Dalam pembelajaran IPA, keterampilan proses sains adalah keterampilan- keterampilan yang dipelajari siswa saat mereka melakukan inquiry ilmiah. Di bawah ini dijelaskan keterampilan proses sains yang harus dikuasai siswa antara lain. 1) Observing/mengamati: menggunakan indera sebanyak mungkin dan mengumpulkan fakta- fakta yang relevan. 2) Classifying / mengklasifikasikan: mencari persamaan, membedakan, membandingkan, mengontraskan ciri- ciri, mencari dasar penggolongan dan menghubungkan hasil- hasil pengamatan. 3) Communicating/berkomunikasi: membaca grafik, tabel atau diagram dari hasil percobaan, berdiskusi, memeragakan, mengungkapkan, melaporkan (dalam bentuk lisan, tulisan, gerak atau penampilan). 4) Measuring/ mengukur: mengukur suatu besaran dengan akurat. 5) Inferring/ menyimpulkan. 6) Predicting/ meramal: mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan pola-pola pengalaman yang sudah ada Azhar, Pendekatan Keterampilan Proses, Diakses
16 7) Interpretation/ menginterpretasikan/ menafsirkan: membaca setiap hasil pengamatan, menghubung-hubungkan hasil pengamatan, menaksir dan menemukan pola atau keteraturan dari suatu seri pengamatan. 8) Merumuskan hipotesis: mencari lebih banyak bukti untuk menguji kebenaran dari suatu penjelasan. 9) Merencanakan penelitian: menentukan masalah/ objek yang akan diteliti, menentukan tujuan penelitian, menentukan ruang lengkap penelitian, menentukan sumber data, menentukan alat, bahan, dan sumber kepustakaan, menentukan cara penelitian. 10) Menerapkan konsep atau prinsip: menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru. 11) Mengajukan pertanyaan: meminta penjelasan tentang apa, mengapa, bagaimana atau menanyakan latar belakang hipotesis. 37 d. Keterampilan Berpikir (thinking skills). Menurut Sutrisno (2008) keterampilan berpikir didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecahkan ke dalam langkah-langkah nyata kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. 38 Peserta didik dapat dikatakan memiliki keterampilan berpikir jika peserta didik tersebut memiliki tiga kemampuan dibawah ini: 1) Recall of fact yaitu mampu mengingat kembali suatu hal yang telah dipelajari atau yang telah dipraktikkan. 2) Comprehension yaitu mampu menerima dan memahami suatu ide atau informasi dan mengungkapkan ide atau informasi tersebut dalam kalimatnya sendiri. 3) Critical thinking/berpikir kritis merupakan salah satu jenis berfikir yang konvergen yaitu mampu berpikir rasional dalam mencari jalan keluar dari suatu masalah dan mempertimbangkan segala sesuatu untuk mengambil 37 Rustaman, dkk., Strategi Belajar Mengajar Biologi. hlm.94,95,96 38 Sutrisno, Keterampilan Berpikir untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran,
17 suatu keputusan atau membuat suatu pernyataan. 39 Berpikir merupakan aktivitas mental manusia dalam meletakkan hubungan antara bagianbagian pengetahuannya. Bagian pengetahuan itu adalah segala sesuatu yang telah dimiliki manusia berupa pengertian-pengertian dan dapat pula berupa tanggapan-tanggapan. Tujuan berpikir kritis adalah membantu peserta didik untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif secara efektif dan membantu anak didik untuk berfikir netral dan objektif. 4. Kendala-kendala dalam Pengelolaan Laboratorium Biologi Menurut Drs. Mamat Supriatna dalam jurnal penelitiannya yang berjudul Study Penelusuran pengelolaan laboratorium sains SMA sebagai analisis kebutuhan untuk program diklat pengelola laboratorium Kendala-kendala yang sering dihadapi dalam pengelolaan laboratorium biologi di SMA Negeri adalah sebagai berikut: a. Fasilitas laboratorium sains yang masih dipandang kurang memadai adalah keadaan bak cuci, lemari alat/zat, pemadam kebakaran, perlengkapan PPPK, dan alat perbaikan dan sebagainya. b. Perangkat administrasi laboratorium sains umumnya dipandang belum memenuhi standar pengelolaan laboratorium. 40 Standar pengelolaan laboratorium yang baik mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 tahun Standar yang belum dipenuhi adalah perencanaan, pengaturan pelaksanaan, pencatatan alat dan zat, dan pelaporan. Dari aspek paling teknis yang dipandang masih belum memadai terutama dalam segi penataan alat dan zat, pemanfaatan fasilitas laboratorium, pemeliharaan, dan perbaikan alat- alat laboratorium yang rusak. 39 Susilo Herawati, Keterampilan Berfikir Kritis, http//herawatisusilobioum.com/news. Diakses Mamatsupriatna, Study Penelusuran pengelolaan laboratorium sains SMA sebagai analisis kebutuhan untuk program diklat pengelola laboratorium go.id/admin/jurnal/ pdf. diakses Rumbinah, Standarisasi dan Pengelolaan Laboratorium IPA, diakses pada
18 c. Komponen yang terkait dalam pengelolaan laboratorium (Kepala Sekolah, Guru Sains, dan Laboran) dalam melaksanakan kegiatan pengelolaannya kurang didasarkan pada standar atau pedoman pengelolaan yang jelas, dan kebijakan pengelolaan laboratorium sains. Pada umumnya pengelolaannya diserahkan pada guru bidang studi (kimia, fisika, biologi). Di beberapa SMA Negeri binaan tidak pula tersedia tenaga laboran, sedangkan keberadaannya sangat dibutuhkan. d. Di beberapa SMA Negeri ditemukan banyak peralatan yang rusak dan tidak diperbaiki. 42 Di dalam pembelajaran sains, laboratorium berperan sebagai tempat penunjang dari kegiatan kelas. 43 Jadi jika laboratorium di SMA mengalami kendala seperti yang telah disebutkan maka sebaiknya segera melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pelaksanaan pengelolaan laboratorium. Dalam upaya memenuhi dan meningkatkan pelaksanaan pengelolaan laboratorium Biologi di SMA diajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. Upaya dalam pelaksanaan pengelolaan laboratorium sains di SMA masih perlu ditingkatkan dan dioptimalkan. Kelengkapan sarana administrasi pengelolaan masih perlu peningkatan yang terusmenerus, patokan perencanaan penggunaan laboratorium sains dan pembagian jadwal penggunaan laboratorium yang laboratoriumnnya bergabung, masih perlu juga dibenahi. 2. Dalam penyediaan dan pembuatan laporan pertanggungjawaban laboratorium, perlu lebih teratur waktu pelaksanaannya, bentuknya, dan cakupannya. Berlandaskan dari pandangan guru-guru sains bahwa kerusakan alat-alat, kurang tersedianya peralatan reparasi di sekolah, dan ketidakmampuan guru dan teknisi laboratorium memperbaikinya merupakan kendala utama atas keberlangsungan praktikum. Maka adanya unit reparasi dipandang perlu keberadaannya unit reparasi (bengkel kerja), karena merupakan satu bagian yang penting di dalam upaya meningkatkan efisiensi penggunaan dana bagi fasilitas laboratorium sains. 3. Keberadaan standar pedoman pengelolaan laboratorium sains SMA berfungsi ganda. Pertama standar tersebut menjadi pedoman teknis bagi pekerjaan setiap personil laboratorium. Kedua memberikan kejelasan tentang apa yang harus dilakukan tiap personil 42 Mamatsupriatna, Study Penelusuran pengelolaan laboratorium sains SMA sebagai analisis kebutuhan untuk progam diklat pengelola laboratorium diakses Koesmadji, W., dkk., Teknik Laboratorium. hlm.43 22
19 laboratorium untuk memudahkan. Kepala Sekolah dalam mengevaluasi prestasi kerja anak buahnya serta mengadakan supervisi tentang pengelolaan laboratorium, sebagaimana yang menjadi tugas profesinya. 44 Dari kendala-kendala yang sering dihadapi dalam pengelolaan laboratorium adalah tidak adanya teknisi laboran, maka dari itu sebaiknya setiap sekolah memiliki laboran agar proses belajar mengajar Biologi terutama praktikum berjalan secara optimal. 2. Pembelajaran Biologi Saptono (2003) mengemukakan bahwa Biologi adalah dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mencakup pengetahuan, proses investigasi/ eksplorasi, dan nilai. Biologi adalah the fact bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangannya Biologi bukan hanya ditunjukkan oleh kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Dalam KTSP pendidikan IPA/ sains khususnya Biologi menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan potensi agar peserta didik dapat menjelajahi alam sekitar secara ilmiah. Diperlukan strategi pembelajaran yang tepat yang dapat melibatkan siswa seoptimal mungkin baik secara intelektual maupun emosional sehingga motivasi dan aktivitas peserta didik akan meningkat. 45 Kegiatan laboratorium (praktikum) dalam pembelajaran Biologi merupakan integral dari kegiatan belajar mengajar. Praktikum membangkitkan motivasi belajar, mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen, menjadi wahana pendekatan ilmiah, dan menunjang materi pelajaran. 46 Pendekatan laboratorium dalam pembelajaran Biologi merupakan fokus utama bagi pendidikan Biologi. Melalui percobaan-percobaan di bawah kondisi yang diatur dalam kegiatan praktikum, peserta didik mengadakan kontak langsung 44 Drs. Mamatsupriatna, Study Penelusuran pengelolaan laboratorium sains SMA sebagai analisis kebutuhan untuk program diklat pengelola laboratorium. diakses Sigit Saptono. Strategi Belajar Mengajar Biologi. hlm Rustaman, dkk.. Strategi Belajar Mengajar Biologi, hlm
20 dengan objek permasalahannya. Peserta didik akan menghayati gejala yang timbul dan memecahkan yang mereka temukan sampai memperoleh kesimpulan yang signifikan. Dengan demikian peserta didik akan melaksanakan proses belajar yang aktif. Peserta didik mengalami suatu proses belajar yang efisien, peserta didik tidak hanya menerima ilmu pengetahuan secara statis dan otoriter, peserta didik juga dapat mengembangkan keterampilan baik psikomotorik maupun intelektual, sekaligus menyadari bahwa sebenarnya Biologi bersifat dinamik. Tujuan mata pelajaran Biologi di Sekolah Menengah Atas (SMA) agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. a. Membentuk sikap positif terhadap Biologi dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. b. Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerja sama dengan orang lain. c. Mengembangkan pengalaman untuk dapat menguji hipotesis melalui percobaan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis. d. Mengembangkan kemampuan berpikir analitis, induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip Biologi. e. Mengembangkan penguasaan konsep dan prinsip Biologi serta saling keterkaitannya dengan IPA lainnya. f. Mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri. g. Menerapkan konsep dan prinsip Biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia. h. Meningkatkan kesadaran dan berperan serta dalam menjaga lingkungan. 47 Saptono (2003) menjelaskan bahwa ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Biologi, antara lain. a. Student Centered Learning (Pembelajaran yang berpusat pada siswa) Guru hendaknya tidak memberikan konsep kepada siswa, tetapi juga harus menciptakan suatu lingkungan atau kondisi proses belajar yang baik bagi siswa untuk menemukan konsep. 47 Bowo, Mata Pelajaran Biologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA), diakses pada
21 b. Learning by Doing (belajar melalui melakukan sesuatu) Proses pembelajaran Biologi dilakukan untuk merancang kegiatan sederhana yang dapat menggambarkan konsep yang dipelajari. Dengan demikian siswa dapat mengalami sendiri, artinya siswa mengetahui tidak hanya secara teoritis, tetapi juga secara praktis. c. Joyful Learning Kesempatan bereksplorasi dan berinteraksi dalam kelompok akan membuat siswa senang dan tidak tertekan. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih banyak menggunakan waktunya untuk melakukan pengamatan, percobaan, dan diskusi merupakan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan. d. Meaning Learning Pembelajaran menjadi bermakna jika siswa mengalami sendiri dan dapat mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Lebih bermakna suatu materi, maka lebih mudah pula untuk menyimpan dan mengingatnya kembali. 48 Pembelajaran Biologi berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga belajar Biologi bukan hanya menguasai pengetahuan yang berupa fakta-fakta saja tetapi juga prinsip-prinsip dan konsep-konsep tertentu. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara ilmiah agar dapat mengembangkan kemampuan berfikir, oleh karena itu pembelajaran lebih ditekankan pada pembelajaran langsung melalui pengembangan sikap ilmiah. 48 Sigit Saptono, Strategi Belajar Mengajar Biologi, hlm.30,31 25
OPTIMALISASI FUNGSI LABORATORIUM IPA MELALUI KEGIATAN PRAKTIKUM PADA PRODI PGMI JURUSAN TARBIYAH STAIN PONOROGO. Izza Aliyatul Muna *
OPTIMALISASI FUNGSI LABORATORIUM IPA MELALUI KEGIATAN PRAKTIKUM PADA PRODI PGMI JURUSAN TARBIYAH STAIN PONOROGO Izza Aliyatul Muna * Abstrak: Salah satu metode pembelajaran IPA yang dapat menciptakan kondisi
BAB II LANDASAN TEORI
8 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka Kajian pustaka merupakan penelusuran pustaka berupa buku, hasil penelitian, karya ilmiah ataupun sumber lain yang dijadikan penulis sebagai rujukan atau perbandingan
PROFIL LABORATORIUM IPA DI MTs NEGERI SURAKARTA II DALAM MENUNJANG PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 TAHUN 2014/ 2015
PROFIL LABORATORIUM IPA DI MTs NEGERI SURAKARTA II DALAM MENUNJANG PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 TAHUN 2014/ 2015 NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program
BAB II PEMANFAATAN LABORATORIUM BIOLOGI UNTUK MENCAPAI STANDAR KOMPETENSI BIOLOGI KELAS XI IPA SEMESTER I di MAN KENDAL
BAB II PEMANFAATAN LABORATORIUM BIOLOGI UNTUK MENCAPAI STANDAR KOMPETENSI BIOLOGI KELAS XI IPA SEMESTER I di MAN KENDAL A. Kajian Pustaka Dalam kajian pustaka ini terdiri dari penelitian yang terdahulu.
PENGELOLAAN LABORATORIUM SEKOLAH (Kasus Laboratorium SMA Unggul Del Tapanuli Utara)
PENGELOLAAN LABORATORIUM SEKOLAH (Kasus Laboratorium SMA Unggul Del Tapanuli Utara) Freddy P. Limbong Tenaga Laboran SMA Unggul DEL; e-mail: [email protected] Abstrak Tujuan Penelitian ini adalah:
KESIAPAN LABORATORIUM BIOLOGI SMA NEGERI DALAM MENDUKUNG PEMBELAJARAN BIOLOGI DI KABUPATEN REMBANG
i KESIAPAN LABORATORIUM BIOLOGI SMA NEGERI DALAM MENDUKUNG PEMBELAJARAN BIOLOGI DI KABUPATEN REMBANG skripsi disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Biologi Oleh Nasrul
ANALISIS KESIAPAN LABORATORIUM DALAM MENDUKUNG PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA NEGERI DI KABUPATEN DEMAK
ANALISIS KESIAPAN LABORATORIUM DALAM MENDUKUNG PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA NEGERI DI KABUPATEN DEMAK skripsi disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Biologi oleh Asief
STRUKTUR ORGANISASI LABORATORIUM SEKOLAH dan DESKRIPSI TUGAS PENGELOLA LABORATORIUM
STRUKTUR ORGANISASI LABORATORIUM SEKOLAH dan DESKRIPSI TUGAS PENGELOLA LABORATORIUM MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Manajemen Laboratorium yang dibina oleh Bapak Drs. Derrmawan Afandy, M.Pd, Ibu
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Persiapan Penelitian Sebelum peneliti melaksanakan penelitian, maka telah dilakukan beberapa persiapan awal, diantaranya adalah 1. Melakukan observasi awal untuk melihat
Kata kunci: profil laboratorium, kimia, SMA/MA
PROFIL LABORATORIUM KIMIA SMA/MA DI KABUPATEN SLEMAN TAHUN AJARAN 2011/2012 THE PROFILE OF SMA/MA CHEMICAL LABORATORY AT THE SLEMAN IN 2011/2012 ACADEMIC YEAR Oleh : Muhammad Rheza Arsyida Fajri, Regina
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data Penelitian ini mengumpulkan data dengan beragam teknik, diantaranya yaitu teknik wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan angket. Wawancara dilakukan
SOP KEAMANAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
SOP KEAMANAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA TUJUAN Memelihara lingkungan kerja yang sehat. Mencegah, dan mengobati kecelakaan yang disebabkan akibat pekerjaan sewaktu bekerja. Mencegah dan mengobati
II. TINJAUAN PUSTAKA. Keterampilan proses sains merupakan semua keterampilan yang digunakan untuk
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Keterampilan Proses Sains a. Pengertian Keterampilan Proses Sains Keterampilan proses sains merupakan semua keterampilan yang digunakan untuk menemukan dan mengembangkan
Irnin Agustina D.A.,M.Pd Universitas Indraprasta PGRI irnien.wordpress.com
Irnin Agustina D.A.,M.Pd Universitas Indraprasta PGRI [email protected] irnien.wordpress.com fungsi utama laboratorium fisika sekolah adalah sebagai salah satu sumber belajar fisika di sekolah atau sebagai
SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 8. Penggunaan Alat Dan Bahan Laboratorium Latihan Soal 8.4
1. Cara aman membawa alat gelas adalah dengan... SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 8. Penggunaan Alat Dan Bahan Laboratorium Latihan Soal 8.4 Satu tangan Dua tangan Dua jari Lima jari Kunci Jawaban : B Alat-alat
BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia dan sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu bangsa. Pemerintah terus
Jl. Wiratama No. 50, Tegalrejo, Yogyakarta, Telp. (0274)
Mengenal Lab. Kimia, Yuk! --Yogyakarta: LeutikaPrio, 2017 vi + 104 hlm. ; 13 19 cm Cetakan Pertama, Desember 2017 Penulis Pemerhati Aksara Desain Sampul Tata Letak : Uji Saputro, S.Si. : LeutikaPrio :
TATA LETAK ALAT LABORATORIUM IPA
TATA LETAK ALAT LABORATORIUM IPA Oleh : Drs. Suyitno Al. MS Penataan alat-alat merupakan sebagian kecil dari fungsi manajemen laboratorium. Untuk dapat memahami penataan alat di lab, kita perlu memahami
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Fisika merupakan salah satu bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Fisika berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga fisika
BAB II KAJIAN PUSTAKA. tempat bekerja khusus untuk keperluan penelitian ilmiah. Laboratorium adalah
6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Laboratorium Kata Laboratorium berasal dari bahasa Latin yang berarti tempat bekerja. Dalam perkembangannya, kata laboratorium mempertahankan arti aslinya, yaitu
PENGARUH KONDISI LABORATORIUM TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMA NEGERI 11 SEMARANG (DESKRIPTIF KUALITATIF)
PENGARUH KONDISI LABORATORIUM TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMA NEGERI 11 SEMARANG (DESKRIPTIF KUALITATIF) Kunnti Afifah 1), Andari Puji Astuti 2) 1)2) Pendidikan Kimia Universitas Muhammadiyah
ADMINISTRASI DAN INVENTARISASI LABORATORIUM IPA. Oleh: Susilowati, M.Pd.
ADMINISTRASI DAN INVENTARISASI LABORATORIUM IPA Oleh: Susilowati, M.Pd. A. Pengertian, Peran dan Fungsi Laboratorium Menurut PP Nomor 19 Tahun 2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan dan dijabarkan dalam
KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BIOLOGI DAN RUANG LINGKUP STRATEGI BELAJAR MENGAJAR
KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BIOLOGI DAN RUANG LINGKUP STRATEGI BELAJAR MENGAJAR MAKALAH Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Strategi Belajar Mengajar Yang Dibimbing Oleh Drs. Masjhudi, M.Pd. Oleh Kelompok
Analisis Penerapan Metode Praktikum Pada Pembelajaran Kimia Materi Pokok Hidrolisis Garam Kelas XI di MAN 1 Semarang Tahun
BAB IV Analisis Penerapan Metode Praktikum Pada Pembelajaran Kimia Materi Pokok Hidrolisis Garam Kelas XI di MAN 1 Semarang Tahun 2012-2013 A. Perencanaan Pembelajaran 1. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dipaparkan hasil penelitian atau kajian pustaka yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, diantara adalah ilmu kimia dan kegiatan praktikum, pengertian alat
PROFILE MANAGEMENT OF BIOLOGICAL LABORATORIES IN SUPPORTING LEARNING ACTIVITIES IN SENIOR HIGH SCHOOL (SMA) PEKANBARU STATE
1 PROFILE MANAGEMENT OF BIOLOGICAL LABORATORIES IN SUPPORTING LEARNING ACTIVITIES IN SENIOR HIGH SCHOOL () PEKANBARU STATE Rosaulidia.S*, Yuslim Fauziah dan Arnentis *e-mail: [email protected],
Mengenal Jenis, Fungsi, dan Prinsip Pengelolaan Laboratorium. Kuliah I
Mengenal Jenis, Fungsi, dan Prinsip Pengelolaan Laboratorium Kuliah I Pengertian Laboratorium Secara umum laboratorium dapat diartikan sebagai tempat untuk melakukan observasi, percobaan, pengujian, analisis
Perencanaan dan Pengorganisasian Laboratorium IPA di SMA Negeri 8 Kupang Nusa Tenggara Timur
Perencanaan dan Pengorganisasian Laboratorium IPA di SMA Negeri 8 Kupang Nusa Tenggara Timur Harun Al Rasyid Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta,
54. Mata Pelajaran Kimia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara
54. Mata Pelajaran Kimia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala alam secara sistematis, sehingga
11. Mata Pelajaran Kimia Untuk Paket C Program IPA
11. Mata Pelajaran Kimia Untuk Paket C Program IPA A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala alam secara sistematis, sehingga pendidikan IPA bukan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Beragam aktivitas dilakukan manusia setiap harinya baik itu makan, bekerja, belajar, beristirahat, ataupun bermain. Aktivitas belajar dan bekerja merupakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Praktikum biologi merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pembelajaran biologi (Rustaman, 1996), karena biologi membahas tentang makhluk
BAB I PENDAHULUAN. dijelaskan pula pada batang tubuh Undang-undang Dasar 1945 bab XII
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan salah satu prioritas pemerintah dalam ikut serta memajukan kehidupan bangsa Indonesia. Hal ini tertuang dalam pembukaan Undang-undang
2 BAB II KAJIAN PUSTAKA
2 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hasi Belajar IPA Tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik jika hasil belajar sesuai dengan standar yang diharapkan dalam proses pembelajaran tersebut.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu cakupan IPA adalah pelajaran biologi yang membahas tentang mahluk hidup dan lingkungan serta diajarkan untuk menambah informasi, mengembangkan cara
II. TINJAUAN PUSTAKA. potensi dalam diri siswa itu sendiri. Menurut Sardiman (1994), aktivitas adalah
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Aktivitas Belajar Aktivitas belajar adalah serangkaian belajar yang dilakukan oleh siswa yang memiliki potensi dalam diri siswa itu sendiri. Menurut Sardiman (1994), aktivitas adalah
II. TINJAUAN PUSTAKA. keterampilan-keterampilan tertentu yang disebut keterampilan proses. Keterampilan Proses menurut Rustaman dalam Nisa (2011: 13)
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritis 1. Keterampilan Berkomunikasi Sains Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai proses dan sekaligus sebagai produk. Seseorang mampu mempelajari IPA jika
Nama : Irritant. Lambang : Xi. Contoh : NaOH, C 6 H 5 OH, Cl 2. Nama : Harmful. Lambang : Xn
Seperti yang telah kita ketahui, bahan-bahan kimia yang biasa terdapat di laboratorium kimia banyak yang bersifat berbahaya bagi manusia maupun bagi lingkungan sekitar. Ada yang bersifat mudah terbakar,
Keselamatan Kerja di Laboratorium
Keselamatan Kerja di Laboratorium Perhatikan PetunjuKeselamatan kerja Berkaitan dengan keamanan, kenyamanan kerja, dan kepentingan kesehatan, Keselamatan kerja sangat penting di perhatikan dalam bekerja
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
36 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian Laboratorium Biologi Madrasah Aliyah Negeri di Kabupaten Tegal Hasil analisis tentang daya dukung laboratorium Biologi Madrasah Aliyah
PENGELOLAAN LABORATORIUM. Drs. Riandi, M.Si.
PENGELOLAAN LABORATORIUM Drs. Riandi, M.Si. Laboratorium sering diartikan sebagai suatu ruang atau tempat dilakukannya percobaan atau penelitian. Ruang dimaksud dapat berupa gedung yang dibatasi oleh dinding
BAB I PENDAHULUAN. bidang sains berada pada posisi ke-35 dari 49 negera peserta. dalam bidang sains berada pada urutan ke-53 dari 57 negara peserta.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Secara umum dapat dipahami bahwa rendahnya mutu Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa Indonesia saat ini adalah akibat rendahnya mutu pendidikan (Tjalla, 2007).
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Proses pembelajaran merupakan salah satu tahap yang sangat menentukan terhadap keberhasilan belajar siswa. Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan
STRATEGI PEMANFAATAN LABORATORIUM IPA DI SEKOLAH. Oleh: Legiman Widyaiswara Muda LPMP D.I. Yogyakarta
STRATEGI PEMANFAATAN LABORATORIUM IPA DI SEKOLAH Oleh: Legiman Widyaiswara Muda LPMP D.I. Yogyakarta e-mail: [email protected] ABSTRAK : Laboratorium merupakan salah satu sarana prasarana yang
II. TINJAUAN PUSTAKA. bahwa untuk menemukan pengetahuan memerlukan suatu keterampilan. mengamati, melakukan eksperimen, menafsirkan data
11 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Keterampilan Proses Sains Keterampilan proses sains (KPS) adalah pendekatan yang mengarahkan bahwa untuk menemukan pengetahuan memerlukan suatu keterampilan mengamati, melakukan
I. PENDAHULUAN. Kerja Siswa (LKS). Penggunaan LKS sebagai salah satu sarana untuk
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu media atau sumber belajar yang dapat membantu siswa ataupun guru saat proses pembelajaran agar dapat berjalan dengan baik adalah Lembar Kerja Siswa (LKS). Penggunaan
Pengenalan laboratorium. 1. Pengenalan laboratorium 2. Pengenalan dan pengelolaan alat laboratorium 3. Pengenalan dan pengelolaan bahan kimia
Pengenalan 1. Pengenalan 2. Pengenalan dan pengelolaan alat 3. Pengenalan dan pengelolaan bahan kimia Laboratorium Kimia di FPMIPA UPI Selanjutnya bagaimana? Sebagus apapun suatu tidak akan berarti apa-apa
4 Konsep dan Implementasi Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) di Laboratorium
4 Konsep dan Implementasi Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) di Laboratorium (Picture from Lab Safety Culture at UCLA) Penyelenggaraan pendidikan di bidang sains tentunya bukan hanya sekedar teori tetapi
II. TINJAUAN PUSTAKA. yang bertujuan agar siswa mendapat kesempatan untuk menguji dan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Metode Praktikum Pratikum berasal dari kata praktik yang artinya pelaksanaan secara nyata apa yang disebut dalam teori. Sedangkan pratikum adalah bagian dari pengajaran yang bertujuan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Proses pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis praktikum,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Proses pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis praktikum, melalui pendekatan inkuiri pada subkonsep faktor-faktor yang mempengaruhi fotosintesis dilakukan dalam
II. TINJAUAN PUSTAKA. Keterampilan proses sains dapat diartikan sebagai keterampilan intelektual,
10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Keterampilan Proses Sains Keterampilan proses sains dapat diartikan sebagai keterampilan intelektual, sosial maupun fisik yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut pengetahuan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
4 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakikat Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang tersusun secara terbimbing. Hal ini
II._TINJAUAN PUSTAKA. Keterampilan proses sains merupakan salah satu bentuk keterampilan proses
6 II._TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoretis 1. Keterampilan Proses Sains Keterampilan proses sains merupakan salah satu bentuk keterampilan proses yang diaplikasikan pada proses pembelajaran. Pembentukan
BAB I PENDAHULUAN. berlandaskan pada kurikulum satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan. masyarakat secara mandiri kelak di kemudian hari.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan formal merupakan upaya sadar yang dilakukan sekolah dengan berlandaskan pada kurikulum satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan kemampuan kognitif,
JIPFRI: Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmiah
JIPFRI, Vol. 1 No. 2 Halaman: 83-87 November 2017 JIPFRI: Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmiah PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CHILDREN LEARNING IN SCIENCE (CLIS) BERBANTUAN MULTIMEDIA UNTUK
BAB I PENDAHULUAN. Mata pelajaran fisika masih menjadi pelajaran yang tidak disukai oleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mata pelajaran fisika masih menjadi pelajaran yang tidak disukai oleh siswa di sekolah. Menurut Komala (2008:96), ternyata banyak siswa menyatakan bahwa pembelajaran
2014 IDENTIFIKASI KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN SIKAP ILMIAH YANG MUNCUL MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS PRAKTIKUM PADA MATERI NUTRISI KELAS XI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Badan Standar Nasional Pendidikan (2006), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) termasuk biologi berkaitan dengan cara mencari tahu (inquiry) tentang alam secara sistematis.
MODEL PEMBELAJARAN IPA. Ida Kaniawati FPMIPA UPI
MODEL PEMBELAJARAN IPA Ida Kaniawati FPMIPA UPI BELAJAR Belajar adalah proses membuat pengertian melalui pengalaman, terjadinya interaksi fikiran, perasaan dan tindakan. Keterampilan mengajar bagi guru
KPS DIR Instruksi Kerja Lab Teknik Elektro: Penanganan Bahan Kimia di TFME
1/8 1. Tujuan Untuk memberi petunjuk tatacara penyimpanan, pemakaian dan penyediaan bahan kimia. 2. Ruang Lingkup Bahan kimia yang ada di TFME Politeknik Negeri Batam. 3. Istilah/Singkatan/Definisi TFME
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Arini, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Biologi merupakan salah satu bidang IPA yang menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains (BSNP, 2006:451). Proses pembelajaran
BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran IPA khususnya fisika mencakup tiga aspek, yakni sikap,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembelajaran IPA khususnya fisika mencakup tiga aspek, yakni sikap, proses, dan produk. Sains (fisika) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis,
PENGENALAN DAN PENANGANAN BAHAN-BAHAN KIMIA
PENGENALAN DAN PENANGANAN BAHAN-BAHAN KIMIA I. PENDAHULUAN Biologi berkaitan dengan cara mencari tahu tentang kehidupan secara sistematis, sehingga Biologi bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang
II. TINJAUAN PUSTAKA. interaksi antara seseorang dengan lingkungan. Menurut Sugandi, (2004:10), dirinya dengan lingkungan dan pengalaman.
9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Berbasis Laboratorium Belajar adalah suatu proses yang kompleks terjadi pada setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar berlangsung karena adanya interaksi karena
I. PENDAHULUAN. permasalahannya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konsep dan prinsip
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fisika merupakan salah satu cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang permasalahannya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konsep dan prinsip fisika dapat digunakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hakikat Belajar Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memeperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya
Keterlibatan siswa baik secara fisik maupun mental merupakan bentuk
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan transformasi pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan melibatkan aktivitas fisik dan mental siswa. Keterlibatan
KPS DIR Instruksi Kerja Lab Teknik Elektro: Kesehatan dan Keselamatan Kerja di TFME
1/7 1. Tujuan a. Agar tercapai keadaan yang aman dan nyaman bagi karyawan/mahasiswa, serta tidak berbahaya bagi lingkungan. b. Karyawan / mahasiswa dapat memahami tentang tindakan pencegahan & penanggulangan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Keterampilan
TINJAUAN PUSTAKA. (a) pandangan dari samping (wajah orang), (b) lukisan (gambar) orang dr
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Profil Keterampilan Proses Sains Profil dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki empat pengertian yaitu: (a) pandangan dari samping (wajah orang), (b) lukisan (gambar) orang
II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran
8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pemecahan Masalah (Problem Solving) Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran yang berlandaskan teori konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau sains berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan
I. PENDAHULUAN. Rumpun ilmu IPA erat kaitannya dengan proses penemuan, seperti yang. dinyatakan oleh BSNP (2006: 1) bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumpun ilmu IPA erat kaitannya dengan proses penemuan, seperti yang dinyatakan oleh BSNP (2006: 1) bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Belajar Individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya akan memperoleh sebuah pengalaman baru dan tanpa disadari ia telah mengalami proses belajar. Sependapat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. IPA merupakan mata pelajaran yang sering dianggap sulit oleh para
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian IPA merupakan mata pelajaran yang sering dianggap sulit oleh para siswa. Bagi para pendidik timbul masalah bagaimana cara menyampaikan ilmu pengetahuan tersebut
KISI-KISI SOAL UJI KOMPETENSI GURU TAHUN 2011
KISI-KISI SOAL UJI KOMPETENSI GURU TAHUN 2011 Kompetensi Bidang Studi : Pedagogik : IPA SMP Standar Kompetensi (SK) Kompetensi Dasar (KD) Indikator Esensial 1 Menguasai karakteristik peserta didik dari
BAB II PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DAN HASIL BELAJAR. perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu,
BAB II PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DAN HASIL BELAJAR A. Pendekatan Keterampilan Proses Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar dan perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai
BAB I PENDAHULUAN. ditakuti dan tidak disukai siswa. Kecenderungan ini biasanya berawal dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mata pelajaran fisika pada umumnya dikenal sebagai mata pelajaran yang ditakuti dan tidak disukai siswa. Kecenderungan ini biasanya berawal dari pengalaman belajar
Pengenalan laboratorium. 1. Pengenalan laboratorium 2. Pengenalan dan pengelolaan alat laboratorium 3. Pengenalan dan pengelolaan bahan kimia
Pengenalan laboratorium 1. Pengenalan laboratorium 2. Pengenalan dan pengelolaan alat laboratorium 3. Pengenalan dan pengelolaan bahan kimia Laboratorium Kimia di FPMIPA UPI Selanjutnya bagaimana? Sebagus
BAB III PEMBAHASAN. pembelajaran yang semakin luas membawa banyak perubahan dalam dunia
BAB III PEMBAHASAN Pemahaman orang terhadap hakekat sains, hakekat belajar dan pembelajaran yang semakin luas membawa banyak perubahan dalam dunia pembelajaran sains. Pemahaman terhadap sains telah berkembang
MANAJEMEN LABORATORIUM IPA (FISIKA) & CARA PENGELOLAANNYA
MANAJEMEN LABORATORIUM IPA (FISIKA) & CARA PENGELOLAANNYA Oleh: Pujianto JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA LABORATORIUM? Laboratorium
BAB I PENDAHULUAN. prestasi belajar siswa dengan berbagai upaya. Salah satu upaya tersebut
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Guru sebagai agen pembelajaran merasa terpanggil untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan berbagai upaya. Salah satu upaya tersebut adalah mengoptimalkan
Pengertian Bahan Kimia Berbahaya dan Beracun Bahan kimia berbahaya adalah bahan kimia yang memiliki sifat reaktif dan atau sensitif terhadap
Pengertian Bahan Kimia Berbahaya dan Beracun Bahan kimia berbahaya adalah bahan kimia yang memiliki sifat reaktif dan atau sensitif terhadap perubahan/kondisi lingkungan yang dengan sifatnya tersebut dapat
II. TINJAUAN PUSTAKA. penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Lembar Kerja Siswa (LKS) Media pembelajaran merupakan alat bantu yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran kehadiran
1.1 Latar Belakang Masalah
1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Pendidikan sangat penting dan berpengaruh bagi kehidupan manusia karena dengan pendidikan manusia dapat berdaya guna dan mandiri. Namun masalah pendidikan menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan dan salah satu mata pelajaran yang diharapkan dapat mencapai tujuan pendidikan nasional yang ada. Biologi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fisika adalah ilmu pengetahuan yang paling mendasar karena berhubungan dengan perilaku dan struktur benda. Tujuan utama sains termasuk fisika umumnya dianggap
TINJAUAN PUSTAKA. A. Metode Demonstrasi. Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Metode Demonstrasi Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun
BAB 1 PENDAHULUAN. (Undang-undang No.20 Tahun 2003: 1). Pendidikan erat kaitannya dengan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan kondisi belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi-potensi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbuka, artinya setiap orang akan lebih mudah dalam mengakses informasi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi dan era globalisasi yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di dunia yang terbuka,
BERKENALAN DENGAN ILMU KIMIA
BERKENALAN DENGAN ILMU KIMIA A Definisi : Ruang Lingkup Ilmu Kimia 2. 3. 4. 5. Secara singkat, Ilmu Kimia adalah ilmu rekayasa materi yaitu mengubah suatu materi menjadi materi yang lain. Secara lengkap,
