BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang"

Transkripsi

1 BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Kekayaan alam Indonesia begitu melimpah ruah, mulai dari sumber daya alam sampai dengan sumber daya mineral semua ada di bumi alam Indonesia yang merupakan kekayaan Negara Indonesia. Pengertian harta kekayaan Negara sebagaimana dijelaskan di UUD 45 Pasal 33 ayat 3 adalah bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pengertiannya adalah dalam arti luas. Pengertian umum harta kekayaan Negara dalam kerangka hukum perdata Indonesia adalah. 1. Benda tidak bergerak (real property) berupa tanah dan bangunan yang melekat di atasnya serta hak-hak yang terkait dan juga potensi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. 2. Benda bergerak (personal property) berupa benda berwujud dan benda tidak berwujud. Salah satu sumber daya mineral yang melimpah di Negara Indonesia adalah panas bumi (geothermal). Geothermal adalah energi panas bumi yang tersimpan dalam batuan di bawah permukaan bumi merupakan salah satu kekayaan sumber daya mineral yang belum banyak dimanfaatkan dibandingkan dengan sumber daya alam lainnya dan seringkali keberadaannya tidak disadari oleh karena secara struktur dan fisik tidak bisa dilihat secara langsung. Namun bila dilakukan kajian mengenai potensi energi yang terkandung di dalamnya, maka geothermal 1

2 2 merupakan salah satu sumber energi yang powerfull yang ada di Indonesia. Selain merupakan sumber daya alam yang ekonomis dan ramah lingkungan, geothermal merupakan salah satu alternatif penghasil energi listrik yang besar dan yang paling rasional untuk dioptimalkan di Indonesia. Meningkatnya kebutuhan energi dunia dan meningkatnya kesadaran akan akan kebersihan dan keselamatan lingkungan, maka geothermal merupakan pilihan yang tepat dan mempunyai masa depan yang cerah. Amerika Serikat telah mencanangkan program EGS (enhanced geothermal system) yaitu program untuk menjadikan geothermal sebagai salah satu primadona pembangkit listrik pada 2050 mendatang. Bahkan Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat berpotensi memanfaatkan panas bumi sebagai pembangkit listrik untuk diekspor ke negara lain bilamana optimalisasi pemanfaatan panas bumi dilakukan, mengingat banyaknya sumber geothermal yang siap dieksploitasi di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Menurut keterangan seorang peneliti senior pada institusi di Jerman, Indonesia memiliki potensi energi panas bumi terbesar di dunia, yaitu berpotensi menghasilkan energi listrik berasal dari panas bumi paling sedikit 27 Gigawatt atau sekitar 40 persen dari cadangan energi panas bumi dunia bila memanfaatkan dengan maksimal. Potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal sehubungan pemerintah masih banyak membahas potensi sumberdaya lainnya. Indonesia baru memiliki 18 PLTGU yang beroperasi dengan memberikan kontribusi sekitar MW atau sekitar 30 persen dari program rencana pemerintah pengadaan listrik MW. Selain itu, pemerintah juga membahas PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir)

3 3 yang justru akan menjadi issue yang lebih kontroversial disbanding PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi). Dilihat dari potensi aset sumber daya alam panas bumi, maka sumberdaya alam panas bumi (geothermal) adalah salah satu asset yang mempunyai nilai ekonomis yang relatif tinggi, ironisnya aset yang dimiliki pemerintah ini belum terindikasi nilai ekonomisnya dan menjadi persoalan yang perlu diperhatikan cara dan metoda penilaiannya, agar nilai sumber daya alam di dalam neraca keuangan negara dapat tercatat nilai yang sebenarnya (nilai wajar). Di sisi lain sejumlah ekonom Indonesia telah berulangkali mengusulkan agar pemerintah membuat neraca keuangan negara yang di dalamnya menyajikan nilai aset kekayaan alam Indonesia secara benar. Ini diperlukan untuk meningkatkan daya saing dan mengetahui seberapa besar potensi kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. Oleh karena itu sangat diperlukan revaluasi aset karena pencatatan aset negara saat ini masih berdasarkan nilai perolehan dan bukan nilai sesungguhnya. Namun demikian permasalahan belum selesai dengan melakukan penilaian terhadap aset tersebut secara benar, kenyataannya masih berpotensi menimbulkan persoalan baru sehubungan peraturan perpajakan di Indonesia yang dianggap memberatkan kalangan pengusaha/investor, karena aset yang direvaluasi pada umumnya nilainya akan meningkat, sehingga selisih antara nilai hasil revaluasi dengan nilai perolehan/harga perolehan akan dikenakan pajak final sebesar 10 (sepuluh) persen. Di lain pihak arah kebijakan pemerintah sebagai regulator sudah mengharuskan penyajian laporan keuangan menggunakan cara revaluasi yaitu nilai aset yang berbasis kepada International Financial reporting Standard (IFRS).

4 4 International Financial Reporting Standard (IFRS) yaitu standar pelaporan keuangan internasional mulai diterapkan tahun 2012 di Indonesia dan diharapkan dengan diberlakukan aturan tersebut perbedaan persepsi antara PSAK dan IFRS sudah tidak ada lagi karena basis nilai aset yang dicatatkan dalam neraca adalah nilai wajar yang ekuivalen dengan nilai pasar. Tahapan penerapan IFRS sudah dimulai yaitu tahap adopsi tahun , selanjutnya adalah tahap persiapan akhir penyelesaian infrastruktur, dan tahap implementasi adalah pada tahun Proyek PLTP yang dibangun adalah PLTP Gunung Tampomas yang terletak di Kabupaten Sumedang dan Subang Provinsi Jawa Barat yang diperkirakan memiliki potensi sekitar MW. berdasarkan data dari PT Jasa Sarana biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan proyek adalah Rp ,-. Berdasarkan standar Bank Dunia dengan kapasitas di atas 30 MW adalah US$ per kwh sehingga biaya investasi untuk kapasitas PLTP 50 MW sebesar = kilowatt x US$ per kwh = US$ 67,500, ,000,000 atau nilai terendah sebesar Rp ,- (lima ratus tujuh puluh tiga milyar tujuh ratus lima puluh juta rupiah) dan nilai tertinggi sebesar Rp ,- (sembilan ratus tiga puluh lima milyar rupiah). Izin Usaha Pertambangan (IUP) Nomor 540/kep./604-Admrek/2009 untuk Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) PLTP tersebut sudah diberikan kepada konsorsium 3 (tiga) perusahaan yaitu PT Wijaya Karya (Persero), Tbk. (PT WIKA), PT Jasa Sarana, dan PT Resources Jaya Teknik Managemen Indonesia berturutturut dengan jumlah saham sebesar 55 persen, 40 persen, dan 5 persen. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. merupakan perusahan publik, sedangkan PT Jasa Sarana adalah perusahaan Pemerintah Daerah, sehingga ke 2 (dua) perusahaan tersebut

5 5 dalam kegiatan investasinya diperlukan opini pihak independen dalam menilai kegiatan investasinya, terutama untuk perusahaan publik yang melakukan transaksi material. Transaksi material dalam peraturan Badan Pengawas Pasar Modal Nomor IX.E.2 adalah setiap pembelian, penjualan atau penyertaan saham, dan pembelian, penjualan, pengalihan, tukar menukar aktiva atau segmen usaha, yang nilainya cukup material yaitu sama atau lebih besar dari 20 persen dari ekuitasnya wajib menunjuk pihak independen untuk melaksanakan penilaian dan memberikan pendapat tentang kelayakan nilai transaksi tersebut. Adapun pihak independen yang dimaksud adalah penilai publik yang mendapatkan ijin sebagai Penilai publik dari Departemen Keuangan Republik Indonesia. Penilaian yang dilakukan atas aset sumber daya alam panas bumi Gunung Tampomas merupakan penilaian atas hak penambangan (hak ekonomi) oleh suatu entitas yang bergerak di bidang industri pertambangan. Dengan demikian pemerintah dapat mengetahui nilai ekonomis kekayaan sumber daya alam geothermal yang sebenarnya, sehingga dapat memasukkan ke dalam daftar kekayaan riil pemerintah dan dapat menarik minat kerjasama pembiayaan juga meningkatkan daya saing. Di samping itu, bila nilai wajar dari aset tersebut lebih besar dari nilai perolehan, maka potensi pendapatan pajak bagi pemerintah akan meningkat pula, sedangkan dari sisi masyarakat sekitar meningkatkan taraf hidup dengan dibukanya kesempatan bekerja dan pendidikan khusus di bidang migas untuk ditempatkan di PLTP, sehingga diharapkan masyarakat dapat menyadari betapa penting menjaga, mengamankan, dan menyelamatkan harta kekayaan negara demi kelangsungan menjaga kebutuhan masyarakat akan energi listrik. 1.2 Keaslian Penelitian Secara umum penelitian mengenai penentuan nilai ekonomis sumber daya alam panas bumi (geothermal) di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian untuk

6 6 menentukan nilai ekonomis atas Hak Investasi Pengembangan Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi Gunung Tampomas masih terbatas dilakukan oleh penilai publik. Namun demikian terdapat beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penilaian sumber daya alam diantaranya sebagai berikut. 1. Kaneva (2001) melakukan analisis terhadap model penilaian dengan menggunakan option models atas aset sumber energi listrik pascaliberisasi di Negara Inggris. Tujuan dari analisis adalah memberikan gambaran mengenai model penilaian yang sesuai berdasarkan dinamika energi listrik. 2. Hall dan Nicholls (2007) melakukan penelitian terhadap hasil penilaian proyek tambang batubara di Australia yang dihasilkan dari analisis metoda Discounted Cash Flow (DCF) dibandingkan dengan Real Option Valuation (ROV). Penelitian ini bertujuan untuk melihat secara kontekstual penggunaan analisis dan hasilnya berkaitan dengan perpajakan, royalty, dan kebijakan subsidi investasi. 3. Hamilton dan Sell (2009) melakukan penelitian atas properti dengan kegunaan khusus (special use property) dan properti dengan tujuan tertentu (special purpose property). Permasalahan utama dalam menilai properti tersebut adalah kurangnya ketersediaan data yang cukup, kurangnya penjualan dan informasi spesifik untuk membuat penyesuain dan membuat kesimpulan yang logis. Oleh karena itu penilaian dengan pendekatan pendapatan merupakan penilaian yang paling mewakili. Untuk properti yang dapat menghasilkan pendapatan yang dapat diprediksi, menurut pengadilan negeri dapat menggunakan pendekatan pendapatan, dengan metoda termasuk dalam mengestimasi pendapatan bersih dan jumlah tahun yang diharapkan dari properti tersebut yaitu berdasarkan

7 7 analisis discounted cash flow. Nilai kini dari pendapatan dihitung dengan menggunakan tingkat diskonto tertentu yang merupakan tingkat pendapatan bersih investasi dari pemilik properti. 4. Garvin dan Cheah (2004) melakukan penelitian dalam pengambilan keputusan investasi infrastruktur publik dengan tujuan Build Operate Transfer (BOT). Mengevaluasi isu-isu dan variabel-variabel yang terkait dengan kelangsungan ekonomi proyek infrastruktur publik dengan studi kasus proyek jalan tol di USA. Teknik yang digunakan bagaimana mencari discount rate yang paling realistis untuk investasi dalam penilaian baik dengan traditional valuation method maupun real option valuation model. Penggunaan metoda discounted cash flow merupakan metoda yang paling umum dipilih dalam menilai proyek yang tidak terdapat dalam pasar aktif seperti proyek infrastruktur. Metoda DCF ini digunakan untuk mendapatkan net present value dari proyek infrastruktur yang sedang berjalan. Discount rate harus benar-benar menggambarkan risiko dari aset yang dinilai karena merupakan faktor yang dapat mempengaruhi ekonomi dari aset ketika diterapkan metode penilaian tradisional. Biasanya estimasi menggunakan Weighted Average Cost of Capital (WACC) dalam penentuan biaya modal dan Capital Asset Pricing Modal (CAPM) dalam penentuan biaya ekuitas. WACC = Re x (E/V) + Rd (D/V) (l-i).. (1.1) R e = R r + β e (R m R r ).. (1.2) Adapun kelemahan metoda DFC ini adalah tidak dapat mengakomodasi adanya perubahan tingkat risiko karena perubahan informasi dan kemajuan dalam pembangunan. Penggunaan option valuation model dikembangkan untuk

8 8 mengurangi batasan-batasan pada traditional valuation method. Real Option Models digunakan untuk penilaian terhadap investasi infrastruktur yang terkait dengan opsi penundaan atau investasi bertahap. Terdapat 2 (dua) katagori model yaitu continuous-time models dan discrete model. 5. Duvall dan Black (2000) melakukan penelitian mengenai metoda penilaian properti yang tidak memiliki pembanding. Untuk properti yang tidak memiliki pembanding di pasar terbuka dapat menggunakan pendekatan pendapatan atau pendekatan biaya dalam mendapatakan nilai wajar. Dalam jurnal ini disebutkan, jika dalam pengadilan telah diputuskan bahwa suatu properti dikategorikan sebagai special use property maka diambil suatu pertimbangan metoda penilian berdasarkan kompensasi yang layak. Pengadilan memutuskan terdapat 3 (tiga) metoda yang dapat digunakan yaitu Pendekatan biaya, pendekatan pendapatan dan pendekatan data pasar yang dimodifikasi. Pendekatan biaya biasanya digunakan untuk properti dengan pelayanan khusus dan tidak dapat menghasilkan pendapatan seperti gereja, dan sekolah-sekolah umum. Di mana nilai di peroleh dari nilai penggantian baru dikurangi penyusutan. Pendekatan pendapatan digunakan untuk menilai properti khusus yang dapat menghasilkan pendapatan, di mana properti tersebut dapat menghasilkan pendapatan yang stabil dan secara langsung menghasilkan ke properti yang dinilai bukan karena keahlian dari pemilik. Nilai diperoleh dari nilai sekarang dari arus pendapatan yang di peroleh. Pendekatan data pasar yang dimodifikasi dilakukan dengan memperluas pengertian dari properti pembanding seperti dari lokasi lain atau properti yang berbeda dalam penggunaan tetapi diklasifikasikan juga sebagai properti khusus. Penilaian properti khusus menggunakan pendekatan pasar yang

9 9 dimodifikasi dalam jurnal ini kemungkinan akan dapat menghasilkan nilai yang bias karena properti yang dibandingkan memiliki karakter dan penggunaan yang berbeda dan kemungkinan penilai dari kedua properti akan sulit untuk melakukan penyesuaian karena perbedaan penggunaan dari kedua properti tersebut. 6. Michaletz, V.B, A.I. Artemenkov dan I.L. Artemenkov (2007) melakukan penelitian mengenai metoda penilaian aset yang tidak likuid menggunakan pendekatan pendapatan. Dalam jurnal ini dijelaskan bagaimana meneliti dasar dibalik Nilai Pasar dalam menilai aset tidak likuid yang dapat menghasilkan pendapatan (merupakan aset yang tidak mempunyai data pembanding). Adapun properti yang dicontohkan dalam penelitian ini adalah aset tidak berwujud, saham dari perusahaan privat, dan properti khusus yang menghasilkan pendapatan. Metoda yang digunakan untuk melakukan penilaian adalah dengan Discounted Cash Flow (DCF). 7. Accetta (1998) menyatakan pengkajian kepantasan analisis discounted cash flow (DFC) terdapat beberapa alat yang dapat digunakan penilai untuk mengembangkan dan menganalisis cash flow. Dalam review DFC dibutuhkan asumsi-asumsi berdasarkan data dan ekpektasi pasar yaitu dibutuhkan melihat pola dan kemungkinan penyimpangan. Penilai diharapkan bergantung pada aktivitas pasar, ekspektasi pasar dan pengalaman. Terdapat 6 (enam) katagori pengujian yaitu umum yang merupakan identifikasi variable input dan memeriksa hasil atau indikasi nilai; potensi pendapatan kotor, tingkat kekosongan, turnover dan collection loss biaya operasional pendapatan operasional bersih; serta tingkat pertumbuhan dan hubungan antarasumsi. Dari

10 10 artikel tersebut perlu dikaji lebih lanjut tentang tingkat diskonto yang akan digunakan karena tingkat diskonto merupakan pencerminan penghargaan dari investasi dan tingkat risiko yang melekat. Secara umum, penelitian-penelitian di atas masih bersifat umum, yaitu penelitian penilaian untuk properti khusus berdasarkan pendekatan pendapatan dengan metoda aliran kas terdiskon. Di samping memang penelitian tentang PLTP belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini diusulkan untuk meneliti PLTP dengan mengacu pada penelitian Goldberg (2009), dengan menggunakan pendekatan pendapatan, namun tidak hanya menggunakan metoda aliran kas yang terdiskon (discounted cash flow) atau yield capitalization, tetapi dengan metoda tradisional (direct capitalization). Di mana untuk tingkat kapitalisasi akan menggunakan weighted average cost of capital dengan cost of equity menggunakan bottom-up beta, sehingga dapat meminimalisir tingkat risiko dari PLTP yang diteliti. 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan penelitian Menghitung nilai ekonomis sumber daya alam panas bumi (geothermal) di Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Gunung Tampomas berdasarkan Standar Penilaian Indonesia (SPI) dengan tujuan pelaporan keuangan sesuai International Financial Reporting Standard (IFRS). Penilaian ini dapat dianggap mencerminkan nilai kekayaan sebenarnya, sehingga hasil penilaian dapat digunakan secaralebih luas.

11 Manfaat penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat: 1. sebagai informasi bagi Pemerintah mengenai nilai ekonomi sumberdaya alam yang dimiliki yang mencerminkan nilai sebenarnya (nilai wajar), sehingga dapat dimasukkan dalam daftar kekayaan negara (neraca keuangan) dan manajemen pengelolaan aset yang dimiliki atau dikuasai pemerintah; 2. sebagai sumber informasi bagi praktisi dan akademisi dan peneliti lainnya. 1.4 Sistematika Penulisan Penulisan penelitian ini terdiri atas 4 (empat) bab dengan sistematika : Bab I Pengantar, berisi uraian pendahuluan tentang penelitian yang terdiri atas latar belakang, tujuan dan faedah penelitian, serta sistematika penulisan; Bab II Tinjauan Pustakan dan Alat Analisis, bab ini berisikan uraian mengenai tinjauan pustaka yang berkaitan dengan judul penelitian, landasan teori, dan rencana penelitian yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian serta alat analisis yang digunakan; Bab III Analisis data, bab ini berisikan uraian tentang alat yang digunakan untuk melakukan penelitian, jalannya penelitian, pembahasan data berupa analisis data dari penelitian yang dilakukan; Bab IV Kesimpulan, Keterbatasan, dan Saran, bab ini berisi kesimpulan hasil analisis yang didapatkan dari hasil penelitian yang dianggap penting sebagai jawaban atas tujuan penelitian, keterbatasan berupa kendala dan kesulitan dalam penelitian, serta saran yang disampaikan sebagai sumbangan pemikiran.

BAB I PENDAHULUAN. kaidah kaidah akuntansi yang berlaku umum. Menurut IAI (2015) dalam PSAK

BAB I PENDAHULUAN. kaidah kaidah akuntansi yang berlaku umum. Menurut IAI (2015) dalam PSAK BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengelolaan aktiva tetap berwujud milik entitas tidak hanya terletak pada bagaimana aktiva tetap tersebut menjadi aktiva produktif yang menghasilkan capital gain, tetapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sektor minyak dan gas bumi. Pengusahaan kekayaan alam ini secara konstitusional

BAB I PENDAHULUAN. sektor minyak dan gas bumi. Pengusahaan kekayaan alam ini secara konstitusional BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki sumber pendapatan dari sektor minyak dan gas bumi. Pengusahaan kekayaan alam ini secara konstitusional didasarkan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... HALAMAN PERNYATAAN... PRAKATA...

DAFTAR ISI... Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... HALAMAN PERNYATAAN... PRAKATA... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... HALAMAN PERNYATAAN... PRAKATA... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR PERSAMAAN... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI... ABSTRACT... BAB I

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini kesadaran masyarakat akan investasi sudah mulai berkembang, tidak hanya pada sektor riil saja tetapi juga pada sektor keuangan. Investasi adalah penundaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu unit usaha atau kesatuan akuntansi, dengan aktifitas atau kegiatan ekonomi dari

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu unit usaha atau kesatuan akuntansi, dengan aktifitas atau kegiatan ekonomi dari BAB II LANDASAN TEORI II.1 Rerangka Teori dan Literatur II.1.1. Pengertian Entitas Suatu unit usaha atau kesatuan akuntansi, dengan aktifitas atau kegiatan ekonomi dari unit tersebut sebagai fokusnya.

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Pembiayaan pendanaan perusahaan merupakan suatu hal yang tidak dapat

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Pembiayaan pendanaan perusahaan merupakan suatu hal yang tidak dapat BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Pembiayaan pendanaan perusahaan merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari dari suatu perusahaan dalam menjalankan usahanya. Hal ini dapat dipenuhi dengan pembiayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Kontribusi batubara terhadap kebutuhan total energi dunia berkisar 23%.

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Kontribusi batubara terhadap kebutuhan total energi dunia berkisar 23%. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batubara merupakan sumber energi yang penting dan banyak digunakan di dunia. Kontribusi batubara terhadap kebutuhan total energi dunia berkisar 23%. Penggunaan batubara

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisa Kinerja Operasi PT. Acset Indonusa Tbk Depresiasi dari Rupiah telah menyebabkan memburuknya defisit neraca berjalan. Bank Indonesia memprediksi defisit

Lebih terperinci

Pendekatan Pendapatan

Pendekatan Pendapatan Pendekatan Pendapatan KONSEP Pendekatan Pendapatan Konsep Pendekatan Pendapatan Berkaitan dengan Prinsip Penilaian : Prinsip Antisipasi & Perubahan Prinsip Supply & Demand Substitusi : market oriented,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di dunia internasional, terdapat dua standar akuntansi keuangan yang telah

BAB I PENDAHULUAN. Di dunia internasional, terdapat dua standar akuntansi keuangan yang telah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di dunia internasional, terdapat dua standar akuntansi keuangan yang telah dikenal, yaitu US GAAP (produk dari FASB) dan IFRS/ IAS (produk dari IASB). Para praktisi

Lebih terperinci

BIOLOGICAL ASSET VALUATION

BIOLOGICAL ASSET VALUATION BIOLOGICAL ASSET VALUATION UNTUK KEPERLUAN LAPORAN KEUANGAN (IAS 41) Oleh: Ir. Benny Supriyanto, MSc, MAPPI (Cert) Jakarta, 12 Oktober 2010 1 IAS 41 tentang Biological Asset. Aktiva Biologis (biological

Lebih terperinci

III.METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder

III.METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder 38 III.METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian. Peneliti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan dana pada satu atau beberapa objek investasi dengan harapan akan mendapatkan keuntungan di masa mendatang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pasal 33 ayat (3) bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh

BAB I PENDAHULUAN. Pasal 33 ayat (3) bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semangat melakukan eksplorasi sumber daya alam di Indonesia adalah UUD 1945 Pasal 33 ayat (3) bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh

Lebih terperinci

ORGANISASI NIRLABA. Oleh: Tri Purwanto

ORGANISASI NIRLABA. Oleh: Tri Purwanto KONSEP DASAR ORGANISASI NIRLABA Oleh: Tri Purwanto Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan sesuai PSAK 45 berdasar SAK ETAP Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan sesuai PSAK 45 berdasar SAK ETAP Sekretariat

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Keuangan Perusahaan

II. TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Keuangan Perusahaan 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bank Menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun

Lebih terperinci

BAB V. KESIMPULAN dan SARAN. dengan pendekatan discounted cash flow dapat ditarik beberapa

BAB V. KESIMPULAN dan SARAN. dengan pendekatan discounted cash flow dapat ditarik beberapa BAB V KESIMPULAN dan SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penghitungan dan analisis penilaian perusahaan dengan pendekatan discounted cash flow dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: a. Estimasi

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam studi kasus ini adalah data sekunder yang didapat dari PT.Kimia Farma Tbk, Bursa Efek Indonesia (BEI), www.kimiafarma.co.id

Lebih terperinci

ANALISA NILAI PASAR SPBU PT. SUMBER KURNIA MANDIRI JALAN BALAS KLUMPRIK SURABAYA

ANALISA NILAI PASAR SPBU PT. SUMBER KURNIA MANDIRI JALAN BALAS KLUMPRIK SURABAYA ANALISA NILAI PASAR 54.601.114 PT. SUMBER KURNIA MANDIRI JALAN BALAS KLUMPRIK SURABAYA Nama : Hilda Mienar SL Nrp : 3109 106 055 Jurusan : Teknik Sipil FTSP ITS Dosen Pembimbing : Christiono Utomo. ST,

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. tumbuh berkembang dan meningkatkan nilai perusahaan, namun upaya ini

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. tumbuh berkembang dan meningkatkan nilai perusahaan, namun upaya ini BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Pengembangan usaha sangat diperlukan perusahaaan untuk dapat terus tumbuh berkembang dan meningkatkan nilai perusahaan, namun upaya ini seringkali menghadapi kendala

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. 1.1 Identitas Pemberi Tugas

1 PENDAHULUAN. 1.1 Identitas Pemberi Tugas 1 PENDAHULUAN 1.1 Identitas Pemberi Tugas KANTOR JASA PENILAI PUBLIK YANUAR BEY DAN REKAN ( Y&R ) ditunjuk oleh [ ] berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran [ ] tanggal [ ] dengan maksud untuk melakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting di dalam bidang akuntansi. Melakukan adopsi International Financial

BAB I PENDAHULUAN. penting di dalam bidang akuntansi. Melakukan adopsi International Financial BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengungkapan informasi yang relevan dan reliabel merupakan hal yang penting di dalam bidang akuntansi. Melakukan adopsi International Financial Reporting Standard

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Economic Value Added (EVA) Economic Value Added (EVA) merupakan sebuah metode pengukuran nilai tambah ekonomis yang diciptakan perusahaan dari kegiatannya selama periode tertentu.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin pesatnya laju pertumbuhan bisnis saat ini menuntut Indonesia untuk menyetarakan standar keuangan serta penyusunan laporan keuangan mengikuti standar internasional

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Prospek pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) sangat besar dan beragam. Berdasarkan data cadangan dan produksi energi terbarukan Indonesia 2007, (http://www.ebtke.esdm.go.id/energi/...pltmh.html)

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. mengakibatkan perusahaan dituntut untuk meningkatkatkan daya saingnya dalam

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. mengakibatkan perusahaan dituntut untuk meningkatkatkan daya saingnya dalam 1 BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Kondisi persaingan usaha yang semakin ketat dan kompetitif, mengakibatkan perusahaan dituntut untuk meningkatkatkan daya saingnya dalam industri maupun strategi keunggulan

Lebih terperinci

1. Marketing-related intangible asset, contoh: trademark, tradename, brand, logo

1. Marketing-related intangible asset, contoh: trademark, tradename, brand, logo Pengertian Berdasarkan SPI 2007, aset tak berwujud adalah aset yang mewujudkan dirinya melalui properti-properti ekonomis dimana aset ini tidak mempunyai substansi fisik. Jenis-Jenis Aset Tak Berwujud

Lebih terperinci

AKUNTANSI KOMERSIAL VS AKUNTANSI PAJAK

AKUNTANSI KOMERSIAL VS AKUNTANSI PAJAK AKUNTANSI KOMERSIAL VS AKUNTANSI PAJAK AKUNTANSI KOMERSIAL VS AKUNTANSI PAJAK Pembukuan menurut UU Pajak Dalam Pasal 28 ayat (7) UU KUP disebutkan: Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengenai pasar modal juga, investor dapat dengan mudah masuk ke lantai pasar. kegiatan perusahaan semakin lebih kompleks.

BAB I PENDAHULUAN. mengenai pasar modal juga, investor dapat dengan mudah masuk ke lantai pasar. kegiatan perusahaan semakin lebih kompleks. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan industri serta arus globalisasi yang semakin pesat menuntut perusahaan untuk mampu bergerak sejalan dengan perkembangan tersebut. Selain itu dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dianggap merupakan salah satu tugas akuntansi yang sangat penting dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. dianggap merupakan salah satu tugas akuntansi yang sangat penting dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pengakuan, pengukuran, dan pelaporan laba perusahaan serta komponennya dianggap merupakan salah satu tugas akuntansi yang sangat penting dalam menyediakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penjualan saham kepada publik dengan tujuan untuk mempertahankan kelancaran

BAB I PENDAHULUAN. penjualan saham kepada publik dengan tujuan untuk mempertahankan kelancaran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Persaingan bisnis di era globalisasi yang semakin kompetitif, banyak perusahaan melakukan strategi dengan melakukan investasi tambahan melalui penjualan saham

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Berdasarkan jenisnya, data yang disajikan dalam penelitian ini adalah data aplikatif kuantitatif. Seperti disampaikan oleh peneliti dimuka bahwa penelitian

Lebih terperinci

1 Catatan Revaluasi Aktiva Tetap Perusahaan

1 Catatan Revaluasi Aktiva Tetap Perusahaan Perusahaan dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan, dengan syarat telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa pajak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pasar modal memiliki dua

BAB I PENDAHULUAN. untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pasar modal memiliki dua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketika perusahaan tidak memiliki sumber dana internal yang mencukupi, pasar modal merupakan salah satu tempat bagi perusahaan mencari sumber dana alternatif selain

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Proses penilaian terhadap perusahaan tertutup membutuhkan identifikasi atas

BAB 1 PENDAHULUAN. Proses penilaian terhadap perusahaan tertutup membutuhkan identifikasi atas BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses penilaian terhadap perusahaan tertutup membutuhkan identifikasi atas ciri spesifik pada perusahaan karena keterbatasan data pembanding yang umumnya tidak terlalu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari kegiatan operasi. Diperlukan sejumlah modal untuk melakukan kegiatan usaha

BAB I PENDAHULUAN. dari kegiatan operasi. Diperlukan sejumlah modal untuk melakukan kegiatan usaha BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perusahaan merupakan suatu organisasi yang tujuan kegiatannya dijalankan adalah untuk menambah kekayaan pemilik melalui keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari kegiatan

Lebih terperinci

PERPAJAKAN II. Konvergensi IFRS dan Pengaruhnya terhadap Perpajakan

PERPAJAKAN II. Konvergensi IFRS dan Pengaruhnya terhadap Perpajakan PERPAJAKAN II Modul ke: Konvergensi IFRS dan Pengaruhnya terhadap Perpajakan Fakultas EKONOMI Program Studi MAGISTER AKUNTANSI www.mercubuana.ac.id Dr. Suhirman Madjid, SE.,MS.i.,Ak., CA. HP/WA : 081218888013

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas beberapa alasan yang menjadi latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas beberapa alasan yang menjadi latar belakang BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas beberapa alasan yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian. Selain itu, bab ini juga menguraikan tentang rumusan masalah yang menjadi

Lebih terperinci

MANAJEMEN KEUANGAN. Penganggaran Modal. Riska Rosdiana SE., M.Si. Modul ke: Fakultas Ekonomi & Bisnis. Program Studi Manajemen.

MANAJEMEN KEUANGAN. Penganggaran Modal. Riska Rosdiana SE., M.Si. Modul ke: Fakultas Ekonomi & Bisnis. Program Studi Manajemen. Modul ke: MANAJEMEN KEUANGAN Penganggaran Modal Fakultas Ekonomi & Bisnis Riska Rosdiana SE., M.Si Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Modal atau capital merujuk pada aktiva tetap

Lebih terperinci

ISAK 9/ IFRIC 1: PERUBAHAN ATAS KEWAJIBAN AKTIVITAS PURNA OPERASI, RESTORASI DAN KEWAJIBAN SERUPA

ISAK 9/ IFRIC 1: PERUBAHAN ATAS KEWAJIBAN AKTIVITAS PURNA OPERASI, RESTORASI DAN KEWAJIBAN SERUPA ISAK 9/ IFRIC 1: PERUBAHAN ATAS KEWAJIBAN AKTIVITAS PURNA OPERASI, RESTORASI DAN KEWAJIBAN SERUPA PERMASALAHAN Bagaimana dampak dari peristiwa berikut ini, a. Perubahan estimasi arus keluar dari sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. puluh tahun yang lampau pemerintah Indonesia telah mengunakan pola Build

BAB I PENDAHULUAN. puluh tahun yang lampau pemerintah Indonesia telah mengunakan pola Build BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam rangka melaksanakan pembangunan di Indonesia, maka beberapa puluh tahun yang lampau pemerintah Indonesia telah mengunakan pola Build Operate and Transfer

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS. A. Pengertian Pendapatan Menurut Pernyataan Standar Akuntansi

BAB II LANDASAN TEORITIS. A. Pengertian Pendapatan Menurut Pernyataan Standar Akuntansi BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pengertian Pendapatan Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 23 Secara umum pendapatan dapat diartikan sebagai peningkatan penghasilan yang diperoleh perusahaan dalam

Lebih terperinci

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. 4.1 Kesimpulan. ini Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu memiliki tujuh aset idle yang

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. 4.1 Kesimpulan. ini Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu memiliki tujuh aset idle yang BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan 1. Berdasarkan hasil identifikasi terhadap aset tetap non operasional milik Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu diperoleh informasi bahwa pada saat ini Pemerintah

Lebih terperinci

ANALISIS PERBANDINGAN LAPORAN KEUANGAN

ANALISIS PERBANDINGAN LAPORAN KEUANGAN Handout : Analisis Rasio Keuangan Dosen : Nila Firdausi Nuzula, PhD Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya ANALISIS PERBANDINGAN LAPORAN KEUANGAN Perbandingan laporan keuangan merupakan salah

Lebih terperinci

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. 4.1 Kesimpulan. dan penerbitan Obligasi Subordinasi tahun 2012 melalui top-down analysis serta

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. 4.1 Kesimpulan. dan penerbitan Obligasi Subordinasi tahun 2012 melalui top-down analysis serta BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh estimasi nilai wajar saham PT Bank Permata Tbk. per tanggal 15 Juli 2013 pasca Penawaran Umum Terbatas V, dan penerbitan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. operasional rutin perusahaan, terutama aset tetap (fixed asset). Aset tetap

BAB I PENDAHULUAN. operasional rutin perusahaan, terutama aset tetap (fixed asset). Aset tetap BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Setiap organisasi memiliki sarana yang akan dicapai, baik bersifat jangka pendek maupun jangka panjang, yaitu memperoleh laba dan menaikkan nilai perusahaan.

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. stabil merupakan salah satu pendorong berkembangnya pasar modal.

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. stabil merupakan salah satu pendorong berkembangnya pasar modal. BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Pasar modal merupakan alternatif pembiayaan pendanaan perusahaan selain pembiayaan oleh bank. Adapun kondisi di pasar modal memiliki kaitan yang erat dengan kondisi perekonomian.

Lebih terperinci

TUGAS PASAR MODAL DAN MANAJEMEN KEUANGAN PENGANGGARAN MODAL

TUGAS PASAR MODAL DAN MANAJEMEN KEUANGAN PENGANGGARAN MODAL TUGAS PASAR MODAL DAN MANAJEMEN KEUANGAN PENGANGGARAN MODAL ADE ARISNAYANTI 1206325012 PROGRAM PROFESI AKUNTANSI UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2013 PENGANGGARAN MODAL Prinsip Penilaian Aset Secara Umum

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penguji dari pekerjaan bagian pembukuan, tetapi untuk selanjutnya laporan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penguji dari pekerjaan bagian pembukuan, tetapi untuk selanjutnya laporan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Analisa Laporan Keuangan 2.1.1.1 Pengertian Analisa Laporan Keuangan Pada mulanya laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanyalah sebagai alat penguji

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam industri pertambangan dan energi, proses menemukan sumber daya alam

BAB I PENDAHULUAN. Dalam industri pertambangan dan energi, proses menemukan sumber daya alam 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam industri pertambangan dan energi, proses menemukan sumber daya alam selalu dikaitkan dengan aktifitas eksplorasi dan evaluasi. Aktifitas eksplorasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. PSAK 1 tentang penyajian laporan keuangan. a. Definisi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) adalah standar yang digunakan untuk pelaporan keuangan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (PSAK), yang semula mengacu pada United States Generally Accepted

BAB 1 PENDAHULUAN. (PSAK), yang semula mengacu pada United States Generally Accepted BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saat ini Indonesia telah melakukan konvergensi International Financial Reporting Standard (IFRS) terhadap Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), yang

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. 4.1 Analisis Kondisi Perseroan Sesuai Dengan Standar Akuntansi Yang Ada

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. 4.1 Analisis Kondisi Perseroan Sesuai Dengan Standar Akuntansi Yang Ada BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Analisis Kondisi Perseroan Sesuai Dengan Standar Akuntansi Yang Ada Dalam bab ini, dilakukan analisis dengan membandingkan standar standar akuntansi yang ada di Indonesia

Lebih terperinci

9 Universitas Indonesia

9 Universitas Indonesia BAB 2 TINJAUAN LITERATUR 2.1. Studi Kelayakan Studi kelayakan atau feasibility study adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan atau usaha atau bisnis yang akan dijalankan,

Lebih terperinci

RANGKUMAN BAB 23 EVALUASI EKONOMI DARI PENGELUARAN MODAL (Akuntansi Biaya edisi 13 Buku 2, Karangan Carter dan Usry)

RANGKUMAN BAB 23 EVALUASI EKONOMI DARI PENGELUARAN MODAL (Akuntansi Biaya edisi 13 Buku 2, Karangan Carter dan Usry) RANGKUMAN BAB 23 EVALUASI EKONOMI DARI PENGELUARAN MODAL (Akuntansi Biaya edisi 13 Buku 2, Karangan Carter dan Usry) BIAYA MODAL ( THE COST OF CAPITAL ) Biaya modal mewakili perkiraan tingkat pengembalian

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN IV.1 Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan Perlakuan Akuntansi SAK ETAP Setelah mendapatkan gambaran detail mengenai objek penelitian, yaitu PT Aman Investama.

Lebih terperinci

AKUNTANSI KOMERSIAL VS AKUNTANSI PAJAK

AKUNTANSI KOMERSIAL VS AKUNTANSI PAJAK AKUNTANSI KOMERSIAL VS AKUNTANSI PAJAK Pembukuan menurut UU Pajak Dalam Pasal 28 ayat (7) UU KUP disebutkan: Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Laporan keuangan sangat berperan penting dalam menarik investor.

BAB I PENDAHULUAN. Laporan keuangan sangat berperan penting dalam menarik investor. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laporan keuangan sangat berperan penting dalam menarik investor. Laporan keuangan merupakan cermin dari kondisi suatu perusahaan, sehingga investor dapat memutuskan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Properti investasi adalah properti berupa tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya yang dikuasai oleh pemilik (lessee) melalui sewa pembiayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan bisnis dalam skala nasional dan. intemasional, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah mencanangkan

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan bisnis dalam skala nasional dan. intemasional, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah mencanangkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan perkembangan bisnis dalam skala nasional dan intemasional, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah mencanangkan dilaksanakannya program konvergensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan merupakan suatu unit kegiatan produksi yang mengelola

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan merupakan suatu unit kegiatan produksi yang mengelola BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perusahaan merupakan suatu unit kegiatan produksi yang mengelola sumber-sumber ekonomi untuk menyediakan barang dan jasa bagi masyarakat dengan tujuan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Akuntan Indonesia (DSAK IAI) melakukan adopsi International Financial

BAB I PENDAHULUAN. Akuntan Indonesia (DSAK IAI) melakukan adopsi International Financial BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian ini menguji relevansi nilai pajak tangguhan sebagai dampak perubahan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) di Indonesia. Perubahan PSAK ini terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang berjalan selama ini di Indonesia terhadap perusahaan teknologi informasi

BAB I PENDAHULUAN. yang berjalan selama ini di Indonesia terhadap perusahaan teknologi informasi BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan secara umum perkembangan perusahaan teknologi informasi rintisan, hal-hal yang mendukung perkembangannya, ketertarikan investor terhadap perusahaan teknologi informasi

Lebih terperinci

RECASTING LAPORAN KEUANGAN. Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

RECASTING LAPORAN KEUANGAN. Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia RECASTING LAPORAN KEUANGAN Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Recasting Recasting adalah proses untuk menyesuaikan atau menyusun ulang laporan keuangan. Kegiatan ini dilakukan oleh

Lebih terperinci

ANALISA OPTIMASI STRUKTUR MODAL DAN MANAJEMEN KAS PT.INDONESIA POWER DALAM USAHANYA UNTUK MEMENUHI EKSPANSI USAHA YANG DIMILIKI

ANALISA OPTIMASI STRUKTUR MODAL DAN MANAJEMEN KAS PT.INDONESIA POWER DALAM USAHANYA UNTUK MEMENUHI EKSPANSI USAHA YANG DIMILIKI UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS EKONOMI SKRIPSI ANALISA OPTIMASI STRUKTUR MODAL DAN MANAJEMEN KAS PT.INDONESIA POWER DALAM USAHANYA UNTUK MEMENUHI EKSPANSI USAHA YANG DIMILIKI Diajukan Oleh : Mohamat Emir

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyajian dan pengungkapan instrumen keuangan harus sesuai dengan standarstandar

BAB I PENDAHULUAN. penyajian dan pengungkapan instrumen keuangan harus sesuai dengan standarstandar BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Instrumen keuangan merupakan kontrak yang mengakibatkan timbulnya aset keuangan bagi satu entitas dan kewajiban keuangan atau instrumen ekuitas bagi entitas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Laporan Arus Kas 1. Pengertian Laporan Arus Kas Setiap perusahaan dalam menjalankan operasi usahanya akan mengalami arus masuk kas (cash inflows) dan arus keluar (cash outflows).

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Bab ini akan menguraikan tentang pengakuan, pengukuran dan penyajian

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Bab ini akan menguraikan tentang pengakuan, pengukuran dan penyajian BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Pendekatan Pembahasan Bab ini akan menguraikan tentang pengakuan, pengukuran dan penyajian yang dilaporkan oleh salah satu perusahaan perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bertambahnya jumlah perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO)

BAB I PENDAHULUAN. bertambahnya jumlah perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan perusahaan go public di Indonesia dapat dilihat dari bertambahnya jumlah perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) setiap tahunnya. IPO merupakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. tertentu untuk mencapai suatu tingkat pengembalian (rate of return) yang. dan dampaknya terhadap harga surat berharga tersebut.

BAB II LANDASAN TEORI. tertentu untuk mencapai suatu tingkat pengembalian (rate of return) yang. dan dampaknya terhadap harga surat berharga tersebut. BAB II LANDASAN TEORI II.1 Valuasi II.1.1 Konsep Investasi merupakan suatu komitmen penempatan dana pada periode waktu tertentu untuk mencapai suatu tingkat pengembalian (rate of return) yang diinginkan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi ekonomi Indonesia tidak terlepas dari pengaruh kondisi global

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi ekonomi Indonesia tidak terlepas dari pengaruh kondisi global BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Kondisi ekonomi Indonesia tidak terlepas dari pengaruh kondisi global yang masih diwarnai krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat dan Kawasan Eropa.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan. Banyak faktor yang mempengaruhi keputusan perusahaan dalam

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan. Banyak faktor yang mempengaruhi keputusan perusahaan dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Hutang perusahaan sangat berkaitan erat dengan struktur modal suatu perusahaan. Banyak faktor yang mempengaruhi keputusan perusahaan dalam melakukan pendanaan

Lebih terperinci

VALUATION O L E H D U D I H E R P E N D I E D I S O N L E O N I S A I N T A N P R A T I W I R A H M A T D I A N A Z I R I

VALUATION O L E H D U D I H E R P E N D I E D I S O N L E O N I S A I N T A N P R A T I W I R A H M A T D I A N A Z I R I VALUATION MANAJEMEN KEUANGAN O L E H D U D I H E R P E N D I E D I S O N L E O N I S A I N T A N P R A T I W I R A H M A T D I A N A Z I R I Pengertian Valuation Valuation = appraisal = penilaian = penaksiran

Lebih terperinci

VII. RENCANA KEUANGAN

VII. RENCANA KEUANGAN VII. RENCANA KEUANGAN Rencana keuangan bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan. Untuk melakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berjalannya waktu, permintaan akan tenaga listrik di Indonesia terus

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berjalannya waktu, permintaan akan tenaga listrik di Indonesia terus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Listrik merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan manusia. Seiring dengan berjalannya waktu, permintaan akan tenaga listrik di Indonesia terus meningkat.

Lebih terperinci

STANDAR AKUNTANSI ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK

STANDAR AKUNTANSI ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK STANDAR AKUNTANSI ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK Ruang Lingkup Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum(general purpose financial statemanet) bagi

Lebih terperinci

5. Penilaian Saham Perseroan

5. Penilaian Saham Perseroan 5. Penilaian Saham Perseroan 5.1 Pendekatan Aset Pendekatan ini disebut juga dengan balance sheet approach, karena menghitung nilai perusahaan atau ekuitas melalui penyesuaian nilai buku menjadi nilai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. modal dan industri-industri sekuritas yang ada pada suatu negara tersebut. Peranan

BAB I PENDAHULUAN. modal dan industri-industri sekuritas yang ada pada suatu negara tersebut. Peranan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perekonomian suatu negara dapat diukur dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mengetahui tingkat perkembangan dunia pasar modal dan industri-industri

Lebih terperinci

BAB VI ASPEK KEUANGAN

BAB VI ASPEK KEUANGAN BAB VI ASPEK KEUANGAN Bagian ini menjelaskan tentang kebutuhan dana, sumber dana, proyeksi neraca, proyeksi laba rugi, proyeksi arus kas, penilaian kelayakan investasi. Proyeksi 3 tahun. 6.1 Kebutuhan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Studi Kelayakan Bisnis 2.1.1 Pengertian Studi Kelayakan Bisnis Kata bisnis berasal dari bahasa Inggris busy yang artinya sibuk, sedangkan business artinya kesibukan. Bisnis dalam

Lebih terperinci

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 48 PENURUNAN NILAI AKTIVA

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 48 PENURUNAN NILAI AKTIVA 0 0 PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. PENURUNAN NILAI AKTIVA Paragraf-paragraf yang dicetak dengan huruf tebal dan miring adalah paragraf standar yang harus dibaca dalam konteks paragraf-paragraf

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Investasi Investasi ialah komitmen saat ini atas uang atau sumber daya lainnya, dengan pengharapan untuk memperoleh imbalan di masa mendatang (Bodie, Kane, dan Marcus, 2008).

Lebih terperinci

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB 1 PENDAHULUAN. dipatuhi. Setiap negara memiliki standar akuntansi yang berbeda-beda dalam

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB 1 PENDAHULUAN. dipatuhi. Setiap negara memiliki standar akuntansi yang berbeda-beda dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di dalam menyusun laporan keuangan dikenal adanya standar yang harus dipatuhi. Setiap negara memiliki standar akuntansi yang berbeda-beda dalam perlakuan, metode,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pengambilan keputusan untuk melakukan investasi diawali dengan penentuan

I. PENDAHULUAN. Pengambilan keputusan untuk melakukan investasi diawali dengan penentuan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengambilan keputusan untuk melakukan investasi diawali dengan penentuan tujuan investasi yang dinyatakan dalam risiko maupun return. Investor harus memahami bahwa ada

Lebih terperinci