BAB II. Tinjauan Pustaka
|
|
|
- Hadian Sudjarwadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II Tinjauan Pustaka 2.1. Boiler Boiler berfungsi untuk merubah air menjadi uap superheat yang bertemperatur dan bertekanan tinggi. Alat yang digunakan untuk membuat uap disebut Boiler (Boiler) atau lebih tepat Steam Generator (Pembangkit Uap) 1. Klasifikasi boiler secara umum dibagi dua yaitu, boiler pipa api dan boiler pipa air. Jenis boiler pipa api banyak digunakan oleh industri yang memerlukan tekanan uap yang relatif rendah, misalnya pabrik-pabrik tahu. Sedangkan jenis pipa air digunakan oleh industri/pembangkit listrik yang memerlukan tekanan uap yang tinggi Boiler Pipa Api Pada jenis boiler pipa api (Gambar 2.1), gas panas hasil pembakaran ( flue gas) mengalir melalui pipa-pipa yang dibagian luarnya diselimuti air sehingga terjadi perpindahan panas dari gas panas ke air dan air berubah menjadi uap 2. Keterbatasan dari boiler pipa api adalah tekanan uap tidak dapat dibuat terlampau tinggi karena ketebalan drum akan sedemikian tebalnya sehingga tidak menguntungkan. Boiler seperti ini banyak digunakan di pabrik-pabrik tahu karena tidak memerlukan tekanan uap yang tinggi. 1 PT. PLN (PERSERO) Jasa Diklat Unit Pendidikan dan Pelatihan Suralaya. Pengoperasian Boiler Hal 2 2 Ibid Hal 2 4
2 5 Gambar 2.1. Boiler Pipa Api Boiler Pipa Air Pada boiler pipa air (Gambar 2.2) jenis ini, air berada didalam pipa sedangkan gas panas berada diluar pipa. B 3 oiler pipa air dapat beroperasi dengan tekanan sangat tinggi 3. Gambar 2.2. Boiler Pipa Air 3 PT. PLN (PERSERO) Jasa Diklat Unit Pendidikan dan Pelatihan Suralaya. Pengoperasian Boiler hal 2
3 Komponen Utama Boiler Komponen utama Boiler antara lain Steam drum, Economizer, Superheater, Reheater, Furnace, dan Burner Steam drum Steam drum adalah bagian dari boiler yang berfungsi untuk : 1. Menampung air yang akan dipanaskan pada pipa-pipa penguap ( wall tube), dan menampung uap air dari pipa-pipa penguap sebelum dialirkan ke superheater. 2. Memisahkan uap dan air yang telah dipanaskan di ruang bakar 3. Mengatur kualitas air boiler, dengan cara membuang kotoran-kotoran yang terlarut di dalam boiler melalui continous blowdown. 4. Mengatur permukaan air sehingga tidak terjadi kekurangan saat boiler beroperasi yang dapat menyebabkan overheating pada pipa boiler. Level air dari drum harus selalu dijaga agar selalu tetap setengah dari tinggi drum. Banyak nya air pengisi yang masuk ke steam drum harus sebanding dengan banyaknya uap yang meninggalkan drum, agar level air tetap konstan. Batas maksimum dan minimum level air dalam steam drum adalah -250 mm s/d 250 mm dari titik 0 (setengah tinggi drum) Economizer Economizer adalah pipa untuk menyerap panas dari gas bekas sisa pembakaran ke dalam feed water sebelum memasuki siklus penguapan (evaporation) di dalam boiler. Pemanasan air ini dilakukan agar perbedaan temperatur antara air pengisi dan air yang berada dalam steam drum tidak terlalu
4 7 tinggi, sehingga tidak terjadi thermal stress (tegangan yang terjadi karena adanya pemanasan) di dalam steam drum. Memanfaatkan gas sisa pembakaran akan meningkatkan efisiensi Boiler dan proses pembentukan uap juga lebih cepat. Economizer berupa pipa-pipa air yang dipasang ditempat laluan gas hasil pembakaran sebelum air heater. Perpindahan panas yang terjadi di economizer terjadi dengan arah aliran kedua fluida berlawanan (counter flow). Air pengisi steam drum mengalir ke atas menuju steam drum, sedangkan udara pemanas mengalir ke bawah Superheater Superheater berfungsi untuk menaikkan temperatur uap jenuh menjadi uap panas lanjut dengan memanfaatkan gas panas hasil pembakaran. Uap yang masuk ke superheater berasal dari steam drum Reheater Reheater berfungsi untuk memanaskan kembali uap yang keluar dari HP turbine dengan memanfaatkan gas hasil pembakaran yang temperaturnya relatif masih tinggi. Pemanasan ini bertujuan untuk menaikkan efisiensi sistem secara keseluruhan. Perpindahan panas yang paling dominan pada reheater adalah perpindahan panas konveksi. Perpindahan panas radiasi pada reheater memberikan efek yang sangat kecil sehingga proses ini biasanya diabaikan Furnace Furnace merupakan suatu tempat berlangsungnya proses pembakaran bahan bakar dengan udara. Udara yang digunakan di suplai dari force draft fan (FD
5 8 Fan) dan primary air fan (PA Fan). Seluruh permukaan furnace terdiri dari water wall yang di las membran nya Burner Burner merupakan alat untuk menghasilkan sumber api bagi Boiler. Yaitu dengan cara membakar campuran bahan bakar (batubara) dan udara di dalam ruang bakar boiler Komponen Pendukung Boiler Komponen pendukung Boiler PLTU 3 Jawa Timur Tanjung Awar-Awar Unit 1 adalah Force Draft Fan, Primary Air Fan, Induce Draft Fan, Air Pre Heater, Coal Pulvarizer, Electro Static Precipicator, dan Stack (Cerobong) Force draft Fan (FD Fan) Force draft fan (FD Fan) digunakan untuk menyuplay udara ke dalam windbox yang digunakan untuk udara penambah pada pembakaran di dalam furnace Primary air Fan (PA Fan) Primary air fan (PA Fan) digunakan untuk menyuplai udara panas dan dingin kedalam Mill dan digunakan untuk proses pembakaran bersama batubara di dalam furnace Induced Draft Fan (ID Fan) Induced draft dan (ID Fan) digunakan untuk menghisap udara sisa pembakaran setelah melewati ESP yang kemudian dibuang ke udara bebas melalui chimney/ stack.
6 Air Pre Heater (APH) Air pre heater (APH) digunakan untuk memanaskan udara yang akan digunakan untuk proses pembakaran dari force draft fan (FD Fan) dan primary air fan (PA Fan) dengan memanfaatkan sisa gas buang yang mempunyai suhu yang cukup tinggi Coal Pulvurizer Coal pulvurizer digunakan untuk memecah batubara sehingga ukurannya 200 mesh, proses pemecahannya menggunakan sebuah alat penggerus berjumlah 3 buah yang disebut dengan glinder. Batubara yang sudah dipecah oleh glinder kemudian akan naik dan disuplaykan ke dalam furnace dengan bantuan udara dari primary air fan Electro Static Precipitator (ESP) Electro Static Precipitator (ESP) digunakan untuk menghisap debu-debu yang terkandung dalam sisa gas pembakaran dengan menggunakan prinsip memberikan ion negatif dan positif ke gas buang sehingga debu dapat terikat oleh ion-ion tersebut Stack (Cerobong) Stack (Cerobong) digunakan untuk membuang gas buang ke udara bebas namun setelah melewati berbagai proses sehingga aman untuk lingkungan Pembakaran Pembakaran merupakan suatu proses reaksi kimia antara suatu bahan bakar dengan oksigen, yang memerlukan panas sebagai media penyalanya. Dalam suatu
7 10 reaksi pembakaran lengkap, suatu senyawa bereaksi dengan zat pengoksidasi, dan produknya adalah senyawa dari tiap elemen dalam bahan bakar dengan zat pengoksidasi. Pembakaran bertujuan untuk melepaskan seluruh panas yang terdapat pada bahan bakar. Pembakaran pada PLTU terjadi pada ruang bakar memiliki syarat: bahan bakar, oksigen dan sumber panas yang berkombinasi menjadi satu bentuk reaksi pembakaran. Berikut ini jenis-jenis pembakar 4 an: 1. Pembakaran Stoikiometris Pembakaran stikiometris adalah kebutuhan reaksi pembakaran yang utuh pada atau di atas kebutuhan udara stoikiometris untuk mencapai complete combustion. Pembakaran stoikiometris sederhana terjadi di dalam proses pembakaran karbon dan oksigen, seperti di bawah ini: C + O₂ CO₂ + heat 2H 2 + O 2 CO 2 + heat S + O 2 SO 2 + heat 2. Pembakaran Sempurna Pembakaran sempurna terjadi apabila zat reaksi terbakar seluruhnya di dalam oksigen dan menghasilkan beberapa jenis produk. Pada pembakaran sempurna apabila hidrokarbon terbakar di dalam oksigen maka, efek reaksi akan hanya menghasilkan karbondioksida dan air 4. Elemen seperti karbon, nitrogen, sulfur dan besi terbakar, elemen tersebut akan menghasilkan oksida yang paling umum. Karbon 4 Muanif Evaluasi Bilangan Excess Air Unit 2 PLTU 1 Jawa Timur Pacitan. Laporan Tugas Akhir. Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Hal 4
8 11 akan menghasilkan karbon dioksida. Nitrogen akan menghasilkan nitrogen oksida. Sulfur akan menghasilkan sulfur dioksida. Pembakaran sempurna terjadi jika semua unsur C, H dan S yang terkandung dalam bahan bakar bereaksi membentuk CO₂, H₂O dan SO₂. Pembakaran sempurna dapat dicapai apabila campuran antara bahan bakar dan oksida tepat, dengan rasio udara dengan bahan bakar yang tepat pula. Jumlah bahan bakar dan oksida dalam pembakaran sempurna harus stoikiometris. Campuran stoikiometris terjadi jika jumlah oksigen dalam campuran tepat untuk bereaksi dengan C, H dan S membentuk CO₂, H₂O dan SO₂. C + H₂ + S + O 2 CO 2 + H 2 O + SO 2 3. Pembakaran Tidak Sempurna Pembakaran tidak sempurna terjadi apabila ada sejumlah oksigen yang tidak mencukupi untuk terjadi pembakaran sepenuhnya. Reaktan akan terbakar di oksigen, tetapi akan menghasilkan berbagai produk. Hidrokarbon terbakar di oksigen dan reaksi nya akan menghasilkan karbon dioksida, air, karbon monoksida, dan berbagai senyawa lain seperti oksida nitrogen. Pembakaran tidak sempurna dapat terjadi karena pasokan oksidator nya terbatas atau kurang dari jumlah yang diperlukan Tiga Kebutuhan Pembakaran yang Baik Kebutuhan pembakaran yang baik memiliki tiga kondisi yang diperlukan pada pembakaran boiler yaitu:
9 12 a. Waktu Waktu pembakaran dalam furnace diperlukan sesuai kebutuhan reaksi pembakaran terhadap jumlah bahan bakar yang terbakar semua. Hal ini disesuaikan dengan disain boiler. b. Temperatur Panas yang cukup harus dirawat dan tersedia untuk menyalakan dan mendukung proses pembakaran. Temperatur furnace perapian harus dijaga di atas suhu penyala sampai suhu dibawah terbentuknya NOx yaitu 1426,7 C. c. Turbulence Pencampuran yang cukup antara bahan bakar dan udara diperlukan untuk menyempurnakan hasil pembakaran dalam tungku perapian. 2.4 Bahan Bakar Batubara Batu bara merupakan bahan bakar utama PLTU 3 Jawa TImur Tanjung Awar- Awar. Batubara yang digunakan berupa batubara jenis batubara lignite dengan kandungan nilai kalori Kcal/Kgf (17162, KJ/Kgf), batubara itu diambil dari tambang batubara di Kalimantan selatan dan akan terus disuplai selama pengoperasian. Batubara yang digunakan merupakan campuran antara low rank coal dan medium rank coal dengan presentase 80%:20%. Batubara diklasifikasikan dalam berbagai cara menurut sifat sifat kimia dan fisiknya. Sistem yang paling umum diterima adalah yang digunakan oleh American Society for Testing and Material (ASTM), yang membagi bagi kualitas batubara
10 13 berdasarkan tingkat metamorfosis yang paling rendah (perubahan bentuk dan struktur di bawah pengaruh suhu, tekanan, dan air). Klasifikasi ini mencakup batubara mulai dari keadaan metamorfosis yang paling rendah, yaitu lignit sampai yang tertinggi yaitu antrasit (ASTM D 388). Klasifikasi batu bara antara lain: - Antrasit Batubara antrasit memiliki kualitas yang paling tinggi. Antrasit mengandung 86 sampai 98 % massa karbon tetap (kandungan karbon dalam bentuk unsur). Antrasit terbakar dengan lambat, nilai kalornya agak rendah dari batubara bitumin yang mempunyai nilai tinggi 5. Batubara jenis antrasit dibagi dalam tiga kelompok. Dalam urutan fixed carbon dari yang tinggi sampai rendah. Ketiga kelompok itu adalah meta antrasit lebih dari 98% fixed carbon; antrasit, 93 sampai 98 %; dan semi antrasit, 86 sampai 92%. - Bitumin Bitumin merupakan kelompok batubara terbesar dan mengandung % massa karbon tetap dan % volatile matter yang lebih kompleks daripada yang terdapat pada antrasit. Nama batubara bitumin berasal dari bitumin, yaitu residu aspal yang diperoleh dari destilasi bahan bakar tertentu 5. Nilai kalor batubara bitumin berkisar dari sampai lebih dari Btu/lb (sekitar sampai kj/kg). 5 Wiharjo, Danu. Analisa Nilai Excess Air Untuk Meningkatkan Efisiensi Pembakaran Boiler pada Load Rate MW di PLTU PAITON Unit 7. Laporan Tugas Akhir Fakultas Teknik Politeknik Negeri Malang Hal 13
11 14 - Subbitumin Subbitumin merupakan kelas batubara yang nilai kalorinya lebih rendah dari pada batubara bitumin, yaitu antara Btu/lb (sekitar kj/kg). Kandungan lembaban yang terkait didalamnya relatif tinggi yaitu antara Btu/lb (sekitar kj/kg). Kandungan kelembaban yang terkait didalamnya relatif tinggi yaitu sekitar 15-30%, tetapi kandungan belerangnya pada umumnya rendah 6. - Lignit Lignit merupakan batubara kualitas paling rendah. Lignit berasal dari bahasa latin yaitu lignum yang berarti kayu. Warna lignit coklat, strukturnya berlapis, dan didalamnya masih terlihat sisa-sisa kayu. Lignit kebanyakan berasal dari tumbuhan dan banyak mengandung resin volatile matter. Nilai kalornya berkisar antara Btu/lb (sekitar sampai kj/kg). Kandungan moisturenya tinggi dan nilai kalornya rendah, lignit tidak ekonomis untuk diangkat dalam jarak jauh dan biasanya dibakar dalam utilities di lokasi tambang. Lignit dibagi dua kelompok yaitu lignit A dan lignit B Proses Pembakaran di Furnace Pembakaran batubara untuk menghasilkan panas terjadi di dalam furnace pada boiler dengan temperatur tertentu yang sangat tinggi. Proses pembakaran dibantu 6 Wiharjo, Danu. Analisa Nilai Excess Air Untuk Meningkatkan Efisiensi Pembakaran Boiler pada Load Rate MW di PLTU PAITON Unit 7. Laporan Tugas Akhir Fakultas Teknik Politeknik Negeri Malang Hal 14
12 15 dengan suatu sistem yang dirancang untuk mendukung terjadinya pemanasan yang paling efisien dan tidak mengganggu kelestarian lingkungan sekitar. Proses pembakaran pada kebutuhan pembakaran yaitu bahan bakar, oksigen yang cukup, panas, dan reaksi kimia. Batubara yang digunakan dalam proses pembakaran diharapkan dapat terbakar seoptimal mungkin. Untuk itu batubara perlu dihaluskan dengan cara dihaluskan dengan alat yaitu coal pulverizer. Oksigen yang cukup perlu diberikan melalui suatu sistem fan serta sistem pemantik awal pembakaran dengan desain khusus. Pembakaran yang terjadi tidak selalu sempurna., sebagai akibatnya apabila pembakaran tidak sempurna maka akan menyisakan ash yang melebihi batas yang diijinkan. Pembakaran tidak sempurna juga menghasilkan emisi gas yang melebihi batas polusi udara diijinkan. Proses pembakaran yang terjadi di dalam boiler menggunakan konsep pembakaran tangensial. Bahan bakar dan udara disuplai ke dalam furnace melalui windbox yang terdapat pada pojok pojok boiler. Nozzle yang merupakan tempat keluarnya bahan bakar dan udara diarahkan secara tangensial terhadap lingkaran imajiner di dalam furnace. Proses pembakaran tersebut akan membentuk lidah api yang berbentuk pusaran, lidah api bentuk ini sangat efektif untuk mencampur bahan bakar dan udara sekunder disebabkan oleh turbelensi dan difusi. Proses pembakaran di dalam furnace dapat membentuk oksida nitrogen (NOx) yang berasal dari nitrogen di dalam batu bara atau berasal dari nitrogen yang terdapat dalam udara atmosfer. Pembentukan oksida nitrogen tersebut hanya dapat terjadi pada temperatur tinggi, yaitu pada
13 16 temperatur di atas C. Sistem pembakaran tangensial ini didesain untuk membakar batubara secara efisien serta mengurangi pembentukan NOx Stokiometri Pembakaran Batu Bara Pembakaran stikiometris adalah kebutuhan reaksi pembakaran yang utuh pada atau di atas kebutuhan udara stoikiometris untuk mencapai complete combustion. Bahan bakar batubara memiliki unsur yang dapat menghasilkan panas atau heat yaitu karbon, hidrogen, dan sulfur apabila bereaksi dengan oksigen. Reaksi kimia sederhana bahan bakar dengan oksigen yaitu 7 : C + O₂ CO₂ + heat H₂ + O₂ H₂O (g) + heat S + O₂ SO₂ + heat C+ ( O₂ N₂ ) CO₂ N₂ 12 kg C + ( 32 kg O₂ x 28 kg N₂ ) 44 kg CO₂ N₂ x 28 kg N₂ 1 kg C kg O₂ kg N₂ 3.67 kg CO₂ kg N₂ Jadi 1 kg zat karbon memerlukan udara sebanyak kg. Bila dalam 1 kg bahan bakar terdapat X kg C, memerlukan udara sebanyak kg. Jika berat jenis oksigen pada 0 C dan 760 mm Hg adalah kg/m³, maka volume O₂ untuk pembakaran X kg karbon adalah 2.67 karbon / = kg X O₂. Pembakaran hidrogen 7 : 7 Wiharjo, Danu. Analisa Nilai Excess Air Untuk Meningkatkan Efisiensi Pembakaran Boiler pada Load Rate MW di PLTU PAITON Unit 7. Laporan Tugas Akhir Fakultas Teknik Politeknik Negeri Malang Hal 80
14 17 2H₂ + ( O₂ x N₂ ) 2H₂O N₂ 4 kg H₂ + ( 32 kg O₂ x 28 kg N₂ ) 36 kg H₂O kg N₂ 1 kg H₂ + 8 kg O₂ kg N₂ 9 kg H₂O kg N₂ Jadi 1 kg H₂ memerlukan 34.5 kg udara. Jika dalam 1 kg bahan bakar terdapat X kg H₂, memerlukan 34.5 kg udara, memerlukan 8 X kg O₂ atau 34.5 X kg udara. Pembakaran belerang 8 : S + O₂ N₂ SO₂ + N₂ 32 kg S + 32 kg O₂ kg N₂ 64 kg SO₂ kg N₂ 1 kg S + 1 kg O₂ kg N₂ 2 kg SO₂ kg N₂ Jadi 1 kg S memerlukan 1 kg oksigen atau 4.32 kg udara. Jika dalam 1 kg bahan bakar terdapat X kg S, maka diperlukan udara seberat 4.32 X kg. Pembakaran yang dapat membakar seluruh komponen bahan bakar dalam bahan bakar secara baik, disebut pembakaran sempurna dan keperluan udaranya disebut keperluan udara stoikiometri. Perhitungan keperluan udara stoikiometri pembakaran dalam boiler dapat dirumuskan sebagai berikut: Tair = C H O S 9 (kg udara per kg bahan bakar) Dimana: Tair : Kebutuhan udara teoritis (kg udara/kg batu bara) 8 Wiharjo, Danu. Analisa Nilai Excess Air Untuk Meningkatkan Efisiensi Pembakaran Boiler pada Load Rate MW di PLTU PAITON Unit 7. Laporan Tugas Akhir Fakultas Teknik Politeknik Negeri Malang Hal 81 9 The American Society of Mechanical Engineer. ASME PTC 4, Fired Steam Generators. New York, USA Hal 80
15 18 C : Kandungan karbon dalam batu bara (%) H : Kandungan Hidrogen dalam batu bara (%) O : Kandungan Oksigen dalam batu bara (%) S : Kandungan Sulfur dalam batu bara (%) 2.7. Excess air Pembakaran sempurna dengan secara teoritis sangat sulit dicapai karena pada kenyataannya tidak semua oksigen bereaksi dengan unsur-unsur bahan bakar. Pemberian udara berlebih ( excess air) berguna menjamin terlaksananya proses pembakaran sempurna. Jumlah udara berlebih tergantung dengan komposisi bahan bakar dan jenis bahan bakar yang digunakan. Jumlah udara (oksigen) yang kurang dari kebutuhan pembakaran akan menyebabkan jumlah bahan bakar yang tidak terbakar akan semakin banyak sehingga terbuang sia-sia melalui cerobong (stack). Jumlah oksigen yang semakin banyak yang ditandai dengan jumlah excess air juga semakin banyak, maka akan semakin banyak pula energi panas yang ikut terbuang keluar karena diserap oleh excess air tersebut. Kerugian yang kedua ini sering disebut dengan heat loss Excess air dapat dihitung dengan: Excess air=o₂ furnance mol pembakaran+(0,7905 Tair) Tair (20,95- O₂ furnance ) 10 Dimana, 10 Performance Test PLTU Tanjung Awar-Awar
16 19 O₂ furnance : Kandungan O₂ pada ruang bakar (%) Mol pembakaran : Jumlah mol pada kandungan batu bara Tair : Udara teoritis (kg udara/ kg bahan bakar) 2.8. Sistem Penyediaan Udara Proses pembakaran sangat membutuhkan oksigen dalam jumlah yang memadai agar pembakaran sempurna dapat terjadi. Kondisi pembakaran boiler yang tidak sempurna memerlukan jumlah udara di dalam furnace semakin banyak, sehingga pencampuran yang sempurna antara bahan bakar dengan oksigen belum tentu dapat terjadi dengan sempurna 11. Implementasinnya, kelebihan udara pada furnace mendapatkan suplai udara dari sistem fan. Tiga jenis fan yang mendukung penyuplaian udara untuk sistem furnace, yaitu: 1. Force draft fan (FDF) Udara untuk pembakaran masuk ruang dapur dengan menggunakan tenaga mekanis, yaitu blower. Blower membuat tekanan udara di dalam ruang pembakaran menjadi naik. Tekanan udara berlebih di dalam ruang bakar akan keluar malalui stack (cerobong). 2. Primary air fan (PAF) PAF berfungsi untuk membantu kerja FDF untuk menyuplai udara kedalam furnace dan menekan batubara dari coal pulverizer kedalam furnace 11 Wiharjo, Danu. Analisa Nilai Excess Air Untuk Meningkatkan Efisiensi Pembakaran Boiler pada Load Rate MW di PLTU PAITON Unit 7. Laporan Tugas Akhir Fakultas Teknik Politeknik Negeri Malang Hal 25
17 20 serta mengeringkan batubara pada temperatur 65 C dengan membawa udara panas dari primary air heater. 3. Induced draft fan (IDF) Udara untuk pembakaran masuk ke ruang pembakaran karena adanya tarikan/isapan blower. Udara dari ruang pembakaran diisap oleh blower yang dipasang pada stack dan selanjutnya keluar melalui stack (cerobong). Akibat isapan blower, tekanan draft akan terjadi di dalam ruang pembakaran dan udara pembakaran akan masuk ke ruang pembakaran. FD Fan dan ID Fan bersama sama membentuk tekanan negatif di dalam furnace untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Apabila tekanan di dalam furnace menjadi positif dan furnace mengalami kebocoran, maka api pembakaran yang terdapat di dalam furnace akan tersedot keluar dinding boiler sehingga dapat memberikan bahaya yang sangat besar. Pemanasan dilakukan sebelum udara dimasukkan ke dalam sistem furnace. Proses ini dinamakan dengan Air Pre Heater. Hal ini dilakukan dengan melewatkan udara ke bagian backpasss dari boiler sehingga udara di dalam boiler yang masih memiliki sisa panas dari proses pembakaran di furnace. Tujuannya adalah agar panas yang terdapat di dalam furnace tidak hanya habis dipakai untuk menaikkan temperatur udara yang disuplai oleh FD Fan dan PA Fan sehingga terjadi efisiensi dalam pembakaran. Tipe-tipe udara yang mengalir menuju boiler: a. Primary air
18 21 Primary air merupakan udara pembakaran yang belum melewati dan dipanaskan air pre heater. b. Secondary air Secondary air merupakan udara yang sudah dipanaskan dan melewati air pre heater. 2.9 Sistem Windbox Windbox adalah tempat keluarnya udara pembakaran dan bahan bakar. Windbox didesain bersama dengan tangential firing system untuk membakar bahan bakar dengan coal nozzles A, B, C, D, E, dan F selalu terhubung dalam pengaturan fuel oil ke dalam furnace. Fuel air dari secondary air dirubah ke porsi yang sesuai dengan perbandingan bahan bakar dalam firing bahan bakar. Windbox memiliki fuel air dampers sebagai pengatur posisi awal posisi burner 12. Komponen utama dari tangential firing system adalah: Coal firing equipment Elevasi batubara memiliki 4 kompartemen batubara dengan pengisian batubara oleh pulverizer. Batubara ditransfer dengan pulverizer melalui pipa ke windbox dan coal nozzle. Masing masing kompartemen batubara memiliki coal nozzle Airflow distribution equipment 12 Wiharjo, Danu. Analisa Nilai Excess Air Untuk Meningkatkan Efisiensi Pembakaran Boiler pada Load Rate MW di PLTU PAITON Unit 7. Laporan Tugas Akhir Fakultas Teknik Politeknik Negeri Malang Hal 22
19 22 Sistem tangential firing memakai 2 kombinasi untuk mengurangi NOx, yaitu mengatur masuknya udara oleh secondary air dan mentransfer bahan bakar batubara lebih awal Windbox damper drives Penggerak windbox dampers yaitu pneumatic, windbox memiliki katup yang membuka dan menutup untuk mengatur besarnya air flow pada setiap corner Windbox tilt drives Windbox tilt drives berfungsi mengatur pergerakan semburan api pada burner, yaitu pergerakan ketinggian api dalam furnace. Tilting digerakan dengan system pneumatic Emisi Pembakaran Batu bara 13 Emisi pembakaran batu bara merupakan hasil sisa pembakaran batu bara yang terkandung. Emisi pembakaran batu bara antara lain: 1. Abu 13 Abu batubara adalah bagian dari sisa pembakaran batubara pada boiler pembangkit listrik tenaga uap yang berbentuk partikel halus amorf dan bersifat pozzolan yang berarti abu tersebut dapat bereaksi dengan kapur pada suhu kamar dengan media air membentuk senyawa yang bersifat mengikat. Dengan adanya sifat pozzolan tersebut abu terbang mempunyai prospek untuk digunakan berbagai keperluan bangunan. 13 Muanif Evaluasi Bilangan Excess Air Unit 2 PLTU 1 Jawa Timur Pacitan. Laporan Tugas Akhir. Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Hal 18
20 23 Pembakaran batubara dalam pembangkit tenaga listrik terbentuk dua jenis abu yakni abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash). Partikel abu yang terbawa gas buang disebut abu terbang, sedangkan abu yang tertinggal dan dikeluarkan dari bawah tungku disebut abu dasar. Sebagian abu dasar berupa lelehan abu disebut terak (slag). Komposisi antara abu terbang dan abu dasar tergantung sistem pembakarannya. Dalam tungku pulverized coal sistem basah antara %, dan tungku underfeed stoker % dari total abu batubara. Abu terbang ditangkap dengan Electric Precipitator sebelum dibuang ke udara melalui cerobong. PLTU berbahan bakar batubara biasanya menghasilkan limbah padat dalam bentuk abu. Jumlah abu batubara yang dihasilkan per hari dapat mencapai ton. Sebagian besar abu terbang dan abu dasar dikumpulkan dalam pembuangan abu ( ash disposal), jumlah abu tersebut demikian banyaknya sehingga menjadi masalah dalam pembuangannya. Abu batubara tersebut banyak dimanfaatkan untuk keperluan industri semen dan beton, bahan pengisi untuk bahan tambang dan bahan galian serta berbagai pemanfaatan lainnya. 2. Oksida Belerang 14 Unsur belerang terdapat pada batubara dengan kadar bervariasi dari rendah (jauh di bawah 1%) sampai lebih dari 4%. Unsur ini terdapat dalam batubara dalam 3 bentuk yakni belerang organik, pirit dan sulfat. Ketiga bentuk belerang tersebut, belerang organik dan belerang pirit merupakan sumber utama emisi oksida belerang. Pembakaran batubara, semua belerang organik dan sebagian belerang pirit menjadi 14 Muanif Evaluasi Bilangan Excess Air Unit 2 PLTU 1 Jawa Timur Pacitan. Laporan Tugas Akhir. Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Hal 15
21 24 SO 2. Oksida belerang ini selanjutnya dapat teroksidasi menjadi SO 3, sedangkan belerang sulfat disamping stabil dan sulit menjadi oksida belerang kadar relatifnya sangat rendah dibanding belerang bentuk lainnya. Oksida-oksida belerang yang terbawa gas buang dapat bereaksi dengan lelehan abu yang menempel dinding tungku maupun pipa boiler sehingga menyebabkan korosi. Sebagian SO 2 yang diemisikan ke udara dapat teroksidasi menjadi SO 3 yang apabila bereaksi dengan uap air menjadi kabut asam sehingga menimbulkan turunnya hujan asam. Energi batubara merupakan jenis energi yang sarat dengan masalah lingkungan, terutama kandungan sulfur sebagai polutan utama. Sulfur batubara juga dapat menyebabkan kenaikan suhu global serta gangguan pernafasan. Oksida belerang merupakan hasil pembakaran batubara juga menyebabkan perubahan aroma masakan atau minuman yang dimasak atau dibakar dengan batubara (briket), sehingga menyebabkan menurunnya kualitas makanan atau minuman, serta berbahaya bagi kesehatan (pernafasan). Cara yang tepat untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mewujudkan gagasan clean coal combustion melalui desulfurisasi batubara. 3. Oksida Nitrogen Nitrogen umumnya terikat dengan material organik dalam batubara dan kadarnya kurang dari 2%. Pada pembakaran, nitrogen akan dirubah menjadi oksida nitrogen dan disebut NOx. Selain nitrogen dari batubara, NOx juga dapat terbentuk dari nitrogen dalam udara pembakaran.
22 25 Zat nitrogen oksida ini dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi di atmosfer, zat ini membentuk partikel-partikel nitrat amat halus yang menembus bagian terdalam paru-paru. Partikel-partikel nitrat ini pula, jika bergabung dengan air baik air di paru-paru atau uap air di awan akan membentuk asam. 4. Karbon Monoksida 15 Gas karbon monoksida (CO) terbentuk pada pembakaran tidak sempurna. gas ini dihasilkan dari proses oksidasi bahan bakar yang tidak sempurna. Gas ini bersifat tidak berwarna, tidak berbau, tidak menyebabkan iritasi. Reaksi yang tidak sempurna antara karbon dan oksigen adalah sebagai berikut: C + ½ O 2 CO + heat Gas CO merupakan polutan yang dapat mencemari lingkungan terutama untuk para pekerja di lingkungan tertutup, selain juga menghasilkan energi lebih rendah. Untuk pembakaran batubara dalam pembangkit listik yang modern, pembentukan CO biasanya kecil sehingga tidak perlu dikhawatirkan karena jumlah oksigen (udara) yang dipasok biasanya sudah dihitung dan dipasok berlebih. 5. Asap dan Gas Hidrokarbon Asap dan gas hidrokarbon terbentuk pada pembakaran yang sangat tidak sempurna. Gas-gas hidrokarbon adalah senyawa-senyawa karbon dan hidrogen hasil pemecahan bahan organik batubara yang belum mengalami oksida oksigen lebih lanjut, seperti karbon monoksida pembentukan asap dan gas-gas hidrokarbon 15 Muanif Evaluasi Bilangan Excess Air Unit 2 PLTU 1 Jawa Timur Pacitan. Laporan Tugas Akhir. Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Hal 16
23 26 menyebabkan rendahnya efisiensi pembakaran bahkan jauh lebih rendah dari yang diakibatkan oleh pembentukan karbon monoksida. 6. Karbon Dioksida 16 Pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, tujuan utamanya adalah semaksimal mungkin mengkonversikan unsur utama dalam batubara yakni C (karbon) menjadi CO₂ sehingga dihasilkan energi yang tinggi. Batubara mengandung kadar karbon paling tinggi dibanding bahan bakar fosil lainnya seperti minyak dan gas, maka pembakaran batubara dianggap merupakan sumber emisi CO₂ terbesar. 16 Muanif Evaluasi Bilangan Excess Air Unit 2 PLTU 1 Jawa Timur Pacitan. Laporan Tugas Akhir. Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Hal 17
BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU
BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU Sistem pembangkit listrik tenaga uap (Steam Power Plant) memakai siklus Rankine. PLTU Suralaya menggunakan siklus tertutup (closed cycle) dengan dasar siklus rankine dengan
ANALISIS PENGARUH KANDUNGAN KARBON TETAP PADA BATUBARA TERHADAP EFISIENSI KETEL UAP PLTU TANJUNG JATI B UNIT 2
EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 1 No. 1 Januari 016; 1-6 ANALISIS PENGARUH KANDUNGAN KARBON TETAP PADA BATUBARA TERHADAP EFISIENSI KETEL UAP PLTU TANJUNG JATI B UNIT Sudjito, Program Studi Teknik Konversi
Steam Power Plant. Siklus Uap Proses Pada PLTU Komponen PLTU Kelebihan dan Kekurangan PLTU
Steam Power Plant Siklus Uap Proses Pada PLTU Komponen PLTU Kelebihan dan Kekurangan PLTU Siklus dasar yang digunakan pada Steam Power Plant adalah siklus Rankine, dengan komponen utama boiler, turbin
BAB 1 PENDAHULUAN. Energi listrik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Energi listrik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menunjang pembangunan nasional. Penyediaan energi listrik secara komersial yang telah dimanfaatkan
Efisiensi PLTU batubara
Efisiensi PLTU batubara Ariesma Julianto 105100200111051 Vagga Satria Rizky 105100207111003 Sumber energi di Indonesia ditandai dengan keterbatasan cadangan minyak bumi, cadangan gas alam yang mencukupi
I. PENDAHULUAN. suatu alat yang berfungsi untuk merubah energi panas menjadi energi. Namun, tanpa disadari penggunaan mesin yang semakin meningkat
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kendaraan bermotor merupakan salah satu alat yang memerlukan mesin sebagai penggerak mulanya, mesin ini sendiri pada umumnya merupakan suatu alat yang berfungsi untuk
BAB 3 STUDI KASUS 3.1 DEFINISI BOILER
BAB 3 STUDI KASUS 3.1 DEFINISI BOILER Boiler atau ketel uap adalah suatu perangkat mesin yang berfungsi untuk merubah fasa air menjadi uap. Proses perubahan air menjadi uap terjadi dengan memanaskan air
II. TINJAUAN PUSTAKA. Hujan merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Defenisi Hujan Asam Hujan merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena keragamannya sangat tinggi baik menurut waktu dan tempat. Hujan adalah salah satu bentuk
I. PENDAHULUAN. tanpa disadari pengembangan mesin tersebut berdampak buruk terhadap
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mesin pada mulanya diciptakan untuk memberikan kemudahan bagi manusia dalam melakukan kegiatan yang melebihi kemampuannya. Umumnya mesin merupakan suatu alat yang berfungsi
BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN EFESIENSI CFB BOILER TERHADAP KEHILANGAN PANAS PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP
BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN EFESIENSI CFB BOILER TERHADAP KEHILANGAN PANAS PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP 4.1 Analisis dan Pembahasan Kinerja boiler mempunyai parameter seperti efisiensi dan rasio
BAB III ANALISA DAN PEMBAHASAN DATA
BAB III ANALISA DAN PEMBAHASAN DATA 3.1 Analisis dan Pembahasan Kehilangan panas atau juga bisa disebut kehilangan energi merupakan salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh dalam mengidentifikasi
PERHITUNGAN EFISIENSI BOILER
1 of 10 12/22/2013 8:36 AM PERHITUNGAN EFISIENSI BOILER PERHITUNGAN EFISIENSI BOILER Efisiensi adalah suatu tingkatan kemampuan kerja dari suatu alat. Sedangkan efisiensi pada boiler adalah prestasi kerja
BAB III PROSES PEMBAKARAN
37 BAB III PROSES PEMBAKARAN Dalam pengoperasian boiler, prestasi yang diharapkan adalah efesiensi boiler tersebut yang dinyatakan dengan perbandingan antara kalor yang diterima air / uap air terhadap
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
25 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendahuluan Metodologi penelitian ini menjelaskan tentang tahap-tahap yang dilakukan dalam suatu penelitian. Metode harus ditetapkan sebelum penelitian dilakukan, sehingga
BAB I PENDAHULUAN. melimpah. Salah satu sumberdaya alam Indonesia dengan jumlah yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan sumberdaya alam yang melimpah. Salah satu sumberdaya alam Indonesia dengan jumlah yang melimpah adalah batubara. Cadangan batubara
I. PENDAHULUAN. untuk pembuatan kampas rem. Dalam perkembangan teknologi, komposit
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahan komposit merupakan salah satu bahan alternatif yang dapat digunakan untuk pembuatan kampas rem. Dalam perkembangan teknologi, komposit mengalami kemajuan yang sangat
BAB 1 PENDAHULUAN. generator. Steam yang dibangkitkan ini berasal dari perubahan fase air
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan energi panas dari uap kering (steam) untuk memutar turbin sehingga dapat digunakan
BAB II. KAJIAN PUSTAKA. Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetis,
BAB II. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Energi Biomassa Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetis, baik berupa produk maupun buangan. Melalui fotosintesis, karbondioksida di udara ditransformasi
BAB I PENDAHULUAN. PT Kemasan Cipta Nusantara merupakan perusahaan yang bergerak dibidang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT Kemasan Cipta Nusantara merupakan perusahaan yang bergerak dibidang usaha pembuatan atau produksi styropor, yang berlokasi di kawasan Industri Makassar. Hasil produksi
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Batubara Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa
PENGOLAHAN AIR SUNGAI UNTUK BOILER
PENGOLAHAN AIR SUNGAI UNTUK BOILER Oleh Denni Alfiansyah 1031210146-3A JURUSAN TEKNIK MESIN POLITEKNIK NEGERI MALANG MALANG 2012 PENGOLAHAN AIR SUNGAI UNTUK BOILER Air yang digunakan pada proses pengolahan
BAB 1 PENDAHULUAN. yang diperoleh dari proses ekstraksi minyak sawit pada mesin screw press seluruhnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Serat buah kelapa sawit (mesocarp), seperti ditunjukkan pada Gambar 1.1 yang diperoleh dari proses ekstraksi minyak sawit pada mesin screw press seluruhnya digunakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tenaga listrik adalah Boiler (Steam Generator) atau yang biasanya disebut ketel
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Boiler Salah satu peralatan yang sangat penting di dalam suatu pembangkit tenaga listrik adalah Boiler (Steam Generator) atau yang biasanya disebut ketel uap. Alat ini merupakan
BAB I. PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Korosi merupakan proses terdegradasinya suatu material karena pengaruh lingkungan. Sebagai contoh adalah baja yang akan habis karena berkarat saat dibiarkan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Prinsip Kerja PLTU Batubara PLTU adalah jenis pembangkit listrik tenaga termal yang banyak digunakan, karena efisiensinya tinggi sehingga menghasilkan energi listrik yang ekonomis.
FOULING DAN PENGARUHNYA PADA FINAL SECONDARY SUPERHEATER PLTU TANJUNG JATI B UNIT 2
FOULING DAN PENGARUHNYA PADA FINAL SECONDARY SUPERHEATER PLTU TANJUNG JATI B UNIT 2 F Gatot Sumarno (1), Wahyono (2), Ova Imam Aditya (3), (1), (2) Dosen Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang
OLEH Ir. PARLINDUNGAN MARPAUNG HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI (HAKE)
OLEH Ir. PARLINDUNGAN MARPAUNG HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI (HAKE) 1 1. BOILER 2. PRINSIP KONSERVASI PADA BOILER 3 KASUS Boiler telah dikenal sejak jaman revolusi industri. Boiler merupakan peralatan
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Besaran dan peningkatan rata-rata konsumsi bahan bakar dunia (IEA, 2014)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era modern, teknologi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini akan mempengaruhi pada jumlah konsumsi bahan bakar. Permintaan konsumsi bahan bakar ini akan
IV. GAMBARAN UMUM PLTU DI INDONESIA
27 IV. GAMBARAN UMUM PLTU DI INDONESIA 4.1. Proses Produksi Listrik PLTU Suralaya PLTU Suralaya merupakan PLTU pertama yang dibangun di Indonesia, berbahan bakar utama batubara dan merupakan PLTU terbesar
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1.1 Boiler. Pada bab ini dijelaskan mengenai gambaran tentang boiler secara umum serta fungsi komponen - komponen utama dan fungsi komponen - komponen pendukung bahan boiler.boiler
Sulfur dan Asam Sulfat
Pengumpulan 1 Rabu, 17 September 2014 Sulfur dan Asam Sulfat Disusun untuk memenuhi Tugas Proses Industri Kimia Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Chandrawati Cahyani, M.S. Ayu Diarahmawati (135061101111016)
Proses Pembakaran Dalam Pembakar Siklon Dan Prospek Pengembangannya
5 Proses Pembakaran Dalam Pembakar Siklon Dan Prospek Pengembangannya 43 Penelitian Pembakaran Batubara Sumarjono Tahap-tahap Proses Pembakaran Tahap-tahap proses pembakaran batu bara adalah : pemanasan
BAB I PENDAHULUAN. pemikiran untuk mencari alternatif sumber energi yang dapat membantu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan energi yang sangat tinggi pada saat ini menimbulkan suatu pemikiran untuk mencari alternatif sumber energi yang dapat membantu mengurangi pemakaian bahan
BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Batu bara merupakan mineral organik yang mudah terbakar yang terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap dan kemudian mengalami perubahan bentuk akibat proses fisik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagian jenis gas dapat dipandang sebagai pencemar udara terutama apabila konsentrasi gas tersebut melebihi tingkat konsentrasi normal dan dapat berasal dari sumber
besarnya energi panas yang dapat dimanfaatkan atau dihasilkan oleh sistem tungku tersebut. Disamping itu rancangan tungku juga akan dapat menentukan
TINJAUAN PUSTAKA A. Pengeringan Tipe Efek Rumah Kaca (ERK) Pengeringan merupakan salah satu proses pasca panen yang umum dilakukan pada berbagai produk pertanian yang ditujukan untuk menurunkan kadar air
BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan efisiensi boiler. Rotary Air Preheater, lazim digunakan untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangkit listrik tenaga batu bara membutuhkan pemanasan awal untuk udara pembakaran pada boiler sekarang ini menjadi suatu keharusan sebagai usaha untuk meningkatkan
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TUNGKU PEMBAKARAN MENGGUNAKAN AIR HEATER YANG DIPASANG DIDINDING BELAKANG TUNGKU
NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TUNGKU PEMBAKARAN MENGGUNAKAN AIR HEATER YANG DIPASANG DIDINDING BELAKANG TUNGKU Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi Strata
ANALISIS VARIASI NILAI KALOR BATUBARA DI PLTU TANJUNG JATI B TERHADAP ENERGI INPUT SYSTEM
ANALISIS VARIASI NILAI KALOR BATUBARA DI PLTU TANJUNG JATI B TERHADAP ENERGI INPUT SYSTEM Abstrak M Denny Surindra Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. Soedarto,S.H.,Tembalang, KotakPos
1. Bagian Utama Boiler
1. Bagian Utama Boiler Boiler atau ketel uap terdiri dari berbagai komponen yang membentuk satu kesatuan sehingga dapat menjalankan operasinya, diantaranya: 1. Furnace Komponen ini merupakan tempat pembakaran
ANALISIS PENGARUH PEMBAKARAN BRIKET CAMPURAN AMPAS TEBU DAN SEKAM PADI DENGAN MEMBANDINGKAN PEMBAKARAN BRIKET MASING-MASING BIOMASS
ANALISIS PENGARUH PEMBAKARAN BRIKET CAMPURAN AMPAS TEBU DAN SEKAM PADI DENGAN MEMBANDINGKAN PEMBAKARAN BRIKET MASING-MASING BIOMASS Tri Tjahjono, Subroto, Abidin Rachman Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik
Prinsip kerja PLTG dapat dijelaskan melalui gambar dibawah ini : Gambar 1.1. Skema PLTG
1. SIKLUS PLTGU 1.1. Siklus PLTG Prinsip kerja PLTG dapat dijelaskan melalui gambar dibawah ini : Gambar 1.1. Skema PLTG Proses yang terjadi pada PLTG adalah sebagai berikut : Pertama, turbin gas berfungsi
Pengoperasian pltu. Simple, Inspiring, Performing,
Pengoperasian pltu PERSIAPAN COLD START PLTU 1. SISTEM AUXILIARY STEAM (UAP BANTU) FUNGSI : a. Menyuplai uap ke sistem bahan bakar minyak pada igniter untuk mengabutkan bahan bakar minyak (Atomizing sistem).
BAB III TEKNOLOGI PEMANFAATAN SAMPAH KOTA BANDUNG SEBAGAI ENERGI
BAB III TEKNOLOGI PEMANFAATAN SAMPAH KOTA BANDUNG SEBAGAI ENERGI Waste-to-energy (WTE) merupakan konsep pemanfaatan sampah menjadi sumber energi. Teknologi WTE itu sendiri sudah dikenal di dunia sejak
PENGARUH VARIASI KOMPOSISI BIOBRIKET CAMPURAN ARANG KAYU DAN SEKAM PADI TERHADAP LAJU PEMBAKARAN, TEMPERATUR PEMBAKARAN DAN LAJU PENGURANGAN MASA
PENGARUH VARIASI KOMPOSISI BIOBRIKET CAMPURAN ARANG KAYU DAN SEKAM PADI TERHADAP LAJU PEMBAKARAN, TEMPERATUR PEMBAKARAN DAN LAJU PENGURANGAN MASA Subroto, Tri Tjahjono, Andrew MKR Jurusan Teknik Mesin
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara penghasil batubara yang cukup banyak. Sumber daya alam yang melimpah dapat dijadikan alternatif sebagai pemanfaatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 AREN (Arenga pinnata) Pohon aren (Arenga pinnata) merupakan pohon yang belum banyak dikenal. Banyak bagian yang bisa dimanfaatkan dari pohon ini, misalnya akar untuk obat tradisional
ANALISA KARAKTERISTIK SERABUT SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF PADA BOILER
ANALISA KARAKTERISTIK SERABUT SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF PADA BOILER Untung Surya Dharma Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Metro Jl. Ki Hajar Dewantara No. 116 Kota Metro (0725)
MENENTUKAN LAJU ALIR BAHAN BAKAR GAS, AIR DAN UDARA YANG OPTIMAL PADA STEAM GENERATOR
MENENTUKAN LAJU ALIR BAHAN BAKAR GAS, AIR DAN UDARA YANG OPTIMAL PADA STEAM GENERATOR Yudi Efendi*, Utama PS**, Aman** *PT.Chevron Pacific Indonesia, Duri Riau **Jurusan Teknik Kimia FT UR [email protected]
BEBERAPA ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
BEBERAPA ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA 1. Kontaminan Adalah semua spesies kimia yang dimasukkan atau masuk ke atmosfer yang bersih. 2. Cemaran (Pollutant) Adalah kontaminan
BAB III METOLOGI PENELITIAN
BAB III METOLOGI PENELITIAN 3.1.1 Proses Pembakaran. Dalam operasi boiler,prestasi yang diharapkan yaitu efisiensi dari boiler tersebut yang dinyatakan dengan membandingkan antara kalor yang diterima air/uap
BAB II TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA
BAB II TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA 2.1. Peningkatan Kualitas Batubara Berdasarkan peringkatnya, batubara dapat diklasifikasikan menjadi batubara peringkat rendah (low rank coal) dan batubara
Prarancangan Pabrik Gasifikasi Batubara Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagian besar energi yang digunakan rakyat Indonesia saat ini berasal dari bahan bakar fosil yaitu minyak bumi, gas dan batu bara. Pada masa mendatang, produksi batubara
BAB I PENDAHULUAN. penjemuran. Tujuan dari penjemuran adalah untuk mengurangi kadar air.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada proses pengeringan pada umumnya dilakukan dengan cara penjemuran. Tujuan dari penjemuran adalah untuk mengurangi kadar air. Pengeringan dengan cara penjemuran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PLTU merupakan sistem pembangkit tenaga listrik dengan memanfaatkan energi panas bahan bakar untuk diubah menjadi energi listrik dengan
BAB II LANDASAN TEORI
5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Biogas Biogas adalah gas yang terbentuk melalui proses fermentasi bahan-bahan limbah organik, seperti kotoran ternak dan sampah organik oleh bakteri anaerob ( bakteri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembangkit Listrik Tenaga Uap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) merupakan mesin konversi energi yang merubah energi kimia dalam bahan bakar batubara menjadi energi listrik.
OPTIMALISASI EFISIENSI TERMIS BOILER MENGGUNAKAN SERABUT DAN CANGKANG SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKAR
OPTIMALISASI EFISIENSI TERMIS BOILER MENGGUNAKAN SERABUT DAN CANGKANG SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKAR Grata Patisarana 1, Mulfi Hazwi 2 1,2 Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara
KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BIOBRIKET CAMPURAN BATUBARA DAN SABUT KELAPA
KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BIOBRIKET CAMPURAN BATUBARA DAN SABUT KELAPA Amin Sulistyanto Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl.A.Yani Tromol Pos1 Pabelan Kartasura ABSTRAK
ANALISA KEHILANGAN ENERGI PADA FIRE TUBE BOILER KAPASITAS 10 TON
JTM Vol. 4 No. 2 Juni 215 38 ANALISA KEHILANGAN ENERGI PADA FIRE TUBE BOILER KAPASITAS TON Aditio Primayudi Aji Nugroho Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Email: [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. sehari-hari. Permasalahannya adalah, dengan tingkat konsumsi. masyarakat yang tinggi, bahan bakar tersebut lambat laun akan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan bakar minyak (BBM) dan gas merupakan bahan bakar yang tidak dapat terlepaskan dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Permasalahannya adalah, dengan tingkat konsumsi
PENGARUH UNJUK KERJA AIR HEATER TYPE LJUNGSTORM TERHADAP PERUBAHAN BEBAN DI PLTU TANJUNG JATI B UNIT I BERDASARKAN PERHITUNGAN ASME PTC 4.
EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 9 No. 3 September 2013; 97-103 PENGARUH UNJUK KERJA AIR HEATER TYPE LJUNGSTORM TERHADAP PERUBAHAN BEBAN DI PLTU TANJUNG JATI B UNIT I BERDASARKAN PERHITUNGAN ASME PTC 4.3
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT. Bukit Asam adalah perusahaan penghasil batu bara terbesar di Indonesia yang bertempat di Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Indonesia. PT. Bukit Asam menggunakan pembangkit
PENGOLAHAN BATU BARA MENJADI TENAGA LISTIRK
TUGAS LINGKUNGAN BISNIS KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS TENTANG PENGOLAHAN BATU BARA MENJADI TENAGA LISTIRK disusun oleh Ganis Erlangga 08.12.3423 JURUSAN SISTEM INFORMASI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA
UJICOBA PEMBAKARAN LIMBAH BATUBARA DENGAN PEMBAKAR SIKLON
UJICOBA PEMBAKARAN LIMBAH BATUBARA DENGAN PEMBAKAR SIKLON Stefano Munir, Ikin Sodikin, Waluyo Sukamto, Fahmi Sulistiohadi, Tatang Koswara Engkos Kosasih, Tati Hernawati LATAR BELAKANG Provinsi Kalimantan
Bagian dan Cara Kerja PLTU
Rabu, 26 Januari 2011 Bagian dan cara kerja PLTU Bagian dan Cara Kerja PLTU 1. Boiler/Ketel Uap PLTU Paiton, Jawa Timur Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terdiri dari beberapa system utama, yaitu :
Karakterisasi Biobriket Campuran Kulit Kemiri Dan Cangkang Kemiri
EBT 02 Karakterisasi Biobriket Campuran Kulit Kemiri Dan Cangkang Kemiri Abdul Rahman 1, Eddy Kurniawan 2, Fauzan 1 1 Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Malilkussaleh Kampus Bukit Indah,
DAMPAK PEMBAKARAN BATUBARA INDONESIA TERKAIT KANDUNGAN PRODUK GAS BUANG
DAMPAK PEMBAKARAN BATUBARA INDONESIA TERKAIT KANDUNGAN PRODUK GAS BUANG Nur Aryanto Aryono Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) [email protected]
PROSES PRODUKSI ASAM SULFAT
PRODU KSI A SAM SU LFAT BAB III PROSES PROSES PRODUKSI ASAM SULFAT 3.1 Flow Chart Proses Produksi Untuk mempermudah pembahasan dan urutan dalam menguraikan proses produksi, penulis merangkum dalam bentuk
ANALISA PERFORMANSI BOILER DENGAN TYPE DG693/ PADA PLTU PANGKALAN SUSU LAPORAN TUGAS AKHIR PROGRAM STUDI TEKNIK KONVERSI ENERGI MEKANIK
ANALISA PERFORMANSI BOILER DENGAN TYPE DG693/13.43-22 PADA PLTU PANGKALAN SUSU LAPORAN TUGAS AKHIR Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III PROGRAM
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 129 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU EMISI USAHA DAN ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI
S A L I N A N KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 129 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU EMISI USAHA DAN ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP; Menimbang : Mengingat
BAB I PENDAHULUAN. BAB I Pendahuluan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PLTU adalah suatu pembangkit listrik dimana energi listrik dihasilkan oleh generator yang diputar oleh turbin uap yang memanfaatkan tekanan uap hasil dari penguapan
Apa itu PLTU? Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) adalah pembangkit yang mengandalkan energi kinetik dari uap untuk menghasilkan energi listrik.
Apa itu PLTU? Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) adalah pembangkit yang mengandalkan energi kinetik dari uap untuk menghasilkan energi listrik. Bentuk utama dari pembangkit listrik jenis ini adalah Generator
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Dasar Teori A. Siklus Rankine Siklus rankine merupakan siklus standard untuk pembangkit daya yang menggunakan tenaga uap. Siklus rankine nyata yang digunakan dalam instalasi pembangkit
BAB V PEMBAHASAN. Analisis dilakukan sejak batubara (raw coal) baru diterima dari supplier saat
81 BAB V PEMBAHASAN Pada pengujian kualitas batubara di PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, menggunakan conto batubara yang diambil setiap ada pengiriman dari pabrik. Conto diambil sebanyak satu sampel
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO KONSENTRASI TEKNIK ELEKTRONIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA
ANALISA SISTEM KONTROL LEVEL DAN INSTRUMENTASI PADA HIGH PRESSURE HEATER PADA UNIT 1 4 DI PLTU UBP SURALAYA. Disusun Oleh : ANDREAS HAMONANGAN S (10411790) JURUSAN TEKNIK ELEKTRO KONSENTRASI TEKNIK ELEKTRONIKA
OLEH : SHOLEHUL HADI ( ) DOSEN PEMBIMBING : Ir. SUDJUD DARSOPUSPITO, MT.
PENGARUH VARIASI PERBANDINGAN UDARA- BAHAN BAKAR TERHADAP KUALITAS API PADA GASIFIKASI REAKTOR DOWNDRAFT DENGAN SUPLAI BIOMASSA SERABUT KELAPA SECARA KONTINYU OLEH : SHOLEHUL HADI (2108 100 701) DOSEN
BAB I PENDAHULUAN. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ada beberapa fan yang digunakan,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangkit listrik tenaga batubara membutuhkan udara untuk proses produksi listriknya. Suply udara dapat dibagi menjadi dua, yaitu primary air fan yang menghasilkan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Boiler Longchuan Boiler Longchuan adalah boiler jenis thermal yang dihasilkan dari air, dengan sirkulasi untuk menyalurkan panasnya ke mesin-mesin produksi. Boiler Longchuan mempunyai
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Energi Alamraya Semesta adalah PLTU yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar. Batubara yang digunakan adalah batubara jenis bituminus
BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN TUGAS AKHIR
BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN TUGAS AKHIR 3.1 Tujuan Tugas Akhir Pelaksanaan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengevaluasi besarnya bilangan excess air boiler metode perhitungan menggunakan O 2 content pada
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat penting dalam kehidupan manusia saat ini, hampir semua aktifitas manusia berhubungan dengan energi listrik.
/.skisi-kisi INSTRUMEN SOAL PRETEST POSTTEST Lingkunganku Tercemar Bahan Kimia Dalam Rumah Tangga. Indikator Soal Soal No soal
/.skisi-kisi INSTRUMEN SOAL PRETEST POSTTEST Lingkunganku Tercemar Bahan Kimia Dalam Rumah Tangga Mata Pelajaran : IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) Standar Kompetensi : 1.7. Memahami saling ketergantungan dalam
ANALISA KINERJA PULVERIZED COAL BOILER DI PLTU KAPASITAS 3x315 MW
ANALISA KINERJA PULVERIZED COAL BOILER DI PLTU KAPASITAS 3x315 MW Andrea Ramadhan ( 0906488760 ) Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia email : [email protected] ABSTRAKSI Pulverized Coal (PC)
ANALISA EFISIENSI PERFORMA HRSG ( Heat Recovery Steam Generation ) PADA PLTGU. Bambang Setyoko * ) Abstracts
ANALISA EFISIENSI PERFORMA HRSG ( Heat Recovery Steam Generation ) PADA PLTGU Bambang Setyoko * ) Abstracts Heat Recovery Steam Generator ( HRSG ) is a construction in combine cycle with gas turbine and
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dalam zaman modern ini terdapat 3 bahan struktur bangunan yang utama yaitu kayu, baja dan beton. Dan sekarang ini pertumbuhan dan perkembangan industri konstruksi
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perubahan lingkungan udara pada umumnya disebabkan oleh pencemaran,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan lingkungan udara pada umumnya disebabkan oleh pencemaran, yaitu masuknya zat pencemar yang berbentuk gas, partikel kecil atau aerosol ke dalam udara (Soedomo,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi yang begitu pesat dewasa ini sangat mempengaruhi jumlah ketersediaan sumber-sumber energi yang tidak dapat diperbaharui yang ada di permukaan
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi negara-negara di dunia semakin meningkat. Hal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi negara-negara di dunia semakin meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan diproduksinya berbagai macam peralatan yang dapat mempermudah manusia
MAKALAH PENYEDIAAN ENERGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 GASIFIKASI BATU BARA
MAKALAH PENYEDIAAN ENERGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 GASIFIKASI BATU BARA Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Penyediaan Energi Dosen Pengajar : Ir. Yunus Tonapa Oleh : Nama
BAB I PENDAHULUAN. campuran beberapa gas yang dilepaskan ke atmospir yang berasal dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri,
ATMOSFER & PENCEMARAN UDARA
ATMOSFER & PENCEMARAN UDARA Pengelolaan lingkungan diperlukan agar lingkungan dapat terus menyediakan kondisi dan sumber daya yang dibutuhkan oleh makhluk hidup. Lingkungan abiotis terdiri dari atmosfer,
PENGARUH PERUBAHAN BEBAN TERHADAP SISTEM UAP EKSTRAKSI PADA DEAERATOR PLTU TANJUNG JATI B UNIT 2
EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 10 No. 3 September 2; 94-98 PENGARUH PERUBAHAN BEBAN TERHADAP SISTEM UAP EKSTRAKSI PADA DEAERATOR PLTU TANJUNG JATI B UNIT 2 Jev N. Hilga, Sunarwo, M. Denny S, Rudy Haryanto
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biomassa BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Biomassa meliputi semua bahan yang bersifat organik ( semua makhluk yang hidup atau mengalami pertumbuhan dan juga residunya ) (Elbassan dan Megard, 2004). Biomassa
A. JUDUL KAJIAN TEKNIS TERHADAP SISTEM PENIMBUNAN BATUBARA PADA STOCKPILE DI TAMBANG TERBUKA BATUBARA PT. GLOBALINDO INTI ENERGI KALIMANTAN TIMUR
A. JUDUL KAJIAN TEKNIS TERHADAP SISTEM PENIMBUNAN BATUBARA PADA STOCKPILE DI TAMBANG TERBUKA BATUBARA PT. GLOBALINDO INTI ENERGI KALIMANTAN TIMUR B. ALASAN PEMILIHAN JUDUL PT. Globalindo Inti Energi merupakan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Boiler Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air sampai terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan tertentu kemudian
KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BRIKET CAMPURAN ARANG KAYU DAN JERAMI
KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BRIKET CAMPURAN ARANG KAYU DAN JERAMI Subroto Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl.A.Yani Tromol Pos I Pabelan, Kartasura ABSTRAK Dewasa ini,
BAHAN BAKAR KIMIA. Ramadoni Syahputra
BAHAN BAKAR KIMIA Ramadoni Syahputra 6.1 HIDROGEN 6.1.1 Pendahuluan Pada pembakaran hidrokarbon, maka unsur zat arang (Carbon, C) bersenyawa dengan unsur zat asam (Oksigen, O) membentuk karbondioksida
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT. Indonesia Power UP. Suralaya merupakan perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batubara sejak tahun 1984 sebagai bahan bakar utama pembangkitan
