JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16, NO.1
|
|
|
- Verawati Cahyadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16, NO.1 Perubahan Ukuran Folikel Ovarium dan Kualitas Oosit pada Ovarium Domba Lokal Pasca Preservasi dengan Waktu yang Berbeda. (The Changes of Ovarian Follicles Size and Oocytes Quality from Local Sheeps Ovarium after Preservation with Different Time) Nurul Ikhwan 1, Nurcholidah Solihati 2, Siti Darodjah Rasad 2, Rini Widyastuti 2 Alumni Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Tahun Laboratorum Reproduksi Ternak dan Insemianasi Buatan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 2 [email protected] Abstract Preservasi merupakan salah satu upaya penanganan ovarium untuk mempertahankan kualitas oosit yang telah diambil dari tubuh ternak agar dapat dimanfaatkan untuk Fertilisasi In Vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu preservasi ovarium domba lokal terhadap ukuran folikel dan kualitas oosit. Sampel yang digunakan adalah ovarium domba lokal yang diperoleh dari tempat pemotongan hewan setempat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental, dengan pemberian tiga perlakuan dan enam kali ulangan yaitu: P1= preservasi ovarium pada suhu 37 o -38 o C selama 2 jam, P2= preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama jam, dan P3= preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama jam. Hasil penelitian menunjukan waktu preservasi ovarium memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap ukuran folikel kualitas oosit. Kata kunci: domba lokal, folikel, oosit, preservasi Abstract Preservation is one of method for handling ovaries to maintain the quality of oocytes that had been taken from cattle that can be used for In Vitro Fertilization. The aims of this study is to determine the effect of a local sheep ovarian preservation to the follicle size and oocyte quality. The sample used is a local sheep ovaries were obtained from a local slaughterhouse. This research was conducted by using experimental methods with three treatment and six replications i.e: P 1= ovaries preservation temperature of 37 o -38 o C for 2 hours, P2= ovaries preservation in temperature 4 o -5 C for hours, and P3= ovaries preservation at a temperature of 4 o -5 C for hours. The results showed that the times of preservationhave significantly different to the size of the follicle and oocyte quality. Keyword: local sheeps, follicle, oocyte, preservation Pendahuluan Pemotongan domba tahun 2013 di Provinsi Jawa Barat telah mengalami peningkatan sebanyak 0,25% dibandingkan dengan tahun 2012 (Dinas Peternakan Jawa Barat, 2013). Upaya untuk memenuhi permintaan konsumsi daging domba bagi masyarakat diperlukan suatu cara agar jumlah populasi dan produksi ternak terus meningkat. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu melalui penerapan teknologi In Vitro Fertilization (IVF). Teknologi IVF memerlukan ketersediaan gamet jantan maupun gamet betina. Salah satu sumber gamet betina yang cukup potensial adalah ovarium yang berasal dari Tempat Pemotongan Hewan (TPH). Pemanfaatan ovarium dari TPH merupakan cara yang ekonomis, namun lokasi TPH yang jauh dengan laboratorium kemungkinan akan menyebabkan penurunan kualitas oosit pada saat transportasi ovarium dari TPH ke laboratorium. Preservasi merupakan salah satu upaya penanganan ovarium agar dapat mempertahankan kualitas oosit selama transportasi. Salah satu perubahan yang terjadi pada ovarium selama proses preservasi adalah perubahan ukuran folikel dan kualitas oosit. Ukuran folikel dapat mengalami peningkatan maupun penyusutan ukurannya dan terjadi kerusakan sel yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah dan kekurangan oksigen (hypoxia). Salah satu upaya untuk meminimalisir efek tersebut adalah dengan pengaturan waktu dan 36
2 Nurul Ikhwan, dkk. Perubahan Ukuran suhu dan media preservasi yang tepat selama proses preservasi. Kualitas oosit dapat dipertahankan dengan mengatur waktu dan suhu yang tepat selama proses preservasi, sehingga cara tersebut dapat mendukung teknologi IVF. Sejauh ini preservasi ovary telah dilakukan kambing (Silva et al., 2003), anjing (Lopes, 2008) dan sapi (Ackay et al., 2008, Widyastuti dan Rasad, 2015) Namun demikian, penelitian tentang perubahan ukuran folikel dan kualitas oosit pada domba lokal pasca preservasi dengan berbagai waktu belum banyak dilakukan.penelitian ini bermaksud untuk mengetahui pengaruh waktu preservasi ovarium terhadap perubahan ukuran folikel dan kualitas oosit domba lokal paska preservasi. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi ilmiah bagi para peneliti maupun akademisi sebelum melakukan penelitian IVF. Materi dan Metode Pengambilan Ovarium Ovarium diambil dari domba lokal betina di TPH. Ovarium dibersihkan dengan media NaCl 0.9% yang telah ditambahkan dengan antibiotik penicillin 100 IU/ml dan streptomycin 0,1 mg/ml kemudian memasukan media beserta ovarium ke dalam wadah lalu wadah tersebut disimpan di dalam termos. Preservasi Ovarium Preservasi ovarium dilakukan di dalam termos dengan suhu 37 o -38 o C selama 2 jam dan di dalam lemari pendingin dengan suhu 4 o -5 o C selama jam dan jam. Pengamatan Perubahan Ukuran Folikel Ovarium Pasca Preservasi Folikel diukur menggunakan jangka sorong. Pengukuran dilakukan dua kali yaitu sebelum preservasi (awal) dan setelah preservasi (akhir). Folikel difoto dengan kamera yang berguna untuk identifikasi perubahan ukuran diameter. Koleksi dan Evaluasi Oosit Oosit dikoleksi dengan metode slicing menggunakan pisau dan pinset (Engcong dan Karja, 2013). Oosit yang telah dikoleksi, kemudian dievaluasi menjadi 4 kelompok kriteria kualitas yaitu A, B, C, dan D berdasarkan lapisan sel kumulus dan gambaran sitoplasma (Gordon, 2003). Oosit yang dikelompokan ke dalam: 1. Kualitas A jika oosit memiliki lima lapis atau lebih sel kumulus dengan sitoplasma yang homogen dan berwarna hitam. 2. Kualitas B adalah oosit yang memiliki kurang dari lima lapisan sel kumulus dengan sitoplasma yang homogen dan berwarna hitam. 3. Kualitas C adalah oosit yang terlihat masih sedikit lapisan sel kumulus, zona pellucida yang terlihat dan sitoplasma yang tidak homogen. 4. Kualitas D adalah oosit yang memiliki sitoplasma transparan, zona pellucida terlihat atau bahkan tidak ada sama sekali dan lapisan sel kumulus hampir hilang bahkan hilang seluruhnya. Analisis Data Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pengulangan dilakukan sebanyak 6 kali dengan 3 perlakuan preservasi ovarium yaitu P 1 = suhu 37 o -38 o C selama 2 jam (kontrol), P 2 = suhu 4 o -5 o C selama jam, dan P 3 = suhu 4 o -5 o C selama jam. Diameter folikel yang dikelompokan berdasarkan kriteria ukuran kemudian dihitung nilai perubahan diameter sebelum dan sesudah preservasi ovarium, kemudian analisis statistik menggunakan tabel analisis ragam (uji F). Oosit yang telah dikelompokan berdasarkan nilai persentase kriteria kualitasnya kemudian tranformasi data ke dalam bentuk Akar Kuadrat untuk dilakukan analisis ragam (Gaspersz, 1995). Hasil dan Pembahasan Ukuran folikel dan kualitas oosit pasca preservasi menunjukkan hasil yang berbeda di setisp perlakuan. Hasil penelitian pada Tabel 1 mengenai pengaruh waktu preservasi ovarium terhadap diameter folikel domba lokal bahwa preservasi ovarium berdampak pada rataan perubahan diameter folikel yang mengakibatkan penyusutan ukuran. Rataan penyusutan diameter folikel yang tertinggi yaitu pada P1 sebesar 0,217 mm, selanjutnya pada P2 sebesar 0,168 mm, dan penyusutan terkecil pada P3 sebesar 0,152 mm. 37
3 JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16, NO.1 Tabel 1. Rataan Perubahan Diameter Folikel Setelah Preservasi Ovarium Ulangan Perlakuan P3... mm ,230 0,194 0, ,188 0,188 0, ,194 0,148 0, ,186 0,175 0, ,222 0,101 0, ,280 0,199 0,131 Total 1,300 1,005 0,911 Rata-rata 0,217 0,168 0,152 Keterangan : P1 : Preservasi ovarium pada suhu 37 o -38 o C selama 2 jam (kontrol). P2 : Preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama jam. P3 : Preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama jam. Hasil analisis statistik dari ketiga perlakuan tersebut menunjukan bahwa preservasi ovarium berbeda nyata terhadap diameter folikel, maka terima H 1. Hasil berbeda nyata ini perlu dilakukan uji lanjut Duncan yang hasilnya bahwa P1 berbeda nyata terhadap P2 dan P3, sedangkan P2 tidak berbeda nyata terhadap P3. Hasil berbeda nyata menunjukan pada P1 telah memberikan pengaruh terhadap penyusutan ukuran diameter folikel tertinggi dikarenakan folikel tidak lagi mendapatkan suplai darah seperti kondisi di dalam tubuh. Hal ini dikarenakan darah memiliki fungsi membawa nutrisi bagi jaringan maupun organ di dalam tubuh. Kondisi tersebut diduga menjadi faktor terjadi penyusutan atau mengecilnya ukuran pada jaringan folikel. Kondisi ini disebut atrofi. Hal ini sependapat dengan Kumar dkk (2013), atrofi merupakan kondisi pengecilan ukuran pada jaringan maupun organ. Berbeda dengan P2 maupun P3 yang mengalami penyusutan ukuran folikel lebih rendah dibandingkan dengan P1 pada suhu 37 o - 38 o C. Hal ini dikarenakan preservasi ovarium yang telah dilakukan pada P2 maupun P3 suhu 4 o -5 o C dapat menekan angka penyusutan ukuran diameter folikel. Kondisi ini diduga bahwa suhu 4 o -5 o C dapat memperlambat aktifitas metabolisme sel di dalam folikel sehingga ukuran diameter tidak menyusut terlalu tinggi. Dugaan ini sejalan dengan Petrucci dkk (2010), manfaat preservasi pada suhu dingin yaitu 4 o C untuk memperlambat kerja metabolisme sel sehingga akumulasi asam dapat dihambat sampai waktu tertentu. A B C D 38
4 Nurul Ikhwan, dkk. Perubahan Ukuran Gambar 1. Kriteria Kualitas Oosit Domba Lokal (Pengamatan dengan Microscope Inverted Software DP-2 BSW Pembesaran 20 x 10) Penyusutan ukuran diameter folikel pada kondisi P2 maupun P3 tidak hanya diakibatkan oleh melambatnya aktifitas metabolisme sel namun diduga pula telah terjadi kerusakan dinding membran folikel saat ovarium dipisahkan dari tubuh ternak dan suplai darah yang terhenti dapat juga menyebabkan iskemia. Iskemia diduga dapat mengakibatkan perubahan metabolisme sel dari aerob menjadi anaerob. Menurut Wongsrikeao et al (2005), kondisi anaerob menunjukan metabolisme sel-sel ovarium akan menghasilkan asam laktat dan asam fosfat sehingga meningkatkan jumlah ion H+ yang mudah masuk ke dalam pori-pori membran plasma. Zat cair yang mudah masuk ke dalam membran akan mengakibatkan mekanisme fisiko kimia. Mekanisme fisiko kimia yaitu perpindahan larutan NaCl sebagai media preservasi menuju cairan yang berada di dalam folikel mengakibatkan ukuran folikel membesar yang dikenal dengan hipotonis. Dugaan tersebut sejalan dengan Carvalho et al (2001), akumulasi asam dan peningkatan ion-ion akan menyebabkan perubahan ph dan osmolalitas membran selular menjadi permeable, sehingga larutan masuk ke intrasel yang menyebabkan degenerasi sel. Menurut Bone (1988), penggunaan NaCl fisiologis yang merupakan larutan elektrolit dapat mengakibatkan mekanisme osmosis terhadap folikel maupun oosit di dalamnya. Oleh karena itu, semakin lama preservasi berlangsung maka perpindahan volume suatu zat cair dari media preservasi akan semakin banyak menuju suatu jaringan maupun organ. Hal ini bahwa pada P3 menunjukan penyusutan ukuran diameter folikel lebih kecil dibandingkan dengan P2. Artinya pada P3 telah terjadi masuknya larutan NaCl ke dalam folikel lebih banyak dibandingkan dengan P2 walaupun secara statistika tidak berbeda nyata diantara kedua perlakuan tersebut. Rataan persentase jumlah kualitas oosit A dan B menunjukan angka tertinggi terdapat pada P1 yaitu 75,50% diikuti pada perlakuan P2 telah menunjukan adanya penurunan rataan persentase jumlah kualitas oosit A dan B yaitu 57,83%, dan selanjutnya rataan persentase jumlah kualitas oosit A dan B terus menurun pada P3 yaitu berjumlah 13,00%. Hasil uji lanjut menunjukan kualitas oosit A maupun oosit B baik P1 atau P2 memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap P3, namun P1 tidak berbeda nyata terhadap P2. Secara lebih rinci, kualitas oosit pasca preservasi dapat diamati pada Tabel 2. Menurut Gordon (2003), kualitas oosit A dan B dapat digunakan sebagai bahan dasar dalam penerapan teknologi IVF untuk memproduksi embrio. Hasil berbeda nyata P1 waktu preservasi ovarium saat transportasi dengan lama perjalanan 2 jam pada suhu 37 o - 38 o C menunjukan rataan jumlah persentase kualitas oosit A dan B yang paling tinggi dibandingkan dengan P2 maupun P3. Hal ini menguatkan penelitian yang telah dilakukan Engcong dan Karja (2013), preservasi pada suhu 37 o -38 o C selama 2 jam menghasilkan jumlah kualitas oosit A paling tinggi dibandingkan selama 5-7 jam maupun 8-10 jam dan suhu media yang diatur mendekati kondisi yang hampir sama dengan suhu di dalam tubuh ternak kisaran 37 o -38 o C. Lokasi antara TPH dengan laboratorium yang merupakan tempat untuk mengoleksi oosit memiliki jarak yang perlu ditempuh, hal ini mengakibatkan ovarium perlu dipreservasi terlebih dahulu. Perlakuan P1 yang diberikan merupakan upaya untuk mempertahankan kualitas oosit pada keadaan ovarium masih segar (fresh) selama 2 jam pada suhu 37 o -38 o C. Hal ini sependapat dengan Choi et al (2004); Engcong dan Karja (2013); Tellado et al (2014), melakukan preservasi ovarium karena adanya jarak yang perlu ditempuh antara TPH dengan laboratorium sehingga perlu diatur suhu tertentu selama perjalanan (transportasi) guna kualitas oosit agar dapat dipertahankan. 39
5 JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16, NO.1 Tabel 2. Rataan Persentase Jumlah Oosit Berdasarkan Kriteria Kualitas Oosit Setelah Preservasi Ovarium Jumlah Perlakuan Oosit Rataan Jumlah Oosit A B C D... %... P ,67 42,83 21,67 2,83 P ,33 29,50 19,00 23,67 P3 73 0,00 13,00 47,50 39,50 Keterangan : P1 : Preservasi ovarium pada suhu 37 o -38 o C selama 2 jam. P2 : Preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama jam. P3 : Preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama jam Preservasi ovarium P2 dengan waktu preservasi jam pada suhu 4 o -5 o C kualitas oosit A dan B dari jumlah rataan keduanya yaitu 57,83%, data tersebut menunjukan bahwa perlakuan pada P2 telah terjadi penurunan rataan jumlah persentase kualitas oosit dibandingkan dengan P1 yaitu 75,50%. Kondisi ini diduga karena adanya pengaruh lama preservasi ovarium maupun suhu yang diberikan terhadap kualitas oosit. Dugaan ini sejalan dengan Klumpp (2001) dan Gordon (2003), faktor seperti waktu dan suhu penyimpanan ovarium sangat mempengaruhi kualitas oosit. Umumnya pada P2 rataan jumlah persentase kualitas oosit A dan B masih dapat dikatakan baik karena jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan rataan jumlah persentase kualitas oosit C dan D (42,67%). Hasil ini menguatkan pendapat Engcong dan Karja (2013), preservasi ovarium pada suhu 4 o C selama 8-10 jam menunjukan persentase kualitas oosit A dan B masih dapat dipertahankan, hal ini pun sesuai dengan dugaan sementara bahwa preservasi ovarium yang dilakukan pada suhu 4 o - 5 o C selama jam diduga masih mampu mempertahankan tingkat kriteria kualitas oosit A dan B yang dapat dijadikan sebagai sumber genetik potensial teknologi IVF. Preservasi ovarium P3 selama jam pada 4 o -5 o C (suhu dingin) menunjukan penurunan rataan jumlah persentase kualitas oosit A dan B yakni 13,00%. Hal ini diduga akibat preservasi suhu dingin apabila dilakukan semakin lama akan menyebabkan rataan jumlah persentase kualitas oosit A dan B terus menurun. Hasil ini sependapat dengan Carvalho et al (2001), oosit domba lebih rentan terhadap suhu dingin karena membran lipid pada oosit tidak mampu bertahan pada suhu dingin. Suhu dingin dapat menyebabkan hilangnya integritas dari membran oosit (Wongsrikeao et al., 2005). Seiring lama preservasi berlangsung seperti pada P3 tanpa adanya penambahan jenis zat apapun ke dalam media preservasi mengakibatkan persentase jumlah kualitas oosit A dan B yang didapat terjadi penurunan secara drastis. Oleh karena itu, kondisi tersebut akan menyebabkan lamanya iskemia. Sebaliknya apabila terdapat penambahan zat yang dapat memberikan nutrisi maka kualitas oosit dapat dipertahankan walaupun preservasi selama 24 jam. Dugaan ini sependapat dengan Khillare (2008), penambahan zat seperti serum sebanyak 15% ke dalam media preservasi pada suhu 5 o C (dingin) akan mempertahankan kualitas oosit selama 24 jam. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat diambil simpulan sebagai berikut ini: Waktu preservasi ovarium memberikan pengaruh yang nyata terhadap ukuran folikel dan kualitas oosit. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Tim Dosen di Laboratorium Reproduksi Ternak dan Inseminasi Buatan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Daftar Pustaka Akcay.E., Oysal, O., Yavas, I & U. An., 2008.The effects of serum, steroid and gonadorophins on in vitro maturation and fertilization of bovine oocytes. J. Anim. And Vet. Advances 7: Bone, J.F Animal Anatomy and Physiology. 3 th ed. Prentice-Hall, Inc. A Division of Simon & Schuster Englewood Cliffs. New Jersey USA. 19, 368,
6 Nurul Ikhwan, dkk. Perubahan Ukuran Carvalho F.C., C.M. Lucci, J.R. Silva, E.R. Andrade, S.N. Báo, and J.R. Figueiredo Effect of Braun-Collin and Saline Solution at The Different Temperature and Incubation Time on The Quality of Goat Preantral Follicles Preserved in Situ. Animal Reproduction Science 66: Choi, Y.H., L.M. Roasa, C.C. Love, S.P. Brinsko, and K. Hinrichs Blastocyts Formation Rates In Vitro and In Vitro Maturation Equine Oocyts Fertilized Intracytoplasmic Sperm Injection. Biology Reproduction 70: Dinas Peternakan Jawa Barat Statistik Pemotongan Ternak Tahun Available at : (diakses 17 April 2015, jam 14:06 WIB). Engcong, D.M. dan N.W. Karja Kualitas Oosit Domba dari Ovarium Setelah Penyimpanan pada Suhu dan Periode Waktu yang Berbeda. Acta Veterinaria Indonesiana 1(2): Gaspersz, V Teknik Analisis dalam Penelitian Percobaan, Jilid 1. Tarsito. Bandung , Gordon, I Laboratory of Production Cattle Embryo. 2 nd ed. CABI Publishing. Wallingford. Kumar, V., A.K. Abbas., and J.C. Aster Cell Injury, Cell Death, and Adaptations. In: Robbins. Basic Pathology. 9 th ed. Elsevier Inc. Canada Khillare, K.P Recovery and Preservation of Goat Follicular Oocytes. Veterinary World, Vol.1 (3). Departement of Gynecology and Obstetrics, Collage of Veterinary and Animal Science. Parbhani Klumpp, A. M The Effect of Holding Bovine Oocytes in Follicular Fluid on Subsequent Fertilization and Embryonic Development. Thesis. Loumurna State University. California. 20. Lopez, A.P., R.R. Santo., J.J. Holland. C.M,. Aline. P.M.Robert., N.C. Claudio., C.Campello., J. Roberto,,V.V Sonia., N.B.K. Jewgenew.. J.R. Figuerido., Short-Term Preservation of Canine Preantral Follicles: Effects of Temperature, Medium and Time. Animal Reproduction Science. 114: Petrucci, R.H., F.G. Herring, and J.D. Madura General Chemistry Prinsiple and Modern Application. 10 th ed. Prentice- Hall Inc. Silva, J.R.V., Alline,. Regiane R.D.S., Sonia H.F.C., Ana, P.R.R., Marcos, A..L.F., Vanessa, P.M., Jose, R.F., Degeneration rate of goat primordial follicles maintained in TCM 199 or PBS at different temperatures and incubation times. Ciência Rural, Santa Maria.33: Tellado, M.N., G.M. Alvarez., G.C. Dalvit., and P.D. Cetica The Conditions of Ovary Storage Affect The Quality of Porcine Oocytes. Advances in Reproductive Sciences (2). School of Veterinary Sciences, University of Buenos Aires. Argentina Widyastuti, R., Rasad, S.D Tingkat Kematangan Inti Oosit Sapi Setelah 24 Jam Preservasi Ovarium. Agripet. 15 (2) : Wongsrikeao, P., T. Otoi, N.W. Karja, B. Agung, M. Nii, and T. Nagai Effect of Ovary Storage Time and Temperature on DNA Fragmentation and Development of Porcine Oocytes. Jurnal of Reproduction and Development 51:
PENGARUH WAKTU PRESERVASI OVARIUM TERHADAP DIAMETER FOLIKEL DAN OOSIT DOMBA LOKAL
PENGARUH WAKTU PRESERVASI OVARIUM TERHADAP DIAMETER FOLIKEL DAN OOSIT DOMBA LOKAL THE EFFECT OF OVARY PRESERVATION TIME ON FOLLICLE DIAMETER AND OOCYTE QUALITY OF LOCAL SHEEP Nurul Ikhwan*, Nurcholidah
Pengaruh Waktu dan Suhu Media Penyimpanan Terhadap Kualitas Oosit Hasil Koleksi Ovarium Sapi Betina Yang Dipotong Di TPH
Pengaruh Waktu dan Suhu Media Penyimpanan Terhadap Kualitas Oosit Hasil Koleksi Ovarium Sapi Betina Yang Dipotong Di TPH The Influence of Time and Temperature Media Storage on The Quality of The Oocyte
III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Objek penelitian ini berupa ovarium domba lokal umur <1 tahun 3 tahun
14 III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan Penelitian 3.1.1 Objek Penelitian Objek penelitian ini berupa ovarium domba lokal umur
PENDAHULUAN. 25,346 ton dari tahun 2015 yang hanya 22,668 ton. Tingkat konsumsi daging
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingkat produksi daging domba di Jawa Barat pada tahun 2016 lebih besar 25,346 ton dari tahun 2015 yang hanya 22,668 ton. Tingkat konsumsi daging domba dan kambing di
HASIL DAN PEMBAHASAN
11 HASIL DAN PEMBAHASAN Ovarium yang dikoleksi dari rumah potong hewan biasanya berada dalam fase folikular ataupun fase luteal. Pada Gambar 1 huruf a mempunyai gambaran ovarium pada fase folikuler dan
HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Perubahan Diameter Folikel Hasil pengamatan Tabel 3 menunjukkan bahwa
27 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Perubahan Diameter Folikel Hasil pengamatan Tabel 3 menunjukkan bahwa rataan perubahan penyusutan diameter folikel mulai dari rataan terendah
PENGARUH UMUR TERHADAP BOBOT DAN DIAMETER OVARIUM SERTA KUALITAS OOSIT PADA DOMBA LOKAL
PENGARUH UMUR TERHADAP BOBOT DAN DIAMETER OVARIUM SERTA KUALITAS OOSIT PADA DOMBA LOKAL THE EFFECT AGE ON OVARY WEIGHT AND DIAMETER WITH OOCYTE QUALITY OF LOCAL SHEEP Wawan Abdul Govur*, Siti Darodjah
PENDAHULUAN. pemotongan hewan (TPH) adalah domba betina umur produktif, sedangkan untuk
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Domba merupakan ternak yang dapat menyediakan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat Indonesia selain dari sapi, kerbau dan unggas. Oleh karena itu populasi dan kualitasnya
Tingkat Kematangan Inti Oosit Sapi Setelah 24 Jam Presevasi Ovarium
Tingkat Kematangan Inti Oosit Sapi Setelah 24 Jam Presevasi Ovarium (Nuclear maturity of bovine oocyte after 24 hours ovary preservation) Rini Widyastuti 1 dan Siti Darodjah Rasad 1 1 Laboratorium Reproduksi
TINJAUAN PUSTAKA Domba Ovarium Oogenesis dan Folikulogenesis
3 TINJAUAN PUSTAKA Domba Domba merupakan salah satu sumber protein yang semakin digemari oleh penduduk Indonesia. Fenomena ini semakin terlihat dengan bertambahnya warung-warung sate di pinggiran jalan,
Pengaruh Pemberian Susu Skim dengan Pengencer Tris Kuning Telur terhadap Daya Tahan Hidup Spermatozoa Sapi pada Suhu Penyimpanan 5ºC
Sains Peternakan Vol. 9 (2), September 2011: 72-76 ISSN 1693-8828 Pengaruh Pemberian Susu Skim dengan Pengencer Tris Kuning Telur terhadap Daya Tahan Hidup Spermatozoa Sapi pada Suhu Penyimpanan 5ºC Nilawati
PENGARUH LAMA THAWING DALAM AIR ES (3 C) TERHADAP PERSENTASE HIDUP DAN MOTILITAS SPERMATOZOA SAPI BALI (Bos sondaicus)
PENGARUH LAMA THAWING DALAM AIR ES (3 C) TERHADAP PERSENTASE HIDUP DAN MOTILITAS SPERMATOZOA SAPI BALI (Bos sondaicus) The effect of Thawing Lenght in Ice Water (3 o C) to viability and motility of Bali
PENGARUH TINGKAT PENGENCERAN TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA KAMBING PE SETELAH PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR
PENGARUH TINGKAT PENGENCERAN TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA KAMBING PE SETELAH PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR A. Winarto dan N. Isnaini Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang Abstrak
PRODUKSI EMBRIO IN VITRO DARI OOSIT HASIL AUTOTRANSPLANTASI HETEROTOPIK OVARIUM MENCIT NURBARIAH
PRODUKSI EMBRIO IN VITRO DARI OOSIT HASIL AUTOTRANSPLANTASI HETEROTOPIK OVARIUM MENCIT NURBARIAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI
SUPLEMENTASI FETAL BOVINE SERUM (FBS) TERHADAP PERTUMBUHAN IN VITRO SEL FOLIKEL KAMBING PE
SUPLEMENTASI FETAL BOVINE SERUM (FBS) TERHADAP PERTUMBUHAN IN VITRO SEL FOLIKEL KAMBING PE S.N Rahayu dan S. Wahjuningsih Bagian Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya ABSTRAK Tujuan
I. PENDAHULUAN. memproduksi dan meningkatkan produktivitas peternakan. Terkandung di
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bioteknologi reproduksi merupakan teknologi unggulan dalam memproduksi dan meningkatkan produktivitas peternakan. Terkandung di dalamnya pemanfaatan proses rekayasa fungsi
KARAKTERISTIK OOSIT DOMBA DARI OVARIUM YANG DISIMPAN PADA SUHU DAN PERIODE WAKTU YANG BERBEDA DHIA MARDHIA ENGCONG
KARAKTERISTIK OOSIT DOMBA DARI OVARIUM YANG DISIMPAN PADA SUHU DAN PERIODE WAKTU YANG BERBEDA DHIA MARDHIA ENGCONG FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
PENGARUH KONSENTRASI SPERMATOZOA PASCA KAPASITASI TERHADAP TINGKAT FERTILISASI IN VITRO
PENGARUH KONSENTRASI SPERMATOZOA PASCA KAPASITASI TERHADAP TINGKAT FERTILISASI IN VITRO (The Effects of Spermatozoa Concentration of Postcapacity on In Vitro Fertilization Level) SUMARTANTO EKO C. 1, EKAYANTI
Pengaruh Jenis Otot dan Lama Penyimpanan terhadap Kualitas Daging Sapi
Pengaruh dan terhadap Kualitas Daging Sapi Syafrida Rahim 1 Intisari Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jambi pada tahun 2008. Penelitian bertujuan
TINGKAT PEMATANGAN OOSIT KAMBING YANG DIKULTUR SECARA IN VITRO SELAMA 26 JAM ABSTRAK
TINGKAT PEMATANGAN OOSIT KAMBING YANG DIKULTUR SECARA IN VITRO SELAMA 26 JAM ABSTRAK Beni,V, Marhaeniyanto, E 2) dan Supartini, N Mahasiswa PS Peternakan, Fak. Pertanian, Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Perlakuan Superovulasi Sebelum Pemotongan Ternak (Treatment Superovulation Before Animal Sloughter)
JURNAL ILMU TERNAK, DESEMBER 2006, VOL. 6 NO. 2, 145 149 Perlakuan Superovulasi Sebelum Pemotongan Ternak (Treatment Superovulation Before Animal Sloughter) Nurcholidah Solihati, Tita Damayanti Lestari,
Korelasi antara Oosit Domba yang Dikoleksi dari Rumah Pemotongan Hewan dengan Tingkat Fertilitasnya setelah Fertilisasi in vitro
Korelasi antara Oosit Domba yang Dikoleksi dari Rumah Pemotongan Hewan dengan Tingkat Fertilitasnya setelah Fertilisasi in vitro Teguh Suprihatin* *Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Hewan Jurusan
DAFTAR ISI. BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN Kerangka Berpikir Konsep Hipotesis...
DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM...i PRASYARAT GELAR...ii LEMBAR PERSETUJUAN...iii PENETAPAN PANITIA PENGUJI...iv RIWAYAT HIDUP...v UCAPAN TERIMAKSIH...vi ABSTRAK...vii ABSTRACT...viii RINGKASAN...ix DAFTAR
KAJIAN KEPUSTAKAAN. susu untuk peternak di Eropa bagian Tenggara dan Asia Barat (Ensminger, 2002). : Artiodactyla
8 II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Domba Lokal Domba merupakan hewan ternak yang pertama kali di domestikasi. Bukti arkeologi menyatakan bahwa 7000 tahun sebelum masehi domestik domba dan kambing telah menjadi
FERTILISASI DAN PERKEMBANGAN OOSIT SAPI HASIL IVF DENGAN SPERMA HASIL PEMISAHAN
FERTILISASI DAN PERKEMBANGAN OOSIT SAPI HASIL IVF DENGAN SPERMA HASIL PEMISAHAN (Fertilization and Development of Oocytes Fertilized in Vitro with Sperm after Sexing) EKAYANTI M. KAIIN, M. GUNAWAN, SYAHRUDDIN
PENGGUNAAN TELUR ITIK SEBAGAI PENGENCER SEMEN KAMBING. Moh.Nur Ihsan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang ABSTRAK
PENGGUNAAN TELUR ITIK SEBAGAI PENGENCER SEMEN KAMBING Moh.Nur Ihsan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang ABSTRAK Suatu penelitian untuk mengetahui penggunaan kuning telur itik
DAYA HIDUP SPERMATOZOA EPIDIDIMIS KAMBING DIPRESERVASI PADA SUHU 5 C
DAYA HIDUP SPERMATOZOA EPIDIDIMIS KAMBING DIPRESERVASI PADA SUHU 5 C Disajikan oleh : Hotmaria Veronika.G (E10012157) dibawah bimbingan : Ir. Teguh Sumarsono, M.Si 1) dan Dr. Bayu Rosadi, S.Pt. M.Si 2)
Penggunaan Pregnant Mare's Serum Gonadotropin (PMSG) dalam Pematangan In Vitro Oosit Sapi
Penggunaan Pregnant Mare's Serum Gonadotropin (PMSG) dalam Pematangan In Vitro Oosit Sapi ZAITUNI UDIN¹, JASWANDI¹, TINDA AFRIANI¹ dan LEONARDO E. 2 1 Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Kampus
PENGARUH LEVEL GLISEROL DALAM PENGENCER TRIS- KUNING TELUR TERHADAP MEMBRAN PLASMA UTUH DAN RECOVERY RATE SPERMA KAMBING PERANAKAN ETAWAH POST THAWING
PENGARUH LEVEL GLISEROL DALAM PENGENCER TRIS- KUNING TELUR TERHADAP MEMBRAN PLASMA UTUH DAN RECOVERY RATE SPERMA KAMBING PERANAKAN ETAWAH POST THAWING THE EFFECT OF GLYCEROL LEVEL ON TRIS-YOLK EXTENDER
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Umur terhadap Bobot Ovarium. Hasil penelitian mengenai pengaruh umur terhadap bobot ovarium domba
24 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Umur terhadap Bobot Ovarium Hasil penelitian mengenai pengaruh umur terhadap bobot ovarium domba lokal terlihat bahwa perbedaan umur mengakibatkan terjadinya perubahan
BAB I. PENDAHULUAN A.
1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aplikasi bioteknologi reproduksi di bidang peternakan merupakan suatu terobosan untuk memacu pengembangan usaha peternakan. Sapi merupakan salah satu jenis ternak
Pengaruh Campuran Feses Sapi Potong dan Feses Kuda Pada Proses Pengomposan Terhadap Kualitas Kompos
Pengaruh Campuran Feses Sapi Potong dan Feses Kuda Pada Proses Pengomposan Terhadap Kualitas Yuli Astuti Hidayati, Eulis Tanti Marlina, Tb.Benito A.K, Ellin Harlia 1 Intisari Penelitian ini bertujuan untuk
TINGKAT FERTILISASI OOSIT DOMBA DARI OVARIUM YANG DISIMPAN PADA SUHU DAN WAKTU YANG BERBEDA SECARA IN VITRO
ISSN : 1978-225X TINGKAT FERTILISASI OOSIT DOMBA DARI OVARIUM YANG DISIMPAN PADA SUHU DAN WAKTU YANG BERBEDA SECARA IN VITRO Fertilization Rate of Sheep Oocytes Collected From Stored Ovaries at Difference
I PENDAHULUAN. berasal dari daerah Gangga, Jumna, dan Cambal di India. Pemeliharaan ternak
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kambing Peranakan Etawah atau kambing PE merupakan persilangan antara kambing kacang betina asli Indonesia dengan kambing Etawah jantan yang berasal dari daerah Gangga,
Jurnal Pertanian ISSN Volume 2 Nomor 1, April PENGARUH VITAMIN B 2 (Riboflavin) TERHADAP DAYA TAHAN SPERMATOZOA DOMBA PADA SUHU KAMAR
PENGARUH VITAMIN B 2 (Riboflavin) TERHADAP DAYA TAHAN SPERMATOZOA DOMBA PADA SUHU KAMAR Oleh : Nilawati Widjaya Dosen Jurusan Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Bandung Raya ABSTRACT This study
PENDAHULUAN. Latar Belakang. setiap tahunnya, namun permintaan konsumsi daging sapi tersebut sulit dipenuhi.
PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia memiliki kebutuhan konsumsi daging sapi yang meningkat setiap tahunnya, namun permintaan konsumsi daging sapi tersebut sulit dipenuhi. Ketersediaan daging sapi ini
Z. Udin, Jaswandi, dan M. Hiliyati Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang ABSTRAK
PENGARUH PENGGUNAAN HEMIKALSIUM DALAM MEDIUM FERTILISASI IN VITRO TERHADAP VIABILITAS DAN AGLUTINASI SPERMATOZOA SAPI [The Usage effect of Hemicalcium in a Medium of In Vitro Fertilization on Viability
Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu 4 o C
Kualitas Sapi dan yang Disimpan pada Suhu THE QUALITY OF WAGYU BEEF AND BALI CATTLE BEEF DURING THE COLD STORAGE AT 4 O C Mita Andini 1, Ida Bagus Ngurah Swacita 2 1) Mahasiswa Program Profesi Kedokteran
Kualitas semen sapi Madura setelah pengenceran dengan tris aminomethane kuning telur yang disuplementasi α-tocopherol pada penyimpanan suhu ruang
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 24 (1): 39-44 ISSN: 0852-3581 Fakultas Peternakan UB, http://jiip.ub.ac.id/ Kualitas semen sapi Madura setelah pengenceran dengan tris aminomethane kuning telur yang disuplementasi
PENGARUH UKURAN DAN JUMLAH FOLIKEL PER OVARI TERHADAP KUALITAS OOSIT KAMBING LOKAL
PENGARUH UKURAN DAN JUMLAH FOLIKEL PER OVARI TERHADAP KUALITAS OOSIT KAMBING LOKAL The Effect of the Follicle Size and Follicle Number Per Ovary on Oocyte Quality of Local Goat Arman Sayuti 1, Tongku Nizwan
Perbedaan Aktivitas Ovarium Sapi Bali Kanan dan Kiri serta Morfologi Oosit yang Dikoleksi Menggunakan Metode Slicing
Perbedaan Aktivitas Ovarium Sapi Bali Kanan dan Kiri serta Morfologi Oosit yang Dikoleksi Menggunakan Metode Slicing IMAM SOBARI 1), I G.N. B. TRILAKSANA 2), I KETUT SUATHA 1) 1) Lab Anatomi, 2) Lab Reproduksi
Embrio ternak - Bagian 1: Sapi
Standar Nasional Indonesia Embrio ternak - Bagian 1: Sapi ICS 65.020.30 Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh
HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL
HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL I. Tingkat maturasi oosit domba dalam suhu dan waktu penyimpanan yang berbeda Tahapan pematangan inti yang diamati pada penelitian ini dikelompokkan menjadi 5 tahap yaitu GV
Afriansyah Nugraha*, Yuli Andriani**, Yuniar Mulyani**
PENGARUH PENAMBAHAN KIJING TAIWAN (Anadonta woodiana, Lea) DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus) Afriansyah Nugraha*, Yuli Andriani**,
ABSTRAK. Kata Kunci : Jarak Tempuh; Waktu Tempuh; PTM; Abnormalitas; Semen ABSTRACT
On Line at : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/aaj PENGARUH JARAK DAN WAKTU TEMPUH TERHADAP POST THAWING MOTILITY, ABNORMALITAS DAN SPERMATOZOA HIDUP SEMEN BEKU (The Effect of Travel Distance and
Endah Subekti Pengaruh Jenis Kelamin.., PENGARUH JENIS KELAMIN DAN BOBOT POTONG TERHADAP KINERJA PRODUKSI DAGING DOMBA LOKAL
PENGARUH JENIS KELAMIN DAN BOBOT POTONG TERHADAP KINERJA PRODUKSI DAGING DOMBA LOKAL EFFECT OF SEX AND SLAUGHTER WEIGHT ON THE MEAT PRODUCTION OF LOCAL SHEEP Endah Subekti Staf Pengajar Fakultas Pertanian
I. PENDAHULUAN. Kebutuhan protein hewani di Indonesia semakin meningkat seiring dengan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Kebutuhan protein hewani di Indonesia semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya protein hewani bagi tubuh. Hal ini
PENDAHULUAN. Domba merupakan salah satu ternak penghasil daging yang banyak diminati
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Domba merupakan salah satu ternak penghasil daging yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Kebutuhan masyarakat akan daging domba setiap tahunnya terus meningkat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kambing Kacang yang lebih banyak sehingga ciri-ciri kambing ini lebih menyerupai
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Jawarandu Kambing Jawarandu merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Peranakan Etawa dengan kambing Kacang. Kambing ini memiliki komposisi darah kambing
Pengaruh Tiga Jenis Pupuk Kotoran Ternak (Sapi, Ayam, dan Kambing) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Rumput Brachiaria Humidicola
Pengaruh Tiga Jenis Pupuk Kotoran Ternak (Sapi, Ayam, dan Kambing) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Rumput Brachiaria Humidicola The Effect of Three Kind Manure (Cow, chicken, and goat) to The Vegetative
PENDAHULUAN. masyarakat Pesisir Selatan. Namun, populasi sapi pesisir mengalami penurunan,
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sapi Pesisir merupakan salah satu bangsa sapi lokal yang banyak dipelihara petani-peternak di Sumatra Barat, terutama di Kabupaten Pesisir Selatan. Sapi Pesisir mempunyai
Pengaruh Fluktuasi Suhu Air Terhadap Daya Tetas Telur dan Kelulushidupan Larva Gurami (Osphronemus goramy)
Aquacultura Indonesiana (2008) 9 (1) : 55 60 ISSN 0216 0749 (Terakreditasi SK Nomor : 55/DIKTI/Kep/2005) Pengaruh Fluktuasi Suhu Air Terhadap Daya Tetas Telur dan Kelulushidupan Larva Gurami (Osphronemus
PENDAHULUAN. kambing Peranakan Etawah (PE). Kambing PE merupakan hasil persilangan dari
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kambing merupakan komoditas ternak yang banyak dikembangkan di Indonesia. Salah satu jenis kambing yang banyak dikembangkan yaitu jenis kambing Peranakan Etawah (PE).
Hubungan Antara Umur dan Bobot Badan...Firdha Cryptana Morga
HUBUNGAN ANTARA UMUR DAN BOBOT BADAN KAWIN PERTAMA SAPI PERAH FRIES HOLLAND DENGAN PRODUKSI SUSU HARIAN LAKTASI PERTAMA DAN LAKTASI KEDUA DI PT. ULTRA PETERNAKAN BANDUNG SELATAN (UPBS) PANGALENGAN JAWA
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Klorofil Daun Susut Bobot Laju Respirasi (O2 dan CO2)
DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM... i PERNYATAAN KEASLIAN KARYA SKRIPSI... ii ABSTRACT... iii ABSTRAK... iv RINGKASAN... v HALAMAN PERSETUJUAN... vi TIM PENGUJI... vii RIWAYAT HIDUP... viii KATA PENGANTAR...
HATCH PERIOD AND WEIGHT AT HATCH OF LOCAL DUCK (Anas sp.) BASED ON DIFFERENCE OF INCUBATOR HUMIDITY SETTING AT HATCHER PERIOD
LAMA MENETAS DAN BOBOT TETAS TELUR ITIK LOKAL (Anas sp.) BERDASARKAN PERBEDAAN KELEMBABAN MESIN TETAS PADA PERIODE HATCHER HATCH PERIOD AND WEIGHT AT HATCH OF LOCAL DUCK (Anas sp.) BASED ON DIFFERENCE
PENDAHULUAN. sehingga dapat memudahkan dalam pemeliharaannya. Kurangnya minat terhadap
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang dikenal di Indonesia sebagai ternak penghasil daging dan susu. Kambing adalah salah satu ternak yang telah didomestikasi
Jurnal Kajian Veteriner Volume 3 Nomor 1 : ISSN:
Pengaruh Corpus Luteum Dan Folikel Dominan Terhadap Kualitas Morfologi Oosit Sapi Bali-Timor (Influence Of Corpus Luteum And Dominan Follicle On Oocyte Morphology Of Bali-Timor Cattle) Hermilinda Parera
PENDAHULUAN. Seiring bertambahnya jumlah penduduk tiap tahunnya diikuti dengan
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring bertambahnya jumlah penduduk tiap tahunnya diikuti dengan semakin meningkat pula permintaan masyarakat terhadap bahan pangan untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan
KUALITAS SPERMATOZOA EPIDIDIMIS SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) YANG DISIMPAN PADA SUHU 3-5 o C
KUALITAS SPERMATOZOA EPIDIDIMIS SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) YANG DISIMPAN PADA SUHU 3-5 o C Takdir Saili, Hamzah, Achmad Selamet Aku Email: [email protected] Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas
IDENTIFIKASI PROFIL PROTEIN OOSIT KAMBING PADA LAMA MATURASI IN VITRO YANG BERBEDA DENGAN SDS-PAGE. Nurul Isnaini. Abstrak
IDENTIFIKASI PROFIL PROTEIN OOSIT KAMBING PADA LAMA MATURASI IN VITRO YANG BERBEDA DENGAN SDS-PAGE Nurul Isnaini Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang Abstrak Penelitian tentang
KUALITAS FISIK TELUR PUYUH YANG DIRENDAM DALAM LARUTAN GELATIN TULANG KAKI AYAM DENGAN LAMA PENYIMPANAN YANG BERBEDA
SKRIPSI KUALITAS FISIK TELUR PUYUH YANG DIRENDAM DALAM LARUTAN GELATIN TULANG KAKI AYAM DENGAN LAMA PENYIMPANAN YANG BERBEDA Oleh : Indra Joni 11181103547 PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN DAN
I. PENDAHULUAN. Daging merupakan makanan yang kaya akan protein, mineral, vitamin, lemak
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Daging merupakan makanan yang kaya akan protein, mineral, vitamin, lemak serta zat yang lain yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Usaha untuk meningkatkan konsumsi
HASIL DAN PEMBAHASAN
9 A B Hari ke- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16-17 Gambar 8 Teknik penyuntian PGF 2α. (A) Penyuntikan pertama, (B) Penyuntikan kedua, (C) Pengamatan estrus yang dilakukan tiga kali sehari yaitu pada
Gambar 5. Grafik Pertambahan Bobot Rata-rata Benih Lele Dumbo pada Setiap Periode Pengamatan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Laju Pertumbuhan Harian Laju Pertumbuhan adalah perubahan bentuk akibat pertambahan panjang, berat, dan volume dalam periode tertentu (Effendi, 1997). Berdasarkan hasil
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Peternakan babi yang ada di Indonesia khususnya di daerah Bali masih merupakan peternakan rakyat dalam skala kecil atau skala rumah tangga, dimana mutu genetiknya masih kurang
KORELASI GENETIK DAN FENOTIPIK ANTARA BERAT LAHIR DENGAN BERAT SAPIH PADA SAPI MADURA Karnaen Fakultas peternakan Universitas padjadjaran, Bandung
GENETIC AND PHENOTYPIC CORRELATION BETWEEN BIRTH WEIGHT AND WEANING WEIGHT ON MADURA CATTLE Karnaen Fakulty of Animal Husbandry Padjadjaran University, Bandung ABSTRACT A research on estimation of genetic
PEMANFAATAN TEKNOLOGI KULTUR OVARI SEBAGAI SUMBER OOSIT UNTUK PRODUKSI HEWAN DAN BANTUAN KLINIK BAGI WANITA YANG GAGAL FUNGSI OVARI
2004 Retno Prihatini Makalah Pribadi Posted: 20 December 2004 Pengantar ke Falsafah Sains (PPS 702) Sekolah Pascasarjana/S3 Institut Pertanian Bogor Tanggal 1 Desember 2004 Pengajar: Prof.Dr.Ir.Rudy C.
STUDI KOMPARATIF METABOLISME NITROGEN ANTARA DOMBA DAN KAMBING LOKAL
STUDI KOMPARATIF METABOLISME NITROGEN ANTARA DOMBA DAN KAMBING LOKAL SKRIPSI KHOERUNNISSA PROGRAM STUDI NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSITUT PERTANIAN BOGOR 2006 RINGKASAN KHOERUNNISSA.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Berdasarkan tingkat keberhasilan ikan lele Sangkuriang memijah, maka dalam penelitian ini dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok perlakuan yang tidak menyebabkan
GAMBARAN AKTIVITAS OVARIUM SAPI BALI BETINA YANG DIPOTONG PADA RUMAH PEMOTONGAN HEWAN (RPH) KENDARI BERDASARKAN FOLIKEL DOMINAN DAN CORPUS LUTEUM
1 GAMBARAN AKTIVITAS OVARIUM SAPI BALI BETINA YANG DIPOTONG PADA RUMAH PEMOTONGAN HEWAN (RPH) KENDARI BERDASARKAN FOLIKEL DOMINAN DAN CORPUS LUTEUM Takdir Saili 1*, Fatmawati 1, Achmad Selamet Aku 1 1
Dosis Glukosa Ideal pada Pengencer Kuning Telur Fosfat Dalam Mempertahankan Kualitas Semen Kalkun pada Suhu 5 C
Dosis Glukosa Ideal pada Pengencer Kuning Telur Fosfat Dalam Mempertahankan Kualitas Semen Kalkun pada Suhu 5 C IDEAL GLUCOSE DOSAGE ON EGG YOLK PHOSPHATE BUFFER FOR MAINTAINING SEMEN TURKEYS QUALITY IN
KOMPETENSI PERKEMBANGAN OOSIT DOMBA PADA SUHU DAN WAKTU PENYIMPANAN OVARIUM YANG BERBEDA ARIE FEBRETRISIANA
KOMPETENSI PERKEMBANGAN OOSIT DOMBA PADA SUHU DAN WAKTU PENYIMPANAN OVARIUM YANG BERBEDA ARIE FEBRETRISIANA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 i SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan
Pengaruh Penggunaan Tris Dalam Pengencer Susu Skim Terhadap Resistensi Spermatozoa Sapi Simmental Pasca Pembekuan
Pengaruh Penggunaan Tris Dalam Pengencer Susu Skim Terhadap Resistensi Spermatozoa Sapi Simmental Pasca Pembekuan Fachroerrozi Hoesni Fakultas Peternakan Universitas Jambi Kampus Pinang Masak Jl. Jambi-Muaro
I. PENDAHULUAN. Berdasarkan Data Statistik 2013 jumlah penduduk Indonesia mencapai jiwa yang akan bertambah sebesar 1,49% setiap tahunnya
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan Data Statistik 2013 jumlah penduduk Indonesia mencapai 242.013.800 jiwa yang akan bertambah sebesar 1,49% setiap tahunnya (Anonim,2013). Jumlah penduduk yang
KAJIAN KEPUSTAKAAN. anjing, hal ini ditemukan pada situs arkeologi di Persia (Iran), Jericho (Tepi Barat),
7 II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Domba Lokal Domba merupakan hewan kedua yang didomestifikasi oleh manusia setelah anjing, hal ini ditemukan pada situs arkeologi di Persia (Iran), Jericho (Tepi Barat), Choga
Pengaruh Pengencer Kombinasi Sari Kedelai dan Tris terhadap Kualitas Mikroskopis Spermatozoa Pejantan Sapi PO Kebumen
Pengaruh Pengencer Kombinasi Sari Kedelai dan Tris terhadap Kualitas Mikroskopis Spermatozoa Pejantan Sapi PO Kebumen The Effect of Diluent Combination of Soy Extract and Tris on the Microscopic Quality
3.1 Membran Sel (Book 1A, p. 3-3)
Riswanto, S. Pd, M. Si SMA Negeri 3 Rantau Utara 3 Gerakan zat melintasi membran sel 3.1 Membran Sel (Book 1A, p. 3-3) A Bagaimana struktur dari membran sel? (Book 1A, p. 3-3) Struktur membran sel dapat
Analisis Hubungan Fungsi Pemasaran.Rika Destriany
ANALISIS HUBUNGAN FUNGSI PEMASARAN DENGAN VOLUME PENJUALAN PEDAGANG PENGECER SUSU SEGAR DI KOPERASI PETERNAK SAPI BANDUNG UTARA (KPSBU) LEMBANG Rika Destriany*, Maman Paturochman, Achmad Firman Universitas
Minggu Topik Sub Topik Metode Pembelajaran
Rencana Kegiatan dan Pembelajaran Mingguan (RKPM) a. Kuliah Minggu Topik Sub Topik Metode Pembelajaran Dosen Pengampu I Pendahuluan 1. Pengertian reproduksi 2. Peranan proses reproduksi dalam kehidupan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Indeks Gonad Somatik (IGS) Hasil pengamatan nilai IGS secara keseluruhan berkisar antara,89-3,5% (Gambar 1). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa bioflok
PENGARUH KUALITAS PAKAN TERHADAP KEEMPUKAN DAGING PADA KAMBING KACANG JANTAN. (The Effect of Diet Quality on Meat Tenderness in Kacang Goats)
On Line at : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/aaj PENGARUH KUALITAS PAKAN TERHADAP KEEMPUKAN DAGING PADA KAMBING KACANG JANTAN (The Effect of Diet Quality on Meat Tenderness in Kacang Goats) R.
TUGAS AKHIR - SB Oleh: ARSETYO RAHARDHIANTO NRP DOSEN PEMBIMBING : Dra. Nurlita Abdulgani, M.Si Ir. Ninis Trisyani, MP.
TUGAS AKHIR - SB 091358 Oleh: ARSETYO RAHARDHIANTO NRP. 1507 100 016 DOSEN PEMBIMBING : Dra. Nurlita Abdulgani, M.Si Ir. Ninis Trisyani, MP. Kebutuhan pangan (ikan air tawar) semakin meningkat Kualitas
BAB V INDUKSI KELAHIRAN
BAB V INDUKSI KELAHIRAN 5.1 Pendahuluan Induksi kelahiran merupakan suatu proses merangsang kelahiran dengan mengunakan preparat hormon dengan tujuan ekonomis. Beberapa alasan dilakukannya induksi kelahiran
Pengaruh Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan dan Produksi Rumput Setaria splendida Stapf yang Mengalami Cekaman Kekeringan
Media Peternakan, Agustus 24, hlm. 63-68 ISSN 126-472 Vol. 27 N. 2 Pengaruh Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan dan Produksi Rumput Setaria splendida Stapf yang Mengalami Cekaman
PENGARUH BERBAGAI METODE THAWING TERHADAP KUALITAS SEMEN BEKU SAPI
PENGARUH BERBAGAI METODE THAWING TERHADAP KUALITAS SEMEN BEKU SAPI (The Effect of Thawing Method on Frozen Bull Semen Quality) DAUD SAMSUDEWA dan A. SURYAWIJAYA Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro,
Pengaruh metode gliserolisasi terhadap kualitas semen domba postthawing... Labib abdillah
PENGARUH METODE GLISEROLISASI TERHADAP KUALITAS SEMEN DOMBA POSTTHAWING EFFECT OF GLYCEROLISATION METHOD ON THE QUALITY OF RAM SEMEN POSTTHAWING Labib Abdillah*, Nurcholidah Solihati**, Siti Darodjah Rasad**
Penambahan Bovine Serum Albumin pada Pengencer Kuning Telur terhadap Motilitas dan Daya Hidup Spermatozoa Anjing
Penambahan Bovine Serum Albumin pada Pengencer Kuning Telur terhadap Motilitas dan Daya Hidup Spermatozoa Anjing LUH PUTU DHATU HANNY ADNANI, WAYAN BEBAS, MADE KOTA BUDIASA Laboratorium Reproduksi, Fakultas
Water Quality Black Water River Pekanbaru in terms of Physics-Chemistry and Phytoplankton Communities.
Water Quality Black Water River Pekanbaru in terms of Physics-Chemistry and Phytoplankton Communities Dedy Muharwin Lubis, Nur El Fajri 2, Eni Sumiarsih 2 Email : [email protected] This study was
KUALITAS SEMEN SAPI BALI SEBELUM DAN SESUDAH PEMBEKUAN MENGGUNAKAN PENGENCER SARI WORTEL
SKRIPSI KUALITAS SEMEN SAPI BALI SEBELUM DAN SESUDAH PEMBEKUAN MENGGUNAKAN PENGENCER SARI WORTEL Oleh: Suroso Priyanto 10981008442 JURUSAN ILMU PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN UNIVERSITAS
III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. pisang nangka diperoleh dari Pasar Induk Caringin, Pasar Induk Gedebage, dan
20 III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan Penelitian 1) Kulit Pisang Nangka Kulit pisang nangka berfungsi sebagai bahan pakan tambahan dalam ransum domba. Kulit pisang yang digunakan berasal dari pisang
SERVICE PER CONCEPTION (S/C) DAN CONCEPTION RATE (CR) SAPI PERANAKAN SIMMENTAL PADA PARITAS YANG BERBEDA DI KECAMATAN SANANKULON KABUPATEN BLITAR
SERVICE PER CONCEPTION (S/C) DAN CONCEPTION RATE (CR) SAPI PERANAKAN SIMMENTAL PADA PARITAS YANG BERBEDA DI KECAMATAN SANANKULON KABUPATEN BLITAR Vivi Dwi Siagarini 1), Nurul Isnaini 2), Sri Wahjuningsing
II KAJIAN KEPUSTAKAAN. dan sekresi kelenjar pelengkap saluran reproduksi jantan. Bagian cairan dari
6 II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Karakteristik Semen Kambing Semen adalah cairan yang mengandung gamet jantan atau spermatozoa dan sekresi kelenjar pelengkap saluran reproduksi jantan. Bagian cairan dari suspensi
HASIL DAN PEMBAHASAN. Evaluasi Semen Segar
HASIL DAN PEMBAHASAN Semen adalah cairan yang mengandung suspensi sel spermatozoa, (gamet jantan) dan sekresi dari organ aksesori saluran reproduksi jantan (Garner dan Hafez, 2000). Menurut Feradis (2010a)
Lampiran 1. Jumlah Zigot yang Membelah >2 Sel pada Hari Kedua
Lampiran 1. Jumlah Zigot yang Membelah >2 Sel pada Hari Kedua 1 48 32 2 40 29 3 40 20 4 26 36 5 36 35 6 35 26 7 32 22 Jumlah 257 200 Rataan 36,71 ± 6,95 28,57 ± 6,21 Lampiran 2. Uji Khi-Kuadrat Jumlah
I. PENDAHULUAN. jika ditinjau dari program swasembada daging sapi dengan target tahun 2009 dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sapi potong merupakan salah satu ternak penghasil daging dan merupakan komoditas peternakan yang sangat potensial. Dalam perkembangannya, populasi sapi potong belum mampu
ABSTRAK KUALITAS DAN PROFIL MIKROBA DAGING SAPI LOKAL DAN IMPOR DI DILI-TIMOR LESTE
ABSTRAK KUALITAS DAN PROFIL MIKROBA DAGING SAPI LOKAL DAN IMPOR DI DILI-TIMOR LESTE Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas fisik, kimia dan profil mikroba daging sapi lokal dan impor yang
DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL LUAR HALAMAN SAMPUL DALAM LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL LUAR... i HALAMAN SAMPUL DALAM... ii LEMBAR PENGESAHAN... Error! Bookmark not defined. RIWAYAT HIDUP... Error! Bookmark not defined. UCAPAN TERIMAKASIH... Error! Bookmark not
