Bab II. Tinjauan Pustaka
|
|
|
- Djaja Muljana
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Bab II. Tinjauan Pustaka 2.1. Karakteristik Hidrometeorologi Penelitian karakteristik hidrometeorologi merupakan satu kajian yang menarik pada beberapa tahun terakhir ini (misalnya Bromley et al., 1999; Butterworth et al., 1999; Sivakumar, 2001a; Schertzer et al., 2002; Islam dan Sivakumar, 2002). Hasil dari sejumlah penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa karakteristik penting pada komponen hidrometeorologi misalnya persistensi, variabilitas, kecenderungan, probabilitas nilai ekstrim, sifat fraktal, periode ulang, dan sensitivitas. Karakteristik hidrometeorologi di suatu wilayah sangat spesifik seperti ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan di beberapa tempat, misalnya di kontinental Asia Selatan (Coe, 1994), kontinental Amerika Serikat (Roads et al., 1994), daerah tropis (Fan, 2003), wilayah Tien Shan Asia Tengah (Aizen et al., 1996), dan daerah aliran sungai La Plata Amerika Selatan (Berbery dan Barros, 2002). Karakteristik hidrometeorologi di daratan sangat berbeda dengan di lautan. Karakteristik hidrometeorologi di daratan sangat didominasi oleh curah hujan dan limpasan. Hal ini ditegaskan oleh Sivakumar (2000) dan Sivakumar et al. (2002) bahwa masalah yang paling penting dan menjadi tantangan pada hidrometeorologi adalah dinamika curah hujan dan limpasan karena keduanya merupakan proses yang chaotic. Komponen hidrometeorologi mempunyai variabilitas yang tinggi, baik secara temporal (musiman, tahunan, dan dekadal) maupun spasial (Zeng, 1999; Rogers et al., 2000). Variabilitas tersebut sangat dipengaruhi oleh fluktuasi curah hujan dan evapotranspirasi (Barron et al., 2003). Variabilitas hidrometeorologi regional dapat dipengaruhi fenomena global (seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Oceans Dipole Mode (IODM)), pemanasan global, dan perubahan iklim global (Ashok et al., 2001; Saji dan Yamagata, 2003). Variabilitas hidrometeorologi yang tinggi tersebut berdampak cukup signifikan terhadap variabilitas sumber air, kekeringan, dan banjir (Bayong et al., 2006). 7
2 Adanya variabilitas yang tinggi tersebut mengindikasikan bahwa proses hidrometeorologi bersifat tidak beraturan (irregular) dan chaotic. Berbagai penelitian mengindikasikan bahwa fenomena global di daerah tropis seperti ENSO dan Pasifik Decadal Oscillation (PDO) mempengaruhi iklim di Indonesia terutama curah hujan dan limpasan (Whiting et al., 2003; Chiew et al., 1998; Rizaldi dan Faqih, 2003). ENSO dapat diukur dari perbedaan tekanan atmosfer antara wilayah Indonesia-Australia dengan lautan Pasifik bagian timur. Kekuatan dan frekuensi ENSO selain digerakkan oleh anomali temperatur permukaan laut di Pasifik Timur, juga oleh adanya perbedaan tekanan permukaan antara Darwin (Australia) dan Tahiti (Kepulauan Hawaii) yang dinyatakan dalam besaran Indeks Osilasi Selatan atau Southern Oscillation Index (SOI). Kejadian ENSO dapat menyebabkan pergeseran pola sirkulasi sistem iklim di Indonesia. Adanya fenomena global tersebut dapat meningkatkan interaksi antara lautan dan atmosfer sehingga dapat menyebabkan perubahan variabilitas curah hujan dan limpasan di Indonesia. PDO merupakan gambaran dari persistensi temperatur permukaan laut di lautan Pasifik. Seperti halnya dengan ENSO, PDO juga diindikasikan mempunyai hubungan yang kuat dengan variabilitas dan persistensi komponen hidrometeorologi di Asia Tenggara, terutama curah hujan dan limpasan. Curah hujan di kawasan sebelah selatan Indonesia mengindikasikan adanya persistensi untuk skala bulanan (Simmonds dan Hope, 1997). Variabilitas dan persistensi komponen hidrometeorologi di Indonesia sebenarnya tidak hanya didominasi oleh pengaruh dua fenomena global ENSO, IODM, dan PDO, tetapi dapat juga dipengaruhi oleh fenomena global lainnya, yaitu Precipitable Water (PW), siklus matahari, dan lain-lain. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat bahwa proses hidrometeorologi terjadi pada sistem terbuka yang memungkinkan berbagai fenomena global dapat mempengaruhinya. Selain pengaruh ENSO, IODM, PDO, dan PW, variabilitas hidrometeorologi di Indonesia mengalami perubahan sebagai akibat dari perubahan iklim global (Peel, et al., 2001, Hendon, 2002). Pengaruh perubahan iklim global telah menyebabkan 8
3 perubahan curah hujan di Asia Tenggara secara signifikan (Burn dan Hag, 2002, Leon, 2002; Xua et al., 2003; Cheng et al., 2004). Perubahan curah hujan tersebut pada akhirnya berdampak terhadap perubahan hidrometeorologi. Perubahan iklim global telah mempengaruhi hampir semua komponen hidrometeorologi termasuk curah hujan, evapotranspirasi, kelembapan udara, dan limpasan (Burn, 1998; Gan, 1998, Yu, et al., 2002). Kajian mengenai curah hujan di Asia Tenggara selama 60 tahun terakhir menunjukkan penurunan yang cukup signifikan (Cheng et al., 2004; Yue et al., 2002). Hasil penelitian yang sama juga ditemukan di wilayah tropis lainnya yaitu Sahel Afrika (Leon, 2002). Penurunan karakteristik curah hujan tersebut berdampak langsung pada komponen hidrometeorologi, manajemen air, pertanian, dan ekosistem lainnya. Kajian lain mengenai kecenderungan limpasan telah dilakukan di Asia Tenggara pada 30 tahun terakhir (Dutha dan Herath, 2003). Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa limpasan di wilayah tersebut cenderung meningkat secara signifikan. Hal ini berbeda dengan limpasan di daerah Eropa yang cenderung menurun atau bahkan tidak mengalami perubahan karena konservasi hutannya cukup baik (Mudelsee et al., 2003; Ercan dan Serdar, 2004). Sementara itu, air tanah mempunyai kecenderungan menurun (Gutry, 2003). Indikasi adanya perubahan komponen hidrometeorologi di Asia Tenggara, Eropa, dan Afrika tersebut, tentu tidak dapat digeneralisasi untuk wilayah tertentu yang luasannya lebih kecil misalnya daerah aliran Sungai Citarum. Perubahan komponen hidrometeorologi di wilayah aliran Sungai Citarum bisa sejalan tetapi juga bisa berbeda dengan yang ada di daerah lainnya seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian Yue et al. (2002). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa curah hujan dari tahun 1950 hingga 1987 di daerah aliran Sungai Citarum cenderung meningkat walaupun besarannya tidak signifikan. Namun demikian penelitian tersebut tentu akan menghasilkan indikasi lain apabila menggunakan data curah hujan yang terbaru. 9
4 Fakta menunjukkan bahwa kecenderungan hidrometeorologi berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Tetapi pada umumnya hasil kajian kecenderungan hidrometeorologi di beberapa wilayah memberikan bukti bahwa ada penurunan yang signifikan untuk periode terakhir ini, terutama pada curah hujan dan limpasan (Karl, et al., 1999; Xua et al., 2001). Hal tersebut banyak dikaitkan dengan adanya fakta bahwa telah terjadi perubahan iklim baik secara lokal maupun global dan pergeseran penggunaan lahan yang pada beberapa tahun terakhir ini sangat drastis (Shinjiro et al., 2000; Braud, et al., 2001). Selain itu menurut Burn dan Hag (2003), perubahan komponen hidrometeorologi tersebut dapat dipacu oleh adanya fenomena global seperti ENSO dan pemanasan global. Analisis kecenderungan pada data observasi hidrometeorologi dapat menyediakan informasi mengenai karakteristik dan besarnya variasi hidrometeorologi selama periode waktu tertentu. Disamping itu dapat pula melihat kecenderungan jangka panjang munculnya fenomena iklim yang ekstrim dan langka, misalnya curah hujan tinggi, banjir, dan kekeringan (Xua, et al., 2003). Namun demikian dalam menginterpretasi kecenderungan komponen hidrometeorologi harus hati-hati, karena terkadang dalam mengkaji kecenderungan jangka panjang dari data observasi hidrometeorologi sering mengalami kesulitan akibat adanya variasi stokastik dalam data tersebut sehingga dapat mengurangi keakuratan dalam pengukurannya (Frei dan Schar, 2000). Ada dua kesulitan dalam menginterpretasi hasil analisis kecenderungan. Pertama, pendugaan kecenderungan diperoleh sebagai signal jangka panjang padahal nilai tersebut ditentukan oleh adanya variasi stokastik dalam data. Kedua, adanya kecenderungan jangka panjang dalam data hidrometeorologi terkadang sulit diidentifikasi akibat adanya variasi jangka pendek (variasi stokastik). Dengan demikian adanya variasi stokastik dapat membatasi akurasi penentuan kecenderungan hidrometeorologi. Kesalahan interpretasi terhadap hasil analisis kecenderungan hidrometeorologi dapat dikurangi dengan menggunakan metode analisis yang tepat misalnya regresi logistik linier. Model statistik tersebut menggunakan distribusi eksponensial. 10
5 Sifat fraktal dan periode ulang komponen hidrometeorologi berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Pada umumnya dari hasil kajian karakteristik hidrometeorologi tersebut di beberapa wilayah memberikan bukti bahwa ada dinamika yang signifikan untuk periode terkahir ini, terutama pada proses curah hujan dan limpasan (Xua et al., 2001). Hal tersebut banyak dikaitkan dengan adanya fakta bahwa telah terjadi perubahan iklim baik secara lokal maupun global dan pergeseran penggunaan lahan yang pada beberapa tahun terakhir ini sangat drastis. Menurut Sivakumar (2000) adanya sifat fraktal pada komponen hidrometeorologi memungkinkan untuk dilakukannya transformasi data hidrometeorologi dari satu skala ke skala yang lainnya untuk keperluan analisis statistik tertentu. Secara teoritis adanya sifat fraktal tersebut menunjukkan bahwa proses hidrometeorologi dapat bersifat mono-fraktal maupun multi-fraktal. Jika proses tersebut bersifat mono-fraktal berarti proses hidrometeorologi lebih didominasi proses deterministik dan sebaliknya apabila bersifat multi-fraktal menunjukkan proses hidrometeorologi lebih didominasi stokastik (random/chaotic). Oleh karena itu, penelitian sifat fraktal dari proses hidrometeorologi penting dilakukan untuk mengetahui apakah proses tersebut deterministik atau stokastik. Penelitian mengenai sifat fraktal dalam data deret waktu hidrometeorologi untuk mencoba mengkaji adanya sifat deterministik atau stokastik sangat jarang dilakukan. Penelitian sejenis pernah dilakukan oleh Sivakumar (2001b) di daerah aliran sungai Leaf (Mississipi), tetapi penelitian tersebut terbatas pada sifat multifraktal data deret waktu curah hujan Model Temporal Hidrometeorologi Pengetahuan mengenai dinamika temporal dari hidrometeorologi di suatu daerah aliran sungai multiguna sangat diperlukan untuk perencanaan yang optimal penyimpanan air dan jaringan drainase dan untuk pengelolaan kejadian cuaca ekstrim, seperti banjir dan kekeringan (Islam dan Sivakumar, 2002). Mekanisme fisis yang berkaitan dengan karakteristik dan dinamika hidrometeorologi sangat 11
6 kompleks, baik dalam skala temporal maupun spasial. Hidrometeorologi di suatu aliran sungai tidak hanya dipengaruhi perubahan iklim tetapi juga dipengaruhi oleh jenis dan kondisi dari daerah aliran sungai itu sendiri, seperti penutupan lahan bervegetasi, penggunaan lahan, dan lain-lain. Selain itu, semua mekanisme yang terlibat di dalam proses hidrometeorologi adalah tidak linier, sehingga permodelan dinamikanya tidak mudah. Walaupun penerapan pendekatan linier (stokastik) sangat umum dalam mengkaji sistem fisis alamiah yang kompleks, seperti hidrometeorologi, perkembangan yang drastis dalam pengetahuan nonlinier dan pertumbuhan yang cepat dari sejumlah alat untuk menganalisis data deret waktu nonlinier telah membawa kemajuan penting dalam perkembangan metodologi (Sveinsson et al.,2002). Di antara sejumlah penemuan penting dalam perkembangan metodologi analisis data deret waktu, analisis Adaptive Neuro-Fuzzy Inference System (ANFIS) mempunyai peranan penting dalam berbagai bidang pengetahuan fisis alamiah, termasuk bidang hidrometeorologi. Penerapan ANFIS untuk berbagai aspek permodelan hidrometeorologis telah banyak dilakukan dalam sejumlah kajian pada beberapa tahun terakhir ini (Franc dan Panigrahi, 1997; Mashudi, 2001; Ozelkan dan Duckstein. 2001). Seperti telah diketahui, ANFIS sangat sesuai untuk permodelan sistem nonlinier. Zhu (2000) dan Shapiro (2002) telah menunjukkan bahwa ANFIS merupakan metode permodelan terbaik untuk menganalisis data numerik, karena dalam proses training didasarkan minimalisasi nilai kesalahan atau root mean square error (RMSE) dari outputnya. Menurut penelitian Riyanto et al. (2000), ANFIS dapat memprediksi data deret waktu lebih akurat dibanding metode lainnya, seperti Back Propagation Multilayer Preceptron (BPMP) maupun autoregresi. Metode perhitungan ANFIS memberikan keuntungan dalam permodelan sistem fisis alamiah, terutama ketika hubungan fisis yang mendasarinya tidak dapat diketahui dengan pasti (Nayak et al., 2004; Cigizoglu, 2003; Tokar dan Markus, 2000). 12
7 Data numerik komponen hidrometeorologi dapat diekstrak menjadi model numerik yang dapat dipergunakan untuk barbagai keperluan, misalnya untuk keperluan irigasi dan regionalisasi (Boulet et al., 2000), evaluasi neraca air jangka panjang (Domingo et al., 2001), parameterisasi model hidrologi (Wooldridge dan Kalma, 2001), prediksi limpasan dan air tersedia (Toninelli et al., 2003). Contoh model numerik tersebut adalah model hidrometeorologi berbasis Neural Networks (Tokar dan Markus, 2000) dan berbasis Canadian Regional Climate Model (MacKay et al., 2003). Dinamika temporal hidrometeorologi dalam jangka panjang tidak konsisten (Kim dan Stricker, 1995). Hal ini sangat jelas dari penelitian hidrometeorologi dengan menggunakan model GCM di wilayah Amazon (White et al., 1998) dan sungai Mackenzie (Betts dan Viterbo, 1999). Adanya perubahan temporal hidrometeorologi di daerah aliran sungai, misalnya di Mississippi (Roads dan Betts, 1999) dan Fuji (Yao dan Terakawa, 1999), sangat dipengaruhi oleh adanya perubahan penggunaan lahan, perkembangan kota, dan perubahan iklim. Kajian dinamika temporal hidrometeorologi pada suatu daerah aliran sungai harus didukung oleh karakteristik fisis dan klimatologis daerah tersebut. Karakteristik fisis meliputi topografi, geologi, jenis tanah, jenis vegetasi, dan penggunaan lahan (Stieglitz et al., 1996; Niyogi et al., 2001; Bullock dan Arceman, 2003). Sedangkan karakteristik klimatologis melibatkan variasi radiasi (Lau et al., 1997), kelembapan atmosfer (Trenberth et al., 1998), temperatur permukaan (Yang et al., 2003), peningkatan gas rumah kaca (Arpe et al., 1999), ENSO (Soden, 1999), efek pembakaran anthropogenik dan perubahan iklim (Small et al., 2000), dan lain-lain. Selain kedua karakteristik tersebut, kajian dinamika dan mekanisme hidrometeorologi harus mempertimbangkan aspek pertumbuhan penduduk dan industri yang ada di kawasan tersebut (Bromley et al., 1999) Daerah Aliran Sungai Citarum Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah yang terletak di suatu kawasan sungai yang oleh batas-batas topografi mengalirkan air yang jatuh di atasnya ke dalam 13
8 sungai yang sama dan melalui titik yang sama pada sungai tersebut. Daerah aliran Sungai Citarum berada di wilayah Jawa Barat dengan luas km 2 yang terbagi ke dalam tiga bagian yaitu daerah aliran Sungai Citarum hulu (luas km 2 ), daerah aliran Sungai Citarum tengah, dan daerah aliran Sungai Citarum hilir. Pusat dari daerah aliran sungai Citarum adalah Sungai Citarum yang mengalir sepanjang 350 km mulai dari hulunya di Gunung Wayang Kabupaten Bandung hingga muaranya di Laut Jawa. Sungai Citarum mempunyai perananan yang sangat penting. Sejak tahun 2004, setidaknya, lebih dari delapan juta manusia hidup pada daerah aliran sungai tersebut. Sungai Citarum menyediakan kebutuhan air bagi jutaan penduduk Jawa Barat dan Jakarta, ratusan industri, sekitar km 2 lahan sawah, dan tiga pembangkit listrik hidro (Saguling, Cirata, dan Jatiluhur) yang memasok kebutuhan energi di Pulau Jawa dan Bali. Hasil beberapa kajian menunjukkan bahwa daerah aliran Sungai Citarum mengalami beberapa permasalahan yaitu kerusakan daerah aliran sungai; tingginya tingkat erosi dan sedimentasi; terbatasnya ketersediaan air; penurunan kualitas air; dan bahaya banjir atau kekeringan. Menurut Kusumandari (1994), Santoso dan Warrick (2003) kerusakan dan tingginya tingkat erosi dan sedimentasi di daerah aliran Sungai Citarum terutama disebabkan adanya perubahan penggunaan lahan dan penggundulan hutan di daerah aliran sungai tersebut. Selain itu, perubahan penggunaan lahan dan penggundulan hutan di daerah aliran Sungai Citarum bagian hulu juga mempengaruhi banjir dan kekeringan. Banjir dan kekeringan tersebut akan diperburuk oleh tingginya fluktuasi curah hujan yang jatuh di daerah aliran sungai tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Apandi (2003). Banjir dan kekeringan merupakan bukti adanya perbedaan yang signifikan antara ketersediaan air musim hujan dan musim kemarau akibat tingginya limpasan dan rendahnya resapan air hujan di daerah aliran sungai tersebut. 14
9 Dampak dari perubahan iklim dan penggunaan lahan terhadap kuantitas dan variabilitas aliran Sungai Citarum telah dikaji dengan menggunakan Indoclim oleh Santoso dan Warrick (2003). Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan dan iklim sangat mempengaruhi variabilitas aliran baik secara tahunan, musiman, maupun bulanan. Di mana dampak perubahan iklim lebih besar dibanding dampak perubahan penggunaan lahan terhadap variabilitas aliran tersebut. Ketersediaan air dan kualitas air di daerah aliran Sungai Citarum juga sangat dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan (Karsidi, 1998; Soetrisno, 1998; Fares dan Ikhwan, 2001). Perubahan lahan dari hutan atau sawah menjadi daerah pemukiman dan kawasan industri menyebabkan berkurangnya kawasan resapan air hujan. Hal ini akan berdampak pada berkurangnya ketersedian air pada musim kemarau. Meningkatnya daerah pemukiman dan kawasan industri di cekungan Bandung menyebabkan tidak terkendalinya limbah domestik dan limbah industri yang masuk ke aliran Sungai Citarum sehingga kualitas airnya menjadi menurun. Sungai Citarum mengalami polusi berat oleh bahan organik, logam berat, dan bahan lainnya yang terjadi sejak tahun 1985 (Kirchhoff, 1993; Rosadi, 1993). Akibat terjadinya polusi berat tersebut, Sungai Citarum mengalami eutrofikasi atau ledakan gulma air terutama di Waduk Saguling (Djuangsih, 1995). Adanya penurunan kualitas air di daerah aliran Sungai Citarum juga diperkuat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Terangna (1997) dan Hart et al. (2002). Penurunan ketersediaan air dan kualitas air di daerah aliran Sungai Citarum telah disadari sejak lama, sehingga para peneliti mencoba mengkaji berbagai upaya untuk meningkatkan konservasi air, baik air permukaan maupun air tanah. Penelitian konservasi air di daerah aliran sungai tersebut telah dilakukan misalnya oleh Terangna (1995) dan Supriyo et al. (1999). Hasilnya menunjukkan bahwa untuk mempertahankan ketersediaan air dan kualitas air perlu upaya mengembangkan metode-metode untuk meningkatkan resapan air ke dalam tanah dan mengembangkan jenis tanaman air yang dapat menetralisir polutan air. 15
10 Selain perlunya upaya konsevasi air tersebut, untuk mempertahankan ketersediaan air dan kualitas air di daerah aliran Sungai Citarum, perlu ditunjang oleh pengelolaan air secara baik yang responsif terhadap adanya peningkatan jumlah penduduk, peningkatan kebutuhan air bagi pertanian dan industri, perubahan penggunaan lahan, penggundulan hutan, perubahan iklim, dan makin berkurangnya air tanah (Wihardini et al., 1999; Fildebrandt et al., 2003). Pengelolaan air yang baik akan meningkatkan efisiensi penggunaan air untuk kebutuhan berbagai bidang dan menghindari konflik kepentingan. Hubungan antara sumber air yang tersedia dengan kebutuhan air bagi sektor rumah tangga, pertanian, dan industri di daerah aliran Sungai Citarum telah dikaji oleh Fares (2003). Studi lain yang telah dilakukan di daerah aliran Sungai Citarum adalah peramalan kebutuhan air bagi pembangkit listrik di Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur dengan menggunakan jaringan neural (Mashudi, 2001). Hasil studinya menunjukkan bahwa jaringan neural cukup potensial untuk dipergunakan dalam memprediksi kebutuhan air bagi pembangkit listrik di ketiga waduk tersebut. 16
Bab I. Pendahuluan Latar Belakang
Bab I. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Dampak perubahan iklim telah mendapat perhatian yang sangat serius dan mendorong banyak penelitian selama beberapa dekade terakhir ini. Hasil penelitian tersebut
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Bila suatu saat Waduk Jatiluhur mengalami kekeringan dan tidak lagi mampu memberikan pasokan air sebagaimana biasanya, maka dampaknya tidak saja pada wilayah pantai utara (Pantura)
MODEL TEMPORAL CURAH HUJAN DAN DEBIT SUNGAI CITARUM BERBASIS ANFIS
22 Jurnal Sains Dirgantara Vol. 6 No. 1 Desember 2008:22-38 MODEL TEMPORAL CURAH HUJAN DAN DEBIT SUNGAI CITARUM BERBASIS ANFIS Ruminta Universitas Padjadjaran Bandung e-mail : [email protected] ABSTRACT
I. PENDAHULUAN. interaksi proses-proses fisik dan kimia yang terjadi di udara (atmosfer) dengan permukaan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Studi tentang iklim mencakup kajian tentang fenomena fisik atmosfer sebagai hasil interaksi proses-proses fisik dan kimia yang terjadi di udara (atmosfer) dengan permukaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan Negara yang terletak pada wilayah ekuatorial, dan memiliki gugus-gugus kepulauan yang dikelilingi oleh perairan yang hangat. Letak lintang Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai negara yang terletak diantara Samudra Pasifik-Hindia dan Benua Asia-Australia, serta termasuk wilayah tropis yang dilewati oleh garis khatulistiwa, menyebabkan
1. BAB I PENDAHULUAN
1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah Indonesia umumnya dikelilingi oleh lautan yang berada antara samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Samudera ini menjadi sumber kelembaban utama uap air
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memanasnya suhu permukaan air laut Pasifik bagian timur. El Nino terjadi pada
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Umum El Nino El Nino adalah fenomena perubahan iklim secara global yang diakibatkan oleh memanasnya suhu permukaan air laut Pasifik bagian timur. El Nino terjadi
PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Curah hujan merupakan salah satu parameter atmosfer yang sulit untuk diprediksi karena mempunyai keragaman tinggi baik secara ruang maupun waktu. Demikian halnya dengan
EVALUASI CUACA BULAN JUNI 2016 DI STASIUN METEOROLOGI PERAK 1 SURABAYA
EVALUASI CUACA BULAN JUNI 2016 DI STASIUN METEOROLOGI PERAK 1 SURABAYA OLEH : ANDRIE WIJAYA, A.Md FENOMENA GLOBAL 1. ENSO (El Nino Southern Oscillation) Secara Ilmiah ENSO atau El Nino dapat di jelaskan
INFORMASI IKLIM UNTUK PERTANIAN. Rommy Andhika Laksono
INFORMASI IKLIM UNTUK PERTANIAN Rommy Andhika Laksono Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat dinamis dan sulit dikendalikan. iklim dan cuaca sangat sulit dimodifikasi atau dikendalikan
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kondisi iklim di bumi tidak pernah statis, tapi berbeda-beda dan berfluktuasi dalam jangka waktu yang lama. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, yang
KATA PENGANTAR KUPANG, MARET 2016 PH. KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI LASIANA KUPANG CAROLINA D. ROMMER, S.IP NIP
KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua jenis prakiraan musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap bulan Maret dan Prakiraan Musim Hujan
2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Dalam melaksanakan kegiatannya, manusia selalu membutuhkan air bahkan untuk beberapa kegiatan air merupakan sumber utama.
Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Penelitian Terdahulu
Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian berjudul Pemodelan dan Peramalan Angka Curah Hujan Bulanan Menggunakan Analisis Runtun Waktu (Kasus Pada Daerah Sekitar Bandara Ngurah Rai), menjelaskan
Fase Panas El berlangsung antara bulan dengan periode antara 2-7 tahun yang diselingi fase dingin yang disebut dengan La Nina
ENSO (EL-NINO SOUTERN OSCILLATION) ENSO (El Nino Southern Oscillation) ENSO adalah peristiwa naiknya suhu di Samudra Pasifik yang menyebabkan perubahan pola angin dan curah hujan serta mempengaruhi perubahan
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dengan bentuk topografi yang sangat beragam, dilewati garis katulistiwa, diapit dua benua dan dua samudera. Posisi ini menjadikan Indonesia
Prakiraan Musim Kemarau 2018 Zona Musim di NTT KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua jenis prakiraan musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap bulan Maret dan Prakiraan Musim Hujan
EVALUASI MUSIM HUJAN 2007/2008 DAN PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2008 PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG-TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan ( 12070 ) Telp: (021) 7353018 / Fax: 7355262, Tromol Pos. 7019 / Jks KL, E-mail
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Program Studi Meteorologi PENERBITAN ONLINE AWAL Paper ini adalah PDF yang diserahkan oleh penulis kepada Program Studi Meteologi sebagai salah satu syarat kelulusan
BAB I PENDAHULUAN. hortikultura,dan 12,77 juta rumah tangga dalam perkebunan. Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan Negara agraris yang amat subur sehingga tidak dapat dipungkiri lagi sebagian besar penduduknya bergerak dalam sektor agraris. Data dalam Badan
KATA PENGANTAR PANGKALPINANG, APRIL 2016 KEPALA STASIUN METEOROLOGI KLAS I PANGKALPINANG MOHAMMAD NURHUDA, S.T. NIP
Buletin Prakiraan Musim Kemarau 2016 i KATA PENGANTAR Penyajian prakiraan musim kemarau 2016 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diterbitkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat disamping publikasi
ANALISIS HUJAN BULAN OKTOBER 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN DESEMBER 2011, JANUARI DAN FEBRUARI 2012 PROVINSI DKI JAKARTA 1.
ANALISIS HUJAN BULAN OKTOBER 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN DESEMBER 2011, JANUARI DAN FEBRUARI 2012 PROVINSI DKI JAKARTA 1. TINJAUAN UMUM 1.1. Curah Hujan Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang
ANALISIS HUJAN BULAN JANUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN MARET, APRIL, DAN MEI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA
ANALISIS HUJAN BULAN JANUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN MARET, APRIL, DAN MEI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG
ANALISIS HUJAN BULAN PEBRUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL, MEI DAN JUNI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA
ANALISIS HUJAN BULAN PEBRUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL, MEI DAN JUNI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG
KATA PENGANTAR. Banjarbaru, Oktober 2012 Kepala Stasiun Klimatologi Banjarbaru. Ir. PURWANTO NIP Buletin Edisi Oktober 2012
KATA PENGANTAR i Analisis Hujan Bulan Agustus 2012, Prakiraan Hujan Bulan November, Desember 2012, dan Januari 2013 Kalimantan Timur disusun berdasarkan hasil pantauan kondisi fisis atmosfer dan data yang
sumber daya lahan dengan usaha konservasi tanah dan air. Namun, masih perlu ditingkatkan intensitasnya, terutama pada daerah aliran sungai hulu
BAB I PENDAHULUAN Pembangunan pertanian merupakan bagian integral daripada pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur (Ditjen Tanaman Pangan, 1989). Agar pelaksanaan
ANALISIS HUJAN BULAN MEI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI, AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA
ANALISIS HUJAN BULAN MEI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI, AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG
BAB I PENDAHULUAN. Geografi merupakan ilmu yang mempelajari gejala-gejala alamiah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Geografi merupakan ilmu yang mempelajari gejala-gejala alamiah yang terdapat di permukaan bumi, meliputi gejala-gejala yang terdapat pada lapisan air, tanah,
ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN AGUSTUS, SEPTEMBER DAN OKTOBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA
ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN AGUSTUS, SEPTEMBER DAN OKTOBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA 1. TINJAUAN UMUM 1.1. Curah Hujan Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang jatuh
KATA PENGANTAR TANGERANG SELATAN, MARET 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG. Ir. BUDI ROESPANDI NIP
PROPINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan YME atas berkat dan rahmat Nya kami dapat menyusun laporan dan laporan Prakiraan Musim Kemarau 2016 di wilayah Propinsi Banten
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang rawan terjadi kekeringan setiap tahunnya. Bencana kekeringan semakin sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia dengan pola dan
KATA PENGANTAR. Negara, September 2015 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI NEGARA BALI. NUGA PUTRANTIJO, SP, M.Si. NIP
1 KATA PENGANTAR Publikasi Prakiraan Awal Musim Hujan 2015/2016 di Propinsi Bali merupakan salah satu bentuk pelayanan jasa klimatologi yang dihasilkan oleh Stasiun Klimatologi Negara Bali. Prakiraan Awal
KATA PENGANTAR. Pontianak, 1 April 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI SIANTAN PONTIANAK. WANDAYANTOLIS, S.Si, M.Si NIP
KATA PENGANTAR Stasiun Klimatologi Siantan Pontianak pada tahun 2016 menerbitkan dua buku Prakiraan Musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau dan Prakiraan Musim Hujan. Pada buku Prakiraan Musim Kemarau 2016
I. INFORMASI METEOROLOGI
I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan
KATA PENGANTAR. Semarang, 22 maret 2018 KEPALA STASIUN. Ir. TUBAN WIYOSO, MSi NIP STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG
KATA PENGANTAR Stasiun Klimatologi Semarang setiap tahun menerbitkan buku Prakiraan Musim Hujan dan Prakiraan Musim Kemarau daerah Propinsi Jawa Tengah. Buku Prakiraan Musim Hujan diterbitkan setiap bulan
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perairan Asia Tenggara dan sekitarnya memiliki variabilitas laut-atmosfer yang besar akibat dari fluktuasi parameter oseanografi yang berasal dari perairan Samudera Pasifik
I. INFORMASI METEOROLOGI
I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Kondisi Wilayah Kabupaten Gorontalo Kabupaten Gorontalo terletak antara 0 0 30 0 0 54 Lintang Utara dan 122 0 07 123 0 44 Bujur Timur. Pada tahun 2010 kabupaten ini terbagi
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung yang meliputi area tangkapan (catchment area) seluas 142,11 Km2 atau 14.211 Ha (Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air
KATA PENGANTAR REDAKSI. Pengarah : Wandayantolis, S. SI, M. Si. Penanggung Jawab : Subandriyo, SP. Pemimpin Redaksi : Ismaharto Adi, S.
i REDAKSI KATA PENGANTAR Pengarah : Wandayantolis, S. SI, M. Si Penanggung Jawab : Subandriyo, SP Pemimpin Redaksi : Ismaharto Adi, S. Kom Editor : Idrus, SE Staf Redaksi : 1. Fanni Aditya, S. Si 2. M.
I. INFORMASI METEOROLOGI
I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan
1. PENDAHULUAN. [8 Januari 2006] 1 ( )
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Informasi ramalan curah hujan sangat berguna bagi petani dalam mengantisipasi kemungkinan kejadian-kejadian ekstrim (kekeringan akibat El- Nino dan kebanjiran akibat
PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PADA ZONA MUSIM (ZOM) (DKI JAKARTA)
PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PADA ZONA MUSIM (ZOM) (DKI JAKARTA) Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA I. PENDAHULUAN Wilayah Indonesia berada pada posisi strategis, terletak di daerah
KATA PENGANTAR. merupakan hasil pemutakhiran rata-rata sebelumnya (periode ).
KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua jenis prakiraan musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap bulan Maret dan Prakiraan Musim Hujan
BAB I PENDAHULUAN. memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. paling terasa perubahannya akibat anomali (penyimpangan) adalah curah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris yang amat subur sehingga sebagian besar penduduknya bergerak dalam sektor agraris. Indonesia memiliki iklim tropis basah, dimana iklim
I. PENDAHULUAN Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Iklim merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan di bumi. Dimana Iklim secara langsung dapat mempengaruhi mahluk hidup baik manusia, tumbuhan dan hewan di dalamnya
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara wilayah laut dan wilayah darat, dimana daerah ini merupakan daerah interaksi antara ekosistem darat dan ekosistem laut yang
Prakiraan Musim Hujan 2015/2016 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur
http://lasiana.ntt.bmkg.go.id/publikasi/prakiraanmusim-ntt/ Prakiraan Musim Hujan 2015/2016 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun
KECENDERUNGAN HIDROMETEOROLOGI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI CITARUM
KECENDERUNGAN HIDROMETEOROLOGI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI CITARUM Oleh : Ruminta Laboratorium Klimatologi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor, Bandung 40600 Alamat
I. INFORMASI METEOROLOGI
I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan
PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2017 REDAKSI
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas perkenannya, kami dapat menyelesaikan Buku Prakiraan Musim Kemarau Tahun 2017 Provinsi Kalimantan Barat. Buku ini berisi kondisi dinamika atmosfer
BAB I PENDAHULUAN I-1
I-1 BAB I 1.1 Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) Pemali merupakan bagian dari Satuan Wilayah Sungai (SWS) Pemali-Comal yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Brebes Provinsi Jawa
BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG ANALISIS MUSIM KEMARAU 2013 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2013/2014
BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: [email protected],
PRAKIRAAN MUSIM 2017/2018
1 Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas perkenannya, kami dapat menyelesaikan Buku Prakiraan Musim Hujan Tahun Provinsi Kalimantan Barat. Buku ini berisi kondisi dinamika atmosfer
TIN206 - Pengetahuan Lingkungan Materi #10 Genap 2016/2017. TIN206 - Pengetahuan Lingkungan
Materi #10 Pengertian 2 Global warming atau pemanasan global adalah proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Suhu rata-rata global permukaan bumi telah 0,74 ± 0,18 C (1,33 ±
BAB I PENDAHULUAN. didefinisikan sebagai peristiwa meningkatnya suhu rata-rata pada lapisan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemanasan global (global warming) merupakan isu lingkungan yang hangat diperbincangkan saat ini. Secara umum pemanasan global didefinisikan sebagai peristiwa meningkatnya
BAB I PENDAHULUAN. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Karakteristik Hidrologi Di SUB DAS CIRASEA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu kawasan yang berfungsi untuk menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan sampai akhirnya bermuara
BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG
B M K G BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: [email protected],
PENGANTAR. Bogor, Maret 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI DARMAGA BOGOR
PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofísika () setiap tahun menerbitkan dua buku Prakiraan Musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap awal Maret dan Prakiraan Musim Hujan setiap awal
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak tahun 1980-an para peneliti meteorologi meyakini bahwa akan terjadi beberapa penyimpangan iklim global, baik secara spasial maupun temporal. Kenaikan temperatur
PENDAHULUAN. daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam
11 PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan, termasuk hutan tanaman, bukan hanya sekumpulan individu pohon, namun merupakan suatu komunitas (masyarakat) tumbuhan (vegetasi) yang kompleks yang terdiri dari pohon,
Propinsi Banten dan DKI Jakarta
BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: [email protected],
BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Kita tidak dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Kita tidak dapat dipisahkan dari senyawa kimia ini dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat air bagi kehidupan kita antara
BAB I PENDAHULUAN. Bab I Pendahuluan 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sejalan dengan hujan yang tidak merata sepanjang tahun menyebabkan persediaan air yang berlebihan dimusim penghujan dan kekurangan dimusim kemarau. Hal ini menimbulkan
Oleh : Irman Sonjaya, Ah.MG
Oleh : Irman Sonjaya, Ah.MG KONSEP DASAR Cuaca adalah kondisi dinamis atmosfer dalam skala ruang, waktu yang sempit. Iklim merupakan rata-rata kumpulan kondisi cuaca pada skala ruang/ tempat yang lebih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fenomena El Nino merupakan peristiwa peningkatan suhu rata-rata permukaan air laut di Pasifik Ekuator tengah yang di atas normal. Hal ini biasanya diikuti dengan penurunan
KATA PENGANTAR. Prakiraan Musim Kemarau 2016
KATA PENGANTAR Publikasi Prakiraan Musim Kemarau 2016 Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu bentuk pelayanan jasa klimatologi yang dihasilkan oleh Stasiun Geofisika Kelas 1 Yogyakarta / Pos Klimatologi
Oleh Tim Agroklimatologi PPKS
Kondisi Indian Oscillation Dipole (IOD), El Nino Southern Oscillation (ENSO), Curah Hujan di Indonesia, dan Pendugaan Kondisi Iklim 2016 (Update Desember 2015) Oleh Tim Agroklimatologi PPKS Disarikan dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Air merupakan sumberdaya alam yang diperlukan oleh makhluk hidup baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan sebagai penunjang kebutuhan dasar. Oleh karena itu, keberadaan
BAB I PENDAHULUAN. di negara ini berada hampir di seluruh daerah. Penduduk di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan negara yang terbentang luas, area pertanian di negara ini berada hampir di seluruh daerah. Penduduk di Indonesia sebagian besar berprofesi
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan kondisi hidrologi DAS sebagai dampak perluasan lahan kawasan budidaya yang tidak terkendali tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air seringkali
BAB III GAMBARAN LOKASI STUDI
BAB III GAMBARAN LOKASI STUDI 3.1. Umum Danau Cisanti atau Situ Cisanti atau Waduk Cisanti terletak di kaki Gunung Wayang, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Secara geografis Waduk
Bab III Studi Kasus. Daerah Aliran Sungai Citarum
Bab III Studi Kasus III.1 Daerah Aliran Sungai Citarum Sungai Citarum dengan panjang sungai 78,21 km, merupakan sungai terpanjang di Propinsi Jawa Barat, dan merupakan salah satu yang terpanjang di Pulau
BAB I PENDAHULUAN. terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Sungai merupakan salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tinjauan Umum Sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Sungai merupakan salah satu bagian dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Topografi Bali Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km dengan jarak sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara astronomis,
BAB I PENDAHULUAN. perencanaan dan pengelolaan sumber daya air (Haile et al., 2009).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hujan merupakan salah satu sumber ketersedian air untuk kehidupan di permukaan Bumi (Shoji dan Kitaura, 2006) dan dapat dijadikan sebagai dasar dalam penilaian, perencanaan
ANALISIS MUSIM KEMARAU 2015 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2015/2016
B M K G BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Tangerang Selatan Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: [email protected],
Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang
1 Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Erosi adalah proses terkikis dan terangkutnya tanah atau bagian bagian tanah oleh media alami yang berupa air. Tanah dan bagian bagian tanah yang terangkut dari suatu
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
31 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Gambaran Geografis Wilayah Secara astronomis, wilayah Provinsi Banten terletak pada 507 50-701 1 Lintang Selatan dan 10501 11-10607 12 Bujur Timur, dengan luas wilayah
BAB I PENDAHULUAN. 9 Tubuh Air Jumlah Sumber : Risdiyanto dkk. (2009, hlm.1)
A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Cisangkuy merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum hulu yang terletak di Kabupaten Bandung, Sub DAS ini
BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG
BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan ( 12070 ) Telp. (021) 7353018, Fax: (021) 7355262 E-mail: [email protected],
BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG
B M K G BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: [email protected],
BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem merupakan suatu interaksi antara komponen abiotik dan biotik
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang merupakan suatu interaksi antara komponen abiotik dan biotik yang saling terkait satu sama lain. di bumi ada dua yaitu ekosistem daratan dan ekosistem perairan. Kedua
BAB I PENDAHULUAN. hidrologi di suatu Daerah Aliran sungai. Menurut peraturan pemerintah No. 37
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hujan adalah jatuhnya air hujan dari atmosfer ke permukaan bumi dalam wujud cair maupun es. Hujan merupakan faktor utama dalam pengendalian daur hidrologi di suatu
dan penggunaan sumber daya alam secara tidak efisien.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan komponen penting bagi proses kehidupan di bumi karena semua organisme hidup membutuhkan air dan merupakan senyawa yang paling berlimpah di dalam sistem
PENDUGAAN PARAMETER UPTAKE ROOT MENGGUNAKAN MODEL TANGKI. Oleh : FIRDAUS NURHAYATI F
PENDUGAAN PARAMETER UPTAKE ROOT MENGGUNAKAN MODEL TANGKI Oleh : FIRDAUS NURHAYATI F14104021 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 1 PENDUGAAN PARAMETER UPTAKE ROOT MENGGUNAKAN
BAB I PENDAHULUAN. Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard km 3 : 97,5% adalah air
BAB I PENDAHULUAN I. Umum Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard km 3 : 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah dan sebagainya.
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA
30 DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA Ada dua kecenderungan umum yang diprediksikan akibat dari Perubahan Iklim, yakni (1) meningkatnya suhu yang menyebabkan tekanan panas lebih banyak dan naiknya permukaan
Fenomena El Nino dan Perlindungan Terhadap Petani
Fenomena El Nino dan Perlindungan Terhadap Petani Oleh : Made Dwi Jendra Putra, M.Si (PMG Muda Balai Besar MKG III) Abstrak Pertengahan tahun ini pemberitaan media cetak maupun elektronik dihiasi oleh
BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah populasi penduduk pada suatu daerah akan. memenuhi ketersediaan kebutuhan penduduk. Keterbatasan lahan dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningkatnya jumlah populasi penduduk pada suatu daerah akan berpengaruh pada pemanfaatan sumberdaya lahan dalam jumlah besar untuk memenuhi ketersediaan kebutuhan
Tinjauan Pustaka. II.1 Variabilitas ARLINDO di Selat Makassar
BAB II Tinjauan Pustaka II.1 Variabilitas ARLINDO di Selat Makassar Matsumoto dan Yamagata (1996) dalam penelitiannya berdasarkan Ocean Circulation General Model (OGCM) menunjukkan adanya variabilitas
DAMPAK EL NINO DAN LA NINA TERHADAP PELAYARAN DI INDONESIA M. CHAERAN. Staf Pengajar Stimart AMNI Semarang. Abstrak
DAMPAK EL NINO DAN LA NINA TERHADAP PELAYARAN DI INDONESIA M. CHAERAN Staf Pengajar Stimart AMNI Semarang Abstrak Cuaca akhir-akhir ini sulit diprediksi dan tidak menentu, sering terjadi cuaca ekstrem
PENDAHULUAN. Latar Belakang
Latar Belakang PENDAHULUAN Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan, yang menghasilkan minyak nabati paling efisien yang produknya dapat digunakan dalam
