TUGAS KELOMPOK KEBENARAN
|
|
|
- Utami Kusnadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 TUGAS KELOMPOK KEBENARAN KELOMPOK 2 FARAH NUR AFINI ( ) BINTI AISIAH DANING S ( ) JEPRI ALI SAIFUL ( ) JANUARI RIZKI PRATAMA RUSMAN ( ) DYAN PRATIWI KUSUMANINGTYAS ( ) WAIS QARNI ( ) MATA KULIAH FILSAFAT UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2 A. DEFINISI KEBENARAN DAN SEJARAH 1. Pendahuluan. Manusia pada hakekatnya lahir tanpa mengetahui apa-apa, kemudian dia tumbuh dan menghasilkan sifat ingin tahu, dari sifat ingin tahu ini manusia mencari kebenaran, yang mana sudah jelas diketahui bersama bahwa sesungguhnya tidak ada kebenaran yang mutlak. Dewasa ini kini mengenal tiga macam teori tentang kebenaran yaitu yang disebut dengan, Koherensi, Korespondensi, dan Pragmatis. Yang mana ketiga teori tersebut akan lebih dijelaskan lebih lanjut pada pembahasan selanjutnya. 2. Tokoh-tokoh dan Teorinya Tentang Kebenaran Thomas Aquinas Thomas membagi Kebenaran menjadi dua yaitu Kebenaran ontologis dan Kebenaran Logis. Kebenaran ontologis adalah kebenaran yang terdapat dalam kenyataan entah spiritual ataupun material, yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui, masi lepas dari gejala pengetahuan, misalnya tentang adanya segala sesuatu sesuai hakekatnya seperti kebenaran tentang adanya Tuhan. Sedangkan kebenaran Logis adalah kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dan kenyataan. Plato Menurut Plato kebenaran sebagai suatu karakter tersembunyi yang adanya itu tidak dapat dicapai manusia selama hidupnya didunia ini. Pengertian kebenaran ini sama dengan pendapat Thomas Aquinas sebagai kebenaran ontologis. Disini kebenaran dimengerti sebagai persesuaian antara subyek penahu dengan obyek yang diketahui. Aristoteles Bagi Aristoteles subyek yang mengetahui lebih penting daripada obyek yang diketahui, sebagaimana dalam pandangan Plato, walaupun demikian bagi Aristoteles pun pengetahuan yang paling benar dan paling luhur baru dimiliki kalau subyek penahu (idealitas) dan obyek yang diketahui (realitas) itu identic satu sama lain dalam pengetahuan, akal, budi, yang sempurna. 2
3 Kebenaran pertama-pertama berkaitan dengan kualitas pengetahuan artinya ialah bahwa setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui sesuatu obyek dilihat dari jenis pengetahuan yang dibangun. Ada tiga jenis pengetahuan perihal kebenaran, yang pertama memiliki sifat selalu benar sejauh tidak adanya penyimpangan. Kedua adalah pengetahuan ilmiah yaitu pengetahuan yang telah menetapkan obyek yang khas atau spesifik dengan menerapkan metode yang khas pula. Dalam hal ini kebenaran selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian. Ketiga adalah pengetahuan filsafati, yaitu pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi filsafati, yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan modal pemikiran yang analitis, kritis, dan spekulatif. Keempat adalah kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama. Memiliki sifat dogmatis artinya pernytaan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan yang telah ditetapkan, seperti pernyataan-pernyataan dalam kitab agama. Disni zaman boleh berkembang akan tetapi ketetapan dalam ayat tidak akan pernah berubah. B. CARA PENEMUAN KEBENARAN Kasmadi, dkk., (1990) dalam Surajiyo (2015) menguraikan beberapa cara menemukan kebenaran antara lain : 1. Penemuan Kebenaran Secara Kebetulan Penemuan kebenaran secara kebetulan merupakan penemuan yang berlangsung tanpa disengaja. Penemuan ini terjadi tanpa adanya rencana dan tidak melalui prosedur ilmiah yang sistematik dan terkendali. Dalam cara penemuan kebenaran ini, manusia bersifat pasif dan menunggu. Selain itu, penemuan kebenaran secara kebetulan selalu berada dalam keadaan yang tidak pasti. Datangnya kebenaran tidak dapat diperhitungkan secara berencana dan terarah. Oleh karena itu, penemuan kebenaran secara kebetulan termasuk dalam kategori penemuan non-ilmiah. 2. Penemuan Kebenaran Melalui 'Coba dan Ralat' (Trial and Error) Penemuan kebenaran melalui trial and error merupakan suatu penemuan yang terjadi melalui percobaan-percobaan secara berulang tanpa adanya kepastian akan berhasil atau tidak kebenaran yang dicari. Penemuan secara coba dan ralat ini pada umumnya tidak 3
4 efisien dan tidak terkontrol. Hal ini disebabkan karena dalam suatu percobaan, biasanya membutukan waktu yang relatif lama dan kebenaranpun tidak pasti akan langsung ditemukan. Melainkan melalui kegagalan pada percobaan, maka dilakukan pengulangan percobaan dengan membenahi unsur-unsur dalam percobaan yang dianggap perlu dengan harapan sebuah kebenaran akan segera ditemukan. Dengan kata lain cara trial and error bersifat tidak jelas dan terlalu meraba karena kegiatan mencoba tidak dapat direncanakan, tidak pasti, tidak terarah, dan tidak diketahui tujuannya sehingga cara trial and error bukan merupakan cara ilmiah dalam usaha untuk mengungkapkan kebenaran. 3. Penemuan Kebenaran Melalui Otoritas atau Kewibawaan Penemuan kebenaran melalui otoritas yaitu ketika menerima dan percaya pada pendapat dari orang yang memiliki kewibawaan (orang yang berkuasa, orang yang berkedudukan) meskipun pendapat itu tidak didasarkan pada pembuktian ilmiah. Artinya penemuan kebenaran melalui otoritas banyak diwarnai subjektivitas dari orang yang memiliki otoritas yang mengemukakan pendapat tersebut. Penemuan kebenaran melalui cara ini merupakan penemuan non-ilmiah. 4. Penemuan Kebenaran Secara Spekulatif Penemuan kebenaran secara spekulatif hampir sama dengan trial and error. Perbedaannya penemuan kebenaran dengan cara spekulatif sudah teratur dan terarah. Artinya, pada penemuan secara spekulatif, seseorang yang menghadapi masalah sudah menyadari masalah yang dihadapinya dan mencoba meramalkan berbagai alternatif pemecahannya. Setelah itu, orang tersebut memilih salah satu dari beberapa kemungkinan pemecahan masalah yang dihadapi tanpa meyakini bahwa pilihannya merupakan cara yang tepat. Namun ternyata salah satu alternatif yang dipilih dapat mencapai suatu hasil yang memuaskan sebagai sebuah kebenaran. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui bahwa penemuan kebenaran secara spekulatif mengandung unsur untung-untungan sehingga tidak efektif untuk dipergunakan dalam mengungkapkan kebenaran ilmiah. 5. Penemuan Kebenaran Lewat Cara Berpikir Kritis dan Rasional Penemuan kebenaran melalui cara berpikir kritis dan rasional merupakan penemuan kebenaran menggunakan kemampuan berpikir pada diri manusia. Kemampuan berpikir ini contohnya ketika seseorang menganalisis masalah yang dihadapi berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yan dimilikinya sehingga sampai pada pemecahan yang tepat. 4
5 6. Penemuan Kebenaran Melalui Penelitian Ilmiah Penemuan kebenaran melalui penelitian ilmiah ialah cara mencari kebenaran yang dipandang ilmiah melalui metode penelitian. Ciri-ciri umum yang melekat dalam penelitian ilmiah yaitu pelaksanaannya yang metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang logis dan koheren. Artinya, dituntut adanya sistem dalam metode maupun hasilnya (susunannya logis). Ciri lainnya adalah universalitas (objektif, dengan prosedur yang terbuka, dan dapat dikomunikasikan). C. JENIS-JENIS KEBENARAN Menurut A.M.W. Pranaka dalam Surajiyo (2015: 102), ada tiga jenis kebenaran yaitu: kebenaran epistemological, ontologikal dan semantikal 1. Kebenaran epistemologikal yaitu kebenaran dalam hubungannya dengan pengatahuan manusia. Disebut juga kebenaran logis/ veritas logis. Kapan sebuah pengetahuna disebut benar? Jawabannya, bila apa yang terdapat dalam pikiran subjek sesuai dengan apa yang ada dalam objek. Misalnya dua ditambah dua sama dengan empat. Ini logis. Subjek menyatakan benar dan objeknya juga benar. 2. Kebenaran ontologikal yaitu kebenaran sebagai sifat dasar atau kodrat yang melekat kepada segala sesuatu yang ada ataupun diadakan. Kadang disebut juga kebenaran sebagai sifat dasar yang ada di dalam objek pengetahuan itu sendiri. Misalnya kita mengatakan batu adlah benda padat dank eras. Ini sebuah kebenaran ontologism, sebab batu pada hakikatnya merupakan benda padat yang sangat keras. Kebenaran ontologism dibagi menjadi tiga yaitu: 2. 1 Kebenaran ontologis esensialis: menyangkut sifat dasar atau kodrat sesuatu. Misalnya air bersifat cair, air mengalir dari tempat tinggi ke rendah. 2.2 Kebenaran ontologis naturalis: menyangkut kodrat seperti yang diciptakan Tuhan. Misalnya, manusia tercipta laki-laki dan perempuan. Manusia tidak dapat menolak kenyataan kebenaran kodrat itu. Contoh lain, manusia tidak bisa memilih lahir dari keluarga mana dan keturunan siapa. Jika memang sudah terlahir, maka itulah kebenarannya. 2.3 Kebenaran ontologis artifisial: menyangkut kodrat yang diciptakan oleh manusia. Misalnya jika manusia sungguh-sungguh belajar maka ia akan pintar, jika manusia sungguhsungguh bekerja keras mencari nafkah maka ia akan kaya. 3. Kebenaran semantikal adalah kebenaran yang terdapat dan melekat dalam tutur kata manusia. Berkaitan dengan pemakaian bahasa. Bahasa merupakan ungkapan dari kebenaran. Ini tergantung pada manusia yang mempunyai kemerdekaan untuk bertutur kata/ berbahasa. Terlepas dari 5
6 kebenaran epistemologikal dan ontologikal. Intinya seseorang mengemukakan suatu pengetahuan yang dianggap benar apabila mempunyai pangkal acu/ referensi yang jelas. D. SIFAT KEBENARAN Menurut Abbas Hamami Mintaredja (1983) kata kebenaran dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak. Jika subyek menyatakan kebenaran bahwa makna yang dikandung dalam pernyataan atau statement yang diuji itu pasti memiliki kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan dan nilai. Dengan adanya berbagai kategori tersebut, tidaklah berlebihan jika pada saatnya setiap subyek yang memiliki pengetahuan akan memiliki presepsi dan pengertian yang amat berbeda satu dengan yang dengan yang lainya, dan di situ terlihat sifat-sifat dari kebenaranya. Berbagai kebenaran dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak, Filsafat UGM Yogyakarta (1996) dibedakan menjadi tiga hal, yakni sebagai berikut. 1. Kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya, setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui sesuatu objek ditilik dari jenis pengetahuan yang dibangun. Maksudnya apakah pengetahuan itu berupa: a. Pengethuan biasa atau biasa disebut knowledge of the man in the street atau ordinary knowledge atau common sense knowledge. Pengetahuan seperti ini memiliki kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya amat terikat pada subjek yang mengenal. Pengetahuan seperti ini memiliki sifat selalu benar, sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan bersifat normal atau tidak ada penyimpangan. b. Pengetahuan ilmiah, pengetahuan yang telah menetapkan objek yang khas atau spesifik dengan menerapkan atau hampiran metedologis yang telah mendapatkan kesepakatan di antara ahli yang sejenis. Kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan ilmiah bersifat relatif, yakni kandungan kebenaran dari jenis pengetahuan selalu mendapat revisi yaitu selalu dpercaya dalam pengetahuan yang paling mutakhir. c. Pengetahuan filsafat, yaitu jenis pengetahuan yang pendekatanya melalui metedologi pemikiran filsafati, yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan filsafati adalah absolut-intersubjektif. Kebenaran 6
7 yang terkandung merupakan pendapat melekat pada pandangan filsafat dari seorang pemikir filsafat itu serta selalu mendapat pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan metedologi pemikiran yang sama pula. d. Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis, artinya pernyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan yang telah tertentu sehingga pernyataan dalam pernyataan dalam ayat kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang ddigunakan untuk memahaminya. 2. Kebenaran dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya. Apakah ia membangunnya dengan pengindraan atau sense experience, atau dengan akal pikir atau rasio, institusi, atau keyakinan. Implikasi dari pengetahaun tersebut dapat membuktikan dengan cara tertentu seperti halnya jika seseorang membangunnya melalui indra atau sense experience, pada saat membuktikan kebenaran pengetahuan harus melalui indra pula, begitu pula dengan cara yag lain. 3. Kebenaran yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengtahuan. Artinya, bagaimana relasi atau hubungan antara subjek dan objek, manakah yang dominan untuk membangun pengetahuan, subjekkah atau objek. Jika subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya subyektif, artinya nilai kebenaran dari pengetahuan yang digantungnya tergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau jika objek amat berperan maka sifatnya objekif, sperti pengetahuan tentang alam atau ilmu-ilmu. E. TEORI-TEORI KEBENARAN Perbincangan mengenai kebenaran dalam perkembangan pemikiran filsafat sudah dimulai sejak zaman Plato yang kemudian dilanjutkan pada zaman Aristoteles sampai saat ini (Surajiyo, 2010:104). Secara tradisional teori teori kebenaran dibagi menjadi 7 bagian oleh Surajio (Surajiyo, 2010:105)antara lain: 1. Teori Kebenaran Saling Berhubungan (Coherence Theory of Truth) Teori koherensi dibagun oleh para pemikir rasionalis seperti Leibeniz, Spinoza, Hegel, dan Bradley. Konsep dasar dalam teori koherensi ini menurut Suradjio adalah suatu proposisi itu benar bila mempunyai hubungan ide-ide proposisi yang telah ada tau benar. Kemudian konsep dasar ini diperjelas oleh Suriasumantri (2009:55) bahwa suatu 7
8 pernyataan diangap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Sehingga pembuktian teori kebenaran koherensi dapat melalui fakta sejarah atau logika apabila merupakan pernyataan yang bersifat logis. Sebagai contoh kita mempunyai pengetahuan bahwa runtuhnya kerajaan Majapahit adalah tahun Dalam hal ini kita tidak dapat membuktikan secara langsung dari isi pengetahuan itu, melainkan hanya dapat membuktikan melalui hubungan dengan proporsi yang terhdahulu, baik dalam bukubuku sejarah atau peninggalan sejarah yang mengungkapkan kejadian itu. Kebenaran konstensi 2. Teori Kebenaran Saling Berkesesuaian (Corespondance Theory of Truth) Teori kebenaran korespondensi merupakan teori kebenaran yang paling awal dan paling tua (Surajiyo,2010:105). Konsep dasar teori kebenaran koherensi ini menurut Suriasumantri adalah suatu pernyataan diangaap benar jika materi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut (2009:57). Atau dalam hal ini menurut proposisi dinilai benar apabila proposisi tersebut berkesesuaian dengan dunia kenyataan (Surajiyo, 2010 :105). Sehingga pembuktian teori kebenaran korespondensi ini berdasarkan bukti empiris atau dapat dibuktikan dalam dunia kenyataan yang dapat melalui serangkaian percobaan. Sebagai contoh pengetahuan air akan menguap jika dipanasi sampai dengan 100 derajat. Pengetahuan ini kemudian diuji kebenaranya dengan mencoba memanasi air dan diukur sampai suhu 100 derajat selsius. Pengetahuan tersebut dianggap benar jika ternyata hasil percobaan tersebut membuktikan bahwa air menguap jika dipanasi dengan suhu 100 derajat selsisus dan dinyatakan salah jika hasil pembuktiannya tidak menyatakan demikian. 3. Teori Kebenaran Inherensi (Inherent Theory of Truth) Teori kebenaran inherensi atau disebut juga dengan teori kebenaran pragmatis pertama kali dicetuskan oleh Charles S. Pierce ( ). Teori ini kemudian dikembangkan oleh para ahli filsafat seperti William James, John Dewey, Goerge Herbert Mead, dan C.I. Lewis (Suriasumantri, 2009:57) Konsep dasar teori inherensi atau pragmatis ini adalah suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau 8
9 konsekuensi pernyataan itu mempunyai keguanaan praktis dalam kehidupan manusia. Sebagai contoh ada seseorang mengembangkan teori X dalam pendidikan yang menyatakan bahwa dengan teori X akan meningkatkankan kemampuan belajar, kemudian orang tersebut menggunakan teknik Y untuk membuktikan dan menghasilkan temuan bahwa teori X dapat meningkatkan kemampuan belajar (Suriasumantri, 2009:59). Dengan demikian, teori X itu dianggap benar, sebab teori X adalah memiliki fungsi atau kegunaan atau fungsi yakni meningkatkan kemampuan belajar yang dalam konteks prakmatis mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. 4. Teori Kebenaran Berdasarkan Arti (Semantic Theory of Truth) Teori kebenaran berdasarkan arti memiliki konsep dasar yaitu proposisi itu dianggap benar jika proposisi tersebut memiliki referen yang jelas. Dalam hal ini, proposisi tersebut ditinjau dari segi arti atau maknanya. Sehingga teori kebenaan beradasakan arti dianut oleh paham filsafat analitika bahasa (Suriasumantro, 2009:59). Sebagai contoh adalah ketika kita menyatakan sesuatu hal disebut dengan kursi maka kita memiliki referen yang jelas yaitu sebuah benda yang memiliki empat kaki yang kemudian panjang kakinya sama panjang tedapat alas diatas yang digunakan seseorang untuk duduk. Sehingga pengetahuan ini adalah kebenaran karena memiliki ada referensi yang jelas. 5. teori kebenaran sintaksis kebenaran Para penganut teori kebenaran sintaksis, berpangkal tolak pada keteraturan sintaksis atau gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekat padanya. Dengan demikian suatu pernyataan memiliki nilai benar apabila pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku. Atau dengan kata lain apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang disyaratkan maka proposisi tidak mempunyai arti. Teori ini berkembang diantara filsuf analisis bahasa, terutama yang begitu ketat terhadap pemakaian gramatika. Misalnya suatu kalimat standar harus ada subjek dan predikat. Jika kalimat tidak ada subjek maka kalimat itu dinyatakan tidak baku atau bukan kalimat. Seperti semua korupsi, ini bukan kalimat standar karena tidak ada subjeknya. 6. teori kebenaran nondeskripsi 9
10 Teori kebenaran nondeskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme. karena pada dasarnya suatu statemen atau pernyataan akan mempunyai nilai benar yang amat tergantung pada peran dan fungsi dari pernyataan itu. Jadi, pengetahuan akan memiliki nilai benar sejauh pernyataan itu. Jadi, pengetahuan akan memiliki nilai benar sejauh pernyataan itu memiliki funngsi yang amat praktis dalam kehidupan sehari-hari. 7. teori kebenaran logic yang berlebihan ( Logical Superfluity of Truth) Teori ini dikembangkan oleh kaum positivistic yang diawali oleh Ayer. Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini, problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan hal ini mengakibatkan suatu pemborosan, karena pada dasarnya apa yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logis yang sama yang masingmasing saling melingkupinya. Dengan demikian, sesungguhnya setiap proposisi mempunyai isi yang sama dan semua orang sepakat, maka apabila kita membuktikannya lagi hal yang demikian itu hanya merupakan bentuk logis yang berlebihan. F. REFERENSI Surajiyo Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia: Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara Suriasumantri, Jujun S Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan Website:
Manusia senantiasa penasaran terhadap cita-cita hidup itu. Manusia merupakan makhluk yang berakal budi yang selalu ingin mengejar kebenaran.
Manusia senantiasa penasaran terhadap cita-cita hidup itu. Manusia merupakan makhluk yang berakal budi yang selalu ingin mengejar kebenaran. Manusia selalu bertanya karena terdorong oleh rasa ingin tahu
Pengetahuan dan Kebenaran
MODUL PERKULIAHAN Pengetahuan Kebenaran Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 08 M-603 Shely Cathrin, M.Phil Abstract Kompetensi Kebenaran pengetahuan Memahami pengetahuan
JENIS PENGETAHUAN DAN UKURAN KEBENARAN
JENIS PENGETAHUAN DAN UKURAN KEBENARAN Pengetahuan memiliki hubungan erat dengan filsafat. Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang
FILSAFAT ILMU OLEH SYIHABUDDIN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
FILSAFAT ILMU OLEH SYIHABUDDIN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA FILSAFAT ILMU Filsafat: upaya sungguh-sungguh dlm menyingkapkan segala sesuatu, sehingga pelakunya menemukan inti dari
SIKAP ILMIAH 3/27/2014 Metil/dn 1
SIKAP ILMIAH 3/27/2014 Metil/dn 1 Setiap orang pada saat dan tempat tertentu akan berada dalam suatu situasi. Jika orang tersebut merasa sebagai bagian dari situasi itu, maka orang itu disebut mengalaminya.
I. DASAR-DASAR PENGETAHUAN
I. DASAR-DASAR PENGETAHUAN JENIS MANUSIA BERDASARPENGETAHUAN ADA ORANG TAHU DI TAHUNYA ADA ORANG TAHU DI TIDAKTAHUNYA ADA ORANG TIDAK TAHU DI TAHUNYA ADA ORANG TIDAK TAHU DI TIDAKTAHUNYA PENGETAHUAN DIMULAI
Ilmu Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran
Ilmu Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.
LANDASAN ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN. Oleh Agus Hasbi Noor
LANDASAN ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN Oleh Agus Hasbi Noor Ilmu dan Proses Berpikir Ilmu atau sains adalah pengetahuan tentang fakta-fakta, baik natura atau sosial yang berlaku umum dan sistematik.
Sebuah sarana atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan ke dalam Bahasa yang bisa dimengerti manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan
Subjudul Sebuah sarana atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan ke dalam Bahasa yang bisa dimengerti manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu. Sesuatu yang didapat
ILMU DAN ILMU PENGETAHUAN
ILMU DAN ILMU PENGETAHUAN ILLIA SELDON MAGFIROH KULIAH VIII METODE ILMIAH PROGRAM STUDI AGRIBISNIS, UNIVERSITAS JEMBER 2017 KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN : Mahasiswa dapat menjelaskan : 1. Ciri-ciri ilmu
PENGETAHUAN DAN UKURAN KEBENARAN
PENGETAHUAN DAN UKURAN KEBENARAN Pengetahuan berusaha memahami benda sebagaimana adanya, lalu akan timbul pertanyaan, bagaimana seseorang akan mengetahui kalau dirinya telah mencapai pengetahuan tentang
Pertemuan 1. Dasar Dasar Penelitian (Research)
Pertemuan 1 Dasar Dasar Penelitian (Research) Pengertian Penelitian (risearch) Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris yaitu research, re berarti kembali dan to search berarti menemukan. Jadi
KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT
KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT Prof. Dr. Almasdi Syahza,, SE., MP Peneliti Senior Universitas Riau Email : [email protected] [email protected] Website : http://almasdi.staff.unri.ac.id Pengertian
Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA.
M.MA., MA. M.MA., MA. 09/01/2016 1 Manusia mencari kebenaran dengan menggunakan akal sehat (common sense) dan dengan ilmu pengetahuan. Ada empat hal pokok yang membedakan antara ilmu dan akal sehat. 1)
Filsafat Umum. Pengantar ke Alam Filsafat 2. Arie Suciyana S., S.Si., M.Si. Modul ke: Fakultas Psikologi. Program Studi Psikologi
Filsafat Umum Modul ke: 02 Pengantar ke Alam Filsafat 2 Fakultas Psikologi Program Studi Psikologi Arie Suciyana S., S.Si., M.Si. Obyek Kajian Filsafat Obyek Materi: segala sesuatu yang ada atau yang mungkin
ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
Modul ke: ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI Kebenaran dalam Etika dan Filsafat Komunikasi Fakultas ILMU KOMUNIKASI SOFIA AUNUL, MSI Program Studi BROADCASTING www.mercubuana.ac.id Kebenaran dalam Etika dan
METODE RISET (TMK602)
METODE RISET (TMK602) MATERI MINGGU I ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN 1 MANUSIA MENCARI KEBENARAN Aspek Statis Pertanyaan Gejala Alam Ingin Tahu Penelitian Kebenaran Ilmiah Aspek Dinamis Jawaban 2 DASAR-DASAR
Bapak Dr. Rulam Ahmadi, M.Pd
DASAR-DASAR PENGETAHUAN MAKALAH Untuk Memenuhi Tugas Akhir Matakuliah Filsafat Ilmu Yang dibina oleh: Bapak Dr. Rulam Ahmadi, M.Pd Oleh: 1. SEPTIAN RAGIL A. NPM. 2131040055 2. NOVI NUR LAILISNA NPM. 2131040060
A. LOGIKA DALAM FILSAFAT ILMU
KELOMPOK 8 A. LOGIKA DALAM FILSAFAT ILMU Logika berasal dari kata yunani logos yang berarti ucapan, kata, akal budi, dan ilmu. Logika sebagai ilmu merupakan elemen dasar setiap ilmu pengetahuan. Logika
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK: FILSAFAT, TEORI DAN METODOLOGI
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK: FILSAFAT, TEORI DAN METODOLOGI Oleh NIM : Boni Andika : 10/296364/SP/23830 Tulisan ini berbentuk critical review dari Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Filsafat, Teori dan Metodologi
Peranan Filsafat Bahasa Dalam Pengembangan Ilmu Bahasa
Peranan Filsafat Bahasa Dalam Pengembangan Ilmu Bahasa Salliyanti Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN Tulisan ini membicarakan peranan
Teori-teori Kebenaran Ilmu Pengetahuan. # Sesi 9, Kamis 16 April 2015 #1
Teori-teori Kebenaran Ilmu Pengetahuan # Sesi 9, Kamis 16 April 2015 #1 Teori-teori kebenaran yang telah dikemukakan para filosuf: 1. Teori idealisme 2. Teori rasionalisme 3. Teori rasio murni (reinen
BAB I. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Estetika sebagai..., Wahyu Akomadin, FIB UI,2009
BAB I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar belakang Berangkat dari sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa Estetika sebagai logika, mengantarkan saya untuk mencoba mendalami dan menelusuri tentang keduanya, serta
Minggu ke. Media Tugas Referensi
TIU : Agar mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan tentang prinsip ilmu dan logika, serta perbedaan antara ilmu,, benaran, definisi serta penalaran Minggu Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan dan Sasaran Belajar
Jenis Pengetahuan dan. Ukuran Kebenaran
Jenis Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran Afid Burhanuddin Kompetensi dasar: Mahasiswa dapat memahami jenis pengetahuan dan ukuran kebenaran Indikator: Mahasiswa dapat memahami pengetahuan Indera Mahasiswa
FILSAFAT KETUHANAN (Sebuah Pengantar) Kompetensi Kuliah : Memahami Tuhan Yang Maha Esa dan Ketuhanan (Filsafat Ketuhanan)
FILSAFAT KETUHANAN (Sebuah Pengantar) Kompetensi Kuliah : Memahami Tuhan Yang Maha Esa dan Ketuhanan (Filsafat Ketuhanan) INTRODUCTION Nama : Ismuyadi, S.E., M.Pd.I TTL : Kananga Sila Bima, 01 Februari
MAKALAH RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU
MAKALAH RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU Dosen Pembimbing: Dr. Hasaruddin Hafid, M.Ed Oleh: A. Syarif Hidayatullah PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN SENI RUPA
FILSAFAT PENGANTAR TERMINOLOGI
FILSAFAT PENGANTAR Kata-kata filsafat, filosofi, filosofis, filsuf, falsafi bertebaran di sekeliling kita. Apakah pemakaiannya dalam kalimat-kalimat sudah tepat atau sesuai dengan arti yang dimilikinya,
Sek Se i k las tentang te filsafat Hendri Koeswara
Sekilas tentang filsafat Hendri Koeswara Pengertian ilmu filsafat 1. Etimologi Falsafah (arab),philosophy (inggris), berasal dari bahasa yunani philo-sophia, philein:cinta(love) dan sophia: kebijaksanaan(wisdom)
FILSAFAT ILMU DAN PENDAHULUAN. Dr. H. SyahrialSyarbaini, MA. Modul ke: 01Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi
FILSAFAT ILMU DAN LOGIKA Modul ke: 01Fakultas PSIKOLOGI PENDAHULUAN Dr. H. SyahrialSyarbaini, MA. Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pengertian Filsafat Secara Etimologis : kata filsafat berasal
Suatu Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu
CATATAN: Suatu Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu Makalah ini saya peroleh dari http://bisikanpena.wordpress.com/2010/10/08/suatu-pengantar-untukmemahami-filsafat-ilmu/. Isinya cukup baik untuk memberikan
MEMBANGUN ILMU PENGETAHUAN DENGAN KECERDASAN EMOSI DAN SPIRITUAL
MEMBANGUN ILMU PENGETAHUAN DENGAN KECERDASAN EMOSI DAN SPIRITUAL Oleh : Dr. Sri Trisnaningsih, SE, M.Si (Kaprogdi Akuntansi - FE) Pendahuluan Ilmu pengetahuan merupakan karya budi yang logis serta imajinatif,
METODE PENELITIAN. Oleh Satria Novari, M.Kom
METODE PENELITIAN Oleh Satria Novari, M.Kom I. Pendahuluan tentang Penelitian 1. Pengertian metodologi Penelitian 2. Sejarah Penelitian 3. Pendekatan ilmiah dan non ilmiah 4. Fungsi-fungsi Penelitian 5.
KONSEP PENELITIAN ILMIAH. Imam Gunawan
KONSEP PENELITIAN ILMIAH Imam Gunawan FOKUS KAJIAN 1. Makna kebenaran ilmiah. 2. Berbagai pendekatan untuk memperoleh kebenaran ilmiah. 3. Konsep dasar penelitian. 4. Kriteria penelitian yang baik 5. Fungsi
Dodiet Aditya S, SKM. BAB I: KONSEP DASAR PENELITIAN ILMIAH. Pendahuluan
HAKEKAT KEBENARAN, ILMU DAN PENGETAHUAN Pendahuluan Mencari hakekat kebenaran mungkin sering kita ucapkan, tapi susah dilaksanakan. Yang pasti bahwa benar itu pasti tidak salah. Pertanyaanpertanyaan kritis
Oleh : Lia Aulia Fachrial, M.Si
Oleh : Lia Aulia Fachrial, M.Si Konsep (pengertian) ilmu pengetahuan Memahami dan menjelaskan konsep (pengertian) ilmu pengetahuan secara umum Hubungan sosiologi dengan ilmu-ilmu sosial lainnya Memahami
Filsafat Ilmu dan Logika
Filsafat Ilmu dan Logika Modul ke: METODE-METODE FILSAFAT Fakultas Psikologi Masyhar Zainuddin, MA Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pengantar metode filsafat bukanlah metode ketergantungan
B A B I Pendahuluan AGAMA.
B A B I Pendahuluan A. PERBANDINGAN ANTARA ILMU PENGETAHUAN, FILSAPAT DAN AGAMA. 1.Institusi Kebenaran menurut Ilmu Pengetahuan, Filsafat dan Agama. Manusia adalah mekhluk yang memiliki akal budi dan senantiasa
ANALITIK (1) Analitik:
ANALITIK (1) Analitik: Bahasa dalah alat yang paling penting dari seorang filosof serta perantara untuk menemukan ekspresi. Perhatian ini telah menyebabkan perkembangan semantik atau penyelidikan tentang
Kebenaran dan Cara Memperoleh Kebenaran
Kebenaran dan Cara Memperoleh Kebenaran Afid Burhanuddin, M.Pd. STKIP PGRI Pacitan Manusia selalu mencari kebenaran Afid Burhanuddin STKIP Pacitan 1 Pak Guru pembohong. Kemarin 7 itu 3 + 4, tapi kok sekarang
PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA
P a g e 1 PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA 1. Pendahuluan a. Definisi logika Logika berasal dari bahasa Yunani logos. Logika adalah: ilmu untuk berpikir dan menalar dengan benar ilmu pengetahuan yang mempelajari
BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Filsafat dan Filsafat Ketuhanan
BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Filsafat dan Filsafat Ketuhanan Filsafat merupakan disiplin ilmu yang terkait dengan masalah kebijaksanaan. Hal yang ideal bagi hidup manusia adalah ketika manusia berpikir
Dosen: Pipin Hanapiah, Drs. Caroline Paskarina, S.IP., M.Si. Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Padjadjaran
Agama, Filsafat, Ilmu, Teori, dan Penelitian Kuliah 2 Metodologi Ilmu Pemerintahan Dosen: Prof. Dr. H. Utang Suwaryo, Drs., M.A. Pipin Hanapiah, Drs. Caroline Paskarina, S.IP., M.Si. Jurusan Ilmu Pemerintahan
Filsafat Umum. Kontrak Perkuliahan Pengantar ke Alam Filsafat 1. Arie Suciyana S., S.Si., M.Si. Modul ke: Fakultas Psikologi. Program Studi Psikologi
Filsafat Umum Modul ke: 01 Fakultas Psikologi Kontrak Perkuliahan Pengantar ke Alam Filsafat 1 Program Studi Psikologi Arie Suciyana S., S.Si., M.Si. RAPEM FILSAFAT UMUM Judul Mata Kuliah : Filsafat Umum
SOSIOLOGI POLITIK. oleh : Yesi Marince, M.Si. 4 October 2012 yesimarince-materi-01 1
SOSIOLOGI POLITIK oleh : Yesi Marince, M.Si 4 October 2012 yesimarince-materi-01 1 PROSES TERBENTUKNYA PEMIKIRAN SOSIOLOGI Auguste Comte, ahli filsafat bangsa Perancis adalah bapak sosiologi dunia. Sosiologi
BAB IV. PENUTUP. Universitas Indonesia. Estetika sebagai..., Wahyu Akomadin, FIB UI,
BAB IV. PENUTUP 4. 1. Kesimpulan Pada bab-bab terdahulu, kita ketahui bahwa dalam konteks pencerahan, di dalamnya berbicara tentang estetika dan logika, merupakan sesuatu yang saling berhubungan, estetika
Mata Kuliah ini menjadi landasan memahami dan materi ilmu pengetahuan, terutama yang terkait dengan dengan disiplin ilmu tertentu yang dipelajari
1 Mata Kuliah ini menjadi landasan memahami dan materi ilmu pengetahuan, terutama yang terkait dengan dengan disiplin ilmu tertentu yang dipelajari (i.e. keperawatan, kedokteran, biologi, antropologi,
Ilmu pengetahuan. himpunan pengetahuan yang diperoleh secara terorganisisr melalui prosedur dan metode tertentu yang kemudian disistema-tisasi
Ilmu pengetahuan himpunan pengetahuan yang diperoleh secara terorganisisr melalui prosedur dan metode tertentu yang kemudian disistema-tisasi Struktur Ilmu Pengetahuan dimulai dengan konsep awal berupa
PERANAN FILSAFAT BAHASA DALAM PENGEMBANGAN ILMU BAHASA
PERANAN FILSAFAT BAHASA DALAM PENGEMBANGAN ILMU BAHASA 0 L E H Dra. SALLIYANTI, M.Hum UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2004 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR....i DAFTAR ISI...ii BAB I. PENDAHULUAN...1
BAB I PENGANTAR KHAZANAH ANALISIS WACANA. Deskripsi Singkat Perkuliahan ini membelajarkan mahasiwa tentang menerapkan kajian analisis wacana.
BAB I PENGANTAR KHAZANAH ANALISIS WACANA Deskripsi Singkat Perkuliahan ini membelajarkan mahasiwa tentang menerapkan kajian analisis wacana. Relevansi Dalam perkuliahan ini mahasiswa diharapkan sudah punya
IMPLEMENTASI FILSAFAT ILMU DALAM PENDEKATAN ILMIAH
IMPLEMENTASI FILSAFAT ILMU DALAM PENDEKATAN ILMIAH SUMBANGAN FILSAFAT TERHADAP PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN Filsafat mampu menunjukkan batas-batas: Ontologi Epistemologi aksiologi Melahirkan ilmuwan yg
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA UJIAN AKHIR SEMESTER Mata Kuliah Dosen Hari / Tanggal Waktu Tempat : Pengantar Filsafat dan Teori Administrasi
Dr. Sri Anggraeni, MSi
Dr. Sri Anggraeni, MSi Pengertianilmu Ilmu berasal dari bahasa Arab : alima, ya lamu, ilman yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Science (I) : ways to knows Scientia(L) : pengetahuan Episteme (Y)
ILMU DAN MATEMATIKA. Ilmu berasal dari bahasa Arab alima, bahasa Inggris science, bahasa latin scio dan di Indonesiakan menjadi sains.
ILMU DAN MATEMATIKA ILMU Ilmu berasal dari bahasa Arab alima, bahasa Inggris science, bahasa latin scio dan di Indonesiakan menjadi sains. John Warfield; Ilmu dipandang sebagai suatu proses. Pandangan
KONSEP-KONSEP DASAR PENELITIAN
KONSEP-KONSEP DASAR PENELITIAN A. Upaya-upaya Manusia Untuk Memperoleh Kebenaran Kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya, setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui
PRAGMATISME (1) Pragmatisme:
Pragmatisme: PRAGMATISME (1) Pragmatisme merupakan gerakan filsfat Amerika yang mencerminkan sifat-sifat kehidupan Amerika. Pragmatisme banyak hubungannya dengan nama seperti Charles S. Peirce (1839-1934),
BAB I PENDAHULUAN. terjadi di dunia memungkinkan manusia untuk terarah pada kebenaran. Usahausaha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kebenaran selalu aktual di zaman yang dipengaruhi perkembangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Berbagai perkembangan yang terjadi di dunia memungkinkan manusia
PENGERTIAN FILSAFAT (1)
PENGERTIAN FILSAFAT (1) Jujun S. Suriasumantri, orang yang sedang tengadah memandang bintang-bintang di langit, dia ingin mengetahui hakekat dirinya dalam kesemestaan galaksi; atau orang yang berdiri di
EPISTEMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
EPISTEMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR Slamet Heri Winarno JARUM SEJARAH PENGETAHUAN Kriteria kesamaan dan bukan perbedaan yang menjadi konsep dasar Berlaku metode ngelmu yang tidak membedakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. masalah penelitian hanya dapat dijawab berdasarkan temuan-temuan data empiris dari
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian adalah sebuah cara untuk menemukan jawaban dari rumusan masalah dengan menggunakan prosedur yang sistematis dan ilmiah. Rumusan masalah penelitian hanya dapat dijawab
Bentuk dasar pengetahuan ada dua: 1. Bentuk pengetahuan mengetahui demi mengetahui saja, dan untuk menikmati pengetahuan itu demi memuaskan hati
Bentuk Dasar Pengetahuan Bentuk dasar pengetahuan ada dua: 1. Bentuk pengetahuan mengetahui demi mengetahui saja, dan untuk menikmati pengetahuan itu demi memuaskan hati manusia 2. Bentuk pengetahuan untuk
KONSEP DASAR DAN HAKIKAT PENELITIAN
KONSEP DASAR DAN HAKIKAT PENELITIAN Konsep merupakan suatu gagasan atau ide yang relatif sempurna dan bermakna, suatu pengertian tentang suatu objek, produk subjektif yang berasal dari cara seseorang membuat
BAB I. PENGERTIAN FILSAFAT (Bahan Pertemuan Ke-2)
BAB I PENGERTIAN FILSAFAT (Bahan Pertemuan Ke-2) Apakah Filsafat itu? Seorang yang berfilsafat digambarkan oleh Jujun S. Suriasumantri seperti orang yang berpijak di bumi sedang tengadah memandang bintang-bintang
METODE RISET (Research Method)
METODE RISET (Research Method) PENELITIAN Suatu penyelidikan yang sistematis dan terorganisir untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan tertentu dan masalah tertentu yang memerlukan jawaban. Tujuan melakukan
JENIS PENGETAHUAN DAN UKURAN KEBENARAN
JENIS PENGETAHUAN DAN UKURAN KEBENARAN Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dengan pengetahuan mengalami perkembangan yang kuat. Pada awal sejarah Yunani, philosophia yang meliputi hampir
METODOLOGI PENELITIAN Pertemuan 3 JENIS DAN METODE PENELITIAN
METODOLOGI PENELITIAN Pertemuan 3 JENIS DAN METODE PENELITIAN RASIONAL Dilakukan dg dg cara yg yg masuk akal shg Terjangkau terjangkau penalaran manusia CARA ILMIAH KEGIATAN PENELITIAN DIDASARKAN CIRI-CIRI
Pancasila sebagai Sistem Filsafat
PENDIDIKAN PANCASILA Modul ke: 07 Pancasila sebagai Sistem Filsafat Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil www.mercubuana.ac.id Ramdhan Muhaimin, M.Soc.Sc Pendahuluan Pancasila merupakan filsafat bangsa
ILMU, METODE ILMIAH DAN PENELITIAN ILMIAH KULIAH MATERI
PERTEMUAN 1 DOSEN VED,SE.,MSI.,AK.,CA MATERI ILMU, METODE ILMIAH DAN PENELITIAN ILMIAH KULIAH MATERI ILMU, METODE ILMIAH DAN PENELITIAN ILMIAH 1.1 Pengertian dan Komponen Ilmu 1.2 Metode Ilmiah 1.3 Penelitian
1. Seseorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika, dan agama serta menghayatinya;
IDEALISME Arti kata IDEALIS secara umum: 1. Seseorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika, dan agama serta menghayatinya; 2. Seseorang yang dapat melukiskan dan menganjurkan suatu rencana
Hendri Koeswara. Pertemuan 5
ONTOLOGI DALAM ADMINISTRASI Hendri Koeswara Pertemuan 5 KONSEP ONTOLOGI ADMINISTRASI Ontos=ada, Logos=ilmu, ilmu yang mempelajari tentang ada Ontologi membahas dengan menggunakan pemikiran secara mendalam
Membangun Kritisisme Generasi Indonesia 1
Membangun Kritisisme Generasi Indonesia 1 Sebuah Telaah Singkat tentang Filsafat Kritisisme Pendahuluan: Manusia dan Hakekat Kritisisme ÉÄx{M Joeni Arianto Kurniawan 2 Perubahan adalah keniscayaan, itulah
ILMU DAN FILSAFAT SOSIAL
FILSAFAT ILMU DAN LOGIKA Modul ke: 10Fakultas Dr. PSIKOLOGI ILMU DAN FILSAFAT SOSIAL H. SyahrialSyarbaini, MA. Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id . Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Ilmu Beberapa
ETIKA & FILSAFAT KOMUNIKASI
ETIKA & FILSAFAT KOMUNIKASI Modul ke: Pokok Bahasan : PENGANTAR BIDANG FILSAFAT Fakultas Fakultas Ilmu Komunikasi Yogi Prima Muda, S.Pd, M.Ikom Program Studi (Marcomm) www.mercubuana.ac.id MENGAPA HARUS
JENIS PENGETAHUAN DAN UKURAN KEBENARAN
JENIS PENGETAHUAN DAN UKURAN KEBENARAN Di masa perkembangannya, ilmu telah mengalami banyak kemajauan. Kini telah banyak ditemukan berbagai macam bentuk pengetahuan maupun jenis penerapan ilmu yang ada.
BAGAIMANA MENENTUKAN BENAR TIDAKNYA SUATU PERNYATAAN?
BAGAIMANA MENENTUKAN BENAR TIDAKNYA SUATU PERNYATAAN? Fadjar Shadiq Dimulai sejak kecil, setiap manusia, sedikit demi sedikit akan melengkapi perbendaharaan kata-katanya. Di saat berkomunikasi, seseorang
BAHAN AJAR : Metode Penelitian Sosial Ekonomi
Mata Kuliah Semester PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR : Metode Penelitian Sosial Ekonomi : VI Pertemuan Ke : 1 Pokok Bahasan Dosen : Konsep-konsep Dasar Penelitian
MAKALAH FILSAFAT ILMU Silogisme dan Proposisi Kategoris. Disusun oleh : Nama : NPM :
MAKALAH FILSAFAT ILMU Silogisme dan Proposisi Kategoris Disusun oleh : Nama : NPM : Program Studi Fakultas Universitas 2015/2016 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Manusia dalam kehidupan sehari-hari
TEORI KOMUNIKASI. Komunikasi sebagai Ilmu Pengetahuan SOFIA AUNUL, M.SI. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI
Modul ke: TEORI KOMUNIKASI Komunikasi sebagai Ilmu Pengetahuan Fakultas ILMU KOMUNIKASI SOFIA AUNUL, M.SI Program Studi BROADCASTING www.mercubuana.ac.id Komunikasi sebagai Ilmu Pengetahuan Ilmu komunikasi
METODE PENELITIAN. Wuryansari Muharini Kusumawinahyu
METODE PENELITIAN Wuryansari Muharini Kusumawinahyu Disarikan dari tulisan M. Laksono Tri Rochmawan, SE, MSi, Akt. Di http://www.sonilaksono.blogspot.com http://www.laksonotri.zoomshare.com Outline O Ilmu
ANALISIS DAN KOREKSI KESALAHAN PENALARAN PADA PENGGUNAAN BAHASA PAPAN PERINGATAN DI WILAYAH KOTA SURAKARTA SKRIPSI
ANALISIS DAN KOREKSI KESALAHAN PENALARAN PADA PENGGUNAAN BAHASA PAPAN PERINGATAN DI WILAYAH KOTA SURAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi sebagai Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana (S-1) Pada Pendidikan Bahasa,
TEORI TEORI AKUNTANSI AKUNTANSI
TINJAUAN MENYELURUH TEORI AKUNTANSI DIANA RAHMAWATI TEORI TEORI AKUNTANSI AKUNTANSI TEORI Istilah teori sering digunakan secara berbeda. Teori sering dinamakan dengan hipotesis atau proposisi. Proposisi
Filsafat Manusia (PERKULIAHAN)
Filsafat Manusia (PERKULIAHAN) Modul ke: Pendahuluan Firman Alamsyah Ario Buntaran Fakultas Psikologi Program Studi S1 - Psikologi http://www.mercubuana.ac.id Kontrak perkuliahan Tatap muka 14 x pertemuan
idealisme: suatu aliran filsafat yang cara pandangnya sama dengan rasionalisme.
Rasionalisme rasionalisme. Relativisme Falsifikanisme idealisme: suatu aliran filsafat yang cara pandangnya sama dengan pragmatisme realism Idealisme adalah: o Orang yang menerima standar estetik, moral,
BAGIAN I ARTI PENTING LOGIKA
Pertemuan ke-1 BAGIAN I ARTI PENTING LOGIKA Apakah arti penting Logika? Mengapa kita perlu belajar Logika? Logika (logike; logos; manifestasi pikiran manusia) adalah Ilmu yang mempelajari sistematika berpikir
M ATA K U L I A H : M E T O D O L O G I P E N E L I T I A N P E R T E M U A N K E 2 M Y R N A S U K M A R A T R I, S T. M T.
KEILMUAN DALAM METODE PENELITIAN M ATA K U L I A H : M E T O D O L O G I P E N E L I T I A N P E R T E M U A N K E 2 M Y R N A S U K M A R A T R I, S T. M T. PENGETAHUAN Pengetahuan hakekatnya meliputi
FILSAFAT ILMU. Drs. Dede Kosasih, M.Si.
FILSAFAT ILMU Drs. Dede Kosasih, M.Si. DEFINISI Pengetahuan : Persepsi subyek (manusia) atas obyek (riil dan gaib) atau fakta. Ilmu Pengetahuan : Kumpulan pengetahuan yang benar disusun dengan sistem dan
FILSAFAT DAN LOGIKA. Topik 13 SARANA BERPIKIR DEDUKSI DAN INDUSKI
FILSAFAT DAN LOGIKA Topik 13 SARANA BERPIKIR DEDUKSI DAN INDUSKI MATEMATIKA SEBAGAI BAHASA Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna. Lambang matematika bersifat artifisial yang baru
TINJAUAN MATA KULIAH...
iii Daftar Isi TINJAUAN MATA KULIAH... xi MODUL 1: PARADIGMA SOSIOLOGI DAN TEORI PENDEKATANNYA 1.1 Paradigma Sosiologi dan Teori Pendekatannya... 1.3 Latihan... 1.11 Rangkuman... 1.12 Tes Formatif 1.....
The Elements of Philosophy of Science and Its Christian Response (Realism-Anti-Realism Debate) Rudi Zalukhu, M.Th
The Elements of Philosophy of Science and Its Christian Response (Realism-Anti-Realism Debate) Rudi Zalukhu, M.Th BGA : Kel. 14:15-31 Ke: 1 2 3 APA YANG KUBACA? (Observasi: Tokoh, Peristiwa) APA YANG KUDAPAT?
EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN MENURUT BERAGAM FILSAFAT DUNIA: IDEALISME, REALISME, PRAGMATISME, EKSISTENSIALISME
EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN MENURUT BERAGAM FILSAFAT DUNIA: IDEALISME, REALISME, PRAGMATISME, EKSISTENSIALISME Maully Syifa Devinta, Ni matul Azizah, Reny Hanim Anggraini A. Pengertian Epistemologi. Epistemologi
Filsafat Ilmu dan Logika
Modul ke: Filsafat Ilmu dan Logika Pokok Bahasan: Cabang-cabang Filsafat Fakultas Fakultas Masyhar zainuddin, MA Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Cabang-cabang Filsafat Pokok Permasalahan yang
ASAS DEMOKRASI LIBERAL DAN KEMAJUAN AMERIKA: SEBUAH TINJAUAN FILSAFAT PRAGMATISME AMERIKA (Charles Peirce, John Dewey dan William James)
ASAS DEMOKRASI LIBERAL DAN KEMAJUAN AMERIKA: SEBUAH TINJAUAN FILSAFAT PRAGMATISME AMERIKA (Charles Peirce, John Dewey dan William James) Oleh: Muhammad Hasmi Yanuardi Dosen Jurusan Sejarah FIS UNJ Abstrak.
BAB V METODE-METODE KEILMUAN
BAB V METODE-METODE KEILMUAN Untuk hidupnya, binatang hanya mempunyai satu tujuan yang terlintas dalam otaknya yaitu pemenuhan kebutuhan untuk makan. Manusia dalam sejarah perkembangannya yang paling primitifpun
FILSAFAT ILMU. Irnin Agustina D.A.,M.Pd
FILSAFAT ILMU Irnin Agustina D.A.,M.Pd [email protected] Definisi Filsafat Ilmu Lewis White Beck Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine
PENGERTIAN LOGIKA BAHAN SATU DASAR-DASAR LOGIKA SEMESTER I
PENGERTIAN LOGIKA BAHAN SATU DASAR-DASAR LOGIKA SEMESTER I http://herwanp.staff.fisip.uns.ac.id 1 Sebagai ilmu, logika disebut logike episteme, yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat,
Review pertemuan II. Perkembangan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam. Ilmu Kealaman Dasar (IAD)
Ilmu Kealaman Dasar (IAD) Perkembangan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam Pertemuan ke-3 Review pertemuan II Hakekat manusia dan sifat keingintahuannya. Perkembangan fisik,sifat dan pikiran manusia
MEMBANGUN TRADISI ILMIAH MELALUI PENELITIAN
MEMBANGUN TRADISI ILMIAH MELALUI PENELITIAN Makalah disajikan pada Materi Kuliah Metodelogi Penelitian Sekolah Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si Guru Besar
