Profil dan Arahan Investasi Agropolitan
|
|
|
- Sudirman Agusalim
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Bagian- 1 Profil dan Arahan Investasi Agropolitan 1.1 Gambaran Umum Konsep Kawasan Ekonomi Agropolitan Perkembangan dan sejarah konsep pembangunan wilayah mengalami perubahan yang dinamis. Pertama, dimulai dengan konsep teori centralplace dari Christaller pada tahun Konsep ini bertujuan ingin menjelaskan pilihan-pilihan lokasi untuk sektor-sektor publik dan pribadi, serta di mana posisi pemerintah mengambil keputusan sehingga menghasilkan alokasi yang optimal bagi berbagai fungsi layanan ekonomi. Kedua, konsep neoklasik. Konsep ini menyatakan bahwa penggunaan sumberdaya dapat menjadi optimum dan distribusi pendapatan dan pertumbuhan antar wilayah akan merata apabila mekanisme pasar berfungsi sebagaimana mestinya. Ketiga, teori growth pole. Konsep ini berkembang di Perancis pada tahun 1950 di mana suatu industri tertentu perlu dikembangkan dengan berbagai fasilitas pendukungnya sehingga menstimulasi berbagai aktivitas ekonomi di wilayah sekitarnya. Keempat, teori export base. Teori berkembang di Amerika Serikat pada awal dekade lima puluhan, di mana pertumbuhan wilayah dipicu oleh permintaan eksternal. Selanjutnya, pendapatan yang diterima dari ekspor digunakan untuk menstimulasi permintaan internal dan pertumbuhan wilayah. Kelima, centreperiphery-models. Model dicetuskan oleh Gunard Myrdal pada tahun 1957 sebagai pertanyaan terhadap penerapan model neoklasik di negara berkembang. Myrdal mengatakan bahwa negara berkembang tidak mungkin berdampingan dengan negara maju dalam kerangka mekanisme pasar, karena akan menghasilkan kesenjangan yang makin parah. Model Myrdal baru diakui pada awal tujuh puluhan sebagai paradigma baru pembangunan. Myrdal menginginkan feri-feri harus memperoleh perhatian yang proporsional agar kesenjangan dapat dihentikan. Konsep pembangunan agropolitan diangkat dari pemikiran Myrdal dalam konteks yang lebih spesifik, yakni keadaan negara-negara Asia yang umumnya berpenduduk padat, serta sistem pertaniannya labor intensive dalam skala usaha kecil. Friedmann and Douglas (1978) dalam Mercado (2002) mengimplementasikan gagasan Myrdal ke Halaman 1 dari 106
2 dalam konsep pembangunan agropolitan. Agropolitan merupakan pendekatan perencanaan pembangunan tipe bottom-up yang berkeinginan meneapai kesejahteraan dan pemerataan pendapatan lebih tepat dibanding strategi growth pole. Karakteristik agropolitan meliputi: 1. Skala geografi relatif kecil; 2. Proses perencanaan dan pengambilan keputusan yang bersifat otonom dan mandiri berdasarkan partisipasi masyarakat lokal 3. Diversifikasi tenaga kerja pedesaan pada sektor pertanian dan non pertanian, menekankan kepada pertumbuhan industri kecil; 4. Adanya hubungan fungsional industri pedesaan-perkotaan dan linkages dengan sumberdaya ekonomi lokal; 5. Pemanfaatan dan peningkatan kemampuan sumberdaya dan teknologi lokal. Selanjutnya, Friedmann and Weaver (1979) menyempurnakannya sebagai strategi pembangunan wilayah (pedesaan maupun perkotaan) yang bertumpu pada sumberdaya lokal dengan dukungan Implementasi dalam aspek politik, ekonomi dan sosial untuk mencapai sasaran : 1. Diversifikasi aktifitas ekonomi; 2. Mendorong ekspansi pasar regional (bahkan dengan substitusi impor); 3. Mendorong perputaran modal (recirculation) di dalam masyarakat; 4. Mendorong proses pembelajaran. Friedmann dalam Syahrani (2001), menyatakan bahwa di dalam wilayah agropolitan disediakan berbagai fungsi layanan untuk mendukung berlangsungnya kegiatan agribisnis. Fasilitas pelayanan meliputi sarana produksi (pupuk, bibit, obat -obatan, peralatan), sarana penunjang produksi (lembaga perbankan, koperasi, listrik), serta sarana pemasaran (pasar, termin al angkutan, sarana transportasi). Dalam konsep agropolitan juga diperkenalkan adanya agropolitan distrik, yakni suatu daerah perdesaan dengan radius pelayanan 5 hingga 10 km dan dengan jumlah penduduk 50 hingga 150 ribu jiwa serta kepadatan minimal 200 jiwa per km 2. Jasa-jasa dan pelayanan yang disediakan disesuaikan dengan tingkat perkembangan ekonomi dan sosial budaya setempat. Halaman 2 dari 106
3 Sekalipun konsep Friedmann dan kawan-kawan dapat dianggap sebagai definisi baku, namun muncul pula tafsiran, varian atau yang berdekatan dengan definisi agropolitan. Misalnya, model selective spatial closure. Model ini menjelaskan. bahwa pembangunan dapat dilakukan secara selektif terhadap wilayah-wilayah tertentu dan dengan alasan tertentu pula. Misalnya, industri pada wilayah feri-feri dapat diberi perhatian, atau harns dilindungi dari kompetisi dengan industri yang sama di wilayah center. Oleh sebab itu infrastruktur lokal harus diperkuat sebagai antisipasi dan dampak ekonomi yang lebih global. Kebijakan diarahkan secara spesifik kepada pemenuhan kebutuhan dasar dari masyarakat lokal dalam berproduksi (basic need and target group-oriented)bukan dengan pendekatan teknis untuk masyarakat secara umum. Model lain sebagai bagian dari agropolitan adalah yang disebut dengan locally integrated economic circuit atau (LIEC), yakni sistem ekonomi wilayah lokal yang terdiversifikasi dan terintegrasi, mandiri, dinamis, didominasi aktifitas ekonomi skala usaha kecil, yang menjalankan proses alokasi sumberdaya secara harmonis dan berkesinambungan. Model LIEC menuntut pendefinisian batasan wilayah yang relevan, potensi sumberdaya wilayah, kapasitas industri, teknologi lokal tepat guna, dan dukungan kelembagaan. Konsep lainnya adalah apa yang disebut dengan Sustainable Integrated Planning (SIP). Pembangunan agropolitan menurut model SIP menjelaskan sisi-sisi praktis dari implementasi pembangunan berkelanjutan. Dalam pandangan SIP, pembangunan dapat dilaksanakan jika landasan perencanaan dicukupi. Perencanaan menjadi panduan pelaksanaan pembangunan pada semua level, nasional, propinsi dan wilayah. Menurut Scrimgeour, Chen and Hughes (2002), pembangunan agropolitan yang disebutnya sebagai self-centred development memerlukan intervensi pemerintah dalam bentuk regulasi untuk memotong hambatan-hambatan struktural. Upaya tersebut bertujuan agar terjadi integrasi sosial ekonomi di dalam wilayah dengan budaya, sumberdaya, lansekap dan iklim tertentu. Lebih jauh, kebutuhan investasinya dapat didatangkan dari luar wilayahj ika kemampuan lokal relatifrendah. Dengan kata lain, alokasi sumberdaya wilayah merupakan komponen penting pembangunan agropolitan bersama-sama dengan aspek ekologi dan sosial. Halaman 3 dari 106
4 Secara umum pendekatan dari pembangunan agropolitan telah dapat diterima. Berbagai negara sudah menerapkan sekalipun dengan istilah yang beragam. Pemerintah Cina menerapkannya dalam istilah walkingon the legs. Satu kaki berpijak kepada kebijakan untuk mendorong pertumbuhan dengan mengandalkan industri skala besar, sementara kaki lainnya menerapkan konsep agropolitan untuk mengembangkan aktivitas ekonomi wilayah lokal. Sementara Afrika Selatan menerapkan kebijakan Growth with Equity and Redistribution (GEAR) pada tahun 1996 (Simon, 2000). Demikian pula, pendekatan ini juga telah menjadi program baku Bank Dunia di dalam kerangka community base development untuk pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan (usaha kecil), atau pengembangan kredit mikro. Definisi baku mengenai pembangunan agropolitan di Indonesia belum jelas dinyatakan. Menurut Depkimpraswil, program agropolitan mengandung pengertian pengembangan suatu wilayah tertentu yang berbasis pada pertanian. Depkimpraswil memiliki kepentingan dalam penyediaan sarana dan prasarana wilayah sementara Deptan bertanggungjawab terhadap aspek produksi pertanian. Sementara itu, pemerintah kabupaten Kutai Timur ( id/web/agropolitan. htm) mendefinisikan Agropolitan sebagai sistem manajemen dan tatanan terhadap suatu wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan bagi kegiatan ekonomi berbasis pertanian (agribisnis/agroindustri). Wilayah agropolitan diharapkan akan menarik pengembangan ekonomi berbasis agri di wilayah hinterland, dan oleh karenanya perlu diciptakan suatu Linkage dan keterpaduan antara kawasan Agropolitan dengan kawasan hinterland. Dalam kerangka pembangunan Nasional, kawasan ekonomi agropolitan Kutai Timur semakin mendapat angin segar terutama dengan adanya rencana pada Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengembangan Ekonomi Nasional (MP3EI). Pengembangan masterplan ini dilakukan dengan pendekatan terobosan bukan business as usual melalui: pertama, pihak swasta akan diberikan peran penting dalam pengembangan master plan ini, dibantu oleh pihak pemerintah yang akan bertindak sebagai regulator, fasilitator dan katalisator. Kedua, penguatan koordinasi lintas kementerian sektor dan antara kementerian sektor dan pemerintah daerah. Dalam pelaksanaannya, dunia usaha Halaman 4 dari 106
5 akan menjadi aktor utama dalam kegiatan investasi, produksi dan distribusi. Strategi penyusunan masterplan meliputi 3 (tiga) elemen utama yaitu: (a) mengembangkan 6 (enam) koridor ekonomi Indonesia, dengan membangun pusat-pusat pertumbuhan disetiap koridor dengan mengembangkan klaster industri dan atau kawasan ekonomi khusus yang berbasis sumber daya unggulan (komoditi); (b) memperkuat konektivitas nasional, yang meliputi konektivitas intra dan inter pusat-pusat pertumbuhan, intra pulau (koridor), dan pintu perdagangan internasional; (c) mempercepat kemampuan iptek nasional untuk mendukung pengembangan program utama. Koridor Ekonomi Indonesia (KEI) diharapkan akan menjadi mesin pertumbuhan dan pe nciptaan lapangan kerja yang dapat mendorong banyak perubahan positif bagi pengembangan wilayah, melalui: 1. KEI tidak diarahkan pada kegiatan eksploitasi dan ekspor sumber daya alam, namun lebih pada penciptaan nilai tambah. Dalam hal ini pelaku swasta akan menjadi aktor utama dalam kegiatan hilirisasi. 2. KEI tidak diarahkan untuk menciptakan konsentrasi ekonomi pada daerah tertentu namun lebih pada pembangunan ekonomi yang beragam dan inklusif. Hal ini memungkinkan semua wilayah di Indonesia untuk berkembang sesuai potensinya masing-masing. 3. KEI tidak menekankan pembangunan ekonomi yang dikendalikan oleh pusat, namun lebih ditekankan pada upaya sinergi pembangunan sektoral dan wilayah untuk meningkatkan keuntungan komparatif dan kompetitif secara nasional dan global. 4. KEI tidak menekankan pembangunan transportasi darat saja, namun pada pembangunan transportasi yang seimbang antara darat, laut, dan udara 5. KEI tidak menekankan pada pembangunan infrastruktur yang mengandalkan anggaran pemerintah semata, namun juga pembangunan infrastruktur yang menekankan kerjasama pemerintah dengan swasta (KPS). Halaman 5 dari 106
6 Gambar 1 Persebaran Wilayah Koridor Ekonomi Per Sektor Unggulan Sumber : Dokumen Rencana MP3EI Kebijakan MP3I ( Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia ) yang terkait untuk wilayah Kalimantan umumnya dan Kalimantan Timur pada khususnya. Untuk KEI Koridor Kalimantan di fokuskan untuk pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional, untuk wilayah Kalimantan Terdiri dari 4 hub yaitu Pontianak, Palangka Raya, Balikpapan dan Samarinda Koridor diestimasikan dapat meningkatkan PRDB sebesar ~2.6x dari $59 milyar di 2008 ke $152 milyar di 2030 dengan estimasi laju pertumbuhan koridor sebesar 3.6% dibandingkan estimasi baseline sebesar 5.8%, Halaman 6 dari 106
7 Gambar 2 Rencana Induk Koridor Ekonomi Indonesia Untuk Masing Masing Koridor Sumber : Dokumen Rencana MP3EI Serta yang menjadi fokus sektor saat ini 1. Migas --- Eksplorasi lebih banyak untuk memastikan pertumbuhan produksi yang stabil 2. Minyak Kelapa Sawit --- Meningkatkan produksi panen, beralih ke produk dgn nilai tambah tinggi dan produk hilir. 3. Batubara --- Meningkatkan produksi dgn membangun infrastruktur yg dapat mencapai tambang di pedalaman Industri Berkelanjutan di Masa Depan 1. Perikanan --- Memperluas industri akuakultur udang 2. Kayu --- Membangun industri hutan yang berkelanjutan & memperluas ke produksi bernilai tambah tinggi (kertas) 3. Karet --- Meningkatkan industri karet Halaman 7 dari 106
8 Gambar 3 Koridor Ekonomi Kalimantan Sumber : Dokumen Rencana MP3EI Untuk mendukung semua rencana yang sudah ada diatas butuh suatu alat dukung baik untuk sektor yang difokuskan saat ini atau untuk sektor masa deapan, salah satunya harus ada infrastruktur kunci yang dibutuhkan seperti pelabuhan sungai untuk Fasilitas Barge Loading Pelabuhan yang menghubungkan Rel Kereta Api untuk membawa batubara melalui sungai; Sungai Barito dan Mahakam, yang rencananya lokasi yang sesuai dan cocok untuk mendukung rencana yang sudah ada di Kabupaten Kaliorang pelabuhan Maloy yang berada di. Selain itu dibutuhkan juga rel kereta api dibutuhkan untuk membuat pertambangan batubara di pedalaman layak secara ekonomi. 1.2 Profil Ekonomi Wilayah Profil ekonomi wilayah didasarkan atas besaran nilai PDRB yang diciptakan di tingkat kecamatan, potensi komoditi, ketersediaan infrastruktur dan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan kondisi wilayah sendiri. Dengan unit analisis di tingkat kecamatan, akan tergambarkan kondisi dan perkembangan ekonomi wilayah di. Berdasarkan hasil analisis kondisi dan pertumbuhan ekonomi sektoral Kutai Timur, gambaran perekonomian Kutai TImur adalah sebagai berikut Halaman 8 dari 106
9 1. Sektor yang memiliki laju pertumbuhan relatif pesat di Provinsi Kalimantan Timur dan memiliki keunggulan lokasional di : sektor pertambangan dan penggalian; serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran. (paling bagus) 2. Sektor yang memiliki laju pertumbuhan relatif pesat di Provinsi Kalimantan Timur tetapi tidak memiliki keunggulan lokasional di ; cenderung tertekan namun berpotensi untuk terus tumbuh: sektor bangunan; pengangkutan dan komunikasi; keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan; jasajasa; listrik, gas, dan air; serta industri. 3. Sektor yang memiliki laju pertumbuhan relatif lambat di Provinsi Kalimantan Timur tapi memiliki keunggulan lokasional di ; pertumbuhannya tertekan tapi cenderung berkembang karena memiliki daya saing : sektor pertanian. (bagus) 4. Sektor yang memiliki laju pertumbuhan relatif lambat di Provinsi Kalimantan Timur dan tidak memiliki keunggulan lokasional di ; tidak punya daya saing dan cenderung tertekan. Terlihat bahwa sektor pertanian dalam analisis pertumbuhan perekonomian wilayah Kutai Timur merupakan sektor yang memiliki keunggulan lokasional, artinya bahwa Kutai Timur memiliki spesialisasi sebagai penghasil nilai tambah pertanian dalam lingkup wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor pertanian di Kutai Timur cukup layak untuk dikembangkan, karena posisinya yang bagus dalam memberikan nilai tambah saat ini. Berikut akan dipaparkan kondisi dan profil ekonomi wilayah dari masing-masing kecamatan yang menjadi wilayah studi dan diarahkan untuk perkembangan agropolitan Kutai Timur ke depannya. Halaman 9 dari 106
10 1.2.1 Profil Ekonomi Wilayah Sangatta Utara Kecamatan Sangatta Utara sebagai ibukota kabupaten memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup dominan di Jika dibandingkan hasil produksi antara subsektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perdagangan, industri logam, industri kulit, industri kayu, industri anyaman, industri kain.tenun, industri makanan, dan industri lainnya di Kecamatan Sangatta Utara terhadap hasil produksi rata-rata seluruh kecamatan di, terlihat pada gambar dibawah ini. Gambar 4 Profil Ekonomi Sangatta Utara PERDAGANGAN TANAMAN PANGAN PERKEBUNAN INDUSTRI TOTAL PETERNAKAN Sumber: Hasil Analisis, 2011 Terlihat bahwa Kecamatan Sangatta Utara unggul dalam sektor tersier, yakni di bidang perdagangan, di mana dominasi kegiatan perdagangan, jauh diatas sektor ekonomi lainnya. Selain itu sektor lain yang juga unggul adalah pada subsektor tanaman pangan, yang sedikit berada di atas rata-rata. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran pada dasarnya didominasi oleh subsektor perdagangan, baik besar, menengah maupun eceran. Sangatta Utara sebagai ibukota kabupaten memiliki keunggulan sebagai pusat koleksi dari berbagai barang di kabupaten Kutai Timur. Keunggulan tersebut dapat diamati dalam table berikut ini, yang menggambarkan besaran jumlah jenis perdagangan di Kutai Timur. Halaman 10 dari 106
11 Gambar 5 Perbandingan Perdagangan Sangatta Utara dan Kecamatan Lainnya Besar Mikro Kecil Menenga h Sumber: Hasil Analisis, 2011 Terlihat bahwa dari besaran jumlah perdagangan di Kecamatan Sangatta Utara, jumlah yang ada setelah dibandingkan dengan jumlah rata-rata perdagangan di seluruh kecamatan Kutai Timur (indeks rata-rata = 1), berada di atas rata-rata kecamatan, yang menunjukkan spesialisasi Sangatta Utara sebagai pusat koleksi dan distribusi barang pada tingkat kabupaten. Sementara untuk subsektor tanaman pangan, berdasarkan produksi yang dihasilkan, tampak sebagai berikut subsektor unggulan di kecamatan Sangatta Utara, yakni seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Gambar 6 Keunggulan Tanaman Pangan Sangatta Utara dan Kecamatan Lainnya Ubi Jalar Padi Jagung Kacang Tanah Kedelai Kacang Hijau Ubi Kayu Sumber: Hasil Analisis, 2011 Halaman 11 dari 106
12 Terlihat bahwa untuk subsektor tanaman pangan yang terkait dengan sektor pertanian, Kecamatan sangatta utara unggul pada komoditi kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar, dengan subsektor yang paling dominan dalam nilai produksinya adalah pada subsektor kacang kedelai, kacang tanah, dan ubi kayu Profil Ekonomi Kecamatan Sangatta Selatan Lokasinya yang berada dengan Sangatta Utara sebagai pusat dari kabupaten, maka Sangatta Selatan juga merupakan wilayah pengembangan dari pusat kegiatan di kabupaten, sekaligus sebagai pintu masuk menuju ibukota kabupaten. Sangatta Selatan juga menunjukkan ciri keberadaan sektor tersier (perdagangan dan jasa), namun juga dikombinasikan dengan kemajuan sektor primer pula (pertanian). Berikut perhitungan keunggulan sektor pe rekonomian di Sangatta Selatan. Gambar 7 Profil Ekonomi Sangatta Selatan TANAMAN PANGAN 2 1,5 PERDAGANGAN 1 0,5 0 PERKEBUNAN INDUSTRI TOTAL PETERNAKAN Sumber : hasil analisis, 2011 Dari hasil analisis, tampak bahwa sektor perdagangan mendominasi perekonomian di Kecamatan Sangatta Selatan, sementara sektor lainnya yang juga mendominasi adalah peternakan, dan juga sektor industri total. Sektor perdagangan yang dibagi berdasarkan besaran sektor perdagangan yang ada di Sangatta Selatan, dimana sektor perdagangan mikro dan kecil lebih Halaman 12 dari 106
13 mendominasi keberadaan perdagangan dibandingkan dengan perdagangan besar dan menengah. Gambar 8 Perbandingan Perdagangan Sangatta Selatan dan Kecamatan Lainnya Besar Mikro 2,5 2 1,5 1 0,5 0 Kecil Menengah Sumber : hasil analisis, 2011 Sementara untuk sektor pertanian dan industri kecil (UKM), kondisi di Sangatta Selatan adalah sebagai berikut. Gambar 9 Perbandingan Komoditas Peternakan Sangatta Selatan Dan Kecamatan Lainnya Sapi 3 Telur (kg) 2 Ker-bau 1 Itik 0 Kam-bing Ayam Babi Sumber : hasil analisis, 2011 Terlihat bahwa subsektor peternakan adalah pada komoditas telur dan sapi. Di mana tingkat produksinya berada di atas rata-rata kecamatan dalam Kabupaten Halaman 13 dari 106
14 Kutai Timur. Sementara untuk subsektor industri kecil, industri yang paling dominan adalah industri makanan/minuman Profil Ekonomi Kecamatan Rantaupulung. Wilayah Kecamatan Rantau Pulung merupakan salah satu wilayah yang terdekat dengan ibukota kabupaten. Wilayah Kecamatan ini termasuk dalam jalur Poros Kabupaten (wilayah tengah) yang dapat menghubungkan Sangatta dengan Batu Ampar maupun jalur menuju Muara Wahau. Kecamatan Rantau Pulung adalah bagian dari Wilayah dengan luas wilayah 143,82 km2 yang merupakan hasil pemekaran Kec. Sangatta pada akhir tahun 2005 menjadi 4(empat) kecamatan yaitu Kec. Sangatta Utara, Kec. Sangatta Selatan, Kec. Teluk Pandan dan Kec. Rantau Pulung. Untuk sektor perekonomian Rantaupulung, gambaran kondisinya dapat diamati pada gambar berikut. Gambar 10 Profil Sektor Ekonomi Rantaupulung PERDAGANGAN TANAMAN PANGAN 1 0,8 0,6 0,4 0,2 0 PERKEBUNAN INDUSTRI TOTAL PETERNAKAN Sumber : hasil analisis, 2011 Bahwa sektor peternakan adalah sektor yang paling dominan, walaupun masih berada di bawah rata-rata kecamatan keseluruhan. Untuk komoditas peternakan, dapat dilihat pada gambar berikut. Halaman 14 dari 106
15 Gambar 11 Perbandingan Komoditas Peternakan Rantaupulung dan Kecamatan Lainnya Sapi 3 Telur (kg) Itik Ker-bau Kam-bing Ayam Babi Sumber : hasil analisis, 2011 Terlihat bahwa komoditas unggulan peternakan di Rantaupulung adalah pada komoditas kerbau dan kambing Profil Ekonomi Kecamatan Bengalon Kecamatan Bengalon adalah bagian dari Wilayah dengan luas wilayah 3.972,60 km2 yang merupakan hasil pemekaran Kec. Sangatta. Keseluruhan wilayah Kec. Bengalon yang cukup luas terdapat di daratan dan juga langsung dengan laut dengan pantai yang indah dan potensi kelautannya. Potensi ini memberikan keunggulan Bengalon pada sektor-sektor terkait dengan pertanian. Di mana secara umum kondisi perekonomian Bengalon adalah sebagai berikut. Gambar 12 Profil Sektor Ekonomi Bengalon PERDAGANGAN TANAMAN PANGAN 2 1,5 1 0,5 0 PERKEBUNAN INDUSTRI TOTAL PETERNAKAN Sumber : hasil analisis, 2011 Halaman 15 dari 106
16 Terlihat bahwa sektor peternakan dan juga perdagangan memiliki keunggulan lokasional di kecamatan Bengalon. Untuk subsektornya sendiri pada sektor peternakan: Gambar 13 Perbandingan Komoditas Peternakan Bengalon Dan Kecamatan Lainnya Sapi 8 Telur (kg) Itik Ker-bau Kam-bing Ayam Babi Sumber: hasil analisis, 2011 Komoditas ayam, itik, kerbau, dan kambing merupakan komoditas unggulan di kecamatan Bengalon.di mana komoditas itik dan kerbau memiliki populasi tertinggi dibandingkan kecamatan lainnya. Sementara untuk sektor perdagangan dapat dilihat di bawah ini. Gambar 14 Perbandingan Komoditas Perdagangan dan Kecamatan Lainnya Besar 1,5 0,5 Mikro Kecil Menengah Sumber: hasil analisis, 2011 Halaman 16 dari 106
17 Perdangangan skala mikro di Bengalon memiliki keunggulan bidang perdagangan mikro saja, sementara jenis perdagangan lainnya masih di bawah rata-rata kecamatan. Hal ini menunjukkan bahwa skala pelayanan perdagangan di Bengalon hanyalah pada skala rumah tangga saja Profil Ekonomi Kecamatan Kaliorang Kecamatan Kaliorang adalah bagian dari Wilayah dengan luas wilayah 472 km2 yang merupakan hasil pemekaran Kec. Sangkulirang pada akhir tahun 2000 menjadi 3 (tiga) kecamatan yaitu Kec. Sangkulirang, Kec.Kaliorang dan Kec. Sandaran. Pada akhir tahun 2005, Kecamatan Kaliorang dimekarkan menjadi 2 (dua) kecamatan, yaitu Kecamatan Kaliorang dan Kecamatan Kaubun. Sektor perekonomian di Kaliorang, di dominasi oleh sektor pertanian, khususnya subsektor pertanian tanaman pangan. Di mana nilai produksinya jauh berada di atas rata-rata kecamatan yang ada di. Sementara sektor lainnya yang juga dominan adalah sektor perkebunan meskipun besarannya masih sama dengan kecamatan. Gambar 15 Profil Ekonomi Kaliorang PERDAGANGAN TANAMAN PANGAN PERKEBUNAN INDUSTRI TOTAL PETERNAKAN Sumber : hasil analisis, 2011 Untuk sektor tanaman pangan sendiri, subsektor yang dominan dapat dilihat dari grafik berikut. Halaman 17 dari 106
18 Gambar 16 Perbandingan Komoditas Tanaman Pangan Kaliorang Dengan Kecamatan Lainnya Padi 6 Ubi Jalar 4 2 Jagung Kacang Tanah 0 Kedelai Kacang Hijau Ubi Kayu Sumber : hasil analisis, 2011 Terlihat bahwa rata-rata seluruh jenis tanaman pangan, memiliki tingkat produksi tinggi dan dominan di Kecamatan Kaliorang dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya. Hanya komoditas jagung saja yang nilai produksinya di bawah rata-rata kecamatan, sementara jenis komoditas lainnya memiliki keunggulan lokasional dalam lingkup Profil Ekonomi Kecamatan Kaubun Kecamatan Kaubun adalah bagian dari Wilayah dengan luas wilayah 153,38 km2 yang merupakan hasil pemekaran Kec. Kaliorang pada akhir tahun 2005 menjadi 2 (dua) kecamatan yaitu Kec. Kaliorang, dan Kec. Kaubun. Distribusi sektor perekonomian di kecamatan Kaubun adalah sebagai berikut. PERDAGANGAN Gambar 17 Profil Ekonomi Kaubun TANAMAN PANGAN 2 1,5 1 0,5 0 PERKEBUNAN INDUSTRI TOTAL PETERNAKAN Halaman 18 dari 106
19 Kaubun memiliki keunggulan pada sektor tanaman pangan dan peternakan, di mana untuk masing-masing komoditas dari dua sektor tersebut dapat diamati pada gambar berikut ini. Gambar 18 Perbandingan Komoditas Tanaman Pangan Kaubun Dengan Kecamatan Lainnya Kacang Tanah Ubi Jalar Padi 2,5 2 1,5 1 0,5 0 Jagung Kedelai Kacang Hijau Ubi Kayu Sumber : hasil analisis, 2011 Gambar 19 Perbandingan Komoditas Peternakan Kaubun dengan Kecamatan Lainnya Sapi 2 Telur (kg) Itik 1,5 1 0,5 0 Ker-bau Kam-bing Ayam Babi Sumber : hasil analisis, 2011 Halaman 19 dari 106
20 Untuk komoditas pada tanaman pangan Kaubun memiliki keunggulan pada komoditas padi dan kedelai, sementara untuk komoditas peternakan, kecamatan ini unggul pada produksi kambing, sapi, telur, dan itik Profil Ekonomi Kecamatan sangkulirang Kecamatan Sangkulirang adalah bagian dari Wilayah dengan luas wilayah 3522, 58 km2 yang telah dimekarkan sejak akhir tahun 2000 menjadi 3 (tiga) kecamatan yaitu Kec. Sangkulirang, Kec.Kaliorang dan Kec. Sandaran dan pada tahun 2005 dimekarkan kembali menjadi 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Sangkulirang dan Kecamatan Karangan. Gambar 20 Profil Ekonomi Sangkulirang TANAMAN PANGAN 6 4 PERDAGANGAN 2 0 PERKEBUNAN INDUSTRI TOTAL PETERNAKAN Sumber : hasil analisis, 2011 Sangkulirang sendiri memiliki keunggulan lokasional dari seluruh sektor perekonomian yang dianalisis di mana perekonomian masing-masing sektornya berada di atas rata-rata sektor perekonomian seluruh kecamatan. Namun sektor dengan nilai keunggulan tertinggi adalah perkebunan dan peternakan. Komoditas dari masing-masing subsektor tersebut dapat dilihat pada grafik berikut ini. Halaman 20 dari 106
21 Gambar 21 Perbandingan Komoditas Perkebunan Sangkulirang Dengan Kecamatan Lainnya Kelapa Sawit (ton) Karet (ton) Kelapa (ton) Coklat (ton) Kopi (ton) Lada (ton) Gambar 22 Perbandingan Komoditas Peternakan Sangkulirang Dengan Kecamatan Lainnya Telur (kg) Itik Sapi Ker-bau Kambing Ayam Babi Sumber : hasil analisis, 2011 Terlihat bahwa untuk subsektor perkebunan, komoditas paling dominan di Sangkulirang adalah kelapa dan coklat, dengan nilai produksi yang jauh melebihi produksi rata-rata kecamatan. Semenatra untuk peternakan, Sangkulirang unggul pada semua jenis hewan ternak kecuali babi. Namun komoditas hewan yang paling dominan adalah pada telur, sapi, dan kerbau. Halaman 21 dari 106
22 No Sektor dan Komoditas Unggulan Kecamatan Berdasarkan hasil analisis keunggulan sektor ekonomi dan komoditas kecamatandi, berikut dipetakan keunggulan dari masing-masing sektor dan subsektor ekonomi tujuh kecamatan terkait dengan pengembangan agropolitan, yakni sebagai berikut. Tabel 1 Profil Sektor dan Komoditas Unggulan Kecamatan Subsektor Status Kecamatan Komoditi Unggulan Unggulan Unggulan Padi, Kedelai, Ubi Kayu, Tanaman ** Kacang Hijau, Kacang Sangatta Pangan Tanah, Ubi Jalar Utara Mikro, Kecil, Menengah, Perdagangan *** Besar Sangatta Selatan Perdagangan ** Mikro, Kecil Industri kecil (UKM) * Makanan Perkebunan * Lada 3. Rantaupulung Peternakan * 4. Bengalon 5. Kaliorang Tanaman Pangan ** Peternakan ** Kambing, Kerbau, Dan Ayam Jagung, Kedelai, Ubi Kayu, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Jalar Sapi, Kerbau, Kambing, Ayam, Itik Perdangan * Mikro Industri kecil (UKM) Tanaman Pangan * Kayu, Logam *** Padi, Kedelai, Ubi Kayu, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Jalar Perkebunan * Karet, Kelapa Halaman 22 dari 106
23 No. Kecamatan 6. Kaubun 7. Sangkulirang Subsektor Status Komoditi Unggulan Unggulan Unggulan Peternakan * Kambing, Itik Tanaman Pangan ** Padi, Kedelai Perkebunan * Kopi Peternakan ** Sapi, Kambing, Itik Industri kecil (UKM) * Kulit Perkebunan *** Kelapa, Kopi, Lada, Coklat Peternakan *** Perdagangan *** Industri kecil (UKM) Catatan: ***) sangat unggul dari rata-rata kecamatan **) cukup unggul dari rata-rata kecamatan *) sedikit unggul dari rata-rata kecamatan Sapi, Kerbau, Kambing, Ayam, Itik Mikro, Kecil, Menengah, besar ** Makanan, Lain-Lain Keunggulan pada sektor produksi Keunggulan pada sektor pengolah Keunggulan pada sektor pemasaran Berdasarkan klasifikasi sektor yang dibagi dari tiga jenis sektor ekonomi dari produksi hingga ke pemasaran, dapat kita lihat secara nyata kondisi yang terbentuk pada tujuh kecamatan yang terkait dengan agropolitan di wilayah Kutai Timur. Hal ini menggambarkan bahwa kemajuan sektor tersebut dapat saling dikaitkan membentuk sistem agropolitan yang membentuk alur produksi hingga ke pemasaran kepada konsumen. Kecendrungan dan keunggulan lokasional akan menjadi pertimbangan dalam penyusunan konsep agropolitan, Halaman 23 dari 106
24 pengembangan infrastruktur terkait agropolitan dan arahan investasi sektoral pada sektor-sektor terkait dalam pengembangan agropolitan secara terintegrasi. Namun yang harus diperhatikan selain pembagian peran dari keunggulan lokasional adalah pada tingkat keunggulan daerah tersebut. Daerah yang masih berada pada level sedikit unggul (dinyatakan dalam *) perlu dipacu untuk peningkatan pada subsektor ekonominya tersebut. Karena pada level * tersebut, keunggulan belum menjadi dominasi dibandingkan dengan daerahdaerah di sekitarnya, sehingga memerlukan peningkatan kuantitas dari besaran kegiatan. 1.3 Skenario Investasi Agropolitan Dalam subbab berikut akan dipaparkan kemungkinan pertumbuhan ekonomi (LPE), berdasarkan investasi yang dilakukan dalam dua scenario, yakni investasi pada sektor pertanian di luar wilayah agropolitan dan investasi pada sektor pertanian di wilayah agropolitan Skenario Investasi Sektor Pertanian Pemetaan skenario investasi didasarkan atas dua wilayah spasial dalam pemanfaatan dan peningkatan agropolitan, yakni: - Tujuh kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah pengembangan agropolitan; yakni Kec. Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Bengalon, Kaubun, Kaliorang, Sangkulirang, dan Bengalon sebagai satu unit wilayah investasi. - Sebelas kecamatan selain tujuh kecamatan sebelumnya sebagai unit wilayah investasi yang lain. Dengan pembagian kedua wilayah tersebut akan diketahui efektivitas penanaman modal dalam indicator PDRB yang dihasilkan dan juga Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE), dengan membandingkan be saran PDRB dan LPE yang dihasilkan dari proses investasi yang berlangsung dalam dua unit wilayah investasi yang disebutkan tersebut. Untuk mengetahui keunggulan tujuh kecamatan yang masuk dalam wilayah pengembangan agropolitan, dapat diketahui dengan membandingkan besaran Halaman 24 dari 106
25 PDRB subsektor pertanian yang dihasilkan oleh tujuh kecamatan agropolitan dengan PDRB subsektor pertanian pada 11 kecamatan lainnya di luar wilayah pengembangan agropolitan. Hal ini dilakukan sebagai pendekatan untuk mengisolasi besaran perekonomian yang dihasilkan tujuh kecamatan utama yang menjadi wilayah studi dengan wilayah lainnya di luar wilayah kajian. Dari data dan informasi yang diperoleh dengan kedua kelompok wilayah tersebut, dihasilkan gambaran berupa tabel berikut. Tabel 2 Perbandingan PDRB Subsektor Pertanian Pada Wilayah Kajian Dengan Kecamatan di Luar Wilayah Kajian Besaran PDRB (dalam juta rupiah) Komponen pengamatan Peternakan Kehutanan Perikanan Total Tanaman pangan Perkebunan PDRB 7 kecamatan agropolitan rata-rata 7 kec PDRB 11 kecamatan lainnya rata-rata 11 kec. Lainnya Unggul Unggul kesimpulan kecamatan agro lain kecamatan Sumber: hasil analisis, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,64 Unggul kecamatan agro Unggul kecamatan lain Unggul kecamatan agro Unggul kecamatan agro Dengan pendekatan yang dilakukan tersebut, didapatkan bahwa ketujuh kawasan agropolitan secara umum memiliki produktivitas subsektor pertanian yang lebih unggul dibandingkan non-agropolitan. Dengan membandingkan PDRB per kecamatan untuk subsektor pertanian pada wilayah kajian dengan wilayah di luar tujuh kecamatan kawasan agropolitan, dapat diamati bahwa tujuh kecamatan tersebut secara umum memiliki keunggulan pada komoditas tanaman pangan, peternakan, dan yang paling besar dan utama adalah perikanan. Sementara untuk sektor kehutanan dan perkebunan, konsentrasi kegiatan ekonomi masih didominasi di luar wilayah tujuh kecamatan tersebut. Halaman 25 dari 106
26 Namun kesimpulan secara umum yang dihasilkan dari nilai PDRB kecamatan untuk pertanian, tujuh kecamatan yang menjadi fokus pengembangan agropolitan memiliki keunggulan dibandingkan dengan kecamatan lainnya di. Hal ini mengindikasikan tingkatan produktivitas pembentukan nilai tambah (PDRB) dari dua unit wilayah wilayah investasi yang telah kita bagi sebelumnya Pemetaan kondisi Infrastruktur Pertanian Selain dalam konteks sektor ekonomi, investasi juga dilakukan dalam penyediaan infrastruktur. Walaupun tidak terkait langsung dengan proses produksi, namun keberadaan infrastruktur menjadi prasyarat berjalannya proses ekonomi suatu wilayah. Dengan keberadaan infrastruktur proses produksi, distribusi, dan konsumsi dapat berjalan dengan baik dan lancar. Oleh karena itulah keberadaan infrastruktur juga harus diperhatikan dan direncanakan pengembangannya dalam kerangka pengembangan ekonomi wilayah Kutai Timur, khususnya untuk kepentingan agropolitan. Pemetaan kondisi infrastruktur dilakukan untuk mengetahui keunggulan dan kekurangan infrastruktur pertanian di kecamatan-kecamatan yang terkonsentrasi dalam pengembangan kawasan pertanian. Dari sekian banyak infrastruktur dalam pengembangan ekonomi maupun pertanian, beberapa infrastruktur yang terkait dalam pengembangan pertanian, antara lain : 1. Infrastruktur Jalan 2. Jaringan irigasi 3. KUD dan pasar 4. Kelistrikan. Analisis yang dilakukan adalah dengan analisis kuadran, yakni dengan perbandingan antara kondisi perekonomian, khususnya pertanian dengan ketersediaan infrastruktur. Nilai referensi yang digunakan adalah kondisi infrastruktur terbaik dalam kecamatan sebagai titik yang harus dicapai untuk peningkatan perekonomian. Namun khusus untuk infrastruktur jalan, pendekatan yang digunakan adalah berdasarkan aksesibilitas dan mobilitas penduduk menggunakan standar pelayanan minimal dari depattemen Pekerjaan Halaman 26 dari 106
27 Umum. Ilustrasi analisis kuadran terhadap ketersediaan infrastruktur adalah sebagai berikut. Gambar 23 Analisis Infrastruktur Berdasarkan Kuadran Sumber: hasil analisis, 2011 Namun khusus untuk infrastruktur jalan, pendekatan yang digunakan adalah berdasarkan Standar Pelayanan Minimal yang dikeluarkan oleh Menteri Pekerjaan Umum Infrastruktur Jalan Infrastruktur jalan, merupakan infrastruktur yang paling banyak berperan dalam kegiatan manusia. Tidak hanya dalam peningkatan perekonomian, kebutuhan sosial dan kebutuhan lainnya yang bahkan tidak terkait dengan perekonomian membutuhkan keberadaan infrastruktur jalan sebagai penghubung wilayah. Dalam perekonomian, jaringan jalan menjadi satu komponen penting dalam penciptaan nilai tambah; sebagai tempat berpindahnya barang dan jasa, pergerakan tenaga kerja, dsb. Untuk standar pelayanan minimal jalan sendiri telah dimuat dalam peraturan Menteri pekerjaan Umum dengan Nomor: 14/PRT/M/2010, mengenai Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Dalam peraturan tersebut dipaparkan bahwa untuk jaringan jalan, standar Halaman 27 dari 106
28 pelayanan minimal yang harus dicapai dibagi atas beberapa klasifikasi, yakni sebagai berikut. Tabel 3 Standar Pelayanan Minimal Infrastruktur Jalan Klasifikasi SPM Jenis pelayanan dasar infrastruktur jalan Aksesibilitas; yakni Tersedianya jalan yang Jaringan Ruas menghubungkan pusat pusat kegiatan dalam wilayah kabupaten/kota. Mobilitas; yakni Tersedianya jalan yang memudahkan masyarakat per individu melakukan perjalanan. Keselamatan; Tersedianya jalan yang menjamin pengguna jalan berkendara dengan SELAMAT. Kondisi jalan : Tersedianya jalan yang menjamin kendaraan dapat berjalan dengan SELAMAT dan NYAMAN. Kecepatan : Tersedianya jalan yang menjamin perjalanan dapat dilakukan sesuai dengan KECEPATAN rencana. Sumber: Permen PU No. 14/PRT/M/2010 Berdasarkan ketentuan yang dikeluarkan, ada lima jenis indicator untuk SPM jaringan jalan yang ditetapkan, dan kelima indicator tersebut terkait dengan ketrersediaan jaringan jalan untuk pelayanan kegiatan. Terkait dengan pengembangan perekonomian, dalam hal ini agropolitan hal yang harus dipenuhi dari ketersediaan infrastruktur jalan yang dikaitkan dengan standar pelayanan minimal dalam ketentuan yang telah disebutkan sebelumnya adalah terkait pada aksesibilitas dan juga mobilitas. Aksesibilitas terkait dengan keterkaitan pusat kegiatan dengan wilayah sekitarnya dan mobilitas terkait dengan pergerakan masyarakat pada wilayah yang bersangkutan. Perhitungan terkait dengan kedua hal tersebut, dapat dilihat sebagai berikut ini: Halaman 28 dari 106
29 1. Aksesibilitas Di mana pembilang merupakan jumlah panjang jalan penghubungan pusat-pusat kegiatan yang dihitung berdasarkan keberadaan tahun terakhir, semenatra penyebut, yakni jumlah seluruh panjang jalan penghubung yang harusnya ada di wialyah tersebut. 2. Mobilitas Angka mobilitas dihitung berdasarkan angka yang ditargetkan pada akhir waktu pencapaian SPM dengan angka mobilitas yang ditentukan. Sementara angka mobilitas yang ditentukan didasarkan atas tabel berikut ini. Tabel 4 SPM Mobilitas Kategori Kerapatan Penduduk (KP) Angka Mobilitas Jiwa/km 2 (km/ jiwa) I <100 18,50 II 100 KP ,0 III 500 KP ,00 IV 1000 KP ,00 V ,00 Sumber: Permen PU No. 14/PRT/M/2010 Ketersediaan jalan didasarkan atas kepadatan penduduk, di mana semakin padat penduduk suatu kota/kabupaten maka panjang jalan yang disediakan juga harus semakin tinggi untuk mengakomodasi kebutuhan pergerakan masyarakat dalam suatu wilayah. Dari kedua pendekatan tersebut, maka akan dianalisis ketersediaan panjang jalan pada tujuh kecamatan yang termasuk dalam pengembangan kawasan agropolitan di Kutai Timur. Ketersediaan jalan tersebut, dimaksudkan sebagai prasyarat bagi Halaman 29 dari 106
30 pertumbuhan perekonomian di kawasan agropolitan yang akan dikembangkan. Dengan menganalisis ketersediaannya hingga saat ini, maka akan diketahui apakah ketersediaan jalan tersebut sudah layak bagi pengembangan agropolitan ke depannya. Aksesibilitas Berdasarkan pendekatan aksesibilitas, di mana akan dihubungkan antara pusat kecamatan dengan pusat kecamatan, dan pusat kecamatan dengan pusat kabupaten, maka diperkirakan kebutuhan panjang jalan sebagai berikut ini : Tabel 5 Kebutuhan Panjang Jalan Berdasarkan Pendekatan Aksesibilitas Kecamatan No Kecamatan Kebutuhan panjang jalan (km) 1 Sangatta Utara 50 2 Sangatta Selatan 50 3 Rantau Pulung Bengalon Kaubun Kaliorang Sangkulirang 220 Sumber: hasil analisis peta, 2011 Dari data dan informasi yang didapatkan mengenai panjang jalan kecamatan di Kutai Timur, didapatkan data mengenai ketujuh kecamatan tersebut, sebagai berikut. Tabel 6 Panjang Jalan Kecamatan (Tanpa Mempertimbangkan Perkerasan) No Kecamatan Panjang jalan di kecamatan (km) 1 Sangatta Utara 83 2 Sangatta Selatan 35 3 Rantau Pulung Bengalon Kaubun 68 6 Kaliorang 77 7 Sangkulirang 216 Sumber: hasil analisis peta, 2011 Dari kedua data dan informasi tersebut, dilakukan perbandingan antara ketersediaan sarana jalan dengan kebutuhan panjang jalan di ketujuh Halaman 30 dari 106
31 kecamatan tersebut. Untuk tingkat aksesibilitas hasilnya dapat diketahui lewat gambar berikut ini. Gambar 24 Rasio Aksesibilitas Jalan di Kecamatan Sangatta Utara 2 Sangkulirang Kaubun 1,5 1 0,5 0 Sangatta Selatan Rantau Pulung Kaliorang Bengalon Sumber: hasil analisis, 2011 Didapatkan hasil bahwa empat dari tujuh kecamatan memiliki aksesibilitas yang baik, di mana artinya kebutuhan panjang jalan sudah terpenuhi dari sisi penyediaan, dan bahkan cenderung berlebih. Hanya perlu peningkatan aksesibilitas yang signifikan pada setidaknya tiga kecamatan, yakni Kaubun, Kaliorang, dan Sangatta Selatan. Namun kondisi tersebut, merupakan hasil tanpa mempertimbangkan jenis perkerasan tanah. Jika diasumsikan hanya jalan dengan perkerasan aspal saja yang termasuk untuk criteria aksesibilitas maka rasio aksesibilitas jalan di tujuh kecamatan tersebut adalah sebagai berikut. Halaman 31 dari 106
32 Gambar 25 Rasio Aksesibilitas Jalan di Kecamatan (Hanya Perkerasan Aspal) Sangatta Utara 2 Sangkulirang Kaubun 1,5 1 0,5 0 Sangatta Selatan Rantau Pulung Kaliorang Bengalon Kecamatan Sumber: hasil analisis, 2011 Tampak bahwa dengan hanya memasukkan unsur perkerasan aspal saja, hanya ada dua kecamatan saja yang nilai aksesibilitasnya bagus, yakni Sangatta Utara dan Bengalon, sementara yang lainnya masih berada pada kondisi yang jauh dari pemenuhan kebutuhan minimal aksesibilitas. Ini membuktikan bahwa selain pemenuhan dari kuantitas, perlu juga diperhatikan dari kualitas jalannya Mobilitas Pada pendekatan mobilitas yang menjadi bahan pertimbangan adalah kepadatan penduduk, dari data yang ada diperoleh hasil sebagai berikut ini. Tabel 7 Rasio Ketersediaan Jalan Berdasarkan Faktor Mobilitas Kebutuhan Angka Kepadatan Jumlah Panjang panjang mobilitas penduduk penduduk jalan jalan (km/ (jiwa/km2) (jiwa) (km) berdasarkan jiwa) mobilitas Halaman 32 dari 106 Rasio mobilitas Sgt Utara ,5 125,52 0,66 Sgt Selatan ,00 0,90 Rantau ,5 130,87 1,30 Pulung Bengalon ,5 86,92 3,35 Kaliorang ,5 68,14 1 Kaubun ,5 13,61 5,66 Sangkulirang ,5 144,29 1,50 Sumber: hasil analisis, 2011 Mencukupi Tidak mencukupi
33 Untuk rasio mobilitas diketahui bahwa lima kecamatan memiliki hasil yang baik, di mana kebutuhan untuk pergerakan masyarakat telah terpenuhi dengan baik. Hanya pada kecamatan Sangatta Utara dan Selatan saja yang masih belum dipenuhi, hal ini dikarenakan memang kepadatan penduduk pada dua kecamatan tersebut yang cukup tinggi dan jumlah penduduk yang besar membutuhkan ketersediaan jalan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Untuk pemenuhan kebutuhan aksesibilitas maupun mobilitas, maka akan diambil masing-masing nilai tertinggi sebagai standar yang harus dipenuhi untuk menjamin ketersediaan infrastruktur jalan Tabel 8 Kebutuhan Penyediaan Jalan Tujuh Kecamatan Kawasan Agropolitan Kebutuhan jalan Ketersediaan Kekurangan Kecamatan (faktor aksesibiltas dan jalan jalan (km) mobilitas) Sangatta Utara 125, ,52 Sangatta Selatan Rantau Pulung Bengalon 86, Kaliorang Kaubun Sangkulirang Sumber: hasil analisis, 2011 Kebutuhan jalan terbesar berada di kecamatan Sangatta Utara sebagai ibukota kabupaten yang juga harus memiliki ketersediaan yang mencukupi sebagai pusat kegiatan Kutai Timur, selain itu kecamatan Kaliorang juga memiliki kekurangan panjang jalan yang cukup signifikan. Penambahan panjang jalan diperlukan untuk peningkatan perekonomian wilayah dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Namun selain pemenuhan kebutuhan secara fisik, hal lain yang juga harus diperhatikan adalah mengenai peningkatan kualitas permukaan jalan, di mana hampir 50 % panjang jalan yang ada di tujuh kecamatan tersebut masih terdiri dari perkerasan tanah dan kerikil. Halaman 33 dari 106
34 Jaringan Irigasi Jaringan irigasi, merupakan salah satu faktor penting dalam produksi pertanian. Keberadaan jaringan irigasi akan menjamin proses produksi yang lancar dan tingkat produktivitas lahan yang tinggi. Berdasarkan satu studi yang pernah dilakukan oleh LPEM (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat) UI pada tahun 2005, didapatkan hubungan antara penambahan 10 % dari stock infrastruktur terhadap pertumbuhan PDB wilayah di Indonesia, di mana irigasi merupakan infrastruktur dengan nilai dampak terbesar bagi PDB (dalam tingkatan nasional) Tabel 9 Dampak Investasi Infrastruktur Terhadap PDRB Infrastruktur Irigasi 1,26 Jalan 0,88 Listrik 0,61 Telepon 0,61 Pelabuhan 0,26 Air 0,22 Sumber: LPEM UI, 2005 % Pertumbuhan PDB Dengan pendekatan terebut, diketahui bahwa peningkatan irigasi akan semakin menumbuhkan PDRB dan LPE lebih tinggi. Metode analisis dalam menilai kondisi ketercukupan infrastruktur irigasi di adalah dengan membandingkan antara ketersediaan irigasi dengan produksi padi. Kecamatan yang memiliki keunggulan dalam produksi padi diprioritaskan untuk dibangun lebih banyak prasarana irigasi sehingga semakin meningkatkan produksinya. Untuk kondisi Kutai Timur sendiri, luasan lahan sawah beririgasi dapat diamati berdasarkan data berikut ini: Halaman 34 dari 106
35 Tabel 10 Luas Lahan Beririgasi No Kecamatan lahan irigasi Normalisasi ketersediaan lahan irigasi 1 Muara Ancalong Busang Long Mesangat 59 0, Muara Wahau 73 0, Telen 17 0, Kombeng 48 0, Muara Bengkal 58 0, Batu Ampar 2 0, Sangatta Utara 3 0, Bengalon 74 0, Teluk Pandan 48 2, Sangatta Selatan 106 2, Rantau Pulung 630 1, Sangkulirang 29 0, Kaliorang , Sandaran 28 0, Kaubun , Karangan 149 0, TOTAL Sumber: Hasil Analisis 2011 Selanjutnya pada data di bawah ini disajikan produksi padi di Kecamatankecamatan di Kutai Timur. Tabel 11 Produksi Tanaman Padi Pertanian Kecamatan Produksi Padi (Lahan basah dan kering) Normalisasi Muara Ancalong ,74 Busang ,38 Long Mesangat ,40 Muara Wahayu ,79 Telen ,54 Kombeng ,04 Muara Bengkal ,20 Batu Ampar ,01 Sengatta Utara ,45 Teluk Pandan ,47 Sengatta Selatan ,27 Rantau Pulung ,54 Halaman 35 dari 106
36 Kecamatan Produksi Padi (Lahan basah dan kering) Normalisasi Bengalon ,65 Kaliorang ,12 Kaubun ,03 Sangkuliang ,07 Karangan ,09 Sandaran ,19 TOTAL Sumber: Hasil Analisis 2011 Dengan membandingkan antara tabel pertama mengenai ketersediaan infrastruktur irigasi dengan tingkat produksi padi maka dapat kita lihat matriks yang menggambarkan kedudukan kecamatan-kecamatan yang menjadi masukan bagi usulan penambahan infrastruktur irigasi. Dapat kita lihat matriks tersebut pada gambar di bawah ini. Gambar 26 Indeks Share PDRB tanaman pangan dan Irigasi Sumber: Hasil Analisis 2011 Keterangan Kecamatan unggulan Kecamatan potensial Kecamatan berkembang Kecamatan tertinggal Halaman 36 dari 106
37 Tampak dari hasil analisis bahwa kedua kecamatan yang berada pada skala unggulan adalah Kaliorang dan Kaubun, yang artinya sektor pertanian tanaman pangan di kedua kecamatan tersebut telah cukup maju dan baik. Sementara kecamatan rantau Pulung dan sangatta selatan menunjukkan nilai ketersediaan lahan irigasi yang berlebih, sehingga perlu dioptimalkan ke depannya. Kecamatan yang berada pada kuadran berkembang yakni Sangkulirang dan Sangatta utara menunjukkan nilai optimasi dari keberadaan lahan irigasi yang baik, sementara Bengalon diperhitungkan merupakan kecamatan tertinggal dari sektor tanaman pangan. Adapun kebutuhan tambahan lahan irigasi adalah sebagai berikut: Tabel 12 Kebutuhan Penambahan Irigasi Kecamatan Kebutuhan tambahan irigasi (Ha) Sangatta Utara 2,1 Ha Sangatta Selatan - Rantau Pulung - Bengalon 82,5 Kaliorang - Kaubun - Sangkulirang 10,5 Halaman 37 dari 106
38 Jaringan Energi Listrik Infratruktur lain yang juga berkaitan dengan pengembangan ekonomi adalah jaringan listrik. Keberedaaan listrik sebagai sumber energi bagi aktivitas akan juga menetukan aejauh mana pengembangan perekonomian dan masyarakat dalam satu wilayah. Energi listrik digunakan dalam proses produksi ekonomi dan juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Indicator yang digunakan untuk mengetahui kecukupan energi listrik adalah dengan mengidentifikasi rasio elektirifikasi di tujuh kecamatan tersebut, dikaitkan dengan nilai PDRB per kecamatan yang dihasilkan. Rasio elektrifikasi menunjukan kemajuan suatu wilayah di mana energi listrik telah dipenuhi bagi masyarakat, sementara PDRB menunjukkan produktivitas wilayah dalam menciptakan nilai tambah bagi perekonomian Kabupaten. Berdasarkan data yang dikumpulkan diketahui kondisi rasio elektrifikasi dan share PDRB pertanian wilayah sebagai berikut. Tabel 13 Rasio Elektrifikasi-Indeks Share PDRB Pertanian Indeks share PDRB Rasio Elektrifikasi No Kecamatan pertanian (nilai ratarata (%) =1) 1 Sangatta Utara 100 0, Sangatta Selatan 75 1, Rantau Pulung 29 0, Bengalon 72 1, Kaliorang 32 1, Kaubun 54 0, Sangkulirang 66 2, Sumber : hasil analisis, 2011 Berdasarkan perbandingan kedua komponen tersebut, berikut akan dipaparkan hasil dari analisis kuadran yang dilakukan, yakni : Halaman 38 dari 106
39 Gambar 27 Analisis Kuadran Perbandingan Rasio Elektrifikasi dan Share PDRB Keterangan Kecamatan unggulan Kecamatan potensial Kecamatan berkembang Kecamatan tertinggal Tampak dari hasil bahwa dominasi kecamatan di dalam kawasan pengembangan agropolitan beraada pada kondisi berkembang, di mana artinya walaupun rasio elektrifikasi masih berada di bawah rata-rata seluruh kecamatan, namun produksi pertaniannya melebihi nilai rata-rata kecamatan dalam lingkup kabupaten Kutai Timur. Kecamatan Sangatta utara sebagai pusat kabupaten berada dalam kondisi potensial, yang artinya kebutuhan listrik telah terpenuhi namun produksi pertaniannya masih di bawah rata-rata, hal ini dimungkinkan karena Sangatta Utara sebagai pusat pengumpul memang dikhususkan sebagai pusat distribusi barang dan jasa, yang tidak hanya terkait dengan sektor pertanian saja. Untuk empat kecamatan yang ada dalam kondisi berkembang, penambahan energi listrik dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (unt uk peningkatan kesejahteraan dan produktivitas) dan juga sebagai pengembangan pada sektor pendukung pertanian ( industri) agar nilai tambah lebih meningkat Halaman 39 dari 106
40 lagi, sebab nilai tambah yang dihasilkan dari pertaniannya telah tinggi, jika dilanjutkan dengan proses yang terjadi pada industri maka akan semakin meningkatkan nilai tambah produk pertanian yang dihasilkan pada empat kecamatan tersebut. Untuk kecamatan yang berada pada kondisi tertinggal, perlu peningkatan ketersediaan listrik bagi masyarakat, karena selain bagi kesejahteraan masyarakat masuknya listrik nantinya juga dapat dimanfaatkan untuk proses pengolahan pertanian yang pada akhirnya akan semakin meningkatkan produktivitas sehingga bisa bergerak dari kuadran tertinggal menjadi berkembang atau potensial. Sementara untuk Sangatta Utara, ketersediaan listrik yang telah mapan harus dibarengi dengan strategi pengembangan sektor pendukung pertanian lainnya, misalnya pada pemasaran, perdagangan, maupun industri pengolah hasil pertanian. Dengan kebutuhan yang didasarkan atas nilai tengah indeks rasio elektrifikasi, dan kebutuhan listrik sebesar 450 W/RT (standar ukuran perdesaan), maka kekurangan daya listrik yang dibutuhkan pada kecamatankecamatan tersebut dapat dilihat dari diagram berikut: Tabel 14 Kebutuhan Tambahan Daya Listrik (Kw) No Kecamatan Kebutuhan tambahan daya (KW) 1 Sangatta Utara - 2 Sangatta Selatan 289,95 3 Rantau Pulung 1099,22 4 Bengalon 564,21 5 Kaliorang 1006,88 6 Kaubun 35,28 7 Sangkulirang 555,72 TOTAL Sumber : hasil analisis, ,55 MW Kebutuhan tersebut masih pada angka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada tujuh kecamatan yang menjadi wilayah studi. Halaman 40 dari 106
41 Koperasi Salah satu faktor infrasturktur lain yang terkait dengan pengembangan agropolitan adalah keberadaan koperasi, karena melalui koperasi hasil pertanian dikumpulkan dan juga melalui koperasi juga terjadi penjualan alatalat produksi pertanian, yang menjadi modal dalam proses produksi pertanian. Dalam analisis kuadran, sama dengan analisis ketenagalistrikan, yang dibandingkan adalah nilai share PDRB (yang diolah dalam bentuk indeks) dengan jumlah toko yang menjual sarana pertanian pada tujuh kecamatan studi. Tabel 15 Indeks Share PDRB-Ketersediaan Toko Sarana Pertanian Indeks share PDRB Jumlah Toko Kecamatan pertanian (normalisasi =1) sarana pertanian Sangatta Utara 0, Sangatta Selatan 1, Rantau Pulung 0, Bengalon 1, Kaliorang 1, Kaubun 0, Sangkulirang 2, rata-rata kecamatan 6,11 Sumber: hasil analisis, 2011 Berdasarkan perbandingan kedua komponen tersebut, berikut akan dipaparkan hasil dari analisis kuadran yang dilakukan, yakni: Halaman 41 dari 106
42 Gambar 28 Analisis Kuadran Perbandingan Ketersediaan Toko Sarana Pertanian dan Share PDRB Sumber: hasil analisis, 2011 Keterangan Kecamatan unggulan Kecamatan potensial Kecamatan berkembang Kecamatan tertinggal Dari hasil perbandingan, tampak bahwa secara umum tidak ada kecamatan yang berada dalam kuadran tertinggal (yang berarti nilai tambah kecil dan kekurangan toko sarana pertanian), hal ini membuktikan bahwa jumlah toko yang menjual sarana pertanian telah mencukupi untuk ketujuh kecamatan tersebut, hanya ada beberapa interpretasi yang terkait dengan hal tersebut, yakni: 1. Untuk kecamatan dalam kuadran unggulan (Kaliorang dan Sangatta Selatan), telah terjadi hubungan yang positif antara keberadaan toko sarana pertanian dengan produksi pertaniannya sendiri. di mana jumlah prasarana toko telah cukup dalam menciptakan nilai tambah pertanian di kedua kecamatan tersebut. 2. Untuk kecamatan dalam kuadran potensial, jumlah ketersediaan prasarana toko tersebut jauh melebihi nilai tambah yang dihasilkan. Halaman 42 dari 106
43 Sehingga perlu dilakukan optimasi keberadaan prasaran pertokoan tersebut dalam menciptakan nilai tambah pertanian tersebut. 3. Untuk kecamatan dalam kuadran berkembang, keberadaan prasarana pertokoan yang kecil mampu menciptakan nilai tambah yang besar dan melebihi rata-rata di kedua kecamatan tersebut. Maka diharapkan dengan penambahan jumlah prasarana toko dikedua kecamatan tersebut akan mampu meningkatkan besaran nilai tambah pertanian menjadi lebih tinggi lagi ke depannya. Adapun kebutuhan tambahan prasarana toko di kedua kecamatan tersebut, adalah Kaliorang Sangkulirang Kebutuhan Agregat : 4 unit : 5 unit Berdasarkan hasil analisis terhadap empat jenis infrastruktur dalam proses pertanian, berikut akan dipaparkan hasil agregat kebutuhan infrastruktur pada kecamatan yang menjadi wilayah studi, yakni : Tabel 16 Kebutuhan Agregat Infrastruktur Sarana Kebutuhan Kekurangan Kecamatan irigasi Listrik jalan (km) (Ha) (KW) Halaman 43 dari 106 Kebutuhan Toko (unit) Sangatta Utara 42,52 2,1 - - Sangatta Selatan ,95 - Rantau Pulung ,22 - Bengalon - 82,5 564,21 - Kaliorang ,88 4 Kaubun ,28 - Sangkulirang 4 10,5 555,72 5 Sumber: hasil analisis, 2011 Dari banyaknya jenis infratruktur yang dibutuhkan, maka muncul kebutuhan prioritas berdasarkan kecamatan, untuk pengembangan sarana prasarana pertanian diurutkan berdasarkan yang paling prioritas, yakni : 1. Kaliorang 2. Sangkulirang
44 3. Rantau Pulung 4. Sangatta Selatan 5. Bengalon 6. Kaubun 7. Sangatta Utara Meskipun Sangatta utara memiliki kebutuhan panjang jalan terbesar, namun ia tidak menjadi prioritas pengembangan dalam konteks pengembanga pertanian, dikarenakan panjang jalan yang dibutuhkan lebih kepada mobilitas masyarakat dan bukan dalam rangka pengembangan pertanian pada kecamatan tersebut. Halaman 44 dari 106
45 Bagian- 2 Konsep Pengembangan Agropolitan Konsep agropolitan diartikan sebagai upaya pengembangan kawasan pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem usaha agribisnis, yang diharapkan dapat melayani dan mendorong kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Oleh karena itu suatu kawasan agropolitan tidak akan terlepas dari kawasan agribisnis. Kawasan agropolitan yang memiliki fungsi sebagai penghasil dan pengolah hasil pertanian, sedangkan kawasan agribisnis yang memiliki fungsi sebagai pasar. Definisi konsep agropolitan menurut Departemen Pekerjaan Umum berbasis RTRWN adalah: 1. Kawasan agropolitan diartikan sebagai sistem fungsional desa-desa yang ditunjukkan dari adanya hirarki keruangan desa yakni dengan adanya pusat agropolitan dan desa-desa di sekitarnya membetuk Kawasan Agropolitan. 2. Produk pertanian dari kawasan produksi akan diolah terlebih dahulu di pusat kawasan agropolitan sebelum di jual (ekspor) kepasar yang lebih luas sehingga nilai tambah tetap berada di kawasan agropolitan. Konsep pengembangan agropolitan pada dasarnya merupakan konsep pengembangan suatu wilayah dengan basis pembangunan ekonomi sektor pertanian. Konsep ini merupakan salah satu konsep pengembangan wilayah yang bottom-up, artinya masyarakat tidak hanya sebagai objek melainkan juga memiliki peran penting dalam pengembangan wilayahnya. Konsep ini kebalikan dari konsep top-down, dimana aktor utama dalam pengembangan wilayah adalah pemerintah. Pelaksanakan konsep agropolitan adalah dengan mensinergikan berbagai potensi lokal/wilayah, yang berbasis kerakyatan, dan digerakkan juga oleh sumber daya manusia lokal. Pada konsep ini, dengan adanya peran aktif dari masyarakat, bukan berarti pemerintah tidak memilki andil. Fungsi dari pemerintah dalam konsep ini adalah sebagai fasilitator dan juga memegang fungsi pengawasan. Karakteristik agropolitan antara lain: Halaman 45 dari 106
46 1. Skala geografi relatif kecil 2. Proses perencanaan dan pengambilan keputusan yang bersifat otonom dan mandiri berdasarkan partisipatif masyarakat lokal 3. Diversifikasi tenaga kerja pedesaan pada sektor pertanian dan non pertanian menekankan pada pertumbuhan industri kecil 4. Adanya hubungan fungsional industri pedesaan-perkotaan dan linkage dengan sumberdaya ekonomi lokal 5. Pemanfaatan dan peningkatan kemampuan sumberdaya dan teknologi lokal. 2.1 Kelembagaan Pengelolaan Agropolitan Pembangunan wilayah agropolitan berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Di dalam aspek sosial salah satu faktor pendukungnya adalah kelembagaan. Kelembagaan merupakan landasan bagi berbagai fungsi layanan dan aliran manfaat untuk mendukung pembangunan agropolitan. Keterkaitan antara pembangunan agropolitan dan kelembagaan terlihat pada gambar di bawah ini. Gambar 29 Kelembagaan dalam Konsep Pengembangan Agropolitan Sumber : dalam Iwan Nugroho, 2006 Halaman 46 dari 106
47 Menurut Williamson, 1995, unsur penting dalam kelembagaan adalah made of organization dan uncertainty. Mode of organization berhubungan dengan alternatif dalam sistem produksi, antara lain membuat atau membeli (produk antara), menggunakan modal sendiri atau utang (dalam pasar kredit), tingkat upah (dalam pasar tenaga kerja), dan dukungan regulasi (dalam privatisasi). Uncertainty berhubungan dengan risiko-risiko, yang menyertai kontrak termasuk pula administration cost (korupsi dan rent seeker), beragam policy jangka pendek dan jangka panjang (seperti pajak, pricing policy, kuota, atau pembatasan lainnya) yang menyebabkan distorsi dan depresiasi aset. Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, dapat disimpulkan aspek kelembagaan dalam pengembangan suatu kawasan agropolitan menjadi sangat penting. Oleh karena itu, pada subbab ini dilakukan kajian rencana aspek kelembagaan yang mendukung konsep pengembangan agropolitan di. Rencana kelembagaan ini merupakan hasil desk study berbagai rencana kelembagaan di wilayah lain yang telah menerapkan konsep pengembangan agropolitan. Fungsi kelembagaan menjadi salah satu aspek utama yang mendukung pelaksanaan pembangunan suatu wilayah. Peran dari kelembagaan adalah sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas program pembangunan. Kelembagaan dalam pembangunan suatu wilayah terdiri dari pemerintah, swasta maupun masyarakat. Dalam pembangunan daerah, kelembagaan merupakan pelaku utama dalam merencanakan dan membangun wilayah meliputi berbagai pengelolaannya, serta membangun masyarakat dan sumber daya agar pembangunan daerah dapat berkesinambungan dan berkelanjutan. Hal ini berarti, kelembagaan mengatur dua elemen pokok, yaitu potensi dan fisik kota, serta pemberdayaan masyarakat. Sebelum dapat merencanakan kelembagaan agropolitan di, terlebih dahulu akan dijelaskan kelembagaan yang telah ada di Kabupaten Kutai Timur yang mendukung konsep agropolitan. Pada subbab selanjutnya, dilakukan rencana kelembagaan yang dapat diterapkan di untuk mendukung konsep agropolitan. Kajian kelembagaan agropolitan yang akan direncanakan menggunakan hasil identifikasi konsep kelembagaan dalam Halaman 47 dari 106
48 pengembangan wilayah agropolitan di Kecamatan Pangalengan sebagai role model, namun hasilnya akan disesuaikan kembali dengan kondisi di. Sehingga diharapkan rencana aspek kelembagaan yang dihasilkan dapat sesuai dengan konsep agropolitan yang dapat diterapkan di Kelembagaan Terkait Agropolitan di Konsep agropolitan di berbagai wilayah di Indonesia mungkin belum banyak direncanakan secara langsung. Namun, sebenarnya lembaga atau program yang terkait secara langsung ataupun tidak langsung dengan konsep agropolitan telah banyak terdapat di berbagai wilayah di Indonesia (Syahrani, 2001; dalam Nugroho, 2006). Misalnya keberadaan Koperasi Unit Desa (KUD) dan Badan Usaha Unit Desa (BUDD), yang dapat dipandang sebagai lembaga yang mendukung konsep agropolitan. Peran yang dilakukan kedua lembaga tersebut adalah meningkatkan aktifitas ekonomi di wilayah pedesaan melalui penyediaan sarana produksi (Saprodi) serta menampung hasil panen dari para petani. Selain itu terdapat program pendukung lainnya, seperti keberadaan Puskesma, Listrik Masuk Desa, dan pembangunan infrastruktur jalan. Program-program tersebut menjadi faktor pendukung secara langsung ataupun tidak langsung konsep agropolitan. Saat ini, konsep agropolitan berkembang menjadi sasaran yang lebih spesfifik. Misalnya untuk tujuan pemerataan kepadatan, maka dilakukan program transmigrasi. Untuk mempercepat ketertinggalan beberapa provinsi, dilakukan program Pengembangan Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET). Program yang mendorong keunggulan komparatif adalah program Pengembangan Kawasan sentra Produksi (KSP). Program -program tersebut sebenarnya merupakan bagian dari konsep agropolitan, namun dengan sasaran yang lebih detail. Seperti halnya di, sebenarnya telah terdapat programprogram maupun lembaga yang secara langsung ataupun tidak langsung yang mendukung konsep agropolitan. Misalnya keberadaan Dai Pembangunan, PPL, Petani inti, kader koperasi, dan pembentukan Koperasi Unggul di kecamatan. Halaman 48 dari 106
49 Lembaga-lembaga tersebut sebenarnya menjadi potensi dan sekaligus kekuatan dalam pengembangan wilayahnya dengan konsep agropolitan. Namun, seperti wilayah lain di Indonesia, keberadaan KUD dan lembaga lainnya tidak akan berjalan dengan baik jika tanpa pengawasan, organisasi yang baik, pelaksanaan kegiatan yang profesional, dan lain-lain. Selain itu, masih diperlukan beberapa lembaga lainnya yang dapat semakin mendukung pengembangan wilayah dengan konsep agropolitan. Penjelasan mengenai rencana kelembagaan yang dapat diterapkan di Kabupatenn Kutai Timur dijelaskan pada subbab selanjutnya Pengembangan Kelembagaan Agropolitan Kunci utama dalam konsep agropolitan adalah kegiatan penghasil dan pengolahan hasil pertanian guna menambah nilai gunanya, baru kemudian dipasarkan. Oleh karena itu perlu dilakukan penguatan lembaga-lembaga kelompok tani, industri kecil yang mengolah hasil tani, dan juga penguatan koperasi yang menjual hasil pertanian maupun hasil olahannya, Penguatan kelembagaan yang dilakukan seharusnya bertujuan utama untuk meningkatkan profesionalisme dan posisi tawar petani. Upaya yang dapat dilakukan untuk menguatkan kelembagaan dalam pengembangan agropolitan, antara lain: 1. Mengadakan dan mengorganisasikan kelompok tani Pembenahan organisasi kelompok tani perlu dilakukan, misalnya dengan mengelompokkan kelompok petani berdasarkan hasil komoditasnya yang anggotanya berasal dari lintas desa. Dengan demikian, diharapkan akan lebih dapat mengoptimalisasi hasil produksi pertanian dan menumbuhkan persaingan yang sehat. Adanya kegiatan petani yang dilakukan secara berkala di dalam organisasi/kelompok tani akan meningkatkan jalinan kerjasama antar petani. Halaman 49 dari 106
50 2. Meningkatkan kemampuan para petani dan kelompok tani Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan petani secara personal adalah dengan pelatihan atau sosialiasi mengenai bibit unggul, pemupukan, dan pelatihan lainnya guna meningkatkan kualitas dan produktivitas hasil pertanian para petani. Selain itu perlu juga dilakukan pengembangan fungsi kelompok tani menjadi kelompok usaha koperasi. Untuk mengintegrasikan berbagai kelompok tani yang ada, maka perlu dilakukan pengembangan organisasi kelompok tani yang lebih besar, misalnya dengan mengadakan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). 3. Mengembangkan kemitraan usaha Setelah dilakukan penguatan organisasi kelompok tani dan peningkatan kualitas dan produktivitas hasil produksi petani, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah dengan mengembangkan kemitraan antara para petani dengan pelaku agribisnis (swasta). Biasanya dalam penjualan hasil produksi pertanian yang tanpa diolah, dan dengan keberadaan tengkulak, maka para petani menjadi pihak yang dirugikan. Oleh karena itu untuk dapat meningkatkan nilai tambah, hasil produksi pertanian perlu diolah terlebih dahulu menjadi produk setengah jadi atau produk jadi, baru kemudian dijual. Namun, pengaturan harga jual dan hal-hal lain yang berkaitan dengan penjualan lebih baik menjadi tanggung jawab Gapoktan atau asosiasi lain yang dibentuk para petani. Dengan demikian, diharapkan akan mengurangi atau menghilangkan fungsi tengkulak. Dalam melakukan kemitraan, perlu diperhatikan prinsip-prinsip kemitraan, yakni: Terdapat pelaku kemitraan, yaitu petani, kelompok tani, pengusaha, dan pemerintah Terdapat kebutuhan dan kepentingan bersama dari para pelaku agribisnis Terdapat kerjasama dan kemitraan yang seimbang dan saling menguntungkan. Halaman 50 dari 106
51 Selain lembaga-lembaga yang telah disebutkan diatas, dalam mengembangkan kawasan agropolitan terdapat beberapa lembaga pendukung lainnya yang menentukan. Lembaga-lembaga pendukung tersebut antara lain pemerintah, lembaga pembiayaan, lembaga pemasaran dan distribusi, koperasi, lembaga pendidikan formal dan informal, lembaga penyuluhan pertanian lapangan, dan lembaga penjamin dan penanggungan risiko. Peran dan fungsi masing-masing lembaga adalah sebagai berikut: 1. Pemerintah Dengan kewenangan regulasi yang dimiliki pemerintah, maka peran dari pemerintah adalah menentukan kebijakan arah dan strategi pengembangan agropolitan dan agribisnis. Pemerintah memegang peranan yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan usaha agribisnis yang kondusif dan memihak pada para petani lokal. Misalnya, pemerintah menjadikan kawasan agropolitan sebagai lumbung suatu komoditas tertentu ataupun dengan membatasi impor hasil pertanian yang sama dengan yang dihasilkan kawasan agropolitan. Berbagai regulasi pemerintah yang mendukung kawasan agropolitan, antara lain: a. Regulasi untuk menjamin terciptanya lingkungan bisnis yang kompetitif dan mencegah monopoli dan kartel. b. Regulasi untuk mengontrol kondisi-kondisi monopoli yang diizinkan, seperti Bulog yang menangani komoditas stratgeis dan beberapa badan usaha milik negara (BUMN) yang mengelola usaha utilitas publik. c. Regulasi untuk fasilitas perdagangan, termasuk ekspor dan impor. d. Regulasi dalam penyediaan pelayanan publik, terutama untuk fasilitas layanan yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan agribisnis. e. Regulasi untuk proteksi, baik proteksi terhadap konsumen maupun produsen. Halaman 51 dari 106
52 f. Regulasi yang terkait langsung dengan harga komoditas agribisnis, input-input agribisnis, dan berbagai peralatan agribisnis. g. Regulasi terhadap peningkatan ekonomi dan kemajuan sosial. h. Regulasi terhadap sistem pembiayaan agribisnis, seperti pemodalan dari perbankan, pasar modal, modal ventura, leasing, dan lain-lain. i. Regulasi terhadap sistem penanggungan risiko agribisnis, seperti keberadaan asuransi pertanian dan bursa komoditas dengan berbagai instrumennya, seperti future contract, hedging, option market, dan lain-lain. 2. Lembaga Pemasaran dan Distribusi Dalam konsep agropolitan, lembaga pemasaran dan distribusi menjadi perantara antara para petani yang menghasilkan produk pertanian dengan para konsumen pengguna yang membutuhkan produk. Karena lembaga ini menjadi penentu utama besarnya marjin antara harga di tingkat produsen dan harga di tingkat konsumen, maka diperlukan adanya pembinaan terhadap lembaga pemasaran dan distribusi agar tercipta pembagian keuntungan yang adil dari semua nilai tambah yang tercipta. Lembaga pemasaran dan distribusi yang paling umum adalah pedagang di pasar kecamatan ataupun pasar induk. Alur pemasaran yang umum dilakukan digambarkan seperti gambar di bawah. Halaman 52 dari 106
53 Gambar 30 Aliran Pemasaran Komoditas Pertanian dengan Pasar Sumber : Iwan Setiajie Anugrah, 2004 Lembaga lainnya yang dapat berperan sebagai lembaga pemasaran dan distribusi adalah pasar lelang. Alur pemasaran yang dilakukan jika terdapat pasar lelang adalah hasil produksi dari para petani dikoordinir ketua kelompok tani. Ketua kelompok tani akan memiliki data dan sampel produk yang akan ditawarkan pada pembeli melalui pasar lelang. Setelah menyerahkan sampel tersebut ke petugas lelang, ketua kelompok tani mengetahui harga pasar yang terbentuk. Halaman 53 dari 106
54 Gambar 31 Aliran Pemasaran Komoditas Pertanian dengan Pasar Lelang Sumber : Iwan Setiajie Anugrah, 2004 Fungsi pasar lelang adalah untuk mempertemukan antara pedagang (dalam hal ini sebagai pembeli) dengan komoditas yang ditawarkan oleh kelompok tani. Peran yang paling penting dari pasar lelang berkaitan dengan informasi harga pasar yang terjadi dengan patokan di tingkat pasar induk. Oleh karena itu jumlah luas tanam (pola tanam) dan perkiraan produksi di daerah produksi harus didata dan diketahui sebelumnya, sehingga para pedagang memperoleh informasi yang jelas. 3. Koperasi Dalam pengembangan konsep agropolitan, peran koperasi adalah sebagai penyalur input-input pertanian dan lembaga pemasaran hasilhasil pertanian. Koperasi yang berkaitan dengan usaha pertanian yang terdapat di Indonesia adalah Koperasi Unit Desa (KUD). KUD sebenarnya dapat berpotensi untuk menggantikan peran pemerintah sebagai sumber informasi pertanian pedesaan. Oleh karena itu perlu Halaman 54 dari 106
55 dilakukan penguatan dan pemberdayaan kembali KUD di Kabupaten Kutai Timur agar dapat mendukung konsep agropolitan. Selain KUD, sebenarnya terdapat jenis koperasi lain yang berperan dalam pengembangan konsep agropolitan, seperti koperasi susu, koperasi tahu tempe, dan lain-lain. Dapat menjadi suatu kekuatan pendukung pengembangan konsep agropolitan jika KUD dan koperasikoperasi lainnya yang terdapat di dapat diberdayakan kembali. Di Indonesia, hampir setiap desa yang terdapat kegiatan pertanian memiliki KUD. Keberadaan KUD yang terdapat di hampir seluruh desa ini menjadi salah satu kekuatan distribusi dan komunikasi yang efektif dalam jaringan pengembangan agropolitan di. Namun, keberadaan KUD yang banyak tidak menjadi ukuran keberhasilan kegiatan pertanian di seluruh wilayah. Hal ini karena banyak KUD yang tidak berdaya untuk membantu pengembangan agropolitan. Dari hasil desk study, diketahui beberapa hal yang menjadi penghambat berkembanganya KUD antara lain: KUD banyak dibentuk hanya untuk memenuhi program pemerintah, bukan karena kesadaran anggota sendiri. Pemodalan KUD sangat terbatas, apalagi akses pada lembaga pembiayaan yang sangat kecil. Masyarakat di daerah kurang merasa memiliki dan kurang partisipatif dalam operasional usaha KUD. Banyak KUD yang hanya membawa slogan sebagai badan ekonomi rakyat, namun dalam operasinya kurang didukung oleh partisipasi rakyat. Para pengurus dan pagawai KUD tidak profesional dalam menjalankan usaha, sehingga banyak KUD yang tidak berjalan sama sekali. Halaman 55 dari 106
56 4. Lembaga Pendidikan Formal dan Informal Aspek sumber daya manusia merupakan aspek utama dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan pada konsep agropolitan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pada dasarnya konsep agropolitan merupakan konsep pengembangan wilayah yang bertumpu pada pengembangan dan pengoptimalisasian sumber daya alam lokal dengan sumber daya manusia lokal sebagai aktor utamanya. Oleh karena itu peran pendidikan dan latihan menjadi sangat penting. Dengan adanya lembaga pendidikan formal dan informal yang baik dan sesuai kebutuhan, maka diharapkan masyarakat dapat lebih meningkatkan nilai tambah hasil pertaniannya, dapat mengelola dan memiliki kemampuan manajerial, serta mampu menjadi usahawan untuk memasarkan hasil produksinya dengan baik. 5. Lembaga Penyuluhan Pertanian Lapangan Lembaga penyuluh pertanian lapangan memiliki peran sebagai penyuluh pada para petani mengenai cara bertani yang baik, juga sebagai fasilitator dan konsultan pertanian bagi masyarakat. Salah satu bentuk keberhasilan dari lembaga ini adalah swasembada beras di Indonesia selama kurun waktu 10 tahun, yakni dari tahun 1983 hingga Penyuluh pertanian lapangan (PPL) pada program tersebut dengan konsisten memperkenalkan berbagai program peningkatan produksi pangan yang dicanangkan oleh pemerintah dan membimbing dalam pelaksanaannya, seperti bimas, inmas, insus, supra insus, dan lain-lain. Namun perananan lembaga penyuluh pertanian lapangan tersebut saat ini menurun. Oleh karena itu perlu adanya penataan dan pemberdayaan kembali, serta mendeskripsikan kembali tugas lembaga tersebut. Dengan demikian, diharapkan lembaga ini dapat meningkatkan hasil produktivitas pertanian. 6. Lembaga Riset Peran dari lembaga riset dalam pengembangan agribisnis, misalnya pada usaha diversifikasi olahan komoditas ekspor. Hampir seluruh wilayah di Halaman 56 dari 106
57 Indonesia sebenarnya memiliki anugerah alam yang melimpah. Namun kekayaan tersebut tidak akan bermanfaat banyak jika disertai penanganan khusus dan kejelian untuk melihat peluang. Peran dari lembaga riset ini ternyata belum menggembirakan dan jauh ketinggalan dibandingkan negara lainnya. Oleh karena itu perlu dilakukan pemberdayaan lembaga riset dalam pengembangan agribisnis dalam upaya meraih keunggulan bersaing produk-produk agropolitan yang dihasilkan. 7. Lembaga Penjamin dan Penanggungan Risiko Pada setiap kegiatan ekonomi, pasti terdapat risiko. Termasuk di bidang agribisnis, juga terdapat risiko. Untuk dapat mengatasi dan menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran para pelaku bisnis dalam bidang agribisnis, maka diperlukan lembaga penjamin risiko. Contoh dari lembaga penjamin risiko agribisnis adalah asuransi pertanian. Pengadaan lembaga ini sangat tepat dilakukan di Kabupaten Kutai Timur, guna memberikan sarana penjaminan berbagai risiko dalam agribisnis dan industri pengolahannya. 8. Kelompok Kerja Pertanian Pada konsep agropolitan, diperlukan adanya kerjasama antara masyarakat (termasuk para petani), swasta, maupun pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah (SKPD). Perlu adanya sinkronisasi program-program terkait pertanian yang dilaksanakan oleh berbagai stakeholder tersebut. Oleh karena itu diperlukan adanya kelompok kerja yang mempersatukan dan mensinkronisasikan program pertanian dari masing-masing stakeholder tersebut. Kedudukan Kelompok Kerja Pertanian tersebut dapat berada di dalam institusi Bappeda. Halaman 57 dari 106
58 2.2 Faktor Utama Pengembangan Konsep Agropolitan di Kutai Timur Untuk menentukan faktor utama yang menentukan pengembangan konsep agropolitan di, metode yang dilakukan adalah dengan kuesioner pada para ahli, yang dalam hal ini adalah instansi terkait di. Instansi terkait tersebut antara lain Bappeda, Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Badan Ketahanan Pangan Daerah, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Badan Penanaman Modal Daerah, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Dalam konsep Pengembangan Ekonomi Lokal, terdapat enam faktor utama pendorong, yakni : 1. Kelompok sasaran Prinsip dari pelibatan kelompok sasaran adalah harus mempertimbangkan stakeholders kunci pelaku usaha yang ada dalam kegiatan ekonomi lokal tersebut, yang mencakup pelaku usaha lokal, pelaku usaha baru, dan investor luar. 2. Faktor lokasi Mengacu berdasarkan kedalaman ruang lingkup ekonominya, terdapat tiga faktor lokasi utama yaitu : a. Faktor lokasi terukur, Indikator: akses ke dan dari lokasi, akses ke pelabuhan laut dan udara, sarana transportasi, infrastruktur komunikasi, infrastruktur energi, ketersediaan air bersih, tenaga kerja terampil, dan jumlah lembaga keuangan lokal. b. Faktor lokasi tidak terukur pelaku usaha, Indikator:peluang kerjasaman dan lembaga Penelitian. c. Faktorlokasi tidak terukur individual, Indikator: kualitas permukiman, lingkungan, fasilitas pendidikan dan pelatihan, pelayanan kesehatan, fasos dan fasum, serta etos kerja SDM. 3. Kesinergian dan fokus kebijakan Tiga prinsip utama yang perlu dipertimbangkan, yaitu: a. Perluasan ekonomi, Indikator kebijakan: iklim investasi, promosi, persaingan usaha, peran Perusahaan Daerah, jaringan usaha, informasi tenaga kerja dan pengembangan keahlian Halaman 58 dari 106
59 b. Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan komunitas, Indikator kebijakan: berbasis kemitraan swasta, dan keberpihakan pada pengurangan kemiskinan. c. Pembangunan wilayah, Indikator utama: kebijakan kawasan industri, pusat pertumbuhan, pengembangan Komunitas, kerjasama antardaerah, tataruang PEL, jaringan usaha antarsentra, dan sistem industri berkelanjutan. 4. Pembangunan berkelanjutan Konsepsi pembangunan berkelanjutan bertumpu pada tiga pondasi utama yaitu : a. Aspek ekonomi, Indikator: pengembangan Industri pendukung, perusahaan dengan Business Plan, dan inovasi perusahaan. b. Aspek lingkungan, Indikator: penerapan AMDAL, koservasi sumber daya alam, dan kegiatan daur ulang. c. Aspek sosial, Indikator : kontribusi PEL terhadap kesejahteraan masyarakat, PEL dan adat / kelembagaan lokal. 5. Tata pemerintahan Terdapat tiga indikator kunci dalam perwujudan tata kepemerintahan yaitu: a. Kemitraan pemerintah dan dunia usaha, indikator: infrastruktur, promosi dan perdagangan, serta pembiayaan. b. Pengembangan organisasi, indikator: asosiasi industri yang mencakup status, peran, dan manfaat. c. Reformasi sektor publik, indikator: reformasi sistem insentif, restrukturisasi organisasi pemerintahan, dan prosedur pelayanan publik. 6. Proses manajemen Dalam proses manajemen PEL, hal mendasar yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana keterlibatan partisipatif masyarakat dalam berbagai proses manajemen, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, hingga evaluasi. Halaman 59 dari 106
60 a. Diagnosis partisipatif, indikator: analisis dan Pemetaan PEL yang mencakup potensi ekonomi, daya saing, kondisi politis lokal, serta identifikasi stakeholder. b. Manajemen perencanaan dan pelaksanaan, indikator :jumlah stakeholder, sinkronisasi (sektoral perencanaan dalam hal pelibatan. dan spasial), dan implementasi c. Monitoring dan evaluasi, indikator: frekuensi monitoring, evaluasi, dan diskusi pemecahan masalah, dan rekomendasi hasil monitoring dan evaluasi terhadap perencanaan yang akan datang. Keenam faktor tersebut, kemudian ditanyakan tingkat kepentingannya dalam pengembangan ekonomi lokal (dengan pengembangan konsep agropolitan) pada 8 dinas terkait yang telah disebutkan sebelumnya. Untuk dapat menghasilkan hirarki atau peringkat faktor utama penentu pengembangan ekonomi lokal dengan konsep agropolitan, maka perlu diketahui hasil penilaian total untuk masing-masing faktor. Namun, karena stakeholder yang memberikan penilaian beragam keterkaitannya dan tupoksinya dengan konsep pengembangan ekonomi lokal, maka setiap stakeholder dibobotkan. Pembobotan yang diberikan disesuaikan dengan tupoksi dan keterkaitan dengan konsep pengembangan ekonomi lokal dengan agropolitan. Hasil persepsi dari seluruh stakeholder kemudian dikalikan dengan bobot, sehingga dihasilkan nilai akhir dari masing-masing faktor. Hasil akhir penilaian masing-masing faktor kemudian di kategorikan. Kategori terdiri dari 3, yakni sangat penting, sedang, dan tidak pending. Hasil penilaian kategori untuk masing-masing faktor adalah sebagai berikut. Tabel 17 Hasil Nilai dan Kategori Masing-masing Faktor Faktor Indikator Atribut Nilai Pembulatan Akhir Kategori Ketersediaan Modal 1,325 1 sangat penting Promosi 1,25 1 sangat penting Peningkatan A. Kelompok Sasaran Pelaku Usaha Lokal Pelaku Usaha baru Teknologi Manajemen dan Kelembagaan pelatihan kewirausahaan 1, sangat penting 1,55 2 sedang 1,25 1 sangat penting Halaman 60 dari 106
61 Faktor Indikator Atribut investor Nilai Akhir Pembulatan Kategori pendampingan dan monitoring 2,5 2 sedang insentif 2,15 2 sedang kecepatan ijin 1,2 1 sangat penting kemudahan investasi 1,2 1 sangat penting informasi prospek bisnis 1,1 1 sangat penting kapasitas berusaha dan hukum 1,1 1 sangat penting keamanan 1,1 1 sangat penting kampanye 1,7 2 sedang pusat pelayanan investasi 1,5 1 sangat penting B. Faktor Lokasi C. Kesinergian dan Fokus Kebijakan Faktor lokasi terukur Faktor lokasi tidak terukur pelaku usaha Faktor lolasi tidak terukur individual Perluasan Ekonomi akses ke dan dari lokasi 1 1 sangat penting akses ke pelabuhan laut dan udara 1,05 1 sangat penting sarana transportasi 1,1 1 sangat penting infrstruktur komunikasi 1,65 2 sedang infrastruktur energi 1,05 1 sangat penting tenaga kerja terampil 1,7 2 sedang jumlah lembaga keuangan lokal 2,1 2 sedang peluang kerja sama 1, sangat penting lembaga penelitian 1,4 1 sangat penting kualitas permukiman 2,15 2 sedang lingkungan 1,55 2 sedang fasilitas pendidikan dan pelatihan 1,65 2 sedang pelayanan kesehatan 1,35 1 sangat penting fasos dan fasum 1,7 2 sedang etos kerja SDM 1,55 2 sedang iklim investasi 1,3 1 sangat penting promosi 1,15 1 sangat penting persaingan usaha 1,7 2 sedang peran pemerintah daerah 1,1 1 sangat penting jaringan usaha 1,5 1 sangat penting informasi tenaga 1,675 2 sedang Halaman 61 dari 106
62 Faktor Indikator Atribut Pembulatan pemberdayaan masyarakat dan pengembang an komunitas aspek pembangunan wilayah kerja pengembangan keahlian kegiatan berbasis kemitraan swasta keberpihakan pengurangan kemiskinan kebijakan kawasan industri Nilai Akhir 2,2 2 sedang Kategori 1,05 1 sangat penting 1,575 2 sedang 1,3 1 sangat penting pusat pertumbuhan 1,5 1 sangat penting pengembangan komunitas 1,95 2 sedang kerjasama antar daerah 1,85 2 sedang tata ruang PEL 1,15 1 sangat penting jaringan usaha antar sentra 1, sangat penting sistem industri berkelanjutan 2 2 sedang D. Pembangunan Berkelanjutan E. Tata Kepemerintahan Ekonomi Lingkungan Sosial kemitraan pemerintah dan swasta pengembang an organisasi pengembangan industri pendukung 1,299 1 sangat penting perusahaan dengan business plan 1,4 1 sangat penting inovasi perusahaan 1,4 1 sangat penting penerapan AMDAL 1,05 1 sangat penting konservasi sumber daya alam 1,05 1 sangat penting kegiatan daur ulang 1,85 2 sedang Kontribusi PEL terhadap 1,4666 kesejahteraan sangat penting masyarakat keberadaan adat/kelembagaan 1,575 2 sedang lokal infrastruktur 1,1 1 sangat penting promosi dan perdagangan 1,1 1 sangat penting pembiayaan 1,2 1 sangat penting status asosiasi industri 1,675 2 sedang peran asosiasi industri 1,675 2 sedang manfaat aosiasi 1,725 2 sedang Halaman 62 dari 106
63 Faktor Indikator Atribut reformasi sektor publik Nilai Akhir Pembulatan Kategori industri sistem insentif 1,65 2 sedang restrukturisasi organisasi 1,85 2 sedang pemerintahan prosedur pelayanan publik 1,7 2 sedang analisis potensi dan daya saing ekonomi 1,425 1 sangat penting Diagnosis pemetaan kondisi partisipatif politis lokal 1,35 1 sangat penting identifikasi stakeholders 1,6 2 sedang jumlah stakeholders 1,4 1 sangat penting sinkronisasi perencanaan dan (sektoral dan spasial) 1,25 1 sangat penting pelaksanaan Implementasi F. Proses partisipatif perencanaan yang Manajemen 1,2 1 sangat penting melibatkan masyarakat frekuensi monitoring dan evaluasi 1,15 1 sangat penting diskusi pemecahan monitoring 1,425 1 sangat penting masalah dan evaluasi rekomendasi hasil monitoring dan evaluasi terhadap 1,15 1 sangat penting perencanan Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2011 Dari hasil pengkategorian masing-masing faktor seperti pada tabel diatas, selanjutnya dilakukan analisis frekuensi masing-masing kategori untuk setiap faktor, Hasilnya adalah berupa hirarki atau urutan antara 6 faktor tersebut dari yang paling dianggap penting hingga kurang penting. Hasil perhitungan frekuensi adalah sebagai berikut. Halaman 63 dari 106
64 Tabel 18 Frekuensi Kategori Masing-masing Faktor No Faktor Kategori Frekuensi Sgt Penting Sedang Tdk Penting (%) 1. Kelompok sasaran , Faktor Lokasi ,75 3. Kesinergian dan fokus kebijakan ,25 4. Pembangunan berkelanjutan Tata kepermintahan , Proses manajemen Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2011 Hasil perhitungan frekuensi untuk masing-masing faktor, diketahui bahwa faktor proses manajemen memiliki frekuensi jawaban kategori sangat penting yang lebih tinggi, yakni 80%. Hal ini karena 8 jawaban menyatakan sangat penting, dan hanya 2 yang menjawab sedang. Sedangkan faktor kelompok sasaran, walaupun memiliki jumlah jawaban kategori sangat penting lebih banyak dari faktor proses manajemen, namun jumlah jawaban kategori sedang juga lebih banyak dibandingkan faktor proses manajemen. Oleh karena itu perhitungan frekuensi pada faktor kelompok sasaran lebih rendah dibandingkan faktor proses manajemen. Gambar 32 Grafik Frekuensi Kategori pada Masing-masing Faktor Proses manajemen Tata kepermintahan Pembangunan berkelanjutan Kesinergian dan fokus kebijakan Faktor Lokasi Kelompok sasaran 0% 20% 40% 60% 80% 100% Sangat Penting Sedang Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2011 Halaman 64 dari 106
65 Jika diurutkan berdasarkan frakuensi jawaban kategori sangat penting terhadap total jawaban pada masing-masing faktor, adalah sebagai berikut: 1. Proses manajemen 2. Pembangunan berkelanjutan 3. Kelompok sasaran 4. Kesinergian dan fokus kebijakan 5. Faktor lokasi 6. Tata kepemerintahan Hasil perhitungan frekuensi kategori masing-masing faktor menunjukkan bahwa faktor yang dianggap paling penting dalam pengembangan konsep agropolitan di adalah faktor proses manajemen. Diagnosis partisipatif, perencanaan dan pelaksanaan partisipatif, serta monitoring dan evaluasi merupakan hal yang paling dianggap penting dan paling dipertimbangkan dalam pengembangan konsep agropolitan di. Sedangkan faktor tata kepemerintahan, yang terdiri dari kemitraan pemerintah swasta, pengembangan organisasi, serta reformasi sektor publik menjadi hal dianggap kurang penting dalam pengembangan konsep agropolitan di, jika dibandingkan dengan kelima faktor utama lainnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa menurut stakeholder (dinas terkait), faktor yang paling penting dalam pengembangan konsep agropolitan di adalah dimulai dari hal-hal yang berkaitan dengan partisipasi dan potensi SDM (masyarakat), hal-hal yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan dan inovasi pengembangan kegiatan ekonomi, hal-hal yang berkaitan dengan pendukung kegiatan ekonomi (yang dilakukan swasta dan masyarakat), hal-hal yang berkaitan dengan infrastruktur, dan yang terakhir adalah kelembagaan dan pembiayaan (kerjasama pemerintah dan swasta). Halaman 65 dari 106
66 Bagian- 3 Program dan Indikasi Biaya 3.1 Sinkronisasi Program Sektoral Dalam pengembangan agropolitan diperlukan sebuah sinergi antara program-program yang dimiliki oleh pemerintah. Dalam arti luas, Kelembagaan pemerintah merupakan landasan bagi berbagai fungsi layanan dan aliran manfaat untuk mendukung pembangunan agropolitan. Unsur penting di dalam kelembagaan (Williamson, 1995) adalah mode of organization dan uncertainty. Mode of organization, berhubungan dengan altematif dalam sistem produksi antara lain membuat atau membeli (produk antara), menggunakan modal sendiri atau utang (dalam pasar kredit), tingkat upah (dalam pasar tenaga kerja), dan dukungan (de) regulasi (dalam privatisasi). Uncertainty berhubungan dengan risiko-risiko (investment hazard), yang menyertai kontrak termasuk pula administration cost (kompensasi dalam transaction cost), demoralization cost (korupsi dan rent seeker), dan beragam policy jangka pendek dan jangka panjang (seperti pajak, pricing policy, kuota, atau pembatasan lainnya) yang menyebabkan distorsi dan depresiasi aset. Lapangan studi untuk mendukung pengembangan kelembagaan ini sangat meluas mengikuti sistem produksi yang ada dalam wilayah agropolitan, yang difokuskan dalam analisis kebijakan. Berdasarkan karakteristik kecamatan yang telah dilakukan pada laporan antara maupun bagian ke 1 dapat kita lihat bahwa disamping dimensi-dimensi kebijakan yang menjadi koridor dalam penyusunan program maka kebijakan-kebijakan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam pendekatan spasial. Arah pengembangan Agropolitan, dapat dikelompokkan kedalam tiga fungsi utama kluster, yaitu (1) zona produksi, (2) zona distribusi dan perdagangan, dan (3) zona pengolahan nilai tambah. Adapun ketiga kluster tersebut tampak sebagai berikut. Halaman 66 dari 106
67 Gambar 33 Konsep Pengembangan Agropolitan Kutai Timur Berdasarkan Potensi dan Kondisi Kecamatan Berdasarkan analisis rencana strategis dan rencana kerja pada dinas-dinas yang diidentifikasikan memiliki kewenangan dan terkait dengan penyelenggaraan agropolitan diperoleh matriks yang berisi sinkronisasi program terkait agropolitan seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini. Halaman 67 dari 106
68 Zona ZONA PRO- DUKSI Tabel 19 Program - Program yang Terkait dengan Konsep Agropolitan Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM Melakukan diversifikasi pangan untuk menurunkan ketergantungan terhadap konsumsi beras serta mengoptimalkan bahan pangan lainnya. Peningkatan kemampuan/ kualitas SDM pertanian, Peningkatan kemampuan Peningkatan investasi dan ekspor non migas serta peningkatan daya saing dan revitalisasi pertanian dalam arti luas Program Peningkatan Ketahanan Pangan pertanian/ perkebunan Program pemberdayaan penyuluh pertanian/perkebunan lapa- Rehabilitasi hutan, lahan dan konservasi sumber daya hutan Perlindung an dan pengamanan hutan Program Pemanfaatan Ruang Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang Diversifikasi aneka produk hasil perikanan Peningkatan ketahanan pangan masyarakat Kutai Timur yang berbasis pada sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal dan perwilayahan komoditas pertanian. Tersedianya cadangan pangan sesuai dengan jenis dan jumlah Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga teknis dan masyarakat Fasilitasi permodalan bagi usaha mikro kecil dan menengah di perdesaan Penyelenggaraan Promosi Produk Usaha Mikro Kecil Menengah Pelatihan Teknologi Pasca Panen Halaman 68 dari 106
69 Zona Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM petani secara individu maupun kelompok Melindungi komoditas hortikultura dari tekanan impor maupun perlindungan terhadap OPT Pemanfaatan perkarangan untuk pengembangan pangan Pemasyarakatan dan pengembangan kerjasama penetapan teknologi tepat guna (TTG) di kawasan perdesaan Pengembangan desa mandiri ngan Program Pengembangan Agribisnis Perkebunan Program Peningkatan Pemanfaatan Potensi Lahan Peningkatan Kapasitas Sumber yang diperlukan Pembinaan kelompok masyarakat pembangunan desa Halaman 69 dari 106
70 Zona Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM Daya Manusia pangan Pengembangan pertanian pada lahan kering Pengembangan sentra/ kawasan produksi hortikultura serta penetapan komoditas unggulan pada tiap sentra/ kawasan pengembangan Meningkatkan ketersediaan benih ungul bermutu dan pupuk/pestisida, Pengembangan Informasi Data Statistik dan Sistem Pelaporan Perkebunan Halaman 70 dari 106
71 Zona Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM Penyediaan sarana produksi pertanian dan Pengembangan bibit unggul pertanian serta adanya Sertifikasi bibit unggul pertanian Penanganan pasca panen dan pengolahan hasil pertanian. Pengembangan usaha pertanian dengan konsep pengembangan agrobisnis agar meningkatkan Halaman 71 dari 106
72 Zona ZONA PENG- OLAH Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM kelayakan dalam pengembangan pedesaan dan perekonomian daerah, diantaranya pemetaan potensi hasil pertanian. Pembangunan,Peningkatan dan Rehabilitasi Irigasi/TAM Pengembangan usaha per tanian dengan konsep pengembangan agrobisnis a- gar meningkatkan kelayakan dalam pengemba- Peningkatan investasi dan ekspor non migas serta peningkatan daya saing dan revitalisasi pertanian dalam arti luas Program peningkatan penerapan teknologi pertanian/ perkebunan Pengelolaan hutan lestari untuk kepentingan ekonomi, pendidikan dan penelitian Program Pemanfaatan Ruang Optmalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produksi Perikanan Tata kerja dan kelembagaan penyuluhan yang berorientasi kepada Satuan Wilayah Kerja Penyuluhan dan Kebutuhan Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga teknis dan masyarakat Penyelenggaraan Pelatihan Kewirausahaan Halaman 72 dari 106
73 Zona Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM ngan perdesaan dan perekonomian daerah, diantaranya pemetaan potensi hasil pertanian Penyusunan langkah-langkah untuk meningkatkan daya saing produk pertanian, misalnya dorongan dan insentif pasca panen dan pengolahan hasil pertanian dan melindungi petani dari persaingan yang tidak sehat. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang Petani setempat Pelatihan keterampilan usaha pertanian dan peternakan Pelatihan Tekhnologi Pasca Panen Halaman 73 dari 106
74 Zona Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM Penanganan pasca panen dan pengolahan hasil pertanian. Pembangunan pusat-pusat penampungan produksi hasil peternakan masyarakat Pengembangan Informasi Data Statistik dan Sistem Pelaporan Perkebunan Pelatihan keterampilan manajemen badan usaha milik desa (BUMDES) Penelitian dan pengembangan teknologi bioteknologi, teknologi budi daya, Penelitian dan pengembangan teknologi pasca panen pembinaan sarana dan prasarana perdesaan, pengembangan lembaga posyantekdes, Pengembangan infrastruktur/sarana-prasarana perdesaan Halaman 74 dari 106
75 Zona Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM Peningkatan kemampuan/ kualitas SDM pertanian, Peningkatan kemampuan petani secara individu maupun kelompok untuk mampu memanfaatkan fasilitasi Pemerintah. Koordinasi perumusan kebijakan pertanahan dan infrastruktur pertanian dan perdesaan. Pemasyarakatan dan pengembangan kerjasama penetapan teknologi tepat guna (TTG) di kawasan perdesaan Halaman 75 dari 106
76 Zona Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM Pengembangan sistem informasi pasar serta membuat Pengembangan model distribusi pangan yang efisien. Penanganan pasca panen dan pengolahan hasil pertanian Pembangunan pusat-pusat penampungan produksi hasil pertanian masyarakat yang akan dipasarkan Halaman 76 dari 106
77 Zona ZONA PEMAS ARAN Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM Penguatan sistem pemasaran dan manajemen usaha untuk mengelola resiko u- saha pertanian serta untuk mendukung pengembangan agroindustri. Menghidupkan dan memperkuat lembaga pertanian dan perdesaan untuk meningkatkan akses petani terhadap sarana produktif. Membangun delivery sys- Peningkatan investasi dan ekspor non migas serta peningkatan daya saing dan revitalisasi pertanian dalam arti luas Program Pengembangan Agribisnis Perkebunan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Pengemban gan Infor- Pengelolaan hutan lestari untuk kepentingan ekonomi, pendidikan dan penelitian Program Pemanfaatan Ruang Program Pengenda- Program Pengembangan data/informasi Menciptakan sistem kelembagaan ekonomi masyarakat pesisir a- tas dasar kemitraan dan kewirausahaa Optmalisasi Pengelolaam dan Pemasaran Produksi Perikanan Kerja sama antara Tata kerja dan kelembagaan penyuluhan yang berorientasi kepada Satuan Wilayah Kerja Penyuluhan dan Kebutuhan Petani setempat Pelatihan keterampilan Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga teknis dan masyarakat Penyelenggaraan Pelatihan Kewirausahaan Pelatihan keterampilan u- saha pertanian dan peternakan Penyelenggaraan Promosi Produk Usaha Mikro Kecil Menengah Pelatihan Akutansi Halaman 77 dari 106
78 Zona Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM tem dukungan pemerintah untuk sektor pertanian, dan meningkatkan skala pengusahaan yang dapat meningkatkan posisi tawar petani. Peningkatan kemampuan petani secara individu maupun kelompok untuk mampu memanfaatkan fasilitasi Pemerintah Meningkatkan dinamika kelembagaan petani menuju kelompok u- saha masi Data Statistik dan Sistem Pelaporan Perkebunan lian Pemanfaatan Ruang usaha penangkapan, pembudidaya serta pengolahan secara bermitra Mencari Informasi pasar/pelu ang pasar hasil produksi perikanan manajemen badan usaha milik desa (BUMDES) Pengembagan infrastruktur/ sarana-prasarana perdesaan Pemasyarakatan dan pengembangan kerjasama penetapan teknologi tepat Koperasi Penyuluhan Kelembagaan Dan Manajemen Perkoperasian Halaman 78 dari 106
79 Zona Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM Penelitian dan pengembangan pemasaran hasil produksi pertanian Fasilitasi kerjasama regional/nasional/ internasional, penyediaan hasil produksi pertanian komplementer Pembangunan sarana dan prasarana pasar kecamatan/perdesaan produksi hasil pertanian guna (TTG) di kawasan perdesaan Halaman 79 dari 106
80 Zona Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM Promosi atas hasil produksi pertanian/perkebunan unggul daerah Penyuluhan pemasaran produksi pertanian/ perkebunan guna menghindari tengkulak dan sistem ijon Pembangunan pusat-pusat penampungan produksi hasil pertanian masyarakat yang akan dipasarkan Pengolahan informasi permintaan Halaman 80 dari 106
81 Zona Program Dinas / Instansi Terkait Distannak BPMD Disbun Dishut Bappeda DKP BKPD Bappemas KUKM pasar atas hasil produksi pertanian masyarakat Penyuluhan distribusi pemasaran atas hasil produksi pertanian masyarakat Penyuluhan kualitas dan teknis kemasan hasil produksi pertanian yang akan dipasarkan Sumber : Hasil Analisis 2011 Halaman 81 dari 106
82 3.2 Matriks Program dan Indikasi Biaya Dalam subbab ini akan dijelaskan mengenai program program disetiap zona untuk kawasan agropolitan baik untuk zona produksi, zona pengolahan, zona pemasaran dan infrastruktur pendukungnya, dalam tabel dibawah ini nanti dapat membantu pemerintah dalam mengambil kputusan atau kebijakan program apa yang harus dilakukan setiap SKPD atau dinas dinas yang terkait untuk menunjang kegiatan agropolitan di nantinya. Dengan menggunakan asumsi periode pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah daerah yang menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah dalam menjalankan programprogramnya, maka dimensi waktu pada program dan indikasi biaya pengembangan agropolitan juga menggunakan dimensi waktu 5 tahun. Disamping itu, programprogram tersebut juga harus diprioritisasi berdasarkan urgensi serta kapasitas pembiayaan Pemerintah Daerah. Disini dapat kita lihat program apa yang harus kita utamakan dilihat dari waktu pelaksananya, waktu pelaksanaan setiap programnya dibagi menjadi 3 jenis yaitu : Cepat ( dilakukan pada 1 2 tahun awal ), Menengah (dilakukan pada 3 4 kedepan) dan Panjang (dilakukan pada tahun ke-5). Halaman 82 dari 106
83 No Program Sub Program 1 Program untuk zona produksi Melakukan diversifikasi pangan untuk menurunkan ketergantungan terhadap konsumsi beras serta mengoptimalkan bahan pangan lainnya, dan Diversifikasi aneka produk hasil perikanan Program Peningkatan Ketahanan Pangan pertanian/perkebunan (Pemanfaatan perkarangan untuk pengembangan pangan) dengan Konsep Agrobisnis Pengembangan desa mandiri pangan Pengembangan pertanian pada lahan kering dan Meningkatkan ketersediaan benih ungul bermutu dan pupuk/pestisida Melindungi komoditas hortikultura dari tekanan impor maupun perlindungan terhadap OPT dan Pengembangan sentra/ kawasan produksi hortikultura serta penetapan komoditas unggulan pada tiap Tabel 20 Program Untuk Zona Produksi Indikator Indikasi Biaya Waktu Cepat Menengah Panjang X X X X Dinas Yang Bertanggung Jawab 1. Dinas Perkebunan 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 3. Dinas Perikanan dan kelautan 1. Dinas Perkebunan 2. Dinas Pertanian Dan Peternakan 3. BKPD 1. Dinas Perkebunan 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 3. Dinas Perikanan dan Kelautan 4. Dinas KUKM 1. Dinas Pertanian dan Peternakan Halaman 83 dari 106
84 No Program Sub Program sentra/ kawasan pengembangan Indikasi Biaya Indikator Waktu Cepat Menengah Panjang Dinas Yang Bertanggung Jawab Penyediaan sarana produksi pertanian dan Pengembangan bibit unggul pertanian serta adanya Sertifikasi bibit unggul pertanian membangun delivery system dukungan pemerintah untuk sektor pertanian, dan meningkatkan skala pengusahaan yang dapat meningkatkan posisi tawar petani Pengembangan Informasi Data Statistik dan Sistem Pelaporan Perkebunan, Pertanian, dan perikanan Program Peningkatan Pemanfaatan Potensi Lahan dan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia X X X X Halaman 84 dari Dinas Pertanian dan Peternakan 1. Dinas Perkebunan 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 3. Dinas Perikanan dan Kelautan 1. Dinas Perkebunan 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 3.Dinas Perikanan dan Kelautan 1. Dinas Perkebunan 2.Dinas Pertanian dan Peternakan 3. Dinas Perikanan dan Kelautan
85 No Program Sub Program Pembinaan kelompok masyarakat pembangunan desa dan Fasilitasi permodalan bagi usaha mikro kecil dan menengah di perdesaan Peningkatan investasi dan ekspor non migas serta peningkatan daya saing dan revitalisasi pertanian dalam arti luas Program Pemanfaatan Ruang dan Rehabilitasi hutan, lahan dan konservasi sumber daya hutan Indikasi Biaya Indikator Waktu Cepat Menengah Panjang Dinas Yang Bertanggung Jawab X Bapemas, KUKM X BPMD X TOTAL ANGGARAN Dinas Kehutanan 2.BAPPEDA Halaman 85 dari 106
86 Dari data diatas dapat kita ketahui untuk zona produksi terdapat 11 program yang terkait di masing masing SKPD, adapun program yang harus dilakukan dalam waktu dekat atau cepat sebanyak 4 program yang dilakukan oleh 4 Dinas yaitu Dinas Perkebunan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian, Peternakan, dan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Di, dengan total anggaran yang harus dikeluarkan untuk program program cepat sebesar Rp ,-. Program untuk jangkah menengah di Zona Produksi ada 4 program dan dinas yang terakit adalah : Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian, Peternakan, dan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Bappeda, BPMD ( Badan Penaman Modal Daerah ), BAPEMAS (Badan Pemberdayaan Masyrakat dan Desa ) dan Dinas Kehutanan, dengan total anggaran sebesar Rp ,-, untuk program jangka panjang di zona produksi terdapat 3 Program dan Dinas yang terkait untuk program jangka panjang adalah Dinas BPMD, Dinas Perkebunan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian, Peternakan di dengan total anggaran untuk program jangka panjang sebesar Rp ,-. Pada tabel di bawah ini akan dijelaskan mengenai program-program untuk Zona Pengolahan. Halaman 86 dari 106
87 Tabel 21 Matriks Program dan Indikasi Biaya untuk Zona Pengolahan Indikator No Program Sub Program WAKTU Indikasi Biaya Cepat Menengah Panjang Penyusunan langkah-langkah untuk meningkatkan daya saing produk pertanian, misalnya dorongan dan insentif pasca panen dan pengolahan X hasil pertanian dan melindungi petani dari persaingan yang tidak sehat. Pembinaan sarana dan prasarana perdesaan, pengembangan lembaga posyantekdes, dan Pengembagan X infrastruktur/sarana-prasarana 2 perdesaan Program untuk zona pengolahan Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga teknis ( Usaha Pertanian, perikanan ) dan masyarakat dan Penyelenggaraan Pelatihan Kewirausahaan serta pelatihan teknologi pasca produksi kepada masyarakat desa / petani Peningkatan investasi dan ekspor non migas serta peningkatan daya saing dan revitalisasi pertanian dalam arti luas Dinas yang Bertanggung Jawab 1. Dinas Perkebunan, 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 1. Dinas Perkebunan, 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 3.Dinas Perikanan dan Kelautan X Bappemas, KUKM X BPMD Halaman 87 dari 106
88 No Program Sub Program Pembangunan pusat-pusat penampungan produksi hasil pertanian, Peternakan, perkebunan dan perikanan masyarakat yang akan dipasarakan, dan Penanganan pasca panen dan pengolahan hasil pertanian Pengembangan sistem informasi pasar serta membuat Pengembangan model distribusi pangan yang efisien. Penelitian dan pengembangan teknologi biotekhnologi, teknologi budi daya Penelitian dan pengembangan teknologi pasca panen Pelatihan keterampilan manajemen badan usaha milik desa (BUMDES) dan Pemasyarakatan dan pengembangan kerjasama penetapan teknologi tepat guna (TTG) di kawasan perdesaan Indikasi Biaya X Indikator WAKTU Cepat Menengah Panjang X X X KUKM Dinas yang Bertanggung Jawab 1. Dinas Perkebunan, 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 3.Dinas Perikanan dan Kelautan 1. Dinas Perkebunan, 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 1. Dinas Perkebunan, 2. Dinas Pertanian dan Peternakan Halaman 88 dari 106
89 No Program Sub Program Sumber : Hasil Analisis 2011 Koordinasi perumusan kebijakan pertanahan dan infrastruktur pertanian dan perdesaan dan Tata kerja dan kelembagaan penyuluhan yang berorientasi kepada Satuan Wilatyah Kerja Penyuluhan dan Kebutuhan Petani setempat TOTAL ANGGARAN Indikasi Biaya X Indikator WAKTU Cepat Menengah Panjang Dinas yang Bertanggung Jawab 1. Dinas Pertanian dan Peternakan 2. BKPD Halaman 89 dari 106
90 Dari data diatas dapat kita ketahui untuk zona produksi terdapat 9 program yang terkait di masing masing SKPD, adapun program yang harus dilakukan dalam waktu dekat atau cepat sebanyak 5 program yang dilakukan oleh 6 Dinas yaitu Dinas Perkebunan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian, Peternakan, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, BKPD ( Badan Ketahanan Pangan Daerah ), dan Bapemas ( Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa ) Di Kabupaten Kutai Timur, dengan total anggaran yang harus dikeluarkan untuk program program cepat sebesar Rp ,-. Program untuk jangkah menengah di Zona Produksi ada 2 program dan dinas yang terakit adalah : Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian, Peternakan, Dinas Perkebunan, dengan total anggaran sebesar Rp ,-, dan untuk program jangka panjang di zona produksi terdapat 2 Program dan Dinas yang terkait untuk program jangka panjang adalah Dinas BPMD, Dinas Perkebunan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian, Peternakan di dengan anggaran sebesar Rp ,-. Pada tabel di bawah ini akan dijelaskan mengenai program-program untuk Zona Pemasaran. Halaman 90 dari 106
91 Tabel 22 Matriks Program dan Indikasi Biaya untuk Zona Pemasaran Indikator No Program Sub Program Waktu Indikasi Biaya Cepat Menengah Panjang Penguatan sistem pemasaran dan manajemen usaha untuk mengelola resiko usaha pertanian X serta untuk mendukung pengembangan agroindustri. Menghidupkan dan memperkuat lembaga pertanian dan perdesaan 3 untuk meningkatkan akses Program petani terhadap sarana untuk Zona produktif. Serta Tata kerja Pemasaran dan kelembagaan X penyuluhan yang berorientasi kepada Satuan Wilatyah Kerja Dinas yang Bertanggung Jawab 1. Dinas Perkebunan, 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 3.Dinas Perikanan dan Kelautan 1. Dinas Pertanian dan Peternakan 2. BKPD Pembangunan sarana dan prasarana pasar kecamatan/perdesaan produksi hasil pertanian X 1.KUKM 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 3. BAPPEDA Kerja sama antara usaha X 1. Dinas Kelautan dan Halaman 91 dari 106
92 No Program Sub Program penangkapan, pembudidayaanserta pengolahan secara bermitra dan Pemasyarakatan dan pengembangan kerjasama penetapan teknologi tepat guna (TTG) di kawasan perdesaan Indikator Dinas yang Bertanggung Waktu Indikasi Biaya Jawab Cepat Menengah Panjang Perikanan 2. Bapemas Promosi atas hasil produksi pertanian/perkebunan unggul daerah dan Penyelenggaraan Promosi Produk Usaha Mikro Kecil Menengah Penyuluhan pemasaran produksi pertanian/perkebunan guna menghindari tengkulak dan sistem ijon dan Penyuluhan kualitas dan teknis kemasan hasil produksi pertanian yang akan dipasarkan X X 1. Dinas Perkebunan 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 3. Dinas Kelautan dan Perikanan 4. KUKM 1. Dinas Perkebunan 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 3. Dinas Kelautan dan Perikanan Halaman 92 dari 106
93 No Program Sub Program Indikasi Biaya Indikator Waktu Cepat Menengah Panjang Dinas yang Bertanggung Jawab Peningkatan kemampuan petani secara individu maupun kelompok untuk mampu memanfaatkan fasilitasi Pemerintah dan pendidikan serta pengetahuan tentang teknologi pemasaran ke masyarakat / petani Peningkatan investasi dan ekspor non migas serta peningkatan daya saing dan revitalisasi pertanian dalam arti luas Pengembangan Informasi Data Statistik dan Sistem Pelaporan Perkebunan serta Pengolahan informasi permintaan pasar atas hasil produksi pertanian masyarakat Pengelolaan hutan lestari untuk kepen-tingan ekonomi, pen-didikan dan X X 1. BPMD X 1. Dinas Perkebunan 2. Dinas Pertanian dan Peternakan 3. KUKM 4. Bapemas 1. Dinas Perkebunan 2. Dinas Pertanian Peternakan X 1. Dinas Kehutanan Halaman 93 dari 106
94 No Program Sub Program peneli-tian dan pengendaian ruang agar tetap terjaga Pengembagan infrastruktur/saranaprasarana perdesaan TOTAL ANGGARAN Sumber : Hasil Analisis 2011 Indikasi Biaya Indikator Waktu Cepat Menengah Panjang X 1. Bapemas Dinas yang Bertanggung Jawab Halaman 94 dari 106
95 Dari data diatas dapat kita ketahui untuk zona produksi terdapat 11 program yang terkait di masing masing SKPD, adapun program yang harus dilakukan dalam waktu dekat atau cepat sebanyak 5 program yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian, Peternakan, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dan Bapemas Di, dengan total anggaran yang harus dikeluarkan untuk program program cepat sebesar Rp ,-. Program untuk jangkah menengah di Zona Produksi ada 4 program dan dinas yang terakit adalah: Dinas kehutanan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian, Peternakan, dan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Bappeda, BKPD ( Badan Penaman Modal Daerah ), BAPEMAS ( Badan Pemberdayaan Masyrakat dan Desa), dengan total anggaran sebesar Rp ,-, untuk program jangka panjang di zona produksi terdapat 2 Program dan Dinas yang terkait untuk program jangka panjang adalah Dinas BPMD, Dinas Perkebunan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian, Peternakan di dengan anggaran sebesar Rp ,-. Berdasarkan hasil analisis terhadap empat jenis infrastruktur dalam proses pertanian, berikut akan dipaparkan hasil agregat kebutuhan infrastruktur pada kecamatan yang menjadi wilayah studi, yakni : Tabel 23 Perhitungan Kebutuhan Pembangunan Infrastruktur Baru Sarana Kebutuhan Kebutuhan Kekurangan Kecamatan irigasi Listrik Toko jalan (km) (Ha) (KW) (unit) Sangatta Utara 42,52 2,1 - - Sangatta Selatan ,95 - Rantau Pulung ,22 - Bengalon - 82,5 564,21 - Kaliorang ,88 4 Kaubun ,28 - Sangkulirang 4 10,5 555,72 5 Sumber: hasil analisis, 2011 Halaman 95 dari 106
96 Dari banyaknya jenis infratruktur yang dibutuhkan, maka muncul kebutuhan prioritas berdasarkan kecamatan, untuk pengembangan sarana prasarana pertanian diurutkan berdasarkan yang paling prioritas, yakni : 1. Kaliorang 2. Sangkulirang 3. Rantau Pulung 4. Sangatta Selatan 5. Bengalon 6. Kaubun 7. SangattaUtara Berdasarkan urutan prioritas pengembangan infrastruktur tersebut menjadi masukan dalam penentuan prioritas program pengembangan infrastruktur penunjang agropolitan di. Pada tabel di bawah ini akan dijelaskan mengenai program-program Pengembangan Infrastruktur agropolitan. Halaman 96 dari 106
97 Tabel 24 Program Pembangunan Infrastruktur Penunjang Agropolitan Indikator Dinas yang Bertanggung No Program Sub Program Waktu Indikasi Biaya Jawab Cepat Menengah Panjang Pengembangan Infrastruktur Jalan X 1. Dinas Pekerjaan Umum Kecamatan Sangatta Utara Pengembangan Infrastruktur Irigasi Kecamatan Sangatta Utara X 1. Dinas Pekerjaan Umum 4 Pengembangan Infrastruktur Penunjang Agropolitan Pengembangan Infrastruktur Jalan Kecamatan Sangatta Selatan Pengembangan Infrastruktur Ketenaga listrikan Kecamatan Sangatta Selatan X X 1. Dinas Pekerjaan Umum 1. PLN Pengembangan Infrastruktur Ketenaga listrikan Kecamatan Rantau Pulung Pengembangan Infrastruktur Irigasi Kecamatan Bengalon X 1. PLN X 1. Dinas Pekerjaan Umum Halaman 97 dari 106
98 No Program Sub Program Pengembangan Infrastruktur Ketenaga listrikan Kecamatan Bengalon Pengembangan Infrastruktur Jalan Kecamatan Kaliorang Pengembangan Infrastruktur Ketenaga Listrikan Kecamatan Kaliorang Pengembangan Unit Perdagangan Kecamatan Kaliorang Pengembangan Infrastruktur Ketenaga listrikan Kecamatan Kaubun Pengembangan Infrastruktur Jalan Kecamatan Sangkulirang Pengembangan Infrastruktur Irigasi Kecamatan Sangkulirang Indikasi Biaya Indikator Waktu Cepat Menengah Panjang X Dinas yang Bertanggung Jawab 1. PLN X 1. Dinas Pekerjaan Umum X X 1. PLN X 1. PLN 1. Dinas KUKM 2. BPMD X 1. Dinas Pekerjaan Umum X 1. Dinas Pekerjaan Umum Halaman 98 dari 106
99 No Program Sub Program Pengembangan Infrastruktur Ketenaga listrikan Kecamatan Sangkulirang Pengembangan Unit Perdagangan Kecamatan Sangkulirang Indikasi Biaya Indikator Waktu Cepat Menengah Panjang Dinas yang Bertanggung Jawab X 1. Dinas Pekerjaan Umum X TOTAL ANGGARAN Sumber : Hasil Analisis Dinas KUKM 2. BPMD Halaman 99 dari 106
100 Bagian- 4 Kesimpulan dan Rekomendasi Sesuai dengan tujuan dari pelaksanaan kegiatan Studi Pengembangan Kawasan Ekonomi Agropolitan, yang meliputi: Menganalisa dampak pengembangan agropolitan terhadap perekonomian wilayah; Menganalisa tingkat partisipasi masyarakat sebagai pelaku pembangunan dikawasan agropolitan; Merumuskan strategi pembangunan yang dapat mendorong pengembangan kawasan agropolitan. Maka ada beberapa kesimpulan dan rekomendasi yang dapat diberkan dari kegiatan studi ini yakni sebagai berikut: 1. Terkait dengan keunggulan share sektor-sektor pertanian dengan melakukan komparasi antara kecamatan-kecamatan yang masuk ke dalam wilayah studi dengan kecamatan-kecamatan yang tidak masuk ke dalam wilayah studi maka diperoleh kesimpulan bahwasannya untuk ketujuh kawasan agropolitan secara umum memiliki produktivitas subsektor pertanian yang lebih unggul dibandingkan non-agropolitan. Dengan membandingkan PDRB per kecamatan untuk subsektor pertanian pada wilayah kajian dengan wilayah di luar tujuh kecamatan kawasan agropolitan, dapat diamati bahwa tujuh kecamatan tersebut secara umum memiliki keunggulan pada komoditas tanaman pangan, peternakan, dan yang paling besar dan utama adalah perikanan. Sementara untuk sektor kehutanan dan perkebunan, konsentrasi kegiatan ekonomi masih didominasi di luar wilayah tujuh kecamatan tersebut.dari temuan tersebut dapat diperoleh beberapa informasi sebagai berikut: a. Sektor Perkebunan yang memiliki share cukup tinggi bagi PDRB sektor pertanian, kontribusi terbesarnya salah satunya diperoleh melalui komoditas kako yang ada di Kecamatan Busang. Hal ini perlu menjadi perhatian tersendiri untuk menjamin kelancaran arus rantai pasok serta Halaman 100 dari 106
101 peningkatan value added dari komoditas tersebut melalui pengintegrasian infrastruktur ke sentra-sentra pengolahan maupun pemasaran. b. Pengklasifikasian 7 kecamatan menjadi wilayah studi jangan menjadi dikotomi sehingga mengakibatkan terjadinya penganak emasan kecamatan-kecamatan tersebut. Hasil kajian ini lebih ditekankan pada pemetaan keunggulan dari masing-masing kecamatan sehingga bisa disinergikan sesuai dengan perannya masing-masing. Tidak tertutup kemungkinan bahwa fungsi pengolahan dan fungsi pemasaran memfasilitasi komoditas dari kecamatan lain bahkan dari Kabupaten lainnya. 2. Perlu pembagian peran antar kecamatan agar diperoleh pemanfaatan sumber No. 1. daya dan keunggulan masing-masing kecamatan secara optimal. Fungsi yang diemban dari masing-masing kecamatan meliputi fungsi produksi, fungsi pengolahan dan fungsi pemasaran. Fungsi produksi diarahkan pada peningkatan produktifitas dalam menghasilkan komoditas. Kemudian fungsi pengolahan diperoleh agar pemanfaatan komoditas ini diperoleh value added serta tidak ada sumber daya yang terbuang sehingga pada akhirnya dapat diperoleh keuntungan terbesar. Selanjutnya fungsi pemasaran diperuntukkan untuk menjaga agar harga komoditas tidak jatuh serta membuka peluang pasar yang lebih luas. Berdasarkan studi mengenai kondisi dan karakteristik dari kecamatan yang dijadikan wilayah studi, maka peran dari tiap-tiap kecamatan tersebut adalah sebagai berikut. Tabel 25 Profil Sektor dan Komoditas Unggulan Kecamatan Subsektor Status Kecamatan Komoditi Unggulan Unggulan Unggulan Padi, Kedelai, Ubi Kayu, Tanaman ** Kacang Hijau, Kacang Sangatta Pangan Tanah, Ubi Jalar Utara Mikro, Kecil, Menengah, Perdagangan *** Besar 2. Sangatta Perdagangan ** Mikro, Kecil Halaman 101 dari 106
102 No. Kecamatan Selatan Subsektor Unggulan Industri kecil (UKM) Status Unggulan * Makanan Perkebunan * Lada 3. Rantaupulung Peternakan * 4. Bengalon 5. Kaliorang 6. Kaubun 7. Sangkulirang Tanaman Pangan ** Peternakan ** Komoditi Unggulan Kambing, Kerbau, Dan Ayam Jagung, Kedelai, Ubi Kayu, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Jalar Sapi, Kerbau, Kambing, Ayam, Itik Perdangan * Mikro Industri kecil (UKM) Tanaman Pangan * Kayu, Logam *** Padi, Kedelai, Ubi Kayu, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Jalar Perkebunan * Karet, Kelapa Peternakan * Kambing, Itik Tanaman Pangan ** Padi, Kedelai Perkebunan * Kopi Peternakan ** Sapi, Kambing, Itik Industri kecil (UKM) * Kulit Perkebunan *** Kelapa, Kopi, Lada, Coklat Peternakan *** Perdagangan *** Sapi, Kerbau, Kambing, Ayam, Itik Mikro, Kecil, Menengah, besar Halaman 102 dari 106
103 No. Kecamatan Subsektor Unggulan Industri kecil (UKM) Status Unggulan Catatan: ***) sangat unggul dari rata-rata kecamatan **) cukup unggul dari rata-rata kecamatan *) sedikit unggul dari rata-rata kecamatan Komoditi Unggulan ** Makanan, Lain-Lain Keunggulan pada sektor produksi Keunggulan pada sektor pengolah Keunggulan pada sektor pemasaran Peran dari masing-masing kecamatan yang menjadi wilayah studi tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Gambar 34 Pembagian Peran Kecamatan Berdasarkan Potensi dan Kondisi Halaman 103 dari 106
104 3. Prasyarat dalam rangka membentuk kelembagaan dalam pengelolaan dan peningkatan peranserta masyarakat dalam pengelolaan agropolitan yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut: Mengadakan dan mengorganisasikan kelompok tani Meningkatkan kemampuan para petani dan kelompok tani Mengembangkan kemitraan usaha Dalam rangka pemenuhan hal tersebut perlu diatur peran dan kedudukan masing-masing stakeholder yang terkait dengan pengembangan agropolitan yakni sebagai berikut: a. Pemerintah, memiliki peran dalam menentukan kebijakan arah dan strategi pengembangan agropolitan dan agribisnis, serta menciptakan lingkungan usaha agribisnis yang kondusif dan memihak pada para petani lokal. Pemerintah perlu mengeluarkan regulasi terkait: - Regulasi untuk menjamin terciptanya lingkungan bisnis yang kompetitif dan mencegah monopoli dan kartel. - Regulasi untuk mengontrol kondisi-kondisi monopoli yang diizinkan, seperti Bulog yang menangani komoditas stratgeis dan beberapa badan usaha milik negara (BUMN) yang mengelola usaha utilitas publik. - Regulasi untuk fasilitas perdagangan, termasuk ekspor dan impor. - Regulasi dalam penyediaan pelayanan publik, terutama untuk fasilitas layanan yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan agribisnis. - Regulasi untuk proteksi, baik proteksi terhadap konsumen maupun produsen. - Regulasi yang terkait langsung dengan harga komoditas agribisnis, input-input agribisnis, dan berbagai peralatan agribisnis. Halaman 104 dari 106
105 - Regulasi terhadap peningkatan ekonomi dan kemajuan sosial. - Regulasi terhadap sistem pembiayaan agribisnis, seperti pemodalan dari perbankan, pasar modal, modal ventura, leasing, dan lain-lain. - Regulasi terhadap sistem penanggungan risiko agribisnis, seperti keberadaan asuransi pertanian dan bursa komoditas dengan berbagai instrumennya, seperti future contract, hedging, option market, dan lain-lain. b. Lembaga Pemasaran dan Distribusi, berperan sebagai perantara antara para petani dengan para konsumen c. Koperasi, berperan dalam menyalurkan input-input pertanian dan lembaga pemasaran hasil-hasil pertanian. d. Lembaga Pendidikan Formal dan Informal, berperan dalam upaya peningkatan produktifitas petani melalui peningkatan SDM. e. Lembaga Penyuluhan Pertanian Lapangan, berperan sebagai penyuluh pada para petani mengenai cara bertani yang baik, juga sebagai fasilitator dan konsultan pertanian bagi masyarakat. f. Lembaga Riset, Berperan dalam melakukan riset misalnya pada usaha diversifikasi olahan komoditas ekspor. g. Lembaga Penjamin dan Penanggungan Risiko, Berperan dalam mengatasi dan menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran para pelaku bisnis dalam bidang agribisnis, h. Kelompok Kerja Pertanian Berperan dalam melakukan sinkronisasi program-program terkait pertanian yang dilaksanakan oleh berbagai stakeholder termasuk swasta dan LSM. Kedudukan Kelompok Kerja Pertanian tersebut dapat berada di dalam institusi Bappeda. 4. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada matriks program di atas, kebutuhan investasi dalam rangka mendukung pengembangan Halaman 105 dari 106
106 agropolitan di membutuhkan biaya sebesar Rp dengan rincian sebagai berikut: a. Untuk investasi di zona produksi membutuhkan biaya sebesar Rp ,-. b. Untuk investasi di zona pengolahan membutuhkan biaya sebesar Rp ,-. c. Untuk investasi di zona pemasaran membutuhkan investasi sebesar Rp d. Untuk investasi infrastruktur penunjang agropolitan membutuhkan biaya sebesar Rp Biaya tersebut bersumber dari APBD, dimana sebagian besar merupakan indikasi biaya dari masing-masing SKPD. Hal ini dilakukan mengingat program-program yang diusulkan memang merupakan program yang tercantum dalam Renstra SKPD, sehingga secara eksisting anggaran tersebut telah tersedia, bedanya di sini, program-program tersebut telah disinkronkan dan justru meningkatkan efektifitas dan efisiensi penggunaan biaya sebab menghindarkan saling bertimpanya program-program SKPD. Program-program tersebut dapat meliputi pembangunan fisik maupun non fisik seperti peningkatan kualitas SDM maupun perbaikan sistem. Untuk pengembangan infrastruktur dapat bersumber dari APBD akan tetapi tidak menutup kemungkinan bersumber dari swasta dengan skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). Halaman 106 dari 106
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Jumlah petani di Indonesia menurut data BPS mencapai 45% dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 42,47 juta jiwa. Sebagai negara dengan sebagian besar penduduk
GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR. 119º00 Bujur Timur serta diantara 4º24 Lintang Utara dan 2º25 Lintang
IV. GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR Propinsi Kalimantan Timur dengan luas wilayah daratan 198.441,17 km 2 dan luas pengelolaan laut 10.216,57 km 2 terletak antara 113º44 Bujur Timur dan 119º00
PENDAHULUAN. Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan
I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor agribisnis merupakan sektor ekonomi terbesar dan terpenting dalam perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah kemampuannya dalam menyerap
IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU
IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara
I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN 2012-2014 Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Jakarta, 1 Februari 2012 Daftar Isi I. LATAR BELAKANG II. ISU STRATEGIS DI SEKTOR INDUSTRI III.
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi
69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.
I. PENDAHULUAN. perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode. berikutnya. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian suatu negara dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian dari
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan transportasi sangat diperlukan dalam pembangunan suatu negara ataupun daerah. Dikatakan bahwa transportasi sebagai urat nadi pembangunan kehidupan politik,
Bupati Murung Raya. Kata Pengantar
Bupati Murung Raya Kata Pengantar Perkembangan daerah yang begitu cepat yang disebabkan oleh semakin meningkatnya kegiatan pambangunan daerah dan perkembangan wilayah serta dinamisasi masyarakat, senantiasa
RUMUSAN RAPAT KOORDINASI PANGAN TERPADU SE KALTIM TAHUN 2015
RUMUSAN RAPAT KOORDINASI PANGAN TERPADU SE KALTIM TAHUN 2015 Pada Kamis dan Jumat, Tanggal Lima dan Enam Bulan Maret Tahun Dua Ribu Lima Belas bertempat di Samarinda, telah diselenggarakan Rapat Koordinasi
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi daerah berorientasi pada proses. Suatu proses yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penelitian Pembangunan ekonomi daerah berorientasi pada proses. Suatu proses yang melibatkan pembentukan institusi baru, pembangunan industri alternatif, perbaikan
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 Nomor Katalog : 9302001.9416 Ukuran Buku : 14,80 cm x 21,00 cm Jumlah Halaman
PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar
PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Sains dan Teknologi ABSTRAK Penelitian
PEMBANGUNAN KORIDOR EKONOMI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH
PEMBANGUNAN KORIDOR EKONOMI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH Pembangunan Koridor Ekonomi (PKE) merupakan salah satu pilar utama, disamping pendekatan konektivitas dan pendekatan pengembangan sumber daya manusia
BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS
BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar Pemerintah Daerah senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu, perhatian kepada mandat
I. PENDAHULUAN. dunia menghadapi fenomena sebaran penduduk yang tidak merata. Hal ini
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Fenomena Kesenjangan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia menghadapi fenomena sebaran penduduk yang tidak merata. Hal
1. PENDAHULUAN. Tabel 1. Batas Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Masyarakat Miskin ( ) Presentase Penduduk Miskin. Kota& Desa Kota Desa
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peranan pertanian dalam pembangunan ekonomi hanya dipandang pasif dan bahkan hanya dianggap sebagai unsur penunjang semata. Peranan utama pertanian dianggap hanya sebagai
I. PENDAHULUAN. Tabel 1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun (juta rupiah)
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang memiliki pertumbuhan ekonomi cukup tinggi. Selain Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur menempati posisi tertinggi
BAB I PENDAHULUAN. memiliki kontribusi bagi pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar penduduknya hidup dari hasil bercocok tanam atau bertani, sehingga pertanian merupakan sektor yang memegang peranan
BAB I PENDAHULUAN. langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan regional memiliki peran utama dalam menangani secara langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional. Peranan perencanaan
BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015
BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015 BALAI SIDANG JAKARTA, 24 FEBRUARI 2015 1 I. PENDAHULUAN Perekonomian Wilayah Pulau Kalimantan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Isu strategis yang kini sedang dihadapi dunia adalah perubahan iklim global, krisis pangan dan energi dunia, harga pangan dan energi meningkat, sehingga negara-negara
PRODUKSI PANGAN INDONESIA
65 PRODUKSI PANGAN INDONESIA Perkembangan Produksi Pangan Saat ini di dunia timbul kekawatiran mengenai keberlanjutan produksi pangan sejalan dengan semakin beralihnya lahan pertanian ke non pertanian
Magrobis Journal 41 EVALUASI PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2013 ABSTRAK BAB I. PENDAHULUAN
Magrobis Journal 41 EVALUASI PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2013 Oleh : Thamrin 1), Sabran 2) dan Ince Raden 3) ABSTRAK Kegiatan pembangunan bidang pertanian di Kabupaten
I. PENDAHULUAN. pembentukan Gross National Product (GNP) maupun Produk Domestik Regional
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan sektor pertanian dalam pembangunan Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Peran penting sektor pertanian tersebut sudah tergambar dalam fakta empiris yang
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Sektor unggulan di Kota Dumai diidentifikasi dengan menggunakan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Sektor unggulan di Kota Dumai diidentifikasi dengan menggunakan beberapa alat analisis, yaitu analisis Location Quetiont (LQ), analisis MRP serta Indeks Komposit. Kemudian untuk
Analisis Isu-Isu Strategis
Analisis Isu-Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Permasalahan yang ada pada saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi 5 (lima) tahun ke depan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Bangkalan perlu
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 32/05/35/Th. XI, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN I-2013 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Triwulan I Tahun 2013 (y-on-y) mencapai 6,62
BAB I PENDAHULUAN. pengembangan, yaitu : konsep pengembangan wilayah berdasarkan Daerah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di dalam pengembangan suatu wilayah, terdapat beberapa konsep pengembangan, yaitu : konsep pengembangan wilayah berdasarkan Daerah Aliran Sungai (DAS), konsep pengembangan
BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA
BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA Ekonomi rakyat merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara produsen dan pengekspor terbesar minyak kelapa sawit di dunia. Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan yang memiliki peran penting bagi perekonomian
BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi
BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau
Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia
Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perekonomian Indonesia tahun 2004 yang diciptakan UKM berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Majalengka
REPOSISI KAPET 2014 BAHAN INFORMASI MENTERI PEKERJAAN UMUM
REPOSISI KAPET 2014 KELEMBAGAAN DIPERKUAT, PROGRAM IMPLEMENTATIF, KONSISTEN DALAM PENATAAN RUANG MEMPERKUAT MP3EI KORIDOR IV SULAWESI LEGALITAS, KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR PU DALAM MEMPERCEPAT PENGEMBANGAN
Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen)
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 13/02/35/Th. XII, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR I. PERTUMBUHAN DAN STRUKTUR EKONOMI MENURUT LAPANGAN USAHA Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur
- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1 Cukup jelas.
- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG TATA KELOLA PRODUK-PRODUK UNGGULAN PERTANIAN DAN PERIKANAN DI JAWA TIMUR I. UMUM Wilayah Provinsi Jawa Timur yang luasnya
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kesiapan Kebijakan dalam Mendukung Terwujudnya Konsep Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT)
BAB V PEMBAHASAN Pembahasan ini berisi penjelasan mengenai hasil analisis yang dilihat posisinya berdasarkan teori dan perencanaan yang ada. Penelitian ini dibahas berdasarkan perkembangan wilayah Kecamatan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Kalimantan Timur terletak pada 113 0 44-119 0 00 BT dan 4 0 24 LU-2 0 25 LS. Kalimantan Timur merupakan
STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT.
STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Statistik Daerah Kecamatan Air Dikit 214 Halaman ii STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Nomor ISSN : - Nomor Publikasi
MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH PAPUA
MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH PAPUA Provinsi Papua PRIORITAS NASIONAL MATRIKS ARAH KEBIJAKAN BUKU III RKP 2012 WILAYAH PAPUA 1 Pendidikan Peningkatan akses pendidikan dan keterampilan kerja serta pengembangan
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Selain berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, sektor
BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik secara langsung maupun
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR No. 13/02/35/Th.XI, 5 Februari 2013 Ekonomi Jawa Timur Tahun 2012 Mencapai 7,27 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Geografi Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi Lampung. Kabupaten Lampung Selatan terletak di ujung selatan Pulau Sumatera
I. PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang pulau.
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang 18.110 pulau. Sebaran sumberdaya manusia yang tidak merata
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN IV/2012 DAN TAHUN 2012
No. 06/02/62/Th. VII, 5 Februari 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN IV/2012 DAN TAHUN 2012 Perekonomian Kalimantan Tengah triwulan IV-2012 terhadap triwulan III-2012 (Q to Q) secara siklikal
I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan bidang pertambangan merupakan bagian integral dari
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan bidang pertambangan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, sehingga pembangunan bidang pertambangan merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karenanya
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-2011
No. 43/08/63/Th XV, 05 Agustus 20 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-20 Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II-20 tumbuh sebesar 5,74 persen jika dibandingkan triwulan I-20 (q to q)
SUMMARY STRATEGI DAN MODEL PERENCANAAN POPULIS DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH
SUMMARY STRATEGI DAN MODEL PERENCANAAN POPULIS DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH Strategi populis dalam pengembangan wilayah merupakan strategi yang berbasis pedesaan. Strategi ini muncul sebagai respon atas
DAFTAR ISI. Kata Pengantar..
DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar.. Daftar Isi. Daftat Tabel. Daftar Gambar i-ii iii iv-vi vii-vii BAB I PENDAHULUAN 1 I.1. Latar Belakang. 1 I.2. Dasar Hukum...... 4 I.3. Tujuan..... 5 I.4. Manfaat......
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan usaha yang meliputi perubahan pada berbagai aspek
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan usaha yang meliputi perubahan pada berbagai aspek termasuk di dalamnya struktur sosial, sikap masyarakat, serta institusi nasional dan mengutamakan
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang dua per tiga wilayahnya adalah perairan dan terletak pada lokasi yang strategis karena berada di persinggahan rute perdagangan dunia.
Disampaikan oleh: Kepala Bappeda provinsi Jambi. Jambi, 31 Mei 2016
Disampaikan oleh: Kepala Bappeda provinsi Jambi Jambi, 31 Mei 2016 SUMBER PERTUMBUHAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA 1. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Jambi pada Februari 2015 sebesar 4,66
Boks 1. Dampak Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Provinsi Riau : Preliminary Study IRIO Model
Boks 1 Dampak Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Provinsi Riau : Preliminary Study IRIO Model I. Latar Belakang Perkembangan ekonomi Riau selama beberapa kurun waktu terakhir telah mengalami transformasi.
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten Subang
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011
No. 06/08/62/Th. V, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011 Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah triwulan I-II 2011 (cum to cum) sebesar 6,22%. Pertumbuhan tertinggi pada
I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Salah satu kebijakan pembangunan yang dipandang tepat dan strategis dalam rangka pembangunan wilayah di Indonesia sekaligus mengantisipasi dimulainya era perdagangan bebas
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Otonomi daerah adalah hak dan wewenang daerah untuk mengatur dan
16 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Otonomi daerah adalah hak dan wewenang daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Urusan rumah tangga sendiri ialah urusan yang lahir atas dasar prakarsa
BAB IV ANALISIS SUB SEKTOR POTENSIAL DALAM MENDUKUNG FUNGSI KOTA CILEGON
BAB IV ANALISIS SUB SEKTOR POTENSIAL DALAM MENDUKUNG FUNGSI KOTA CILEGON 4.1 Analisis Struktur Ekonomi Dengan struktur ekonomi kita dapat mengatakan suatu daerah telah mengalami perubahan dari perekonomian
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN I-2014 No. 32/05/35/Th. XIV, 5 Mei 2014 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Triwulan I Tahun 2014 (y-on-y) mencapai 6,40
BAB I PENDAHULUAN. upaya terus ditempuh pemerintah guna mendorong pembangunan ekonomi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi dan perkembangan sistem transportasi mempunyai hubungan yang erat serta saling ketergantungan. Berbagai upaya terus ditempuh pemerintah guna mendorong
ANALISIS PERKEMBANGAN BISNIS SEKTOR PERTANIAN. Biro Riset LMFEUI
ANALISIS PERKEMBANGAN BISNIS SEKTOR PERTANIAN Biro Riset LMFEUI Data tahun 2007 memperlihatkan, dengan PDB sekitar Rp 3.957 trilyun, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar, yaitu Rp
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya hidup dari
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya hidup dari sektor pertanian. Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam pembangunan
PEMERINTAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TEMA RKPD PROV KALTIM 2018 PENGUATAN EKONOMI MASYRAKAT MENUJU KESEJAHTERAAN YANG ADIL DAN MERATA
PEMERINTAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TEMA RKPD PROV KALTIM 2018 PENGUATAN EKONOMI MASYRAKAT MENUJU KESEJAHTERAAN YANG ADIL DAN MERATA Strategi dan Program Prioritas Penguatan Ekonomi Masyarakat Kabupaten Mahulu
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten
Kinerja ekspor mengalami pertumbuhan negatif dibanding triwulan sebelumnya terutama pada komoditas batubara
No. 063/11/63/Th.XVII, 6 November 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN III-2013 Secara umum pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan triwulan III-2013 terjadi perlambatan. Kontribusi terbesar
Ir. H. Isran Noor (Bupati Kutai Timur) Pada: Indonesia Water Forum Jakarta Convention Centre, 2 April 2014
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI TIMUR Disampaikan oleh: Ir. H. Isran Noor (Bupati Kutai Timur) Pada: Indonesia Water Forum Jakarta Convention Centre, 2 April 2014 o Kabupaten Kutai Timur terbentuk berdasarkan
ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI BIDANG USAHA UNGGULAN BERBAHAN BAKU PERTANIAN DALAM SUBSEKTOR INDUSTRI MAKANAN DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI BIDANG USAHA UNGGULAN BERBAHAN BAKU PERTANIAN DALAM SUBSEKTOR INDUSTRI MAKANAN DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA OLEH MUHAMMAD MARDIANTO 07114042 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS
PA Sangatta Rabu, 20 Juli 2011
PA Sangatta Rabu, 20 Juli 2011 A. PETA WILAYAH HUKUM Wilayah Hukum Pengadilan Agama Sangatta meliputi Kabupaten Kutai Timur yang terdiri dari 18 Kecamatan 135, yaitu : Kecamatan Muara Ancalong 8 Kecamatan
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah
35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari
3. Pola hubungan spasial intra-interregional di Kapet Bima dapat diamati dari pergerakan arus barang dan penduduk antar wilayah, yakni dengan
VI. PENUTUP 6.1. Kesimpulan Dari hasil analisis dan pembahasan tentang studi pengembangan wilayah di Kapet Bima dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Kapet Bima memiliki beragam potensi
No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah)
E. PAGU ANGGARAN BERDASARKAN PROGRAM No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah) Sub Bidang Sumber Daya Air 1. Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau, dan
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014
No. 048/08/63/Th XVIII, 5Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II- tumbuh sebesar 12,95% dibanding triwulan sebelumnya (q to q) dan apabila
BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007
BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007 4.1. Gambaran Umum awa Barat adalah provinsi dengan wilayah yang sangat luas dengan jumlah penduduk sangat besar yakni sekitar 40 Juta orang. Dengan posisi
V. SIMPULAN DAN SARAN. 1. Hasil analisis Tipologi Klassen menunjukkan bahwa:
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Hasil analisis Tipologi Klassen menunjukkan bahwa: a. Sektor ekonomi Kota Bandar Lampung
I. PENDAHULUAN. Dalam konteks ekonomi pembangunan, perluasan terhadap ekspor. merupakan faktor penentu kunci pertumbuhan ekonomi di negara berkembang.
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam konteks ekonomi pembangunan, perluasan terhadap ekspor merupakan faktor penentu kunci pertumbuhan ekonomi di negara berkembang. Gouws (2005) menyatakan perluasan
Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur
XII Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur Globalisasi ekonomi menuntut produk Jawa Timur mampu bersaing dengan produk sejenis dari negara lain, baik di pasar lokal maupun pasar internasional. Kurang
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan, dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan : DR.
Mendukung terciptanya kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Meningkatnya jumlah minat investor untuk melakukan investasi di Indonesia
E. PAGU ANGGARAN BERDASARKAN PROGRAM No. Program Sasaran Program Pengembangan Kelembagaan Ekonomi dan Iklim Usaha Kondusif 1. Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi Mendukung terciptanya kesempatan
KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara
KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2019 Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara Jakarta, 16 Februari 2016 I. TUJUAN KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL 2 I. TUJUAN KEBIJAKAN
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian dan sektor basis baik tingkat Provinsi Sulawsi Selatan maupun Kabupaten Bulukumba. Kontribusi sektor
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, yang memiliki warna sentral karena berperan dalam meletakkan dasar yang kokoh bagi
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan transmigrasi pada hakekatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan pembangunan daerah, sebagai upaya untuk mempercepat pembangunan terutama
V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010
65 V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 5.1. Gambaran Umum dan Hasil dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010 Pada bab ini dijelaskan
KL 4099 Tugas Akhir. Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari. Bab 2 GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI
Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari Bab 2 GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI Bab GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau
I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka, di mana lalu
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
DINAS PETERNAKAN PROV.KALTIM 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah Administratif Provinsi Kalimantan Timur terdiri atas 14 Kabupaten/Kota, namun sejak tgl 25 April 2013 telah dikukuhkan Daerah
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah menggambarkan kondisi dan analisis statistik Perekonomian Daerah, sebagai gambaran umum untuk situasi perekonomian Kota
5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
27 Secara rinci indikator-indikator penilaian pada penetapan sentra pengembangan komoditas unggulan dapat dijelaskan sebagai berikut: Lokasi/jarak ekonomi: Jarak yang dimaksud disini adalah jarak produksi
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemajuan yang diperoleh Bangsa Indonesia selama tiga dasawarsa pembangunan ternyata masih menyisakan berbagai ketimpangan, antara lain berupa kesenjangan pendapatan dan
1. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sektor pertanian yang terus dituntut berperan dalam
1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia memiliki sektor pertanian yang terus dituntut berperan dalam perekonomian nasional melalui pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), perolehan devisa,
PRODUKTIVITAS DAN KONTRIBUSI TENAGA KERJA SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN BOYOLALI
PRODUKTIVITAS DAN KONTRIBUSI TENAGA KERJA SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN BOYOLALI Yetti Anita Sari Fakultas Geografi UGM; Yogyakarta E-mail: [email protected] ABSTRAK Sektor pertanian merupakan salah
KATA PENGANTAR. Lubuklinggau, September 2014 WALIKOTA LUBUKLINGGAU H. SN. PRANA PUTRA SOHE
KATA PENGANTAR Buku Indikator Ekonomi Kota Lubuklinggau ini dirancang khusus bagi para pelajar, mahasiswa, akademisi, birokrat, dan masyarakat luas yang memerlukan data dan informasi dibidang perekonomian
STRATEGI DAN PROGRAM PRIORITAS PENGUATAN EKONOMI MASYARAKAT KABUPATEN PASER BIDANG INDUSTRI TANAMAN PANGAN TAHUN 2018
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PASER STRATEGI DAN PROGRAM PRIORITAS PENGUATAN EKONOMI MASYARAKAT KABUPATEN PASER BIDANG INDUSTRI TANAMAN PANGAN TAHUN 2018 PAPARAN KEPALA BAPPEDA PADA RAPAT
VI. REKOMENDASI KEBIJAKAN
158 VI. REKOMENDASI KEBIJAKAN Pengelolaan lahan gambut berbasis sumberdaya lokal pada agroekologi perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Bengkalis dilakukan berdasarkan atas strategi rekomendasi yang
