IKHSANUDDIN (055853) TUSZIE WIDHIYANTI
|
|
|
- Hartono Djaja Lesmana
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP, KETERAMPILAN GENERIK SAINS DAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA TOPIK HIDROLISIS GARAM DAN SIFAT KOLIGATIF LARUTAN ARTIKEL IKHSANUDDIN (055853) TUSZIE WIDHIYANTI (056360) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2007
2 PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP, KETERAMPILAN GENERIK SAINS DAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA TOPIK HIDROLISIS GARAM DAN SIFAT KOLIGATIF LARUTAN Ikhsanuddin*, Tuszie Widhiyanti*, Liliasari**, Anna Permanasari **, Agus Setiabudi** *Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia **Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK Pemahaman konseptual dalam ilmu kimia membutuhkan kemampuan untuk merepresentasikan dan menerjemahkan masalah-masalah kimia dalam bentuk representasi makroskopik, simbolik, dan mikroskopik secara simultan. Pembelajaran dengan metoda ceramah, diskusi, dan praktikum belum bisa memfasilitasi ketiga jenis representasi tersebut secara optimal, terutama untuk materi kimia yang bersifat abstrak. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Di samping pemahaman konsep, pembelajaran hendaknya melatih keterampilan berpikir siswa. Berdasarkan pemikiran tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang suatu model berbasis teknologi informasi mengenai Sifat Koligatif Larutan yang dapat meningkatkan pemahaman konsep, Keterampilan Generik Sains (KGS) dan Keterampilan Berpikir Kritis (KBK) siswa. Desain penelitian menggunakan One Group Pretes-Postes Design. Data pre-tes dan pos-tes diolah untuk mengetahui peningkatan penguasaan konsep, KGS dan KBK siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran ini dapat meningkatkan penguasaan konsep, KGS dan KBK siswa pada nilai N-Gain kategori sedang dan tinggi. Kata Kunci: Teknologi Informasi, pemahaman konsep, keterampilan generik sains, keterampilan berpikir kritis, hidrolisis garam, dan sifat koligatif larutan Pendahuluan Perkembangan sains dan teknologi sekarang ini khususnya teknologi infromasi sangat pesat. Perkembangan teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video ini berdampak terhadap perubahan dalam masyarakat pada berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Bidang pendidikan perlu merespon perkembangan teknologi informasi ini, terutama dalam kaitannya dengan penyiapan sumber daya manusia yang mampu berdaya saing dalam iklim global.
3 Teknologi informasi dalam pendidikan diaplikasikan dalam bentuk multimedia yang berfungsi sebagai prangkat lunak (software), yang memberikan fasilitas kepada siswa untuk mempelajari suatu materi. Penggunaan aplikasi multimedia dalam pembelajaran akan meningkatkan efisiensi, motivasi, serta memfasilitasi belajar aktif, belajar eksperimental, konsisten dengan belajar yang berpusat pada siswa, dan memandu pebelajar untuk belajar lebih baik (Crowther dan Davies dalam Suyanto, 2003). Kimia merupakan salah satu pelajaran yang dianggap sukar dipahami oleh siswa. Hal ini menyebabkan siswa menjadi kurang tertarik dalam mempelajari ilmu kimia. Untuk dapat memahami ilmu kimia secara konseptual, dibutuhkan kemampuan untuk merepresentasikan dan menerjemahkan masalah dan fenomena kimia tersebut ke dalam bentuk representasi makroskopis, mikroskopis, dan simbolik secara simultan (Russel, et al.,1997; Bowen,1998). Kendalanya, Pengajaran kimia biasanya hanya menekankan pada level simbolik dan pemecahan masalah. Padahal pembelajaran kimia juga membutuhkan visualisasi baik secara makroskopis maupun mikroskopis, agar siswa bisa memahami konsep kimia secara utuh. Pentingnya visualisasi dalam pembelajaran kimia sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Berbagai upaya telah banyak dikembangkan untuk menciptakan visualisasi dari suatu konsep. Dua diantaranya adalah dengan melalui kegiatan praktikum, demonstrasi atau dengan menjelaskan suatu konsep menggunakan analogi. Namun, baik kegiatan praktikum maupun demonstrasi, keduanya hanya dapat memberikan penjelasan yang sifatnya makroskopis saja, padahal banyak konsep kimia yang membutuhkan penjelasan pada tingkat mikroskopis. Sedangkan kelemahan dari analogi adalah dapat menimbulkan persepsi yang berbeda pada setiap orang. Analogi yang penempatannya kurang tepat dapat menimbulkan kebingungan bahkan dapat menyebabkan terjadinya miskonsepsi (Widhiyanti, 2006).
4 Topik hidrolisis garam dan sifat koligatif larutan terdiri dari konsep abstrak, konsep abstrak dengan contoh konkrit, konsep berdasarkan prinsip dan konsep konkrit. Pembelajaran pada konsep yang abstrak serta konsep abstrak dengan contoh konkrit sukar dilakukan di laboratorium. Meskipun fenomena pada konsep tersebut bisa diamati secara visual, namun untuk penjelasan lebih lanjut diperlukan animasi-animasi yang dapat menggambarkan fenomena tersebut secara molekuler. Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, dapat dilakukan upaya dengan memanfaatkan berbagai keunggulan yang dimiliki oleh teknologi komputer. Salah satu keuntungan materi pembelajaran berbasis komputer adalah kemampuannya untuk menampilkan animasi pada tingkat molekuler dari suatu fenomena kimia (Nakhleh, 1992). Kemampuannya untuk menampilkan gambar yang bergerak ini dapat menjadikan komputer sebagai alat untuk memvisualisasikan fenomena dan sistem kimia dalam skala mikroskopik. Dengan menggunakan teknologi komputer ini, diharapkan miskonsepsi dari visualisasi konsep kimia mikroskopis dapat dihindari. Seperti yang telah tertuang pada Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Kimia, Depdiknas (2003), bahwa pengalaman belajar tidak hanya diperuntukkan agar siswa dapat menguasai kompetensi dasar yang telah ditentukan, tetapi hendaknya juga harus memuat kecakapan hidup (life skill) yang harus dimiliki siswa. Kecakapan hidup merupakan kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problem hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya. Lebih lanjut dipaparkan dalam Peraturan Mendiknas No. 23 Tahun 2006, bahwa tujuan pembelajaran pada kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah untuk mengembangkan logika, kemampuan berpikir dan analisis
5 peserta didik. Kimia merupakan salah satu mata pelajaran dalam kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model pembelajaran berbasis teknologi informasi yang dapat meningkatkan pemahaman konsep, Keterampilan Generik Sains dan Berpikir Kritis siswa pada topik Hidrolisis Garam dan Sifat Koligatif Larutan. Aplikasi Teknologi Informasi dalam Dunia Pendidikan Teknologi informasi dapat diartikan sebagai sejumlah kumpulan sistem informasi, pengguna (user), serta manajemennya yang terorganisasi (Turban et al., 1999). Dalam sumber lain, teknologi informasi diartikan sebagai teknologi informatika yang mampu mendukung percepatan dan meningkatkan kualitas informasi, serta percepatan arus informasi ini tidak mungkin lagi dibatasi oleh ruang dan waktu (Wahyudi, 1992). Sistem komputer merupakan teknologi informasi yang digunakan dalam sistem informasi. Teknologi yang digunakan di sistem teknologi informasi adalah teknologi komputer, teknologi telekomunikasi dan teknologi apapun yang dapat menghasilkan informasi. Dengan demikian sistem komputer merupakan subsistem atau sistem bagian dari teknologi informasi (Hartono, 2003). Komputer yang sangat canggih yang mampu berperan baik sebagai tutor maupun perpustakaan, menyediakan informasi dan umpan balik kepada peserta didik secara cepat (Dryden, 2001). Suatu sistem komputer yang terdiri dari hardware dan software yang memberikan kemudahan untuk menggabungkan gambar, video, fotografi, grafik dan animasi dengan suara, teks, serta data yang dikendalikan dengan program komputer disebut dengan istilah multimedia (Munir, 2001). Multimedia ini dapat digunakan untuk rnembantu menciptakan komunikasi yang lebih berkesan di antara guru dan peserta didik selama PBM. Siswa yang terlibat dalam proses belajar melalui program
6 multimedia bisa mempelajari ilmu yang ada di dalamnya sesuai dengan minat, bakat, kesukaan, keperluan, pengetahuan dan emosinya. Kemampuan multimedia memberi pengajaran secara individu (sistem tutorial) membuat siswa memiliki kebebasan untuk belajar mandiri tanpa harus selalu didampingi guru. Keterampilan Generik Sains Menurut Brotosiswoyo (2001) kemampuan generik sains dapat ditunjukkan melalui 9 indikator yaitu: (1) pengamatan langsung; (2) pengamatan tak langsung; (3) kesadaran tentang skala besaran; (4) bahasa simbolik; (5) kerangka logika taat-asas; (6) inferensi logika, (7) hukum sebab akibat; (8) pemodelan matematika; (9) membangun konsep. Makna dari setiap keterampilan generik sains tersebut dijelaskan dalam Liliasari (2005), seperti berikut ini. Sains merupakan ilmu tentang fenomena dan perilaku alam sepanjang masih dapat diamati oleh manusia. Hal ini menuntut adanya kemampuan manusia untuk melakukan pengamatan langsung dan mencari keterkaitan-keterkaitan sebab akibat dari pengamatan tersebut. Dalam melakukan pengamatan langsung, alat indera yang digunakan manusia memiliki keterabatasan. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut manusia melengkapi diri dengan berbagai peralatan. Misalnya untuk mengetahui sifat-sifat larutan diperlukan indikator. Cara ini dikenal sebagai pengamatan tak langsung. Dari hasil pengamatan yang dilakukan maka seseorang yang belajar sains akan memiliki kesadaran akan skala besaran dari berbagai obyek yang dipelajarinya. Dengan demikian ia dapat membayangkan bahwa yang dipelajarinya itu tentang dari ukuran yang sangat besar seperti jagad raya sampai yang sangat kecil seperti keberadaan pasangan elektron. Untuk memperjelas gejala alam yang dipelajari oleh setiap rumpun ilmu diperlukan bahasa simbolik, agar terjadi komunikasi dalam bidang ilmu tersebut. Dalam sains misalnya bidang kimia mengenal adanya lambang unsur, perasamaan
7 reaksi, simbol-simbol untuk reaksi searah, reaksi kesetimbangan, resonansi dan banyak lagi bahasa simbolik yang telah disepakati dalam bidang ilmu tersebut. Pada pengamatan panjang tentang gejala alam yang dijelaskan melalui banyak hukum-hukum, orang akan menyadari keganjilan dari sifat taat assasnya secara logika. Untuk membuat hubungan hukum-hukum itu agar taat assas, maka perlu ditemukan teori baru yang menunjukkan kerangka logika taat assas. Logika sangat berperan dalam melahirkan hukum-hukum sains. Banyak fakta yang tak dapat diamati langsung dapat ditemukan melalui inferensia logika dari konsekuensi-konsekuensi logis hasil pemikiran dalam belajar sains. Rangkaian hubungan antara berbagai faktor dari gejala yang diamati diyakini sains selalu membentuk hubungan yang dikenal sebagai hukum sebab akibat.untuk menjelaskan hubungan-hubungan yang diamati diperlukan bantuan pemodelan matematik agar dapat diprediksikan dengan tepat bagaimana kecenderungan hubungan atau perubahan suatu fenomena alam. Tidak semua fenomena alam dapat difahami dengan bahasa sehari-hari, karena itu diperlukan bahasa khusus ini yang dapat disebut konsep. Jadi belajar sains memerlukan kemampuan untuk membangun konsep, agar bisa ditelaah lebih lanjut untuk memerlukan pemahaman yang lebih lanjut, konsep-konsep inilah diuji keterterapannya. Pada penelitian ini indikator keterampilan generik sains yang digunakan adalah: melakukan pengamatan tak langsung, menggunakan bahasa simbolik, menerapkan hukum sebab akibat, menggunakan pemodelan matematik, serta membangun konsep. Keterampilan Berpikir Kritis Tantangan hidup di era informasi, akan mempengaruhi tujuan dan praktik pendidikan. Pendidikan dasar untuk abad ke 21 tidak hanya sekedar membaca,
8 menulis dan berhitung, namun juga harus melibatkan keterampilan memecahkan masalah, literasi sains dan teknologi, serta keterampilan berpikir yang dapat dapat membuat manusia bisa memahami teknologi disekitarnya (McTighe dalam Costa, 1985). Keterampilan berpikir dikelompokkan menjadi keterampilan berpikir dasar dan keterampilan berpikir kompleks atau tingkat tinggi. Dalam hal ini keterampilan berpikir dasar meliputi menghubungkan sebab-akibat, mentransformasi, serta menemukan hubungan dan memberikan kualifikasi. Sedangkan proses berpikir tingkat tinggi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu pemecahan masalah, membuat keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif (Presseisen dalam Costa, 1985). Di antara proses berpikir tingkat tinggi di atas salah satu yang digunakan dalam pembentukan sistem konseptual IPA adalah berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang difokuskan untuk menentukan apa yang harus diyakini dan apa yang harus dilakukan (Ennis dalam Costa, 1985). Berpikir kritis menggunakan dasar proses berpikir untuk menganalisis argumen dan memunculkan wawasan terhadap tiaptiap makna dan interpretasi, untuk mengembangkan pola penalaran yang kohesif dan logis, memahami asumsi dan bias yang mendasari tiap-tiap posisi (Liliasari, 2005). Indikator keterampilan berpikir kritis dibagi menjadi lima kelompok (Ennis dalam Costa, 1985) yaitu: memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan dasar, menyimpulkan, membuat penjelasan lebih lanjut, serta mengatur strategi dan taktik. Indikator-indikator keterampilan berpikir kritis ini dirinci lebih lanjut yang lebih spesifik dan yang sesuai dengan pembelajaran IPA. Indikator Keterampilan Berpikir Kritis yang dikembangkan dalam penelitian ini diantaranya adalah: (1) Menerapkan prinsip yang dapat diterima. (2) Menyimpulkan. (3) Menemukan persamaan dan perbedaan. (4) Kemampuan memberikan alasan. (5)
9 Menjawab pertanyaan apa yang dimaksud dengan..?. (6) Mengidentifikasi atau merumuskan kriteria untuk menentukan jawaban yang mungkin. (7) Menggeneralisasikan tabel dan grafik. Metodologi Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen dengan design penelitian One Group Pretest-posttest Design. Penelitian pada topik Hidrolisis Garam dilaksanakan di salah satu SMA Negeri di kota Palembang pada siswa kelas XI yang berjumlah 33 orang. Sedangakan untuk topik Sifat Koligatif Larutan Penelitiannya dilaksanakan di suatu SMA Negeri Kabupaten Bogor pada siswa kelas XI yang berjumlah 39 orang. Untuk pengumpulan data digunakan empat jenis instrumen yaitu: Soal tes, Kuisioner, pedoman wawancara dan pedoman observasi. Soal tes digunakan untuk mendapatkan data peningkatan penguasaan konsep, peningkatan keterampilan generik sains, serta peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa. Kuisoner, pedoman wawancara dan pedoman observasi digunakan untuk menjaring data tentang tanggapan guru dan siswa terhadap model serta keunggulan dan kelemahan dari model. Sebelum implementasi model pembelajaran dilakukan tes awal (pre-tes) dan setelah implementasi model pembelajaran dilakukan tes akhir (pos-tes). Hasil pre-tes dan pos-tes diolah dan dianalisis untuk mengetahui peningkatan penguasaan konsep, keterampilan generik sains, dan berpikir kritis siswa. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar antara sebelum dan sesudah pembelajaran dilakukan uji N-Gain, dihiting dengan rumus : g S S post maks Keterangan : S Pre = Skor Pre-tes S Post = Skor Pos-tes S Maks = Skor maksimum S S pre pre
10 Tingkat perolehan skor dikategorikan atas tiga kategori (Hake, 1998), yaitu : 1) Tinggi : g > 0,7 2) Sedang : 0,3 < g < 0,7 3) Rendah : g < 0,3 Hasil Penelitian Peningkatan Penguasaan Konsep a. Hidrolisis Garam Dari analisis data diketahui bahwa secara umum terjadi peningkatan pemahaman konsep siswa setelah implementasi model pembelajaran dengan rata rata N-Gain 0,71. Terhadap peningkatan tersebut dilakukan uji perbandingan dua rata-rata pretes dan pos-tes dengan menggunakan uji t Hasil uji t dengan menggunakan program SPSS menunjukkan nilat t hitung = 31,13 pada taraf kepercayaan 0,05 dan harga t tabel = 2,04. Karena nilai t hitung > t tabel. berarti rata-rata skor pre-tes dan pos-tes berbeda secara signifikan. Konsep hidrolisis garam terdiri dari 7 label konsep. Peningkatan penguasaan konsep terjadi pada semua label konsep. Peningkatan penguasaan konsep tertinggi terjadi pada konsep tetapan hidrolisis dengan N-gain 0,89, sedangakan peningkatan penguasaan konsep terendah terjadi pada konsep ph larutan garam dengan N-gain 0,51 (Gambar 1). 1 0,8 0,6 0,4 0,2 0 0,82 0,87 0,89 0,7 0,67 0,57 0,51 K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7 N-Gain Keterangan : K1 = Hidrolisis garam K2 = Hidrolisis anion K3 = Hidrolisis kation K4 = Hidrolisis total K5 = Reaksi hidrolisis K6 = Tetapan Hidrolisis K7 = ph laurutan garam yang terhidrolisis. Gambar 1. Grafik Peningkatan Penguasaan Konsep Hidrolisis Garam b. Sifat Koligatif Larutan Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui bahwa secara umum siswa mengalami peningkatan penguasaan konsep dengan nilai N-Gain sebesar 0,48. Terhadap
11 N-Gain peningkatan tersebut dilakukan uji perbandingan dua rata-rata pre-tes dan pos-tes dengan menggunakan uji t pada program SPSS Hail uji t menunjukkan bahwa nilai taraf signifikansi 0,000 < taraf nyata 0,05. berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa nilai pre-tes dan pos-tes berbeda secara signifikan. Pembelajaran Sifat Koligatif Larutan ini terdiri dari 8 label konsep. Gambar 2 menunjukkan bahwa peningkatan penguasaan konsep terjadi pada semua label konsep. Peningkatan penguasaan konsep tertinggi terjadi pada konsep Tekanan Uap dengan nilai N-Gain 0,63, sedangkan peningkatan yang terendah terjadi pada konsep Kenaikan Titik Didih Larutan dengan nilai N-Gain 0,32. 0,70 0,60 0,50 0,40 0,30 0,20 0,10 0,00 0,63 0,42 0,55 0,32 0,39 0,44 0,54 0, Label Konsep Keterangan: 1. Tekanan Uap 2. Penurunan Tekanan Uap 3. Titik Didih 4. Kenaikan Titik Didih Larutan 5. Penurunan Titik Beku Larutan 6. Penurunan Titik Beku Molal (K f ) 7. Diagram Fasa 8. Sifat Koligatif Larutan Gambar 2. Grafik Peningkatan Penguasaan Konsep Sifat Koligatif Larutan Peningkatan Keterampilan Generik Sains a. Hidrolisis Garam Indikator keterampilan generik sains yang dikembangkan adalah: pengamatan tak langsung, menggunakan bahasa simbolik, menggunakan hukum sebab akibat, menerapkan pemodelan matematik, serta membangun konsep. Dari hasil analisis data diketahui terjadi peningkatan keterampilan generik sains pada semua indikator. Peningkatan tertinggi terjadi pada indikator menggunakan bahasa simbolik dengan nilai rata-rata N-Gain 0,82 dan terendah pada indikator menggunakan hukum sebab akibat dengan rata-rata N-Gain 0,47. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.
12 N-Gain Keterangan Grafik : K1 = Pengamatan tak langsung K2 = mengunakan bahasa simbolik K3 = Hukum sebab akibat K4 = Menerapkan Pemodelan matematik K5 = Membangun konsep K1 K2 K3 K4 K5 Gambar 3. Grafik N-Gain Keterampilan Generik Sains pada Topik Hidrolisis Garam Terhadap peningkatan keterampilan generik sains tersebut dilakukan uji perbedaan rata-rata. Sebelum uji perbedaan rata-rata dilakukan uji normalitas terhadap skor pretes dan postes untuk masing-masing Keterampilan Generik Sains dengan Kolmogorov-Smirnov test, dari hasil uji normalitas ternyata ada data pretes atau postes yang berdistribusi normal dan ada yang tidak berdistribusi normal. Untuk data yang berdistribusi normal dilakukan uji t sedangkan untuk data yang berdistribusi tidak normal dilakukan uji wilcoxon. Hasil uji normalitas dan uji wilcoxon dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata Skor Pretes, Postes dan N-gain Keterampilan Generik Sains No Indikator Keterampilan Generik Sains Skor Pretes Postes N-Gain Skor Maks. Z hitung Z tabel Ket. 1. Pengamatan tak langsung 1,64 2, Signifikan 2. Bahasa simbolik 4,97 9, Signifikan 3. Hukum sebab akibat 0,70 1, Signifikan 4. Pemodelan Matematik 1,94 7, t hitung t tabel 2,04 Signifikan 5. Membangun Konsep 4,73 9,52 0, Signifikan Dari uji rata-rata didapatkan bahwa semua indikator keterampilan generik sains mengalami peningkatan yang signifikan. b. Sifat Koligatif Larutan Indikator keterampilan generik sains yang dikembangkan adalah: melakukan pengamatan tak langsung, menggunakan bahasa simbolik, menjelaskan hukum
13 sebab akibat, menerapkan pemodelan matematik, serta membangun konsep. Dari hasil analisis data diketahui terjadi peningkatan keterampilan generik sains pada semua indikator. Terhadap peningkatan keterampilan generik sains tersebut dilakukan uji perbedaan rata-rata. Sebelum uji perbedaan rata-rata dilakukan uji normalitas terhadap skor pretes dan postes untuk masing-masing Keterampilan Generik Sains dengan Kolmogorov-Smirnov test, dari hasil uji normalitas ternyata ada data pretes atau postes yang berdistribusi normal dan ada yang tidak berdistribusi normal. Untuk data yang berdistribusi normal dilakukan uji t sedangkan untuk data yang berdistribusi tidak normal dilakukan uji wilcoxon. Hasil uji normalitas dan uji wilcoxon dapat dilihat pada Tabel 2. Dari uji rata-rata didapatkan bahwa semua indikator keterampilan generik sains mengalami peningkatan yang signifikan. Tabel 2. Hubungan Keterampilan Generik Sains dengan Rata-rata Prosentase Skor Pretes, Postes, N-Gain, serta uji perbedaan dua rata-rata Indikator Rata-rata (%) Uji Wilcoxon/Uji t (α = 0,05) No Keterampilan N-Gain Taraf Pretes Postes Generik Sains Signifikansi Keterangan 1 Membangun konsep 29,49 70,09 0,58 0,000 Signifikan 2 Menjelaskan hukum sebab akibat 24,62 56,41 0,42 0,000 Signifikan 3 Menerapkan 0,000 32,76 60,40 0,41 pemodelan matematik (uji t) Signifikan 4 Menggunakan bahasa simbolik 23,59 56,92 0,44 0,000 Signifikan 5 Melakukan pengamatan tidak langsung 46,15 74,87 0,53 0,000 Signifikan Peningkatan tertinggi terjadi pada indikator membangun konsep dengan nilai ratarata N-Gain 0,58 dan terendah pada indikator menerapkan pemodelan matematik dengan rata-rata N-Gain 0,47. Gambar 4 menujukkan peningkatan Keterampilan Generik Sains pada tiap indikator yang diukur.
14 Prosentase (%) 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 Pretes Postes N-Gain 10,00 0,00 KGS 1 KGS 2 KGS 3 KGS 4 KGS 5 Gambar 4. Grafik Peningkatan Penguasaan Keterampilan Generik Sains Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis a. Hidrolisis Garam Indikator Keterampilan Berpikir Kritis yang dikembangkan adalah: menerapkan prinsip yang dapat diterima, kemampuan memberikan alasan, menyimpulkan, serta menemukan persamaan dan perbedaan. Pembelajaran berbasis teknologi informasi pada topik Hidrolisis Garam dapat meningkatkan keempat indikator Keterampilan Berpikir Kritis tersebut pada nilai N-Gain kategori sedang dan tinggi, seperti yang terlihat pada Gambar 5. 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 0,78 0,7 0,69 0,63 KBK1 KBK2 KBK3 KBK4 N-Gain Gambar 5. Grafik N-Gain Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Keterangan : KB1 = Menerapkan prinsip yang dapat diterima KB2 = Menyimpulkan KB3 = Menemukan persamaan dan perbedaan KB4 = Kemampuan memberikan alasan
15 Indikator Keterampilan Berpikir Kritis yang mengalami peningkatan tertinggi adalah menyimpulkan dengan nilai N-Gain sebesar 0,78, sedangkan indikator KBK yang mengalami peningkatan terendah adalah menemukan persamaan dan perbedaan dengan nilai N-Gain sebesar 0,63. Untuk mengetahui signifikansi peningkatan pada masing-masing indikator tersebut dilakukan uji perbedaan dua rata-rata yakni uji t untuk indikator yang data pretes dan postesnya berdistribusi normal, dan uji Wilcoxon untuk indikator yang data pretes dan postesnya tidak berdistribusi normal. Hasil uji t dan uji Wilcoxon dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Skor Pre-tes dan Pos-tes Keterampilan Berpikir Kritis No Indikator Keterampilan Berpikir Kritis 1. Menerapkan prinsip yang dapat diterima 2. Kemampuan memberikan alasan Skor N-Gain Skor Uji Rata-rata ket (α = 0,05) Maks Pre-tes Postes t hitung t tabel Signifikan 7, , ,59 2,04 Signifikan 3, , ,98 2,04 Signifikan Z hitung Z tabel 3. Menyimpulkan 1, ,78 5 4, Signifikan 4. Menemukan persamaan dan perbedaan 1, , Signifikan Berdasarkan hasil uji t dan uji Wilcoxon tersebut, diketahui bahwa seluruh indikator Keterampilan Berpikir Kritis yang dikembangkan pada penelitian mengalami peningkatan yang signifikan. b. Sifat Koligatif Larutan Indikator Keterampilan Berpikir Kritis yang dikembangkan adalah: menjawab pertanyaan apa yang dimaksud dengan...? (KBK 1), mengidentifikasi atau merumuskan kriteria untuk menentukan jawaban yang mungkin (KBK 2), mencari persamaan dan perbedaan (KBK 3), menerapkan prinsip yang dapat diterima (KBK 4), kemampuan memberikan alasan (KBK 5), serta menggeneralisasikan tabel dan grafik (KBK 6). Pembelajaran berbasis teknologi informasi pada topik
16 N-Gain Sifat Koligatif Larutan dapat meningkatkan keenam indikator Keterampilan Berpikir Kritis tersebut pada nilai N-Gain kategori sedang, seperti yang terlihat pada Gambar 6. 0,70 0,60 0,50 0,40 0,30 0,20 0,10 0,61 0,43 0,44 0,41 0,39 0,51 Keterangan: 1. KBK 1 2. KBK 2 3. KBK 3 4. KBK 4 5. KBK 5 6. KBK 6 0, Indikator KBK Gambar 6. Grafik Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Indikator Keterampilan Berpikir Kritis yang mengalami peningkatan tertinggi adalah menjawab apa yang dimaksud dengan...? dengan nilai N-Gain sebesar 0,61, sedangkan indikator KBK yang mengalami peningkatan terendah adalah kemampuan memberikan alasan dengan nilai N-Gain sebesar 0,39. Untuk mengetahui signifikansi peningkatan pada masing-masing indikator tersebut dilakukan uji perbedaan dua rata-rata yakni uji t untuk indikator yang data pretes dan postesnya berdistribusi normal, dan uji Wilcoxon untuk indikator yang data pretes dan postesnya tidak berdistribusi normal. Hasil uji t dan uji Wilcoxon dapat dilihat pada Tabel 4.
17 Tabel 4 No Hasil Uji Normalitas dan Uji Wilcoxon/Uji t terhadap Skor Pretes dan Postes pada setiap Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Menjawab pertanyaan apa yang dimaksud dengan..? Mengidentifikasi atau merumuskan kriteria untuk menentukan jawaban yang mungkin Mencari persamaan dan perbedaan Aplikasi dari prinsip yang dapat diterima Kemampuan memberikan alasan Menggeneralisasikan tabel dan grafik Uji Normalitas (α = 0,05) Uji Wilcoxon /Uji t (α = 0,05) Taraf Taraf Keterangan Signifikansi Uji Signifikansi Keterangan Pretes Postes Pretes Postes 0,000 0,001 0,011 0,109 Tidak normal Tidak normal Tidak normal Tidak normal Uji Wilcoxon Uji Wilcoxon 0,000 Signifikan 0,000 Signifikan 0,303 0,365 Normal Normal Uji t 0,000 Signifikan 0,019 0,081 Tidak normal 0,006 0,035 Tidak normal 0,038 0,032 Tidak normal Tidak normal Tidak normal Tidak normal Uji Wilcoxon Uji Wilcoxon Uji Wilcoxon 0,000 Signifikan 0,000 Signifikan 0,000 Signifikan Berdasarkan hasil uji Wilcoxon dan uji t tersebut, diketahui bahwa seluruh indikator Keterampilan Berpikir Kritis yang dikembangkan pada penelitian mengalami peningkatan yang signifikan. Keunggulan dan keterbatasan software Berdasarkan data angket siswa, wawancara terhadap guru, dan hasil observasi pelaksanaan pembelajaran, dapat diketahui bahwa software yang dibuat dalam penelitian ini memiliki beberapa keunggulan. (1) Software pembelajaran dinilai menarik dan tidak membosankan serta dapat membuat siswa aktif dan belajar mandiri karena CD pembelajaran dapat diputar ulang. (2) Pembelajaran berbasis teknologi informasi ini dapat menampilkan animasi yang dapat menggambarkan suatu fenomena secara molekuler (mikroskopik). (3) Alur atau tahapan pembelajaran yang melibatkan eksperimen sederhana, tabel data, dan grafik dapat meningkatkan penguasaan konsep, Keterampilan Generik Sains dan Keterampilan Berpikir Kritis siswa. (4) Pembelajaran berbasis teknologi informasi seperti ini dapat menciptakan kondisi belajar yang efektif yang akan meningkatkan motivasi siswa. (5) Pembelajaran Sifat Koligatif Larutan yang dimulai dengan penekanan pada konsep Tekanan Uap dapat lebih mematangkan penguasaan konsep siswa
18 mengenai Penurunan Tekanan Uap dan Kenaikan Titik Didih Larutan. (6) Materi pembelajaran interaktif yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang harus diselesaikan siswa dapat meningkatkan peran aktif siswa. Disamping keunggulan, software yang disusun dalam penelitian ini pun masih memiliki beberapa keterbatasan, yakni: (1) Memerlukan fasilitas komputer yang cukup untuk tiap siswa, sehingga belum dapat diterapkan untuk semua sekolah. (2) Sistem dalam software yang disusun pada penelitian ini belum dapat mengontrol apakah jawaban yang diberikan siswa pada setiap pertanyaan yang diberikan merupakan hasil pemikiran siswa atau hanya berupa tebak-menebak saja. Kesimpulan Pembelajaran berbasis teknologi informasi pada topik Hidrolisis Garam dan Sifat Koligatif Larutan dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada nilai N- Gain kategori sedang dan tinggi. Pada topik Hidrolisis Garam, konsep yang mengalami peningkatan tertinggi adalah Tetapan Hidrolisis, sedangkan konsep yang mengalami peningkatan terendah adalah ph Larutan Garam. Pada topik Sifat Koligatif Larutan, konsep yang mengalami peningkatan tertinggi adalah Tekanan Uap, sedangkan konsep yang mengalami peningkatan terendah adalah Kenaikan Titik Didih. Peningkatan Keterampilan Generik Sains juga terjadi pada nilai N-Gain kategori sedang dan tinggi. Dalam pembelajaran Hidrolisis Garam, indikator Keterampilan Generik Sains yang mengalami peningkatan tertinggi adalah menggunakan bahasa simbolik, sedangkan indikator keterampilan generik sains yang mengalami peningkatan terendah adalah menjelaskan hukum sebab akibat. Pada pembelajaran Sifat Koligatif Larutan, indikator Keterampilan Generik Sains yang mengalami peningkatan tertinggi adalah membangun konsep, sedangkan indikator keterampilan generik sains yang mengalami peningkatan terendah adalah menerapkan pemodelan matematik.
19 Pembelajaran ini juga dapat meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis siswa pada nilai N-Gain kategori sedang dan tinggi. Indikator Keterampilan Berpikir Kritis yang mengalami peningkatan tertinggi dalam pembelajaran pada topik Hidrolisis Garam adalah menggunakan bahasa simbolik sedangkan indikator KBK yang mengalami peningkatan terendah adalah menjelaskan hukum sebab akibat. Sementara itu, indikator Keterampilan Berpikir Kritis yang mengalami peningkatan tertinggi dalam pembelajaran pada topik Sifat Koligatif Larutan adalah menjawab apa yang dimaksud dengan...?, sedangkan indikator KBK yang mengalami peningkatan terendah adalah kemampuan memberikan alasan. DAFTAR PUSTAKA Bowen, C.W. (1998). Item Design Considerations for Computer-Based Testing of Student Learning in Chemistry. Journal of Chemical Education. 75. (9) Brotosiswoyo,B.S. (2001). Hakikat Pembelajaran Fisika di Perguruan Tinggi. Jakarta: Proyek Pengembangan Universitas Terbuka, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas. Depdiknas. (2003). Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian. Jakarta: Depdiknas Dryden, Gordon. (2001). Revolusi Cara Belajar (The Learning Revolution): Belajar Akan Efektif Kalau Anda Dalam Keadaan Fun Bagian II. Bandung: Kaifa. Ennis, Robert H. (1985). Goals for a Critical Thinking Curriculum. In A.L. Costa (ed.). Developing Minds: A Resource Book for Teaching Thinking. Alexandra: ASCD. Hake, R.R. (1998). Interactive-engagement vs traditional methodsz; A sixthousand-student survey of mechanic test data for introductory physics courses. American Journal of Physics. 66, Hartono, J. (2003). Sistem Teknologi Informasi. Yogyakarta: Penerbit Andi. Liliasari. (2005). Membangun Keterampilan Berpikir Manusia Indonesia Melalui Pendidikan Sains. Pidato Pengukuhan Guru Besar. UPI Bandung. 23 Nopember. McTighe, J; Schollenberger, J. (1985). Why Teach Thinking: A Statement of Rationale. In A.L. Costa (ed.). Developing Minds: A Resource Book for Teaching Thinking. Alexandra: ASCD.
20 Munir. (2001). Aplikasi Teknologi Multimedia dalam Proses Belajar Mengajar. Mimbar Pendidikan. No. 3/XX/ Bandung: University Press UPI. Nakhleh, M.B. (1992). Why Some Students Don t Learn Chemistry. Journal of Chemical Education. 69. (3) Presseisen, B.Z. (1985). Thinking Skill: Meaning and Models. In A.L. Costa (ed.). Developing Minds: A Resource Book for Teaching Thinking. Alexandra: ASCD. Russell, J.W. et al. (1997). Use of Simultaneous-Synchronized Macroscopic, Microscopic, and Symbolic Representations to Enhance the Teaching and Learning of Chemical Concepts. Journal of Chemical Education. 74. (3) Suyanto, M. (2004). Multimedia Alat Untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing. Yogyakarta: Andi Turban, E. et al. (1999). Information Technology for Management: Making Connections for Strategic Advantage. 2 nd edition. New York: John Wiley & Sons, Inc. Wahyudi, J.B. (1992). Teknologi Informasi dan Produksi Citra Bergerak. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Widhiyanti, T. (2006). Peran Laboratorium dan Multimedia dalam Pembelajaran Kimia pada Salah Satu SMAN di Kabupaten Bogor. Laporan Studi Lapangan SPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
ARTIKEL TUSZIE WIDHIYANTI
PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA TOPIK SIFAT KOLIGATIF LARUTAN ARTIKEL TUSZIE WIDHIYANTI 0 5 6 3 6 0 PROGRAM STUDI
Effectiveness of Information Technology-Based Instruction on Student's Understanding of Colligative Properties ABSTRACT PENDAHULUAN
Effectiveness of Information Technology-Based Instruction on Student's Understanding of Colligative Properties Tuszie Widhiyanti Departement of Chemistry Education, Indonesia University of Education ABSTRACT
Penelltian Pendidikan IPA
Volume I No. 2, Juli 2007 ISSN: 1978-7987 Jurnal Penelltian Pendidikan IPA Pembelajaran Konsep Bakteriologi dan Virologi Berbasis Teknologi Informasi untuk Meningkatkan Keterampilan Generik Mahasiswa (Suci
PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN KIMIA DARI PEMAHAMAN KONSEP KIMIA MENJADI BERPIKIR KIMIA
PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN KIMIA DARI PEMAHAMAN KONSEP KIMIA MENJADI BERPIKIR KIMIA Oleh Liliasari Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Abstrak Pembelajaran kimia pada umumnya hanya
II. TINJAUAN PUSTAKA. sains tersebut (Gallagher, 2007). Dengan demikian hasil belajar sains diharapkan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Keterampilan Generik Sains Belajar sains merupakan suatu proses memberikan sejumlah pengalaman kepada siswa untuk mengerti dan membimbing mereka untuk menggunakan pengetahuan sains
II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran reciprocal teaching pertama kali diterapkan oleh Brown
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Model pembelajaran reciprocal teaching pertama kali diterapkan oleh Brown dan Palincsar di tahun 1982. Model pembelajaran reciprocal teaching
G 1 G 2 O 1 O 2 O 3 O 4
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini quasi experimental, dengan desain penelitian nonequivalen control group design, pada desain penelitian ini menggunakan
BAB I PENDAHULUAN. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang terus-menerus, bahkan dewasa
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang terus-menerus, bahkan dewasa ini berlangsung dengan pesat. Pengaruhnya meluas ke berbagai bidang kehidupan termasuk bidang
PEMBELAJARAN BERBASIS VIRTUAL LABORATORY UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP PADA MATERI LISTRIK DINAMIS
Proceedings of The 4 th International Conference on Teacher Education; Join Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010 PEMBELAJARAN BERBASIS VIRTUAL LABORATORY UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN
BAB III METODE PENELITIAN. peningkatan penguasaan konsep dan keterampilan generik sains pada
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian 1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dan metode deskriptif. Metode quasi experiment digunakan untuk mengetahui
III. METODE PENELITIAN. Pengembangan yang dilakukan adalah pengembangan media pembelajaran berupa
III. METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian Pengembangan yang dilakukan adalah pengembangan media pembelajaran berupa LKS dan animasi kimia berbasis keterampilan generik sains pada materi pokok termokimia
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah quasy experiment dengan desain penelitian pretest posttest non equivalen control group design. Pada desain
I. PENDAHULUAN. Kimia merupakan salah satu ilmu yang memunculkan fenomena yang abstrak.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kimia merupakan salah satu ilmu yang memunculkan fenomena yang abstrak. Banyak materi dalam pembelajaran kimia yang sulit untuk diilustrasikan dalam bentuk gambar dua
BAB I PENDAHULUAN. Ilmu kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yaitu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yaitu mempelajari gejala alam. Dalam mempelajari gejala alam, ilmu kimia mengkhususkan pembahasannya
BAB I PENDAHULUAN. dan komposisi zat menggambarkan bagaimana partikel-partikel penyusun zat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yaitu mempelajari gejala alam. Dalam mempelajari gejala alam, ilmu kimia mengkhususkan pembahasannya pada
PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF PADA PEMBELAJARAN MEDAN MAGNET UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS MAHASISWA
PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF PADA PEMBELAJARAN MEDAN MAGNET UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS MAHASISWA Sutarno Program Studi Pendidikan Fisika JPMIPA FKIP UNIB [email protected],
III. METODE PENELITIAN. Pengembangan yang dilakukan adalah pengembangan media pembelajaran berupa
III. METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian Pengembangan yang dilakukan adalah pengembangan media pembelajaran berupa LKS berbasis keterampilan generik sains pada materi hukum-hukum dasar kimia untuk
I. PENDAHULUAN. Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing
Penerapan Model Pembelajaran Interactive Engagement untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 4 Palu
Penerapan Model Pembelajaran Interactive Engagement untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 4 Palu Ma wa Hamran, Muhammad Ali dan Unggul Wahyono e-mail: [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran fisika saat ini adalah kurangnya keterlibatan mereka secara aktif
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu permasalahan besar yang dialami siswa dalam proses pembelajaran fisika saat ini adalah kurangnya keterlibatan mereka secara aktif dalam proses belajar
III. METODE PENELITIAN. LKS berbasis keterampilan generik sains pada materi laju reaksi untuk SMA
III. METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian Pengembangan yang dilakukan adalah pengembangan media pembelajaran berupa LKS berbasis keterampilan generik sains pada materi laju reaksi untuk SMA sesuai dengan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini diuraikan mengenai metodologi penelitian yang digunakan, meliputi lokasi dan subjek penelitian, desain penelitian, metode penelitian, definisi operasional, prosedur
PENGARUH LATIHAN MEMBANGUN KONSEP TERHADAP KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH TOPIK KALOR PADA SISWA SMAN 1 SUKODADI KABUPATEN LAMONGAN
PENGARUH LATIHAN MEMBANGUN KONSEP TERHADAP KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH TOPIK KALOR PADA SISWA SMAN 1 SUKODADI KABUPATEN LAMONGAN Puput Putri Manitasari dan Nadi Suprapto Jurusan Fisika, Universitas Negeri
KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA KELAS X DAN XI PADA PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN METODA PRAKTIKUM ABSTRAK
KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA KELAS X DAN XI PADA PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN METODA PRAKTIKUM Dra. Gebi Dwiyanti, M.Si., dan Dra. Siti Darsati, M,Si. Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi siswa dengan lingkungannya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses belajar terjadi karena adanya interaksi siswa dengan lingkungannya (Winarno, 2007). Proses belajar dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja terlepas
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini membahas tentang; a. Paradigma penelitian; b. Desain penelitian; c. Prosedur penelitian; d. Subjek penelitian; e. Instrumen penelitian; f. Tehnik pengumpulan data
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuasi eksperimen (quasi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuasi eksperimen (quasi experiment) dengan control group pretest post test design. Desain
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengumpulkan data penelitiannya (Arikunto, 2002). Metode yang digunakan
32 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya (Arikunto, 2002). Metode yang digunakan dalam penelitian
Nurun Fatonah, Muslimin dan Haeruddin Abstrak Kata Kunci:
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK UNTUK MENINGKATKAN KEMAHIRAN GENERIK SAINS PADA SISWA SMP NEGERI 1 DOLO Nurun Fatonah, Muslimin dan Haeruddin e-mail: [email protected] Program Studi Pendidikan
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN SCIENCE ENVIRONMENT TECHNOLOGY AND SOCIETY (SETS) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN SIKAP ILMIAH
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN SCIENCE ENVIRONMENT TECHNOLOGY AND SOCIETY (SETS) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN SIKAP ILMIAH MAIMUNAH queenahakim@gmail. com Program Studi Teknik Informatika,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. terhadap buku teks terjemahan adalah metode
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan untuk menganalisis keterbacaan dan pemahaman mahasiswa terhadap buku teks terjemahan adalah metode deskriptif. Menurut Firman,
Pengaruh Penerapan Praktikum Virtual Berbasis Problem Solving Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa
Pengaruh Penerapan Praktikum Virtual Berbasis Problem Solving Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Sutarno Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Bengkulu, email
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini berupaya untuk mengembangkan model pembekalan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian 1. Metode Penelitian Penelitian ini berupaya untuk mengembangkan model pembekalan kemampuan generik kimia (MPKGK). Model pembekalan yang dikembangkan
BAB I PENDAHULUAN. Mata pelajaran fisika masih menjadi pelajaran yang tidak disukai oleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mata pelajaran fisika masih menjadi pelajaran yang tidak disukai oleh siswa di sekolah. Menurut Komala (2008:96), ternyata banyak siswa menyatakan bahwa pembelajaran
Pendekatan Pembelajaran Metacognitive Scaffolding dengan Memanfaatkan Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Literasi Matematis Siswa SMA
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2015 Pendekatan Pembelajaran Metacognitive Scaffolding dengan Memanfaatkan Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Literasi Matematis Siswa SMA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas suatu bangsa dan negara sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. Setiap bangsa yang ingin berkualitas selalu berupaya untuk meningkatkan tingkat
PENGARUH LATIHAN INFERENSI LOGIKA SISWA TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA TOPIK GETARAN DAN GELOMBANG DI SMP NEGERI 1 BOJONEGORO
PENGARUH LATIHAN INFERENSI LOGIKA SISWA TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA TOPIK GETARAN DAN GELOMBANG DI SMP NEGERI 1 BOJONEGORO Novia Nur Aini dan Nadi Suprapto Jurusan Fisika, Universitas
BAB I PENDAHULUAN. Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur, susunan, sifat,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur, susunan, sifat, perubahan materi, serta energi yang menyertainya (Departemen Pendidikan Nasional, 2004). Sebagai
PEMBEKALAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMA MELALUI PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS MASALAH
PEMBEKALAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMA MELALUI PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS MASALAH Winny Liliawati Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK Pembelajaran Fisika
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK PEMBELAJARAN KONSEP OPTIK BAGI CALON GURU
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK PEMBELAJARAN KONSEP OPTIK BAGI CALON GURU Gunawan, Ahmad Harjono, Haerunnisyah Sahidu, Sutrio Program Studi Pendidikan Fisika, FKIP Universitas Mataram, NTB Email:
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk menghindari berbagai penafsiran terhadap definisi yang digunakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Untuk menghindari berbagai penafsiran terhadap definisi yang digunakan dalam penelitian ini, maka diberikan penjelasan dari masing-masing variabel
BAB I PENDAHULUAN. teknologi informasi (TIK), dan lahirnya masyarakat berbasis ilmu pengetahuan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu gelombang terdahsyat yang melanda kehidupan umat manusia dewasa ini adalah globalisasi yang diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
Penerapan Perangkat Pembelajaran Materi Kalor melalui Pendekatan Saintifik dengan Model Pembelajaran Guided Discovery Kelas X SMA
Penerapan Perangkat Pembelajaran Materi Kalor melalui Pendekatan Saintifik dengan Model Pembelajaran Guided Discovery Kelas X SMA Linda Aprilia, Sri Mulyaningsih Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan
Pengaruh Media Animasi Submikroskopik terhadap Peningkatan Keterampilan Memecahkan Masalah Mahasiswa
Pengaruh Media Animasi Submikroskopik terhadap Peningkatan Keterampilan Memecahkan Masalah Mahasiswa Ratna Azizah Mashami dan Ahmadi Pendidikan Kimia FPMIPA IKIP Mataram Email: [email protected] Abstract:
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Kemampuan Berpikir Kritis Sebelum Pembelajaran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Kemampuan Berpikir Kritis Sebelum Pembelajaran Sebelum pembelajaran dengan menggunakan metode Guided Inquiry, siswa diberikan tes berupa soal
BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia dan sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu bangsa. Pemerintah terus
USING PROBLEM BASED LEARNING MODEL TO INCREASE CRITICAL THINKING SKILL AT HEAT CONCEPT
0 USING PROBLEM BASED LEARNING MODEL TO INCREASE CRITICAL THINKING SKILL AT HEAT CONCEPT La Sahara 1), Agus Setiawan 2), dan Ida Hamidah 2) 1) Department of Physics Education, FKIP, Haluoleo University,
PENGARUH MEDIA ANIMASI SUBMIKROSKOPIK (MAS) TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF MAHASISWA
KONSTAN: Jurnal Fisika dan Pendidikan Fisika Vol. 1. no.1 (2015) hal. 46-50 PENGARUH MEDIA ANIMASI SUBMIKROSKOPIK (MAS) TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF MAHASISWA Ratna Azizah Mashami, Raehanah 1)
BAB I PENDAHULUAN. Upaya peningkatan mutu pendidikan dalam ruang lingkup pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Upaya peningkatan mutu pendidikan dalam ruang lingkup pendidikan IPA di sekolah dirumuskan dalam bentuk pengembangan individu-individu yang literate terhadap sains.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Paradigma penelitian merupakan pola pikir yang menunjukkan hubungan. antar variabel yang akan diteliti (Gambar 3.1).
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Paradigma Penelitian Paradigma penelitian merupakan pola pikir yang menunjukkan hubungan antar variabel yang akan diteliti (Gambar 3.1). Kemampuan generik sains yang akan
ANALISIS PENGUASAAN KONSEP KIMIA SISWA SMA DALAM MODEL PEMBELAJARAN PRAKTIKUM D-Ei-Hd. Susiwi*, Achmad A.Hinduan**, Liliasari**, Sadijah Ahmad***
ANALISIS PENGUASAAN KONSEP KIMIA SISWA SMA DALAM MODEL PEMBELAJARAN PRAKTIKUM D-Ei-Hd Susiwi*, Achmad A.Hinduan**, Liliasari**, Sadijah Ahmad*** * Dosen Jurusan Pend. Kimia FPMIPA UPI ** Dosen Sekolah
Pengaruh Penggunaan Media Video Terhadap Peningkatan Pemahaman Konsep Suhu dan Kalor Pada Siswa Kelas X Man 1 Palu.
Pengaruh Penggunaan Media Video Terhadap Peningkatan Pemahaman Konsep Suhu dan Kalor Pada Siswa Kelas X Man 1 Palu. Puput Istiqomah, I Komang Werdhiana, dan Unggul Wahyono [email protected] Program
PENGARUH PENERAPAN METODE PEMECAHAN MASALAH TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA
Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia ISSN : 2541-0849 e-issn : 2548-1398 Vol. 1, no 3 November 2016 PENGARUH PENERAPAN METODE PEMECAHAN MASALAH TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA Abdul Wakhid
UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 4, No. 2, pp , May 2015
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK ASAM BASA KELAS XI MIA SMAN 2 MAGETAN IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18 oktober sampai 18
38 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18 oktober sampai 18 desember 2013 di MTs Muslimat NU Palangka Raya tahun ajaran 2013/2014. B. Pendekatan
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIK SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN PROBLEM POSING
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIK SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN PROBLEM POSING Tutit Sarimanah SMP Negeri 1 Cianjur [email protected] ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis matematik penting
UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 4, No.2, pp , May 2015
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI STOIKIOMETRI DI SMAN 3 LAMONGAN IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE
Mukti Herdiana, Eko Setyadi Kurniawan, Ashari
PENGARUH SIMULASI PHYSICS EDUCATION OF TECHNOLOGY (PhET) TERHADAP KEAKTIFAN SISWA DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X SMA MUHAMMADIYAH KUTOARJO TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Mukti Herdiana, Eko Setyadi Kurniawan,
BAB III METODE PENELITIAN. Berpikir kritis mencakup sejumlah keterampilan kognitif dan disposisi
BAB III METODE PENELITIAN A. Paradigma Penelitian Berpikir kritis mencakup sejumlah keterampilan kognitif dan disposisi intelektual yang diperlukan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi
BAB III METODE PENELITIAN. Keterampilan laboratorium dan kemampuan generik sains sangat penting
BAB III METODE PENELITIAN A. Paradigma Penelitian Keterampilan laboratorium dan kemampuan generik sains sangat penting dimiliki oleh setiap calon guru agar dapat berhasil melaksanakan pembelajaran di laboratorium.
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN IPA KELAS TINGGI BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA CALON GURU SD
1-13 EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN IPA KELAS TINGGI BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA CALON GURU SD Taufiq, Masitoh 1 1 Universitas Sriwijaya ABSTRAK Penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan pendidikan (educational research and development) seperti yang dikembangkan oleh Thiagarajan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
B A B I I I. M e t o d o l o g i P e n e l i t i a n 5 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode Quasi Experiment yang dilakukan dengan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode Quasi Experiment yang dilakukan dengan desain penelitian jenis One Group Pretest-Posttest Design. Desain
MODEL PEMBELAJARAN MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS GURU FISIKA PADA TOPIK FLUIDA DINAMIS
MODEL PEMBELAJARAN MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS GURU FISIKA PADA TOPIK FLUIDA DINAMIS Ferawati, M. Pd Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas
Dwi Ratnaningdyah. Universitas PGRI Palembang, Palembang. ABSTRAK
ISSN: 2338-1027 September 2017 Jurnal Wahana Pendidikan Fisika (2017) Vol.2 No.2 : 63-67 PENERAPAN MDEL PEMBELAJARAN NVICK DIPADUKAN DENGAN STRATEGI CPERATIVE PRBLEM SLVING (CPS) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT IMPLEMENTATION OF PROBLEM BASED INSTRUCTION TO EXERCISED OF SCIENCE
BAB 1 PENDAHULUAN. (Undang-undang No.20 Tahun 2003: 1). Pendidikan erat kaitannya dengan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan kondisi belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi-potensi
II. TINJAUAN PUSTAKA. proses (perbuatan) yang bertujuan untuk mengembangkan sesuatu. teruji, pengamatan yang seksama dan percobaan yang terkendali.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengembangan Pengembangan diartikan sebagai proses atau cara perbuatan mengembangkan (Anonim,1991). Jika dibuat suatu pengertian, maka pengembangan adalah suatu proses (perbuatan)
I PENDAHULUAN. Kimia yang merupakan mata pelajaran dalam rumpun sains, sangat erat kaitannya
I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kimia yang merupakan mata pelajaran dalam rumpun sains, sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu ilmu kimia yang diperoleh siswa seharusnya tidak
BAB I PENDAHULUAN. berperan langsung di dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Ilmu kimia sebagai salah satu disiplin Ilmu Pengetahuan Alam sangat berperan langsung di dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, kimia diperlukan
BAB III METODE PENELITIAN. A. Model Pengembangan. Model pengembangan yang dipakai adalah modal Four-D yang
digilib.uns.ac.id 48 BAB III METODE PENELITIAN A. Model Pengembangan Model pengembangan yang dipakai adalah modal Four-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974). Pemilihan model Four-D ini karena dalam
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen (Syaodih, 2007: 58), dengan disain eksperimen yang
BAB I PENDAHULUAN. siswa (membaca, menulis, ceramah dan mengerjakan soal). Menurut Komala
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Rumit, sulit dipahami dan membosankan, tiga kata yang menjadi gambaran betapa pelajaran fisika kurang disukai oleh siswa pada umumnya. Pemahaman konsep, penafsiran grafik,
I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi kimia di
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi kimia di SMA Budaya Bandar Lampung diketahui bahwa rata-rata nilai test formatif siswa pada materi pokok
BAB I PENDAHULUAN. sifat, dan perubahan materi, serta energi yang menyertai perubahan materi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ilmu kimia merupakan ilmu yang mempelajari tentang struktur, susunan, sifat, dan perubahan materi, serta energi yang menyertai perubahan materi (Departemen Pendidikan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. semu dan metode deskriptif. Untuk mendapatkan gambaran peningkatan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu dan metode deskriptif. Untuk mendapatkan gambaran peningkatan keterampilan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi penelitian dan Sampel Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri X Sentani, yang berlokasi di Jalan Raya Kemiri, Sentani, Papua. Pengambilan data dilakukan
ANALISIS KETERAMPILAN MEMBERIKAN PENJELASAN SEDERHANA MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM SOLVING
ANALISIS KETERAMPILAN MEMBERIKAN PENJELASAN SEDERHANA MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM SOLVING Riestania Faradilla, Ila Rosilawati, Noor Fadiawati, Nina Kadaritna Pendidikan Kimia, Universitas Lampung [email protected]
EKSPLORASI KETERAMPILAN GENERIK SAINS SISWA PADA MATA PELAJARAN KIMIA DI SMA NEGERI 9 SEMARANG
http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/jpkimia EKSPLORASI KETERAMPILAN GENERIK SAINS SISWA PADA MATA PELAJARAN KIMIA DI SMA NEGERI 9 SEMARANG Oleh: Tin Rosidah 1, Andari Puji Astuti 2, VDR Andri Wulandari
BAB I PENDAHULUAN. Kimia merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari mengenai materi,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kimia merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari mengenai materi, sifat materi, perubahan materi dan energi yang menyertai perubahan materi tersebut. Pelajaran kimia
PENGEMBANGAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS MELALUI PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF. Rika Rafikah Agustin
PENGEMBANGAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS MELALUI PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF Rika Rafikah Agustin Program Studi IPSE FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK Studi ini dilakukan untuk mengembangkan
