RANCANG BANGUN LINIER AMPLIFIER UNTUK SPEKTROSKOPI NUKLIR
|
|
|
- Ari Tanuwidjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 RANCANG BANGUN LINIER AMPLIFIER UNTUK SPEKTROSKOPI NUKLIR JOKO SUNARDI, TOTO TRIKASJONO Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir-BATAN Jl. Babarsari Kotak Pos 1008, DIY Telp , Faks Abstrak RANCANG BANGUN LINIER AMPLIFIER UNTUK SPEKTROSKOPI NUKLIR.. Telah dilakukan rancang bangun linier amplifier untuk spektroskopi nuklir dengan tujuan penelitian dan untuk melengkapi fasilitas praktikum elektronika nuklir pada laboratorium elektronika instrumentasi Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir. Rancang bangun ini dilaksanakan dengan membuat perangkat spektroskopi linier amplifier yang menunjukkan pemrosesan pulsa input dari detektor yang kemudian dikuatkan oleh penguat linier dan dibentuk oleh pembentuk pulsa, sehingga dihasilkan pulsa keluaran semigaussian yang siap dicacah. Dari rancang bangun ini mempunyai kelebihan dengan menggunakan standar rangkaian dari IAEA dan diperoleh hasil berupa perangkat spektroskopi linier amplifier yang siap digunakan untuk spektroskopi nuklir yang sesuai standar untuk penelitian. Dari hasil penelitian diperoleh nilai INL = 0,235%; Rise time = 0,4mS; Fall time = 0,6mS; FWHM = 0,4mS; Shaping time = 1,2mS; Resolusi (untuk Co-60 pada energi 1332 kev = 0,030%; pada energi 1773 kev = 0,034 % dan untuk Cs-137 pada energi 662 kev = 0,09 %); Efisiensi (untuk Co-60 = 0,866 % dan untuk Cs-137 = 1,405 %), regresi untuk Kalibrasi energi = 0,9166 dan Chi square tes tingkat kepercayaan 95% - 50% diperoleh nilai 14,7. Kata kunci :linier amplifier, spektroskopi nuklir, pulsa Abstract DESIGN TO BUILD THE LINEAR AMPLIFIER FOR THE SPECTROSCOPY OF NUCLEAR. Have conducted design to develop the linear amplifier for the spectroscopy of nuclear with an eye to research and to equip the nuclear facility practice electronics at laboratory of Nuclear Technological College instrumentation electronics. Design to develop this executed by making linear spectroscopy peripheral of amplifier which showing of process of pulse input from later detector strengthened by linear lasing and formed by form pulse, is so that yielded by readily pulse output semigaussian is count. From designing to develop this have the excess by using network standard from IAEA and obtained by result in the form of linear spectroscopy peripheral of used readily amplifier for the spectroscopy of appropriate nuclear of standard for the research of. From research result obtained by value INL = 0,235%; Rise Time = 0,4mS; Fall Time = 0,6mS; FWHM = 0,4mS; Shaping Time = 1,2mS; Resolution ( for the Co-60 of at energi 1332 kev = 0,030%; at energi 1773 kev = 0,034 % and for the Cs-137 of at energi 662 kev = 0,09 %); Efficiency ( for the Co-60 of = 0,866 % and for the Cs-137 of = 1,405 %), regresi to Calibrate the energi = 0,9166 and Chi square tes mount the belief 95-50% obtained by value 14,7. Keywords : linear amplifier, nuclear spectroscopy, pulse. PENDAHULUAN Dalam bidang teknologi nuklir banyak instrument yang mendukung dalam berbagai keperluan penelitian, pendidikan, kedokteran, juga bidang industri dan sebagainya. Spektroskopi nuklir berfungsi untuk analisa sumber radiasi atau radioisotop dengan mengukur distribusi energinya, sedangkan amplifier pada spektroskopi nuklir berfungsi sebagai pengolah pulsa keluaran dari detektor sehingga dapat dibaca oleh penganalisa tinggi 89
2 pulsa. Spektroskopi nuklir mempunyai prinsip alat untuk mengetahui energi dari suatu sumber radiasi seperti sumber alpa, beta dan gamma. Pada spektroskopi nuklir terdiri dari : detektor, HV, pre-amplifier, amplifier, SCA/TSCA, pencacah (Counter dan Timer). Dan peneliti akan meneliti dan membuat amplifier, sedangkan amplifier atau spektroskopi amplifier mempunyai prinsip alat sebagai penguatan dan pembentuk pulsa menjadi semi gaussian. Spektroskopi amplifier terdiri dari : pull zero (penguat awal) dan differensiator, penguat, dc restorer, filter complek, integrator dan base line restorer (BLR). Dan hasil yang diharapkan pulsa keluaran pulsa unipolar dan bipolar, bila untuk pemilihan detektor apa yang akan dipakai, maka keluaran pulsa unipolar bisa menggunakan detektor semikonduktor dan pulsa bipolar biasanya menggunakan detektor NaI(Tl), sehingga pada penelitian dan pembuatan alat ini detektor yang digunakan detektor NaI(Tl). Detektor NaI(Tl) ialah salah satu jenis detektor sintilasi yang bahannya sintilator dan digunakan untuk mengukur radiasi gamma dan sinar-x. Dan detektor ini keunggulan dibandingkan dengan detektor lain adalah efisiensinya tinggi oleh karena itu detektor ini merupakan pilihan untuk digunakan dalam pengukuran radioaktivitas rendah (pengukuran radiaktivitas lingkungan) dan keunggulan lainnya ialah kecepatan memproses sebuah radiasi menjadi pulsa listrik. Sehingga dengan keunggulan-keunggulan yang ada pada detektor ini kegunaan spektroskopi nuklir dapat berfungsi lebih baik. Perancangan dan pembuatan alat ini digunakan untuk mengetahui suatu unsur: alat yang akan dibahas pada penelitian ini ialah amplifier pada spektroskopi nuklir sebagai penguat dan pembentuk pulsa dan yang ingin dicapai pada penelitian dan pembuatan amplifier yaitu keluaran pulsa unipolar dan pulsa bipolar. Peneliti bertujuan untuk membangun spektroskopi amplifier yang bermanfaat teknologi sekarang ini dan pengembangan teknologi kedepannya untuk lebih baik, meliputi : desain, kontruksi dan kualitasnya.. Dalam bidang teknologi nuklir banyak instrument yang mendukung dalam berbagai keperluan penelitian, pendidikan, kedokteran, juga bidang industri dan sebagainya. Spektroskopi nuklir berfungsi untuk analisa sumber radiasi atau radioisotop dengan mengukur distribusi energinya, sedangkan amplifier pada spektroskopi nuklir berfungsi sebagai pengolah pulsa keluaran dari detektor sehingga dapat dibaca oleh penganalisa tinggi pulsa. DASAR TEORI Spektroskopi nuklir mempunyai prinsip alat untuk mengetahui energi dari suatu sumber radiasi seperti sumber alpa, beta dan gamma. Pada spektroskopi nuklir terdiri dari : detector, HV, pre amplifier, amplifier, SCA/TSCA, pencacah (Counter dan Timer). Dan peneliti akan meneliti dan membuat amplifier, sedangkan amplifier atau spektroskopi amplifier mempunyai prinsip alat sebagai penguatan dan pembentuk pulsa. Spektroskopi amplifier terdiri dari : pull zero (penguat awal) dan differensiator, penguat, dc restorer, filter complek, integrator dan base line restorer (BLR). Blok Diagram Linier Amplifier Gambar 1. Blok Diagram Spektroskopi Amplifier Differensiator and Pole Zero Cancellation Bagian awal dari Spektrokopi amplifier adalah differensiator and pole-zero Cancellation. Gambar 2. Rangkaian Pole Zero Bagian ini menunjukkan rangkaian differensiasi pasif yang disusun dari rangkaian R dan C yaitu R3 dan C1 dapat dilihat rangkaian dasar adalah sebagai berikut : Gambar 3. Rangkaian Dasar Pole Zero 90
3 Informasi tentang energi dari radiasi tertentu adalah tinggi pulsa dari tangga tegangan mulai dari 10 mvolt atau dengan range dari 5Volt sampai + 5Volt. Tegangan seperti ini tidak dikuatkan. Untuk itu tangga tegangan tersebut di differensiasikan, untuk mendefferensiasikan digunakan rangkaian R dan C pasif seperti Gambar 3. Karena differensiasi non eksak di tanyakan oleh RC pendeferensiasi, menghasilkan pulsa eksponensial mendekati nol dengan RC time konstan, dengan pilihan RC yang sesuai, pulsa dengan lebar lembah-lembah dapat dibentuk. Tujuan differensiasi adalah untuk memperpendek Exponential pulse tail sehingga pulsa itu turun dengan cepat setelah didifferensiator. Hal ini adalah untuk menjaga terjadinya Base Line Fenctuation, dengan demikian mempercepat DC level recovery sehingga memungkinkan untuk Counting Rate yang lebih tinggi. Rangkaian differensiator disini dilengkapi dengan pole zero cancellation network yang dibentuk rangkaian R1; C1; R3, untuk menghilangkan atau mengurangi terjadinya under shot pada pulsa setelah differensial pertama. Rangkaian C1; R1; R2 dan U1 adalah rangkaian Differensiator yang digunakan untuk membentuk pulsa bagian depan atau untuk memperbesar waktu bangkit pulsa (rise time). Pole zero cancellation yang dibentuk pada rangkaian P1; C1; dan R3 berfungsi untuk mencegah under shot akibat proses integrasi. Efek under shot ini dapat dikurangi dengan menambah preamplifier Pulse delay time sperti pada Gambar 3. Sasaran bawah eliminasi adalah exsponensial dengan time konstan λ dan pulsa masukan, tetapi kebanyakan lebih kecil dari yang menghubungkan ekor exsponensial pada input pulsa. Jika akan menambahkan exsponensial dari polaritas yang berlainan saling membatalkan satu sama lain dan ada perhitungannya lebih detail. Bagian selanjutnya adalah penguat I (U3) yang dilengkapi dengan fine gain melalui P2 dan penguat II (U4) yang dilengkapi dengan coarse gain melalui kombinasi R16; R17; R18 dan SW2. Keluaran penguat II yang dikendalikan oleh DC restore dimasukkan ke Complex pole filter. Pengendalian perlu dilakukan karena semua rangkaian menggunakan kopling DC sehingga sekecil apapun perubahan offset akan berfengaruh sangat besar pada output. Basic Amplifier Circuits Gambar 4. Basic Amplifier Circuits Saklar (S) adalah memilih pulsa input, apakah pulsa positif atau pulsa negatif. Sebagai R9 penguatannya ditentukan oleh untuk pulsa R6 R negatif dan untuk pulsa positif. Rangkain ini R juga dilengkapi dengan fine gain melalui P2 (potensiometer) dipakai untuk mengatur amplitudo pulsa amplifier. Gambar 5. Penguat U3 dan U4 adalah sebagai pulsa shaping yang berfungsi sebagai pembentuk pulsa dengan merubah SW1 dan melalui konversi R16, R17 dan SW2 dapat diatur rise time dan delay time sesuai bentuk pulsa yang dikehendaki. DC Controller Tegangan penguat perlu dilakukan pengendalian dengan rangkaian sebagai berikut : Gambar 6. DC Restorer Tegangan penguatan dikendalikan perlu dilakukan karena semua tingkatan pada amplifier spektroskopi nuklir dari U1 sampai 91
4 dengan U4 merupakan rangkaian DC complek (dihubung langsung), sehingga mempunyai penguatan yang cukup besar. Oleh karena itu perubahan offset sekecil apapun beberapa mvolt dari input dapat diperbesar ratusan kali. Jika ada yang breck pada base line (level DC tidak nol), maka pengukuran puncak pulsanya akan tidak benar. Dengan DC restorer level DC akan sama dengan nol dan DC restorer ditangani oleh U6 dan U7 bersama dengan D1 dan D2 serta beberapa R. U5 adalah voltage folever sebagai buffer, D1 adan D2 sebagai clipper, U6 sebagai penguat dengan R38 penguatannya adalah, kemudian U7 R37 sebagai integrator, inilah bagian bagian dari DC restorer. Rangkaian spektroskopi amplifier akan bergabung bersama dengan rangkaian DC restorer, seprti pada ganbar di atas. Sinyal penyangga dari pengikut tegangan U5 dipotong oleh D1 dan D2 sinyal yang diperoleh adalah 2,75 kali oleh U6 (dikuatkan). Hasilnya tegangan dimasukkan ke integrator U7 waktu dikembalikan ke U4. sehingga secara automatis akan mengontrol level DC-nya bila terjadi perubahan dalam range tertentu. Complek Pole Filtering keluara setelah F1 dan F2 gausian. Filter atau penyaring diintegrasikan dengan fungsi transfer 1 F( s) = F1 ( s) F2 ( s) = dengan n ( 1+ λ s) n dari 2 sampai 4 dan akhirnya fungsi transfer λ s 1 menjadi dengan λ 1+ λ s ( 1+ λ s) n adalah R dan C dari rangkaian F1 dan F2. Rangkaian differensiator yang memiliki masukan λ yang sama dengan n sampai tak terhingga akan menghasilkan output yang gausian. Pulsa keluaran F2 (U9) di buffer oleh R29 U10 dengan penguatan = 1 output U10 R28 adalah output dari rangkaian spektroskopi amplifier yang dibuat atau dianalisa, rangkaiannya adalah sebagai berikut : Gambar 8. Rangkaian Output Spektroskopi Amplifier Dari Complek Pole Filtering Base Line Restorer Gambar 7. Complex Pole Filtering Complex pole filter dibuat dua tingkat (U8 dan U9) dengan konstanta yang berbeda. Keluaran complex pole filter dikuatkan pada inverting untuk kemudian pulsa siap diproses pada tingkat berikutnya. Keluaran inverting dikendalikan oleh base line restorer. Maksud pengendalian adalah agar ekor pulsa segera kembali ke level nol tidak sedikit naik atau turun. Rangkaian yang dibangun dua tingkat oleh U8 dan U9, pada rangkaian sebelumnya pulsa exponensial diperkuat dari beberapa milivolt menjadi beberapa volt. Untuk memperbaiki rasio noise pada signal pulsa ini different oleh F1 yaitu U8 dan U9 oleh F2. dengan demikian pulsa masukan sebelumnya akan optimal rasio noisenya dan bentuk pulsa Gambar 9. Rangkaian BLR Sebagian sinyal pulsa keluaran dari output spektroskopi amplipier di ambil (U10) difeetbackkan dan masuk kerangkaian BLR yaitu U11 dibuffer kemudian masuk ke U15 Op-Amp khusus CA 3080 yang di desain khusus dengan karakteristik transkonduktan amplifier I = gm (x.y). Dengan rangkaian pendukung yaitu Q1, Q2, IC (mano stabil multivibrator) dan U13, akan mengendalikan pulsa keluaran spektroskopi amplifier U10 akan terjaga level DC-nya dan perubahan pulsa input sebelumnya sehingga 92
5 pulsa keluaran spektroskopi amplifier akan stabil, tidak bergeser level DC-nya. LANGKAH PENGUJIAN Pengujian Statis Pengujian alat secara statis bertujuan untuk mencari batas-batas kinerja alat dengan menggunakan pulse generator sebagai pengganti sumber dan detektor. Pada pengujian statis akan dilakukan beberapa pengujian, yaitu: 1. Ketidaklinieran Integral (INL) 2. Timing Pengujian Ketidaklinieran Integral (INL) Untuk ukuran linieritas integral merupakan deviasi maksimum kurva hasil pengukuran dari garis lurus, dan biasanya diberikan dalam persentase. Untuk perancangan analyzer yang baik, dapat diamati pada tinggi pulsa yang ektrim, dan nilainya lebih kecil dari 1%. Sehingga secara matematis INL atau ketidaklinieran Integral dapat ditulis, sebagai berikut : Pengujian Timing Dalam pengujian timing yang akan diketahui ialah besar ukuran dari bagian suatu pulsa yang akan tertampil dalam monitor oscilloscop, yaitu : 1. Pengujian dinamis Dalam pengujian dinamis bertujuan untuk mencari batas-batas kinerja alat dengan menggunakan sumber radiasi dan detektor, serta SCA sebagai penganalisa tinggi pulsa sehingga didapat bentuk spektrum dari sumber. Dan pada pengujian ini digunakan sumber radiasi standart anatara lain : Cs-137 dan Co-60. Pada pengujian dinamis akan dilakukan beberapa pengujian, yaitu resolusi detector, efisiensi detector dan kalibrasi energi 2. Pengujian resolusi detektor Pengujian ini betujuan untuk mengetahui kemampuan detector memisahkan puncak puncak tenaga yang saling berdekatan. Kemampuan suatu detektor spektroskopi-γ untuk memisahkan dua puncak tenaga-γ yang berdekatan disebut sebagai daya pisah atau resolusi detektor. Resolusi suatu detektor adalah fungsi tenaga sinar-γ, makin tinggi tenaga-γ makin rendah resolusi detektor. 3. Pengujian Efisiensi Detektor Efisiensi detektror dapat dinyatakan sebagai perbandingan antara banyaknya cacah dengan aktivitas sumber, yaitu cacah pancaran radiasi yang dihasilkan oleh sumber kesegala arah. Kemampuan detector untuk menerima pancaran radiasi dari sumber radiasi dapat dipengaruhi oleh jarak sumber radiasi dengan detector dan medium antara sumber radiasi dengan detektor. 4. Pengujian Kalibrasi Energi Dalam pengujian kalibarasi energi, penulis menggunakan dua sumber antara lain : Co- 60 dan Cs-137. Dari kedua sumber tersebut penulis dilakukan pencacahan dan dihasilkan spektrum pada tegangan distriminator untuk puncak-puncak masingmasing spektrum pada setiap sumber. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Ketidaklinieran Integral (INL) Untuk ukuran linieritas integral merupakan deviasi maksimum kurva hasil pengukuran dari garis lurus, dan biasanya diberikan dalam persentase. Untuk perancangan analyzer yang baik, dapat diamati pada tinggi pulsa yang ektrim, dan nilainya lebih kecil dari 1%. Sehingga secara matematis INL atau ketidaklinieran Integral dapat ditulis, sebagai berikut : V INL = d 100% (1) V o Gambar 10. Blok Diagaram Pengujian Statis 93
6 Tabel 1. Data Hasil Pengujian No. V in V out (V) (V) , , , , , , ,5 pulsa yang akan tertampil dalam monitor oscilloscop, yaitu :Rise time ( τ ) ( r = waktu τ ) f bangkit pulsa, Fall time = waktu jatuh pulsa, FWHM = lebar pulsa dari setengah tinggi pulsa max dan Shaping time = lebar pulsa keseluruhan. Gambar 12. Pengukuran Pulsa Tabel 2. Data Hasil Pengujian Integral (INL) Gambar 11 Kurva Ketidaklinieran V INL = V d o 100% Misal pada out 5,8 V yang seharusnya 6 V V d = V ref Vout = 6 5,8 = 0,2 V 0,2 INL = 100% = 0,235% 8,5 Dalam pengujian timing yang akan diketahui ialah besar ukuran dari bagian suatu Parameter Data τ 0,4 ms τ f 0,6 ms FWHM 0,4 ms Shaping time 1,2 ms Rise time ( ) r Fall time ( ) Dalam pengujian dinamis bertujuan untuk mencari batas-batas kinerja alat dengan menggunakan sumber radiasi dan detektor, serta SCA sebagai penganalisa tinggi pulsa sehingga didapat bentuk spektrum dari sumber. Dan pada pengujian ini digunakan sumber radiasi standart anatara lain : Cs-137 dan Co- 60. Pada pengujian dinamis akan dilakukan beberapa pengujian yaitu resolusi detector, eisiensi detector dan kalibrasi energi. Gambar 13. Blok Diagaram Spektroskopi-γ 94
7 Pengujian Resolusi Detektor bertujuan untuk mengetahui kemampuan detector memisahkan puncak puncak tenaga yang saling berdekatan. Kemampuan suatu detektor spektroskopi- γ untuk memisahkan dua puncak tenaga- γ yang berdekatan disebut sebagai daya pisah atau resolusi detektor. Resolusi suatu detektor adalah fungsi tenaga sinar- γ, makin tinggi tenaga- γ makin rendah resolusi detektor. Resolusi detektor dinyatakan dalam persamaan : FWHM R = 100 % (2) E Keterangan : R = resolusi detektor (%) E = energi sumber atau tenaga puncak dari sumber FWHM = lebar setengah tinggi maksimum Dan FWHM didapat dengan cara perhitungan pada spectrum, sebagai berikut : FWHM = T 1 T 2 (3) Untuk mengetahui nilai T 1 dan T 2 diperoleh dari nilai XT. Nilai XT diperoleh dari perhitungan, sebagai berikut : XT = X 2 X 1 (4) Tabel 3. Data Hasil Pengujian Sumber Co-60 No TD cacah No TD cacah 1 0, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Gambar 14. Spektrum Co-60 Keterangan : Co-60, Window = 0,2 Energi = 1773 kev XT = X 2 X 1 = = FWHM = T 1 T 2 = 3,4 3,0 = 0,4 FWHM R = 100 % E = 0,4 100 % = 0,034 % 1173 Energi = 1332 kev XT = X2 X1 = = 2774 FWHM = T1 T2 = 4,4 4,0 = 0,4 FWHM R = 100 % E = 0,4 100 % = 0,030% 1332 Tabel 4. Data Hasil Pengujian Sumber Cs-137 No TD cacah No TD cacah 1 0, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
8 Gambar 15. Spektrum Cs-137 Keterangan : Cs-137, Window = 0,2 Energi = 662 kev XT = X2 X1 = = FWHM = T1 T2 = 2,5 1,9 = 0,6 FWHM R = 100 % E = 0,6 100 % = 0,09 % 662 Pengujian Efisiensi Detektor Efisiensi detektor dapat dinyatakan sebagai perbandingan antara banyaknya cacah dengan aktivitas sumber, yaitu cacah pancaran radiasi yang dihasilkan oleh sumber kesegala arah. Kemampuan detector untuk menerima pancaran radiasi dari sumber radiasi dapat dipengaruhi oleh jarak sumber radiasi dengan detector dan medium antara sumber radiasi dengan detektor. Perbandingan antara jumlah cacah radiasi yang dapat diterima oleh detector, dinyatakan dengan efisiensi detector dan dapat ditulis secara matematis sebagai berikut : cps η = 100 % (5) dps η = efisiensi (%) cps = jumlah pancaran radiasi per detik yang diterima detektor dps = jumlah pancaran radiasi per detik oleh sumber radiasi Data Hasil Pengujian Sumber Co-60 A 0 = 9,65 µ C 10 = 9,65 µ C 3,7 10 Bq = 35, Bq T 1/2 = 5,27 tahun t = 19 Mei Juni 2006 = 27,33 tahun cps = cacah rata-rata = 3095,6 dps = 35, Bq = t 1 1 At = A 0. T 2 2 = 9,65 µ C i. 0,5 27,33/5,27 = 0,265 µ Ci cps η = 100 % = 3095,6 100 % = 0,866 % dps No Tabel 5. Hasil Pengujian Sumber Co-60 Cacah Jumlah Cacah rata-rata At ,265 µci 0,866 % Data Hasil Pengujian Sumber Cs-137 A0 = 12,9 µ C i 10 = 12,9 µ C 3,7 10 Bq = 47, Bq T 1/2 = 30,2 tahun t = 19 Mei Juni 2006 = 27,33 tahun cps = cacah rata-rata = dps = 47, Bq = t 1 1 At = A0. T 2 2 = 12,9 µ Ci. 0,5 27,33/30,2 = 6,913 µ Ci cps η = 100 % = 6708,4 100 % = 1,405 % dps η 96
9 No Tabel 6. Hasil Pengujian Sumber Cs-137 Cacah Jumlah Cacah rata-rata Pengujian Kalibrasi Energi At ,913 µci 1,405 % Dalam pengujian kalibarasi energi, penulis menggunakan dua sumber antara lain : Co-60 dan Cs-137. Dari kedua sumber tersebut penulis dilakukan pencacahan dan dihasilkan spektrum pada tegangan distriminator untuk puncak-puncak masing-masing spektrum pada setiap sumber. Tabel 7. Hasil Pengujian Kalibrasi Energi Sumber Energi Tegangan Distriminator Cs kev 2,2 Co kev 3, kev 4,2 PEMBAHASAN Gambar 16. Kalibrasi Energi Pengujian Statis Pengujian statis terdiri dari dua langkah pengujian, yaitu : Pengujian Ketidaklinieran Integral (INL) dan Pengujian Timing. Dalam melakukan pengujian ini terdapat sedikit kendala pada penggunaan peralatan pendukung seperti : osiloskope dan spektroskopy linier amplifier yang dibuat kurang sempurna, karena kesulitan mendapatkan komponen (IC CA3080 dan IC LT1220). Pada spektroskopi linier η amplifier yang dibuat, IC CA3080 digunakan sebagai komponen utama pada blok BLR untuk pengesetan nol DC. Sedangakan IC LT1220 digunakan sebagai komponen utama pada blok Filter Complex untuk pengaturan hasil keluaran pulsa semigaussian. Namun demikian data hasil pengujian yang diperoleh seperti tertera pada Tabel 1 dan Gambar 11 sudah cukup bagus dengan kelinieritasan (regresi = 0,8807), sehingga menunjukkan bahwa alat spektroskopi linier amplifier yang dibuat sudah mendekati kesempurnaan. Pada pengujian timing dilakukan langkah-langlah pengujian seperti pada Tabel.2 dan Gambar 12. Dalam memperoleh data hasil pengujian sedikit terjadi kendala untuk mendapatkan bentuk pulsa keluaran semigaussian secara sempurna dari spektroskopi linier amplifier yang dibuat. Pengujian Dinamis Pengujian dinamis terdiri dari tiga langkah pengujian, yaitu : Pengujian Resolusi Detektor, Pengujian Efisiensi Detektor dan Pengujian Kalibrasi Energi. Pengujian resolusi detector diperoleh data dari hasil pengujian resolusi detector terdiri dari Tabel 3 dan spektrumnya seperti pada Gambar 14 dan Tabel 4 dan gambar spketrumnya pada Gambar 14. alat spektroskopi linier amplifier sudah sesuai dengan melihat hasil pada yang dihasilkan, spectrum masing-masing sumber dari hasil cacahan sesuai dengan yang diinginkan, yaitu : FWHM besar maka Resolusi rendah, sedangkan bila FWHM kecil maka Resolusi tinggi. Pengujian efisiensi detektor dilakukan langkah-langkah seperti pada Tabel 5 dan Tabel 6, sehingga pengujian efisiensi detector yang dilakukankan termasuk efisiensi mutlak, yaitu cacah signal pulsa yang diberikan detector terhadap aktivitas mutlak sumber-γ. Untuk besar efisiensinya dinyatakan pada Persamaan 5. Pengujian kalibrasi energi dilakukan langkah-langkah seperti Tabel 7 dan pada Gambar 15. Dari data hasil pengujian didapat kurva kalibrasi energi dengan persamaan garis Y= ax + b = 0,0027X + 0,3124, sehingga didapat nilai regresi liniernya R = 0,9 Hasil dari alat Spektroskopi Linier Amplifier mempunyai kelebihan, yaitu secara kuantitatif dan secara kualitatif. Secara 97
10 kuantitatif diperoleh hasil, yaitu : Pengujian Ketidaklinieran Integral (INL) = 0,235% ; Pengujian Timing = {Rise time ( τ r ) = 0,4ms ; τ = 0,6 ms; FWHM = 0,4 ms; Fall time ( ) f Shaping time = 1,2 ms; Pengujian Resolusi Detektor = (untuk Co-60 : energi 1773 kev = 0,034 %, energi 1332 kev = 0,030% dan untuk Cs-137 : energi 662 kev = 0,09 %) ; Pengujian Efisiensi Detektor = (untuk Co-60 = 0,866 %, untuk Cs-137 = 1,405 %) ; Pengujian Kalibrasi Energi = (didapat nilai regresi = 0,9166). Secara kualitatif alat Spektroskopi Linier Amplifier ini hasil outputnya berupa spekturm berbentuk semigaussian. KESIMPULAN DAN SARAN Setelah dilakukan pembuatan alat dan pengujian spektroskopi linier amplifier, maka dapat diambil kesimpulan : 1. Hasil keluaran signalnya berbentuk unilpolar dan bipolar, serta untuk input masukan dapat memilih dengan pulsa positip atau pulsa negatip, alat Spektroskoy Linier Amplifier ini portable. 2. Hasil dari alat Spektroskopi Linier Amplifier mempunyai kelebihan, yaitu secara kuantitatif dan secara kualitatif. Secara kuantitatif diperoleh hasil, yaitu : Pengujian Ketidaklinieran Integral (INL) sebesar τ sebesar 0,4ms; Fall time ( τ f ) sebesar 0,6 ms; FWHM sebesar 0,4 ms; Shaping time sebesar 1,2 ms; Pengujian Resolusi Detektor untuk Co-60 pada energi 1773 kev sebesar 0,034 % dan energi 1332 kev sebesar 0,030 % dan untuk Cs-137 pada energi 662 kev sebesar 0,09 %. 3. Pengujian Efisiensi Detektor untuk Co-60 sebesar 0,866 %, untuk Cs-137 sebesar 1,405 %; Pengujian Kalibrasi Energi didapat nilai regresi sebesar 0, Secara kualitatif alat Spektroskopi Linier Amplifier ini hasil keluarannya berupa spekturm berbentuk semigaussian. 0,235% ; Pengujian Timing ( ) r Complek pole filter komponen IC LT1220 bisa diperoleh, karena penting untuk hasil keluaran berbentuk sepktum yang semigaussian. DAFTAR PUSTAKA 1. BROWN, R.D., 1987, Introduction to Instrumental Analisis, Mc Graw-Hill, International Editions 2. CEMBER, H., 1992, Introduction to Health Physics, Second Edition, Revised and Enlarged, Mc Graw-Hill, Inc., New York 3. KNOLL, G.F., 1979, Radiation Detection and Measuremen, John Wiley & Sons, Inc., New York 4. SUSETYO, WISNU., 1984, Instrumentasi Kimia II Spektrometri Gamma, PUSDIKLAT, Badan Tenaga Nuklir Nasional. 5. P.W. NICHOLSON, 1974, Nuclear Electronics, University of London, A Wiley- Interscience Publication. 6. MALVINO A. P, 1980, Prinsip prinsip Elektronika, Edisi Kedua, Erlangga, Jakarta. 7. ZACHARIAS SANTOSO, 1981, Alat-alat Deteksi Nuklir, Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Badan Tenaga Atom Nasional. 8. WILLIAM D.C, 1985, Instrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran, Edisi Kedua, Erlangga, Jakarta. SARAN Adapun saran yang perlu disampaikan adalah untuk pengembangan selanjutnya sebaiknya pada rangkaian BLR komponen IC CA3080 bisa diperoleh dan pada rangkaian 98
Sistem Pencacah dan Spektroskopi
Sistem Pencacah dan Spektroskopi Latar Belakang Sebagian besar aplikasi teknik nuklir sangat bergantung pada hasil pengukuran radiasi, khususnya pengukuran intensitas ataupun dosis radiasi. Alat pengukur
MODUL LINEAR AMPLIFIER SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN PADA PRAKTIKUM PEMELIHARAAN INSTRUMENTASI NUKLIR
MODUL LINEAR AMPLIFIER SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN PADA PRAKTIKUM PEMELIHARAAN INSTRUMENTASI NUKLIR ABSTRAK Nugroho trisanyoto [email protected] STTN BATAN MODUL LINEAR AMPLIFIER SEBAGAI SARANA
PEMBUATAN LINEAR AMPLIFIER MENGGUNAKAN LM318 UNTUK SPEKTROMETRI GAMMA
PEMBUATAN LINEAR AMPLIFIER MENGGUNAKAN LM318 UNTUK SPEKTROMETRI GAMMA JUMARI, SRI PRIHARTINTO, MURSITI Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan-BATAN Jl. Babarsari Kotak Pos 1008, DIY 55010 Telp. 0274.488435,
RANCANG BANGUN MODUL PENGKONDISI SINYAL DENGAN PENGANALISA KANAL TUNGGAL PADA SISTEM SPEKTROSKOPI GAMMA
RANCANG BANGUN MODUL PENGKONDISI SINYAL DENGAN PENGANALISA KANAL TUNGGAL PADA SISTEM SPEKTROSKOPI GAMMA Joko Sumanto 1, Toto Trikasjono 2, Sigit Bachtiar 1 1 PRPN BATAN Kawasan Puspiptek gd.71 Serpong
KOMPARASI UNJUK KERJA SPEKTROMETRI GAMMA DETEKTOR BICRON 2M2 DENGAN LUDLUM 44-62
Jurnal Forum Nuklir (JFN), Volume 6, Nomor 2, November 2012 KOMPARASI UNJUK KERJA SPEKTROMETRI GAMMA DETEKTOR BICRON 2M2 DENGAN LUDLUM 44-62 Alan Batara Alauddin 1, Argo Satrio Wicaksono 2, Joko Sunardi
Penentuan Spektrum Energi dan Energi Resolusi β dan γ Menggunakan MCA (Multi Channel Analizer)
Penentuan Spektrum Energi dan Energi Resolusi β dan γ Menggunakan MCA (Multi Channel Analizer) 1 Mei Budi Utami, 2 Hanu Lutvia, 3 Imroatul Maghfiroh, 4 Dewi Karmila Sari, 5 Muhammad Patria Mahardika Abstrak
RANCANG BANGUN PENGKONDISI SINYAL UNTUK SURVEY METER DIGITAL
RANCANG BANGUN PENGKONDISI SINYAL UNTUK SURVEY METER DIGITAL TOTO TRIKASJONO, NUGROHO TRI SANYOTO,WISNU MEGA WIJAYA Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir BATAN Yogyakarta Jl. Babarsari Kotak Pos 1008 DIY 55010
UJI FUNGSI SISTEM SPEKTROMETER GAMMA MODEL : BEM - IN1001
UJI FUNGSI SISTEM SPEKTROMETER GAMMA MODEL : BEM - IN1001 BATAN, Yogyakarta e-mail : [email protected] ABSTRAK UJI FUNGSI SISTEM SPEKTROMETER GAMMA MODEL : BEM - IN1001. Telah dilakukan uji fungsi terhadap
EKSPERIMEN SPEKTROSKOPI RADIASI ALFA
Laporan Praktikum Fisika Eksperimental Lanjut Laboratorium Radiasi PERCOBAAN R4 EKSPERIMEN SPEKTROSKOPI RADIASI ALFA Dosen Pembina : Herlik Wibowo, S.Si, M.Si Septia Kholimatussa diah* (080913025), Mirza
EKSPERIMEN HAMBURAN RUTHERFORD
Laporan Praktikum Fisika Eksperimental Lanjut Laboratorium Radiasi PERCOBAAN R3 EKSPERIMEN HAMBURAN RUTHERFORD Dosen Pembina : Herlik Wibowo, S.Si, M.Si Septia Kholimatussa diah* (080913025), Mirza Andiana
MODUL 08 OPERATIONAL AMPLIFIER
MODUL 08 OPERATIONAL AMPLIFIER 1. Tujuan Memahami op-amp sebagai penguat inverting dan non-inverting Memahami op-amp sebagai differensiator dan integrator Memahami op-amp sebagai penguat jumlah 2. Alat
MODUL PRAKTIKUM SISTEM PENGUKURAN (TKF 2416) LAB. SENSOR & TELEKONTROL LAB. TEKNOLOGI ENERGI NUKLIR LAB. ENERGI TERBARUKAN
MODUL PRAKTIKUM SISTEM PENGUKURAN (TKF 2416) LAB. SENSOR & TELEKONTROL LAB. TEKNOLOGI ENERGI NUKLIR LAB. ENERGI TERBARUKAN JURUSAN TEKNIK FISIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2014
KOMPARASI UNJUK KERJA SPEKTROMETRI GAMMA MENGGUNAKAN DETEKTOR BICRON 2M2 DENGAN SPEKTROMETRI GAMMA MENGGUNAKAN DETEKTOR LUDLUM 44-62
KOMPARASI UNJUK KERJA SPEKTROMETRI GAMMA MENGGUNAKAN DETEKTOR BICRON 2M2 DENGAN SPEKTROMETRI GAMMA MENGGUNAKAN DETEKTOR LUDLUM 44-62 Alan Batara Alauddin 1, Argo Satrio Wicaksono 2, Joko Sunardi 3 1,2,3
PENGARUH EFEK GEOMETRI PADA KALIBRASI EFISIENSI DETEKTOR SEMIKONDUKTOR HPGe MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA
258 Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIV HFI Jateng & DIY, Semarang 10 April 2010 hal 258-264 PENGARUH EFEK GEOMETRI PADA KALIBRASI EFISIENSI DETEKTOR SEMIKONDUKTOR HPGe MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA Hermawan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Tujuan Percobaan Mempelajari karakteristik statik penguat opersional (Op Amp )
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tujuan Percobaan Mempelajari karakteristik statik penguat opersional (Op Amp ) 1.2 Alat Alat Yang Digunakan Kit praktikum karakteristik opamp Voltmeter DC Sumber daya searah ( DC
RANCANG BANGUN TEGANGAN TINGGI DC DAN PEMBALIK PULSA PADA SISTEM PENCACAH NUKLIR DELAPAN DETEKTOR
SEMINAR NASIONAL V YOGYAKARTA, 5 NOVEMBER 2009 RANCANG BANGUN TEGANGAN TINGGI DC DAN PEMBALIK PULSA PADA SISTEM PENCACAH NUKLIR DELAPAN DETEKTOR NOGROHO TRI SANYOTO, SUDIONO, SAYYID KHUSUMO LELONO Sekolah
MODUL 08 Penguat Operasional (Operational Amplifier)
P R O G R A M S T U D I F I S I K A F M I P A I T B LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN INSTRUMENTASI MODUL 08 Penguat Operasional (Operational Amplifier) 1 TUJUAN Memahami prinsip kerja Operational Amplifier.
RANCANG BANGUN PEMBANGKIT PULSA GELOMBANG LINEAR PADA PERANGKAT INSTRUMENTASI NUKLIR SKRIPSI RIADY A. P. SITANGGANG
1 RANCANG BANGUN PEMBANGKIT PULSA GELOMBANG LINEAR PADA PERANGKAT INSTRUMENTASI NUKLIR SKRIPSI RIADY A. P. SITANGGANG 100801064 DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS
SISTEM PENCACAH RADIASI DENGAN DETEKTOR SINTILASI BERBASIS MIKROKOMPUTER
SISTEM PENCACAH RADIASI DENGAN DETEKTOR SINTILASI BERBASIS MIKROKOMPUTER Widya A. Gammayani dan Didi Gayani Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri, Jl. Tamansari 71, Bandung, 40132 Email: [email protected]
Bab III. Operational Amplifier
Bab III Operational Amplifier 30 3.1. Masalah Interfacing Interfacing sebagai cara untuk menggabungkan antara setiap komponen sensor dengan pengontrol. Dalam diagram blok terlihat hanya berupa garis saja
SPEKTROSKOPI-γ (GAMMA)
SPEKTROSKOPI-γ (GAMMA) SPEKTROSKOPI-γ (GAMMA) Veetha Adiyani Pardede M0209054, Program Studi Fisika FMIPA UNS Jl. Ir. Sutami 36 A, Kentingan, Surakarta, Jawa Tengah email: [email protected] ABSTRAK
SPEKTROSKOPI-γ (GAMMA)
SPEKTROSKOPI-γ (GAMMA) Veetha Adiyani Pardede M2954, Program Studi Fisika FMIPA UNS Jl. Ir. Sutami 36 A, Kentingan, Surakarta, Jawa Tengah email: [email protected] ABSTRAK Aras-aras inti dipelajari
RANCANG BANGUN PENGANALISIS KANAL TUNGGAL. Herry Mugirahardjo dan Eddy Santoso
p~ ~ N~ H~ N~ ~ ~X ~ c" ISSN 1c,10-')6g6 RANCANG BANGUN PENGANALISIS KANAL TUNGGAL Herry Mugirahardjo dan Eddy Santoso Puslitbang Iptek Bahan BATAN, Kawasan PuspiptekSerpong, Tangerang ABSTRAK RANCANG
UJI BANDING SISTEM SPEKTROMETER GAMMA DENGAN METODA ANALISIS SUMBER Eu-152. Nugraha Luhur, Kadarusmanto, Subiharto
Uji Banding Sistem Spektrometer (Nugroho L, dkk) Abstrak UJI BANDING SISTEM SPEKTROMETER GAMMA DENGAN METODA ANALISIS SUMBER Eu-152 Nugraha Luhur, Kadarusmanto, Subiharto UJI BANDING SPEKTROMETER GAMMA
Penentuan karakteristik cacahan pada counter dengan menggunakan sumber standar 152 Eu, 60 Co dan 137 Cs
Youngster Physics Journal ISSN: 232-7371 Vol. 6, No. 2, pril 217, Hal. 151-156 Penentuan karakteristik cacahan pada dengan menggunakan sumber standar 152 Eu, 6 Co dan 137 Cs Hendrika Liana Sari dan Wahyu
MODUL 09 PENGUAT OPERATIONAL (OPERATIONAL AMPLIFIER) PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TA 2017/2018
MODUL 09 PENGUAT OPERATIONAL (OPERATIONAL AMPLIFIER) PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TA 2017/2018 LABORATORIUM ELEKTRONIKA & INSTRUMENTASI PROGRAM STUDI FISIKA, INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Riwayat Revisi Rev. 07-06-2017
RANCANGBANGUN SIMULASI SISTEM PENCACAH RADIASI
RANCANGBANGUN SIMULASI SISTEM PENCACAH RADIASI NUGROHO TRISANYOTO, JOKO SUNARDI Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir-BATAN Jl. Babarsari Kotak Pos 1008, DIY 55010 Telp. 0274.489716, Faks.489715 Abstrak RANCANGBANGUN
RANCANG BANGUN SISTEM PEMBANGKIT PULSA SIMULASI DETEKTOR NUKLIR
RANCANG BANGUN SISTEM PEMBANGKIT PULSA SIMULASI DETEKTOR NUKLIR ABSTRAK Nugroho Tri Sanyoto 1 Zumaro 2, Sudiono 3, 1) STTN BATAN, Yogyakarta, Indonesia, [email protected] 2) STTN BATAN, Yogyakarta,
EVALUASI KINERJA SPEKTROMETER GAMMA YANG MENGGUNAKAN NITROGEN CAIR SEBAGAI PENDINGIN DETEKTOR
EVALUASI KINERJA SPEKTROMETER GAMMA YANG MENGGUNAKAN NITROGEN CAIR SEBAGAI PENDINGIN DETEKTOR POSTER PERFORMANCE EVALUATION OF GAMMA SPECTROMETER WHICH USING LIQUID NITROGEN FOR COOLING ITS DETECTORS Daya
Penguat Inverting dan Non Inverting
1. Tujuan 1. Mahasiswa mengetahui karakteristik rangkaian op-amp sebagai penguat inverting dan non inverting. 2. Mengamati fungsi kerja dari masing-masing penguat 3. Mahasiswa dapat menghitung penguatan
STUDI KARAKTERISTIK DETEKTOR SODIUM IODIDE DALAM PEMANFAATANNYA SEBAGAI SEGMENTED GAMMA SCANNER LIMBAH RADIOAKTIF
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (Journal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565 Volume 17 Nomor 2, Desember 2014 (Volume 17, Number 2, December, 2014) Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Center
PERANGKAT LUNAK SISTEM PENCACAH RADIASI MENGGUNAKAN VISUAL BASIC
PERANGKAT LUNAK SISTEM PENCACAH RADIASI MENGGUNAKAN VISUAL BASIC Nanda Nagara dan Didi Gayani Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri BATAN, Tamansari 71, Bandung 40132 Email: [email protected]
ANALISIS SISTEM KONTROL MOTOR DC SEBAGAI FUNGSI DAYA DAN TEGANGAN TERHADAP KALOR
Akhmad Dzakwan, Analisis Sistem Kontrol ANALISIS SISTEM KONTROL MOTOR DC SEBAGAI FUNGSI DAYA DAN TEGANGAN TERHADAP KALOR (DC MOTOR CONTROL SYSTEMS ANALYSIS AS A FUNCTION OF POWER AND VOLTAGE OF HEAT) Akhmad
KARYA TULIS ILMIAH MEMPELAJARI DAN MENGANALISIS KELUARAN PENGUAT INSTRUMENTASI (INSTRUMENTATION AMPLIFIER)
KARYA TULIS ILMIAH MEMPELAJARI DAN MENGANALISIS KELUARAN PENGUAT INSTRUMENTASI (INSTRUMENTATION AMPLIFIER) I Wayan Supardi, S.Si., M.Si Ir. Ida Bagus Sujana Manuaba, M.Sc JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA
SISTEM KONVERTER DC. Desain Rangkaian Elektronika Daya. Mochamad Ashari. Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012
SISTEM KONVERTER DC Desain Rangkaian Elektronika Daya Oleh : Mochamad Ashari Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012 Diterbitkan oleh: ITS Press. Hak Cipta dilindungi Undang undang Dilarang
Elektronika. Pertemuan 8
Elektronika Pertemuan 8 OP-AMP Op-Amp adalah singkatan dari Operational Amplifier IC Op-Amp adalah piranti solid-state yang mampu mengindera dan memperkuat sinyal, baik sinyal DC maupun sinyal AC. Tiga
MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA Bagian II
MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA Bagian II DEPARTEMEN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK A. OP-AMP Sebagai Peguat TUJUAN PERCOBAAN PERCOBAAN VII OP-AMP SEBAGAI PENGUAT DAN KOMPARATOR
KARAKTERISASI COUNTER 5X16 BIT PADA PERANGKAT RIA SAMPLE CHANGER AUTOMATIC MULTI DETECTOR
KARAKTERISASI COUNTER 5X16 BIT PADA PERANGKAT RIA SAMPLE CHANGER AUTOMATIC MULTI DETECTOR Riswal Nafi Siregar, Wahyuni ZI, Joko Sumanto, Nuning DS., Benar Bukit Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir (PRFN) BATAN
Tipe op-amp yang digunakan pada tugas akir ini adalah LT-1227 buatan dari Linear Technology dengan konfigurasi pin-nya sebagai berikut:
BAB III PERANCANGAN Pada bab ini berisi perancangan pedoman praktikum dan perancangan pengujian pedoman praktikum dengan menggunakan current feedback op-amp. 3.. Perancangan pedoman praktikum Pada pelaksanaan
Penguat Operasional OP-AMP ASRI-FILE
Penguat Operasional OPAMP Penguat Operasional atau disingkat Opamp adalah merupakan suatu penguat differensial berperolehan sangat tinggi yang terkopel DC langsung, yang dilengkapi dengan umpan balik untuk
SINGLE CHANNEL ANALYZER MENGGUNAKAN LM-311 SEBAGAI KOMP ARA TOR
MODIFIKASI SINGLE CHANNEL ANALYZER MENGGUNAKAN LM-311 SEBAGAI KOMP ARA TOR Jumari, Djuningran, Nurhidayat S Puslitbang Teknologi Maju - BATAN Yogyakarta ABSTRAK MOlJlFIKASI SINGLE CHANNEL ANAL YZER MENGGUNAKAN
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013.
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013. Perancangan alat penelitian dilakukan di Laboratorium Elektronika, Laboratorium
Statistik Pencacahan Radiasi
Statistik Pencacahan Radiasi (Radiation Counting Statistics) Latar Belakang Radiasi dipancarkan secara acak (random) sehingga pengukuran radiasi berulang meskipun dilakukan dengan kondisi yang sama akan
RANGKAIAN ELEKTRONIKA ANALOG
Pendahuluan i iv Rangkaian Elektronika Analog RANGKAIAN ELEKTRONIKA ANALOG Oleh : Pujiono Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2012 Hak Cipta 2012 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang
BABV INSTRUMEN PENGUAT
BABV INSTRUMEN PENGUAT Operasional Amplifier (Op-Amp) merupakan rangkaian terpadu (IC) linier yang hampir setiap hari terlibat dalam pemakaian peralatan elektronik yang semakin bertambah di berbagai bidang
INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421)
INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 13 (ADC 2 Bit) I. TUJUAN 1. Mahasiswa dapat mengetahui prinsip kerja dan karakteristik rangkaian ADC 2 Bit. 2. Mahasiswa dapat merancang rangkaian ADC 2 Bit dengan
BAB II DASAR TEORI. Sistem pengukur pada umumnya terbentuk atas 3 bagian, yaitu:
BAB II DASAR TEORI 2.1 Instrumentasi Pengukuran Dalam hal ini, instrumentasi merupakan alat bantu yang digunakan dalam pengukuran dan kontrol pada proses industri. Sedangkan pengukuran merupakan suatu
ANALISIS DAN PERHITUNGAN CEPAT RAMBAT GELOMBANG ELEKTROMAGNET TERHADAP DAYA PADA SEBUAH TRANSMITER FM
ANALISIS DAN PERHITUNGAN CEPAT RAMBAT GELOMBANG ELEKTROMAGNET TERHADAP DAYA PADA SEBUAH TRANSMITER FM Akhmad Dzakwan Jurusan Fisika FMIPA Unila Jl. S. Brojonegoro No. 1, Bandar Lampung, 35145 ABSTRACT
Osiloskop (Gambar 1) merupakan alat ukur dimana bentuk gelombang sinyal listrik yang diukur akan tergambar pada layer tabung sinar katoda.
OSILOSKOP Osiloskop (Gambar 1) merupakan alat ukur dimana bentuk gelombang sinyal listrik yang diukur akan tergambar pada layer tabung sinar katoda. Gambar 1. Osiloskop Tujuan : untuk mempelajari cara
OPTIMASI PENGUKURAN KEAKTIVAN RADIOISOTOP Cs-137 MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA
OPTIMASI PENGUKURAN KEAKTIVAN RADIOISOTOP Cs-137 MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA NOVIARTY, DIAN ANGGRAINI, ROSIKA, DARMA ADIANTORO Pranata Nuklir Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir-BATAN Abstrak OPTIMASI
FABRIKASI DETEKTOR PARTIKEL ALPHA MENGGUNAKAN SEMIKONDUKTOR SILIKON TIPE P
PRIMA Volume 10, Nomor 1, Juni 2013 ISSN : 1411-0296 FABRIKASI DETEKTOR PARTIKEL ALPHA MENGGUNAKAN SEMIKONDUKTOR SILIKON TIPE P Gunarwan Prayitno Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir-BATAN Kawasan PuspiptekSerpong,
X-Ray Fluorescence Spectrometer (XRF)
X-Ray Fluorescence Spectrometer (XRF) X-Ray Fluorescence Spectrometer (XRF) Philips Venus (Picture from http://www.professionalsystems.pk) Alat X-Ray Fluorescence Spectrometer (XRF) memanfaatkan sinar
UJI LAPANGAN PERANGKAT DETEKSI GAMMA DENSITY HASIL REKAYASA BATAN PADA INDUSTRI & PERTAMBANGAN
UJI LAPANGAN PERANGKAT DETEKSI GAMMA DENSITY HASIL REKAYASA BATAN PADA INDUSTRI & PERTAMBANGAN 1 Rony Djokorayono, 2 Indarzah MP, 3 Usep S.G, 4 Utomo A 1,2,3,4 Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir, Kawasan
EVALUASI FLUKS NEUTRON THERMAL DAN EPITHERMAL DI FASILITAS SISTEM RABBIT RSG GAS TERAS 89. Elisabeth Ratnawati, Jaka Iman, Hanapi Ali
Buletin Pengelolaan Reaktor Nuklir. Vol. 13 No. 1, April 2016 EVALUASI FLUKS NEUTRON THERMAL DAN EPITHERMAL DI FASILITAS SISTEM RABBIT RSG GAS TERAS 89 Elisabeth Ratnawati, Jaka Iman, Hanapi Ali ABSTRAK
LAPORAN PRAKTIKUM SPEKTROSKOPI XRF DENGAN DETEKTOR SEMIKODUKTOR Cd Te
1. TUJUAN PRATIKUM Tujuan pratikum Instrumentasi nuklir khususnya XRF (X-ray fluorescence spectrometry) adalah : 1. Mahasiswa mengetahui prinsip kerja dan cara-cara menggunakan XRF 2. Mahasiswa mampu mengkalibrasi
Laporan Praktikum Fisika Eksperimental Lanjut Laboratorium Radiasi. PERCOBAAN R2 EKSPERIMEN RADIASI β DAN γ Dosen Pembina : Drs. R. Arif Wibowo, M.
Laporan Praktikum Fisika Eksperimental Lanjut Laboratorium Radiasi PERCOBAAN R2 EKSPERIMEN RADIASI β DAN γ Dosen Pembina : Drs. R. Arif Wibowo, M.Si Septia Kholimatussa diah* (891325), Mirza Andiana D.P.*
SIMULASI KERJA PENGUAT AWAL SISTEM SPEKTROSKOPI NUKLIR DENGAN ISIS PROTEUS
SIMULASI KERJA PENGUAT AWAL SISTEM SPEKTROSKOPI NUKLIR DENGAN ISIS PROTEUS Widya Arrum Gammayani 1,2, Zaki Su ud 2, Mitra Djamal 2, Nanda Nagara 1 1 Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri, Jl. Tamansari
METODE KALIBRASI MONITOR GAS MULIA MENGGUNAKAN SISTEM SUMBER GAS KRIPTON-85 STATIS
METODE KALIBRASI MONITOR GAS MULIA MENGGUNAKAN SISTEM SUMBER GAS KRIPTON-85 STATIS Gatot Wurdiyanto, Holnisar, dan Hermawan Candra Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi BATAN ABSTRAK Telah
BAB II ANALOG SIGNAL CONDITIONING
BAB II ANALOG SIGNAL CONDITIONING 2.1 Pendahuluan Signal Conditioning ialah operasi untuk mengkonversi sinyal ke dalam bentuk yang cocok untuk interface dengan elemen lain dalam sistem kontrol. Process
SAKLAR YANG DIAKTIFKAN DENGAN GELOMBANG SUARA SEBAGAI PELENGKAP SARANA TATA SUARA
ISSN: 1693-6930 39 SAKLAR YANG DIAKTIFKAN DENGAN GELOMBANG SUARA SEBAGAI PELENGKAP SARANA TATA SUARA Adi Wisaksono Teknik Elektro Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. H. Sudarto, SH Tembalang Semarang
Praktikum Rangkaian Elektronika MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA
MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA DEPARTEMEN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2010 MODUL I DIODA SEMIKONDUKTOR DAN APLIKASINYA 1. RANGKAIAN PENYEARAH & FILTER A. TUJUAN PERCOBAAN
RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI PEMANTAUAN BATAS PERMUKAAN (LEVEL GAUGING) DINAMIS BERBASIS MIKROKONTROLER
YOGYAKARTA, 5-6 AGUSTUS 008 RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI PEMANTAUAN BATAS PERMUKAAN (LEVEL GAUGING) DINAMIS BERBASIS MIKROKONTROLER SUTANTO *, SUDIONO *, FENDI NUGROHO ** * Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir-BATAN
PEMBUATAN COUNTER/TIMER UNTUK SISTEM SPEKTROMETER GAMMA MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89C52
Surakarta, Selasa 9 Agustus 016 PEMBUATAN COUNTER/TIMER UNTUK SISTEM SPEKTROMETER GAMMA MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89C5, BATAN Jl. Babarsari Kotak Pos 1601 ykbb, Yogyakarta email: [email protected]
ANALISIS UNSUR RADIOAKTIVITAS UDARA BUANG PADA CEROBONG IRM MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA
No.05 / Tahun III April 2010 ISSN 1979-2409 ANALISIS UNSUR RADIOAKTIVITAS UDARA BUANG PADA CEROBONG IRM MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA Noviarty, Sudaryati, Susanto Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir -
BAB III PERANCANGAN ALAT
BAB III PERANCANGAN ALAT Pada bab tiga ini akan dijelaskan mengenai perancangan dari perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan pada alat ini. Dimulai dari uraian perangkat keras lalu uraian perancangan
RANCANG BANGUN SISTEM PENAMPIL DIGITAL PENCACAH LUDLUM
RANCANG BANGUN SISTEM PENAMPIL DIGITAL PENCACAH LUDLUM 177-50 TOTO TRIKASJONO, MUHAMAD JAFAR, NUGROHO TRI SANYOTO Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir-Badan Tenaga Nuklir Nasional Jl. Babarsari P.O.Box 6101
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional PDL.PR.TY.PPR.00.D03.BP 1 BAB I : Pendahuluan BAB II : Prinsip dasar deteksi dan pengukuran radiasi A. Besaran Ukur Radiasi B. Penggunaan C.
PENENTUAN KADAR URANIUM DALAM SAMPEL YELLOW CAKE MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA
ISSN 1979-2409 Penentuan Kadar Uranium Dalam Sampel Yellow Cake Menggunakan Spektrometer Gamma (Noviarty, Iis Haryati) PENENTUAN KADAR URANIUM DALAM SAMPEL YELLOW CAKE MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA Noviarty
BAB III PERANCANGAN SISTEM
BAB III PERANCANGAN SISTEM Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengukuran resistivitas dikhususkan pada bahan yang bebentuk silinder. Rancangan alat ukur ini dibuat untuk mengukur tegangan dan arus
Rancang Bangun Modul DC DC Converter Dengan Pengendali PI
Rancang Bangun Modul DC DC Converter Dengan Pengendali PI Sutedjo ¹, Zaenal Efendi ², Dina Mursyida 3 Dosen Jurusan Teknik Elektro Industri ² Dosen Jurusan Teknik Elektro Industri 3 Mahasiswa D4 Jurusan
ANALISIS KERUSAKAN X-RAY FLUORESENCE (XRF)
ISSN 1979-2409 Analisis Kerusakan X-Ray Fluoresence (XRF) (Agus Jamaludin, Darma Adiantoro) ANALISIS KERUSAKAN X-RAY FLUORESENCE (XRF) Agus Jamaludin, Darma Adiantoro Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan mulai pada November 2011 hingga Mei Adapun tempat
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai pada November 2011 hingga Mei 2012. Adapun tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di Laboratorium Elektronika Dasar
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT Flow Chart Perancangan dan Pembuatan Alat. Mulai. Tinjauan pustaka
59 BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1. Flow Chart Perancangan dan Pembuatan Alat Mulai Tinjauan pustaka Simulasi dan perancangan alat untuk pengendali kecepatan motor DC dengan kontroler PID analog
Disusun Oleh: Kevin Yogaswara ( ) Meitantia Weni S B ( ) Pembimbing: Ir. Rusdhianto Effendi AK., MT.
Disusun Oleh: Kevin Yogaswara (2207 030 006) Meitantia Weni S B (2207 030 055) Pembimbing: Ir. Rusdhianto Effendi AK., MT. PROGRAM STUDI DIII TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI
RANGKAIAN DIODA CLIPPER DAN CLAMPER
P R O G R A M S T U D I F I S I K A F M I P A I T B LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN INSTRUMENTASI MODUL 03 RANGKAIAN DIODA CLIPPER DAN CLAMPER 1 TUJUAN Menentukan hubungan antara sinyal input dengan sinyal
LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA MERANGKAI DAN MENGUJI OPERASIONAL AMPLIFIER UNIT : VI
LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA MERANGKAI DAN MENGUJI OPERASIONAL AMPLIFIER UNIT : VI NAMA : REZA GALIH SATRIAJI NOMOR MHS : 37623 HARI PRAKTIKUM : SENIN TANGGAL PRAKTIKUM : 3 Desember 2012 LABORATORIUM
KARYA TULIS ILMIAH MENGETAHUI DAN MENGANALISA KELUARAN PENGUAT INTEGRATOR (INTEGRATOR AMPLIFIER)
KARYA TULIS ILMIAH MENGETAHUI DAN MENGANALISA KELUARAN PENGUAT INTEGRATOR (INTEGRATOR AMPLIFIER) Ir. Ida Bagus Sujana Manuaba, M.Sc Nyoman Wendri, S.Si., M.Si JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
Perbandingan Kinerja Detektor NaI(Tl) Dengan Detektor CsI(Tl) Pada Spektroskopi Radiasi Gamma
Jurnal Gradien Vol.3 No.1 Januari 2007 : 204-209 Perbandingan Kinerja Detektor NaI(Tl) Dengan Detektor CsI(Tl) Pada Spektroskopi Radiasi Gamma Syamsul Bahri Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu
BAB III PERANCANGAN DAN PENGUKURAN
BAB III PERANCANGAN DAN PENGUKURAN 3.1 Perancangan Sistem Perancangan mixer audio digital terbagi menjadi beberapa bagian yaitu : Perancangan rangkaian timer ( timer circuit ) Perancangan rangkaian low
PERCOBAAN 9 RANGKAIAN COMPARATOR OP-AMP
PERCOBAAN 9 RANGKAIAN COMPARATOR OP-AMP 9.1 Tujuan : 1) Mendemonstrasikan prinsip kerja dari rangkaian comparator inverting dan non inverting dengan menggunakan op-amp 741. 2) Rangkaian comparator menentukan
KAJIAN TEGANGAN KERJA DETEKTOR HPGe TERHADAP RESOLUSI DETEKTOR SISTEM SPEKTROMETER GAMMA
KAJIAN TEGANGAN KERJA DETEKTOR HPGe TERHADAP RESOLUSI DETEKTOR SISTEM SPEKTROMETER GAMMA Nugraha Luhur, Anto Setiawanto, Rohidi, Suhadi Pusat Reaktor Serba Guna - BATAN Gd. 31 Kawasan Puspiptek Serpong
PROGRAM JAMINAN KUALITAS PADA PENGUKURAN. RADIONUKLIDA PEMANCAR GAMMA ENERGI RENDAH:RADIONUKLIDA Pb-210
ARTIKEL PROGRAM JAMINAN KUALITAS PADA PENGUKURAN RADIONUKLIDA PEMANCAR GAMMA ENERGI RENDAH:RADIONUKLIDA Pb-210 ABSTRAK Arief Goeritno Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN PROGRAM JAMINAN KUALITAS PADA
Q POWER ELECTRONIC LABORATORY EVERYTHING UNDER SWITCHED
Q POWER ELECTRONIC LABORATORY EVERYTHING UNDER SWITCHED PRAKTIKUM ELEKTRONIKA ANALOG 01 P-01 DIODA CLIPPER DAN CLAMPER SMT. GENAP 2015/2016 A. TUJUAN 1. Mahasiswa dapat menguji karakteristik dioda clipper
penulisan ini dengan Perancangan Anti-Aliasing Filter Dengan Menggunakan Metode Perhitungan Butterworth. LANDASAN TEORI 2.1 Teori Sampling Teori Sampl
PERANCANGAN ANTI-ALIASING FILTER DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERHITUNGAN BUTTERWORTH 1 Muhammad Aditya Sajwa 2 Dr. Hamzah Afandi 3 M. Karyadi, ST., MT 1 Email : [email protected] 2 Email : [email protected]
PENGUKURAN RADIOAKTIF MENGGUNAKAN DETEKTOR NaI, STUDI KASUS LUMPUR LAPINDO
PENGUKURAN RADIOAKTIF MENGGUNAKAN DETEKTOR NaI, STUDI KASUS LUMPUR LAPINDO Insan Kamil Institut Teknologi Bandung Abstrak Pengukuran radioaktif dengan metode scintillation menggunakan detektor NaI untuk
ANALISIS PERHITUNGAN KETEBALAN PERISAI RADIASI PERANGKAT RIA IP10.
ABSTRAK ANALISIS PERHITUNGAN KETEBALAN PERISAI RADIASI PERANGKAT RIA IP10. Benar Bukit, Kristiyanti, Hari Nurcahyadi Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir-BATAN ANALISIS PERHITUNGAN KETEBALAN PERISAI RADIASI
PENGUKURAN AKTIVITAS ISOTOP 152 Eu DALAM SAMPEL UJI PROFISIENSI MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA
ISSN 1979-2409 Pengukuran Aktivitas Isotop 152 Eu Dalam Sampel Uji Profisiensi Menggunakan Spektrometer Gamma (Noviarty) PENGUKURAN AKTIVITAS ISOTOP 152 Eu DALAM SAMPEL UJI PROFISIENSI MENGGUNAKAN SPEKTROMETER
PERBANDINGAN METODA OTOMATIS DAN MANUAL DALAM PENENTUAN ISOTOP Cs-137 MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA
Urania Vol. 15 No. 2, April 2009 : 61-115 ISSN 0852-4777 PERBANDINGAN METODA OTOMATIS DAN MANUAL DALAM PENENTUAN ISOTOP Cs-137 MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA Rosika Kriswarini (1) dan Dian Anggraini (1)
PENENTUAN TEGANGAN OPERASIONAL PADA DETEKTOR GEIGER MULLER DENGAN PERBEDAAN JARI-JARI WINDOW DETEKTOR
PENENTUAN TEGANGAN OPERASIONAL PADA DETEKTOR GEIGER MULLER DENGAN PERBEDAAN JARI-JARI WINDOW DETEKTOR F. Shoufika Hilyana Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Elektro Universitas Muria Kudus Email: [email protected]
SISTEM PENGATURAN BEBAN PADA MIKROHIDRO SEBAGAI ENERGI LISTRIK PEDESAAN
Prosiding SNaPP2012 : Sains, Teknologi, dan Kesehatan ISSN 2089-3582 SISTEM PENGATURAN BEBAN PADA MIKROHIDRO SEBAGAI ENERGI LISTRIK PEDESAAN 1 Ari Rahayuningtyas, 2 Teguh Santoso dan 3 Maulana Furqon 1,2,,3
BAB III PERANCANGAN ALAT
BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 Tujuan Perancangan Tujuan dari perancangan ini adalah untuk menentukan spesifikasi kerja alat yang akan direalisasikan melalui suatu pendekatan analisa perhitungan, analisa
PENGARUH JUMLAH KANAL MCA PADA DETERMINASI SUMBER ALPHA ( 242 PU DAN
90 ISSN 016-318 Gede Sutresna W., dkk. PENGARUH JUMLAH KANAL MCA PADA DETERMINASI SUMBER ALPHA ( PU DAN CM) HASIL MIKRO- PRESIPITASI Gede Sutresna Wijaya, M. Yazid PTAPB-BATAN, Yogyakarta, E-mail : [email protected]
VOLTAGE PROTECTOR. SUTONO, MOCHAMAD FAJAR WICAKSONO Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia
bidang TEKNIK VOLTAGE PROTECTOR SUTONO, MOCHAMAD FAJAR WICAKSONO Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia Listrik merupakan kebutuhan yang sangat
UJI FUNGSI DAN REKALIBRASI RENOGRAF DUAL PROBE TYPE BI-756 PERIODE TAHUN 2006 DI BALAI ELEKTROMEKANIK
UJI FUNGSI DAN REKALIBRASI RENOGRAF DUAL PROBE TYPE BI-756 PERIODE TAHUN 2006 DI BALAI ELEKTROMEKANIK DJUNINGRAN, JUMARI Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan Jl. Babarsari Kotak Pos 1008 DI Yogyakarta
Kalibrasi Sistem Tomografi Komputer Dengan Metode Perbandingan Jumlah Cacah Puncak Spektrum Berbasis Detektor Photodioda CsI(Tl)
Jurnal Gradien Vol.1 No.2 Juli 2005 : 56-63 Kalibrasi Sistem Tomografi Komputer Dengan Metode Perbandingan Jumlah Cacah Puncak Spektrum Berbasis Detektor Photodioda CsI(Tl) Syamsul Bahri 1, Gede Bayu Suparta
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam penelitian ini, penulis menganalisa data hubungan tegangan dengan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian Dalam penelitian ini, penulis menganalisa data hubungan tegangan dengan medan magnet untuk mengetahui karakteristik sistem sensor magnetik. Tahapan
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen murni. Eksperimen dilakukan untuk mengetahui pengaruh frekuensi medan eksitasi terhadap
