BAB III MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN CIREBON

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN CIREBON"

Transkripsi

1 BAB III MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN CIREBON III.1 Tinjauan Umum Sosio Budaya Cirebon Secara geografis Cirebon merupakan bagian dari Jawa Barat, dengan luas wilayah km. Wilayah yang kini dikenal dengan nama Cirebon dahulunya adalah bekas Karisedanan Cirebon. Di tengah-tengahnya berdiri Gunung Ciremai serta deretan bukit karang yang bersifat wadas atau kapur 1.. Secara administratif wilayah Cirebon berada diperbatasan beberapa wilayah, yaitu kabupaten Indramayu di bagian Utara, Kabupaten Ciamis dan Kuningan di bagian Selatan, sisi Barat Laut Kabupaten Subang, Sumedang, Majalengka dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Letak dataran di wilayah ini memanjang dari Barat ke Laut Tenggara dan terbagi atas dua dataran yaitu dataran rendah yang disebut daerah pantai dan pegunungan. Dataran rendah terletak sepanjang pantai utara yaitu kecamatan Gegesik, Kapetakan, Arjawinangun, Klangenan, Weru, Astanajapura, Lemahabang, Karangsembung, Waled, Ciledug dan Losari, sedangkan dataran tinggi yang terdiri atas pegunungan serta bukit-bukit kapur terbagi atas wilayah Beber, Sumber, Palimanan, Plumbon, Ciwaringin, Susukan dan Slangit. Ciri khas dari kebudayaan masyarakat pesisir adalah terbuka. Posisi ini merupakan sumbangan penting sehingga mewujudkan kebudayaan Cirebon yang sangat khas, yaitu pola budaya ekonomi perdagangan, memiliki jiwa bahari, religius dan menjadikan keraton sebagai pusat kebudayaan sekaligus kekuasaan. Akibat pola budaya tersebut, maka masyarakat di wilayah ini memiliki ciri khas tersendiri dengan wilayah pesisir lain, baik dalam tatanan kehidupan sosial, ekonomi dan budaya, contohnya adalah terbentuk ekspresi-ekspresi yang sangat khas, antaralain dalam tata bahasa, kosa kata, dialek, kesenian dan aktivitas ritual religinya. 1.Bentuk-bentuk yang dihasilkan dari deretan bukit kapur ini diasosiasikan pada hal-hal yang misterius sehingga menjadi sumber inspirasi bagi para seniman Cirebon dalam mengekspresikan karya seni yang dihasilkan diantaranya adalah salah satu motif khas Cirebon yang dikenal dengan motif Wadasan. 32

2 III.2 Kebudayaan Cirebon Kebudayaan masyarakat Cirebon adalah konsep budaya masyarakat pesisir atau disebut pula budaya bahari. Istilah budaya pesisir 2 atau budaya bahari merujuk pada suatu tipe kebudayaan yang hidup, tumbuh dan terus berkembang. Sebelum masuknya agama-agama atau pengaruh dari India yang masuk ke wilayah ini, ada kemungkinan tatanan kehidupan masyarakat di wilayah ini telah mengalami suatu tatanan yang teratur walaupun masih sederhana. Seperti kebudayaan bersahaja lainnya, bangsa Indonesia sebelum datangnya kebudayaan India dapat dikatakan mempunyai cara berpikir yang kompleks, yakni bersifat keseluruhan dan emosional, serta amat dikuasai oleh perasan, yang sangat rapat dengan pengaruh kebudayaan agama, kepercayaan kepada ruh-ruh dan tenaga-tenaga gaib yang meresapi seluruh kehidupannya. (Sutan Takdir Alisyahbana, dalam Budaya Bahari, 2004:198) Kebudayaan masyarakat di wilayah pantai atau pesisir akhirnya berkembang dengan pengaruh dari berbagai budaya pendatang, di antaranya India yang memberikan pengaruh Hindu dan Budha, kemudian pendatang dari daratan Arab yang membawa pengaruh Islam. Pada periode sebelum Islam masuk, kebudayaan di daerah pesisir sebelumnya diwarnai oleh kebudayaan Hindu yang dibawa dari India. Hal ini berakibat pada bentuk-bentuk pemujaan dan tradisi mengkultuskan roh-roh sebagai manifestasi kepatuhan mereka terhadap alam. Hal ini terjadi pula pada salah satu produk kebudayaan, yaitu kesenian. Pada awalnya keberadaan kesenian di wilayah Cirebon merupakan wujud dari persembahan rakyat pada cara kehidupan keagamaan. Sebelum kebudayaan Hindu masuk, penduduk di sekitar Cirebon memuja segala manifestasi alam yang di sekitarnya. Mereka mempercayai bahwa alam memiliki roh nya sendiri, yang selalu hadir, mengamati dan menjaga kehidupan mereka (Cerbon, 1982:18). Kepercayaan mayoritas penduduk sebelum Hindu adalah animisme, dan semua bentuk kesenian akhirnya menjadi media komunikasi dengan roh termasuk bentuk, elemen atau dekorasi yang digunakan, kesemuannya memiliki perlambangan spiritual serta makna keagamaan. Dalam kegiatan upacara tersebut sering terlihat gerakan-gerakan atau tarian yang bersumber pada mitos serta refleksi atas cara hidup 2.Secara etimologi pesisir merujuk pada kondisi geografis yang berbatasan langsung dengan pantai. Primadi Tabrani menyebutnya manusia kepulauan untuk menggambarkan kelompok manusia dengan jiwa bahari dan teknologi maritim, selanjutnya istilah pesisir digunakan pula dalam konotasi manusia atau kelompok manusia sehingga lahir sebuat wong gunung dan berlawanan dengan ciri manusia benua yang sulit bersatu dan indivudualis, dalam Budaya Bahari Sebuah Apresiasi di Cirebon (2004 :6). 33

3 mereka sehari-hari, serta persembahan-persembahan yang akhirnya memiliki fungsi sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap kekuatan atau roh-roh yang ada di alam. Kepercayaan terhadap adanya kekuatan supranatural di alam dan kekuatan arwah para nenek moyang yang dianggap sebagian orang adalah takhayul memang tak dapat dilepaskan begitu saja sebagai ciri dari masyarakat Indonesia. Karena kepercayaan manusia Indonesia pada takhayul bukanlah hal yang baru. Sampai sekarang bagi sebagian masyarakat menganggap pembakaran kemenyan dalam upacara-upacara adat merupakan hal yang sakral dan suci. (Sofia Rangkuti 2002:31) Masa berikutnya adalah masuknya agama Hindu, saat masyarakat Cirebon mulai berinteraksi dengan kerajaan Pajajaran. Agama Hindu dipandang sebagai ajaran yang sangat ritualistik, mempercayai reinkarnasi, serta adanya tatanan dalam masyarakat dan agama, sedangkan pada bentuk kesenian, seni berperan sebagai media atau sarana untuk menyembah para dewa. Setelah masa Hindu pada abad 15, terjadi tumpang tindih pada bentuk kesenian di Cirebon, di dalamnya terkandung unsur Hindu dan Islam yang sangat khas. Berbagai bentuk kesenian juga telah dimanfaatkan oleh para Wali Sanga dalam upaya menyebarkan agama Islam, hal ini digunakan untuk mengambil hati nurani pengikutnya. Namun pada kenyataannya perkembangan kebudayaan yang terjadi di wilayah ini sebenarnya sangat kompleks, karena dasar animisme dan dinamisme masyarakat pesisir telah lahir menjadi kebutuhan dasar dan naluri yang berkembang dalam kehidupan sosial dan spriritualnya. Agama Islam yang berkembang saat itu serta merta tidak menghapus seluruh peninggalan ajaran yang sebelumnya, yaitu Budha dan Hindu. Peran Sunan Kalijaga sangat penting dimana ia melakukan penyesuaian terhadap bentuk-bentuk kesenian, seperti memadukan perlambangan dan ungkapan baru sesuai dengan kebutuhan rohani dan artistik masyarakat Cirebon. Perkembangan selanjutnya adalah Islam menjadi agama yang dianut oleh mayoritas penduduk di Cirebon serta menjadi identitas bagi masyarakat Cirebon. Hal ini terjadi akibat peristiwa migrasi pertama orang Jawa ke daerah ini, bersamaan dengan maraknya persebaran agama Islam di wilayah Pulau Jawa. Pada akhirnya bentuk-bentuk kesenian yang ada di Cirebon terlihat khas, karena di dalamnya masih memperlihatkan jejak-jejak kebudayaan dari masa 34

4 sebelumnya, walaupun terlihat tumpang tindih, namun menjadikan ciri yang sangat khas, yaitu hasil dari sebuah sintesa berbagai kebudayaan besar. Seni pertunjukan yang ada di Cirebon akhirnya menjadi sarana yang paling efektif dalam penyebaran agama Islam, karena dalam penyajiannya dirasakan sangat halus serta substansi dari ajaran tersebut langsung mengena pada masyarakat Cirebon di masa tersebut. III.3 Fungsi dan Jenis Seni Pertunjukan Tradisi di Cirebon Pada awalnya fungsi kesenian di wilayah Cirebon selalu berkait dengan kegiatan religi dan suatu bentuk persembahan rakyat pada cara kehidupan keagamaan. Bentuk seni pertunjukan yang ada di Cirebon, pada umumnya merupakan refleksi dari masyarakatnya terhadap kekuatan yang ada di alam semesta. Dengan latar belakang budaya animisme dan Hindu - Budha, kesenian berfungsi sebagai sarana dalam melakukan ritual-ritual dan upacara-upacara persembahan. Setelah Islam masuk, fungsi kesenian bergeser, dan terjadi penyesuaian dalam berbagai aspek. Akhirnya kesenian berkembang dan mulai memiliki peran sebagai perangkat sosial dan keagamaan. Kini bentuk kesenian tradisional di Cirebon, sifatnya berupa tontonan yang bersifat tuntunan, walaupun nilai mistik keagamaan dan unsur-unsur magis yang sakral tidak pernah lepas dari setiap pertunjukannya. Pada perkembangannya kesenian di Cirebon lahir dengan bentuk yang beragam dan hasil interaksi dari berbagai unsur kebudayaan. Bentuk kesenian tradisi yang tercatat hingga kini berjumlah limapuluh jenis, dan terbagi atas delapan kategori, yaitu : 1. Karawitan jenisnya adalah Tabu Renteng dan Gamelan Gede 2. Teater, jenisnya Mastres dan Tarling Drama 3. Pedalangan, jenisnya Wayang Kulit Purwa, Wayang Wong, Wayang Golek Purwa, Wayang Cepak,Wayang Beber dan lainnya. 4. Musik, jenisnya Tarling, Jidor, Genjring santri dan lainnya 5. Sastra, jenisnya Kecawan, Macapat, Kidung, Jawokan dan Pantun 6. Seni Rupa, seperti Lukis kaca, Sungging,Tatah, Ukir Kedok,Ukir Kayu 7. Seni Tari, jenisnya Tari Topeng, Tari Baksa, Tari Angklung,Tari Ronggeng Bugis dan lainnya 35

5 8. Seni Pertunjukan, seperti Gejring Akrobat, Sintren dan Lais, Dombret, Ronggeng Umbul, Debus dan Berokan serta masih banyak lagi. Dari uraian di atas, ternyata bentuk kesenian yang ada di Cirebon dapat digolongkan menjadi dua bagian besar, yaitu seni pertunjukan dan seni rupa. Untuk seni rupa diantaranya adalah seni lukis kaca, salah satu seniman yang berhasil adalah Rastika. Ciri khas lukisannya adalah memberikan efek bayangan yang disebut pepes, adanya pertemuan tiga warna gradasi yang disebut papag, serta arsir titik-titik yang disebut tawuran. Gambar III.1 Aktivitas melukis di atas kaca (sumber : Cirebon, Times Edition,1995) Seni rupa jenis ke dua adalah gerabah yang berada di Sitiwinagun, Siti berarti tanah dan Winangun berarti mengolah. Menurut cerita yang yang berkembang di Cirebon, keberadaan seni gerabah di wilayah ini dibawa dari Baghdad oleh Syarif Abdurrahman yang disebut Pangeran Panjunan. Bentuk gerabah di wilayah ini memiliki kemiripan dengan gerabah dari masa prasejarah. Berdasarkan peta prasejarah, ternyata dari Cirebon sampai wilayah Barat dilewati aliran sungai yang memungkinkan tumbuhnya wilayah pembuatan keramik (Rokhmin Dahuri dkk, 2004 : 164) Untuk seni pertunjukan, terdapat lima jenis kesenian tradisi, yaitu wayang, berokan, rudat dan tari topeng Cirebon. Seni wayang yang berada di wilayah ini salah satunya adalah wayang cepak atau wayang menak, bentuknya seperti wayang golek, namun pada bagian kepalanya terdapat bentuk yang seperti dipapak atau dipangkas. Sedangkan wayang kulit adalah wayang yang ditatah dari kulit, dari aspek bentuk, wayang kulit masih dianggap sebagai tradisi Hindu. 36

6 Kedudukan pertunjukan wayang kulit tergeser oleh wayang papak, karena Sunan Kalijaga melakukan perubahan pada pertunjukannya, dengan mengaitkan keberadaan Wali Sanga sebagai sarana dakwah. Wayang papak lebih menekankan pada misi dakwah, yaitu i tibar, artinya memberikan pelajaran tentang hidup, sikap dan perilaku saat sedang mengalami persoalan hidup serta penyelesaiannya yang diambil dari cerita atau babad. Berikut beberapa gambar wayang cepak atau papak. Gambar III.2 Wayang Golek Cepak tokoh Raja Halus Gambar III.3 Wayang Golek Cepak tokoh Dewi Munigar Gambar III.4 Wayang Golek Cepak tokoh Sekar Pandan Gambar III.5 Wayang Golek Cepak Tokoh Raja dan Panakawan (Sumber : Icons of Art, 2006) (sumber : Anne Ritcher, 1993) (sumber : Anne Ritcher, 1993) (Sumber : Ensiklopedia WayangPurwa I) 37

7 Gambar III.6 Wayang Golek Bentuk dan tokoh wayang golek di wilayah Jawa memiliki kesamaan dari aspek bentuk cerita dan tokohnya. Cerita yang disajikan pada umumnya berdasarkan mengacu pada riwayatriwayat yang ada pada masa Hindu dan Islam. (sumber : Anne Ritcher, 1993) Bentuk kesenian wayang kulit di Cirebon sebenarnya memiliki kesamaan dengan wayang kulit di daerah lain, berikut di bawah ini gambar wayang kulit Cirebon. Gambar III.7 Wayang Kulit Sekar Pandan (Sumber : Shadow Theatre in Java) Gambar III.8 Wayang Kulit tokoh Semar (Sumber : Shadow Theatre in Java) Gambar III.9 Wayang Kulit Monster (Sumber : Shadow Theatre in Java) Berikut beberapa perangkat gamelan peninggalan Sunan Kali Jaga yang digunakan dalam pertunjukan wayang di Cirebon : 38

8 Gambar III.10 Rebana peninggalan Sunan Kali Jaga (sumber : Keraton Kasepuhan Cirebon, dokumentasi penulis) Gambar III.11 Perangkat gamelan (sumber : Keraton Kasepuhan Cirebon, dokumentasi penulis) Sedangkan kesenian rudat berwujud tarian atau gerakan yang berpadu dengan aliran dzikir pujian kepa Allah SWT dan diiringi dengan tabuhan genjring. Kesenian ini disertai dengan tarian kuda Lumping yang mengejewantahkan sikap kavaleri sahabat Husein cucu Rasul ketika berperang melawan musuh-musuhnya di medan perang Karbala. Ia digambarkan ulet, kebal, sakti sehingga mampu makan beling dan api yang yang menunjukkan betapa hebatnya pasukan tersebut. Gambar III.12 Pertunjukan Rudat di Cirebon (Sumber : Gelar Produk dan Apresiasi seni dan Budaya,2005) Bentuk kesenian lainnya adalah Berokan, yaitu kesenian yang wujudnya berbentuk tiruan kepala singa jantan dengan badan meniru bentuk raksasa Syiwa- Durga sambil meniupkan terompet atau sempritan, yang mengeluarkan suara-suara khas. Pada awalnya kesenian Berokan diciptakan oleh para wali untuk mendukung dakwah Islam kepada masyarakat dengan tujuan menyadarkan masyarakat agar tidak takut terhadap Barong salah seorang calon arang di Bali yang sering meneror 39

9 masyarakat. Hal ni terkait dengan kepercayaan masyarakat Cirebon pada saat itu akan adanya mahkluk gaib yang bernama buta ijo. Gambar III.13 Boneka Berokan tampak Samping (Sumber : koleksi penulis, 2007) Gambar III.14 Boneka Berokan dari muka (Sumber : koleksi penulis, 2007) Gambar III.15 Suasana Arakan Berokan (Sumber : Times Edition, 1995) Bentuk seni pertunjukan lain adalah tari topeng yang berkembang hampir di seluruh wilayah Jawa dan pesisir. Kesenian ini tumbuh dan berkembang di Cirebon pada abad ke 10 sampai dengan abad ke 11, bersamaan dengan masa perkembangan agama Islam di wilayah ini dan digunakan sebagai media dakwah oleh Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga. Selanjutnya pertunjukan ini berkembang pesat di kalangan masyarakat sekitar abad ke-15 di Cirebon. Setelah topeng berkembang di masyarakat, maka kesenian ini mulai dimanfaatkan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat perayaan ritual, seperti perkawinan, pelepas nadar atau kaulan, ruwatan dan lainnya. Gambar III.16 Tari Topeng Cirebon (sumber: Indonesian Heritage, 1996) 40

10 Gambar III.17 Aktivitas membuat Kelengkapan Topeng (sumber: dokumentasi penulis,2006) III.4 Riwayat Panji Sebagai Dasar Tari Topeng Cirebon Jika ditinjau dari bentuk tuanya, pertunjukan tari topeng pada masa kelahirannya berperan sebagai sarana ritual yang bersifat religius. Dan pertunjukannya berlangsung dalam lingkungan kerajaan. Dalam perkembangannya, pertunjukan ini memiliki fungsi sebagai berikut : Sakral Keagamaan Profan/Keduniawian Tabel III.1 Sifat, Fungsi dan Jenis Kesenian Topeng di Cirebon Sifat Fungsi Jenis Sebagai simbol perwujudan representasi suatu komunitas Seni hiburan karena estetika, kekuatan visual, dinamika musik dan gerak (sumber : dirangkum dari berbagai sumber) 1. Komunal; hajatan desa untuk kepentingan bersama. 2. Bebarang, inisiatif dari senimannya untuk mengadakan pertunjukan, umumnya saat musim paceklik (kemarau) Individual; hajatan yang dilakukan perorangan atau keluarga, contoh: mitoni, kaulan Kandungan dalam pertunjukan topeng pada dasarnya menggambarkan siklus kehidupan manusia, dari bayi beranjak ke masa kanak-kanak, masa dewasa hingga masa dimana seorang manusia telah mencapai kedudukan. Dalam siklus kehidupan tersebut terkandung tiga unsur hidup dalam manusia, yaitu perkawinan, perjalanan atau pengembaraan serta pertempuran. Topeng yang digunakan sampai saat ini tetap menampilkan lima karakter, dan kelima karakter tersebut dibedakan dengan penggunaan lima jenis topeng. Perihal 41

11 kelima tokoh dalam tarian tersebut, ternyata tidak dapat dilepaskan dari hikayat Panji yang diduga telah ada sejak tahun ± 1350 pada zaman kejayaan Majapahit. Kisah Panji menceritakan tentang pangeran dan putri dari empat negara yaitu Kediri, Kahuripan, Daha dan Singasari, empat negara tersebut dipimpin oleh raja yang saling bersaudara. Saat itu Raden Panji menolak perjodohan dengan Puteri Chandra Kirana, puteri dari kerajaan Daha, karena ia sudah memiliki Anggraini, namun Anggraini dibunuh dan Panji mengembara dengan menyamarkan diri sebagai Panji Kelana Edan. Dalam pelariannya ia bertemu dan jatuh cinta pada Kuda Semirang yang ternyata ia adalah putri Chandra Kirana yang menyamar menjadi laki-laki. Panji diartikan sebagai yang pertama, yang berasal dari kata siji atau satu dalam bahasa Jawa. Panji menggambarkan mahluk yang baru lahir ke dunia, gambaran seorang bayi yang tak berdaya. Hal tersebut terlihat pada gerakan tari yang kecil kecil dan diam. Pernikahan Panji dengan Chandra Kirana membuat bersatunya keempat kerajaan Jawa dan pusatnya di Jenggala atau Kahuripan. Tokoh kedua adalah Pamindo, tokoh ini yang menggambarkan masa kanakkanak. Ia digambarkan adalah Gunung Sari dari Kerajaan Daha. Tokoh Pamindo pada wayang dikisahkan sebagai Raden Kuda Panulis. Sedangkan di daerah lain yaitu Losari-Cirebon, Pamindo diidentikan dengan tokoh Sutera Winangon. Tarian ini berada di posisi kedua, dalam bahasa Jawa mindo artinya kedua. Tarian-tarian yang hadir setelah Panji disebut sebagai tarian horizontal, yang mewakili empat arah mata angin semesta dan keempat tarian ini merupakan wujud dari aspek pusat yang transenden, dan ruang pertamanya adalah posisi yang ditempati oleh Gunung Sari dari arah Timur. Tokoh ketiga adalah Rumyang, dalam wayang tokoh ini diidentikkan dengan Sadewa dan Somantri. Pada topeng Cirebon Rumyang merupakan tarian bagian ketiga. Rumyang digambarkan sebagai Candra Kirana, dewi yang menjelma menjadi manusia, dan melakukan penyamaran sebagai Panji Semirang dan berperilaku laki laki. Penokohan Rumyang hampir sama dengan Panji, kedua pasangan ini dianggap sebagai pasangan suami istri sejak di dunia atas. Asal kata Rumyang sendiri berasal dari ramyang-ramyang artinya mulai terang (Toto Amsar Suanda, 1989:24). Keadaan mulai terang atau carangcang tihang dalam bahasa Sunda artinya baru setengah terlihat. Rumyang digambarkan sebagai manusia yang sudah mulai 42

12 terang dalam melihat kehidupan dunia, walaupun terlihat ragu-ragu dalam gerakannya namun cenderung membuat gerakan yang terlihat menolak atau membuang. Arah ruang Rumyang sendiri ada di utara, dalam konsep primordial, alam semesta dunia dibagi menjadi dua wilayah yang berlawanan yaitu Timur-Utara, Barat- Selatan. Rumyang menggambarkan masa remaja, dia melambangkan anak sulung perempuan namun memiliki asas seperti laki-laki. Itulah alasannya tarian ini menampilkan tokoh laki-laki walaupun ia adalah perempuan. Gerak dalam tarian ini merefleksikan perjalanan serta penyamaran Candrakirana, sehingga sepanjang tariannya ia tak pernah sedikitpun menanggalkan kedoknya, agar penyamaran yang ia lakukan berhasil. Tokoh keempat adalah Patih yang selalu bergerak di area luar. Ia diidentikan sebagai Raja Soca Windu, musuh keluarga Panji. Sedangkan dalam wayang dianggap sebagai Raden Setiaki dan Gatot Kaca. Tarian ini menggambarkan pertikaian Tumenggung Magangdiraja, calon menantu Raja Bawarna yang berupaya untuk menaklukkan Jingga Anom. Dalam tarian ini didapati pula unsur dialog, sehingga tarian ini tampak seperti cukilan fragmen tari. Sosok Patih digambarkan sebagai lambang kedewasaan jaman. Ia berada di arah Barat-Selatan atau sebagai pihak luar, duniawi, pihak musuh, kematian, kasar dan kelelakian. Tokoh kelima adalah Klana, dalam cerita wayang ia diidentikan dengan Rahwana atau Dasamuka. Klana atau Kelana digambarkan karakter yang penuh dinamika dengan hasrat jasmani dan duniawi. Terkadang ia disebut Menak Jingga karena melambangkan nafsu yang terkekang manusia. Sosok Klana menggambarkan raja yang gagah perkasa bernama Kelana Budanegara, ia tergila-gila pada puteri Dewi Tunjung Ayu. Kisah lain menyebutkan Kelana adalah Raja Blambangan yang ingin mempersunting Dewi Sekartaji dari kerajaan Jenggala, yang tak lain adalah Candra Kirana, pasangan Panji. Jika kelima karakter topeng tersebut ditempatkan dalam satu pola kosmologi, maka penempatan, posisi serta arah dari lima karakter tersebut adalah sebagai berikut : 43

13 Bagan III.1 Posisi Tokoh dalam Tari Topeng dalam Kosmologi Buana Panca Tengah (sumber : dirangkum dari Jakob Soemardjo) III.5 Konsep Mandala pada Tari Topeng Dalam pertunjukan topeng terdapat lima karakter yaitu Panji, Pamindo, Rumyang, Tumenggung, dan Klana. Setiap karakter dalam topeng menempati posisi dan arah masing-masing, dan penempatan posisi tersebut dapat dipetakan dalam suatu konsep Mandala. Posisinya adalah Panji-Pusat, Pamindo-Timur, Rumyang-Utara, Patih-Barat, Klana-Selatan. Tabel III.2 Arah dan Sifat dalam Karakter Topeng Arah Karakter Sifat Pusat Panji Lelaki Perempuan, Surga Dunia Dunia atas dunia Bawah) Utara Rumyang Candrakirana Perempuan bersifat lelaki Selatan Klana Lelaki-Pejabat negara Barat Patih Lelaki- Raja dunia Timur Pamindo Gunung Sari Lelaki bersifat perempuan (sumber : Jakob Sumardjo) Berikut adalah cara pembacaan konsep Mandala serta pola oposisi dalam tari topeng Cirebon : 44

14 1. Posisi pusat ditempati Panji dan berada di tengah, diartikan bahwa semua nilai ada di dalamnya dan semua arah yang ada disekelilingnya, Timur-Barat, Utara- Selatan, selalu menuju ke arah tengah. Begitu pula unsur yang ada di Panji akan terlihat pada empat arah di sekelilingnya. U B Memusat T S Bagan III.2 Skema Konsep Mandala (sumber : rekontruksi penulis) 2. Oposisi vertikal-horisontal adalah oposisi yang ditunjukan oleh arah Utara dan Selatan, ditempati Rumyang dan Klana serta Timur dan Barat ditempati Pamindo dan Patih. Cara pembacaan pada posisi horisontal adalah akan terdapat nilai sama dan nilai beda pada Pamindo dan Patih. U B Horisontal T Bagan III.3 Skema Konsep Mandala (sumber : rekontruksi penulis) S Sedangkan pada posisi vertikal, nilai sama dan nilai beda ada pada Rumyang dan Klana. 45

15 U B Vertikal T Bagan III.4 Skema Konsep Mandala (sumber : rekontruksi penulis) S 3. Oposisi diagonal atas adalah oposisi yang ditunjukan oleh arah Utara-Barat dan diagonal bawah adalah Timur-Selatan. Pola seperti ini artinya ada nilai sama terdapat pada karakter Rumyang-Patih, dan nilai sama pada Pamindo-Klana. Kedua oposisi tersebut saling berhadapan. Dua arah diagonal yang saling berhadapan ini memiliki nilai yang saling berbeda. Arah yang diberi tanda (----) artinya kedua arah tersebut memiliki persamaan sekaligus perbedaan yaitu pada Rumyang-Pamindo dan Patih-Klana. U Diagonal atas B T Diagonal bawah Bagan III.5 Skema Konsep Mandala (sumber : rekontruksi penulis) S 46

16 4. Oposisi berhadapan adalah oposisi yang ditunjukan pada posisi Timur-Selatan- Barat dan oposisinya adalah Utara. Sedangkan posisi Timur-Utara-Selatan beroposisi dengan Selatan. Cara pembacaan terhadap pola oposisi bawah adalah terdapat unsur nilai sama pada tiga arah Patih-Rumyang-Pamindo dan nilai bedanya ada di Klana, begitu pula sebaliknya, pada oposisi atas, nilai sama terdapat pada Patih-Klana-Pamindo, dan nilai beda terdapat pada Rumyang. U B T Bagan III.6 Skema Konsep Mandala (sumber : rekontruksi penulis) S Artinya terdapat nilai sama pada tiga posisi yaitu Barat-Utara-Timur, dan nilai yang terlihat berbeda ada pada Selatan. U B T S Bagan III.7 Skema Konsep Mandala (sumber : rekontruksi penulis) Artinya terdapat nilai sama pada tiga posisi yaitu Barat-Selatan-Timur, dan nilai yang terlihat berbeda ada pada Utara. 47

17 48

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Sebuah karya seni yang berkembang di suatu wilayah, sering diidentifikasikan sebagai sebuah produk kebudayaan. Pengertian dari produk kebudayaan itu sendiri

Lebih terperinci

V.3.5 Pola Kosmologi dalam Kostum Tari topeng Cirebon

V.3.5 Pola Kosmologi dalam Kostum Tari topeng Cirebon V.3.5 Pola Kosmologi dalam Kostum Tari topeng Cirebon Dasar dari keberadaan tari topeng di Cirebon itu sendiri adalah hikayat sosok Panji. Panji dalam wacana primordial Jawa diasosiasikan sebagai figur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Budaya lokal menjadi media komunikasi di suatu daerah yang dapat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Budaya lokal menjadi media komunikasi di suatu daerah yang dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Budaya lokal menjadi media komunikasi di suatu daerah yang dapat mempersatukan dan mempertahankan spiritualitas hingga nilai-nilai moral yang menjadi ciri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Wayang Golek adalah suatu seni pertunjukan boneka tiruan rupa manusia yang dimainkan oleh seorang dalang dengan menggabungkan beberapa unsur seni. Wayang Golek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masuknya pengaruh Islam merupakan pelabuhan yang penting di pesisir utara

BAB I PENDAHULUAN. masuknya pengaruh Islam merupakan pelabuhan yang penting di pesisir utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Cirebon merupakan perpaduan kota budaya, kota niaga dan kota wisata di pesisir pantai utara. Sebagai daerah pesisir, Cirebon sejak sebelum dan sesudah masuknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan sosial, adat istiadat. Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan sosial, adat istiadat. Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia yang terdiri atas beberapa pulau dan kepulauan serta di pulau-pulau itu terdapat berbagai suku bangsa masing-masing mempunyai kehidupan sosial,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dikembangkan bertumpu pada kebudayaan (Risyani, 2009: 69).

BAB I PENDAHULUAN. yang dikembangkan bertumpu pada kebudayaan (Risyani, 2009: 69). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebudayaan dalam arti luas sebagai hasil cipta karsa dan karya manusia tentu akan terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia dan perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu dari sekian banyaknya kesenian di Pulau Jawa adalah kesenian wayang

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu dari sekian banyaknya kesenian di Pulau Jawa adalah kesenian wayang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu dari sekian banyaknya kesenian di Pulau Jawa adalah kesenian wayang kulit purwa. Kesenian wayang kulit purwa hampir terdapat di seluruh Pulau Jawa.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kabupaten merupakan contoh salah satu daerah yang memiliki beragam kesenian dan budaya yang merupakan bentuk-bentuk ekspresi masyarakat diantaranya kesenian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesenian merupakan salah satu bentuk kebudayaan manusia. Setiap daerah mempunyai kesenian yang disesuaikan dengan adat istiadat dan budaya setempat. Jawa Barat terdiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan bentuk ungkapan kehidupan atau pernyataan diri masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. merupakan bentuk ungkapan kehidupan atau pernyataan diri masyarakat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seni tradisional merupakan hasil ekspresi jiwa yang bersifat indah, yang merupakan bentuk ungkapan kehidupan atau pernyataan diri masyarakat pendukungnya. Dalam

Lebih terperinci

2. Fungsi tari. a. Fungsi tari primitif

2. Fungsi tari. a. Fungsi tari primitif 2. Fungsi tari Tumbuh dan berkembangnya berbagai jenis tari dalam kategori tari tradisional dan tari non trasional disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor ekternal. Faktor internal

Lebih terperinci

1.1 BAB I 1.2 PENDAHULUAN

1.1 BAB I 1.2 PENDAHULUAN 1.1 BAB I 1.2 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cirebon adalah sebuah kota yang berada di pesisir utara pulau Jawa, berbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Karena letak geografisnya yang strategis membuat

Lebih terperinci

BAB 2 DATA DAN ANALISA. - Buku Rupa Wayang Dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. - Buku Indonesian Heritage Performing Arts.

BAB 2 DATA DAN ANALISA. - Buku Rupa Wayang Dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. - Buku Indonesian Heritage Performing Arts. 3 BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 Data Dan Literatur Metode penelitian yang digunakan: Literatur : - Buku Rupa Wayang Dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. - Buku Indonesian Heritage Performing Arts. - Buku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Asti Purnamasari, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Asti Purnamasari, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian diciptakan oleh masyarakat sebagai wujud dari jati dirinya. Pencapaiannya dilakukan dengan cara yang beragam, sehingga melahirkan identitas yang berbeda-beda.

Lebih terperinci

TARI RAHWANA GANDRUNG DI SANGGAR NYIMAS SEKAR PUJI ASMARA DESA CANGKOL KOTA CIREBON

TARI RAHWANA GANDRUNG DI SANGGAR NYIMAS SEKAR PUJI ASMARA DESA CANGKOL KOTA CIREBON BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian merupakan bagian dari budaya dan merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan tercipta melalui hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sumedang merupakan kota yang kaya akan kebudayaan, khususnya dalam

BAB I PENDAHULUAN. Sumedang merupakan kota yang kaya akan kebudayaan, khususnya dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumedang merupakan kota yang kaya akan kebudayaan, khususnya dalam bidang kesenian daerah. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap daerah di Sumedang memiliki ragam kesenian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Riau adalah rumpun budaya melayu yang memiliki beragam

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Riau adalah rumpun budaya melayu yang memiliki beragam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Provinsi Riau adalah rumpun budaya melayu yang memiliki beragam suku, yang dapat di jumpai bermacam-macam adat istiadat, tradisi, dan kesenian yang ada dan

Lebih terperinci

Pewayangan Pada Desain Undangan. Yulia Ardiani Staff UPT. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Institut Seni Indonesia Denpasar.

Pewayangan Pada Desain Undangan. Yulia Ardiani Staff UPT. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Institut Seni Indonesia Denpasar. Pewayangan Pada Desain Undangan Yulia Ardiani Staff UPT. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Institut Seni Indonesia Denpasar Abstrak Sesuatu yang diciptakan oleh manusia yang mengandung unsur keindahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cirebon adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini berada di pesisir utara Jawa Barat atau dikenal dengan Pantura yang menghubungkan

Lebih terperinci

INTERAKSI KEBUDAYAAN

INTERAKSI KEBUDAYAAN Pengertian Akulturasi Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian tradisional pada akhirnya dapat membangun karakter budaya

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian tradisional pada akhirnya dapat membangun karakter budaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian tradisional pada akhirnya dapat membangun karakter budaya tertentu. Sebuah pernyataan tentang kesenian Jawa, kesenian Bali, dan kesenian flores, semuanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesenian produk asli bangsa Indonesia. Kesenian wayang, merupakan

BAB I PENDAHULUAN. kesenian produk asli bangsa Indonesia. Kesenian wayang, merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang sangat kaya dengan aneka ragam kebudayaan dan tradisi. Potensi merupakan model sebagai sebuah bangsa yang besar. Kesenian wayang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian adalah ciptaan dari segala pikiran dan perilaku manusia yang

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian adalah ciptaan dari segala pikiran dan perilaku manusia yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian adalah ciptaan dari segala pikiran dan perilaku manusia yang fungsional, estetis dan indah, sehingga ia dapat dinikmati dengan panca inderanya yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. budaya, baik berupa seni tradisional ataupun seni budaya yang timbul karena

BAB I PENDAHULUAN. budaya, baik berupa seni tradisional ataupun seni budaya yang timbul karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman seni dan budaya, baik berupa seni tradisional ataupun seni budaya yang timbul karena proses akulturasi.

Lebih terperinci

BAB 4 TOPENG SEBAGAI IKON

BAB 4 TOPENG SEBAGAI IKON BAB 4 TOPENG SEBAGAI IKON Seperti dijelaskan dalam bab pendahuluan, pertunjukan Tari Topeng Cirebon dalam upacara Mapag Sri menjadi objek penelitian ini. Oleh karena itu, dalam bab ini, penulis memaparkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Seni Wayang Jawa sudah ada jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu ke indonesia. Wayang merupakan kreasi budaya masyarakat /kesenian Jawa yang memuat berbagai aspek

Lebih terperinci

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang NURUL HIDAYAH, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang NURUL HIDAYAH, 2014 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesenian Rebana banyak berkembang di wilayah Jawa Barat. Berdasarkan perkembangannya, kesenian yang menggunakan alat musik rebana mengalami perubahan baik dari segi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seni Dzikir Saman Di Desa Ciandur Kecamatan Saketi Kabupaten Pandeglang Banten

BAB I PENDAHULUAN. Seni Dzikir Saman Di Desa Ciandur Kecamatan Saketi Kabupaten Pandeglang Banten 1 A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Kesenian pada dasarnya muncul dari suatu ide (gagasan) dihasilkan oleh manusia yang mengarah kepada nilai-nilai estetis, sehingga dengan inilah manusia didorong

Lebih terperinci

3. Karakteristik tari

3. Karakteristik tari 3. Karakteristik tari Pada sub bab satu telah dijelaskan jenis tari dan sub bab dua dijelaskan tentang fungsi tari. Berdasarkan penjelasan dari dua sub bab tersebut, Anda tentunya telah memperoleh gambaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kekompleksitasan Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah membuat Indonesia menjadi

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat.

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat. I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah Negara kepulauan, yang memiliki berbagai macam suku bangsa yang kaya akan kebudayaan serta adat istiadat, bahasa, kepercayaan, keyakinan dan kebiasaan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat ditemui hal-hal

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat ditemui hal-hal BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat ditemui hal-hal berkenaan dengan bentuk, simbol serta sekilas tentang pertunjukan dari topeng Bangbarongan Ujungberung

Lebih terperinci

2015 PERTUNJUKAN KESENIAN EBEG GRUP MUNCUL JAYA PADA ACARA KHITANAN DI KABUPATEN PANGANDARAN

2015 PERTUNJUKAN KESENIAN EBEG GRUP MUNCUL JAYA PADA ACARA KHITANAN DI KABUPATEN PANGANDARAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kesenian merupakan salah satu bagian dari kebudayaan yang mempunyai ciri khas dan bersifat kompleks, sebuah kebudayaan yang lahir di dalam suatu lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di Bali, perlu dimengerti sumbernya. Terdapat prinsip Tri Hita Karana dan Tri Rna

BAB I PENDAHULUAN. di Bali, perlu dimengerti sumbernya. Terdapat prinsip Tri Hita Karana dan Tri Rna 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bali telah terkenal dengan kebudayaannya yang unik, khas, dan tumbuh dari jiwa Agama Hindu, yang tidak dapat dipisahkan dari keseniannya dalam masyarakat yang berciri

Lebih terperinci

Menguak Nilai Seni Tradisi Sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Pertunjukan Pada Era Global

Menguak Nilai Seni Tradisi Sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Pertunjukan Pada Era Global Menguak Nilai Seni Tradisi Sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Pertunjukan Pada Era Global Oleh: Dyah Kustiyanti Tradisi biasanya didefinisikan sebagai cara mewariskan pemikiran, pandangan hidup, kebiasaan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Budaya tersebut terbagi dalam beberapa daerah di Indonesia dan salah satunya adalah

BAB I PENDAHULUAN. Budaya tersebut terbagi dalam beberapa daerah di Indonesia dan salah satunya adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki budaya yang sangat banyak. Budaya tersebut terbagi dalam beberapa daerah di Indonesia dan salah satunya adalah Bandung.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penduduk Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku etnis dan bangsa yang memiliki ciri khas masing-masing. Dari berbagai suku dan etnis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kesenian merupakan hasil dari kebudayaan manusia yang dapat didokumentasikan atau dilestarikan, dipublikasikan dan dikembangkan sebagai salah salah satu upaya

Lebih terperinci

MATERI STUDI RELIGI JAWA

MATERI STUDI RELIGI JAWA MATERI STUDI RELIGI JAWA Bahasa dan sastra; karya sastra Jawa Kuna yang tergolong tua; karya sastra Jawa Kuna yang bertembang; karya sastra Jawa Kuna yang tegolong muda; karya sastra yang berbahasa Jawa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Cirebon adalah salah satu daerah yang terletak di ujung timur Provinsi Jawa

BAB I PENDAHULUAN. Cirebon adalah salah satu daerah yang terletak di ujung timur Provinsi Jawa 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Cirebon adalah salah satu daerah yang terletak di ujung timur Provinsi Jawa Barat. Kecamatan Cileudug Kabupaten Cirebon merupakan perbatasan dari provinsi Jawa Barat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Berkembangnya Islam di Nusantara tidak lepas dari faktor kemunduran

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Berkembangnya Islam di Nusantara tidak lepas dari faktor kemunduran BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Berkembangnya Islam di Nusantara tidak lepas dari faktor kemunduran kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia, sehingga kemudian jalur perdagangan berpindah tangan ke para

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah salah satu tonggak utama pembangun bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mengedepankan pendidikan bagi warga negaranya, karena dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki bermacam-macam suku bangsa,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki bermacam-macam suku bangsa, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki bermacam-macam suku bangsa, tidak hanya suku yang berasal dari nusantara saja, tetapi juga suku yang berasal dari luar nusantara.

Lebih terperinci

KEBUDAYAAN DAN AGAMA Clifford Gerrtz

KEBUDAYAAN DAN AGAMA Clifford Gerrtz KEBUDAYAAN DAN AGAMA Clifford Gerrtz Rudi Irawanto SLIDE 4 Create of Adam RELEGI DAN RITUAL Kepercayaan Spritualitas Keimanan Upacara khusus Memiliki tradisi Petunjuk untuk hidup PAGANISME Paganisme,

Lebih terperinci

BAB 2 DATA DAN ANALISA

BAB 2 DATA DAN ANALISA 3 BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 Sumber Data Sumber data yang digunakan untuk membantu dan mendukung Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut : 1. Wawancara Wawancara dilakukan dengan beberapa sumber dari dua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap daerah atau kota di Indonesia memiliki kesenian dengan ciri

BAB I PENDAHULUAN. Setiap daerah atau kota di Indonesia memiliki kesenian dengan ciri BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Setiap daerah atau kota di Indonesia memiliki kesenian dengan ciri khasnya masing-masing. Hal itu bisa dilihat pada pengaruh karya seni rupa peninggalan kerajaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Prastyca Ries Navy Triesnawati, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Prastyca Ries Navy Triesnawati, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seni tidak bisa lepas dari produknya yaitu karya seni, karena kita baru bisa menikmati seni setelah seni tersebut diwujudkan dalam suatu karya konkrit,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Danandjaja (dalam Maryaeni 2005) mengatakan bahwa kebudayaan daerah

BAB I PENDAHULUAN. Danandjaja (dalam Maryaeni 2005) mengatakan bahwa kebudayaan daerah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Danandjaja (dalam Maryaeni 2005) mengatakan bahwa kebudayaan daerah sebagai simbol kedaerahan yang juga merupakan kekayaan nasional memiliki arti penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagian besar orang masih berpendapat bahwa seni adalah segala ciptaan

BAB I PENDAHULUAN. Sebagian besar orang masih berpendapat bahwa seni adalah segala ciptaan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Sebagian besar orang masih berpendapat bahwa seni adalah segala ciptaan manusia yang indah, baik, dan benar. Seni dipandang sebagai manifestasi dari bentuk pengolahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap negara memiliki kebudayaan yang beragam. Kebudayaan juga

BAB I PENDAHULUAN. Setiap negara memiliki kebudayaan yang beragam. Kebudayaan juga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap negara memiliki kebudayaan yang beragam. Kebudayaan juga menunjukan identitas suatu bangsa. Kebudayaan ini yang biasanya berkembang dari masa ke masa

Lebih terperinci

ARTIKEL TENTANG SENI TARI

ARTIKEL TENTANG SENI TARI NAMA : MAHDALENA KELAS : VII - 4 MAPEL : SBK ARTIKEL TENTANG SENI TARI A. PENGERTIAN SENI TARI Secara harfiah, istilah seni tari diartikan sebagai proses penciptaan gerak tubuh yang berirama dan diiringi

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. kesimpulan untuk mengingatkan kembali hal-hal yang penting dan sekaligus

BAB V PENUTUP. kesimpulan untuk mengingatkan kembali hal-hal yang penting dan sekaligus BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari uraian skripsi yang telah penulis bahas tersebut maka dapat diambil kesimpulan untuk mengingatkan kembali hal-hal yang penting dan sekaligus menjadi inti sari daripada

Lebih terperinci

INTERAKSI LOKAL - HINDU BUDDHA - ISLAM

INTERAKSI LOKAL - HINDU BUDDHA - ISLAM INTERAKSI LOKAL - HINDU BUDDHA - ISLAM AKULTURASI : menerima unsur baru tapi tetap mempertahankan kebudayaan aslinya jadi budaya campuran ASIMILASI : pernggabungan kebudayaan lokal dan unsur baru tapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan yang memiliki bentuk keindahan yang dihasilkan dari kreativitas manusia dan dapat memberikan kepuasan emosional

Lebih terperinci

Written by Administrator Monday, 03 December :37 - Last Updated Monday, 28 January :28

Written by Administrator Monday, 03 December :37 - Last Updated Monday, 28 January :28 Wayang dikenal oleh bangsa Indonesia sudah sejak 1500 th. sebelum Masehi, karena nenek moyang kita percaya bahwa setiap benda hidup mempunyai roh/jiwa, ada yang baik ada yang jahat. Agar tidak diganggu

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis setiap gambar yang dipilih dari video mapping

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis setiap gambar yang dipilih dari video mapping BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil analisis setiap gambar yang dipilih dari video mapping Revitalisasi Kota Tua Jakarta pembahasan yang didasarkan pemikiran yang menggunakan semiotika signifikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seni terlahir dari ekspresi dan kreativitas masyarakat yang

BAB I PENDAHULUAN. Seni terlahir dari ekspresi dan kreativitas masyarakat yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seni terlahir dari ekspresi dan kreativitas masyarakat yang dilatarbelakangi oleh keadaan sosial budaya, ekonomi, letak geografis, pola kegiatan keseharian,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia kaya akan suku dan budaya yang beragam disetiap daerahnya, hampir setiap daerah mempunyai bahasa, kesenian, lagu, baju bahkan bangunanbangunan adatnya sendiri.

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM 4.1 Keadaan Geografi

4 KEADAAN UMUM 4.1 Keadaan Geografi 20 4 KEADAAN UMUM 4.1 Keadaan Geografi Kabupaten Cirebon dengan luas wilayah 990,36 km 2 merupakan bagian dari wilayah propinsi Jawa Barat yang terletak di bagian timur Jawa Barat dan merupakan batas sekaligus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. cipta yang menggambarkan kejadian-kejadian yang berkembang di masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. cipta yang menggambarkan kejadian-kejadian yang berkembang di masyarakat. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari gejolak dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Karena itu, sastra merupakan gambaran kehidupan yang terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda-beda. Secara

BAB I PENDAHULUAN. mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda-beda. Secara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kata seni adalah sebuah kata yang semua orang dipastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda-beda. Secara Etimologi istilah seni berasal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara kita adalah Negara yang memiliki beragam kebudayaan daerah dengan ciri khas masing-masing. Bangsa Indonesia telah memiliki semboyan Bhineka Tunggal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai macam suku, yang memiliki seni budaya, dan adat istiadat, seperti tarian tradisional. Keragaman yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari, kita ketahui terdapat beberapa jenis seni yang di

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari, kita ketahui terdapat beberapa jenis seni yang di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari, kita ketahui terdapat beberapa jenis seni yang di antaranya adalah Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, dan Seni Teater. Beberapa jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Lilis Melani, 2014 Kajian etnokoreologi Tari arjuna sasrabahu vs somantri di stsi bandung

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Lilis Melani, 2014 Kajian etnokoreologi Tari arjuna sasrabahu vs somantri di stsi bandung BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seni terlahir dari ekspresi dan kreativitas masyarakat yang dilatarbelakangi oleh keadaan sosialbudaya, ekonomi, letak geografis, pola kegiatan keseharian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau dan berbagai etnis, kaya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau dan berbagai etnis, kaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau dan berbagai etnis, kaya dengan seni dan sastra seperti permainan rakyat, tarian rakyat, nyanyian rakyat, dongeng,

Lebih terperinci

segala pengalaman emosional manusia (Hidayat, 2009). seluruh organ-organ tubuh bergerak (Hidayat, 2009).

segala pengalaman emosional manusia (Hidayat, 2009). seluruh organ-organ tubuh bergerak (Hidayat, 2009). BAB II KESENIAN TARI TOPENG MALANG 2.1 Tari Topeng Malang 2.1.1 Tari Tari merupakan ekspresi jiwa manusia yang diungkapan dengan gerak-gerak ritmis yang indah (Soedarsono dalam Hidayat, 2009). Kalau diamati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebuah pembelajaran sangat ditentukan keberhasilannya oleh masingmasing guru di kelas. Guru yang profesional dapat ditandai dari sejauh mana

Lebih terperinci

MODUL PEMBELAJARAN SENI BUDAYA

MODUL PEMBELAJARAN SENI BUDAYA MODUL PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DISUSUN OLEH Komang Kembar Dana Disusun oleh : Komang Kembar Dana 1 MODUL PEMBELAJARAN SENI BUDAYA STANDAR KOMPETENSI Mengapresiasi karya seni teater KOMPETENSI DASAR Menunjukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berbagai budaya masyarakat, adat istiadat dan kebiasaan yang dilakukan turun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berbagai budaya masyarakat, adat istiadat dan kebiasaan yang dilakukan turun 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia eksotisme penuh dengan berbagai macam seni budaya, dari pulau Sabang sampai Merauke berbeda budaya yang dimiliki oleh setiap daerahnya. Berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. budaya sebagai warisan dari nenek moyang. Kehidupan manusia di manapun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. budaya sebagai warisan dari nenek moyang. Kehidupan manusia di manapun 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman budaya sebagai warisan dari nenek moyang. Kehidupan manusia di manapun tumbuh dan berkembang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. wayang. Sebuah pemikiran besar yang sejak dahulu memiliki aturan ketat sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN. wayang. Sebuah pemikiran besar yang sejak dahulu memiliki aturan ketat sebagai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia kesusasteraan memiliki ruang lingkup yang begitu luas dalam rangka penciptaannya atas representasi kebudayaan nusantara. Salah satu hasil ekspresi yang muncul

Lebih terperinci

( ) berusaha menggabungkan semua jenis wayang yang ada menjadi satu

( ) berusaha menggabungkan semua jenis wayang yang ada menjadi satu 11 6. Wayang Madya Wayang Madya diciptakan pada waktu Pangerarn Adipati Mangkunegoro IV (1853-1881) berusaha menggabungkan semua jenis wayang yang ada menjadi satu kesatuan yang berangkai serta disesuaikan

Lebih terperinci

10 TOPENG. Gbr. 1-37: Sisingaan, tunggangan anak sunat, berasal dari daerah Subang. Kini Sisingaan menyebar hampir di seluruh pelosok Jawa Barat.

10 TOPENG. Gbr. 1-37: Sisingaan, tunggangan anak sunat, berasal dari daerah Subang. Kini Sisingaan menyebar hampir di seluruh pelosok Jawa Barat. PENDAHULUAN 9 Gbr. 1-34: Muka liong dibuat oleh para seniman desa (bukan orang Tionghoa) dari daerah Cirebon, Jawa Barat. Di sana, liong dan barongsay biasa dipertunjukkan dalam upacara Sidekah Bumi di

Lebih terperinci

Data kongkrit tentang lahir asal usul wayang sedikit jumlahnya. Perbedaan adanya disiplin ilmu untuk mendekati masalah dan konsep tentang maksud

Data kongkrit tentang lahir asal usul wayang sedikit jumlahnya. Perbedaan adanya disiplin ilmu untuk mendekati masalah dan konsep tentang maksud Data kongkrit tentang lahir asal usul wayang sedikit jumlahnya. Perbedaan adanya disiplin ilmu untuk mendekati masalah dan konsep tentang maksud lahir atau asal usul. Wayang apakah asli Indonesia, berasal

Lebih terperinci

JURNAL SKRIPSI. MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo)

JURNAL SKRIPSI. MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo) JURNAL SKRIPSI MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo) SKRIPSI Oleh: DESI WIDYASTUTI K8409015 FAKULTAS KEGURUAN DAN

Lebih terperinci

2015 KESENIAN RONGGENG GUNUNG DI KABUPATEN CIAMIS TAHUN

2015 KESENIAN RONGGENG GUNUNG DI KABUPATEN CIAMIS TAHUN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Masyarakat Sunda Ciamis mempunyai kesenian yang khas dalam segi tarian yaitu tarian Ronggeng Gunung. Ronggeng Gunung merupakan sebuah bentuk kesenian tradisional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia terdiri dari beranekaragam suku bangsa dan memiliki berbagai macam

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia terdiri dari beranekaragam suku bangsa dan memiliki berbagai macam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia terdiri dari beranekaragam suku bangsa dan memiliki berbagai macam kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil cipta, karya, rasa manusia untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. cerdas, sehat, disiplin, dan betanggung jawab, berketrampilan serta. menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi misi dan visi

BAB I PENDAHULUAN. cerdas, sehat, disiplin, dan betanggung jawab, berketrampilan serta. menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi misi dan visi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perwujudan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu dalam rangka membentuk generasi bangsa yang memiliki karakter dengan kualitas akhlak mulia, kreatif,

Lebih terperinci

2016 PANDANGAN MASYARAKAT SUNDA TERHADAP ORANG BANGSA ASING

2016 PANDANGAN MASYARAKAT SUNDA TERHADAP ORANG BANGSA ASING BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mantra merupakan puisi lisan yang bersifat magis. Magis berarti sesuatu yang dipakai manusia untuk mencapai tujuannya dengan cara-cara yang istimewa. Perilaku magis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Cirebon memiliki banyak sekali potensi obyek wisata yang dapat dikembangkan. Berdasarkan data-data yang penulis peroleh, ada berbagai jenis alternatif wisata yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seni Pertunjukan memiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Seni Pertunjukan memiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seni Pertunjukan memiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan manusia. Tidak hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga mempunyai fungsi penting dalam

Lebih terperinci

2015 ORNAMEN MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA

2015 ORNAMEN MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Cirebon sejak lama telah mendapat julukan sebagai Kota Wali. Julukan Kota Wali disebabkan oleh kehidupan masyarakatnya yang religius dan sejarah berdirinya

Lebih terperinci

2015 TARI TUPPING DI DESA KURIPAN KECAMATAN PENENGAHAN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

2015 TARI TUPPING DI DESA KURIPAN KECAMATAN PENENGAHAN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Budaya lahir dan dibentuk oleh lingkungannya yang akan melahirkan berbagai bentuk pola tersendiri bagi masyarakat pendukungnya. Berbicara tentang kebudayaan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual. Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah

BAB V KESIMPULAN. 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual. Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah BAB V KESIMPULAN 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual Kuningan Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah merupakan seni pertunjukan yang biasa tetapi merupakan pertunjukan

Lebih terperinci

BAB IV PERKEMBANGAN KESENIAN TARI TOPENG GEGESIK TAHUN Bab ini membahas hasil interpretasi mengenai erkembangan kesenian Tari

BAB IV PERKEMBANGAN KESENIAN TARI TOPENG GEGESIK TAHUN Bab ini membahas hasil interpretasi mengenai erkembangan kesenian Tari 68 BAB IV PERKEMBANGAN KESENIAN TARI TOPENG GEGESIK TAHUN 1980-2000 Bab ini membahas hasil interpretasi mengenai erkembangan kesenian Tari Topeng Gegesik Tahun 1980-2000. Fakta-fakta ini diperoleh melalui

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keberadaan

I PENDAHULUAN. Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keberadaan 1 I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keberadaan kebudayaan adalah hasil dari karya manusia. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota Medan merupakan salah satu kota terbesar yang terdapat di Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. Kota Medan merupakan salah satu kota terbesar yang terdapat di Indonesia, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Medan merupakan salah satu kota terbesar yang terdapat di Indonesia, Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik ) tahun 2010 kota ini memiliki luas 26. 510 hektar

Lebih terperinci

449 IX. PENUTUP 9.1. Kesi mpulan

449 IX. PENUTUP 9.1. Kesi mpulan 449 IX. PENUTUP Bagian yang akan menutup pembahasan tentang ruang lokal Kawasan Pusat Situs Purbakala ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama, adalah kesimpulan hasil penelitian tentang Ruang Kemuliaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1 I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1. Batasan Masalah Karya seni mempunyai pengertian sangat luas sehingga setiap individu dapat mengartikannya secara berbeda. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, karya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Konstruksi identitas jender, Putu Wisudantari Parthami, 1 FPsi UI, Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Konstruksi identitas jender, Putu Wisudantari Parthami, 1 FPsi UI, Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pulau Bali selama ini dikenal dengan kebudayaannya yang khas. Beragam tradisi yang mencerminkan adat Bali menarik banyak orang luar untuk melihat lebih dekat keunikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berkaitan dengan pengungkapan rasa keindahan. Menurut kodratnya

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berkaitan dengan pengungkapan rasa keindahan. Menurut kodratnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesenian merupakan salah satu perwujudan kebudayaan yang mempunyai peranan penting bagi masyarakat. Kesenian merupakan salah satu jenis kebutuhan manusia yang berkaitan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat pesisir pantai barat. Wilayah budaya pantai barat Sumatera, adalah

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat pesisir pantai barat. Wilayah budaya pantai barat Sumatera, adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masyarakat yang tinggal disepanjang pinggiran pantai, lazimnya disebut masyarakat pesisir. Masyarakat yang bermukim di sepanjang pantai barat disebut masyarakat

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 26 IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Wilayah Penelitian Dua kecamatan yang dipilih di Kabupaten Indramayu, yaitu: Kecamatan Patrol dan Lelea. Batas administratif Kabupaten Indramayu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Tinjauan kepustakaan berisi tentang pendapat dan analisis dari beberapa

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Tinjauan kepustakaan berisi tentang pendapat dan analisis dari beberapa 19 BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN Tinjauan kepustakaan berisi tentang pendapat dan analisis dari beberapa penulis, ahli maupun pakar dalam bidang tertentu. Dalam penulisan skripsi ini tidak lepas dari tinjauan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian merupakan segala hasil kreasi manusia yang mempunyai sifat

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian merupakan segala hasil kreasi manusia yang mempunyai sifat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian merupakan segala hasil kreasi manusia yang mempunyai sifat keindahan dan dapat diekspresikan melalui suara, gerak ataupun ekspresi lainnya. Dilihat

Lebih terperinci

Falsafah hidup masyarakat jawa dalam pertunjukan musik gamelan. Falsafah hidup masyarakat jawa dalam pertunjukan musik gamelan.zip

Falsafah hidup masyarakat jawa dalam pertunjukan musik gamelan. Falsafah hidup masyarakat jawa dalam pertunjukan musik gamelan.zip Falsafah hidup masyarakat jawa dalam pertunjukan musik gamelan Falsafah hidup masyarakat jawa dalam pertunjukan musik gamelan.zip letak georafisnya Gamelan salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Ponorogo yang terletak di sisi tenggara Provinsi Jawa Timur yakni

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Ponorogo yang terletak di sisi tenggara Provinsi Jawa Timur yakni BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang kaya akan khasanah budaya, salah satunya di Kabupaten Ponorogo yang terletak di sisi tenggara Provinsi Jawa Timur yakni kesenian Reyog

Lebih terperinci