Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP)
|
|
|
- Sri Agusalim
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP) URL: nalfia.ub. ac.id/ind e x. ph p/jiap JIAP Vol. 2,. 4, pp , FIA UB. All right reserved ISSN e-issn Analisis Perencanaan Pembangunan Daerah Dengan Pendekatan Sistem Lunak di Kabupaten Trenggalek Harendhika Lukiswara a a Bappeda Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Indonesia INFORMASI ART IKEL Article history: Dikirim tanggal: 03 Oktober 2016 Revisi pertama tanggal: 24 Oktober 2016 Diterima tanggal: 15 vember 2016 Tersedia online tanggal: 28 vember 2016 Keywords: Regional Development Planning, RPJMD, SSM, Conceptual Model ABSTRACT This paper examine regional development planning process which is composing process for RPJMD documents of Trenggalek regency In the process, composition RPJMD documents of Trenggalek regency have faced systemic, complex issues. To improve these complex issues, we used Soft System Methodology (SSM). Analysis result showed that composition processes for RPJMD documents of Trenggalek regency would consist of RPJMD initial design composition, RPJMD design composition, RPJMD musrenbang, RPJMD final design composition and regional regulation provision. This study conclude that there were 6 conceptual models to fix this issues, such as development planning approach model, inter-chapter relatedness model, planner and administrator relationship model, society s participation model, document s finalization model and political approach model. INTISARI Tulisan ini menelaah proses perencanaan pembangunan daerah yaitu proses penyusunan dokumen RPJMD Kabupaten Trenggalek Tahun Dalam prosesnya, penyusunan dokumen RPJMD Kabupaten Trenggalek menemui kompleksitas permasalahan yang sistemik. Untuk memperbaiki kompleksitas permasalahan tersebut maka digunakan pendekatan Soft System Methodology (SSM). Hasil analisis menunjukkan bahwa proses penyusunan dokumen RPJMD Kabupaten Trenggalek adalah penyusunan rancangan awal RPJMD, penyusunan rancangan RPJMD, musrenbang RPJMD, penyusunan rancangan akhir RPJMD dan penetapan perda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat 6 model konseptual untuk memperbaiki situasi permasalahan diantaranya model pendekatan perencanaan pembangunan, model keterkaitan antar bab, model hubungan perencana dengan administrator, model partisipasi masyarakat, model finalisasi dokumen serta model pendekatan politis FIA UB. All rights reserved. 1. Pendahuluan Indonesia sebagai negara yang menganut sistem negara kesatuan, aktivitas pemerintahan tidak hanya berada di level pusat, tetapi juga di daerah sebagai konsekuensi dari desentralisasi. Desentralisasi akan Corresponding author. Tel.: ; [email protected] melahirkan otonomi daerah. Salah satu perwujudan dari pelaksanaan otonomi daerah adalah membuat rencana pembangunan daerah. Dalam proses penyusunan sebuah perencanaan khususnya perencanaan pembangunan daerah, tentunya 211
2 sering ditemui permasalahan-permasalahan yang bisa menyebabkan kegagalan atau tidak efektif. Permasalahan tersebut diantaranya: Pertama, masih adanya ego sektoral antara para aparat pemerintah dalam melaksanakan kegiatan pembangunan. Kedua, kurang terpadunya antara perencanaan dan penganggaran. Ketiga, belum optimalnya peran serta masyarakat dalam proses penyusunan rencana pembangunan sehingga kebanyakan perencanaan yang disusun masih bersifat top down planning (Sjafrizal, 2014). Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi proses perencanaan diantaranya faktor lingkungan, faktor jumlah dan kompetensi perencana, faktor sistem yang digunakan, faktor ilmu pengetahuan dan teknologi serta faktor anggaran (Riyadi dan Bratakusumah, 2004). Salah satu perencanaan pembangunan daerah yang strategis adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Proses penyusunan dokumen RPJMD terdiri dari 5 tahapan yaitu 1) Penyusunan Rancangan Awal RPJMD; 2) Penyusunan Rancangan RPJMD; 3) Pelaksanaan Musrenbang RPJMD; 4) Penyusunan Rancangan Akhir RPJMD; dan 5) Penetapan Perda RPJMD. Kelima tahapan tersebut merupakan satu kesatuan yang bersifat siklis dalam sebuah sistem perencanaan pembangun daerah. Setiap tahapan harus dilalui untuk memperoleh dokumen RPJMD yang aplikatif dan implementatif. Dalam prakteknya proses penyusunan dokumen RPJMD juga menemui berbagai permasalahan. Setiap tahapan memiliki karakteristik tersendiri sehingga permasalahannya juga spesifik. Permasalahan pada tahapan penyusunan rancangan awal RPJMD adalah kurang seimbangnya penggunaan pendekatan perencanaan pembangunan dan belum adanya keterkaitan antar bab dalam dokumen perencanaan. Selanjutnya permasalahan pada tahapan penyusunan rancangan RPJMD terkait dengan hubungan antara perencana dengan administrator. Penyusunan dokumen RPJMD juga harus melibatkan partisipasi masyarakat melalui forum musrenbang. Kenyataannya adalah forum tersebut belum optimal dalam menampung aspirasi masyarakat. Tahapan selanjutnya adalah penyusunan rancangan akhir RPJMD dengan permasalahan belum optimalnya proses evaluasi dan tindak lanjut evaluasi oleh pemerintah kabupaten. Terakhir adalah terkait dengan penetapan perda dimana masih didominasi oleh pendekatan politis. Berdasarkan uraian permasalahan dalam proses penyusunan dokumen RPJMD maka diperlukan pendekatan yang tepat untuk memperbaiki situasi permasalahan. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk menganalisis permasalahan yang komplek yang melibatkan banyak stakeholder adalah Soft System Methodology (SSM). SSM adalah sebuah pendekatan untuk memecahkan situasi masalah yang kompleks dan tidak terstruktur berdasarkan analisis holistik dan berpikir sistem (Checkland & Scholes, 1990:22). Fokus dari SSM adalah untuk menciptakan sistem aktivitas dan hubungan manusia dalam sebuah organisasi dalam rangka mencapai tujuan bersama. 2. Teori 2.1 Teori Perencanaan Perencanaan adalah proses yang berkesinambungan yang mencakup keputusan-keputusan atau pilihanpilihan berbagai alternatif penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pada masa yang akan datang (Tarigan, 2005:4). Teori perencanaan tidak terlepas dari buku Theory Planning karangan Andreas Faludi. Faludi (1973) membagi model perencanaan menjadi dua tipe, yaitu teori prosedural dan teori substantif. Substantive theory Procedural theory Gambar 1 Teori Prosedural dan Subtantif Sumber: Faludi (1973:7) Menurut Faludi, penyerapan substansi metode dari disiplin ilmu lain sering disebut substantif theory atau theory in planning. Sementara teori perencanaan disebut sebagai procedural theory atau theory of planning. Dalam praktiknya tidak dapat dipisahkan antara kedua teori tersebut dan akan membentuk kolaborasi yang disebut perencanaan efektif. Perencanaan dalam domain publik memaksa adanya kolaborasi tersebut. Secara teoritis seharusnya teori prosedural memiliki peran yang lebih besar daripada teori subtantif. Namun kenyataannya dalam praktik adalah sebaliknya. 2.2 Proses Perencanaan Procedural theory Substantive theory Output dari kegiatan perencanaan adalah dokumen perencanaan, namun hal yang tidak dapat diabaikan adalah kualitas proses dalam mencapai dokumen tersebut. Menurut Conyers dan Hills (1990:74) proses perencanaan digambarkan suatu siklus yang terdiri dari decision to adopt planning, establish organizational framework, specify planning goal, formulate objective, collect and analyse data, identify alternative, appraise alternative, sellect prefered alternative, implement, monitor and evaluated. Terdapat beberapa poin yang harus diperhatikan dalam memahami dan mengimplementasikan proses perencanaan diantaranya (Pontoh dan Kustiawan, 2009:312): a) Proses perencanaan dipandang sebagai sebuah siklis dari serangkaian tahapan yang menjembatani 212
3 penyusunan tujuan dan program sebagai implementasinya; b) Sebagai satu kesatuan maka tiap tahapan tidak boleh terisolasi dari tahapan lainnya. Implikasinya adalah setiap tahapan tidak hanya mempengaruhi tahapan terdekat sebelum dan sesudahnya; dan c) Tiap tahapan tidak selalu dilakukan secara sekuensial. 2.3 Perencanaan Pembangunan Daerah Riyadi dan Bratakusuma (2004) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perencanaan pembangunan daerah adalah kestabilan politik dan keamanan dalam negeri, dilakukan oleh ahli di bidangnya, realistis sesuai dengan kemampuan dana, koordinasi yang baik, top down dan bottom up planning, sistem pemantauan dan pengawasan yang terus menerus serta transparansi dan dapat diterima masyarakat. Selanjutnya manfaat perencanaan pembangunan daerah, adalah sebagai berikut (Bastian, 2009): a) Sebagai pedoman bagi pelaksanaan kegiatan dalam mencapai tujuan; b) Sebagai alat ukur, standar pengawasan atau evaluasi; dan c) Sebagai bahan perkiraan penentuan alternatif terbaik dalam skala penggunaan sumber-sumber daya yang tersedia. Dalam proses perencanaan pembangunan daerah tentunya membutuhkan sinkronisasi dan penggunaan pendekatan perencanaan yang tepat. Menurut Undang- Undang mor 25 Tahun 2004 tentang SPPN maka pendekatan perencanaan perencanaan pembangunan adalah pendekatan teknokratis, politis, partisipatif serta top down dan bottom up. 2.4 Stakeholder dalam Perencanaan Dalam perencanaan pembangunan, stakeholder yang terlibat adalah perencana, administrator, politisi dan masyarakat. Perencanaan merupakan proses pengambilan keputusan yang kompleks dan melibatkan berbagai jenis orang atau pihak. Konsekuensinya, perencana harus mampu bekerja sama dengan siapapun dan pihak manapun yang terlibat dalam proses perencanaan (Conyers, 1994). 3. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan Soft System Methodology (SSM) untuk memperbaiki situasi permasalahan yang sistemik dalam proses penyusunan dokumen RPJMD. Penelitian menggunakan SSM berasumsi bahwa permasalahan yang dihadapi adalah situasi masalah yang complex pluralist (Wilopo, 2013). Hal ini sesuai dengan karakter permasalahan penelitian yang berada pada wilayah human activity system yang memunculkan banyak sudut pandang (worldview/ 213 weltanschauung). SSM merupakan metodologi action research untuk mengeksplorasi, menanyakan dan belajar mengenai situasi masalah yang tidak terstruktur agar dapat memperbaikinya. Data dikumpulkan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan focus group discussion (FGD). Setelah data berhasil dikumpulkan maka tahapan selanjutnya adalah analisis data. Analisis data dalam penelitian ini mengacu pada tahapan analisis dalam penelitian yang menggunakan SSM. Menurut Checkland dan Scholes (1990), operasionalisasi dari SSM memiliki tujuh tahapan, yaitu: a) Mengenali situasi masalah; b) Mengungkapkan situasi masalah; c) Membuat definisi akar (root definition); d) Membangun model konseptual; e) Membandingkan model konseptual dengan dunia nyata (real world); f) Melakukan perubahan dan perbaikan model; serta g) Melaksanakan tindakan untuk perbaikan situasi permasalahan. Penelitian ini hanya sampai pada tahap enam karena keterbatasan waktu. 4. Hasil Penelitian dan Pembahasan 4.1 Proses Penyusunan Dokumen RPJMD Kabupaten Trenggalek Proses penyusunan dokumen RPJMD Kabupaten Trenggalek terdiri dari 5 (lima) tahapan. Tahapan pertama proses penyusunan dokumen RPJMD adalah penyusunan rancangan awal RPJMD. Didalam tahap ini juga dilakukan persiapan yaitu penyusunan rancangan teknokratis, pembentukan tim, orientasi RPJMD dan penyusunan agenda kerja. Setelah melakukan persiapan maka tahap penyusunan rancangan awal RPJMD dilalui melalui pengumpulan dan pengolahan data; penelaahan RTRW; analisis gambaran umum kondisi daerah; analisis keuangan daerah; perumusan permasalahan; penelaahan RPJMN dan RPJMD; analisis isu-isu strategis; penelaahan RPJPD; perumusan visi misi; perumusan tujuan dan sasaran; perumusan strategi dan arah kebijakan; perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah; penyusunan indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan; penetapan indikator kinerja daerah; pembahasan dengan perangkat daerah; konsultasi publik dan pembahasan dengan DPRD. Strukturisasi permasalahan yang ada dalam proses penyusunan dokumen rancangan awal RPJMD adalah belum seimbangnya penggunaan pendekatan perencanaan pembangunan yang digunakan dimana masih didominasi oleh pendekatan teknokratis dan politis. Pendekatan lain seperti pendekatan partisipastif melalui forum konsultasi publik belum efektif dalam menampung usulan dan kebutuhan masyarakat. Selain
4 itu, pendekatan top down dan bottom up belum optimal yang ditandai dengan belum adanya sinkronisasi antar dokumen perencanaan seperti RTRW, RPJMD, KLHS, RKPD dan RPJPD. Strukturisasi permasalahan yang lainnya dalam tahap penyusunan rancangan awal RPJMD adalah belum adanya keterkaitan antar bab dalam dokumen perencanaan. Keterkaitan antar bab dalam dokumen penting untuk menjaga konsistensi antara rencana dan program yang akan dilakukan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi masyarakat. Tahapan kedua adalah penyusunan rancangan RPJMD. Pada intinya tujuan tahap ini adalah sinkronisasi antara rancangan awal RPJMD dengan rancangan Renstra-PD. Tahap yang dilakukan adalah penyiapan surat edaran perihal penyusunan Renstra-PD dan melakukan verifikasi dan integrasi Renstra-PD menjadi rancangan awal RPJMD. Strukturisasi permasalahan yang ada dalam proses penyusunan rancangan RPJMD adalah kurangnya koordinasi dan komunikasi antara personil perangkat daerah yang menangani perencanaan dengan kepala Perangkat Daerah, masih adanya persepsi bahwa urusan perencanaan adalah urusannya Bappeda saja, tidak adanya Juklak/ Juknis mengenai sinkronisasi RPJMD dengan Renstra Perangkat Daerah dan peran Bappeda yang dominan dalam proses mengintegrasikan rancangan awal RPJMD dengan rancangan Renstra Perangkat Daerah Setelah selesai menyusun rancangan RPJMD, tahap ketiga adalah pelaksanaan musrenbang RPJMD. Musrenbang RPJMD merupakan pendekatan perencanaan pembangunan partisipatif dan bottom-up. Tujuan dari forum ini adalah untuk membahas dan menyepakati rancangan RPJMD sebelum ditetapkan menjadi rancangan akhir RPJMD. Strukturisasi permasalahan yang ada adalah belum optimalnya musrenbang sebagai wadah untuk partisipasi masyarakat yang disebabkan oleh 2 hal, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat dan pengetahuan terkait dengan penyusunan dokumen RPJMD serta tidak ada jaminan bahwa usulanusulan masyarakat dalam musrenbang akan diakomodasi dalam dokumen RPJMD Setelah dilakukannya Musrenbang, tahap berikutnya dalam proses penyusunan dokumen RPJMD adalah menyusun rancangan akhir RPJMD untuk memastikan apakah hasil Musrenbang telah diakomodasi oleh tim penyusun RPJMD dan menyampaikan Raperda RPJMD kepada Gubernur untuk mendapatkan evaluasi. Strukturisasi permasalahan yang ada adalah belum optimalnya evaluasi proses penyusunan dokumen RPJMD karena hanya dilakukan pada tahap akhir, belum diserahkannya hasil revisi dokumen rancangan akhir RPJMD sebagai tindak lanjut evaluasi kepada Gubernur dan lemahnya bargaining power gubernur dalam melakukan evaluasi rancangan Perda RPJMD Untuk melegalkan dokumen RPJMD sesuai dengan ketentuan perundang-undangan maka diperlukan persetujuan bersama antara Bupati dengan DPRD dalam bentuk Perda. Strukturisasi permasalahan yang ada adalah dominannya pendekatan politis karena DPRD dapat menentukan apakah menyetujui rancangan Perda RPJMD atau tidak, tidak dilakukan pembahasan raperda di tingkat eksekutif dan belum dilakukan sosialisasi perda. 4.2 Model Konseptual Didalam SSM, kerangka berpikir sistem (system thinking) diawali dengan membuat definisi akar permasalahan (root definition) kemudian dilanjutkan dengan membangun model konseptual berdasarkan definisi permasalahan. Definisi akar permasalahan merupakan tindak lanjut dari strukturisasi permasalahan yang menghasilkan sudut pandang yang relevan. Sudut pandang yang relevan pada setiap tahapan proses penyusunan dokumen RPJMD Kabupaten Trenggalek adalah: a) Root Definition 1 (RD1): Sistem perencanaan pembangunan daerah dalam menyusun rancangan awal RPJMD melalui pengintegrasian dan sinkronisasi antar pendekatan teknokratis, top-down dan bottom-up, politis dan partisipatif untuk mencapai kesepakatan antar seluruh stakeholder ; b) Root Definition 2 (RD2): Sistem perencanaan pembangunan daerah dalam menyusun rancangan awal RPJMD melalui penerapan logical framework analysis dalam proses perencanaan untuk menghasilkan perencanaan yang komprehensif ; c) Root Definition 3 (RD3): Sistem koordinasi antar instansi melalui pengintegrasian dan sinkronisasi antara RPJMD dan Renstra-PD untuk menghasilkan rancangan RPJMD ; d) Root Definition 4 (RD4): Sistem perencanaan pembangunan partisipatif melalui penerapan perencanaan bergaransi untuk menjamin usulanusulan masyarakat diakomodasi dalam dokumen RPJMD ; e) Root Definition 5 (RD5): Sistem perencanaan pembangunan daerah dalam menyusun rancangan akhir RPJMD melalui tindaklajut hasil evaluasi Gubernur untuk menghasilkan dokumen yang berkualitas dan konsisten dengan dokumen perencanaan lainnya ; dan f) Root Definition 6 (RD6): Sistem yang dimiliki dan dioperasionalkan oleh Pemkab Trenggalek bersama dengan DPRD dalam rangka menghasilkan regulasi melalui hukum formal dalam penyusunan Perda untuk menjamin pelaksanaan pembangunan jangka menengah. 214
5 Root definition akan diekspresikan dengan CATWOE yang merupakan akronim dari Costumer (pihak yang diuntungkan atau dirugikan akibat transformasi), Actor (pihak yang melakukan transformasi), Transformasi (perubahan input menjadi output), Worldview (sudut pandang), Owner (pihak yang dapat menghentikan aktivitas perubahan), Environmental Contrains (hambatan lingkungan). Selain itu dilakukan pengukuran kinerja melalui Efficacy, Efficiency dan Effectivity (3E s). Analisis CATWOE dan 3E s untuk setiap tahapan dalam proses penyusunan dokumen RPJMD Kabupaten Trenggalek dapat dilihat pada tabel 1 berikut: Tabel 1 Root Definition 1 (RD1) dan 3E pada Tahapan Penyusunan Rancangan Awal RPJMD 1 Costomer 2 Actors Bappeda 3 Transformation 4 Worldview/weltansch auung Pemerintah kabupaten, DPRD, masyarakat dan swasta Penggunaan pendekatan teknokratis, top-down dan bottom-up, politis dan partisipatif yang seimbang Pengintegrasian antar pendekatan perencanaan penting untuk mengakomodasi semua kepentingan stakeholder 5 Owner Kepala Daerah dan DPRD 6 Environmental constrain: E-Efikasi Political will pimpinan perangkat daerah yang masih rendah Kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam berpartisipasi yang masih rendah. Penggunaan pendekatan perencanaan yang seimbang dalam menyusun dokumen perencanaan Menggunakan sumber daya finansial dan waktu yang minimum Tersusunnya rancangan awal RPJMD yang mengintegrasikan dan menyelaraskan antar pendekatan perencanaan baik top down bottom up, teknokratis, partisipatif dan politis Tabel 2 Root Definition 2 (RD2) dan 3E pada Tahapan Penyusunan Rancangan Awal RPJMD 1 Costomer 2 Actors Bappeda 3 Transformation 4 Worldview/weltanschauu ng Pemerintah kabupaten, DPRD, masyarakat dan swasta Penerapan logical framework analysis antar bab dalam dokumen RPJMD Keterkaitan antar bab dalam dokumen RPJMD penting untuk merumuskan arah kebikanan 5 tahun ke depan berdasarkan pada permasalahan pembangunan daerah, isu strategis dan kebutuhan masyarakat 5 Owner Kepala Daerah, DPRD Kepentingan politis Environmental constrain Perbedaan persepsi antar stakeholder 6 E-Efikasi Penggunaan logical framework untuk memastikan keterkaitan antar bab dalam dokumen perencanaan Menggunakan sumber daya finansial dan waktu yang minimum Tersusunnya rancangan awal RPJMD 215 yang berkualitas dan komprehensif Tabel 3 Root Definition 3 (RD3) dan 3E pada Tahapan Penyusunan Rancangan RPJMD 1 Costomer 2 Actors Bappeda 3 Transformation 4 Worldview/weltans chauung Kepala Daerah, DPRD, Bappeda, Perangkat Daerah, masyarakat dan swasta Koordinasi dan komunikasi antara Bappeda dengan Perangkat Daerah yang lebih baik Koordinasi dan komunikasi penting untuk mengintegrasikan dan mensinkronkan antara dokumen RPJMD dengan dokumen Renstra Perangkat Daerah 5 Owner Kepala Daerah dan DPRD 6 Environmental constrain E-Efikasi Political will kepala perangkat daerah yang masih rendah Terbatasnya waktu penyusunan rancangan Renstra Perbedaan pemahaman dalam menerjemahkan visi dan misi kepala dan wakil kepala daerah Integrasi dan sinkronisasi antara rancangan RPJMD dengan rancangan Renstra Perangkat Daerah Menggunakan sumber daya finansial dan waktu yang minimum Tersusunnya rancangan RPJMD yang selaras dengan rancangan Renstra Perangkat Daerah Tabel 4 Root Definition 4 (RD4) dan 3E pada Tahapan Musrenbang RPJMD 1 Costomer Masyarakat dan swasta 2 Actors Bappeda, Kepala Daerah, DPRD 3 Transformation Penjaminan usulan-usulan masyarakat hasil Musrenbang ke dalam dokumen RPJMD 4 Worldview/weltanscha uung Penjaminan usulan-usulan masyarakat penting untuk mewujudkan partisipasi yang sebenarnya (bukan partisipasi semu) 5 Owner Kepala Daerah dan DPRD 6 Environmental constrain E-Efikasi Political will Kepala Daerah dan DPRD Rendahnya kesadaran partisipasi dan pengetahuan masyarakat Pendekatan partisipatif dalam perencanaan pembangunan daerah Menggunakan sumber daya finansial dan waktu yang minimum Terakomodasinya pendekatan partisipatif dalam penyusunan dokumen RPJMD Tabel 5 Root Definition 5 (RD5) dan 3E pada Tahapan Penyusunan Rancangan Akhir RPJMD 1 Costomer 2 Actors Bappeda Bappeda, Perangkat Daerah dan masyarakat Terwujudnya dokumen rancangan akhir 3 Transformation RPJMD yang mengakomodasi hasil evaluasi Gubernur 4 Worldview/weltansc Tindaklanjut evaluasi Gubernur penting
6 hauung untuk menjamin konsistensi tindaklanjut hasil Musrenbang dan keselarasan antar dokumen perencanaan 5 Owner Kepala Daerah, DPRD, Gubernur 6 Environmental constrain E-Efikasi Perbedaan persepsi antara pemerintah kabupaten dengan pemerintah provinsi Waktu proses evaluasi yang mendekati batas akhir Proses evaluasi Gubernur beserta tindaklanjutnya Menggunakan sumber daya finansial dan waktu yang minimum Tersusunnya rancangan akhir RPJMD yang menindaklanjuti hasil evaluasi Gubernur Tabel 6 Root Definition 6 (RD6) dan 3E pada Tahapan Penetapan Perda 1 Costomer Pemerintah Kabupaten, DPRD, masyarakat, swasta 2 Actors Pemerintah Kabupaten, DPRD 3 Transformation 4 6 Worldview/weltansc hauung Terwujudnya penetapan Perda RPJMD yang merupakan komitmen bersama penyelenggara pemerintahan daerah dalam melaksanakan pembangunan Perda RPJMD yang aplikatif penting untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan pembangunan jangka menengah 5 Owner Kepala Daerah, DPRD dan Gubernur Political will kepala daerah, DPRD Environmental dan perangkat daerah constrain Keterbatasan waktu proses penepatan Perda E-Efikasi Penetapan rancangan Perda menjadi Perda RPJMD Menggunakan sumber daya finansial dan waktu yang minimum Ditetapkannya Perda RPJMD yang aplikatif Berdasarkan analisis CATWOE dan 3E sebagaimana dijelaskan pada tabel-tabel sebelumnya maka yang harus diperhatikan dalam melakukan analisis CATWOE adalah proses perubahan (transformasi) berdasarkan sudut pandang yang relevan (worldview) karena setiap situasi permasalahan yang dihadapi tentunya menginginkan sebuah perubahan agar permasalahan tidak terulang. Setelah perubahan maka selanjutnya ditentukan siapa yang menjadi costumer, actors, owner serta hambatan lingkungan (environmental constrasin) yang mempengaruhi sistem. Perubahan yang dilakukan juga harus diukur dengan kriteria 3E. Efikasi menjawab pertanyaan apa perubahan yang dilakukan, efisiensi menjawab pertanyaan bagaimana perubahan tersebut dilakukan sedangkan efektivitas menjawab pertanyaan apa tujuan jangka panjangnya. Setelah dilakukan tahap ke tiga dari analisis SSM yaitu pembuatan definisi akar permasalahan (root definition) maka langkah selanjutnya adalah membuat model konseptual. Model konseptual merupakan model yang dihasilkan dari root definition bukan model dari yang lain. Model konseptual berisi aktivitas yang bertujuan (purposeful activity) yang merupakan representasi dari semua hal pada situasi nyata dengan memperhitungkan konsep-konsep dari aktivitas-aktivitas bertujuan yang sebenarnya. Menurut Checkland dan Poulter (2006), Fitriati (2015:94-95), langkah-langkah utama dalam pembuatan model konseptual, adalah sebagai berikut: a) Menyusun garis besar pedoman: root definition dan CATWOE; b) Aktivitas yang bertujuan dikelompokkan menjadi kelompok aktivitas yang terkait dengan sesuatu yang ditransformasikan, kelompok aktivitas yang terkait dengan pihak yang melakukan transformasi dan kelompok aktivitas yang terkait dengan entitas yang mengalami transformasi; c) Aktivitas bertujuan menggunakan kata kerja aktif dan kata benda yang terukur; d) Menghubungkan aktivitas-aktivitas yang bertujuan tersebut dengan anak panah yang menandakan saling ketergantungan; e) Menambahkan tiga kriteria pemantauan (monitoring) dan kontrol kinerja dari proses transformasi yang berlangsung; dan f) Meneliti model konseptual yang dibuat dengan tolak ukur atau kriteria root definition dan CATWOE. Terdapat 6 model konseptual berdasarkan pada root definition yaitu model konseptual pendekatan perencanaan pembangunan, keterkaitan antar bab dalam dokumen, hubungan antara perencana dengan adminitrator, perencanaan partisipatif, finalisasi dokumen RPJMD dan pendekatan politis dalam perencanaan. Model konseptual 1 berkaitan dengan pendekatan perencanaan pembangunan. Untuk memperbaiki kompleksitas permasalahan terkait dengan penggunaan pendekatan perencanaan pembangunan maka dilakukan serangkaian aktivitas bertujuan yang sistemik. Aktivitas bertujuan dalam model ini diawali dengan memahami pedoman penyusunan RPJMD, idetifikasi permasalahan dan kebutuhan, aktivitas berikutnya adalah menyusun rancangan teknokratis, merumuskan visi misi, mensinkronisasi dokumen perencanaan, melibatkan masyarakat, membahas dan menyepakati kebijakan, program dan pendanaan dan mengidentifikasi pendekatan perencanaan yang mengakomodasi kepentingan seluruh stakeholder. 216
7 menyusun rancangan renstra, melakukan forum diskusi terarah, melakukan sinkronisasi antar dokumen perencanaan, dan mempertemukan seluruh stakeholder dalam penyepakatan rancangan RPJMD. Gambar 1 Model Konseptual Pendekatan Perencanaan Pembangunan Model konseptual 2 berkaitan dengan keterkaitan antar bab dalam dokumen RPJMD. Untuk memperbaiki kompleksitas permasalahan terkait dengan penggunaan pendekatan perencanaan pembangunan maka dilakukan serangkaian aktivitas bertujuan yang sistemik. Aktivitas bertujuan dalam model ini diantaranya menetapkan kerangka kerja organisasi, mengevaluasi kinerja RPJMD, menerjemahkan visi misi, menetapkan tujuan dan sasaran, menetapkan perangkat daerah yang melaksanakan, mengidentifikasi sumber daya dan merumuskan indikator kinerja daerah. Gambar 3 Model Konseptual Hubungan Antara Perencana dengan Administrator Model konseptual 4 berkaitan dengan perencanaan partisipatif. Untuk memperbaiki kompleksitas permasalahan terkait dengan penggunaan pendekatan perencanaan pembangunan maka dilakukan serangkaian aktivitas bertujuan yang sistemik. Aktifitas bertujuan dalam model ini diantaranya menyusun pedoman pelaksanaan musrenbang, identifikasi stakeholder, menyusun agenda musrenbang, sosialisasi dan publikasi pokok-pokok RPJMD, mengumpulkan saran masukan serta tindak lanjutnya, melaksanakan forum musrenbang dan melakukan kesepakatan hasil musrenbang serta menjamin aspirasi dan kebutuhan masyarakat akan diakomodasi dalam dokumen RPJMD. Gambar 2 Model Konseptual Keterkaitan Antar Bab dalam dokumen perencanaan Model konseptual 3 berkaitan dengan hubungan antara perencana dengan administrator. Untuk memperbaiki kompleksitas permasalahan terkait dengan penggunaan pendekatan perencanaan pembangunan maka dilakukan serangkaian aktivitas bertujuan yang sistemik. Aktivitas bertujuan dalam model ini diantaranya melakukan penyamaan persepsi, menyusun juklak/juknis sinkronisasi RPJMD dan Renstra, menyusun surat edaran, mengolah data dan informasi, Gambar 4 Model Pendekatan Partisipatif dalam Perencanaan 217
8 Model konseptual 5 berkaitan dengan finalisasi dokumen RPJMD. Untuk memperbaiki kompleksitas permasalahan terkait dengan penggunaan pendekatan perencanaan pembangunan maka dilakukan serangkaian aktivitas bertujuan yang sistemik. Aktivitas bertujuan dalam model ini diantaranya tindaklanjut hasil musrenbang, sosialisasi rancangan akhir RPJMD, menyusun rancangan perda, membahas rancangan perda dengan DPRD, melakukan proses evaluasi RPJMD ke Gubernur, membahas dengan perangkat daerah dan menindaklanjuti hasil evaluasi gubernur. Gambar 5 Model Konseptual Finalisasi Dokumen RPJMD Model konseptual 6 berkaitan dengan pendekatan politis dalam perencanaan. Untuk memperbaiki kompleksitas permasalahan terkait dengan penggunaan pendekatan perencanaan pembangunan maka dilakukan serangkaian aktivitas bertujuan yang sistemik. Aktivitas bertujuan dalam model ini diantaranya merumuskan latar belakang perlunya penetapan perda RPJMD, menyusun naskah akademis dan rancangan perda, melakukan pembahasan rancangan perda dan naskah akademis di tingkat eksekutif, melakukan pembahadan dengan DPRD, konsultasi publik, mengesahkan dan menetapkan rancangan perda menjadi perda, melakukan pengundangan perda dan sosialisasi perda. Gambar 6 Model Konseptual Pendekatan Politis dalam Perencanaan Berdasarkan keenam model konseptual tersebut, maka dibangun model konseptual integratif. Model konseptual integratif merupakan model keseluruhan proses penyusunan dokumen RPJMD di Kabupaten Trenggalek. Model konseptual dari keseluruhan proses penyusunan RPJMD merupakan upaya untuk mengubah input melalui serangkaian proses transformasi yang kemudian menjadi output. Input dari model konseptual tersebut adalah data dan informasi sebagai basis perencanaan, sumberdaya manusia perencana, sumberdaya waktu dan anggaran, pedoman penyusunan dokumen RPJMD, agenda kerja tim penyusun RPJMD serta metodologi yang digunakan. Input tersebut akan ditransformasikan menjadi output, yaitu tersusunnya perda RPJMD yang aplikatif dan dijadikan pedoman bagi pelaksanaan pembangunan tahunan. Dalam kerangka berpikir sistem menggunakan Soft System Methodology (SSM) penyusunan model konseptual diawali dengan analisis CATWOE. Analisis tersebut diawali dengan menentukan perubahan (transformasi) apa yang harus dilakukan. Transformasinya adalah terwujudnya Perda RPJMD yang aplikatif dan dapat dijadikan pedoman bagi pelaksanaan pembangunan selama 5 (lima) tahun. Perda yang aplikatif perlu untuk mewujudkan visi dan misi yang berdasarkan permasalahan dan kebutuhan masyarakat. Mengacu pada tranformasi yang dilakukan tentunya pihak yang diuntungkan (costumer) adalah pemerintah Kabupaten Trenggalek, DPRD, masyarakat dan swasta. Selanjutnya adalah siapa yang melakukan tranformasi (actor) tentunya adalah Bappeda dan seluruh Perangkat Daerah yang bersama-sama mengikuti setiap proses sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Proses penyusunan dokumen RPJMD jika tidak sesuai dengan ketentuan maka kepala daerah, DPRD dan gubernur (owner) dapat menghentikan aktivitas. Proses penyusunan dokumen RPJMD juga dipengaruhi oleh lingkungan eksternal. Lingkungan eksternal yang sangat berpengaruh pada keseluruhan proses yang terjadi adalah perubahan peraturan perundang-undangan dan political will seluruh stakeholder. Model konseptual integratif berisi serangkaian aktivitas-aktivitas bertujuan yang sistemik. Aktivitas bertujuan yang pertama adalah melakukan penyusunan rancangan awal RPJMD. Pada penyusunan rancangan awal RPJMD dilakukan penggunaan berbagai pendekatan perencanaan seperti pendekatan teknokratis, pendekatan politis, pendekatan top down dan bottom up serta pendekatan partisipatif. Selain itu penyusunan rancangan awal RPJMD juga merupakan tahapan pengumpulan dan pengolahan data sehingga berhubungan dengan tahapan yang lainnya. 218
9 5. Kesimpulan Gambar 7 Model Konseptual Keseluruhan Proses Penyusunan Dokumen RPJMD Kabupaten Trenggalek Aktivitas bertujuan yang kedua adalah penyusunan rancangan RPJMD. Penyusunan rancangan RPJMD merupakan tahapan sinkronisasi antara RPJMD dengan Renstra Perangkat Daerah. Tahap ini merupakan dasar bagi pelaksanaan musrenbang RPJMD. Selain itu rancangan RPJMD juga harus selaras dengan rancangan akhir RPJMD untuk menjaga kesinambungan. Rancangan RPJMD yang telah disepakati oleh Bappeda dengan seluruh perangkat daerah kemudian disosialisasikan kepada masyarakat dan melaksanakan forum musrenbang RPJMD untuk menampung aspirasi masyarakat. Hasil dari musrenbang juga digunakan sebagai umpan balik bagi penyempurnaan rancangan RPJMD dan Renstra Perangkat Daerah. Hasil musrenbang RPJMD seharusnya tetap diakomodasi dan dijaga agar usulan-usulan masyarakat tidak tereliminasi di tengah jalan sampai dengan tahap penetapan Perda RPJMD. Sinergitas antara rancangan awal RPJMD, rancangan RPJMD dan hasil musrenbang RPJMD akan menjadi rancangan akhir RPJMD. Selanjutnya aktivitas bertujuan yang terakhir adalah penetapan perda RPJMD agar hasil dari proses perencanaan yang telah dilakukan memiliki dasar hukum yang kuat dan merupakan komitmen bersama antar stakeholder untuk melaksanakan pembangunan jangka menengah daerah. Model konseptual membutuhkan fungsi monitor dan kontrol yang harus dilakukan secara terus menerus. Pedoman untuk melakukan monitor dan kontrol adalah pengukuran kinerja sistem yang harus memenuhi persyaratan 3E s (Efficacy, Effectiveness, Efficiency). Efficacy berkaitan dengan proses penyusunan dokumen RPJMD, efficiency berkaitan dengan penggunaan sumber daya finansial dan waktu yang minimum dan effevtiveness berkaitan dengan terwujudnya perda RPJMD yang aplikatif. Proses monitor dan kontrol tersebut seharusnya dilakukan oleh Kepala Daerah, DPRD (owner) dan Gubernur sebagai perwakilan pemerintah pusat. Proses penyusunan dokumen RPJMD Kabupaten Trenggalek pada dasarnya dilaksanakan melalui tahapan penyusunan rancangan awal RPJMD, penyusunan rancangan RPJMD, musrenbang RPJMD, penyusunan rancnagan akhir RPJMD dan penetapan Perda RPJMD. Proses penyusunan dokumen RPJMD Kabupaten Trenggalek menghadapi kompleksitas permasalahan yang sistemik. Kompleksitas permasalahan tersebut terkait dengan pendekatan perencanaan pembangunan yang digunakan yang masih didominasi oleh pendekatan teknokratis dan politis, belum adanya keterkaitan antar bab dalam dokumen, belum optimalnya koordinasi antara perencana dengan administrator, belum optimalnya proses evaluasi rancangan akhir RPJMD serta masih dominannya pendekatan politis dalam pembahasan raperda. Untuk memperbaiki situasi permasalahan tersebut maka dibangun model konseptual yang dihasilkan dari analisis SSM. Model konseptul tersebut antara lain: a) Model konseptual pendekatan perencanaan pembangunan; b) Model konseptual keterkaitan antar bab dalam dokumen; c) Model konseptual hubungan antara perencana dengan administrator; d) Model konseptual perencanaan partisipatif; e) Model konseptual finalisasi dokumen RPJMD; serta f) Model konseptual pendekatan politis dalam perencanaan. Daftar Pustaka Bastian, Indra. (2009). Sistem Perencanaan dan Penganggaran Pemerintahan Daerah di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat. Conyers, Diana., dan Peter Hills. (1990). An Introduction To Development Planning In The Third World. Chichester, NY: John Wiley dan Sons. Conyers, Diana. (1994). Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga. Diterjemahkan oleh Susetiawan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Checkland, Peter and Scholes, Jim, Soft System Methodology in Action. Chicester: John Wiley and Sons. Checkland, Peter., and John Poulter. (2006). Learning for Action: A Short Definitive Account of Soft System Methodology and its use for Practitioners, Theachers and Students. Chichester: John Wiley and Sons, Ltd. Faludi, Andreas. (1973). Planning Theory. UK: Pergamon Press. Fitriati, Rachma. (2015). Menguak Daya Saing UMKM di Indonesia: Sebuah Riset Tindakan Berbasis 219
10 Soft System Methodology. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Pontoh, Nia., dan Kustiawan, Nia. (2009). Pengantar Perencanaan Perkotaan. Bandung: ITB. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Trenggalek Tahun Riyadi, Supriady dan Bratakusumah, Deddy. (2004). Perencanaan Pembangunan Daerah: Strategi Menggali Potensi Dalam Mewujudkan Otonomi Daerah. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Sjafrizal. (2014). Perencanaan Pembangunan Daerah Dalam Era Otonomi Daerah. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Tarigan, Robinson. (2005). Perencanaan Pembangunan Wilayah: Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. Undang-Undang mor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Wilopo. (2013). Perbaruan Kelambagaan dan Tata Kelola Dalam Rangka Perbaikan Pelayanan ICT USO. Disertasi Departemen Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Jakarta: Universitas Indonesia. 220
Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP) URL: ej our na lf ia. ub.ac. id/ i nde x.p hp/j ia p
Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP) URL: http:// ej our na lf ia. ub.ac. id/ i nde x.p hp/j ia p JIAP Vol. 2,., pp 21-22, 201 201 FIA UB. All right reserved ISSN 2302-298 e-issn 2503-2887 Analisis
BUPATI SERDANG BEDAGAI PROVINSI SUMATERA UTARA
BUPATI SERDANG BEDAGAI PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA DAN PEDOMAN PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN
BAB I PENDAHULUAN. pemberlakuan otonomi daerah telah berlangsung. dasawarsa sejak pemberlakuan otonomi daerah di tahun 1999.
LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KAB. TEMANGGUNG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RPJMD KAB. TEMANGGUNG TAHUN 2013-2018 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Desentralisasi pemerintahan di Indonesia yang ditandai dengan
GUBERNUR SULAWESI BARAT
GUBERNUR SULAWESI BARAT RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR TAHUN 2017 TENTANG PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN PENGANGGARAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI BARAT,
TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG Bagian Hukum Setda Kabupaten Bandung
WALIKOTA CIREBON PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA CIREBON
WALIKOTA CIREBON PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA CIREBON DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CIREBON, Menimbang
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI BANDUNG, Menimbang : a. bahwa berdasarkan
PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG TATA LAKSANA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
1 PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG TATA LAKSANA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MADIUN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR. No. 1, 2013 Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0085
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR No. 1, 2013 Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0085 PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM
BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
SALINAN BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO, Menimbang: a. bahwa dalam
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah
BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO, Menimbang : bahwa
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang disingkat RPJMD sebagaimana amanat Pasal 264 ayat (1) Undang-Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah ditetapkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan pembangunan daerah merupakan suatu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. Hal ini dimaksudkan agar perencanaan pembangunan daerah senantiasa
BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG
BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM PERENCANAAN, PENGANGGARAN, DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH KABUPATEN BANGKALAN TAHUN BAB I PENDAHULUAN
-1- Lampiran Peraturan Daerah Kabupaten Bangkalan Tanggal : 09 Desember 2010 Nomor : 12 Tahun 2010 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH KABUPATEN BANGKALAN TAHUN 2005 2025 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar
PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG
BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kota Jambi RPJMD KOTA JAMBI TAHUN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan proses perubahan kearah yang lebih baik, mencakup seluruh dimensi kehidupan masyarakat suatu daerah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan
LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR BALI TANGGAL 25 MEI 2015 NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) PROVINSI BALI TAHUN 2016
LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR BALI TANGGAL 25 MEI 2015 NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) PROVINSI BALI TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIAMIS,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIAMIS, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan yang
BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG MEKANISME TAHUNAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG,
1 BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG MEKANISME TAHUNAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa untuk lebih menjamin ketepatan dan
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA TANGERANG SELATAN
Bab I Pendahuluan 1.1. LatarBelakang Pembangunan pada hakikatnya merupakan suatu proses yang berkesinambungan antara berbagai dimensi, baik dimensi sosial, ekonomi, maupun lingkungan yang bertujuan untuk
BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA, Menimbang : a. bahwa
BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
-1- BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR, Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 27 ayat
LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 02 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH
LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 02 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DEPOK,
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2017 NOMOR 3
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2017 NOMOR 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan Pembangunan Daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya, guna pemanfaatan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG TIMUR, Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan
KAIDAH PERUMUSAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
KAIDAH PERUMUSAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Disampaikan dalam acara: Workshop Perencanaan Pembangunan Daerah Metro Lampung, 30-31 Oktober 2017 Digunakan dalam perumusan: Rancangan awal RPJPD
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA SALINAN NOMOR : 3 TAHUN 2012 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA Menimbang :
BUPATI MALUKU TENGGARA
SALINAN N BUPATI MALUKU TENGGARA PERATURAN BUPATI MALUKU TENGGARA NOMOR 3.a TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN UMUM PERENCANAAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALUKU
1.1. Latar Belakang. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Mandailing Natal Tahun I - 1
1.1. Latar Belakang RPJMD merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Bupati Mandailing Natal yang akan dilaksanakan dan diwujudkan dalam suatu periode masa jabatan. RPJMD Kabupaten Mandailing Natal
LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 07 TAHUN 2013 BAB I PENDAHULUAN
LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 07 TAHUN 2013 Rencana Pembangunan TANGGAL Jangka : 11 Menengah JUNI 2013 Daerah BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan pembangunan memainkan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan pembangunan daerah merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional, yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan
GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa penyelenggaraan desentralisasi dilaksanakan dalam bentuk pemberian kewenangan Pemerintah
TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (SKPD)/OPD
If You Fail to Plan, You Plan to Fail TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (SKPD)/OPD Oleh : WALUYO,Drs,. S.Sos,. M.Si Disampaikan Dalam Rangka Bintek Penyusunan
BUPATI TEMANGGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
BUPATI TEMANGGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TEMANGGUNG, Menimbang : a. bahwa berdasarkan
BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : Mengingat : BUPATI
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Pengantar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengantar Pembaharuan tata kelola pemerintahan, termasuk yang berlangsung di daerah telah membawa perubahan dalam berbagai dimensi, baik struktural maupun kultural. Dalam hal penyelenggaraan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
RPJMD Kabupaten Jeneponto Tahun ini merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Bupati dan Wakil Bupati Jeneponto terpilih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dan regional, juga bermakna sebagai pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan
PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA, Menimbang : a. bahwa agar kegiatan pembangunan
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 21 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA, MEKANISME DAN TAHAPAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 21 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA, MEKANISME DAN TAHAPAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. b. bahwa
PERATURAN DAERAH NO. 07 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN
PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO PERATURAN DAERAH NO. 07 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN 2013-2018 JL. RAYA DRINGU 901 PROBOLINGGO SAMBUTAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI BULUKUMBA NOMOR 53 TAHUN
BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI BULUKUMBA NOMOR 53 TAHUN TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA NOMOR 16 TAHUN 2014 TENTANG PENGARUSUTAMAAN
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pada pasal 260 menyebutkan bahwa Daerah sesuai dengan kewenangannya menyusun rencana pembangunan Daerah
RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) TAHUN 2017 BAB I PENDAHULUAN
LAMPIRAN PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH TAHUN 2017 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) TAHUN 2017 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Undang-Undang
SALINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GUNUNGKIDUL,
SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DAN PELAKSANAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN
6. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104,
SALINAN BUPATI TASIKMALAYA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
LEMBARAN DAERAH KOTA SUKABUMI
LEMBARAN DAERAH KOTA SUKABUMI TAHUN 2010 NOMOR 6 PERATURAN DAERAH KOTA SUKABUMI Tanggal : 26 Nopember 2010 Nomor : 6 Tahun 2010 Tentang : TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2016
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2016 PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA I-0 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
RENCANA STRATEGIS BAPPEDA KOTA BEKASI TAHUN (PERUBAHAN II)
RENCANA STRATEGIS BAPPEDA KOTA BEKASI TAHUN 2013-2018 (PERUBAHAN II) B a d a n P e r e n c a n a a n P e m b a n g u n a n D a e r a h y a n g P r o f e s i o n a l, A n d a l d a n K r e d i b e l Untu
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Untuk menjalankan tugas dan fungsinya, pemerintah daerah memerlukan perencanaan mulai dari perencanaan jangka panjang, jangka menengah hingga perencanaan jangka pendek
LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR
LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2008 NOMOR 1 SERI E PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BOGOR,
BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG
LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021 BAB 1. PENDAHULUAN
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Blitar 2005-2025
BAB I PENDAHULUAN A. UMUM Di era otonomi daerah, salah satu prasyarat penting yang harus dimiliki dan disiapkan setiap daerah adalah perencanaan pembangunan. Per definisi, perencanaan sesungguhnya adalah
PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN
PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA SELATAN, Menimbang
RKPD Kabupaten OKU Selatan Tahun 2016 Halaman I. 1
Lampiran : Peraturan Bupati OKU Selatan Nomor : Tahun 2015 Tentang : Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Tahun Anggaran 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Untaian
I - 1 BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR : 2 TAHUN 2009 TANGGAL : 14 MARET 2009 TENTANG : RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2008-2013 BAB I PENDAHULUAN
2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166,
No.1312, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDAGRI. Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Raperda tentang RPJP Daerah dan RPJM Daerah serta Perubahan RPJP
Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (Jangka Panjang dan Menengah) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang 2016
Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (Jangka Panjang dan Menengah) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang 2016 Definisi Perencanaan adalah menentukan tindakan masa depan melalui uruta
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG Nomor : 1 Tahun 2009 PEMERINTAH KABUPATEN MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG Nomor : 1 Tahun 2009 PEMERINTAH KABUPATEN MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Dalam rangka
ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN BAB I PENDAHULUAN
- 1 - LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2013-2017 ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA SELATAN,
PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN
BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I Pemerintah Provinsi Banten PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Perencanaan merupakan suatu proses pengambilan keputusan untuk menentukan tindakan masa depan secara tepat dari sejumlah pilihan, dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
LAMPIRAN PERATURAN BUPATI TEMANGGUNG NOMOR : 22 TAHUN 2013 TANGGAL : 17 MEI 2013. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah Kabupaten Temanggung Tahun 2014 merupakan pelaksanaan pembangunan
KEBIJAKAN SINKRONISASI PENANGANAN KAWASAN KUMUH DALAM DOKUMEN RPJMN DAN RPJMD
KEBIJAKAN SINKRONISASI PENANGANAN KAWASAN KUMUH DALAM DOKUMEN RPJMN DAN RPJMD A. DAMENTA Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan II Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah OUTLINE 1 2 SINKRONISASI
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bahwa untuk menjamin pembangunan dilaksanakan secara sistematis, terarah,
BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU
BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI ROKAN HULU NOMOR 23 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI ROKAN HULU,
RKPD Tahun 2015 Pendahuluan I -1
1.1 Latar Belakang Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
BUPATI JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
SALINAN BUPATI JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka
BAB I PENDAHULUAN. tepat melalui serangkaian pilihan pilihan, dan juga merupakan proses yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat melalui serangkaian pilihan pilihan, dan juga merupakan proses yang berkelanjutan termasuk
BAB I 1 BAB I PENDAHULUAN
BAB I 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan Pembangunan Daerah memiliki arti sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan menjadi pedoman dalam pelaksanaan pembangunan. Sesuai dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan bagian dari Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), seperti tercantum dalam Undang- Undang Nomor
KABUPATEN CIANJUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIANJUR NOMOR 08 TAHUN 2011 TENTANG SISTEM PERENCANAANN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN CIANJUR
LEMBARAN DAERAH NOMOR 36 KABUPATEN CIANJUR TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIANJUR NOMOR 08 TAHUN 2011 TENTANG SISTEM PERENCANAANN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN CIANJUR DENGANN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN GRESIK TAHUN 2018 BAB I PENDAHULUAN
LAMPIRAN PERATURAN BUPATI GRESIK NOMOR : TAHUN 2017 TANGGAL : MEI 2017 1.1. Latar Belakang RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN GRESIK TAHUN 2018 BAB I PENDAHULUAN Rencana Kerja Pemerintah
-1- BUPATI BENGKAYANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG
-1- BUPATI BENGKAYANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN BAPPEDA KOTA BANDUNG TAHUN 2016
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN BAPPEDA KOTA BANDUNG TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan
PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG
PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN KUDUS DENGAN RAHMAT
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2018 BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Jawa Barat adalah suatu muara keberhasilan pelaksanaan pembangunan Jawa Barat. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat mengemban
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanahkan Pemerintah Daerah untuk menyusun perencanaan pembangunan sesuai dengan
DINAS PERHUBUNGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN MUSI RAWAS
DINAS PERHUBUNGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN MUSI RAWAS KATA PENGANTAR Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Musi Rawas sebagai salah satu SKPD di Kabupaten Musi Rawas memiliki
BUPATI BOMBANA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOMBANA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH
BUPATI BOMBANA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOMBANA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOMBANA, Menimbang : a. bahwa sesuai
I. PENDAHULUAN. berwenang menetapkan dokumen perencanaan. Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN 2004) yang kemudian
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perencanaan pembangunan untuk Negara berkembang, termasuk Indonesia, masih mempunyai peranan yang sangat besar sebagai alat untuk mendorong dan mengendalikan proses pembangunan
RENCANA STRATEGIS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN
RENCANA STRATEGIS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2014-2019 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rencana Strategis
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN : PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 54 TAHUN 2008 TANGGAL : 12 SEPTEMBER 2008 TENTANG : RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) DAERAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2008-2013
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI SULAWESI UTARA BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. RPJMD merupakan penjabaran
BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
SALINAN BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SINJAI, Menimbang
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN BREBES TAHUN 2012 2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BREBES, Menimbang
