Bouman Tiroi Situmorang. Technical Section Manager SARI
|
|
|
- Susanto Setiawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN PABRIK PELEBURAN DAN PEMURNIAN TEMBAGA PT SMELTING GRESIK Bouman Tiroi Situmorang Technical Section Manager SARI PT Smelting merupakan pabrik peleburan tembaga pertama dan satu-satunya di Indonesia. Dimu lai pada 1994 ketika PT Freeport Indonesia mengajak Mitsubishi Material Corporation (MMC) untuk bekerjasama membangun pabrik peleburan dan pemurnian tembaga di Indonesia. PT Smelting mulai melakukan konstruksi pabrik tahun 1996, dan membutuhkan waktu 2 tahun untuk menyelesaikannya. Pabrik PT Smelting didesain dengan kapasitas produksi sebesar 2. ton katode tembaga per tahun, yang tercapai pada tahun 21, yaitu 3 tahun setelah pabrik beroperasi. Sebagai pabrik peleburan tembaga independen, pabrik yang tidak memiliki tambang, PT Smelting membeli putus bahan baku berupa konsentrat tembaga dari perusahaan tambang dengan mengacu kepada pasar international. Karena itu, PT Smelting harus beroperasi seefisien dan seefektif mungkin, dengan biaya operasi yang rendah dan menghasilkan produk katode tembaga yang tinggi. Untuk meningkatkan daya saing supaya dapat terus beroperasi, PT Smelting melakukan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap. dalam 3 tahap de ngan biaya investasi seminimal mungkin, sehingga pabrik PT Smelting dapat mencapai kapasitas optimumnya. Paper ini menjelaskan pembangunan dan peningkatan kapasitas produksi yang dilakukan oleh PT Smelting. Kata kunci : PT Smelting, peleburan, pemurnian, tembaga 1. PENDAHULUAN PT Freeport Indonesia dalam perpanjangan kontrak karya keduanya, diharuskan membangun pabrik peleburan dan pemurnian tembaga di Indonesia. Karena itu, pada tahun 1994 PT Freeport Indonesia mengajak Mitsubishi Material Corporation (MMC) untuk bekerja sama membangun pabrik peleburan dan pemurnian tembaga di Indonesia. Pada Februari 1996, PT Smelting (PTS) didirikan sebagai pabrik peleburan dan pemurnian tembaga pertama dan satu-satunya di Indonesia sampai saat ini de ngan investasi awal sekitar US $ 5 juta untuk biaya konstruksi langsung. Pemegang saham PT Smelting adalah Mitsubishi Material Corporation (6,5%), PT Freeport Indonesia (25%), Mitsubishi Corporation Rtm Japan Ltd (9,5%), dan JX Nippon Mining dan Metal Corporation Ltd (5%). Pabrik ini terletak di Gresik, Jawa Timur, dekat kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya. Pembangunan pabrik dimulai pada Juli 1996 dan selesai tahap konstruksi pada Agustus Pabrik memulai tahap uji coba produksi pada Desember 1998 dan melakukan awal produksi komersial Mei PT Smelting awalnya dirancang untuk menghasilkan 2. ton katode tembaga LME Grade A per 37
2 tahun dari pengolahan bahan baku konsentrat tembaga sebesar 66. ton per tahun, yang dihasilkan terutama dari tambang Grasberg di Papua. Produk utama katode tembaga dijual dengan prioritas utama memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan sisanya diekspor ke pasar Asia. Produk samping yakni asam sulfat, terak tembaga dan gipsum dijual ke pa sar dalam negeri. Sedangkan produk samping tembaga telurida dan lumpur anode dieskpor ke pasar internasional. Proses Mitsubishi telah dipilih sebagai proses di unit peleburan. Proses ini merupakan proses yang kontinu yang memiliki teknologi tinggi untuk melebur dan mengkonversi tembaga sehingga menghasilkan produk langsung tembaga blister dari proses pengumpanan konsentrat tembaga. Dengan demikian biaya operasi yang dikeluarkan menjadi efisien dan merupakan proses yang ramah lingkungan. Terhadap tembaga blister ini kemudian dilakukan proses fire refining pada tanur anode untuk mengurangi kandung an sulfur dan oksigen di dalamnya. Setelah itu dicetak dengan menggunakan continuous Hazelett Twin Belt Caster dan dipotong-potong menjadi potong a n yang disebut anode tembaga dengan berat sekitar 4 kg dengan kemurnian 99.4% tembaga. Anode tembaga ini kemudian dibawa ke pabrik pemurnian untuk dimurnikan de ngan menggunakan proses elektrolisis menggunakan teknologi ISA, yang menggunakan pelat stainless steel permanen sebagai kutub katode. Hasil akhir dari proses pemurnian ini adalah katode tembaga dengan kemurnian mencapai 99,99% tembaga. Produk ini terdaf tar di LME Grade A pada tahun 21 dengan nama dagang Gresik Copper Cathode, dan te lah diakui mempunyai kuali tas tembaga terbaik. Teknologi penyerapan ganda dari Lurgi- Mitsubishi digunakan di pabrik asam sulfat untuk mengubah gas SO 2 dari pabrik peleburan menjadi produk samping asam sulfat cair 98,5% yang dapat dijual ke pabrik pupuk yang terletak di sebelah pabrik PT Smelting. 2. PEMBELIAN KONSENTRAT TEMBAGA PT Smelting merupakan pabrik peleburan independen (custom smelter) yang berdiri sendiri dan tidak memiliki tambang tembaga sehingga PT Smelting membeli bahan baku konsentrat tembaga dari perusahaan tambang tembaga. Praktik bisnis yang umum dan pembagian nilai logam dalam industri tembaga global sangat unik (hanya ada pada logam tembaga, seng, timbal dan lumpur anode) dan berbeda dengan pembagian nilai logam pada industri besi/baja, nikel, alumium dan lainnya. Ketika konsentrat tembaga dijual oleh perusahaan tambang kepada pabrik peleburan (smelter), pabrik peleburan membayar seharga 1% harga logam tembaga, emas dan perak yang terkandung di dalam konsentrat, yang kemudian nilainya dikurangi dengan kemampuan untuk mengambil logam dari konsentrat tembaga (recovery ratio) dan biaya mengolah dan memurnikan pada proses peleburan dan pemurnian (TC/ RC). Contoh penetapan harga jual konsentrat tembaga dari perusahaan tambang ke pabrik peleburan dapat dilihat pada Tabel 1. Harga Logam Kontraktual TC/RC (Treatment Charge / Refining Charge) (Pengurangan dari Harga Logam) Tabel 1. Penetapan harga jual konsentrat tembaga Tembaga Emas Perak Harga Pasar pada London Metal Exchange (LME) Harga Pasar pada London Bullion Market (LBM) Ditentukan berdasarkan pasar konsentrat tembaga international (Supply & Demand Konsentrat Dunia) Sebagai contoh pada tahun 214 pembagian nilai logam antara perusahaan tambang tembaga de ngan pabrik peleburan tembaga dapat dilihat pada Tabel 2. 38
3 Tabel 2. Pembagian harga logam antara perusahaan tambang tembaga dan peleburan tembaga 214 Harga ratarata 214 Tipikal TC/RC = Pendapatan Smelter Balance = Pendapatan Tambang Tembaga Tembaga Emas Perak 312. cent /lb 1,266 $/toz 19.8$/toz 26.6 cent /lb [8.5%] cent /lb [91.5%] 5 $/toz [.4%] 1,261 $/toz [ 99.6%].45 $/toz [ 2.4% ] $/toz [97.6%] Dari Tabel 2 dapat terlihat pada tahun 214, perusahaan tambang mendapatkan nilai sebesar 91,5% dari harga logam tembaga, pada tembaga yang terkandung di dalam konsentrat tembaga, 99,6% dari harga logam emas, pada emas yang terkandung di dalam konsentrat tembaga dan 97,6% dari harga logam perak, pada perak yang terkandung di dalam konsentrat tembaga. Sementara pabrik peleburan hanya mendapatkan nilai sebesar 8,5% dari nilai logam tembaga,,4% dari nilai logam emas dan 2,4% dari nilai logam pe rak. Pendapatan yang diterima pabrik peleburan ini digunakan sebagai biaya melebur dan memurnikan konsentrat tembaga menjadi logam tembaga murni. Pabrik peleburan tembaga bisa mendapatkan keuntungan apabila biaya yang dikeluarkan untuk melebur dan memurnikan konsentrat tembaga menjadi logam tembaga lebih kecil dari nilai TC/RC yang didapatkan oleh pabrik peleburan tembaga saat membeli konsentrat tembaga. Hal itu berarti pabrik peleburan harus efisien (biaya operasi yang rendah) serta dapat mengolah dan memurnikan konsentrat tembaga sebanyak mungkin (pabrik dapat beroperasi dengan stabil) sehingga menghasilkan produk katode tembaga yang tinggi. Pembagian nilai logam antara perusahaan tambang tembaga dan pabrik peleburan tembaga menunjukkan bahwa margin yang dimiliki oleh pabrik peleburan tembaga sangat rendah apabila dibanding kan dengan perusahaan tambang tembaga. 3. PENGEMBANGAN PABRIK Kapasitas desain awal pabrik sebesar 2. ton katode tembaga per tahun dapat dicapai pada tahun 21. Kapasitas pabrik peleburan (smelter) dan pabrik pemurnian (refinery) telah meningkat secara bertahap melalui modifikasi-modifikasi kecil dari fasilitas-fasilitas pabrik dan beberapa pengembangan dan perbaikan pada kontrol operasi. Untuk meningkatkan efi siensi pabrik dan dapat menghasilkan produk katode tembaga dalam jumlah besar, PT Smelting melakukan peningkatan kapasitas produksi dengan investasi yang minim dalam beberapa tahap, seperti diuraikan berikut ini. a. Peningkatan Kapasitas Produksi Tahap I Setelah tiga tahun pabrik dapat beroperasi dengan baik, kapasitas desain pabrik telah tercapai dan telah dapat diidentifikasi permasalahan utama yang terjadi untuk proyek peningkatkan kapasitas produksi. PT Smelting melakukan per baikan dan modifikasi pada peralatan-peralatan yang menjadi hambatan dalam peningkatan kapasitas produksi sehingga kapasitas produksi dapat meningkat secara efektif dengan biaya investasi yang sangat kecil. Dari 22 hingga 24, kapasitas produksi pabrik peleburan lebih besar dari pabrik pemurnian, sehingga kelebihan produksi dari pabrik peleburan, dijual sebagai tembaga anode. Ekspansi pabrik pertama kali dimulai pada awal Mei 23 dengan meningkatkan kapa- 39
4 Pada tahun 26 PT Smelting melakukan peningkatan kapasitas produksi tahap kedua. Pada peningkatan kapasitas produksi tahap kedua ini dilakukan dengan cara mengisi ruang kosong di pabrik pemurnian, menambah 36 cell dan memasang rectifier kecil tambahan sehingga dapat meningkatkan produksi katode tembaga sebesar 15. ton per tahun. Layout pabrik pemurnian setelah peningkatan kapasitas produksi tahap II dapat dilihat pada Gamsitas produksi pabrik pemurnian dari 22. ton katode tembaga per tahun pada saat itu menjadi 255. ton sehingga kapasitas pabrik pemurnian dapat menyerap semua kelebihan produksi yang dihasilkan pabrik peleburan. Peningkatan kapasitas produksi ini juga sejalan dengan meningkatnya permintaan tembaga di pasar domestik dan Asia. Perluasan pabrik tahap pertama ini dilakukan dengan cara menambah sejumlah commercial cell di pabrik pemurnian sehingga dapat memanfaatkan kelebihan kapasitas rectifier. Pekerjaan konstruksi perluasan pabrik tahap pertama ini ditunjukkan pada Gambar 1. Tata letak commercial cell di pabrik pemurnian ditunjukkan pada Gambar 2. Pada ekspansi pertama ini, bangunan pabrik pemurnian diperpanjang, sehingga cukup untuk menambah 3 section atau lebih, Penambahan 3 section (section 19, 2 dan 21) dengan penambahan 18 comercial cell dari awalnya 654 cell, jumlah commercial cell di pabrik pemurnian meningkat menjadi 762 cell. Hal itu dapat meningkatkan kapasitas produksi katode tembaga sebesar 35. ton katode tembaga per tahun. Dengan adanya penambahan 18 cell ini kapasitas pabrik pemurnian akan dapat menyerap semua produksi anode tembaga dari pabrik peleburan, sehingga anode tembaga ini akan dimurnikan semuanya di pabrik pemurnian. Perluasan pabrik pemurnian ini masih menyisakan ruang kosong untuk satu bagian lagi, Gambar 1. Pekerjaan konstruksi perluasan pabrik pemurnian tetapi dalam perencanaan ekspansi pertama itu kapasitas smelter dianggap tidak cukup untuk mengisinya. b. Peningkatan Kapasitas Produksi Tahap II Primary Lib 8cells Section1 Section5 Section9,1 54Cells Section11 38Cell Section15 Section19 Secondary Lib 8cells Section2 Section6 Section12 Section16 Section2 Tertiary Lib 16cells Section3 Section4 Section7 Section8 Handling Machine Area Section13 Section14 Section17 Section18 Section21 36 Cells Total 798cells Rectifier A&B 36.5kA Section1~21 1. Section1 6. Section6 11. Section Section17 2. Section2 7. Section7 12. Section Section18,22B 3. Section3 8. Section8 13. Section Section19 4. Section4 9. Section 9,1 14. Section Section2 5. Section5 1. Section Section16 2. Section 21 Total Cropping Group 2 Gambar 2. Layout pabrik pemurnian setelah peningkatan kapasitas produksi Tahap I 4
5 8cells Section1 Section5 Section9,1 54Cells Section11 38Cell Section15 Section19 Secondary Lib 8cells Section2 Section6 Section12 Section16 Section2 Section3 Section7 Handling Machine Area Section13 Section17 Section21 36Cell Tertiary Lib 16cells Section4 Section8 Section14 Section18 Section22A 18Cell Section22B (2nd 18Cell Total 798cells (2nd Rectifier A&B 36.5kA Rectifier C 45kA Section1~2 Section21,22 1. Section1 6. Section6 11. Section Section17 2. Section2 7. Section7 12. Section Section18,22B 3. Section3 8. Section8 13. Section Section19 4. Section4 9. Section 9,1 14. Section Section2 5. Section5 1. Section Section16 2. Section21,22A Gambar 3. Layout pabrik pemurnian setelah peningkatan kapasitas produksi Tahap II bar 3. Jumlah cell meningkat dari 762 menjadi 798 cell dan jumlah bagian menjadi 22 bagian. Produksi katode tembaga aktual pada tahun 27 mencapai 277. ton katode tembaga, lebih besar dari kapasitas produksi setelah eks pansi tahap kedua sebesar 27, ton katode tembaga per tahun berdasarkan kerapatan arus 312 A / m 2. Fasilitas dan peralatan yang ada di pabrik pemurnian seperti recti fier, anode charging facility, fasilitas pengolahan slime, sistem pemurnian elektrolit dan sebagainya tidak memerlukan modifikasi. Modifikasi fasilitas di smelter untuk meningkatkan laju pengumpanan konsentrat (termasuk revert) sebesar 5% dari 118 T/ jam menjadi 124 T / jam dapat diminimalkan. Jumlah total blowing untuk setiap furnace dapat dijaga pada kondisi sekarang dengan cara meningkatkan kandungan oksigen di dalam udara blowing 2 sampai 3%, menjadi sekitar 65% O 2 untuk S furnace dan 37% O 2 untuk C-furnace. Dengan kondisi tersebut, peralatan pada penanganan gas buang tidak perlu dimodifikasi untuk ekspansi ini. Beberapa peralatan pada sistem pengumpanan konsentrat ke furnace dan sistem slag granulasi akan dimodifikasi sebagian. Modifikasi yang dilakukan pada dasarnya hanya dengan meningkatkan kecepatan setiap peralatan kecuali untuk peralatan C furnace feeding vibrating sceen. Untuk meningkatkan kapasitas sistem pengumpanan pneumatik ke dalam S dan C furnace, dilakukan dengan memasang tambahan 1 kompresor udara pneumatik dengan kapasitas yang sama seperti sebelumnya. Setelah peningkatan kapasitas produksi yang pertama, laju pengumpanan konsentrat di smelter sering turun karena konsentrasi SO 2 dalam emisi gas mendekati batas standar emisi gas buang yang ditetapkan pemerintah, yang disebabkan oleh beban SO 2 yang tinggi ke pabrik asam sulfat. Hal itu berarti kapasitas pabrik asam sulfat untuk menyerap gas SO 2 sudah tidak cukup untuk meningkatkan kapasitas produksi lebih lanjut. Untuk mengatasi masalah ini, PT Smelting memasang peralatan baru scrubbing plant di pabrik asam sulfat untuk mengolah gas buang yang dihasilkan. Ini 41
6 Pada tahun 29 PT. Smelting melakukan peningkatan kapasitas produksi tahap III dengan cara meningkatkan rapat arus pada operasi pabrik pemurnian menjadi A/m 2. Konsekuensinya waktu tanam anode akan berubah dari 2 menjadi 19 hari (7 hari untuk tanam pertama dan 12 hari untuk tanam kedua), dan untuk itu berat anode harus disesuaikan dari 394 menjadi 4 kg. Modifikasi yang dilakukan untuk meningkatkan berat anode adalah dengan cara menambah panjang anode sekitar 9 mm dan menjaga ketebalan anode sama se perti kondisi saat ini sebesar 47 mm. Jarak anta ra permukaan anode dan katode dalam cell sebesar 26,5 mm sama dengan kondisi semerupakan proses desulfurizing sederhana dan efisien, proses pemulihan asam encer dengan menggunakan katalis CASOX, yang dikembangkan dan dirancang oleh Chiyoda Co, Ltd. Skematik diagram dari scrubbing plant ditunjukkan pada Gambar 4. Gas buang dari pabrik asam sulfat dialirkan melalui tahap pembasahan (humidifikasi) dan absorpsi tower dengan katalis, SO 2 dalam gas akan teroksidasi menjadi gas SO 3, diserap ke dalam air dan diubah menjadi asam sulfat. Bahan baku yang diperlukan hanyalah air dan produk yang dihasilkan adalah asam sulfat encer, yang dikirim kembali ke pabrik asam sulfat untuk membuat produk asam sulfat. Proses dan peralatan yang digunakan sangat sederhana serta mudah dikontrol, dan investasi yang diperlukan untuk peralatan ini sangat minimum. Teknologi inti dari proses ini adalah katalis baru yang dikembangkan oleh Chiyoda dan telah digunakan di pabrik desulfurizing minyak di Jepang. PT Smelting telah mengkonfirmasi kinerja peralatan ini. Total investasi pada peningkatan kapasitas produksi tahap II ini sekitar 8 juta US $, terutama digunakan untuk modifikasi dan pemasangan peralatan baru di pabrik asam sulfat dan pabrik pemurnian. c. Peningkatan Kapasitas Produksi Tahap III Kapasitas produksi setelah peningkatan produksi tahap kedua dihitung berdasarkan operasi di pabrik pemurnian menggunakan current density (rapat arus) sebesar 312 A / m 2. Sementara banyak pabrik pemurnian lainnya di dunia yang menggunakan proses ISA sudah dioperasikan dengan kerapatan arus yang lebih tinggi sekitar A / m 2. Acid Plant 85m Sulfuric Acid Process Water Catalyst Cooling Tower Absorbing Tower Heat Exchanger Fan Gambar 4. Diagram alir CASOX Scrubbing Plant 42
7 32. Kandungan tembaga dalam konsentrat (%) Kandungan Tembaga di Konsentrat Gambar 5. Kandungan tembaga dalam konsentrat karang. Operasi percobaan pada cell komersial dengan menggunakan rapat arus yang lebih tinggi telah berhasil dilakukan selama setahun dan tidak ada masalah besar yang ditemukan. Dengan demikian, pabrik pemurnian memiliki potensi yang cukup untuk mencapai kapasitas produksi besar, meningkat hingga lebih dari 3. ton per tahun. Dengan meningkatnya kapasitas produksi di pabrik pemurnian menjadi 3. ton, laju pengumpanan konsentrat di smelter juga harus ditingkatkan menjadi 136 ton per jam, peningkatan sebesar 1% jika dibandingkan ka pasitas produksi hasil peningkatan tahap kedua, yang sebesar 124 ton per jam. Dalam kasus ini, Mitsubishi Furnace, S-furnace diameter 1m dan C-furnace diameter 9 m, tidak perlu dimodifikasi. Akan tetapi fasilitas terkait lainnya seperti sistem pengumpanan konsentrat S dan C furnace termasuk di dalamnya proses pengeringan, screening dan sistem pengumpanan pneumatik, sistem slag granulation perlu dilakukan modifikasi sebagian ataupun dengan menambah fasilitas baru sehingga kapasitasnya menjadi lebih besar. Sistem penanganan gas buang termasuk boiler dan electrostatic precipitator, tidak perlu dilakukan modifikasi karena jumlah blowing dijaga tetap, meskipun kandungan oksigen di dalam udara blowing akan dinaikkan lagi. Di pabrik asam sulfat dengan adanya CASOX scrubbing plant yang dipasang pada peningkatan kapasitas produksi tahap II sudah memiliki kapasitas yang cukup untuk mengolah gas sehingga modifikasi tidak diperlukan lagi. Setelah selesai peningkatan kapasitas produksi tahap III, PT Smelting memiliki kapasitas terpasang 3. ton katode tembaga per tahun, yang sudah merupakan kapasitas optimum untuk 1 jalur produksi pabrik peleburan tembaga yang menggunakan teknologi kontinu Mitsubishi. Saat ini kandungan tembaga di dalam konsentrat seperti ditunjukkan dalam Gambar 5 menunjukkan tren yang menurun dari sekitar 3-31% pada awal pabrik beroperasi menjadi sekitar 21-25% saat ini, hal ini merupakan salah satu faktor yang menurunkan kapasitas produksi katode tembaga sehingga sampai saat ini PT Smelting belum pernah mencapai produksi katode tembaga sebesar 3. ton katode tembaga. Untuk meningkatkan produksi katode tembaga akibat penurunan kandungan tembaga dalam konsentrat tembaga, PT Smelting mengolah skrap-skrap tembaga. Gambar 6 menunjukkan konsentrat dan skrap 43
8 Kapasitas produksi awal pabrik tercapai di tahun 21, 3 tahun setelah pabrik beroperasi. Se telah itu agar PT Smelting dapat kompetitif dan bersaing dengan perusahaan peleburan tem baga lain di dunia, secara bertahap PT Smelting melakukan peningkatan produktembaga yang diolah oleh PT Smelting. Sejak tahun 25 ketika kandungan tembaga dalam konsentrat mulai menurun PT Smelting mulai mengolah skrap-skrap tembaga. Hasil produksi katode tembaga PT Smelting ditunjukkan dalam Gambar 7. Produksi tertinggi katode tembaga dicapai pada tahun 29 dengan produksi 288. ton katode tembaga. 4. KESIMPULAN PT Smelting merupakan pabrik peleburan tembaga pertama dan satu-satunya di Indonesia yang dibangun mulai tahun 1996 dengan kapa sitas produksi awal sebesar 2. ton katode tembaga per tahun, untuk mengolah konsentrat tembaga yang dihasilkan perusahaan tambang tembaga di Indonesia. Sebagai perusahaan peleburan independen PT Smelting membeli putus bahan baku konsentrat tembaga dari perusahaan tambang dengan mengacu kepada pasar international. 1,2 Conc. Sec. Scrap Produksi (Ribu Ton per Tahun) Production (K ton/y) 1, , , ,15 1, cathode Scrap Tembaga Gambar 6. Konsentrat dan sekrap tembaga yang diolah Produksi (Ribu Ton per Tahun) Production (K ton/y) Gambar 7. Produksi katode tembaga 44
9 si dalam 3 tahap dengan investasi seminimal mungkin. Tahap I dimulai tahun 23 untuk meningkatkan kapasitas produksi dengan memperluas pabrik pemurnian dan menambah 18 cell elekrolisis di pabrik pemurnian. Kapasitas pabrik meningkat menjadi 255. ton katode tembaga per tahun. Pada tahun 26, Tahap II dimulai dengan menambah kembali 36 cell elektrolisis dan menambah rectifier baru di pabrik pemurnian, serta memasang CASOX scrubbing plant di pabrik asam sulfat. Kapasitas produksi meningkat menjadi 27. ton katode tembaga per tahun. DAFTAR PUSTAKA Handogo, Budi Priyo dan Bouman T Situmorang, 28. PT Smelting, Production Performance and Plant Expansion Milestone, Indonesian Process Metallurgy Conference, ITB Bandung Hideya Sato, Djoko S. Adji, Antonius Prayoga, Bouman Tiroi S, 21. Gresik Operation: Past Present and Future, Proceeding Copper 21 vol 3 Pyrometallurgy II p. 1143, Hamburg, Germany. Pada tahun 29, peningkatan kapasitas produksi Tahap III dilakukan dengan cara menaikkan rapat arus operasi di pabrik pemurnian dari sebelumnya 312 A/m 2 menjadi 33 A/m 2. Kapa sitas produksi meningkat menjadi 3. ton katode tembaga per tahun. Kapasitas produksi 3. ton katode tembaga merupakan kapasitas optimum dari pabrik PT Smelting yang mempunyai 1 jalur produksi dengan teknologi Proses Mitsubisihi. Akan tetapi hingga saat ini PT Smelting belum bisa mencapai produksi 3. ton katode tembaga terutama karena kandungan tembaga dalam konsentrat menurun, dari 3-31% pada awal pabrik beroperasi menjadi sekitar 21-25% saat ini. Untuk mengimbangi turunnya produksi katode tembaga akibat menurunnya kandungan tembaga dalam konsentrat, PT Smelting mengolah sekrap-sekrap tembaga sebagai bahan baku tambahan. 45
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Pengolahan konsentrat tembaga menjadi tembaga blister di PT. Smelting dilakukan menggunakan proses Mitsubishi. Setelah melalui tiga tahapan proses secara sinambung,
STUDI PENGARUH PROSES DELEADING TERHADAP DISTRIBUSI ARSENIK DI DALAM TANUR ANODA PT. SMELTING, GRESIK TUGAS AKHIR
STUDI PENGARUH PROSES DELEADING TERHADAP DISTRIBUSI ARSENIK DI DALAM TANUR ANODA PT. SMELTING, GRESIK TUGAS AKHIR Dibuat untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh Gelar Sarjana Teknik Metalurgi Di Institut
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Metode Penelitian Permasalahan industri Kandungan unsur Pb yang tinggi dalam tembaga blister Studi literatur Perilaku unsur timbal dalam tanur anoda Perilaku
Kebutuhan dan Penyediaan Energi di Industri Smelter Tembaga
Kebutuhan dan Penyediaan Energi di Industri Smelter Tembaga Agus Sugiyono Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi, BPPT, Jakarta Email: [email protected] Abstract Law No. 4 of 2009 on mineral
Trenggono Sutioso. PT. Antam (Persero) Tbk. SARI
Topik Utama Strategi Pertumbuhan Antam Melalui Penciptaan Nilai Tambah Mineral Trenggono Sutioso PT. Antam (Persero) Tbk. [email protected] SARI Undang-Undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dan kilang di Indonesia dengan sekitar US $ 500 juta untuk biaya konstruksi langsung.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Sejarah Perusahaan PT Smelting didirikan pada bulan Februari 1996 sebagai peleburan tembaga pertama dan kilang di Indonesia dengan sekitar
J.Oto.Ktrl.Inst (J.Auto.Ctrl.Inst) Vol 5 (2), 2013 ISSN :
Pembuatan Operator Training Simulator Unit Tanur Anoda dan Pengolahan pada Pabrik Pemurnian Tembaga menggunakan Fasilitas Pemrograman Function Block Distributed Control System Abstrak Nico Febrian Program
BAB I PENDAHULUAN. Hasil tambang baik mineral maupun batubara merupakan sumber
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil tambang baik mineral maupun batubara merupakan sumber daya alam yang tidak terbaharukan (non renewable) yang dikuasai negara, oleh karena itu pengelolaannya
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.35, 2014 KEMENESDM. Peningkatan. Nilai Tambah. Mineral. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PENINGKATAN
J.Oto.Ktrl.Inst (J.Auto.Ctrl.Inst) Vol 5 (2), 2013 ISSN :
Abstrak Pembuatan Operator Training Simulator Unit Smelter pada Pabrik Pemurnian Tembaga Menggunakan Fasilitas Pemrograman Function Block Distributed Control System Widya Prapti Pratiwi, Estiyanti Ekawati
STUDI PERILAKU UNSUR TIMBAL (Pb) PADA PROSES DELEADING DI TANUR ANODA PT. SMELTING, GRESIK TUGAS AKHIR
STUDI PERILAKU UNSUR TIMBAL (Pb) PADA PROSES DELEADING DI TANUR ANODA PT. SMELTING, GRESIK TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi syarat meraih gelar sarjana pada Program Studi Teknik Metalurgi Institut Teknologi
HILIRISASI PEMBANGUNAN INDUSTRI BERBASIS MINERAL TAMBANG
HILIRISASI PEMBANGUNAN INDUSTRI BERBASIS MINERAL TAMBANG Disampaikan oleh : Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Jakarta, 16 Februari 2016 1 TOPIK BAHASAN A PENDAHULUAN
Menimbang Manfaat PT Freeport bagi Indonesia. Indonesia Corruption Watch (ICW) Jakarta, 1 November 2011
Menimbang Manfaat PT Freeport bagi Indonesia Indonesia Corruption Watch (ICW) www.antikorupsi.org Jakarta, 1 November 2011 PT Freeport Indonesia (PTFI) Tahun 1967 Kontrak Karya antara Pemerintah dengan
Kajian SUPPLY DEMAND MINERAL
Kajian SUPPLY DEMAND MINERAL KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, hanya karena perkenan-nya Laporan Kajian Supply dan Demand Mineral 2012 ini dapat selesai. Laporan
BAB I PENDAHULUAN. industri adalah baja tahan karat (stainless steel). Bila kita lihat di sekeliling kita
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan yang signifikan pada industri dunia, diantaranya industri otomotif, konstruksi, elektronik dan industri lainnya pada beberapa dasawarsa terakhir
Cellulose Nano Crystallines (CNC) yang merupakan salah satu biomaterial maju yang mempunyai
1. DESKRIPSI RISET I Sintesis Biomaterial Maju Cellulose Nano Crystallines (CNC) dari Tandan Kelapa Sawit sebagai Material Penyangga Katalis Pt/Rh/Ce untuk Konverter Katalitik 1.1 Deskripsi singkat Seiring
HILIRISASI PEMBANGUNAN INDUSTRI BERBASIS MINERAL TAMBANG
HILIRISASI PEMBANGUNAN INDUSTRI BERBASIS MINERAL TAMBANG Disampaikan oleh : Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Jakarta, 16 Februari 2016 1 TOPIK BAHASAN A PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN. II.1. Electrorefining
BAB II PEMBAHASAN II.1. Electrorefining Electrorefining adalah proses pemurnian secara elektrolisis dimana logam yangingin ditingkatkan kadarnya (logam yang masih cukup banyak mengandung pengotor)digunakan
Bedah Permen ESDM No. 7 Tahun Tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral
Bedah Permen ESDM No. 7 Tahun 2012 Tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral LATAR BELAKANG 1. Selama ini beberapa komoditas mineral (a.l. Nikel, bauksit,
PENGARUH PENAMBAHAN FLUX DOLOMITE PADA PROSES CONVERTING PADA TEMBAGA MATTE MENJADI BLISTER
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. x, No. x, (2014) ISSN: xxxx-xxxx (xxxx-xxxx Print) 1 PENGARUH PENAMBAHAN FLUX DOLOMITE PADA PROSES CONVERTING PADA TEMBAGA MATTE MENJADI BLISTER Girindra Abhilasa dan Sungging
1. PENDAHULUAN. Indocement. Bosowa Maros Semen Tonasa. Semen Kupang
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semen adalah komoditas yang strategis bagi Indonesia. Sebagai negara yang terus melakukan pembangunan, semen menjadi produk yang sangat penting. Terlebih lagi, beberapa
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat Penelitian Proses pelapisan plastik ABS dengan menggunakan metode elektroplating dilaksanakan di PT. Rekayasa Plating Cimahi, sedangkan pengukuran kekasaran, ketebalan
Tentang Pemurnian dan Pengolahan Mineral di Dalam Negeri
Tentang Pemurnian dan Pengolahan Mineral di Dalam Negeri LATAR BELAKANG 1. Selama ini beberapa komoditas mineral (a.l. Nikel, bauksit, bijih besi dan pasir besi serta mangan) sebagian besar dijual ke luar
4.1. TERMODINAMIKA ARSEN DALAM LELEHAN TEMBAGA DAN TERAK
BAB IV PEMBAHASAN Dalam pemurnian anoda, unsur-unsur pengotor dihilangkan dengan cara memisahkan mereka ke dalam terak melalui proses pemurnian oksidasi. Untuk mengetahui seberapa baik proses pemisahan,
- 3 - BAB I KETENTUAN UMUM
- 2 - Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Repub
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.98, 2017 KEMEN-ESDM. Nilai Tambah Mineral. Peningkatan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05 TAHUN 2017 TENTANG PENINGKATAN
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, pit Batu Hijau berpotensi dikembangkan ke fase 7
Oleh: Ignasius Laya Berdasarkan hasil penyelidikan awal, pit Batu Hijau berpotensi dikembangkan ke fase 7 JAKARTA. PT Newmont Nusa Tenggara, anak usaha Newmont Mining Corporation, salah satu dari lima
BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Saat ini hidrogen diproyeksikan sebagai unsur penting untuk memenuhi kebutuhan clean energy di masa depan. Salah satunya adalah fuel cell. Sebagai bahan bakar, jika hidrogen
Sulfur dan Asam Sulfat
Pengumpulan 1 Rabu, 17 September 2014 Sulfur dan Asam Sulfat Disusun untuk memenuhi Tugas Proses Industri Kimia Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Chandrawati Cahyani, M.S. Ayu Diarahmawati (135061101111016)
Prarancangan Pabrik Asam Stearat dari Minyak Kelapa Sawit Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas utama yang dikembangkan di Indonesia. Dewasa ini, perkebunan kelapa sawit semakin meluas. Hal ini dikarenakan kelapa sawit dapat meningkatkan
Tambang Batu Hijau, Indonesia
Tambang Batu Hijau, Indonesia Laporan Naratif Konteks Batu Hijau adalah tambang terbuka di Indonesia dengan komoditas utama berupa tembaga dan emas dengan sejumlah kecil perak. Terletak di Kabupaten Sumbawa
ELECTROWINNING Cu UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA CILEGON BANTEN HIDRO ELEKRO METALURGI ARDI TRI LAKSONO
ELECTROWINNING Cu HIDRO ELEKRO METALURGI ARDI TRI LAKSONO 3334100485 UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA CILEGON BANTEN 2013 2 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL...... 1 DAFTAR ISI... 2 BAB I PENDAHULUAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. DIAGRAM ALIR PENELITIAN Untuk menentukan distribusi As dalam tanur anoda, dalam penelitian ini dilakukan pengujian terhadap komposisi kimia dari tembaga hasil proses
BAB I PENDAHULUAN. Pendirian pabrik metanol merupakan hal yang sangat menjanjikan dengan alasan:
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Metil alkohol atau yang lebih dikenal dengan sebutan metanol merupakan produk industri hulu petrokimia yang mempunyai rumus molekul CH3OH. Metanol mempunyai berat
RECOVERY TEMBAGA (Cu) DARI LIMBAH PENGOLAHAN/PELEBURAN EMAS MENGGUNAKAN BAK ELEKTROLISIS BERTINGKAT DAN MESIN PENGONTROL DEBIT AIR LIMBAH
Al Jazari Journal of Mechanical Engineering ISSN: 2527-3426 Al Jazari Journal of Mechanical Engineering 1 (1) (2016) 1-5 RECOVERY TEMBAGA (Cu) DARI LIMBAH PENGOLAHAN/PELEBURAN EMAS MENGGUNAKAN BAK ELEKTROLISIS
Efisiensi PLTU batubara
Efisiensi PLTU batubara Ariesma Julianto 105100200111051 Vagga Satria Rizky 105100207111003 Sumber energi di Indonesia ditandai dengan keterbatasan cadangan minyak bumi, cadangan gas alam yang mencukupi
SUMARY EXECUTIVE OPTIMASI TEKNOLOGI AKTIVASI PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA
SUMARY EXECUTIVE OPTIMASI TEKNOLOGI AKTIVASI PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA Oleh : Ika Monika Nining Sudini Ningrum Bambang Margono Fahmi Sulistiyo Dedi Yaskuri Astuti Rahayu Tati Hernawati PUSLITBANG
KATALIS LTS LK SEBAGAI SULFUR GUARD UNIT DESULFURIZER PABRIK AMONIAK KALTIM 2 PUPUK KALTIM
KATALIS LTS LK-821-2 SEBAGAI SULFUR GUARD UNIT DESULFURIZER PABRIK AMONIAK KALTIM 2 PUPUK KALTIM Anton Sri Widodo, Suharyoso Departemen Pengendalian Proses PT Pupuk Kalimantan Timur Jl. Ir. James Simandjuntak
aluminium dari kebanyakan bahan itu masih belum ekonomis.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Alumunium adalah logam yang terbanyak didunia. Logam ini merupakan bagian dari pada kerak bumi. Namun proses untuk mendapatkan aluminium dari kebanyakan bahan itu
12) Kusumawardhana, A Pengaruh Tingkat Oksidasi terhadap Kadar Sulfur dan Oksigen pada Proses Pemurnian Oksidasi di PT. Smelting, Gresik.
DAFTAR PUSTAKA 1) Antrekowitsch, H. et al. 2002. Pyrometallurgical Refining of Copper in an Anode Furnace. Department of Nonferrous Metallurgy : Austria. 2) Biswas, A. K. and W. G. Davenport. 1994. Extractive
TUGAS PERANCANGAN PABRIK METHANOL DARI GAS ALAM DENGAN PROSES LURGI KAPASITAS TON PER TAHUN
EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA TUGAS PERANCANGAN PABRIK METHANOL DARI GAS ALAM DENGAN PROSES LURGI KAPASITAS 230000 TON PER TAHUN Oleh: ISNANI SA DIYAH L2C 008 064 MUHAMAD ZAINUDIN L2C
TUGAS PERANCANGAN PABRIK FORMALDEHID PROSES HALDOR TOPSOE KAPASITAS TON / TAHUN
XECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA TUGAS PERANCANGAN PABRIK FORMALDEHID PROSES HALDOR TOPSOE KAPASITAS 100.000 TON / TAHUN Oleh: Dewi Riana Sari 21030110151042 Anggun Pangesti P. P. 21030110151114
OPTIMASI NILAI GAS ALAM INDONESIA
OPTIMASI NILAI GAS ALAM INDONESIA Prof. Indra Bastian, MBA, Ph.D, CA, CMA, Mediator PSE-UGM Yogyakarta,25 Agustus 2014 PRODUK GAS 1. Gas alam kondensat 2. Sulfur 3. Etana 4. Gas alam cair (NGL): propana,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Integrated Steel Mill (ISM) adalah pabrik berskala besar yang menyatukan peleburan besi (iron smelting) dan fasilitas pembuatan baja (steel making), biasanya berbasis
GREEN INCINERATOR Pemusnah Sampah Kota, Industri, Medikal dsbnya Cepat, Murah, Mudah, Bersahabat, Bermanfaat
GREEN INCINERATOR Pemusnah Sampah Kota, Industri, Medikal dsbnya Cepat, Murah, Mudah, Bersahabat, Bermanfaat WASTE-TO-ENERGY Usaha penanggulangan sampah, baik dari rumah tangga/penduduk, industri, rumah
Prarancangan Pabrik Phthalic Anhydride dari o-xylene dan Udara dengan Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pada tahun 2012, kapasitas produksi phthalic anhydride dari seluruh dunia adalah 4,3 juta ton (Phthalic anhydride Market-Global Industry Analysis, Size, Share, Growth,
PRARANCANGAN PABRIK N-BUTIL OLEAT DARI ASAM OLEAT DAN N-BUTANOL KAPASITAS TON / TAHUN
PRARANCANGAN PABRIK N-BUTIL OLEAT DARI ASAM OLEAT DAN N-BUTANOL KAPASITAS 20.000 TON / TAHUN Disusun Oleh : Eka Andi Saputro ( I 0511018) Muhammad Ridwan ( I 0511030) PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK KIMIA
Prarancangan Pabrik Green Epichlorohydrin (ECH) dengan Bahan Baku Gliserol dari Produk Samping Pabrik Biodiesel Kapasitas 75.
A. LATAR BELAKANG BAB I PENGANTAR Saat ini Asia Tenggara adalah produsen biodiesel terbesar di Asia dengan total produksi 1.455 juta liter per tahun. Hal ini didukung dengan ketersediaan tanaman kelapa,
1. Fabrikasi Struktur Baja
1. Fabrikasi Struktur Baja Pengertian proses fabrikasi komponen struktur baja secara umum adalahsuatu proses pembuatan komponen-komponen struktur baja dari bahanprofil baja dan atau plat baja. Pelaksanaan
PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES
PT Semen Padang: Studi Kasus Perusahaan PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN PT. Semen Padang didirikan pada tahun 1910 dan merupakan pabrik semen tertua di Indonesia. Pabrik berlokasi di Indarung, Padang,
TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA
TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA PRA-RANCANGAN PABRIK ASAM ASETAT KAPASITAS 70.000 TON/TH Oleh : BAMBANG AGUNG PURWOKO 21030110151043 WIDA RAHMAWATI 21030110151072 JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA
EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA PRARANCANGAN PABRIK ETIL ASETAT PROSES ESTERIFIKASI DENGAN KATALIS H 2 SO 4 KAPASITAS 18.000 TON/TAHUN Oleh : EKO AGUS PRASETYO 21030110151124 DIANA CATUR
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Sejarah Singkat PT Purna Baja Heckett Cilegon
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Singkat PT Purna Baja Heckett Cilegon Pada awalnya PT Krakatau Steel Cilegon dalam upaya pengadaan bahan baku berupa scrap dan pembersihan sisa sisa hasil produksinya
BAB I. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan kebutuhan masyarakat Indonesia, industri di Indonesia juga semakin berkembang ke arah yang lebih baik. Dewasa ini industri yang berkembang
KEBIJAKAN EKSPOR PRODUK PERTAMBANGAN HASIL PENGOLAHAN DAN PEMURNIAN
KEBIJAKAN EKSPOR PRODUK PERTAMBANGAN HASIL PENGOLAHAN DAN PEMURNIAN Kementerian Perdagangan Januari 2017 1 Dasar Hukum Peningkatan Nilai Tambah UU 4/2009 Pasal 103: Kewajiban bagi Pemegang IUP dan IUPK
MATERIAL PEMBUATAN BAJA UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS TEKNIK DEPARTEMEN METALURGI DAN MATERIAL 2007 INTRODUCTION
MATERIAL PEMBUATAN BAJA UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS TEKNIK DEPARTEMEN METALURGI DAN MATERIAL 2007 DR.-ING. Bambang Suharno Ir. Bustanul Arifin M. Phil.Eng INTRODUCTION Fe metal Padat Cair : scrap, sponge
PROSES UBC. Gambar 1. Bagan Air Proses UBC
Penulis: Datin Fatia Umar dan Bukin Daulay Batubara merupakan energi yang cukup andal untuk menambah pasokan bahan bakar minyak mengingat cadangannya yang cukup besar. Dalam perkembangannya, batubara diharapkan
BAB I PENGANTAR. Tabel I. Produsen Batu Bara Terbesar di Dunia. 1. Cina Mt. 2. Amerika Serikat Mt. 3. Indonesia 281.
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Sumber daya berupa bahan tambang di Indonesia bisa dikatakan melimpah. Salah satunya adalah batubara. Indonesia merupakan salah satu penghasil batubara terbesar di dunia.
SIARAN PERS. PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA Tbk MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KETIGA 2008
SIARAN PERS MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KETIGA 2008 MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KETIGA 2008 JAKARTA, 27 Oktober 2008 --- PT International Nickel Indonesia Tbk ( PT Inco, atau Perseroan, IDX: INCO) hari ini
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sekitar abad ke 19 pelapisan tembaga dengan emas banyak dilakukan orang, baik secara manual maupun secara listrik terhadap benda-benda logam. Pelapisan logam dapat
EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA
EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA TUGAS PERANCANGAN PABRIK VERMIKOMPOS DENGAN PROSES KOMPOSISASI Oleh: AYU NASTITI WIDIYASA BAYU HADI ENGGO SAPUTRA L2C607009 L2C607013 JURUSAN TEKNIK KIMIA
Prarancangan Pabrik Maleic Anhydride dari Butana Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang meningkatkan pembangunan di berbagai bidang, salah satunya di bidang industri. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Prarancangan Pabrik Asam Adipat dari Sikloheksanol dan Asam Nitrat dengan Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENGANTAR
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Perkembangan industri di Indonesia khususnya industri kimia terus mengalami peningkatan. Dengan meningkatnya industri kimia, maka kebutuhan unsur-unsur penunjang industri
BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Asetat Anhidrid dari Aseton dan Asam Asetat Kapasitas Ton/Tahun A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Semakin majunya teknologi membuat perkembangan industri semakin pesat. Terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Perkembangan tersebut terlihat dari semakin
LAPORAN TUGAS AKHIR BAB II DASAR TEORI
BAB II DASAR TEORI 2.1 Dispenser Air Minum Hot and Cool Dispenser air minum adalah suatu alat yang dibuat sebagai alat pengkondisi temperatur air minum baik air panas maupun air dingin. Temperatur air
Paparan Publik Tahunan. Jakarta, 11 Agustus 2015
Paparan Publik Tahunan Jakarta, 11 Agustus 2015 KAPASITAS PRODUKSI 2015 Produk Peleburan Metric Ton/Tahun Kawat Tembaga 15,000 MT Kawat Aluminium 12,000 MT Produk Kabel Kabel Listrik Tembaga 26,000 MT
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN Uraian Tugas dan Tanggung Jawab 1. General Manager a. Menyusun rencana dan program kerja perusahaan yang menyangkut perencanaan dan pengawasan produksi, kegiatan pemasaran, anggaran perusahaan,
BAB I PENDAHULUAN. udara terbesar mencapai 60-70%, dibanding dengan industri yang hanya
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kontribusi emisi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara terbesar mencapai 60-70%, dibanding dengan industri yang hanya berkisar antara 10-15%. Sedangkan
Evaluasi Perencanaan Tata Letak Fasilitas Peleburan dan Pencetakan Terhadap Optimasi Proses Aliran Material pada PT. PANGERAN KARANG MURNI
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Teknik Industri Skripsi Sarjana Semester Genap tahun 2005/2006 Evaluasi Perencanaan Tata Letak Fasilitas Peleburan dan Pencetakan Terhadap Optimasi Proses Aliran Material
BAB 3 OBJEK DAN METODA PENELITIAN. PT Antam (Persero) Tbk merupakan perusahaan pertambangan yang
BAB 3 OBJEK DAN METODA PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian 3.1.1. Deskripsi Perusahaan PT Antam (Persero) Tbk merupakan perusahaan pertambangan yang terdiversifikasi dan terintegrasi secara vertikal yang berorientasi
BAB I PENDAHULUAN. kepulauan Indonesia dengan jumlah yang sangat besar seperti emas, perak, nikel,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Indonesia memiliki sumber daya mineral yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia dengan jumlah yang sangat besar seperti emas, perak, nikel, timah hitam,
THE VIET TRI PAPER DESKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES
THE VIET TRI PAPER DESKRIPSI PERUSAHAAN THE VIET TRI PAPER, sebuah perusahaan negara, didirikan pada tahun 1961 dan berlokasi di propinsi Phu Tho. Viet Tri berada pada peringkat empat dalam hal kapasitas
Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Usaha dan/atau kegiatan pembangkit listrik tenaga termal adalah usaha dan/atau kegiatan
SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 08 TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA TERMAL MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Bahan dan Alat Penelitian Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini yaitu blotong dan sludge industri gula yang berasal dari limbah padat Pabrik Gula PT. Rajawali
KEPPRES 31/1997, PEMBANGUNAN DAN PENGUSAHAAN KILANG MINYAK DAN GAS BUMI OLEH BADAN USAHA SWASTA
Copyright (C) 2000 BPHN KEPPRES 31/1997, PEMBANGUNAN DAN PENGUSAHAAN KILANG MINYAK DAN GAS BUMI OLEH BADAN USAHA SWASTA *47271 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (KEPPRES) NOMOR 31 TAHUN 1997 (31/1997)
BAB III PERANCANGAN PROSES
BAB III PERANCANGAN PROSES 3.1. Uraian Proses Pabrik Fosgen ini diproduksi dengan kapasitas 30.000 ton/tahun dari bahan baku karbon monoksida dan klorin yang akan beroperasi selama 24 jam perhari dalam
DESAIN SISTEM PENGATURAN UDARA ALAT PENGERING IKAN TERI UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI IKAN TERI NELAYAN HERYONO HENDHI SAPUTRO
DESAIN SISTEM PENGATURAN UDARA ALAT PENGERING IKAN TERI UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI IKAN TERI NELAYAN HERYONO HENDHI SAPUTRO 4205 100 009 TUJUAN PENELITIAN Membuat desain alat penukar panas yang optimal
BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Batu bara merupakan mineral organik yang mudah terbakar yang terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap dan kemudian mengalami perubahan bentuk akibat proses fisik
MENGENAL EMAS LOCO LONDON
MENGENAL EMAS LOCO LONDON PENDAHULUAN Emas merupakan salah satu jenis komoditi yang paling banyak diminati untuk tujuan investasi. Di samping itu, emas juga digunakan sebagai standar keuangan atau ekonomi,
BAB I PENDAHULUAN. ditimbulkan oleh proses reaksi dalam pabrik asam sulfat tersebut digunakan Heat Exchanger
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam proses produksi Asam Sulfat banyak menimbulkan panas. Untuk mengambil panas yang ditimbulkan oleh proses reaksi dalam pabrik asam sulfat tersebut digunakan
Kebutuhan dan Penyediaan Energi di Industri Smelter Aluminium
Kebutuhan dan Penyediaan Energi di Industri Smelter Aluminium Irawan Rahardjo Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi, BPPT, Jakarta Email: [email protected] Abstract Increasing the value-added
SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PADA IPAL PT. TIRTA INVESTAMA PABRIK PANDAAN PASURUAN
SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PADA IPAL PT. TIRTA INVESTAMA PABRIK PANDAAN PASURUAN (1)Yovi Kurniawan (1)SHE spv PT. TIV. Pandaan Kabupaten Pasuruan ABSTRAK PT. Tirta Investama Pabrik Pandaan Pasuruan
PAPARAN PUBLIK TAHUNAN 2017
PAPARAN PUBLIK TAHUNAN 2017 Jakarta, 16 Juni 2017 AGENDA PAPARAN PUBLIK I. Kinerja Keuangan 2015-2016 II. Progres Pembangunan Smelter FeNi III. Ekspor Bijih Nikel 2017-2018 IV. Proyeksi Keuangan 2017-2018
ANALISIS TEKNOEKONOMI PENGEMBANGAN MINERAL TEMBAGA DI INDONESIA
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 12, Nomor 2, Mei 2016 : 117 136 ANALISIS TEKNOEKONOMI PENGEMBANGAN MINERAL TEMBAGA DI INDONESIA TechnoEconomic Analysis of Copper Mineral Development in Indonesia
PEMBUATAN PUPUK FOSFAT DARI BATUAN FOSFAT ALAM SECARA ACIDULASI. Faleh Setia Budi, Aprilina Purbasari *)
PEMBUATAN PUPUK FOSFAT DARI BATUAN FOSFAT ALAM SECARA ACIDULASI Faleh Setia Budi, Aprilina Purbasari *) Abstract Phosphate rock containing P 2 O 5 can be used as raw material of phosphate fertilizer. Phosphate
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dimetil Eter Dimetil Eter (DME) adalah senyawa eter yang paling sederhana dengan rumus kimia CH 3 OCH 3. Dikenal juga sebagai methyl ether atau wood ether. Jika DME dioksidasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Palembang yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi yang sangat besar, baik sumber daya manusianya maupun sumber daya alamnya. Namun saat ini pemerintah
II. DESKRIPSI PROSES
II. DESKRIPSI PROSES A. Proses Pembuatan Trimetiletilen Secara umum pembuatan trimetiletilen dapat dilakukan dengan 2 proses berdasarkan bahan baku yang digunakan, yaitu pembuatan trimetiletilen dari n-butena
BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas udara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan, namun dengan meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas udara telah mengalami
1. PENDAHULUAN PROSPEK PEMBANGKIT LISTRIK DAUR KOMBINASI GAS UNTUK MENDUKUNG DIVERSIFIKASI ENERGI
PROSPEK PEMBANGKIT LISTRIK DAUR KOMBINASI GAS UNTUK MENDUKUNG DIVERSIFIKASI ENERGI INTISARI Oleh: Ir. Agus Sugiyono *) PLN sebagai penyedia tenaga listrik yang terbesar mempunyai kapasitas terpasang sebesar
BAB II TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA
BAB II TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA 2.1. Peningkatan Kualitas Batubara Berdasarkan peringkatnya, batubara dapat diklasifikasikan menjadi batubara peringkat rendah (low rank coal) dan batubara
DETOKSIFIKASI SIANIDA PADA TAILING TAMBANG EMAS DENGAN NATRIUM METABISULFIT (Na 2 S 2 O 5 ) DAN HIDROGEN PEROKSIDA (H 2 O 2 )
DETOKSIFIKASI SIANIDA PADA TAILING TAMBANG EMAS DENGAN NATRIUM METABISULFIT (Na 2 S 2 O 5 ) DAN HIDROGEN PEROKSIDA (H 2 O 2 ) Mariska Margaret Pitoi 1, Audy D. Wuntu 1 dan Harry S. J. Koleangan 1 1 Jurusan
BAB 1 PENDAHULUAN. akan menyebabkan hasil produksi menjadi berkurang sehingga perusahaan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan dan pengendalian persediaan adalah unsur yang sangat penting bagi suatu perusahaan industri. Tanpa adanya persediaan yang cukup maka dapat menghambat
(Fuel cell handbook 7, hal 1.2)
15 hidrogen mengalir melewati katoda, dan memisahkannya menjadi hidrogen positif dan elektron bermuatan negatif. Proton melewati elektrolit (Platinum) menuju anoda tempat oksigen berada. Sementara itu,
Sumber Daya Alam. Yang Tidak Dapat Diperbaharui dan Yang Dapat di Daur Ulang. Minggu 1
Sumber Daya Alam Yang Tidak Dapat Diperbaharui dan Yang Dapat di Daur Ulang Minggu 1 Materi Pembelajaran PENDAHULUAN SUMBERDAYA ALAM HABIS TERPAKAI SUMBERDAYA ALAM YANG DAPAT DI DAUR ULANG DEFINISI SUMBERDAYA
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki cadangan gas yang cukup besar dan diperkirakan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi hingga 59 tahun mendatang (ESDM, 2014). Menurut Kompas
