BAB II LANDASAN TEORI
|
|
|
- Liana Kusuma
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II LANDASAN TEORI Makalah ini akan membahas mengenai dampak dari bundling pada welfare masyarakat dalam industri televisi berlangganan yang pasarnya berbentuk oligopoli. Oleh sebab itu, ada tiga poin penting yang menjadi perhatian utama kita, yaitu bundling, pasar oligopoli, serta welfare masyarakat. Oleh sebab itu, pada bagian akan dibahas mengenai teori dari ketiga poin tersebut. Pertama-tama pembahasan akan dimulai dengan teori mengenai bundling, jenisjenisnya, serta penelitian-penelitian yang terkait dengannya. Lalu pembahasan dilanjutkan dengan teori pasar oligopoli, baik pengertiannya, maupun model-model yang digunakan. Topik terakhir yang akan dibahas adalah mengenai welfare, yaitu mengenai apa saja dan bagaimana pendekatan yang digunakan dalam menganalisa welfare. II.1 TEORI BUNDLING II.1.1 Pengertian Budling Bundling adalah sebuah strategi pemasaran yang melibatkan penawaran dua produk atau lebih untuk dijual sebagai satu kesatuan unit jual. Pada umumnya, harga yang ditawarkan dalam kombinasi produk hasil bundling lebih murah dibandingkan harga per satuan produk apabila dibeli terpisah. Tujuan diterapkannya bundling dalam industri adalah untuk memberikan daya tarik 10
2 lebih kepada konsumen sehingga dapat meningkatkan penjualan produk perusahaan secara keseluruhan. Yannis Bakos dan Erik Brynjolfsson (1999) mengemukakan bahwa bundling sangat efektif dilakukan apabila perusahaan yang ingin menerapkan strategi tersebut memenuhi beberapa persyaratan, yaitu: - Memiliki economies of scale dalam berproduksi - Memiliki economies of scope dalam mendistribusikan produknya - Memiliki marginal cost yang rendah dalam melakukan bundling - Set-up cost dalam memulai produksi tinggi - Consumer acquisition cost tinggi - Hasil akhir dari bundling merupakan simplifikasi dua produk atau lebih yang dibutuhkan oleh konsumen yang sama Sedangkan menurut Hanming Fan dan Peter Norman (2003), sebetulnya terjadi penurunan willingness to pay oleh konsumen yang menghadapi kombinasi produk hasil bundling. Oleh sebab itu mereka melakukan penelitian untuk merumuskan kapan sebuah perusahaan sebaiknya melakukan strategi bundling dan kapan sebaiknya jangan dilakukan. Penelitian lainnya oleh lainnya Chioveanu (2002) mengungkapkan bahwa bundling sebetulnya menurunkan competitiveness sebuah industri. Kombinasi dua produk atau lebih dengan harga akhir yang lebih murah ketimbang harga individual per produknya oleh sebuah perusahaan akan meningkatkan daya tarik konsumen terhadap kombinasi produk tersebut. Padahal jika produk dibeli secara terpisah, konsumen akan memiliki keleluasaan untuk memilih produkproduk mana saja yang memaksimalkan kepuasan mereka dari perusahaan yang 11
3 berbeda-beda. Dengan adanya bundling, industri cenderung akan lebih terkonsentrasi kepada perusahaan yang melakukan praktik bundling tersebut. II.1.2. Jenis-jenis Bundling Menurut jenisnya, bundling dapat dibagi menjadi dua, yaitu pure bundling dan mixed bundling. Pure bundling terjadi ketika produk yang termasuk dalam kombinasi bundling tidak dapat dibeli secara terpisah. Sebaliknya, mixed bundling terjadi ketika salah satu atau semua produk yang termasuk dalam kombinasi bundling dapat dibeli secara terpisah. Dalam industri televisi berlangganan, jenis bundling yang terjadi adalah mixed bundling dimana salah satu produk unsur dalam kombinasi dapat dikonsumsi secara terpisah, sedangkan produk lainnya hanya bisa didapatkan secara bundling dengan produk sebelumnya. Lebih efektif manakah pure bundling atau mixed bundling? Pertanyaan seperti ini seringkali muncul dalam pembahasan strategi bundling. Para ahli berusaha menjawab, manakah strategi yang lebih profitable untuk diterapkan oleh perusahaan yang melakukan bundling. Dan strategi manakah yang lebih atraktif di mata konsumen sehingga mampu meningkatkan penjualan perusahaan? Pertanyaan ini memiliki jawaban yang berbeda-beda, karena memang tak dapat dikatakan secara mutlak, strategi mana yang lebih baik. Namun dalam kondisi tertentu, tentunya salah satu dari kedua jenis bundling tersebut akan lebih optimal untuk diterapkan dibandingkan yang 12
4 lainnya. Inilah yang berusaha dijawab oleh penelitian-penelitian yang dilakukan para ekonom di seluruh dunia. Anindya Ghose dari Leonard Stern School, New York University (2005) melakukan perbandingan antara pure bundling, mixed bundling, dan pure component pricing. Ia menganalisa produk software security dalam penelitiannya. Security software memiliki beragam produk seperti antivirus, antispyware, real-time protector, dan masih banyak lagi. Semua sistem keamanan software tersebut biasanya dapat dibeli secara satuan, namun lebih sering ditawarkan dalam satu paket oleh perusahaan. Ada juga perusahaan yang menawarkannya dalam pure bundling, jadi produk-produk tersebut tak dapat dibeli secara satuan. Hasil dari penelitian Ghose menunjukkan bahwa secara keseluruhan mixed bundling lebih unggul dibandingkan pure bundling karena mixed bundling memberi insentif kepada perusahaan untuk melakukan invoasi-inovasi baru sehingga porduknya dapat. Apalagi bila kita berbicara mengenai software security products yang mampu menyesuaikan produknya dengan kebutuhan pasar yang semakin beragam seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi. Pure bundling tidak membuat perusahaan perlu melakukan inovasi pada produknya secara satuan karena produk-produk tersebut tidak diunggulkan sebagai produk terpisah tetapi sebagai satu paket. Sedangkan apabila perusahaan melakukan pure component pricing, perusahaan mungkin akan lebih terpacu untuk berinovasi, namun perusahaan tidak dapat memaksimalkan penjualannya karena konsumen akan cenderung memilih kombinasi produk dari beberapa perusahaan untuk memaksimalkan kepuasannya. 13
5 Penelitian diatas sebetulnya merupakan uraian yang lebih lengkap mengenai penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Bakos dan Brynjolffsonn (1999) serta Nalebuff (2004) yang mengemukakan terjadinya entry deterrence dalam industri yang perusahaan-perusahaannya melakukan bundling strategy. Dengan demikian muncul disincentive bagi perusahaan baru untuk memasuki pasar sehingga tak ada pesaing baru dalam industri. Keadaan seperti ini sangat berpotensi menghambat lahirnya inovasi baru dalam industri terkait. II.1.3. Bundling dalam Industri Televisi Berlangganan Ada tiga jenis bundling yang dilakukan oleh perusahaan televisi berlangganan pada umumnya, yaitu channel bundling, package bundling, dan product bundling. Ketiga jenis bundling ini memiliki karakteristiknya masingmasing, namun tujuan penerapannya tentu sama, yaitu peningkatan penjualan dan profit perusahaan. 1. Channel bundling, yaitu penggabugan channel-channel dengan kombinasi tertentu ke dalam satu paket penawaran. Dalam hal ini, bundling yang dilakukan bersifat pure bundling karena channel-channel tersebut tidak ditawarkan secara terpisah. Misalnyabyang saja seorang pelanggan televiai berlangganan tidak mungkin membeli channel CNN saja. Tentu ada beberapa channel lainnya yang harus ia beli secara bersamaan meskipun ia hanya ingin menonton CNN. Sebab, tidak ada channel yang dijual secara satuan dalam industri telvisi brlangganan. 14
6 2. Package bundling, yaitu penggabungan dua paket channel atau lebih dalam satu penawaran harga.biasanya yang digabungkan adalah penawaran paket prime dengan paket a la carte dalam satu harga. Jenis bundling ini sifatnya semi-mixed bundling karena paket prime-nya dapat dikonsumsi secara terpisah, namun tidak untuk paket a la carte-nya. Misalnya kita ingin menonton film-film box office di channel HBO. Untuk itu kita perlu membeli paket a la carte movie sebagai paket tambahan. Namun kita perlu membeli paket prime yang berisi channel-channel basic terlebih dahulu untuk bisa membeli paket a la carte. Namun sebaliknya, untuk membeli paket prime, kita tak perlu membeli paket a la carte. Itu sebabnya strategi ini sifatnya mixed bundling karena salah satu produknya dapat dibeli terpisah, sedangkan produk lainnya tidak. 3. Product bundling, yaitu penggabungan dua produk atau lebih yang berbeda dalam satu paket penawaran. Bundling ini bersifat mixed bundling karena produk-produk yang ditawarkan dapat dikonsumsi secara terpisah. Biasanya perusahaan yang bergerak di bidang televisi berlangganan tidak hanya memproduksi produk televisi berlangganan saja. Ada beberapa produk lain yang sangat familiar dengan perusahaan televisi berlangganan, salah satunya adalah akses internet. Penggabungan produk televisi berlangganan dengan akses internet berkecepatan tinggi dalam satu paket sangat umum dilakukan baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Tidak hanya di Indonesia, ketiga jenis bundling tersebut memang sudah menjadi strategi yang sangat umum bagi perusahaan televisi berlangganan di seluruh dunia. Bukan saja mampu meraih profit yang lebih tinggi, strategi marketing ini juga dapat meningkatkan tingkat penjualan perusahaan secara 15
7 keseluruhan karena pelangganan akan tertarik mengkonsumsi lebih banyak produk perusahaan tersebut dengan adanya penawaran harga yang lebih murah. Selain itu, strategi ini juga bertujuan membuat konsumen membeli produk dari satu perusahaan saja atau menghindari konsumen untuk membeli produk serupa dari perusahaan saingan. Hal ini dapat menyebabkan perubahan pada tingkat konsentrasi pada industri televisi berlangganan. Perusahaan yang sukses melakukan strategi bundling ini dapat menyerap pangsa sehingga berpotensi menjadi pemimpin dalam pasar. Claude Crampes dan Abraham Hollander (2004) melakukan penelitian pada bundling yang biasa dilakukan pada industri televisi berlangganan. Hasil penelitian mereka mengemukakan tipe channel bundling yang biasa dilakukan oleh perusahaan televisi berlangganan adalah sama, yaitu memberikan dua jenis paket dimana paket pertama berisi channel lengkap yang hampir sama dengan semua perusahaan lainnya, sedangkan paket kedua merupakan kumpulan channel khusus yang dipilih oleh perusahaan untuk dijadikan produk unggulan dalam persaingan. Hasil lain dari penelitian yang dilakukan oleh Crampes dan Hollander adalah bahwa profit dari bundling 2 paket channel akan lebih besar dibandingkan penjualan channel packages secara terpisah apabila (1) terdapat disparity yang besar dalam preferensi konsumen, dan (2) ukuran grup konsumen yang memiliki preferensi sama dengan rata-rata konsumen pada umumnya lebih besar dibandinkan grup konsumen lainnya. Penemuan terakhir dari penelitian ini adalah bahwa komposisi harga dan bundle yang ditawarkan kepada konsumen didasarkan pada penghabisan consumer surplus pelanggan. 16
8 II.1.4. Second-degree Price Discrimination Salah satu sebab yang melatarbelakangi terjadinya bundling dalam industri televisi berlangganan adalah bahwa perusahaan menyadari terdapatnya lebih dari satu segmen konsumen. Namun sulit bagi perusahaan untuk membedakan segmen konsumen. Untuk itu, perusahaan perlu menerapkan strategi guna mengungkap konsumen mana yang memiliki willingness to pay lebih tinggi (high-income consumer) dan konsumen mana yang willingness to pay lebih rendah (low-income consumer). Strategi ini berupa penawaran pilihan paket konsumsi yang juga disebut menu pricing. Asumsi yang digunakan dalam menerapkan second-degree price discrimination yang berupa menu pricing ini adalah: - Terdapat lebih dari satu segmen konsumen dengan kurva permintaan yang berbeda-beda - Perusahaan tidak dapat membedakan segmen konsumennya - Marginal cost dari penambahan sebuah produk tidak terlalu besar sehingga mudah bagi produsen untuk memainkan jumlah produk yang akan ditawarkan Keputusan harga dan jumlah output pada paket yang ditawarkan pada menu pricing ini berbasis pada kurva permintaan konsumen low-income. Seperti yang ditunjukkan pada kurva dibawah ini, perusahaan akan menawarkan output pada paket untuk konsumen low-income pada titik perpotongan antara marginal cost (MC) dengan kurva permintaannya. Sedangkan harga yang dikenakan pada paket dengan jumlah output tersebut adalah sebesar seluruh willingness to pay- 17
9 nya. Dengan demikian, konsumen low-income tidak akan menikmati consumer surplus sama sekali. Gambar 2-1 Kurva Permintaan Low-Income Consumer Dengan kata lain, harga yang ditetapkan pada paket untuk konsumen lowincome (P L ) dirumuskan sebagai berikut: Sedangkan jika paket untuk konsumen low-income tersebut diterapkan pada konsumen high-income, maka konsumen high-income masih akan menikmati consumer surplus sebesar area berwarna biru pada gambar dibawah ini: 18
10 Gambar 2-2 Kurva Permintaan High-Income Counsumer Output yang paling optimum untuk ditawarkan kepada konsumen highincome adalah pada perpotongan antara MC dengan kurva penawarannya, yaitu pada q H, sehingga perusahaan dapat menambah output untuk dimasukkan ke paket penawaran konsumen high-income. Namun agar konsumen high-income tetap tertarik untuk membeli paket yang sekarang output-nya lebih banyak dan secara otomatis akan ditawarkan pada harga yang lebih tinggi pula, maka perusahaan perlu menjaga agar konsumen high-income tetap menerima consumer surplus-nya. Dengan demikian, harga yang ditetapkan untuk paket penawaran kepada konsumen high-income adalah sebesar harga paket konsumen low-income ditambah dengan area berwarna hijau yang 19
11 memaksimalkan keuntungan perusahaan dengan tetap memberikan surplus kepada konsumen high-income. II.2. PASAR OLIGOPOLI Jika pasar monopoli dan persaingan sempurna berada di ujung-ujung karakteristik sebuah pasar, maka pasar oligopoli menempati posisi ditengah-tengah kedua antagoni tersebut. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dilihat dari karakteristiknya, pasar oligopoli cenderung lebih mendekati pasar monopoli dibandingkan dengan pasar persaingan sempurna. Dalam pasar yang kompetitif, masing-masing perusahaan tidak bisa mempengaruhi pasar dan output yang dihasilkan kecil sehingga nantinya mereka tidak bisa mempengaruhi harga. Sedangkan dalam pasar monopoli, hanya ada satu perusahaan di dalam industri dan perusahaan tersebut bersifat price maker. Persamaan dari kedua pasar tersebut adalah masing-masing perusahaan tidak bisa mempengaruhi kebijakan yang diambil oleh perusahaan lainnya sehingga tidak ada saling ketergantungan dan tidak ada pengambilan keputusan yang saling mempengaruhi (interdependence) antar masing-masing perusahaan. Inilah karakteristik utama yang membedakan pasar oligopoli dengan kedua pasar tersebut, dimana dalam pasar oligopoli karena hanya terdiri dari beberapa (few) perusahaan suatu perusahaan bisa mempengaruhi harga pasar dan juga keuntungan perusahaan pesaing. Berikut ini adalah karakteristik pasar yang disebut sebagai pasar oligopoli: 1. Hanya ada beberapa perusahaan dalam pasar (dalam jumlah yang kecil) 2. Produk yang dipasarkan sifatnya homogen atau sejenis 20
12 3. Terdapat product differentiation antar produk perusahaan 4. Terdapat barrier to entry pada pasar sehingga sulit bagi perusahaan baru untuk masuk 5. Persaingan cenderung ke arah non-price competition dibandingkan dengan price competition Dalam oligopoli, perusahaan harus mempertimbangkan perilaku dari perusahaan pesaing untuk menentukan kebijakan dan reaksi apa yang terbaik bagi perusahaan tersebut, sehingga dikatakan ada saling ketergantungan dan pengambilan keputusan yang saling mempengaruhi (interdependence) antar masing-masing perusahaan. Ciriciri lain dari pasar oligopoli selain hanya ada beberapa perusahaan di dalam pasar dan adanya saling ketergantungan dan saling mempengaruhi antar perusahaan, adalah adanya hambatan masuk ke dalam pasar yang biasanya disebabkan oleh adanya regulasi dan pemberian lisensi oleh pemerintah. Setidaknya ada beberapa penyebab terjadinya struktur pasar oligopoli di suatu industri, yaitu : 1. Adanya usaha dari perusahaan untuk berproduksi didasarkan atas economies of scale. Sehingga menyebabkan ada perusahaan dominan yang mampu menurunkan average cost-nya sehingga mencapai titik yang rendah dan tercapai efisiensi. Average cost yang rendah ini merupakan hambatan masuk (barrier to entry) bagi perusahaan-perusahaan baru yang ingin masuk ke dalam pasar. 2. Adanya pemberian fasilitas oleh pemerintah seperti lisensi dan pemberian hak paten. 21
13 3. Karena adanya kolusi yang dilakukan oleh sektor swasta, termasuk kombinasi kekuasaan dan penguasaan sumber-sumber faktor produksi. Sebenarnya pasar oligopoli sendiri dibagi menjadi dua, yaitu cooperative oligoply dan noncooperative oligopoli. Pada cooperative oligopoli suatu pasar hanya terdiri dari beberapa perusahaan dan mereka melakukan kerjasama untuk mengkoordinasi tindakan mereka agar bisa memaksimisasi keuntungan bersama-sama (joint profit), biasanya mereka melakukannya dalam bentuk kartel. Sedangkan pada noncooperative oligopoli suatu pasar juga terdiri dari beberapa perusahaan namun masing-masing perusahaan berdiri sendiri (independent) dan tidak saling bekerjasama untuk memaksimasi keuntungan. Bahkan karena hanya ada beberapa perusahaan dan masing-masing perusahaan tersebut berdiri sendiri dan tidak saling bekerja sama, masing-masing perusahaan harus secara hati-hati mempertimbangkan bagaimana tindakan mereka akan mempengaruhi perusahaan pesaing dan bagaimana perusahaan pesaing akan bereaksi terhadap tindakan yang dilakukan oleh perusahaan oligopolis tersebut 1. Tiga model pasar oligopoli yang paling dikenal adalah model oligopoli Cournot, model oligopoli Bertrand dan model oligopoli Stackelberg. Dalam model Cournot dan Stackelberg, perusahaan menentukan banyaknya output yang diproduksi dan membiarkan pasar yang menentukan harga dari output yang ditawarkan tersebut. Sehingga kedua model oligopoli tersebut sering disebut juga dengan Quantity-Setting Oligopoli. Sedangkan dalam model Bertrand, perusahaan yang menentukan harga output terlebih dahulu dan menjual output tersebut sesuai dengan banyaknya permintaan yang diperoleh dari harga yang ditawarkan tersebut. Sehingga model 1 Pindyck, Robert. S and Rubinfield, Daniel. L. Microeconomics. Fifth Edition. New Jersey: Prentice-Hall Hal
14 oligopoli Bertrand sering disebut juga dengan Price-Setting Oligopoli. Dalam model Cournot dan Bertrand, semua perusahan bertindak dalam waktu yang bersamaan, sedangkan dalam model Stackelberg ada satu perusahaan yang menentukan tingkat output terlebih dahulu sebelum perusahaan-perusahaan pesaing menentukan tingkat output (perusahaan-perusahaan pesaing hanya akan bereaksi), sehingga model Stackelberg juga dikenal dengan nama model leader-follower. II.2.1. Cournot Competition Model Cournot merupakan satu dari tiga model yang digunakan untuk menjelaskan struktur kompetisi pada pasar oligopoli. Model ini diberi nama sesuai dengan penemunya, yaitu Antoine Augustine Cournot ( ), yang melakukan observasi pada kompetisi dalam pasar duopoly spring water. Karakteristik dari pasar yang ia observasi ini adalah sebagai berikut: - Terdapat lebih dari satu perusahaan dan produk yang dihasilkan bersifat homogenous - Perusahaan-perusahaan dalam pasar tidak saling bekerja sama - Perusahaan-perusahaan dalam pasar memiliki market power - Jumlah perusahaan dalam pasar merupakan angka tetap (tidak berubah-ubah) - Terdapat strategic behavior yang dilakukan oleh perusahaan Asumsi dasar yang digunakan dalam model ini adalah bahwa setiap perusahaan pasti akan berusaha memaksimumkan profitnya dengan harapan bahwa output decision-nya tidak akan mempengaruhi keputusan pesaingnya. Perusahaan menganggap bahwa output yang dihasilkan pesaingnya adalah tetap 23
15 sehingga semua perusahaan akan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan output pesaingnya tanpa menyadari bahwa gerakan mereka masing-masing menjadi dasar pengambilan keputusan pesaingnya. Andaikan p1 adalah harga milik perusahaan 1, sedangkan p2 adalah harga milik perusahaan 2, maka dalam equilibrium harga keseimbangan kedua perusahaan tersebut adalah: P1 = p2 = P(Q) Dimana Q adalah output total yang dijual di pasar, atau dapat juga dijelaskan sebagai penjumlahan output masing-masing perusahaan, yaitu q1 +q2. Dengan demikian, profit dari perusahaan 1 dapat kita tuliskan sebagai berikut: Π 1 = q 1 (P(q 1 + q 2 ) c) Lalu, bagaimana dengan permintaannya? Apabila perusahaan 1 menggantungkan jumlah produksinya pada jumlah produksi perusahaan 2, sedangkan sebaliknya perusahaan 2 juga melakukan hal yang sama, maka kedua perusahaan ini sebetulnya saling menunggu aksi dari perusahaan saingannya untuk menetapkan reaksi seperti apa yang akan mereka lakukan. Dengan demikian, masing-masing perusahaan memiliki sebuah kurva yang menggambarkan kemungkinan reaksi atas bermacam-macam aksi yang mungkin dilakukan oleh pesaingnya. Kurva ini dinamakan reaction curve. 24
16 Gambar 2-3 Kurva Reaksi Output Cournot Model Selanjutnya, untuk mengetahui ekuilibrium dari pasar oligopoli dengan model Cournot ini, kita melakukan perhitungan dengan Nash Equilibrium. Ekuilibrium ini dihitung dengan dasar bahwa setiap perusahaan pasti akan mencari keuntungan maksimumnya pada harga pasar. Dengan demikian kita dapat menurunkan profit dari sebuah perusahaan terhadap kuantitas produksinya untuk melihat seberapa besar responnya terhadap kuantitas produk pesaingnya. 25
17 Cara ini juga diterapkan pada perusahaan saingannya sehingga kita akan mendapatkan persamaan reaksi dari kedua perusahaan. Karena tidak ada perusahaan yang bergerak lebih dahulu, maka apabila marginal cost dari kedua perusahaan sama kurva reaksinya pun akan sama. Untuk mendapatkan output ekuilibrium dari kedua perusahaan, kita cukup mensubtitusi kurva reaksi salah satu perusahaan ke dalam kurva reaksi perusahaan lainnya. Hasil yang akan didapatkan adalah sebagai berikut: Pada dasarnya, hasil akhir output yang akan diproduksi dalam Cournot Competition hamper tak berbeda, bahkan bisa sama antar kedua perusahaan. Hal ini disebabkan karena kedua perusahaan tersebut melakukan pergerakan 26
18 dalam waktu yang bersamaan sehingga tidak ada yang lebih untung atau rugi karena adanya perbedaan waktu yang mungkin saja mendatangkan keuntungan tersendiri. Apabila terdapatt banyak perusahaan, katakana sebanyak n, maka output dari masing-masing perusahaan dapat dirumuskan sebagai berikut: Dengan total output dalam industri dan harga pasar masing-masing adalah sebagai berikut: Secara keseluruhan, output yang dihasilkan dalam duopoly Cournot lebih besar dibandingkann pasar monopoli, namun masih tetap lebih rendah apabila dibandingkan dengan pasar persaingan sempurna. Begitu pula dengan harga pada duopoly Cournot yang relative rendah dibandingkan dengan pasar monopoli, namun tentunya tidak serendah harga pada pasar persaingan sempurna. Satu hal yang perlu dicatat banhwa pada Cournot competition terdapat kemungkinan terjadinya kartel untuk menetapkan harga yang lebih tinggi, sehingga persaingan dapat berubah menjadi monopoli.
19 II.2.2. Stackelberg Competition Model oligopoli Stackelberg diperkenalkan oleh ekonom asal Jerman bernama Heinrich Freiherr Von Stackelberg (1934). Berbeda dengan model oligopoli Cournot dimana kedua perusahaan mengambil keputusan pada saat bersamaan, maka pada model oligopoli Stackelberg ada satu perusahaan yang membuat keputusan dalam memproduksi output terlebih dahulu dan kemudian akan diantisipasi oleh perusahaan lainnya. Perusahaan yang membuat keputusan terlebih dahulu dikenal sebagai market leader, sedangkan perusahaan yang membuat keputusan terakhir disebut follower. Inilah yang menyebabkan model oligopoli Stackelberg ini juga dikenal dengan nama model Leader-Follower. Pada model oligopoli Stackelberg ini perusahaan yang bertindak sebagai leader akan menikmati tingkat keuntungan yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang bertindak sebagai follower. Hal ini disebabkan karena perusahaan yang bertindak sebagai leader tersebut berperilaku seperti mopolist yang menetapkan outputnya tanpa melihat perusahaan-perusahaan pesaingnya, Sedangkan follower akan bereaksi mengikuti tindakan leader pada waktu yang berbeda. Perbedaan waktu dalam melakukan pergerakan inilah yang menyebabkan leader menikmati keuntungan, atau juga dikenal sebagai first mover advantage dalam model Stackelberg. Untuk menemukan reaksi terbaik dari perusahaan follower, perhitungan dilakukan dengan berpegangan bahwa perusahaan tersebut akan mencari keuntungan maksimumnya pada harga pasar. Fungsi profit untuk perusahaan follower adalah sebagai berikut: 28
20 Dengan demikian kita dapat menurunkan fungsi ini sebagai syarat dari profit maximization. Dari penurunan itulah akan didapatkan fungsi reaksi perusahaan follower, yaitu berupa fungsi output perusahaan tersebut terhadap output yang telah diproduksi oleh perusahaan leader. Dalam model Stackelberg, sangat jelas bahwa hasil output dari perusahaan leader jauh lebih tinggi dibandingkan output yang dihasilkan oleh perusahaan follower. Dan karena perusahaan leader berpatokan pada harganya sendiri (tidak mengikuti harga pasar) maka keuntungan yang diraihnya juga jauh lebih tinggi dibandingkan perusahaan follower. Bila berbicara industri televisi berlangganan di Indonesia, pergerakan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di dalamnya hamper sama. Tidak ada perusahaan yang bergerak terlebih dahulu karena semuanya saling tergantung satu sama lain. Tidak ada perusahaan televisi berlangganan di Indonesia yang memperoleh first mover advantage. Oleh sebab itu, model Stackelberg tidak dapat menggambarkan keadaan persaingan industri televisi berlangganan di Indonesia sehingga model ini tidak kita gunakan lebih lanjut. 29
21 II.2.3. Bertrand Competition Model oligopoli ini dikenalkan oleh Joseph Bertrand pada tahun 1883 yang juga berasal dari Perancis. Bertrand melalui model ini, mengkritik model oligopoli yang dikembangkan oleh Cournot. Ia tidak setuju dengan anggapan Cournot bahwa harga akan ditentukan oleh pasar dan perusahaan oligopolis hanya menentukan output saja tanpa menetapkan harga. Sehingga Bertrand beranggapan bahwa model Cournot gagal menjelaskan mekanisme bagaimana harga akan ditentukan 2. Jadi dalam model oligopoli Bertrand ini, perusahaan akan menentukan dan menetapkan harga dan bukan menetapkan output, oleh karena itu model oligopoli Bertrand ini dikenal juga dengan nama price-setting oligopoli. Hal inilah yang membedakan antara model oligopoli Bertrand dan model oligopoli Cournot maupun Stackelberg. Dimana dalam model oligopoli Cournot dan Stackelberg perusahaan menetapkan output dan membiarkan harga ditetapkan oleh pasar. Asumsi yang digunakan dalam model Bertrand ini adalah sebagai berikut: - Terdapat setudaknya dua buah perusahaan yang memiliki produk homogeny - Perusahaan di dalam industri tidak saling berkooperasi - Perusahaan memiliki marginal cost yang sama dan konstan - Terdapat strategic behavior antar perusahaan - Perusahaan bersaing dalam harga dan membiarkan demand diatur oleh pasar 2 Ibid. Hal
22 - Konsumen akan membeli semua produk dari perusahaan yang menetapkan harga lebih murah, namun jika harga sama maka output yang terjual terbagi rata dari semua perusahaan Dalam model Bertrand, karena persaingan dilakukan dalam penetapan harga, maka sangat mudah bagi perusahaan untuk mengubah-ubah jumlah output yang dihasilkan. Namun di sisi lain, sulit bagi perusahaan untuk mengubah harga yang telah ditetapkan karena konsumen sangat sensitif terhadap perubahan harga dan cenderung akan berpindah ke perusahaan lain apabila perusahaan tersebut menaikkan harga yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika dalam Cournot kita dapat melihat kurva reaksi output dalam pasar duopoly, maka dalam model persaingan Bertrand, kurva yang dapat digambarkan adalah reaksi harga antar perusahaan. Hal ini dapat dilihat dalam gambar berikut ini: Gambar 2-4 Kurva Reaksi Harga Bertrand Model 31
23 Berbeda dengan model Cournot dimana hubungan output antar perusahaan adalah negative, pada model Bertrand, hubungan harga antar perusahaan bersifat positif. Artinya,apabila satu perusahaan nenurunkan harga, maka perusahaan lainnya akan berusaha untuk turut menurunkan harganya pula. Kedua kurva ini akan berpotongan di titik A, yaitu titik ekuilibrium harga kedua perusahaan. Ekulibrium ini juga disebut Nash Equilibrium. Apabila perusahaan memutuskan untuk tidak lagi saling bersaing dan melakukan kolusi, maka mereka bisa menetapkan harga yang berada jauh di atas ekuilibriumnya. Hal ini ditunjukkan oleh titik B dimana baik P1 maupun P2 lebih tinggi dibandingkan jika kedua perusahaan tersebut tidak melakukan kolusi. Kolusi memang dapat membawa kedua perusahaan pada keuntungan yang lebih besar. Namun kolusi juga mengundang adanya sikap tidak koordinatif salah satu perusahaan untuk meraih keuntungan sendiri dengan melanggar perjanjian. Hal ini akan dibahas lebih mendalam dalam game theory. II.2.4. Game Theory Game theory sebetulnya merupakan aplikasi matematis yang digunakan pada banyak ilmu seperti politik, biologi, computer science, dan tentu saja ilmu ekonomi. Teori ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 dalam buku Theory of Games and Economic Behavior yang ditulis oleh John von Neumann dan Oskar Morgenstern. Inti dari teori ini adalah bagaimana dampak dari perubahan perilaku oleh satu pihak atau kedua belah pihak dalam sebuah hubungan antar dua pihak yang memiliki interdependency terhadap keseimbangan secara umum. 32
24 Salah satu implementasi dari game theory yang sangat menarik dan popular adalah prisoner s dilemma. Dalam prisoner s dilemma diumpamakan ada dua orang tersangka yang ditahan di penjara untuk diinterogasi. Kedua tersangka tersebut tidak dapat berkomunikasi satu sama lain dan mereka akan diinterogasi secara terpisah. Situasi yang mereka hadapi adalah sebagai berikut: - Bila keduanya tidak mengakui kejahatan yang telah mereka lakukan, maka keduanya akan dihukum selama masing-masing 5 tahun penjara - Bila salah satu diantara mereka mengaku dan yang lainnya tetap diam, maka yang mengaku akan dibebaskan sedangkan yang diam akan mendapat hukuman 20 tahun penjara. - Bila keduanya mengakui kejahatan mereka, maka keduanya akan dihukum masing-masing 10 tahun penjara Kedua tersangka tersebut akan mengalami sebuah dilemma, apakah mereka harus tetap diam dan tidak mengaku demi melindungi diri sendiri temannya, ataukah ia harus menyelamatkan dirinya sendiri saja dengan mengkhianati temannya? Dilemma ini kemudian digambarkan ke dalam sebuah matriks seperti berikut ini: Tabel 2-1 Prisoner s Dilemma Tersangka B Tersangka A Tidak Mengaku Mengaku TIdak Mengaku (-5,-5) (0,-20) Mengaku (-20,0) (-10,-10) 33
25 Dalam ilmu ekonomi, game theory kerap kali digunakan untuk menganalisa perilaku perusahaan dalam pasar oligopoli, dimana kedua perusahaan diasumsikan melakukan kolusi harga. Apabila salah satu diantara kedua perusahaan tersebut melanggar perjanjian dengan menetapkan harga yang lebih rendah dari kesepakatan, maka perusahaan tersebut akan menyerap seluruh pasar dan mematikan perusahaan yang dikhianati tersebut. Kedua perusahaan akan bisa saja saling curiga dan takut akan dikhianati sehingga keduanya memilih untuk melanggar perjanjian. Pada saat keduanya memilih untuk menetapkan harga lebih rendah dari kesepakatan kolusi, maka keuntungan yang mereka dapatkan akan lebih rendah dibandingkan dengan saat mereka berkolusi. Keseimbangan dimana kedua perusahaan tidak melakukan kolusi dan akhirnya memperoleh tingkat keuntungan yang natural itulah yang disebut dengan Nash Equilibrium. II.3. TEORI WELFARE Poin penting terakhir dalam pembahasan kita adalah mengenai welfare. Para ekonom sejak dulu telah berusaha menganalisa bagaimana welfare dalam masyarakat terbentuk dan apa saja yang mempengaruhinya. Ada dua pendekatan utama yang melandasi penelitian mengenai welfare, yaitu Neoclassical approach dan New welfare economics approach. Pendekatan Neoclassic dicetuskan oleh Edgeworth, Sidwick, Marshall, dan Pigou. Asumsi utama yang digunakan dalam pendekatan ini adalah: 34
26 - Kepuasan (utility) bersifat cardinal, artinya kepuasan dapat diukur dan dinyatakan dalam satuan - Preferensi bersifat exogenous, artinya tidak dapat dipegaruhi oleh variable lainnya - Terdapat diminishing marginal utility, artinya penambahan konsumsi semakin banyak akan menghasilkan penambahan kepuasan yang semakin kecil - Setiap individu memiliki sebuah utility function atau funski tertentu yang merumuskan kepuasannya, dan fungsi dapat dijadikan bahan perbandingan antar individu Dengan asumsi-asumsi seperti di atas, maka pendekatan Neoclassic merumuskan welfare masyarakat sebagai penjumlahan total dari nilai utility atau kepuasan setiap individu. Semakin tinggi jumlah utility dalam suatu society, maka semakin besar pula welfare yang terdapat di dalamnya. Begitu pula sebaliknya, apabila utility mengalami penurunan artinya society tersebut mengalami penurunan dalam welfare-nya. Berbeda dengan pendekatan Neoclassic tadi, New Welfare Economics yang diperkenalkan oleh Pareto, Hicks, dan Kaldor melakukan analisa welfare dari sudut pandang efisiensi dan distribusi. Artinya, welfare ditentukan oleh seberapa besar efisiensi yang berhasil dicapai dalam sebuah perekonomian, dan seberapa meratanya kah distribusi yang terdapat di dalamnya. Asumsi penting dalam New Welfare Economics yang berbeda dengan asumsi Neoclassic adalah bahwa utility seseorang bersifat ordinal bukan cardinal, Maksudnya, kita tidak dapat menghitung utility dan menyatakannya dalam satuan, namun kita dapat membandingkan dan mengurutkannya ke dalam peringkat. Hal ini misalnya diimplementasikan dalam konsep Indifference Curve yang menggabungkan kombinasi barang tertentu dan mengurutkan besar utility 35
27 masing-masing kurva berdasarkan kedekatannya dengan titik origin tanpa perlu menyebutkan satuannya. Dalam New Welfare Economics disebutkan beberapa penyebab utama terjadinya inefisiensi dan pendistribusian yang tidak sempurna. Penyebab tersebut diantaranya adalah: - Struktur pasar yang tidak sempurna, seperti pasar monopoli, monopsoni, oligopoli, oligopsoni, dan monopolistic. - Alokasi faktor produksi yang tidak optimal sehingga produksi menjadi inefisien - Market failures dan eksternalitas yang menyebabkan biaya social - Penerapan price discrimination ataupun price skimming yang tidak sempurna - Penurunan average cost dalam jangka panjang pada pasar monopoli Semua faktor-faktor di atas dan faktor lainnya yang mungkin menyebabkan timbulnya inefisiensi dan menghambat proses distribusi adalah penyebab menurunnya welfare dalam masyarakat. Maka secara teoritis, sebetulnya welfare masyarakat akan berada pada tingkat tertingginya dalam pasar yang bersaing secara sempurna. Apabila pasar bersaing secar sempurna (perfect competition), maka permintaan akan terbentuk dengan sendirinya di pasar dan diatur oleh invicible hands. Dengan demikian permintaan dan penawaran akan bertemu di titik ekuilibrium dengan sendirinya, dan ekuilibrium tersebut akan jatuh di titik yang paling optimum untuk pasar dimana baik konsumen maupun produsen secara umum tidak dirugikan. Pada ekulibirum pasar persaingan sempurna akan tercipta surplus baik bagi konsumen maupun produsen yang juga dikenal dengan consumer surplus dan producer surplus. 36
28 Consumer Surplus adalah selisih antara willingness to pay seorang konsumen dengan harga pasar yang tercipta pada ekuilibrium. Apabila harga pasar jatuh pada titik yang lebih rendah daripada willingness to pay seseorang, maka orang tersebut menerima keuntunganyang disebut dengan consumer surplus tersebut. Begitu pula dari sisi produsen, apabila harga ekuilibrium jatuh lebih tinggi dibandingkan willingness to sell seorang produsen, maka ia akan menerima keuntungan yang disebut dengan producer surplus. Besarnya consumer surplus dan producer surplus dalam sebuah perekonomian digambarkan dalam area antara kurva permintaan atau penawaran dengan garis harga pasar pada ekuilibrium seperti yang terlihat pada gambar berikut ini: Gambar 2-5 Surplus Konsumen dan Produsen Kedua surplus ini sesungguhnya adalah gambaran dari welfare masyarakat secara keseluruhan, baik produsen maupun konsumen. Apabila teradi penurunan surplus, baik karena adanya pasar tidak sempurna maupun kegagalan pasar, maka hal tersebut 37
29 berarti pula terjadi penurunan pada welfare masyarakat secara keseluruhan. Penurunan surplus ini juga disebut dead weight loss. Jadi secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa inefisiensi yang berujung pada penurunan surplus konsumen maupun produsen akan menyebabkan terjadinya dead weigth loss atau welfare yang hilang dari masyarakat. 38
30 BAB III TINJAUAN INDUSTRI TELEVISI BERLANGGANAN DI INDONESIA III.1. SEJARAH TELEVISI BERLANGGANAN III.1.1. Sejarah Televisi Berlangganan di Dunia Ide dasar munculnya Televisi Berlangganan sudah muncul semenjak tahun 1920-an. Ketika itu, dunia pertelevisian sedang mengalami pertumbuhan yang pesat, menggantikan teater ataupun film layar lebar yang sebelumnya menjadi konsumsi hiburan utama masyarakat. Saat televisi mulai merambah ke rumahrumah masyarakat, kenyamanan dan kemudahan yang diberikan televisi menimbulkan keinginan lebih lanjut dari para pemirsa di rumah untuk tidak hanya menyaksikan tontonan terrestrial saja. Muncul pertanyaan, mungkinkah drama yang biasanya hanya bisa disaksikan secara langsung di bioskop ataupun penggung teater dibawa ke rumah untuk disaksikan di televisi? Hal inilah yang menjadi ide dasar diciptakannya layanan televisi berlangganan yang berkembang hingga saat ini. Televisi berlangganan yang pertama kali muncul diperkenalkan oleh Zenith Radio Corporation pada tahun Layanan baru ini diberi nama Phonevision sebab cara kerjanya adalah memesan tayangan tertentu yang sifatnya tidak freeto-air lewat telepon. Setelah melewati perizinan dan inspeksi dari Federal Communication Commission, baru pada tahun 1951 Phonevision resmi 39
BAB II TINJAUAN LITERATUR
BAB II TINJAUAN LITERATUR II.1 Monopoli Sebuah perusahaan disebut melakukan monopoli apabila perusahaan tersebut menjadi satu satunya penjual produk di pasar, dan produk tersebut sendiri tidak memiliki
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN IV.1. ANALISA KONDISI INDUSTRI TELEVISI BERLANGGANAN DI INDONESIA IV.1.1. Struktur Persaingan dalam Industri Televisi Berlangganan di Indonesia Industri televisi berlangganan
MODEL OLIGOPOLI DASAR
MAKALAH MODEL OLIGOPOLI DASAR DISUSUN OLEH : FIFI APRILIA NURUL AINI NIM: 041624253005/ KELAS B TUSTA CITTA IHTISAN TRI PRASIDYA NIM: 041624253009/ KELAS B SESILIA ADRIANA ARIF NIM: 041624253012/ KELAS
Persaingan Monopolistik dan Oligopoli. Abd. Jamal, S.E., M.Si
Persaingan Monopolistik dan Oligopoli Abd. Jamal, S.E., M.Si http://abdjamal1966.wordpress.com [email protected] [email protected] Jenis Struktur Pasar 1. Persaingan Monopoli (Monopolistic Competition)
Kuliah ke-9. Persaingan Monopolistik & Oligopoli
Kuliah ke-9 Persaingan Monopolistik & Oligopoli Persaingan Monopolistik Definisi Pasar Persaingan Monopolistik adalah pasar yang di dalamnya terdapat beberapa penjual, dengan free entry dan free exit dan
BAB I PENDAHULUAN. Menonton televisi merupakan sebuah kegiatan yang sulit dilepaskan dari rutinitas
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Menonton televisi merupakan sebuah kegiatan yang sulit dilepaskan dari rutinitas harian masyarakat seluruh dunia. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bahkan usia
PASAR MONOPOLI, OLIGOPOLI, PERSAINGAN SEMPURNA
PASAR MONOPOLI, OLIGOPOLI, PERSAINGAN SEMPURNA P E R T E M U A N 6 N I N A N U R H A S A N A H, S E, M M MONOPOLI Bahasa Yunani monos polein artinya menjual sendiri Penguasaan atas produksi dan atau pemasaran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Definisi industri dalam arti sempit adalah kumpulan perusahaan yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Industri Definisi industri dalam arti sempit adalah kumpulan perusahaan yang menghasilkan produk sejenis dimana terdapat kesamaan dalam bahan baku yang digunakan, proses,
Pertemuan Ke 5. Bentuk Pasar
Pertemuan Ke 5 Bentuk Pasar Berdasarkan jumlah penjual yang ada, struktur pasar output dibedakan menjadi empat, yaitu : 1. Pasar Persaingan Sempurna (perfect competitive market) : pasar dengan jumlah penjual
Pasar Oligopoli & Arsitektur Perusahaan. Dr. Muh. Yunanto, MM Pertemuan ke-8
Pasar Oligopoli & Arsitektur Perusahaan Dr. Muh. Yunanto, MM Pertemuan ke-8 ASUMSI YANG MELANDASI BENTUK-BENTUK PASAR No Asumsi-asumsi Persaingan Sempurna Monopolistik Oligopoli Monopoli 1 Banyaknya Penjual
PASAR PERSAINGAN SEMPURNA
PASAR PERSAINGAN SEMPURNA Tugas Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro Disusun Oleh : Asep Prianto (113020061) Elis Sri Maryanti (113020064) Farhatul Aini (113020062) Zahra Adzkia (113020063) FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS
PASAR OLIGOPOLI Pasar oligopoly Duopoly.
PASAR OLIGOPOLI Pasar oligopoly : adalah struktur pasar dimana hanya terdapat beberapa perusahaan besar (- 0 perusahaan besar) yang menguasai pasar. Kalau pasar hanya dikuasai oleh perusahaan saja disebut
Analisis Matematika Kurva Isoprofit Model Stackelberg dalam Pasar Duopoli Mathematical Analysis Isoprofit Curve of Stackelberg Model in Duopoly Market
Prosiding Matematika ISSN: 2460-6464 Analisis Matematika Kurva Isoprofit Model Stackelberg dalam Pasar Duopoli Mathematical Analysis Isoprofit Curve of Stackelberg Model in Duopoly Market 1 Nurul Affifah
KATA PENGANTAR. Bandar Lampung, 15 Mei Penulis
KATA PENGANTAR Puji syukur kami sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan petunjuk-nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul MODEL-MODEL OLIGOPOLI, yang mana makalah ini
Apakah yang disebut dengan oligopoli?
Oligopoly Apakah yang disebut dengan oligopoli? Pasar dengan beberapa perusahaan, yang masing-masing menjual dalam jumlah yang cukup signifikan Dengan demikian keputusan tiap perusahaan dapat mempengaruhi
TEORI PERMINTAAN KONSUMEN PENDEKATAN UTILITY
TEORI PERMINTAAN KONSUMEN PENDEKATAN UTILITY TIU : Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa dapat menjelaskan pengertian utilitas, menerangkan pengaruh utilitas dan permintaan serta menganalisisnya. TIK:
Materi 11 Ekonomi Mikro
Materi 11 Ekonomi Mikro Pasar Oligopoli Tujuan Pembelajaran : Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami : - Ruang Lingkup Pasar Oligopoli - Karakteristik Pasar Olipogoli - Faktor-faktor Penyebab Terbentuknya
Bab 11 Struktur Pasar : Pasar Oligopoli
Bab 11 Struktur Pasar : Pasar Oligopoli 1 Ekonomi Manajerial Manajemen 2 Oligopoli: Arti & Sumbernya Oligopoli ada suatu bentuk organisasi pasar dimana penjual atas sebuah produk yang homogen atau terdiferensiasi
EKONOMI INDUSTRI (Pertemuan Pertama)
EKONOMI INDUSTRI (Pertemuan Pertama) Dosen Pengasuh: Khairul Amri, SE. M.Si Bacaan Dianjurkan: Wihana Kirana Jaya, 2008. Ekonomi Industri, BPFE-UGM Yogyakarta. Mudrajat Kuncoro, 2012. Ekonomika Aglomerasi,
STRUKTUR PASAR & LABA MAKSIMUM
STRUKTUR PASAR & LABA MAKSIMUM Lecturer Notes by Rini Setyo W, SE.MM FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Pasar Adalah suatu institusi atau badan yg menjalankan aktivitas jual beli barang 2 dan/atau
November 1, 2012 DIE-FEUI. Kuliah ke-8: Monopoli dan Monopsoni. Rus an Nasrudin. Outline. Kekuatan Pasar. Sumber Konsekuensi dari Monopoli Monopoli
dan Pasar: dan DIE-FEUI November 1, 2012 dan Pasar: 1 2 3 dengan : Rujukan dan Pasar: Pindyck Bab 10 dan Bab 11 Apa itu monopoli dan apa itu kekuatan pasar? dan Pasar: Struktur pasar yang hanya terdiri
TEORI PASAR. Pengantar Ilmu Ekonomi
TEORI PASAR Pengantar Ilmu Ekonomi Pasar Secara Sederhana Tempat bertemunya pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi jual-beli barang dan jasa. Secara Luas (W.J. Stanton ) orang-orang yang mempunyai
Pasar Persaingan Monopolistik
Pasar Persaingan Monopolistik Adalah struktur pasar di mana terdapat cukup banyak perusahaan yang menjual produk-produk yang mirip satu sama lain, namun tidak identik. Teori pasar persaingan monopolistik
Bentuk-Bentuk Pasar. Categories : Bentuk-Bentuk Pasar. ekonomi.
http://www.plengdut.com/2013/01/bentuk-bentuk-pasar.html Bentuk-Bentuk Pasar Diposkan oleh irmawan hadi saputra di 7:29 PM Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Categories : Bentuk-Bentuk
PASAR PERSAINGAN MONOPOLISTIK
PASAR PERSAINGAN MONOPOLISTIK Pasar Persaingan Monopolistik Adalah struktur pasar di mana terdapat cukup banyak perusahaan yang menjual produk-produk yang mirip satu sama lain, namun tidak identik. Teori
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER
RENCANA SEMESTER Mata Kuliah Economy Managerial & Semester Lima Kode SM513264 Business Strategy Prodi Manajemen Dosen Yuhana Astuti SKS 4 Capaian Pembelajaran Pada akhir perkuliahan mahasiswa memiliki
PENGANTAR EKONOMI MIKRO DEWI TAURUSYANTI, MM.,SE. STRUKTUR PASAR -PASAR PERSAINGAN SEMPURNA-
PENGANTAR EKONOMI MIKRO DEWI TAURUSYANTI, MM.,SE. STRUKTUR PASAR -PASAR PERSAINGAN SEMPURNA- DI SUSUN OLEH : KELOMPOK 9 SANIA MASTIA JAYANTI (0221 11 235) ROSYIFAH WULANDINY (0221 11 237) IRIANI MURIB
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 11 Latar Belakang Teori permainan (game theory) adalah bagian dari ilmu matematika yang mempelajari interaksi antar agen, di mana tiap strategi yang dipilih akan memiliki matriks perolehan
Struktur pasar dan karakteristik pasar persaingan sempurna
BAB 5 PASAR PERSAINGAN 1. PASAR PERSAINGAN SEMPURNA Struktur pasar dan karakteristik pasar persaingan sempurna Dalam kegiatan dunia usaha, kita melihat banyak perusahaan yang menjual produk tertentu. Ketika
II. TINJAUAN PUSTAKA. kali diperkenalkan oleh Adam Smith dalam bukunya yang berjudul Wealth of
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Teoritis Ekonomi pertanian merupakan suatu aplikasi ilmu ekonomi dengan bidang pertanian, dimana ilmu ini digunakan untuk memecahkan permasalahanpermasalahan pertanian.
Pasar Persaingan Sempurna(Perfect Competition)
Pasar Persaingan Sempurna(Perfect Competition) PertemuanVII Tujuan Memahami definisi (perfect competition) Menjelaskan bagaimana perusahaan mengambil keputusan dan mengapa terjadi pemberhentian kerja dan
Materi 8 Ekonomi Mikro
Materi 8 Ekonomi Mikro Pasar Persaingan Sempurna Tujuan Pembelajaran : Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami metode dan model pasar persaingan sempurna dalam : Karakteristik Pasar Persaingan Sempurna,
Pasar adalah tempat atau sarana bertemunya penjual dan pembeli baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan transaksi jual/beli
TEORI EKONOMI MIKRO Pasar adalah tempat atau sarana bertemunya penjual dan pembeli baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan transaksi jual/beli Sebuah pasar dapat terjadi jika terdapat
Oligopoli ada suatu bentuk organisasi pasar dimana penjual atas sebuah produk yang homogen atau terdiferensiasi jumlahnya sedikit Apabila hanya ada
Oligopoli ada suatu bentuk organisasi pasar dimana penjual atas sebuah produk yang homogen atau terdiferensiasi jumlahnya sedikit Apabila hanya ada dua penjual namanya Duopoli Oligipoli Murni: apabila
PENERAPAN KONSEP ELASTISITAS DALAM PERMINTAAN DAN PENAWARAN.
PENERAPAN KONSEP ELASTISITAS DALAM PERMINTAAN DAN PENAWARAN. Elastisitas merupakan salah satu konsep penting untuk memahami beragam permasalahan di bidang ekonomi. Konsep elastisitas sering dipakai sebagai
Teori Pasar Persaingan.
Teori Pasar Persaingan www.aeunike.lecture.ub.ac.id Kondisi ekstrim 1 perfect competition >>> jumlah perusahaan banyak namun kemampuan sangat kecil untuk mempengaruhi harga pasar. Kondisi ekstrim 2 Monopoli
TEORI PASAR. Materi Presentasi. Pasar Persaingan Sempurna Pasar Monopoli Pasar Monopolistis Pasar Oligopoli. Sayifullah, SE., M.
TEORI PASAR Sayifullah, SE., M.Akt Materi Presentasi Pasar Persaingan Sempurna Pasar Monopoli Pasar Monopolistis Pasar Oligopoli 1 Teori Pasar Pasar Persaingan Sempurna Pasar Persaingan Tidak Sempurna
Bab 10 PASAR MONOPOLI
Bab 10 PASAR MONOPOLI Pasar Monopoli Pasar monopoli (dari bahasa Yunani: monos, satu + polein, menjual) adalah suatu bentuk pasar di mana hanya terdapat satu penjual yang menguasai pasar. Penentu harga
MARKET STRUCTURE AND PRICING PRACTICES
MARKET STRUCTURE AND RICING RACTICES DR. MOHAMMAD ABDUL MUKHYI, SE., MM 1 ASAR ERSAINGAN SEMURNA Sifat-sifat : 1. Komoditas homogen 2. Jumlah penjual dan pembeli banyak 3. erusahaan adalah penerima harga
Persaingan Usaha Pendekatan Ekonomi
Persaingan Usaha Pendekatan Ekonomi The Wealth of Nation: Adam Smith The Invisible Hand - laissez faire (allow to do) Bagaimana pasar bekerja? Apa yang terjadi bila pasar terdistorsi? Pendapat Thomas Jefferson
Struktur Pasar Pemasaran (TIN 4206)
Struktur Pasar Pemasaran (TIN 4206) Efisiensi dalam Persaingan Sempurna Tiga pertanyaan dasar dalam perekonomian kompetitif adalah : 1. Apa yang akan diproduksi? 2. Bagaimana cara memproduksinya? 3. Siapa
Referensi utama: Modern Industrial Organization Carlton and Pertloff 4 th ed Chapter 4, # 105-
Referensi utama: Modern Industrial Organization Carlton and Pertloff 4 th ed. 2005 Chapter 4, # 105- Heinrich von Stackelberg (1934) Supply side banyak sedikit satu Demand side banyak Persaingan sempurna
Struktur, Pengukuran dan Perilaku Oligopoli
Struktur, Pengukuran dan Perilaku Oligopoli Sayifullah Istilah Oligopoli Istilah oligopoli telah digunakan oleh Chamberlin (1927) dan Cournot (1938). Adam Smith dan Machlup few-sellers (jumlah penjual
STRUKTUR PASAR I. Beberapa asumsi yang diperlukan dalam menganalisa struktur pasar : PRICE MAKERS
Bentuk Bentuk asar erfect Competition Monopoly Monopolistic Competition Oligopoli STRUKTUR ASAR I Beberapa asumsi yang diperlukan dalam menganalisa struktur pasar : RICE TAKERS RICE MAKERS Asumsi erfect
Perusahaan, Produksi, dan Biaya
Perusahaan, Produksi, dan Biaya Perusahaan adalah kesatuan teknis, yang bertujuan untuk menghasilkan benda-benda atau jasa. Perusahaan ingin mencapai laba setinggi mungkin. Pengertian sehari-hari, laba
EKONOMI. BAB 1 Pendahuluan
EKONOMI MANAJERIAL BAB 1 Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN (PENGERTIAN EKONOMI MANAJERIAL) Ingat komitment mengikuti kuliah dulu!! Komitmen belajar m.k. Ekonomi Manajerial 1. Setiap selesai kuliah, malam harinya
Kegagalan Pasar Dan Peran Sektor Publik. Wahyudi Kumorotomo
Kegagalan Pasar Dan Peran Sektor Publik Wahyudi Kumorotomo Jenis Kegagalan Pasar 1. Eksternalitas negatif 2. Barang publik 3. Monopoli 4. Ketiadaan jaminan & skala ekonomi yg tepat 5. Informasi asimetris.
EKONOMI MANAJERIAL (MANAGERIAL ECONOMICS) Dr. Ir. H. Iman Santoso, SE., MM., MBA.
EKONOMI MANAJERIAL (MANAGERIAL ECONOMICS) Dr. Ir. H. Iman Santoso, SE., MM., MBA. BAB I PENDAHULUAN (PENGERTIAN EKONOMI MANAJERIAL) Ekonomi Manajerial Definisi: Aplikasi teori ekonomi dan perangkat analisis
Struktur Pasar dan Conduct
Struktur Pasar dan Conduct sayifullah Pasar? Konteks di mana para penjual dan pembeli melakukan pertukaran secara sukarela. Pasar = penawaran + permintaan. Dalam ekonomi industri, pasar = industri. 1 Permintaan
DAFTAR ISI. LEMBAR JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. LEMBAR PERNYATAAN... iii. KATA PENGANTAR... iv. DAFTAR ISI... vi. DAFTAR TABEL...
DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii LEMBAR PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii INTISARI... xiii ABSTRACT...
TEORI PASAR. Pengantar Ilmu Ekonomi
TEORI PASAR Pengantar Ilmu Ekonomi Pasar Secara Sederhana Tempat bertemunya pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi jual-beli barang dan jasa. Secara Luas (W.J. Stanton ) orang-orang yang mempunyai
Perbuatan atau Kegiatan yang Dilarang Pasal 17 24
Perbuatan atau Kegiatan yang Dilarang Pasal 17 24 Defenisi Praktek Monopoli: pemusatan kekuatan ekonomi (penguasaan yang nyata atas suatu pasar yang relevan) sehingga dapat menentukan harga barang dan
SURPLUS EKONOMI. Bhisma Murti Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret
1 SERI EKONOMI KESEHATAN SURLUS EKONOMI Bhisma Murti rogram Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat rogram ascasarjana, Universitas Sebelas Maret ekonomi merupakan konsep ekonomi yang merujuk kepada keuntungan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada industri telekomunikasi seluler di Indonesia dari tahun 2003 sampai dengan 2012 maka dapat diperoleh kesimpulan,
Definisi Pasar Monopoli
Struktur Pasar Definisi Pasar Monopoli suatu bentuk pasar dimana dalam suatu industri hanya terdapat sebuah perusahaan dan produk yang dihasilkan tidak memiliki pengganti yang sempurna Karakteristik Pasar
BAB VI Struktur Pasar
BAB VI Struktur Pasar 6.1. Pengertian Struktur Pasar Di stasiun televisi sering kita melihat iklan yang mencerminkan persaingan di pasar produk masing-masing, misalnya persaingan yang sangat ketat di pasar
RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) MATA KULIAH: TEORI EKONOMI MIKRO I (EKO 201) Oleh : Indrawari, SE, MA, Ph.D PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS
Pengantar Ekonomi Mikro
Pengantar Ekonomi Mikro Modul ke: 14Fakultas Ekonomi & Bisnis Menjelaskan Struktur Pasar Oligopoli Abdul Gani, SE MM Program Studi Manajemen Pengertian Pasar Oligopoli Pasar Oligopoli adalah : struktur
ekonomi Kelas X STRUKTUR PASAR K TSP & K-13 A. PENGERTIAN DAN FUNGSI PASAR B. STRUKTUR PASAR Tujuan Pembelajaran
K TSP & K-13 Kelas X ekonomi STRUKTUR PASAR Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan menjelaskan bentuk- bentuk pasar dalam struktur pasar yang ada di masyarakat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tentang struktur dan kinerja industri telekomunikasi seluler. Bab ini juga akan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini akan menjelaskan teori-teori yang digunakan untuk melakukan studi tentang struktur dan kinerja industri telekomunikasi seluler. Bab ini juga akan menjadi panduan untuk memahami
ANALISIS PERILAKU KONSUMEN
ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TEORI TINGKAH LAKU KONSUMEN Teori tingkah laku konsumen dapat dibedakan dalam dua macam pendekatan : Pendekatan nilai guna (utility) kardinal dan pendekatan nilai guna ordinal.
MEKANISME PASAR A. Pengertian dan Bentuk Pasar PRODUKSI 1. Fungsi-fungsi Produksi
MEKANISME PASAR A. Pengertian dan Bentuk Pasar Dalam memajukan perekonomian suatu negara, pasar memiliki peranan yang sangat penting. Melalui aktifitas pasar, produksi dapat sampai ke tangan konsumen yang
Household Behavior and Customer Choice
Household Behavior and Customer Choice Course: Pengantar Ekonomi The Market System Household Choice in Output Markets Three basic decisions: How much of each product, or output, to demand How much labor
PRICING (STRATEGI HARGA) (Strategi Penetapan Harga Produk Perusahaan di Pasar Yang Dikuasai) Pricing strategies for Firms with Market Power
PRICING (STRATEGI HARGA) (Strategi Penetapan Harga Produk Perusahaan di Pasar Yang Dikuasai) Pricing strategies for Firms with Market Power Strategi penetapan harga ini hanya diperuntukkan bagi perusahaan
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) LABUHAN BATU
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) LABUHAN BATU GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) Nama Mata Kuliah / Kode Mata Kuliah : PENGANTAR EKONOMI MIKRO / MKKK 203 3 SKS Deskripsi Singkat : Mata Kuliah Keahlian
pada persepsi konsumen.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan pada industri otomotif di Indonesia tahun 1983-2013, maka dapat diperoleh kesimpulan yaitu: 1. Struktur
III HASIL DAN PEMBAHASAN
atau perusahaan mana yang menjualnya. Jika produk dijual dengan harga yang berbeda, maka konsumen akan bergegas membeli produk tersebut ketika harganya lebih murah dan hasil produksi suatu perusahaan tidak
SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)
Kode Mata Kuliah : KP 201 Nama Mata Kuliah : TEORI EKONOMI MIKRO SKS : 3 SKS Semester : 3 (TIGA) Dosen : DRS. SOMA SOMANTRI, MM DR. H. EENG AHMAN, MS YANA ROHMANA, S.Pd : Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium
Analisis Matematika Kurva Isoprofit Model Cournot dalam Pasar Duopoli Mathematical Analysis Isoprofit Curves Of Cournot Model in Duopoly Market
Prosiding Matematika ISSN: 2460-6464 Analisis Matematika Kurva Isoprofit Model Cournot dalam Pasar Duopoli Mathematical Analysis Isoprofit Curves Of Cournot Model in Duopoly Market 1 Anggun Puji Nurani,
STRUKTUR PASAR DAN STRATEGI PENETAPAN HARGA. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Suhardi, S.Pt.,MP
STRUKTUR PASAR DAN STRATEGI PENETAPAN HARGA Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Suhardi, S.Pt.,MP Materi : Pengertian Struktur Pasar Bentuk Pasar Maksimisasi Keuntungan Metode
BAB IV PENGUJIAN MODEL PADA KASUS
BAB IV PENGUJIAN MODEL PADA KASUS Model yang dirancang pada tahap sebelumnya perlu diukur tingkat keberhasilannya. Untuk itu diperlukan sutatu kasus untuk melakukan pengujian model. Kasus yang diambil
Eksternalitas & Barang Publik
Eksternalitas & Barang Publik Rus an Nasrudin Kuliah ke-13 May 21, 2013 Rus an Nasrudin (Kuliah ke-13) Eksternalitas & Barang Publik May 21, 2013 1 / 21 Outline 1 Pendahuluan 2 Definisi Eksternalitas 3
MAKALAH EKONOMI MIKRO PASAR OLIGOPOLI SYARI TRI MULIA DOSEN : SUGIS PANCA YANARTI
MAKALAH EKONOMI MIKRO PASAR OLIGOPOLI SYARI TRI MULIA 110610009 DOSEN : SUGIS PANCA YANARTI UNIVERSITAS PUTERA BATAM 2012 PUTERA BATAM EKONOMI MIKRO 1 KATA PENGANTAR Puji dan syukur marilah kita panjatkan
BAB 2 LANDASAN TEORI
8 BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas beberapa konsep teori permainan pada permainan berstrategi murni dan campuran dari dua pemain yang akan digunakan sebagai landasan berpikir dalam melakukan
Kuliah ke-10: Beberapa Aplikasi Game Theory untuk Persaingan
Kuliah ke-10: Beberapa Aplikasi Game Theory untuk Persaingan Rus an Nasrudin DIE FEUI May 7, 2013 Pendahuluan Strategi Dominan Ancaman Repeated Game SPNE: Sequential Game Ilutrasi Permainan Sekuensial:
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Analisis Porter Strategi kompetitif merupakan suatu framework yang dapat membantu perusahaan untuk menganalisa industrinya secara keseluruhan, serta menganalisa kompetitor dan
monopolistik - Pasar oligopoli
STRUKTUR PASAR Ari Darmawan, Dr. S.AB, M.AB Email: [email protected] A. PENDAHULUAN B. STRUKTUR PASAR - Pasar persaingan sempurna - Pasar monopoli - Pasar persaingan monopolistik - Pasar oligopoli
RENCANA PROGRAM KEGIATAN
RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBEL AJARAN SEMEST ER EKO NOMI MANAJ ERIAL (3 SKS) DIAMPU OLEH: MAMDUH M. HANAFI FAKULT AS EKO NOMI UNI VERSIT AS G ADJ AH M ADA 2003 Fakultas Ekonomi Nama Matakuliah : Ekonomi
Modul Perkuliahan II Ekonomi Politik Media
Modul ke: Modul Perkuliahan II Ekonomi Politik Media 2 PenSumber-Sumber Ekonomi Media dan Pasar Media Fakultas PASCA SARJANA Ponco Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm., PhD Program Studi Magister Ilmu Komunikasi
Harga (Pq) Supply (S)
I. MEKANISME HARGA Fokus pembicaraan dalam ekonomi mikro adalah membahas bagaimana pembeli dan penjual melakukan interaksi dalam memperoleh barang dan jasa. Kesepakatan dalam interaksi ditandai dengan
DASAR-DASAR MANAJEMEN PEMASARAN
Modul ke: DASAR-DASAR MANAJEMEN PEMASARAN PRICING PRODUCT Fakultas FIKOM Dra. Tri Diah Cahyowati, Msi. Program Studi Marcomm & Advertising http://www.mercubuana.ac.id Definisi Harga dapat didefinisikan
Keseimbangan Umum. Rus an Nasrudin. Mei Kuliah XII-2. Rus an Nasrudin (Kuliah XII-2) Keseimbangan Umum Mei / 20
Keseimbangan Umum Rus an Nasrudin Kuliah XII-2 Mei 2013 Rus an Nasrudin (Kuliah XII-2) Keseimbangan Umum Mei 2013 1 / 20 Outline 1 Pendahuluan 2 Konsep Keseimbangan Umum 3 Permintaan dan Penawaran dalam
EKONOMI PUBLIK JUNAEDI
EKONOMI PUBLIK JUNAEDI Contents 1 PENDAHULUAN 2 PERAN PEMERINTAH 3 KEGAGALAN PASAR 4 RUMAH TANGGA PEMERINTAH PENDAHULUAN Ekonomi Publik Definisi: studi tentang kebijakan ekonomi, dengan penekanan khusus
GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) Jurusan Manajemen/Akuntansi - Program Studi S1 Manajemen/Akuntansi Fakutas Ekonomi Universitas Gunadarma
GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) Jurusan Manajemen/Akuntansi - Program Studi S1 Manajemen/Akuntansi Fakutas Ekonomi Universitas Gunadarma Nama Mata Kuliah/Kode Koordinator Deskripsi Singkat : Pengantar
Pertemuan 7 GAME THEORY / TEORI PERMAINAN
Pertemuan 7 GAME THEORY / TEORI PERMAINAN Objektif: 1. Mahasiswa dapat merumuskan masalah dalam game theory / teori permainan 2. Mahasiswa dapat mencari penyelesaian masalah dalam proses pengambilan keputusan
Kapita Selekta Ilmu Sosial
Modul ke: Kapita Selekta Ilmu Sosial Bentuk Bentuk Pasar Fakultas ILMU KOMUNIKASI Finy F. Basarah, M.Si Program Studi Penyiaran Bentuk Bentuk Pasar Kapita Selekta Ilmu Sosial Ruang lingkup Pasar persaingan
Pertemuan 4: Referensi utama: Modern Industrial Organization Carlton and Pertloff 4 th ed Chapter 3, # 69-73
Pertemuan 4: Efisiensi dan kesejahteraan Referensi utama: Modern Industrial Organization Carlton and Pertloff 4 th ed. 2005 Chapter 3, # 69-73 Kondisi di PPS Pada saat keseimbangan PPS, efisiensi dan kesejahteraan
Mata Kuliah - Advertising Project Management-
Mata Kuliah - Advertising Project Management- Modul ke: Manajemen proyek (2) Fakultas FIKOM Ardhariksa Z, M.Med.Kom Program Studi Marketing Communication and Advertising www.mercubuana.ac.id DASAR-DASAR
PEMASARAN HASIL PERTANIAN: Aplikasi Penawaran dan Permintaan
SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT PEMASARAN HASIL PERTANIAN: Aplikasi Penawaran dan Permintaan Prof. Ir. Ratya Anindita, MSc., Ph.D. Lab. Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas
PELATIHAN OLIMPIADE EKONOMIPERSIAPAN OLIMPIADE SAINS PROVINSI. HARI/TANGGAL : Jumat / 25 MEI JUMLAH SOAL : 50 butir
PELATIHAN OLIMPIADE EKONOMIPERSIAPAN OLIMPIADE SAINS PROVINSI HARI/TANGGAL : Jumat / 25 MEI 2012 WAKTU : 120 MENIT JUMLAH SOAL : 50 butir Pilihlah satu jawaban yang paling tepat pada soal di bawah ini!
KEGIATAN YANG DILARANG
KEGIATAN YANG DILARANG Ditha Wiradiputra Bahan Mengajar Mata Kuliah Hukum Persaingan Usaha Fakultas Hukum Universitas indonesia 2008 Pendahuluan Perlunya pengaturan terhadap kegiatan pelaku usaha di dalam
Kuliah ke-8: Monopoli, Monopsoni dan Penentuan Harga dengan Kekuatan Pa
Kuliah ke-8: Monopoli, Monopsoni dan Penentuan Harga dengan DIE-FEUI April 16, 2013 1 Definisi Sumber 2 Monopoli Monopsoni 3 Jenis First Degree Price Discrimination Second Degree Price Discrimination Third
KP425 Week 1 EKP501 PENGANTAR EKONOMI MIKRO
EKP501 PENGANTAR EKONOMI MIKRO Subject Adviser NAVIK ISTIKOMAH,SE,MSi Economic Building, UPI Bandung, Room 129. Phone: 022-70882551(home) Handphone : 08155189811 Phone : (022) 2013163 2523 (office) Fax:
MODEL PERSAINGAN DUOPOLI YANG MEMPERTIMBANGKAN BELANJA PEMASARAN
MODEL PERSAINGAN DUOPOLI YANG MEMPERTIMBANGKAN BELANJA PEMASARAN Farham HM Saleh Fak. Teknologi Industri UII Yogyakarta e-mail: [email protected] ABSTRAK Pada tingkat prsaingan yang semakin ketat, perusahaan
PASAR PERSAINGAN SEMPURNA
PASAR PERSAINGAN SEMPURNA Struktur Pasar Faktor-faktor yang membedakan bentuk pasar 1. Ciri-ciri barang yang dihasilkan 2. Banyaknya perusahaan dalam industri 3. Tingkat kesulitan perusahaan baru dalam
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN. individu dan kelompok dalam mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Konseptual 3.1.1 Konsep Tataniaga Pemasaran adalah suatu proses sosial yang di dalamnya melibatkan individu dan kelompok dalam mendapatkan apa yang mereka
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN SILABUS MATA KULIAH
SILABUS MATA KULIAH Nama Mata Kuliah : Mikroekonomi II Kode Mata Kuliah : EKO 505 Kredit : 3(3-0) Semester : 2 Deskripsi : Kuliah ini membahas alat analisis dan topik-topik lanjutan dalam Mikroekonomi,
BAB III KARTEL DAN PERMASALAHANNYA
BAB III KARTEL DAN PERMASALAHANNYA A. Tinjauan Umum Tentang Kartel 1. Pengertian Kartel Sebelum mengetahui pengertian dari kartel, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa, dalam pasar oligopolisytik hanya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Pemasaran BAB II TINJAUAN PUSTAKA Menurut Kotler dan Armstrong (2008:10), Pemasaran sebagai suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka
