E M U T U S T E N A G A D : P D M / P G I
|
|
|
- Fanny Yuwono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1
2
3 B u k u P e d o m a n P e m e l i h a r a a n P E M U T U S T E N A G A D o k u m e n n o m o r : P D M / P G I / 0 7 : P T P L N ( P E R S E R O ) J l T r u n o j o y o B l o k M I / J A K A R T A
4 DOKUMEN PT PLN (PERSERO) NOMOR : PDM/PGI/07:2014 Lampiran Surat Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No K/DIR/2014 BUKU PEDOMAN PEMELIHARAAN (PMT) PT PLN (PERSERO) JALAN TRUNOJOYO BLOK M-I/135 KEBAYORAN BARU JAKARTA SELATAN 12160
5 Susunan Tim Review KEPDIR 113 & 114 Tahun 2010 Surat Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No.0309.K/DIR/2013 Pengarah : 1. Kepala Divisi Transmisi Jawa Bali 2. Kepala Divisi Transmisi Sumatera 3. Kepala Divisi Transmisi Indonesia Timur 4. Yulian Tamsir Ketua : Tatang Rusdjaja Sekretaris : Christi Yani Anggota : Indra Tjahja Delyuzar Hesti Hartanti Sumaryadi James Munthe Jhon H Tonapa Kelompok Kerja Pemutus Tenaga (PMT) dan Pemisah (PMS) 1. Sanggam Robaga PS (PLN Pusat) : Koordinator merangkap anggota 2. Arief Setyo W (PLN P3BJB) : Anggota 3. Indra Samsu (PLN P3BJB) : Anggota 4. Sahat Sianturi (PLN P3BS) : Anggota 5. Soni Irwansyah (PLN P3BS) : Anggota 6. Krie Elison (PLN Sulselrabar) : Anggota 7. Budi Wiyono (PLN Kalselteng) : Anggota Koordinator Verifikasi dan Finalisasi Review KEPDIR 113 & 114 Tahun 2010 (Nota Dinas KDIVTRS JBS Nomor 0018/432/KDIVTRS JBS/2014) Tanggal 27 Mei Jemjem Kurnaen 2. Sugiartho 3. Yulian Tamsir 4. Eko Yudo Pramono
6 DAFTAR ISI DAFTAR ISI...I DAFTAR GAMBAR... IV DAFTAR TABEL... VI DAFTAR LAMPIRAN... VII PRAKATA... VIII PENDAHULUAN Pengertian Klasifikasi PMT Berdasarkan Besar/Kelas Tegangan (Um) Berdasarkan Jumlah Mekanik Penggerak / Tripping Coil Berdasarkan Media Isolasi Berdasarkan Proses Pemadaman Busur Api Listrik Diruang Pemutus Komponen dan Fungsi Primary Interrupter Asesoris Dari Interrupter (Jika Ada) Terminal Utama Dielectric Electrical Insulation (Isolator) Isolator Ruang Pemutus (Interrupting Chamber) Isolator Penyangga (Isolator Support) Media Pemadam Busur Api Pemadam busur api dengan gas Sulfur Hexa Fluorida (SF6) Pemadam Busur Api Dengan Oil/Minyak Pemadam Busur Api Dengan Udara Hembus / Air Blast Pemadam Busur Api Dengan Hampa Udara (Vacuum) Driving Mechanism Penggerak pegas (Spring Drive) Penggerak Hidrolik Penggerak Pneumatic SF6 Gas Dynamic Secondary Lemari Mekanik/Kontrol Terminal Dan Wiring Control Failure Modes Effects Analysis (FMEA) FMEA untuk Sistem PMT Sistem dan Fungsi Sub Sistem dan Fungsi PEDOMAN PEMELIHARAAN In Service/Visual Inspection Review KEPDIR 114.K/DIR/ Pemeriksaan Harian Pemeriksaan Mingguan Pemeriksaan Bulanan Pemeriksaan Triwulan...17 i
7 Pemeriksaan Tahunan In Service Measurement/On Line Monitoring Pemeriksaan 2 (dua) Mingguan Pemeriksaan Bulanan Shutdown Measurement/Shutdown Function Check Shutdown Mesurement (2 tahunan) Pengukuran Tahanan Isolasi Pengukuran Tahanan Kontak Pengukuran Keserempakan (Breaker Analyzer) Pengukuran Kevakuman PMT model Vacum (arus bocor) Pengukuran Kapasitansi Kapasitor Pengujian Tahanan Closing Resistor Pengukuran Tegangan Minimum Coil Pengukuran Tahanan Pentanahan Pengukuran / Pengujian Media Pemutus Gas SF Pengujian Tegangan Tembus Pemeriksaan Tekanan/Kerapatan Gas Pengukuran/Pengujian Karakteristik Gas SF Pengujian Kemurnian Gas SF Pengujian Kelembaban Pengujian Dekomposisi Produk Pengujian Pressure Switch Minyak (Oil) Pengujian Tegangan Tembus Minyak (Oil Tester) Vacuum Shutdown Function Check (2 tahunan) Treatment (2 tahunan) Conditional Overhaul PMT Banyak Minyak PMT Sedikit Minyak PMT Gas SF PMT dengan penggerak Hidrolik EVALUASI HASIL PEMELIHARAAN Metode Evaluasi Hasil Pemeliharaan Standar Evaluasi Hasil Pemeliharaan Pengukuran/Pengujian Tahanan Isolasi Pengukuran/Pengujian Tahanan Kontak Pengukuran/Pengujian Tahanan Kontak Dinamik Pengukuran/Pengujian Kecepatan dan Keserempakan Kontak PMT Pengukuran/Pengujian Tahanan/Resistor (R) Pengukuran/Pengujian Kapasitansi/Capasitor (C) Pengukuran/Pengujian Gas SF Pengukuran/Pengujian Karakteristik Minyak Pengukuran Tekanan Udara Pengukuran/Pengujian Tahanan Pentanahan Pengukuran/Pengujian Tegangan AC dan DC Pengukuran/Pengujian Closing dan Opening Coil Pengukuran Thermovisi REKOMENDASI HASIL PEMELIHARAAN Rekomendasi Hasil In Service/ Visual Inspection Periode Harian ii
8 4.1.2 Periode Mingguan Periode Bulanan Periode Tiga Bulanan Periode Tahunan Rekomendasi Hasil In Service Measurement Rekomendasi Hasil Shutdown Measurement Pengujian Pada Interuppter Chamber Pengujian pada Media Pemadam Busur Api Pengujian pada Sistem Mekanik Penggerak Rekomendasi Hasil Shutdown Function Check Rekomendasi Hasil Overhaul...92 DAFTAR ISTILAH DAFTAR PUSTAKA iii
9 DAFTAR GAMBAR Gambar 1-1 Macam Macam PMT... 2 Gambar 1-2 PMT Single Pole... 2 Gambar 1-3 PMT Three Pole... 3 Gambar 1-4 PMT SF6 Saat Proses Pemutusan Arus Listrik... 4 Gambar 1-5 Interrupter... 5 Gambar 1-6 Terminal Utama... 6 Gambar 1-7 Isolator pada Interrupting Chamber dan Support... 7 Gambar 1-8 PMT Satu Katup dengan Gas SF Gambar 1-9 PMT Bulk oil... 8 Gambar 1-10 PMT Udara Hembus/Air Blast... 9 Gambar 1-11 Ruang kontak utama (breaking chamber) pada PMT vacuum... 9 Gambar 1-12 PMT dengan Hampa Udara (vacuum) Gambar 1-13 Sistem Pegas Pilin (Helical) Gambar 1-14 Sistem Pegas Gulung (Scroll) Gambar 1-15 Skematik Diagram Sistem Hidrolik Gambar 1-16 Diagram Mekanisme Operasi PMT SF6 Dynamic Gambar 1-17 PMT SF6 Dynamic Gambar 1-18 Skematik PMT SF6 Dynamic Gambar 1-19 Lemari Mekanik/Kontrol Gambar 2-1 Pengukuran Tahanan Isolasi menggunakan Sangkar Faraday Gambar 2-2 Pemasangan pentanahan lokal dan pelepasan terminal atas dan terminal bawah Gambar 2-3 Terminal tempat Pengukuran Tahanan Isolasi PMT Gambar 2-4 Rangkaian Pengukuran Tahanan Kontak Paralel Gambar 2-5 Cara Pengamanan pada saat Pengukuran Tahanan Kontak di Switchyard. 24 Gambar 2-6 Beberapa Jenis Ruang Kontak Utama PMT Jenis Vacuum Gambar 2-7 Sketsa Ruang Kontak Utama (breaking chambers) PMT Jenis Vacuum Gambar 2-8 Contoh Alat uji PMT Vakum Gambar 2-9 Mengukur Tahanan Gambar 2-10 Prinsip kerja Coil Gambar 2-11 Posisi coil pada Sistem Hidrolik PMT Gambar 2-12 Posisi coil pada Sistem Hidrolik PMT Gambar 2-13 Coil pada PMT 500 kv TD2 Alsthom Gambar 2-14 Pengukuran nilai tahanan (resistansi) coil dan pengujian tegangan minimal coil pada PMT ABB tipe AHMA Gambar 2-15 Rangkaian Pengujian Tegangan Minimum Coil Gambar 2-16 Contoh coil pada PMT SF Gambar 2-17 Rangkaian Galvanometer Gambar 2-18 Alat Ukur Tahanan Gambar 2-19 vapour pressure curve and lines of equivalent gas density of SF Gambar 2-20 Perbandingan Tegangan Tembus SF6, Udara pada tekanan 1 Atm (air) dan Minyak Isolasi (oil) Gambar 2-21 Alat Ukur yang digunakan untuk Pemeriksaan Tekanan Gas Gambar 2-22 Pressure gas yang terpasang pada PMT Gambar 2-23 Gambar densimeter yang terpasang pada PMT Gambar 2-24 Alat Uji Kemurnian SF Gambar 2-25 Skema Alat Uji Kelembaban SF iv
10 Gambar 2-26 Dimension sheet/tech. data...48 Gambar 2-27 Functional diagram...49 Gambar 2-28 Alat uji kandungan oil mist...49 Gambar 2-29 Contoh Alat Uji Tegangan Tembus...51 Gambar 2-30 Alat Pengambilan Contoh Minyak untuk Uji DGA...52 Gambar 2-31 Sketsa PMT Bulk Oil untuk Tegangan Tinggi...54 Gambar 2-32 Contoh Tabung Minyak PMT bulk-oil dan rod moving contact...54 Gambar 2-33 Contoh breaking chamber fixed contact...55 Gambar 2-34 Beberapa Jenis Ruang Kontak Utama PMT Jenis Vacuum...55 Gambar 2-35 Sketsa Ruang Kontak Utama (breaking chambers) PMT Jenis Vacuum...56 Gambar 2-36 Alat uji PMT vacuum merk VIDA...57 Gambar 2-37 Rangkaian Pengujian Karakteristik Media Pemutus Vacuum...58 Gambar 3-1 Flow Chart Metode Evaluasi...63 Gambar 3-2 Hasil Pengujian Dinamik Resistance...65 Gambar 3-3 Perhitungan Waktu pada Pengujian Dinamik Resistance...66 Gambar 3-4 Kurva Operasi Close (impractical)...66 Gambar 3-5 Kurva Operasi Open...67 Gambar 3-6 Hasil Pengujian pada rated speed...67 Gambar 3-7 Perbandingan Hasil Pengujian pada low speed...68 Gambar 3-8 Hasil Pengujian pada Low Speed...68 Gambar 3-9 Kondisi berbagai Kontak yang digunakan...69 Gambar 3-10 Hasil Pengujian pada berbagai Kondisi Kontak...69 Gambar 3-11 Hasil Regresi pada Pengujian Dinamik Resistance...69 Gambar 3-12 Hasil Kurva R vs contact travel...70 Gambar 3-13 Contoh Hasil Pengujian (kurva R vs time travel)...70 Gambar 3-14 Hasil Investigasi terhadap Kondisi Kontak...71 Gambar 4-1 Diagram Alir Tindak Lanjut berdasarkan Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi87 Gambar 4-2 Diagram Alir Tindak Lanjut berdasarkan Hasil Pengukuran Tahanan Kontak...88 Gambar 4-3 Diagram Alir Tindak Lanjut berdasarkan Hasil Waktu Buka, Waktu Tutup, dan Keserempakan...89 Gambar 4-4 Diagram Alir Tindak Lanjut berdasarkan Hasil Pengujian Tegangan Minimum Coil...90 v
11 DAFTAR TABEL Tabel 1-1 Sistem dan Fungsi Tabel 1-2 Sub Sistem dan Fungsi Tabel 2-1 Jadwal Pemeriksaan/Pengukuran Karakteristik Gas SF6 Pada PMT Tabel 2-2 Tabel Konversi Satuan Tekanan Tabel 2-3 Jenis PMT & Kurun Waktu Overhaull Tabel 2-4 Jumlah Angka Pemutusan Tabel 3-1 Nilai Tahanan Kontak Acuan pabrikan Tabel 3-2 Referensi Pengukuran Waktu Buka, Pengukuran Waktu Tutup Tabel 3-3 Pengukuran Deviasi Waktu Antar Fasa Pabrikan Tabel 3-4 Tekanan Gas SF Tabel 3-5 Standar Pengujian Kualitas Gas SF Tabel 3-6 Standar Pengujian Kualitas Gas SF6 Lainnya Tabel 3-7 Dekomposisi Produk Gas SF Tabel 3-8 Standar Pengujian Karakteristik Minyak Tabel 3-9 Standar Pengujian Tekanan Udara Tabel 3-10 Standar Pengujian Tegangan AC-DC Tabel 3-11 Standar Pengujian Closing Coil Tabel 3-12 Standar Pengujian Opening Coil Tabel 4-1 Rekomendasi Periode Harian Tabel 4-2 Rekomendasi Periode Mingguan Tabel 4-3 Rekomendasi Periode Bulanan Tabel 4-4 Rekomendasi Periode Tiga Bulanan Tabel 4-5 Rekomendasi Periode Tahunan Tabel 4-6 Rekomendasi In Service Measurement Tabel 4-7 Rekomendasi Pengujian pada Interrupter Chamber Tabel 4-8 Rekomendasi Pengujian pada Media Pemadam Busur Api Tabel 4-9 Rekomendasi Pengujian pada Sistem Mekanik Penggerak Tabel 4-10 Rekomendasi Shutdown Function Check Tabel 4-11 Rekomendasi Hasil Overhaul PMT dengan Menggunakan Minyak Banyak Tabel 4-12 Rekomendasi Hasil Overhaul PMT dengan Menggunakan Minyak Sedikit (small Oil) Tabel 4-13 Rekomendasi Hasil Over Haul PMT dengan Menggunakan Media Gas SF6. 95 vi
12 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 TABEL PERIODE PEMELIHARAAN PMT...96 Lampiran 2 FMEA Untuk Sistem PMT Lampiran 3 Standar Evaluasi Hasil Pemeliharaan Lampiran 4 Formulir Inspeksi Level Lampiran 5 Contoh Formulir Pengukuran Tahanan Kontak Lampiran 6 Formulir Hasil Pengujian Gas SF Lampiran 7 Lembar Hasil Pemeliharaan Tahunan PMT Lampiran 8 Blangko Pemeliharaan/Pengujian (Tahanan & Tegangan Coil) Lampiran 9 Ketentuan Tentang Grease/Pelumas vii
13 PRAKATA PLN sebagai perusahaan yang asset sensitive, dimana pengelolaan aset memberi kontribusi yang besar dalam keberhasilan usahanya, perlu melaksanakan pengelolaan aset dengan baik dan sesuai dengan standar pengelolaan aset. Parameter Biaya, Unjuk kerja, dan Risiko harus dikelola dengan proporsional sehingga aset bisa memberikan manfaat yang maksimum selama masa manfaatnya. PLN melaksanakan pengelolaan aset secara menyeluruh, mencakup keseluruhan fase dalam daur hidup aset (asset life cycle) yang meliputi fase Perencanaan, Pembangunan, Pengoperasian, Pemeliharaan, dan Peremajaan atau penghapusan. Keseluruhan fase tersebut memerlukan pengelolaan yang baik karena semuanya berkontribusi pada keberhasilan dalam pencapaian tujuan perusahaan. Dalam pengelolaan aset diperlukan kebijakan, strategi, regulasi, pedoman, aturan, faktor pendukung serta pelaksana yang kompeten dan berintegritas. PLN telah menetapkan beberapa ketentuan terkait dengan pengelolaan aset yang salah satunya adalah buku Pedoman pemeliharaan peralatan penyaluran tenaga listrik. Pedoman pemeliharaan yang dimuat dalam buku ini merupakan bagian dari kumpulan Pedoman pemeliharaan peralatan penyaluran yang secara keseluruhan terdiri atas 25 buku. Pedoman ini merupakan penyempurnaan dari pedoman terdahulu yang telah ditetapkan dengan keputusan direksi nomor 113.K/DIR/2010 dan 114.K/DIR/2010. Perubahan atau penyempurnaan pedoman senantiasa diperlukan mengingat perubahan pengetahuan dan teknologi, perubahan lingkungan serta perubahan kebutuhan perusahaan maupun stakeholder. Di masa yang akan datang, pedoman ini juga harus disempurnakan kembali sesuai dengan tuntutan pada masanya. Penerapan pedoman pemeliharaan ini merupakan hal yang wajib bagi seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan pemeliharaan peralatan penyaluran di PLN, baik perencana, pelaksana maupun evaluator. Pedoman pemeliharaan ini juga wajib dipatuhi oleh para pihak diluar PLN yang bekerjasama dengan PLN untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan di PLN. Demikian, semoga kehadiran buku ini memberikan manfaat bagi perusahaan dan stakeholder serta masyarakat Indonesia. Jakarta, Oktober 2014 DIREKTUR UTAMA NUR PAMUDJI viii
14 1 PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Berdasarkan IEV (International Electrotechnical Vocabulary) disebutkan bahwa Circuit Breaker (CB) atau Pemutus Tenaga (PMT) merupakan peralatan saklar/switching mekanis, yang mampu menutup, mengalirkan dan memutus arus beban dalam kondisi normal serta mampu menutup, mengalirkan (dalam periode waktu tertentu) dan memutus arus beban dalam kondisi abnormal/gangguan seperti kondisi hubung singkat (short circuit). Sedangkan definisi PMT berdasarkan IEEE C37.100:1992 (Standard definitions for power switchgear) adalah merupakan peralatan saklar/ switching mekanis, yang mampu menutup, mengalirkan dan memutus arus beban dalam kondisi normal sesuai dengan ratingnya serta mampu menutup, mengalirkan (dalam periode waktu tertentu) dan memutus arus beban dalam spesifik kondisi abnormal/gangguan sesuai dengan ratingnya. Fungsi utamanya adalah sebagai alat pembuka atau penutup suatu rangkaian listrik dalam kondisi berbeban, serta mampu membuka atau menutup saat terjadi arus gangguan (hubung singkat) pada jaringan atau peralatann lain. 1.2 Klasifikasi PMT Klasifikasi Pemutus Tenaga dapat dibagi atas beberapa jenis, antara lain berdasarkan tegangan rating/nominal, jumlah mekanik penggerak, media isolasi, dan proses pemadaman busur api jenis gas SF Berdasarkan Besar/Kelas Tegangan (Um) PMT dapat dibedakan menjadi: PMT tegangan rendah (Low Voltage) Dengan range tegangan 0.1 s/d 1 kv (SPLN ) PMT tegangan menengah (Medium Voltage) Dengan range tegangan 1 s/d 35 kv (SPLN ) PMT tegangan tinggi (High Voltage) Dengan range tegangan 35 s/d 245 kv (SPLN ) PMT tegangan extra tinggi (Extra High Voltage) Dengan range tegangan lebih besar dari 245 kvac (SPLN ) 1
15 Gambar 1-1 Macam Macam PMT Berdasarkan Jumlah Mekanik Penggerak / Tripping Coil PMT dapat dibedakan menjadi: PMT Single Pole PMT type ini mempunyai mekanik penggerak pada masing-masing pole, umumnya PMT jenis ini dipasang pada bay penghantar agar PMT bisa reclose satu fasa. Gambar 1-2 PMT Single Pole 2
16 PMT Three Pole PMT jenis ini mempunyai satu mekanik penggerak untuk tiga fasa, guna menghubungkan fasa satu dengan fasa lainnya di lengkapi dengan kopel mekanik, umumnya PMT jenis ini di pasang pada bay trafo dan bay kopel serta PMT 20 kv untuk distribusi. Gambar 1-3 PMT Three Pole Berdasarkan Media Isolasi Jenis PMT dapat dibedakan menjadi: PMT Gas SF6 PMT Minyak PMT Udara Hembus (Air Blast) PMT Hampa Udara (Vacuum) Berdasarkan Proses Pemadaman Busur Api Listrik Diruang Pemutus PMT SF6 dapat dibagi dalam 2 (dua) jenis, yaitu: PMT Jenis Tekanan Tunggal (single pressure type) PMT Jenis Tekanan Ganda (double pressure type) PMT Jenis Tekanan Tunggal PMT terisi gas SF6 dengan tekanan kira-kira 5 Kg/cm2, selama terjadi proses pemisahan kontak kontak, gas SF6 ditekan (fenomena thermal overpressure) ke dalam suatu tabung/cylinder yang menempel pada kontak bergerak selanjutnya saat terjadi 3
17 pemutusan, gas SF6 ditekan melalui nozzle yang menimbulkan tenaga hembus/tiupan dan tiupan ini yang memadamkan busur api. Gambar 1-4 PMT SF6 Saat Proses Pemutusan Arus Listrik Keterangan Gambar: 1. Terminal Utama atas (Rod Kontak diam) 2. Support Kontak diam 3. Nozzle 4. Kontak Utama (main contact) 5. Arcing contact 6. Kontak bergerak 7. Support kontak bergerak 8. Terminal utama bawah PMT Jenis Tekanan Ganda PMT terisi gas SF6 dengan sistem tekanan tinggi kira-kira 12 Kg / cm2 dan sistem tekanan rendah kira-kira 2 Kg / cm2, pada waktu pemutusan busur api gas SF6 dari sistem tekanan tinggi dialirkan melalui nozzle ke sistem tekanan rendah. Gas pada sistem tekanan rendah kemudian dipompakan kembali ke sistem tekanan tinggi, saat ini PMT SF6 tipe ini sudah tidak diproduksi lagi. 1.3 Komponen dan Fungsi Sistem Pemutus (PMT) terdiri dari beberapa sub-sistem yang memiliki beberapa komponen. Pembagian komponen dan fungsi dilakukan berdasarkan Failure Modes Effects Analysis (FMEA), sebagai berikut: 4
18 Primary 2. Dielectric 3. Driving Mechanism 4. Secondary Primary Merupakan bagian PMT yang bersifat konduktif dan berfungsi untuk menyalurkan energi listrik dengan nilai losses yang rendah dan Mampu menghubungkan / memutuskan arus beban saat kondisi normal/tidak normal Interrupter Merupakan bagian terjadinya proses membuka atau menutup kontak PMT. Didalamnya terdapat beberapa jenis kontak yang berkenaan langsung dalam proses penutupan atau pemutusan arus, yaitu: - Kontak bergerak/moving contact - Kontak tetap/fixed contact - Kontak arcing/arcing contact Gambar 1-5 Interrupter 5
19 Asesoris Dari Interrupter (Jika Ada) Terdiri dari: - Resistor Resistor/tahanan dipasang paralel dengan unit pemutus utama (bekerja hanya pada saat terjadinya penutupan kontak PMT) dan berfungsi untuk: o Mengurangi kenaikan harga dari tegangan pukul (restriking voltage) o Mengurangi arus pukulan (chopping current) pada waktu pemutusan o Meredam tegangan lebih karena mengoperasikan PMT tanpa beban pada penghantar panjang - Kapasitor Kapasitor terpasang paralel dengan tahanan, unit pemutus utama dan unit pemutus pembantu yang berfungsi untuk: o Mendapatkan pembagian tegangan (Voltage distribution) yang sama pada setiap celah kontak, sehingga kapasitas pemutusan (breaking capacity) pada setiap celah adalah sama besarnya. o Meningkatkan kinerja PMT mengurangi frekuensi kerja. pada penghantar pendek dengan Terminal Utama Bagian dari PMT yang merupakan titik sambungan/koneksi antara PMT dengan konduktor luar dan berfungsi untuk mengalirkan arus dari atau ke konduktor luar. Gambar 1-6 Terminal Utama Dielectric Berfungsi sebagai Isolasi peralatan dan memadamkan busur api dengan sempurna pada saat moving contact bekerja. 6
20 Electrical Insulation (Isolator) Pada Pemutus (PMT) terdiri dari 2 (dua) bagian isolasi yang berupa isolator, yaitu: Isolator Ruang Pemutus (Interrupting Chamber) Merupakan isolator yang berada pada ruang pemutus (interupting chamberi)(1) Isolator Penyangga (Isolator Support) Merupakan isolator yang berada pada penyangga/support (2) Gambar 1-7 Isolator pada Interrupting Chamber dan Support Media Pemadam Busur Api Berfungsi sebagai media pemadam busur api yang timbul pada saat PMT bekerja membuka atau menutup. Berdasarkan media pemadam busur api, PMT dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain: Pemadam busur api dengan gas Sulfur Hexa Fluorida (SF6) Menggunakan gas SF6 sebagai media pemadam busur api yang timbul pada waktu memutus arus listrik. Sebagai isolasi, gas SF6 mempunyai kekuatan dielektrik yang lebih tinggi dibandingkan dengan udara dan kekuatan dielektrik ini bertambah seiring dengan pertambahan tekanan. Umumnya PMT jenis ini merupakan tipe tekanan tunggal (single pressure type), dimana selama operasi membuka atau menutup PMT, gas SF6 ditekan kedalam suatu tabung/silinder yang menempel pada kontak bergerak. Pada waktu pemutusan, gas SF6 ditekan melalui nozzle dan tiupan ini yang mematikan busur api. 7
21 Gambar 1-8 PMT Satu Katup dengan Gas SF Pemadam Busur Api Dengan Oil/Minyak Menggunakan minyak isolasi sebagai media pemadam busur api yang timbul pada saat PMT bekerja membuka atau menutup. Jenis PMT dengan minyak ini dapat dibedakan menjadi: PMT menggunakan banyak minyak (bulk oil) PMT menggunakan sedikit minyak (small oil) PMT jenis ini digunakan mulai dari tegangan menengah 6 kv sampai tegangan ekstra tinggi 425 kv dengan arus nominal 400 A sampai 1250 A dengan arus pemutusan simetris 12 ka sampai 50 ka. Gambar 1-9 PMT Bulk oil 8
22 Pemadam Busur Api Dengan Udara Hembus / Air Blast PMT ini menggunakan udara sebagai media pemadam busur api dengan menghembuskan udara ke ruang pemutus. PMT ini disebut juga sebagai PMT Udara Hembus (Air Blast). Gambar 1-10 PMT Udara Hembus/Air Blast Pemadam Busur Api Dengan Hampa Udara (Vacuum) Ruang hampa udara mempunyai kekuatan dielektrik (dielektrik strength) yang tinggi dan sebagai media pemadam busur api yang baik. Saat ini, PMT jenis vacuum umumnya digunakan untuk tegangan menengah (24kV). Jarak (gap) antara kedua katoda adalah 1 cm untuk 15 kv dan bertambah 0,2 cm setiap kenaikan tegangan 3 kv. Untuk pemutus vacuum tegangan tinggi, digunakan PMT jenis ini dengan dihubungkan secara seri. Ruang kontak utama (breaking chambers) dibuat dari bahan antara lain porcelain, kaca atau plat baja yang kedap udara. Ruang kontak utamanya tidak dapat dipelihara dan umur kontak utama sekitar 20 tahun. Karena kemampuan tegangan dielektrik yang tinggi maka bentuk fisik PMT jenis ini relatif kecil. Gambar 1-11 Ruang kontak utama (breaking chamber) pada PMT vacuum 9
23 Gambar 1-12 PMT dengan Hampa Udara (vacuum) Driving Mechanism Berfungsi menyimpan energi untuk dapat menggerakkan kontak gerak (moving contact) PMTdalam waktu tertentu sesuai dengan spesifikasinya. Terdapat beberapa jenis sistem penggerak pada PMT, antara lain: Penggerak pegas (Spring Drive) Mekanis penggerak PMT dengan menggunakan pegas (spring) terdiri dari 2 macam, yaitu: Pegas pilin (helical spring) PMT jenis ini menggunakan pegas pilin sebagai sumber tenaga penggerak yang di tarik atau di regangkan oleh motor melalui rantai. Pegas gulung (scroll spring) PMT ini menggunakan pegas gulung untuk sumber tenaga penggerak yang di putar oleh motor melalui roda gigi. Gambar 1-13 Sistem Pegas Pilin (Helical) 10
24 Gambar 1-14 Sistem Pegas Gulung (Scroll) Penggerak Hidrolik Penggerak mekanik PMT hidrolik adalah rangkaian gabungan dari beberapa komponen mekanik, elektrik dan hidrolik oil yang dirangkai sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai penggerak untuk membuka dan menutup PMT. Skematik diagram Hidrolik dan Elektrik Skematik diagram sistem hidrolik dan elektrik berikut, merupakan skematik sederhana untuk memudahkan pemahaman cara kerja sistem hidrolik dan keterkaitannya dengan sistem elektrik. Gambar 1-15 Skematik Diagram Sistem Hidrolik Pada kondisi PMT membuka/keluar, sistem hidrolik tekanan tinggi tetap pada posisi seperti pada piping diagram, di mana minyak hidrolik tekanan rendah warna biru) bertekanan sama dengan tekanan Atmosfir dan (warna merah) bertekanan tinggi hingga 360 bar. 11
25 Penggerak Pneumatic Penggerak mekanik PMT pneumatic adalah rangkaian gabungan dari beberapa komponen mekanik, elektrik dan udara bertekanan yang dirangkai sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai penggerak untuk membuka dan menutup PMT SF6 Gas Dynamic PMT jenis ini media memanfaatkan tekanan gas SF6 yang berfungsi ganda selain sebagai pemadam tekanan gas juga dimanfaatkan sebagai media penggerak. Setiap PMT terdiri dari 3 identik pole, dimana masing masing merupakan unit yang terdiri dari Interrupter, isolator tumpu, dan power aktuator yang digerakkan oleh gas SF6 masing masing pole dalam cycle tertutup. Energi untuk menggerakkan kontak utama terjadi karena adanya perbedaan tekanan gas SF6 antara: Volume yang terbentuk dalam interrupter dan isolastor tumpu. Volume dalam enclosure mekanik penggerak Gambar 1-16 Diagram Mekanisme Operasi PMT SF6 Dynamic Gambar 1-17 PMT SF6 Dynamic 12
26 1. HV terminal 2. Fixed arcing contact 3. Nozzle 4. Moving main contact 5. Upper porcelain insulator 6. Insulating rod 7. Opening valve group 8. Closing valve group 9. Auxiliary contacts 10. Compressor 11. Gas filling valve Gambar 1-18 Skematik PMT SF6 Dynamic Secondary Sub sistem secondary berfungsi mengirim sinyal kontrol/trigger untuk mengaktifkan subsistem mekanik pada waktu yang tepat, bagian subsistem secondary terdiri dari: Lemari Mekanik/Kontrol Berfungsi untuk melindungi peralatan tegangan rendah dan sebagai tempat secondary equipment Terminal Dan Wiring Control Sebagai terminal wiring kontrol PMT serta memberikan trigger pada mekanik penggerak untuk operasi PMT. 13
27 Gambar 1-19 Lemari Mekanik/Kontrol 1.4 Failure Modes Effects Analysis (FMEA) Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) adalah prosedur analisa dari model kegagalan (failure modes) yang dapat terjadi dalam sebuah sistem untuk diklasifikasikan berdasarkan hubungan sebab-akibat dan penentuan efek dari kegagalan tersebut terhadap sistem. Tabel FMEA untuk Sistem PMT Terlampir FMEA untuk Sistem PMT Sistem dan Fungsi Tabel 1-1 Sistem dan Fungsi Sistem Circuit Breaker (CB) Pemutus Tenaga (PMT) Fungsi atau merupakan peralatan saklar / switching mekanis, yang mampu menutup, mengalirkan dan memutus arus beban dalam kondisi normal serta mampu menutup, mengalirkan (dalam periode waktu tertentu) dan memutus arus beban dalam kondisi abnormal / gangguan seperti kondisi hubung singkat (short circuit). 14
28 Sub Sistem dan Fungsi Tabel 1-2 Sub Sistem dan Fungsi No 2 Sub Sistem Fungsi 1 Primary menyalurkan energi listrik dengan nilai losses yang rendah dan Mampu menghubungkan / memutuskan arus beban saat kondisi normal/tidak normal. 2 Dielectric sebagai Isolasi peralatan dan memadamkan busur api dengan sempurna pada saat moving contact bekerja 3 Driving Mechanism menyimpan energi untuk dapat menggerakkan kontak gerak (moving contact) PMTdalam waktu tertentu sesuai dengan spesifikasinya 4 Secondary mengirim sinyal kontrol / trigger untuk mengaktifkan subsistem mekanik pada waktu yang tepat PEDOMAN PEMELIHARAAN Berdasarkan fungsinya dan kondisi peralatan bertegangan atau tidak, jenis pemeliharaan pada Pemutus dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1. In Service / Visual Inspection 2. In Service Measurement / On Line Monitoring 3. Shutdown Measurement / Shutdown Function Check/Treatment 4. Conditional (Pasca relokasi / Pasca Gangguan/bencana alam) 5. Overhaul In Service Inspection, In Servise Measurement/On Line Monitoring, Shutdown Measurement/ Shutdown Function Check, Conditional dan Overhaul sebagaimana dimaksud dalam butir 1 s/d 5 di atas, merupakan bagian dari uraian kegiatan pemeliharaan yang tertuang dalam KEPDIR 114.K/DIR/2010. Periode pemeliharaan shutdown measurement dan shutdown function check dilaksanakan setiap 2 Tahun dan kegiatan pemeriksaan maupun pengujian mengacu kepada Failure Mode Effect Analysis ( FMEA) dari setiap komponen peralatan tersebut. 15
29 2.1 In Service/Visual Inspection In Service Inspection adalah inspeksi/pemeriksaan terhadap peralatan yang dilaksanakan dalam keadaan peralatan beroperasi/bertegangan (on-line), dengan menggunakan 5 panca indera (five senses) dan metering secara sederhana, dengan pelaksanaan periode tertentu (Harian, Mingguan, Bulanan, Tahunan). Inspeksi ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui/memonitor kondisi peralatan dengan menggunakan alat ukur sederhana/umum (contoh Thermo Gun) yang dilaksanakan oleh petugas operator/asisten supervisor di gardu induk (untuk Tragi/UPT PLN P3B Sumatera/Wilayah) atau petugas pemeliharaan/supervisor gardu induk (untuk APP PLN P3B JB) Review KEPDIR 114.K/DIR/2010 Pemeriksaan yang dilaksanakan secara periodik Harian/Mingguan, Triwulan dan Tahunan berdasarkan Uraian formulir inspeksi berdasarkan FMEA/FMECA terbaru sebagai berikut: Pemeriksaan Harian Misalnya meliputi: 1. Pemeriksaan Tekanan Hidrolik pada PMT sistem penggerak hidrolik 2. Pemeriksaan Tekanan Udara pada PMT sistem penggerak pneumatik 3. Pemeriksaan tekanan SF6 pada PMT dengan media pemadam busur api gas SF Pemeriksaan Mingguan Misalnya meliputi: 1. Pemeriksaan Indikator Kondisi pegas pada PMT sistem penggerak pegas (H-M) 2. Pemeriksaan Counter kerja Pompa pada PMT sistem penggerak hidrolik 3. Pemeriksaan Level minyak Hidrolik pada PMT sistem penggerak hidrolik 4. Pemeriksaan Kerja motor kompresor pada PMT sistem penggerak pneumatik 5. Pemeriksaan Level minyak kompresor pada PMT sistem penggerak pneumatik 6. Pemeriksaan/Pembuangan Air pada tangki kompresor pada PMT system penggerak pneumatik 7. Pemeriksaan Supply AC / DC pada Lemari Mekanik 16
30 Pemeriksaan Bulanan Misalnya meliputi: 1. Pemeriksaan Heater pada lemari mekanik 2. Pemeriksaan Penunjukan Level minyak pada PMT dengan media pemadam busur api minyak 3. Pemeriksaan Penunjukan tekanan N2 pada PMT dengan media pemadam busur api minyak Pemeriksaan Triwulan Misalnya meliputi: 1. Pemeriksaan Warna minyak pada PMT dengan media pemadam busur api minyak 2. Pemeriksaan Posisi Indikator ON / OFF pada lemari mekanik 3. Pemeriksaan / pencatatan Stand Counte pada lemari mekanik 4. Pemeriksaan seal Pintu lemari mekanik 5. Pemeriksaan Kondisi dalam lemari mekanik 6. Pemeriksaan Kondisi Pintu Lemari mekanik 7. Pemeriksaan Lubang kabel pada lemari mekanik 8. Pemeriksaan Fisik Grading Cap pada lemari mekanik 9. Pemeriksaan Fisik Closing Resisor pada lemari mekanik Pemeriksaan Tahunan Meliputi: 1. Pemeriksaan Kopel/Rod mekanik penggerak penggerakan PMT sistem penggerak pegas 2. Pemeriksaan Kondisi pelumas roda gigi pada PMT sistem penggerak pegas 3. Pemeriksaan Kondisi ventbelt kompresor pada PMT sistem penggerak pneumatik 4. Pemeriksaan Tangki kompresor pada PMT sistem penggerak pneumatik 5. Pemeriksaan terminal wiring 17 pada rod mekanik
31 6. Pemeriksaan kabel kontrol 7. Pemeriksaan keretakan isolator 8. Pemeriksaan terhadap Terminal Utama, Jumperan dan daerah bertegangan PMT terhadap benda asing 2.2 In Service Measurement/On Line Monitoring Merupakan pengukuran yang dilakukan pada periode tertentu dalam keadaan peralatan bertegangan (On Line). Pengukuran dan/atau pemantauan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui/memonitor kondisi peralatan dengan menggunakan alat ukur yang canggih (seperti Thermal Imager) yang dilakukan oleh petugas pemeliharaan Pemeriksaan 2 (dua) Mingguan Meliputi: 1. Pengukuran Suhu (Thermovisi) Isolator interupting chamber tegangan > 150 kv 2. Pengukuran Suhu (Thermovisi) Grading Capacitor tegangan > 150 kv 3. Pengukuran Suhu (Thermovisi) Isolator Closing Resistor tegangan > 150 kv 4. Pengukuran Suhu (Thermovisi)Terminal Utama tegangan > 150 kv Pemeriksaan Bulanan Meliputi: Pengukuran Suhu (Thermovisi) Isolator interupting chamber tegangan < 150 kv 2. Pengukuran Suhu (Thermovisi) Grading Capacitor tegangan < 150 kv 3. Pengukuran Suhu (Thermovisi) Isolator Closing Resistor tegangan < 150 kv 4. Pengukuran Suhu (Thermovisi)Terminal Utama tegangan > 150 kv Shutdown Measurement/Shutdown Function Check Merupakan pengukuran yang dilakukan pada periode 2 tahunan dalam keadaan peralatan tidak bertegangan (Off Line). 18
32 Pengukuran dilakukan bertujuan untuk mengetahui kondisi peralatan dengan menggunakan alat ukur sederhana serta advanced yang dilakukan oleh petugas pemeliharaan Shutdown Mesurement (2 tahunan) Meliputi: 1. Pengukuran tahanan isolasi terminal 2. Pengukuran tahanan kontak PMT 3. Pengukuran waktu buka PMT 4. Pengukuran Waktu tutup PMT 5. Pengukuran / pengujian Keserempakan Kontak Buka fasa R,S,T 6. Pengukuran / pengujian Keserempakan Kontak Tutup fasa R,S,T 7. Pengukuran Kapasitansi Kapasitor PMT (conditional) 8. Pengujian Tahanan Closing Resistor (conditional) 9. Pengukuran Tahanan magnetic coil 10. Pengukuran Tegangan Opening Coil 11. Pengukuran Tegangan Closing Coil 12. Pengujian Velocitiy Test (optional) 13. Pengujian Arus Motor Penggerak 14. Pengujian Tegangan Tembus PMT Bulk Oil (conditional) 15. Tangen Delta bushing PMT bulk oil 16. Pengujian kualitas gas SF6 (conditional) 17. Pengukuran tahanan pentanahan PMT Pengukuran Tahanan Isolasi Pengukuran tahanan isolasi pemutus tenaga (PMT) ialah proses pengukuran dengan suatu alat ukur untuk memperoleh nilai tahanan isolasi pemutus tenaga antara bagian yang diberi tegangan (fasa) terhadap badan (case) yang ditanahkan maupun antara terminal atas dengan terminal bawah pada fasa yang sama. Hal yang bisa mengakibatkan kerusakan alat ukur adalah bilamana alat ukur tersebut dipakai untuk mengukur obyek pada lokasi yang tegangan induksi listrik di sekitarnya 19
33 sangat tinggi atau masih adanya muatan residual pada belitan atau kabel. Langkah untuk menetralkan tegangan induksi maupun muatan residual adalah dengan menghubungkan bagian tersebut ke tanah beberapa saat sehingga induksinya hilang. Untuk mengamankan alat ukur terhadap pengaruh tegangan induksi maka peralatan tersebut perlu dilindungi dengan Sangkar Faraday (lihat gambar 2.1) dan kabel-kabel penghubung rangkaian pengujian sebaiknya menggunakan kabel yang dilengkapi pelindung (Shield Wire). Jadi untuk memperoleh hasil yang valid maka obyek yang diukur harus betul - betul bebas dari pengaruh induksi. Gambar 2-1 Pengukuran Tahanan Isolasi menggunakan Sangkar Faraday Pada dasarnya pengukuran tahanan isolasi PMT adalah untuk mengetahui besar (nilai) kebocoran arus ( leakage current ) yang terjadi antara bagian yang bertegangan terminal atas dan terminal bawah terhadap tanah. Kebocoran arus yang menembus isolasi peralatan listrik memang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, salah satu cara meyakinkan bahwa PMT cukup aman untuk diberi tegangan adalah dengan mengukur tahanan isolasinya. Kebocoran arus yang memenuhi ketentuan yang ditetapkan akan memberikan jaminan bagi PMT itu sendiri sehingga terhindar dari kegagalan isolasi. Alat uji tahanan isolasi dengan berbagai merek dan tipe memiliki spesifikasi yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Mulai dari tipe sederhana, menengah sampai dengan yang canggih. Display (tampilannya) juga banyak ragamnya; mulai dari tampilan analog, semi digital dan digital murni. Pada panel kendali (Front Panel) ada yang sangat sederhana, namun ada pula yang super canggih. Tapi seluruhnya memiliki prinsip kerja yang sama. 20
34 Proses pengukuran meliputi kesiapan alat ukur dan kesiapan obyek yang diukur. Kesiapan alat ukur dapat mengacu pada instruksi kerja masing masing peralatan uji. Sedangkan kesiapan obyek yang diukur adalah merupakan kegiatan yang tujuannya membebaskan obyek ( misal = PMT ) dari tegangan sesuai Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada Insatalasi Listrik Tegangan Tinggi/Ekstra Tinggi (Dokumen K3/Buku Biru) dan dilanjutkan dengan pelepasan klem-klem terminal atas dan terminal bawah. Kesiapan obyek yang akan diukur dilakukan dengan urutan sebagai berikut: 1) Pemasangan pentanahan lokal (Local Grounding) disisi terminal atas dan terminal bawah dengan tujuan membuang tegangan sisa (Residual) yang masih ada. 2) Pembersihan permukaan porselin bushing memakai material cleaner + lap kain yang halus dan tidak merusak permukaan isolator dengan tujuan agar pengukuran memperoleh nilai (hasil) yang akurat. Gambar 2-2 Pemasangan pentanahan lokal dan pelepasan terminal atas dan terminal bawah 3) Melakukan pengukuran tahanan isolasi PMT kondisi terbuka (open) antara: a) Terminal atas ( Ra, Sa, Ta ) terhadap Cashing ( body ) / tanah. 21
35 4) b) Terminal bawah ( Rb, Sb, Tb ) terhadap cashing ( body ) / tanah. c) Terminal fasa atas bawah (Ra-Rb, Sa-Sb, Ta-Tb) Melakukan pengukuran tahanan isolasi PMT kondisi tertutup (closed): a) Terminal fasa R / merah ( Ra+Rb ) terhadap tanah. b) Terminal fasa S / Kuning ( Sa+Sb ) terhadap tanah. c) Terminal fasa T / Biru ( Ta+Tb) terhadap tanah. Gambar 2-3 Terminal tempat Pengukuran Tahanan Isolasi PMT Keterangan: Ra = Terminal atas fasa R (Merah) Rb = Terminal bawah fasa R Sa = Terminal atas fasa S (Kuning) Sb = Terminal bawah fasa S Ta = Terminal atas fasa T (Biru) Tb = Terminal bawah fasa T 22
36 5) Mencatat hasil pengukuran tahanan isolasi serta suhu / temperatur sekitar. 6) Hasil pengukuran ini merupakan data terbaru hasil pengukuran dan sebagai bahan evaluasi pembanding dengan hasil pengukuran sebelumnya. Contoh blangko adalah terlampir ( lembar hasil pengukuran tanahan isolasi pemutus tenaga ). 7) Memasang kembali terminasi atas dan bawah seperti semula. 8) Melepas pentanahan lokal sambil pemeriksaan final untuk persiapan pekerjaan selanjutnya Pengukuran Tahanan Kontak Rangkaian tenaga listrik sebagian besar terdiri dari banyak titik sambungan. Sambungan adalah dua atau lebih permukaan dari beberapa jenis konduktor bertemu secara fisik sehingga arus/energi listrik dapat disalurkan tanpa hambatan yang berarti. Pertemuan dari beberapa konduktor menyebabkan suatu hambatan/resistan terhadap arus yang melaluinya sehingga akan terjadi panas dan menjadikan kerugian teknis. Rugi ini sangat signifikan jika nilai tahanan kontaknya tinggi. Sambungan antara konduktor dengan PMT atau peralatan lain merupakan tahanan kontak yang syarat tahanannya memenuhi kaidah Hukum Ohm sebagai berikut: E=I.R Jika didapat kondisi tahanan kontak sebesar 1 Ohm dan arus yang mengalir adalah 100 Amp maka ruginya adalah: W = I2. R W = watts Prinsip dasarnya adalah sama dengan alat ukur tahanan murni (Rdc), tetapi pada tahanan kontak arus yang dialirkan lebih besar I=100 Amperemeter. Kondisi ini sangat signifikan jika jumlah sambungan konduktor pada salah satu jalur terdapat banyak sambungan sehingga kerugian teknis juga menjadi besar, tetapi masalah ini dapat dikendalikan dengan cara menurunkan tahanan kontak dengan membuat dan memelihara nilai tahanan kontak sekecil mungkin. Jadi pemeliharaan tahanan kontak sangat diperlukan sehingga nilainya memenuhi syarat nilai tahanan kontak. Alat ukur tahanan kontak terdiri dari sumber arus dan alat ukur tegangan (drop Tegangan pada obyek yang diukur). Dengan sistem elektronik maka pembacaan dapat diketahui dengan baik dan ketelitian yang cukup baik pula (digital). Digunakannya arus sebesar 100 amp karena pembagi dengan angka 100 akan memudahkan dalan menentukan nilai tahanan kontak dan lebih cepat. Dalam melakukan pengukuran skala yang digunakan harus diperhatikan jangan sampai arus yang dibangkitkan sama dengan batasan skala sehingga kemungkinan akan terjadi overload dan hasil penunjukan tidak sesuai dengan kenyataannya. 23
37 Gambar 2-4 Rangkaian Pengukuran Tahanan Kontak Paralel Terminal PMT Terminal PMT Grounding lokal PMT Micro ohm Gambar 2-5 Cara Pengamanan pada saat Pengukuran Tahanan Kontak di Switchyard Pengukuran Keserempakan (Breaker Analyzer) Tujuan dari pengujian keserempakan PMT adalah untuk mengetahui waktu kerja PMT secara individu serta untuk mengetahui keserempakan PMT pada saat menutup ataupun membuka. Berdasarkan cara kerja penggerak, maka PMT dapat dibedakan atas jenis three pole (penggerak PMT tiga fasa) dan single pole (penggerak PMT satu fasa). Untuk T/L Bay biasanya PMT menggunakan jenis single pole dengan maksud PMT tersebut dapat trip satu fasa apabila terjadi gangguan satu fasa ke tanah dan dapat reclose satu fasa yang biasa disebut SPAR (Single Pole Auto Reclose). Namun apabila gangguan pada penghantar fasa fasa maupun tiga fasa maka PMT tersebut harus trip 3 fasa secara serempak. Apabila PMT tidak trip secara serempak akan menyebabkan gangguan, untuk 24
38 itu biasanya terakhir ada sistem proteksi namanya pole discrepancy relay yang memberikan order trip kepada ketiga PMT pahasa R,S,T. Hal yang sama juga untuk proses menutup PMT maka yang tipe single pole ataupun three pole harus menutup secara serentak pada fasa R,S,T, kalau tidak maka dapat menjadi suatu gangguan didalam sistem tenaga listrik dan menyebabkan sistem proteksi bekerja. Pada waktu PMT trip akibat terjadi suatu gangguan pada sistem tenaga listrik diharapkan PMT bekerja dengan cepat sehingga clearing time yang diharapkan sesuai standard SPLN No untuk system 70 KV = 150 milli detik dan SPLN No untuk system 150 kv = 120 milli detik, dan Grid Code Jawa Bali untuk sistem 500 kv = 90 milli detik dapat terpenuhi. Langkah pengukuran keserempakan beserta konfigurasi alat uji dengan PMT dapat mengacu pada instruksi kerja alat uji keserempakan PMT. Perbedaan waktu yang terjadi antar phasa R, S, T pada waktu PMT membuka dan menutup kontak dapat diketahui dari hasil pengukuran. Sehingga pengukuran keserempakan pada umumnya sekaligus meliputi pengukuran waktu buka tutup PMT. Nilai yang dapat diketahui dalam pengukuran keserempakan adalah t yang merupakan selisih waktu tertinggi dan terendah antar phasa R, S, T sewaktu membuka atau menutup kontak. Berikut terlampir contoh hasil pengujian O-C-O PMT Single Pole Merk NISSIN tipe SO 11: Contoh Pengujian O-C-O PMT Single Pole Merk NISSIN tipe SO 11: 25
39 NO FASA R A. 47,5 ms OPEN B. 383,8 ms CLOSE FASA S FASA T 43,3 ms OPEN 42,7 ms OPEN 381,5 ms CLOSE 383,6 ms CLOSE Δt (maks min) 4,8 ms 2,3 ms C. 446,1 ms OPEN 443,5 ms OPEN KETERANGAN Standar Nilai Δt (maks - min)< 10 ms 447,8 ms OPEN 4,3 ms Pengukuran Kevakuman PMT model Vacum (arus bocor) Pengukuran/pengujian karakteristik media pemutus vacuum adalah untuk mengetahui apakah ke-vacuum-an ruang kontak utama (breaking chamber) PMT tetap hampa sehingga masih berfungsi sebagai media pemadam busur api listrik. PMT jenis vacuum kebanyakan digunakan untuk tegangan menengah dan hingga saat ini masih dalam pengembangan sampai tegangan 36 kv. Jarak (gap) antara kedua katoda adalah 1 cm untuk 15 kv dan bertambah 0,2 cm setiap kenaikan tegangan 3 kv. Untuk pemutus vacuum tegangan tinggi, digunakan PMT jenis ini dengan dihubungkan secara serie. Ruang kontak utama (breaking chambers) dibuat dari bahan antara lain porcelain, kaca atau plat baja yang kedap udara. Ruang kontak utamanya tidak dapat dipelihara dan umur kontak utama sekitar 20 tahun. Karena kemampuan ketegangan dielektrikum yang tinggi maka bentuk pisik PMT jenis ini relatip kecil. Gambar 2-6 Beberapa Jenis Ruang Kontak Utama PMT Jenis Vacuum IEC 72 kv 31,5 ka IEC 24 kv 25 ka 26
40 Gambar 2-7 Sketsa Ruang Kontak Utama (breaking chambers) PMT Jenis Vacuum Prinsip Kerja Alat Ukur Nilai tahanan isolasi dengan media vakum udara lebih tinggi dari media udara bebas. PMT vakum dapat terkontaminasi dengan udara bebas yang dapat disebabkan oleh kebocoran PMT (dari sisi seal PMT atau ada retakan pada isolasi interuppter housing ). Kebocoran tingkat ke-vakumam PMT dapat diketahui dengan adanya kenaikan arus bocor pada PMT vakum yang diuji. Ketika nilai tahanan isolasi ke-vakuman PMT turun maka arus bocor saat pengujian akan naik. Prinsip kerja alat uji PMT Vakum ini adalah mendeteksi arus bocor antara kontak diam (fixed contact) dan kontak gerak (moving contact) dengan kondisi PMT Open. Alat uji ke-vakuman PMT merupakan alat uji injeksi tegangan tinggi. Alat uji akan membangkitkan tegangan tinggi 0-24 kv DC dengan laju kenaikan tegangan uji 2kV / detik. Tegangan uji 24 kv ditahan selama 1 menit. Selama proses injeksi tegangan berlangsung, alat uji akan mengukur besaran arus bocor yang melalui rangkaian pengujian, arus bocor dalam satuan miili Ampere (ma). PMT vakum dinyatakan masih baik apabila dalam proses pengujian selama 1 menit dapat selesai dilalui tanpa menyebabkan munculnya indikasi Fail pada alat uji. Indikasi Fail menunjukkan bahwa arus bocor yang terukur selama proses pengujian melampaui ambang batas yang diizinkan dan telah diset dalam alat uji, dan mengindikasikan tingkat ke-vakuman PMT yang diuji sudah bermasalah. Pada alat uji yang modern, alat uji akan berhenti menginjeksi tegangan ke PMT Vakum yang diuji (shut down) ketika arus bocor yang 27
41 terukur melebihi ambang batas. Hal ini dilakukan untuk mengamankan alat uji dan peralatan yang diuji. Gambar 2-8 Contoh Alat uji PMT Vakum Pengukuran Kapasitansi Kapasitor Pemeriksaan dan pengukuran grading capacitor dan tempatnya pada unit pemutus dapat dilakukan sebelum pemutus dioperasikan. Kapasitor pada masing-masing pole untuk tipe pemutus tenaga dapat dipasang sesuai pada tabel berikut. Pengukuran ini dilakukan dengan periode 2 tahun untuk mendapatkan data awal, kemudian periode selanjutnya berdasarkan rekomendasi pabrikan, misalnya Alsthom (12 tahun). Kapasitansi diberikan dalam pf Tipe HLR Satuan Grading capacitor dalam pf dan tempatnya pada pole *)
42 Tipe HLR Satuan Grading capacitor dalam pf dan tempatnya pada pole *) Pada waktu mengirim pemutus tenaga tipe HLR 145/2003 juga kapasitor dengan nilai berikut dapat digunakan: 1000,1300,1400,1600 dan 2000 pf. Fungsi Kapasitor Pemutus merk ASEA, type HLR dapat dirangkai beberapa unit pemutus. Untuk tegangan < 84 kv digunakan 1 (satu) unit pemutus, dan pada tegangan 150 kv 2 (dua) unit pemutus yang dipasang secara seri. Sampai pada penggunaan tegangan 420 kv dapat digunakan 6 (enam) buah pemutus. Untuk penggunaan lebih dari 1 (satu) unit pemutus dipasang paralel kapasitor. Peralatan tersebut berfungsi sebagai kontrol tegangan. Pengukuran Nilai Kapasitor Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kapasitor paralel, apakah nilai kapasitor masih memenuhi standar. Untuk mengetahui apakah kapasitor tersebut dalam kondisi baik atau sudah rusak dapat dibandingkan dengan spesifikasi pada name plate. Pengukuran kapasitansi dapat dilaksanakan dengan menggunakan peralatan Tan Delta Pengujian Tahanan Closing Resistor Setelah memasang bagian-bagian kontak sesudah overhaul pemutus, tahanan R jalan arus utama yang diukur antara terminal flans DC-2 dengan rumah mekanik DC-11. Untuk pole 84 kv tahanan R diukur antara terminal flans DC-2. Pengukuran dilakukan mengggunakan metode volt dan amper meter atau jembatan Thomson. Arus yang digunakan untuk pengukuran tidak boleh kurang dari 100 A. Pengukuran ini dilakukan dengan periode 2 tahun untuk mendapatkan data awal, kemudian periode selanjutnya berdasarkan rekomendasi pabrikan, misalnya Alsthom ( tahun). 29
43 Gambar 2-9 Mengukur Tahanan Keterangan: 2 Terminal flans 11 Rumah mekanik Pengukuran Tegangan Minimum Coil Coil mempunyai prinsip kerja medan magnit. Tegangan yang diberikan pada kedua ujung terminal coil akan menimbulkan arus yang besarnya sesuai dengan rumus tegangan dibagi nilai resitansi coil (I = V / R). Arus pada coil akan membangkitkan magnet. Magnet pada coil akan menggerakkan rod. Koil memiliki batasan tegangan minimum untuk dapat menggerakkan rod. Ketika tegangan yang diberikan ke koil dibawah tegangan minimum kerja koil menyebabkan rod bergerak lambat atau tidak bergerak sempurna. Rod koil yang bekerja ini selanjutnya pada PMT akan menunjok pin spring yang selanjutnya mengerjakan PMT close atau open. Pengukuran tegangan minimum coil dari PMT adalah untuk mengetahui apakah coil masih berfungsi dengan baik dan mengukur nilai resistansi coil tersebut masih sesuai standar. 30
44 Gambar 2-10 Prinsip kerja Coil Dalam setiap PMT baik yang single pole maupun yang three pole, jumlah tripping (opening) coil biasanya lebih banyak dari pada jumlah closing coil, hal ini dimaksud adalah sebagai faktor keamanan pola operasi sistem dan PMT tersebut. Tujuan pengukuran ini agar kita dapat mengetahui berapa besarnya tegangan minimal sumber DC yang dapat mengerjakan coil tersebut bekerja, sehingga kita dapat mengetahui fungsi dari coil tersebut apakah masih baik atau tidak. Gambar 2-11 Posisi coil pada Sistem Hidrolik PMT 31
45 Gambar 2-12 Posisi coil pada Sistem Hidrolik PMT 32
46 Prinsip kerja coil adalah berdasarkan induksi medan magnet seperti yang terlihat pada gambar-berikut Bila coil tidak diberi sumber tegangan DC, maka posisi rod seperti pada gambar, hal ini terjadi karena adanya momen dari spring. Akan tetapi posisi rod akan tertarik kedalam, bila belitan diberi sumber tegangan, hal ini terjadi karena nilai konstanta dari spring lebih kecil dari moment inertia yang dihasilkan oleh medan magnet dari kumparan. Bila rod tersebut dihubungkan ke batang dari mekanik penggerak (actuator, spring, pnuematic) PMT maka hal ini akan merubah posisi PMT dari keadaan awalnya. Pada beberapa PMT (misal merk Alsthom) tidak menggunakan per (spring) untuk posisi awalnya akan tetapi menggunakan besarnya momen lawan dari system penggerak PMT tersebut (hydrolic). Pemeliharaan dan Pengujian Mengingat begitu pentingnya fungsi dari coil terhadap kerja PMT, maka ada bebarapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pemeliharaan sebagai berikut: a. Pastikan coil sudah terbebas dari sumber tegangan DC. b. Periksa fungsi kerja rod dari coil dari kemungkinan rumah atau batang coil. adanya karat pada Gambar 2-13 Coil pada PMT 500 kv TD2 Alsthom c. Ukur nilai resistansi coil dengan menggunakan mikro ohm meter dan bandingkan dengan nilai yang tertera pada rumah coil. 33
47 Gambar 2-14 Pengukuran nilai tahanan (resistansi) coil dan pengujian tegangan minimal coil pada PMT ABB tipe AHMA-4 d. Catat hasilnya dan bandingkan dengan nilai yang tertera pada papan nama (name plate) coil tersebut. Catatan: a. Dalam melakukan pengujian jangan memberikan tegangan secara kontinu lebih dari 3 detik ke coil, karena akan merusak belitan dalam coil tersebut akibat panas yang ditimbulkan b. Sebaiknya melakukan pengukuran/pengujian ini menggunakan fasilitas wirring dari panel Marshaling Kiosk (MK) PMT tersebut, sehingga pengujian tegangan minimum coil sekaligus dapat menguji rangkaiannya. c. Sebelum melaksanakan pemeliharaan/pengujian sinyal kearah pole discrepancy rele agar dinon aktifkan terlebih dahulu, karena pengujian dilakukan secara fungsi sebenarnya (function). Coil Saklar PMT V Sumber teg DC Gambar 2-15 Rangkaian Pengujian Tegangan Minimum Coil 34
48 Setelah memperhatikan hal-hal diatas, maka atur tegangan dari pengatur tegangan (dapat menggunakan KDK, Sverker dsb) dari tegangan yang paling minimum yaitu kira 40 % dari tegangan nominalnya, sebelum dihubungkan ke coil. a. Beri tegangan DC sebesar 40 % dari tegangan nominalnya, perhatikan apakah coil sudah bekerja, bila belum matikan suply tegangan DC yang menuju Coil dengan cara membuka saklar. b. Ulangi langkah diatas dengan menaikan tegangan secara bertahap dengan interval 5 % dari tegangan nominal Coil sampai didapatkan nilai tegangan minimum yang dapat mengerjakan coil, catat hasilnya. Catatan: Posisi PMT akan membuka atau menutup setiap dilaksanakan pengujian tegangan minimum, sehingga agar diperhatikan kemampuan suply tenaga mekanik penggeraknya (pneumatic, hidrolic dan spring) setiap kali melakukan perubahan posisi PMT. Alat dan Material yang dibutuhkan Dalam melakukan pengukuran tegangan minimum Coil, dibutuhkan antara lain: a. Pengatur sumber Tegangan DC b. Kabe c. Volt meter digital d. Sumber tegangan AC e. Electrical tool sheet Gambar 2-16 Contoh coil pada PMT SF6 35
49 Pengukuran Tahanan Pentanahan Peralatan ataupun titik netral sistem tenaga listrik yang dihubungkan ke tanah dengan suatu pentanahan yang ada di Gardu Induk dimana sistem penatanahan tersebut dibuat didalam tanah dengan struktur bentuk mesh. Nilai tahanan Pentanahan di Gardu Induk bervariasi besarnya nilai tahanan tanah dapat ditentukan oleh kondisi tanah itu sendiri, misalnya tanah kering tanah cadas, kapur, dsb tahananan tanahnya cukup tinggi nilainya jika dibanding dengan kondisi tanah yang basah. Semakin kecil nilai pentanahannya maka akan semakin baik. Ada beberapa macam merk alat ukur tahanan tanah yang dipergunakan, antara lain: a. KYORITSU Model 4120 b. GOSSEN METRAWATT BAUER [GEOHM 2] c. ABB METRAWATT Type M5032 Cara kerja alat ukur tersebut menggunakan prinsip alat ukur Galvanometer (Prinsip Kesetimbangan), sebagai contoh sederhana: Gambar 2-17 Rangkaian Galvanometer Keterangan: R1 & R2 : Nilai tahanan yang telah ditetapkan. R variabel : Nilai tahanan yang bisa diubah-ubah. Rx : Tahanan yang belum diketahui nilainya ( Rx =? ) Formula : R1. Rvar = R2. Rx Cara kerja Galvanometer: Atur atau tentukan nilai tahanan R variabel (Rvar) sedemikian rupa sehingga jarum galvanometer menunjuk angka Nol (kondisi setimbang). Dan setelah kondisi setimbang maka nilai Rx bisa dicari dengan menggunakan Formula di atas. 36
50 Gambar 2-18 Alat Ukur Tahanan Pengukuran / Pengujian Media Pemutus Gas SF6 Sebagaimana diketahui Gas SF6 pada Pemutus Tenaga (PMT) berfungsi sebagai media pemadam busur api listrik saat terjadi pemutusan arus listrik (arus beban atau arus gangguan) dan sebagai isolasi antara bagian bagian yang bertegangan (kontak tetap dengan kontak bergerak pada ruang pemutus) dalam PMT, juga sebagai isolasi antara bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan pada PMT. Saat ini gas SF6 banyak digunakan pada PMT atau GIS (Gas Insulating Switchyard) mulai dari tegangan 20 kv sampai dengan 500 kv karena gas SF6 mempunyai sifat / karakteristik yang lebih baik dari jenis media pemutus lainnya. Karakteristik/sifat gas SF6 yang dimaksud adalah sebagai berikut: A. Sifat fisik Gas SF6 murni (pada tekanan absolut = 1 Atm dan temperatur = 200 C) tidak berwarna, 3 tidak berbau dan tidak beracun dengan berat isi 6,139 kg /m dan sifat lainnya adalah 0 mempunyai berat molekul 146,7g, temperatur kritis 45,55 C dan tekanan absolut kritis 3,78 MPa seperti terlihat pada gambar grafik B. Sifat Kimia Sifat kimiawi gas SF6 sangat stabil, pada ambient temperatur dapat berupa gas netral dan juga sifat pemanasannya sangat stabil. Pada temperatur diatas 150 o C mempunyai sifat tidak merusak metal, plastik dan bermacam-macam bahan yang umumnya digunakan dalam pemutus tenaga tegangan tinggi 37
51 Gambar 2-19 vapour pressure curve and lines of equivalent gas density of SF6 C. Sifat Listrik Sebagai isolasi listrik, gas SF6 mempunyai kekuatan dielektrik yang tinggi, 2,35 kali kekuatan dielektrik udara dan kekuatan dielektrik ini bertambah dengan pertambahan tekanan dan mampu mengembalikan kekuatan dielektrik dengan cepat setelah arus bunga api listrik melalui titik nol, seperti terlihat pada grafik dibawah ini Gambar 2-20 Perbandingan Tegangan Tembus SF6, Udara pada tekanan 1 Atm (air) dan Minyak Isolasi (oil) Periode dan kegiatan pemeliharaan gas SF6 dilaksanakan mengikuti jadwal berikut: 38
52 Tabel 2-1 Jadwal Pemeriksaan/Pengukuran Karakteristik Gas SF6 Pada PMT NO 01 PEMERIKSAAN / PENGUKURAN Pemeriksaan Tekanan Gas (Pressure Gas ) PERIODE A. Bulanan (Visual /pembacaan) B. 2 tahunan (Pengukuran ) A. Bulanan 02 Pengukuran kerapatan / kepadatan Gas KETERANGAN Untuk Alat ukur tek. gas yang terpasang permanen pada PMT / GIS Untuk alat ukur tek. Gas yang tidak terpasang pada PMT / GIS. Untuk PMT yang terpasang Density Monitor (Visual / pembacaan) ( Gas Density ) B. 2 Tahunan Untuk PMT yang tidak terpasang Density monitor. (pengukuran) 03 Pengukuran Kelembaban 2 Tahunan dan jika diperlukan Dengan alat Dew Point meter ( Gas Moisture ) Uji Fungsi: 2 Tahunan dan jika Pengujian Pressure Switch Pengukuran Kemurnian Gas diperlukan 12 Tahun dan jika diperlukan Alarm Block / trip Dengan alat Purity Test Meter ( Gas Impurity ) Jika diperlukan 06 Dekomposisi produk Decoposition products test 39
53 Pengujian Tegangan Tembus Pemeriksaan Tekanan/Kerapatan Gas Pemeriksaan tekanan/kerapatan gas SF6 pada PMT konvensional dilakukan untuk mengetahui apakah tekanan/kerapatan gas SF6 masih berada pada batas tekanan ratingnya (rated pressure. Dibawah ini diberikan konversi satuan tekanan yang umum digunakan: Tabel 2-2 Tabel Konversi Satuan Tekanan Lbf / in2 Psi = Pa Bar kg / cm2 at Atm 1 Pa , , , bar ,02 0,987 14,505 1 kg/cm2 = 1at (atmosfir teknik) 9,81 x 105 0, ,968 14,224 1 atm atmosfir fisika 1,01 x 106 1,013 1, ,7 6,89 x 103 6,89 x ,0703 6,8 x Item = 1 lbf / in = 1 Psi 1 bar 2 = 100 kpa = 0,1 Mpa = 1,02 kg / cm2 at Pelaksanaan pemeriksaan tekanan/kerapatan gas SF6 dapat dilakukan dengan 2 ( dua ) cara yakni: a. Pemeriksaan langsung yaitu pembacaan nilai tekanan/kerapatan dapat langsung dibaca pada alat ukur (pressure gauge/density meter) yang terpasang permanen pada PMT/GIS b. Pemeriksaan tidak langsung yaitu pembacaan nilai tekanan/kerapatan tidak dapat langsung harus terlebih dulu dipasang alat ukurnya, karena tidak terpasang alat ukur secara permanen 40
54 Gambar 2-21 Alat Ukur yang digunakan untuk Pemeriksaan Tekanan Gas Alat ukur yang digunakan untuk pemeriksaan tekanan gas tersebut baik yang terpasang permanen maupun yang tidak, ada dua macam yaitu yang pertama adalah alat ukur yang hanya dapat mengukur tekanan gas saja (standard pressure) dan alat ini digunakan pada PMT dan GIS < 150 kv, sedangkan yang kedua adalah alat yang dapat mengukur tekanan dan kerapatan gas (density meter) alat ini terpasang pada PMT/GIS 500 kv. Hasil pembacaan kedua alat ini juga berbeda, yang pertama berupa angka dan yang kedua berupa indikasi warna dan yang kedua berupa indikasi warna. Berfungsi untuk mengetahui nilai tekanan gas SF6 pada PMT Gambar 2-22 Pressure gas yang terpasang pada PMT Berfungsi untuk mengetahui kerapatan gas SF6 Gambar 2-23 Gambar densimeter yang terpasang pada PMT 41
55 Keterangan: Warna hijau menandakan gas sf6 keadaan sangat baik Warna merah menandakan kerapatan gas dibawah abnormal Kebocoran dapat terjadi pada sambungan pipa kontrol, valve refilling/ drain dan bagian lain yang terisi gas SF6 pada PMT. Adanya kebocoran gas SF6 tersebut (biasanya kecil dan dalam waktu lama) dapat mengakibatkan menurunnya tekanan dan selanjutnya mempengaruhi unjuk kerja PMT. Untuk mengetahui lokasi terjadinya kebocoran gas SF6 pada PMT dilakukan dengan cara tradisional (melalui pendengaran, busa sabun ) dan dengan alat deteksi kebocoran / leakage detector. Pada setiap PMT dilengkapi dengan alat pengaman tekanan gas yaitu pressure switch yang berfungsi untuk memberikan imformasi tekanan alarm dan tekanan minimal gas SF6. Ada 3 (tiga) tahapan tingkat tekanan gas SF6 yang harus diketahui yaitu: a) Tekanan normal (filling rated pressure for the insulation) b) Tekanan alarm (alarm pressure for the insulation) c) Tekanan blok / trip (minimal pressure for insulation) Jika diketahui terjadi kebocoran (biasanya kebocoran sangat kecil yang susah ditemukan lokasinya) langkah penanggulangannya adalah dengan menambah tekanan gas SF Pengukuran/Pengujian Karakteristik Gas SF6 Seperti sudah dijelaskan sebelumnya bahwa gas SF6 selain berfungsi sebagai isolasi juga berfungsi sebagai pemadam busur api listrik saat terjadi pemutusan arus. 42
56 Pada setiap pemadaman busur api listrik gas SF6 akan mengalami proses kimia/ listrik dan dapat mengakibatkan perubahan sifat gas SF6 tersebut, maka untuk mengetahui perubahan sifat gas (terutama pada GIS karena banyak menggunakannya) perlu dilakukan pengukuran/ pengujian karakteristiknya. Ada beberapa macam pengukuran karakteristik gas SF6 yang biasa dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Kemurnian (Impurity Test) 2) Kelembapan (Dew Point Test) 3) Dekomposisi Product (Decomposition Products Test) dan 4) Pengujian Pressure Switch Pengujian Kemurnian Gas SF6 Pengujian kemurnian gas SF6 dilaksanakan untuk mengetahui perubahan kandungan gas SF6 setelah mengalami penguraian setelah sekian kali/lama berfungsi memadamkan busur api listrik. Jadwal pelaksanaan pengujian ini secara perodik adalah 12 tahunan (ABB) atau jika diperlukan (setelah melihat jumlah dan besar arus gangguan yang terjadi) Alat yang digunakan untuk menguji kemurnian gas SF6 tersebut adalah Impurity test. Gambar 2-24 Alat Uji Kemurnian SF6 1) Pastikan valve untuk mengeluarkan gas dari PMT keadaan tertutup. 2) Sambungkan nepel dari alat purity test. 3) Pastikan Valve pada alat test keadaan tertutup 43
57 4) Buka valve pmt secara pelan pelan. 5) Buka Valve pada alat test pelan pelan 6) Nyalakan alat test ( posisikan On ) 7) Perhatikan proses pengetesan penunjukan angka persentase (%) 8) Tutup kembali valve pada PMT 9) Hasil pengukuran dalam % dan bandingkan dengan standard yang diijinkan Pengujian Kelembaban Pengujian kelembaban (moisture) dilakukan untuk mengetahui kandungan kelembaban didalam gas SF6 yang terjadi karena pengaruh perubahan temperatur dan proses pemuaian saat terjadi pemadaman busur api listrik. MBM ELEKTRONIK AG CH 5430 WETTINGEN C DEW POINT MAINS MODE INDIKATOR MIRROR CHECK CONTAMINATED CLEAN CORRECT NO DEW MEASUREMENT LIGHT INTEN DEW PONIT INSTRUMENT DP9 Gambar 2-25 Skema Alat Uji Kelembaban SF6 Pelaksanaan pengujian kandungan air/kelembapan adalah sebagai berikut: 1. Tutup Valve kontrol (5) penuh kebalikan arah jarum jam 2. Buka Valve meter aliran (8) penuh searah jarum jam 3. Buka valve kontrol perlahan sampai meter aliran (8) menunjukan aliran gas yang dikehendaki kira-kira l/h. 4. Alat ukur siap untuk pengukuran 44
58 5. Set valve yang diijinkan unruk proses pengukuran yang diinginkan 6. Tekan Switch utama 7. Set Switch mode ke mode pengukuran 8. Hasil pengjian bandingkan dengan grafik Dew Point Pengujian Dekomposisi Produk Pengujian dekomposisi produk dilaksanakan apabila diperlukan setelah melihat terlebih dahulu hasil pengujian kemurnian gas SF6 dan juga dari hasil evaluasi jumlah gangguan dan besar arus gangguan yang terjadi dalam periode tertentu. Pengukuran Decomposition Product Type-No:3-032-R003 A. Fungsi peralatan Alat ukur ini adalah untuk menentukan konsentrasi kandungan decomposition product yaitu SO2 (sulfur dioksida) dan HF (Hidrogen Flurida) dalam ppm yang disebabkan oleh adanya bunga api listrik (electric arcs) dalam gas SF6. Kandungan oil mist dapat juga diukur dengan alat ini. Konsentrasi yang dapat diukur dengan alat ini adalah sebagai berikut: Kandungan SO2 : 1 s/d 500 ppmv Kandungan HF : 1,5 s/d 15 ppmv Kandungan Oil Mist : 1 s/d 10 mg/m3 (0,16 s/d 1,6 ppmm) Ppmv adalah ppm volume Ppmm adalah ppm massa Prinsip dari pengukuran ini adalah mengalirkan gas SF6 dengan flow rate tertentu kedalam tabung Test Tube yang sesuai dengan jenis decomposition product yang akan diukur. Dengan memperhatikan perubahan warna pada skala Test Tube, maka konsentrasi kandungan decomposition product dapat diketahui. Untuk menghindari pencemaran lingkungan, gas SF6 setelah dialirkan melalui Test Tube harus ditampung dalam kantung plastik. Setelah kantungnya penuh maka needle valve pada flowmeter harus ditutup kembali. B. Pesiapan Pengukuran Sebelum mulai pengukuran, sebaiknya pipa dari peralatan dicuci dengan gas N2 (Nitrogen). Jika gas N2 tidak tersedia, gas SF6 yang akan ditest dapat juga digunakan untuk mencuci. Caranya hubungkan pipa inlet dari peralatan dengan tabung gas, lalu buka sumbat penutup (5) dan buka needle valve pada flowmeter sebesar-besarnya untuk mengalirkan gas selama 5 detik. Pada waktu mencuci Test Tubes tidak boleh dipasang. Safety valve (8) juga harus dibersihkan pada saat mencuci, yaitu dengan membuka tutup 45
59 safety valve (8), pasang sumbat (5) dan bocorkan gas melalui safety valve dengan menarik penutupnya keatas. Setelah selesai, tutup needle valve pada flowmeter, buka sumbat (5) lalu pasang kembali tutup safety valve. C. Cara Pengukuran C.1 Kandungan SO2 dan HF Setelah peralatan selesai dicuci lalu hubungkan bagian inlet dan alat ukur dengan kompartemen GIS dengan pipa flexible dan kopling adapter (6) atau (7). Pastikan needle valve pada flowmeter dalam keadaan tertutup rapat. Ambil Test Tube yang sesuai dengan jenis decomposition product dan range pengukuran yang akan diukur sesuai dengan Tabel1, lalu patahkan kedua ujung Test Tube dengan alat pemotong (9). Cara penggunaanya, masukan Test Tube kedalam lubang tengan alat pemotong. Lalu putar satu, dua kali supaya tabung kacanya tergores, kemudian masukkan Test Tube kedalam lubang sebelah luar sambil ditekan supaya ujung tabung patah dan masuk kedalam kotak kecil dibawahnya. Setelah alat pemotong selesai dipakai kotak kecil berisi potongan ujung Test Tubes harus dibersihkan dan dicuci dengan air, karena potongan Test Tubes mengandung bahan kimia yang merusak bahan plastik. Ambil kantung plastik yang sesuai dengan Tabel1, lalu hubungkan ujung outlet Test Tube melalui pipa plastik yang tersedia dalam kantung plastik dan buka katupnya dengan menekan (pada kantung dengan isi 1 atau 2 liter) atau memutar kekiri (pada kantung dengan isi 10 liter). Masukkan ujung Test Tube lainnya melalui lubang penyangga kedalam lubang outlet setelah sumbatnya dibuka. Perhatikan arah aliran gas harus sesuai arah panah pada Test Tube. Buka needle valve sedikit demi sedikit sambil diatur flow ratenya sesuai Tabel 1. Gas SF6 akan mengalir masuk kedalam kantung plastik, selama waktu flow-off sampai penuh, akan tetapi jangan sampai safety valvenya bekerja. Jika lamanya waktu flow off sesuai Tabel 1 sudah tercapai, maka kantung plastik penuh dan needle valve harus ditutup kembali. Waktu flow off dalam Tabel1 hanya berlaku untuk gas SF6 murni, Jika gas SF6 sudah tercampur dengan gas lain, maka waktu flow off dalam tabel 1 akan berkurang. Jika safety valve sudah terbuka, maka kantung plastik tidak boleh diisi lagi karena kantung plastik akan pecah. Hasil pengukuran dapat dilihat pada perubahan warna Test Tube. Untuk pengukuran SO2 dan HF skala yang dibaca pada Test Tube sudah langsung dalam ppm vol. Untuk pengukuran oil Mist skala yang dibaca pada Test Tube adalah mg/m3, dan dapat diubah menjadi ppm massa dengan menggunakan Tabel Konversi2. Setelah pengukuran selesai, tutup katup pada kantung plastik dengan cara ditarik (pada kantung dengan isi 1 dan 2 liter) atau diputar kekanan (pada kantung dengan isi 10 liter). Keluarkan Test Tube dari tempatnya dan cabut pipa plastiknya. Buang gas yang ada dalam kantung plastik keudara bebas dengan membuka katup yang ada pada kantung plastik. 46
60 RUMUS KONVERSI dari ppm vol ke dalam ppm massa adalah sebagai berikut: Untuk kandungan SO2 : ppm massa = ppm vol x 0,44 Untuk kandungan HF : ppm massa = ppm vol x 0,14 C.2. Pengukuran Kandungan OIL MIST Lakukan hal yang sama seperti diatas. Jika gas SF6 mengandung Oil Mist, maka akan terjadi perubahan warna pada Test Tube yang akan menunjukan konsentrasi kandungannya dalam mg/m3. Perhatikan juga keterangan yang ada dalam bungkus Test Tubes type 1/a. Oil Mist yang dapat diukur hanya berupa mineral oil aerosol. Uap minyak atau bahan organik lain dengan berat molekul lebih besar tidak dapat diukur. TABEL KONVERSI dari mg/m3 menjadi ppm mass adalah sebagai berikut: 1 mg oil / m3 => 0,16 ppm mass 2,5 mg oil / m3 => 0,41 ppm mass 5,0 mg oil / m3 => 0,82 ppm mass 7,5 mg oil / m3 => 1,23 ppm mass 10,0mg oil / m3 => 0,64 ppm mass Nilai harga diantaranya dapat dikira kira sendiri Yang perlu diperhatikan adalah cara menetralisir bahan kimia yang ada dalam Test Tube setelah selesainya pengukuran. Patahkan Test Tube ditengah-tengahnya yang ada tanda dua titik, sehingga gelas Test Tube gabian luar dan ampul didalamnya akan patah. Hati-hati karena didalam ampul terdapat Sulfuric acid pekat. Pegang Test Tube dalam posisi vertikal dengan lubang outlet dibawah, sehingga cairan dalam ampul dapat masuk kedalam lapisan filter (waktu exposure 1 menit). Setelah itu, kocok cairan dalam ampul sesuai arah panah. Tiup Test Tube dengan gas SF6 sesuai arah panah dengan membuka needle valve pada flowmeter, sehingga menekan isi cairan ampul kedalam indicating layer dari Test Tube. Setelah indicating layer dipenuhi dengan cairan sulfuric acid (15 mm), tutup lagi needle valvenya. Setelah itu baru Test Tube boleh dibuang. 47
61 Petunjuk Keselamatan dan Pemeliharaan 1. Jika flow rate dibuat terlalu besar pada waktu pengukuran, maka safety valve akan terbuka. Jika ini terjadi tutuplah needle valve pada flowmeter. Setelah safety valve tertutup kembali, aturlah flow ratenya lagi dengan membuka needle valve sedikit demi sedikit dan pengukuran dapat dilanjutkan. 2. Jika kantung plastik terlihat retak atau bocor, maka harus segera diganti dengan yang baru untuk mencegah kesalahan pengukuran dan kehilangan gas. 3. O-ring pada penghubung (4) dan (1) harus selalu diperiksa secara teratur, jika rusak segera diganti dengan cadangan yang ada. 4. Setelah selesai pengukuran, gas yang ada dalam kantung plastik harus dibuang dalam udara terbuka. Kantung plastik dapat digunkan berkali - kali. 5. Setelah selesai pengukuran, paralatan harus dibersihkan dari sisa decomposition product yang tertinggal dengan mengalirkan gas Nitrogen kedalamnya. Pada waktu membersihkan dengan gas Nitrogen, buka penuh needle valve dan tidak boleh ada Test Tube yang terpasang. 6. Pembacaan hasil pengukuran hanya dari perubahan warna pada Test Tube. Test Tube yang sudah dipakai, tidak dapat digunakan lagi dan harus dibuang. Test Tube yang sudah dibuka harus segera digunakan, paling lama dalam 1 jam. 7. Test Tube harus disimpan pada suhu 5o C sampai 25o C, dan lindungi terhadap sinar. Pakailah Test Tube sebelum expiry datenya. 8. Test Tube berisi bahan kimia berbahaya, hindarilah dan jangan sentuh bahan yang ada didalamnya. Jangan tinggalkan Test Tube sembarangan, yang sudah terpakai segera dibuang dan yang belum terpakai disimpan baik-baik. Gambar 2-26 Dimension sheet/tech. data 48
62 Gambar 2-27 Functional diagram Gambar 2-28 Alat uji kandungan oil mist Pengujian Pressure Switch Pengujian pressure switch dilaksanakan untuk mengetahui unjuk kerja setting dari kontak-kontak pengaman batas tekanan gas SF6 sesuai batas alarm, block recloser, block close atau auto trip ke PMT. Pelaksanaan dari pengujian pressure switch adalah sebagai berikut: a) Pastikan valve pengeluran gas pada PMT keadaan tertutup 49
63 b) pastikan valve pengeluaran gas pada alat test keadaan tertutup (1) c) Sambungkan nepple alat test ke Pengeluaran gas pada PMT ( 2 ) d) Buka Valve Pengeluran gas PMT sampai meter tekanan gas ( 3 ) pada alat test menunjukan tekanan Nominal e) Tutup Valve pengeluaran gas pada PMT f) Buka perlahan-lahan Valve pengeluaran gas pada alat test ( 1 ) g) Perhatikan dan catat penunjukan tekanan gas nya pada saat Pressure switch bekerja h) Bandingkan hasilnya dengan temperature dan cocokan dengan standard pada Grafik Tekanan Gas SF Minyak (Oil) Pemutus tenaga (PMT) dengan media pemutus minyak (oil) adalah salah satu jenis PMT yang masih digunakan dalam operasional penyaluran tenaga listrik. Untuk mengetahui apakah minyak PMT masih layak operasi sesuai dengan standard pengusahaan maka perlu adanya acuan yang sesuai. Karakteristik dan fungsi media minyak PMT adalah berbeda dengan karakteristik minyak isolasi transformator. Selain berfungsi sebagai isolasi terhadap tegangan tinggi (menengah) media minyak pada PMT jenis ini juga berfungsi sebagai pemadam busur api listrik (arching) pada saat PMT di-operasikan. Khususnya pada saat pemutusan arus beban atau bila terjadi arus gangguan. Ada beberapa PMT yang menggunakan minyak volume banyak (bulk-oil) dan ada yang menggunakan relatip sedikit minyak (low oil contents). Kelayakan operasi PMT media minyak tergantung pada banyak faktor, terutama yang menyangkut kualitas minyak itu sendiri. Faktor yang sering dijadikan acuan antara lain: a) Kandungan gas terlarut dalam minyak (terutama gas Hydrogen dan Acethylene) b) Jumlah kandungan partikel c) Tegangan tembus minyak Khusus PMT jenis sedikit minyak ( low oil contents ) perlu dilakukan analisa komersial tentang untung dan ruginya. Karena biaya penggantian minyak baru dibandingkan dengan biaya untuk uji kandungan gas terlarut dalam minyak perlu menjadi bahan pertimbangan. Sehingga untuk operasional PMT low oil contents jarang dilakukan pengujian karakteristik minyak dan cenderung diganti dengan minyak sejenis yang baru. 50
64 Pengujian Tegangan Tembus Minyak (Oil Tester) Tipe dan jenis alat ukur tegangan tembus minyak adalah beragam, masing- masing memiliki spesifikasi yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Tapi seluruhnya memiliki prinsip kerja yang sama. Prinsip kerja alat uji tegangan tembus minyak adalah: Minyak contoh yang di-uji ditempatkan pada suatu mangkuk (cup) yang merupakan salah satu asesori alat ukur. Setelan celah (gap) antara anoda dan kathoda adalah 2,5 mm dan dilakukan mengujian (diberi tegangan uji) sampai terjadi tegangan tembus (breakdown voltage) dengan ditandai loncatan busuk api listrik antara kedua elektroda. Pada alat oil tester jenis terbaru tegangan uji naik secara otomatis sedangkan pada alat yang sederhana dilakukan secara manual. Pengukuran ini dilakukan beberapa kali dengan selang waktu sekitar 5 (lima) menit diantaranya. Tujuan diberi selang waktu antara pengujian yang satu dengan pengujian berikutnya adalah untuk menunggu pemulihan daya isolasi minyak dan meratakan kosentrasi karbon yang terjadi pada saat terjadi lonjatan busur api listrik antara dua elektroda. Alat uji tegangan tembus yang baik biasanya dilengkapi perata (pengaduk) kosentrasi karbon dengan adukan baling-baling kecil yang dijalankan secara elektrik. Hasil uji tegangan tembus isolasi minyak dari alat yang sederhana masih memerlukan pencatatan secara manual. Namun bagi alat uji yang canggih, pemilihan standard pengujian dan hasil rekordnya (print-out) akan keluar secara otomatis. Dibawah ini beberapa contoh alat uji tegangan tembus dari beberapa merek dan jenis. Gambar 2-29 Contoh Alat Uji Tegangan Tembus 51
65 Prosedur Pengukuran a. Pengambilan minyak contoh yang akan di-uji dengan cara yang benar (akan dijelaskan kemudian). b. Menempatkan minyak contoh pada port yang sudah disediakan pada alat uji. c. Melakukan pengujian seperti yang dijelaskan pada prinsip kerja alat ukur butir dan hasilnya dicatat dalam laporan tertulis (lihat tabel terlampir). Yang perlu diperhatikan!!!. Pengambilan minyak contoh dari PMT tidak boleh terjadi kontak langsung antara minyak dengan udara bebas (atmosfer). Karena amat besar pengaruhnya bila bersinggungan dengan udara bebas terhadap pada hasil pengukuran, maka pengambilan minyak contoh uji DGA harus hati-hati dan disediakan alat khusus yang diberi nama syringes. Selain itu jangka waktu pengambilan minyak contoh dengan saat pengujian tidak boleh terlalu lama, karena mengakibatkan kosentrasi kandungan karbon mengendap dan menghasilkan hasil pengujian yang bukan nilai sebenarnya. Gambar 2-30 Alat Pengambilan Contoh Minyak untuk Uji DGA Prinsip kerja syringes adalah hampir sama dengan tabung injeksi (suntik), perbedaan yang prinsip contoh adalah mengisi penuh bagian ujung syringes dengan membuka katub/valve (membiarkan beberapa saat minyak memancar keluar) dan diusahakan tidak ada udara yang yang terperangkap didalamnya. Bila sudah yakin tidak ada udara maka katub / valve ditutup, dilanjutkan menarik piston syringes untuk mengisi tabung dengan minyak contoh sesuai dengan kebutuhan. Ada cara lain pengambilan minyak contoh yang digunakan yaitu dengan stainless steel cylinder. Langkah pengambilan minyak contoh dengan menggunakan stainless steel cylinder adalah sebagai berikut. Alat yang dibutuhkan: a. Stainless steel cylinder. b. Slang plastik yang sesuai besarnya dengan nipple yang dipakai. 52
66 c. Bak penampung tumpahan minyak. Langkah/tahapan pengambilan minyak contoh. 1) Buka kran buang (drain) tabung PMT bulk-oil beberapa saat agar kotoran/debu yang menempel di kran hilang. 2) Pasang nipple pada ujung krang buang (drain) dan usahakan ujung nipple yang lain cukup baik untuk pemasangan slang plastik pengisi cylinder stainless steel. 3) Hubungkan slang plastik dengan kedua ujung kran cylinder tempat minyak contoh. Posisi cylinder minyak contoh harus tetap vertikal. Dan yang akan tersambung dengan kran buang (drain) PMT pada posisi bawah. 4) Buka kedua kran cylinder minyak contoh. 5) Buka dengan hati-hati kran buang (drain) tabung PMT, minyak contoh akan mengalir dan mengisi cylinder contoh mulai dari bagian bawah. Biarkan beberapa saat minyak mengalir melalui slang plastik ujung satunya dan ditampung dalam bak. 6) Tutup kran bagian atas cylinder minyak contoh (sisi slang minyak yang keluar). 7) Tutup kran bagian bawah cylinder minyak contoh (sisi slang minyak masuk). 8) Tutup kran buang (drain) tabung PMT bulk-oil. 9) Lepaskan slang-2 plastik penghubung. 10) Minyak contoh dalam cylinder siap untuk di-uji. Pengambilan minyak contoh untuk uji tegangan tembus minyak isolasi tidak terlalu kritis seperti pengambilan minyak contoh untuk DGA. Namun demikian pada saat pengambilan contoh; kebersihan tempat minyak contoh tetap diutamakan dan hindari tingkat kelembaban yang tinggi. 53
67 Gambar 2-31 Sketsa PMT Bulk Oil untuk Tegangan Tinggi Gambar 2-32 Contoh Tabung Minyak PMT bulk-oil dan rod moving contact 54
68 Gambar 2-33 Contoh breaking chamber fixed contact Vacuum Pengukuran/pengujian karakteristik media pemutus vacuum adalah untuk mengetahui apakah ke-vacuum-an ruang kontak utama (breaking chamber) PMT tetap hampa sehingga masih berfungsi sebagai media pemadam busur api listrik. PMT jenis vacuum kebanyakan digunakan untuk tegangan menengah dan hingga saat ini masih dalam pengembangan sampai tegangan 36 kv. Jarak (gap) antara kedua katoda adalah 1 cm untuk 15 kv dan bertambah 0,2 cm setiap kenaikan tegangan 3 kv. Untuk pemutus vacuum tegangan tinggi, digunakan PMT jenis ini dengan dihubungkan secara serie. Ruang kontak utama (breaking chambers) dibuat dari bahan antara lain porcelain, kaca atau plat baja yang kedap udara. Ruang kontak utamanya tidak dapat dipelihara dan umur kontak utama sekitar 20 tahun. Karena kemampuan ketegangan dielektrikum yang tinggi maka bentuk pisik PMT jenis ini relatip kecil. Gambar 2-34 Beberapa Jenis Ruang Kontak Utama PMT Jenis Vacuum 55
69 Gambar 2-35 Sketsa Ruang Kontak Utama (breaking chambers) PMT Jenis Vacuum Prinsip Kerja Alat Ukur Pada dasarnya pengukuran/ pengujian karakteristik media pemutus vacuum adalah untuk mengetahui apakah ke-vacuum-an breaking chambers masih terjaga. Karena bila terjadi kebocoran sedikit saja ( =udara luar masuk kedalam tabung ) maka tidak ada jaminan bagi PMT bisa dioperasikan kembali. Banyak jenis alat pengukur/ penguji media pemutus vacuum, masing - masing memiliki spesifikasi yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. 56
70 Gambar 2-36 Alat uji PMT vacuum merk VIDA Alat uji PMT vacuum mempunyai tegangan uji 0 ~ 60 kv DC dengan kenaikan tegangan asut 500 V ~ V setiap detik, arus nominal 10 ma. Lama pengujian mulai saat tombol ON adalah 10 detik atau lebih. Prinsip kerja alat uji PMT vacuum ini adalah mendeteksi arus bocor antara kontak diam (fixed contact) dan kontak gerak (moving contact) dengan kondisi PMT Open. Arus bocor ini telah dikalibrasi dalam alat uji; sehingga secara otomatis alat uji akan membuka (shut down) denagn sendirinya bila terjadi arus bocor yang melampaui batas ketentuan mengalir antara kontak diam dan kontak gerak. Pengukuran/pengujian karateristik medium pemutus vacuum: Untuk diperhatikan: Peralatan Uji ini mengeluarkan/membangkitkan tegangan yang dapat mengakibatkan kecelakaan yang serius atau menyebabkan kematian. Oleh sebab itu peralatan ini jarang digunakan secara umum dan lebih banyak dipakai di Laboratorium Listrik Tegangan Tinggi atau dioperasikan oleh petugas yang terlatih dan memahami prosedur pengoperasian alat secara benar. 57
71 Gambar 2-37 Rangkaian Pengujian Karakteristik Media Pemutus Vacuum Setelah rangkaian seperti gambar di atas siap maka pengukuran / pengujian karakteristik media pemutus vacuum dilakukan dengan memutar tombol no.6 (pengatur tegangan) secara perlahan. Lampu LED hijau akan menyala terus bila kondisi vacuum (breaking chambers) masih bagus. Lampu LED merah akan menyala bila kondisi vacuum tidak bagus dan alat uji akan otomatis mati (shut-down) dengan sendirinya. Prosedur pengukuran 1) Persiapan benda uji (breaking chambers) PMT dan peralatan uji. 2) Posisi benda uji dalam keadaan terbuka kontaknya. 3) Sambungkan kabel keluaran (out-put) alat uji dengan benda uji. 4) Pasang kabel pentanahan untuk keselamatan kerja. 5) Saklar no.7 (togel) diposisikan OFF. 6) Sambungkan alat uji dengan sumber AC dan lampu power no. 1 (LED standby) akan menyala. 7) Set pengatur arus no.5 sesuai dengan kebutuhan dan setinggi-tingginya 10 ma. 8) Atur set tegangan (tombol no.6) sesuai dengan kebutuhan 9) Saklar no.7 (togel) diposisikan ON, dan lampu no.3 (LED hijau) akan menyala. 10) Amati dengan seksama dan sangat hati-hati dengan tegangan uji. 11) Bila lampu no.3 (LED hijau) tidak padam setelah 10 detik maka benda uji adalah baik. Matikan alat uji dengan saklar no.7 (togel). 12) Bila sebelum 10 detik lampu no.3 (LED hijau) padam dan lampu no.4 (LED merah) menyala maka berarti benda uji adalah tidak bagus. 58
72 2.3.2 Shutdown Function Check (2 tahunan) Meliputi: 1. Pengujian Fungsi open/close (remote/local dan scada) 2. Pengujian Emergency trip 3. Pengujian Fungsi alarm 4. Fungsi interlock mekanik dan elektrik 5. Pengujian fungsi star dan stop motor/pompa penggerak Treatment (2 tahunan) Meliputi: Pembersihan bushing/isolator interupting chamber 2. Pembersihan dan pengencangan baut terminal utama 3. Pembersihan box kontrol PMT dan pemeriksaan kabel dan terminal wiring,dan fungsi heater 4. Pengujian Tekanan Gas untuk alarm dan blok PMT 5. Pemeriksaan tekanan dan reseting Pressure Switch Hidrolik 6. Penggantian Minyak PMT Small oil 7. Memfilter Minyak PMT Bulk Oil bila hasil asesmen buruk. 8. Pemeriksaan Sistim Pernapasan PMT Bulk Oil 9. Pelumasan Pegas dan Komponen lainnya 10. Pengujian Duty cycle PMT Spring 11. Penggantian Minyak Hidrolik PMT 12. Reseting Microswitch sistim pneumatik 13. Pembersihan Selenoid Valve closing dan tripping Conditional Pekerjaan pemeliharaan yang dilaksanakan dipicu oleh kondisi tertentu atau pasca gangguan atau relokasi peralatan, misalnya karena bencana alam/gempa atau kondisi abnormal setelah pemeliharaan dilakukan. 59
73 Meliputi: Pemeriksaan Kebocoran Minyak, pada instalasi, sambungan, Katup katup pipa pada PMT dengan penggerak Hidrolik (bila muncul indikasi yaitu tekanan hidrolik turun di bawah batas normal ataupun pompa sering bekerja) 2. Pemeriksaan Kebocoran Udara pada instalasi Udara, pada instalasi udara, pipa -pipa, nepel, safety valve, katup-katup (aktuator) (bila tekanan udara menurun atapun motor kompresor yang terlalu sering bekerja) 3. Pemeriksaan Kebocoran Gas SF6 pada pipa dan sambungan-sambungan pada PMT dengan media dielectric SF 6 (bila bila frekuensi pengisian SF6 melebihi durasi normal) 4. Pembersihan bushing / isolator interupting chamber (disesuaikan dengan tingkat polusi lingkungan) 5. Pembersihan dan pengencangan baut terminal utama 6. Pemeriksaan pondasi dan struktur Besi Beton (bila terjadi gangguan alam) 7. Pemeriksaan Supply AC/DC di Lemari Mekanik PMT ( bila muncul alarm) Overhaul Overhaul adalah pemeliharaan yang dilaksanakan sekurang-kurangnya sekali dalam tiga tahun atau lebih berdasarkan manual instruction, ketentuan pabrikan atau pengalaman/ketentuan unit setempat. Penentuan kurun waktu untuk overhaul PMT secara garis besar ditentukan seperti dalam Tabel 2.3. Jumlah angka pemutusan (number of switching) n adalah sekian kali PMT membuka atau memutus arus. Pada saat terjadi pemutusan arus beban atau manipulasi jaringan n adalah 1, tetapi bila pembukaan PMT disebabkan karena arus gangguan (lebih besar dari arus nominal PMT) maka n 1, tetapi dinyatakan n (n ekivalen) dan besarnya tergantung pada arus gangguan dan dinyatakan dalam rumus: n = 300 (I2/I1)1,5 dimana: I1 = arus kapasitas pemutusan (breaking capacity) Pmt I2 = arus gangguan Tabel 2-3 Jenis PMT & Kurun Waktu Overhaull JENIS PMT PMT dengan media udara hembus (Air Blast) KURUN WAKTU OVERHAUL Selambat-lambatnya 9 tahun atau pada saat jumlah angka pemutusan n =
74 JENIS PMT KURUN WAKTU OVERHAUL Pmt dengan media sedikit minyak (Low Oil Content) PMT dengan media banyak minyak Selambat-lambatnya 6 tahun atau pada saat jumlah angka pemutusan n = 1500 Disesuaikan dengan ketentuan pabrik (Bulk Oil Content) PMT dengan media gas SF6 Disesuaikan dengan ketentuan pabrik Arus I1 dapat diperoleh dari data PMT atau dapat dihitung dengan mengambil contoh suatu Pmt yang berkapasitas 1500 MVA pada tegangan 72,5 kv, maka: I1 = 12,5 ka sedangkan I2 (arus gangguan) dapat diketahui dari fault recorder pada gardu induk setempat. Bila telah diketahui besarnya arus gangguan I2 maka penentuan nilai n dapat menggunakan tabel berikut: Tabel 2-4 Jumlah Angka Pemutusan I2 / I 1 n Pembukaan/switching normal 1 0,1 5 0,2 25 0,3 50 0,4 75 0, , , , , ,0 300 Angka Pemutusan yang Diijinkan Jumlah angka pemutusan yang telah dikerjakan tanpa dilakukan overhaul misalnya 5 kali memutus arus hubung singkat penuh, atau 14 kali memutus ½ arus hubung singkat atau 40 kali memutus ¼ arus hubung singkat PMT Banyak Minyak Meliputi (sesuai manual book): 61
75 Penggantian/pembersihan Pengatur busur api 2. Penggantian/pembersihan Jari-jari kontak tetap 3. Penggantian/pembersihan Ujung kontak gerak (arching tip) 4. Pembersihan Batang kontak gerak (moving contact rod) 5. Pembersihan Batang penggerak, poros engkol, engkol-engkol 6. Pembersihan/Penambahan minyak Dasphot/snuber 7. Pemeriksaan/penggantian Pegas-pegas penekan kontak 8. Reklamasi/penggantian Minyak isolasi 9. Penggantian Perapat (gasket/packing) PMT Sedikit Minyak Meliputi (sesuai manual book): Penggantian/pembersihan Pengatur busur (Arching contact device) 2. Penggantian/pembersihan Jari-jari kontak tetap atas 3. Penggantian/pembersihan Jari-jari kontak tetap bawah 4. Penggantian/pembersihan Ujung kontak gerak (arching tip) 5. Pembersiha Selinder pengisolasi (insulating cylinder) 6. Pembersihan Batang kontak gerak (moving contact rod) 7. Pembersihan Batang penggerak, poros engkol, engkol-engkol 8. Pembersihan/Penambahan minyak Dasphot/snuber 9. Pemeriksaan/penggantian Pegas-pegas penekan kontak 10. Reklamasi/penggantian Minyak isolasi 11. Penggantian Perapat (gasket packing) PMT Gas SF6 Meliputi (sesuai manual book): 1. Penggantian Perapat (gasket/packing) 2. Pengujian Kualitas gas SF6 (purity, dew point, decompose) 62
76 2.5.4 PMT dengan penggerak Hidrolik Meliputi Penggantian Ring piston, valve plate, return valve PMT BBC type ELF SL 7-4, 33, 2-2 (5 Tahunan) Langkah pemeliharaan yang benar adalah sebagai berikut: 1. Memeriksa dan apabila perlu mengganti kontak-kontak dari pemutus 2. Membersihkan isolator-isolator 3. Memeriksa elemen pengunci dari batang penggerak dan mekanik 4. Melumasi batang-batang hubung dan nepel 5. Memeriksa dan melumasi unit penggerak sesuai petunjuk 6. Menguji sebelum dioperasikan Perhatian: Pemasangan kembali sesudah melakukan overhaul, bagian-bagian yang bergerak harus diganti dengan elemen pengunci yang baru misalnya spring washer.apabila perlu paking-paking juga diganti. 3 EVALUASI HASIL PEMELIHARAAN 3.1 Metode Evaluasi Hasil Pemeliharaan Gambar 3-1 Flow Chart Metode Evaluasi Metode evaluasi untuk pemeliharaan PMT mengacu pada flow chart/alur seperti pada gambar diatas. Secara umum meliputi 3 (tiga) tahapan evaluasi pemeliharaan, yaitu: A. Evaluasi Level 1 Pelaksanaan tahap awal ini berdasarkan pada hasil In Service / Visual Inspection yang sifatnya berupa harian, mingguan, bulanan atau tahunan, serta dapat juga dengan menambahkan hasil on line monitoring. Tahapan ini menghasilkan kondisi awal (early warning) dari PMT. 63
77 B. Evaluasi Level 2 Hasil akhir serta rekomendasi pada tahap pertama menjadi inputan untuk dilakukannya evaluasi level 2, ditambah dengan pelaksanaan In Service Measurement. Tahapan ini menghasilkan gambaran lebih lanjut untuk justifikasi kondisi PMT, serta menentukan pemeliharaan lebih lanjut. C. Evaluasi Level 3 Merupakan tahap akhir pada metode evaluasi pemeliharaan. Hasil evaluasi level 2 ditambah dengan hasil shutdown measurement dan shutdown function check, menghasilkan rekomendasi akhir tindak lanjut yang berupa Life extension program dan Asset development plan, seperti retrofit, refurbish, replacement atau reinvestment. 3.2 Standar Evaluasi Hasil Pemeliharaan Standar evaluasi adalah acuan yang digunakan dalam mengevaluasi hasil pemeliharaan untuk dapat menentukan kondisi peralatan PMT yang dipelihara. Standar yang ada berpedoman kepada: instruction manual dari pabrik, standar-standar internasional maupun nasional (IEC, IEEE, CIGRE, ANSI, SPLN, SNI dll) dan pengalaman serta observasi/pengamatan operasi di lapangan. Dikarenakan dapat berbeda antar merk/pabrikan, maka acuan yang diutamakan adalah manual dari pabrikan PMT tersebut. Dapat digunakan acuan yang berasal dari standar internasional maupun nasional, apabila tidak diketemukan suatu nilai batasan pada manual dari pabrikan PMT tersebut Pengukuran/Pengujian Tahanan Isolasi Batasan tahanan isolasi PMT sesuai Buku Pemeliharaan Peralatan SE.032/PST/1984 dan menurut standard VDE (catalouge 228/4) minimum besarnya tahanan isolasi pada suhu operasi dihitung 1 kilo Volt = 1 MΩ (Mega Ohm). Dengan catatan 1 kv = besarnya tegangan fasa terhadap tanah, kebocoran arus yang diijinkan setiap kv = 1 ma Pengukuran/Pengujian Tahanan Kontak Nilai tahanan kontak PMT yang normal harus (acuan awal) disesuaikan dengan petunjuk/manual dari masing masing pabrikan PMT (dikarenakan nilai ini dapat berbeda antar merk). Nilai standar normal yang menjadi acuan yaitu R 120 % nilai pabrikan atau Nilai Pengujian FAT,nilai saat pengujian komisioning. Berikut terlampir daftar nilai standar pabrikan beberapa PMT: 64
78 Tabel 3-1 Nilai Tahanan Kontak Acuan pabrikan MERK Tipe PMT ALSTHOM FX11 Data Teknis 72.5 kv, Hydraulic, CI mechanism 170 kv, Hydraulic, CIN mechanism 550 kv, Hydraulic, CIN mechanism 550 kv, Hydraulic, CIN mechanism Resistansi Kontak Utama 50 µω ALSTHOM FX12 ALSTHOM FX22 or FX22D 50 µω ALSTHOM FX32 or FX32D ALSTHOM FXT kv, spring 50 µω ALSTOM GL309 F kv, spring 40 µω ALSTOM GL313 F1 170 kv, spring 40 µω ALSTOM GL313 F3 170 kv, spring 40 µω ABB S1-170 F1 170 kv, spring 50 µω ABB S1-170 F3 170 kv, spring 50 µω ALSTOM GL kv, spring 52 µω ALSTOM GL317 or GL317D 550 kv, spring, 2 chambers 95 µω 40 µω 40 µω Khusus untuk PMT yang tidak memiliki data awal dapat menggunakan nilai standar PMT tipe sejenis atau nilai pengukuran terendah PMT tersebut mengacu pada history pemeliharaan (trend 3 kali periode pemeliharaan sebelumnya) Pengukuran/Pengujian Tahanan Kontak Dinamik Sesuai dengan standar IEEE C (Guide for diagnostics and failure investigation of power circuit breaker), karakteristik hasil pengujian adalah kurva nilai R terhadap waktu (R vs time). IEEE C (Guide for diagnostics and failure investigation of power circuit breaker) page 37 Parameter/informasi yang dapat dimonitor adalah sebagai berikut: - Perubahan nilai resistansi (R) saat operasi kerja, secara umum, dikatakan dalam kondisi baik apabila perubahan nilai resistansi terjadi secara smooth (tanpa ada spike/lonjakan perubahan nilai resistansi). Gambar 3-2 Hasil Pengujian Dinamik Resistance 65
79 - Waktu kerja kontak PMT. Dapat dilihat mulai dari arus (I) trigger sampai dengan kontak utama bekerja (Open atau Close), yang nilainya harus disesuaikan dengan acuan dari masing masing pabrikan PMT. Gambar 3-3 Perhitungan Waktu pada Pengujian Dinamik Resistance Pada CIGRE A3.112 (a new measurement method of the dynamic contact resistance of HV circuit breakers) dan IEEE transactions on Power Delivery (a complete Strategy for Conducting Dynamic Contact Resistance Measurements on HV Circuit Breakers) disebutkan beberapa parameter pengujian, antara lain: 1. Operasi Close Hasil pengukuran dynamic resistance saat melakukan operasi Close (posisi open ke posisi close) secara umum tidak dapat digunakan sebagai acuan atau disebut sebagai impractical. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: - Perubahan nilai resistansi yang tidak stabil/abrupt. Dari suatu nilai tak terhingga ( ) (posisi open) berubah menjadi suatu nilai resistansi dari arcing kontak ( ), menyebabkan variasi level resistansi dari arcing kontak sulit untuk dapat dideteksi. - Injeksi arus DC yang terjadi saat menyentuh arcing kontak dapat menghasilkan level noise yang tidak diinginkan. Hal ini mengaburkan hasil pengukuran. Gambar 3-4 Kurva Operasi Close (impractical) 66
80 2. Operasi Open Pengukuran dynamic resistance saat melakukan operasi open (posisi close ke posisi open) secara umum dilakukan pada kecepatan nominal/rated speed. Kurva yang dihasilkan (sebagian besar) akan menunjukkan adanya beberapa lonjakan/spike nilai resistansi. Gambar 3-5 Kurva Operasi Open Spike yang dihasilkan ini ternyata dapat mengaburkan interpretasi, terutama didalam menentukan bagian kontak utama (pertama kali kontak). Dari beberapa percobaan didapatkan bahwa kurva yang dihasilkan ini masih bersifat acak/random. Pengukuran yang dilakukan secara berurutan juga tidak mendapatkan kurva yang identik (not reproducible). Gambar 3-6 Hasil Pengujian pada rated speed Hasil yang berbeda didapatkan saat pengukuran dynamic resistance ini dilakukan dengan kecepatan yang diperlambat/low speed ( 0,002 0,2 m/s). 67
81 Gambar 3-7 Perbandingan Hasil Pengujian pada low speed Kedua kurva yang dilakukan pada kecepatan kontak yang berbeda (0,2 m/s dan 0,15 m/s) menghasilkan kurva yang cukup identik. Perbedaan waktu mencapai arcing kontak dikarenakan adanya perbedaan kecepatan kontak PMT. Spike yang umumnya muncul dapat dihilangkan, sehingga dapat memperjelas kurva untuk interpretasi. Gambar 3-8 Hasil Pengujian pada Low Speed Sebagian besar manual dari PMT telah mencantumkan bagaimana melakukan setting untuk dapat melakukan operasi PMT dalam kecepatan lebih lambat. 1. Interpretasi Hasil Pengukuran Interpretasi terhadap hasil pengukuran dapat menggunakan metode menghitung luar area dibawah kurva yang dihasilkan oleh pengukuran dynamic resistance. Terdapat 2 model yang dapat dilakukan, yaitu: Menggunakan kurva R vs time Kurva yang dipakai adalah kurva nilai R terukur terhadap time (waktu) yang dibutuhkan dalam operasi open. Berikut merupakan contoh studi kasus terhadap pemakaian metode ini. Dilakukan percobaan terhadap beberapa kondisi dari kontak yang akan digunakan. 68
82 Gambar 3-9 Kondisi berbagai Kontak yang digunakan Gambar 3-10 Hasil Pengujian pada berbagai Kondisi Kontak Gambar diatas merupakan kurva hasil pengukuran dynamic resistance terhadap ke-4 moving contact yang digunakan. Untuk dapat menggunakan metode ini, maka kurva tersebut diolah secara regresi untuk dapat mempermudah didalam perhitungan luas kumulatif area dibawah kurva. Gambar 3-11 Hasil Regresi pada Pengujian Dinamik Resistance Dari perhitungan, dapat disimpulkan bahwa luas kumulatif area dibawah kurva akan semakin membesar seiring dengan memburuknya kondisi dari moving contact yang dipakai. 69
83 Menggunakan kurva R vs contact travel Kurva yang dipakai adalah kurva nilai R terukur terhadap kurva contact travel yang diterjadi selama operasi open. Gambar 3-12 Hasil Kurva R vs contact travel Keterangan: Ra ( ) = avg. R kontak utama Dp (mm) = wipe kontak utama Da (mm) = wipe arcing kontak Pa (mm) = posisi kontak PMT pada arcing kontak Ra ( ) = avg. R arcing kontak Ra*Da (m.mm) = luas area R vs contact travel Berikut merupakan contoh studi kasus terhadap pemakaian metode ini. Gambar 3-13 Contoh Hasil Pengujian (kurva R vs time travel) Perbandingan dilakukan terhadap 2 macam hasil pengukuran. Didapatkan bahwa pada pengukuran kedua didapatkan peningkatan nilai yang cukup signifikan terhadap parameter (Ra*Da). 70
84 Gambar 3-14 Hasil Investigasi terhadap Kondisi Kontak Setelah dilakukan inspeksi internal terhadap PMT yang kedua, didapatkan bahwa telah terjadi misalignment pada salah satu kontak tip pada moving contact. Hal ini dicurigai telah berlangsung cukup lama, dengan melihat kondisi dari fixed contact yang telah rusak diakibatkan kerusakan ini Pengukuran/Pengujian Kecepatan dan Keserempakan Kontak PMT Pada saat terjadi gangguan pada sistem tenaga listrik, diharapkan PMT bekerja dengan cepat. Clearing Time sesuai dengan standart SPLN No untuk sistem dengan tegangan: o 500 kv < 90 mili detik o 275 kv < 100 mili detik o 150 kv < 120 mili detik o 70 kv < 150 mili detik Fault clearing time pengaman cadangan adalah 500 mili detik. Kecepatan kontak PMT membuka dan atau menutup harus disesuaikan dengan referensi/acuan dari masing-masing pabrikan PMT (dikarenakan nilai ini dapat berbeda antar merk). Nilai-nilai referensi pengukuran waktu buka, pengukuran waktu tutup yaitu 110 % berdasarkan nilai acuan dari beberapa pabrikan berturut-turut disampaikan seperti contoh pada Tabel
85 Tabel 3-2 Referensi Pengukuran Waktu Buka, Pengukuran Waktu Tutup WAKTU BUKA(O) WAKTU TUTUP ( C ) (mili detik) (mili detik) Merk Tipe SIEMENS 3AQ1EE SIEMENS 3AQ1EG SIEMENS 3AP1F AREVA GL313 F ABB LTB 72,5 D1/B ABB LTB 170 D1/B ABB LTB 245E ABB HPL 72, ABB HPL NISSIN FA1 N NISSIN SO NISSIN SO AEG S WAKTU O-C-O (mili detik) 300 mili detik+2 WAKTU BUKA+WAKTU TUTUP Toleransi perbedaan waktu pada pengujian keserempakan kontak PMT, yang terjadi antar phasa R, S, dan T pada waktu PMT beroperasi (Open / Close) ditentukan dengan melihat nilai Δt yang merupakan selisih waktu tertinggi dan terendah antar phasa R, S, dan T. Pengukuran deviasi waktu antar fasa pabrikan disampaikan pada Tabel 3-3. Tabel 3-3 Pengukuran Deviasi Waktu Antar Fasa Pabrikan Merk Tipe Batasan [ms] ALSTHOM ALL 10 (open/close) NISSIN (open), FA1 N 10 (close) Pengukuran/Pengujian Tahanan/Resistor (R) Sesuai dengan standard IEC : 2001 (High-voltage alternating-current circuit breaker), bahwa toleransi nilai resistor (R) dan kapasitor (C) dapat berbeda antar merk, sehingga toleransi yang diijinkan harus sesuai dengan nilai toleransi yang diberikan oleh manufacturer dan tercantum pada manual serta name-plate peralatan. IEC : 2001 (High-voltage alternating-current circuit breaker) page 169: The manufacturing tolerances for resistors and capacitors shall be taken into account. The manufacturer shall state the value of these tolerances. 72
86 3.2.6 Pengukuran/Pengujian Kapasitansi/Capasitor (C) Sesuai dengan standard IEC : 2001 (High-voltage alternating-current circuit breaker), bahwa toleransi nilai resistor (R) dan kapasitor (C) dapat berbeda antar merk, sehingga toleransi yang diijinkan harus sesuai dengan nilai toleransi yang diberikan oleh manufacturer dan tercantum pada manual serta name-plate peralatan. IEC : 2001 (High-voltage alternating-current circuit breaker) page 169: The manufacturing tolerances for resistors and capacitors shall be taken into account. The manufacturer shall state the value of these tolerances Pengukuran/Pengujian Gas SF6 - Pengujian Tekanan Gas SF6 Pemeriksaan tekanan/kerapatan gas SF6 pada PMT konvensional/gis dilakukan untuk mengetahui apakah tekanan/kerapatan gas SF6 masih berada pada batas tekanan ratingnya (rated pressure). Batas atas tekanan gas SF6 pada Pemutus Tenaga dapat berbeda untuk setiap merk sesuai dengan buku petunjuk/manual dari pabrikan. Berikut merupakan daftar untuk beberapa merk pada suhu 200C dan tekanan atmosfir 760 mmhg. Tabel 3-4 Tekanan Gas SF6 Merk PMT Tekanan Gas SF6 sudah terisi dari pabrik Tekanan Normal (Rate Pressure) (Bar) Tekanan Gas SF6 Pemutus Tenaga pada Pengoperasian Alarm tahap 1 (SF6 harus ditambah) Alarm Tahap 2 (PMT Trip/block) (Bar) (Bar) (Bar) Merlin Gerin 0,03 6 5,2 5 Delle Alsthom 0,203 5, ,05 4,7 4,58 + 4,62 - Pengujian Kualitas Gas SF6 Pengujian kualitas gas SF6 dilaksanakan untuk mengetahui karakteristik gas SF6 apakah masih dapat dikatakan layak digunakan sebagai dielektrik / media isolasi. Standar nilai kualitas Gas SF6 menurut ASTM 2472, IEC 376 dan ASG TYPICAL adalah sebagai berikut: 73
87 Tabel 3-5 Standar Pengujian Kualitas Gas SF6 Component ASTM 2472 IEC 376 ASG TYPICAL Sulfurhexafluoride (by wt.) 99.8% 99.8% 99.9% Water (vol. %) 8 ppmv 15 ppmv 5 ppmv Dew Point -62 C -40 C -65 C Hydrolyzable Fluorides (HF) 0.3 ppmw 1.0 ppmw 0.3 ppmw Air (wt. %) 500 ppmw 500 ppmw 200 ppmw Carbon Tetrafluoride (CF4) (wt. %) 500 ppmw 500 ppmw 200 ppmw Pengujian karakteristik dari gas SF6 mengacu pada standart IEC dan pabrikan seperti tabel di bawah ini: Tabel 3-6 Standar Pengujian Kualitas Gas SF6 Lainnya URAIAN Berat molekol SATUAN BATASAN gram 146,07 Kg/l 6,16.10 KETERANGAN Delle Alsthom Berat Jenis gas ( Gas density ) Pada temp. 20 C. 1 bar 1 bar 2 bar 6 bar Kg/l Kg/l -3 IEC Delle Alsthom 6, Delle Alsthom -3 12,50.10 Kg/l 39,00.10 Delle Alsthom Kg/l 1,56 S&S C 45,6 IEC C 56,5 Delle Alsthom Berat jenis kritis (critical density) Kg/l 0,370 Delle Alsthom Tekanan kritis (critical pressure) bar 40 Delle Alsthom Degree of purity, % Min. 99 Berat jenis cair (liquit density) Pada temp. 0 C. Suhu kritis ( critical temperature) - SF6 % max. 0,05 S&S - Carbon tetraflouride (CF4) % max. 0,05 IEC
88 URAIAN SATUAN BATASAN KETERANGAN - Oxygen + Nitrogen ( udara ) Ppm max. 15 IEC Water ( H2O ) Ppm max 0,3 IEC Acidity expressed as HF ppm max. 1,0 IEC Hidrolysable expressed asa HF IEC flourides, IEC Dikarenakan tidak semua parameter pengujian tersebut diatas diperlukan untuk pengujian, maka mengacu pada CIGRE 234 TF.B : 2003 (SF6 recycling guide revision 2003) ditentukan parameter yang secara praktikal dipakai pengujian untuk justifikasi kondisi gas SF6, yaitu sebagai berikut: - Purity Menunjukkan persentase kadar kemurnian gas SF6. Kadar kemurnian gas SF6 tidak memungkinkan mencapai 100%, hal ini karena adanya beberapa kontaminan. Batas purity untuk gas SF6 adalah 97 %. - Decomposition product Merupakan hasil turunan gas SF6 akibat suhu tinggi yang disebabkan adanya electric discharge (corona, spark dan arching). Decomposition product dapat berupa gas dan padat. Dalam jumlah yang besar bersifat korosif dan beracun. Batas maksimum konsentrasi gas-gas hasil dekomposisi SF6 adalah sebagai berikut: Tabel 3-7 Dekomposisi Produk Gas SF6 Decomposition Product Batas Maksimum SF4, WF6 100 ppmv SOF4, SO2F2, SOF2, SO2, HF 2000 ppmv Apabila alat uji kualitas gas SF6 tidak bisa mendeteksi konsentrasi masing-masing gas hasil dekomposisi maka batas maksimum konsentrasi total decomposition product adalah 2000 ppmv. - Dew Point Dew point (titik embun) gas SF6 adalah suhu di mana uap air dalam gas tersebut berkondensasi (berubah menjadi zat cair). Batas dew point untuk gas SF6 didalam peralatan adalah kurang dari -5 oc. 75
89 - Moisture Content Pengujian dilakukan untuk mengetahui kandungan atau kadar uap air. Halhal yang perlu diperhatikan adalah titik jenuh dari tekanan uap air dan tekanan gas yang terukur dari alat uji. Uap air didalam peralatan tegangan tinggi bisa mengalami kondensasi sehingga mengurangi kekuatan isolasi gas SF6. Batas maksimal kadar uap air (moisture content) yang diijinkan adalah 3960 ppmv Pengukuran/Pengujian Karakteristik Minyak Pengujian kualitas minyak dilaksanakan untuk mengetahui karakteristik minyak apakah masih dapat dikatakan layak digunakan sebagai dielektrik/media isolasi. Standar nilai kualitas minyak menurut IEC ed.3: 2005 (Mineral insulating oils in electrical equipment supervision and maintenance guidance) adalah sebagai berikut: Tabel 3-8 Standar Pengujian Karakteristik Minyak Karakteristik Warna (ASTM D1500) Batasan Kondisi < 3.5 Good Lainnya Poor Tegangan tembus (ASTM Category O: D877 D1816) > 60 [kv /2, mm] Good Fair Category B: > 50 Good Fair Lainnya Poor Kandungan air (IEEE / Category O: ASTM D1533 / IEC < ) 5 10 [ppm] Category B: Good Fair <5 Good 5 15 Fair 76
90 Karakteristik Batasan Lainnya Kandungan asam Kondisi Poor Category O: [mgkoh/g] < 0.10 Good Fair Category B: < 0.10 Good Fair Lainnya Poor Tegangan antar > 28 permukaan (IFT) (IEEE / ASTM D971 99a / IEC Lainnya 60422) Good Fair Poor [mn/m] DDF / Tan Delta minyak Category O: (IEC 60247) < Good Fair Category B: < 0.10 Good Fair Lainnya Poor Sediment (ASTM D1698 / < 0.02 IEC annex.c) Lainnya [t%] Good Poor Keterangan: - Kategori O Um > 400 kv - Kategori B 72.5 < Um
91 3.2.9 Pengukuran Tekanan Udara Durasi waktu kerja kompressor dan kebocoran udara yang ditoleransi sebagai akibat perbedaan temperatur udara sekitar untuk PMT dengan penggerak pneumatik menurut pabrikan adalah sebagai berikut: Tabel 3-9 Standar Pengujian Tekanan Udara PMT dengan 1 Dengan 1 Compressor Tekanan operasi dengan 4 chamber chamber Deskripsi PMT PMT dengan 2 chamber Dengan 2 Compressor Mpa 1,95 1,95 3,05 3,05 Lbf / in² Waktu kerja untuk 1 operasi C-O 5,5 menit 11,5 menit 7, 0 menit 7,0 menit Waktu kerja per hari tanpa ada buka tutup PMT (yang di ijinkan antara 3 4 kali operasi kompressor per hari) -- ABB type ELF SL -Waktu kerja per hari tanpa ada buka tutup PMT Maksimum 2 bar per 24 Jam -- PMT MHMe (1P) - Magrini Pengukuran/Pengujian Tahanan Pentanahan Nilai tahanan pentanahan di Gardu Induk bervariasi besarnya. Nilai tahanan pentanahan dapat ditentukan oleh kondisi tanah itu sendiri, misalnya tanah kering tanah cadas, atau berkapur. Semakin kecil nilai pentanahannya maka akan semakin baik. Menurut IEEE std 80: 2000 (guide for safety in ac substation - grounding), besarnya nilai tahanan pentanahan untuk switchgear adalah 1 ohm Pengukuran/Pengujian Tegangan AC dan DC Batas nilai tegangan supply untuk motor penggerak mekanik PMT mengacu IEC std 56 2 klausal 17 (disertakan pula batasan sesuai dengan referensi pabrikan) adalah sebagai berikut: 78
92 Tabel 3-10 Standar Pengujian Tegangan AC-DC Referensi Vnominal AC / DC V min V max IEC std 56-2 klausal / % Vn 110 % Vn Siemens 110 / % Vn 110 % Vn Areva 110 / % Vn 110 % Vn Standar IEC ed.2.2: (Common Spesifications for high-voltage switchgear and controlgear standards) pada bab Motor Charging: merekomendasikan batasan relatif toleransi untuk supply tegangan AC dan DC yang diukur pada input dari auxiliary peralatan adalah sebesar 85% - 110% dari tegangan normal / rated, pada frequency rated (50Hz untuk supply tegangan AC). Untuk supply tegangan DC, tegangan ripple (yang merupakan besaran nilai peak-to-peak komponen AC dari tegangan supply pada beban normal / rated) dibatasi pada limit 5% dari komponen DC Pengukuran/Pengujian Closing dan Opening Coil Batas nilai tegangan Supply untuk Closing Coil dan Opening Coil sesuai dengan referensi pabrikan adalah sebagai berikut: Batas tegangan untuk Closing Coil adalah: Tabel 3-11 Standar Pengujian Closing Coil Referensi Vnominal AC / DC V min V max Siemens % Vn 110 % Vn Areva % Vn 110 % Vn Standar IEC ed.2.2: (Common Spesifications for high-voltage switchgear and controlgear standards) pada bab Operation of Releases Shunt closing release: merekomendasikan batasan relatif toleransi untuk supply tegangan AC dan DC yang diukur pada input dari auxiliary peralatan adalah sebesar 85% - 110% dari tegangan normal / rated, pada frequency rated (50Hz untuk supply tegangan AC). Batas tegangan untuk Opening Coil adalah: 79
93 Tabel 3-12 Standar Pengujian Opening Coil Referensi Vnominal AC / DC V min V max Siemens % Vn 110 % Vn Areva % Vn 110 % Vn Standar IEC ed.2.2: (Common Spesifications for high-voltage switchgear and controlgear standards) pada bab Operation of Releases Shunt opening release: merekomendasikan batasan relatif toleransi untuk supply tegangan AC dan DC yang diukur pada input dari auxiliary peralatan adalah sebesar 85% - 110% dari tegangan normal / rated untuk tegangan AC pada frequency rated (50Hz) serta sebesar 70% 110% dari tegangan normal / rated untuk tegangan DC Pengukuran Thermovisi Terdapat 2(dua) macam pelaksanaan thermovisi dengan masing-masing standar/ pedoman yang dapat dipakai, yaitu: Pemeriksaan pada Terminal utama Dilakukan dengan melihat perbedaan/selisih suhu pada 2 (dua) titik dengan komponen/material yang berbeda. Selisih suhu antara klem dan konduktor Selisih suhu antara klem dan terminal utama/stud Berdasarkan manual dari pabrikan kamera thermovisi merk FLIR, disebutkan bahwa terdapat 3 (tiga) macam kondisi, yaitu: - Kondisi I : t 5oC (9oF) - Kondisi II : 5oC < t 30 oc (9oF < t 54 of) - Kondisi III : t > 30oC (54oF) Pemeriksaan pada Interrupter chamber Dilakukan dengan membandingkan suhu interrupter chamber antar phasa (dengan phasa lainnya). Berdasarkan standar dari International Electrical Testing Association (NETA) Maintenance Testing Spesification (NETA MTS-1997) terdapat 2 (dua) macam T yang dapat dipakai sebagai acuan justifikasi kondisi, yaitu: 80
94 - T1: merupakan perbedaan/ selisih suhu antar phasa (dengan phasa lainnya). o Kondisi I : 1oC < t 3oC o Kondisi II : 4oC < t 15oC o Kondisi III : t > 15oC - T2: merupakan perbedaan/ selisih suhu diatas suhu lingkungan (over ambient temperature). 4 o Kondisi I : 1oC < t 3 oc o Kondisi II : 11oC < t 20oC o Kondisi III : 22oC < t 40 oc o Kondisi IV : t > 40oC REKOMENDASI HASIL PEMELIHARAAN Rekomendasi hasil pemeliharaan merupakan tindak lanjut yang harus dilaksanakan sebagai hasil evaluasi hasil pemeliharaan yang telah dilakukan. Rekomendasi berpedoman kepada instruction manual dari pabrik dan pengalaman serta observasi/pengamatan operasi di lapangan. 4.1 Rekomendasi Hasil In Service/ Visual Inspection Adalah tindak lanjut dari hasil In Service/Visual Inspection yang juga merupakan tindakan pemeliharaan rutin yang dilakukan dalam periode harian, mingguan, bulanan atau tahunan. Tindak lanjut dilakukan sebagai tindakan pencegahan terjadinya kelainan / unjuk kerja rendah pada peralatan PMT Periode Harian Tabel 4-1 Rekomendasi Periode Harian PERALATAN YANG DIPERIKSA SASARAN PEMERIKSAAN REKOMENDASI Sistem Penggerak Hidrolik Tekanan menurun hidrolik Pemeriksaan motor dan kebocoran Pneumatic Tekanan menurun Kerja kompresor banyak 81 udara Pemeriksaan motor dan kebocoran motor terlalu
95 PERALATAN YANG DIPERIKSA SASARAN PEMERIKSAAN REKOMENDASI Media Pemadam Busur Api Gas SF Tekanan menurun SF6 Pemeriksaan kebocoran gas Periode Mingguan Tabel 4-2 Rekomendasi Periode Mingguan PERALATAN YANG DIPERIKSA SASARAN PEMERIKSAAN REKOMENDASI Sistem Penggerak Counter rusak Hidrolik Pegas Penggerak Pneumatik Lemari Mekanik kerja pompa Perbaikan / penggantian Level minyak menurun Pemeriksaan kebocoran Pegas tidak full charge Pemeriksaan motor Indikator pegas rusak Perbaikan / Penggantian Air pada kompressor Pemeriksaan/pengga ntian seal tangki kompressor yang rusak. Drain air. tangki Level minyak kompresor Pemeriksaan kebocoran menurun Indikator tekanan Perbaikan / penggantian udara rusak Indikator kerja motor kompresor rusak Indikator level minyak kompresor rusak Pemeriksaan Supply AC Perbaikan / penggantian / DC Periode Bulanan Tabel 4-3 Rekomendasi Periode Bulanan PERALATAN YANG DIPERIKSA Minyak SASARAN PEMERIKSAAN REKOMENDASI Level minyak Pemeriksaan kebocoran menurun Tekanan N2 menurun 82
96 PERALATAN YANG DIPERIKSA Lemari Mekanik SASARAN PEMERIKSAAN REKOMENDASI Pemeriksan Heater Perbaikan / penggantian (Heater rusak atau hilang) Periode Tiga Bulanan Tabel 4-4 Rekomendasi Periode Tiga Bulanan PERALATAN YANG DIPERIKSA SASARAN PEMERIKSAAN REKOMENDASI Posisi indikator Perbaikan / penggantian ON/OFF tidak tepat Counter bekerja Lemari Mekanik PMT tidak Perbaikan / penggantian Kondisi pintu lemari Perbaikan / penggantian korosi, kendor, tidak dapat dikunci atau hilang Door sealent rusak, keras atau hilang Lubang kabel tidak rapat atau glen hilang Kondisi dalam lemari Pembersihan kotor atau lembab Penggerak Hidrolik Media Minyak Isolasi Isolator Grading Kapasitor Perubahan warna minyak hidroik Penggantian hidrolik Perubahan minyak Pemeriksaan lanjutan PMT (pengujian tahanan kontak) Pengujian tegangan tembus (BDV) minyak warna minyak Isolator kotor Pembersihan/Penggantian Isolator kotor Pembersihan Isolator pecah, retak Perbaikan / penggantian atau flek 83
97 4.1.5 Periode Tahunan Tabel 4-5 Rekomendasi Periode Tahunan PERALATAN YANG DIPERIKSA SASARAN PEMERIKSAAN Rod penggerak Penggerak Pegas mekanik Perbaikan / penggantian pelumas Kondisi pelumas roda Bersihkan lama, lakukan gigi kering / kotor pelumasan baru Penggerak Pneumatik Kondisi venbelt Penggantian kompressor slip, kendur atau retak Kondisi tangki korosif Lemari Mekanik Terminal korosi overheating Kabel terkelupas Perbaikan / penggantian wiring Perbaikan / penggantian atau kontrol Pemeriksaan Keretakan Penggantian Isolator Isolator 4.2 REKOMENDASI Rekomendasi Hasil In Service Measurement Adalah tindak lanjut dari hasil In Service Measurement yang juga merupakan tindakan pemeliharaan rutin yang dilakukan dalam periode tertentu (dalam hal kegiatan thermovisi dilakukan rutin dalam periode triwulanan). Tindak lanjut dilakukan sebagai tindakan pencegahan terjadinya kelainan / unjuk kerja rendah pada peralatan PMT. Tabel 4-6 Rekomendasi In Service Measurement PERALATAN YANG DIPERIKSA HASIL UKUR Perbedaan suhu antar fasa Grading Kapasitor Selisih suhu antara *: - klem dan konduktor - klem dan terminal utama REKOMENDASI Investigasi lanjut.(lakukan pengukuran kapasitansi) lebih nilai Kondisi I Lanjutkan pengujian rutin 3 bulanan Kondisi II Dijadwalkan perbaikan penggantian seperlunya 84 atau
98 PERALATAN YANG DIPERIKSA HASIL UKUR REKOMENDASI Perbaiki penggantian secepatnya Kondisi III Interrupter Chamber ** atau T1 (perbedaan suhu antar fasa) T2 (over ambient temperature) Kondisi I o 1 C < t 3 oc Kondisi I o 1 C < t 3 oc Dimungkinkan ada ketidaknormalan, perlu investigasi lanjut Kondisi II 4oC < t 15oC Kondisi II 4oC < t 15oC Mengindikasikan adanya defesiensi, perlu dijadwalkan perbaikan --- Kondisi III 21oC < t 40oC Perlu dilakukan monitoring secara kontinyu sampai dilakukan perbaikan Kondisi III t > 15oC Kondisi IV t > 40oC Ketidaknormalan Mayor, perlu dilakukan perbaikan segera * Berdasarkan manual instruction Kamera thermovisi FLIR **Berdasarkan International Electrical Spesifications (NETA MTS-1997) 4.3 Testing Association (NETA) Maintenance Testing Rekomendasi Hasil Shutdown Measurement Adalah tindak lanjut dari hasil Shutdown Measurement yang juga merupakan tindakan pemeliharaan yang dilakukan dalam periode tertentu (dapat ditentukan berdasarkan kondisi hasil asesmen) Pengujian Pada Interuppter Chamber Tabel 4-7 Rekomendasi Pengujian pada Interrupter Chamber PENGUJIAN Tahanan Isolasi HASIL UKUR / UJI REKOMENDASI 1 kv = 1 M Dilakukan uji ulang Pembersihan isolator Perbaikan / penggantian (overhaul) 85
99 PENGUJIAN HASIL UKUR / UJI REKOMENDASI Tahanan kontak (statis) batasan pada manual atau 120% nilai acuan Pembersihan terminal klem dari debu, korosif atau cat. Dilakukan uji ulang Perbaikan / penggantian (overhaul) Dinamik resistance kontak Terdapat ripple / spike pada kurva R vs time Dilakukan uji ulang Pembersihan kontak Perbaikan / penggantian (overhaul) Kecepatan Kontak buka PMT Kecepatan Kontak tutup PMT 10 % kondisi awal sesuai tegangan rating PMT Dilakukan uji ulang Perbaikan / penggantian Keserempakan PMT Kontak > 10 ms atau nilai standard pabrikan Pengukuran nilai R pada Resistor (bila ada) > batasan toleransi pada manual / name plate Dilakukan uji ulang Perbaikan / penggantian Pengukuran kapasitansi kapacitor (bila ada) > batasan toleransi pada manual / name plate Dilakukan uji ulang Perbaikan / penggantian Pengukuran arus motor penggerak < 110 % Inom (arus nominal) Perbaikan mekanik penggerak Penggantian motor. Alur tindak lanjut terkait pengukuran tahanan isolasi diperlihatkan pada Gambar
100 Gambar 4-1 Diagram Alir Tindak Lanjut berdasarkan Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi 87
101 Alur tindak lanjut terkait pengukuran tahanan kontak diperlihatkan pada Gambar 4-2. Gambar 4-2 Diagram Alir Tindak Lanjut berdasarkan Hasil Pengukuran Tahanan Kontak 88
102 Alur tindak lanjut terkait pengujian waktu buka, waktu tutup, dan keserempakan diperlihatkan pada Gambar 4-3. Gambar 4-3 Diagram Alir Tindak Lanjut berdasarkan Hasil Waktu Buka, Waktu Tutup, dan Keserempakan 89
103 Alur tindak lanjut terkait pengukuran tegangan minimum coil diperlihatkan pada Gambar 4-4. Gambar 4-4 Diagram Alir Tindak Lanjut berdasarkan Hasil Pengujian Tegangan Minimum Coil 90
104 4.3.2 Pengujian pada Media Pemadam Busur Api Tabel 4-8 Rekomendasi Pengujian pada Media Pemadam Busur Api PENGUJIAN HASIL UKUR / UJI Tekanan gas SF6 tekanan rated Kualitas gas SF6 Purity 97% atau Decomposition product 2000ppmv atau Dew point -5oC atau Moisture content 3960ppmv Reklamasi/Treatment/ penggantian Tegangan Tembus (BDV) minyak isolasi khusus untuk PMT type bulk oil Kategory O (Tegangan rating > 400 kv): < 60 kv/2,5 mm Kategory B (72,5 kv < Tegangan rating < 400 kv): < 50 kv/2,5 mm Periksa kebocoran Perbaikan / penggantian (flow chart terlampir) Di bawah normal Perbaikan / penggantian Ke-vacuum-an PMT REKOMENDASI Periksa kebocoran Penambahan GAS SF6 Pengujian pada Sistem Mekanik Penggerak Tabel 4-9 Rekomendasi Pengujian pada Sistem Mekanik Penggerak PENGUJIAN HASIL UKUR / UJI REKOMENDASI Tegangan supply (Tegangan AC dan DC ) < 85% atau > 110% dari V rated Pengaturan tegangan Perbaikan / penggantian Tegangan closing coil (Tegangan AC dan DC ) < 85% atau > 110% dari V rated Pengaturan tegangan Perbaikan / penggantian Tegangan opening coil ( Tegangan AC ) < 85% atau > 110% dari V rated ( Tegangan DC ) < 70% atau > 110% dari V rated Pengaturan tegangan Perbaikan / penggantian < tekanan rated Periksa kebocoran Perbaikan / penggantian Tekanan (pneumatic) udara 91
105 PENGUJIAN Tekanan hidrolik Tahanan isolasi belitan motor penggerak 4.4 HASIL UKUR / UJI 1 kv = 1 M REKOMENDASI Dilakukan uji ulang, Serlak dan pemanasan. Penggantian Pengukuran arus beban motor penggerak >110 % In Pelumasan gear, ganti bearing Penggantian motor. Pengukuran waktu kerja kompresor >t acuan Periksa kebocoran Periksa tekanan kompresi Rekomendasi Hasil Shutdown Function Check Adalah tindak lanjut dari hasil Shutdown Function Check yang dilakukan pada saat kondisi peralatan off line/tidak beroperasi. Tabel 4-10 Rekomendasi Shutdown Function Check 4.5 PENGUJIAN HASIL UKUR / UJI REKOMENDASI Pengujian fungsi open / close (local / remote dan scada) Tidak berfungsi Pengecekan supply Pengecekan / perbaikan wiring Pengujian trip Tidak berfungsi Pengecekan supply Pengecekan / perbaikan wiring Pengujian fungsi alarm Tidak berfungsi Pengecekan supply Pengecekan / perbaikan wiring Pengujian fungsi interlock mekanik dan elektrik Tidak berfungsi Pengecekan supply Pengecekan / perbaikan wiring Pengujian fungsi motor penggerak Tidak berfungsi Pengecekan supply Pengecekan / perbaikan wiring emergency Rekomendasi Hasil Overhaul Adalah tindakan yang mesti dilaksanakan dalam rangka melaksanakan Overhaul PMT dalam keadaan off, rekomendasi mengacu/berdasarkan buku SE 032 / PST / 1984 perihal overhaul PMT. 92
106 Tabel 4-11 Rekomendasi Hasil Overhaul PMT dengan Menggunakan Minyak Banyak (bulk oil) PENGUJIAN HASIL PENGECEKAN REKOMENDASI Periksa pengatur busur -bila ada pengikisan -diganti api (Arc control device) pada cakram -tidak ada pengikisan -bersihkan bagian dalamnya dan kemudian keringkan. -Lumasi pengatur busur api tersebut sebelum dimasukkan kembali dengan mencelupkan beberapa kali ke dalam minyak PMT yang masih baru. Periksa Jari-jari kontak -Terdapat bintik-bintik - bersihkan dengan kikir tetap yang disebabkan oleh halus atau amplas. busur api. -Ganti jari jari kontak -jari jari kontak dan dan cincin busur kontak cincin busur kontak yang telah aus ( terkikis). telah aus (terkikis). -Setel sudut jari jari -jalannya batang kontak kontak sedemikian rupa bergerak macet / seret. untuk memperlancar jalannya batang kontak bergerak. Periksa ujung (arcing tip) kontak -Uujung kontak /aus, banyak terkikis. Periksa batang kontak bergerak / batang pengangkat ( moving contact rod / lift rod ) Periksa batang penggerak (fibre glass operating rod), poros poros engkol, engkolengkol. cacat - ganti ujung tersebut jika banyak terkikis. kontak sudah -kendor atau -perbaiki seperlunya dan melengkung, bersihkan. -peralatan bantunya -dilengkapi tidak lengkap. -batang penggerak -perbaiki se perlunya dan kendor atau bersihkan. membengkok. -kencangkan -kontra mur, baut baut, kunci kunci dan bantalan bantalannya yang kendor. 93
107 PENGUJIAN HASIL PENGECEKAN REKOMENDASI Periksa dashpot atau - settingnya tidak cocok - atur seperlunya. snubber / betul. -Bersihkan dan isi kembali cairan dalam dashpot. Periksa pegas pegas -Kondisi jelek penekan kontak -perbaiki / ganti. Periksa minyak isolasi - di saring atau diganti. Perapat packing) - tidak memenuhi syarat (gasket/ -perapat (gasket/packing) mati -Ganti semua perapat (gasket/packing) dengan yang baru. Tabel 4-12 Rekomendasi Hasil Overhaul PMT dengan Menggunakan Minyak Sedikit (small Oil) PENGUJIAN HASIL PENGECEKAN REKOMENDASI Periksa pengatur busur -bila ada pengikisan -diganti api (Arc control device) pada cakram -tidak ada pengikisan -bersihkan bagian dalamnya dan kemudian keringkan. -Lumasi pengatur busur api tersebut sebelum dimasukkan kembali dengan mencelupkan beberapa kali ke dalam minyak PMT yang masih baru. Periksa Jari-jari kontak bintik-bintik - bersihkan dengan kikir tetap atas dan cincin -Terdapat yang disebabkan oleh halus atau amplas. busur kontak tetap atas. busur api. -Ganti jari jari kontak -jari jari kontak dan dan cincin busur kontak cincin busur kontak yang telah aus ( terkikis). telah aus (terkikis). -Setel sudut jari jari -jalannya batang kontak kontak sedemikian rupa bergerak macet / seret. untuk memperlancar jalannya batang kontak bergerak. - diganti. Periksa Jari-jari kontak - telah aus tetap bawah. Periksa silinder -terdapat endapan -dibersihkan dengan kain 94
108 PENGUJIAN HASIL PENGECEKAN REKOMENDASI pengisolasi (insulating endapan karbon pada bersih / kering. cylinder) bagian dalamnya, Periksa ujung (arcing tip) kontak -Uujung kontak /aus, banyak terkikis. Periksa batang kontak bergerak / batang pengangkat ( moving contact rod / lift rod ) Periksa batang penggerak (fibre glass operating rod), poros poros engkol, engkolengkol. cacat - ganti ujung tersebut jika banyak terkikis. kontak sudah -kendor atau -perbaiki seperlunya dan melengkung, bersihkan. -peralatan bantunya -dilengkapi tidak lengkap. -batang penggerak -perbaiki se perlunya dan kendor atau bersihkan. membengkok. -kencangkan -kontra mur, baut baut, kunci kunci dan bantalan bantalannya yang kendor. Periksa dashpot atau - settingnya tidak cocok - atur seperlunya. snubber / betul. -Bersihkan dan isi kembali cairan dalam dashpot. Periksa pegas pegas -Kondisi jelek penekan kontak -perbaiki / ganti. Periksa minyak isolasi - di saring atau diganti. Perapat packing) - tidak memenuhi syarat (gasket/ -perapat (gasket/packing ) mati -Ganti semua perapat (gasket/packing) dengan yang baru. Tabel 4-13 Rekomendasi Hasil Over Haul PMT dengan Menggunakan Media Gas SF6 PENGUJIAN Perapat packing) (gasket/ Kualitas gas SF6 HASIL PENGECEKAN REKOMENDASI -Ganti semua perapat -terjadi kebocoran gas (gasket/packing) dengan SF6 yang baru. Ganti gas SF6 dengan Hasil pengujain gas SF6 yang baru terindikasi buruk 95
109 7 ( PMT ) 7.1 Inspeksi Inspeksi level -1 ( In service Inspection ) DRIVING MECHANISM (MEKANIK PENGGERAK) PENGGERAK PEGAS Indikator Pegas Pemeriksaan Indikator Kondisi Pegas kopel/rod mekanik penggerak Pemeriksaan Rod mekanik penggerak Kondisi pelumas roda gigi Pemeriksaan Kondisi pelumas roda gigi PENGGERAK HIDROLIK Tekanan Hidrolik Pemeriksaan Tekanan Hidrolik Kali kerja pompa Pemeriksaan Counter kerja Pompa Level minyak Hidrolik Pemeriksaan Level minyak Hidrolik Kondisional 5 Tahun 2 Tahun 1 Tahun 3 Bulanan Bulanan ITEM PEKERJAAN 2 Mingguan SUBSISTEM Mingguan KODE Harian Lampiran 1 TABEL PERIODE PEMELIHARAAN PMT KETERANGAN
110 Kebocoran Minyak, pada instalasi, sambungan, Katup katup pipa Pemeriksaan Kebocoran Minyak, pada instalasi, sambungan, Katup - katup pipa Kondisi warna minyak Pemeriksaan Kondisi warna minyak PENGGERAK PNEUMATIK Tekanan Udara Pemeriksaan Tekanan Udara Kerja motor kompresor Pemeriksaan Counter Kerja motor kompresor Level minyak kompresor Pemeriksaan Level minyak kompresor Kebocoran Udara pada instalasi Udara, pada instalasi udara, pipa -pipa, nepel, safety valve, katup-katup ( aktuator ) Pemeriksaan Kebocoran Udara pada instalasi Udara, pada instalasi udara, pipa -pipa, nepel, safety valve, katup-katup ( aktuator ) Kondisi ventbelt kompresor Pemeriksaan Kondisi ventbelt kompresor Tangki kompresor Pemeriksaan Tangki kompresor 5 Tahun 2 Tahun 1 Tahun 3 Bulanan KETERANGAN * *) bila muncul indikasi : - pompa sering bekerja - tekanan hidrolik turun di bawah batas normal * *) Bila : - Tekanan udara menurun - Kerja motor kompresor terlalu sering 97 Kondisional Bulanan ITEM PEKERJAAN 2 Mingguan SUBSISTEM Mingguan KODE Harian
111 Air pada tangki kompresor DIELECTRIC GAS SF tekanan SF6 / Manometer tekanan Kebocoran Gas SF6 pada pipa Pemeriksaan Kebocoran Gas SF6 pada dan sambungan-sambungan pipa dan sambungan-sambungan MINYAK / MINYAK +N Penunjukan Level minyak Pemeriksaan Penunjukan Level minyak Penunjukan tekanan N2 Pemeriksaan Penunjukan tekanan N Warna minyak Pemeriksaan Warna minyak ISOLATOR Keretakan Isolator Pemeriksaan Keretakan Isolator Kebersihan Isolator Pemeriksaan kebersihan Isolator SECONDARY 5 Tahun Kondisional * *) Bila periodical pengisian SF6 berulang - ulang * *) Disesuaikan dengan kondisi lingkungan GI 98 2 Tahun 1 Tahun 3 Bulanan Pemeriksaan tekanan SF6 KETERANGAN Pemeriksaan / Pembuangan Air pada tangki kompresor Bulanan ITEM PEKERJAAN 2 Mingguan SUBSISTEM Mingguan KODE Harian
112 LEMARI MEKANIK Posisi Indikator ON / OFF Pemeriksaan Posisi Indikator ON / OFF Heater Pemeriksan Heater Supply AC / DC Pemeriksaan Supply AC / DC Terminal Wiring Pemeriksaan terminal wiring Kabel Kontrol Pemeriksaan Kabel kontrol Counter Pemeriksaan / pencatatan Stand Counter Seal Pintu lemari mekanik Pemeriksaan seal Pintu lemari mekanik Kondisi dalam lemari Pemeriksaan Kondisi dalam lemari Pintu Lemari Pemeriksaan Kondisi Pintu Lemari Lubang kabel Pemeriksaan Lubang kabel STRUKTUR MEKANIK 99 5 Tahun 2 Tahun 1 Tahun 3 Bulanan Kondisional Bulanan ITEM PEKERJAAN 2 Mingguan SUBSISTEM Mingguan KODE Harian KETERANGAN * *) Apabila muncul alarm
113 Pondasi Pemeriksaan Pondasi Struktur Besi / Beton Pemeriksaan Struktur Besi / Beton PRIMARY (PRIMER) Terminal Utama, Jumperan dan daerah bertegangan terhadap benda asing Pemeriksaan Terminal Utama, Jumperan dan daerah bertegangan terhadap benda asing Grading Capacitor Pemeriksaan Fisik Grading Cap Closing Resistor Pemeriksaan Fisik Closing Resisor Suhu Interrupting Chamber Suhu Interrupting Chamber 100 Kondisional 5 Tahun 2 Tahun 1 Tahun Inspeksi level -2 ( In service measuring ) PRIMARY Pengukuran Suhu (Thermovisi) hotspot interupting chamber tegangan < 150 kv Pengukuran Suhu (Thermovisi) hotspot interupting chamber tegangan > 150 kv 3 Bulanan Bulanan ITEM PEKERJAAN 2 Mingguan SUBSISTEM Mingguan KODE Harian * * KETERANGAN *) Apabila terjadi gangguan alam (banjir/gempa bumi)
114 Suhu isolator Grading Capasitor Suhu isolator Grading Capasitor Suhu isolator closing resistor Suhu isolator closing resistor Suhu Terminal Utama Suhu Terminal Utama Inspeksi level -3 ( Shutdown measurement ) Tahanan isolasi Atas - Bawah Atas - Tanah Bawah - Tanah Pengukuran Suhu (Thermovisi) Grading Capacitor tegangan < 150 kv Pengukuran Suhu (Thermovisi) Grading Capacitor tegangan > 150 kv Pengukuran Suhu (Thermovisi) Grading Capacitor tegangan < 150 kv Pengukuran Suhu (Thermovisi) Grading Capacitor tegangan > 150 kv Pengukuran Suhu (Thermovisi)Terminal Utama tegangan < 150 kv Pengukuran Suhu (Thermovisi)Terminal Utama tegangan > 150 kv Pengukuran tahanan isolasi terminal ( Atas - Bawah ) Pengukuran tahanan isolasi terminal ( Atas - Tanah ) Pengukuran tahanan isolasi terminal ( Bawah - Tanah ) 101 Kondisional 5 Tahun 2 Tahun 1 Tahun 3 Bulanan Bulanan ITEM PEKERJAAN 2 Mingguan SUBSISTEM Mingguan KODE Harian KETERANGAN
115 Tahanan kontak Pengukuran tahanan kontak PMT Waktu Buka Pengukuran waktu buka Waktu Tutup Pengukuran Waktu tutup Keserempakan Kontak Buka Keserempakan Kontak Tutup Kapasitansi Kapasitor PMT Pengukuran / pengujian Keserempakan Kontak Buka fasa R,S,T Pengukuran / pengujian Keserempakan Kontak Tutup fasa R,S,T Pengukuran Kapasitansi Kapasitor PMT Tahanan Closing Resistor Pengujian Tahanan Closing Resistor Tahanan magnetic coil Pengukuran Tahanan magnetic coil Tegangan Magnetic Opening Coil Tegangan Magnetic Closing Coil Velocity Test (Displacement Test) Pengukuran Tegangan Coil Pengukuran Tegangan Coil Pengujian Velocity test Tahun 2 Tahun 1 Tahun 3 Bulanan Kondisional Bulanan ITEM PEKERJAAN 2 Mingguan SUBSISTEM Mingguan KODE Harian KETERANGAN * * *) periode 2 tahun untuk mendapatkan data awal, selanjutnya 10 tahun atau sesuai manual book * *) Bila Unit memiliki alat Uji
116 Arus Motor Penggerak Tegangan Tembus minyak Pengujian Tegangan Tembus PMT Bulk Oil PMT Bulk Oil Tangen Delta Bushing PMT Pengukuiran Tangen Delta Bushing Bulk Oil PMT Bulk Oil Pengujian Arus Motor Penggerak Pengukuran tahanan pentanahan PMT Pengujian Fungsi open / close ( remote/local dan scada ) Emergency trip Pengujian Emergency trip Fungsi alarm Pengujian Fungsi alarm Fungsi interlock mekanik dan elektrik Fungsi interlock mekanik dan elektrik Fungsi Motor Penggerak 7.2 TREATMENT Pengujian fungsi star dan stop motor/pompa penggerak Tahun 2 Tahun 1 Tahun 3 Bulanan Pengukuran tahanan pentanahan PMT SHUTDOWN FUNCTION CHECK Fungsi open / close ( remot/local dan scada ) * *) Periode 10 tahun atau sesuai manual book * *) Periode 10 tahun atau sesuai manual book Pengujian Kualitas Gas SF KETERANGAN Pengujian kualitas gas SF Kondisional Bulanan ITEM PEKERJAAN 2 Mingguan SUBSISTEM Mingguan KODE Harian
117 7.2.1 Bushing / Isolator interupting chamber Terminal Utama Box Kontrol PMT dan terminal wiring Tekanan Gas untuk alarm dan blok PMT Pressure Switch Hidrolik Minyak PMT Small Oil Minyak PMT Bulk Oil Pembersihan Bushing / Isolator interupting chamber Pembersihan dan Pengencangan baut Terminal Utama Pembersihan Box Kontrol PMT dan pemeriksaan kabel dan terminal wiring,dan fungsi Heater Pengujian Tekanan Gas untuk alarm dan blok PMT Pemeriksaan tekanan dan reseting Pressure Switch Hidrolik Penggantian Minyak PMT Small oil Sistim Pernapasan PMT Bulk Oil Pegas dan Komponen lainnya Pemilteran Minyak PMT Bulk Oil bila hasil asesment buruk. Pemeriksaan Sistim Pernapasan PMT Bulk Oil Pelumasan Pegas dan Komponen lainnya Duty cycle PMT Spring Pengujian Duty cycle PMT Spring Minyak Hidrolik PMT Penggantian Minyak Hidrolik PMT Kondisional 5 Tahun 2 Tahun 1 Tahun 3 Bulanan Bulanan ITEM PEKERJAAN 2 Mingguan SUBSISTEM Mingguan KODE Harian KETERANGAN
118 Microswitch sistim pneumatik Selenoid Valve closing dan tripping Reseting Microswitch sistim pneumatik Pembersihan Selenoid Valve closing dan tripping 105 Kondisional 5 Tahun 2 Tahun 1 Tahun 3 Bulanan Bulanan ITEM PEKERJAAN 2 Mingguan SUBSISTEM Mingguan KODE Harian KETERANGAN
119 Lampiran 2 FMEA Untuk Sistem PMT NO. Sub Sistem 1 Primer Fungsi Kegagalan Fungsi Pada saat kondisi Closed tidak dapat menyalurkan arus beban dengan losses yang kecil (diakibatkan oleh kenaikan tahanan kontak PMT) FAILURE MODE LEVEL 1 FAILURE MODE LEVEL 2 FAILURE MODE LEVEL 3 FAILURE MODE LEVEL 4 hot-spot terjadi pada terminal utama PMT Diakibatkan oleh kenaikan tahanan kontak anatar klem dengan terminal utama PMT sisi permukaan pertemuan klem dan terminal utama tidak rata Faktor kondisi lingkungan Gejala yang Muncul Inspeksi Hot-spot yang terjadi pada sisi klem Pengukuran suhu dengan alat thermal imager atau Pengukuran tahanan kontak pada klem dengan konduktor cacat produk Ganti klem Sebagai bagian yang berfungsi menyalurkan arus beban dan dengan losses yang minimum Penguncian baut klem yang longgar Pemasangan yang tidak teliti getaran / berhubungan dengan dampak pengoperasian - Harus sebagai penghantar yang baik selama kondisi "Closed" - Harus sebagai isolator yang baik selama kondisi "Open" sisi permukaan pertemuan klem dan terminal utama kotor / karatan Penggunaan klem yang tidak sesuai dengan ukuran konduktor (setiap kondisi closed dan open harus aman) hot-spot pada kontak PMT cacat material kontak utama Arus pemutusan yang melebihi rating kemampuan PMT Distribusi tegangan yang tidak merata pada kontak PMT pada saat switching Faktor kondisi lingkungan Faktor pemilihan disain Membuat kajian standarisasi pemilihan material Diakibatkan oleh kenaikan Jumlah kali operasi PMT yang tinggi Hot-spot terjadi pada sisi isolator ruang Penumpukan karbon pada kontak utama tahanan kontak pada kontak dengan merujuk pada ketentuan kontak utama PMT utama PMT dalam buku manual Setting posisi kontak utama uang tidak presisi Jam operasional yang sudah tinggi Kegagalan meredam tegangan lebih saat switching Tindakan yang Direkomendasikan Kegagalan fungsi pre-insertion PMT controlled capacitor fails 106 Kesalahan instalasi Nilai tahanan kontak PMT meningkat Jumlah kali operasi PMT yang tinggi dengan merujuk pada ketentuan Melebihi batasan ketentuan jumlah kali dalam buku manual operasi Thermovisi disisi isolator ruang kontak utama. Pengukuran tahanan kontak. Pencatatan nilai counter PMT Pengukuran tahan kontak statik PMT Faktor pembuatan Melakukan over-haul / penggantian material kontak utama PMT setelah mencapai ketentuan batas kali kerja atau usia pakai Melakukan over-haul / penggantian material kontak utama PMT setelah mencapai ketentuan batas kali kerja atau usia pakai Membuat kajian standarisasi pemilihan material jumlah kali pelepasan dibandingkan dengan Pengukuran tahanan kontak dinamik PMT besar arus pelepasan Melakukan over-haul / penggantian material kontak utama PMT setelah mencapai ketentuan batas besar arus pemtusan (total breaking current) Hot-spot pada isolator resistor Nilai tahanan resistor berubah Thermovisi pada isolator resistor Pengukuran nilai tahanan Pemantauan Perubahan Nilai Resistor Pengukuran tahanan Isolasi untuk memastikan kondisinya sudah tembus atau tidak Hot-spot pada isolator kapasitor nilai kapasitansi berubah Thermovisi pada isolator kapasitor Pengukuran nilai kapasitansi Pemantauan Perubahan Nilai Kapasitansi
120 Dielectrik Fungsi Kegagalan Fungsi FAILURE MODE LEVEL 1 Tekanan SF6 rendah Memadamkan busur api pada saat proses Kegagalan Proses pemadaman busur api pada pelepasan PMT dan mengisoalsi bagian- saat proses pelepasan PMT bagian bertegangan tinggi. FAILURE MODE LEVEL 2 FAILURE MODE LEVEL 3 Penunjukan Manometer tidak akurat / rusak Kebocoran SF6 Masalah pada gasket / seal FAILURE MODE LEVEL 4 usang / uzur Pemasangan yang tidak rapi Cacat material FAILURE MODE LEVEL 5 Penurunan tekanan / kepadatan SF6 retak pada ruang kontak utama PMT Getaran yang tidak normal saat dioperasikan Pembentukan dekomposisi produk dari proses electro-chemical Sf6 Ada celah pada persambungan ruang PMT Hantaman oleh benda lain Getaran akibat pengoperasian alat Terjadinya discharge Jumlah kali pengoperasian yang tinggi Meter Penunjukan minyak isoalsi tidak akurat / rusak Kerusakan pada gasket / seal kebocoran minyak usang / uzur Pemasangan yang tidak rapi Cacat material kebocoran pada keran Penurunan kualitas SF6 batasan jumlah kali kerja PMT dan besar arus pemutusan (total breaking currenti) terlampaui - Phasa - Phasa Catat rekaman jumlah kali kerja PMT Pengujian kualitas SF6 Pengaruh disain Tembus tegangan antar phasa Tembus tegangan terhadap ground Monitoring kualitas SF6 Penggantian gas SF6 apabila kualisnya sudah buruk Inspeksi visual (cek meter minyak isolasi) Cek kebocoran minyak Monitor getaran kebocoran pada tangki minyak Kualitas isolasi minyak buruk - Phasa terhadap ground Inspeksi visual (cek kondisi manometer dan isolator) cek kebocoran SF6 Monitor getaran Membuat kajian standarisasi pemilihan material Penggantian seal yang sudah usang Penurunan level minyak isolasi Minyak bocor Getaran tidak normal saat dioperasikan Hantaman oleh benda lain Getaran akibat pengoperasian alat Hantaman oleh benda lain Persambunagn ruang kontak tidak baik Getaran akibat pengoperasian alat Jumlah kali pengoperasian yang Terjadinya discharge tinggi Tindakan yang Direkomendasikan menggunakan PMT dengan isolasi polimer Perlakukan terhadap Sf6 yang tidak baik Level minyak isolasi "Low" Inspeksi Membuat kajian standarisasi pemilihan material Penggantian seal yang sudah usang Hantaman oleh benda lain isoaltor ruang kontak utama retak Getaran akibat pengoperasian alat Kualitas SF6 yang buruk Kegagalan isolasi terhadap tegangan tinggi Gejala yang Muncul Pengaruh disain kebocoran pada keran SF6 2 Sub Sistem Minyak NO. menggunakanm PMT dengan isolasi polimer Perlakukan terhadap minyak isolasi yang tidak baik Penurunan kualitas minyak isolasi batasan jumlah kali kerja PMT dan besar arus pemutusan (total breaking currenti) terlampaui Catat rekaman jumlah kali kerja PMT Pengujian kualitas minyak Pengujian kualitas minyak penggantian minyak isolasi bila sudah mencapai jumlah kali kerja atau kualitas minyak isolasinya sudah buruk Benda Asing Keberadaan benda asing inspeksi visual sisi pole PMT menggunakan PMT dengan isolasi polimer Benda Asing Keberadaan benda asing inspeksi visual sisi pole PMT Isolator pecah / sompel gempa bumi inspeksi visual sisi isolator Isolator PMT kotor inspeksi visual sisi isolator Terkontaminasi Isolator keramik PMT pecah / sompel Hantaman oleh benda lain Gempa bumi Polusi yang menempel pada isolator Pengaruh kondisi lingkungan 107 menggunakan PMT dengan isolasi polimer Menaikkan Standard ketahan gempa pada Spek pengadaan peralatan
121 NO. Sub Sistem 3 Sekunder Fungsi Penggerak Kegagalan Fungsi FAILURE MODE LEVEL 1 Mekanik penggerak tidak berfungsi pada saat ada perintah kerja. Rangkain kabel kontrol terputus Koil / relay bantu rusak Kabel lepas dari terminal kabel Kesalahan wiring Kesalahan manuver Mekanik penggerak bekerja meskipun tanpa ada perintah kerja. Kesalahan wiring Short circuit pada terminal kabel FAILURE MODE LEVEL 2 FAILURE MODE LEVEL 3 FAILURE MODE LEVEL 4 Digigit binatang pengerat Binatang masuk ke panel kontrol Pintu panel tidak tertutup rapat FAILURE MODE LEVEL 5 PMT tidak bekerja saat diberi perintah Kegagalan fungsi batere Kegagalan fungsi batere short circuit pada terminal kabel MCB rusak Baut terminal tidak kencang / lepas Kabel skun terlepas PMT tidak bekerja saat diberi perintah Hot spot pada terminal kabel uap air masuk kedalam box panel kontrol Seal pintu lepas / tidak terpasang sempurna 108 pemeriksaan wiring Test fungsi PMT bekerja tanpa ada perintah Box panel lembab Terminal kabel yang rapuh bangkai binatang Inspeksi visual (terminal kabel; box panel) usang / uzur Kesalahan setting suhu untuk auto start / stop alat pemanas Alat pemanas tidak terpasang uzur Panas berlebih Pintu panel tidak tertutup rapat Glen kabel rusak / tidak terpasang PMT tidak bekerja saat diberi perintah Pintu panel tidak tertutup rapat Alat pemanas di box kontrol Supplai arus ke alat pemanas hilang tidak berfungsi Thermostat rusak Binatang masuk ke box panel kontrol inspeksi visual (terminal kabel) thermovisi pada terminal kabel PMT tidak bekerja saat diberi perintah Kesalahan manusia Salah sinyal Kesalahan manusia Terminal kabel yang rapuh / retak Inspeksi visual (relay bantu) Test fungsi Test individual relay test kapasitas batere Test fungsi Pemeriksaan Wiring Test fungsi PMT tidak bekerja saat diberi Pemeriksaan buku catatan operator perintah Test fungsi Kesalahan manusia Korosif Inspeksi PMT tidak bekerja saat diberi Inspeksi visual (box panel dan kabel) perintah Test fungsi Kabel putus Glen kabel rusak / tidak terpasang Kesalahan manusia uzur Sambungan kabel terlepas tegangan suplai ke koil drop Suplai DC ke koil hilang Gejala
122 FAILURE MODE LEVEL 1 FAILURE MODE LEVEL 2 Tuas penggerak bermasalah Tuas penggerak lepas Tuas penggerak patah FAILURE MODE LEVEL 3 FAILURE MODE LEVEL 4 FAILURE MODE LEVEL 5 Gejala yang muncul Inspeksi Tindakan yang Direkomendasikan PMT tidak dapat beroperasi Pemeriksaan visual terhadap kondisi tuas Pengujian kecepatan kerja PMT Pengujian lengkap keserempakan (breaker analyzer) dengan motion transducer untuk mengukur arah pergerakan. PMT tidak dapat beroperasi Pemeriksaan visual terhadap kondisi rantai pegas dan kondisi kopling Pengujian Kecepatan kerja PMT Pengukuran arah pergerakan Pneumatik Merubah energi penggerak untuk mengerjakan kontak utama primer Kegagalan Fungsi Penggerak Tidak dapat mngerjakan kontak utama primer Pegas Fungsi slip piston rusak aus Hidrolik Tenaga yang terkumpul tidak penuh PMT tidak dapat beroperasi actuator bermasalah Tuas penggerak salah setting Pneumatik Menyiapkan energi untuk Tidak dapat mengumpulkan tenaga melaksanakan proses switching dalam periode waktu yang singkat piston bermasalah Persambungan tuas longgar Pegas Penggerak tidak dapat mengerjakan kontak utama dengan sempurna. rantai motor spring rusak Coupling bermasalah Pegas charging rusak. Tekanan udara kompressor kosong Tekanan hidraulik kosong Pegas tidak charging sempurna Pemasangan yang tidak teliti high number of operation lack of lubrication PMT tidak dapat beroperasi Pemeriksaan visual terhadap kondisi pegas dan pelumasan Manometer kompressor rusak Kompressor rusak Kebocoran udara pada pemipaan, kran dan persambungan PMT Tidak dapat beroperasi Manometer menunjukkan level tidak ada tekanan pada kompressor Pemeriksaan visual terhadap meter; kondisi kompressor dan pemipaan PMT tidak dapat beroperasi Meter menunjukkan level minyak hidrolik kosong Pemeriksaan visual terhadap meter; kondisi pompa hidrolik dan pemipaan PMT tidak dapat dioperasikan Batasan jam operasi terlampaui Pemeriksaan visual terhadap indikasi status pegas Pengujian Kecepatan kerja PMT Batasan jam operasi terlampaui Pelumasan mekanik sudah kering Pemeriksaan visual terhadap meter, kondisi pegas, kali kerja PMT dan pelumasan Pengujian Kecepatan kerja PMT Meter tekanan hidrolik rusak Kebocoran terjadi pada pemipaan, kran dan persambungan Fungsi motor charging bermasalah Motor kehilangan suplai tegangan Belitan motor terbakar Settingan mekanik berubah limit switch bermasalah Pemasangan yang tidak teliti Jam operasi yang sudah tinggi Tekanan udara kompressor kurang Manometer kompressor rusak Kompressor bermasalah Kebocoran udara pada pemipaan, kran dan persambungan Karatan Seal / gasket bermasalah Meter minyak hidrolik rusak Pompa minyak hidrolik bermasalah Motor bermasalah Jam pengoperasian yang sudah tinggi Kurang pelumasan uzur / jenuh Pemasangan yang tidak teliti cacat material Batasan jam operasi terlampaui Frekwensi kerja pompa kompressor tidak normal / terlalu sering. uzur Pompa bermasalah Kebocoran terjadi pada pemipaan, kran dan persambungan Karatan Seal / gasket bermasalah Pemeriksaan visual terhadap meter, kondisi kompressor dan kali kerja PMT dan deteksi kebocoran Pengujian Kecepatan kerja PMT Berhubungan ke disain Motor kehilangan suplai tegangan Belitan motor terbakar Jam pengoperasian yang sudah tinggi limit switch bermasalah Kualitas minyak hidrolik buruk Pemeriksaan visual terhadap kondisi aktuator Pengujian Kecepatan kerja PMT Pemeriksaan visual terhadap tuas penggerak Pengukuran arah pergerakan Kemampuan pegas sudah menurun (jenuh) Tekanan hidrolik kurang Pemeriksaan visual terhadap kondisi piston Pengujian Kecepatan kerja PMT Kontak PMT bekerja tidak sempurna Pemasangan yang tidak teliti. Uzur Pegas Mekanis Pneumatik Sub Sistem 4 Hidrolik NO. uzur uzur / jenuh Pemasangan yang tidak teliti cacat material Warna minyak hidrolik sudah keruh Jam operasi yang sudah tinggi Kekentalan minyak sudah berubah Jam operasi yang sudah tinggi Jam pengoperasian yang sudah tinggi Batasan jam operasi terlampaui Berhubungan ke disain Batasan jam operasi terlampaui 109 Pemeriksaan visual terhadap meter, kondisi pompa hidrolik dan kali kerja PMT Pengujian Kecepatan kerja PMT Pemeriksaan visual terhadap warna minyak hidrolik dan kali kerja PMT Pengujian Kecepatan kerja PMT Pengujian lengkap keserempakan (breaker analyzer) dengan motion transducer untuk mengukur arah pergerakan.
123 Lampiran 3 Standar Evaluasi Hasil Pemeliharaan Jenis Pengujian Pengukuran tahanan isolasi Pengukuran tahanan kontak PMT Norm Satuan Standard 1 MΩ/kV (MOhm/kV) MΩ/kV (MOhm/kV) VDE (catalouge 228/4), SK DIR 114 R 120 % nilai pabrikan atau Nilai Pengujian FAT,nilai saat pengujian komisioning IEC62271 μm (MicroOhm) IEC (rev. SK Dir 114) Pengukuran waktu buka T 110 % standar Pabrikan Pengukuran waktu tutup (rev. SK Dir 114) ms (millisecond) IEC <10 ms atau nilai standard pabrikan ms (millisecond) SK DIR 114 Nilai standar pabrikan % (persen) IEC : % Rnom (tahanan nominal) Ω (Ohm) SK DIR 114 PMT Pengukuran tegangan minimum opening coil < 85 % Vnom (tegangan nominal) V (Volt) Pengukuran tegangan minimum closing coil < 70 % Vnom (tegangan nominal) V (Volt) Pengukuran / pengujian keserempakan kontak buka fasa R,S,T Pengukuran / pengujian keserempakan kontak tutup fasa R,S,T Pengukuran kapasitansi kapasitor PMT Pengukuran tahanan magnetic coil SPLN 9c 1978 IEC std 56-2 klausal SPLN 9c 1978 IEC std 56-2 klausal Pengukuran arus motor penggerak Pegukuran tahanan pentanahan PMT < 110 % Inom (arus nominal) A (Ampere) SK DIR 114 PMT 1 Ω (Ohm) Ω (Ohm) IEEE std 80:
124 Lampiran 4 Formulir Inspeksi Level 1 Periode Harian 111
125 Periode Mingguan 112
126 Periode 2 Mingguan 113
127 Periode Bulanan (Inspeksi Level -2) 114
128 Periode Bulanan (Inspeksi Level -1) 115
129 Periode Triwulan 116
130 Periode Tahunan 117
131 Kejadian Khusus Gempa 118
132 Periode Kejadian Khusus Kebocoran 119
133 Lampiran 5 Contoh Formulir Pengukuran Tahanan Kontak Lokasi : Merk/type : Tanggal:.. Bay : Tegangan : No Uraian Kegiatan Acuan Kondisi Awal Tindakan Hasil Akhir Kesimpulan 1 Kontak atas Bawah - Chamber (ruang Pemutusan) 1 - Chamber (ruang Pemutusan) 2 - Chamber (ruang Pemutusan) 3 - Chamber (ruang Pemutusan) 4 Pengukuran antara 2 Konduktor dengan Klem PMT (IN) R < 100 Micro Ohm R: R: R: S: S: S: T: T: T: R: R: R: S: S: S: T: T: T: R: R: R: S: S: S: T: T: T: R: R: R: S: S: S: T: T: T: R: R: R: S: S: S: T: T: T: 120 Pelaksana
134 Pengukuran antara 3 Konduktor dengan Klem PMT (OUT) R: R: R: S: S: S: T: T: T: Catatan: Pemilik Aset / Pengawas Penanggung Jawab ( ) ( ) 121
135 Lampiran 6 Formulir Hasil Pengujian Gas SF6 LOKASI GI : LOKASI PMT : TYPE : PENGUJIAN KEMURNIAN GAS SF6 Ambient Purity ( % ) Ket. 0 Temp ( c) No Tanggal Lokasi Fasa Hasil Lalu Standar 1 R > 97 2 S > 97 3 T > 97 Hasil Uji HASIL PENGUJIAN PRESSURE SWITCH 0 No. Ref 20 C R S kg/cm2 kg/cm URAIAN 1 Tek Nom 5,0 + 0,3 2 Alarm 4,5 + 0,3 3 Block trip 1 4,0 + 0,3 4 Block trip 2 4,0 + 0,3 2 kg/cm T 2 kg/cm TEMP 2 Pelaksana Supervisi (.. ) (.. ) C
136 Lampiran 7 Lembar Hasil Pemeliharaan Tahunan PMT Nomor Formulir : PT PLN (PERSERO) LEMBAR HASIL PEMELIHARAAN PMT PENGUJIAN / PENGUKURAN PMT APP/UPT LOKASI GI : MERK / TYPE : TEG./ DAYA : NO TITIK UKUR ACUAN A B C PERALATAN : TANGGAL : R S T Awal Akhir Awal Akhir Awal Akhir D E F G H I 1 TAHANAN ISOLASI a. Atas - Bawah PMT Off b. Atas - Tanah PMT Off c. Bawah - Tanah PMT Off d. Fasa - Tanah PMT On 2 TAHANAN KONTAK PMT On Atas - Bawah PMT On 3 TEGANGAN TEMBUS MINYAK Minyak PMT 4 TEKANAN GAS N2 Presure Gauge ( Visual ) 5 TEKANAN GAS SF6 Presure Gauge ( Visual ) 6 TAHANAN PENTANAHAN Terminal Pentanahan CATATAN : Dikerjakan Supervisi APP APP (. ) (. )
137 Lampiran 8 Blangko Pemeliharaan/Pengujian (Tahanan & Tegangan Coil) Lokasi : Pelaksana: PMT : 1. Type / Merk : 2. Tanggal Pengujian: 3. Pengujian / Pengukuran Tahanan coil Tegangan minimum coil Referensi Yang lalu Pengukuran (Ohm) (Ohm) (Ohm) Referensi Yang lalu Pengukuran (Ohm) (Ohm) (Ohm) Tripping coil Referensi (Volt) Yang lalu Pengujian (Volt) (Volt) Yang lalu Pengujian (Volt) (Volt) TP-1 TP-2 TP-3 Closing Coil CC-1 CC-2 Catatan: 124 Referensi (Volt)
138 Lampiran 9 Ketentuan Tentang Grease/Pelumas Tipe Pelumas Untuk Peralatan Switching Sebagai panduan untuk pemilihan pelumas dan minyak, penjelasan diberikan dibawah ini berdasarkan penggunaan. Minyak A Minyak pelumas ringan yang digunakan pada mekanisme operasi yang membutuhkan ketepatan dan pada PMT yang menggunakan semburan udara. Juga digunakan untuk pelumasan ulang pada bearing, yang tidak dapat dilumasi dengan grease G tanpa membongkar seperti pada gear penghubung. Minyak C Minyak PMT dengan viskositas ~ 17 cst pada +20 o C. Hanya sesuai untuk temperatur > 10 o C. Minyak D Minyak PMT dengan viskositas rendah ~ 6 cst pada +20 o C. dapat juga digunakan sebagai minyak pada dashpots. Untuk dashpots yang dicap dengan huruf S pada cover, harus menggunakan minyak S. Minyak S Minyak silicon yang dikhususkan untuk minyak dashpots dan untuk mekanisme operasi yang berat. Dashpots yang dicap dengan huruf S pada covernya harus diisi dengan minyak tipe ini. Minyak A Minyak C Minyak D Minyak S ABB No MOBIL MOBIL 1 (481127) 5W-30 Energol ISH-V Circuit-Br oil Univolt 42 - (44) Univolt N61 - CASTROL Formula RS 5W NYSWITCHO 3 AND 3X SHELL TMO synthetic 5W-30 NYTRO 10X Circuit br.oil A65 - DC 200 fluid 200 CS Kalte schalteroel X OK Supersynthetic 5W
139 Catatan: Minyak B berdasarkan digantikan oleh minyak A Grease G Grease temperature rendah untuk semua tipe bearing, gears dan worm gears serta valve pada PMT semburan udara. Juga sesuai untuk pelumas pada kontak plat perak diudara seperti PMS. Juga dapat digunakan untuk greas pada O-ring yang dibuat dari bahan nitrile rubber dan sebagai pencegan korosi pada celah PMT tipe HPL. Grease N Untuk pelumasan pada kontak bergerak PMT berisolasi SF6, sebagai contoh puffer cyclinders. Lapisan grease yang sangat kecil seharusnya digosok pada permukaan kontak geser. Grease L Grease suhu rendah digunakan khusus untuk melumasi mekanik yang bagus seperti alat penangkap pada mekanisme pengoperasian yang harus dioperasikan pada suhu yang sangat rendah. Grease M Grease suhu rendah untuk pengoperasian jangka panjang dan pelumasan permanen pada worm gears dan bagian mesin yang lain untuk mencegah bintik dan korosi. Grease G Grease N Grease L ABB No ASEOL AG - - ASEOL SYLITEA 4- GULF 718EP synthetic grease - MOBIL Mobilgrease 28 - SHELL Aero shell grease 22 - Montefluos S.p.A - Fomblin OT Grease M ABB No Kluber Isoflex Topas NB
140 Catatan: Grease E, F dan H dari diganti dengan grease G Grease K dari diganti dengan grease N Grease P Vaseline untuk perawatan permukaan kontak pada sambungan-sambungan konduktor arus. Grease R EP-grease untuk roller bearing dengan pembeban berat, bearing geser, cam discs dan catches (grease lithium,solvent refined mineral oil with lithium soap and molybedenum disulphide) pada mekanisme operasi type FSA. Grease S Fluorsilicon grease untuk O-ring yang dibuat dari EPDM, digunakan juga mencegah korosi celah pada PMT tipe ED. untuk Juga untuk grease pada pelindung poros berputar PMT berenergi rendah type LTB. Grease P Grease R Gresase S ABB Nr Svenska shell Shell Vaseline 8401 G.A. Linberg & Co.AB Molykote longterm 2 plus Linatex Molystria AB Dow corning FS-3451 No.2 127
141 DAFTAR ISTILAH 1. In Service Condition : Keadaan bertegangan 2. Shutdown Condition : Keadaan tidak bertegangan 3. In Service Inspection : Pemeriksaan dalam kondisi bertegangan dengan menggunakan panca indera 4. In Service Measurement : Pengujian/pengukuran dalam kondisi berteganga dengan menggunakan alat bantu 5. Shutdown Testing : Pengujian/pengukuran tidak bertegangan dalam kondisi tidak bertegangan 6. Shutdown Function Check : Pengujian fungsi dalam keadaan tidak berteganga 7. Online Monitoring Monitoring peralatan dalam kondisi bertegangan : secara terus menerus melalui alat ukur terpasang 128
142 DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Petunjuk Operasi dan Pemeliharaan Peralatan Penyaluran Tenaga Listrik, SE No.032/PST/1984, Perusahaan Umum Listrik Negara, Suplemen Surat Edaran No.032/PST/1984 Edisi Desember 2000, PT.PLN (Persero), Electropedia International Electrotechnical Vocabulary (IEV), 4. IEC edition 1.1: , High-voltage switchgear and controlgear part 100:High-voltage alternating-current circuit-breakers, IEEE C , Guide for diagnostics and failure investigation of power circuit breaker, Standard VDE, Catalouge 228/4. 7. CIGRE A3.112, A new measurement method of the dynamic contact resistance of HV circuit breakers. 8. IEEE transactions on Power Delivery, A complete Strategy for Conducting Dynamic Contact Resistance Measurements on HV Circuit Breakers. 9. SPLN No 52-1, IEC : 2001, High-voltage alternating-current circuit breaker, CIGRE 234 TF.B : 2003, SF6 recycling guide revision 2003, IEC ed.3: 2005, Mineral insulating oils in electrical equipment supervision and maintenance guidance, IEEE std 80: 2000, Guide for safety in ac substation grounding, IEC ed.2.2: , Common Spesifications for high-voltage switchgear and controlgear standards, International Electrical Testing Association Maintenance Testing Spesification, (NETA) NETA MTS-1997, 16. Buku manual PMT merk ABB tipe ELF SL. 17. Buku manual PMT merk Magrini tipe MHMe (1P). 18. Buku manual kamera thermovisi merk FLIR. 19. Buku manual PMT small oil content outdoor merk Delle ALSTHOM. 20. Buku manual PMT merk General Electric (GE) tipe High Capacity Circuit Breaker 129
143 21. Buku manual PMT merk Mitsubishi tipe Air Blast. 22. Buku manual PMT merk Delle Alsthom tipe SF6 FL Buku manual PMT merk GEC Alsthom tipe FX16 / C1 24. Buku manual PMT merk ABB tipe LTB 25. Buku manual PMT merk Siemens tipe 3 AP1 F1 26. Buku manual PMT merk Merlin Gerlin tipe SF6 FA-I. 27. Erection and maintenance instructions untuk Low Oil Content Circuit breakers merk BBC tipe TR72.12/TR Instruction for installation, O&M untuk Low Oil Content Circuit breakers merk MG (Magrini Galieo). 29. SKDIR 114.K/DIR/2010 Himpunan Buku Petunjuk Batasan Operasi Dan Pemeliharaan Penyaluran Tenaga Listrik - Buku Pedoman Pemeliharaan Pemutus Tenaga No dokumen : 7-22/HARLUR-PST/2009, PT PLN (Persero),
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 PENGERTIAN Berdasarkan IEV (International Electrotechnical Vocabulary) 441-14-20 disebutkan bahwa Circuit Breaker (CB) atau Pemutus Tenaga (PMT) merupakan peralatan saklar /
2. KLASIFIKASI PMT Berdasarkan besar / kelas tegangan (Um)
2. KLASIFIKASI PMT Klasifikasi Pemutus Tenaga dapat dibagi atas beberapa jenis, antara lain berdasarkan tegangan rating/nominal, jumlah mekanik penggerak, media isolasi, dan proses pemadaman busur api
PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA (PMT) MENGGUNAKAN MEDIA PEMADAM GAS SF6 DI GARDU INDUK UNGARAN 150 KV APP SEMARANG BASE CAMP SEMARANG
PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA (PMT) MENGGUNAKAN MEDIA PEMADAM GAS SF6 DI GARDU INDUK UNGARAN 150 KV APP SEMARANG BASE CAMP SEMARANG Faisal Oktavian S. 1,Ir.Juningtyastuti, M.T. 2 1 Mahasiswa dan 2 Dosen
PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA GARDU INDUK 150 KV KRAPYAK
PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA GARDU INDUK 150 KV KRAPYAK Lukas Santoro. 1, Ir. Yuningtyastuti, MT. 2 1 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudharto,
MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTIK
MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTIK SISTEM PROTEKSI GARDU INDUK DAN JARINGAN 150 kv MENGGUNAKAN PEMUTUS TENAGA (PMT) MEDIA GAS SF6 DI GARDU INDUK 150 kv KEBASEN PT. PLN (PERSERO) P3B JB UPT TEGAL Oleh : JOHAN
PT PLN (Persero) PEMUTUS TENAGA DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... i DAFTAR GAMBAR... v DAFTAR TABEL...vii BAB I PENDAHULUAN... 1
DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i DAFTAR GAMBAR... v DAFTAR TABEL...vii BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 PENGERTIAN... 1 1.2 KLASIFIKASI PMT... 1 1.2.1 Berdasarkan besar / kelas tegangan (Um)... 1 1.2.2 Berdasarkan
PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA TIPE GAS SF6 GARDU INDUK 150 KV UNGARAN
PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA TIPE GAS SF6 GARDU INDUK 150 KV UNGARAN Taufik Ardian Ramadhana. 1, Ir.Bambang Winardi. 2 1 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
L/O/G/O RINCIAN PERALATAN GARDU INDUK
L/O/G/O RINCIAN PERALATAN GARDU INDUK Disusun Oleh : Syaifuddin Z SWITCHYARD PERALATAN GARDU INDUK LIGHTNING ARRESTER WAVE TRAP / LINE TRAP CURRENT TRANSFORMER POTENTIAL TRANSFORMER DISCONNECTING SWITCH
BAB IV PERAWATAN TRANSFORMATOR TENAGA 150 KV DI GARDU INDUK APP DURIKOSAMBI
BAB IV PERAWATAN TRANSFORMATOR TENAGA 150 KV DI GARDU INDUK APP DURIKOSAMBI 4.1 Trafo Step Up 150 kv PT. PLN Durikosambi Gardu Induk Durikosambi berjenis gardu induk Switchyard, yakni gardu induk yang
Pengujian Keserempakan Pemutus Tenaga (PMT) Three Pole 150 kv Bay Trafo Gardu Induk Simulator Udiklat Semarang (TLM Academy)
Pengujian Keserempakan Pemutus Tenaga (PMT) Three Pole 150 kv Bay Trafo Gardu Induk Simulator Udiklat Semarang (TLM Academy) Anindita Singgih Pambudi 1, Dr. Ir. Hermawan, DEA 2 Jurusan Teknik Elektro Fakultas
CIRCUIT BREAKER (CB) ATAU PEMUTUS TENAGA LISTRIK (PMT)
CIRCUIT BREAKER (CB) ATAU PEMUTUS TENAGA LISTRIK (PMT) Circuit breaker atau Pemutus Tenaga Listrik adalah salah satu peralatan pemutus rangkaian pada suatu sistem tenaga listrik, yang mampu untuk membuka
PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA (PMT) MEDIA PEMADAM BUSUR API GAS SF6 DENGAN PENGGERAK SPRING PT. PLN (PERSERO) P3B REGIONAL JATENG DAN DIY UPT
PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA (PMT) MEDIA PEMADAM BUSUR API GAS SF6 DENGAN PENGGERAK SPRING PT. PLN (PERSERO) P3B REGIONAL JATENG DAN DIY UPT. SEMARANG GI 150 kv SRONDOL Aji Suryo Alam 1, Dr. Ir. Hermawan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemutus Tenaga (PMT) Pemutus tenaga adalah alat yang terpasang pada gardu induk yang berfungsi untuk menghubungkan dan memutus arus beban atau arus gangguan. Syarat
BAB IV PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA (CIRCUIT BREAKER) DI APP DURI KOSAMBI
BAB IV PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA (CIRCUIT BREAKER) DI APP DURI KOSAMBI 4.1 Definisi dan Tujuan Pemeliharaan Pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah serangkaian tindakan atau proses kegiatan
Muchamad Arif Sasmita 1, Ir. Agung Nugroho M. Kom. 2
Operasi dan Pemeliharaan Pemutus Tenaga Dengan SF6 (Sulfur hexafluoride) Sebagai Pemadam Busur Api Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) 500 kv Ungaran Muchamad Arif Sasmita 1, Ir. Agung Nugroho M.
LAPORAN KERJA PRAKTEK PERAWATAN PEMUTUS TENAGA (CIRCUIT BREAKER) DI PT. APP PLN DURIKOSAMBI
LAPORAN KERJA PRAKTEK PERAWATAN PEMUTUS TENAGA (CIRCUIT BREAKER) DI PT. APP PLN DURIKOSAMBI Diajukan untuk Melengkapi Sebagian Syarat Dalam Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Disusun Oleh Nama : Amsal
BAB II KARAKTERISTIK PEMUTUS TENAGA
BAB II KARAKTERISTIK PEMUTUS TENAGA 2.1 Fungsi Pemutus Tenaga Pemutus tenaga (PMT) adalah saklar yang dapat digunakan untuk menghubungkan atau memutuskan arus atau daya listrik sesuai dengan ratingnya.
Sistem Pengoperasian dan Pemeliharaan Pemisah (Disconnecting Switch) Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi 500 kv Gandul
Nama Sistem Pengoperasian dan Pemeliharaan Pemisah (Disconnecting Switch) Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi 500 kv Gandul : Tri Hardiyanto NPM : 16410946 Fakultas Jurusan Pembimbing : Teknologi Industri
BAB IV PERAWATAN KOMPRESOR SENTRAL DI PT.PLN APP DURIKOSAMBI
BAB IV PERAWATAN KOMPRESOR SENTRAL DI PT.PLN APP DURIKOSAMBI 4.1 In Service / Visual Inspection 4.1.1 Pengertian Merupakan kegiatan inspeksi atau pengecekan yang dilakukan dengan menggunakan 5 sense (panca
saklar pemisah (disconnecting switch)
saklar pemisah (disconnecting switch) Mochammad Facta S.T.,M.T., APP, Ph.D Tahun 2015 Referensi 1. Arisminandar A., Teknik Tenaga Listrik III: Gardu Induk, Pradnya Pramita, 1990 2. GEC Measurement, Protective
PEMELIHARAAN PMT PADA GARDU INDUK 150 KV SRONDOL PT. PLN (PERSERO) P3B JB APP SEMARANG BC SEMARANG
Makalah Seminar Kerja Praktek PEMELIHARAAN PMT PADA GARDU INDUK 150 KV SRONDOL PT. PLN (PERSERO) P3B JB APP SEMARANG BC SEMARANG Farid Hermanto.1, Tejo Sukmadi.2 1Mahasiswa dan 2Dosen Jurusan Teknik Elektro,
Oleh Maryono SMK Negeri 3 Yogyakarta
Oleh Maryono SMK Negeri 3 Yogyakarta - Circuit Breaker (CB) 1. MCB (Miniatur Circuit Breaker) 2. MCCB (Mold Case Circuit Breaker) 3. NFB (No Fuse Circuit Breaker) 4. ACB (Air Circuit Breaker) 5. OCB (Oil
DEADLY DESIGN OF RETROFIT
DEADLY DESIGN OF RETROFIT PEMELIHARAAN CUBICLE OUTGOING Retrofit bisa diartikan sebagai rekondisi peralatan. Namun apa jadinya bila hasil rekondisi tidak memenuhi standar mutu yang berlaku? TERMINAL FIXED
Peralatan Tegangan Tinggi
Peralatan Tegangan Tinggi Contents 1 Jenis Peralatan Tegangan Tinggi 2 Spesifikasi Peralatan Tegangan Tinggi Jenis Peralatan Tegangan Tinggi Peralatan Pengaman (Proteksi) - Circuit Breaker - Surge Protector
III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 3.1. Umum Berdasarkan standard operasi PT. PLN (Persero), setiap pelanggan energi listrik dengan daya kontrak di atas 197 kva dilayani melalui jaringan tegangan menengah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Jaringan tenaga listrik secara garis besar terdiri dari pusat pembangkit jaringan transmisi (gardu induk) dan jaringan distribusi. Jaringan tenaga listrik terdiri dari
BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING
BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING 2.1 Jenis Gangguan Hubung Singkat Ada beberapa jenis gangguan hubung singkat dalam sistem tenaga listrik antara lain hubung singkat 3 phasa,
BAB III. CIRCUIT BREAKER DAN FUSE (SEKERING)
BAB III. CIRCUIT BREAKER DAN FUSE (SEKERING) 3.1. Circuit Breaker Circuit breaker seperti halnya sekering adalah merupakan alat proteksi, walaupun circuit breaker dilengkapi dengan fasilitas untuk switching.
BAB III DASAR TEORI.
13 BAB III DASAR TEORI 3.1 Pengertian Cubicle Cubicle 20 KV adalah komponen peralatan-peralatan untuk memutuskan dan menghubungkan, pengukuran tegangan, arus, maupun daya, peralatan proteksi, dan control
PENENTUAN KAPASITAS PEMUTUS TENAGA (PMT) DENGAN MEDIA GAS PADA GARDU INDUK SEDUDUK PUTIH
PENENTUAN KAPASITAS PEMUTUS TENAGA (PMT) DENGAN MEDIA GAS PADA GARDU INDUK SEDUDUK PUTIH LAPORAN AKHIR Dibuat untuk Memenuhi Syarat Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Jurusan Teknik Elektro Program Studi
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Di era yang modern ini kebutuhan akan tenaga listrik sudah menjadi kebutuhan primer baik dikota-kota besar maupun kota-kota kecil, hampir seluruh peralatan penunjang
Politeknik Negeri Sriwijaya BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemeliharaan/Inspeksi peralatan listrik adalah serangkaian tindakan atau proses kegiatan untuk mempertahankan kondisi dan meyakinkan bahwa peralatan dapat berfungsi
ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB
ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB 252 Oleh Vigor Zius Muarayadi (41413110039) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana Sistem proteksi jaringan tenaga
BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK. Gambar 2.1 Gardu Induk
BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK Gardu Induk merupakan suatu instalasi listrik yang terdiri atas beberapa perlengkapan dan peralatan listrik dan menjadi penghubung listrik
SISTEM PROTEKSI RELAY
SISTEM PROTEKSI RELAY SISTEM PROTEKSI PADA GARDU INDUK DAN SPESIFIKASINYA OLEH : WILLYAM GANTA 03111004071 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2015 SISTEM PROTEKSI PADA GARDU INDUK
DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. HALAMAN PERNYATAAN...iii. MOTTO... iv. PERSEMBAHAN... v. PRAKATA... vi. DAFTAR ISI...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN...iii MOTTO... iv PERSEMBAHAN... v PRAKATA... vi DAFTAR ISI...viii DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR TABEL... xiv DAFTAR RUMUS... xv INTISARI...
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1 Jaringan sistem tenaga listrik [4]
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Jaringan tenaga listrik secara garis besar terdiri dari pusat pembangkit, jaringan transmisi (gardu induk dan jaringan) dan jaringan distribusi. Jaringan tenaga listrik
Politeknik Negeri Sriwijaya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Suatu sistem tenaga listrik pada dasarnya terdiri dari susunan pembangkit, transmisi dan jaringan distribusi yang terhubung satu sama lain untuk membangkitkan, mentransmisikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Pengertian Pemutus Tenaga (PMT) [1] Pemutus Tenaga (PMT) atau Circuit Breaker adalah suatu peralatan pemutus rangkaian listrik pada suatu sistem tenaga listrik, yang mampu untuk
ANALISA PENGARUH TEKANAN GAS SF6 TERHADAP LAJU BUSUR API PADA PEMUTUS TENAGA (PMT) DI GARDU INDUK TALANG RATU PT.PLN (PERSERO) PALEMBANG
ANALISA PENGARUH TEKANAN GAS SF6 TERHADAP LAJU BUSUR API PADA PEMUTUS TENAGA (PMT) DI GARDU INDUK TALANG RATU PT.PLN (PERSERO) PALEMBANG LAPORAN AKHIR Disusun untuk memenuhi syarat menyelesaikan Pendidikan
PERALATAN PEMUTUS DAYA YANG FUNGSI UTAMANYA MENCATAT DAN MEMUTUSKAN DAYA LISTRIK KE PERALATAN / BEBAN.
FUNGSI DARI SWITCHGEAR : PERALATAN PEMUTUS DAYA YANG FUNGSI UTAMANYA MENCATAT DAN MEMUTUSKAN DAYA LISTRIK KE PERALATAN / BEBAN. SWITCHGEAR (CIRCUIT BREAKER) TEGANGAN RENDAH YANG DIBAHAS ADALAH JENIS A.C.B.
Percobaan 1 Hubungan Lampu Seri Paralel
Percobaan 1 Hubungan Lampu Seri Paralel A. Tujuan Mahasiswa mampu dan terampil melakukan pemasangan instalasi listrik secara seri, paralel, seri-paralel, star, dan delta. Mahasiswa mampu menganalisis rangkaian
Instalasi Listrik MODUL III. 3.1 Umum
MODUL III Instalasi Listrik 3.1 Umum Instalasi listrik system distribusi terdapat dimana mana, baik pada system pembangkitan maupun pada system penyaluran (transmisi/distribusi) dalam bentuk instalasi
- Pengujian resistansi isolasi - Pengujian daya tahan tegangan AC/DC
Pemeliharaan CB PEMELIHARAAN POWER CB Pemeliharaan Power CB secara periodik pada gardu distribusi disarankan dilakukan minimal setiap tahun. Jika selama pengoperasian, p CB melakukan interupsi gangguan
Percobaan 8 Kendali 1 Motor 3 Fasa Bekerja 2 Arah Putar dengan Menggunakan Timer Delay Relay (TDR)
Percobaan 8 Kendali 1 Motor 3 Fasa Bekerja 2 Arah Putar dengan Menggunakan Timer Delay Relay (TDR) I. TUJUAN PRAKTIKUM 1. Mahasiswa mampu memasang dan menganalisis 2. Mahasiswa mampu membuat rangkaian
BAB III PEMUTUS TENAGA JARINGAN TEGANGAN MENENGAH
BAB III PEMAKAIAN GAS SF 6 DAN HAMPA UDARA PADA PEMUTUS TENAGA JARINGAN TEGANGAN MENENGAH 3.1 Pemutus Tenaga Sulfur Hexafluoride (SF 6 ) Penggunaan gas SF 6 sebagai media di dalam pemutus tenaga, karena
LANDASAN TEORI Sistem Tenaga Listrik Tegangan Menengah. adalah jaringan distribusi primer yang dipasok dari Gardu Induk
II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Tenaga Listrik Tegangan Menengah Sistem Distribusi Tenaga Listrik adalah kelistrikan tenaga listrik mulai dari Gardu Induk / pusat listrik yang memasok ke beban menggunakan
BAB III METODE PENELITIAN. Pada prinsipnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
32 BAB III METODE PENELITIAN Pada prinsipnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah minyak sawit (palm oil) dapat digunakan sebagai isolasi cair pengganti minyak trafo, dengan melakukan pengujian
Sela Batang Sela batang merupakan alat pelindung surja yang paling sederhana tetapi paling kuat dan kokoh. Sela batang ini jarang digunakan pad
23 BAB III PERALATAN PROTEKSI TERHADAP TEGANGAN LEBIH 3.1 Pendahuluan Gangguan tegangan lebih yang mungkin terjadi pada Gardu Induk dapat disebabkan oleh beberapa sumber gangguan tegangan lebih. Perlindunga
PEMELIHARAAN DAN PERTIMBANGAN PENEMPATAN ARRESTER PADA GARDU INDUK 150 KV PT. PLN (PERSERO) P3B JB REGION JAWA TENGAH DAN DIY UPT SEMARANG
PEMELIHARAAN DAN PERTIMBANGAN PENEMPATAN ARRESTER PADA GARDU INDUK 150 KV PT. PLN (PERSERO) P3B JB REGION JAWA TENGAH DAN DIY UPT SEMARANG Wahyu Arief Nugroho 1, Hermawan 2 1 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan
BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK. terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga
BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK 3.1. Umum Tenaga listrik merupakan suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia, terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga
SAKLAR PEMISAH (PMS)
SAKLAR PEMISAH (PMS) diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknik Tegangan Tinggi Dosen Pengampu : Dr. Hasbullah, S.Pd., M.T. Oleh : Eka Nugraha 1104351 Firna Anindyaputri R 1101097 Ilman Yahdiyan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Proses Penyaluran Tenaga Listrik Ke Konsumen Didalam dunia kelistrikan sering timbul persoalan teknis, dimana tenaga listrik dibangkitkan pada tempat-tempat tertentu, sedangkan
BAB III CAPACITOR BANK. Daya Semu (S, VA, Volt Ampere) Daya Aktif (P, W, Watt) Daya Reaktif (Q, VAR, Volt Ampere Reactive)
15 BAB III CAPACITOR BANK 3.1 Panel Capacitor Bank Dalam sistem listrik arus AC/Arus Bolak Balik ada tiga jenis daya yang dikenal, khususnya untuk beban yang memiliki impedansi (Z), yaitu: Daya Semu (S,
PEMAKAIAN DAN PEMELIHARAAN ARRESTER GARDU INDUK 150 KV UNGARAN PT. PLN (PERSERO) APP SEMARANG
PEMAKAIAN DAN PEMELIHARAAN ARRESTER GARDU INDUK 150 KV UNGARAN PT. PLN (PERSERO) APP SEMARANG Taruna Miftah Isnain 1, Ir.Bambang Winardi 2 1 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik,
BAB IV PEMELIHARAAN TRAFO DISTRIBUSI
BAB IV PEMELIHARAAN TRAFO DISTRIBUSI 4.1 Pengerian dan Tujuan Pemeliharaan Pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah serangkaian tindakan atau proses kegiatan untuk mempertahankan kondisi dan
BAB II GAS INSULATED SWITCHGEAR ( GIS ) GIS yang sekarang telah menggunakan Gas SF6 ( Sulfur Hexafluoride )
BAB II GAS INSULATED SWITCHGEAR ( GIS ) 2.1 SEJARAH GIS GIS yang sekarang telah menggunakan Gas SF6 ( Sulfur Hexafluoride ) sebagai media isolasi, menjadikannya sebagai sebuah teknologi yang maju dan telah
BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN. fasa dari segi sistim kelistrikannya maka dilakukan pengamatan langsung
BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN 4.1 Umum Untuk menganalisa kegagalan pengasutan pada motor induksi 3 fasa dari segi sistim kelistrikannya maka dilakukan pengamatan langsung ( visual ) terhadap motor induksi
SIMULASI PROTEKSI DAERAH TERBATAS DENGAN MENGGUNAKAN RELAI OMRON MY4N-J12V DC SEBAGAI PENGAMAN TEGANGAN EKSTRA TINGGI DI GARDU INDUK
Simulasi Proteksi Daerah Terbatas... (Setiono dan Arum) SIMULASI PROTEKSI DAERAH TERBATAS DENGAN MENGGUNAKAN RELAI OMRON MY4N-J12V DC SEBAGAI PENGAMAN TEGANGAN EKSTRA TINGGI DI GARDU INDUK Iman Setiono
PEMAKAIAN DAN PEMELIHARAAN TRANSFORMATOR ARUS (CURRENT TRANSFORMER / CT)
PEMAKAIAN DAN PEMELIHARAAN TRANSFORMATOR ARUS (CURRENT TRANSFORMER / CT) Oleh : Agus Sugiharto Abstrak Seiring dengan berkembangnya dunia industri di Indonesia serta bertambah padatnya aktivitas masyarakat,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Umum Lightning Arrester merupakan alat proteksi peralatan listrik terhadap tegangan lebih yang disebabkan oleh petir atau surja hubung (switching surge). Alat ini bersifat
BAB III PENGASUTAN MOTOR INDUKSI
BAB III PENGASUTAN MOTOR INDUKSI 3.1 Umum Masalah pengasutan motor induksi yang umum menjadi perhatian adalah pada motor-motor induksi tiga phasa yang memiliki kapasitas yang besar. Pada waktu mengasut
INSPEKSI PEMUTUS TENAGA (PMT) PADA TRANSFORMATOR DAYA DI GARDU INDUK KERAMASAN
INSPEKSI PEMUTUS TENAGA (PMT) PADA TRANSFORMATOR DAYA DI GARDU INDUK KERAMASAN LAPORAN AKHIR Disusun Untuk Memenuhi Syarat Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Pada Jurusan Teknik Elektro Program Studi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Distribusi 1 Bagian dari sistem tenaga listrik yang paling dekat dengan pelanggan adalah sistem distribusi. Sistem distribusi adalah bagian sistem tenaga listrik yang
Perlengkapan Pengendali Mesin Listrik
Perlengkapan Pengendali Mesin Listrik 1. Saklar Elektro Mekanik (KONTAKTOR MAGNET) Motor-motor listrik yang mempunyai daya besar harus dapat dioperasikan dengan momen kontak yang cepat agar tidak menimbulkan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Instalasi Listrik Instalasi listrik adalah saluran listrik beserta gawai maupun peralatan yang terpasang baik di dalam maupun diluar bangunan untuk menyalurkan arus
Abstrak. 1.2 Tujuan Mengetahui pemakaian dan pemeliharaan arrester yang terdapat di Gardu Induk 150 kv Srondol.
PEMELIHARAAN DAN ANALISA PENEMPATAN ARRESTER PADA GARDU INDUK 150 KV SRONDOL PT. PLN (PERSERO) P3B JB APP SEMARANG BC SEMARANG Guntur Pradnya Pratama 1, Ir. Tejo Sukmadi 2 1 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan
BAB II LANDASAN TEORI
5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Teori Dasar MCB MCB (Miniature Circuit Breaker) atau pemutus tenaga berfungsi untuk memutuskan suatu rangkaian apabila ada arus yamg mengalir dalam rangkaian atau beban listrik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar-Dasar Sistem Proteksi 1 Sistem proteksi adalah pengaman listrik pada sistem tenaga listrik yang terpasang pada : sistem distribusi tenaga listrik, trafo tenaga, transmisi
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN A. Tempat Penelitian Penelitian tugas akhir ini dilakukan di Gardu Induk 150 KV Teluk Betung Tragi Tarahan, Bandar Lampung, Provinsi Lampung. B. Data Penelitian Untuk mendukung terlaksananya
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distributed Generation Distributed Generation adalah sebuah pembangkit tenaga listrik yang bertujuan menyediakan sebuah sumber daya aktif yang terhubung langsung dengan jaringan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Saluran Transmisi Sistem transmisi adalah suatu sistem penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat lain, seperti dari stasiun pembangkit ke substation ( gardu
UNIT I MOTOR ARUS SEARAH MEDAN TERPISAH. I-1. JUDUL PERCOBAAN : Pengujian Berbeban Motor Searah Medan Terpisah a. N = N (Ia) Pada U = k If = k
UNIT I MOTOR ARUS SEARAH MEDAN TERPISAH I-1. JUDUL PERCOBAAN : Pengujian Berbeban Motor Searah Medan Terpisah a. N = N (Ia) Pada U = k If = k I-2. MAKSUD PERCOBAAN : Menentukan besar kecepatan putar motor
A P A S I T O R D : P D M / P G I
B u k u P e d o m a n P e m e l i h a r a a n K A P A S I T O R D o k u m e n n o m o r : P D M / P G I / 0 4 : 2 0 1 4 P T P L N ( P E R S E R O ) J l T r u n o j o y o B l o k M I / 1 3 5 J A K A R T
BAB IV PEMILIHAN KOMPONEN DAN PENGUJIAN ALAT
BAB IV PEMILIHAN KOMPONEN DAN PENGUJIAN ALAT Pada bab sebelumnya telah diuraikan konsep rancangan dan beberapa teori yang berhubungan dengan rancangan ACOS (Automatic Change Over Switch) pada AC (Air Conditioning)
Percobaan 6 Kendali 3 Motor 3 Fasa Bekerja Secara Berurutan dengan Menggunakan Timer Delay Relay (TDR)
Percobaan 6 Kendali 3 Motor 3 Fasa Bekerja Secara Berurutan dengan Menggunakan Timer Delay Relay (TDR) I. TUJUAN PRAKTIKUM 1. Mahasiswa mampu memasang dan menganalisis 2. Mahasiswa mampu membuat rangkaian
BAB 2 GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DAN PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK
BAB 2 GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DAN PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK 2.1 PENGERTIAN GANGGUAN DAN KLASIFIKASI GANGGUAN Gangguan adalah suatu ketidaknormalan (interferes) dalam sistem tenaga listrik yang mengakibatkan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Distribusi Tenaga Listrik Sistem tenaga listrik adalah kumpulan atau gabungan dari komponenkomponen atau alat-alat listrik seperti generator, transformator, saluran transmisi,
PEMELIHARAAN PMT KUBIKEL OUTGOING 20 KV DI GI SAYUNG
PEMELIHARAAN PMT KUBIKEL OUTGOING 20 KV DI GI SAYUNG Prayoga Setiajie, Dr. Ir. Joko Windarto, MT Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudharto, tembalang, Semarang,
BAB II TRANSFORMATOR DAYA DAN PENGUBAH SADAPAN BERBEBAN. Tenaga listrik dibangkitkan dipusat pusat listrik (power station) seperti
6 BAB II TRANSFORMATOR DAYA DAN PENGUBAH SADAPAN BERBEBAN 2.1 Sistem Tenaga Listrik Tenaga listrik dibangkitkan dipusat pusat listrik (power station) seperti PLTA, PLTU, PLTD, PLTP dan PLTGU kemudian disalurkan
BAB IV SISTEM PROTEKSI GENERATOR DENGAN RELAY ARUS LEBIH (OCR)
27 BAB IV SISTEM PROTEKSI GENERATOR DENGAN RELAY ARUS LEBIH (OCR) 4.1 Umum Sistem proteksi merupakan salah satu komponen penting dalam system tenaga listrik secara keseluruhan yang tujuannya untuk menjaga
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Dasar Koordinasi Proteksi Pada Sistem Kelistrikan Keandalan dan kemampuan suatu sistem tenaga listrik dalam melayani konsumen sangat tergantung pada sistem proteksi yang digunakan.
BAB III SPESIFIKASI TRANSFORMATOR DAN SWITCH GEAR
38 BAB III SPESIFIKASI TRANSFORMATOR DAN SWITCH GEAR 3.1 Unit Station Transformator (UST) Sistem PLTU memerlukan sejumlah peralatan bantu seperti pompa, fan dan sebagainya untuk dapat membangkitkan tenaga
BAB III PERANCANGAN ALAT
BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 Flow Chart Pengujian Deskripsi sistem rancang rangkaian untuk pengujian transformator ini digambarkan dalam flowchart sebagai berikut : Mulai Peralatan Uji Merakit Peralatan
CIRCUIT BREAKER TEGANGAN 4160 V PADA PLTU TAMBAK LOROK PT INDONESIA POWER SEMARANG
Makalah Seminar Kerja Praktek CIRCUIT BREAKER TEGANGAN 4160 V PADA PLTU TAMBAK LOROK PT INDONESIA POWER SEMARANG Oleh : Hannan Afifi L2F 007 035 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Pengenalan Simbol-sismbol Komponen Rangkaian Kendali
7a 1. 8 Tambahan (Suplemen) Pengenalan Simbol-sismbol Komponen Rangkaian Kendali Pada industri modern saat ini control atau pengendali suatu system sangatlah diperlukan untuk lancarnya proses produksi
Institut Teknologi Padang Jurusan Teknik Elektro BAHAN AJAR SISTEM PROTEKSI TENAGA LISTRIK. TATAP MUKA IV. Oleh: Ir. Zulkarnaini, MT.
Institut Teknologi Padang Jurusan Teknik Elektro BAHAN AJAR SISTEM PROTEKSI TENAGA LISTRIK TATAP MUKA IV. Oleh: Ir. Zulkarnaini, MT. 2011 1 CIRCUIT BREAKER DAN FUSE (SEKERING) Circuit Breaker Fungsi circuit
PEMELIHARAAN TRAFO ARUS (CT) PADA PADA GARDU INDUK 150 KV PT. PLN (PERSERO) P3B JB REGION JAWA TENGAH DAN DIY UNIT PELAYANAN TRANSMISI SEMARANG
PEMELIHARAAN TRAFO ARUS (CT) PADA PADA GARDU INDUK 150 KV PT. PLN (PERSERO) P3B JB REGION JAWA TENGAH DAN DIY UNIT PELAYANAN TRANSMISI SEMARANG Aditya Teguh Prabowo 1, Agung Warsito 2 1 Mahasiswa dan 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Gambar 2.1 dibawah ini menunjukkan diagram segaris suatu sistem tenaga listrik yang sederhana. Gambar ini menunjukkan bahwa sistem tenaga listrik terdiri atas lima sub-sistem
1.2 Tujuan Tujuan penulisan laporan kerja praktek ini adalah untuk mengetahui kondisi dari PMT yang akan dipasang pada GIS Kalisari.
Makalah Seminar Kerja Praktek PEMELIHARAAN PMT 20 KV MEDIA ISOLASI GAS SF6 KUBIKEL OUTGOING 7 GIS KALISARI Johanes Nugroho Adhi Prakosa, Ir. Juningtyastuti, MT. Mahasiswa dan Dosen Jurusan Teknik Elektro,
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Proteksi Sistem Tenaga Listrik Proteksi terhadap suatu sistem tenaga listrik adalah sistem pengaman yang dilakukan terhadap peralatan- peralatan listrik, yang terpasang pada sistem
ANALISIS PEMILIHAN JENIS PEMUTUS TENAGA 150/20 KV PADA GARDU INDUK GANDUL DITINJAU DARI SEGI TEKNO - EKONOMIS
ANALISIS PEMILIHAN JENIS PEMUTUS TENAGA 150/20 KV PADA GARDU INDUK GANDUL DITINJAU DARI SEGI TEKNO - EKONOMIS Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) Disusun
Analisa Perancangan Gardu Induk Sistem Outdoor 150 kv di Tallasa, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan
JURNAL DIMENSI TEKNIK ELEKTRO Vol. 1, No. 1, (2013) 37-42 37 Analisa Perancangan Gardu Induk Sistem Outdoor 150 kv di Tallasa, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Samuel Marco Gunawan, Julius Santosa Jurusan
BAB II PEMBAHASAN. Makin besar suatu sistem kelistrikan, maka makin besar pula peralatan proteksi
BAB II PEMBAHASAN II.1. Gambaran Masalah Penggunaan proteksi dalam bidang kelistrikan mencakup segi yang luas. Makin besar suatu sistem kelistrikan, maka makin besar pula peralatan proteksi yang digunakan.
MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK
MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK TIM PENYUSUN DIANA RAHMAWATI, S.T., M. T HARYANTO, S.T., M.T KOKO JONI, S.T., M.Eng ACHMAD UBAIDILLAH, S.T., M.T RIZA ALFITA, S.T., MT MIFTACHUL ULUM, S.T., M.T
BAB IV PEMBAHASAN. P 1 P 2. Gambar 4.1 Rangkaian Pengujian Rasio Trafo Arus S 2 S 1. Alat Uji Arus 220 V
BAB IV PEMBAHASAN Sebelum melakukan pemasangan CT TR terdapat langkah langkah yang wajib apakah CT yang kita pasang baik di gunakan atau tidak berikut tahapan sebelum melakukan pemasanga CT TR 4.1 Pengujian
EVALUASI PENGGUNAAN PEMUTUS TENAGA PADA GARDU INDUK BUNGARAN PALEMBANG
EVALUASI PENGGUNAAN PEMUTUS TENAGA PADA GARDU INDUK BUNGARAN PALEMBANG LAPORAN AKHIR Dibuat untuk memenuhi syarat menyelesaikan Pendidikan Diploma III Jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknik Listrik
DASAR PENGUKURAN LISTRIK
DASAR PENGUKURAN LISTRIK OUTLINE 1. Objektif 2. Teori 3. Contoh 4. Simpulan Objektif Teori Tujuan Pembelajaran Mahasiswa mampu: Menjelaskan dengan benar mengenai prinsip dasar pengukuran. Mengukur arus,
BAB II TINJAUAN TEORITIS
BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1. Pengertian Sistem Kontrol Sistem kontrol adalah proses pengaturan atau pengendalian terhadap satu atau beberapa besaran (variable, parameter) sehingga berada pada suatu harga
DTG1I1. Bengkel Instalasi Catu Daya dan Perangkat Pendukung KWH METER DAN ACPDB. By Dwi Andi Nurmantris
DTG1I1 Bengkel Instalasi Catu Daya dan Perangkat Pendukung KWH METER DAN ACPDB By Dwi Andi Nurmantris OUTLINE 1. KWH Meter 2. ACPDB TUGAS 1. Jelaskan tentang perangkat dan Instalasi Listrik di rumah-rumah!
