KETERSEDIAAN ENERGI DAN PEMBANGUNAN EKONOMI NTT
|
|
|
- Hengki Chandra
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KETERSEDIAAN ENERGI DAN PEMBANGUNAN EKONOMI NTT Oleh: Fred Benu I. Pengantar Panitia Pelaksana Seminar dan Workshop Internasional Energi Baru Terbarukan meminta saya untuk membawakan makalah tentang Ketersediaan energi dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi NTT. Walaupun topik yang diminta untuk digagas adalah menyangkut energi secara umum, namun dalam kaitan dengan potensi dan persebaran energi di NTT, maka bahasan yang akan digagas dalam makalah ini lebih banyak berhubungan dengan ketersediaan dan suplai energi listrik dan pembangunan aspek ekonomi NTT. Beberapa sektor unggulan yang seharus nya dikembangkan dalam kaitan dengan suplai energi guna memperbaiki struktur ekonomi NTT baik sebagai sektor basis maupun sebagai prime mover pertumbuhan ekonomi akan mendapat penekanan dalam pembahasan makalah i ni. II. Energi dan Pembangunan Ekonomi Sektor energi khususnya ESDM saat ini banyak memberikan peran bagi perekonomian Indonesia. Kontribusi peran sektor ESDM bagi perekonomian nasional dapat berupa sumber penerimaan Negara, penarik investasi, penggerak roda perekonomian, mendorong kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menyediakan lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung. Isu ketersediaan energi untuk mendorong percepatan pembangunan ekonomi saat ini semakin mendominasi ruang perdebatan publik. Jika pada periode pembangunan sebelumnya ketersediaan energi khususnya minyak dan gas banyak dihubungkan dengan aktivitas konsumsi masyarakat, namun seiring dengan tumbuhnya perekonomian Indonesia, khususnya keberhasilan Indonesia mencatatan prestasi pertumbuhan ekonomi yang positip pada saat krisis 2008 lalu, maka masalah ketersediaan energi banyak dihubungkan dengan sektor produksi domestik yang sudah semakin menunjukkan perannya dalam perekonomian Indonesia. Masalah ketersediaan energi menjadi isu krusial bagi Indonesia jika ingin mencapai tingkat pertumbuhan sekitar 5 6 persen per tahun. Tingkat pertumbuhan ini hanya mungkin dicapai jika kita memiliki supali energi secara berkesinambungan guna menggerakan sektor produksi dalam negeri. Walaupun tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih sangat ditentukan oleh sektor konsumsi domestik, namun diprediksi ke depan sektor 1
2 produksi yang mengandalkan konsistensi supali energi akan semakin berperan dalam menentukan kinerja perekonomian nasional. Sektor energi mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam perekonomian, antara lain sebagai sumber penerimaan negara serta pemenuhan kebutuhan bahan bakar untuk industri, rumah tangga, dan transportasi. Kontribusi sektor energi dan sumber daya mineral terhadap penerimaan negara saat ini bisa mencapai 36 % dari total penerimaan negara. Dari 36 % penerimaan negara dari sektor ESDM tersebut, migas menyumbang 31,5%, pertambangan umum 4,4 %, dan lain-lain seperti iuran badan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa, jasa teknologi, jasa diklat, sewa gedung dan lain-lainnya yang diperkirakan mencapai sekitar 0,1 %. Jika pada tingkat nasional masalah ketersediaan energi sangat mendeterminasi kinerja sektor produksi domestik, tidak demikian halnya dengan perekonomi NTT. Masalah ketersediaan energi lebih banyak dihubungkan dengan sektor konsumsi daerah. Dan relatif sektor produksi daerah tercatat tidak memberikan peran yang cukup dalam perekonomian NTT. Satu satunya industri besar yang menjadi flag carier industrialisasi bagi sektor industri daerah yaitu PT semen Kupang juga perkembangannya tersendat-sendat dalam 10 tahun terakhir bahkan cendrung ditutup. Walaupun di saat yang sama muncul sejumlah industri berskala kecil dan menengah, seperti agroindustri perikanan dan kelautan, agroindustri pengolahan komoditi perkebunan (kelapa, kopi, kakao,dll.), termasuk industri pertambangan rakyat tapi perkembangannya masih jauh dari peran sebagai andalan perekonomian NTT. Perekonomian daerah yang didorong oleh perkembangan sektor konsumsi, juga diindikasikan oleh rendahnya nilai tambah yang dihasilkan dari konsumsi energi. Selain itu jumlah penduduk NTT 4.5 juta jiwa juga merupakan daya dorong konsumsi energi terbesar di daerah ini. Mengacu kepada Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia (2009) hasil kajian Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, total konsumsi energi per kapita Indonesia meningkat setiap tahunnya dengan pertumbuhan rata-rata di atas 5 persen. Pada 2000, konsumsi energi per kapita Indonesia sebesar 2,28 BOE (barrels of oil equivalent). Artinya, setiap kepala mengonsumsi minyak mentah sebesar 2,28 barel per tahun. Pada saat yang sama konsumsi energi khususnya jenis energi bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui (non-renewable fossil fuel) juga mengakibatkan persoalan tersendiri. Pada saat sejumlah negara maju telah berupaya menekan konsumsi bahan bakan fosil, Indonesia masih sulit mencatat prestasi yang sama. Seiring dengan terus bertumbuhnya perekonomian Indonesia, bahkan tercatat sebagai salah satu dari tiga negara di dunia (disamping China dan India) yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang significant ditengah badai krisis 2008, maka kebutuhan akan 2
3 energi dalam negeri akan terus meningkat. Oleh karena itu saat ini kita dihadapkan dengan persoalan ketahanan energi nasional. Dalam kaitan dengan isu ketahanan energi nasional, maka pertanyaan harus dialamatkan pada kenyataan tingginya permintaan energi baik didorong oleh tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi dan berkonsekwensi pada tingginya tingkat konsumsi energi maupun kecenderungan meningkatnya konsumsi energi perkapita karena munculnya sejumlah besar kelompok berpendapatan menengah. Pada saat yang sama Indonesia saat ini menghadapi kenyataan keterbatasan suplai energi dalam negeri. Permasalahan di atas hanya mungkin dapat diatasi dengan menlakukan diversifikasi sumber energi baik menyangkut jenis maupun jumlahnya melalui pemanfaatan berbagai sumber energi alternatif, khususnya sumber energi terbarukan (renewable energy). Sumber energi terbarukan ini cukup besar di Indonesia, seperti sinar surya, angin, air, gelombang laut, biomassa (limbah), panas bumi, bahan bakar nabati (biofuel), dsb. Upaya mengoptimalkan penggunaan sumber energi terbarukan ini diharapkan dapat menutupi fenomena excess demand of energi bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pendekatan diversifikasi ini semakin dirasakan urgensinya seiring dengan semakin menipis nya sumber energi konvensional, dan tuntutan penggunaan sumber energi yang ramah lingkungan. Keberhasilan pendekatan penggunakan sumber energi terbarukan membutuhkan adanya intervensi pemerintah berupa regulasi yang mendorong pemanfaatan sumber energi terbarukan misalnya dengan penyediaan insentif yang memadai bagi industri dalam negeri yang menggunakan sumber energi terbarukan dimaksud. Pada saat yang sama harus ada upaya penghematan energi oleh semua kalangan tanpa perlu mengorbankan kemanfaatan ekonomi yang mungkin dicapai. Kombinasi kebijakan seperti ini tidaklah mudah, karena itu kita memerlukan strategi yang tepat dari pemerintah untuk mencapai kedua tujuan yang sifatnya sedikit trade-off antara penghematan konsumsi energi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Catatan menunjukan bahwa pemerintah mematok target penghematan konsumsi enegi menurut kelompok pengguna sebagai berikut: industri (efisiensi 6-10 %), rumah tangga (efisiensi 8-20 %) dan sektor transportasi (efisiensi %). III. Pemanfaatan Energi Bagi Pembangunan Ekonomi NTT Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa kinerja perekonomian NTT yang dihubungkan dengan ketersediaan energi khususnya power suplay lebih banyak digerakan dari sisi konsumsi domestik. Nilai tambah ekonomi yang diperoleh dari sumbangan sektor konsumsi daerah juga tidak sebesar nilai tambah yang mungkin diberikan oleh sektor produksi. 3
4 Data menunjukkan bahwa kontribusi pembangunan sektor ESDM khususnya listrik daearah terhadap perekonomian wilayah tidak menunjukkan perkembangan yang cukup significant dibandingkan dengan sektor lainnya. Perkembangan kontribusi sektor listrik daerah menunjukkan perkembangan yang cenderung konstant. Analisis IO, menunjukkan bahwa sektor listrik daerah memberikan total penyediaan (output) sebesar kurang dari Rp.50 milyard. Besaran total penyediaan ini diperoleh dari penggunaan input sektor sekunder antara Rp.15 milyar Rp.20 milyard dan sektor tersier sebesar hampir Rp.2milyard. Nilai output yang sama dihasilkan antara lain dari operasi biaya penggunaan energi bahan bakar sebesar 47 % dari total biaya. Jika biaya energi ini meningkat lagi (akibat perubahan harga bahan bakar, inefisiensi, dll.) maka nilai tambah yang dihasilkan bagi daerah ini juga akan semakin kecil. Selanjutnya total output yang dihasilkan oleh sektor kelistrikan sebagai representasi bagi sektor ESDM daerah, juga digunakan oleh sektor produksi domestik dengan rincian 13.5 % atau kurang lebih Rp.2 milyard Rp.3 milyard untuk aktivitas permintaan antara dan 86.5% atau Rp.13 milyard Rp.17 milyard untuk aktivitas permintaan akhir. Deskripsi ini menunjukkan bahwa sebagian besar ketersediaan sumberdaya energi di daerah ini khususnya listrik digunakan untuk konsumsi akhir. Relatif tidak ada rangsangan bagi sektor produksi domestik untuk meningkatkan aktifitas produksi melalui pemanfaatan ketersediaan energi guna meningkatkanan nilai tambah bagi perekonomian daerah. Tercatat konsumsi energi listrik paling banyak adalah untuk kelompok pemakai residensial, dibanding kelompok pemakai lainnya. Sektor Industri NTT hanya menempati porsi sebesar 0.06 % dari total pelanggan listrik menurut kelompok pelanggan. Secara rinci dapat dilihat pada Gambar 1. di bawah Gambar 1. Perbandingan proporsi pelanggan menurut kelompok pemakai 4
5 Selanjutnya permintaan antara sekitar Rp. 2.5 milyard total output yang dihasilkan oleh sektor kelistrikan daerah digunakan untuk proses produksi sektor primer sebesar 0.13% atau Rp. 0.3 milyard, sektor sekunder sebesar % atau Rp. 0.4 milyard dan sektor tersier sebesar % atau Rp.2.1 milyard. Disamping ketimpangan distribusi penggunaan energi menurut kelompok pelanggan, NTT juga menghadapi masalah suplai energi yang tidak merata untuk seluruh desa dalam suatu wilayah pelayanan. Secara umum jumlah desa yang mendapat suplai energi listrik masih dibawah 50% (Lihat Tabel1.). Kondisi ini tentu turut memberikan kontribusi terhadap lambatnya perkembangan bisnis khususnya sektor indutri di daerah ini. Tabel 1. Distribusi Desa Berlistrik NTT, 2008 Unit Cabang Jumlah Desa (BPS, 207) Desa Berlistrik Desa Kelurahan Jumlah Desa % Kupang Flores Bagian Barat Flores Bagian Timur Sumba NTT Sumber: Statistik Listrik 2008 Suplai energi menurut wilayah pelayanan juga mengalami ketimpangan, dan konsekwensinya jelas akan mendeterminasi ketimpangan dinamika pembangunan antar wilayah. Wilayah dengan produksi energi yang lebih besar tentunya akan mendorong perkembangan dinamika ekonomi lebih besar dibanding wilayah dengan produksi energi yang lebih rendah. Secara detail dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Perkembangan Produksi Tenaga Listrik Netto antar wilayah (MWH), 2008 Unit Cabang Kupang Flores bagian Barat Sumba Flores bagian Timur NTT Sumber: Statistik Listrik 2008 Tabel di atas menunjukkan bahwa wilayah pelayanan Kupang yang meliputi Kab./Kota Kupang, So E, Kefa, Atambua, Kalabahi dan Rote Ndao mendapat pasokan pasokan produksi tenaga listrik terbesar dibanding wilayah pelayanan lainnya. Hampir 60 % dari total 5
6 pasokan produksi tenaga listrik netto dialokasikan untuk wilayah ini, dan itu berarti ada peluang pengembangan ekonomi wilayah yang cukup besar dibanding wilayah lainnya. Jika kita memiliki kebijakan pengembangan ekonomi daerah NTT yang diarahkan untuk perbaikan struktur ekonomi daerah, dan perbaikan struktur dimaksud adalah melalui upaya mendorong Agroindustri daerah, maka perlu dipahami bahwa sejumlah besar komoditi yang memiliki keunggulan komparatif (comparative advantages) seperti kopi, kakao, jambu mente, perikanan laut (disamping tentu nya ternak dan jangung yang berada di wilayah pelayanan Kupang) justru berada pada wilayah pelayanan energi listrik yang mendapat pasokan produksi netto kecil (sebagian besar Flores). Jadi pasokan produksi netto energi listrik yang besar di wilayah pelayanan Kupang dapat dibaca semata karena didorong oleh perkembangan sektor lainnya seperti sektor jasa (pemerintah), perdagangan, hotel dan restoran (Lihat Tabel 3). Atau kalaupun dimanfaatkan oleh sektor industri maka industri dimaksud kurang memiliki basis pengusahaaan yang kuat di tingkat masyarakat (seperti Industri besar pabrik semen Kupang). Untuk mendorong pengembangan investasi daerah khususnya di sektor industri pengolahan komoditi unggulan NTT diperlukan adanya kebijakan insentif terarah menyangkut pemanfaatan ketersediaan dan suplai energi yang tersebar di seluruh daerah. Perlu adanya insentif bagi pengembangan industri yang memanfaatkan potensi dan persebaran energi baru terbarukan seperti angin, panas bumi, air yang secara kasat sangat tersedia secara merata di daerah ini, demi kemajuan NTT dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Tabel 3. Jumlah Daya Tersambung Menurut Sektor Pengguna (VA), 2008 Wilayah Pelayanan Sosial Rumah Tangga Bisnis Industri Pemerintah Jumlah Kupang Flores Bagian Barat Flores Bagian Timur Sumba NTT Sumber: Statistik Listrik, 2008 Masalahnya pemanfaatan suplai energi listrik yang besar oleh sektor dengan basis input yang kecil di tingkat masyarakat, akan cenderung mengalami kebocoran ekonomi wilayah yang besar pula (seperti fenomena pengembangan pariwisata di Manggarai Barat), disamping tentunya berdampak pada ketimpangan distribusi nilai tambah. Dan inilah yang terjadi dengan NTT, saat perekonomian wilayahnya masih bertumpu pada sektor pertanian dengan sejumlah komoditi unggulannya, namun prime mover pertumbuhan ekonomi nya 6
7 justeru diperankan oleh sektor lain, seperti Perdagangan, Hotel dan Restioran, maupun jasa lainnya khususnya jasa pemerintah. IV. Penutup Demikian makalah ini disampaikan, dengan merujuk pada sejumlah data empirik yang tersedia. Walaupun saya cukup menghadapi kendala yang berhubungan dengan ketersediaan data guna pembahasan menyangkut ketersediaan energi secara menyeluruh, baik menyangkut potensi dan persebaran, tapi dengan mengembangkan asumsi tentang terbatas nya suplai energi selain energi listrik, maka makalah ini diselesaikan dengan basis asumsi dimaksud. Semoga apa yang telah disampaikan dapat membawa pencerahan pada berbagai pihak yang berkepentingan dengan ketersediaan energi khususnya energi baru terbarukan yang dapat dimanfaatkan bagi tujuan pembangunan di daerah ini. S e k i a n 7
BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Faktor-faktor yang..., Iva Prasetyo Kusumaning Ayu, FE UI, 2010.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan berlangsungnya pelaksanaan pembangunan ekonomi nasional, maka transformasi struktural dalam perekonomian merupakan suatu proses yang tidak terhindarkan.
KONSERVASI DAN DIVERSIFIKASI ENERGI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN ENERGI INDONESIA TAHUN 2040
KONSERVASI DAN DIVERSIFIKASI ENERGI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN ENERGI INDONESIA TAHUN 2040 Ana Rossika (15413034) Nayaka Angger (15413085) Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi
BAB I PENDAHULUAN. manajemen baik dari sisi demand maupun sisi supply energi. Pada kondisi saat ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Untuk mencapai pola pengelolaan energi diperlukan perubahan manajemen baik dari sisi demand maupun sisi supply energi. Pada kondisi saat ini telah diketahui bahwa permintaan
Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 /
BAB IV TINJAUAN EKONOMI 2.1 STRUKTUR EKONOMI Produk domestik regional bruto atas dasar berlaku mencerminkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu daerah. Pada tahun 2013, kabupaten Lamandau
I. PENDAHULUAN. optimal. Salah satu sumberdaya yang ada di Indonesia yaitu sumberdaya energi.
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan sumberdaya alam. Akan tetapi, sumberdaya alam yang melimpah ini belum termanfaatkan secara optimal. Salah satu sumberdaya
PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NGADA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2011 MENCAPAI 5,11 PERSEN
BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN NGADA No. 08/08/Th.IV, 3 Agustus 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NGADA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2011 MENCAPAI 5,11 PERSEN Ekonomi Kabupaten Ngada pada tahun 2011 tumbuh
I. PENDAHULUAN. dalam menjalankan aktivitas ekonomi suatu negara. Seiring dengan pertambahan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ketersediaan energi dalam jumlah yang cukup dan kontinu sangat penting dalam menjalankan aktivitas ekonomi suatu negara. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan atas sumber daya
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan atas sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan atas sumber daya air, sumber daya lahan, sumber daya hutan, sumber
PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NGADA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2012 MENCAPAI 5,61 PERSEN
BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN NGADA No.05/08/Th.V, 1 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NGADA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2012 MENCAPAI 5,61 PERSEN Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Ngada yang diukur
VIII. EFISIENSI DAN STRATEGI ENERGI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA
VIII. EFISIENSI DAN STRATEGI ENERGI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Pada bagian ini dibahas efisiensi energi dalam perekonomian Indonesia, yang rinci menjadi efisiensi energi menurut sektor. Disamping itu,
BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH. 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya;
BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya; A. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi (economic growth) merupakan salah satu indikator yang
VI. SIMPULAN DAN SARAN
VI. SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain: 1. Selama tahun 1999-2008, rata-rata tahunan harga minyak telah mengalami peningkatan
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 Nomor Katalog : 9302001.9416 Ukuran Buku : 14,80 cm x 21,00 cm Jumlah Halaman
I. PENDAHULUAN Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai suatu bangsa dan negara besar dengan pemilikan sumber daya alam yang melimpah, dalam pembangunan ekonomi yang merupakan bagian dari pembangunan nasional
Versi 27 Februari 2017
TARGET INDIKATOR KETERANGAN 7.1 Pada tahun 2030, menjamin akses universal 7.1.1* Rasio elektrifikasi Indikator nasional yang sesuai dengan indikator layanan energi yang global (Ada di dalam terjangkau,
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Jumlah konsumsi minyak bumi Indonesia sekitar 1,4 juta BOPD (Barrel Oil Per Day), sedangkan produksinya hanya sekitar 810 ribu BOPD (Barrel Oil Per Day). Kesenjangan konsumsi
BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT. 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT
BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdiri dari pulau-pulau yang memiliki penduduk yang beraneka ragam, dengan latar
Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007
Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007 TABEL INPUT OUTPUT Tabel Input-Output (Tabel I-O) merupakan uraian statistik dalam bentuk matriks yang menyajikan informasi tentang transaksi barang
I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi dunia akan semakin besar seiring dengan pesatnya perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap terpenuhi agar roda
I.PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang lebih ditekankan pada pembangunan
I.PENDAHULUAN A.Latar Belakang Pembangunan di negara-negara berkembang lebih ditekankan pada pembangunan ekonomi, hal ini disebabkan karena terjadinya keterbelakangan ekonomi. Pembangunan di bidang ekonomi
I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia
PENDAHULUAN. Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Natalitas (kelahiran) yang terjadi setiap hari tentu menambah jumlah populasi manusia di muka bumi ini. Tahun 2008 ini populasi penduduk Indonesia menduduki peringkat 4 setelah
A. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk. Pertumbuhan Penduduk
Perspektif Kabupaten Berau selama 5 tahun ke depan didasarkan pada kondisi objektif saat ini dan masa lalu yang diprediksi menurut asumsi cetiris paribus. Prediksi dilakukan terhadap indikator-indikator
BAB I PENDAHULUAN. bukan lagi terbatas pada aspek perdagangan dan keuangan, tetapi meluas keaspek
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Globalisasi ekonomi merupakan dunia kegiatan dan keterkaitan perekonomian. Kegiatan-kegiatan perekonomian tidak lagi sekedar nasional tapi bahkan internasional, bukan
2.2 EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN RKPD SAMPAI DENGAN TAHUN 2013 DAN REALISASI RPJMD
143 2.2 EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN RKPD SAMPAI DENGAN TAHUN 2013 DAN REALISASI RPJMD 2.2.1 Evaluasi Indikator Kinerja Utama Pembangunan Daerah Kinerja pembangunan Jawa Timur tahun 2013 diukur
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Majalengka
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi mempunyai peranan yang sangat penting bagi sebuah bangsa. Beberapa peranan strategis energi antara lain sumber penerimaan negara, bahan bakar dan bahan baku
BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO
BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO 1. PERKEMBANGAN KABUPATEN BUNGO merupakan penghitungan atas nilai tambah yang timbul akibat adanya berbagai aktifitas ekonomi dalam suatu daerah/wilayah. Data
PERENCANAAN URUSAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA PERENCANAAN URUSAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 2013 2017 DISAMPAIKAN OLEH Dr. Ir. YURIANTO, MA.M.Sc BAPPEDA PROVINSI DKI JAKARTA YOGYAKARTA, 13 AGUSTUS
Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia
Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perekonomian Indonesia tahun 2004 yang diciptakan UKM berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang mengikuti
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang mengikuti pertumbuhan pendapatan perkapita, akan membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi
I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Struktur Ekonomi Sumbawa Barat Sebelum Transformasi Sektor pertambangan memiliki peran yang sangat signifikan bagi pembentukan nilai output Kabupaten Sumbawa Barat dengan nilai
PERSIAPAN SUMATERA UTARA DALAM MENYUSUN RENCANA UMUM ENERGI DAERAH (RUED)
PERSIAPAN SUMATERA UTARA DALAM MENYUSUN RENCANA UMUM ENERGI DAERAH (RUED) Oleh Ir. EDDY SAPUTRA SALIM, M.Si Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumatera Utara PADA ACARA SOSIALISASI RENCANA UMUM
I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan perkapita penduduk yang diikuti oleh perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara. Pembangunan
PENGEMBANGAN ENERGI BARU TERBARUKAN
RENCANA DAN STRATEGI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ENERGI BARU TERBARUKAN DAN KEBERLANJUTANNYA DI NTT Oleh : Ir. Wayan Darmawa,MT Kepala Bappeda NTT 1 KONDISI UMUM PEMBANGUNAN NTT GAMBARAN UMUM Letak Geografis
2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Tata Cara
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.90, 2016 ENERGI. Darurat. Krisis. Penanggulangan. Penetapan. Tata Cara. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENETAPAN DAN PENANGGULANGAN
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor industri mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Secara umum sektor ini memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
20 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pada awalnya ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita, dengan asumsi pada saat pertumbuhan dan pendapatan perkapita tinggi,
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten Subang
KomUNIKASI SINgKAT: BAgAImANA NASIB ENERgI TERBARUKAN DI INDoNESIA PASCA TURUNNyA harga minyak DUNIA?
KomUNIKASI SINgKAT: BAgAImANA NASIB ENERgI TERBARUKAN DI INDoNESIA PASCA TURUNNyA harga minyak DUNIA? verina J. Wargadalam Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENETAPAN DAN PENANGGULANGAN KRISIS ENERGI DAN/ATAU DARURAT ENERGI
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENETAPAN DAN PENANGGULANGAN KRISIS ENERGI DAN/ATAU DARURAT ENERGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat diperlukan pertumbuhan
IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG
IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG 4.1. Indikator Kependudukan Kependudukan merupakan suatu permasalahan yang harus diperhatikan dalam proses pembangunan yang mencakup antara lain mengenai distribusi,
I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan proses transformasi yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Pembangunan ekonomi dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. suatu sistem negara kesatuan. Tuntutan desentralisasi atau otonomi yang lebih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Otonomi daerah memiliki kaitan erat dengan demokratisasi pemerintahan di tingkat daerah. Agar demokrasi dapat terwujud, maka daerah harus memiliki kewenangan yang lebih
BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi
BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH No. 08/02/Th.XVII, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI ACEH TRIWULAN IV TAHUN Pertumbuhan ekonomi Aceh dengan migas pada triwulan IV- secara triwulanan (q-to-q) mencapaai
gula (31) dan industri rokok (34) memiliki tren pangsa output maupun tren permintaan antara yang negatif.
5. RANGKUMAN HASIL Dari hasil dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat dirangkum beberapa poin penting sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu: 1. Deviasi hasil estimasi total output dengan data aktual
I. PENDAHULUAN. alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan minyak bumi dan gas alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam strategis tidak terbarukan,
4. GAMBARAN UMUM 4.1 Pertumbuhan Ekonomi
4. GAMBARAN UMUM 4.1 Pertumbuhan Ekonomi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan dasar pengukuran atas nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha yang timbul akibat adanya
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-2011
No. 43/08/63/Th XV, 05 Agustus 20 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-20 Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II-20 tumbuh sebesar 5,74 persen jika dibandingkan triwulan I-20 (q to q)
I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan antar daerah. Pelaksanaan pembangunan
IV. DINAMIKA DISPARITAS WILAYAH DAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
IV. DINAMIKA DISPARITAS WILAYAH DAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR 4.1. Dinamika Disparitas Wilayah Pembangunan wilayah merupakan sub sistem dari pembangunan koridor ekonomi dan provinsi dan merupakan bagian
STRATEGI KEN DALAM MEWUJUDKAN KETAHANAN ENERGI NASIONAL
STRATEGI KEN DALAM MEWUJUDKAN KETAHANAN ENERGI NASIONAL SEMINAR OPTIMALISASI PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN MENUJU KETAHANAN ENERGI YANG BERKELANJUTAN Oleh: DR. Sonny Keraf BANDUNG, MEI 2016 KETAHANAN
I. PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan suatu daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembangunan suatu daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Kerangka kebijakan pembangunan suatu daerah sangat tergantung pada permasalahan dan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor Industri merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam pembangunan nasional. Kontribusi sektor Industri terhadap pembangunan nasional setiap tahunnya
BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN
BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN No. 63/11/73/Th. VIII, 5 November 2014 EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN III TUMBUH SEBESAR 6,06 PERSEN Perekonomian Sulawesi Selatan pada triwulan III tahun 2014 yang diukur
I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi yang merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu negara dapat dicapai melalui suatu sistem yang bersinergi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki
BAB I PENDAHULUAN. Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas yang memegang. peranan sangat vital dalam menggerakkan semua aktivitas ekonomi.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas yang memegang peranan sangat vital dalam menggerakkan semua aktivitas ekonomi. Selain sebagai komoditas publik, sektor
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas penentu kelangsungan perekonomian suatu negara. Hal ini disebabkan oleh berbagai sektor dan kegiatan ekonomi di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. Sementara produksi energi khususnya bahan bakar minyak yang berasal dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertambahan jumlah penduduk, kemajuan teknologi, dan peningkatan perekonomian menyebabkan peningkatan konsumsi energi di Indonesia. Sementara produksi energi khususnya
BAB I PENDAHULUAN. Pentingnya peran energi dalam kebutuhan sehari-hari mulai dari zaman dahulu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Topik tentang energi saat ini menjadi perhatian besar bagi seluruh dunia. Pentingnya peran energi dalam kebutuhan sehari-hari mulai dari zaman dahulu hingga sekarang
Upaya Penghematan Konsumsi BBM Sektor Transportasi
Upaya Penghematan Konsumsi BBM Sektor Transportasi Menteri Negara PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Jakarta, 27 April 2006 Permasalahan Konsumsi BBM Sektor Transportasi Dalam rangka mewujudkan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menjamin keamanan pasokan
BAB I PENDAHULUAN. yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan. masyarakat meningkat dalam periode waktu yang panjang.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara umum pembangunan ekonomi di definisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan masyarakat meningkat dalam
1 BAB I PENDAHULUAN. ekonomi dan pertumbuhan penduduk di suatu negara yang terus meningkat
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi merupakan salah satu kebutuhan mendasar manusia. Pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk di suatu negara yang terus meningkat berbanding lurus dengan
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013
No. 046/08/63/Th XVII, 2 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013 Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II-2013 tumbuh sebesar 13,92% (q to q) dan apabila dibandingkan dengan
PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU
No. 19/05/14/Th.XI, 10 Mei PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau Tanpa Migas y-on-y Triwulan I Tahun sebesar 5,93 persen Ekonomi Riau dengan migas pada triwulan I tahun mengalami kontraksi sebesar 1,19
INSTRUMEN KELEMBAGAAN KONDISI SAAT INI POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ENERGI INDIKASI PENYEBAB BELUM OPTIMALNYA PENGELOLAAN ENERGI
MENUJU KEDAULATAN ENERGI DR. A. SONNY KERAF KOMISI VII DPR RI SEMINAR RENEWABLE ENERGY & SUSTAINABLE DEVELOPMENT IN INDONESIA : PAST EXPERIENCE FUTURE CHALLENGES JAKARTA, 19-20 JANUARI 2009 OUTLINE PRESENTASI
BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi bertujuan untuk mewujudkan ekonomi yang handal. Pembangunan ekonomi diharapkan dapat meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi dalam suatu negara sangat penting, karena pembangunan ekonomi bertujuan untuk mewujudkan ekonomi yang handal dan mandiri. Pembangunan ekonomi
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Energi merupakan isu yang sangat krusial bagi masyarakat dunia, terutama semenjak terjadinya krisis minyak dunia pada awal dan akhir dekade 1970-an dan pada akhirnya
BAB I PENDAHULUAN. perkiraan kapasitas pembangkit tenaga listrik.(dikutip dalam jurnal Kelistrikan. Indonesia pada Era Millinium oleh Muchlis, 2008:1)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Listrik merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang sangat penting dan sebagai sumber daya ekonomis yang paling utama yang dibutuhkan dalam suatu kegiatan usaha.
Pulau Ikonis Energi Terbarukan sebagai Pulau Percontohan Mandiri Energi Terbarukan di Indonesia
TEKNOLOI DI INDUSTRI (SENIATI) 2016 Pulau Ikonis Energi Terbarukan sebagai Pulau Percontohan Mandiri Energi Terbarukan di Indonesia Abraham Lomi Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Nasional Malang
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014
No. 048/08/63/Th XVIII, 5Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II- tumbuh sebesar 12,95% dibanding triwulan sebelumnya (q to q) dan apabila
Ringkasan Eksekutif INDONESIA ENERGY OUTLOOK 2009
INDONESIA ENERGY OUTLOOK 2009 Pusat Data dan Informasi Energi dan Sumber Daya Mineral KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 2009 Indonesia Energy Outlook (IEO) 2009 adalah salah satu publikasi tahunan
DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014
OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 23 DESEMBER 2014 METODOLOGI 1 ASUMSI DASAR Periode proyeksi 2013 2050 dimana tahun 2013 digunakan sebagai tahun dasar. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata sebesar
PEMENUHAN SUMBER TENAGA LISTRIK DI INDONESIA
PEMENUHAN SUMBER TENAGA LISTRIK DI INDONESIA Oleh : Togar Timoteus Gultom, ST, MT Dosen STT-Immanuel, Medan Abstrak Penulisan bertujuan untuk mengetahui supply dan demand tenaga listrik di Indonesia. Metode
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor Alat analisis Input-Output (I-O) merupakan salah satu instrumen yang secara komprehensif dapat digunakan untuk
PEREKONOMIAN DAERAH KOTA BATAM
PEREKONOMIAN DAERAH KOTA BATAM Konsentrasi pembangunan perekonomian Kota Batam diarahkan pada bidang industri, perdagangan, alih kapal dan pariwisata. Akibat krisis ekonomi dunia pada awal tahun 1997 pertumbuhan
KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT AGUSTUS 2014
No. 06/11/53/Th. XV, 5 November 2014 KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT AGUSTUS 2014 AGUSTUS 2014: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA NTT SEBESAR 3,26% Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) NTT Agustus 2014 mencapai 3,26
Kebijakan. Manajemen Energi Listrik. Oleh: Dr. Giri Wiyono, M.T. Jurusan Pendidikan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta
Kebijakan Manajemen Energi Listrik Oleh: Dr. Giri Wiyono, M.T. Jurusan Pendidikan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta [email protected] KONDISI ENERGI SAAT INI.. Potensi konservasi
BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA
BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA Ekonomi rakyat merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
1.2 SISI PENAWARAN Di sisi penawaran, hampir keseluruhan sektor mengalami perlambatan. Dua sektor utama yang menekan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2012 adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa mengingat
BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007
BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007 4.1. Gambaran Umum awa Barat adalah provinsi dengan wilayah yang sangat luas dengan jumlah penduduk sangat besar yakni sekitar 40 Juta orang. Dengan posisi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Infrastruktur Infrastruktur merujuk pada system phisik yang menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas publik yang lain yang dibutuhkan
BAB I PENDAHULUAN. listrik yang semakin meningkat sehingga diperlukan energy alternatif untuk energi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tenaga listrik merupakan sumber energy yang sangat penting bagi kehidupan manusia baik untuk kegiatan industry, kegiatan komersial, maupun dalam kehidupan sehari hari
Secara garis besar penyusunan proyeksi permintaan energi terdiri dari tiga tahap,
41 III. METODE PENELITIAN A. Bahan Penelitian Dalam penelitian ini bahan yang diperlukan adalah data ekonomi, kependudukan dan data pemakaian energi. Berikut adalah daftar data yang diperlukan sebagai
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 09/02/61/Th. XIII, 10 Februari 2010 PEREKONOMIAN KALIMANTAN BARAT TAHUN 2009 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2009 meningkat 4,76 persen dibandingkan
DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT)
DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT) OLEH SRI MULYANI H14103087 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN
Produk Domestik Regional Bruto
Tabel 9.1 : PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2007 2010 (Rp. 000) 1. PERTANIAN 193.934.273 226.878.977 250.222.051 272176842 a. Tanaman bahan makanan 104.047.799 121.733.346 134.387.261
No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014
No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2013 Secara triwulanan, PDRB Kalimantan Selatan triwulan IV-2013 menurun dibandingkan dengan triwulan III-2013 (q-to-q)
