Busi untuk mesin pembakaran bagian dalam
|
|
|
- Yulia Hermawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Standar Nasional Indonesia Busi untuk mesin pembakaran bagian dalam ICS Badan Standardisasi Nasional
2
3 Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup Acuan normatif Istilah dan definisi Klasifikasi Bentuk dan ukuran Syarat mutu Cara pengambilan contoh Cara uji Syarat lulus uji Syarat penandaan i
4 Prakata Standar Nasional Indonesia (SNI), Busi untuk mesin pembakaran bagian dalam, merupakan revisi SNI , Busi untuk motor bensin. Adapun penyusunan standar ini didasarkan atas pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan penerapan standar industri komponen kendaraan bermotor sesuai dengan harmonisasi standar yang disepakati di lingkup negara-negara sekawasan ASEAN. Standar ini telah dibahas dalam rapat konsensus pada tanggal 22 Desember 2004 di Jakarta yang dihadiri wakil-wakil dari produsen, konsumen, lembaga penelitian, dan instansi terkait lainnya. Standar ini disusun oleh Panitia Teknis 43-01, Rekayasa kendaraan jalan raya. ii
5 1 Ruang lingkup Busi untuk mesin pembakaran bagian dalam Standar ini menetapkan busi digunakan untuk motor bensin/mesin pembakaran dalam (internal combustion engines), tetapi busi untuk pesawat terbang tidak termasuk dalam standar ini. Untuk selanjutnya dalam standar ini disebut busi. 2 Acuan normatif SNI , Ulir sekrup metrik, dimensi dasar. SNI , Ulir metrik halus- dan toleransi. SNI , Ulir metrik kasar- dan toleransi. ISO 2704: 1998, Road vehicles-m10x1 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings. ISO 2705: 1999, Road vehicles-m12x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings. ISO 2346: 2001, Road vehicles-m12x1,25 compact spark plugs with plate seating and 19 mm hexagon and their cylinder head housings. ISO 1919: 1998, Road vehicles-m14x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings. JIS B , Spark plugs for internal combustion engines. 3 Istilah dan definisi 3.1 busi salah satu komponen yang berfungsi untuk alat pembakaran pada motor bensin yang digunakan sebagai tenaga penggerak untuk kendaraan bermotor atau pada alat lain 4 Klasifikasi Berdasarkan ukuran ulir busi, diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu: - Tipe 14 mm - Tipe 12 mm - Tipe 10 mm Berdasarkan bentuknya busi dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe, yang dibedakan berdasarkan panjang ulir dan jenis insulator yang digunakan. Untuk selanjutnya busi yang menggunakan resistor disebut busi resistor (resistor plugs). Klasifikasi busi secara rinci ditunjukkan dalam Tabel 1. 1 dari 14
6 Tipe 14 mm 12 mm 10 mm Tipe umum Bentuk Tipe segi enam ukuran kecil Tipe menyatu (compact type) Tipe umum Tabel 1 - Klasifikasi busi Ulir busi Ukuran nominal Panjang (A) mm Jenis insulator 9,5 Semua bentuk 12,7 mempunyai 2 19 jenis dengan atau M 14 S 12,7 tanpa resistor 19 12,7 19 M 12 S Tipe segi enam ukuran kecil 12,7 19 Tipe menyatu (compact 12,7 Semua bentuk type) 19 M 10 S CATATAN (1) Menunjukkan ukuran A di Gambar Bentuk dan ukuran 5.1 Bentuk dan ukuran luar 9,5 19 (1) mempunyai 2 jenis dengan atau tanpa resistor Bentuk dan ukuran luar busi masing-masing tipe ditunjukkan pada Gambar 2, Gambar 3 dan Gambar 4. ukuran celah cetus api pada busi dapat ditentukan berdasarkan persetujuan antara pihak yang berkepentingan Busi tipe umum 2 dari 14
7 a) Dengan terminal tanpa ulir b) Dengan terminal berulir Keterangan gambar: (2) Ukuran Ø d2 adalah diameter yang diukur pada rentang antara 29 mm dan 33 mm untuk busi tanpa ulir terminal (solid terminal), dan rentang antara 26 mm dan 30 mm untuk busi dengan terminal berulir (threaded terminal) dari ujung bagian atas terminal Busi tipe segi enam ukuran kecil Gambar 1 - Tipe umum a) Dengan terminal tanpa ulir b) Dengan terminal berulir 3 dari 14
8 Keterangan gambar: (3) Ukuran setelah dikencangkan dengan momen puntir sesuai dengan Tabel 5. Gambar 2 - Tipe segi enam ukuran kecil (Small-size hexagonal type) Busi tipe kompak (compact type) a) Dengan terminal tanpa ulir b) Dengan terminal berulir Keterangan gambar: (4) Ukuran Ø d2 adalah diameter yang diukur pada rentang antara 29 mm dan 33 mm untuk busi tanpa ulir terminal (solid terminal) dan rentang antara 26 mm dan 30 mm untuk busi dengan terminal berulir (threaded terminal) dari ujung bagian atas terminal Gambar 3 - Tipe kompak (compact type) 4 dari 14
9 5.1.4 Busi tipe setengah ulir (Semi-threaded type) a) Dengan terminal tanpa ulir b) Dengan terminal berulir Keterangan gambar: (5) Ukuran Ø d2 adalah diameter yang diukur pada rentang antara 29 mm dan 33 mm untuk busi tanpa ulir terminal (solid terminal) dan rentang antara 26 mm dan 30 mm untuk busi dengan terminal berulir (threaded terminal) dari ujung bagian atas terminal. Gambar 5 - Tipe setengah ulir 5 dari 14
10 SNI 2929:2008 Tabel 2 - Ukuran bagian luar Satuan dalam millimeter Kelas 14 mm 12 mm 10 mm Bentuk Tipe umum (General type) Tipe segi enam ukuran kecil (Small-size hexagonal type) Tipe kompak (Compact type) Tipe umum (General type) Tipe segi enam ukuran kecil (Small-size hexagonal type) Tipe umum (General type) Ukuran nominal ulir Ukuran D Diameter utama Pitch M14S 14 1,25 M12S 12 1,25 M10S 10 1 A ± 0,2 B Maks. C C 1 Min. d 1 Maks. d 2 ± 0,3 d 3 Maks. l 1 Min. l 2 Min. l 3 Maks. 9, , ,8 12,2 20,8-0, , , , , , , , , (6) 0 atau ,3 17,5 10, , ,5 10, ,27 12, , (6) atau 16-0, , Tipe segi enam ukuran kecil (Small-size hexagonal type) Keterangan (6) Dapat juga digunakan nilai lain berdasarkan persetujuan antara pihak yang berkepentingan, disarankan untuk menggunakan nilai 10,5 mm sejauh masih memungkinkan l 4 Maks. 6 dari 14
11 5.2 Ukuran dan toleransi ulir busi Tabel 3 Ukuran dan toleransi ulir besi Satuan dalam millimeter Ulir bagian luar Ulir bagian dalam Diameter utama Diameter pitch Diameter minor Diameter utama Diameter pitch Diameter minor Ukuran nominal ulir Pitch P Tolerasni Tolerasni Tolerasni Tolerasni Tolerasni M14S 1,25 13,937 13,725 0,212 13,125 12,993 0,132 12,404 12,181 0,223 14,000 13,368 13,188 0,180 12,912 12,647 0,265 M12S 1,25 11,937 11,725 0,212 11,125 10,993 0,132 10,404 10,181 0,223 12,000 11,368 11,188 0,180 10,912 10,647 0,265 M10S 1 9,974 9,794 0,180 9,324 9,212 0,112 8,747 8,563 0,184 10,000 9,500 9,350 0,150 9,153 8,917 0,236 Tidak ditentukan CATATAN 1. Bentuk dasar ulir busi sesuai dengan ketentuan dalam SNI , Ulir metrik halus- dan toleransi. 2. Batas penyimpangan ukuran sesuai dalam ISO 1919: 1998, Road vehicles-m14x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings, ISO 2704: 1998, Road vehicles-m10x1 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings dan ISO 2705: 1999, Road vehicles-m12x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings 7 dari 14
12 5.3 Terminal Terminal diklasifikasikan ke dalam dua tipe, yaitu: - Terminal tanpa ulir (solid terminal) - Terminal berulir (thread terminal) Bentuk dan ukuran terminal ditunjukkan pada Gambar 5 dan Tabel 4. CATATAN Terminal tanpa ulir juga dapat dipasang mur dengan ketentuan dalam hal ini bentuk dan ukuran harus sesuai dengan terminal tanpa ulir sebagai tambahan. Keterangan gambar: (7) Ukuran menunjukkan panjang ulir efektif. Ukuran nominal ulir Pitch P Ulir bagian luar Diameter utama Batas dimensi maks. Batas dimensi min. Toleransi Gambar 5 - Bentuk dan ukuran terminal Diameter pitch Batas dimensi maks. Batas dimensi min. Toleransi M4 0,7 3,944 3,804 0,140 3,489 3,399 0,090 Diameter minor Batas dimensi maks. Batas dimensi min Tidak ditentukan Ulir bagian dalam Diameter Diameter pitch utama Batas dimensi maks. Batas dimensi min Tidak ditentukan Batas dimensi maks. 3,663 Batas dimensi min. 3,54 5 Toleransi Diameter minor Batas dimensi maks. Batas dimensi min 0,118 3,422 3,242 CATATAN 1. Bentuk dasar ulir terminal sesuai dengan ketentuan dalam SNI , Ulir sekrup metrik, dimensi dasar dan atau revisinya. 2. Batas penyimpangan ukuran untuk ulir luar mengacu pada 6e yang diuraikan dalan SNI , Ulir metrik halus- dan toleransi dan atau revisinya, 6H untuk ulir dalam menurut SNI , Ulir metrik kasar- dan toleransi dan atu revisinya. Toleransi 0, dari 14
13 5.4 Gasket Apabila dikencangkan dengan momen sesuai pada Tabel 5, tebal gasket harus mempunyai ketebalan sesuai dengan tingkat yang ditentukan. Diameter gasket harus lebih kecil dari ukuran lubang kepala silinder (cylinder head) sesuai dengan ISO 1919: 1998, Road vehicles- M14x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings, ISO 2704: 1998, Road vehicles-m10x1 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings, ISO 2705: 1999, Road vehicles-m12x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings dan ISO 2346: 2001, Road vehicles-m12x1,25 compact spark plugs with plate seating and 19 mm hexagon and their cylinder head housings. Tabel 5 - Ukuran momen pengencang dan tebal gasket Tipe 14 mm 12 mm 10 mm Kekuatan momen pengencang, N.m Tebal gasket, mm 1, ,6 1 1,6 CATATAN Tebal gasket diukur pada kondisi ulir busi baik, bebas dari pengaruh oli dan kerusakan 6 Syarat mutu 6.1 Sifat tampak Tampak luar busi apabila dilakukan pengujian secara visual harus bebas dari kerusakan, karat dan kerusakan lain yang dapat mengganggu dalam penggunaan. 6.2 Unjuk kerja (performance) Unjuk kerja busi apabila dilakukan pengujian sesuai dengan butir 8 hasilnya harus memenuhi ketentuan dalam Tabel 6, tetapi nomor (8) sampai nomor (10) pada Tabel 6 tidak berlaku untuk busi tanpa resistor. Jenis pengujian (1) Resistansi insulasi (insulation resistance) (2) Unjuk kerja cetus api (Spark performance) (3) Resistansi impak (Impact resistance) (4) Kebocoran udara (Airtighness) (5) Resistansi termal (Thermal resistance) (6) Resistansi kejut termal (Thermal shock resistance) Tabel 6 - Unjuk kerja Unjuk kerja Metode pengujian Resistansi insulasi harus 50 mω atau lebih tinggi Kondisi loncatan bunga api harus memuaskan dan loncatan bunga api tidak boleh terjadi pada tempat lain selaincelah cetus api Masing-masing bagian busi diproduksi tanpa cacat. Selanjutnya variasi pada nilai resistansi dari busi dengan resistor (resistance value of resistor-incorporated plugs) tidak lebih dari ± 10 % sebelum pengujian Kebocoran udara dari dalam busi tidak boleh lebih dari 1 ml/min Tidak boleh terjadi cacat seperti retak pada masing-masing bagian busi Tiak boleh terjadi cacat seperti retak pada masing-masing bagian busi dari 14
14 Jenis pengujian (7) Resistansi insulasi termal (Heat insulation thermal) (8) Nilai resistansi pada busi dengan resistor (Resistance value of incorporated resistor) (9) Loading life of incorporated resistor (10) Heating characteristic of corporated resistor Tabel 6 (lanjutan) Unjuk kerja Resistansi insulasi termal harus 1 mω atau lebih tinggi Nilai resistansi pada busi dengan resistor harus 5 + kω 2,5 2,0 Perbedaan nilai resistansi pada busi dengan resistor (Resistance value of resistor incorporated plugs) tidak lebih dari ± 30 % dibanding sebelum pengujian Perbedaan nilai resistansi pada busi dengan resistor (resistance value of resistor incorporated plugs) dapat dilihat pada Tabel 7 Tabel 7 - Tingkat variasi nilai tahanan Metode pengujian Satuan dalam % Tingkat variasi terhadap nilai resistansi sebelum pengujian Temperatur uji Kembali pada keadaan Kondisi keadaan panas temperatur awal 150 ºC ± ºC - ± 25 7 Cara pengambilan contoh Pengambilan contoh dilakukan secara acak oleh Petugas Pengambil Contoh (PPC) dengan jumlah disesuaikan dengan persetujuan PPC dan produsen. 8 Cara uji 8.1 Sifat tampak (Appearance) Pengujian sifat tampak dilakukan secara visual. 8.2 Unjuk kerja (Performance) Kondisi pengujian Busi harus diuji dengan kondisi seperti berikut: a) Temperatur ruang pengujian adalah 20 ºC ± 15 ºC dan kelembaban 65 % ± 20 %. b) Ammater, voltmeter dan ohmmeter yang digunakan dalam pengujian harus memiliki kelas indeks 0,5 sesuai dalam JIS C 1102 atau yang mempunyai ketelitian yang sama atau lebih. 10 dari 14
15 c) Alat uji resistansi insulasi yang digunakan dalam pengujian adalah 500 V atau 1000 V sesuai dalam JIS C 1302 atau yang mempunyai ketelitian yang sama atau lebih baik Uji ketahanan insulator (Insulation resistance test) Ukur ketahanan insulator (insulation resistance) antara pusat elektroda busi dan bagian grounding dengan menggunakan insulation resistance tester Uji kinerja cetus api (Spark performance test) Lakukan pengujian dengan menggunakan peralatan uji seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6 (tegangan penyedia sekitar 6 V atau 12 V; distributor berputar pada kecepatan 800 rpm), kemudian gunakan tekanan udara 0,785 MPa (8 kgf/cm 2 ) menuju celah cetus api dan periksa kondisi loncatan bunga api. Ukuran tripolar acicular gaps harus sesuai dalam Tabel 8. Keterangan gambar: (8) Ignition coil yang digunakan harus sesuai dengan JIS D 5121 Gambar 6 - Alat uji kinerja spark (contoh) Tabel 8 - Ukuran tripolar acicular clearance Satuan dalam milimeter Spark gap Tripolar acicular clearance < 0,5 10,0 0,5 < 0,6 11,5 0,6 < 0,7 13,0 0,7 < 0,8 14,5 0,8 < 0,9 16,0 0,9 < 1,0 17,5 1,0 < 1,1 19,0 1,1 < 1,2 20,5 1,3 < 1,4 23,5 1,4 < 1,5 25,0 > 1,5 26,5 11 dari 14
16 Gambar 7 - Lay out diagram tripolar acicular gap CATATAN 1. Tipe 90 º atau tipe 60 º juga dapat digunakan. 2. Elektroda yang digunakan bagian ujung yang lancip harus halus Uji tahanan impak (Impact resistance test) a) Pasangkan busi pada peralatan pengujian seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8. b) Jalankan impak selama 10 menit dengan kecepatan 400 kali per menit. c) Periksa terjadinya perubahan pada busi. Untuk resistor busi, ukur nilai resistansi sebelum dan sesudah pengujian sesuai dalam butir dan periksa perubahan yang terjadi. Sebagai peralatan pengujian dapat dilihat pada Gambar 8. Gambar 8 - Contoh peralatan pengujian resistansi impak Uji kebocoran udara (Airtightness) Setelah busi dibiarkan dalam atmosfir pada suhu 150 ºC selama 30 menit, berikan tekanan udara 1,5 MPa pada bagian igniting dan ukur jumlah kebocoran udara dari dalam busi Uji resistansi terhadap termal (Thermal resistance test) Setelah ujung insulator busi pada elektroda bagian tengah dipanaskan sampai 800 ºC dengan gas burner, perlahan-lahan didinginkan pada temperatur ruang lalu lakukan 12 dari 14
17 pengujian penetrant pada insulator dan secara visual tidak diperbolehkan ada kerusakan seperti retak Uji resistansi terhadap termal kejut (Thermal shock resistance test) Cara pemanasan busi diulangi 3 kali selama 30 menit dan lakukan pendinginan segera dengan mencelupkan ke dalam air pada temperatur udara normal, dan periksa adanya kerusakan pada masing-masing bagian busi. Perbedaan temperatur dalam uji coba ini tidak lebih dari 130 ºC. Pada pengujian penetrant pada insulator tidak diperkenankan adanya seperti retak Uji resistansi dari insulator yang dipanaskan (Heated insulation resistance test) Saat busi dibiarkan pada suhu 400 ºC, lakukan pengukuran nilai resistansi insulasi (insulation resistance) antara ujung elektroda bagian tengah dan bagian ground menggunakan alat penguji resistansi isolasi Uji nilai resistansi dari resistor (Incorporated resistor resistance test) Memakai sebuah tegangan penyedia DC 12 volt di antara elektroda tengah dan terminal dari busi dengan resistor (terminal of the resistor incorporated plugs), ukur nilai resistansi di antara keduanya dan koreksi nilai resistansi yang berlaku pada suhu 20 ºC dengan menggunakan preliminary determined resistance-temperature characteristics Uji incorporated resistor loading life Setelah mengukur nilai resistansi pada busi dengan resistor termasuk 8.2.9, hubungkan busi dalam metode yang ditunjukkan pada contoh di Gambar 9, dan setelah pengujian selama 250 jam dalam keadaan yang ditunjukkan pada Tabel 9, biarkan bertahan selama 1 jam. Kemudian ukur nilai resistansi lagi dan bandingkan perubahan dari nilai-nilai sebelum pengujian. Keterangan gambar: (9) Tripolar acicular gap yang digunakan harus mempunyai kondisi yang ditunjukkan pada Tabel 9. Gambar 9 - Diagram hubung untuk incorporated resistor loading 13 dari 14
18 Item Tripolar acicular clearance Uji voltage Distributor revoiving speed Tabel 9 - Kondisi pengujian Uji karakteristik pemanasan resistor incorporated Kondisi uji 10 mm 14 V 800 rpm Ukur nilai resistansi dari busi dengan resistor menurut lalu biarkan busi pada suhu 150 ºC selama 2 jam dan setelah itu kembalikan busi segera ke dalam udara yang bertemperatur normal dan ukur lagi nilai resistansi setelah restorasi temperatur normal. Kemudian setelah busi dibiarkan pada suhu 300 ºC selama 20 menit, kembalikan busi segera ke dalam temperatur normal, ukur nilai resistansi setelah kembali ke temperatur normal dan bandingkan perubahan nilai resistansi dengan sebelum pengujian. 9 Syarat lulus uji Busi dinyatakan lulus uji apabila setelah dilakukan pengujian sesuai dengan butir 8 hasilnya memenuhi ketentuan dalam butir Syarat penandaan 10.1 Penandaan pada produk Setiap produk busi harus diberi tanda dengan mencantumkan: - Kelas - Jenis insulator - Kode produksi - Merek produk 10.2 Penandaan pada kemasan Pada setiap kemasan busi harus diberi tanda dengan mencantumkan: - Nama produk - Kelas - Tipe - Jumlah 14 dari 14
Mur roda untuk kendaraan bermotor roda empat
Standar Nasional Indonesia Mur roda untuk kendaraan bermotor roda empat ICS 43.040.50 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii Pendahuluan... iii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan
Katup tabung baja LPG
Standar Nasional Indonesia Katup tabung baja LPG ICS 23.020.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...
Papan partikel SNI Copy SNI ini dibuat oleh BSN untuk Pusat Standardisasi dan Lingkungan Departemen Kehutanan untuk Diseminasi SNI
Standar Nasional Indonesia Papan partikel ICS 79.060.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 1 4 Klasifikasi...
Baja profil siku sama kaki proses canai panas (Bj P Siku sama kaki)
Standar Nasional Indonesia Baja profil siku sama kaki proses canai panas (Bj P Siku sama kaki) ICS 77.140.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1
Baja profil kanal U proses canai panas (Bj P kanal U)
Standar Nasional Indonesia Baja profil kanal U proses canai panas (Bj P kanal U) ICS 77.140.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif...
Baja tulangan beton dalam bentuk gulungan
Standar Nasional Indonesia Baja tulangan beton dalam bentuk gulungan ICS 77.140.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah
Baja lembaran, pelat dan gulungan canai panas (Bj P)
Standar Nasional Indonesia Baja lembaran, pelat dan gulungan canai panas (Bj P) ICS 77.140.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif...
Katup tabung baja LPG
Standar Nasional Indonesia Katup tabung baja LPG ICS 23.020.30 Badan Standardisasi Nasional Prakata Standar Nasional Indonesia (SNI), Katup tabung baja LPG merupakan revisi SNI 1591:2007 dengan pertimbangan:
SPESIFIKASI TEKNIK KOMPOR GAS BAHAN BAKAR LPG SATU TUNGKU DENGAN SISTEM PEMANTIK MEKANIK KHUSUS UNTUK USAHA MIKRO
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 56/M-IND/PER/5/2009 TANGGAL : 28 Mei 2009 ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bambu lamina penggunaan umum
Standar Nasional Indonesia Bambu lamina penggunaan umum ICS 79.060.01 Badan Standardisasi Nasional BSN 2014 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh
SNI 0103:2008. Standar Nasional Indonesia. Kertas tisu toilet. Badan Standardisasi Nasional ICS
Standar Nasional Indonesia Kertas tisu toilet ICS 85.080.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 1
Cara uji bakar bahan bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung
Standar Nasional Indonesia Cara uji bakar bahan bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung ICS 13.220.50; 91.100.01 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...
SNI. Baja Tulang beton SNI Standar Nasional Indonesia. Badan Standardisasi Nasional BSN
SNI SNI 07-2052-2002 Standar Nasional Indonesia Baja Tulang beton ICS 27.180 Badan Standardisasi Nasional BSN Daftar Isi Halaman Daftar Isi...i Prakata...ii 1...Ruang Lingkup...1 2 Acuan Normatif...1 3
Baja lembaran lapis seng (Bj LS)
Standar Nasional Indonesia Baja lembaran lapis seng (Bj LS) ICS 77.14.5 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...
Letak sensor EFI pada toyota Avanza dan Daihatsu Xenia tak sensor pada Avanza/ Xenia tak Sensor dan Injektor Mesin Avanza/xenia
Letak sensor EFI pada toyota Avanza dan Daihatsu Xenia Letak sensor pada Avanza/ Xenia 1. Vacuum switching Valve (EVAP) 2. Sensor Tekanan Absolut Manifold 3. Pompa nahan Bakar 4. Sensor oksigen (sensor
Cara uji viskositas aspal pada temperatur tinggi dengan alat saybolt furol
Standar Nasional Indonesia SNI 7729:2011 Cara uji viskositas aspal pada temperatur tinggi dengan alat saybolt furol ICS 93.080.20; 19.060 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata...
Baja profil I-beam proses canai panas (Bj.P I-beam)
Standar Nasional Indonesia Baja profil I-beam proses canai panas (Bj.P I-beam) ICS 77.140.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii Pendahuluan... iii 1 Ruang lingkup...
Kompor gas bahan bakar LPG satu tungku dengan sistem pemantik
Standar Nasional Indonesia Kompor gas bahan bakar LPG satu tungku dengan sistem pemantik ICS 97.040.20 Badan Standardisasi Nasional BSN 2011 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang menyalin atau menggandakan
SNI Standar Nasional Indonesia. Baja tulangan beton. Badan Standardisasi Nasional
Standar Nasional Indonesia Baja tulangan beton ICS 27.180 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan normatif...1 3 Istilah dan definisi... 1 4 Jenis...
MEMPELAJARI PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BUSI TIPE W PADA PT. DENSO INDONESIA Nama : Muhammad Rizki Syahputra NPM : Jurusan : Teknik
MEMPELAJARI PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BUSI TIPE W PADA PT. DENSO INDONESIA Nama : Muhammad Rizki Syahputra NPM : 34411962 Jurusan : Teknik Industri Pembimbing : Dr. Ir. Asep Mohamad Noor, MT. LATAR
SISTIM PENGAPIAN. Jadi sistim pengapian berfungsi untuk campuran udara dan bensin di dalam ruang bakar pada.
SISTIM PENGAPIAN Pada motor bensin, campuran bahan bakar dan udara yang dikompresikan di dalam silinder harus untuk menghasilkan tenaga. Jadi sistim pengapian berfungsi untuk campuran udara dan bensin
Baja lembaran dan gulungan lapis paduan aluminium seng (Bj.L AS)
Standar Nasional Indonesia Baja lembaran dan gulungan lapis paduan aluminium seng (Bj.L AS) ICS 77.140.50 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan
Baja lembaran lapis seng (Bj LS)
Standar Nasional Indonesia Baja lembaran lapis seng (Bj LS) ICS 77.14.5 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...
Regulator tekanan rendah untuk tabung baja LPG
Standar Nasional Indonesia Regulator tekanan rendah untuk tabung baja LPG ICS 23.020.30 Badan Standardisasi Nasional Prakata Standar Nasional Indonesia (SNI) Regulator tekanan rendah untuk tabung baja
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berikut ini tabel hasil pemeriksaan dan pengukuran komponen cylinder. Tabel 4.1. Hasil Identifikasi Mekanisme Katup
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Identifikasi Engine Honda Beat PGM-FI Berikut ini tabel hasil pemeriksaan dan pengukuran komponen cylinder head (mekanisme katup) : Tabel 4.1. Hasil Identifikasi Mekanisme
Spark Ignition Engine
Spark Ignition Engine Fiqi Adhyaksa 0400020245 Gatot E. Pramono 0400020261 Gerry Ardian 040002027X Handoko Arimurti 0400020288 S. Ghani R. 0400020539 Transformasi Energi Pembakaran Siklus Termodinamik
Engine Tune Up Engine Conventional
Kualifikasi Tipe Mobil Spesifik Engine Tune Up Nama No. Reg TUK Tanggal Lembar : Peserta Engine Tune Up Engine Conventional OTO.KR-01-001.01 Pelaksanaan pemeliharaan/service komponen OTO.KR-01-009.01 Pembacaan
LEMBAR KERJA SISWA TUNE UP MESIN 4 Tak 4 SILINDER
LEMBAR KERJA SISWA TUNE UP MESIN 4 Tak 4 SILINDER Petunjuk Lembar Kerja Siswa Ikuti prosedur Tune Up seperti pada video yang anda saksikan Tayangan dan petunjuk di video adalah terbatas, tetapi prosedur
Selang karet untuk kompor gas LPG
Standar Nasional Indonesia Selang karet untuk kompor gas LPG ICS 83.140.40 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan normatif...1 3 Istilah dan definisi...1
SNI Standar Nasional Indonesia
SNI Standar Nasional Indonesia SNI 7614:2010 Baja batangan untuk keperluan umum (BjKU) ICS 77.140.99 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan
Emisi gas buang Sumber bergerak Bagian 3 : Cara uji kendaraan bermotor kategori L Pada kondisi idle SNI
Emisi gas buang Sumber bergerak Bagian 3 : Cara uji kendaraan bermotor kategori L Pada kondisi idle SNI 19-7118.3-2005 Daftar Isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif...
SNI 0123:2008. Standar Nasional Indonesia. Karton dupleks. Badan Standardisasi Nasional ICS
Standar Nasional Indonesia Karton dupleks ICS 85.060 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 1 4 Simbol
Kertas dan karton - Cara uji daya serap air- Metode Cobb
Standar Nasional Indonesia Kertas dan karton - Cara uji daya serap air- Metode Cobb ICS 85.060 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif...
Kayu lapis untuk kapal dan perahu
Standar Nasional Indonesia Kayu lapis untuk kapal dan perahu ICS 79.060.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah, definisi,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Setelang melakukan proses overhoul cylinder head berdasarkan standar dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Proses Overhoul Engine Yamaha Vixion. Setelang melakukan proses overhoul cylinder head berdasarkan standar dan spesifikasi yamaha diperoleh hasil pengukuran dan indentifikasi
Baja tulangan beton hasil canai panas Ulang
Standar Nasional Indonesia Baja tulangan beton hasil canai panas Ulang ICS 27.180 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang Lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah
Kertas dan karton - Cara uji kekasaran Bagian 1: Metode Bendtsen
Standar Nasional Indonesia Kertas dan karton - Cara uji kekasaran Bagian 1: Metode Bendtsen ICS 85.060 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN. Spesifikasi. Secara Wajib. Kompor Gas. Usaha Mikro. Pemberlakuan.
No.125, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN. Spesifikasi. Secara Wajib. Kompor Gas. Usaha Mikro. Pemberlakuan. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 56/M-IND/PER/5/2009
Cara uji sifat tahan lekang batu
Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat tahan lekang batu ICS 91.100.30 Badan Standardisasi Nasional BSN 2011 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang menyalin atau menggandakan sebagian atau seluruh
SISTEM PENGISIAN SIRKUIT SISTEM PENGISIAN
SISTEM PENGISIAN SIRKUIT SISTEM PENGISIAN PEMERIKSAAN PADA KENDARAAN Periksa komponen-komponen system berikut: 1. Penyimpangan (defleksi) tali kipas: Defleksi tali kipas: 7 11 mm dengan gaya tekan 10 kg.
BAB II LANDASAN TEORI. mekanik berupa gerakan translasi piston (connecting rods) menjadi gerak rotasi
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Motor Bakar Motor bakar torak merupakan salah satu mesin pembangkit tenaga yang mengubah energi panas (energi termal) menjadi energi mekanik melalui proses pembakaran
Oleh: Nuryanto K BAB I PENDAHULUAN
Pengaruh penggantian koil pengapian sepeda motor dengan koil mobil dan variasi putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar pada sepeda motor Honda Supra x tahun 2002 Oleh: Nuryanto K. 2599038 BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN LITERATUR
BAB II TINJAUAN LITERATUR Motor bakar merupakan motor penggerak yang banyak digunakan untuk menggerakan kendaraan-kendaraan bermotor di jalan raya. Motor bakar adalah suatu mesin yang mengubah energi panas
PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA
TUGAS AKHIR PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA Disusun : JOKO BROTO WALUYO NIM : D.200.92.0069 NIRM : 04.6.106.03030.50130 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
D. LANGKAH KERJA a. Langkah awal sebelum melakukan Engine Tune Up Mobil Bensin 4 Tak 4 silinder
JOB SHEET DASAR TEKNOLOGI A. TUJUAN : Setelah menyelesaikan praktek ini diharapkan siswa dapat : 1. Dapat menjelaskan prosedur tune up 2. Dapat melakukan prosedur tune up dengan benar 3. Dapat melakukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi yang semakin cepat mendorong manusia untuk selalu mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi (Daryanto, 1999 : 1). Sepeda motor, seperti juga
DAMPAK KERENGGANGAN CELAH ELEKTRODE BUSI TERHADAP KINERJA MOTOR BENSIN 4 TAK
DAMPAK KERENGGANGAN CELAH ELEKTRODE BUSI TERHADAP KINERJA MOTOR BENSIN 4 TAK Syahril Machmud 1, Yokie Gendro Irawan 2 1 Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Janabadra Yogyakarta Alumni
Cara uji keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles
Standar Nasional Indonesia Cara uji keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles ICS 93.020 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif...
: Memelihara/servis engine dan komponen-komponenya(engine. (Engine Tune Up)
SMK MA ARIF SALAM KABUPATEN MAGELANG JOBSHEET (LEMBAR KERJA) KODE : /PMO/VIII/12 Mata Pelajaran : Motor Otomotif (PMO) Guru : Edi Purwanto Memelihara/servis engine dan komponen-komponenya (Engine Tune
III. METODOLOGI PENELITIAN. waktu pada bulan Oktober hingga bulan Maret Peralatan dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini :
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Jurusan Teknik Mesin Universitas Lampung. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada rentang waktu pada
SNI 7273:2008. Standar Nasional Indonesia. Kertas koran. Badan Standardisasi Nasional ICS
Standar Nasional Indonesia Kertas koran ICS 85.080.99 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 1 4 Simbol
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Troubleshooting Sistem Pengapian Dan Pengisian Sepeda Motor. 1. Cara Kerja Sistem Pengapian Sepeda Motor Yamaha Mio
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Troubleshooting Sistem Pengapian Dan Pengisian Sepeda Motor Yamaha Mio 4.1.1 Sistem Pengapian Yamaha Mio ( DC ) 1. Cara Kerja Sistem Pengapian Sepeda Motor Yamaha Mio Pada
BAB III METODE PELAKSANAAN. Yamaha Mio di Laboratorium, Program Vokasi Universitas Muhammadiyah
BAB III METODE PELAKSANAAN 1.1 Tempat Pelaksanaan Dalam pelaksanaan serta pengujian tugas akhir ini, penulis melakukan pengerjaan merangkai dan menguji sistem pengapian dan pengisian sepeda motor Yamaha
BAB III ANALISIS MASALAH. ditemukan sistem pengisian tidak normal pada saat engine tidak dapat di start
BAB III ANALISIS MASALAH A. Tinjauan masalah Umumnya, pengemudi akan menyadari bahwa pada sistem pengisian terjadi gangguan bila lampu tanda pengisian menyala. Sebagai tambahan, sering ditemukan sistem
3.1 opasitas perbandingan tingkat penyerapan cahaya oleh asap yang dinyatakan dalam satuan persen
Emisi gas buang Sumber bergerak Bagian 2 : Cara uji kendaraan bermotor kategori M, N, dan O berpenggerak penyalaan kompresi pada kondisi akselerasi bebas SNI 19-7118.2-2005 Daftar Isi Daftar isi... i Prakata...
Semen portland pozolan
Standar Nasional Indonesia Semen portland pozolan ICS 91.100.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...
Lampu swa-balast untuk pelayanan pencahayaan umum-persyaratan keselamatan
Standar Nasional Indonesia Lampu swa-balast untuk pelayanan pencahayaan umum-persyaratan keselamatan ICS 67.120.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...1
Batang uji tarik untuk bahan logam
Standar Nasional Indonesia Batang uji tarik untuk bahan logam ICS 77.040.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... 1 Pendahuluan...ii 1 Ruang Iingkup... 1 2 Acuan... 1 3 Definisi... 1 4
Emisi gas buang Sumber bergerak Bagian 1 : Cara uji kendaraan bermotor kategori M, N, dan O berpenggerak penyalaan cetus api pada kondisi idle
Emisi gas buang Sumber bergerak Bagian 1 : Cara uji kendaraan bermotor kategori M, N, dan O berpenggerak penyalaan cetus api pada kondisi idle SNI 19-7118.1-2005 Daftar Isi Daftar isi... i Prakata... ii
Cara uji berat jenis aspal keras
Standar Nasional Indonesia Cara uji berat jenis aspal keras ICS 93.080.20; 75.140 Badan Standardisasi Nasional Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang menyalin atau menggandakan sebagian atau seluruh
III. METODE PENELITIAN. : Motor Bensin 4 langkah, 1 silinder Volume Langkah Torak : 199,6 cm3
III. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan Dalam pengambilan data untuk laporan ini penulis menggunakan mesin motor baker 4 langkah dengan spesifikasi sebagai berikut : Merek/ Type : Tecumseh TD110 Jenis
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan transportasi mulai dirasakan setelah revolusi industri dan bangsa asing berdatangan ke Indonesia. Di Indonesia sepeda motor adalah salah satu alat transportasi
Semen portland campur
Standar Nasional Indonesia Semen portland campur ICS 91.100.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Umum Motor Bensin Motor adalah gabungan dari alat-alat yang bergerak (dinamis) yang bila bekerja dapat menimbulkan tenaga/energi. Sedangkan pengertian motor bakar
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II PENDAHULUAN BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Motor Bakar Bensin Motor bakar bensin adalah mesin untuk membangkitkan tenaga. Motor bakar bensin berfungsi untuk mengubah energi kimia yang diperoleh dari
Spesifikasi batang baja mutu tinggi tanpa pelapis untuk beton prategang
Standar Nasional Indonesia Spesifikasi batang baja mutu tinggi tanpa pelapis untuk beton prategang ICS 91.100.30; 77.140.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... 1 Daftar tabel... Error!
III. METODOLOGI PENELITIAN. Universitas Lampung. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada rentang
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Jurusan Teknik Mesin Universitas Lampung. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada rentang waktu pada
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Aliran Pengujian Proses pengambilan data yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri dari 3 bagian yang dapat ditunjukan pada gambar gambar dibawah ini : A. Diagram
BAB III KEGIATAN PENGUJIAN DAN PERAWATAN
BAB III KEGIATAN PENGUJIAN DAN PERAWATAN Untuk mengetahui hubungannya perawatan rutin dengan kajian emisi kendaraan berdasarkan pada Standart uji SNI 09-2766-1992, maka pengujian ini dilakukan dengan menggunakan
Kayu lapis dan papan blok bermuka kertas indah
Standar Nasional Indonesia Kayu lapis dan papan blok bermuka kertas indah ICS 79.060.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3
Kertas Cara uji ketahanan sobek Metode Elmendorf
Standar Nasional Indonesia Kertas Cara uji ketahanan sobek Metode Elmendorf ICS 85.060 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah
Cara uji daktilitas aspal
Standar Nasional Indonesia Cara uji daktilitas aspal ICS 93.080.20; 75.140 Badan Standardisasi Nasional Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang menyalin atau menggandakan sebagian atau seluruh isi
Mesin pemecah biji dan pemisah kulit kakao - Syarat mutu dan metode uji
Standar Nasional Indonesia Mesin pemecah biji dan pemisah kulit kakao - Syarat mutu dan metode uji ICS 65.060.50 Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan
Toleransi& Implementasinya
Toleransi& Implementasinya Daftar Isi 1. Toleransi Linier... 3 a) Suaian-suaian (Fits)... 6 b) Jenis jenis Suaian... 6 c) Toleransi Khusus dan Toleransi Umum... 6 1) Toleransi Khusus... 6 2) Toleransi
PENGARUH MODIFIKASI PENAMBAHAN UKURAN DIAMETER SILINDER PADA SEPEDA MOTOR 4 LANGKAH TERHADAP DAYA YANG DIHASILKAN ABSTRAK Sejalan dengan pesatnya persaingan dibidang otomotif banyak orang berpikir untuk
BAB II LANDASAN TEORI. maka motor bakar dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) macam yaitu: motor
BAB II LANDASAN TEORI Motor bensin merupakan motor penggerak yang banyak digunakan untuk menggerakan mobil-mobil dijalan raya. Motor bakar merupakan suatu mesin yang mengubah energi panas menjadi suatu
Pengaruh Kerenggangan Celah Busi terhadap Konsumsi Bahan Bakar pada Motor Bensin
Jurnal Kompetensi Teknik Vol. 4, No. 1, November 212 1 Pengaruh Celah Busi terhadap Konsumsi Bahan Bakar pada Motor Bensin Syahril Machmud 1, Untoro Budi Surono 2, Yokie Gendro Irawan 3 1, 2 Jurusan Teknik
BUKU PANDUAN Gasoline Generator SG 3000 & SG 7500
S A G E BUKU PANDUAN Gasoline Generator SG 3000 & SG 7500 SG300W GASOLINE GENERATOR O L INE E N G I N SE 168s PT. SHARPRINDO DINAMIKA PRIMA Layanan service : (021) 5903411 Website : www. shark.co.id Bersertifikasi
Tune Up Mesin Bensin TUNE UP MOTOR BENSIN
TUNE UP MOTOR BENSIN 1 Membersihkan Saringan Udara Ganti bila sudah kotor belebihan Semprot dengan udara tekan dari arah berlawanan dengan arah aliran udara masuk 2 Periksa Oli Mesin Periksa : Jumlah Oli
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka Ludfianto (2013), meneliti penggunaan twin spark ignition dengan konfigurasi berhadapan secara Horizontal pada Motor Yamaha F1ZR dua langkah
Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 12: Penentuan total partikel secara isokinetik
Standar Nasional Indonesia Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 12: Penentuan total partikel secara isokinetik ICS 13.040.40 Badan Standardisasi Nasional 1 SNI 19-7117.12-2005 Daftar isi Daftar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sepeda motor merupakan alat transportasi yang paling efektif untuk masyarakat Indonesia, selain harganya terjangkau sepeda motor dapat digunakan di berbagai
Gambar 11 Sistem kalibrasi dengan satu sensor.
7 Gambar Sistem kalibrasi dengan satu sensor. Besarnya debit aliran diukur dengan menggunakan wadah ukur. Wadah ukur tersebut di tempatkan pada tempat keluarnya aliran yang kemudian diukur volumenya terhadap
Kawat baja tanpa lapisan untuk konstruksi beton pratekan (PC wire / KBjP )
Standar Nasional Indonesia Kawat baja tanpa lapisan untuk konstruksi beton pratekan (PC wire / KBjP ) ICS 77.140.65 Badan Standardisasi Nasional Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang menyalin atau
Cara uji berat isi beton ringan struktural
Standar Nasional Indonesia Cara uji berat isi beton ringan struktural ICS 91.100.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii Pendahuluan... iii 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan normatif...1
TUNE UP MESIN TOYOTA SERI 4K dan 5K
SMK KARTANEGARA WATES KAB. KEDIRI ENGINE TUNE UP MESIN TOYOTA SERI 4K dan 5K Nama Siswa No. Absen Kelas Jurusan : : : : 74 TUNE UP MESIN BENSIN 4 LANGKAH PENGERTIAN TUNE UP Jumlah kendaraan mobil sampai
BAB III PROSES OVERHAUL ENGINE YAMAHA VIXION. Proses Overhoul Engine Yamaha Vixion ini dilakukan di Lab. Mesin,
BAB III PROSES OVERHAUL ENGINE YAMAHA VIXION 3.1. Tempat Pelaksanaan Tugas Akhir Proses Overhoul Engine Yamaha Vixion ini dilakukan di Lab. Mesin, Politenik Muhammadiyah Yogyakarta. Pelaksanaan dilakukan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. stand dari pengapian ac dan pengisian dc yang akan di buat. Dalam metode
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Proses Perancangan Proses perancangan adalah proses pembuatan sketsa atau gambar awal bentuk stand dari pengapian ac dan pengisian dc yang akan di buat. Dalam metode perancangan
BAB III METODOLOGI PENGUJIAN
BAB III METODOLOGI PENGUJIAN Percobaan yang dilakukan adalah percobaan dengan kondisi bukan gas penuh dan pengeraman dilakukan bertahap sehingga menyebabkan putaran mesin menjadi berkurang, sehingga nilai
Ikan segar - Bagian 3: Penanganan dan pengolahan
Standar Nasional Indonesia Ikan segar - Bagian 3: Penanganan dan pengolahan ICS 67.120.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif...
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. SEJARAH MOTOR DIESEL Pada tahun 1893 Dr. Rudolf Diesel memulai karier mengadakan eksperimen sebuah motor percobaan. Setelah banyak mengalami kegagalan dan kesukaran, mak akhirnya
Baja tulangan beton SNI 2052:2014
Standar Nasional Indonesia Baja tulangan beton ICS 77.140.15 Badan Standardisasi Nasional BSN 2014 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN Jl. Dr. Setiabudhi No. 207 Bandung UJIAN TEORI PRAKTEK ENGINE
Cara uji jalar api pada permukaan bahan bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung
Standar Nasional Indonesia Cara uji jalar api pada permukaan bahan bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung ICS 13.220.50 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi i Daftar
Pengaruh Penggunaan Busi Terhadap Prestasi Genset Motor Bensin
Pengaruh Penggunaan Busi Terhadap Prestasi Genset Motor Bensin Ma ruf Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemakaian busi terhadap prestasi genset mesin bensin yang meliputi konsumsi
BAB II DASAR TEORI 2.1. Motor Bensin Penjelasan Umum
4 BAB II DASAR TEORI 2.1. Motor Bensin 2.1.1. Penjelasan Umum Motor bensin merupakan suatu motor yang menghasilkan tenaga dari proses pembakaran bahan bakar di dalam ruang bakar. Karena pembakaran ini
SNI Standar Nasional Indonesia. Semen portland putih
Standar Nasional Indonesia Semen portland putih ICS 91.100.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... 1 Prakata... 1 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...
BAB II LANDASAN TEORI. Sebelum bahan bakar ini terbakar didalam silinder terlebih dahulu dijadikan gas
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Motor Bensin Motor bensin adalah suatu motor yang mengunakan bahan bakar bensin. Sebelum bahan bakar ini terbakar didalam silinder terlebih dahulu dijadikan gas yang kemudian
BAB 5 SAMBUNGAN BAUT
BAB 5 SAMBUNGAN BAUT Diktat-elmes-agustinus purna irawan-tm.ft.untar Sambungan mur baut (Bolt) banyak digunakan pada berbagai komponen mesin. Sambungan mur baut bukan merupakan sambungan tetap, melainkan
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
No. JST/OTO/OTO410/14 Revisi : 02 Tgl : 6 Februari 2014 Hal 1 dari 10 I. Kompetensi : Setelah melaksanakan praktik, mahasiswa diharapkan dapat : 1. Mengidentifikasi komponen sistem bahan bakar, kontrol
