EXECUTIVE SUMMARY PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BALITBANG KEMDIKBUD

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "EXECUTIVE SUMMARY PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BALITBANG KEMDIKBUD"

Transkripsi

1

2 EXECUTIVE SUMMARY Salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam upaya perbaikan mutu pendidikan adalah penyelenggaraan Ujian Nasional (UN). UN mulai dilaksanakan sejak tahun pelajaran 2004/2005 yakni sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut, UN bertujuan untuk menilai pencapaian standar kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan teknologi. Hasil UN selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan, dasar seleksi masuk ke jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan, pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Penyelenggaraan UN dilakukan oleh lembaga mandiri yang ditugaskan oleh Pemerintah dalam rangka evaluasi eksternal untuk menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan, khususnya standar kompetensi lulusan. UN dilakukan untuk memperoleh hasil dan kelulusan yang memperoleh pengakuan lebih luas daripada hasil dan kelulusan yang ditetapkan hanya berdasarkan hasil penilaian dan standar sekolah yang sangat heterogen. Dengan penyelenggaraan UN diharapkan semua pihak yang terkait terdorong bekerja keras untuk mencapai hasil UN yang baik. Hal ini secara langsung atau tidak langsung diharapkan akan memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan di seluruh tanah air. Laporan kajian hasil UN ini disusun sebagai bentuk akuntabilitas publik yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada Direktorat terkait di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan, dan Kantor Kementerian Agama di tingkat provinsi/ kota/ kabupaten, satuan pendidikan, serta pemangku kepentingan lainnya tentang hasil capaian pendidikan yang telah dilaksanakan dalam rangka upaya peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran, serta peningkatan mutu pendidikan pada umumnya. Laporan hasil UN ini berisi tentang deskripsi analisis hasil UN tahun pelajaran 2013/2014 serta analisis hasil UN selama kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir yaitu tahun pelajaran 2011/2012 sampai dengan 2013/2014 untuk jenjang SMP/MTs dan SMA/MA. 1

3 A. HASIL UJIAN NASIONAL 2013/2014 Pada tahun pelajaran 2013/2014, kriteria kelulusan Ujian Nasional (UN) untuk SMP/MTs dan SMA/ MA masih sama dengan kriteria kelulusan 2 (dua) tahun terakhir yaitu kelulusan siswa ditetapkan berdasarkan perolehan Nilai Akhir (NA). NA diperoleh dari gabungan dari 60% Nilai Ujian Nasional (NUN) dan 40% Nilai Sekolah (NS) dari mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Siswa SMP/ MTs dan SMA/MA dinyatakan lulus UN jika nilai rata-rata NA paling rendah adalah 5,5 dan nilai tiap pelajaran paling rendah 4,0. Namun, terdapat perbedaan proporsi pada perhitungan NS. NS pada tahun 2013/2014 diperoleh dari gabungan 70% rata-rata nilai rapor dan 30% nilai ujian sekolah/ madrasah; sedangkan pada tahun 2011/2012 dan 2012/2013, NS dihitung dari gabungan 40% rata-rata nilai rapor dan 60% nilai ujian sekolah/madrasah. 1. Hasil UN SMP/MTs 2013/2014 JJumlah peserta dan tingkat kelulusan SMP/MTs. UN pada tahun pelajaran 2013/2014 diikuti oleh peserta dari 34 provinsi. Tingkat kelulusan peserta mencapai 99.94% dengan jumlah peserta tidak lulus 0.06% (2.335 siswa). Tingkat ketidaklulusan peserta paling rendah adalah di provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat sebesar 0,1%. Tingkat ketidaklulusan tertinggi terkonsentrasi pada tiga provinsi, yaitu provinsi Aceh dengan tingkat ketidaklulusan sebesar 0,37%, Sulawesi Barat sebesar 0,33%, dan Kalimantan Utara sebesar 0,31%. Gambar 1. Jumlah Siswa Peserta UN Tingkat SMP/MTs 2014 Secara umum hasil UN 2013/2014 menunjukkan kelulusan siswa SMP/MTs mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012/2013. Pada tahun pelajaran 2012/2013 tingkat kelulusan siswa SMP/MTs sebesar 95,56%, sedangkan pada tahun pelajaran 2013/2014 tingkat kelulusannya mencapai 99,94%. Hal ini berarti tingkat kelulusan siswa SMP/MTs pada tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 0,38%. Sekolah yang tingkat kelulusan siswanya mencapai 100% adalah sebanyak sekolah atau sebesar 97,49%. Sedangkan sekolah yang tingkat kelulusan siswanya kurang dari 100% adalah sebanyak sekolah atau sebesar 2,51% dari jumlah sekolah seluruhnya. Gambar 2. Jumlah Sekolah Peserta UN

4 Gambar 3. Tingkat Kelusan UN SMP/Sederajat di Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia Distribusi Nilai UN SMP/MTs. Sebagaimana diuraikan di atas, kelulusan siswa ditentukan berdasarkan capaian Nilai Akhir, yang dihitung dengan menggabungkan nilai Ujian Nasional (NUN) dan Nilai Sekolah (NS). Rata-rata nilai UN (NUN) atau disebut juga nilai UN tahun pelajaran 2013/2014 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012/2013. Pada tahun 2012/2013, rata-rata nilai UN tahun 2012/2013 adalah sebesar 6,10, sedangkan pada tahun 2013/2014 sebesar 6,52. Hal ini berarti terjadi peningkatan rata-rata nilai UN (murni) sebesar 0,42%. Adapun rata-rata NS pada tahun 2013/2014 adalah sebesar 8,17. Penggabungan Nilai UN (NUN) dengan Nilai Sekolah (NS) menghasilkan rata-rata Nilai Akhir (NA) secara nasional yaitu 7,19. Perbandingan Nilai UN, Nilai Sekolah, dan Nilai Akhir SMP/MTs. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan karakteristik statistik deskriptif antara Nilai Ujian Nasional (NUN atau nilai UN), dan Nilai Sekolah (NS). Jika dibandingkan antara Nilai UN dengan NS, sebaran Nilai UN lebih lebar daripada sebaran nilai NS. Nilai NS memiliki sebaran yang sempit sehingga membentuk kurva yang mengerucut. Hal ini mengakibatkan simpangan baku nilai UN lebih tinggi daripada NS; yaitu 1,41 untuk UN dan 0,51 untuk NS. Lebarnya sebaran nilai UN juga terlihat dari lebarnya rentang nilai UN, yaitu 4,61. Rentang ini dihasilkan dari selisih antara nilai tertinggi 8,64 dan nilai terendah Gambar 4. Sebaran Nilai Sekolah dan Nilai UN SMP/ MTs 2013/2014 4,03. Grafik kurva yang melebar dapat diartikan sebagai kemampuan siswa yang heterogen. Hal ini berbeda dengan nilai sekolah yang kurvanya cenderung mengerucut dan mengumpul dengan rentang nilai 2,13. Jarak antara nilai tertinggi 9,06 dan nilai terendah 6,93 lebih sempit. Rentang NS mengindikasikan bahwa nilai rata-rata siswa homogen pada nilai yang tinggi. Jika Nilai Sekolah/Madrasah tinggi, meskipun Nilai UN rendah, hasil Nilai Akhir(NA) akan terangkat dan menjadi lebih tinggi dari Nilai UN. 3

5 Kurang bervariasinya NS terhadap UN menunjukkan bahwa penilaian di tingkat sekolah kurang mampu mendiferensiasi kemampuan siswa dibandingkan penilaian yang terstandar secara nasional. Namun demikian masih cukup banyak sekolah yang memiliki komitmen yang tinggi untuk meningkatkan dan mempertahankan standar penilaian di sekolahnya dengan tidak memberikan nilai ujian sekolah secara murah. Sekolah-sekolah ini dipandang mampu mempertahankan kualitas ujian sekolahnya, sehingga pada waktu ujian nasional siswanya mampu mendapatkan nilai yang tinggi. Gambar 5. Sebaran Nilai Sekolah dan Nilai UN SMP/ MTs Pada Kelompok Kabupaten/Kota Berdasarkan Perbandingan Nilai Sekolah dan Nilai UN Pola diagram pencar pada kabupaten/kota yang nilai UN lebih tinggi dibandingkan nilai sekolah menunjukkan, bahwa nilai sekolah dapat menjadi prediktor yang baik dari pencapaian hasil ujian nasional. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas penilaian di tingkat sekolah adalah hal yang penting. Penilaian tingkat sekolah yang berkualitas mampu menyiapkan siswanya mencapai hasil yang lebih baik pada ujian nasional. Karakteristik Soal UN SMP/MTs. Soal-soal UN terdiri atas soalsoal sukar, sedang, dan mudah. Setiap kategori soal memberikan hasil distribusi nilai yang berbeda. Pada mata pelajaran IPA UN SMP/ MTs jika hanya digunakan soal-soal sukar menunjukkan sedikit sekali peserta tes yang mampu menjawab benar 100% soal dengan kategori sukar. Jika persentase jumlah soal yang dijawab benar tersebut diskalakan ke dalam rentang 0-10 sebagaimana halnya rentang nilai UN, maka menjawab benar 40% soal dalam setiap kategori dapat dimisalkan sebagai mendapat nilai 4. Berdasarkan pengandaian ini, maka terdapat 98% siswa mampu menjawab benar minimal 40% soalsoal kategori mudah. Persentase ini menurun tajam menjadi 36% pada soal-soal kategori sukar. Gambar 3 menunjukkan persentase siswa yang mampu menjawab benar soal-soal mudah secara konsisten lebih besar dibandingkan soal-soal sedang dan soal-soal sukar. Hal ini terjadi tidak hanya pada mata pelajaran IPA, namun juga Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Gambar 6. Persentase Kumulatif Jumlah Siswa Mampu Menjawab Benar Kumpulan Soal IPA Berdasar Tingkat Kesukaran 4

6 Pelaksanaan UN SMP/ MTs tahun pelajaran 2013/2014 mengadopsi beberapa soal berstandar internasional dari Programme for International Student Assessment (PISA). Adopsi soal PISA ini selain dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas soal, juga untuk membiasakan siswa berpikir pada level tinggi. Soal PISA yang diujikan dalam UN SMP/MTs tahun pelajaran 2013/2014 ini mencakup materi tentang teorema pythagoras dan rata-rata baru. Secara nasional, persentase siswa yang mampu menjawab dengan benar soal UN dengan materi pythagoras ini 77,84% siswa. Adapun untuk materi tentang ratarata baru, persentase siswa yang mampu menjawab dengan benar soal-soal UN tersebut 48,78% siswa. Pada zona G, soal PISA mengenai phytagoras daat dijawab benar oleh lebih dari 99% siswa. Hal ini menggembirakan sebagai indikator kemampuan siswa yang cukup baik dalam menempuh soalsoal jenis PISA. Peta Capaian Kompetensi SMP/ MTs. Berdasarkan pasal 68 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, salah satu kegunaan hasil Ujian Nasional adalah untuk pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan. Pemetaan mutu ini diperlukan sebagai umpan balik perbaikan mutu pembelajaran dan sekaligus dapat digunakan sebagai informasi untuk pembinaan dan pemberian bantuan kepada sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan pada umumnya. Hasil UN SMP/MTs 2013/2014 dapat memetakan perbandingan capaian kompetensi menurut matapelajaran di tingkat nasional, provinsi maupun satuan pendidikan. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi tinggi atau rendahnya capaian kompetensi. Capaian kompetensi yang rendah Gambar 7. Karakteristik Soal PISA dapat disebabkan oleh kinerja guru yang kurang maksimal, proses pembelajaran yang kurang baik, sarana dan prasarana yang kurang memadai, dukungan orang tua dan masyarakat yang kurang baik, peran kepala sekolah yang tidak maksimal, serta masih banyak lagi faktorfaktor penyebab lainnya. Capaian kompetensi per mata pelajaran tersebut juga diperinci menjadi informasi capaian menurut materi setiap mata pelajaran. Sebagai gambaran, secara nasional, rerata nilai UN SMP/ MTs 2014 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia memang naik sebesar 0,04, namun wilayah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pencapaian kompetensi untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia menurun 0.4. Untuk melihat kompetensi yang kurang dari peserta provinsi NAD dapat dilihat peta daya serap. Terlihat daya serap tertinggi ada pada materi tentang pemahaman berbagai teks nonsastra dan terendah pada materi menyunting teks nonsastra. Gambar 8 Peta Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia 5

7 Untuk Mata pelajaran Bahasa Inggris, secara nasional rata-rata nilai UN SMP/ MTs tahun 2013/2014 mengalami kenaikan 0,82 dibanding tahun 2012/2013. Tidak ada satupun provinsi yang mengalami penurunan nilai UN untuk Mata pelajaran Bahasa Inggris. Untuk Provinsi Jawa Timur, daya serap tertinggi sebesar 70,83% ada pada materi memahami wacana yang melebihi daya serap nasionalnya sebesar 65,61%. Adapun untuk Mata pelajaran Matematika dan IPA, secara nasional nilai UN 2013/2014 mengalami kenaikan masingmasing 0,33 dan 0,52 dibandingkan nilai UN tahun 2012/2013. Di DKI Jakarta, misalnya, Daya serap tertinggi ada pada materi konsep teori peluang yaitu sebesar 77,08% sedangkan daya serap nasional untuk materi yang sama adalah sebesar 60,44%.. Di Jawa Barat, daya serap Mata pelajaran IPA tertinggi terdapat pada materi pengukuran yaitu mampu diserap sebanyak 78,85% sedangkan daya serap nasionalnya sebesar 77,18%. Gambar 9 Peta Kompetensi Mata Pelajaran Matematika 2. Hasil UN SMA/MA 2013/2014 Jumlah peserta dan tingkat kelulusan SMA/MA. Jumlah peserta UN di SMA/MA tahun 2013/2014 adalah yang berasal dari SMA/MA di 34 provinsi. Tingkat kelulusan mencapai 99,52% dan sebanyak 0,48% (7.811 siswa) dinyatakan tidak lulus UN. Jika ditinjau menurut provinsi, tingkat ketidaklulusan peserta paling rendah terdapat di Jawa Barat sebesar 0,03%, sedangkan yang tertinggi terdapat Kalimantan Utara (2,51%). Salah satu faktor penurunan tingkat kelulusan adalah peningkatan proporsi tingkat kesukaran soal. Pada tahun 2013/2014, soal kategori sukar dinaikkan menjadi 20 persen, yang sebelumnya 10 persen. Meningkatnya butir soal berkategori sulit hingga 10 persen merupakan wujud komitmen dari pemerintah Pusat untuk meningkatkan kualitas lulusan. Meskipun nilai rata-rata minimal kelulusan dirancang tetap 5,5, tetapi perjuangan yang harus dilakukan peserta UN untuk meraih nilai ratarata minimal kelulusan itu makin berat karena jumlah soal dengan kategori sulit menjadi 20 persen. Gambar 10. Jumlah Siswa Peserta UN Tingkat SMA/MA 2014 Gambar 11. Jumlah Sekolah Peserta UN Tingkat SMA/MA

8 Distribusi Nilai UN SMA/MA. Jika dibandingkan antara nilai UN SMA dan MA, rata-rata nilai UN SMA lebih tinggi (5,84) dibandingkan dengan rata-rata nilai UN MA (5,73). Nilai rata-rata SMA IPA mencapai 6,39 dan SMA IPS sebesar 5,80, sedangkan nilai rata-rata MA IPA sebesar 6,06 dan MA IPS sebesar 5,75. Adapun standar deviasi nilai UN SMA (1,26) sedikit lebih besar dibandingkan dengan standar deviasi nilai UN MA (1,21). Rata-rata nilai UN mengalami penurunan dari 6,35 (2012/2013) menjadi 6,12 (2013/2014). Rerata nilai UN 2013/2014 tertinggi adalah 9,7 dan yang terendah adalah 1,08. Berbeda dengan nilai ratarata UN yang mengalami penurunan, sebaran nilai UN tahun 2013/2014 menjadi lebih lebar (SD=1,39) dibandingkan tahun sebelumnya (SD=1,24). Adapun rata-rata nilai sekolah (NS) SMA/MA tahun ajaran 2013/2014 yang mencapai 8,39 mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu 8,40. Ketika nilai UN dengan nilai sekolah (NS) digabung untuk memperoleh Nilai Akhir (NA), maka diperoleh rata-rata NA pada tahun pelajaran 2013/2014 adalah sebesar 7,02 atau menurun dibandingkan tahun sebelumnya yakni 7,17. Gambar 12. Peta Wilayah Berdasarkan Nilai rerata UN SMA/MA 7

9

10 Karakteristik Soal UN SMA/MA. soal UN 2014 sangat sulit sehingga nilai siswa menjadi rendah. Analisis parsial nilai siswa dilakukan pada set soal sedang dan set soal sulit. Hasil menunjukkan bahwa jumlah siswa yang menjawab benar lebih dari 40% soal atau seolaholah mendapat nilai lebih dari 4 adalah 73,93% jika berdasarkan tes yang terdiri hanya soal-soal sukar. Namun jika digunakan soal-soal dengan tingkat kesukaran sedang, maka jumlah siswa yang mendapat nilai lebih dari 4 mencapai 99,67%. Gambar 14. Persentase Kumulatif Jumlah Siswa Mampu Menjawab Benar Kumpulan Soal Bahasa Indonesia IPA Berdasar Tingkat Kesukaran Peta Capaian Kompetensi. Fungsi UN tidak hanya fokus pada capaian nilai peserta didik untuk kelulusan, tapi juga capaian kompetensi tiap mata pelajaran, baik di tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, maupun nasional untuk pemetaan mutu yang pada gilirannya dapat digunakan bagi kepentingan intervensi kebijakan peningkatan mutu pendidikan. Berdasarkan hasil UN 2013/2014 dapat dipetakan daya serap mata pelajaran yang diujikan dalam UN. Untuk enam mata pelajaran kelompok IPA, standar KKM 70% untuk semua mata pelajaran belum dapat dipenuhi peserta didik, kecuali mata pelajaran Bahasa Indonesia yang daya serapnya mencapai 71,20%. Untuk kompetensi Bahasa Indonesia daya serap materi Membaca Data mencapai daya serap tertinggi yaitu 84.85% dan terendah pada materi Menulis Gagasan Fiksi yaitu sebesar 66.88%. Daya serap terendah peserta didik adalah pada Mata pelajaran Kimia yang hanya diserap sebesar 59,82%. Ditelaah lebih jauh, daya serap terendah terdapat pada materi Perubahan Energi, Cara Pengukuran (45.41%). (59.36%). Selanjutnya daya serap terendah pada kelompok IPS adalah pada Mata pelajaran Matematika yang hanya manpu diserap peserta didik sebesar 53,51%. Pada Mata pelajaran ini, semua materi pelajaran yang diserap peserta didik tidak ada yang mencapai KKM sebesar 70%. Pada kelompok IPS, Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang mampu diserap lebih tinggi daripada mata pelajaran lainnya yang diujikan secara nasional. Daya serap mata pelajaran Bahasa Indonesia sebesar 63.76%. Materi-materi soal Bahasa Indonesia cukup sukar dikerjakan peserta UN. Daya serap yang memenuhi KKM 70% cuma satu yaitu pada materi Membaca Data (76.52%), sedangkan daya serap terendah pada materi Menulis Gagasan Nonfiksi 9

11 B. HASIL UN 2014 DIBANDINGKAN TAHUN SEBELUMNYA Ujian nasional 2014 menggunakan spesifikasi dan kisi-kisi tes yang sama dengan UN tahun 2012 dan Perbedaan terletak pada jumlah paket tes yang dipergunakan. UN 2012 menggunakan 5 paket tes dalam satu ruang ujian, sedangkan UN 2013 dan UN 2014 menggunakan 20 paket tes. Kesamaan spesifikasi tes memungkinkan perbandingan hasil UN tahun 2014 dengan UN 2 tahun sebelumnya. Ketidaklulusan Siswa SMP/MTs dan SMA/MA. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur ketercapaian standar kompetensi lulusan adalah tingkat kelulusan siswa dalam ujian nasional. Tingkat kelulusan siswa yang tinggi menunjukkan bahwa satuan pendidikan telah berhasil mempersiapkan siswa sehingga mereka mampu menyelesaikan UN dengan baik sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Sebaliknya, tingkat ketidaklulusan siswa yang tinggi menunjukkan satuan pendidikan belum mampu mencapai standar minimal yang ditentukan agar siswa dapat lulus. Dalam 3 tahun terakhir persentase siswa SMA/MA yang tidak lulus relatif konstan dan relatif kecil yaitu di bawah 0.5 persen. Pada jenjang SMP, siswa yang tidak lulus juga di bawah 0.5 persen pada periode 2011/ /2013. Namun, pada tahun 2013/2014 persentase ketidaklulusannya menurun tajam hingga hanya mencapai 0.06 persen. Kecenderungan tersebut menunjukkan hal positif, yaitu hasil UN yang dicapai siswasmp/mts semakin baik khususnya dalam hal pencapaian standar kompetensi kelulusan. gambar 15. Trend Tingkat Kelulusan UN

12 Capaian Rata-rata UN SMP/MTs. Salah satu ukuran yang dapat menggambarkan capaian kompetensi siswa adalah rata-rata nilai ujian nasional (UN) murni. Hal menarik yang dapat dianalisis berdasarkan capaian nilai UN adalah konsistensi daerah yang berada pada level capaian nilai UN selama 3 tahun terakhir. Hasil menunjukkan tidak ada satu provinsipun yang berhasil mempertahankan nilai rata-rata UN 3 tahun terakhir lebih dari 7,5. Secara umum, terjadi penurunan rata-rata UN SMP pada periode tahun 2011/ /2013 tetapi pada periode tahun 2012/ /2014 terjadi kenaikan ratarata UN SMP. Kenaikan rata-rata UN 2014 belum mencapai nilai yang diproleh pada tahun Capaian Rata-rata UN SMA/MA. Pola trend nilai UN SMA/MA berbeda dengan nilai UN SMP/MTs. Terjadi penurunan signifikan antara hasil tahun 2012 ke tahun Penurunan nilai UN kembali terjadi pada tahun Pada tahun 2012 tidak ada satu provinsipun yang rerata nilai UN di bawah 5,5. Pada tahun 2013, 11 provinsi rerata nilai UN kurang dari 5,5 untuk program IPS dan 3 provinsi untuk program IPA. Pada tahun 2014 jumlah provinsi dengan rerata UN kurang dari 5,5 bertambah, 16 provinsi untuk program IPS dan 12 provinsi untuk program IPA. Gambar 16. Rerata Nilai UN SMP/MTs Tiga Tahun Terakhir 11

13 Persepsi Siswa tentang Ujian Nasional. Keberhasilan siswa dalam menempuh UN dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor yang berasal dari siswa, faktor guru, dan faktor sekolah. Salah satu faktor yang berasal dari siswa adalah kesiapan siswa dalam menghadapi UN, seperti kesiapan fisik, kesiapan mental, serta upaya yang dilakukan dalam mempersiapkan diri menghadapi UN. Faktor kesiapan siswa dalam menghadapi UN dapat diukur melalui tingkat persepsi siswa terhadap UN, diantaranya kecemasan siswa dan kesiapan siswa dalam menghadapi ujian nasional. Survey kepada peserta UN SMP/MTs tahun 2013/2014 dilakukan di 31 provinsi yang melibatkan responden. SMA/MA Gambar 18. Tingkat Kecemasan Siswa SMA/MA dalam UN Tahun 2014 Sumber: Hasil Pemantauan UN Balitbang Kemendikbud, 2014 SMP/MTs Gambar 17. Tingkat Kecemasan Siswa SMP/ MTs dalam UN Tahun 2014 Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa tingkat kecemasan peserta ujian nasional SMP/MTs pada umumnya dalam kategori biasa saja (54,34%). Hal ini berarti sebagian besar peserta ujian nasional SMP/MTs Tahun 2014 tidak terlalu mengkhawatirkan akan pelaksanaan ujian nasional. Hasil survei ini dapat dijadikan informasi penting untuk menjelaskan kepada beberapa pihak yang mengklaim bahwa ujian nasional menjadikan siswa stress. Hasil survei tersebut menunjukkan faktor kecemasan memang ada pada siswa tetapi masih dalam batas yang wajar, yang dinyatakan oleh 45,66% responden. Dengan kata lain, tidak ditemukan siswa SMP/ MTs yang sangat cemas dalam menghadapi ujian nasional (0%). Tingkat kecemasan peserta UN tampaknya terkait dengan faktor kesiapan siswa dalam menghadapi ujian nasional tersebut. Sebagian besar siswa SMP/ MTs menyatakan sangat siap dalam menghadapi UN (79,95%). Bentuk-bentuk persiapan yang dilakukan siswa dalam menghadapi ujian nasional diantaranya adalah hadir dalam pelajaran di kelas, mengerjakan pekerjaan rumah (PR), mengerjakan tugas dari guru, berusaha menjawab soal-soal, berlatih mengerjakan soal-soal UN sebelumnya, mengulangi pelajaran, aktif belajar di kelas, dan mengikuti try-out ujian nasional. 12

14

15 Daya Serap Materi IPA SMP/MTs Tahun 2011/ /2014. Daya serap cakupan materi IPA memiliki 12 kompetensi yang diujikan dalam UN, terdiri atas enam kompetensi Mata pelajaran Fisika, tiga kompetensi Mata pelajaran Kimia, dan tiga kompetensi Mata pelajaran Biologi. Pada Mata pelajaran Fisika, terdapat satu kompetensi yang cenderung menurun, yaitu kompetensi Tata surya. Pada Mata pelajaran Kimia, terdapat satu kompetensi yang cenderung menurun, yaitu kompetensi Konsep atom, ion, dan molekul. Sedangkan pada Mata pelajaran Biologi, terdapat satu kompetensi yang cenderung menurun, yaitu kompetensi Keanekaragaman mahluk hidup. Kd. Materi Cakupan Materi FISIKA: Alat ukur FISIKA: Zat dan kalor FISIKA: Dasar-dasar mekanika FISIKA: Bunyi dan cahaya FISIKA: Mengenal listrik FISIKA: Tata Surya KIMIA: Konsep atom, ion, dan molekul KIMIA: Klasifikasi zat dan perubahannya KIMIA: Bahan Kimia BIOLOGI: Keanekaragaman mahluk hidup BIOLOGI: Keseimbangan ekosistem BIOLOGI: Sistem organ manusia Peta Kompetensi UN SMA/MA Daya Serap Materi Bahasa Indonesia IPA 2011/ /2014. Daya serap cakupan materi Bahasa Indonesia terdiri atas sembilan kompetensi. Tiga kompetensi di antaranya cenderung menurun, yaitu kompetensi Menulis gagasan fiksi, Membaca pemahaman nonfiksi, dan Menulis gagasan nonfiksi. Hal yang menarik lainnya adalah adanya capaian kompetensi yang mengalami penurunan cukup drastis dari tahun 2012 ke tahun 2013, yaitu dari 81,42% menjadi 59,33% pada kompetensi Menulis struktur fiksi. Gambar 20. Daya Serap Bahasa Indonesia IPA Tahun 2011/2012, 2012/2013, dan 2013/

16

17 Daya Serap Materi Bahasa Inggris IPS 2011/ /2014. Daya serap cakupan materi Bahasa Inggris terdiri atas sembilan kompetensi, dan dua kompetensi di antaranya cenderung menurun, yaitu kompetensi Menentukan gambar dari monolog lisan, dan kompetensi Memahami informasi dari teks fungsional. Selanjutnya terdapat capaian kompetensi yang mengalami penurunan cukup drastis dari tahun 2012/2013 ke tahun 2013/2014, yaitu dari 80,54% menjadi 52,69% pada kompetensi Merespon percakapan lisan yang belum lengkap. Daya Serap Materi Matematika IPS 2011/ /2014. Daya serap cakupan materi Matematika terdiri atas tujuh kompetensi. Semua kompetensi cenderung menurun. Capaian kompetensi yang mengalami penurunan cukup tinggi dari tahun 2011/2012 ke tahun 2012/2013 adalah kompetensi Barisan dan deret, yaitu dari 83,38% menjadi 59,87%; dan kompetensi Fungsi persamaan dan pertidaksamaan, yang juga turun daya serapnya dari 81,86% menjadi 60,89%. 62,45%, kompetensi Perubahan sosial dari 80,15% menjadi 59,85%, dan kompetensi Penyimpangan dan pengendalian sosial dari 79,50% menjadi 60,48%. Daya Serap Materi Geografi IPS 2011/ /2014. Daya serap cakupan materi Geografi terdiri atas sembilan kompetensi. Pada umumnya terjadi penurunan capaian kompetensi, meskipun terdapat dua kompetensi yang memiliki kecenderungan turun-naik, yaitu kompetensi Sumber daya manusia dan Sumber daya alam. Temuan lainnya adalah terdapat capaian kompetensi yang mengalami penurunan cukup drastis dari tahun 2011/2012 ke tahun 2012/2013, yaitu kompetensi Lingkungan hidup dari 82,87% menjadi 57,06%, kompetensi Fenomena geosfer dari 77,43% menjadi 58,22%, dan kompetensi Sumber daya manusia dari 82,45% menjadi 60,36%. Daya Serap Materi Ekonomi IPS 2011/ /2014. Daya serap cakupan materi Ekonomi terdiri atas sembilan kompetensi. Tiga dari sembilan kompetensi mata pelajaran tersebut cenderung menurun, yaitu kompetensi Konsep ekonomi, kompetensi Kebijakan ekonomi, dan kompetensi Ekonomi pembangunan, serta satu kompetensi yang memiliki kecenderungan naik, yaitu kompetensi Pasar modal dan perdagangan internasional. Hal yang menarik lainnya adalah adanya capaian kompetensi yang mengalami penurunan cukup drastis dari tahun 2011/2012 ke tahun 2012/2013, yaitu kompetensi Konsep ekonomi, yaitu dari 77,13% menjadi 56,15%, kompetensi Akuntansi perusahaan jasa dari 79,20% menjadi 58,72%, kompetensi Manajemen badan usaha, koperasi, kewirausahaan dari 71,27% menjadi 51,43%, dan kompetensi Kebijakan ekonomi dari 67,51% menjadi 47,72%. Daya Serap Materi Sosiologi IPS 2011/ /2014. Daya serap cakupan materi Sosiologi terdiri atas sembilan kompetensi. Terdapat lima kompetensi yang cenderung menurun, yaitu kompetensi Fungsi sosiologi, Nilai, norma, dan sosialisasi, Struktur dan mobilitas sosial, Perubahan sosial, dan Penelitian sosial. Hal yang menarik lainnya adalah adanya capaian kompetensi yang mengalami penurunan cukup drastis dari tahun 2011/2012 ke tahun 2012/2013, yaitu kompetensi Interaksi sosial dan konflik dari 89,83% menjadi 16

18 D. LEVEL KOMPETENSI PESERTA UJIAN NASIONAL Studi studi internasional seperti TIMSS, PIRLS, dan PISA membuat benchmark atau deskriptor capaian kompetensi peserta ujian. Hasil Ujian Nasional 2014 dianalisis dengan metode yang serupa dan disebut sebagai level. Proses level capaian kompetensi sebenarnya adalah proses kategorisasi peserta ujian berdasarkan nilai yang diperolehnya, kemudian mencari butir-butir soal yang mewakili kategori setiap peserta. Level Rentang Nilai Sangat Baik >8 s.d. 10 Baik >6 s.d. 8 Cukup >4 s.d. 6 Kurang 0 s.d. 4 CONTOH DESKRIPTOR LEVEL KOMPETENSI BAHASA INDONESIA SMP/MTS Level Sangat Baik Baik Cukup Kurang Deskripsi Kompetensi Pada kompetensi membaca, peserta didik mampu menafsirkan informasi tersirat pada bacaan sastra/nonsastra, sedangkan pada kompetensi menulis, peserta didik mampu menyusun berbagai bentuk paragraf dengan memperhatikan ejaan dan tanda baca Pada kompetensi membaca, peserta didik mampu menafsirkan informasi tersurat pada teks sastra/ nonsastra, sedangkan pada kompetensi menulis, peserta didik mampu menggunakan kalimat sesuai ilustrasi dengan memperhatikan penggunaan EYD Pada kompetensi membaca, peserta didik mampu mengidentifikasi informasi tersurat pada bacaan/iklan/denah, sedangkan pada kompetensi menulis, peserta didik mampu menggunakan kata/kalimat pada teks sastra/nonsastra.. Siswa mampu mengidentifikasi informasi yang sangat sederhana dan tersurat dari sebuah wacana non teks sederhana. Siswa memiliki keterbatasan dalam menggunakan kata/frasa pada teks sastra/nonsastra. Contoh soal untuk setiap level kompetensi tersedia pada laporan lengkap Deskripsi capaian level kompetensi siswa jenjang SMP/MTs pada UN tahun 2014 mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, dan IPA dapat diuraikan sebagai berikut: a) Untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, ada dua provinsi (DKI Jakarta dan DI Yogyakarta) dengan predikat tanpa seorang siswapun yang berada pada level kompetensi kurang. Sementara itu, di provinsi Jawa Barat persentase siswa dengan level kompetensi cukup dan kurang lebih besar dibandingkan siswa di provinsi Sumatera Utara. Hal ini mengindikasikan bahwa formula perbaikan yang diterapkan di Jawa Barat tidak bisa sama dengan formula di Sumatera Utara. b) Untuk mata pelajaran bahasa Inggris, DKI Jakarta merupakan satu-satunya provinsi tanpa seorang siswapun pada level kompetensi kurang. Sebaliknya, provinsi Bengkulu terdapat 30% siswanya masih berada pada level kompetensi kurang. Papua Barat dan Sumatera Selatan merupakan provinsi yang unik karena persentase siswa pada capaian cukup dan kurang terendah secara nasional. c) Pada mata pelajaran matematika, hasil capaian level kompetensi mata pelajaran ini secara nasional lebih rendah dibandingkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Namun tidak berlaku untuk Sumatera Utara. Provinsi ini menunjukkan pencapaian yang luar biasa menonjol dibandingkan provinsi lain. d) Untuk mata pelajaran IPA, DKI Jakarta merupakan satu-satunya provinsi tanpa seorang siswapun pada level kompetensi kurang. Provinsi Sumatera Utara adalah provinsi yang secara konsisten memiliki capaian level kompetensi sangat baik lebih dari 50%. Di pihak lain, provinsi Bengkulu merupakan provinsi yang memiliki persentase level cukup dan kurang terendah secara nasional. 17

19 Grafik ini menunjukkan bahwa persentase siswa di Pabar dengan capaian kompetensi sangat baik sebesar 28% Grafik ini menunjukkan bahwa persentase siswa di NTT dengan capaian kompetensi cukup adalah 23%(berasal dari nilai batas kanan dikurangi nilai batas kiri; 95%-72%) Grafik ini menunjukkan bahwa persentase siswa di Bengkulu dengan capaian kompetensi kurang adalah 4%(berasal dari nilai batas kanan dikurangi nilai batas kiri; 100%-96%) Gambar 21. Peta capaian kompetensi Bahasa Indonesia siswa SMP/MTs secara nasional Deskripsi capaian kompetensi siswa jenjang SMA/MA jurusan IPA pada UN tahun 2014 mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan fisika diuraikan sebagai berikut: a) Pada mata pelajaran bahasa Indonesia, Provinsi Bali berada pada level tertinggi bila dilihat dari level capaian kompetensi sangat baik (71% siswa berada pada level ini). Provinsi DIY menyusul pada urutan kedua. Kalimantan Timur menunjukkan disparitas capaian kompetensi yang kecil antarkabupaten/kota. Papua menunjukkan disparitas pencapaian besar antarkabupaten. Secara nasional, persentase siswa IPA dengan kompetensi sangat baik sebesar 24%. b) Pada pelajaran bahasa Inggris, provinsi Sumatera Utara menempati urutan teratas provinsi dengan persentase siswa berada pada level kompetensi sangat baik. Anomali terjadi pada provinsi Papua khusunya di Kabupaten Lanny Jaya. Pada mata pelajaran bahasa Indonesia, kabupaten ini capaian kompetensinya terendah di provinsi Papua. Namun untuk bahasa Inggris, memiliki persentase siswa dengan kompetensi sangat baik tertinggi, bahkan tidak ada siswa yang capaian kompetensinya kurang. c) Untuk pelajaran matematika, capaian kompetensi secara nasional rendah. Terdapat 21 provinsi yang persentase siswa dengan capaian kompetensi sangat baik di bawah 10%. Bahkan di provinsi Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Bengkulu dan Gorontalo tidak ada siswa yang mencapai kompetensi pada level sangat baik. 18

20 d) Pada pelajaran fisika, provinsi Bali, Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Sumatera Utara termasuk mendominasi dari segi persentase siswa yang mencapai level kompetensi sangat baik dan baik. Di Provinsi Bali, tidak satupun siswa yang kompetensinya kurang. Di Jawa Timur dan Sumatera Utara, sekitar 85% siswanya berada pada level kompetensi sangat baik dan baik. Hal ini berkebalikan dengan Kalimantan Utara, Bangka Belitung, Gorontalo, dan Maluku Utara yang 80% siswanya justru berada di level kompetensi kurang dan cukup. Gambar 22. Peta capaian level kompetensi Fisika Provinsi Sulut dan Jatim Deskripsi capaian kompetensi siswa jenjang SMA/ MA jurusan IPS pada UN tahun 2014 mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika diuraikan sebagai berikut: a) Untuk pelajaran bahasa Indonesia, persentase capaian kompetensi siswa pada level sangat baik jurusan IPS lebih rendah dibandingkan jurusan IPA di seluruh provinsi. Perbedaan terbesar terjadi di provinsi Bali, yakni untuk program IPA sebesar 71% sedangkan program IPS hanya 38%. b) Pada pelajaran bahasa Inggris, persentase siswa di program IPA secara umum lebih besar yang berada pada capaian kompetensi sangat baik dan baik dibandingkan di program IPS. Provinsi Sumatera Utara juga menempati urutan teratas provinsi dengan persentase siswa kompetensi sangat baik. c) Untuk pelajaran Matematika, capaian kompetensi siswa program IPS juga rendah. Persentase siswa berkompetensi sangat baik kurang dari 10% ditemukan pada 24 provinsi. Dari 24 provinsi tersebut, ada 7 provinsi yang tidak memiliki siswa yang berkompetensi sangat baik. Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan peta yang menarik, karena memiliki persentase siswa dengan kompetensi matematika sangat baik yang jumlahnya tinggi yaitu 24%, tetapi persentase siswa berkompetensi kurang lebih dari 44%. 19

21 E. ANALISIS KORELASIONAL Deskripsi hasil analisis korelasi data UN SMP/MTs tahun dengan berbagai faktor terkait disajikan sebagai berikut: a) Perkembangan nilai UN , secara nasional maupun tiap region menunjukkan penurunan pada 2013 dan kenaikan pada Penyebabnya, diduga tahun 2013 merupakan tahun pertama digunakannya 20 paket soal. Anomali terjadi di 5 kabupaten/kota, yang menunjukkan kenaikan secara konsisten, yaitu kabupaten Katingan, Sanggau, dan Lamandau yang terletak di Provinsi Kalimantan Tengah; Kabupaten Seram Bagian Barat di Provinsi Maluku; dan Kabupaten Seruyan di Provinsi Kalimantan Barat. Kelima kabupaten tersebut jenis sekolah yang menunjukkan kenaikan adalah kelompok Madrasah Tsnawiyah (MTs), bukan SMP. Dua diantara kelompok MTs tersebut berstatus swasta. b) Terdapat korelasi yang positif antara nilai UN 2012 dan IPM, namun indeks korelasi tersebut sangat rendah meskipun secara statistik signifikan. Di sisi lain, tidak ada korelasi antara IPM dan nilai UN 2013 dan dengan nilai UN IPM juga tidak berhubungan dengan kenaikan nilai UN. Rendahnya atau tidak berkorelasinya IPM dengai nilai UN dapat menunjukkan ada faktor-faktor lain yang lebih berperan atau mempengaruhi prestasi siswa SMP. Gambar 23. Hubungan antara sertifikasi guru dan nilai UN SMA 2014 a) Perkembangan nilai UN secara nasional dan pada beberapa region menunjukkan penurunan pada tahun 2013 dan Namun, penurunan yang terjadi di tahun 2014 jauh lebih kecil daripada penurunan di tahun Pada beberapa region, UN tahun 2013 dan tahun 2014 nilainya cenderung tetap terjadi di Sulawesi dan Sumatera. Digunakannya 20 paket untuk pertama kali pada tahun 2013 mungkin berkontribusi terhadap penurunan nilai. b) Ada satu kabupaten yang menunjukkan kenaikan nilai UN secara konsisten selama , yaitu kabupaten Puncak di Provinsi Papua. Terdapat dua sekolah yang terdaftar sebagai peserta UN, yaitu SMA Negeri 1 Ilaga dan SMA YPPGI Sinak. Namun, hasil analisis cheating menunjukkan bahwa kedua sekolah tersebut dikategorikan tidak bersih. c) Terdapat korelasi positif antara IPM dan nilai UN pada setiap tahun. Namun tidak ada korelasi antara IPM dan kenaikan nilai UN dari tahun 2012 ke 2013 dan kenaikan nilai dari 2013 ke Hal ini menunjukkan maju atau sejahteranya suatu kabupaten/kota mempunyai kontribusi terhaap prestasi siswa SMA dalam UN. d) Hasil analisis juga menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi (sebesar 0,542), antara proporsi guru yang telah disertifikasi pada suatu sekolah dan nilai UN siswa. e) Bila hasil UN dikaitkan dengan usia masuk sekolah dasar, maka siswa pada kelompok umur memasuki sekolah dasar usia 6 tahun rerata nilai UN-nya paling tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya. Hal ini terjadi baik pada jenjang SMP/MTs maupun SMA/MA. 20

22 F. REKOMENDASI a) Berdasarkan berbagai analisis yang dilakukan terhadap data hasil ujian nasional tahun terdapat beberapa hal yang direkomendasikan untuk peningkatan mutu ujian nasional itu sendiri maupun secara luas untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. b) Pemetaan mutu pendidikan mutlak diperlukan untuk mengetahui capaian, kekuatan serta kelemahan yang dimiliki oleh sistem pendidikan. Pemetaan tersebut meliputi peta input, proses, serta output. Ujian nasional adalah salah satu alat pemetaan output dari sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia. Ujian nasional memiliki kelebihan sebagai alat pemetaan karena sifatnya yang sensus sehingga seluruh populasi siswa dan satuan pendidikan terpetakan. Oleh karena itu sangat penting upaya peningkatan metodologi pengumpulan data melalui ujian nasional. Mengingat kualitas output merupakan cerminan dari kualitas input dan proses, direkomendasikan pada penyelenggaraan UN mendatang dikumpulkan pula informasi mengenai variabel input dan proses dalam bentuk survei pendamping. Informasi tersebut digali dari siswa, kepala sekolah, guru, dinas, maupun orangtua. Hal ini penting untuk menjaring informasi yang komprehensif sehingga dapat diambil kebijakan yang tepat berdasarkan formulasi input, proses, serta output. c) Alat ukur yang baik selalu memiliki 2 karakter: valid dan reliable. Masih banyak ulasan dari media ataupun organisasi guru yang mengkritisi kualitas soal UN. Salah satunya sangat bersifat hafalan atau recalling. Soal-soal matematika juga dikritisi sangat ekstensif dalam komputasi sehingga menyita waktu pengerjaan. Pada kenyataannya, soal-soal higher order thinking telah ada dalam paket tes UN, namun proporsinya masih sedikit. Oleh karena itu direkomendasikan agar diversifikasi soal-soal UN semakin ditingkatkan. Jumlah soal-soal yang menguji level kognitif applying serta reasoning diperbanyak. Jenis-jenis soal yang mengedepankan logika berfikir serta cara kerja memecahkan masalah ditingkatkan porsinya dibandingkan soal-soal yang mengukur hafalan dan keterampilan berhitung. d) Sebagai pemetaan mutu secara sensus dengan jumlah peserta 3,3 juta siswa di tingkat SMP/ MTs, 1,6 juta siswa di tingkat SMA/MA, serta 1,1 juta siswa di tingkat SMK yang tersebar di berbagai wilayah dengan beragam kondisi geografis, penyelenggaraan UN membutuhkan aspek perencanaan, pengadaan, implementasi yang kokoh dan terkendali. Prosedur operasional untuk ketiga aspek tersebut harus mampu menjabarkan dengan detail mengenai jenis pekerjaan, volume pekerjaan, pihak yang bertanggung jawab, batas waktu, tempat pelaksanaan, hingga kriteria output yang diharapkan. Tentunya setiap aspek juga harus didukung oleh anggaran yang tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat jumlah. Perbaikan dalam POS yang perlu dilakukan antara lain: pengelompokan provinsi dalam regionalisasi pengadaan barang sebaiknya memperhatikan sebaran provinsi dalam region agar lebih efektif; cara pengiriman bahan cetakan UN hendaknya memperhatikan jarak dan tingkat kesulitan, untuk waktu tempuh yang lebih dari 1 hari dengan angkutan darat/air hendaknya menggunakan angkutan udara demi keamanan; perlu dipikirkan pengiriman bahan ujian melalui PT Pos atau perusahaan pengiriman lainnya; POS yang juga perlu dikaji lebih lanjut adalah dalam hal pengawasan pelaksanaan UN, terkait dengan peran Perguruan Tinggi dan LPMP, peran dan tanggung jawab pengawas tersebut perlu dipertegas dan dirincikan. e) Selanjutnya jika perencaan, pengadaan, dan implementasi telah terselenggara dengan baik dan memperhatikan metodologi yang baik pula, diharapkan diperoleh data yang berkualias. Namun data yang valid dan reliable tidak akan bermanfaat jika tidak dilakukan analisis serta pelaporan dari hasil analisis tersebut. Oleh karena itu direkomendasikan peningkatan kualitas analisis data ujian nasional serta pelaporan hasil. Analisis nilai dapat menggunakan skala yang lebih baik seperti skala berdasarkan Item Response Theory yang lebih independent terhadap karakter paket tes maupun karakter peserta tes. Penggunaan skala yang baru juga mengubah paradigma publik bahwa nilai adalah proporsi menjawab benar soal yang mengabaikan tingkat keparalelan paket tes. 21

23 f) Pelaporan hasil hendaknya memperhatikan target penerima laporan. Berbagai versi laporan disiapkan untuk membedakan cara penyampaian kepada siswa, orangtua, sekolah, dinas, atau pemangku kebijakan di tingkat pusat. Konten pelaporan dapat disusun lebih komperehnsif dengan tidak hanya menyajikan angka-angka, namun juga deskripsi kemampuan siswa untuk setiap mata pelajaran sebagaimana yang dijabarkan pada bab level kompetensi siswa. Pelaporan hasil ujian juga dapar disertai kalimat-kalimat pendek berupa saran yang dapat dilakukan oleh siswa untuk meningkatkan kemampuannya. Hal ini sangat mungkin jika deskriptor kemampuan terdefinisi dan diartikulasikan dengan jelas. g) Hasil analisis menunjukkan bahwa pada wilayah dengan nilai UN lebih tinggi dibandingkan nilai sekolah, terdapat korelasi yang baik antara nilai UN dan nilai sekolah. Artinya pada sekolah yang sangat menekankan mutu dan berhatihati dalam memberikan penilaian siswanya, nilai sekolah sejalan dan dapat memprediksi capaian UN. Hasil ini mengindikasikan bahwa penguatan kemampuan di satuan pendidikan sangat penting untuk meningkatkan hasil UN. Lingkungan sekolah yang terbiasa menerapkan standar yang sama atau lebih tinggi dibandingkan standar UN dalam sistem penilaian di kelas akan mengantarkan siswa-siswanya siap menghadapi UN dan mendapatkan hasil yang lebih baik. Oleh karena itu direkomendasikan penguatan aspek guru serta sekolah dalam melakukan penilaian di tingkat kelas. Kemampuan guru membuat soalsoal ulangan harian, memetakan kemampuan siswanya, serta menindaklanjuti hasil penilaian sangat berpengaruh besar terhadap pencapaian standar nasional. based test tanpa merugikan peserta ujian. Aspek keterbandingan hasil, kemudahan dan kelancaran akses, keamanan, serta efisiensi dikaji secara mendalam. Diharapkan ke depan penyelanggaraan UN berbasis teknologi informasi dapat mengefisiensikan waktu, biaya, dan tenaga yg dibutuhkan untuk penyelenggaraan UN. UN online juga memungkinkan pengembangan soal-soal yg lebih berkualitas tidak sebatas pilihan ganda. Teknologi informasi memungkinkan otomatisasi penskoran soal-soal constructed response serta pelaporan hasil yang cepat dan obyektif. Pada abad 21 ini, digital dan information literacy menjadi kebutuhan dasar manusia untuk dapat bersaing dalam kehidupan modern. Melalui UN online diharapkan penggunaan teknologi informasi lebih dimaksimalkan, mulai dari pembelajaran, manajemen sekolah, sampai sistem penilaian, sehingga membangun kompetensi dan daya saing siswa. i) Ujian Nasional adalah cerminan hasil pendidikan; baik sistem pendidikan secara nasional, regional, di satuan pendidikan, hingga dukungan keluarga terhadap pendidikan. Sebagaimana halnya orang yang bercermin untuk merapihkan diri dan memperbaiki penampilan dari bayangan yang terpantul di cermin, maka hasil UN hendaknya dijadikan pula sarana untuk memperbaiki diri dan meningkatkan mutu. Semakin akurat hasil cerminan tersebut, semakin banyak aspek yang dapat diperbaiki. Kredibilitas dan mutu asesmen pendidikan nasional melalui UN harus terus ditingkatkan dan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan. h) Mengingat logistik pengadaan, pendistribusian,dan pengamanan bahan UN sangat rumit, beresiko tinggi, dan memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang besar, saat ini dikaji model penyelenggaraan terkomputerisasi (UN online). Kajian yang komprehensif dan berkesinambungan dilakukan untuk melihat visibilitas memindahkan model penyelenggaraan ujian dari paper based test menjadi computerized 22

24

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014 HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat Tahun Ajaran 213/21 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 13 Juni 21 1 Ringkasan Hasil Akhir UN - SMP Tahun 213/21 Peserta UN 3.773.372 3.771.37 (99,9%) ya

Lebih terperinci

Ujian Nasional. Kebijakan Perubahan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Anies R. Baswedan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Ujian Nasional. Kebijakan Perubahan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Anies R. Baswedan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Kebijakan Perubahan Ujian Nasional Anies R. Baswedan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan disampaikan dalam konferensi pers Jakarta, 23 Januari 2015

Lebih terperinci

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN A. Integritas Pelaksanaan Ujian Nasional (IIUN) 1. IIUN per Jenjang Sekolah 79,82 79,28 78,79 78,76 Keterangan:

Lebih terperinci

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN A. Integritas Pelaksanaan Ujian Nasional (IIUN) 1. IIUN per Jenjang Sekolah 79,95 79,52 78,69 78,65 Keterangan:

Lebih terperinci

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN A. Integritas Pelaksanaan Ujian Nasional (IIUN) 1. IIUN per Jenjang Sekolah 81,27 81,04 79,69 77,91 SMA

Lebih terperinci

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN A. Integritas Pelaksanaan Ujian Nasional (IIUN) 1. IIUN per Jenjang Sekolah 72,22 74,80 81,79 64,37 SMA

Lebih terperinci

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN A. Integritas Pelaksanaan Ujian Nasional (IIUN) 1. IIUN per Jenjang Sekolah 80,05 80,34 74,52 76,91 SMA

Lebih terperinci

C UN MURNI Tahun

C UN MURNI Tahun C UN MURNI Tahun 2014 1 Nilai UN Murni SMP/MTs Tahun 2014 Nasional 0,23 Prov. Sulbar 1,07 0,84 PETA SEBARAN SEKOLAH HASIL UN MURNI, MENURUT KWADRAN Kwadran 2 Kwadran 3 Kwadran 1 Kwadran 4 PETA SEBARAN

Lebih terperinci

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN A. Integritas Pelaksanaan Ujian Nasional (IIUN) 1. IIUN per Jenjang Sekolah 58,20 57,80 67,26 75,89 SMA

Lebih terperinci

Kebijakan Perubahan Ujian Nasional

Kebijakan Perubahan Ujian Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Kebijakan Perubahan Ujian Nasional - 23 Januari 2015 Daftar Isi 1 2 3 4 Rencana Strategis Perubahan Ujian Nasional Surat Keterangan Hasil Ujian

Lebih terperinci

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN A. Integritas Pelaksanaan Ujian Nasional (IIUN) 1. IIUN per Jenjang Sekolah 70.36 70.38 64.77 60.23 SMA

Lebih terperinci

Hasil Ujian Nasional 2016 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA

Hasil Ujian Nasional 2016 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA Hasil Ujian Nasional 2016 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 01 Ujian Nasional tahun 2016 Mengukur capaian kompetensi siswa berdasar Standar Kompetensi Lulusan Peta capaian kompetensi

Lebih terperinci

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN A. Integritas Pelaksanaan Ujian Nasional (IIUN) 1. IIUN per Jenjang Sekolah 58,20 57,80 67,26 75,89 SMA

Lebih terperinci

UJIAN NASIONAL SD/MI dan SDLB SMP/MTs, SMPLB, dan SMALB SMA/MA dan SMK Tahun Pelajaran 2011/2012

UJIAN NASIONAL SD/MI dan SDLB SMP/MTs, SMPLB, dan SMALB SMA/MA dan SMK Tahun Pelajaran 2011/2012 Sosialisasi Penyelenggaraan UJIAN NASIONAL SD/MI dan SDLB SMP/MTs, SMPLB, dan SMALB SMA/MA dan SMK Tahun Pelajaran 2011/2012 dipersiapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan Kementrian Pendidikan dan

Lebih terperinci

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)

Lebih terperinci

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014)

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) F INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) Kemampuan Siswa dalam Menyerap Mata Pelajaran, dan dapat sebagai pendekatan melihat kompetensi Pendidik dalam menyampaikan mata pelajaran 1

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Madrasah Aliyah sebagai bagian dari jenjang pendidikan tingkat menengah memerlukan upaya pengendalian,

Lebih terperinci

PENYETARAAN HASIL UJIAN SEKOLAH/MADRASAH PENDAHULUAN Pendidikan nasional diselenggarakan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia

PENYETARAAN HASIL UJIAN SEKOLAH/MADRASAH PENDAHULUAN Pendidikan nasional diselenggarakan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia PENYETARAAN HASIL UJIAN SEKOLAH/MADRASAH PENDAHULUAN Pendidikan nasional diselenggarakan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia untuk mendukung pembangunan nasional. Peningkatan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pendahuluan Pada Bab I telah dipaparkan masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian Pemetaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sebagai

Lebih terperinci

RAKOR UN & UJIAN SEKOLAH 2017

RAKOR UN & UJIAN SEKOLAH 2017 RAKOR UN & UJIAN SEKOLAH 2017 KEBIJAKAN UJIAN NASIONAL DAN UJIAN SEKOLAH 2017 1. UN merupakan penilaian hasil belajar oleh Pemerintah. Pelaksanaan UN dilakukan melalui UNBK. Jika UNBK tidak dapat dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Tuntutan itu sangat wajar dan masuk akal serta bukan termasuk isu

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Tuntutan itu sangat wajar dan masuk akal serta bukan termasuk isu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan dan perkembangan pendidikan di Indonesia pada masa yang akan datang semakin besar dan kompleks. Hal ini disebabkan adanya perubahan tuntutan masyarakat

Lebih terperinci

Kata Pengantar. Jakarta, Desember 2011. Tim Penyusun

Kata Pengantar. Jakarta, Desember 2011. Tim Penyusun Kata Pengantar Dalam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Oleh karena itu, guru wajib

Lebih terperinci

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Sebagai jenjang terakhir dalam program Wajib Belajar 9 Tahun Pendidikan Dasar

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAN PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2014/2015

KEBIJAKAN DAN PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2014/2015 BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN SOSIALISASI KEBIJAKAN DAN PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2014/ MATERI 1 2 3 4 5 Kebijakan Ujian Nasional Uji Kompetensi Keahlian SMK Penyelenggaraan Ujian

Lebih terperinci

CAPAIAN DAN KESIAPAN SISWA SMP/MTs DALAM UJIAN NASIONAL CBT (COMPUTER BASED TEST) TAHUN 2015

CAPAIAN DAN KESIAPAN SISWA SMP/MTs DALAM UJIAN NASIONAL CBT (COMPUTER BASED TEST) TAHUN 2015 CAPAIAN DAN KESIAPAN SISWA SMP/MTs DALAM UJIAN NASIONAL CBT (COMPUTER BASED TEST) TAHUN 2015 Oleh: Eviana Hikamudin Peneliti Muda Bidang Analisis dan Sistem Penilaian Puspendik Ujian Nasional (UN) adalah

Lebih terperinci

ANALISIS HASIL UJIAN NASIONAL PENDIDIKAN KESETARAAN TAHUN 2015

ANALISIS HASIL UJIAN NASIONAL PENDIDIKAN KESETARAAN TAHUN 2015 . 1 ANALISIS HASIL UJIAN NASIONAL PENDIDIKAN KESETARAAN TAHUN 2015 Dra. Th. Nuraeni Ekaningrum, MPd. MARET 2016 Kategori hasil UN dapat dikelompokkan sebagai berikut: 2 NILAI KETERANGAN N > 85 A = SANGAT

Lebih terperinci

TANYA-JAWAB PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL

TANYA-JAWAB PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL 1 2 D Kata Pengantar alam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Oleh karena itu, guru

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Jenjang Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama (MTs/SMP) memiliki peranan yang sangat penting

Lebih terperinci

BAB III METODE DAN TEKNIK PENELITIAN

BAB III METODE DAN TEKNIK PENELITIAN BAB III METODE DAN TEKNIK PENELITIAN A. Kerangka Penelitian Dilihat dari sudut keilmuan, penelitian ini termasuk ke dalam penelitian terapan, yaitu penerapan ilmu kebahasaan dalam pengajaran dan pembelajaran

Lebih terperinci

LAPORAN UJIAN NASIONAL 2014

LAPORAN UJIAN NASIONAL 2014 LAPORAN UTAMA LAPORAN HASIL UJIAN NASIONAL TAHUN 2014 KEMENTERIANN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAAN ii Pengarah: Furqon Penanggungjawab: Nizam Tim Penyusun: Rahmawati Mira Josy Moestadi Benny Widaryanto Th.

Lebih terperinci

Persiapan dan Kesiapan Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Persiapan dan Kesiapan Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Persiapan dan Kesiapan Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 1 PERSIAPAN PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Lebih terperinci

alam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi

alam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi Kata Pengantar alam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Oleh karena itu, guru wajib

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 75 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 75 TAHUN 2009 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 75 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTs), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA (SMPLB), SEKOLAH MENENGAH

Lebih terperinci

Indeks Integritas UN SMP/MTs Meningkat

Indeks Integritas UN SMP/MTs Meningkat Indeks Integritas UN SMP/MTs Meningkat Konferensi Pers Pemaparan Hasil Ujian Nasional SMP 2016 Jakarta, 10 Juni 2016 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 4,3 juta siswa di 60 ribu sekolah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hasil ujian nasional yang dijadikan sebagai salah satu acuan baku bagi standar kompetensi kelulusan pada siswa SMA khususnya di Provinsi Kepulauan Riau ini

Lebih terperinci

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR PROVINSI JAWA TIMUR SOSIALISASI Dan Penanda Tanganan MoU Serta Pakta Integritas UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Hotel Sahid Surabaya, 26 Maret 2015 1 DASAR HUKUM UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang

Lebih terperinci

BAHAN PRESS RELEASE PERSIAPAN PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012

BAHAN PRESS RELEASE PERSIAPAN PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012 BAHAN PRESS RELEASE PERSIAPAN PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012 I. Dasar 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 58 ayat (2);

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

Nomor : 0094/SDAR/BSNP/III/ Maret 2018 Lampiran : satu berkas Perihal : Revisi Kedua POS UN Tahun Pelajaran 2017/2018

Nomor : 0094/SDAR/BSNP/III/ Maret 2018 Lampiran : satu berkas Perihal : Revisi Kedua POS UN Tahun Pelajaran 2017/2018 Nomor : 0094/SDAR/BSNP/III/2018 5 Maret 2018 Lampiran : satu berkas Perihal : Revisi Kedua POS UN Tahun Pelajaran 2017/2018 Yang terhormat: 1. Kepala Dinas Provinsi 2. Kepala Kantor Wilayah Kementerian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Purnama Adek, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Purnama Adek, 2014 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan atau kemunduran suatu negara ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya, dan sumber daya manusia yang berkualitas dapat diperoleh melalui pendidikan

Lebih terperinci

Tanya Jawab Pelaksanaan Ujian Nasional Wednesday, 28 December :24. Kata Pengantar

Tanya Jawab Pelaksanaan Ujian Nasional Wednesday, 28 December :24. Kata Pengantar Kata Pengantar Dalam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Oleh karena itu, guru wajib

Lebih terperinci

Konferensi Pers. HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013

Konferensi Pers. HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013 Konferensi Pers HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 31 Mei 2013 A Ringkasan SMP/MTs 2 Ringkasan Hasil Akhir UN - SMP/MTs Tahun 2012/2013 Peserta

Lebih terperinci

Hasil Ujian Nasional 2016

Hasil Ujian Nasional 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Hasil Ujian Nasional 2016 Pers Conference #2 JAKARTA, 11 MEI 2016 Peserta UN SMA/SMK/MA/ Sederajat Tahun 2016 02 UN Kertas dan Pensil UN Berbasis

Lebih terperinci

Sekilas Tentang Ujian Nasional 2015

Sekilas Tentang Ujian Nasional 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Sekilas Tentang Ujian Nasional 2015 Nizam Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Tujuan UN Menilai pencapaian standar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bagian penting dalam kehidupan seseorang. Melalui pendidikan seseorang akan memiliki pengetahuan yang lebih baik serta dapat bertingkah

Lebih terperinci

ANALISIS BUTIR SOAL DAN KEMAMPUAN BAHASA INDONESIA SISWA SMK DALAM UJIAN NASIONAL TAHUN 2011

ANALISIS BUTIR SOAL DAN KEMAMPUAN BAHASA INDONESIA SISWA SMK DALAM UJIAN NASIONAL TAHUN 2011 ANALISIS BUTIR SOAL DAN KEMAMPUAN BAHASA INDONESIA SISWA SMK DALAM UJIAN NASIONAL TAHUN 2011 Fahmi Peneliti Muda di Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang Kemdikbud E-mail: [email protected] ABSTRACT The

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UJIAN SEKOLAH/MADRASAH DAN UJIAN NASIONAL PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH, SEKOLAH

Lebih terperinci

Kata Pengantar. Jakarta, Januari Tim Penyusun

Kata Pengantar. Jakarta, Januari Tim Penyusun Kata Pengantar Dalam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Oleh karena itu, guru wajib

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Berdasarkan tujuan penelitian, yaitu untuk memperoleh gambaran mengenai

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Berdasarkan tujuan penelitian, yaitu untuk memperoleh gambaran mengenai BAB III METODOLOGI PENELITIAN Berdasarkan tujuan penelitian, yaitu untuk memperoleh gambaran mengenai jenis soal-soal Biologi yang dikembangkan dalam TIMSS 2007 berdasarkan Kognitif Bloom Revisi dan sekaligus

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

siswa yang terdiri: Peserta UAMBN MI : siswa Peserta UN MTs : siswa Peserta UN MA : siswa

siswa yang terdiri: Peserta UAMBN MI : siswa Peserta UN MTs : siswa Peserta UN MA : siswa Press Release Nasional (UN) untuk MTs dan MA Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) untuk MI 2008/2009 Dasar Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Peraturan Pemerintah No

Lebih terperinci

Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan

Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan Oleh : Drs Bambang Setiawan, MM 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pasal 3 UU no 20/2003 menyatakan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Latar Belakang

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Latar Belakang BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Latar Belakang Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan; Setiap satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Biplot Kanonik dan Analisis Procrustes dengan Mathematica Biplot biasa dengan sistem perintah telah terintegrasi ke dalam beberapa program paket statistika seperti SAS,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2007 TENTANG UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH/SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA (SMP/MTs/SMPLB),

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan yang berkualitas merupakan pendidikan yang dapat menghasilkan

I. PENDAHULUAN. Pendidikan yang berkualitas merupakan pendidikan yang dapat menghasilkan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan yang berkualitas merupakan pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan yang memiliki prestasi akademik dan non-akademik yang mampu menjadi pelopor pembaruan

Lebih terperinci

Hasil Ujian Nasional 2016

Hasil Ujian Nasional 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Hasil Ujian Nasional 2016 Jenjang Pendidikan Menengah Pertama JAKARTA, 10 JUNI 2016 Peserta UN SMP / Sederajat Tahun 2016 UN Kertas dan Pensil UN

Lebih terperinci

KESIAPAN JATIM DALAM UJIAN NASIONAL SMP/MTS & SMA/SMK/MA TAHUN PELAJARAN 2013/2014

KESIAPAN JATIM DALAM UJIAN NASIONAL SMP/MTS & SMA/SMK/MA TAHUN PELAJARAN 2013/2014 KESIAPAN JATIM DALAM UJIAN NASIONAL SMP/MTS & SMA/SMK/MA TAHUN PELAJARAN 2013/2014 CALON PESERTA UJIAN NASIONAL TAHUN 2013/2014 DI JAWA TIMUR SMP / MTs TAPEL 2014 JENJANG JUMLAH 541.007 Siswa SMP / MTs

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 77 TAHUN 2008 TENTANG UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH ATAS/ MADRASAH ALIYAH (SMA/MA) TAHUN PELAJARAN 2008/2009 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

Perbandingan Nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Mata Pelajaran Matematika SMA Program IPA Tahun Pelajaran 2010/2011

Perbandingan Nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Mata Pelajaran Matematika SMA Program IPA Tahun Pelajaran 2010/2011 Perbandingan Nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Mata Pelajaran Matematika SMA Program IPA Tahun Pelajaran 2010/2011 Fahmi Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Lebih terperinci

Nomor : 0090/SDAR/BSNP/I/ Januari 2018 Lampiran : 7 lembar Perihal : Penambahan Mata Pelajaran dan Kisi-kisi USBN SMA Tahun Pelajaran 2017/2018

Nomor : 0090/SDAR/BSNP/I/ Januari 2018 Lampiran : 7 lembar Perihal : Penambahan Mata Pelajaran dan Kisi-kisi USBN SMA Tahun Pelajaran 2017/2018 Nomor : 0090/SDAR/BSNP/I/2018 29 Januari 2018 Lampiran : 7 lembar Perihal : Penambahan dan Kisi-kisi USBN SMA Tahun Pelajaran 2017/2018 Yang terhormat: 1. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi 2. Kepala Kantor

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didik. Penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan dan

BAB I PENDAHULUAN. didik. Penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penilaian pendidikan sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2011 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2011 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK DARI SATUAN PENDIDIKAN DAN PENYELENGGARAAN UJIAN SEKOLAH/MADRASAH DAN

Lebih terperinci

Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) di Jenjang SMP Tahun 2017

Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) di Jenjang SMP Tahun 2017 Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) di Jenjang SMP Tahun 2017 Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) Pendidikan yang baik dan bermutu merupakan aspek kunci dalam pengembangan mutu sumber daya

Lebih terperinci

No : 0062/SDAR/BSNP/IX/ September 2015 Lampiran : satu berkas Perihal : Surat Edaran UN Perbaikan Tahun Pelajaran 2014/2015

No : 0062/SDAR/BSNP/IX/ September 2015 Lampiran : satu berkas Perihal : Surat Edaran UN Perbaikan Tahun Pelajaran 2014/2015 No : 0062/SDAR/BSNP/IX/2015 25 September 2015 Lampiran : satu berkas Perihal : Surat Edaran UN Perbaikan Tahun Pelajaran 2014/2015 Yang terhormat 1. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi 2. Kepala Kantor Wilayah

Lebih terperinci

Partnership Governance Index

Partnership Governance Index Partnership Governance Index Mengukur Tata Pemerintahan yang Demokratis Merupakan suatu kesepakatan di kalangan dan di antara akademisi dan praktisi internasional bahwa kualitas tata pemerintahan sangat

Lebih terperinci

KISI-KISI UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016

KISI-KISI UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Jenjang Pendidikan : SMPLB-ADE Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia KISI-KISI UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Level Kognitif Pengetahuan dan Pemahaman Mengidentifikasi Memaknai Menunjukkan bukti

Lebih terperinci

KISI-KISI UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH TAHUN PELAJARAN 2017/2018. Lingkup Materi. melengkapi istilah/kata dalam kalimat

KISI-KISI UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH TAHUN PELAJARAN 2017/2018. Lingkup Materi. melengkapi istilah/kata dalam kalimat KISI-KISI UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH TAHUN PELAJARAN 2017/2018 1. Bahasa Indonesia SMP/MTs pemahaman Mengidentifikasi Menentukan Memaknai Menggunakan konsep/prinsip Mengevaluasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang penting dilakukan suatu Negara untuk tujuan menghasilkan sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. yang penting dilakukan suatu Negara untuk tujuan menghasilkan sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan manusia merupakan salah satu syarat mutlak bagi kelangsungan hidup bangsa dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Menciptakan pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika merupakan hal yang sangat penting untuk dikembangkan. Sebagaimana tercantum pada paduan KTSP untuk pelajaran

Lebih terperinci

Perbandingan Nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Mata Pelajaran Matematika SMA Program IPA Tahun Pelajaran 2010/2011

Perbandingan Nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Mata Pelajaran Matematika SMA Program IPA Tahun Pelajaran 2010/2011 Perbandingan Nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Mata Pelajaran Matematika SMA Program IPA Tahun Pelajaran 2010/2011 Fahmi Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Eksplorasi Data Diagram kotak garis merupakan salah satu teknik untuk memberikan gambaran tentang lokasi pemusatan data, rentangan penyebaran, dan kemiringan pola sebaran. Gambaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Fisika adalah ilmu yang mempelajari gejala alam dan dijelaskan ke dalam bahasa matematika. Karakteristik ilmu fisika seperti Ilmu Pengetahuan Alam lainnya

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Assalamu alaikum Wr. Wb. Sambutan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Assalamu alaikum Wr. Wb. Sebuah kebijakan akan lebih menyentuh pada persoalan yang ada apabila dalam proses penyusunannya

Lebih terperinci

Perkembangan Indeks Produksi Triwulanan

Perkembangan Indeks Produksi Triwulanan KATALOG BPS : 6104008 Perkembangan Indeks Produksi Triwulanan INDUSTRI MIKRO DAN KECIL 2012-2014 BADAN PUSAT STATISTIK KATALOG BPS : 6104008 Perkembangan Indeks Produksi Triwulanan INDUSTRI MIKRO DAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 78 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 78 TAHUN 2008 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 78 TAHUN 2008 TENTANG UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH/SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA (SMP/MTs/SMPLB), SEKOLAH MENENGAH

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH

DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH Deskriptif Statistik RA/BA/TA dan Madrasah (MI, MTs, dan MA) A. Lembaga Pendataan RA/BA/TA dan Madrasah (MI, MTs dan MA) Tahun Pelajaran 2007/2008 mencakup 33

Lebih terperinci

No : 0067/SDAR/BSNP/I/ Januari 2016 Lampiran : satu berkas Perihal : Ujian Nasional bagi Peserta Didik pada Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK)

No : 0067/SDAR/BSNP/I/ Januari 2016 Lampiran : satu berkas Perihal : Ujian Nasional bagi Peserta Didik pada Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) No : 0067/SDAR/BSNP/I/2016 7 Januari 2016 Lampiran : satu berkas Perihal : Ujian Nasional bagi Peserta Didik pada Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) Yang terhormat: 1. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi 2.

Lebih terperinci

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota)

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) DISTRIBUSI PENCAPAIAN IPM PROVINSI TAHUN 2013 Tahun 2013 Tahun 2013 DKI DIY Sulut Kaltim Riau Kepri Kalteng Sumut Sumbar Kaltara Bengkulu Sumsel Jambi Babel

Lebih terperinci

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Konferensi Pers UN 2017 Jenjang SMP UN untuk memantau, mendorong dan meningkatkan mutu pembelajaran

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Konferensi Pers UN 2017 Jenjang SMP UN untuk memantau, mendorong dan meningkatkan mutu pembelajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Konferensi Pers UN 2017 Jenjang SMP UN untuk memantau, mendorong dan meningkatkan mutu pembelajaran 1.349.744 2.855.633 11.096 45.092 6.891 4.205 20.292 115.631 765

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Propinsi (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Propinsi (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada

Lebih terperinci

WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK)

WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK) WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK) KONSEP 1 Masyarakat Anak Pendidikan Masyarakat Pendidikan Anak Pendekatan Sektor Multisektoral Multisektoral Peserta Didik Pendidikan Peserta Didik Sektoral Diagram Venn:

Lebih terperinci

BAB II JAWA BARAT DALAM KONSTELASI NASIONAL

BAB II JAWA BARAT DALAM KONSTELASI NASIONAL BAB II JAWA BARAT DALAM KONSTELASI NASIONAL 2.1 Indeks Pembangunan Manusia beserta Komponennya Indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM; Human Development Index) merupakan salah satu indikator untuk mengukur

Lebih terperinci

Katalog BPS : Perkembangan Indeks Produksi Triwulanan. INDUSTRI MIKRO DAN KECIL BADAN PUSAT STATISTIK

Katalog BPS : Perkembangan Indeks Produksi Triwulanan.  INDUSTRI MIKRO DAN KECIL BADAN PUSAT STATISTIK Katalog BPS : 6104008 Perkembangan Indeks Produksi Triwulanan INDUSTRI MIKRO DAN KECIL 2014-2016 http://www.bps.go.id BADAN PUSAT STATISTIK Perkembangan Indeks Produksi Triwulanan INDUSTRI MIKRO DAN KECIL

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian akan dilaksanakan di 3 kecamatan di Kabupaten Kepulauan Anambas

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian akan dilaksanakan di 3 kecamatan di Kabupaten Kepulauan Anambas BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian akan dilaksanakan di 3 kecamatan di Kabupaten Kepulauan Anambas Propinsi Kepulauan Riau untuk mata pelajaran Ujian Nasional (UN) dengan

Lebih terperinci

HASIL UJIAN NASIONAL

HASIL UJIAN NASIONAL HASIL UJIAN NASIONAL (U N ) PROVINSI JAMBI TAHUN PELAJARAN 2014/2015 POKOK BAHASAN I. DASAR HUKUM, II. PENGERTIAN/TUJUAN PENYELENGGARAN UN III. PROSES PENDATAAN (DAPODIK), IV. HASIL UN V. INDEKS INTEGRITAS

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2006 TENTANG UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2006/2007

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2006 TENTANG UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2006/2007 SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2006 TENTANG UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2006/2007 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang

Lebih terperinci

Rapat Koordinasi Persiapan UN dan USBN

Rapat Koordinasi Persiapan UN dan USBN Rapat Koordinasi Persiapan UN dan USBN 22 Desember 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Kebijakan tentang Ujian Nasional dan Ujian Sekolah 2017 1. Ujian Nasional tetap dilaksanakan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rendah pada tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) atau

BAB I PENDAHULUAN. rendah pada tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) atau BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dilakukan melalui berbagai cara, salah satu di antaranya adalah dilaksanakannya Ujian Nasional (UN) pada jenjang

Lebih terperinci

PEDOMAN PENDATAAN NILAI RAPOR (SMP/MTs, SMA/MA, DAN SMK)

PEDOMAN PENDATAAN NILAI RAPOR (SMP/MTs, SMA/MA, DAN SMK) PEDOMAN PENDATAAN NILAI RAPOR (SMP/MTs, SMA/MA, DAN SMK) KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN 2012 Pedoman Pengelolaan Data Rapor Hal - 1 DAFTAR

Lebih terperinci

PENYUSUNAN LAPORAN HASIL BELAJAR (LHB) PESERTA DIDIK SMA

PENYUSUNAN LAPORAN HASIL BELAJAR (LHB) PESERTA DIDIK SMA PENYUSUNAN LAPORAN HASIL BELAJAR (LHB) PESERTA DIDIK SMA Departemen Pendidikan Nasional LAPORAN HASIL BELAJAR (LHB) Setiap akhir semester, guru menelaah hasil pencapaian belajar setiap peserta didik (semua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs.

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kemajuan suatu Negara. Semakin baik pendidikan di suatu Negara, maka Negara tersebut semakin baik pula. Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ujian Nasional merupakan salah satu standar kelulusan bagi siswa yang duduk di bangku sekolah, dimana tes tersebut dilakukan secara nasional pada jenjang pendidikan

Lebih terperinci

d. Anggota Koperasi adalah pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi serta tercatat dalam buku daftar anggota.

d. Anggota Koperasi adalah pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi serta tercatat dalam buku daftar anggota. PENGERTIAN DAN BATASAN a. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi

Lebih terperinci