2.2. Topografi - DEM - SRTM
|
|
|
- Hadi Iskandar
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 2 melebihi kapasitas. Luapan air sungai ini akan segera menggenangi daerah-daerah rendah yang berada di sekitar sungai (floodplain). Selain curah hujan, keadaan fisiografis daerah tangkapan terutama ketinggian, kemiringan dan jenis tutupan vegetasi akan menentukan kerawanan wilayah tersebut untuk mengalami penggenangan (inundation) (Rodda J 1974). Daerah dengan nilai elevasi tinggi mempunyai kecenderungan yang kecil untuk mengalami banjir karena air akan segera mengalir ke daerah yang lebih rendah dibawahnya. Sedangkan kemiringan lahan berpengaruh ketika menangkap masukan air, air yang datang pada lahan dengan kemiringan curam hanya memiliki sedikit waktu untuk proses infiltrasi ke dalam tanah sehingga sebagian besar air akan lolos dalam bentuk limpasan dibanding permukaan lahan yang datar atau landai. Jenis penutupan lahan dengan vegetasi rapat memiliki kemampuan menahan air dengan menyerap air ke dalam tanah dan menghambat proses limpasan, sedangkan permukaan daerah urban kebal terhadap air dengan drainase yang jarang didesain untuk mampu menampung banjir. Selain itu permeabilitas tanah yang menunjukkan kemampuan tanah untuk melalukan air dalam bentuk infiltrasi juga memiliki pengaruh dimana tanah dengan kecepatan permeabilitas lambat akan mendukung terjadinya penggenangan. Salah satu tahapan dalam proses analisis kerawanan yaitu identifikasi wilayah yang rawan terhadap bencana dan populasi yang yang mungkin terkena dampak bencana (Pine 2009). Dengan mengetahui tingkat kerawanan suatu wilayah terhadap banjir maka dapat dicegah dengan tidak menggunakan wilayah tersebut untuk kegiatan produksi agrikultur, pemukiman atau kegiatan manusia lainnya. Oleh karena itu informasi kerawanan banjir dapat sangat bermanfaat jika diterapkan dalam pengambilan keputusan dalam perencanaan tata guna lahan. Jika wilayah tersebut tetap akan digunakan untuk kegiatan agrikultur, informasi ini dapat digunakan untuk kontrol dan manajemen banjir untuk mendukung kesiapan dalam antisipasi kejadian banjir seperti persiapan pengalihan banjir, atau penanaman varietas yang tahan terhadap rendaman Topografi - DEM - SRTM Topografi adalah karakteristik suatu permukaan atau disebut relief. Untuk wilayah daratan yang dimaksud adalah bukit, lembah dan dataran yang menyusun daratan tersebut. Dengan demikian yang diperhitungkan adalah ketinggian dari masing-masing lokasi. Pengetahuan mengenai bentuk permukaan bumi diperlukan dalam berbagai aplikasi salah satunya yaitu dalam pemodelan hidrologi dan limpasan permukaan. Topografi memiliki peranan penting dalam distribusi dan fluks aliran air baik dalam sistem natural atau buatan manusia (Bedient dan Huber 2002). Topografi suatu permukaan daratan dalam SIG dapat disajikan dengan data elevasi digital. Terdapat dua parameter medan yang bisa dihasilkan dari data elevasi yaitu slope dan aspek. Slope didefinisikan sebagai laju perubahan ketinggian untuk setiap jarak horizontal, biasa diukur dalam persen atau derajat. Sementara aspek adalah arah sudut horizontal dan vertikal permukaan menghadap. Data elevasi digital adalah kumpulan hasil pengukuran elevasi untuk lokasi-lokasi yang terdistribusi pada permukaan daratan. Berbagai istilah digunakan dalam maksud yg sama seperti Digital Terrain Data (DTD), Digital Terrain Models (DTM), Digital Elevation Model (DEM) dan Digital Terrain Elevation Data (DTED). Beberapa metode dapat digunakan untuk menghasilkan data DEM seperti yang dilakukan oleh USGS yaitu menggunakan metode fotogrametri stereomodel atau melalui citra penginderaan jauh satelit. Metode dalam mengambil dan menyimpan data elevasi digital dikategorikan menjadi empat : grid, kontur, profil dan TIN (Triangulated Irregular Network). Data DEM biasa disajikan dalam format grid dimana terdapat satu nilai elevasi untuk setiap wilayah berjarak sama atau disebut dengan grid cells (Aronoff 1989). SRTM (Shuttle Radar Topographic Mission) merupakan misi kerjasama NGA (National Geospatial-Intelligence Agency) dengan NASA (National Aeronautics and Space Administration) dalam pemetaan tiga dimensi permukaan bumi dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh sensor aktif, yaitu menggunakan sistem radar interferometrik yang diterbangkan oleh Space Shuttle Endeavor (STS-99) pada Februari 2000 (Rodriguez et al 2005). Dua sistem radar interferometrik, yaitu X-band dan C-band mengorbit dan memetakan bumi
2 3 selama 11 hari dan merekam data yang kemudian diolah oleh JPL (Jet Propulsion Laboratory) untuk menghasilkan produk data topografi dengan cakupan wilayah diantara 60 o lintang utara dan selatan atau sekitar 80% dari permukaan daratan bumi. Jenis data SRTM yaitu berupa grid, dan jenis grid yang digunakan yaitu ortogonal dimana ukuran sel grid tidak dinyatakan dalam satuan jarak sebenarnya (meter atau kaki) namun dalam lintang dan bujur, keduanya didefinisikan menggunakan istilah arc-seconds, arcminutes, dan lainnya. Ukuran satu arcsecond pada daerah ekuator memiliki jarak yang hampir sama, semakin menjauh dari ekuator ukuran satu arc-second longitude / bujur semakin menyempit. Pengaturan jarak sample pada set data SRTM utama yaitu 1 arc-second lintang dan bujur (sekitar 30m di ekuator). Dengan persetujuan NGA dan NASA produk ini didistribusikan dengan secara terbatas. Produk kedua dengan pengaturan jarak 3 arc-second dihasilkan dengan merata-ratakan data 1 arc-second dan tersedia untuk di download atau dipesan oleh publik (Becek 2008). Data DEM tersebut berupa data integer 16-bit signed dalam raster biner sederhana. Tidak terdapat header atau trailer yang tercantum dalam citra Curah Hujan - TRMM Curah hujan sebagai salah satu bentuk presipitasi merupakan komponen utama iklim bumi. Terbentuknya presipitasi melalui kondensasi uap air akan melepaskan panas laten ke atmosfer yang akan menjadi penggerak sirkulasi armosfer bumi. Namun pengaruh curah hujan tidak terbatas hanya pada sistem iklim bumi tapi juga terhadap siklus air dan kehidupan manusia. Curah hujan dapat digunakan sebagai masukan dalam perhitungan menyangkut permasalahan di bidang hidrologi (Linsley et al 1980). Selain itu presipitasi adalah sumber air utama bagi hampir seluruh penduduk dunia, bahkan hanya sedikit perubahan dapat sangat berpengaruh pada kehidupan seharihari manusia. Meteorologi adalah dasar yang tidak dapat dipisahkan dalam kajian hidrologi. Pengetahuan dasar mengenai meteorologi dan hidrologi memiliki cakupan penerapan yang luas seperti prediksi hujan dan banjir, kontrol sungai dan mengatasi masalah sumberdaya air. Indonesia memiliki iklim monsoon yaitu iklim dengan dua musim, musim basah/hujan serta musim kering/kemarau yang saling bergilir sepanjang tahun. Posisi Indonesia terletak di daerah tropis yang merupakan tempat terjadinya konveksi secara besar-besaran. Tingginya kandungan uap air yang didukung dengan faktor-faktor lainnya menyebabkan tingginya rata-rata curah hujan di daerah Indonesia (Handoko 1995). Informasi intensitas dan durasi curah hujan diperlukan untuk menentukan respon dari daerah aliran sungai terhadap hujan. Secara umum pengukuran curah hujan dan intensitas curah hujan telah dilakukan menggunakan penakar hujan di permukaan. Namun dikarenakan berbagai permasalahan seperti biaya pendirian dan operasional yang tinggi, terbatasnya kemampuan pengamatan untuk daerah pegunungan, dan kemungkinan tidak tercatatnya data maka mulai dikembangkan metode baru pendugaan curah hujan memanfaatkan yang teknologi berbasis satelit / spaceborne (Sene 2010) Satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) diluncurkan pada November 1997 untuk memenuhi kebutuhan akan data hujan global khususnya di daerah tropis. Dalam NASA (2011) disebutkan bahwa TRMM dibekali dengan sensor PR (Precipitation Radar) yang merupakan radar presipitasi antariksa yang pertama dibuat, sensor ini dapat memantau distribusi presipitasi secara tiga dimensi di atas daratan maupun lautan. Sensor yang kedua yaitu TMI (TRMM Microwave Imager) yang dapat menghasilkan data berupa integrated column precipitation content, air cair dalam awan (could liquid water), es dalam awan (cloud ice), intensitas hujan dan tipe hujan. Sensor VIRS (Visible and Infrared Scanner) memiliki fungsi untuk memantau liputan awan, jenis awan dan temperatur puncak awan. Sensor lainnya yaitu LIS (Lightning Imaging Sensor) dan CERES (Cloud and Earth s Radiant Energy System). Data Hujan yang dihasilkan oleh TRMM memiliki tipe dan tingkatan yang beragam yang dimulai dari level 1 hingga level 3. Data level 1 merupakan data mentah (raw) yang telah dikalibrasi dan terkoreksi geometrik. Level 2 merupakan data yang telah berupa gambaran parameter geofisik hujan pada resolusi spasial yang sama akan tetapi masih dalam kondisi asli keadaan hujan saat satelit melewati daerah yang direkam. Data level 3 sudah memiliki nilainilai hujan, khususnya kondisi hujan bulanan yang merupakan penggabungan dari data
3 4 level 2. Untuk mendapatkan data hujan dalam bentuk milimeter (mm) sebaiknya menggunakan level 3 dengan resolusi spasial 0,25 o x0,25 o dan resolusi temporal 3 jam. Pada akhirnya data TRMM akan digabungkan dengan hasil pengukuran satelit-satelit lain untuk menghasilkan produk TRMM Multisatellite Precipitation Analysis (TMPA) yang memiliki tingkat keakurasian yang lebih baik (NASDA 2001) Tekstur Tanah Komposisi umum bahan penyusun tanah terdiri dari mineral, bahan organik, kelembaban tanah, dan udara. Terdapat tiga macam klasifikasi ukuran partikel tanah yaitu pasir (sand) > 0,05 mm, lempung (silt) 0,002 0,05 mm dan liat (clay) < 0,002 mm. Berbagai komposisi dari ketiga jenis partikel ini akan membentuk kelas tekstur tanah. Tekstur tanah merupakan salah satu kondisi fisiografis yang mempengaruhi limpasan permukaan selain dari kelerengan dan ketinggian (Sharp & Sawden 1984). Tanah dengan kandungan liat tinggi disebut bertekstur halus, sebaliknya jika kandungan pasir tinggi maka disebut bertekstur kasar. Tekstur tanah akan berpengaruh pada porositas, struktur dan permeabilitas tanah. Semakin halus partikel tanah semakin banyak pori yang terbentuk menyebabkan tanah mudah menahan air / impermeabel, sedangkan semakin kasar tekstur tanah maka tanah akan mudah kehilangan air. Dalam hubungannya dengan siklus hidrologi, yaitu ketika presipitasi jatuh pada permukaan tanah, air mungkin akan diserap ke dalam tanah atau akan mengalir sebagai limpasan di atas permukaan. Bagaimana respon air hujan ketika menyentuh permukaan tanah ditentukan oleh sifat horizon permukaan tanah itu sendiri. Laju infiltrasi tergantung pada sifat fisik tanah terutama permeabilitas. Permeabilitas tanah mengatur proses pembasahan tanah dan neraca air, termasuk limpasan permukaan. Semakin tinggi kandungan liat akan menyebabkan semakin rendahnya permeabilitas, sebaliknya semakin tinggi porositas akan meningkatkan permeabilitas. Faktor lainnya yaitu kandungan air tanah, tanah yang telah jenuh oleh air akan menghambat proses infiltrasi. Perbedaan sifat tanah pada setiap lapisannya berakibat pada berbedanya nilai permeabilitas pada setiap kedalaman (Pitty 1979). Komputasi limpasan langsung memerlukan nilai estimasi karakteristik infiltrasi pada berbagai jenis tanah pada area drainase. Peta tanah yang menggambarkan sifat-sifat tanah merupakan sumber data utama bagi pendugaan infiltrasi. Satuan pemetaan tanah (soil-mapping unit) adalah satuan terkecil dalam peta tanah yang dapat diberikan informasi sifat-sifat tanah (Bedient & Huber 2002). Beberapa penyesuaian harus dilakukan jika mengestimasi infiltrasi berdasarkan database tanah yang digeneralisasi bagi pemodelan hidrologi. Untuk memperoleh parameter-parameter infiltrasi dari sifat tanah membutuhkan reklasifikasi dari soil mapping unit menjadi parameter yang berarti bagi model hidrologi Tutupan lahan (land-cover) Menurut Ward dan Elliot (1985) pengaruh jenis penggunaan lahan dan tutupan vegetasi terhadap infiltrasi dikategorikan sebagai kondisi permukaan (soil-surface), berlainan halnya dengan kondisi tekstur tanah yang merupakan kondisi bawah permukaan (sub-surface). Jenis tutupan lahan akan mempengaruhi laju infiltrasi air hujan. Respon curah hujan yang jatuh di permukaan akan ditentukan pertama oleh jenis permukaan baru kemudian oleh kondisi fisik dari lapisan tanah. Limpasan permukaan merupakan fenomena yang terjadi ketika intensitas hujan melampaui kecepatan air untuk penetrasi ke dalam water table atau disebut dengan kapasitas infiltrasi. Faktor yang mempengaruhi limpasan terbagi dua yaitu klimatologis dan fisiografis (Sharp & Shawden 1984). Faktor klimatologis berupa masukan hujan, curah hujan yang tinggi dalam periode singkat akan menyebabkan segera terlampauinya kapasitas infistrasi sehingga air akan banyak melimpas menuju aliran sungai menyebabkan semakin tingginya debit yang berakibat pada banjir. Sementara faktor fisiografis meliputi jenis tanah dan kondisi permukaan DAS yang berpengaruh langsung pada kapasitas infiltrasi. Permukaan dengan tutupan vegetasi akan mempengaruhi transpirasi dan intersepsi, sehingga diketahui secara umum bahwa limpasan pada daerah hutan jauh lebih kecil dibanding daerah agrikultur atau terbangun. Dibandingkan dengan daerah lahan terbuka, daerah bervegetasi memiliki kemampuan untuk mengurangi limpasan permukaan. Vegetasi meningkatkan struktur tanah dan megurangi kandungan air tanah sehingga meningkatkan jumlah air yang dapat terinfiltrasi. Pepohonan dan tanaman
4 5 berakar dalam biasanya mengkonsumsi lebih banyak air tanah melalui evepotranspirasi dibanding tanaman berakar dangkal, demikian limpasan di daerah tersebut menjadi lebih sedikit (Ward & Elliot 1995) Penginderaan Jauh (Remote Sensing) Penginderaan jauh (remote sensing) dapat didefinisikan sebagai ilmu dan seni dalam mendapatkan informasi mengenai berbagai objek atau fenomena tanpa melakukan kontak fisik dengan objek atau fenomena tersebut (Aronoff 1989). Berbagai teknik yang digunakan dalam penginderaan jauh dapat dibagi berdasarkan tipe platform / wahana yang digunakan yaitu satelit, pesawat terbang, balon terbang, dan lainnya. Beberapa metode remote sensing yang biasa digunakan yaitu fotografi udara, pencitraan satelit, radar serta lidar. Metode-metode penginderaan jauh tersebut memanfaatkan sebagian dari spektrum elektromagnetik yang dipancarkan atau direfleksikan oleh sasaran yang berada di permukaan. Spektrum elektromagnetik yang biasa digunakan meliputi spektrum tampak, inframerah dekat, inframerah termal, gelombang mikro dan radio. Sensor pada berbagai wahana penginderaan jauh terdiri dari detektor berfungsi untuk merekam serta sensitif terhadap spektrum gelombang elektromagnetik tertentu. Terkait dengan sensornya, penginderaan jauh terbagi menjadi dua yaitu satelit aktif dan pasif. Sensor pasif yaitu sensor yang merekam pantulan atau radiasi yang bersumber dari matahari, sementara sensor aktif memiliki kemampuan memancarkan gelombang yang kemudian pantulannya akan direkam kembali oleh sensor. Berdasarkan domain spektrum elektromagnetik yang digunakan, penginderaan jauh dibedakan menjadi : visible dan reflektif, thermal infrared dan microwave (Prahasta 2008). Tipe pertama memanfaatkan pantulan radiasi matahari oleh objek di permukaan, tipe kedua menangkap radiasi yang dipancarkan sendiri oleh objek dengan suhu lebih besar dari 0 K, sementara tipe ketiga terbagi menjadi dua macam yaitu penginderaan jauh microwave aktif dan pasif. Sensor-sensor yang telah dikembangkan dalam penginderaan jauh memberikan berbagai jenis masukan data yang memungkinkan bagi integrasi dan perpaduan untuk pemanfaatan dalam berbagai aplikasi seperti dalam manajemen bencana alam. Tahap-tahap dalam manajemen bencana tersebut terbagi menjadi : pendugaan kerawanan, peringatan dini, mitigasi bencana, respon, pendugaan kerugian serta pemulihan. Sinergi aplikasi antara sensor resolusi rendah dengan resolusi tinggi serta data real-time dengan data arsip memungkinkan kombinasi antar resolusi spasial, temporal dan radiometrik yang berbeda untuk menentukan nilai trend dan area-area yang rawan dan menduga nilai kerawanan dan skenario yang mungkin terjadi (Nayak & Zlatanova 2008) Sistem Informasi Geografis (SIG) Sistem informasi adalah serangkaian operasi berawal dari perencanaan pengambilan data, penyimpanan dan analisis data, hingga pembuatan keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh. Sedangkan geografi adalah bidang keilmuan yang mengkaji hubungan-hubungan spasial baik objek maupun fenomena. Berdasar konsep diatas Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem informasi yang didesain untuk bekerja dengan data yang memiliki referensi spasial atau koordinat geografis (Star & Estes 1990). Dalam konteks ini sebuah peta merupakan sejenis sistem informasi yang menyajikan gambaran hubungan-hubungan spasial dari data-data yang tersimpan didalamnya. Data yang dapat dimasukkan kedalam lingkup SIG terdiri dari dua macam yaitu data spasial dan data atribut (non-spasial). Data spasial menunjukkan lokasi geografis dari fitur-fitur (features), sedangkan atribut memberikan informasi mengenai fitur-fitur tersebut. Fitur adalah istilah yang mengacu pada informasi yang disematkan pada peta. Fitur dapat berupa titik (point), garis (line) atau area. Untuk mencocokkan posisi data spasial agar yang berada pada lokasi tertentu pada permukaan bumi diperlukan proses georeferensi. Serangkaian kemampuan SIG dalam menangani data yang telah memiliki georeferensi yaitu dalam input, manajemen data, analisis dan manipulasi, serta output (Aronoff 1989). SIG memungkinkan integrasi antar data yang diperoleh dari perpustakaan, laboratorium, dan studi lapang dengan data penginderaan jauh. Penginderaan jauh sendiri merupakan input yang penting bagi SIG karena dapat menyediakan berbagai jenis data masukan bagi SIG dengan resolusi
5 6 spasial dan temporal kian membaik, dengan demikian informasi yang dapat dihasilkan dan cakupan aplikasipun menjadi semakin beragam. Sebagai contoh dalam bidang hidrologi beberapa data yang biasa digunakan sebagai masukan bagi SIG yaitu topografi, tanah, penggunaan lahan, dan presipitasi dapat direpresentasikan secara dijital oleh SIG untuk keperluan aplikasi seperti untuk penentuan daerah aliran sungai, estimasi limpasan, pemodelan hidrolik, dan pemetaan dataran banjir (floodplain) (Bedient & Huber 2002). III. METODOLOGI 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hidrometeorologi, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor selama periode April hingga Desember Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat komputer dengan software Microsoft Excel 2010, ERMapper 7.1, ENVI 4.5, dan ArcGis 9.3 untuk pengolahan data-data serta Microsoft Word 2010 dalam penyusunan tulisan. Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi : Data elevasi digital Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM) v4.1 yang dapat diperoleh melalui salah satu interface download resmi yaitu pada situs Data DEM SRTM tersebut tersedia untuk di download dalam grid 5 o x 5 o (seleksi meliputi Lintang 5 o S - 10 o S dan Bujur 105 o E E) dengan resolusi 3 arc second (sekitar 90m) menggunakan sistem koordinat geografis dan datum WGS84. Data ini tersedia dalam format Arcinfo ASCII dan GeoTiff. Data Intensitas Hujan TRMM Multisatellite Precipitation Analysis (TMPA) Version 6 3B42 : three-hourly combined microwave-ir estimates. Dataset ini memuat parameter intensitas hujan (rain rate) dalam satuan mm/jam dengan resolusi temporal 3-jam dan resolusi spasial 0,25 o atau sekitar 27 km. Periode data yang di download yaitu bulan Februari dan Desember Data dapat didownload melalui website resmi TRMM yaitu tml. Data yang dipakai yaitu data keluaran GES DISC DAAC (Goddard Earth Sciences Data and Information Services Centre - Distributed Active Archive System). Format data yang disediakan yaitu binary (.bin), Hierarchical Data Files (.hdf) dan netcdf. Citra tutupan lahan regional hasil klasifikasi oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menggunakan citra Landsat 7 (ETM+) kanal 1, 2, 3, 4, 5, dan 7. Citra yang digunakan untuk proses klasifikasi adalah citra tahun Peta Satuan Lahan tahun 1990 dengan skala 1: yang dibuat oleh PUSLITANAK bersumber dari Skripsi oleh Wiujianna A (2005). Data kejadian bencana alam banjir dan longsor periode tahun 2007 yang diperoleh dari Departemen Pertanian Wilayah Kajian Kabupaten Indramayu secara geografis berada pada ' ' BT dan 6 15'-6 40' LS. Bentuk tofografinya sebagian besar merupakan dataran atau daerah landai dengan kemiringan tanahnya rata-rata 0-2 %. Luas total Kabupaten Indramayu yang tercatat adalah seluas ha. Menurut data SIG Bapeda Kabupaten Indramayu, pola penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Indramayu terdiri dari Sawah Irigasi Ha (59,50%); Sawah tadah hujan ha (06,09%); Perkebunan ha (15,75%); Pemukiman ha (08,81%); Empang ha (06.18%); lainnya ha (03,67%). Curah hujan rata-rata tahunan mm pertahun dengan jumlah hari hujan 91 hari. Kabupaten Indramayu merupakan daerah hilir dari aliran sungai yang sangat potensial sebagai sumber air bagi kebutuhan petanian, industri maupun bahan baku air bersih. Disaat yang sama hal tersebut menyebabkan wilayah ini sering mengalami banjir Metode Penelitian Metode penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahapan utama yaitu pembangunan basis data, analisis data dan perbandingan hasil akhir dengan data banjir aktual yang dapat dilihat pada Lampiran 5. Penggunaan parameter banjir, pembagian kriteria, skoring, serta pembobotan
BAB I PENDAHULUAN. yang masuk ke sebuah kawasan tertentu yang sangat lebih tinggi dari pada biasa,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banjir merupakan sebuah fenomena yang dapat dijelaskan sebagai volume air yang masuk ke sebuah kawasan tertentu yang sangat lebih tinggi dari pada biasa, termasuk genangan
I PENDAHULUAN II TINJAUAN PUSTAKA
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Curah hujan merupakan unsur meteorologi yang mempunyai variasi tinggi dalam skala ruang dan waktu sehingga paling sulit untuk diprediksi. Akan tetapi, informasi curah
Aplikasi microwave pada Satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) Microwave Imagener untuk mengukur curah hujan 2012
GELOMBANG OPTIK Aplikasi microwave pada Satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) Microwave Imagener untuk mengukur curah hujan Oleh : KOMANG SUARDIKA 0913201034 Kelas : VIC JURUSAN PENDIDIKAN
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Saat ini peta telah menjadi salah satu kebutuhan utama bagi masyarakat. Peta memuat informasi spasial yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi suatu objek di
ANALISA DAERAH POTENSI BANJIR DI PULAU SUMATERA, JAWA DAN KALIMANTAN MENGGUNAKAN CITRA AVHRR/NOAA-16
ANALISA DAERAH POTENSI BANJIR DI PULAU SUMATERA, JAWA DAN KALIMANTAN MENGGUNAKAN CITRA AVHRR/NOAA-16 Any Zubaidah 1, Suwarsono 1, dan Rina Purwaningsih 1 1 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di bumi terdapat kira-kira 1,3 1,4 milyar km³ air : 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah,
BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Peta Lokasi Penelitian
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat (Gambar 1). Penelitian dimulai dari bulan Juli 2010 sampai Januari
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Banjir 2.2 Tipologi Kawasan Rawan Banjir
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Banjir Banjir merupakan salah satu fenomena alam yang sering terjadi di berbagai wilayah. Richard (1995 dalam Suherlan 2001) mengartikan banjir dalam dua pengertian, yaitu : 1)
III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sejak Juli 2010 sampai dengan Mei 2011. Lokasi penelitian terletak di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Pengolahan
1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanfaatan penggunaan lahan akhir-akhir ini semakin mengalami peningkatan. Kecenderungan peningkatan penggunaan lahan dalam sektor permukiman dan industri mengakibatkan
II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kekeringan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kekeringan Kekeringan (drought) secara umum bisa didefinisikan sebagai kurangnya persediaan air atau kelembaban yang bersifat sementara secara signifikan di bawah normal atau volume
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Remote Sensing (Penginderaan Jauh)
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Remote Sensing (Penginderaan Jauh) Remote Sensing didefinisikan sebagai ilmu untuk mendapatkan informasi mengenai obyek-obyek pada permukaan bumi dengan analisis data yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan menegaskan bahwa air beserta sumber-sumbernya, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Hidrologi sebagai cabang ilmu yang basisnya adalah pengukuran Fenomena Alam, dihadapkan pada tantangan bagaimana memodelkan atau memprediksi proses hidrologi pada
2 BAB II TEORI DASAR
2 BAB II TEORI DASAR 2.1 Awan Konvektif Di wilayah tropis, sebagian besar hujan umumnya dihasilkan oleh awan-awan cumulus. Awan jenis ini tumbuh karena terjadi karena adanya konveksi, yaitu naiknya udara
II. TINJAUAN PUSTAKA. panas serta biasanya menghabiskan bahan bakar hutan seperti serasah, tumbuhan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebakaran Hutan Kebakaran hutan secara umum merupakan kejadian alam dari proses reaksi secara cepat dari oksigen dengan karbohidrat (bahan bakar hutan) ditandai dengan panas serta
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada akhir tahun 2013 hingga awal tahun 2014 Indonesia dilanda berbagai bencana alam meliputi banjir, tanah longsor, amblesan tanah, erupsi gunung api, dan gempa bumi
Gambar 1.1 Siklus Hidrologi (Kurkura, 2011)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air merupakan kebutuhan yang mutlak bagi setiap makhluk hidup di permukaan bumi. Seiring dengan pertambahan penduduk kebutuhan air pun meningkat. Namun, sekarang
PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Curah hujan merupakan salah satu parameter atmosfer yang sulit untuk diprediksi karena mempunyai keragaman tinggi baik secara ruang maupun waktu. Demikian halnya dengan
IDENTIFIKASI PERUBAHAN DISTRIBUSI CURAH HUJAN DI INDONESIA AKIBAT DARI PENGARUH PERUBAHAN IKLIM GLOBAL
IDENTIFIKASI PERUBAHAN DISTRIBUSI CURAH HUJAN DI INDONESIA AKIBAT DARI PENGARUH PERUBAHAN IKLIM GLOBAL Krismianto Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Jl.
Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana alam tampak semakin meningkat dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh proses alam maupun manusia itu sendiri. Kerugian langsung berupa korban jiwa, harta
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumatera Utara memiliki luas total sebesar 181.860,65 Km² yang terdiri dari luas daratan sebesar 71.680,68 Km² atau 3,73 % dari luas wilayah Republik Indonesia. Secara
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Hujan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Hujan Curah hujan adalah volume air yang jatuh pada suatu areal tertentu (Arsyad, 2010). Menurut Tjasyono (2004), curah hujan yaitu jumlah air hujan yang turun pada
TUGAS UTS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR DI SAMARINDA
TUGAS UTS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR DI SAMARINDA Oleh 1207055018 Nur Aini 1207055040 Nur Kholifah ILMU KOMPUTER FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS MULAWARMAN
KAJIAN KAWASAN RAWAN BANJIR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DI DAS TAMALATE
KAJIAN KAWASAN RAWAN BANJIR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DI DAS TAMALATE 1 Cindy Tsasil Lasulika, Nawir Sune, Nurfaika Jurusan Pendidikan Fisika F.MIPA Universitas Negeri Gorontalo e-mail:
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Posisi Indonesia berada di daerah tropis mengakibatkan hampir sepanjang tahun selalu diliputi awan. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan citra optik untuk menghasilkan
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 TINJAUAN UMUM SUB-DAS CITARIK
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 TINJAUAN UMUM SUB-DAS CITARIK DAS Citarum merupakan DAS terpanjang terbesar di Jawa Barat dengan area pengairan meliputi Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Bekasi, Cianjur, Indramayu,
PENDUGAAN PARAMETER UPTAKE ROOT MENGGUNAKAN MODEL TANGKI. Oleh : FIRDAUS NURHAYATI F
PENDUGAAN PARAMETER UPTAKE ROOT MENGGUNAKAN MODEL TANGKI Oleh : FIRDAUS NURHAYATI F14104021 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 1 PENDUGAAN PARAMETER UPTAKE ROOT MENGGUNAKAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kondisi Umum Daerah aliran sungai (DAS) Cilamaya secara geografis terletak pada 107 0 31 107 0 41 BT dan 06 0 12-06 0 44 LS. Sub DAS Cilamaya mempunyai luas sebesar ± 33591.29
HIDROSFER I. Tujuan Pembelajaran
KTSP & K-13 Kelas X Geografi HIDROSFER I Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami pengertian hidrosfer dan siklus hidrologi.
TINJAUAN PUSTAKA. lahan dengan data satelit penginderaan jauh makin tinggi akurasi hasil
4 TINJAUAN PUSTAKA Makin banyak informasi yang dipergunakan dalam klasifikasi penutup lahan dengan data satelit penginderaan jauh makin tinggi akurasi hasil klasifikasinya. Menggunakan informasi multi
ISTILAH DI NEGARA LAIN
Geografi PENGERTIAN Ilmu atau seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek
Pemodelan Hidrologi Untuk Identifikasi Daerah Rawan Banjir Di Sebagian Wilayah Surakarta Menggunakan SIG
Pemodelan Hidrologi Untuk Identifikasi Daerah Rawan Banjir Di Sebagian Wilayah Surakarta Menggunakan SIG Puguh Dwi Raharjo [email protected] Floods in Surakarta is seldom before all, this caused
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lahan merupakan bagian bentang alam (landscape) yang mencakup komponen fisik yang terdiri dari iklim, topografi (relief), hidrologi dan keadaan vegetasi alami (natural
Tujuan. Model Data pada SIG. Arna fariza. Mengerti sumber data dan model data spasial Mengerti perbedaan data Raster dan Vektor 4/7/2016
Model Data pada SIG Arna fariza Politeknik elektronika negeri surabaya Tujuan Mengerti sumber data dan model data spasial Mengerti perbedaan data Raster dan Vektor 1 Materi Sumber data spasial Klasifikasi
ABSTRAK PENDAHULUAN. Desi Etika Sari 1, Sigit Heru Murti 2 1 D3 PJ dan SIG Fakultas Geografi UGM.
APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK PEMETAAN ZONA RAWAN BANJIR DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI CELENG KECAMATAN IMOGIRI KABUPATEN BANTUL Desi Etika Sari 1, Sigit Heru Murti 2 1 D3
ULANGAN HARIAN PENGINDERAAN JAUH
ULANGAN HARIAN PENGINDERAAN JAUH 01. Teknologi yang terkait dengan pengamatan permukaan bumi dalam jangkauan yang sangat luas untuk mendapatkan informasi tentang objek dipermukaan bumi tanpa bersentuhan
Analisis DEM SRTM untuk Penilaian Kesesuaian Lahan Kopi dan Kakao: Studi Kasus di Kabupaten Manggarai Timur. Ari Wahono 1)
Analisis DEM SRTM untuk Penilaian Kesesuaian Lahan Kopi dan Kakao: Studi Kasus di Kabupaten Manggarai Timur Ari Wahono 1) 1) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118
4. PERUBAHAN PENUTUP LAHAN
4. PERUBAHAN PENUTUP LAHAN 4.1. Latar Belakang Sebagaimana diuraikan terdahulu (Bab 1), DAS merupakan suatu ekosistem yang salah satu komponen penyusunannya adalah vegetasi terutama berupa hutan dan perkebunan
BAB III METODE PENELITIAN
13 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-September 2011, dengan lokasi penelitian untuk pengamatan dan pengambilan data di Kabupaten Bogor, Jawa
3/17/2011. Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografis Pendahuluan Data yang mengendalikan SIG adalah data spasial. Setiap fungsionalitasyang g membuat SIG dibedakan dari lingkungan analisis lainnya adalah karena berakar pada keaslian
PENDAHULUAN. tempat air hujan menjadi aliran permukaan dan menjadi aliran sungai yang
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan daerah permukaan bumi sebagai tempat air hujan menjadi aliran permukaan dan menjadi aliran sungai yang mempunyai
BAB I PENDAHULUAN. pada radius 4 kilometer dari bibir kawah. (http://berita.plasa.msn.com
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gunung Sinabung terus menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanologi. Awan hitam dan erupsi terus terjadi, 5.576 warga dievakuasi. Evakuasi diberlakukan setelah pada
SENSOR DAN PLATFORM. Kuliah ketiga ICD
SENSOR DAN PLATFORM Kuliah ketiga ICD SENSOR Sensor adalah : alat perekam obyek bumi. Dipasang pada wahana (platform) Bertugas untuk merekam radiasi elektromagnetik yang merupakan hasil interaksi antara
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lahan dan Penggunaan Lahan Pengertian Lahan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lahan dan Penggunaan Lahan 2.1.1 Pengertian Lahan Pengertian lahan tidak sama dengan tanah, tanah adalah benda alami yang heterogen dan dinamis, merupakan interaksi hasil kerja
TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,
TINJAUAN PUSTAKA Cagar Alam Dolok Sibual-buali Berdasarkan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Hutan Suaka Alam ialah kawasan hutan yang karena sifatnya diperuntukkan secara khusus untuk
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kompilasi dan Kontrol Kualitas Data Radar Cuaca C-Band Doppler (CDR) Teknologi mutakhir pada radar cuaca sangat berguna dalam bidang Meteorologi untuk menduga intensitas curah
TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN
TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 10 SUMBERDAYA LAHAN Sumberdaya Lahan Lahan dapat didefinisikan sebagai suatu ruang di permukaan bumi yang secara alamiah dibatasi oleh sifat-sifat fisik serta bentuk
3 METODE PENELITIAN. Gambar 7. Peta Lokasi Penelitian
18 3 METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2010 hingga Juni 2011 dengan lokasi penelitian yaitu Perairan Selat Makassar pada posisi 01 o 00'00" 07 o 50'07"
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang mempunyai permasalahan dalam mengelola tata ruang. Permasalahan-permasalahan tata ruang tersebut juga timbul karena penduduk
Gambar 2. Peta Batas DAS Cimadur
11 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian DAS, Banten merupakan wilayah yang diambil sebagai daerah penelitian (Gambar 2). Analisis data dilakukan di Laboratorium Penginderaan Jauh
θ t = θ t-1 + P t - (ETa t + Ro t ) (6) sehingga diperoleh (persamaan 7). ETa t + Ro t = θ t-1 - θ t + P t. (7)
7 Persamaan-persamaan tersebut kemudian dikonversi menjadi persamaan volumetrik (Persamaan 5) yang digunakan untuk mendapatkan nilai kadar air tanah dalam % volume. 3.3.5 Pengukuran Curah Hujan dan Tinggi
BAB I PENDAHULUAN Perumusan Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan jumlah penduduk yang cukup tinggi di dunia khususnya Indonesia memiliki banyak dampak. Dampak yang paling mudah dijumpai adalah kekurangan lahan. Hal
Indeks Vegetasi Bentuk komputasi nilai-nilai indeks vegetasi matematis dapat dinyatakan sebagai berikut :
Indeks Vegetasi Bentuk komputasi nilai-nilai indeks vegetasi matematis dapat dinyatakan sebagai berikut : NDVI=(band4 band3)/(band4+band3).18 Nilai-nilai indeks vegetasi di deteksi oleh instrument pada
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak tahun 1980-an para peneliti meteorologi meyakini bahwa akan terjadi beberapa penyimpangan iklim global, baik secara spasial maupun temporal. Kenaikan temperatur
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan mulai bulan Febuari 2009 sampai Januari 2010, mengambil lokasi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengolahan dan Analisis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penginderaan Jauh Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan
Gambar 7. Lokasi Penelitian
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat sebagai daerah penelitian yang terletak pada 6 56'49''-7 45'00'' Lintang Selatan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permukaan bumi yang tidak rata membuat para pengguna SIG (Sistem Informasi Geografis) ingin memodelkan berbagai macam model permukaan bumi. Pembuat peta memikirkan
125 permukaan dan perhitungan erosi berasal dari data pengukuran hujan sebanyak 9 kejadian hujan. Perbandingan pada data hasil tersebut dilakukan deng
124 Bab VI Kesimpulan Lokasi penelitian, berupa lahan pertanian dengan kondisi baru diolah, tanah memiliki struktur tanah yang remah lepas dan jenis tanah lempung berlanau dengan persentase partikel tanah
BAB I PENDAHULUAN. Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard km 3 : 97,5% adalah air
BAB I PENDAHULUAN I. Umum Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard km 3 : 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah dan sebagainya.
Pengertian Sistem Informasi Geografis
Pengertian Sistem Informasi Geografis Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) yang selanjutnya akan disebut SIG merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Letak Geografis. Daerah penelitian terletak pada BT dan
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Letak Geografis Daerah penelitian terletak pada 15 7 55.5 BT - 15 8 2.4 dan 5 17 1.6 LS - 5 17 27.6 LS. Secara administratif lokasi penelitian termasuk ke dalam wilayah Desa
Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang
1 Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Erosi adalah proses terkikis dan terangkutnya tanah atau bagian bagian tanah oleh media alami yang berupa air. Tanah dan bagian bagian tanah yang terangkut dari suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Kedua musim ini berpotensi menimbulkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Kedua musim ini berpotensi menimbulkan bencana. Musim kemarau menyebabkan kekeringan dan musim
Luas Luas. Luas (Ha) (Ha) Luas. (Ha) (Ha) Kalimantan Barat
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hutan Hujan Tropis Hujan hujan tropis adalah daerah yang ditandai oleh tumbuh-tumbuhan subur dan rimbun serta curah hujan dan suhu yang tinggi sepanjang tahun. Hutan hujan tropis
BAB I PENDAHULUAN. hidrologi di suatu Daerah Aliran sungai. Menurut peraturan pemerintah No. 37
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hujan adalah jatuhnya air hujan dari atmosfer ke permukaan bumi dalam wujud cair maupun es. Hujan merupakan faktor utama dalam pengendalian daur hidrologi di suatu
dalam ilmu Geographic Information (Geomatics) menjadi dua teknologi yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berbagai aktivitas manusia memungkinkan terjadinya perubahan kondisi serta menurunnya kualitas serta daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) yang merupakan rumah berbagai
Oleh : PUSPITAHATI,STP,MP Dosen Fakultas Pertanian UNSRI (2002 s/d sekarang) Mahasiswa S3 PascaSarjana UNSRI (2013 s/d...)
Oleh : PUSPITAHATI,STP,MP Dosen Fakultas Pertanian UNSRI (2002 s/d sekarang) Mahasiswa S3 PascaSarjana UNSRI (2013 s/d...) Disampaikan pada PELATIHAN PENGELOLAAN DAS (25 November 2013) KERJASAMA : FORUM
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan pada daerah kajian Provinsi Kalimantan Barat. Pengolahan dan analisis data dilakukan di Laboratorium Fisik Remote Sensing dan Sistem
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. DEM ( Digital Elevation Model
15 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. DEM (Digital Elevation Model) Digital Elevation Model (DEM) merupakan bentuk 3 dimensi dari permukaan bumi yang memberikan data berbagai morfologi permukaan bumi, seperti kemiringan
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN A. Konsep Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu untuk mengetahui potensi terjadinya banjir di suatu wilayah dengan memanfaatkan sistem informasi geografi
09 - Penginderaan Jauh dan Pengolahan Citra Dijital. by: Ahmad Syauqi Ahsan
09 - Penginderaan Jauh dan Pengolahan Citra Dijital by: Ahmad Syauqi Ahsan Remote Sensing (Penginderaan Jauh) is the measurement or acquisition of information of some property of an object or phenomena
II. TINJAUAN PUSTAKA. sampai beriklim panas (Rochani, 2007). Pada masa pertumbuhan, jagung sangat
4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Jagung Jagung merupakan tanaman yang dapat hidup di daerah yang beriklim sedang sampai beriklim panas (Rochani, 2007). Pada masa pertumbuhan, jagung sangat membutuhkan sinar matahari
I. PENDAHULUAN II. TINJAUAN PUSTAKA
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Curah hujan adalah unsur utama yang diukur dalam bidang meteorologi karena berpengaruh pada berbagai sektor, seperti pariwisata, pertanian, dan kesehatan masyarakat. Pengukuran
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. Hidrologi Hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air di bumi, baik mengenai terjadinya, peredaran dan penyebarannya, sifat sifatnya dan hubungan dengan lingkungannya terutama
Pemanfaatan Citra landsat 8 dan SIG untuk Pemetaan Kawasan Resapan Air (Lereng Barat Gunung Lawu)
Pemanfaatan Citra landsat 8 dan SIG untuk Pemetaan Kawasan Resapan Air (Lereng Barat Gunung Lawu) Rahmawati Suparno Putri [email protected] Totok Gunawan [email protected] Abstract This
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1.1 Gambar 1.1 Tabel 1.1
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) merupakan bagian dari Provinsi Maluku yang sebagian besar terletak di Pulau Seram yang secara geografis terletak pada 1 19'-7 16'
PEMANFAATAN CITRA ASTER DIGITAL UNTUK ESTIMASI DAN PEMETAAN EROSI TANAH DI DAERAH ALIRAN SUNGAI OYO. Risma Fadhilla Arsy
PEMANFAATAN CITRA ASTER DIGITAL UNTUK ESTIMASI DAN PEMETAAN EROSI TANAH DI DAERAH ALIRAN SUNGAI OYO Risma Fadhilla Arsy Abstrak : Penelitian di Daerah Aliran Sungai Oyo ini bertujuan mengesktrak parameter
BAB VII ANALISIS. Airborne LIDAR adalah survey untuk mendapatkan posisi tiga dimensi dari suatu titik
83 BAB VII ANALISIS 7.1 Analisis Komponen Airborne LIDAR Airborne LIDAR adalah survey untuk mendapatkan posisi tiga dimensi dari suatu titik dengan memanfaatkan sinar laser yang ditembakkan dari wahana
Pemetaan Potensi Rawan Banjir Berdasarkan Kondisi Fisik Lahan Secara Umum Pulau Jawa
Pemetaan Potensi Rawan Banjir Berdasarkan Kondisi Fisik Lahan Secara Umum Pulau Jawa [email protected] Floods is one of the natural phenomenon which happened in jawa island. Physical characteristic
Lampiran 1. Peta klasifikasi penutup lahan Kodya Bogor tahun 1997
LAMPIRAN Lampiran 1. Peta klasifikasi penutup lahan Kodya Bogor tahun 1997 17 Lampiran 2. Peta klasifikasi penutup lahan Kodya Bogor tahun 2006 18 Lampiran 3. Peta sebaran suhu permukaan Kodya Bogor tahun
I. PENDAHULUAN. Intervensi manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang makin
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Intervensi manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang makin lama semakin meningkat telah menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan. Salah satu permasalahan lingkungan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perbandingan Data Elevasi 1. DEM dan Kontur BIG Perbandingan antara data elevasi DEM dan Kontur BIG disajikan dalam perbandingan 100 titik tinjauan elevasi yang tersebar merata
Gambar 4.15 Kenampakan Satuan Dataran Aluvial. Foto menghadap selatan.
Gambar 4.15 Kenampakan Satuan Dataran Aluvial. Foto menghadap selatan. Gambar 4.16 Teras sungai pada daerah penelitian. Foto menghadap timur. 4.2 Tata Guna Lahan Tata guna lahan pada daerah penelitian
PETA SUNGAI PADA DAS BEKASI HULU
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Sub DAS pada DAS Bekasi Hulu Berdasarkan pola aliran sungai, DAS Bekasi Hulu terdiri dari dua Sub-DAS yaitu DAS Cikeas dan DAS Cileungsi. Penentuan batas hilir dari DAS Bekasi
Pengembangan RTH Kota Berbasis Infrastruktur Hijau dan Tata Ruang
TEMU ILMIAH IPLBI 2015 Pengembangan RTH Kota Berbasis Infrastruktur Hijau dan Tata Ruang Studi Kasus: Kota Manado Ingerid L. Moniaga (1), Esli D. Takumansang (2) (1) Laboratorium Bentang Alam, Arsitektur
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dinamika bentuk dan struktur bumi dijabarkan dalam berbagai teori oleh para ilmuwan, salah satu teori yang berkembang yaitu teori tektonik lempeng. Teori ini
PEMANFAATAN DATA SRTM DEM DAN TRMM UNTUK MEMBUAT PETA AREA POTENSI MIKROHIDRO INDONESIA
Ketenagalistrikan Dan Energi Terbarukan ISSN 1978-2365 PEMANFAATAN DATA SRTM DEM DAN TRMM UNTUK MEMBUAT PETA AREA POTENSI MIKROHIDRO INDONESIA UTILIZATION OF SRTM DEM AND TRMM DATA TO MAKE THE MAP OF WATER
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DAS (Daerah Aliran Sungai) Daerah aliran sungai adalah merupakan sebuah kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografis, yang menampung, menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Daerah Aliran Sungai Dalam konteksnya sebagai sistem hidrologi, Daerah Aliran Sungai didefinisikan sebagai kawasan yang terletak di atas suatu titik pada suatu sungai yang oleh
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Wilayah Letak dan Batas Letak suatu wilayah adalah lokasi atau posisi suatu tempat yang terdapat di permukaan bumi. Letak suatu wilayah merupakan faktor yang sangat
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pendugaan Parameter Input 4.1.1. Pendugaan Albedo Albedo merupakan rasio antara radiasi gelombang pendek yang dipantulkan dengan radiasi gelombang pendek yang datang. Namun
IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi
IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Wilayah Administrasi Kota Bandung merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak pada 6 o 49 58 hingga 6 o 58 38 Lintang Selatan dan 107 o 32 32 hingga
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Evapotranspirasi Potensial Standard (ETo)
xviii BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Evapotranspirasi Potensial Standard (ETo) Evapotranspirasi adalah jumlah air total yang dikembalikan lagi ke atmosfer dari permukaan tanah, badan air, dan vegetasi oleh
TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 39/Menhut-II/2009,
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Daerah Aliran Sungai Menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 39/Menhut-II/2009, DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak
Sistem Informasi Geografis (SIG) Geographic Information System (SIG)
Sistem Informasi Geografis (SIG) Geographic Information System (SIG) 24/09/2012 10:58 Sistem (komputer) yang mampu mengelola informasi spasial (keruangan), memiliki kemampuan memasukan (entry), menyimpan
