Teaching Games for Understanding (TGfU) (Konsep dan Implikasinya dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani)
|
|
|
- Farida Kurniawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Teaching Games for Understanding (TGfU) (Konsep dan Implikasinya dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani) Oleh: Caly Setiawan dan Soni Nopembri Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta Abstak Tulisan ini akan menyajikan gagasan Teaching Games for Understanding (TGfU). Dasar pemikiran penulisan ini adalah bahwa TGfU sebagai pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah sudah cukup lama di elaborasi bahkan direvisi. Bagian pertama tulisan ini menggambarkan latar persoalan mengapa TGfU perlu dilemparkan sebagai sebuah wacana di kalangan komunitas pendidikan jasmani. Selanjutnya kami akan mengawali dengan latar belakang gagasan Teaching Games for Understanding dan kemudian memperkenalkan konsep serta prinsip-prinsip pedagogi yang mendasarinya. Tulisan ini juga menampilkan pengembangan dan revisi konsep TGfU. Tulisan ini diakhiri dengan sebuah kesimpulan. Klaim yang sering muncul di kalangan komunitas pendidikan jasmani adalah bahwa sebagai bagian dari usaha pendidikan, pendidikan jasmani memiliki peran dalam mengembangkan kapasitas kognitif, afektif, psikomotor, dan bahkan spiritual. Berdasar keterlibatan penulis dalam komunitas tersebut, klaim tersebut bisa muncul dalam berbagai ruang wacana dari ruang kelas, diskusi, seminar, laporan penelitian, jurnal, majalah ilmiah, dan buku. Beberapa waktu yang lalu misalnya, kami menghadiri presentasi ilmiah seorang kandidat doktor yang mengangkat topik tentang pengembangan kognitif siswa melalui pendidikan jasmani. Namun sayang sekali kami tidak menemukan sebuah tawaran kongkret metode dan strategi pengajaran pendidikan jasmani yang mendorong perkembangan kognitif anak. Ketika klaim bahwa pendidikan jasmani itu mampu mengembangkan demensi yang menyeluruh dari manusia tidak menemui realitas kongkretnya di 1
2 lapangan maka status klaim tersebut sudah sampai pada tingkat yang memabukkan. Hal ini tentu membahayakan, sebab akan membutakan kita dalam membaca persoalan dan kemudian inovasi pendidikan jasmani. Dengan demikian pada akhirnya, pendidikan jasmani akan terjebak pada ritual rutin pengajaran. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis ingin mencoba menghadirkan sebuah wacana yang disebut Teacing Games for Understanding (TGfU) di mana konsep ini diyakini mampu mendorong aspek-aspek seperti kognitif, afektif dan mungkin spiritual. TGfU sesungguhnya bukan konsep baru di kalangan komunitas pendidikan jasmani di negara-negara barat. Konsep ini mengalami revisi konseptual pada saat ini (Kirk dan MacPhail, 2002) yang patut dipertimbangkan. Namun sayangnya, konsep TGfU tidak diakses secara memadai di Indonesia. Pengajaran dengan pendekatan permainan memang telah melekat dalam praktek pendidikan jasmani di Indonesia. Hal ini dimungkinkan sebab Indonesia memiliki inventarisasi permainan tradisional yang melimpah. Namun konseptualisasi metode permainan sulit ditemui dalam literatur Indonesia terlebih lagi konsepsi yang merujuk pada TGfU. Sedangkan pemahaman akan konsep permainan yang dieksplorasi dalam TGfU memiliki potensi yang signifikan terhadap kinerja guru ketika membelajarkan pendidikan jasmani. Latar Belakang Gagasan Teaching Gemes for Understanding (TGfU) Pendekatan Teaching Games for Understanding (TGfU) dikembangkan oleh Rod Thorpe dan David Bunker di Universitas Loughborough, Inggris sekitar tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an. Dikemudian hari, beberapa ahli 2
3 pendidikan jasmani melakukan pengembangan TGfU seperti pada The Tactical Games Model dan Game Sense. Thorpe dan Bunker melihat banyaknya pengajaran permainan lebih banyak pada pengembangan teknik. Mereka mengamati bahwa di sekolah pendidikan jasmani, pengembangan teknik mendapatkan porsi lebih yang banyak dalam seluruh kegiatan dan hanya sedikit dalam mengaktualisasikan bermain dalam permainan. Munculnya TGFU sebagai reaksi atas keprihatinan bahwa anak-anak berada di sekolah dengan: (1) kurang memperhatikan panampilannya, (2) mengetahui sangat sedikit tentang permainan, (3) sebagian yang mencapai daya tahan, (4) tergantung pada pelatih dan guru, dan (5) kurangnya pengembangan pada pemahaman sebagai penonton dan pengetahuan administrasi (Holt dkk, 2002:163). Pendekatan TGFU mengusulkan bahwa taktik pemainan untuk dapat dimengerti sebagai pengenalan pertama, siswa harus mengetahui kenapa dan kapan keterampilan itu diperlukan dalam konteks permainan, pelaksanaan teknis dalam keterampilan ditampilkan. Pendekatan TGFU harus dapat diterapkan pada pengamalan aktivitas jasmani anak-anak, meningkatkan motivasi untuk berpartisipasi, dan pada gilirannya meningkatkan kesehatan psikis dan fisik. TGfU: Suatu Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Tulisan ini akan berangkat dari pendapat Crum (2003) bahwa komunitas pendidikan jasmani tidak menerima dan memberikan prioritas bagi kosmologi nilai profesionalnya, yakni dengan dalil bahwa fungsi utama seorang guru 3
4 pendidikan adalah untuk membantu siswa belajar. Belajar apa? Sesungguhnya dalam pembelajaran pendidikan jasmani, seorang siswa tidak akan belajar apa-apa selain belajar menjadi manusia yang memiliki gaya hidup aktif secara jasmani. Di sinilah titik sulit pendidikan jasmani. Metode yang tidak tepat tidak akan mencapai tujuan pendidikan jasmani secara khusus dan pendidikan secara umum. Misalnya pengajaran permainan yang memfokuskan pada teknik (technique focused games) yang sampai saat ini masih mendominasi program pendidikan jasmani menurut Hopper membuat siswa tidak dapat meningkatkan kemampuannya secara memadai dalam menemukan kesenangan yang pada akhirnya menjadikan permainan sebagai suatu bagian dari gaya hidup sehat mereka. Pengajaran permainan yang berpusat pada permainan adalah suatu pendekatan yang dihubungkan dengan model Teaching Games for Understanding (TGfU). TGfU menawarkan suatu cara yang memampukan siswa untuk mengapresiasi kesenangan bermain sehingga mendorong keinginan anak untuk belajar teknik bermain dan meningkatkan penampilan permainannya. Pendekatan TGfU merupakan pengajaran permainan yang berpusat pada bermain itu sendiri. Di dalam TGfU MENGAPA memainkan suatu permainan itu diajarkan terlebih dulu sebelum BAGAIMANA keterampilan yang dibutuhkan untuk memainkan permainan itu diajarkan. Menurut Hopper, proses tersebut melibatkan pengajaran anak yang menggunakan permainan yang dimodifikasi dan disederhanakan yang cocok dengan jasmani, sosial, dan perkembangan mental mereka. 4
5 Di dalam suatu permainan, seorang anak mendapatkan suatu apresiasi yang menjadi syarat-syarat dari permainan orang dewasa. Apresisasi ini mengundang anak untuk memahami kesadaran taktis dari bagaimana memainkan suatu permainan dalam rangka untuk mendapatkan manfaat dari bertanding dengan lawan mainnya. Dengan suatu kesadaran taktis anak mampu membuat keputusan yang tepat tentang apa yang dilakukan dan bagaimana melakukannya. Bagi seorang anak, meningkatnya kemampuan membuat keputusan mendorongnya untuk menjadi lebih sadar tentang kemungkinankemungkinan bakatnya dalam permainan tersebut. Kesadaran ini membawa pada pembelajaran yang lebih bermakna bagi anak-anak sebagaimana mereka masuk ke dalam pelaksanaan dan situasi yang mengembangkan keterampilan teknisnya atau manuver strategisnya yang dipraktikkan untuk mendapatkan keuntungan taktik. Pendekatan TGfU akan memberikan perhatian yang sangat luas pada domain kognitif dan psikomotor. Sebagai contoh, domain kognitif diperoleh dari ujian pada sekolah tinggi dan menengah. Pengukuran tingkah laku dilakukan untuk mengukur keefektifan dan keterlibatan dari permainan yang dikembangkan untuk memberikan sumbangan pada pengukuran perbuatan dan keterampilan yang diukur dalam hubungannya dengan domain kognitif. Sangat sedikit sekali perhatian yang diberikan padan peneliti maupun pendidik pada domain afektif. Pengaruh kerja dan kesenangan dalam olahraga akan memberikan lebih besar pengaruh melalui pembelajaran permainan. Sebagai contoh, anak-anak, pelatih dan orang tuan semuanya harus mengetahui permainan itu dan situasi permainan 5
6 yang leih menyenagkan dari pada latihan terus-menerus yang berorientasi pada teknik. Konsep ini juga menekankan bahwa siswa berada dalam pusat model TGfU. Oleh karena itu peneliti permainan dalam pendidikan jasmani harus mempertimbangkan proses pembelajaran yang dialami oleh siswa. Sedangkan guru harus mempertimbangkan hubungan antara ranah perilaku, afektif, dan kognitif ketika memilih lingkungan pengajaran. PERMAINAN PENAMPILAN PENGETAHUAN PERMAINAN SISWA PELAKSANAAN KETERAMPILAN PENGETAHUAN TAKTIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN Gambar 1. Teaching Games for Understanding. Dalam salah satu dari sedikit artikel yang membicarakan siswa dari perspektif psikologi, Thorpe menganalisis bahwa dalam meletakkan psikologi dalam TGfU falam kerangka kerja pendorong. TGfU menekankan pada permainan dan mengarahkan siswa untuk menemukan permainan itu, yang merupakan modal dalam berafiliasi (interaksi sosial, kedamaian sosial, dan 6
7 mencari teman) dengan berharap anak-anak dapat mengembangkan peraturan, dan tantangannya untuk dapat mencapai bekerja dengan taktik yang tepat. Keterampilan dilatih secara individual atau dalam kelompok kecil, sebagai antisipasi anak-anak dapat bekerjasama dengan yang lain dalam usaha membantu perkembangan berafiliasi. Di dalam TGfU, siswa mengevaluasi dan mengembangkan penampilan mereka sendiri dalam situasi permainan yang secara bertahap, di bawah bimbingan guru, berkembang ke arah permainan dewasa yang lebih canggih. Prinsip-prinsip Pedagogi TGfU Thorpe kemudian memperkenalkan empat dasar prinsip pendidikan yang digunakan dalam hubungannya dengan model kurikulum TGfU untuk mengembangkan program pendidikan jasmani. Empat dasar prinsip pendidikan itu tidak mendapatkan perhatian dalam literatur pendidikan jasmani sama halnnya dengan model TGfU. Empat dasar prinsip pendidikan itu adalah Sampling, Modification-Representation, Modification-Exaggeration, Tactical Complexity. (Holt, Strean, and Garcia Bengoechea, 2002: ). Sampling. Prinsip sampling didasarkan pada premis bahwa permainan harus dipilih sehingga variasi pengalaman dapat ditawarkan, dan kemungkinan yang ada untuk menunjukkan kesamaan antara jenis-jenis permainan yang berbeda. Semua itu membawa pada pemahaman akan permainan yang jauh lebih baik. Dengan cara mensampling dari berbagai tipe permainan yang berbeda, fokus dari kurikulum bermain memberikan perspektif yang secara radikal berbeda, dari 7
8 pada mengajar permainan hanya sekedar karena para siswa pernah diajar sebelumnya atau hanya karena peralatan yang tersedia. Modification-representation. Prinsip modifikasi dibagi menjadi dua kategori mendasar. Pertama, modification-representation berarti bahwa permainan dikembangkan yang mengandung struktur taktis yang sama dari permainan orang dewasa tetapi dimainkan dengan adaptasi untuk menyesuaikan dengan ukuran anak, usia, dan kemampuan (misalnya mini-games). Namun demikian, penggunaan mini-games itu sendiri mungkin tidak merupakan cara yang terbaik untuk menghampiri pemahaman permainan karena anak tidak akan belajar hanya dengan memainkan versi mini dari permainan dewasa. Oleh karena itu prinsip eksagerasi juga dibutuhkan. Modification-exageration. Kategori modifikasi mendasar kedua, eksagerasi, adalah penting karena meskipun mini-games memungkinkan anak untuk mengasosiasikan dengan model dewasa, solusi yang mungkin untuk masalah-masalah taktik yang dihadirkan dari mini-games mungkin terlalu sulit bagi anak-anak. Setelah usai melakukan permainan yang melibatkan peraturanperaturan utama dan struktur taktik yang sama, guru sebaiknya memperkenalkan peraturan-peraturan sekunder untuk mengembangkan (exaggerate) problem taktik tertentu. Tactical-complexity. Permainan dengan kompleksitas yang rendah membentuk titik awal untuk pengembangan permainan untuk pemahaman kurikulum. Permainan yang menggunakan target secara umum tidak begitu kompleks, diikuti kemudian oleh net/ dinding, permainan lapangan, dan pada 8
9 akhirnya permainan penyerangan beregu yang kompleks yang harus diperkenalkan belakangan. Anak-anak dapat keluar dan masuk ke dalam kategori permainan yang berbeda untuk memahami kompleksitas taktik mereka. Ada hubungan yang kuat antara kompleksitas taktik dan eksagerasi, karena suatu permainan di dalam bentuknya yang penuh adalah kompleks, tetapi hal ini dapat dibuat secara taktis sederhana melalui eksagerasi. Pengembangan Model TGfU Sejak dimunculkan pertama kali, pendekatan TGfU terus mengalami pengembangan. Holt, Strean, Garcia Bengoechea (2002) menawarkan penahapan berupa permainan, apresiasi permainan, kesadaran taktik, penentuan keputusan, eksekusi keterampilan, dan penampilan. Gambar berikut menerangkat hubungan penahapan model kurikulum dengan prinsip-prinsip pedagogi. Model Kurikulum Prinsip Pedagogi Siswa-(ranah kognitif, perilaku, dan afektif) Permainan Apresiasi permainan Kesadaran taktik Penentuan keputusan Eksekusi keterampilan Penampilan Umpan balik dari guru Sampling Modification-representation Modification-exaggeration Modification-representation Modification-exaggeration Prinsip-prinsip bermain Apa yang/ bagaiman dilakukan Modification-representation Modification-exaggeration Modification-representation Meningkatkan Kompleksitas Taktik 9
10 Gambar 2. Pengembangan Model TGfU. Di sisi lain, Kirk dan Macphail (2002) mengajukan pemikiran ulang yang berbeda untuk merevisi TGfU, yakni dengan berangkat dari konsep situated learning. Menurut kirk dan macphail (2002: 183) pembelajaran itu disituasikan dengan pengertian bahwa adalah perlu untuk menggali hubungan antara berbagai dimensi fisik, sosial, dan budaya dari konteks belajar. Hal ini dikarenakan subtansi apa yang dipelajari tidak dapat dipisahkan dari masyarakat yang melakukannya. Tugas kunci sekolah adalah untuk menyediakan berbagai kesempatan untuk menjadi pastisipan dalam suatu komunitas permainan bagi anak muda, di mana mereka memiliki pengalaman pembelajaran yang otentik yang dinilai oleh mereka sendiri dan komunitas suatu permainan. Kirk dan MacDonald (1998) mengatakan bahwa pendidikan jasmani mungkin memiliki potensi untuk membuat hubungan ini bagi anak muda karena meorganisir ciri-ciri olahraga kompetitif ke dalam bentuk pendidikan. Sejumlah poin kunci muncul dari pembahasan perspektif Situated Learning. Pembelajaran adalah proses aktif dari keterlibatan dengan bentukbentuk yang secara sosial diorganisir, melalui proses perseptual dan pengambila keputusan dan eksekusi respon gerakan yang tepat. Individu membawa pengetahuan sebelumnya kepada episode-episode pembelajaran yang berisi suatu konsepsi alternatif. Keterlibatan aktif siswa dengan mata pelajarannya dilekati dan liputi oleh konteks fisik, sosio-kultural, dan institusional. Konteks ini termsauk lingkungan fisik dari ruang kelas, gimnasium, lapangan, interaksi sosial antara 10
11 anggota kelas, bentuk-bentuk institusional sekolah, dan aspek-aspek budaya seperti media masa olahraga. Dari perspektif Situated Learning inilah Kirk dan MacPhail merevisi beberapa poin diantaranya bentuk permainan/hubungan siswa, apresiasi permainan, kesadaran taktis, munculnya pemahaman, persepsi isyarat, pengambilan keputusan, eksekusi gerakan, seleksi teknik, perkembangan keterampilan, penampilan yang disituasikan. 1. Game Form Emerging Understanding 6. Situated Performance Learners 2. Game Concept Skill Development 3. Thinking Strategically Cue Perception 4. Decision Making What How to do? to do 5. Movement Execution Technique Selection Gambar 3. Model TGfU yang direvisi 11
12 Kesimpulan TGfU merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang mungkin bisa mencapai tiga ranah, yaitu kognitif, perilaku, dan afektif. Pendekatan ini mengalami banyak perkembangan setelah digagas oleh bunker dan thorpe dari segi subtansi yang disesuaikan dengan pemikiran-pemikiran berkembang saat ini. TGfUrjalan sinergis dengan prinsip pedagogi yang beracuan pada pengembangan tiga ranah domain pendidikan yang ada dalam diri siswa. TGfU sangat dimungkin untuk diterapkan dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Permainan mendapatkan porsi yang banyak dalam pembelajaran pendidikan jasmani sebagai usaha mencapai tujuan pendidikan dengan pengembangan tiga ranah domain itu. Pendekatan TGfU harus disosialisasikan pada para guru pendidikan jasmani. Guru pendidikan jasmani harus mengetahui konsep dan implikasi TGfU pada pendidikan jasmani. Kendala yang selama ini terjadi yaitu terbiasanya para guru pendidikan jasmani memakai pendekatan tradisional harus diubah dengan paradima pendekatan TGfU pada pembelajaran permainan pendidikan jasmani. Penggunaan pendekatan TGfU pada pembelajaran pendidikan jasmani akan membawa siswa pada pengembangan diri yang lebih baik yang selaras dengan tujuan pendidikan jasmani itu sendiri maupun tujuan pendidikan pada umumnya. 12
13 Daftar Pustaka Crum, B. (2003). To Teach or Not to be, that is The Question : Reflections on The Identity Crisis and The Future of Physical Education (PE). Makalah Di Presentasikan Di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta. Netherlands : Institute For Social Research. Tilburg University. Holt, N. L., Strean, William B., Bengoecha, E. G. (2002). Expanding The Teaching Games for Understanding Model : New Avenues for Future Research and Practise. Journal of Teaching in Physical Education. Canada : University Of Alberta. Hooper, T. (1998). Teaching Games Centered Gemes using Progressive Principles of Play. Victotoria : CAHPERD. Kirk, D. & MacDonald. (1998). Situated Learning in Physical Education. Journal of Teaching in Physical Education. Canada : University Of Alberta. Kirk, D. & Macphail, A. (2002) Teaching Games for Understanding and Situated Learning : Rethinking The Bunker-Thorpe Model. Journal of Teaching in Physical Education. Loughborough : Loughborough University. 13
GAGASAN DAN KONSEP DASAR TEACHING GAMES FOR UNDERSTANDING (TGFU) Oleh: Saryono dan Soni Nopembri Universitas Negeri Yogyakarta
GAGASAN DAN KONSEP DASAR TEACHING GAMES FOR UNDERSTANDING (TGFU) Oleh: Saryono dan Soni Nopembri Universitas Negeri Yogyakarta ABSTRAK Tulisan berawal dari munculnya pendekatan TGfU sebagai salah satu
PENDEKATAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI. Fitria Dwi Andriyani, M.Or.
PENDEKATAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI Fitria Dwi Andriyani, M.Or. PENDEKATAN TAKTIK??? Pendekatan Teknik (Skill-Theme Approach) Pendekatan Pembelajaran Penjas Pendekatan Taktik (Tactical Approach)
PENDEKATAN TAKTIS dalam PENDIDIKAN JASMANI
8 PENDEKATAN TAKTIS dalam PENDIDIKAN JASMANI Tujuan pembelajaran: Melalui pembahasan ini, mahasiswa diharapkan mampu: 1. Menjelaskan pentingnya pendekatan taktis dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sepakbola adalah olahraga yang sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat dunia tidak kalah tentunya di Indonesia. Cabang olahraga yang cara memainkannya
BAB I PENDAHULUAN. Mudzakkir Faozi, 2014
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan jasmani merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan lainnya. Pendidikan jasmani di sekolah dapat diupayakan peranannya untuk mengembangkan
BAB 1 PENDAHULUAN. cukup digemari dan diminati serta seringkali dipertandingkan antar kelas maupun
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permainan bolabasket selalu dipertandingkan baik antar mahasiswa, pelajar, atau club-club yang ada di Indonesia. Di kalangan pelajar permainan bolabasket cukup digemari
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes) meliputi permainan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 2006 disebutkan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan jasmani merupakan pembelajaran yang dilakukan melalui aktivitas fisik dalam mencapai tujuan utamanya yakni diharapkan peserta didik akan tumbuh dan
BAB I PENDAHULUAN. dari pendidikan, karena pendidikan memiliki peran penting bagi kehidupan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia dalam melaksanakan fungsi-fungsi kehidupan tidak akan lepas dari pendidikan, karena pendidikan memiliki peran penting bagi kehidupan manusia dalam meningkatkan
GAGASAN DAN KONSEP DASAR TEACHING GAMES FOR UNDERSTANDING ( TGfU)
Diterbitkan Oleh: School Physical Education and the Reproduction of Masculinity Jurusan Pendidikan Olahraga Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Fakultas Ilmu Keolahragaan Volume 6, Nomor 1, April 2009
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Senam merupakan bagian dari cabang olahraga yang diperlombakan dalam berbagai kegiatan kejuaraan olahraga, baik di tingkat internasional maupun di tingkat nasional.
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Muhammad Hasbiyal Farhi, 2013
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era modern ini pendidikan sangatlah penting dalam menciptakan generasi baru yang mempunyai intelektual terhadap masa depan. Pendidikan merupakan salah suatu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Melihat perkembangan pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah, maka pembelajaran pendidikan
Dijelaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 dalam (Haryanto 2012) disebutkan bahwa :
1 BAB I PEDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses yang sangat berperan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui proses pendidikan manusia dididik
BAB 1 PENDAHULUAN. mencapai prestasi dan hasil belajar dalam lingkup ekstrakulikuler yang optimal
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Olahraga hoki masuk ke Indonesia dilakukan oleh orang-orang Inggris dan Belanda. Peminatnya memang masih terbatas di kalangan mahasiswa, orangorang Inggris, Belanda
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (selanjutnya disingkat Penjasorkes) merupakan satu dari sepuluh mata pelajaran yang harus ada dalam kurikulum
KRITIK TERHADAP PENDEKATAN TRADISIONAL
KRITIK TERHADAP PENDEKATAN TRADISIONAL Siswa di drill sampai KO Berasumsi bahwa keterampilan akan ditransfer ke suatu permainan Membosankan, pengulangan, peraturan ketat Mengalami kegagalan keterampilan
BAB I PENDAHULUAN. Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Dan Motivasi Berprestasi Terhadap Keterampilan Teknik Dasar Lapangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Permainan tenis lapangan merupakan olahraga yang dimainkan oleh dua atau empat orang pemain yang saling berhadapan dengan menggunakan jaring (net) dan raket.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Aris Risyad Ardi, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi yang semakin canggih dewasa ini, orang-orang telah berfikir maju dan memandang sesuatu dengan mudah, maksudnya
2015 MOD IFIKASI PEMBELAJARAN AKTIVITAS PERMAINAN BOLAVOLI D ALAM UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA:
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan jasmani sebagai komponen pendidikan secara keseluruhan telah disadari banyak kalangan. Namun dalam pelaksanaannya pembelajaran pendidikan jasmani berjalan
PENGARUH PENDEKATAN TEACHING GAME FOR UNDERSTANDING (TGFU) TERHADAP PERILAKU SOSIAL SISWA DALAM PENDIDIKAN JASMANI
PENGARUH PENDEKATAN TEACHING GAME FOR UNDERSTANDING (TGFU) TERHADAP PERILAKU SOSIAL SISWA DALAM PENDIDIKAN JASMANI Program Studi Pendidikan Olahraga, Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia
PENGAJARAN PERMAINAN INVASI
Department of Physical Education PENGAJARAN PERMAINAN INVASI TIM PENGAMPU FIK UNY e-mail : [email protected] Department of Physical Education Diskripsi Matakuliah: Matakuliah ini dirancang untuk
BAB I PENDAHULUAN. dan bermakna. Menurut Morse (1964) dalam Suherman (2000: 5) membedakan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya merupakan rekonstruksi aneka pengalaman dan peristiwa yang dialami individu agar segala sesuatu yang baru menjadi lebih terarah dan bermakna.
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Dalam kajian teori ini, membahas teori-teori yang relevan dengan penelitian yang dilakukan, tinjauan pustaka
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Dalam kajian teori ini, membahas teori-teori yang relevan dengan penelitian yang dilakukan, tinjauan pustaka yang berisi falsafah dasar, teori dan konsep, membahas
TGFU SEBUAH INOVASI PEMBELAJARAN PERMAINAN
Teaching Games For Understanding (TGfU): Memahami Pendekatan Taktik sebagai Diterbitkan Model Oleh: Pembelajaran Dalam Pendidikan Jasmani Jurusan Pendidikan Olahraga Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia
PERMAINAN DALAM PENJAS
AKTIVITAS PERMAINAN KONSEP DASAR Perbuatan atas kemauan sendiri yang dikerjakan dalam batas-batas, tempat dan waktu yang telah ditentukan, diiringi oleh perasaan senang dan merentangkan kesadaran berbuat
BAB I PENDAHULUAN. Dijelaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 dalam (Haryanto 2012) disebutkan bahwa :
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses yang sangat berperan dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui proses pendidikan seseorang di didik dan dibina
JURNAL SKRIPSI PENERAPAN PENDEKATAN TEACHING GAMES FOR UNDERSTANDING
1 JURNAL SKRIPSI PENERAPAN PENDEKATAN TEACHING GAMES FOR UNDERSTANDING (TGFU) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN FOREHAND GROUNDSTROKE DAN AKTIVITAS BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN TONNIS PADA SISWA KELAS IV SD MUJAHIDIN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sandy Windiana, 2014 Pengaruh Model Pendekatan Taktis Terhadap Hasil Belajar Permainan Kasti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. Namun selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan jasmani merupakan suatu proses interaksi belajar mengajar melalui pengembangan aspek jasmani menuju tercapainya tujuan pendidikan. Pendidikan jasmani
IMPLEMENTASI PENDEKATAN TAKTIK DALAM PEMBELAJARAN INVASION GAMES DI SEKOLAH DASAR. Oleh: Yudanto
IMPLEMENTASI PENDEKATAN TAKTIK DALAM PEMBELAJARAN INVASION GAMES DI SEKOLAH DASAR Oleh: Yudanto Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta ABSTRAK Permainan merupakan salah satu materi Pendidikan
IMPLEMENTASI PENDEKATAN TAKTIK DALAM PEMBELAJARAN INVASION GAMES DI SEKOLAH DASAR
TGfU Sebuah Inovasi Pembelajaran Permainan Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Volume 5, Nomor 2, November 2008 Diterbitkan Oleh: Jurusan Pendidikan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Endi Rustandi, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemahaman guru terhadap esensi proses pembelajaran merupakan faktor penting agar guru dapat melakukan inovasi pembelajaran secara sistematis dan berkelanjutan menuju
melakukan segala aktivitasnya untuk memenuhi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sepak bola adalah suatu permainan beregu yang dimainkan masingmasing regunya terdiri dari sebelas orang termasuk seorang penjaga gawang. Sepakbola adalah permainan
BAB I PENDAHULUAN. keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan jasmani merupakan satu kesatuan dari sistem pendidikan secara keseluruhan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Menurut Kurikulum Tingkat Satuan
BAB I PENDAHULUAN. Deni Diki Hardiansyah, 2014
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan
BAB I PENDAHULUAN. sejalan dengan filosofi yang mendasari pendidikan jasmani. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan jasmani adalah bagian penting dari sistem pendidikan. Sebab secara esensi pendidikan jasmani membantu kelancaran proses pembelajaran. Hal ini sejalan
BAB II KAJIAN PUSTAKAf. A. Kajian Pustaka
BAB II KAJIAN PUSTAKAf A. Kajian Pustaka 1. Permainan Bola Basket a. Pengertian Permainan Bola Basket Bola basket adalah olahraga berkelompok yang dimainkan oleh dua regu baik putra maupun putri yang masing-masing
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan moral bukanlah sebuah gagasan baru. Sebetulnya, pendidikan moral sama tuanya dengan pendidikan itu sendiri. Sejarah di negara-negara di seluruh
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan tidak hanya berlangsung pada satu tahap perkembangan saja
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan tidak hanya berlangsung pada satu tahap perkembangan saja melainkan harus dilaksanakan sepanjang hayat. Thompson dalam Lestari (2008: 1.3) menyatakan bahwa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Satryandi Ahmad Fauzi, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang dibangun untuk meningkatkan kehidupan masyarakat disegala bidang. Siswa merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang
II. TINJAUAN PUSTAKA. Metode discovery adalah suatu prosedur mengajar yang menitikberatkan
9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Metode Penemuan (Discovery Method) Metode discovery adalah suatu prosedur mengajar yang menitikberatkan studi individual, manipulasi objek-objek dan eksperimentasi oleh siswa.
TEACHING GAMES FOR UNDERSTANDING (TGfU): MEMAHAMI PENDEKATAN TAKTIK SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN DALAM PENDIDIKAN JASMANI
Teaching Games For Understanding (TGfU): Memahami Pendekatan Taktik sebagai Diterbitkan Model Oleh: Pembelajaran Dalam Pendidikan Jasmani Jurusan Pendidikan Olahraga Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia
I. PENDAHULUAN. Kemajuan suatu bangsa tergantung pada kemajuan sumber daya manusianya.
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan suatu bangsa tergantung pada kemajuan sumber daya manusianya. Jadi bukan ditentukan oleh canggihnya peralatan atau megahnya gedung, juga tidak tergantung
BAB I PENDAHULUAN. dalam dunia pendidikan di Indonesia, bukan mustahil pendidikan di Indonesia akan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia merupakan perwujudan manusia yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa berdasarkan UUD 1945. Pendidikan merupakan suatu hal
Hambatan Sosiologis Menuju Olahraga yang Adil Gender. Namun kenyataannya, membuka peluang kesetaraan dalam bidang olahraga masih
Caly Setiawan PJKR Z/ NIM 132 297 298 Sosiologi Olahraga, IKF 220 Position Paper Hambatan Sosiologis Menuju Olahraga yang Adil Gender Pendahuluan Dalam dua dekade belakangan ini, tuntutan kesetaraan mulai
BAB I PENDAHULUAN. dalam ruang lingkup Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sepak bola
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sepak bola merupakan salah satu pelajaran dalam pendidikan jasmani. Di dalam ruang lingkup Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sepak bola menempati
KISI-KISI SOAL UJI KOMPETENSI GURU TAHUN 2011
KISI-KISI SOAL UJI KOMPETENSI GURU TAHUN 2011 Materi Pokok Kompetensi Guru : Penjaskes : Pedagogik dan Profesional STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR INDIKATOR ESENSIAL 1. Menguasai karakteristik peserta
BAB I PENDAHULUAN. modern, makmur dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang memiliki sistem dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang maju, modern dan sejahtera. Sejarah perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa
Standard Guru Penjas Nasional (Rumusan BSNP)
Standar Guru Penjas Standard Guru Penjas Nasional (Rumusan BSNP) 1. Kompetensi Pedagogik 2. Kompetensi Kepribadian 3. Kompetensi Sosial 4. Kompetensi Profesional Kompetensi Pedagogik Menguasai karakteristik
META ANALISIS PENGARUH PEMBELAJARAN PENDEKATAN TAKTIK (TGfU) TERHADAP PENGEMBANGAN ASPEK KOGNITIF SISWA DALAM PENDIDIKAN JASMANI
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Volume 8, Nomor 2, November 2011 Saryono dan Ahmad Rithaudin Diterbitkan Oleh: Jurusan Pendidikan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta META
Asas dan Falsafah Pendidikan Jasmani
Asas dan Falsafah Pendidikan Jasmani Disajikan pada: Diklat PLPG Penjas Bandung - Desember 2008 1 Presented by Agus Mahendra Kedudukan dan Pentingnya Penjas Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Salah satu tujuan dari pendidikan pada era modern saat ini adalah untuk mengajarkan siswa bagaimana cara untuk mendapatkan informasi dari suatu penelitian, bukan hanya
BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. Pengertian penjasorkes telah didefinisikan secara bervariasi oleh beberapa
BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakikat Penjasorkes Pengertian penjasorkes telah didefinisikan secara bervariasi oleh beberapa pakar. Para pakar penjasorkes cenderung
Dian Pujianto, Bayu Insanistyo dan Syafrial Universitas Bengkulu, Jl. W.R. Supratman, Kandang Limun, Kota Bengkulu
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Volume 11, Nomor 1, April 2015 Diterbitkan Oleh: Jurusan Pendidikan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
KISI-KISI SOAL UKG TAHUN 2015 PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN Jenjang SD
KISI-KISI SOAL UKG TAHUN 2015 PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN Jenjang SD STANDAR KOMPETENSI GURU KOMPETENSI INTI GURU 1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual,
BAB I PENDAHULUAN. bahwa mutu pendidikan sangat tergantung pada kualitas guru dan model
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan pada hakikatnya merupakan upaya untuk mengembalikan dan meningkatkan aktifitas guru dan siswa. Para ahli pendidikan telah menyadari bahwa mutu pendidikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hakikat Belajar Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memeperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya
Oleh: Dr. Lismadiana,M.Pd. l.
Oleh: Dr. Lismadiana,M.Pd l Pendahuluan Istilah pelatih atau coaching sering digunakan untuk mencakup aktivitas kegiatan yang sangat luas, biasanya untuk membantu seseorang mempersiapkan diri untuk sesuatu.
PERBANDINGAN PENDEKATAN TAKNIS DAN PENDEKATAN TEKNIS TERHADAP HASIL BELAJAR PERMAINAN BOLA BASKET
1 A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Pendidikan jasmani merupakan salah satu pendidikan yang berfungsi untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan jasmani penting dilakukan karena
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Royan Rizalul Fiqri, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Selama manusia ada di dunia ini manusia tidak akan pernah lepas dalam hal belajar, karena proses belajar berlangsung seumur hidup sampat akhir hayatnya. Dalam
BAB 1 PENDAHULUAN. hidup sehat sehari-hari yang mempunyai peranan penting dalam pembinaan dan
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan jasmani dan kesehatan merupakan mata pelajaran yang wajib diikuti oleh para siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) di samping mata pelajaran lain. Mata pelajaran
E-LEARNING PERENCANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA PERT-3. Oleh Nanang Khuzaini, S.Pd.Si
E-LEARNING PERENCANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA PERT-3 Oleh Nanang Khuzaini, S.Pd.Si PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA 2015 KONSEP
BAB 1 Dua Dekade Pembelajaran Pendekatan Taktik: Melihat Sejarah, Masa Kini, dan Masa Mendatang
BAB 1 Dua Dekade Pembelajaran Pendekatan Taktik: Melihat Sejarah, Masa Kini, dan Masa Mendatang Linda L. Grffin dan Kevin Patton Tell me, I forget.... Show me, I understand.... Involved me, I remember.
2016 IMPLEMENTASI MODEL COOPERATIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN PERMAINAN BOLAVOLI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam konteks pembelajaran, model adalah suatu penyajian fisik atau konseptual dari sistem pembelajaran, serta berupaya menjelaskan keterkaitan berbagai komponen
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berkompetensi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
BAB I PENDAHULUAN. pendidikannya, karena kualitas pendidikan merupakan. tingkat kesejahteraan masyarakat pada suatu negara. Melalui pendidikan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era kompetitif, semua negara berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, karena kualitas pendidikan merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan
1.5 Mengidentifikasi potensi peserta Mengidentifikasi potensi kognitif peserta didik sekolah menengah pertama dalam
KISI-KISI SOAL UKG TAHUN 2015 KISI KISI UKG 2015 PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN Jenjang SMP STANDAR KOMPETENSI GURU KOMPETENSI INTI GURU KOMPETENSI GURU MATA PELAJARAN/ KELAS/ 1. Menguasai
2015 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI TERHADAP KREATIVITAS SISWA
A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Pendidikan nasional adalah suatu proses belajar dan pembelajaran yang terencana sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Segala sesuatu di dalam kehidupan pasti akan mengalami perubahan. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya globalisasi sehingga filter terhadap kebudayaan menjadi tidak
Pengertian Pendidikan Jasmani
Pengertian Pendidikan Jasmani Oleh: B.Abduljabar, Dr. Siedentop (1991), seorang pakar pendidikan jasmani dari Amerika Serikat, mengatakan bahwa dewasa ini pendidikan jasmani dapat diterima secara luas
KISI-KISI SOAL UKG TAHUN 2015 PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN Jenjang SMA
KISI-KISI SOAL UKG TAHUN 2015 PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN Jenjang SMA STANDAR GURU GURU MATA 1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural,emo
BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia adalah dengan cara perbaikan proses belajar mengajar. Kebijakan pemerintah meningkatkan mutu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
BAB I PENDAHULUAN. sistem pendidikan nasional, (Depdiknas, 2003: 30). Karanggambas sesuai silabus adalah: atletik, senam, renang, kesehatan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan olahraga sering kali terkalahkan oleh pendidikan akademis lainya, padahal aspek kesehatan jasmani merupakan aspek penting guna mendukung pendidikan
WAWASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
WAWASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM Landasan Pengembangan Kurikulum A. Landasan Filosofis 1. Kaum Perenialis Memandang siswa sebagai makhluk rasional yang memiliki kemampuan untuk memecahkan problema sesudah
I. PENDAHULUAN. Pendidikan Jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan Jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani,
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SATUAN PENDIDIKAN : SMAK 2 BPK PENABUR MATA PELAJARAN : PENJAS DAN OLAHRAGA KESEHATAN MATERI : PERMAINAN DAN OLAHRAGA SUB MATERI : PERMAINAN TRADISIONAL BOY-BOYAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Olahraga hingga kini kian meluas dan memiliki makna sebagai sebuah fenomena yang bersifat global, mencakup wilayah kajian hampir seluruh sendisendi kehidupan manusia.
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, persepsi yang sempit dan keliru terhadap pendidikan jasmani akan mengakibatkan nilai-nilai
WISNU NUGROHO, 2016 PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN DAN MOTOR EDUCABILITY TERHADAP PENGUASAAN KETERAMPILAN DASAR TENIS LAPANGAN
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tenis lapangan adalah olahraga yang bisa dimainkan secara perorangan maupun pasangan. Setiap pemain tenis menggunakan raket untuk memukul bola karet. Tujuan
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA SILABUS MATAKULIAH PEMBELAJARAN PENDEKATAN TAKTIK: TEORI DAN KONSEP
Mata Kuliah : Pembelajaran Pendekatan Taktik: Teori dan Konsep Program Studi : Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Kode Mata kuliah : PJM 201 SKS : Teori: 2 SKS Mata Kuliah Prasyarat : - Dosen
BAB I PENDAHULUAN. adalah selalu ingin terjadi adanya perubahan yang lebih baik. Hal ini tentu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan dapat memberikan perubahan, perbaikan, dan kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang
BAB I PENDAHULUAN. Materi pelajaran pendidikan jasmani merupakan salah satu mata
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Materi pelajaran pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum Sekolah Menengah Atas. Menurut Tamura dan Amung (2003 : 10) menjelaskan,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun yang mengalami masa keemasan dimana anak mulai peka dan sensistif untuk menerima berbagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peserta didik sekolah dasar kelas awal, yaitu kelas I, II, dan III berada pada rentang usia dini. Masa usia dini merupakan masa yang pendek, tetapi sangat penting bagi
BAB I PENDAHULUAN. siswa untuk memahami nilai-nilai warga negara yang baik. Sehingga siswa
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk karakter individu yang bertanggung jawab, demokratis, serta berakhlak mulia.
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. 1. Kondisi Empiris Perkuliahan Strategi Pembelajaran Selama ini
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. SIMPULAN Berdasarkan temuan dan analisis data yang diperoleh dari kegiatan studi pendahuluan, uji coba model, dan uji validasi model, serta pembahasan penelitian,
Teori Belajar dan Pembelajaran
Teori Belajar dan Pembelajaran Oleh: Restu Wijayanto ( TP/B/048 ) A. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari
2016 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT DALAM PEMBELAJARAN PERMAINAN BOLA BESAR TERHADAP KERJASAMA SISWA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan hal yang penting bagi setiap bangsa yang sedang membangun. Dalam kedudukannya pada kerangka pembangunan nasional, pendidikan bersifat
