BAB 18 DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR
|
|
|
- Utami Hartanto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 18 DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR Industri manufaktur merupakan sektor strategis di dalam perekonomian nasional. Hal itu ditegaskan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang menyebutkan bahwa sektor manufaktur merupakan salah satu motor bagi pertumbuhan ekonomi. Sebagai motor pertumbuhan, kinerja industri manufaktur nasional terutama yang terkait dengan kemampuan daya saingnya masih belum pulih. Hal itu disebabkan oleh beberapa permasalahan yang membutuhkan penanganan secara saksama. I. Permasalahan yang Dihadapi Permasalahan utama yang dihadapi, antara lain struktur industri yang belum kokoh, iklim usaha yang belum kondusif, penyelundupan yang masih marak, penguasaan teknologi oleh unit usaha yang masih lemah, dan kualitas SDM industri yang belum memadai. Secara lebih rinci, permasalahan yang dihadapi untuk tiap subsektor industri adalah sebagai berikut.
2 Permasalahan yang dihadapi oleh industri makanan, minuman, dan tembakau, antara lain terganggunya pemasaran dalam negeri oleh produk ilegal serta akibat isu negatif penggunaan bahan tambahan pangan yang mengganggu kesehatan; terjadinya tambahan beban biaya operasional akibat kebijakan yang belum kondusif, seperti ketentuan karantina dan retribusi daerah. Permasalahan pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT) meliputi (1) permesinan yang sudah tua (80 persen berusia di atas 20 tahun); (2) masih adanya anggapan perbankan bahwa industri TPT masih berisiko tinggi; (3) masih maraknya penyelundupan. Di sub sektor industri alas kaki permasalahannya adalah impor ilegal, kurangnya pasokan bahan baku kulit, terbatasnya kemampuan SDM dalam desain dan teknologi, serta ketergantungan yang tinggi pada buyer/principal luar negeri. Permasalahan pada industri pengolahan kayu (termasuk rotan dan bambu) antara lain adalah (1) adanya kelangkaan pasokan bahan baku kayu dan rotan; (2) masih terdapat produk kayu dan rotan setengah jadi dan asalan yang diekspor; (3) masih belum kondusifnya perdagangan bahan baku kayu, dan (4) lemahnya kemampuan desain dan finishing mebel. Masalah yang dihadapi industri pulp dan kertas di antaranya adalah (1) tuduhan dumping dan subsidi dari negara tujuan ekspor; (2) belum kondusifnya pengelolaan limbah dan lingkungan; (3) masih lemahnya kemampuan hutan tanaman industri (HTI) untuk memasok kebutuhan bahan baku dan belum terbangunnya kemampuan bahan baku alternatif, seperti tandan kosong kelapa sawit. Industri pupuk, kimia, dan karet menghadapi masalah, antara lain, berupa terbatasnya pasokan gas untuk bahan baku/energi di beberapa wilayah, seperti Gresik, Jawa Timur, dan Medan, Sumatera Utara dan adanya kontaminasi terhadap bahan olah karet (bokar) berupa limbah padat kompon karet. Sementara itu, industri semen dihadapkan pada masalah, antara lain kurangnya sarana dan prasarana, bahan baku, dan kontinuitas pasokan batubara. Khusus untuk industri keramik, 18-2
3 permasalahan yang dihadapi adalah ketergantungan pada bahan baku impor serta ketidakstabilan pasokan gas bumi. Permasalahan yang dihadapi industri baja terutama meliputi (1) banyaknya peredaran produk baja non standar di pasar dalam negeri; (2) adanya penanganan limbah peleburan baja (steel slage) sangat memberatkan karena di kategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun; (3) kurang efektifnya perlindungan terhadap produk dalam negeri; dan (4) masih beredarnya barang impor yang ilegal. Industri kendaraan bermotor roda empat masih mengalami permasalahan, antara lain, berupa lemahnya keterkaitan industri perakit dengan industri komponen dan pendukung, belum optimalnya peran lembaga pendukung industri kendaraan bermotor, seperti pusat diklat, lembaga sertifikasi, pusat enginering, perguruan tinggi, dan masih adanya ketergantungan industri terhadap bahan baku impor. Permasalahan yang dihadapi industri mesin listrik dan peralatan listrik, antara lain ketergantungan pada bahan baku luar negeri, seperti turbin dan generator. II. Langkah Kebijakan dan Hasil yang Dicapai A. Umum Upaya peningkatan daya saing terus didorong untuk kemajuan industri manufaktur nasional. Koordinasi lintas instansi diarahkan, terutama, agar terus memperbaiki faktor kunci keberhasilan pembangunan industri, dengan melahirkan kebijakan untuk (1) mengembangkan sistem distribusi yang efisien dan efektif untuk produk industri termasuk mengendalikan lalu lintas barang; (2) menciptakan lingkungan bisnis yang nyaman dan kondusif; (3) mengembangkan kemampuan inovasi teknologi; (4) mengembangkan kompetensi inti daerah; (5) menjamin keberlanjutan dan ketersediaan energi bagi pembangunan industri; dan (6) menjaga integritas ekologi bagi kegiatan dan produk industri; (7) mengembangkan kerjasama (aliansi) dalam rangka penguasaan pasar internasional terhadap produk industri. 18-3
4 Secara umum, perkembangan industri pengolahan nonmigas ditunjukkan oleh tingkat pertumbuhannya yang pada tahun 2006 mencapai 5,27 persen, dan semester pertama tahun 2007 tumbuh 5,92 persen. Secara lebih rinci, disajikan pada Tabel berikut. Tabel 18.1 Pertumbuhan Industri Pengolahan Non Migas, *) (Harga Konstan Tahun 2000) CABANG INDUSTRI * ) 1). Makanan, Minuman dan Tembakau 1,39 2,75 7,22 8,16 2). Tekstil, Brg. Kulit dan Alas Kaki 4,06 1,31 1,23-1,53 3). Brg. Kayu dan Hasil Hutan -2,07-0,92-0,66-2,01 4). Kertas dan Barang Cetakan 7,61 2,39 2,09 10,78 5). Pupuk, Kimia dan Barang Karet 9,01 8,77 4,48 6,96 6). Semen dan Brg.Galian Non Logam 9,53 3,81 0,53 5,60 7). Logam Dasar Besi dan Baja -2,61-3,70 4,73 1,08 8). Alat Angkut, Mesin dan Peralatan 17,67 12,38 7,55 7,16 9). Barang Lainnya 12,77 2,61 3,62-0,04 Industri Non Migas 7,51 5,85 5,27 5,92 Sumber: BPS Catatan: *) Semester B. Perkembangan Beberapa Komoditi Industri Dalam industri makanan, minuman dan tembakau, langkahlangkah penanganan yang telah dilakukan antara lain (1) koordinasi pelaksanaan UU No.17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan; (2) koordinasi dalam menanggapi isu negatif yang berkenaan dengan 18-4
5 produk pangan; (3) peninjauan kembali berbagai peraturan tentang karantina, izin pemasukan daging dan susu, perdagangan antarpulau untuk gula rafinasi dan Perda tentang retribusi pemasukan makanan dan minuman ke wilayah DKI Jakarta; (4) peninjauan kebijakan penetapan harga dasar dan tarif hasil tembakau; serta pengefektifan Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman (PIPIMM). Produksi minyak goreng sawit selama Januari Desember 2006 menurun sedikit. Produksi pada 6 bulan pertama tahun 2006 menurun dari ton pada Januari 2006 menjadi hanya ton pada Juni 2006, sedangkan pada 6 bulan kedua jumlah produksi bulanan mulai meningkat dengan produksi tertinggi dicapai pada Desember 2006 sebanyak ton. Pada periode Januari Maret 2007 produksi minyak goreng kembali menurun dari 1,38 juta ton pada Januari 2007 menjadi hanya 1,18 juta ton pada Maret Dari jumlah produksi bulanan sekitar 33 persen diperuntukan bagi pasar ekspor dan 22 persen dialokasikan untuk pasar domestik dan sisanya sekitar 45 persen untuk stok nasional. Langkah penanganan bagi industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki yang telah dilaksanakan antara lain (1) fasilitasi restrukturisasi permesinan industri TPT; (2) koordinasi dengan kementerian terkait dalam penanganan limbah batubara fly ash dan buttom ash bagi industri TPT yang membangun PLTU sendiri. Produksi serat periode pada 2006 menunjukkan kecenderungan yang konstan berkisar ton per bulan, sedangkan kebutuhan di dalam negeri berada pada tingkat yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan realisasi produksi pada kisaran ton. Pada periode Januari Maret 2007 produksi serat menunjukkan kecenderungan meningkat, yaitu berkisar ton per bulan. Selama tahun 2006 produksi benang berkisar ton per bulan. Pada periode Januari Maret 2007 juga menunjukkan perkembangan yang relatif stabil berkisar ton per bulan. Realisasi produksi kain pada tahun 2006 cenderung stabil berkisar ton per bulan, demikian pula pada periode Januari Maret 2007 menunjukkan kecenderungan yang stabil, yaitu berkisar ton per bulan. Kecenderungan produksi tersebut seiring 18-5
6 dengan tren ekspor yang berfluktuasi antara ton ton atau sekitar 78 persen dari jumlah realisasi produksi bulanan. Industri kertas dan barang cetakan, sejak awal tahun 2007 cenderung meningkat. Realisasi produksi pulp periode Januari Desember 2006 berkisar dari yang terendah di bulan Januari sebesar ton sampai dengan yang tertinggi ton di bulan Desember 2006, sedangkan realisasi produksi pulp periode Januari Maret 2007 menunjukkan kecenderungan penurunan dari ton di bulan Januari 2007 menjadi ton pada bulan Maret 2007 walaupun secara keseluruhan terjadi peningkatan pada triwulan pertama tahun 2007 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun Dari realisasi produksi tersebut jumlah yang diekspor berkisar 40 persen. Produksi kertas menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari yang terendah sebesar ton di bulan Januari sampai yang tertinggi ton di bulan Desember Realisasi produksi kertas periode Januari Maret 2007 menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari yang terendah sebesar ton pada bulan Januari sampai yang tertinggi ton pada bulan Februari Selama tahun 2006, produksi kertas mencapai sebesar 8,5 juta ton, 5,4 juta ton (63,5%) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sedangkan sisanya sebanyak 36,5 persen untuk diekspor. Langkah penanganan bagi industri pupuk, kimia, dan barang dari karet yang dilaksanakan, antara lain, adalah mempercepat penyelesaian pasokan gas untuk industri pupuk (PT Petrokimia Gresik) di Jawa Timur dan industri sarung tangan karet di Medan, Sumatera Utara. Di samping itu, telah diberlakukan ketentuan penerapan wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) yang bertujuan untuk menjaga pasar domestik dari maraknya produk ban eks-impor yang tidak memenuhi standar yang diwajibkan. Pupuk urea merupakan 70 persen dari keseluruhan pupuk yang diproduksi di Indonesia yang untuk periode Januari Desember 2006 produksi terendah mencapai ton, yaitu pada bulan Februari 2006 dan produksi tertinggi mencapai ton, yaitu pada bulan Juli 2006, sedangkan produksi pada periode Januari Maret 2007 diperkirakan mencapai 1,33 juta ton atau meningkat 10,72 persen 18-6
7 jika dibanding kan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi tertinggi mencapai ton, yaitu pada bulan Maret Keseluruhan produksi pupuk urea ditujukan untuk penggunaan di dalam negeri. Pupuk non urea merupakan 30 persen dari total produksi pupuk di dalam negeri, antara lain, meliputi pupuk ZA, SP36, dan pupuk Phonska. Produksi pupuk ZA periode Januari Desember 2006 berkisar antara dan ton. Produksi tertinggi tercapai pada bulan Januari 2006 mencapai ton, sedangkan periode Januari Maret 2007 realisasi produksi berkisar antara dan ton. Pada tahun 2006 produksi bulanan pupuk SP36 berkisar antara dan ton, sedangkan produksi selama Januari Maret 2007 mencapai ton atau meningkat sebesar 15,56 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya dengan produksi tertinggi pada bulan Maret 2007 yang mencapai ton. Produksi bulanan pupuk Phonska pada tahun 2006 berkisar antara dan ton, sedangkan periode Januari Maret 2007 berkisar dari hingga ton. Keseluruhan pupuk nonurea tersebut diperuntukan penggunaannya di dalam negeri dan tidak untuk diekspor. Selama tahun 2006 produksi ban sepeda motor menunjukkan kenaikan seiring dengan meningkatnya kebutuhan di dalam negeri. Jumlah produksi ban sepeda motor berkisar antara 1,9 juta dan 2,0 juta unit per bulan, sedangkan konsumsi dalam negeri berkisar antara 1,7 juta hingga 2,0 juta unit per bulan sehingga kelebihan jumlah produksi untuk ekspor. Sementara produksi pada periode Januari Maret 2007 berkisar antara 1,92 juta dan 1,95 juta unit per bulan, sedangkan konsumsi dalam negeri berkisar antara 1,91 juta hingga 1,95 juta unit per bulan, dan kelebihannya diekspor. Produksi ban mobil selama tahun 2006 berkisar antara 2,6 juta hingga 3,5 juta unit per bulan, sedangkan periode Januari Maret 2007 menunjukkan kondisi yang lebih baik, yaitu sekitar 3,3 juta unit. Rata-rata konsumsi ban mobil dalam negeri merupakan 20 persen dari realisasi produksi, sedangkan sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor. 18-7
8 Produksi semen nasional tahun 2006 cenderung meningkat dengan jumlah produksi bulanannya berkisar antara 2,5 juta dan 3,2 juta ton. Produksi pada periode Januari Maret 2007 berkisar antara 2,3 juta ton dan 2,5 juta ton. Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, produksi semen turun sebesar 1,52 persen menjadi 7,44 juta ton. Produksi semen nasional sebagian besar dipasarkan di dalam negeri (90 persen), sedangkan sisanya untuk diekspor yang berkisar antara ton dan ton setiap bulannya. Saat ini terdapat 8 perusahaan semen dengan kapasitas produksi 45,7 juta, dan realisasi produksi pada tahun 2005 sebesar 34,9 juta ton, tahun 2006 sebesar 35, 2 juta ton. Langkah penanganan bagi industri logam dasar, besi, dan baja yang dilaksanakan, antara lain, adalah peningkatan pengawasan penerapan SNI wajib untuk beberapa produk baja. Untuk mengurangi ketergantungan pada biji besi impor, pemerintah telah memfasilitasi PT Krakatau Steel untuk menyusun rencana pendirian industri biji besi di Kalimantan Selatan dengan melakukan survei dan pemetaan cadangan. Di samping itu, sedang disiapkan Pengaturan Ekspor Biji Besi, baik dalam bentuk pengaturan tata niaga, pengawasan maupun pelarangan ekspor sebagaimana sudah diberlakukan untuk biji timah dan konsentratnya agar kebutuhan bahan baku biji besi dalam negeri dapat terpenuhi. Pada tahun 2006, produksi HRC (Hot-Rolled Coil) menunjukkan kecenderungan meningkat tipis, dengan realisasi bulanannya berkisar antara dan ton, sedangkan produksi periode Januari Maret 2007 menurun tipis, yaitu berkisar antara dan ton. Secara kumulatif, produksi selama triwulan I tahun 2007 meningkat sebesar 24,4 persen menjadi ton bila dibandingkan dengan triwulan-i tahun Kebutuhan dalam negeri terhadap produk HRC sebesar 1,95 juta ton selama tahun 2006, sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 1,66 juta ton. Produksi HRP (Hot Rolled Plate) juga memperlihatkan peningkatan tipis seperti halnya produksi HRC. Pada periode Januari-Desember 2006 produksi HRP berkisar antara hingga ton per bulan. Selama tahun 2006, total produksi sekitar ton dan hanya sekitar 21,6 persen digunakan untuk 18-8
9 memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sisanya sekitar 78,4 persen diekspor. Pada periode Januari Maret 2007 realisasi produksi HRP menunjukkan kecenderungan menurun dari bulan ke bulan, berkisar antara dan ton per bulan. Namun demikian, secara kumulatif pada periode Januari Maret 2007 realisasi produksi HRP meningkat sebesar 14,9 persen menjadi ton. Langkah penanganan bagi industri alat angkut, mesin listrik, dan peralatan listrik yang dilaksanakan antara lain (1) penghapusan/penurunan PPnBM untuk produk elektronika tertentu; pengawasan terpadu produk ilegal di pasar; (2) penambahan sistem deteksi elektronik untuk pemeriksaan barang impor dalam kontainer untuk mencegah pengenaan tarif bea masuk secara borongan; (4) dorongan dan pemfasilitasan pembelian lampu hemat energi produksi dalam negeri. Produksi kendaraan bermotor roda dua (sepeda motor) pada tahun 2006 cenderung meningkat dan berkisar antara dan unit per bulan. Produksi tertinggi dicapai pada bulan September sebesar unit. Pada Januari Maret 2007 produksi sepeda motor tetap tinggi berkisar antara dan unit per bulan. Produksi tertinggi dicapai pada bulan Maret sebesar unit. Bila dibandingkan dengan triwulan IV 2006, produksi triwulan pertama tahun ini menurun sebesar 18,67 persen menjadi unit. Selama tahun 2006 produksi kendaraan bermotor roda empat juga meningkat. Pada periode Maret Juli tahun 2006 produksi berkisar antara dan unit. Namun, sejak Agustus 2006 terjadi peningkatan tajam, yaitu dari unit menjadi unit pada Desember 2006, sedangkan produksi pada Januari Maret 2007 cenderung menurun. Pada bulan Februari 2007 produksi menjadi unit atau menurun sebesar 17,15 persen jika dibandingkan dengan bulan Januari. Produksi baru meningkat lagi pada bulan Maret menjadi unit, dan terus meningkat lagi pada bulanjuni mencapai unit. Sebagian besar produksi kendaraan bermotor roda empat dipasarkan di dalam negeri. Produksi untuk ekspor berkisar antara hingga unit per bulan dalam bentuk komponen terurai dan antara dan per bulan unit dalam bentuk produk utuh. 18-9
10 Produksi televisi selama tahun 2006 menunjukkan peningkatan yang cukup besar, ditandai oleh naiknya permintaan dalam negeri serta meningkatnya ekspor produk televisi. Pada kuartal pertama (Januari April 2006) produksi televisi berkisar antara 490 ribu dan 560 ribu unit per bulan. Sejak bulan Mei 2006 produksi pada terus meningkat dari 650 ribu pada unit menjadi 850 ribu unit di bulan Agustus dan 1,5 juta unit pada bulan Desember Selama tahun 2006, produksi televisi mencapai nilai sebesar USD 1,08 miliar, sedangkan permintaan dalam negeri hanya sebesar USD 0,67 miliar dan sisanya diekspor. Realisasi produksi televisi periode Januari Maret 2007 menunjukkan peningkatan yang cukup berarti yang ditandai dengan naiknya permintaan dalam negeri serta meningkatnya ekspor produk televisi. Pada triwulan pertama 2007 realisasi produksi televisi berkisar antara USD 56,73 juta dan USD 64,38 juta per bulan. Jumlah produksi lemari es periode Januari Desember 2006 menunjukkan kecenderungan meningkat seiring dengan naiknya permintaan dalam negeri dan permintaan ekspor. Pada kuartal pertama (Januari April 2006) jumlah produksi meningkat dari unit pada bulan Januari menjadi unit pada bulan April atau naik 99,5 persen selama 4 bulan. Peningkatan signifikan terjadi mulai bulan Agustus yang mencapai unit, yang meningkat lagi pada bulan Oktober menjadi unit, dan pada bulan Desember menjadi unit atau dalam kurun waktu 6 bulan terjadi peningkatan produksi sebesar 74,9 persen. Pada tahun 2006 produksi lemari es mencapai nilai sebesar USD 101,01 juta, yang sebagian besar (97,0%) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sedangkan pada periode Januari Maret 2007 juga menunjukkan kecenderungan meningkat seiring dengan naiknya permintaan dalam negeri dan permintaan ekspor. Pada triwulan pertama 2007 realisasi nilai produksi meningkat dari USD 3,19 juta pada bulan Januari menjadi USD 6,33 juta pada bulan Maret atau naik 98,43 persen. Produksi MCB (mother circuit board) pada tahun 2006 menunjukkan peningkatan yang berarti dengan jumlah produksi berkisar antara dan unit per bulan. Pada periode Januari Maret 2007 produksi juga menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat dengan jumlah produksi antara unit 18-10
11 dan unit per bulan. Kebutuhan akan MCB produksi dalam negeri mencapai 90 persen berkisar antara dan unit. Produksi MCB juga diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan ekspor berkisar antara hingga unit per bulan yang rata-rata merupakan 9 persen realisasi produksi. Sementara itu, produksi motor listrik pada tahun 2006 ternyata masih di bawah tingkat kebutuhan di dalam negeri. Produksi motor listrik rata-rata hanya memenuhi kurang lebih 5 persen kebutuhan dalam negeri. Produksi bulanan hanya mencapai hingga unit, sedangkan kebutuhan dalam negeri mencapai hingga unit per bulan. Pada periode Januari Maret 2007, produksi mencapai kisaran hingga unit, sedangkan permintaan dalam negeri ternyata meningkat sangat pesat mencapai hingga unit per bulan. Realisasi produksi kwh Meter pada tahun 2006 menunjukkan kecenderungan peningkatan yang ditandai juga dengan kebutuhan konsumsi dalam negeri yang semakin meningkat meskipun pada tingkat yang lebih rendah. Produksi bulanan berkisar antara dan unit per bulan dengan produksi tertinggi dicapai pada bulan September 2006 dan Desember 2006 masing-masing mencapai produksi unit. Pada periode Januari Maret tahun 2007 tetap menunjukan peningkatan dengan realisasi produksi bulanan pada periode yang sama berkisar antara dan unit per bulan dengan produksi tertinggi dicapai pada bulan Maret 2007 yang mencapai produksi unit, sedangkan konsumsi dalam negeri rata-rata 50 persen realisasi produksi sehingga produksi yang tersisa dialokasikan untuk pasar ekspor. Agar peranan industri kecil dan menengah semakin meningkat dan tangguh, maka dilakukan perkuatan pendampingan langsung oleh para Tenaga Penyuluh Perindustrian yang tersebar di seluruh nusantara terutama untuk memfasilitasi IKM ke sumber daya produktif
12 III. Tindak Lanjut yang Diperlukan Kebijakan sektor industri untuk tahun 2007 diarahkan pada keberlanjutan upaya-upaya untuk a. melaksanakan perbaikan iklim usaha, baik bagi pembangunan usaha baru maupun pengoperasiannya di setiap matarantai produksi dan distribusi secara lintas lembaga, baik di pusat maupun di daerah terutama menyelesaikan peraturan perundang-undangan penting untuk mempengaruhi kinerja industri; b. meningkatkan pengamanan pasar dalam negeri dari produkproduk impor ilegal dan meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri; c. merumuskan koordinasi pembangunan dan rencana aksi yang operasional dan terinci untuk mendorong pendalaman industri pada 10 kelompok industri sebagaimana disebutkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasioanl (RPJMN) ; d. memberdayakan peranan industri kecil dan menengah dalam rangka penguatan struktur industri, terutama fasilitasi akses kepada sumber daya produktif; e. membantu dunia industri melalui (1) pengembangan penelitian dan pengembangan untuk pembaruan dan inovasi teknologi, (2) peningkatan kompetensi dan keterampilan tenaga kerja, (3) penyediaan layanan informasi pasar, (4) fasilitasi proses alih teknologi dari industri Penenaman Modal Asing (PMA), dan (5) penyediaan sarana dan prasarana umum pengendalian mutu dan pengembangan produk
LAPORAN PERKEMBANGAN KOMODITI INDUSTRI TERPILIH TRIWULAN IV, TAHUN
LAPORAN PERKEMBANGAN KOMODITI INDUSTRI TERPILIH TRIWULAN IV, TAHUN 28 1 2 LAPORAN PERKEMBANGAN KOMODITI INDUSTRI TERPILIH TRIWULAN IV, TAHUN 28 KATA PENGANTAR Pengembangan sektor industri saat ini diarahkan
Ringkasan. Kebijakan Pembangunan Industri Nasional
Ringkasan Kebijakan Pembangunan Industri Nasional Era globalisasi ekonomi yang disertai dengan pesatnya perkembangan teknologi, berdampak sangat ketatnya persaingan, dan cepatnya terjadi perubahan lingkungan
BAB 18 DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR
BAB 18 DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR I. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004 2009 menggarisbawahi perlunya daya saing industri manufaktur nasional perlu
BAB 18 DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR
BAB 18 DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004 2009 dinyatakan bahwa daya saing industri manufaktur perlu terus ditingkatkan agar tetap dapat berperan
Industrialisasi Sektor Agro dan Peran Koperasi dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Kementerian Perindustrian 2015
Industrialisasi Sektor Agro dan Peran Koperasi dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional Kementerian Perindustrian 2015 I. LATAR BELAKANG 2 INDUSTRI AGRO Industri Agro dikelompokkan dalam 4 kelompok, yaitu
DISAMPAIKAN OLEH : DIREKTUR JENDERAL INDUSTRI AGRO PADA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2013 JAKARTA, FEBRUARI 2013 DAFTAR ISI
DISAMPAIKAN OLEH : DIREKTUR JENDERAL AGRO PADA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERAN TAHUN 2013 JAKARTA, FEBRUARI 2013 DAFTAR ISI I. KINERJA AGRO TAHUN 2012 II. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN AGRO III. ISU-ISU STRATEGIS
Analisis Perkembangan Industri
FEBRUARI 2017 Analisis Perkembangan Industri Pusat Data dan Informasi Februari 2017 Pendahuluan Pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,02%, lebih tinggi dari pertumbuhan tahun
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN 2012-2014 Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Jakarta, 1 Februari 2012 Daftar Isi I. LATAR BELAKANG II. ISU STRATEGIS DI SEKTOR INDUSTRI III.
Rencana Strategis Perindustrian di Bidang Energi
Rencana Strategis Perindustrian di Bidang Energi disampaikan pada Forum Sinkronisasi Perencanaan Strategis 2015-2019 Dalam Rangka Pencapaian Sasaran Kebijakan Energi Nasional Yogyakarta, 13 Agustus 2015
Analisis Perkembangan Industri
MARET 2017 Analisis Perkembangan Industri Pusat Data dan Informasi Maret 2017 Pertumbuhan Ekonomi Nasional Pertumbuhan ekonomi nasional, yang diukur berdasarkan PDB harga konstan 2010, pada triwulan IV
DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT)
DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT) OLEH SRI MULYANI H14103087 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN
TABEL - IV.1 PERKEMBANGAN NILAI PRODUK DOMESTIK BRUTO (PDB) MENURUT SKALA USAHA ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1993 TAHUN
TABEL - IV.1 PERKEMBANGAN NILAI PRODUK DOMESTIK BRUTO (PDB) MENURUT SKALA USAHA ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1993 SKALA USAHA 1 Usaha Kecil (UK) 184.845.034 194.426.046 9.581.012 5,18 2 Usaha Menengah (UM)
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA
KELOMPOK I KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA TOPIK : PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI AGRO DAN KIMIA MELALUI PENDEKATAN KLASTER KELOMPOK INDUSTRI HASIL HUTAN DAN PERKEBUNAN, KIMIA HULU DAN
BAB I PENDAHULUAN. sektor nonmigas lain dan migas, yaitu sebesar 63,53 % dari total ekspor. Indonesia, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.1.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perdagangan barang dan jasa antar negara di dunia membuat setiap negara mampu memenuhi kebutuhan penduduknya dan memperoleh keuntungan dengan mengekspor barang
TABEL - VII.1 PERKEMBANGAN NILAI INVESTASI MENURUT SKALA USAHA ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1993 TAHUN
TABEL - VII.1 PERKEMBANGAN NILAI INVESTASI MENURUT SKALA USAHA SKALA USAHA 1 Usaha Kecil (UK) 17.968.449 19.510.919 1.542.470 8,58 2 Usaha Menengah (UM) 23.077.246 25.199.311 2.122.065 9,20 Usaha Kecil
INDIKATOR he AKTIVITAS EKONOMI TERPILIH & ASESMEN SUBSEKTOR EKONOMI
Produksi Minyak Mentah Produksi Kondensat Penjualan Minyak Diesel Konsumsi Semen Produksi Kendaraan Non Niaga Penjualan Kendaraan Non Niaga Produksi Kendaraan Niaga Penjualan Kendaraan Niaga Produksi Sepeda
MATRIK 2.3 RENCANA TINDAK PEMBANGUNAN KEMENTERIAN/ LEMBAGA TAHUN 2011
I PROGRAM DUKUNGAN MANAJEMEN DAN PELAKSANAAN TUGAS TEKNIS LAINNYA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN 250,0 275,0 320,0 360,0 1 Peningkatan Pengelolaan Pelayanan Publik 2 Pengembangan SDM Industri Tersebarnya informasi,
RUMUSAN HASIL RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN PEMERINTAH DAERAH TAH
Jakarta, 2 Maret 2012 Rapat Kerja dengan tema Akselerasi Industrialisasi Dalam Rangka Mendukung Percepatan Pembangunan Ekonomi yang dihadiri oleh seluruh Pejabat Eselon I, seluruh Pejabat Eselon II, Pejabat
Perkembangan Terakhir Sektor Industri Dan Inflasi KADIN INDONESIA
Perkembangan Terakhir Sektor Industri Dan Inflasi KADIN INDONESIA Mudrajad Kuncoro Juli 2008 Peranan Masing- Masing Cabang Industri Terhadap PDB Sektor Industri Tahun 1995-2008* No. Cabang Industri Persen
w tp :// w ht.b p w s. go.id PERKEMBANGAN INDEKS PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR BESAR DAN SEDANG 2011 2013 ISSN : 1978-9602 No. Publikasi : 05310.1306 Katalog BPS : 6102002 Ukuran Buku : 16 x 21 cm Jumlah
BAB I PENDAHULUAN. tercapainya perekonomian nasional yang optimal. Inti dari tujuan pembangunan
BAB I PENDAHULUAN 1. A 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator kemajuan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka semakin baik pula perekonomian negara
Analisis Perkembangan Industri
APRIL 2017 Analisis Perkembangan Industri Pusat Data dan Informasi April 2017 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I 2017 Pada triwulan 1 2017 perekonomian Indonesia, tumbuh sebesar 5,01% (yoy). Pertumbuhan
INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI
Oktober 2008 INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI Pada Oktober 2008, pertumbuhan tertinggi secara tahunan terjadi pada produksi kendaraan niaga, sementara secara bulanan terjadi pada produksi kendaraan non niaga
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR
BADAN PUSAT STATISTIK No. 70/11/Th. XIII, 1 November PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR OKTOBER HARGA GROSIR NAIK 0,17 PERSEN Pada bulan Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan
PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI MAKANAN, HASIL LAUT DAN PERIKANAN
PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI MAKANAN, HASIL LAUT DAN PERIKANAN DIREKTORAT INDUSTRI MAKANAN, HASIL LAUT DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO BOGOR, 7 9 FEBRUARI 2013 PENDAHULUAN Pengembangan
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI GULA RAFINASI DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN JAKARTA, OKTOBER 2013
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI GULA RAFINASI DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN JAKARTA, OKTOBER 2013 OUTLINE V PENUTUP III II I PENDAHULUAN PERKEMBANGAN INDUSTRI MAKANAN DAN
BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014
BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014 1.1 LATAR BELAKANG Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2014 sebesar 5,12 persen melambat dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun
I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan proses transformasi yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Pembangunan ekonomi dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR
BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK No. 76/12/Th. XII, 1 Desember PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR OKTOBER HARGA GROSIR TURUN 0,07 PERSEN Pada bulan Oktober Indeks harga grosir/agen
KESIAPAN SKKNI UNTUK TENAGA KERJA INDUSTRI YANG KOMPETEN
Direktorat Industri Elektronika dan Telematika Ditjen IUBTT Kementerian Perindustrian KESIAPAN SKKNI UNTUK TENAGA KERJA INDUSTRI YANG KOMPETEN Disampaikan pada Sosialisasi SKKNI Kementerian Komunikasi
Menteri Perindustrian Republik Indonesia
Menteri Perindustrian Republik Indonesia KEYNOTE SPEECH MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA MUSYAWARAH PROPINSI VI TAHUN 2015 KADIN DENGAN TEMA MEMBANGUN PROFESIONALISME DAN KEMANDIRIAN DALAM MENGHADAPI ERA
Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016
Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016 Yth. : 1. Menteri Perdagangan; 2. Menteri Pertanian; 3. Kepala BKPM;
INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI
Maret 2008 INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI Pada Maret 2008, pertumbuhan tahunan dan bulanan tertinggi terjadi pada produksi kendaraan niaga Sementara itu, kontraksi tertinggi secara tahunan terjadi pada penjualan
PDB per kapita atas dasar harga berlaku selama tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 13,8% (yoy) menjadi Rp30,8 juta atau US$ per tahun.
Indonesia pada tahun 2011 tumbuh sebesar 6,5% (yoy), sedangkan pertumbuhan triwulan IV-2011 secara tahunan sebesar 6,5% (yoy) atau secara triwulanan turun 1,3% (qtq). PDB per kapita atas dasar harga berlaku
BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembangunan jangka panjang, sektor industri merupakan tulang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam pembangunan jangka panjang, sektor industri merupakan tulang punggung perekonomian. Tumpuan harapan yang diletakkan pada sektor industri dimaksudkan
KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara
KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2019 Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara Jakarta, 16 Februari 2016 I. TUJUAN KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL 2 I. TUJUAN KEBIJAKAN
LAMPIRAN PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERDAGANGAN
LAMPIRAN PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERDAGANGAN PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERDAGANGAN
Statistik KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi sangat strategis, karena potensinya yang besar dalam menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat, dan sekaligus menjadi tumpuan sumber
Menteri Perindustrian Republik Indonesia PENGARAHAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA FORUM DIALOG DENGAN PIMPINAN REDAKSI JAKARTA, 30 JUNI 2015
Menteri Perindustrian Republik Indonesia PENGARAHAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA FORUM DIALOG DENGAN PIMPINAN REDAKSI JAKARTA, 30 JUNI 2015 Yth. : Para Pimpinan Redaksi dan hadirin yang hormati;
ANALISIS PERKEMBANGAN BISNIS SEKTOR PERTANIAN. Biro Riset LMFEUI
ANALISIS PERKEMBANGAN BISNIS SEKTOR PERTANIAN Biro Riset LMFEUI Data tahun 2007 memperlihatkan, dengan PDB sekitar Rp 3.957 trilyun, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar, yaitu Rp
Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Provinsi Kalimantan Timur*) Triwulan IV Tahun 2014
BPS PROVINSI KALIMANTAN TIMUR No. 07/02/64/XVIII, 2 Februari 2015 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Provinsi Kalimantan Timur*) Triwulan IV Tahun 2014 Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor Industri merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam pembangunan nasional. Kontribusi sektor Industri terhadap pembangunan nasional setiap tahunnya
LAPORAN LIAISON. Triwulan I Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh
Triwulan I - 2015 LAPORAN LIAISON Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh terbatas, tercermin dari penjualan domestik pada triwulan I-2015 yang menurun dibandingkan periode
ANALISIS PERKEMBANGAN INDUSTRI MIKRO DAN KECIL DI INDONESIA
ANALISIS PERKEMBANGAN INDUSTRI MIKRO DAN KECIL DI INDONESIA Oleh : Azwar Harahap Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Riau ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
Sektor * 2010** 3,26 3,45 3,79 2,82 2,72 3,36 3,47 4,83 3,98 2,86 2. Pertambangan dan Penggalian
Sektor 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009* 2010** (1) (2) (3) (3) (4) (4) (5) (5) (6) (6) (7) 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan Dan Perikanan 3,26 3,45 3,79 2,82 2,72 3,36 3,47 4,83 3,98 2,86
PROGRAM KERJA 2009 & RENCANA KERJA 2010 DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO DAN KIMIA
PROGRAM KERJA 2009 & RENCANA KERJA 2010 DITJEN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA Disampaikan oleh : DIREKTUR JENDERAL INDUSTRI AGRO DAN KIMIA pada Rapat Kerja Departemen Perindustrian dengan Dinas Propinsi/Kabupaten/Kota
Energy Conservation in the Industry by Utilizing Renewable Energy or Energy Efficiency and Technology Development. Jakarta, 19 Agustus 2015
MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Energy Conservation in the Industry by Utilizing Renewable Energy or Energy Efficiency and Technology Development Jakarta, 19 Agustus 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI DAN
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR
BADAN PUSAT STATISTIK No. 30/05/Th. XIV, 2 Mei PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR APRIL HARGA GROSIR TURUN 0,07 PERSEN Pada Bulan April Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar
SURVEI KEGIATAN DUNIA USAHA
SURVEI KEGIATAN DUNIA USAHA TRIWULAN IV-2008 Sebagai dampak dari krisis keuangan global, kegiatan dunia usaha pada triwulan IV-2008 mengalami penurunan yang tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT)
ANALISIS SEKTOR UNGGULAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MANDAILING NATAL PROVINSI SUMATERA UTARA
ANALISIS SEKTOR UNGGULAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MANDAILING NATAL PROVINSI SUMATERA UTARA Andi Tabrani Pusat Pengkajian Kebijakan Peningkatan Daya Saing, BPPT, Jakarta Abstract Identification process for
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Setiap negara di dunia ini pasti akan melakukan interaksi dengan negaranegara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap negara di dunia ini pasti akan melakukan interaksi dengan negaranegara lain di sekitarnya. Biasanya bentuk kerjasama atau interaksi itu berbentuk perdagangan antar
INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI
Juli 2007 INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI Pada Juli 2007, secara tahunan, pertumbuhan tertinggi terjadi pada produksi kendaraan non niaga, sedangkan kontraksi tertinggi terjadi pada penjualan minyak diesel.
Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Provinsi Kalimantan Timur Triwulan I Tahun 2015
BPS PROVINSI KALIMANTAN TIMUR BPS PROVINSI KALIMANTAN TIMUR No. 31/05/64/TA XVIII, 4 MEI 2015 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Provinsi Kalimantan Timur Triwulan I Tahun 2015 Produksi Industri
PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO KECIL TRIWULAN II TAHUN 2013
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPULAUAN RIAU No. 54/08/21/Th. VIII, 1 Agustus 2013 PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO KECIL TRIWULAN II TAHUN 2013 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 32/05/35/Th. XI, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN I-2013 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Triwulan I Tahun 2013 (y-on-y) mencapai 6,62
LAPORAN PERKEMBANGAN KEMAJUAN PROGRAM KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN
LAPORAN PERKEMBANGAN KEMAJUAN PROGRAM KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2004-2012 KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN 2013 DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN... 1 II.KEBIJAKAN UMUM INDUSTRI MANUFAKTUR TAHUN 2005-2014...
BAB I PENDAHULUAN. Industri pertekstilan merupakan industri yang cukup banyak. menghasilkan devisa bagi negara. Tahun 2003 devisa ekspor yang berhasil
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri pertekstilan merupakan industri yang cukup banyak menghasilkan devisa bagi negara. Tahun 2003 devisa ekspor yang berhasil dikumpulkan melalui sektor pertekstilan
No. 05/02/81/Th.VII, 1 Pebruari 2016 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Mikro dan Kecil Triwulan IV kuartalan (q-to-q) di Maluku Tahun 2015 sebesar 6,85 persen, pertumbuhan kumulatif selama Tahun
BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA
BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA Ekonomi rakyat merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan
Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Tahun 2016
Ringkasan Eksekutif Perkembangan Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Bulan Oktober 2016 A. Pertumbuhan Ekspor Impor Industri Pengolahan 12.000 10.000 8.000 6.000 4.000 2.000 0 Perkembangan Nilai Ekspor
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR
BADAN PUSAT STATISTIK No. 05/01/Th. XIII, 4 Januari 2010 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR NOVEMBER HARGA GROSIR NAIK 0,73 PERSEN Pada bulan November Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga
PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI NASIONAL DAN PROGRAM MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI)
MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI NASIONAL DAN PROGRAM MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI) Disampaikan Pada Acara Forum Komunikasi
No. 05/02/81/Th.VI, 2 Pebruari 2015
No. 05/02/81/Th.VI, 2 Pebruari 2015 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Mikro dan Kecil Triwulan IV kuartalan (q-to-q) di Maluku Tahun 2014 sebesar 10,98 persen, pertumbuhan kumulatif selama Tahun
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional Dalam penerbitan buku Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tegal Tahun 2012 ruang lingkup penghitungan meliputi
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR
BADAN PUSAT STATISTIK No. 78/12/Th. XIII, 1 Desember PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR NOVEMBER HARGA GROSIR NAIK 0,36 PERSEN Pada bulan Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan
https://ambonkota.bps.go.id
No. 06/11/81/Th.VI, 2 November 2015 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Mikro dan Kecil Triwulan III kuartalan (q-to-q) di Maluku Tahun 2015 sebesar 3,68 persen, pertumbuhan kumulatif selama Tahun
Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen)
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 13/02/35/Th. XII, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR I. PERTUMBUHAN DAN STRUKTUR EKONOMI MENURUT LAPANGAN USAHA Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur
PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL TRIWULAN IV TAHUN 2016
NO. 11/02/33 TH. XI, 1 FEBRUARI 2017 PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL TRIWULAN IV TAHUN 2016 Pertumbuhan (q to q) produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV tahun
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR
BADAN PUSAT STATISTIK No. 05/01/Th. XIV, 3 Januari 2011 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR DESEMBER HARGA GROSIR NAIK 0,68 PERSEN Pada bulan Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR
BADAN PUSAT STATISTIK No. 71/11/Th. XIV, 1 November PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR OKTOBER HARGA GROSIR NAIK 0,20 PERSEN Pada bulan Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar
Analisis Perkembangan Industri
JUNI 2017 Analisis Perkembangan Industri Pusat Data dan Informasi Juni 2017 Pendahuluan Membaiknya perekonomian dunia secara keseluruhan merupakan penyebab utama membaiknya kinerja ekspor Indonesia pada
SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA BREAKFAST MEETING PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SEKTOR INDUSTRI NASIONAL JUMAT, 10 JUNI 2011
SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA BREAKFAST MEETING PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SEKTOR INDUSTRI NASIONAL JUMAT, 10 JUNI 2011 Yth. Para Narasumber (Sdr. Dr. Chatib Basri, Dr. Cyrillus Harinowo,
PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL TRIWULAN II TAHUN 2016
NO. 55/08/33 TH. X, 1 AGUSTUS 2016 PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL TRIWULAN II TAHUN 2016 Pertumbuhan (q to q) produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II tahun 2016
PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL TRIWULAN II TAHUN 2017
NO. 55/08/33 TH. XI, 1 AGUSTUS 2017 PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL TRIWULAN II TAHUN 2017 Pertumbuhan (q to q) produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II tahun 2017
PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR BESAR SEDANG TRIWULAN III TAHUN 2011
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPULAUAN RIAU No. 66/10/21/Th.VI, 1 Nopember 2011 PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR BESAR SEDANG TRIWULAN III TAHUN 2011 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR A. KONDISI UMUM Sebagai motor penggerak (prime mover) pertumbuhan ekonomi, sektor industri khususnya
Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014
Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Sektor pertanian sampai sekarang masih tetap memegang peran penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Peran
BAB I PENDAHULUAN. yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, sabuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada saat ini kebutuhan akan karet alam terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup manusia. Hal ini terkait dengan kebutuhan manusia yang memerlukan
GROWTH (%) SHARE (%) JENIS PENGELUARAN 2011** 2012*** Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.
Keterangan 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 * 2011 ** 2012 *** Produk Domestik Bruto (%, yoy) 3.64 4.50 4.78 5.03 5.69 5.50 6.35 6.01 4.63 6.22 6.49 6.23 Produk Nasional Bruto (%, yoy)
PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO KECIL TRIWULAN IV TAHUN 2011
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPULAUAN RIAU No. 13/02/21/Th. VII, 1 Februari 2012 PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO KECIL TRIWULAN IV TAHUN 2011 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR A. KONDISI UMUM Sebagai motor penggerak (prime mover) pertumbuhan ekonomi, sektor industri khususnya industri pengolahan nonmigas (manufaktur) menempati
