ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN
|
|
|
- Farida Pranata
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Modul: Menit ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN Penulis : Drs.Bambang Warsita, M.Pd Pengkaji Materi : Dr. Purwanto, M.Pd Pengkaji Media : Dra. Mariana Soemitro Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 2011 Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 1
2 A. PENDAHULUAN Halo, apa kabar? Mudah-mudahan Anda dalam keadaan sehat walafiat. Kami yakin Anda tentu sudah siap untuk mempelajari modul ini. Kali ini Anda akan mempelajari modul yang berjudul Analisis Kebutuhan Sistem Pembelajaran. Modul ini membahas tentang: 1) konsep dan esensi analisis kebutuhan sistem, 2) prinsip-prinsip analisis kebutuhan sistem, mulai dari tujuan, strategi, media, dan evaluasi, 3) model-model analisis kebutuhan sistem, dan 4) langkah-langkah analisis kebutuhan sistem, yaitu mulai dari mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, menyusun kisi-kisi instrumen, menyusun instrumen, mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis data, serta menyusun laporan hasil. Agar memudahkan untuk dipelajati modul analisis kebutuhan sistem ini dibagi menjadi 5 kegiatan belajar, yaitu: a. Kegiatan belajar 1, membahas tentang konsep dan esensi analisis kebutuhan sistem. b. Kegiatan belajar 2, membahas tentang prinsip-prinsip analisis kebutuhan sistem. c. Kegiatan belajar 3, membahas tentang model-model analisis kebutuhan sistem. d. Kegiatan belajar 4, membahas tentang penyusunan rancangan analisis kebutuhan sistem. e. Kegiatan belajar 5, membahas tentang pelaksanaan analisis kebutuhan sistem. Modul ini dapat Anda pelajari secara mandiri. Dalam mempelajari modul ini sebaiknya Anda pelajari secara bertahap, mulai dari materi yang disajikan pada Kegiatan Belajar-1 yang membahas tentang konsep dan esensi analisis kebutuhan sistem dan mengerjakan soal-soal latihannya serta telah yakin memahaminya, barulah Anda diperkenankan untuk melanjutkan mempelajari materi Kegiatan Belajar-2. Anda dapat melanjutkan mempelajari Kegiatan Belajar-2 setelah Anda memahami materi Kegiatan Belajar-1 Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 2
3 dan dapat menjawab soal-soal tugasnya dengan benar. Demikian seterusnya, Anda dapat melanjutkan ke kegiatan belajar selanjutnya. Jika Anda telah dapat menyelesaikan kegiatan belajar sebelumnya. Satu hal yang penting adalah membuat catatan tentang materi yang sulit Anda pahami. Cobalah terlebih dahulu mendiskusikan materi yang sulit dengan sesama peserta Diklat atau teman sejawat. Apabila memang masih dibutuhkan, Anda dianjurkan untuk mendiskusikannya dengan nara sumber Diklat pada saat kegiatan tatap muka. Di dalam modul ini tersedia soal tugas dan hendaknya semua soal tugas ini Anda kerjakan dengan tuntas. Dengan mengerjakan semua soal tugas yang ada Anda akan dapat menilai sendiri tingkat penguasaan atau pemahamannya terhadap materi yang disajikan dalam modul dan dapat membantu Anda mengetahui bagian-bagian mana dari materi yang disajikan di dalam modul yang masih belum sepenuhnya dipahami. Oleh karena itu, apabila semua soal tugas di setiap Kegiatan Belajar sudah selesai Anda kerjakan, periksalah jawaban Anda dengan menggunakan Kunci Tugas yang disediakan pada bagian akhir dari modul ini. Kemudian hitunglah jawaban Anda yang benar, lalu gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi setiap Kegiatan Belajar. Rumus Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban yang benar x 100% Arti tingkat penguasaan yang Anda capai : 90 % % = baik sekali 80 % - 89 % = baik 70 % - 79 % = cukup - 69 % = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, bagus! Anda cukup memahami materi Kegiatan Belajar. Anda dapat 5 meneruskan mempelajari Kegiatan Belajar selanjutnya. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80% Anda harus bersabar untuk mengulangi mempelajari materi Kegiatan Belajar, terutama bagian materi yang belum Anda kuasai. Kemudian kerjakan kembali soal tugasnya. Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 3
4 Manfaat mempelajari modul ini membantu Anda untuk dapat melakukan analisis kebutuhan sistem/model teknologi. Selain itu, Anda dapat memperoleh suatu pendekatan yang sistematis, efektif dan efisien dalam menentukan kebutuhan akan sistem atau model. Modul ini juga akan membantu Anda dalam menyusun rancangan analisis kebutuhan sistem mulai dari mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, menyusun kisi-kisi instrumen, menyusun instrumen, mengumpulkan data, mengolah dan menganálisis data, serta menulis laporan hasil analisis kebutuhan sistem. Oleh karena itu, pentingnya atau kegunaan menguasai modul analisis kebutuhan sistem bagi Anda Pejabat Fungsional PTP adalah memudahkan tugas Anda merancang media, merancang model, merancang model Diklat, dan sebagainya. Perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari modul ini adalah sekitar 15 x 45 menit. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk kegiatan secara tatap muka adalah 4 x 45 menit. Oleh karena itu, Anda dapat membuat catatan-catatan mengenai hal-hal yang perlu didiskusikan selama kegiatan secara tatap muka. Keberhasilan Anda dalam mempelajari modul ini tentunya tergantung pada keseriusan Anda. Hendaknya Anda tidak segan-segan untuk bertanya tentang materi yang belum Anda pahami kepada nara sumber pada saat kegiatan tatap muka, atau berdiskusi dengan rekan Anda serta berusaha menyelesaikan semua tugas yang ada dalam modul dengan baik. Yakinlah bahwa Insya Allah Anda akan berhasil dengan baik apabila memiliki semangat belajar yang tinggi. Jangan lupa berdoa kepada Allah SWT agar senantiasa diberikan kemudahan belajar. Selamat Belajar, Semoga Sukses! Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 4
5 B. B. MATERI PEMBELAJARAN KEGIATAN BELAJAR-1 KONSEP DAN ESENSI ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah selesai mempelajari materi yang diuraikan pada Kegiatan Pembelajaran-1, Anda dapat menjelaskan: a. pengertian analisis kebutuhan sistem, b. tujuan analisis kebutuhan sistem, dan c. esensi analisis kebutuhan sistem. 2. Uraian Materi Pembelajaran a. Pengertian Analisis Kebutuhan Sistem Pembelajaran Kegiatan memiliki posisi strategis dalam pengembangan sumberdaya manusia Indonesia sebagaimana yang dicitacitakan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dengan kata lain, adalah usaha untuk membuat peserta didik belajar. Pembelajaran merupakan jantungnya aktivitas pendidikan, sehingga menempati posisi dan peranan yang sangat penting. Di dalam kegiatan inilah terjadi proses transmisi dan transformasi pengalaman belajar kepada peserta didik sesuai kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu, apabila sistem pendidikan nasional ingin lebih berorientasi kepada penyiapan sumberdaya manusia era informasi maka yang terlebih dahulu dilakukan adalah pengembangan sistem nya. Apa sistem itu? Menurut Gagne (1979) dalam Suparman (2004) sistem adalah suatu set peristiwa yang mempengaruhi peserta didik sehingga terjadi proses belajar. Nah, suatu set peristiwa itu mungkin digerakkan oleh guru sehingga disebut, Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 5
6 mungkin digerakkan oleh peserta didik itu sendiri dengan menggunakan buku, modul, siaran televisi pendidikan, siaran radio pendidikan, multimedia, e-learning, atau kombinasi dari berbagai media. Baik digerakkan oleh guru maupun peserta didik sendiri, kegiatan itu haruslah terencana secara sistematis untuk dapat disebut kegiatan. Oleh karena itu, bentuk nyata dari sistem adalah satu set bahan belajar atau strategi yang telah teruji secara efektif dan efisien di lapangan. Dengan kata lain, satu set peristiwa yang memfasilitasi peserta didik untuk belajar atau memudahkan peserta didik belajar. Pengembangan sistem diawali dengan kegiatan analisis kebutuhan. Apa kegiatan analisis kebutuhan itu? Kegiatan analisis kebutuhan (needs assessment) adalah suatu kegiatan ilmiah yang melibatkan berbagai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber informasi untuk mengetahui kesenjangan (gap) antara keadaan yang seharusnya terjadi (ideal) dengan keadaan yang senyatanya terjadi (reality). Didalam ensiklopedia evaluasi yang disusun oleh Anderson,dkk. analisis kebutuhan diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas. Need Assessment (analisis kebutuhan) adalah suatu cara atau metode untuk mengetahui perbedaan antara kondisi yang diinginkan/seharusnya atau diharapkan dengan kondisi yang ada. Kondisi yang diinginkan seringkali disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang ada, seringkali disebut dengan kondisi riil atau kondisi nyata. Oleh karena itu, analisis kebutuhan adalah gambaran tentang kondisi yang terjadi saat ini (real condition) yang dibandingkan dengan kondisi seharunya dilengkapi dengan rekomendasi model solusi untuk mengatasi kesenjangan antara situasi yang senyatanya terjadi dengan kondisi yang seharusnya terjadi. Need Assessment dapat diterapkan pada individu, kelompok atau lembaga (institusi). Roger Kaufman & Fenwick W. English (1979), mendefinisikan analisis kebutuhan sebagai suatu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 6
7 dalam skala prioritas, lalu memilih hal yang lebih penting untuk diselesaikan masalahnya. Maka analisis kebutuhan adalah alat atau metode untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan atau solusi yang tepat. Dalam konteks pendidikan kebutuhan dimaksud diartikan sebagai suatu kondisi yang memperlihatkan adanya kesenjangan antara kenyaataan yang ada dengan kondisi yang diharapkan. Kebutuhan diartikan sebagai jarak antara keluaran yang nyata dengan keluaran yang diinginkan. Gambar 1, Bagan pengertian analisis kebutuhan Kesenjangan merupakan sebuah permasalahan yang harus dipecahkan. Oleh karena itu, kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang sistem, sehingga sistem yang dikembangkan merupakan suatu solusi terbaik. Bila kesenjangan tersebut dapat menimbulkan akibat dan dampak yang besar, maka perlu diprioritaskan dalam pengatasan masalah (Dick and Carey,1990). Nah, apabila kesenjangan tersebut dianggap sebagai suatu masalah yang memerlukan pemecahan, maka kesenjangan tersebut dianggap sebagai suatu kebutuhan (needs). Apa kebutuhan itu? Kebutuhan adalah kesenjangan keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya (Suparman, 2004). Dengan kata lain, setiap keadaan yang kurang dari yang seharusnya menunjukkan adanya kebutuhan. Apabila kesenjangan itu besar atau menimbulkan akibat lebih jauh sehingga perlu ditempatkan sebagai prioritas untuk diatasi, kebutuhan itu disebut masalah. Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 7
8 Selanjutnya coba Anda berikan contoh! Misalnya di daerah-daerah terlihat meningkatnya kesadaran akan pentingnya Bahasa, terutama di daerah tujuan wisata dan daerah yang banyak memiliki industri Penanaman Modal Asing (PMA). Kesadaran tersebut dipicu oleh adanya kebutuhan kemampuan berkomunikasi dengan orang asing yang menyebabkan tingginya tuntutan penguasaan Bahasa bagi sebagian besar warganya. Oleh karena itu, berdasarkan adanya kebutuhan tersebut pada beberapa daerah telah mengajarkan Bahasa sebagai muatan lokal pilihan di jenjang SD. Beberapa studi empiris menunjukan bahwa dan pemerolehan asing akan lebih baik apabila dilakukan secara dini. Berdasarkan hal itu berkembang pemikiran bahwa Bahasa seyogyanya sudah dilakukan pada tingkat SD. Masalahnya beberapa sekolah yang menyelenggarakan di SD banyak diantara guru yang mengajar tersebut belum mempunyai kompetensi sebagai pengajar, karena sebagian besar mereka adalah guru kelas dengan latar belakang pendidikan DII PGSD guru kelas. Di antara pendidik tersebut juga ada yang berlatar tetapi tidak punya kompetensi mengajar di SD. Untuk itu perlu pengembangan program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Guru SD sistem jarak jauh. Selain itu, kebutuhan (need) dapat diartikan pula sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya. Kebutuhan dapat dirumuskan pula sebagai jurang antara apa yang ada dan apa yang seharusnya ada dalam pengertian hasil (Kaufman,1972). Kemudian apa keinginan itu? Keinginan adalah harapan ke depan atau citacita yang terkait dengan pemecahan suatu masalah. Namun, perlu Anda ingat tidak semua kebutuhan dan masalah dapat disebut kebutuhan, karena belum tentu memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan. Coba Anda berikan contoh!. Misalnya peserta didik protes karena sukar membaca dan mempelajari buku pelajaran yang di cetak dan diterbitkan suatu penerbit. Setelah diteliti ternyata cetakan buku tersebut kurang bagus Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 8
9 dan ada sebagian halaman yang rusak. Hal ini disebabkan karena mesin yang digunakan oleh pencetakan tidak dapat berfungsi dengan baik. Masalahnya adalah mesin percetakan kurang berfungsi dengan baik. Untuk itu perlu adanya perbaikan atau penggantian beberapa peralatan mesin tersebut. Nah, sekarang apa kebutuhan itu? Kebutuhan adalah kebutuhan yang memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan instruksional/. Sebagai contoh! Anda perhatikan tabel analisis kebutuhan sebagai berikut: Tabel 1, Analisis Kebutuhan Diklat Bahasa Guru Sekolah Dasar (Warsita, 2011) Masalah Indikator Penyebab Pemecahan Masalah Instruksional Manajemen (1) (2) (3) (4) (5) Rendahnya Peserta didik Kemampuan prestasi belajar kurang mengu- menyimak kualitas pem- sarana dan pra- Bahasa asai empat (listening) belajaran sarana pembel- peserta keterampilan rendah di SD ajaran Ing- didik ber dengan menyegris, seperti labo- SD diakan media ratorium, audio/radio untuk program audio/- radio Kemampuan berbicara (speaking) rendah kualitas di SD sarana dan prasarana, seperti laboratorium Kemampuan membaca (reading) rendah kualitas di SD Mengadakan bahan bacaan yang ber Kemampuan menulis (writing) rendah kualitas di SD Mengadakan berbagai lomba untuk meningkatkan kemampuan ber Peserta didik kurang menguasai unsur-unsur berbahsa Penguasaan kosa kata yang minim yang terintegrasi antara keterampilan ber dengan unsur Menyediakan fasilitas, seperti kamus, buku pelajaran bahsa Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 9
10 Kurang menguasai tata kualitas di SD sarana dan prasarana Kurang menguasai lafal dan ejaan, dalam berbagai teks lisan dan tertulis Kurang menguasai aspek budaya yang terkandung dalam ekspresi dalam kualitas di SD kualitas di SD sarana dan prasarana, seperti laboratorium sarana dan prasarana, seperti laboratorium Motivasi belajar peserta didik rendah Perhatian dan minat peserta didik terhadap pelajaran kurang Kesulitan dalam mempelajari asing Pembelajaran nya tidak menarik dan kurang menyenangkan Menggunakan strategi yang bervariasi dan menumbuhkan keper-cayaan diri peserta didik proses yang menarik dan bermakna Menyediakan fasilitas, seperti kamus, buku pelajaran bahsa Menyediakan fasilitas, seperti kamus, buku pelajaran bahsa Rendahnya dukungan dan perhatian terhadap di SD Kurangnya perhatian dan dukungan dari Pemda, masyarakat, dan orang tua peserta didik terhadap di SD. Miskin dan alokasi anggaran yang minim Sosialisasi dan pelatihan terhadap orang tua peserta didik terhadap di SD Regulasi dan kebijakan dalam di SD Guru kurang kompeten dan profesional dalam di SD Guru kurang menguasai materi Kurang menguasai empat keterampilan berbahsa Kurang menguasai unsurunsur ber kemampuan dan penguasaan guru terhadap materi/- keterampilan kemampuan dan penguasaan guru terhadap unsurunsur Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat /kursus Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat/kursus Ing-gris Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 10
11 Guru kurang menguasai di SD Kurang menguasai aspek budaya yang terkandung dalam ekspresi dalam Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat sa di SD Kurang mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kurang mampu me-milih dan melaksanakan strategi Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat/kursus Ing-gris kemampuan guru dalam aspek budaya yang terkandung dalam ekspresi dalam kemampuan guru dalam menyusun RPP mata pelajaran bahsa kemampuan guru dalam pengelolaan di SD Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat -sa di SD Kurang mampu mengembangkan dan memilih media kemampuan guru dalam mengembangkan dan memilih media Menyediakan media di SD Kurang mampu memilih dan memanfaatkan sumber belajar yang tepat dalam kemampuan guru dalam memilih dan memanfaatkan sumber belajar yang tepat dalam Menyediakan beraneka sumber belajar untuk sa di SD Kurang mampu me-ngelola bahsa yang aktif, kreatif, komunikatif, efektif dan menyenangkan kemampuan guru dalam mengelola bahsa yang aktif, kreatif, komu-nikatif, efektif dan menyenangkan. Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat pengelolaan sa di SD Kurang mampu melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar kemampuan guru dalam melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar Menugaskan guru un-tuk mengikuti Diklat evaluasi sa di SD Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 11
12 Pembelajaran dilakukan oleh guru yang kurang kompeten Guru SD sebagai guru kelas secra akademik tidak disiapkan untuk mengajar di SD kualifikasi dan kompetensi guru SD dalam di SD Menyelenggaran dan mengembangkan Diklat untuk guru SD. Berdasarkan contoh analisis tabel 1 di atas, apa rekomendasi Anda untuk mengatasi masalah tersebut? Sebab hasil akhir atau final dari suatu analisis kebutuhan sistem adalah sebuah rekomendasi atau saran solusi untuk (meningkatkan kompetensi). Tentu saja rekomendasi tersebut memberikan alternatif pilihan yang paling mungkin untuk dilaksanakan atau ditindaklanjuti, dan dipilih yang bisa mengatasi masalah yang paling urgen, mendesak atau berpotensi menjadi masalah besar. Berdasarkan tabel1 di atas, menunjukkan bahwa Bahasa di SD merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dielakkan atau ditunda lagi. Namun, mengingat keberhasilan Bahasa akan berhasil apabila dilakukan oleh tenaga pendidik yang profesional dan berkompeten, didukung dengan strategi yang menarik dan menyenangkan, serta tersedianya bahan belajar, sumber belajar dan media yang memadai dan berkualitas. Oleh karena itu, rekomendasi yang dapat Anda berikan adalah perlu dilakukan serangkaian kegiatan yang mengarah pada upaya-upaya agar guru SD mempunyai kompetensi/kemampuan untuk melaksanakan Bahasa di SD. Mengingat kondisi dan karakteristik guru SD, alternatif yang memungkinkan untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi guru SD dalam adalah melalui Diklat sistem jarak jauh. Jadi alternatif solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah mengembangkan dan menyelenggarakan Diklat Bahasa untuk guru SD sistem jarak jauh. Selain itu ada beberapa pertimbangan yang menjadi landasan mengembangkan dan menyelenggarakan Diklat Bahasa guru SD sistem jarak jauh (Warsita, 2011), antara lain: Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 12
13 1) Tekad pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di SD melalui peningkatan kualitas. 2) Pembelajaran dan pemerolehan asing akan lebih baik apabila dilakukan secara dini, Bahasa seyogyanya sudah dilakukan sejak tingkat SD. 3) Adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan Bahasa, terutama di daerah tujuan wisata dan daerah yang memiliki industri Penanaman Modal Asing (PMA). 4) Pembelajaran Bahasa di SD merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dielakkan dan perlu diikuti dengan penyiapan tenaga guru yang profesional dan berkompeten melalui serangkaian Diklat. 5) Keberhasilan Bahasa di SD akan terealisasi apabila dilakukan oleh guru yang berkompeten, didukung dengan metode yang komunikatif dan tersedianya bahan ajar yang cukup serta berkualitas 6) Mengingat keanekaragaman kondisi dan karakteristik guru SD, maka perlu Diklat yang dapat diikuti oleh guru SD yang memerlukan, tanpa harus meninggalkan tugas mengajar dan biaya relatif murah. 7) Banyak guru SD yang sudah mengajar Bahasa, pada hal belum pernah dilatih atau mengikuti Diklat Bahasa. Bagaimana menganalisis kebutuhan itu? Analisis kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan yang tepat (Morrison, 2001). Sedangkan menurut Burton dan Merrill, analisis kebutuhan adalah suatu proses yang sistematis dalam menentukan sasaran, mengidentifikasi kesenjangan/ketimpangan antara sasaran dengan keadaan nyata, serta menetapkan prioritas tindakan. Dengan demikian, menganalisis kebutuhan dan analisis merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam pengembangan sistem, ketika menghadapi masalah tentang. Apakah analisis kebutuhan sistem itu? Analisis kebutuhan sistem adalah suatu pendekatan yang sistematis dan sistemik dalam memecahkan kesenjagan dalam sistem. Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 13
14 Selain itu dalam bidang pendidikan dan pelatihan (Diklat), analisis kebutuhan adalah suatu proses untuk menentukan apa yang seharusnya diajarkan. Kebutuhan Diklat dapat diketahui sekiranya terjadi kesenjangan atau ketimpangan antara kondisi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang senyatanya ada dengan tujuan-tujuan /kinerja yang diharapkan tercipta pada suatu organisasi. Oleh karena itu, analisis kebutuhan Diklat adalah suatu proses kegiatan yang bertujuan untuk menemukan dan mengenali adanya suatu kesenjangan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dapat ditingkatkan melalui Diklat. Jika demikian, apakah hasil yang diperoleh dari kegiatan analisis kebutuhan sistem itu? Anda tahu? Hasil yang diperoleh dari analisis kebutuhan sistem adalah kompetensi-kompetensi dasar atau tujuan tertentu dalam suatu mata pelajaran yang potensial untuk disampaikan (delivered) melalui sistem atau model tertentu. Dengan kata lain, hasil analisis kebutuhan ialah berbagai kompetensi. Misalnya dengan memanfaatkan media dan sumber belajar. Kompetensi-kompetensi dasar inilah yang akan menjadi acuan tahap selanjutnya yaitu penyusunan Garis Besar Isi Media (GBIM) dan pemilihan/penentuan model dan format media dan bahan belajar yang tepat untuk mencapai kompetensi dasar tersebut. Dengan demikian, langkah pertama dalam merancang GBIM ialah analisis kebutuhan (needs assessment). Selain itu, salah satu cara yang khusus digunakan untuk mengetahui kebutuhan jenis media dan bahan belajar dalam suatu kurikulum yaitu melalui identifikasi kurikulum. Dari kegiatan identifikasi ini akan diketahui materi mana yang membutuhkan media video dan materi mana yang membutuhkan media dan bahan belajar lain untuk mencapai kompetensinya. Dengan demikian, tidak lagi terjadi kesalahan dalam pemilihan media dan bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhan materi tertentu. Misalnya ada sub-pokok n yang efektif dicapai dengan media audio, sedangkan sub-pokok n lain-nya menggunakan media televisi atau video, atau menggunakan jenis media lainnya. Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 14
15 Sebelum Anda melanjutkan pada uraian materi berikutnya, pastikan bahwa Anda sudah memahami uraian materi yang baru saja Anda pelajari. b. Tujuan analisis kebutuhan sistem Coba Anda perhatikan contoh kasus berikut! Bila Anda sebagai pengembang sistem atau pendidik hendaknya mengajukan suatu pertanyaan kepada diri sendiri. Apakah pemberian itu dapat memecahkan masalah? Pertanyaan- pertanyaan senada secara rinci antara lain: 1) apa kebutuhan yang dihadapi? 2) apakah kebutuhan tersebut merupakan masalah? 3) apa penyebabnya? 4) apakah pemberian merupakan cara yang tepat untuk memecahkan masalah? 5) apakah pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang Anda sampaikan itu benar-benar belum dikuasai oleh peserta didik dan kompetensi itu penting bagi peserta didik? Nah, bagaimana jawaban Anda? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu tidak dapat Anda jawab dengan cermat bila Anda tidak melakukan suatu kegiatan analisis kebutuhan sistem. Artinya apabila Anda sebagai guru/pendidik, pengelola program pendidikan atau pengembang sistem pertama-tama yang harus Anda lakukan adalah kegiatan analisis kebutuhan sistem. Selanjutnya apakah tujuan kegiatan analisis kebutuhan sistem? Secara ringkas tujuan analisis kebutuhan sistem adalah: 1) Menginventaris atau mengidentifikasi masalah-masalah. Identifikasi masalah merupakan proses membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan yang diharapkan atau seharusnya. Hasilnya akan menunjukkan kesenjangan antara kedua keadaan tersebut. Kesenjangan ini disebut dengan kebutuhan. Bila kesenjangan kedua keadaan tersebut besar, kebutuhan itu perlu diperhatikan atau diselesaikan. Kebutuhan yang besar dan ditetapkan untuk diatasi itu disebut masalah. Oleh karena itu, kebutuhan yang lebih kecil mungkin untuk sementara waktu atau seterusnya diabaikan. Artinya kebutuhan Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 15
16 yang tidak dianggap sebagai masalah. Hasil akhir dari identifikasi masalah adalah perumusan tujuan umum. 2) Menyusun skala priotitas pemecahan masalah Setelah Anda mengetahui masalah-masalah yang dihadapi, maka Anda perlu mencari alternatif pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan skala prioritas pemecahan masalah. Adapun beberapa pertimbangan yang perlu Anda perhatikan dalam menilai atau menentukan skala prioritas pemecahan masalah, yaitu: a) tingkat signifikansi pengaruhnya, b) luas ruang lingkupnya, dan c) pentingnya peranan kesenjangan tersebut terhadap masa depan lembaga atau program. 3) Merumuskan tujuan umum yang akan dicapai dari proses pemecahan masalah. Hasil kegiatan analisis kebutuhan yaitu daftar pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang masih belum dikuasi peserta didik dan perlu dikuasi peserta didik (Suparman, 2004). Dengan kata lain, kegiatan analisis kebutuhan ini akan menghasilkan kompetensikompetensi yang masih belum dikuasai dan perlu dikuasai peserta didik. Kompetensi dasar inilah yang akan menjadi dasar acuan tahap selanjutnya yaitu perumusan Tujuan Instruksional Umum (TIU) atau Tujuan Pembelajaran Umum (TPU). Nah, selanjutnya apa fungsi analisis kebutuhan sistem? Secara ringkas fungsi analisis kebutuhan sistem adalah untuk: a) Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang, yaitu masalah yang mempengaruhi hasil. b) Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah-masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan c) Menyajikan skala prioritas untuk memilih tindakan yang tepat dalam mengatatasi masalah-masalah. d) Memberikan data basis untuk menganalisis efektifitas kegiatan (Morrison, 2001). Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 16
17 c. Esensi Analisis Kebutuhan Sistem Pembelajaran Langkah permulaan dalam proses pengembangan sistem adalah analisis kebutuhan. Anda ingat, langkah ini sangat penting dan strategis dalam proses pengembangan sistem. Mengapa demikian? Langkah ini merupakan titik tolak dan sekaligus sumber untuk langkah-langkah berikutnya. Oleh karena itu, kebingungan pada langkah permulaan ini tentu akan menyebabkan seluruh kegiatan pengembangan sistem kehilangan arah (Suparman, 2004). Maka esensi dari kegiatan analisis kebutuhan sistem adalah agar Anda dapat memperoleh suatu pendekatan yang sistematis, efektif dan efisien dalam menentukan kebutuhan akan sistem. Dengan demikian, esensi analisis kebutuhan sebenarnya adalah menemukan rekomendasi yang dapat menjadi soulsi permasalahan. Nah, sekarang untuk melatih penguasaan materi Anda, coba buatlah resume materi analisis kebutuhan sistem dan tujuan penerapannya di bidang pengembangan media. Apabila Anda menemui kesulitan jangan segan-segan Anda diskusikan dengan teman sejawat. Rangkuman Kegiatan analisis kebutuhan adalah suatu kegiatan ilmiah yang melibatkan berbagai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber informasi untuk mengetahui kesenjangan (gap) antara keadaan yang seharusnya terjadi (ideal) dengan keadaan yang senyatanya terjadi (reality). Kebutuhan adalah kesenjangan keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya. Apabila kesenjangan itu besar atau menimbulkan akibat lebih jauh sehingga perlu ditempatkan sebagai prioritas untuk diatasi, kebutuhan itu disebut masalah. Tidak semua kebutuhan dan Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 17
18 masalah dapat disebut kebutuhan, karena belum tentu memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan. Analisis kebutuhan sistem adalah suatu pendekatan yang sistematis dan sistemik dalam memecahkan kesenjagan dalam sistem. Tujuan analisis kebutuhan sistem adalah: a) untuk menginventaris atau mengidentifikasi masalah-masalah, b) menyusun skala priotitas pemecahan masalah, dan c) merumuskan tujuan umum yang akan dicapai dari proses pemecahan masalah. Esensi dari kegiatan analisis kebutuhan sistem adalah agar Anda dapat memperoleh suatu pendekatan yang sistematis, efektif dan efisien dalam menentukan kebutuhan akan sistem. A. B. C. GLOSARIUM Analisis kebutuhan suatu kegiatan ilmiah yang melibatkan berbagai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber informasi untuk mengetahui kesenjangan antara keadaan yang seharusnya terjadi dengan keadaan yang senyatanya terjadi Analisis kebutuhan sistem pendekatan yang sistematis dan sistemik dalam memecahkan kesenjagan dalam sistem Analisis Proses menjabarkan prilaku umum menjadi prilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis Esensi analisis kebutuhan sistem suatu pendekatan yang sistematis, efektif dan efisien dalam menentukan kebutuhan akan sistem Identifikasian masalah upaya memetakan masalah-masalah serta menyusunnya berdasarkan skala perioritas, sehingga proses pemecahan masalah menjadi sitematis dan tepat sasaran Implementasi langkah nyata untuk menerapkan sistem di lapangan Kebutuhan kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 18
19 Kebutuhan kebutuhan yang memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan instruksional/ Model adalah seperangkat prosedur yang sistematis untuk mewujudkan suatu proses Pengembangan proses menerjemahkan spesifikasi desain menjadi kenyataan (bentuk fisik) Pembelajaran proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lengkungan belajar atau usaha untuk membuat peserta didik belajar Sistem suatu set peristiwa yang mempengaruhi peserta didik sehingga terjadi proses belajar Sumber Acuan Abidin, zaenal, Analisis Kebutuhan Pembelajaran dan Analisis Pembelajaran dalam Desain Sistem Pembelajaran, Jurnal Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2007 (website: http// Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Cetakan ke 10, Jakarta: Penerbit PT Rineka Cipta, 1996 Cronbach, Lee J., Educational Psychology 3rd Edition. New York: Harcourt Brace Jovanovich Inc., 1977 Degeng, Nyoman.S, Paradigma Pendidikan:dari Behavioristik ke Konstruktivistik, Bahan presentasi, Univ. Negeri Malang, DePorter, Bobbi, & Hermacki, Mike, Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Terj. Alwiyah Abdurrahman, Bandung, Penerbit Kaifa, Dick, Walter and Carey Lou, The Systematic Design of instruction 3 rd Ed, Includes Bibliographical References, USA, Walter Dick and Lou Carey Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 19
20 Kozma, Robert B., Lawrence W. Belle and George W. Williams. Instructional Techniques in Higher Education. New Jersey: Educational Technology Publications Inc., 1978 Miarso, Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Prenada Media, Morrison, Gary. R, Steven M, Ross, Jerrold E Kemp : Designing Effective Instruction, Third Edition John Wiley and Sons, inc printed in the USA Model Pendidikan dan Pelatihan Bahasa Guru SD Sistem Jarak Jauh, Jakarta: Pustekkom-PPPPTK Bahasa, Pribadi, Benny A., Model ASSURE Untuk Mendesain Pembelajaran Sukses, Jakarta: PT. Dian Rakyat, Seels, Barbara B. & Richey, Rita C., Teknologi Pembelajaran, Definisi dan Kawasannya, Terjemahan Dewi S. Prawiradilaga, R. Rahardjo, Yusufhadi Miarso, Jakarta: Penerbit IPTPI & LPTK, Smaldino, E. Sharon, Lowther, Deborah L, Russell, James D, Instructional Technology and Media for Learning. Pearson: Prentice Hall, Inc., 2008 Singarimbun, Masri, & Effendi, Sofian, Metode Penelitian Survai, Jakarta: Penerbit LP3ES, 1989 Situmorang, Robinson, GBPP, Teknik Pengembangan dan Pemanfaatannya Untuk Mencapai Kompetensi dalam Pembelajaran, Jakarta. Pustekkom Depdiknas, Sudirdjo, Sudarsono, Televisi sebagai suatu sumber belajar untuk menunjang penyelenggaraan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, Jakarta: Desertasi Program Pasca Sarjana IKIP Jakarta, Suparman, M. Atwi, Desain Instruksional, Jakarta: Pusat Penerbitan universitas Terbuka, Supriatna, Dadang, & Mulyadi, Mochamad, Konsep Dasar Desain Pembelajaran (Bahan ajar untuk Diklat E-Training PPPPTK TK dan PLB), Bandung: Penerbit PPPPTK TK & PLB, 2009 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Penerbit Alpabeta, Sudjana, Djudju, Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 20
21 Soekamto, Toeti, Evaluasi Hasil Belajar, Jakarta: Pelatihan PEKERTI Universitas Negeri Jakarta, Trianto. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Surabaya: Pustaka Ilmu, 2007 Trianto. Model Pembelajaean Inovatif Berorientasi Konstrutivistik. Surabaya: Pustaka Ilmu, 2007 Tri Wijaya, Agustina, Media Pembelajaran Huruf Hiragana dan Katakana untuk Pemula Berbasis Multimedia Menggunakan Macromedia Flash, Yogyakarta: Skripsi UNY, 2011 Uno, Hamzah B., Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, Jakarta: Penerbit PT. Bumi Aksara, Warsita, Bambang, Teknologi Pembelajaran, Landasan dan Aplikasinya, Jakarta: Penerbit PT. Reneka Cipta, Warsita, Bambang, Pendidikan Jarak Jauh: Perancangan, Pengembangan, Implementasi, dan Evaluasi Diklat, Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, ADDIE Instructional Design Model. Retrived December Website: Website: diunduh pada tanggal 9 Januari 2012 Website: di unduh pada 31 Oktober 2011 Website: Website: egory&id=31&itemid=35 Website: Website: Website: diunduh 13 Februari 2012 Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 21
ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN
240 Menit ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN Penulis : Drs.Bambang Warsita, M.Pd Pengkaji Materi : Dr. Purwanto, M.Pd Pengkaji Media : Dra. Mariana Soemitro Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi
ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN
ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN Penulis : Drs.Bambang Warsita, M.Pd Pengkaji Materi : Dr. Purwanto, M.Pd Pengkaji Media : Dra. Mariana Soemitro Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan
ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN
ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN Penulis : Drs.Bambang Warsita, M.Pd Pengkaji Materi : Dr. Purwanto, M.Pd Pengkaji Media : Dra. Mariana Soemitro Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan
Tugas2_PT206B_
Analisis pembelajaran Menurut M. Atwi Suparman (2001 : 63) kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi yang berbeda tapi sama. Morrison (2001: 27), mengatakan
MELAKUKAN ANALISIS PEMBELAJARAN. Pendahuluan
TUGAS II PERENCANAANN PEMBELAJARAN B (PT 206 B) Nama : Barnabas Victor Monim Gregorius Bintang MELAKUKAN ANALISIS PEMBELAJARAN Pendahuluan Mengapa pembelajaran? Ada beberapa alasan yang melatar belakanginya;
ANALISIS KEBUTUHAN PEMBELAJARAN DAN ANALISIS PEMBELAJARAN DALAM DESAIN SISTEM PEMBELAJARAN
ANALISIS KEBUTUHAN PEMBELAJARAN DAN ANALISIS PEMBELAJARAN DALAM DESAIN SISTEM PEMBELAJARAN Zaenal Abidin Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jl. Ahmad Yani, Tromol Pos I, Pabelan Kartasura,
PERENCANAAN PEMBELAJARAN GEOGRAFI
DIKTAT PERENCANAAN PEMBELAJARAN GEOGRAFI DR. MUKMINAN MUHAMMAD NURSA BAN, M.Pd JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 i KATA PENGANTAR Diktat Perencanaan
DAFTAR PUSTAKA. Aryulina Diah, Muslim Choirul, Biologi 2 SMA.Esis Erlangga Jakarta
DAFTAR PUSTAKA Aryulina Diah, Muslim Choirul, 2007. Biologi 2 SMA.Esis Erlangga Jakarta Asyhar, Rayanda. 2011. Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada (GP) Press Jakarta. Borg,
PENDAHULUAN. ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan pendidikan. Bahasa Inggris memiliki peran
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa Inggris berfungsi sebagai alat pengembangan diri siswa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan pendidikan. Bahasa Inggris memiliki peran yang penting
ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN
240 Menit ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN Penulis : Drs.Bambang Warsita, M.Pd Pengkaji Materi : Dr. Purwanto, M.Pd Pengkaji Media : Dra. Mariana Soemitro Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi
PELATIHAN MENDESAIN MEDIA PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL DICK AND CAREY BAGI GURU-GURU DI KECAMATAN PENEBEL. oleh,
PELATIHAN MENDESAIN MEDIA PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL DICK AND CAREY BAGI GURU-GURU DI KECAMATAN PENEBEL oleh, Ni Nyoman Parwati dan I Nengah Suparta Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Matematikan
PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN DALAM KEGIATAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN. Oleh : Asep Herry Hernawan
PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN DALAM KEGIATAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN Oleh : Asep Herry Hernawan A. Pendahuluan Proses pembelajaran merupakan proses yang yang ditata dan diatur sedemikian rupa menurut
Unit 4. Pengembangan Bahan Pembelajaran Cetak. Isniatun Munawaroh. Pendahuluan
Unit 4 Pengembangan Bahan Pembelajaran Cetak Isniatun Munawaroh Pendahuluan Bahan pembelajaran cetak merupakan bahan pembelajaran yang sudah umum digunakan bagi para guru tak terkecuali di tingkat Sekolah
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA UNTUK SISWA SMA KELAS X ABSTRACT PENDAHULUAN
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA UNTUK SISWA SMA KELAS X Farida Haryati 1, Mujiyono Wiryotinoyo 2, Sudaryono 2 1 SMA N 1 Kota Jambi, 2 Universitas Jambi ABSTRACT This article is
1. PENDAHULUAN. Kemampuan menggunakan bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemampuan menggunakan bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai alat untuk mengungkapkan informasi
BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan yang memadai sehingga kita dapat memanfaatkannya dalam
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Penelitian Memasuki era globalisasi atau yang lebih dikenal dengan pasar bebas menuntut setiap individu untuk mempersiapkan sumber daya yang handal terutama di bidang
RENCANA PELAKSANAAN SEMESTER (RPS) Uraian Pokok Bahasan Tiap Pertemuan Pertemuan Tujuan Perkuliahan Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan
RENCANA PELAKSANAAN SEMESTER (RPS) Nama Mata Kuliah : Strategi Pembelajaran SD Kode Mata Kuliah : PSD 6202 SKS : 2SKS Dosen : Unik Ambar Wati, M.Pd Program Studi : S-1 PGSD Waktu Perkuliahan : Semester
EFEKTIVITAS MODUL ANALISIS KOMPLEKS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA DI STKIP PGRI SUMATERA BARAT
EFEKTIVITAS MODUL ANALISIS KOMPLEKS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA DI STKIP PGRI SUMATERA BARAT Merina Pratiwi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan Reasearch and Development (R&D)atau dengan kata lain penelitian ini akan berfokus pada penelitian terhadap analisa
BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di era globalisasi sekarang ini menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di era globalisasi sekarang ini menyebabkan meningkat dan bervariasinya kebutuhan manusia. Hal tersebut mendorong tumbuhnya
BAB I PENDAHULUAN. dalam pendekatan pengajaran, yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berlakunya kurikulum 2004 berbasis kompetensi, yang telah direvisi melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER PADA MATA PELAJARAN AKUNTANSI KELAS X AK 2 SMK NEGERI 1 BANYUDONO TAHUN AJARAN 2011/2012 NASKAH PUBLIKASI Disusun Oleh: FARIDA A 210
Peningkatan Penguasaan Vocabulary Teks Deskriptif melalui Pendekatan Scientific dengan Model Guide Inquiry pada Siswa SMPN 1 Besuki.
Peningkatan Penguasaan Vocabulary Teks Deskriptif melalui Pendekatan Scientific dengan Model Guide Inquiry pada Siswa SMPN 1 Besuki Ida Nurhayati 1 1 SMPN 1 Besuki, Tulungagung Email: 1 [email protected]
I. PENDAHULUAN. Pengenalan tentang teknologi komputer dan aplikasinya sebaiknya dimulai
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengenalan tentang teknologi komputer dan aplikasinya sebaiknya dimulai semenjak masa kanak-kanak, tidak membeda-bedakan latar belakang siswa dan diberikan pada semua
Perancangan dan pemanfaatan media pembelajaran.
Materi 4 Perancangan dan pemanfaatan media pembelajaran. Petunjuk belajar Untuk dapat memanfaatkan media dalam mendukung aktivitas pembelajaran yang dapat dapat memfasilitasi tercapainya kompetensi yang
Mewujudkan Budaya Belajar di Sekolah Melalui Penerapan Open Access Learning Resources. Oleh: Rahmat & Sri Wahyuni
Mewujudkan Budaya Belajar di Sekolah Melalui Penerapan Open Access Learning Resources Oleh: Rahmat & Sri Wahyuni FUNGSI PENDIDIKAN TUJUAN PENDIDIKAN Peserta didik berkembang menjadi: beriman & bertaqwa
Assure sebagai sebuah model Desain Pembelajaran
Assure sebagai sebuah model Desain Pembelajaran A. Latar Belakang Bagi sebagian Widyaiswara, disain pembelajaran dengan menggunakan model ASSURE sebagai sebuah model dalam melakukan rancang bangun pembelajaran
PAKET PEMBELAJARAN FIQIH KELAS VII DENGAN MENGGUNAKAN MODEL DICK DAN CAREY DI MADRASAH TSANAWIYAH NW PENGKELAK MAS
PAKET PEMBELAJARAN FIQIH KELAS VII DENGAN MENGGUNAKAN MODEL DICK DAN CAREY DI MADRASAH TSANAWIYAH NW PENGKELAK MAS Hanafi 1, I Nyoman Sudana Degeng 2, dan Anselmus J.E. Toenlioe 3 Teknologi Pembelajaran
E-EDUCATION BERBASIS MULTIMEDIA (KAWASAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN) Oleh : Niam Wahzudik PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Dalam era global
E-EDUCATION BERBASIS MULTIMEDIA (KAWASAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN) Oleh : Niam Wahzudik PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Dalam era global sekarang ini kita harus berhubungan dengan teknologi termasuk
Kegiatan Belajar-4 Perancangan dan Pemanfaatan Media Pembelajaran
Kegiatan Belajar-4 Perancangan dan Pemanfaatan Media Pembelajaran A. Petunjuk belajar Untuk memudahkan pemanfaatan media dalam kegiatan pembelajaran guna tercapainya kompetensi yang harus dicapai oleh
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan Pendidikan Nasional adalah upaya mencerdasakan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa dan berahlak mulia
BAB 3 METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian tindakan
BAB 3 METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas (PTK atau classroom action research). Menurut Arikunto (2006:91), PTK merupakan suatu pencermatan terhadap
Pengembangan LKM Dengan Pendekatan Quantum Learning untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Calon Guru
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2016 PM - 25 Pengembangan LKM Dengan Pendekatan Quantum Learning untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Calon Guru Tri Andari Prodi Pendidikan
KEGIATAN BELAJAR 1. Konsep dan Prinsip-prinsip Desain Pembelajaran
A. KEGIATAN BELAJAR 1 Konsep dan Prinsip-prinsip Desain Pembelajaran a. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) Setelah selesai mempelajari materi pembelajaran yang diuraikan pada Kegiatan Pembelajaran-1 ini,
RAFNIS, M.Kom NIP HP :
TUGAS DIKLAT CALON PEJABAT FUNGSIONAL PENGEMBANG TEKNOLOGI PEMBELAJARAN ( PTP) MATERI Analisis Kebutuhan Sistem Pembelajaran Fasilitator : Drs. Bambang Warsito, M.Pd TUGAS KB 2 : Prinsip - Prinsip AKSP
PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA SEKOLAH DASAR PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DAN IPS MELALUI KELOMPOK KECIL
PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA SEKOLAH DASAR PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DAN IPS MELALUI KELOMPOK KECIL Husnah Guru SDN 001 Pasar Inuman Kecamatan Inuman [email protected] ABSTRAK Penelitian tentang
Modul Pelatihan PENGEMBANGAN BAHAN BELAJAR KEMDIKBUD. Kegiatan Belajar 2. Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi Pendidikan. IKA KURNIAWATI, M.
Modul Pelatihan PENGEMBANGAN BAHAN BELAJAR KEMDIKBUD Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi Pendidikan Kegiatan Belajar 2 IKA KURNIAWATI, M.Pd Modul Pelatihan 7 PENGEMBANGAN BAHAN BELAJAR KB 2 FORMAT,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Teknologi baru terutama multimedia, mempunyai peranan semakin penting dalam proses pembelajaran. Banyak orang percaya bahwa multimedia akan dapat membawa peserta
Pengertian dan Perkembangan Konsep Media Pembelajaran serta Teori Belajar yang Melandasinya
Modul Pelatihan Pengertian dan Perkembangan Konsep Media Pembelajaran serta Teori Belajar yang Melandasinya Kegiatan Belajar 4 Dr. BENNY A. PRI 1 Seri Modul JF-PTP KEGIATAN BELAJAR 4 Perancangan dan Pemanfaatan
PROSIDING ISBN :
P 54 UPAYA MENINGKATKAN KARAKTER POSITIF SISWA DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI METODE KOOPERATIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA TRAVEL GAME DI SMP NEGERI 14 YOGYAKARTA Laela Sagita, M.Sc 1, Widi Asturi
Kata Kunci: model STAD, pembelajaran, IPA
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN MULTIMEDIA DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA TENTANG ADAPTASI HEWAN DAN TUMBUHAN BAGI SISWA KELAS V SD NEGERI KEBONSARI TAHUN AJARAN 2016/2017
KEMAMPUAN GURU TERSERTIFIKASI DALAM PERANCANGAN DAN PENERAPAN PEMBELAJARAN (Studi Multisitus pada SMK Negeri Kota Palu)
KEMAMPUAN GURU TERSERTIFIKASI DALAM PERANCANGAN DAN PENERAPAN PEMBELAJARAN (Studi Multisitus pada SMK Negeri Kota Palu) Syafruddin Pascasarjana Universitas Negeri Malang Email: [email protected]
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI BILANGAN BULAT
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI BILANGAN BULAT RADESWANDRI Guru SMP Negeri 1 Kuantan Mudik [email protected] ABSTRAK Penelitian ini
ABSTRAK. Oleh: Wahyuning Triyadi, Aminuddin P. Putra, Sri Amintarti
ABSTRAK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII B SMP NEGERI 6 RSBI BANJARMASIN PADA KONSEP SISTEM GERAK MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN WORKSHEET BERBASIS WEB Oleh: Wahyuning Triyadi, Aminuddin
PENERAPAN MODEL THINK TALK WRITE
PENERAPAN MODEL THINK TALK WRITE DENGAN MULTIMEDIA DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS SISWA KELAS V SD NEGERI 2 SIDOMORO TAHUN AJARAN 2015/2016 Beti Dwi Khalimatun 1, Kartika Chrysti Suryandari
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI DENGAN MEDIA AUDIOVISUAL PADA SISWA KELAS IV SDN BABADAN I NGRAMBE NGAWI
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI DENGAN MEDIA AUDIOVISUAL PADA SISWA KELAS IV SDN BABADAN I NGRAMBE NGAWI KUSNI Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Abstrak: Berdasarkan observasi awal di
DAFTAR PUSTAKA. Arikunto, Suharsimi dan Jabar CSA, Evaluasi Program Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara
129 DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi dan Jabar CSA, 2008. Evaluasi Program Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.. Jakarta: Rineka
BAB I PENDAHULUAN. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting terhadap kemajuan suatu bangsa di dunia. Pendidikan diproses
Belajar Berbasis Aneka Sumber
Materi 3 Belajar Berbasis Aneka Sumber Petunjuk belajar Perkembangan teknologi informasi yang pesat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap berbagai aktivitas kehidupan manusia termasuk didalamnya aktivitas
BAB I PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
Peningkatan Kemampuan Bercerita Melalui Media Gambar Siswa Kelas II SD Negeri Bariri
Peningkatan Kemampuan Bercerita Melalui Media Gambar Siswa Kelas II SD Negeri Bariri Dewi Sartika Barangka, Ali Karim, dan Budi Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembelajaran bahasa Inggris yang dipelajari sebagai bahasa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu tujuan pembelajaran bahasa Inggris yang dipelajari sebagai bahasa asing di sekolah adalah penguasaan keterampilan berbicara dengan lancar dan berterima.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Bahasa merupakan sesuatu yang penting untuk dikuasai karena bahasa adalah sarana interaksi dan alat komunikasi antar manusia. Negara Indonesia merupakan
Kata kunci : Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) SISWA KELAS VIIID SMP NEGERI 1 MLATI Oleh: Riza Dyah Permata 11144100098 Fakultas Keguruan
: Pengembangan, Media Komputer Pembelajaran, Video
PENGEMBANGAN MEDIA KOMPUTER PEMBELAJARAN TENTANG TEKNIK PENGAMBILAN GAMBAR KAMERA VIDEO PADA MATA PELAJARAN KOMPETENSI KEJURUAN SISWA KELAS XI MULTIMEDIA SMK IPIEMS Yuniar Eka Fauzi 1, Rusijono 2 Kurikulum
NAS KAH PUBLAKAS I ILMIAH PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MEMBACA INTENSIF MELALUI METODE ASSESSMENT SEARCH PADA SISWA
NAS KAH PUBLAKAS I ILMIAH PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MEMBACA INTENSIF MELALUI METODE ASSESSMENT SEARCH PADA SISWA KELAS V DI SD NEGERI 2 ALASTUWO KABUPATEN KARANGANYAR TAHUN AJARAN 2012/2013
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2013
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
I. PENDAHULUAN. di sekolah. Dalam KTSP Bahasa Inggris 2006 dijelaskan bahwa dalam belajar
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang penting. Oleh karena itu menulis merupakan salah satu standar kompetensi dalam pelajaran Bahasa Inggris
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR. Oleh: Usman Effendi Staf pada laboratorium IPS SMK PPPPTK PKn dan IPS Malang
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR Oleh: Usman Effendi Staf pada laboratorium IPS SMK PPPPTK PKn dan IPS Malang ABSTRAK School lessons basicly social knowledge reputed
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA SIL.PERENCANAAN PEMBELAJARAN SILABUS MATA KULIAH
SIL/PSD 208/8 Revisi: 02 8 Maret 2010 Hal 1 dari 4 SILABUS MATA KULIAH Nama Mata Kuliah : Perencanaan Pembelajaran Kode Mata Kuliah : PSD 208 SKS : 2 Teori,Pratik 0 Dosen : 1.Unik Ambar Wati, M.Pd Program
Pengaruh Desain Pembelajaran Assure Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar
44 INOVASI, Volume XVIII, Nomor 1, Januari 2016 Pengaruh Desain Pembelajaran Assure Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar Reza Syehma Bahtiar Dosen Fakultas Bahasa dan Sains Universitas Wijaya Kusuma
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Pendidikan Kewarganegaraan di SMP N se-kecamatan Buayan yaitu
93 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka terdapat pemanfaatan, hambatan maupun upaya guru dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP N se-kecamatan
Esty Setyarsih Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta ABSTRAK
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XI IPS 2 SMA NEGERI 5 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016 Esty Setyarsih Program Studi Pendidikan
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN PKn MELALUI STRATEGI MIND MAPPING DI KELAS IV SDN 03 KARANGTALUN KABUPATEN TULUNGAGUNG SKRIPSI.
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN PKn MELALUI STRATEGI MIND MAPPING DI KELAS IV SDN 03 KARANGTALUN KABUPATEN TULUNGAGUNG SKRIPSI Oleh: VENTIKA YULI ESKAWATI NIM: 07390130 PROGRAN STUDI PENDIDIKAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. mengambil kesimpulan sebagai berikut:
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Upaya meningkatkan kemandirian dan motivasi belajar siswa
ANALISIS KESESUAIAN KOMPETENSI GURU DENGAN KURIKULUM (Studi Kasus Pada Guru Akuntansi Kelas X Di Smk Negeri 1 Banyudono. Tahun Ajaran 2013/2014)
ANALISIS KESESUAIAN KOMPETENSI GURU DENGAN KURIKULUM 2013 (Studi Kasus Pada Guru Akuntansi Kelas X Di Smk Negeri 1 Banyudono Tahun Ajaran 2013/2014) NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
BAB I PENDAHULUAN. Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang otonomi daerah, kebijakan tersebut
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pergeseran paradigma dalam pendidikan yang semula terpusat menjadi desentralisasi membawa konsekuensi dalam pengelolaan, pendidikan khususnya ditingkat
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH) OLEH
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH) PENGGUNAAN MATERI PEMBELAJARAN YANG AKRAB UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS DESKRIPTIF BAHASA INGGRIS SISWA KELAS VII 1 SMP NEGERI
UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER
UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) SISWA KELAS VIIIC SMP MUHAMMADIYAH 1 MINGGIR Dian Safitri Universitas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah komunikasi dalam konteks pedagogi adalah hal yang penting karena ketika proses pembelajaran berlangsung didalamnya terdapat interaksi antara guru dengan siswa
Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan KTSP.
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan
Reni Rasyita Sari Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI KELAS XI IIS 5 SMA NEGERI 1 KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Reni Rasyita Sari Program Studi
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN QUANTUM LEARNING PADA MATA KULIAH ALJABAR LINIER MATERI RUANG-n EUCLIDES.
JPM IAIN Antasari Vol. 02 No. 2 Januari Juni 2015, h. 43-58 PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN QUANTUM LEARNING PADA MATA KULIAH ALJABAR LINIER MATERI RUANG-n EUCLIDES Abstrak Penelitian
BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat. Perkembangan ini memiliki dampak semakin terbuka dan tersebarnya informasi dan pengetahuan
PEMBELAJARAN AKUNTANSI MELALUI METODE KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE (TPS)
PEMBELAJARAN AKUNTANSI MELALUI METODE KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE (TPS) Tadjuddin * Abstrak: Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.
BAB I TERMINOLOGI PEMBELAJARAN DAN STRATEGI BELAJAR MENGAJAR MATEMATIKA
BAB I TERMINOLOGI PEMBELAJARAN DAN STRATEGI BELAJAR MENGAJAR MATEMATIKA A. Pendahuluan Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kualitas manusia seutuhnya, adalah misi pendidikan yang menjadi
Deliwani Br Purba Guru SMP Negeri 1 Bangun Purba Surel :
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGASI (GI) PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS IX-1 SMP NEGERI 1 BANGUN PURBA Deliwani Br Purba Guru SMP Negeri 1 Bangun
1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP.
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan)
KOMPETENSI: WAWASAN KEPENDIDIKAN, AKADEMIK, DAN PENGEMBANGAN PROFESI GURU PADA EVALUASI IMPLEMENTASI KTSP DI SMK
KOMPETENSI: WAWASAN KEPENDIDIKAN, AKADEMIK, DAN PENGEMBANGAN PROFESI GURU PADA EVALUASI IMPLEMENTASI KTSP DI SMK Disajikan Pada Jurnal Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN); Bandung, Februari
BAB I PENDAHULUAN. saling belajar dengan yang lain, baik komunikasi secara lisan maupun tertulis.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan alat komunikasi yang memungkinkan manusia untuk saling berhubungan, saling berbagi pengalaman, saling memberi masukan, dan saling belajar dengan
PENERAPAN METODE GUIDED INQUIRY MENGGUNAKAN HANDOUT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
PENERAPAN METODE GUIDED INQUIRY MENGGUNAKAN HANDOUT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA YANTI REFITA Guru SMP Negeri 3 Dumai [email protected] ABSTRAK Penelitian
ALTERNATIF PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN SAVI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA SD/MI TERHADAP MATERI MEMBANDINGKAN PECAHAN SEDERHANA
ALTERNATIF PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN SAVI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA SD/MI TERHADAP MATERI MEMBANDINGKAN PECAHAN SEDERHANA WARTA RIANA IRAWATI PGSD UPI Kampus Sumedang Abstrak Penelitian ini
BAB I PENDAHULUAN. Sumber Daya Manusia adalah aset atau unsur yang paling penting diantara
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber Daya Manusia adalah aset atau unsur yang paling penting diantara unsur unsur organisasi lainnya. SDM penting dikarenakan mempengaruhi efisiensi dan efektivitas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan bersifat sangat penting demi terwujudnya kehidupan pribadi yang mandiri dengan taraf hidup yang lebih baik. Sebagaimana pengertiannya menurut Undang-undang
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. gambaran mengenai Implementasi Muatan Lokal Kurikulum Tingkat Satuan
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bagian deskripsi, analisis dan pembahasan telah di paparkan gambaran mengenai Implementasi Muatan Lokal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dalam Mewujudkan Pembelajaran
STRATEGI PEMBELAJARAN MEMBACA TERPADU DENGAN MODEL KONFERENSI DI SEKOLAH DASAR. AKHMAD HB STKIP PGRI Banjarmasin. Abstrak
STRATEGI PEMBELAJARAN MEMBACA TERPADU DENGAN MODEL KONFERENSI DI SEKOLAH DASAR AKHMAD HB STKIP PGRI Banjarmasin Abstrak Berdasarkan refleksi awal dapat dipahami bahwa pembelajaran membaca yang dilaksanakan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada siswa kelas VIIIC MTs Muhammadiyah Kasihan, dapat disimpulkan bahwa: 1. Untuk meningkatkan minat belajar
PERAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SDM
PERAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SDM Septy Achyanadia Program Studi Teknologi Pendidikan Pascasarjana UIKA Bogor Jl. KH. Sholeh Iskandar Km. 2 Kd. Badak, Bogor ([email protected])
BAB III METODE PENGEMBANGAN. Dalam Bab III pada skripsi ini dibahas tentang metode pengembangan.
BAB III METODE PENGEMBANGAN Dalam Bab III pada skripsi ini dibahas tentang metode pengembangan. Adapun metode pengembangan adalah sebagai berikut : 1) model desain pengembangan, 2) prosedur pengembangan,
BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA YULISMA Guru SMP Negeri 3 Tapung [email protected] ABSTRAK Penelitian ini bertujuan
ANALISIS PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN DI KELAS AWAL DALAM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 SD MUHAMMADIYAH 1 MALANG SKRIPSI
ANALISIS PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN DI KELAS AWAL DALAM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 SD MUHAMMADIYAH 1 MALANG SKRIPSI OLEH ARISKA KURNIAWATI NIM. 201110430311150 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER Universitas Fakultas Program Studi : Universitas Negeri Jakarta : Teknik : Pendidikan Teknik Elektronika Mata Kuliah : Elektronika Daya Bobot SKS : 2 SKS Kode Mata Kuliah
Kata kunci : Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS), motivasi dan prestasi belajar
UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE Think Pair Share (TPS)SISWA KELAS VII C SMP MUHAMMADIYAH 1 MINGGIR Aresti Nurul Sholiha Universitas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan individu untuk memperoleh informasi atau pengetahuan baik secara formal di sekolah maupun non-formal di lingkungan
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan atau
59 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan atau Research & Development (R&D). Produk yang dikembangkan berupa metode bermain dengan
