SINDROM EPILEPSI PADA BAYI DAN ANAK. mtsdarmawan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SINDROM EPILEPSI PADA BAYI DAN ANAK. mtsdarmawan"

Transkripsi

1 SINDROM EPILEPSI PADA BAYI DAN ANAK mtsdarmawan

2 Waktu Sholat

3

4

5 Garengpung bersenandung manandakan bahwa musim hujan akan segera habis, namun sayang sepertinya kali ini dia bangun terlalu bersemangat dan bernyanyi terlalu dini. Andaikan dia bisa berbicara maka dia akan mengatakan kenapa mendung masih saja ada, padahal saat aku bernyanyi biasanya matahari akan selalu tersenyum dengan sinarnya yang terang, disertai dengan birunya langit yang anggun. Tapi sayang aku tidak bisa mengabarkan dan mejelaskan kepada dia tentang climate change, yang telah merubah tatanan lama musim di bumi ini.

6 Tuhanku adalah pencipta alam semesta, pemilik tunggal ilmu pengetahuan dan kamu tidaklah tahu kecuali hanya secuil. Mungkin dia ingin memamerkan bulunya yang tipis yang terkenal sangat canggih itu. Bulu tipisnya bisa menghasilkan suara dengan intensitas sampai dengan 120 db (dari jarak sangat dekat). Tak heran bila dia dinobatkan sebagai serangga bersuara ternyaring. Mungkin dia menyuruh kita membandingkan dirinya dengan mesin jet. Sebuah mesin yang dengan jarak 100 m dapat mempunyai intensistas suara db. Dan dia ingin mengakatakan bahwa tentu saja bila mesin jet mempunyai taraf intensitas sebesar itu adalah wajar, karena bunyi itu dihasilkan dari pergerakan jet engine dengan kecepatan 2200 putaran permenit (turboprop engine). Namun bunyi dahsyatku ini dihasilkan dari sayapku yang tipis yang senantiasa bergesekan tanpa lelah. Dia juga juga ingin kita tahu bahwa dia mempunyai tubuh sebesar ibu jari yang berfungsi sebagai resonance chamber yang meng-amplifiyer suara, seperti pada amplifier yang ada pada konser-konser musik besar.

7 Dia terus bernyanyi dan terus mendendangan kan lagu merdu, yang sejatinya adalah lagu kematian Dia tidak lelah bernyanyi, dan seolah menyuruh kita untuk merasakan kegelisahan hati tentang apa yang akan terjadi beberapa hari nanti dan menalari kehidupan yang telah dia jalani sebelumnya. Dia akan mengatakan kepada manusia bahwa, urip nang ndunyo mung mampir ngombe (hidup didunia seperti mampir minum). Betapa tidak, Gerangpung harus menunggu selama 8-17 tahun (tergantung spesies) agar dapat bernyanyi seperti ini. Dia harus menunggu di dalam cangakang telur dan harus rela terkubur sebagai nymphia untuk jangka waktu yang sangat lama agar bisa muncul di pepohonan nan hijau 17 tahun kemudian. Setelah selama 17 tahun terkubur, garengpung jantan akan keluar dari tanah dan mulai berdendang dengan suara yang khas untuk mengundang si betina agar mau menghampirinya lalu menikah denganya. Artinya garengpung yang bernyanyi saat ini adalah hasil pembuahan 8-17 tahun silam. Namun sayang nanyian itu hanya terdengar 3 sampai 6 hari. Karena setelah mereka benyanyi dan melakukan pembuahan, maka sang jantan akan segera mati. Begitupun si setina setelah berhasil menempatkan telurnya pada tempat yang aman dia akan segera menyusul sang kekasih.

8 Bagi garempung, dia mengerti betapa fananya hidup ini. Hidupnya teramat singkat. Hanya beberapa hari saja di udara. Hidupnya hanya mampir,hanya 3 sampai 6 hari saja. Setelah itu dia akan mati dan keturuanya akan bernyanyi 17 tahun lagi. Dia ingin mengatakan kepada manusia Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya Pada hakekatnya bila kita merenungi kisah garempung, hidup kita sejatinya adalah sama. Hidup kita hanya mampir ke dunia, setelah itu kita akan hilang untuk rentang waktu yang sangat lama, sampai kita dibangkitkan dan mempertanggung jawapkan tentang apa yang telah kita lakukan selama di dunia yang fana ini.

9

10 Teknik Berkomunikasi 7% 55% Gerakan 38% Intonasi Kata kata Penelitian Mr. Albert Mehrabian

11 Pendahuluan Epilepsi : salah satu penyebab terbanyak morbiditas bidang saraf anak, berdampak terhadap tumbuh-kembang Epilepsi merupakan diagnosis klinis, insidensnya bervariasi di berbagai negara. EEG dikerjakan untuk melihat fokus epileptogenik, sindrom epilepsi tertentu, evaluasi pengobatan, dan menentukan prognosis. Neuroimaging) paling terpilih : MRI untuk melihat fokus epilepsi kelainan struktural otak lain yg mungkin jadi penyebab

12 Pendahuluan Epilepsi : sindroma kelainan faal otak berulang yang tampak dengan seizure, fit atau kejang /konvulsi > 2 kali tanpa penyebab & yang unprovoked Insidens epilepsi sedunia 0,4 0,8%. Kira-kira 5 9% orang mengalami kejang seumur hidup, termasuk kejang febris pada masa anak. Hanya pada 32% of pasien kejang ada kelainan neurologis atau sistemis yang dapat ditentukan: seperti tumor, febris, hipoglukemia, renjetan (stroke) dll. Kasus yang lain (68%) disebut idiopatik, sesuai dengan definisi epilepsi.

13 Pendahuluan: Cara Investigasi Kejang Apakah kejadian itu KEJANG atau BUKAN? seizure or not seizure? Bukan kejang Carilah informasi lebih lanjut Kalau Ya Apakah kejang itu tanda penyakit akut? Kalau Ya obati!. Kalau tidak Mulailah a. Mencari anamnesis lengkap b. Evaluasi c. Pengobatan

14 Kejadian Non kejang yang dapat Mirip Kejang Epilepsi Hipoxia : vasovagal synkope, tahan nafas, disritmia jantung Apnea : reflux gastro-esofogeal Migrain : vertigo paroksismal, serangan migrain Metabolik : hipoglukemia, hiponatremia, hipokalsemia Motorik : koreoatetosis paroksmisal, tic-tic Tidur : mimpi jelek, mioklonus malam Psychiatrik : pseudo-seizures (Tangan jatuh pada muka?)

15 Definisi Kata Yunani epilambanien yang berarti serangan, menunjukan bahwa sesuatu dari luar tubuh seseorang menimpanya, sehingga dia jatuh.

16 Epilepsi didefinisikan sebagai Keadaan yang ditandai oleh adanya bangkitan (seizure) yang terjadi secara berulang sebagai akibat dari adanya ggn fungsi otak intermiten, yang disebabkan oleh lepas muatan listrik abnormal dan berlebihan pada neuron-neuron secara paroksismal yang disebabkan oleh beberapa etiologi.

17 Epilepsi didefinisikan sebagai Epilepsi merupakan serangan kejang paroksismal berulang dua kali atau lebih tanpa penyebab yang jelas dengan interval serangan lebih dari 24 jam, akibat lepas muatan listrik berlebihan di neuron otak

18 Definisi Bangkitan epilepsi (epileptic seizure) : Manifestasi klinik bangkitan serupa (stereotipik) yang berlangsung secara mendadak dan sementara dengan atau tanpa perubahan kesadaran, disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di otak, bukan disebabkan oleh suatu penyakit otak akut (unprovoked).

19 Sindrom Epilepsi Sekumpulan gejala dan tanda klinik epilepsi yang terjadi secara bersama-sama yang berhubungan dengan : Etiologi Umur Onset jenis bangkitan, Faktor pencetus Kronisitas & prognosis

20 Insidens atau prevalens Sangat bervariasi sekitar 4-8 per 1000 populasi ~ 0,4 0,8%. Denpasar 2011 : Terbanyak pada kelompok umur 1-5 tahun, Onset terbanyak umur < 1 tahun. I Gusti Ngurah Made Suwarba, Sari Pediatri 2011

21 Incidence per 100,000 Epilepsy Incidence Rates by Age * 1000 All Epilepsy Types Age (years) *Data from Rochester, MN ( ) Hauser WA et al. Epilepsia. 1991;32:

22 Seizure terms Ictal= seizure Post-icta l= confusion following seizure Aura= abnormal sensation preceding loc Automatisms= nonsensical involuntary movements Tonic= tonic contraction producing extension and arching Clonic= alternating muscle contraction-relaxation Complex= consciousness impaired Simple= consciousness unimpaired Partial= focal region involved Generalized= whole brain Convulsions= shaking Grand mal and petite mal= street terms for convulsive and non-convulsive seizure respectively

23 Etiology CNS Head trauma Seizure in 1 week of injury not predictive of epilepsy Stroke Vascular malformations Mass (tumor/abscess) Meningitis /encephalitis Congenital malformations/ cortical dysplasias Idiopathic Systemic Hypo/hyperglycemia Hypo/hypernatremia Hypocalcemia Uremia Hepatic encephalopathy Hypoxia Hyperthermia Drug overdose or withdrawal EtOH withdrawal sz occurs within 48h

24 Classification of seizure types Partial (focal) Simple partial Motor Somatosensory Autonomic Psychological Complex partial Simple partial with impaired consciousness Partial seizures with secondary generalization Generalized Absence Tonic Clonic Tonic-clonic Atonic Myoclonic

25 Etiologi 70% kasus tidak diketahui sebabnya dikelompokkan sebagai epilepsi idiopatik 30% diketahui sebabnya : epilepsi simptomatik : trauma kepala, infeksi, kongenital, lesi desak ruang, gangguan peredaran darah otak, toksik dan metabolik. Epilepsi kriptogenik dianggap sebagai simptomatik tetapi penyebabnya belum diketahui, misalnya West syndrome dan Lennox Gastaut syndrome.

26 Penyebab Spesifik 1. Kelainan yg terjadi selama kehamilan / perkembangan janin 2. Kelainan yang terjadi saat kelahiran (BBL) : 3. Saat usia bayi anak-anak 4. Saat usia anak dewasa 5. Saat usia tua/lanjut

27 Penyebab Spesifik 1. Kelainan yang terjadi selama kehamilan /perkembangan janin : ibu mengkonsumsi obat-obatan tertentu, minuman alkhohol atau terapi penyinaran. 2. Kelainan yang terjadi saat kelahiran (bayi baru lahir) : 1. Brain malvormation, ggn oksigenasi sebelum lahir (Hipoksia-Asfiksia) 2. Ggn elektrolit, ggn metabolisme janin, Infeksi 3. Saat usia bayi anak-anak 1. demam (kejang demam), tumor otak (jarang), infeksi 4. Saat usia anak dewasa 1. Kelainan kongenital : sindrom down, neurofibromatosis, dll. 2. Faktor genetik : 1. salah satu ortu epilepsi (epilepsi idiopatik), kemungkinan 4% anaknya epilepsi, 2. kedua ortu epilepsi kemungkinan anaknya epilepsi 20%-30%. 3. Penyakit otak progresif seperti tumor otak (jarang) 4. Trauma kepala 5. Saat usia tua/lanjut 1. - Stroke 2. - Penyakit Alzeimer 3. - Trauma

28 PATOFISOLOGI EPILEPSI Terjadi apabila proses eksitasi di dalam otak lebih dominan dari pada proses inhibisi. Perubahan di dalam eksitasi aferen, disinhibisi, pergeseran konsentrasi ion ekstraseluler, voltage-gated ion channel opening, dan menguatnya sinkronisasi neuron sangat penting artinya dalam hal inisiasi dan perambatan aktivitas serangan epileptik. Aktivitas neuron diatur oleh konsentrasi ion di dalam ruang ekstraseluler dan intraseluler, dan oleh gerakan keluar-masuk ion-ion menerobos membran neuron.

29 KLASIFIKASI EPILEPSI International League Against Epilepsy (ILAE) 1981, diklasifikasikan menjadi 2 : berdasarkan bangkitan epilepsi berdasarkan sindrom epilepsi.

30 KLASIFIKASI EPILEPSI Bangkitan parsial Bangkitan umum Unclassified

31 KLASIFIKASI EPILEPSI Klasifikasi berdasarkan tipe bangkitan epilepsi : 1. Bangkitan Parsial A. Parsial Sederhana (kesadaran tetap baik) B. Parsial Kompleks (kesadaran menurun) C. Parsial yang menjadi umum sekunder

32 KLASIFIKASI EPILEPSI Klasifikasi berdasarkan tipe bangkitan epilepsi : 1. Bangkitan Parsial Bangkitan parsial diklasifikasikan menjadi 3 yakni, A. Parsial Sederhana (kesadaran tetap baik) 1. Dengan gejala motorik 2. Dengan gejala somatosensorik atau sensorik khusus 3. Dengan gejala autonom 4. Dengan gejala psikis B. Parsial Kompleks (kesadaran menurun) 1. Berasal sebagai parsial sederhana dan berekambang menjadi penurunan kesadaran 2. Dengan penurunan kesadaran sejak awaitan C. Parsial yang menjadi umum sekunder 1. Parsial sederhana yang menajdi umum tonik-konik 2. Parsial kompleks menjadi umum tonik-klonik 3. Parsial sederhana menjadi parsial kompleks dan menjadi umum tonik-konik

33 KLASIFIKASI EPILEPSI 2. Bangkitan Umum A. Absence / lena / petit mal B. Klonik C. Tonik D. Tonik-klonik /Grand mal E. Mioklonik F. Atonik

34 Epilepsi Idiopatik Parsial Kejang parsial dengan kelainan fokal EEG, yang muncul pada usia tertentu. Tidak ada kelainan anatomis. Terjadi pada anak normal Sering disertai riwayat keluarga yang sama. Contoh: Benign childhood epilepsi with Centrotemporal Spike. Nama lain : Benign Rolandic Epilepsi, benign dengan gelombang paku Rolandic

35 Epilepsi Idiopatik Parsial Serangan berbentuk parsial sederhana tapi kadang menjadi umum atau partial kompleks. Onset usia 2-13 tahun tersering 5-10 tahun. Terlihat dominasi gejala orofaringeal : salivasi, tidak dapat bicara, gerak involunter mulut dan faring, suara tenggorok, kontroksi tonik atau klonik lidah, atau dagu atau salah satu sisi wajah, rasa baal atau parastesi dagu,gusi dan lidah.

36 Epilepsi Idiopatik Parsial Umumnya serangan waktu tidur. 25 % hanya 1x serangan selama hidupnya, 50% < 5x serangan 8% > 20 x serangan. Irama dasar EEG : Interiktal normal, ditemukan gelombang paku sentrotemporal dapat unilateral, bilateral asimitris atau bilateral independen. Gelombang paku bertambah saat tidur atau dapat timbul hanya saat tidur.

37 Epilepsi pada Anak dg Paroksismal Oksipital Disebut juga epilepsi oksipital benign. Terjadi pada usia + 6 tahun, sebagai bentuk serangan visual dominan, berupa buta sejenak, halusinasi berbentuk atau tidak.

38 Epilepsi pada Anak dg Paroksismal Oksipital Serangan dapat hanya visual atau dapat juga serangan hemiklonik, parsial komplek tonik klonik umum. Pasca kejang dapat terjadi sakit kepala, nausea dan muntah.

39 Epilepsi Idiopatik Umum Serangan kejang umum sejak awal pada EEG tampak kelainan umum juga. Contoh Kejang Neonatal Familial Benign. Jarang terjadi diturunkan dominan. Kejang terjadi hari ke Tidak ada kriteria EEG Sebagian kecil mengalami kejang pada masa anak

40 Benign fam seizure

41 Epilepsi Idiopatik Umum Kejang Neonatal Benign (BNC) Kejang sangat sering, terjadi sekitar hari ke 5 (fifth day fits) Tidak terjadi epilepsi atau kejang dikemudian hari. Perkembangan psikomotor normal. Bentuk kejang selalu klonik, terutama parsial atau apne, tidak pernah berbentuk tonik.

42 Normal suspicious EEG

43 West Syndrome Merupakan sindrom epilepsi terbanyak Sering misdiagnosis sebagai kolik, kaget, respons Moro, menggigil. Diagnosis dengan EEG Hipsaritmia. Dapat berkembang menjadi sindrom Lennox-Gastaut Pengobatan dengan ACTH dan anti kejang. Prognosis jelek.

44

45 Diagnosis Anamnesis yang menolong diagnosis tipe kejang Adakah sebuah sensasi yang mengawali kejadian ini? Kalau ada jenis apa? Apa yang dilakukan pasien selama kejadian itu? Apakah pasien dapat bersambung dengan lingkungan sewaktu kejadian itu? Apakah pasien dapat mengingat apa yang terjadi padanya? Bagaimana pasien sesudah kejadian itu? Berapa lama sampai dia merasa biasa kembali?

46 Diagnosis Pertanyaan yang menolong membuat diagnosis tipe kejang Berapa lama kejadian itu? Berapa kali kejadian itu terjadi? Apakah ada pemicu yang berhubungan dengan kejadian itu? Pernahkah pasien minum obat untuk mencegah kejadian ini? Kalau ya, bagaimana hasilnya?

47

48

49

50 Sindrom Lennox-Gestout (SLG) Ditandai serengan epilepsi absens atipik, kejang tonik aksial, jatuh mendadak karena serangan atonik atau kadang-kadang mioklonik. Gelombang paku ombak lambat dan difus pada saat bangun irama cepat 10 perdetik pada saat tidur Ggn perkembangan mental dan tingkah laku

51 SLG Prognosis ditentukan oleh: 1. Adakah defisit neurologi sebelumnya biasanya lanjutan SI 2. Onset < usia 3 tahun jelek 3. Serangan sangat sering, lama atau status epileptikus 4. EEG dgn irama dasar yang lambat dan adanya fokus epilepsi disamping paku ombak lambat

52 Early infantile Epileptic Encephalopathy (EIEE) Sindrom Ohtahara EEG Suppression-Burst Tampak normal waktu lahir kemudian kejang umum : spasme fleksor, ektensor atau asimetris Awalnya neurologi normal sering kejang menjadi tidak normal Prognosis buruk 50% meninggal sisanya cacat permanen. Sebagian akan menjadi spasme infantil.

53

54

55

56

57 Mioklonik

58 Apa yg dilakukan saat kejang

59

60

61 Elektro ensefalografi (EEG) Pemeriksaan penunjang Harus dilakukan pada semua pasien epilepsi, & paling sering dilakukan. Kelainan fokal EEG : kemungkinan lesi struktural di otak Kelainan umum EEG : kelainan genetik atau metabolik.

62 Pemeriksaan penunjang EEG dikatakan abnormal : 1. Asimetris irama dan voltase gelombang pada daerah yang sama di kedua hemisfer otak. 2. Irama gelombang tidak teratur, irama gelombang lebih lambat dibanding seharusnya misal gelombang delta. 3. Adanya gelombang yang biasanya tidak terdapat pada anak normal, misalnya gelombang tajam, paku (spike), paku-ombak, paku majemuk, dan gelombang lambat yang timbul secara paroksimal.

63 Pemeriksaan penunjang EEG dikatakan abnormal : 1. Bentuk epilepsi tertentu mempunyai gambaran EEG yang khas, misalnya 1. spasme infantile mempunyai gambaran EEG hipsaritmia, 2. epilepsi petit mal gambaran EEG nya gelombang paku ombak 3 siklus per detik (3 spd), 3. epilepsi mioklonik mempunyai gambaran EEG gelombang paku / tajam / lambat dan paku majemuk yang timbul secara serentak (sinkron).

64 Peranan EEG Kurang berguna untuk menentukan apakah serangan kejang atau sakit epilepsi. Pada 3,5% anak sehat, ada kelainan epileptiform EEG pada 10% anak sehat tidak normal Pada 50% anak yang ternyata menderita epilepsi, tidak ada kelainan pada EEG rutin yang pertama. Tipe kejang berhububungan dengan susunan tertentu pada EEG. Maka EEG dapat menolong menentukan klasifikasi epilepsi yang dialami pasien. EEG sleep-deprived lebih berhasil.

65

66

67 TATA LAKSANA Tujuan utama epilepsi : Tercapainya kualitas hidup penderita yang optimal. Cara : menghentikan bangkitan, mengurangi frekuensi bangkitan tanpa efek samping ataupun dengan efek samping seminimal mungkin menurunkan angka kesakitan dan kematian.

68 Prinsip tata laksana : TATA LAKSANA 1.OAE mulai diberikan bila Dx epilepsi sudah pasti : 1. Terdapat minimum 2 kali bangkitan dalam setahun. 2. Pasien & keluarganya harus lebih dahulu diberi edukasi mengenai tujuan pengobatan dan efek samping terapi. 2.Dimulai dengan monoterapi 3.Dimulai dosis rendah, bila perlu dinaikkan bertahap sampai dosis efektif tercapai atau timbul efek samping obat

69 Prinsip tata laksana : TATA LAKSANA 4. Bila dg dosis maksimum OAE tak dapat mengontrol bangkitan, maka ditambahkan OAE kedua di mana bila sudah mencapai dosis terapi, dosis OAE pertama diturunkan bertahap. 5. Penambahan OAE ketiga baru diberikan bila bangkitan tidak terkontrol dengan OAE pertama dan kedua

70 OAE Pilihan pada Epilepsi 1. Karbamazepin : Blok sodium channel konduktan pada neuron, bekerja juga pada reseptor NMDA, monoamine dan asetilkolin. 2. Fenitoin : Blok sodium channel dan inhibisi aksi konduktan kalsium dan klorida dan neurotransmitter yang voltage dependen 3. Fenobarbital : Meningkatkan aktivitas reseptor GABAA, menurunkan eksitabilitas glutamate, emnurunkan konduktan natrium, kalium dan kalsium. 4. Valproat : Diduga aktivitas GABA glutaminergik, menurunkan ambang konduktan kalsium (T) dan kalium. 5. Levetiracetam : Tidak diketahui 6. Gabapetin : Modulasi kalsium channel tipe N 7. Lamotrigin : Blok konduktan natrium yang voltage dependent 8. Okskarbazepin : Blok sodium channel, meningkatkan konduktan kalium, modulasi aktivitas chanel. 9. Topiramat : Blok sodium channel, meningkatkan influks GABA-Mediated chloride, modulasi efek reseptor GABAA. 10. Zonisomid : Blok sodium, potassium, kalsium channel. Inhibisi eksitasi glutamate.

71 Penghentian Obat Setelah bangkitan terkontrol dalam jangka waktu tertentu, OAE dapat dihentikan tanpa kekambuhan. Pada anak-anak dengan epilepsi, pengehentian sebaiknya dilakukan secara bertahap setelah 2 tahun bebas dari bangkitan kejang.

72 Kemungkinkan kekambuhan setelah penghentian OAE Usia semakin tua, semakin tinggi kemungkinan kambuh Epilepsi simtomatik, EEG abnormal Semakin lamanya bangkitan belum dapat dikendalikan. OAE lebih dari satu Masih mendapatkan satu atau lebih bangkitan setelah memulai terapi Lama terapi 10 tahun atau lebih. Kekambuhan akan semakin kecil kemungkinanya bila penderita telah bebas bangkitan selama 3-5 tahun atau lebih dari 5 tahun. Bila bangkitan timbul kembali maka pengobatan menggunakan dosis efektif terakhir yg tidak menimbulkan kejang, kemudian evaluasi.

73 Terima Kasih

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 17 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Definisi Epilepsi Epilepsi merupakan gangguan kronik otak yang menunjukan gejala-gejala berupa serangan yang berulang yang terjadi akibat adanya ketidaknormalan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Epilepsi 1. Definisi Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat yang dicirikan oleh terjadinya serangan (seizure, fit, attack, spell) yang bersifat spontan (unprovoked)

Lebih terperinci

Takrif/pengertian. 1/2/2009 Zullies Ikawati's Lecture Notes

Takrif/pengertian. 1/2/2009 Zullies Ikawati's Lecture Notes EPILEPSI Takrif/pengertian epilepsi : kejadian kejang yang terjadi berulang (kambuhan) Kejang : manifestasi klinik dari aktivitas neuron yang berlebihan di dalam korteks serebral Manifestasi klinik kejang

Lebih terperinci

PEDOMAN DIAGNOSTIK & PENGOBATAN EPILEPSI PADA ANAK. Dr Erny SpA(K) FK UWKS

PEDOMAN DIAGNOSTIK & PENGOBATAN EPILEPSI PADA ANAK. Dr Erny SpA(K) FK UWKS PEDOMAN DIAGNOSTIK & PENGOBATAN EPILEPSI PADA ANAK Dr Erny SpA(K) FK UWKS 1 Kompetensi dasar mampu menegakkan diagnosis epilepsi dan menyusun program terapi epilepsi pada anak 2 Sub-kompetensi Mampu menyebutkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Informasi Obat Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan dan pemberian informasi obat, rekomendasi obat yang independen, akurat,. 4 komprehensif, terkini,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Epilepsi 2.1.1 Pengertian Epilepsi berasal dari bahasa Yunani, Epilambanmein yang berarti serangan. Dahulu masyarakat percaya bahwa epilepsi disebabkan oleh roh jahat dan dipercaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada

BAB I PENDAHULUAN. Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada anak, dan biasanya kejang sudah dimulai sejak usia bayi dan anak-anak. Kejang pada

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Epilepsi 2.1.1. Definisi Epilepsi merupakan salah satu kelainan neurologis yang paling umum terjadi dan mengenai sekitar 50 juta orang di dunia. Epilepsi berupa suatu kondisi

Lebih terperinci

KEJANG PADA ANAK. Oleh: Nia Kania, dr., SpA., MKes

KEJANG PADA ANAK. Oleh: Nia Kania, dr., SpA., MKes KEJANG PADA ANAK Oleh: Nia Kania, dr., SpA., MKes Kejang merupakan suatu manifestasi klinis yang sering dijumpai di ruang gawat darurat. Hampir 5% anak berumur di bawah 16 tahun setidaknya pernah mengalami

Lebih terperinci

EPILEPSI PADA ANAK. Anna MG.Sinardja Lab.Neurologi FK.UNUD / RS Sanglah

EPILEPSI PADA ANAK. Anna MG.Sinardja Lab.Neurologi FK.UNUD / RS Sanglah EPILEPSI PADA ANAK Anna MG.Sinardja Lab.Neurologi FK.UNUD / RS Sanglah Prinsip dasar diagnosis dan pengobatan PENDAHULUAN Epilepsi adl suatu gangguan neurologi yg sering muncul. - - Dx/ lbh penting dp

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang datang dalam serangan-serangan berulang secara spontan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang datang dalam serangan-serangan berulang secara spontan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Epilepsi merupakan gangguan saraf kronik dengan ciri timbulnya gejalagejala yang datang dalam serangan-serangan berulang secara spontan yang disebabkan lepasnya

Lebih terperinci

SMF/lab Neurologi Referrat Program Studi Kedokteran Umum Universitas Mulawarman EPILEPSI. Dipresentasikan pada tanggal: 01 Mei 2013.

SMF/lab Neurologi Referrat Program Studi Kedokteran Umum Universitas Mulawarman EPILEPSI. Dipresentasikan pada tanggal: 01 Mei 2013. SMF/lab Neurologi Referrat Program Studi Kedokteran Umum Universitas Mulawarman EPILEPSI Dipresentasikan pada tanggal: 01 Mei 2013 Disusun Oleh: Afnies Basugis Pembimbing: dr. Yeti Hutahean, Sp.S Dibawakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. EPILEPSI 1. Definisi Epilepsi adalah Cetusan listrik lokal pada substansia grisea otak yang terjadi sewaktu-waktu, mendadak, dan sangat cepat yang dapat mengakibatkan serangan

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan dan bentuk tubuh, yang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan dan bentuk tubuh, yang 5 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Palsi serebral 2.1.1 Definisi palsi serebral Palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan dan bentuk tubuh, yang menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik, gangguan tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN DEFINISI ETIOLOGI

BAB I PENDAHULUAN DEFINISI ETIOLOGI BAB I PENDAHULUAN Banyaknya jenis status epileptikus sesuai dengan bentuk klinis epilepsi : status petitmal, status psikomotor dan lain-lain. Di sini khusus dibicarakan status epileptikus dengan kejang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Epilepsi merupakan salah satu gangguan neurologi serius dan kronik. Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan kronik otak dengan gejala berupa

Lebih terperinci

Epilepsi (Epilepsy, Ayan)

Epilepsi (Epilepsy, Ayan) Epilepsi (Epilepsy, Ayan) Penyakit ayan atau epilepsi (epilepsy) Penyakit epilepsi merupakan penyakit yang dapat terjadi pada siapa pun walaupun dari garis keturunan tidak ada yang pernah mengalami epilepsi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN Epilepsi didefinisikan sebagai suatu keaadaan yang ditandai oleh bangkitan (seizure) berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara intermiten, yang disebabkan oleh lepas

Lebih terperinci

DIAGNOSIS EPILEPSI. Oleh : Utoyo Sunaryo Bagian Neurologi FK UWKS RSUD Dr Moh. Saleh Kota Probolinggo

DIAGNOSIS EPILEPSI. Oleh : Utoyo Sunaryo Bagian Neurologi FK UWKS RSUD Dr Moh. Saleh Kota Probolinggo DIAGNOSIS EPILEPSI Oleh : Utoyo Sunaryo Bagian Neurologi FK UWKS RSUD Dr Moh. Saleh Kota Probolinggo ABSTRACT. The diagnosis of epilepsy is problematic because the routine diagnosis of epilepsy is therefore

Lebih terperinci

GANGGUAN KESADARAN PADA EPILEPSI. Pendahuluan

GANGGUAN KESADARAN PADA EPILEPSI. Pendahuluan GANGGUAN KESADARAN PADA EPILEPSI Pendahuluan Epilepsy dapat menyebabkan gangguan kesadaran yang transient mulai dari gannguan kesiagaan ringan sampai hilangnya kesadaran. hal ini disebabkan terdapatnya

Lebih terperinci

Di Indonesia penelitian epidemiologik tentang epilepsi belum pernah dilakukan, namun epilepsi tidak jarang dijumpai dalam masyarakat.

Di Indonesia penelitian epidemiologik tentang epilepsi belum pernah dilakukan, namun epilepsi tidak jarang dijumpai dalam masyarakat. BAB 1 PENDAHULUAN Epilepsi merupakan suatu gangguan fungsional kronik yang relatif sering terjadi dimana ditandai oleh aktivitas serangan yang berulang. Serangan kejang yang merupakan gejala atau manifestasi

Lebih terperinci

2/19/2017 MATERI DEFINISI EPILEPSI PENATALAKSANAAN EPILEPSI. Definisi Konseptual

2/19/2017 MATERI DEFINISI EPILEPSI PENATALAKSANAAN EPILEPSI. Definisi Konseptual PENATALAKSANAAN EPILEPSI DR. Suryani Gunadharma SpS(K), M.Kes MATERI Definisi Etiologi Pemeriksaan penunjang Klasifikasi Patofisiologi Terapi DEFINISI EPILEPSI Definisi Konseptual Kelainan otak yang ditandai

Lebih terperinci

BAB 5 PEMBAHASAN. Pada penelitian ini yang bermakna sebagai faktor risiko bangkitan kejang

BAB 5 PEMBAHASAN. Pada penelitian ini yang bermakna sebagai faktor risiko bangkitan kejang BAB 5 PEMBAHASAN Pada penelitian ini yang bermakna sebagai faktor risiko bangkitan kejang demam pada anak adalah faktor tinggi demam dan faktor usia kurang dari 2 tahun. Dari karakteristik orang tua anak

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA. sekelompok neuron kortek/subkortek, bisa sebagai serangan epilepsi maupun bukan

BAB III TINJAUAN PUSTAKA. sekelompok neuron kortek/subkortek, bisa sebagai serangan epilepsi maupun bukan BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Seizure 3.1.1 Definisi Seizure Seizure (kejang) adalah bentuk serangan cetusan potensial abnormal berlebihan dari sekelompok neuron kortek/subkortek, bisa sebagai serangan

Lebih terperinci

REFERAT EPILEPSI PADA ANAK

REFERAT EPILEPSI PADA ANAK REFERAT EPILEPSI PADA ANAK Pembimbing Disusun Oleh : Noorgiani Lestari (07120100057) SMF ILMU KESEHATAN ANAK, RS SILOAM LIPPO KARAWACI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN DAFTAR ISI 1 Daftar

Lebih terperinci

Biasanya Kejang Demam terjadi akibat adanya Infeksi ekstrakranial, misalnya OMA dan infeksi respiratorius bagian atas

Biasanya Kejang Demam terjadi akibat adanya Infeksi ekstrakranial, misalnya OMA dan infeksi respiratorius bagian atas ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM PADA ANAK B. ETIOLOGI Biasanya Kejang Demam terjadi akibat adanya Infeksi ekstrakranial, misalnya OMA dan infeksi respiratorius bagian atas C. PATOFISIOLOGI Peningkatan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 o C) yang disebabkan oleh proses

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 o C) yang disebabkan oleh proses BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Kejang Demam Kejang demam atau febrile convulsion ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 o C) yang disebabkan oleh proses

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Menurut Fadila, Nadjmir dan Rahmantini (2014), dan Deliana (2002), kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38 C) akibat suatu proses ekstrakranium tanpa adanya infeksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) adalah suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) adalah suatu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) adalah suatu kelainan otak kronis dengan berbagai macam penyebab yang ditandai serangan epilepsi berulang yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Epilepsi merupakan penyakit kronis di bidang neurologi dan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Epilepsi merupakan penyakit kronis di bidang neurologi dan penyakit BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Epilepsi merupakan penyakit kronis di bidang neurologi dan penyakit kedua terbanyak setelah stroke (Blum, 2003). Epilepsi disebabkan oleh berbagai etiologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Epilepsi merupakan serangan berulang secara periodik dengan atau tanpa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Epilepsi merupakan serangan berulang secara periodik dengan atau tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Epilepsi merupakan serangan berulang secara periodik dengan atau tanpa kejang. Serangan tersebut disebabkan oleh aktivasi listrik berlebihan pada neuron korteks dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI. listrik secara berlebihan dan tidak teratur oleh sel-sel otak dengan tiba-tiba,

BAB II TINJAUAN TEORI. listrik secara berlebihan dan tidak teratur oleh sel-sel otak dengan tiba-tiba, BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Epilepsi didefinisikan sebagai suatu gangguan atau terhentinya fungsi otak secara periodik yang disebabkan oleh terjadinya pelepasan muatan listrik secara berlebihan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Kejang Demam 1. Definisi Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakaranium

Lebih terperinci

Definisi Suatu reaksi organik akut dengan ggn utama adanya kesadaran berkabut (clouding of consciousness), yg disertai dengan ggn atensi, orientasi, m

Definisi Suatu reaksi organik akut dengan ggn utama adanya kesadaran berkabut (clouding of consciousness), yg disertai dengan ggn atensi, orientasi, m DELIRIUM Oleh : dr. H. Syamsir Bs, Sp. KJ Departemen Psikiatri FK-USU 1 Definisi Suatu reaksi organik akut dengan ggn utama adanya kesadaran berkabut (clouding of consciousness), yg disertai dengan ggn

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Dalam penyusunan proyek tugas akhir ini penulis melakukan sebuah penelitian di RSUD RAA Soewondo Pati sebagai bahan masukan dalam pembuatan sistem pakar pengenalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sindrom neurokutaneus merupakan sekelompok besar kelainan kongenital

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sindrom neurokutaneus merupakan sekelompok besar kelainan kongenital BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindrom neurokutaneus merupakan sekelompok besar kelainan kongenital yang sangat bervariasi, tidak saling terkait, dengan karakteristik klinis, patologis dan genetik

Lebih terperinci

EPILEPSI. Rambu Shinta Anggung Praing. Fakultas Kedokteran UKRIDA. Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta. Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

EPILEPSI. Rambu Shinta Anggung Praing. Fakultas Kedokteran UKRIDA. Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta. Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 EPILEPSI Rambu Shinta Anggung Praing 102009221 Fakultas Kedokteran UKRIDA Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 [email protected] PENDAHULUAN Epilepsi atau

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kejang Demam 2.1.1. Definisi Kejang demam adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4 o C tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 60 bulan disertai suhu tubuh 38 C (100,4 F) atau lebih yang tidak. (SFSs) merupakan serangan kejang yang bersifat tonic-clonic di

BAB 1 PENDAHULUAN. 60 bulan disertai suhu tubuh 38 C (100,4 F) atau lebih yang tidak. (SFSs) merupakan serangan kejang yang bersifat tonic-clonic di BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kejang demam atau febrile seizure (FS) merupakan kejang yang terjadi pada anak dengan rentang umur 6 sampai dengan 60 bulan disertai suhu tubuh 38 C (100,4

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. serta tidak didapatkan infeksi ataupun kelainan intrakranial. Dikatakan demam

BAB 1 PENDAHULUAN. serta tidak didapatkan infeksi ataupun kelainan intrakranial. Dikatakan demam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kejang demam adalah bangkitan kejang terkait dengan demam dan umur serta tidak didapatkan infeksi ataupun kelainan intrakranial. Dikatakan demam apabila suhu tubuh

Lebih terperinci

Kejang Pada Neonatus

Kejang Pada Neonatus Kejang Pada Neonatus Guslihan Dasa Tjipta Emil Azlin Pertin Sianturi Bugis Mardina Lubis 1 DIVISI PERINATOLOGI Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU/RSUP H.Adam Malik Medan 2 Definisi : Kejang merupakan

Lebih terperinci

BAB I KONSEP DASAR. ini disebabkan oleh kelainan ekstrakranial (Lumbantobing, 1995). Dari. tubuh yang disebabkan oleh karena proses ekstrakranial.

BAB I KONSEP DASAR. ini disebabkan oleh kelainan ekstrakranial (Lumbantobing, 1995). Dari. tubuh yang disebabkan oleh karena proses ekstrakranial. BAB I KONSEP DASAR A. Pengertian Kejang demam adalah suatu kondisi saat tubuh anak sudah tidak dapat menahan serangan demam pada suhu tertentu (Widjaja, 200 1). Kejang demam adalah kejang yang terjadi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. terdapat 204 resep (50,62%) dan pasien berjenis kelamin laki-laki

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. terdapat 204 resep (50,62%) dan pasien berjenis kelamin laki-laki BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Data Pasien Hasil penelitian menunjukan dari 403 resep yang masuk kriteria inklusi meliputi pasien anak berjenis kelamin perempuan terdapat 204 resep (50,62%)

Lebih terperinci

PREDIKTOR KEJADIAN KEJANG PASCAOPERASI BEDAH EPILEPSI LOBUS TEMPORAL PADA PENDERITA EPILEPSI LOBUS TEMPORAL LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

PREDIKTOR KEJADIAN KEJANG PASCAOPERASI BEDAH EPILEPSI LOBUS TEMPORAL PADA PENDERITA EPILEPSI LOBUS TEMPORAL LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH PREDIKTOR KEJADIAN KEJANG PASCAOPERASI BEDAH EPILEPSI LOBUS TEMPORAL PADA PENDERITA EPILEPSI LOBUS TEMPORAL LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian Hasil Karya Tulis

Lebih terperinci

Kejang Demam (KD) Erny FK Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Kejang Demam (KD) Erny FK Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Kejang Demam (KD) Erny FK Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Tingkat kompetensi : 4 Kompetensi dasar : mampu mendiagnosis dan melakukan tatalaksana secara paripurna Sub-kompetensi : Menggali anamnesa untuk

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Kejang Demam Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas C) 38 tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat, gangguan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dia mampu menunjukan eksistensi dirinya terhadap orang lain. inginkan oleh semua orang tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. dia mampu menunjukan eksistensi dirinya terhadap orang lain. inginkan oleh semua orang tersebut. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Setiap manusia di lahirkan di dunia ini pasti memiliki keinginan menjadi manusia yang sempurna dan dapat memenuhi tugas perkembangannya serta melakukan setiap aktifitas

Lebih terperinci

Faktor Prognostik Kegagalan Terapi Epilepsi pada Anak dengan Monoterapi

Faktor Prognostik Kegagalan Terapi Epilepsi pada Anak dengan Monoterapi Artikel Asli Faktor Prognostik Kegagalan Terapi Epilepsi pada Anak dengan Agung Triono, Elisabeth Siti Herini Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada /RSUP Dr. Sardjito,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. baik dengan atau tanpa kejang. Peristiwa kejang dihasilkan dari pelepasan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. baik dengan atau tanpa kejang. Peristiwa kejang dihasilkan dari pelepasan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Epilepsi merupakan kekambuhan periodik yang ditandai adanya bangkitan, baik dengan atau tanpa kejang. Peristiwa kejang dihasilkan dari pelepasan berlebihan dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan kronik otak yang menunjukkan gejala-gejala berupa serangan yang berulang-ulang yang terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Status epileptikus adalah kondisi kejang berkepanjangan yang mewakili keadaan darurat medis dan neurologis. Menurut International League Against Epilepsy, status epileptikus

Lebih terperinci

BAHAN AJAR I KEJANG Nama Mata Kuliah/Bobot SKS : Sistem Neuropsikiatri / 8 SKS

BAHAN AJAR I KEJANG Nama Mata Kuliah/Bobot SKS : Sistem Neuropsikiatri / 8 SKS BAHAN AJAR I KEJANG Nama Mata Kuliah/Bobot SKS : Sistem Neuropsikiatri / 8 SKS Standar Kompetensi : area kompetensi 5: landasan ilmiah kedokteran Kompetensi Dasar : menerapkan ilmu kedokteran klinik pada

Lebih terperinci

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA EPILEPSI. No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit : Halaman : 1/2

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA EPILEPSI. No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit : Halaman : 1/2 DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA EPILEPSI No. Dokumen : SOP No. Revisi : Tanggal Terbit : 02-01-2016 Halaman : 1/2 UPT PUSKESMAS HARAPAN SANTOSO NIP. 19651010 199001 1 002 1. Pengertian Epilepsi didefinisikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Insiden epilepsi di dunia berkisar antara tiap penduduk tiap

BAB I PENDAHULUAN. Insiden epilepsi di dunia berkisar antara tiap penduduk tiap 12 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Epilepsi merupakan suatu manifestasi gangguan fungsi otak dengan berbagai etiologi, dengan gejala tunggal yang khas, yaitu kejang berulang lebih dari 24 jam yang

Lebih terperinci

DRUGS USED IN EPILEPSI

DRUGS USED IN EPILEPSI DRUGS USED IN EPILEPSI Dwi Bagas Legowo, dr Depart. Of Pharmacology & Therapy Medical School Malahayati University Benzodiazepine dan Barbiturate Farmakokinetik : A. Absorpsi : kecepatan absorbsi dari

Lebih terperinci

Laporan Pendahuluan Epilepsi

Laporan Pendahuluan Epilepsi Laporan Pendahuluan Epilepsi Epilepsi A. Pengertian Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersifat reversibel

Lebih terperinci

BAB 2 NYERI KEPALA. B. Pertanyaan dan persiapan dokter muda

BAB 2 NYERI KEPALA. B. Pertanyaan dan persiapan dokter muda BAB 2 NYERI KEPALA A. Tujuan pembelajaran Dokter muda mampu : 1. Melaksanakan anamnesis pada pasien nyeri kepala. 2. Mengidentifikasi tanda dan gejala nyeri kepala. 3. Mengklasifikasikan nyeri kepala.

Lebih terperinci

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia?

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia? Skizofrenia Skizofrenia merupakan salah satu penyakit otak dan tergolong ke dalam jenis gangguan mental yang serius. Sekitar 1% dari populasi dunia menderita penyakit ini. Pasien biasanya menunjukkan gejala

Lebih terperinci

Spasme infantil (SI) merupakan salah satu

Spasme infantil (SI) merupakan salah satu Sari Pediatri, Vol. 8, No. 3 (Suplemen), Januari 2007: 21-26 Manifestasi Klinik dan Tata laksana Spasme Infantil di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Setyo Handryastuti, Irawan Mangunatmadja Latar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia mempunyai dua faktor yang berpengaruh besar terhadap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia mempunyai dua faktor yang berpengaruh besar terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia mempunyai dua faktor yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan anak yaitu gizi dan infeksi. Saat ini 70% kematian balita disebabkan karena pneumonia, campak,

Lebih terperinci

Epilepsi merupakan salah satu penyebab

Epilepsi merupakan salah satu penyebab Artikel Asli I Gusti Ngurah Made Suwarba Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP Sanglah, Denpasar, Bali Latar belakang. Epilepsi merupakan salah satu penyebab terbanyak

Lebih terperinci

Sindrom Epilepsi Pada Anak

Sindrom Epilepsi Pada Anak Sindrom Epilepsi Pada Anak Risa Vera 1, Mas Ayu Rita Dewi 1, Nursiah 2 1. Departemen Ilmu Kesehatan Anak,Rumah sakit Moehammad Hoesin Palembang 2. Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Epilepsi pada anak adalah penyebab utama kunjungan ke pusat pengobatan, terutama bagian emergensi. Epilepsi masih menjadi masalah utama pada anak khususnya di bidang

Lebih terperinci

EEG AWAL TERAPI SEBAGAI PREDIKTOR KEKAMBUHAN PADA PENDERITA EPILEPSI YANG MENDAPAT TERAPI OBAT ANTIEPILEPSI

EEG AWAL TERAPI SEBAGAI PREDIKTOR KEKAMBUHAN PADA PENDERITA EPILEPSI YANG MENDAPAT TERAPI OBAT ANTIEPILEPSI EEG AWAL TERAPI SEBAGAI PREDIKTOR KEKAMBUHAN PADA PENDERITA EPILEPSI YANG MENDAPAT TERAPI OBAT ANTIEPILEPSI EEG IN FIRST THERAPY AS PREDICTOR RELAPSE AT EPILEPSY PATIENT WITH ANTIEPILEPTIC DRUGS THERAPY

Lebih terperinci

PERVASIVE DEVELOPMENTAL DISORDER (lanjutan) Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K)

PERVASIVE DEVELOPMENTAL DISORDER (lanjutan) Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K) PERVASIVE DEVELOPMENTAL DISORDER (lanjutan) Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K) SINDROMA RETT DEFINISI Suatu kondisi progresif yang berkembang setelah beberapa bulan perkembangan normal. Lingkar kepala waktu lahir:

Lebih terperinci

Pokok Bahasan: NEUROLOGI ANAK 1. KEJANG DEMAM dr. E.S. Herini

Pokok Bahasan: NEUROLOGI ANAK 1. KEJANG DEMAM dr. E.S. Herini Pokok Bahasan: NEUROLOGI ANAK 1. KEJANG DEMAM dr. E.S. Herini Pendahuluan Kejadian: 2-5% anak Dahulu * Bentuk epilepsi * Prognosis tidak baik * Kerusakan otak & epilepsi Sekarang * benign * tidak berhub.

Lebih terperinci

Epilepsi Post Stroke. Post Stroke Epilepsy

Epilepsi Post Stroke. Post Stroke Epilepsy Epilepsi Post Stroke Vandy Ikra 1, Raden A. Neilan 2 1 Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung 2 Bagian Saraf, Rumah Sakit Abdul Moeloek Abstrak Kejang merupakan gejala neurologis yang paling umum terjadi

Lebih terperinci

PENUNTUN PRAKTIKUM NEUROPSIKIATRI CONVULSANT & ANTICONVULSANT

PENUNTUN PRAKTIKUM NEUROPSIKIATRI CONVULSANT & ANTICONVULSANT SISTEM NEUROPSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN PENUNTUN PRAKTIKUM NEUROPSIKIATRI CONVULSANT & ANTICONVULSANT UNTUK MAHASISWA DISUSUN OLEH : dr. Jason Sriwijaya, Sp.FK FAKULTAS KEDOKTERAN

Lebih terperinci

EEG NORMAL PADA ANAK DAN DEWASA

EEG NORMAL PADA ANAK DAN DEWASA EEG NORMAL PADA ANAK DAN DEWASA Uni Gamayani, Dr, SpS. Bag. I. Penyakit Saraf RS. Hasan Sadikin/ FK. UNPAD EEG Normal adalah gambaran EEG tanpa adanya pola abnormal yang berhubungan dengan kelainan secara

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR RISIKO EPILEPSI PADA ANAK DI BAWAH USIA 6 TAHUN. ( Risk Factors of Epilepsy on Children Below 6 Years Age ) Tesis

FAKTOR-FAKTOR RISIKO EPILEPSI PADA ANAK DI BAWAH USIA 6 TAHUN. ( Risk Factors of Epilepsy on Children Below 6 Years Age ) Tesis FAKTOR-FAKTOR RISIKO EPILEPSI PADA ANAK DI BAWAH USIA 6 TAHUN ( Risk Factors of Epilepsy on Children Below 6 Years Age ) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 dan memperoleh

Lebih terperinci

Yayan Akhyar Israr, S.Ked

Yayan Akhyar Israr, S.Ked Author : Yayan Akhyar Israr, S.Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 0 Files of DrsMed FK UNRI (http://www.files-of-drsmed.tk TINJAUAN PUSTAKA 1. EPILEPSI 1.1 Definisi Kata epilepsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Muti ah, 2016

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Muti ah, 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kejang demam adalah kejang yang terjadi karena adanya suatu proses ekstrakranium tanpa adanya kecacatan neurologik dan biasanya dialami oleh anak- anak.

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Sakit Perut Berulang Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut berulang pada remaja terjadi paling sedikit tiga kali dengan jarak paling sedikit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang sering dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini disebabkan oleh demam dimana terdapat kenaikan suhu

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/367/2017 TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN TATA LAKSANA EPILEPSI PADA ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN

Lebih terperinci

Nyeri. dr. Samuel Sembiring 1

Nyeri. dr. Samuel Sembiring 1 Nyeri Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang sedang terjadi atau telah terjadi atau yang digambarkan dengan kerusakan jaringan. Rasa sakit (nyeri) merupakan keluhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Trauma kepala (cedera kepala) adalah suatu trauma mekanik yang secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi neurologis,

Lebih terperinci

ANAK DGN GANGG. FISIK & MOTORIK

ANAK DGN GANGG. FISIK & MOTORIK ANAK DGN GANGG. FISIK & MOTORIK KLASIFIKASI 1. GANGGUAN SISTEM CEREBRO SPINAL 2. GANGGUAN SISTEM MUSCULO SKELETAL Gangguan Cerebro Spinal Cerebral Palsy Spina Bifida Epilepsi 2. Gangguan Musculo Skeletal

Lebih terperinci

MANAJEMEN TERPADU UMUR 1 HARI SAMPAI 2 BULAN

MANAJEMEN TERPADU UMUR 1 HARI SAMPAI 2 BULAN MANAJEMEN TERPADU BAYI MUDA UMUR 1 HARI SAMPAI 2 BULAN PENDAHULUAN Bayi muda : - mudah sekali menjadi sakit - cepat jadi berat dan serius / meninggal - utama 1 minggu pertama kehidupan cara memberi pelayanan

Lebih terperinci

doi: /j.seizure British Epilepsy Association Published by Elsevier Ltd Baarid Luqman Hamidi

doi: /j.seizure British Epilepsy Association Published by Elsevier Ltd Baarid Luqman Hamidi Stase Neurofisiologi-EEG Journal Reading Case report Oral ketamine Controlled Refractory Nonconvulsive Status Epilepticus in an Elderly Patient Poh-Shiow Yeh a,b,*, Hsiu-Nien Shen c, Tai-Yuan Chen d doi:10.1016/j.seizure.2011.06.001

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke yang disebut juga sebagai serangan otak atau brain attack ditandai

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke yang disebut juga sebagai serangan otak atau brain attack ditandai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke yang disebut juga sebagai serangan otak atau brain attack ditandai dengan hilangnya sirkulasi darah ke otak secara tiba-tiba, sehingga dapat mengakibatkan terganggunya

Lebih terperinci

GANGGUAN TIDUR. Dr. Moetrarsih SKF, DTM&H, Sp.KJ

GANGGUAN TIDUR. Dr. Moetrarsih SKF, DTM&H, Sp.KJ GANGGUAN TIDUR Dr. Moetrarsih SKF, DTM&H, Sp.KJ Sub Topik Bahasan 1. Sleep-wake cycle disturbance 2. Nightmare 3. Sleep Walking Indikator Pencapaian 1. Menjelaskan Etiologi Gangguan Tidur 2. Membedakan

Lebih terperinci

POLA PENDEKATAN DIAGNOSIS KEJANG PADA ANAK. Prof dr Darto Saharso SpAK Dr Erny SpA Kelompok Studi Neuro-Developmental

POLA PENDEKATAN DIAGNOSIS KEJANG PADA ANAK. Prof dr Darto Saharso SpAK Dr Erny SpA Kelompok Studi Neuro-Developmental POLA PENDEKATAN DIAGNOSIS KEJANG PADA ANAK Prof dr Darto Saharso SpAK Dr Erny SpA Kelompok Studi Neuro-Developmental 1 BATASAN Kejang : Lepas muatan listrik yang berlebihan dengan sinkron sekelompok sel

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Definisi gagap yang disetujui belum ada. Menurut World Health Organization (WHO) definisi gagap adalah gangguan ritme bicara dimana seseorang tahu apa yang mau dibicarakan,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Otak terletak dalam rongga kranium (tengkorak), terdiri atas semua bagian

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Otak terletak dalam rongga kranium (tengkorak), terdiri atas semua bagian BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi dan Fisiologi Otak 2.1.1. Anatomi Otak Otak terletak dalam rongga kranium (tengkorak), terdiri atas semua bagian Sistem Saraf Pusat (SSP) diatas korda spinalis. Secara

Lebih terperinci

PERBEDAAN IQ PADA PASIEN EPILEPSI LOBUS TEMPORAL SEBELUM DAN SESUDAH BEDAH EPILEPSI LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

PERBEDAAN IQ PADA PASIEN EPILEPSI LOBUS TEMPORAL SEBELUM DAN SESUDAH BEDAH EPILEPSI LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH PERBEDAAN IQ PADA PASIEN EPILEPSI LOBUS TEMPORAL SEBELUM DAN SESUDAH BEDAH EPILEPSI LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian hasil Karya Tulis Ilmiah mahasiswa Program

Lebih terperinci

GANGGUAN NAPAS PADA BAYI

GANGGUAN NAPAS PADA BAYI GANGGUAN NAPAS PADA BAYI Dr R Soerjo Hadijono SpOG(K), DTRM&B(Ch) Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi BATASAN Frekuensi napas bayi lebih 60 kali/menit, mungkin menunjukkan satu atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kejang berulang disebabkan oleh pelepasan sinkron berulang, abnormal, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kejang berulang disebabkan oleh pelepasan sinkron berulang, abnormal, dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Epilepsi adalah kondisi neurologis yang ditandai dengan kekambuhan kejang berulang disebabkan oleh pelepasan sinkron berulang, abnormal, dan berlebihan dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sudah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sudah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sudah semestinya kita dapat menjaga dengan senantiasa memperhatikan kebutuhan dan kesehatannya. Sehat berarti

Lebih terperinci

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract. Vivit Erdina Yunita, 1 Afdal, 2 Iskandar Syarif 3

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract.  Vivit Erdina Yunita, 1 Afdal, 2 Iskandar Syarif 3 705 Artikel Penelitian Gambaran Faktor yang Berhubungan dengan Timbulnya Kejang Demam Berulang pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Anak RS. DR. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 Desember 2012 Vivit

Lebih terperinci

Algoritme Tatalaksana Kejang Akut dan Status Epileptikus pada Anak

Algoritme Tatalaksana Kejang Akut dan Status Epileptikus pada Anak Algoritme Tatalaksana Kejang Akut dan Status Epileptikus pada Anak Yazid Dimyati Divisi Saraf Anak Departemen IKA FKUSU / RSHAM Medan UKK Neurologi / IDAI 2006 Pendahuluan Kejang merupakan petunjuk adanya

Lebih terperinci

a. b. c. Gambar 1.2 Kompresi neurovaskular pada N. Trigeminus Sumber:

a. b. c. Gambar 1.2 Kompresi neurovaskular pada N. Trigeminus Sumber: Bab 1 Pendahuluan 1.1 Definisi Trigeminal neuralgia atau yang dikenal juga dengan nama Tic Douloureux merupakan kelainan pada nervus trigeminus (nervus kranial V) yang ditandai dengan adanya rasa nyeri

Lebih terperinci

Laporan Pendahuluan Dan Askep Epilepsi Aplikasi Nanda Nic Noc

Laporan Pendahuluan Dan Askep Epilepsi Aplikasi Nanda Nic Noc Laporan Pendahuluan Dan Askep Epilepsi Aplikasi Nanda Nic Noc septiawanputratanjung.blogspot.co.id /2015/11/laporan-pendahuluan-dan-askep-epilepsi.html A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1 Defenisi Epilepsi adalah

Lebih terperinci