BAB 2 DESKRIPSI PROYEK
|
|
|
- Teguh Sutedja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 2 DESKRIPSI PROYEK
2 BAB II DESKRIPSI PROYEK II.1. Terminologi Judul Medan Athletic Arena : Ibukota provinsi Sumatera Utara, tempat perancangan fasilitas ini. : Keolahragaan yang meliputi lari, lempar, lompat. : Tempat diadakannya suatu pertunjukan / pertandingan yang mampu menampung orang dalam jumlah yang cukup banyak 2. Medan Athletic Arena adalah fasilitas yang menjadi tempat kegiatan pertandingan Atletik di Kota Medan, baik untuk event nasional maupun internasional yang didalamnya tersedia wadah pusat pelatihan Atletik. II.2. Tinjauan Umum Proyek Tinjauan umum berisi pengertian atletik, cabang-cabang atletik dan persyaratan Arena atau gelanggang olahraga. II.2.1 Pengertian Atletik Atletik adalah induk segala cabang olahraga yang ada. Atletik berasal dari bahasa Yunani Athlon yang berarti kontes. 3 Atletik adalah event asli dari Olimpiade pertama ditahun 776 sebelum Masehi dimana satu-satunya event adalah perlombaan lari atau stade. Ada beberapa Games yang digelar selama era klasik Eropa : Panhellenik Games The Pythian Game (dimulai 6 Sebelum Masehi) digelar di Argolid setiap dua tahun.the Isthmian Game (dimulai 523 Sebelum Masehi) digelar di Isthmus dari Corinth setiap dua tahthe Roman Games Berasal dari akar Yunani murni, Roman Games memakai perlombaan lari dan melempar. Bukannya berlomba kereta kuda dan bergulat seperti di Yunani, olahraga Etruscan memakai pertempuran galiatoral, yang juga sama-sama (527 Sebelum Masehi) digelar di Delphi tiap empat tahun. The Nemean Games (dimulai memakai panggung). Masyarakat lain menggemari kontes atletik, seperti bangsa Kelt, 2 Hariyono, Rudi. dan Idel Antoni Kamus Lengkap Inggris-Indonesia) 3 http//id.wikipedia.org/dictionary/wiki
3 Teutonik, dan Goth yang juga digemari orang Roma. Tetapi, olahraga ini sering dihubungkan dengan pelatihan tempur. Di masa abad pertengahan anak seorang bangsawan akan dilatih dalam berlari, bertarung dan bergulat dan tambahan berkuda, memanah dan pelatihan senjata. Kontes antar rival dan sahabat sangat umum di arena resmi maupun tidak resmi. Di abad 19 organisasi formal dari event modern dimulai. Ini termasuk dengan olahraga reguler dan latihan di rezim sekolahan. Royal Millitary College di Sandhurst mengklaim menggunakan ini pertamakali di tahun 1812 dan 1825 tetapi tanpa bukti nyata. Pertemuan yang paling tua diadakan di Shrewsbury, Shropshire di 1840 oleh Royal Shrewsbury School Hunt. Ada detail dari seri pertemuan tersebut yang ditulis 60 tahun kemudian oleh C.T Robinson dimana dia seorang murid disana pada tahun 1838 sampai Royal Military Academy dimana Woolwich menyelenggarakan sebuah kompetisi yang diorganisisr pada tahun 1849, tetapi seri reguler pertama dari pertemuan digelar di Exeter College, Oxford dari Atletik modern biasanya diorganisir sekitar lari 400m di trek di hampir semua even yang ada. Acara lapangan (melompat dan melempar) biasanya memakai tempat didalam trek. Atletik termasuk didalam Olimpiade modern di tahun 1896 dan membentuk dasardasarnya kemudian Wanita pertamakali dibolehkan berpartisipasi di trek dan lapangan dalam event Olimpiade tahun Sebuah badan pengelola internasional dibentuk, IAAF dibentuk tahun IAAF menyelenggarakan beberapa kejuaraan dunia outdoor di tahun Ada beberapa pertandingan regional seperti kejuaraan Eropa, Pan-American Games dan Commonwealth Games. Sebagai tambahan ada sirkuit Liga Emas professional, diakumulasi dalam IAAF World Athletics Final dan kejuaraan dalam ruangan seperti World Indoor Championship. Olahraga tersebut memiliki profil tinggi selama kejuaraan besar, khususnya Olimpiade, tetapi yang lain kurang populer. Di Indonesia induk organisasi Atletik dinaungi oleh PB PASI (Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia). AAU (Amateur Athletic Union) adalah badan pengelola di Amerika Serikat sampai runtuh dibawah tekanan profesionalisme pada akhir tahun Sebuah badan baru bernama The Athletic Congress (TAC) dibentuk, dan akhirnya dinamai USA Track and Field (USATF atau USA T&F). Sebuah tambahan, organisasi dengan struktural yang lebih kecil, Road Runner Club of America (RRCA) juga ada di USA untuk mempromosikan balap jalanan. Di masa modern, atlet sekarang bisa menerima uang dari balapan, mengakhiri sebutan amatirisme yang ada sebelumnya.
4 A. Lintasan dan Lapangan Dalam Ruangan Ada dua musim dalam lintasan dan lapangan. Ada musim indoor, selama musim dingin dan musim outdoor, digelar selama musim semi dan panas. Kebanyakan lintasan indoor adalah 200m dan terdiri dari empat atau enam jalur. Seringkali sebuah lintasan indoor memiliki belokan yang lurus untuk mengkompensasikan belokan yang ketat. Dalam lintasan indoor atlet berkompetisi sama dengan event lintasan di outdoor dengan pengecualian untuk lari 100m dan 110/100m haling rintang (diganti dengan sprint 60m dan 60 m hlang rintang di tingkat kebanyakan dan kadang 55m sprint dan 55m haling rintang di tingkat SMA) dan lari m, jalan cepat 300m, dan 400m haling rintang. Indoor juga mendapat tambahan lari 3000m yang normalnya pada tingkat kampus dan elit dibandingkan memakai m. marathon 5.000m adalah event lari jauh yang paling umum, walaupun ada situasi dengan jarak lebih jauh pernah dilombakan. Di medio abad 20, ada seri perlombaan duel di Madison Square Garden (New York) lintasan indoor, beberapa menampilkan dua orang berlomba marathon (26,2 mil). Tetapi, ini sangat jarang terjadi. Dalam keadaan tertentu, ada juga balapan 500m dibandingkan 400m yang ada normalnya di event outdoor, dan di kejuaraan kampus indoor dua-duanya dilombakan. Di event lapangan, perlombaan indoor hanya menampilkan lompat tinggi, lompat galah, lompat jauh, lompat ganda dan menembak. Lembar lembing, lempar bola besi dan tolak peluru ditambahkan hanya untuk event outdoor, dimana normalnya tidak ada ruang yang cukup dalam stadion indoor pada perlombaan tersebut. Event unik dari perlombaan indoor (terutama di Amerika Utara) adalah lempar beban seberat 300, 600, 1000 dan 35 pon. Di Negara lain, terutama Norwegia, lompat jauh berdiri dan lompat tinggi berdiri juga dilombakan, bahkan di Kejuaraan Nasional untuk atlet multi-event ada Pentathlon untuk wanita (yaitu 60m halang rintang, lompat jauh, tolak peluru dan 800m) dan heptathlon untuk pria (yaitu 60m halang rintang, lompat jauh, tolak peluru, 60m lari, lompat galah dan 1000m lari) indoor. Untuk outdoor ada heptathlon untuk wanita dan decathlon untuk pria. B. Lintasan dan Lapangan Luar Ruangan Lintasan dan Lapangan luar ruangan biasanya dimulai dan diakhiri selama musim semi. Kebanyakan lintasan adalah berbentuk oval untuk keadaan 400m. Tetapi, beberapa lintasan tua berukuran 440 yard dimana ada beberapa lintasan yang tidak oval dan tidak 400m/440 yard karena keadaan geografis. Lintasan modern memakai permukaan yang dikaretkan, dan lintasan yang lebih tua memakai pasir atau kerikil. Lintasan normalnya memakai 6-10 jalur dan bisa termasuk sebuah jalur langkah dan selokan di salah satu
5 belokan. Jalur ini bisa ada di luar atau di dalam lintasan, membuat tikungan yang lebih sempit atau lebar. Sangat umum dimana lintasan itu akan mengelilingi sebuah lapangan bermain yang dipakai untuk American Football, sepak bola, atau lacrosse. Lapangan didalam ini biasanya dikenal dengan lapangan dalam dan permukaanya memakai rumput atau karpet buatan, dan tempat dimana tim menggelar kamping selama turnamen panjang. Tetapi lempar lembing, bola besi dan cakram biasanya dilombakan di luar lapangan di lapangan lain karena membutuhkan ruangan yang lebih luas, dan implementasinya mungkin bisa merusak lapangan yang dipakai atau lintasan. II.2.2 Cabang-cabang Atletik Ada variasi lain selain yang ditulis dibawah, tetapi lomba dengan panjang tidak biasa (contohnya 300m) dilangsungkan lebih jarang. Balapan yang tidak lazim biasanya digelar selama musim indoor karena lintasan 200m dalam ruangan. Dengan pengecualian lari mil, lomba berdasarkan jarak kerajaan jarang sekali digelar di lintasan sejak kebanyakan lintasan dirubah dari seperempat mil (402,3m) ke 400m. Hampir semua catatan rekor untuk jarak kerajaan tidak dilangsungkan kembali. Bagaimanapun, IAAF dalam buku rekornya masih memasukan rekor dunia mil (dipegang oleh Hicham El Guerroj dari Maroko dan Svetlana Masterkova dari Rusia untuk wanita) karena perbedaan signifikan yang mendunia. A. Event Lintasan Sprint: event yang termasuk 400m. Event yang umum adalah 60m (hanya didalam ruangan), 100m, 200m dan 400m. Jarak Menengah: event dari 800m sampai 3000m, 800m, 1500m, satu mil dan 3000m. Lari berintang lomba (biasanya 300m) dimana pelarinya harus melewati rintangan seperti penghalang dan rintangan air. jarak Jauh: berlari diatas 5000 m. Biasanya 5000 m dan m. yang kurang lazim ialah 1, 6, 12, 24 jam perlombaan. Halang Rintang: 110 m halang rintang tinggi (100 m untuk wanita) dan 400 m haling rintang menengah (300 m di beberapa SMA).
6 Estafet: 4 x 100m estafet, 4 x 400 m estafet, 4 x 200 m estafet, 4 x 800 m estafet, dll. Beberapa event, seperti estafet medley, jarang dilangsungkan kecuali estafet karnaval besar. Lari jalanan: dilangsungkan di jalanan terbuka, tapi biasanya diakhiri di lintasan. Event biasa adalah 5km, 10km, setengah marathon dan marathon. lomba jalan cepat event biasa adalah 10km, 20 km dan 50 km. B. Event lapangan Event melempar - tolak peluru - lempar peluru - lempar lembing - lempar cakram Event lompat - lompat tinggi - lompat galah - lompat jauh - lompat ganda Yang sangat tidak biasa - lompat tinggi berdiri - lompat jauh berdiri - lompat ganda berdiri C. Event ganda atau kombinasi Triathlon / Trilomba Pentathlon / Pancalomba Heptathlon Decathlon / Dasalomba
7 II.2.3 Persyaratan Sebuah Arena/Gelanggang Berikut merupakan persyaratan-persyaratan yang harus ada pada sebuah arena/gelanggang. A. Umum Bangunan Gelanggang harus memenuhi ketentuan berikut: 1. Jarak pandang penonton terhadap suatu benda di lapangan minimal 90 m dari pusat lapangan, maksimal 190 m dari titik sudut lapangan, yang dapat dilihat pada Gambar 2.1 di bawah ini. Gambar 2.1. Jarak Pandang Penonton Pada Gelanggang Keterangan : R1 = Jarak pandang maksimal dari titik sudut lapangan, yaitu 190 m. R2 = Jarak pandang optimal dari titik sudut lapangan, yaitu 150 m. R3 = Jarak pandang optimal dari sudut lapangan 90 m. 2. Zona keamanan Gelanggang minimal 0,5 m2 x jumlah penonton yang dapat dilihat pada Gambar 2.2 di bawah ini. Gambar 2.2. Zona Aman Gelanggang
8 B. Klasifikasi Gelanggang diklasifikasikan menurut Tabel 2.1 berikut: TIPE Tabel 2.1 Klasifikasi Gelanggang Kapasitas Penonton A B C Jumlah Lintasan lari 100 m 400 m C. Geometri Gelanggang Geometri Gelanggang harus memenuhi ketentuan berikut: 1. Untuk lapangan tengah Lapangan berbentuk empat persegi panjang Panjang lapangan ditentukan minimal 100 m, maksimal 110 m Lebar lapangan ditentukan minimal 64 m, maksimal 70 m Perbandingan antara lebar dan panjang lapangan ditentukan minimal 0,60, maksimal 0,70 Kemiringan permukaan lapangan ditentukan minimal 0,50 %, maksimal 1 % ke empat arah, yang dapat dilihat pada Gambar 2.3 di bawah ini. Gambar 2.3. Geometri Lapangan
9 Keterangan: L = 64 m 70 m P = 100 m 110 m a = 2 m b = 3,50 m c = 11 m 2. Untuk lintasan atletik: Panjang lintasan harus diambil 400 m, mkasimal 400,03 m Panjang lintasan harus diukur dari garis imaginer yang terletak 30 cm dari sisi dalam kurb di dalam lintasan lari, lihat gambar 2.4 Kemiringan lintasan pada arah memanjang (arah berlari) ditentukan 0 0,1 % dan pada arah melintang 0 1 %, yang dapat dilihatr pada Gambar 2.4 di bawah ini. Gambar 2.4. Lintasan Atletik Lebar setiap lintasan ditentukan 122 cm Lengkung lintasan harus merupakan busur setengah lingkaran Panjang bagian lurus dari lintasan minimal 70 m, maksimal 80 m Kelengkapan photo finish berupa pipa saluran berikut kabel bawah tanah untuk mendeteksi pemenang lomba lari harus dibuat di bawah lintasan akhir atletik Lebar kurb maksimal 5 cm serta tidak mempunyai sudut yang tajam Lebar batas lintasan minimal 2,50 cm, maksimal 5 cm D. Orientasi lapangan Lapangan harus berorientasi Utara - Selatan yang disesuaikan dengan letak geografis dari lokasi bangunan Gelanggang yang akan dibangun.
10 E. Fasilitas yang menunjang Fasilitas penunjang harus memenuhi ketentuan berikut: 1. Ruang ganti atlit direncanakan untuk tipe A dan tipe B minimal 2 unit dan tipe C minimal 1 unit, dengan ketentuan berikut: Lokasi ruang ganti harus dapat langsung menuju lapangan melalui koridor yang berada di bawah tempat-tempat duduk penonton Kelengkapan fasilitas tiap-tiap unit: - toilet pria harus dilengkapi minimal 2 buah bak cuci tangan, 4 buah peturasan dan 2 buah kakus - ruang bilas pria dilengkapi minimal 9 buah shower - ruang ganti pakaian pria dilengkapi tempat simpan benda-benda dan pakaian atlit minimal 20 box dan dilengkapi bangku panjang minimal 20 tempat duduk - toilet wanita harus dilengkapi minimal 4 buah kakus dan 4 buah bak cuci tangan yang dilengkapi cermin - ruang bilas wanita harus dibuat tertutup dengan jumlah 20 buah - ruang ganti pakaian wanita dilengkapi tempat simpan benda-benda dan pakaian atlit minimal 20 box dan dilengkapi bangku panjang minimal 20 tampat duduk 2. Ruang ganti pelatih dan wasit direncanakan untuk tipe A dan B minimal 1 unit untuk wasit dan 2 unit untuk pelatih dengan ketentuan, sebagai beriukut: Lokasi ruang ganti harus dapat langsung menuju lapangan melalui koridor yang berada di bawah tempat duduk penonton. Kelengkapan fasilitas untuk pria dan wanita, tiap unit minimal - 1 buah bak cuci tangan - 1 buah kakus - 1 buah ruang bilas tertutup - 1 buah raung simpan yang dilengkapi 2 buah tempat simpan dan bangku panjang 2 tempat duduk Ruang pijat direncankan untuk tipe A, B dan C minimal 12 m2 dan tipe C diperbolehkan tanpa ruang pijat. Kelengkapannya minimal buah tempat tidur, 1 buah cuci tangan dan 1 buah kulkas
11 Lokasi ruang P3K harus berada dekat dengan ruang ganti atau ruang bilas dan direncanakan untuk tipe A, B, dan C minimal 1 unit yang dapat melayani penonton dengan luas minimal 15 m2. Kelengkapannya minimal 1 tempat tidur untuk pemeriksaan, 1 buah tempat tidur untuk perawatan dan 1 buah kakus yang mempunyai luas lantai dapat menampung 2 orang untuk kegiatan pemeriksaan doping. Ruang pemanasan direncanakan untuk tipe A minimal 300 m2, tipe B minimal 81 m2 dan maksimal 196 m2, serta tipe C minimal 81 m2. Ruang latihan beban direncanakan mempunyai luas yang disesuaikan dengan alat latihan yang digunakan minimal 150 m2 untuk tipe A, 80m2 untuk tipe B dan tipe C diperbolehkan tanpa ruang latihan beban. Tempat duduk penonton direncanakan untuk tipe A, B dan C - VIP, dibutuhkan lebar minimal 0,50 dan maksimal 0,60m, dengan ukuran panjang minimal 0,80 m dan maksimal 0,90 m. - Biasa, dibutuhkan lebar minimal 0,40 m dan maksimal 0,50 m, dengan panjang minimal 0,80 m dan maksimal 0,90m. Toilet penonton direncanakan untuk tipe A, B dan C dengan perbandingan penonton wanita dan pria adalah 1 : 4, yang penempatannya dipisahkan, fasilitas yang dibutuhkan minimal dilengkapi dengan: - Jumlah kakus jongkok untuk pria dibutuhkan 1 buah kakus untuk 200 penonton pria dan untuk wanita 1 buah kakus jongkok untuk 100 penonton wanita. - Jumlah bak cuci tangan yang dilengkapi cermin, dibutuhkan minimal 1 buah untuk penonton pria dan 1 buah untuk 100 penonton wanita - Jumlah peturasan yang dibutuhkan minimal 1 buah untuk 100 penonton pria. Kantor pengelola lapangan tipe A dan B direncanakan, sebagai berikut: - Dapat menampung minimal 10 orang, maksimal 15 orang dan tipe C minimal 5 orang dengan luas yang dibutuhkan minimal 5 m2 untuk tiap orang. - Tipe A dan B harus dilengkapi ruang untuk petugas keamanan, petugas kebakaran dan polisi yang masing-masing membutuhkan luas minimal 15 m2, untuk tipe C diperbolehkan tanpa ruang-ruang tersebut.
12 Gudang direncanakan untuk menyimpan alat kebersihan dan alat olahraga dengan luas yang disesuaikan dengan alat kebersihan atau alat olahraga yang digunakan. - Tipe A, gudang alat olahraga yang dibutuhkan minimal 120 m2 dan 20 m2 untuk gudang alat kebersihan. - Tipe B, gudang alat olahraga yang dibutuhkan minimal 50 m2 dan 20 m2 untuk gudang alat kebersihan. - Tipe C, gudang alat olahraga yang dibutuhkan minimal 20 m2 dan 9 m2 untuk gudang alat kebersihan. Ruang panel direncanakan untuk tipe A, B dan C harus diletakkan dengan ruang staf teknik Ruang mesin direncanakan untuk tipe A, B dan C dengan luas ruang sesuai kapasitas mesin yang dibutuhkan dan lokasi mesin tidak menimbulkan bunyi bisisng yang mengganggu ruang arena dan penonton. Ruang kantin direncanakan untuk tipe A, untuk tipe B dan C diperbolhkan tanpa ruangan kantin. Ruang pos keamanan direncanakan untuk tipe A dan B, untuk tipe C diperbolehkan tanpa ruang pos keamanan. Tiket box direncanakan untuk tipe A dan B sesuai kapasitas penonton Ruang pers direncanakan untuk tipe A, B dan C, sebagai berikut: - Lokasi harus berada di tribun barat - Lokasi pengambilan foto harus berada di parit belakang gawang - Harus disediakan kabin untuk awak TV dan Film - Tipe A dan B harus disediakan ruang telepon dan telex, sedangkan untuk tipe C boleh tidak disediakan ruang telepon dan telex. - Toilet khusus untuk pria dan wanita masing-masing minimal 1 unit terdiri dari 1 kakus jongkok dan 1 bak cuci tangan Ruang VIP direncanakan untuk tipe A dan B yang digunakan untuk tempat wawancara khusus atau menerima tamu khusus Tempat parkir direncanakan untuk tipe A dan B, sebagai berikut: - Jarak maksimal dari tempat parkir, pool atau tempat pemberhentian kendaraaan umum menuju pintu masuk stadion 1500 m. - 1 ruang parkir mobil dibutuhkan minimal untuk 4 orang pengunjung pada saat jam sibuk.
13 Toilet penyandang cacat direncanakan untuk tipe A dan B sedangkan untuk tipe C diperbolehkan tanpa toilet penyandang cacat, fasilitas yang dibutuhkan minimal, sebagai berikut: - 1 unit yang terdiri dari 1 buah kakus, 1 peturasan, 1 buah bak cuci untuk pria dan 1 buah kakus duduk serta 1 buah bak cuci tangan untuk wanita. - Toilet untuk pria harus dipisahkan dari toilet untuk wanita - Toilet harus dilengkapi dengan pegangan untuk melakukan perpindahan dari kursi roda ke kakus duduk yang diletakkan di depan dan di samping kakus duduk setinggi 80 cm Jalur sirkulasi untuk penyandang cacat harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: - Tanjakan harus mempunyai kemiringan 8%, pankangnya maksimal 10 m - Pada ujung tanjakan harus disediakan bagian datar minimal 180 cm. - Permukaan lantai selasar tidak boleh licin, harus terbuat dari bahan yang keras dan tidak boleh ada genangan air - Selasar harus cukup lebar untuk kursi roda melakukan putaran 180. F. Kompartemenisasi dan Tempat Duduk Penonton Kompartemenisasi penonton dan tempat duduk penonton di tribun harus memenuhi ketentuan berikut : Daerah penonton harus dibagi dalam kompartemen yang masing-masing menampung penonton minimal 2000 orang, maksimal 3000 orang. Antar dua kompartemen yang bersebelahan harus dipisahkan dengan pagar permanen trasnparan setinggi minimal 1,2 m, maskimal 2,0 m. Antara dua gang maksimal 48 tempat duduk, lihat Gambar 2.5 Antara gang dengan dinding atau pagar maksimal 24 tempat duduk, lihat Gambar 2.5. Antara gang dengan gang utama maksimal 72 tempat duduk, lihat Gambar 2.5 Gambar 2.5 Tempat Duduk Penonton
14 Harus dihindari terbentuknya perempatan. Kapasitas yang disesuaikan dengan daya tampung penonton dalam 1 sektor atau kompartemen Tidak boleh ada kolong di bawah tempat duduk Garis pandangan agar seorang penonton tidak terhalang pandangan oleh penonton didepannya ditentukan 12 cm, lihat Gambar 2.6 Gambar 2.6. Garis Pandang Penonton Untuk meningkatkan garis pandangan, sudut dasar tribun dapat dibuat dalam 2 atau lebih dengan sudut yang lebih besar yang didasarkan pada perhitungan injakan dan tanjakan yang digunakan lihat Gambat 2.7. P = tanjakan 0,15 m 0,17 m L = injakan 0,28m 0,30m Gambar 2.7. Injakan dan Tanjakan pada Tribun Tribun Dengan Lebih Dari Satu Macam Tribun dapat dibuat bertingkat, bila jarak pandang melebihi batas optimal, lihat gambar 2.8 dan gambar 2.9 Gambar 2.8. Besar Gelanggang Sesuai Besaran Arah Pandang
15 Gambar 2.9. Kontrol dan Arah Pandang Vertikal Tribun khusus untuk penyandang cacat harus memenuhi ketentuan berikut: - Diletakkan di bagian depan atau paling belakang dari tribun penonton - Lebar tribun untuk kursi roda minimal 1,40 m ditambah selasar dengan lebar minimal 0,90 m. G. Pemisahan Lapangan dan Penonton Lapangan dan daerah penonton, harus dipisahkan dengan pagar atau parit, atau kombinasi pagar dan parit. Pemisah harus memenuhi ketentuan berikut: Untuk pemisah antara lapangan dengan daerah penonton - Jarak minimal antara daerah penonton dengan batas lintasan atletik terluar harus diambil zoba bebas minimal 3 m, maksimal m, dimana lebar 1 m dari lintasan atletik harus benar-benar bebas terhadap perletakan barang dan peralatan. - Diantara jarak 5.00 m di atas, bisa digunakan untuk tempat pemain cadangan dan parit pembatas. - Lebar parit pembatas minimal 2,40 m - Untuk pemisah antara kompartemen - Searah dengan deretan kursi atau bangku minimal 1,20 m - Disamping atau tegak lurus deretan tempat duduk minmal 1,20 m, maskimal 1,80 m. - Tidak boleh mempunyai bagian-bagian yang tajam
16 H. Sirkulasi Pengunjung Penonton, atlet, pelatih dan pengelola harus mempunyai jalur sirkulasi terpisah. I. Tangga Tangga harus memenuhi ketentuan berikut : Jumlah anak tangga minimal 3 buah, maksimal 16 buah, bila anak tangga diambil lebih besar dari 16, harus diberi bordes dan anak tangga berikutnya harus berbelok terhadap anak tangga dibawahnya Lebar tangga minimal 1,10 m, maksimal 1,80 m, bila lebar tangga diambil lebih besar dari 1,80 m, harus diberi pagar pemisah pada tengah bentang. Tinggi tanjakan tangga minimal diambil 15 cm, maksimal 17 cm dengan lebar injakan tangga minimal diambil 28 cm, maksimal 30 cm. Untuk menunggu antrian sebelum dan sesudah tangga harus diberi ruang khusus dengan panjang minimal 3 m. Tangga khusus untuk penyandang cacat yang menggunakan tongkat harus memenuhi ketentuan berikut: - Pegangan tangga harus oval atau bulat dengan jarak 4 cm dari pegangan tangga sampai dinding, disediakan dua pegangan tangga yang mempunyai ketinggian 80 cm untuk orang dewasa dan 45 cm untuk anak-anak - Ukuran anak tangga maksimal 15 cm dan lebarnya minimal 28 cm. - Setiap maksimal 6 anak tangga harus disediakan bagian datar yang diperlebar minimal 2 kali bagian injakan anak tangga - Warna bidang tegak anak tangga harus dibedakan dengan warna bidang datar (injakan) - Jalan yang dilalui tidak boleh mempunyai ruang di bawah tanga yang terbuka dengan tinggi minimal 2,00 m. J. Ramp Kemiringan ramp harus diambil maksimal 8%. Khusus untuk penyandang cacat: Panjang ramp maksimal 10 m, bila lebih dari 10 m, tanjakan harus dibagi dalam beberapa bagian dan antara dua bagian ramp harus disediakan bagian yang datar. Pada ujung tanjakan harus disediakan bagian datar minimal 180 cm.
17 K. Koridor/Selasar Lebar koridor harus diambil minimal 1,10m, dan untuk koridor utama minimal 3,00 Koridor khusus untuk penyandang cacat : Permukaan lantai tidak boleh licin, harus terbuat dari bahan yang keras dan tidak boleh ada genangan air Untuk dua kursi roda berpapasan, lebar minimal 1,80 m. Koridor harus cukup lebar untuk kursi roda melakukan putaran 180o Perbedaan tinggi antara akhir koridor dengan lantai atau jalan maksimal 1,50 cm L. Pintu Pintu stadion harus memenuhi ketentuan berikut: Lebar bukaan pintu minimal 1,1 m Lebar pintu total harus mampu menampung luapan arus pengunjung dalam waktu maksimal 5 menit, dengan perhitungan setiap lebar 55 cm bukaan untuk 40 orang/menit. Jarak satu pintu dengan lainnya maksimal 25 m Jarak antara pintu dengan setiap tempat duduk maksimal 20 m Pintu harus terbuka ke luar Pintu dorong tidak boleh digunakan Bukaan pintu khusus untuk penyandang cacat harus memenuhi ketentuan berikut: Lebar bukaan pintu minimal 90 cm Pada pintu biasa tinggi pegangan pintu 90 cm Untuk mengatasi keadaan darurat harus tersedia minimal 2 buah pintu darurat. Lebar minimum pintu keluar dapat di lihat pada Tabel 2.2 di bawah ini. Tabel 2.2. Lebar Minimum Pintu Keluar jumlah ( orang) total lebar minimum pintu keluar (m) > 200 2, , , ,2
18 , , , ,8 Untuk pertolongan pertama pada penonton diperlukan ruang penanganan dan istirahat 15 m 2, gudang 2 m 2, dan 2 toilet (Data Arsitek). M. Tata Cahaya Perencanaan tata cahaya didasarkan atas : Tingkat pencahayaan stadion - Untuk latihan dibutuhkan minimal 100 lux - Untuk pertandingan dibutuhkan minimal 300 lux - Untuk pengambilan video dan audio dokumentasi dibutuhkan minimal 1000 lux Bila posisi cahaya diletakkan di dalam stadion, maka penempatan sumber cahaya, dapat dilihat pada gambar 2.10 sebagai berikut: 1) Penempatan sumber cahaya di ke empat sudut lapangan Dari titik tengah posisi penjaga gawang minimal membentuk sudut 10, maksimal 25 o. Dari titik tengah sisi memanjang membentuk sudut 5 o Sumber cahaya Gambar 2.10 Sumber Cahaya
19 Tinggi tiang lampu t merupakan fungsi dari jarak d dengan membentuk sudut 25 o 2) Penempatan sumber cahaya di lisplang atap stadion atau di atap stadion diletakkan berderet 3) Bila posisi sumber cahaya diletakkan di luar stadion, maka penempatan sumber cahaya harus memenuhi ketentuan jarak antar 2 tiang lampu, yang berada di tengah sisi memanjang minimal 55 m, maksimal 60 m 4) Bila menggunakan tata cahaya buatan harus disediakan generator set yang mempunyai kapasitas daya minimal 60% dari daya terpasang. Generator set harus dapat bekerja maksimal 10 detik pada saat aliran PLN padam. N. Tata Suara Tingkat kebisingan maksimal yang diproduksi oleh kegiatan stadion yang diizinkan ditentukan sebesar 75 desibel. O. Tata Udara Ventilasi pada ruang fasilitas pemain harus memenuhi ketentuan berikut: Jika menggunakan ventilasi alami, luas bukaan yang berada di dua dinding yang berhadapan minimal 6% dari luas lantai. Jika menggunakan ventilasi buatan, volume pergantian udara minimal 10 m2/jam/orang P. Drainase Ukuran atau dimensi drainase harus didasarkan pada ketentuan, bahwa lapangan harus dapat menyerap dan mengeringkan air hujan dengan curah 10,8 mm/m2 dalam waktu 90 menit atau perkolasi 120 liter/detik/ha dalam waktu 15 menit, sehingga diperlukan minimal satu lubang drainase dengan diameter 1 inci setiap 25m2 permukaan lapangan.
20 II.3. Tinjauan Lokasi II.3.1. Deskripsi Proyek Proyek ini merupakan Proyek dengan fungsi sebagai tempat latihan dan pertandingan olahraga atletik di Medan. Berdasarkan pengertian diatas, maka Medan Athletic Arena adalah suatu bangunan atau kelompok bangunan yang merupakan tempat aktifitas pertandingan dan latihan, khususnya untuk cabang olahraga atletik dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi cabang atletik di Indonesia umumnya dan Medan khususnya Berdasarkan RUTRK (Rencana umum tata ruang kota), wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Medan ditetapkan menjadi 5 wilayah Pengembangan Pembangunan (WPP). Potensi pengembangan wilayah kota Medan dapat dilihat dalam tabel 2.3 di bawah ini. Tabel 2.3 Potensi Pengembangan Kota Medan PROGRAM PUSAT PERUNTUKA KEGIATAN WPP KECAMATAN PENGEMBANGA N PEMBANGUNA N WILAYAH N Jalan, baru, Pelabuhan jaringan air Medan Belawan Industri minum, septic A Medan Marelan Belawan Permukiman tank, saran Medan Labuhan Rekreasi pendidikan dan Maritim permukiman. Jalan, baru, Perkantoran jaringan air Perdagangan minum, B Medan Deli Tanjung Mulia Rekreasi pembuangan Indoor sampah, sarana Permukiman pendidikan. Medan Timur Sambungan air Permukiman Medan minum, septic C Aksara Perdagangan Perjuangan tank, jalan baru, Rekreasi Medan Tembung rumah permanen,
21 Medan Area sarana pendidikan Medan Denai dan kesehatan. Medan Amplas CBD Pusat D Medan Johor Medan Baru Medan Kota Medan Maimoon Medan Polonia Pusat Kota Pemerintahan Hutan Kota Pusat Pendidikan Perkantoran Rekreasi Perumahan permanen, pembuangan sampah, sarana pendidikan. Indoor Permukiman E Medan Barat Medan Helvetia Medan Petisah Medan Sunggal Medan Selayang Medan Tuntungan Sei Sikambing Permukiman Perkantoran Perdagangan Konservasi Rekreasi Lapangan Golf Hutan Kota Sambungan air minum, septic tank, jalan baru, rumah permanen, sarana pendidikan dan kesehatan. Sumber : RUTRK Medan II.3.2. Lokasi II.3.2.a Tinjauan Pemilihan Kota Medan Pemilihan lokasi kota Medan untuk Medan Athletic Arena: Medan merupakan kota menuju metropolitan, kota terbesar ke-3 di Indonesia, dan ibukota Propinsi Sumatera Utara, sehingga menjadikannya pusat kegiatan di Sumatera Utara. Adanya fasilitas bandara taraf internasional sehingga menyebabkan seiringnys dikunjungi wisatawan mancanegara. Adanya transportasi darat yang baik menuju kota Medan. Tingkat ekonomi dan sosial budaya yang cukup tinggi.
22 II.3.2.b. Kriteria Pemilihan Lokasi Kota Medan dijadikan sebagai pusat administrasi pemerintahan, pusat industri, pusat distribusi, pusat jasa pelayanan keuangan, pusat komunikasi, pusat akomodasi jasa kepariwisataan, dan pusat perdagangan regional dan internacional. Untuk itu diperlukan pemilihan lokasi yang sesuai dengan kebutuhan proyek ini. Kriteria pemilihan lokasinya dapat dilihat pada tabel 2.4 di bawah ini. Tabel 2.4 Kriteria Pemilihan Lokasi No Kriteria Lokasi 1. Tinjauan terhadap Berada di kawasan yang mendukung kegiatan yang dilakukan, dekat struktur kota dengan pusat pendidikan dan pemukiman 2. Pencapaian 3. Area pelayanan 4. Persyaratan lain Dapat diakses dari seluruh penjuru kota, baik angkutan umum maupun pribadi Oleh karena itu bangunan diusahakan masih dapat terlihat dari bagian jalan tertentu Berdasarkan RUTRK tentang Konsep Pola Hierarki Fasilitas Pelayanan Kota adalah antara 2-3 km. Adapun kriteria untuk area pelayanannya yaitu merupakan lingkungan permukiman dan pendidikan Tanah milik pemerintah atau pribadi. Tersedia jaringan utilitas Ukuran lahan yang mencukupi baik untuk bangunan dan parkir.
23 II.3.3. Analisa Pemilihan Lokasi Keberadaan kawasan perencanaan dapat dilihat pada Gambar 2.11dibawah ini: WPP D Pusat Bisnis(CBD), pusat pemerintahan, perumahan, hutan kota dan pusat pendidikan WPP E Perumahan, perkantoran, konservasi, sarana pendidikan dan kesehatan WPP A Merupakan Kawasan Pelabuhan, industri, pergudangan dan permukiman WPP B Merupakan kawasan perkantoran dan perdagangan WPP C Merupakan kawasan pemukiman,pendidikan,re kreasi, dan perdagangan Gambar Peta Pembagian Wilayah Medan Gambar Peta Alternatif Lokasi Alternatif 1 Lokasi ini berada di JL.Setia Budi Kec. Medan Baru dan berada di WPP D Luas Site ± 5,2 Ha Peta Alternafif lokasinya dapat dilihat pada gambar 2.12 di samping. Batas-batas site : Utara : JL. Setia Budi dan pemukiman Selatan : JL. Ngumban Surbakti 2 Timur : JL. Ngumban Surbakti Barat : JL. Ngumban Surbakti 2 Kelebihan : Berada pada jalan arteri primer, yaitu JL. Setia Budi dan JL. Ngumban Surbakti yang merupakan Ring Road Berada di pusat kota
24 Pencapaian mudah karena banyak angkutan umum yang melewati site. Memiliki akses pejalan kaki yang besar Memiliki utilitas yang baik Berada di kawasan pemukiman penduduk. Kekurangan : Merupakan daerah persimpangan lampu merah Alternatif 2 Lokasi ini berada di JL.A. H Nasution Kec. Medan Johor dan berada di WPP D Luas Site ± 4,6 Ha Peta Alternafif lokasinya dapat dilihat pada gambar 2.13 di samping. Batas-batas site : Utara : Pemukiman Penduduk Selatan : Jl. A. H. Nasution Timur : Pemukiman Penduduk Barat : Pemukiman Penduduk Gambar Peta Alternatif Lokasi Kelebihan : Berada pada jalan arteri primer, yaitu JL. A. H. Nasution Berada di pusat kota Pencapaian mudah karena banyak angkutan umum yang melewati site Memiliki utilitas yang baik Berada di kawasan wisata kota Kekurangan : Berbatasan dengan sungai Babura Memiliki arus lalu lintas yang lumayan padat pada jam-jam kerja
25 Alternatif 3 Lokasi ini berada di JL.Putri Hijau Kec. Medan Barat dan berada di WPP E Luas Site ± 4,2 Ha Peta Alternafif lokasinya dapat dilihat pada gambar 2.14 di samping. Batas-batas site : Utara :JL.Putri Hijau II, kantor BTPN, bangunan komersil & pemukiman. Selatan : Jalan Kecil, Kantor Polisi, pemukiman Kelebihan Timur : JL.Putri : Merak Jingga, bangunan komersil Barat : JL.Putri Hijau, RSU Tembakau Deli. Berada pada jalan arteri primer, yaitu JL.Putri Hijau Berada di pusat kota Pencapaian mudah karena banyak angkutan umum yang melewati site Merupakan jalur one way (satu arah) di JL.Putri Hijau dan JL.Putri Merak Jingga Memiliki utilitas yang baik Berdekatan dengan hotel JW Mariot, Stasiun TVRI, Deli plaza, lap.merdeka Berada di kawasan wisata kota Memilki akses pejalan kaki yang besar dan baik Kekurangan: Berdekatan dengan jalur kereta api. Gambar Peta Alternatif Lokasi
26 II.3.4 Penilaian Alternatif Lokasi Penilaian alternafif lokasi dapat dilihat pada tabel 2.5 di bawah ini. Tabel 2.5. Tabel perbandingan lokasi alternatif site Kriteria Lokasi Jl. Setia Budi JL. A. H. Nasution JL. Putri Hijau Luas lahan 5,2 Ha 4,6 Ha 4,2 Ha Tingkatan Jalan Jalan Arteri Primer Jalan Arteri Primer Jalan Arteri Primer Pencapaian ke Lokasi Mudah karena dapat Mudah karena dapat Mudah karena dapat diakses dari segala penjuru diakses dari segala penjuru diakses dari segala penjuru Medan baik dengan Medan baik dengan Medan baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan pribadi maupun kendaraan pribadi maupun angkutan umum, angkutan umum, angkutan umum, berdekatan dengan bandara berdekatan dengan stasiun berdekatan dengan stasiun Polonia kereta api kereta api Jangkauan terhadap Kawasan pemukiman, Kawasan perdagangan, Kawasan perdagangan, Struktur kota perdagangan, perkantoran, pendidikan dan sosial perkantoran, rekreasi, pemukiman pemukiman, social, pendidikan rekreasi, perkantoran Fungsi Pendukung sekitar lokasi Pemukiman, rumah sakit, mesjid, sekolah, perkantoran, bangunan komersil. Bangunan komersil, perdagangan, Perkantoran,, pemukiman. Bangunan komersil, pemukiman, rumah sakit, hotel, mall, universitas, stasiun TVRI Fungsi eksisting Pemukiman penduduk Lahan kosong Lahan kosong dan beberapa rumah yang tidak ditingali Kontur Realtif datar Realtif datar Realtif datar Pengenalan Entrance Baik Berada di persimpangan jalan arteri primer Di apit 3 jalan arteri Baik Baik Berada di persimpangan jalan arteri primer Peringkat 2 2 1
27 Kriteria lahan untuk menetukan lokasi dapat dilihat pada tabel 2.6 di bawah ini. Tabel 2.6.kriteria lahan untuk menentukan lokasi No Kriteria Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Jl. Setia budi JL. A. Haris Nasution JL. Putri Hijau 1. Kawasan inti dari pusat pertunjukan dan galeri yang sudah ada 2. Tingkat kenyamanan Aksesbilitas Kenderaan pribadi Kenderaan umum Pejalan kaki Fasilitas pendukung Pusat perbelanjaan Hotel Permukiman Rumah makan Sarana dan prasarana (radius 500 m) Kesesuaian dengan RUTRK Medan Jumlah Maka berdasarkan kriteria diatas dapat diambil kesimpulan bahwa lokasi yang tepat untuk Medan Athletic Arena adalah alternatif lokasi 1 yang terletak di jalan Setia Budi.
28 II.3.4. Deskripsi Lokasi Sebagai Tapak Rancangan Berikut ini merupakan deskripsi lokasi sebagai tapak pada perancangan Medan Athletic Arena. Peta existing dapat dilihat pada Gambar 2.15 di bawah ini. site Gambar Peta Lokasi Site
29 II.3.5. Deskripsi Kondisi Eksisting Kasus Proyek : Medan Athletic Arena Status Proyek : Fiktif Pemilik Proyek : KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Lokasi Tapak : Jln. Setia Budi, Kecamatan Medan Baru Kotamadya Medan Batas-batas site - Batas Utara : JL. Setia budi - Batas Timur : JL. Ngumban Surbakti - Batas Selatan : JL. Ngumban Surbakti 2 - Batas Barat : JL. Ngumban Surbakti 2 Luas Lahan : + 5,2 Ha ( m2) Kontur : Datar KDB : 60 % KLB : 3-5 lantai GSB - Jln. Setia Budi : 7,5 meter - Jln. Ngumban Surbakti : 10 meter - Jln. Ngumban Surbakti 2 : 5 meter Bangunan Eksisting : lahan kosong dan pemukiman Potensi Lahan : - Terletak tidak jauh kota - Jalan utama merupakan Ring Road - Berada pada kawasan komersil dan pemukiman - Transportasi lancar dan baik - Luas site mendukung + 5, 2 Ha - Memiliki jalur utilitas yang baik.
30 II.4. Tinjauan Fungsi II.4.1. Deskripsi Pengguna dan Kegiatan II Pengguna Pengguna gelanggang atletik ini terdiri dari beberapa kelompok, yaitu: atlet dan pelatih, pengurus ikatan olahraga atletik PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), pengunjung, pengelola, dan servis. Pengunjung secara umum dapat dibedakan menjadi: - Pengunjung yang menonton pertandingan - Pengunjung yang menonton latihan Dari segi kuantitas, pengunjung dapat dibedakan menjadi: - Pengunjung yang datang secara individu (biasanya menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi) - Pengunjung yang datang secara berombongan (biasanya menggunakan bus) II Kegiatan A. Kegiatan utama Olahraga, meliputi : - Pelatihan Atletik - Pertandingan - Pertandingan dilakukan secara berkala, sesuai federasi olahraga yang menaungi, maupun KONI. Rekreatif - Menonton pertandingan dan latihan. B. Kegiatan pendukung Kegiatan pendukung pada fasilitas ini berupa : - Toko Olahraga : menjual barang-barang olahraga khususnya perlengkapan atletik - Restaurant : tempat yang menyediakan makanan dan minuman.
31 - Ruang pertemuan : tempat diadakan pertemuan antar pejabat di bidang olahraga, undangan dan wartawan. II.4.2. Deskripsi Kebutuhan ruang Deskripsi kebutuhan ruang dapat dilihat pada tabel 2.7 di bawah ini. Tabel 2.7 Kebutuhan Ruang - Ruang Pemanasan No Pengguna Jenis kegiatan Kebutuhan ruang 1 Atlet Pemanasan Ruang pemanasan 2 Atlet Berganti pakaian, mandi, Ruang ganti atlet 3 Atlet Menyimpan barang Ruang locker 4 Atlet Membersihkan diri Toilet atlet - Ruang Pertandingan No Pengguna Jenis kegiatan Kebutuhan ruang 1 Atlet, manajer, wasit Bertanding Lapangan dan lintasan atletik 2 Atlet Mengganti pakaian Ruang ganti 3 Atlet Istirahat Ruang istirahat 4 Atlet Menyimpan barang Ruang locker 5 Atlet Pemanasan Ruang pemanasan 6 Wartawan Meliput pertandingan Ruang pers dan media 7 Wasit Istirahat, berdiskusi Ruang wasit 8 Wasit Berganti pakaian, mandi, Ruang ganti wasit 9 Atlet, pegawai Memeriksa kesehatan atlet Ruang pemeriksaan kesehatan 10 Atlet, pelatih, Memberi pertolongan pegawai pertama kepada atlet Ruang p3k 11 Pegawai Menyimpan peralatan Gudang 12 Pegawai Menyimpan peralatan Janitor room 13 Pengunjung Menonton pertandingan / latihan Tribun
32 14 Pengunjung Membersihkan diri Toilet pengunjung - Hall No Pengguna Jenis kegiatan Kebutuhan ruang 1 Pengunjung, atlet, pelatih, pegawai Menunggu Lobby 2 Pengunjung, pegawai Menjual / membeli tiket Ticket box 3 Pegawai Menjaga keamanan Ruang security 4 Pengunjung, pegawai Menanyakan / memberikan informasi Information desk - Ruang Pengelola No Pengguna Jenis kegiatan Kebutuhan ruang 1 Manager Mengurus administrasi Ruang manager 2 Ass manager Mengurus administrasi Ruang ass manager 3 Pegawai Mengurus administrasi Ruang kerja 4 Pegawai Rapat Ruang rapat 5 Pegawai, pengunjung Menunggu Ruang tunggu 6 Pegawai Istirahat Ruang pegawai 7 Pegawai Berganti pakaian Ruang ganti pegawai 8 Pegawai Membersihkan diri Km / toilet 9 Pegawai Menyiapkan makanan/minuman Dapur - Ruang Kegiatan Pendukung 1. Ruang pertemuan serbaguna No Pengguna Jenis kegiatan Kebutuhan ruang 1 Pegawai, wartawan, pelatih, atlet Rapat Ruang press confrens 2 Pegawai, wartawan, pelatih, atlet Menunggu Ruang tunggu 3 Pegawai, wartawan, pelatih, atlet Rapat Ruang rapat
33 4 Pegawai, wartawan, pelatih, atlet Membersihkan diri Km / toilet 5 Pegawai Menyimpan peralatan Ruang peralatan 2. Toko olahraga 1 Pegawai, pengunjung Memilih barang yang akan dibeli Display 2 Pegawai, pengunjung Membayar Kasir 3 Pegawai Menyimpn peralatan Gudang - Ruang Utilitas No Pengguna Jenis kegiatan Kebutuhan ruang 1 Pegawai Mengoperasikan genset Ruang mesin 2 Pegawai Mengoperasikan pompa air Ruang pompa 3 Pegawai Membuang/mengangkut sampah Ruang sampah 4 Pegawai Mengawasi elekrikal bangunan Ruang panel 5 Pegawai Mengawasi melalui cctv Ruang cctv 6 Pegawai Mengoperasikan sound system & pabx Ruang pabx & sound system 7 Pegawai Pusat kontrol utilitas bangunan Ruang kontrol 8 Pegawai Menyimpan peralatan Gudang 9 Pegawai Mengawasi persediaan air Water reservoir - Kebutuhan Ruang Luar No Pengguna Jenis kegiatan Kebutuhan ruang 1 Pengunjung Memarkirkan kendaraan Parkir pengunjung 2 Pegawai Memarkirkan kendaraan Parkir pegawai
34 3 Pengelola Memarkirkan kendaraan Parkir pengelola 4 Atlet, pelatih Latihan Area latihan outdoor 5 Pegawai Menjaga keamanan Pos jaga II.5 Studi Banding Arsitektur yang Memiliki Fungsi Sejenis II.5.1. Stuttgart Stadion Stadion Stuttgart merupakan stadion sepakbola yang merupakan markas club sepakbola FC Stuttgart yang memiliki kapasitas penonton orang setelah mengalami pemugaran. Sebelumnya stadion yang dibangun tahun 1933 telah banyak mengadakan event-event besar seperti kejuaraan atletik sedunia dan piala dunia 2006 dapat menampung penonton sekitar orang. Pada stadion ini terdapat lintasan atletik sehingga selain mengadakan pertandingan sepakbola stadion ini juga mengadakan banyak pertandingan atletik baik yang bertaraf internasional maupun lokal. Gambar mengenai exterior stadion Stuttgart dapat dilihat pada gambar 2.16 di bawah ini. Gambar lintasan dan lapangannya dapat dilihat pada hgambar 2.17 di bawah ini. Gambar Eksterior Stadion Gambar Lintasan dan lapangan Pada atap stadion ini menggunakan bahan membran yang merupakan bahan atap yang sangat ringan sehingga struktur atap tidak banyak memikul beban yang disebabkan penutup atap. Pada gambar 2.18 dapat dilihat pada potongan terlihat struktur atap dan struktur bangunan terpisah sehingga dimensi kolom yang digunakan tidak terlalu besar ukurannya. Gambar potongan struktur atap dan tribun dapat dilihat pada gambar 2.18 di bawah ini. Gamabr detail atap membran dapat dilihat pada gamabar 2.19 di bawah ini.
35 Gambar Potongan Struktur atap dan tribun Gambar Detil atap membran Pembagian zoning ruang dalam pada stadion ini sangaat baik hal itu dapat dilihat pada gambar 2.18 yang membagi zoning tribun penonton berdasarkan view ke lapangan dari yang sangat baik hingga yang kurang baik, sehingga terjadi pembagian kelas tempat duduk dari yang kelas standart hingga kelas VIP. Juga pembagian yang jelas pada ruangan dibawah tribun penonton sangat jelasnya sirkulasi baik vertikal dan horizontal dapat dilihat pada gambar 2.20 dan gambar dibawah ini. Gambar Penzoningan vertical horizontal
36 Gambar Penzoningan tribun Stadion Stuttgart Interpretasi saya yaitu bentukan stadion yang elips terbentuk akibat lintasan atletik yang merupakan bentukan yang banyak dijumpai pada stadion karena bentukan dari lapangan yang memanjang serta lintasan yang berbentuk elips hal ini terjadi untuk pemaksimalan view penonton ke lapangan. Penggunaan material membran pada penutup atap membuat stadion ini terlihat lebih menarik tetapi hanya dapat dinikmati dari atas. II.5.2. Stadion Utama Gelora Bung Karno Stadion Utama Gelora Bung Karno berlokasi di Senayan, Jakarta selesai dibangun dan diresmikan pemakaiannya pada 21 juli 1962 memiliki kapasitas penonton penonton dan menduduki peringkat ketiga stadion terbesar di Asia. Bangunan stadion utama terdiri dari sumbu pendek dan membentang dari timur ke barat sepanjang 325 meter, dan sumbu panjang membentang dari utara ke selatan sepanjang 354 meter. Dimensi tersebut membentuk stadion yang berbentuk oval. Bagian dalamnya terdapat lapangan berukuran 105 x 70 meter, berikut lintasan atletik berbentuk elips, dengan sumbu panjang 176,1 meter dan sumbu pendek 124,2 meter. Berikut merupakan gamabar denah penzoningan tribun dan struktur stadion utama bung karno.
37 Gambar Denah penzoningan tribun dan struktur Stadion Utama Bung Karno Struktur utama bangunan ini sendiri dibagi menjadi 12 ring. Dengan atap pada tribun sepanjang 48 meter yang hanya disanggah oleh kolom miring ditepi bangunan. Inilah yang menciptakan struktur khas bangunan stadion utama tersebut. Tetapi stadion ini memiliki permasalahan pada atap karena terlalu panjang maka pada tepi sisi dalam atap mengalami pelendutan dan hal itu diatasi dengan penambahan struktur temu gelang berbentuk oval pada tepi atap tersebut. Gambar exterior stadion utama bung karno dapat dilihat pada gambar 2.22 di bawah ini. Gambar Eksterior Stadion Utama Bung Karno Interpetasi saya hampir sama dengan dengan stadion Stuttgart diatas, yang membedakan ekspose struktur atap dan penggabungan struktur atap dengan tribun membuat stadion ini lebih kelihatan lebih estetis. II.5.3. Stadion Madya Tenggarong Lokasi : Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur Luas Lahan : 4,2 hektar Luas Bangunan : m2 Kapasitas : penonton (stadion madya) Stadion madya tenggarong ini hanya memiliki dua tribun yaitu pada sisi barat dan timur. Stadion ini dibangun untuk menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XVII yang merupakan komplek olahraga terpadu yang dibangun diatas lahan 70 hektar dan menjadi sebuah landmark kompleks tersebut. Stadion ini juga memiliki kelebihan yaitu penggunaan atap berbahan membran pertama di Indonesia. Gambar tampak samping stadion Madya dapat dilihat pada gambar 2.23 di bawah ini.
38 Gambar Tampak samping Stadion Madya Pengunaan Struktur atap Arch Space truss dan penutup atap membran pada stadion madya dapat dilihat pada Gambar di bawah ini. Gambar Pengunaan Struktur atap Arch Space truss dan penutup atap membran Interpretasi saya bangunan ini lebih estetis karena bentukan yang tidak monoton, tampak yang berbeda pada dua sisinya berbeda dengan dua studi banding diatas dan juga pengekposan struktur atap dapat dirasakan baik didalam maupun di luar stadion.
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK II.1. TERMINOLOGI JUDUL Medan Cycling Arena : Ibukota provinsi Sumatera Utara, tempat perancangan fasilitas ini. : Berasal dari kata Cycle dalam bahasa Inggris yang berarti sepeda.
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK II.1 Umum Nama Proyek Tema Sifat Proyek Pemilik Proyek Pemilik Dana Lokasi Luas Lahan : BANDUNG BADMINTON CENTER : Form Follow Function : Fiktif : Pemerintah : Pemerintah : Jalan
BAB II TINJAUAN PROYEK
BAB II TINJAUAN PROYEK 2.1. Tinjauan Umum Bangunan Pet Station Medan merupakan bangunan yang mempunyai fungsi sebagai penjualan hewan-hewan peliharaan, pusat pelayanan kesehatan dan perawatan hewan-hewan
BAB V PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 6.1 Konsep Perencanaan 6.1.1 Tujuan Perencanaan dan Perancangan Stadion Sepakbola Kota Boyolali akan menjadi suatu sarana olahraga di Kota
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK 2.1 Umum Proyek ini merupakan proyek fiktif yang diirencanakan pada lahan kosong yang berada di Jalan Soekarno-hatta dan diperuntukan untuk pertandingan renang internasional dan
BAB II STUDI HAKIKAT STADION TIPE B
BAB II STUDI HAKIKAT STADION TIPE B II. 1. Sejarah Sepak Bola II. 1. 1. Sepak Bola Mendunia Sepak bola merupakan salah satu olahraga yang sangat terkenal di Eropa dan Amerika. Sebuah penemuan mengungkapkan
TUJUAN JENIS KEGIATAN. Latar Belakang Pemilihan OBJEK
Latar Belakang Pemilihan OBJEK OBJEK sebagai wadah pengembangan potensi dan bakat dalam bidang olahraga serta sebagai media hiburan. JENIS KEGIATAN Kegiatan Olah Raga dibagi menjadi dua, yaitu : Sepakbola
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GELANGGANG RENANG
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GELANGGANG RENANG 6.1. Program Dasar Perencanaan 6.1.1. Program Dari analisa yang dilakukan dalam Bab V, berikut adalah perhitungan perkiraan kebutuhan besaran
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Beberapa hal yang menjadi dasar perencanaan dan perancangan Asrama Mahasiwa Bina Nusantara: a. Mahasiswa yang berasal dari
BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga di Kemanggisan ini bertitik
BAB V KONSEP V. 1. Konsep Dasar Dalam merancang Gelanggang Olahraga di Kemanggisan ini bertitik tolak pada konsep perancangan yang berkaitan dengan tujuan dan fungsi proyek, persyaratan bangunan dan ruang
BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG. sirkulasi/flow, sirkulasi dibuat berdasarkan tingkat kenyamanan sbb :
BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG 4.1. Program Ruang Besaran ruang dan kapasitas di dalam dan luar GOR Basket di kampus Undip Semarang diperoleh dari studi
BAB IV ANALISA PERENCANAAN
BAB IV ANALISA PERENCANAAN 4.1. Analisa Non Fisik Adalah kegiatan yang mewadahi pelaku pengguna dengan tujuan dan kegiatannya sehingga menghasilkan besaran ruang yang dibutuhkan untuk mewadahi kegiatannya.
BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga ini berdasarkan dari konsep
BAB V KONSEP V. 1. Konsep Dasar Dalam merancang Gelanggang Olahraga ini berdasarkan dari konsep perancangan yang berkaitan dengan tujuan dan fungsi proyek, persyaratan bangunan dan ruang serta proses penerapan
STADION AKUATIK DI SEMARANG
BAB V PROGRAM PERENCANAAN & PERANCANGAN 5.1. Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Program Ruang Program ruang disini dibedakan sesuai dengan kelompok jenis kegiatan dan fungsinya, yaitu kelompok kegiatan umum,
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Program Perencanaan Didasari oleh beberapa permasalahan yang ada pada KOTA Kudus kususnya dibidang olahraga dan kebudayaan sekarang ini, maka dibutuhkan
BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Rumusan konsep ini merupakan dasar yang digunakan sebagai acuan pada desain studio akhir. Konsep ini disusun dari hasil analisis penulis dari tinjauan pustaka
BAB V PROGRAM PERENCANAAN & PERANCANGAN KOLAM RENANG INDOOR UNDIP
BAB V PROGRAM PERENCANAAN & PERANCANGAN KOLAM RENANG INDOOR UNDIP 5.1 Dasar Pendekatan Kolam Renang Universitas Diponegoro merupakan kolam renang tipe C. Program perencanaannya berdasarkan pada tinjauan
PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT
PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT DESKRIPSI OBJEK RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK (RPTRA) Definisi : Konsep ruang publik berupa ruang terbuka hijau atau taman yang dilengkapi dengan berbagai
BAB VI KONSEP RANCANGAN
BAB VI KONSEP RANCANGAN Lingkup perancangan: Batasan yang diambil pada kasus ini berupa perancangan arsitektur komplek Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat Tubuh meliputi fasilitas terapi, rawat inap, fasilitas
BAB V. Sport Hall/Ekspresi Struktur KONSEP PERANCANGAN V.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN Sport Hall pada dasarnya merupakan sebuah tempat untuk melakukan kegiatan olahraga tertentu dalam ruangan tertutup dimana di dalamnya terdapat sarana
BAB 1 PENDAHULUAN RE-DESAIN STADION CANDRADIMUKA KEBUMEN
BAB 1 PENDAHULUAN RE-DESAIN STADION CANDRADIMUKA KEBUMEN 1.1. Pengertian Judul Judul laporan ini, Re-Desain penekanan pada Aksesibilitas Bangunan. Untuk dapat memahami pengertian dari judul tersebut, perlu
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Olahraga merupakan kegiatan yang dapat memberikan kesehatan dan kesenangan kepada manusia. Olahraga juga merupakan satu keharusan dari aspek biologis manusia guna
BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan
BAB 6 HASIL RANCANGAN 6.1 Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan 6.1.1 Bentuk Tata Massa Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo pada uraian bab sebelumnya didasarkan pada sebuah
BAB 1 PENDAHULUAN. Kemajuan dan kejayaan suatu bangsa tidak terlepas dari peranan generasi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Perkembangan Olahraga Di Magetan Kemajuan dan kejayaan suatu bangsa tidak terlepas dari peranan generasi penerus yang dikemudian hari akan membawa nama harum bangsa pada tingkat
Tabel 5.1 Perhitungan Besaran Program Ruang Gelanggang a. Pengelola. No Ruang Kapasitas Standar Ruang Luas Ruang Sumber
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PENGEMBANGAN GELANGGANG FUTSAL UNDIP 5.1 Program Dasar Perencanan 5.1.1 Program Ruang Berdasarkan hasil analisa dan perhitungan, maka diperoleh hasil besaran ruang
BAB III ANALISA 3.1 ANALISA TAPAK
BAB III ANALISA 3.1 ANALISA TAPAK Pada tapak terdapat beberapa jenis bangunan berdasarkan fungsi-fungsinya. Daerah ini merupakan daerah yang cukup ramai dengan aktiviitas perniagaan dan jasa. Hal ini mendukung
BAB III: DATA DAN ANALISA
BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik 1.1.1. Data Non Fisik Sebagai stasiun yang berdekatan dengan terminal bus dalam dan luar kota, jalur Busway, pusat ekonomi dan pemukiman penduduk,
BAB VI HASIL RANCANGAN. terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya
165 BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1. Dasar Rancangan Hasil perancangan diambil dari dasar penggambaran konsep dan analisa yang terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya sebagai
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KAMPUS II PONDOK PESANTREN MODERN FUTUHIYYAH DI MRANGGEN
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KAMPUS II PONDOK PESANTREN MODERN FUTUHIYYAH DI MRANGGEN 5.1. Program Dasar perencanaan Program dasar perencanaan pada kampus II Pondok Pesantren Futuhiyyah terdiri
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1 Dasar Pendekatan Metode pendekatan ditujukan sebagai acuan dalam penyusunan landasan perencanaan dan perancangan arsitektur. Dengan metode pendekatan diharapkan
BAB 5 KONSEP DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB 5 KONSEP DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Perencanaan dan perancangan Gedung Sinepleks di Kota Semarang bertujuan untuk mewujudkan suatu rancangan fasilitas hiburan dan rekreasi
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN REDESAIN TERMINAL TERBOYO
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN REDESAIN TERMINAL TERBOYO 6.1 Program Dasar Perencanaan 6.1.1 Program Tabel 6.1 Program Redesain Terminal Terboyo KELOMPOK RUANG LUASAN Zona Parkir Bus AKDP-AKAP
BAB VI PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB VI PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1 Program Perencanaan Di lihat dari kenyataan yang sudah ada beberapa permasalahan yang ada pada terminal bus Terminal Kabupaten Tegal Slawi sekarang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PNDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sepak bola merupakan olah raga paling popular dan digemari bukan hanya di Indonesia bahkan juga didunia saat ini. Sepak bola telah menjadi suatu fenomena tersendiri.
STADION RENANG DI KAWASAN GEDEBAGE LAPORAN PERANCANGAN AR-40Z0 TUGAS AKHIR PERANCANGAN SEMESTER II TAHUN 2006/2007
STADION RENANG DI KAWASAN GEDEBAGE LAPORAN PERANCANGAN AR-40Z0 TUGAS AKHIR PERANCANGAN SEMESTER II TAHUN 2006/2007 Sebagai Sebagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur Oleh: AMMY
Minggu 5 ANALISA TAPAK CAKUPAN ISI
1 Minggu 5 ANALISA TAPAK CAKUPAN ISI Membuat analisa pada tapak, mencakup orientasi matahari, lingkungan, sirkulasi dan entrance, kontur. Analisa Zoning, mencakup zona public, semi public dan private serta
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan Topik dan Tema Proyek wisma atlet ini menggunakan pendekatan behavior/perilaku sebagai dasar perencanaan dan perancangan.
BAB VI HASIL PERANCANGAN. terdapat pada konsep perancangan Bab V yaitu, sesuai dengan tema Behaviour
BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Dasar Perancangan Hasil perancangan Sekolah Dasar Islam Khusus Anak Cacat Fisik di Malang memiliki dasar konsep dari beberapa penggambaran atau abstraksi yang terdapat pada
BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki
BAB V KONSEP 5.1 Konsep Perancangan Tapak 5.1.1 Pencapaian Pejalan Kaki Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki Sisi timur dan selatan tapak terdapat jalan utama dan sekunder, untuk memudahkan
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK 2.1 TERMINOLOGI JUDUL Judul proyek yang akan di rancang adalah Medan international exhibition center. Adapun pengertian dari medan international exhibition center dapat di uraikan
LANDASAN TEORI DAN PROGRAM
PROJEK AKHIR ARSITEKTUR Periode LXVI, Semester Gasal, Tahun 2014/2015 LANDASAN TEORI DAN PROGRAM GOR TRI LOMBA JUANG DI SEMARANG Tema Desain HIGH TECH ARCHITECTURE Fokus Kajian KENYAMANAN PENGGUNA PADA
BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KELURAHAN KALIGAWE
BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KELURAHAN KALIGAWE 4.1. Konsep Dasar Rumah susun sederhana sewa di Kalurahan Pandean Lamper ini direncanakan untuk masyarakat berpenghasilan
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1 Program Dasar Perencanaan 6.1.1. Program Ruang Jenis ruang dan kebutuhan luasan ruang kelompok utama Pusat Informasi Budaya Baduy dapat dilihat pada tabel
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK II.1. TERMINOLOGI JUDUL Agar mendapat persepsi yang sama dengan penulis sehingga memudahkan untuk penjelasan mengenai proyek maka perlu untuk menjelaskan proyek secara garis besar
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 KONSEP DASAR DESAIN Konsep dasar dari Area Olahraga Saparua Bandung ini adalah gedung dengan memanfaantkan bentang lebar untuk memperoleh ruang yang luas. Sesuai dengan fungsinya
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. Konsep Perancangan Makro V.1.1. Konsep Manusia Pelaku kegiatan di dalam apartemen adalah: 1. Penyewa meliputi : o Kelompok orang yang menyewa unit hunian pada apartemen yang
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Building form Bentuk dasar yang akan digunakan dalam Kostel ini adalah bentuk persegi yang akan dikembangkan lebih lanjut.
BAB V KONSEP PERENCANAAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN 5.1. Dasar Perencanaan Dalam perencanaan rumah susun bersubsidi kriteria utama yang diterapkan adalah : Dapat mencapai kenyamanan di dalam ruang bangunan yang berada pada iklim
BAB V. KONSEP PERANCANGAN
BAB V. KONSEP PERANCANGAN A. KONSEP MAKRO 1. Youth Community Center as a Place for Socialization and Self-Improvement Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota pendidikan tentunya tercermin dari banyaknya
Terminal Antarmoda Monorel Busway di Jakarta PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL ANTARMODA
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL ANTARMODA 5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1 Program a. Kelompok Kegiatan Utama Terminal Antarmoda Tabel 5.1 Program Kegiatan Utama Fasilitas Utama Terminal
Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan BANGUNAN NON RUMAH TINGGAL
1. Peraturan Teknis a. Jarak bebas Bangunan Gedung / Industri KDB KLB 3 3 Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan BANGUNAN NON RUMAH TINGGAL GSB GSJ GSJ Intensitas bangunan (KDB/KLB), dimaksudkan agar menjaga
Pada gambar ini menunjukkan perletakan area parkir untuk bus. mobil. sepeda
GEDUNG OLAHRAGA DI BANTUL BAB III PENGEMBANGAN DESAIN Selama dalam proses perancangan ada beberapa perubahan yang dilakukan terutama pada bagian denah karena beberapa sebab yang kemudian diikuti dengan
BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil perancangan dari kawasan wisata Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik
BAB VI HASIL PERANCANGAN Hasil perancangan dari kawasan wisata Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik mengaplikasikan konsep metafora gelombang yang dicapai dengan cara mengambil karakteristik dari gelombang
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan - Luas lahan : 30.400,28 m² - KDB 20% : 20% x 30.400,28 m² = 6.080,06 m² - KLB 0,8 : 0,8 x 30.400,28 m² = 24.320,22 m² -
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP TAPAK DAN RUANG LUAR IV.1.1 Pengolahan Tapak dan Ruang Luar Mempertahankan daerah tapak sebagai daerah resapan air. Mempertahankan pohon-pohon besar yang ada disekitar
DAFTAR ISI. Halaman Judul... i Lembar Pengesahan... ii Kata Pengantar... iii Daftar Isi... iv Daftar Tabel... viii Daftar Gambar...
DAFTAR ISI Halaman Judul... i Lembar Pengesahan... ii Kata Pengantar... iii Daftar Isi... iv Daftar Tabel... viii Daftar Gambar... x BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Tujuan dan Sasaran...
BAB II TINJAUAN OBJEK
18 BAB II TINJAUAN OBJEK 2.1. Tinjauan Umum Stasiun Kereta Api Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 9 dan 43 Tahun 2011, perkeretaapian terdiri dari sarana dan prasarana, sumber daya manusia, norma,
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur yang didasarkan dengan perilaku manusia merupakan salah satu bentuk arsitektur yang menggabungkan ilmu pengetahuan
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RELOKASI PASAR IKAN HIGIENIS REJOMULYO SEMARANG
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RELOKASI PASAR IKAN HIGIENIS REJOMULYO SEMARANG 5.1 Program Dasar Perencanaan Program Dasar Perencanaan Relokasi Pasar Ikan Higienis Rejomulyo ini didasarkan pada
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL TIPE B DI KAWASAN STASIUN DEPOK BARU
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL TIPE B DI KAWASAN STASIUN DEPOK BARU Program perencanaan dan perancangan Terminal Tipe B di Kawasan Stasiun Depok Baru merupakan hasil analisa dari pendekatan-pendekatan
BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena
BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Desain Kawasan 6.1.1 Rancangan Obyek Dalam Tapak Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena kesesuian dengan fungsi dan kriteria obyek perancangan
BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi
BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN 2.1 Lokasi Proyek Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi Campuran Perumahan Flat Sederhana. Tema besar yang mengikuti judul proyek
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pelatihan
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Konsep Perancangan 5.1.1 Aspek Fungsional Pengelompokan berdasarkan area aktivitas besar : Pelatihan pelatihan kerja (teori&praktek) uji sertifikasi,informasi
BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA)
BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA) 5.1 Sirkulasi Kendaraan Pribadi Pembuatan akses baru menuju jalan yang selama ini belum berfungsi secara optimal, bertujuan untuk mengurangi kepadatan
BAB IV ANALISA TAPAK
BAB IV ANALISA TAPAK 4.1 Deskripsi Proyek 1. Nama proyek : Garuda Bandung Arena 2. Lokasi proyek : Jln Cikutra - Bandung 3. Luas lahan : 2,5 Ha 4. Peraturan daerah : KDB (50%), KLB (2) 5. Batas wilayah
BAB 5 HASIL RANCANGAN
BAB 5 HASIL RANCANGAN 6. Desain Bangunan Desain bangunan pertunjukan seni ini memiliki bentuk kotak masif untuk efisiensi bentuk bangunan dan ruang bangunan. Bentuk bangunan yang berbentuk kotak masif
BAB II TINJAUAN OBJEK GEDUNG KESENIAN GDE MANIK SINGARAJA
BAB II TINJAUAN OBJEK GEDUNG KESENIAN GDE MANIK SINGARAJA Pada bab ini akan dilakukan evaluasi mengenai Gedung Kesenian Gde Manik (GKGM) dari aspek kondisi fisik, non-fisik, dan spesifikasi khusus GKGM
BAB VI KONSEP DAN DASAR PROGRAM PERANCANGAN RELOKASI STADION LEBAK BULUS, JAKARTA
BAB VI KONSEP DAN DASAR PROGRAM PERANCANGAN RELOKASI STADION LEBAK BULUS, JAKARTA 6.1. Konsep Dasar Perancangan 6.1.1. Tujuan Perancangan Relokasi Stadion Lebak Bulus ke Kecamatan Pesanggrahan bertujuan
BAB V KONSEP PERANCANGAN
PRINSIP TEMA Keindahan Keselarasan Hablumminal alam QS. Al-Hijr [15]: 19-20 ISLAM BLEND WITH NATURE RESORT HOTEL BAB V KONSEP PERANCANGAN KONSEP DASAR KONSEP TAPAK KONSEP RUANG KONSEP BENTUK KONSEP STRUKTUR
L2
L1 L2 L3 L4 L5 DRAFT PERTANYAAN WAWANCARA KEPADA ATLET Nama / No. Responden : Usia : Cabang Olahraga : Asal : 1. Kegiatan apa saja yang Anda lakukan sehari hari? Bagaimana jadwalnya (waktu berlangsung)?
BAB VI PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
6.1 Besaran Ruang BAB VI PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Dari pendekatan-pendekatan yang telah dilakukan, didapatkan program ruang yang dibutuhkan Pusat Kesenian Kabupaten Wonosobo,
Bab V Konsep Perancangan
Bab V Konsep Perancangan A. Konsep Makro Konsep makro adalah konsep dasar perancangan kawasan secara makro yang di tujukan untuk mendefinisikan wujud sebuah Rest Area, Plasa, dan Halte yang akan dirancang.
BAB IV ANALISIS PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PERMUKIMAN TUMBUH DIATAS LAHAN BENCANA LUMPUR LAPINDO
BAB IV ANALISIS PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PERMUKIMAN TUMBUH DIATAS LAHAN BENCANA LUMPUR LAPINDO Analisis konsep perencanaan merupakan proses dalam menentukan apa saja yang akan dirumuskan sebagai konsep
BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sepakbola merupakan olahraga paling populer dan digemari diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Pada waktu piala dunia 2010 yang diselenggarakan di Afrika Selatan, banyak
Pelabuhan Teluk Bayur
dfe Jb MWmw BAB IV KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 4.1. Konsep Dasar Aksesibilitas A. Pencapaian pengelola 1. Pencapaian langsung dan bersifat linier dari jalan primer ke bangunan. 2. Pencapaian
BAB V HASIL RANCANGAN
BAB V HASIL RANCANGAN 5.1 Perancangan Tapak 5.1.1 Pemintakatan Secara umum bangunan dibagi menjadi beberapa area, yaitu : Area Pertunjukkan, merupakan area dapat diakses oleh penonton, artis, maupun pegawai.
BAB IV ANALISIS PERANCANGAN. 4.1 Analisis Obyek Rancangan Terhadap Kondisi Eksisting
BAB IV ANALISIS PERANCANGAN 4.1 Analisis Obyek Rancangan Terhadap Kondisi Eksisting Terdapat beberapa hal yang benar-benar harus diperhatikan dalam analisis obyek perancangan terhadap kondisi eksisting
BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Total keseluruhan luas parkir yang diperlukan adalah 714 m 2, dengan 510 m 2 untuk
BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Konsep Dasar Perancangan V.1.1. Luas Total Perancangan Total luas bangunan adalah 6400 m 2 Total keseluruhan luas parkir yang diperlukan adalah 714 m 2, dengan
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Yang menjadi dasar dari perencanaan dan perancangan Mesjid di Kebon Jeruk adalah : Jumlah kapasitas seluruh mesjid pada wilayah
DESKRIPSI PROYEK. Data umum dari proyek perancangan ini adalah sebagai berikut : Kel. Mengger Kec. Bandung Kidul
BANDUNG ICE SKATING CENTER II. DESKRIPSI PROYEK 2.1 Umum Data umum dari proyek perancangan ini adalah sebagai berikut : a. Lokasi : Jl. Batu Nunggal Indah Kel. Mengger Kec. Bandung Kidul b. Luas Lahan
BAB IV KONSEP. 4.1 Ide Awal
BAB IV KONSEP 4.1 Ide Awal Kawasan Manggarai, menurut rencana pemprov DKI Jakarta akan dijadikan sebagai kawasan perekonomian yang baru dengan kelengkapan berbagai fasilitas. Fasilitas utama pada kawasan
BAB 5 KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Ruang Kapasitas Unit Ruang
BAB 5 KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1. Program Dasar Perencanaan 5.1.1 Program Ruang Berdasarkan analisa pada bab sebelumnya, maka diperoleh program ruang sebagai berikut. Tabel
BAB V KONSEP PERANCANGAN. Perencanaan dasar pengunaan lahan pada tapak memiliki aturanaturan dan kriteria sebagai berikut :
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Bangunan Untuk mendukung tema maka konsep dasar perancangan yang digunakan pada Pasar Modern adalah mengutamakan konsep ruang dan sirkulasi dalam bangunannya,
4.1 IDE AWAL / CONSEPTUAL IDEAS
BAB IV KONSEP DESAIN 4.1 IDE AWAL / CONSEPTUAL IDEAS Beberapa pertimbangan yang muncul ketika hendak mendesain kasus ini adalah bahwa ini adalah sebuah bangunan publik yang berada di konteks urban. Proyek
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. a. Aksesibilitas d. View g. Vegetasi
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Penjelasan konsep dibagi menjadi dua bagian yaitu: A. Konsep Tapak yang meliputi: a. Aksesibilitas d. View g. Vegetasi b. Sirkulasi e. Orientasi c. Lingkungan f. Skyline
TA Sekolah Alam Gunungpati
BAB 5 PROGRAM RUANG DAN KONSEP PERANCANGAN 5.1. Program Ruang Dasar pertimbangan yang digunakan dalam menentukan besaran ruang adalah melalui jenis dan fungsi ruang, jumlah pengguna, jenis aktivitas, fasilitas
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan atau archipelago terbesar di dunia dengan lebih dari 2/3 luasnya terdiri dari wilayah perairan. Indonesia dikenal sebagai negara
Bab V. PROGRAM PERENCANAAN dan PERANCANGAN MARKAS PUSAT DINAS KEBAKARAN SEMARANG. No Kelompok Kegiatan Luas
Bab V PROGRAM PERENCANAAN dan PERANCANGAN MARKAS PUSAT DINAS KEBAKARAN SEMARANG 5.1. Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Program Ruang No Kelompok Kegiatan Luas 1 Kegiatan Administrasi ± 1.150 m 2 2 Kegiatan
BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin
BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bagi Anak Putus Sekolah Di Sidoarjo dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin menurun.
BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 5.1. Tujuan Perencanaan dan Perancangan a. Merancang bangunan Showroom dan Service Station Vespa di Semarang yang mengakomodasi segala
BAB III ANALISA. Lokasi masjid
BAB III ANALISA 3.1. Analisa Tapak 3.1.1. Lokasi Lokasi : Berada dalam kawasan sivitas akademika Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang KDB : 20% KLB : 0.8 GSB : 10 m Tinggi Bangunan : 3 lantai
Transformasi pada objek
PROFIL UKURAN LAHAN KEBUTUHAN RUANG KONSEP PELETAKAN MASSA wadah kegiatan komersil dan kegiatan wisata edukasi untuk meningkatkan apresiasi konsumen terhadap hasil karya produsen. Pemilik : Swasta - APTA
STUDIO TUGAS AKHIR BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sepakbola adalah salah satu cabang olang raga yang sangat popular di seluruh dunia, hampir jutaan orang disetiap penjuru dunia turut mengambil bagian dalam dunia persepakbolaan
BAB I PENDAHULUAN. adalah salah satu wujud yang bisa mengembangkan sumber daya manusia serta
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang dibidang ilmu dan teknologi serta dibidang lainnya termasuk olahraga. Olahraga adalah salah
BAB III: DATA DAN ANALISA
BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik 2.1.1. Data Fisik Lokasi Luas Lahan Kategori Proyek Pemilik RTH Sifat Proyek KLB KDB RTH Ketinggian Maks Fasilitas : Jl. Stasiun Lama No. 1 Kelurahan
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR 5.1 Program Dasar Perencanaan Bab ini merupakan bahasan mengenai hasil pemikiran menyeluruh, konsep dan program dasar ini berfungsi sebagai penentu desain
AR 40Z0 Laporan Tugas Akhir Rusunami Kelurahan Lebak Siliwangi Bandung BAB 5 HASIL PERANCANGAN
BAB 5 HASIL PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Bangunan yang baru menjadi satu dengan pemukiman sekitarnya yang masih berupa kampung. Rumah susun baru dirancang agar menyatu dengan pola pemukiman sekitarnya
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.I. Dasar Perencanaan dan Perancangan Konsep dasar perancangan Akademi Spak Bola ini adalah menciptakan dan mewujudkan suatu bangunan yang merupakan wadah bagi
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam konsep dasar pada perancangan Fashion Design & Modeling Center di Jakarta ini, yang digunakan sebagai konsep dasar adalah EKSPRESI BENTUK dengan
