BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
|
|
|
- Vera Veronika Santoso
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH A. Aspek Geografi dan Demografi 1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah a. Luas dan Batas Wilayah Administrasi Kabupaten Pati merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai luas wilayah Ha terdiri dari Ha lahan sawah dan Ha lahan bukan sawah. Kabupaten Pati yang berjarak 75 Km dari Ibu Kota Jawa Tengah (Semarang), mempunyai panjang garis pantai 60 Km dengan batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara : Kabupaten Jepara dan Laut Jawa. Sebelah Timur : Kabupaten Rembang dan Laut Jawa. Sebelah Barat : Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara. Sebelah Selatan : Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora. b. Letak dan Kondisi Geografis Kabupaten Pati secara geografis terletak antara 110º,50-111º,15 Bujur Timur (BT) dan 6º, 25-7º,00 Lintang Selatan (LS) c. Topografi Secara topografis, wilayah Kabupaten Pati memiliki keunikan wilayah, yang dapat dikelompokkan menjadi empat (4) kategori, sebagai berikut : 1) Daerah dataran pantai; daerah ini memiliki ketinggian rata-rata antara 0-7 m DPL Di atas Permukaan air Laut (DPL) ; 16 Kecamatan terdiri dari Kecamatan Dukuhseti, Margoyoso, Tayu, Trangkil, Pati, Jaken serta sebagian Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Pucakwangi, Margorejo, Jakenan, Gabus, Batangan, Juwana dan sebagian Kecamatan Wedarijaksa 2) Daerah dataran rendah; daerah ini memiliki ketinggian rata-rata antara m DPL yang meliputi 9 Kecamatan terdiri dari sebagian kecil Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Margorejo, Tlogowungu, Gunungwungkal dan sebagian Kecamatan Cluwak. 3) Daerah dataran tinggi; daerah ini memiliki ketinggian rata-rata antara m DPL yang meliputi sebagian Kecamatan Kayen, Sukolilo, Winong, Tambakromo, Margorejo, Gembong, Tlogowungu, Gunungwungkal, Cluwak dan Kecamatan Pucakwangi 4) Daerah pegunungan; terbagi menjadi dua, yaitu: a) Daerah dengan ketinggian antara m DPL diatas permukaan laut, meliputi sebagian Wilayah Kecamatan Gembong, Tlogowungu, Gunungwungkal dan Cluwak. b) Daerah berketinggian diatas 1000 m DPL diatas permukaan laut yang meliputi sebagian wilayah Kecamatan Gembong, Tlogowungu, dan Gunungwungkal. Hal II - 1
2 d. Geologi Jenis tanah di bagian Utara Kabupaten Pati terdiri dari tanah Red Yellow mediteran, Latosol, Alluvial, Hidromer dan Regosol, sedangkan bagian Selatan terdiri dari tanah Alluvial, Hidromer dan Grumosol. Rincian jenis tanah menurut kecamatan seperti di bawah ini : 1) Batangan, merupakan termasuk pada jenis tanah alluvial. 2) Cluwak, Gunungwungkal dan Gembong merupakan tanah latosol. 3) Juwana dan Margoyoso merupakan tanah alluvial, mediteran coklat tua dan mediteran coklat. 4) Pati dan Margorejo merupakan tanah red yellow mediteran, latosol, alluvial dan hidromer. 5) Kayen dan Tambakromo merupakan tanah alluvial dan hidromer. 6) Pucakwangi dan Winong merupakan tanah grumosol dan hidromer. 7) Wedarijaksa merupakan tanah mediteran coklat tua, mediterane coklat, alluvial dan grumosol. 8) Tayu merupakan tanah alluvial, mediteran coklat tua, mediteran coklat, dan regosol. 9) Tlogowungu merupakan tanah latosol dan red yellow mediteran. e. Hidrologi Kondisi hidrologi di Kabupaten Pati terdiri dari air permukaan tanah dan air bawah tanah, kondisi hidrologi terbagi atas : 1) Air Permukaan Tanah Air permukaan tanah di Kabupaten Pati mencakup waduk, bendungan. dan sungai-sungai yang berpotensi sebagai sumber air. Kabupaten Pati mempunyai dua waduk yaitu Seloromo dan Gunungrowo. Sedangkan sungai yang berada di Kabupaten Pati bagian utara adalah Sungai Sani, Simo, Kersulo, Bapoh, Tayu, Sat, Brati dan Juwana. Adapun sungai yang berada di wilayah Pati bagian selatan antara lain adalah Sungai Widodaren, Brati, Lembang, Godo, Gono, Kedunglo dan Sentul. 2) Air Bawah Tanah Air bawah tanah yang diusahakan untuk sumber air minum maupun pengairan adalah terletak di 4 (empat) kecamatan yaitu: sumber air Widodaren, Sendangsoko, Bulu dan Lunggoh di Kecamatan Pucakwangi; sedangkan di Kecamatan Tambakromo meliputi sumber air Maitan, Dogo dan Pakis; Kecamatan Kayen mempunyai sumber air Kluweh, Mangin dan Beketel; di Kecamatan Sukolilo meliputi sumber air Lawang, Goa Wareh, Prawoto, Baleadi. f. Klimatologi Keadaan iklim Kabupaten Pati tidak banyak mengalami perubahan pada musim kemarau maupun penghujan, suhu udara terendah berkisar antara 23 o C suhu udara tertinggi berkisar antara Hal II - 2
3 34 o C sedangkan curah hujan terendah 43 mm/tahun curah hujan tertinggi mm/tahun. 2. Potensi Pengembangan Wilayah a. Kawasan Budidaya Kawasan Budidaya di Kabupaten Pati terdiri atas Kawasan Hutan Produksi, Kawasan Peruntukan Pertanian, Kawasan Peruntukan Perkebunan, Kawasan Peruntukan Perikanan, Kawasan Peruntukan Pertambangan, Kawasan Peruntukan Industri, Kawasan Peruntukan Pariwisata dan Kawasan Peruntukan Permukiman. 1) Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Pengembangan kawasan peruntukan hutan produksi dengan luas Ha dibagi menjadi hutan produksi terbatas dengan luas kurang lebih Ha hutan produksi tetap dengan luas Ha. 2) Kawasan Peruntukan Pertanian Kawasan peruntukan pertanian lahan basah (sawah) dengan luas kurang lebih Ha dan kawasan ini sebagai kawasan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. 3) Kawasan Peruntukan Perkebunan Pengembangan kawasan peruntukan perkebunan dengan luas kurang lebih Ha. 4) Kawasan Peruntukan Perikanan Pengembangan kawasan peruntukan perikanan terdiri atas : perikanan tangkap, perikanan budidaya tambak, perikanan budidaya air tawar dan dan pengolahan ikan. Kawasan penangkapan ikan skala kecil dengan area tangkapan antara 0-3 mil dari pantai, kawasan penangkapan ikan skala menengah dengan area tangkapan antara 3-6 mil dari garis pantai, dan kawasan penangkapan ikan skala besar/industri dengan area tangkapan lebih dari 6 mil garis pantai. Luas perikanan budidaya tambak mencapai Ha, dan pengembangan perikanan budidaya air tawar mencapai 294 Ha. 5) Kawasan Peruntukan Pertambangan Kawasan peruntukan pertambangan terdiri atas : Mineral, batu bara dan Minyak serta gas bumi. 6) Kawasan Peruntukan Industri Pengembangan kawasan peruntukan industri terdiri dari industri besar, menengah, kecil dan industri rumah tangga. Pengembangan industri besar dan menengah, industri manufaktur berlokasi di : Kecamatan Margorejo dengan luas kurang lebih 306 Ha dan Kecamatan Pati dengan luas kurang lebih 200 Ha industri manufaktur dan perikanan yang berlokasi di Kecamatan Batangan dengan luas kurang lebih 318 Ha, Kecamatan Juwana dengan luas kurang lebih 102 Ha, industri agro dan pertambangan yang berlokasi di Kecamatan Tayu dengan luas 30 Ha, Kecamatan Trangkil dengan luas kurang lebih 24 Ha, Kecamatan Margoyoso dengan luas kurang lebih 53 Ha, Kecamatan Tambakromo dengan luas kurang lebih 300 Ha, Kecamatan Kayen dengan luas kurang Hal II - 3
4 lebih 48Ha, Kecamatan Sukolilo dengan luas kurang lebih 117 Ha. Pengembangan industri kecil dan rumah tangga dikembangkan di seluruh wilayah Daerah. 7) Kawasan Peruntukan Pariwisata Pengembangan kawasan peruntukan pariwisata meliputi pariwisata alam, pariwisata budaya, dan pariwisata buatan. Rencana pengembangan pariwisata alam meliputi kawasan agrowisata berada di sepanjang lereng Gunung Muria bagian timur meliputi Kecamatan Tlogowungu, Kecamatan Gembong, Kecamatan Gunungwungkal dan Kecamatan Cluwak, Kawasan pariwisata air dan Gua Pancur berada di Kecamatan Kayen, kawasan pariwisata Air Terjun Nggrenjengan Sewu berada di Kecamatan Gunungwungkal, dan kawasan pariwisata Air Terjun Tadah Hujan, Gua Wareh, Sendang Widodari berada di Kecamatan Sukolilo, kawasan pariwisata Gua Larangan berada di Kecamatan Tambakromo, kawasan pariwisata bahari Banyutowo berada di Kecamatan Dukuhseti. Rencana pengembangan pariwisata budaya meliputi Kawasan pariwisata Genuk Kemiri di Kecamatan Pati kawasan pariwisata Pintu Gerbang Majapahit di Kecamatan Margorejo dan kawasan pariwisata Religi di Kecamatan Sukolilo, Kecamatan Kayen, Kecamatan Margoyoso, dan Kecamatan Tayu. Rencana pengembangan pariwisata buatan meliputi kawasan pariwisata Waduk Gunung Rowo di Kecamatan Gembong, kawasan pariwisata Sendang Tirta Marta Sani dan Agrosilfo Regaloh berada di Kecamatan Tlogowungu dan kawasan pariwisata pendidikan lingkungan di TPA Margorejo. 8) Kawasan Peruntukan Permukiman Kawasan peruntukan permukiman tersebar di seluruh wilayah daerah, dengan penyebaran mengikuti pola perkampungan di masing-masing Kecamatan yang terdiri atas kawasan permukiman perkotaan dan kawasan permukiman perdesaaan. b. Kawasan Lindung Kawasan Lindung di Kabupaten Pati meliputi: 1) Kawasan Hutan Lindung Kawasan Hutan lindung dengan luas kurang lebih Ha meliputi Kecamatan Cluwak, Kecamatan Gembong, Kecamatan Gunungwungkal, dan Kecamatan Tlogowungu. 2) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya berupa kawasan resapan air. Kawasan resapan air diperuntukkan bagi kegiatan pemanfaatan tanah yang dapat menjaga kelestarian ketersediaan air bagi kawasan dibawahnya. Kawasan resapan air di lereng Gunung Muria berada pada kawasan yang memiliki tingkat kemiringan 25 % dengan 40 % dan kawasan yang mengandung batuan kars di Pegunungan Kendeng. Hal II - 4
5 3) Kawasan Perlindungan Setempat Rencana pembangunan kawasan perlindungan setempat, terbagi : a) Sempadan Pantai Kawasan sempadan pantai ditetapkan paling sedikit 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Kawasan sempadan pantai meliputi : Kecamatan Dukuhseti dengan luas kurang lebih 184 Ha Kecamatan Tayu dengan luas kurang lebih 76 Ha, Kecamatan Margoyoso dengan luas sekitar 70 Ha, Kecamatan Trangkil dengan luas kurang lebih 29 Ha, Kecamatan Wedarijaksa dengan luas kurang lebih 18 Ha, Kecamatan Juwana dengan luas kurang lebih 36 Ha, dan Kecamatan Batangan dengan luas kurang lebih 96 Ha. b) Sempadan Sungai Kawasan sempadan sungai terdiri atas : Sempadan saluran irigasi dan Sempadan sungai. Sempadan sungai meliputi : sungai Bapoh, sungai Simo, sungai Ngeluk, sungai Langkir, sungai Mudal, sungai Ngasinan, sungai Kedungtelo, sungai Juwana, sungai Kersulo, sungai Sentul, sungai Jering, sungai Lampean, sungai Wuni, sungai Sekar Gading, sungai Tempur, sungai Sani, sungai Pembuang Sungai Anyar dan sungai Tayu. Sempadan saluran irigasi terdiri dari : saluran irigasi bertanggul dan saluran irigasi tidak bertanggul c) Sempadan Waduk Sempadan waduk ditetapkan 50 m dari dari titik pasang tertinggi ke arah darat proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik waduk. d) Sempadan Mata Air Sempadan mata air dengan radius 200 m terdapat di Kecamatan Pucakwangi, meliputi sumber air Widodaren, sumber air Sendangsuko, sumber air Bulu, sumber air Lunggoh dan sumber air Lumbung Mas. Kecamatan Tambakromo meliputi sumber air Maitan, sumber air Dogo, dan sumber air Pakis. Kecamatan Kayen meliputi sumber air Kluweh dan sumber air Beketel. Kecamatan Sukolilo meliputi sumber air Lawang, sumber air Sumur karanganyar, sumber air Baleadi, sumber air Duwan, sumber air Lawang, sumber air Sentul, sumber air Grolok, sumber air Gemblung, sumber air Mbendo, sumber air Sidowayah, sumber air Cendi, sumber air Mbeji, dan sumber air Kincir. Kecamatan Pati meliputi sumber air Subo dan sumber air Gilan, Kecamatan Margoyoso meliputi sumber air Sonean dan Kecamatan Gunungwungkal meliputi sumber air Sentul. 4) Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam, dan Cagar Budaya Rencana pengembangan kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam, dan Cagar Budaya meliputi: Hal II - 5
6 a) Kawasan Kars Kawasan Kars meliputi Kecamatan Sukolilo dengan luas kurang lebih 1.682,00 Ha, Kecamatan Kayen dengan luas kurang lebih 569,50 Ha dan Kecamatan Tambakromo dengan luas kurang lebih 11,05 Ha. b) Kawasan Muara Sungai (estuary) Kawasan muara sungai (estuari) meliputi Kecamatan Dukuhseti dengan luas kurang lebih 8 Ha, Kecamatan Tayu dengan luas kurang lebih 6 Ha, Kecamatan Juwana dengan luas kurang lebih 6Ha dan Kecamatan Batangan dengan luas kurang lebih 5 Ha. c) Kawasan Pantai berhutan Bakau Pengembangan kawasan pantai berhutan bakau sepanjang pesisir pantai meliputi Kecamatan Dukuhseti dengan luas kurang lebih 45 Ha, Kecamatan Tayu dengan luas kurang lebih 45 Ha, Kecamatan Margoyoso dengan luas kurang lebih 34 Ha, Kecamatan Trangkil dengan luas kurang lebih 30 Ha, Kecamatan Wedarijaksa dengan luas kurang lebih 30 Ha, Kecamatan Juwana dengan luas kurang lebih 54 Ha dan Kecamatan Batangan dengan luas kurang lebih 62 Ha. 3. Wilayah Rawan Bencana Kabupaten Pati berdasarkan data rekapitulasi kejadian bencana, mempunyai daerah rawan bencana alam yang dibedakan atas : a. Kawasan rawan banjir, terdapat di wilayah sebagai berikut: Kecamatan Juwana dengan luas kurang lebih 56 Ha, Kecamatan Trangkil dengan luas kurang lebih 12 Ha, Kecamatan Tayu dengan luas kurang lebih 41 Ha, Kecamatan Pati dengan luas kurang lebih 24 Ha, Kecamatan Margorejo dengan kurang lebih luas 8 Ha, Kecamatan Wedarijaksa dengan kurang lebih luas 22 Ha, Kecamatan Batangan dengan kurang lebih luas 38 Ha, Kecamatan Dukuhseti dengan luas kurang lebih 21 Ha, Kecamatan Jakenan dengan luas kurang lebih 23 Ha, Kecamatan Sukolililo dengan luas kurang lebih 12 Ha, Kecamatan Kayen dengan luas kurang lebih 27 Ha dan Kecamatan Gabus dengan luas kurang lebih 46 Ha. b. Kawasan rawan bencana gerakan tanah, terdapat di wilayah sebagai berikut: Kecamatan Cluwak dengan luas kurang lebih 5 Ha, Kecamatan Gembong dengan luas kurang lebih 6 Ha, Kecamatan Tlogowungu dengan luas kurang lebih 4 Ha, Kecamatan Gunungwungkal dengan luas kurang lebih 12 Ha, Kecamatan Sukolilo dengan luas kurang lebih 18 Ha, Kecamatan Kayen dengan luas kurang lebih 11 Ha, Kecamatan Winong dengan luas kurang lebih 11 Ha, Kecamatan Tambakromo dengan luas kurang lebih 8 Ha, dan Kecamatan Pucakwangi dengan luas kurang lebih 5 Ha. c. Kawasan rawan kekeringan, terdapat di wilayah sebagai berikut: Kecamatan Sukolilo dengan luas kurang lebih 32 Ha, Kecamatan Kayen dengan luas kurang lebih 5 Ha, Kecamatan Tambakromo dengan luas kurang lebih 21 Ha, Kecamatan Winong dengan luas Hal II - 6
7 kurang lebih 14 Ha, Kecamatan Pucakwangi dengan luas kurang lebih 8 Ha, Kecamatan Jaken dengan luas kurang lebih 5 Ha, Kecamatan Batangan dengan luas kurang lebih 4 Ha dan Kecamatan Gabus dengan luas kurang lebih 3 Ha. d. Kawasan rawan bencana gelombang pasang, terdapat di wilayah sebagai berikut: Sepanjang pesisir pantai Kecamatan Dukuhseti dengan luas kurang lebih 184 Ha, sepanjang pesisir pantai Kecamatan Tayu dengan luas kurang lebih 76 Ha, sepanjang pesisir pantai Kecamatan Margoyoso dengan luas kurang lebih 70 Ha, sepanjang pesisir pantai Kecamatan Trangkil dengan luas kurang lebih 29 Ha, pesisir pantai Kecamatan Wedarijaksa dengan luas kurang lebih 18 Ha, sepanjang pesisir pantai Kecamatan Juwana dengan luas kurang lebih 36 Ha, dan sepanjang pesisir pantai Kecamatan Batangan dengan luas kurang lebih 96 Ha. 4. Kondisi Demografi Jumlah penduduk yang besar dengan kualitas yang tinggi merupakan potensi pembangunan. Berdasar hasil sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Kabupaten Pati sebanyak jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak jiwa dan perempuan sebanyak jiwa tergambar pada Grafik 2.1. sebagai berikut: Sumber : Profil Kab.Pati, 2011 Grafik 2.1 Perkembangan Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Kabupaten Pati Tahun Rata rata laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Pati sebesar 0,40 %. Angka rata-rata kepadatan penduduk Indonesia adalah 127 orang per Km², sedangkan Kabupaten Pati pada tahun 2011 memiliki angka kepadatan penduduk 797 orang per Km² dapat dilihat pada Tabel 2.1. berikut: Hal II - 7
8 Tabel Perbandingan Penduduk Kabupaten Pati dan Provinsi Jawa Tengah Tahun KAB. PATI PROV. JAWA TENGAH No Tahun Luas Wilayah (Ha) Jumlah Penduduk (jiwa) Kepadatan Penduduk per Km 2 Luas Wilayah (Km 2 ) Jumlah Penduduk (jiwa) Kepadatan Penduduk per Km Sumber : Pati dan Jawa Tengah Dalam Angka 2012 B. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi a. Pertumbuhan PDRB Besarnya PDRB suatu daerah dapat menggambarkan kondisi perekonomian suatu daerah pada umumnya, baik berdasarkan atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan tahun Selama periode gambaran ekonomi penduduk Pati menunjukkan perkembangan yang bersifat positif. Besarnya PDRB atas dasar harga berlaku Tahun 2007 sebesar ,17 juta meningkat menjadi sebesar ,64 juta pada Tahun Besarnya PDRB Kabupaten Pati secara rinci dari Tahun dapat dilihat pada Tabel 2. 2 berikut : Tabel PDRB Atas Dasar Harga Konstan & Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Pati Tahun Atas dasar Harga Konstan Atas dasar Harga Berlaku Tahun tahun 2000 (juta Rp) (juta Rp) , , , , , , , , , ,64 Sumber : BPS Kab. Pati, 2011 Rata-rata pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pati berkisar antara 4,81 % hingga 5,43 % dari tahun Grafik pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pati dalam kurun waktu lima tahun sejak Tahun 2007, dapat dilihat pada Grafik 2. 2 sebagai berikut : Sumber : PDRB Kab. Pati, 2011 Grafik 2.2. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pati Tahun Hal II - 8
9 Apabila dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah, Kabupaten Pati masih dibawah rata-rata Jawa Tengah. Pada Tahun 2007 pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sebesar 5,59 % sedangkan Kabupaten Pati sebesar 5,19 %, secara rinci perbandingan pertumbuhan ekonomi dari Tahun dapat dilihat pada Grafik 2. 3 sebagai berikut : Sumber : Profil Kab. Pati dan PDRB Jawa Tengah, 2011 Grafik 2.3. Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pati dan Jawa Tengah Berdasarkan analisis pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pati dari Tahun maka diproyeksikan pertumbuhan selama waktu perencanaan akan berkisar antara 5,5% -6%, termasuk pertumbuhan yang cukup tinggi. Hal ini terutama didukung oleh meningkatnya iklim usaha yang semakin kondusif, berkembangnya pertumbuhan sektor riil dan meningkatnya sektor perdagangan skala kecil dan menengah, industri UMKM di Kabupaten Pati. b. Laju Inflasi Besaran Laju inflasi dan deflasi sangat mempengarui kondisi perekonomian makro, apabila tingkat inflasi tinggi akan mempengarui daya beli konsumen. Sebaliknya jika nilai inflasi rendah atau bahkan terjadi deflasi maka akan dapat menimbulkan kondisi yang stagnan dalam perkembangan ekonomi dan bisa juga menyebabkan resesi ekonomi. Tingkat inflasi di Kabupaten Pati dari Tahun tergambar pada Grafik 2. 4 sebagai berikut : Sumber : PDRB Kab. Pati, 2011 Grafik 2.4. Laju Inflasi Kabupaten Pati Tahun c. PDRB per Kapita Besarnya PDRB per kapita dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara makro. Besarnya PDRB per kapita Kabupaten Pati dari Tahun (atas dasar harga berlaku) Hal II - 9
10 meningkat dari RP ,53 menjadi sebesar Rp ,24 pada Tahun Besarnya PDRB per kapita Kabupaten Pati dari Tahun (atas dasar harga konstan) meningkat dari RP ,67 menjadi sebesar Rp ,00 pada Tahun Pertumbuhan PDRB perkapita atas dasar harga berlaku dari Tahun menunjukkan kondisi yang cenderung naik antara 8,11% - 14,45%, untuk Pertumbuhan PDRB perkapita atas dasar harga konstan 2000 juga cenderung naik antara 3,96% - 4,95%. Perkembangan PDRB per kapita tergambar pada Grafik 2. 5 sebagai berikut : Sumber : PDRB Kab. Pati, 2011 Grafik 2.5. PDRB per Kapita Atas Dasar Harga Konstan dan Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Pati Tahun d. Persentase Penduduk dibawah Garis Kemiskinan Salah satu masalah penting dalam pembangunan di Kabupaten Pati adalah masih besarnya jumlah penduduk miskin. Berdasarkan garis kemiskinan (poverty line) hasil Susenas tahun 2010 sebesar Rp /kapita/bulan dengan jumlah penduduk miskin sebesar jiwa (14,48%) persentase ini lebih kecil dari persentase penduduk miskin Jawa Tengah yaitu sebesar 16,11%, sedangkan angka sementara di tahun 2011 garis kemiskinan mencapai Rp /kapita/bulan dengan jumlah penduduk miskin sebesar jiwa (14,10%). Proporsi penduduk miskin di Kabupaten Pati dari tahun dapat dilihat pada Tabel 2. 3 berikut : Tabel Garis Kemiskinan,Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Pati Tahun Tahun Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/bula n) Jumlah Penduduk Miskin ( Orang) Persentase Penduduk Miskin(%) Jawa Pati Tengah ,79 20, ,90 18, ,92 17, ,48 16, ,10 16,21 Sumber : BPS Kab.Pati Th 2011 Berdasarkan Tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk miskin di Kabupaten Pati dari tahun Hal II - 10
11 cenderung menurun. Pada tahun 2007 sebesar 19,79% menjadi 14,10% di tahun Kondisi Kabupaten Pati dibandingkan dengan kabupaten/kota disekitarnya dan Jawa Tengah dapat dikemukakan pada Tabel 2.4 sebagai berikut : Tabel Perbandingan Angka Kemiskinan Kabupaten Pati dengan Kabupaten Sekitarnya dan Jawa Tengah Tahun No Wilayah Persentase Penduduk Miskin (%) Kab. Kudus 10,73 12,58 10,80 9,02 8,89 2 Kab. Rembang 30,71 27,21 25,86 23,41 21,47 3 Kab. Jepara 10,44 11,05 9,60 10,18 9,75 4 Kab. Blora 21,46 18,79 17,70 16,27 16,06 5 Kab. Pati 19,79 17,90 15,92 14,48 14,10 Jawa Tengah 16,58 18,99 17,48 16,11 16,21 Sumber : BPS Kab.Pati Th,2011 Dibandingkan dengan kabupaten sekitar dapat diketahui bahwa jumlah penduduk miskin di Kabupaten Pati masih cukup tinggi dibandingkan Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara, namun lebih rendah dari Kabupaten Blora dan Kabupaten Rembang. e. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu indikator agregat dari capaian peningkatan kesejahteraan dalam pembangunan Kabupaten Pati. IPM Kabupaten Pati tahun 2010 sebesar 72,96 meningkat dari tahun 2009 sebesar 72,26. Kondisi tersebut lebih tinggi daripada rata-rata Jawa Tengah sebesar 72,49 dan menduduki peringkat 12 dari 35 kabupaten/kota. IPM Kabupaten Pati cenderung meningkat dalam lima tahun terakhir jika dibandingkan Kabupaten di sekitarnya Kabupaten Kudus, Rembang, Jepara dan Kabupaten Blora dengan data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2. 5 berikut : Tabel Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Pati dan Wilayah Sekitarnya Tahun No Wilayah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kab. Kudus 71,6 72,0 72,57 72, Kab. Rembang 70,5 71,1 71,55 72, Kab. Jepara 71,4 71,9 72,45 72, Kab. Blora 69,1 69,6 70,14 70, Kab. Pati 71,8 71,8 72,26 72,96 12 Jawa Tengah 70,9 71,6 72,1 72,49 Sumber : IPM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Rangking di Jawa Tengah f. Indeks Pembangunan Gender (IPG) Peningkatan kesejahteraan masyarakat sangat terkait erat dengan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Tingkat pencapaian kesetaraan dan keadilan gender diukur melalui indikator Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). Di Kabupaten Pati selama kurun waktu angka IPG menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Besarnya IPG tahun 2008 sebesar Hal II - 11
12 62,96 meningkat menjadi 63,58 pada tahun 2010 atau meningkat sebesar 0,98 % selama tiga tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat dari aspek kesetaraan gender mengalami peningkatan, terutama meningkatnya pendidikan, angka melek huruf. Walaupun demikian, pencapaian tersebut masih di bawah rata-rata Provinsi Jawa Tengah. Rendahnya IPG di Kabupaten Pati menunjukkan masih adanya kesenjangan atau diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Secara rinci kondisi IPG di Kabupaten Pati dibandingkan kabupaten di sekitarnya dapat dilihat pada Tabel 2. 6 berikut ini : Tabel Perbandingan Angka IPG Kabupaten Pati dengan Kabupaten Sekitarnya dan Provinsi Jawa Tengah Tahun No Wilayah Kab. Kudus 69,62 70,19 70,55 2 Kab. Rembang 63,61 63,93 64,11 3 Kab. Jepara 56,27 56,61 57,55 4 Kab. Blora 63,73 64,12 64,35 5 Kab. Pati 62,96 63,10 63,58 Jawa Tengah 64,66 65,03 65,79 Sumber : BPS Prov Jateng Tahun 2010 Tabel diatas menunjukkan bahwa IPG Kabupaten Pati tahun 2010 lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Jepara (57,55), namun lebih rendah dari Kabupaten Rembang (64,11), Kabupaten Blora (64,35) dan Kabupaten Kudus (70,55). g. Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Indeks pemberdayaan gender (IDG) merupakan ukuran untuk mengetahui keberdayaan perempuan, dengan tolok ukur meliputi banyaknya jumlah angkatan kerja perempuan, tenaga kerja perempuan yang bekerja dalam bidang teknis dan manajemen dan keterwakilan perempuan di legislatif. Selama kurun waktu IDG Kabupaten Pati menunjukkan kecenderungan meningkat, meskipun termasuk kategori moderat. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat keberdayaan perempuan di Kabupaten Pati relatif cukup baik. Pada tahun 2008 IDG Kabupaten Pati sebesar 50,6 meningkat menjadi 61,4 pada tahun IDG Kabupaten Pati pada tahun 2010 lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Jepara (46,1) namun masih rendah daripada Kabupaten Kudus (67), Kabupaten Rembang (68), dan Kabupaten Blora (74,7). Secara rinci perbandingan IDG Kabupaten Pati dengan kabupaten/kota disekitarnya dapat dilihat pada Tabel 2. 7 berikut : Hal II - 12
13 Tabel Perbandingan Angka IDG Kabupaten Pati dengan Kabupaten Sekitarnya dan Provinsi Jawa Tengah Tahun No Wilayah IDG Kab. Kudus 65,9 66,5 67,0 2 Kab. Rembang 66,4 66,6 68,0 3 Kab. Jepara 49,1 49,5 46,1 4 Kab. Blora 62,5 62,5 74,7 5 Kab. Pati 50,6 51,3 61,4 Jawa Tengah 59,76 59,96 67,96 Sumber : BPS Prov Jateng Tahun Fokus Kesejahteraan Sosial Ada beberapa unsur dalam menggambarkan kesejahteraan sosial bagi masyarakat di Kabupaten Pati, diantaranya yaitu capaian komposit IPM, APK, APM, AKI, Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, tingkat kepemelikan lahan, tingkat partisipasi angkatan kerja, tingkat pengangguran terbuka dan persentase penduduk usia kerja yang bekerja. Jika dilihat dari komponen pembentuk IPM, Usia Harapan Hidup (UHH) Kabupaten Pati Tahun mengalami peningkatan, usia harapan hidup di tahun 2007 sebesar 72,62 tahun menjadi 72,89 tahun di tahun 2011, hal ini menunjukkan derajat kesehatan penduduk di Kabupaten Pati meningkat. Rata rata kenaikan UHH bertambah 0,07 tahun. Angka Melek Huruf (AMH) Tahun 2007 sebesar 86,28% meningkat menjadi 87,59% di Tahun 2011 atau meningkat sebesar 1,31%. Sementara untuk rata-rata lama sekolah sebesar 6,8 tahun ditahun 2007 menjadi sebesar 6,98 tahun di tahun 2011, atau secara rata-rata penduduk Kabupaten Pati usia 15 tahun ke atas berpendidikan setingkat kelas satu SMP. Secara umum daya beli penduduk Kabupaten Pati Tahun 2011 tidak mengalami peningkatan berarti, bila dilihat dari sisi pengeluaran per kapita, yakni dari Rp.635,27 ribu di tahun 2007 menjadi Rp.648,82 ribu di tahun Daya beli masyarakat/penduduk di suatu wilayah, angka ideal setiap tahun mengalami penyesuaian dengan kondisi ekonomi. Data capaian indikator pembentuk IPM selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2. 8 berikut : Tabel Perbandingan Pembentuk IPM Kabupaten Pati Dan Wilayah Sekitarnya Tahun N o Wilayah Angka Harapan Hidup (Th) Angka Melek Huruf (%) Rata-rata Lama Sekolah (th) Rata-rata Pengeluaran Per Kapita (ribu Rp) Kab. Kudus 69,57 69, ,48 93, ,11 8, ,90 636, Kab. Rembang 70,02 70, ,43 91, ,85 6, ,28 641, Kab. Jepara 70,71 70, ,09 93, ,40 7, ,04 632, Kab. Blora 71,20 71, ,19 83, ,25 6, ,29 642, Kab. Pati 72,77 72,83 72,89 86,38 86, ,95 6,95 6,98 643,48 646, Jawa Tengah 71,25 71, ,46 89, ,07 7, ,39 637, Sumber : BPS Prov. Jawa Tengah 2011 Hal II - 13
14 Sedangkan kasus kematian ibu, kematian bayi, dan kematian balita di Kabupaten Pati tahun dapat dilihat pada Tabel 2. 9 sebagai berikut : Tabel Kematian Ibu, Bayi dan Balita Kabupaten Pati Tahun No Indikator Sat Kematian Ibu Kasus Kematian Bayi Kasus Kematian Balita Kasus Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Pati, 2011 Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) menggambarkan proporsi angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja yaitu kelompok penduduk yang berusia > 15 tahun yang terlibat dalam produksi barang dan jasa. Jumlah penduduk 15 tahun keatas Kabupaten Pati Tahun 2010 dari hasil survei sosial ekonomi nasional (susenas) sebanyak orang, terdiri dari angkatan kerja sebanyak orang (68,88%) dan bukan angkatan kerja sebanyak orang (31,12%). Angkatan kerja di tahun 2011 naik menjadi orang ( 72,35%). Sedangkan tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Pati tahun 2010 sebesar orang (6,22%) naik menjadi orang ( 6,27%) pada tahun 2011 begitu juga Tingkat Partisipasi Angkatan Kerjanya naik menjadi 70,77% di tahun Gambaran jumlah Angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Pati Tahun dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut : Tabel Jumlah Angkatan Kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja(TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Pati Tahun Tahun Jumlah Angkatan TPAK(%) TPT(%) TPAK (%) TPT (%) Kerja Prov Prov ,89 70,16 8,38 7, ,79 68,37 9,36 7, ,32 69,27 7,68 7, ,88 70,60 6,22 6, ,35 70,77 6,27 5,93 Sumber : BPS Prov. Jawa Tengah 2011 Perbandingan TPT dengan kabupaten di sekitarnya tahun dapat diketahui pada Tabel sebagai berikut : Tabel Perbandingan Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten Pati dengan Kabupaten sekitarnya dan Provinsi Jawa Tengah Tahun No Wilayah TPT Kab. Kudus 7,03 6,15 7,36 6,22 6,21 2 Kab. Rembang 5,70 5,89 5,64 4,89 5,92 3 Kab. Jepara 5,78 5,76 4,40 4,56 6,26 4 Kab. Blora 3,92 5,71 6,99 5,49 6,11 5 Kab. Pati 8,38 9,36 7,68 6,22 6,27 Jawa Tengah 7,70 7,35 7,33 6,21 5,93 Sumber : BPS Prov. Jawa Tengah 2011 Hal II - 14
15 Bila dilihat dalam Tabel diatas bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten Pati paling tinggi dibanding dengan Tingkat Pengangguran Terbuka daerah sekitar. Untuk kondisi tahun 2011 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Pati sebesar 6,27% lebih tinggi dari Kabupaten Rembang dan Blora yang hanya 5,92% dan 6,11%. C. Aspek Pelayanan Umum 1. Pelayanan Urusan Wajib a. Pendidikan Perkembangan pendidikan di Kabupaten Pati tidak lepas dari pembangunan pendidikan tingkat nasional maupun Provinsi Jawa Tengah. Sebagai bagian dari pembangunan pendidikan tingkat nasional dan provinsi, pembangunan pendidikan di Kabupaten Pati harus berpedoman pada dokumen perencanaan yang telah disusun oleh Pemerintah Pusat dan Provinsi Jawa Tengah yaitu RPJMN tahun dan RPJMD Provinsi Jawa Tengah tahun dan Rencana Strategis (Renstra) Kementrian Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Dalam RPJMN tantangan pendidikan yang harus dihadapi sampai tahun 2014 adalah meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana yang berkualitas meliputi percepatan penuntasan rehabilitasi gedung sekolah yang rusak; peningkatan ketersediaan buku mata pelajaran; peningkatan ketersediaan dan kualitas laboratorium dan perpustakaan; dan peningkatan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK); serta peningkatan akses dan kualitas layanan perpustakaan. Arah kebijakan dalam RPJMN adalah meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pendidikan. Renstra Kementrian Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa arah kebijakan pembangunan diarahkan pada peningkatan ketersediaan pelayanan pendidikan merata seluruh nusantara; pelayanan pendidikan yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, bermutu dan relevan dengan kebutuhan kehidupan dunia usaha dan dunia industri; pelayanan pendidikan yang setara bagi warga Indonesia dalam memperoleh pendidikan berkualitas dengan memperhatikan keberagaman latar belakang sosial-budaya ekonomi, geografi dan gender; dan pelayanan pendidikan yang menjamin kepastian warga Negara Indonesia mengeyam pendidikan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat dunia usaha dan dunia industri. Kebijakan tersebut dikenal dengan kebijakan 5 K yaitu (ketersediaan, keterjangkauan, kualitas, kesetaraan, dan kepastian). Arah kebijakan pembangunan bidang pendidikan dalam RPJMD Provinsi Jawa Tengah diarahkan pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia dengan memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan. Target capaian pembangunan pendidikan tahun 2013 khusus untuk PAUD dan pendidikan dasar adalah sebagai berikut: pada tahun 2013 APK PAUD Jawa Tengah sebesar 70,42% dan APM SD sebesar 98,83%; Dalam dokumen Renstra Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah ditargetkan pada tahun 2013 sebesar 100% Hal II - 15
16 penduduk Jawa Tengah melek huruf; APK PAUD dan APM SD sama seperti target dalam RPJMD Provinsi Jawa Tengah; mutu pendidikan ditargetkan pada tahun 2013 angka lulus UASBN SD mencapai 99,75%; pendidikan kecakapan hidup ditargetkan sebesar 70% pemuda dan masyarakat putus sekolah mengikuti pendidikan kecakapan hidup. Secara umum tingkat pendidikan penduduk di Kabupaten Pati termasuk dalam kategori rendah (setara dengan lulus sekolah dasar). Hal ini ditunjukkan dengan besarnya jumlah penduduk yang berpendidikan Sekolah Dasar (31,69%). Jumlah penduduk yang Belum Sekolah, Tidak Sekolah, Tidak Tamat SD dan Belum Tamat SD juga masih sangat banyak (35,20%). Lebih rinci, gambaran tentang tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Pati dapat dilihat pada Tabel berikut : Tabel Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan Yang Ditamatkan Di Kabupaten Pati Tahun 2011 Banyaknya No Tingkat Pendidikan Penduduk Persentase (Jiwa) 1 Tidak/Belum pernah Sekolah ,92 2 Tidak/belum tamat SD ,28 3 Tamat SD/MI/sederajat ,69 4 Tamat SLTP/MTS/sederajat ,49 5 Tamat SLTA/MA/sederajat ,76 6 Tamat D1/D2/D3/Akademi ,17 7 Tamat DIV/S ,61 8 Tamat S2/S ,08 Jumlah Sumber : Pati dalam Angka ) Gambaran Pelayanan PAUD a) Ketersedian Jumlah TK di Kabupaten Pati pada tahun cenderung mengalami peningkatan yang cukup baik dengan jumlah TK pada tahun 2007 sebanyak 606 unit dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 665 unit. Dengan demikian selama kurun waktu 5 (lima) tahun jumlah TK meningkat rata-rata 14 unit per tahun. Jumlah murid TK pada tahun 2007 sebanyak orang mengalami kenaikan pada tahun 2011 sebanyak orang atau sebesar 32,91%. Jumlah guru TK pada tahun 2007 sebanyak orang dan jumlah guru TK pada tahun 2011 sebanyak orang. Rincian pertumbuhan jumlah TK, murid TK, guru TK terlihat pada Tabel sebagai berikut : Hal II - 16
17 Tabel Pertumbuhan Jumlah TK, Murid TK dan Guru TK Kabupaten Pati Tahun Jml TK Jml Murid Jml Guru No Tahun r(%) r(%) r(%) (unit) (orang) (orang) , , , , , , , , , , , ,04 Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Pati, 2011 Ket. r : prosentase pertumbuhan Rasio guru terhadap murid TK selama kurun waktu tahun fluktuatif. Rasio guru terhadap murid pada tahun stagnan yaitu sebesar 1 : 10 orang. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan guru TK cukup memadai. Rasio guru terhadap murid tingkat TK terlihat pada Tabel berikut : Tabel Perkembangan Rasio Guru Terhadap Murid TK Tahun No Tahun Rasio Guru thd Murid (1 dibanding :...) Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Pati, 2011 b) Kualitas Jumlah guru PAUD yang memenuhi kualifikasi pada tahun 2011 sebesar 8,29% lebih tinggi daripada tahun 2010 sebesar 7,88%. 2) Gambaran Pelayanan Pendidikan Dasar a) Ketersediaan Ketersediaan sarana dan prasarana untuk pendidikan dasar di Kabupaten Pati relatif memadai. Jumlah SD/MI di Kabupaten Pati sebanyak 871 unit pada Tahun 2011,kondisi ini menurun dibandingkan Tahun 2007 yaitu sebanyak 889 unit. Jumlah murid SD/MI selama kurun waktu menurun. Jumlah murid SD/MI tahun 2007 sebanyak orang dan jumlah guru sebanyak orang. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan Tahun 2011 yaitu jumlah murid sebanyak orang dan jumlah guru sebanyak orang. Pertumbuhan jumlah sekolah, murid dan guru SD/MI terlihat pada Tabel 2.15 sebagai berikut : Hal II - 17
18 Tabel Pertumbuhan Jumlah SD/MI, Murid SD/MI dan Guru SD/MI Kabupaten Pati Tahun Tahun SD r(%) Jumlah Murid r(%) Jumlah Guru r(%) , , , , , , , , , , , ,39 Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Pati, 2011 Sedangkan jumlah SMP/MTs di Kabupaten Pati sebanyak 212 unit pada Tahun 2011, lebih tinggi dibandingkan Tahun 2007 sebanyak 198 unit. Kondisi ini menunjukkan perkembangan jumlah SMP/MTs di Kabupaten Pati cukup baik. Jumlah murid selama kurun waktu tahun menunjukkan kecenderungan menurun. Pada Tahun 2011 jumlah murid SMP/MTs sebanyak orang dan jumlah guru sebanyak orang. Jumlah guru tersebut lebih tinggi dibandingkan Tahun 2007 yaitu sebanyak orang. Secara lebih detail perkembangan jumlah sekolah, murid dan guru SMP/MTs terlihat pada Tabel sebagai berikut : Tabel Pertumbuhan Jumlah SMP/MTs, Murid SMP/MTs dan Guru SMP/MTs Kabupaten Pati Tahun Tahun SMP r(%) Jumlah Jumlah r(%) Murid Guru r(%) , , , , , , , , , , ,39 Sumber: Dinas pendidikan Kab. Pati, 2011 Secara kuantitatif jumlah guru relatif memadai, namun demikian apabila dilihat persebaran guru terlihat beberapa wilayah yang mengalami kekurangan guru, sebaliknya pada beberapa wilayah terjadi kelebihan guru. Rasio guru terhadap murid untuk jenjang pendidikan SD/MI dan SMP/MTs terlihat pada Tabel berikut : Tabel Perkembangan Rasio Guru Terhadap Murid SD/MI dan SMP/MTs Kabupaten Pati Tahun No Tahun SD/MI (1 dibanding :..) SMP/MTs (1 dibanding..) Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Pati, 2011 b) Keterjangkauan Angka Partisipasi Kasar (APK) merupakan salah satu indikator keterjangkauan. Semakin tinggi APK maka semakin Hal II - 18
19 tinggi pula tingkat keterjangkauan pelayanan pendidikan. Selama kurun waktu APK SD/MI di Kabupaten Pati cenderung menurun. Pada jenjang pendidikan SMP/MTs, APK cenderung meningkat. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat untuk menyekolahkan anak pada jenjang pendidikan SD dan SMP cukup besar. Secara detail gambaran perkembangan APK SD/MI dan SMP/MTs dapat dilihat pada Tabel berikut : Tabel Perkembangan APK SD/MI dan SMP/MTs Kabupaten Pati Tahun SD/MI r(%) SMP/Mts r(%) ,99 98, ,12 0,11 97,86-0, ,35-3,19 98,90 1, ,05-0,26 98,60-0, ,08 0,026 98,75 0,15 Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Pati, 2011 Angka Partisipasi Murni (APM) pada jenjang pendidikan SD/MI dan SMP/MTs menunjukkan kecenderungan adanya peningkatan. Hal ini menunjukkan pelayanan pendidikan dasar semakin terjangkau oleh masyarakat. Perkembangan Angka Partisipasi Murni pada jenjang pendidikan dasar secara rinci dapat dilihat pada Tabel berikut : Tabel Perkembangan APM SD/MI dan SMP/MTs Kabupaten Pati Tahun SD/MI r(%) SMP/MTs r(%) ,78 77, ,81 0,03 76,64-1, ,89 0,08 77,39 0, ,91 0,02 77,54 0, ,92 0,01 77,55 0,01 Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Pati, 2011 Angka putus sekolah untuk jenjang SD/MI pada tahun 2011 sebesar 0,04% dari jumlah murid, sedangkan untuk jenjang pendidikan SMP/MTs angka putus sekolah sebesar 0,29%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan target angka putus sekolah tingkat nasional dan provinsi pada tahun 2014 sebesar 0,12% untuk jenjang SD/MI dan 0,22% untuk jenjang SMP/Mts. c) Kualitas Guru layak mengajar untuk jenjang pendidikan SD/MI pada tahun 2010 sebesar 38,67% dan pada tahun 2011 naik menjadi 52,8%. Pada jenjang SMP/MTs persentase guru layak mengajar pada tahun 2010 sebesar 74,56 % pada tahun 2011 meningkat menjadi 77,97%. Kondisi ini menggambarkan bahwa kualitas guru SD/MI maupun SMP/Mts masih belum optimal. Hal II - 19
20 Angka kelulusan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) untuk jenjang pendidikan SD/MI pada tahun fluktuatif berkisar antara 99,47 98,42.%, sedangkan pada jenjang SMP/MTs angka kelulusan mencapai 98,12.%. Perkembangan angka kelulusan untuk masing-masing jenjang pendidikan terlihat pada Tabel sebagai berikut : Tabel Angka Kelulusan UASBN SD/MI dan UN SMP/MTs Kabupaten Pati Tahun SD/MI (%) SMP/MTs (%) ,47 92, ,41 90, ,56 92, ,58 86, ,42 98,12 Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Pati, ) Gambaran Pelayanan Pendidikan Menegah a) Ketersediaan Selama kurun waktu jumlah sekolah SMA/MA/SMK di Kabupaten Pati cenderung meningkat termasuk jumlah murid SMA/MA/SMK dan jumlah guru fluktuatif. Perkembangan jumlah sekolah, murid dan guru SMA/MA/SMK terlihat pada Tabel 2.21 berikut ini : Tabel Pertumbuhan Jumlah, Murid dan Guru SMA/MA/SMK Kabupaten Pati Tahun Tahun SMA r (%) Jumlah Murid r (%) Jumlah Guru r (%) , , , , , , , , , , ,62 Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Pati, 2011 Sedangkan perkembangan rasio guru terhadap murid selama kurun waktu terlihat pada Tabel 2.22 sebagai berikut : Tabel Perkembangan Rasio Guru Terhadap Murid SMA/MA/SMK Kabupaten Pati Tahun No Tahun Rasio Guru thd Murid (1 dibanding :.. ) Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Pati, 2011 b) Keterjangkauan Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/MA/SMK. APK SMA/MA/SMK selama kurun waktu menunjukkan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2011 APK SMA/MA/SMK sebesar 55,47 %, meningkat dibandingkan tahun 2007 sebesar 50,11 %. angka tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan menyekolahkan anak di jenjang Hal II - 20
21 SMA/MA/SMK. Angka Partisipasi Murni SMA/MA/SMK juga mengalami peningkatan. APM SMA/MA/SMK pada tahun 2011 sebesar 37,18 %, meningkat dibandingkan tahun 2007 sebesar 34,58%. Walaupun demikian, nilai APM SMA/MA/SMK termasuk kategori rendah, karena masih dibawah 50%. Perkembangan APK dan APM SMA/MA/SMK secara rinci terlihat pada Tabel 2.23 berikut : Tabel Perkembangan APK dan APM SMA/SMK/MA Kabupaten Pati Tahun Tahun APK r(%) APM r(%) ,11 34, ,33 0,44 34,89 0, ,38 4,07 33,97-2, ,78 4,58 37,18 9, ,47 1,26 37,18 0 Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Pati, 2011 Angka putus sekolah SMA/MA/SMK di Kabupaten Pati tahun 2011 relatif rendah yaitu 0,74% dibandingkan dengan seluruh murid SMA/MA/SMK. Kondisi ini menggambarkan bahwa kemampuan dan kesadaran menyekolahkan anak di tingkat SMA/MA/SMK cukup baik. c) Kualitas Kualitas pelayanan pendidikan menengah dilihat dari kualitas guru atau pendidik. Kualitas guru salah satunya dilihat dari aspek kelayakan mengajar. Sebagaimana ketentuan dalam PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, standar pendidik adalah berpendidikan S1 atau D IV. Jumlah guru layak mengajar pada SMA/MA/SMK pada tahun 2011 sebesar 85,49 % meningkat dibandingkan tahun 2010 yaitu sebesar 84,28%. b. Kesehatan Derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Pati mengalami peningkatan dari tahun Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya usia harapan hidup masyarakat Kabupaten Pati. Pada tahun 2008 Usia Harapan Hidup Masyarakat Pati sebesar 72,70, meningkat menjadi 72,77 pada tahun 2009, meningkat menjadi pada tahun Selanjutnya pada tahun 2011 meningkat menjadi Penanganan kesehatan rawat jalan dan rawat inap bagi masyarakat miskin selama ini dilaksanakan melalui alokasi jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) dan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda). Alokasi jumlah penduduk yang memperoleh Jamkesmas ditentukan oleh keputusan Kementrian Kesehatan, sedangkan bagi masyarakat miskin yang tidak tertangani melalui Jamkesmas ditampung melalui keputusan Bupati Pati dalam program Jamkesda yang alokasi anggarannya melekat pada SKPD Dinas Kesehatan, RSUD RAA Soewondo dan RSUD Kayen. Kasus kematian ibu dari tahun cenderung jumlah kejadiannya fluktuatif. Hal ini dapat dilihat dari tahun 2007 kasus Hal II - 21
22 kematian ibu sebanyak 23 kasus, pada tahun 2009 sebanyak 12 kasus dan pada tahun 2011 sebanyak 24 kasus. Sedangkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan mencapai 97,4% meningkat menjadi 98 % pada tahun Sementara itu cakupan ibu hamil dengan K4 dan cakupan kunjungan pada saat nifas relatif mengalami kenaikan. Cakupan ibu hamil dengan K4 pada tahun 2007 sebesar 87,67% meningkat pada tahun 2011 menjadi 96%. Cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2011 sebesar 99 % meningkat dibandingkan tahun 2007 yaitu 89,78% terlihat pada Grafik 2.6 sebagai berikut: Sumber : Profil Kesehatan Kab. Pati, 2012 Grafik 2.6. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4,Cakupan Persalinan Oleh Nakes dan Cakupan Kunjungan Nifas Kabupaten Pati Tahun Kasus kematian bayi di Kabupaten Pati cenderung mengalami penurunan dari tahun yaitu pada tahun 2007 sebesar 253 kasus menurun menjadi 178 kasus pada tahun 2011,namun kasus kematian balita kejadiannya sangat fluktuatif yaitu pada tahun 2007 sebanyak 145 kasus, pada tahun 2009 sebanyak 116 kasus dan pada tahun 2011 sebanyak 266 kasus. Sementara itu cakupan kunjungan bayi dari tahun mengalami penurunan pada tahun 2007 cakupan kunjungan bayi sebesar 103,9% turun pada tahun 2011 menjadi sebesar 97,40%. Cakupan kunjungan neonatus mengalami peningkatan pada tahun 2007 sebesar 94,3% pada tahun 2011 menjadi 99,89 %. Kondisi gizi pada balita dari tahun perlu mendapat perhatian. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya persentase gizi buruk dan gizi kurang. Pada tahun 2007 persentase gizi buruk sebesar 0,44% meningkat hingga 0,64 % pada tahun Pada tahun 2010 persentase balita dengan gizi kurang sebesar 8,77% menurun menjadi 7,28% pada tahun Namun demikian kondisi ini perlu diwaspadai, karena persentase balita dengan berat badan dibawah garis (BGM) cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 persentase balita dengan BGM sebesar 0,55%, meningkat pada tahun 2011 menjadi 0,67%. Kondisi balita gizi buruk yang mendapat perawatan dari tahun sebesar 100% target SPM (100%) tergamabar pada Grafik 2.7 berikut: Hal II - 22
23 Sumber : Profil Kesehatan Kab. Pati, 2011 Grafik 2.7. Cakupan Kunjungan Bayi dan Neonatus Kabupaten Pati Tahun Penyakit menular di Kabupaten Pati mengalami peningkatan terutama peningkatan kasus TB paru, DBD, kusta dan diare. Perkiraan kasus baru TB paru di Kabupaten Pati pada tahun 2011 sebesar 107/ penduduk dan angka penemuan kasus baru sebesar (46,54 %) dan persentase kasus TB yang dapat disembuhkan dengan strategi DOTS sebesar 86,42 %. Angka kejadian TB paru pada tahun 2015 akan turun sesuai target Jawa Tengah (88 per penduduk), jika angka penemuan kasus baru lebih dari 70 % dan kesembuhan 85 %. Prevalensi kasus HIV di Kabupaten Pati pada tahun 2011 sebesar 76 kasus (0,01 %) dari total jumlah penduduk. Jumlah penderita HIV/AIDS Pati dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 sebesar 265 orang, dengan rincian 145 kasus AIDS dan 120 HIV. Kabupaten Pati merupakan kabupaten yang penderita HIV/AIDS relatif rendah dibandingkan kabupaten/kota yang lain. Namun demikian, kondisi ini perlu diwaspadai, karena Kabupaten Pati merupakan daerah transit di jalan Pantura dan memiliki titik-titik rawan yaitu daerah yang merupakan pangkalan truk sebagai daerah transaksi seks dan ada kecenderunagn meningkat. Angka penemuan kasus malaria di Kabupaten Pati pada tahun 2011 sebesar 1,02% per penduduk. Kabupaten Pati bukan merupakan daerah endemis malaria. Angka kesakitan DBD di Kabupaten Pati pada tahun 2011 sebesar 331/ penduduk dan angka kematian DBD sebesar 4 (1,2 %). Jumlah kasus penyakit menular yang meningkat terutama DBD, TB paru dan diare disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak sehat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan ternyata cakupan pengguna jamban keluarga pada tahun 2011 hanya sebesar 68,5%, cakupan rumah sehat hanya 55,15 % dan cakupan rumah tangga yang memiliki SPAL hanya 54.6%. Perubahan pola dan gaya hidup masyarakat pada umumnya membawa dampak terhadap perkembangan penyakit. Di Kabupaten Pati kasus penyakit tidak menular perlu mendapat perhatian, karena kasus Diabetes Melitus merupakan kasus yang menduduki rangking Hal II - 23
24 pertama dari 10 pola penyakit rawat jalan dari tahun , rata-rata pasien DM per tahun sebesar Pasien rawat jalan dan 287 pasien rawat inap.( Profil RSUD RAA Soewondo ) Masih banyaknya permasalahan kesehatan ini harus mendapat dukungan sumberdaya kesehatan yang layak. Sementara sarana dan prasarana kesehatan yang dimiliki Kabupaten Pati dapat dilihat pada Tabel 2.24 sebagai berikut : Tabel Perkembangan Sarana Prasarana Kab. Pati Tahun No Sarana dan Prasarana Kesehatan Rumah Sakit Umum Rumah Sakit Swasta Rumah bersalin Balai pengobatan Puskesmas Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Sumber : Daerah Dalam Angka Kab. Pati, 2012 Kondisi tenaga kesehatan berdasarkan rasio jumlah penduduk, Kabupaten Pati masih kekurangan tenaga kesehatan. Berikut ini rasio tenaga kesehatan per penduduk dan kebutuhan tenaga kesehatan setiap tahunnya tergambar pada Tabel 2.25 adalah sebagai berikut : Tabel Rasio Tenaga Kesehatan Kab. Pati Tahun 2011 No Tenaga Kesehatan Jumlah Target Indikator Indonesia Sehat 2010 Kebutuhan Tenaga Kesehatan/ Penduduk Kekurangan 1 Dokter spesialis 55 6/ Dokter Umum / Dokter Gigi 21 20/ Apoteker 14 10/ Tenaga Gizi 30 22/ Perawat / Bidan / Tenaga Kesmas 63 40/ Tenaga Sanitasi 31 40/ Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Pati, 2011 c. Pekerjaan Umum 1) Jalan dan Jembatan Secara geografis Kabupaten Pati memilki lokasi yang sangat strategis karena berada di jalur pantura timur Provinsi Jawa Tengah. Posisi yang sangat strategis tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Kabupaten Pati, oleh karena itu dukungan sarana dan prasarana jalan yang berkualitas serta sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan transportasi perlu mendapatkan perhatian serius. Jalur pantura yang melewati wilayah Kabupaten Pati merupakan jalan nasional dan provinsi dengan panjang jalan nasional 40,855 km dan jalan provinsi sepanjang 103,010 km Hal II - 24
25 sedangkan panjang jalan kabupaten yang menghubungkan pusat ibukota Kabupaten Pati dengan seluruh wilayah kecamatan sepanjang 812,716 km. Pada tahun 2011 dari 812,716 km panjang jalan kabupaten, sebanyak 91,96 % permukaan jalan berupa aspal, 4,18 % permukaan jalan berupa batu kerikil dan 3,89 % permukaan jalan berupa tanah. Gambaran secara rinci perkembangan jalan kabupaten berdasarkan jenis permukaan dapat disajikan dalam Tabel 2.26 berikut ini : Tabel Panjang Jalan Kabupaten Berdasarkan Jenis Permukaan Tahun No Jenis Permukaan Sat A Aspal Km 759, , , , ,338 B Kerikil Km 12,084 40,647 37,735 42,102 33,950 C Tanah Km 40,687 42,827 40,132 44,175 31,428 D Tidak Terinci Km Jumlah Km 812, , , , ,716 Sumber Data : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pati, 2011 Tabel di atas menggambarkan bahwa perkembangan jalan berdasarkan jenis permukaan baik aspal maupun kerikil pada tahun 2007 dibandingkan dengan kondisi tahun 2011 banyak mengalami peningkatan permukaan jalan. Ditinjau dari kelas jalan dapat diketahui bahwa kelas jalan II sepanjang 40,855 km, selanjutnya kelas III sepanjang 815,726 km. Rincian perkembangan kelas jalan selama tahun disajikan pada Tabel 2.27 berikut : Tabel Panjang Jalan Berdasarkan Kelas Jalan Di Kabupaten Pati Tahun No Kelas Jalan Sat Kelas II Km Kelas III Km Jumlah Km Sumber Data : Dishubkominfo Kab. Pati, 2011 Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar atau lebih dari 90% kelas jalan di Kabupaten Pati yaitu kelas III. Selanjutnya untuk mengetahui kondisi jalan kabupaten dapat disajikan dalam Tabel 2.28 berikut ini : Tabel Panjang Jalan Kabupaten Berdasarkan Kondisi Jalan Di Kabupaten Pati No Kondisi Jalan Sat A Baik Km 282, , , , ,705 B Sedang Km 388, , , , ,849 C Rusak Ringan Km 86,764 80,689 85, ,771 81,272 D Rusak Berat Km 54,938 50,251 52,513 47,765 56,890 Jumlah Km 812, , , , ,716 Sumber Data : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pati, 2011 Kondisi tersebut menggambarkan bahwa upaya Pemerintah Kabupaten Pati dalam memelihara dan meningkatkan kualitas kondisi jalan belum optimal. Apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani dengan baik akan menimbulkan dampak negatif yaitu Hal II - 25
26 meningkatnya angka kecelakaan pengguna jalan serta berpengaruh terhadap kegiatan perekonomian di Kabupaten Pati. Hal ini mengingat sarana dan prasarana jalan yang baik dapat menunjang pertumbuhan pembangunan ekonomi di Kabupaten Pati serta dapat membuka akses dalam kegiatan sektor perdagangan maupun transportasi. Jaringan jalan di Kabupaten Pati berdasarkan fungsi jalan meliputi sebagai berikut : a. Jalan Arteri Primer, adalah sepanjang jalan pantura yang melewati Kecamatan Margorejo, Kecamatan Pati, Kecamatan Juwana dan Kecamatan Batangan. Berkaitan dengan fungsi jalan arteri, pemanfaatan jalan ini untuk mengangkut hasil produksi lokal Kabupaten Pati ke beberapa daerah seperti wilayah Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten Rembang, Kabupaten Grobogan dan kota kota besar lainnya. b. Jalan Kolektor Primer, adalah jalan yang menghubungkan Kabupaten Pati dengan Kabupaten Kudus yang melalui wilayah Kecamatan Pati dan Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati dengan Kabupaten Jepara melalui wilayah Kecamatan Pati, Wedarijaksa, Kecamatan Trangkil, Kecamatan Margoyoso, Kecamatan Tayu dan Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati dengan Kabupaten Rembang melalui wilayah Kecamatan Pati, Kecamatan Juwana dan Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati dengan Kabupaten Grobogan melalui Kecamatan Pati, Kecamatan Gabus, Kecamatan Kayen dan Kecamatan Sukolilo. Pada ruas-ruas jalan arteri khususnya di Kota Pati yang berfungsi menghubungkan kota atau jalur regional namun saat ini juga berfungsi sebagai jalur internal kota. Himpitan fungsi yang demikian sedikit banyak menyebabkan jalan-jalan tersebut dipadati oleh pergerakan nasional maupun lokal, pada akhirnya kecepatan menjadi rendah. Sedangkan untuk menghubungkan Kota Semarang, Kota Surabaya maupun Jakarta merupakan jalan Nasional dengan panjang 40,855 km dalam kondisi baik. Gambaran tentang kondisi dan panjang jalan nasional, provinsi dan kabupaten disajikan pada Tabel 2.29 berikut : Tabel Panjang Jalan Berdasarkan Kewenangan di Kabupaten Pati Tahun No Kelas Sat Nasional Km 35,710 35,710 35,710 35,710 40,855 2 Propinsi Km 107, , , , ,101 3 Kabupaten Km 812, , , , ,716 4 Desa Km 341, , , , ,283 Sumber Data : BPT Bina Marga Wil. Pati Pada tahun 2011 panjang jembatan nasional 473,70 m, dan panjang jembatan provinsi 784,90 m dengan rincian seperti pada Tabel 2.30 berikut: Hal II - 26
27 Tabel Panjang Jembatan Berdasarkan Kewenangan di Kabupaten Pati Tahun No Kelas Sat Nasional M 473,70 473,70 473,70 473,70 473,70 2 Propinsi M 706,60 706,60 706,60 784,90 784,90 Sumber Data : BPT Bina Marga Wil. Pati Kondisi jembatan pada tahun 2011 jembatan nasional dalam kondisi baik 372,00 m dan jembatan provinsi dalam kondisi baik 702,40 m serta kondisi rusak pada jembatan nasional 101,70 m dan jembatan provinsi 82,50 m. 2) Persampahan Sampah merupakan permasalahan yang terjadi hamper di semua kota, termasuk Kabupaten Pati. Volume sampah terangkut di Kabupaten Pati tahun 2007 sebanyak 193 m³/hari (96,36%) pada tahun 2008 volume sampah terangkut menurun menjadi 240 m³/hari (96%) dan pada tahun 2009 volume sampah terangkut sebanyak 240 m³/hari (96%) dan pada tahun 2010 volume sampah terangkut menjadi 240 m³/hari (96%). Selanjutnya pada tahun 2011 sampah terangkut sebesar 240 m³/hari ( 96% ). Sistem pengolahan sampah di Kabupaten Pati menggunakan dua sistem yaitu sistem pengolahan sampah on-site (pengolahan pada lokasi) atau cara tradisional (dibakar atau ditimbun) dan sistem pengolahan sampah off-site (pengolahan secara teratur). Selama ini pengelolaan sampah yang tidak terangkut lebih banyak dilakukan dengan sistem on-site. Selanjutnya berpedoman pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, khususnya pasal 44 maka Pemerintah Kabupaten Pati dalam melaksanakan tempat pengelolaan sampah dengan sistem pembuangan terbuka (open dumping) akan diarahkan dan diupayakan pada sistem pengolahan tertutup (sanitary landfill). Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Pati dalam meningkatkan pelayanan pengelolaan sampah tidak terlepas dari dukungan sarana dan prasarana pengolahan sampah. Jumlah truk pengangkut sampah pada tahun 2007 sebanyak 8 unit, tahun 2011 menjadi 12 unit. Truk container tahun juga mengalami peningkatan yaitu sebanyak 8 unit, gerobak sampah tahun mengalami naik menjadi sebanyak 73 unit, fasilitas TPS sebanyak 27 unit tahun 2007 naik menjadi 30 unit tahun 2011, fasilitas TPA sebanyak 3 unit. Secara lengkap gambaran sarana dan prasarana pengolahan sampah disajikan pada Tabel 2.31 berikut ini : Hal II - 27
28 No Tabel Sarana dan Prasarana Pengolahan Sampah Di Kabupaten Pati Tahun Sarana dan Prasarana Pengolahan Sampah Sat Truk sampah Unit Truk Container Unit Truk Tinja Unit Container Unit Gerobak sampah Unit TPS Unit TPA Unit Transfer Depo Unit Inst. Pengolahan Limbah Unit Sumber Data : DPU Kab. Pati Kegiatan industri, perdagangan maupun rumah tangga memberikan kontribusi terhadap jenis dan volume sampah di Kabupaten Pati, persentase terbesar jenis sampah yaitu sampah organik mencapai 65,75 % pada tahun 2011, sampah plastik mencapai 11 %, sampah kayu 1,50 %, sampah kertas 7,20 %, sampah gelas/kaca sebesar 1,15 %, sampah kain sebesar 1,10 % dan sampah jenis logam/metal mencapai 0,70 %. Tabel Persentase Komposisi Sampah Di Kabupaten Pati Tahun No Persentase Komposisi Sampah Sat Kertas % 8,60 8,70 8,73 7,30 7,30 2 Kayu % 2,10 1,50 9,23 1,50 1,50 3 Kain % 1,10 1,10 1,27 1,10 1,10 4 Karet/kulit % 1,30 1,30 11,6 1,30 1,30 5 Plastik % 12,10 12,10 12, Metal/logam % 1,30 1,20 2,77 0,70 0,70 7 Gelas/kaca % 1,20 1,15 1,17 1,15 1,15 8 Organik % 69,50 70,05 67,93 65,75 65,75 9 Lain-lain % 2,80 2,90 3,20 10,20 10,20 Sumber Data : Dinas Pekerjaan Umum Kab Pati, 2011 Produksi sampah di Kabupaten Pati sampai tahun 2010 sebanyak 250 m³/hari, dengan volume sampah terangkut sebanyak 240 m³/hari. Volume sampah ini mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya ( ) sebagaimana pada Tabel Dilihat dari komposisinya, jenis sampah yang paling dominan adalah sampah organik (65,75 %) dan lainnya berupa sampah plastik (11 %), kertas (7,30 %), kain (1,10%), kayu (1,50 %), karet/kulit (1,30 %), metal/logam (0,70 %), gelas/kaca (1,15%) dan lain-lain (10,20 %). Komposisi sampah plastik telah mencapai 11 %, menunjukkan bahwa penggunaan plastik sudah menjadi kebiasaan masyarakat yang perlu dikendalikan, karena sifatnya tidak dapat diuraikan. Untuk mendukung pengelolaan sampah, sarana dan prasarana yang tersedia antara lain Tempat Penampungan Akhir (TPA) yang berlokasi Hal II - 28
29 di Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo seluas ha; Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sebanyak 30 unit; truk sampah sebanyak 13 unit dan gerobak sampah sebanyak 85 unit. 3) Drainase Panjang drainase sekunder di Kabupaten Pati tahun 2010 untuk jenis drainase sekunder tertutup sepanjang 280 m, dan drainase lingkungan terbuka sepanjang m. Tahun panjang drainase di Kabupaten Pati tidak menunjukkan peningkatan, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.33 berikut ini : Tabel Panjang Drainase Kabupaten Pati Tahun No Keterangan Drainase sekunder Tertutup 2 Drainase Lingkungan Terbuka Sumber Data : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pati, m 280 m 280 m 280 m 280 m m m m m m 4) Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Pati mempunyai ketersediaan air cukup memadai, namun tidak tersedia secara merata sepanjang tahun. Berdasarkan siklus, 73 % air tersedia pada musim hujan dan 27 % air tersedia pada musim kemarau. Selain itu beberapa DAS yang memiliki peran penting dalam penyediaan sumber air sebagian telah mengalami kerusakan fungsi daerah tangkapan dan resapan air. Perkembangan fisik wilayah telah memberikan dampak pada terjadinya alih fungsi lahan pertanian, secara regional kebutuhan air menuntut adanya pengelolaan sumber daya air yang baik untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Wilayah Kabupaten Pati memiliki 1 sungai yang masuk dalam kategori sungai strategis nasional sepanjang 46,72 km, Sementara itu sungai yang dikelola kabupaten 95 buah, dengan total panjang 1201,3 km, terbagi atas Anak Sungai Tayu sebanyak 3 buah dengan panjang 104,70 km, Anak Sungai Suwatu sebanyak 2 buah dengan panjang 12,40 km. Sungai wilayah Kota Pati sebanyak 4 Buah, dengan panjang 29,60 km. Secara umum potensi air irigasi di bagian utara sedang, di bagian timur cukup, di bagian selatan sedang-cukup, di bagian barat sedang dan dibagian tengah cukup. Untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan persawahan Kabupaten Pati memiliki 274 Daerah Irigasi/DI besar yaitu Daerah Irigasi DI. Cabean, DI. Glintiran, DI. Jeruk, dan DI. Gabus. Jumlah saluran induk sebanyak 18,226 m saluran induk, selanjutnya jumlah saluran sekunder yang terdapat di 274 daerah irigasi besar tersebut sebanyak ± 325 saluran sekunder dengan total luas sawah yang dialiri seluas Ha. Hal II - 29
30 Keberadaan sumberdaya air penting untuk dikelola dengan baik agar terus menerus memberikan manfaat dalam jangka panjang. Pembangunan prasarana sumber daya air diarahkan untuk mewujudkan fungsi air sebagai sumber daya sosial (sosial goods) dan sumber daya ekonomi (economic goods) yang seimbang melalui pengelolaan terpadu, efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan. Sistem prasarana pengairan di Kabupaten Pati diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air pertanian, untuk permukiman (air bersih) dan industri. Prasarana pengairan di Kabupaten Pati digunakan untuk irigasi dan penyediaan air bersih. Prasarana pengairan tersebut meliputi : daman, saluan irigasi, dan embung. Masing-masing memiliki peran tersendiri, seperti : daman (chek dam) dan saluran irigasi digunakan untuk mengairi sawah. Sedangkan embung yang tersebar di Kabupaten Pati sebagian besar digunakan untuk penyedia (supply) air bersih yang dikelola oleh PDAM dan sebagian lainnya untuk pengairan irigasi. Air merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan seharihari masyarakat. Oleh karena itu, sumberdaya air penting untuk dikelola sehingga dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Untuk dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat dari sumber air ke lokasi persawahan dibutuhkan saluran irigasi primer dan sekunder. Panjang saluran irigasi primer Kabupaten Pati pada tahun 2011 memiliki panjang m dengan kondisi baik sepanjang m, rusak ringan sepanjang m dan rusak berat sepanjang m. Selanjutnya gambaran kondisi dan panjang saluran irigasi primer dapat disajikan dalam Tabel 2.34 berikut : Tabel Panjang dan Kondisi Saluran Irigasi Primer Kab. Pati No Keterangan Sat Panjang saluran M irigasi primer 2 Baik M Rusak ringan M Rusak berat M Sumber Data : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pati,2011 Data pada Tabel di atas menunjukkan bahwa upaya Pemerintah Kabupaten Pati dalam meningkatkan produksi hasil pertanian mendapat kendala karena masih banyak saluran irigasi yang rusak. Hal ini dapat dilihat dari kerusakan saluran irigasi primer tiap tahun. Hal ini terbukti tingkat kerusakan mencapai 20 % dari total panjang saluran irigasi primer, demikian juga kondisi saluran irigasi sekunder sebagian besar dalam kondisi rusak, namun pada tahun 2011 terjadi peningkatan kondisi irigasi baik menjadi m. Gambaran kondisi dan panjang saluran irigasi sekunder dapat dilihat pada Tabel 2.35 berikut : Hal II - 30
31 Tabel Panjang dan Kondisi Saluran Irigasi Sekunder Kab. Pati No Kondisi Sat Panjang Saluran M Irigasi Skunder 2 Baik M Rusak ringan M Rusak berat M Sumber Data : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pati, 2011 Pembangunan DAM diharapkan dapat mengurangi tingkat sedimentasi dan mencegah terjadinya banjir. Jumlah dam di Kabupaten Pati dengan kondisi rusak berat lebih dari 7.% pada tahun 2010, pada tahun 2011 terjadi penurunan dam yang mengalami kerusakan menjadi 6 %. Tingginya kerusakan dam disebabkan oleh beberapa faktor antara lain usia banguan, penambangan pasir secara liar disekitar dam serta daya dukung lingkungan di sekitar dam sangat rendah. Rendahnya daya dukung lingkungan seperti tanaman keras maupun talud mengakibatkan beberapa bantaran sungai disekitar dam mengalami longsor. Rincian kondisi dan jumlah dam yang rusak dapat disajikan dalam Tabel 2.36 berikut : Tabel Persentase Kondisi DAM Kab. Pati No Jumlah DAM Sat Baik % Rusak ringan % Rusak berat % Jumlah % Sumber Data : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pati, 2011 Potensi lain terkait dengan sumberdaya air di Kabupaten Pati yaitu embung. Jumlah embung di Kabupaten Pati tahun 2011 sebanyak 38 unit dengan kondisi 15 % mengalami kerusakan ringan dan 10 % mengalami kerusakan berat. Rusaknya potensi embung yang cukup besar sangat berdampak terhadap penyediaan air baku untuk pertanian maupun untuk keperluan yang lain seperti terlihat pada Tabel 2.37 berikut: Tabel Jumlah dan Kondisi Embung Kab. Pati No Kondisi Sat Baik Buah Rusak ringan Buah Rusak berat Buah Jumlah Buah Sumber Data : Profil Daerah Kab. Pati, ) Air Bersih dan Air Limbah Persentase proporsi rumah tangga dengan akses sarana air minum di perkotaan tahun 2008 sebesar 40,20 % menjadi 34,47 % pada tahun Hal II - 31
32 Sementara itu sistem air limbah di Kabupaten Pati hingga saat ini masih ditangani secara individu oleh tiap-tiap rumah tangga dan masing-masing industri (industri rumah tangga). Air limbah rumah tangga langsung dibuang ke saluran pembuangan/selokan. Untuk industri, sebagian kecil memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), air sebelum dibuang ke perairan umum diolah di dalam unit dulu. d. Perumahan Perumahan menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan. Berdasarkan kondisi fisiknya bangunan rumah dibedakan menjadi 3 yaitu rumah permanen, semi permanen dan non permanen. Jumlah rumah permanen di Kabupaten Pati tahun 2007 sebesar dan mengalami pertumbuhan di tahun 2011 menjadi unit. Sementara itu untuk rumah non permanen tahun 2007 sebesar unit, meningkat menjadi unit tahun Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.38 sebagai berikut : Tabel Rumah Berdasarkan Kondisi Fisik Bangunan Kab. Pati No. Indikator Jumlah Rumah Permanen (unit) Jumlah Rumah Non Permanen (unit) Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pati, 2011 Di Kabupaten Pati jumlah rumah yang telah ber-imb tahun 2007 sebanyak 807 unit, tahun 2008 meningkat 737 unit, tahun 2009 meningkat 286 unit, tahun 2010 meningkat 396 unit dan tahun 2011 meningkat 287 unit. Komposisi antara rumah yang ber-imb antara rumah pada perumahan maupun rumah swadaya seimbang, seperti terlihat pada Tabel 2.39 berikut : Tabel Jumlah Rumah Ber-IMB Kab. Pati No. Jenis Rumah Perumahan Umum/Swadaya Jumlah Sumber : KPPT Kab. Pati, 2011 e. Tata Ruang Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan penataan ruang. Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengamanatkan setiap kabupaten/kota untuk menyusun rencana umum dan rencana rinci tata ruang. Rencana umum tata ruang Kabupaten Pati telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Hal II - 32
33 Pati Nomor 5 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pati Tahun RTRW Kabupaten Pati memuat tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang, arahan pemanfaatan ruang, ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten, serta ketentuan umum peraturan zonasi. Kebijakan pemanfaatan ruang meliputi arahan lokasi dari kawasan yang harus dilindungi, lokasi pengembangan kawasan budidaya termasuk kawasan produksi dan kawasan permukiman, pola jaringan prasarana dan wilayah-wilayah yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam kurun waktu perencanaan. Sebagai landasan operasional dalam pengendalian pemanfaatan ruang, khususnya proses perizinan diperlukan rencana tata ruang yang bersifat lebih rinci / detail terutama pada kawasan perkotaan dan strategis, serta kawasan yang diarahkan menjadi kawasan perkotaan, yaitu dalam bentuk rencana detail tata ruang dan peraturan zonasi. Ada 9 kecamatan atau kawasan perkotaan di Kabupaten Pati yang telah disusun RDTR-nya. Namun beberapa diantaranya masih memerlukan revisi dan dilengkapi dengan peraturan zonasi. Selain rencana rinci tata ruang, diperlukan aturan turunan lainnya dari RTRW Kabupaten Pati berupa Peraturan Daerah tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, sesuai amanat Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. f. Perencanaan Pembangunan Pendekatan baru dalam perencanaan pembangunan daerah, dilaksanakan sejak berlakunya UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan UU No. 32 tahun 2004 juncto UU No. 12 tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah. Berdasarkan amanat kedua undang-undang tersebut pemerintah kabupaten/kota wajib menyusun dokumen perencanaan pembangunan daerah jangka panjang (20 tahun), jangka menengah (lima tahun) dan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) untuk kegitan tahunan serta penjabarannya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pada tahun 2010 bersamaan dengan ditetapkannya RPJMN , dikeluarkan surat edaran bersama tiga menteri, yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan pada tanggal 31 Maret 2010 tentang pentingnya Penyelarasan RPJMD dengan RPJMN , terutama pencapaian sasaran prioritas pembangunan yang telah tercantum dalam programprogram RPJMN yang memerlukan dukungan dari pemerintah kabupaten/kota, termsuk Kabupaten Pati. Penyelarasan tersebut merupakan pendekatan keterpaduan antara RPJMN , RPJMD Provinsi Jawa Tengah dengan RPJMD kabupaten/kota dalam menyelesaikan permasalahan dan masalah mendesak. Selain itu, perlu diperhatikan arahan Inpres No. 1 tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Hal II - 33
34 Pembangunan Nasional Tahun 2010, terdiri dari 14 program prioritas pembangunan dan percepatan penyelesaian masalah mendesak di daerah. Arahan kebijakan dalam Inpres No. 3 tahun 2010 tentang Program Pembangunan Nasional Berkeadilan, mengamanatkan bahwa pemerintah daerah, termasuk Kabupaten Pati memberikan andil bagi pencapaian Tujuan Pendidikan untuk Semua (PUS), pencapaian RAD-PG dan tujuan Pembangunan Millenium (MDG s) tahun Sehubungan dengan pelaksanaan Pemilukada ( Pemungutan Suara Ulang) di Kabupaten Pati tahun 2012, maka perlu disusun RPJMD Kabupaten Pati sesuai dengan masa jabatan bupati terpilih. Penyusunan rencana pembangunan daerah di Kabupaten Pati yang tertuang dalam RPJMD (jangka waktu 5 tahun) akan semakin sulit, mengingat dinamika perubahan lingkungan strategis yang dinamis, terutama kebijakan nasional, perubahan regional berlakunya pasar bebas Asean-China (C-AFTA) tahun 2010 menjadikan perubahan sosial, ekonomi dan politik sulit diprediksi. Masalah lain dalam penyusunan rencana pembangunan adalah adanya ketidaklengkapan data, informasi yang akurat dan lengkap, serta pilah gender. Data dasar pendukung perencanaan pembangunan berupa data statistik, hasil monitoring dan evaluasi, serta hasil penelitian belum cukup memadai mendukung perencanaan pembangunan yang ideal. Kelengkapan data dan informasi yang ada dirasakan kurang untuk mempertajam isu trategis, perhitungan dan prediksi perubahan lima atau sepuluh tahun mendatang, karena perubahan lingkungan strategis dan kebijakan nasional yang dinamis. Meskipun dalam kondisi terbatas, Pemerintah Kabupaten Pati, telah memiliki data pendukung perencanaan daerah, berupa Sistem Informasi Profil Daerah, PDRB Kabupaten Pati, Kabupaten Pati Dalam Angka, Dokumen Evaluasi kegiatan yang telah disusun oleh Bappeda dan berbagai dokumen yang dapat menggambarkan profil masing-masing urusan kewenangan sesuai dengan PP Nomor 38 tahun Mekanisme perencanaan pembangunan di Kabupaten Pati telah dilakukan secara partisipasif melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan dari Tingkat desa/kelurahan sampai di tingkat Kabupaten dengan melibatkan stakeholder pembangunan daerah, baik SKPD, tokoh masyarakat, kalangan dunia usaha, serta asosiasi/organisai profesi. Pelibatan stakeholder tersebut dilakukan dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah berupa RPJPD, RPJMD dan RKPD. Langkah tersebut sesuai dengan PP No. 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Demikian pula, dalam proses menyusun dokumen perencanaan bersifat sektoral, antara lain perencanaan pembangunan ekonomi, sosial budaya, kepariwisataan, tata ruang wilayah, prasarana wilayah dan sumberdaya alam serta kesetaraan gender, melibatkan partisipasi stakeholder pembangunan daerah, Hal II - 34
35 agar dokumen perencanaan tersebut menampung aspirasi dan kepentingan masyarakat dan dinamika perubahan lingkungan strategis. Selain itu, pemerintah Kabupaten Pati menyusun dokumen perencanaan yang bersifat sektoral sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang teknis, yaitu Penyusunan RTRW Kabupaten Pati sesuai dengan amanat UU No. 26 tahun 2007 tentang Tata Ruang, Pengelolaan Kawasan Pantai sebagaimana diamantakan dalam UU No. 24 tahun 2007 tentang Pengurangan Resiko Bencana, Perencanaan Tenaga Kerja Daerah (amanat UU No.13 tahun 2005 tentang Ketenakerjaan) dan lain-lain. Untuk menjamin pelaksanaan pembangunan sesuai dengan yang direncanakan, maka dilaksanakan monitoring dan evaluasi pembangunan, baik oleh internal SKPD pengawas maupun DPRD Kabupaten Pati. Hasil monitoring dan evaluasi ini digunakan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan periode berikutnya. Setiap tahun dilakukan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan daerah. Hasil monitoring dan evaluasi ini juga digunakan untuk bahan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Pati kepada DPRD. g. Perhubungan Prasarana perhubungan dapat merupakan salah satu prasarana yang sangat penting dalam mendukung percepatan pembangunan di Kabupaten Pati. Prasarana perhubungan darat di Kabupaten Pati memudahkan penduduk melakukan mobilitas ke tempat lain. Di Kabupaten Pati pada tahun 2011 terdapat 1 buah terminal tipe B dan 3 buah terminal tipe C. Terminal tipe C Kabupaten Pati berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan pedesaan, meliputi terminal Kecamatan Tayu, Kecamatan Juwana dan Kecamatan Kayen Pelayanan pergerakan antar daerah di Kabupaten Pati dilayani oleh Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), dan kendaraan umum berupa angkutan pedesaan, serta angkutan tidak bermotor (becak dan dokar). Jumlah bus AKAP tahun menunjukkan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2007 jumlah bus AKAP sebanyak 63 unit dan tidak mengalami peningkatan sampai dengan tahun Sementara itu untuk perkembangan bus AKDP tahun 2007 terdapat 131 bus dan tidak mengalami peningkatan sampai dengan tahun 2011 seperti terlihat pada Tabel 2.40 berikut: Tabel Sarana dan Prasarana Transportasi Darat Kab. Pati (Unit) Indikator Transportasi Darat 1). Terminal - Kelas A Kelas B ` Kelas C ). Bus AKAP ). Bus AKDP Sumber : Dishubkominfo Kab. Pati, 2011 Hal II - 35
36 Pelayanan angkutan penumpang di Kabupaten Pati masih banyak dikeluhkan oleh masyarakat dan sering mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Angkutan penumpang ini juga perlu dilakukan pengelolaan terminal yang baik, guna meningkatkan aksesibilitas naik turunnya penumpang dan dalam meningkatkan integasi antar terminal dan angkutan penghubung lainnya. Selain angkutan umum Kabupaten Pati juga dilintasi oleh kendaraan angkutan barang. Angkutan ini berkontribusi terhadap kerusakan jalan dan jembatan, serta kemacetan lalu lintas. Saat ini masih banyak angkutan barang yang membawa muatan melebihi daya angkut sehingga menambah beban pada jalan. Selain itu angkutan barang juga sering berhenti di sembarang tempat sehingga berpotensi menghambat lalu lintas jalan. Untuk jumlah kendaraan yang telah melakukan wajib uji di Kabupaten Pati tahun cenderung mengalami peningkatan kecuali mobil non bus umum yang mengalami penurunan. Jumlah bus umum yang telah melakukan wajib uji tahun 2007 sebanyak 630 unit, tahun 2011 meningkat menjadi 453 unit. Mobil non bus umum yang telah melakukan wajib uji tahun 2007 sebanyak 49 unit, meningkat menjadi 162 unit tahun Truk umum tahun 2007 sebanyak 315 unit yang telah melakukan wajib uji, meningkat menjadi unit tahun Truk non umum yang telah melakukan wajib uji tahun 2007 sebanyak unit, kemudian meningkat menjadi unit pada tahun h. Lingkungan Hidup Kualitas udara ambien di Kabupaten Pati tercatat pada tahun 2007 menghasilkan uji kualitas udara di beberapa titik, konsentrasi debu (partikulat) pada udara berkisar antara µg/m³. Pada sebanyak 5 titik konsentrasi debu telah melebihi baku mutu udara sebagaimana diatur dalam Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 8 tahun 2001 tentang baku mutu udara (230 µg/m³), yaitu di TPA Pati, Alun-alun Tayu, Alun-alun Juwana, Pertigaan Gemeces, Perempatan Puri. Sementara itu konsentrasi SO2 di semua titik sampling berkisar antara 2,4-40 µg/m³ atau masih di bawah baku mutu kualitas udara sebesar 632 µg/m³. Untuk parameter NO₂, CO, OX dan HC di semua titik sampling juga masih memenuhi standar baku mutu udara. Hasil pengujian tersaji dalam Tabel 2.41 berikut : Tabel Hasil Pengujian Udara Ambient Kab. Pati Tahun 2011(µg/m 3 ) No. Parameter Kawasan Perumahan Kawasan Industri Kawasan Padat Kendaraan Bermotor 1 NO2 17,79 20,11 35,74 2 SO2 164,59 3,213 31,91 3 CO 507,80 33,31 232,71 4 HC TSP 78,97 283,4 165,47 Sumber : BLH Kab. Pati, 2011 Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sangat penting dalam upaya pencegahan pencemaran udara di Kabupaten Pati. Luas RTH permukiman, industri, pusat perdagangan dan lokasi padat lalu lintas hanya 0,36 % dari luas wilayah Kabupaten Pati dan terdapat Hal II - 36
37 hutan kota seluas 7,74 Ha. Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau di Kabupaten Pati masih sangat kurang jika dibandingkan jumlah penduduk Kabupaten Pati yang mencapai jiwa (2011). Di Kabupaten Pati terdapat sebanyak 8 kawasan penyangga atau kawasan yang ditetapkan untuk menjaga kelestarian sumberdaya air, 8 kawasan tersebut berada di wilayah Kecamatan Sukolilo, Gembong, Tlogowungu, Cluwak, Gunung wungkal, Kayen, Pucakwangi dan Kecamatan Margorejo. Saat ini kawasan penyangga ini mengalami perubahan fungsi lahan yang dapat mempengaruhi fungsinya dalam menjamin ketersediaan sumberdaya air bagi penduduk. Luas lahan kritis di Kabupaten Pati menunjukkan peningkatan dari seluas ha pada tahun 2007 menjadi Ha pada tahun Masih banyaknya lahan kritis ini dapat mempengaruhi daya serap tanah terhadap air hujan, sehingga mempengaruhi kuantitas sumberdaya air. Hutan lindung Kabupaten Pati tersebar di Kecamatan Gembong, Gungungwungkal, cluwak dan Kecamatan Tlogowungu dengan luas keseluruhan kurang lebih sebesar 2681,6 ha. Jumlah mata air yang terdapat di kawasan hutan lindung sebanyak 75 buah, dengan debit berkisar liter/detik. Mata air yang memiliki debit terbesar adalah mata air Jrahi di Desa Jrahi Kecamatan Gunungwungkal dengan debit air mencapai 100 liter/detik. Dari keseluruhan mata air yang ada di kawasan hutan lindung, mata air yang dilindungi dari pencemaran dan penurunan debit air baru mencapai 30 %. Perlindungan sumber mata air sementara ini lebih diprioritaskan pada mata air yang memiliki debit air besar. Data mata air di kawasan hutan lindung Kabupaten Pati dapat dilihat pada Tabel 2.42 berikut : Tabel Mata Air di Kawasan Hutan Lindung Kab. Pati Tahun 2011 Debit Nama Mata Air Lokasi Mata Air (liter/detik) Sumber air Jrahi Sumber air Prawoto Kec. Gunungwungkal Kec Sukolilo Sumber : BLH Kab. Pati, 2011 Jumlah mata air di luar hutan lindung Kabupaten Pati pada tahun 2010 sebanyak 31 buah. Mata air tersebar di 6 Kecamatan, yaitu Kecamatan Sukolilo, (7 buah), Kecamatan Kayen (6 buah), Kecamatan Tambakromo (5 buah), Kecamatan Winong (5 buah), Kecamatan Pucakwangi (4 buah) dan Kecamatan Jaken (4 buah ) dengan debit antara liter/detik. Mata air yang memiliki debit air terbesar semuanya berada di Desa Prawoto Kecamatan Sukolilo (40 liter/detik), mata air Ds. Purwokerto (35 liter/detik). Mata air di luar hutan lindung belum seluruhnya dilakukan perlindungan dari pencemaran dan penurunan debit air, baru sebanyak 60 %. Hal II - 37
38 Pencemaran air pada tahun 2010 di Kabupaten Pati sudah cukup mengkhawatirkan. Beberapa sungai teridentifikasi telah tercemar (diatas baku mutu air kelas II sesuai PP No. 82 tahun 2001), yaitu : 1) Sungai Jiglong : BOD ( 18 ), COD ( 40 mg/l ) 2) Sungai Sani : BOD ( 11 mg/l ), COD ( 30 mg/l ) Pencemaran air sungai tersebut di atas disebabkan oleh aktivitas industri/umkm. Sampai dengan tahun 2011 jumlah usaha/kegiatan yang mentaati persyaratan administratif dan teknis pengendalian pencemaran air sebanyak 5 industri besar dan belum ada industri kecil. Upaya penanganan pencemaran dan kerusakan lingkungan selama ini dilakukan dengan menindaklanjuti laporan masyarakat. Pada tahun 2011 laporan adanya pencemaran dan kerusakan lingkungan dari masyarakat sebanyak 14 kasus dan telah ditindaklanjuti ( 100 %). Dalam rangka pemulihan pencemaran air pada sumber air, sampai dengan tahun 2011 telah dilakukan upaya pemulihan sumber air melalui program penyelamatan sumber mata air. Tahap yang dilakukan baru pada tahap identifikasi sumber air yang tercemar dan upaya pencegahan pencemaran air, yaitu program Kali Bersih di Sungai Jiglong, Sungai Lengkowo dan Sungai Sani. i. Pertanahan Bidang pertanahan mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan daerah dan memiliki fungsi ekonomis dan sosial. Karena mengandung fungsi ekonomis dan sosial maka kepemilikan tanah perlu dibuktikan memlalui sertifikat kepemilikan tanah dengan status yang jelas. Bukti kepemilikan tanah tersebut anatara lain sertifikat tanah dengan status Hak Milik (HM), Hak Guna Bangunan (HGB) dan Hak Pakai (HP). Jumlah petak tanah yang bersertifikat diterbitkan oleh Badan Pertanahan Kabupaten Pati untuk jenis sertifikat Hak Milik (HM) pada tahun 2007 sampai dengan 2009 mengalami kenaikan yang fluktuatif, pada tahun 2007 sebanyak sertifikat HM yang diterbitkan, pada tahun 2008 jumlah sertifikat HM yang diterbitkan sebanyak sertifikat HM dan selanjutnya pada tahun mengalami penurunan 2009 sebanyak sertifikat HM. Untuk jenis sertifikat Hak Pakai (HP) selama secara umum meningkat tiap tahunnya. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2009 dengan jumlah sertifikat HP yaitu sebanyak 38 sertifikat. Secara rinci jumlah sertifikat yang diterbitkan selama lima tahun di Kabupaten Pati dapat disajikan dalam Tabel 2.43 berikut ini : Tabel Jumlah Petak Yang Bersertifikat Kab. Pati Tahun N o Jenis Sertifikat Tanah Petak Hak milik buah Hak Pakai buah Hak Guna Bangunan Sumber Data : Profil Kab.Pati, 2011 buah Hal II - 38
39 Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar jenis sertifikat tanah yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Kabupaten Pati adalah jenis sertifikat Hak Milik (HM), hal ini menunjukkan bahwa kesadaran dan tingkat pemahaman masyarakat tentang pentingnya sertifikat status kepemilikan tanah semakin meningkat, dengan meningkatnya kesadaran dan pemahaman tersebut diharapkan dapat berimplikasi terhadap menurunnya konflik atau sengketa atas kepemilikan tanah di Kabupaten Pati. Dalam penyelenggaraan pembangunan di bidang pertanahan, pemerintah Kabupaten Pati mempunyai kewenangan, hal ini sesuai dengan amanat Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional Bidang Pertanahan. Dalam pasal 2 ayat (2) kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam bidang pertanahan adalah 1) pemberian ijin lokasi; 2) penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan; 3) penyelesaian sengketa tanah garapan; 4) penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan; 5) penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee; 6) penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat; 7) pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong; 8) pemberian ijin membuka tanah dan 9) perencanaan penggunaan tanah wilayah kabupaten/kota. Sesuai dengan kewenangan tersebut, maka peran pemerintah kabupaten/kota sangat penting dan strategis dalam meningkatkan status tanah yang mempunyai kekuatan hukum serta mengantisipasi munculnya permasalahanpermasalahan atau konflik di bidang pertanahan. j. Kependudukan dan Catatan Sipil Penduduk sebagai salah satu modal dasar pembangunan memiliki peranan yang sangat penting, sebab penduduk juga bertindak sebagai sumberdaya yang penting dalam pelaksanaan pembangunan. Jumlah penduduk di Kabupaten Pati berdasarkan data 2011 sebanyak jiwa dengan komposisi laki-laki sebanyak jiwa (48,60%) dan perempuan sebanyak jiwa (51,39%), dapat dilihat Tabel 2.44 berikut ini: Tabel Komposisi jumlah penduduk berdasar jenis kelamin Kab. Pati Tahun No Tahun Luas Wilayah (Km 2 ) Laki-Laki KAB. PATI Perempuan Jumlah Penduduk (jiwa) Kepadatan Penduduk per Km , , , Sumber Data : Profil Kab.Pati, 2011 Tingkat kepadatan penduduk pada tahun terakhir 797 jiwa/km², angka tersebut menunjukkan bahwa kepadatan penduduk masih relatif rendah, kemudian angka migrasi masuk selama tiga tahun terakhir sebanyak orang dengan rata-rata orang/tahun Hal II - 39
40 dan angka migrasi keluar selama tiga tahun sebanyak orang dengan rata-rata orang/tahun. Proporsi persebaran penduduk Kabupaten Pati tahun 2011 adalah 8,11% tinggal di kawasan perkotaan yaitu wilayah Kecamatan Pati, sedangkan selebihnya tinggal di kawasan pedesaan sebesar 91,89 %. Persebaran tersebut mengindikasikan bahwa terjadi transformasi tempat tinggal dan peningkatan mobilitas serta dinamisasi tempat tinggal yang berarti secara makro menunjukkan peningkatan perkembangan wilayah di Kabupaten Pati. Meningkatnya pertumbuhan penduduk memberikan dampak yang cukup besar antara lain peningkatan pelayanan di berbagai bidang pembangunan baik kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan dan pelayanan administrasi kependudukan dan catatan sipil. Berdasarkan data pelayanan administrasi kependudukan dan pencatatan sipil selama lima tahun dapat disajikan dalam Tabel 2.45 berikut ini : Tabel Jumlah Kepala Keluarga, Penduduk Wajib KTP, Kepemilikan KTP, Pemohon Akta Kelahiran dan Kepemilikan Akta Kelahiran Kab. Pati N o Uraian Kepala Keluarga(KK) 2 Penduduk Wajib KTP Kepemilikan KTP Kepemilikan Akte Kelahiran Sumber Data : Dispendukcapil Kab.Pati, 2011 Berdasarkan kondisi tersebut, maka dapat diketahui bahwa pelayanan KTP dan akte kelahiran sudah berjalan dengan baik, namun belum mencapai target maksimal. Hal ini dikarenakan masih menghadapi kendala-kendala antara lain belum optimalnya dukungan sarana dan prasarana kependudukan dan catatan sipil serta tingkat kesadaran masyarakat untuk tertib administrasi kependudukan dan catatan sipil belum sesuai harapan. Oleh karena itu peningkatan kualitas penyelenggaraan pelayanan kependudukan dan catatan sipil mempunyai nilai yang sangat strategis. Hal ini mengingat penyelenggaraan pelayanan kependudukan dan catatan sipil mempunyai peran sangat penting dan dibutuhkan masyarakat, tuntutan dan harapan masyarakat akan meningkatnya kualitas pelayanan administrasi kependudukan dan catatan sipil semakin besar, oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi permasalahan tersebut antara lain dengan peningkatan kemampuan aparat serta dukungan sistem administrasi kependudukan dan catatan sipil yang lebih handal, cepat dan akurat. Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 bahwa Kabupaten Pati dijadikan salah satu Pilot Project penerapan KTP elektronik (e-ktp) dari 197 kabupaten/kota se Indonesia, serta berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan KTP berbasis NIK secara nasional, sebagaimana telah Hal II - 40
41 diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan KTP berbasis NIK secara nasional dan Peraturan Menteri dalam negeri Nomor 9 Tahun 2011 tentang pedoman penerbitan Kartu Tanda Penduduk berbasis Nomor Induk Kependudukan secara nasional. k. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Berdasarkan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional sebagai arahan kebijakan bagi pemerintah daerah untuk mewujudkan pemberdayaan perempuan dan menjawab perkembangan global tentang kesetraan dan keadilan gender. Indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak adalah Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) dengan nilai terendah 60 dan 51. Hasil perhitungan IPG merupakan hasil nilai komposit Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terpilah laki-laki dan perempuan meliputi tiga indikator, yaitu : angka harapan hidup (tahun), angka melek huruf (%), angka lama sekolah (tahun) dan tingkat pendapatan (Rp). Sementara Indeks Pemberdayaan Perempuan (IDG) diketahui dari hasil perhitungan besarnya persentase (%) perempuan di parlemen lokal (DPRD), persentase perempuan bekerja profesional, persentase perempuan dalam angkatan kerja, dan upah pekerja perempuan dalam sektor non pertanian (Rp) per bulan. Peningkatan kesejahteraan masyarakat sangat terkait erat dengan kesetaraan laki-laki dan perempuan yang dapat diketahui dari tingkat pencapaian kesetaraan dan keadilan gender diukur melalui indikator Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). Di Kabupaten Pati selama kurun waktu angka IPG menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Besarnya IPG tahun 2008 sebesar 62,96 meningkat menjadi 63,58 pada tahun 2010 atau meningkat sebesar 0,98 selama 3 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat dari aspek kesetaraan gender mengalami peningkatan, terutama meningkatnya pendidikan, angka melek huruf. Walaupun peningkatan tersebut masih di bawah rata-rata Provinsi Jawa Tengah tahun 2008 sebesar 64,6. Rendahnya IPG di Kabupaten Pati menunjukkan masih adanya kesenjangan atau diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. IDG menggambarkan partisipasi dan prestasi perempuan di parlemen, persentase perempuan pekerja professional, persentase perempuan dalam angkatan kerja dan upah pekerja perempuan dalam sektor non pertanian. Besarnya nilai IDG di Kabupaten Pati tahun meningkat cukup baik pada tahun 2008 IDG Kabupaten Pati sebesar 50,6 meningkat menjadi 61,4 pada tahun Hal yang perlu mendapat perhatian dalam peningkatan IDG adalah masih rendahnya keterwakilan perempuan di parlemen (14%) Hal II - 41
42 atau 7 orang perempuan yang menjadi anggota DPRD pada periode dan angkatan kerja perempuan (2007) sebesar 21%, hal ini disebabkan tingkat pendidikan dan keterampilan perempuan masih rendah dan persentase perempuan yang bekerja secara profesional. Masih lebih banyak kaum perempuan yang bekerja di sektor domestik, menganggur atau menjadi ibu rumah tangga (sebesar 19%) merupakan potensi sumberdaya manusia yang perlu diberdayakan di masa mendatang. l. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera a) Keluarga Berencana Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) dari tahun juga mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan rata-rata peningkatan per tahun sebesar 0,89 %. Pada tahun 2007 jumlah PUS sebanyak pasangan meningkat pada tahun 2011 menjadi pasangan. PUS yang telah mengikuti Keluarga Berencana secara aktif dari tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2011 PUS yang memiliki istri di bawah usia 20 tahun sebesar 2,64 %. Pada tahun 2007 persentase Keluarga Berencana yang aktif sebesar 77,23 % meningkat pada tahun 2011 menjadi 77,96 %. Alat kontrasepsi yang digunakan peserta keluarga berencana aktif paling banyak adalah suntik. Pada tahun 2011 pengguna alkon (alat kontrasepsi) suntik sebesar 49,87%. PUS Kabupaten Pati sangat sedikit yang memilih alat kontrasepsi jangka panjang. Hal ini dapat dilihat dari persentase pengguna alkon IUD, Implan, MOW dan MOP. Partisipasi aktif laki-laki dalam program KB masih sangat kecil. Hal ini dapat dilihat dari peserta KB yang menggunakan alat kontrasepsi MOP (Modus Operasi Pria) dan kondom. Persentase pengguna alkon MOP pada peserta KB aktif tahun 2007 sebesar 1,74 % menurun pada tahun 2011 menjadi 1,33%, sedangkan persentase pengguna alkon kondom pada tahun 2007 sebesar 0,80% meningkat pada tahun 2011 menjadi 1,75 %. Jumlah pasangan usia subur yang ingin menjarangkan kehamilan atau membatasi jumlah anak, tetapi tidak menggunakan kontrasepsi (unmeeted) pada tahun 2011 sebesar 10,42 %. Kondisi jauh lebih besar dari target SPM Keluarga Berencana yaitu sebesar 7% pada tahun Sementara itu DO KB pada tahun 2011 sebanyak 12,21 %. Dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat pada program KB, perlu didukung sarana dan prasarana yang memadai. Kabupaten Pati telah memiliki petugas penyuluh KB dan petugas Pembina KB di tingkat desa. Sampai dengan tahun 2011 Petugas Penyuluh KB (PLKB) baru sebanyak 100 orang, sedangkan petugas Pembina KB Desa (PPKBD) sebanyak 406. orang, sedangkan Sub PPKBD sebanyak orang. Berdasarkan SPM Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Hal II - 42
43 Berencana Nasional Nomor : 55/HK-010/B5/2010, ratio PLKB dengan desa belum tercapai. SPM mengamanatkan bahwa ratio PLKB dengan kelurahan/desa adalah 2, artinya setiap kelurahan/desa memilki PLKB 2 orang. Kabupaten Pati memiliki kelurahan/desa sebanyak 406 kelurahan/desa, sehingga dibutuhkan PLKB sebanyak 203 orang. Jadi PLKB di Kabupaten Pati masih kurang sebanyak 100 orang lebih. b) Keluarga Sejahtera Indikator keberhasilan pembangunan sub urusan keluarga sejahtera adalah berkurangnya jumlah keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I. Pada tahun keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2011 persentase keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I sebesar 54,6%. PUS yang telah bergabung dalam program UPPKS (Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera) sebanyak 83,19 %. Dalam rangka penurunan keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I telah dilakukan berbagai program diantaranya adalah melakukan pebguatan kelompok-kelompok dalam ketahanan keluarga yaitu kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL), Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina Keluarga Remaja (BKR). Sampai dengan tahun 2011 jumlah BKB sebanyak 504 Kelompok, BKR sebanyak 313 kelompok dan BKL sebanyak 294 kelompok. Sedangkan dalam rangka meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi telah dibentuk Pusat Informasi dan Konseling untuk kesehatan remaja. Sampai dengan tahun 2011 PIK KRR sebanyak 48 kelompok. m. Sosial Kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Penyelenggaraan Kejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial. Dalam konsep penyelenggaraan kesejahteraan sosial warga masyarakat tersebut dikenal dengan sebutan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan masyarakat miskin yang menjadi kelompok sasaran pelayanan sosial. Terhadap permasalahan sosial yang terjadi di Kabupaten Pati dalam kurun waktu , berdasarkan jenis PMKS yang ada rata-rata cenderung fluktuatif pada setiap jenis PMKS. Indikator masalah sosial yang menunjukkan adanya penurunan/berkurang terdapat pada Anak Jalanan (23.31%), Wanita Korban Tindak Kekerasan (38.65%), Anak Balita Terlantar (3.48%). Indikator masalah sosial yang menunjukkan peningkatan perlu mendapatkan Hal II - 43
44 perhatian dan penanganan adalah Jumlah Penyandang Cacat, Jumlah Anak Terlantar, Jumlah Anak Nakal, Jumlah Balita Terlantar, Wanita Rawan Sosial Ekonomi, Lanjut Usia Terlantar, Keluarga Fakir Miskin, Keluarga Berumah Tak Layak Huni, Tuna Susila, Pengemis, Keluarga Rentan,dan Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Aditif (Napza). Berdasarkan jumlah penyandang masalah-masalah sosial di Kabupaten Pati yang sudah ditangani tahun 2011 menggunakan dana APBD adalah Penyandang Cacat Tuna Tuna Netra (75 orang),dan Penyandang Cacat Tubuh (30 orang). Untuk lebih jelasnya mengenai jenis dan jumlah PMKS di Kabupaten Pati yang ada dapat dilihat pada Tabel 2.46 berikut ini : Tabel Jenis dan jumlah PMKS di Kab.Pati Tahun No. Variabel Satuan Jumlah Penyandang Cacat Jumlah anak Terlantar Jumlah anak Nakal Anak Balita Terlantar Anak Korban tindak Kekerasan Wanita Rawan Sosial Ekonomi ratarata Orang ,8 Orang ,8 Orang ,6 Orang ,8 Orang ,2 Orang ,8 7 Anak Jalanan Orang ,6 8 9 Wanita Korban Tindak Kekerasan Lanjut Usia Terlantar Orang ,6 Orang ,8 10 Tuna Susila Orang ,4 11 Pengemis Orang ,4 12 Gelandangan Orang ,6 13 Korban Penyalagunaan Narkotika dan Zat Adiptif (Napza) 14 Kel. Fakir Miskin KK 15 Kel. Berumah Tidak Layak Huni Orang KK , , 2 16 Keluarga Rentan KK ,6 Sumber : Dinas Sosial, Tenaga kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pati Tahun 2011 Upaya penanganan masalah PMKS di Kabupaten Pati masih belum optimal, antara lain disebabkan belum optimalnya pendayagunaan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang meliputi pekerja sosial masyarakat, organisasi sosial/yayasan, embrional maupun desa, karang taruna, wanita pemimpin pendayagunaan sosial, dunia usaha, wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat dan jumlah sarana sosial. Jumlah PSKS di Kabupaten Pati tiap tahunnya tidak mengalami peningkatan. Peningkatan hanya pada jumlah Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat pada tahun 2007 sebanyak 2 buah meningkat menjadi 106 buah pada tahun Jumlah Kelembagaan Sosial di Hal II - 44
45 Kabupaten Pati tahun dapat dilihat pada Tabel 2.47 berikut : Tabel Kelembagaan Sosial di Kab.Pati Tahun No Kelembagaan Sosial Satuan Pekerja Sosial Orang Masyarakat Organisasi Buah Sosial/Yayasan Organisasi Buah Sosial Embrional 4 Organisasi Buah Sosial Desa Karang Taruna Buah Wanita Orang Pemimpin Pendayagunaan Sosial 7 Dunia Usaha Buah Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat 9 Jumlah Sarana Sosial Buah Buah Sumber : Dinas Sosial, Tenaga kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pati Tahun 2010 Pada urusan sosial lainnya adalah penanganan kejadian bencana, di Kabupaten Pati pemberian bantuan bagi korban bencana alam dan sosial termasuk kekeringan yang sudah dilaksanakan adalah berupa bantuan uang tunai dan logistik. Data terakhir yang diterima jumlah bantuan uang sebesar 161 juta mencakup 129 orang dan bantuan logistik mencapai 100 juta. Dilihat dari ketersediaan sarana dan prasarana penanggulangan bencana/bencana alam yang dimiliki Kabupaten Pati masih sangat minim antara lain tenda pleton (10 unit), tenda regu (1 unit), faal bed (24 buah), alat dapur umum lapangan (1 set), perahu karet (8 buah ), mesin tempel (9 unit) rompi renang (22 buah) dan genset (1 buah), dayung (18 buah). Dengan adanya daerah rawan bencana di Kabupaten Pati, hendaknya pemerintah meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana penanggulangan bencana/bencana alam yang cukup memadai. n. Ketenagakerjaan Bidang ketenagakerjaan di Kabupaten Pati masih dihadapkan pada berbagai permasalahan mendasar yang memerlukan perhatian dan keterpaduan penanganan. Masalah pokok ketenagakerjaan adalah adanya kesenjangan antara angkatan kerja dengan kesempatan kerja yang tersedia, sehingga menyebabkan pengangguran. Perkembangan ketenagakerjaan di Kabupaten Pati selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 2.49 berikut ini : Hal II - 45
46 Tabel Jumlah Angkatan Kerja, Pengangguran, TPAK dan TPT di Kabupaten Pati Tahun No. Indikator Jumlah Angkatan Kerja Jumlah Pengangguran TPAK (%) 69,89 68,79 69,33 68,88 72,35 4 TPT (%) 8,38 9,36 7,68 6,22 6,27 Sumber : BPS Kabupaten Pati, 2011 Jumlah angkatan kerja Kabupaten Pati dalam kurun waktu cenderung fluktuatif. Pada tahun 2007 jumlah angkatan kerja mencapai orang, tetapi terjadi penurunan pada tahun 2010 menjadi orang dan pada tahun 2011 naik menjadi orang. Angka pengangguran di Kabupaten Pati selama kurun waktu menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Pada tahun 2007 jumlah pengangguran sebanyak orang turun pada tahun 2011 menjadi orang. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Kabupaten Pati dalam kurun waktu lima tahun terakhir menunjukkan pergerakan yang fluktuatif berkisar pada angka 68-72% dan pada tahun 2011 menjadi sebesar 72,35 %. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada tahun 2007 mencapai 8,38 %, turun menjadi 6,27 % di tahun Tuntutan kebutuhan tenaga kerja yang terampil di masa mendatang semakin tinggi dan tantangan yang akan dihadapi tenaga kerja Kabupaten Pati adalah kompetitor/pesaing tenaga kerja dari luar Kabupaten Pati yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang lebih baik dibandingkan calon tenaga kerja dari Kabupaten Pati itu sendiri. Hal ini akan meningkatkan pengangguran di Kabupaten Pati apabila peningkatan keahlian angkatan kerja di Kabupaten Pati tidak menyesuaikan dengan tuntutan yang ada. Upaya yang dilakukan pemerintah Kabupaten Pati dalam meningkatkan SDM tenaga kerja adalah melalui pelatihan. Upaya perluasan kesempatan kerja dalam rangka mengurangi pengangguran terus dilakukan antara lain melalui penempatan tenaga kerja baik di dalam maupun luar negeri, penyelenggaraan bursa kerja online dan penyebarluasan informasi bursa tenaga kerja. Sedangkan upaya peningkatan kualitas dan produktifitas tenaga kerja dilakukan melalui berbagai kegiatan pelatihan kerja bagi pencari kerja. Hal II - 46
47 Tabel Upaya Peningkatan SDM Tenaga Kerja di Kabupaten Pati No. Jenis Kegiatan Diklat untuk tenaga kerja Jumlah pelatihan 0 1 jenis 5 jenis 3 jenis 5 jenis Peserta pelatihan 0 50 orang 150 orang 75 org 425 org 2 Diklat untuk petugas/pegawai bidang ketenagakerjaan Jumlah diklat 29 jenis 31 jenis 31 jenis 30 jenis 30 jenis Peserta Pelatihan 31 org 35 org 37 orang 40 orang 39 orang 3 Jumlah Lembaga Bursa Kerja/LPKS 35 buah 35 buah 35 buah 35 buah 67 buah Sumber : Dinas Sosial, Tenaga kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pati, 2011 Dilihat dari Tabel 2.49 jumlah pelatihan yang telah dilaksanakan pemerintah Kabupaten Pati, jumlah peserta yang mengikuti pelatihan diklat untuk tenaga kerja pada mulai pada tahun 2008 sebanyak 50 orang, tahun 2009 sebanyak 150 orang, tahun 2010 sebanyak 75 orang dan pada tahun 2011 meningkat drastis sebanyak 425 orang. Jumlah peserta diklat untuk petugas atau pegawai bidang tenaga kerja kurun waktu lima tahun terakhir, tiap tahunnya rata-rata peserta. Jumlah Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS) di Kabupaten Pati, dalam kurun waktu lima tahun terakhir jumlahnya meningkat tiap tahunnya. Tercatat Jumlah Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS) sebanyak 35 Buah pada tahun 2007, meningkat menjadi 67 buah di tahun Penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha di Kabupaten Pati mencakup 9 sektor, yaitu Pertanian; Pertambangan dan Energi; Industri Pengolahan; Listrik, Gas dan Air Bersih; Bangunan; Perdagangan, Hotel dan Restoran; Pengangkutan dan Komunikasi; Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan; dan Jasa-jasa. Sektor pertanian masih mendominasi dalam memberikan kesempatan kerja di Kabupaten Pati. Pada tahun 2011 penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian, yang di dalamnya mencakup kehutanan, perburuan dan perikanan mencapai orang (36,30%). penyerapan tenaga kerja tertinggi kedua adalah sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan dan hotel mencapai orang (21,60%). Hal ini dapat dilihat bahwa pekerja di Kabupaten Pati masih terkonsentrasi pada profesi petani dan tenaga kerja produksi. Profesi-profesi lain yang tergolong memiliki produktifitas tinggi termasuk profesional/teknisi dan manajerial/administrasi masih sangat rendah proporsinya seperti terlihat pada Tabel 2.50 berikut: Hal II - 47
48 Tabel Pekerja Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Pati Tahun No Jenis Data R 2010 r 2011 R 1 Pertanian, Kehutanan, Perburuan, dan perikanan , , ,31 2 Industri Pengolahan , , ,55 3 Perdagangan Besar, eceran, rumah makan dan hotel 4 Jasa Kemasyarakatan , , , , , ,71 5 Lainnya , , ,57 Jumlah l Sumber : Sakernas (Survei Tenaga Kerja Nasional) Penempatan tenaga kerja Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) Kabupaten Pati selama kurun waktu bersifat fluktuatif. Pada tahun 2011, jumlah tenaga kerja AKAD mencapai 159 orang. Tenaga kerja AKAD sebagian besar adalah laki-laki yaitu sebanyak 154 orang, sementara tenaga kerja AKAD perempuan hanya berjumlah sekitar 5 orang. Jumlah tenaga kerja Antar Kerja Lokal (AKL) di Kabupaten Pati perkembangannya selama lima tahun terakhir menunjukkan kecenderungan fluktuatif, mencapai puncak pada tahun 2009 sebesar 617 orang, dan yang paling rendah di tahun 2011 sebanyak 107 orang. Hal ini dikarenakan pada tahun 2011 tidak ada penerimaan CPNS. Dilihat dari jumlah penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri dari Kabupaten Pati selama tahun tiap tahunnya cenderung menurun, dengan jumlah paling sedikit di tahun 2011 sebanyak dan yang paling tinggi di tahun 2007 sebanyak orang terlihat pada Tabel 2.51 berikut: Tabel Penempatan Tenaga Kerja dan Hubungan Industrial di Kabupaten Pati Tahun No Jenis Data Penempatan Tenaga Kerja AKAD/AKL a Antar Kerja Antar Daerah Laki-laki Perempuan Jumlah (AKAD) b Antar Kerja Lokal Laki-laki Perempuan Jumlah (AKL) PHK Jumlah TK PHK Kasus perselisihan tenaga kerja Kasus kecelakaan tenaga kerja Rata-rata Kebutuhan Hidup Minimum , , , , ,88 9 Rata-rata Upah Minimum Regional Rasio upah minimum terhadap Kebutuhan Hidup Layak (KHL) 89% 90% 92% 94% 97% Hal II - 48
49 No Jenis Data TKI di Luar Negeri (penempatan TKI) a. Tenaga Kerja Wanita b. Tenaga Kerja Pria Sumber : Dinas Sosial, Tenaga kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pati, 2011 Kabupaten Pati telah melakukan upaya strategis dan praktis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat (pencari kerja/pengangguran) dalam rangka penyerapan tenaga kerja melalui program kerja AKL (Antar Kerja Lokal), AKAD (Antar Kerja Antar Daerah) dan AKAN (Antar Kerja Antar Negara). Upaya yang dilakukan dalam rangka menanggulangi tindakan nakal dan tidak bertanggung jawab dalam proses rekrutmen dan penempatan tenaga kerja baik dalam dan luar negeri oleh oknum-oknum PPTKIS (Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta) maupun LPTKS (Lembaga Penempatan Tenaga Kerja Swasta) yang berakibat ketidakjelasan dalam penempatan dan perlindungan terhadap keselamatan dan hak tenaga kerja antar lain : sosialisasi dan pembinaan terhadap masyrakat maupun pelaku (PPTKIS, LPTKS). Sudah banyak terjadi kasus tenaga kerja baik di luar negeri melalui PPTKIS dan penempatan tenaga kerja di dalam negeri melalui LPTKS yang direkrut dan ditempatkan secara ilegal sehingga sangat merugikan tenaga kerja tersebut dan berimbas pada kesan kurangnya perlindungan TKI oleh Pemerintah dan penempatan tenaga kerja yang tidak terdaftar. o. Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Berdasarkan data yang ada, pertumbuhan jumlah koperasi di Kabupaten Pati rata-rata sebesar sebesar 2,5 %. Pada tahun 2007 jumlah koperasi sebanyak 827 unit meningkat menjadi 934 unit pada tahun Perkembangan ini cukup menggembirakan, mengingat koperasi sebagai lembaga ekonomi rakyat yang manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat. Walaupun demikian jumlah koperasi tidak aktif dari tahun cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 jumlah koperasi tidak aktif sebanyak 383 unit meningkat pada tahun 2010 menjadi 530 unit seperti pada Tabel 2.52: Tabel Perkembangan Koperasi di Kab.Pati Tahun Keaktifan Koperasi Koperasi Aktif Koperasi Tidak Aktif Jumlah Sumber : Dinas Koperasi dan UMKM Kab. Pati, 2011 Jenis koperasi yang berkembang di Kabupaten Pati cukup banyak. Sampai dengan tahun 2011 Kabupaten Pati memiliki 20 jenis kopersi yaitu KUD, Koppontren, Kopinkra, KOPTI, KPRI, Koperasi karyawan, Koperasi Angkatan Darat, Koperasi Angkatan Kepolisian, Koperasi Serba Usaha, Koperasi Pasar, Koperasi Simpan Pinjam, Koperasi Angkutan Darat, Koperasi Wanita, Koperasi Profesi, Koperasi Veteran, Koperasi Wredatama, Koperasi Pepabri, Koperasi Pedagang Kakilima, Koperasi Lain-lain, dan Koperasi Sekunder terlihat pada Tabel 2.53 dibawah ini: Hal II - 49
50 Tabel Perkembangan Jenis Koperasi di Kabupaten Pati Tahun No Jenis Koperasi KUD Koppontren Kopinkra KOPTI KPRI Koperasi karyawan Koperasi Angkatan Darat Koperasi Angkatan Udara Koperasi Angkatan Kepolisian Koperasi Serba Usaha Koperasi Pasar Koperasi Simpan Pinjam Koperasi Angkutan Darat Koperasi Wanita Koperasi Profesi Koperasi Veteran Koperasi Wredatama Koperasi Pepabri Koperasi Pedagang Kakilima Koperasi Lain-lain Koperasi Sekunder Jumlah Sumber : Dinas Koperasi dan UMKM Kab. Pati, 2011 Usaha mikro, kecil, dan menengah banyak menyerap tenaga kerja, dan secara riil juga memiliki multiplier terhadap sektor dan usaha yang lain. Dalam perkembangannya UMKM dari tahun ketahun mengalami peningkatan yang signifikan baik dari kuantitas maupun jumlah tenaga yang terserap. Hal ini dapat kita lihat perkembangan dari tahun 2008 jumlah UMKM sebanyak buah dengan tenaga kerja sebanyak orang dan pada tahun 2011 jumlah UMKM menjadi buah dengan tenaga kerja yang terserap sebanyak orang. Berikut digambarkan kondisi UMKM dan penyerapannya terhadap tenaga kerja di Kabupaten Pati tahun 2011 sebagaimana terlihat pada Tabel 2.54 berikut: Tabel Jumlah UMKM dan Tenaga Kerja Yang Terserap Tahun Tahun UMKM Jumlah Tenaga Kerja Yang Terserap Sumber : Dinas Koperasi dan UMKM Kab. Pati 2011 p. Penanaman Modal Urusan penanaman modal merupakan salah satu urusan penting dalam pembangunan ekonomi di suatu daerah. Penanaman modal merupakan trigger bagi penggerak ekonomi daerah dan katup penyelamat bagi berbagai permasalahan ekonomi dan kesejahteraan. Pertumbuhan penanaman modal di Kabupaten Pati selama kurun waktu menunjukkan kinerja meningkat. Undang-undang Nomor 25 tahun 2007 tentang penanaman modal mengamanatkan kepada kabupaten/kota dalam hal penanaman modal untuk (1) Hal II - 50
51 Menyusun perencanaan penanaman modal; (2) Meningkatkan fasilitas bagi peningkatan penanaman modal di kabupaten/kota; dan (3) Meningkatkan kinerja perijinan dan pelayanan penanaman modal. Menurut Perpres 27 tahun mengatur kebijakan tentang penanaman modal sebagai berikut : 1) Peningkatan deregulasi penanaman modal dan perijinan penanaman modal di daerah. 2) Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) penanaman modal di pusat dan daerah. 3) Meningkatkan pelayanan perijinan secara elektronik (on line). 4) Meningkatkan koordinasi bidang penanaman modal di daerah. 5) Mengurangi hambatan dan kendala perijinan dalam penanaman modal di daerah. 6) Meningkatkan daya saing daerah dalam pengembangan perekonomian daerah. Berdasarkan ketentuan atau amanat undang-undang dan perpres, serta arahan RPJMN tahun maka pemerintah Kabupaten Pati telah merespon dengan membentuk Unit Pelayanan Perijinan Satu Pintu. Hambatan perijinan penanaman modal dikurangi bahkan ditiadakan dengan adanya unit kerja ini. Namun hasilnya belum menunjukkan kinerja yang meyakinkan dalam hal penanaman modal. Investasi PMDN di Kabupaten Pati selam kurun waktu 2007 sampai dengan tahun 2011 terdapat tiga puluh tiga (33) investor, yaitu di bidang perindustrian dan perdagangan dengan total investasi mencapai Tenaga kerja yang terserap sebanyak orang pada tahun Jumlah investasi PMDN di Kabupaten Pati terlihat pada Tabel 2.55 berikut : Tabel Investasi PMDN dan Tenaga Kerja Yang Terserap Di Kab.Pati Tahun No PMDN Jumlah perusahaan Nilai Investasi (000) Jumlah Tenga Kerja yang akan Terserap Sumber : KPPT Kabupaten Pati, Kondisi rendahnya penanaman modal juga dipengaruhi oleh rendahnya sarana dan prasarana pendukung penanaman modal. Kondisi jalan, ketersediaan air, pergudangan, jarak antara pelabuhan ekspor dengan lokasi dan sarana perekonomian mempengaruhi minat investor menanamkan modal di Kabupaten Pati. Berdasarkan keterangan dari Kantor Pelayanan Terpadu dan Bagian Ekonomi, kendala investasi di Kabupaten Pati adalah pelayanan perijinan investasi belum optimal disusul dengan lemahnya kebijakan yang mendukung investasi daerah. Sarana pendukung terutama jaringan jalan di Kabupaten Pati belum memadai sampai ke pelosok daerah. Kondisi jalan masih sempit dan banyak yang rusak. Di Kabupaten Pati juga belum banyak terdapat Hal II - 51
52 pergudangan yang melayani perusahaan dalam mendistribusikan barang produksinya. Promosi daerah sudah dilakukan melalui berbagai event, namun hasilnya belum optimal. Hal ini karena pelaksanaan promosi investasi daerah belum optimal. Materi untuk investasi perlu diperbaharui agar lebih informatif dan menarik investor. q. Kebudayaan Pembangunan di bidang kebudayaan pada Kabupaten Pati meliputi pemeliharaan aset-aset peninggalan budaya yang bernilai sejarah tinggi dan pembinaan kelompok-kelompok kesenian/kebudayaan yang tumbuh subur di Kabupaten Pati. Di Kabupaten Pati saat ini terdapat sejumlah benda dan situs peninggalan kebuyaan masa lampau (purbakala) berupa arca, lingga, petilasan, petirtaan, monumen, situs, masjid kuno, gereja kuno, kelenteng, bangunan kuno dan makam kuno. Data dapat dilihat pada Tabel 2.56 berikut: Tabel Benda cagar budaya di Kabupaten Pati Tahun No. Benda Cagar Budaya Tahun Arca Lingga Petilasan Petirtaan Monumen Situs Masjid Gereja Klenteng Bangunan Kuno Makam Kuno Jumlah Sumber : Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Olah Raga Kab. Pati, 2011 Pada beberapa tahun terakhir, di Kabupaten Pati tumbuh sejumlah kelompok-kelompok kesenian, baik kelompok kesenian tradisional maupun modern. Kelompok kesenian tradisional pada tahun 2007 meliputi kelompok dalang/wayahg, tembang jawa/karawitan, sintren, kuda kepang, campursari, tari tradisional, kentrung, ketoprak, cokekan, ludruk, rebana, dan keroncong. Sedangkan kelompok kesenian modern meliputi kelompok organ tunggal, orkes dangdut, group band, sanggar tari modern dan sanggar modelling. Pada tahun 2010 jumlah kesenian modern sebanyak 64 buah, tetap sebanyak 64 buah pada tahun Jenis kesenian modern Kabupaten Pati meliputi organ tunggal, group band, tari modern dan sanggar modeling. Dengan demikian jumlah group kesenian (seni tradisional dan modern) di Kabupaten Pati pada tahun 2011 berjumlah 64 group/kelompok sebagaimana terlihat pada Tabel 2.57 dan Tabel 2.58 berikut: Hal II - 52
53 No. Tabel Perkembangan Kesenian Tradisional di Kabupaten Pati Tahun (buah) Kesenian Tradisional Tahun Dalang/Wayang Tembang Jawa/Krawitan Sintren Kuda Kepang Campursari Sanggar Tari Tradisional Kentrung Ketoprak Cokekan Ludruk Rebana Keroncong Jumlah Sumber : Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Olah Raga Kab. Pati, 2011 Tabel Perkembangan Kesenian Modern di Kabupaten Pati Tahun (buah) No. Kesenian Modern Tahun Organ Tunggal Group Band Orkes Dangdut Sanggar Tari Modern Sanggar Modeling Jumlah Sumber : Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Olah Raga Kab. Pati, 2011 Selama ini pemerintah telah memperhatikan kehadiran kelompok-kelompok kesenian tersebut, namun perhatian lebih besar masih tetap diperlukan, supaya mereka mampu tumbuh dan berkembang lebih baik, sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap kehidupan bangsa. Kelompok-kelompok kesenian tersebut selama ini telah mendapatkan pembinaan dari pemerintah, hal ini dapat dibuktikan oleh Kabupaten Pati yang telah mengirimkan dutaduta budaya baik ke event di tingkat provinsi. r. Pemuda dan Olah Raga Data statistik menunjukkan bahwa penduduk Kabupaten Pati tahun 2011 berusia tahun mencapai 22,70 % ( jiwa) dari seluruh jumlah penduduk Kabupaten Pati ( jiwa) Kondisi yang demikian merupakan potensi bagi tersedianya aset kader pemimpin, pelopor dan penggerak pembangunan. Potensi pemuda yang cukup dapat menjadi pendorong dalam mewujudkan keberhasilan pembangunan apabila potensi tersebut dikembangkan secara baik dan berkelanjutan, sebaliknya apabila potensi cukup besar tersebut tidak dikembangkan secara baik akan menjadi hambatan serta menimbulkan permasalahan-permasalahan yang Hal II - 53
54 menyangkut pemuda seperti penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja maupun tindakan kriminal. Pembangunan kepemudaan dilaksanakan dengan memfasilitasi aktivitas kepemudaan baik lintas internasional, nasional, provinsi, kabupaten/kota maupun kecamatan. Fasilitasi aktivitas kepemudaan dilaksanakan dalam rangka mewujudkan pemuda yang kreatif, inovatif serta memiliki jiwa kewirausahaan. Peran organisasi kepemudaan sangat penting dan strategis, melalui organisasi kepemudaan diharapkan penyaluran bakat dan minat di kalangan generasi muda untuk mengembangkan kapasitas dirinya dalam berorganisasi maupun dalam mengembangkan kepemimpinan dan kepeloporan dapat terwujud. Jumlah organisasi kepemudaan yang ada di Kabupaten Pati sebanyak 26 organisasi pemuda yang dikoordinir oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) cabang Pati. Jumlah tersebut tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Pati. Jumlah kegiatan kepemudaan pada tahun 2010 sebanyak 10 kegiatan. Kondisi keolahragaan di Kabupaten Pati, baik olah raga prestasi maupun olah raga masyarakat masih memerlukan perhatian berkelanjutan. Sarana dan prasarana yang bertaraf nasional juga belum banyak dimiliki oleh Kabupaten Pati. Di Kabupaten Pati terdapat 21 organisasi olahraga. Peringkat Kabupaten Pati dalam PORDA Provinsi Jawa Tengah naik dari peringkat 17 pada tahun 2007 menjadi peringkat 13 pada tahun 2011 dari 35 kabupaten/kota, sedangkan untuk prestasi POPDA Provinsi Jawa Tengah untuk tingkat SD naik dari peringkat 15 pada tahun 2009 menjadi peringkat 7 pada tahun 2011, tingkat SMP naik dari peringkat 7 pada tahun 2009 menjadi peringkat 4 pada tahun 2011 dan tingkat SMA/K naik dari peringkat 26 pada tahun 2009 menjadi peringkat 4 pada tahun s. Kesbangpoldagri Perkembangan demokratisasi dan dinamika sosial dalam masyarakat semakin baik semenjak dilaksanakan kebijakan otonomi daerah sejak tahun Dinamika perubahan sosial terutama ditandai oleh meningkatnya keterbukaan informasi publik, meluasnya peran media massa baik dari televisi nasional, radio nasional dan lokal yang mudah menjangkau wilayah lebih luas dengan layanan streaming melalui internet di pedesaan. Meningkatnya partisipasi politik masyarakat ditandai oleh keberhasilan pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) Gubernur Jawa Tengah tahun 2008 yang telah diselesaikan dalam satu putaran, Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Presiden secara langsung tahun 2009 diselesaikan satu putaran, serta pelaksanaan Pemilukada Kabupaten Pati Tahun 2011 tingkat partisipasi masyarakat mencapai 72% sedangkan dalam pelaksanaan pemungutan suara ulang Tahun 2012 tingkat partisipasi masyarakat menurun menjadi 65% hal ini disebabkan banyaknya warga pada saat pencoblosan berada diluar daerah. Jumlah TPS di Kabupaten Hal II - 54
55 Pati sebanyak unit yang tersebar di 406 desa/kelurahan yang melayani sebanyak orang, pemilih perempuan lebih banyak dibandingkan pemilih laki-laki, yaitu perempuan sebanyak 51,1% dan laki-laki 48,9 %. Dalam kegiatan tersebut rata-rata setiap TPS melayani sebanyak 435. orang pemilih. Keberhasilan dalam penyelenggaraan Pemilu ini karena kesiapan KPUD, petugas pelaksana di KPPS dan petugas TPS di tingkat desa/kelurahan serta partisipasi masyarakat yang baik. Hal yang menggembirakan adalah tingkat partisipasi politik masyarakat dalam penggunaan hak pilih termasuk kategori baik dan tidak timbul konflik dalam masyarakat. Rata-rata tingkat penggunaan hak pilih (electoral rate) antara 70 % dalam setiap kegiatan Pemilu, baik Pemilukada Gubernur Jawa Tengah, Pileg dan Pilpres secara langsung tahun Sedangkan dalam pelaksanaan pilkada tahun 2011 jumlah pemilih suara yang tidak menggunakan hak pilihnya mencapai 34 %. Pemilih yang tidak aktif ini terutama masyarakat desa, pemilih perempuan dan pemula yang belum mendapatkan pendidikan politik, peningkatan kesadaran hukum dan pendidikan kewarganegaraan yang erat kaitannya dengan pengembangan demokratisasi. Dari hasil Pemilu legislatif tahun 2009 telah terpilih sebanyak 50 orang anggota, terdiri dari 41 orang laki-laki dan 9 orang perempuan. Anggota DPRD Kabupaten Pati masa bakti tahun dengan perincian PDI-P (12 orang), Partai Demokrat (8 orang), Golkar (5 orang), PKS (5 orang), PKB (4 orang), Gerindra (3 orang), PDP (3 orang), Partai Bulan Bintang (2 orang), PPI (2 orang), PPP (1 orang), Hanura (1 orang), PAN (1 orang), PKPB (1 orang), Partai Pelopor (1 orang) dan PKNU (1 orang). Banyaknya partai politik di Kabupaten Pati yang mendapatkan kursi di DPRD sebanyak 15 partai dan peserta Pemilu tahun 2009 sebanyak 34 partai. Banyaknya organisasi massa (Ormas) menunjukkan peningkatan dari sebanyak 37 partai pada tahun 2007 meningkat menjadi 69 partai pada tahun Sedangkan ormas berbasis keagamaan terutama Agama Islam sebanyak 3 organisasi pada tahun 2007 meningkat menjadi sebanyak 12 organisasi pada tahun 2011 dan jumlah lembaga swadaya masyarakat dari tahun sebanyak 3 lembaga organisasi yang melakukan kegiatan pemberdayaan dan advokasi masyarakat dalam berbagai programprogram pembangunan daerah secara aktif dari total 76 lembaga swadaya masyarakat yang ada. Upaya meningkatnya kesadaran hukum dan Hak Asasi Manusia, peningkatan pemahaman warga negara, terkait dengan kesadaran hidup bernegara, penegakan hukum dan peningkatan ketahanan ideologi dan pemahaman dasar negara dan ketahanan nasional. Wilayah Kabupaten Pati secara geografis terletak di jalur utama perekonomian Pantai Utara (Pantura) Jawa, sehingga memiliki potensi gangguan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Mobilitas penduduk yang tinggi, transportasi yang padat di jalur pantai utara menjadi salah satu penyebab adanya potensi gangguan Hal II - 55
56 keamanan dan ketertiban di wilayah tertentu perlu mendapatkan perhatian. Gambaran tentang gangguan keamanan dan ketertiban di Kabupaten Pati, dapat dikemukakan sebagaimana Tabel 2.59 berikut : Tabel Kejadian Gangguan Kamtibmas di Kabupaten Pati Tahun No Gangguan Keamanan dan Ketertiban Pencurian/Perampokan Unjuk rasa Kejadian Pembunuhan Sumber data : Kantor Kesbangpolinmas Kab Pati, 2011 Tingkat kriminalitas dalam masyarakat di Kabupaten Pati termasuk rendah, hal ini diketahui dari kejadian pencurian, perampokan dan pencurian sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk. Upaya peningkatan keamanan dan ketentraman dalam masyarakat ditunjang pelayanan polisi yang bertugas di setiap Polsek di Wilayah Kabupaten Pati dan partisipasi masyarakat. Keamanan dan ketentraman dalam masyarakat di masing-masing desa/kelurahan dilakukan melalui sistem keamanan lingkungan (Siskampling) dan Program Kemitraan Polisi dengan masyarakat. Angka kriminal dapat dilihat pada Tabel 2.60 berikut : Tabel Angka Kriminal Kabupaten Pati 2011(Kasus) No Kasus Kejadian Tertangani 1 Tindak Pidana Menonjol a. Pencurian dengan pemberatan(curat) b. Pencurian dengan kekerasan(curas) c. Pencurian kendar bermotor(curanmor) d. Anirat e. PBK/KBK f. Pembunuhan g. Pemerkosaan h. Kenakalan remaja i. Peredaran uang palsu(upal) j. Penyalahgunaan narkoba k. Unjuk rasa l. Pelanggaran lingkungan hidup m. Dokumen palsu n. Kekerasan dalam rumah tangga o. Penculikan p. Pemerasan q. Pengrusakan r. Penggelapan s. Perjudian t. Penipuan Sumber data : Kantor Kesbangpolinmas Kab Pati, 2011 Dalam upaya peningkatan ketahanan masyarakat dalam menanggulangi masalah keamanan, ketertiban, penyakit masyarakat (Pekat) dan pencegahan bencana semakin ditingkatkan melalui Perlindungan Masyarakat (Linmas) sampai di tingkat desa dan kelurahan. Sampai tahun 2010 jumlah linmas yang ada di Kabupaten Pati adalah sebanyak personil. Wilayah Kabupaten Pati memiliki potensi bencana alam, antara lain banjir di wilayah dataran rendah dan wilayah pantai mengalami pasang naik. Bencana terkait dengan kekeringan cenderung semakin Hal II - 56
57 meluas, angin ribut, tanah longsor (di wilayah pegunungan), kebakaran hutan, untuk itu diperlukan kesiapan aparat pemerintah dan stakeholder yang lain untuk tanggap terhadap bencana sehingga resiko bencana dapat dikurangi. Kejadian bencana alam di Kabupaten Pati yaitu kejadian banjir yang mengakibatkan kerusakan rumah, terjadi pada tahun 2010 dengan korban sebanyak 44 unit rumah dan kejadian Tahun dengan korban sebanyak - unit rumah. Jumlah kerugian akibat bencana alam terbesar pada tahun 2006 dengan jumlah kerugian diperkirakan Rp ,00 Hal yang perlu ditingkatkan adalah kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana di wilayahnya. t. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Adminitrasi Keuangan Daerah, Kepegawaian dan Persandian 1) Otonomi Daerah Penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana diamanatkan Undang-Undang No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah (PP) No.38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Maka pemerintah Kabupaten Pati melaksanakan urusan kewenangan sebanyak 26 urusan wajib dan 8 urusan pilihan. Penyelenggaraan urusan tersebut setiap tahun dilaporkan kepada pemerintah provinsi dan pusat serta masyarakat dalam bentuk Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD), Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (ILPPD) sebagaimana diatur dalam PP Nomor 3 tahun 2007 tentang Pedoman Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjwaban Kepala Daerah Kepada DPRD, Dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat. Penyelenggaraan urusan tersebut tidak terlepas dari kemampuan daerah dalam menangani 34 urusan, baik kemampuan pembiayaan, sumberdaya aparatur sampai desa/kelurahan, kelembagaan daerah maupun potensi lain yang dimiliki daerah merupakan faktor yang mempenagruhi kapasitas daerah. Penyelenggaraan pemerintahan daerah menyangkut segenap urusan kewenangan pemerintah daerah (urusan rumah tangga daerah, dekonsentrasi dan tugas pembantuan) harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Dalam rangka mewujudkan sistem pemerintahan yang baik telah disusun Perda, sejak tahun telah tersusun sebanyak 76 buah, dalam rangka menyesuaikan dengan perundangan yang baru dengan perincian sebagaimana pada Tabel 2.61 berikut : Hal II - 57
58 Tabel Jumlah Peraturan Daerah di Kabupaten Pati Tahun No Tahun Perda (buah) Sumber : Bag. Hukum Setda Pati, 2011 Pembaruan Perda dan Perbup dalam rangka peningkatan kinerja pemerintahan daerah, pelayanan publik dan kepastian hukum dalam masyarakat. Program legislasi daerah ditujukan untuk meningkatkan kelengkapan peraturan perundangan di daerah dan kepastian hukum yang disesuaikan dengan prioritas pembangunan dan upaya peningkatan pelayanan umum, perijinan usaha dan promosi investasi di daerah. Untuk meningkatkan pelayanan publik dan standar kinerja dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, baik dengan penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bagi urusan kewenangan wajib dan standar kinerja bagi urusan pilihan. Kepala Pemerintah kabupaten/kota telah ditetapkan lima belas (15) urusan wajib yang telah disahkan oleh masing-masing kementrian teknis, sebagai berikut : a) Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 62 tahun 2008 tentang SPM Bidang Pemerintahan Dalam Negeri di Kabupaten/Kota; b) Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Nomor 22/PERMEN/M/2008 tentang SPM Bidang Perumahan Rakyat Dearah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota; c) Peraturan Menteri Sosial Nomor 129/HUK/2008 tentang SPM Bidang Sosial Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota; d) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 741/MENKES tahun 2008 tentang SPM Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota; e) Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 01 tahun 2009 tentang SPM Terpadu Bagi Saksi dan/atau Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Penghapusan Eksploitasi Seksual pada Anak dan Remaja di Kabupaten/Kota, dan Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 01 Tahun 2010 tentang SPM Bidang Layanan Terpadu Bagi Perempuan dan anak Korban Kekerasan (Provinsi dan Kabupaten/Kota); f) Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 19 tahun 2008 tentang SPM Bidang Lingkungan Hidup Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota; g) Peraturan Kepala BKKBN Nomor 55/HK-010/B5/2010 tentang SPM Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera di Kabupaten/Kota; Hal II - 58
59 h) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 tahun 2010 tentang SPM Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota; i) Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.04/MEN/VI/2011 tentang Perubahan Atas Lampiran Permenakertrans No.PER.15/MEN/X/2010 tentang SPM Bidang Ketenagakerjaan (Provinsi dan Kabupaten/Kota); j) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kabupaten/Kota); k) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 65/PERMENTAN/OT.140/12/2010 tentang SPM Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota; l) Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM/106/HK/501/MKP/2010 tentang SPM Bidang Kesenian (Provinsi dan Kabupaten/Kota); m) Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 22/PER/M.KOMINFO/12/2010 tentang SPM Bidang Komunikasi dan Informatika di Kabupaten/Kota; n) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM.81 Tahun 2011 tentang SPM Bidang Perhubungan Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan ; o) Peraturan Kepala Badan Korodinasi Penanaman Modal No 14 Tahun2011 tentang SPM Bidang Penanaman Modal Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pemerintah Kabupaten Pati, wajib menyusun capaian SPM sesuai dengan ketentuan urusan kewenangan wajib tersebut. Dalam peningkatan pelayanan publik maka masyarakat dapat berpartisipasi dalam penilaian kinerja penyelenggaraan urusan melalui monitoring capaian SPM dan pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dalam pelayanan yang diterima masyarakat secara langsung. Perubahan lingkungan strategis yang dinamis dan semakin komplek akan mempengaruhi perencanaan pembangunan dan pelayanan publik di daerah, terutama terkait dengan globalisasi pasar modal, pelaksanaan Asian China Free Trade Area (AC-FTA) pada tahun 2010 dan North Anerican Free Trade Area (NAFTA) merupakan tantangan dalam upaya meningkatkan investasi di daerah. 2) Pemerintahaan Umum Penyelengaraan pemerintahan umum mengacu pada UU Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Penyelenggaraan pelayanan publik yang bersifat akuntabel, transparan dan partisipatif berdasar pada prinsip-prinsip penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (good governance). Pelayanan publik yang berkualitas mencerminkan citra kelembagaan SKPD dan profesionalisme aparatur pemerintah daerah. Peningkatan pelayanan publik yang lebih berkualitas dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pati dengan meningkatkan Hal II - 59
60 pelayanan perijinan terpadu melalui Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan kalangan dunia. Demikian pula peningkatan pelayanan lainnya yaitu peningkatan pelayanan pemadam kebakaran, pengelolaan persampahan, air bersih dari PDAM semakin ditingkatkan dari tahun ke tahun. Peningkatan kerjasama antar daerah, baik antara pemerintah daerah (kabupaten/kota dan provinsi) maupun kerjasama dengan pihak ketiga lainnya semakin penting di masa mendatang dalam rangka promosi potensi daerah, pengelolaan sumberdaya alam dan pelayanan publik. No 3) Administrasi Keuangan Daerah Kondisi keuangan daerah dari tahun menunjukkan peningkatan dalam hal pendapatan daerah yaitu sebesar Rp ,40 (2007) menjadi Rp ,00 (2011), sedangkan dalam hal belanja daerah telah menunjukkan efisiensi dan efektivitas yang menggembirakan. Namun demikian penerimaan dari Pendapatan Asli Daerah jauh lebih kecil dibandingkan penerimaan dari Dana Perimbangan.Proporsi PAD terhadap total Pendapatan Daerah dari tahun hanya berkisar antara 8,91% hingga 11,23%, sedangkan proporsi Dana Perimbangan berkisar antara 65,91% hingga 83,35%. Dan proporsi untuk penerimaan dari Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah berkisar antara 7,74% hingga 23,15%. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Pusat masih tinggi. Sumber pendapatan asli daerah yang terbesar adalah Retribusi Daerah, selanjutnya pendapatan lain yang sah, pajak daerah dan terakhir bagian laba usaha daerah. Pendapatan daerah dari retribusi daerah di Kabupaten Pati menunjukkan peningkatan yang baik dari baik dari sebesar Rp ,00 pada tahun 2007 menjadi sebesar Rp ,00 pada tahun Pendapatan dari pos lainlain pendapatan asli daerah yang sah menunjukkan perkembangan yang baik, yaitu sebesar Rp ,40 pada tahun 2007 meningkat menjadi sebesar Rp ,00 pada tahun Perincian masing-masing unsure pendapatan asli daerah Kabupaten Pati sebagaimana Tabel 2.62 berikut : Tabel Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pati (ribuan) Jenis Pendapatan Pajak Daerah Retribusi Daerah 3 Keuntungan BUMD Pendapatan Hal II - 60
61 No Jenis Pendapatan Lain yang Syah JUMLAH Sumber : DPPKAD Kabupaten Pati, 2011 Keuangan daerah di Kabupaten Pati secara umum terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah. Pengelolaan keuangan dalam kurun waktu lima tahun ( ) diarahkan pada peningkatan sebesar-besarnya pendapatan asli daerah untuk mewujudkan kemandirian keuangan daerah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah pusat melalui intensifikasi pendapatan daerah. Belanja daerah diarahkan pada pelaksanaan programprogram prioritas daerah yang menunjang pencapaian visi dan misi daerah dengan prinsip efisiensi. Selain itu, juga dilakukan pembinaan dan fasilitasi pengelolaan keuangan daerah serta pengendalian dan pengawasan internal. 4) Aparatur Daerah Penyelenggaraan pemerintahan daerah di Kabupaten Pati dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebanyak 1 Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD, 13 dinas, 5 badan, 1 inspektorat, 5 kantor, 1 Satpol PP, 2 RSUD, 81 UPT serta 21 kecamatan dan 5 kelurahan sesuai Perda SOTK Nomor 10 tahun 2008 dengan jumlah aparatur sebanyak orang. Untuk dapat meningkatkan pelayanan umum dan meningkatkan efektivitas pemerintahan secara administrative, Kabupaten Pati terbagi menjadi 21 kecamatan, 401 desa dan 5 kelurahan. Peningkatan aparatur pemerintah desa/kelurahan semakin ditingkatkan terkait pelayanan umum, kamtibmas dan pembangunan desa/kelurahan. Jumlah RW (Rukun Warga) sebanyak unit dan RT (Rukun Tetangga) sebanyak unit. Jumlah aparatur pemerintahan adalah pegawai negeri sipil (PNS) pada tahun 2011 sebanyak orang, sebagian besar terdiri dari laki-laki sebanyak orang (53%) dan perempuan sebanyak orang (47%). Berdasarkan jenis jabatan diketahui jabatan struktural sebanyak 821 orang, jabatan fungsional khusus dan fungsional umum sebanyak orang. Data dapat dilihat pada Tabel 2.63 berikut: Tabel Jumlah PNS Dirinci Menurut Golongan Kabupaten Pati Gol I Gol II Gol III Gol IV Jumlah Tahun (orang) (orang) (orang) (orang) (orang) Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Kab. Pati, 2011 Hal II - 61
62 Berdasarkan kepangkatan dan golongan kepegawaian maka sumber daya aparatur pemerintah daerah termasuk baik sekali, berdasarkan kondisi tahun 2011 diketahui bahwa sebagian besar termasuk Golongan III sebesar 31% dan Golongan IV 41% dari jumlah aparatur sebagaimana tergambar pada Tabel 2.64 berikut: Tabel Jumlah PNS Dirinci Menurut Eselon Kabupaten Pati Tahun Eselon II Eselon III Eselon IV Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Kab.Pati, 2011 Jumlah pejabat fungsional dari tahun menunjukkan penurunan, dari sebanyak orang (2007) menjadi sebanyak orang (2011) atau menurun sebanyak 112 orang, hal ini dikarenakan yang bersangkutan pensiun. Kualitas PNS terlihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan. Pendidikan formal PNS di Kabupaten Pati menunjukkan peningkatan yang baik dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 diketahui sebagian besar berpendidikan Sarjana (S1) sebanyak orang atau 27,98 % dan berpendidikan Magister (S2) sebanyak 431 orang (3,19%). Tabel 2.65 berikut menggambarkan tingkat pendidikan PNS. Tabel Jumlah PNS Dirinci Menurut Pendidikan Yang Ditamatkan Kabupaten Pati (orang) No Tahun SD SMP SLTA SM S-1 S-2 Jumlah ,578 Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Kab. Pati, ) Persandian Penyelenggaraan urusan persandian adalah untuk pelayanan komunikasi dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kecamatan maupun dengan kabupaten/kota lainnya, Kabupaten Pati memiliki pelayanan persandian yang merupakan bagian dari Bagian Umum Sekretariat Daerah. Pengelolaan persandian belum optimal karena belum sepenuhnya ditangani tenaga ahli persandian sehingga persandian masih sebatas sarana komunikasi antar instansi pemerintah. u. Ketahanan Pangan Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang mencakup ketersediaan, distribusi dan konsumsi bahan pangan. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk Hal II - 62
63 memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien untuk menjamin seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu dengan harga yang terjangkau. Subsistem konsumsi bahan pangan berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, keamanan dan kehalalannya. Kondisi pada tahun 2011 terdapat Desa Mandiri Pangan sebanyak 3 Desa dan jumlah Lumbung Pangan sebanyak 6 Unit serta Pola Harapan Pangan sebesar 8,4 %. Ketahanan pangan di Kabupaten Pati tergolong cukup baik, ditandai ketersediaan pangan yang mencukupi kebutuhan penduduk khususnya komoditas beras, jagung, ubi kayu dan ubi jalar. Ketersediaan beras di Kabupaten Pati pada tahun 2011 sebanyak ton, sedangkan kebutuhan beras sebanyak ton, sehingga terdapat surplus beras sebanyak ton. Surplus juga terjadi pada komoditas jagung sebanyak ton, komoditas kacang hijau sebanyak ton dan daging sapi sebanyak ton pada tahun Sementara itu untuk komoditas kedelai, kacang tanah, ubi jalar, telur dan susu mengalami defisit. Pada tahun 2011 terjadi defisit untuk kedelai sebanyak ton, kacang tanah sebanyak 999 ton, ubi jalar sebanyak ton, telur sebanyak 491 ton, dan susu sebanyak 4,07 ton. Secara rinci perkembangan neraca bahan pangan di Kabupaten Pati dapat dilihat pada Tabel 2.66 berikut : Tabel Neraca Bahan Pangan di Kabupaten Pati Tahun No Uraiann Penduduk (Jiwa) Produksi (Ton) 3 Rata-rata Pertumbuhan (%) Padi ,37 Jagung ,26 Kedelai ,78 Kacang Tanah ,23 kacang Hijau ,55 Ubi kayu ,73 Ubi jalar ,71 Daging ,35 Telur ,93 Susu ,20 Gula ,1 Ketersediaan (Ton) Beras ,37 Jagung ,26 Kedelai ,78 Kacang Tanah ,22 Kacang Hijau ,55 Ubi kayu ,73 Hal II - 63
64 No Uraiann Rata-rata Pertumbuhan (%) 4 Ubi jalar ,71 Daging 1.180, ,35 Telur ,93 Susu 189, ,244 1,20 Gula ,04 Tingkat Konsumsi kg/kap/tahun Beras ,97 Jagung ,27 Kedelai 19,2 19, ,5 19-0,05 Kacang tanah 12,0 kacang Hijau 2,4 Ubi kayu Ubi jalar Daging Telur 12,3 12, ,40 2,4 2,5 1, ,7 20, ,4 26,0 29,0 27,5 30 6,5 6,9 7,0 6,5 7 Susu 12,9 12, ,5 0,012-0,02 Gula 7,5 7,5 7,5 7,7 8,0 7,8 5 Kebutuhan (Ton) 6-0,90 Beras ,20 Jagung ,20 Kedelai ,20 Kacang tanah ,20 Kacang Hijau ,20 Ubi kayu ,20 Ubi jalar ,20 Daging sapi ,20 Telur ,20 Susu ,314-0,20 Gula ,01 Surplus/defisit (Ton) Beras ,58 Jagung ,56 Kedelai (11.908) (10.513) (9.782) (10.147) (9.324) -1,25 Kacang tanah (1.009) (398) (853) (63) (999) -0,08 Kacang Hijau ,76 Ubi kayu ,67 Ubi jalar (6.684) (7.132) (4.476) (5.455) (6.098) -0,49 Daging sapi ,36 Telur (1.192) (1.472) (1.170) (673) (491) -3,51 Susu (4.302) (4.295) (4.319) (4.045) (4,070) -0,28 Gula ,8 Sumber : Kantor Ketahanan Pangan Kab. Pati 2011 Berdasarkan penelitian dan standar nasional, rata-rata angka kecukupan energi sebesar k.kal/kap/hari, sedangkan angka konsumsi energi di Kabupaten Pati sebesar k.kal/kap/hari. Dengan demikian masih diperlukan upaya untuk terus meningkatkan cakupan konsumsi energi baik melalui upaya pemenuhan maupun upaya diversifikasi pangan. Sedangkan angka 0,23 0,07 0,83 0,37 Hal II - 64
65 ketersediaan protein sebesar 57 gr/kap/hari, sedangkan angka konsumsi protein rata-rata di Kabupaten Pati sebesar 48 gr/kap/hari. v. Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat dan desa merupakan upaya yang strategis dalam mewujudkan keberhasilan pelaksanaan pembangunan, dengan pemberdayaan masyarakat desa dapat mewujudkan kemandirian masyarakat desa dalam menggali potensi untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Dalam pemberdayaan masyarakat ada 3 aspek utama kegiatan pemberdayaan yaitu : 1) pemberdayaan sumberdaya manusia (SDM), 2) pemberdayaan sosial ekonomi yang bertumpu pada potensi lokal dan 3) pemberdayaan aspek lingkungan. Pemberdayaan SDM menitikberatkan pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan maupun kegiatan lokakarya. Pemberdayaan sosial ekonomi menekankan pada peningkatan usaha ekonomi produktif masyarakat melalui stimulan bantuan modal, peralatan maupun manajemen usaha. Pemberdayaan lingkungan pada hakekatnya menumbuhkan kepedulian dan komitmen masyarakat untuk mewujudkan kondisi lingkungan yang lebih baik dan berkualitas. Selama kurun waktu lima tahun terus dilakukan kegiatan untuk mencapai target yang ditetapkan. Target untuk urusan pemberdayaan masyarakat dan desa adalah 1) meningkatnya keberdayaan masyarakat pedesaan, 2) berkembangnya Lembaga Ekonomi Pedesaan, 3) meningkatnya partisipasi masyarakat dalam membangun desa/kelurahan, 4) meningkatnya kapasitas aparatur pemerintah desa/kelurahan dan 5) meningkatnya kapasitas pemerintah desa/kelurahan dalam pemberdayaan masyarakat. Terkait dengan pemberdayaan usaha kelompok ekonomi produktif masyarakat selama tahun mengalami peningkatan tiap tahun, peningkatan kegiatan usaha ekonomi produktif masyarakat desa tidak terlepas dari peran pemerintah daerah, provinsi dan pusat yang mengimplementasikan kebijakan pengentasan kemiskinan melalui program-program pemberdayaan masyarakat seperti Program PNPM Mandiri Perkotaan dan Perdesaan, Program Teknologi Tepat Guna (TTG), dan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pengembangan modal usaha ekonomi produktif masyarakat desa. Secara empiris program-program tersebut memberikan manfaat yang cukup besar dalam meningkatkan SDM, usaha ekonomi produktif dan kualitas lingkungan, namun secara kuantitas programprogram tersebut belum mampu mengcover seluruh desa di Kabupaten Pati. Hal ini terbukti jumlah kelompok usaha ekonomi produktif tersebut apabila dibandingkan jumlah desa/kelurahan yang ada masih jauh dari harapan. Selanjutnya ditinjau dari kelembagaan atau kelompok-kelompok masyarakat desa secara kuantitatif cukup besar namun secara kualitatif kelompok-kelompok tersebut belum memberikan kontribusi Hal II - 65
66 secara nyata dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan pembangunan. Hal ini dikarenakan pembentukan kelompokkelompok masyarakat tidak didasari atas kebutuhan bersama melainkan dibentuk karena adanya program-program pemberdayaan desa baik dari pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten. Peran masyarakat khususnya kaum perempuan dalam pelaksanaan pembangunan belum sesuai harapan, rendahnya keterlibatan perempuan tersebut disebabkan oleh rendahnya kapasitas perempuan serta kurangnya akses perempuan dalam setiap tahapan pembangunan di tingkat desa. Dari aspek pelayanan yang diselenggarakan oleh pemerintah desa masih banyak menghadapi kendala, hal ini dikarenakan kapasitas dan kemampuan aparat dalam memberikan pelayanan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat belum sesuai harapan. Oleh sebab itu pemerintah daerah merespon dan memberi dukungan penuh terhadap berbagai program pemerintah khususnya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) baik PNPM Mandiri Perkotaan maupun PNPM Mandiri Perdesaan. Hal tersebut diwujudkan dalam alokasi pendampingan maupun penunjang Dana Urusan Bersama (DUB) program tersebut. Berikut disajikan data jumlah lokasi PNPM di Kabupaten Pati sebagaimana Tabel 2.67 berikut : Tabel Persebaran Lokasi PNPM di Kabupaten Pati Tahun 2011 No PNPM Jumlah kecamatan Jumlah Desa/Kelurahan 1 PNPM Perkotaan 4 kecamatan 101 desa 2 PNPN Perdesaan 17 kecamatan 305 desa Sumber : Bapermades Kab. Pati, 2011 Aspek pelayanan masyarakat lain di bidang kesehatan dan pemberdayaan masyarakat adalah semakin banyaknya jumlah lembaga pos pelayanan terpadu di tingkat masyarakat. Posyandu melayani berbagai kegiatan di tingkat RT dan RW yang pada umumnya dikelola oleh para kaum perempuan yang tergabung dalam kelompok dasa wisma maupun pengurus Program Kesejahteraan Keluarga (PKK). Dengan semakin berkembangnya kesadaran di tingkat masyarakat akan kebutuhan pelayanan dasar tersebut, maka jumlah posyandu setiap tahun semakin meningkat, seperti terlihat pada Grafik 2.8 berikut : Hal II - 66
67 JUMLAH POSYANDU ( UNIT) T A H 2009 U N Sumber : Profil Kabupaten Pati, 2011 Grafik 2.8. Jumlah Posyandu Kabupaten Pati Tahun w. Statistik Penyediaan data statistik untuk mendukung perencanaan pembangunan daerah diselenggarakan melalui pengembangan sistem pelayanan statistik nasional yang handal, efektif dan efisien, sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 16 tahun 1997 tentang Statistik. Berdasarkan pengelompokan kegunaan, terdiri atas statistik dasar, statistik sektoral dan statistik khusus. Penyediaan statistik dasar dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pati melalui metode sensus (sensus penduduk, sensus ekonomi, sensus pertanian dan sensus antar sensus), survei dilakukan antara lain Sakerda, survei harga-harga 9 bahan pokok, perhitungan inflasi dan kompilasi data produk dari masing-masing laporan SKPD, profil kesehatan, profil pendidikan dan laporan hasil penelitian dan pengkajian tentang potensi daerah dan lain-lain. Sebagaimana disebutkan menurut Pasal 152 UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, data statistik yang diperlukan meliputi data (1) penyelenggaraan pemerintahan daerah; (2) organisasi dan tata laksana pemerintahan daerah; (3) kepala daerah, DPRD, perangkat daerah dan PNS Daerah; (4) data keuangan daerah; (5) potensi sumberdaya daerah; (6) produk hukum daerah (Perda dan Perbup); (7) data kependudukan dan dinamika perubahannya serta (8) informasi dasar kewilayahan serta informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kegiatan penyusunan data statistik oleh pemerintah daerah setiap tahun adalah Kabupaten Pati Dalam Angka, Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pati, Indikator Sosial Ekonomi, Sakerda, Indeks Harga Konsumen dan inflasi di Kabupaten Pati. Sementara itu, data statistik dari SKPD terkait, seperti Profil Kesehatan Daerah, Profil Gender, Profil Pendidikan dilakukan melalui kerjasama secara terpadu dan terprogram antar SKPD terkait. Data statistik yang lengkap dan bersifat series akan mendukung perencanaan pembangunan daerah, baik RPJPD, RPJMD, RKPD maupun data pendukung sektoral lainnya. Manajemen penyimpanan Hal II - 67
68 data secara elektronik di masa mendatang semakin penting sejalan meningkatnya pengguaan data elektronik dengan sistem informasi manajemen di berbagai bidang pembangunan daerah. x. Kearsipan Penyelenggaraan urusan kearsipan memiliki pengaruh yang cukup signifikan bagi terciptanya tata pemerintahan daerah yang baik (good governance). Dalam pelaksanaan urusan kearsipan tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan arsip semata namun mencakup banyak hal, mulai dari pengumpulan arsip, pengelolaan/penyelamatan arsip, penyimpanan arsip, hingga pemanfaatan arsip. Terkait dengan pengumpulan arsip, beberapa SKPD telah berpartisipasi aktif dalam penyerahan dokumen arsip daerah yang dilakukan melalui akuisisi kearsipan. Akuisisi arsip secara rutin pada tahun 2007 dilakukan sebanyak 18 SKPD dan meningkat pada tahun 2011 menjadi 29 SKPD. Dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan kearsipan, pemerintah telah menyusun beberapa pedoman untuk pengembangan sistem kearsipan antara lain pedoman penyelenggaraan kearsipan untuk skala kabupaten, modul diklat manajemen arsip dinamis dan modul pengembangan kearsipan. Pengumpulan beberapa dokumen/arsip daerah selama 5 tahun terakhir selalu memperlihatkan peningkatan atas dokumen/arsip yang berhasil disimpan. Arsip yang bebentuk tekstual pada tahun 2007 tersimpan sebanyak berkas, pada tahun 2008 bertambah menjadi berkas, dan tahun 2009 meningkat kembali menjadi berkas. Pada 2 tahun berikutnya arsip tekstual yang tersimpan semakin bertambah, tahun 2010 sebanyak berkas dan hingga tahun 2011 sudah mencapai berkas. Beberapa arsip lain sampai tahun 2011 yang tersimpan antara lain berbentuk kartografi sebanyak 183 lembar, foto sebanyak lembar, video 9 buah, VCD keping dan kaset rekaman suara sebanyak 62 buah. Terkait pningkatan penataan kearsipan daerah telah dilaksanakan kegiatan pelatihan/diklat tentang arsip yang diikuti oleh beberapa SKPD dan kecamatan, pemantauan dan penyuluhan penyelenggaraan arsip, sosialisasi kearsipan dan pameran kearsipan untuk mendorong pemasyarakatan kearsipan. Kegiatan peningkatan kapasitas SDM pengelola kearsipan dilakukan rata-rata 2 kali dalam satu tahun. Pemeliharaan dan perawatan arsip memiliki peranan yang penting bagi terwujudnya kualitas arsip yang disimpan. Kegiatan pemeliharaan arsip dilakukan antara lain dengan kamperisasi arsip rutin setiap bulan dan labelisasi. y. Komunikasi dan Informasi Kewenangan pemerintah kabupaten dalam penyelenggaraan urusan komunikasi dan informatika meliputi bidang pos dan telekomunikasi, sarana komunikasi dan deseminasi informasi. Hal II - 68
69 Sampai dengan tahun 2011, kewenangan Kabupaten Pati dalam urusan Kominfo ini didukung oleh kantor pos selama 5 tahun terakhir ( ) tidak mengalami perubahan yaitu 19 unit. Terkait dengan pelayanan di bidang telekomunikasi, jumlah kapasitas Satuan Sambungan Telepon (SST) sentral sebanyak SST, sedangkan kapasitas terpasang juga sama yaitu sebanyak SST, sedangkan kapasitas yang terpakai atau jumlah pelanggannya yaitu SST. Untuk mendukung kegiatan komunikasi keberadaan warung telekomunikasi (wartel) masih tetap eksis jumlahnya mencapai 98 unit. Pemakaian internet di semua SKPD sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan pemerintahan kecuali kecamatan, namun demikian layanan komunikasi dan informasi menggunakan internet di perdesaan masih jauh dari harapan karena hampir sebagian besar desa belum memiliki akses layanan internet. Era komunikasi nir kabel yang semakin meluas semakin mendorong masyarakat Kabupaten Pati memiliki alternatif pemakaian telepon selular. Berdasarkan data PT. Telkom di Kabupaten Pati, jumlah pelanggan telepon selular semakin meningkat. Dengan terbitnya Undang-Undang No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, segala bentuk transaksi yang dilakukan secara elektronik harus memperhatikan aturanaturan yang tercantum dalam undang-undang sehingga kerugian yang dapat timbul dari pihak-pihak yang terlibat dapat ditekan sekecil mungkin. Seiring dengan arus informasi yang semakin beredar di masyarakat, pemerintah melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap informasi yang disajikan pada khalayak umum sehingga potensi konflik yang muncul antara badan publik dengan pemohon informasi dapat diperkecil. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah khususnya pasal 111 dan pasal 134 ayat (2) serta berdasarkan Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Nomor 2 Tahun 2010 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik, maka sejak tahun 2012 pengadaan barang/jasa di Pemerintah Kabupaten Pati telah menggunakan Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Hal tersebut tertuang dalam Keputusan Bupati Pati Nomor 048/040/2012 Tahun 2012 tentang Pembentukan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di Kabupaten Pati. z. Perpustakaan Kewenangan pemerintah kabupaten di bidang perpustakaan adalah menyusun pedoman penyelenggaraan perpustakaan, pengembangan jaringan perpustakaan, pengembangan SDM, pelestarian koleksi daerah di tingkat kabupaten, pembinaan teknis perputakaan, penyelamatan dan pelestarian koleksi nasional, pengembangan jabatan fungsional pustakawan, dan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan teknis di bidang perpustakaan. Penyelenggaraan perpustakaan di tingkat kabupaten secara luas Hal II - 69
70 dapat tergambar dari tingkat partisipasi dan kunjungan masyarakat, perkembangan jumlah perpustakaan serta sarana dan prasarana pendukungnya termasuk didalamnya adalah koleksi perpustakaan dan kegiatan promosi perpustakaan dalam rangka meningkatkan minat baca masyarakat. Jumlah perpustakaan yang ada di Kabupaten Pati sampai tahun 2011 tercatat sebanyak unit, yang terdiri dari 385 unit perpustakaan milik pemda dan 741 unit perpustakaan non pemda. Jumlah perpustakaan non pemda mengalami peningkatan dari tahun ketahun, pada tahun 2009 tercatat hanya 935 unit dan tahun 2011 sudah mencapai unit. Perpustakaan lain yang cukup eksis antara lain adalah perpustakaan kecamatan, perpustakaan instansi khusus dan perpustakaan agama, sedangkan untuk melayani masyarakat yang tinggal di perdesaan serta daerah-daerah yang terpencil saat ini sudah terdapat layanan perpustakaan keliling yaitu sebanyak 3 unit armada keliling. Tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan dibutuhkan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, salah satu yang penting adalah koleksi buku perpustakaan. Dilihat berdasarkan koleksi bukunya, jumlah buku yang tersedia di perpustakaan umum kabupaten cukup banyak ragamnya antara lain mulai buku fiksi, karya umum, filsafat, buku agama, ilmu sosial, bahasa, ilmu murni, ilmu terapan, seni, sastra dan buku-buku sejarah geografi. Dilihat berdasarkan jumlahnya selama 5 tahun terakhir mulai tahun selalu mengalami peningkatan, pada tahun 2009 sebanyak buku bertambah hingga mencapai buku di tahun Beberapa majalah/tabloid juga tersedia yaitu majalah/tabloid yang berkaitan dengan pertanian, kesehatan, perempuan, social dan politik. Surat kabar yang tersedia tidak hanya surat kabar lokal saja tetapi juga surat kabar nasional antara lain Suara Merdeka, Kompas dan Jawa Pos. 2. Pelayanan Urusan Pilihan a. Pertanian 1) Pertanian Tanaman Pangan (data produktivitas) Produksi padi di Kabupaten Pati dalam kurun waktu 5 tahun ( ) cenderung meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1,37%. Pada tahun 2011 produksi padi mencapai ton. Pada tahun 2011 produksi jagung mencapai ton, cenderung meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,26 %, sehingga produksi padi dan jagung yang besar ini telah mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat (surplus beras dan surplus jagung) di Kabupaten Pati. Produksi kedelai pada tahun 2011 sebanyak ton, cenderung meningkat dari tahun-tahun sebelumnya dengan rata-rata pertumbuhan 3.78 %. Jenis tanaman kacang hijau mengalami fluktuatif produksi, dengan jumlah produksi sebanyak ton pada tahun Kondisi yang sama Hal II - 70
71 juga terjadi pada ubi kayu, dengan produksi sebanyak ton pada tahun Perkembangan produksi tanaman pangan di Kabupaten Pati selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.68 berikut : Tabel Produksi Tanaman Pangan Kabupaten Pati Tahun No Indikator Padi Sawah Padi gogo Jagung Ketela Pohon Ketela Rambat Kacang Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kab. Pati, 2011 Sayur-sayuran utama yang diproduksi di Kabupaten Pati meliputi bawang merah dan cabe. Perkembangan produksi sayur-sayuran di Kabupaten Pati dapat dilihat pada Tabel 2.69 berikut : Tabel Produksi Bawang Merah dan Cabe Kabupaten Pati Tahun (Kw) No Indikator Bawang Merah Cabe Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kab. Pati, 2011 Tanaman perkebunan utama di Kabupaten Pati meliputi kelapa, kopi dan tebu. Perkembangan produksi berbagai jenis tanaman perkebunan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.70 berikut : Tabel 2.70 Produksi Tanaman Perkebunan Kabupaten Pati Tahun (Ton) No Indikator Kelapa Kopyor Kelapa ,218 3 Kopi , ,93 810, ,281 4 Tebu , ,092 Sumber : Profil Kabupaten Pati, ) Peternakan Peternakan sangat berkembang di Kabupaten Pati, terutama jenis ternak sapi potong, kerbau, kambing, domba, ayam buras, ayam ras layer, ayam ras broiler, itik, burung puyuh dan entok. Pemeliharaan sapi potong terkonsentrasi di wilayah Kabupaten Pati selatan, ternak itik banyak dipelihara Hal II - 71
72 di daerah Margotuhu Kec. Margoyoso. Jenis ternak lain penyebarannya merata di semua wilayah. Jenis ternak ruminansia yang populasinya paling banyak pada tahun 2011 adalah kambing sebanyak e.kor, sedangkan untuk jenis ternak unggas adalah ayam buras sebanyak ekor. Populasi hewan ternak yang mengalami peningkatan antara lain sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, dan kelinci. Perkembangan populasi ternak di Kabupaten Pati dapat dilihat pada Tabel 2.71 berikut : Tabel 2.71 Populasi Ternak di Kabupaten Pati Tahun (ekor) No Indikator Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Babi Kambing Domba Ayam Petelur Ayam Pedaging Ayam Buras Itik Entok Kelinci Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kab. Pati, 2011 Populasi daging sapi, pada tahun 2011 kerbau kambing, domba, ayam buras dan itik selama periode ada mengalami peningkatan cukup baik dan ada yang mengalami penurunan yang mengalami kenaikan adalah komoditi sapi kerbau dan ayam buras sedangkan lainnya mengalami penurunan dengan rata-rata pertumbuhan tertinggi daging kerbau 22,19 %, selanjutnya daging ayam buras 13,23 %, daging sapi 0,50 %. Sementara itu produksi daging ayam ras mengalami penurunan rata-rata 41,77 %. Jenis ternak yang produksi dagingnya paling banyak di Kabupaten Pati berturutturut adalah daging sapi ( kg), daging ayam ras ( kg) dan daging ayam buras ( kg). Perkembangan produksi daging masing-masing jenis ternak secara rinci tercantum pada Tabel 2.72 berikut : Tabel 2.72 Produksi Daging Kabupaten Pati Tahun (Kg) No Indikator Kerbau Kambing Domba Ayam Ras Ayam Buras Itik Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kab. Pati, 2011 Hal II - 72
73 Produksi telur ayam buras, ayam ras layer, itik dan burung puyuh dalam kurun waktu lima tahun ( ) terlihat fluktuatif. Produksi telur terbanyak adalah pada jenis telur ayam itik ( kg), selanjutnya telur ayam buras ( kg), telur ayam ras ( kg) dan terendah telur puyuh ( kg). Produksi telur masing-masing jenis hewan ternak dapat dilihat pada Tabel 2.73 berikut : Tabel Produksi Telur Kabupaten Pati Tahun (Kg) No Indikator Ayam Ras Ayam Buras Itik Puyuh Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kab. Pati, 2011 b. Kehutanan Tingkat ketertutupan hutan di Kabupaten Pati tergolong baik, yaitu mencapai 38,8 % dari luas wilayah kabupaten, lebih tinggi dari rata-rata Jawa Tengah yang hanya sebesar 27,8%. Luas hutan negara di Kabupaten Pati sampai dengan tahun 2011 sebesar ,5 ha, dengan komposisi terbesar berupa hutan produksi ,1 ha dan hutan lindung sebesar ha. Luas hutan rakyat juga cukup besar yaitu mencapai Ha, pengelolaannya dilakukan oleh masyarakat, baik secara swadaya maupun melalui kelompok tani hutan. Pengembangan hutan rakyat selama ini difasilitasi oleh pemerintah, baik Pemerintah Pusat melalui program GNRHL maupun pemerintah Kabupaten Pati. Luas hutan rakyat meningkat seiring semakin meningkatnya permintaan kayu rakyat terutama jenis sengon. Data luas hutan dapat dilihat pada Tabel 2.74 berikut: Tabel 2.74 Perkembangan Luas Hutan di Kabupaten Pati Tahun No Indikator Hutan Negara , , , , ,5 2 Hutan Produksi tetap , , , , ,1 (ha) 3 Hutan Produksi 1.643, , , , ,4 Terbatas (ha) 4 Hutan lindung (ha) 1.577, , , , ,6 5 Hutan Rakyat (ha) Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Pati, 2011 Lahan hutan saat ini telah memberikan kontribusi terhadap pendapatan masyarakat desa di sekitar hutan. Saat ini masyarakat dapat memanfaatkan lahan hutan untuk penanaman palawija dan empon-empon di bawah tegakan pohon tanaman hutan, dengan harapan terjalinnya kemitraan dalam pengelolaan hutan antara PT Perhutani dan masyarakat. Hutan juga memberikan jasa lingkungan yang dimanfaatkan berbagai kalangan masyarakat. Jasa lingkungan hutan di Kabupaten Pati antara lain sebagai sumber air bersih yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Pati. Selain itu, beberapa perusahaan Hal II - 73
74 air minum kemasan juga memanfaatkan air pegunungan untuk diolah menjadi produk air minum kemasan. Untuk memelihara kelestarian lingkungan hutan ini diperlukan penerapan jasa lingkungan, melalui pengalokasian dana CSR beberapa perusahaan pemanfaat air dari Kabupaten Pati untuk melakukan penghijauan hutan dengan melibatkan masyarakat di sekitar hutan. Luas lahan kritis Kabupaten Pati mengalami penurunan dari seluas ha pada tahun 2007 menjadi seluas ,35 ha pada tahun Upaya mengurangi luasnya lahan kritis di Kabupaten Pati telah dilakukan melalui program reboisasi, baik melalui Gerakan Menanam Sejuta Pohon maupun GNRHL. Luas lahan yang telah ditanami pada tahun 2007 seluas 1112,5 ha dan pada tahun 2008 meningkat menjadi seluas 625 ha. Selain itu, dilakukan pula penghijauan dengan luasan secara kumulatif menjadi 5.075,75 ha pada tahun 2007, seluas 441,4 ha di tahun 2008, seluas 470,25 ha di tahun 2009, seluas ha pada tahun 2010 dan seluas 1.541,1 ha pada tahun Data luas lahan kritis, lahan reboisasi, lahan penghijauan dan kerusakan hutan dapat dilihat pada Tabel 2.75 berikut : Tabel 2.75 Luas Lahan Kritis, Lahan Reboisasi, Lahan Penghijauan dan Kebakaran Hutan di Kabupaten Pati Tahun (Ha) No. Jenis Lahan Tahun Lahan Kritis , , , ,35 2 Lahan Reboisasi 112, , Lahan Penghijauan 441,4 470, ,1 4 Luas Kebakaran Hutan Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Pati, 2011 c. ESDM Sesuai dengan amanat UU No. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan maka Pemerintah Kabupaten Pati dapat merencanakan peningkatan penyediaan energi dan sumber tenaga listrik untuk wilayah perdesaan dan kawasan terpencil, sesuai dengan potensi sumber energi yang tersebut (misalnya tenag mikro hidro, panas bumi, gas alam) dan lain-lain. Banyaknya stasiun pompa bahan bakar umum (SPBU) sejak tahun sebanyak 20 unit yang menyalurkan premium dan minyak solar. Sedangkan jumlah penyalur minyak tanah sebanyak 7 unit dan cenderung semakin menurun, karena penghapusan subsidi untuk minyak tanah. Jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas atau disebut Stasiun Pengisian Pompa Bulk Elpiji (SPPBE) sebanyak 2 unit, yang menyalurkan kebutuhan LPG untuk rumah tangga, hotel dan restoran serta memenuhi kebutuhan dunia usaha. Namun masih banyak rumah tangga di - Hal II - 74
75 perdesaan dan sektor usaha mikro yang menggunakan kayu bakar untuk memasak dan mengolah bahan makanan. Banyaknya bahan bakar minyak (BBM) yang disalurkan pada tahun 2007 meliputi premium sebanyak kilo liter meningkat menjadi sebesar kilo liter pada tahun 2009, sedangkan minyak tanah semakin berkurang, yaitu sebesar kilo liter menjadi sebesar kilo liter pada tahun Banyaknya minyak solar yang disalurkan dari sebesar kilo liter pada tahun 2007 menurun menjadi sebesar kilo liter pada tahun Mulai tahun melalui program nasional telah dilaksanakan konversi minyak tanah ke liquid petroleum gas (LPG) sebagai bahan bakar untuk rumah tangga kecil dalam tabung kemasan 3 kg dengan harga yang disubsidi dari APBN. Dengan pengurangan subsidi untuk minyak tanah (kerosene) maka harga jual minyak tanah sesuai harga pasar minyak dunia menjadi sebesar Rp.8.000,00 per liter (2009) dan akan berfluktuasi sesuai harga pasar minyak mentah di pasar dunia. Jumlah SPBE di Kabupaten Pati sebanyak 2 unit dengan jumlah disalurkan pada tahun 2008 sebanyak 60 metrik ton yang dipasarkan dalam tabung dengan kapasitas 3 kg, 12 kg dan 50 kg. Potensi pertambangan di Kabupaten Pati cukup besar, terutama di wilayah selatan yang merupakan wilayah pegunungan, mengandung berbagai bahan galian tambang, antara lain tras, fosfat, batu gamping, batu kapur pasiran, tanah liat, sirtu dan andesit. Potensi sumber tambang di Kabupaten Pati dapat dilihat pada Tabel 2.76 berikut : Tabel 2.76 Potensi Bahan Tambang di Kabupaten Pati No Potensi Bahan Tambang Kecamatan Jumlah Produksi (juta ton) 1 Tras Tlogowungu, Cluwak 12, Fosfat Sukolilo, Kayen, Tambakromo 1, Batu Gamping Sukolilo, Kayen, Tambakromo 790, Batu Kapur Pucakwangi, Winong 563,3250 Pasiran 5 Tanah Liat Sukolilo, Kayen, Tambakromo, 758,8800 Winong, Pucakwangi, Jaken, Jakenan, 6 Sirtu Cluwak, Tayu, Gunungwungkal, 14,4720 Gembong, Tlogowungu, Winong 7 Andesit Tlogowungu Sumber : DPU Kab. Pati, 2011 Potensi bahan tambang terbesar di Kabupaten Pati adalah andesit di Kecamatan Tlogowungu dengan produksi sebesar juta ton. Potensi bahan tambang terbesar selanjutnya yaitu tambang batu gamping yang tersebar di 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo. Dengan total produksi sebesar 790,2260 juta ton. Hal II - 75
76 d. Pariwisata Kabupaten Pati memiliki banyak potensi obyek wisata yang dapat dikembangkan menjadi daerah tujuan pariwisata sekaligus sebagai sumber pendapatan daerah, meliputi obyek wisata alam dan obyek wisata religius. Obyek wisata yang termasuk obyek wisata alam pantai yaitu pantai dan pelabuhan Banyutowo Obyek. Wisata alam pegunungan antara lain Gunungrowo Indah, Agrowisata Kebon Jollong, Air Terjun Grinjingan Sewu dan Sepletuk Jrahi. Sementara itu obyek wisata religius yaitu Makam Syeh Jangkung, Makam K.H.Mutamakin, dan Makam Sunan Prawoto. Berbagai potensi obyek wisata tersebut masih belum didukung dengan sarana dan prasarana pendukung yang memadai. Dari berbagai jenis potensi obyek wisata di Kabupaten Pati, terdapat sebanyak 1 (satu) obyek wisata daerah yang telah memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah, yaitu obyek wisata Gunungrowo Indah. Dari sekian banyak obyek wisata, jenis obyek wisata yang paling diminati oleh masyarakat adalah Gunungrowo Indah. Jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Pati dalam kurun waktu 5 tahun ( ) menunjukkan peningkatan dari sebanyak orang pada tahun 2007 menjadi orang pada tahun Pengunjung wisata semuanya adalah wisatawan nusantara, dari Kabupaten Pati sendiri (wisatawan lokal) dan daerah sekitarnya. Perkembangan jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Pati dapat dilihat pada Tabel 2.77 berikut : Tabel 2.77 Jumlah Obyek Wisata, Pengunjung Wisata dan Pendapatan Daerah dari Obyek Wisata di Kabupaten Pati Tahun No Kategori Satuan Tahun Banyaknya obyek wisata (OB) Unit Jumlah Pengunjung wisata 3 Jumlah pendapatan daerah dari OB Orang Rp Sumber : Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Olah Raga Kab. Pati, 2011 Lama tinggal wisatawan di Kabupaten Pati umumnya sangat singkat, yaitu hanya satu hari. Hal ini disebabkan daya tarik obyek wisata masih sangat kurang dan sebagian besar pengunjung wisata adalah penduduk asli Kabupaten Pati yang jarak rumahnya relatif terjangkau. Jumlah hotel di Kabupaten Pati tahun 2011 sebanyak 26 hotel bertaraf melati dengan kamar yang tersedia sebanyak 706 kamar dengan tingkat hunian rata-rata 35%. Sementara itu jumlah pengunjung hotel (penginap) sebanyak orang pada tahun 2011 dengan lama menginap rata-rata 2 (dua) malam. Pengeluaran wisatawan di Kabupaten Pati juga masih rendah, karena tidak didukung dengan industri pariwisata yang menjadi Hal II - 76
77 ciri khas daerah. Industri pariwisata di Kabupaten Pati belum begitu berkembang. Jarang ditemui produk-produk industri khas daerah yang dipasarkan di obyek wisata daerah. Pada saat-saat tertentu saja masyarakat yang memanfaatkan obyek wisata untuk menjual makanan dan minuman bagi para pengunjung. Industri pariwisata belum mengarah pada pemasaran potensi produk industri kreatif dan UMKM yang menjadi ciri khas Kabupaten Pati, seperti kerajinan, hasil konveksi, makanan khas dan jasa-jasa. Pemasaran pariwisata di Kabupaten Pati tergolong masih sangat kurang. Hal ini dapat dilihat dari penyelenggaraan event MICE (Meeting, Incentive travel, Conference and Exhibition) di Kabupaten Pati yang sangat jarang, dan penyelenggaraan event pariwisata dan partisipasi promosi pariwisata pada event berskala regional, nasional dan internasional yang sangat sedikit. Padahal Kabupaten Pati memiliki event budaya daerah, seperti Meron dan Sedekah Laut. Pemasaran pariwisata daerah juga belum didukung keberadaan pusat pelayanan informasi kepariwisataan daerah. Selama ini pusat pelayanan informasi pariwisata hanya berada di Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga yang letaknya tidak strategis, tidak berada di pusat kota. Jumlah obyek wisata yang memiliki kelengkapan bahan promosi pariwisata juga masih sangat terbatas. e. Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati memiliki potensi perikanan yang besar, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Perikanan tangkap di laut Kabupaten Pati dari tahun 2007 hingga tahun 2011 mengalami peningkatan produksi, dari kg menjadi kg. Nilai produksi perikanan tangkap cenderung meningkat dari sebesar Rp ,- pada tahun 2007 menjadi Rp ,- pada tahun Jika dibandingkan potensi lestari perikanan sebesar kg, maka dapat disimpulkan bahwa di Kabupaten Pati telah terjadi overfishing karena telah melampaui batas potensi lestari perikanan. Perkembangan produksi perikanan tangkap di laut dalam kurun waktu 5 tahun dapat dilihat pada Tabel 2.78 berikut : Tabel 2.78 Produksi Perikanan Tangkap di Laut Kabupaten Pati Tahun No Uraian 1. Produksi Perikanan Tangkap (kg) 2. Nilai Perikanan Tangkap (rupiah) Tahun Sumber: Daerah Dalam Angka Kab.Pati, 2011 Berbeda dengan perikanan tangkap di laut, produksi perikanan tangkap di perairan umum dalam kurun waktu 5 tahun sedikit meningkat, dari sebanyak kg senilai Rp ,- Hal II - 77
78 pada tahun 2007 menjadi kg senilai Rp ,- pada tahun Data produksi dan nilai produksi perikanan tangkap di perairan umum di Kabupaten Pati selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.79 berikut : Tabel 2.79 Produksi Perikanan Tangkap di Perairan Umum Kabupaten Pati Tahun No Jenis Perikanan Produksi (kg) Nilai Produksi (Rp 1.000) Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Pati, 2011 Produksi perikanan budidaya air payau (tambak) di Kabupaten Pati dalam kurun waktu 5 tahun ( ) menunjukkan peningkatan. Produksi perikanan budidaya air payau pada tahun 2007 hanya sebanyak kg senilai Rp ,- Pada tahun 2011 produksi perikanan budaya air payau telah mencapai sebanyak kg senilai Rp Beberapa komoditas perikanan yang dibudidayakan antara lain ikan bandeng, udang windu, udang krosok, udang vanamel, kepiting dan ikan rucah. Peningkatan produksi perikanan budidaya air payau di Kabupaten Pati disebabkan adanya penambahan luas tambak dari seluas ha pada tahun 2007 menjadi ha pada tahun 2010 dan tahun Penambahan luas tambak ini perlu diwaspadai agar tidak merusak ekosistem mangrove yang dapat memicu terjadinya abrasi pantai. Data jumlah produksi dan nilai produksi perikanan budidaya air payau di Kabupaten Pati secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2.80 berikut : Tabel 2.80 Produksi Perikanan Budidaya Air Payau di Kabupaten Pati Tahun Jenis No Perikanan 1 Luas tambak 2 Produksi (kg) 3 Nilai Produksi (ribuan Rp) Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, 2011 Produksi budidaya perikanan air tawar juga menunjukkan peningkatan dalam kurun waktu 5 tahun ( ), dari sebanyak kg atau senilai Rp ,- pada tahun 2007 menjadi sebanyak kg atau senilai Rp ,- pada tahun Pada tahun 2011 jenis ikan yang banyak dibudidayakan adalah ikan lele ( kg) dan ikan mas ( kg), lainnya berupa ikan tawes, ikan mujaer, ikan nila, ikan kaper dan ikan bawal. Dalam kurun waktu 5 tahun terjadi perubahan luas kolam budidaya, yaitu seluas 19,57 ha pada tahun 2007 naik menjadi 272 ha pada tahun Budidaya perikanan air tawar di kolam diusahakan pada lahan seluas 272 ha yang Hal II - 78
79 tersebar di seluruh kecamatan, dengan luasan terbesar di Kecamatan Kayen (174 ha) dan Kecamatan Gabus (66 ha). Data produksi dan nilai produksi perikanan budidaya di Kabupaten Pati selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.81 berikut : Tabel 2.81 Produksi Perikanan Budidaya Air Tawar di Kabupaten Pati Tahun Tahun No Uraian Luas kolam (ha) 19, , Produksi perikanan budidaya air tawar (kg) 3. Nilai perikanan air tawar (rupiah) Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Dalam kurun waktu 5 tahun terjadi kenaikan jumlah nelayan di Kabupaten Pati, yaitu dari sebanyak orang pada tahun 2007 menjadi orang pada tahun Dari jumlah nelayan sebanyak orang, 79,43% diantaranya termasuk nelayan pandega (nelayan yang tidak memiliki kapal/perahu sendiri) dan sisanya nelayan juragan. Perkembangan jumlah nelayan di Kabupaten Pati dapat dilihat pada Tabel 2.82 berikut : Tabel 2.82 Jumlah Nelayan di Kabupaten Pati Tahun (Orang) No Jenis Nelayan Nelayan Juragan Nelayan Pandega Jumlah Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, 2011 Tingginya potensi perikanan, baik perikanan laut maupun perikanan darat belum diikuti dengan ekspor produk perikanan, dukungan usaha pengolahan ikan dan tingkat konsumsi ikan masyarakat. Usaha pengolahan ikan yang ada selama ini masih bersifat tradisional dengan volume produksi kecil dan nilai produk olahan ikan yang masih rendah. Tingkat konsumsi ikan masyarakat yang rendah disebabkan oleh tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah akan nilai gizi produk perikanan bagi kesehatan. Jumlah rumah tangga yang bergerak di bidang budidaya perikanan air payau (tambak) sebanyak 9129 RTP, terdiri dari sebanyak RTP di Kecamatan Batangan, RTP di Kecamatan Trangkil, RTP Kecamatan Margoyoso,1.125 RTP Kecamatan Tayu,1.114 RTP Kecamatan Dukuhseti,366 RTP Kec.Wedarijaksa dan terbanyak di Kecamatan Juwana sejumlah RTP. Sementara itu budidaya ikan kolam terdiri dari budidaya kolam campuran yang ditekuni oleh sebanyak 474 RTP tersebar di 21 kecamatan, terbanyak di Kecamatan Kayen (196 RTP) dan Kecamatan Gabus (46 RTP) dan budidaya kolam lele yang Hal II - 79
80 ditekuni oleh sebanyak RTP tersebar di 21 kecamatan, yang terbesar di Kecamatan Pati (288 RTP) dan Kecamatan Margorejo (197 RTP). Rata-rata pendapatan pembudidaya ikan masih rendah, sehingga belum dapat meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan. Sarana dan prasarana perikanan tangkap di Kabupaten Pati antara lain Tempat Pelelangan Ikan (TPI), sebanyak 8 unit. Kapal penangkapan ikan di Kabupaten Pati terdiri dari kapal motor dan perahu motor tempel, kesemuanya berukuran di bawah 10 GT dan layak untuk dioperasikan. Jumlah kapal dalam kurun waktu tiga tahun ( ) menunjukkan adanya penurunan dari sebanyak unit pada tahun 2007 menjadi unit pada tahun Dilihat dari komposisinya, kapal motor tempel masih mendominasi kapal yang ada di Kabupaten Pati, yaitu mencapai 79,93 %. Perkembangan jumlah kapal motor di Kabupaten Pati selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.83 berikut : Tabel 2.83 Jumlah Kapal di Kabupaten Pati Tahun No Jenis kapal Kapal Motor (unit) Perahu Motor Tempel (unit) Perahu tanpa motor (unit) Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, 2011 Di Kabupaten Pati sampai dengan tahun 2011 luas kawasan mangrove sebesar 125 ha. Sementara itu kerusakan pantai yang terjadi berupa abrasi seluas 218 ha. Abrasi pantai ini terjadi pada wilayah-wilayah yang pantainya terbuka secara langsung dengan perairan laut. Untuk menghindari terjadinya abrasi pantai yang lebih parah diperlukan pelestarian dan pengembangan kawasan mangrove. f. Perdagangan Sarana perdagangan di Kabupaten Pati cukup lengkap. Sarana perdagangan yang ada di Kabupaten Pati terdiri dari pasar induk, pasar tradisional dan pasar (retail) swalayan. Jumlah pasar tradisional lebih banyak daripada pasar (retail) swalayan. Gambaran sarana dan prasarana perdagangan terlihat pada Tabel 2.84 sebagai berikut : Tabel 2.84 Jumlah sarana dan Prasarana Perdagangan Kabupaten Pati tahun No Uraian A B Kategori Pasar a. pasar induk b. pasar tradisional c. Pasar retail (pasar swalayan) Potensi Pasar Yang Dikelola Pemerintah Kabupaten Jumlah Pasar (unit) Hal II - 80
81 No Uraian Luas Pasar (m2) Jumlah Toko (Unit) Jumlah Kios (Unit) Jumlah petak los (petak) Jumlah los petak (petak) Sumber: Disperindag Kabupaten Pati, 2011 Tabel di atas menunjukkan bahwa selama kurun waktu pertumbuhan sarana dan prasarana perdagangan relatif kecil atau tidak ada perubahan berarti. Selama kurun waktu pasar tradisional bertambah 5 unit dan pasar swalayan (retail) bertambah 19 unit. Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan prasarana perekonomian di Kabupaten Pati relatif cukup baik. Dalam hal perdagangan, beberapa komoditas dari Kabupaten Pati juga sudah menembus pasar internasional. Jenis produksi tersebut umumnya pertanian dan perikanan seperti komoditas udang windu kemasan. Adanya kegiatan ekspor komoditas tersebut tidak diimbangi dengan kegiatan impor dari luar negeri secara langsung. Hal tersebut dapat mengindikasikan sisi positif yaitu dengan adanya surplus neraca perdagangan daerah karena nilai ekspor yang tinggi dan nilai impor yang rendah. Berikut disajikan Tabel 2.85 produksi ekspor dari Kabupaten Pati selama tahun Tabel 2.85 Data Realisasi Ekspor Non Migas Kabupaten Pati No Nama Perusahaan/ Jenis Komoditi Volume(TON)/Nilai Ekspor(Juta Rp) Negara Tujuan 1 PT.KRISNA KUNINGAN USA, MALAYSIA, JERMAN, INDIA, BELANDA, CZECH., 2 PT.SIMPATI JEPANG, JERMAN 3 PTP JOLONG ITALY PT.MISAJA MITRA PT. GARUDA FOOD PP JAYA CV. MOJO AGUNG PT. SINAR JAYA PT RAJAWALI PERKASAFU RN PT KAYU PERKASA RAYA ,367, JEPANG, DENMARK, BELANDA HONGKONG, MALAYSIA, SINGA[URA, KOREA, BRUNEI, UEA, TAIWAN, BELANDA, NEW S W, AUSTRALIA MALAYSIA, PILIPINA, THAILAND. MACAU, HONGKONG, SINGAPURA, MALAYSIA. FINLANDIA, SPANYOL, BELGIA, HONGKONG, PERANCIS, BELANDA, ITALY, USA ITALY, SWEDIA, USA, LATVIA, CYPRUS, JERMAN, AUSTRALIAMESIR, HAWAI, NORWEGIA, 10 CV. RIMBA BELGIA POLANDIA, Hal II - 81
82 11 12 MAKMUR JERMAN, AUSTRALIA, RUSIA, BELANDA CV. ASIA WOOD WORKING INDT PT. GUNA NUSA ESA MANDIRI Sumber: Disperindag Kabupaten Pati, JERMAN, ITALY, SLOVENIA, AUSTRALIA, UEA, NEWZEALAND, SINGAPURA MALAYSIA, USA, HONGKONG, SINGAPURA, PILIPINA, BELANDA g. Industri Komposisi industri di Kabupaten Pati paling banyak adalah industri kecil non formal, selanjutnya industri kecil formal, industri menengah dan paling sedikit industri besar. Sampai tahun 2010 di Kabupaten Pati hanya terdapat dua industri besar yaitu PT. Dua kelinci dan PT. Garuda Food dengan total nilai produksi sebesar Rp. 32 milyar. Perkembangan industri di Kabupaten Pati terlihat pada Tabel 2.86 sebagai berikut : Tabel 2.86 Perkembangan Industri di Kabupaten Pati Tahun No Indikator Satuan A Perkembangan Industri 1 Industri Besar Unit Usaha Unit Nilai Produksi Rp. Jt Tenaga Kerja terserap 2 Industri Menengah orang Unit Usaha Unit * * Nilai Produksi Tenaga Kerja terserap Rp. Jt orang * * Sumber: Disperindag Kab. Pati, 2011 Jumlah tenaga kerja pada industri menengah menunjukkan peningkatan dari tahun 2007 hingga tahun 2011, sehingga mampu memberikan kontribusi bagi pengurangan pangangguran di Kabupaten Pati. Tenaga kerja terserap pada industri besar mengalami penurunan dari tahun 2007 ke tahun Sementara itu tenaga kerja yang terserap pada industri menengah mengalami peningkatan. Secara umum daya saing produk industri di Kabupaten Pati masih kurang dengan produk dari daerah lain dan negara lain. Harga produk dari Negara lain, khususnya China sebagian besar lebih murah dibandingkan harga produk industri Kabupaten Pati. Pemasaran produk industri kecil masih menghadapi kendala dalam pemasaran, sehingga jangkauan pemasaran produk masih terbatas. Produk industri di Kabupaten Pati yang telah diekspor antara lain industri kacang atom dan udang windu kemasan. Hal II - 82
83 h. Ketransmigrasian Penyelenggaraan transmigrasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya serta peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah. Sasaran penyelenggaraan transmigrasi adalah meningkatkan kemampuan dan produktifitas masyarakat transmigrasi, membangun kemandirian dan mewujudkan integrasi di permukiman transmigrasi, sehingga ekonomi dan sosial budaya mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Penyelenggaraan pembangunan transmigrasi mengalami perubahan dari supply approach yang ditangani secara sentralistik menjadi demand approach yang perencanaan dan pelaksanaannya dilaksanakan oleh Pemerintah kabupaten/kota difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi. Perubahan kebijakan ini menjadikan pembangunan transmigrasi tidak lagi diposisikan sebagai program pemerintah pusat, tetapi sepenuhnya menjadi program pemerintah daerah bersama masyarakat. Gambaran kondisi pembangunan ketransmigrasian di Kabupaten Pati selama kurun waktu disajikan pada Tabel 2.87 berikut ini : Tabel 2.87 PerkembanganTransmigrasi di Kabupaten Pati Tahun No Indikator Satuan a. Jumlah Calon Transmigran yang mendaftar Jumlah Rumah Tangga KK Jumlah Calon Transmigran Jiwa b. Jumlah Transmigran yang diberangkatkan Berdasarkan Jenis Transmigrasi 1 Transmigrasi umum Jumlah Rumah Tangga KK Jumlah Transmigran Jiwa Transmigrasi Swakarsa Mandiri Jumlah Rumah Tangga KK Jumlah Transmigran Jiwa Jumlah Total Jumlah Rumah Tangga KK Jumlah Transmigran Jiwa Sumber : Dinas Sosial, Tenaga kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pati, 2011 Jumlah calon transmigran terdaftar di Kabupaten Pati selama kurun waktu cenderung mengalami peningkatan, pada tahun 2007 jumlah calon transmigran sebanyak 436 jiwa dan pada tahun 2011 sebanyak jiwa. Demikian juga jumlah transmigran yang diberangkatkan selama lima tahun terakhir cenderung tetap sesuai dengan jumlah kuota dari Kemenakertrans RI, pada tahun 2011 Kabupaten Pati memberangkatkan transmigran sebanyak 54 jiwa. Hal II - 83
84 Dilihat menurut jenisnya pada tahun 2011 transmigrasi yang diberangkatkan dari Kabupaten Pati terdiri dari Transmigrasi Umum ( 15 KK atau 54 RT). Jika dilihat berdasarkan daerah tujuan transmigrasi, Provinsi Kalimantan Barat dan Bengkulu adalah daerah yang paling banyak dituju. Selain itu Provinsi lain sebagai daerah tujuan transmigrasi dari Kabupaten Pati adalah Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Jambi. Fasilitas bidang transmigrasi yang disediakan oleh pemerintah Kabupaten Pati dalam melaksanakan penyebaran informasi ketransmigrasian saat ini masih belum optimal, ditunjukkan dengan belum tersedianya Pusat Informasi Ketransmigrasian, Sistem Informasi Ketransmigrasian dan Jumlah Kegiatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Ketransmigrasian. Selama 5 tahun Pemerintah Kabupaten Pati telah melaksanakan kerja sama dengan daerah lain (MoU) sebanyak 6 MoU yaitu Pemerintah Kabupaten Kota Waringin Barat Prov. Kalimantan Tengah (di lokasi Kumai Sebrang), Pemerintah Kabupaten Kubu Raya Prov. Kalimantan Barat (di lokasi Terentang Hulu SP.1), Pemerintah Kabupaten Kuburaya, Prov. Kalimantan Barat (di lokasi Dabung), Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan Prov. Bengkulu (di lokasi Tanjung Aur II Kec. Pinoraya), Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Prov. Jambi (di lokasi Sungai Gelam), Pemerintah Kabupaten Ketapang Prov. Kalimantan Barat (di lokasi SEI Besar Kec. Hilir Selatan). D. Aspek Daya Saing Daerah 1. Fokus Kemampuan ekonomi Daerah Sebagai daerah agraris dan maritim Kabupaten Pati mempunyai potensi yang besar dalam bidang pertanian/peternakan dan perikanan. Hasil pertanian/peternakan serta perikanan sudah dikenal dan dinikmati oleh berbagai daerah di luar Kabupaten Pati. Hal ini sebenarnya menjadi daya pikat yang besar bagi para investor, akan tetapi hingga saat ini masih belum banyak investor yang tergerak berinvestasi pada bidang tersebut di Kabupaten Pati. Kurangnya promosi dan penyebarluasan informasi menjadi salah satu faktor penyebabnya. Selain itu kurang dikemasnya secara menarik potensi tersebut menjadikan para investor masih memandang sebelah mata potensi di bidang pertanian/peternakan dan perikanan. Kabupaten mempunyai penduduk usia produktif yang cukup tinggi, jiwa atau sekitar 67,64% dari jumlah total penduduk Kabupaten Pati. Hal ini juga sebenarnya merupakan potensi besar bagi para investor yang berkeinginan mendirikan industri di Kabupaten Pati. Selain di bidang pertanian saat ini baru dikembangkan konsep klaster sebagai suatu pendekatan kebijakan baru dalam pengembangan wilayah yang telah digunakan di berbagai negara baik negara maju maupun negara berkembang, terutama dikaitkan dengan kesiapan suatu wilayah meningkatkan daya saingnya dalam menghadapi regionalisasi dan globalisasi. Klaster secara signifikan meningkatkan kemampuan ekonomi daerah untuk membangun kekayaan masyarakat. Klaster Hal II - 84
85 mampu bertindak sebagai pendorong inovasi, dimana keberadaan unsurunsur dalam klaster diperlukan untuk mengubah gagasan menjadi kekayaan. Sejalan dengan itu, Kabupaten Pati pun telah mengembangkan beberapa klaster, diantaranya: 1. Klaster konveksi di Ds. Kuryokalangan, Kec. Gabus; 2. Klaster Handycraft di Ds. Dukuhseti, Kec. Dukuhseti; 3. Klaster buah-buahan di Ds. Bageng, Kec. Gembong; 4. Klaster sutera alam di Ds. Regaloh, Kec. Tlogowungu; 5. Klaster makanan ringan di Ds. Trangkil, Kec. Trangkil; 6. Klaster bandeng air tawar di Ds. Talun, Kec. Kayen; 7. Klaster batik tulis bakaran di Ds. Bakaran, Kec. Juana; 8. Klaster kapuk randu di Ds. Karaban, Kec. Gabus; 9. Klaster pengolahan hasil laut di Ds. Bajomulyo, Kec. Juana; 10. Klaster kuningan di Kec. Juana 11. Klaster kopi di Ds. Sitiluhur, Kec. Gembong; dan 12. Klaster tapioka di Kec. Margoyoso. Dengan sistem klaster ini, diharapkan potensi lokal dan kekhasan daerah Pati bisa dikembangkan dan mendongkrak daya saing daerah sehingga pada muaranya mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu strategi melakukan reformasi pelayanan publik, memperbaiki kualitas produk dan jasa pelayanan publik termasuk jaminan keamanan, serta kerjasama dengan daerah lain diharapkan juga akan meningkatkan daya saing daerah. 2. Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur a. Kondisi Infrastruktur Kondisi prasarana jalan Kabupaten Pati dilalui jalur pantura yang merupakan jalan nasional dan provinsi dengan panjang jalan nasional 34,208 km dan jalan provinsi sepanjang 107,19 km sedangkan panjang jalan kabupaten yang menghubungkan pusat ibukota Kabupaten Pati dengan seluruh wilayah kecamatan sepanjang 812,72 km (data BPS Kabupaten Pati 2011). Sementara itu pelayanan pergerakan antar daerah di Kabupaten Pati dilayani oleh Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan kendaraan umum berupa angkutan pedesaan, serta angkutan tidak bermotor (becak dan dokar). Jumlah bus AKAP tahun 2011 sebanyak 63 unit. Sementara itu untuk perkembangan bus AKDP tahun 2011 sebesar 131 unit. b. Fasilitas Penunjang Salah satu fasilitas penunjang perkembangan wilayah adalah hotel. Jumlah hotel di Kabupaten Pati tahun 2011 sebanyak 26 Hotel bertaraf melati dengan kamar sebanyak 706 kamar dengan tingkat hunian rata-rata 35 %. Sementara itu jumlah pengunjung hotel (penginap) sebanyak orang pada tahun 2011 dengan lama menginap rata-rata 2 (dua) malam. Hal II - 85
86 c. Jaringan Listrik Tingkat elektrifikasi desa di Kabupaten Pati sejak tahun 2011 telah mencapai 86,9%, seluruhnya pelayanan listrik untuk rumah tangga dan kegiatan usaha dilayani oleh PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) jaringan interkoneksi Jawa-Bali. Jumlah jaringan/instalasi listrik tahun 2011 sebanyak 13 unit, dengan keluarga yang menggunakan listrik (pelanggan) sebanyak KK. Pada tahun 2012 jumlah jaringan/instalasi listrik masih sama seperti tahun 2011, keluarga yang menggunakan listrik (pelanggan) sebanyak KK. Sebagian besar pelanggan listrik termasuk pelanggan rumah tangga kecil (R-1) dengan daya terpasang sampai dengan watt. d. Ketaatan Terhadap RTRW Dalam rangka memenuhi amanat Undang-undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Pemerintah Kabupaten Pati telah menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 5 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pati Tahun RTRW merupakan landasan umum dalam pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang serta menjadi salah satu dasar perencanaan pembangunan di Kabupaten Pati yang secara rinci dituangkan dalam indikasi program. Sebagai peraturan daerah dan landasan operasional pengendalian pemanfaatan ruang, khusunya proses perizinan diperlukan rencana tata ruang yang bersifat lebih rinci yaitu rencana detail tata ruang dan peraturan zonasi. 3. Fokus Iklim Berinvestasi Dalam melakukan penanaman investasi di suatu daerah para investor melihat kondusifitas dan kemudahan berusaha di daerah tersebut. Kondusifitas satu daerah dapat diukur dari keamanan lingkungan, antara lain angka kriminalitas dan demonstrasi. Angka kriminalitas di Kabupaten Pati dalam kurun waktu mengalami fluktuasi dan angka kriminalitas tertinggi terjadi pada tahun Perkembangan jumlah kasus kriminalitas dan kasus demonstrasi yang terjadi di Kabupaten Pati dapat dilihat pada Tabel 2.88 berikut : Tabel 2.88 Perkembangan Kasus Kriminalitas dan Demonstrasi Kabupaten Pati Tahun No Indikator Jumlah Kasus Kriminal Jumlah Demonstrasi dalam 1 tahun Sumber : Kantor Kesbangpolinmas Kabupaten Pati, 2011 Rata-rata proses perijinan memerlukan waktu 12 hari mulai tahun Macam pajak dan retribusi daerah sampai tahun 2011 mencapai 24 macam pajak dan retribusi daerah sebagaimana terlihat pada Tabel 2.89 berikut: Hal II - 86
87 Tabel 2.89 Lama Proses Perijinan Usaha, Jumlah Macam Pajak/Retribusi dan Perda yang Mendukung Investasi di Kabupaten Pati Tahun No Indikator Satuan Rata-rata lama proses perijinan hari Jumlah macam pajak dan retribusi daerah 3 Jumlah perda yang mendukung iklim usaha Sumber : KPPT Kab. Pati, 2011 jenis buah Fokus Sumberdaya Manusia Rasio ketergantungan penduduk di Kabupaten Pati dalam kurun waktu 5 tahun tergolong tinggi. Rasio ketergantungan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 rata rata antara 47,75 51,45 %, ini menunjukkan ketergantungan penduduk yang berusia dibawah 15 tahun dan di atas 64 tahun (penduduk non produktif) terhadap penduduk usia tahun (usia produktif) tergolong tinggi. Perkembangan rasio ketergantungan penduduk di Kabupaten Pati dapat dilihat pada Tabel 2.90 berikut : Tabel 2.90 Jumlah Penduduk Usia Produktif dan Angka Ketergantungan Penduduk Kabupaten Pati Tahun No Indikator Satuan Jumlah penduduk Jiwa <15th dan >64 th Jumlah penduduk Jiwa usia th Dependency ratio 50,06 47,75 51,45 47,83 48,06 Sumber : Pati Dalam Angka Tahun 2011 Hal II - 87
BAB I PENDAHULUAN. Bab I Berisi: 1.1 Pemerintahan 1.2 Kepegawaian 1.3 Kondisi Geografis Daerah 1.4 Gambaran Umum Demografi 1.
BAB I PENDAHULUAN Bab I Berisi: 1.1 Pemerintahan 1.2 Kepegawaian 1.3 Kondisi Geografis Daerah 1.4 Gambaran Umum Demografi 1.5 Sistematika Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Kabupaten
GAMBARAN WILAYAH PEGUNUNGAN KENDENG
101 GAMBARAN WILAYAH PEGUNUNGAN KENDENG Wilayah Pegunungan Kendeng merupakan bagian dari Kabupaten Pati dengan kondisi umum yang tidak terpisahkan dari kondisi Kabupaten Pati. Kondisi wilayah Pegunungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat Kabupaten Pati khususnya di Kecamatan Tlogowungu diantaranya dengan memenuhi kebutuhan air bersih dan
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4
BAB 3 GAMBARAN UMUM Gambaran Umum Kabupaten Pati
BAB 3 GAMBARAN UMUM 3.1. Gambaran Umum Kabupaten Pati Kabupaten Pati merupakan salah satu dari 35 daerah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah 150.368 Ha. Secara administratif terbagi
BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Geografi 1. Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Pati merupakan salah satu bagian dari 35 Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Pati merupakan
BADAN PUSAT STATISTIK Kabupaten Pati
BADAN PUSAT STATISTIK Kabupaten Pati IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI Sekapur Sirih Sebagai pengemban amanat Undang-undang
Lampiran Perjanjian Kinerja Tahun 2015 PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GOWA
Lampiran Perjanjian Kinerja Tahun 2015 PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GOWA NO INDIKATOR SASARAN INDIKATOR KINERJA TARGET SATUAN BESARAN Misi 1 : Meningkatnya kualitas sumber daya manusia dengan berbasis pada
BAB I PENDAHULUAN... I-1
DAFTAR ISI Daftar Isi... Daftar... Daftar Gambar... BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen... I-7 1.4. Kaidah Pelaksanaan...
BLORA SELAYANG PANDANG TAHUN 2015
BLORA SELAYANG PANDANG TAHUN 2015 1. Letak Geografis : antara 1110 16 s/d 1110 338 Bujur Timur dan 60 528 s/d 70 248 Lintang Selatan 1. Letak Geografis : antara 1110 16 s/d 1110 338 Bujur Timur dan 60
Lampiran 1. Perjanjian Kinerja Tahun 2016
Lampiran 1. Perjanjian Kinerja Tahun 2016 NO INDIKATOR KINERJA Misi 1 : Meningkatnya kualitas sumber daya manusia dengan berbasis pada hak-hak dasar masyarakat Sasaran 1 : Meningkatnya Aksesibilitas dan
DAFTAR TABEL. Tabel Judul Halaman: 1.1 Nama Kecamatan, Luas Wilayah dan Jumlah Desa/Kelurahan Luas Tanah Menurut Penggunaannya 4
DAFTAR ISI Halaman: KATA PENGANTAR DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... ii DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR GRAFIK... ix DAFTAR LAMPIRAN... x BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Pemerintahan... 1 1.2 Kepegawaian... 2 1.3
Lampiran Perjanjian Kinerja Tahun 2014 PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GOWA
1 Lampiran Perjanjian Kinerja Tahun 2014 PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GOWA NO INDIKATOR SASARAN INDIKATOR KINERJA TARGET SATUAN BESARAN Misi 1 : Meningkatnya kualitas sumber daya manusia dengan berbasis
NO INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET TAHUN Misi 1 : Meningkatnya kualitas sumber daya manusia dengan berbasis pada hak-hak dasar masyarakat
Lampiran 1. Perjanjian Kinerja Tahun 2015 NO INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET TAHUN 2015 Misi 1 : Meningkatnya kualitas sumber daya manusia dengan berbasis pada hak-hak dasar masyarakat Sasaran 1 : Meningkatnya
Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI
Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... 3 1.3 Hubungan Antar Dokumen Perencanaan... 5 1.4 Sistematika
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... Halaman PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2016-2021... 1 BAB I PENDAHULUAN...
RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN
RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN 2016-2021 PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU 2016 Bab I Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... ix PENDAHULUAN I-1
2.25. Jumlah Anak Balita Hidup dan Jumlah Kasus Kematian Balita di 32 KecamatanTahun II-42 Tabel Jumlah kasus kematian ibu hamil,
LAMPRIAN : PERATURAN DAERAH KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN TAHUN 2014-2019 DAFTAR ISI DAFTAR ISI...
IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -
IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13
Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau
Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau 2013-2018 Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau i Kata Pengantar Kepala Bappeda Kabupaten Pulang Pisau iii Daftar Isi v Daftar Tabel vii Daftar Bagan
BAB 5 PENUTUP Kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya, dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut:
BAB 5 PENUTUP Dengan menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA), dapat diketahui nilai efisiensi relatif 29 puskesmas di Kabupaten Pati. Nilai efisiensi tersebut akan menunjukkan puskesmas mana yang beroperasi
4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR
44 Keterbatasan Kajian Penelitian PKL di suatu perkotaan sangat kompleks karena melibatkan banyak stakeholder, membutuhkan banyak biaya, waktu dan tenaga. Dengan demikian, penelitian ini memiliki beberapa
BAB I PENDAHULUAN. Oleh karena itu pariwisata perlu dikelola dan dikembangkan agar. itu sendiri maupun bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat 1.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Di Indonesia pariwisata merupakan sektor andalan penerimaan devisa negara bagi kegiatan ekonomi dan kegiatan sektor lain yang terkait. Oleh karena itu pariwisata perlu
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur
DAFTAR TABEL. Kabupaten Rembang Tahun II-1. Kecamatan di Kabupaten Rembang Tahun II-12. Kelamin Kabupaten Rembang Tahun
DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Wilayah Administratif Menurut Kecamatan/Desa di Kabupaten Rembang Tahun 2015... II-1 Tabel 2.2. Jumlah dan Rasio Jenis Kelamin Penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten Rembang Tahun
Sekretariat Daerah Bappeda A. LEGALISASI RAPERDA RTRW B. PERWUJUDAN STRUKTUR RUANG. program :
LAMPIRAN V : PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PATI TAHUN 2010-2030 INDIKASI PROGRAM RTRW KABUPATEN PATI TAHUN 2010-2030 NO. 2010 2011 2012
Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Bangka Barat Tahun 2014 DAFTAR ISI
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ------------------------------------------------------------------------------------------------------ i DAFTAR ISI ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
RANCANGAN RENCANA PELAKSANAAN RPJMD TAHUN KE-4
RANCANGAN RENCANA PELAKSANAAN RPJMD TAHUN KE-4 RPJMD KOTA LUBUKLINGGAU 2008-2013 VISI Terwujudnya Kota Lubuklinggau Sebagai Pusat Perdagangan, Industri, Jasa dan Pendidikan Melalui Kebersamaan Menuju Masyarakat
BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH
BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja atau ukuran kinerja akan digunakan untuk mengukur kinerja atau keberhasilan organisasi. Pengukuran kinerja organisasi akan dapat dilakukan
DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii
DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen... I-7 1.4.
BAB IV GAMBARAN UMUM
BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau Jawa, letaknya diapit oleh dua provinsi besar
BAB VII P E N U T U P
BAB VII P E N U T U P Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Akhir Tahun 2012 diharapkan dapat memberikan gambaran tentang berbagai capaian kinerja, baik makro maupun mikro dalam penyelenggaraan
PERJANJIAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN ROTE NDAO TAHUN 2016
PERJANJIAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN ROTE NDAO TAHUN 2016 SASARAN INDIKATOR TARGET MISI I : MEWUJUDKAN TATA RUANG WILAYAH KE DALAM UNIT-UNIT OPERASIONAL YANG TEPAT DARI SISI EKONOMI, SOSIAL BUDAYA DAN
PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH
PROVINSI LAMPUNG 2015 2019 PROVINSI LAMPUNG 2015 2019 BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai ukuran keberhasilan pencapaian visi
DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN... 1
1 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Dasar Hukum...... 2 1.3. Hubungan Antar Dokumen... 5 1.4. Sistematika Dokumen RKPD... 5 1.5. Maksud dan Tujuan... Hal BAB II EVALUASI HASIL
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KENDAL TAHUN
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KENDAL TAHUN 2010-2015 DAFTAR ISI DAFTAR ISI Daftar Isi... ii BAB I PENDAHULUAN... I-1 A. Latar Belakang... I-1 B. Dasar Hukum Penyusunan...
BUPATI PARIGI MOUTONG PROVINSI SULAWESI TENGAH
BUPATI PARIGI MOUTONG PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN BUPATI PARIGI MOUTONG NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PARIGII MOUTONG TAHUN 2014-2018 DENGAN RAHMAT
DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17
DAFTAR TABEL Taks Halaman Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17 Tabel 2.2 Posisi dan Tinggi Wilayah Diatas Permukaan Laut (DPL) Menurut Kecamatan di Kabupaten Mamasa... 26 Tabel
IKU Pemerintah Provinsi Jambi
Pemerintah Provinsi Jambi dalam menjalankan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan senantiasa memperhatikan visi, misi, strategi dan arah kebijakan pembangunan. Untuk itu, dalam mewujudkan capaian keberhasilan
RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN
Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 17 Tahun 2015 Tanggal : 29 Mei 2015 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017
GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, yang bertanda tangan di bawah
Daftar Tabel Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD ) Kab. Jeneponto Tahun 2016
Daftar Tabel Tabel 2.1 Luas Wialayah menurut Kecamatan di Kabupaten Jeneponto... II-2 Tabel 2.2 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Jeneponto berdasarkan BPS... II-5 Tabel 2.3 Daerah Aliran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan Dan Sasaran C. Lingkup Kajian/Studi
KETERANGAN HAL BAB I PENDAHULUAN... 1-1 A. Latar Belakang... 1-1 B. Tujuan Dan Sasaran... 1-3 C. Lingkup Kajian/Studi... 1-4 D. Lokasi Studi/Kajian... 1-5 E. Keluaran Yang Dihasilkan... 1-5 F. Metodelogi...
DAFTAR ISI RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN
DAFTAR ISI DAFTAR ISI.......................................................... i DAFTAR TABEL....................................................... iii DAFTAR GAMBAR....................................................
RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015
Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 15 Tahun 2014 Tanggal : 30 Mei 2014 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dokumen perencanaan
PERJANJIAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN ROTE NDAO TAHUN 2017
PERJANJIAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN ROTE NDAO TAHUN 2017 MISI I : MEWUJUDKAN TATA RUANG WILAYAH KE DALAM UNIT UNIT OPERASIONAL YANG TEPAT DARI SISI EKONOMI, SOSIAL BUDAYA DAN KEAMANAN NEGARA 1 Meningkatnya
IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu dari delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis terletak antara 116-117
KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
39 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Letak Geografis dan Administrasi Kabupaten Deli Serdang merupakan bagian dari wilayah Propinsi Sumatera Utara dan secara geografis Kabupaten ini terletak pada 2º 57-3º
PROFIL SANITASI SAAT INI
BAB II PROFIL SANITASI SAAT INI Tinjauan : Tidak ada narasi yang menjelaskan tabel tabel, Data dasar kemajuan SSK sebelum pemutakhiran belum ada ( Air Limbah, Sampah dan Drainase), Tabel kondisi sarana
Daftar Tabel. Halaman
Daftar Tabel Halaman Tabel 3.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kab. Sumedang Tahun 2008... 34 Tabel 3.2 Kelompok Ketinggian Menurut Kecamatan di Kabupaten Sumedang Tahun 2008... 36 Tabel 3.3 Curah Hujan
DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun
DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR GRAFIK... xiii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-5
PERATURAN DAERAH KOTA TEGAL
PERATURAN DAERAH KOTA TEGAL NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH KOTA TEGAL TAHUN 2005-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TEGAL, Menimbang : a. bahwa untuk
Tahun Penduduk menurut Kecamatan dan Agama Kabupaten Jeneponto
DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Luas Wilayah menurut Kecamatan di Kabupaten Jeneponto... II-2 Tabel 2.2 Jenis Kebencanaan dan Sebarannya... II-7 Tabel 2.3 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Jeneponto Tahun 2008-2012...
PEMERINTAH KOTA BANDAR LAMPUNG
PEMERINTAH KOTA PERKEMBANGAN EKONOMI DAN PENDAPATAN DAERAH PERTUMBUHAN EKONOMI Tahun 2004 = 7,69 % Tahun 2005 = 4,57 % PDRB (harga konstan 2000)(dalam juta rupiah) Realisasi Tahun 2004 = 4.554.824 Realisasi
DAFTAR ISI. A. Capaian Kinerja Pemerintah Kabupaten Tanggamus B. Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja C. Realisasi anggaran...
DAFTAR ISI HALAMAN BAB 1 A. Latar Belakang... 1 B. Maksud dan Tujuan... 2 C. Sejarah Singkat Kabupaten Tanggamus... 3 D. Gambaran Umum Daerah... 4 E. Sistematika Penyajian... 20 BAB 2 A. Instrumen Pendukung
Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI
Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR GRAFIK DAFTAR ISI i
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA PALU DT - TAHUN
DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Luas Wilayah Kota Palu Menurut Kecamatan Tahun 2015.. II-2 Tabel 2.2 Banyaknya Kelurahan Menurut Kecamatan, Ibu Kota Kecamatan Dan Jarak Ibu Kota Kecamatan Dengan Ibu Kota Palu Tahun
Kata Pengantar Bupati Nagan Raya
Kata Pengantar Bupati Nagan Raya Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, serta selawat dan salam kita sampaikan atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW atas limpahan rahmat dan karunia-nya
KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar
BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah
BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT
BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT 1.1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) beserta Komponennya Angka Partisipasi Kasar (APK) SLTP meningkat di tahun 2013 sebesar 1.30 persen dibandingkan pada tahun
DAFTAR ISI BAB I. Pendahuluan BAB II. Gambaran Umum Kondisi Daerah BAB III. Gambaran Pengeloaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan
DAFTAR ISI BAB I. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang I-1 1.2. Dasar Hukum I-2 1.3. Hubungan Dokumen RPJMD dengan Dokumen Perencanaan I-5 Lainnya 1.4. Sistematika Penulisan I-8 1.5. Maksud dan Tujuan Penyusunan
Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Kuningan
Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Kuningan NO 2018 A ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT 1 PDRB per Kapita (juta rupiah) - PDRB
Lampiran 4 : Realisasi RPJMD Kabupaten Bima Tahun
Lampiran 4 : Realisasi RPJMD Kabupaten Bima Tahun 2011-2015 1 Menurunnya jumlah 1 Prosentase penurunan % 18.49 17.66 16,23 15.13 15.42* penduduk miskin jumlah penduduk miskin 2 Meningkatnya paritas 2 Paritas
BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS... II-1
DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1 LATAR BELAKANG... I-1 2.1 MAKSUD DAN TUJUAN... I-2 1.2.1 MAKSUD... I-2 1.2.2 TUJUAN... I-2 1.3 LANDASAN PENYUSUNAN...
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan : H.
BAB IV P E N U T U P
BAB IV P E N U T U P 4.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan dari Analisa Data Secara Integratif Untuk Menghasilkan Database Kecamatan dan Atlas adalah sebagai berikut: 1. Gambaran umum sejauh mana pencapain
BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT
BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT 2.1. Gambaran Umum 2.1.1. Letak Geografis Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumba, salah satu
Ikhtisar Pencapaian MDGs Provinsi Kepulauan Riau Menurut Jumlah Indikator
Page 1 Ikhtisar Pencapaian MDGs Provinsi Kepulauan Riau Menurut Jumlah Uraian Jumlah Jumlah Akan Perlu Perhatian Khusus Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan 12 9 1 2 Mencapai Pendidikan Dasar Untuk Semua
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Situasi Wilayah Letak Geografi Secara geografis Kabupaten Tapin terletak antara 2 o 11 40 LS 3 o 11 50 LS dan 114 o 4 27 BT 115 o 3 20 BT. Dengan tinggi dari permukaan laut
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015 Oleh: BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KABUPATEN MALANG Malang, 30 Mei 2014 Pendahuluan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi merupakan cara pandang ke depan tentang kemana Pemerintah Kabupaten Belitung akan dibawa, diarahkan dan apa yang diinginkan untuk dicapai dalam kurun
RPJMD KABUPATEN LINGGA DAFTAR ISI. Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar
Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar i ii vii Bab I PENDAHULUAN I-1 1.1 Latar Belakang I-1 1.2 Dasar Hukum I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen 1-4 1.4 Sistematika Penulisan 1-6 1.5 Maksud dan Tujuan 1-7 Bab
DAFTAR ISI. RAD MDGs Jawa Tengah
DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... ii Daftar Tabel dan Gambar... xii Daftar Singkatan... xvi Bab I Pendahuluan... 1 1.1. Kondisi Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Jawa Tengah... 3 Tujuan 1. Menanggulangi
Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah
Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah NO PADA AWAL RPJMD A. ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT 1. Pertumbuhan PDRB (%)
BAB IV PENUTUP. 4.1 Kesimpulan
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan dari Analisa Data Secara Integratif Untuk Menghasilkan Database Kecamatan dan Atlas adalah sebagai berikut: 1. Gambaran umum sejauh mana pencapain dari 7
Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global
PENGUKURAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO TAHUN 2015 VISI : Menuju Sidoarjo Sejahtera, Mandiri, dan Berkeadilan No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 2015 Realiasasi 2015 % Capaian
Kata Pengantar Keberhasilan pembangunan kesehatan tentu saja membutuhkan perencanaan yang baik. Perencanaan kesehatan yang baik membutuhkan data/infor
DATA/INFORMASI KESEHATAN KABUPATEN LAMONGAN Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan RI 2012 Kata Pengantar Keberhasilan pembangunan kesehatan tentu saja membutuhkan perencanaan yang baik. Perencanaan
PENETAPAN INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH KABUPATEN LABUHANBATU LABUHANBATU
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah dirubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Pemalang Tahun 2013 IKHTISAR EKSEKUTIF
IKHTISAR EKSEKUTIF Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah ( LAKIP ) Kabupaten Pemalang Tahun 2013 merupakan laporan pertanggungjawaban kinerja Pemerintah Kabupaten Pemalang dalam mencapai sasaran
BAB III TINJAUAN KAWASAN WILAYAH
BAB III TINJAUAN KAWASAN WILAYAH 3.1 Gambaran Umum Kabupaten Klaten 3.1.1 Ruang lingkup Kabupaten Klaten Gambar 3.1 : Lokasi Kab. Klaten Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/14/lo cator_kabupaten_klaten.gif
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum Dasar hukum penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2016, adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang
KATA PENGANTAR. Kota Mungkid, 25 Maret a.n. BUPATI MAGELANG WAKIL BUPATI MAGELANG H.M. ZAENAL ARIFIN, SH.
KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan hidayahnya, sehingga Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Magelang Tahun 2014 dapat diselesaikan tepat waktu. Laporan
Halaman DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN
1. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN i ii iii vi BAB I PENDAHULUAN I-1 1.1. Latar Belakang I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan I-3 1.3. Maksud dan Tujuan
BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR
20 BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 3.1. SITUASI GEOGRAFIS Secara geografis, Kota Bogor berada pada posisi diantara 106 derajat 43 30 BT-106 derajat 51 00 BT dan 30 30 LS-6 derajat 41 00 LS, atau kurang
DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR ISI DAFTAR ISI...... i DAFTAR TABEL...... iii DAFTAR GAMBAR...... viii BAB I PENDAHULUAN... 2 1.1 Latar Belakang... 3 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... 5 1.3 Hubungann antara Dokumen RPJMD dengan Dokumen
IV. KONDISI UMUM WILAYAH
29 IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis dan Administrasi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 50-7 50 LS dan 104 48-104 48 BT dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan
DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Wilayah Sungai Tamiang Langsa II-7. Jumlah Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Arah dan Kecepatan Angin Rata-rata (knots)
DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Wilayah Sungai Tamiang Langsa II-7 Tabel 2.2 Tabel 2.3 Tabel 2.4 Tabel 2.5 Jumlah Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2002-2011 Arah dan Kecepatan Angin Rata-rata (knots)
BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN
BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN Prioritas dan sasaran merupakan penetapan target atau hasil yang diharapkan dari program dan kegiatan yang direncanakan, terintegrasi, dan konsisten terhadap pencapaian
PERJANJIAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN TAHUN 2016
PERJANJIAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN TAHUN 06 Kabupaten Tahun Anggaran : 06 : Hulu Sungai Selatan TUJUAN SASARAN INDIKATOR SASARAN 4 Mewujudkan nilai- nilai agamis sebagai sumber
GUBERNUR GORONTALO, KEPUTUSAN GUBERNUR GORONTALO NOMOR 277 / 02/ VII / 2013
GUBERNUR GORONTALO KEPUTUSAN GUBERNUR GORONTALO NOMOR 277 / 02/ VII / 2013 TENTANG PENETAPAN INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH PROVINSI GORONTALO TAHUN 2012-2017 GUBERNUR GORONTALO, Menimbang : a. bahwa
DAFTAR ISI. BAB IV Analisis isu-isu srategis Permasalahan Pembangunan Isu Strategis... 77
DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I Pendahuluan... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... 2 1.3. Hubungan Antar Dokumen... 6 1.4. Sistematika Penulisan... 9 1.5. Maksud
BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan pendapatan perkapita sebuah
