BUILDING ON SYNERGIES ENERGY SYNERGY
|
|
|
- Glenna Johan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BUILDING ON SYNERGIES ENERGY SYNERGY LAPORAN TAHUNAN 2012
2
3 DAFTAR ISI TEMA MEMBANGUN SINERGI 2 1. TINJAUAN PERUSAHAAN PERISTIWA PENTING 1.2 VISI, MISI, DAN TATA NILAI 1.3 SEKILAS INDIKA ENERGY 1.4 STRUKTUR DAN KEGIATAN PERUSAHAAN IKHTISAR KEUANGAN 2.1 IKHTISAR KEUANGAN INDIKA ENERGY 2.2 IKHTISAR SAHAM 2.3 IKHTISAR KEUANGAN PERUSAHAAN ASOSIASI KIDECO LAPORAN KOMISARIS UTAMA LAPORAN DIREKTUR UTAMA PROFIL DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI, SERTA INFORMASI KEPEMILIKAN SAHAM LAPORAN MANAJEMEN 6.1 GAMBARAN UMUM EKONOMI DAN INDUSTRI 6.2 TINJAUAN OPERASIONAL 6.3 TINJAUAN KEUANGAN 6.4 PROSPEK USAHA DAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO UTAMA 6.5 TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI 6.6 TATA KELOLA PERUSAHAAN 6.7 SUMBER DAYA MANUSIA 6.8 TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN 6.9 PERISTIWA SETELAH TANGGAL NERACA LAPORAN KEUANGAN INFORMASI PERUSAHAAN 118 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 1
4 MEMBANGUN SINERGI Indika Energy secara cermat terus mengupayakan rencana aksi korporasi untuk menjadi perusahaan energi yang terintegrasi penuh dengan mengekstraksi nilai yang lebih besar melalui sinergi bisnis sumber daya energi, jasa energi, dan infrastruktur energi, mulai dari eksplorasi hingga penambangan, transhipment kepada pelanggan, dan penggunaan batubara yang Indika Energy hasilkan pada pembangkit listrik. Pada tahun 2012, berbagai peristiwa strategis ini berhasil dilampaui. Sinergi yang dihasilkan dari peluang cross-selling di dalam Perusahaan yang ditawarkan kepada pelanggan Indika Energy dan sinergi biaya jangka panjang melalui operasi yang terintegrasi telah menghasilkan pendapatan yang lebih stabil dan arus kas yang lebih baik sebagai hasil diversifikasi bisnis jasa energi dan infrastruktur energi Perusahaan. 2 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
5 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 3
6 4 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
7 TINJAUAN PERUSAHAAN BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 5
8 PERISTIWA PENTING PERJALANAN INDIKA ENERGY 2000 Pendirian PT Indika Energy Indika Energy meningkatkan 5% penyertaannya di Kideco, menjadi 46% Melaksanakan merger antara Indika Energy dengan Tripatra Company dan Ganesha Intra Development Company. Tripatra didirikan pada tahun 1973, bergerak dalam bidang rekayasa, pengadaan & konstruksi (EPC), operasional dan pemeliharaan (O&M) di sektor energi. Pendirian Cirebon Electric Power (CEP), pembangkit listrik tenaga uap batubara berkapasitas 660 MW. Indika Energy memiliki 20% kepemilikan di CEP. Tripatra mengakuisisi 45% kepemilikan saham di Cotrans Asia, sebuah perusahaan jasa logistik batubara, yang berdiri sejak tahun Tripatra mengakuisisi 46% kepemilikan saham di Twinstar Shipping Ltd, sebuah perusahaan jasa transhipment (fasilitas pemuatan terapung), yang berdiri sejak tahun Indika Energy mengakuisisi 41% kepemilikan saham di Kideco. Kideco didirikan pada tahun 1982, bergerak dalam penambangan batubara tambang terbuka di Kalimantan Timur. Kideco memiliki PKP2B generasi pertama yang berlaku hingga tahun Indika Energy melakukan penawaran umum saham perdana di Bursa Efek Indonesia, atas saham atau 20% kepemilikan. Pendirian Sea Bridge Shipping, perusahaan jasa transhipment, dimana Tripatra memiliki kepemilikan sebesar 46%. Kuala Pelabuhan Indonesia menjadi anak perusahaan Tripatra sepenuhnya, melalui akuisisi tambahan 50,1% kepemilikan saham. Pendirian Intan Resource Indonesia. Indika Energy mengakuisisi 100% kepemilikan saham di Indika Capital Pte Ltd (dahulu Westlake Capital Pte Ltd) dan Citra Indah Prima. 6 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
9 Indika Energy mengakuisisi 98,55% kepemilikan saham di Petrosea. Petrosea didirikan pada tahun 1972, bergerak dalam bidang rekayasa teknik & konstruksi (E&C) dan kontraktor pertambangan batubara. Indika Energy melakukan divestasi atas 28,75% kepemilikan di Petrosea. Indika Energy mengakuisisi 60% kepemilikan di Mitra Energi Agung (MEA). MEA didirikan pada tahun 2008, tambang batubara greenfield yang memiliki IUP dengan area konsesi seluas Ha di Kalimantan Timur. Indika Energy mengakuisisi 85% kepemilikan di Multi Tambangjaya Utama (MTU). MTU didirikan pada tahun 1989, merupakan tambang thermal coal bituminous dan coking coal yang memiliki PKP2B generasi ke-3 di Kalimantan Tengah, dengan area konsesi seluas Ha. Beroperasinya CEP, pembangkit listrik tenaga uap batubara dengan kapasitas 660 MW Indika Energy mengakuisisi 51% kepemilikan saham di MBSS. Pendirian Indika Logistic & Support Service (ILSS). Indika Energy menandatangani Perjanjian Opsi untuk mengakuisisi 51% kepemilikan saham di MBSS. MBSS didirikan pada tahun 1994, bergerak dalam bidang jasa logistik dan transportasi batubara yang terintegrasi. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 7
10 PENCAPAIAN UTAMA DI TAHUN 2012 Februari Indika Energy melakukan divestasi 28,75% saham kepemilikannya di Petrosea, dengan penerimaan bersih senilai US$106,7 juta dan membukukan keuntungan bersih sebesar US$57,2 juta. Kewajiban divestasi tersebut dilakukan untuk memenuhi peraturan BAPEPAM- LK sebagai kelanjutan dari akuisisi dan tender offer Petrosea pada bulan Agustus Setelah transaksi tersebut, Perusahaan tetap merupakan pemegang saham terbesar Petrosea dengan kepemilikan sebesar 69,8%. Maret Indika Energy mengakuisisi 60% kepemilikan di MEA, tambang batubara greenfield yang memiliki IUP dengan area konsesi seluas Ha di Kalimantan Timur. Mei Indika Energy mengakuisisi 85% kepemilikan di MTU, merupakan tambang thermal bituminous coal dan coking coal, yang memiliki PKP2B generasi ketiga dengan area konsesi seluas Ha di Kalimantan Tengah. 8 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
11 Juni Indika Energy melunasi sisa Obligasi yang diterbitkan tahun 2007, senilai US$65 juta. Juli CEP, pembangkit listrik tenaga uap batubara dengan kapasitas 660 MW, telah mencapai Commercial Operation Date (COD). Proyek ini merupakan pembangkit listrik berbahan bakar batubara pertama di Indonesia yang dilengkapi dengan teknologi supercritical boiler yang efisien dan ramah lingkungan. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 9
12 PENGHARGAAN DI TAHUN Januari 2012 Best Corporate Citizen Award 2012 Indika Energy dianugerahi penghargaan Best Corporate Citizen 2012 oleh majalah The New Economy, London. Penghargaan ini diberikan kepada organisasi bisnis yang memiliki kontribusi mengagumkan kepada masyarakat melalui layanan dan keterlibatan langsung perusahaan dalam kegiatan masyarakat. Penghargaan ini diselenggarakan oleh The New Economy setiap tahunnya yang bertujuan untuk mempromosikan strategi Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang berkesinambungan dalam sektor bisnisnya. The New Economy sendiri adalah majalah triwulan yang membahas berbagai aspek ekonomi perusahaan dan berbagi pengetahuan mengenai pertumbuhan ekonomi global yang konstruktif. Penghargaan ini merupakan wujud nyata komitmen Indika Energy dalam menjalankan CSR sebagai salah satu nilai utama dan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya perusahaan. Program CSR Indika Energy fokus pada empat area utama yaitu Pendidikan, Kesehatan, Pengembangan Masyarakat dan Lingkungan. 7 Februari 2012 Republik Indonesia, Prof. Dr. Boediono. Penghargaan ini diberikan kepada Indika Energy karena dinilai secara istimewa telah melakukan inovasi mengalokasikan anggaran yang berpihak pada pencapaian target sasaran pembangunan milenium (MDG) dan memastikan keberlangsungan program jangka panjang. Hal ini terkait dengan dukungan penuh serta keterlibatan Indika Energy dalam merealisasikan Gerakan Indonesia Mengajar. Bagi Indika Energy mencerdaskan Indonesia adalah salah satu cita-cita bersama yang ingin dicapai, dan Gerakan Indonesia Mengajar merupakan salah satu bentuk realisasi Indika Energy dalam usaha bersama membangun bangsa melalui bidang pendidikan. 20 Februari 2012 Sertifikasi ISO & OHSAS untuk CSI Corporate Security Indika (CSI) berhasil mendapatkan Sertifikat ISO 9001:2008 (Sistem Manajemen Mutu) & OHSAS 18001:2007 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). CSI adalah unit kerja yang bertanggung jawab untuk mengembangkan, memelihara dan menerapkan system keamanan untuk meminimalkan risiko yang mungkin dihadapi oleh Indika Energy sebagai entitas usaha maupun seluruh karyawan yang bernaung didalamnya. MDG Awards 2011 Indika Energy meraih Penghargaan Khusus Indonesia MDG Awards 2011, yang diserahkan langsung oleh Wakil Presiden Penyerahan kedua Sertifikat ini dilakukan secara langsung oleh Ir. S. Widodo (Business Country Manager Lloyd s Register Quality Insurance) kepada Bapak Arsjad Rasjid (Co-CEO Indika Energy). 10 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
13 Selanjutnya Bapak Arsjad menyerahkannya kepada Tim CSI yang dipimpin oleh Bapak M.B. Setiadharma (SVP Corporate Security Indika Energy). Pencapaian CSI ini tidak lepas dari program transformasi bisnis yang dicanangkan oleh Indika Energy sejak tahun Lewat komitmen yang kuat dan semangat untuk selalu melakukan continuous improvement, usaha CSI ini telah membuahkan hasil yang sangat menggembirakan. Bahkan yang menarik adalah hasil audit atas dua sertifikat ini dilakukan dengan Tanpa Temuan. Artinya, CSI dapat menjawab dan menyajikan semua bukti-bukti pendukung sesuai dengan prosedur dalam klausul-klausul dalam ISO dan OHSAS. 31 Oktober 2012 International Project Management Association 2011 Pada bulan Oktober 2012, Tripatra memperoleh penghargaan sebagai Best Project Excellence in Mega Sized Projects for EPC Jambi Merang Development Gas Production & Facilities dari International Project Management Association (IPMA). Penilaian dilakukan oleh tim project management global dari Polandia, Austria, Inggris, Jerman dan Australia. Sebelumnya, pada bulan Maret 2012, Tripatra memperoleh penghargaan dari APFPM (The Asia Pacific Federation of Project Management) sebagai The best EPC Company for Jambi Merang Project dimana sebelumnya Tripatra terpilih sebagai Best Project for Jambi Merang Project dari IAMPI (Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia). 3 Desember 2012 Sustainability Reporting Award 2012 Di penghujung tahun 2012,Indika Energy menorehkan satu prestasi dengan mendapatkan predikat sebagai Best Sustainability Report 2011 Runner up Group B Category Services, dalam ajang Sustainability Reporting Award 2012 yang diselenggarakan oleh National Center for Sustainable Reporting (NCSR). Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Dewan Juri SRA 2012, Sarwono Kusumaatmadja kepada Vice President Corporate Affairs Indika Energy, Tino Ardhyanto. SRA 2012 merupakan ajang tahunan ke-8 yang memberikan penghargaan atas laporan program CSR dari perusahaanperusahaan yang memuat kinerjanya dalam tiga aspek yaitu ekonomi, lingkungan dan sosial. Laporan mengenai bagaimana perusahaan mengatasi isu pembangunan berkelanjutan seperti penghematan dan konservasi energi, pengelolaan air, pengelolaan limbah, mengatasi pencemaran udara serta isu sosial seperti partisipasi perusahaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat. Pemberian penghargaan tahun ini semakin istimewa karena keikutsertaan sejumlah perusahaan dari kawasan Asia Tenggara. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 11
14 VISI Menjadi perusahaan energi Indonesia tingkat dunia yang diakui kompetensi terintegrasinya di sektor sumber daya energi, jasa energi, dan infrastruktur energi. MISI 1. Mengembangkan sumber daya energi yang melimpah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi global. 2. Menciptakan integrasi dan sinergi antar bisnis. 3. Menciptakan nilai yang optimal bagi pemegang saham. 4. Mengembangkan sumber daya manusia secara berkesinambungan. 5. Menjadi warga korporasi yang baik. TATA NILAI Kami berupaya untuk: - mewujudkan integritas di setiap kegiatan usaha, - menanamkan semangat kesatuan dan keragaman serta rasa hormat terhadap sesama, - mengembangkan budaya kerjasama tim dan keunggulan, - menjadi duta yang bertanggung jawab bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
15 VISI, MISI DAN TATA NILAI BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 13
16 SEKILAS INDIKA ENERGY PT Indika Energy Tbk. ( Indika Energy atau Perusahaan ) tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun Indika Energy didirikan tahun 2000, kini menjadi salah satu perusahaan energi terintegrasi yang terkemuka di Indonesia. Portofolio bisnis Perusahaan mencakup sektor sumber daya energi, jasa energi, dan infrastruktur energi. Dari tahun ke tahun, Perusahaan berkembang pesat, baik secara organik maupun melalui akuisisi usaha-usaha yang saling bersinergi. Dengan portofolio usaha yang dimiliki, Perusahaan mampu menyediakan produk dan layanan yang saling melengkapi kepada pelanggan domestik dan internasional, serta memungkinkan kami memanfaatkan peluang-peluang pertumbuhan di seluruh sektor energi di Indonesia. Pada akhir tahun 2012, Indika Energy telah berkembang menjadi perusahaan dengan aset senilai US$2,3 miliar yang didukung karyawan dan menjalankan kegiatan operasionalnya di berbagai wilayah kepulauan Indonesia. Ketiga pilar usaha Indika Energy adalah sebagai berikut: Sumber Daya Energi 46,0% Kepemilikan PT Kideco Jaya Agung, perusahaan pertambangan batubara terbesar ketiga di Indonesia, berlokasi di Kalimantan Timur. 85,0% Kepemilikan PT Multi Tambangjaya Utama, perusahaan pertambangan thermal bituminous coal dan coking coal berkualitas tinggi di Kalimantan Tengah. 34,9% Kepemilikan PT Santan Batubara, perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur. 60,0% Kepemilikan PT Mitra Energi Agung, proyek pertambangan batubara greenfield di Kalimantan Timur. 14 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
17 Jasa Energi 69,8% Kepemilikan PT Petrosea Tbk., perusahaan rekayasa teknik & konstruksi (E&C) dan kontraktor pertambangan batubara. 100% Kepemilikan PT Tripatra Engineering dan PT Tripatra Engineers & Constructors, perusahaan rekayasa teknik, pengadaan, dan konstruksi (EPC) untuk industri minyak dan gas. Infrastruktur Energi 51,0% Kepemilikan PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk., perusahaan jasa transportasi dan logistik terintegrasi. 20,0% Kepemilikan PT Cirebon Electric Power, pembangkit listrik berkapasitas 660 MW menggunakan bahan bakar batubara di Cirebon, Jawa Barat. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 15
18 KEMAMPUAN DI SELURUH COAL VALUE CHAIN 7 Pengangkutan darat 6 Pemrosesan Produksi Rekayasa dan konstruksi Studi kelayakan 2 1 Eksplorasi Identifikasi / Akuisisi 16 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
19 8 Terminal stockpile 9 Pemuatan batubara ke barge 10 Barging 11 Transhipment Off-taker Pembangkit listrik 12 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 17
20 peta wilayah operasional BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
21 sumber daya energi infrastruktur energi 1 2 Multi Tambangjaya Utama Kideco Jaya Agung 1 Floating Crane FC Nicholas 3 Santan Batubara 2 FC Rachel 4 Mitra Energi Agung 3 FC Ben Glory 4 FC Abby jasa energi 5 FC Chloe 1 South Sumatra Gas Project 6 FC Blitz 2 Salak & Drajat Geothermal Project Exxon Mobil Cepu Project Donggi-Senoro Project Gunung Bayan Pratama Project Kideco Project Cirebon Electric Power Petrosea Offshore Supply Base Kuala Pelabuhan Indonesia 7 8 Santan Batubara Project Adimitra Baratama Nusantara Project BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 19
22 20 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
23 STRATEGI BISNIS Strategi bisnis inti Indika Energy tercermin pada fokus Perusahaan menciptakan sinergi dalam Perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perluasan organik melalui akuisisi. 1Memanfaatkan sumber daya alam Indonesia YANG BERLIMPAH dan MENINGKATNYA kebutuhan akan energi, termasuk melakukan identifikasi dan MENDAPATKAN INVESTASI YANG menarik di bidang energi. Untuk mendapatkan investasi baru di sektor energi, Indika Energy melakukan pendekatan akuisisi yang disiplin guna membangun pemahaman tentang aset energi. Hal ini mengharuskan Indika Energy untuk mengikuti perkembangan regulasi sumber daya alam yang ada dan meningkatkan perkembangan ekonomi Indonesia melalui kepentingan domestik dan internasional. 2Mengintegrasikan platform keanekaragaman energi dan efisiensi operasional. Kini Indika Energy memiliki keahlian dan kemampuan di seluruh rantai usaha energi batubara. Hal penting untuk mendapatkan sinergi dari integrasi ini adalah peningkatan fleksibilitas operasional dan pengelolaan biaya, serta memberikan layanan yang efisien kepada para pelanggan di seluruh value chain. 3Memanfaatkan kerja sama yang sudah terbina, dan keahlian YANG dimiliki di sektor energi dengan MENGUPAYAKAN INISIATIFinisiatif guna memasok dan MELAYANI PASAR yang baru. Saat ini Indika Energy memainkan peran yang cukup besar dalam bisnis pertambangan batubara dan jasa energi secara nasional, termasuk usaha logistik dan infrastruktur energi (pembangkit listrik). Para pelanggan internasional Kideco mencakup perusahaan perusahaan pembangkit listrik ternama di lebih dari 16 negara di Asia dan Eropa. Dengan produk batubara berkalori rendah yang ramah lingkungan, rendah kadar ash dan sulphur telah meningkatkan kemungkinan terciptanya perpaduan produk-produk baru untuk pasar yang baru. 4Mengoptimalkan produksi dan efisiensi operasional dengan MEMANFAATKAN aset yang ada dan mengembangkan TAMBANGtambang baru YANG SANGAT produktif dan efisien. Melalui perencanaan yang terstruktur, sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) Indika Energy yang termutakhir secara bersamaan akan dimanfaatkan untuk mendukung pencapaian target dan sasaran usaha 5Terus mendiversifikasi sumber pendapatan dan MENSTABILKAN arus kas. Strategi bisnis Indika Energy yang menerapkan prinsip kehati-hatian berfokus pada akuisisi dan integrasi investasi yang menarik untuk meningkatkan pendapatan guna menghasilkan arus kas yang stabil. Keuntungan yang didapat dari peningkatan modal dialokasikan untuk mendanai perluasan kapasitas kontrak pertambangan dan aktivitas infrastruktur, serta penambahan modal kerja yang dibutuhkan bagi kontrak-kontrak EPC baru. Strategi-strategi tersebut diperkuat lagi dengan pencapaianpencapaian di tahun 2012, terutama akuisisi MTU dan beroperasinya CEP (Pencapaian-pencapaian penting 2012, hal. 8-9). Pencapaian ini memperkokoh landasan bagi Indika Energy untuk melanjutkan fokus manajemen pada upaya peningkatan model bisnis value chain yang terintegrasi. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 21
24 STRUKTUR PERUSAHAAN ENERGY RESOURCES PT INDIKA ENERGY Tbk. ENERGY SERVICES 90% 100% 100% 100% 69,8% PT Indika Indonesia Resources (Indonesia) Coal trading business PT Indika Inti Corpindo (indonesia) Investment Holding Company Coal trading business PT Tripatra Engineers and Constructors (Indonesia) EPC (onshore) and O&M services PT Tripatra Engineering (Indonesia) Engineering and design services PT Petrosea Tbk. (Indonesia) Mining and EPC (offshore) services 10% 46% PT Kideco Jaya Agung (Indonesia) Coal producer and distribution 100% 43,3% PT Intan Resource Indonesia (Indonesia) Coal producer and distribution 95% PT Kuala Pelabuhan Indonesia 5% (Indonesia) Port and logistics services Tripatra Pte. Ltd. (Singapore) Investment holding company 50% PT Santan Batubara (Indonesia) Coal producer and distribution 100% 60% PT Mitra Energi Agung Coal producer and distribution 100% Indika Capital Pte. Ltd. (Singapore) coal distribution 100% 45% PT Cotrans Asia (Indonesia) Transhipment and barging services Tripatra Investments Ltd. (B.V.I) Investment holding company 46% 47% PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri (Indonesia) Water treatment plant 100% Indika Capital Investments Pte. Ltd. Investment holding company Indika Capital Resources Limited (B.V.I) Finance subsidiary 46% PT Sea Bridge Shipping (Indonesia) Transhipment and barging services Twinstar Shipping Ltd (Hong Kong) Coal transhipment services 99,8% PT POSB Infrastructure Kalimantan (Indonesia) Port and logistics services 85% PT Multi Tambangjaya Utama Coal producer and distribution 100% Asia Prosperity Coal B.V. (The Netherlands) Finance subsidiary 99,8% PT Petrosea Kalimantan (Indonesia) Contractor, trade and services 100% PT Citra Indah Prima (Indonesia) Coal producer and distribution 100% 90% 90% PT Indika Multi Energi Investment Holding Company 100% PT Sindo Resources (Indonesia) Coal producer PT Melawi Rimba Minerals (Indonesia) Coal producer PT Indika Multi Daya Energi Contractor, trade and services Catatan : 100% kepemilikan saham perusahaan terbatas (PT) dipegang oleh dua pemegang saham yang keduanya merupakan PT Indika Energy Tbk. dan atau anak-anak perusahaannya. 22 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
25 ENERGY INFRASTRUCTURE 100% 100% 100% 100% PT Indika Infrastruktur Investindo (Indonesia) Investment holding company Indika Power Investments Pte. Ltd. (Singapore) Investment holding company PT Indika Energy Infrastructure (Indonesia) Infrastructure holding company Indo Integrated Energy B.V. (The Netherlands) Finance subsidiary 51% PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. (Indonesia) Transport and logistic services 100% Indo Integrated Energy II B.V. (The Netherlands) Finance subsidiary 5% PT Cirebon Electric Power (Indonesia) 15% Independent power plant (IPP) 1 X 660 MW 100% PT Indika Logistic & Support Services (Indonesia) Port and logistics services 100% Indo Energy Finance B.V. (The Netherlands) Finance subsidiary 100% 5% PT. Cirebon Power Services 15% (Indonesia) O & M company 100% PT Indika Multi Energi Internasional (Indonesia) Subholding Indo Energy Capital B.V. (The Netherlands) Finance subsidiary 100% PT LPG Distribusi Indonesia (Indonesia) Distribution 100% Indo Energy Finance II B.V. (The Netherlands) Finance subsidiary 100% PT Wahida Arta Guna Lestari (Indonesia) LPG filling 100% 100% PT Satya Mitra Gas (Indonesia) LPG filling PT Jatiwarna Gas Utama (Indonesia) LPG filling 100% Indo Energy Capital II B.V. (The Netherlands) Finance subsidiary 98,5% 50% 51% 100% PT Mitra Swire CTM (Indonesia) Shipping PT Mitra Hartono Sejati (Indonesia) Shipping PT Mitra Jaya Offshore (Indonesia) Shipping Mitrabahtera Segara Sejati Pte. Ltd. (Singapore) Shipping PT Mitra Alam Segara Sejati (Indonesia) Shipping 60% BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 23
26 STRUKTUR ORGANISASI BOARD OF COMMISSIONERS GOOD CORPORATE GOVERNANCE COMMITTEE AUDIT COMMITTEE BOARD OF DIRECTORS GROUP CO - CEO CO - CEO OFFICE GROUP INTERNAL AUDIT ENERGY RESOURCES ENERGY SERVICES ENERGY INFRASTRUCTURE GROUP STRATEGIC BUSINESS DEVELOPMENT KIDECO JAYA AGUNG TRIPATRA ENGINEERING AND TRIPATRA ENGINEERS & CONSTRUCTORS MITRABAHTERA SEGARA SEJATI SANTAN BATUBARA PETROSEA CIREBON ELECTRIC POWER MULTI TAMBANGJAYA UTAMA INDIKA LOGISTIC & SUPPORT SERVICES MITRA ENERGI AGUNG COAL TRADING EXPLORATION 24 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
27 INVESTMENT COMMITTEE HUMAN CAPITAL COMMITTEE CORPORATE SECRETARY, LEGAL & COMPLIANCE corporate security indika GROUP FINANCE GROUP HUMAN CAPITAL & CORPORATE SERVICES GROUP CORPORATE AFFAIRS CORPORATE FINANCE & INVESTOR RELATIONS HUMAN CAPITAL INTERNAL COMMUNICATIONS FINANCE & ACCOUNTING INFORMATION COMMUNICATION & TECHNOLOGY EXTERNAL COMMUNICATIONS CORPORATE PLANNING PROJECT DEVELOPMENT & CORPORATE SERVICES HEALTH, SAFETY & ENVIRONMENT TAX & RISK MANAGEMENT MERGER & ACQUISITION BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 25
28 26 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
29 IKHTISAR KEUANGAN TAHUN 2012 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 27
30 ikhtisar keuangan INDIKA ENERGY Dinyatakan dalam US$ kecuali, dinyatakan lain LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASIAN Pendapatan Beban Pokok Kontrak dan Penjualan Laba Kotor Beban Umum dan Administrasi Laba (Rugi) Usaha Bagian Laba Entitas Asosiasi dan Pengendalian Bersama Entitas Laba yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk Jumlah Saham Beredar (lembar) Laba per Saham Dasar , , ( ) ,0199 LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN Investasi pada Entitas Asosiasi Investasi pada Pengendalian Bersama Entitas Investasi pada Unit Penyertaan - Pihak Ketiga Investasi dalam Obligasi - Pihak Ketiga Jumlah Aset Lancar Jumlah Aset Tidak Lancar Jumlah Aset Jumlah Liabilitas Lancar Jumlah Liabilitas Tidak Lancar Jumlah Liabilitas Jumlah Ekuitas Jumlah Liabilitas & Ekuitas RASIO PERTUMBUHAN (%) Pendapatan Beban Pokok Kontrak dan Penjualan Laba Kotor Beban Umum dan Administrasi Laba (Rugi) Usaha Laba yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk Jumlah Aset Jumlah Liabilitas Jumlah Ekuitas 26,3 20,3 47,8 44,5 64,5-46,3 16,5 14,0 19,9 43,2 33,7 91,2 45,8-408,8 23,6 59,9 73,9 44,0 73,3 92,5 15,2 79,5-139,1 6,4 1,9-1,0 5,4 RASIO USAHA Laba (Rugi) Usaha / Pendapatan (%) Laba yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk / Pendapatan (%) Laba (Rugi) Usaha / Jumlah Ekuitas (x) Laba yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk / Jumlah Ekuitas (x) Laba (Rugi) Usaha / Jumlah Aset (x) Laba yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk / Jumlah Aset (x) 4,63 9,16 0,03 0,07 0,01 0,03 3,55 21,55 0,02 0,15 0,01 0,06-1,65 25,00-0,01 0,17-0,01 0,08 RASIO KEUANGAN Jumlah Aset Lancar / Jumlah Liabilitas Lancar (x) Jumlah Liabilitas / Jumlah Ekuitas (x) Jumlah Liabilitas / Jumlah Aset (x) 1,3 1,3 0,6 1,4 1,4 0,6 3,5 1,1 0,5 28 BUILDING ON SYNERGIES Annual Report 2012 PT Indika Energy Tbk.
31 Pendapatan +26,3% Laba (Rugi) Kotor +47,8% dalam US$ dalam US$ Laba yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk -46,3% Bagian Laba Entitas Asosiasi dan Pengendalian Bersama Entitas -19,5% dalam US$ dalam US$ Adjusted Ebitda* +35,5% Jumlah Ekuitas +19,9% dalam US$ dalam US$ (*) termasuk dividen yang diterima dari entitas asosiasi dan pengendalian bersama entitas BUILDING ON SYNERGIES Annual Report 2012 PT Indika Energy Tbk. 29
32 RINCIAN PENDAPATAN ,4 % 1,6% 28,2 % Tripatra MBSS US$ 749,7 juta Petrosea 18,9 % Lainnya LABA BERSIH ,6 % 13,2 % 76,4 % 4,9 % Kideco Tripatra US$ 68,7 juta MBSS Petrosea 30 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
33 ikhtisar saham (dalam rupiah) Harga Saham 2012 Pembukaan Tertinggi Terendah Penutupan 2011 Pembukaan Tertinggi Terendah Penutupan Triwulan 1 Triwulan 2 Triwulan 3 Triwulan Triwulan 1 Triwulan 2 Triwulan 3 Triwulan (dalam rupiah) Volume dan Nilai Transaksi Saham 2012 Q1 Q2 Q3 Q Q1 Q2 Q3 Q4 Rata-rata/hari Volume (lot) Rata-rata/hari Nilai (Rp miliar) , , , ,5 Rata-rata/hari Volume (lot) Rata-rata/hari Nilai (Rp miliar) , , , ,3 Kronologis Pencatatan Saham Keterangan Saham Yang Ditawarkan Jumlah Saham Tanggal Efektif dari Bapepam-LK /Persetujuan RUPS Pencatatan BEI Penawaran Umum Saham Perdana (IPO) Employee and Management Stock Option Juni Mei Juni Agustus 2011 Dalam jutaan Rupiah Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum Saham Perdana per 31 Desember 2012 Nilai Bersih Realisasi Hasil Penawaran Umum Saham Perdana (IPO) (setelah dikurangi biaya-biaya) Realisasi Penggunaan Dana Berdasarkan Prospektus IPO Belanja modal dan pengembangan usaha jasa energi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan modal kerja diantaranya untuk pengeluaran yang diperlukan dalam mendapatkan kontrak EPC dan kontrak O&M, dan untuk pengembangan usaha anak perusahaan di masa mendatang Pengembangan usaha sumber daya energi, termasuk untuk melakukan akuisisi dan pengembangan sumber daya batubara, modal kerja, eksplorasi, dan untuk pengembangan usaha anak perusahaan; dan Mendanai rencana pengembangan usaha Perusahaan dalam bidang infrastruktur energi, termasuk untuk pengembangan dan akuisisi pembangkit listrik Perubahan realisasi Penggunaan Dana Hasil IPO* Seluruh sisa dana hasil IPO akan digunakan Perusahaan untuk pengembangan usaha sektor sumber daya energi, jasa energi dan infrastruktur energi termasuk tetapi tidak terbatas untuk akuisisi dan penyertaan, membiayai belanja modal dan modal kerja Total Penggunaan Dana Sisa Hasil Penggunaan Dana * Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tanggal 8 Juni 2011 telah menyetujui perubahan penggunaan dana atas prospektus IPO Perusahaan Kebijakan Dividen Jumlah Dividen (dalam miliar Rupiah) Dividen per Lembar Saham (dalam Rupiah) Rasio Dividen Tanggal Pembayaran Dividen Total ,40 362,83 249,94 135,39 385,30 312,61 84,00 69,68 (Dividen Interim) 48,00 (Dividen Final) 26,00 74,00 60,00 40,32% dari Laba Bersih ,00% dari Laba Bersih ,00% dari Laba Bersih ,79% dari Laba Bersih Juli Juni November Juli Juli 2012 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 31
34 PERUSAHAAN ASOSIASI KIDECO LAPORAN LABA RUGI Penjualan Beban Pokok Penjualan Laba (Rugi) Kotor Beban Usaha Laba (Rugi) Usaha Laba (Rugi) Bersih 2.357, ,9 733,4 49,9 683,4 380, , ,9 864,7 42,4 822,3 456, , ,4 580,5 13,5 567,0 316,3 LAPORAN POSISI KEUANGAN Jumlah Aset Lancar 523,7 604,0 476,8 Jumlah Aset Tidak Lancar 221,4 213,7 189,2 Jumlah Aset 745,1 817,7 666,0 Jumlah Liabilitas Lancar 312,1 316,4 276,5 Jumlah Liabilitas Tidak Lancar 46,9 45,3 44,7 Jumlah Liabilitas 359,1 361,7 321,2 Jumlah Ekuitas 386,0 456,0 344,8 Jumlah Liabilitas & Ekuitas 745,1 817,7 666,0 RASIO PERTUMBUHAN (%) Penjualan 4,0 41,2 22,3 Beban Pokok Penjualan 15,8 36,9 27,1 Laba (Rugi) Kotor -15,2 49,0 14,7 Beban Usaha 17,7 214,1-17,1 Laba (Rugi) Usaha -16,9 45,0 15,8 Laba (Rugi) Bersih -16,7 44,2 9,9 Jumlah Aset -8,9 22,8-8,7 Jumlah Liabilitas -0,7 12,6-8,5 Jumlah Ekuitas -15,3 32,4-8,9 RASIO USAHA Laba (Rugi) Usaha / Penjualan 29,0 36,3 35,3 Laba (Rugi) Bersih / Penjualan 16,1 20,1 19,7 Laba (Rugi) Usaha / Jumlah Ekuitas 1,77 1,8 1,6 Laba (Rugi) Bersih / Jumlah Ekuitas 0,98 1,0 0,9 Laba (Rugi) Usaha / Jumlah Aset 0,92 1,0 0,9 Laba (Rugi) Bersih / Jumlah Aset 0,51 0,6 0,5 RASIO KEUANGAN Jumlah Aset lancar / Jumlah Liabilitas Lancar (x) 1,68 1,9 1,7 Jumlah Liabilitas / Jumlah Ekuitas (x) 0,93 0,8 0,9 Jumlah Liabilitas / Jumlah Aset (x) 0,48 0,4 0,5 32 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
35 PT Kideco Jaya Agung Pendapatan +4,0% Laba (Rugi) Kotor -15,2% , ,6 dalam jutaan US$ ,4 dalam ,7 jutaan US$ Laba (Rugi) Usaha Laba (Rugi) Bersih -16,9% -19,5% , ,3 dalam jutaan US$ , ,1 dalam jutaan US$ EBITDA -15,1% Volume Penjualan +8,1% ,4 dalam ,3 jutaan US$ , ,6 dalam jutaan ton BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 33
36 Produksi Batubara Kideco (dalam jutaan ton) 29,1 31,5 34,2 5,0 7,4 8,5 10,3 11,5 14,0 16,0 18,2 18,9 20,6 22,0 24, Cadangan Batubara Kideco Berdasarkan Lokasi Tambang Area Calorific Value(kcal) Proved Probable Total Roto Selatan Roto Utara Roto Tengah Susubang Samarangau Total juta ton cadangan Berdasarkan JORC Report Desember 2010 Sumber Daya Batubara Kideco Berdasarkan Lokasi Tambang per 31 Desember 2011 Area Measured Indicated Inferred Total Roto Selatan Roto Utara Roto Tengah Susubang Samarangau Total ,376 1,38 miliar ton sumber daya 34 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
37 Penjualan Batubara Kideco Berdasarkan Negara Tujuan Tahun 2012 Lainnya 3% China 23% Taiwan 5% Korea 8% Hong Kong 6% Japan 6% Philippines 5% Thailand 3% India 9% Malaysia 7% Indonesia (domestik) 26% Produksi Batubara Kideco Berdasarkan Area Tambang Tahun 2012 Keterangan Overburden (juta bcm) Produksi (juta ton) Rasio Pengupasan Tanah (x) Roto Utara Roto Selatan Roto Tengah Samarangau Susubang Total 18,2 2,4 7,6 125,6 16,3 7,7 31,0 3,6 8,6 57,6 11,3 5,1 7,1 0,5 13,7 239,4 34,2 7,0 239,4 juta bcm 7,0 x Pengupasan Lapisan Tanah Rasio Pengupasan Tanah BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 35
38 36 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
39 LAPORAN KOMISARIS UTAMA BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 37
40 LAPORAN KOMISARIS UTAMA Dengan terus MENJAGA disiplin dalam strategi INVESTASI dan fokus manajemen pada keunggulan operasional, DEWAN Komisaris yakin BAHWA PERUSAHAAN berada PADA posisi yang TEPAT untuk DAPAT MENCAPAI tingkat pengembalian investasi jangka PANJANG yang menarik Wiwoho Basuki Tjokronegoro Komisaris Utama 38 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
41 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 39
42 Pemegang Saham Yang Terhormat, Pada tahun 2012, kinerja semua perusahaan berbasis batubara di Indonesia terkena dampak penurunan harga batubara yang tajam di pasar global. Tahun lalu diawali dengan prospek yang masih positif, namun kemudian memburuk dengan terjadinya perlambatan perekonomian Cina dan India, demikian pula Korea dan Jepang, ditambah lagi dengan meluasnya krisis hutang Eropa dan lambatnya pemulihan perekonomian Amerika Serikat. Harga batubara bukannya kembali pulih sebagaimana umumnya terjadi pada siklus pergerakan harga, tetapi penurunan harga terus terjadi sampai akhir 2012, dan cenderung berlanjut. Guna mengatasi perkembangan pasar yang kurang menguntungkan ini, pada kuartal terakhir tahun 2012 Indika Energy melakukan penyesuaian terhadap rencana bisnis jangka panjang untuk menjaga kinerja perusahaan yang berimbang dalam upaya mencapai tingkat pengembalian ekuitas perusahaan yang diharapkan. Dalam jangka panjang, permintaan batubara sebagai sumber energi yang kompetitif diprediksi oleh International Energy Agency akan tetap kuat. Permintaan batubara sebagai sumber energi utama dari negara-negara di Asia yang sedang berkembang ekonominya akan meningkat dengan stabil, dimana Cina dan India akan terus memiliki kebutuhan batubara yang tinggi. Sementara itu, permintaan batubara di Indonesia akan meningkat secara signifikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, dilandasi kenaikan konsumsi listrik per kapita dari 240 juta penduduk. Posisi ini dipastikan dengan kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil, dimana seiring dengan meningkatnya kesejahteraan, kebutuhan tenaga listrik akan meningkat pula. Permintaan batubara dari negara-negara ASEAN lainnya juga akan tumbuh pesat untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkitan listrik yang terus meningkat. Dengan latar belakang kondisi bisnis seperti ini, Indika Energy dengan hati-hati terus melanjutkan pelaksanaan rencana korporasi menjadi perusahaan energi terintegrasi guna mendapatkan manfaat yang lebih besar dari pengembangan sinergi kegiatan pengusahaan sumber daya energi, jasa energi dan infrastruktur energi, yakni dari eksplorasi sampai dengan penambangan dan pengolahan, transhipment kepada pelanggan, dan penggunaan batubara untuk pembangkit listrik. Di tahun 2012, berbagai prestasi strategis berhasil dicapai antara lain akuisisi aset batubara PT Multi Tambangjaya Utama (MTU) di Kalimantan Tengah, dan PT Mitra Energi Agung (MEA) di Kalimantan Timur, yang dilakukan guna melengkapi investasi aset tambang batubara lainnya yakni Kideco dan Santan. Pada bulan Juli 2012, Indika Energy juga sukses memulai operasi pusat pembangkit listrik PT Cirebon Electric Power, di Jawa Barat, dengan kapasitas 660 MW menggunakan bahan bakar batubara yang semakin memperkuat posisi pemasaran Indika Energy pada pasar domestik. Sinergi dari operasi terintegrasi menghasilkan pendapatan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan usaha Indika Energy di tahun 2012 meningkat 26,3% menjadi US$749,7 juta, menghasilkan kenaikan laba kotor sebesar 47,8% menjadi US$193,2 juta. Sementara itu, keuntungan bersih sebesar US$57,2 juta atas hasil penawaran kembali 28,75% saham Petrosea pada bulan Februari 2012 telah dikonsolidasikan ke dalam neraca Indika Energy. 40 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
43 Namun pada tahun 2012 Indika Energy mengalami kenaikan biaya-biaya tambahan yang cukup tinggi mencakup biaya persiapan awal operasi dan beban umum & administrasi terkait dengan pengembangan aset tambang batubara MTU dan MEA maupun pengembangan usaha lainnya. Selanjutnya, beban non-operasional seperti bunga, amortisasi intangible asset dari akuisisi, naiknya bagian minoritas terkait dengan divestasi saham Petrosea, serta turunnya kontribusi laba investasi perusahaan di Kideco dan Santan menyebabkan turunnya laba bersih Indika Energy menjadi US$68,7 juta. Melangkah ke depan, gejolak harga batubara ditambah dengan tuntutan tingginya kebutuhan biaya modal dan operasional masih menjadi tantangan terbesar bagi Perusahaan. Dengan terus menjaga disiplin dalam strategi investasi dan fokus manajemen pada keunggulan operasional, Dewan Komisaris yakin bahwa perusahaan berada pada posisi yang tepat untuk dapat mencapai tingkat pengembalian investasi jangka panjang yang menarik. Atas nama Dewan Komisaris, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pemegang saham, karyawan dan mitra usaha, atas dukungan dan kepercayaan yang telah diberikan kepada Indika Energy. Akhir kata, saya ingin menyampaikan apresiasi kami kepada Bapak Muhammad Chatib Basri, yang telah menjabat sebagai Komisaris Independen di Indika Energy hingga bulan Juni 2012, dan mengucapkan selamat dan sukses atas penugasan baru di bidang pelayanan publik. Wiwoho Basuki Tjokronegoro Komisaris Utama BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 41
44 42 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
45 LAPORAN DIREKTUR UTAMA BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 43
46 LAPORAN DIREKTUR UTAMA Di tahun 2012, kunci UTAMA dari misi Indika Energy adalah MENGKAPITALISASI sumber DAYA BATUBARA yang MELIMPAH untuk memberikan nilai yang optimal bagi pemegang saham M. Arsjad Rasjid P. M. Direktur Utama 44 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
47 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 45
48 Ditopang oleh pasar domestik yang kuat, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 6,5% pada tahun 2012 pertumbuhan paling pesat sejak tahun 1996 tidak terpengaruh oleh melambatnya laju ekonomi global yang dialami sebagian besar negara maju dan negara berkembang. Belanja konsumsi sektor swasta tumbuh sebesar 5,28% menjadi Rp1.442,2 triliun dari Rp1.369,9 triliun pada tahun 2011, hal tersebut didukung oleh iklim investasi dan perkembangan infrastruktur yang pesat. Pelonggaran stimulus fiskal dan moneter berkontribusi secara positif terhadap tuntutan ekonomi global yang sedang berkembang serta mengungguli pertumbuhan ekonomi negaranegara maju. Strategi utama Indika Energy berfokus pada pertumbuhan secara organik dan akuisisi strategis, untuk mengembangkan portofolio yang kokoh dan sejalan dengan value chain pertambangan batubara. Seiring dengan visi dan misi, rencana kerja Perusahaan adalah mengembangkan aset utama di tiga pilar bisnis yaitu sumber daya energi, jasa energi, dan infrastruktur energi. Merujuk kepada kerangka referensi tersebut, di tahun 2012 Indika Energy melakukan penyelarasan dan konsolidasi bisnis dengan fokus untuk membangun sinergi pada operasional bisnis dan sumber daya manusia, serta menjaga profil keuangan yang terukur pada saat yang bersamaan. Di tahun 2012, kunci utama dari misi Indika Energy adalah mengkapitalisasi sumber daya batubara yang melimpah untuk memberikan nilai yang optimal bagi pemegang saham. Integrasi sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) dan strategi sumber daya manusia di seluruh unit bisnis Perusahaan merupakan tahapan penting untuk menciptakan sinergi di dalam value chain melalui standarisasi dan integrasi platform teknologi dan informasi, seperti Enterprise Resources Planning (ERP) dan Human Resources Management System (HRMS), serta sistem pengambilan keputusan lainnya yang menunjang proses bisnis. Pada saat yang bersamaan, guna mencapai tujuan bisnis dalam memperkuat portofolio sumber daya energi, Indika Energy telah mengakusisi PT Multi Tambangjaya Utama (MTU) yang terletak di Kalimantan Tengah. Akuisisi ini bertujuan untuk menambahkan aset batubara ke dalam portofolio sumber daya energi, serta melengkapi sumber daya batubara berkalori rendah yang telah dimiliki dengan yang berkalori tinggi dan coking coal, sehingga diharapkan dapat mengurangi dampak ketidakstabilan harga batubara global. Tahun 2012, pilar infrastruktur energi ditandai dengan beroperasinya pembangkit listrik tenaga uap batubara (PLTU) yang berkapasitas 660 MW, yang terletak di Cirebon, Jawa Barat. Saat ini, bisnis Perusahaan yang terintegrasi telah melingkupi seluruh value chain, mulai dari pertambangan sampai dengan penyediaan pasokan listrik. Di sisi lain, berbagai pencapaian tersebut di atas diwarnai dengan menurunnya harga batubara global secara drastis di semester kedua tahun Hal ini dikarenakan adanya penurunan konsumsi batubara di Amerika Serikat sebesar 11,3% atau 103 juta ton di tahun 2012, yang disebabkan oleh turunnya penggunaan batubara untuk pembangkit tenaga listrik sebesar 11,6%, serta kembalinya ekspor thermal coal dari Australia. Jatuhnya harga batubara secara langsung dirasakan oleh perusahaan berbasis batubara di Indonesia, yang berdampak pada turunnya pendapatan. Oleh karenanya, kontribusi dari perusahaan asosiasi Indika Energy juga turun sebesar 19,5% menjadi US$179,0 juta, yang secara langsung diakibatkan oleh turunnya laba bersih Kideco sebesar 16,7% menjadi US$380,0 juta. Terkait kinerja keuangan, pendapatan Perusahaan meningkat sebesar 26,3% dari US$593,4 juta menjadi US$749,7 juta di tahun Peningkatan tersebut ditopang oleh bertambahnya kontrak pertambangan Petrosea, meningkatnya kontrak baru EPC Tripatra, serta kontribusi pendapatan setahun penuh dan meningkatnya volume batubara yang diangkut MBSS pada tahun berjalan. Konsolidasi setahun penuh MBSS dan ekspansi operasional di Petrosea dan Tripatra mengakibatkan naiknya Jumlah Beban Pokok Kontrak dan Penjualan sebesar 20,3% menjadi US$556,5 juta dari US$462,6 juta pada tahun BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
49 Perusahaan akan terus BERUPAYA MENJAGA tingkat modal SERAYA tetap BERKOMITMEN untuk terus mengembangkan KAPASITAS SERTA mencari solusi ALTERNATIF... Meskipun terjadi kenaikan Jumlah Beban Pokok Kontrak dan Penjualan, Perusahaan mampu meningkatkan marjin laba kotor menjadi 25,8% dari 22,0% dan laba kotor meningkat sebesar 47,8% menjadi US$193,2 juta. Seiring dengan pengembangan dan peningkatan kapasitas Perusahaan, beban operasional meningkat sebesar 44,5% dari US$109,7 juta menjadi US$158,6 juta di tahun Kinerja operasional Perusahaan terimbas dengan tingginya beban umum dan administrasi yang disebabkan oleh program ekspansi yang sedang berjalan, serta tambahan biaya-biaya terkait dengan pengembangan dari asetaset yang telah diakuisisi, yaitu MEA dan MTU. Lebih lanjut lagi, kontribusi dari perusahaan asosiasi dan pengendalian bersama entitas termasuk Kideco yang juga turun sebesar 19,5% menjadi US$179,0 juta ditambah dengan beban bunga sebesar US$74,9 juta dan beban amortisasi intangible asset sebesar US$34,1 juta; bagian minoritas sebesar US$18,5 juta (US$13,0 juta disebabkan oleh divestasi saham Petrosea), mengakibatkan turunnya laba bersih Indika Energy menjadi US$68,7 juta di tahun 2012, atau turun sebesar 46,3% dari US$127,9 juta. Di semester kedua tahun 2012, Indika Energy dalam jangka pendek memfokuskan diri untuk dapat beradaptasi dan merespon kondisi pasar batubara yang kurang menguntungkan dengan mengurangi belanja modal, mengkaji kembali cadangan kas, serta memperkuat sinergi antar anak perusahaan. Pendekatan yang terukur dalam penggunaan modal kerja berarti berinvestasi untuk ekspansi kapasitas, serta mengembangkan infrastruktur bila mana dibutuhkan, dalam rangka meningkatkan tingkat pengembalian modal usaha. Belanja modal baru terutama ditujukan untuk mendukung program peremajaan armada dan peralatan berat, aset tetap, dan mesin untuk meningkatkan keandalan dan produktivitas operasional di MBSS dan Petrosea. Perusahaan akan terus berupaya menjaga tingkat modal seraya tetap berkomitmen untuk terus mengembangkan kapasitas serta mencari solusi alternatif dengan menyewa dari pihak ketiga selama hal tersebut layak dan aman bagi marjin usaha. Realisasi Belanja Modal Tahun 2012 US$ 212,5 Juta 4,7% 1,1% 1,2% Tripatra MBSS 70,1% Petrosea 22,9% Resources Holding BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 47
50 Sebagaimana disebutkan sebelumnya, ketidakstabilan harga batubara global dapat berdampak terhadap unit-unit usaha Indika Energy. Perusahaan akan terus mengkaji rencana kerjanya untuk memitigasi dampak dari ketidakstabilan harga batubara global. Berbagai tindakan penting yang telah dilakukan untuk mengurangi dampak ketidakstabilan harga batubara adalah: Diversifikasi Aset Energi Pada Mei 2012, Indika Energy telah menyelesaikan akuisisi MTU, yang merupakan perusahaan tambang thermal bituminous coal dan coking coal di Kalimantan Tengah, dan melengkapi sumber daya batubara berkalori medium yang dihasilkan oleh Santan dan batubara sub-bituminous yang dihasilkan oleh Kideco. Thermal bituminous coal dan coking coal memiliki kualitas dan harga yang lebih tinggi, yang memberikan fleksibilitas dalam strategi pasokan batubara untuk memitigasi gejolak harga. Jasa energi merupakan kontributor utama bagi bisnis Indika Energy, dan strategi pertumbuhan difokuskan pada pengembangan aset sumber daya energi Perusahaan melalui akusisi hak konsesi pertambangan yang strategis. MTU merupakan akusisi penting yang sejalan dengan strategi tersebut, dan dilengkapi oleh akuisisi MEA, aset greenfield pertambangan di Kalimantan Timur yang diperoleh pada Maret Saat ini MTU dalam tahap akhir perolehan izin untuk beroperasi dan operasionalnya diharapkan dapat dimulai pada semester kedua tahun Meskipun harga batubara menurun pada tahun 2012, prospek jangka panjang dan permintaan batubara di tahun mendatang akan terus meningkat. Kideco dan MTU merupakan dua aset utama pada pilar sumber daya energi. Kedua aset batubara ini diharapkan dapat menyeimbangkan kekuatan dari pilar jasa energi, dimana Tripatra dan Petrosea merupakan aset utama Perusahaan. Tripatra telah mulai mendiversifikasi keahliannya di bidang EPC dengan mengkaji potensi usaha proyek eksplorasi laut dalam lepas pantai di Indonesia. Sementara itu, Indika Energy akan secara aktif memperkuat pilar sumber daya energi serta memperkokoh sinergi dan keahliannya serta beragamnya basis konsumen termasuk di bidang minyak dan gas. Tahap selanjutnya, pada awal tahun 2013 Indika Energy melakukan pembicaraan dengan Total S.A untuk mengeksplorasi minyak dan gas yang terletak di wilayah Southwest Bird s Head, Basin Salawati, propinsi Papua Barat. Seiring dengan kegiatan eksplorasi sumber daya energi, Perusahaan akan terus melakukan pendekatan terukur, menyeimbangkan setiap peluang dengan hasil yang diharapkan demi meningkatkan nilai tambah dari Indika Energy. Konsolidasi Portofolio dengan Akuisisi Strategis Sebagai bagian dari perjalanan untuk mewujudkan perusahaan energi yang terintegrasi pada value chain batubara, Indika Energy telah mengupayakan pertumbuhan organik dan akuisisi strategis untuk mencapai tujuan tersebut. Pada pilar bisnis infrastruktur energi, MBSS memberikan layanan yang melengkapi keseluruhan value chain batubara, mulai ekstraksi sampai dengan pengiriman kepada pelanggan, berperan mengurangi dampak penurunan harga batubara. Stabilitas pendapatan MBSS didukung oleh kontrak jangka panjang dengan klausul volume minimum yang dijamin. Lebih lanjut, MBSS juga memiliki basis pelanggan thermal coal yang beragam sehingga dapat mengoptimalkan penggunaan armada, meminimalisir kapasitas yang tidak terpakai, dan meningkatkan fleksibilitas operasional terutama di saat pasar batubara sedang lesu. Sinergi di Indika Energy Sebagai bagian dari rencana kerja jangka panjang Indika Energy dalam membangun sinergi di antara value chain energi, tahun 2012 menandai dimulainya operasional CEP, pembangkit listrik tenaga uap batubara (PLTU) yang berkapasitas 660 MW yang memasok listrik ke PLN (Persero), perusahaan listrik negara, dengan 30 tahun kontrak. Kurang lebih 65,0% kebutuhan bahan bakar tahunan CEP, atau 1,85 juta ton batubara akan dipasok oleh Kideco. 48 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
51 Strategi Investasi yang Terkendali Pada Februari 2012, Indika Energy memenuhi kewajibannya sesuai dengan peraturan Bapepam-LK melakukan penawaran kembali saham Petrosea dan mengurangi kepemilikan menjadi 69,8% dari 98,55% ketika diakusisi pada tahun Penawaran kembali saham Petrosea yang dimiliki Indika Energy sebesar 28,75% menghimpun dana bersih sebesar US$106,7 juta, dan mencatat keuntungan bersih sebesar US$57,2 juta dari hasil transaksi tersebut. Keuntungan bersih yang signifikan ini memperkuat posisi neraca Perusahaan dan menunjukkan strategi investasi yang memberikan tingkat pengembalian yang menarik jauh di atas biaya investasi. Langkah-langkah penyelarasan strategi pertumbuhan Indika Energy bertujuan menjaga prospek usaha jangka panjang dan memberikan keuntungan berkesinambungan baik untuk saat ini maupun jangka panjang, dengan memanfaatkan portofolio pelanggan dan sumber daya yang beragam, serta menciptakan sinergi terintegrasi dan kegiatan usaha yang terkonsolidasi guna mengurangi dampak ketidakstabilan harga batubara global. Dalam memenuhi kewajiban perusahaan kepada para pemangku kepentingan dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku, Indika Energy melakukan kontrol yang ketat serta melindungi aset dan kepentingan Perusahaan. Integritas aksi korporasi yang dilandasi oleh etika kepatutan, merefleksikan pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik dan memelihara tingkat transparansi demi menciptakan kepercayaan investor. Kode Etik Tata Kelola Perusahaan yang Baik secara jelas menyatakan bahwa seluruh aktivitas perusahaan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, mandiri, wajar dan mencerminkan kepentingan terbaik Perusahaan guna mencapai kesinambungan, manfaat jangka panjang bagi industri, pemegang saham, masyarakat dan lingkungan. Perusahaan akan terus mengkaji rencana KERJANYA untuk memitigasi DAMPAK dari KETIDAKSTABILAN harga batubara global. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 49
52 Untuk menciptakan sinergi value chain dari kegiatan unit usaha Perusahaan, teknologi informasi dan komunikasi merupakan kunci untuk memastikan kelangsungan kegiatan usaha telah didukung oleh sistem yang tepat waktu dan data yang akurat secara efisien, objektif dan transparan. Enterprise Resources Planning (ERP) dan Human Resources Management System (HRMS) merupakan bagian dari inisiatif perusahaan untuk mendukung ICT dalam kegiatan unit usaha Perusahaan. Pengembangan ICT juga menunjukan model organisasi shared services dan peranannya dalam kegiatan operasi dan sistem yang terintegrasi dalam Perusahaan. Seiring dengan proses transformasi Indika Energy dalam perbaikan bisnis dalam sistem penilaian berbasis kinerja, adanya dashboards and portals memudahkan manajemen untuk mempercepat proses pengambilan keputusan, terutama dalam menghadapi ketidakstabilan pasar dan perubahan paradigma bisnis. yang tepat untuk berbagai posisi yang baru merupakan tantangan utama bagi Perusahaan. Strategi HC terintegrasi dengan banyak aspek dalam rencana pertumbuhan jangka panjang Perusahaan. Kami telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk mencari talenta terbaik di tingkat eksekutif, manajer dan penyelia melalui program pengembangan kemampuan kepemimpinan internal. Pada saat yang bersamaan kami juga akan terus menyiapkan talenta terbaik untuk pengembangan karir dan regenerasi kepemimpinan sesuai dengan standar internasional. Hal tersebut memang bukan tugas yang mudah namun harus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang. Dengan adanya standarisasi sistem penilaian berdasarkan kinerja di Indika Energy merefleksikan adanya komitmen untuk menciptakan budaya kinerja berkualitas tinggi yang berorientasi kepada pencapaian seluruh potensi di lingkungan kerja. Komitmen Indika Energy terhadap pendidikan tercermin pada KEGIATAN tanggung JAWAB sosial (CSR) yang ditujukan untuk membantu MASYARAKAT SEKITAR dalam merealisasikan POTENSI SERTA memperbaiki tingkat sosial dan EKONOMI mereka. Strategi Human Capital (HC) pada tahun 2012 mengalami peningkatan yang berarti. Sejalan dengan keberhasilan integrasi struktur antar unit usaha Indika Energy disepanjang value chain batubara, terdapat banyak bidang baru yang membuka kesempatan bagi karyawan yang memiliki keahlian khusus dalam mengoperasikan peralatan di lapangan, serta karyawan yang ahli di bidang teknis operasi pertambangan dan energi. Untuk memenuhi ekspansi operasional, perekrutan karyawan Perusahaan juga meluncurkan program Indika Energy Cerdaskan Anak Bangsa yang ditujukan kepada putra putri yang berprestasi dari karyawan Indika Energy. Dalam tingkat nasional, Indika Energy juga mempelopori Gerakan Indonesia Mengajar dengan mendanai pengiriman para pengajar muda berbakat ke pelosok-pelosok nusantara. Indika Energy juga bekerjasama dengan Yayasan Karya Salemba Empat yang menyediakan program beasiswa penuh, bantuan dana 50 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
53 pendidikan dan memberikan peluang kerja magang bagi 125 mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Kami percaya program CSR di bidang pendidikan ini akan berdampak langsung pada pengembangan sumber daya manusia di Indonesia dan memperbaiki tingkat ekonomi generasi mendatang. Mengakhiri laporan ini, dapat kami tegaskan bahwa berbagai inisiatif strategi bisnis yang telah dicanangkan untuk membangun sinergi dalam perusahaan energi terintegrasi yang mampu bertahan sekaligus tanggap dalam merespon peluangpeluang strategis dan potensi tantangan dalam dunia usaha. Sinergi yang dicapai bertujuan untuk meningkatkan daya saing Indika Energy di industri pertambangan batubara dan pasar thermal coal global, dimana keduanya diharapkan akan terus berkembang di masa mendatang. Dalam memimpin jajaran manajemen melalui fase transformasi dan konsolidasi sistem dan operasional lintas unit usaha, kami sangat menghargai kontribusi dan dukungan dari seluruh pihak dan pemangku kepentingan. Secara khusus, atas nama Direksi, saya menyampaikan apresiasi atas bimbingan dan dukungan yang diberikan Dewan Komisaris dalam setiap kesempatan. Kami juga berterimakasih kepada Pemerintah Republik Indonesia atas komitmennya dalam mendukung iklim investasi dan kerangka kerja untuk pertumbuhan industri pertambangan batubara. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pemegang saham, rekan bisnis, dan seluruh insan Indika Energy beserta keluarga atas dedikasi dan dukungannya. Kami menatap tahun yang akan datang dengan rasa optimis dan percaya bahwa Indika Energy akan melangkah ke jenjang yang lebih tinggi dalam sektor energi di Indonesia, dengan mempertahankan reputasi Perusahaan sebagai rekan bisnis yang dapat diandalkan. M. Arsjad Rasjid P. M. Direktur Utama BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 51
54 52 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
55 PROFIL DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI SERTA INFORMASI KEPEMILIKAN SAHAM BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 53
56 DEWAN KOMISARIS Dedi Aditya Sumanagara Agus Lasmono Komisaris Independen Wakil Komisaris Utama 54 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
57 Wiwoho Basuki Tjokronegoro Indracahya Basuki Anton Wahjosoedibjo Komisaris Utama Komisaris Komisaris Independen BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 55
58 PROFIL DEWAN KOMISARIS WIWOHO BASUKI TJOKRONEGORO Komisaris Utama Usia 73 tahun, menjabat sebagai Komisaris Utama Indika Energy sejak Februari Saat ini Bapak Wiwoho Basuki Tjokronegoro juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Teladan Resources (sejak 1998), PT Indoturbine (sejak 2005), PT Teladan Utama (sejak 2008) dan PT Indika Mitra Energi (Sejak 2005). Sebelumnya beliau juga menjabat sebagai Komisaris Utama TPEC ( ) dan TPE ( ). Lulus dengan Magna Cum Laude dari University of Kansas, mendapatkan gelar Bachelor of Science di bidang Petroleum Engineering pada tahun 1964 dan Master of Science di bidang Petroleum Engineering pada tahun Bapak Wiwoho Basuki Tjokronegoro juga mengikuti studi pasca sarjana di bidang Earth Science di Stanford University dari tahun 1968 sampai tahun AGUS LASMONO Wakil Komisaris Utama Usia 41 tahun, menjabat Wakil Komisaris Utama Indika Energy sejak February Bapak Agus Lasmono juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Indika Inti Corpindo (sejak 2004), Komisaris PT Indika Inti Mandiri (sejak 1999), Komisaris Independen PT Surya Citra Media Tbk. dan PT Surya Citra Televisi (sejak 2005), Komisaris Kideco (sejak 2004), Direktur Utama PT Indika Mitra Energi (sejak 2010) dan PT Indika Multi Media (sejak 1997). Beliau mendapatkan gelar Bachelor of Arts di bidang Economics dari Pepperdine University, Malibu, California, United States pada tahun 1993 dan gelar Master di bidang International Business dari West Coast University, Los Angeles, California, United States pada tahun INDRACAHYA BASUKI Komisaris Usia 39 tahun, menjabat Komisaris Indika Energy sejak Februari Bapak Indracahya Basuki juga menjabat sebagai Direktur PT Teladan Resources dan PT Indika Mitra Energi (sejak 2005). Sebelumnya beliau juga menjabat sebagai Komisaris Tripatra ( ). Mendapatkan gelar Bachelor of Science di bidang Mechanical Engineering dari Columbia University, New York, United States pada tahun 1996 dan Master of Business Administration dari Rice University, Houston, Texas, United States pada tahun BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
59 ANTON WAHJOSOEDIBJO Komisaris Independen Usia 73 tahun, menjabat Komisaris Independen Indika Energy sejak Maret Saat ini juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Pranata Energi Nusantara, sebuah perusahaan konsultan pengembangan energi, yang didirikan pada bulan Mei 2002, juga sebagai Wakil Ketua Dewan Penasihat Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (Indonesian Electrical Power Society). Sebelumnya, beliau merupakan penasihat eksekutif di Amoseas Indonesia Inc. dan Wakil Presiden Senior dan Deputy Managing Director dari PT Caltex Pacific Indonesia (Chevron). Beliau pensiun dari Chevron dan perusahaan afiliasinya pada tahun 2001 setelah mengabdi selama 40 tahun. Bapak Anton Wahjosoedibjo mendapatkan gelar Electrical Engineering dari studi pasca sarjana di bidang Electrical Engineering di University of Pennsylvania (1966), dan mendapatkan Petroleum Professional Diploma dari International Petroleum Institute, Tulsa, Oklahoma, United States pada tahun Beliau juga mengikuti sejumlah program eksekutif di Stanford University, Palo Alto, California dan National University of Singapore (1983), The Southern Methodist University of Dallas, Texas (1988) dan Princeton University, New Jersey, United States. DEDI ADITYA SUMANAGARA Komisaris Independen Usia 65 tahun, menjabat Komisaris Independen Indika Energy sejak Mei Bapak Dedi Aditya Sumanagara juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Saat ini beliau menjabat sebagai anggota Dewan Penasihat Kamar Dagang & Industri Indonesia ( ) dan Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia ( ). Sebelumnya beliau menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang & Industri Indonesia ( ), Direktur Utama PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. ( ), Komisaris PT Indonesia Chemical Alumina ( ) dan Direktur Pengembangan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. ( ). Memiliki pengalaman di industri pertambangan lebih dari 34 tahun dan mendapatkan gelar Insinyur Teknik Perminyakan pada tahun 1974 dari Institut Teknologi Bandung. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 57
60 DIREKSI AZIS ARMAND WISHNU WARDHANA M. ARSJAD RASJID P. M. Direktur Tidak Terafiliasi Wakil Direktur Utama Direktur Utama 58 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
61 PANDRI PRABONO-MOELYO Direktur EDDY JUNAEDY DANU DIrektur RICHARD BRUCE NESS DIrektur WADYONO SULIANTORO WIRJOMIHARDJO DIrektur BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 59
62 PROFIL DIREKSI M. ARSJAD RASJID P. M. Direktur Utama WISHNU WARDHANA Wakil Direktur Utama Usia 42 tahun, menjabat sebagai Direktur Utama Indika Energy sejak November Saat ini beliau juga menjabat sebagai Komisaris Tripatra (sejak Juli 2007), Komisaris PT Indika Mitra Energi (sejak Mei 2010) dan Komisaris Utama MBSS (sejak November 2010). Bapak Arsjad Rasjid juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Indika Infrastruktur Investindo (sejak 2007), Direktur Kideco (sejak November 2005), dan Direktur PT Indika Energy Infrastructure (sejak Juni 2010). Bapak Arsjad Rasjid menimba ilmu di University of Southern California di bidang Computer Engineering pada tahun 1990 dan mendapatkan gelar Bachelor of Science di bidang Business Administration pada tahun 1993 dari Pepperdine University, California, United States. Pada Maret 2012, beliau menyelesaikan program Executive Education Global Leadership and Public Policy for the 21st Century di Harvard Kennedy School, United States. Usia 42 tahun, menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Indika Energy sejak Mei Saat ini Bapak Wishnu Wardhana juga menjabat sebagai Wakil Komisaris Utama Tripatra, Direktur Utama PT Teladan Resources dan PT Indika Inti Corpindo. Beliau juga menjabat sejumlah posisi seperti Komisaris Utama PT Indika Infrastruktur Investindo (sejak Maret 2008), Komisaris PT Indika Energy Infrastructure (sejak Juni 2010), PT Indika Mitra Energi (sejak 2005), PT Indoturbine (sejak 2005) dan Kideco (sejak 2005). Beliau mendapatkan gelar Bachelor of Arts in Economics dari Pepperdine University, California, United States pada tahun BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
63 AZIS ARMAND Direktur Tidak Terafiliasi Usia 45 tahun, menjabat sebagai Direktur Tidak Terafiliasi Indika Energy sejak Maret Beliau juga menjabat sebagai Komisaris PT Indika Inti Corpindo (sejak Februari 2008), PT Indika Infrastruktur Investindo (sejak Maret 2008) dan Petrosea (sejak Mei 2009). Memiliki lebih dari 10 tahun pengalaman di bidang Corporate Finance dan Investasi. Sebelumnya beliau berkarir sebagai Rating Manager di PT Pemeringkatan Efek Indonesia ( ) dan Associate di JP Morgan Chase ( ). Mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1991 dan Master in Urban Planning dari University of Illinois, Urbana-Champaign, United States pada tahun PANDRI PRABONO-MOELYO Direktur Usia 64 tahun, menjabat sebagai Direktur Indika Energy sejak Februari Bapak Pandri Prabono-Moelyo memilki lebih dari 35 tahun pengalaman di Tripatra. Beliau sebelumnya menjabat sejumlah posisi sebagai Direktur Utama Tripatra sejak tahun 1989 sampai 2010, dan sebagai Komisaris Utama Petrosea (Juli 2009-Oktober 2010). Saat ini beliau juga menjabat sebagai Komisaris Utama Tripatra (sejak 2012), Komisaris Petrosea (sejak Mei 2011), Direktur Tripatra (Singapura) Pte. Ltd. (sejak 2005). Beliau memiliki pengalaman yang luas dalam menangani kontrak konstruksi internasional berskala besar dan praktik industri konstruksi Indonesia. Mendapatkan gelar Insinyur Teknik Mesin dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 1974 dan Master of Business Administration dari Central Institute of Management pada tahun BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 61
64 PROFIL DIREKSI WADYONO SULIANTORO WIRJOMIHARDJO Direktur RICHARD BRUCE NESS Direktur Usia 60 tahun, menjabat sebagai Direktur Indika Energy sejak Februari 2007 dan Direktur Utama Petrosea sejak Oktober Sebelumnya beliau menjabat sebagai Komisaris Tripatra (Maret 2008-April 2010) dan Petrosea (Juli 2009-Oktober 2010). Beliau juga menjabat sejumlah posisi sebagai Direktur Tripatra (Singapura) Pte. Ltd. (sejak 2005) dan Wakil Direktur Utama PT Indika Infrastruktur Investindo (sejak Februari 2009). Bapak Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo memiliki lebih dari 36 tahun pengalaman di Tripatra, menjabat sejumlah posisi lain, termasuk sebagai Project Director ( ), Executive Director of Operational ( ) dan Executive Director of Finance ( ). Beliau mendapatkan gelar Insinyur Teknik Mesin dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun Usia 63 tahun, menjabat sebagai Direktur Indika Energy sejak Mei Saat ini beliau merupakan Head of the Resources Division di Indika Energy (sejak Juli 2008) dan juga Komisaris Utama Petrosea (sejak Oktober 2010). Bapak Richard Bruce Ness berpengalaman di sektor energi, sumber daya dan pertambangan lebih dari 30 tahun. Sebelumnya, beliau juga menjabat sebagai Komisaris MBSS (November 2010-Mei 2011), Direktur Utama di berbagai perusahaan afiliasi dan anak perusahaan Newmont, konsultan pertambangan PT Clinton Indonesia dan Wakil Presiden PT Freeport Indonesia. Bapak Richard Bruce Ness juga menjabat posisi Ketua bidang Pertambangan di US Chamber of Commerce, Indonesia. Beliau mendapatkan gelar di bidang Mechanics dari Moorhead Technical Institute, Minnesota, United States pada tahun 1969 dan studi pasca sarjana di Moorhead State University, Minnesota, United States di tahun Bapak Richard Bruce Ness juga menyelesaikan program Professional Management di Harvard Business School, United States pada tahun BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
65 EDDY JUNAEDY DANU Direktur Usia 62 tahun, menjabat sebagai Direktur Indika Energy sejak Mei Saat ini juga menjabat Wakil Komisaris Utama PT Indika Infrastruktur Investindo. Beliau telah mengabdi pada Tripatra selama lebih dari 34 tahun, dimana sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Tripatra dan Executive Director for Marketing and Operational. Memiliki lebih dari 36 tahun pengalaman di bidang engineering dan project management dan telah menjabat sebagai Project Engineer dan Project Manager untuk berbagai proyek minyak dan gas EPC berskala besar. Mendapatkan gelar Insinyur Teknik Elektro dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1973 dan Master di bidang International Business dari Prasetya Mulya Business School pada tahun BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 63
66 KEPEMILIKAN SAHAM DEWAN KOMISARIS & DIREKSI PER 31 DESEMBER 2012 NO Nama Jabatan Jumlah Saham Persentase 1 Wiwoho Basuki Tjokronegoro Komisaris Utama ,10 2 Agus Lasmono Wakil Komisaris Utama ,19 3 Indracahya Basuki Komisaris ,03 4 Anton Wahjosoedibjo Komisaris Independen Dedi Aditya Sumanagara Komisaris Independen M. Arsjad Rasjid P.M. Direktur Utama ,02 7 Wishnu Wardhana Wakil Direktur Utama ,02 8 Pandri Prabono-Moelyo Direktur ,44 9 Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo Direktur ,52 10 Eddy Junaedy Danu Direktur ,57 11 Richard Bruce Ness Direktur ,01 12 Azis Armand Direktur Tidak Terafiliasi ,02 Jumlah ,93 64 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
67 Struktur Permodalan per 31 Desember 2012 Modal Dasar Rp (Terdiri saham, nilai nominal Rp100 per saham) Modal Ditempatkan dan Disetor Rp (US$ ) (Terdiri saham) STRUKTUR KEPEMILIKAN SAHAM PER 31 DESEMBER ,60 % 63,47 % 7,93 % PT Indika Mitra Energi Dewan Komisaris dan Direksi Masyarakat Pemegang Saham Pengendali per 31 Desember 2012 Status Kepemilikan Jumlah Lembar Saham Kepemilikan (%) PT Indika Mitra Energi* Masyarakat (dibawah 5%) ,47 36,53 *) Dikendalikan oleh Bapak Wiwoho Basuki Tjokronegoro dan keluarga sebesar 40,5% dan Bapak Agus Lasmono sebesar 59,5%. Komposisi Pemilikan Saham per 31 Desember 2012 Status Kepemilikan Jumlah Lembar Saham Kepemilikan (%) Perseroan Terbatas Badan Usaha - Luar Negeri Perorangan - Dalam Negeri Reksadana Asuransi Dana Pensiun Karyawan Yayasan Perorangan - Luar Negeri Koperasi TOTAL ,54 11,91 13,73 1,81 5,40 1,59 0,68 0,29 0,05 0,00 100,00 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 65
68 66 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
69 LAPORAN MANAJEMEN BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 67
70 Analisis dan Diskusi Manajemen tentang Kinerja Perusahaan GAMBARAN UMUM EKONOMI DAN INDUSTRI GAMBARAN UMUM EKONOMI Tahun 2012 memiliki harapan akan perkembangan perekonomian global yang pesat setelah pemulihan mulai terjadi di awal tahun Namun, dalam laporan yang terbit Oktober 2012, angka-angka International Monetary Fund (IMF) menunjukkan pertumbuhan output global hanya mencapai 3,3%, terdiri dari 5,3% ekspansi di negara-negara berkembang dan 1,3% di negara-negara maju. Baik Amerika Serikat maupun Uni Eropa terus berjuang mempertahankan momentum, sementara pertumbuhan Cina mencerminkan kelemahan seperti ekonomi besar lainnya dengan terjadinya perlambatan akibat pengetatan kebijakan demi menahan dampak penurunan global. Bahkan negara eksportir minyak, seperti Rusia, menderita dampak ketidakpastian ekonomi global. Masalahmasalah penting lain yang berdampak pada ekonomi besar yang sedang berkembang, termasuk Cina, adalah melemahnya permintaan ekspor dan meningkatnya ketidakstabilan aliran modal serta harga komoditas. Indonesia berkontribusi pada tren ekonomi global dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 6,5% di tahun 2012 yang menempatkan Indonesia di antara negara-negara dengan kinerja ekonomi terbaik di dunia. Kekuatan ekonomi Indonesia didorong oleh konsumsi domestik yang terus meningkat, yakni 60% dari total PDB, dan oleh profil demografi yang relatif muda dimana lebih dari 50% populasi berusia di bawah 30 tahun. Lebih lanjut, penanaman modal asing (PMA) di Indonesia diharapkan meningkat sampai US$30 miliar di tahun 2012, dari US$19,5 miliar di tahun Tingginya penanaman modal ini membantu menjaga Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dari penurunan nilai ekspor. Investasi didorong terutama oleh sektor pertambangan, transportasi dan bahan-bahan kimia. Pertambangan tetap menjadi sektor terbesar sekalipun peraturan-peraturan baru membatasi kepemilikan asing dan juga ekspor. 68 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
71 Indonesia dengan populasi 240 juta saat ini merupakan kekuatan ekonomi terbesar ke-16 di dunia dengan 45 juta konsumen yang terkonsentrasi di daerah perkotaan dimana 53% populasi yang tinggal di kota besar memberikan kontribusi 74% terhadap PDB. Laporan McKinsey tahun 2012 memperkirakan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ketujuh di dunia pada tahun Namun dalam jangka pendek, ketika investasi dan harga komoditas global berjalan beriringan, melemahnya pendapatan dari komoditas di tahun 2012 diperkirakan berdampak pada ekonomi Indonesia. Indonesia juga menghadapi defisit transaksi berjalan sebagai akibat peningkatan impor barang modal dan bahan mentah, juga penurunan ekspor komoditas, yang akan memberikan tekanan pada Rupiah. GAMBARAN UMUM INDUSTRI Tren batubara pada sepuluh tahun terakhir terus berlanjut dengan batubara memasok hampir setengah dari bertambahnya pasokan energi primer global. Permintaan batubara meningkat 4,3% di tahun 2011 atau 304 juta ton (mt). Permintaan dari Cina meningkat sampai 233 mt. Kebutuhan Cina terus naik di tahun 2012, sehingga menjadi importir terbesar di dunia, melampaui Jepang yang menduduki posisi tersebut selama berpuluh-puluh tahun. Sekalipun pertumbuhan permintaan batubara melambat, porsi batubara pada kebutuhan energi global tetap meningkat, dan di tahun 2017 batubara akan menyaingi minyak sebagai sumber energi utama dunia. Diperkirakan mulai 2017, dunia akan mengkonsumsi tambahan 1,2 miliar ton batubara per tahunnya. India akan semakin berpengaruh di pasar batubara. Dengan cadangan batubara yang besar, populasi melebihi 1 miliar, kekurangan listrik dan juga sebagai kantong kemiskinan energi terbesar di dunia, India memiliki kombinasi faktor-faktor yang akan menjadi pendorong konsumsi batubara. Kinerja industri domestik akan menjadikan India sebagai importir batubara lintas laut terbesar di tahun 2017 dengan 204 mtce (million tonnes of coal equivalent) dan konsumen batubara kedua terbesar, melampaui Amerika Serikat. India dan Cina akan memimpin pertumbuhan konsumsi batubara lima tahun mendatang. Importir asal belahan utara Asia lainnya seperti Taiwan dan Korea diharapkan akan mengalami peningkatan moderat pada impor thermal coal. Pertumbuhan lebih tinggi diharapkan datang dari negara-negara berkembang di ASEAN seperti Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam didorong oleh pertumbuhan industri manufaktur dan konstruksi, juga cadangan batubara dalam negeri yang tak memadai. Di tahun 2012, Indonesia melampaui Australia yang telah lama menjadi eksportir thermal coal terbesar dunia dalam hitungan tonnage. Ketika banjir di Queensland pada tahun menghambat ekspor Australia, pertumbuhan Indonesia terus meningkat, melampaui 300 mt. Lebih jauh lagi, ekspor Amerika Serikat tahun 2012 bertumbuh pesat sementara Australia kembali mencapai kapasitas ekspor sebelum periode banjir. Hal ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pasokan yang berujung pada penurunan harga batubara yang signifikan di tingkat global, terutama pada paruh kedua tahun Ini juga tidak diimbangi oleh antisipasi siklus permintaan akibat musim dingin di belahan dunia sebelah utara. Para pakar industri memperkirakan bahwa keseimbangan pasokan dan permintaan akan mengalami penyesuaian sepanjang tahun 2013 dan mengembalikan harga batubara sejalan dengan tren jangka panjang. Kekuatan ekonomi Indonesia didorong oleh konsumsi domestik yang terus MENINGKAT, yakni 60% dari TOTAL PDB, dan oleh profil demografi yang RELATIF muda dimana lebih dari 50% populasi berusia di BAWAH 30 tahun. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 69
72 TINJAUAN OPERASIONAL 2012 merupakan tahun penting bagi Indika Energy. Pada bulan Februari, Perusahaan berhasil melepaskan kembali 28,75% saham Petrosea ke publik, dengan penerimaan bersih sebesar US$106,7 juta dan keuntungan sebesar US$57,2 juta. Di bulan Maret dan Mei, Perusahaan mengakuisisi 60,0% kepemilikan di PT Mitra Energi Agung (MEA) dan 85,0% di PT Multi Tambangjaya Utama (MTU). MEA merupakan project greenfield batubara kalori rendah di Kalimantan Timur, sedangkan MTU adalah proyek batubara coking coal dan termal berkualitas tinggi dari PKP2B generasi ketiga di Kalimantan Tengah. Dengan tambahan dari kedua aset portofolio pertambangan batubara ini, Perusahaan berharap untuk dapat menyediakan beragam produk batubara kepada konsumennya, mulai dari batubara sub-bituminous tingkat rendah sampai batubara coking coal. Di bulan Juli, PT Cirebon Electric Power (CEP), yang 20,0% sahamnya dimiliki Perusahaan, memulai operasi komersial dengan memasok listrik ke Perusahaan Listrik Negara (PLN). CEP adalah pembangkit listrik tenaga uap batubara sebesar 660 MW yang dilengkapi dengan teknologi supercritical boiler pertama di Indonesia. Sebagai tambahan, Kideco memasok CEP 1,85 juta ton batubara per tahun atau sekitar 65,0% dari kebutuhan tahunan bahan bakar CEP. Dengan pencapaian di atas, Perusahaan kini memiliki operasi terintegrasi di semua segmen value chain bisnis batubara. Di semester kedua, Perusahaan berfokus untuk menyesuaikan dan merespon terhadap kondisi pasar batubara yang kurang menguntungkan, dengan mengkaji kembali pengurangan belanja modal, mempertahankan kas yang dimiliki serta memperkuat sinergi antar anak perusahaan. Perusahaan akan melanjutkan strategi ini demi mengembangkan dan mengkonsolidasikan operasi-operasi di sepanjang value chain pertambangan batubara dan penyediaan energi untuk konsumen. Indika Energy pada intinya ditopang oleh tiga pilar bisnis: Sumber Daya Energi, Jasa Energi dan Infrastruktur Energi. 70 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
73 SUMBER DAYA ENERGI Pilar usaha Sumber Daya Energi mencakup eksplorasi, produksi dan pemrosesan batubara. Perusahaan telah beroperasi dalam pertambangan batubara sejak tahun 2004, melalui akuisisi 41,0% saham Kideco yang kemudian meningkat menjadi 46,0% di tahun Di tahun 2009, Perusahaan menambahkan Santan ke dalam portofolio bisnis batubara, melalui akuisisi Petrosea. Saat ini, dengan tambahan MEA dan MTU, Perusahaan memiliki saham di empat perusahaan pertambangan batubara di bawah Sumber Daya Energi, dimana hanya Kideco dan Santan yang telah berproduksi saat ini. Tabel di bawah ini memaparkan informasi terkait aset sumber daya energi: Kideco Santan MEA MTU Kepemilikan Indika Energy 46,0% 34,9% 60,0% 85,0% Cadangan Batubara Sumberdaya Batubara Luas Area Konsesi (dalam jutaan ton) (dalam jutaan ton) (dalam hektar) 651,0 (1) 17,3 (2) (3) 40,6 (4) 1.376,0 (1) 61,5 (2) (3) 75,2 (4) ) Sumber: Berdasarkan laporan JORC-compliant yang dilakukan oleh PT Runge Indonesia per tanggal 31 Desember (2) Sumber: Berdasarkan laporan JORC-compliant yang dilakukan oleh PT Runge Indonesia per tanggal 1 Januari 2011 yang dilakukan pada blok Separi. (3) Saat ini sedang dalam tahap eksplorasi. (4) Sumber: Berdasarkan USGS-compliant yang dilakukan oleh PT LAPI ITB dan perhitungan manajemen. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 71
74 SUMBER DAYA ENERGI PT KIDECO JAYA AGUNG Kideco didirikan pada tahun 1982 dan melakukan penambangan batubara terbuka (open-cut coal mining) di atas lahan konsesi seluas hektar di Kalimantan Timur, Indonesia, dimana Kideco memegang hak pertambangan batubara sampai 2023 di bawah PKP2B generasi pertama. Sebagai perusahaan pertambangan batubara terbesar ketiga di Indonesia dari segi produksi, Kideco mewakili aset utama Perusahaan di bawah pilar sumber daya energi, dengan total produksi mencapai 34,2 juta ton di tahun 2012, naik 8,6% dari 31,5 juta ton di tahun Berlokasi di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Kideco mengoperasikan lima wilayah konsesi menggunakan metode pertambangan terbuka di Roto Utara, Roto Selatan, Roto Tengah, Susubang dan Samarangau, dengan perkiraan cadangan batubara potensial dan terbukti mencapai 651 juta ton dan sumber daya batubara diperkirakan mencapai juta ton berdasarkan laporan JORC (Australian Joint Ore Reserves Committee) per Desember Kideco telah mengidentifikasi sumber daya batubara potensial lainnya di wilayah konsesi Samu dan Pinang Jatus, dimana kegiatan eksplorasi secara rinci belum dimulai. Kideco memproduksi beragam batubara sub-bituminous dengan kandungan sulphur (0,1%) juga abu (rata-rata 2,5%) sangat rendah. Sebagai tambahan, batubara Kideco memproduksi tingkat nitrogen relatif rendah saat pembakaran, sehingga ramah lingkungan untuk digunakan pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Didukung infrastruktur yang baik, berlokasi di dataran geografis yang mudah dijangkau dan tambang batubara yang direncanakan dengan baik, Kideco mempertahankan rasio pengupasan tanah 7,00x saat kondisi pasar batubara kurang menguntungkan di tahun 2012, dan mampu mempertahankan posisi sebagai salah satu produser batubara dengan harga terendah di dunia. Kideco tetap mempertahankan posisinya sebagai pemimpin industri dalam hal pemenuhan kewajiban penyediaan batubara kepada konsumen, belum pernah mengalami keadaan kahar (force majeure) sejak beroperasinya di tahun Selama beberapa tahun terakhir, Kideco secara konsisten berhasil mencapai target produksi, khususnya dalam mengatasi tantangan akibat turunnya harga batubara yang menyebabkan perusahaan batubara Indonesia lainnya berisiko gagal mencapai target produksi tahun Pada tahun 2012, Kideco menanamkan investasi sebesar US$32,7 juta dalam proses menyelesaikan rencana ekspansi untuk meningkatkan kapasitas produksi sampai 50 juta ton di pertengahan 2013, demi mengakomodasi pertumbuhan produksi di masa mendatang. Mencerminkan keandalan yang teruji, Kideco berhasil membangun basis konsumen internasional yang kuat di Asia dan Eropa, sebagian besar diantaranya pembangkit tenaga listrik. Kideco memasok batubara ke lebih dari 50 konsumen di lebih dari 16 negara. Di dalam negeri, Kideco menjual 8,8 juta ton di tahun 2012, yakni 25,8% dari total produksi dan melampaui persyaratan Kewajiban Pasar Domestik (DMO). Selama tahun 2012, pendapatan Kideco meningkat 4,0% mencapai US$2,4 miliar, naik dari US$2,3 miliar di tahun Harga jual rata-rata turun dari US$71,6 per ton di tahun 2011 menjadi US$68,9 per ton di tahun 2012, namun penurunan ini diimbangi dengan peningkatan volume penjualan dari 31,6 juta ton di tahun 2011 menjadi 34,2 juta ton di tahun Dua faktor penting yang berdampak pada kinerja Kideco tahun 2012 adalah turunnya harga jual rata-rata dan naiknya biaya bahan bakar. Cash cost di luar royalti di tahun 2012 naik 9,6% menjadi US$38,5 per ton. Sebagai hasilnya, laba kotor turun 15,2% dari US$864,7 juta di tahun 2011 menjadi US$733,4 juta di tahun 2012, sementara laba tahun berjalan turun 16,7% menjadi US$380,0 juta. Berdasarkan hasil tersebut, Kideco mengumumkan dividen sebesar US$335,0 juta, setara dengan 88,1% rasio pembayaran dividen. 72 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
75 KINERJA OPERASI 7,0 7,0 6,6 5,9 219,0 239,4 4,9 163,0 170,1 106,7 29,1 31,5 34,2 22,0 24, Pengupasan lapisan tanah (dalam jutaan bcm) Produksi (dalam jutaan ton) Rasio pengupasan tanah (x) BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 73
76 PT SANTAN BATUBARA Didirikan pada tahun 1998, Santan, perusahaan patungan 50/50 antara Petrosea, yang 69,8% sahamnya dimiliki Perusahaan, sisanya dimliki oleh PT Harum Energy Tbk. Santan merupakan pertambangan batubara terbuka di wilayah konsesi seluas hektar di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Santan memegang hak pertambangan batubara sampai tahun 2038 di bawah PKP2B generasi ketiga. Berdasarkan estimasi JORC Januari 2011, sumber daya batubara sekitar 61,5 juta ton dengan cadangan 17,3 juta ton, sementara eksplorasi non-jorc di bulan yang sama memperkirakan jumlah sumber daya batubara berkisar 222,2 juta ton dengan cadangan 30,6 juta ton. Pada tahun 2012, Santan memproduksi 2,6 juta ton batubara, naik 52,5% dari 1,7 juta ton tahun Pada tahun 2012, pendapatan Santan naik 44,3% menjadi US$225,5 juta, naik dari US$156,2 juta di tahun 2011 mengikuti volume penjualan yang meningkat menjadi 2,6 juta ton di tahun 2012 dibandingkan dengan 1,7 juta ton di tahun Namun, harga jual rata-rata turun dari US$94,2 per ton di tahun 2011 ke US$87,6 per ton di tahun Santan mengalami dampak kenaikan biaya pertambangan karena meningkatnya rasio pengupasan tanah (12,4x di tahun 2012 vs. 11,8x di tahun 2011), kenaikan biaya bahan bakar serta biaya pengupasan yang ditangguhkan yang tidak berulang, menyebabkan naiknya cash cost di luar royalti naik 8,9% menjadi US$70,7 per ton. Sebagai hasilnya, laba kotor turun menjadi US$64,3 juta, turun 5,0% dari US$67,6 juta tahun Sebagai tambahan, beban penjualan yang lebih tinggi, beban pajak yang dibukukan sebagai bagian dari keuntungan dan kerugian lain-lain bersih serta kerugian penurunan nilai atas beban eksplorasi dan pengembangan yang ditangguhkan mengakibatkan penurunan laba bersih yang signifikan menjadi US$4,9 juta. 74 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
77 PROYEK PENGEMBANGAN YANG SEDANG BERJALAN MITRA ENERGI AGUNG (MEA) Pada bulan Maret 2012, Indika Energy memperoleh 60,0% kepemilikan saham MEA, aset batubara greenfield melalui IUP atas wilayah konsesi seluas hektar di Kalimantan Timur. Eksplorasi telah dimulai di wilayah konsesi, dan MEA telah mengajukan izin lingkungan hidup yang diperlukan guna memulai produksi apabila upaya-upaya eksplorasi kami berhasil mengidentifikasi sumber daya batubara yang cukup. MULTI TAMBANGJAYA UTAMA (MTU) Pada bulan Mei 2012, Perusahaan memperoleh 85,0% saham di MTU, perusahaan batubara bituminous thermal dan batubara coking coal berkualitas tinggi dengan PKP2B generasi ketiga berbasis di Kalimantan Tengah, dengan wilayah konsesi seluas hektar. Berlokasi di sekitar 30 km timur laut dari kota Ampah dan sekitar 250 km di utara Banjarmasin, MTU mengembangkan jalan angkut batubara berkapasitas 3,0 juta ton per tahun, sebuah conveyor jetty crusher berkapasitas 10,0 juta ton per tahun dan pelabuhan barges berkapasitas 5,0 juta ton per tahun dan terus meningkatkan dan memperluas infrastruktur guna mendukung operasi-operasi pertambangan masa depan. MTU telah mendapatkan izin lingkungan hidup untuk ekstrasi sampai 1,2 juta ton batubara per tahun dan dalam proses mendapatkan izin operasi yang diperlukan. PROYEK-PROYEK LAINNYA Proyek Kalimantan Barat dan aktivitas eksplorasi di Papua saat ini ditunda dengan sumber daya yang ada dialihkan ke MTU dan MEA. Ringkasan Aktivitas Eksplorasi Tahun 2012 MTU Aktivitas Confirmation drilling (m) Mapping (near mine) Mapping AOI MEA Target m Ha Ha Aktual RC: m Jacro: m Total: m Ha Ha Aktivitas Confirmation drilling (m) Mapping (near mine) Target m Ha Aktual Jacro: m Total: m Ha Papua - Baliem Aktivitas Confirmation drilling (m) Mapping (near mine) Target m Ha Aktual Jacro: m Total: m Ha BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 75
78 JASA ENERGI JASA ENERGI Pilar usaha Jasa Energi terdiri dari Tripatra dan Petrosea. Tripatra adalah penyedia jasa rekayasa, pengadaan dan konstruksi (EPC), operasi dan pemeliharaan (O&M) dan logistik untuk sektor energi. Petrosea memberikan jasa kontrak pertambangan serta rekayasa dan kontruksi (E&C). Sektor Jasa Energi memberikan kontribusi US$594,8 juta pendapatan pada tahun 2012, naik 31,3% dari US$453,2 juta di tahun Petrosea berkontribusi 64,8% pada pendapatan Jasa Energi, dan sisanya dari kontribusi Tripatra. TRIPATRA Sejak pendiriannya di tahun 1973, Tripatra memainkan peran penting dalam menyediakan jasa rekayasa teknik energi yang mencakup EPC, O&M dan jasa logistik. Kapasitas rekayasa yang kuat dan manajemen proyek yang baik merupakan faktor utama keberhasilan Tripatra dalam mengimplementasikan proyekproyek kelas dunia. Melalui Tripatra, kepemilikan Perusahaan di entitas asosiasi dan entitas anak mencakup: PT Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI), entitas anak, yang menyediakan jasa operasi terintegrasi, manajemen, logistik, pemeliharaan dan jasa pelabuhan; PT Sea Bridge Shipping Indonesia (SBS), entitas asosiasi, yang memberi jasa pengapalan batubara, termasuk penyediaan tug, barges dan peralatannya, dan gearless floating cranes bersama jasa transhipment; dan PT Cotrans Asia Indonesia (Cotrans), entitas asosiasi yang menyediakan jasa transportasi dan transhipment batubara. Pada tahun 2012, Tripatra membukukan pendapatan sebesar US$210,1 juta. Proyek EPC dengan Mobil Cepu Ltd. mencakup hampir 42,6% dari total pendapatan yang dibukukan Tripatra, naik dari US$7,1 juta pada tahun 2011 menjadi US$89,5 juta di tahun Sebagai tambahan, Tripatra membukukan pendapatan dari Perta-Samtan Gas dan proyek geothermal Chevron sebesar US$47,6 juta. Entitas anak Tripatra, KPI juga melaporkan pendapatan sebesar US$56,8 juta. Pada tahun 2012, Tripatra melaporkan laba bersih sebesar US$11,2 juta. 76 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
79 Proyek Yang Sedang Berjalan di Tahun 2012 Deskripsi Proyek Perta-Samtan Gas Chevron - Salak & Drajat Geothermal Chevron - Flexible Program Management 3 Chevron - Rapak Pertamina HE ONWJ Premier Oil Exxon Mobil - Cepu Donggi - Senoro Conoco Phillips Foster Wheeler - Cilacap RFCC Project Total Periode Kontrak dalam jutaan US$ Nilai Kontrak Tersisa per 31 Desember ,5 18,7-7,7-16,3 295,6 285,8 14,2 2,7 641,6 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 77
80 PETROSEA Petrosea memiliki lebih dari 40 tahun pengalaman di bidang kontrak jasa pertambangan, rekayasa dan konstruksi (E&C) serta logistik. Saat ini Petrosea mengoperasikan empat lokasi pertambangan di Kalimantan, yakni Gunung Bayan Pratama, Santan Batubara, Adimitra Baratama Nusantara, dan Kideco. Divisi Rekayasa dan Konstruksi (E&C), terus fokus pada penyelesaian kontrak yang ada untuk tahun 2012, mencakup pembangkit tenaga listrik amonium nitrat yang dimiliki PT Kaltim Nitrate Indonesia di Kalimantan Timur. Petrosea memiliki dua pengendalian bersama entitas. Yang pertama adalah Santan Batubara, perusahaan patungan pertambangan batubara bersama PT Harum Energy Tbk, dengan 50,0% saham dipegang masing-masing perusahaan. Yang kedua adalah PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri, yang dimiliki Petrosea 47,0% dalam kemitraan bersama PDAM Tirta Kerta Raharja, beroperasi di wilayah Kabupaten Tangerang untuk mengembangkan dan meningkatkan instalasi Pengolahan Air Bersih di Cikokol Tangerang. Setelah akuisisi 98,55% saham Petrosea pada tahun 2009, Indika Energy menyelesaikan divestasi 28,75% saham di Petrosea pada bulan Februari 2012, untuk memenuhi peraturan Bapepam-LK dengan penerimaan bersih sebesar US$106,7 juta. Setelah divestasi, Indika Energy saat ini memegang total saham 69,8%. Sejak diakuisisi Perusahaan pada tahun 2009, Petrosea telah mengembangkan bisnis kontrak pertambangan dari pengupasan tanah 72,2 juta bcm dan menambang 2,4 juta ton batubara menjadi 156,7 juta bcm pengupasan tanah dan 9,9 juta ton batubara di tahun Untuk mendukung perkembangan aktivitas kontrak pertambangan, Petrosea telah meningkatkan armada alat berat secara signifikan dari 368 unit di akhir tahun 2011 menjadi 518 unit di akhir tahun Total pendapatan meningkat 46,1% menjadi US$385,5 juta, dimana divisi kontrak pertambangan berkontribusi sebesar 92,5%. Laba kotor meningkat 47,7% dari US$76,3 juta di tahun 2011 menjadi US$112,7 juta di tahun Akan tetapi, Petrosea melaporkan laba bersih sebesar US$49,1 juta tahun 2012, turun 6,7% dari tahun 2011, terutama karena penurunan kontribusi yang signifikan dari Santan. Pada tahun tersebut, Petrosea menandatangani kontrak baru dengan Gunung Bayan dengan nilai total US$483,6 juta yang menjadikan total backlog di Petrosea sebesar US$1.772,3 juta di akhir tahun BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
81 Proyek Yang Sedang Berjalan di Tahun 2012 Deskripsi Proyek Kontrak Pertambangan: Gunung Bayan Pratama Santan Batubara Adimitra Baratama Nusantara Kideco Jaya Agung Sub Total Kontrak Rekayasa dan Konstruksi: POSB Rekayasa dan Konstruksi Sub Total Total Periode Kontrak dalam jutaan US$ Nilai Kontrak Tersisa per 31 Desember ,3 373,0 658,7 144, ,2 95,5 0,6 96, ,3 Alat-alat Berat Alat Berat Dump trucks Excavators Bulldozers Graders Major mining equipment Jumlah Unit Ancillary equipment Total BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 79
82 INFRASTRUKTUR ENERGI Dalam sektor infrastruktur energi, Perusahaan juga memiliki Cirebon Electric Power (CEP), proyek pembangkit tenaga listrik di Jawa Barat, yang memiliki perjanjian jual beli tenaga listrik untuk memasok PLN selama 30 tahun, menggunakan batubara berkalori rendah yang salah satunya dipasok dari Kideco. Melalui aset di Petrosea, fasilitas infrastruktur POSB multi-pengguna dan multi-fungsi di Kariangau, Tanjung Batu, Balikpapan Barat, Perusahaan menyediakan serangkaian layanan efektif dari segi biaya untuk klien internasional dan nasional di industri minyak, gas dan batubara. Pada tahun 2012, infrastruktur energi memberikan kontribusi 19,0% dari total pendapatan konsolidasian dan sekitar 29,3% laba kotor konsolidasian. Laba sebelum pajak untuk sektor ini tahun 2012 terus meningkat dan kontribusinya juga meningkat dari US$6,4 juta atau 19,1% dibandingkan tahun Pendapatan meningkat menjadi US$142,2 juta dari US$98,6 juta di tahun 2011, terutama dari konsolidasian sepanjang tahun MBSS di tahun 2012 dibandingkan dengan sembilan bulan di tahun 2011 dan berkat kinerja MBSS di tahun 2012 dengan kontrak baru yang melengkapi kontrak yang sudah ada sebelumnya. MITRABAHTERA SEGARA SEJATI (MBSS) MBSS adalah perusahaan jasa logistik dan transportasi batubara yang terintegrasi (one stop solution) yang berdiri pada tahun Tim manajemen memiliki pengetahuan mendalam tentang aspek geologis dan sosial-budaya yang diperoleh dari lebih dari 17 tahun pengalaman di bisnis ini. Pada tahun 2012, pendapatan MBSS meningkat 16,3% menjadi US$141,4 juta,terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan barges yang meningkat 17,0%, dan floating cranes yang naik 14,4% pada tahun Pendapatan dari barges mencapai total US$106,6 juta yang merupakan 75,3% total pendapatan MBSS, dan floating cranes mencapai total US$34,9 juta atau 24,7%. Kontrak baru di tahun 2012 adalah Cotrans dari barges yang bernilai US$5,7 juta, dan Berau untuk floating crane senilai US$3,4 juta. MBSS membukukan laba kotor sebesar US$56,4 juta naik 14,3% dari 2011, dan EBITDA sebesar US$64,4 juta sebesar 20,6% dibandingkan 2011, dan Laba yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk sebesar US$36,5 juta yang naik 23,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Sekalipun di tengah penurunan harga batubara tahun 2012, MBSS tetap membukukan peningkatan dari segi pendapatan maupun laba bersih. Lebih dari 85,0% pendapatan MBSS didukung volume minimum yang dijamin. Kontrak jangka panjang akan terus memberikan keuntungan bagi MBSS untuk tahun-tahun mendatang, karena MBSS secara positif menikmati keuntungan dari permintaan batubara jangka panjang, seraya menjadi penyedia utama jasa transhipment. Pada tahun 2012, MBSS membukukan tambahan backlog sebesar US$156,7 juta, mengakhiri tahun tersebut dengan total backlog sebesar US$405,8 juta. Pertumbuhan barges didukung tambahan delapan armada baru yang meningkatkan armada menjadi 74 dari 66 di tahun Volume barges juga meningkat sebesar 38,9% dari 23,6 juta ton menjadi 32,8 ton di tahun 2012, didukung peningkatan pengapalan untuk angkutan jarak pendek di tahun 2012 dibandingkan tahun Dua floating cranes baru ditambahkan tahun 2012, dengan satu floating crane beroperasi di Berau sejak Mei 2012, sementara floating crane yang lain beroperasi di Kideco sejak Januari MBSS merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang memiliki armada terbesar dan paling beragam di Indonesia dengan 80 tugs, 74 barges, tujuh floating cranes, satu kapal semen dan satu kapal pendukung dengan wilayah operasi utama di Kalimantan. MBSS merencanakan meningkatkan fleksibilitas demi memenuhi kebutuhan jangka pendek dengan menyewa armada jika ada peluang bisnis serta mendapatkan kontrak dengan pengguna akhir demi meningkatkan pangsa pasar di bidang logistik batubara di Indonesia. 80 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
83 Proyek Yang Sedang Berjalan di Tahun 2012 Deskripsi Proyek Barging Adaro Energy Kaltim Prima Coal Holcim Indonesia Bahari Cakrawala Sebuku Bukit Asam (Persero) Berau Energy Banpu Indocement Tunggal Prakarsa Borneo Indo Bara Alfa Trans Raya Kideco Jaya Agung Singlurus Pratama Sub Total Transhipments Kideco Jaya Agung Adaro Indonesia Berau Energy Jembayan Muarabara (Sakari) Banpu Berau Coal Sub Total Total Periode Kontrak dalam jutaan US$ Nilai Kontrak Tersisa per 31 Desember ,0 26,2 19,5 1,8 0,0 0,1 13,1 0,3 23,0 0,0 11,2 0,1 229,3 75,2 9,9 22,7 0,4 0,9 67,4 176,5 405,8 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 81
84 CIREBON ELECTRIC POWER (CEP) Indika Energy membentuk kemitraan internasional dengan Marubeni Corporation, Komipo-Korea Midland Power Co. Ltd., dan Samtan Co. Ltd., untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga uap batubara dengan kapasitas 660 MW di Cirebon, Jawa Barat. Perusahaan memiliki 20,0% saham di CEP melalui PT Indika Infrastruktur Investindo dan Indika Power Investments, Pte. Ltd., CEP memulai operasi dan memasok listrik ke PLN (Persero) sejak 27 Juli Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA) ditandatangani pada tanggal 20 Agustus 2007 untuk kontrak 30 tahun antara PLN (Persero) dan CEP, dimana kebutuhan batubaranya akan dipasok terutama dari Kideco. Dengan dimulainya pasokan listrik ke PLN, penyedia listrik nasional Indonesia, terjadi peningkatan signifikan dari segi pengetahuan, pengendalian biaya, financial modelling dan manajemen pembangkit listrik. Instalasi pembangkit listrik tenaga uap batubara dengan kapasitas 660 MW ini merupakan salah satu proyek pembangkit listrik paling terkemuka di Indonesia yang menggunakan teknologi supercritical boiler yang efisien dan bersahabat dengan lingkungan. 82 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
85 PETROSEA OFFSHORE SUPPLY BASE (POSB) Petrosea Offshore Supply Base (POSB) merupakan penyedia jasa logistik lepas pantai untuk perusahaan-perusahaan nasional dan internasional yang beroperasi di Selat Makassar. Berlokasi di Kariangau, Tanjung Batu, Balikpapan Barat (Kalimantan Timur), POSB mempertahankan basis pendekatan multi fungsi untuk basis operasi terintegrasi untuk mendukung konsumen di sektor minyak dan gas. Klien-kliennya termasuk Chevron, Exxon Mobil, Total Indonesie, dan ENI. Kapasitas POSB yang ekstensif mencakup craneage dan penanganan barang untuk pengapalan individual besar juga pengiriman barang curah bervolume besar. Tambahan lagi, POSB terdiri dari fasilitas penyimpanan ruang terbuka dan tertutup, pengamanan kargo, insinerasi, area penyimpanan drum bahan kimia, tubular inspection shops dan fasilitas pelatihan tanggap darurat. Tahun 2012, POSB memberikan kontribusi 6,9% terhadap total pendapatan, mencerminkan kenaikan yang konsisten selama lebih dari lima tahun terakhir. Membangun reputasi sebagai yang terdepan dalam supply operations di Indonesia, POSB mempertahankan standar tinggi untuk keamanan dan kesehatan karyawan juga lingkungan hidup. Staf operasional juga mendapatkan sertifikasi mengatasi dan mengelola kontinjensi tumpahan minyak, dengan prioritas pada layanan berkualitas terbaik untuk klien. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 83
86 TINJAUAN KEUANGAN Ikhtisar Keuangan Tahun 2012: Pendapatan US$749,7 juta, mengalami kenaikan 26,3% dari US$593,4 juta pada tahun Laba kotor US$193,2 juta, mengalami kenaikan 47,8% dari US$130,8 juta pada tahun Bagian laba entitas asosiasi dan pengendalian bersama entitas turun 19,5% menjadi US$179,0 juta pada tahun 2012, disebabkan menurunnya harga jual rata-rata per ton Kideco lebih rendah (pada tahun 2012 US$68,9 dibandingkan US$71,6 pada tahun 2011) dan Santan (pada tahun 2012 US$87,6 dibandingkan US$94,2 pada tahun 2011) Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk US$68,7 juta, turun 46,3% dari US$127,9 juta pada tahun Pada tanggal 31 Desember 2012, Perusahaan melaporkan kas dan setara kas serta aset keuangan lainnya sebesar US$421,1 juta dan total pinjaman mencapai US$1,0 miliar. Pendapatan Pendapatan Perusahaan naik 26,3% menjadi US$749,7 juta dibandingkan US$593,4 juta yang dilaporkan pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini terutama disebabkan oleh: a) Pendapatan Petrosea meningkat 46,1% dibandingkan tahun lalu mencapai US$385,5 juta, terutama berasal dari pertumbuhan volume pengupasan tanah dalam kontrak usaha pertambangan yang pendapatannya mencapai US$356,8 juta dibandingkan US$233,0 juta pada tahun Volume pengupasan tanah naik 35,0% dari 116,1 juta bcm (atau bank cubic metre) menjadi 156,7 juta bcm pada tahun b) Pendapatan Tripatra meningkat 10,7% dibandingkan tahun lalu mencapai US$210,1 juta, terutama berasal dari 1) Proyek EPC Exxon Mobil, Cepu senilai US$89,5 juta; 2) KPI kontrak Freeport senilai US$56,8 juta; 3) Proyek Perta-Samtan Gas dan Chevron Geothermal senilai US$47,6 juta. c) Pendapatan MBSS naik 16,3% dibandingkan tahun lalu mencapai US$141,4 juta, terutama berasal dari kenaikan volume batubara yang diangkut oleh barges, di mana volume meningkat 38,9% menjadi 32,8 juta ton. Kontribusi pendapatan MBSS ke Perusahaan pada tahun 2011 hanya selama 9 bulan (US$99,0 juta) dibandingkan kontribusi setahun penuh pada tahun 2012 (US$141,4 juta). 51,4 % 1,6% 28,2 % 18,9 % Rincian Pendapatan Tahun 2012 US$749,7 juta Beban Pokok Kontrak dan Penjualan Beban pokok kontrak dan penjualan meningkat 20,3% menjadi US$556,5 juta dari US$462,6 juta pada tahun 2011, sejalan dengan perluasan usaha yang dilakukan dalam unit-unit bisnis Perusahaan penambahan jumlah armada, penggunaan material, penambahan karyawan, serta biaya perbaikan & perawatan. Laba Kotor Karena faktor-faktor yang disebutkan di atas, laba kotor Perusahaan naik 47,8% mencapai US$193,2 juta dari US$130,8 juta pada tahun Tripatra MBSS Petrosea Lainnya 84 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
87 Beban Umum dan Administrasi Beban umum dan administrasi meningkat US$48,9 juta atau 44,5% dibandingkan tahun lalu menjadi US$158,6 juta pada tahun 2012, disebabkan kenaikan biaya yang berkaitan dengan pengembangan aset batubara yang baru diakuisisi (MEA dan MTU), serta perluasan usaha Petrosea, Tripatra, dan MBSS, terutama pada: a) Gaji, upah, dan tunjangan karyawan meningkat sebesar US$19,8 juta atau sebesar 32,7% dibandingkan tahun lalu, menjadi US$80,1 juta. Kenaikan ini disebabkan terutama oleh penambahan tenaga kerja secara keseluruhan dari orang pada tahun 2011 menjadi pada tahun 2012, termasuk tunjangan pensiun tidak berulang yang dibukukan oleh Tripatra. Biaya tersebut mencapai sekitar 50,5% dari keseluruhan beban umum & administrasi, serta merupakan 10,7% dari total pendapatan Perusahaan; b) Sewa kendaraan, gedung, dan peralatan naik sebesar US$11,4 juta dibandingkan tahun lalu menjadi US$21,7 juta, khususnya biaya terkait eksplorasi batubara dalam upaya mencari wilayah pertambangan baru. Biaya ini mencapai 13,7% dari keseluruhan beban umum & administrasi, serta 2,9% dari total pendapatan; c) Sewa alat berat US$12,9 juta, diperuntukkan bagi pengembangan pertambangan MTU; d) Beban penyusutan sebesar US$12,0 juta atau meningkat sebesar 87,4%, mewakili sekitar 7,5% dari keseluruhan beban umum dan administrasi pada tahun Bagian Laba Entitas Asosiasi & Pengendalian Bersama Entitas Bagian laba entitas asosiasi & pengendalian bersama entitas turun 19,5% dari US$222,3 juta pada tahun 2011 menjadi US$179,0 juta pada tahun 2012, terutama disebabkan lebih rendahnya laba Kideco dan Santan. Kideco melaporkan laba sebesar US$380,0 juta dari pendapatan senilai US$2,4 miliar, turun 16,7% dari US$456,1 juta pada tahun 2011, disebabkan harga jual rata-rata batubara yang lebih rendah tahun 2012 US$68,9 dibandingkan tahun 2011 US$71,6. Santan melaporkan laba sebesar US$4,9 juta dari pendapatan senilai US$225,5 juta (Laba turun 78,7% dari US$23,0 juta pada tahun 2011, disebabkan harga jual rata-rata batubara yang lebih rendah tahun 2012 US$87,6 dibandingkan tahun 2011 US$94,2). Sea Bridge Shipping melaporkan laba sebesar US$12,7 juta (+5,5% dibandingkan tahun lalu) dari pendapatan senilai US$31,1 juta. Cotrans melaporkan laba bersih sebesar US$4,8 juta (-20,0% dibandingkan tahun lalu) dari pendapatan senilai US$76,0 juta. Pendapatan Investasi Pendapatan investasi meningkat 27,4% menjadi US$9,4 juta pada tahun 2012 dari US$7,4 juta pada tahun 2011, terutama disebabkan bunga lebih tinggi yang diperoleh dari kas yang tidak terpakai sebagai hasil penerimaan bersih divestasi saham Petrosea pada bulan Februari 2012 dan dividen dari Kideco pada tahun Beban Keuangan Beban keuangan stabil sebesar US$74,9 juta pada tahun 2012 (US$74,7 juta pada tahun 2011), karena tidak ada perubahan signifikan dalam saldo pinjaman rata-rata Perusahaan selama tahun Amortisasi Aset Tidak Berwujud Amortisasi aset tidak berwujud meningkat 82,4% mencapai US$34,1 juta dari US$18,7 juta pada tahun 2011, disebabkan oleh: 1) kenaikan signifikan dalam nilai aset tidak berwujud sebesar 161,6% menjadi US$371,8 juta dari US$142,1 juta pada tahun 2011, sebagai hasil akuisisi MTU dan MEA. Aset tidak berwujud tersebut diamortisasi dengan menggunakan motede garis lurus, berdasarkan estimasi masa manfaat mereka 27 tahun untuk MTU dan 7 tahun untuk MEA; serta BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 85
88 2) amortisasi setahun penuh untuk aset tidak berwujud yang dihasilkan dari akuisisi MBSS dibandingkan dengan amortisasi sembilan bulan pada tahun Lain-Lain Bersih Biaya-biaya lain mengalami kenaikan signifikan menjadi US$11,4 juta dari US$3,1 juta pada tahun 2011, terutama disebabkan kerugian sebesar US$5,6 juta dari pelepasan alat berat Petrosea dan US$1,4 juta dari biaya-biaya eksplorasi yang ditangguhkan yang tidak terulang lagi. Laba sebelum Pajak Sebagai hasil dari faktor-faktor di atas, laba sebelum pajak turun 31,7% menjadi US$105,4 juta pada tahun 2012 dari US$154,4 juta pada tahun Beban Pajak Beban pajak meningkat 13,0% dari US$16,1 juta menjadi US$18,2 juta pada tahun 2012, terutama disebabkan kenaikan pajak final MBSS seiring dengan peningkatan pendapatannya dan beban pajak tangguhan Petrosea. Aset Lancar Aset lancar turun 1,6% dibandingkan tahun lalu menjadi US$690,7 juta karena penurunan Kas dan setara kas serta aset keuangan lainnya sebesar US$78,7 juta dikompensasi terutama dengan kenaikan Piutang Usaha, Selisih lebih estimasi pendapatan di atas tagihan kemajuan kontrak, Pajak dibayar di muka, dan Persediaan. Pergerakan Kas dan setara kas serta aset keuangan lainnya terutama disebabkan oleh aliran dana masuk dari penerimaan dividen, hasil divestasi saham Perusahaan di Petrosea dan Utang bank untuk membiayai akuisisi MTU. Dana tersebut terutama digunakan untuk pelunasan pinjaman, akuisisi MTU dan MEA, serta belanja modal dan pembayaran dividen. Aset Tetap Aset tetap meningkat sebesar US$162,5 juta menjadi US$752,7 juta, terutama disebabkan pembelian alat berat baru, tug, barges, dan floating crane, serta termasuk aset MTU dan MEA yang diakuisisi Perusahaan, dikompensasi dengan beban penyusutan. Laba tahun berjalan 2012 Sebagai hasil dari faktor-faktor di atas, laba Perusahaan tahun 2012 turun 36,9% dari US$138,3 juta pada tahun 2011 menjadi US$87,2 juta pada tahun Laba yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk Laba yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk turun 46,3% dari US$127,9 juta pada tahun 2011 menjadi US$68,7 juta pada tahun Selain karena faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, penurunan Laba yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk sebagian disebabkan selesainya divestasi saham Petrosea pada bulan Februari 2012, yang mengurangi persentase kepemilikan Indika Energy menjadi 69,8%. Hal ini menyebabkan kenaikan Laba yang Dapat Diatribusikan kepada Kepentingan Non-Pengendali sebesar US$13,0 juta. Aset Tidak Berwujud Aset tidak berwujud Perusahaan melonjak 161,6% menjadi US$371,8 juta dari US$142,1 juta pada tahun 2011, disebabkan akuisisi MTU dan MEA. Aset tidak berwujud tersebut diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus, berdasarkan estimasi masa manfaat 27 tahun untuk MTU dan 7 tahun untuk MEA. Aset tidak berwujud yang diperoleh dari kombinasi bisnis, diidentifikasi dan diakui terpisah dari Goodwill apabila definisi aset tidak berwujud dipenuhi dan nilainya wajarnya dapat diukur secara andal. Goodwill Goodwill yang timbul dari kombinasi bisnis diakui sebagai aset pada tanggal diperolehnya pengendalian (tanggal akuisisi). Goodwill naik 83,1% disebabkan akuisisi MTU. 86 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
89 Investasi pada Entitas Asosiasi dan Pengendalian Bersama Entitas Investasi pada Entitas Asosiasi dan Pengendalian Bersama Entitas turun sekitar US$39,6 juta, terutama disebabkan penurunan Laba bersih Kideco dari US$456,1 juta pada tahun 2011 menjadi US$380,0 juta pada tahun 2012, dan penurunan laba bersih Santan dari US$23,0 juta pada tahun 2011 menjadi US$4,9 juta pada tahun Entitas asosiasi adalah suatu entitas di mana perusahaan dan entitas anak mempunyai pengaruh yang signifikan, namun tidak mempunyai pengendalian atau pengendalian bersama, melalui partisipasi dalam pengambilan keputusan kebijakan keuangan dan operasional investee. Beban Tangguhan Beban tangguhan meningkat secara signifikan sebesar 322,6% menjadi US$25,1 juta terkait aset batubara yang baru diakuisisi, MTU dan MEA, serta proyek batubara lain yang masih dalam pengembangan. Beban tangguhan terdiri dari pengeluaran-pengeluaran yang berkaitan dengan pengembangan proyek batubara, termasuk studi desktop, geological mapping, studi kelayakan teknis, perijinan, dan kegiatan eksplorasi. Ekuitas naik 19,9% menjadi US$1.024,7 juta, disebabkan peningkatan dalam: 1) ekuitas lain (+3.093,8%), keuntungan sebesar US$57,2 juta dari divestasi 28,75% saham Petrosea. Standar Akuntansi Keuangan Indonesia menetapkan bahwa setiap perubahan dalam bagian kepemilikan perusahaan yang tidak mengakibatkan hilangnya pengendalian dicatat sebagai transaksi ekuitas sehingga keuntungan yang diperoleh dari divestasi tersebut harus dibukukan sebagai bagian dari ekuitas bukan laba rugi; 2) saldo laba (+8,9%), diperoleh dari Laba yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk tahun berjalan setelah dikurangi dividen yang dibagikan; 3) meski demikian, faktor tersebut di atas dikompensasi dengan kenaikan kepentingan non-pengendali (+53,5%), terutama dari i) kenaikan kepentingan non-pengendali Petrosea dari 1,45% menjadi 30,2% dan ii) akuisisi MEA dan MTU. Liabilitas Lancar Liabilitas lancar Perusahaan naik 7,2% senilai US$35,5 juta menjadi US$527,6 juta, terutama disebabkan: 1) kenaikan utang bank untuk mendanai modal kerja dan akuisisi MTU, serta 2) kenaikan dalam liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun. Kenaikan tersebut sebagian dikompensasi dengan pelunasan obligasi senilai US$65,0 juta dan utang bank untuk membiayai akuisisi MBSS pada tahun 2011 senilai US$180,0 juta. Liabilitas Tidak Lancar Liabilitas tidak lancar naik 19,0% menjadi US$794,9 juta, terutama disebabkan kenaikan dalam: 1) liabilitas jangka panjang untuk membiayai tug, barges, dan floating crane di MBSS, serta alat berat di Petrosea; 2) liabilitas pajak tangguhan terkait atas aset tidak berwujud terkait akuisisi MTU dan MEA. Ekuitas BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 87
90 PROSPEK USAHA DAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO UTAMA TINJAUAN INDUSTRI Thermal coal PROSPEK USAHA Permintaan thermal coal di pasar Pasifik akan terus berkembang untuk beberapa dekade mendatang dan tetap memiliki posisi sebagai sumber energi yang utama setelah minyak bumi. Batubara memiliki banyak kegunaan secara luas. Penggunaan yang paling utama adalah untuk pembangkit listrik, produksi besi baja, pembuatan semen dan bahan bakar cair (CTL). Sejak tahun 2000, konsumsi batubara global telah tumbuh sangat cepat dibanding bahan bakar lainnya. Kelima Negara pengguna utama batubara China, Amerika serikat, India, Russia dan Jepang mengkonsumsi 77% dari total penggunaan batubara dunia. Asia telah menjadi pasar terbesar batubara dengan mengkonsumsi 50% dari total konsumsi batubara dunia, dimana China memiliki kontribusi terbesar. Banyak negara tidak memiliki kesediaan sumber daya energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi domestik, oleh sebab itu mereka harus mengimpornya. Contohnya Jepang, China, Taiwan dan Korea, melakukan impor sejumlah besar thermal coal untuk pembangkit listrik dan coking coal untuk produksi besi baja. Indonesia menyumbang hampir 40% dari total pengapalan untuk ekspor thermal coal dunia, memenuhi permintaan akan thermal coal yang ada pada saat ini dan yang akan mendatang di daerah Pasifik. Impor ini didominasi oleh negara-negara berkembang di Asia dengan China, Jepang dan India sebagai pemimpin pasar. Batubara peringkat rendah (low-rank) Indonesia memiliki kadar abu dan sulphur yang rendah untuk memenuhi pasar batubara selain pasar thermal coal, dimana memiliki nilai tambah sebagai batubara campuran (blend), seperti China dan India, dimana pasokan domestik mereka memiliki kadar abu dan sulphur yang lebih tinggi. Ekspor thermal coal Indonesia didukung oleh struktur biaya yang lebih rendah (baik secara absolute per tonne basis maupun secara energy-adjusted per tonne basis). Ini berasal dari kombinasi faktor-faktor yang saling menguntungkan, yaitu: cadangan yang melimpah pada strip ratio yang rendah, fasilitas transhipment yang baik dari pit to port, ketersediaan tenaga kerja, dan harga pengiriman yang kompetitif karena kedekatan lokasinya dengan pusat-pusat permintaan di Asia. Pada 2012 terjadi penurunan harga batubara kalori rendah. Rendahnya peningkatan permintaan menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan dan diharapkan akan terjadi rebound harga karena adanya pertumbuhan permintaan jangka panjang yang stabil. Indonesia sebagai pemasok batubara peringkat rendah diperkirakan akan menjadi pemimpin produsen batubara lowrank seiring meningkatnya pangsa ekspor. Hal ini dikarenakan semakin berharganya batubara yang memiliki berkadar abu dan sulphur yang rendah, seperti pasar India dan China, sebagai campuran dengan batubara dalam negeri yang berkadar abu dan sulphur yang lebih tinggi. Sebagai eksportir thermal coal terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi yang sangat baik untuk mendapatkan keuntungan dari peningkatan pertumbuhan permintaan di China, India dan Pasifik. Permintaan domestik juga terus meningkat, walau demikian porsi ekspor akan ada pada kisaran 70% - 80% dari peningkatan total produksi tahun-tahun mendatang. Kedua perusahaan produsen batubara yang ada dalam Indika Energy adalah Kideco - perusahaan asosiasi, dan Santan Batubara - perusahaan pengendalian bersama. FAKTOR-FAKTOR RISIKO UTAMA Sejalan dengan praktek Perusahaan dalam menerapkan tata kelola Perusahaan, manajemen risiko merupakan strategi yang efektif untuk mencegah potensi-potensi dampak negatif yang dapat muncul dari internal dan eksternal Perusahaan. Gambaran faktor risiko utama yang dapat mempengaruhi operasi Indika Energy dan kinerja keuangannya akan dibahas dalam bagian berikut. Faktor-faktor Terkait dengan Sumber Daya Sektor Energi Harga jual batubara Kideco dan Santan dipengaruhi kondisi harga pasar batubara global, dimana sensitif terhadap perubahan kapasitas penambangan batubara, tingkat output, pola permintaan dan konsumsi batubara dari industri pembangkit listrik dan industri terkait yang menggunakan batubara bahan bakar utama. Selain itu, perlambatan ekonomi akibat krisis ekonomi global telah menekan harga batubara dunia sejak Peningkatan distribusi dan tarif angkutan laut yang lebih rendah akan dapat meningkatkan daya saing harga sumber 88 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
91 ekspor batubara lainnya seperti Amerika Serikat. Perlambatan ekonomi di Asia dapat merugikan bisnis ekspor dan pada akhirnya mempengaruhi kemampuan Kideco untuk melakukan pembayaran dividen kepada Indika. Peraturan Pertambangan yang baru (2009) mensyaratkan bahwa pemegang izin usaha pertambangan harus menambang, mengolah dan memurnikan batubara sendiri, sedangkan penggunaan kontraktor pertambangan diperbolehkan untuk pengupasan dan overburden removal dan transportasi, selain penggalian dan pemuatan batubara. Amandemen dan peraturan baru mengenai prioritas pasokan untuk pasar domestik atau kegiatan pengolahan dapat berdampak signifikan terhadap bisnis, kondisi keuangan dan hasil usaha, dan prospek Kideco, MTU dan Santan. Faktor-faktor Terkait Sektor Jasa Energi Kemampuan perusahaan dalam jasa energi berasal dari Tripatra dan Petrosea, dan tergantung pada belanja modal perusahaan batubara, mineral, infrastruktur besar, termasuk perusahaan nasional dan internasional yang secara langsung terpengaruh oleh tren harga batubara global dan regional, dan berbagai faktor alam. Penerimaan kontrak baru dan ketepatan waktu terkait dengan kontrak yang ada juga penting, karena beberapa kontrak merupakan kontrak dengan harga tetap. Keandalan sub kontraktor pihak ketiga dalam tahap rekayasa, tahap awal geologi, serta kekurangan pasokan peralatan, mesin dan bahan habis pakai merupakan potensi risiko. Faktor-faktor Terkait Investasi pada Sektor Infrastruktur Energi Kontrak jasa MBSS dengan pelanggan antara lain berisi perjanjian komersial mengenai harga dan tonase minimum. Penghentian atau berakhirnya masa kontrak, kenaikan biaya operasional dan perbaikan kapal serta pengiriman kapal baru adalah potensi risiko. Faktor Lain Terkait Kideco dan Indika Energy Ketersediaan tenaga teknis yang berkualitas dan pekerja terampil lainnya adalah risiko yang signifikan untuk Kideco dan Indika Energy, seiring dengan perkembangan sektor energi di Indonesia. Portofolio bisnis Perusahaan yang beragam memiliki risiko terhadap lingkungan, dan kepatuhan terhadap persyaratan baru dalam operasinya dapat mengakibatkan biaya signifikan. Seiring dengan perluasan kapasitas Perusahaan di coal mining value chain melalui akuisisi baru, Perusahaan akan menghadapi tantangan yang timbul dari integrasi bisnis baru, rumusan strategi, pemegang saham dan mitra usaha. Backlog terkait dengan Petrosea, MBSS dan Tripatra merupakan pendapatan dari masing-masing perusahaan yang diharapkan akan direalisasi atas pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan kontrak masa depan. Kontrak ini ditentukan oleh persyaratan dan kondisi tertentu yang dapat mempengaruhi hasil operasi masa depan. Faktor-Faktor Terkait dengan Indonesia Dengan aset dan operasi utama Perusahaan berlokasi di Indonesia, ekonomi, hukum, kondisi sosial dan kebijakan pemerintah di masa mendatang dapat berdampak secara material dan buruk terhadap prospek dan hasil usaha. Fluktuasi Rupiah dan kebijakan pemerintah akan nilai tukar terhadap Dolar AS dan mata uang lainnya mempunyai pengaruh langsung terhadap kondisi keuangan Perusahaan. Risiko Terkait dengan Utang Obligasi dan Jaminan Perlambatan ekonomi atau resesi sebagai akibat dari perubahan dalam kontrol modal atau pertukaran atau pemotongan bantuan keuangan oleh para kreditur multinasional dapat mempengaruhi kemampuan Perusahaan untuk memenuhi kewajiban Utang obligasi dan Jaminan yang diberikan. Kemampuan Indika Energy untuk melakukan pembayaran bunga dan pokok Utang obligasi tergantung pada penerimaan dividen dari Kideco selama periode Utang obligasi, dan jika penerimaan dividen dari Kideco jauh lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, hal ini akan mempengaruhi kemampuan penerbit dalam membayar pokok serta bunga Utang obligasi. Strategi pertumbuhan yang efektif Indika Energy telah membentuk keanekaragaman portofolio Perusahaan terkait dengan mata rantai pertambangan batubara, membangun sinergi yang berasal dari keahlian operasional yang terbukti, manajemen fiskal yang baik dan pendekatan yang konsisten dalam melaksanakan rencana Perusahaan BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 89
92 TEKNOLOGI INFORMASI DAN TELEKOMUNIKASI (ICT) PERANAN ICT Divisi Information and Communication Technology (ICT) di dalam Perusahaan memiliki fokus utama untuk menyediakan informasi terhadap setiap pengambilan keputusan serta mengembangkan setiap proses bisnis untuk meningkatkan efisiensi. Pengintegrasian sistim informasi dan pengadopsian praktik terbaik atas setiap proses bisnis di seluruh Perusahaan merupakan langkah penting ke depan dalam memanfaatkan sinergi dari mata rantai. Dengan demikian, Perusahaan dapat memanfaatkan setiap aplikasi dan infrastruktur untuk memungkinkan pencapaian keseluruhan tujuan perusahaan dengan kinerja bisnis yang unggul dengan menyediakan akses yang akurat dan tepat waktu untuk setiap informasi kepada tim manajemen. ARSITEKTUR ICT Kerangka kerja ICT Perusahaan akan lebih mudah dimengerti jika dipahami menggunakan arsitektur berikut (lihat ilustrasi). Bagian atap menggambarkan berbagai hal yang diperlukan manajemen untuk mengambil keputusan. Hal ini mencakup dashboard and portal pada bagian atas struktur, dan sejalan dengan Enterprise Resources Planning (ERP). Di tahun 2012, strategi ERP yang baru telah disahkan sebagai landasan bagi semua unit bisnis, demi meningkatkan sistem ERP yang ada, dengan mengimplementasikan perangkat lunak yang lebih sesuai dengan kapasitas kebutuhan perusahaan di masa yang akan datang. Target Operating Model ini dirancang untuk mencapai efisiensi pada arsitektur aplikasi. Penyusunan Road Map dapat mengontrol pengembangan dan pengimplementasian agar sesuai dengan jadwal implementasi ERP di masing-masing unit bisnis Bagian pilar pada arsitektur ICT menggambarkan bisnis pilar Perusahaan yaitu sumber daya energi, jasa energi, dan infrastuktur energi, yang memiliki spesialisasi dan keanekaragaman sistem aplikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masing-masing unit bisnis. ICT telah meluncurkan OpsDB system sebagai pilar jasa energi yang dirancang untuk membantu memantau produktivitas operasi pertambangan di Petrosea, sementara Fleet Management Sistem dirancang untuk mendapatkan data operasional secara real time dari lapangan demi memastikan efisiensi dan penggunaan aset secara produktif. Engineering Document Management System dan Material Tracking System dibuat untuk Tripatra untuk mencapai efisiensi secara administratif dan produktivitas demi menjaga keunggulan operasional, dan mendukung seluruh inisiasi bisnis keseluruhan Perusahaan. Di antara sistem aplikasi yang ada untuk mendukung proyek Engineering, Procurement, and Construction (EPC), terdapat sistem untuk melakukan penawaran tender. Sebagai tambahan, aplikasi untuk persetujuan permintaan pengadaan dan pengajuan klaim pribadi dapat dilakukan secara online, bahkan menggunakan perangkat komunikasi yang mobile. ICT di dalam Indika Energy merupakan lembaga yang mendukung seluruh inisiatif bisnis pilar-pilar sumber daya, jasa, dan infrastruktur energi. Dalam keseluruhan struktur perusahaan, ICT memiliki fungsi yang signifikan dalam melakukan standarisasi dan integrasi landasan teknologi informasi, sentralisasi data (termasuk penyimpanan dan pengamanan), mendukung kebutuhan komunikasi data (dari LAN, Metro WAN, VSAT, radio link, leased lines dan sebagainya, di daerah-daerah terpencil/kantor-kantor proyek, serta kantor pusat), dan mengatur aset-aset IT dan izin. Pembentukan sentralisasi data center merupakan langkah yang signifikan guna mencapai lingkungan ICT Platform yang kuat dan aman bagi seluruh unit bisnis. SHARED SERVICE ORGANIZATION Sebagai hasil dari usaha dan sinergi seluruh Perusahaan, jasa ICT telah menjadi Shared Service Organization (SSO) di dalam Indika Energy. SSO pada ICT secara efektif menyediakan jasa dukungan penting terhadap semua unit bisnis di seluruh organisasi dengan tujuan spesifik untuk mengintegrasikan sistim bisnis yang tersentralisasi dan terstandarisasi. Hal ini memberikan keleluasaan setiap unit bisnis untuk menghindari pembelian duplikasi atau replikasi sistem. 90 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
93 TATA KELOLA Proses internal di dalam ICT wajib mencerminkan hal-hal yang menjadi prinsip dan tujuan Perusahaan, dan setiap kebijakan wajib menguraikan secara jelas bagaimana ICT digunakan di setiap proses bisnis di Indika Energy. Terdapat pembatasan akuntabilitas yang jelas dalam pengambilan keputusan terkait dengan siapa, apa dan bagaimana, dan apa yang menjadi prioritas, serta bagaimana manfaat tersebut dapat direalisasikan dan dilacak, dan siapa yang memiliki ownership atas sistem tersebut, untuk kajian dan improvisasi terus menerus. Dashboard & Portals: Enterprise Resources Planning Human Resources Management System Corporate Wide Initiative Resources Mineral Resources Solutions Services Contract Mining Solutions EPC Solutions O&M Solutions Infrastructure Logistic Solutions Power and Gas Solutions Business INITIATIVES Technology - Infrastructure and System Standardization Data Centre Centralization Asset and License Management INFRASTRUCTURE & SERVICES BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 91
94 TATA KELOLA PERUSAHAAN GAMBARAN UMUM Sebagai perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Indika Energy tidak hanya berupaya unggul dalam kinerja perusahaan, tetapi juga menjadi contoh dalam penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Komitmen terhadap tata kelola perusahaan yang baik ini dimaksudkan untuk meraih kepercayaan tertinggi dari para pemegang saham, karyawan, mitra usaha, dan masyarakat terhadap bisnis dan lingkungan kami. Tata kelola perusahaan yang baik memastikan kepatuhan terhadap peraturan-peraturan yang berlaku di setiap aspek operasional kami, menghindari konflik kepentingan, kejelasan lingkup pelaporan internal, dan dominasi elemen tertentu di Perusahaan (seperti Rapat Umum Pemegang Saham/RUPS, Dewan Komisaris, Komite Audit, Komite Good Corporate Governance/GCG, Komite Investasi, Komite Human Capital, Direksi, Internal Audit dan Sekretaris Perusahaan), serta pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan yang baik. Dengan menjabarkan elemen-elemen Perusahaan, fungsi dan peran setiap elemen tersebut, menunjukkan upaya Indika Energy untuk senantiasa berkomitmen terhadap tata kelola yang baik, kredibilitas perusahaan, dan kepercayaan, di atas keunggulan kinerja usaha dan operasionalnya. AZAS & PRINSIP Transparansi Untuk menjaga objektivitas dalam menjalankan bisnisnya, Perusahaan menyediakan semua materi dan informasi relevan yang diperlukan bagi para pemangku kepentingan sesuai dengan haknya melalui fasilitas kemudahan akses untuk mendapatkan informasi akurat dan tepat waktu dalam bentuk yang mudah dimengerti dan bermanfaat. Hal ini tidak hanya terbatas pada informasi terkait undang-undang yang diharuskan oleh hukum dan regulator, tetapi juga semua informasi yang diperlukan oleh para pemangku kepentingan untuk membuat keputusan. Informasi yang secara hukum dan regulasi dianggap sebagai hak milik Perusahaan dan rahasia, dapat tidak diinformasikan, tergantung posisi dan kepentingan orang tersebut serta keistimewaan yang dimilikinya. Akuntabilitas Perusahaan dikelola dengan benar, menggunakan metode kuantitatif, memastikan pengelolaan perusahaan secara terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain dan bisnis terjaga baik. Perusahaan berupaya menjaga akuntabilitas kinerjanya melalui perilaku transparan dan adil, agar dapat memberikan dan menjaga kinerja yang konsisten. 92 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
95 Tanggung Jawab Perusahaan selalu menjaga dan memastikan kepatuhan terhadap hukum dan regulasi. Anggaran Dasar, praktik korporasi, dan pemenuhan tanggung jawab sosialnya sebagai perusahaan terhadap komunitas luas guna mempertahankan kesinambungan jangka panjang tindakan bisnisnya dan Indika Energy dikenal dan diakui sebagai warga korporasi yang baik. Independensi Perusahaan dikelola secara independen untuk menghindari dominasi dan intervensi oleh pihak-pihak tertentu. Elemenelemen Perusahaan, yaitu RUPS, Dewan Komisaris dan Direksi, harus diperkenankan menjalankan fungsi dan tugas mereka sesuai Anggaran Dasar dan hukum serta regulasi yang berlaku, bebas dari aksi intervensi berupa dominasi dan konflik kepentingan, atau intervensi dan pengaruh pihak ketiga, agar mereka dapat menegakkan proses uji tuntas dalam membuat keputusan bisnis yang objektif dan akurat. Keadilan dan Kesetaraan Perusahaan berkomitmen untuk mengutamakan kepentingan para pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan prinsip keadilan dan kesetaraan. Nilai-Nilai Perusahaan Nilai-nilai perusahaan Indika Energy adalah: 1. Mewujudkan integritas di setiap kegiatan usaha. 2. Menanamkan semangat kesatuan dan keragaman serta rasa hormat terhadap sesama. 3. Mengembangkan budaya kerjasama tim dan keunggulan. 4. Menjadi duta yang bertanggung jawab bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. ELEMEN-ELEMEN PERUSAHAAN RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM (RUPS) Sesuai dengan Anggaran Dasar Perusahaan dan regulasi terkait perseroan terbatas, serta mempertimbangkan akuntabilitas Dewan Komisaris dan Direksi terhadap para pemegang saham, maka Indika Energy menyelenggarakan RUPS Tahunan setiap tahun pada waktu yang seharusnya dan RUPS Luar Biasa untuk tindakan korporasi di luar wewenang Dewan Komisaris dan Direksi. RUPS merupakan elemen tertinggi dalam struktur Perusahaan, dan berfungsi sebagai forum bagi para pemegang saham untuk mendiskusikan hal-hal penting dan memberikan keputusankeputusan penting terkait kinerja Perusahaan selama setahun ke belakang dan rencana pengembangan Perusahaan di masa mendatang. Indika Energy telah mengadakan RUPS Tahunan dan Luar Biasa di Jakarta pada tanggal 14 Juni RUPS Tahunan dan Luar Biasa tersebut dihadiri oleh para pemegang saham dan disahkan oleh perwakilan yang berwenang. Beberapa hal yang telah dibicarakan dan disetujui dalam RUPS Tahunan di antaranya: 1. Menerima Laporan Tahunan sebagaimana disampaikan oleh Direksi termasuk Laporan Pertanggungjawaban Direksi dan Laporan Pengawasan Dewan Komisaris mengenai jalannya Perseroan dan administrasi keuangan Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember Mengesahkan Laporan Keuangan Perseroan yang memuat Neraca dan Perhitungan Laba Rugi Perseroan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2011 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan dengan pendapat wajar dalam semua hal yang material sebagaimana diuraikan dalam Laporan No. GA IE ALH, dengan demikian memberikan pembebasan (acquit et de charge) sepenuhnya kepada Direksi Perseroan atas segala tindakan pengurusan Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan atas tugas pengawasan Dewan Komisaris dalam tahun 2011, sepanjang tindakan tersebut tercermin dalam Laporan Keuangan Perseroan tahun buku Menyetujui dan menetapkan penggunaan Laba Bersih Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2011 sebagai berikut: (i) Sebesar Rp ,- (sepuluh miliar Rupiah) digunakan untuk cadangan dalam rangka memenuhi ketentuan Pasal 70 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. (ii) a. Sebesar Rp ,- (tiga ratus dua BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 93
96 belas miliar enam ratus sebelas juta lima ratus dua puluh ribu Rupiah) atau sebesar Rp60,- (enam puluh Rupiah) per lembar saham dibagikan sebagai dividen tunai kepada pemegang saham. b. Memberikan kuasa dan wewenang kepada Direksi Perseroan dengan hak substitusi untuk melakukan pembayaran dividen tunai dan menetapkan tata cara pembagian serta jadwal pembayaran dividen tunai final termasuk untuk hadir dan menghadap pejabat yang berwenang di Bursa Efek Indonesia atau instansi lain terkait, serta mengajukan dan meminta persetujuan atas jadwal pelaksanaan pembayaran dividen tunai final. (iii) Sehubungan dengan pencapaian laba bersih tersebut, memberikan kuasa kepada Dewan Komisaris Perseroan untuk menetapkan manfaat khusus bagi anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi dan karyawan Perseroan. Dalam penetapan manfaat khusus tersebut, Dewan Komisaris dapat mempertimbangkan rekomendasi dari Komite Human Capital Perseroan. (iv) Sisa Laba Bersih Tahun 2011 dibukukan sebagai laba ditahan untuk memperkuat permodalan Perseroan. 4. Memberikan kuasa kepada Dewan Komisaris Perseroan untuk menunjuk Akuntan Publik untuk memeriksa buku-buku Perseroan untuk Tahun Buku yang berakhir tanggal 31 Desember 2012 serta memberikan kuasa dan kewenangan kepada Direksi Perseroan untuk menetapkan jumlah honorarium dan persyaratan lain sehubungan penunjukan Akuntan Publik tersebut. 5. (i) Menyetujui untuk memperpanjang masa jabatan sebagian anggota Dewan Komisaris dan Direksi yang akan habis pada tanggal 10 Maret 2013, yaitu: Komisaris Utama: Wiwoho Basuki Tjokronegoro Wakil Komisaris Utama: Agus Lasmono Komisaris: Indracahya Basuki Komisaris Independen: Anton Wahjosoedibjo Direktur Utama: M. Arsjad Rasjid P. M. Direktur Tidak Terafiliasi: Azis Armand Direktur: Pandri Prabono-Moelyo Direktur: Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo sampai dengan ditutupnya Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember (ii) Menerima pengunduran diri Bapak Muhammad Chatib Basri selaku anggota Dewan Komisaris Perseroan, terhitung sejak ditutupnya RUPS tahunan ini serta memberikan pembebasan sepenuhnya (acquit et de charge) kepada beliau atas tugas pengawasan Perseroan, dengan demikian, terhitung sejak tanggal ditutupnya Rapat RUPS tahunan, susunan Dewan Komisaris serta Direksi Perseroan adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris Komisaris Utama: Wiwoho Basuki Tjokronegoro Wakil Komisaris Utama: Agus Lasmono Komisaris: Indracahya Basuki Komisaris Independen: Anton Wahjosoedibjo Komisaris Independen: Dedi Aditya Sumanagara Direksi Direktur Utama: M. Arsjad Rasjid P. M. Wakil Direktur Utama: Wishnu Wardhana Direktur Tidak Terafiliasi: Azis Armand Direktur: Pandri Prabono-Moelyo Direktur: Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo Direktur: Richard Bruce Ness Direktur: Eddy Junaedy Danu 6. Menerima pelaporan dan pertanggungjawaban realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum saham perdana Perseroan sebagaimana disampaikan oleh Direksi Perseroan. 7. Menyetujui dan ratifikasi ketentuan baru atas kuasa dan kewenangan kepada Dewan Komisaris Perseroan sehubungan dengan pelaksanaan Employee and Management Stock Option Plan (EMSOP), termasuk namun tidak terbatas untuk melakukan perubahan Anggaran Dasar Perseroan sehubungan dengan pengeluaran saham-saham Perseroan hasil pelaksanaan EMSOP. 8. Memberikan wewenang dengan hak substitusi kepada Direksi Perseroan untuk mengambil dan melakukan 94 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
97 setiap hal yang dirasa perlu, termasuk namun tidak terbatas pada menyiapkan dan menandatangani segala akta sehubungan keputusan RUPS Tahunan ini. RUPS Luar Biasa menyetujui hal-hal sebagai berikut: 1. Menyetujui perubahan ketentuan Pasal 14 ayat 2 Anggaran Dasar Perseroan sehingga ketentuannya menjadi sebagai berikut: (2) Anggota Direksi diangkat dan diberhentikan oleh Rapat Umum Pemegang Saham, dengan pengangkatan tersebut berlaku sejak tanggal yang ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham dimana ia (mereka) diangkat dan berakhir pada saat ditutupnya Rapat Umum Pemegang Saham tahun ke-2 (dua) setelah tanggal pengangkatannya, dengan tidak mengurangi hak Rapat Umum Pemegang Saham untuk memberhentikannya sewaktu-waktu. 2. Menyetujui perubahan ketentuan Pasal 17 ayat 3 Anggaran Dasar Perseroan sehingga ketentuannya menjadi sebagai berikut: (3) Para Anggota Dewan Komisaris diangkat dan diberhentikan oleh Rapat Umum Pemegang Saham, pengangkatan tersebut berlaku sejak tanggal yang ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham dimana ia (mereka) diangkat dan berakhir pada saat ditutupnya Rapat Umum Pemegang Saham tahun ke-2 (dua) setelah tanggal pengangkatannya, dengan tidak mengurangi hak Rapat Umum Pemegang Saham untuk memberhentikannya sewaktu-waktu. DEWAN KOMISARIS Pada akhir tahun 2012, Dewan Komisaris terdiri dari lima anggota, dua di antaranya merupakan Komisaris Independen. Hal ini sejalan dengan peraturan tentang jumlah minimal Komisaris Independen sebagaimana dinyatakan dalam Surat Edaran Bapepam No. SE-03/PM/2000 dan peraturan BEI No. I-A, yang menetapkan paling tidak 30% (tiga puluh persen) dari anggota Dewan Komisaris haruslah merupakan Komisaris Independen. Struktur dan Keanggotaan Pada tahun 2012, Dewan Komisaris terdiri atas: Komisaris Utama: Wiwoho Basuki Tjokronegoro Wakil Komisaris Utama: Agus Lasmono Komisaris: Indracahya Basuki Komisaris Independen: Anton Wahjosoedibjo Komisaris Independen: Dedi Aditya Sumanagara Anggota Dewan Komisaris ditunjuk oleh RUPS untuk masa jabatan dua tahun dengan tidak mengurangi hak RUPS untuk memberhentikan mereka setiap waktu. Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris berfungsi mengawasi kebijakan-kebijakan dan manajemen Perusahaan yang dilaksanakan oleh Direksi, serta memberikan saran dan masukan kepada Direksi terkait pelaksanaan kebijakan dan manajemen. Ruang lingkup tugas Dewan Komisaris Indika Energy sebagai berikut: - Melakukan pengawasan terhadap pengelolaan Perusahaan oleh Direksi berdasarkan hukum, ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan Anggaran Dasar Perusahaan; - Melaksanakan tugas-tugas sesuai ketentuan Anggaran Dasar Perusahaan, hukum dan peraturan perundangundangan yang berlaku, dan/atau berdasarkan keputusan RUPS; - Menganalisis dan menelaah laporan tahunan yang disampaikan oleh Direksi serta menandatangani laporan tersebut; - Mengesahkan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan; - Mengawasi pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan, serta menyampaikan hasil penilaian dan pendapat mereka di dalam RUPS; - Mengikuti perkembangan kegiatan Perusahaan serta memberikan pendapat dan saran kepada Direksi terhadap setiap persoalan yang dianggap penting dalam pengelolaan Perusahaan, sesuai dengan fungsi pengawasannya di Perusahaan; - Memantau efektivitas praktik Tata Kelola Perusahaan yang Baik dan pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang diterapkan Perusahaan; - Menentukan sistem nominasi yang menegakkan evaluasi transparan terhadap kinerja dan remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi, dengan mempertimbangkan hasil BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 95
98 kajian Komite Human Capital, untuk selanjutnya diajukan dalam RUPS untuk mendapatkan persetujuan; - Menentukan sistem nominasi, melakukan evaluasi yang transparan terhadap remunerasi kinerja bagi para karyawan senior yang tidak menjadi anggota Direksi (penasihat), setelah mempertimbangkan kajian dari Komite Human Capital; - Meningkatkan kompetensi dan pengetahuan secara berkesinambungan, agar dapat menjalankan tugas sebagai Dewan Komisaris secara profesional. Sementara itu, tanggung jawab Dewan Komisaris Indika Energy sebagai berikut: - Dewan Komisaris Indika Energy bertanggung jawab terhadap pengawasan manajemen Perusahaan; - Setiap anggota Dewan Komisaris wajib beritikad baik, berhati-hati, dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas pengawasan dan memberi nasihat kepada Direksi Indika Energy untuk kepentingan Perusahaan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perusahaan; - Setiap anggota Dewan Komisaris ikut bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian Perusahaan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya. Tanggung jawab ini berlaku secara tanggung renteng bagi setiap anggota Dewan Komisaris; - Para anggota Dewan Komisaris tidak bertanggung jawab atas kerugian yang dimaksud di atas, apabila para anggota Dewan Komisaris dapat membuktikan: - Telah melakukan pengawasan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan Indika Energy, sesuai dengan maksud dan tujuan Indika Energy; - Tidak mempunyai kepentingan pribadi, baik langsung maupun tidak langsung, atas tindakan manajemen dari Direksi yang mengakibatkan kerugian; serta - Telah memberikan nasihat kepada Direksi untuk mencegah timbulnya atau berlanjutnya kerugian tersebut. - Atas nama Perusahaan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit satu per sepuluh (1/10) dari jumlah seluruh saham yang dikeluarkan dengan hak suara, dapat menggugat ke pengadilan negeri para anggota Dewan Komisaris atas kesalahan dan kelalaian yang menimbulkan kerugian pada Perusahaan. Frekuensi Rapat dan Catatan Kehadiran Rapat Dewan Komisaris dapat dilakukan setiap waktu bila dianggap perlu oleh seorang atau lebih anggota Dewan Komisaris, atau atas permintaan tertulis dari seorang atau lebih anggota Dewan Komisaris, atau atas permintaan tertulis dari satu orang atau lebih pemegang saham yang bersama-sama mewakili satu per sepuluh (1/10) atau lebih dari jumlah seluruh saham dengan hak suara. Rapat Dewan Komisaris dianggap sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat secara hukum bila setidaknya setengah (1/2) dari anggota Dewan Komisaris hadir atau diwakilkan dalam rapat tersebut. Keputusan rapat Dewan Komisaris harus diambil berdasarkan musyawarah mufakat. Apabila tidak tercapai, maka keputusan diambil dengan pemungutan suara berdasarkan suara setuju paling sedikit lebih dari setengah (1/2) jumlah suara yang dikemukakan dalam rapat, termasuk di dalamnya suara dari Komisaris Utama dan Wakil Komisaris Utama, dengan ketentuan bahwa keputusan rapat Dewan Komisaris tersebut harus ditandatangani oleh Komisaris Utama dan Wakil Komisaris Utama. Dewan Komisaris dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan rapat Dewan Komisaris, dengan ketentuan semua anggota Dewan Komisaris telah diberitahukan secara tertulis dan semua anggota Dewan Komisaris memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis itu dengan dibuktikan dengan persetujuan yang ditandatanganinya. Keputusan yang diambil dengan cara demikian mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan keputusan yang diambil secara sah dalam rapat Dewan Komisaris. Catatan Rapat Dewan Komisaris Dewan Komisaris Perusahaan telah mengadakan sepuluh kali rapat sepanjang tahun 2012, dengan tanggal pelaksanaan dan catatan kehadiran seperti ditunjukkan dalam tabel. Nama Jabatan Kehadiran Wiwoho Basuki Tjokronegoro Agus Lasmono Indracahya Basuki Anton Wahjosoedibjo Dedi Aditya Sumanagara Komisaris Utama Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen 100% 100% 100% 100% 100% 96 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
99 1. 23 April; Mei; Mei; Mei; 5. 6 Juni; Juni; Juni; 8. 5 Juli; Oktober; dan Desember. Remunerasi Dewan Komisaris Jumlah remunerasi Dewan Komisaris Perusahaan untuk tahun 2012 adalah sebesar US$2,8 juta KOMITE DI BAWAH DEWAN KOMISARIS Untuk memastikan pelaksanaan tugas secara efektif, Dewan Komisaris didukung empat komite di bawah Dewan Komisaris, yaitu Komite Audit, Komite GCG, Komite Investasi, dan Komite Human Capital. KOMITE AUDIT Komite Audit menelaah laporan keuangan triwulan dan tahunan untuk memastikan pada Dewan Komisaris bahwa laporan keuangan konsolidasi Perusahaan telah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia dan segala informasi dipastikan lengkap dan akurat sebelum publikasi pelaporan. Penilaian ini juga membantu mengidentifikasi dan menyediakan solusi atas isu-isu potensial dengan Direksi sebelum publikasi. Berdasarkan rekomendasi yang dibuat oleh Komite Audit, Dewan Komisaris menyetujui publikasi laporan keuangan konsolidasi. Komite Audit juga menilai kinerja Akuntan Publik atas laporan keuangan konsolidasi teraudit tahun sebelumnya. Dasar Hukum Pembentukan Pembentukan Komite Audit Perseroan sesuai dengan Peraturan BAPEPAM-LK No. IX.I.5. Peraturan tersebut mewajibkan perusahaan yang tercatat dalam Bursa untuk memiliki Komite Audit sejalan dengan praktek tata kelola perusahaan yang baik. Keberadaan Komite Audit adalah untuk meningkatkan penerapan praktik-praktik GCG tata kelola perusahaan yang baik dalam kegiatan operasional dan ekspansi Perusahaan. Komite ini diketuai seorang Komisaris Independen dan terdiri dari dua anggota profesional dengan kualifikasi yang sesuai dan pengalaman yang luas di bidang keuangan. Struktur, Keanggotaan, dan Profil Komite Audit saat ini terdiri dari satu orang ketua dan dua orang anggota. Susunan anggota Komite Audit pada tahun 2012 sebagai berikut: Ketua, Anton Wahjosoedibjo Profil Bapak Anton Wahjosoedibjo dapat dilihat pada Profil Dewan Komisaris di Bagian 5 Anggota, Maringan Purba Sibarani Usia 70 tahun, telah menjadi anggota Komite Audit Indika Energy sejak Maret Beliau pernah menjabat Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk selama sembilan tahun dan akuntan publik selama 16 tahun. Bapak Maringan Purba lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Akuntansi. Beliau kini menjabat sebagai Kepala Departemen Akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti dan Pengajar Pendidikan Profesional Program Akuntansi di Universitas Trisakti dan Universitas Parahyangan. Anggota, Deddy Harijanto Sudarijanto Usia 41 tahun, telah menjadi anggota Komite Audit Indika Energy sejak Beliau juga menjabat Komisaris MBSS (sejak 2010), Direktur Utama PT Polypet Karyapersada (sejak 2004) dan PT Rekamitrayasa Komunika (sejak 2003), serta Direktur PT Indika Multi Media (sejak 2001). Bapak Deddy Harijanto Sudarijanto meraih gelar Sarjana Teknik Industri dari Northeastern University tahun 1993 dan gelar Master Manajemen Industri dari Stanford University tahun Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit memiliki tugas dan tanggung jawab utama untuk menelaah hal-hal berikut: - Kecukupan sistem pengendalian internal, termasuk manajemen risiko perusahaan; - Keandalan pelaporan keuangan; dan - Kepatuhan pada peraturan yang berlaku. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 97
100 Komite Audit bertugas sebagai penasihat independen bagi Dewan Komisaris. Tanggung jawab Komite Audit dalam menelaah cakupan pengendalian internal meliputi: - Menganalisis setiap risiko korporasi dan pelaksanaan manajemen risiko oleh Direksi; - Mengevaluasi Rencana Kerja dan pelaksanaan audit internal; - Menelaah status pelaksanaan rekomendasi yang signifikan mengenai pengendalian internal yang disampaikan auditor internal dan eksternal; - Melakukan penelaahan dan melaporkan ke Dewan Komisaris menyangkut pengaduan yang berkaitan dengan Perusahaan. sebagai berikut: 1. Memahami peraturan perundang-undangan yang secara signifikan berhubungan dengan kegiatan Perusahaan, menelaah sistem dan prosedur untuk mengidentifikasi Perusahaan telah mematuhi peraturan perundangundangan yang berlaku; serta 2. Menelaah isu hukum dan peraturan yang dilaporkan oleh Penasihat Hukum Perusahaan, Auditor Eksternal, Auditor Internal, dan Divisi Hubungan Investor, serta isu-isu yang dipublikasikan di surat kabar atau media lainnya. Frekuensi Rapat dan Catatan Kehadiran Komite Audit Perusahaan telah mengadakan empat kali rapat sepanjang tahun 2012 dengan catatan tanggal pelaksanaan dan kehadiran seperti ditunjukkan dalam tabel berikut: Komite Audit menelaah informasi keuangan yang akan dipublikasikan oleh Perusahaan seperti laporan keuangan, proyeksi keuangan, dan informasi keuangan lainnya dengan cara sebagai berikut: - Menelaah laporan keuangan interim untuk memastikan laporan tersebut sudah wajar, mencerminkan hasil bisnis yang nyata, dan fluktuasi yang signifikan, jika ada, selaras dengan kondisi industri dan perekonomian secara umum; - Memahami isu-isu signifikan yang berkaitan dengan pelaporan dan akuntansi, termasuk peraturan dan pernyataan terbaru dari ahli/profesional yang dapat diterapkan di Perusahaan, dan secara material dapat mempengaruhi laporan keuangan; - Melakukan penelaahan untuk memastikan auditor eksternal telah melaksanakan pemeriksaan yang memadai dengan cara: a. Menelaah memadainya ruang lingkup pekerjaan audit, termasuk staffing, jadwal, dan lingkup pengujian; serta b. Memantau untuk memastikan pemeriksaan telah dilakukan dengan objektif, sesuai standar audit yang berlaku. Tanggal Kegiatan Kehadiran 14 Maret 19 Juli Rapat dengan Audit Internal Perusahaan Rapat dengan Audit Internal Perusahaan 100% 100% 24 September Rapat dengan Audit Internal Perusahaan 100% 3 Desember Rapat dengan Audit Internal Perusahaan 100% KOMITE GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) Komite GCG bertugas membantu Dewan Komisaris dalam mengkaji secara menyeluruh kebijakan GCG yang disusun oleh Direksi, serta menilai konsistensi penerapannya, termasuk yang berkaitan dengan etika bisnis dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Struktur, Keanggotaan, dan Profil Komite GCG terdiri dari satu orang ketua dan dua orang anggota. Susunan anggota Komite GCG pada tahun 2012 sebagai berikut: Komite Audit melakukan penelaahan atas kepatuhan Perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan pasar modal dan peraturan perundang-undangan lain yang berhubungan dengan kegiatan Perusahaan, melalui tindakan 98 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
101 Ketua, Arief T. Surowidjojo Usia 59 tahun, telah berada di Komite GCG Indika Energy sejak Beliau merupakan salah satu pendiri Firma Hukum Lubis Ganie & Surowidjojo dan telah membantu lebih dari 100 klien dalam menyelenggarakan penawaran saham perdana. Sejak tahun 1989, Beliau memfokuskan keahlian di bidang keuangan korporasi, keuangan proyek, restrukturisasi perusahaan, merger dan akuisisi, tata kelola, serta litigasi komersial. Bapak Arief T. Surowidjojo adalah pengajar senior pembuatan kontrak bisnis di Fakultas Hukum Universitas Indonesia sejak tahun Beliau meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia tahun 1977 dan gelar Master di bidang Hukum dari University of Washington, Seattle, tahun Anggota, Anton Wahjosoedibjo Profil Bapak Anton Wahjosoedibjo dapat dilihat pada Profil Dewan Komisaris di Bagian 5 Anggota, Indracahya Basuki Profil Bapak Indracahya Basuki dapat dilihat pada Profil Dewan Komisaris di Bagian 5 Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Komite GCG bertanggung jawab membangun sistem internal di dalam Perusahaan untuk memastikan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip GCG, termasuk prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan kewajaran serta kesetaraan dalam pengelolaan dan pengawasan unitunit bisnis di dalam Perusahaan. Penerapan prinsip-prinsip GCG secara tegas, konsisten, dan berkelanjutan akan mampu meningkatkan kinerja Perusahaan, nilai investasi para pemegang saham, dan peran Perusahaan dalam pembangunan ekonomi nasional, serta peningkatan kesejahteraan karyawan dan pemangku kepentingan Perusahaan, termasuk masyarakat di mana Perusahaan melakukan kegiatan usahanya. mencapai sasaran utama Perusahaan secara terukur, tepat guna, efektif, dan berkelanjutan. Komite GCG selanjutnya bertanggung jawab untuk memastikan bahwa Perusahaan mempunyai acuan yang jelas dan dapat dilaksanakan di dalam menjalankan kepatuhannya terhadap setiap dan semua kewajiban hukum dan administratif yang harus dipenuhi setiap perusahaan di dalam Perusahaan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Komite GCG bertanggung jawab pula atas kehadiran, eksistensi, dan perkembangan Perusahaan membawa manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan Perusahaan melalui program-program CSR dan lingkungan, seperti disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, atau yang dilakukan atas inisiatif proaktif Perusahaan sendiri. Sebagai tambahan, Komite GCG mempunyai kewajiban untuk melakukan penelaahan dan memberi masukan atas rencana, program, dan pelaksanaan program-program CSR secara berkala. Untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut di atas, Komite GCG wajib membuat sejumlah dokumen pedoman terkait dan memutakhirkan setiap waktu ke Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan. Frekuensi Rapat dan Catatan Kehadiran Komite GCG Perusahaan telah mengadakan tujuh kali rapat sepanjang tahun 2012, dengan catatan tanggal pelaksanaan dan kehadiran seperti ditunjukkan tabel berikut: Pada tahun 2012, Indika Energy telah melakukan beberapa perbaikan dalam struktur dan keanggotaan serta tugas dan tanggung jawab Komite GCG, sehingga Indika Energy akan memiliki Komite GCG dengan struktur, keanggotaan, dan kegiatan yang lebih efektif. Komite GCG juga bertanggung jawab atas terbangunnya suatu etika bisnis dan budaya kerja yang baik di lingkungan Perusahaan, berdasarkan visi, misi, nilai-nilai, rencana aksi, program-program, dan perilaku yang baik; yang dapat dijadikan panutan oleh semua elemen di dalam Perusahaan dalam BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 99
102 No Tanggal Kegiatan Kehadiran 27 Januari Rapat dengan CEO PT Indika Indonesia Resources 21 Februari Rapat dengan Sekretaris Perusahaan mengenai pelaporan kegiatan dan kepatuhan Perusahaan dan persiapan Laporan Tahunan Maret Rapat dengan Ketua Audit Internal Perusahaan mengenai penilaian dan pelaporan kegiatan Audit Internal 10 April Rapat dengan Ketua Audit Internal Perusahaan 3 Agustus Rapat dengan Departemen Hukum Perusahaan mengenai penilaian dan pelaporan kegiatan untuk Departemen Hukum Perusahaan 10 Agustus Rapat dengan Sekretaris Perusahaan Petrosea, anak perusahaan 9 November Rapat dengan Departemen Hukum Perusahaan mengenai pembahasan sebelumnya Laporan Rapat dengan Departemen Hukum Perusahaan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% KOMITE INVESTASI Komite Investasi bertugas membantu Dewan Komisaris dalam menelaah sistem manajemen risiko yang disusun oleh Direksi, termasuk di dalamnya penentuan saat Perusahaan akan melakukan aksi korporasi dan menilai toleransi risiko yang dapat ditangani Perusahaan. Struktur, Keanggotaan, dan Profil Para anggota Komite Investasi tidak memiliki kepentingan pribadi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan informasi material Perusahaan. Komite Investasi saat ini terdiri dari satu orang ketua dan lima orang anggota. Para anggota Komite Investasi pada tahun 2012 sebagai berikut: Ketua, Wiwoho Basuki Tjokronegoro Anggota, Agus Lasmono Anggota, Indracahya Basuki Anggota, Dedi Aditya Sumanagara Anggota, M. Arsjad Rasjid P.M. Anggota, Wishnu Wardhana Profil Ketua dan Anggota Komite Investasi dapat dilihat pada Profil Dewan Komisaris dan Profil Direksi di Bagian 5 Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Tugas dan tanggung jawab utama Komite Investasi adalah: - Memahami manajemen risiko Perusahaan yang mencakup berbagai risiko korporasi antara lain strategi, sistem, dan kebijakan manajemen risiko dan pengendalian internal Perusahaan, termasuk metodologi dan infrastruktur; - Menelaah kebijakan, prosedur, rekomendasi, dan penerapan strategi bisnis; - Mengevaluasi sejumlah model pengukuran risiko dan memberikan rekomendasi lebih lanjut; - Memantau kesesuaian antara berbagai kebijakan dan penerapan manajemen risiko; - Mengevaluasi berbagai model manajemen risiko yang digunakan Perusahaan dan memberikan rekomendasi; - Mengevaluasi sejumlah kebijakan manajemen risiko atas permintaan Dewan Komisaris; - Memantau dan memberikan rekomendasi terkait rencana pendidikan berkelanjutan bagi personel di bidang manajemen risiko; - Melakukan koordinasi penerapan dan pengawasan keberadaan dan tingkat efektivitas setiap komponen Enterprise Risk Management (ERM) dalam Perusahaan; - Mengukur efektivitas setiap komponen ERM yang telah diterapkan di Perusahaan; - Menelaah kebijakan dan prosedur investasi Perusahaan; - Menelaah rekomendasi investasi dan capital expenditure (Capex) yang diajukan Direksi, sesuai dengan peraturan kewenangan Dewan Komisaris; serta - Memantau dan menerapkan Capex yang disetujui Dewan Komisaris berdasarkan sampling. 100 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
103 Pada tahun 2012, Indika Energy telah melakukan beberapa perbaikan dalam struktur dan keanggotaan serta tugas dan tanggung jawab Komite Investasi, sehingga Indika Energy akan memiliki Komite Investasi dengan struktur, keanggotaan, dan kegiatan yang lebih efektif. KOMITE HUMAN CAPITAL Komite Human Capital dibentuk Dewan Komisaris untuk membantu mereka menelaah dan menyetujui Struktur Organisasi Perusahaan dan hal-hal lain terkait sumber daya manusia, seperti remunerasi dan tunjangan karyawan, serta pengembangan profesional dan pelatihan bagi karyawan. Struktur, Keanggotaan, dan Profil Para anggota Komite Human Capital tidak memiliki kepentingan pribadi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan informasi material Perusahaan. Komite Human Capital saat ini terdiri dari satu orang ketua dan tiga orang anggota. Susunan keanggotaan Komite Human Capital pada tahun 2012 sebagai berikut: Ketua, Agus Lasmono Anggota, Wiwoho Basuki Tjokronegoro Anggota, M. Arsjad Rasjid P.M. Anggota, Wishnu Wardhana Profil Ketua dan para anggota Komite Human Capital dapat dilihat pada Profil Dewan Komisaris dan Profil Direksi di Bagian 5 Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Tugas dan tanggung jawab utama Komite Human Capital adalah: - Menyusun kriteria seleksi, kualifikasi, persyaratan, dan prosedur nominasi yang transparan bagi calon anggota Direksi dan para pejabat senior manajemen satu tingkat di bawah Direksi, termasuk sekretaris Dewan Komisaris dan anggota-anggota Komite; - Membantu Dewan Komisaris dalam memastikan namanama calon anggota Direksi, termasuk calon sekretaris Dewan Komisaris dan anggota Komite yang akan diusulkan baik dari dalam maupun dari luar Perusahaan, telah sesuai dengan kriteria seleksi dan prosedur nominasi yang ditetapkan; - Memastikan bahwa Perusahaan telah memiliki formula perhitungan remunerasi, tunjangan, dan fasilitas yang transparan untuk disiapkan sebagai usulan dalam RUPS Tahunan; - Membantu Dewan Komisaris dalam merumuskan dan menentukan kebijakan remunerasi dan fasilitas lain bagi Dewan Komisaris, Direksi, sekretaris Dewan Komisaris, para anggota Komite, dan perangkat lain Dewan Komisaris. Pada tahun 2012, Indika Energy telah melakukan beberapa perbaikan dalam struktur dan keanggotaan serta tugas dan tanggung jawab Komite Human Capital, sehingga Indika Energy akan memiliki Komite Human Capital dengan struktur, keanggotaan, dan kegiatan yang lebih efektif. DIREKSI Perusahaan memiliki tujuh anggota Direksi. Mereka bertanggung jawab terhadap kegiatan operasional dan manajemen Perusahaan, serta bekerja untuk kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan Perusahaan. Anggota Direksi diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham untuk masa jabatan dua tahun dengan tidak mengurangi hak RUPS untuk memberhentikan mereka setiap waktu. Direktur Utama berhak dan berwenang bertindak untuk dan atas nama Direksi dan mewakili Perusahaan. Dalam hal Direktur Utama tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun, yang tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, maka Wakil Direktur Utama bersama-sama dengan seorang Direktur atau dua orang anggota Direksi lainnya berhak dan berwenang bertindak untuk dan atas nama Direksi dan mewakili Perusahaan. Struktur dan Keanggotaan Pada tahun 2012, Direksi terdiri dari: Direktur Utama, M. Arsjad Rasjid P. M. Wakil Direktur Utama, Wishnu Wardhana Direktur Tidak Terafiliasi, Azis Armand Direktur, Pandri Prabono-Moelyo BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 101
104 Direktur, Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo Direktur, Richard Bruce Ness Direktur, Eddy Junaedy Danu Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Tugas dan tanggung jawab Direksi sebagai berikut: - Mengelola kegiatan Perusahaan; - Menerapkan kebijakan, prinsip-prinsip, nilai-nilai, strategi, tujuan, dan target kinerja yang telah dievaluasi dan disetujui oleh Dewan Komisaris; - Memastikan keberlanjutan usaha jangka panjang Perusahaan; - Memastikan pencapaian target-target kinerja, pelaksanaan regulasi, dan prinsip kehati-hatian. Frekuensi Rapat dan Catatan Kehadiran Rapat Direksi dapat diadakan kapan saja apabila dianggap perlu oleh seorang atau lebih anggota Direksi; atau atas permintaan tertulis dari seorang atau lebih anggota Dewan Komisaris, atau atas permintaan tertulis dari seorang atau lebih pemegang saham yang bersama-sama mewakili satu per sepuluh (1/10) atau lebih dari jumlah seluruh saham dengan hak suara. Rapat Direksi dianggap sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat secara hukum apabila setidaknya setengah (1/2) dari anggota Direksi hadir atau diwakilkan dalam rapat tersebut. Keputusan rapat Direksi harus diambil berdasarkan musyawarah mufakat. Apabila tidak tercapai, maka keputusan diambil dengan pemungutan suara berdasarkan suara setuju paling sedikit lebih dari setengah (1/2) jumlah suara yang dikemukakan dalam rapat. Direksi dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan rapat Direksi, dengan ketentuan semua anggota Direksi telah diberitahu secara tertulis dan semua anggota Direksi memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis tersebut dengan dibuktikan dengan persetujuan yang ditandatanganinya. Keputusan yang diambil dengan cara demikian mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan keputusan yang diambil secara sah dalam rapat Direksi. lain bertujuan membahas kondisi pasar, kinerja Perusahaan, dan aspek-aspek lain terkait kegiatan operasional dan usaha Perusahaan, serta menyetujui tindakan-tindakan korporasi Perusahaan. Catatan Rapat Direksi Sepanjang tahun 2012, Direksi Perusahaan telah mengadakan sembilan kali rapat Direksi, dengan tanggal pelaksanaan dan catatan kehadiran sebagai berikut: Januari; April; Mei; Mei; Mei; Juni; Juni; Juni; dan Desember. Catatan Kehadiran Nama Jabatan Kehadiran M. Arsjad Rasjid P.M. Wishnu Wardhana Azis Armand Pandri Prabono-Moelyo Eddy Junaedy Danu Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo Richard Bruce Ness Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Tidak Terafiliasi Direktur Direktur Direktur Direktur 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Remunerasi Direksi Jumlah remunerasi Direksi Perusahaan untuk tahun 2012 adalah sebesar US$4,9 juta SEKRETARIS PERUSAHAAN Sekretaris Perusahaan bekerja sama dengan Divisi Hukum dan Hubungan Investor dalam berbagi informasi publik yang dimiliki Perusahaan dan memastikan penyebaran informasi Perusahaan dilaksanakan secara akurat, jelas, efisien, dan komprehensif sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku, serta Pada tahun 2012, Direksi mengadakan rapat-rapat, yang antara 102 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
105 sesuai dengan instruksi Dewan Komisaris dan Direksi. Dalam menjalankan fungsinya, Sekretaris Perusahaan berpegang pada prinsip-prinsip GCG, khususnya akuntabilitas dan transparansi, agar dapat memelihara dan meningkatkan kepercayaan dan integritas Perusahaan di pasar modal dengan para pemangku kepentingannya. Tugas dan Tanggung Jawab Sekretaris Perusahaan berfungsi sebagai contact person Perusahaan dengan pihak eksternal, khususnya pemerintah, pihak yang berwenang, pasar modal, media, dan para pemangku kepentingan yang terkait. Sekretaris Perusahaan membangun komunikasi yang efektif dan transparan dengan pihak berwenang dan para peserta pasar modal, serta memastikan ketersediaan informasi tentang transaksi-transaksi material dan tindakan-tindakan korporasi. Pelaksanaan Sepanjang tahun 2012, Perusahaan telah menyampaikan seluruh laporan yang diwajibkan secara tepat waktu kepada para regulator, termasuk kepada Bapepam-LK dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Profil Dedy Happy Hardi Usia 42 tahun, telah diangkat sebagai Sekretaris Perusahaan PT Indika Energy, Tbk. sejak Saat ini beliau juga menjabat sebagai Direktur MBSS dan PT Sea Bridge Shipping, serta Komisaris PT Indika Indonesia Resources. Sebelumnya beliau pernah menjadi Kepala Konselor Hukum PT Media Nusantara Citra Tbk. ( ), Konselor Hukum PT Bhakti Investama, Tbk. ( ), dan Divisi Hukum Perbankan Korporasi PT Bank Danamon Indonesia Tbk. ( ). Bapak Dedy Happy Hardi menamatkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun AUDITOR INTERNAL DAN EKSTERNAL Auditor Internal Sesuai dengan Peraturan Bapepam-LK No. IX.I.7 mengenai Pembentukan dan Pedoman Penyusunan Piagam Audit Internal, maka Direksi mengangkat Kepala Audit Internal Indika Energy. Tim audit internal membantu Direksi dalam memantau proses keuangan Perusahaan serta memberikan masukan terkait proses-proses manajemen informasi internal dan pengambilan keputusan. Audit internal menjalankan fungsi penilaian yang independen, dibentuk Perusahaan untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan Perusahaan. Departemen Audit Internal terdiri dari terdiri dari karyawan waktu penuh yang melapor ke Kepala Audit Internal. Kepala Audit Internal memiliki dua hubungan pelaporan; melapor secara fungsional ke Komite Audit dan secara administratif ke Direktur Utama dan Wakil Direktur Utama (disebut sebagai Co-Chief Executive Officers) yang memberikan dukungan dan pengarahan. Sepanjang tahun 2012, departemen Audit Internal melaksanakan penelaahan sesuai dengan rencana audit yang telah disusun pada awal tahun bersama dengan Komite Audit. Lingkup penelaahan mencakup kegiatan operasional Perusahaan dan kecukupan pengendalian internal di bidang keuangan dan operasional, serta integritas informasi keuangan. Temuan dan rekomendasi dari tim Audit Internal, termasuk setiap langkah perbaikan yang akan diambil, disampaikan kepada manajemen senior terkait di akhir setiap pelaksanaan audit internal. Laporan akhir audit diserahkan kepada Komite Audit. Selama melaksanakan penelaahan sepanjang tahun, para auditor internal bertemu dengan Komite Audit untuk membahas tugas-tugas yang telah diselesaikan, temuan, rekomendasi dan langkah perbaikan yang akan diambil, serta status rencana audit. Para auditor internal memiliki akses penuh terhadap semua catatan, properti, fungsi, dan karyawan Perusahaan, serta kepada Direksi dan Dewan Komisaris terkait pekerjaan mereka. Kepala Audit Internal juga memiliki akses penuh dan langsung kepada Ketua Komite Audit. Misi Misi departemen Audit Internal adalah memberikan kepastian dan saran yang independen dan objektif, agar dapat memberi nilai tambah dan meningkatkan kegiatan BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 103
106 operasional Perusahaan melalui masukan yang diberikan kepada manajemen dalam bentuk analisis, rekomendasi, dan manajemen risiko yang efektif dengan biaya yang wajar pada bidang-bidang yang ditelaah. Cakupan dan Tugas Para auditor internal selalu berupaya meningkatkan pengendalian manajemen, profitabilitas, dan citra perusahaan pada saat melaksanakan audit. Para auditor bertugas menentukan apakah manajemen risiko, pengendalian internal, proses tata kelola yang dirancang dan diterapkan telah cukup memadai dan berfungsi dengan tepat. Setiap temuan disampaikan kepada manajemen yang terkait untuk ditindaklanjuti. Akuntabilitas dan Tanggung Jawab Departemen Audit Internal memiliki tanggung jawab untuk melapor ke Direksi dan Komite Audit. Catatan rapat Departemen Audit Internal sepanjang tahun 2012 adalah: Maret; Juli; September; dan 4. 3 Desember. Departemen Audit Internal bertanggung jawab terhadap Rencana Audit untuk tahun berikutnya, menerapkan Rencana Audit termasuk audit ad-hoc jika diperlukan, menguji dan menelaah kecukupan dan efektivitas pengendalian internal, keterandalan dan integritas informasi keuangan dan kegiatan operasional, menelaah perangkat untuk mengamankan aset Perusahaan, dan menyusun laporan kesimpulan yang spesifik. Kewenangan dan Kode Etik Departemen Audit Internal memiliki akses terbuka kepada Dewan Komisaris, Direksi, dan Komite Audit setiap waktu. Dalam menjalankan fungsinya, Departemen Audit Internal memiliki akses tidak terbatas terhadap semua fungsi, catatan, properti, dan karyawan. Meski demikian, untuk menjaga independensi Departemen Audit Internal, para auditor tidak diizinkan terlibat dalam kegiatan operasional seperti melakukan dan menyetujui transaksi akuntansi di luar lingkup Departemen Audit Internal. Kode etik untuk Departemen Audit Internal diterbitkan oleh Standar Praktik Profesional Audit Internal dari Lembaga Auditor Internal. Profil Kasturin Usia 48 tahun, telah diangkat sebagai Kepala Audit Internal PT Indika Energy Tbk. sejak Beliau juga menjabat sebagai Komisaris PT Marmitria Land sejak Menamatkan pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Jakarta jurusan Akuntansi dan memiliki sertifikat sebagai Akuntan Publik Indonesia. Bapak Kasturin juga menjadi Akuntan Negara, Akuntan Publik, dan Konsultan Manajemen. Sebelum bergabung dengan Perusahaan, beliau menjadi anggota Komite Audit PT Fatrapolindo Nusa Industri Tbk. ( ), Ketua Tim Audit Investigasi Golden Truly Group dan Proses Pemberkasan di Kejaksaan Agung ( ), dan tergabung dalam Tim Penyelesaian MSAA Bank Surya ( ). Auditor Eksternal Peran auditor eksternal adalah memberikan pendapat secara independen mengenai laporan keuangan Perusahaan dan menyampaikan pendapat yang objektif dan dapat diterima oleh para pemegang saham dan pemangku kepentingan. Auditor eksternal diangkat dalam RUPS. Auditor eksternal berfungsi tanpa pengaruh dari Dewan Komisaris, Direksi, atau semua pihak yang memiliki kepentingan dalam Perusahaan. Auditor eksternal wajib menjaga reputasi baiknya dan dipilih dari firma akuntan publik terkemuka. Auditor eksternal wajib menjaga kerahasiaan informasi perusahaan yang dapat diakses selama dan setelah melaksanakan proses audit. 104 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
107 KODE ETIK 1. Pembukuan yang Akurat Pembukuan Perusahaan harus disimpan dengan baik, sehingga secara akurat mencerminkan transaksitransaksinya. Tidak seorangpun karyawan Perusahaan diperbolehkan memalsukan catatan dengan cara apapun. Pembukuan dan catatan Perusahaan harus disimpan sedemikian rupa, sehingga sepenuhnya: - Mencerminkan hal-hal yang berkenaan dengan transaksi Perusahaan seperti tanda terima (kuitansi), pengeluaran, aset, dan liabilitas. - Mencatat semua transaksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. - Mematuhi kebijakan keselamatan dan lingkungan (HSE), ketenagakerjaan, standar akuntansi dan pelaporan keuangan, serta kebijakan-kebijakan lainnya. 2. Suap dan Praktik Bisnis Ilegal Tidak seorangpun karyawan Perusahaan boleh, baik secara langsung atau melalui perantara, menawarkan atau memberikan apapun yang bernilai kepada pegawai atau pejabat pemerintah. Karyawan Perusahaan harus menahan diri dari melakukan tindakan ilegal atau tidak etis yang dapat merusak reputasi bisnis Perusahaan. 3. Hadiah Bisnis Terhadap perusahaan lain atau sub-vendor lain yang menjadi para mitra bisnis, atau para pesaing Indika Energy, karyawan Perusahaan tidak boleh mencari, meminta, atau menerima hal-hal berikut ini dari pihakpihak tersebut: hadiah/pemberian, pembayaran uang, biaya, jasa, kesempatan, atau bantuan lainnya. 4. Sumbangan Dana Sumbangan dana yang wajar untuk kepentingan kemanusiaan, sosial, pendidikan, olahraga, asosiasi profesi/usaha harus dilakukan berdasarkan permintaan secara tertulis. Sumbangan-sumbangan seperti itu semestinya dapat diperkirakan atau direncanakan dalam anggaran tahunan bersamaan dengan penyusunan Rencana Bisnis. 5. Informasi Rahasia Tidak seorangpun karyawan atau mantan karyawan Perusahaan diperbolehkan membuka rahasia dagang atau informasi rahasia lainnya. Informasi rahasia yang dimaksud di sini adalah harga penawaran untuk peralatan, produk/jasa, dan tenaga kerja, strategi pemasaran, rencana pembiayaan, perjanjian dengan pemasok, rencana akuisisi, divestasi atau perubahan organisasi, informasi mengenai produk dan teknologi Perusahaan, kecuali jika informasi tersebut memang telah dipublikasikan secara luas. 6. Konflik Kepentingan Karyawan tidak diperbolehkan memiliki investasi atau hubungan dengan organisasi lain yang dapat menempatkannya dalam posisi konflik dengan kepentingan terbesar Perusahaan. 7. Lingkungan, Kesehatan, dan Keselamatan Semua karyawan harus mematuhi undang-undang dan peraturan dalam hal perlindungan terhadap lingkungan dan keselamatan karyawan. 8. Kesetaraan dalam Peluang Perusahaan akan memberikan peluang kerja yang setara bagi semua orang, tanpa memandang SARA (suku, agama, ras, adat istiadat) dan jenis kelamin. Perusahaan membuat perkecualian untuk kebijakan ini, hanya ketika mempekerjakan karyawan untuk posisi yang mempersyaratkan kemampuan fisik khusus dalam melaksanakan fungsi-fungsi utama dari pekerjaan tersebut. 9. Pengendalian dan Pelaporan Keuangan Semua karyawan harus mengikuti sistem dan prosedur akuntansi internal yang sesuai. Semua transaksi keuangan dan akuntansi harus secara akurat dilaporkan dalam catatan keuangan dan laporan keuangan Perusahaan. 10. Keamanan Komputer dan Penggunaan Data Setiap karyawan bertanggung jawab untuk melindungi keamanan: - Informasi rahasia milik Perusahaan maupun customer - Keamanan komputer dan sistem informasi Perusahaan - Data dan informasi keuangan yang disimpan dalam sistem Perusahaan 11. Hak Kekayaan Intelektual Karyawan harus melindungi hak kekayaan intelektual BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 105
108 Perusahaan dan karyawan tidak diperbolehkan melanggar hak pihak ketiga dalam hal-hal kekayaan intelektual mereka. 12. Bisnis di Luar Negeri Karyawan Perusahaan harus mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia dan hukum negara dimana karyawan ditugaskan. Tidak seorangpun karyawan berupaya menghindari hukum-hukum tersebut secara langsung maupun tidak langsung. 13. Kebijakan Anti Pelecehan Indika Energy menjunjung tinggi komitmen untuk memelihara lingkungan kerja yang bebas dari tindakan diskriminasi dan pelecehan seksual, di mana semua individu diperlakukan dengan hormat dan bermartabat. 14. Sumbangan Politik Tidak seorangpun karyawan Perusahaan diperkenankan, baik secara langsung maupun melalui perantara, menggunakan dana atau sumber daya Perusahaan untuk memberikan sumbangan kepada partai politik maupun pejabat partai. 15. Penyimpanan Catatan Perusahaan harus menetapkan prosedur untuk mencapai tujuan penyimpanan catatan sebagai berikut: - Menyimpan catatan aktif dan tidak aktif dalam fasilitas penyimpanan yang tepat. - Mengidentifikasi dan melindungi catatan penting dan historis. - Mikrofilm dan elektronik dapat digunakan untuk aplikasi yang sesuai. - Mengikuti pedoman hukum dan pedoman internasional yang berlaku, termasuk ketentuan hukum yang terkait dengan pengajuan tuntutan hukum, penyelidikan pemerintah, dan audit yang diwajibkan undang-undang. - Menyimpan catatan untuk jangka waktu yang ditentukan menurut Jadwal Penyimpanan Catatan Perusahaan. - Mendorong penghancuran rutin catatan yang sudah tidak lagi diperlukan untuk operasional, apabila penyimpanannya tidak diwajibkan oleh hukum atau Jadwal Penyimpanan Catatan. INFORMASI PERUSAHAAN LAINNYA Berkaitan dengan perihal perpajakan yang muncul akibat penggabungan usaha antara Perusahaan, PT Tripatra Company (TPC) dan PT Ganesha Intra Development Company (GID), Mahkamah Agung telah memutuskan mengabulkan permohonan Perusahaan untuk menggunakan nilai buku bersih historis akuntansi dalam penggabungan usaha tersebut. Keputusan Mahkamah Agung tersebut bersifat final dan mengikat ( Keputusan Akhir ). Sampai dengan penyusunan Laporan Tahunan ini, Perusahaan belum menerima salinan asli Keputusan Akhir tersebut. Namun, Keputusan Akhir itu telah diunggah dan dapat dibaca dalam situs resmi Mahkamah Agung Indonesia dan memiliki kekuatan hukum yang sah dan mengikat. 106 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
109 SUMBER DAYA MANUSIA Salah satu langkah yang dilakukan oleh Indika Energy untuk menjawab tantangan krisis dan penurunan laju pertumbuhan ekonomi global serta pelambanan yang terjadi di pasar komoditi adalah melalui People Strategy. Di saat yang bersamaan, kebijakan People Strategy juga dibutuhkan sejalan dengan kebijakan perusahaan untuk melakukan ekspansi operasi yang memerlukan penambahan tenaga kerja demi mendukung aktivitas ekspansi yang dilakukan, eksplorasi dan pengembangan Perusahaan di masa depan. Melalui People Strategy yang selaras dengan tujuan dan arahan organisasi maka perusahaan akan dapat merekrut, menempatkan dan membina orang-orang yang tepat untuk membangun budaya kerja, sesuai dengan yang diinginkan demi meraih keunggulan kompetitif di masa datang. Dengan hampir karyawan dengan latar belakang dan keterampilan yang berbeda, Indika Energy meningkatkan segala upaya untuk mengelola kembali proses rekrutmen, manajemen kinerja, manajemen sumber daya serta sistem kompensasi dan tunjangan karyawan agar memiliki standar yang sama dan efektif di seluruh unit bisnis. Strategi remunerasi diperbaiki, peta matriks akuntabilitas dan Standar Operasional Prosedur semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan Perusahaan. Regulasi sumber daya manusia turut diperbaharui dan buku pegangan baru untuk karyawan disiapkan dan dikomunikasikan secara internal demi memastikan kepatuhan di seluruh unit usaha. Secara internal, strategi dari Human Capital (HC) adalah meningkatkan keterlibatan karyawan dan membangun sinergi dari kekuatan-kekuatan yang ada di Perusahaan, agar seluruh upaya perbaikan dan pencapaian kinerja yang dilakukan selaras dengan visi dan misi Perusahaan. Pertama, proses penyelarasan dengan strategi perusahaan dilakukan dengan cara membangun sinergi dan peningkatan kapasitas organisasi di seluruh perusahaan. Sinergi ini dicapai melalui tiga landasan utama HC: Forum Human Capital (HC): Merupakan wadah bagi para pemimpin HC untuk mengkoordinasikan semua upaya perbaikan dan untuk saling bertukar pikiran dan gagasan. Para pimpinan HC dalam Perusahaan dan anak-anak perusahaan bertemu setiap bulan untuk mengkaji secara khusus inisiatifinisiatif baru, isu-isu, efektifitas implementasi kegiatan serta potensi dan tantangan yang bisa menghambat penerapan rencana aksi HC. Berbagai aspek organisasi, perilaku dan kinerja dari masingmasing orang di Perusahaan diselaraskan agar tercipta fondasi yang kuat untuk mencapai keuntungan sumber daya manusia di masa depan. Hal ini merupakan tindakan yang tepat dan sesuai dengan People Strategi Indika Energy karena menunjukkan bagaimana manusia dipandang sebagai modal keuntungan kompetitif, kreativitas serta inovasi dan bukan sebagai beban perusahaan meski dalam kondisi ekonomi yang sulit sekalipun. Pengembangan Kapasitas Kepemimpinan: terdiri dari dua elemen kunci yaitu program pembelajaran bagi para Pemimpin Eksekutif dan program Esensi Kepemimpinan untuk manajer dan penyelia. Program Pengembangan Kapasitas Kepemimpinan telah melibatkan pemimpin Perusahaan di berbagai tingkat, melalui 10 kelas dengan jam pelatihan dan pengembangan. Hal ini mencerminkan keyakinan Indika Energy bahwa Kepemimpinan pada dasarnya adalah menciptakan cara bagi orang-orang agar mereka dapat memberikan kontribusi demi terciptanya sesuatu yang dahsyat. (Alan Keith, Genentech, The Leadership Challenge.) Program Pengembangan Kepemimpinan Eksekutif (ELDP) untuk para Pimpinan Eksekutif merupakan program tiga hari yang difasilitasi oleh para pemimpin-pemikir dan praktisi dari Graziadio School of Business and Management, Pepperdine University, USA. Program ini memberikan landasan bagi seluruh Pimpinan Eksekutif di Perusahaan untuk berinteraksi, menyamakan persepsi dan pemahaman mereka tentang lingkungan bisnis dan menggunakan bahasa serta kerangka BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 107
110 kerja yang sama demi mengelola bisnis secara lebih efektif melalui keterampilan kepemimpinan strategis yang akan mereka kembangkan lebih lanjut. Program Esensi Kepemimpinan untuk Manajer dan Program Penyelia Unggul memberikan sejumlah perangkat kepada para manajer madya untuk pengembangan sikap dan matrikulasi esensi-esensi kepemimpinan. Lima angkatan peserta dari tingkat manajer yang menjalani Program Esensi Kepemimpinan Manajer (EKM) selama tiga hari mempelajari prinsip-prinsip kepemimpinan, sikap dan konsep nilai yang terdapat dalam Tantangan Kepemimpinan (James M. Kouzes & Barry Posner) serta pentingnya budaya kepemimpinan yang dihidupkan di tempat kerja. Sementara itu, dua angkatan tingkat penyelia mengikuti program Penyelia Unggul yang dirancang dan diluncurkan untuk mengembangkan kompetensi kepemimpinan dan membekali mereka dalam proses transformasi perusahaan. dihadiri oleh 80 Pimpinan Eksekutif di Perusahaan. Lewat lokakarya selama dua setengah hari, para eksekutif puncak dari masing-masing unit usaha mendiskusikan kembali visi, misi dan menentukan peta perjalanan Perusahaan dan peta strategi di masa depan. Pada kesempatan yang sama, kerangka kerja Balance Scorecard juga diperkenalkan demi menghasilkan fokus yang jernih terhadap pengukuran-pengukuran kinerja bisnis untuk keuangan, pelanggan, operasi, pembelajaran dan pertumbuhan. Dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Para Pemimpin 2012, pihak manajemen memberikan komitmen untuk meningkatkan keterlibatan karyawan melalui perbaikan komunikasi internal dan perilaku kepemimpinan yang dapat dijadikan teladan sehingga membantu membangun budaya unggul dan menghidupkan Sistem Manajemen Kinerja. Sebagai tambahan, terdapat program pembelajaran dan pengembangan yang menyeluruh sebagaimana disebutkan dalam katalog Menu Pembelajaran (Learning Menu 2012) yang mendorong orang-orang di Indika Energy untuk memiliki kemampuan dan kapasitas yang mumpuni sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri dan ahli dalam hal-hal strategis yang diperlukan dalam pekerjaan sehari-hari. Secara keseluruhan, melalui katalog Menu Pembelajaran dan didukung oleh sarana dan kegiatan lain termasuk program peningkatan kompetensi teknis di berbagai fungsi yang ada, Indika Energy telah mengalokasikan sebanyak jam untuk pelatihan atau rata-rata jam untuk masing-masing karyawan yang memenuhi persyaratan dan target yang telah dialokasikan bagi aktivitas pengembangan. Pertemuan Tingkat Tinggi Para Pimpinan 2012: Pertemuan tingkat tinggi untuk eksekutif senior di Perusahaan berfokus pada pencapaian dan pengukuran atas hasil penerapan Strategi Visi, Misi dan Sasaran Perusahaan dari periode ke periode. Tema untuk Pertemuan Tingkat Tinggi Para Pimpinan 2012 adalah Penyelarasan Strategi dan Manajemen Kinerja dan Hal kedua yang dibangun secara internal di HC adalah pengembangan dan pelembagaan sistem dan proses - yang mendukung layanan-layanan penting di seluruh Perusahaan yang dilakukan melalui dua inisiatif berikut: Sistem Layanan Sumber Daya Manusia (Human Capital Service System / HCSS): Di awal 2012, Sistem Layanan Sumber Daya Manusia (HCSS) diluncurkan untuk memberikan sistem yang nyaman dan mudah kepada para karyawan untuk mengakses informasi yang dibutuhkan. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan proses bisnis agar semakin efisien dengan data yang dapat diandalkan untuk para karyawan di seluruh Perusahaan. Sejumlah anak perusahaan juga mengimplementasikan integrasi data melalui HCSS, yang diarahkan untuk menjalankan peran lebih besar dalam mendukung seluruh kebutuhan kinerja manajemen sumber daya manusia di dalam Perusahaan. Sistem Manajemen Kinerja: pada tahun 2012 diperkenalkan Sistem Manajemen Kinerja dan dicerminkan sepenuhnya dalam aspek yang komprehensif serta integral dari People Strategy yang sekarang diterapkan di Perusahaan. Akuntabilitas dari orang-orang yang terlibat disepakati dan didokumentasikan, sehingga masing-masing orang memiliki 108 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
111 pemahaman yang jernih tentang indikator kinerja dan arah dalam bekerja. Kajian kinerja dievaluasi secara berkala dan dilakukan pengkajian tengah tahun. Proses ini sangat tergantung pada dukungan dari manajemen puncak dan harus menjadi agenda berkala dalam kalender kepemimpinan, dimana praktik-praktik terbaik menjadi hal yang alamiah bagi para eksekutif seperti layaknya sebuah kebiasaan, dimana tujuannya adalah agar Indika Energy mencapai budaya yang berorientasi pada kinerja. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 109
112 110 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
113 TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, dan secara geografis tersebar dalam gugusan pulau. Terdapat banyak daerah di mana masyarakat lokal dan budaya setempat bisa mendapatkan manfaat dari dukungan perusahaan dalam upaya untuk membuat perubahan. Sebagai upaya menjadi model corporate citizen, Indika Energy telah menjadikan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) sebagai nilai dasar dalam budaya perusahaan. Indika Energy telah memberikan kontribusi pada tingkat nasional maupun lokal, dalam bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan masyarakat dan pelestarian lingkungan. PENDIDIKAN Indika Energy Cerdaskan Anak Bangsa Indika Energy secara konsisten melaksanakan program CSR yang juga ditujukan bagi pemangku kepentingan internal dengan diluncurkannya Indika Energy Cerdaskan Anak Bangsa, yaitu program beasiswa internal Indika Energy pada tahun Program ini bertujuan memberikan beasiswa kepada puteraputeri karyawan Perusahaan mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Lanjutan Atas yang memiliki prestasi baik. Dengan program ini diharapkan prestasi akademis para putera dan puteri karyawan akan semakin meningkat, juga dapat meningkatkan loyalitas serta produktifitas para karyawan, yang dapat berdampak kepada kemajuan perusahaan dan membawa kesejahteraan bagi banyak pihak. Program ini juga merupakan salah satu wujud nyata komitmen Perusahaan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat melalui pendidikan. Program Indika Energy Cerdaskan Anak Bangsa diluncurkan secara simbolis pada acara syukuran HUT Indika Energy ke-12 pada tanggal 2 November Gerakan Indonesia Mengajar Sebagai pelopor Gerakan Indonesia Mengajar, Indika Energy senantiasa memberikan dukungan penuh terhadap perkembangan program ini. Pada tahun 2012, Gerakan Indonesia Mengajar telah mencapai perkembangan yang luar biasa, dengan menempatkan 293 Pengajar Muda di 17 Kabupaten di 16 Provinsi di seluruh Indonesia, sehingga memberikan dampak cukup luas kepada masyakarat, khususnya kepada siswa di 17 Kabupaten tersebut. Salah satu output yang cukup signifikan dari program Gerakan Indonesia Mengajar bukan hanya terjadi pada aspek kegiatan belajar-mengajar di sekolah, tetapi juga mencakup kegiatan ekstrakurikuler, pembelajaran masyarakat, pertemuan dengan orang tua dan lain-lain. Gerakan Indonesia Mengajar juga telah menginspirasi gerakan mengajar lainnya yang lahir di berbagai tempat seperti Solo Mengajar, Kaltim Mengajar dan UI Mengajar. Beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) Tahun 2012 merupakan tahun kedua Indika Energy bekerjasama dengan Yayasan Karya Salemba Empat (KSE) melalui Program Beasiswa Mahasiswa Perguruan Tinggi. Program beasiswa ini secara khusus bertujuan untuk memberikan dukungan bagi para mahasiswa yang memiliki kesulitan keuangan untuk menyelesaikan pendidikannya dan menjadi pribadi yang memiliki integritas, rasa nasionalisme dan cinta tanah air. Program ini terbagi menjadi dua jenis, yakni beasiswa bantuan biaya hidup dan beasiswa penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. Pada akhir tahun 2012, telah terdapat 44 mahasiswa penerima beasiswa yang berasal dari tujuh perguruan tinggi negeri di Indonesia (Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Sepuluh November dan Universitas Mulawarman). BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 111
114 KESEHATAN Klinik KSPSI-Indika Merupakan program kerjasama antara Indika Energy dengan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) yang telah memasuki tahun ketiga di tahun Pada awalnya program ini hanya memiliki satu klinik yang dibangun di Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Februari Di tahun 2012 telah berkembang menjadi dua klinik dengan telah didirikannya klinik kedua di wilayah Kabupaten Tangerang, tepatnya di Kecamatan Cikupa yang mulai beroperasi pada tanggal 23 Juli Klinik di Cikupa ini dapat memberikan layanan kesehatan kepada 400 ribu pekerja yang berada di wilayah Kabupaten Tangerang. PENGEMBANGAN MASYARAKAT Dukungan Untuk Tim Indonesia di Olimpiade 2012 Pada 27 Juni 2012 di Jakarta, Indika Energy menandatangani perjanjian kerjasama dengan Komite Olimpiade Indonesia, sebagai bentuk dukungan bagi persiapan dan keberangkatan kontingen Indonesia ke Olimpiade XXX 2012 di London, Inggris yang berlangsung dari tanggal 27 Juli sampai dengan 12 Agustus Partisipasi Indika Energy untuk mendukung Tim Indonesia berlaga di Olimpiade ke-xxx ini tidak lepas dari komitmennya sebagai model corporate citizen yang menggambarkan kebanggaan nasional dan mempromosikan semangat persaudaraan Olimpiade di antara sesama bangsa Indonesia dan dunia. 112 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
115 Pada kegiatan ini, Indika Energy memiliki cita-cita untuk mempromosikan semangat pembangunan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan mewujudkan potensi sosial dan ekonomi untuk kemajuan bangsa. Nilai sosial baik yang terkandung dalam olahraga mampu menciptakan semangat pantang menyerah untuk mencapai kebaikan bersama dan mempromosikan cara pandang yang sehat serta kompetitif. Dukungan Pemberdayaan Ekonomi Melalui Petrosea, Indika Energy mendirikan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Desa Sukamaju dan Desa Mulawarman yang berlokasi di Santan Batubara, Kutai Kartanegara. Pendirian KUBE ini bertujuan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar daerah operasional. Sementara itu, melalui anak perusahaan lainnya, MBSS juga membentuk wadah Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) dan secara rutin memberikan pelatihan magang bagi masyarakat yang berada di sekitar daerah operasi. LINGKUNGAN Rehabilitasi Hutan Mangrove Pelestarian lingkungan juga menjadi fokus utama pelaksanaan kegiatan CSR di Indika Energy. Melalui Petrosea, saat ini tengah dilakukan rehabilitasi hutan mangrove di Desa Kariangau, Balikpapan yang merupakan daerah operasional Petrosea Offshore Supply Base (POSB). Hutan mangrove adalah bagian tidak terpisahkan dalam sistem ekologi pantai yang berfungsi untuk melindungi masyarakat dan lingkungan sekitar pantai dari bahaya erosi dan bencana alam seperti tsunami. Total biaya yang dikeluarkan Perusahaan untuk seluruh kegiatan CSR per 31 Desember 2012 sekitar US$345 ribu. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 113
116 114 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
117 PERISTIWA SETELAH TANGGAL NERACA 1. Penerbitan Senior Notes US$500 juta Pada bulan Januari 2013, Indika Energy telah menyelesaikan penerbitan Senior Notes senilai US$500 juta dengan tingkat kupon sebesar 6.375% yang akan jatuh tempo pada tahun Penggunaan dana: 1. Melunasi pinjaman jangka pendek senilai U$235 juta yang digunakan untuk pembiayaan akuisisi MTU 2. Melunasi hutang obligasi senilai US$230 juta yang akan jatuh tempo di tahun 2016 dengan opsi callable di bulan November 2013 pada harga 104,875% 2. Kerjasama PSC Southwest Bird s Head : Pada bulan Februari 2013, Indika Energy telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan Total E&P Indonesia West Papua untuk berpartisipasi sebesar 10% di PSC the Southwest Bird s Head. 3. Dividen Kideco Pada bulan Maret 2013, Kideco mengumumkan dividen final sebesar US$235,0 juta. Bagian Indika Energy sebesar US$108,1 juta. 4. Restrukturisasi PT Kuala Pelabuhan Indonesia Pada bulan April 2013, Indika Energy telah melakukan restrukturisasi internal antara anak perusahaannya PT Tripatra Engineers & Constructors atas transaksi penjualan sebesar 95% kepemilikan saham di PT Kuala Pelabuhan Indonesia kepada anak perusahaan Indika Energy lainnya yaitu PT Indika Logistics & Support Services. BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 115
118 116 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
119 LAPORAN keuangan BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 117
120 Halaman ini sengaja dikosongkan.
121 / LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN/ CONSOLIDATED FINANCIAL STATEMENTS 31 DESEMBER 2010/ 2011/DECEMBER 31, 2010 SERTA UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2012 DAN 2011/ FOR THE AND 2011 DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN/ AND INDEPENDENT AUDITORS REPORT
122 DAFTAR ISI TABLE OF CONTENTS Halaman/ Page SURAT PERNYATAAN DIREKSI DIRECTORS STATEMENT LETTER LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN 1 INDEPENDENT AUDITORS REPORT LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN - Untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2012 dan 2011 CONSOLIDATED FINANCIAL STATEMENTS - For the years ended December 31, 2012 and 2011 Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian 3 Consolidated Statements of Financial Position Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolidasian 5 Consolidated Statements of Comprehensive Income Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian 6 Consolidated Statements of Changes in Equity Laporan Arus Kas Konsolidasian 7 Consolidated Statements of Cash Flows Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian 8 Notes to Consolidated Financial Statements
123
124
125
126
127 LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN CONSOLIDATED STATEMENTS OF FINANCIAL POSITION 31 DESEMBER 2012, 2011 DAN DECEMBER 31, 2012, 2011 AND 1 JANUARI 2011/31 DESEMBER 2010 JANUARY 1, 2011/DECEMBER 31, 2010 ASET 1 Januari/ 31 Desember/ 31 Desember/ January 1, 2011/ Catatan/ December 31, December 31, 31 Desember/ Notes December 31, 2010 *) US$ US$ US$ ASSETS ASET LANCAR CURRENT ASSETS Kas dan setara kas Cash and cash equivalents Aset keuangan lainnya Other financial assets Piutang usaha 7 Trade accounts receivable Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga - setelah dikurangi Third parties - net of allowance cadangan kerugian penurunan nilai sebesar for impairment losses of US$ 2,192,469 US$ tanggal 31 Desember 2012, as of December 31, 2012, US$ tanggal 31 Desember 2011 dan US$ 2,582,047 as of December 31, 2011 and US$ tanggal 1 Januari 2011/ US$ 1,551,329 as of January 1, 2011/ 31 Desember December 31, 2010 Piutang yang belum ditagih Unbilled receivables Selisih lebih estimasi pendapatan diatas Estimated earnings in excess of billings tagihan kemajuan kontrak on contracts Piutang lain-lain yang jatuh tempo dalam satu tahun Current maturities of other accounts receivable Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga Third parties Persediaan - setelah dikurangi penyisihan Inventories - net of allowance for persediaan usang sebesar stock obsolescence of US$ tanggal 31 Desember 2012, US$ 3,014,520 as of December 31, 2012, US$ tanggal 31 Desember 2011 US$ 2,525,175 as of December 31, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember and January 1, 2011/December 31, 2010 Pajak dibayar dimuka Prepaid taxes Aset lancar lainnya Other current assets Sub jumlah Sub total Aset tidak lancar dimiliki untuk dijual Noncurrent assets held for sale Jumlah Aset Lancar Total Current Assets ASET TIDAK LANCAR NONCURRENT ASSETS Piutang lain-lain setelah dikurangi bagian Other accounts receivable - net of yang jatuh tempo dalam satu tahun current maturities Pihak berelasi - setelah dikurangi Related parties - net of allowance for cadangan kerugian penurunan nilai impairment losses of sebesar US$ tanggal 31 December 2012, US$ 2,624,491 as of December 31, 2012, sebesar US$ tanggal 31 Desember 2011, US$ 2,798,743 as of December 31, 2011, and dan US$ tanggal 1 Januari 2011/ US$ 2,822,693 as of January 1, 2011/ 31 Desember December 31, 2010, Pihak ketiga Third parties Klaim pengembalian pajak Claim for tax refund Aset pajak tangguhan Deferred tax assets Beban tangguhan Deferred expenditures Investasi pada entitas asosiasi Investments in associates Investasi pada pengendalian bersama entitas Investments in jointly-controlled entities Uang muka dan aset tidak lancar lainnya Advances and other noncurrent assets Properti investasi Investment property Aset tetap - setelah dikurangi akumulasi Property, plant and equipment - net of accumulated penyusutan sebesar depreciation of sebesar US$ tanggal 31 Desember 2012, US$ 263,014,395 as of December 31, 2012, sebesar US$ tanggal 31 Desember 2011 dan US$ as of December 31, 2011 and sebesar US$ tanggal 1 Januari 2011/ US$ as of January 1, 2011/ 31 Desember December 31, 2010 Aset tidak berwujud Intangible assets Goodwill Goodwill Aset keuangan tidak lancar lainnya Other noncurrent financial assets Uang jaminan Refundable deposits Jumlah Aset Tidak Lancar Total Noncurrent Assets JUMLAH ASET TOTAL ASSETS *) Dijelaskan pada Catatan 1 *) As discussed in Note 1 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian. See accompanying notes to consolidated financial statements which are an integral part of the consolidated financial statements
128 LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN CONSOLIDATED STATEMENTS OF FINANCIAL POSITION 31 DESEMBER 2012, 2011 DAN DECEMBER 31, 2012, 2011 AND 1 JANUARI 2011/31 DESEMBER 2010 (Lanjutan) JANUARY 1, 2011/DECEMBER 31, 2010 (Continued) LIABILITAS DAN EKUITAS 1 Januari/ 31 Desember/ 31 Desember/ January 1, 2011/ Catatan/ December 31, December 31, 31 Desember/ Notes December 31, 2010 *) US$ US$ US$ LIABILITIES AND EQUITY LIABILITAS LANCAR CURRENT LIABILITIES Utang bank Bank loans Utang usaha 26 Trade accounts payable Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga Third parties Selisih tagihan kemajuan kontrak Billings in excess of estimated earnings diatas estimasi pendapatan recognized Utang lain-lain Other accounts payable Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga Third parties Utang pajak Taxes payable Pendapatan ditangguhkan Deferred income Biaya masih harus dibayar Accrued expenses Uang muka pelanggan Advances from customers Utang dividen Dividend payable Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun Current maturities of long-term debts Pinjaman jangka panjang Long-term loans Liabilitas sewa pembiayaan Lease liabilities Utang obligasi - bersih Bonds payable - net Jumlah Liabilitas Lancar Total Current Liabilities LIABILITAS TIDAK LANCAR NONCURRENT LIABILITIES Liabilitas jangka panjang - setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun Long-term debts - net of current maturities Pinjaman jangka panjang Long-term loans Liabilitas sewa pembiayaan Lease liabilities Utang obligasi - bersih Bonds payable - net Utang jangka panjang - pihak ketiga Other long-term liability - third party Liabilitas pajak tangguhan Deferred tax liabilities Uang muka diterima Advance received Pihak berelasi Related party Pihak ketiga Third party Goodwill negatif Negative goodwill Liabilitas imbalan kerja Employment benefit obligation Jumlah Liabilitas Tidak Lancar Total Noncurrent Liabilities EKUITAS EQUITY Modal saham - nilai nominal Rp 100 per saham Capital stock - Rp 100 par value per share Modal dasar juta saham Authorized - 17,000 million shares Modal ditempatkan dan disetor Subscribed and paid-up - 5,210,192,000 saham tahun 2012 dan 2011 dan shares in 2012 and 2011 and 5,207,142,000 saham tahun shares in 2010 Tambahan modal disetor Additional paid-in capital Komponen ekuitas lainnya 1b,14, ( ) ( ) Other components of equity Difference in value of restructuring Selisih nilai transaksi restrukturisasi transaction between entities under entitas sepengendali common control Saldo laba Retained earnings Dicadangkan Appropriated Tidak dicadangkan Unappropriated Jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan Total equity attributable to owners kepada pemilik entitas induk of the Company Kepentingan non-pengendali Non-controlling interest Jumlah Ekuitas Total Equity JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS TOTAL LIABILITIES AND EQUITY *) Dijelaskan pada Catatan 1 *) As discussed in Note 1 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian. See accompanying notes to consolidated financial statements which are an integral part of the consolidated financial statements
129 LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF KONSOLIDASIAN CONSOLIDATED STATEMENTS OF COMPREHENSIVE INCOME UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR FOR THE YEARS ENDED 31 DESEMBER 2012 DAN 2011 DECEMBER 31, 2012 AND Desember/ 31 Desember/ Catatan/ December 31, December 31, Notes US$ US$ PENDAPATAN 38,49 REVENUES Pendapatan kontrak dan jasa Contracts and service revenues Penjualan batubara Sales of coal Jumlah Pendapatan Total Revenues BEBAN POKOK KONTRAK DAN PENJUALAN 39,49 COST OF CONTRACTS AND GOODS SOLD Beban pokok kontrak dan jasa Cost of contracts and services Beban pokok penjualan batubara Cost of sales of coal Jumlah Beban Pokok Kontrak dan Penjualan Total Cost of Contracts and Goods Sold LABA KOTOR GROSS PROFIT Bagian laba entitas asosiasi dan pengendalian Equity in profit of associates and bersama entitas 14, jointly-controlled entities Pendapatan investasi 41, Investment income Keuntungan diakui atas akuisisi entitas anak 1g Gain recognized from acquisition of a subsidiary Beban umum dan administrasi 40 ( ) ( ) General and administrative expenses Beban keuangan 42 ( ) ( ) Finance cost Amortisasi aset tidak berwujud 22 ( ) ( ) Amortization of intangible assets Lain-lain - bersih 43 ( ) ( ) Others - net LABA SEBELUM PAJAK INCOME BEFORE TAX BEBAN PAJAK 44 ( ) ( ) TAX EXPENSE LABA BERSIH TAHUN BERJALAN PROFIT FOR THE YEAR Pendapatan komprehensif lain: Other comprehensive income: Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Translation adjustments Kerugian yang belum direalisasi atas instrumen Unrealized loss on derivative financial instrument keuangan derivatif (hedging reserve) 14 ( ) ( ) (hedging reserve) Pendapatan komprehensif lainnya ( ) Other comprehensive income Jumlah laba rugi komprehensif tahun berjalan Total comprehensive income for the year LABA YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA: PROFIT ATTRIBUTABLE TO: Pemilik entitas induk Owners of the Company Kepentingan non-pengendali Non-controlling interest Jumlah laba rugi komprehensif yang dapat diatribusikan kepada: Total comprehensive income attributable to: Pemilik entitas induk Owners of the Company Kepentingan non-pengendali Non-controlling interests Jumlah Total LABA PER SAHAM 46 EARNINGS PER SHARE Dasar 0,0132 0,0245 Basic Dilusian 0,0131 0,0244 Diluted Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian. See accompanying notes to consolidated financial statements which are an integral part of the consolidated financial statements
130 PT. INDIKA ENERGY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASIAN CONSOLIDATED STATEMENTS OF CHANGES IN EQUITY UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR FOR THE YEARS ENDED 31 DESEMBER 2012 DAN 2011 DECEMBER 31, 2012 AND 2011 Komponen Ekuitas Lainnya/Other Components of Equity Kerugian Kerugian yang belum belum direalisasi Selisih nilai transaksi direalisasi atas atas penurunan restrukturisasi entitas instrumen keuangan nilai investasi sepengendali/ derivatif (hedging reserve) / pada unit penyertaan/ Akumulasi selisih kurs Difference in value Tambahan modal Unrealized loss Modal lain-lain - Unrealized loss penjabaran laporan of restructuring Saldo laba/ disetor/ on derivative opsi saham karyawan/ due to decrease keuangan/ transaction between Retained earnings Kepentingan non Catatan/ Modal disetor/ Additional financial instrument Other capital - in value of investment Cumulative translation Ekuitas lainnya/ entities under Dicadangkan/ Tidak dicadangkan/ pengendali/non Jumlah ekuitas/ Notes Capital stock paid-in capital (hedging reserve) employee stock option in units of fund adjustments Other equity common control Appropriated Unappropriated controlling interests Total equity US$ US$ US$ US$ US$ US$ US$ US$ US$ US$ US$ US$ Saldo per 1 Januari ( ) Balance as of January 1, 2010 Selisih pengukuran kembali laporan keuangan 1d ( ) - ( ) Effect of remeasurement Saldo per 1 Januari 2010 setelah Balance as of January 1, 2010 pengukuran kembali laporan keuangan ( ) after remeasurement Opsi saham karyawan Employee stock option Dividen kas ( ) - ( ) Cash dividend Saldo laba dicadangkan ( ) - - Appropriated earnings Unrealized loss due to decrease Kerugian belum direalisasi atas penurunan in value of investment nilai investasi pada unit penyertaan (23.553) in units of fund Jumlah pendapatan komprehensif ( ) Total comprehensive income Saldo per 31 Desember ( ) Balance as of December 31, 2010 Dampak pengaruh awal PSAK 22 (revisi 2010) Effect of the first adoption of PSAK 22 (revised 2010) Saldo per 1 Januari 2011 setelah penerapan PSAK 22 Balance as of January 1, 2011 after the first adoption (revisi 2010) ( ) of PSAK 22 (revised 2010) Opsi saham karyawan Employee stock option Dividen kas ( ) - ( ) Cash dividend Saldo laba dicadangkan ( ) - - Appropriated earnings Akuisisi entitas anak 1b Acquisition of subsidiary Jumlah pendapatan komprehensif - - ( ) Total comprehensive income Saldo per 31 Desember ( ) ( ) Balance as of December 31, 2011 Ekuitas lainnya 1b Other equity Dividen kas ( ) - ( ) Cash dividend Saldo laba dicadangkan ( ) - - Appropriated earnings Jumlah pendapatan komprehensif - - ( ) Total comprehensive income Saldo per 31 Desember ( ) Balance as of December 31, 2012 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian. See accompanying notes to consolidated financial statements which are an integral part of the consolidated financial statements
131 PT. INDIKA ENERGY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASIAN CONSOLIDATED STATEMENTS OF CASH FLOWS UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR FOR THE YEARS ENDED 31 DESEMBER 2012 DAN 2011 DECEMBER 31, 2012 AND Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI CASH FLOWS FROM OPERATING ACTIVITIES Penerimaan kas dari pelanggan Cash receipts from customers Pengeluaran kas kepada pemasok dan karyawan ( ) ( ) Cash paid to suppliers and employees Kas yang diperoleh dari operasi Cash generated from operations Penerimaan restitusi pajak Receipt from claim for tax refund Penghasilan bunga Interest received Pembayaran pajak ( ) ( ) Payment of taxes Pembayaran beban keuangan ( ) ( ) Payment of finance cost Kas Bersih Yang Diperoleh Dari Aktivitas Operasi Net Cash Provided by Operating Activities ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI CASH FLOWS FROM INVESTING ACTIVITIES Pencairan aset keuangan lainnya Withdrawal of other financial assets Penerimaan dividen Dividends received Penerimaan atas re-floating saham Proceeds from shares re-floating Hasil penjualan aset tetap dan aset tidak lancar Proceeds from sale of property and noncurrent assets dimiliki untuk dijual held for sale Penerimaan uang muka dan aset tidak lancar lainnya Proceeds of advances and other non current assets Penempatan aset keuangan lainnya ( ) ( ) Placement of other financial assets Perolehan aset tetap ( ) ( ) Acquisition of property and equipment Akuisisi perusahaan asosiasi dan entitas anak ( ) ( ) Acquisitions of associates and subsidiaries Pembayaran uang muka dan aset Payment of advances and other tidak lancar lainnya ( ) ( ) non current assets Perolehan aset tidak berwujud ( ) - Acquisition of intangible assets Pembayaran biaya re-floating saham ( ) - Disbursements for shares re-floating cost Penerimaan dari piutang kepada pihak berelasi Proceeds from accounts receivable from related parties Kas Bersih Yang Diperoleh Dari (Digunakan Untuk) Aktivitas Investasi ( ) Net Cash Provided by (Used in) Investing Activities ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN CASH FLOWS FROM FINANCING ACTIVITIES Penerimaan dari utang bank Proceeds from bank loans Penerimaan dari transaksi jual dan sewa balik Proceeds from sale and leaseback transaction Penambahan setoran modal Proceeds of additional paid-in capital Pembayaran utang bank, utang jangka Payments of bank loans, long-term loans panjang dan sewa pembiayaan ( ) ( ) and lease liabilities Pembayaran utang lain-lain ( ) - Payment of other accounts payable Pembayaran obligasi ( ) - Payments of bonds payable Pembayaran dividen ( ) ( ) Payments of dividend Pembayaran biaya penerbitan obligasi - ( ) Payments of bonds issuance costs Penerimaan dari penerbitan obligasi Proceeds from bonds issuance Pembayaran uang muka setoran modal di entitas anak - ( ) Payments of advance paid in capital in subsidiary Kas Bersih Yang Diperoleh Dari (Digunakan Untuk) Aktivitas Pendanaan ( ) Net Cash Provided by (Used in) Financing Activities KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN NET INCREASE (DECREASE) IN CASH AND SETARA KAS ( ) CASH EQUIVALENTS CASH AND CASH EQUIVALENTS KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN AT BEGINNING OF YEAR Pengaruh perubahan kurs mata uang asing ( ) ( ) Effects of foreign exchange rate changes CASH AND CASH EQUIVALENTS KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN AT END OF YEAR Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian. See accompanying notes to consolidated financial statements which are an integral part of the consolidated financial statements
132 DAN 2011 AND UMUM 1. GENERAL a. Pendirian dan Informasi Umum a. Establishment and General Information PT. Indika Energy Tbk ( Perusahaan ), didirikan berdasarkan akta notaris No. 31 tanggal 19 Oktober 2000 dari Hasanal Yani Ali Amin, SH, notaris di Jakarta. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam surat keputusannya No. C HT TH.2001 tanggal 18 Oktober 2001 serta diumumkan dalam Berita Negara No. 53, Tambahan No tanggal 2 Juli Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir berdasarkan (i) akta notaris No. 232 tanggal 26 Juni 2009 dari Sutjipto, SH, notaris di Jakarta, mengenai perubahan anggaran dasar Perusahaan untuk disesuaikan dengan ketentuan Bapepam-LK No. IX.J.1 tentang Pokok-pokok Anggaran Dasar Perseroan yang Melakukan Penawaran Umum Efek Bersifat Ekuitas dan Perusahaan Publik. Perubahan tersebut telah dilaporkan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada bulan September 2009, (ii) akta notaris No. 11 tanggal 14 Juni 2012 dari Andalia Farida,SH, MH, notaris di Jakarta, mengenai pelaksanaan Program Pemilikan Saham Karyawan dan Manajemen (EMSOP) atas saham Perusahaan dengan mengeluarkan saham baru Perusahaan sebanyak 2 persen (%) dari seluruh modal yang disetor dan ditempatkan Perusahaan serta memberikan kewenangan kepada Dewan Komisaris Perusahaan dalam pelaksanaannya sehingga modal disetor Perseroan meningkat dari Rp (setara dengan US$ ) menjadi Rp (setara dengan US$ ). Perubahan tersebut telah dilaporkan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat No. AHU AH tanggal 9 Juli 2012, (iii) akta notaris No. 14 tanggal 14 Juni 2012 dari Andalia Farida,SH, MH, notaris di Jakarta, atas perubahan pasal 14 dan 17 mengenai masa jabatan Direksi dan Dewan Komisaris serta perubahan susunan Dewan Komisaris. Akta perubahan ini telah diterima dan dicatat di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat No. AHU AH tanggal 22 Nopember PT. Indika Energy Tbk (the Company ) was established based on notarial deed No. 31 dated October 19, 2000 of Hasanal Yani Ali Amin, SH, public notary in Jakarta. The deed of establishment was approved by the Minister of Justice and Human Rights of the Republic of Indonesia in his decision letter No. C HT TH.2001 dated October 18, 2001, and was published in State Gazette No. 53, Supplement No dated July 2, The Company's articles of association have been amended several times, most recently by (i) notarial deed No. 232 dated June 26, 2009 of Sutjipto, SH, notary in Jakarta, to conform with Bapepam-LK s Rule No. IX.J.1 pertaining to the Main Articles of Association of Entity that undertakes Public Offering of Equity Securities and Public Entity. Such change was reported to the Minister of Law and Human Rights of the Republic of Indonesia in September 2009, (ii) notarial deed No. 11 dated June 14, 2012 of Andalia Farida, SH, MH, notary in Jakarta, regarding the implementation of Employee and Management Stock Option Program (EMSOP) for Company s shares by issuing new shares amounting to 2 percent (%) from total paid-up capital and to grant authority to the Board of Commisioners to exercise the increase in the Company s paid-up so that the paid up capital increase from Rp 520,714,200,000 (equivalent to US$ 56,856,461) to Rp 521,019,200,000 (equivalent to US$ 56,892,154). Such change was reported to the Minister of Law and Human Rights of the Republic of Indonesia with letter No. AHU AH dated July 9, 2012, (iii) notarial deed No. 14 dated June 14, 2012 of Andalia Farida, SH, MH, notary in Jakarta, pertaining to changes to articles 14 and 17 concerning the terms of service of the Directors and Board of Commissioners and changes in the Board of Commissioners. The changes were received and recorded in the Department of Law and Human Rights of the Republic of Indonesia through letter No. AHU AH dated November 22,
133 Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan terutama meliputi bidang perdagangan, pembangunan, pertambangan, pengangkutan dan jasa. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, Perusahaan dan entitas anak mempunyai karyawan masing-masing sebanyak 7.091, dan karyawan. Perusahaan berdomisili di Jakarta, dengan kantor pusatnya berlokasi di Gedung Mitra, Lantai 7, Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 21, Jakarta. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, susunan pengurus Perusahaan adalah sebagai berikut: In accordance with article 3 of the Company s articles of association, the scope of its activities are mainly to engage in trading, construction, mining, transportation and services. The Company started its commercial operations in As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the Company and its subsidiaries had 7,091, 5,052 and 4,288 employees, respectively. The Company is domiciled in Jakarta, and its head office is located at Mitra Building, 7 th Floor, Jl. Jendral Gatot Subroto Kav. 21, Jakarta. At December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the Company s management consisted of the following: 31 Desember/December 31, 2012 Komisaris Utama : Wiwoho Basuki Tjokronegoro : President Commissioner Wakil Komisaris Utama : Agus Lasmono : Vice President Commissioner Komisaris : Indracahya Basuki : Commissioner Komisaris Independen : Anton Wahjo Soedibjo : Independent Commissioners Dedi Aditya Sumanagara Direktur Utama : M. Arsjad Rasjid P.M. : President Director Wakil Direktur Utama : Wishnu Wardhana : Vice President Director Direktur Operasi Sumber Daya Energi : Richard Bruce Ness : Operational Director of Energy Resources Direktur Operasi Jasa Energi : Ir. Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo : Operational Director of Energy Services Direktur Operasi Infrastruktur Energi : Eddy Junaedy Danu : Operational Director of Energy Infrastructure Direktur Pengembangan Usaha : Ir. Pandri Prabono-Moelyo : Director of Business Development Direktur Keuangan dan Akuntansi (Tidak Terafiliasi) : Azis Armand : Finance and Accounting Director (Unaffiliated) 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/December 31, Desember/December 31, 2010 Komisaris Utama : Wiwoho Basuki Tjokronegoro Wiwoho Basuki Tjokronegoro : President Commissioner Wakil Komisaris Utama : Agus Lasmono Agus Lasmono : Vice President Commissioner Komisaris : Indracahya Basuki Indracahya Basuki : Commissioner Komisaris Independen : Anton Wahjo Soedibjo Anton Wahjo Soedibjo : Independent Commissioners Muhammad Chatib Basri Muhammad Chatib Basri Dedi Aditya Sumanagara Dedi Aditya Sumanagara Direktur Utama : M. Arsjad Rasjid P.M. M. Arsjad Rasjid P.M. : President Director Wakil Direktur Utama : Wishnu Wardhana Wishnu Wardhana : Vice President Director Direktur Operasi Sumber Daya Energi : Richard Bruce Ness Richard Bruce Ness : Operational Director of Energy Resources Direktur Operasi Jasa Energi : Ir. Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo Ir. Pandri Prabono-Moelyo : Operational Director of Energy Services Direktur Operasi Infrastruktur Energi : Eddy Junaedy Danu Ir. Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo : Operational Director of Energy Infrastructure Direktur Pengembangan Usaha : Ir. Pandri Prabono-Moelyo - : Director of Business Development Direktur Hubungan Korporasi : - Eddy Junaedy Danu : Director of Corporate Affairs Direktur Keuangan dan Akuntansi (Tidak Terafiliasi) : Azis Armand Azis Armand : Finance and Accounting Director (Unaffiliated) Susunan ketua dan anggota komite audit pada tanggal tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 adalah sebagai berikut: The chairman and members of the audit committee at December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010 are as follows: 31 Desember/December 31, 2012, 2011 dan/and 1 Januari/January 1, 2011/31 Desember/December 31, 2010 Ketua : Anton Wahjo Soedibjo : Chairman Anggota : Deddy Hariyanto : Members Maringan Purba Sibarani - 9 -
134 b. Entitas Anak b. Subsidiaries Perusahaan secara langsung atau tidak langsung memiliki lebih dari 50% saham entitas anak berikut: The Company has ownership interest of more than 50%, directly or indirectly, in the following subsidiaries: Persentase Kepemilikan/ Percentage of Ownership Jumlah Laba (Rugi) Bersih 1 Januari/ January 1, Jumlah Aset Sebelum Eliminasi/ Sebelum Eliminasi/ Total Net Income (Loss) Tahun Operasi 2011/ Total Assets Before Elimination Before Elimination Komersial/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ Entitas Anak/ Domisili/ Jenis Usaha/ Start of Commercial December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, Subsidiary Domicile Nature of Business Operations PT Indika Inti Corpindo (IIC) dan entitas anak/ Jakarta/ Investasi dan perdagangan umum/ ,99% 99,99% 99,99% and subsidiaries Jakarta Investment and general trading Asia Prosperity Coal B.V. (APC) *) Belanda/ Pembiayaan/ ,99% 99,99% 99,99% (52.428) (60.937) Netherlands Financing PT Citra Indah Prima (CIP) dan entitas anak/ Jakarta/ Investasi/ Dalam tahap pengembangan/ 99,92% 99,92% 99,92% (77.656) ( ) and subsidiaries *) Jakarta Investment Under development stage PT Sindo Resources (SR) *) Jakarta/ Pertambangan/ Dalam tahap pengembangan/ 89,93% 89,93% 89,93% (55.584) Jakarta Mining Under development stage PT Melawi Rimba Minerals (MRM) *) Jakarta/ Pertambangan/ Dalam tahap pengembangan/ 89,93% 89,93% 89,93% (58.659) Jakarta Mining Under development stage Indika Capital Pte. Ltd. (ICPL) dan entitas anak/ Singapura/ Pemasaran dan investasi/ ,99% 99,99% 99,99% ( ) ( ) and subsidiary *) Singapore Marketing and investment Indika Capital Resources Limited (ICRL) *) Kepulauan Virgin Britania/ Pembiayaan/ ,99% 99,99% 99,99% ( ) ( ) British Virgin Islands Financing PT Indika Indonesia Resources dan entitas anak/ Jakarta/ Pertambangan dan perdagangan dasar/ Dalam tahap pengembangan/ 100% 100% ( ) ( ) and subsidiaries Jakarta Mining and trading Under development stage PT. Mitra Energi Agung *) Kalimantan Timur/ Pertambangan Batubara/ Dalam tahap pengembangan/ 60% ( ) - East Kalimantan Coal Mining Under development stage Indika Capital Investments Pte. Ltd *) Singapura/ Perdagangan batubara dan mineral Dalam tahap pengembangan/ 100% ( ) - Singapore serta perdagangan umum/ Under development stage Coal and mineral trading and general trading activities
135 Persentase Kepemilikan/ Percentage of Ownership Jumlah Laba (Rugi) Bersih 1 Januari/ January 1, Jumlah Aset Sebelum Eliminasi/ Sebelum Eliminasi/ Total Net Income (Loss) Tahun Operasi 2011/ Total Assets Before Elimination Before Elimination Komersial/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ Entitas Anak/ Domisili/ Jenis Usaha/ Start of Commercial December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, Subsidiary Domicile Nature of Business Operations PT Multi Tambangjaya Utama *) Kalimantan Tengah/ Pertambangan Batubara/ % ( ) - Central Kalimantan Coal Mining PT Indika Multi Energi dan entitas anak/ Jakarta/ Perdagangan, pembangunan, perindustrian, Dalam tahap pengembangan/ 100% and subsidiary Jakarta pertanian, percetakan,perbengkelan, Under development stage pengangkutan dan jasa/trading, development, industrial, agriculture, printing, workshop, shipping and services PT Indika Multi Daya Energi *) Jakarta/ Perdagangan, pembangunan, jasa, Dalam tahap pengembangan/ 100% Jakarta perbengkelan, perindustrian, Under development stage pengangkutan, percetakan, dan pertanian/ Trading, development, services, workshop, industrial, shipping, printing and agriculture PT Tripatra Engineers and Constructors (TPEC) Jakarta/ Jasa konsultasi, konstruksi, bisnis, % 100% 100% dan entitas anak/and subsidiaries Jakarta perdagangan dan industri/ Provision of consultancy services, construction business and trading Tripatra (Singapore) Pte. Ltd (TS) *) Singapura/ Investasi/ % 100% 100% ( ) Singapore Investment Tripatra Investment Limited (TRIL) *) Kepulauan Investasi/ % 100% 98,55% (8.043) Virgin Britania/ Investment British Virgin Islands PT Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) *) Timika, Irian Jaya/ Pengelolaan pelabuhan/ ,55% 98,55% 98,55% Timika, Irian Jaya Port operation PT Tripatra Engineering (TPE) Jakarta/ Jasa konsultasi untuk bidang % 100% 100% Jakarta bidang konstruksi, industri dan infrasruktur/ Consultation services for construction, industry and infrastructure
136 Persentase Kepemilikan/ Percentage of Ownership Jumlah Laba (Rugi) Bersih 1 Januari/ January 1, Jumlah Aset Sebelum Eliminasi/ Sebelum Eliminasi/ Total Net Income (Loss) Tahun Operasi 2011/ Total Assets Before Elimination Before Elimination Komersial/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ Entitas Anak/ Domisili/ Jenis Usaha/ Start of Commercial December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, Subsidiary Domicile Nature of Business Operations PT Petrosea Tbk dan entitas anak/ Jakarta/ Rekayasa, kontruksi, pertambangan ,80% 98,55% 98,55% and subsidiaries Jakarta dan jasa lainnya/ Engineering, construction, mining and other services PTP Investments Pte. Ltd. *) Singapura/ Investasi/ Tidak aktif/ 69,80% 98,55% 98,55% (3.502) ( ) Singapore Investment Dormant PT Petrosea Kalimantan (PTPK) *) Balikpapan/ Perdagangan dan jasa kontraktor/ Dalam tahap pengembangan/ 69,80% 98,35% 98,35% (2.836) 338 Balikpapan Trading and contractor Under development stage PT POSB Infrastructure Kalimantan (PTPIK) *) Balikpapan/ Pengelolaan pelabuhan khusus/ Dalam tahap pengembangan/ 69,80% 98,35% 98,35% (2.836) 338 Balikpapan Special port management Under development stage PT Indika Power Investments Pte. Ltd., Singapura/ Investasi/ % 100% 100% Singapore (IPI) Singapore Investment PT Indika Infrastruktur Investindo (III) Jakarta/ Investasi/ % 100% 100% Jakarta Investment PT Indika Energy Infrastructure (IEI) Jakarta/ Perdagangan, pembangunan % 100% 100% dan entitas anak/and subsidiaries Jakarta dan jasa/trading, development and services PT LPG Distribusi Indonesia (LDI) Jakarta/ Perdagangan, perindustrian, % 100% 100% (6.312) (66.746) dan entitas anak/and subsidiaries *) Jakarta pertambangan dan jasa/trading, industry, mining and services PT Wahida Arta Guna Lestari *) Tasikmalaya/ Pengoperasian stasiun pengisian % 100% 100% Tasikmalaya dan pengangkutan bahan bakar elpiji (SPPBE)/Operations of Station for Gas Filling and Delivery (SPPBE)
137 Persentase Kepemilikan/ Percentage of Ownership Jumlah Laba (Rugi) Bersih 1 Januari/ January 1, Jumlah Aset Sebelum Eliminasi/ Sebelum Eliminasi/ Total Net Income (Loss) Tahun Operasi 2011/ Total Assets Before Elimination Before Elimination Komersial/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ Entitas Anak/ Domisili/ Jenis Usaha/ Start of Commercial December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, Subsidiary Domicile Nature of Business Operations PT Satya Mitra Gas *) Semarang/ Pengoperasian stasiun pengisian % 100% 100% (87.859) ( ) Semarang bahan bakar elpiji (SPBE)/Operations of Station for Gas Filling (SPBE) PT Jati Warna Gas Utama *) Jakarta/ Pengoperasian stasiun pengisian Dalam tahap pengembangan/ 100% 100% Jakarta dan pengangkutan bahan bakar Under development stage elpiji (SPPBE)/Operations of station for Gas Filling and Delivery (SPPBE) PT Indika Logistic & Support Services *) Jakarta/ Pengelolaan pelabuhan/ % 100% 100% ( ) (71.189) Jakarta Port operation PT Indika Multi Energi Internasional *) Jakarta/ Perdagangan, pembangunan, Dalam tahap pengembangan/ 100% Jakarta perindustrian, pertanian, percetakan, Under development stage perbengkelan, pengangkutan dan jasa/ Trading, development, industrial, agriculture, printing,workshop, shipping and services PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk Jakarta/ Pelayaran dan pelayaran samudera % 51% dan entitas anak/and subsidiaries *) Jakarta angkutan laut, penyewaan kapal laut, agen perkapalan perusahaan pelayaran penyewaan peralatan pelayaran/ Shipping services, ship rental, shipping bereau and shipping equipment rental and overseas shipping PT Mitra Hartono Sejati **) Jakarta/ Pelayaran/ Dalam tahap pengembangan/ 25,50% 25,50% ( ) ( ) Jakarta Shipping Under development stage PT Mitra Swire CTM **) Jakarta/ Pelayaran/ ,46% 50,46% Jakarta Shipping
138 Persentase Kepemilikan/ Percentage of Ownership Jumlah Laba (Rugi) Bersih 1 Januari/ January 1, Jumlah Aset Sebelum Eliminasi/ Sebelum Eliminasi/ Total Net Income (Loss) Tahun Operasi 2011/ Total Assets Before Elimination Before Elimination Komersial/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ Entitas Anak/ Domisili/ Jenis Usaha/ Start of Commercial December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, Subsidiary Domicile Nature of Business Operations Mitra Bahtera Segarasejati Pte. Ltd. **) Singapura/ Pelayaran/ Dalam tahap pengembangan/ 51% 51% ( ) ( ) Singapore Shipping Under development stage Mitra Jaya Offshore **) Jakarta/ Pelayaran/ Dalam tahap pengembangan/ 26,01% 26,01% (82.309) (1.254) Jakarta Shipping Under development stage PT Mitra Alam Segara Sejati **) Jakarta/ Pelayaran/ % Jakarta Shipping Indo Integrated Energy B.V. (IIE BV) Belanda/ Pembiayaan/ % 100% 100% Netherlands Financing Indo Integrated Energy II BV (IIE II BV) Kepulauan Virgin Britania/ Pembiayaan/ % 100% 100% British Virgin Islands Financing Indo Energy Finance BV dan entitas anak/ Belanda/ Pembiayaan/ % 100% ( ) (19.807) and subsidiary Netherlands Financing Indo Energy Capital BV *) Belanda/ Pembiayaan/ % 100% Netherlands Financing Indo Energy Finance II BV dan entitas anak/ Belanda/ Pembiayaan/ % and subsidiary Netherlands Financing Indo Energy Capital II BV *) Belanda/ Pembiayaan/ % Netherlands Financing *) Pemilikan tidak langsung **) Pemilikan tidak langsung melalui MBSS *) Indirect ownership **) Indirectly acquired through MBSS
139 Tahun 2012 Year 2012 a. Pada tanggal 14 Desember 2012, PT Indika Multi Energi (IME) dan IEI mendirikan PT Indika Multi Daya Energi (IMDE) yang bergerak dalam bidang perdagangan, pembangunan, jasa, perbengkelan, perindustrian, pengangkutan, percetakan dan pertanian. b. Pada tanggal 10 Desember 2012, Perusahaan mendirikan Indo Energy Finance II B.V (IEFBV II). Pada tanggal yang sama, Perusahaan melalui IEFBV II, kemudian mendirikan Indo Energy Capital II B.V (IECBV II) dan dimiliki sepenuhnya oleh IEFBV II. IEFBV II dan IECBV II berdomisili di Belanda dan didirikan sehubungan dengan penerbitan Senior Notes senilai US$ 500 juta pada bulan Januari 2013 (Catatan 55). c. Pada tanggal 29 Oktober 2012, Perusahaan dan IEI mendirikan IME yang bergerak dalam bidang perdagangan, pembangunan, perindustrian, pertanian, percetakan, perbengkelan, pengangkutan dan jasa. d. Pada tanggal 17 September 2012, IIC dan IEI mendirikan PT Indika Multi Energi Internasional (IMEI) yang bergerak dalam bidang perdagangan, pembangunan, perindustrian, pertanian, percetakan, perbengkelan, pengangkutan dan jasa. e. Pada tanggal 25 Mei 2012, PT Indika Indonesia Resouces (IIR) telah efektif membeli dan memiliki 85% kepemilikan di PT Multi Tambangjaya Utama (MTU) dari Asia Thai Mining Company Limited (ATM) dan Christien Kurniawan. MTU adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara dengan Ijin Perjanjian Kerjasama (CCOW) yang terletak di Barito, Kalimantan Tengah. Akuisisi tersebut adalah sebagai bagian dari strategi kelompok untuk mengembangkan bisnisnya dalam segmen sumber daya energi. Perjanjian Jual Beli (PJB) antara IIR dan ATM mengharuskan kedua pihak membuat rekening escrow sejumlah US$ 15 juta yang akan digunakan ketika terdapat klaim dari IIR kepada ATM dalam waktu 12 bulan setelah penyelesaian semua kondisi sesuai dengan PJB. a. On December 14, 2012, PT Indika Multi Energi (IME) and IEI established PT Indika Multi Daya Energi (IMDE), which will be engaged in activities covering trading, development, services, workshop, industrial, shipping, printing and agriculture. b. On December 10, 2012, the Company established Indo Energy Finance II B.V (IEFBV II). On the same date, the Company, through IEFBV II, established Indo Energy Capital II B.V (IECBV II), a wholly owned subsidiary by IEFBV II. IEFBV II and IECBV II are domiciled in the Netherlands and were established in relation to the issuance of Senior Notes with face value of US$ 500 million in January 2013 (Note 55). c. On October 29, 2012, the Company and IEI established IME, which will be engaged in activities covering trading, development, industrial, agriculture, printing, workshop, shipping and services. d. On September 17, 2012, IIC and IEI established PT Indika Multi Energi Internasional (IMEI), which will be engaged in activities covering trading, development, industrial agriculture, printing, workshop, shipping and services. e. On May 25, 2012, PT Indika Indonesia Resouces (IIR) has effectively purchased and owned 85% ownership in PT Multi Tambangjaya Utama (MTU) from Asia Thai Mining Company Limited (ATM) and Christien Kurniawan. MTU is engaged in mining activities under the Coal Contract of Work (CCOW) located in Barito, Central Kalimantan. Such acquisition is as part of the group's strategy to develop its business in energy resources segment. The Sale and Purchase Agreement (SPA) between IIR and ATM required both parties to set up escrow account of US$ 15 million to be applied against all claims made by IIR to ATM within 12 months after the completion of all conditions precedent under the SPA
140 Bersamaan dengan pembelian saham MTU tersebut, Perusahaan melalui Indika Capital Pte. Ltd., Singapore (ICPL) juga mengadakan perjanjian Distribution Rights and Obligations Sale and Purchase Agreement dengan International Coal Trading Limited (ICTL) dimana ICPL setuju untuk mengakuisisi hak distribusi milik ICTL sesuai perjanjian yang sebelumnya dibuat antara ICTL dan MTU untuk memperjualbelikan batubara milik MTU di Kalimantan Tengah. Berdasarkan perjanjian tersebut, kedua pihak menyetujui pembayaran setelah penyelesaian sebesar US$ 8 juta yang terutang oleh ICPL kepada ICTL pada saat penjualan dan pengiriman metrik ton pertama dari jumlah produksi batubara yang dihasilkan wilayah kerja pertambangan di bawah CCOW atau pada tanggal 30 Nopember 2013, mana yang lebih dahulu. Pembayaran setelah penyelesaian tersebut menjadi subyek penyesuaian harga pembelian, yang disetujui ICPL dan ICTL, di antaranya penyesuaian terhadap aset bersih MTU, ketersediaan beberapa peralatan tambang dan kemungkinan penyesuaian harga pembelian lain, dimana sampai dengan tanggal 31 Desember 2012 masih dalam tahap negosiasi, sehingga jumlah untuk akuisisi MTU bersifat sementara. Biaya terkait akuisisi sebesar US$ telah diakui sebagai beban pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian tahun Kepentingan non-pengendali (15%) yang diakui pada tanggal akuisisi diukur pada bagian pemilikan kepentingan nonpengendali dari nilai wajar aset bersih yang dapat diidentifikasi dari pihak yang diakuisisi. Akuisisi ini dipertanggungjawabkan dengan metode pembelian berdasarkan nilai wajar bersih aset MTU. Penilaian aset tetap, aset tidak berwujud yang dapat diidentifikasi dan aset tidak lancar tertentu lainnya dilakukan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Stefanus Tonny Hardi & Rekan, penilai independen, berdasarkan laporan yang diterbitkan tanggal 24 Oktober Simultaneous with the purchase of the above MTU s shares, the Company through Indika Capital Pte. Ltd., Singapore (ICPL) also entered into Distribution Rights and Obligations Sale and Purchase Agreement with International Coal Trading Limited (ICTL), whereby ICPL agreed to acquire ICTL s rights under a distribution agreement previously entered between ICTL and MTU for a sale and purchase of coal from MTU s mine in Central Kalimantan. Based on the above Distribution Rights and Obligations Sale and Purchase Agreement, both parties agreed that there will be post-completion payment of US$ 8 million, payable by ICPL to ICTL following the sale and delivery of the first 500,000 metric tons in aggregate of coal produced from the working area under the CCOW or on November 30, 2013, whichever is earlier. Such postcompletion payment is subject to certain purchase price adjustments, to be further agreed between ICPL and ICTL, amongst them are adjustments on the net assets of MTU, availability of certain mine equipment and some other possible purchase price adjustments that are still under discussion as of December 31, 2012, thus the amounts for MTU acquisition are provisional. Costs related to acquisition amounting to US$ 1,594,586 were recognized as expenses in the 2012 consolidated statements of comprehensive income. The non-controlling interest (15%) recognized at acquisition date was measured at the non-controlling interest's proportionate shares of the fair value of the acquiree's identifiable net asset. This acquisition was accounted for using the purchase method based on the fair value of the net assets of MTU. Valuation of property, plant and equipment, identifiable intangible assets and some other noncurrent assets were determined by Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Stefanus Tonny Hardi & Rekan, an independent appraiser, based on its report dated October 24,
141 e.1. Nilai wajar aset bersih MTU yang diakuisisi adalah sebagai berikut: e.1. Fair value of the net assets of MTU acquired is as follows: Aset lancar Current assets Aset tetap Property, plant and equipment Aset tidak berwujud Intangible assets Aset tidak lancar lainnya Other non-current assets Liabilitas pajak tangguhan ( ) Deferred tax liability Liabilitas lancar ( ) Current liabilities Liabilitas tidak lancar ( ) Non-current liabilities Aset bersih Net Assets US$ Aset lancar termasuk piutang usaha sebesar nihil pada tanggal akusisi. e.2. Goodwill atas akuisisi MTU ditentukan sebagai berikut: e.2. Current assets include trade accounts receivable of nil as of acquisition date. Goodwill from the acquisition of MTU is determined as follows: US$ Pembayaran kas untuk: Consideration paid in cash for: - Saham Shares - Hak pemasaran Distribution rights Kepentingan non-pengendali pada nilai wajar Non-controlling interest on the fair value aset yang diakusisi of net asset acquired Jumlah Total Nilai wajar aset bersih yang diakuisisi ( ) Fair value of the net assets acquired Goodwill Goodwill e.3. Arus kas keluar sehubungan dengan akuisisi adalah sebesar: e.3. Net cash out flow on the acquisition amounted to: US$ Pembayaran kas melalui utang bank Consideration paid in cash through bank loans Pembayaran di masa akan datang melalui escrow account Future settlement through escrow account Jumlah yang akan dibayar Total consideration paid Arus kas keluar bersih Net cash out flow of the acquisitions Kas dan setara kas diperoleh (27.750) Cash and cash equivalents acquired Arus kas keluar bersih Net cash out flow US$ Goodwill yang muncul atas kombinasi bisnis dikarenakan hak pengendali utama dan beberapa manfaat di masa mendatang dan aset tidak berwujud yang tidak memenuhi kriteria pengakuan atas aset tidak berwujud yang dapat diidentifikasi. Akuisisi MTU memberi kontribusi pendapatan sebesar nihil dan rugi bersih sebesar US$ pada laporan keuangan konsolidasian dari periode 25 Mei 2012 sampai dengan 31 Desember Goodwill arose in the business combination because of the control premium and certain future benefits and intangible assets that do not meet the recognition criteria for identifiable intangible assets. The acquisition of MTU contributed revenue of nil and net loss of US$ 16,884,025 to the consolidated financial statements for the period from May 25, 2012 to December 31,
142 f. Pada tanggal 8 Mei 2012, IIR mendirikan Indika Capital Investments Pte. Ltd., (ICI) yang bergerak dalam bidang perdagangan batubara dan mineral serta perdagangan umum. g. Pada tanggal 21 Maret 2012, PT Indika Indonesia Resources (IIR) menandatangani akta jual beli saham dan closing memorandum dengan Pacific Emperor Holdings Limited ( Pacific ) dimana IIR telah efektif membeli dan memiliki 60% kepemilikan di PT Mitra Energi Agung (MEA). MEA adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara dengan Ijin Usaha Pertambangan yang terletak di Kutai Timur - Kalimantan Timur. Akuisisi ini merupakan bagian dari strategi Perusahaan untuk mengembangkan bisnis di segmen sumber daya energi. Akuisisi ini dipertanggungjawabkan dengan metode pembelian berdasarkan nilai wajar bersih aset MEA. Penilaian aset tetap dan aset tidak berwujud yang dapat diidentifikasi dan aset tidak lancar tertentu lainnya dilakukan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Stefanus Tonny Hardi & Rekan, penilai independen, berdasarkan laporan yang diterbitkan tanggal 31 Januari g.1. Nilai wajar aset bersih MEA yang diakuisisi adalah sebagai berikut: f. On May 8, 2012, IIR established Indika Capital Investments Pte. Ltd., (ICI) which will be engaged in coal and mineral trading and general trading activities. g. On March 21, 2012, PT Indika Indonesia Resources (IIR) has signed share sales and purchase agreement and closing memorandum with Pacific Emperor Holdings Limited ( Pacific ) wherein IIR has effectively purchased and owned 60% ownership in PT Mitra Energi Agung (MEA). MEA is engaged in business of mining activities under the Company Mining Coal Exploration Permit located in East Kutai - East Kalimantan. This acquisition is part of the group s strategy to develop its business in energy resources segment. This acquisition was accounted for using the purchase method based on the fair value of the net assets of MEA. Valuation of property, plant and equipment and identifiable intangible assets and some other non-current assets were determined by Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Stefanus Tonny Hardi & Rekan, an independent appraiser, based on its report dated January 31, g.1. The fair value of the net assets of MEA acquired are as follows: Aset lancar Current assets Aset tetap Property, plant and equipment Aset tidak berwujud Intangible assets Aset tidak lancar lainnya Other non-current assets Liabilitas pajak tangguhan ( ) Deferred tax liability Liabilitas lancar ( ) Current liabilities Liabilitas tidak lancar ( ) Non-current liabilities Aset bersih Net Assets US$ Aset lancar termasuk piutang usaha sebesar nihil pada tanggal akusisi. g.2. Goodwill atas akuisisi MEA ditentukan sebagai berikut: Current assets include trade accounts receivable of nil as of acquisition date. g.2. Goodwill from the acquisition of MEA is determined as follows: US$ Pembayaran dengan kas Consideration paid in cash Kepentingan non-pengendali pada nilai Non-controlling interest on the fair value of wajar aset yang diakuisisi net assets acquired Jumlah Total Nilai wajar aset bersih yang diakuisisi ( ) Fair value of net assets acquired Goodwill negatif ( ) Negative goodwill
143 IIR mengakui goodwill negatif sebesar US$ sebagai keuntungan pembelian dengan diskon dicatat di laporan laba rugi komprehensif tahun 2012, dimana manajemen berpendapat bahwa keuntungan atas pembelian tersebut terutama berasal dari biaya akuisisi yang dibayar lebih rendah dibandingkan dengan manfaat ekonomi di masa mendatang atas mining right yang dimiliki MEA sedangkan investasi masa akan datang dan pengeluaran modal masih dibutuhkan untuk pengembangan MEA yang saat diakuisisi masih dalam bentuk lapangan tua (brownfield). g.3. Arus kas keluar sehubungan dengan akuisisi adalah sebesar: US$ IIR recognized negative goodwill of US$ 2,671,578 as bargain purchase gain directly in the 2012 consolidated statements of comprehensive income. Management believes that such bargain purchase gain was mainly due to the lower acquisition cost paid as compared to the expected future economic benefit from the mining rights owned by MEA, while future investments and capital expenditures are still required to develop MEA which was acquired as brownfield. g.3. Net cash out flow on the acquisition amounted to: Penyelesaian biaya perolehan Settlement of acquisition cost Arus kas keluar bersih Net cash out flow of the acquisition Kas dan setara kas diperoleh ( ) Cash and cash equivalents acquired Arus kas keluar bersih Net cash out flow US$ Akuisisi MEA memberi kontribusi pendapatan sebesar nihil dan rugi bersih sebesar US$ pada laporan keuangan konsolidasian dari periode 21 Maret 2012 sampai dengan 31 Desember Biaya terkait akuisisi sebesar US$ telah diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian tahun Kepentingan non-pengendali (40%) yang diakui pada saat tanggal akuisisi diukur pada bagian pemilikan kepentingan nonpengendali dari nilai wajar aset bersih yang dapat diindentifikasi dari pihak yang diakuisisi. h. Untuk memenuhi Peraturan BAPEPAM-LK tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka, Perusahaan telah melakukan pengalihan kembali saham-saham Petrosea yang dimiliki oleh Perusahaan kepada masyarakat sebesar saham atau mewakili 25% dari total saham yang telah ditempatkan Petrosea. Surat tersebut juga menyatakan, Citigroup Global Markets Limited dan Macquarie Capital (Singapore) Pte. Limited, selaku pembeli awal, mendapatkan opsi untuk membeli sahamsaham tambahan Perseroan sebanyak saham. Opsi tersebut telah dilaksanakan pada tanggal 24 Pebruari The acquisition of MEA contributed revenue of nil and net loss of US$ 172,886 on the consolidated financial statements for the period from March 21, 2012 to December 31, Acquisition-related costs amounting to US$ 111,675 were recognized as expenses in the 2012 consolidated statements of comprehensive income. The non-controlling interest (40%) recognized at acquisition date was measured at the non-controlling interest s proportionate shares of the fair value of the acquiree s indentifiable net assets. h. To comply with the BAPEPAM-LK s regulations regarding Public Company Take-Over, the Company has refloated to the public 25,125,000 shares representing 25% of Petrosea s issued shares. The Letter also stated that Citigroup Global Markets Limited and Macquarie Capital (Singapore) Pte. Limited, as initial purchasers, have an option to buy additional shares of Petrosea with a maximum of 3,782,000 shares. The option was exercised on February 24,
144 Penerimaan atas re-floating saham - bersih Proceeds from shares re-floating - net Nilai tercatat atas investasi ( ) Carrying amount of investment Ekuitas lainnya Other equity US$ i. Pada tanggal 27 Januari 2012, MBSS membeli 600 lembar saham (60%) kepemilikan PT Usama Adhi Sejahtera (UAS) dengan total harga US$ (setara dengan Rp ). Pada bulan Maret 2012, UAS berganti nama menjadi PT Mitra Alam Segara Sejati dan saat ini telah beroperasi. i. On January 27, 2012, MBSS acquired 600 shares (60% share ownership) of PT Usama Adhi Sejahtera (UAS) for a total price of US$ 23,385 (equivalent to Rp 210,000,000). In March 2012, UAS changed its name to become PT Mitra Alam Segara Sejati and commenced its commercial operations. Tahun 2011 Year 2011 a. Indo Energy Capital BV (IEC BV) dan Indo Energy Finance BV (IEF BV) didirikan sehubungan dengan penerbitan Senior Notes senilai US$ 115 juta dan exchange offer obligasi sebesar US$ 185 juta pada tahun 2011 (Catatan 31). b. Sesuai dengan ketentuan dalam Perjanjian Opsi pada tanggal 26 Nopember 2010 dan diamandemen dengan perjanjian tanggal 18 Pebruari 2011 maka pada tanggal 6 April 2011, Perusahaan, melalui IEI, menggunakan hak call option-nya untuk membeli saham, yang merupakan 51% kepemilikan di MBSS, dengan harga beli US$ 0,19 (ekuivalen Rp 1.630) per saham atau dengan total harga pembelian sebesar US$ Akuisisi ini merupakan bagian dari strategi Perusahaan untuk mengembangkan bisnis dari segmen energi infrastruktur dan untuk melengkapi end to end operations dari Perusahaan terkait alur batubara. Akuisisi ini dipertanggungjawabkan dengan metode pembelian berdasarkan nilai wajar aset bersih MBSS. Penilaian aset tetap, properti investasi dan aset tidak berwujud yang dapat diidentifikasi dilakukan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Stefanus Tonny Hardi & Rekan, penilai independen, berdasarkan laporan yang diterbitkan tanggal 15 Juli a. Indo Energy Capital BV (IEC BV) and Indo Energy Finance BV (IEF BV) were established in relation to the issuance of Senior Notes with face value of US$ 115 million and exchange offer of Notes of US$ 185 million in 2011 (Note 31). b. Pursuant to the terms of the Option Agreement dated November 26, 2010, as amended by agreement dated February 18, 2011, on April 6, 2011, the Company, through IEI, exercised its call option to purchase 892,513,586 shares which constituted 51% of ownership in MBSS at US$ 0.19 (equivalent to Rp 1,630) per share or for a total consideration of US$ 168,165,200. The acquisition is part of the Company s strategy to develop its business in energy infrastructure segment and to complete the Company end-to-end operations along the coal value chain. The acquisition was accounted for using the purchase method based on the fair value of the net assets of MBSS. Valuation of property, plant and equipment, investment property and identifiable intangible assets were determined by Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Stefanus Tonny Hardi & Rekan, an independent appraiser, based on its report dated July 15,
145 b.1. Nilai wajar aset bersih MBSS yang diakuisisi adalah sebagai berikut: b.1. Fair value of the net assets of MBSS acquired is as follows: Aset lancar Current assets Aset tetap Property, plant and equipment Aset tidak berwujud Intangible assets Aset tidak lancar lainnya Other non-current assets Liabilitas pajak tangguhan ( ) Deferred tax liability Liabilitas lancar ( ) Current liabilities Liabilitas tidak lancar ( ) Non-current liabilities Aset bersih Net Assets US$ Aset lancar termasuk piutang usaha sebesar US$ pada tanggal akusisi. b.2. Goodwill dari akuisisi MBSS ditentukan sebagai berikut: Current assets include trade accounts receivable of US$ 16,142,885 as of acquisition date. b.2. Goodwill from the acquisition of MBSS is determined as follows: Pembayaran melalui utang bank Consideration paid through bank loans Kepentingan non-pengendali pada nilai wajar Non-controlling interest on the fair value of net assets acquired Jumlah Total Nilai wajar aset bersih yang diakuisisi ( ) Fair value of net assets acquired Goodwill Goodwill US$ b.3. Arus kas keluar sehubungan dengan akuisisi adalah sebagai berikut: b.3. Net cash out flows on the acquisition are as follows: Penyelesaian biaya perolehan Settlement of acquisition cost Utang bank (Catatan 25) Bank loans (Note 25) US$ US$ Arus kas keluar bersih sehubungan dengan akuisisi Net cash out flows of the acquisition Pembayaran melalui utang bank Consideration paid through bank loans Kas dan setara kas diperoleh ( ) Cash and cash equivalents acquired Arus kas keluar bersih Net cash out flow Goodwill yang muncul atas kombinasi bisnis dikarenakan hak pengendali utama dan beberapa manfaat di masa mendatang dan aset tidak berwujud yang tidak memenuhi kriteria pengakuan untuk aset tidak berwujud yang dapat diidentifikasi. Kontribusi MBSS sebesar US$ atas pendapatan dan US$ atas laba bersih untuk hasil konsolidasian periode 6 April 2011 sampai dengan 31 Desember Goodwill arose in the business combination because of the control premium and certain future benefits and intangible assets that do not meet the recognition criteria for identifiable intangible assets. MBSS contributed US$ 99,003,555 of net revenues and US$ 19,218,956 of net income to the consolidated result for the period from April 6, 2011 to December 31,
146 Biaya yang terjadi atas akusisi tersebut berjumlah US$ telah diakui sebagai beban pada tahun Kepentingan non-pengendali (49%) yang diakui pada tanggal diakuisisi diukur pada bagian pemilikan kepentingan non-pengendali dari nilai wajar aset bersih yang dapat diidentifikasi dari pihak yang diakuisisi. c. Pada bulan Maret 2011, Perusahaan bersama-sama dengan ICPL mendirikan PT Indika Indonesia Resources (IIR) yang bergerak dalam bidang pertambangan dan perdagangan. d. Pada tahun 2011, Perusahaan mendirikan PT Jati Warna Gas Utama (JGU) yang bergerak dalam bidang pengoperasian stasiun pengisian dan pengangkutan bahan bakar elpiji. Kepemilikan Perusahaan di IIC, TPE, TPEC, TS, IEC BV., IEF B.V., IEC II B.V., IEF II B.V., IIE II B.V. dan IIE B.V. dijadikan jaminan dengan hak prioritas utama atas utang obligasi (Catatan 31). Kepemilikan tidak langsung IIC atas SR dan MRM melalui CIP dijadikan jaminan kepada PT Intan Resource Indonesia (IRI) sesuai dengan perjanjian Assignment Agreement for Coal Marketing Rights antara IRI dan CIP (Catatan 51). Kepemilikan Perusahaan di IPI dijadikan jaminan atas fasilitas pinjaman yang diperoleh pihak berelasi (Catatan 49). c. Penawaran Umum Efek Perusahaan dan Entitas Anak Pada tanggal 2 Juni 2008, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dengan surat No. S-3398/BL/2008 untuk melakukan penawaran umum atas saham Perusahaan kepada masyarakat. Pada tanggal 11 Juni 2008 saham tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia. Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 seluruh saham Perusahaan atau sejumlah masing-masing ribu dan ribu dan ribu saham telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia. Costs related to the acquisition amounted US$ 115,344 were recognized as expenses in year The non-controlling interest (49%) recognized at acquisition date was measured at the non-controlling interest s proportionate shares of the fair value of the acquiree s identifiable net assets. c. In March 2011, the Company together with ICPL established PT Indika Indonesia Resources (IIR), which will be engaged in mining and trading activities. d. In 2011, the Company established PT Jati Warna Gas Utama (JGU) which will be engaged in operations of station for gas filling and transportation. The Company s ownership in IIC, TPE, TPEC, TS, IEC BV., IEF B.V., IEC II B.V., IEF II B.V., IIE II B.V. and IIE B.V. were used as security for the bonds payable on first priority basis (Note 31). IIC s indirect ownership in SR and MRM through CIP were pledged to PT Intan Resource Indonesia (IRI) as a result of the Assignment Agreement for Coal Marketing Right Agreement entered between IRI and CIP (Note 51). The Company s ownership in IPI was used as collateral in relation to a related party s loan facility (Note 49). c. Public Offering of Shares of the Company and its Subsidiaries On June 2, 2008, the Company obtained the notice of effectivity from the Chairman of the Capital Market and Financial Institution Supervisory Agency in his letter No. S-3398/BL/2008 for its public offering of 937,284,000 shares. On June 11, 2008, these shares were listed on the Indonesia Stock Exchange. As of December 31, 2012 and 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, all of the Company's outstanding shares, 5,210,192 thousand, 5,210,192 thousand and 5,207,142 thousand, respectively, were listed on the Indonesia Stock Exchange
147 d. Perubahan Mata Uang Pelaporan d. Change of Reporting Currency Sebelum 1 Januari 2012, mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyajian laporan keuangan konsolidasian adalah mata uang Rupiah. Sejak 1 Januari 2012, mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyajian laporan keuangan konsolidasian adalah mata uang Dollar Amerika Serikat yang diidentifikasi sebagai mata uang fungsional Perusahaan dan entitas anak berdasarkan lingkungan ekonomi utama dimana Perusahaan dan entitas anak beroperasi. Untuk tujuan penyajian laporan keuangan yang mata uang fungsionalnya Dollar Amerika Serikat, saldo awal laporan diukur kembali seolah-olah mata uang pelaporan telah digunakan ditahun-tahun sebelumnya, sesuai dengan PSAK 10 (revisi 2010), Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing. Pengukuran dilakukan sesuai dengan cara berikut: Aset dan liabilitas moneter diukur kembali dengan menggunakan kurs tanggal pelaporan; Aset dan liabilitas non-moneter serta modal saham diukur kembali dengan menggunakan kurs historis; Pos non-moneter yang diukur pada nilai wajar dalam mata uang asing dijabarkan menggunakan kurs pada tanggal ketika nilai wajar ditentukan; Pendapatan dan beban diukur kembali dengan menggunakan kurs rata-rata, kecuali untuk beban penyusutan aset tetap dan amortisasi aset non-moneter yang diukur kembali dengan menggunakan kurs historis aset yang bersangkutan; dan Perbedaan yang timbul dari pengukuran kembali di atas dicatat sebagai penyesuaian terhadap saldo laba pada tanggal 1 Januari 2010/31 Desember Sedangkan untuk entitas anak yang mata uang fungsionalnya bukan Dollar Amerika Serikat, maka pelaporan keuangan dijabarkan ke dalam mata uang penyajian (US$) dengan cara berikut: Aset dan liabilitias dijabarkan menggunakan kurs penutup pada tanggal pelaporan; Penghasilan dan beban dijabarkan menggunakan kurs rata-rata; dan Selisih yang timbul dari proses penjabaran tersebut disajikan sebagai pendapatan komprehensif lain. Prior to January 1, 2012, the reporting presentation currency used in the preparation of the consolidated financial statements was the Indonesian Rupiah. Starting January 1, 2012, the reporting presentation currency used in the preparation of the consolidated financial statements is the U.S. Dollar which is identified as the Company and its subsidiaries functional currency based on the Company and its subsidiaries primary economic environment where the Company and its subsidiaries operate. For reporting purposes of the Company and its subsidiaries whose functional currency is the U.S. Dollar, the beginning balances of the accounts were remeasured as if the reporting presentation currency has been used in prior years, in accordance with PSAK 10 (revised 2010), The Effects of Changes in Foreign Exchange Rates, the measurement are based on the following: Monetary assets and liabilities were translated using the prevailing rates at reporting date; Non-monetary assets and liabilities and capital stock were measured using the historical rates; Non-monetary items that are measured at fair value in a foreign currency were translated using the exchange rates at the date when the fair value was determined; Income and expense were remeasured using the average exchange rate, except for depreciation of property, plant and equipment and amortization of non-monetary assets, which were remeasured using the historical exchange rates of the underlying assets; and The remeasurement differences from application of the above procedures were recorded as an adjustment to the retained earnings at January 1, 2010/December 31, While for subsidiaries whose functional currency is not the U.S. Dollar, the financial statements were translated to the presentation currency (US$) based on the following: Assets and liabilities were translated using the prevailing rates at reporting date; Income and expenses were translated using the average exchange rate; and All resulting exchange differences were recognized in other comprehensive income
148 Ikhtisar laporan posisi keuangan konsolidasian pada tanggal 31 Desember 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 serta laporan laba rugi komprehensif konsolidasian untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2011 sebelum dan sesudah pengukuran kembali adalah sebagai berikut: The summary of the consolidated statements of financial position as of December 31, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010 and consolidated statements of comprehensive income for the year ended December 31, 2011 before and after the remeasurement are as follows: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember 2011/ 31 Desember 2010/ December 31, 2011 December 31, 2010 Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah pengukuran pengukuran pengukuran pengukuran kembali/ kembali/ kembali/ kembali/ Before After Before After remeasurement remeasurement remeasurement remeasurement Dalam Dalam Dolar Dalam Dalam Dolar jutaan Rupiah/ Amerika Serikat/ jutaan Rupiah/ Amerika Serikat/ In millions In United States In millions In United States of Rupiah Dollar *) of Rupiah Dollar *) ASET ASSETS ASET LANCAR CURRENT ASSETS Kas dan setara kas Cash and cash equivalents Aset keuangan lainnya Other financial assets Piutang usaha Trade accounts receivable Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga - bersih Third parties - net Piutang yang belum ditagih Unbilled receivables Selisih lebih estimasi pendapatan diatas Estimated earnings in excess of billings tagihan kemajuan kontrak on contracts Piutang lain-lain yang jatuh tempo dalam satu tahun Current maturities of other accounts receivable Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga Third parties Persediaan - bersih Inventories - net Pajak dibayar dimuka Prepaid taxes Aset lancar lainnya Other current assets Sub jumlah Sub total Aset tidak lancar dimiliki untuk dijual Noncurrent assets held for sale Jumlah Aset Lancar Total Current Assets ASET TIDAK LANCAR NONCURRENT ASSETS Piutang lain-lain setelah dikurangi bagian Other accounts receivable - net of yang jatuh tempo dalam satu tahun current maturities Pihak berelasi - bersih Related parties - net Pihak ketiga Third parties Klaim pengembalian pajak Claim for tax refund Aset pajak tangguhan Deferred tax assets Beban ditangguhkan Deferred expenditures Investasi pada entitas asosiasi Investments in associates Investasi pada pengendalian bersama entitas Investments in jointly-controlled entities Uang muka dan aset tidak lancar lainnya Advances and other noncurrent assets Properti investasi Investment property Aset tetap - bersih Property, plant and equipment - net Aset tidak berwujud Intangible assets Goodwill Goodwill Aset keuangan tidak lancar lainnya Other noncurrent financial assets Uang jaminan Refundable deposits Jumlah Aset Tidak Lancar Total Noncurrent Assets JUMLAH ASET TOTAL ASSETS *) disajikan kembali *) as restated
149 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember 2011/ 31 Desember 2010/ December 31, 2011 December 31, 2010 Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah pengukuran pengukuran pengukuran pengukuran kembali/ kembali/ kembali/ kembali/ Before After Before After remeasurement remeasurement remeasurement remeasurement Dalam Dalam Dolar Dalam Dalam Dolar jutaan Rupiah/ Amerika Serikat/ jutaan Rupiah/ Amerika Serikat/ In millions In United States In millions In United States of Rupiah Dollar *) of Rupiah Dollar *) LIABILITAS DAN EKUITAS LIABILITIES AND EQUITY LIABILITAS LANCAR CURRENT LIABILITIES Utang usaha Trade accounts payable Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga Third parties Selisih tagihan kemajuan kontrak Billings in excess of estimated earnings diatas estimasi pendapatan recognized Utang lain-lain Other accounts payable Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga Third parties Utang pajak Taxes payable Pendapatan ditangguhkan Deferred income Biaya masih harus dibayar Accrued expenses Uang muka pelanggan Advances from customers Utang dividen Dividend payable Utang bank Bank loans Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun Current maturities of long-term debts Pinjaman jangka panjang Long-term loans Liabilitas sewa pembiayaan Lease liabilities Utang obligasi - bersih Bonds payable - net Jumlah Liabilitas Lancar Total Current Liabilities LIABILITAS TIDAK LANCAR NONCURRENT LIABILITIES Liabilitas jangka panjang - setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun Long-term liabilities - net of current maturities Pinjaman jangka panjang Long-term loans Liabilitas sewa pembiayaan Lease liabilities Utang obligasi - bersih Bonds payable - net Utang jangka panjang - pihak ketiga Other long-term liability - third parties Liabilitas pajak tangguhan Deferred tax liabilities Uang muka diterima dari pihak berelasi Advance received from a related party Goodwill negatif Negative goodwill Liabilitas imbalan kerja Employment benefits obligation Jumlah Liabilitas Tidak Lancar Total Noncurrent Liabilities EKUITAS EQUITY Modal saham Capital stock Tambahan modal disetor Additional paid-in capital Komponen ekuitas lainnya ( ) ( ) Other components of equity Difference in value of restructuring Selisih nilai transaksi restrukturisasi transaction between entities under entitas sepengendali common control Saldo laba Retained earnings Dicadangkan Appropriated Tidak dicadangkan Unappropriated Jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan Total equity attributable to owners kepada pemilik entitas induk of the Company Kepentingan nonpengendali Non-controlling interest Jumlah Ekuitas Total Equity JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS TOTAL LIABILITIES AND EQUITY *) disajikan kembali *) as restated
150 31 Desember 2011/ December 31, 2011 Sebelum Sesudah pengukuran pengukuran kembali/ kembali/ Before After remeasurement remeasurement Dalam Dalam Dolar jutaan Rupiah/ Amerika Serikat/ In millions In United States of Rupiah Dollar *) PENDAPATAN REVENUES Pendapatan kontrak dan jasa Contracts and service revenues Penjualan batubara Sales of coal Jumlah Pendapatan Total Revenues BEBAN POKOK KONTRAK DAN PENJUALAN COST OF CONTRACTS AND GOODS SOLD Beban pokok kontrak dan jasa Cost of contracts and services Beban pokok penjualan batubara Cost of sales of coal Jumlah Beban Pokok Kontrak dan Penjualan Total Cost of Contracts and Goods Sold LABA KOTOR GROSS PROFIT Bagian laba entitas asosiasi dan pengendalian Equity in profit of associates and jointly-controlled bersama entitas entities Pendapatan investasi Investment income Beban umum dan administrasi ( ) ( ) General and administrative expenses Beban keuangan ( ) ( ) Finance cost Amortisasi aset tidak berwujud ( ) ( ) Amortization of intangible asset Lain-lain - bersih (8.049) ( ) Others - net LABA SEBELUM PAJAK INCOME BEFORE TAX BEBAN PAJAK ( ) ( ) TAX EXPENSE LABA TAHUN BERJALAN PROFIT FOR THE YEAR Pendapatan komprehensif lain: Other comprehensive income: Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Translation adjustments Kerugian yang belum direalisasi atas instrumen Unrealized loss on derivative financial instrument keuangan derivatif (hedging reserve) (54.013) ( ) (hedging reserve) Pendapatan komprehensif lainnya (2.347) Other comprehensive income Jumlah laba rugi komprehensif tahun berjalan Total comprehensive income for the year *) disajikan kembali *) as restated e. Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) MTU telah memperoleh berbagai perijinan yang diperlukan dan telah memperoleh PKP2B di daerah Propinsi Kalimantan Tengah sekitar hektar (ha) dan telah menandatangani PKP2B pada tahun 1997 dengan Pemerintah Republik Indonesia. MTU diwajibkan untuk membayar royalti kepada Pemerintah atas eksploitasi mineral batubara yang ditetapkan dalam PKP2B sebesar 13,5% dari hasil produksi secara tunai atas harga FOB (Free on Board) atau pada harga saat loading terakhir kontraktor di wilayah perjanjian ( at sale point ). PKP2B meliputi area-area yaitu Kananai, Swalang- Mea, Malintut Utara, Kananai Dua, Kananai Timur, Siung Malopot, Malintut Selatan, Tawo Karau, Lumuh dan Sungai Muntok yang diperoleh pada 4 Mei 2009 dan jatuh tempo pada 3 Mei e. Coal Contract of Work ("PKP2B") MTU acquired various required permits and obtained PKP2B in the Province of Central Kalimantan of approximately 24,270 hectares (ha) and has signed the PKP2B in 1997 with the Government of the Republic of Indonesia. In accordance with the PKP2B, MTU shall pay royalties to the Government on the exploitation of coal mineral at 13.5% of the coal produced, in cash amount at FOB (Free on Board) or at the price of the contractor s final load out at sale point. PKP2B license covers the locations of Kananai, Swalang-Mea, Malintut Utara, Kananai Dua, Kananai Timur, Siung Malopot, Malintut Selatan, Tawo Karau, Lumuh dan Sungai Muntok which were obtained on May 4, 2009 and will mature on May 3,
151 f. Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi f. Production Operation Mining Business Permit Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kutai Timur No /K.641/ITK/VII/2012 tertanggal 6 Juni 2012, MEA telah diberikan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi selama 20 tahun pada lahan seluas hektar, yang berlokasi di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. MEA masih dalam tahap eksplorasi untuk menentukan cadangan batubara. Based on the Decree of the Regent of Kutai Timur No /K.641/ITK/VII/2012 dated June 6, 2012, MEA was granted a Production Operation Mining Business Permit for 20 years for 3,650 hectares, located in the Kutai Timur Regency, East Kalimantan Province. MEA is still under exploration stage to determine its coal reserve. 2. PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN BARU DAN REVISI (PSAK) DAN INTERPRETASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (ISAK) a. Standar yang berlaku efektif pada tahun berjalan Dalam tahun berjalan, Perusahaan dan entitas anak telah menerapkan semua standar baru dan revisi interpretasi yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan dari Ikatan Akuntan Indonesia yang relevan dengan operasinya dan efektif untuk periode akuntansi yang dimulai pada tanggal 1 Januari Penerapan standar baru dan revisi serta interpretasi telah berdampak terhadap perubahan kebijakan akuntansi Perusahaan dan entitas anak yang mempengaruhi penyajian dan pengungkapan laporan keuangan konsolidasian untuk tahun berjalan atau tahun sebelumnya. 2. ADOPTION OF NEW AND REVISED STATEMENTS OF FINANCIAL ACCOUNTING STANDARDS (PSAK) AND INTERPRETATION OF PSAK (ISAK) a. Standards effective in the current period In the current year, the Company and its subsidiaries have adopted all of the new and revised standards and interpretations issued by the Financial Accounting Standard Board of the Indonesian Institute of Accountants that are relevant to their operations and effective for accounting periods beginning on January 1, The adoption of these new and revised standards and interpretations has resulted in changes of the Company and its subsidiaries accounting policies in the following areas, and affected the consolidated financial statements and disclosures for the current or the prior years. PSAK 10 (revisi 2010), Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing PSAK 10 (revised 2010), The Effects of Changes in Foreign Exchange Rates Standar revisi ini memberikan indikator dalam menentukan mata uang fungsional suatu entitas, yang meliputi, antara lain, mata uang (a) yang paling mempengaruhi harga penjualan untuk barang dan jasa; (b) negara dimana persaingan kompetitif dan peraturannya menentukan harga penjualan barang dan jasa; dan (c) yang paling mempengaruhi biaya tenaga kerja, bahan baku dan biaya lainnya menyediakan barang atau jasa. This revised standard provides indicators in determining an entity s functional currency, which include, among others, the currency (a) that mainly influences sales prices for goods and services; (b) of the country whose competitive forces and regulations mainly determine the sales prices of its goods and services; and (c) that mainly influences labor, material and other costs of providing goods or services. Ketika indikator tersebut digabungkan dan mata uang fungsional tidak secara jelas dapat ditentukan, manajemen harus menggunakan penilaiannya untuk menentukan mata uang fungsional yang paling mewakili dampak ekonomi, peristiwa dan kondisi yang mendasari transaksi dan kondisi. When the indicators are mixed and the functional currency is not obvious, management should use its judgement to determine the functional currency that most faithfully represents the economic effects of the underlying transactions, events and conditions
152 Standar sebelumnya memberikan panduan yang terbatas dalam menentukan mata uang fungsional. Perusahaan dan entitas anak telah menentukan bahwa tidak ada perubahan dalam mata uang fungsional dari entitas dalam Grup berdasarkan penilaian mereka sesuai dengan ketentuan standar revisi. There was limited guidance under the previous standard in regards to the determination of functional currency. The Company and its subsidiaries had determined that there is no change in the functional currencies of entities within the Group based on their assessment in accordance with the provisions of the revised standard. PSAK 60, Instrumen Keuangan: Pengungkapan PSAK 60, Financial Instruments: Disclosures Standar baru ini sepenuhnya mengadopsi ketentuan IFRS 7, Instrumen Keuangan; Pengungkapan (termasuk amandemen IFRS 7 per Maret 2009), dengan beberapa pengecualian, dan menggantikan persyaratan pengungkapan dalam PSAK 50 (revisi 2006), Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan. This new standard fully adopts the provisions of IFRS 7, Financial Instruments; Disclosure (including amendments to IFRS 7 as of March 2009), with limited exceptions, and supersedes the disclosure requirements of PSAK 50 (revised 2006), Financial Instrument: Presentation and Disclosure. Standar baru mengakibatkan pengungkapan mengenai (a) signifikansi instrumen keuangan untuk posisi keuangan Perusahaan dan entitas anak dan kinerjanya, dan (b) sifat dan besarnya risiko yang timbul dari instrumen keuangan dimana Perusahaan dan entitas anak terekspos selama periode berjalan dan pada akhir periode pelaporan, dan bagaimana entitas mengelola risiko-risiko tersebut (Catatan 47). This new standard resulted in the disclosures concerning (a) the significance of financial instruments for the Company and its subsidiaries financial position and performance; and (b) the nature and extent of risks arising from financial instruments to which the Company and its subsidiaries are exposed during the period and at the end of the reporting period, and how the entity manages those risks (Note 47). PSAK 33 (revisi 2011), Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah dan Pengelolaan Lingkungan hidup pada Pertambangan Umum dan PSAK 64, Aktivitas Ekplorasi dan Evaluasi pada Pertambangan Sumber Daya Mineral. PSAK 33 (revised 2011), Stripping Cost Activity and Environmental Management in the Public Mining and PSAK 64, Exploration for and Evaluation of Mineral Resources. PSAK 33 revisi hanya menentukan akuntansi untuk pengeluaran terkait dengan aktivitas pengupasan lapisan tanah dan aktivitas manajemen lingkungan. Perlakuan akuntansi aktivitas eksplorasi dan evaluasi diatur dalam PSAK 64, Aktivitas Eksplorasi dan Evaluasi pada Pertambangan Sumber Daya Mineral. Akuntansi aktivitas pengembangan diatur dalam PSAK 19, Aset Tak Berwujud dan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. PSAK 64 mengakui bahwa beberapa aset eksplorasi dan evaluasi merupakan aset tak berwujud, sedangkan yang lain merupakan aset berwujud. Namun, PSAK 64 tidak mengatur apakah aset eksplorasi dan evaluasi harus diklasifikasi sebagai aset berwujud atau tak berwujud. The revised PSAK 33 only prescribes the accounting treatment of costs related to stripping activities and environmental management activities. The accounting treatment of exploration and evaluation activity is addressed by PSAK 64, Exploration for and Evaluation of Mineral Resources. The accounting treatment of development or construction activity is addressed by PSAK 19, Intangible Assets and Conceptual Framework. PSAK 64 recognises that some exploration and evaluation assets are intangible and others are tangible. However, PSAK 64 does not prescribe whether exploration and evaluation assets should be classified as tangible or intangible
153 Menurut PSAK 64, entitas tidak diperkenankan untuk menerapkan standar ini atas pengeluaran yang terjadi sebelum eksplorasi dan evaluasi pertambangan sumber daya mineral, seperti pengeluaran yang terjadi sebelum entitas memperoleh hak secara hukum untuk mengeksplorasi suatu wilayah tertentu atau setelah dapat dibuktikan kelayakan teknik dan komersial atas penambangan sumber daya mineral. Dengan penerapan PSAK 33 dan PSAK 64, Perusahaan dan entitas anak perlu melakukan reklasifikasi biaya eksplorasi dan pengembangan yang ditangguhkan sebagai properti pertambangan dan properti pengembangan di laporan posisi keuangan konsolidasian. According to PSAK 64, an entity shall not apply this standard to expenditure incurred before the exploration and evaluation of mineral resources, such as expenditure incurred before the entity has obtained the legal rights to explore a specific area or after the technical feasibility and commercial viability of extracting mineral resources are demonstrable. On the adoption of the PSAK 33 and PSAK 64, the Company and its subsidiaries are required to reclassify deferred exploration and development expenditures into mining properties and development properties account on the consolidated statement of financial position. ISAK 25, Hak atas Tanah ISAK 25, Land Rights Interpretasi ini menjelaskan perlakuan biaya hukum hak perolehan atas tanah. This interpretation clarifies the treatment of legal cost of land rights. Biaya hukum hak atas tanah pada saat perolehan tanah tersebut diakui sebagai bagian dari biaya tanah sesuai dengan PSAK 16 (revisi 2011), Aset Tetap atau standar lain yang relevan berdasarkan tujuan penggunaan lahan. The legal cost of land rights upon acquisition of the land is recognized as part of the cost of land in accordance with PSAK 16 (revised 2011), Property, Plant and Equipment or other relevant standards based on the intended use of the land. Biaya pembaharuan atau perpanjangan hak hukum atas tanah diakui sebagai aset tidak berwujud dan diamortisasi sesuai dengan PSAK 19 (revisi 2010), Aset Tidak Berwujud. Sebelumnya, Perusahaan dan entitas anak telah menghitung biaya hukum atas hak atas tanah pada saat perolehan tanah sebagai biaya yang ditangguhkan dan kemudian diamortisasi selama jangka waktu hak-hak tersebut. The cost of renewal or extension of legal rights on land is recognized as an intangible asset and amortized in accordance with PSAK 19 (revised 2010), Intangible Assets. Previously, the Company and its subsidiaries had accounted for legal cost on landrights upon acquisition of land as deferred charge and subsequently amortized over the term of such rights. Interpretasi telah diterapkan secara prospektif sejak tanggal 1 Januari 2012 sesuai dengan ketentuan transisi. The interpretation has been applied prospectively from January 1, 2012 in accordance with the transitional provision. Berikut ini standar baru dan standar revisi serta interpretasi yang diterapkan dalam laporan keuangan konsolidasian. Penerapan ini tidak memiliki pengaruh yang signifikan atas jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan konsolidasian tetapi mempengaruhi akuntansi untuk transaksi masa depan: The following new and revised standards and interpretations have also been adopted in these consolidated financial statements. Their adoption has not had any significant impact on the amounts reported in these consolidated financial statements but may impact the accounting for future transactions or arrangements: PSAK 16 (revisi 2011), Aset Tetap PSAK 18 (revisi 2010), Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya PSAK 24 (revisi 2010), Imbalan Kerja PSAK 26 (revisi 2011), Biaya Pinjaman PSAK 28 (revisi 2011), Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian PSAK 16 (revised 2011), Property, Plant and Equipment PSAK 18 (revised 2010), Accounting and Reporting by Retirement Benefit Plans PSAK 24 (revised 2010), Employee Benefits PSAK 26 (revised 2011), Borrowing Costs PSAK 28 (revised 2011), Accounting for Casualty Insurance Contract
154 PSAK 30 (revisi 2011), Sewa PSAK 34 (revisi 2010), Kontrak Konstruksi PSAK 36 (revisi 2011), Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa PSAK 45 (revisi 2011), Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba PSAK 46 (revisi 2010), Pajak Penghasilan PSAK 50 (revisi 2010), Instrumen Keuangan: Penyajian PSAK 53 (revisi 2010), Pembayaran Berbasis Saham PSAK 55 (revisi 2011), Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran PSAK 56 (revisi 2011), Laba Per Saham PSAK 61, Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah ISAK 13, Lindung Nilai Investasi Neto dalam Kegiatan Usaha Luar Negeri ISAK 15, PSAK 24 - Batas Aset Imbalan Pasti, Persyaratan Pendanaan Minimum dan Interaksinya ISAK 16, Perjanjian Jasa Konsesi ISAK 18, Bantuan Pemerintah Tidak Berelasi Spesifik dengan Aktivitas Operasi ISAK 20, Pajak Penghasilan Perubahan dalam Status Pajak Entitas atau Para Pemegang Sahamnya ISAK 22, Perjanjian Konsensi Jasa: Pengungkapan ISAK 23, Sewa Operasi Insentif ISAK 24, Evaluasi Substansi Beberapa Transaksi yang Melibatkan Suatu Bentuk Legal Sewa ISAK 26, Penilaian Ulang Derivatif Melekat b. Interpretasi telah diterbitkan tetapi belum diterapkan Efektif untuk periode yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2013 adalah PSAK 38 (revisi 2012), Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali dan Amendemen atas PSAK 60, Pengungkapan Instrumen Keuangan. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasian, dampak dari penerapan standar dan amendemen atas laporan keuangan konsolidasian tidak dapat diketahui atau diestimasi secara wajar oleh manajemen. PSAK 30 (revised 2011), Leases PSAK 34 (revised 2010), Construction Contracts PSAK 36 (revised 2011), Accounting for Life Insurance Contract PSAK 45 (revised 2011), Financial Reporting for Non-Profit Organization PSAK 46 (revised 2010), Income Taxes PSAK 50 (revised 2010), Financial Instruments: Presentation PSAK 53 (revised 2010), Share-based Payments PSAK 55 (revised 2011), Financial Instrument: Recognition and Measurement PSAK 56 (revised 2011), Earnings per Share PSAK 61, Accounting for Government Grants and Disclosure of Government Assistance ISAK 13, Hedges of Net Investments in Foreign Operation ISAK 15, PSAK 24 The Limit on a Defined Benefit Asset, Minimum Funding Requirements and their Interaction ISAK 16, Service Concession Arrangements ISAK 18, Government Assistance No Specific Relation to Operating Activities ISAK 20, Income Taxes Change in Tax Status of an Entity or its Shareholders ISAK 22, Service Concession Arrangements: Disclosures ISAK 23, Operating Leases Incentives ISAK 24, Evaluating the Substance of Transactions involving the Legal Form of a Lease ISAK 26, Reassessment of Embedded Derivatives b. Interpretation in issue not yet effective Effective for periods beginning on or after January 1, 2013 PSAK 38 (revised 2012), Business Combination Under Common Control and Amendment to PSAK 60, Financial Instrument Disclosure. As of the issuance date of the consolidated financial statements, the effect of adoption of these standards and amendment on the consolidated financial statements is not known or reasonably estimated by management
155 3. KEBIJAKAN AKUNTANSI 3. SUMMARY OF SIGNIFICANT ACCOUNTING POLICIES a. Pernyataan Kepatuhan a. Statement of Compliance Laporan keuangan konsolidasian disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. The consolidated financial statements have been prepared in accordance with Indonesian Financial Accounting Standards. These financial statements are not intended to present the financial position, results of operations and cash flows in accordance with accounting principles and reporting practices generally accepted in other countries and jurisdictions. b. Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasian b. Consolidated Financial Statement Presentation Dasar penyusunan laporan keuangan konsolidasian, kecuali untuk laporan arus kas konsolidasian disusun dengan menggunakan dasar akrual. Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan konsolidasian adalah mata uang Dollar Amerika Serikat (US$), dan laporan keuangan konsolidasian tersebut disusun berdasarkan nilai historis, kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut. Laporan arus kas konsolidasian disusun dengan menggunakan metode langsung dengan pengelompokan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. The consolidated financial statements, except for the consolidated statements of cash flows, are prepared under the accrual basis of accounting. The reporting presentation currency used in the preparation of the consolidated financial statements is the United States Dollar (US$), while the measurement basis is the historical cost, except for certain accounts which are measured on the bases described in the related accounting policies. The consolidated statements of cash flows are prepared using the direct method with classifications of cash flows into operating, investing and financing activities. c. Prinsip Konsolidasian c. Principles of Consolidation Laporan keuangan konsolidasian menggabungkan laporan keuangan Perusahaan dan entitas yang dikendalikan oleh Perusahaan (entitas anak). Pengendalian dianggap ada apabila Perusahaan mempunyai hak untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional suatu entitas untuk memperoleh manfaat dari aktivitasnya. Hasil dari entitas anak yang diakuisisi atau dijual selama tahun berjalan termasuk dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian sejak tanggal efektif akuisisi dan sampai dengan tanggal efektif penjualan. Penyesuaian dapat dilakukan terhadap laporan keuangan entitas anak agar kebijakan akuntansi yang digunakan sesuai dengan kebijakan akuntansi yang digunakan oleh Perusahaan. Seluruh transaksi, saldo, penghasilan dan beban antar perusahaan dieliminasi pada saat konsolidasian. Kepentingan non pengendali pada entitas anak diidentifikasi secara terpisah dan disajikan dalam The consolidated financial statements incorporate the financial statements of the Company and entities controlled by the Company (its subsidiaries). Control is achieved where the Company has the power to govern the financial and operating policies of an entity so as to obtain benefits from its activities. The results of subsidiaries acquired or disposed of during the year are included in the consolidated statements of comprehensive income from the effective date of acquisition and up to the effective date of disposal, as appropriate. Where necessary, adjustments are made to the financial statements of the subsidiaries to bring the accounting policies used in line with those used by the Company. All intra-group transactions, balances, income and expenses are eliminated on consolidation. Non-controlling interests in subsidiaries are identified separately and presented within equity
156 ekuitas. Kepentingan non pengendali pemegang saham mungkin awalnya diukur pada nilai wajar atau pada bagian pemilikan kepentingan nonpengendali dari nilai wajar aset bersih yang dapat diidentifikasi dari pihak yang diakuisisi. Pilihan pengukuran dilakukan pada akuisisi dengan dasar akuisisi. Setelah akuisisi, jumlah tercatat kepentingan non pengendali adalah jumlah kepemilikan pada pengakuan awal ditambah bagian kepentingan non pengendali dari perubahan selanjutnya dalam ekuitas. Jumlah pendapatan komprehensif entitas anak tersebut diatribusikan kepada pemilik Perusahaan dan pada kepentingan non pengendali bahkan jika hal ini mengakibatkan kepentingan non pengendali mempunyai saldo defisit. Perubahan dalam bagian kepemilikan Perusahaan dan entitas anak pada entitas anak yang tidak mengakibatkan hilangnya pengendalian dicatat sebagai transaksi ekuitas. Nilai tercatat kepentingan entitas anak dan kepentingan non pengendali disesuaikan untuk mencerminkan perubahan bagian kepemilikannya atas entitas anak. Setiap perbedaan antara jumlah kepentingan nonpengendali disesuaikan dan nilai wajar imbalan yang diberikan atau diterima diakui secara langsung dalam ekuitas dan diatribusikan pada pemilik entitas induk. Ketika Perusahaan dan entitas anak kehilangan pengendalian atas entitas anak, keuntungan dan kerugian diakui didalam laba rugi dan dihitung sebagai perbedaan antara (i) keseluruhan nilai wajar yang diterima dan nilai wajar dari setiap sisa investasi dan (ii) nilai tercatat sebelumnya dari aset (termasuk goodwill) dan liabilitas dari entitas anak dan setiap kepentingan non pengendali. Ketika aset dari entitas anak dinyatakan sebesar nilai revaluasi atau nilai wajar dan akumulasi keuntungan atau kerugian yang telah diakui sebagai pendapatan komprehensif lainnya dan terakumulasi dalam ekuitas, jumlah yang sebelumnya diakui sebagai pendapatan komprehensif lainnya dan akumulasi ekuitas dicatat seolah-olah Perusahaan dan entitas anak telah melepas secara langsung aset yang relevan (yaitu direklasifikasi ke laba rugi atau ditransfer langsung ke saldo laba sebagaimana ditentukan oleh PSAK yang berlaku).nilai wajar setiap sisa investasi pada entitas anak terdahulu pada tanggal hilangnya pengendalian dianggap sebagai nilai wajar pada saat pengakuan awal aset keuangan sesuai dengan PSAK 55 (revisi 2011), Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran atau, jika sesuai, biaya perolehan saat pengakuan awal investasi pada entitas asosiasi atau pengendalian bersama entitas. The interest of non-controlling shareholders maybe initially measured either at fair value or at the non-controlling interests proportionate share of the fair value of the acquiree s identifiable net asset. The choice of measurement is made on acquisition by acquisition basis. Subsequent to acquisition, the carrying amount of non-controlling interests is the amount of those interests at initial recognition plus non-controlling interests share of subsequent changes in equity. Total comprehensive income of subsidiaries is attributed to the owners of the Company and to the non-controlling interests even if this results in the non-controlling interests having deficit balance. Changes in the Company and its subsidiaries interests in subsidiaries that do not result in a loss of control are accounted for as equity transactions. The carrying amounts of the Company and its subsidiaries interests and the non-controlling interests are adjusted to reflect the changes in their relative interests in the subsidiaries. Any difference between the amount by which the non-controlling interests are adjusted and the fair value of the consideration paid or received is recognised directly in equity and attributed to owners of the Company. When the Company and its subsidiaries lose control of a subsidiary, a gain or loss is recognized in profit or loss and is calculated as the difference between (i) the aggregate of the fair value of the consideration received and the fair value of any retained interest and (ii) the previous carrying amount of the assets (including goodwill), and liabilities of the subsidiary and any non-controlling interest. When assets of the subsidiary are carried at revalued amount or fair values and the related cumulative gain or loss has been recognized in other comprehensive income and accumulated in equity, the amounts previously recognized in other comprehensive income and accumulated in equity are accounted for as if the Company and its subsidiaries had directly disposed of the relevant assets (i.e. reclassified to profit or loss or transferred directly to retained earnings as specified by applicable accounting standards). The fair value of any investment retained in the former subsidiary at the date when control is lost is regarded as the fair value on initial recognition for subsequent accounting under PSAK 55 (revised 2011), Financial Instruments: Recognition and Measurement or, when applicable, the cost on initial recognition of an investment in an associate or a jointly controlled entity
157 d. Kombinasi Bisnis d. Business Combinations Akuisisi entitas anak dan bisnis dicatat dengan menggunakan metode akuisisi. Biaya akuisisi adalah nilai agregat nilai wajar (pada tanggal pertukaran) dari aset yang diperoleh, liabilitas yang terjadi atau ditanggung dan instrumen ekuitas yang diterbitkan sebagai pertukaran atas pengendalian dari pihak yang diakuisisi. Biaya-biaya terkait akuisisi diakui di dalam laba rugi pada saat terjadinya. Dalam penerapannya, imbalan untuk akuisisi termasuk setiap aset atau liabilitas yang dihasilkan dari suatu kesepakatan imbalan kontinjen diukur terhadap nilai wajar pada tanggal akuisisi. Perubahan selanjutnya dalam nilai wajar disesuaikan dengan biaya akuisisi ketika memenuhi syarat sebagai penyesuaian pengukuran periode. Semua perubahan selanjutnya dalam nilai wajar dari imbalan kontijensi diklasifikasikan sebagai aset atau liabilitas yang dihitung sesuai dengan standar akuntansi. Perubahan dalam nilai wajar dari imbalan kontinjensi yang diklasifikasikan sebagai ekuitas tidak dicatat. Aset teridentifikasi, liabilitas dan liabilitas kontinjensi pihak yang diakuisisi yang memenuhi kondisi-kondisi pengakuan berdasarkan PSAK 22 (revisi 2010), Kombinasi Bisnis, diakui pada nilai wajar, kecuali untuk aset dan liabilitas tertentu diukur dengan menggunakan standar yang relevan. Jika akuntansi awal untuk kombinasi bisnis belum selesai pada akhir periode pelaporan saat kombinasi terjadi, Perusahaan dan entitas anak melaporkan jumlah sementara untuk pospos yang proses akuntansinya belum selesai dalam laporan keuangannya. Selama periode pengukuran, pihak pengakuisisi menyesuaikan, aset atau liabilitas tambahan yang diakui, untuk mencerminkan informasi baru yang diperoleh tentang fakta dan keadaan yang ada pada tanggal akuisisi dan, jika diketahui, akan berdampak pada jumlah yang diakui pada tanggal tersebut. Periode pengukuran adalah periode dari tanggal akuisisi hingga tanggal Perusahaan memperoleh informasi lengkap tentang fakta dan keadaan yang ada pada tanggal akuisisi dan periode pengukuran maksimum satu tahun dari tanggal akuisisi. Acquisitions of subsidiaries and businesses are accounted for using the acquisition method. The cost of the business combination is the aggregate of the fair values (at the date of exchange) of assets given, liabilities incurred or assumed, and equity instruments issued in exchange for control of the acquiree. Acquisition-related costs are recognized in profit or loss as incurred. Where applicable, the consideration for the acquisition includes any assets or liabilities resulting from a contingent consideration arrangement, measured at its acquisition-date fair value. Subsequent changes in such fair values are adjusted against the cost of acquisition where they qualify as measurement period adjustments. All other subsequent changes in the fair value of contingent consideration classified as an asset or liability are accounted for in accordance with relevant accounting standards. Changes in the fair value of contingent consideration classified as equity are not recognized. The acquiree s identifiable assets, liabilities and contingent liabilities that meet the conditions for recognition under PSAK 22 (revised 2010), Business Combination, are recognized at fair value, except for certain assets and liabilities that are measured using the relevant standards. If the initial accounting for business combination is incomplete by the end of the reporting period in which the combination occurs, the Company and its subsidiaries report provisional amounts for the items for which the accounting is incomplete. Those provisional amounts are adjusted during the measurement period, or additional assets or liabilities are recognized, to reflect new information obtained about facts and circumstances that existed as of the acquisition date that, if known, would have affected the amount recognized as of that date. The measurement period is the period from date of acquisition to the date the Company obtains complete information about facts and circumstances that existed as of the acquisition date and is subject to a maximum of one year from acquisition date
158 e. Transaksi dan Penjabaran Laporan Keuangan Dalam Mata Uang Asing Pembukuan Perusahaan dan entitas anak serta perusahaan asosiasi, kecuali untuk beberapa entitas anak dan perusahaan asosiasi tertentu dibawah ini, diselenggarakan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat (US$). Transaksitransaksi selama periode berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi. Pada tanggal pelaporan, aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. Keuntungan atau kerugian kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan dalam laporan laba rugi. Pembukuan entitas anak serta perusahaan asosiasi berikut ini diselenggarakan dalam mata uang fungsionalnya yaitu Rupiah (Rp): e. Foreign Currency Transactions and Translation The books of accounts of the Company and its subsidiaries and associates, except for certain subsidiaries and associates detailed below, are maintained in United States Dollar (US$). Transactions during the period involving foreign currencies are recorded at the rates of exchange prevailing at the time the transactions are made. At reporting dates, monetary assets and liabilities denominated in foreign currencies are adjusted to reflect the rates of exchange prevailing at that date. The resulting gains or losses are credited or charged to profit or loss. The books of accounts of the following subsidiaries and associates are maintained in their functional currency, which is the Indonesian Rupiah (Rp): PT LPG Distribusi Indonesia (LDI) PT Satya Mitra Gas (SMG) PT Wahida Arta Guna Lestari (WAGL) PT Jatiwarna Gas Utama (JGU) PT Cotrans Asia (CA) PT LPG Distribusi Indonesia (LDI) PT Satya Mitra Gas (SMG) PT Wahida Arta Guna Lestari (WAGL) PT Jatiwarna Gas Utama (JGU) PT Cotrans Asia (CA) Untuk tujuan penyajian laporan keuangan konsolidasian dari entitas anak dan perusahaan asosiasi tersebut di atas, pada tanggal pelaporan dijabarkan kedalam mata uang Dollar Amerika Serikat (US$) dengan menggunakan kurs pada tanggal pelaporan, sedangkan pendapatan dan beban dijabarkan dengan menggunakan kurs rata-rata pada tahun yang bersangkutan. Penyesuaian selisih kurs karena penjabaran tersebut disajikan sebagai bagian dari pendapatan komprehensif lainnya. For consolidation purposes, assets and liabilities of the above subsidiaries and associates at the reporting date are translated into United States Dollar (US$) using the exchange rates at reporting date, while revenues and expenses are translated at the average rates of exchange for the year. The resulting translation adjustments are presented as part of other comprehensive income. f. Transaksi Pihak Berelasi f. Transactions with Related Parties Pihak-pihak berelasi adalah orang atau entitas yang terkait dengan Perusahaan dan entitas anak (entitas pelapor): A related party is a person or entity that is related to the Company and its subsidiaries (the reporting entity): a. Orang atau anggota keluarga terdekat mempunyai relasi dengan entitas pelapor jika orang tersebut: i. memiliki pengendalian atau pengendalian bersama entitas pelapor; ii. memiliki pengaruh signifikan entitas pelapor; atau iii. personil manajemen kunci entitas pelapor atau entitas induk dari entitas pelapor. a. A person or a close member of that person's family is related to a reporting entity if that person: i. has control or joint control over the reporting entity; ii. has significant influence over the reporting entity; or iii. is a member of the key management personnel of the reporting entity or of a parent of the reporting entity
159 b. Suatu entitas berelasi entitas pelapor jika memenuhi salah satu hal berikut: i. Entitas dan entitas pelapor adalah anggota dari kelompok usaha yang sama (artinya entitas induk, entitas anak, dan entitas anak berikutnya terkait dengan entitas lain). ii. Satu entitas adalah entitas asosiasi atau ventura bersama dari entitas lain (atau entitas asosiasi atau ventura bersama yang merupakan anggota suatu kelompok usaha, yang mana entitas lain tersebut adalah anggotanya). iii. Kedua entitas tersebut adalah ventura bersama dari pihak ketiga yang sama. iv. Satu entitas adalah ventura bersama dari entitas ketiga dan entitas yang lain adalah entitas asosiasi dari entitas ketiga. v. Entitas tersebut adalah suatu program imbalan pasca kerja untuk imbalan kerja dari salah satu entitas pelapor atau entitas yang terkait dengan entitas pelapor. Jika entitas pelapor adalah entitas yang menyelenggarakan program tersebut, maka entitas sponsor juga berelasi dengan entitas pelapor. vi. Entitas yang dikendalikan atau dikendalikan bersama oleh orang yang diidentifikasi dalam huruf (a). vii. Orang yang diidentifikasi dalam huruf (a) (i) memiliki pengaruh signifikan atas entitas atau personil manajemen kunci entitas (atau entitas induk dari entitas). Semua transaksi dengan pihak berelasi, baik yang dilakukan dengan atau tidak dengan tingkat bunga atau harga, persyaratan dan kondisi yang sama sebagaimana dilakukan dengan pihak ketiga, diungkapkan dalam laporan keuangan konsolidasian. b. An entity is related to the reporting entity if any of the following conditions applies: i. The entity, and the reporting entity are members of the same group (which means that each parent, subsidiary and fellow subsidiary is related to the others). ii. One entity is an associate or joint venture of the other entity (or an associate or joint venture of a member of a group of which the other entity is a member). iii. Both entities are joint ventures of the same third party. iv. One entity is a joint venture of a third entity and the other entity is an associate of the third entity. v. The entity is a post-employment benefit plan for the benefit of employees of either the reporting entity, or an entity related to the reporting entity. If the reporting entity is itself such a plan, the sponsoring employers are also related to the reporting entity. vi. The entity is controlled or jointly controlled by a person identified in (a). vii. A person identified in (a) (i) has significant influence over the entity or is a member of the key management personnel of the entity (or a parent of the entity). All transactions with related parties, whether or not made at similar terms and conditions as those done with third parties, are disclosed in the consolidated financial statements
160 g. Aset Keuangan g. Financial Assets Seluruh aset keuangan diakui dan dihentikan pengakuannya pada tanggal diperdagangkan dimana pembelian dan penjualan aset keuangan berdasarkan kontrak yang mensyaratkan penyerahan aset keuangan dalam kurun waktu yang ditetapkan oleh kebiasaan pasar yang berlaku, dan awalnya diukur sebesar nilai wajar ditambah biaya transaksi, kecuali untuk aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, yang awalnya diukur sebesar nilai wajar. Aset keuangan Perusahaan dan entitas anak diklasifikasikan sebagai berikut: Nilai wajar melalui laba rugi (FVTPL) Tersedia untuk dijual (AFS) Pinjaman yang diberikan dan piutang Nilai wajar melalui laba rugi (FVTPL) Aset keuangan diklasifikasi dalam FVTPL, jika aset keuangan sebagai kelompok diperdagangkan atau pada saat pengakuan awal ditetapkan untuk diukur pada FVTPL. Aset keuangan diklasifikasi sebagai kelompok diperdagangkan jika: diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual kembali dalam waktu dekat; atau All financial assets are recognised and derecognised on trade date where the purchase or sale of a financial asset is under a contract whose terms require delivery of the financial asset within the timeframe established by the market concerned, and are initially measured at fair value plus transaction costs, except for those financial assets classified as at fair value through profit or loss, which are initially measured at fair value. The Company and its subsidiaries financial assets are classified as follows: Fair Value Through Profit Or Loss (FVTPL) Available-for-Sale (AFS) Loans and Receivable Fair Value Through Profit Or Loss (FVTPL) Financial assets are classified as at FVTPL when the financial asset is either held for trading or it is designated as at FVTPL. A financial asset is classified as held for trading if: it has been acquired principally for the purpose of selling in the near term; or pada pengakuan awal merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek aktual terkini; atau on initial recognition it is part of an identified portfolio of financial instruments that the entity manages together and has a recent actual pattern of short-term profit-taking; or merupakan derivatif yang tidak ditetapkan dan tidak efektif sebagai instrumen lindung nilai. Aset keuangan selain aset keuangan yang diperdagangkan, dapat ditetapkan sebagai FVTPL pada saat pengakuan awal jika: penetapan tersebut mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan inkonsistensi pengukuran dan pengakuan yang dapat timbul; atau it is a derivative that is not designated and effective as a hedging instrument. A financial asset other than a financial asset held for trading may be designated as at FVTPL upon initial recognition if: such designation eliminates or significantly reduces a measurement or recognition inconsistency that would otherwise arise; or
161 kelompok aset keuangan, liabilitas keuangan atau keduanya, dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar, sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan, dan informasi tentang Perusahaan dan entitas anak disediakan secara internal kepada manajemen kunci entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi), misalnya Dewan Direksi dan Presiden Direktur entitas. a group of financial assets, financial liabilities or both is managed and its performance is evaluated on a fair value basis, in accordance with a documented risk management or investment strategy, and information about the Group is provided internally on that basis to the entity s key management personnel (as defined in PSAK 7: Related Party Disclosures), for example the entity s board of directors and chief executive officer. Aset keuangan FVTPL disajikan sebesar nilai wajar, keuntungan atau kerugian yang timbul diakui dalam laba rugi. Keuntungan atau kerugian bersih yang diakui dalam laba rugi mencakup dividen atau bunga yang diperoleh dari aset keuangan. Nilai wajar ditentukan dengan cara seperti dijelaskan pada Catatan 47. Aset keuangan tersedia untuk dijual (AFS) Investasi yang diklasifikasi sebagai AFS dinyatakan pada nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui dalam pendapatan komprehensif lainnya dan akumulasi revaluasi investasi AFS di ekuitas kecuali untuk kerugian penurunan nilai, bunga yang dihitung dengan metode suku bunga efektif dan laba rugi selisih kurs atas aset moneter yang diakui pada laba rugi. Jika investasi dilepas atau mengalami penurunan nilai, akumulasi laba atau rugi yang sebelumnya diakumulasi pada revaluasi investasi AFS, direklas ke laba rugi. Investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak tercatat di bursa yang tidak mempunyai kuotasi harga pasar di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal diklasifikasikan sebagai AFS, diukur pada biaya perolehan dikurangi penurunan nilai. Dividen atas instrumen ekuitas AFS, jika ada, diakui pada laba rugi pada saat hak Perusahaan untuk memperoleh pembayaran dividen ditetapkan. Financial assets at FVTPL are stated at fair value, with any resultant gain or loss recognised in profit or loss. The net gain or loss recognised in profit or loss incorporates any dividend or interest earned on the financial asset. Fair value is determined in the manner described in Note 47. Available-for-sale (AFS) Investment classified as AFS are measured at fair value. Gains and losses arising from changes in fair value are recognised in other comprehensive income and in equity as accumulated in AFS Investment Revaluation, with the exception of impairment losses, interest calculated using the effective interest method, and foreign exchange gains and losses on monetary assets, which are recognised in profit or loss. Where the investment is disposed of or is determined to be impaired, the cumulative gain or loss previously accumulated in AFS Investment Revaluation is reclassified to profit or loss. Investments in unlisted equity instruments that are not quoted in an active market and whose fair value cannot be reliably measured are also classified as AFS, measured at cost less impairment. Dividends on AFS equity instruments, if any, are recognised in profit or loss when the Company s right to receive the dividends are established
162 Pinjaman yang diberikan dan piutang Piutang pelanggan dan piutang lain-lain dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif diklasifikasi sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang, yang diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi penurunan nilai. Bunga diakui dengan menggunakan metode suku bunga efektif, kecuali piutang jangka pendek dimana pengakuan bunga tidak material. Metode suku bunga efektif Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari instrumen keuangan dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau biaya selama periode yang relevan. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas masa depan (mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan dan diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suku bunga efektif, biaya transaksi dan premium dan diskonto lainnya) selama perkiraan umur instrumen keuangan, atau, jika lebih tepat, digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan pada saat pengakuan awal. Pendapatan diakui berdasarkan suku bunga efektif untuk instrumen keuangan selain dari instrumen keuangan FVTPL. Penurunan nilai aset keuangan Aset keuangan, selain aset keuangan FVTPL, dievaluasi terhadap indikator penurunan nilai pada setiap tanggal pelaporan. Aset keuangan diturunkan nilainya bila terdapat bukti objektif, sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset keuangan, dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan yang dapat diestimasi secara andal. Untuk investasi ekuitas AFS yang tercatat dan tidak tercatat di bursa, penurunan yang signifikan atau jangka panjang dalam nilai wajar dari instrumen ekuitas di bawah biaya perolehannya dianggap sebagai bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. Loans and receivables Receivable from customers and other receivables that have fixed or determinable payments that are not quoted in an active market are classified as loans and receivables. Loans and receivables are measured at amortised cost using the effective interest method less impairment. Interest is recognised by applying the effective interest rate method, except for short-term receivables when the recognition of interest would be immaterial. Effective interest method The effective interest method is a method of calculating the amortised cost of a financial instrument and of allocating interest income or expense over the relevant period. The effective interest rate is the rate that exactly discounts estimated future cash receipts or payments (including all fees and points paid or received that form an integral part of the effective interest rate, transaction costs and other premiums or discounts) through the expected life of the financial instrument, or where appropriate, a shorter period to the net carrying amount on initial recognition. Income is recognized on an effective interest basis for financial instruments other than those financial instruments at FVTPL. Impairment of financial assets Financial assets, other than those at FVTPL, are assessed for indicators of impairment at each reporting date. Financial assets are impaired when there is objective evidence that, as a result of one or more events that occurred after the initial recognition of the financial asset, the estimated future cash flows of the investment have been affected. For listed and unlisted equity investments classified as AFS, a significant or prolonged decline in the fair value of the security below its cost is considered to be objective evidence of impairment
163 Untuk aset keuangan lainnya, bukti obyektif penurunan nilai termasuk sebagai berikut: For all other financial assets, objective evidence of impairment could include: kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam; atau significant financial difficulty of the issuer or counterparty; or pelanggaran kontrak, seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga; atau terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan. default or delinquency in interest or principal payments; or it becomes probable that the borrower will enter bankruptcy or financial reorganisation. Untuk kelompok aset keuangan tertentu, seperti piutang, aset yang dinilai tidak akan diturunkan secara individual akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif. Bukti objektif dari penurunan nilai portofolio piutang dapat termasuk pengalaman Perusahaan dan entitas anak atas tertagihnya piutang di masa lalu, peningkatan keterlambatan penerimaan pembayaran piutang dari rata-rata periode kredit, dan juga pengamatan atas perubahan kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan default atas piutang. Untuk aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi, jumlah kerugian penurunan nilai merupakan selisih antara jumlah tercatat aset keuangan dengan nilai kini dari estimasi arus kas masa depan yang didiskontokan menggunakan suku bunga efektif awal dari aset keuangan. Jumlah tercatat aset keuangan tersebut dikurangi dengan kerugian penurunan nilai secara langsung atas seluruh aset keuangan, kecuali piutang yang jumlah tercatatnya dikurangi melalui penggunaan akun cadangan piutang. Jika piutang tidak tertagih, piutang tersebut dihapuskan melalui akun cadangan piutang. Pemulihan kemudian dari jumlah yang sebelumnya telah dihapuskan dikreditkan terhadap akun cadangan. Perubahan jumlah tercatat akun cadangan piutang diakui dalam laba rugi. Jika aset keuangan AFS dianggap menurun nilainya, keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya telah diakui dalam ekuitas direklasifikasi ke laba rugi. For certain categories of financial asset, such as receivables, assets that are assessed not to be impaired individually are, in addition, assessed for impairment on a collective basis. Objective evidence of impairment for a portfolio of receivables could include the Company and its subsidiaries past experiences of collecting payments, an increase in the number of delayed payments in the portfolio past the average credit period, as well as observable changes in national or local economic conditions that correlate with default on receivables. For financial assets carried at amortised cost, the amount of the impairment is the difference between the asset s carrying amount and the present value of estimated future cash flows, discounted at the financial asset s original effective interest rate. The carrying amount of the financial asset is reduced by the impairment loss directly for all financial assets with the exception of receivables, where the carrying amount is reduced through the use of an allowance account. When a receivable is considered uncollectible, it is written off against the allowance account. Subsequent recoveries of amounts previously written off are credited against the allowance account. Changes in the carrying amount of the allowance account are recognised in profit or loss. When an AFS financial asset is considered to be impaired, cumulative gains or losses previously recognised in equity are reclassified to profit or loss
164 Pengecualian dari instrumen ekuitas AFS, jika, pada periode berikutnya, jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif dengan peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui, kerugian penurunan nilai yang diakui sebelumnya dibalik melalui laba rugi hingga nilai tercatat investasi pada tanggal pemulihan penurunan nilai tidak melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan kerugian penurunan nilai dilakukan. Dalam hal efek ekuitas AFS, kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui dalam laba rugi tidak boleh dibalik melalui laba rugi. Setiap kenaikan nilai wajar setelah penurunan nilai diakui secara langsung ke pendapatan komprehensif lain. Penghentian pengakuan aset keuangan Perusahaan dan entitas anak menghentikan pengakuan aset keuangan jika dan hanya jika hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan berakhir, atau Perusahaan dan entitas anak mentransfer aset keuangan dan secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset kepada entitas lain. Jika Perusahaan dan entitas anak tidak mentransfer serta tidak memiliki secara substansial atas seluruh risiko dan manfaat kepemilikan serta masih mengendalikan aset yang ditransfer, maka Perusahaan dan entitas anak mengakui keterlibatan berkelanjutan atas aset yang ditransfer dan liabilitas terkait sebesar jumlah yang mungkin harus dibayar. Jika Perusahaan dan entitas anak memiliki secara substansial seluruh risiko dan manfaat kepemilikan aset keuangan yang ditransfer, Perusahaan dan entitas anak masih mengakui aset keuangan dan juga mengakui pinjaman yang dijamin sebesar pinjaman yang diterima. With the exception of AFS equity instruments, if, in a subsequent period, the amount of the impairment loss decreases and the decrease can be related objectively to an event occurring after the impairment was recognised, the previously recognised impairment loss is reversed through profit or loss to the extent that the carrying amount of the investment at the date the impairment is reversed does not exceed what the amortised cost would have been had the impairment not been recognised. In respect of AFS equity investments, impairment losses previously recognised in profit or loss are not reversed through profit or loss. Any increase in fair value subsequent to an impairment loss is recognised directly in other comprehensive income. Derecognition of financial assets The Company and its subsidiaries derecognises a financial asset only when the contractual rights to the cash flows from the asset expire, or when it transfers the financial asset and substantially all the risks and rewards of ownership of the asset to another entity. If the Company and its subsidiaries neither transfers nor retains substantially all the risks and rewards of ownership and continues to control the transferred asset, the Company and its subsidiaries recognises its retained interest in the asset and an associated liability for amounts it may have to pay. If the Company and its subsidiaries retains substantially all the risks and rewards of ownership of a transferred financial asset, the Company and its subsidiaries continues to recognise the financial asset and also recognises a collateralised borrowing for the proceeds received. h. Liabilitas Keuangan dan Instrumen Ekuitas h. Financial Liabilities and Equity Instruments Klasifikasi sebagai liabilitias atau ekuitas Liabilitas keuangan dan instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh Perusahaan dan entitas anak diklasifikasi sesuai dengan substansi perjanjian kontraktual dan definisi liabilitas keuangan dan instrumen ekuitas. Classification as debt or equity Financial liabilities and equity instruments issued by the Company and its subsidiaries are classified according to the substance of the contractual arrangements entered into and the definitions of a financial liability and an equity instrument
165 Instrumen ekuitas Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak residual atas aset Perusahaan dan entitas anak setelah dikurangi dengan seluruh liabilitasnya. Instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh Perusahaan dan entitas anak dicatat sebesar hasil penerimaan bersih setelah dikurangi biaya penerbitan langsung. Pembelian kembali instrumen ekuitas Perusahaan (saham treasuri) diakui dan dikurangkan secara langsung dari ekuitas. Keuntungan dan kerugian yang timbul dari pembelian, penjualan, penerbitan atau pembatalan instrumen ekuitas Perusahaan tersebut tidak diakui dalam laba rugi. Liabilitas Keuangan Liabilitas keuangan diklasifikasikan sebagai FVTPL atau pada biaya perolehan diamortisasi Liabilitas Keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laba Rugi (FVTPL). Liabilitas keuangan diklasifikasikan sebagai FVTPL pada saat liabilitas keuangan baik dimiliki untuk diperdagangkan atau ditetapkan pada FVTPL Liabilitas Keuangan dimiliki untuk diperdagangkan jika: Equity instruments An equity instrument is any contract that evidences a residual interest in the assets of an entity after deducting all of its liabilities. Equity instruments issued by the Company and its subsidiaries are recorded at the proceeds received, net of direct issue costs. Repurchase of the Company s own equity instruments (treasury shares) is recognized and deducted directly in equity. No gain or loss is recognized in profit or loss on the purchase, sale, issue or cancellation of the Company s own equity instrument. Financial liabilities Financial liabilities are classified as either at FVTPL or at amortized cost. Financial liabilities at FVTPL Financial liabilities are classified as at FVTPL when the financial liability is either held for trading or it is designated as at FVTPL. A financial liability is classified as held for trading if: diperoleh terutama untuk tujuan dibeli kembali dalam waktu dekat; atau it has been acquired principally for the purpose of repurchasing in the near term; or pada pengakuan awal merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek aktual terkini; atau on initial recognition it is part of an identified portfolio of financial instruments that the entity manages together and has a recent actual pattern of short-term profittaking; or merupakan derivatif yang tidak ditetapkan dan tidak efektif sebagai instrumen lindung nilai it is a derivative that is not designated and effective as a hedging instrument. Liabilitas keuangan selain liabilitas keuangan yang diperdagangkan dapat ditetapkan sebagai FVTPL pada saat pengakuan awal jika: A financial liability other than a financial liability held for trading may be designated as at FVTPL upon initial recognition if: mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan inkonsistensi pengukuran dan pengakuan yang dapat timbul; atau such designation eliminates or significantly reduces a measurement or recognition inconsistency that would otherwise arise; or
166 kelompok aset keuangan, liabilitas keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar, sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci entitas (sebagaimana didefenisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi), misalnya direksi dan CEO. a group of financial assets, financial liabilities or both is managed and its performance is evaluated on a fair value basis, in accordance with a documented risk management or investment strategy, and information about the group is provided internally on that basis to the entity s key management personnel (as defined in PSAK 7: Related Party Disclosures) for example the entity s board of directors and chief executive officer. Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar, keuntungan atau kerugian yang timbul diakui dalam laba rugi. Keuntungan atau kerugian bersih yang diakui dalam laba rugi mencakup setiap bunga yang dibayar dari liabilitas keuangan. Nilai wajar ditentukan dengan cara yang dijelaskan dalam Catatan 47. Financial liabilities at FVTPL are stated at fair value, with any resultant gain or loss recognized in profit or loss. The net gain or loss recognized in profit or loss incorporates any interest paid on the financial liability. Fair value is determined in the manner described in Note 47. Liabilitas Keuangan pada Biaya Perolehan Diamortisasi Financial Liabilities at Amortized Cost Liabilitas keuangan meliputi utang usaha dan lainnya, obligasi, bank dan pinjaman lainnya, pada awalnya diukur pada nilai wajar, setelah dikurangi biaya transaksi, dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif. Financial liabilities, which include trade and other payables, bonds, bank and other borrowings, initially measured at fair value, net of transaction costs, and subsequently measured at amortized cost using the effective interest method. Penghentian pengakuan liabilitas keuangan Derecognition of financial liabilities Perusahaan dan entitas anak menghentikan pengakuan liabilitas keuangan, jika dan hanya jika, liabilitas Perusahaan dan entitas anak telah dilepaskan, dibatalkan atau kadaluarsa. The Company and its subsidiaries derecognizes financial liabilities when, and only when, the Company s and its subsidiaries obligations are discharged, cancelled or expired. i. Saling hapus antar Aset Keuangan dan Liabilitas Keuangan Aset dan liabilitas keuangan Perusahaan dan entitas anak saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan posisi keuangan jika dan hanya jika: i. Netting of Financial Assets and Financial Liabilities The Company and its subsidiaries only offset financial assets and liabilities and present the net amount in the statement of financial position where they: saat ini memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui tersebut; dan currently have a legal enforceable right to set off the recognized amount; and berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitasnya secara simultan. intend either to settle on a net basis, or to realize the asset and settle the liability simultaneously. j. Kas dan Setara Kas j. Cash and Cash Equivalents Untuk penyajian laporan arus kas, kas dan setara kas terdiri dari kas, bank dan semua investasi yang jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya dan yang tidak dijaminkan serta tidak dibatasi penggunaannya. For cash flow presentation purposes, cash and cash equivalents consist of cash on hand and in banks and all unrestricted investments with maturities of three months or less from the date of placement
167 k. Joint Venture k. Joint Venture Pengendalian bersama operasi PT Petrosea Tbk (Petrosea), entitas anak, mempunyai kontrak dalam bentuk usaha kerja sama operasi. Sehubungan dengan bagian partisipasi dalam pengendalian bersama operasi, Petrosea mengakui dalam laporan keuangannya: a. Aset yang dikendalikan dan liabilitas yang ditanggung; dan b. Beban yang ditanggung dan bagian pendapatan yang diperoleh dari penjualan barang dan jasa perusahaan bersama. Pengendalian bersama entitas Petrosea mengakui partisipasinya dalam pengendalian bersama entitas dengan menggunakan metode ekuitas. Jointly-controlled operations PT Petrosea Tbk (Petrosea), a subsidiary, engages in some contracts through participation in unincorporated joint operations. In respect of its interests in jointly controlled operations, Petrosea recognises in its financial statements: a. The assets that it controls and the liabilities that it incurs; and b. The expenses that it incurs and its share of the income that it earns from the sale of goods or services by the joint venture. Jointly-controlled entity Petrosea recognizes its interest in a jointly controlled entity using the equity method of accounting. l. Investasi pada Entitas Asosiasi l. Investments in Associates Entitas asosiasi adalah suatu entitas dimana Perusahaan dan entitas anak mempunyai pengaruh yang signifikan, namun tidak mempunyai pengendalian atau pengendalian bersama, melalui partisipasi dalam pengambilan keputusan kebijakan keuangan dan operasional investee. Penghasilan dan aset dan liabilitas dari entitas asosiasi digabungkan dalam laporan keuangan konsolidasian dicatat dengan menggunakan metode ekuitas, kecuali ketika investasi diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual, sesuai dengan PSAK 58 (revisi) 2009), Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan. Investasi pada entitas asosiasi dicatat di laporan posisi keuangan konsolidasian sebesar biaya perolehan dan selanjutnya disesuaikan untuk perubahan dalam bagian kepemilikan Perusahaan dan entitas anak atas aset bersih entitas asosiasi yang terjadi setelah perolehan, dikurangi dengan penurunan nilai yang ditentukan untuk setiap investasi secara individu. Bagian Perusahaan dan entitas anak atas kerugian entitas asosiasi yang melebihi nilai tercatat dari investasi (yang mencakup semua kepentingan jangka panjang, secara substansi, merupakan bagian dari Perusahaan dan nilai investasi bersih entitas anak dalam entitas asosiasi) diakui hanya sebatas bahwa Perusahaan dan entitas anak telah mempunyai kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif atau melakukan pembayaran atas kewajiban entitas asosiasi. An associate is an entity over which the Company and its subsidiaries are in a position to exercise significant influence, but not control or joint control, through participation in the financial and operating policy decisions of the investee. The results of operations and assets and liabilities of associates are incorporated in these consolidated financial statements using the equity method of accounting, except when the investment is classified as held for sale, in which case, it is accounted for in accordance with PSAK 58 (Revised 2009), Non-current Assets Held for Sale and Discontinued Operations. Investments in associates are carried in the consolidated statements of financial position at cost as adjusted by postacquisition changes in the Company and its subdiaries share of the net assets of the associate, less any impairment in the value of the individual investments. Losses of the associates in excess of the Company and its subsidiaries interest in those associates (which includes any long-term interests that, in substance, form part of the Company and its subsidiaries net investment in the associate) are recognized only to the extent that the Company and its subsidiaries have incurred legal or constructive obligations or made payments on behalf of the associate
168 Setiap kelebihan biaya perolehan investasi atas bagian Perusahaan dan entitas anak atas nilai wajar bersih dari aset yang teridentifikasi, liabilitas dan liabilitas kontinjen dari entitas asosiasi yang diakui pada tanggal akuisisi, diakui sebagai goodwill. Goodwill termasuk dalam jumlah tercatat investasi, dan diuji penurunan nilai sebagai bagian dari investasi. Setiap kelebihan dari kepemilikan Perusahaan dan entitas anak dari nilai wajar bersih dari aset yang teridentifikasi, liabilitas dan liabilitas kontinjen atas biaya perolehan investasi, sesudah pengujian kembali segera diakui di dalam laba rugi. Ketika Perusahaan dan entitas anak melakukan transaksi dengan entitas asosiasi, keuntungan dan kerugian dieliminasi sebesar kepentingan mereka dalam entitas asosiasi. Any excess of the cost of acquisition over the Company and its subsidiaries share of the net fair value of identifiable assets, liabilities and contingent liabilities of the associate recognized at the date of acquisition, is recognized as goodwill. Goodwill is included within the carrying amount of the investment and assessed for impairment as part of that investment. Any excess of the Company and its subsidiaries share of the net fair value of the identifiable assets, liabilities and contingent liabilities over the cost of acquisition, after reassessment, are recognised immediately in profit or loss. When the Company and its subsidiaries transact with an associate, profits and losses are eliminated to the extent of its interest in the relevant associate. m. Persediaan m. Inventories Persediaan batubara dinyatakan berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah. Biaya perolehan yang mencakup alokasi komponen biaya bahan baku, tenaga kerja, penyusutan dan biaya tidak langsung yang berkaitan dengan aktivitas penambangan, ditentukan dengan metode ratarata tertimbang. Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga penjualan dalam kegiatan usaha normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan. Suku cadang dan bahan pembantu, bahan bakar diesel dan minyak, minyak pelumas dan bahan peledak dinyatakan berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah. Biaya perolehan atas suku cadang dan bahan pembantu serta minyak pelumas ditentukan dengan metode rata-rata tertimbang sedangkan bahan bakar diesel dan minyak ditentukan dengan metode FIFO. Penyisihan untuk persediaan usang dan yang pergerakannya lambat ditentukan berdasarkan estimasi penggunaan masing-masing jenis persediaan pada masa mendatang. Bahan pendukung kegiatan pemeliharaan dicatat sebagai beban pokok kontrak dan penjualan dan beban usaha pada periode yang digunakan. Coal inventories are recognized at the lower of cost and net realizable value. Cost, which includes an appropriate allocation of material costs, labor costs and overhead costs related to mining activities, is determined using the weighted average method. Net realizable value is the estimated sales price in the ordinary course of business, less estimated costs of completion and costs necessary to make the sale. Spare parts and supplies, diesel fuel and fuel, lubricants and blasting materials are stated at cost or net realizable value, whichever is lower. Cost for spareparts and supplies as well as lubricants are determined using the weighted average method while diesel fuel and fuel are determined using the First-in-First-out (FIFO) method. The provision for obsolete and slow moving inventories is determined on the basis of estimated future usage of individual inventory items. Supplies of maintenance materials are charged to cost of contracts and goods sold and operating expenses in the period in which they are used. n. Biaya Dibayar Dimuka n. Prepaid Expenses Biaya dibayar dimuka diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan metode garis lurus. Prepaid expenses are amortized over their beneficial periods using the straight-line method
169 o. Aset Tidak Lancar Dimiliki Untuk Dijual o. Noncurrent Assets Held for Sale Aset tidak lancar diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual jika jumlah tercatatnya akan dipulihkan terutama melalui transaksi penjualan bukan melalui penggunaan lebih lanjut. Kondisi ini dianggap terpenuhi hanya ketika penjualan sangat mungkin dan aset tidak lancar yang tersedia untuk dijual segera dalam kondisi sekarang. Manajemen harus berkomitmen untuk penjualan yang diharapkan untuk memenuhi syarat untuk pengakuan sebagai penjualan yang selesai dalam satu tahun dari tanggal klasifikasi. Aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual diukur sebesar jumlah terendah dari jumlah tercatat sebelumnya dan nilai wajar dikurangi biaya untuk untuk menjual. Noncurrent assets are classified as held for sale if their carrying amount will be recovered principally through a sale transaction rather than through continuing use. This condition is regarded as met only when the sale is highly probable and the noncurrent asset is available for immediate sale in its present condition. Management must be committed to the sale, which should be expected to qualify for recognition as a completed sale within one year from the date of classification. Noncurrent assets held for sale are measured at the lower of their previous carrying amount and fair value less costs to sell. p. Properti Investasi p. Investment Properties Properti investasi adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai atau kedua-duanya. Properti investasi Grup terdiri dari bangunan yang diukur sebesar nilai perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian penurunan nilai. Investment properties are properties (land or a building or part of a building or both) held to earn rentals or for capital appreciation or both. Investment properties of the Group consisted of building which is measured at cost less accumulated depreciation and any accumulated impairment losses. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis selama 20 tahun Depreciation is computed using the straight-line method based on the estimated useful life of 20 years. q. Aset Tetap - Pemilikan Langsung q. Property, Plant and Equipment - Direct Acquisitions Aset tetap yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administratif dicatat berdasarkan biaya perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian penurunan nilai. Penyusutan diakui sebagai penghapusan biaya perolehan aset dikurangi nilai residu dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap sebagai berikut: Tahun/Years Property, plant and equipment held for use in the production or supply of goods or services, or for administrative purposes, are stated at cost, less accumulated depreciation and any accumulated impairment losses. Depreciation is recognized so as to write off the cost of assets less residual values using the straight-line method based on the estimated useful lives of the assets as follows: Bangunan, prasarana dan perbaikan bangunan 5-20 Buildings, leasehold and improvements Perabotan, perlengkapan dan peralatan kantor lainnya 4-5 Office furniture, fixture and other equipment Kendaraan bermotor dan helikopter 4-20 Motor vehicles and helicopter Mesin dan peralatan 4-5 Machinery and equipment Kapal: Vessels: Speedboat 4 Speedboat Landed Craft Tank (LCT) 8 Landed Craft Tank (LCT) Kapal Tunda, Tongkang, Kapal motor Tugboat, Barge, Motor vessel dan Floating crane 16 and Floating crane Alat berat dan pengangkutan, peralatan dan kendaraan 4-12 Plant, equipment, heavy equipment and vehicles
170 Sampai dengan 31 Desember 2010, alat berat, peralatan dan kendaraan milik Petrosea disusutkan atas dasar penggunaan jam kerja selama taksiran umur operasi mesin tersebut. Sejak 1 Januari 2011, penyusutan dari aset tersebut didasarkan kepada estimasi masa manfaat ekonomis yang disebutkan diatas. Masa manfaat ekonomis, nilai residu dan metode penyusutan direview setiap akhir tahun dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi tersebut berlaku prospektif. Tanah dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dan tidak disusutkan. Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasian pada saat terjadinya. Biaya-biaya lain yang terjadi selanjutnya yang timbul untuk menambah, mengganti atau memperbaiki aset tetap dicatat sebagai biaya perolehan aset jika dan hanya jika besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas dan biaya perolehan aset dapat diukur secara andal. Aset tetap yang sudah tidak digunakan lagi atau yang dijual, dikeluarkan dari kelompok aset tetap berikut akumulasi penyusutannya. Keuntungan atau kerugian dari penjualan aset tetap tersebut dibukukan dalam laporan laba rugi. Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan tersebut termasuk biaya pinjaman yang terjadi selama masa pembangunan yang timbul dari utang yang digunakan untuk pembangunan aset tersebut. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing aset tetap yang bersangkutan pada saat selesai dan siap digunakan. Up to December 31, 2010, plant, equipment, heavy equipment and vehicles of Petrosea are depreciated on an hourly utilization basis over the estimated total machine operating life. Starting January 1, 2011, depreciation of such assets are based on the estimated useful lives mentioned above. The estimated useful lives, residual values and depreciation method are reviewed at each year end, with the effect of any changes in estimate accounted for on a prospective basis. Land is stated at cost and is not depreciated. The cost of maintenance and repairs is charged to operations as incurred. Other costs incurred subsequently to add to, replace part of, or service an item of property, plant and equipment, are recognized as asset if, and only if it is probable that future economic benefits associated with the item will flow to the entity and the cost of the item can be measured reliably. When assets are retired or otherwise disposed of, their carrying amount is removed from the accounts and any resulting gain or loss is reflected in profit or loss. Construction in progress is stated at cost which includes borrowing costs during construction on debts incurred to finance the construction. Construction in progress is transferred to the respective property, plant and equipment account when completed and ready for use. r. Sewa r. Leases Sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substantial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Sewa lainnya, yang tidak memenuhi kriteria tersebut, diklasifikasikan sebagai sewa operasi. Sebagai Lessee Aset pada sewa pembiayaan dicatat pada awal masa sewa sebesar nilai wajar aset sewaan Perusahaan dan entitas anak yang ditentukan pada awal kontrak atau, jika lebih rendah, sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum. Liabilitas kepada lessor disajikan di dalam laporan posisi keuangan konsolidasian sebagai liabilitas sewa pembiayaan. Leases are classified as finance leases whenever the terms of the lease transfer substantially all the risks and rewards of ownership to the lessee. All other leases are classified as operating leases. As lessee Assets held under finance leases are initially recognized as assets of the Company and its subsidiaries at their fair value at the inception of the lease or, if lower, at the present value of the minimum lease payments. The corresponding liability to the lessor is included in the consolidated statements of financial position as a finance lease obligation
171 Pembayaran sewa harus dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pengurangan dari liabilitas sewa sehingga mencapai suatu tingkat bunga yang konstan (tetap) atas saldo liabilitas. Rental kontinjen dibebankan pada periode terjadinya. Pembayaran sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus (straight-line basis) selama masa sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati pengguna. Rental kontinjen diakui sebagai beban di dalam periode terjadinya. Dalam hal insentif diperoleh dalam sewa operasi, insentif tersebut diakui sebagai liabilitas. Keseluruhan manfaat dari insentif diakui sebagai pengurangan dari biaya sewa dengan dasar garis lurus kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat yang dinikmati pengguna. Jual dan Sewa-balik Aset yang dijual berdasarkan transaksi jual dan sewa balik diperlakukan sebagai berikut: Jika transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa pembiayaan, selisih lebih hasil penjualan dari nilai tercatat aset ditangguhkan dan diamortisasi selama masa sewa. Jika transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa operasi dan jelas bahwa transaksi tersebut terjadi pada nilai wajar, maka laba atau rugi harus diakui segera. Jika harga jual di bawah nilai wajar, maka laba atau rugi harus diakui segera, kecuali rugi tersebut dikompensasikan dengan pembayaran sewa di masa depan yang lebih rendah dari harga pasar, maka rugi tersebut harus ditangguhkan dan diamortisasi secara proporsional dengan pembayaran sewa selama periode penggunaan aset. Jika harga jual di atas nilai wajar, selisih lebih dari nilai wajar tersebut ditangguhkan dan diamortisasi selama periode penggunaan aset. Untuk sewa operasi, jika nilai wajar aset pada saat transaksi jual dan sewa-balik lebih rendah daripada nilai tercatatnya, rugi sebesar selisih antara nilai tercatat dan nilai wajar harus diakui segera. Lease payments are apportioned between finance charges and reduction of the lease obligation so as to achieve a constant rate of interest on the remaining balance of the liability. Contingent rentals are recognized as expense in the periods in which they are incurred. Operating lease payments are recognized as an expense on a straight-line basis over the lease term, except where another systematic basis is more representative of the time pattern in which economic benefits from the leased asset are consumed. Contingent rentals arising under operating leases are recognized as an expense in the period in which they are incurred. In the event that lease incentives are received to enter into operating leases, such incentives are recognized as a liability. The aggregate benefit of incentives is recognized as a reduction of rental expense on a straight-line basis, except where another systematic basis is more representative of the time pattern in which economic benefits from the leased asset are consumed. Sale and Leaseback Assets sold under a sale and leaseback transaction are accounted for as follows: If the sale and leaseback transaction results in` a finance lease, any excess of sales proceeds over the carrying amount of the asset is deferred and amortized over the lease term. If the sale and leaseback transaction results in an operating lease, and it is clear that the transaction is established at fair value, any profit or loss is recognized immediately. If the sale price is below fair value, any profit or loss is recognized immediately except that, if the loss is compensated by future lease payments at below market price, it shall be deferred and amortized in proportion to the lease payments over the period for which the asset is expected to be used. If the sale price is above fair value, the excess over fair value is deferred and amortized over the period for which the asset is expected to be used. For operating leases, if the fair value at the time of a sale and leaseback transaction is less than the carrying amount of the asset, a loss equal to the amount of the difference between the carrying amount and fair value is recognized immediately
172 Untuk sewa pembiayaan, penyesuaian seperti di atas tidak diperlukan kecuali jika telah terjadi penurunan nilai. Dalam hal ini, jumlah tercatat berkurang menjadi jumlah yang dapat dipulihkan. For finance leases, no such adjustment is necessary unless there has been an impairment in value, in which case the carrying amount is reduced to recoverable amount. s. Aset Tidak Berwujud s. Intangible Assets Aset tidak berwujud yang diperoleh dari kombinasi bisnis, diidentifikasi dan diakui terpisah dari goodwill apabila definisi aset tidak berwujud dipenuhi dan nilai wajarnya dapat diukur secara andal. Biaya perolehan aset tidak berwujud adalah nilai wajar pada tanggal perolehan. Setelah pengakuan awal, aset tidak berwujud yang diperoleh dari kombinasi bisnis dilaporkan sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan penurunan nilai. Aset tidak berwujud diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus selama estimasi masa manfaatnya. Estimasi masa manfaat dan metode amortisasi ditelaah pada setiap akhir periode laporan keuangan dan pengaruh perubahan estimasi diperhitungkan secara prospektif. Aset tidak berwujud atas pengembangan sistem dan perangkat lunak komputer, termasuk seluruh biaya langsung terkait persiapan untuk tujuan penggunaan dan diamortisasi selama 3 tahun dengan menggunakan metode garis lurus. Intangible assets acquired in a business combination are identified and recognized separately from goodwill when they satisfy the definition of an intangible asset and their fair value can be measured reliably. The cost of such intangible assets is their fair value at the acquisition date. Subsequent to initial recognition, intangible assets acquired in a business combination are reported at cost less accumulated amortization and accumulated impairment losses. Intangible assets are amortized on a straightline basis over their estimated useful lives. The estimated useful life and amortization method are reviewed at the end of each annual reporting period, with the effect of any changes in estimate being accounted for on a prospective basis. Intangible asset, comprising of system development and computer software, include all direct costs related to preparation of the asset for its intended use and is amortized over 3 years using the straight-line method. t. Goodwill t. Goodwill Goodwill yang timbul dari kombinasi bisnis diakui sebagai aset pada tanggal diperolehnya pengendalian (tanggal akuisisi). Goodwill diukur sebagai selisih dari imbalan yang dialihkan, jumlah setiap kepentingan non-pengendali pihak yang diakuisisi dan nilai wajar dari kepentingan ekuitas yang sebelumnya dimiliki pihak pengakuisisi pada pihak yang diakuisisi (jika ada) atas jumlah selisih bersih dari aset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih pada tanggal akuisisi. Jika setelah penilaian kembali, kepemilikan Perusahaan dan entitas anak pada nilai wajar aset bersih yang teridentifikasi dari pihak yang diakuisisi melebihi dari imbalan yang dialihkan, jumlah setiap kepentingan non-pengendali pihak yang diakuisisi dan nilai wajar dari kepentingan ekuitas yang sebelumnya dimiliki pihak pengakuisisi pada pihak yang diakuisisi (jika ada), selisihnya diakui segera dalam laba atau rugi sebagai pembelian dengan diskon. Goodwill arising in a business combination is recognised as an asset at the date that control is acquired (the acquisition date). Goodwill is measured as the excess of the sum of the consideration transferred, the amount of any non-controlling interest in the acquiree and the fair value of the acquirer s previously held equity interest (if any) in the entity over net of the acquisition-date amounts of the identifiable assets acquired and the liabilities assumed. If, after reassessment, the Company and subsidiaries interest in the fair value of the acquiree s identifiable net assets exceeds the sum of the consideration transferred, the amount of any non-controlling interest in the acquiree and the fair value of the acquirer s previously held equity interest in the acquiree (if any), the excess is recognised immediately in profit or loss as a bargain purchase gain
173 Efektif 1 Januari 2011, goodwill tidak diamortisasi melainkan di-review untuk penurunannya sekurang-kurangnya sekali setahun. Sebelumnya goodwill diakui sebagai aset dan diamortisasi secara garis lurus selama 5 sampai10 tahun. Effective January 1, 2011, goodwill is no longer amortised but is reviewed for impairment at least annually. Previously, goodwill is recognized as asset and amortized using the straight-line method over 5 to 10 years. Untuk tujuan uji penurunan nilai, goodwill dialokasikan pada setiap unit penghasil kas dari Perusahan dan entitas anak yang diharapkan memberikan manfaat dari sinergi kombinasi bisnis tersebut. Unit penghasil kas yang telah memperoleh alokasi goodwill diuji penurunan nilainya secara tahunan, dan ketika terdapat indikasi bahwa unit tersebut mengalami penurunan nilai. Jika jumlah terpulihkan dari unit penghasil kas kurang dari jumlah tercatatnya, rugi penurunan nilai dialokasikan pertama untuk mengurangi jumlah tercatat aset atas setiap goodwill yang dialokasikan pada unit dan selanjutnya ke aset lainnya dari unit dibagi prorata atas dasar jumlah tercatat setiap aset dalam unit tersebut. Rugi penurunan nilai yang diakui atas goodwill tidak dapat dibalik pada periode berikutnya. Pada pelepasan entitas anak, jumlah yang dapat diatribusikan dari goodwill termasuk dalam penentuan laba atau rugi atas pelepasan. For the purpose of impairment testing, goodwill is allocated to each of the Company and the subsidiaries cash-generating units expected to benefit from the synergies of the combination. Cash-generating units to which goodwill has been allocated are tested for impairment annually, or more frequently when there is an indication that the unit may be impaired. If the recoverable amount of the cash-generating unit is less than its carrying amount, the impairment loss is allocated first to reduce the carrying amount of any goodwill allocated to the unit and then to the other assets of the unit pro-rata on the basis of the carrying amount of each asset in the unit. An impairment loss recognized for goodwill is not reversed in a subsequent period. On disposal of the subsidiary, the attributable amount of goodwill is included in the determination of the profit or loss on disposal. u. Beban Tangguhan Hak Atas Tanah u. Deferred Charges for Landrights Sebelum 1 Januari 2012, biaya yang terjadi sehubungan dengan pengurusan legal hak atas tanah ditangguhkan dan diamortisasi dengan metode garis lurus sepanjang umur hukum hak atas tanah karena umur hukum hak atas tanah lebih pendek dari umur ekonomisnya. Sejak tanggal 1 Januari 2012, Perusahaan dan entitas anak menerapkan ISAK 25, Hak Atas Tanah, yang mengakibatkan reklasifikasi dari akun beban tangguhan hak atas tanah menjadi biaya perolehan atas tanah (Catatan 2). v. Penurunan Nilai Aset Berwujud dan Tidak Berwujud Kecuali Goodwill Pada tanggal pelaporan, Perusahaan dan entitas anak menelaah nilai tercatat aset nonkeuangan untuk menentukan apakah terdapat indikasi bahwa aset tersebut telah mengalami penurunan nilai atau kemungkinan untuk pemulihan atas penurunan nilai yang telah dicatat sebelumnya. Jika terdapat indikasi tersebut, nilai yang dapat diperoleh kembali dari aset diestimasi untuk menentukan tingkat kerugian penurunan nilai (jika ada). Bila tidak memungkinkan untuk mengestimasi nilai yang dapat diperoleh kembali atas suatu aset individu, Perusahaan dan entitas anak mengestimasi nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas atas aset. Prior to January 1, 2012, expenses related to the legal processing of landrights are deferred and amortized using the straight-line method over the legal term of the landrights since the legal term of the right is shorter than its economic life. Starting January 1, 2012, the Company and its subsidiaries adopted ISAK 25, Landrights, which has resulted to reclassification of deferred charges for landrights to cost of land acquisition (Note 2). v. Impairment of Tangible and Intangible Assets Excluding Goodwill At reporting dates, the Company and its subsidiaries review the carrying amount of nonfinancial assets to determine whether there is any indication that those assets have suffered an impairment loss or possibility to reverse the impairment that was previously recorded. If any such indication exists, the recoverable amount of the asset is estimated in order to determine the extent of the impairment loss (if any). If it is not possible to estimate the recoverable amount of an individual asset, the Company and its subsidiaries estimate the recoverable amount of the cash generating unit to which the asset belongs
174 Perkiraan jumlah yang dapat diperoleh kembali adalah nilai tertinggi antara harga jual neto atau nilai pakai. Jika jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aset non-keuangan (unit penghasil kas) kurang dari nilai tercatatnya, nilai tercatat aset (unit penghasil kas) dikurangi menjadi sebesar nilai yang dapat diperoleh kembali dan rugi penurunan nilai diakui langsung ke laba rugi. Kebijakan akuntansi untuk penurunan nilai aset keuangan dijelaskan dalam Catatan 3g; penurunan nilai untuk goodwill dijelaskan dalam Catatan 3t. Estimated recoverable amount is the higher of fair value less cost to sell and value in use. If the recoverable amount of the non-financial asset (cash generating unit) is less than its carrying amount, the carrying amount of the asset (cash generating unit) is reduced to its recoverable amount and an impairment loss is recognized immediately against earnings. Accounting policy for impairment of financial assets is discussed in Note 3g; while impairment for goodwill is discussed in Note 3t. w. Aset Eksplorasi dan Evaluasi w. Exploration and Evaluation Assets Aktivitas eksplorasi dan evaluasi meliputi pencarian sumber daya mineral, penentuan kelayakan teknis dan penilaian komersial atas sumber daya mineral spesifik. Pengeluaran eksplorasi dan evaluasi meliputi biaya yang berhubungan langsung dengan: - perolehan hak untuk eksplorasi; - kajian topografi, geologi, geokimia, dan geofisika; - pengeboran eksplorasi; - pemaritan dan pengambilan contoh; dan - aktivitas yang terkait dengan evaluasi kelayakan teknis dan komersial atas penambangan sumber daya mineral. Biaya eksplorasi dan evaluasi yang berhubungan dengan suatu area of interest dibebankan pada saat terjadinya kecuali biaya tersebut dikapitalisasi dan ditangguhkan, berdasarkan area of interest, apabila memenuhi salah satu dari ketentuan berikut ini: (i) biaya tersebut diharapkan dapat diperoleh kembali melalui keberhasilan pengembangan dan eksploitasi di area of interest tersebut atau melalui penjualan atas area of interest tersebut; atau (ii) kegiatan eksplorasi dalam area of interest tersebut belum mencapai tahap yang memungkinkan penentuan adanya cadangan terbukti yang secara ekonomis dapat diperoleh, serta kegiatan yang aktif dan signifikan dalam atau berhubungan dengan area of interest tersebut masih berlanjut. Exploration and evaluation activity involves the search for mineral resources, determination of the technical feasibility and assessment of the commercial viability of the mineral resource. Exploration and evaluation expenditures comprise of costs that are directly attributable to: - acquisition of rights to explore; - topographical, geological, geochemical and geophysical studies; - exploratory drilling; - trenching and sampling; and - activities involved in evaluating the technical feasibility and commercial viability of extracting mineral resources. Exploration and evaluation expenditures related to an area of interest is written off as incurred, unless they are capitalised and carried forward, on an area of interest basis, provided one of the following conditions is met: (i) the costs are expected to be recouped through successful development and exploitation of the area of interest or, alternatively, by its sale; or (ii) exploration activities in the area of interest have not yet reached the stage which permits a reasonable assessment of the existence or otherwise of economically recoverable reserves and active and significant operations in or in relation to the area of interest are continuing
175 Biaya yang dikapitalisasi mencakup biayabiaya yang berkaitan langsung dengan aktivitas eksplorasi dan evaluasi pada area of interest yang relevan. Biaya umum dan administrasi dialokasikan sebagai aset eksplorasi atau evaluasi hanya jika biaya tersebut berkaitan langsung dengan aktivitas operasional pada area of interest yang relevan. Aset eksplorasi dan evaluasi dicatat sebesar harga perolehan dikurangi kerugian penurunan nilai. Karena belum siap untuk digunakan, aset tersebut tidak disusutkan. Aset eksplorasi dan evaluasi diuji penurunan nilainya ketika fakta dan kondisi mengindikasikan adanya penurunan nilai. Aset eksplorasi dan evaluasi juga diuji penurunan nilainya ketika terjadi penemuan cadangan komersial, sebelum aset tersebut ditransfer ke properti pengembangan. Capitalised costs include costs directly related to exploration and evaluation activities in the relevant area of interest. General and administrative costs are allocated to an exploration or evaluation asset only to the extent that those costs can be related directly to operational activities in the relevant area of interest. Exploration and evaluation assets is recorded at cost less impairment charges. As the asset is not available for use, it is not depreciated. Exploration and evaluation assets are assessed for impairment if facts and circumstances indicate that impairment may exist. Exploration and evaluation assets are also tested for impairment once commercial reserves are found, before the assets are transferred to development properties. x. Properti Pengembangan x. Development Properties Biaya pengembangan diakumulasi secara terpisah untuk setiap area of interest pada saat cadangan terpulihkan yang secara ekonomis dapat diidentifikasi. Biaya tersebut termasuk biaya yang dapat diatribusikan secara langsung pada konstruksi tambang dan infrastruktur terkait. Tahap pengembangan dimulai setelah kelayakan teknis dan komersial untuk penggalian sumber daya mineral yang dibuktikan. Ketika keputusan pengembangan telah diambil, jumlah tercatat aset eksplorasi dan evaluasi pada area of interest tertentu diagregat dengan biaya pengembangan dan diklasifikasikan dalam aset tidak lancar sebagai properti pengembangan Properti pengembangan direklasifikasi sebagai properti pertambangan pada akhir tahap komisioning, ketika tambang tersebut dapat beroperasi sesuai dengan maksud manajemen. Properti pengembangan tidak disusutkan sampai properti pengembangan tersebut direklasifikasi menjadi properti pertambangan. Properti pengembangan diuji penurunan nilainya berdasarkan kebijakan pada Catatan 3w. Development expenditure incurred by or on behalf of the Company and its subsidiaries is accumulated separately for each area of interest in which economically recoverable resources have been identified. Such expenditure comprises of costs directly attributable to the construction of a mine and the related infrastructure. Development phase begins after the technical feasibility and commercial viability of extracting a mineral resource are demonstrable. Once a development decision has been taken, the carrying amount of the exploration and evaluation assets relating to the area of interest is aggregated with the development expenditure and classified under non-current assets as development properties. A development property is reclassified as a mining property at the end of the commissioning phase, when the mine is capable of operating in the manner intended by management. No depreciation is recognised for development properties until they are reclassified as mining properties. Development properties are tested for impairment in accordance with the policy in Note 3w
176 y. Properti Pertambangan y. Mining Properties Ketika biaya pengembangan lebih lanjut atas properti pertambangan terjadi setelah dimulainya aktivitas produksi, maka biaya tersebut akan ditangguhkan sebagai bagian dari properti pertambangan apabila terdapat kemungkinan besar manfaat ekonomi masa depan tambahan sehubungan dengan biaya tersebut akan mengalir ke Perusahaan dan entitas anak. Jika tidak, biaya tersebut dibebankan sebagai biaya produksi. Properti pertambangan (termasuk biaya eksplorasi, evaluasi dan pengembangan, dan pembayaran untuk memperoleh hak atas mineral dan sewa) disusutkan menggunakan metode unit produksi, dengan perhitungan terpisah untuk setiap area of interest. Basis unit produksi menghasilkan pembebanan penyusutan secara proporsional berdasarkan deplesi cadangan terbukti dan cadangan terduga. Properti pertambangan diuji penurunan nilai berdasarkan kebijakan pada Catatan 3w. When further development expenditure is incurred on a mining property after the commencement of production, the expenditure is carried forward as part of the mining property when it is probable that additional future economic benefits associated with the expenditure will flow to the Company and its subsidiaries. Otherwise this expenditure is classified as a cost of production. Mining properties (including exploration, evaluation and development expenditures, and payments to acquire mineral rights and leases) are depreciated using the units-of-production method, with separate calculations being made for each area of interest. The units-ofproduction basis results in a depreciation charge proportional to the depletion of the proved and probable reserves. Mining properties are tested for impairment in accordance with the policy described in Note 3w. z. Biaya Pengupasan Lapisan Tanah z. Stripping Costs Biaya pengupasan lapisan tanah dibebankan sebagai biaya produksi berdasarkan rasio pengupasan lapisan tanah tahunan yang direncanakan. Rasio pengupasan lapisan tanah tahunan yang direncanakan tersebut ditetapkan berdasarkan rencana pengembangan batubara dan diperkirakan tidak akan berbeda jauh dengan rasio pengupasan lapisan tanah jangka panjang yang direncanakan. Jika rasio pengupasan lapisan tanah aktual melebihi rasio yang direncanakan, kelebihan biaya pengupasan lapisan tanah tersebut akan dibukukan sebagai biaya pengupasan lapisan tanah yang ditangguhkan dalam laporan posisi keuangan. Jika rasio pengupasan aktual lebih rendah daripada rasio yang direncanakan, selisihnya disesuaikan terhadap saldo biaya pengupasan lapisan tanah yang ditangguhkan dari periode sebelumnya atau diakui di laporan posisi keuangan sebagai biaya pengupasan lapisan tanah yang masih harus dibayar. Perubahan atas rasio yang direncanakan merupakan perubahan estimasi dan diterapkan secara prospektif. Saldo awal dari biaya pengupasan lapisan tanah yang masih harus dibayar atau yang ditangguhkan diamortisasi menggunakan metode garis lurus selama sisa umur tambang atau masa Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang mana yang lebih singkat. Stripping costs are recognised as production costs based on the annual planned stripping ratio. The annual planned stripping ratio is determined based on current knowledge of the disposition of coal resources and is estimated not to be materially different from the long term planned stripping ratio. If the actual stripping ratio exceeds the planned ratio, the excess stripping costs are recorded in the statements of financial position as deferred stripping costs. If the actual stripping ratio is lower than planned stripping ratio, the difference is adjusted against the amount of deferred stripping costs carried forward from prior periods or is recognised in the statements of financial position as accrued stripping costs. Changes in the planned stripping ratio are considered as changes in estimates and are accounted for on a prospective basis. The beginning balance of accrued or deferred stripping costs is amortised on a straight-line basis over the remaining mine life, or the remaining term of the mining license (Izin Usaha Pertambangan or IUP), whichever is shorter
177 Biaya pengupasan lapisan tanah yang ditangguhkan termasuk dalam basis biaya aset dalam menentukan unit penghasil kas untuk keperluan penilaian penurunan nilai. aa. Provisi Provisi diakui ketika Perusahaan dan entitas anak memiliki liabilitas kini (baik bersifat hukum maupun konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu, kemungkinan besar Perusahaan dan entitas anak diharuskan menyelesaikan liabilitas dan estimasi andal mengenai jumlah liabilitas tersebut dapat dibuat. Jumlah yang diakui sebagai provisi merupakan estimasi terbaik dari pertimbangan yang diperlukan untuk menyelesaikan liabilitas kini pada akhir periode pelaporan, dengan mempertimbangkan risiko dan ketidakpastian yang meliputi liabilitasnya. Apabila suatu provisi diukur menggunakan arus kas yang diperkirakan untuk menyelesaikan liabilitas kini, maka nilai tercatatnya adalah nilai kini dari arus kas. Ketika beberapa atau seluruh manfaat ekonomi untuk penyelesaian provisi yang diharapkan dapat dipulihkan dari pihak ketiga, piutang diakui sebagai aset apabila terdapat kepastian bahwa penggantian akan diterima dan jumlah piutang dapat diukur secara andal. bb. Pengakuan Pendapatan dan Beban Pendapatan dan Beban Kontrak Apabila hasil kontrak konstruksi dapat diestimasi secara andal, pendapatan dan biaya kontrak terkait dengan kontrak konstruksi diakui dengan menggunakan metode persentase penyelesaian yang diukur dari tahap penyelesaian kontrak pada laporan posisi keuangan oleh engineer dan disetujui oleh pemilik proyek. Pada tanggal pelaporan, selisih lebih estimasi pendapatan diatas tagihan kemajuan kontrak disajikan sebagai aset lancar, sedangkan selisih lebih tagihan kemajuan kontrak diatas estimasi pendapatan disajikan sebagai liabilitas lancar. Bila hasil kontrak konstruksi tidak dapat diestimasi secara andal, maka pendapatan kontrak diakui hanya sebesar biaya yang terjadi sepanjang biaya tersebut diperkirakan dapat dipulihkan. Biaya kontrak diakui sebagai beban dalam periode terjadinya. Deferred stripping costs are included in the cost base of assets when determining a cash generating unit for impairment assessment purposes. aa. Provision Provisions are recognized when the Company and its subsidiaries have a present obligation (legal or constructive) as a result of a past event, it is probable that the Company and its subsidiaries will be required to settle the obligation, and a reliable estimate can be made of the amount of the obligation. The amount recognized as a provision is the best estimate of the consideration required to settle the present obligation at the end of the reporting period, taking into account the risks and uncertainties surrounding the obligation. Where a provision is measured using the cash flows estimated to settle the present obligation, its carrying amount is the present value of those cash flows. When some or all of the economic benefits required to settle a provision are expected to be recovered from a third party, a receivable is recognized as an asset if it is virtually certain that reimbursement will be received and the amount of the receivable can be measured reliably. bb. Revenue and Expense Recognition Contract Revenue and Cost of Contract When the outcome of a construction contract can be measured realiably, contract revenue and contract cost associated with the construction contracts, are recognized using the percentage-of-completion method, measured by percentage of work completed to date as estimated by engineers and approved by the project owner. At reporting dates, earnings in excess of billings on construction contracts are presented as current assets, while billings in excess of estimated earnings are presented as current liability. Where the outcome of a construction contract cannot be reliably estimated, contract revenue is recognized to the extent of contract costs incurred that is probable to be recoverable. Contract costs are recognized as expenses in the period they are incurred
178 Bila besar kemungkinan bahwa jumlah biaya kontrak konstruksi melebihi jumlah pendapatan kontrak, maka taksiran kerugian segera diakui sebagai beban. Biaya kontrak meliputi seluruh biaya material, tenaga kerja dan biaya tidak langsung yang berhubungan dengan kontrak. Penjualan Barang Pendapatan dari penjualan barang diakui bila seluruh kondisi berikut dipenuhi: Perusahaan dan entitas anak telah memindahkan risiko secara signifikan dan memindahkan manfaat kepemilikan barang kepada pembeli; When it is probable that the total contract costs will exceed total contract revenue, the expected loss is recognized as an expense immediately. Cost of contracts include all direct materials, labor and other indirect costs related to the performance of the contracts. Sale of Goods Revenue from sales of goods is recognized when all of the following conditions are satisfied: The Company and its subsidiaries have transferred to the buyer the significant risks and rewards of ownership of the goods; Perusahaan dan entitas anak tidak lagi mengelola atau melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual; The Company and its subsidiaries retain neither continuing managerial involvement to the degree usually associated with ownership nor effective control over the goods sold; Jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal; The amount of revenue can be measured reliably; Besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi akan mengalir kepada Perusahaan dan entitas anak tersebut; dan It is probable that the economic benefits associated with the transaction will flow to the Company and its subsidiaries; and Biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan transaksi penjualan dapat diukur dengan andal. Penjualan Jasa Jika hasil transaksi yang terkait dengan penjualan jasa dapat diestimasi secara andal, maka pendapatan sehubungan dengan transaksi tersebut diakui dengan acuan pada tingkat penyelesaian dari transaksi pada akhir periode pelaporan. Tingkat penyelesaian transaksi dapat ditentukan dengan berbagai metode. Entitas menggunakan metode yang dapat mengukur secara andal jasa yang diberikan. Bergantung pada sifat transaksi, metode tersebut dapat mencakup: a. Survei pekerjaan yang telah dilaksanakan; b. Jasa yang dilakukan hingga tanggal tertentu sebagai persentase dari total jasa yang dilakukan; atau c. Proporsi biaya yang timbul hingga tanggal tertentu dibagi estimasi total biaya transaksi tersebut. Hanya biaya yang mencerminkan jasa yang dilaksanakan hingga tanggal tertentu dimasukkan dalam biaya yang terjadi hingga tanggal tersebut. Hanya biaya yang mencerminkan jasa yang dilakukan atau akan dilakukan yang dimasukkan ke dalam estimasi total biaya transaksi tersebut. The cost incurred or to be incurred in respect of the transaction can be measured reliably. Rendering of Services When the outcome of a transaction involving the rendering of services can be estimated reliably, revenue associated with the transaction shall be recognized by reference to the stage of completion of the transaction at the end of the reporting period. The stage of completion of a transaction may be determined by a variety of methods. An entity uses the method that measures reliably the services performed. Depending on the nature of the transaction, the methods may include: a. Surveys of work performed; b. Services performed to date as a percentage of total services to be performed; or c. The proportion that costs incurred to date bear to the estimated total costs of the transaction. Only costs that reflect services performed to date are included in costs incurred to date. Only costs that reflect services performed or to be performed are included in the estimated total costs of the transaction
179 Pendapatan Dividen Pendapatan dividen dari investasi diakui ketika hak pemegang saham untuk menerima pembayaran ditetapkan. Pendapatan bunga Pendapatan bunga diakui berdasarkan metode suku bunga efektif. Beban Beban diakui pada saat terjadinya. cc. Imbalan Pasca Kerja Perusahaan, IIC, Petrosea, MBSS, TPEC dan TPE membukukan imbalan pasca kerja imbalan pasti untuk karyawannya sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan No. 13/2003. Tidak terdapat pendanaan yang disisihkan oleh Perusahaan dan entitas anak sehubungan dengan imbalan pasca kerja ini. Perhitungan imbalan pasca kerja menggunakan metode Projected Unit Credit. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial yang belum diakui yang melebihi 10% dari nilai kini liabilitas imbalan pasti diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diperkirakan dari para pekerja dalam program tersebut (corridor approach). Biaya jasa lalu dibebankan langsung apabila imbalan tersebut telah menjadi hak atau vested, dan sebaliknya akan diamortisasi dengan metode garis lurus selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested. Mulai 1 Januari 2012 PSAK 24 (revisi 2010), Imbalan Kerja, juga memperkenankan pengakuan akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial sebagai pendapatan komprehensif lainnya di ekuitas, akan tetapi, Perusahaan dan entitas anak tetap menerapkan pendekatan koridor. Jumlah yang diakui sebagai liabilitas imbalan pasti di laporan posisi keuangan konsolidasian merupakan nilai kini liabilitas imbalan pasti, yang disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial yang belum diakui, dan biaya jasa lalu yang belum diakui. Pada saat terjadi kurtailmen atau penyelesaian, setiap kerugian atau keuntungan kurtailmen dan penyelesaian dicatat dalam laporan laba rugi komprehensif tahun berjalan. Dividend Revenue Dividend revenue from investments is recognized when the shareholders rights to receive payment has been established. Interest Revenue Interest revenue is recognized using the effective interest method. Expenses Expenses are recognized when incurred. cc. Post-employment Benefits The Company, IIC, Petrosea, MBSS, TPEC and TPE provide defined post-employment benefits to their employees in accordance with Labor Law No. 13/2003. No funding has been made to the defined benefit plans. The cost of providing post-employment benefits is determined using the Projected Unit Credit Method. The accumulated unrecognized actuarial gains and losses that exceed 10% of the present value of the defined benefit obligations is recognized on the straight-line basis over the expected average remaining working lives of the participating employees (corridor approach). Past service cost is recognized immediately to the extent that the benefits are already vested, and otherwise is amortized on a straight-line basis over the average period until the benefits become vested. Beginning January 1, 2012, PSAK 24 (revised 2010), Employee Benefits, also allows the recognition of accumulated actuarial gains and losses as other comprehensive income under equity, however, the Company and its subsidiaries continues to apply the corridor approach. The post-employment benefits obligation recognized in the consolidated statements of financial position represents the present value of the defined benefit obligation, as adjusted for unrecognized actuarial gains and losses and unrecognized past service cost. When the curtailment or settlement occurs, any resulting gain or loss from is charged to statements of comprehensive income
180 dd. Program Opsi Saham Karyawan dan Manajemen Program Opsi Saham Karyawan dan Manajemen (EMSOP) adalah suatu penetapan mengenai pemberian kompensasi dengan penyelesaian secara ekuitas yaitu berbasis saham yang ditentukan sebesar nilai wajar atas instrumen modal tersebut pada tanggal pemberian kompensasi. Nilai wajar tersebut dibebankan dengan menggunakan metode garis lurus selama periode vesting berdasarkan estimasi manajemen atas instrumen modal tersebut yang pada akhirnya akan diberikan. Pada setiap tanggal pelaporan, pihak manajemen akan merevisi estimasi atas jumlah instrumen modal yang diharapkan akan diberikan. Jika terdapat pengaruh atas revisi terhadap estimasi awal akan diakui dalam laporan laba rugi selama sisa periode vesting dengan suatu penyesuaian yang sesuai pada akun Opsi Saham yang merupakan bagian dari ekuitas. ee. Pajak Penghasilan Pajak Tidak Final Beban pajak kini dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian ditentukan berdasarkan laba kena pajak dalam periode yang bersangkutan yang dihitung sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku. Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode mendatang yang timbul dari perbedaan nilai tercatat aset dan liabilitas menurut laporan keuangan dengan dasar pengenaan pajak aset dan liabilitas. Liabilitas pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan aset pajak tangguhan diakui untuk perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan rugi fiskal, sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba kena pajak dan kerugian fiskal pada masa datang. Pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal pelaporan. Pajak tangguhan dibebankan atau dikreditkan dalam laporan laba rugi, kecuali aset tangguhan yang dibebankan atau dikreditkan langsung ke pendapatan komprehensif lainnya, dalam hal ini pajak tangguhan juga dibebankan atau dikreditkan langsung ke pendapatan komprehensif lainnya. dd. Employee and Management Stock Option Program Employee and Management Stock Option Program (EMSOP), an equity-settled share based payment arrangement, is measured at the fair value of the equity instrument at grant date. The fair value determined at grant date is expensed on a straight-line basis over the vesting period, based on management estimate of equity instruments that will eventually vest. At reporting dates, management revises its estimate of the number of equity instruments expected to vest. The impact of the revision of the original estimate, if any, is recognized in profit and loss over the remaining vesting period, with a corresponding adjustment in Stock Option account under equity. ee. Income Tax Non-Final Tax Current tax expense in the consolidated statements of comprehensive income is determined on the basis of taxable income for the period computed in accordance with the prevailing tax rules and regulations. Deferred tax assets and liabilities are recognized for the future tax consequences attributable to differences between the financial statement carrying amounts of assets and liabilities and their respective tax bases. Deferred tax liabilities are recognized for all taxable temporary differences and deferred tax assets are recognized for deductible temporary differences and fiscal losses to the extent that it is probable that taxable income will be available in future periods against which the deductible temporary differences and fiscal losses can be utilized. Deferred tax is calculated at the tax rates that have been enacted or substantively enacted at the reporting date. Deferred tax is charged or credited in the profit or loss, except when it relates to items charged or credited directly to other comprehensive income, in which case the deferred tax is also charged or credited directly to other comprehensive income
181 Pengukuran aset dan liabilitas pajak tangguhan mencerminkan konsekuensi pajak yang sesuai dengan cara Perusahaan dan entitas anak ekspektasikan, pada akhir periode pelaporan, untuk memulihkan atau menyelesaikan jumlah tecatat aset dan liabilitasnya. Jumlah tercatat aset pajak tangguhan dikaji ulang pada akhir periode pelaporan dan dikurangi jumlah tercatatnya jika kemungkinan besar laba kena pajak tidak lagi tersedia dalam jumlah yang memadai untuk mengkompensasikan sebagian atau seluruh aset pajak tangguhan tersebut. Aset dan liabilitas pajak tangguhan saling hapus ketika entitas memiliki hak yang dapat dipaksakan secara hukum untuk melakukan saling hapus aset pajak kini terhadap liabilitas pajak kini dan ketika aset pajak tangguhan dan liabilitas pajak tangguhan terkait dengan pajak penghasilan yang dikenakan oleh otoritas perpajakan yang sama serta Perusahaan dan entitas anak yang berbeda yang bermaksud untuk memulihkan aset dan liabilitas pajak kini dengan dasar neto. Pajak kini dan pajak tangguhan diakui sebagai beban atau penghasilan dalam laba rugi, kecuali sepanjang pajak penghasilan yang berasal dari transaksi atau kejadian yang diakui, diluar laba rugi (baik dalam pendapatan komprehensif lain maupun secara langsung di ekuitas), dalam hal tersebut pajak juga diakui di luar laba rugi. Pajak Final Atas pendapatan yang dikenakan pajak penghasilan final, beban pajak diakui proporsional dengan jumlah pendapatan menurut akuntansi yang diakui pada periode berjalan. Selisih antara jumlah pajak penghasilan final yang sudah dibayar dengan jumlah yang dibebankan sebagai pajak kini pada perhitungan laba rugi komprehensif konsolidasian diakui sebagai pajak dibayar dimuka atau utang pajak. Akun pajak penghasilan final dibayar dimuka disajikan terpisah dari utang pajak penghasilan final. Perbedaan nilai tercatat aset atau liabilitas dengan dasar pengenaan pajaknya tidak diakui sebagai aset atau liabilitas pajak tangguhan apabila pendapatan tersebut berhubungan dengan pajak penghasilan final. The measurement of deferred tax assets and liabilities reflects the consequences that would follow from the manner in which the Company and its subsidiaries expect, at the end of the reporting period, to recover or settle the carrying amount of their assets and liabilities. The carrying amount of deferred tax asset is reviewed at the end of each reporting period and reduced to the extent that it is no longer probable that sufficient taxable profits will be available to allow all or part of the asset to be recovered. Deferred tax assets and liabilities are offset when there is legally enforceable right to set off current tax assets against current tax liabilities and when they relate to income taxes levied by the same taxation authority and the company and its subsidiaries intend to settle their current tax assets and current tax liabilities on a net basis. Current and deferred tax are recognized as an expense or income in profit or loss, except when they relate to items that are recognized outside of profit or loss (whether in other comprehensive income or directly in equity), in which case the tax is also recognized outside of profit or loss. Final Tax Tax expense on revenues subject to final tax is recognized proportionately based on the revenue recognized in the period. The difference between the final tax paid and current tax expense in the consolidated statement of comprehensive income is recognized as prepaid tax or tax payable. Prepaid final tax is presented separately from final tax payable. Deferred tax is not recognized for the difference between the financial statement carrying amounts of assets and liabilities and their respective tax bases if the related revenue is subject to final tax
182 ff. Laba per Saham ff. Earnings per Share Laba per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar pada tahun yang bersangkutan. Laba per saham dilusian dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang telah disesuaikan dengan dampak dari semua efek berpotensi saham biasa bersifat dilutif. gg. Informasi Segmen Efektif 1 Januari 2011, PSAK 5 (Revisi 2009) mengharuskan segmen operasi diidentifikasi berdasarkan laporan internal mengenai komponen dari Perusahaan dan entitas anak yang secara regular direview oleh pengambil keputusan operasional dalam rangka mengalokasikan sumber daya dan menilai kinerja segmen operasi. Sebaliknya, standar sebelumnya mengharuskan Perusahaan dan entitas anak mengidentifikasi dua segmen (bisnis dan geografis), menggunakan pendekatan risiko dan pengembalian. Segmen operasi adalah suatu komponen dari entitas: a) yang terlibat dalam aktivitas bisnis yang mana memperoleh pendapatan dan menimbulkan beban (termasuk pendapatan dan beban terkait dengan transaksi dengan komponen lain dari entitas yang sama); b) yang hasil operasinya dikaji ulang secara regular oleh pengambil keputusan operasional untuk membuat keputusan tentang sumber daya yang dialokasikan pada segmen tersebut dan menilai kinerjanya; dan c) dimana tersedia informasi keuangan yang dapat dipisahkan. Informasi yang digunakan oleh pengambil keputusan operasional dalam rangka alokasi sumber daya dan penillaian kinerja mereka terfokus pada kategori dari setiap produk, yang menyerupai informasi segmen usaha yang dilaporkan di periode sebelumnya. Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam menyusun informasi segmen sesuai dengan kebijakan akuntansi yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan konsolidasian. Basic earnings per share is computed by dividing net income attributable to owners of the Company by the weighted average number of shares outstanding during the year. Diluted earnings per share is computed by dividing net income attributable to owners of the Company by the weighted average number of shares outstanding as adjusted for the effects of all dilutive potential ordinary shares. gg. Segment Information Effective January 1, 2011, PSAK 5 (Revised 2009) requires operating segments to be identified on the basis of internal reports about components of the Company and its subsidiaries that are regularly reviewed by the chief operating decision maker in order to allocate resources to the segments and to assess their performances. In contrast, the predecessor standard required the Company and its subsidiaries to identify two sets of segments (business and geographical), using a risks and returns approach. An operating segment is a component of an entity: a) that engages in business activities from which it may earn revenue and incur expenses (including revenue and expenses relating to the transaction with other components of the same entity); b) whose operating results are reviewed regularly by the entity s chief operating decision maker to make decision about resources to be allocated to the segments and assess its performance; and c) for which discrete financial information is available. Information reported to the chief operating decision maker for the purpose of resource allocation and assessment of their performance is more specifically focused on the category of each product, which is similar to the business segment information reported in the prior period. The accounting policies used in preparing segment information are the same as those used in preparing the consolidated financial statements
183 4. PERTIMBANGAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN Penyusunan laporan keuangan konsolidasian sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan liabilitas yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan liabilitas kontinjensi pada tanggal laporan keuangan konsolidasian serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi. Estimasi dan asumsi yang mendasari ditelaah secara berkelanjutan. Revisi estimasi akuntansi diakui dalam periode yang perkiraan tersebut direvisi jika revisi hanya mempengaruhi periode itu, atau pada periode revisi dan periode masa depan jika revisi mempengaruhi kedua periode saat ini dan masa depan. Pertimbangan Signifikan dalam Penerapan Kebijakan Akuntansi Dalam proses penerapan prinsip akuntansi sebagaimana dijelaskan dalam Catatan 3, tidak terdapat pertimbangan kritis yang mempunyai efek yang signifikan atas jumlah yang diakui dalam laporan keuangan konsolidasian, selain dari yang sudah dijelaskan dibawah ini. Sumber Estimasi Ketidakpastian Informasi tentang asumsi utama yang dibuat mengenai masa depan dan sumber utama dari estimasi ketidakpastian lain pada akhir periode pelaporan, yang memiliki risiko signifikan yang mengakibatkan penyesuaian material terhadap jumlah tercatat aset dan liabilitas dalam periode pelaporan berikutnya dijelaskan dibawah ini. Rugi Penurunan Nilai Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Perusahaan dan entitas anak menilai penurunan nilai pinjaman yang diberikan dan piutang berdasarkan analisis atas ketertagihan piutang dan pinjaman yang diberikan. Penyisihan dibentuk terhadap pinjaman yang diberikan dan piutang apabila terdapat kejadian atau perubahan keadaan yang mengindikasikan bahwa saldo tersebut tidak akan tertagih. Identifikasi penurunan nilai pinjaman yang diberikan dan piutang memerlukan pertimbangan dan estimasi. Apabila ekspektasi berbeda dari estimasi awal, maka perbedaan ini akan berdampak terhadap nilai tercatat pinjaman yang diberikan dan piutang serta kerugian penurunan nilai piutang pada tahun mana perubahan estimasi tersebut terjadi. Nilai tercatat pinjaman yang diberikan dan piutang telah diungkapkan dalam Catatan 7, 10 dan 49 atas laporan keuangan konsolidasian. 4. SIGNIFICANT ACCOUNTING JUDGMENT AND ESTIMATES The preparation of consolidated financial statements in conformity with Indonesian Financial Accounting Standards requires management to make estimates and assumptions that affect the reported amounts of assets and liabilities and disclosure of contingent assets and liabilities at the date of the consolidated financial statements and the reported amounts of revenues and expenses during the reporting period. Actual results could differ from these estimates. The estimates and underlying assumptions are reviewed on an ongoing basis. Revisions to accounting estimates are recognised in the period which the estimate is revised if the revision affects only that period, or in the period of the revision and future periods if the revision affects both current and future periods. Critical Judgements in Applying Accounting Policies In the process of applying the accounting principles described in Note 3, management has not made any critical judgment that has significant impact on the amounts recognized in the consolidated financial statements, apart from those involving estimates which are dealt with below. Key Sources of Estimation Uncertainty The key assumptions concerning future and other key sources of estimation at the end of the reporting period, that have the significant risk of causing a material adjustment to the carrying amounts of assets and liabilities within the next financial year are discussed below. Impairment Loss on Loans and Receivables The Company and its subsidiaries make allowance for impairment losses based on an assessment of the recoverability of loans and receivables. Allowances are applied to loans and receivables where events or changes in circumstances indicate that the balances may not be collectible. The identification of impairment loss on loans and receivables requires the use of judgment and estimates. Where the expectations are different from the original estimate, such difference will impact the carrying value of loans and receivable and provision for impairment losses on loans and receivables in the year in which such estimate has been changed. The carrying amounts of loans and receivable are disclosed in Notes 7, 10 and 49 to the consolidated financial statements
184 Penyisihan Persediaan Usang Perusahaan dan entitas anak membuat penyisihan persediaan usang apabila persediaan tersebut diestimasi tidak akan digunakan atau akan bergerak secara lambat pada masa mendatang. Walaupun asumsi yang digunakan dalam mengestimasi penyisihan persediaan usang yang tercermin dalam laporan keuangan konsolidasian dianggap telah sesuai dan wajar, namun perubahan signifikan atas asumsi ini akan berdampak material terhadap penentuan nilai tercatat persediaan dan biaya persediaan barang usang, yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil usaha Perusahaan dan entitas anak. Berdasarkan pertimbangan manajemen, penyisihan persediaan usang sebesar US$ , US$ dan US$ pada 31 Desember 2012, 2011, dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 adalah memadai. Nilai perolehan atas persediaan diungkapkan di Catatan 11 pada laporan keuangan konsolidasian. Taksiran Masa Manfaat Ekonomis Aset Tetap dan Properti Investasi Masa manfaat setiap aset tetap dan properti investasi Perusahaan dan entitas anak ditentukan berdasarkan kegunaan yang diharapkan dari penggunaan aset tersebut. Estimasi ini ditentukan berdasarkan evaluasi teknis internal dan pengalaman Perusahaan dan entitas anak atas aset sejenis. Masa manfaat setiap aset direview secara periodik dan disesuaikan apabila prakiraan berbeda dengan estimasi sebelumnya karena keausan, keusangan teknis dan komersial, hukum atau keterbatasan lainnya atas pemakaian aset. Namun terdapat kemungkinan bahwa hasil operasi dimasa mendatang dapat dipengaruhi secara signifikan oleh perubahan atas jumlah serta periode pencatatan biaya yang diakibatkan karena perubahan faktor yang disebutkan diatas. Perubahan masa manfaat aset tetap dan properti investasi dapat mempengaruhi jumlah biaya penyusutan yang diakui dan penurunan nilai tercatat aset tetap dan properti investasi. Tidak terdapat perubahan masa manfaat aset tetap dan properti investasi selama tahun berjalan, kecuali untuk Petrosea, entitas anak, yang mengubah basis depresiasinya (lihat Catatan 3q atas laporan keuangan konsolidasian). Nilai tercatat aset tetap dan properti investasi telah diungkapkan pada Catatan 21 dan 20 atas laporan keuangan konsolidasian. Allowance for Stock Obsolescence The Company and its subsidiaries make allowance for stock obsolescence based on their estimation that there will be no future usage of such inventories or such inventories will be slow moving in the future. While it is believed that the assumptions used in the estimation of the allowance for stock obsolescence reflected in the consolidated financial statements are appropriate and reasonable, significant changes in these assumptions may materially affect the assessment of the carrying value of the inventories and provision for stock obsolescence expense, which ultimately impact the result of the Company and its subsidiaries operations. Based on the assessment of the management, currently provided allowance for stock obsolescence of US$ 3,014,520, US$ 2,525,175 and US$ 2,525,175 as of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, respectively, are adequate. The carrying amounts of inventories are diclosed in Note 11 to the consolidated financial statements. Estimated Useful Lives of Property, Plant and Equipment and Investment Property The useful life of each of the item of the Company and its subsidiaries property, plant and equipment and investment property are estimated based on the period over which the asset is expected to be available for use. Such estimation is based on internal technical evaluation and experience with similar assets. The estimated useful life of each asset is reviewed periodically and updated if expectations differ from previous estimates due to physical wear and tear, technical or commercial obsolescence and legal or other limits on the use of the asset. It is possible, however, that future results of operations could be materially affected by changes in the amounts and timing of recorded expenses brought about by changes in the factors mentioned above. A change in the estimated useful life of any item of property, plant and equipment and investment property would affect the recorded depreciation expense and decrease in the carrying values of property, plant and equipment and investment property. There is no change in the estimated useful life of property, plant and equipment and investment property during the year, except for Petrosea, a subsidiary, which changed the basis of its depreciation, (refer to Note 3q to the consolidated financial statements). The aggregate carrying value of property, plant and equipment and investment property have been disclosed in Notes 21 and 20 to the consolidated financial statements
185 Penurunan Nilai Asset Aset berwujud dan tidak berwujud, selain goodwill, dilakukan uji penurunan nilai ketika terdapat indikasi penurunan nilai. Sedangkan untuk goodwill, uji penurunan nilai harus dilakukan minimal setiap tahun, baik ada atau tidak adanya indikasi penurunan nilai. Penentuan nilai pakai aset memerlukan estimasi mengenai arus kas yang diharapkan untuk dihasilkan dari penggunaan aset (unit penghasil kas) dan penjualan aset tersebut serta tingkat diskonto yang sesuai untuk menentukan nilai sekarang. Walaupun asumsi yang digunakan dalam mengestimasi nilai pakai aset yang tercermin dalam laporan keuangan konsolidasian dianggap telah sesuai dan wajar, namun perubahan signifikan atas asumsi ini akan berdampak material terhadap penentuan jumlah yang dapat dipulihkan dan akibatnya kerugian penurunan nilai yang timbul akan berdampak terhadap hasil usaha. Berdasarkan pertimbangan manajemen, tidak terdapat indikasi penurunan nilai atas aset tetap, property investasi dan aset tidak berwujud Perusahaan dan entitas anak. Uji penurunan nilai atas goodwill tidak menyebabkan adanya kerugian atas penurunan nilai. Nilai tercatat aset yang dilakukan uji penurunan nilai telah diungkapkan dalam Catatan 21, 20, 22 dan 23 atas laporan keuangan konsolidasian. Liabilitas Imbalan Pasca Kerja Penentuan liabilitas imbalan pasca kerja tergantung pada pemilihan asumsi tertentu yang digunakan oleh aktuaris dalam menghitung jumlah liabilitas tersebut. Asumsi tersebut termasuk antara lain tingkat diskonto dan tingkat kenaikan gaji. Realisasi yang berbeda dari asumsi Perusahaan dan entitas anak diakumulasi dan diamortisasi selama periode mendatang dan akibatnya akan berpengaruh terhadap jumlah biaya serta liabilitas yang diakui di masa mendatang. Walaupun asumsi Perusahaan dan entitas anak dianggap tepat dan wajar, namun perubahan signifikan pada kenyataannya atau perubahan signifikan dalam asumsi yang digunakan dapat berpengaruh secara signifikan terhadap liabilitas imbalan pasca kerja Perusahaan dan entitas anak. Liabilitas imbalan pasca kerja adalah sebesar US$ , US$ dan US$ masing-masing pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/ 31 Desember 2010 (Catatan 33). Asset Impairment Tangible and intangible assets, other than goodwill, are reviewed for impairment whenever impairment indicators are present. While for goodwill, impairment testing is required to be performed at least annually irrespective of whether or not there are indicators of impairment. Determining the value in use of assets requires the estimation of cash flows expected to be generated from the continued use and ultimate disposition of such assets (cash generating unit) and a suitable discount rate in order to calculate the present value. While it is believed that the assumptions used in the estimation of the value in use of assets reflected in the consolidated financial statements are appropriate and reasonable, significant changes in these assumptions may materially affect the assessment of recoverable values and any resulting impairment loss could have a material adverse impact on the results of operations. Based on the assessment of the management, there is no impairment indication on the Company and its subsidiaries property, plant and equipment, investment property, as well as intangible assets. Impairment testing of goodwill does not result in write down for impairment loss. The carrying value of assets, on which impairment analysis are applied, were described in Notes 21, 20, 22 and 23, respectively, to the consolidated financial statements. Employment Benefits Obligation The determination of post-employment benefits obligation is dependent on selection of certain assumptions used by actuaries in calculating such amounts. Those assumptions include among others, discount rate and rate of salary increase. Actual results that differ from the Company and its subsidiaries assumptions are accumulated and amortized over future periods and therefore, generally affect the recognized expense and recorded obligation in such future periods. While it is believed that the Company and its subsidiaries assumptions are reasonable and appropriate, significant differences in actual experience or significant changes in assumptions may materially affect the Company and its subsidiaries employment benefit obligations. Employment benefit obligations amounted to US$ 21,278,287, US$ 14,265,549 and US$ 7,790,902, as of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, respectively (Note 33)
186 Menilai Kontrak Konstruksi Berdasarkan Metode Persentase Penyelesaian Penentuan persentase penyelesaian suatu kontrak konstruksi dalam tahap penyelesaian tergantung pada pertimbangan dan estimasi engineers. Walaupun asumsi Perusahaan dan entitas anak dianggap tepat dan wajar, namun perubahan signifikan pada kenyataannya atau perubahan signifikan dalam asumsi yang digunakan dapat berpengaruh secara signifikan terhadap pengakuan pendapatan Perusahaan dan entitas anak. Item laporan keuangan konsolidasian yang terkait dengan kontrak kontruksi telah diungkapkan dalam Catatan 9 dan 51. Nilai wajar atas aset dan liabilitas yang dapat diidentifikasi yang diperoleh dari akuisisi bisnis (Catatan 1) Nilai wajar atas aset dan liabilitas yang dapat diidentifikasi yang diperoleh dari akuisisi bisnis ditentukan dengan menggunakan pertimbangan tertentu dalam memilih suatu metode dan membuat asumsi-asumsi yang didasarkan pada kondisi pasar pada tanggal akuisisi. Apabila penentuan nilai wajar atas aset dan liabilitas yang dapat diidentifikasi yang diperoleh dari akuisisi bisnis dibuat dengan menggunakan asumsi dan kondisi pasar yang berbeda, maka nilai tercatat goodwill, aset tidak berwujud dan aset serta liabilitas yang dapat diidentifikasi yang diperoleh dari akuisisi bisnis dapat terpengaruh. Penilaian instrument keuangan Seperti dijelaskan dalam Catatan 47, Perusahaan dan entitas anak menggunakan teknik penilaian yang meliputi input yang tidak didasarkan pada data pasar yang dapat diobservasi untuk mengestimasi nilai wajar dari beberapa jenis instrumen keuangan. Catatan 47 memberikan informasi yang rinci mengenai asumsi utama yang digunakan dalam menentukan nilai wajar instrumen keuangan, serta analisis sensitivitas yang rinci untuk asumsi tersebut. Manajemen berpendapat bahwa teknik penilaian yang dipilih dan asumsi yang digunakan adalah tepat dalam menentukan nilai wajar dari instrumen keuangan. Measuring Construction Contracts in Progress Measured at Percentage-of-Completion The determination of percentage of completion of construction contracts in progress is dependent on the judgment and estimations of the engineers. While it is believed that the Company and its subsidiaries assumptions are reasonable and appropriate, significant differences in actual experience or significant change in assumptions may materially affect the Company and its subsidiaries revenue recognition. The consolidated financial statement items related to construction contracts are disclosed in Notes 9 and 51. Fair value of acquired identifiable assets and liabilities from business acquisition (Note 1) The fair values of acquired identifiable assets and liabilities in a business acquisition are determined by using valuation techniques. The Company and its subsidiaries used their judgment to select a variety of methods and make assumptions that are mainly based on market conditions existing at the acquisition date. To the extent that the determination of fair value of acquired are made based on different assumptions and market conditions, the carrying values of goodwill, intangible assets and other acquired identifiable assets and liabilities from such business acquisitions will be affected. Valuation of financial instruments As described in Note 47, the Company and its subsidiaries use valuation techniques that include inputs that are not based on observable market data to estimate the fair value of certain types of financial instruments. Note 47 provides detailed information about the key assumptions used in the determination of the fair value of financial instruments, as well as the detailed sensitivity analysis for these assumptions. Management believes that the chosen valuation techniques and assumptions used are appropriate in determining the fair value of financial instruments
187 5. KAS DAN SETARA KAS 5. CASH AND CASH EQUIVALENTS 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Kas Cash on hand Rupiah Rupiah Dollar Amerika Serikat U.S. Dollar Dollar Singapura Singapore Dollar Bank - pihak ketiga Cash in banks - third parties Rupiah Rupiah Citibank, N.A Citibank, N.A. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Bank Artha Graha PT Bank Artha Graha International Tbk International Tbk Standard Chartered Bank Standard Chartered Bank The Hongkong and Shanghai The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited Banking Corporation Limited PT Bank Negara Indonesia PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (Persero) Tbk PT Bank CIMB Niaga Tbk PT Bank CIMB Niaga Tbk PT Bank Central Asia Tbk PT Bank Central Asia Tbk PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (Persero) Tbk PT Bank KEB Indonesia PT Bank KEB Indonesia PT Bank Victoria International Tbk PT Bank Victoria International Tbk Bank Papua Bank Papua PT Bank Pembangunan Daerah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Jawa Barat dan Banten, Cabang Bandung Bandung Branch PT ANZ Panin Bank PT ANZ Panin Bank JP Morgan Chase Bank, N.A., JP Morgan Chase Bank, N.A., PT Bank Permata Tbk PT Bank Permata Tbk PT Bank Danamon Indonesia Tbk PT Bank Danamon Indonesia Tbk PT Bank Tabungan Negara, PT Bank Tabungan Negara, Cabang Semarang Semarang Branch Deutsche Bank AG Deutsche Bank AG PT Bank Syariah Mandiri PT Bank Syariah Mandiri PT Bank UOB Indonesia PT Bank UOB Indonesia Dollar Amerika Serikat U.S. Dollar Citibank, N.A Citibank, N.A. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Standard Chartered Bank, Standard Chartered Bank, Cabang Jakarta Jakarta Branch PT ANZ Panin Bank, Cabang Jakarta PT ANZ Panin Bank, Jakarta Branch JP Morgan Chase Bank, N.A., JP Morgan Chase Bank, N.A., The Hongkong and Shanghai The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited Banking Corporation Limited PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank Danamon Indonesia Tbk PT Bank Danamon Indonesia Tbk PT Bank Artha Graha PT Bank Artha Graha International Tbk International Tbk DBS Bank Ltd DBS Bank Ltd. ING Bank, N.V ING Bank, N.V. PT Bank CIMB Niaga Tbk PT Bank CIMB Niaga Tbk PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk PT Bank Permata Tbk PT Bank Permata Tbk PT Bank KEB Indonesia PT Bank KEB Indonesia Bank Oversea - Chinese Banking Bank Oversea - Chinese Banking Corporation Limited Corporation Limited UBS AG UBS AG PT Bank Permata Syariah PT Bank Permata Syariah PT Bank Central Asia Tbk PT Bank Central Asia Tbk Malayan Banking Berhad, Singapura Malayan Banking Berhad, Singapore PT Bank Exim PT Bank Exim PT ANZ Panin Bank, PT ANZ Panin Bank, Cabang Singapura Singapore Branch Deutsche Bank AG Deutsche Bank AG PT Bank Syariah Mandiri PT Bank Syariah Mandiri Korea Exchange Bank Korea Exchange Bank Dilanjutkan Forward
188 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Dilanjutkan Forward Dollar Singapura Singapore Dollar DBS Bank Ltd DBS Bank Ltd. Bank Oversea - Chinese Banking Bank Oversea - Chinese Banking Corporation Limited Corporation Limited Malayan Banking Berhad, Singapura Malayan Banking Berhad, Singapore PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank International Indonesia Tbk Dollar Australia Australian Dollar The Hongkong and Shanghai The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited Banking Corporation Limited Dollar Hongkong Dollar Hongkong The Hongkong and Shanghai The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited Banking Corporation Limited Euro Euro PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank International Indonesia Tbk ING Bank, N.V ING Bank, N.V. The Hongkong and Shanghai The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited Banking Corporation Limited Citibank, NA Citibank, NA Korea Exchange Bank Korea Exchange Bank Call deposit - Dollar Amerika Serikat Call deposit - U.S. Dollar UBS AG - pihak ketiga UBS AG - third parties Deposito berjangka - pihak ketiga Time deposits - third parties Rupiah Rupiah Citibank, NA Citibank, NA PT Bank Artha Graha PT Bank Artha Graha International Tbk International Tbk PT BPR Bina Dana Cakrawala PT BPR Bina Dana Cakrawala PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank International Indonesia Tbk The Hongkong and Shanghai The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited Banking Corporation Limited PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT ANZ Panin Bank PT ANZ Panin Bank PT Bank Victoria International Tbk PT Bank Victoria International Tbk PT Bank CIMB Niaga Tbk PT Bank CIMB Niaga Tbk PT Bank Tabungan Negara PT Bank Tabungan Negara Deutsche Bank AG Deutsche Bank AG Dollar Amerika Serikat U.S. Dollar PT Bank CIMB Niaga Tbk PT Bank CIMB Niaga Tbk UBS AG UBS AG PT Bank Permata Tbk PT Bank Permata Tbk Standard Chartered Bank Standard Chartered Bank PT Bank Artha Graha PT Bank Artha Graha International Tbk International Tbk JP Morgan Chase Bank, N.A., JP Morgan Chase Bank, N.A., PT ANZ Panin Bank PT ANZ Panin Bank The Hongkong and Shanghai The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited Banking Corporation Limited PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Jumlah Total Tingkat bunga deposito berjangka per tahun Interest rates per annum on time deposits Rupiah 2,30% - 9,00% 3,17% - 11,00% 4,7% - 11,00% Rupiah Dollar Amerika Serikat 0,001% - 0,50% 0,065% - 4,00% 0,05% - 4,00% U.S. Dollar
189 6. ASET KEUANGAN LAINNYA 6. OTHER FINANCIAL ASSETS 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Jaminan atas pinjaman bank Guarantee deposit for bank loans Deposito berjangka - pihak ketiga Time deposits - third parties Dollar Amerika Serikat U.S. Dollar DBS Bank Ltd DBS Bank Ltd. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rekening Bank Dibatasi Penggunaannya - pihak ketiga Restricted Cash in Banks - third parties PT Bank Pembangunan Daerah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Jawa Barat dan Banten (Catatan 29) (Note 29) ING Bank, Cabang Amsterdam ING Bank, Amsterdam Branch (Catatan 31) (Note 31) Deposito berjangka - pihak ketiga Time deposits - third parties Dollar Amerika Serikat U.S. Dollar PT Bank CIMB Niaga PT Bank CIMB Niaga DBS Bank Ltd DBS Bank Ltd. Deutsche Bank AG, Deutsche Bank AG, Cabang Singapura Singapore Branch Jumlah sementara Sub total Investasi dalam kelompok diperdagangkan pada nilai wajar Held-for-trading investments at fair value Investasi pada unit penyertaan - pihak ketiga Investments in units of funds - third party UBS AG UBS AG Investasi dalam obligasi - pihak ketiga Investment in bond - third party Dollar Amerika Serikat U.S. Dollar UBS AG UBS AG Jumlah Total Tingkat bunga per tahun Interest rates per annum Deposito berjangka Time deposits Dollar Amerika Serikat 0,07% - 0,5% 0,06% - 7,25% 0,03% - 4,00% U.S. Dollar Investasi dalam obligasi - 0,98% - Investment in bond Jaminan atas pinjaman bank Guarantee deposit for bank loans Deposito berjangka pada DBS Bank Ltd. (DBS) digunakan sebagai jaminan atas fasilitas pinjaman jangka pendek yang diberikan oleh DBS kepada IIC (Catatan 51). Deposito berjangka ini mempunyai jangka waktu 3 bulan. Deposito berjangka pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar US$ mempunyai jangka waktu 1 bulan dan digunakan sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh TPEC dari bank yang sama (Catatan 25 dan 51). Time deposits in DBS Bank Ltd. (DBS) were used as collateral for the short-term loans facilities granted by DBS to IIC (Note 51). These time deposits have terms of three months. Time deposits in PT Bank Mandiri (Persero) Tbk amounting to US$ 2,150,000 has a term of one month and was used as collateral for credit facilities obtained by TPEC from the same bank (Notes 25 and 51)
190 Deposito berjangka Pada tahun 2010, deposito berjangka pada Deutsche Bank AG, Cabang Singapura merupakan deposito berjangka yang mempunyai jangka waktu 3 sampai 6 bulan dan jatuh tempo pada bulan Pebruari dan April Deposito berjangka yang ditempatkan mempunyai tingkat bunga yang ditentukan berdasarkan suatu kisaran kurs mata uang Dollar Amerika Serikat terhadap Rupiah selama jangka waktu deposito berjangka. Deposito berjangka pada DBS Bank Ltd. (DBS) yang tidak dijaminkan mempunyai jangka waktu 6 bulan dan telah jatuh tempo pada bulan April Investasi dalam kelompok diperdagangkan UBS AG Investasi pada unit penyertaan pada UBS AG merupakan investasi yang dimiliki oleh: Time deposits In 2010, time deposits placed with Deutsche Bank AG, Singapore Branch represented time deposits with terms of 3 to 6 months and matured in February and April Such time deposits bear interest rates per annum based on the foreign exchange fluctuation of U.S. Dollar against Indonesian Rupiah within a certain range during the term of the time deposits. Time deposits in DBS Bank Ltd. (DBS) are not used as collateral and have terms of six months and matured in April Held-for-trading investments UBS AG Investments in units of fund at UBS AG represent the investment owned by: Entitas anak 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Subsidiaries ICRL ICRL TS TS Jumlah Total Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, keuntungan belum direalisasi atas investasi pada unit penyertaan masing-masing sebesar US$ , US$ dan US$ Pengukuran nilai wajar dari investasi pada unit dana yang berasal dari harga kuotasi di pasar aktif untuk aset dan liabilitas yang sama. Investasi dalam obligasi Akun ini merupakan investasi ICRL dalam obligasi yang diterbitkan oleh UBS AG senilai US$ Obligasi tersebut jatuh tempo pada bulan Pebruari 2012 dengan tingkat bunga tetap sebesar 0,98% per tahun, yang dibayar pada saat jatuh tempo. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, unrealized gain on investment in units of fund amounted to US$ 26,825, US$ 12,073 and US$ 370,189, respectively. The fair value measurement of investment in units of funds were derived from quoted prices in active market for identical assets and liabilities. Investment in bond This account represents ICRL s investment in bond issued by UBS AG having a value of US$ 65,000,000. The bond was due in February 2012 and carries fixed interest rate at 0.98% per annum, payable at maturity
191 7. PIUTANG USAHA 7. TRADE ACCOUNTS RECEIVABLE 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ a. Berdasarkan pelanggan: a. By debtor: Pihak berelasi Related parties PT Santan Batubara PT Santan Batubara PT Kideco Jaya Agung PT Kideco Jaya Agung PT Cotrans Asia PT Cotrans Asia PT Petrosea Calibere - Robert & PT Petrosea Calibere - Robert & Schaefer JO Schaefer JO Lain-lain (masing-masing di bawah Others (each below US$ ) US$ 100,000) Jumlah Total Pihak ketiga Third parties PT Gunung Bayan Pratama Coal PT Gunung Bayan Pratama Coal PT Adimitra Baratama Nusantara PT Adimitra Baratama Nusantara PT Perta-Samtan Gas PT Perta-Samtan Gas Mobil Cepu Ltd Mobil Cepu Ltd PT Adaro Indonesia PT Adaro Indonesia PT Kaltim Prima Coal PT Kaltim Prima Coal PT Bayan Resources PT Bayan Resources PT Freeport Indonesia PT Freeport Indonesia PT Berau Coal PT Berau Coal PT M.I. Indonesia PT M.I. Indonesia PT Holcim Indonesia Tbk PT Holcim Indonesia Tbk PT Karbon Mahakam PT Karbon Mahakam PT Borneo Indobara PT Borneo Indobara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk PT Chevron Geothermal PT Chevron Geothermal PT Singlurus Pratama PT Singlurus Pratama PT Trubaindo Coal Mining PT Trubaindo Coal Mining PT Prima Multi Artha PT Prima Multi Artha BUT Eni Muara Bakau BV BUT Eni Muara Bakau BV BUT Niko Resources Limited BUT Niko Resources Limited Chevron Makassar Ltd Chevron Makassar Ltd Premier Oil Natuna Sea BV Premier Oil Natuna Sea BV PT Bahari Cakrawala Sebuku PT Bahari Cakrawala Sebuku PT Alfa Trans Raya PT Alfa Trans Raya PT Bukit Asam ( Persero ) Tbk PT Bukit Asam ( Persero ) Tbk PT Kitadin PT Kitadin BUT Chevron Rapak Ltd BUT Chevron Rapak Ltd. PT Chevron Pacific Indonesia PT Chevron Pacific Indonesia PT Halliburton Indonesia PT Halliburton Indonesia PT Bukit Baiduri Energi PT Bukit Baiduri Energi JOB Pertamina Talisman Jambi Merang JOB Pertamina Talisman Jambi Merang Makasar Strait Exploration Consorsium Makasar Strait Exploration Consorsium Lain-lain (kurang dari US$ ) Others (less than US$ 500,000) Jumlah Total Cadangan kerugian penurunan nilai ( ) ( ) ( ) Allowance for impairment losses Bersih Net Jumlah Total
192 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ b. Berdasarkan kategori umur: b. By age category: Belum jatuh tempo Current Sudah jatuh tempo Overdue 1-30 hari days hari days hari days > 180 hari > 180 days Jumlah Total Cadangan kerugian penurunan nilai ( ) ( ) ( ) Allowance for impairment losses Bersih Net Sudah jatuh tempo tetapi belum diturunkan nilainya Over due but not impaired Sudah jatuh tempo Overdue 1-30 hari days hari days hari days > 180 hari > 180 days Jumlah Total c. Berdasarkan mata uang: c. By currency: Dollar Amerika Serikat U.S. Dollar Dollar Singapura Singapore Dollar Rupiah Rupiah Jumlah Total Cadangan kerugian penurunan nilai ( ) ( ) ( ) Allowance for impairment losses Bersih Net Mutasi cadangan kerugian penurunan nilai Movement in the allowance for impairment losses Saldo awal Beginning balance Kerugian penurunan nilai piutang Impairment losses recognized on receivables Selisih kurs penjabaran laporan keuangan Translation adjustments Saldo yang ditransfer atas akuisisi Balance transferred due to acquisition MBSS of MBSS Jumlah yang dihapus selama tahun Amounts written off during the year berjalan atas piutang tak tertagih ( ) - ( ) as uncollectible Saldo akhir Ending balance Piutang usaha yang diungkapkan di atas termasuk jumlah piutang retensi yang dicatat oleh TPEC dan TPE dengan rincian sebagai berikut: Trade accounts receivables disclosed above include amounts of retention receivables which were recorded by TPEC and TPE as follows: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ TPEC TPEC Pihak ketiga Third parties PT Perta - Samtan Gas PT Perta - Samtan Gas BUT Chevron Geothermal Salak Ltd BUT Chevron Geothermal Salak Ltd and BUT Chevron Geothermal and BUT Chevron Geothermal Indonesia Indonesia JOB Pertamina Talisman Jambi Merang JOB Pertamina Talisman Jambi Merang Jumlah Total
193 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ TPE TPE Pihak ketiga Third parties PT Foster Wheeler C & P PT Foster Wheeler C & P BUT Chevron Rapak Ltd BUT Chevron Rapak Ltd Jumlah Total Jumlah keseluruhan Total Manajemen berpendapat bahwa seluruh piutang retensi dapat direalisasikan. Piutang usaha TPEC, Petrosea dan MBSS, entitas anak terkonsolidasi, dengan nilai tercatat sejumlah US$ , US$ dan US$ masing-masing pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, digunakan sebagai jaminan atas utang bank, pinjaman jangka panjang dan fasilitas kredit (Catatan 25, 29 dan 51). Jangka waktu rata-rata kredit penjualan barang dan pendapatan jasa adalah 60 hari. Tidak ada bunga yang dibebankan. Cadangan kerugian penurunan nilai piutang usaha diakui berdasarkan jumlah estimasi yang tidak terpulihkan yang ditentukan dengan mengacu pada pengalaman masa lalu pihak lawan dan analisis posisi keuangan kini pihak lawan. Manajemen berpendapat bahwa cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang pihak ketiga adalah cukup, sedangkan terhadap piutang pihak berelasi tidak dibentuk cadangan kerugian penurunan nilai karena manajemen berpendapat seluruh piutang tersebut dapat ditagih. Management believes that all such receivables can be realized. Trade accounts receivable of TPEC, Petrosea and MBSS, consolidated subsidiaries, with a total carrying amount of US$ 65,574,693, US$ 106,565,886 and US$ 49,043,386 as of December 31, 2012, 2011, and January 1, 2011/December 31, 2010, respectively, were used as collateral for bank loans, long-term loans and credit facilities (Notes 25, 29 and 51). The average credit period on revenues from sales of goods and services are 60 days. No interest is charged on trade accounts receivable. Allowance for impairment losses on trade receivables are recognized based on estimated recovarable amounts determined by reference to past default experience of the counterparty and an analysis of the counterparty s current financial position. Management believes that the allowance for impairment losses from third parties is adequate. No allowance for impairment losses was provided on receivables from related parties as management believes that all such receivables are collectible. 8. PIUTANG BELUM DITAGIH 8. UNBILLED RECEIVABLES 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Pihak ketiga Third parties Premier Oil Natuna Sea BV Premier Oil Natuna Sea BV Conoco Phillips Indonesia Inc. Ltd Conoco Phillips Indonesia Inc. Ltd. PT Foster Wheeler C&P Indonesia PT Foster Wheeler C&P Indonesia PT Pertamina Hulu Energy ONWJ PT Pertamina Hulu Energy ONWJ BUT Chevron Rapak Ltd BUT Chevron Rapak Ltd Jumlah Total
194 9. SELISIH LEBIH ESTIMASI PENDAPATAN DIATAS TAGIHAN KEMAJUAN KONTRAK DAN SELISIH TAGIHAN KEMAJUAN KONTRAK DIATAS ESTIMASI PENDAPATAN TPEC mengadakan beberapa perjanjian dengan pihak ketiga terkait dengan jasa konstruksi, sebagaimana dibahas lebih lanjut dalam Catatan 51f. Rincian biaya kontrak dan tagihan kemajuan kontrak adalah sebagai berikut: 9. ESTIMATED EARNINGS IN EXCESS OF BILLINGS ON CONTRACTS AND BILLINGS IN EXCESS OF ESTIMATED EARNINGS RECOGNIZED TPEC has various agreements entered into with third parties for the provision of various construction related services, as disclosed in detail in Note 51f. Following are the details of construction costs and billed invoices related to those contracts: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Akumulasi biaya kontrak konstruksi Accumulated construction costs Akumulasi laba diakui Accumulated recognized profit Akumulasi pendapatan diakui Accumulated revenue recognized Dikurangi: Deduction: Tagihan kemajuan kontrak ( ) ( ) ( ) Progress billings Jumlah bersih ( ) ( ) Net Jumlah diatas terdiri dari: The above consists of: Selisih lebih estimasi pendapatan diatas Estimated earnings in excess of billings on tagihan kemajuan kontrak contracts Selisih lebih tagihan kemajuan kontrak diatas estimasi pendapatan - ( ) ( ) Billings in excess of revenues recognized Jumlah bersih ( ) ( ) Net 10. PIUTANG LAIN-LAIN 10. OTHER ACCOUNTS RECEIVABLE 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Pihak ketiga Third parties PT Intan Cempaka Perkasa (Catatan 19) PT Intan Cempaka Perkasa (Note 19) Pinjaman karyawan Employee loan PT Airfast Indonesia PT Airfast Indonesia PT Dian Perkasa Shipyard PT Dian Perkasa Shipyard Piutang bunga bank Interest receivable from banks PT Clough (Petrosea - Clough Joint PT Clough (Petrosea - Clough Joint Operation) Operation) Lain-lain Others Jumlah Total Dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun Less current maturities Bagian jangka panjang Noncurrent maturities PT Dian Perkasa Shipyard Piutang lain-lain dari PT Dian Perkasa Shipyard merupakan piutang dari pemegang saham minoritas PT Mitra Jaya Offshore. PT Dian Perkasa Shipyard Other accounts receivable from PT Dian Perkasa Shipyard represents a receivable from minority shareholder of PT Mitra Jaya Offshore
195 Piutang lain-lain yang didenominasi dalam mata uang selain mata uang fungsional Perusahaan dan entitas anak adalah sebagai berikut: Other accounts receivable denominated in currencies other than the respective functional currency of the Company and its subsidiaries are as follows: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Rupiah Rupiah Manajemen berpendapat bahwa seluruh piutang lainlain dapat ditagih sehingga tidak dibentuk cadangan kerugian nilai atas piutang lain-lain. No allowance for impairment losses was provided for other accounts receivable as management believes that all such receivables are fully collectible. 11. PERSEDIAAN - BERSIH 11. INVENTORIES NET 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Persediaan batubara Coal inventories Suku cadang dan bahan pembantu Spare parts and supplies Bahan bakar diesel dan minyak Diesel fuel and fuel Minyak pelumas Lubricants Bahan peledak Blasting materials Jumlah Total Penyisihan penurunan nilai persediaan ( ) ( ) ( ) Allowance for decline in value Bersih Net Mutasi penyisihan penurunan nilai Changes in the allowance for decline persediaan in value are as follows: Saldo awal tahun Balance at beginning of year Penambahan Additions Penghapusan - - ( ) Write-off Saldo akhir tahun Balance at end of year Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, persediaan masing-masing sebesar US$ , US$ dan US$ telah diasuransikan kepada konsorsium yang dipimpin oleh PT Asuransi Wahana Tata terhadap semua risiko dengan jumlah pertanggungan masingmasing sebesar US$ , US$ dan US$ Persediaan suku cadang dan bahan pembantu MBSS sebesar US$ termasuk dalam asuransi kapal (Catatan 21). Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian yang timbul atas persediaan. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/ December 31, 2010, inventories amounting to US$ 7,466,000, US$ 11,019,000 and US$ 8,134,000, respectively, were insured through a consortium led by PT Asuransi Wahana Tata against all risks for US$ 12,336,679, US$ 10,293,551 and US$ 11,889,137, respectively. Spareparts and supplies of MBSS amounting to US$ 3,597,343 were included in the vessel s insurance (Note 21). Management believes that the insurance coverage is adequate to cover possible losses to inventories insured
196 Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, tidak terdapat penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam tahun berjalan serta kondisi atau peristiwa yang menyebabkan terjadinya pemulihan nilai atas persediaan yang diturunkan. Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dan dicatat sebagai beban pokok kontrak dan penjualan adalah sebesar US$ dan US$ As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, no decline in the value of inventories was recognized as deduction to the cost of inventories and charged to the current year s profit or loss nor was there a condition or event which indicates recovery of the decline in the value of inventories. As of December 31, 2012 and 2011, inventories recognized in expenses and was recorded as cost of contracts and goods sold amounted to US$ 97,540,606 and US$ 70,996,961, respectively. 12. PAJAK DIBAYAR DIMUKA 12. PREPAID TAXES 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Lebih bayar pajak penghasilan badan - Excess payment of corporate income tax - Perusahaan Company Entitas anak Subsidiaries Pajak penghasilan pasal Income tax article 23 Pajak Pertambahan Nilai - bersih Value Added Tax - net Jumlah Total 13. ASET LANCAR LAINNYA 13. OTHER CURRENT ASSETS 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Biaya dibayar dimuka Prepaid expense Asuransi Insurance Sewa Rent Lain-lain Others Uang muka Advance Uang muka proyek Advance for projects Uang muka pembelian batu bara Advance purchase of coal Uang muka pemeliharaan kapal Advance for vessel maintenance Uang muka pembelian bahan bakar Advance purchase of fuel Lain-lain Others Jumlah Total Uang muka proyek merupakan pembayaran uang muka kepada subkontraktor dan biaya operasi pelaksanaan proyek oleh TPEC dan IIC. Uang muka pembelian batubara merupakan pembayaran uang muka oleh IIC. Advance for projects represents advance payments to subcontractors and operational expenses for projects by TPEC and IIC. Advance purchase of coal represents advance payments made by IIC
197 14. INVESTASI PADA ENTITAS ASOSIASI 14. INVESTMENTS IN ASSOCIATES Nilai tercatat/ Carrying amount 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ PT Kideco Jaya Agung PT Kideco Jaya Agung PT Sea Bridge Shipping PT Sea Bridge Shipping PT Cirebon Electric Power PT Cirebon Electric Power PT Cotrans Asia PT Cotrans Asia PT Intan Resource Indonesia PT Intan Resource Indonesia PT Cirebon Power Services PT Cirebon Power Services Twinstar Shipping Ltd Twinstar Shipping Ltd. Jumlah Total Mutasi investasi pada entitas asosiasi adalah sebagai berikut: Changes in investments in associates are as follows: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Nilai tercatat awal tahun Carrying amount at beginning of year Penambahan Additions Bagian laba entitas asosiasi Equity in profit of associates setelah dikurangi biaya amortisasi net of amortization Dividen ( ) ( ) ( ) Dividends Bagian pendapatan komprehensif Share in other comprehensive income lainnya pada entitas asosiasi ( ) ( ) - of associates Nilai tercatat akhir tahun Carrying amount at end of year Pendapatan komprehensif lainnya merupakan kerugian belum direalisasi atas instrumen keuangan derivatif CEP (hedging reserve). Ringkasan informasi keuangan dari entitas asosiasi Perusahaan diatas adalah sebagai berikut: Other comprehensive income of associate represents unrealized loss on derivative financial instruments of CEP (hedging reserve). Summarized financial information in respect to the Company s associates above is set out below: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Jumlah aset Total assets Jumlah liabilitas Total liabilities Aset bersih Net assets Jumlah pendapatan tahun berjalan Total revenue for the year Laba bersih tahun berjalan Net income for the year
198 PT Kideco Jaya Agung IIC memiliki saham, yang merupakan 46% kepemilikan di PT Kideco Jaya Agung (KJA), suatu perusahaan yang bergerak dibidang eksplorasi, pengembangan, pertambangan dan pemasaran batubara, berdasarkan perjanjian kerjasama batubara yang meliputi wilayah Kalimantan Timur, Indonesia. KJA berdomisili di Jakarta dan memulai operasi komersial pada tahun Bagian laba bersih KJA termasuk amortisasi aset tidak berwujud yang berasal dari akuisisi IIC atas KJA. Amortisasi adalah sebesar US$ masing-masing untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2012 dan Investasi IIC pada KJA dijadikan sebagai jaminan dengan hak prioritas utama atas utang obligasi (Catatan 31). PT Sea Bridge Shipping Pada bulan Oktober 2008, TPEC mendirikan PT Sea Bridge Shipping (SBS), perusahaan yang bergerak dalam bidang pengangkutan barang domestik. TPEC mempunyai kepemilikan sebesar 46%. SBS berdomisili di Jakarta dan memulai operasi komersial pada tahun PT Cirebon Electric Power Pada tahun 2007, Perusahaan melalui entitas anak, IPI dan III memperoleh 19,99% kepemilikan di CEP. CEP bergerak di bidang usaha pembangkit tenaga listrik tenaga uap untuk dijual ke PT PLN (Persero) dan mulai beroperasi sejak tanggal 27 Juli CEP berdomisili di Cirebon - Jawa Barat. Penambahan sebesar US$ pada tahun 2010 berasal dari reklasifikasi uang muka investasi di CEP, sebagai tambahan modal kerja yang diberikan kepada CEP, dimana telah dikonversi sebagai penambahan investasi entitas anak CEP sesuai dengan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang melalui surat keputusan No. AHU AH Tahun 2010 tanggal 21 Januari Sejak 1 Januari 2011, Perusahaan dan entitas anak menerapkan PSAK 15 (revisi 2009), Investasi dalam Entitas Asosiasi, yang mengakibatkan reklasifikasi investasi pada CEP dari uang muka investasi menjadi investasi dalam entitas anak. PT Kideco Jaya Agung IIC owns 115,159 shares, representing 46% ownership interest in PT Kideco Jaya Agung (KJA), a company engaged in exploration, development, mining and marketing of coal, under a coal cooperation agreement covering an area located in East Kalimantan, Indonesia. KJA is domiciled in Jakarta and started its commercial operations in Equity in net profit of KJA includes the amortization of intangible assets resulting from the acquisition of IIC s interest in KJA. The amortization amounted to US$ 6,944,988 each for the years ended December 31, 2012 and 2011, respectively. IIC s investment in KJA was used as collateral on a first priority basis for bonds payable (Note 31). PT Sea Bridge Shipping In October 2008, TPEC established PT Sea Bridge Shipping (SBS), a company engaged in domestic goods shipment. TPEC owns 46% ownership interest. SBS is domiciled in Jakarta and started its commercial operations in PT Cirebon Electric Power In 2007, the Company through its subsidiaries, IPI and III, acquired 19.99% of ownership interest in CEP. CEP is engaged in a coal-fired power plant to generate electricity for sale to PT PLN (Persero) and started commercial operation on July 27, CEP is domiciled in Cirebon - West Java. Addition of US$ 2,847,379 in year 2010 consisted of reclassification from advance for investment to CEP, representing working capital provided to CEP, which were converted as additional investment of the subsidiaries in CEP in line with approval from the Minister of Law and Human Rights of the Republic of Indonesia through decision letter No. AHU AH Tahun 2010 dated January 21, Starting January 1, 2011, the Company and its subsidiaries adopted PSAK 15 (revised 2009), Investments in Associates, which resulted in a reclassification of CEP from advances for investments to investments in associates
199 Kepemilikan tidak langsung Perusahaan pada CEP dijadikan sebagai jaminan terkait dengan fasilitas pinjaman pihak berelasi (Catatan 49). PT Cotrans Asia Pada bulan Juni 2007, TPEC membeli saham PT Cotrans Asia atau kepemilikan sebesar 45%, perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa pengangkutan batubara. PT Cotrans Asia berdomisili di Kalimantan Timur dan memulai operasi komersial pada tahun PT Intan Resource Indonesia IIC memiliki 866 saham, yang merupakan 43,3% kepemilikan pada PT Intan Resource Indonesia (IRI), suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan batubara dan konsultasi pertambangan. IRI berdomisili di Jakarta dan masih dalam tahap pengembangan. PT Cirebon Power Services Pada bulan Pebruari 2010, Perusahaan melalui entitas anak, IPI dan III memperoleh 19,99% kepemilikan di PT Cirebon Power Services (CPS). CPS akan bergerak di bidang pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas dan alat-alat listrik dan mulai beroperasi komersial pada tanggal 27 Juli CPS berdomisili di Cirebon - Jawa Barat. Kepemilikan tidak langsung Perusahaan pada CPS dijadikan sebagai jaminan terkait dengan fasilitas pinjaman pihak berelasi (Catatan 49). Twinstar Shipping Limited Investasi pada Twinstar Shipping Limited merupakan investasi TRIL, entitas anak, dengan kepemilikan sebesar 46%. Twinstar Shipping Limited merupakan perusahaan pelayaran berdomisili di Hong Kong dan memulai operasi komersial pada tahun The Company s indirect ownership in CEP was used as collateral to a related party s loan facility (Note 49). PT Cotrans Asia In June 2007, TPEC acquired 1,800 shares or 45% ownership in PT Cotrans Asia, a company engaged in coal transportation and transshipment service. PT Cotrans Asia is domiciled in East Kalimantan and started its commercial operations in PT Intan Resource Indonesia IIC owns 866 shares, representing 43.3% of ownership interest in PT Intan Resource Indonesia (IRI), a company engaged in coal trading and mining consultancy. IRI is domiciled in Jakarta and still under development stage. PT Cirebon Power Services In February 2010, the Company through its subsidiaries, IPI and III acquired 19.99% of ownership interest in PT Cirebon Power Services (CPS). CPS is engaged in the operation and maintenance of electrical equipment and facility and started its commercial operations on July 27, CPS is domicile in Cirebon - West Java. The Company s indirect ownership in CPS was used as collateral to a related party s loan facility (Note 49). Twinstar Shipping Limited Investment in share in Twinstar Shipping Limited represents investment of TRIL, a subsidiary, with 46% ownership interest. Twinstar Shipping Limited is a transshipment company domiciled in Hong Kong and started its commercial operations in
200 15. KLAIM PENGEMBALIAN PAJAK 15. CLAIM FOR TAX REFUND 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Perusahaan tahun pajak Company fiscal years IIC tahun pajak IIC 2011 fiscal year IIC tahun pajak IIC 2010 fiscal year IIC tahun pajak IIC 2006 fiscal year IIC tahun pajak 2004 dan IIC 2004 and 2005 fiscal years KPI tahun pajak 2007, 2008 dan KPI 2007, 2008 and 2009 fiscal years Petrosea tahun pajak Petrosea 2009 fiscal year Petrosea tahun pajak Petrosea 2008 fiscal year Jumlah Total Surat Ketetapan Pajak Perusahaan Pada bulan Desember 2011 dan Januari 2012, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menerbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Perusahaan untuk tahun Berdasarkan SKP ini, lebih bayar pajak Perusahaan adalah sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2011 dan US$ tahun 2010), dikurangi dengan beberapa kurang bayar pajak sejumlah Rp juta (setara dengan US$ pada tanggal 31 Desember 2011). Perbedaan antara nilai PPN yang tercatat dengan hasil SKP dibebankan pada laporan laba rugi komprehensif tahun Pada bulan Pebruari 2012, Perusahaan menerima restitusi pajak tersebut dari DJP. IIC Tahun Pajak 2010 dan 2011 Pada tahun 2010, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) yang menetapkan liabilitas pajak IIC atas kurang bayar pajak penghasilan pasal 26 masa pajak Juni 2010 sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2012, US$ tahun 2011 dan US$ tahun 2010). Pada saat yang bersamaan, IIC melakukan pembayaran atas liabilitas pajak tersebut, dan mengajukan atas STP tersebut dicatat sebagai bagian dari klaim pengembalian pajak. IIC mengajukan permohonan pengurangan atau pembatalan STP tersebut kepada DJP, kemudian ditolak oleh DJP. IIC telah mengajukan gugatan atas STP tersebut ke Pengadilan Pajak. Tax Assessment Letters Company In December 2011 and January 2012, the Directorate General of Taxation (DGT) issued Tax Assessment Letters on the Company s Value Added Tax (VAT) pertaining to year Based on such assessment letters, the Company s tax overpayment amounted to Rp 56,471 million (equivalent to US$ 6,227,541 in 2011 and US$ 6,282,950 in 2010), netting off with various underpayment totalling to Rp 11,880 million (equivalent to US$ 1,310,139 as of December 31, 2011). The difference between the recorded VAT and tax assessment letters were charged to statements of comprehensive income in In February 2012, the Company received the overpayment from DGT. IIC 2010 and 2011 Fiscal Years In 2010, Directorate General of Taxation (DGT) issued a Tax Collection Letter (TCL) on IIC s tax obligation for income tax article 26 for the June 2010 fiscal period amounting to Rp 9,103 million (equivalent to US$ 941,392 in 2012, US$ 1,003,860 in 2011 and US$ 1,012,457 in 2010). On the same time, IIC paid such tax obligations, and recorded the amount as part of claim for tax refund. IIC then filed a request letter for reduction or cancellation of TCL from DGT, which was then objected by DGT. IIC filed an appeal against the TCL to Tax Court
201 Proses pada Pengadilan Pajak masih sedang berjalan, namun manajemen berkeyakinan bahwa IIC akan dapat memenangkan masalah pajak tersebut sehingga tidak dilakukan pencadangan pada tanggal pelaporan. Proses dan status pajak yang sama terjadi pada kewajiban pajak IIC atas kurang bayar pajak penghasilan pasal 26 masa pajak Desember 2010 dan Juni 2011, dimana atas kewajiban pajak ini, DJP telah menerbitkan surat tagihan pajak sebesar masing-masing Rp juta (setara dengan US$ tahun 2012) dan Rp juta (setara dengan US$ tahun 2012) pada bulan Desember Jumlah ini dicatat sebagai klaim pengembalian pajak. Manajemen berkeyakinan bahwa IIC akan dapat memenangkan masalah pajak tersebut sehingga tidak dilakukan pencadangan pada tanggal pelaporan. Tahun Pajak 2006 Pada tahun 2010, DJP melakukan pemeriksaan atas liabilitas pajak IIC untuk tahun 2006, termasuk pajak penghasilan badan, pajak penghasilan pasal 21, 23 (masa pajak April-Juni 2006 dan Oktober 2006), pajak pertambahan nilai barang dan jasa (PPN) atas pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean (masa pajak Mei-Juni 2006 dan Agustus-Oktober 2006) dan PPN (masa pajak Januari-Desember 2006). Berdasarkan surat ketetapan dan tagihan pajak yang diterbitkan oleh DJP tanggal 18 Nopember 2010, jumlah liabilitas beserta bunga adalah sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2010), terdiri dari kurang bayar pajak penghasilan badan sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2010), PPN atas pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean sebesar Rp 207 juta (setara dengan US$ tahun 2010) dan pajak penghasilan pasal 21 sebesar Rp 190 juta (setara dengan US$ tahun 2010). Pada saat bersamaan, IIC melakukan pembayaran atas seluruh liabilitas pajak tersebut. IIC mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak penghasilan badan kepada Kantor Pajak sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2010) dan pembayaran surat ketetapan pajak dicatat sebagai bagian dari klaim pengembalian pajak. Pada bulan Juni 2011, DJP menerbitkan pembetulan atas Surat Ketetapan pajak penghasilan badan, yang mengurangi kurang bayar pajak penghasilan badan semula dari Rp juta (setara dengan US$ tahun 2011) menjadi Rp juta (setara dengan US$ tahun 2011). Pengembalian pajak sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2011) diterima oleh IIC pada bulan Juli Pada saat yang bersamaan IIC juga mengajukan gugatan atas tidak ditetapkannya imbalan bunga atas jumlah terkoreksi sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2011). The process in Tax Court is still on going and management believes that the above tax matter will be resolved in favor of IIC and accordingly, no provision was made as of reporting dates. The same tax status and process also occurred on IIC s tax obligation for income tax article 26 for the December 2010 and June 2011 fiscal periods, where on these tax obligations, DGT issued tax collection letters amounting to Rp 9,855 million (equivalent to US$ 1,019,122 in 2012) and Rp 8,276 million (equivalent to US$ 855,831 in 2012), respectively, in December These amounts were recorded under claim for tax refund. Management believes that the above tax matters will be resolved in favor of IIC and accordingly, no provision was made as of reporting dates Fiscal Year In 2010, DGT conducted an audit of the tax obligations of IIC pertaining to year 2006, which include corporate income tax, income taxes article 21, 23 (fiscal period of April-June 2006 and October 2006), value added tax (VAT) on offshore services (fiscal period May-June 2006 and August-October 2006) and VAT (fiscal period January-December 2006). Based on the tax assessment and collection letters issued by DGT dated November 18, 2010, total tax underpayment and related interest amounted to Rp 58,247 million (equivalent to US$ 6,478,362 in 2010), comprising of underpayment of corporate income tax of Rp 57,850 million (equivalent to US$ 6,436,993 in 2010), VAT on offshore services of Rp 207 million (equivalent to US$ 22,985 in 2010), and withholding tax article 21 of Rp 190 million (equivalent to US$ 21,166 in 2010). At the same time, IIC paid the whole tax obligations. IIC filed an appeal against the assessment letters on corporate income tax with the Tax Office amounting to Rp 57,850 million (equivalent to US$ 6,436,993 in 2010) and recorded the payment of tax assessment letter and tax collection letter as part of claim for tax refund. In June 2011, DGT issued a revised tax assessment letter on corporate income tax, reducing the underpayment from Rp 57,850 million (equivalent to US$ 6,379,576 in 2011) into Rp 25,638 million (equivalent to US$ 2,829,951 in 2011). A refund of Rp 32,212 million (equivalent to US$ 3,552,322 in 2011) was received by IIC in July At the same time, IIC is also claiming interest income on the revised tax amount of Rp 3,865 million (equivalent to US$ in 2011)
202 Pada bulan Juni 2012, Pengadilan Pajak mengabulkan permohonan IIC atas imbalan bunga tersebut namun sampai dengan laporan keuangan konsolidasian terbit, IIC belum menerima pembayaran bunga tersebut. Sementara atas jumlah sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2012) telah ditolak permohonan keberatannya oleh DJP. Atas hal ini Perusahan mengajukan banding dan sampai dengan tanggal pelaporan proses banding sedang berjalan. Manajemen berkeyakinan bahwa IIC dapat memenangkan masalah pajak tersebut sehingga tidak dilakukan pencadangan pada tanggal pelaporan. Tahun Pajak 2004 dan 2005 Pada tahun 2007, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melakukan pemeriksaan atas seluruh liabilitas pajak IIC untuk tahun 2004 dan 2005, termasuk pajak penghasilan badan, pajak penghasilan pasal 21, 23, 26 dan pajak pertambahan nilai (PPN). Berdasarkan surat ketetapan pajak yang diterbitkan oleh DJP tanggal 4 Maret 2008, jumlah liabilitas pajak beserta bunga adalah sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2010), terdiri dari kurang bayar pajak penghasilan pasal 26 sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2010), PPN sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2010) dan pajak penghasilan pasal 23 sebesar Rp 0,4 juta (setara dengan US$ 49 tahun 2010). Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, IIC melakukan pembayaran atas liabilitas pajak tersebut sebesar Rp juta (setara dengan US$ tahun 2010), dan dicatat sebagai bagian dari klaim pengembalian pajak. IIC mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak penghasilan pasal 26 kepada Kantor Pajak. Pada tanggal 23 Maret 2009, DJP mengeluarkan surat keputusan penolakan atas keberatan yang diajukan oleh IIC. Berkaitan dengan surat penolakan DJP tersebut, IIC kembali mengajukan permohonan banding kepada pengadilan pajak pada tanggal 8 April 2009, yang pada akhirnya dimenangkan oleh pengadilan pajak pada bulan Mei Lebih bayar pajak, termasuk bunga, sejumlah Rp juta (setara dengan US$ tahun 2010), diterima oleh IIC pada tanggal 22 Juni In June 2012, Tax Court has resolved the interest income claim in favor of IIC, however until the issuance date of the consolidated financial statement, IIC has not yet received such interest payment. While on the remaining amount of Rp 25,638 million (equivalent to US$ 2,653,788 in 2012), DGT has rejected the objection. As a response, the Company filed an appeal and such appeal process is still ongoing at reporting date. Management believes that the above tax matter will be resolved in favor of IIC and accordingly, no provision was made as of reporting dates and 2005 Fiscal Years In 2007, Directorate General of Taxation (DGT) conducted an audit of all the tax obligations of IIC, pertaining to fiscal years 2004 and 2005, which include corporate income tax, income taxes article 21, 23, 26 and value added tax (VAT). Based on the tax assessment letters issued by DGT dated March 4, 2008, total tax underpayment and related interest amounted to Rp 52,928 million (equivalent to US$ 5,886,832 in 2010), comprising of underpayment of withholding tax article 26 of Rp 51,699 million (equivalent to US$ 5,750,083 in 2010), value added tax of Rp 1,229 million (equivalent to US$ 136,728 in 2010) and withholding tax article 23 of Rp 0.4 million (equivalent to US$ 49 in 2010). Under the prevailing regulation, IIC paid such tax obligation amounting to Rp 51,699 million (equivalent to US$ 5,750,083 in 2010) and recorded such amount as part of claim for tax refund. IIC filed an objection against the assessment letter on witholding tax article 26 with Tax Office. On March 23, 2009, DGT issued a rejection letter on IIC s objection. In response to such rejection letter, IIC has filed an appeal to the Tax Court on April 8, 2009, which was finally approved and fully resolved in favor of IIC by the Tax Court in May Prepaid tax, including interest, totalling to Rp 76,514 million (equivalent with US$ 8,510,066 in 2010) was received by IIC on June 22,
203 PT Petrosea Tbk Pada tahun 2011, Petrosea menerima beberapa Surat Ketetapan Pajak untuk tahun pajak 2009, sebagai berikut: PT Petrosea Tbk In 2011, Petrosea received Tax Assessment Letters for 2009 fiscal year, as follows: Periode/Period Pajak Lebih Bayar (Kurang Bayar)/ Tax Overpayment (Underpayment) Pajak penghasilan Income taxes Pasal 21 Januari - Desember 2009/ Rp ( ) Article 21 January - December 2009 Pasal 29 Januari - Desember 2009/ US$ Article 29 January - December 2009 Pajak Pertambahan Nilai Desember 2009/ Rp ( ) Value Added Tax December 2009 Tahun Pajak 2009 Pada tanggal 11 Juni 2010, Petrosea menerima Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar dari DJP yang menyatakan kelebihan pembayaran PPN bulan Mei 2009 sebesar Rp juta. Restitusi kelebihan pajak sebesar Rp juta, setelah dikurangi dengan pajak kurang bayar atas beberapa jenis pajak, diterima pada tanggal 14 Juli Petrosea mencatat kelebihan pembayaran Pajak Penghasilan Badan Perusahaan tahun 2009 sebesar US$ ribu. Menurut Surat Ketetapan Kantor Pelayanan Pajak tanggal 14 Juni 2011, kelebihan Pajak Penghasilan Badan tersebut hanya sebesar US$ ribu. Selisih antara jumlah yang dicatat dan jumlah di Surat Ketetapan Pajak sebesar US$ 408 ribu diakui sebagai laba rugi tahun Petrosea telah menerima pengembalian kelebihan Pajak Penghasilan Badan tersebut pada tanggal 18 Juli Fiscal Year On June 11, 2010, Petrosea received Overpayment Tax Assessment Letter DGT confirming an overpayment of VAT for the period of May 2009 amounting to Rp 46,131 million. The refund for this overpayment of Rp 46,018 million after deducting certain taxes underpayment, was received on July 14, Petrosea recorded a tax overpayment for 2009 Corporate Income Tax amounting to US$ 2,958 thousand. Based on the Tax Assessment Letter from the Tax Service Office dated June 14, 2011, such overpayment amounted to US$ 2,550 thousand. The difference between the amount recorded and Tax Assessment Letter amounting to US$ 408 thousand was recorded as expense on the 2011 profit or loss. Petrosea had received the overpayment of the Corporate Income Tax above on July 18,
204 Surat Ketetapan Pajak untuk Kerja Sama Operasi Tax Assessment Letters for Joint Operations Kerja Sama Pajak Lebih Operasi/ (Kurang) Bayar/ Joint Tax Overpayment Operations Periode/Period (Underpayment) PPN - jasa dalam negeri PLO JO January 2008/January 2008 Rp ( ) VAT - domestic service PPN - jasa dalam negeri PLO JO Februari 2008/February 2008 Rp ( ) VAT - domestic service PPN - jasa dalam negeri PLO JO April 2008/April 2008 Rp ( ) VAT - domestic service PPN - jasa dalam negeri PLO JO Mei 2008/May 2008 Rp ( ) VAT - domestic service PPN - jasa dalam negeri PLO JO Agustus 2008/August 2008 Rp ( ) VAT - domestic service PPN - jasa dalam negeri PLO JO September 2008/September 2008 Rp ( ) VAT - domestic service PPN - jasa dalam negeri PLO JO Juli 2009/July 2009 Rp ( ) VAT - domestic service PPN - jasa dalam negeri PLO JO Desember 2010/December 2010 Rp VAT - domestic service PT Tripatra Engineers and Constructors Klaim pengembalian pajak berkaitan dengan beberapa surat keberatan pajak milik KPI. KPI mengajukan banding ke Pengadilan Pajak atas penolakan keberatan pajak KPI oleh Direktorat Jenderal Pajak. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasian ini, KPI belum memperoleh keputusan dari Pengadilan Pajak. PT Tripatra Engineers and Constructors Claim for tax refund pertains to KPI s tax appeal for various assessments. KPI filed an appeal to the Tax Court as the Directorate General of Tax rejected all of KPI s objection. Until the issuance date of the consolidated financial statements, KPI has not yet received any decision from the Tax Court. 16. BEBAN TANGGUHAN 16. DEFERRED EXPENDITURES 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Aset eksplorasi dan evaluasi Exploration and evaluation assets Properti pertambangan Mining properties Biaya pengupasan ditangguhkan Deferred stripping cost Pengembangan properti Development properties Hak atas tanah Landrights Jumlah Total Aset eksplorasi dan evaluasi Exploration and evaluation assets 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Saldo awal Beginning balance Penambahan karena akuisisi Additions due to acquisition MEA pada nilai wajar MEA and MTU at fair value Penambahan Addition Penghapusan ( ) - - Write-off Saldo akhir Ending balance
205 Properti pertambangan Akun ini merupakan biaya yang ditransfer dari aset evaluasi tambang ditangguhkan terkait area of interest, evaluasi kelayakan teknis dan kelangsungan hidup komersial yang dibuktikan, dan biaya selanjutnya untuk menyiapkan tambang sampai ke tahap produksi. Mining properties This account represents costs transferred from deferred exploration and development expenditures related to an area of interest, technical feasibility and commercial viability of which are demonstrable, and subsequent costs to develop the mine to the production phase. Penambahan karena akuisisi MEA dan MTU pada nilai wajar/ Additions 1 Januari/ due to acquisitions 31 Desember/ January 1, of MEA and MTU Penambahan/ December 31, 2012 at fair value Additions 2012 US$ US$ US$ US$ Biaya Perolehan Cost Akumulasi amortisasi - ( ) ( ) ( ) Accumulated amortization Nilai tercatat Net carrying amount Biaya pengupasan ditangguhkan Deferred stripping cost 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Saldo awal Beginning balance Penambahan Addition Saldo akhir Ending balance Pengembangan properti Akun ini merupakan biaya yang ditangguhkan dari kegiatan eksplorasi batubara yang telah menemukan cadangan terbukti dan tereka. Tidak terdapat beban amortisasi yang dibebankan ke beban pokok kontrak dan penjualan selama tahun 2012 karena area tersebut belum berproduksi. Development properties This account represents deferred costs related to coal exploration activities that have resulted in proved and probable reserves. No amortization was charged to costs of contracts and goods sold during 2012 since the area has not entered into production stage. 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Saldo awal Beginning balance Penambahan Addition Saldo akhir Ending balance
206 Hak atas tanah Landrights 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Saldo awal Beginning balance Penambahan Addition Transfer ke aset tetap ( ) - - Transfer to property, plant and equipment Saldo akhir Ending balance Pada tahun 2010, Perusahaan memperoleh sebidang tanah berlokasi di Tangerang Selatan, Indonesia seluas m2 dengan status Hak Guna Bangunan (HGB) yang berjangka waktu 5-20 tahun. Biaya biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan pengurusan legal hak atas tanah sebesar US$ ditangguhkan dan tidak diamortisasi karena manajemen meyakini bahwa perpanjangan atau pembaharuan HGB akan diperoleh. Dengan penerapan ISAK 25 (revisi 2011), beban tangguhan hak atas atas tanah tersebut direklasifikasi menjadi biaya perolehan atas tanah (Catatan 21). In 2010, the Company acquired pieces of land located at Tangerang Selatan, Indonesia with total area of 40,343 square meters with Building Use Right (HGB) for a period of 5 to 20 years. Costs incurred in connection with the legal processing of the landrights amounting to US$ 941,772 were deferred and were not amortized as management is certain that extension or renewal of the HGB will be obtained. Following the adoption of ISAK 25 (revised 2011), the deferred charges for landrights is reclassified to cost of land (Note 21). 17. INVESTASI PADA PENGENDALIAN BERSAMA 17. INVESTMENTS IN JOINTLY-CONTROLLED ENTITAS ENTITIES 1 Januari/ January 1, Persentase 2011/ Tempat kepemilikan/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ kedudukan/ Percentage of December 31, December 31, December 31, Domicile Ownership % US$ US$ US$ PT Santan Batubara (SB) Kalimantan 50 PT Santan Batubara (SB) Saldo awal Beginning balance Pemulihan harga perolehan Recovery-cost Bagian laba bersih Equity in profit Dividen yang diterima - ( ) ( ) Dividends received Saldo akhir Ending balance PT Tirta Kencana Tangerang 47 PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri (TKCM) Cahaya Mandiri (TKCM) Saldo awal Beginning balance Bagian laba bersih Equity in profit Dividen yang diterima ( ) (50.000) - Dividends received Saldo akhir Ending balance Jumlah Total Pada tahun 1998, Petrosea membeli 50% kepemilikan di SB, perusahaan yang berkedudukan di Jakarta dengan lokasi proyek di Kalimantan dan bergerak di bidang eksplorasi, pertambangan, pengolahan dan penjualan batubara, dengan harga perolehan sebesar US$ 100 ribu. Tahun 2009, SB memulai operasi komersial. In 1998, Petrosea purchased a 50% interest in SB, a company domiciled in Jakarta with project location in Kalimantan, and is engaged in exploring, mining, treating and selling coal, at a cost of US$ 100 thousand. In 2009, SB started its commercial operations
207 Sejak tahun 2004, Petrosea mempunyai 47% kepemilikan di TKCM, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan air bersih. Since 2004, Petrosea held a 47% interest in TKCM, a company engaged in the water treatment industry. Ringkasan informasi keuangan dari entitas pengendalian bersama diatas adalah sebagai berikut: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 December/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Jumlah aset Total assets Jumlah liabilitas Total liabilities Aset bersih Net assets Summarized financial information in respect to the jointly-controlled entities is set out below: Jumlah pendapatan tahun berjalan Total revenue for the year Laba bersih tahun berjalan Net income for the year 18. KERJASAMA OPERASI 18. JOINT OPERATIONS Bagian Petrosea dari hasil kerjasama operasi/ Petrosea s share in results of Joint Operations 1 Januari/ Pendapatan January 1, bagian 2011/ Pola bagi hasil/ Petrosea/ Masa kerja 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ Proyek kerja sama/ Method of Petrosea's sama/ December 31, December 31, December 31, Joint Operation sharing result profit share Duration Persentase/ US$ US$ US$ Percentage Petrosea-Calibre- Bagi hasil/ Selesai/ Roberts & Schaefer JO Profit sharing 33,3% Completed (13.086) (1.992) Petrosea-Laing Bagi hasil/ Masih berjalan/ O Rourke Indonesia JO Profit sharing 50% On-going ( ) ( ) Pada tahun 2006, Petrosea membentuk perjanjian kerjasama operasi dengan PT Robert Schaefer Soros Indonesia dan Calibre Projects Pty. Ltd yang dikenal dengan nama Petrosea - Calibre-Roberts & Schaefer Joint Operation (PCRS JO). PCRS JO bergerak di bidang studi kelayakan atas rekayasa dan jasa manajemen untuk fasilitas Maruwai Coal. Pada tahun 2006, Petrosea membentuk suatu perjanjian kerjasama dengan PT Laing O Rourke Indonesia yang dikenal dengan nama PT Petrosea - Laing O Rourke Indonesia Joint Operation (PLOR JO). PLOR JO bergerak di bidang jasa rekayasa dan konstruksi. Masing-masing pihak dalam kerjasama operasi di atas akan membagi hak, keuntungan, liabilitas, risiko, beban, laba atau rugi bersih sesuai dengan proporsi bagi hasil masing-masing pihak, tergantung apabila ada perubahan proporsi bagi hasil yang dibuat atas perjanjian kerjasama operasi. In 2006, Petrosea entered into a joint operation agreement with PT Robert Schaefer Soros Indonesia and Calibre Projects Pty. Ltd known as the Petrosea - Calibre-Roberts & Schaefer Joint Operation (PCRS JO). The scope of PCRS JO s activities is mainly to engage in feasibility study for engineering and management services for Maruwai Coal facilities. In 2006, Petrosea established a joint operation with PT Laing O Rourke Indonesia known as the PT Petrosea - Laing O'Rourke Indonesia Joint Operation (PLOR JO). The scope of the PLOR JO s activity is to engage in engineering and construction services. Each participant in the above joint operations shall share the rights, benefits, liabilities, obligations, risk, expenses, net profit or net loss in proportion to their respective participating interest, subject to any subsequent changes in the share of profit made pursuant to the joint operation agreements
208 19. UANG MUKA DAN ASET TIDAK LANCAR LAINNYA 19. ADVANCES AND OTHER NONCURRENT ASSETS Nilai tercatat/ Carrying amount 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Investasi saham Investment in shares of stock PT Sarana Riau Ventura PT Sarana Riau Ventura Uang muka investasi Advances for investments PT Intan Cempaka Perkasa PT Intan Cempaka Perkasa PT Karya Sukses Unggulan PT Karya Sukses Unggulan Lain-lain Others Advances for purchases of property Uang muka pembelian aset tetap and equipment Uang muka proyek Advances for projects Biaya transaksi pinjaman yang belum Unamortized transaction cost - Notes IV diamortisasi - Obligasi IV (Catatan 55) (Note 55) Lain-lain Others Jumlah Total PT Intan Cempaka Perkasa IIC menandatangani Perjanjian Kerjasama Penemuan dan Pengembangan Areal Konsesi Batu Bara dengan PT Intan Cempaka Perkasa (ICP) pada tanggal 5 dan 11 Agustus 2008, dimana ICP bersedia untuk bertindak atas nama dan untuk kepentingan IIC untuk mencari, menemukan dan/atau mengembangkan areal konsesi batu bara baik berupa Izin Usaha Pertambangan (IUP) maupun kontrak karya batubara yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Berkaitan dengan perjanjian tersebut di atas, IIC menyediakan dana untuk membiayai kegiatan pencarian dan pengembangan areal konsesi batubara masing-masing sejumlah maksimum Rp ribu dan Rp ribu dimana IIC telah melakukan pembayaran dimuka sebesar Rp ribu (setara dengan US$ ). Perjanjian ini berlaku satu tahun terhitung sejak penandatanganan masing-masing perjanjian diatas. IIC memiliki hak untuk mengakhiri perjanjian setiap waktu dan dengan alasan apapun dengan memberitahukan kepada ICP selambat-lambatnya 7 hari sebelum tanggal efektif pengakhiran perjanjian. Apabila sampai akhir perjanjian, ICP tidak berhasil memenuhi kewajibannya atau perjanjian ini diakhiri oleh IIC sebelum habis masa berlakunya, maka ICP berkewajiban untuk mengembalikan uang muka kepada IIC, setelah dikurangi dengan seluruh pengeluaran ICP terkait kewajibannya dalam perjanjian, dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati dalam perjanjian. Sesuai dengan perjanjian, ICP bersedia untuk memberikan jaminan berupa 75 saham yang pada saat ini dimiliki oleh PT Citra Bayu Permata dan aset bergerak lainnya milik ICP, termasuk Izin Usaha Pertambangan milik atau yang dikuasai ICP. PT Intan Cempaka Perkasa IIC entered into Exploration and Development of Coal Concession Area Agreements with PT Intan Cempaka Perkasa (ICP) dated August 5 and 11, 2008, in which ICP agreed to act on behalf of and for the benefit of IIC to explore, find and/or develop coal concession areas in Indonesia, either as Mining Right (IUP) or Coal Contract of Work. Based on the agreements, IIC agreed to provide funding for the exploration or development of coal concession activities up to the maximum amount of Rp 91,209,000 thousand and Rp 137,650,000 thousand, respectively, in which Rp 228,761,000 thousand (equivalent to US$ 24,981,225) was paid in advance by IIC. The agreements are valid for one year, effective from the signing date of each of the above agreements. IIC has the right to terminate the agreement at any time and for any reasons by giving a 7 days advance notice to ICP. If until the termination date of each agreement, ICP still cannot fulfill its obligation under these agreements or the agreements were early terminated by IIC, then ICP should refund the advance to IIC, net of all expenses paid-out by ICP related to its obligation under the agreements, within certain period as specified in the agreements. In accordance with the agreements, ICP agreed to give its 75 shares currently owned by PT Citra Bayu Permata as well as the other assets owned by ICP, including its mining concession rights, as collaterals to ICP
209 Sebagai tindak lanjut atas perjanjian dengan ICP yang sudah jatuh tempo, perjanjian telah beberapa kali diubah pada tanggal 5 Agustus 2010 dimana IIC dan ICP menyepakati untuk merubah beberapa pasal di perjanjian sebelumnya, antara lain sebagai berikut: Following the expiration of the agreements with ICP, the agreements have been amended several times, among others, through agreement dated August 5, 2010, where IIC and ICP agreed to amend certain articles in the previous agreements, among others, as follows: IIC akan membayar sebesar Rp 20 miliar (setara dengan US$ ) terkait dengan seluruh pengeluaran ICP dalam pelaksanaan kewajibannya dalam perjanjian sebelumnya, dimana manajemen berpendapat bahwa pengeluaran ICP tersebut terkait dengan proyeknya bersama CV Tiga Serangkai Binuang (Catatan 22). IIC will pay ICP Rp 20 billion (equivalent to US$ 2,233,140) to compensate all expenses paid out by ICP related to its obligations under the previous agreements, which management believes relate to its project with CV Tiga Serangkai Binuang (Note 22). Rp ribu (setara dengan US$ dan US$ masingmasing pada tanggal 31 Desember 2012 dan 31 Desember 2011 dan 1 Januari 2011/ 31 Desember 2010) akan digunakan untuk pencarian, eksplorasi dan/atau pengembangan areal konsesi batubara di Indonesia. ICP diberi batasan waktu satu tahun untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut atau ICP berkewajiban untuk mengembalikan uang muka kepada IIC, setelah dikurangi dengan seluruh pengeluaran ICP terkait dengan pelaksanaan tanggungjawabnya dalam perjanjian. Selama periode perjanjian sampai dengan tanggal 31 Desember 2012, IIC telah menerima beberapa kali pengembalian uang muka sejumlah Rp 155 miliar. Setelah mengalami beberapa kali perubahan, perjanjian terakhir telah diubah pada tanggal 31 Januari 2013, dimana IIC dan ICP menyetujui hal-hal sebagai berikut: Untuk memperpanjang perjanjian ini sampai tanggal 5 Agustus 2014; Untuk mengembalikan kepada IIC uang muka sebesar Rp ribu pada bulan Pebruari 2013 dan uang muka sebesar Rp ribu pada bulan Agustus Berdasarkan perjanjian diatas, uang muka sebesar Rp ribu (setara dengan US$ ) diklasifikasikan ke piutang lain-lain pada tanggal 31 Desember 2012 pihak ketiga (Catatan 10). Pada tanggal 11 Pebruari 2013, IIC telah menerima pengembalian uang muka sebesar Rp ribu (setara dengan US$ ) dari ICP. Rp 73,761,000 thousand (equivalent to US$ 7,627,818 as of December 31, 2012 and US$ 8,134,208 as of December 31, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010) will be used to locate, explore and/or develop coal concession areas in Indonesia. ICP was given a one-year limitation period for the above activities, or ICP should refund the advance to IIC, net of all expenses paid-out by ICP related to the above obligations. During the period of the agreement up to December 31, 2012, IIC received several times refunds of advances totaling Rp 155 billion. Having been amended several times, the latest agreements was amended on January 31, 2013, wherein both IIC and ICP agreed on the following: To extend the agreement until August 5, 2014; To refund to IIC the advance of Rp 29,058,000 thousand in February 2013 and advance of Rp 44,703,000 thousand in August Based on the above agreement, advance of Rp 29,058,000 thousand (equivalent to US$ 3,004,964) as of December 31, 2012 was reclassified to other accounts receivable from third party (Note 10) accordingly. On February 11, 2013, IIC has received payment advance of Rp 29,058,000 thousand (equivalent to US$ 3,004,964) from ICP
210 PT Karya Sukses Unggulan IIC menandatangani Perjanjian Kerjasama Penemuan dan Pengembangan Areal Konsesi Batu Bara dengan PT Karya Sukses Unggulan (KSU) pada tanggal 17 Maret 2011 dan 20 Oktober 2011, dimana KSU bersedia untuk bertindak atas nama dan untuk kepentingan IIC untuk mencari, menemukan dan/atau mengembangkan areal konsesi batu bara baik berupa Izin Usaha Pertambangan (IUP) maupun kontrak karya batubara yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Berkaitan dengan perjanjian tersebut di atas, IIC bersedia untuk menyediakan dana untuk membiayai kegiatan pencarian dan pengembangan areal konsesi batubara masing-masing sebesar maksimum US$ dan Rp juta. Perjanjian ini berlaku satu tahun terhitung sejak penandatanganan masing-masing perjanjian. IIC memiliki hak untuk mengakhiri perjanjian setiap waktu dan dengan alasan apapun dengan memberitahukan kepada KSU selambat-lambatnya 7 hari sebelum tanggal efektif pengakhiran perjanjian. Apabila sampai akhir perjanjian, KSU tidak berhasil memenuhi kewajibannya atau perjanjian ini diakhiri oleh IIC sebelum habis masa berlakunya, maka KSU wajib mengembalikan uang muka kepada IIC, setelah dikurangi dengan seluruh pengeluaran KSU terkait dengan pelaksanaan tanggung jawabnya dalam perjanjian, dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati dalam perjanjian. Sesuai dengan perjanjian, KSU bersedia untuk memberikan jaminan berupa 100% saham yang dimiliki oleh para pemegang saham KSU dan aset bergerak lainnya milik KSU, termasuk Izin IUP milik atau yang dikuasai KSU, sebagai jaminan kepada IIC. Pada bulan Pebruari 2012, IIC menerima pengembalian seluruh uang muka investasi yang dibayar kepada KSU. Uang muka pembelian aset tetap Uang muka pembelian aset tetap pada tahun 2012 dan 2011 terutama terdiri dari uang muka yang dibayar MBSS, untuk tujuan pembelian kapal; dan MTU untuk tujuan pembelian alat-alat berat. Uang muka proyek Uang muka proyek terutama terdiri dari uang muka yang dibayarkan MBSS untuk proyek floating crane. Di tahun 2012, proyek floating crane dibatalkan dan uang muka yang sudah dibayar telah dikembalikan ke MBSS. PT Karya Sukses Unggulan IIC entered into Exploration and Development of Coal Concession Area Agreements with PT Karya Sukses Unggulan (KSU) dated March 17, 2011 and October 20, 2011 in which KSU agreed to act on behalf of and for the benefit of IIC to explore, find and/or develop coal concession areas in Indonesia, either through Mining Right (IUP) or Coal Contract of Work. Based on the agreements, IIC agreed to provide funding for the exploration or development of coal concession activities up to the maximum amount of US$ 2,000,000 and Rp 10,000 million, respectively. The agreements are valid for one year, effective from the signing date of each agreement. IIC has the right to terminate the agreement at any time and for any reasons by giving a 7 days advance notice to KSU. If until the termination date of each agreement, KSU cannot fulfill its obligation under these agreements or the agreements were early terminated by IIC, then KSU should refund the advance to IIC, net of all expenses paid-out by KSU related to its obligation under the agreements, within certain period as specified in the agreements. In accordance with the agreements, KSU agreed to give its 100% shares owned by KSU s shareholders as well as the other moveable assets owned by KSU, including its mining rights, as collaterals to IIC. In February 2012, IIC received refund of all advance for investment paid to KSU. Advances for purchase of property and equipment Advances for purchases of property and equipment in 2012 and 2011 mainly consist of advances made by MBSS, for the purchase of vessels; and MTU for purchase of heavy equipment. Advances for project Advances for project mainly consisted of adavances paid by MBSS for floating crane project. In 2012, floating crane project is cancelled and MBSS has received refund of advances
211 20. PROPERTI INVESTASI 20. INVESTMENT PROPERTY 31 December/December 31, 2012 Saldo awal/ Saldo akhir/ Beginning Penambahan/ Ending balance Additions balance US$ US$ US$ Harga perolehan bangunan Cost of building Akumulasi penyusutan ( ) ( ) ( ) Accumulated depreciation Jumlah Tercatat ( ) Net Book Value 31 Desember/December 31, 2011 Penambahan karena akuisisi MBSS pada nilai wajar/ Saldo awal/ Addition due to Saldo akhir/ Beginning acquisition of MBSS Penambahan/ Ending balance at fair value Additions balance US$ US$ US$ US$ Harga perolehan bangunan Cost of building Akumulasi penyusutan - ( ) (44.224) ( ) Accumulated depreciation Jumlah Tercatat (44.224) Net Book Value Pada tanggal 31 Desember 2012, nilai wajar properti investasi Perusahaan adalah sebesar US$ Properti investasi MBSS terutama merupakan investasi pada bangunan seluas 636,86 m 2 milik MBSS di Gedung Graha Irama lantai 8, JI. H.R Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Properti investasi tersebut disewakan kepada pihak ketiga sampai tahun Hasil dari sewa tersebut dicatat pada akun pendapatan usaha lain-lain pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian. Pada tanggal 31 Desember 2012, properti investasi berupa bangunan telah diasuransikan kepada PT Sompo Japan Insurance Indonesia, pihak ketiga, terhadap risiko kerugian dengan nilai pertanggungan sebesar US$ Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas aset yang dipertanggungkan. Seluruh properti investasi dijadikan sebagai jaminan atas utang bank (Catatan 25). Per 31 Desember 2012, utang bank tersebut sudah dilunasi sepenuhnya dan hak tanggungan atas properti investasi ini telah dilepaskan. On December 31, 2012, the fair value of the Company s investment property is US$ 1,058,211. Investment property consists of building of sqm owned by MBSS at Graha Irama Building floor 8, JA. H.R. Rasuna Said, Kuningan, South Jakarta. This investment property is rented to third parties until Rental income from this investment is recorded under other gains in the consolidated statements of comprehensive income. On December 31, 2012, the building was insured with PT Sompo Japan Insurance Indonesia, third party, against possible losses with sum insured of US$ 539,590. Management believes that the amount is adequate to cover possible losses on the assets insured. This investment property was pledged as collateral for bank loans (Notes 25). As of December 31, 2012 the loan has been fully repaid and mortgage on the investment property has been released
212 21. ASET TETAP 21. PROPERTY, PLANT AND EQUIPMENT Penambahan karena akuisisi MEA dan MTU Selisih kurs pada nilai wajar/ penjabaran Trasfer dari Additions laporan beban tangguhan/ 1 Januari/ due to acquisition keuangan/ Transfer from 31 Desember/ January 1, of MEA and MTU Penambahan/ Pengurangan/ Translation Reklasifikasi/ deferred December 31, 2012 at fair value Additions Deductions adjustments Reclassifications expenditures 2012 US$ US$ US$ US$ US$ US$ US$ US$ Biaya perolehan: At cost: Pemilikan langsung Direct acquisitions Tanah (21.969) Land Bangunan, prasarana dan Buildings, leasehold perbaikan bangunan (62.308) and improvements Perabotan, perlengkapan dan Office furniture, fixture and peralatan kantor lainnya (1.619) other equipment Kapal Vessel Kendaraan bermotor Motor vehicles dan helikopter (28.936) and helicopter Mesin dan peralatan Machinery and equipment Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan (74.224) equipment and vehicles Aset sewa Leased assets Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan equipment and vehicles Aset dalam penyelesaian ( ) Construction in-progress Jumlah ( ) ( ) Total Akumulasi penyusutan: Accumulated depreciation: Pemilikan langsung Direct acquisitions Bangunan, prasarana dan Buildings, leasehold perbaikan bangunan (5.081) and improvements Perabotan, perlengkapan dan Office furniture, fixture and peralatan kantor lainnya (694) other equipment Kapal Vessel Kendaraan bermotor Motor vehicles dan pesawat (10.022) and aircraft Mesin dan peralatan Machinery and equipment Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan (13.048) (11.501) equipment and vehicles Aset sewa Leased assets Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan ( ) equipment and vehicles Jumlah (28.845) ( ) Total Jumlah Tercatat Net Book Value
213 Biaya perolehan: Pemilikan langsung Penambahan karena akuisisi MBSS pada nilai wajar/ Additions Selisih kurs penjabaran laporan 1 Januari/ due to acquisition keuangan/ 31 Desember/ January 1, of MBSS Penambahan/ Pengurangan/ Translation Reklasifikasi/ December 31, 2011 at fair value Additions Deductions adjustments Reclassifications 2011 US$ US$ US$ US$ US$ US$ US$ Tanah (3.022) Land Bangunan, prasarana dan At cost: Direct acquisitions Buildings, leasehold perbaikan bangunan (9.279) and improvements Perabotan, perlengkapan dan Office furniture, fixture and peralatan kantor lainnya (232) other equipment Kapal Vessel Kendaraan bermotor Motor vehicles dan helikopter (4.013) and helicopter Mesin dan peralatan Machinery and equipment Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan (10.439) ( ) equipment and vehicles Aset sewa Leased assets Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan equipment and vehicles Aset dalam penyelesaian ( ) Construction in-progress Jumlah (26.985) ( ) Total Akumulasi penyusutan: Pemilikan langsung Bangunan, prasarana dan Accumulated depreciation: Direct acquisitions Buildings, leasehold perbaikan bangunan (1.747) and improvements Perabotan, perlengkapan dan Office furniture, fixture and peralatan kantor lainnya (194) other equipment Kapal Vessel Kendaraan bermotor Motor vehicles dan helikopter (2.606) and helicopter Mesin dan peralatan Machinery and equipment Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan (4.131) ( ) equipment and vehicles Aset sewa Leased assets Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan equipment and vehicles Jumlah (8.678) ( ) Total Jumlah Tercatat Net Book Value
214 Penambahan karena akuisisi WAGL dan SMG Selisih kurs pada nilai wajar/ penjabaran Additions laporan 1 Januari/ due to acquisition keuangan/ 31 Desember/ January 1, of WAGL and SMG Penambahan/ Pengurangan/ Translation Reklasifikasi/ December 31, 2010 at fair value Additions Deductions adjustments Reclassifications 2010 US$ US$ US$ US$ US$ US$ US$ Biaya perolehan: At cost: Pemilikan langsung Direct acquisitions Tanah (1.075) Land Bangunan, prasarana dan Buildings, leasehold perbaikan bangunan (385) and improvements Perabotan, perlengkapan dan Office furniture, fixture and peralatan kantor lainnya (134) other equipment Kendaraan bermotor Motor vehicles dan helikopter (3.505) and helicopter Mesin dan peralatan Machinery and equipment Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan (4.749) equipment and vehicles Aset sewa Leased assets Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan equipment and vehicles Aset dalam penyelesaian ( ) Construction in-progress Jumlah (9.848) Total Akumulasi penyusutan: Accumulated depreciation: Pemilikan langsung Direct acquisitions Bangunan, prasarana dan Buildings, leasehold perbaikan bangunan (85) and improvements Perabotan, perlengkapan dan Office furniture, fixture and peralatan kantor lainnya (28) other equipment Kendaraan bermotor Motor vehicles dan helikopter (511) and helicopter Mesin dan peralatan Machinery and equipment Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan (363) equipment and vehicles Aset sewa Leased assets Alat berat dan pengangkutan, Plant, equipment, heavy peralatan dan kendaraan equipment and vehicles Jumlah (987) Total Jumlah Tercatat Net Book Value Biaya penyusutan dialokasikan sebagai berikut: Depreciation expense was allocated to the following: 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Beban pokok kontrak dan penjualan (Catatan 39) Cost of contracts and goods sold (Note 39) Beban umum dan administrasi (Catatan 40) General and administrative expenses (Note 40) Lain-lain (Catatan 43) Others (Note 43) Jumlah Total
215 Pada 30 Nopember 2011, Petrosea menandatangani Perjanjian Penjualan Peralatan (Equipment Sales Agreement) dengan pihak ketiga dimana Petrosea akan menjual sebagian peralatan yang tidak digunakan dengan nilai aset tercatat sebesar US$ ribu dan total harga penjualan sebesar US$ ribu, mengakibatkan kerugian sebesar US$ ribu. Pada tanggal 31 Desember 2011, peralatan yang tidak digunakan tersebut direklasifikasi ke aset tidak lancar dimiliki untuk dijual sebesar US$ Perincian kerugian penjualan aset tetap adalah sebagai berikut: On November 30, 2011, Petrosea signed an Equipment Sales Agreement with a third party whereby Petrosea will sell certain of its unused equipments with net carrying amount of US$ 5,461 thousand for a total sales price of US$ 3,150 thousand, resulting to an impairment loss of US$ 2,311 thousand. As of December 31, 2011, such unused equipments were reclassified to noncurrent assets held for sale amounting to US$ 3,150,000. Detail of the loss on sale of property, plant and equipment as follows: 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Nilai tercatat: Net carrying amounts: Aset tetap Property, plant and equipment Aset tidak lancar dimiliki untuk dijual Noncurrent assets held for sale Aset jual dan sewa balik Sale and leaseback assets Nilai realisasi atas pelepasan: Proceeds from disposal of: Aset tetap dan aset tidak lancar Property, plant and equipment dimiliki untuk dijual and noncurrent assets held for sale Aset jual dan sewa balik Sale and leaseback assets Kerugian pelepasan aset tetap dan Loss on disposal of property, plant and aset tidak lancar dimiliki untuk dijual equipment and noncurrent assets (Catatan 43) ( ) ( ) held for sale (Note 43) Rincian aset dalam penyelesaian pada tanggal 31 Desember 2012 adalah sebagai berikut: Details of constructions in-progress as of December 31, 2012 are as follows: 31 Desember/December 31, 2012 Persentase Estimasi tahun Penyelesaian/ Akumulasi Biaya/ Penyelesaian/ Percentage of Accumulated Estimated Year of Completion Costs Completion US$ Bangunan 0-95% Building Perabotan dan peralatan kantor 2% Office furniture and fixtures Kapal 95% Vessels Alat berat dan pengangkutan, peralatan Plant, equipment, heavy equipment dan kendaraan 0-95% and vehicles Jumlah Total Pada tanggal 31 Desember 2012, kapal dalam penyelesaian merupakan 2 kapal milik MBSS yang diperkirakan selesai pada tahun Kapal ini sekitar 95% selesai pada tanggal 31 Desember 2012 dan diperkirakan selesai pada awal tahun Manajemen tidak melihat adanya peristiwa yang akan menghambat penyelesaian aset dalam penyelesaian tersebut. As of December 31, 2012, vessels in-progress represent 2 vessels under construction of MBSS. Those vessels are about 95% complete as of December 31, 2012 and are expected to be fully completed by the first quarter of Management does not foresee any events that may prevent the completion of the constructions inprogress
216 Perusahaan memiliki beberapa bidang tanah di Bekasi dengan Hak Guna Bangunan (HGB) untuk jangka waktu 22 tahun, sampai dengan tahun Entitas anak memiliki beberapa bidang tanah di Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Paser Kalimantan Timur, Timika dan Kecamatan Cibeurem Tasikmalaya dengan Hak Guna Bangunan (HGB) untuk jangka waktu 20 dan 30 tahun sampai dengan tahun 2028, 2029, 2030 dan Manajemen berpendapat tidak terdapat masalah dengan perpanjangan hak atas tanah karena seluruh tanah diperoleh secara sah dan didukung dengan bukti kepemilikan yang memadai. Aset tetap yang dijaminkan Pada tanggal 31 December 2012, beberapa alat berat Petrosea dengan nilai tercatat sebesar US$ ribu dan sebagian tanah di Timika dan Sumbawa dengan nilai tercatat sebesar US$ 387 ribu digunakan sebagai jaminan atas fasilitas bank yang diperoleh dari PT. Bank ANZ Indonesia (Catatan 25). Berdasarkan Perjanjian Fasilitas Kredit dengan PT. Bank ANZ Indonesia, sebagian tanah tersebut secara keseluruhan bernilai sebesar Rp 20 miliar pada saat tanggal perjanjian. Aset sewaan digunakan sebagai jaminan atas liabilitas sewa (Catatan 30). Aset tetap tertentu milik MBSS berupa kapal dan alatalat pengangkutan dengan nilai tercatat US$ pada 31 Desember 2012 dijadikan sebagai jaminan atas utang bank dan utang jangka panjang. Pada tanggal 31 Desember 2012, kapal-kapal milik MBSS yaitu Finacia 52, 53, 61 dan 62 dengan nilai tercatat sebesar US$ telah digunakan sebagai jaminan utang Entebe Shipping Pte, Ltd. HGB No dan 1576 digunakan sebagai jaminan fasilitas kredit yang diperoleh TPEC dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Catatan 25 dan 51). Pada tanggal 31 Desember 2012, termasuk dalam aset tetap MBSS adalah kapal FC Princess Rachel dan FC Vittoria dimana PT Kideco Jaya Agung, pihak berelasi, memiliki opsi beli untuk membeli aset tersebut di bulan ke-60 atau di akhir masa kontrak (Catatan 51). The Company owns several pieces of land located in Bekasi with Building Use Rights (HGB) for 22 years until The subsidiaries own several pieces of land located in Jakarta, West Nusa Tenggara Paser Kalimantan Timur Regency, Timika and Cibeurem Tasikmalaya Sub-district with Building Use Rights (HGB) for 20 and 30 years until 2028, 2029, 2030 and Management believes that there will be no difficulty in the extension of the landrights since all the land were acquired legally and supported by sufficient evidence of ownership. Property, plant and equipment used as collateral As of December 31, 2012, certain heavy equipment of Petrosea with a carrying amount of US$ 7,508 thousand and several pieces of land at Timika and Sumbawa with carrying amount of US$ 387 thousand are used as collateral for bank facilities obtained from PT. Bank ANZ Indonesia (Note 25). Based on the Credit Facility Agreement with PT. Bank ANZ Indonesia, the piece of land were valued at an aggregate amount of Rp 20 billion as of the date of the agreement. Leased assets are used as collateral for the lease liabilities (Note 30). On December 31, 2012, MBSS vessels with carrying value of US$ 190,779,819 are pledged as collateral for bank loans and long-term bank loans. As of December 31, 2012, MBSS vessels namely: Finacia 52, 53, 61 and 62 with carrying value of US$ 4,491,295 are used as collateral loan to Entebe Shipping Pte, Ltd. The HGB No and 1576 are used as collateral for credit facilities obtained by TPEC from PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Notes 25 and 51). As of December 31, 2012, included in fixed assets of MBSS is vessel FC Princess Rachel and FC Vittoria wherein PT Kideco Jaya Agung, a related party, has an option to purchase such asset at the 60 th month or at the end of the contract period (Note 51)
217 Aset tetap kecuali tanah telah diasuransikan kepada beberapa perusahaan asuransi terhadap risiko kebakaran, pencurian dan risiko lainnya dengan jumlah pertanggungan sebagai berikut: Property, plant and equipment, except land, are insured with various insurance companies against fire, theft and other possible risk to various insurance companies, as follows: Jumlah pertanggungan/ Perusahaan asuransi/ Mata uang/ Sum insured Insurance company Currency 31 Desember/December 31, 2012 PT Asuransi AXA Indonesia Rp PT Zurich Insurance Indonesia Rp PT Asuransi Jaya Proteksi Rp US$ PT Asuransi Tokio Marine Indonesia Rp Asuransi Astra Buana US$ PT Asuransi Wahana Tata US$ PT Asuransi Himalaya Pelindung US$ PT Asuransi Raksa Pratikara Rp Bina Griya General Insurance Rp PT China Taiping Insurance US$ PT Tri Dharma Proteksi US$ PT Victoria Insurance Rp Tripa Insurance Rp Asuransi Rama Satria Wibawa Rp Asuransi ACA Rp Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan timbulnya kerugian atas aset yang dipertanggungkan. Nilai wajar aset tetap Perusahaan dan entitas anak pada tanggal 31 Desember 2012 sebesar US$ Aset tetap termasuk aset yang telah habis disusutkan tetapi masih digunakan dengan harga perolehan sebesar US$ Management believes that the insurance coverages are adequate to cover possible losses on the assets insured. Fair value of property, plant and equipment of the Company and its subsidiaries as of December 31, 2012 amounted to US$ 830,694,173. Property, plant and equipment includes assets with acquisition cost of US$ 13,678,083, that are already depreciated in full but are still in use
218 22. ASET TIDAK BERWUJUD 22. INTANGIBLE ASSETS 1 Januari/ January 1, Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ PT Multi Tambangjaya Utama PT Multi Tambangjaya Utama PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk PT Mitra Energi Agung PT Mitra Energi Agung PT Citra Indah Prima dan Indika PT Citra Indah Prima and Indika Capital Pte. Ltd., Singapura Capital Pte. Ltd., Singapore Pengembangan sistem dan perangkat System development and computer lunak komputer software PT Petrosea Tbk PT Petrosea Tbk CV Tiga Serangkai Binuang CV Tiga Serangkai Binuang Jumlah tercatat akhir tahun Net book value at end of year Mutasi aset tidak berwujud adalah sebagai berikut: Changes in intangible assets are as follows: 1 Januari/ January 1, Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Saldo awal Beginning balance Penambahan Addition Penambahan atas akuisisi entitas anak Addition due to acquisition of subsidiaries Amortisasi tahun berjalan ( ) ( ) ( ) Current year amortization Saldo akhir Ending balance PT Multi Tambangjaya Utama (MTU) Aset tidak berwujud ini berasal dari akuisisi MTU yang bergerak di bidang pertambangan batubara dengan kontrak karya pertambangan batubara (PKP2B) yang terletak di Barito Utara dan Selatan - Kalimantan Tengah. Nilai wajar aset tidak berwujud tersebut berdasarkan laporan penilaian dari penilai independen. Penilaian menggunakan pendekatan pendapatan dengan metode kelebihan pendapatan. Aset tidak berwujud termasuk biaya sebesar US$ 9,2 juta yang dikeluarkan sehubungan dengan pembelian Distribution Rights and Obligations untuk mendukung penjualan batubara MTU. Aset tidak berwujud diamortisasi selama estimasi masa manfaat selama 27 tahun. PT Multi Tambangjaya Utama (MTU) The intangible assets resulted from the acquisition of MTU, a company engaged in business of mining activities under the Coal Mining Contract of Work located in the North and South Barito - Central Kalimantan. Fair value of the intangible assets was based on a valuation report prepared by an independent valuer. The valuation is based on income approach with Excess Earning method. The intangible assets include costs amounting to US$ 9.2 million with regard to purchase of Distribution Rights and Obligations to support MTU s sales of coal. The intangible asset is amortized over the estimated useful life of 27 years
219 PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) Aset tidak berwujud ini berasal dari akuisisi MBSS dan entitas anak, yang berkaitan dengan kontrak jangka panjang MBSS (Catatan 51). Nilai wajar aset tidak berwujud tersebut berdasarkan laporan penilaian dari penilai independen. Penilaian dilakukan dengan pendekatan pendapatan dengan metode Kelebihan Pendapatan. Aset tidak berwujud diamortisasi selama estimasi masa manfaat selama 7 tahun. Selain terkait dengan kontrak jangka panjang MBSS, aset tidak berwujud juga termasuk perangkat lunak MBSS. PT Mitra Energi Agung (MEA) Aset tidak berwujud ini berasal dari akuisisi MEA yang bergerak di bidang pertambangan batubara dengan Izin Usaha Pertambangan yang terletak di Kutai Timur Kalimantan Timur. Nilai wajar aset tidak berwujud tersebut berdasarkan laporan penilaian dari penilai independen. Penilaian menggunakan pendekatan pendapatan dengan metode kelebihan pendapatan. Aset tidak berwujud diamortisasi selama estimasi masa manfaat selama 7 tahun. PT Citra Indah Prima and Indika Capital Pte. Ltd., Singapura Aset tidak berwujud ini berasal dari akuisisi CIP yang berkaitan dengan Izin Usaha Pertambangan (IUP) atas area konsesi batubara di wilayah Kalimantan Barat milik PT Sindo Resource (SR) dan PT Melawi Rimba Mineral (MRM), entitas anak PT Citra Indah Prima (CIP). IUP akan jatuh tempo pada bulan Nopember Manajemen berpendapat bahwa tidak terdapat kesulitan dengan perpanjangan IUP tersebut. Nilai wajar aset tidak berwujud tersebut berdasarkan laporan penilaian dari penilai independen. Penilaian menggunakan pendekatan pendapatan dengan metode diskonto arus kas. Aset tidak berwujud diamortisasi selama estimasi masa manfaat selama 14 tahun. Pengembangan Sistem dan Perangkat Lunak Komputer Aset tidak berwujud ini terutama berhubungan dengan pengembangan sistem komputer terintegrasi pada Perusahaan. Aset tidak berwujud diamortisasi selama estimasi masa manfaat selama 3 tahun. PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) The intangible assets resulted from the acquisition of MBSS and its subsidiaries, which mainly pertains to the long-term contracts of MBSS (Note 51). Fair value of the intangible assets was based on a valuation report prepared by an independent valuer. The valuation is based on income approach with Excess Earning method. The intangible asset is amortized over the estimated useful life of 7 years. In addition to the long-term contracts of MBSS, intangible assets included the computer software of MBSS. PT Mitra Energi Agung (MEA) The intangible assets resulted from the acquisition of MEA, a company engaged in business of mining activities under the Company Mining Coal Exploration Permit located in the East Kutai East Kalimantan. Fair value of the intangible assets was based on a valuation report prepared by an independent valuer. The valuation is based on income approach with Excess Earning method. The intangible assets is amortized over the estimated useful life of 7 years. PT Citra Indah Prima and Indika Capital Pte. Ltd., Singapore The intangible asset resulted from the acquisition of CIP and pertains to the exploration mining licenses (IUP) of coal concession areas located in West Kalimantan owned by PT Sindo Resource (SR) and PT Melawi Rimba Mineral (MRM), the subsidiaries of PT Citra Indah Prima (CIP). The mining licenses will expire in November Management believes that there will be no difficulty in obtaining extension for these mining permits. Fair value of the intangible asset was based on a valuation report prepared by an independent valuer. The valuation is based on income approach with discounted cash flow method. The intangible asset is amortized over its estimated useful life of 14 years. System Development and Computer Software The intangible asset mainly relates to the development of the Company s integrated computer system. The intangible asset is amortized over its estimated useful life of 3 years
220 PT Petrosea Tbk Aset tidak berwujud ini berasal dari akuisisi PT Petrosea Tbk (Petrosea) dan entitas anak, yang berkaitan dengan kontrak jangka panjang Petrosea (Catatan 51). Nilai wajar aset tidak berwujud tersebut berdasarkan laporan penilaian dari penilai independen. Penilai menggunakan metode Kelebihan Pendapatan. Aset tidak berwujud diamortisasi selama estimasi masa manfaat selama 5 tahun. CV Tiga Serangkai Binuang Aset tidak berwujud ini terkait dengan biaya yang dibayar berdasarkan Perjanjian Pengelolaan Tambang Batubara dan Perjanjian Pengelolaan Lahan di Areal Tambang Batubara CV Tiga Serangkai Binuang (TSB) antara IIC dan TSB. Aset tidak berwujud diamortisasi selama estimasi masa manfaat 2 tahun. PT Petrosea Tbk The intangible asset resulted from the acquisition of PT Petrosea Tbk (Petrosea) and its subsidiaries, which pertains to the long-term contracts of Petrosea (Note 51). Fair value of the intangible asset was based on a valuation report prepared by an independent valuer. The valuation is based on income approach with Excess Earning method. The intangible assets is amortized over its estimated useful life of 5 years. CV Tiga Serangkai Binuang The intangible asset resulted from fees paid under the Coal Mining Management Agreement and the Agreement for management of Coal Mining Area of CV Tiga Serangkai Binuang (TSB) between IIC and TSB. The intangible assets is amortized over its estimated useful life of 2 years. 23. GOODWILL 23. GOODWILL Akun ini merupakan selisih lebih antara biaya perolehan dan bagian Perusahaan atas nilai wajar aset bersih entitas anak. 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ This account represents the excess of acquisition cost over the Company s interest in the fair value of the net assets of subsidiaries. PT Multi Tambangjaya Utama PT Multi Tambangjaya Utama PT Petrosea Tbk dan entitas anak PT Petrosea Tbk and its subsidiaries PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk dan entitas anak and its subsidiaries PT Wahida Arta Guna Lestari PT Wahida Arta Guna Lestari PT Satya Mitra Gas PT Satya Mitra Gas Jumlah Total cost Akumulasi amortisasi Accumulated amortization Saldo awal Beginning balance Amortisasi selama tahun berjalan Amortization for the year Saldo akhir Ending balance Jumlah tercatat Net carrying amount Efektif 1 Januari 2011, goodwill tidak diamortisasi melainkan di-review untuk penurunannya sekurangkurangnya sekali setahun. Manajemen berpendapat bahwa tidak terdapat penurunan nilai atas goodwill pada tanggal 31 Desember 2012, 31 Desember 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, sehingga tidak dibentuk pencadangan penurunan nilai. Effective January 1, 2011, goodwill is no longer amortised but reviewed for impairment at least annually. Management believes that there is no impairment of goodwill as of December 31, 2012, December 31, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010 hence no provision for impairment is provided
221 24. ASET KEUANGAN TIDAK LANCAR LAINNYA 24. OTHER NONCURRENT FINANCIAL ASSETS 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Rekening Bank Dibatasi Penggunaannya - pihak ketiga Restricted Cash in Banks - third parties Citibank, N.A., Indonesia (Catatan 31) Citibank, N.A., Indonesia (Note 31) JP Morgan Chase Bank, N.A., JP Morgan Chase Bank, N.A., New York (pre-funded interest reserve New York (pre-funded interest reserve account) (Catatan 31) account) (Note 31) PT Bank Syariah Mandiri PT Bank Syariah Mandiri (Catatan 29) (Note 29) Jumlah Total Dana yang dibatasi penggunaannya pada PT Bank Syariah Mandiri merupakan deposito MBSS yang digunakan sebagai sinking fund yang harus terpelihara selama masa pembiayaan dengan nisbah nasabah 52% dan jangka waktu 3 bulanan. Restricted funds in PT Bank Syariah Mandiri represents time deposits of MBSS, which is used as a sinking fund that should be maintained during financing period with customer portion of 52% and 3 months maturity period. 25. UTANG BANK 25. BANK LOANS Utang bank, dikurangi biaya transaksi langsung yang belum diamortisasi, adalah sebagai berikut: Bank loans, net of unamortized transaction costs, are as follows: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Rupiah Rupiah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Dollar Amerika Serikat U.S. Dollar Standard Chartered Bank Standard Chartered Bank UBS AG, Cabang Singapura UBS AG, Singapore Branch PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Citibank, N.A., Indonesia Citibank, N.A., Indonesia PT Bank ANZ Indonesia PT Bank ANZ Indonesia PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank DBS Indonesia PT Bank DBS Indonesia PT Bank Permata Tbk PT Bank Permata Tbk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Jumlah Total Tingkat suku bunga per tahun Interest rates per annum Rupiah - 12% - Rupiah Dollar Amerika Serikat 2,75% - 6% 2,75% - 6,75% 4% - 7% U.S. Dollar
222 Standard Chartered Bank Pada tanggal 22 Maret 2011, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman jangka pendek dari Standard Chartered Bank, Cabang Singapura dan Jakarta dengan fasilitas kredit maksimum sebesar US$ dan jatuh tempo pada tanggal 29 April Pinjaman tersebut dikenakan bunga 3,25% per tahun diatas LIBOR dan terutang setiap 3 bulan. Pinjaman ini digunakan untuk membiayai akuisisi MBSS (Catatan 1b) dan telah dilunasi seluruhnya pada bulan April Pada tanggal 21 Mei 2012, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman dari Standard Chartered Bank, Cabang Jakarta dengan fasilitas kredit maksimum sebesar US$ dan jatuh tempo pada tanggal 21 Nopember Pinjaman tersebut dikenakan bunga 3,5% per tahun diatas LIBOR dan terutang setiap 3 bulan. Perjanjian itu mengharuskan Perusahaan untuk: Mempertahankan hak kepemilikan langsung dan /atau tidak langsung minimal sebesar 85% di MTU, 46% di Kideco, dan 51% kepemilikan masing-masing di MBSS (setelah diperoleh), Petrosea dan Tripatra; dan Menjaga Fixed Charge Coverage Ratio pada setiap saat minimal 2,50 : 1. Rasio ini dihitung dengan menggunakan laporan keuangan tahunan konsolidasian Grup yang telah diaudit dan laporan tiga bulanan dan diuji setiap tiga bulanan. Fixed Charge Coverage Ratio didefinisikan sesuai dengan Perjanjian Obligasi Perjanjian pinjaman sehubungan dengan fasilitas diatas mencakup persyaratan tertentu yang membatasi Perusahaan (Peminjam) untuk, diantaranya melakukan hal-hal berikut dibawah ini: Menjaminkan asetnya selain jaminan untuk Liabilitas Berlaku (Existing Indebtedness); dan Melakukan konsolidasi, demerger, merger atau rekonstruksi korporasi selain yang telah diijinkan dalam Pengecualian Obligasi Pinjaman ini digunakan untuk mendanai akuisisi MTU (Catatan 1b). Standard Chartered Bank On March 22, 2011, the Company obtained shortterm loan facilities from Standard Chartered Bank, Singapore Branch and Jakarta Branch with maximum credit limit of US$ 65,000,000, due on April 29, The loan bears interest rate per annum at 3.25% above LIBOR, payable every 3 months. This loan was used to finance the acquisition of MBSS (Note 1b) and was fully paid in April On May 21, 2012, the Company obtained bank loan facilities from Standard Chartered Bank, Jakarta Branch with maximum credit limit of US$ 75,000,000, due on November 21, The loan bears interest rate per annum at 3.5% above LIBOR, payable every 3 months. The agreement requires the Company to: Retain at least 85% direct and/or indirect ownership interest of MTU, 46% ownership interest of Kideco, and at least 51% ownership interest of each of MBSS (once acquired), Petrosea, and Tripatra; and Ensure that the Fixed Charge Coverage Ratio shall be at least 2.50 to 1 at all times. This ratio computed on a rolling 12-month basis based on the quarterly and annual audited consolidated financials of the Group and will be tested on a quarterly basis. "Fixed Charge Coverage Ratio" has the meaning given to it in the 2016 Bonds Indenture. The loan agreement covering the above facility contains certain covenants, which restricted the Company (Borrower), among other things, to: Create or permit to subsist any security over any of its assets other than security under the Existing Indebtedness; and Enter into consolidation, demerger, merger or corporate reconstructions except which is permitted under the 2016 Bonds Exceptions. This loan was used to finance the acquisition of MTU (Note 1b)
223 Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman tersebut dikurangi biaya transaksi yang belum diamortisasi masing-masing sebesar US$ , US$ dan nihil. UBS AG, Cabang Singapura Pada tanggal 24 Nopember 2010, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman jangka pendek dari UBS AG, Cabang Singapura dengan fasilitas kredit maksimum sebesar US$ , yang digunakan untuk modal kerja serta keperluan Perusahaan. Pinjaman tersebut dikenakan bunga 4% per tahun dan terutang setiap 3 bulan. Pinjaman ini akan jatuh tempo pada tanggal yang terlebih dahulu antara: Jangka waktu 6 bulan sejak tanggal penarikan dana; Satu hari sebelum pengumuman dividen atau penebusan saham, selain dividen interim bulan Nopember; Pada tanggal 31 Mei 2011, Perusahaan telah membayar seluruh pinjaman sebesar US$ Pada tanggal 23 Maret 2011, Perusahaan memperoleh tambahan fasilitas pinjaman jangka pendek dari bank yang sama dengan fasilitas kredit maksimum sebesar US$ jatuh tempo pada tanggal 29 April Pinjaman tesebut dikenakan bunga 3% per tahun diatas LIBOR dan terutang setiap 3 bulan. Pinjaman ini digunakan untuk membiayai akuisisi MBSS (Catatan 1b) dan telah dilunasi pada bulan April Pada tanggal 21 Mei 2012, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman baru dengan fasilitas kredit maksimum sebesar US$ dan jatuh tempo pada tanggal 21 Nopember Pinjaman tersebut terdiri dari: Offshore (US$ ) dikenakan bunga 3,35% diatas LIBOR dan Onshore (US$ ) dikenakan bunga 3,50% diatas LIBOR per tahun dan masing-masing terutang setiap 3 bulan. Pinjaman ini digunakan untuk mendanai akuisisi MTU (Catatan 1b). Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman tersebut dikurangi biaya transaksi yang belum diamortisasi masing-masing sebesar US$ , US$ dan US$ As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010 total outstanding loan net of unamortized transaction cost amounted to US$ 74,083,333, US$ 64,754,191 and nil, respectively. UBS AG, Singapore Branch On November 24, 2010, the Company obtained a short-term loan facility from UBS AG, Singapore Branch with a maximum credit limit of US$ 15,000,000 which should be applied towards its working capital and corporate purposes. The loan bears interest rate per annum at 4%, payable every 3 months. Such loan will mature at the earlier of: The date falling 6 months from the drawdown of the loan; or The date falling one business day prior to any date of a proposed dividend or share redemption, other than the November dividend; On May 31, 2011, the Company fully paid this loan amounting to US$ 15,000,000. On March 23, 2011, the Company obtained additional short-term loan facility, with a maximum credit limit of US$ 65,000,000. The maturity date of this agreement was on April 29, The loan bears interest rate per annum at 3% above LIBOR, payable every 3 months. This loan was used to finance the acquisition of MBSS (Note 1b) and was fully paid on April 2012 On May 21, 2012, the Company obtained new bank loan facilities with maximum credit limit of US$ 75,000,000, due on November 21, The loan consists of: Offshore (US$ 45,000,000) bearing interest rate at 3.35% above LIBOR per annum and Onshore (US$ 30,000,000) bearing interest rate at 3.50% above LIBOR per annum, payable every 3 months respectively. This loan was used to finance the acquisition of MTU (Note 1b). As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010 total outstanding loan net of unamortized transaction cost amounted to US$ 74,083,333, US$ 64,672,695 and US$ 14,747,637, respectively
224 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Pada tahun 2010, TPEC memperoleh fasilitas kredit KMK dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, maksimum sebesar US$ Fasilitas kredit ini telah diperpanjang sampai dengan 5 Nopember 2012 dan dikenakan bunga pinjaman 6% per tahun. Fasilitas ini bersama fasilitas kredit lainnya (Catatan 51g) dijamin dengan piutang usaha/tagihan proyek (Catatan 7) dengan nilai pengikatan sebesar Rp 197,22 miliar, deposito pada bank yang sama sebesar US$ (Catatan 6), dan sertifikat tanah dan bangunan (SHGB) tertentu (Catatan 21). Pada bulan Maret 2012, TPEC telah melunasi seluruh pinjamannya kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Pada tanggal 18 Juli 2012, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit Pinjaman Transaksi Khusus (PTK) dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, maksimum sebesar US$ , yang akan digunakan untuk membiayai modal kerja serta keperluan Perusahaan. Pinjaman tersebut dikenakan bunga 4,5% per tahun di atas LIBOR dan terutang setiap 3 bulan. Pinjaman ini akan jatuh tempo pada tanggal 18 Januari 2014 (18 bulan). Pada tanggal 18 Juli 2012, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit KMK Revolving dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, maksimum sebesar US$ , yang akan digunakan untuk membiayai modal kerja serta keperluan Perusahaan. Pinjaman tersebut dikenakan bunga 4,24% per tahun di atas LIBOR dan terutang setiap 3 bulan. Pinjaman ini akan jatuh tempo pada tanggal 17 Juli 2013 (12 bulan). Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, saldo pinjaman tersebut dikurangi biaya transaksi yang belum diamortisasi masing-masing sebesar US$ , US$ dan US$ Citibank, N.A., Indonesia Pada tanggal 12 Agustus 2009, Petrosea memperoleh fasilitas pinjaman jangka pendek dari Citibank, N.A. Indonesia untuk membiayai kebutuhan modal kerjanya. Fasilitas kredit maksimum sebesar US$ 12,5 juta dengan tingkat bunga LIBOR ditambah 3,25% per tahun. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk In 2010, TPEC obtained a working capital credit facility from PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, with maximum amount of US$ 35,000,000. The credit facility was extended until November 5, 2012 with 6% interest rate per annum. The above facility together with other credit facilities (Note 51g) are secured by certain trade accounts receivable/project claim (Note 7) amounting to Rp billion, time deposit placed at the same bank amounting to US$ 2,150,000 (Note 6), and certain land and building certificate (SHGB) (Note 21). In March 2012, TPEC fully paid its loan to PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. On July 18, 2012, the Company obtained a working capital credit facility from PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, with maximum amount of US$ 35,000,000, which should be applied towards its working capital and corporate purposes. The credit facility bears interest rate per annum at 4.5% above LIBOR, payable every 3 months. Final maturity date of this agreement is January 18, 2014 (18 months). On July 18, 2012, the Company obtained a Working Capital Credit facility (KMK) Revolving from PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, with maximum amount of US$ 75,000,000, which should be applied towards its working capital and corporate purposes. The credit facility bears interest rate per annum at 4.24% above LIBOR, payable every 3 months. Final maturity date of this agreement is July 17, 2013 (12 months). As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the outstanding balance of the loan net of unamortized transaction cost amounted to US$ 53,255,000, US$ 2,000,000 and US$ 3,800,022, respectively. Citibank, N.A., Indonesia On August 12, 2009, Petrosea obtained short-term loan facilities from Citibank, N.A. Indonesia for financing of Petrosea s general working capital requirements. The facilities maximum credit is US$ 12.5 million with interest rate of LIBOR plus 3.25% per annum
225 Pada tanggal 16 Mei 2011, Petrosea telah membayar saldo utang bank dan bunga kepada Citibank, N.A., Indonesia dan pada tanggal tersebut Petrosea dan Citibank, NA Indonesia sepakat untuk mengakhiri fasilitas pinjaman tersebut. Pada tanggal 9 Maret 2011, Perusahaan mengadakan perjanjian kredit uncommitted dan secara berulang dengan Citibank, N.A., Indonesia (Citi), dimana Bank bersedia memberikan fasilitas pinjaman dengan kredit maksimum sebesar US$ Fasilitas berdasarkan perjanjian ini tersedia untuk ditarik sampai dengan 31 Desember Setiap penarikan pinjaman memiliki jangka waktu 12 bulan dan tidak melebihi tanggal 29 April Pinjaman tersebut dikenakan bunga 3% diatas LIBOR per tahun dan terutang setiap 3 bulan. Pinjaman ini digunakan untuk membiayai akuisisi MBSS (Catatan 1b) dan telah dilunasi seluruhnya pada bulan April Pada tanggal 21 Mei 2012, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman baru dengan fasilitas kredit maksimum sebesar US$ Pinjaman tersebut terdiri dari: Fasilitas Tranche A (US$ ) dikenakan bunga 3,5% per tahun diatas LIBOR, jatuh tempo pada tanggal 20 Nopember 2013 dan Fasilitas Tranche B (US$ ) dikenakan bunga 3% per tahun di atas LIBOR, jatuh tempo pada tanggal 20 Mei 2013 dan masing-masing terutang setiap 3 bulan. Perjanjian pinjaman sehubungan dengan fasilitas di atas mencakup persyaratan tertentu. Antara lain: On May 16, 2011, Petrosea paid the outstanding balance of the principal and interest of the loan from Citibank, N.A., Indonesia and Petrosea and Citibank, N.A, Indonesia agreed to terminate the loan facilities agreement. On March 9, 2011, the Company entered into uncommitted revolving credit agreement with Citibank, N.A., Indonesia (Citi), wherein Citi agreed to provide the Company with loan facility at the maximum amount of US$ 50,000,000. The facility under this agreement shall be available for drawdown until December 31, Each advance drawdown under this facility shall have a term of 12 months not to exceed April 29, The loan bears interest rate per annum at LIBOR above 3%, payable every 3 months. This loan was used to finance the acquisition of MBSS (Note 1b) and has been fully paid on April, On May 21, 2012, the Company obtained new bank loan facilities with maximum credit limit of US$ 50,000,000. The loan consists of : Tranche A Facility (US$ 28,000,000) bearing interest rate at 3.5% above LIBOR per annum, due on November 20, 2013 and Tranche B Facility (US$ 22,000,000) bearing interest rate at 3% above LIBOR per annum, due on May 20, 2013 and payable every 3 months respectively. The loan agreement relating to the above facility contains certain covenants. Among other things: Perubahan komposisi pemegang saham yang mengakibatkan PT Indika Mitra Energi mempunyai kurang dari 51% saham harus mendapatkan persetujuan sebelumnya dari bank; Any changes in the composition of shareholders which result in PT Indika Mitra Energi owning less than 51% of the subscribed shares is subject to the prior written consent of the Bank; Peminjam wajib memberikan pemberitahuan tertulis kepada bank untuk setiap merger atau kepemilikan atau menjual (menyewakan, mentransfer, atau melepas) dari bagian substansial dari aset/modal saham perusahaan lain, segera setelah setiap tindakan tersebut terjadi; dan The Borrower shall give a written notification to the bank for any merger or acquistion or sell (lease, transfer, or dispose) of a substantial part of the assets/capital stock of any other company, promptly after any such action takes place; and Sampai semua jumlah terutang dilunasi, peminjam harus menjaga rasio Adjusted EBITDA terhadap Beban Bunga tidak kurang dari 2,5 : 1. Pinjaman ini digunakan untuk membiayai akuisisi MTU (Catatan 1b). Until all amount outstanding under the Agreement has been fully repaid, the Borrower shall maintain a ratio of Adjusted EBITDA to Interest Expense of not less than 2.5 : 1. This loan was used to finance the acquisition of MTU (Note 1b)
226 Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman, dikurangi biaya transaksi yang belum diamortisasi, masing-masing sebesar US$ , US$ dan US$ PT. Bank ANZ Indonesia Pada tanggal 23 April 2010, Petrosea dan PT. Bank ANZ Indonesia (ANZ) menandatangani Perjanjian Fasilitas Kredit dimana Petrosea diberikan fasilitas bank garansi sebesar US$ 10 juta. Pada tanggal 13 Mei 2011, Petrosea dan ANZ, Jakarta menyetujui untuk merubah fasilitas pinjaman. Sesuai dengan perjanjian ini, jumlah maksimum fasilitas pinjaman menjadi sebesar US$ 22,5 juta, terdiri dari fasilitas bank garansi sebesar US$ 10 juta dan fasilitas modal kerja sebesar US$ 12,5 juta dengan tingkat bunga LIBOR ditambah 2,5% per tahun dan akan jatuh tempo dalam jangka waktu satu tahun dan dapat diperpanjang kembali atas kesepakatan kedua belah pihak. Setiap keterlambatan pembayaran pokok pinjaman dan bunga yang sudah jatuh tempo akan dikenakan bunga sebesar 2,5% per tahun diatas suku bunga yang telah ditetapkan. Pinjaman diatas dijamin dengan sejumlah piutang usaha dan aset tetap Petrosea dan Letter of Awareness dari Perusahaan (Catatan 7 dan 21). Perjanjian sehubungan dengan fasilitas pinjaman di atas mencakup persyaratan tertentu, antara lain, Petrosea tidak akan melakukan tindakan sebagai berikut tanpa persetujuan tertulis dari bank: As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the outstanding balance of this loan, net of unamortized transaction cost, amounted to US$ 49,388,890, US$ 49,737,759 and US$ 5,499,944, respectively. PT. Bank ANZ Indonesia On April 23, 2010, Petrosea and PT. Bank ANZ Indonesia (ANZ) entered into a Credit Facility Agreement whereby Petrosea was granted a bank guarantee facility amounting to US$ 10 million. On May 13, 2011, Petrosea and ANZ, Jakarta agreed to amend the Credit Facility Agreement. Under the amended agreement, the bank loan facilities have maximum amount of US$ 22.5 million, consisting of bank guarantees of US$ 10 million and working capital loan of US$ 12.5 million, with interest rate of LIBOR plus 2.5% per annum and will mature within one year and extendable upon the agreement of both parties. Any overdue principal and interest shall carry interest at 2.5% per annum above the stipulated interest rate. These loans are collateralized by certain trade accounts receivable and property, plant and equipment of Petrosea and Letter of Awareness from the Company (Notes 7 and 21). The agreement relating to the above loan facilities contain certain covenants, among other things, Petrosea shall not do the following actions without prior written approval from the bank: untuk setiap perubahan pemegang saham induk perusahaan; dan setiap merger atau konsolidasian dengan perusahaan lain. any change in the shareholders of the parent company; and any merger or consolidation with any other company. Sebagai tambahan, Petrosea akan memberitahukan kepada ANZ: In addition, Petrosea shall notify ANZ of the following: untuk setiap perubahan kepemilikan pemegang saham induk perusahaan; dan pembayaran dividen. any change in the ownership of the shareholders of the parent company; and dividend payment. Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, saldo pinjaman ini masing-masing sebesar US$ dan nihil pada tanggal 1 Januari 2011/31 Desember As of December 31, 2012 and 2011, the outstanding balance of this loan amounted to US$ 12,500,000, respectively, and nil as of January 1, 2011/December 31,
227 PT Bank International Indonesia Tbk (BII) Berdasarkan Perjanjian Kredit tanggal 11 Januari 2007, MBSS memperoleh fasilitas revolving demand loan hingga jumlah pokok sebesar US$ dengan sub limit sebagai berikut: PT Bank International Indonesia Tbk (BII) Based on loan agreement dated January 11, 2007, MBSS obtained a revolving demand loan facility with credit limit of up to US$ 7,000,000 with the following sub limit: Fasilitas Revolving Demand Loan Rupiah hingga jumlah pokok sebesar Rp ; Fasilitas Standby Letter of Credit atau fasilitas Bank Garansi hingga jumlah pokok sebesar US$ ; dan Faslitas pinjaman Letter of Credit maksimum pokok sebesar US$ Revolving Demand Loan Facility in Rupiah of up to Rp 30,000,000,000 of principal amount; Standby Letter of Credit Facility or Bank Guarantee Facility of US$ 3,000,000 of principal amount; and Letter of Credit Facility with maximum principal amount of US$ 3,000,000. Perjanjian ini telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir berdasarkan Surat Perpanjangan Perjanjian Kredit tanggal 7 Maret 2012, dengan perpanjangan fasilitas sampai dengan 12 Januari Pinjaman ini dikenakan bunga 5,5% per tahun. Pinjaman tersebut dijamin antara lain dengan: Piutang Perusahaan dari PT Bahari Cakrawala Sebuku dan PT Kaltim Prima Coal; 4 unit kapal tunda, yaitu Entebe Star 30, Entebe Emerald 52, Entebe Emerald 33, dan Entebe Emerald 51; 4 unit kapal tongkang, yaitu Finacia 35, Finacia 38, Finacia 36, dan Finacia 50; dan 1 unit floating crane, yaitu Ben Glory Pada tanggal 24 Pebruari 2011, MSC telah menandatangani Perjanjian Kredit dengan PT Bank Internasional Indonesia Tbk untuk pembiayaan Floating Crane Princesse Chloe. Fasilitas ini mencakup term loan sebesar US$ , jatuh tempo dalam waktu 60 bulan sampai dengan 24 Pebruari 2016 dan demand loan sebesar US$ Kedua fasilitas tersebut dikenakan bunga 5,5% per tahun. Fasilitas kredit modal kerja tersebut telah diperpanjang sampai dengan 24 Pebruari Pinjaman tersebut dijamin dan terikat dengan beberapa batasan yang sama dengan pinjaman jangka panjang (Catatan 29). Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman masing-masing sebesar US$ , US$ dan nihil. The agreement has been amended several times, most recently by Extension Letter of Credit Agreement dated March 7, 2012, which extends the facility until January 12, This loan bears interest rate of 5.5% per annum. The loan is secured among others by: Receivable from PT Bahari Cakrawala Sebuku and PT Kaltim Prima Coal; 4 unit tug boat, namely Entebe Star 30, Entebe Emerald 52, and Entebe Emerald 33, and Entebe Emerald 51; 4 unit barge, namely Finacia 35, Finacia 38, Finacia 36, and Finacia 50; and 1 unit floating crane named Ben Glory On February 24, 2011, MSC has signed a Credit Agreement with PT Bank Internasional Indonesia Tbk for the financing of Floating Crane Princesse Chloe. The facilities given included term loan amounting to US$ 19,200,000 which will be due in 60 months up to February 24, 2016 and demand loan of US$ 1,000,000. Both facilities bear annual interest rate at 5.5% per annum. The demand loan facility has been extended up to February 24, The loan s collaterals and negative covenants are same as its long-term loans (Note 29). As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the outstanding balance of the loan amounted to US$ 7,346,478, US$ 6,346,493 and nil, respectively
228 PT Bank DBS Indonesia MBSS memperoleh fasilitas perbankan dari PT Bank DBS Indonesia (DBS) dalam bentuk fasilitas uncommitted revolving credit (RCF) sampai jumlah maksimum US$ dan fasilitas pembayaran impor berupa uncommitted import letter of credit (L/C) sampai jumlah maksimum US$ Jangka waktu fasilitas perbankan adalah 12 dan diperpanjang beberapa kali yang terakhir tanggal 16 April Perjanjian kredit ini diperpanjang sampai dengan tanggal 1 Mei Fasilitas perbankan tersebut dikenakan bunga sebesar cost of fund dari DBS ditambah 2,75% per tahun. Fasilitas pinjaman tersebut dijamin antara lain dengan: PT Bank DBS Indonesia MBSS obtained a banking facility from PT Bank DBS Indonesia (DBS) in the form of uncommitted revolving credit facility (RCF) with maximum amount of US$ 3,000,000 and import payments in the form of uncommitted facilities import letters of credit (L/C) with maximum amount of US$ 2,500,000. The term period of loan is 12 months, and has been extended several times, most recently dated April 16, This loan agreement has been extended up to May 1, These facilities bear annual interest at the cost of funds of DBS plus 2.75% per annum. The facilities are secured among others by: Kuasa untuk memegang hipotek, untuk menjual: Kapal tongkang yang terdiri dari Finacia 2 dan Finacia 18 (Catatan 21); Kapal tunda yang terdiri dari Gina 1 dan Gina 7 (Catatan 21); The power to hold the mortgage, to sell the following: Barges namely Finacia 2 and Finacia 18 (Note 21); Tugboat namely Gina 1 and Gina 7 (Note 21); Fidusia atas tagihan dengan nilai penjaminan sejumlah US$ Fiduciary over accounts receivable amounting to US$ 3,750,000. MBSS terikat dengan beberapa pembatasan, antara lain: MBSS is required to comply with several covenants, among others, to: Mempertahankan rasio kecukupan jaminan atas fidusia tagihan piutang dan atas kapal-kapal yang dijaminkan terhadap fasilitas RCF yang belum dilunasi sebesar 125%; dan Maintain security coverage ratio for fiduciary over accounts receivable and vessels to outstanding RCF facility of 125%; and Mempertahankan rasio kecukupan jaminan atas jaminan cash deposit terhadap fasilitas L/C impor yang belum dilunasi minimum 100%. Maintain security coverage ratio for collateral of cash deposit to outstanding L/C import facility of 100%. Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 saldo pinjaman masing-masing sebesar US$ dan nihil pada tanggal 1 Januari 2011/31 Desember As of December 31, 2012 and 2011 total outstanding loan amounted to US$ 3,000,000, respectively, and nil on January 1, 2011/December 31,
229 PT Bank Permata Tbk Pada tanggal 19 Nopember 2009, MBSS memperoleh fasilitas Commercial Invoice Financing dari PT Bank Permata Tbk yang bertujuan untuk membiayai modal kerja dengan pagu fasilitas maksimum sampai sejumlah US$ dengan tingkat bunga 5,75% per tahun, dimana fasilitas dapat digunakan juga untuk fasilitas revolving loan sampai sejumlah maksimum US$ dengan tingkat bunga sebesar 6% per tahun. Fasilitas ini telah diperpanjang sampai dengan tanggal 19 Oktober Fasilitas ini dijamin dengan: PT Bank Permata Tbk On November 19, 2009, MBSS obtained a Commercial Invoice Financing facility from PT Bank Permata Tbk to finance working capital with a maximum credit limit of US$ 3,000,000, with interest rate of 5.75% per annum; which also can be used for the revolving loan facility up to a maximum of US$ 2,000,000 with interest rate of 6 % per annum. The facilities have been extended until October 19, The facilities are secured by: Kapal tongkang Finacia 28, Finacia 30 dan Finacia 31; dan Barges namely Finacia 28, Finacia 30 and Finacia 31; and Kapal tunda Entebe Star 28. Tugboat namely Entebe Star 28. Sesuai perjanjian pinjaman, MBSS diharuskan menjaga beberapa rasio keuangan tertentu, antara lain: As stated in loan agreement, MBSS is required to maintain several financial ratios, among others: Leverage ratio tidak lebih dari 3 kali; Leverage ratio of not more than 3 times; Debt service coverage ratio tidak kurang dari 1,25 kali. Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 masingmasing sebesar US$ dan nihil pada tanggal 1 Januari 2011/31 Desember PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Berdasarkan Perjanjian Kredit tanggal 15 Desember 2008, MBSS memperoleh fasilitas Kredit Modal Kerja dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) sebesar maksimum US$ Fasilitas ini dikenakan bunga 6,5% per tahun. Fasilitas ini telah berakhir pada tanggal 15 Desember 2012 dan tidak diperpanjang. MBSS sedang dalam proses pelepasan hak fidusia untuk jaminan terkait. Debt service coverage ratio of not less than 1.25 times. As of December 31, 2012 and 2011 the outstanding loan amounted to US$ 3,000,000, respectively, and nil as of January 1, 2011/December 31, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Based on Credit Agreement dated December 15, 2008, MBSS obtained a Working Capital Loan facility from PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) with maximum limit of US$ 2,600,000. This facility bears interest rate of 6.5% per annum. This facility has been expired on December 15, 2012 and was not extended. MBSS is in the process of releasing fiduciary right of the related collaterals
230 Fasilitas pinjaman tersebut dijamin dengan: Piutang usaha sebesar Rp (Catatan 7); This facility is collateralized by the following: Accounts receivable amounting to Rp 11,902,728,000 (Note 7); 2 unit kapal tunda Entebe Star 9, dan Queen 202 (Catatan 21); dan 2 units of tugboat namely Entebe Star 9 and Queen 202 (Note 21); and 2 unit kapal tongkang Finacia 3 dan Finacia 9 (Catatan 21). MBSS terikat dengan beberapa batasan, antara lain MBSS harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu untuk: 2 units of barge namely Finacia 3 and Finacia 9 (Note 21). MBSS is required to comply with several restrictions, among others, MBSS is required to obtain prior written consent to: Mengikatkan diri sebagai penjamin (Borg), menjaminkan harta kekayaan MBSS dalam bentuk dan maksud apapun kepada pihak lain senilai lebih dari US$ ; Act as a guarantor, pledge MBSS assets in any form or purposes to other parties for amounts more than US$ 10,000,000; Memperoleh pinjaman baru dari perbankan atau lembaga keuangan bukan bank atau pihak ketiga/ partner sebesar lebih dari US$ ; Obtain new loan from bank or non-bank financial institutions or third parties/partner for amounts more than US$ 10,000,000; Memasuki bisnis baru dan atau melakukan penggabungan usaha dengan pihak lain; Enter into the new business or perform merger or acquisition; Membubarkan usaha atau meminta dinyatakan pailit; Liquidate the business or request for bankruptcy; Menyewakan barang agunan dalam bentuk dan maksud apapun kepada pihak lain kecuali yang berhubungan dengan bisnis MBSS; dan Rent out the collateral in any form and purpose to other except related with the MBSS business; and Melakukan transaksi dengan pihak berelasi yang berada diluar praktek dan kebiasaan wajar. Carry out transaction with related parties that is outside the normal business transaction. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman tersebut, dikurangi biaya transaksi yang belum diamortisasi, masing-masing sebesar nihil, US$ dan nihil. Pada tanggal 31 December 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 manajemen meyakini bahwa Perusahaan dan entitas anak telah memenuhi semua persyaratan-persyaratan penting yang diwajibkan oleh pihak bank. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, total outstanding loan, net of unamortized transaction costs amounted to nil, US$ 697,287 and nil, respectively. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, management believe that the Company and its subsidiaries have complied with all significant covenants required by the banks
231 26. UTANG USAHA 26. TRADE ACCOUNTS PAYABLE Berdasarkan pemasok: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ By creditor: Pihak berelasi (Catatan 49) Related parties (Note 49) PT Kideco Jaya Agung PT Kideco Jaya Agung PT Indo Turbine PT Indo Turbine Lain-lain Others Sub jumlah Sub total Pihak ketiga Third parties Jumlah Total Berdasarkan umur: By age: Belum jatuh tempo Current Sudah jatuh tempo Overdue 1-30 hari days hari days hari days hari days > 360 hari > 360 days Jumlah Total Berdasarkan mata uang: By currency: Dollar Amerika Serikat Unites States Dollar Rupiah Rupiah Dollar Singapura Singapore Dollar Euro Euro Yen Jepang Japanese Yen Dollar Australia Australian Dollar Lain-lain Others Jumlah Total 27. UTANG PAJAK 27. TAXES PAYABLE 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Pajak kini Current tax Entitas anak Subsidiaries Final Final 2012 (Catatan 44) (Note 44) Tidak final Non final Pajak penghasilan: Income tax: Pasal Article 15 Pasal Article 21 Pasal Article 23 Pasal Article 25 Pasal Article 26 Pasal 4(2) Article 4(2) Denda pajak Tax penalty Pajak pertambahan nilai Value added tax Lain-lain - entitas anak Others - subsidiaries Jumlah Total
232 28. BIAYA MASIH HARUS DIBAYAR 28. ACCRUED EXPENSES 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Biaya konstruksi dan sub-kontraktor Construction and sub-contractors' expenses Pembelian material dan suku cadang Purchase of materials and spare parts Bunga Interest Gaji, insentif dan bonus karyawan Salaries, employees' incentives and bonus Pajak kendaraan Vehicle tax Lain-lain (masing-masing dibawah US$ 1 juta) Others (each below US$ 1 million) Jumlah Total 29. PINJAMAN JANGKA PANJANG 29. LONG-TERM LOANS 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Utang bank Bank loans Rupiah Rupiah PT Bank Tabungan Negara (Persero) PT Bank Tabungan Negara (Persero) PT Bank Pembangunan Daerah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Jawa Barat dan Banten PT Bank Victoria International Tbk PT Bank Victoria International Tbk PT Bank Negara Indonesia PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (Persero) Tbk Dollar Amerika Serikat U.S. Dollar PT Bank Permata Tbk PT Bank Permata Tbk PT Bank International Indonesia Tbk PT Bank International Indonesia Tbk The Hongkong and Shanghai Bank The Hongkong and Shanghai Bank Corporation Limited Corporation Limited PT Bank Danamon Indonesia Tbk PT Bank Danamon Indonesia Tbk PT Indonesia Eximbank PT Indonesia Eximbank PT Bank UOB Indonesia PT Bank UOB Indonesia PT Bank Syariah Mandiri PT Bank Syariah Mandiri Dollar Singapura Singapore Dollar Bank DBS Ltd., Cabang Singapura Bank DBS Ltd., Singapore Branch Perusahaan pembiayaan Financing company Jumlah Total Dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun ( ) ( ) ( ) Less current maturities Pinjaman jangka panjang - bersih Long-term loans - net Jadwal pembayaran pokok pinjaman Schedule of principal repayment Dalam satu tahun Within one year Dalam dua tahun Within second year Dalam tiga tahun Within the third year Dalam empat tahun Within the fourth year Dalam lima tahun Within the fifth year Dalam enam tahun Within the sixth year Lebih dari enam tahun More than six years Jumlah Total Tingkat suku bunga per tahun Interest rates per annum Rupiah 13,5% 13,5% 6% - 16,92% Rupiah Dollar Amerika Serikat 2,5% - 6,5% 2,5% - 7% - U.S. Dollar Dollar Singapura 2,78% 2,58% - Singapore Dollar
233 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Pada tanggal 31 Agustus 2010, PT Satya Mitra Gas (SMG) mengadakan perjanjian kredit yang bersifat non-revolving dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero), yang selanjutnya disebut sebagai BTN, dimana BTN setuju untuk memberikan SMG Kredit Investasi dengan plafon sebesar Rp juta. Fasilitas ini akan digunakan untuk penyelesaian pembangunan semua perlengkapan bagi Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) yang terletak di Semarang. Perjanjian kredit ini mempunyai jangka waktu selama 120 bulan dengan grace period pembayaran pokok selama 6 bulan, yang dimulai pada tanggal 27 Oktober 2009 dan berakhir pada tanggal 30 Oktober Fasilitas kredit tersebut diatas merupakan amandemen atas fasilitas kredit yang sebelumnya diberikan oleh BTN kepada pemegang saham SMG yang lama (sebelum SMG diakuisisi oleh Perusahaan), dimana fasilitas kredit yang lama ini diberikan pada tanggal 27 Oktober Pinjaman ini dikenakan bunga 13,5% per tahun, disesuaikan dengan ketentuan bank. Bunga dibayar setiap bulan pada tanggal 26. Pokok pinjaman dibayar dalam 6 kali cicilan bulanan sebesar Rp 133 juta dimulai pada tahun 2011; 12 kali cicilan bulanan sebesar Rp 75 juta pada tahun 2012; 36 kali cicilan bulanan sebesar Rp 83 juta dimulai pada tahun 2013; 12 kali cicilan bulanan sebesar Rp 92 juta pada tahun 2016; 24 kali cicilan sebesar Rp 100 juta dimulai pada tahun 2017 dan 12 kali cicilan bulanan sebesar Rp 10 juta selama tahun terakhir pinjaman. Pembayaran kembali pokok pinjaman dan bunga dilakukan melalui pendebetan rekening SMG secara otomatis pada bank yang sama, dimana rekening tersebut juga digunakan untuk menerima segala pembayaran yang berkaitan dengan pengelolaan SPBE. Biaya provisi bank sebesar Rp 83 juta dan SMG juga diwajibkan untuk membayar biaya-biaya yang diperlukan dalam proses pemberian kredit dan pengikatan jaminan kredit yang dicadangkan dalam bentuk rekening giro escrow di PT Bank Tabungan Negara (Persero) sebesar 0,5% dari plafon kredit yang diberikan. Pinjaman tersebut diatas dijamin dengan: PT Bank Tabungan Negara (Persero) On August 31, 2010, PT Satya Mitra Gas (SMG) entered into a non-revolving credit agreement with PT Bank Tabungan Negara (Persero), described herein as BTN, wherein BTN agreed to provide SMG with a Credit Investment facility at the maximum credit limit of Rp 8,300 million. Such facility is used to finance the development and all equipment related to the Operations of the Stations for Gas Filling (SPBE) located in Semarang. The loan has a term of 120 months, with a grace period for payment of principal of 6 months starting from October 27, 2009 with final maturity date on October 30, The above credit facility is an amendment of the credit facility provided by BTN on October 27, 2009 to the old shareholders of SMG (prior to the acquisition of SMG by the Company). The loan bears interest rate at 13.5% per annum, adjustable based on BTN s terms and regulations, and is payable on a monthly basis on the 26 th day of each month. Principal of the loan is repayable in 6 equal monthly installment of Rp 133 million starting in 2011; 12 equal monthly installment of Rp 75 million in year 2012; 36 equal monthly installment of Rp 83 million starting in year 2013; 12 equal monthly installment of Rp 92 million in year 2016; 24 equal monthly installment of Rp 100 million in year 2017 and 12 equal monthly installment of Rp 10 million during the last year of the loan period. Repayment of the principal and interest on the loan will be automatically debited from the SMG s bank account in the same bank, which is also the depository as the inflow account for any revenues from the operations of SPBE. Provision fee related to the above credit facility amounted to Rp 83 million and SMG is also liable for any fees related to the legal documents on the collateral of the credit, through an escrow account in PT Bank Tabungan Negara (Persero) of 0.5% of the credit limit given. The loan is secured by the following: (i) (ii) Jaminan utama yang terdiri atas Hak Milik (HM) No 3438/Meteseh; HM No. 3436/Meteseh; HM No /Meteseh dan HM No /Meteseh dan Bangunan SPBE serta mesin peralatan dan instalasi pendukung SPBE masing-masing sebesar Rp juta dan Rp juta; Jaminan tambahan yang terdiri atas HM atas beberapa bidang tanah yang dimiliki oleh pemegang saham lama SMG; (i) Main collaterals consisting of Building Ownership Right (HM) No 3438/Meteseh; HM No. 3436/Meteseh; HM No /Meteseh and HM No /Meteseh as well as the equipment and installation for SPBE in the amount of Rp 2,310 million and Rp 6,685 million, respectively; (ii) Additional collaterals consisting of several HM on parcels of land owned by the previous shareholders of SMG;
234 (iii) Jaminan pribadi dari Bapak Suka Adhisatya, pemegang saham lama SMG; dan (iv) Piutang yang berkaitan dengan usaha SPBE. Perjanjian kredit tersebut mensyaratkan pembatasan tertentu yang harus dipenuhi oleh SMG, antara lain: (iii) Personal guarantee from Mr. Suka Adhisatya, the previous shareholder of SMG; and (iv) Accounts receivable resulting from the operations of the SPBE. The credit agreement contains certain covenants which restricted SMG from the following: Menerima tambahan fasilitas kredit dari pihak lain terkait proyek ini, kecuali pinjaman dari pemegang saham dan utang usaha; Receive any additional credit facility from other parties related to this project, except for shareholder loans or trade accounts payable; Bertindak sebagai penjamin dan/atau menjaminkan aset SMG; Act as a guarantor or use SMG s assets as a collateral; Merubah anggaran dasar dan pengurus SMG; Change SMG s articles of association and management; Mengajukan pailit; File a bankruptcy; Melakukan merger atau akuisisi; Conduct merger or acquisitions; Membagikan dividen; dan Distribute dividend; and Melunasi utang kepada pemegang saham. Settle all shareholder loans. BTN dalam surat tanggal 13 April 2012, menyetujui pelepasan jaminan tertentu dengan ketentuan sebagai berikut: BTN, through its letter dated April 13, 2012, agreed to waive certain collaterals with following conditions: Manajemen harus memproses secara legal balik nama sertifikat proyek menjadi atas nama PT Satya Mitra Gas; dan Pengikatan fiducia atas mesin, peralatan dan instalasi pendukung SPBE. Management should legally process the certificate of project to become under PT Satya Mitra Gas legal name; and Fiduciary with machines, equipment and installations that support SPBE. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman masing-masing sebesar US$ , US$ dan US$ PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Pada tanggal 5 Oktober 2010, PT Wahida Arta Guna Lestari (WAGL) mengadakan perjanjian kredit yang bersifat non-revolving dengan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, yang selanjutnya disebut sebagai BJB, dimana BJB setuju untuk memberikan WAGL Kredit Investasi Umum dengan plafond sebesar Rp juta. Fasilitas ini akan digunakan untuk pembiayaan pembelian mesin dan peralatan Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE). As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the outstanding balance of this loan amounted to US$ 681,362, US$ 818,262 and US$ 914,248, respectively. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten On October 5, 2010, PT Wahida Arta Guna Lestari (WAGL) entered into a non-revolving credit agreement with PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, described herein as BJB, wherein BJB agreed to provide WAGL with a General Credit Investment facility at the maximum credit limit of Rp 4,500 million. Such facility is used to finance purchases of all machinery and equipment related to the operations of the Stations for Gas Filling and Delivery (SPPBE)
235 Perjanjian kredit ini mempunyai jangka waktu selama 64 bulan, yang dimulai pada tanggal 11 Mei 2009, terutang setiap 3 bulanan atas pokok pinjaman bank. Fasilitas kredit tersebut di atas merupakan amandemen atas fasilitas kredit yang sebelumnya diberikan oleh BJB kepada pemegang saham WAGL yang lama (sebelum WAGL diakuisisi oleh Perusahaan), pada tanggal 11 Mei Beberapa persyaratan dan ketentuan perjanjian kredit telah diamandemen sebagai berikut: The loan has a term of 64 months, starting from May 11, 2009, payable on every 3 months for the principal of the loan. The above credit facility is an amendment of the credit facility provided by BJB on May 11, 2009 to the old shareholders of WAGL, prior to the acquisition of WAGL by the Company. Certain terms and conditions in the old credit agreement were amended as follows: Pinjaman ini dikenakan bunga 13,50% per tahun, berfluktuasi disesuaikan dengan ketentuan BJB. Bunga dibayar setiap bulan pada tanggal 27 pada bulan yang bersangkutan; The loan bears floating interest rate initially at 13.50% per annum, adjustable based on BJB s terms and regulations, and is payable on a monthly basis on the 27 th day of each month; Perubahan jaminan yang diberikan WAGL kepada BJB, sehingga jaminan terdiri dari 2 bidang tanah dengan HGB No /Kersanegara and 00002/Kersanegara atas nama WAGL; mesin dan peralatan WAGL senilai Rp serta proyek SPPBE yang mencakup lebih dari 100% terhadap penarikan sisa fasilitas kredit yang direncanakan; dan Amendment on the securities provided by WAGL to BJB, which includes two parcels of land with HGB No /Kersanegara and 00002/Kersanegara under the name of WAGL; the machinery and equipment of WAGL in the amount of Rp 9,377,874,203 as well as the project value of SPPBE which should cover more than 100% of the planned remaining withdrawal; and WAGL harus menyediakan akun khusus di bank yang sama dengan mempertahankan pembayaran sekali liabilitas angsuran pokok dan bunga. WAGL should provide a restricted account in the same bank with a maintaining balance of at least one payment of interest and loan principal. Perjanjian kredit tersebut di atas mensyaratkan pembatasan tertentu yang harus dipenuhi oleh WAGL, antara lain: The agreement above contains certain covenants which restricted WAGL from the following: Menerima pinjaman dari pihak lain tanpa sepengetahuan dan persetujuan BJB; Receive any additional loans from other parties without any notification and approval from BJB; Menjadi penjamin/penanggung pihak ketiga; Act as a guarantor for any other third party; Membayar dividen dan bonus sebelum utang lunas; Distribute dividend or bonus prior to the settlement of the above loan; Membayar utang kepada pemegang saham; Settle all shareholder loans; WAGL wajib memberitahukan kepada BJB tentang penggantian susunan dewan direksi dan dewan komisaris WAGL; dan WAGL should also notify BJB for any changes in the WAGL s management composition; and WAGL wajib mendapatkan persetujuan BJB apabila akan terjadi perubahan atau penggantian susunan pemegang saham. WAGL should obtain approval from BJB for any changes in the WAGL s shareholder composition. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman ini masing-masing sebesar US$ , US$ dan US$ As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the outstanding balance of this loan amounted to US$ 203,593, US$ 341,200 and US$ 469,247, respectively
236 PT Bank Victoria International Tbk Utang kepada PT Bank Victoria International Tbk merupakan pinjaman jangka panjang Perusahaan dan entitas anak untuk pembiayaan kendaraan bermotor yang baru dengan jangka waktu 2-3 tahun. Perjanjian pinjaman jangka panjang tersebut di atas mencakup persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh Perusahaan dan entitas anak, termasuk ketentuan mengenai peristiwa yang berakibat kegagalan. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman ini masing-masing sebesar US$ , US$ dan US$ PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Pinjaman ini merupakan fasilitas kredit investasi yang diperoleh MBSS pada tahun Pinjaman ini telah dilunasi seluruhnya pada bulan Agustus PT Bank Victoria International Tbk Loans from PT Bank Victoria International Tbk represent long-term loan of the Company and its subsidiaries for financing of new vehicles for a period ranging from 2-3 years. The agreement of the long-term loan contain certain covenants, which the Company and its subsidiaries are required to fulfill, including provision regarding events of default. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the outstanding balance of this loan amounted to US$ 643,583, US$ 1,045,765 and US$ 967,634, respectively. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) This loan pertains to investment credit facilities obtained by MBSS in The loan was fully paid in August Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman ini masing-masing sebesar nihil, US$ dan nihil. PT Bank Permata Tbk (Permata) Tanggal 19 Nopember 2009, MBSS memperoleh fasilitas term loan dari Permata sejumlah US$ untuk pembiayaan 3 unit kapal tunda dan dua unit kapal tongkang. Jangka waktu fasilitas adalah sampai dengan tanggal 19 Juni Fasilitas term loan ini dikenakan bunga 6% per tahun. Fasilitas term loan tersebut dijamin dengan 3 unit kapal tunda dengan nama lambung masing-masing: Megastar 63, Megastar 67 dan Entebe Star 69 dan pembelian 2 unit kapal tongkang dengan nama lambung Finacia 70 dan Finacia 71. Tanggal 19 Nopember 2010, MBSS memperoleh fasilitas pembiayaan berdasarkan prinsip Ijarah dari Permata dengan jumlah maksimum sebesar US$ dengan jangka waktu fasilitas adalah 54 bulan terhitung mulai tanggal pencairan. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the outstanding balance of this loan amounted to nil, US$ 207,322 and nil, respectively. PT Bank Permata Tbk (Permata) On November 19, 2009, MBSS obtained term loan financing facility from Permata amounting to US$ 8,500,000 to finance purchase of 3 unit tug boats and 2 unit barges. Terms of the facility is up to June 19, This term loan facility bear an annual interest rate at 6% per annum. This term loan facility is secured by 3 units of tugboat namely: Megastar 63, Megastar 67 and Entebe Star 69 and purchase 2 units of barges namely Finacia 70 and Finacia 71. On November 19, 2010, MBSS obtained Ijarah financing facility from Permata with maximum limit of US$ 2,720,000 with term of 54 months, effective from drawdown date. Pinjaman tersebut dijamin dengan: This loan is secured by: Jaminan biaya sewa sebesar US$ 1.000; dan Rental fee guarantee amounting to US$ 1,000; and Jaminan pribadi dari Jos Rudolf Bing Personal guarantee from Jos Rudolf Bing Prasatya, direktur MBSS. Prasatya, director of MBSS. MBSS terikat dengan beberapa batasan, antara lain, MBSS harus memelihara rasio keuangan: MBSS is required to comply with several restrictions, among others, MBSS is required to maintain financial ratios: Leverage tidak lebih dari 3 kali; dan Leverage ratio shall not be more than 3 times; and Debt Service Coverage Ratio tidak kurang dari 1,2 kali. Debt Service Coverage Ratio shall not be less than 1.2 times
237 Pada tanggal 19 Januari 2011, MBSS memperoleh fasilitas pembiayaan berdasarkan prinsip Ijarah dari Permata dengan jumlah maksimum sebesar US$ Jangka waktu fasilitas adalah 54 bulan terhitung mulai tanggal pencairan. On January 19, 2011, MBSS obtained Ijarah financing facility from Permata with maximum limit of US$ 7,449,438 with term of 54 months, effective from drawdown date. Pinjaman tersebut dijamin dengan: This loan is secured by: Jaminan biaya sewa sebesar US$ 1.500; dan Rental fee guarantee amounting to US$ 1,500; and Jaminan pribadi dari Jos Rudolf Bing Personal guarantee from Jos Rudolf Bing Prasatya, direktur MBSS. Prasatya, director of MBSS. MBSS terkait dengan beberapa pembatasan antara lain: Menjaga tingkat leverage maksimum 3 kali; dan Menjaga tingkat debt service coverage ratio minimal 1,2 kali. Pada tanggal 19 Januari 2011 MBSS memperoleh fasilitas pembiayaan berdasarkan prinsip Ijarah dari Permata dengan jumlah maksimum sebesar US$ Jangka waktu fasilitas adalah 54 bulan terhitung mulai tanggal pencairan. MBSS is required to comply with several restrictions: Leverage shall not be more than 3 times; and Debt service coverage ratio shall not be less than 1.2 times. On January 19, 2011, MBSS obtained Ijarah financing facility from Permata with maximum limit of USD 3,600,000 with term of 54 months, effective from the drawdown date. Pinjaman tersebut dijamin dengan: This loan is secured by: Jaminan biaya sewa sebesar US$ 500; dan Rental fee guarantee amounting to US$ 500; and Jaminan pribadi dari Jos Rudolf Bing Personal guarantee from Jos Rudolf Bing Prasatya, direktur MBSS. Prasatya, director of MBSS. MBSS terkait dengan beberapa pembatasan antara lain: Menjaga tingkat leverage maksimum 3 kali; dan Menjaga tingkat debt service coverage ratio minimal 1,2 kali. Pada tanggal 30 Mei 2012, MBSS memperoleh fasilitas term loan yang diambil dari Fasilitas Permata sejumlah US$ untuk pembiayaan 4 unit kapal tongkang. Jangka waktu fasilitas adalah 60 bulan. Fasilitas term loan ini dikenakan bunga 6% per tahun. Pinjaman tersebut dijamin dengan 4 unit kapal tongkang yaitu Finacia 88, Finacia 89, Finacia 90 dan Finacia 91. Berdasarkan Akta Notaris No. 50 Perubahan Kelima Terhadap Perjanjian Pemberian Fasilitas Perbankan tanggal 14 Juni 2012, yang dibuat oleh Notaris Sri Rahayuningsih, SH, MBSS memperoleh fasilitas term loan dari Permata sejumlah US$ untuk pembiayaan satu unit floating crane. Jangka waktu fasilitas adalah 90 bulan. MBSS is required to comply with several restrictions: Leverage shall not be more than 3 times; and Debt service coverage ratio shall not be less than 1.2 times. On May 30, 2012, MBSS obtained a term loan facility from Permata facility of US$ 4,320,000 to financing 4 units of barge. Terms of the facility is 60 months. This term loan facility bear an annual interest rate at 6% per annum. This loan is secured by 4 units of barges, namely Finacia 88, Finacia 89, Finacia 90 and Finacia 91. Based on Notarial Deed No. 50 Fifth Changes of Bank Loan Agreements dated June 14, 2012, made by Sri Rahayuningsih SH, a notary, MBSS obtained a term loan facility from Permata which amounted to US$ 18,000,000 to finance one unit of floating crane. Term of the facility is 90 months
238 Fasilitas ini dikenakan bunga sebesar 5,75% per tahun dan dijamin dengan: This facility bear an annual interest rate of 5.75% and were secured by: 1 unit kapal floating crane dengan nilai penjaminan 120%; Piutang Usaha sebesar minimum US$ unit floating crane with a pledged value of 120%; Receivables amounted to a minimum of US$ 750,000. MBSS terikat dengan beberapa batasan untuk memelihara rasio keuangan: MBSS is required to comply with several restrictions to maintain financial ratios: Leverage ratio maksimum 3 kali; Leverage ratio maximum 3 times; Debt service coverage ratio minimal 1,25 kali. Debt service coverage ratio minimum 1.25 times. MBSS wajib meminta persetujuan tertulis terlebih dahulu kepada bank bila ingin memperoleh pinjaman minimum US$ Berdasarkan Akta Notaris No. 85 Perjanjian Pemberian Fasilitas Perbankan tanggal 22 Mei 2012, yang dibuat oleh Notaris Sri Rahayuningsih, SH, MASS memperoleh fasilitas term loan dari Bank Permata sejumlah US$ untuk pembiayaan satu unit floating crane. Jangka waktu fasilitas adalah 72 bulan. Fasilitas ini dikenakan bunga 6% per tahun. dan dijamin dengan 1 unit kapal floating crane bernama FC Blitz. MBSS must obtain written approval from the bank if the Company would obtain borrowings which amounted to US$ 10,000,000 and above. Based on Notarial Deed No. 85 Banking Facilities Agreement dated May 22, 2012, by Sri Rahayuningsih SH, a notary, MASS obtained a term loan facility from Bank Permata of US$ 12,000,000 to finance one unit of floating crane. Term of the facility is 72 months. This facility bears an annual interest rate of 6% and were secured by 1 unit floating crane named FC Blitz. MASS terikat dengan beberapa batasan untuk memelihara rasio keuangan: MASS is required to comply with several restrictions to maintain financial ratios as follows: Debt to equity ratio maksimum 4 kali; Debt to equity ratio maximum 4 times; Debt service coverage ratio minimal 1,25 kali. Debt service coverage ratio minimum 1.25 times. Ketentuan ini berlaku efektif pada saat satu tahun setelah operasional floating crane berjalan. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman Permata masing-masing sebesar US$ , US$ dan nihil. PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) Tanggal 9 Mei 2008, MBSS memperoleh tambahan pinjaman berjangka dari BII sebesar US$ Jangka waktu fasilitas kredit adalah 5 tahun yang akan berakhir pada tanggal 9 Mei 2013 dan dikenakan bunga 5,5% per tahun. Pada tanggal 15 Januari 2009 sebagian pinjaman ini yaitu sebesar US$ telah dinovasi ke Mitra Swire CTM (MSC), entitas anak MBSS. This terms effective on first year after floating crane commence its operations. As of December 31, 2012, 2011 and and January 1, 2011/December 31, 2010 the outstanding balance of loan Permata amounted to US$ 44,224,283, US$ 17,460,079 and nil, respectively. PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) On May 9, 2008, MBSS obtained additional term loan facility from BII amounting to US$ 12,001,000. Term of loan is 5 years, due on May 9, 2013 and bears an annual interest rate of 5.5%. On January 15, 2009, part of this loan amounting to US$ 8,351,000 has been novated to Mitra Swire CTM (MSC), a subsidiary of MBSS
239 Pinjaman-pinjaman tersebut dijamin dengan: (i). Fidusia atas tagihan, hak dan tuntutan yang dimiliki oleh MBSS terhadap PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Bahari Cakrawala Sebuku, terkait bisnis MBSS dengan nilai objek jaminan fidusia sebesar US$ (Catatan 7); (ii). Pemberian jaminan pribadi (Personal Guarantee) dari Tn. Jos Rudolf Bing Prasatya dan Ny. Maria Francesca Hermawan, Direktur MBSS; dan (iii). Kuasa untuk memasang hipotik, untuk menjual dan men-charter atas: - Kapal tunda terdiri dari: Entebe Star 30, Entebe Star 31, Entebe Emerald 32, Entebe Emerald 36, Entebe Emerald 37, Entebe Emerald 51, Entebe Emerald 39, Entebe Emerald 52, dan Entebe Emerald 33 (Catatan 21); - Kapal tongkang terdiri dari: Finacia 35, Finacia 36, Finacia 37, Finacia 55, Finacia 39, Finacia 50, Finacia 51, Finacia 56, Finacia 38, Finacia 29, dan Finacia 32 (Catatan 21); dan Floating Crane Ben Glory (Catatan 21). MBSS terikat untuk memenuhi beberapa batasan, antara lain, MBSS harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu untuk: (i). (ii). Menjual, mentransfer, memindahkan hak, menghapus sebagian besar atau seluruh harta kekayaan MBSS dan atau menjaminkan barang-barang tidak bergerak milik MBSS dan/atau bertindak sebagai penjamin dengan cara bagaimanapun juga dan kepada pihak siapapun juga (kecuali dalam rangka menjalankan sifat usaha yang normal); Mengubah susunan pengurus direksi dan komisaris; (iii). Mengadakan merger, peleburan usaha (konsolidasi) bersama badan usaha lain dan pengambilalihan saham-saham badan usaha lain; dan (iv). MBSS juga harus memelihara: Leverage Ratio tidak lebih dari 2,5 kali. Berdasarkan perubahan perjanjian kredit No. 8 tanggal 1 Pebruari 2010, disetujui perubahan, antara lain: (i). Pinjaman hanya digunakan untuk meningkatkan Floating Crane Ben Glory menjadi double crane; (ii). Jaminan fidusia atas tagihan yang dimiliki Perusahaan kepada PT Berau Coal, PT Kaltim Prima Coal dan PT Bahari Cakrawala Sebuku sebesar US$ These loan facilities are secured by: (i). Fiduciary over receivables, MBSS rights and claim to PT Kaltim Prima Coal (KPC) and PT Bahari Cakrawala Sebuku in relation to its business, with fiduciary collateral value of US$ 7,600,000 (Note 7); (ii). Personal guarantee from Mr. Jos Rudolf Bing Prasatya and Mrs. Maria Francesca Hermawan, MBSS Directors; and (iii). Right to put mortgage, sell and charter over: - Tugboats namely: Entebe Star 30, Entebe Star 31, Entebe Emerald 32, Entebe Emerald 36, Entebe Emerald 37, Entebe Emerald 51, Entebe Emerald 39, Entebe Emerald 52 and Entebe Emerald 33 (Note 21); - Barges namely: Finacia 35, Finacia 36, Finacia 37, Finacia 55, Finacia 39, Finacia 50, Finacia 51, Finacia 56, Finacia 38, Finacia 29, and Finacia 32 (Note 21); and Floating Crane Ben Glory (Note 21). MBSS is required to comply with several restrictions, among others things, MBSS is required to obtain prior written consent to: (i). (ii). (iii). (iv). Sell, transfer, hand over the right, dispose most of or entire assets of MBSS and/or pledge unremovable assets owned by MBSS as collateral and/or act as a guarantor with any means to other parties (except in normal course of business); Change MBSS director and commissioner; Perform merger, consolidation with other party and takeover shares of other party; and MBSS is also required to maintain: Leverage Ratio of not more than 2.5 times. Based on the amendment of credit facility No. 8 dated February 1, 2010, the following changes, among other things, have been approved: (i). (ii). The loan is used only to upgrade the Floating Crane Ben Glory to become double crane; Fiduciary over receivables to PT Berau Coal, PT Kaltim Prima Coal and PT Bahari Cakrawala Sebuku amounted to US$ 4,708,
240 Pada tanggal 29 September 2011, BII melepaskan jaminan kapal Entebe Star 31, Entebe Emerald 32, Entebe Emerald 36, Entebe Emerald 37, Entebe Emerald 39, Finacia 37, Finacia 55, Finacia 39, Finacia 51, Finacia 56, Finacia 29 dan Finacia 32. Pada tanggal 15 Januari 2009, MSC, entitas anak MBSS, memperoleh fasilitas kredit sebesar US$ dari PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) yang merupakan novasi dari fasilitas pinjaman berjangka yang diberikan BII kepada MBSS. Jangka waktu kredit adalah sejak tanggal 15 Januari 2009 sampai dengan tanggal 28 Mei Pinjaman ini dijamin dengan Floating Crane Princess Abby. Pinjaman ini dikenakan bunga 5,5% per tahun. Tanggal 1 Pebruari 2010, MBSS memperoleh fasilitas pinjaman berjangka dari BII dengan maksimum kredit sebesar US$ Pinjaman digunakan untuk membiayai pembelian kapal baru yaitu 85% dari harga pembelian kapal baru dengan jangka waktu pinjaman sampai dengan 1 Nopember 2014 dan membiayai pembelian kapal bekas yaitu 70% dari harga pembelian dengan jangka waktu pinjaman sampai dengan 1 Agustus Fasilitas kredit dikenakan bunga per tahun sebesar 5,5%. Pinjaman tersebut dijamin dengan: As of September 29, 2011, BII has released the pledge for the following vessels which are Entebe Star 31, Entebe Emerald 32, Entebe Emerald 36, Entebe Emerald 37, Entebe Emerald 39, Finacia 37, Finacia 55, Finacia 39, Finacia 51, Finacia 56, Finacia 29 and Finacia 32. On January 15, 2009, MSC, a subsidiary of MBSS, obtained credit facility amounting to US$ 8,351,000 from PT Bank International Indonesia Tbk (BII) which represents a novation of term loan facility provided by BII to MBSS. The loan term is January 15, 2009 up to May 28, This loan is secured by Floating Crane Princess Abby. This loan bears annual interest rate at 5.5%. On February 1, 2010, MBSS obtained a term loan facility from BII with a maximum credit of US$ 15,000,000. The loan is used to finance the purchase of new vessels of up to 85% of the purchase price with maturity date of November 1, 2014 and financed the purchase of used vessels of up to 70% of the purchase price with maturity date of August 1, The credit facility bears annual interest of 5.5%. The loan is secured by: (i). Fidusia atas tagihan, hak dan tuntutan yang dimiliki oleh MBSS terhadap PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Bahari Cakrawala Sebuku (Bahari) sehubungan dengan usaha MBSS sebesar US$ ; (i). Fiduciary claims, rights and expectations held by MBSS over PT Kaltim Prima Coal (KPC) and PT Bahari Cakrawala Sebuku (Bahari) contracts related to MBSS operation amounted to US$ 4,780,980; (ii). Pemberian jaminan pribadi (Personal Guarantee) dari Tn. Jos Rudolf Bing Prasatya dan Ny. Maria Francesca Hermawan, direktur MBSS; (iii). Kuasa untuk memasang hipotik, untuk menjual dan men-charter atas kapal baru dan kapal bekas; dan (ii). (iii). Personal guarantee of Mr. Jos Rudolf Bing Prasatya and Mrs. Maria Francesca Hermawan, directors of MBSS, Power to mortgage, sell and charter new and used ships; and (iv). Fidusia atas klaim asuransi kapal. (iv). Fiduciary over vessels insurance claims. MBSS terikat untuk memenuhi beberapa batasan, antara lain, MBSS harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu untuk: MBSS is required to comply with several restrictions, among others, MBSS is required to obtain prior written consent for the following: (i). Menarik modal yang telah disetor; (i). Withdraw the paid-up capital; (ii). Melakukan perubahan terhadap: - Susunan pengurus dan/atau anggota direksi dan komisaris MBSS; (ii). Make changes to: - The composition of management and/or members of the board of directors and commissioners MBSS;
241 - Susunan pemegang saham MBSS yang mengakibatkan pemegang saham yang merupakan pendiri MBSS menjadi pemegang/pemilik kurang dari 51% dari seluruh saham yang telah dikeluarkan oleh MBSS sehingga jalannya MBSS dikendalikan oleh pemegang saham baru; (iii). Mengubah isi perjanjian kontrak atau mengalihkan perjanjian kontrak yang telah dijaminkan kepada bank, kepada pihak lain; dan (iv). Mengubah isi surat instruksi kepada Bahari dan KPC untuk mentransfer seluruh pembayaran berdasarkan perjanjian kontrak I dan III ke rekening debitur. (iii). (iv). - The composition of shareholders of MBSS which resulted in the founding shareholders of MBSS to own of less than 51% of all shares issued by MBSS so that the operations of MBSS is controlled by the new shareholders; Change the contents of the contract agreement or transfer agreement that has been pledged to banks, to other parties; and Change the contents of the instruction letter to Bahari and KPC to transfer all payments under the contract agreement contruction agreement I and III to the debtor s account. Tanggal 15 Juni 2010, MBSS memperoleh fasilitas pinjaman berjangka dari BII dengan maksimum kredit sebesar US$ Pinjaman digunakan untuk membiayai pembuatan 1 unit floating crane dengan nama Princess Rachel. Jangka waktu fasilitas kredit adalah 56 bulan yang akan berakhir pada tanggal 15 Pebruari 2015 dan dikenakan bunga per tahun sebesar 5,5%. Pinjaman tersebut dijamin dengan: (i). (ii). Fidusia atas tagihan, hak dan tuntutan yang dimiliki MBSS terhadap PT Kideco Jaya Agung (KJA); Jaminan pribadi (Personal Guarantee) dari Tn. Jos Rudolf Bing Prasatya dan Ny. Maria Francesca Hermawan, Direktur MBSS; (iii). Kuasa untuk memasang hipotik, untuk menjual dan men-charter atas floating crane Princess Rachel; dan (iv). Fidusia atas klaim asuransi kapal. MBSS wajib meminta persetujuan tertulis terlebih dahulu kepada bank dalam hal antara lain sebagai berikut: Mengubah isi kontrak KJA atau mengalihkan kontrak yang telah dijaminkan kepada bank, kepada pihak lain; dan On June 15, 2010, MBSS obtained a term loan facility from BII with a maximum credit of US$ 9,700,000. This loan was used to finance the construction of 1 unit of floating crane named Princess Rachel. The term of credit facility is 56 months which will expire on February 15, 2015 and bears annual interest rate at 5.5%. The loan is secured by: (i). (ii). (iii). (iv). Fiduciary claims, rights and claim of MBSS on PT Kideco Jaya Agung (KJA); Personal guarantee of Mr. Jos Rudolf Bing Prasatya and Mrs. Maria Francesca Hermawan, Directors of MBSS; Power to mortgage, sell and charter floating crane Princess Rachel; and Fiduciary over vessels insurance claims. MBSS must request written approval from the bank for the following, among others: Change the contents of the contract or assign the contract of KJA which has been pledged to the bank, to another party; and Mengalihkan atau menjual kapal kepada KJA. Transfer or sell the ship to KJA. Pada tanggal 24 Pebruari 2011, MSC menandatangani Perjanjian Kredit dengan PT Bank Internasional Indonesia Tbk untuk pembiayaan floating crane Princesse Chloe. Fasilitas ini mencakup term loan sebesar US$ jatuh tempo dalam waktu 60 bulan sampai dengan 24 Pebruari 2016 dan demand loan sebesar US$ Kedua fasilitas pinjaman tersebut dikenakan bunga 5,5% per tahun. On February 24, 2011, MSC signed a Credit Agreement with PT Bank Internasional Indonesia Tbk for the financing of floating crane named Princesse Chloe. The facilities given included term loan amounting to US$ 19,200,000 which will be due in 60 months up to February 24, 2016 and demand loan of US$ 1,000,000. Both facilities bears annual interest rate of 5.5%
242 Fasilitas pinjaman ini dijamin dengan: This credit facility is secured by: (i). Satu unit floating crane bernama Princesse Chloe; dan (i). One unit of floating crane named Princesse Chloe; and (ii). Jaminan fidusia atas tagihan MSC terhadap PT Berau Coal atau pihak ketiga manapun yang menyewa kapal. (ii). Fiduciary warranty over MSC s receivables from PT Berau Coal or other third parties, which charter the vessel. MSC harus memenuhi rasio keuangan tertentu sebagai berikut: EBITDA/financial payment tidak kurang dari 1; MSC should comply with certain financial ratios as follows: EBITDA/financial payment not less than 1; Leverage ratio tidak lebih dari 2,5 kali; dan Leverage ratio not more than 2.5 times; and Saldo minimum rekening bank sebesar US$ Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, saldo pinjaman di BII masing-masing sebesar US$ , US$ dan nihil. The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) Tanggal 23 Maret 2011, MBSS memperoleh fasilitas kredit dari The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) dengan maksimum kredit US$ Fasilitas ini digunakan untuk pembiayaan 80% dari nilai pembelian kapal tunda dan tongkang MBSS. Pinjaman tersebut dikenakan bunga 4% per tahun di atas SIBOR dan jatuh tempo pada tanggal 23 Maret Pinjaman tersebut dijamin dengan : Maintain minimum balance amounted US$ 150,000 in the bank account. As of December 31, 2012, 2011 and and January 1, 2011/December 31, 2010 total outstanding balance BII amounted to US$ 24,912,412, US$ 37,091,200 and nil, respectively. The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) On March 23, 2011, MBSS obtained credit facilities from The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) with maximum credit of US$ 20,000,000. This facility is used to finance 80% of tugboats and barges purchase value. The facility bears annual interest rate of 4% over SIBOR and will be due on March 23, The facility is secured by: Kapal tunda (Entebe Emerald 23, Entebe Emerald 50, Emerald 69, Entebe Star 71, Financia 82, Labuan 2705, Megastar 73, Megastar 79, Megastar 75, Segara Sejati 3, Segara Sejati 1, Entebe Star 78, Entebe Star 76, dan Entebe Power 10) dan Kapal Tongkang (Finacia 58 dan Finacia Finacia 102); dan Tugboats (Entebe Emerald 23, Entebe Emerald 50, Emerald 69, Entebe Star 71, Financia 82, Labuan 2705, Megastar 73, Megastar 79, Megastar 75, Segara Sejati 3, Segara Sejati 1, Entebe Star 78, Entebe Star 76, and Entebe Power 10) and Barges (Finacia 58 dan Finacia Finacia 102); and Jaminan fidusia atas tagihan MBSS dari PT Bukit Asam (Persero) Tbk senilai Rp juta. Fiduciary over MBSS s receivable from PT Bukit Asam (Persero) Tbk amounting to Rp 82,368 million. MBSS diisyaratkan untuk memelihara rasio keuangan sebagai berikut: Rasio utang terhadap ekuitas maksimum 2:1; MBSS is required to comply with certain ratios as follows: Debt to equity ratio at maximum of 2:1; EBITDA terhadap bunga minimal 3:1; dan EBITDA of interest at minimum of 3:1; and Kecukupan membayar utang minimal 1,25 kali. Leverage ratio minimum of 1.25 times
243 Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman tersebut masing-masing sebesar US$ , US$ dan nihil. PT Bank Danamon Indonesia Tbk Tanggal 8 Nopember 2007, MBSS memperoleh Fasilitas Kredit Angsuran Berjangka dari Bank Danamon sebesar US$ yang digunakan untuk investasi. Jangka waktu fasilitas kredit adalah 60 bulan termasuk dengan grace period selama 3 bulan dan dikenakan bunga sebesar SIBOR ditambah 2,5% per tahun dan akan jatuh tempo pada tanggal 18 Juli Pinjaman tersebut dijamin dengan: (i). 1 unit floating crane yang dibiayai dengan pinjaman ini; (ii). Fidusia atas piutang dagang yang telah ada dan yang akan ada di kemudian hari dan menjadi milik debitur dengan nilai penjaminan sebesar US$ (Catatan 7); dan (iii). Jaminan pribadi dari Ny. Maria Francesca Hermawan, Tn. Jos Rudolf Bing Prasatya, dan Ny. Patricia Pratiwi Suwati Prasatya (direktur MBSS). Pada tanggal 17 Januari 2008, perjanjian kredit tersebut diatas diubah dengan perubahan yang disepakati antara lain mengenai kenaikan kredit limit menjadi US$ dan menambah jaminan pribadi dari Tn. Jos Rudolf Bing Prasatya, dan Ny. Patricia Pratiwi Suwati Prasatya (direktur MBSS). Atas pinjaman tersebut, MBSS terikat dengan beberapa batasan, antara lain, harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu untuk: As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010 the outstanding balance of the loan amounted to US$ 15,291,748, US$ 19,414,645 and nil, respectively. PT Bank Danamon Indonesia Tbk On November 8, 2007, MBSS obtained a Term Loan Facility from Bank Danamon amounting to US$ 7,500,000 which was used for investment. The term of the loan is 60 months with a grace period of 3 months and bears annual interest rate of SIBOR plus 2.5% and will due at July 18, This loan is secured by: (i). 1 unit floating crane finance with this loan; (ii). Fiduciary over the existing accounts receivable and which will be generated in later periods with collateral value of US$ 2,500,000 (Note 7); and (iii). Personal guarantee from Mrs. Maria Francesca Hermawan, Mr. Jos Rudolf Bing Prasatya and Mrs. Patricia Pratiwi Suwati Prasatya (director of MBSS). On January 17, 2008, the loan agreement was amended with changes relating to, among others, the increase in credit limit of up to US$ 10,500,000 and the additional personal guarantees from Mr. Jos Rudolf Bing Prasatya and Mrs. Patricia Pratiwi Suwati Prasatya (director of MBSS). Under the loan agreements, MBSS is required to comply with several restrictions, among others, to obtain prior written consent to: Menjual atau mengalihkan hak atau menyewakan/menyerahkan pemakaian seluruh atau sebagian aset MBSS, termasuk aset bergerak dan tidak bergerak, kecuali berhubungan dengan usaha; Memberikan pinjaman atau menerima pinjaman dari pihak lain dengan jumlah minimal US$ per tahun, kecuali berhubungan dengan usaha; Mengadakan perubahan dari sifat dan kegiatan usaha MBSS; Sell or transfer the right or lease/give the usage of entire or part of MBSS assets, including removable or unmovable assets owned by MBSS, except in relation with its business; Grant credit facility for or receive loan from other party with minimal amount of US$ 10,000,000 in each year except for transaction which is directly related to its business; Change MBSS s scope of business and activities; Merubah susunan pengurus, susunan para pemegang saham dan nilai saham MBSS; Change the management structure, shareholders structure and share value of MBSS; Mengumumkan dan membagi dividen saham MBSS; dan Declare and distribute stock dividend of MBSS; and Melakukan merger atau akuisisi. Perform merger or acquisition
244 Pada tanggal 20 Desember 2010, MBSS mendapatkan fasilitas pinjaman jangka panjang baru (KAB3) dari Bank Danamon sebesar US$ Tanggal 2 Desember 2011, MBSS mendapatkan pinjaman jangka panjang baru (KAB4) dari Bank Danamon sebesar US$ Pinjaman tersebut dikenakan bunga 6%. Perjanjian ini akan jatuh tempo pada bulan April MBSS terikat dengan beberapa batasan antara lain, Perusahaan harus memelihara rasio keuangan: On December 20, 2010, MBSS obtained new longterm loan (KAB3) from Bank Danamon amounting to US$ 3,000,000. On December 2, 2011, MBSS obtained new long-term loan (KAB4) from Bank Danamon amounting to US$ 11,000,000. This facility bear an annual interest rate of 6%. This loan will due in April MBSS is required to comply with several restriction, among others, the Company is required to maintain financial ratios: Debt Service Cover Ratio tidak kurang dari 1,2 kali; Debt Service Coverage shall not be less than 1.2 times; Debt to Equity Ratio tidak lebih dari 2 kali. Debt to Equity Ratio shall not be more than 2 times. Pinjaman tersebut dijaminkan dengan tongkang, yaitu Financia 99, Megapower 12, Megapower 23, Megastar 72, Financia 103, Financia 105, Financia 81, Financia 97, dan Financia 98. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, saldo pinjaman tersebut masing-masing sebesar US$ , US$ dan nihil. PT Indonesia Eximbank (Eximbank) Pada tanggal 2 April 2012, MBSS memperoleh fasilitas pembiayaan dari Eximbank yang diberikan dalam jenis Al Murabahah berdasarkan Surat Persetujuan Pemberian Pembiayaan dengan jumlah maksimum US$ Pinjaman ini digunakan untuk pengadaan 3 set kapal tunda dan tongkang, dengan jangka waktu fasilitas kredit 72 bulan terhitung mulai tanggal pencairan pertama. Pinjaman tersebut dijamin dengan 3 set kapal tunda dan tongkang yang dibiayai dan baru dicairkan sebagian di bulan April Tanpa persetujuan tertulis dari Eximbank, MBSS tidak boleh melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut: Merubah status dan menurunkan modal disetor MBSS; This loan is secured by barges, namely Financia 99, Megapower 12, Megapower 23, Megastar 72, Financia 103, Financia 105, Financia 81, Financia 97, and Financia 98. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the outstanding balances of the loan amounting to US$ 10,512,026, US$ 12,619,100 and nil, respectively. PT Indonesia Eximbank (Eximbank) On April 2, 2012, MBSS obtained Al Murabahah financing facility from Eximbank according to Financing Facility Approval Letter with maximum limit of US$ 8,000,000. The loan is used to procure 3 sets of tugboat and barge, with credit terms in 72 months since the first drawdown date. This loan is secured by 3 sets of tugboat and barges which is financed by the bank, and were partially drawn in April MBSS shall not perform the following action without prior writtern approval from Eximbank: Change the status and reduce the paid up capital of the MBSS; Memperoleh utang baru diluar transaksi dagang sehingga rasio DER melebihi 3 kali; Acquire new debt other than normal business resulted the DER ratio exceeds 3 times; Melakukan merger atau akuisisi yang dapat menghambat kewajiban pembayaran pembiayaan; Undertake any merger or acquisition that could affect financing obligations payment;
245 Menggunakan pembiayaan diluar tujuan yang telah diatur; Use the proceed other than originally planned; Menjual atau memindahtangankan aset yang telah dijaminkan kepada bank; dan Sell or transfer assets that have been pledged to bank; and Melakukan transaksi kepada pihak lain diluar kewajaran. Undertake transaction with other parties that does not follow normal term. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman tersebut sebesar US$ , nihil dan nihil. PT Bank UOB Indonesia (UOB) Tanggal 24 Agustus 2009, MBSS memperoleh fasilitas pinjaman berjangka dari UOB dengan maksimum kredit sebesar US$ Fasilitas ini digunakan untuk membiayai penbelian kapal. Jangka waktu fasilitas kredit adalah 3 tahun dan dikenakan bunga per tahun sebesar 2,5% di atas cost of fund UOB. Pinjaman tersebut dijamin dengan: As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the outstanding balance of this loan amounted to US$ 7,256,427, nil and nil, respectively. PT Bank UOB Indonesia (UOB) On August 24, 2009, MBSS obtained a term loan facility from UOB with a maximum limit of US$ 10,000,000. This facility was used to financial the purchase of vessels. The term of the loan facility is 3 years and bears annual interest rate of 2.5% above UOB s cost of fund. This loan is secured by: (i). 5 pasang kapal tongkang dan kapal tunda (i). 5 set of tugboat and barge (ii). Fidusia atas piutang usaha yang telah ada dan akan ada di kemudian hari dan menjadi milik debitur dengan nilai jaminan US$ ; (ii). Fiduciary over the existing accounts receivable and receivables which will exist at later periods with collateral value of US$ 12,000,000; (iii). Prioritas pertama atas klaim asuransi kapal; dan (iv). Jaminan pribadi dari Tn. Jos Rudolf Bing Prasatya, Ny. Maria Francesca Hermawan, Ny. Patricia P. S. Prasatya dan Ny. Ingrid A. S. Prasatya, Direktur MBSS. Pada tanggal 23 Desember 2010, UOB setuju untuk menarik penjaminan pribadi yang diberikan oleh Tn. Jos Rudolf Bing Prasatya, Ny. Maria Fransesca Hermawan, Ny. Patricia P.S. Prasatya dan Ny. Ingrid A.S. Prasatya, Direktur MBSS. MBSS terikat dengan beberapa batasan, antara lain, MBSS tidak boleh melakukan tindakan berikut sebelum mendapatkan persetujuan tertulis Bank UOB: (i). Mengadakan perubahan dari sifat dan kegiatan usaha MBSS; (ii). Merubah susunan pengurus dan pemegang saham; dan (iii). Mengumumkan dan membagi dividen. (iii). First priority over vessel insurance claims; and (iv). Personal guarantee from Mr. Jos Rudolf Bing Prasatya, Mrs. Maria Francesca Hermawan, Mrs. Patricia P. S. Prasatya and Mrs. Ingrid A. S. Prasatya, Directors of MBSS. On December 23, 2010, UOB agreed to withdraw the personal guarantees of Mr. Jos Rudolf Bing Prasatya, Mrs. Maria Fransesca Hermawan, Mrs. Patricia P.S. Prasatya dan Mrs. Ingrid A.S. Prasatya, Directors of MBSS. MBSS is required to comply with several restrictions, MBSS shall maintain certain financial ratios and shall not perform any of the following without prior written consent from Bank UOB: (i). Change MBSS scope of business and activities; (ii). Change the management structure and shareholders structure; and (iii). Declare and distribute dividend
246 MBSS disyaratkan untuk memelihara rasio keuangan sebagai berikut: - Debt to Equity Ratio tidak lebih dari 2. - Debt Service Coverage tidak kurang dari 1. Pinjaman ini telah dilunasi seluruhnya pada bulan September 2012 dan hak fidusia atas jaminan terkait telah dilepaskan. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman tersebut masing-masing sebesar nihil, US$ dan nihil. PT Bank Syariah Mandiri Tanggal 27 Mei 2009, MBSS memperoleh fasilitas pembiayaan dari BSM yang diberikan dalam jenis Al Murabahah dengan jumlah maksimum sebesar Rp Pinjaman ini digunakan untuk pembelian 4 buah kapal tunda. Jangka waktu fasilitas kredit adalah 36 bulan terhitung mulai tanggal pencairan. Berdasarkan perjanjian komitmen limit fasilitas pembiayaan No. 22 tanggal 7 Desember 2009, fasilitas pinjaman tersebut dikonversi menjadi Dollar Amerika Serikat menggunakan kurs pada saat tanggal konversi. Pinjaman tersebut dijamin dengan: MBSS is also required to maintain financial ratios, as follows: - Debt to Equity Ratio shall not be more than 2. - Debt Service Coverage shall not be less than 1. This loan has been fully repaid in September 2012 and the fiduciary right on the related collaterals has been released. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010 the outstanding balance of the loan amounted to nil, US$ 2,589,656 and nil respectively. PT Bank Syariah Mandiri On May 27, 2009, MBSS obtained Al Murabahah financing facility from BSM with maximum limit of Rp 30,000,000,000. This loan is used to purchase 4 units of tugboat with term of 36 months, effective since the drawdown date. Based on commitment agreement of line facility deed No. 22 on December 7, 2009, this loan facility was converted into US Dollar by using the exchange rate at the time of conversion. This loan is secured by: (i). 4 unit kapal tunda terdiri dari: Entebe Emerald 22, Entebe Power 1, Entebe Power 2, Entebe Star 21; dan (i). 4 units of tugboat consisting of: Entebe Emerald 22, Entebe Power 1, Entebe Power 2, Entebe Star 21; and (ii). Piutang yang akan diikat dengan jaminan fidusia dengan nilai penjaminan sebesar US$ (ii). Fiduciary over the existing accounts receivable and receivables which will be generated in later periods with collateral value of US$ 3,000,000. MBSS terikat dengan beberapa batasan, antara lain, sebagai berikut: Menggunakan fasilitas pembiayaan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan; Melaporkan kerusakan atau kehilangan aset dengan nilai minimal Rp ; Mempertahankan status MBSS dan izin-izin yang dimiliki serta memperbarui perizinan yang telah berakhir masa lakunya; Melakukan pembelian aset minimal Rp ; Memelihara rasio keuangan: - Current Ratio tidak kurang dari 1,2; dan - Debt to Equity Ratio tidak lebih dari 2,5. MBSS is required to comply with several covenants, among others: Using a financing facility in accordance with the terms defined; Reporting on the damage or loss of asset worth at least Rp 10,000,000,000; Maintain the status of the MBSS and owned licenses, and also renew the permits which expired; Purchase asset with minimum value of Rp 20,000,000,000; and Maintain financial ratios: - Current Ratio of not less than 1.2; and - Debt to Equity Ratio of not more than
247 Pinjaman ini telah dilunasi seluruhnya di bulan Mei 2012 dan hak fidusia atas jaminan tersebut telah dilepaskan. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, saldo pinjaman tersebut masing-masing sebesar nihil, US$ dan nihil. Pada bulan Desember 2010, MBSS memperoleh surat persetujuan pencabutan pembatasan sehubungan dengan rencana penawaran umum saham dan peralihan sebagian besar saham perusahaan dari PT Bank International Indonesia Tbk, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT Bank UOB Buana, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, dan PT Bank Syariah Mandiri. Pencabutan pembatasan tersebut antara lain mengenai pembayaran dividen kepada pemegang saham, perubahan anggaran dasar perusahaan, susunan pengurus perusahaan, status hukum perusahaan dan perubahan struktur permodalan. Seluruh jaminan pribadi yang diberikan oleh keluarga Prasatya untuk kepentingan penjaminan utang-utang MBSS menjadi tidak berlaku terhitung sejak Perseroan mendapatkan Surat Pemberitahuan Efektif Pernyataan Pendaftaran dari BAPEPAM-LK No. S-3102/BL/2011 tanggal 25 Maret Pada tanggal 31 Desember 2012, manajemen berpendapat bahwa Perusahaan dan entitas anak telah memenuhi semua persyaratan-persyaratan penting yang diwajibkan oleh pihak bank. Bank DBS Ltd. Cabang Singapura Pada tanggal 1 Juli 2011, TS, entitas anak TPEC mendapatkan pinjaman jangka panjang selama 240 bulan dari DBS Bank Ltd (Singapura) senilai SG$ 22 juta. Bagian yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun sebesar SG$ (ekuivalen dengan US$ ). Pinjaman ini dikenakan bunga sebagai berikut: - Tahun pertama : 2,58% (suku bunga tetap) - Tahun kedua : 2,78% (suku bunga tetap) - Tahun ketiga : 2,98% (suku bunga tetap) - Tahun-tahun berikutnya sebesar 5% Pinjaman ini dijaminkan dengan hak atas properti milik TS (Catatan 21) dan akta subordinasi yang harus dijalankan oleh direksi/pemegang saham/ts yang terkait sehubungan dengan semua pinjaman subordinasi yang ada dan juga di masa depan. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 saldo pinjaman ini masing-masing sebesar US$ , US$ dan nihil. The loan had been fully repaid in May 2012 and fiduciary rights in the related collaterals has been released. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the outstanding balance of the loan amounted to nil, US$ 504,632 and nil, respectively. In December 2010, MBSS obtained waiver letter for restrictions related to MBSS plan for an initial public offering and transfer of certain shares from PT Bank International Indonesia Tbk, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT Bank UOB Buana, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, and PT Bank Syariah Mandiri. Revocation of restrictions consist of dividend payment to shareholder, amendment of company articles of association, change in structure of management, change in legal status of MBSS and changes in capital structure. All personal guarantee given by the Prasatya family in relation with the MBSS s loan security, is no longer valid since MBSS obtain the Effective Registration Letter from BAPEPAM-LK No. S-3102/BL/2011 dated March 25, As of December 31, 2012, management is of the opinion that the Company and its subsidiaries have complied with all significant covenants required by the banks. Bank DBS Ltd. Singapore Branch On July 1, 2011, TS, a subsidiary of TPEC, obtained long term loan with term of 240 months installment from DBS Bank Ltd (Singapore) amounting to SG$ 22 million. Current maturity of this loan amounted to SG$ 853,071 (equivalent to US$ 698,094 million). This loan bears the following interest rate: - 1st year at 2.58% fixed; - 2nd year at 2.78% fixed; - 3rd year at 2.98% fixed; and - Subsequent years at 5%. This loan is secured by TS property (Note 21) and a deed of subordination to be executed by directors/ shareholders/ts in respect of subordination of all existing and future loan. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the outstanding balance of this loan amounted to US$ 16,972,636, US$ 16,588,774 and nil, respectively
248 Pembiayaan Utang kepada perusahaan pembiayaan berasal dari pembiayaan kendaraan bermotor dengan jangka waktu 2-3 tahun yang diperoleh dari PT Toyota Astra Financial Services. Financing Company Loans from finance company represent long-term loans, for a period ranging from 2-3 years, for financing of vehicles obtained from PT Toyota Astra Financial Services. 30. LIABILITAS SEWA PEMBIAYAAN 30. LEASE LIABILITIES Pembayaran minimum sewa berdasarkan perjanjian sewa pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, adalah sebagai berikut: The future minimum lease payments based on the lease agreements as of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010 are as follows: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ a. Berdasarkan Jatuh Tempo: a. By Due Date: Pembayaran yang jatuh tempo Payments' due date Jumlah pembayaran sewa minimum Total minimum lease payments Bunga ( ) ( ) ( ) Interest Nilai kini pembayaran sewa minimum Present value of minimum lease yang belum jatuh tempo payments Dikurangi: beban sewa pembiayaan yang belum diamortisasi ( ) - - Less: unamortized lease fees Jumlah - bersih Total - net Bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun ( ) ( ) ( ) Current maturities Liabilitas sewa pembiayaan jangka panjang - bersih Long-term lease liabilities - net b. Berdasarkan Lessor: b. By Lessor: PT Mitra Pinasthika Mustika Finance PT Mitra Pinasthika Mustika Finance PT Mitsubishi UFJ Lease & Finance PT Mitsubishi UFJ Lease & Finance Indonesia Indonesia PT Orix Indonesia Finance PT Orix Indonesia Finance PT Caterpillar Finance Indonesia PT Caterpillar Finance Indonesia BII Finance BII Finance PT Bumiputera BOT Finance PT Bumiputera BOT Finance The Royal Bank of Scotland The Royal Bank of Scotland Jumlah Total Dikurangi: beban sewa pembiayaan yang belum diamortisasi ( ) - - Less: unamortized lease fees Jumlah - Bersih Total - Net Liabilitas sewa pembiayaan terutama terdiri atas utang pembelian mesin-mesin operasi dari Petrosea. Utang ini dijamin dengan aset sewaan bersangkutan dengan jangka waktu 4 sampai 5 tahun. Lease liabilities mainly consist of purchases of machineries by Petrosea. These liabilities are secured by the related leased assets. The leases have terms of 4 to 5 years
249 Pada tahun 2012, terdapat penambahan transaksi jual dan sewa balik di Petrosea yang diklasifikasi sebagai sewa pembiayaan. In 2012, additional sale and leaseback transactions were carried out by Petrosea which were classified as finance lease. Liabilitas sewa pembiayaan yang didenominasi dalam mata uang selain mata uang fungsional Perusahaan dan entitas anak adalah sebagai berikut: Lease liabilities denominated in currency other than the respective functional currency of the Company and its subsidiaries are as follows: 1 Januari/January / 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Rupiah Rupiah PT Mitra Pinasthika Mustika Finance (MPMF) [sebelumnya PT Austindo Nusantara Jaya Finance] Pada tanggal 10 Juni 2011, Petrosea dan MPMF menandatangani Perjanjian Fasilitas Kredit untuk Sewa Pembiayaan, dimana Petrosea diberikan fasilitas kredit sewa pembiayaan sebesar US$ 45 juta. Tingkat bunga untuk fasilitas ini adalah 3% ditambah tingkat bunga LIBOR. Fasilitas ini tersedia untuk enam bulan. Pada tanggal 24 Januari 2012, Petrosea dan MPMF menandatangani Perjanjian Fasilitas Kredit untuk Sewa Pembiayaan dimana Petrosea diberikan fasilitas kredit sewa pembiayaan sebesar US$ 75 juta. Tingkat bunga fasilitas ini sebesar 3,125% ditambah tingkat bunga LIBOR. Fasilitas ini tersedia untuk 24 bulan. PT Mitsubishi UFJ Lease & Finance Indonesia Pada tanggal 18 April 2012, Petrosea dan PT Mitsubishi UFJ Lease & Finance Indonesia menandatangani Perjanjian Fasilitas Kredit untuk Sewa Pembiayaan dimana Petrosea diberikan fasilitas kredit sewa pembiayaan sebesar US$ 25 juta. Tingkat bunga fasilitas ini sebesar 3,40% ditambah tingkat bunga SIBOR. Fasilitas ini tersedia untuk 6 bulan. PT Orix Indonesia Finance Pada tanggal 28 Juni 2012, Petrosea dan PT Orix Indonesia Finance menandatangani Perjanjian Fasilitas Kredit untuk Sewa Pembiayaan dimana Petrosea diberikan fasilitas kredit sewa pembiayaan sebesar US$ 15 juta. Tingkat bunga fasilitas ini sebesar 3,50% ditambah tingkat bunga SIBOR. Fasilitas ini tersedia untuk 12 bulan. PT Caterpillar Finance Indonesia Pada tanggal 3 Maret 2005, Petrosea dan PT Caterpillar Finance Indonesia menandatangani Perjanjian Fasilitas Kredit untuk Sewa Pembiayaan dimana Petrosea diberikan fasilitas kredit sewa pembiayaan sebesar US$ 50 juta. Tingkat bunga dari beberapa fasilitas kredit sewa pembiayaan yang diterima Petrosea adalah antara 2,00% 4,00% ditambah tingkat bunga SIBOR dan 5,00%-6,35% ditambah tingkat bunga LIBOR. PT Mitra Pinasthika Mustika Finance (MPMF) [formerly PT Austindo Nusantara Jaya Finance] On June 10, 2011, Petrosea and MPMF entered into a Finance Lease Facility Agreement, whereby Petrosea was granted a finance lease facility amounting to US$ 45 million. The interest rate on this facility is 3% plus LIBOR. This facility is available for six months. On January 24, 2012, Petrosea and MPMF entered into a Finance Lease Facility Agreement, whereby Petrosea was granted a finance lease facility amounting to US$ 75 million. The interest rate on this facility is 3.125% plus LIBOR. The facility is available for 24 months. PT Mitsubishi UFJ Lease & Finance Indonesia On April 18, 2012, Petrosea and PT Mitsubishi UFJ Lease & Finance Indonesia entered into a Finance Lease Facility Agreement, whereby Petrosea was granted a finance lease facility amounting to US$ 25 million. The interest rate on this facility is 3.40% plus SIBOR. The facility is available for 6 months. PT Orix Indonesia Finance On June 28, 2012, Petrosea and PT Orix Indonesia Finance entered into a Finance Lease Facility Agreement, whereby Petrosea was granted a finance lease facility amounting to US$ 15 million. The interest rate on this facility is 3.50% plus SIBOR. The facility is available for 12 months. PT Caterpillar Finance Indonesia On March 3, 2005, Petrosea and PT Caterpillar Finance Indonesia entered into a Finance Lease Facility Agreement, whereby Petrosea was granted a finance lease facility amounting to US$ 50 million. The interest rate arrived from several finance lease facilities received by Petrosea are between 2.00%- 4.00% plus SIBOR and 5.00%-6.35% plus LIBOR
250 Syarat dan ketentuan atas perjanjian sewa pembiayaan Petrosea adalah sebagai berikut: i. Petrosea tidak diperbolehkan untuk menjual, meminjamkan atau melakukan sewa kembali atau melepaskan, atau menghentikan pengendalian langsung atas aset sewaan; Significant general terms and conditions of the finance leases entered by Petrosea are as follows: i. Petrosea is prohibited to sell, lend, sublease, or otherwise dispose of or, cease to exercise direct control over, the leased assets; ii. Petrosea tidak diperbolehkan menggunakan aset sewaan sebagai jaminan, termasuk jaminan deposito, atau garansi kepada lessor lainnya; dan ii. Petrosea is prohibited to provide securities/collateral, including security deposit, or guarantee to other lessors over the leased assets; and iii. Untuk liabilitas sewa guna usaha pembiayaan dengan MPMF, Petrosea diharuskan untuk mempertahankan rasio keuangan tertentu yang dihitung berdasarkan laporan keuangan konsolidasian. iii. For lease liability from MPMF, Petrosea is required to maintain certain financial ratios computed based on the consolidated financial statements. 31. UTANG OBLIGASI 31. BONDS PAYABLE 1 Januari 2011/ 31 Desember 2010/ 31 Desember/ 31 Desember/ January 1, 2011/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Senior Notes, nominal US$ 250 juta Senior Notes, nominal of US$ 250 million tahun 2007 pada tahun 2010 dan in 2007 as of 2010 and of US$ 65 million nominal US$ 65 juta pada tahun in 2011 Senior Notes II, nominal US$ 230 juta Senior Notes II, nominal of US$ 230 million tahun in 2009 Senior Notes III, nominal US$ 300 juta Senior Notes III, nominal of US$ 300 million tahun in 2011 Dikurangi: biaya emisi obligasi Less: Unamortized bond yang belum diamortisasi ( ) ( ) ( ) issuance costs Jumlah bersih Total net Disajikan di laporan posisi keuangan Presented in consolidated statements of konsolidasian sebagai: financial position as: Liabilitas lancar Current liabilities Liabilitas tidak lancar Noncurrent liabilites Jumlah Total Senior Notes, US$ 250 Juta Pada tanggal 8 Mei 2007, IIE B.V., entitas anak yang secara langsung sepenuhnya dimiliki oleh Perusahaan, menerbitkan Senior Notes ( Obligasi ) sejumlah US$ , jatuh tempo bulan Juni Obligasi tersebut dikenakan bunga 8,5% per tahun, terutang setiap setengah tahun, dibayar di belakang setiap tanggal 1 Juni dan 1 Desember, dimulai pada tanggal 1 Desember Obligasi ini tercatat di Singapore Stock Exchange. Sehubungan dengan penerbitan obligasi ini, HSBC Institutional Trust Services (Singapura) Limited bertindak sebagai Trustee sedangkan Perusahaan dan IIC menjadi pihak penjamin. Senior Notes, US$ 250 Million On May 8, 2007, IIE B.V., a direct wholly owned subsidiary of the Company, issued Senior Notes ( Notes ) amounting to US$ 250,000,000 due in June The Notes bear interest at 8.5% per annum, payable semi-annually in arrears on June 1 and December 1 of each year, commencing on December 1, The Notes are listed on the Singapore Stock Exchange. In relation to the issuance of the Notes, HSBC Institutional Trust Services (Singapore) Limited acted as trustee, while the Company and IIC as guarantors
251 Obligasi ini dijamin dengan hak prioritas pertama dengan jaminan sebagai berikut: The Notes are secured on a first priority basis by a lien on the following collateral: Gadai atas penyertaan saham Perusahaan di IIE B.V. dan IIC (Catatan 1b) dan penyertaan saham IIC di PT Kideco Jaya Agung (Catatan 14); Pledges of the Company s investments in shares of stock of IIE B.V. and IIC (Note 1b) and IIC s investment in shares of stock of PT Kideco Jaya Agung (Note 14); Hak atas Pre-funded Interest Reserve Account, atas nama Perusahaan di JP Morgan Chase Bank, N.A., New York. Perusahaan diwajibkan untuk menjaga saldo dana pada rekening ini setara dengan pembayaran bunga setengah tahunan. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011, dan 2010, rekening ini mempunyai saldo masing-masing sebesar nihil, US$ dan US$ , yang dicatat sebagai Rekening bank yang dibatasi penggunaannya dan disajikan sebagai bagian dari aset keuangan tidak lancar lainnya; A security interest in the Pre-funded Interest Reserve Account, in the name of the Company held at JP Morgan Chase Bank, N.A., New York. The Company was required to maintain an amount in this account equal to one semiannual interest payment. As of December 31, 2012, 2011 and 2010, this account had a balance of nil, US$ 10,793,607 and US$ 10,772,106, respectively, which was recorded as Restricted cash in banks and presented as other noncurrent financial assets; Hak atas Interest Accumulated Account, atas nama IIE B.V. di ING Bank, Cabang Amsterdam. Setiap bulan, IIE B.V. diwajibkan untuk menempatkan dana di Interest Accumulated Account yang setara dengan 1/6 dari pembayaran bunga setengah tahunan, yang akan digunakan untuk pembayaran bunga obligasi. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, saldo dana pada rekening ini masing-masing sebesar nihil, US$ dan US$ , dicatat sebagai Rekening bank dibatasi penggunaannya dan disajikan sebagai bagian dari aset keuangan lainnya; A security interest in the Interest Accumulated Account, in the name of IIE B.V. held at ING Bank, Amsterdam Branch. On a monthly basis, IIE B.V. is required to deposit in the Interest Accumulated Account an amount equal to onesixth of one semi-annual interest payment, which will be applied to the payment of interest on the Notes. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, the balance of this account amounting to nil, US$ 3,391,376 and US$ 4,910,244, respectively, was recorded as Restricted cash in banks and presented as other financial assets; Jaminan hak IIE B.V. atas pinjaman antarperusahaan (intercompany loans). Pada tanggal 8 Mei 2007, IIE B.V. telah meminjamkan dana hasil penerbitan obligasi kepada Perusahaan dan beberapa entitas anak sebagai pinjaman antarperusahaan. Perusahaan-perusahaan tersebut akan menggunakan dana tersebut untuk pembayaran utang dan untuk akuisisi aset yang terkait dengan energi sesuai jenis usaha yang tertera dalam perjanjian Wali Amanat dan untuk tujuan umum Perusahaan. Pihak-pihak yang terlibat dalam pinjaman antar-perusahaan akan menjaminkan haknya atas pinjaman tersebut untuk kepentingan pemegang obligasi (Jaminan Pinjaman). Pada tanggal pelaporan, seluruh pinjaman antarperusahaan telah dieliminasi untuk tujuan penyajian laporan keuangan konsolidasian. A security interest in IIE B.V. s right under the Intercompany Loans. On May 8, 2007, IIE B.V. lent the proceeds of the Notes to the Company and certain subsidiaries pursuant to the Intercompany Loans. Such entities will use the proceeds primarily for repayment of existing indebtedness and acquisitions of energy-related assets in the permitted businesses specified in the indenture agreement and for general corporate purposes. The parties making any Intercompany Loan will pledge their rights under such loan for the benefit of the holders of the Notes (the Loan Pledges ). As of reporting dates, all the Intercompany Loans are fully eliminated for consolidation purposes
252 IIE B.V. mempunyai hak opsi untuk menebus seluruh atau sebagian obligasi tersebut. Selama periode sebelum tanggal 1 Juni 2010, IIE B.V. mempunyai hak opsi untuk menebus sampai dengan 35% dari obligasi dengan dana dari hasil penawaran ekuitas, dengan harga sebesar 108,50% dari nilai nominal. Obligasi tersebut dapat sewaktu-waktu ditebus seluruhnya pada nilai pokok melalui hak opsi dari IIE B.V., dalam hal terdapat peristiwa atau perubahan yang mempengaruhi hubungan perpajakan antara Indonesia dan Belanda. Sehubungan dengan obligasi tersebut, Perusahaan dan beberapa entitas anak tertentu dibatasi untuk, diantaranya, melakukan hal-hal berikut: Memperoleh pinjaman tambahan dan menerbitkan saham preferen; IIE B.V. will be entitled at its option to redeem all or any portion of the Notes. At any time prior to June 1, 2010, IIE B.V. will be entitled at its option to redeem up to 35% of the Notes with the net proceeds of one or more equity offerings at a redemption price of %. The Notes are subject to redemption in whole at their principal amount at the option of IIE B.V., at any time in the event of certain changes affecting taxation between Indonesia and Netherlands. In relation to the Notes, the Company and certain subsidiaries are restricted to, among others, perform the following: Incur additional indebtedness and issue preferred stock; Membagikan dividen atau membeli atau menebus modal saham; Declare dividends on capital stock or purchase or redeem capital stock; Berinvestasi atau melakukan pembayaran atas sesuatu yang termasuk dalam Pembatasan Pembayaran ; Make investments or other specified Restricted Payments ; Menerbitkan atau menjual saham dari entitas anak yang telah dibatasi; Issue or sell capital stock of restricted subsidiaries; Menjamin utang; Guarantee indebtedness; Menjual aset; Sell assets; Menciptakan hak gadai; Create any lien; Melakukan transaksi penjualan dan sewa kembali; Enter into sale and leaseback transactions; Melakukan perjanjian yang membatasi kemampuan entitas anak untuk membayar dividen dan memindahkan aset atau menerbitkan pinjaman antar perusahaan ; Enter into agreements that restrict the restricted subsidiaries ability to pay dividends and transfer assets or make inter-issuer loans; Melakukan transaksi dengan pemegang saham atau pihak berelasi; Enter into transactions with equity holders or affiliates; Melakukan konsolidasi atau merger; atau Effect a consolidation or merger; or Melakukan aktivitas di bidang usaha lain. Engage in different business activities. Persyaratan-persyaratan tersebut, termasuk pembatasan yang disebutkan diatas, tergantung pada kualifikasi dan pengecualian tertentu, seperti yang disebutkan dalam ketentuan obligasi. Obligasi ini memperoleh peringkat B1 dengan outlook positif dari Moody s dan B+ dengan outlook stabil dari Fitch. These covenants, including the above restrictions, are subject to a number of important qualifications and exceptions as described in the bonds indenture. The Notes have been assigned a rating of B1 with positive outlook by Moody s and B+ with stable outlook by Fitch
253 Berdasarkan first supplemental indenture tanggal 30 September 2009 antara IIE B.V., Perusahaan, IIC dan HSBC Institutional Trust Services (Singapore) Limited (HSBC), IIE B.V. dan HSBC diijinkan untuk mengubah perjanjian obligasi dengan persetujuan tertulis dari mayoritas pemegang obligasi yang berlaku. IIE B.V., Perusahaan serta IIC sepakat untuk mengubah perjanjian obligasi, antara lain sebagai berikut: Perubahan atas definisi applicable premium yang mencakup seluruh jadwal pembayaran bunga hingga 1 Juni 2012; Perubahan tingkat bunga obligasi yang naik sebesar 0,50% per tahun terhitung sejak 1 Desember 2009; Perubahan jumlah maksimum pokok utang untuk modal kerja yang diijinkan untuk diperoleh Perusahaan atau entitas anak yang dibatasi (selain PT Kideco Jaya Agung) menjadi sebesar US$ 25 juta; dan Perubahan definisi permitted liens dengan mengikutsertakan kepemilikan saham di III, IPI dan CEP maupun operasi dan pemeliharaan atau jasa lain yang dikembangkan oleh Perusahaan berkaitan dengan Proyek Cirebon, dalam setiap hal terkait penjaminan utang yang diperoleh oleh CEP untuk membiayai Proyek Cirebon. Berkaitan dengan permohonan persetujuan untuk mengubah ketentuan perjanjian obligasi tersebut diatas, Perusahaan dikenakan biaya consent sebesar US$ dan dicatat sebagai tambahan biaya emisi obligasi. Pada bulan Mei 2011, Perusahaan menyelesaikan penukaran sebagian Obligasi senilai US$ dengan Obligasi III. Pada bulan Mei 2012, Perusahaan melunasi Obligasi I senilai US$ Senior Notes II, US$ 230 Juta Pada tanggal 5 Nopember 2009, IIE II B.V., entitas anak yang secara langsung dan sepenuhnya dimiliki oleh Perusahaan, menerbitkan Senior Notes ( Obligasi II ) sejumlah US$ 230 juta, jatuh tempo pada bulan Nopember Obligasi II tersebut dikenakan bunga 9,75% per tahun, terutang setiap tahun pada tanggal 5 Mei dan 5 Nopember, dimulai pada tanggal 5 Mei Obligasi II ini tercatat di Singapore Stock Exchange. Sehubungan dengan penerbitan Obligasi II ini, Citicorp International Limited bertindak sebagai Trustee sedangkan Perusahaan dan IIC menjadi pihak penjamin. Based on first supplemental indenture dated September 30, 2009 among IIE B.V., the Company, IIC and HSBC Institutional Trust Services (Singapore) Limited (HSBC), the indenture permits IIE B.V. and HSBC to amend the indenture with written consent of the holders of the Notes of not less than a majority in aggregate principal amount of the Notes then outstanding. IIE B.V., the Company and IIC desired to amend the indenture, among others, as follows: Amendment to the definition of applicable premium to include all scheduled interest payments through June 1, 2012; Amendment on the interest rate payable on the Notes which increased by 0.50% per annum starting from December 1, 2009; Amendment to the maximum aggregate principal amount of indebtedness permitted to be incurred by the Company or any restricted subsidiary (other than PT Kideco Jaya Agung) for working capital to be US$ 25 million; and Amendment to the definition of permitted liens to include liens on shares on the capital stock of III, IPI and CEP as well as any decided operations and maintenance or other services the Company established in connection with the Cirebon Project, in each case securing indebtedness incurred by CEP for the financing of the Cirebon Project. In relation to the solicitation of consent to amend certain provisions of the indenture as described above, the Company was charged a consent fee of US$ 5,510,100, which was recorded as additions to the bond issuance costs. In May 2011, the Company has completed its exchange offer of the Senior Notes III for the Notes amounting to US$ 185,000,000. In May 2012, the Company fully paid the Senior Notes I amounting US$ 65,000,000. Senior Notes II, US$ 230 Million On November 5, 2009, IIE II B.V., a direct wholly owned subsidiary of the Company, issued Senior Notes ( Notes II ) amounting to US$ 230 million due in November The Notes II bear interest at 9.75% per annum, payable semi-annually on May 5 and November 5 of each year, commencing on May 5, The Notes II are listed on the Singapore Stock Exchange. In relation to the issuance of the Notes II, Citicorp International Limited acted as trustee, while the Company and IIC as guarantors
254 < PT. INDIKA ENERGY Tbk DAN ENTITAS ANAK Obligasi II ini dijamin dengan hak prioritas pertama dengan jaminan sebagai berikut: The Notes II are secured on a first priority basis by a lien on the following collateral: Gadai atas penyertaan saham Perusahaan di IIE II B.V. dan IIC (Catatan 1b) dan penyertaan saham IIC di PT Kideco Jaya Agung (Catatan 14); Pledges of the Company s investments in shares of stock of IIE II B.V. and IIC (Note 1b) and IIC s investment in shares of stock of PT Kideco Jaya Agung (Note 14); Hak atas Indika Proceeds Account, atas nama ICRL, di Citibank, N.A., New York. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/ 31 Desember 2010, dana pada rekening ini masing-masing sebesar nihil, US$ dan US$ , masing-masing yang dicatat sebagai Rekening bank dibatasi penggunaannya dan disajikan sebagai bagian dari aset keuangan tidak lancar lainnya. Pada bulan Pebruari 2012, Perusahaan telah menarik seluruh jaminan tersebut dan menggunakan dana tersebut untuk akuisisi aset yang terkait dengan energi pada bisnis salah satu entitas anak Perusahaan yaitu IIR, sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian Wali Amanat; dan A security interest in the Indika Proceeds Accounts, in the name of ICRL, held at Citibank, N.A., New York. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, this account had balance of nil, US$ 50,000,000 and US$ 50,000,000, respectively, which was recorded as Restricted cash in banks and presented as other noncurrent financial assets. On February 2012, the Company had drawdown the collateral funds and use the proceeds for acquisitions of energy-related assets of one of the Company s subsidiaries, IIR, which was specified in the indenture agreement; and Jaminan hak IIE II B.V. atas pinjaman antarperusahaan (Intercompany Loans). Pada tanggal 5 Nopember 2009, IIE II B.V. telah meminjamkan dana hasil penerbitan Obligasi II kepada ICRL sebagai pinjaman antar-perusahaan, dimana sebagian dana tersebut sejumlah US$ 12 juta telah dipinjamkan kembali kepada Perusahaan. Perusahaan dan ICRL akan menggunakan dana tersebut sesuai dengan tujuan penggunaan dana yang ditentukan dalam perjanjian obligasi. Pada tanggal pelaporan, seluruh pinjaman antarperusahaan telah dieliminasi untuk tujuan penyajian laporan keuangan konsolidasian. A security interest in IIE II B.V. s right under the Intercompany Loans. On November 5, 2009, IIE II B.V. lent the proceeds of the Notes II to ICRL pursuant to the Intercompany Loans, in which certain portion of such Intercompany Loans amounting to US$ 12 million were assigned to the Company. The Company and ICRL will use the proceeds in accordance with the use of proceeds specified in the indenture agreement. As of reporting dates, all the Intercompany Loans are fully eliminated for consolidation purposes. Gadai atas penyertaan saham Perusahaan di IIC dan penyertaan saham IIC di PT Kideco Jaya Agung serta jaminan sebagaimana dijelaskan pada point 1 dan 3 di atas akan pari passu berdasarkan hak dan prioritas pembayaran dengan kreditur tertentu lainnya sesuai dengan Intercreditor Agreement antara HSBC Institutional Trust Services (Singapore) Limited sebagai Trustee Obligasi, Perusahaan dan IIC, serta Citicorp International Limited sebagai Trustee atas Obligasi II, pemegang jaminan utang secara pari passu lainnya dan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited, Cabang Jakarta, sebagaimana dirubah dari waktu ke waktu. Collaterals on the Company s investment in IIC and IIC s investment in PT Kideco Jaya Agung as well as collaterals described in point 1 and 3 above will be shared pari passu in right and priority of payment with certain other creditors in respect of certain obligations of the Company in accordance with the Intercreditor Agreement between HSBC Institutional Trust Services (Singapore) Limited as Trustee of Notes, the Company and IIC, Citicorp International Limited as Trustee of Notes II, other holders of Permitted Pari Passu Secured Indebtedness and The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited, Jakarta Branch, as amended from time to time
255 IIE II B.V. mempunyai hak opsi untuk menarik seluruh atau sebagian Obligasi II tersebut. Selama periode sebelum tanggal 5 Nopember 2012, IIE II B.V. mempunyai hak opsi untuk menarik sampai dengan 35% dari Obligasi II dengan dana dari hasil penawaran saham, dengan harga sebesar 109,75%. Setiap saat sebelum tanggal 5 Nopember 2013, IIE II B.V. mempunyai hak opsi untuk menarik seluruh Obligasi II pada harga 100% ditambah dengan premium yang telah ditentukan dalam perjanjian obligasi. Pada tanggal 5 Nopember 2013 atau setiap saat setelah tanggal tersebut, IIE II B.V. mempunyai hak opsi untuk menarik sebagian atau seluruh Obligasi II dengan harga yang telah ditentukan dalam perjanjian obligasi. Obligasi II tersebut dapat sewaktu-waktu ditarik seluruhnya pada nilai pokok melalui hak opsi dari IIE II B.V., dalam hal terdapat peristiwa atau perubahan yang mempengaruhi hubungan perpajakan antara Indonesia dan Belanda. Sehubungan dengan obligasi tersebut, Perusahaan dan beberapa entitas anak tertentu dibatasi untuk, diantaranya, melakukan hal-hal berikut: Memperoleh pinjaman tambahan dan menerbitkan saham preferen; IIE II B.V. will be entitled at its option to redeem all or any portion of the Notes II. At any time prior to November 5, 2012, IIE II B.V. will be entitled at its option to redeem up to 35% of the Notes II with the net proceeds of one or more equity offerings at a redemption price of %. At any time prior to November 5, 2013, IIE II B.V. will be entitled at its option to redeem the Notes II, in whole but not in part, at a redemption price equal to 100% plus the applicable premium as further determined in the Notes II indenture. At any time on or after November 5, 2013, IIE II B.V. may redeem in whole or in part of the Notes II at a redemption price specifically described in the Notes II indenture. The Notes II are subject to redemption in whole at their principal amount at the option of the IIE II B.V. at any time in the event of certain changes affecting taxation between Indonesia and Netherlands. In relation to the Notes II, the Company and certain subsidiaries are restricted to, among others, perform the following: Incur additional indebtedness and issue preferred stock; Membagikan dividen atau membeli atau menebus modal saham; Declare dividends on capital stock or purchase or redeem capital stock; Berinvestasi atau melakukan pembayaran atas sesuatu yang termasuk dalam Pembatasan Pembayaran ; Make investments or other specified Restricted Payments ; Menerbitkan atau menjual saham dari entitas anak yang telah dibatasi; Issue or sell capital stock of restricted subsidiaries; Menjamin utang; Guarantee indebtedness; Menjual aset; Sell assets; Menciptakan hak gadai; Create any lien; Melakukan transaksi penjualan dan sewa kembali; Enter into sale and leaseback transactions; Melakukan perjanjian yang membatasi kemampuan entitas anak untuk membayar dividen dan memindahkan aset atau menerbitkan pinjaman antar perusahaan ; Enter into agreements that restrict the restricted subsidiaries ability to pay dividends and transfer assets or make inter-issuer loans; Melakukan transaksi dengan pemegang saham atau pihak berelasi; Enter into transactions with equity holders or affiliates; Melakukan konsolidasi atau merger; atau Effect a consolidation or merger; or Melakukan aktivitas di bidang usaha lain. Engage in different business activities
256 Persyaratan-persyaratan tersebut, termasuk pembatasan yang disebutkan di atas, tergantung pada kualifikasi dan pengecualian tertentu, seperti yang disebutkan dalam ketentuan Obligasi II. Dana yang diperoleh dari penerbitan Obligasi II ini digunakan untuk (i) mendanai pengeluaran modal yang dibutuhkan oleh Petrosea dalam rangka ekspansi bisnis; (ii) mendanai pengeluaran modal yang dibutuhkan untuk ekspansi di segmen jasa energi dan infrastruktur (POSB); (iii) mendanai akuisisi atau penambahan investasi pada aset batubara oleh Perusahaan atau entitas anak yang menjadi Subsidiaries Guarantor sesuai yang tertera didalam perjanjian Wali Amanat dan (iv) modal kerja dan tujuan umum korporasi. Obligasi II ini memperoleh peringkat B1 dengan outlook stabil dari Moody s dan B+ dari Fitch. Senior Notes III, US$ 300 Juta Pada tanggal 5 Mei 2011, IEF B.V., entitas anak yang secara langsung dan sepenuhnya dimiliki oleh Perusahaan, menerbitkan Senior Notes ( Obligasi III ) sejumlah US$ 115 juta yang akan jatuh tempo pada bulan Mei Obligasi III diterbitkan bersamaan dengan penukaran Obligasi I senilai US$ 185 juta. Obligasi III tersebut dikenakan bunga 7% per tahun, terutang setiap tahun pada tanggal 5 Mei dan 5 Nopember, dimulai pada tanggal 5 Nopember Obligasi III ini tercatat di Singapore Stock Exchange. Sehubungan dengan penerbitan Obligasi III ini, Citicorp International Limited bertindak sebagai Trustee sedangkan Perusahaan dan IIC, TPE, TPEC dan TS menjadi pihak penjamin. Obligasi III ini dijamin dengan hak prioritas pertama dengan jaminan sebagai berikut: Gadai atas penyertaan saham Perusahaan di Tripatra Group, TPEC, IEF BV, IEC BV dan IIC (Catatan 1b) dan penyertaan saham IIC di PT Kideco Jaya Agung (Catatan 14); Hak atas Indika Proceeds Account, atas nama ICRL, di Citibank, N.A., New York sejak tanggal penerbitan Obligasi III. Rekening tersebut dicatat sebagai Rekening bank dibatasi penggunaannya dan disajikan sebagai bagian dari aset keuangan tidak lancar lainnya. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, saldo dana pada rekening ini masing-masing sebesar nihil, US$ dan US$ Pada bulan Pebruari 2012, Perusahaan telah menarik seluruh jaminan dan menggunakan dana tersebut untuk akuisisi aset terkait dengan energi pada entitas anak yaitu IIR, sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian Wali Amanat; dan Jaminan hak IEF B.V. atas pinjaman antarperusahaan (Intercompany Loans). Pada tanggal pelaporan, seluruh pinjaman antar-perusahaan telah dieliminasi untuk tujuan penyajian laporan keuangan konsolidasian. These covenants, including the above restrictions, are subject to a number of important qualifications and exceptions as described in the Notes II indenture. Proceeds from guaranteed Notes II issued were used for (i) funding capital expenditures needed for Petrosea s plan of expansion; (ii) funding working capital needed to expand in energy services and infrastructure segment (POSB); (iii) funding acquisition or additional investments in coal assets or an investment by the Company or Subsidiaries Guarantor as stated in Indenture and (iv) working capital and other general corporate purposes. The Notes II have been assigned a rating of B1 with stable outlook by Moody s and B+ by Fitch. Senior Notes III, US$ 300 Million On May 5, 2011, IEF B.V., a direct wholly owned subsidiary of the Company, issued Senior Notes ( Notes III ) amounting to US$ 115 million due in May The Notes III were issued together with the US$ 185 million related to Exchange Offer Notes I. The Notes III bear interest at 7% per annum, payable semi-annually on May 5 and November 5 of each year, commencing on November 5, The Notes III are listed on the Singapore Stock Exchange. In relation to the issuance of the Notes III, Citicorp International Limited acted as trustee, while the Company and IIC, TPE, TPEC and TS as guarantors. The Notes III are secured on a first priority basis by a lien on the following collateral: Pledges of the Company s investments in shares of stock of Tripatra Group, TPEC, IEF BV, IEC BV and IIC (Note 1b) and IIC s investment in shares of stock of PT Kideco Jaya Agung (Note 14); A security interest in the Indika Proceeds Accounts, in the name of ICRL, held at Citibank, N.A., New York since the issuance of Notes III. The account was recorded as Restricted cash in banks and presented as other noncurrent financial assets. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, this account had balance of nil, US$ 50,000,000 and US$ 50,000,000, respectively. On February 2012, the Company had drawdown the collateral funds and use the proceeds for acquisitions of energy-related assets of one of the Company s subsidiaries, IIR, which was specified in the indenture agreement; and A security interest in IEF B.V. s right under the Intercompany Loans. As of reporting dates, all the Intercompany Loans are fully eliminated for consolidation purposes
257 IEF B.V. mempunyai hak opsi untuk menarik seluruh atau sebagian Obligasi III tersebut. Selama periode sebelum tanggal 5 Mei 2014, IEF B.V. mempunyai hak opsi untuk menarik sampai dengan 35% dari Obligasi III dengan dana dari hasil penawaran saham, dengan harga sebesar 107%. Setiap saat sebelum tanggal 5 Mei 2015, IEF B.V. mempunyai hak opsi untuk menarik seluruh Obligasi III pada harga 100% ditambah dengan premium yang telah ditentukan dalam perjanjian obligasi. Pada tanggal 5 Mei 2015 atau setiap saat setelah tanggal tersebut, IEF B.V. mempunyai hak opsi untuk menarik sebagian atau seluruh Obligasi III dengan harga yang telah ditentukan dalam perjanjian obligasi. Obligasi III tersebut dapat sewaktu-waktu ditarik seluruhnya pada nilai pokok melalui hak opsi dari IEF B.V., dalam hal terdapat peristiwa atau perubahan yang mempengaruhi hubungan perpajakan antara Indonesia dan Belanda. Sehubungan dengan obligasi tersebut, Perusahaan dan beberapa entitas anak tertentu dibatasi untuk, diantaranya, melakukan hal-hal berikut: Memperoleh pinjaman tambahan dan menerbitkan saham preferen; Membagikan dividen atau membeli atau menebus modal saham; Berinvestasi atau melakukan pembayaran atas sesuatu yang termasuk dalam Pembatasan Pembayaran ; Menerbitkan atau menjual saham dari entitas anak yang telah dibatasi; Menjamin utang; Menjual aset; Menciptakan hak gadai; Melakukan transaksi penjualan dan sewa kembali; Melakukan perjanjian yang membatasi kemampuan entitas anak untuk membayar dividen dan memindahkan aset atau menerbitkan pinjaman antar perusahaan ; Melakukan transaksi dengan pemegang saham atau pihak berelasi; Melakukan konsolidasi atau merger; atau Melakukan aktivitas di bidang usaha lain. Persyaratan-persyaratan tersebut, termasuk pembatasan yang disebutkan diatas, tergantung pada kualifikasi dan pengecualian tertentu, seperti yang disebutkan dalam ketentuan Obligasi III. IEF B.V. will be entitled at its option to redeem all or any portion of the Notes III. At any time prior to May 5, 2014, IEF B.V. will be entitled at its option to redeem up to 35% of the Notes III with the net proceeds of one or more equity offerings at a redemption price of 107%. At any time prior to May 5, 2015, IEF B.V. will be entitled at its option to redeem the Notes III, in whole but not in part, at a redemption price equal to 100% plus the applicable premium as further determined in the Notes III indenture. At any time on or after May 5, 2015, IEF B.V. may redeem in whole or in part of the Notes III at a redemption price specifically described in the Notes III indenture. The Notes III are subject to redemption in whole at their principal amount at the option of the IEF B.V. at any time in the event of certain changes affecting taxation between Indonesia and Netherlands. In relation to the Notes III, the Company and certain subsidiaries are restricted to, among others, perform the following: Incur additional indebtedness and issue preferred stock; Declare dividends on capital stock or purchase or redeem capital stock; Make investments or other specified Restricted Payments ; Issue or sell capital stock of restricted subsidiaries; Guarantee indebtedness; Sell assets; Create any lien; Enter into sale and leaseback transactions; Enter into agreements that restrict the restricted subsidiaries ability to pay dividends and transfer assets or make inter-issuer loans; Enter into transactions with equity holders or affiliates; Effect a consolidation or merger; or Engage in different business activities. These covenants, including the above restrictions, are subject to a number of important qualifications and exceptions as described in the Notes III indenture
258 Dana yang diperoleh dari penerbitan Obligasi III ini digunakan untuk (i) penebusan, pembelian kembali atau pembayaran kembali Obligasi I sebesar US$ 65 juta (ii) pembayaran untuk pertukaran dan consent holder Senior Notes I sebagai premium dan consent fee; (iii) mendanai pengeluaran modal yang termasuk rencana ekspansi Petrosea, entitas anak, untuk mendukung aktivitas produksi; (iv) investasi di aktivitas eksplorasi batubara dan (v) modal kerja dan untuk tujuan umum korporasi. Obligasi III ini memperoleh peringkat B1 dengan outlook stabil dari Moody s dan B+ dari Fitch. Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 2010 manajemen berpendapat bahwa Perusahaan dan entitas anak telah memenuhi semua persyaratan penting yang diwajibkan oleh para pemegang Obligasi tersebut di atas. Beban bunga atas utang Obligasi I, II dan III untuk untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2012, dan 2011 masing-masing sebesar US$ dan US$ (Catatan 42). Proceeds from guaranteed Notes III issued were used for (i) redemption, repurchase or other repayment of Notes I amounting to US$ 65 million (ii) payment of amount to exchange and consent holders of Senior Notes I as premium and consent fee ; (iii) funding capital expenditures needed, including plan of expansion from Petrosea, subsidiary, to support production activities; (iv) investment in coal exploration activities and (v) working capital and other general corporate purposes. The Notes III have been assigned a rating of B1 with stable outlook by Moody s and B+ by Fitch. As of December 31, 2012, 2011 and 2010 management is of the opinion that the Company and its subsidiaries have complied with all significant covenants required by the bond holders of the above Notes. The interest expense incurred for Notes I, II and III for the years ended December 31, 2012 and 2011 amounted to US$ 45,800,208 and US$ 49,194,989, respectively (Note 42). 32. GOODWILL NEGATIF 32. NEGATIVE GOODWILL Goodwill negatif timbul dari akuisisi entitas anak, PT Kuala Pelabuhan Indonesia pada tahun 2009 oleh TPEC sebagai berikut: Negative goodwill arose from the acquisition of PT Kuala Pelabuhan Indonesia in 2009, a subsidiary of TPEC as follows: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Goodwill negatif Negative goodwill Akumulasi amortisasi - - (44.275) Accumulated amortization Saldo akhir Ending balance Amortisasi selama tahun berjalan Amortization during the year Setelah penerapan PSAK 22 (revisi 2010), Kombinasi Bisnis, goodwill negatif telah disesuaikan terhadap saldo laba awal tahun tanggal 1 Januari Following the adoption of PSAK 22 (revised 2010), Business Combinations, negative goodwill was derecognized by adjusting the beginning retained earnings as of January 1, IMBALAN KERJA 33. EMPLOYMENT BENEFITS 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Imbalan pasca kerja Post-employment benefits Cuti berimbalan jangka panjang Long service leave Jumlah Total
259 Program Pensiun Imbalan Pasti Perusahaan dan entitas anak menyelenggarakan program pensiun imbalan pasti untuk semua karyawan tetap. Program pensiun ini memberikan imbalan pasca kerja berdasarkan penghasilan dasar pensiun dan masa kerja karyawan. Imbalan pasca kerja untuk karyawan sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13/2003 Perusahaan dan entitas anak membukukan imbalan pasca kerja untuk karyawannya sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan No. 13/2003. Jumlah karyawan yang berhak atas imbalan pasca kerja tersebut sebanyak orang pada tahun 2012, orang pada tahun 2011, orang pada tahun Beban imbalan pasca kerja yang diakui dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian adalah: Defined Benefit Pension Plan The Company and its subsidiaries established a defined benefit pension plan covering all of their permanent employees. This plan provides pension benefits based on years of service and salaries of the employees. Post-employment benefits under Labor Law No. 13/2003 The Company and its subsidiaries provide postemployment benefits for qualifying employees in accordance with Labor Law No. 13/2003. The number of employees entitled to the benefits is 3,952 in 2012, 3,170 in 2011 and 3,153 in Amounts recognized as expense in the consolidated statements of comprehensive income in respect of these post-employment benefits are as follows: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Biaya jasa kini Current service cost Biaya bunga Interest cost expense Pengaruh transfer pegawai dari/ke Effect of transfer of employees pihak berelasi - bersih from/to related party - net Biaya jasa lalu (vested) Past service cost (vested) Penyesuaian manfaat pasti Immediate adjustment of defined benefit Dampak dari adanya kurtailmen atau penyelesaian ( ) ( ) ( ) Effect of curtailment/settlement Keuntungan aktuarial yang diakui Immediate recognition actuarial gain Jumlah Total Mutasi atas nilai kini dari liabilitas imbalan kerja adalah sebagai berikut: Movement in the present value of employee benefits obligation are as follow: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Saldo awal nilai kini liabilitas tidak Opening balance of present value of didanai unfunded obligations Biaya jasa kini Current service cost Biaya bunga Interest cost Pengurangan karyawan ( ) Curtailments effect Pembayaran manfaat ( ) ( ) ( ) Benefits paid Kerugian aktuarial Actuarial losses Keuntungan (kerugian) selisih kurs ( ) Gain (loss) in foreign exchange Saldo akhir nilai kini liabilitas tidak Closing balance of present value of didanai unfunded obligations
260 Jumlah liabilitas imbalan pasca kerja yang diakui di laporan posisi keuangan konsolidasian yang timbul dari kewajiban Perusahaan dan entitas anak sehubungan dengan imbalan pasca kerja adalah sebagai berikut: The amounts recognized in the consolidated of statements of financial position arising from the Company and its subsidiaries obligations with respect to these post-employment benefits are as follows: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Nilai kini dari liabilitas tidak didanai Present value of unfunded obligations Biaya jasa lalu (non-vested) ( ) ( ) ( ) Past service cost (non-vested) Kerugian aktuarial yang belum diakui ( ) ( ) ( ) Unrecognized actuarial losses Jumlah Total Perhitungan imbalan pasca kerja dilakukan oleh aktuaris independen. Penilaian aktuaria menggunakan metode projected unit credit dan menggunakan asumsi utama sebagai berikut: The cost of providing post-employment benefits is calculated by independent actuaries. The actuarial valuation was carried out using the projected unit credit method and using the following key assumptions: 1 January/January 1, 2011/ 31 Desember/December 31, Desember/December 31, Desember/December 31, 2010 Tingkat diskonto 5% - 8,5% 5,75% - 8,5% 7,7% - 8% Discount rate Tingkat kenaikan gaji 10% 10% 8% - 10% Salary increment rate Tingkat kematian 100% TMI2/CSO' % TMI2/CSO' % TMI2/CSO' 80 Mortality rate Tingkat ketidak mampuan 5% TMI2/10% CSO' 80 5% TMI2/10% CSO' 80 5% TMI2/10% CSO' 80 Disability rate Tingkat pengunduran diri 7% - 10% per tahun sampai dengan 7% - 10% per tahun sampai dengan 7% - 10% per tahun sampai dengan Resignation rate usia tahun, menurun menjadi usia tahun, menurun menjadi usia tahun, menurun menjadi 0% pada usia tahun/7% - 10% per annum 0% pada usia tahun/7% - 10% per annum 0% pada usia tahun/7% - 10% per annum until age years then decreasing linearly until age years then decreasing linearly until age years then decreasing linearly to 0% at years to 0% at years to 0% at years Usia pensiun normal Normal retirement age Penyesuaian atas pengalaman tahun ini dan empat tahun terakhir adalah sebagai berikut: Historical experience adjustment for the current and the previous four years are as follows: 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ US$ US$ Present value of unfunded Nilai kini liabilitas tidak didanai obligations Nilai atas penyesuaian pengalaman Value of experience adjustment Persentase penyesuaian Percentage of experience pengalaman terhadap adjustment to present nilai kini liabilitas tidak didanai 1,68% 7,25% 1,86% 3,08% 1,02% value of unfunded obligations
261 34. MODAL SAHAM 34. CAPITAL STOCK Nama Pemegang Saham 31 Desember/December 31, 2012 Jumlah Saham/ Number of Shares (Nilai nominal Persentase Rp 100 per saham/ Kepemilikan/ Jumlah Modal Rp 100 par value Percentage of Disetor/Total per share) Ownership Paid-up Capital Name of Stockholders US$ PT Indika Mitra Energi ,47% PT Indika Mitra Energi Ir. Pandri Prabono Moelyo ,44% Ir. Pandri Prabono Moelyo Eddy Junaedy Danu ,57% Eddy Junaedy Danu Ir. Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo ,52% Ir. Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo Agus Lasmono ,20% Agus Lasmono Wiwoho Basuki Tjokronegoro ,10% Wiwoho Basuki Tjokronegoro Indracahya Basuki ,03% Indracahya Basuki Wishnu Wardhana ,02% Wishnu Wardhana M. Arsjad Rasjid P.M ,02% M. Arsjad Rasjid P.M. Azis Armand ,02% Azis Armand Richard Bruce Ness ,01% Richard Bruce Ness PT Indika Mitra Holdiko 10 0,00% 0,11 PT Indika Mitra Holdiko Saham masyarakat (masing-masing dibawah 5%) ,60% Public shares (each below 5%) Jumlah ,00% Total Nama Pemegang Saham 31 Desember/December 31, 2011 Jumlah Saham/ Number of Shares (Nilai nominal Persentase Rp 100 per saham/ Kepemilikan/ Jumlah Modal Rp 100 par value Percentage of Disetor/Total per share) Ownership Paid-up Capital Name of Stockholders US$ PT Indika Mitra Energi ,47% PT Indika Mitra Energi Ir. Pandri Prabono Moelyo ,44% Ir. Pandri Prabono Moelyo Eddy Junaedy Danu ,57% Eddy Junaedy Danu Ir. Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo ,52% Ir. Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo Agus Lasmono ,20% Agus Lasmono Wiwoho Basuki Tjokronegoro ,10% Wiwoho Basuki Tjokronegoro Indracahya Basuki ,03% Indracahya Basuki Wishnu Wardhana ,02% Wishnu Wardhana M. Arsjad Rasjid P.M ,02% M. Arsjad Rasjid P.M. Azis Armand ,02% Azis Armand Richard Bruce Ness ,01% Richard Bruce Ness PT Indika Mitra Holdiko 10 0,00% 0,11 PT Indika Mitra Holdiko Saham masyarakat (masing-masing dibawah 5%) ,60% Public shares (each below 5%) Jumlah ,00% Total
262 Nama Pemegang Saham 31 Desember/December 31, 2010 Jumlah Saham/ Number of Shares (Nilai nominal Persentase Rp 100 per saham/ Kepemilikan/ Jumlah Modal Rp 100 par value Percentage of Disetor/Total per share) Ownership Paid-up Capital Name of Stockholders US$ PT Indika Mitra Energi ,12% PT Indika Mitra Energi Ir. Pandri Prabono Moelyo ,44% Ir. Pandri Prabono Moelyo Eddy Junaedy Danu ,56% Eddy Junaedy Danu Ir. Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo ,52% Ir. Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo Agus Lasmono ,20% Agus Lasmono Wiwoho Basuki Tjokronegoro ,10% Wiwoho Basuki Tjokronegoro Indracahya Basuki ,03% Indracahya Basuki Wishnu Wardhana ,02% Wishnu Wardhana M. Arsjad Rasjid P.M ,02% M. Arsjad Rasjid P.M. Azis Armand ,02% Azis Armand Richard Bruce Ness ,01% Richard Bruce Ness PT Indika Mitra Holdiko 10 0,00% 0,11 PT Indika Mitra Holdiko Saham masyarakat (masing-masing dibawah 5%) ,96% Public shares (each below 5%) Jumlah ,00% Total Peningkatan modal disetor pada tahun 2011 merupakan pelaksanaan opsi saham karyawan dan manajemen (Catatan 45). Increase in capital stock in year 2011 was due to exercise of employee and management stock option (Note 45). 35. TAMBAHAN MODAL DISETOR 35. ADDITIONAL PAID-IN CAPITAL Biaya emisi Opsi saham Agio saham/ saham/ karyawan/ Paid-in capital Share Employee Jumlah/ in excess of par issuance cost stock option Total US$ US$ US$ US$ Penerbitan saham Issuance of 833,142,000 melalui Penawaran Umum Perdana Company's shares through saham Perusahaan pada tahun ( ) Initial Public Offering in 2008 Saldo per 31 Desember ( ) Balance as of December 31, 2010 Tambahan modal disetor pada tahun 2011 melalui pelaksanaan opsi saham Additional paid-in capital in 2011 through exercise karyawan dan manajemen of employee and management stock option Saldo per 31 Desember 2012 dan ( ) Balance as of December 31, 2012 and KEPENTINGAN NON-PENGENDALI DAN AKUMULASI SELISIH KURS PENJABARAN LAPORAN KEUANGAN a. Kepentingan nonpengendali atas aset bersih entitas anak 36. NON-CONTROLLING INTEREST AND CUMULATIVE TRANSLATION ADJUSTMENTS a. Non-controlling interest in net assets of subsidiaries 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk PT Petrosea Tbk PT Petrosea Tbk PT Mitra Energi Agung PT Mitra Energi Agung PT Multi Tambangjaya Utama PT Multi Tambangjaya Utama PT Indika Inti Corpindo PT Indika Inti Corpindo Jumlah Total
263 b. Kepentingan nonpengendali atas laba bersih entitas anak b. Non-controlling interest in income of subsidiaries 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk PT Petrosea Tbk PT Petrosea Tbk PT Mitra Energi Agung ( ) - - PT Mitra Energi Agung PT Multi Tambangjaya Utama ( ) - - PT Multi Tambangjaya Utama PT Indika Inti Corpindo (7.911) PT Indika Inti Corpindo Jumlah Total Perubahan kepentingan non-pengendali Changes in non-controlling interest 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Saldo awal Beginning balance Akuisisi entitas anak dan share refloat Acquisition of subsidiaries and share refloat Laba tahun berjalan Profit for the year Saldo akhir Ending balance Selisih transaksi ekuitas dengan pihak nonpengendali Pada tahun 2012, Perusahaan menawarkan sahamnya di Petrosea kepada masyarakat, yang menyebabkan penurunan kepemilikan Perusahaan di Petrosea dari 98,55% menjadi 69,80%. Perusahaan telah mencatat dan menyajikan nilai selisih transaksi antara nilai tercatat investasi yang dijual dengan penerimaan dana hasil penjualan saham tersebut sebagai komponen ekuitas lainnya (Catatan 1h). c. Akumulasi selisih kurs penjabaran laporan keuangan Selisih kurs yang berkaitan dengan penjabaran dari aset bersih dari entitas anak yang menggunakan mata uang fungsional selain mata uang pelaporan Perusahaan dan entitas anak (mata uang penyajian) yaitu mata uang Dollar Amerika Serikat diakui langsung dalam pendapatan komprehensif lain dan diakumulasikan dalam selisih penjabaran atas laporan keuangan. Selisih kurs yang sebelumnya diakumulasi dalam selisih kurs penjabaran atas laporan keuangan, direklasifikasi ke laba rugi pada saat pelepasan entitas anak yang menggunakan mata uang fungsional selain mata uang pelaporan Perusahaan dan entitas anak. Difference in value of equity transaction with non-controlling interest In 2012, the Company offered to the public its shares in Petrosea, resulting to a decrease in the Company s interest in Petrosea from 98.55% to 69.80%. The Company has carried forward and presented the difference in value between the carrying amount of the investment sold and proceeds from the sale in the other components of equity (Note 1h). c. Cummulative translation adjustments Exchange differences relating to the translation of the net assets of the subsidiaries using different functional currency other than the Company and its subsidiaries reporting currency (presentation currency) i.e. U.S. Dollar are recognized directly in other comprehensive income and accumulated in the foreign currency translation reserve. Exchange differences previously accumulated in the foreign currency translation reserve are reclassified to profit or loss on the disposal of those subsidiaries using different functional currency other than the Company and its subsidiaries reporting currency
264 37. SELISIH NILAI TRANSAKSI RESTRUKTURISASI ENTITAS SEPENGENDALI Pada tahun 2004, Perusahaan mengakuisisi 99,959% saham PT Indika Inti Corpindo (IIC). Transaksi ini merupakan transaksi antara entitas sepengendali, karena IIC mempunyai pemegang saham utama yang sama dengan Perusahaan dengan kepemilikan sebesar 99,959%. Selisih antara nilai perolehan dan nilai aset bersih yang diperoleh sebesar US$ disajikan sebagai Selisih Nilai Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali sebagai bagian dari ekuitas. 37. DIFFERENCE IN VALUE OF RESTRUCTURING TRANSACTION BETWEEN ENTITIES UNDER COMMON CONTROL In 2004, the Company acquired % shares of stock of PT Indika Inti Corpindo (IIC). The acquisition was a transaction with an entity under common control as IIC has the same majority stockholder as the Company with ownership interest of %. The difference between the acquisition cost and the net assets acquired amounting to US$ 10,862,663 was presented as Difference in Value of Restructuring Transaction between Entities Under Common Control under equity. 38. PENDAPATAN 38. REVENUES 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Pendapatan kontrak dan jasa Contracts and service revenues PT Santan Batubara PT Santan Batubara PT Gunung Bayan Pratama Coal PT Gunung Bayan Pratama Coal PT Adimitra Baratama Nusantara PT Adimitra Baratama Nusantara Mobil Cepu Ltd Mobil Cepu Ltd PT Freeport Indonesia PT Freeport Indonesia PT Kideco Jaya Agung PT Kideco Jaya Agung PT Perta-Samtan Gas PT Perta-Samtan Gas PT Adaro Indonesia Tbk PT Adaro Indonesia Tbk PT Kaltim Prima Coal PT Kaltim Prima Coal PT Borneo Indobara PT Borneo Indobara PT Chevron Geothermal Indonesia PT Chevron Geothermal Indonesia PT Berau Coal PT Berau Coal PT Trubaindo Coal Mining PT Trubaindo Coal Mining PT Holcim Indonesia Tbk PT Holcim Indonesia Tbk PT Karbon Mahakam PT Karbon Mahakam PT Singlurus Pratama PT Singlurus Pratama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk PT Cotrans Asia PT Cotrans Asia PT Chevron Pacific Indonesia PT Chevron Pacific Indonesia JOB Pertamina Talisman Jambi Merang JOB Pertamina Talisman Jambi Merang (dahulu JOB Pertamina Hess (formerly JOB Pertamina Hess Jambi Merang) Jambi Merang) Lain-lain (masing-masing Others (each below dibawah US$ 5 juta) US$ 5 million) Jumlah pendapatan kontrak dan jasa Total revenues from contracts and services Penjualan batubara Sales of coal PT Bayan Resources Tbk PT Bayan Resources Tbk PT Baskhara Sinar Santi PT Baskhara Sinar Santi Nahel General Trading Nahel General Trading Adani Global FZE Adani Global FZE PT Kalimantan Prima Persada PT Kalimantan Prima Persada PT Prima Multi Artha PT Prima Multi Artha Lain-lain (masing-masing Others (each below dibawah US$ 2 juta) US$ 2 million) Jumlah penjualan batubara Total revenues from sales of coal Jumlah pendapatan Total revenues
265 Pada tahun 2012 dan 2011, pendapatan jasa dari pihak berelasi masing-masing sebesar US$ dan US$ (Catatan 49). In 2012 and 2011, revenue from services to related parties amounted to US$ 170,084,799 and US$ 92,578,821, respectively (Note 49). Rincian pelanggan dengan transaksi lebih dari 10% dari jumlah pendapatan konsolidasian adalah sebagai berikut: Details of customers with transactions constituting more than 10% of total consolidated revenues are as follows: 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Jasa energi Energy services PT Santan Batubara PT Santan Batubara PT Gunung Bayan Pratama Coal PT Gunung Bayan Pratama Coal PT Adimitra Baratama Nusantara PT Adimitra Baratama Nusantara Mobil Cepu Ltd Mobil Cepu Ltd PT Perta-Samtan Gas PT Perta-Samtan Gas Jumlah Total 39. BEBAN POKOK KONTRAK DAN PENJUALAN 39. COST OF CONTRACTS AND GOODS SOLD 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Beban pokok kontrak dan jasa Cost of contracts and services Biaya operasi alat berat dan peralatan Operational heavy equipment tools cost Gaji, upah dan tunjangan karyawan Salaries, wages and employee benefits Penyusutan (Catatan 21) Depreciation (Note 21) Bahan proyek Materials Konstruksi Construction Bahan bakar Fuel Sub-kontraktor, instalasi, peralatan, Sub-contractors, installations, beban komunikasi dan communications supplies expense beban usaha langsung and other direct costs Sewa, perbaikan dan pemeliharaan Rental, repairs and utilities Perjalanan Travel Sewa Rental Bongkar muat Handling Asuransi Insurance Sertifikat dan dokumen pengiriman Certificates and shipping documents Umum dan administrasi General and administrative Jasa katering Catering services Transportasi Transportation Jasa professional Professional fees Tambat dan pelabuhan Port charges and anchorage Alat-alat pengangkutan Heavy equipment supplies Biaya bank Bank charges Lain-lain (masing-masing dibawah US$ ) Others (each below US$ 500,000) Jumlah beban pokok kontrak dan jasa Total cost of contracts and services Beban pokok penjualan batubara Cost of sales of coal Jumlah beban pokok kontrak Total cost of contracts and dan penjualan goods sold 47,20% dan 57,2% pembelian batubara masingmasing pada tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2012 dan 2011 dilakukan dengan PT Kideco Jaya Agung, perusahaan asosiasi (Catatan 49) % and 57.2% of purchases of coal during the years ended December 31, 2012 and 2011, respectively, were from PT Kideco Jaya Agung, an associate (Note 49)
266 40. BEBAN UMUM DAN ADMINISTRASI 40. GENERAL AND ADMINISTRATIVE EXPENSES 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Gaji, upah dan tunjangan karyawan Salaries, wages and employee benefits Sewa kendaraan, gedung dan peralatan Rental vehicle, building and equipment Sewa alat berat Rental heavy equipment Penyusutan (Catatan 20 dan 21) Depreciation (Notes 20 and 21) Jasa profesional Professional fees Perjalanan dan transportasi Travel and transportation Perbaikan dan pemeliharaan Repair and maintenance Perlengkapan kantor Office supplies Asuransi Insurance Kompensasi berbasis saham (Catatan 45) Share-based compensation (Note 45) Lain-lain (masing-masing dibawah US$ ) Others (each below US$ 500,000) Jumlah Total 41. PENDAPATAN INVESTASI 41. INVESTMENT INCOME 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Penghasilan bunga dari piutang Interest income on loans pihak berelasi (Catatan 49) to related parties (Note 49) Jasa giro dan lain-lain Current accounts and others Deposito berjangka Time deposits Bank dibatasi penggunaannya Restricted cash in banks Jumlah penghasilan bunga Total interest income Keuntungan belum direalisasi Unrealized gain on investment atas investasi pada unit penyertaan in unit of fund Keuntungan (kerugian) direalisasi atas investasi Realized gain (loss) on investment pada unit penyertaan ( ) in unit of fund Jumlah Total 42. BEBAN KEUANGAN 42. FINANCE COST 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Beban bunga atas utang obligasi (Catatan 31) Interest expense on bonds payable (Note 31) Bunga atas utang bank dan pinjaman jangka panjang Interest on bank loans and long-term loans Amortisasi biaya emisi obligasi Amortization of bond issuance cost Bunga atas liabilitas sewa pembiayaan Interest on lease lliabilities Lain-lain Others Jumlah Total
267 43. LAIN-LAIN BERSIH 43. OTHERS - NET 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Kerugian kurs mata uang asing - bersih ( ) ( ) Loss on foreign exchange - net Kerugian penjualan aset tetap (Catatan 21) ( ) ( ) Loss on sale of property and equipment (Note 21) Beban eksplorasi ( ) - Exploration expense Beban depresiasi (Catatan 21) ( ) - Depreciation expense (Note 21) Penerimaan piutang yang sudah dihapus Collection from written-off receivables Bunga atas pengembalian pajak (Catatan 15) Interest from refund of prepaid tax (Note 15) Lain-lain ( ) Others Jumlah ( ) ( ) Total 44. PAJAK PENGHASILAN 44. INCOME TAX Pajak penghasilan Perusahaan dan entitas anak terdiri dari: Income tax of the Company and its subsidiaries consists of the following: 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Pajak final Final tax Pajak non final Non final tax Pajak kini Current tax Pajak tangguhan ( ) Deferred tax Jumlah Total Pajak Kini Rekonsiliasi antara laba sebelum pajak menurut laporan laba rugi konsolidasian dan rugi fiskal adalah sebagai berikut: Current Tax A reconciliation between income before tax per consolidated statements of comprehensive income and fiscal loss is as follows: 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Laba sebelum pajak menurut laporan Income before tax per consolidated laba rugi komprehensif konsolidasian statements of comprehensive income Laba sebelum pajak entitas anak ( ) ( ) Income before tax of the subsidiaries Rugi sebelum pajak - Perusahaan ( ) ( ) Loss before tax - Company Perbedaan temporer: Temporary differences: Imbalan pasca kerja Post-employment benefits Perbedaan penyusutan komersial Difference between commercial dan fiskal ( ) ( ) and fiscal depreciation Kompensasi berbasis saham Share-based compensation Jumlah Total (Dilanjutkan) (Forward)
268 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Perbedaan yang tidak dapat Nondeductible expenses (nontaxable diperhitungkan menurut fiskal: income): Beban gaji dan tunjangan Salary and benefit Perjamuan dan representasi Entertainment and representation Biaya pemasaran dan promosi Marketing and promotion expenses Beban bunga Interest expense Biaya tanggung jawab sosial Perusahaan Corporate social responsibility expenses Penghasilan bunga dikenakan pajak final ( ) ( ) Interest income subjected to final tax Lain-lain Others Jumlah Total Rugi fiskal sebelum kompensasi rugi fiskal Fiscal loss before fiscal losses Perusahaan ( ) ( ) carryforward Rugi fiskal Fiscal losses 2006 ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) Akumulasi rugi fiskal ( ) ( ) Accumulated fiscal losses Perhitungan beban dan utang pajak kini (lebih bayar pajak kini) adalah sebagai berikut: Current tax expense and payable (excess payment of corporate income tax) are computed as follows: 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Beban pajak kini Current tax expense Perusahaan - - Company Entitas anak Subsidiaries Jumlah Total Dikurangi pajak dibayar dimuka Less prepaid taxes Perusahaan Company Entitas anak Subsidiaries Pasal Article 22 Pasal Article 23 Pasal Article 24 Pasal Article 25 Jumlah pajak dibayar dimuka Total prepaid taxes Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan - ( ) Translation adjustments Current (excess payment of corporate Utang (lebih bayar) pajak kini - bersih ( ) income tax) tax payable - net (Dilanjutkan) (Forward)
269 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Lebih bayar pajak badan - Excess payment of corporate income tax Perusahaan (79.632) - Company Entitas anak ( ) (17.644) Subsidiaries Utang pajak kini Current tax payable Perusahaan - - Company Entitas anak Subsidiaries Jumlah utang pajak kini ( ) Current tax payable Beban pajak final - entitas anak: Final tax - subsidiaries Pajak penghasilan final dibayar dimuka - - Prepaid final tax Utang pajak penghasilan Final tax payable Jumlah Total Rugi fiskal Perusahaan tahun 2011 sudah sesuai dengan Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPT) yang disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak. Pajak Tangguhan Rincian aset (liabilitas) pajak tangguhan entitas anak adalah sebagai berikut: Aset Pajak Tangguhan Aset pajak tangguhan merupakan aset pajak tangguhan entitas anak atas imbalan pasca kerja sebesar US$ , US$ , US$ , masingmasing pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember Liabilitas Pajak Tangguhan Akun ini merupakan liabilitas pajak tangguhan entitas anak setelah diperhitungkan dengan aset pajak tangguhan dari masing-masing entitas usaha, dengan rincian sebagai berikut: Fiscal loss of the Company for 2011 is in accordance with the annual corporate tax returns filed with the Tax Service Office. Deferred Tax The details of the subsidiaries deferred tax assets (liabilities) are as follows: Deferred Tax Asset This account represents deferred tax assets of a subsidiary on post-employment benefits amounting to US$ 548,030, US$ 191,884, US$ 152,041, as of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, respectively. Deferred Tax Liabilities This account represents deferred tax liabilities of subsidiaries after deducting the deferred tax asset of the same business entity as follows: 1 Januari/January1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Entitas anak Subsidiaries Imbalan pasca kerja Post-employment benefits Biaya masih harus dibayar Accrued expenses Persediaan Inventories Piutang usaha Trade accounts receivable Aset tidak berwujud ( ) ( ) ( ) Intangible assets Property, plant and equipment and Aset tetap dan properti investasi ( ) ( ) ( ) investment property Investasi pada entitas asosiasi ( ) ( ) ( ) Investment in associates Piutang bunga dari CEP ( ) ( ) ( ) Interest receivable from CEP Lain-lain ( ) Others Liabilitas pajak tangguhan - bersih ( ) ( ) ( ) Deferred tax liabilities - net
270 Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51/2008 tentang Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha jasa konstruksi, pendapatan yang berhubungan dengan jasa konstruksi dikenakan pajak final. Manajemen tidak mengakui aset pajak tangguhan atas akumulasi rugi fiskal, karena terdapat ketidakpastian akan laba kena pajak di masa datang yang dapat dikompensasi dengan rugi fiskal tersebut. Rekonsiliasi antara beban pajak dan hasil perkalian laba akuntansi sebelum pajak dengan tarif pajak yang berlaku adalah sebagai berikut: Based on government regulation No. 51/2008, regarding income tax for income from construction services, income directly attributable to construction services is subject to final income tax. Management did not recognize any deferred tax assets on the Company s unused accumulated fiscal losses due to the significant uncertainties of the availability of taxable income in the future against which tax losses can be utilized. A reconciliation between the tax expense and the amount computed by applying the tax rates to profit before tax per consolidated statements of comprehensive income is as follows: 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Rugi sebelum pajak - Perusahaan ( ) ( ) Loss before tax - Company Pajak sesuai tarif pajak yang berlaku ( ) ( ) Tax at applicable tax rate Pengaruh pajak atas perbedaan yang tidak dapat diperhitungkan Tax effect of nondeductible menurut fiskal: expenses (nontaxable income): Beban gaji dan tunjangan Salary and benefit expense Perjamuan dan representasi Entertainment and representation Biaya pemasaran dan promosi Marketing and promotion expenses Beban bunga Interest expense Biaya tanggung jawab sosial Perusahaan Corporate social responsibility expenses Penghasilan bunga dikenakan pajak final ( ) (29.045) Interest income subjected to final tax Lain-lain Others Jumlah Total Pengaruh pajak atas perbedaan temporer Tax effect of the unrecognized dan rugi fiskal yang tidak temporary differences and diperhitungkan fiscal loss Beban pajak - Perusahaan - - Tax expense - Company Beban pajak - entitas anak Tax expense - Subsidiaries Jumlah beban pajak Total tax expense 45. PROGRAM OPSI SAHAM KARYAWAN DAN MANAJEMEN Pada bulan Pebruari 2008, para pemegang saham menyetujui Program Pemilikan Saham Karyawan dan Manajemen (EMSOP). Program EMSOP ini diberikan dalam 3 tahap. Peserta EMSOP akan ditetapkan oleh direksi Perusahaan selambatlambatnya 14 hari sebelum penerbitan opsi untuk masing-masing tahap. Jumlah opsi sebanyak atau 2% dari seluruh jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum saham (IPO) dan dialokasikan dalam 3 tahap yaitu: tahap I dan II masing-masing sebanyak opsi dan tahap III sebanyak opsi. 45. EMPLOYEE AND MANAGEMENT STOCK OPTION PROGRAM In February 2008, the stockholders approved the Employee and Management Stock Option Program (EMSOP). Issuance and distribution of options related to the EMSOP program will be implemented in 3 stages. Eligible participants in the EMSOP will be announced by board of directors at the latest 14 days prior to the issuance of options during each stage. The total option amounted to 104,142,000 or 2% of the post-ipo issued and paid-up shares allocated to three stages: first and second stages with 31,242,500 each and third stage with 41,657,000 options
271 Opsi ini tidak dapat dialihkan dan diperdagangkan. Setiap opsi yang didistribusikan pada setiap tahap berlaku untuk jangka waktu 5 tahun sejak tanggal penerbitan. Opsi tersebut memiliki masa tunggu satu tahun, dimana selama masa tunggu tersebut, peserta tidak dapat melaksanakan opsinya. Harga pelaksanaan opsi akan ditetapkan berdasarkan Peraturan Pencatatatan Efek No. 1-A, Lampiran Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) No. KEP-305/BEJ/ , tanggal 19 Juli 2004, yang mengatur bahwa harga pelaksanaan adalah minimum 90% dari harga rata-rata 25 hari bursa sebelum pemberitahuan Perusahaan kepada BEI mengenai dibukanya periode pelaksanaan. Periode pelaksanaan maksimum 2 kali dalam setahun. Berdasarkan surat keputusan Direksi No. 234/IE- BOD/VIII/2009 tanggal 11 Agustus 2009 kepada Direksi Bursa Efek Indonesia, direksi Perusahaan menetapkan harga pelaksanaan opsi sebesar Rp Nilai wajar opsi diestimasi pada tanggal pemberian opsi dengan menggunakan model Black Scholes Option Pricing. Asumsi utama yang digunakan dalam perhitungan nilai wajar opsi adalah sebagai berikut: The options are nontransferable and non-tradeable. Each of the option distributed in each stage is valid for 5 years as of the date of its issuance. The options are subject to a one year vesting period, during which the participant is not able to exercise the option. The exercise price for the option will be determined based on the Listing Rule No. 1-A, as attached to the Decree of the Board of Directors of Indonesia Stock Exchange (IDX) No. KEP-305/BEJ/ dated July 19, 2004, which regulates that the exercise price is at least 90% of the average price of the shares during a 25-days period prior to the Company s announcement to IDX at the start of an exercise window. There will be at most, two exercise period per year. Based on Director s decision letter No. 234/IE- BOD/VIII/2009 dated August 11, 2009 to the Director of Indonesia Stock Exchange, the directors of the Company have agreed on the exercise price of Rp 2,138. The fair value of the option is estimated on the grant date using the Black Scholes Option Pricing model. Key assumptions used in calculating the fair value of the options are as follows: 31 Desember/December 31, 2012 dan/and 2011 Tingkat suku bunga bebas risiko 9,67% Risk - free interest rate Periode opsi 5 tahun/years Option period Perkiraan volatilitas harga saham 69,80% Expected stock price volatility Perkiraan dividen 5,30% Expected dividend Mutasi opsi yang beredar adalah sebagai berikut: Movement in outstanding options are as follows: 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, Opsi beredar pada awal tahun Outstanding option at beginning of year Opsi diberikan selama tahun berjalan Options granted during the year Opsi dieksekusi selama tahun berjalan - ( ) - Options excercised during the year Opsi beredar pada akhir tahun Outstanding options at end of year Beban kompensasi program pemberian opsi selama untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2012 dan 2011 masing-masing sebesar nihil dan US$ Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010, komponen ekuitas lainnya masing-masing sebesar US$ , US$ dan US$ Compensation expense for option for the years ended December 31, 2012 and 2011 amounted to nil and US$ 1,186,690, respectively. As of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, other components of equity amounted to US$ 7,816,296, US$ 6,629,606 and US$ 3,660,788, respectively
272 46. LABA PER SAHAM 46. EARNINGS PER SHARE Laba Bersih Berikut ini data yang digunakan untuk perhitungan laba per saham dasar dan bersifat dilusi: Net Income Below is the data used for the computation of basic and diluted earnings per share: 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Laba tahun berjalan Profit for the year Jumlah Saham Jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar untuk perhitungan laba per saham adalah sebagai berikut: Number of Shares The weighted average number of shares outstanding for the computation of earnings per share are as follows: 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Jumlah awal tahun Beginning balance Rata-rata tertimbang saham yang diterbitkan Weighted average number of shares melalui opsi saham karyawan issued through the employee dan manajemen and management stock option Jumlah rata-rata tertimbang saham, Weighted average number of shares - nilai nominal Rp 100 per saham Rp 100 par value per share untuk tujuan perhitungan for the calculation of laba per saham dasar basic earnings per share Number dilutive potential shares Jumlah saham bersifat dilusi dari opsi from employee and management saham karyawan dan manajemen stock option Jumlah rata-rata tertimbang saham, Weighted average number of shares - untuk tujuan perhitungan for the calculation of diluted laba per saham dilusian earnings per share Laba per saham (Nilai penuh) Earnings per share (Full amount) Saham dasar 0,0132 0,0245 Basic Saham dilusian 0,0131 0,0244 Diluted
273 47. INSTRUMEN KEUANGAN, RISIKO KEUANGAN DAN MANAJEMEN RISIKO MODAL a. Manajemen risiko modal Perusahaan dan entitas anak mengelola modalnya untuk memastikan mereka dapat mempertahankan kelangsungan usaha disamping memaksimalkan pengembalian kepada pemegang saham melalui optimalisasi saldo utang dan ekuitas. Struktur modal Perusahaan dan entitas anak terdiri dari utang termasuk pinjaman yang diungkapkan dalam Catatan 25, 29, 30 dan 31 atas laporan keuangan konsolidasian, kas dan setara kas dan modal tersedia bagi para pemegang saham dari induk perusahaan, terdiri dari modal saham, tambahan modal disetor dan laba ditahan sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 34 dan 35 atas laporan keuangan konsolidasian. Gearing ratio pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 adalah sebagai berikut: 47. FINANCIAL INSTRUMENTS, FINANCIAL RISK AND CAPITAL RISK MANAGEMENT a. Capital risk management The Company and its subsidiaries manage their capital to ensure that they will be able to continue as a going concern while maximizing the return to shareholders through the optimization of the debt and equity balance. The capital structure of the Company and its subsidiaries consists of debt, which includes the borrowings disclosed in Notes 25, 29, 30 and 31 to consolidated financial statements, cash and cash equivalents and equity attributable to equity holders of the parent, comprising issued capital, additional paid-in capital and retained earnings as disclosed in Notes 34 and 35 to the consolidated financial statements, respectively. The gearing ratio as of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/ December 31, 2010 are as follows: 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Pinjaman Debt Utang bank Bank loans Pinjaman jangka panjang Long-term loans Liabilitas sewa pembiayaan Lease liabilities Utang obligasi - bersih Bonds payable - net Jumlah pinjaman Total debt Kas dan setara kas Cash and cash equivalents Pinjaman - bersih Net debt Modal Capital Rasio pinjaman bersih terhadap modal 86% 79% 52% Net debt to equity ratio
274 b. Kategori instrumen keuangan b. Categories of financial instruments Liabilitas yang diukur pada Aset pada nilai wajar nilai wajar melalui laba rugi melalui laporan (Liabilitas laba rugi (Aset Liabilitas pada keuangan Pinjaman yang Dimiliki keuangan pada biaya perolehan pada FVTPL) diberikan dan hingga jatuh FVTPL) diamortisasi/ Liabilties at piutang/ tempo/ Assets at fair Liabilities at fair value Loans and Held-to- value through amortized through profit Jumlah/ receivables maturity profit or loss cost or loss Total US$ US$ US$ US$ US$ US$ 31 Desember 2012 December 31, 2012 Aset Keuangan Lancar Current Financial Assets Kas dan setara kas Cash and cash equivalents Aset keuangan lainnya Other financial assets Jaminan atas pinjaman bank Guarantee deposit for bank loans Rekening bank yang dibatasi penggunaannya Restricted cash in banks Deposito berjangka Time deposits Investasi pada unit penyertaan Investments in units of fund Piutang yang belum ditagih Unbilled receivables Selisih lebih estimasi pendapatan Estimated earnings in excess diatas tagihan kemajuan kontrak of billings on contracts Piutang usaha Trade accounts receivable Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga Third parties Piutang lain-lain - jatuh tempo Other accounts receivable - dalam satu tahun current maturities Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga Third parties Aset Keuangan Tidak Lancar Non-current Financial Assets Piutang lain-lain Other accounts receivable Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga Third parties Uang jaminan Refundable deposits Liabilitas Keuangan Jangka Pendek Current Financial Liabilities Utang bank Bank loans Utang usaha Trade accounts payable Pihak berelasi Related parties Pihak ketiga Third parties Utang lain-lain - Other accounts payable - Pihak ketiga Third parties Biaya masih harus dibayar Accrued expenses Utang dividen Dividend payable Liabilitas jangka panjang - jatuh tempo Current maturities of dalam satu tahun long-term debts Pinjaman jangka panjang Long-term loans Liabilitas sewa pembiayaan Lease liabilities Liabilitas Keuangan Jangka Panjang Non-current Financial Liabilities Liabilitas jangka panjang Long-term debts Pinjaman jangka panjang Long-term loans Liabilitas sewa pembiayaan Lease liabilities Utang obligasi - bersih Bonds payable - net Utang jangka panjang - Other long-term liabilities - Pihak ketiga Third parties Jumlah Total c. Tujuan dan kebijakan manajemen risiko keuangan Tujuan dan kebijakan manajemen risiko keuangan Perusahaan dan entitas anak adalah untuk memastikan bahwa sumber daya keuangan yang memadai tersedia untuk operasi dan pengembangan bisnis, serta untuk mengelola risiko mata uang asing, tingkat bunga, kredit dan risiko likuiditas. Perusahaan dan entitas anak beroperasi dengan pedoman yang telah ditentukan oleh Direksi. c. Financial risk management objectives and policies The Company and its subsidiaries overall financial risk management and policies seek to ensure that adequate financial resources are available for operation and development of their business, while managing their exposure to foreign exchange risk, interest rate risk, credit and liquidity risks. The Company and its subsidiaries operate within defined guidelines that are approved by Directors
275 i. Manajemen risiko mata uang asing i. Foreign currency risk management Mata uang fungsional Perusahaan dan entitas anak adalah Dollar Amerika Serikat. Eksposur mata uang asing Perusahaan dan entitas anak sebagian besar berasal dari transaksitransaksi dalam mata uang selain Dollar Amerika Serikat terutama atas beban administrasi dan operasional. Namun, eksposur ini dieliminasi dengan kas dan setara kas, deposito berjangka, rekening yang dibatasi pengunaannya, piutang dan pendapatan dalam mata uang selain Dollar Amerika Serikat (Catatan 52). Oleh karena itu, risiko fluktuasi mata uang asing masih dapat diatur oleh Perusahaan dan entitas anak. The Company and its subsidiaries functional currency is U.S. Dollar. Their foreign exchange exposure arises mainly from transaction denominated in currencies other than the U.S. Dollar which are mainly administration and operating expenses. However, this risk exposure is offset with cash and cash equivalents, time deposits, restricted cash in banks, receivables and revenues denominated in currencies other than the U.S. Dollar (Note 52). Therefore, the impact of foreign currency fluctuation is considered manageable. ii. Manajemen risiko tingkat suku bunga ii. Interest rate risk management Eksposur risiko tingkat bunga berhubungan dengan jumlah aset atau liabilitas dimana pergerakan pada tingkat suku bunga dapat mempengaruhi laba setelah pajak. Risiko pada pendapatan bunga bersifat terbatas karena Perusahaan dan entitas anak hanya bermaksud untuk menjaga saldo kas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional. Dalam beban bunga, keseimbangan optimal antara utang dengan tingkat bunga tetap dan mengambang ditetapkan di muka. Perusahaan dan entitas anak memiliki kebijakan dalam memperoleh pembiayaan yang akan memberikan kombinasi yang sesuai tingkat suku bunga mengambang dan tingkat bunga tetap. Persetujuan dari Direksi dan Komisaris harus diperoleh sebelum Perusahaan dan entitas anak menggunakan instrumen keuangan tersebut untuk mengelola eksposur risiko suku bunga. Analisis sensitivitas telah ditentukan berdasarkan paparan suku bunga untuk instrumen non-derivatif pada akhir periode pelaporan. Untuk liabilitas tingkat bunga mengambang, analisis tersebut disusun dengan asumsi jumlah liabilitas terutang pada akhir periode pelaporan itu terutang sepanjang tahun. Kenaikan atau penurunan 50 basis poin digunakan ketika melaporkan risiko suku bunga secara internal kepada karyawan kunci dan merupakan penilaian manajemen terhadap perubahan yang mungkin terjadi pada suku bunga. Jika suku bunga telah lebih tinggi/rendah 50 basis poin dan semua variabel lainnya tetap konstan, laba Perusahaan dan entitas anak untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2012 akan turun/naik sebesar US$ Hal ini terutama disebabkan oleh eksposur Perusahaan dan entitas anak terhadap suku bunga atas pinjamannya dengan suku bunga variabel. The interest rate risk exposure relates to the amount of assets or liabilities which are subject to a risk that a movement in interest rates will adversely affect the income after tax. The risk on interest income is limited as the Company and its subsidiaries only intend to keep sufficient cash balances to meet operational needs. On interest expenses, the optimum balance between fixed and floating interest debt is considered upfront. The Company and its subsidiaries have a policy of obtaining financing that would provide an appropriate mix of floating and fix interest rate. Approvals from Directors and Commissioners must be obtained before committing the Company and its subsidiaries to any of the instruments to manage the interest rate risk exposure. The sensitivity analysis have been determined based on the exposure to interest rates for non derivative instruments at the end of the reporting period. For floating rate liabilities, the analysis is prepared assuming the amount of the liability outstanding at the end of the reporting period was outstanding for the whole period. A 50 basis point increase or decrease is used when reporting interest rate risk internally to key management personnel and represents management s assessment of the reasonably possible change in interest rates. If interest rates had been 50 basis points higher/lower and all other variables were held constant, the Company and its subsidiaries profit for the year ended December 31, 2012 would decrease/increase by US$ 3,134,822. This is mainly attributable to the Company and its subsidiaries exposure to interest rates on its variable rate borrowings
276 Eksposur risiko tingkat bunga Perusahaan dan entitas anak pada aset keuangan dan liabilitas keuangan dijelaskan dalam tabel risiko likuiditas. The Company and its subsidiaries exposure to interest rates on financial assets and financial liabilities are detailed in the liquidity risk table. iii. Manajemen risiko harga iii. Price risks management Perusahaan dan entitas anak terekspos pada risiko harga saham yang timbul dari investasi ekuitas. Investasi ekuitas lebih ditujukan untuk tujuan strategis dari pada untuk tujuan perdagangan. Perusahaan dan entitas anak tidak aktif memperdagangkan investasi ini. Perusahaan dan entitas anak menghadapi risiko harga komoditas karena batubara adalah suatu komoditas yang diperdagangkan di pasar dunia. Harga batu bara pada umumnya mengikuti indeks harga internasional, yang cenderung mengalami fluktuasi yang signifikan. Sebagai produk komoditas, harga global batu bara pada prinsipnya tergantung pada tingkat permintaan dan penawaran pada pasar ekspor dunia. Perusahaan dan entitas anak belum mengadakan perjanjian untuk melindungi eksposur fluktuasi harga batubara tetapi mungkin melakukannya pada masa yang akan datang. Namun, untuk meminimalisasi risiko, harga batubara dinegosiasi dan disepakati setiap tahunnya dengan pelanggan. The Company and its subsidiaries are exposed to equity price risks arising from equity investments. Equity investments are held for strategic rather than trading purposes. The Company and its subsidiaries do not actively trade these investments. The Company and its subsidiaries face commodity price risk because coal is a commodity product traded in world coal markets. Prices for coal are generally based on international coal indices as benchmarks, which tend to be highly cyclical and subject to significant fluctuations. As a commodity product, global coal prices are principally dependent on the supply and demand dynamics of coal in the world export market. The Company and its subsidiaries have not entered into coal pricing agreements to hedge its exposure to fluctuations in the coal price but may do so in the future. However, in order to minimize the risk, coal prices are negotiated and agreed every year with customer. iv. Manajemen risiko kredit iv. Credit risk management Risiko kredit merujuk pada risiko rekanan gagal dalam memenuhi liabilitas kontraktualnya yang mengakibatkan kerugian bagi Perusahaan dan entitas anak. Risiko kredit Perusahaan dan entitas anak terutama melekat pada rekening bank dan deposito serta investasi jangka pendek lainnya yang ditempatkan pada bank serta institusi keuangan lainnya, pinjaman kepada pihak berelasi dan piutang dagang. Risiko kredit atas kas dan dana yang ditempatkan pada bank serta institusi keuangan tidak signifikan karena Perusahaan dan entitas anak menempatkan dana tersebut pada institusi keuangan yang layak serta terpercaya, sedangkan pinjaman diberikan kepada pihak berelasi, dimana manajemen percaya terhadap reputasi keuangan pihak tersebut. Piutang usaha diberikan kepada pihak ketiga yang layak dan terpercaya. Nilai tercatat aset keuangan pada laporan keuangan konsolidasian dikurangi dengan penyisihan untuk kerugian mencerminkan eksposur Perusahaan dan entitas anak terhadap risiko kredit. Credit risk refers to the risk that a counterparty will default on its contractual obligation resulting in a loss to the Company and its subsidiaries. The Company and its subsidiaries credit risk is primarily attributed to its bank balances and deposits and other short-term investments placed in banks and other financial institutions, loan receivables from a related party and trade accounts receivable. Credit risk on cash and funds held in banks and financial institutions is limited because the Company and its subsidiaries place such funds with credit worthy financial institutions, while loan receivables are entered with related companies, where management believes in the credit worthiness of such parties. Trade accounts receivable are entered with respected and credit worthy third parties and related companies. The carrying amount of financial assets recorded in the consolidated financial statements, net of any allowance for losses represents the Company and its subsidiaries exposure to credit risk
277 v. Manajemen risiko likuiditas v. Liquidity risk management Tanggung jawab utama untuk manajemen risiko likuiditas bertumpu pada Direksi yang telah membangun kerangka manajemen risiko likuiditas yang sesuai untuk manajemen likuiditas dan pendanaan jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Perusahaan dan entitas anak mengelola risiko likuiditas dengan menjaga kecukupan simpanan, fasilitas bank dan cadangan fasilitas pinjaman dengan terus menerus memonitor perkiraan dan arus kas aktual dan menyesuaikan profil jatuh tempo aset dan liabilitas keuangan. Perusahaan dan entitas anak menjaga kecukupan dana untuk membiayai kebutuhan modal kerja, dimana dana tersebut ditempatkan dalam bentuk kas dan deposito serta dividen kas yang diterima setiap tahunnya. Tabel berikut merinci sisa jangka kontrak Perusahaan dan entitas anak untuk liabilitas keuangan non-derivatif dengan periode pembayaran yang disepakati. Tabel telah dibuat berdasarkan arus kas terdiskonto liabilitas keuangan berdasarkan tanggal paling awal dimana Perusahaan dan entitas anak dapat diminta untuk membayar. Tabel mencakup bunga dan arus kas utama. Sepanjang arus bunga adalah suku bunga mengambang, jumlah tak terdiskonto ditentukan dari kurva suku bunga pada akhir periode pelaporan. Jatuh tempo kontrak didasarkan pada tanggal yang paling awal di mana Perusahaan dan entitas anak dapat diminta untuk membayar. Ultimate responsibility for liquidity risk management rests with Directors, which has built an appropriate liquidity risk management framework for the management of the Company and its subsidiaries short, medium and longterm funding and liquidity management requirements. The Company and its subsidiaries manage liquidity risk by maintaining adequate reserves, banking facilities and reserve borrowing facilities by continuously monitoring forecast and actual cash flows and matching the maturity profiles of financial assets and liabilities. The Company and its subsidiaries maintain sufficient funds to finance ongoing working capital requirements, whereas the funds are placed in solid cash and deposit and cash dividend is also received every year. The following tables detail the Company and its subsidiaries remaining contractual maturity for its non-derivative financial liabilities with agreed repayment periods. The tables have been drawn up based on the undiscounted cash flows of financial liabilities based on the earliest date on which the Company and its subsidiaries can be required to pay. The tables include both interest and principal cash flows. To the extent that interest flows are floating rate, the undiscounted amount is derived from interest rate curves at the end of the reporting period. The contractual maturity is based on the earliest date on which the Company and its subsidiaries may be required to pay. Tingkat bunga rata-rata tertimbang efektif/ Weighted average effective interest rate Kurang dari 1 bulan/ Less 1-3 bulan/ 3 bulan sampai 1 tahun/ 3 months to tahun/ Lebih dari 5 tahun/more than 1 month 1-3 months year 1-5 years than 5 years % US$ US$ US$ US$ US$ 31 Desember 2012 December 31, 2012 Tanpa bunga Non-interest bearing Liabilitas sewa Finance lease pembiayaan 4, liabilities Instrumen suku Variable interest rate bunga variabel 4, instruments Instrumen suku Fixed interest rate bunga tetap 8, instruments Jumlah Total Jumlah/ Total
278 Tabel berikut merinci estimasi jatuh tempo instrumen keuangan non-derivatif Perusahaan dan entitas anak. Tabel tersebut telah disusun berdasarkan jatuh tempo kontrak terdiskonto dari aset keuangan termasuk bunga yang akan diperoleh dari aset tersebut. Dimasukkannya informasi non-derivatif aset keuangan diperlukan untuk memahami manajemen risiko likuiditas Perusahaan dan entitas anak sebagaimana likuiditas dikelola berdasarkan aset dan liabilitas bersih. The following table details the Company and its subsidiaries expected maturity for its nonderivative financial assets. The table has been drawn up based on the undiscounted contractual maturities of the financial assets including interest that will be earned on those assets. The inclusion of information on non-derivative financial assets is necessary in order to understand the Company and its subsidiaries liquidity risk management as the liquidity is managed on a net asset and liability basis. Tingkat bunga rata-rata tertimbang efektif/ Weighted average effective interest rate Kurang dari 1 bulan/ Less than 1 month 1-3 bulan/ 1-3 months 3 bulan sampai 1 tahun/ 3 months to 1 year 1-5 tahun/ 1-5 years Jumlah/ Total % US$ US$ US$ US$ US$ 31 Desember 2012 December 31, 2012 Tanpa bunga Non-interest bearing Instrumen suku bunga Variable interest rate variabel 2, instruments Instrumen suku bunga Fixed interest rate tetap 6, instruments Jumlah Total d. Nilai wajar instrumen keuangan d. Fair value of financial instruments Kecuali disebutkan pada tabel berikut ini, manajemen berpendapat bahwa nilai tercatat aset dan liabilitas keuangan yang dicatat dalam laporan keuangan konsolidasian mendekati nilai wajarnya baik karena mempunyai jangka waktu pendek atau yang berlaku menggunakan tingkat suku bunga pasar: Except as detailed in the following table, management considers that the carrying amounts of financial assets and financial liabilities recorded in the consolidated financial statements approximate their fair values because they have either short-term maturities or carry market interest rate: 31 Desember/December 31, Desember/December 31, Desember/December 31, 2010 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai tercatat/ wajar/ tercatat/ wajar/ tercatat/ wajar/ Carrying Fair Carrying Fair Carrying Fair amount value amount value amount value US$ US$ US$ US$ US$ US$ Aset Assets Piutang lain-lain Other accounts receivable Uang jaminan Refundable deposits Jumlah Aset Total Assets Liabilitas Liabilities Liabilitas jangka panjang Long-term debts Pinjaman jangka panjang Long-term loans Liabilitas sewa pembiayaan Lease liabilities Utang obligasi - bersih Bonds payable - net Jumlah Liabilitas Total Liabilities Nilai wajar instrumen keuangan diatas, kecuali untuk rekening bank dibatasi penggunaannya dan utang obligasi, ditentukan melalui analisis arus kas yang didiskonto dengan menggunakan tingkat diskonto yang setara dengan tingkat pengembalian yang berlaku bagi instrumen keuangan yang memiliki syarat dan periode jatuh tempo yang sama. The fair value for the above financial instruments, except for restricted cash in banks and bonds payable, was determined by discounting estimated cash flows using discount rates for financial instruments with similar term and maturity
279 Nilai wajar utang obligasi didasarkan pada harga kuotasi yang tersedia di bursa. Fair value of bonds payable is based on available quoted price from exchange. 48. PENCADANGAN LABA DAN DIVIDEN TUNAI 48. APPROPRIATED RETAINED EARNINGS AND CASH DIVIDENDS 2012 Berdasarkan rapat umum pemegang saham tahunan tanggal 14 Juni 2012, para pemegang saham menyetujui antara lain sebagai berikut: 2012 Based on annual shareholders meeting dated June 14, 2012, the stockholders approved, among other things: Penyisihan laba sebesar Rp 10 miliar sebagai cadangan umum sebagaimana diatur dalam anggaran dasar Perusahaan dan Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas; dan The appropriation of earnings of Rp 10 billion for general reserve to conform with the Company s articles of association and Law No. 40 year 2007 regarding Limited Liability Company; and Pembagian dividen final sebesar Rp ribu atau Rp 60 per saham Berdasarkan rapat umum pemegang saham tahunan tanggal 8 Juni 2011, para pemegang saham menyetujui antara lain sebagai berikut: The distribution of final dividends of Rp 312,611,520 thousand or Rp 60 per share Based on annual shareholders meeting dated June 8, 2011, the stockholders approved, among other things: Penyisihan laba sebesar Rp 10 miliar sebagai cadangan umum sebagaimana diatur dalam anggaran dasar Perusahaan dan Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas; dan The appropriation of earnings of Rp 10 billion for general reserve to conform with the Company s articles of association and Law No. 40 year 2007 regarding Limited Liability Company; and Pembagian dividen final sebesar Rp ribu atau Rp 26 per saham Berdasarkan rapat umum pemegang saham tahunan tanggal 19 Mei 2010, para pemegang saham menyetujui antara lain sebagai berikut: The distribution of final dividends of Rp 135,385,692 thousand or Rp 26 per share Based on annual shareholders meeting dated May 19, 2010, the stockholders approved, among other things: Penyisihan laba sebesar Rp 10 miliar sebagai cadangan umum sebagaimana diatur dalam anggaran dasar Perusahaan dan Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas; dan The appropriation of earnings of Rp 10 billion for general reserve to conform with the Company s articles of association and Law No. 40 year 2007 regarding Limited Liability Company; and Pembagian dividen final sebesar Rp ribu atau Rp 69,68 per saham. Berdasarkan keputusan edaran direksi sebagai pengganti rapat direksi tanggal 21 Oktober 2010, para pemegang saham menyetujui pembayaran dividen interim tahun buku 2010 sebesar Rp 48,00 per saham atau seluruhnya berjumlah Rp The distribution of final dividends of Rp 362,833,653 thousand or Rp per share. Based on circular resolution of directors in lieu of the directors meeting on October 21, 2010, the shareholders approved to distribute interim dividend for year 2010 of Rp per share or Rp 249,942,816,
280 49. SIFAT DAN TRANSAKSI PIHAK BERELASI 49. NATURE OF RELATIONSHIPS AND TRANSACTIONS WITH RELATED PARTIES Sifat Hubungan Pihak Berelasi a. PT Indika Mitra Energi adalah pemegang saham utama Perusahaan. b. Pihak berelasi yang memiliki pemegang saham utama yang sama dengan Perusahaan adalah: PT Power Jawa Barat PT Marmitria Land PT Indo Turbine (IT) c. Pihak berelasi yang merupakan perusahaan asosiasi dari entitas anak: PT Kideco Jaya Agung Twinstar Shipping Ltd. PT Cotrans Asia PT Sea Bridge Shipping PT Intan Resource Indonesia PT Cirebon Electric Power PT Cirebon Power Services d. PT Santan Batubara (SB) dan PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri (TKCM) adalah entitas dimana Petrosea memiliki pengendalian bersama. e. Pihak berelasi yang merupakan ventura bersama dari anggota suatu kelompok usaha: Petrosea - Calibre - Roberts Shaefer Jo f. Manajemen kunci yang meliputi anggota dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan. Kebijakan Perusahaan dan entitas anak mengenai persyaratan dan kondisi transaksi dengan pihakpihak berelasi setara dengan yang berlaku dalam transaksi wajar. Transaksi Pihak Berelasi Dalam kegiatan usaha normalnya, Perusahaan dan entitas anak melakukan transaksi tertentu dengan pihak berelasi meliputi, antara lain, sebagai berikut: a. Jumlah kompensasi komisaris dan direksi Perusahaan untuk tahun-tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 adalah sebesar: Nature of Relationships a. PT Indika Mitra Energi is the ultimate parent Company. b. Related parties which have the same major stockholder as the Company: PT Power Jawa Barat PT Marmitria Land PT Indo Turbine (IT) c. Related parties which are associates of the Company s subsidiaries: PT Kideco Jaya Agung Twinstar Shipping Ltd. PT Cotrans Asia PT Sea Bridge Shipping PT Intan Resource Indonesia PT Cirebon Electric Power PT Cirebon Power Services d. PT Santan Batubara (SB) and PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri (TKCM) are entities wherein Petrosea has joint control. e. Related party which is a joint venture of a member of the group: Petrosea - Calibre - Roberts Shaefer Jo f. Key management personnel, including Commissioners and Directors of the Company. The Company and its subsidiaries policy as regards to terms and conditions of transactions with related parties are made as at conditions as those done with third parties. Transactions with Related Parties In the normal course of business, the Company and its subsidiaries entered into certain transactions with related parties including, among others, the following: a. Total remuneration of commissioners and directors of the Company for the years ended December 31, 2012 and 2011 are as follows: 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Komisaris Commissioners Manfaat jangka pendek karyawan Short-term employee benefit Direksi Directors Manfaat jangka pendek karyawan Short-term employee benefit Pembayaran berbasis saham Shared-based payment Jumlah Total
281 b. Petrosea memberikan jasa pemindahan tanah penutup dan penambangan batubara dan jasa konstruksi kepada PT Kideco Jaya Agung dan PT Santan Batubara. MBSS juga memberikan jasa pengangkutan dan jasa lain kepada PT Kideco Jaya Agung dan PT Cotrans Asia. Pada tanggal pelaporan, saldo piutang yang berasal dari transaksi ini dicatat sebagai piutang usaha kepada pihak berelasi (Catatan 7). Piutang Usaha b. Petrosea provided waste removal and coal production services and construction services to PT Kideco Jaya Agung and PT Santan Batubara. MBSS also provided transportation services and other services to PT Kideco Jaya Agung and PT Cotrans Asia. At reporting date, the outstanding receivables from such transaction were recorded as trade accounts receivable from related parties (Note 7). Trade Accounts Receivable Jumlah/Amount 1 Januari/ January 1, Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ PT Santan Batubara PT Santan Batubara PT Kideco Jaya Agung PT Kideco Jaya Agung PT Cotrans Asia PT Cotrans Asia Petrosea - Calibre - Roberts & Petrosea - Calibre - Roberts & Schaefer JO Schaefer JO Lain-lain (masing-masing Others (each below dibawah US$ ) US$ 100,000) Jumlah Total Persentase terhadap jumlah aset/ Percentage to total assets 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, PT Santan Batubara 1,08% 0,58% 0,35% PT Santan Batubara PT Kideco Jaya Agung 0,27% 0,37% - PT Kideco Jaya Agung PT Cotrans Asia 0,06% - - PT Cotrans Asia Petrosea - Calibre - Roberts & Petrosea - Calibre - Roberts & Schaefer JO 0,01% 0,01% 0,00% Schaefer JO Lain-lain (masing-masing Others (each below dibawah US$ ) 0,00% 0,00% - US$ 100,000) Jumlah 1,42% 0,96% 0,35% Total Pendapatan Ditangguhkan Jumlah/Amount 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Deferred Income PT Santan Batubara PT Santan Batubara
282 Persentase terhadap jumlah liabilitas/ Percentage to total liabilities 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, PT Santan Batubara - - 0,06% PT Santan Batubara Pendapatan Kontrak dan Jasa Jumlah/Amount 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Contracts and Service Revenues PT Santan Batubara PT Santan Batubara PT Kideco Jaya Agung PT Kideco Jaya Agung PT Cotrans Asia PT Cotrans Asia Jumlah Total Persentase terhadap pendapatan/ Percentage to total revenues 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, PT Santan Batubara 14,55% 9,00% PT Santan Batubara PT Kideco Jaya Agung 7,35% 6,00% PT Kideco Jaya Agung PT Cotrans Asia 0,76% - PT Cotrans Asia Jumlah 22,66% 15,00% Total c. Rincian transaksi pembelian dan utang usaha dan saldo dengan pihak-pihak berelasi adalah sebagai berikut: Utang Usaha Jumlah/Amount 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ c. Details of the transactions purchases and trade payable and balances with related parties are as follows: Trade Accounts Payable PT Kideco Jaya Agung PT Kideco Jaya Agung PT Indo Turbine PT Indo Turbine Lain-lain Others Jumlah Total Persentase terhadap jumlah liabilitas/ Percentage to total liabilities 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, PT Kideco Jaya Agung 0,24% 0,92% 2,67% PT Kideco Jaya Agung PT Indo Turbine 0,00% - - PT Indo Turbine Lain-lain 0,01% 0,00% 0,00% Others Jumlah 0,25% 0,92% 2,67% Total IIC membeli batubara untuk kegiatan perdagangannya dari pihak berelasi yaitu PT Kideco Jaya Agung. IIC purchased coal for its trading purposes from related parties, PT Kideco Jaya Agung
283 Beban Pokok Kontrak dan Penjualan Cost of Contracts and Goods Sold Jumlah/Amount 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Beban pokok penjualan Cost of goods sold batubara - PT Kideco coal - PT Kideco Jaya Agung Jaya Agung Beban pokok kontrak - Cost of goods contracts - PT Indo Turbine PT Indo Turbine Jumlah Total Persentase terhadap beban pokok kontrak dan penjualan/ Percentage to total cost of contract and goods sold 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, Beban pokok penjualan Cost of goods sold batubara - PT Kideco coal - PT Kideco Jaya Agung 0,95% 4,85% Jaya Agung Beban pokok kontrak - Cost of goods contracts - PT Indo Turbine 1,00% 0,20% PT Indo Turbine Jumlah 1,95% 5,05% Total d. Perusahaan dan entitas anak juga melakukan transaksi lain dengan pihak berelasi dengan rincian transaksi dan saldo sebagai berikut: Piutang Lain-lain Pihak Berelasi c. The Company and its subsidiaries entered into other transactions. Details of related parties transactions and balances are as follows: Other Accounts Receivable from Related Parties Perusahaan dan entitas anak memberikan pinjaman dana kepada pihak berelasi dan melakukan pembayaran terlebih dahulu biaya pihak berelasi sebagai berikut: Jumlah/Amount 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31 December 31 December US$ US$ US$ The Company and its subsidiaries provided loans to related parties and also made advance payment of expenses for related parties, as follows: PT Cirebon Electric Power PT Cirebon Electric Power PT Sea Bridge Shipping PT Sea Bridge Shipping Pinjaman karyawan Employee loans PT Power Jawa Barat PT Power Jawa Barat PT Tirta Kencana PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri Cahaya Mandiri Jumlah Total Dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun ( ) ( ) ( ) Less current maturities Bagian jangka panjang Non-current maturities Dikurangi cadangan kerugian Less allowance for impairment penurunan nilai ( ) ( ) ( ) losses Piutang lain-lain pihak Other accounts receivable berelasi - bersih from related parties - net
284 Persentase dari jumlah aset/ Percentage to total assets 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31 December 31 December 31, PT Cirebon Electric Power 1,47% 1,62% 2,42% PT Cirebon Electric Power PT Sea Bridge Shipping 0,88% 1,16% 2,24% PT Sea Bridge Shipping Pinjaman karyawan 0,17% 0,21% 0,33% Employee loans PT Power Jawa Barat 0,11% 0,14% 0,22% PT Power Jawa Barat PT Tirta Kencana PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri - 0,01% 0,05% Cahaya Mandiri Jumlah 2,63% 3,14% 5,26% Total Dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun (0,26%) (0,48%) (0,47%) Less current maturities Bagian jangka panjang 2,37% 2,66% 4,79% Non-current maturities Dikurangi cadangan kerugian Less allowance for impairment penurunan nilai (0,11%) (0,14%) (0,22%) losses Piutang lain-lain pihak Other accounts receivable berelasi - bersih 2,26% 2,52% 4,57% from related parties - net PT Cirebon Electric Power (CEP) III dan IPI mengadakan beberapa Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham dengan PT Cirebon Electric Power (CEP) dimana III dan IPI, bersama dengan pemegang saham CEP lainnya setuju untuk dari waktu ke waktu membiayai serta menyediakan, hingga 50% dari kontribusi pro ratanya, untuk pembangunan proyek pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batubara CEP serta biayabiaya terkait lainnya, dalam bentuk satu atau lebih pinjaman pemegang saham. PT Cirebon Electric Power (CEP) III and IPI entered into several Shareholder Loan Agreements with PT Cirebon Electric Power (CEP) wherein III and IPI together with the other shareholders of CEP agreed to finance and provide CEP, from time to time, up to 50% of pro-rata contributions for the development and other related costs of CEP s coal fired power plant project in the form of one or more shareholder loans
285 Rincian perjanjian dan piutang yang masih berlaku pada tanggal pelaporan adalah sebagai berikut: Details of the agreements and receivables outstanding as of reporting dates are as follows: 1 Januari/January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham Shareholder Loan Agreement tanggal 6 Oktober 2008 dated October 6, 2008 IPI IPI III III Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham Shareholder Loan Agreement tanggal 27 Oktober 2008 dated October 27, 2008 IPI IPI III III Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham Shareholder Loan Agreement tanggal 28 Nopember 2008 dated November 28, 2008 IPI IPI III III Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham Shareholder Loan Agreement tanggal 22 Desember 2008 dated December 22, 2008 IPI IPI III III Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham Shareholder Loan Agreement tanggal 6 Pebruari 2009 dated February 6, 2009 IPI IPI III III Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham Shareholder Loan Agreement tanggal 24 April 2009 dated April 24, 2009 IPI IPI III III Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham Shareholder Loan Agreement tanggal 15 Juni 2009 dated June 15, 2009 IPI IPI III III Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham Shareholder Loan Agreement tanggal 16 Juli 2009 dated July 16, 2009 IPI IPI III III Akumulasi piutang bunga Accumulated interest receivable IPI IPI III III Bridge Loan Bridge Loan tanggal 7 Januari 2010 dated January 7, 2010 IPI IPI Bridge Loan Bridge Loan tanggal 24 Pebruari 2010 dated February 24, 2010 IPI IPI III III Akumulasi piutang bunga Bridge Loan Accumulated interest receivable on Brid IPI IPI III III Jumlah Total
286 Pinjaman Pemegang Saham Setiap pinjaman pemegang saham diatas dikenakan bunga 11% per tahun dan akan jatuh tempo setelah 20 tahun terhitung sejak tanggal masing-masing perjanjian pinjaman tersebut. Berdasarkan perjanjian-perjanjian tersebut, CEP berjanji untuk membayar seluruh pokok pinjaman bersama dengan seluruh bunga yang terutang pada saat jatuh tempo. Pada tanggal atau sebelum tanggal jatuh tempo, pemegang saham CEP dapat memutuskan untuk mengkonversi saldo pinjaman pemegang saham menjadi saham CEP. Dalam hal konversi tersebut disepakati oleh seluruh pemegang saham, maka CEP akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mengkonversi saldo pinjaman menjadi saham biasa CEP sehingga setelah konversi tersebut, pemegang saham CEP akan tetap mempertahankan kepemilikan di CEP secara pro-rata sesuai dengan persentase kepemilikan pemegang saham di CEP pada tanggal perjanjian tersebut diatas. Saham yang dikeluarkan kepada pemegang saham CEP sehubungan dengan konversi ini akan menjadi bagian saham yang dimiliki oleh pemegang saham CEP. Bridge Loan Pada tanggal 24 Pebruari 2010, III mengadakan perjanjian Bridge Loan dengan CEP dimana III setuju untuk memberikan bantuan modal kerja kepada CEP sebesar Rp ribu atau setara dengan US$ Pada tanggal 5 April 2010, CEP melunasi seluruh pokok jaminan Bridge Loan dan sebagian dari bunga pinjaman kepada Perusahaan. Jumlah yang dibayar sebesar US$ Sisa bunga yang belum dibayar sebesar US$ dikapitalisasi menjadi pokok pinjaman baru dengan tingkat bunga 22% per tahun. Piutang bunga atas pokok pinjaman baru ini adalah sebesar US$ dan US$ dan US$ masing-masing pada tanggal 31 Desember 2012, 31 Desember 2011 dan Shareholder Loan Each of the above shareholder loans bears interest rate per annum at 11% and has a final maturity date at 20 years since the date of each loan agreements. Based on those agreements, CEP irrevocably promises to repay the entire outstanding principal amount of the loan together with all interest accrued thereon, on the final maturity date. On or prior to the final maturity date, the shareholders of CEP may resolve in accordance with the charter documents of CEP to effect at final maturity date, the conversion of the outstanding balance of the shareholder loans into shares of CEP. In the event that such resolution has been adopted by the shareholders, CEP shall take all necessary corporate actions to convert the outstanding balance of loan into the common shares of CEP so that after such conversion, CEP s shareholder will continue to maintain its pro rata equity ownership interest in CEP equal to the CEP shareholders percentage shareholding in CEP at the date when those agreement were made. Shares issued to the CEP s shareholders in connection with this conversion shall be deemed to be part of the CEP s shareholders shares. Bridge Loan On February 24, 2010, III entered into a Bridge Loan Agreement with CEP wherein III agreed to grant a working capital loan to CEP amounting to Rp 24,212,656 thousand or equivalent to US$ 2,593,750. On April 5, 2010, CEP settled the entire amount of the Bridge Loan principal and a portion of the interest receivables amounting to US$ 2,610,890. Remaining unpaid interest receivable amounting to US$ 26,449 was treated as new loan principal, bearing an interest rate of 22% per annum. Interest receivable on the new loan principal outstanding as of December 31, 2012, December 31, 2011 and 2010 amounted to US$ 16,260, US$ 10,335 and US$ 4,445, respectively
287 Pada tanggal 7 Januari 2010, IPI mengadakan perjanjian Bridge Loan dengan CEP dimana IPI setuju untuk memberikan bantuan pinjaman kepada CEP sebesar US$ , dan dikenakan bunga 22% per tahun yang akan dibayarkan pada tanggal yang tercantum pada dokumen drawdown yang pertama sehubungan dengan dokumen pembiayaan yang terkait dengan pembiayaan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara 1x660 MW antara CEP, para pemegang saham CEP dan setiap lembaga keuangan yang disebutkan didalamnya. Pada tanggal 24 Pebruari 2010, IPI bersama dengan para pemberi pinjaman lainnya mengadakan perjanjian Bridge Loan lainnya dengan CEP dimana IPI setuju untuk memberikan bantuan pinjaman kepada CEP maksimum sebesar US$ Bagian pinjaman IPI dalam perjanjian ini adalah sebesar 63,64% (US$ ). Pinjaman dana ini dikenakan bunga sebesar 11% per tahun dan akan dibayarkan pada tanggal yang tercantum pada dokumen initial drawdown yang pertama dibawah financing dokumen yang terkait dengan pembiayaan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara 1x660 MW yang disetujui oleh CEP, para pemegang saham CEP dan setiap lembaga keuangan yang disebutkan didalamnya. Pada tanggal 29 April 2010, CEP melunasi seluruh pokok Bridge Loan dan sebagian dari bunga pinjaman kepada IPI. Jumlah yang dibayar sebesar US$ Sisa bunga yang belum dibayar US$ dikapitalisasi menjadi pokok pinjaman baru dengan tingkat bunga 22% per tahun. Piutang bunga atas pokok pinjaman baru ini adalah sebesar US$ pada tanggal 31 Desember 2012 dan US$ pada tanggal 31 Desember 2011 dan US$ pada tanggal 31 Desember PT Sea Bridge Shipping Piutang kepada PT Sea Bridge Shipping, entitas asosiasi, merupakan pinjaman modal kerja masing-masing sebesar US$ 21 juta, US$ 23 juta dan US$ 29 juta pada tanggal 31 December 2012, 31 Desember 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 dengan tingkat bunga 9% per tahun dan dibayar setiap tiga bulanan. On January 7, 2010, IPI entered into a Bridge Loan Agreement with CEP wherein IPI agreed to provide CEP with an advance funds amounting to US$ 2,300,000, which is subject to an interest of 22% per annum and to be repaid on the date of the initial drawdown of loans under the financing documents relating to the funding of the 1x660 MW coal fired power plant project of CEP to be entered into by CEP, the CEP shareholders, each of the financial institutions party and the other parties named therein. On February 24, 2010, IPI together with the other Lenders, entered into another Bridge Loan Agreement with CEP wherein IPI agreed to provide CEP with an advance funds up to an amount not exceeding its pro-rata share of the maximum Bridge Loan Commitment amounting to US$ 8,612,500. IPI s pro-rata share in this Bridge Loan Agreement is 63.64% (US$ 5,481,250). The advance fund is subject to an interest of 11% per annum and to be repaid on the date of the initial drawdown of loans under the financing documents relating to the funding of the 1x660 MW coal fired power plant project of CEP to be entered into by CEP, the CEP shareholders, each of the financial institutions party and the other parties named therein. On April 29, 2010, CEP settled all the principal of the bridge loan and a portion of the interest receivables amounting to US$ 7,855,157. Remaining unpaid interest receivable amounting to US$ 119,408 was treated as new loan principal, bearing an interest rate of 22% per annum. Interest receivable on the new loan principal outstanding amounted to US$ 53,270 as of December 31, 2012 and US$ 26,635 as of December 31, 2011 and US$ 20,067 as of December 31, PT Sea Bridge Shipping Receivable from PT Sea Bridge Shipping, an associate, represents working capital loan of US$ 21 million, US$ 23 million and US$ 29 million as of December 31, 2012, December 31, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010, respectively, with interest at 9% per annum and paid quarterly
288 Untuk pinjaman sejumlah US$ , pokok pinjaman akan dibayar dalam 16 kali cicilan tiga bulanan mulai tanggal 10 Maret 2010 dan 10 Juni Berdasarkan amandemen tanggal 10 Maret 2010, pembayaran pokok pinjaman tersebut diubah menjadi tanggal 10 Maret 2011 dan 10 Juni Pada bulan April 2010, TPEC memberikan tambahan pinjaman modal kerja sebesar US$ dengan tingkat bunga yang sama dengan pinjaman sebelumnya. Pokok pinjaman akan dibayar seluruhnya pada 10 Maret Pinjaman yang diberikan kepada SBS proporsional sesuai dengan persentase kepemilikan saham masing-masing pemegang saham SBS. Nilai tercatat atas piutang lain-lain dari SBS pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 1 Januari 2011/31 Desember 2010 berdasarkan jatuh tempo adalah sebagai berikut: For loans totaling US$ 22,080,000, principal loans will be paid in 16 quarterly installments starting on March 10, 2010 and June 10, Based on amendment dated March 10, 2010, principal loan payment was changed into March 10, 2011 and June 10, In April 2010, TPEC granted additional working capital loan of US$ 6,440,000 which bears the same interest rate as the previous loan. The principal will be fully paid on March 10, The loans granted to SBS is proportionate with the percentage of ownership of each stockholder of SBS. The carrying amount of other accounts receivable from SBS as of December 31, 2012, 2011 and January 1, 2011/December 31, 2010 is repayable as follows: 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ Satu tahun One year Dua tahun Two years Tiga tahun Three years Empat tahun Four years Lima tahun Five years Enam tahun Six years Jumlah Total Pinjaman Karyawan Pinjaman karyawan berasal dari pelaksanaan program Employee/ Management Stock Allocation (ESA). Berdasarkan keputusan rapat umum pemegang saham luar biasa Perusahaan yang diaktakan berdasarkan akta notaris No. 115 tanggal 25 Pebruari 2008 dari Sutjipto, SH, notaris di Jakarta, para pemegang saham telah menyetujui program ESA, dimana jumlah saham program ESA maksimum 10% dari jumlah saham baru yang ditawarkan pada Penawaran Umum Perdana atau sebanyakbanyaknya saham, dengan harga sesuai harga penawaran. Employee Loans Employee loans represent receivables arising from the commencement of Employee/ Management Stock Allocation Program (ESA). Based on the extraordinary general meeting of shareholders, the minutes of which were notarized by deed No. 115 dated February 25, 2008 of Sutjipto, SH, notary in Jakarta, the shareholders approved the ESA program plan, wherein number of shares offered in this program were at the maximum of 10% of the new shares offered in the Initial Public Offering, or a maximum of 83,314,200 shares, at the offering price
289 Pinjaman tersebut mempunyai jangka waktu 36 bulan dengan masa tenggang 6 bulan, yang kemudian diperpanjang beberapa kali, terakhir diperpanjang hingga Desember Setelah melewati masa tenggang, pinjaman dikenakan bunga 5% per tahun dan diangsur secara bulanan yang dipotong langsung dari gaji atau dari hasil penjualan saham. Saham program ESA dapat dijual dalam periode 1 bulan setelah tanggal efektif. PT Power Jawa Barat (PJB) PJB merupakan proyek pembangkit listrik tenaga batubara yang berlokasi di Bojonegoro, Banten (dahulu propinsi Jawa Barat) yang dimiliki oleh pihak berelasi dari salah seorang Komisaris Perusahaan dengan bekerjasama dengan pihak ketiga sebelum krisis ekonomi tahun 1998 untuk membangun pembangkit listrik tersebut. Piutang lain-lain dari PJB terutama merupakan piutang yang berasal dari biaya-biaya PJB yang dibayarkan terlebih dahulu oleh Perusahaan. Pada tahun 2009, manajemen memutuskan untuk mencadangkan seluruh piutangnya dari PJB setelah mempertimbangkan kondisi proyek yang tidak memiliki perkembangan kemajuan yang berarti. PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri Petrosea bersama dengan pemegang saham pengendalian bersama entitas lainnya memberikan uang muka kepada TKCM secara proporsional dengan jumlah penyertaan pada entitas asosiasi tersebut. Manajemen berpendapat bahwa cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang pihak berelasi adalah cukup untuk menutup kerugian yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya piutang tersebut. Penghasilan Bunga dari Piutang Pihak Berelasi The loans have term of 36 months, with a grace period of 6 months, which was extended several times, most recently until December After the grace period, the loans start to bear interest rate per annum at 5% and are repaid through monthly installments, deducted from salary or proceeds from sale of shares. Shares in ESA program can be sold in one-month period after the effective date. PT Power Jawa Barat (PJB) PJB is a project for coal-fired power plant located in Bojonegoro, Banten (formerly West Java) owned by related party of one Commissioner of the Company, working together with third parties to build such power plant prior to the economic crisis in Other accounts receivable from PJB mainly represents receivable arising from expenses of PJB paid in advance by the Company. In 2009, management decided to provide full provision on its accounts receivable from PJB after considering the condition of the project which has no significant progress. PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri Petrosea together with the other stockholders of the jointly controlled entity, provided advances to TKCM proportionally base on their respective interest. Management believes that the allowance for impairment losses from related parties is adequate to cover possible losses on uncollectible accounts. Interest Income on Loans to Related Parties Jumlah/Amount 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ PT Cirebon Electric Power PT Cirebon Electric Power PT Sea Bridge Shipping PT Sea Bridge Shipping Jumlah Total
290 Persentase terhadap pendapatan investasi/ Percentage to total investment income 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, PT Cirebon Electric Power 20,10% 24,24% PT Cirebon Electric Power PT Sea Bridge Shipping 20,52% 31,20% PT Sea Bridge Shipping Jumlah 40,62% 55,44% Total Uang Muka Diterima dari Pihak Berelasi PT Intan Resource Indonesia memberikan uang muka kepada CIP sehubungan dengan perjanjian pemasaran batubara (Catatan 51d). Advance Received from a Related Party PT Intan Resource Indonesia granted an advance to CIP in relation with the coal marketing agreement (Note 51d). Jumlah/Amount 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, US$ US$ US$ PT Intan Resource Indonesia PT Intan Resource Indonesia Persentase terhadap jumlah liabilitas/ Percentage to total liabilities 1 Januari/ January 1, 2011/ 31 Desember/ 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, December 31, PT Intan Resource Indonesia 0,14% 0,20% 0,34% PT Intan Resource Indonesia Sewa Gedung Space Rental Jumlah/Amount 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ PT Marmitria Land PT Marmitria Land Persentase terhadap beban usaha/ Percentage to total operating expenses 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, PT Marmitria Land 0,84% 0,34% PT Marmitria Land
291 50. INFORMASI SEGMEN 50. SEGMENT INFORMATION PSAK 5 (Revisi 2009) mensyaratkan agar segmen operasi ditentukan berdasarkan laporan internal tentang komponen Perusahaan yang di-review secara berkala oleh pengambil keputusan utama dalam rangka mengalokasikan sumber daya terhadap segmen tersebut dan menilai kinerja segmen tersebut. Penerapan standar revisi ini pada tahun 2011 tidak berdampak pada penentuan segmen yang dilaporkan oleh Perusahaan dan entitas anak. Untuk tujuan pelaporan manajemen, Perusahaan dan entitas anak dikelompokkan berdasarkan sumber daya energi, jasa energi dan infrastruktur energi. Berikut ini adalah operasional menurut setiap segmen yang dapat dilaporkan: Sumber daya energi Kideco adalah aset utama Perusahaan dalam segmen sumber daya energi dan merupakan produsen batubara ketiga terbesar di Indonesia menurut volume produksi. Pada segmen ini, Perusahaan juga didukung oleh PT Multi Tambangjaya Utama, PT Mitra Energi Agung, PT Santan Batubara dan proyek-proyek eksplorasi ditambang batubara Kalimantan Barat. Jasa energi Bisnis utama Perusahaan pada segmen jasa energi adalah Tripatra dan Petrosea. Melalui Tripatra, Perusahaan memberikan jasa tehnik, pengadaan material dan pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan serta logistik. Melalui Petrosea, Perusahaan memberikan jasa engineering, konstruksi dan kontrak pertambangan dengan kemampuan pit-to-port. Infrastruktur energi Proyek pembangkit listrik berkapasitas 660 megawatt yang terletak di Cirebon, Jawa Barat merupakan investasi Perusahaan dalam segmen infrastruktur energi. MBSS, entitas anak yang baru diakuisisi pada tahun 2011, turut memberikan kontribusi pada segmen ini. PSAK 5 (Revised 2009) requires operating segments to be identified on the basis of internal reports on components of the Company and its subsidiaries that are regularly reviewed by the chief operating decision maker in order to allocate resources to the segments and to assess their performance. The adoption of such revised PSAK in 2011 did not affect the identification of the Company and its subsidiaries reportable segments. For management reporting purposes, the Company and its subsidiaries are principally organized based on energy resources, energy services and energy infrastructure. The following summary describes the operations in each of the reportable segments: Energy resources Kideco is the Company s core asset in the energy resources sector and is the third largest producer of coal in Indonesia based on production volume. In this segment, the Company is also supported by PT Multi Tambangjaya Utama, PT Mitra Energi Agung, PT Santan Batubara and its West Kalimantan green-field project. Energy services The Company s two core businesses in the energy services sector are Tripatra and Petrosea. Through Tripatra, the Company provides engineering, procurement and construction services, operations and maintenance and logistic services. Through Petrosea, the Company provides engineering, construction and contract mining with total pit-to-port capability. Energy infrastructure The 660 megawatt power generation plant in Cirebon, West Java investment in its energy infrastructure business pillar. MBSS, a newly acquired subsidiary in year 2011, also contributed in this segment
292 Sumber Daya 31 Desember/December 31, 2012 Infrastruktur Jasa Energi/ Energi/ Energi/ Energy Energy Energy Eliminasi/ Konsolidasi/ Services Resources Infrastructure Elimination Consolidated Pendapatan Revenues Penjualan kepada pihak eksternal External sales Penjualan antar segmen ( ) - Inter-segment sales Jumlah Pendapatan ( ) Total Revenues Hasil segmen ( ) Segment result Bagian laba entitas asosiasi dan Equity in net profit of associates and pengendalian bersama entitas jointly controlled entities Pendapatan investasi ( ) Investment income Pendapatan dari akuisisi entitas anak Income from acquisition of a subsidiaries Beban umum dan administrasi ( ) ( ) ( ) ( ) General and administrative expenses Beban keuangan ( ) ( ) ( ) ( ) Finance cost Amortisasi aset tidak berwujud ( ) ( ) ( ) - ( ) Amortization of intangible assets Keuntungan atau kerugian lain-lain bersih ( ) ( ) ( ) ( ) Other gain or losses - net Laba sebelum pajak ( ) Income before tax Beban pajak ( ) ( ) ( ) Tax expense Laba tahun berjalan Income for the year US$ Didistibusikan kepada Attributable to : Pemilik Entitas Induk Owners of the Company Kepentingan non-pengendali Non-controlling interest Jumlah laba konsolidasian Total consolidated income Aset segmen ( ) Segment assets Liabilitas segmen ( ) Segment liabilities Liabilitas yang tidak dapat dialokasikan ( ) Unallocated liabilities Jumlah liabilitas yang dikonsolidasikan ( ) Total consolidated liabilities Informasi lainnya Other information Pengeluaran barang modal Capital expenditures Beban penyusutan aset tetap Depreciation expense of property and equipment Amortisasi biaya emisi obligasi Amortization on bond issuance cost Keuntungan belum direalisasi atas investasi Unrealized gain on investment pada unit penyertaan in units of funds
293 Sumber Daya 31 Desember/December 31, 2011 Infrastruktur Jasa Energi/ Energi/ Energi/ Energy Energy Energy Eliminasi/ Konsolidasi/ Services Resources Infrastructure Elimination Consolidated Pendapatan Revenues Penjualan kepada pihak eksternal External sales Penjualan antar segmen ( ) - Inter-segment sales Jumlah Pendapatan ( ) Total Revenues Hasil segmen Segment result Bagian laba entitas asosiasi dan Equity in net profit of associates and pengendalian bersama entitas ( ) jointly-controlled entities Pendapatan investasi ( ) Investment income Beban umum dan administrasi ( ) ( ) ( ) (51.671) ( ) General and administrative expense Beban keuangan ( ) ( ) ( ) ( ) Finance Cost Amortisasi aset tidak berwujud ( ) ( ) ( ) - ( ) Amortization of intangible assets Keuntungan atau kerugian lain-lain bersih ( ) ( ) ( ) Other gain or losses - net Laba sebelum pajak ( ) Income before tax Beban pajak ( ) ( ) ( ) Tax expense Laba tahun berjalan Income for the year US$ Didistibusikan kepada Attributable to : Pemilik Entitas Induk Owners of the Company Kepentingan non-pengendali Non-controlling interest Jumlah laba konsolidasian Total consolidated income Aset segmen ( ) Segment assets Liabilitas segmen ( ) Segment liabilities Liabilitas yang tidak dapat dialokasikan ( ) Unallocated liabilities Jumlah liabilitas yang dikonsolidasikan ( ) Total consolidated liabilities Informasi lainnya Other information Pengeluaran barang modal Capital expenditures Beban penyusutan aset tetap Depreciation expense of property and equipment Amortisasi biaya emisi obligasi Amortization on bond issuance cost Keuntungan belum direalisasi Unrealized gain on investment atas investasi pada unit penyertaan in units of funds Segmen Geografis Perusahaan dan entitas anak domestik terutama beroperasi di Jakarta. Entitas anak di luar Jakarta terutama bergerak di bidang investasi dan pembiayaan. Jumlah aset dan pendapatan usaha entitas anak tersebut tidak material terhadap jumlah aset konsolidasian dan jumlah pendapatan konsolidasian. Dengan demikian, Perusahaan dan anak perusahaan tidak menyajikan informasi segmen geografis. Geographic Segment The Company and its domestic subsidiaries mainly operate in Jakarta. Subsidiaries outside of Jakarta are mainly involved in investment and financing activities. Total assets and revenues from these subsidiaries are not material as compared to the consolidated total assets and consolidated total revenues, respectively. Therefore, the Company and its subsidiaries did not present information on geographical area segments
294 51. IKATAN DAN KONTIJENSI 51. COMMITMENTS AND CONTIGENCIES a. Pemberi pinjaman, berdasarkan Common Agreement dan Facility Agreement antara CEP dan pihak terkait lainnya yang didefinisikan sebagai pihak pemberi pinjaman mengharuskan Perusahaan yang bertindak sebagai sponsor, serta III dan IPI sebagai pemegang saham CEP, menandatangani Equity Support Agreement tanggal 8 Maret 2010 dengan Mizuho Corporate Bank, Ltd., yang bertindak sebagai offshore security and administrative agent, dan menyetujui hal berikut di bawah ini: 1. Sponsor setuju untuk memberikan jaminan pembayaran dan bersedia melakukan pembayaran kepada CEP sebesar 20% dari unfunded base equity sesuai dengan Common Agreement. 2. Sponsor setuju untuk memberikan jaminan pembayaran dan bersedia melakukan pembayaran kepada CEP sebesar 20% dari unfunded contingent equity sesuai dengan Common Agreement. 3. Sponsor setuju untuk menerbitkan letter of credit untuk jaminan pembayaran bilamana terjadi force majeure pada PLN sesuai dengan perjanjian. 4. Sponsor setuju untuk memberikan jaminan pembayaran atas tax support amount, sesuai dengan perjanjian. Perjanjian tersebut mencakup beberapa persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh Perusahaan. b. Berdasarkan perjanjian Share Charge tanggal 12 Maret 2010, Perusahaan setuju untuk memberikan jaminan sebagai berikut: 1. Seluruh kepemilikan saham Perusahaan di Indika Power Investment Pte. Ltd (IPI). 2. Seluruh dividen, bunga dan uang yang dibayar atau terutang lainnya sehubungan dengan seluruh kepemilikan saham Perusahaan di IPI dan seluruh hak, manfaat dan pendapatan lainnya sehubungan dengan atau yang dihasilkan dari seluruh kepemilikan saham Perusahaan di IPI, kepada Mizuho Corporate Bank, Ltd sebagai offshore security agent seluruh hak, milik dan kepentingan Perusahaan atas jaminan tersebut diatas, baik saat ini maupun di masa yang akan datang, dalam rangka pembayaran atau pelunasan pinjaman PT Cirebon Electric Power dari Japan Bank for International Cooperation termasuk seluruh beban dan biaya untuk mengganti kerugian kepada offshore security agent. a. The lenders, pursuant to the Common Agreement and Facility Agreement amongst CEP and certain parties defined as lenders, require the Company as a sponsor and III and IPI as shareholders of CEP to enter into Equity Support Agreement dated March 8, 2010 with Mizuho Corporate Bank, Ltd., as offshore security and administrative agent, and agree on the following: 1. Sponsor agrees to guarantee payment of and, shall cause to contribute to CEP 20% of any unfunded base equity required to be contributed to CEP, as specified in the Common Agreement. 2. Sponsor agrees to guarantee payment of and, shall cause to contribute to CEP 20% of any unfunded contingent equity required to be contributed to CEP, as specified in the Common Agreement. 3. Sponsor agrees to issue stand by letter of credit to secure payment in the event of PLN force majeure in the amount specified in the agreement. 4. Sponsor agrees to guarantee payment of tax support amount, as defined in the agreement. The agreement contains certain covenants that Company is required to fulfill. b. Based on Share Charge Agreement dated March 12, 2010, the Company agreed to use the following as collateral: 1. All of the Company s share in Indika Power Investment Pte. Ltd (IPI). 2. All dividends, interest and other money paid or payable in respect of all of the Company s shares in IPI and all other rights, benefits and proceeds in respect of or derived from all Company s shares in IPI, in favour of Mizuho Corporate Bank, Ltd, as offshore security agent, all its present and future rights, titles and interest in and to the above collateral, and in each case for the payment and discharge of loan of PT Cirebon Electric Power from Japan Bank for International Cooperation including all cost and expenses to indemnify the offshore security agent
295 c. Pada tanggal 19 Maret 2010, Perusahaan memperoleh Standby Letter of Credit (SBLC) fasilitas dari PT ANZ Panin Bank yang telah diperpanjang beberapa kali, terakhir dengan perjanjian tanggal 16 Januari 2013, tetapi berlaku efektif sejak tanggal 31 Oktober Jumlah pokok pinjaman pada setiap saat tidak boleh melebihi US$ dan Rp dan terdiri dari: c. On March 19, 2010, the Company obtained Standby Letter of Credit (SBLC) facility from PT ANZ Panin Bank, which has been extended several times, most recently by agreement dated January 16, 2013 effective from October 31, Maximum aggregate principal of this facility, at any time, amounts to US$ 27,700,000 and Rp 18,000,000,000, comprising of the following: 1. Fasilitas I 1. Facility I Sub-batas dan mata uang : US$ : Sub-limit and currency Jangka waktu : Maksimum 36 : Tenor bulan/maximum 36 months Periode ketersediaan : 31 Oktober 2012 : Availability period hingga 31 Oktober 2013/ October 31, 2012 until October 31, 2013 Biaya penerbitan : 1,35% per tahun/ : Issuance Fee per annum Tujuan Purpose Untuk menjamin komitmen Perusahaan pada proyek Cirebon Power Plant. To secure the Company s equity commitment in Cirebon Power Plant Project. 2. Fasilitas II 2. Facility II Sub-batas dan mata uang : US$ : Sub-limit and currency Jangka waktu : Maksimum 12 : Tenor bulan/maximum 12 Months Periode ketersediaan : 31 Oktober 2012 : Availability period hingga 31 Oktober 2013/ October 31, 2012 until October 31, 2013 Biaya penerbitan : 1,35% per tahun/ : Issuance Fee per annum Tujuan Purpose Untuk menjamin risiko kekurangan pembayaran dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN), yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan CEP untuk melaksanakan pembangunan pembangkit listrik. To cover the risk of insufficient payment from PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN), that may result in CEP unable to commission the power plant
296 3. Fasilitas III 3. Facility III Sub-batas dan mata uang : Rp : Sub-limit and currency Jangka waktu : Maksimum 36 : Tenor bulan/maximum 36 months Periode ketersediaan : 31 Oktober 2012 : Availability period hingga 31 Oktober 2013/ October 31, 2012 until October 31, 2013 Biaya penerbitan : 1,35% per tahun/ : Issuance Fee per annum Tujuan Purpose Untuk menjamin pembayaran oleh CEP kepada PLN dalam keadaan tertunda atas Commercial Operation Date. To ensure the payment by CEP to PLN in the event of delay of the Commercial Operation Date. 4. Fasilitas IV 4. Facility IV Sub-batas dan mata uang : US$ : Sub-limit and currency Jangka waktu : Maksimum 13 : Tenor bulan/maximum 13 months Periode ketersediaan : 14 Januari 2013 : Availability period hingga 31 Oktober 2013/ January 14, 2013 until October 31, 2013 Biaya penerbitan : 1,35% per tahun/ : Issuance Fee per annum Tujuan Purpose Untuk menjamin saham pro rata Perusahaan dari Debt Service Reserve Requirement Fasilitas SBLC IV. Fasilitas tersebut di atas mencakup persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh Perusahaan, termasuk ketentuan mengenai peristiwa yang berakibat kegagalan. Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 31 Desember 2011, jumlah fasilitas yang telah dipakai adalah sebesar US$ dan pada tanggal 1 Januari 2011/31 Desember 2010 sebesar Rp To ensure the Company s pro rata share of the Debt Service Reserve Requirement of SBLC Facility IV. The agreement covering the above facility contain certain covenants, which the Company is required to fulfill, including provision regarding events of default. As of December 31, 2012 and December 31, 2011, US$ 20,500,000 and as of January 1, 2011/December 31, 2010, Rp 18,000,000,000 were utilized from the facility
297 d. Pada tanggal 19 Maret 2009, PT Citra Indah Prima (CIP) menandatangani perjanjian Coal Marketing Rights (CMRA) dengan PT Sindo Resources (SR) dan PT Melawi Rimba Minerals (MRM), dimana SR and MRM setuju untuk memberikan CIP hak ekslusif pemasaran batubara (sebagai agen dan penyalur SR dan MRM) untuk menjual dan menyediakan batubara yang akan dikembangkan dan diproduksi oleh SR dan MRM di areal Izin Usaha Pertambangan (IUP) kepada konsumen di wilayah Republik Indonesia. Sebagai kompensasi atas penunjukan CIP menjadi agen SR dan MRM, CIP akan menerima komisi dari SR dan MRM, yang akan diatur secara terpisah dalam Perjanjian Coal Agency. Perjanjian ini akan berlaku sepanjang IUP eksploitasi atas konsesi batubara milik SR dan MRM masih berlaku efektif. Perjanjian ini dapat diakhiri berdasarkan kesepakatan bersama pihak-pihak yang bersangkutan. Pada tanggal yang sama, CIP menandatangani perjanjian pengalihan CMRA dengan PT Intan Resource Indonesia (IRI), dimana CIP setuju untuk memberikan dan memindahkan semua hak dan kewajibannya berdasarkan CMRA kepada IRI. Berdasarkan perjanjian tersebut, IRI akan membayar sebesar US$ untuk setiap CMRA yang ditandatangani masing-masing antara SR dan MRM dengan CIP sebagai kompensasi atas pengalihan CMRA. Untuk menjamin terlaksananya seluruh ikatan dan kewajiban dalam CMRA, kedua belah pihak setuju untuk menandatangani Perjanjian Penjaminan Saham (Pledge of Shares) tertanggal 25 Maret 2009, dimana CIP setuju untuk menjaminkan seluruh saham SR dan MRM yang pada saat ini dimiliki CIP dan seluruh tambahan dalam SR dan MRM yang mungkin akan dimiliki oleh CIP selama seluruh atau sebagian kewajiban CIP kepada IRI berdasarkan perjanjian pengalihan masih belum terlaksana, termasuk saham yang akan diambil oleh CIP apabila SR dan MRM melakukan peningkatan modal saham, dimana seluruh tambahan saham tersebut dengan sendirinya dijaminkan kepada IRI. CIP akan memberitahukan setiap akuisisi tambahan saham tersebut kepada IRI. Berdasarkan perjanjian ini, CIP memberikan kepada IRI seluruh haknya atas dividen dari saham yang dijaminkan. d. On March 19, 2009, PT Citra Indah Prima (CIP) entered into Coal Marketing Rights Agreement (CMRA) with PT Sindo Resources (SR) and PT Melawi Rimba Minerals (MRM), wherein SR and MRM agreed to grant CIP exclusive coal marketing rights (as both an agent and a distributor of SR and MRM) to sell and supply the coal, which are to be developed and produced by SR and MRM in the Mining Licences (IUP) Areas to end-users in the Republic of Indonesia. As compensation for acting as an agent for SR and MRM, CIP shall receive commission from SR and MRM, which is to be separately agreed in Coal Agency Agreement. This agreement shall be valid so long as the IUP on Exploitation of Coal owned by SR and MRM is still valid and effective. The agreement shall be terminated provided that the mutual prior written consent is made between the parties. On the same date, CIP also entered into Assignment Agreement for CMRA with PT Intan Resource Indonesia (IRI), wherein CIP agrees to assign and transfer all of its rights, obligations and liabilities under the CMRA to IRI. Based on the agreement, IRI shall pay an amount of US$ 864,977 for each CMRA entered with SR and MRM to CIP in return for the assignment. For the faithful fulfillment and performance guarantee under the CMRA, both parties entered into a Pledge of Shares Agreement dated March 25, 2009, wherein CIP agreed to pledge all shares presently held by CIP in SR and MRM and any additional shares in SR and MRM which CIP may acquire for so long as all or any part of the obligations of CIP to IRI under the Assignment Agreement remains outstanding, including any shares taken up by CIP pursuant to an increase of the authorized capital of SR and MRM, and all such additional shares shall automatically be pledged to IRI. CIP shall give written notice to IRI of any such acquisition of additional shares. Based on the agreement, CIP grants to IRI the right to receive and order SR and MRM to pay all dividends payable on the pledged shares
298 Perjanjian ini berlaku sampai dengan seluruh liabilitas CIP kepada IRI berdasarkan perjanjian pengalihan CMRA terpenuhi atau pada saat perjanjian pengalihan CMRA tersebut diakhiri. Sebagai hasil dari perjanjian pengalihan CMRA antara CIP dan IRI sebagaimana dijelaskan di atas, maka pada tanggal 19 Maret 2009, IRI menandatangani CMRA masing-masing dengan SR dan MRM, dengan ketentuan dan persyaratan yang sama antara CIP, SR dan MRM. e. Pada tanggal 11 Juli dan 20 Oktober 2008, PT Indika Inti Corpindo (IIC) memperoleh fasilitas pinjaman jangka pendek dari DBS Bank Ltd., masing-masing sebesar US$ dan US$ Fasilitas ini dijamin dengan deposito IIC di DBS Bank Ltd., dan akan jatuh tempo dalam enam tahun setelah tanggal penarikan pertama. Pada tanggal 31 Desember 2012, IIC belum menggunakan fasilitas ini. f. TPEC mempunyai komitmen untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi dan jasa konsultasi konstruksi diantaranya sebagai berikut: This agreement shall remain in full force and effect until all CIP s obligation under the Assignment Agreement owing to IRI is performed in full and the Assignment Agreement is terminated. As the result of the Assignment Agreement for CMRA entered between CIP and IRI as discussed above, on March 19, 2009, IRI entered into Coal Marketing Rights Agreement with SR and MRM with the same content and terms with the one entered amongst CIP, SR and MRM. e. On July 11 and October 20, 2008, PT Indika Inti Corpindo (IIC) obtained short-term loan facilities from DBS Bank Ltd., amounting to US$ 50,000,000 and US$ 9,090,969, respectively. These facilities were secured by IIC s deposits in DBS Bank Ltd., and will mature six years after the first drawdown date. As of December 31, 2012, IIC has not utilized the facility. f. TPEC has construction work and construction consultant services commitments with several customers as follows: Tenggang waktu/ Period expected Nilai kontrak/ Mulai/ Selesai/ No. Nama proyek/ Project Contract value Pemberi kerja/ Owner Start of project End of project 1. General Procurement and Construction US$ PT Chevron Geothermal Salak Ltd. 30 September 2009/ 31 Desember 2013/ PT Chevron Geothermal September 30, 2009 December 31, 2013 Indonesia Ltd. 2. EPCC contract of South Sumatra US$ PT Perta-Samtan Gas (d/h/formerly 7 Mei 2010/ 11 Maret 2013/ NGL Project PT E1-Pertagas) May 7, 2010 March 11, EPC 1: Production Processing US$ Mobil Cepu Ltd 5 Agustus 2011/ 5 Agustus 2014/ August 5, 2011 August 5, Engineering, Procurement and Construction US$ JOB Pertamina-Medco E&P Tomori 17 September 2012/ 14 Desember 2014/ Sulawesi September 17, 2012 December 14, Front End Engineering Design (FEED) US$ Eni Muara Bakau B.V. 22 Oktober 2012/ 22 Maret 2013/ Services October 22, 2012 March 22, 2013 g. TPEC memperoleh fasilitas kredit dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, sebagai berikut: g. TPEC obtained the following credit facilities from PT Bank Mandiri (Persero) Tbk: Kredit Modal Kerja Working capital loan Fasilitas maksimum : US$ 35 juta/million : Maximum facility Tingkat bunga per tahun : 6% : Interest rate per annum Structuring fee : US$ : Structuring fee Facility fee : 0,25% per tahun/ per annum : Facility fee
299 Fasilitas non cash loan Non cash loan facility Fasilitas maksimum : US$ 95 juta/million : Maximum facility Tingkat bunga per tahun : 6% : Interest rate per annum Jenis : Bank guarantee, : Type Letter of credit, Supply chain financing and trust receipt Structuring fee : US$ : Structuring fee Biaya penerbitan bank garansi : 0,5% - 1,25% : Provision for bank guarantee Biaya penerbitan Letter of Credit : 0,125% flat : Provision for Letter of Credit Fasilitas tersebut di atas jatuh tempo pada tanggal 5 Nopember 2013 dan dijamin dengan piutang usaha dari tagihan proyek sebesar Rp 197,22 miliar dan US$ 50 juta, tanah dan bangunan HGB No dan 1576, dan deposito berjangka sebesar US$ 2,15 juta yang ditempatkan di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Tanpa persetujuan tertulis dari bank, TPEC dibatasi antara lain: untuk mengalihkan aset yang telah diagunkan, memperoleh pinjaman baru dari lembaga keuangan lain kecuali dalam rangka usaha normal, bertindak sebagai penjamin pihak lain, mengalihkan hak atau kewajiban atas pinjaman ini kepada pihak lain. TPEC juga disyaratkan untuk memenuhi rasio keuangan yang disebutkan dalam perjanjian. h. TPEC memperoleh fasilitas kredit dari The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) sebagai berikut: 1. Fasilitas limit gabungan sebesar US$ 20 juta untuk sub-limit dalam fasilitas berikut: The above credit facilities are due on November 5, 2013 and secured by trade accounts receivable project claim in the amount of Rp billion and US$ 50 million, land and buildings with HGB No and 1576, and time deposit placed in the same bank amounting to US$ 2.15 million. TPEC is restricted to, among other things: transfer assets used as collateral, obtain new credit facilities from other financial institution except in the normal course of business, act as guarantor to other parties, and transfer its rights and obligations in this loan agreement to another party without written consent from the bank. TPEC is also required to maintain financial ratios as stipulated in the agreement. h. TPEC obtained the following credit facilities from The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) : 1. Combined limit amounting to US$ 20 million with sub limits under this facility are: a. Fasilitas kredit berdokumen a. Documentary Credit Facility Fasilitas maksimum : US$ 2 juta/million : Maximum facility Komisi : 0,25% per kwartal, : Commission dengan jumlah minimum US$ 50/ quarter, with minimum amount of US$ 50 b. Fasilitas bank garansi b. Gurantee facility i. Jaminan pelaksanaan i. Performance bonds Fasilitas maksimum : US$ 20 juta/million : Maximum facility Komisi : 0,25% per kwartal/ quarter : Commission ii. Jaminan tender ii. Tender bonds Fasilitas maksimum US$ 20 juta/million : Maximum facility : Komisi : 0,25% per kwartal/ quarter : Commission
300 2. Fasilitas treasury dengan batas risiko sebesar US$ 15 juta Fasilitas kredit tersebut dapat ditinjau kembali setiap saat dan dalam kondisi apapun paling lambat tanggal 31 Desember Fasilitas ini dijaminkan dengan piutang usaha sebesar US$ 15,5 juta. TPEC diharuskan tetap menjaga current ratio minimum 1,0 kali dan menjaga gearing ratio maksimum 1,0 kali. TPEC juga diharuskan untuk menjaga saldo kas sebesar US$ 5 juta setiap akhir tahun. i. TPEC memperoleh fasilitas kredit dari Standard Chartered Bank (SCB) sebagai berikut: 2. Treasury facility with expose risk limit amounting to US$ 15 million The above credit facilities were subject to be reviewed at any time and in any event by December 31, These facilities are secured with fiduciary transfer of ownership over accounts receivable in the amount of US$ 15.5 million. TPEC shall maintain its current ratio at a minimum of 1.0 time and gearing ratio at a maximum of 1.0 time. TPEC shall also maintain a minimum cash balance of US$ 5 million at the end of the fiscal year. i. TPEC obtained the following credit facilities from Standard Chartered Bank (SCB): 1) Fasilitas Bond dan Jaminan 1) Bond and Guarantee Facility: Fasilitas maksimum : US$ 40 juta/million : Maximum facility Biaya penerbitan : 0,45% per kwartal/ : Issuance fee quarter Fasilitas Bond dan Jaminan terdiri dari: Bond and Guarantee Facility is consist of: a) Fasilitas kredit surat impor a) Import Letter of Credit Facility Fasilitas maksimum : US$ 40 juta/million : Maximum facility Biaya penerbitan : 0,375% per kwartal/ : Issuance fee quarter b) Fasilitas Pinjaman impor b) Import Loans Facility Fasilitas maksimum : US$ 10 juta/million : Maximum facility Biaya penerbitan : 3% per tahun/year : Issuance fee c) Fasilitas Bill Dis Against Buyer Risk c) Bill Dis Against Buyer Risk Facility Fasilitas maksimum : US$ 20 juta/million : Maximum facility Biaya penerbitan : 3% per tahun/year : Issuance fee d) Fasilitas Import Invoice Financing d) Import Invoice Financing Facility Fasilitas maksimum : US$ 10 juta/million : Maximum facility Biaya penerbitan : 3% per tahun/year : Issuance fee e) Fasilitas Export Invoice Financing e) Export Invoice Financing Facility Fasilitas maksimum : US$ 10 juta/million : Maximum facility Biaya penerbitan : 3% per tahun/year : Issuance fee f) Fasilitas Shipping Guarantees f) Shipping Guarantees Facility Fasilitas maksimum : US$ 20 juta/million : Maximum facility Biaya : US$ 25 per item : Fee
301 Fasilitas kredit surat impor, fasilitas pinjaman impor, fasilitas bills dis against buyer risk, import invoice financing facility, export invoice financing facility, dan shipping guarantees facility diperlakukan sebagai sub fasilitas dari fasilitas bond dan jaminan, oleh karena itu, jumlah pinjaman gabungannya tidak melebihi US$ 40 juta. Fasilitas ini dijaminkan dengan setoran tunai sebesar 10% dari fasilitas yang digunakan. 2) Fasilitas Foreign Exchange Merupakan fasilitas berupa produk valuta asing untuk keperluan hedging (lindung nilai). Fasilitas kredit tersebut jatuh tempo pada tanggal 28 Pebruari 2013 dan masih dalam proses perpanjangan. TPEC diharuskan tetap menjaga current ratio minimum 1,0 kali, dan menjaga debt to equity ratio maksimum 1,0 kali. Fasilitas perbankan di atas belum digunakan. j. TPEC menandatangani beberapa perjanjian jaminan dengan beberapa lembaga keuangan berkaitan dengan jaminan pelaksanaan, retention dan bid bond atau bank garansi yang diterbitkan oleh lembaga keuangan tersebut untuk proyekproyek TPEC sebagai berikut: The import letter of credit facilities, import loan facility, bills dis against buyer risk facility, import invoice financing facility, export invoice financing facility and shipping guarantees facility are treated as a sub-limit of the bond and guarantee facility, therefore, the combined outstanding shall not exceed US$ 40 million. These facilities are secured by cash margin deposit of 10% of facility used. 2) Foreign Exchange Facility Represent foreign exchange product for hedging purposes. The above credit facilities were due on February 28, 2013 and is in the extension process. TPEC shall maintain its current ratio at a minimum of 1.0 time and debt to equity ratio at a maximum of 1.0 time. The above banking facilities have not been utilized. j. TPEC entered into several guarantee agreements with several financial institutions in relation to the performance, retention and bid bonds or bank guarantees issued by those financial institutions for its projects, as follows: Tanggal/ Pihak terkait/ Proyek/ Jumlah/ Masa berlaku/ Date Counter parties Project Amount Valid date 30 September 2009/ PT Asuransi Jasaraharja Putera BUT Chevron Geothermal US$ Januari 2013/ September 30, 2009 Salak, Ltd January 31, Juli 2010/ The Hongkong and Shanghai PT Perta-Samtan Gas US$ April 2013/ July 1, 2010 Banking Corporation Limited (d/h/ formerly PT E1-Pertagas) April 3, Agustus 2011/ PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Mobil Cepu Ltd US$ Nopember 2015/ August 5, 2011 November 5, September 2012/ PT Bank Mandiri (Persero) Tbk JOB Pertamina-Medco E&P US$ Pebruari 2016/ September 26, 2012 Tomori Sulawesi February 17, Desember 2012/ PT Bank Mandiri (Persero) Tbk JOB Pertamina-Medco E&P US$ Oktober 2014/ December 12, 2012 Tomori Sulawesi October 12,
302 k. Pada tanggal 26 September 2006, PT Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI), mengadakan perjanjian untuk jasa kepada Freeport untuk jangka waktu lima tahun. Berdasarkan perjanjian ini, KPI akan mengoperasikan dan menggunakan fasilitas yang disebutkan dalam perjanjian sehubungan dengan dilakukannya jasa kepada Freeport dan hanya untuk kepentingan Freeport semata. Sebagai imbalannya KPI akan mendapatkan: k. On September 26, 2006, PT Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI), entered into a service agreement with Freeport for a five-years period. Under this agreement, KPI shall operate and utilize the facilities described in the agreement solely in connection with the performance of the service and shall perform the service exclusively for the benefit of Freeport. As compensation, KPI will receive the following: Kompensasi atas pengeluaran yang ada meliputi seluruh biaya tunai, pengeluaran, beban, termasuk cukai dan biaya apapun juga, baik modal umum ataupun luar biasa, di luar biaya luar biasa seperti yang tertera di perjanjian, yang terjadi sehubungan dengan kegiatan yang dilakukan oleh KPI sesuai dengan perjanjian. KPI's compensable expenses consisting of all cash costs, expenses, charges, fees and other amounts whatsoever, whether capital, ordinary or extraordinary in nature, excluding extraordinary expenses as defined in the agreement, incurred by KPI in carrying out its activities under and in connection with the agreement. Biaya jasa pelabuhan dan operasi sebesar 7,5% dari biaya tenaga kerja langsung atas karyawan KPI, baik yang dibayarkan langsung ke karyawan maupun melalui biaya gaji. Port and operating services fee shall be equal to 7.5% of direct labor cost of the KPI's employees that are paid either directly to employees or as payroll related costs. KPI dan Freeport menyetujui satu tahun perpanjangan perjanjian sampai dengan 1 Januari l. TPE mempunyai komitmen untuk melaksanakan pekerjaan jasa konsultasi konstruksi sebagai berikut: KPI and Freeport agreed to sign on extension of one year service agreement until January 1, l. TPE has consultant services commitment for construction work as follows: Nilai kontrak/ Mulai/ Selesai/ No. Nama proyek/ Project Contract value Pemberi kerja/ Owner Start of project End of project 1 Provision of Technical Support US$ Premier Oil Natuna Sea B.V. 27 Desember 2010/ 26 Desember 2013/ Services Contract December 27, 2010 December 26, Cilacap RFCC Project Rp PT Foster Wheeler C&P Indonesia 25 Maret 2012/ 31 Juli 2015/ March 25, 2012 July 31, Offshore and Subsea Engineering US$ BUT Conoco Phillips Indonesia 16 Juli 2012/ 15 Juli 2015/ Inc. Ltd. July 16, 2012 July 15, Front End Engineering Design for Rp PT Chevron Pacific Indonesia 3 Desember 2012/ 3 Desember 2017/ Asset Integrity Program December 3, 2012 December 3,
303 TPE menandatangani beberapa perjanjian jaminan dengan beberapa lembaga keuangan berkaitan dengan jaminan pelaksanaan, retensi dan bid bond atau bank garansi yang diterbitkan oleh lembaga keuangan tersebut untuk proyekproyek TPE sebagai berikut: TPE entered into several guarantee agreements with several financial institutions in relation to the performance, retention and bid bonds or bank guarantees, issued by those financial institutions for TPE s projects, as follows: Tanggal/ Pihak terkait/ Proyek/ Jumlah/ Masa berlaku/ Date Counter parties Project Amount Valid date US$ 27 Desember 2010/ PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Premier Oil Natuna Sea B.V Maret 2014/ December 27, 2010 March 26, Juli 2012/ PT Bank Mandiri (Persero) Tbk BUT Conoco Phillips Indonesia Inc. Ltd Oktober 2015/ July 16, 2012 October 15, Desember 2012/ PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Chevron Pacific Indonesia Maret 2018/ Desember 3, 2012 March 2, 2018 m. Pada tanggal 1 Januari 2005, Petrosea mengadakan Subkontrak Pengupasan Tanah dengan PT Gunung Bayan Pratama Coal (GBP) di lokasi tambang di daerah Muara Pahu, Kalimantan Timur. Berdasarkan subkontrak ini, Petrosea menyediakan tenaga kerja, peralatan dan fasilitas untuk pembukaan lahan, penggalian lapisan atas tanah dan material buangan, dan pengangkutan material buangan. Petrosea juga diharuskan untuk memenuhi tingkat produksi minimum tertentu untuk aktivitas tersebut. Pada tanggal 29 Oktober 2008, Petrosea mengadakan kontrak baru untuk pekerjaan penggalian tanah serupa dengan GBP senilai US$ 315 juta. Perjanjian ini berlaku untuk lima tahun yang dimulai tanggal 1 Januari 2009, setelah pekerjaan berdasarkan perjanjian terdahulu selesai. Pada tanggal 26 Maret 2012, perjanjian tersebut telah direvisi, yang mencakup antara lain, memperpanjang kontrak jasa pertambangan sampai dengan 31 Desember 2017 dan untuk meningkatkan volume produksi overburden sampai dengan 55 juta BCM per tahun, mulai dari 2012 sampai dengan n. Pada tanggal 31 Desember 2012, Petrosea telah menerbitkan Purchase Order untuk membeli alat berat dan peralatan baru sebesar US$ 539 ribu. Manajemen berkeyakinan dapat mendanai pembelian ini sehubungan telah ditandatanganinya Memorandum of Agreement dengan Indika Capital. m. On January 1, 2005, Petrosea entered into an Overburden Subcontract agreement with PT Gunung Bayan Pratama Coal (GBP) at its mine sites in Muara Pahu districts, East Kalimantan. Under this subcontract, Petrosea provides labour, equipment and facilities for land clearing, overburden and top soil removal, and overburden hauling. Petrosea is also required to meet certain minimum production requirements for these activities. On October 29, 2008, Petrosea entered into a new agreement for a new scope of similar overburden work with GBP for US$ 315 million. This agreement will be effective for five years starting January 1, 2009, upon completion of the previous agreement. On March 26, 2012, the agreement was amended, which include among others, to extend the mining service contract untill December 31, 2017 and to increase the overburden production volume to 55 million BCM per year starting from 2012 untill n. As of December 31, 2012, Petrosea has issued Purchase Order to acquire new equipment totaling US$ 539 thousand. Management believes that Petrosea will be able to finance this acquisition inline with the signing of the Memorandum of Agreement with Indika Capital
304 o. Pada tanggal 31 Desember 2012, Petrosea mempunyai fasilitas kredit untuk sewa pembiayaan sebagai berikut: o. As of December 31, 2012, Petrosea has credit facilities for finance leases as follows: 31 Desember/ December 31, 2012 US$ PT Mitra Pinasthika Mustika Finance (MPMF) PT Mitra Pinasthika Mustika Finance (MPMF) (sebelumnya PT Austindo Nusantara (formerly PT Austindo Nusantara Jaya Finance) Jaya Finance) PT Mistubishi UFJ Lease and Finance PT Mistubishi UFJ Lease and Finance Indonesia Indonesia PT Orix Indonesia Finance PT Orix Indonesia Finance Jumlah Total Sewa pembiayaan atas fasilitas kredit ini dijelaskan pada Catatan 30. p. Pada tanggal 31 Desember 2012, Petrosea mempunyai komitmen sewa operasi yang tidak dapat dibatalkan atas tanah dan bangunan sebagai berikut: 31 Desember/ December 31, 2012 US$ Jatuh tempo: Due: Kurang dari 1 tahun Less than 1 year Dalam 1-2 tahun Within 1-2 years Dalam 2-5 tahun Within 2-5 years Jumlah Total The lease liabilities under the credit facilities are disclosed in Note 30. p. As of December 31, 2012, Petrosea has commitments under non-cancellable operating leases for land and buildings as follows: q. Pada tanggal 31 Desember 2012, Petrosea mempunyai beberapa fasilitas bank garansi dalam rangka operasinya sebesar US$ ribu. Pada tanggal 31 Desember 2012, bank garansi tersebut dikeluarkan untuk Marathon International Pet. Indonesia, Total E&P Indonesie, Immersive Technology Pty Ltd., Exxon Mobil Exploration dan Production Surumana Limited, Anadarko Indonesia Nunukan Company, Eni Muara Bakau B.V., Salamander Energy Pte Ltd., Niko Resources Ltd., Krisenergy Kutaei B.V., dan Direktorat Jenderal Bea & Cukai. r. Pada tanggal 16 Januari 2009, Petrosea mengadakan perjanjian Pemindahan Tanah Tertutup dan Pertambangan Batubara di Blok Santan - Separi Kalimantan Timur senilai US$ 250 juta dengan PT Santan Batubara (SB), sebuah proyek kerjasama 50/50 antara Petrosea dan PT Harum Energy. Lingkup perjanjian mencakup pemindahan tanah penutup dan penambangan batubara di Blok Santan - Separi Kalimantan Timur. Perjanjian ini berlaku untuk lima tahun sejak tanggal 6 Maret q. As of Desember 31, 2012, Petrosea had various outstanding bank guarantee facilities for its operations amounting to US$ 5,177 thousand. As of December 31, 2012, the bank guarantees were outstanding to Marathon International Pet. Indonesia, Total E&P Indonesie, Immersive Technology Pty Ltd., Exxon Mobil Exploration and Production Surumana Limited, Anadarko Indonesia Nunukan Company, Eni Muara Bakau B.V., Salamander Energy Pte Ltd., Niko Resources Ltd., Krisenergy Kutaei B.V., and Directorate General of Customs & Excise. r. On January 16, 2009, Petrosea entered into Overburden Removal and Coal Recovery and Loading of Santan - Separi Mine Site East Kalimantan agreement amounting to US$ 250 million with PT Santan Batubara (SB), a 50/50 joint venture between Petrosea and PT Harum Energy. The scope encompasses overburden removal and coal mining at Santan - Separi block in East Kalimantan. This agreement is effective for five years starting on March 6,
305 Pada tanggal 16 Februari 2011, kontrak direvisi melalui Adendum No. 1 yang meningkatkan jumlah yang harus ditambang dari 99 juta BCM pengupasan tanah dan 9,5 juta ton batubara selama periode kontrak awal 5 tahun menjadi 155 juta BCM pengupasan tanah dan 14,8 juta ton batubara dalam masa 7 tahun. Pada tanggal 2 Maret 2012, perjanjian tersebut telah direvisi yang mencakup antara lain, Perluasan dan Perpanjangan Kontrak Jasa Pertambangan di area pertambangan Separi dan Uskap dimana Petrosea juga akan menyediakan jasa pertambangan untuk pit Uskap. Volume produksi pengupasan tanah untuk 2012 pada pit Uskap sebesar 8,75 juta BCM meningkat menjadi 18,6 juta BCM per tahun pada tahun 2013 sampai 2015, dan meningkat menjadi 20,85 juta BCM pada tahun s. Pada tanggal 19 Agustus 2009, Petrosea dan PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN) menandatangani Perjanjian Pemindahan Tanah Tertutup dan Pengangkutan Batubara senilai US$ 200 juta di lokasi ABN di Sanga Sanga, Kalimantan Timur. Perjanjian ini efektif mulai tanggal 19 Agustus 2009 untuk jangka waktu lima tahun. Sehubungan dengan jasa yang diberikan oleh Petrosea atas perjanjian ini, ABN menyediakan fasilitas bank garansi dengan jumlah maksimum US$ ribu pada tahun kedua kontrak. Pada tanggal 25 Agustus 2011, perjanjian tersebut telah direvisi, yang mencakup, antara lain, peningkatan jumlah produksi batubara dan pengupasan tanah dari 14 juta ton batubara dan 126 juta BCM pengupasan tanah selama lima tahun menjadi 41,25 juta ton batubara dan 565,8 juta BCM selama sembilan tahun, serta tanggal berakhirnya kontrak dari tanggal 18 Agustus 2014 menjadi tanggal 31 Desember Pada tanggal 5 April 2012, Petrosea dan ABN menandatangani Perjanjian Penyewaan Alat Berat dan Personal di site ABN, Sanga-Sanga, Kalimantan Timur. Perjanjian ini dimulai pada tanggal 1 Januari t. Pada tanggal 22 Oktober 2010, Petrosea dan PT Kideco Jaya Agung, pihak berelasi, menandatangani Perjanjian Permindahan Tanah Penutup dan Produksi Batubara senilai US$ 216 juta di SM Popor, Area Suara, Kalimantan Timur. Perjanjian ini efektif mulai 1 Januari 2011 untuk jangka waktu lima tahun. On February 16, 2011, the contract was amended under Addendum No. 1 which increased the total quantities to be mined from 99 million BCM of overburden and 9.5 million tons of coal over the initial contract period of 5 years to 155 million BCM of overburden and 14.8 million tons of coal over 7 years period. On March 2, 2012, the agreement was amended, which include among others, the Contract Expansion and Extension of Mining Services at Separi and Uskap mining area, in which Petrosea will also provide mining service for Uskap pit. Overburden production volume for 2012 on Uskap pit is 8.75 million BCM and will be increased to 18.6 million BCM per year in 2013 until 2015 and increase to million BCM in s. On August 19, 2009, Petrosea and PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN) entered into Overburden Removal and Coal Loading Agreement amounting to US$ 200 million at Sanga - Sanga Mine Site, East Kalimantan. This agreement is effective for five years starting on August 19, In relation to the services provided by Petrosea on this agreement, ABN provides bank guarantee facility for a maximum amount of US$ 22,500 thousand in the second year of the contract. On August 25, 2011, the agreement was amended, which include among others, the increase in the coal and overburden production volume from 14 million tons coal and 126 million BCM overburden for five years period to million tons coal and million BCM for nine years period, and the expiration date of the contract from August 18, 2014 to December 31, On April 5, 2012, Petrosea and ABN entered into Plant Hire Agreement for Hire of Mobile Plant and Personnel at ABN Site, Sanga-Sanga, East Kalimantan. Commenced date for this agreement on January 1, t. On October 22, 2010, Petrosea and PT Kideco Jaya Agung, a related party, entered into a Waste Removal & Coal Production Agreement amounting to US$ 216 million at SM Popor, Suara Area, East Kalimantan. This agreement is effective for five years commencing on January 1,
306 u. Pada tanggal 25 Juni 2001, Petrosea menandatangani perjanjian sewa menyewa tanah milik Pertamina di Tanjung Batu, Balikpapan, dengan Pertamina UP V Balikpapan. Berdasarkan perjanjian ini, Petrosea menyewa asset yang berupa tanah seluas 89 HA, bangunan Dermaga dan gudang yang terletak di Tanjung Batu, Balikpapan. Perjanjian ini berlaku 15 tahun terhitung tanggal 1 Pebruari 2001 sampai dengan 1 Pebruari Perjanjian ini telah mengalami beberapa kali perubahan. Perubahan terakhir pada tanggal 10 Desember 2010 menetapkan harga sewa yang baru untuk periode 2 Pebruari 2010 sampai dengan 1 Pebruari v. Pada tanggal 1 April 2011, MSC, entitas anak MBSS, menandatangani perjanjian dengan Royal Shipping Pte Ltd (RSH). Berdasarkan perjanjian tersebut, RSH setuju untuk menyediakan jasa manajemen dan jasa teknik manajemen kepada MSC untuk mendukung aktivitas MSC sebagai pemilik jasa pengangkutan (Floating Crane Princesse Chloe ). Sebagai kompensasi, MSC akan membayar jasa manajemen dan jasa teknik kepada RSH sebesar US$ dan US$ per tahun. Pembayaran dilakukan secara bulanan mulai tanggal 1 April 2011 sampai salah satu pihak memberitahukan pengakhiran perjanjian tertulis. w. Berdasarkan perjanjian tanggal 14 April 2009, antara PT Mitra Swire CTM (MSC), Swire CTM Bulk Logistics Limited (SCBL) dan MBSS, yang telah diubah pada tanggal 18 Mei 2009, SCBL dan MBSS memberikan uang muka masingmasing sebesar US$ dan US$ yang dapat dikonversi menjadi masing-masing lembar dan lembar saham MSC, apabila MSC memenuhi ketentuan yang berlaku mengenai kepemilikan. Berdasarkan perjanjian, SCBL dan MBSS berhak menerima pembagian ekuitas secara prorate sesuai dengan participating interest masing-masing pihak, namun pembagian tersebut tergantung pada deklarasi MSC. u. On June 25, 2001, Petrosea entered into a lease agreement of Pertamina s land in Tanjung Batu, Balikpapan, with Pertamina UP V Balikpapan. Based on this agreement, Petrosea rented assets such as 89 HA land area, Jetty and warehouse located at Tanjung Batu, Balikpapan. This agreement is valid for 15 years from February 1, 2001 until February 1, This agreement has been amended several times. The latest amendment is on December 10, 2010, which stipulates the rental fee for the period from February 2, 2010 until February 1, v. On April 1, 2011, MSC, a subsidiary of MBSS, entered into an agreement with Royal Shipping Pte Ltd (RSH). Based on the agreement, RSH agreed to provide management services and management technical assistance to MSC to support MSC activities as owner of shipping services (Floating Crane Princesse Chloe ). As compensation, MSC shall pay management fee and management technical fee to RSH amounting to US$ 170,000 and US$ 70,000 per annum. The payment will be provided on monthly basis since April 1, 2011 up to either party give termination notice in writing. w. Based on agreement dated April 14, 2009, between PT Mitra Swire CTM (MSC), Swire CTM Bulk Logistics Limited (SCBL) and MBSS, which was amended on May 18, 2009, SCBL and MBSS provided advances amounting to US$ 43,000 and US$ 5,000, respectively, which could be converted to 428,571 shares and 50,000 shares of MSC, respectively, if MSC complied with applicable regulations regarding to ownership. Based on agreement, SCBL and MBSS eligible to receive the division of equity in prorate bears according to participating interest of each parties, however the distribution depends on the declaration of MSC
307 Pada tanggal 1 Mei 2009, MSC mendapat pinjaman tanpa bunga dari MBSS dan SCBL masing-masing senilai US$ dan US$ Pinjaman tersebut wajib dilunasi berdasarkan permintaan pembayaran dari MBSS dan SCBL. Pinjaman dari Perusahaan senilai US$ telah dilunasi pada tanggal 8 April Berdasarkan perjanjian antara MBSS, MSC dan SCBL tertanggal 2 September 2010 yang telah diubah pada tanggal 5 Nopember 2010, MBSS menyetujui pinjaman tanpa bunga senilai US$ yang diperoleh MSC pada tanggal 1 Mei 2009 ditransfer menjadi bagian dari uang muka pemesanan saham SCBL ke MSC. Berdasarkan perjanjian tanggal 2 September 2010, antara MSC, entitas anak, SCBL dan MBSS, yang telah diubah pada tanggal 5 Nopember 2010, MBSS dan SCBL akan memberikan pinjaman masing-masing sebesar US$ dan US$ dan uang muka pemesanan saham masing-masing sebesar US$ dan US$ yang dapat dikonversi menjadi saham yang jumlahnya belum ditentukan saat ini, apabila MSC memenuhi ketentuan yang berlaku mengenai kepemilikan di Indonesia. Pinjaman tersebut akan dilunasi oleh MSC pada saat mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan yang diestimasi oleh manajemen pembayarannya pada bulan Juni 2011 dan dikenakan bunga tetap senilai 4,5% per tahun. Per tanggal 31 Desember 2010, MBSS dan SCBL telah memberikan pinjaman masing-masing sebesar US$ dan US$ , dan uang muka pemesanan saham masing-masing sebesar US$ dan US$ On May 1, 2009, MSC obtained non-interest bearing loan from MBSS and SCBL amounted to US$ 700,000 and US$ 300,000, respectively. The loan is repayable on demand by MBSS and SCBL. The loan from MBSS amounting to US$ 700,000 was paid on April 8, Under the agreement between MBSS, MSC and SCBL dated September 2, 2010 as amended on November 5, 2010, MBSS approved an interestfree loans amounting to US$ 300,000 obtained by MSC on May 1, 2009 transferred as part of advance for future stock subscription for SCBL's shares to MSC. Based on agreement dated September 2, 2010, between MSC, a subsidiary, SCBL and MBSS, as amended on November 5, 2010, MBSS and SCBL will provide loans amounting to US$ 11,072,523 and US$ 4,745,367, respectively, and advance for future stocks subscriptions amounting to US$ 4,745,367 and US$ 2,033,729, respectively, which can be converted into shares of the amount has not been determined at this time, in the event that MSC fulfill requirement regarding ownership in Indonesia. The loan will be repaid by the MSC at the time of getting loans from financial institution which were estimated by the management is paid in June 2011 and bears interest at the fixed rate of 4.5% per annum. As of December 31, 2010, MBSS and SCBL have provided loans amounting to US$ 1,737,046 and US$ 4,284,302, respectively, and advance for future stock subscriptions amounting to US$ 4,745,367 and US$ 2,033,729, respectively. Pada tahun 2011 saldo pinjaman MSC terhadap MBSS dan SCBL telah dilunasi, sedangkan saldo uang muka pemesanan saham per 31 Desember 2012 masing-masing setara dengan US$ dan US$ Pada tanggal 22 Mei 2012, MBSS, SCBL, PT Patin Resources (Patin), dan MSC menandatangani Perjanjian Pemegang Saham, yang menyetujui perubahan struktur pemegang saham MSC. Struktur pemegang saham MSC akan diubah dengan menerbitkan saham baru, sehingga komposisi pemegang saham MSC menjadi total 70% oleh MBSS dan Patin, dan 30% oleh SCBL. Perubahan ini efektif pada saat dipenuhi kondisi dan persyaratan sebagai berikut: In 2011 the balance of MSC loan to MBSS and SCBL had been paid, with the balance for future stock subscriptions as of December 31, 2012 is equivalent to US$ 2,888,340 and US$ 1,237,860 to each party. On May 22, 2012, MBSS, SCBL, PT Patin Resources (Patin), and MSC had entered into Shareholders agreement, which agreed to restructure on MSC s shareholders composition. MSC shareholders composition will be changed with issuance of new shares, which the composition will be total 70% by MBSS and Patin, and 30% by SCBL. The changes will be effective when all the following terms and conditions applied as follows: Persetujuan perubahan anggaran dasar MSC; Approval on changes in MSC s articles of association; Perubahan status MSC menjadi perusahaan penanaman modal asing; Change in MSC s status to become a foreign investment company;
308 Penerbitan saham-saham baru sebagai hasil dari penkonversian uang muka pemesanan saham dari MBSS dan SCBL; Issuance of new shares as conversion of deposit for future stock from MBSS and SCBL; Pelunasan pinjaman dari MBSS dan SCBL; Repayment of loan from MBSS and SCBL; Telah didapatkanya grosse akta kapal FC Chloe yang berbendera Indonesia atas nama MSC; dan Gross deed of FC Chloe with Indonesian flag has been obtained under MSC s name; and Perubahan SIUPAL yang menunjukkan perubahan status MSC menjadi perusahaan penanaman modal asing dan perubahan komposisi pemegang saham. Changes in SIUPAL indicating changes in status of MSC to foreign investment company and change in shareholders composition. Pada tanggal laporan keuangan ini diterbitkan, pemenuhan kondisi dan persyaratan untuk konversi utang SCBL menjadi saham di atas masih dalam proses. x. MBSS mempunyai komitmen untuk melaksanakan jasa pengangkutan dan pemindahmuatan batu bara. Untuk jasa pengangkutan barging dapat dikelompokkan terutama menjadi freight charter, time charter dan fixed and variable. As of the issuance of the financial statements, application on terms and conditions for the conversion of SCBL loan into shares are still in process. x. MBSS has commitments of coal transhipment service. For barging services shall be classified primarily as freight charter, time charter and fixed and variable. Periode Proyek/Project Period Mulai Proyek/ Selesai Proyek/ No Nama proyek/name of Project Pemberi Kerja/Owner Start of project End of Project Keterangan/Remarks BARGING A. Freight Charter 1 Coal Barging Agreement PT Adaro Indonesia 1 Oktober/ 31 Oktober/ Terdapat jaminan atas laytime maksimal October 1, 2010 October 31, jam per trip untuk pengangkutan ke Taboneo/ Laytime guaranteed maximum up to 90 hours per trip for shipments to Taboneo 2 Charter for Coal transportation PT Holcim Indonesia Tbk 1 April/ 31 Maret/ Volume minimum / Minimum volume : April 1, 2010 March 31, MT per tahun/year 3 Coal Transhipment Bunati in Satui/Addendum No. 1 PT Borneo Indobara 1 Januari/ 31 Desember/ Volume minimum / Minimum volume : Coal Transhipment Agreement January 1, 2012 December 31, MT per tahun/year 4 Coal Transhipment in Abidin Jetty at Satui PT Borneo Indobara 1 Januari/ 31 Desember/ Volume minimum / Minimum volume : January 1, 2012 December 31, MT per tahun/year 5 Coal Transportation to Load and Transported from PT Bahari Cakrawala Sebuku & 1 Januari/ 30 Juni/ Volume minimum / Minimum volume : Tanjung Kepala, Pulau Sebuku or from JMB PT Jembayan Muara January 1, 2011 June 30, MT per tahun/year 6 Coal Transportation PT Indocement Tunggal 1 Januari/ Pebruari/ Volume minimum / Minimum volume : Perkasa Tbk January 1, 2010 February 2013 *) MT selama masa kontrak / 570,000 MT over the contract period 7 Coal Affreightment and Transhipment Contract PT Singlurus Pratama 1 Juli/ 31 Maret/ Volume minimum / Minimum volume : July 1, 2009 March 31, MT selama masa kontrak / 1,440,000 MT over the contract period 8 Contract for The Affreightment and Transhipment of PT Bahari Cakrawala Sebuku 1 Desember/ Sisa umur tambang/ Berlaku sampai umur tambang berakhir/ Sebuku Coal December 1, 2002 remaining life of Valid until the remaining life of coal mine coal mine 9 Coal Transportation Contract PT Cotrans Asia 1 Maret/ 28 Pebruari/ Berdasarkan notifikasi dari pelanggan (Pihak berelasi, Catatan 49/ March 1, 2012 February 28, 2014 terdapat trip/bulan/set di tahun (Related party, Note 49) Based on customer's notification, there are trip/month/set in the year *) Dalam proses perpanjangan/in the process of extention
309 Periode Proyek/Project Period Mulai Proyek/ Start Selesai Proyek/ No Nama proyek/name of Project Pemberi Kerja/Owner of project End of Project Keterangan/Remarks B. Time Charter 1 Vessel Operation Service for Cement Transport PT Holcim Indonesia Tbk 9 Mei/ 9 Mei/ Time charter May 9, 2011 May 9, Uniform Time Charter Party for Offshore PT Trubaindo Coal Mining 10 Juli/ 10 Juli/ Time charter Service Vessels July 10, 2011 July 10, Uniform Time Charter Party for Offshore PT Trubaindo Coal Mining 1 Nopember/ 1 Nopember/ Time charter Service Vessels November 1, 2011 November 1, Coal Barging Work from Sambarata Port, Lati Port, 1 July/ 30 Juni/ Time charter and Suaran Port to Transhipment Point (1) PT Berau Coal July 1, 2012 June 30, Coal Barging Work from Sambarata Port, Lati Port, 1 April/ 30 Juni/ Time charter and Suaran Port to Transhipment Point (2) PT Berau Coal April 1, 2009 June 30, 2013 C. Fixed and Variable 1 Operation of Bengalon Handling Project PT Kaltim Prima Coal (sebagai April/ Maret/ Volume minimum / Minimum volume pemberi kerja langsung/ April 2006 March MT per bulan/month as direct customer) PT Inacia Perkasa Abadi (sebagai penunjuk/as appointer) 2 Provision for Barging Transhipment Operation to PT Fajar Bumi Sakti Agustus/ Maret/ Terkait kontrak "Operation on Bengalon Handling Transhipment Coal at The Tanjung Bara Achorage August 2010 March 2014 Project", volume disesuaikan dengan kebutuhan/ related to "Operation on Bengalon Handling Project", volume as per requirement D. Others 1 Agreement for the Provision of Services for Barging PT Kaltim Prima Coal 1 Juni/ Desember/ Jasa pendukung / Transhipment at Tanjung Bara June 1, 2008 December 2012 *) Support services FLOATING CRANE 1 Coal Transhipment for Provision of Transhipment PT Kideco Jaya Agung 28 September/ 28 September/ Volume minimum / Minimum volume : Services at Adang Bay (Pihak berelasi, Catatan 21 September 28, 2010 September 28, MT pada tahun pertama dan 49)/(Related party, MT pada tahun kedua Notes 21 and 49) MT per tahun pada tahun ketiga sampai kelima/ 2,500,000 MT on the first year 3,000,000 MT on the second year 3,500,000 MT per year on the third to fifth year 2 Coal Freight Agreement in Taboneo Anchorage PT Adaro Indonesia 1 Juli/ 30 Juni/ Volume minimum / Minimum volume : Offshore Banjarmasin July 1, 2008 June 30, MT selama masa kontrak / 24,000,000 MT over the contract period / 3 Contract for Loading Coal onto Gearless Vessels PT Jembayan Muarabara 1 Januari/ 30 Juni/ Volume minimum / Minimum volume : PT Bahari Cakrawala Sebuku January 1, 2011 June 30, MT per tahun/year 4 Coal Transhipment Agreement for the Provision PT Kideco Jaya Agung 1 Januari/ 31 Desember/ Volume minimum/minimum volume : of Transhipment Service at Adang Bay (Pihak berelasi, Catatan 21 January 1, 2013 December 31, MT per tahun/year dan 49)/(Related party, Notes 21 and 49) *) Dalam proses perpanjangan/in the process of extention
310 y. MSC, entitas anak melalui MBSS, mempunyai komitmen untuk melaksanakan jasa pengangkutan batu bara sebagai berikut: y. MSC, a subsidiary through MBSS, has transhipment service commitment as follows: Periode proyek/project period Mulai proyek/ Selesai proyek/ No Nama proyek/project Pemberi kerja/owner Start of project End of project 1 Charter on the vessel "Princesse Chloe" PT Berau Coal 23 April 2011/ 22 April 2016/ April 23, 2011 April 22, 2016 z. MASS, entitas anak melalui MBSS, mempunyai komitmen untuk melaksanakan jasa pengangkutan batu bara sebagai berikut: z. MASS, a subsidiary through MBSS, has transhipment service commitment as follows: Periode proyek/project period Mulai proyek/ Selesai proyek/ Nama proyek/name of Project Pemberi kerja/owner Start of project End of project Keterangan/Remarks Volume minimum/minimum volume: Coal Transhipment at Muara Pantai PT Berau Coal 1 Juni/ 1 Juni/ MT pada tahun pertama/ Anchorage June 1, 2012 June 1, , MT on the first year aa. MBSS dan MSC mempunyai komitmen untuk melaksanakan jasa pengangkutan batu bara sebagai berikut: aa. MBSS and MSC has commitment of coal transhipment service as follows: Periode proyek/project period Mulai proyek/ Selesai proyek/ Nama proyek/name of Project Pemberi kerja/owner Start of project End of project Keterangan/Remarks Term transhipment agreement PT Indo Tambangraya Megah Tbk 20 Agustus/ 19 Pebruari/ Volume minimum/minimum volume: PT Indominco Mandiri August 20, 2011 February 19, 2013 *) MT per tahun/ PT Trubaindo Coal Mining 3,500,000 MT per year PT Kitadin PT Jorong Barutama Greston PT Bharinto Ekatama Banpu Minerals (Singapore) Pte Ltd *) Tidak diperpanjang/not extended bb. Pada tanggal 21 Juni 2012, MASS memperoleh fasilitas revolving loan dari PT Bank Permata Tbk yang bertujuan untuk membiayai modal kerja dengan pagu fasilitas maksimum sampai sejumlah US$ Fasilitas ini dikenakan bunga 6% per tahun. Per 31 Desember 2012 MASS tidak memiliki saldo atas fasilitas ini. bb. On June 21, 2012, MASS obtained a revolving loan facility from PT Bank Permata Tbk. to finance working capital with a maximum credit limit of US$ 1,000,000. This facility bear annual interest at 6%. As of December 31, 2012, MASS has no outstanding balance for this facility
311 cc. International Coal Trading Limited (ICTL), sebuah perusahaan penjualan batubara yang menangani hampir seluruh penjualan batubara MTU dan agen penjualan MTU, menandatangani perjanjian pasokan batubara tanggal 29 April 2010 dengan Glencore International AG (Glencore). Berdasarkan perjanjian tersebut, MTU menjamin pemenuhan kewajiban kontrak ICTL, termasuk pasokan kebutuhan tengah tahunan ICTL sebesar metrik ton batubara kepada Glencore dengan harga tetap. Selama tahun 2011, ICTL gagal memenuhi persyaratan tersebut, yang mengakibatkan Glencore melakukan, sesuai dengan perjanjian, gugatan melalui Singapore International Arbitration Centre di Singapura, dengan tuntutan US$ 18,0 juta - US$ 19,0 juta sebagai pengganti kerugian. MTU secara aktif terlibat dalam melakukan diskusi dengan Glencore dengan tetap menjaga kepatuhan terhadap prosedur arbitrase Singapura, namun hasil dari diskusi dan arbitrase tersebut belum dapat ditentukan. Laporan keuangan tidak mencakup penyesuaian yang mungkin timbul dari hasil penyelesaian arbitrasi tersebut. cc. International Coal Trading Limited (ICTL), the coal trading company handling substantially all of MTU s coal sales and as MTU s marketing and selling agent, entered into a coal supply agreement dated 29 April, 2010 with Glencore International AG (Glencore). Pursuant to such agreement, MTU agreed to guarantee ICTL s contractual obligations, including ICTL s semi annual supply requirement of 500,000 metric tons of coal to Glencore at a fixed price. During 2011, ICTL failed to satisfy such requirements, which resulted in Glencore initiating action pursuant to the agreement and submitting the matter to the Singapore International Arbitration Centre in Singapore, alleging US$18.0 million to US$19.0 million in damages. MTU remains actively engaged in discussions with Glencore and continues to comply with the procedures of the Singapore arbitration, but the outcome of such discussions and arbitration remains uncertain. The financial statements do not include any adjustment from the possible outcome from this arbitration process. 52. ASET DAN LIABILITAS DALAM MATA UANG ASING Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, Perusahaan dan entitas anak mempunyai aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing sebagai berikut: 52. MONETARY ASSETS AND LIABILITIES DENOMINATED IN FOREIGN EXCHANGE At December 31, 2012 and 2011, the Company and its subsidiaries had monetary assets and liabilities in foreign currencies as follows: 31 Desember/December 31, Desember/December 31, 2011 Mata Uang Ekuivalen Mata Uang Ekuivalen Asing/ US$/ Asing/ US$/ Foreign Equivalent in Foreign Equivalent in Currency US$ Currency US$ Aset Assets Kas dan setara kas IDR Cash and cash equivalents HKD SGD EUR AUD Piutang usaha IDR Trade accounts receivable SGD Piutang yang belum ditagih IDR Unbilled receivables Piutang lain-lain IDR Other accounts receivable Pajak dibayar dimuka IDR Prepaid taxes Aset lancar lainnya IDR Other current assets SGD AUD Klaim pengembalian pajak IDR Claim for tax refund Uang muka dan aset tidak lancar lainnya IDR Advances and other noncurrent assets SGD GBP AUD EUR Jumlah Aset Total Assets (Dilanjutkan) (Forward)
312 31 Desember/December 31, Desember/December 31, 2011 Mata Uang Ekuivalen Mata Uang Ekuivalen Asing/ US$/ Asing/ US$/ Foreign Equivalent in Foreign Equivalent in Currency US$ Currency US$ Liabilitas Liabilities Utang bank IDR Bank loans Utang usaha IDR Trade accounts payable SGD EUR JPY AUD PHP GBP MYR Utang lain-lain SGD Other accounts payable IDR Utang pajak IDR Taxes payable Biaya masih harus dibayar IDR Accrued expenses SGD EUR GBP AUD Utang dividen IDR Dividend payable Pinjaman jangka panjang SGD Long-term loans IDR Liabilitas sewa pembiayaan IDR Lease liabilities Liabilitas imbalan kerja IDR Employement benefit obligation Jumlah Liabilitas Total Liabilities Jumlah Aset Bersih Total Net Assets Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, kurs konversi yang digunakan Perusahaan dan entitas anak serta kurs yang berlaku pada tanggal 4 Maret 2013 sebagai berikut: The conversion rates used by the Company and its subsidiaries on December 31, 2012 and 2011 and the prevailing rates on March 4, 2013 are as follows: 4 Maret/ 31 Desember/ 31 Desember/ March 4, 2013 December 31, 2012 December 31, 2011 US$ US$ US$ Mata Uang Foreign currency 1 IDR 0,0001 0,0001 0,0001 IDR 1 1 SGD 0,8037 0,8177 0,7691 SGD 1 1 AUD 1,0164 1,0368 1,0149 AUD 1 1 EUR 1,3013 1,3247 1,2946 EUR 1 1 HKD 0,1289 1,1290 0,1287 HKD 1 1 GBP 1,5033 0,6111 1,5405 GBP 1 1 MYR 0,3217 0,3267 0,3146 MYR 1 1 PHP 0,0245 0,0243 0,0228 PHP 1 1 JPY 0,0107 0,0116 0,0129 JPY 1 Sehubungan dengan fluktuasi kurs mata uang asing US$ terhadap mata uang asing, Perusahaan dan entitas anak mencatat kerugian kurs mata uang asing bersih sebesar US$ tahun 2012 dan US$ tahun Pada tanggal 4 Maret 2013, kurs konversi mata uang asing meningkat terhadap mata uang US$. Dengan menggunakan kurs mata uang asing tanggal 4 Maret 2013, aset moneter dalam mata uang asing bersih Perusahaan dan entitas anak pada tanggal 31 Desember 2012 naik sebesar US$ In relation with fluctuation of US$ against foreign currencies, the Company and its subsidiaries recorded net loss on foreign exchange of US$ 8,842,498 in 2012 and US$ 12,493,113 in On March 4, 2013, these were increased in exchange rates of foreign currencies to US$. Using the exchange rates of March 4, 2013, net monetary asset in foreign currencies of the Company and its subsidiaries as of December 31, 2012 increase by US$ 139,
313 53. INFORMASI PENTING LAINNYA 53. OTHER SIGNIFICANT INFORMATION Perusahaan, PT Tripatra Company (TPC) dan PT Ganesha Intra Development Company (GID) mengadakan perjanjian penggabungan usaha ( Merger ) yang dinyatakan dalam akta No. 25 tanggal 15 Pebruari 2007 dari Imas Fatimah, SH, notaris di Jakarta. Berdasarkan keputusan tersebut Perusahaan sebagai perusahaan yang berlanjut sedangkan TPC dan GID bubar demi hukum tanpa terlebih dahulu melalui proses likuidasi. Merger tersebut efektif sejak tanggal 2 Maret Dalam merger tersebut, para pemegang saham Perusahaan, TPC dan GID bersama-sama menyatukan kendali atas seluruh aset bersih dan liabilitas perusahaan yang bergabung dan selanjutnya memikul bersama risiko dan manfaat pada entitas gabungan. Oleh karena itu, merger tersebut dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode akuntansi penyatuan kepemilikan (pooling of interest). Sehubungan dengan merger tersebut, Perusahaan telah mengajukan permohonan kepada Direktorat Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) untuk dapat menggunakan nilai buku dalam rangka merger. Dirjen Pajak telah tiga kali mengeluarkan surat keputusan penolakan, terakhir dengan surat No. S-441/PJ.031/2008 tanggal 29 Mei Sehubungan dengan surat keputusan penolakan ini, Perusahaan mengajukan permohonan banding kepada pengadilan pajak dengan suratnya No. 007/06.08/IIE.Tax tanggal 17 Juni Pada tanggal 20 April 2009, pengadilan pajak menyetujui penggunaan nilai buku dalam rangka merger berdasarkan suratnya No.Put.17815/PP/M.XII/99/2009. Selanjutnya, pada bulan September 2009, Dirjen Pajak mengajukan permohonan peninjauan kembali atas keputusan pengadilan pajak tersebut di atas kepada Ketua Mahkamah Agung melalui surat Memori Peninjauan Kembali No. S-7109/pj.074/2009. Sehubungan dengan surat (Memori Peninjauan Kembali) di atas, Perusahaan mengajukan permohonan gugatan kepada Ketua Mahkamah Agung dengan suratnya No. 001/09.09/IE.TAX tanggal 11 September Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasian ini, Perusahaan belum memperoleh keputusan akhir dari Ketua Mahkamah Agung. Para pemegang saham dari perusahaan yang bergabung telah sepakat akan menanggung dampak perpajakan yang mungkin timbul akibat tidak disetujuinya penggunaan nilai buku atas merger tersebut, bila ada. The Company, PT Tripatra Company (TPC) and PT Ganesha Intra Development Company (GID) entered into a merger agreement (the Merger ) based on deed No. 25 dated February 15, 2007, drawn up before Imas Fatimah, SH, notary public in Jakarta, with the Company as the surviving company while TPC and GID were liquidated without the process of liquidation. The merger was effective on March 2, In relation to the merger, the stockholders of the Company, TPC and GID obtained combined control over the whole of their net assets and liabilities to achieve a continuing mutual sharing in the risks and benefits of the combined entity. Therefore, the merger was accounted for using the pooling of interest method of accounting. In relation to the merger, the Company has applied for approval with the Directorate General of Taxation (DGT) to use historical net book value in accounting for the merger. The DGT has three times issued rejection letter, the latest through letter No. S-441/PJ.031/2008 dated May 29, In response to this rejection letter, the Company has filed an appeal to the tax court through letter No. 007/06.08/IIE.Tax dated June 17, On April 20, 2009, based on letter No. Put /PP/M.XII/99/2009, the tax court decided to approve the use of historical net book value in accounting for the merger. Subsequently, in September 2009, DGT has filed a reconsideration request against the above tax court decision to the Supreme Court through its letter Memori Peninjauan Kembali No. S-7109/pj.074/2009. Related to the above letter (Memori Peninjauan Kembali), the Company has filed a lawsuit to the Supreme Court through its letter No. 001/09.09/IE.TAX dated September 11, Up to the issuance date of the consolidated financial statements, the Company has not yet received the final decision from the Supreme Court. The shareholders of the combining entities have agreed to assume the tax liabilities that might result from the rejection of the use of historical book value in the merger, if any
314 54. TRANSAKSI NON KAS 54. NON CASH TRANSACTIONS Perusahaan dan entitas anak melakukan transaksi investasi dan pendanaan yang tidak mempengaruhi kas dan setara kas dan tidak termasuk dalam laporan arus kas konsolidasian pada tanggal-tanggal dengan rincian sebagai berikut: The Company and its subsidiaries have investment and financing transactions that did not affect cash and cash equivalents and hence not included in the consolidated statements of cash flows as dated per below with the detail as follows: 31 Desember/ 31 Desember/ December 31, December 31, US$ US$ Perolehan aset tetap melalui: Addition to property, plant and equipment through: Sewa pembiayaan Lease liabilities Pinjaman jangka panjang Long-term loans Utang bank Bank loan Reclassifications of advance payments of Reklasifikasi uang muka pembelian property, plant and equipment to property, aset tetap ke aset tetap plant and equipment 55. PERISTIWA SETELAH TANGGAL NERACA 55. SUBSEQUENT EVENTS a. Pada tanggal 24 Januari 2013, IEF II B.V., entitas anak yang secara langsung sepenuhnya dimiliki oleh Perusahaan, menerbitkan Senior Notes (Obligasi IV) sebesar US$ 500 juta, jatuh tempo Januari 2023, dengan tingkat bunga 6,375% per tahun, terutang setiap enam bulan, dibayar setiap tanggal 24 Januari dan 24 Juli setiap tahun, dimulai pada tanggal 24 Juli Obligasi IV tercatat di Singapore Stock Exchange. Sehubungan dengan penerbitan Obligasi IV, Citicorp International Limited bertindak sebagai Wali Amanat, sedangkan Perusahaan, IIC, TPE,TPEC dan TS menjadi pihak Penjamin. Obligasi IV ini dijamin dengan hak prioritas pertama dengan jaminan sebagai berikut : a. On January 24, 2013, IEF II B.V., a direct wholly owned subsidiary of the Company, issued Senior Notes ( Notes IV ) amounting to US$ 500 million due in January 2023, bearing interest at 6.375% per annum, payable semiannually on January 24 and July 24 of each year, commencing on July 24, The Notes IV are listed on the Singapore Stock Exchange. In relation to the issuance of the Notes IV, Citicorp International Limited acted as Trustee, while the Company and IIC, TPE, TPEC and TS as Guarantors. The Notes IV are secured on a first priority basis by a lien on the following collaterals: Gadai atas penyertaan saham Perusahaan di TPE, TPEC, IEF II B.V., IEC II B.V. dan IIC (Catatan 1b) dan penyertaan saham IIC di PT Kideco Jaya Agung (Catatan 14) dan penyertaan saham TPEC di TS. Jaminan ini dibagi secara pari passu dengan Obligasi II,III dan IV. Jaminan hak atas penyertaan di IEC II B.V. atas pinjaman antar entitas (Intercompany Loans) Sehubungan dengan penerbitan Obligasi IV, Perusahaan dan beberapa entitas anak tertentu dibatasi oleh persyaratan dan pembatasan tertentu, tergantung pada kualifikasi dan pengecualian tertentu, seperti yang tercantum di dalam perjanjian Wali Amanat Obligasi IV. Pledges of the Company s investments in shares of stock of TPE, TPEC, IEF II BV, IEC II BV and IIC (Note 1b) and IIC s investment in shares of stock of PT Kideco Jaya Agung (Note 14) and TPEC s investment in shares of stock of TS. These collaterals are shared pari passu amongst Notes II, III and IV. A security interest in IEC II B.V. s right under the Intercompany Loans. In relation to the issuance of Notes IV, the Company and certain subsidiaries are restricted to certain covenants and restrictions, which are subject to a number of important qualifications and exceptions as described in the Notes IV Indenture
315 b. Pada bulan Januari 2013, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menerbitkan Surat Ketetapan mengenai Pajak Pertambahan Nilai (SKP PPN) Perusahaan bulan December Bedasarkan Surat Ketetapan tersebut, kelebihan pembayaran PPN sebesar Rp juta, sedangkan jumlah yang dicatat dan diklaim oleh Perusahaan sebesar Rp juta. Manajemen akan mengajukan keberatan atas Surat Ketetapan Pajak (SKP) tersebut dan berkeyakinan bahwa keberatan Perusahaan dapat dikabulkan sehingga tidak dilakukan pencatatan atas pencadangan pada tanggal laporan keuangan. c. Pada bulan Januari dan Pebruari 2013, DJP mengeluarkan SKP kepada PT Multi Tambangjaya Utama (MTU) berkaitan dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bulan Januari sampai Maret tahun Berdasarkan SKP tersebut, terdapat kekurangan bayar pajak MTU sebesar Rp juta termasuk bunga dan denda. Bedasarkan Sales and Purchase Aggreement (SPA), tanggal 15 Pebruari 2012, antara Asia Thai Mining Company Limited (ATM), Christien Kurniawan dan PT Indika Indonesia Resources (IIR), IIR masih memiliki hak untuk mengajukan klaim kepada ATM atas pelanggaran terhadap jaminan pernyataan yang dinyatakan oleh ATM dalam SPA, termasuk jaminan pernyataan perpajakan, dan untuk mengajukan pencairan escrow account (Catatan 1) dalam waktu 12 bulan setelah selesainya semua persyaratan yang tercantum di SPA, sehingga sampai tanggal pelaporan, IIR tidak melakukan pencadangan atas kekurangan bayar tersebut. d. Pada bulan Pebruari 2013, DJP menerbitkan SKP atas PPN atas pemanfaatan Jasa Kena Pajak (JKP) dari luar daerah pabean dan PPN untuk masa pajak bulan Januari - November 2011, dimana Perusahaan ditetapkan kurang bayar masing-masing sebesar Rp juta dan Rp juta, keduanya sudah termasuk bunga dan denda. Manajemen akan mengajukan keberatan atas SKP tersebut dan berkeyakinan bahwa keberatan Perusahaan dapat dikabulkan sehingga tidak dilakukan pencatatan atas pencadangan pada tanggal laporan keuangan. b. In January 2013, Directorate General of Taxation (DGT) issued Tax Assessment Letters on the Company s value added tax (VAT) pertaining to the month of December Based on such assessment letters, the Company s tax overpayment amounted to Rp 12,943 million, compared to Rp 13,898 million being recorded and claimed by the Company. Management will file appeal against such assessment letter and believes that this tax matter will be resolved in favor of the Company and accordingly, no provision was made as of reporting date. c. In January and February 2013, DGT issued Tax Assessment Letters on PT Multi Tambangjaya Utama (MTU) s VAT pertaining to the month of January to March Based on such assessment letters, MTU s tax underpayment, including interest and penalty, amounted to Rp 2,274 million. Based on the Sales and Purchase Agreement (SPA) dated February 15, 2012 amongst Asia Thai Mining Company Limited (ATM), Christien Kurniawan and PT Indika Indonesia Resources (IIR), IIR still has the right to claim to ATM any breach of the warranties represented by ATM in the SPA, including tax warranties, and to apply against the escrow account (Note 1) within 12 months after the completion of all conditions precedent under the SPA, then no provision for such tax is made by IIR as of reporting date. d. In February 2013, DGT issued Tax Assessment Letters on the Company s VAT on offshore services and VAT pertaining to the period from January - November 2011, where the Company was assessed for underpayment of Rp 2,186 million and Rp 26,266 million, both inclusive, interest and penalty, respectively. Management will file appeal against such assessment letter and believes that this tax matter will be resolved in favor of the Company and accordingly, no provision was made as of reporting date
316 e. Pada tanggal 20 Pebruari 2013, PT Indika Multi Daya Energi menandatangani perjanjian kerjasama dengan Total E&P Indonesia West Papua (Total), entitas anak Total SA, untuk membeli 10% hak partisipasi di Blok Southwest Bird s Head Production Sharing Contract (PSC), sementara Total sebagai operator akan memiliki 90% hak partisipasi. Pembelian ini masih dalam proses untuk mendapatkan persetujuan dari regulator di Indonesia dan harga pembelian final akan ditentukan setelah hasil uji tuntas (due diligence). Blok eksplorasi di South West Bird s Head PSC berlokasi di on-offshore Salawati Basin, propinsi Papua Barat, dengan luas area sebesar km 2. f. Pada bulan Pebruari 2013, Perusahaan telah melunasi fasilitas pinjaman berikut ini: e. On February 20, 2013, PT Indika Multi Daya Energi signed an agreement with Total E&P Indonesia West Papua (Total), a subsidiary of Total SA, to acquire a 10% participating interest in the Southwest Bird s Head Production Sharing Contract (PSC), whilst Total as operator will hold the remaining 90% interest. The purchase is subject to approval by Indonesian authorities and the final purchase price will be determined upon closing and following confirmatory due diligence. The exploration block of South West Bird s Head PSC is located in the on-offshore Salawati Basin of the Province of West Papua, covering an area 7,176 square-km. f. In February 2013, the Company paid the following bank loans: Kreditur/ Fasilitas maksimum/ Tanggal pembayaran/ No. Creditor Maximum facility Payment date US$ 1. Citibank, N.A Tranche A 25 Pebruari/ Tranche B February 25, UBS AG, Singapore Pebruari/ February 25, Standard Chartered Bank Pebruari/ February 22, Bank Mandiri - Pinjaman Transaksi Khusus 22 Pebruari/ (PTK)/Loan for Specific Transaction February 22, Kredit Modal Kerja (KMK)/ 22 Pebruari/ Working Capital Credit February 22, KONDISI EKONOMI 56. CURRENT ECONOMIC CONDITION Pertumbuhan ekonomi global di tahun 2012 melambat dikarenakan dampak krisis ekonomi di Uni Eropa dan juga Amerika Serikat. Secara umum, harga komoditas pertambangan utama dunia termasuk batubara mengalami penurunan. The global economic growth in 2012 is slowing down due to the impact of economic crisis in Europe and United States of America. Generally, the prices of certain world commodities including coal have decreased. Harga batubara di pasaran internasional turun secara signifikan dari US$ 124,18 per metrik ton di Januari 2012 ke US$ 94,00 per metrik ton di Desember Meskipun saat ini dampak penurunan harga komoditas batubara belum berdampak membahayakan bagi Perusahaan dan entitas anak, penurunan harga batubara yang terus berlanjut di masa datang akan mempengaruhi operasi Perusahaan. Dampak keadaan ekonomi juga mempengaruhi kondisi keuangan para pelanggan yang meningkatkan risiko tidak tertagihnya piutang dari pelanggan. International coal price in the global market has decreased significantly from US$ per tonnage to US$ per tonnage in the period from January 2012 to December Although currently the coal price decrease has not adversely impacted to the Company and its subsidiaries operation, the coal price decrease continuance in the future will adversely affect the Company s operation. Also, the effects of the economic situation on the financial condition of the customers have increased the credit risk inherent in the receivables from customers
317 Penyelesaian kondisi ekonomi tersebut tergantung kepada penyelesaian krisis di Uni Eropa dan Amerika Serikat - suatu tindakan yang berada diluar kendali Perusahaan. Oleh karena itu, tidaklah mungkin untuk menentukan dampak masa depan kondisi ekonomi terhadap likuiditas dan pendapatan Perusahaan atau pengaruh krisis terhadap investor, pelanggan, dan pemasok Perusahaan. Manajemen meyakini bahwa Perusahaan dan entitas anak memiliki sumber daya yang cukup untuk melanjutkan operasinya di masa depan sehingga laporan keuangan konsolidasian tetap dapat disajikan dengan mempertahankan asumsi kelangsungan usaha. Recovery of the economy condition is dependent on resolution of the economic crisis in Europe Union and United States of America, actions which are beyond the Company s control, to achieve economic recovery. It is not possible to determine the future effect the economic condition may have on the Company s liquidity and earnings, including the effect flowing through from its investors, customers and suppliers. The management believes that the Company and its subsidiaries have adequate resources to continue their operations for the foreseeable future. Accordingly, the Company and its subsidiaries continue to adopt the going concern basis in preparing the consolidated financial statements. 57. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN DAN PERSETUJUAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN Penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan konsolidasian dari halaman 3 sampai 193 merupakan tanggung jawab manajemen, dan telah disetujui oleh Direksi untuk diterbitkan pada tanggal 4 Maret MANAGEMENT RESPONSIBILITY AND APPROVAL OF CONSOLIDATED FINANCIAL STATEMENTS The preparation and fair presentation of the consolidated financial statements on pages 3 to 193 were the responsibilities of the management, and were approved by the Company s Directors and authorized for issue on March 4, *********
318 118 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
319 informasi perusahaan BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 119
320 informasi perusahaan NAMA PERUSAHAAN PT INDIKA ENERGY TBK. PENDIRIAN PERUSAHAAN 19 Oktober 2000 KOMPOSISI PEMEGANG SAHAM (PER 31 DESEMBER 2012) Pemegang Saham Jumlah Saham % PT Indika Mitra Energi Pandri Prabono-Moelyo Eddy Junaedy Danu Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo PT Indika Mitra Holdiko Masyarakat ,47 4,44 1,57 1,52 0,00 29,00 KODE SAHAM INDY PENCATATAN EFEK Bursa Efek Indonesia BIDANG USAHA Beroperasi dan berinvestasi dalam bidang jasa energi, sumber daya energi dan infrastruktur energi melalui Anak Perusahaan dan Perusahaan Asosiasi AKUNTAN PUBLIK Osman Bing Satrio & Eny (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu) Wisma Antara, Lantai 12 Jl. Medan Merdeka Selatan No. 17 Jakarta PEMERINGKAT EFEK Moody's Singapore Pte Ltd 50 Raffles Place #23-06 Singapore Land Tower Phone : (65) Fax : (65) Website : PT Fitch Ratings Indonesia Prudential Tower Lantai 20 Jl. Jend. Sudirman Kav. 79 Jakarta Selatan Indonesia Phone : (62-21) Fax : (62-21) Website : BIRO ADMINISTRASI EFEK PT Datindo Entrycom Puri Datindo Wisma Diners Club Annex Jl. Jend. Sudirman Kav. 34 Jakarta Tel. (62-21) Fax. (62-21) BUILDING ON SYNERGIES Annual Report 2012 PT Indika Energy Tbk.
321 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 121
322 ALAMAT PERUSAHAAN PT INDIKA ENERGY Tbk. Mitra Building Lantai 7 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 21 Jakarta Indonesia Tel.: (62-21) Fax: (62-21) Website: [email protected] [email protected] Corporate Secretary: Dedy Happy Hardi Investor Relations: Retina Rosabai Kode Saham: INDY IIC PT INDIKA INTI CORPINDO Mitra Building Lantai 4 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 21 Jakarta Indonesia Tel.: (62-21) Fax: (62-21) Website: IIR PT INDIKA INDONESIA RESOURCES Mitra Building Lantai 4 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 21 Jakarta Indonesia Tel.: (62-21) Fax: (62-21) Website: MEA PT MITRA ENERGI AGUNG Mitra Building Lantai 4 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 21 Jakarta Indonesia Tel.: (62-21) Fax: (62-21) Website: MTU PT MULTI TAMBANGJAYA UTAMA Mitra Building Lantai 9 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 21 Jakarta Indonesia Tel.: (62-21) Fax: (62-21) Website: BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
323 KIDECO PT KIDECO JAYA AGUNG Menara Mulia lantai 17 Ruang 1701 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav Jakarta Indonesia Tel.: (62-21) Fax: (62-21) Website: TRIPATRA PT TRIPATRA ENGINEERS & CONSTRUCTORS (TPEC) PT TRIPATRA ENGINEERING (TPE) Jl. R.A. Kartini No. 34 (Outer Ring Road) Cilandak Barat Jakarta Indonesia Tel.: (62-21) Fax: (62-21) Website: MBSS PT MITRABAHTERA SEGARA SEJATI TBK. Menara Karya Building Lantai 12 Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-5 Kav. 1-2 Kuningan, Jakarta Indonesia Tel.: (62-21) , Fax: (62-21) , Website: Kode Saham: MBSS PETROSEA PT PETROSEA TBK. Wisma Anugraha Lantai 3 Jl. Taman Kemang No. 32B Kemang Jakarta Indonesia Tel.: (62-21) Fax: (62-21) Website: Kode Saham: PTRO BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 123
324 Halaman ini sengaja dikosongkan. 124 BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk.
325 PERNYATAAN PERTANGGUNGJAWABAN Direksi dan Dewan Komisaris Perusahaan yang bertandatangan di bawah ini bertanggung jawab penuh atas Laporan Tahunan ini, termasuk laporan keuangan dan informasi terkait yang lain. Dewan Komisaris Direksi Wiwoho Basuki Tjokronegoro Komisaris Utama M. Arsjad Rasjid P.M. Direktur Utama Agus Lasmono Wakil Komisaris Utama Wishnu Wardhana Wakil Direktur Utama Indracahya Basuki Komisaris Pandri Prabono-Moelyo Direktur Anton Wahjosoedibjo Komisaris Independen Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo Direktur Dedi Aditya Sumanagara Komisaris Independen Eddy Junaedy Danu Direktur Richard Bruce Ness Direktur Azis Armand Direktur Tidak Terafiliasi BUILDING ON SYNERGIES Laporan Tahunan 2012 PT Indika Energy Tbk. 125
326 Halaman ini sengaja dikosongkan.
327
328 PT INDIKA ENERGY Tbk. Mitra Building lantai 7 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.21, Jakarta Indonesia [email protected] [email protected]
PAPARAN PUBLIK PT Indika Energy Tbk.
PAPARAN PUBLIK PT Indika Energy Tbk. 28 April 2016 SYARAT DAN KONDISI Materi presentasi ini disiapkan oleh PT Indika Energy Tbk, ( Perseroan ) untuk mendukung Paparan Publik, Setiap orang yang menerima
PAPARAN PUBLIK PT Indika Energy Tbk.
PAPARAN PUBLIK PT Indika Energy Tbk. 29 April 2015 SYARAT DAN KONDISI Materi presentasi ini disiapkan oleh PT Indika Energy Tbk. ( Perseroan ) untuk mendukung Paparan Publik. Setiap orang yang menerima
PAPARAN PUBLIK PT Indika Energy Tbk.
PAPARAN PUBLIK PT Indika Energy Tbk. 28 April 2016 SYARAT DAN KONDISI Materi presentasi ini disiapkan oleh PT Indika Energy Tbk, ( Perseroan ) untuk mendukung Paparan Publik, Setiap orang yang menerima
DITOPANG BISNIS MODEL YANG KOKOH, ADARO ENERGY BUKUKAN LABA INTI SEBESAR US$148 JUTA Pasar batubara masih menghadapi periode yang penuh tantangan
NEWS RELEASE Jakarta, 31 Agustus 2015 Informasi lebih lanjut silahkan hubungi: Cameron Tough, Corporate Secretary & Investor Relations Division Head [email protected] DITOPANG BISNIS MODEL YANG KOKOH,
1 TEMA 25 IKHTISAR KEUANGAN 5 TINJAUAN PERUSAHAAN 35 LAPORAN KOMISARIS UTAMA DAN DIREKTUR UTAMA 45 PROFIL DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI
Managing Adversity Tahun 2015 merupakan periode yang sulit untuk bidang usaha energi di dunia. Menurunnya harga minyak bumi pada tingkat paling rendah selama tiga dekade, berdampak juga kepada komoditi
Ringkasan Analisa dan Diskusi Manajemen Kuartal Toba Bara Sejahtra Tbk dan Entitas Anak
Ringkasan Analisa dan Diskusi Manajemen Kuartal 1 2014 Toba Bara Sejahtra Tbk dan Entitas Anak Maret 2014 1 RINGKASAN Di Kuartal 1 2014 (K1 2014), harga Newcastle Index mengalami penurunan sebesar 13,2%
Ringkasan Analisa dan Diskusi Manajemen Semester Toba Bara Sejahtra Tbk dan Entitas Anak
Ringkasan Analisa dan Diskusi Manajemen Semester 1 2014 Toba Bara Sejahtra Tbk dan Entitas Anak Juni 2014 1 RINGKASAN Secara kuartalan, dari Kuartal 1 2014 (K1 2014) ke Kuartal 2 2014 (K2 2014), melemahnya
Ringkasan Analisa Keuangan dan Diskusi Manajemen untuk Kuartal PT Toba Bara Sejahtra Tbk dan Anak Perusahaan
Ringkasan Analisa Keuangan dan Diskusi Manajemen untuk Kuartal 3 213 PT Toba Bara Sejahtra Tbk dan Anak Perusahaan September 213 1 IKHTISAR Kondisi industri batubara global hingga kuartal 3 213 (3Q13)
25 IKHTISAR KEUANGAN 2016
Forging Ahead Sektor energi global mengalami ketidakpastian yang besar sepanjang tahun 2016, baik di sektor batubara maupun sektor minyak dan gas, karena harga jatuh ke rekor terendah, sebelum melonjak
MEETING THE CHALLENGE
MEETING THE CHALLENGE Dengan berlanjutnya penurunan harga batubara global di tahun 2014, seluruh bidang usaha terkait batubara di dunia mengalami tekanan, termasuk Indika Energy sebagai perusahaan energi
FORGING RESILIENCE 2013
LAPORAN TAHUNAN 2013 ENERGY SYNERGY Forging Resilience Energy Synergy Pada tahun 2013, menghadapi dampak turunnya harga batubara global yang berkepanjangan terhadap seluruh bisnis batubara di dunia, Indika
MEETING THE CHALLENGE
MEETING THE CHALLENGE Dengan berlanjutnya penurunan harga batubara global di tahun 2014, seluruh bidang usaha terkait batubara di dunia mengalami tekanan, termasuk Indika Energy sebagai perusahaan energi
NEWS RELEASE Jakarta, 14 Maret 2016
NEWS RELEASE Jakarta, 14 Maret 2016 Untuk informasi lebih lanjut, hubungi: Mahardika Putranto, Head of Corporate Secretary & Investor Relations Division [email protected]; [email protected]
PT GOLDEN EAGLE ENERGY Tbk MATERI PAPARAN PUBLIK (PUBLIC EXPOSE )
PT GOLDEN EAGLE ENERGY Tbk MATERI PAPARAN PUBLIK (PUBLIC EXPOSE ) JW MARRIOTT HOTEL - 10 JUNI 2015 DAFTAR ISI 1 SEKILAS MENGENAI PERSEROAN 2 TINJAUAN INDUSTRI 3 KINERJA PERSEROAN 4 PENGEMBANGAN USAHA SEKILAS
PAPARAN PUBLIK. Dharmawangsa Hotel, Jakarta, 20 April 2015
PAPARAN PUBLIK Dharmawangsa Hotel, Jakarta, 20 April 2015 Disclaimer Informasi dalam presentasi ini adalah informasi umum mengenai PT Petrosea Tbk ("Perseroan") yang disiapkan oleh Perseroan per tanggal
PENDAPAT KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR A10212 TENTANG PENGAMBILALIHAN SAHAM PERUSAHAAN
PENDAPAT KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR A10212 TENTANG PENGAMBILALIHAN SAHAM PERUSAHAAN PT MITRA BAHTERA SEGARA SEJATI TBK OLEH PT INDIKA ENERGY INFRASTRUCTURE I. LATAR BELAKANG 1.1 Berdasarkan
Ringkasan Analisa Keuangan dan Diskusi Manajemen PT Toba Bara Sejahtra Tbk dan Anak Perusahaan
Ringkasan Analisa Keuangan dan Diskusi Manajemen PT Toba Bara Sejahtra Tbk dan Anak Perusahaan Desember 2012 1 IKHTISAR Penurunan kondisi ekonomi global di tahun 2012 menyebabkan terkoreksinya harga acuan
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY Media Umum: Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Devindra Ratzarwin Corporate Secretary Tel: (6221) 521 1265 Fax: (6221) 5794 4689 Email: [email protected] Media Keuangan:
Paparan Publik PT ABM Investama Tbk
Paparan Publik 2015 PT ABM Investama Tbk Disclaimer Presentasi ini telah disiapkan oleh PT ABM Investama Tbk ( "ABMM" atau "Perseroan") semata-mata untuk informasi umum. Presentasi ini adalah untuk tujuan
Memperkuat Landasan Menetapkan Haluan
Paparan Publik Tahunan PT Samindo Resurces Tbk ( Perseroan ) Memperkuat Landasan Menetapkan Haluan 4 Mei 2018, Gran Melia Jakarta Daftar Isi 01 Profil Perseroan Informasi Umum Layanan & Kompetensi Struktur
Ringkasan Analisa Keuangan dan Diskusi Manajemen untuk Semester I 2013 PT Toba Bara Sejahtra Tbk dan Anak Perusahaan
Ringkasan Analisa Keuangan dan Diskusi Manajemen untuk PT Toba Bara Sejahtra Tbk dan Anak Perusahaan Juni 1 IKHTISAR Kondisi Industri Batubara masih terus berada dibawah tekanan sebagai dampak melemahnya
PT GOLDEN EAGLE ENERGY Tbk MATERI PAPARAN PUBLIK (PUBLIC EXPOSE)
PT GOLDEN EAGLE ENERGY Tbk MATERI PAPARAN PUBLIK (PUBLIC EXPOSE) JW MARRIOTT HOTEL - 02 JUNI 2016 DAFTAR ISI 1 2 3 4 SEKILAS MENGENAI PERSEROAN TINJAUAN INDUSTRI TINJAUAN KINERJA PERSEROAN STRATEGI PERSEROAN
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY Media Umum: Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Devindra Ratzarwin Corporate Secretary Tel: (6221) 521 1265 Fax: (6221) 5794 4687 Email: [email protected] Media Keuangan:
2018 Rp miliar. Laba bersih** (2) Laba bersih per saham (2) 31 Maret 2018 Rp miliar. Nilai aset bersih per saham***
PRESS RELEASE 24 April 2018 PT Astra International Tbk (Grup Astra atau Perseroan) Laporan Keuangan Kuartal I Tahun 2018 Ikhtisar Laba bersih per saham turun 2% menjadi 123 Pangsa pasar mobil dan motor
SIARAN PERS. PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA Tbk MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KEDUA 2008 SEBESAR US$156,0 JUTA
SIARAN PERS MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KEDUA 2008 SEBESAR US$156,0 JUTA MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KEDUA 2008 SEBESAR US$156,0 JUTA JAKARTA, 7 Agustus 2008 --- PT International Nickel Indonesia Tbk ( PT
Ringkasan Analisa Keuangan dan Diskusi Manajemen untuk Kuartal I 2013 PT Toba Bara Sejahtra Tbk dan Anak Perusahaan
Ringkasan Analisa Keuangan dan Diskusi Manajemen untuk Kuartal I 2013 PT Toba Bara Sejahtra Tbk dan Anak Perusahaan Maret 2013 1 IKHTISAR Industri batubara terus berada dibawah tekanan sebagai dampak melemahnya
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY Media Umum: Untuk informasi lebih lanjut mohon menghubungi: Mr. Andre J. Mamuaya Director and Corporate Secretary Tel: (6221) 521 1265 Fax: (6221) 5794 4685 Email: [email protected]
BERITA PERS. Pendapatan Saratoga Tumbuh 55% Menjadi Rp 3,7 Triliun Pada 2013
BERITA PERS Dapat Diterbitkan Segera Pendapatan Saratoga Tumbuh 55% Menjadi Rp 3,7 Triliun Pada 2013 Saratoga menargetkan investasi baru sebesar US$ 100 150 juta di tahun 2014 untuk perkuat portofolio
Adaro Energy Laporan Operasional Kuartalan Kuartal Kedua 2016 Untuk tiga bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2016
Wajah tambang PT Semesta Centramas dari udara, berlokasi di Balangan, Kalimantan Selatan. Produk campuran Wara Balangan mendapat sambutan baik dari pelanggan di Cina maupun India. Adaro Energy Laporan
BAB II DESKRIPSI ORGANISASI
BAB II DESKRIPSI ORGANISASI 2.1. Sejarah Organisasi Perusahaan yang bergerak dibidang energi ini mulai beroperasi sejak tahun 1967 ketika perusahaan yang saat itu menandatangani kontrak bagi hasil pertama
Paparan Publik. Jakarta, 20 April 2016
Paparan Publik Jakarta, 20 April 2016 DISCLAIMER Materi presentasi ini disiapkan oleh PT PETROSEA Tbk. ( Perseroan ) untuk mendukung Paparan Publik. Setiap orang yang menerima materi ini atau berpartisipasi
PT Lionmesh Prima Tbk
PT Lionmesh Prima Tbk Public Expose Hotel JW Marriott, 06 Juni 2017 Daftar Isi Profil Perusahaan Tinjauan Ekonomi Kinerja Perusahaan Tanggung Jawab Sosial (CSR) Prospek Usaha 2017 Target Usaha 2017 Pabrik
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY Media Umum: Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Devindra Ratzarwin Corporate Secretary Tel: (6221) 521 1265 Fax: (6221) 5794 4687 Email: [email protected] Media Keuangan:
Ringkasan Analisa dan Diskusi Manajemen Semester I 2015 Toba Bara Sejahtra Tbk dan Entitas Anak
Ringkasan Analisa dan Diskusi Manajemen Semester I 2015 Toba Bara Sejahtra Tbk dan Entitas Anak Juni 2015 1 RINGKASAN Secara kuartalan dari K1 2015 ke K2 2015, kelebihan pasokan pada pasar batubara global
Shell Meresmikan Terminal Bahan Bakar Minyak di Pulau Laut Kalimantan Selatan
UNTUK DITERBITKAN SEGERA: 27 AGUSTUS 2010 Shell Meresmikan Terminal Bahan Bakar Minyak di Pulau Laut Kalimantan Selatan Shell bekerjasama dengan Indonesia Bulk Terminal (IBT), meresmikan Terminal Bahan
SIARAN PERS. PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA Tbk MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KETIGA 2009 SEBESAR AS$75,9 JUTA - 1 -
SIARAN PERS MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KETIGA 2009 SEBESAR AS$75,9 JUTA - 1 - MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KETIGA 2009 SEBESAR AS$75,9 JUTA JAKARTA, 29 Oktober 2009 --- PT International Nickel Indonesia Tbk
RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM TAHUNAN PT TOBA BARA SEJAHTRA Tbk
RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM TAHUNAN PT TOBA BARA SEJAHTRA Tbk Gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta, 16 April 2015 Dewan Komisaris Perseroan Jusman Syafii Djamal Komisaris Utama Bacelius Ruru Komisaris Independen
PT GOLDEN EAGLE ENERGY Tbk MATERI PAPARAN PUBLIK (PUBLIC EXPOSE )
PT GOLDEN EAGLE ENERGY Tbk MATERI PAPARAN PUBLIK (PUBLIC EXPOSE ) FOUR SEASONS HOTEL 16 JUNI 2014 DAFTAR ISI 1 SEKILAS MENGENAI PERSEROAN 2 KINERJA PERSEROAN 3 STRATEGI PERSEROAN SEKILAS MENGENAI PERSEROAN
Ringkasan Diskusi dan Analisa Manajemen 2014 PT Toba Bara Sejahtra Tbk dan Entitas Anak
Ringkasan Diskusi dan Analisa Manajemen 2014 PT Toba Bara Sejahtra Tbk dan Entitas Anak Desember 2014 1 RINGKASAN Kelanjutan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan batubara dunia yang terutama
I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi dunia akan semakin besar seiring dengan pesatnya perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap terpenuhi agar roda
PAPARAN PUBLIK PT Indika Energy Tbk.
PAPARAN PUBLIK PT Indika Energy Tbk. 27 April 2017 SYARAT DAN KONDISI Materi presentasi ini disiapkan oleh PT Indika Energy Tbk, ( Perseroan ) untuk mendukung Paparan Publik, Setiap orang yang menerima
LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI BATUBARA DI INDONESIA
2017 LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI BATUBARA DI INDONESIA BAB I: PELUANG DAN TANTANGAN INDUSTRI BATUBARA 1 1.1. PELUANG INDUSTRI BATUBARA 2 1.1.1. Potensi Pasar 2 Grafik 1.1. Prediksi Kebutuhan Batubara untuk
I. BAB I - PENDAHULUAN. Perusahaan Logistik X (PT. X ) adalah perusahaan yang bergerak dalam
I. BAB I - PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Perusahaan Logistik X (PT. X ) adalah perusahaan yang bergerak dalam bisnis penyediaan jasa logistik atau pengiriman barang dari industri-industri yang terkait
45 Tahun #KerjaMembangunBangsa PAPARAN PUBLIK. PT Indika Energy Tbk. 26 April 2018
45 Tahun #KerjaMembangunBangsa PAPARAN PUBLIK PT Indika Energy Tbk. 26 April 2018 0 SYARAT DAN KONDISI Materi presentasi ini disiapkan oleh PT Indika Energy Tbk, ( Perseroan ) untuk mendukung Paparan Publik,
BERITA PERS. Portofolio Investasi Saratoga Makin Meningkat Didorong Kinerja Positif Perusahaan Investasi
BERITA PERS Untuk Diterbitkan Segera Portofolio Investasi Saratoga Makin Meningkat Didorong Kinerja Positif Perusahaan Investasi Jakarta, 4 Agustus 2016 Pada semester I 2016, portofolio investasi PT Saratoga
Kinerja Operasional TINS Lebih Baik
UNTUK SEGERA DISIARKAN Untuk keterangan lebih lanjut hubungi: Agung Nugroho, Sekretaris Perusahaan telepon : +62 (21) 2352 8000 faksimili : +62 (21) 344 4012 e mail : [email protected] website
Paparan Publik Tahunan. Jakarta, 11 Agustus 2015
Paparan Publik Tahunan Jakarta, 11 Agustus 2015 KAPASITAS PRODUKSI 2015 Produk Peleburan Metric Ton/Tahun Kawat Tembaga 15,000 MT Kawat Aluminium 12,000 MT Produk Kabel Kabel Listrik Tembaga 26,000 MT
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN I. Ekonomi Dunia Pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia. Sejak tahun 2004, ekonomi dunia tumbuh tinggi
BAB I PENDAHULUAN. PT. Bakrie and Brothers Tbk adalah perusahaan investasi strategis internasional
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah PT. Bakrie and Brothers Tbk adalah perusahaan investasi strategis internasional yang berbasis di Jakarta, Indonesia. PT. Bakrie and Brothers Tbk didirikan pada
UNTUK SEGERA DISIARKAN
UNTUK SEGERA DISIARKAN Untuk keterangan lebih lanjut hubungi: Agung Nugroho, Sekretaris Perusahaan telepon : +62 (21) 2352 8000 faksimili : +62 (21) 344 4012 e-mail : [email protected] website
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY Media Umum: Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Devindra Ratzarwin Corporate Secretary Tel: (6221) 521 1265 Fax: (6221) 5794 4687 Email: [email protected] Media Keuangan:
ENERGY FOR CHANGE Public Expose Marathon 2017
ENERGY FOR CHANGE Public Expose Marathon 2017 Pertanyaan pokok: Bagaimana prospek pasokan dan permintaan batubara? Bagaimana pencapaian kinerja Adaro? Apakah strategi dan rencana jangka panjang Adaro?
Laba Bersih Kuartal AGII Naik Lebih Dari 10% Year-On-Year dengan total melebihi Rp 30 miliar
LAPORAN PERS Untuk Segera Didistribusikan Laba Bersih Kuartal 1 2018 AGII Naik Lebih Dari 10% Year-On-Year dengan total melebihi Rp 30 miliar Jakarta, 1 Mei 2018 PT Aneka Gas Industri, Tbk (Stock Code:
NEWS RELEASE Jakarta, 31 Oktober 2013
NEWS RELEASE Jakarta, 31 Oktober 2013 Informasi untuk Media Umum: Devindra Ratzarwin, Corporate Secretary [email protected] Informasi untuk Media Keuangan: Cameron Tough, Head of Investor Relations [email protected]
SIARAN PERS. PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA Tbk MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KETIGA 2008
SIARAN PERS MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KETIGA 2008 MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KETIGA 2008 JAKARTA, 27 Oktober 2008 --- PT International Nickel Indonesia Tbk ( PT Inco, atau Perseroan, IDX: INCO) hari ini
LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI BATUBARA DI INDONESIA
2017 LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI BATUBARA DI INDONESIA BAB I: PELUANG DAN TANTANGAN INDUSTRI BATUBARA 1 1.1. PELUANG INDUSTRI BATUBARA 2 1.1.1. Potensi Pasar 2 Grafik 1.1. Prediksi Kebutuhan Batubara untuk
SIARAN PERS PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA TBK MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KEEMPAT 2009 SEBESAR AS$60,0 JUTA - 1 -
SIARAN PERS PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA TBK MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KEEMPAT 2009 SEBESAR AS$60,0 JUTA - 1 - PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA TBK MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN KEEMPAT 2009 SEBESAR
Pendapatan PT Timah (Persero) Tbk 2011 Sebesar 8.749,6 Milyar
UNTUK SEGERA DISIARKAN Untuk keterangan lebih lanjut hubungi: Abrun Abubakar, Sekretaris Korporat Telepon : +62 (21) 2352 8000 Faksimili : +62 (21) 344 4012 e-mail Website : [email protected] : www.timah.com
PT WAHANA PRONATURAL TBK. Check List SEOJK/30/2016 Laporan Tahunan
PT WAHANA PRONATURAL TBK Check List SEOJK/30/2016 Laporan Tahunan DAFTAR ISI A. Ikhtisar Data Keuangan Penting B. Informasi Saham C. Laporan Direksi D. Laporan Dewan Komisaris E. Profil Emiten atau Perusahaan
PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA
SIARAN PERS MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN PERTAMA 2008 SEBESAR US$139,6 JUTA - 1 MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN PERTAMA 2008 SEBESAR US$139,6 JUTA JAKARTA, 25 April 2008 --- PT International Nickel Indonesia Tbk
PT SUPREME CABLE MANUFACTURING & COMMERCE Tbk. Public Expose 23 Mei 2017
PT SUPREME CABLE MANUFACTURING & COMMERCE Tbk Public Expose 23 Mei 2017 Tentang Perseroan 9 November 1970 : Perseroan didirikan 2 Oktober 1972 : Perseroan memulai produksi komersial dengan memproduksi
SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN /SEOJK.04/20.. TENTANG BENTUK DAN ISI LAPORAN TAHUNAN EMITEN ATAU PERUSAHAAN PUBLIK
Yth. Direksi Emiten atau Perusahaan Publik di tempat. SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.04/20.. TENTANG BENTUK DAN ISI LAPORAN TAHUNAN EMITEN ATAU PERUSAHAAN PUBLIK Sehubungan dengan Peraturan
Private & Confidential PT Logindo Samudramakmur Tbk.
Presentasi ini disusun oleh PT Logindo Samudramakmur Tbk ( Perseroan ) dan hanya dipergunakan sebagai informasi kepada publik. Tidak satupun dari informasi yang disampaikan dalam presentasi ini boleh disebarluaskan
Paparan Publik. PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. Balai Kartini, Jakarta 27 April 2016
Paparan Publik PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk Balai Kartini, Jakarta 27 April 2016 1 Rico Rustombi Direktur Utama Direksi 2 Lucas Djunaidi Wakil Direktur Utama Direksi 3 Ika Heru Bethari Direktur Independen
Labaa TINS Meningkat
UNTUK SEGERA DISIARKAN Untuk keterangan lebih lanjut hubungi: Agung Nugroho, Sekretaris Perusahaan telepon faksimili e mail website : +62 (21) 2352 8000 : +62 (21) 344 4012 : corporatesecretary@ @pttimah.co.id
Adaro Energy Laporan Operasional Kuartalan Kuartal Keempat 2017 Untuk tiga bulan yang berakhir tanggal 31 Desember 2017
PT Makmur Sejahtera Wisesa mengoperasikan pembangkit listrik mulut tambang 2x30 MW di Tanjung, Kalimantan Selatan dan memasok listrik bagi kebutuhan operasi penambangan perusahaan serta masyarakat sekitar.
ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN
ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN Kinerja Unit Usaha Secara umum, kinerja unit-unit usaha Perseroan selama tahun 2014 baik, yang secara konsolidasi kinerja Perseroan mengalami peningkatan dibandingkan tahun
PT Timah (Persero) Tbk Membukukan Laba Periode Berjalan Pada 30 September 2011 sebesar Rp 860 Miliar
PT Timah (Persero) Tbk Rilis Berita Untuk keterangan lebih lanjut hubungi: Abrun Abubakar, Sekretaris Korporat tel : +62 21 2352 8000 fax : + 62 21 344 4012 email: [email protected] www.timah.com PT
SIARAN PERS PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA TBK MENGUMUMKAN LABA SEBESAR AS$111,9 JUTA PADA TRIWULAN PERTAMA TAHUN
SIARAN PERS PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA TBK MENGUMUMKAN LABA SEBESAR AS$111,9 JUTA PADA TRIWULAN PERTAMA TAHUN 2011-1 - PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA TBK MENGUMUMKAN LABA SEBESAR AS$111,9 JUTA
PAPARAN PUBLIK. PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. Balai Kartini, Jakarta Rabu 25 April 2018
PAPARAN PUBLIK PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk Balai Kartini, Jakarta Rabu 25 April 2018 1 PAPARAN PUBLIK Informasi dalam presentasi ini adalah informasi umum mengenai PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY
NEWS RELEASE DARI ADARO ENERGY Media Umum: Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Mr. Devindra Ratzarwin Corporate Secretary Tel: (6221) 521 1265 Fax: (6221) 5794 4685 Email: [email protected] Media Keuangan:
Pendapatan PT Timah (Persero) Tbk 2012 Sebesar Rp 7,822.6 Milyar
UNTUK SEGERA DISIARKAN Untuk keterangan lebih lanjut hubungi: Agung Nugroho, Sekretaris Perusahaan telepon : +62 (21) 2352 8000 faksimili : +62 (21) 344 4012 e-mail : [email protected] website : www.timah.com
BAB II PROFILE PERUSAHAAN
BAB II PROFILE PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Singkat PT Pamapersada Nusantara PT Pamapersada Nusantara (PAMA) adalah anak perusahaan milik PT United Tractors Tbk, distributor kendaraan konstruksi berat Komatsu
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis
PT Petrosea Tbk Analyst Presentation. Paparan Publik Maret 2012
PT Petrosea Tbk Analyst Presentation Anggota July 2011 Paparan Publik Maret 2012 Perhatian Informasi dalam presentasi ini adalah informasi umum mengenai PT Petrosea Tbk ("Perseroan") yang disiapkan oleh
PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015
PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015 A. Perkembangan Perekonomian Saudi Arabia. 1. Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan pertumbuhan ekonomi di Saudi Arabia diatur melambat
Gambar 3.1. Struktur Perusahaan
BAB 3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 3.1. Sejarah Singkat PT. X Berdasarkan data yang diperoleh melalui Laporan Tahunan 2009, PT. X didirikan pada 9 Juni 1980 di bawah hukum Republik Indonesia dan memulai usahanya
PRESS RELEASE PAPARAN PUBLIK 2015 PT KMI WIRE AND CABLE Tbk 11 AGUSTUS 2015
PRESS RELEASE PAPARAN PUBLIK 2015 PT KMI WIRE AND CABLE Tbk 11 AGUSTUS 2015 PENJUALAN TAHUN 2014 Pada tahun 2014 Perusahaan membukukan penjualan sebesar Rp. 2.384 milyar, turun sebesar 7% dari penjualan
1. Sampul muka, samping, dan belakang 2. Setiap halaman. 2. Pandangan atas prospek usaha perusahaan yang disusun oleh direksi.
I. Umum KRITERIA 1. Dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, dianjurkan menyajikan juga dalam Bahasa Inggris. 2. Dicetak pada kertas yang berwarna terang agar mudah dibaca dan jelas PENJELASAN 3. Mencantumkan
PT INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA
SIARAN PERS MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN PERTAMA 2009 SEBESAR AS$17,2 JUTA Page 1 of 8 MENGUMUMKAN LABA TRIWULAN PERTAMA 2009 SEBESAR AS$17,2 JUTA JAKARTA, 7 Mei 2009 --- PT International Nickel Indonesia
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Obyek Penelitian 3.1.1. Sejarah perkembangan perusahaan Berawal dari perusahaan dengan inti usaha di bidang jasa pelayanan. PT Samudera Indonesia Tbk kini telah tumbuh
BAB I PENDAHULUAN. dunia. Kontribusi batubara terhadap kebutuhan total energi dunia berkisar 23%.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batubara merupakan sumber energi yang penting dan banyak digunakan di dunia. Kontribusi batubara terhadap kebutuhan total energi dunia berkisar 23%. Penggunaan batubara
BAB 1 PENDAHULUAN. selatan pulau Jawa, Desa Sukorejo, Kecamatan Sudimoro, sekitar 30 km arah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah PLTU Sudimoro Pacitan dibangun diatas lahan seluas 65 ha, terletak di laut selatan pulau Jawa, Desa Sukorejo, Kecamatan Sudimoro, sekitar 30 km arah timur Kota
Efisiensi dan Strategi yang Tepat Berbuah Kinerja Positif pada Semester I-2015
UNTUK SEGERA DISIARKAN Untuk keterangan lebih lanjut hubungi: Agung Nugroho, Sekretaris Perusahaan telepon : +62 (21) 23528000 faksimili : +62 (21) 3444012 e-mail : [email protected] website
