Penguatan Laboratorium Pengendalian Tuberkulosis
|
|
|
- Hendri Sudjarwadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Penguatan Laboratorium Pengendalian Tuberkulosis TAHUN Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 2011
2 Kata Pengantar Tuberkulosis atau masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Indonesia merupakan negara pertama diantara negara-negara dengan beban yang tinggi di wilayah Asia Tenggara yang berhasil mencapai target Global untuk pada tahun 2006, yaitu 70% penemuan kasus baru BTA positif dan 85% kesembuhan. Saat ini peringkat Indonesia telah turun dari urutan ketiga menjadi kelima diantara negara dengan beban tertinggi di dunia. Meskipun demikian, berbagai tantangan baru yang perlu menjadi perhatian yaitu /HIV, -MDR, pada anak dan masyarakat rentan lainnya. Hal ini memacu pengendalian nasional terus melakukan intensifikasi, akselerasi, ekstensifikasi dan inovasi program. Strategi Nasional Program Pengendalian dengan tema Terobosan menuju Akses Universal. Dokumen ini disusun berdasarkan kebijakan pembangunan nasional , rencana strategis Kementerian Kesehatan dan strategi global dan regional. Penyusunan strategi nasional ini melibatkan partisipasi berbagai pihak pemangku kebijakan, pusat dan daerah, organisasi profesi, Gerdunas, komite ahli, lembaga swadaya masyarakat serta mitra internasional. Strategi Nasional program pengendalian dengan visi Menuju Masyarakat Bebas Masalah, Sehat, Mandiri dan Berkeadilan. Strategi tersebut bertujuan mempertahankan kontinuitas pengendalian periode sebelumnya. Untuk mencapai target yang ditetapkan dalam stranas, disusun 8 yaitu : (1) Public-Private Mix untuk ; (2) Programmatic Management of Drug Resistance ; (3) Kolaborasi -HIV; (4) Penguatan Laboratorium; (5) Pengembangan Sumber Daya Manusia; (6) Penguatan Logistik; (7) Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi Sosial; dan (8) Informasi Strategis. Dokumen ini menjabarkan untuk penguatan jejaring, pemantapan mutu dan pengembangan laboratorium untuk periode , baik untuk pemeriksaan mikroskopis, biakan dan uji kepekaan M. tuberculosis serta pengembangan alat diagnosis cepat. Untuk pemantapan mutu pemeriksaan Mikroskopis, Program Nasional Penanggulangan sudah mulai menerapkan metode LQAS di beberapa provinsi dan secara bertahap akan diimplementasikan i
3 di semua provinsi. Pengembangan laboratorium biakan dan uji kepekaan (DST) M. tuberculosis juga sudah diintensifkan sehingga sampai tahun 2010, 5 laboratorium di Indonesia sudah tersertifikasi untuk DST lini pertama dan kedua. Namun demikian jumlah dan sebaran laboratorium biakan dan uji kepekaan M. tuberculosis masih perlu ditingkatkan untuk mendukung pengembangan PMDT. Kementerian Kesehatan RI mendorong serta mengupayakan terbentuknya laboratorium rujukan untuk memperkuat jejaring laboratorium di Indonesia. Dokumen ini diharapkan dapat mendorong implementasi penguatan jejaring, pemantapan mutu dan pengembangan laboratorium di Indonesia untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam Laboratorium. Akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak terkait yang telah berkontribusi dalam menyelesaikan ini. Segala kritik dan saran yang membangun demi perbaikannya pada masa mendatang sangat diharapkan. Semoga buku ini bermanfaat dalam pengendalian di Indonesia. Mari kita lakukan terobosan dalam perjuangan melawan. Jakarta, 14 Maret 2011 Direktur Jenderal PP&PL, Kementerian Kesehatan RI Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP, MARS, DTM&H ii
4 TIM PENYUSUN Pengarah Tjandra Yoga Aditama Yusharmen H.M. Subuh Editor Dyah Erti Mustikawati Nani Rizkiyati Kontributor Sri Widiastuti Irfan Ediyanto Agus Susanto Sri Sumartini Wiwi Ambarwati Retno Kusuma Dewi Saumiyati Sri Haryani Tintin Gartinah Endang Woro Roni Chandra Agus Sjahrurachman Lia Gardenia Harini Janiar Ning Rintiswati Ktut Rentyastuti Deni A. Endriana S. Koesprijani Anis Karuniawati Nasrum Massi iii
5 DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Tim Penyusun... iii Daftar isi... iv Daftar Tabel... vi Daftar Lampiran... vii I. PENDAHULUAN... 1 II. ANALISIS SITUASI PELAYANAN LABORATORIUM DI INDONESIA Peran Lab dalam penemuan dan pengelolaan kasus Sumber Daya Laboratorium Sarana Prasarana Sumber Daya Manusia Sistem Pengendalian Mutu Laboratorium Jejaring Laboratorium Pengendalian Infeksi Laboratorium Mikroskopis Peran Laboratorium dalam penemuan dan pengelolaan kasus MDR Kemampuan laboratorium dalam biakan dan Uji kepekaan Sumber Daya Laboratorium Sarana Prasarana Sumber Daya Manusia Pemantapan Mutu Laboratorium Pengendalian Infeksi Lab biakan dan Uji kepekaan DRS (Drugs Resistance Surveillance) Pengembangan Diagnosis Baru Pengembangan Pencatatan dan Pelaporan III TANTANGAN-TANTANGAN UTAMA DALAM IMPLEMENTASI LABORATORIUM DI INDONESIA iv
6 IV. TUJUAN, INDIKATOR DAN TARGET Tujuan Tujuan Umum Tujuan Khusus Indikator dan Target V. RUMUSAN STRATEGI Kebijakan Strategi VI.IMPLEMENTASI RENCANA AKSI NASIONAL LABORATORIUM VII. MONITORING DAN EVALUASI RAN LABORATORIUM VIII.PENGANGGARAN DAN PEMBIAYAAN X. PENUTUP XI. DAFTAR PUSTAKA v
7 Daftar Tabel Tabel 1. Indikator dan target strategi memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu dalam Stranas di Indonesia Tabel 2. Jumlah dan proporsi DOTS di Fasyankes... 5 Tabel 3. Kondisi Fasilitas Laboratorium dalam Pemeriksaan Biakan dan Uji kepekaan Tabel 4. Kebutuhan minimal sumber daya manusia di laboratorium untuk biakan dan uji kepekaan vi
8 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Laboratorium Rujukan Propinsi (BBLK/BLK,BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) mampu melakukan pemeriksaan biakan M tuberculosis sesuai standar Lampiran 2. Laboratorium Rujukan Propinsi (BBLK/BLK,BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) mampu melakukan pemeriksaan biakan & uji kepekaan Lampiran 3. Laboratorium Rujukan Propinsi (BBLK/BLK,BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) siap mendukung survei uji kepekaan di 4 provinsi Lampiran 4. Program kerja beserta timeline pelaksanaan kegiatan RAN vii
9 Daftar Singkatan BBLK : Balai Besar Laboratorium Kesehatan BLK : Balai Laboratorium Kesehatan BPPM & SK : Bina Pelayanan Penunjang Medik & Sarana Kesehatan BSL : Biosafety Level BTA : Basil Tahan Asam BUK : Bina Upaya Kesehatan DOTS : Directly Observed Treatment Shortcourse EQAS : External Quality Assessment System Fasyankes : Fasilitas Pelayanan Kesehatan Gerdunas- : Gerakan Terpadu Nasional Tuberkulosis ISTC : Internasional Standart Tuberculosis Care LQAS : Lot Quality Assurance Sampling LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millenium Development Goals MDR : Multi Drug Resistant OAT : Obat Anti Tuberkulosis P2 : Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis PME : Pemantapan Mutu Eksternal Pokja : Kelompok Kerja PPM : Public Privat Mixs QA : Quality Assurance R 5 : Round 5 RUS : Rujukan Uji Silang : Tuberkulosis HIV : Tuberculosis - Human Immunodeficiency Virus UPK : Unit Pelayanan Kesehatan WHO : World Health Organization XDR : Extremely Drug Resistance viii
10 PENDAHULUAN Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit infeksi kronis dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama, sehingga di tingkat global telah dikembangkan rencana penanggulangan yang terprogram dan berkesinambungan. Rencana strategis dikembangkan untuk mencapai target dalam Millenium Development Goals (MDG s) yaitu mempertahankan kondisi dimana 70% orang yang terinfeksi dapat dideteksi melalui strategi DOTS dan 85 % di antaranya dinyatakan sembuh, bahkan kondisi ini bila mungkin dapat semakin ditingkatkan sampai tahun Program penanggulangan penyakit di Indonesia dilaksanakan dengan menerapkan strategi DOTS yang mencakup komponen komitmen politis, diagnosis dengan pemeriksaan mikroskopis dahak yang terjamin mutunya, pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus dengan tata laksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan, jaminan ketersediaan OAT yang bermutu, sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program. Pemeriksaan mikroskopis dahak untuk diagnosis merupakan salah satu dari lima komponen kunci. Sedangkan untuk monitoring dan evaluasi pengobatan serta deteksi dini pada kasus -MDR, diperlukan pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan kuman. Dalam upaya mencapai target tersebut diperlukan akselerasi pelaksanaan kegiatan program penanggulangan yang mengacu kepada International Standard of Care (ISTC). Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, iptek dalam bidang kelaboratoriuman juga mengalami perkembangan. Adanya alternatif pemeriksaan laboratorium yaitu rapid imuno assay dan biomolekuler masih perlu divalidasi terlebih dahulu oleh ahli laboratorium di Indonesia dan ditetapkan oleh pemerintah sebelum digunakan secara luas. Tantangan dimasa mendatang terhadap pelayanan laboratorium adalah kasus MDR dan XDR, ko-infeksi -HIV, serta pelayanan laboratorium untuk daerah terpencil, kepulauan, daerah tertinggal dan perbatasan. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, diperlukan peningkatan jangkauan dan kualitas pemeriksaan laboratorium melalui perencanaan nasional yang tersusun baik dengan tahapan prioritas penanganan masalah, dengan indikator kinerja, 1
11 pendanaan yang memadai untuk pelaksanaan, monitoring dan evaluasi yang baik, terintegrasi, terkoordinasi dan meningkatkan kemitraan dengan pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas antar unit-unit terkait, dalam suatu rencana strategi kegiatan jangka menengah dan jangka pendek. Strategi nasional Program Pengendalian di Indonesia mengusung tema Terobosan menuju Akses Universal. Dokumen tersebut disusun dengan mengacu pada kebijakan pembangunan nasional , sistem kesehatan nasional 2009, rencana strategis Kementerian Kesehatan , strategi dan rencana global dan regional, serta evaluasi perkembangan program di Indonesia. Dengan visi mencapai Menuju masyarakat bebas masalah, sehat, mandiri dan berkeadilan, dikembangkan tujuh strategi yang merupakan terobosan menuju akses universal. Tujuh strategi tersebut meliputi empat strategi utama dalam implementasi pengendalian dan tiga strategi pendukung lainnya sebagai berikut: 1. Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu 2. Menghadapi tantangan /HIV, MDR-, anak dan kebutuhan masyarakat miskin serta rentan lainnya 3. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, LSM, dan swasta melalui pendekatan Public-Private Mix (PPM) dan menjamin penerapan International Standards for Care 4. Memberdayakan masyarakat dan pasien didukung dengan: 5. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem kesehatan, termasuk pengembangan SDM dan manajemen program pengendalian 6. Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap program pengendalian 7. Mendorong penelitian, pengembangan dan pemanfaatan informasi stratejik Dalam uraian strategi pertama (memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu), diuraikan bahwa jejaring laboratorium perlu diperkuat khususnya pemantapan mutu eksternal (PME) guna meningkatkan kapasitas diagnostik di Indonesia. Implementasi PME masih dinilai lemah karena belum semua laboratorium mengikuti uji silang rutin. Indikator dan target khusus 2014 adalah 90% dari jumlah laboratorium yang ada diharapkan telah mengikuti PME (uji silang dan uji panel) 2
12 untuk pemeriksaan mikroskopik dan 100% dari jumlah laboratorium tersebut telah lulus PME. Hasil PME yang baik menunjukkan kinerja laboratorium yang baik guna mendukung keberhasilan Program Pengendalian. Tabel 1. Indikator dan target strategi memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu dalam Stranas di Indonesia Indikator target 2014 Proporsi laboratorium yang mengikuti PME (uji silang dan tes 90% panel) untuk pemeriksaan mikroskopis Proporsi laboratorium yang lulus PME (uji silang dan tes panel) 100% untuk pemeriksaan mikroskopis ini menjabarkan analisis situasi, tantangantantangan utama, perumusan strategi, implementasi, monitoring dan evaluasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan laboratorium di Indonesia. 3
13 ANALISIS SITUASI PELAYANAN LABORATORIUM DI INDONESIA Pemeriksaan laboratorium sebagai bagian dari program pengendalian tentunya harus dapat mendukung program melalui peran dan fungsinya dalam pasien dan kasus -MDR. 1. Peran Lab dalam penemuan dan pengelolaan kasus Dalam program penanggulangan, pemeriksaan mikroskopis dahak merupakan komponen kunci untuk menegakkan diagnosis serta evaluasi dan tindak lanjut pengobatan Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara biakan atau biakan. Diagnosis melalui pemeriksaan biakan dahak merupakan metode baku emas (gold standard) namun memerlukan waktu relatif lama dan mahal. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien, mudah, murah, bersifat spesifik dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium yang kinerjanya harus dipantau melalui sistem pemantapan mutu laboratorium. Kemampuan Pemeriksaan Laboratorium Saat ini fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan pemeriksaan belum semua menerapkan strategi DOTS. Tabel 2 menunjukkan fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan pemeriksaan laboratorium dengan strategi DOTS 4
14 Tabel 2. Jumlah dan proporsi DOTS di Fasyankes Fasyankes Jumlah % DOTS Puskesmas (PRM, PPM, PS) % RS Pemerintah(tmsk TNI/Polri) % Swasta 663 NA RS Khusus 269 NA BBKPM/BKPM % BBLK/ BLK % Labkes Kab/Kota 109 NA Lab/ Klinik Swasta 792 NA BBTKL/ BTKL NA 10% Kualitas pemeriksaan sediaan dahak menentukan kualitas program nasional penanggulangan. Untuk membuat sediaan dahak yang berkualitas diperlukan spesimen dahak yang berkualitas pula. Tetapi tidak semua spesimen yang diperiksa di laboratorium adalah spesimen yang memenuhi standar, oleh karena itu petugas laboratorium harus dapat memilih spesimen yang bagus yaitu bagian dahak yang kental/ purulen. Dari hasil supervisi dan monitoring evaluasi diketahui kualitas sediaan dahak di UPK masih di bawah standar ( Laporan kegiatan LQAS, 2009; Rekapitulasi laporan supervisi Pokja Lab, 2008/ 2009). Partisipasi laboratorium pemeriksa pertama mikroskopis dalam uji silang masih rendah (52%) dan 71,2% dari laboratorium tersebut memiliki erorr rate <5% (Hasil Analisa 12 Nasional, 2009/ 2010) Sumber Daya Laboratorium Sarana Prasarana Fasilitas Laboratorium Fasilitas laboratorium terdiri dari ruangan dengan ventilasi yang memadai, instalasi dan daya listrik yang cukup, sumber air bersih yang mengalir langsung ke laboratorium dan fasilitas pengelolaan limbah. Fasilitas laboratorium harus memenuhi kaidah pengendalian infeksi. Pada umumnya laboratorium tidak 5
15 berdiri sendiri tetapi terintegrasi dalam pelayanan laboratorium pada fasyankes tersebut. Pada umumnya kondisi ruangan laboratorium di fasyankes masih belum memenuhi standar. Pembangunan dan pengembangan infrastruktur laboratorium milik daerah masih belum optimal karena terkait dengan regulasi otonomi daerah, termasuk pendanaan. Infrastruktur laboratorium di daerah terpencil, kepulauan, daerah tertinggal dan perbatasan masih kurang memadai serta memerlukan perhatian khusus. Peralatan Laboratorium Laboratorium mikroskopis harus memiliki mikkroskopis binokuler yang berfungsi dengan baik. Saat ini dari mikroskop di fasyankes, dalam kondisi baik sedangkan dalam kondisi yang kurang baik.menyikapi kondisi ini,upaya yang dilakukan oleh fasyankes adalah dengan memanfaatkan mikroskop dari program malaria untuk menguatkan lab. Masalah utama dalam peralatan laboratorium adalah pemeliharaan rutin dan penyediaan suku cadang (lampu dan lensa). Bahan Habis Pakai: alat sekali pakai, sediaan, reagen Bahan habis pakai yang diperlukan untuk menjamin fungsi mikroskop yaitu kertas lensa, ether alkohol dll harus dipastikan ketersediaannya. Reagen Ziehl-Neelsen sebagai komponen utama yang diperlukan untuk pemeriksaan mikroskopis BTA harus tersedia dengan jumlah dan kualitas standar. Standarisasi tarif pelayanan saat ini belum ditetapkan. Sentralisasi pengadaan bahan habis pakai Sumber Daya Manusia Sumber Daya Manusia merupakan komponen penting dalam program Nasional pengendalian Standar ketenagaan laboratorium fasyankes adalah seorang analis D III yang telah mengikuti pelatihan teknis laboratorium. Saat ini belum semua fasyankes telah memenuhi standar tersebut. Sampai dengan tahun 2010, pelatihan mikroskopis baru mencakup 25 % dari seluruh petugas lab fasyankes. Dari jumlah tersebut tidak semua petugas masih 6
16 bertugas di laboratorium tanpa ada alih pengetahuan dan keterampilan kepada petugas pengganti. Kualitas dan kuantitas tenaga laboratorium di UPK, RS serta unit laboratorium lain-nya sangat bervariasi. Jumlah tenaga supervisor laboratorium baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota masih sangat kurang. Diperlukan tenaga-tenaga yang kompeten di bidangnya serta pendanaan yang cukup untuk melakukan supervisi dan bimbingan teknis secara berjenjang Sistem Pengendalian Mutu Laboratorium Jejaring Laboratorium Jejaring laboratorium adalah suatu sistem pelayanan laboratorium disusun secara berjenjang dengan mengacu pada fungsi dan kompetensinya dalam program pengendalian. Adanya jejaring laboratorium akan memastikan bahwa pelayanan laboratoium dilaksanakan sesuai standar serta kualitas baku, mutakhir dan terjangkau. Jejaring laboratorium yang melakukan pemeriksaan di Indonesia mencakup seluruh wilayah, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota sampai dengan tingkat nasional. Jejaring dan sistem rujukan laboratorium terdiri dari UPK mikroskopis, laboratorium rujukan uji silang, laboratorium rujukan provinsi, laboratorium rujukan regional dan laboratorium rujukan nasional. Saat ini jejaring pelayanan laboratorium telah terbentuk dan berfungsi dalam sistem rujukan. Untuk pelaksanaan pengendalian mutu laboratorium masih terbatas pada pemeriksaan mikroskopis dengan jenjang laboratorium rujukan uji silang II (provinsi), laboratorium rujukan uji silang I (kab/ kota) dan laboratorium mikroskopis. BBLK/BLK dalam pelayanan laboratorium, sebagian besar masih berfungsi sebagai laboratorium rujukan uji silang I dan pada beberapa provinsi telah memiliki laboratorium uji silang pertama. Laboratorium rujukan nasional yang merupakan jenjang tertinggi telah ditentukan yaitu BBLK Surabaya untuk pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan, BLK Bandung untuk mikroskopis dan Pemantapan mutu mikroskopis, dan Lab Departemen Mikrobiologi FK UI sebagai rujukan riset. 7
17 Koordinasi dan Kerjasama Koordinasi program dan unit laboratorium dalam bentuk perencanaan bersama kegiatan yang terkait laboratorium, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi kegiatan di daerah diperlukan agar pelaksanaan program berjalan sesuai sasaran. Saat ini koordinasi antara program di daerah dengan lintas program dan sektor masih belum optimal. Wasor memegang peran penting dalam koordinasi antara program dan pengendalian mutu laboratorium di daerahnya. Koordinasi sangat diperlukan dalam hal memfasilitasi ketersediaan bahan dan reagen, penyelenggaraan pelatihandan pelaksanaan pengendalian mutu kinerja laboratorium. Saat ini di sebagian besar provinsi peran wasor dalam hal tersebut di atas masih belum optimal, salah satu penyebabnya adalah mutasi staf yang cepat. Rendahnya komitmen dari pemerintah daerah setempat dalam penyediaan dana menjadi salah satu penyebab belum optimalnya pelaksanaan program penanggulangan di Indonesia. Beberapa provinsi atau kabupaten/kota telah memulai mengusulkan pelayanan laboratorium melalui dana APBN, APBD dan lain-lain meskipun jumlahnya belum memadai. Pemantapan Mutu Pemantapan mutu laboratorium dilaksanakan sebagai upaya untuk menjamin kualitas pemeriksaan yang secara langsung dapat berdampak pada pencapaian program nasional pengendalian. Tiga komponen utama pemantapan mutu adalah pemantapan mutu internal, pemantapan mutu eksternal dan upaya peningkatan mutu. Pemantapan mutu eksternal mikroskopis telah dilakukan melalui kegiatan uji silang, supervisi dan panel testing. Saat ini uji silang mikroskopis dilakukan oleh BBLK/BLK dan di beberapa provinsi telah memfungsikan laboratorium Kabupaten/Kota atau setara sebagai laboratorium rujukan uji silang pertama. Dengan mempertimbangkan keadaan geografis Indonesia, laboratorium rujukan uji silang seharusnya berada di setiap kabupaten atau beberapa kabupaten membentuk kluster. Uji silang yang dilaksanakan secara nasional masih menggunakan metoda konvensional yang menguji ulang 10% sediaan negatif dan seluruh sediaan positif. Dengan metode ini tidak memberikan kesempatan kepada seluruh sediaan untuk dipilih. Metode LQAS (Lot Quality Assurance System) merupakan sistem sampling yang direkomendasikan 8
18 untuk uji silang. Setelah melalui uji coba LQAS di 4 provinsi, metode ini akan diterapkan secara nasional. Belum semua BBLK/BLK melaksanakan fungsinya sebagai laboratorium rujukan di tingkat propinsi (cross checker kedua) secara optimal. Adanya hambatan dana bantuan GF-ATM beberapa waktu yang lalu menyebabkan tidak optimalnya kegiatan uji silang, sehingga hasil pemeriksaan mikroskopis dalam periode tertentu kualitasnya perlu dipertanyakan. Dana untuk uji silang maupun supervisi teknis dalam rangka pemantapan mutu eksternal masih sangat terbatas, sehingga supervisi ke laboratorium tidak dapat dilakukan secara rutin setiap tahun, hal ini juga ditambah dengan terbatasnya tenaga yang akan melaksanakan supervisi tersebut. Untuk menjamin mutu pemeriksaan biakan dan uji kepekaan, telah dilakukan pemantapan mutu eksternal melalui pengiriman panel testing oleh laboratorium rujukan supranasional. Sesuai prosedur maka unit pemeriksa biakan dan uji kepekaan perlu melakukan rujukan pemantapan mutu ke laboratorium supra nasional, termasuk juga kelanjutan panel testing secara teratur dan berkesinambungan serta proses yang lebih cepat untuk sertifikasi pemeriksa biakan dan Uji kepekaan yang dilakukan sendiri oleh laboratorium di dalam negeri Pengendalian Infeksi Laboratorium Mikroskopis Petugas kesehatan yang menangani pasien sehari-hari berhubungan langsung dengan pasien merupakan kelompok risiko tinggi untuk terinfeksi. Risiko penularan infeksi di dari pasien ke petugas kesehatan sudah diketahui sejak lama dan angka kejadiannya terus meningkat. Keadaan ini memerlukan perhatian khusus, karena akan mempengaruhi kinerja dan produktifitas petugas kesehatan. Untuk meminimalkan resiko terjadinya infeksi di laboratorium, penting dilakukan upaya tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang efektif. WHO merekomendasikan tindakan pencegahan penularan dengan 4 pilar, berupa manajemen, pengendalian administratif, lingkungan dan perlindungan diri. Selain itu, pencegahan dan pengendalian infeksi menjadi sesuatu yang penting dari upaya penanggulangan nasional, dengan munculnya dampak beban ganda epidemik HIV dan kasus MDR dan XDR-, yang berhubungan dengan tingginya angka kesakitan dan kematian pada pasien HIV (WHO, 2010). 9
19 2. Peran Laboratorium dalam penemuan dan pengelolaan kasus MDR. Untuk diagnosis kasus MDR terdapat beberapa syarat untuk laboratorium dapat melakukan biakan dan Uji kepekaan yaitu laboratorium tersebut harus memiliki fasilitas dan menerapkan standar Kemampuan laboratorium dalam biakan dan Uji kepekaan Berdasarkan standar dari WHO, minimal diperlukan 1 laboratorium yang mampu memeriksa biakan untuk setiap 5 juta penduduk dan setiap 10 juta penduduk untuk laboratorium pemeriksa biakan dan Uji kepekaan, untuk itu perlu pengembangan. pelayanan biakan untuk provinsi luar Jawa. Dari data supervisi ke 33 provinsi di tahun 2005 diperoleh gambaran sebanyak 44 laboratorium yang mempunyai kemampuan melakukan pemeriksaan biakan tetapi hanya 11 laboratorium yang melaksanakan pemeriksaaan biakan dan Uji kepekaan. Dari 11 laboratorium tersebut hingga saat ini baru 5 laboratorium yaitu Mikrobiologi FKUI, Balai Besar Laboratorium Surabaya, NECHRI Makasar, BLK Bandung, RS Persahabatan yang telah mendapat sertifikasi untuk pemeriksaan Uji kepekaan OAT lini pertama dan kedua dari Laboratorium Supra Nasional IMVS Adelaide. Diperlukan percepatan untuk meningkatkan kemampuan laboratorium dalam melaksanakan pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan melalui pemenuhan sarana prasarana, pelatihan, pemantapan mutu eksternal. Tabel 3 Kondisi Fasilitas Laboratorium dalam Pemeriksaan Biakan dan Uji kepekaan. No. Fasilitas Lab kondisi Sekarang (2010) Target Kesenjangan 1. Biakan dan identifikasi kuman M. Tb Uji kepekaan OAT lini I (tersertifikasi) Uji kepekaan OAT lini II (tersertifikasi)
20 2.2. Sumber Daya Laboratorium Sarana Prasarana Laboratorium pelaksana pemeriksaan biakan dan uji kepekaan harus memenuhi yaitu laboratorium dengan tingkat keamanan minimal BSL II plus. Selain itu diperlukan instalasi dan daya listrik yang memadai, sumber air bersih yang cukup, fasilitas pengelolaan limbah sesuai standar dan memenuhi kaidah pengendalian infeksi. Saat ini sebagian besar laboratorium yang melaksanakan pemeriksaan biakan dan uji kepekaan belum memenuhi standar. Pengembangan laboratorium untuk biakan dan uji kepekaan saat ini masih dalam proses fasilitasi ruangan, alat, bahan dan reagen serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Sumber Daya Manusia Kebutuhan minimal tenaga laboratorium untuk biakan dan Uji kepekaan M.Tb adalah: Tabel 4. Kebutuhan minimal sumber daya manusia di laboratorium untuk biakan dan uji kepekaan Uraian TugAS kualifikasi Jumlah Teknisi Penyelia Dokter SpMK, SpPK, Dokter umum dengan 1 orang pengalaman min 3 tahun di lab sejenis Teknisi Media dan Analis DIII terlatih biakan dan Uji kepekaan 2 orang Reagensia Teknisi Pelaksana Analis DIII terlatih mikroskopis, biakan, 3 orang Uji kepekaan Teknisi Pemeliharaan DIII ATEM terlatih 1 orang dan Perbaikan Alat Pekarya SMP/ setara 1 orang Administrasi SMU/ setara terlatih 1 orang 11
21 2.3. Pemantapan Mutu Laboratorium Pengendalian mutu pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan dilakukan dilakukan dengan pemantapan mutu eksternal melalui panel testing oleh laboratorium rujukan supranasional/ nasional secara berkala dan berkesinambungan dan ditindaklanjuti dengan supervisi. Laboratorium yang telah lulus PME dibuktikan dengan setrifikat dari laboratorium penyelenggara PME. Untuk kesinambungan kegiatan PME diperlukan ketersediaan dana Pengendalian Infeksi Lab biakan dan Uji kepekaan Laboratorium biakan dan Uji kepekaan harus dilengkapi dengan fasilitas BSL II plus yang terstandar. Pelaksanaan pemeriksaan harus memenuhi standar praktek BSL III. 3. DRS (Drugs Resistance Surveillance) Pengelolaan pasien yang tidak standar menyebabkan risiko MDR/ XDR. Untuk mengetahui masalah kekebalan OAT di negara/ wilayah masing-masing harus dilakukan survei kekebalan terhadap OAT. Data MDR secara nasional belum ada karena belum dilakukan surveilans MDR. Saat ini masih terbatas pada survei di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dan akan diikuti dengan survei secara sentinel di daerah sasaran pengembangan PMDT. 4. Pengembangan Diagnosis Baru Kemajuan teknologi laboratorium menimbulkan produk diagnostik dan Uji kepekaan baru dengan berbagai metoda seperti immunoassay, PCR, semi konvensional dan lain-lain. Untuk itu metoda tersebut perlu dilakukan validasi terlebih dahulu dengan menggunakan sampel dari pasien Indonesia untuk mengetahui sensitivitas dan spesifitasnya. Kegiatan validasi metoda baru dilakukan melalui pengujian di laboratorium rujukan riset nasional untuk mendapat legalitas bagi penerapan secara nasional. 12
22 5. Pengembangan Pencatatan dan Pelaporan Pencatatan dan pelaporan laboratorium dilakukan secara terintegrasi dengan kegiatan pencatatan dan pelaporan program nasional. Pelaporan kinerja kegiatan laboratorium dengan 12 masih belum dilaksanakan secara standar sehingga terjadi kesulitan analisis. Sistem pencatatan dan pelaporan laboratorium akan dikembangkan secara elektronik agar terdapat keseragaman dan mempermudah analisis. 13
23 TANTANGAN-TANTANGAN UTAMA DALAM IMPLEMENTASI LABORATORIUM DI INDONESIA Tantangan-tantangan utama dalam kegiatan laboratorium di Indonesia didasarkan pada kebutuhan masyarakat akan pelayanan laboratorium yang berkualitas yaitu: 1. Pelayanan laboratorium untuk daerah terpencil, kepulauan, daerah tertinggal dan perbatasan. Pelayanan yang bermutu pada daerah ini perlu mendapat prioritas karena situasi yang berbeda dengan daerah lain, menyangkut infrastruktur dan geografis, sehingga diperlukan strategi khusus untuk pelayanan termasuk laboratorium. 2. Pemantapan mutu laboratorium melalui sistem jejaring laboratorium belum berfungsi optimal baik mikroskopis maupun biakan dan Uji kepekaan. Bila jejaring berfungsi dengan baik, maka pelaksanaan kegiatan pemantapan mutu ekternal dapat dilaksanakan secara berkala dan berkesinambungan dengan memfungsikan setiap laboratorium dalam setiap jenjang sehingga mutu pemeriksaan laboratorium dapat ditingkatkan. 3. Ketersediaan sumber daya laboratorium yang berkualitas. Pelatihan teknis laboratorium secara berkesinambungan dengan Training need assessment yang baik agar pelatihan tepat sasaran. Ketersediaan pedoman pemeriksaan dan prosedur tetap yang mutakhir. Koordinasi tingkat pusat dan daerah dalam hal ketenagaan harus memfasilitasi sistem rekruitmen ( pengangkatan dan mutasi), pelatihan, pendanaan. Selain itu pembinaan teknis dan manajemen perlu dilakukan secara berjenjang dan berkesinambungan. 4. Kasus HIV yang meningkat dimana infeksi penyerta yang paling banyak adalah. Pada seseorang yang terinfeksi, maka ko-infeksi dengan HIV akan meningkatkan resiko progresivitas menjadi aktif. Peningkatan prevalensi HIV di Indonesia menjadi ancaman pula untuk peningkatan kasus -HIV. 14
24 5. Pelayanan laboratorium yang dibutuhkan untuk mendukung penanganan kasus -MDR dan XDR. Diperlukan terobosan untuk percepatan pengembangan. pelayanan biakan dan Uji kepekaan terutama di luar Jawa. Untuk itu dalam upaya menghadapi tantangan di masa mendatang, perlu disusun kebijakan yang diterjemahkan ke dalam kegiatan-kegiatan prioritas yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam waktu 4 tahun,
25 TUJUAN, INDIKATOR DAN TARGET 1 Tujuan 1.1. Tujuan Umum Meningkatkan kinerja laboratorium mikroskopik, biakan, uji kepekaan dan pengembangan pemeriksaan laboratorium dengan metode baru untuk menunjang keberhasilan program penanggulangan Nasional 1.2. Tujuan Khusus 1. Penguatan dan pengembangan sistem pemantapan mutu laboratorium 2. Menguatkan jejaring laboratorium mikroskopis 3. Implementasi sistem jejaring laboratorium untuk biakan dan Uji kepekaan M tb. 4. Menjamin pelaksanaan pemeriksaan laboratorium yang aman bagi petugas, pasien dan lingkungan. 5. Menjamin mutu dan kinerja laboratorium. 6. Melakukan validasi metode diagnostik baru 2. Indikator dan Target Indikator dan Target dari RAN Laboratorium Tuberkulosis yang akan dicapai pada 2014 adalah sebagai berikut : Indikator target 2014 Proporsi jumlah laboratorium rujukan uji silang 100% mikroskopik provinsi berfungsi sesuai pedoman Proporsi jumlah laboratorium mikroskopis di sarana 80% kesehatan yang memiliki petugas terlatih Kualitas kinerja laboratorium mikroskopik a. Tingkat kesalahan Tidak melampaui pedoman b. Cakupan uji silang 90% c. Kualitas sediaan untuk uji silang harus baik 90% d. Rutinitas melakukan uji silang sesuai pedoman Per triwulan 16
26 Indikator target 2014 Jumlah Laboratorium Rujukan Propinsi (BBLK/BLK, 46 BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) mampu melakukan pemeriksaan biakan M tuberculosis sesuai standar* Jumlah Laboratorium Rujukan Propinsi (BBLK/BLK, 17 BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) mampu melakukan pemeriksaan biakan & Uji kepekaan* Jumlah Laboratorium Rujukan Propinsi (BBLK/BLK, 17 BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) siap mendukung survei Uji kepekaan di 4 provinsi* Proporsi jumlah Laboratorium biakan dan Uji kepekaan 100% telah menjalankan Biosafety sesuai standar Proporsi BBLK/BLK tersertifikasi untuk pemeriksaan 100% laboratorium mikroskopik Jumlah fasilitas Laboratorium Rujukan Provinsi 8 (BBLK Surabaya, BLK (BBLK/BLK,BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) Bandung, RS Persahabatan, telah tersertifikasi dalam pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan oleh Laboratorium Rujukan Nasional Terbentuknya laboratorium rujukan nasional dan regional Pencatatan dan pelaporan laboratorium secara elektronik terintegrasi dalam program Melakukan validasi metode baru untuk pemeriksaan laboratorium Dept. Mikro FK UI, Lab Nechri Unhas, BLK Semarang, BLK Jayapura, Dept. Mikro FK UGM) 3 lab nasional (BBLK Surabaya, BLK Bandung, Dept Mikro FK UI) 8 lab regional (Sumut Adam Malik, BBLK Palembang, BLK Bandung, BBLK Surabaya, BLK Semarang, BLK Banjarmasin, BLK Jayapura, BLK Manado) 12 elektronik Rapid culture/dst method, Uji molekuler *) Nama laboratorium yang bersangkutan dapat dilihat pada lampiran 1,2 dan 3. 17
27 RUMUSAN STRATEGI 1. Kebijakan 1. Upaya penguatan jejaring laboratorium dilaksanakan melalui kerjasama lintas sektor dan program di pusat dan daerah, sesuai tugas pokok dan fungsi institusi dengan melibatkan ahli laboratorium. 2. Upaya peningkatan SDM teknis laboratorium di semua fasyankes pemerintah maupun swasta melalui pendidikan dan pelatihan, kalakarya, supervisi dengan melibatkan berbagai institusi di dalam dan luar negeri. 3. Pemantapan mutu laboratorium dilaksanakan secara berjenjang dan difasilitasi oleh peran pusat dan daerah serta sektor terkait. Pemantapan mutu eksternal laboratorium mikroskopis dilaksanakan dengan metode LQAS dan pemantapan mutu eksternal laboratorium biakan dan Uji kepekaan dilaksanakan dengan metode panel dari laboratorium rujukan nasional. Laboratorium supranasional berperan dalam supervisi kinerja laboratorium rujukan nasional. 2. Strategi 1. Penjaminan mutu pelayanan laboratorium 2. Implementasi sistem jejaring laboratorium biakan dan Uji kepekaan M.Tb 3. Penguatan jejaring laboratorium 4. Menjamin pelaksanaan pemeriksaan laboratorium yang aman 5. Validasi dan penapisan metode baru pemeriksaan laboratorium dilaksanakan di laboratorium rujukan riset dan hasilnya dilaporkan melalui Pokja lab dan Komli sebelum diputuskan sebagai metode yang dapat digunakan di Indonesia 18
28 IMPLEMENTASI RENCANA AKSI NASIONAL LABORATORIUM Laboratorium telah disusun oleh Subdit Mikrobiologi dan Imunologi, Dit BPPM&SK, Ditjen BUK dengan Subdit, Dit P2ML, Ditjen PP&PL dalam konsultasi dengan Pokja Laboratorium dalam bentuk program kerja pengembangan dan penguatan Pelayanan Laboratorium Tuberkulosis di Indonesia Th , dengan uraian sebagai berikut: A. Penjaminan mutu pelayanan laboratorium 1. Menerapkan sistem rujukan sesuai standar a. Mengumpulkan data kondisi sumber daya laboratorium mikroskopis 1) Inventarisasi dan menyiapkan daftar tilik 2) Distribusi daftar tilik 3) Analisis sumber daya laboratorium b. Peningkatan kemampuan tenaga laboratorium 1) Pelatihan/refreshing 2) Pelatihan teknis untuk lab RUS I 3) Pelatihan teknis untuk lab RUS II 4) Pelatihan manajemen lab untuk manajer lab untuk provinsi 5) Pelatihan manajemen lab untuk manajer lab utk kab/kota 2. Memfungsikan laboratorium di 7 provinsi baru a. Peningkatan kompetensi sebagai laboratorium RUS 1) Pengiriman tes panel (50 sediaan tiap 6 bulan) 2) Pelaksanaan uji silang bertingkat (RUS II prov pembina) 3) Pelaksanaan uji silang bertingkat (RUS I lab rujukan 7 prov baru) b. Pembinaan laboratorium RUS dalam bentuk kalakarya 1) oleh BBLK/BLK Pembina 2) oleh pusat 19
29 c. Pemenuhan sumber daya laboratorium 1) Identifikasi kebutuhan sumber daya laboratorium (alat, sarana prasaarana) 2) Fasilitasi sumber daya lab 3. Peningkatan mutu pelayanan laboratorium a. Penyediaan NSPK pelayanan laboratorium 1) Penyusunan Standar Pelayanan Laboratorium 2) Penggandaan Standar Pelayanan Lab 3) Sosialisasi Standar Pelayanan Lab 4) Penyusunan Pedoman Pemantapan Mutu (EQAS + QC)Lab 5) Penggandaan Pedoman Pemantapan Mutu Lab 6) Sosialisasi Pedoman Pemantapan Mutu Lab 7) Penyusunan Kurukulum dan bahan ajar Pelatihan Mikroskopis 8) Penggandaan Kurikulum dan bahan ajar Pelatihan Mikroskopis 9) Sosialisasi Kurikulum dan bahan ajar Pelatihan Mikroskopis 8 b. Menyediakan supervisor laboratorium 1) Menetapkan kriteria supervisor 2) Seleksi dan penetapan supervisor 3) Penyusunan kurikulum dan bahan ajar pelatihan supervisor 4) Pelatihan supervisor 4. Penerapan pemantapan mutu lab mikr sesuai standar a. Meningkatkan pelaksanaan pemantapan mutu 1) Fasilitasi maintenance dan kalibrasi alat 2) Pelatihan pembuatan sediaan kontrol untuk tes panel 3) Pelatihan Pelaksanaan Pemantapan Mutu lab mikr 4) Pelatihan Penyelenggaraan Pemantapan Mutu Eksternal lab mikr 5) Pelatihan wasor dalam pemantapan mutu eksternal mikroskopis b. Pelaksanaan tes panel mikroskopis 1) Fasilitasi pemeliharaan dan kalibrasi alat 2) Pembuatan tes panel 3) Penyelenggaraan tes panel (distribusi, umpan balik) 20
30 5. Penerapan pemantapan mutu lab biakan dan uji kepekaan a. Pelaksanaan PME biakan dan uji kepekaan 1) Penyelenggaraan PME biakan dan uji kepekaan b. Sertifikasi lab pemeriksaan uji kepekaan M.tb 1) Assesment awal oleh lab penyelenggara 2) Fasilitasi hasil rekomendasi 3) Latihan internal lab untuk mencapai kompetensi 4) Supervisi oleh lab supranasional 5) Pelaksanaan tes panel uji kepekaan 6) Evaluasi tes panel 7) Penetapan lab tersertifkasi sbg lab rujukan pem biakan& Uji kepekaan 6. Penerapan bimbingan dan evaluasi a. Supervisi/bimbingan teknis berjenjang 1) Supervisi/bimtek mikroskopik 2) Supervisi/bimtek biakan dan Uji kepekaan 3) Supervisi/bimtek manajemen lab b. Monitoring dan evaluasi 1) Pertemuan monev nasional 2) Pertemuan monev regional 3) Pertemuan monev provinsi 7. Penguatan Pokja Lab a. Penetapan Pokja Lab 1) Finalisasi SK Pokja Lab 2) Pertemuan Pokja Lab 8. Penerapan sertifikasi laboratorium a. Sertifikasi kompetensi teknisi mikroskopis 1) Pembentukan tim sertifikasi dan assesor 2) Pelatihan assesor di luar negeri 3) Penyusunan Pedoman Akreditasi Pemeriksaan Mikroskopis 4) Pelaksanaan sertifikasii pemeriksaan mikroskopis 21
31 b. Sertifikasi fasilitas laboratorium 1) Pembentukan tim sertifikasi dan assesor 2) Pelatihan assesor di luar negeri 3) Penyusunan Pedoman Sertifikasi ruangan Pemeriksaan Mikroskopis 4) Penyusunan Pedoman Sertifikasi alat pemeriksaan mikroskopik 5) Pelaksanaan sertifikasii ruangan dan/atau alat pemeriksaan mikroskopis 9. Peningkatan pencatatan dan pelaporan a. Pembuatan 12 elektronik 1) Persiapan pembuatan 12 elektronik 2) Pembuatan 12 elektronik 3) Workshop I 12 elektronik 4) Pelatihan software 12 elektronik utk pusat dan prov tertentu 5) Uji coba di prov terpilih 6) Workshop II 12 elektronik 7) Penyempurnaan 8) Penyusunan pedoman penggunaan software 12 elektronik 9) Sosialisasi pedoman penggunanaan software 10) Pelatihan softwar di 33 prov 11) Pelaksanaan b. Pembuatan pengolahan data sumber daya lab elektronik 1) Persiapan pembuatan data sumber daya lab elektronik 2) Pembuatan data sumber daya lab elektronik 3) Workshop I data sumber daya lab elektronik 4) Pelatihan software data sumber daya lab elektronik utk pusat dan provinsi 5) Uji coba di prov terpilih 6) Workshop II data sumber daya lab elektronik 7) Penyempurnaan 8) Penyusunan pedoman 9) Sosialisasi pedoman penggunanaan software 10) Pelatihan software di 33 prov 11) Pelaksanaan 22
32 B. Implementasi sistem jejaring laboratorium biakan dan Uji kepekaan MTb 1. Menerapkan jejaring laboratorium biakan dan Uji kepekaan a. Pengumpulan data calon laboratorium biakan dan Uji kepekaan 1) Inventarisasi kebutuhan sumber daya lab untuk biakan dan Uji kepekaan b. Penetapan laboratorium biakan dan Uji kepekaan 1) Menentukan jadwal, sasaran, assesor 2) Melaksanakan assesmen 3) Analisis hasil assesmen dan rekomendasi 4) Advokasi dan sosialisasi 5) Penetapan sebagai laboratorium biakan 6) Penetapan sebagai laboratorium Uji kepekaan 2. Menguatkan SDM dalam pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan a. Menyediakan NSPK pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan 1) Menyusun Standar Pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan 2) Menyusun kurikulum pelatihan pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan 3) Penggandaan standar dan bahan ajar 4) Sosialisasi dan distribusi standar dan bahan ajar b. Peningkatan kemampuan dan ketrampilan petugas lab 1) Pelatihan pembuatan media biakan dan uji kepekaan M Tb 2) Pelatihan biakan dan uji kepekaan 3) Kalakarya/On the Job Training C. Penguatan jejaring laboratorium 1. Pemantapan pengelolaan jejaring rujukan a. Penyediaan NSPK Pengelolaan Jejaring Lab 1) Penyusunan Pedoman Pengelolaan Jejaring Rujukan 2) Penggandaan Pedoman Pengelolaan Jejaring Rujukan 3) Advokasi dan Sosialisasi Pedoman Pengelolaan Jejaring Rujukan 23
33 2. Pembentukan laboratorium rujukan nasional a. Penetapan laboratorium rujukan nasional 1) Penentuan daftar tilik, jadwal, sasaran, assesor 2) Melaksanakan assesmen 3) Analisis hasil assesmen 4) Advokasi dan sosialisasi 5) Penetapan dengan SK b. Pemenuhan kebutuhan sumber daya laboratorium 1) Inventarisasi kebutuhan sumber daya laboratorium 2) Fasilitasi sumber daya laboratorium c. Peningkatan kemampuan SDM 1) Pelatihan tenaga teknis di luar negeri 3. Pembentukan laboratorium rujukan regional a. Penetapan laboratorium rujukan regional 1) Penentuan daftar tilik, jadwal, sasaran, assesor 2) Melaksanakan assesmen 3) Analisis hasil assesmen 4) Advokasi dan sosialisasi 5) Penetapan dengan SK b. Pemenuhan kebutuhan sumber daya laboratorium 1) Inventarisasi kebutuhan sumber daya laboratorium 2) Fasilitasi sumber daya laboratorium c. Peningkatan kemampuan SDM 1) Pelatihan tenaga teknis 2) Kalakarya/On the Job Training D. Menjamin pelaksanaan pemeriksaan laboratorium yang aman 1. Pelaksanaan biosafety dan biosecurity sesuai standar a. Penyediaan Standar Laboratorium 1) Penyusunan Standar Laboratorium 2) Penggandaan standar 3) Distribusi dan sosialisasi standar 24
34 b. Peningkatan kemampuan SDM dan biosecurity dan biosafety lab 1) Pelatihan teknisi untuk pemeliharaan alat mikros dan biakan di luar negeri c. Sertifikasi alat pemeriksaan lab 1) Pelaksanaan Sertifikasi alat pemeriksaan lab d. Melengkapi peralatan biosafety dan biosecurity penanganan kecelakaan dan alat pelindung diri di lab 1) Fasilitasi alat penanganan kecelakaan dan alat pelindung diri di lab F. Validasi dan penapisan metode baru 1. Mengikuti perkembangan metode baru a. Penapisan teknologi 1) Kajian metode baru 2) Uji Coba/analisis metode baru Detil kegiatan dari masing-masing program kerja beserta timeline pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada lampiran 4. 25
35 MONITORING DAN EVALUASI RAN LABORATORIUM Monitoring dan evaluasi kegiatan dilakukan secara berkala setiap 6 bulan melalui pertemuan monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan provinsi dibawah koordinasi Subdit Mikrobiologi dan Imunologi, Direktorat BPPM dan Sarkes dengan Subdit, Direktorat P2ML dan kelompok kerja laboratorium. 26
36 PENGANGGARAN DAN PEMBIAYAAN Total pembiayaan yg dibutuhkan untuk mendukung implementasi rencana kerja laboratorium tuberkulosis di Indonesia tahun adalah sebesar Rp ,00 Bagan 1 Pembiayaan Rencana Kerja Laboratorium Tuberkulosis Per Strategi di Indonesia tahun Bagan 2 Pembiayaan Rencana Kerja Laboratorium Tuberkulosis Per Sumber Dana di Indonesia tahun
37 PENUTUP Penanggulangan penyakit di Indonesia masih harus terus digalakkan karena masih tingginya prevalensi penyakit di Indonesia dan ditambah dengan makin tingginya prevalensi HIV yang berakibat makin tingginya prevalensi. Pengobatan penderita penyakit sangat dipengaruhi oleh hasil diagnose penyakit. Untuk itu pemeriksaan laboratorium merupakan kunci keberhasilan pengobatan bahkan berperan aktif dalam menurunkan angka prevalensi penyakit. Untuk itu diperlukan peningkatan jangkauan dan kualitas pemeriksaan laboratorium melalui perencanaan dalam jangka menengah dan pendek demgan memperhatikan prioritas penanganan masalah dan didukung dengan indikator kinerja untuk mengetahui pencapaian target yang telah ditentukan. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran pada umumnya dan iptek kelaboratoriuman khususnya, maka makin besar pula tantangan yang dihadapi agar Indonesia tidak tertinggal dengan Negara lain dalam menanggulangi penyakit ini. Keberhasilan suatu perencanaan tidak terlepas dari tersedianya dana dan komitmen semua pihak dalam merealisasikan perencanaan yang telah ada. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, maka diharapkan rencana kerja tahun ini dapat menjadi gambaran bagi semua pihak yang terkait dalam keikutsertaannya bersama pemerintah untuk menurunkan angka prevalendi penyakit di Indonesia. 28
38 DAFTAR PUSTAKA Depkes, 2010, Rencana Kerja Pengembangan dan Penguatan Pelayanan Laboratorium di Indonesia (draft) Kemenkes, 2010, Standar Pelayanan Laboratorium ( draft) Depkes, 2009, Pedoman Pemeriksaan Biakan dan Uji kepekaan Depkes, 2010, Pedoman Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Mikroskopis (revisi) WHO, 2009, Policy on Infection Control in Health Care Facilities, Congregate Settings and Households Depkes,2010, Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Subdit, Laporan kegiatan LQAS, 2009 Subdit, Rekapitulasi laporan supervisi Pokja Lab, 2008/ 2009 Subdit, Hasil Analisa 12 Nasional, 2009/
39 Lampiran 1 Rencana Target Laboratorium yang Mampu Melaksanakan Biakan M. tuberculosis Tahun No Rencana Tahun 2010 No Rencana Tahun 2011 No Rencana Tahun 2012 No Rencana Tahun BBLK Surabaya 23 RSUP dr. Kariadi - Semarang 29 RSUD Labuang Baji - Makassar 39 BLK Palangkaraya 2 Lab Mikrobiologi FKUI 24 BLK Padang 30 RSUD dr. Soetomo - Surabaya 40 RSUP dr. Hasan Sadikin - Bandung 3 RS Persahabatan 25 BLK Bali 31 RSUD dr. Moewardi - Surakarta 41 RSUP dr. M. Djamil -Padang 4 BLK Prov Jabar 26 BLK Pontianak 32 BLK Pekanbaru 42 RSUP R.D. Kandouw - Manado 5 Lab NEHCRI 27 BPPK Manado 33 BLK Palu 43 RSUD Ulin - Banjarmasin 6 BLK Semarang 28 RS Paru dr. Syaiful Anwar-Malang 34 BLK Jambi 44 RSUD Samarinda 7 BLK Jayapura 35 BLK Ambon 45 RSUD Pontianak 8 RSUP H. Adam Malik 36 BLK Bengkulu 46 RSUD Tanjung Pinang - Kepri 9 BBLK Palembang 37 BLK Kupang 10 RSUP Sanglah 38 BLK Kendari 11 BLK Banjarmasin 12 BBLK Makassar 13 Lab Mikrobiologi FK UGM 14 BBKPM Surakarta 15 BLK Lampung 16 BLK Samarinda 17 RS Rotinsulu 18 BLK Aceh 19 BLK Medan 20 BBLK DKI Jakarta 21 BLK Yogyakarta 22 BLKM Pulau Lombok 30
40 Lampiran 2. Rencana Target Laboratorium yang Mampu Biakan & uji kepekaan M. tuberculosis Tahun No Nama Laboratorium Keterangan 1 BBLK Surabaya 1st dan 2nd line 2 Lab Mikrobiologi FKUI 1st dan 2nd line 3 RS Persahabatan 1st dan 2nd line 4 BLK Prov Jabar 1st dan 2 nd line drug 5 Lab NEHCRI 1st dan 2 nd line drug 6 BLK Semarang rcn BLK Jayapura rcn RSUP H. Adam Malik rcn BBLK Palembang rcn Lab Mikrobiologi FK UGM rcn BLK Banjarmasin rcn RSUP Sanglah rcn BBLK Makassar rcn BBKPM Surakarta rcn BLK Lampung rcn BLK Samarinda rcn RS Rotinsulu rcn 2014 Ket : Lab 1-5 telah tersertifikasi oleh lab IMVS Adelaide, Australia 31
41 Lampiran 3. Rencana Target Laboratorium yang Siap Mendukung Survei Uji Kepekaan M. tuberculosis Tahun No Nama Laboratorium Keterangan 1 BBLK Surabaya 1st dan 2nd line 2 Lab Mikrobiologi FKUI 1st dan 2nd line 3 RS Persahabatan 1st dan 2nd line 4 BLK Prov Jabar 1st dan 2 nd line drug 5 Lab NEHCRI 1st dan 2 nd line drug 6 BLK Semarang rcn BLK Jayapura rcn RSUP H. Adam Malik rcn BBLK Palembang rcn Lab Mikrobiologi FK UGM rcn BLK Banjarmasin rcn RSUP Sanglah rcn BBLK Makassar rcn BBKPM Surakarta rcn BLK Lampung rcn BLK Samarinda rcn RS Rotinsulu rcn 2014 Ket : Lab 1-5 telah tersertifikasi oleh lab IMVS Adelaide, Australia 32
42 Lampiran 4 RENCANA KERJA DAN TIMELINE KEGIATAN LABORATORIUM NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT 1 Penjaminan Lab Rujukan 1. Menerapkan 1. Mengumpulkan - Inventarisasi - Daftar sumber X mutu Kinerja Provinsi, sistem rujukan data kondisi kebutuhan daya dan Lab intermediate, PRM, dalam jejaring sumber daya Sumber daya kinerja lab PPM, PS (BBLK, lab laboratorium lab mikroskopik - Daftar tilik BLK,BBKPM, mikroskopis assesmen BKPM, RS, BTKL di Indonesia - Menyiapkan lab PPM BATAM, LAB daftar tilik UNIVERSITAS) assesmen lab 2. Mendistribusi- Persentase X kan format umpan balik data sumber daya sumber daya dan dan kinerja kinerja lab lab 3. Melakukan Persentase lab X analisis sumber yang dianalisa 1 daya dan 0 kinerja 0 laboratorium 2. Menetapkan 1. Menentukan Rencana pelaksa- X laboratorium jadwal, sasaran naan assessmen 1 dalam jejaring dan kriteria r berdasarkan assessor e kompetensi n laboratorium & c pertimbangan geografis target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 33
43 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT 2. Melaksanakan Persentase lab X assesmen yang dilakukan 1 assesmen 0 3. Melakukan Rekomendasi X analisis dan stratifikasi lab rekomendasi hasil assesmen 4. Advokasi, Persentase X sosialisasi pemda yang kepada Pemda diadvokasi prov 5. Penetapan lab Stratifikasi X nasional, labkes regional dg SK Menkes dan rekomendasi calon lab rujukan provinsi kepada gubernur 0 target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 3. Peningkatan Pelatihan/ Jumlah peserta X X X X X kemampuan refreshing yang dilatih petugas lab pemeriksaan mikroskopis tb 4. Pengembangan 1. Pelatihan Persentase lab X lab RUS II/ pembuatan RUS II yang Provinsi sediaan kontrol mengikuti untuk tes panel pelatihan 2. Pelatihan Persentase lab X penyelenggara- RSU II yang an tes panel mengikuti pelatihan 34
44 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 3. Pelaksanaan Persentase lab X X X X X X X X X tes panel untuk RUS I yang lab RUS I (50 mengikuti tes sediaan per panel semester) 4. Pelatihan Persentase lab X manajemen yang mengikuti jejaring lab pelatihan 5. pembentukan 1. Penyusunan Pedoman X lab RUS I pedoman Pembentukan Pembentukan Lab RUS I Lab RUS I 2. Sosialisasi Jumlah prov yang X pedoman dan mengikuti 2 advokasi sosialisasi 0 pembentukan Lab RUS I 3. Seleksi calon Jumlah calon lab X lab RUS I oleh RUS I yang lab RUS II/prov diseleksi 4. Assessment Jumlah calon lab X calon lab RUS I RUS I yang diassess 5. Penunjukan Persentase lab X lab RUS I RUS I yang ditunjuk 6. Peningkatan Pelatihan teknis Persentase lab X kemampuan pelaksanaan uji RSU I yang 1 lab RUS I silang mikroskopis mengikuti 0 pelatihan 0 35
45 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT 2. Memfungsikan 1. Peningkatan 1. Pengiriman tes Persentase lab X X X X lab di 7 kompetensi panel 50 RUS di provinsi baru melalui tes sediaan per provinsi yang sebagai rujukan panel dan semester mengikuti panel uji silang diklat test mikroskopik 2. Pendidikan dan Jumlah controller X pelatihan yang dilatih 2 controller 0 mikroskopis 3. Pendidikan dan Jumlah tenaga X pelatihan yang mengikuti 3 manajemen pelatihan 0 jejaring lab mikroskopis 4. Penetapan lab Jumlah lab di 7 X RUS di 7 prov yang 7 provinsi ditetapkan sbg RUS 2. Pembinaan lab Pertemuan Nota X X RUS di 7 Koordinasi Lab kesepakatan, provinsi baru rujukan 7 laporan pertangoleh BLK/ Provinsi, Lab gungjawaban BBLK pembina Pembina, Pusat (BPPM, NTP) 3. Fasilitasi 1. Identifikasi Daftar kebutuhan X sumber daya kebutuhan sumber daya lab 7 prov sumber daya lab lab 2. Fasilitasi Jumlah lab RUS X X sumber daya di 7 prov baru lab yang sesuai standar target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 36
46 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 3. Pelaksanaan Jumlah lab RUS x x x x x x x x x x x x x x x x x x cross check di 7 provinsi yg bertingkat tidak ada NPT dan PPT (?) 4. Supervisi/OJT Jumlah tenaga X X OJT 3 3 or or 3. Penerapan PMI 1. Meningkatkan 1. Distribusi Persentase lab X sesuai standar pelaksanaan pedoman yg mendapatkan PMI pedoman PMI 2. Sosialiasi Jumlah provinsi X pedoman yang dilakukan 3 sosialisasi 3 3. Fasilitasi Jumlah alat X maintenance maintenance dan dan kalibrasi kalibrasi alat 4. Penetapan Kriteria X kriteria supervisor supervisor 5. pelatihan Jumlah X supervisor supervisor yang 3 dilatih 3 4. Penerapan 1. Meningkatkan 1. Penyusunan SOP LQAS X PME sesuai pelaksanaan SOP LQAS standar PME dengan metode LQAS 2. Sosialisasi SOP Jumlah provinsi X LQAS yang dilakukan 3 sosialisasi 3 3. Pelatihan Jumlah tenaga X pembuatan yang dilatih 6 tes panel 6 37
47 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT 4. Workshop Jumlah BBLK/ X controller bagi BLK yang 2 petugas BBLK/ mengikuti 6 BLK workshop target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 5. Pelatihan LQAS Jumlah wasor X X X X X bagi wasor prov prov &kab/kota dan kab/kota yang mengikuti pelatihan Pelaksanaan 1. Pembuatan tes Jumlah tes panel X X X X X X X X tes panel panel yang dibuat Penyelenggara- Jumlah prov yang X X X X X X X X an : melaksanakan distribusi LQAS sesuai umpan balik pedoman 3. Supervisi 1. penetapan daftar kriteria X kriteria supervisor 2. pelatihan Jumlah tenaga X supervisor yang mengikuti 3 pelatihan 3 3. Supervisi pusat Persentase prov X X X X ke provinsi yg melaksanakan LQAS sesuai pedoman 0 4. Monev 1. Monev Nasional Jumlah peserta X X X X X yang mengikuti pertemuan
48 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2. Monev Regional Jumlah peserta X X X X X yang mengikuti pertemuan p p p p p r r r r r o o o o o v v v @ or or or or or 3. Monev Provinsi Jumlah peserta X X X X X yang mengikuti pertemuan p p p p p r r r r r o o o o o v v v @ or or or or or 5. Penerapan 1. Akreditasi 1. Pembentukan Tim dan asessor X akreditasi mikroskopis tim dan asessor akreditasi pemeriksaan akreditasi mikroskopis lab mikros 2. Pelatihan Jumlah asessor X X X X assessor di yang dilatih luar negeri 3. Penyusunan Jumlah pedoman X pedoman yang dihasilkan 1 akreditasi mikroskopis 39
49 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT 4. Sosialisasi Jumlah prov yang X akreditasi disosialisasi 3 mikroskopis 3 target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 5. Pelaksanaan Jumlah sarkes X X X X X X X X X X X X akreditasi yang diakreditasi mikroskopis 2. Akreditasi 1. Pembentukan Tim dan asessor X kultur & uji tim dan asessor akreditasi kultur resistensi akreditasi pem kultur & uji resist 2. Pelatihan Jumlah asessor X assessor di luar yang dilatih 4 negeri 3. Penyusunan Jumlah pedoman X pedoman yang dihasilkan akreditasi pem kultur & uji resist 4. Sosialisasi Jumlah prov yg X akreditasi pem disosialisasi 1 kultur & uji 5 resist 5. Pelaksanaan Jumlah sarkes X X X akreditasi pem yang diakreditasi kultur & uji resist 6. Peningkatan 1. Pembuatan 1. Persiapan X pencatatan dan 12 pelaporan elektronik 2. Pembuatan X X 12 elektronik 40
50 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT 3. Workshop I Persentase X peserta yang mengikuti workshop 4. Workshop II Persentase X (penyempurna- peserta yang an draft) mengikuti workshop target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 5. Uji coba di Jumlah lab yang X X prov terpilih dipilih sbg uji coba 6. Penyempurnaan Soft vopy 12 X elektronik 2. Implementasi Lab Provinsi, 1. Menerapkan 1. Penetapan Lab 1. Inventarisasi Inventaris X sistem jejaring Regional, Nasional, Jejaring lab kultur dan Uji kebutuhan kebutuhan laboratorium Universitas kultur dan uji Kepekaan sumber daya sumber daya lab biakan dan Uji kepekaan MTb lab (SDM, kultur dan uji kepekaan M.Tb fasilitas lab, kepekaan alat, bahan habis pakai) 7. Sosialisasi dan Persentase prov X pelatihan di yang mengikuti 33 prov advokasi 8. Pelaksanaan Persentase lab X X yang memakai 12 elektronik 2. Menentukan Daftar tilik X daftar tilik untuk assessmen 41
51 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 3. Menentukan Rencana X X Jadwal, pelaksanaan sasaran, assessmen penentuan assesor 4. Melaksanakan Jumlah lab yang X X assesmen diassess analisis Persentase lab X X assesmen dan yang dianalisa 1 1 rekomendasi 0 0 lab kultur dan 0 0 uji kepekaan 6. advokasi/ Persentase X X sosialisasi ke dinkes prov yg 1 1 dinkes prov diadvokasi Penetapan sbg Persentase SK X X lab kultur dgn sbg lab kultur 1 1 SK Menguatkan 1. Menyediakan 1. Pembuatan SOP kultur dan X SDM dalam pedoman SOP kultur dan uji kepekaan pemeriksaan pelaksanaan uji kepekaan MTb kultur dan uji pemeriksaan MTb kepekaan kultur dan uji kepekaan 2. Pembuatan Modul pelatihan X modul pelatihan 3. penggandaan Jumlah SOP dan X modul pelatihan 5 yang dicetak
52 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT 4. Distribusi dan Jumlah prov yang X sosialisasi disosialisasi 1 panduan SOP 0 kultur dan uji Kepekaan 5. Penyusunan Jumlah pedoman X Pedoman yang dibuat 1 Pencatatan dan Pelaporan untuk kultur dan uji kepekaan M.Tb 2. Peningkatan 1. Pelatihan Jumlah tenaga X kemampuan biakan dan uji yang dilatih 2 dan ketram- kepekaan 0 pilan petugas petugas lab lab prov dalam Tingkat provinsi pemeriksaan (pembuatan kultur dan uji media, biakan kepekaan dan uji kepekaan, Biosafety lab Tb) 2. Evaluasi Pasca Persentase X pelatihan kultur sarkes yang 1 dan uji melakukan kultur 0 kepekaan MTb dan uji kepekaan 0 Mtb sesuai standar 3. Penguatan Lab provinsi 1. Pembentukan 1. Penetapan lab 1. Penyusunan daftar tilik X jejaring lab rujukan regional daftar tilik laboratorium regional 2. Menentukan Jadwal kegiatan X jadwal, sasaran dan kriteria assessor target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 43
53 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT 3. Melaksanakan Jumlah lab yang X assesmen diassess 2 target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 4. Melakukan Persentase lab X analisis dan yang dianalisa 1 rekomendasi 0 hasil assesmen 0 5. Advokasi, Jumlah dinkes X sosialisasi ke prov yg 1 Pemda prov diadvokasi 0 6. Penetapan lab Persentase SK X regional dgn sbg lab regional 1 SK Menkes 0 2. Pemenuhan 1. Inventarisasi Data kebutuhan X kebutuhan kebutuhan sumber daya lab Sumber Daya sumber daya (SDM, fasilitas, Laboratorium lab alat, bahan habis pakai) 2. Fasilitasi Persentase X sumber daya fasilitas lab 1 lab regional yg 0 sesuai standar 0 3. Peningkatan 1. Pelatihan Jumlah tenaga X Kemampuan yang mengikuti 2 SDM pelatihan 0 2. Pembentukan 1. Penetapan 1. Penyusunan Jumlah daftar X lab rujukan calon lab daftar tilik tilik nasional (utk nasional Training 2. penyusunan Jadwal kegiatan X mikroskopis, jadwal, sasaran, Training QA, asessors kultur dan DST, Riset) 3. Melakukan Jumlah lab yang X assesmen diassess
54 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 4. Melakukan Persentase lab X analisis dan yang dianalisa 1 rekomendasi 0 hasil assesmen 0 5. Advokasi, Jumlah dinkes X sosialisasi ke prov yang 2 Pemda prov diadvokasi 6. Penetapan lab Persentase SK X nasional dgn sbg lab regional SK Menkes 2. Pemenuhan 1. Inventarisasi Data kebutuhan X kebutuhan kebutuhan sumber daya lab Sumber Daya sumber daya Laboratorium lab (SDM, fasilitas lab, alat, bahan habis pakai) 2. fasilitasi Persentase lab X sumber daya nas yang sesuai 1 lab standar 0 3. Peningkatan 1. Pelatihan Jumlah tenaga X Kemampuan yang mengikuti 1 SDM pelatihan 2 4. Menjamin Seluruh 1. Pelaksanaan 1. Penyediaan 1. Penyusunan Jumlah Standar X pelaksanaan laboratorium K3 Lab standar K3 standar K3 yang disusun pemeriksaan sesuai standar lab lab yang 2. penggandaan Jumlah Standar X aman bagi K3 yang 1 petugas, digandakan 0 pasien dan 0 lingkungan
55 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT 3. Distribusi Persentase prov X yang mendapat 1 standar K3 0 lab 0 4. Sosialisasi Jumlah sarkes X standar K3 yang disosialisasi 3 2. Peningkatan 1. Pelatihan K3 Jumlah tenaga X X Kemampuan yang dilatih K3 3 3 SDM lab 3 3 target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 3. Sertifikasi 1. penyusunan Rencana kerja X Keamanan dan jadwal, assessmen keselamatan sasaran, kerja lab asessors sesuai standar 2. Assessmen Jumlah lab X X X X pelaksanaan yang di assess K3 di lab 3. Sertifikasi K3 Persentase lab X X X yang tersertifikasi K o 2 0 or 3 p 0 r 46
56 NO STRATEGI SASARAN SUB STRATEGI KEGIATAN SUB KEGIATAN INDIKATOR OPERASIONAL OPERASIONAL OUTPUT target I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 5 Melakukan Lab regional 1. Pemutakhiran 1. Penyusunan 1. Inventarisasi Data kebutuhan X validasi data dan lab Nasional data sumber data sumber data sumber sumber daya lab dan metode daya dan daya lab daya dan diagnostik teknologi kinerja baru laboratorium laboratorium 2 Updating data data lab X lab Lab nasional 2. Pengembangan Penapisan 1. Workshop Rekomendasi X metode baru teknologi workshop untuk pemeriksaan diagnostik lab 2. Uji coba Hasil uji coba X X X X metode baru 3. Rekomendasi SK X penggunaan metode baru 47
57 CATATAN 48
58 ISBN:
BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993 memperkirakan sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis masih
Indonesia dalam rangka percepatan Millenium Development Goals (MDGs) mentargetkan penemuan kasus baru TB BTA positif atau Case Detection Rate (CDR)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organization (WHO) pada tahun 1993 mendeklarasikan penyakit Tuberkulosis (TB) sebagai kedaruratan global akibat dari semakin meningkatnya penyakit dan kematian
JEJARING PROGRAM NASIONAL PENGENDALIAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA
JEJARING PROGRAM NASIONAL PENGENDALIAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA WIHARDI TRIMAN, dr.,mqih MT-TB Jakarta HP : 0812 660 9475 Email : [email protected] LATAR BELAKANG Thn.1995, P2TB mengadopsi Strategi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama dunia. Tahun 2012, diperkirakan 8,6 juta penderita mengalami TB dan 1,3 juta meninggal dibesabakan oleh TB
PENDAHULUAN. M.Arie W-FKM Undip
M.Arie W-FKM Undip PENDAHULUAN Tahun 1995 : Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse chemotherapy) Rekomendasi WHO : angka kesembuhan tinggi. Bank Dunia : Strategi DOTS merupakan strategi
BAB 1 PENDAHULUAN. Kegiatan penanggulangan Tuberkulosis (TB), khususnya TB Paru di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan penanggulangan Tuberkulosis (TB), khususnya TB Paru di Indonesia telah dimulai sejak diadakan Simposium Pemberantasan TB Paru di Ciloto pada tahun 1969. Namun
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. pengobatan. Pada era Jaminan Kesehatan Nasional saat ini pembangunan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Program pembangunan kesehatan nasional mencakup lima aspek pelayanan yaitu bidang promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak, termasuk keluarga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam rangka mencapai tujuan Nasional di bidang kesehatan diperlukan suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal
DITJEN PP&PL KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2011
LAPORAN SITUASI TERKINI PERKEMBANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Januari-Juni 211 DITJEN PP&PL KEMENTERIAN KESEHATAN RI 211 * Data dapat dikutip dan dipublikasikan dengan menyebutkan sumber 1 1. Pencapaian
BAB I BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuberkulosis merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di tingkat global, regional, nasional, maupun lokal. Tuberkulosis masih
BAB I. Treatment, Short-course chemotherapy)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuberkulosis (TB), penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis, sejak ditemukan di abad 20 telah menjadi masalah kegawatdaruratan
PENERAPAN STRATEGI DOTS DI RUMAH SAKIT HBS MODUL F HDL 1
PENERAPAN STRATEGI DOTS DI RUMAH SAKIT HBS MODUL F HDL 1 RUMAH SAKIT PERLU DOTS? Selama ini strategi DOTS hanya ada di semua puskesmas. Kasus TBC DI RS Banyak, SETIDAKNYA 10 BESAR penyakit, TETAPI tidak
BAB 1 PENDAHULUAN. TB.Paru merupakan penyakit yang mudah menular dan bersifat menahun, disebabkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) atau dalam program kesehatan dikenal dengan TB.Paru merupakan penyakit yang mudah menular dan bersifat menahun, disebabkan oleh kuman Mycobacterium
2.1. Supervisi ke unit pelayanan penanggulangan TBC termasuk Laboratorium Membuat Lembar Kerja Proyek, termasuk biaya operasional X X X
26/03/08 No. 1 2 3 4 5 6 URAIAN TUGAS PROGRAM TBC UNTUK PETUGAS KABUPATEN/KOTA URAIAN TUGAS Ka Din Kes Ka Sie P2M Wasor TBC GFK Lab Kes Da Ka Sie PKM MEMBUAT RENCANA KEGIATAN: 1.1. Pengembangan unit pelayanan
Pedoman Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Tuberkulosis
614.542 Ind p Pedoman Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Tuberkulosis KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2015 Pedoman Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium TB 1 Katalog Dalam Terbitan.
MULTI DRUG RESISANT TUBERCULOSIS (MDR-TB): PENGOBATAN PADA DEWASA
MULTI DRUG RESISANT TUBERCULOSIS (MDR-TB): PENGOBATAN PADA DEWASA Sumardi Divisi Pulmonologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUGM / KSM Pulmonologi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Abstract Tuberculosis treatment
2017, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Neg
No.122, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMKES. TB. Penanggulangan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DENGAN RAHMAT
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Tuberkulosis 2.1.1.1 Definisi Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman
EVALUASI PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAN
EVALUASI PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAN DETERMINAN KEJADIAN TUBERKULOSIS DI RUMAH TAHANAN NEGARA/ LEMBAGA PEMASYARAKATAN SE EKS KARESIDENAN SURAKARTA TESIS Agung Setiadi S501108003 PROGRAM PASCASARJANA
BAB I PENDAHULUAN. menular (dengan Bakteri Asam positif) (WHO), 2010). Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global utama dengan tingkat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan yang penting saat ini. WHO menyatakan bahwa sekitar sepertiga penduduk dunia tlah terinfeksi kuman Tuberkulosis.
TENTANG. Modul Ini. Modul LJJ P2TB Bagi DPM PUSDIKLAT APARATUR-BPPSDMK Bekerjasama dengan DIREKTORAT P2ML DITJEN PP DAN PLDan PB IDI
TENTANG Modul Ini Di lndonesia, penyakit Tuberkulosis termasuk salah satu prioritas nasional untuk program pengendalian penyakit karena berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi, serta sering
PERANAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PARU
PERANAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PARU Oleh : dr. Austin Bertilova Carmelita Dosen Program Studi Pendidikan Dokter Univeritas Palangka Raya PENDAHULUAN Penyakit TB salah satu penyakit
Strategi Penanganan TB di dunia kerja
Strategi Penanganan TB di dunia kerja Dr. Asik Surya, MPPM Pendidikan Dokter FK Unair Surabaya, 1990 Master Public Policy and Management, University of Southern California, LA, USA, 1999 Pekerjaan : Program
BAB I PENDAHULUAN. perhatian khusus di kalangan masyarakat. Menurut World Health Organization
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu penyakit yang mendapat perhatian khusus di kalangan masyarakat. Menurut World Health Organization (WHO) 2013, lebih dari
BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan Masyarakat. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar tuberkulosis menyerang organ paru-paru, namun bisa juga
Stop. Rencana Aksi Nasional. Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 2011
Informasi Strategis Pengendalian Tuberkulosis Indonesia: 2011-2014 Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 2011 Kata Pengantar Tuberkulosis atau masih
I. PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penularan langsung terjadi melalui aerosol yang mengandung
PROGRAM KERJA PENERAPAN STRATEGI DOTS
PROGRAM KERJA PENERAPAN STRATEGI DOTS TB DOTS 2016 KEMENTRIAN KESEHATAN RI DIREKTORAT BINA UPAYA KESEHATAN RSUD Palabuhanratu Jln.Ahmad Yani No. 2 Palabuhanratu Sukabumi Email [email protected] PERATURAN
2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);
BERITA DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 33 TAHUN 2016 SERI B.25 PERATURAN BUPATI CIREBON NOMOR 33 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN KOLABORASI TB-HIV (TUBERKULOSIS-HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS) KABUPATEN
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuberkulosis (TB), merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis dan tetap menjadi salah satu penyakit menular mematikan
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Setelah perang kemerdekaan, TB
BAB 1 PENDAHULUAN. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga dari
PENERAPAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL LABORATORIUM TUBERKULOSIS PADA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MATARAM TAHUN 2014
ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah57 PENERAPAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL LABORATORIUM TUBERKULOSIS PADA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MATARAM TAHUN 2014 Oleh : Erna Haryati A.A Istri Agung Trisnawati
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular. langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang sebagian besar menyerang paru-paru tetapi juga dapat mengenai
BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA
BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA 3.1 DASAR HUKUM Dalam menetapkan tujuan, sasaran dan indikator kinerja Balai Besar Laboratorium menggunakan acuan berupa regulasi atau peraturan sebagai berikut : 1) Peraturan
BAB I PENDAHULUAN. oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis atau TB adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat
BAB 1 PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Sumber infeksi TB kebanyakan melalui udara, yaitu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sumber infeksi TB kebanyakan melalui udara, yaitu melalui inhalasi
Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan.
Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan. Dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes Sekretaris Ditjen Bina Upaya Kesehatan kementerian kesehatan republik indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Pada tahun
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang terbaru (2010), masih menempatkan Indonesia sebagai negara dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Laporan Tuberkulosis (TB) dunia oleh World Health Organization (WHO) yang terbaru (2010), masih menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pasien TB terbesar
PANDUAN PELAYANAN DOTS TB RSU DADI KELUARGA TAHUN 2016
PANDUAN PELAYANAN DOTS TB RSU DADI KELUARGA TAHUN 2016 RUMAH SAKIT UMUM DADI KELUARGA Jl. Sultan Agung No.8A Purwokerto Tahun 2016 BAB I DEFINISI Sampai saat ini, Rumah Sakit di luar negeri termasuk di
BAB 1 PENDAHULUAN. TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar bakteri TB menyerang paru, tetapi
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar bakteri TB menyerang paru, tetapi dapat
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang masih menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang masih menjadi masalah di Dunia. Hal ini terbukti dengan masuknya perhatian terhadap penanganan TB dalam MDGs.
BAB I PENDAHULUAN. infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar. dan HIV/AIDS, Tuberkulosis menjadi salah satu penyakit yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA PENGARUH MAKANAN TAMBAHAN TERHADAP KONVERSI DAHAK PADA PENDERITA TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS JAGAKARSA, JAKARTA SELATAN TAHUN 2008-2009 SKRIPSI EKA HATEYANINGSIH T. NPM 1005000637 FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis paru (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru tetapi dapat
DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR... vii EXECUTIVE SUMMARY... ix
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR... vii EXECUTIVE SUMMARY... ix BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Maksud dan Tujuan Laporan... 2 1.3 Ruang
HASIL DISKUSI KELOMPOK RKD TBC PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA
HASIL DISKUSI KELOMPOK RKD TBC PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA Isu TBC &Target Pencapaian Tahun 2018-2019 Angka Penemuan Kasus (Missing Case) Angka Kepatuhan Minum Obat Case Detection Rate (CDR) >70% Success
2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116,
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.438, 2017 KEMENKES. Penanggulangan Cacingan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2017 TENTANG PENANGGULANGAN CACINGAN DENGAN RAHMAT
BAB I PENDAHULUAN. utama. The World Health Organization (WHO) dalam Annual Report on Global
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah kesehatan global yang utama. The World Health Organization (WHO) dalam Annual Report on Global TB Control 2003 menyatakan
BAB I PENDAHULUAN. tersebut terdapat di negara-negara berkembang dan 75% penderita TB Paru adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit tuberkulosis paru selanjutnya disebut TB paru merupakan penyakit menular yang mempunyai angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Menurut World Health Organization
PERAN LSM/KOMUNITAS DALAM KOLABORASI TB-HIV
PERAN LSM/KOMUNITAS DALAM KOLABORASI TB-HIV Direktorat PPML Kementrian Kesehatan RI Forum Nasional VI Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia Padang, 26 Agustus 2015 Kita tidak bisa melawan AIDS kecuali
BAB 1 PENDAHULUAN. dengan sinar matahari, tetapi dapat hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit TBC Paru merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Kuman ini memiliki sifat khusus tahan asam, cepat mati dengan sinar
BAB I. PENDAHULUAN. mengganti aktor pusat menjadi daerah dalam hal pengambilan kebijakan. dengan masyarakat. Dengan begitu, informasi tentang proses
BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah mengatur pendelegasian fungsi atau kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Pendelegasian tersebut
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN MOTIVASI PETUGAS TBC DENGAN ANGKA PENEMUAN KASUS TBC DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABUPATEN BOYOLALI
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN MOTIVASI PETUGAS TBC DENGAN ANGKA PENEMUAN KASUS TBC DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABUPATEN BOYOLALI Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah
BAB I PENDAHULUAN. yang dapat menimbulkan komplikasi kesakitan (morbiditas) dan kematian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit tuberkulosis paru masih merupakan masalah utama kesehatan yang dapat menimbulkan komplikasi kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) (FK-UI, 2002).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) paru merupakan satu penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian. Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh infeksi
Peningkatan Kinerja UPT RS Paru Batu Dalam Pelaksanaan Program P2TB (Pengendalian Penyakit Tuberkulosa)
Peningkatan Kinerja UPT RS Paru Batu Dalam Pelaksanaan Program P2TB (Pengendalian Penyakit Tuberkulosa) Nama Inovasi Peningkatan Kinerja UPT RS Paru Batu Dalam Pelaksanaan Program P2TB (Pengendalian Penyakit
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi, yang juga dikenal sebagai communicable disease atau transmissible
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi, yang juga dikenal sebagai communicable disease atau transmissible disease adalah penyakit yang secara klinik terjadi akibat dari keberadaan dan pertumbuhan
BAB 1 PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.bakteri ini berbentuk batang dan bersifat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam
BAB I PENDAHULUAN. ditakuti karena menular. Menurut Robins (Misnadiarly, 2006), tuberkulosis adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit yang sudah cukup lama dan tersebar di seluruh dunia. Penyakit tuberkulosis dikenal oleh masyarakat luas dan ditakuti karena
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/410/2016 TENTANG RUMAH SAKIT PELAKSANA REGISTRASI KANKER DAN RUMAH SAKIT PUSAT PENGENDALI DATA BEBAN KANKER NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN
BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB paru) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh
BAB 1 PENDAHULUAN. Analisis faktor-faktor..., Kartika, FKM UI, 2009
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang TB merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan di dunia kesehatan hingga saat ini. Hal ini dibuktikan dengan masih banyak ditemukannya penderita
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang TBC yang telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia adalah pembunuh menular yang paling banyak membunuh orang muda dan orang dewasa di dunia. TBC membunuh 8000 orang
BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. tanah lembab dan tidak adanya sinar matahari (Corwin, 2009).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Price & Wilson, 2006). Penyakit ini dapat menyebar melalui
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru.
BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Tuberculosis Paru (TB Paru) merupakan salah satu penyakit yang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar belakang Penyakit Tuberculosis Paru (TB Paru) merupakan salah satu penyakit yang telah lama dikenal dan sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan di berbagai negara di
BAB II GAMBARAN KINERJA SAAT INI
6 BAB II GAMBARAN KINERJA SAAT INI 2.1 Gambaran Kinerja Aspek Pelayanan 2.1.1 Kinerja Pelayanan Laboratorium Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian
LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT PENGEMBANGAN PERAN LABORATORIUM TB PUSAT PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS (PPM) DI PULAU MANDANGIN SAMPANG, MADURA
LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT PENGEMBANGAN PERAN LABORATORIUM TB PUSAT PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS (PPM) DI PULAU MANDANGIN SAMPANG, MADURA TIM : Prof. Dr Ni Made Mertaniasih, dr., MS., SpMK Dr. Eko
Lampiran 1. Pedoman Wawancara Penelitian
Lampiran 1. Pedoman Wawancara Penelitian 102 PEDOMAN WAWANCARA EVALUASI PELAKSANAAN STRATEGI DOTS (DIRECT OBSERVED SHORT-COURSE TREATMENT) DALAM MENURUNKAN ANGKA PENDERITA TB PARU DI RSUD DR. TENGKU MANSYUR
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang. disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium Tuberculosis yang pada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium Tuberculosis yang pada umumnya menyerang jaringan paru,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tabel 1. Jumlah Kasus HIV/AIDS Di Indonesia Yang Dilaporkan Menurut Tahun Sampai Dengan Tahun 2015
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara global hingga pada pertengahan tahun 2015 terdapat 15,8 juta orang yang hidup dengan HIV dan 2,0 juta orang baru terinfeksi HIV, serta terdapat 1,2 juta
SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 2016 NOMOR : SP DIPA /2016
SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 2 MOR SP DIPA-24.12-/2 DS3612-4187-984-7 A. DASAR HUKUM 1. 2. 3. UU No. 17 Tahun 23 tentang Keuangan Negara. UU No. 1 Tahun
PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERANTASAN DAN ELIMINASI PENYAKIT TUBERKULOSIS DI KABUPATEN SIAK
PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERANTASAN DAN ELIMINASI PENYAKIT TUBERKULOSIS DI KABUPATEN SIAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang : a. bahwa untuk
BAB I PENDAHULUAN. I.1.Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah utama. kesehatan global. TB menyebabkan kesakitan pada jutaan
BAB I PENDAHULUAN I.1.Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah utama kesehatan global. TB menyebabkan kesakitan pada jutaan manusia tiap tahunnya dan menjadi penyebab kematian kedua dari
GIRI TRICAHYONO K
EVALUASI KETEPATAN TERAPI TERHADAP KEBERHASILAN TERAPI PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA BULAN JANUARI-JUNI TAHUN 2013 SKRIPSI Oleh: GIRI TRICAHYONO K100100018
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia. Penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional
Dr. Kirana Pritasari, MQIH Sekretaris Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan
Dr. Kirana Pritasari, MQIH Sekretaris Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan Jakarta, 22 Maret 2017 OUTLINE PENYAJIAN: 2 3 4 5 SPM KESEHATAN DAERAH KABUPATEN/KOTA NO JENIS LAYANAN DASAR MUTU
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang
Rencana Aksi Nasional Penanggulangan TB Melalui Penguatan Laboratorium TB
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Rencana Aksi Nasional Penanggulangan TB Melalui Penguatan Laboratorium TB 2016-2020 Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan
BAB I PENDAHULUAN UKDW. kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi
BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis dan dapat disembuhkan. Tuberkulosis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis dan dapat disembuhkan. Tuberkulosis dapat menyebar
BAB 1 PENDAHULUAN. seluruh dunia. Jumlah kasus TB pada tahun 2014 sebagian besar terjadi di Asia
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di dunia. 1,5 juta orang meninggal akibat tuberkulosis pada tahun 2014. Insiden TB diperkirakan ada 9,6 juta (kisaran 9,1-10
BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA
BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA 3.1 DASAR HUKUM Dalam menetapkan tujuan, sasaran dan indikator kinerja Balai Besar Laboratorium menggunakan acuan berupa regulasi atau peraturan sebagai berikut : 1) Peraturan
PRATIWI ARI HENDRAWATI J
HUBUNGAN ANTARA PARTISIPASI PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) KELUARGA DENGAN SIKAP PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANYUANYAR SURAKARTA SKRIPSI Untuk memenuhi persyaratan meraih derajat
I. PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang dihadapi oleh masyarakat dunia. Saat ini hampir sepertiga penduduk dunia terinfeksi kuman
Laporan Perkembangan Bidang Data dan Informasi Komite Penanggulangan Kanker Nasional. dr. Evlina Suzanna, SpPA Ketua Bidang Data dan Informasi
Laporan Perkembangan Bidang Data dan Informasi Komite Penanggulangan Kanker Nasional dr. Evlina Suzanna, SpPA Ketua Bidang Data dan Informasi 14 RS RUJUKAN NASIONAL (Kepmen No. HK.02.02/Menkes/390/2014)
