BAB II PROFIL PT PERTAMINA (PERSERO)
|
|
|
- Teguh Gunawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 BAB II PROFIL PT PERTAMINA (PERSERO) 1. Sejarah Perusahaan PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Republik Indonesia (state-owned oil company) yang dibentuk pada tanggal 10 Desember 1957 dengan nama PT PERMINA. Padatahun 1961, perusahaan ini berganti nama menjadi PN PERMINA, dan setelah digabung dengan PN PERTAMIN di tahun 1968 namanya berubah menjadi PN PERTAMINA. Dengan diberlakukannya Undang Undang No. 8 Tahun 1971, nama perusahaan menjadi PERTAMINA. Nama Perusahaan ini tetap digunakan pada waktu PERTAMINA berubah status hukumnya menjadi Perseroan Terbatas pada tanggal 17 September 2003, menjadi PT PERTAMINA (PERSERO). Pendirian PT PERTAMINA (PERSERO) dikukuhkan berdasarkan akta Notaris Lanny Janis Ishak, SH No. 20 tanggal 17 September 2003, dan disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) melalui Surat Keputusan No.C HT pada tanggal 09 Oktober 2003 Adapun tujuan dari Perusahaan Perseroan adalah untuk: Mengusahakan keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perseroan secara efektif dan efisien dan memberikan kontribusi dalam peningkatan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
2 2 Perseroan melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut: a. Menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi berserta hasil olahan dan turunannya. b. Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang panas bumi yang ada pada saat pendiriannya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTP) yang telah mencapai tahap akhir negosiasi dan berhasil menjadi milik perseroan c. Melaksanakan pengusahaan dan pemasaran Liquified Natural Gas (LNG) dan produk lain yang dihasilkan dari kilang LNG. d. Menyelenggarakan kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam huruf a,b,c diatas Sejalan dengan UU Migas serta kebijakan lain terkait dengan BUMN dan Perseroan, maka pada tahun 2006 pemerintah Republik Indonesia memberlakukan suatu kebijakan baru tentang pola kompensasi pendistribusian BBM bersubsidi (dalam kaitan penugasan public service obligation/pso). Perubahan kebijakan tersebut adalah dari pola cost + fee menjadi berdasarkan harga keekonomian plus margin. 2. Visi, Misi, dan Organisasi Perusahaan Visi : Menjadi perusahaan yang unggul, maju, dan terpandang Misi : 1) Melakukan usaha dalam bidang energi dan petrokimia serta usaha lain yang menunjang bisnis PERTAMINA.
3 3 2) Menjalankan entitas bisnis yang dikelola secara profesional, kompetitif dan berorientasi laba. 3) Memberikan nilai tambah lebih bagi pemegang saham, pelanggan, pekerja, dan masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN DIREKTUR UTAMA KEPALA SATUAN PENGAWASAN INTERNAL SEKRETARIS PERSEROAN KEPALA HUKUM KORPORAT KEPALA BIDANG USAHA LNG SVP PERENCANAAN PENGEMBANGAN BISNIS & TRANFORMASI DIREKTUR HULU DIREKTUR PENGOLAHAN DIREKTUR PEMASARAN dan NIAGA DIREKTUR PERENCANAAN INVESTASI DAN MANAJEMEN RISIKO DIREKTUR SDM DIREKTUR UMUM DIREKTUR KEUANGAN Dari Struktur Organisasi diatas dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Sekretaris membawahi: Kadiv Komunikasi, Legal Advisor, Kepala Biro Direksi, Kadiv. Hub Kelembagaan.
4 4 b. Kepala Hukum Korporat membawahi: Manajer Kontrak & Pertimbangan Hukum, Manajer Litigasi, Hukum Direktorat. c. Kepala Bidang Usaha LNG membawahi: Manajer Pengembangan Pasar LNG, Manajer Penjualan LNG, Manajer Transportasi LNG, Manajer Operasi Kilang LNG. d. Kepala Satuan Pengawasan Intern membawahi: Kadiv. SPI Bidang Hulu, Kadiv. SPI Bidang Pengolahan, Pemasaran & Niaga, Kadiv. SPI Bidang Korporat, Kadiv. SPI Bidang Khusus, masing-masing Kadiv membawahi manajer terkait di bidangnya, sementara untuk Manajer Pullahta dan Rensisdur bertanggung jawab langsung kepada Kepala Satuan Pengawasan Intern. e. Direktur Hulu membawahi: Deputi Direktur Perencanaan dan Evaluasi, Deputi Direktur Pengembangan Usaha serta General Manajer terkait kegiatan hulu, sementara untuk Legal Consultan dan Sekretariat Direktorat Hulu bertanggung jawab langsung kepada Direktur Hulu. f. Direktur Pengolahan membawahi: Kadiv Perencanaan, Kadiv Optimasi Kilang, Manajer Penelitian & Laboratorium, Manajer Pusat Rekayasa dan Deputi Direktur Operasi Pengolahan yang membawahi manajer terkait serta General Manajer Unit Pengolahan 1 s/d 7. g. Direktur Pemasaran dan Niaga membawahi: Deputi Direktur Perkapalan, Deputi Direktur Distribusi, Deputi Direktur Pemasaran, dimana masingmasing Deputi membawahi Vice President (VP) terkait, sementara untuk VP Layanan Umum, VP Perencanaan Strategis & Bangus serta Kepala Perwakilan Asia Timur bertanggungn jawab langsung kepada Direktur
5 5 Pemasaran dan Niaga. Masing-masing VP membawahi manajer terkait dan manajer region. h. Direktur Umum dan SDM membawahi: Deputi Direktur Pendayagunaan Aset & Teknologi Informasi, dan Deputi Direktur Pengembangan SDM & Organisasi, masing-masing Deputi membawahi General Manajer terkait. Direktur Keuangan membawahi: Deputi Direktur Operasi Keuangan dan Deputi Direktur Pendanaan & Management Resiko, yang masing-masing Deputi membawahi Kadiv terkait, sementara untuk Manajer Program Kemitraan dan Bina Lingkungan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Keuangan. 3. Bidang Usaha PT Pertamina Lingkup usaha PERTAMINA terdiri atas sektor bisnis energi di hulu dan sektor hilir. Sektor bisnis energi hulu meliputi eksplorasi dan produksi minyak, gas, dan panas bumi yang dilakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kegiatan usaha ini dilakukan melalui operasi sendiri oleh Perusahaan (own-operation) dan melalui kemitraan dalam bentuk kerjasama secara JOB (Joint Operation Body), TAC (Technical Assistance Contract), dan JOC (Joint Operating Contract). Bisnis di sektor hilir meliputi kegiatan pengolahan minyak mentah (refinery), pemasaran dan niaga produk-produk hasil minyak dan petrokimia, dan bisnis perkapalan terkait pendistribusian produk-produk Perusahaan. Produk-produk yang dihasilkan oleh Perusahaan meliputi Bahan Bakar Minyak (BBM), Non BBM, LPG, LNG, Petrokimia, dan Pelumas (Lube Base Oil).
6 6 Kegiatan Pertamina dalam menyelenggarakan usahanya di bidang Energi dan Petrokimia, terbagi ke dalam dua sektor, yaitu Sektor Bisnis Hulu dan Hilir, dan kegiatan bisnis yang dilakukan oleh Anak-anak Perusahaan dan Perusahaan Patungan yang dimiliki oleh PERTAMINA saat ini. 3.1 Bisnis Sektor Hulu Dengan berlakunya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2001, Pemerintah Indonesia sebagai pemegang Kuasa Pertambangan membentuk Badan Pelaksana (BPMigas) dan Badan Pengatur (BPHMigas). Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001, maka penyelenggaraan kegiatan usaha minyak dan gas bumi lebih diarahkan kepada mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat, dan transparan. BPMigas adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan pengendalian Kegiatan Bisnis Hulu di bidang Minyak dan Gas Bumi dan pengawasan terhadap pelaksanaan Kontrak Kerja Sama Kegiatan Bisnis Hulu Dengan terbentuknya Badan Pelaksana ini, maka pada saat berubah bentuk menjadi Perseroan terbatas, PERTAMINA berkewajiban untuk mengadakan Kontrak Kerja Sama (KKS) dengan BPMigas dimaksud, dan status PERTAMINA berubah dari Agen atau Wakil Pemerintah (regulator) menjadi perusahaan Kontraktor Bagi Hasil (player). Kegiatan Hulu di PERTAMINA meliputi kegiatan eksplorasi dan produksi minyak, gas, dan panas bumi. Kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas dilakukan di beberapa wilayah Indonesia maupun di luar negeri.
7 7 Pengusahaan di dalam negeri dikerjakan melalui operasi sendiri (own operation) dan melalui kerjasama operasi dengan mitra di dalam negeri, sedangkan untuk pengusahaan di luar negeri dilakukan melalui aliansi strategis bersama dengan mitra kerja. Berbeda dengan kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi, kegiatan eksplorasi dan produksi panas bumi masih dilakukan sepenuhnya di dalam negeri. Hal ini disebabkan masih banyaknya potensi sumberdaya panas bumi di dalam negeri yang dapat dikembangkan. Untuk mendukung kegiatan bisnis dibidang eksplorasi dan produksi tersebut, PERTAMINA juga mengembangkan usaha pendukung di sektor bisnis hulu mencakup bisnis pemboran minyak, gas dan panas bumi. Kegiatan eksplorasi di sektor bisnis hulu ditujukan untuk menemukan cadangan baru migas dan panas bumi sebagai pengganti hidrokarbon dan panas bumi yang telah diproduksikan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga agar kesinambungan produksi migas dan panas bumi tersebut dapat terus dipertahankan, atau bahkan sumberdaya tersebut dapat terus ditingkatkan. Pola kemitraan dalam bidang minyak dan gas dilaksanakan dengan Perusahaan Migas domestik dan internasional, dengan pola kerjasama berupa Joint Operating Body for Enhanced Oil Recovery (JOB-EOR), Joint Operating Body for Production Sharing Contract fjob-psc), Technical Assistance Contract (TAC), Badan Operasi Bersama (BOB), penyertaan berupa Indonesian Participation (IP) dan PERTAMINA Participating Interest (PPI), sedangkan pengusahaan di bisnis panas bumi dilakukan dengan pola kerjasama berbentuk Joint Operating Contract (JOC).
8 8 Sejak terbentuknya Anak Perusahaan di sector bisnis hulu, yaitu PT Pertamina EP, untuk pengusahaan minyak dan gas operasi sendiri yang dilakukan di Wilayah Kerja EP diserahkan pengoperasiannya ke PT PERTAMINA EP. Wilayah kerja PT Pertamina EP seluas km2, yang dibagi ke dalam 3 (tiga) Region, yaitu : Region Sumatera meliputi Area Rantau, Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Pendopo, Prabumulih dan Unit Bisnis Pertamina EP Jambi dan Limau. Region Jawa meliputi Area Operasi Timur Jawa Bagian Barat, Area Operasi Barat Jawa Bagian Barat dan Area Operasi Jawa Bagian Timur. Region Kawasan Timur Indonesia (KTI) meliputi Area Bunyu, Sangatta, Sorong dan Unit Bisnis Pertamina EP Tanjung. Pengusahaan panas bumi yang pengoperasiannya dilakukan oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) meliputi 3 (tiga) Area Geothermal, yaitu: Area Geothermal Sibayak dengan kapasitas 2 MW di Sumatera Utara Area Geothermal Kamojang dengan kapasitas 140 MW di Jawa Barat Area Geothermal Lahendong dengan kapasitas 20 MW di Sulawesi Utara 3.2 Bisnis Sektor Hilir Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2001 tersebut, PERTAMINA tidak lagi menjadi satu-satunya perusahaan yang
9 9 ditunjuk Pemerintah untuk melakukan bisnis di bidang produksi dan pendistribusian BBM di dalam negeri Public Service Obligation (PSO) Untuk itu pemerintah membentuk Badan Pengatur (BPHMigas) yang merupakan suatu badan yang dibentuk untuk melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap penyediaan dan pendistribusian BBM dan gas bumi serta pengangkutan gas bumi melalui pipa pada Kegiatan Usaha Hilir. Dengan diarahkannya Kegiatan Usaha Hilir kepada mekanisme pasar, maka pada masa yang akan datang, PERTAMINA bukan lagi sebagai satu-satunya perusahaan yang ditunjuk sebagai penyedia BBM untuk kebutuhan BBM di dalam negeri. Dengan demikian Penugasan Pemerintah kepada PERTAMINA untuk menjamin penyediaan BBM di dalam negeri melalui mekanisme cost reimbursement plus fee, mengalami perubahan dengan penetapan besaran "Volume" BBM tertentu dan Harga MOPS + (margin) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kegiatan Bisnis Hilir PERTAMINA meliputi Bisnis Pengolahan, Pemasaran & Niaga, bisnis Perkapalan, dan bisnis pendistribusian produk-produk hasil minyak dan Petrokimia yang diproduksi langsung dari kilang PERTAMINA maupun diimpor langsung, baik ke pasar dalam maupun ke pasar luar negeri, dan didukung oleh sarana distribusi dan transportasi melalui darat dan laut Bisnis Pengolahan Bisnis Pengolahan PERTAMINA memiliki dan mengoperasikan 7 (tujuh) buah unit Kilang dengan kapasitas total mencapai 1.051,70 Ribu Barrel yaitu:
10 10 Beberapa kilang minyak seperti kilang UP-III Plaju dan Kilang UP-IV Cilacap terintegrasi dengan kilang Petrokimia, dan memproduksi produkproduk Petrokimia yaitu Purified Terapthalic Acid (PTA) dan Paraxylene. Beberapa Kilang juga menghasilkan produk LPG, seperti di Pangkalan Brandan, Dumai, Plaju, Cilacap, Balikpapan, Balongan dan Mundu. Kilang LPG P. Brandan dan Mundu merupakan kilang LPG yang operasinya terpisah dari kilang minyak, dengan bahan baku berupa gas alam. Sampai dengan saat ini, Kilang Minyak UP IV Cilacap adalah satu-satunya Kilang PERTAMINA yang menghasilkan Lube Base Oil sebagai bahan baku pelumas. Di samping kilang minyak di atas, PERTAMINA memiliki 2 (dua) Operating Company, PT Arun LNG yang mengoperasikan kilang LNG di Arun dan PT Badak LNG yang mengoperasikan kilang LNG di Bontang. Kilang LNG Arun dengan 6 (enam) buah train LNG memiliki total kapasitas mencapai 22,5 Juta Ton per tahun Bisnis Pemasaran dan Niaga Bisnis Pemasaran & Niaga PERTAMINA memasarkan produk-produk hasil minyak dan Petrokimia, yang mencakup produk Bahan Bakar Minyak (BBM), Produk Bahan Bakar Khusus (BBK), Produk Bahan Bakar Nabati (Bio Fuel), Produk Non BBM dan Petrokimia, Produk Gas Domestik, Produk Pelumas, dan Produk Kilang Lainnya. a. Produk Bahan Bakar Minyak
11 11 Bahan Bakar Minyak adalah hasil kilang yang berupa Premium, Kerosene, Solar, Minyak Bakar dan Minyak Diesel. Dalam rangka memenuhi program pemerintah, BBM ini digolongkan dalam BBM bersubsidi dan BBM tidak bersubsidi. BBM bersubsidi biasa disebut BBM tertentu bersubsidi yang meliputi: Premium, Kerosene, dan Solar, sedang untuk BBM tidak bersubsidi lebih dikenal dengan sebutan BBM keekonomian. b. Bahan Bakar Khusus (BBK) BBK adalah bahan bakar pesawat terbang (Airliners) untuk mendukung bisnis Aviasi, yang mencakup jenis produk Avtur dan Avgas. Disamping itu, BBK juga digunakan untuk penggolongan produk gasoline dengan nilai octane tinggi yaitu Pertamax, Pertamax Plus dan Pertamina Dex. Unit Bisnis Aviasi merupakan Unit Bisnis Perusahaan yang melayani suplai bahan bakar penerbangan di 53 DPPU (Depot Pengisian Pesawat Udara) di seluruh wilayah Indonesia dan Timor Leste. c. Produk Bahan Bakar Nabati ( BIOFUEL) Berdasarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Bio Fuel) sebagai Bahan Bakar Alternatif dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, PERTAMINA perlu melakukan upaya untuk mengembangkan bisnis Energi di luar minyak bumi, dan mengembangkan sumber-sumber Energi alternatif yang dapat terbarukan. Energi baru dimaksud adalah bentuk energy yang dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari energy terbarukan maupun energy tak terbarukan,
12 12 antara lain hydrogen, coal bed methane, batubara yang dicairkan (liquefied coal), batubara yang digaskan (gasified coal) dan nuklir. Energi terbarukan adalah sumber energy yang dihasilkan dari sumberdaya energy yang secara ilmiah tidak akan habis dan dapat dihasilkan secara berkelanjutan jika dikelola dengan baik, antara lain: panas bumi, bahan bakar nabati (biofuel), aliran air sungai, panas surya, angin, biomassa, biogas, ombak laut, dan suhu kedalaman laut. Biodiesel adalah senyawa organic yang dapat digunakan sebagai alternative bahan bakar diesel, yang dihasilkan dari minyak nabati, lemak hewani, atau minyak bekas, dengan menggunakan reaksi Transesterifikasi minyak-minyak ini dikombinasikan dengan alkohol (ethanol/methanol) untuk membentuk senyawa Fatty Acids Methyleste. Biosolar yang dikembangkan oleh PERTAMINA terdiri dari campuran 95% Solar dan 5% Acid Methil Ester (FAME) atau Biosolar B-5. d. Produk Non BBM dan Petrokimia Produk Non BBM dan Petrokimia yang di produksi PERTAMINA dan dipasarkan dan dijual oleh Unit Bisnis Niaga Non BBM dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis produk, adalah sebagai berikut: Asphalt, antara lain: asphalt bulk dan asphalt dalam kemasan Non BBM, antara lain: Solvent, Minarex, Paraffinic Oil, Lube Base Oil, Slack Wax, Heavy Aromate Petrokimia, antara lain: Wax, Green Coke, Sulfur, Paraxylene, Benzene dll
13 13 e. Produk Gas Domestik LPG Untuk pemenuhan kebutuhan pasokan LPG di dalam negeri, PERTAMINA memiliki tiga sumber pasokan, yaitu LPG yang diproduksi dari kilang-kilang PERTAMINA sekitar 80%, dan bersumber dari LPG impor dan kilang swasta sekitar 20%. Produk LPG PERTAMINA dengan merek "Elpiji" dijual melalui jalur distribusi Stasiun Pengangkutan dan Pengisian Bulk Elpiji (SPPBE)/APPEL, Agen, dan Modern Retail Outlet yang terdiri dari kemasan 3 kg, 6 kg, 12 kg, 50 kg dan skid tank. LPG 3 kg merupakan LPG PSO. Selama tahun 2006, SPPBE yang dioperasikan mencapai sebanyak 46 unit dibandingkan dengan jumlah SPPBE yang dioperasikan tahun 2005 sebanyak 43 unit, sehingga terjadi peningkatan sebesar 7%. Jumlah Keagenan Elpiji selama tahun 2006 mencapai sebanyak 551 Agen, dibanding jumlah keagenan selama tahun 2005 sebanyak 534 Agen, sehingga terjadi peningkatan sebesar 3,18%. Jumlah APPEL pada tahun 2006 sebanyak 3 unit, dibanding tahun 2005 jumlah APPEL hanya sebanyak 2 unit, sehingga terjadi peningkatan sekitar 50%. BBG Untuk pemenuhan Bahan Bakar Gas (BBG) yang telah diperkenalkan ke masyarakat luas sejak tahun 1987, Unit Bisnis Gas Domestik memperoleh pasokan bahan bakar gasnya dari BP (Beyond Petroleum) Muara Karang,
14 14 untuk didistribusikan ke 28 unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBBG). Musicool Produk Musicool (produk refrigerant), diproduksi oleh Kilang Unit Pengolahan III Plaju, Sumatra Selatan, dan telah diproduksikan sebanyak 3 jenis spesifikasi, antara lain MC 12, MC 134 dan MC 22, dengan kemasan produk Musicool terdiri dari beberapa ukuran, antara lain dalam tabung 3 kg, 6 kg, 45 kg dan Skid Tank. Musicool jenis MC12 dan MC134, diproduksi oleh Kilang UP III Plaju, sedangkan untuk produk MC 22 diproduksi oleh Elpiji Filling Plant Tg Priok Jakarta. f. Produk Pelumas Dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar pelumas di dalam negeri, PERTAMINA juga memproduksi dan memasarkan berbagai jenis pelumas untuk berbagai target pasar berikut ini. Pelumas Otomotif dalam Pembungkus/ Kemasan (Lithos), mencakup PCMO (Passenger Car Motor Oil), AGO (Automotive Gear Oil), Automotive Grease, Small Engine Oil, dan HDDO (Heavy Duty Diesel O/l). Pelumas Industri dalam Bulk(Curah) dan Pembungkus/Kemasan (Drum), mencakup produk-produk HDDO (Heavy Duty Diesel Oil): Hydraulic Oil, Power Shift Transmission & Hydraulic, Marine Diesel Oil, Industrial Gear Oil, Lokomotif Diesel Oil, Circulating Oil, Refrigerating Oil, Heat Transfer
15 15 Fluid, Steam Cylinder Lubricant, Natural Gas Engine Oil, Turbine Oil & Industrial Grease g. Produk Kilang Lainnya PERTAMINA juga menghasilkan produk-produk kilang lainnya yaitu LOMC, Naphtha, LSWR, HVGO, Decant oil, Lean Gas. Produk-produk Kilang ini pada umumnya tidak dijual ke pasar tetapi diproses kembali menjadi finished product di kilang, kecuali beberapa jenis produk yang telah mempunyai nilai pasar antara lain LSWR, Naptha dan Decant oil.
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. surat keputusan Gubernur Militer Sumatra Tengah pada tanggal 9 November 1948
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Indragiri hulu Berdasarkan Undang-undang nomor 10 tahun 1948 dibentuk Kabupaten Indragiri hulu yang termasuk didalam provinsi Sumatra Tengah dan Diralisi dengan
PROFIL PERUSAHAAN. 2) Memberikan kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
PROFIL PERUSAHAAN PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal 10 Desember 1957 dengan nama PT PERMINA. Pada tahun
BAB II PROSES BISNIS PERUSAHAAN
BAB II PROSES BISNIS PERUSAHAAN 2.1 Proses Bisnis Utama Dalam proses bisnis utamanya, Pertamina merupakan keseluruhan rantai kegiatan utama perusahaan yang terdiri dari beberapa proses bisnis yang bersifat
BAB III PROFIL PT PERTAMINA ( PERSERO ) MARKETING OPERATION REGION V. dari minyak dan gas. Namun saat itu, pengelolaan ladang-ladang minyak
BAB III PROFIL PT PERTAMINA ( PERSERO ) MARKETING OPERATION REGION V A. Sejarah PT Pertamina ( Persero ) Sejarah PT Pertamina ( Persero ) dibagi menjadi beberapa sesi sebagai berikut: 1. Tahun 1957 Masa
BAB II PT PERTAMINA (PERSERO) MOR I MEDAN
BAB II PT PERTAMINA (PERSERO) MOR I MEDAN A. Sejarah Ringkas Di Indonesia sendiri, pemboran sumur minyak pertama dilakukan oleh Belanda pada tahun 1871 di daerah Cirebon. Namun demikian, sumur produksi
BAB II PROFIL PERUSAHAAN
5 BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Perusahaan Di Indonesia sendiri, pemboran sumur minyak pertama dilakukan oleh Belanda pada tahun 1871 di daerah Cirebon. Namun demikian, sumur produksi pertama adalah
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. berganti nama menjadi PN PERMINA dan setelah merger dengan PN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah PT. PERTAMINA (PERSERO) PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal
BAB I fpendahuluan Bentuk, Bidang dan Perkembangan Usaha Bentuk Usaha. Adapun Visi dan Misi PT. Pertamina (Persero) :
BAB I fpendahuluan 1.1. Bentuk, Bidang dan Perkembangan Usaha 1.1.1. Bentuk Usaha Sejak didirikan pada 10 Desember 1957, Pertamina menyelenggarakan usaha minyak dan gas bumi di sektor hulu hingga hilir.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Nama Perusahaan PT Pertamina (Persero) Gambar 1.1 Logo PT Pertamina (Persero)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Nama Perusahaan PT Pertamina (Persero) Gambar 1.1 Logo PT Pertamina (Persero) 1.1.2 Lokasi Perusahaan Jl. Medan Merdeka Timur 1A, Jakarta 10110
BAB II GAMBARAN UMUM TEMPAT WORKSHOP. 2.1 Gambaran Umum PT. Pertamina (Persero) PERTAMINA berubah status hukumnya menjadi PT PERTAMINA (PERSERO)
BAB II GAMBARAN UMUM TEMPAT WORKSHOP 2.1 Gambaran Umum PT. Pertamina (Persero) PERTAMINA adalah Badan Usaha Milik Negara minyak dan perusahaan gas (National Oil Company), yang didirikan pada tanggal 10
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Sejarah PT. PERTAMINA (PERSERO) dari tahun per tahun
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah PT. PERTAMINA (PERSERO) dari tahun per tahun Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia minyak bumi memiliki peran yang penting dan strategis. Peran penting ini
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Logo PT. PERTAMINA Persero
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tinjauan Objek Studi 1.1.1 Profil PT. PERTAMINA Persero PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company) yang berdiri sejak
BAB III DESKRIPSI INSTANSI PT. PERTAMINA (PERSERO) REFINERY UNIT IV. penjelasan fase-fase yang telah dilalui oleh PT.Pertamina (Persero) :
BAB III DESKRIPSI INSTANSI PT. PERTAMINA (PERSERO) REFINERY UNIT IV A. Sejarah PT. Pertamina (Persero) PT.Pertamina (Persero) telah melewati beberapa fase perubahan, berikut ini adalah penjelasan fase-fase
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. tanggal 10 Desember 1957 dengan nama PT.PERTAMINA pada tahun 1961
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT. PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimililiki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Perusahaan Profil Perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Perusahaan 1.1.1 Profil Perusahaan PT Pertamina (Persero) adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri
BAB II PT. PERTAMINA (PERSERO) MARKETING OPERATION REGION I. tahun Sejak era itu, kegiatan eksploitasi minyak di Indonesia dimulai.
BAB II PT. PERTAMINA (PERSERO) MARKETING OPERATION REGION I 2.1 Sejarah Ringkas Di Indonesia sendiri, pemboran sumur minyak pertama dilakukan oleh Belanda pada tahun 1871 di daerah Cirebon. Namun demikian,
LAMPIRAN PT. PERTAMINA (PERSERO) A. Sejarah Singkat PT. Pertamina (Persero) 35
LAMPIRAN PT. PERTAMINA (PERSERO) A. Sejarah Singkat PT. Pertamina (Persero) 35 PT. Pertamina (Persero) adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian Persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut: a. Mempersiapkan alat
BAB II PROFIL PERUSAHAAN. A. Sejarah Singkat PT. Pertamina (Persero) Tbk. Wilayah Pemasaran I Medan.
12 BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat PT. Pertamina (Persero) Tbk. Wilayah Pemasaran I Medan. Pada tahun 1945, Jepang, dengan disaksikan pihak Sekutu, menyerahkan Tambang Minyak Sumatera Utara
PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 42/M-DAG/PER/9/2009 TENTANG KETENTUAN EKSPOR DAN IMPOR MINYAK DAN GAS BUMI
PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 42/M-DAG/PER/9/2009 TENTANG KETENTUAN EKSPOR DAN IMPOR MINYAK DAN GAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA,
MAKALAH PENGANTAR MANAJEMEN PERUBAHAN DAN INOVASI PT. PERTAMINA (PERSERO)
MAKALAH PENGANTAR MANAJEMEN PERUBAHAN DAN INOVASI PT. PERTAMINA (PERSERO) Oleh : Chinthia / I34110152 Inez Kania Febriyani / I34120116 Hana Hilaly Anisa / I34120124 Riza Ryanda / I34120164 Dosen : Lindawati
PERANAN MIGAS DALAM MENDUKUNG KETAHANAN ENERGI
PERANAN MIGAS DALAM MENDUKUNG KETAHANAN ENERGI Oleh : A. Edy Hermantoro Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas disampaikan pada : DISKUSI EVALUASI BLUE PRINT ENERGI NASIONAL PETROGAS DAYS 2010 Jakarta, 11
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 8 ayat (1),
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2018 TENTANG KEGIATAN PENYALURAN BAHAN BAKAR MINYAK, BAHAN BAKAR GAS DAN LIQUEFIED PETROLEUM GAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 8 ayat (1),
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Profil Perusahaan PT Pertamina (Persero)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Profil Perusahaan PT Pertamina (Persero) PT Pertamina (Persero) merupakan perusahaan milik negara yang bergerak di bidang energi meliputi minyak,
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menjamin keamanan pasokan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
pres-lambang01.gif (3256 bytes) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. A. Sejarah PT. Pertamina EP Asset 1 Lirik Field
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah PT. Pertamina EP Asset 1 Lirik Field PertaminaadalahBadan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerakdibidangpenambanganminyakdan gas bumi (migas) di Indonesia. Saatini,
LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN
LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN Nomor 11 Tahun 2014 WALIKOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGUSAHAAN ATAU KEGIATAN
BAB I PENDAHULUAN. sebagai salah satu aspek kunci ketahanan negara, kemampuan untuk memenuhi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Energi adalah isu global yang terus menjadi topik perbincangan publik sebagai salah satu aspek kunci ketahanan negara, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.
REKOMENDASI KEBIJAKAN Tim Reformasi Tata Kelola Migas. Jakarta, 13 Mei 2015
REKOMENDASI KEBIJAKAN Tim Reformasi Tata Kelola Migas Jakarta, 13 Mei 2015 Outline Rekomendasi 1. Rekomendasi Umum 2. Pengelolaan Penerimaan Negara Dari Sektor Minyak dan Gas Bumi 3. Format Tata Kelola
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian Profil Perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1. Profil Perusahaan Sebagai sebuah perusahaan milik negara yang bergerak di bidang usaha minyak dan gas bumi beserta kegiatan usaha terkait lainnya
BAB I PENDAHULUAN. kegiatan bisnisnya berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola korporasi yang baik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertamina merupakan perusahaan milik negara yang bergerak di bidang energi meliputi minyak, gas serta energi baru dan terbarukan. Pertamina menjalankan kegiatan bisnisnya
BAB I PENDAHULUAN. eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi, PT Pertamina (Persero) atau yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berawal sebagai sebuah perusahaan nasional yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi, PT Pertamina (Persero) atau yang selanjutnya disebut
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
21 BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Profil Perusahaan Sejak didirikan pada 10 Desember 1957, Pertamina menyelenggarakan usaha minyak dan gas bumi di sektor hulu hingga hilir. Bisnis sektor hulu
BAB III GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN. Pertamina adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki
BAB III GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN A. Sejarah Pertamina Pertamina adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal 10 Desember
1. PENDAHULUAN. perusahaan energi berkelas dunia yang berbentuk Perseroan, yang mengikuti
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan visi menjadi perusahaan energi berkelas dunia yang berbentuk Perseroan, yang mengikuti Peraturan Pemerintah
BAB I PENDAHULUAN. persaingan adalah yang mampu menggelola segala sumberdaya (resources)
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perusahaan bisnis yang dapat bertahan dan menang dalam persaingan adalah yang mampu menggelola segala sumberdaya (resources) yang dimiliki. Diantara sumberdaya yang
2016, No Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahu
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 1130, 2016 KEMEN-ESDM. Kilang Minyak. Skala Kecil. Pembangunan. Pelaksanaan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2016
DIREKTORAT PEMBINAAN USAHA HILIR MIGAS
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA PENGANGKUTAN MINYAK DAN GAS BUMI DIREKTORAT PEMBINAAN USAHA HILIR MIGAS BALIKPAPAN, 9 MARET
2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1994 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Listrik Negara Menjadi Perusahaan Perser
No.188, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. Gas Bumi. Pemanfaatan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG PEMANFAATAN GAS BUMI UNTUK
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2018 TENTANG KEGIATAN PENYALURAN LIQUEFLED PETROLEUM GAS
MENTERI ENEROI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2018 TENTANG KEGIATAN PENYALURAN BAHAN BAKAR MINYAK, BAHAN BAKAR
BAB I PENDAHULLUAN. I.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULLUAN I.1 Latar Belakang BBM (bahan bakar minyak): adalah jenis bahan bakar (fuel) yang dihasilkan dari pengilangan (refining) minyak mentah (crude oil). Minyak mentah dari perut bumi diolah
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat :
Dr. Unggul Priyanto Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Dr. Unggul Priyanto Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 1 Pendahuluan Energi Primer Kelistrikan 3 Energy Resources Proven Reserve Coal 21,131.84 million tons Oil Natural Gas (as of 2010) 3,70
BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH
BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG PENDISTRIBUSIAN DAN PENETAPAN HARGA ECERAN TERTINGGI LIQUEFIED PETROLEUM GAS TABUNG 3 KILOGRAM DI KABUPATEN CILACAP
PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG, Menimbang : a. bahwa minyak dan gas bumi merupakan
Gambar 3.1. Struktur Perusahaan
BAB 3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 3.1. Sejarah Singkat PT. X Berdasarkan data yang diperoleh melalui Laporan Tahunan 2009, PT. X didirikan pada 9 Juni 1980 di bawah hukum Republik Indonesia dan memulai usahanya
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI UMUM Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang telah
BAB I PENDAHULUAN. dihasilkan melalui proses pengilangan minyak mentah. Saat ini BBM telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan suatu jenis bahan bakar yang dihasilkan melalui proses pengilangan minyak mentah. Saat ini BBM telah menjadi kebutuhan pokok dalam
BAB 1 PENDAHULUAN. tersebut merupakan kebutuhan yang esensial bagi keberlangsungan hidup
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui. Sumber daya alam tersebut merupakan kebutuhan
I. PENDAHULUAN. Namun demikian cadangan BBM tersebut dari waktu ke waktu menurun. semakin hari cadangan semakin menipis (Yunizurwan, 2007).
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari dari kehidupan manusia modern, bahkan akan terus meningkat akibat semakin banyaknya populasi penduduk
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1566 K/lO/MEM/2008 TENTANG lzln USAHA PENGOLAHAN MINYAK BUM1 DAN GAS BUM1 KEPADA PT PERTAMINA
Kondisi Pasokan dan Permintaan BBM di Indonesia dan Upaya Pertamina Dalam Pemenuhan Kebutuhan BBM Nasional
PT PERTAMINA (PERSERO) Direktorat Pengolahan Kondisi Pasokan dan Permintaan BBM di Indonesia dan Upaya Pertamina Dalam Pemenuhan Kebutuhan BBM Nasional Rachmad Hardadi Direktur Pengolahan 23 Januari 2015
BAB 3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB 3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 3.1 Sekilas mengenai Bisnis LPG di Indonesia Dalam 4 tahun terakhir ini, bisnis LPG (Liquefied Petroleum Gas) yang biasa dikenal dengan sebutan elpiji, mengalami perubahan
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. pada tanggal 23 November 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.
2.1 Profil Perusahaan BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal 10 Desember 1957
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian. kerja, dan 20 item angket kinerja.
57 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian Persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut: a. Mempersiapkan alat
DEPUTI MENTERI NEGARA BIDANG USAHA PERTAMBANGAN, INDUSTRI STRATEGIS, ENERGI DAN TELEKOMUNIKASI
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA YANG DIWAKILI OLEH: ROES ARYAWIJAYA DEPUTI MENTERI NEGARA BIDANG USAHA PERTAMBANGAN, INDUSTRI STRATEGIS, ENERGI DAN TELEKOMUNIKASI Kondisi Pengelolaan Energi, Ketenagalistrikan
2016, No Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nom
No. 316, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. Gas Bumi. Alokasi, Pemanfaatan dan Harga. Tata Cara. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06
KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KEGIATAN USAHA HILIR MIGAS
KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KEGIATAN USAHA HILIR MIGAS Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi DASAR HUKUM UU No. 22/2001 PP 36 / 2004 Permen 0007/2005 PELAKSANAAN UU NO. 22 / 2001 Pemisahan yang jelas antara
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 169 TAHUN 2000 TENTANG POKOK-POKOK ORGANISASI PERTAMINA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 169 TAHUN 2000 TENTANG POKOK-POKOK ORGANISASI PERTAMINA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : 1. 2. 3. Menetapkan : bahwa pengusahaan pertambangan
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan sistem dan teknologi di Indonesia sudah mengalami. kemajuan yang pesat. Di era informasi dan globalisasi menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perkembangan sistem dan teknologi di Indonesia sudah mengalami kemajuan yang pesat. Di era informasi dan globalisasi menyebabkan lingkungan bisnis mengalami perubahan
PENELAAHAN BESARAN SUBSIDI BIODIESEL. Agus Nurhudoyo
PENELAAHAN BESARAN SUBSIDI BIODIESEL Agus Nurhudoyo Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi [email protected], [email protected]
BIDANG USAHA TERTENTU (1) (2) (3) (4) (5) 1. PERTAMBANGAN BATUBARA DAN LIGNIT
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 16 2015 TENTANG : KRITERIA DAN/ATAU PERSYARATAN DALAM PEMANFAATAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL
GUBERNUR JAWA TENGAH
1 GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR : 98 Tahun 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI, DAN BAHAN BAKAR NABATI DI PROVINSI JAWA TENGAH GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang
WALIKOTA JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 10 TAHUN 2013
WALIKOTA JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN DISTRIBUSI LIQUIFIED PETROLEUM GAS TABUNG 3 (TIGA) KILOGRAM BERSUBSIDI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional Eksplorasi dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional Eksplorasi dan Produksi (Pertamina EP) merupakan salah satu anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meringankan beban
KODE KEAHLIAN SDM BPPT BIDANG ENERGI
KODE KEAHLIAN SDM BPPT BIDANG ENERGI BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI KODE KEAHLIAN DESKRIPSI KEAHLIAN 03 BIDANG ENERGI 03.01 PERENCANAAN ENERGI 03.01.01 PERENCANAAN PENYEDIAAN ENERGI Keahlian
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BERSAMA. Pendistribusian LPG. Pembinaan. Pengawasan.
No.223, 2011 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BERSAMA. Pendistribusian LPG. Pembinaan. Pengawasan. PERATURAN BERSAMA MENTERI DALAM NEGERI DAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA
PENYEDIAAN, PENDISTRIBUSIAN, DAN PENETAPAN HARGA LPG TABUNG 3 KILOGRAM
PENYEDIAAN, PENDISTRIBUSIAN, DAN PENETAPAN HARGA LPG TABUNG 3 KILOGRAM sumber gambar: republika.co.id I. PENDAHULUAN Energi mempunyai peran penting dan strategis untuk pencapaian tujuan sosial, ekonomi,
FAKULTAS HUKUM, UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PENGUASAAN DAN PENGUSAHAAN Minyak dan Gas Bumi sebagai sumber daya alam strategis tak terbarukan yang terkandung di dalam wilayah Hukum Pertambangan Indonesia merupakan kekayaan nasional yang dikuasai
PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG
PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGUSAHAAN MINYAK DAN GAS BUMI DI KABUPATEN TRENGGALEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BAB III OBJEK PENELITIAN
BAB III OBJEK PENELITIAN III.1. Objek Penelitian III.1.1. Sejarah Singkat Pada tahun 1871 1885, saat masa awal pencairan dan penemuan minyak di Indonesia, industri minyak di Indonesia mulai di awal abad
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI PROBOLINGGO PERATURAN BUPATI PROBOLINGGO NOMOR : 28 TAHUN 2016 TENTANG HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) LIQUEFIED PETROLEUM GAS (LPG) TABUNG 3 KILOGRAM DI KABUPATEN PROBOLINGGO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
I. PENDAHULUAN. alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan minyak bumi dan gas alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam strategis tidak terbarukan,
2018, No Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2002 tentang Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usah
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.169, 2018 KEMEN-ESDM. Pengusahaan Gas Bumi. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2018 TENTANG PENGUSAHAAN GAS
RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG MINYAK DAN GAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG MINYAK DAN GAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Minyak dan Gas Bumi merupakan sumber
PT. MIGAS HILIR JABAR Badan Usaha Milik Daerah - Jawa Barat COMPANY PROFILE
PT. MIGAS HILIR JABAR Badan Usaha Milik Daerah - Jawa Barat COMPANY PROFILE 1 . LATAR BELAKANG PT. Migas Hilir Jabar (PT MRJ) adalah perusahaan yang bergerak dibidang energy yang didirikan untuk mengelola
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bisnis pada intinya adalah organisasi yang berusaha untuk membuat produk atau menyediakan jasa dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan (Lawrence, Weber, dan Post,
PERCEPATAN PENGEMBANGAN PANASBUMI DALAM MENGATASI KRISIS ENERGI LISTRIK
PERCEPATAN PENGEMBANGAN PANASBUMI DALAM MENGATASI KRISIS ENERGI LISTRIK Oleh: Sukusen Soemarinda Direktur Hulu PT PERTAMINA (PERSERO) DISAMPAIKAN PADA SEMINAR PANASBUMI: SEBAGAI ENERGI ANDALAN MASA KINI
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MANUSIA. Gas Bumi. Pipa. Transmisi. Badan Usaha. Wilayah Jaringan. Kegiatan.
No.274, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MANUSIA. Gas Bumi. Pipa. Transmisi. Badan Usaha. Wilayah Jaringan. Kegiatan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Konsumsi Bahan Bakar Diesel Tahunan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan BBM mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan kebutuhan masyarakat akan bahan bakar ini untuk kegiatan transportasi, aktivitas industri, PLTD, aktivitas
MEMPELAJARI PROSEDUR PENYEDIAAN TABUNG GAS ELPIJI 3 KG DI SPPBE PT. AL-FATH DISUSUN OLEH : NAMA : REPALDI ABDUL AGI NPM :
MEMPELAJARI PROSEDUR PENYEDIAAN TABUNG GAS ELPIJI 3 KG DI SPPBE PT. AL-FATH DISUSUN OLEH : NAMA : REPALDI ABDUL AGI NPM : 36412140 PENDAHULUAN KEBERHASILAN PERUSAHAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU SPPBE PT. AL-FATH
UPAYA MEREDUKSI PENGECER ILEGAL PADA PENDISTRIBUSIAN BAHAN BAKAR MINYAK MELALUI PEMBENTUKAN SUB PENYALUR
UPAYA MEREDUKSI PENGECER ILEGAL PADA PENDISTRIBUSIAN BAHAN BAKAR MINYAK MELALUI PEMBENTUKAN SUB PENYALUR Oleh : Sulistyono *) ABSTRAK Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas vital yang sangat dibutuhkan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191 TAHUN 2014 TENTANG PENYEDIAAN, PENDISTRIBUSIAN DAN HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191 TAHUN 2014 TENTANG PENYEDIAAN, PENDISTRIBUSIAN DAN HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
2015, No Sumber Daya Mineral tentang Ketentuan dan Tata Cara Penetapan Alokasi dan Pemanfaatan Serta Harga Gas Bumi; Mengingat : 1. Undang-Und
No.1589, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. Gas Bumi. Harga. Pemanfaatan. Penetapan Lokasi. Tata Cara. Ketentuan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR
PERTAMINA SIAP IMPOR BBM TIDAK LEWAT TRADER DPR MINTA BPK PERIKSA PETRAL
PERTAMINA SIAP IMPOR BBM TIDAK LEWAT TRADER DPR MINTA BPK PERIKSA PETRAL en.vivanews.com Pertamina akan berupaya memprioritaskan impor i bahan bakar minyak (BBM) dan minyak mentah dari berbagai sumber,
